
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring
41
iv. Diagnosis
Diagnosis pasti didasarkan pada histologi. Secara histologis, limfoma
laring primer lebih sering berasal dari sel B, meskipun beberapa limfoma
sel T dan selNK dapat terjadi. Yang terakhir lebih sulit untuk didiagnosis
dan biasanya membutuhkan biopsi yang dalam dan terkadang berulang.
Subkelompok terakhir limfoma laring ini lebih sering terjadi pada pasien
HIV. Rasio limfoma sel B ke sel T / NK adalah 6: 1.
v. Tatalaksana
Tidak ada penelitian yang dilakukan secara khusus untuk menangani
jenis limfoma langka ini. Terapi bervariasi karena berbagai jenis limfoma
serta jumlahnya yang sedikit. Namun, modalitas utama pengobatan
adalah IFRT (30- 50 G) saja atau dikombinasikan dengan kemoterapi.
Intervensi bedah biasanya hanya diperlukan pada kasus dengan obstruksi
jalan napas akut. Perbedaan dalam modalitas pengobatan ini, terlepas dari
histologi limfoma. Namun, kombinasi kemoterapi-radioterapi tampaknya
menjadi modalitas pengobatanyang lebih disukai.
DAFTAR PUSTAKA
1. Kato,S., Sakura, M., Takooda, S., et al., 1997, “Primary non-Hodgkin’s
lymphoma of the larynx”. J Laryngol Otol, 111:571–574
2. Horny and Kaiserling, 1995, “Involvement of the larynx by hemopoietic
neoplasms—an investigation of autopsy cases and review of the
literature,” Pathology Research and Practice, vol. 191, no. 2, pp. 130–
138
3. Fernández-Aceñero, M.J., Larach, F., Ortega-Fernández,, C., 2009, “Non-
epithelial lesions of the larynx: review of the 10-year experience in a
tertiary Spanish hospital,” Acta Oto-Laryngologica, vol. 129, no. 1, pp.
108–112
4. Kuo, J.R., Hou, Y.Y., Chu, S.T., Chien, C.C., 2011, “Subglottic stenosis
induced by extranodal mucosa-associated lymphoid tissue lymphoma,”
Journal of the Chinese Medical Association, vol. 74, no. 3, pp. 144–147
5. King, A.D., Yuen, E.H.Y., Lei, K.I.K., Ahuja, A.T., and Van Hasselt, A.,