MODUL THT KOMUNITAS EDISI III KOLEGIUM ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA LEHER 2022
Tim Penyusun 1. Dr. dr. Bambang Udji Djoko Rianto, Sp.T.H.T.B.K.L.,Subsp.K.(K), M.Kes 2. Dr. dr. H. R. Yusa Herwanto, M.Ked (ORL-HNS), Sp.T.H.T.B.K.L.,Subsp.K.(K) 3. Dr. dr. Indra Zachreini, Sp.T.H.T.B.K.L.,Subsp.K.(K) 4. Dr. dr. Muyassaroh, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp. N.O.(K)., MSi.Med 5. Dr. dr. Nyilo Purnami, Sp.T.H.T.B.K.L.,Subsp.K.(K), FICS, FISCM 6. Dr. dr. Ratna Anggraeni S. P., Sp.T.H.T.B.K.L.,Subsp.K.(K), M.Kes 7. Dr. dr. Riskiana Djamin, Sp.T.H.T.B.K.L.,Subsp.K.(K) 8. Dr. dr. Ronny Suwento, Sp.T.H.T.B.K.L.,Subsp.K.(K) 9. Dr. dr. Semiramis Zizlavsky, Sp.T.H.T.B.K.L.,Subsp.K.(K) 10. Dr. dr. Tri Juda Airlangga, Sp.T.H.T.B.K.L.,Subsp.K.(K) 11. dr. Dina Alia, Sp.T.H.T.B.K.L.,Subsp.K.(K), PhD 12. dr. Fikry Hamdan Yasin, Sp.T.H.T.B.K.L.,Subsp.K.(K) 13. dr. Nirza Warto, Sp.T.H.T.B.K.L.,Subsp.K.(K), FICS KATA PENGANTAR
Assalammu’alaikum Wr.Wb. Alhamdulillahirobbil ‘alamin, saya panjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allah swt yang senantiasa melimpahkan segala rahmat, taufik dan hidayah-Nya sehingga dapat menyelesaikan penyusun Buku Modul Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher (IK THTBKL) edisi ketiga ini. Modul ini disusun untuk memenuhi kebutuhan peserta pendidikan dokter spesialis THTBKL yang merupakan penyempurnaan edisi kedua, pemenambahan beberapa materi sesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan serta ketrampilan baru guna meningkatlan mutu proses pendidikan dokter spesialis THTBKL di Indonesia Selaras dengan dimulainya program fellowship serta persiapan pembukaan program pendidikan Subspesialisasi THTBKL, modul Pendidikan dokter spesialis THTBKL ini disusun agar pendidikan spesialis THTBKL terjaga menjadi satu kesatuan yang mendalam antara ketiga program pendidikan tersebut. Selain itu Buku Modul ini dapat menjadi pedoman untuk melaksanakan pendidikan secara terstruktur dan berkualitas, dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, monitoring hingga proses evaluasi secara berkesinambungan. Hal tersebut bertujuan agar lulusan peserta program studi IK THTBKL mempunyai kompetensi akademik dan kompetensi profesional unggul seiring berkembangnya jaman. Pada era baru ini para lulusan Dokter Spesialis THTBKL diharapkan memiliki kemampuan akademik professional bertaraf internasional, inovatif dan tangguh yang mampu berkiprah secara global sesuai Visi dan Misi Pendidikan Spesialis THTBKL. Semoga dengan terbitnya Buku Modul ketiga ini program pendidikan dokter spesialis THTBKL semakin maju dan menghasilkan pencapaian lulusan yang unggul, kompeten dan berkualitas. Apresiasi kami yang setinggi-tingginya kepada seluruh teman sejawat, Profesor Dokter, atas komitmen, dedikasi, serta pemikiran dan waktu yang telah diberikan terutama dalam suasana pandemi Covid-19. Keterbatasan jarak dan keadaan Pandemi telah membuka peluang pengembangan komunikasi, diskusi dan ujicoba modul ketiga, secara digital (TIK), sehingga kita dapat berkoordinasi, produktif menyelesaikan buku modul Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala dan Leher edisi ketiga ini. Semoga modul ini dapat bermanfaat bagi kita semua, khususnya para peserta didik dan semua yang kita lakukan selalu mendapat ridha Allah SWT. Wassalammu’alaikum Wr.Wb. Ketua Umum Kolegium IK THTBKL Indonesia Dr. dr. Trimartani, Sp T.H.T.B.K.L., F.P.R(K)., MARS
IX. THT KOMUNITAS IX.1 PENCEGAHAN DAN PENILAIAN KUALITAS HIDUP PADA BAYI DAN ANAK DENGAN GANGGUAN PENDENGARAN IX.1.1 EPIDEMIOLOGI IX.1.2 PREVENTIF DAN PROMOTIF IX.1.3 KUALITAS HIDUP IX.2 TULI KONGENITAL IX.3 GANGGUAN PENDENGARAN DAN KOMUNIKASI PADA ANAK IX.3.1 GANGGUAN WICARA DENGAN PENDENGARAN NORMAL IX.3.2 HIPERNASAL DAN HIPONASAL IX.4 PEMERIKSAAN PEDIATRIC AUDIOLOGI KOMPREHENSIF IX.4.1 TYMPANOMETRY HIGH FREQUENCY IX.4.2 OTO ACOUSTIC EMISSION IX.4.3 BRAINSTEM EVOKED RESPINSE AUDIOMETRY (BERA) IX.4.4 AUDITORY STEADY STATE RESPONSE (ASSR) IX.5 GANGGUAN PENDENGARAN PADA POPULASI KHUSUS IX.5.1 GANGGUAN PENDENGARAN PADA ANAK USIA SEKOLAH IX.5.2 GANGGUAN PENDENGARAN AKIBAT KERJA IX.5.3 OTOTOKSIK IX.5.4 PRESBIKUSIS IX.6 HABILITASI DAN REHABILITASI PENDENGARAN IX.6.1 ALAT BANTU DENGAR (ABD) IX.6.2 MAPPING PASCA IMPLANT KOKLEA
MODUL UTAMA THT KOMUNITAS PENCEGAHAN DAN PENILAIAN KUALITAS HIDUP PADA BAYI DAN ANAK DENGAN GANGGUAN PENDENGARAN MODUL IX.1.1 EPIDEMIOLOGI EDISI III KOLEGIUM ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER 2022
DAFTAR ISI A. WAKTU PEMBELAJARAN........................................................................... 1 B. PERSIAPAN SESI ........................................................................................... 1 C. REFERENSI ..................................................................................................... 1 D. KOMPETENSI ................................................................................................. 2 E. GAMBARAN UMUM ..................................................................................... 2 F. CONTOH KASUS DAN DISKUSI ................................................................. 3 G. TUJUAN PEMBELAJARAN .......................................................................... 4 H. METODE PEMBELAJARAN ......................................................................... 6 I. EVALUASI ...................................................................................................... 7 J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF .............................. 9 K. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR ..................... 10 L. DAFTAR TILIK............................................................................................. 11 M. MATERI PRESENTASI ................................................................................ 11 N. MATERI BAKU ............................................................................................ 17
Modul IX.1.1 - Epidemiologi 1 MODUL IX.1.1 THT KOMUNITAS - PENCEGAHAN DAN PENILAIAN KUALITAS HIDUP PADA BAYI DAN ANAK DENGAN GANGGUAN PENDENGARAN : EPIDEMIOLOGI A. WAKTU PEMBELAJARAN Proses Pengembangan Kompetensi Alokasi Waktu Sesi di dalam kelas Sesi dengan fasilitasi pembimbing Sesi praktik dan pencapaian kompetensi 7 x 60 menit(classroom session) 3 x 60 menit(coaching session) 6 jam (facilitation and assessment) B. PERSIAPAN SESI Materi presentasi: Slide 1: Definisi epidemiologi klinis dan epidemiologi komunitas Slide 2: Tujuan dan manfaat survei Slide 3: Langkah-langkah merancang survei Slide 4: Metode disain survei Slide 5: Populasi dan sampel Slide 6: Besar sampel dan tehnik pengambilan sampel Slide 7: Instrumen survei (kuesioner) Slide 8: Pre-post test kuesioner Slide 9: Manajemen dan analisis data survei SARANA DAN ALAT BANTU LATIH - Penuntun belajar : Terlampir - Tempat belajar : Poliklinik THT Komunitas dan masyarakat C. REFERENSI 1. Penny Webb, Chris Bain, 2010. Essential Epidemiology: An Introduction for Students and Health Professionals. Cambridge University Press, Dec 16, 2010 2. Stephen B. Hulley, Steven R. Cummings, Warren S. Browner, 2011. Designing clinical research. 3. Robert H. Fletcher, Suzanne W. Fletcher, Grant S. Fletcher, 2014. Clinical Epidemiology. The Essentials. Fifth Edition, Walters Kluwer-Lippincot Williams and Wikins.
Modul IX.1.1 - Epidemiologi 2 4. Diederick E. Grobbee, Arno W. Hoes, 2015. Clinical Epidemiology. Second edition, Jones and Bartlett Learning. 5. Antony Steward, 2016. Basic Statistics and Epidemiology: A Practical Guide. Fourth edition, CRC Press. 6. WHO, 2020. Ear and Hearing Survey Handbook. Available at https://www.who.int/publications/i/item/9789240000506-who-ear-and- hearing-survey-handbook D. KOMPETENSI Memahami tentang definisi epidemiologi klinis dan epidemiologi komunitas, penelusuran factor risiko, metode dan alat diagnostik, penentuan terapi/ manajemen, prognosis. Penentuan metode/ desain survei, tujuan dan manfaat survei, langkah-langkah merancang survei, pemilihan/ teknik pengambilan populasi, besar/ jumlah sampel, instrumen survei, pret-post test kuesioner dan manajemen dan analisis data survei. Keterampilan Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam : 1. Menjelaskan tentang definisi epidemiologi klinis dan epidemiologi komunitas 2. Menjelaskan tentang tujuan dan manfaat survei 3. Menjelaskan tentang langkah-langkah merancang survei 4. Menjelaskan metode desain survei 5. Menjelaskan populasi dan sampel 6. Menjelaskan tentang besar sampel dan tehnik pengambilan sampel 7. Menjelaskan tentang instrumen survei (kuesioner) 8. Menjelaskan pre-post test kuesioner 9. Menjelaskan tentang tehnik manajemen dan analisis data survei E. GAMBARAN UMUM Survei adalah metode pengumpulan data epidemiologi yaitu ilmu yang mempelajari distribusi dan determinan kesehatan yang berhubungan dengan populasi yang spesifik dan penerapannya terhadap pengendalian masalah kesehatan.
Modul IX.1.1 - Epidemiologi 3 Syarat melakukan survei adalah: digunakan untuk menginvestigasi problem yang realistik, biaya yang rasional dan efisien, pengumpulan data yang diperkirakan jumlahnya relatif besar namun diasumsikan akan mudah didapat dan data pendukung seperti catatan medik, arsip dan perangkat analisis data hasil survei (soft dan hardware). Secara umum metode survei epidemiologi dibagi atas disain deskriptif dan analitik. Bentuk pendekatan survei epidemiologi ini dapat berupa cross sectional, case control atau cohort. Sampel adalah bagian dari populasi penelitian yang diambil untuk dilakukan pengukuran. Populasi dibagi atas populasi target yaitu: kumpulan dari satuan/unit yang ingin kita buat inferensi/generalisasinya, dan populasi terjangkau yaitu: kumpulan dari satuan/unit yang lebih spesifik dan benar-benar akan diteliti. Beberapa jenis teknik pengambilan sampel adalah: simple random sampling, systematic random sampling, stratified random sampling dan cluster sampling. F. CONTOH KASUS DAN DISKUSI Dalam rangka mendapatkan jumlah kasus deaf child beserta kemungkinan dan pembuktian faktor risikonya, dilakukan pendataan di ruang/klinik perinatologi dan poliklinik THT-KL RS Pendidikan. Selanjutnya dilakukan analisis statistik yang sesuai untuk pembuktian faktor risiko. Kriteria diagnosis deaf child didasarkan atas pemeriksaan OAE dan BERA pada setiap anak di perinatologi dan poliklinik THT. Data faktor risiko didasarkan atas rekam medis. Selanjutnya hasil analisis disusun dan dilengkapi dengan tinjauan pustaka untuk kemudian dipublikasikan di majalah ilmiah Kedokteran tentang frekuensi, prevalensi, insidensi dan faktor risiko Deaf child di Daerah RS Pendidikan tersebut. Diskusi Berdasarkan cara survei di RS Pendidikan,maka tidak bisa didapatkan insidensi Deaf child, tetapi hanya sebagai angka frekuensi. Peserta PPDS ditugasi untuk membahas hal ini berdasar referensi tentang survei angka kejadian, serta mendiskusikan mengenai jenis-jenis angka kejadian suatu penyakit. Selanjutnya didiskusikan tentang cara-cara mendapatkan data, analisis statistiknya serta penyimpulan terhadap data tersebut.
Modul IX.1.1 - Epidemiologi 4 Sebagai penugasan, terhadap peserta PPDS merancang langkah-langkah melakukan survei. G. TUJUAN PEMBELAJARAN 1. Memahami pengertian definisi epidemiologi dan survei di bidang THT KL Komunitas. Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Interactive lecture x Journal reading and review/ critical apprraisal. x Task based medical education. x Webinar Harus diketahui : Definisi epidemiologi klinis, epidemiologi komunitas dan survei. 2. Mampu menjelaskan tentang tujuan dan manfaat epidemiologi dan survei di bidang THT KL Komunitas Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Interactive lecture x Journal reading and review/ critical appraisal. x Peer assisted learning (PAL). x Task based medical education. x Webinar Harus diketahui : Tujuan survei di bidang THT KL Komunitas 3. Mampu menjelaskan langkah-langkah merancang survei Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Interactive lecture x Journal reading and review/ critical appraisal. x Peer assisted learning (PAL). x Task based medical education. x Webinar Harus diketahui : Langkah-langkah merancang dan melakukan survei
Modul IX.1.1 - Epidemiologi 5 4. Mampu menjelaskan, menentukan metode desain survei Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Interactive lecture x Webinar x Journal reading and review/ critical appraisal. x Bedside teaching x Case simulation and investigation exercise. x Equipment characteristics and operating instructions. Harus diketahui : Metode desain survei di bidang THT KL Komunitas 5. Menjelaskan populasi dan sampel x Interactive lecture x Webinar x Journal reading and review/ critical appraisal. x Case study x Demonstration and Coaching Harus diketahui : Pengertian populasi dan sampel 6. Menjelaskan tentang besar sampel dan tehnik pengambilan sampel x Interactive lecture x Webinar x Journal reading and review/ critical appraisal. x Case study x Demonstration and Coaching Harus diketahui : Cara menghitung besar sampel dan teknik pengambilan sampel 7. Menjelaskan tentang instrumen survei (kuesioner) Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Interactive lecture x Webinar x Journal reading and review/ critical appraisal.
Modul IX.1.1 - Epidemiologi 6 x Case study x Demonstration and Coaching Harus diketahui : Cara merancang instrumen survei (kuesioner) 8. Menjelaskan pre-post test instrumen survei (kuesioner) Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Interactive lecture x Webinar x Journal reading and review/ critical appraisal. x Case study x Demonstration and Coaching x Practice with Research Proposal. x Continuing Professional Development Harus diketahui : Cara melakukan pre-post test instrumen survei (kuesioner) 9. Mengetahui teknik pengumpulan data survei Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Interactive lecture x Journal reading and review/ critical appraisal. x Case study x Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device). x Demonstration and Coaching x Practice with Research Proposal. Harus diketahui : Teknik pengumpulan data survei H. METODE PEMBELAJARAN Proses, materi, dan metode pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam survei bagi para penderita gangguan pendengaran semua usia Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Interactive lecture x Small group discussion.
Modul IX.1.1 - Epidemiologi 7 x Peer assisted learning (PAL) Mengetahui pengertian tentang survei kegiatan THT KL Komunitas: 1. Mampu menjelaskan tentang definisi epidemiologi komunitas dan survei 2. Mampu menjelaskan tentang tujuan dan manfaat survei 3. Mampu menjelaskan tentang langkah-langkah merancang survei 4. Mampu menjelaskan metode desain survei 5. Mampu menjelaskan populasi dan kerangka sampel 6. Mampu menjelaskan tentang besar sampel dan tehnik pengambilan sampel 7. Mampu menjelaskan tentang instrumen survei (kuesioner) 8. Mampu menjelaskan pre-post test kuesioner 9. Mengetahui tentang tehnik pengumpulan data survei I. EVALUASI 1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dalam bentuk tulisan sesuai dengan tingkat masa pendidikan, bertujuan menilai kemampuan awal yang dimiliki peserta didik serta mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri dari: 1) Materi definisi epidemiologi komunitas dan survei 2) Materi tujuan dan manfaat survei 3) Materi tentang langkah-langkah merancang survei 4) Materi tentang metode desain survei 5) Materi tentang populasi dan kerangka sampel 6) Materi tentang menentukan besar sampel dan tehnik pengambilan sampel 7) Materi tentang instrumen survei (kuesioner) 8) Materi tentang pretest survei 9) Mengetahui tentang tehnik pengumpulan data survei 2. 6HODQMXWQ\D GLODNXNDQ ³small group discussion´ EHUVDPD GHQJDQ IDVLOLWDWRU untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian.
Modul IX.1.1 - Epidemiologi 8 3. Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam EHQWXN ³role play´ GDQ WHPDQ-temannya (Peer Assisted Evaluation). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assisted Evaluation). Setelah dianggap memadai, melalui metode bedside teaching dibawah pengawasan fasilitator. Peserta didik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model alat bantu dengar dan ear mould dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukan presentasi tugasnya. Pada saat pelaksanaan evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut : Perlu perbaikan : Pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan. Cukup : Pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal penguasaan materi masih kurang. Baik : Pelaksanaan benar dan baik (efisien) 4. Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal tentang survei, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan. 5. Self assesment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar. 6. Pendidik/ fasilitas : - Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form (terlampir) - Penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi - Kriteria penilaian keseluruhan : cakap/ tidak cakap/ lalai 7. Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education). 8. Pencapaian pembelajaran : - Ujian OSCA (K,P,A), dilakukan pada tahapan THT KL dasar oleh Kolegium I THT KL
Modul IX.1.1 - Epidemiologi 9 - Ujian akhir stase, setiap divisi/ unit kerja oleh masing-masing sentra Pendidikan THT KL lanjut oleh kolegium ilmu THT KL. - Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan THT KL lanjut oleh Kolegium Ilmu THT KL. J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF Kuesioner Sebelum dan setelah pembelajaran. 1. Untuk mengetahui kejadian deaf child di Indonesia yang valid, maka cukup dilakukan berdasarkan: a. Jumlah kasus deaf child di beberapa Rumah Sakit sentra pendidikan b. Jumlah penderita deaf child yang dilaporkan Dinas Kesehatan Propinsi c. Dilakukan survei pada seluruh penduduk Indonesia d. Survei deaf child dari beberapa Provinsi. 2. Metode survei yang paling valid dan fisibel dilakukan adalah: a. Simple random sampling b. Systematic random sampling c. Stratified random sampling d. Cluster sampling 3. Data Survei selalu didapatkan pada: a. Data masa lampau misalnya: dari rekam medis b. Laporan petugas kesehatan Puskesmas c. Data dari Rumah Sakit Pendidikan d. Survei Cross sectional. x Essay/Ujian Lisan/Uji Sumatif
Modul IX.1.1 - Epidemiologi 10 K. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR PENUNTUN BELAJAR SURVEI NAMA PESERTA: .............................. TANGGAL: ........................... KEGIATAN KASUS I. KAJI ULANG PERSIAPAN SURVEI x Nama x Judul Survei II. PERSIAPAN PROSEDUR x Pemahaman tentang epidemiologi klinis, epidemiologi komunitas dan survei x Pemahaman tentang tujuan dan manfaat survei x Pemahaman tentang langkah-langkah merancang survei o Pemahaman tentang metode disain survei o Pemahaman tentang populasi dan sampel o Pemahaman tentang besar sampel dan tehnik pengambilan sampel o Pemahaman tentang instrumen survei (kuesioner) o Pemahaman tentang pretest kuesioner o Pemahaman tentang manajemen dan analisis data survei III. FOLLOW UP x Menilai kecakapan tentang praktek merancang survei Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut: 1. Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan) 2. Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal 3. Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien 4. T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
Modul IX.1.1 - Epidemiologi 11 L. DAFTAR TILIK DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA SURVEI EPIDEMIOLOGI Berikan penilaian tentang psikomotorik atau ketrampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan suatu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan di bawah ini : V : Memuaskan: langkah atau kegiatan yang diperagakan sesuai dengan Prosedur atau panduan standar X : Tidak memuaskan: langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan Prosedur atau panduan standar T/T: Tidak ditampilkan : langkah, kegiatan atau ketrampilan tidak diperagakan oleh Peserta selama proses evaluasi oleh pelatih NAMA PESERTA: ...............................TANGGAL : ...................................... M. MATERI PRESENTASI Slide 1: Definisi epidemiologi klinis, epidemiologi komunitas dan survei Epidemiologi: epi (diatas), demos (individu) dan logos (ilmu) Epidemiologi: ilmu yang mempelajari distribusi dan determinan kesehatan yang berhubungan dengan populasi yang spesifik dan penerapannya terhadap pengendalian masalah kesehatan Epidemiologi mencakup tentang pola-pola penyakit serta pencarian determinannya. Pendahuluan 1 KEGIATAN SCORE I. PERSIAPAN SURVEI T/T X V Merancang suatu survei: - Menentukan metode disain survei - Menetapkan populasi dan sampel - Menghitung besar sampel - Menetukan tehnik pengambilan sampel II. PERSIAPAN INSTRUMEN SURVEI 1. Membuat kuesioner III. MELAKUKAN PRE TEST KUESIONER 1. Melakukan uji validitas kuesioner IV. PENGUMPULAN DATA SURVEI 1. Melakukan tabulasi data survei 2. Melakukan analisis data
Modul IX.1.1 - Epidemiologi 12 Perbedaan epidemiologi klinik dengan epidemiologi komunitas Spesifikasi Klinik Komunitas o Populasi Individu Masyarakat o Tempat RS, Puskesmas Desa, Kec., Kab., Prop., Negara o Alat Alat pemeriksaan Epidemiologi fisik, penunjang dll statistik o Cara Anamnesis, peme- Pengumpulan data Diagnosis riksaan fisik, lab penyakit o Terapi Medikamentosa, Penyuluhan, operasi dll regulasi dll 2 Slide 2: Tujuan dan manfaat survei Tujuan epidemiologi komunitas o Menggambarkan distribusi, perjalanan alamiah suatu penyakit atau keadaan kesehatan suatu populasi o Menjelaskan penyebab penyakit yang terjadi dalam suatu populasi o Memprediksi kejadian penyakit yang akan terjadi dalam suatu populasi o Mengidentifikasi kelompok risiko tinggi o Mengatasi dan mengendalikan distribusi penyakit dan masalah yang ditimbulkannya dalam suatu populasi 3
Modul IX.1.1 - Epidemiologi 13 Manfaat epidemiologi komunitas o Dapat menjelaskan penyebab terjadinya suatu penyakit atau masalah kesehatan dalam suatu populasi o Memberi pertimbangan health service management dan stake holder dalam mengambil kebijakan (planning, monitoring dan evaluation) o Dapat menjelaskan perjalanan alamiah dan pola penyakit dalam masyarakat o Dapat menggambarkan hubungan antara dinamika penduduk dengan penyebaran penyakit o Dapat menjelaskan masalah kesehatan dalam suatu populasi (endemik, epidemik, pandemi, dll) 4 Slide 3: Langkah-langkah merancang survei Langkah-langkah melakukan survei: 1. Menentukan masalah penelitian dan tujuan survei 2. Membuat desain survei 3. Menentukan populasi dan kerangka sampel 4. Menetukan besar sampel dan tehnik pengambilan sampel 5. Membuat instrumen survei (kuesioner) 6. Melakukan pre-post test instrumen survei (kuesioner) 7. Mendapatkan surat layak etik penelitian 8. Pengumpulan data 9. Pengolahan dan analisis data 10.Interpretasi data 11.Membuat kesimpulan hasil survei 12.Laporan hasil survei 8
Modul IX.1.1 - Epidemiologi 14 Slide 4: Metode disain survei Metode disain survei a. Penelitian survei deskriptif b. Penelitian survei analitik Cross sectional study Case control study (retrospektif study) Cohort study (prospective study) 2. Membuat disain survei 11 Slide 5: Populasi dan sampel Populasi target Kumpulan dari satuan/unit yang ingin kita buat inferensi/generalisasinya Populasi studi/terjangkau Kumpulan dari satuan/unit dimana kita mengambil sampel Sampel Bagian dari populasi studi yg diambil untuk dilakukan pengukuran 3. Menentukan populasi dan kerangka sampel 55
Modul IX.1.1 - Epidemiologi 15 Slide 6: Besar sampel dan teknik pengambilan sampel Penentuan besar sampel Tergantung: Biaya yang tersedia, waktu dan tenaga Tujuan dan desain penelitian Variasi dalam variabel (objek penelitian) dan banyak variabel Skala pengukuran Hipotesis (one tail dan two tail) serta alpha dan betha yang ditetapkan Presisi : ketepatan yang dikehendaki (ditentukan peneliti) Rencana analisis 4. Menentukan besar sampel dan tehnik pengambilan sampel 59 Slide 7: Instrumen survei (kuesioner) Jenis pertanyaan dalam kuesioner 1. Open-ended (terbuka) dibutuhkan kemampuan responden untuk mengerti pertanyaan dan menulis jawabannya untuk pertanyaan tertentu, pewancara dapat memberikan penjelasan atau informasi tambahan hal yang harus dihindari dalam pertanyaan terbuka adalah banyaknya waktu yang diperlukan untuk mengumpulkan data dan analisa jawaban 5. Membuat instrumen survei (kuesioner) 78
Modul IX.1.1 - Epidemiologi 16 2. Close-ended (tertutup) responden memilih jawaban dari daftar yang telah dibuat oleh peneliti jawaban dapat berupa skala nominal, ordinal atau berupa multiple choice bentuk pertanyaan lebih sederhana dan jawabannya uniform jawabannya mudah di kuantifikasi kekurangannya peneliti sering gagal atau tertinggal membuat beberapa pertanyaan yang penting kadangkala responden mempunyai jawaban yang berbeda dari opsi jawaban yang dibuat oleh peneliti, solusinya dibuat 1 tambahan pilihan jawaban terbuka atau baris kosong 79 Slide 8: Pretest kuesioner ͻ Sebaiknya dilakukan pre-post test kuesioner untuk memperoleh kuesioner yang adekuat Dilakukan pada jumlah sampel yang sedikit (10-20 responden) Tujuannya untuk mengoreksi pertanyaan yang salah atau membingungkan tanpa membuang waktu dan biaya Sampel untuk pre test kuesioner diambil secara random dari populasi yang akan diteliti  3UH WHVW diusahakan setara, mendekati dan menyerupai hasil akhir  +DVLO SUH WHVW dapat digunakan untuk menentukan apakah responden telah mengerti setiap pertanyaan 6. Preliminer dan pre-post test kuesioner (uji validitas kuesioner) 81
Modul IX.1.1 - Epidemiologi 17 Slide 9: Teknik pengumpulan data survey Tehnik pengambilan data survei: 1. Wawancara langsung tatap muka 2. Menggunakan google form 3. Melalui media telepon/handphone 4. Melalui email/WEB 7. Pengumpulan data 82 N. MATERI BAKU Survei adalah metode pengumpulan data epidemiologi yaitu ilmu yang mempelajari distribusi dan determinan kesehatan yang berhubungan dengan populasi yang spesifik dan penerapannya terhadap pengendalian masalah kesehatan. Menurut defenisi WHO, survei/surveilans adalah pengumpulan, pengolahan, analisa data kesehatan secara sistematis dan terus menerus serta diseminasi informasi tepat kepada pihak berkepentingan sehingga dapat diambil tindakan yang tepat. Manfaat survei epidemiologi komunitas adalah: dapat menjelaskan penyebab terjadinya suatu penyakit atau masalah kesehatan dalam suatu populasi, memberi pertimbangan health service management dan stake holder dalam mengambil kebijakan (planning, monitoring dan evaluation), dapat menjelaskan perjalanan penyakit alamiah dan pola penyakit dalam masyarakat, dapat menggambarkan hubungan antara dinamika penduduk dengan penyebaran penyakit dan dapat menjelaskan masalah kesehatan dalam suatu populasi seperti epidemi, endemi, pandemi dan lain-lain. Syarat melakukan survei adalah: digunakan untuk menginvestigasi problem yang realistik, biaya yang rasional, pengumpulan data yang diperkirakan jumlahnya
Modul IX.1.1 - Epidemiologi 18 relatif besar namun diasumsikan akan mudah didapat dan data pendukung seperti catatan medik, arsip dan lain-lain tersedia. Secara umum metode survei epidemiologi dibagi atas disain deskriptif dan analitik. Survei epidemiologi deskriptif ditujukan untuk mendeskripsikan atau mengurai suatu keadaan didalam suatu komunitas atau masyarakat. Metode survei ini disebut juga sebagai exploratory survey dimana hanya menjawab pertanyaan ³EDJDLPDQD how´ GDQ WLGDN PHPHUOXNDQ KLSRWHVLV Metode lain dari survei epidemiologi adalah analitik, dimana penelitian ditujukan untuk suatu keadaan atau situasi. Metode survei ini disebut juga sebagai H[SODQDWRU\ VWXG\ \DQJ EHUXVDKD PHQMDZDE SHUWDQ\DDQ ³PHQJDSD why´ GDQ metode ini memerlukan suatu hipotesis. Bentuk pendekatan survei epidemiologi ini dapat berupa cross sectional, case control atau cohort. Survei epidemiologi secara cross sectional (survei potong lintang) adalah penelitian observational yang paling sering dilakukan dimana peneliti mencari hubungan antara variabel bebas (faktor risiko) dengan variabel tergantung (efek/penyakit) dengan melakukan pengukuran sesaat (point time approach) pada suatu waktu tertentudan sekali pengukuran data. Langkah-langkah yang dilakukan dalam survei epidemiologi secara cross sectional adalah: rumuskan pertanyaan penelitian dan hipotesis, seleksi atau tentukan sampel dari populasi, identifikasi variabel bebas dan tergantung, tetapkan subjek penelitian, lakukan pengukuran varibel faktor risiko dan kasus kemudian lakukan analisa. Kelebihan dari survei epidemiologi jenis ini adalah: relatif mudah, murah dan hasilnya cepat diperoleh, kemudian dapat dipakai untuk meneliti banyak variabel sekaligus, jarang terancam loss to follow-up (drop out), dapat dipakai sebagai dasar untuk penelitian selanjutnya yang lebih konklusif, dan memungkinkan penggunaan dari populasi masyarakat umum sehingga generalisasi lebih mudah. Kekurangan survei epidemiologi jenis ini adalah: sulit untuk menentukan sebab akibat, lebih banyak menjaring subjek penyakit kronis dari pada penyakit akut, dibutuhkan subjek yang cukup banyak, tidak praktis untuk meneliti kasus yang jarang serta mungkin terjadi bias prevalens atau bias insiden.
Modul IX.1.1 - Epidemiologi 19 Contoh survei epidemiologi jenis ini antara lain: jumlah penderita deaf child disuatu populasi komunitas tertentu pada kurun waktu tahun 2020. Selanjutnya diamati atau dicari data variabel yang selama ini sebagai faktor risiko seperti: usia kehamilan saat melahirkan ibu penderita, berat badan saat lahir, ada tidaknya hiperbilirubinemia, dan sebagainya. Hasil survei ini akan menunjukkan jumlah deaf child, sekaligus persentase masing-masing faktor risikonya. Pengumpulan data pada survei tersebut dapat berdasarkan kuesioner, maupun pengukuran langsung saat dilakukan survei. Manfaat dalam survei tersebut antara lain untuk mendapatkan gambaran kejadian deaf child pada populasi komunitas dalam kurun waktu tertentu. Dalam survei tersebut sekaligus didapatkan beberapa variabel yang dicurigai sebagai faktor risiko, untuk kemudian dianalisis dan disimpulkan faktor risiko didaerah populasi komunitas tertentu tersebut. Apabila survei sejenis dilakukan didaerah lain, maka dapat dibandingkan jumlah kejadian beserta ragam faktor risikonya, sehingga selanjutnya dapat berguna untuk melacak dan menganalisis kemungkinan jika ada perbedaan jenis maupun persentase baik kejadian maupun faktor risikonya. Survei yang ideal, dilakukan pada seluruh populasi sebagai sampel penelitian dalam suatu negara,akan tetapi hal ini memerlukan waktu dan biaya yang sangat besar yang kadang-kadang belum menjadikan prioritas utama kegiatan dalam suatu negara. Sehubungan hal tersebut, maka disusun suatu metode survei terhadap sekelompok sampel yang sedapat mungkin mewakili kondisi sampel dalam suatau negara/ daerah tersebut. Sampel adalah bagian dari populasi penelitian yang diambil untuk dilakukan pengukuran. Populasi dibagi atas populasi target yaitu: kumpulan dari satuan/unit yang ingin kita buat inferensi/generalisasinya, dan populasi terjangkau yaitu: kumpulan dari satuan/unit dimana kita mengambil sampel. Syarat sampel yang ideal adalah: menghasilkan gambaran yang tepat karakter populasi (representatif), dapat menentukan presisi (ketepatan) dari hasil penelitian, sederhana dan mudah dilaksanakan, serta informasi yang didapat banyak dan biaya rendah. Untuk mengambil sampel yang tepat maka dilakukan tehnik pengambilan sampel dengan metode tertentu (sampling) karena: jumlah populasi yang sangat
Modul IX.1.1 - Epidemiologi 20 besar, homogenitas, menghemat waktu, biaya dan tenaga serta untuk faktor ketelitian. Teknik pengambilan sampel ini dikembangkan untuk membantu para peneliti melakukan generalisasi dari hasil penelitian yang telah dilakukan. Beberapa jenis tehnik pengambilan sampel adalah: Simple random sampling merupakan metode sampling (mendapatkan sampel) yang paling intuitif. Setiap penduduk/calon sampel diberi nomor, selanjutnya diacak. Sesuai jumlah sampel yang sudah ditentukan, selanjutnya dari kelompok nomor tersebut diacak sampai didapatkan jumlah yang sesuai. Sampling paling sederhana dapat dipilih dengan menggunakan koin mata uang logam yang ditentukan permukaan gambaran sebagai sampel, atau dapat juga dengan bantuan komputer. Metode simple random sampling ini sangat rumit, membutuhkan waktu dan biaya yang relatif besar, sehingga sudah tidak populer lagi digunakan. Systematic random sampling merupakan metode yang mirip dengan simple random sampling, hanya saja nomor masing-masing penduduk dipilih berdasarkan misalnya nomor genap atau ganjil saja yang dijadikan calon sampel, selanjutnya diacak seperti pada simple random sampling. Metode ini juga cukup rumit, membutuhkan waktu dan biaya yang relatif besar, sehingga sudah tidak populer lagi digunakan. Cluster sampling, merupakan metode sampling yang paling sering digunakan pada survei pada suatu daerah/populasi yang besar. Dalam metode ini, sampling dilakukan pada kelompok-kelompok sampel yang terorganisir, misalnya diambil pada beberapa kelompok populasi yang mewakili kondisi di daerah tertentu. Kelompok calon sampel yang sering digunakan dapat diambil dari beberapa sekolah atau institusi tertentu, kemudian diacak sampai jumlah sampel yang diperhitungkan tercapai. Metode ini lebih tidak begitu rumit, relatif hemat waktu dan biaya.
Modul IX.1.1 - Epidemiologi 21 Gambar diatas menunjukkan metode cluster sampling. Pada suatu populasi yang besar (gambar warna biru), diambil beberapa tempat kelompok sampel (bintik warna putih), selanjutnya diacak. Keuntungan metode ini adalah lebih visibel dilakukan, disamping tidak perlu menomori seluruh penduduk, hemat waktu dan biaya. Kerugiannya antara lain kurang begitu menunjukkan kondisi yang sebenarnya pada populasi seluruh daerah. Syarat penting untuk melakukan inferensi atau generalisasi suatu survei epidemiologi adalah penentuan besar sampel. Tujuan dalam menentukan besar sampel adalah untuk representativeness (mewakili populasi) dan untuk keperluan analisis. Penentuan besar sampel tergantung: biaya, waktu dan tenaga yang tersedia, tujuan dan disain penelitian, variasi dalam variabel (objek penelitian) dan banyak variabel, skala pengukuran, hipotesis (one tail or two tail), serta alfa dan beta yang ditetapkan, presisi/ketepatan yang dikehendaki peneliti dan rencana analisis. Langkah selanjutnya dalam melakukan survei epidemiolgi adalah: membuat instrumen survei yaitu kuesioner. Secara umum jenis pertanyaan dalam kuesioner dapat berupa pertanyaan terbuka (open-ended) atau pertanyaan tertutup (close- ended). Jenis pertanyaan kuesioner terbuka (open-ended) membutuhkan kemampuan responden untuk mengerti pertanyaan dan menulis jawabannya. Untuk pertanyaan tertentu, pewancara dapat memberikan penjelasan atau informasi tambahan. Hal yang harus dihindari dalam pertanyaan terbuka adalah banyaknya waktu yang diperlukan untuk mengumpulkan data dan analisa jawaban. Jenis pertanyaan kuesioner secara tertutup (close-ended), responden memilih jawaban dari daftar yang telah dibuat oleh peneliti. Jawaban dapat berupa skala nominal, ordinal atau multiple choice. Bentuk pertanyaan lebih sederhana dan seragam dan jawabannya mudah dikuantifikasi. Kekurangan metode pertanyaan kuesioner ini adalah peneliti sering gagal atau tertinggal membuat beberapa pertanyaan yang penting. Kadang kala responden mempunyai jawaban yang berbeda dari opsi jawaban yang dibuat oleh peneliti. Solusisnya dibuat satu tambahan pilihan jawaban terbuka atau baris kosong. Setelah selesai membuat kuesioner, dilakukan preliminer dan pretest kuesioner atau uji validitas kuesioner untuk memperoleh kuesioner yang adekuat. Uji validitas kuesioner dilakukan pada sampel yang sedikit, berkisar 10-20 sampel yang bertujuan
Modul IX.1.1 - Epidemiologi 22 untuk mengoreksi pertanyaan yang salah atau membingungkan tanpa membuang waktu dan biaya. Sampel untuk uji validitas kuesioner diambil secara random dari populasi yang akan diteliti. Uji validitas kuesioner diusahakan setara agar mendekati dan menyerupai hasil akhir. Hasil uji validitas kuesioner dapat digunakan untuk menentukan apakah responden telah mengerti setiap pertanyaan. Langkah selanjutnya adalah pengumpulan data survei epidemiologi. Teknik pengumpulan data survei epidemiologi dapat secara wawancara tatap muka langsung, menggunakan google form, menggunakan media telepon/handpone, dan menggunakan email/WEB. Kelebihan pengumpulan data survei epidemiologi secara wawancara tatap muka langsung adalah memungkinkan wawancara yang lebih panjang dan lebih kompleks, menghasilkan kerja sama yang tinggi dan tingkat penolakkan yang rendah, serta kualitas respon yang tinggi dari responden. Namun kekurangan metode pengumpulan data survei epidemiologi ini adalah membutuhkan biaya yang paling besar dari metode pengumpulan data survei epidemiologi lain, waktu pengumpulan data lebih lama dan membutuhkan pewancara (enumerator) yang banyak. Teknik pengumpulan data survei epidemiologi dengan menggunakan google form mempunyai kelebihan biaya lebih murah dibanding metode wawancara tatap muka langsung, tim survei lebih sedikit dibanding metode wawancara tatap muka langsung, bisa mendapatkan data dari responden yang sulit dijangkau, waktu pengumpulan data lebih cepat dibandingkan metode pengumpulan data dengan wawancara tatap muka langsung. Namun kekurangan metode pengumpulan data survei epidemiologi ini adalah: bila ada pertanyaan yang tidak jelas, responden tidak bisa bertanya. Responden harus mampu menggunakan media ini (tidak gaptek) dan jaringan atau koneksi internet harus lancar. Teknik pengumpulan data survei epidemiologi dengan menggunakan telepon/handphopne mempunyai kelebihan biaya yang lebih murah, dibanding wawancara tatap muka langsung, tingkat respon lebih baik dibanding google form dan email, serta waktu pengumpulan data lebih cepat dibanding wawancara tatap muka langsung. Kekurangan metode pengumpulan data survei epidemiologi jenis ini adalah responden harus mempunyai fasilitas telepon/handphone, pertanyaan
Modul IX.1.1 - Epidemiologi 23 kuesioner tidak bisa terlalu panjang, responden sulit menjawab pertanyaan sensitif dan kompleks, serta jaringan atau koneksi harus baik. Teknik pengumpulan data survei epidemiologi menggunakan email/WEB mempunyai kelebihan bisa menjangkau responden dari berbagai negara, biaya lebih murah karena tidak membutuhkan alat tulis cetak, biaya pengiriman dan lain-lain, serta waktu pengumpulan data lebih cepat dibanding wawancara tatap muka langsung. Namun kekurangan metode pengumpulan data survei epidemiologi ini adalah tidak semua responden mempunyai email atau fasilitas komputer dan lain- lain, tidak semua responden mampu mengakses survei melalui email/WEB dan sulit mendapatkan sampel yang representatif karena kesulitan melakukan acak pada populasi. III. PROSEDUR OPERASI MASTOIDEKTOMI RADIKAL - Pada daerah retroauricula dan liang telinga yang akan diinsisi dilakukan suntikan dengan lidocain 2% dengan epinefrin 1 : 100.000- 200.000. - Dilakukan insisi retroaurikular 5-10 mm dari sulkus atau pada batas kulit rambut daerah retroaurikular, mulai dari kulit, subkutis hingga lapisan fascia m.temporalis
Modul IX.1.1 - Epidemiologi 24 - Dilakukan pengambilan graft fasia muskulus temporalis - Dilakukan elevasi muskuloperiosteal flap dari korteks mastoid dengan menggunakan respatorium - Pasang retraktor (2 buah) Langkah-langkah mastoidektomi dinding runtuh dengan timpanoplasti - Bor korteks mastoid dengan landmark segitiga Mc Ewen, dengan mengidentifikasi dinding posterior liang telinga, linea temporalis dan spina Henle. Identifikasi tegmen timpani, tegmen mastoid, sinus sigmoid dan kanalis semisirkulatis lateralis. - Identifikasi aditus ad antrum, fosa inkudis, solid angle dan N. Fasialis pars vertikal. Bila ada jaringan patologis/ jaringan granulasi dan kolesteatoman dibersihkan - Identifikasi osikel (jika masih ada) - Bridge diruntuhkan dan dinding posterior direndahkan hingga setinggi fasial ridge - Kavitas operasi dibersihkan - Dilakukan meatoplasti - Jaringan kolesteatoma dibersihkan sebersih mungkin dan apabila kavitas bersih dari jaringan patologis (kolesteatoma), dipasang tandur fasia temporalis menutupi kavitas operasi - Diletakkan tampon yang sudah dilapisi dengan salep antibiotik untuk menutup kavitas operasi.
Modul IX.1.1 - Epidemiologi 25 - Luka operasi ditutup dengan jahitan lapis demi lapis PASCA OPERASI pemberian antibiotika sistemik (profilaksis/ empiris/definitif) pemberian analgetik/antiinflamasi evaluasi pascaoperasi berupa adanya: perdarahan, paresis N.fasialis dan gangguan pendengaran sensorineurineural, keseimbangan saat pemulangan pasien disesuaikan dengan kondisi medis yang dievaluasi operator perawatan luka pasca operasi : perawatan luka retrourikula anjuran 1 minggu pasca operasi, tampon liang telinga diangkat 7-14 hari pasca operasi (tergantung kondisi medis yang dievaluasi operator). Bila ditemukan tanda infeksi, tampon liang telinga harus diangkat lebih awal.
MODUL UTAMA THT KOMUNITAS PENCEGAHAN DAN PENILAIAN KUALITAS HIDUP PADA BAYI DAN ANAK DENGAN GANGGUAN PENDENGARAN MODUL IX.1.2 PREVENTIF & PROMOTIF EDISI III KOLEGIUM ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER 2022
DAFTAR ISI A. WAKTU PEMBELAJARAN .............................................................................1 B. PERSIAPAN SESI ............................................................................................. 1 C. REFERENSI .......................................................................................................1 D. KOMPETENSI ...................................................................................................2 E. GAMBARAN UMUM .......................................................................................3 F. CONTOH KASUS DAN DISKUSI ...................................................................4 G. TUJUAN PEMBELAJARAN ............................................................................6 H. METODE PEMBELAJARAN ...........................................................................7 I. EVALUASI ........................................................................................................8 J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF ................................ 9 K. INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR .................................................11 L. DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA .......................................................12 M. MATERI PRESENTASI ..................................................................................13 N. MATERI BAKU .............................................................................................. 18
Modul IX.1.2 ± Preventif dan Promotif 1 MODUL IX.1.2 THT KOMUNITAS - PENCEGAHAN DAN PENILAIAN KUALITAS HIDUP PADA BAYI DAN ANAK DENGAN GANGGUAN PENDENGARAN : PREVENTIF & PROMOTIF A. WAKTU PEMBELAJARAN Proses Pengembangan Kompetensi Alokasi Waktu Sesi di dalam kelas Sesi dengan fasilitasi pembimbing Sesi praktik dan pencapaian kompetensi 2 X 60 menit (classroom session) 3 X 60 menit (coaching session) 4 jam (fascilitation and assessment) B. PERSIAPAN SESI 1. Materi Presentasi Slide 1 : Pelayanan kesehatan masyarakat Slide 2 : Riwayat alamiah penyakit Slide 3 : Preventif Slide 4 : Promosi kesehatan Slide 5 : Preventif kelainan THT Slide 6 : Promosi kesehatan THT 2. Kasus : Rinitis alergika dankurang pendengaran akibat bising. 3. Sarana dan Alat Bantu Latih : - Penuntun belajar - Tempat belajar : klinik THT, lokasi tertentu sesuai kebutuhan - Alat pemeriksaan rutin THT - Leaflet - Video - Komputer/laptop C. REFERENSI 1. Surahman, Supardi S. Ilmu Keshatan Masyarakat PKM. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, Pusat pendidikan sumber daya manusia kesehatan. Badan pengembangan dan pemberdayaan sumber daya manusia kesehatan, Jakarta 2016
Modul IX.1.2 ± Preventif dan Promotif 2 2. Nurmala I, Rahman F, Nugroho A,Erlyani N, Laily N,Anhar VY.Promosi kesehatan.Airlangga universiy press, surabaya 2018 3. Somerville M, Kumaran K, Anderson R. Improving and protecting health. In: Somerville M, Kumaran K, Anderson R, editors. Public health and epidemiology at a Glance. First edition. Wiley-Blackwel; 2012. p. 50±66. 4. Koh D, Aw T-C. Enviromental and occupational health sciences. In: Detels R, Gulliford M, Karim QA, Tan CC, editors. Oxford Textbook of Global Public Health. Sixth edition. Oxford University Press; 2015. p. 868±81. 5. Chen KH, Su S Bin, Chen KT. An overview of occupational noise-induced hearing loss among workers: epidemiology, pathogenesis, and preventive measures. Environ Health Prev Med. 2020;25(1):1±10. 6. Robert A. Dobie. Noise induced hearing loss. In: Jonas T. Jhohnson M, Rosen, &ODUN $ 0 HGLWRUV %DLOH\¶V +HDG DQG 1HFN 6XUJHU\ 2WRODU\QJRlogy. Fifth edition. Lippincott Williams & Wilkins; 2014. p. 2530±41 7. Jonas T. Johnson, Clark A. Rosen. Allergic and nonallergic rhinitis.In: Jonas T. -KRKQVRQ 0 5RVHQ &ODUN $ 0 HGLWRUV %DLOH\¶V +HDG DQG 1HFN 6XUJHU\ Otolaryngology. Fifth edition. Lippincott Williams & Wilkins; 2014. p.368-79 8. Fleischer D.M, Spergel J.M, Assaad A.H, Pongracic J.A. Primary prevention of allergic disease through nutritional interventions: Guidelines for healthcare professionals. J Allergy Clin Immunol: In Practice 2013;1:29-36 D. KOMPETENSI Pengetahuan : 1. Mampu menjelaskan tentang pelayanan kesehatan masyarakat. 2. Mampu menjelaskan riwayat alamiah penyakit. 3. Mampu menjelaskan preventif terhadap penyakit. 4. Mampu menjelaskan promotif kesehatan. 5. Mampu menjelaskan preventif terhadap kelainan kelainan di THT. 6. Mampu menjelaskan promotif di bidang THT. Ketrampilan : 1. Mampu mengatasi masalah kesehatan masyarakat. 2. Mampu melakukan upaya promotif.
Modul IX.1.2 ± Preventif dan Promotif 3 3. Mampu melakukan upaya preventif. 4. Mampu melakukan upaya preventif dan promotif di bidang THT. E. GAMBARAN UMUM Penaganan masalah kesehatan dikenal dua pendekatan yaitu (1) menunggu terjadinya penyakit (setelah sakit) disebut pendekatan kuratif (pengobatan) dan (2) melakukan upaya-upaya pencegahan penyakit disebut preventif dan meningkatkan kesehatan (promosi) sebelum terjadinya penyakit. Kondisi kesehatan seseorang disebabkan adanya interaksi antara faktor penyebab SHQ\DNLW DWDX ³DJHQ´ PDQXVLD VHEDJDL ³SHQMDPX´ DWDX ³KRVW´ GDQ OLQJNXQJDQ sebagai faktor pendukung. Ketiga faktor ini saling terkait dan bersinergi satu sama lain. Salah satu faktor tersebut tidak seimbang, akan menyebabkan ketidakseimbangan, akibatnya menyebabkan seseorang sakit. Tahapan riwayat alamiah penyakit melalui tahap prepatogenesis dan tahap patogenesis yang terdiri dari 4 subtahap yaitu : tahap inkubasi, tahap dini, tahap lanjut dan tahap akhir. Preventif Berdasarkan tahapan yang berbeda dalam perkembangan penyakit, tingkat pencegahan dibagi menjadi pencegahan primordial dan primer, pencegahan sekunder, dan pencegahan tersier. Masing-masing tingkat pencegahan tersebut berperan dalam mengurangi penyebab timbulnya penyakit dan mengurangi keparahan dari penyakit. Semua tingkat pencegahan penting dan harus saling melengkapi. Tahapan pencegahan primer dapat menjaga kondisi kesehatan masyarakat/seluruh penduduk. Pencegahan sekunder dan tersier dilakukan pada orang yang sudah memiliki tanda- tanda penyakit dan sudah sembuh agar kecacatan yang timbul akibat sakit dapat diminimalisasi. Promosi Kesehatan Upaya peningkatan kemampuan masyarakat dalam mengendalikan faktor-faktor kesehatan melalui pembelajaran dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat, agar mereka dapat menolong dirinya sendiri, serta mengembangkan kegiatan yang
Modul IX.1.2 ± Preventif dan Promotif 4 bersumber daya masyarakat, sesuai sosial budaya setempat dan didukung oleh kebijakan publik yang berwawasan kesehatan (DEPKES RI, 2006). F. CONTOH KASUS DAN DISKUSI 1. Tn M , umur 40 tahun datang ke klinik THT-KL dengan keluhan sering mengalami bersin-bersin > 5 kali hampir setiap pagi selama kurang lebih 7 tahun disertai hidung gatal dan keluar ingus cair, jernih dari kedua lubang hidung, Keluhan bertambah hebat jika penderita terkena debu dan keluhan berkurang setelah minum obat flu yang dibeli sendiri. Penderita belum pernah berobat ke dokter. Penderita masih dapat melakukan kegiatan sehari-hari, tetapi dirasakan terganggu dalam pekerjaanya. Tidak ada gangguan tidur, tidak demam dan tidak batuk. Daya penciuman berkurang saat keluhan muncul dan membaik setelah minum obat. Riwayat alergi lain seperti asma pada penderita tidak ada. Anak ke dua menderita sakit yang sama. Riwayat alergi pada orang tua penderita tidak diketahui. Pada pemeriksaan fisik hidung didapatkan mukosa hidung pucat, konka edem dan ingus cair. Septum nasi deviasi ringan ke kiri. Telinga dan tenggorok dalam batas normal. Tes kulit cara prick hasilnya positif (+++) terhadap alergen tungau debu rumah ( D farinei dan D pterinosinus), human danders dan kecoa. Apakah tindakan preventif yang dapat dilakukan untuk menghindari terjadinya rinitis alergi? Diskusi : Rinitis alergi dapat mengenai semua umur dan jenis kelamin. Keluhan / gejala klinik yang berupa hidung gatal, rinore dan obstruksi hidung dapat dijumpai semua pada seorang penderita dengan derajat gangguan yang bervariasi. Upaya preventif primer dilakukan untuk menjaga kondisi kesehatan keluarga/kelompok masyarakat khususnya penderita rinitis alergika (memberikan pengetahuan tentang tanda gejala dan tatalaksana rinitis alergika, faktor pencetus dan pencegahan terhadap kekambuhan, komplikasi rinitis alergika dan
Modul IX.1.2 ± Preventif dan Promotif 5 penanganannya). Peningkatan daya tahan tubuh dengan olah raga rutin, peningkatan status gizi, istirahat cukup. Upaya preventif sekunder dilakukan untuk penemuan kasus secara dini (skin prick tes atau IgE total dan IgE atopi) dan melakukan penaganan dengan cepat dan tepat (medikamentosa, penghindaran alergen) agar membaik dan tidak kambuh, tidak terjadi komplikasi lebih lanjut seperti sinusitis dan atau polip nasi Upaya preventif tersier merupakan upaya rehabilitatif terhadap penderita yang mengalami gangguan fungsi pernafasan dan atau fungsi penghidu akibat rinitis alergika agar dapat mengembalikan fungsi yang terganggu, memaksimalkan fungsi organ yang terkait. 2. Laki laki 45 tahun datang ke klinik THT dengan keluhan telinga berdenging, denging dirasakan terus menerus sejak 5 bulan yang lalu, terasa mengganggu, kadang disertai sakit kepala, pasien tidak sedang batuk pilek, tidak sedang minum obat obatan. riwayat pekerjaan 7 tahun bekerja di pabrik tekstil dengan suara bising tinggi, alat pelindung telinga yang diberikan kadang tidak dipakai karena merasa tidak nyaman. Pada pemeriksaan otoskopi tidak didapatkan kelainan. Bagaimana upaya promotif dan preventif pada kasus seperti ini ? Diskusi Bising : suara yang tidak diinginkan, bising yang cukup keras dalam jangka waktu yangcukup lama dapat menyebabkan kurang pendengaran kadang disertai tinitus pada kedua telinga, kesulitan menangkap pembicaraan dengan kekerasan biasa.Pengaruh bising menyebabkan adanya gangguan di dalam koklea berupa kerusakan sel-sel sensorik dan penunjang juga dapat menimbulkan efek pada sel- sel ganglion, saraf, membran tektoria, pembuluh darah dan stria vaskularis. Jenis kerusakan pada struktur organ tertentu yang ditimbulkan bergantung pada intensitas, lama pajanan dan frekuensi bising. Pemeriksaan audiometri menunjukkan adanya tuli sensorineural pada frekuensi 3000 ± 6000 Hz dengan
Modul IX.1.2 ± Preventif dan Promotif 6 penurunan di 4000 Hz yang merupakan patognomonik untuk jenis ketulian ini. Pemeriksaan OAE menunjukkan hasil refer. Upaya preventif primer dilakukan untuk menjaga kondisi kesehatan keluarga/kelompok masyarakat khususnya orang yang terpapar bising (memberikan pengetahuan tentang bising, tanda gejala dan tatalaksana kurang dengar akibat bising, perlindungan diri/pencegahan terhadap terjadinya kurang dengar, penanganan dan komplikasi lanjut akibat bising). Melakukan identifikasi sumber bising melalui survei kebisingan, melakukan analisis kebisingan dengan mengukur kebisingan menggunakan sound level meter, menerapkan sistem komunikasi, informasi dan edukasi serta menerapkan penggunaan alat pelindung diri secara ketat dan melakukan pencatatan dan pelaporan data. Upaya preventif sekunder dilakukan pemeriksaan skrining pendengaran pada orang yang terpajan bising (misalnya di pabrik), orang yang mempunyai gaya hidup dengan resiko terpajan bising (misalnya penikmat musik, penikmat permainan elektronik yang bising, dll)Melakukan pemeriksaan pendengaran secara berkala dengan menggunakan audiometri nada murni dan OAE , rotasi area kerja untuk mencegah terjadinya kurang dengar dan tidak terjadi kurang dengar yang lebih berat/ Upaya preventif tersier merupakan upaya rehabilitatif terhadap yang sudah mengalami kurang dengar dengan pemakaian ABD untuk mengembalikan fungsi yang terganggu, memaksimalkan fungsi organ yang tersisa karena kurang pendengaran akibat bising ini bersifat permanen G. TUJUAN PEMBELAJARAN Proses, materi dan metoda, pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi preventif dan promotif serta kewaspadaan terhadap kasus kasus di bidang THT-KL yaitumampu : 1. Menjelaskan dan mengatasi masalah kesehatan masyarakat. 2. Menjelaskan riwayat alamiah penyakit. 3. Menjelaskan preventif terhadap penyakit.
Modul IX.1.2 ± Preventif dan Promotif 7 4. Menjelaskan promotif kesehatan. 5. Menjelaskan dan melakukan upaya preventif terhadap kelainan kelainan di THT. 6. Menjelaskan dan melakukan upaya promotif di bidang THT. H. METODE PEMBELAJARAN Tujuan 1 : Menjelaskan dan mengatasi masalah kesehatan masyarakat. Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini : x Interactive lecture x Small group discussion x Peer assisted learning (PAL) Tujuan 2 : Menjelaskan riwayat alamiah penyakit. Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini : x Interactive lecture x Journal reading and review x Small group discussion x Peer assisted learning (PAL) Tujuan 3 : Menjelaskan preventif terhadap penyakit. Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini : x Interactive lecture x Small group discussion x Peer assisted learning (PAL) Tujuan 4 :Menjelaskan promotif kesehatan. Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini : x Interactive lecture x Small group discussion x Peer assisted learning (PAL Tujuan 5 : Menjelaskan dan melakukan upaya preventif terhadap kelainan-kelainan di bidang THT. x Interactive lecture x Small group discussion x Peer assisted learning (PAL) x Bed site teaching
Modul IX.1.2 ± Preventif dan Promotif 8 Tujuan 6 : Menjelaskan dan melakukan upaya promotif di bidang THT. Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini : x Interactive lecture x Small group discussion x Peer assisted learning (PAL) x Bed site teaching I. EVALUASI 1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre test dalam bentuk tulisan . 2. Melakukan diskusi kelompok kecil bersama pembimbing/fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal±hal yang berkenaan dengan penuntun belajar. 3. Peserta didik wajib mempelajari penuntun belajar untuk mengaplikasi langkah yang tertera dalam penuntun belajar. Pada saat pelaksanaan penilai melakukan pengawasan langsung pada saat peserta didik melakukan anamnesa, pemeriksaan THT, dan edukasi - Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan - Cukup : pelaksanaan benar tetapi tidak efisien. - Baik : pelaksanaan benar dan efisien . 4. Di akhir penilaian dilakukan diskusi kembali untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak dapat dibicarakan didepan keluarga pasien dan memberikan masukan untukmemperbaiki kekurangan yang ditemukan. 5. Self assessment dengan mempergunakan penuntun belajar 6. Pendidik/pembimbing Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form (terlampir) secara berkala. Melakukan diskusi. Kriteria penilaian secara keseluruhan: cakap / tidak cakap / lalai. 7. Pada akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan apabila perlu diberi tugas untuk dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education). 8. Pencapaian pembelajaran
Modul IX.1.2 ± Preventif dan Promotif 9 Ujian akhir stase, berupa ujian tulisan . Ujian akhir kognitif /psikomotor. Ujian akhir profesi, dilakukan pada akhir pendidikan berupa ujian tulisan. J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF Kuesioner meliputi : 1. Sebelum pembelajaran Soal : Jelaskan mengenai preventif dan promotif Jawaban : Preventif adalah pencegahan terhadap terjadinya perkembangan penyakit. Terbagi menjadi tingkat pencegahan primer, sekunder, dan tersier. Masing- masing tingkat pencegahan tersebut berperan dalam mengurangi penyebab timbulnya penyakit dan mengurangi keparahan dari penyakit. Tahapan pencegahan primer dapat menjaga kondisi kesehatan masyarakat/seluruh penduduk. Pencegahan sekunder dan tersier dilakukan pada orang yang sudah memiliki tanda-tanda penyakit dan sudah sembuh agar kecacatan yang timbul akibat sakit dapat diminimalisasi. Promotifadalah upaya peningkatan kemampuan masyarakat dalam mengendalikan faktor-faktor kesehatan melalui pembelajaran dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat, agar mereka dapat menolong dirinya sendiri, serta mengembangkan kegiatan yang bersumber daya masyarakat, sesuai sosial budaya setempat dan didukung oleh kebijakan publik yang berwawasan kesehatan. 2. Tengah pembelajaran Soal : Jelaskan upaya preventif promotif dalam aplikasi klinis Jawaban : Tahapan riwayat alamiah penyakit secara umum dikenal :tahap prepatogenesis yaitu individu berada dalam keadaan sehat/normal dan tahap patogenesis yaitu tahap masuknya kuman sampai terjadi gangguan di dalam tubuh/muncul manifestasi klinis dan tahap akhir perjalanan penyakit dengan kemungkinan sembuh, cacat, karier, menjadi kronis sampai mengalami kematian Pencegahan primer dilakukan untuk mencegah perkembangan awal penyakit. Pencegahan sekunderjika orang sudah menderita sakit, dilakukan pengobatan untuk
Modul IX.1.2 ± Preventif dan Promotif 10 mengurangi kecacatan akibat penyakitnya atau tindakan. Pencegahan tersier dilakukan untuk meminimalkan kecacatan akibat penyakit dengan cara rehabilitasi. Faktor pencegahan berdasarkan fase prepatogenesis dan patogenesi Fase Prepatogenesis Fase Patogenesis Pencegahan Primer Pencegahan Sekunder Pencegahan Tersier Promosi Kesehatan Perlindungan Umum dan Spesifik Diagnosis awal dan perawatan tepat waktu Pembatasan ketidak mampuan Rehabilitasi Penyuluhan Imunisasi Skrining penyakit Pengobatan Rehabilitasi 3. Akhir pembelajaran Soal : Anak laki laki umur 11 bulan dibawa orang tuanya ke klinik THT-KL konsulan dari bagiananak mata dengan congenital rubella sindrom. Riwayat prenatal, ibu pernah sakit panas keluar merah merah di kulit, riwayat perinatal anak lahir spontan, menangis tidak kuat, berat badan lahir 1950 gram. Lahir dari ibu G2P1 A1 usia kehamilan 34 minggu. Riwayat postnatal, anak sering panas. Riwayat imunisasi belum dilakukan Hasil laborat didapatkan IgM dan IgG rubella (+), IgM CMV (-) IgG CMV(+) a. Pemeriksaan apa yang akan direncanakan ? b. Bagaimana penatalaksanaan kasus diatas ? c. Bagaimana upaya preventif dan promotif untuk kasus tersebut ? Jawaban : a. Pemeriksaan fisik THT, pemeriksaan otoskopi, pemeriksaan respon suara, BOA,OAE, timpanometri, BERA/ASSR. b. Konsultasi ke bagian anak infeksi, tumbuh kembang anak,jantung anak, rehabilitasi medik dan psikologi, pemasangan alat bantu dengar bila hasil BERA/ASSR menunjukkan adanya kurang dengar. c. Upaya preventif promotif : Preventif primer : Koordinasi dengan tim CRS di rumah sakit bila ada, koordinasi dengan Dinas Kesehatan setempat untuk upaya promotif tentang CRS secara menyeluruh mengenai teori CRS, tanda gejala CRS, penanganan dan faktor risiko kepada orang tua pasien, kelompok masyarakat dan masyarakat umum. Dilakukan imunisasi, peningkatan daya
Modul IX.1.2 ± Preventif dan Promotif 11 tahan tubuh, perbaikan gizi pasien, cakupan imunisasi MR khususnya di area wilayah Dinas kesehatan setempat Preventif sekunder : survaillance /penemuan kasus baru, penanganan kasus Preventif tersier : habilitasi dan rehabilitasi temuan yang didapatkan dengan memaksimalkan fungsi yang masih ada K. INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR UPAYA PREVENTIF DAN PROMOTIF KASUS THT-KL A. B. C. D. NAMA PESERTA: ...............................TANGGAL : ...................................... KEGIATAN KASUS I. Persiapan tempat, bahan dan alat Materi edukasi bentuk leflet/video/presentasi langsung Pengurusan perijinan II. Persiapan Tindakan (edukasi/pemeriksaan) Informed choice/inform concern (individu/kelompok/instansi) Terangkan rencana tindakan Persiapan sebelum tindakan III. Prosedur Pemeriksaan/tindakan 1. Pelaksanaan preventif primer -Menemukan masalah -Promotif/edukasi masalah yang dihadapi -Melakukan tindakan promotif dan pendukungnya 2. Pelaksanaan preventif sekunder - Skrining dan menemukan kasus - Penanganan kasus 3. Pelaksanaan preventif tersier - Mengatasi gejala sisa, mengembalikan fungsi dengan merehabilitasi Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut : 1. Perlu perbaikan: langkah yang telah dibuat tidak dikerjakan atau tidak sesuai urutannya (jika harus berurutan ) 2. Mampu : langkah yang dikerjakan sesuai dengan seharusnya tetapi tidak berurutan 3. Mahir : langkah yang dikerjakan sesuai dengan yang ditetapkan dan urutannya juga T / D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
Modul IX.1.2 ± Preventif dan Promotif 12 L. DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA UPAYA PREVENTIF DAN PROMOTIF KASUS THT-KL Berikan penilaian tentang psikomotorik atau ketrampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan suatu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan di bawah ini : V: Memuaskan: langkah atau kegiatan yang diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar X : Tidak memuaskan: langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar T/T: Tidak ditampilkan :Langkah,kegiatan atau ketrampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih NAMA PESERTA: ...............................TANGGAL : ...................................... KEGIATAN KASUS I. Persiapan tempat, bahan dan alat Materi edukasi bentuk leflet/video/presentasi langsung Pengurusan perijinan II. Persiapan Tindakan (edukasi/pemeriksaan) Informed choice/inform concern (individu/kelompok/instansi) Terangkan rencana tindakan Persiapan sebelum tindakan III. Prosedur Pemeriksaan/tindakan 1. Pelaksanaan preventif primer -Menemukan masalah -Promotif/edukasi masalah yang dihadapi -Melakukan tindakan promotif dan pendukungnya 2. Pelaksanaan preventif sekunder - Skrining dan menemukan kasus -Penanganan kasus 3. Pelaksanaan preventif tersier -Mengatasi gejala sisa, mengembalikan fungsi dengan merehabilitasi
Modul IX.1.2 ± Preventif dan Promotif 13 M. MATERI PRESENTASI Slide 1 : Pelayanan Kesehatan Masyarakat Slide 2 : Riwayat Alamiah Penyakit
Modul IX.1.2 ± Preventif dan Promotif 14 Slide 3.: Preventif
Modul IX.1.2 ± Preventif dan Promotif 15
Modul IX.1.2 ± Preventif dan Promotif 16 Slide 4 : Promosi kesehatan
Modul IX.1.2 ± Preventif dan Promotif 17 Slide 5 : Preventif kelainan THT
Modul IX.1.2 ± Preventif dan Promotif 18 Slide 6 : Promosi kesehatan THT N. MATERI BAKU Pendekatan dalam Penanganan masalah-masalah kesehatan dikenal 2 aliran pendekatan (Asclepius dan Higeia). Kelompok atau aliran pertama, pendekatan Asclcepius cenderung menunggu terjadinya penyakit (setelah sakit), yang selanjutnya disebut pendekatan kuratif (pengobatan). Kelompok ini pada umumnya terdiri dari dokter, dokter gigi, psikiater,
Modul IX.1.2 ± Preventif dan Promotif 19 dan praktisi-praktisi lain yang melakukan pengobatan penyakit baik fisik, psikis, mental, ataupun sosial. Kelompok kedua, pendekatan Higeia, cenderung melakukan upaya-upaya pencegahan penyakit dan meningkatkan kesehatan (promosi) sebelum terjadinya penyakit. Higeia mengajarkan kepada pengikutnya dalam pendekatan masalah kesehatan PHODOXL µKLGXS VHLPEDQJ¶ \DLWX PHQJKLQGDUL PDNDQDQPLQXPDQ EHUDFXQ PDNDQ makanan yang bergizi, cukup istirahat, dan melakukan olahraga. Apabila orang jatuh sakit, Higeia lebih menganjurkan melakukan upaya upaya secara alamiah untuk menyembuhkan penyakitnya, antara lain lebih baik dengan memperkuat daya tahan tubuh dengan makanan yang baik daripada dengan pengobatan/pembedahan. Upaya pencegahan penyakit dan meningkatkan kesehatan (promosi) sebelum terjadinya penyakit. Kelompok ini termasuk para petugas kesehatan masyarakat institusi kesehatan masyarakat dari berbagai jenjang. Perbedaan pendekatan tersebut, muncul pelayanan kesehatan kuratif (curative health care) dan pelayanan kesehatan pencegahan (preventive health care). Perbedaan pendekatan pelayanan kesehatan preventif dan kuratif pelayanan kesehatan No Preventif Kuratif 1 Sasaran atau pasien adalah masyarakat Sasaran secara individual 2 Masalah yang ditangani pada umumnya adalah masalah-masalah yang dirasakan oleh masalah masyarakat Dengan pasien umumnya kontak hanya satu kali 3 Hubungan antara petugas kesehatan dan masyarakat lebih bersifat kemitraan . Jarak antara petugas kesehatan (dokter, drg, dan sebagainya) dengan pasien atau sasaran cenderung jauh. 4 Pendekatan lebih menggunakan cara proaktif, artinya tidak menunggu adanya masalah, tetapi mencari masalah. Petugas kesehatan masyarakat tidak hanya menunggu pasien datang ke kantor atau di tempat praktik mereka, tetapi harus turun ke masyarakat untuk mencari dan mengidentifikasi masalah yang ada di masyarakat, dan selanjutnya melakukan tindakan jika diperlukan. Pendekatan kuratif cenderung bersifat reaktif, artinya petugas kesehatan pada umumnya hanya menunggu masalah datang. Seperti dokter yang menunggu pasien datang di Puskesmas atau tempat praktik. Kalau tidak ada pasien datang, berarti tidak ada masalah maka selesailah tugas mereka bahwa masalah kesehatan adalah adanya penyakit.
Modul IX.1.2 ± Preventif dan Promotif 20 5 Pasien dilihat sebagai makhluk yang utuh sehingga terjadinya penyakit tidak semata-mata karena terganggunya sistem biologi, individual, tetapi dalam konteks yang luas, aspek biologis, psikologois, dan sosial. Dengan demikian pendekatannya harus secara menyeluruh atau holistik Pasien ditangani lebih kepada sistem biologis manusia atau pasien hanya dilihat secara partial, padahal manusia terdiri dari kesehatan biopsikologis dan sosial, yang terlibat antara aspek satu dan lainnya KONSEP RIWAYAT ALAMIAH PENYAKIT DAN PENCEGAHAN Kondisi kesehatan seseorang disebabkan adanya interaksi antara faktor penyebab SHQ\DNLW DWDX ³DJHQ´ PDQXVLD VHEDJDL ³SHQMDPX´ DWDX ³KRVW´ GDQ OLQJNXQJDQ VHEDJDL faktor pendukung. Ketiga faktor ini saling terkait dan bersinergi satu sama lain. Ketika salah satu faktor tidak seimbang, misalnya kekebalan penjamu menurun, perubahan lingkungan atau jumlah sumber penyakit bertambah akan menyebabkan ketidakseimbangan, akibatnya menyebabkan seseorang sakit. Agar seseorang tetap sehat diperlukan empat tingkat pencegahan, sesuai dengan fase yang berbeda dalam perkembangan penyakitnya. Riwayat alamiyah penyakit pada manusia merupakan proses perkembangan suatu penyakit tanpa adanya intervensi yang dilakukan oleh manusia dengan sengaja dan terencana. Tahapan riwayat alamiah penyakit secara umum dikenal : 1. Tahap Prepatogenesis Tahap ini individu berada dalam keadaan sehat/normal. Akan tetapi, telah terjadi interaksi antara penjamu dengan agen di luar tubuh penjamu. Jika kekebalan tubuh penjamu dalam keadaan yang lemah, sedangkan bibit penyakit (agen) lebih ganas dan kondisi lingkungan pada saat itu kurang menguntungkan bagi penjamu, maka penyakit akan melanjutkan riwayat alamiahnya pada penjamu. Tahapan ini disebut tahap patogenesis. 2. Tahap Patogenesis Patogenesis terdiri atas empat subtahap sebagai berikut. a. Tahap inkubasi Waktu masuknya bibit penyakit sampai timbulnya gejala dan tanda klinis.
Modul IX.1.2 ± Preventif dan Promotif 21 b. Tahap dini Pada tahap ini sudah terjadi gangguan patologis dan mulai muncul gejala-gejala dari penyakit (stage of subclinical disease). Sebaiknya pada tahap ini sudah dilakukan diagnosis dini. c. Tahap lanjut Pada tahap ini gangguan patologis menjadi lebih berat dan gejala- gejala penyakit tampak lebih jelas (stage of clinical disease) sehingga diagnosis penyakit sangat mudah ditegakan. Agar penyakit tidak bertambah parah, pengobatan yang tepat mutlak diperlukan. d. Tahap akhir Merupakan tahap terakhir dari perjalanan penyakit dengan, kemungkinan yang terjadi pada penjamu: 1) sembuh sempurna, 2) sembuh dengan cacat, 3) penjamu terlihat sembuh, tetapi dalam tubuhnya terdapat bibit penyakit (karier), 4) penjamu sakit kronik, 5) penjamu mengalami kematian. Untuk mencegah penularan penyakit pada masyarakat berdasarkan riwayat alamiah penyakit, dilakukan promosi kesehatan melalui media cetak ataupun media elektronik. Pencegahan primer dapat dilakukan untuk mencegah perkembangan awal penyakit. Jika orang sudah menderita sakit, dilakukan pengobatan untuk mengurangi keparahan penyakit atau kecacatan akibat penyakit. Faktor pencegahan berdasarkan fase prepatogenesis dan patogenesis Fase Prepatogenesis Fase Patogenesis Pencegahan Primer Pencegahan Sekunder Pencegahan Tersier Promosi Kesehatan Perlindungan Umum dan Spesifik Diagnosis awal dan perawatan tepat waktu Pembatasan ketidak mampuan Rehabilitasi Penyuluhan Imunisasi Skrining penyakit Pengobatan Rehabilitasi Berdasarkan fase yang berbeda dalam perkembangan penyakit, tingkat pencegahan dibagi pencegahanprimordial dan primer, sekunder, tersier. Masing-masing tingkat pencegahan tersebut berperan dalam mengurangi penyebab timbulnya penyakit dan mengurangi keparahan dari penyakit. Semua tingkat pencegahan penting dan harus
Modul IX.1.2 ± Preventif dan Promotif 22 saling melengkapi. Tahapan pencegahan primer dapat menjaga kondisi kesehatan seluruh penduduk. Pencegahan sekunder dan tersier dilakukan pada orang yang sudah memiliki tanda-tanda penyakit dan sudah sembuh agar kecacatan yang timbul akibat sakit dapat diminimalisasi. 1. Pencegahan Primordial dan pencegahan primer Pencegahan primordial bertujuan untuk meningkatkan dan memelihara kondisi yang meminimalkan efek negatif bagi kesehatan seperti contoh kasus merokok. Merokok banyak menimbulkan gangguan penyakit seperti gangguan paru dan di masa akan datang gangguan paru tersebut dapat berubah menjadi kanker paru. Dengan memberlakukan kebijakan melarang mengiklankan rokok di media cetak dan elektronik, meningkatkan pajak rokok, menciptakan kawasan tanpa rokok, dan kebijakan kesehatan lainnya yang mendukung pencegahan perilaku merokok, terutama pada usia muda. Banyaknya kepentingan-kepentingan pihak-pihak industri dan pekerja industri tembakau dari masyarakat menengah ke bawah, mengakibatkan kebijakan-kebijakan ini di Indonesia tidak mudah dilakukan. Contoh tingkat pencegahan primordial lainnya adalah program mempromosikan aktivitas fisik secara teratur untuk mengurangi penyakit degeneratif di kemudian hari. Aktivitas fisik, seperti menggunakan sepeda, jalan kaki. Pencegahan primer bertujuan untuk membatasi timbulnya penyakit dengan mengendalikan penyebab sfesifik dan faktor risiko. Upaya pencegahan primer dilakukan tidak pada individu, tetapi pada seluruh masyarakat agar risiko rata-rata terkena penyakit dapat dikurangi (strategi berbasis masa atau populasi) atau pada orang-orang yang memiliki risiko tinggi sebagai akibat dari terpaparnya individu oleh suatu penyakit tertentu (strategi berbasis individu yang berisiko tinggi). Keuntungan utama dari strategi pencegahan yang diarahkan pada masyarakat adalah seseorang tidak harus mengidentifikasi kelompok berisiko tinggi, tetapi hanya mengurangi faktor risiko yang ada pada seluruh populasi. Kerugian utamanya adalah strategi ini memberikan sedikit manfaat untuk banyak orang karena sebagian orang memiliki risiko terhadap penyakit yang cukup rendah. Perbedaan pendekatan pada masyarakat dan individu berisiko tinggi
Modul IX.1.2 ± Preventif dan Promotif 23 Ciri-ciri Pendekatan masyarakat/populasi Pendekatan individu risiko tinggi Keuntungan x Bebas x Potensi besar untuk seluruh populasi x Perilaku sesuai x Cocok untuk individu x Motivasi subjek x Motivasi dokter x Keuntungan dengan risk rasio Kerugian Manfaat kecil untuk individu x Kurangnya motivasi subjek x Kurangnya motivasi dokter x Rasio manfaat dan risiko mungkin rendah x Kesulitan dalam mengidentifikasi individu yang berisiko tinggi x Efek sementara x Efek terbatas perilaku sesuai Beberapa contoh lainnya yang termasuk pencegahan primer adalah penyuluhan secara intensif, perbaikan rumah sehat, perbaikan gizi, peningkatan hygiene perorangan dan perlindungan terhadap lingkungan yang tidak menguntungkan, memberikan imunisasi, perlindungan kerja, nasihat perkawinan, dan pendidikan seks yang bertanggung jawab. 2. Pencegahan Sekunder Pencegahan sekunder bertujuan mengurang keparahan yang lebih serius dari penyakit melalui diagnosis dini dan pengobatan. Tindakan pencegahan diarahkan pada periode antara timbulnya penyakit dan masa diagnosis yang bertujuan untuk mengurangi prevalensi penyakit. Pencegahan sekunder dapat diterapkan pada penyakit yang hanya memiliki riwayat alamiah yang jelas mencakup masa inkubasi, subklinis, dan klinis untuk mudah diidentifikasi dan diobati sehingga perkembangan penyakit ke tahap lebih serius dapat dihentikan. Program pencegahan sekunder dapat bermanfaat jika memiliki dua persyaratan utama, yaitu metode yang aman dan akurat mendeteksi penyakit (lebih baik pada tahap pra klinis) dan metode intervensi yang efektif Kegiatan pencegahan sekunder meliputi penyempurnaan dan intensifikasi pengobatan lanjutan agar penyakit tidak bertambah parah, pencegahan terhadap komplikasi maupun cacat setelah sembuh, perbaikan fasilitas kesehatan sebagai penunjang, dan pengurangan beban-beban nonmedis (sosial) pada seorang penderita sehingga termotivasi untuk meneruskan pengobatan dan perawatan diri. Contoh Pengujian penglihatan dan pendengaran pada anak usia sekolah, skrining untuk tekanan darah tinggi di usia pertengahan, pengujian untuk gangguan pendengaran
Modul IX.1.2 ± Preventif dan Promotif 24 pada pekerja pabrik, dan pengujian kulit dan data radiografi untuk diagnosis tuberkulosis. 3. Pencegahan Tersier Bertujuan mengurangi perkembangan atau komplikasi penyakit dan merupakan aspek penting dari pengobatan terapi dan rehabilitasi. Ini terdiri atas langkah-langkah yang dimaksudkan untuk mengurangi gangguan dari cacat serta meminimalkan penderitaan yang disebabkan oleh memburuknya kesehatan dan membantu pasien dalam penyesuaian kondisi yang tidak dapat disembuhkan. Sering kali sulit membedakan antara pencegahan tersier dan pengobatan karena pengobatan penyakit kronis merupakan salah satu bagian dari tujuan pencegahan kekambuhan. Rehabilitasi pasien dengan penyakit polio, kusta, strok, cidera, kebutaan dan kondisi kronis lainnya adalah hal yang penting agar mereka dapat hidup dalam kehidupan sosial sehari-hari Tingkat pencegahan penyakit Tingkat Pencegahan Fase penyakit Tujuan Kegiatan Target Primodial Kondisi ekonomi, sosial, dan lingkungan yang mengarah ke penyebab. Membangun dan memelihara kondisi yang meminimalkan bahaya/ efek negatif bagi kesehatan Tindakan yang menghambat munculnya kondisi gawat dari, aspek ekonomi, sosial, perilaku dan lingkungan Jumlah populasi atau kelompok yang dipilih; dicapai melalui kebijakan kesehatan masyarakat dan promosi kesehatan. Primer Faktor penyebab spesifik Mengurangi insiden penyakit Perlindungan kesehatan dengan upaya pribadi dan komunal, seperti meningkatkan status gizi, memberikan imunisasi, dan menghilangkan risiko lingkungan. Jumlah populasi, kelompok yang dipilih dan individu yang sehat; dicapai melalui kebijakan kesehatan masyarakat Sekunder Tahap awal penyakit Langkah- Mengurangi prevalensi penyakit langkah yang tersedia bagi individu dan Individu yang berisiko tinggi dan pasien;
Modul IX.1.2 ± Preventif dan Promotif 25 dengan memper- pendek riwayat alamiah penyakit masyarakat untuk deteksi dini dan intervensi cepat untuk mengendalikan penyakit & meminimalkan kecacatan (misalnya melalui progam skrining) dicapai melalui pengobatan dan pencegahan Tersier Tahap akhir penyakit. Mengurangi jumlah dan dampak komplikasi Tindakan yang bertujuan meminimalisasi dampak penyakit jangka panjang dan cacat, mengurangi masa sakit, memaksimalkan produktivitas. Pasien, dicapai melalui rehabilitasi Promosi Kesehatan Upaya peningkatan kemampuan masyarakat dalam mengendalikan faktor-faktor kesehatan melalui pembelajaran dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat, agar mereka dapat menolong dirinya sendiri, serta mengembangkan kegiatan yang bersumber daya masyarakat, sesuai sosial budaya setempat dan didukung oleh kebijakan publik yang berwawasan kesehatan Promosi kesehatan adalah suatu proses memberdayakan atau memandirikan masyarakat untuk memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatannya melalui peningkatan kesadaran, kemauan dan kemampuan, serta pengembangan lingkungan sehat. Promosi kesehatan adalah segala bentuk kombinasi pendidikan kesehatan dan intervensi yang terkait dengan ekonomi, politik, dan organisasi yang dirancang untuk memudahkan perubahan perilaku dan lingkungan yang kondusif bagi kesehatan Pendidikan kesehatan adalah cabang ilmu kesehatan masyarakat yang memiliki akar tiga bidang ilmu, yaitu ilmu perilaku, pendidikan, dan kesehatan masyarakat. Tujuan promosi kesehatan sebagai berikut. a. Mengembangkan kebijakan pembangunan kesehatan (healthy public policy) b. Mengembangkan jaringan kemitraan dan suasana yang mendukung (create partnership and supportive environment),
Modul IX.1.2 ± Preventif dan Promotif 26 c. Memperkuat kegiatan masyarakat (strengthen community action) d. Meningkatkan keterampilan individu (personnel skill). e. Reorientasi Pelayanan Kesehatan (reorient health services), Strategi promosi kesehatan mencakup advokat (advocacy), dukungan sosial (social support), dan pemberdayaan masyarakat (empowerment). Salah satu teori yang mendasari promosi kesehatan adalah teori komunikasi. Komunikasi dapat diartikan sebagai suatu proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain dengan atau tanpa alat bantu dan media untuk mengubah perilakunya. Komunikasi meliputi lima unsur, yaitu 1. Komunikator (penyampai pesan), 2. Isi pesan, 3. Alat bantu/peraga, media. yang digunakan disesuaikan dengan, tujuan penggunaannya untuk mengubah pengetahuan, mengubah sikap, atau mengubah tindakan. Berdasarkan fungsinya, media promosi terdiri atas media cetak, media elektronik, dan media papan (bill board). 4. Sasaran dan 5. Dampaknya Sasaran promosi kesehatan adalah individual, kelompok, dan massa. Promosi kesehatan bisa dilakukan di dalam gedung dan di luar gedung(mencakup kegiatan pelayanan kesehatan) UPAYA PREVENTIF PROMOTIF KELAINAN THT-KL RINITIS ALERGIKA (RA) Rinitis alergika merupakan respon imunologi hidung, terutama dimediasi oleh imunoglobulin E (IgE). Pembagian rinitis alergika berdasarkan gejala yaitu : 1. RA intermiten, bila simptom terdapat : Kurang dari 4 hari/ minggu, atau bila kurang dari 4 minggu. 2. RA persisten, bila simptom terdapat : Lebih dari 4 hari/minggu, dan bila lebih dari 4 minggu Pembagian rinitis alergika berdasarkan beratnya gejala yaitu :
Modul IX.1.2 ± Preventif dan Promotif 27 1. Ringan, berarti tidak terdapat salah satu dari hal-hal sebagai berikut : gangguan tidur, gangguan aktifitas sehari-hari/ malas/ olah raga, gangguan pekerjaan atau sekolah, simptom dirasakan mengganggu. 2. Sedang-berat, berarti didapatkan satu atau lebih hal-hal sebagai berikut : gangguan tidur, gangguan aktifitas sehari-hari/ malas/ olah raga, gangguan pekerjaan atau sekolah, simptom dirasakan mengganggu Diagnosis rinitis alergika berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Anamnesis dimulai dengan riwayat penyakit secara umum dan dilanjutkan dengan pertanyaan yang lebih spesifik meliputi gejala di hidung, frekuensi serangan, lama penyakit, beratnya penyakit, riwayat atopi, faktor pemicu, keterangan mengenai tempat tinggal/kerja dan pekerjaan penderita . Pada pemeriksaan fisik pasien dengan rinitis alergika dapat ditemukan pembengkakan/edema dari konka inferior/media yang diliputi sekret encer bening, mukosa pucat dan edema. Keadaan anatomi hidung lainnya seperti septum nasi. Perhatikan pula kemungkinan adanya polip nasi. Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada pasien dengan rinitis alergika diantaranya uji kulit (uji tusuk/Prick test), intradermal skin test/skin end pointtTitration test (bila tersedia), IgE serum total (kurang bermanfaat), IgE serum spesifik, pemeriksaan sitologis/histologis, test provokasi hidung/nasal challenge test Penyakit yang perlu dibedakan dengan rinitis alergika adalah rinitis infeksi (virus, bakteri atau penyebab lain.), rinitis karena okupasi/pekerjaan, drug-induced rhinitis, rinitis hormonal, NARES, rinitis karena iritan, rinitis vasomotor, rinitis atropi, rinitis idiopatik. Pendekatan untuk mengobati rinitis alergika adalah untuk menghindari eksposure terhadap alergen. Berbagai penelitian telah dilakukan untuk pengendalian lingkungan. Menghilangkan alergen pasien sepenuhnya dari lingkungan telah menunjukkan keberhasilan. Hal yang telah terbukti efektif dalam mengurangi tingkat alergen seperti high efficiency particulate air (HEPA) filtration, Kelembaban rendah, lantai permukaan yang keras (tidak menggunakan karpet), mencuci dengan air panas, barier pada bantal dan kasur, dan acarisides.
Modul IX.1.2 ± Preventif dan Promotif 28 Terdapat tiga tingkat pencegahan (preventif) yaitu: 1. Pencegahan primer. Pencegahan primer dapat didefinisikan sebagai perlindungan kesehatan individu dan masyarakat luas, misalnya dengan status gizi yang baik, kebugaran fisik dan kesehatan emosional, imunisasi dan membuat lingkungan yang sehat. Pada kasus- kasus alergi, pencegahan primer digunakan dalam situasi di mana tidak ada bukti sensitisasi alergi pada populasi yang dapat berisiko tinggi menjadi tersensitisasi. 2 Contoh pencegahan primer 3 : - Hindari merokok dan paparan asap tembakau lingkungan, khususnyaselama kehamilan dan anak usia dini. - Asap tembakau harus dihapus dari tempat kerja. - Hindari kondisi perumahan basah dan mengurangi polusi udara dalam ruangan - Hilangkan agen sensitisasi di lingkungan kerja. Jika hal ini tidak memungkinkan maka perlu diterapkan langkah-langkah untuk mencegaheksposur karyawan. 2. Pencegahan sekunder. Pencegahan sekunder dapat didefinisikan sebagai tindakan pada individu dan populasi untuk deteksi awal dan intervensi yang cepat dan efektif untuk mempertahankan kesehatan yang baik. Pada kasus alergi, pencegahan sekunder digunakan pada individu yang menunjukkan bukti sensitisasi terhadap alergen tetapi belum menunjukkan gejala. Contoh pencegahan sekunder 3 : - Mengobati eksim atopik/dermatitis topikal atopik, denganfarmakoterapi sistemik untuk mencegah alergi pernapasan. - Mengobati penyakit saluran napas atas untuk mengurangi risiko perkembangan asma. - Pada anak-anak peka terhadap tungau debu rumah, hewan peliharaan ataukecoa, paparan tertentu harus dikurangi atau dihapuskan untuk mencegahtimbulnya penyakit alergi. - Memindahkan karyawan dari paparan kerja jika mereka mengalamigejala yang disebabkan oleh sensitisasi alergi kerja
Modul IX.1.2 ± Preventif dan Promotif 29 3. Pencegahan tersier Pencegahan tertier terdiri dari langkah-langkah yang untuk mengurangi atau menghilangkan gangguan jangka panjang, untuk meminimalkan gejala yang disebabkan oleh penurunan tingkat kesehatan dan untuk mempromosikan penyesuaian pasien pada kondisi yang tidak dapat diubah. Hal tersebut memperluas konsep pencegahan pada bidang rehabilitasi. Pada kasus alergi, pencegahan tersier akan melibatkan strategi pengobatan rinitis alergika atau asma. Contoh pencegahan tertier - Pasien dengan asma karena rinitis alergika dan konjungtivitis alergika, ataudermatitis atopik yang alergi terhadap alergen dalam ruangan sepertitungau debu, kecoa dan bulu hewan peliharaan, harus menghilangkan atau mengurangi eksposur untuk meningkatkan kontrol gejala dan mencegaheksaserbasi. Bed cover sangat berguna untuk pasien alergi yang peka terhadap tungau. - Tujuan farmakoterapi terutama terhadap proses inflamasi yang mendasari. Gabungan beberapa teknik pengendalian lingkungan, telah menunjukkan keberhasilan tingkat sedang. Menghindari beberapa alergen lebih praktis daripada pengobatan lainnya. Faktor risiko pada rinitis alergikaantara lain, faktor genetik dan riwayat keluarga, faktor awal kehidupan, faktor etnik, faktor paparan alergen (alergen inhalasi, alergen makanan, agen kerja), dan faktor polusi udara. 1. Faktor genetik dan riwayat keluarga. Rinitis alergika adalah penyakit multifaktorial dengan genetik serta faktor lingkungan yang mempengaruhi perkembangan penyakit. Penyakit alergi seperti asma dan rinitis terkait erat dengan fenotipe dan sering terjadi dengan atopi. Beberapa polimorfisme genetik telah dikaitkan dengan rhinitis saja. Masalah timbul dengan definisi fenotip yang dipelajari, ukuran populasi yang kecil dan kurangnya hasil mengakibatkan tidak dapatnya digeneralisasikan. Selama dekade terakhir, berbagai antigen dari sistem HLA telah diidentifikasi untuk rhinitis alergi musiman. Kenaikan prevalensi rinitis alergika yang tiba tiba tidak mungkin karena perubahan gen.
Modul IX.1.2 ± Preventif dan Promotif 30 2. Faktor awal kehidupan Sensitisasi terhadap alergen dapat terjadi pada awal kehidupan namun selain alergen, faktor risiko awal kehidupan jarang berhubungan dengan rinitis. Ibu usia muda, pertumbuhan janin, kehamilan multipel, cara persalinan, prematuritas, bayi berat lahir rendah, retardasi pertumbuhan, hormon selama kehamilan dan asfiksia perinatal, belum tentu terkait risiko pengembangan penyakit alergi atau rinitis.Beberapa faktor lingkungan yang disebut hipotesis higiene dapat mempengaruhi perkembangan atau pencegahan penyakit alergi. 3. Faktor paparan alergen Alergen adalah antigen yang menginduksi dan bereaksi dengan antibodi spesifik IgE. Alergen berasal dari berbagai hewan, serangga, tanaman, jamur atau agen kerja. alergen adalah protein atau glikoprotein dan dalam kasus candida albicans berupa glycans. Nomenklatur alergen didirikan oleh subkomite WHO / IUIs Allergen Nomenklatur. Nomenklatur alergen sesuai dengan taksonomi sebagai berikut: tiga huruf pertama dari genus, spasi, huruf pertama dari spesies, spasi, dan nomor Arab. Sebagai contoh, Der p 1 adalah alergen pertama Dermatophagoides pteronyssinus yang diidentifikasi. Pada nomenklatur alergen, definisi mayor dan minor telah diusulkan. Apabila lebih dari 50% pasien yang diuji mempunyai Ig-E spesifik, maka alergen dapat dianggap sebagai mayor. Alergen Inhalan Peran alergen inhalan pada rinitis dan asma. Aeroallergen sering terlibat dalam rinitis alergi dan asma. Aeroallergen diklasifikasikan sebagai indoor (tungau, hewan peliharaan, serangga atau tanaman, misalnya Ficus), outdoor (serbuk sari dan molds) atau agen kerja. Dahulu alergen luar ruangan mempunyai risiko yang lebih besar untuk rinitis musiman daripada alergen dalam ruangan sedangkan alergen dalam ruangan mempunyai risiko yang lebih besar untuk asma dan rinitis sepanjang tahun. Namun, studi menggunakan klasifikasi ARIA menunjukkan bahwa, lebih dari 50% dari pasien peka terhadap serbuk sari menderita PER, sedangkan dalam populasi, sejumlah besar pasien peka terhadap HDMS memiliki IAR ringan.
Modul IX.1.2 ± Preventif dan Promotif 31 Prevalensi sensitisasi IgE terhadap alergen dalam ruangan (HDMS dan alergen kucing) berkorelasi positif dengan kedua frekuensi dan beratnya asma. Alternaria dan serangga juga berhubungan dengan beratnya asma dan rinitis. Lingkungan indoor modern yang kompleks dapat berkonstribusi untuk peningkatan prevalensi penyakit atopik. Beberapa sumber alergen lingkungan dalam ruangan mungkin memiliki efek sinergis pada komorbiditas atopik. House dust mite (tungau debu rumah) Spesies yang penting pada tungau debu rumah adalah D. Pteronyssinus, Dermatophagoides farinae, Euroglyphus maynei, Lepidoglyphus destructor, dan Blomia tropicalis. Dermatophagoides dan Euroglyphus banyak terdapat di kasur, bantal, karpet, furnitur, mainan berbulu. Pertumbuhannya cepat pada suhu diatas 200 C dan kelembaban tinggi (80 %). Kelembaban dibawah 50 % tungau mengering dan mati. Inilah alasan tungau tidak terdapat di ketinggian diatas 1800m. Cara menghindari tungau debu rumah : Esensial : - Membungkus kasur dan bantal dengan bahan khusus ( yang tidak tembus mite), tetapi mahal sehingga tidak dapat diterapkan pada semua kasus. - Mencuci alas tidur, sarung bantal dan selimut seminggu sekali, bila mungkin dengan air panas (> 55oC). Hasil yang sama mungkin dapat dicapai dengan menjemur cucian dibawah sinar matahari langsung. Optimal : a. Menggunakan lantai rumah dengan bahan yang dapat dibersihkan seperti : keramik, bahan plastik, kayu b. Sedikit mungkin menggunakan furniture dari kain/ kain berbulu c. Menggunakan penghisap debu integral dg filter HEPA dan kantong yang bahannya tebal d. Gunakan korden yang dapat dicuci e. Mainan dari kain/ berbulu yang dapat dicuci.
Modul IX.1.2 ± Preventif dan Promotif 32 Binatang peliharaan Anjing dan kucing merupakan masalah alergi di beberapa daerah/keluarga.Bagian yang bersifat alergenik tidak hanya dander nya saja, tetapi juga saliva, sekresi sebasea yang membentuk partikel di udara dalam waktu yang cukup lama. Oleh karena itu usaha pencegahan sulit. Cara yang paling sederhana tetapi kadang sangat sulit yaitu dengan tidak memelihara binatang tersebut dan bila pernah, membersihkan karpet, kasur dan kursi dengan penghisap debu berulang-ulang. Pada dasarnya menghindari alergen tampaknya efektif , hanya saja penderita seringkali penderita sensitif terhadap beberapa alergen, sukar dicapai hasil yang maksimal. Penjelasan dengan edukasi tentang alergen apa yang harus dihindari dan bagaimana menghindarinya harus diberitahukan kepada penderita rinitis alergika. Hewan Pengerat seperti kelinci (Oryctolagus cuniculus, Ory c) dan hewan pengerat lainnya seperti marmut, hamster, tikus (Rattus norvegicus, Rat n), tikus (Mus musculus, Mus m) dan gerbil merupakan sensitizer. Alergen terkandung dalam bulu, urin, serum dan air liur. Cross-sensitisasi antar hewan pengerat sering terjadi. Hewan ini dapat menentukan sensitisasi agen kerja pada petugas laboratorium (10-40% dari subyek terkena) dan pada anak-anak dari orang tua yang pekerjaannya terekspos tikus rumah, tikus dan hamster. Alergen hewan pengerat di rumah-rumah terutama berasal dari hewan peliharaan atau kontaminasi oleh urin tikus. Paparan alergen tikus menyebabkan prevalensi sensitisasi lingkungan rumah dalam kota tinggi. Subyek dapat menjadi peka terhadap tikus dalam waktu kurang dari satu tahun. Pasien yang alergi terhadap kuda (Equus caballus, Equ c) awalnya mempunyai gejala pada hidung dan mata tetapi eksaserbasi asma juga dapat terjadi. Alergen utama merupakan bulu kuda. Cross-sensitisasi kadang-kadang dapat ditemukan dengan Equidae (kuda, keledai, keledai dan zebra) dan dengan kucing, dan anjing. Alergi terhadap ternak (Bos domesticus, Bos d) mengalami penurunan karena otomatisasi peternakan dan pemerahan sapi tetapi masih tetap hadir di daerah pembiakan ternak sapi. Cara menghindari alergen binatang peliharaan - Mengurangi jumlah hewan peliharaan alergen di dalam ruangan,jika memungkinkan cari rumah lain untuk hewan peliharaan, dan tidak membawa hewan ke dalam rumah.
Modul IX.1.2 ± Preventif dan Promotif 33 - Keluarkan hewan peliharaan dari kamar tidur dan jika mungkin menjaga hewan peliharaan di luar ruangan. Membersihkan karpet, kasur dan jok teratur, dengan vacuum cleaner jika sumber daya dan peralatan tersedia - Ganti pakaian sebelum pergi ke sekolah/kerja jika anda berontak dengan kuda/ kucing / anjing peliharaan Alergen jamur Jamur, molds dan ragi adalah tanaman yang tidak memiliki klorofil, tetapi membebaskan sejumlah besar spora alergi indoor dan outdoor. Penyebaran di udara dan hasil dari membusuknya bahan organik, jamur dan mold dapat hadir di mana- mana kecuali dalam suhu rendah atau salju, di mana pertumbuhannya terhambat. Perkembangan jamur sangat cepat dalam kondisi panas dan lembab, hal ini menjelaskan puncak musiman meningkat dalam beberapa daerah panas dan lembab. Spora jamur dalam ukuran kecil (3-10 µm) dan dapat menembus dalam ke saluran pernapasan yang dapat memprovokasi rinitis serta asma. Untuk alasan yang tidak diketahui, anak-anak lebih sering peka terhadap jamur daripada orang dewasa. Tiga jenis penting dari mold dan ragi dapat dibedakan tergantung pada asalnya : Outdoor mold seperti Cladosporium dan Alternaria dengan puncaknya selama musim panas, sedangkan Aspergillus dan Penicillium tidak memiliki musim yang tetap. Indoor mold juga merupakan alergen sangat penting. Jamur mikroskopishadir di rumah ini mampu memproduksi spora sepanjang tahun dan berkaitan dengan gejala PER, terutama dalam interior yang panas dan lembab. Indoor mold juga bisa tumbuh di aerasi dan climatisasi saluran pemanas dan AC dan di pipa air. Indoor mold banyak di kamar mandi dan dapur. Mold juga tumbuh pada tanaman yang sering disiram atau limbah sayuran atau hewan, perabot, wallpaper, debu kasur dan mainan berbulu. Mold dapat secara alami ada dalam makanan (Penicillium, Aspergillus dan Fusarium dan Mucor) dan dalam bahan tambahan makanan, namun, sulit untuk mendefinisikan peran mold ini dalam alergi. Ragi yang dikenal sebagai alergen adalah C. albicans, Saccaromyces cerevisiae dan Saccaromyces minor dan Pityrosporum. Immunoglobulin E sensitisasi terhadap ragi
Modul IX.1.2 ± Preventif dan Promotif 34 terutama hadir pada dermatitis atopik. Kebanyakan ragi hadir pada antigen cross- reaktif. Ragi dapat ditemukan dalam makanan dan di udara. Sporobolomyces berkaitan dengan asma dan rhinitis. Spora Basidiomycetes dan Ascomycetes dapat ditemukan dalam jumlah besar di udara dan dapat menjadi alergen pada pasien dengan asma dan rhinitis. Tetapi perannya sebagai alergen masih sulit untuk didefinisikan. Contoh pencegahan terhadap jamur, mold : - Mencegah mold tumbuh dan spora jamur menjadi air-borne selama penghapusan mold Indoor : - Gunakan dehumidifiers di rumah jika kelembaban relatif terus-menerus tinggi (di atas 50%) - Pastikan pemanasan, ventilasi atau sistim pendingin udara terpelihara dengan baik - Gunakan larutan amonia 5% untuk menghapus mold dari kamar mandi dan permukaan yang terkontaminasi lainnya - Ganti karpet dengan lantai keras; mengganti wallpaper dengan cat - Perbaikan kerusakan air di dalam ruangan secepatnya Outdoor: - Hindari memotong rumput di akhir musim panas ketika spora jamur ada pada tanaman yang membusuk Serangga Menghirup limbah serangga bisa menginduksi respon imun IgE dan alergi pernapasan Alergen tertentu, seperti hemoglobin atau tropomiosin dari diptera, telah teridentifikasi. Alergen serangga dapat ditemukan di dalam ruangan [kecoak atau Chiromides di beberapa daerah tropis seperti Sudan] atau menginduksi sensitisasi setelah paparan agen kerja (misalnya kerja eksperimental dengan jangkrik). Namun, konsentrasi alergen harus sangat tinggi untuk mensensitisasi. Alergen kecoa ditemukan dalam sekresi gastrointestinal. Alergen ini didistribusikan dalam partikel besar sehingga tidak air-borne. Kecoa cenderung mengelompok di tempat persembunyian dan di kegelapan. Melihat kecoak siang hari dapat menunjukkan
Modul IX.1.2 ± Preventif dan Promotif 35 bahwa kecoak ada dalam jumlah yang banyak. Alergen ini biasanya ada di seluruh ruangan rumah. Peningkatan konsentrasi terutama di gedung bertingkat tinggi, perkotaan, konstruksi sebelum tahun 1940 dan rumah dengan pendapatan rendah. Contoh pencegahan terhadap alergen kecoa : - Menghilangkan kecoak, menghilangkan tempat dan kondisi di mana kecoa dapat hidup - Membasmi kecoa dengan insektisida yang tepat - Menutup retak di lantai dan langit-langit - Menutup sumber makanan - Kontrol kelembaban - Lantai dibersihkan dengan air dan deterjen untuk menghilangkan alergen - Seprei, gorden dan pakaian dapat terkontaminasi dan harus dicuci Inhalasi lainnya Peran bakteri dalam alergi sulit untuk dievaluasi. Saat ini diperkitrakan asma atau rhinitis oleh alergi bakteri disingkirkan, meskipun IgE spesifik untuk bakteri telah ditemukan. Namun, enzim yang berasal dari bakteri dan digunakan dalam lingkungan industri (misalnya deterjen) dapat menyebabkan asma atau rinitis dengan prevalensi tinggi. Faktor Alergen Makanan. Alergi makanan jarang dibandingkan dengan rhinitis alergi tanpa gejala lainnya. Disisi lain, rhinitis adalah gejala umum dari alergi makanan pada pasien dengan keterlibatan beberapa organ. Pada bayi di bawah 6 bulan, mayoritas reaksi alergi disebabkan oleh susu atau kedelai. Lebih dari 50% bayi dengan alergi susu sapi menderita rhinitis. Pada orang dewasa, alergen makanan yang paling sering menyebabkan reaksi alergi berat adalah kacang, ikan, udang, telur, susu, kedelai, wijen, seledri dan beberapa buah-buahan seperti apel dan buah pear . Faktor agen di lingkungan kerja Banyak agen yang terlibat dalam pengembangan rhinitis dan asma. Disarankan untuk sepenuhnya menghindari alergen di lingkungan kerja pada pasien yang tersensitisasi, Diagnosis dini dari penyakit ini diperlukan untuk pencegahan tersier alergen di
Modul IX.1.2 ± Preventif dan Promotif 36 lingkungan kerja. Bila pekerja dipindahkan dari tempat kerja yang terdapat alergen maka semakin besar kemungkinan kesembuhannya. Selain itu, setelah beberapa tahun paparan asma dapat semakin berat dan timbul setelah berhenti kerja. Pencegahan tersier membutuhkan penghindaran lengkap dari faktor faktor risiko. Namun, dalam beberapa kasus seperti alergen lateks, penggunaan sarung tangan yang mengandung alergen yang sangat rendah (misalnya sarung tangan nonpowdered) dapat membantu pekerja untuk melanjutkan pekerjaan mereka. Risiko dari peningkatan sensitisasi mungkin akibat dari terus menerus terpapar alergen. Beberapa laporan menunjukkan bahwa air supply helmet respirator dapat dengan aman digunakan untuk pekerjaan sesekali di daerah yang mempunyai potensi terpapar alergen. Faktor Polusi Udara Polutan udara umumnya terkait dengan rhinitis nonallergic dan memperburuk pasien dengan rhinitis alergi. Namun, asap tembakau sepertinya tidak mencetuskan gejala rinitis alergi. Langkah-langkah dalam menghindari alergen dilaporkan tidak selalu mengurangi gejala asma pada sekelompok anak-anak yang tinggal di daerah miskin yang sering tidak diobati. Menerapkan menghindari alergen sebagai pengobatan untuk asma pada anak-anak yang hidup dalam kemiskinan cukup sulit karena beberapa masalah dalam menerapkan protokol dalam lingkungan seperti ini. Saat ini kunjungan ke rumah secara positif mempengaruhi manajemen asma di lingkungan keluarga yang tinggal di daerah miskin. Farmakoterapi Penyakit alergi disebabkan oleh mediator kimia yang dilepaskan oleh sel mast yang dipicu oleh adanya ikatan alergen dengan IgE spesifik yang melekat pada reseptornya di permukaan sel tersebut. Histamin merupakan mediator yang berperan besar pada timbulnya gejala rinitis alergi pada reaksi fase cepat, sedangkan mediator lain yang tergolong newly formed mediator dan mediator dari sel eosinofil berperan pada reaksi fase lambat yang menyebabkan inflamasi dan hiperreaktifitas non spesifik yang dapat menetap berhari-hari.
Modul IX.1.2 ± Preventif dan Promotif 37 Tujuan pengobatan rinitis alergi adalah : 1. Mengurangi gejala akibat paparan alergen, hiperreaktifitas nonspesifik dan inflamasi. 2. Perbaikan kualitas hidup penderita sehingga dapat menjalankan aktifitas sehari- hari. 3. Mengurangi efek samping pengobatan 4. Edukasi penderita untuk meningkatkan ketaatan berobat dan kewaspadaan terhadap penyakitnya 5. Merubah jalannya penyakit/ pengobatan kausal Untuk mencapai tujuan pengobatan rinitis alergi, dapat digunakan pengobatan seperti antihistamin, dekongestan hidung, kombinasi antihistamin dan dekongestan oral, glukokortikosteroid sistemik atau topikal, golongan kromolin, imunoterapi Tujuan untuk mencegah kontak dengan alergen yang menyebabkan anafilaksis pada individu yang rentan, dan untuk memberikan strategi untuk berurusan dengan episode anafilaksis adalah. : - Membawa epinefrin auto-injektor dan tahu bagaimana dan kapan untuk menggunakannya; selalu memiliki autoinjektor cadangan; selalu mengganti auto injektor saat penggunaan oleh tanggal kedaluwarsa - Membawa sebuah pager darurat atau telepon selular untuk menghubungi bantuan - Apabila bepergian ke luar negeri, membawa kartu anafilaksis-peringatan dalam bahasa negara yang dikunjungi, merinci jenis alaegen makanan, obat, lateks dan serangga - Hindari disengat serangga, dan belajar bagaimana untuk tidak menarik perhatian serangga dengan cara tidak memakai parfum atau warna-warna cerah, menghindari buah yang busuk, menghindari sampah-sampah dan tumpukan pupuk yang menarik serangga, menutup jendela mobil saat berkendara - Hindari bahan alergi dalam makanan siap pakai dengan belajar bagaimana menafsirkan daftar bahan - Jika makan di luar, cek dengan koki bahwa makanan yag mengandung alergen tidak digunakan dalam masakan.
Modul IX.1.2 ± Preventif dan Promotif 38 KURANG PENDENGARAN AKIBAT BISING Bising adalah suara yang tidak diinginkan. Gangguan pendengaran akibat bising adalah gangguan pendengaran yang disebabkan akibat terpajan oleh bising yang cukup keras dalam jangka waktu yang cukup lama dan biasanya diakibatkan oleh bising lingkungan kerja. Sifat ketulian adalah sensorineural pada kedua telinga. Gejala : Kurang pendengaran disertai tinitus atau tidak kadang-kadang disertai kesulitan menangkap pembicaraan dengan kekerasan biasa. Patogenesis : Pengaruh bising menyebabkan adanya gangguan di dalam koklea berupa kerusakan sel-sel sensorik dan penunjang juga dapat menimbulkan efek pada sel-sel ganglion, saraf, membran tektoria, pembuluh darah dan stria vaskularis. Jenis kerusakan pada struktur organ tertentu yang ditimbulkan bergantung pada intensitas, lama pajanan dan frekuensi bising. Diagnosis : Berdasarkan anamnesis, riwayat pekerjaan, pemeriksaan fisik dan otoskopi serta pemeriksaan penunjang berupa audiometri dan OAE (oto acosutic emmision). Pada pemeriksaan audiometri menunjukkan adanya tuli sensorineural pada frekuensi 3000 ± 6000 Hz dengan penurunan di 4000 Hz yang merupakan patognomonik untuk jenis ketulian ini. Pemeriksaan OAE menunjukkan hasil refer. Diagnosa Banding : Presbikusis dan gangguan pendengaran saraf lainnya Penatalaksanaan : Sesuai dengan penyebab ketulian, penderita sebaiknya dipindahkan kelingkungan kerja yang lebih aman. Penggunan alat pelindung terhadap bising seperti sumbat telinga, tutup telinga dan pelindung telinga harus digunakan pada lokasi kerja yang bising. Bila sudah terdapat gangguan pendengaran yang menetap maka dilakukan rehabilitasi. Prognosis : Pada gangguan pendengaran akibat bising prognosisnya kurang baik karena bersifat menetap sehingga pencegahan merupakan hal terpenting pada keadaan ini. Pencegahan/ preventif
Modul IX.1.2 ± Preventif dan Promotif 39 Dengan melakukan pemeriksaan skrining pendengaran pada: x Orang yang terpajan bising (misalnya di pabrik) x Orang yang mempunyai gaya hidup dengan resiko terpajan bising (misalnya penikmat musik, penikmat permainan elektronik yang bising, dll) Pencegahan dengan program konservasi pendengaran merupakan hal yang paling baik dilakukan dengan cara : x Melakukan identifikasi sumber bising melalui survei kebisingan, x Melakukan analisis kebisingan dengan mengukur kebisingan menggunakan sound level meter, x Melakukan pemeriksaan pendengaran secara berkala dengan menggunakan audiometri dan OAE x Menerapkan sistem komunikasi, informasi dan edukasi serta menerapkan penggunaan alat pelindung diri secara ketat dan melakukan pencatatan dan pelaporan data. Batas ambang bising menurut OSHA Pengukuran paparan kebisingan dapat dilakukan dengan sound level meter atau perangkat yang disebut dosimeter kebisingan, yang menempel pada pakaian pekerja dan otomatis menghitung paparan TWA. Eksposur yang melebihi batas yang diizinkan dapat dikurangi dengan kontrol suara atau dengan mengurangi waktu yang karyawan habiskan dalam kebisingan. Pekerja yang menunjukkan eksposur bising di atas 90 dBA TWA harus menggunakan APD (penyumbat telinga, penutup telinga). Meskipun peringkat noise reduction pada APD biasanya 20 sampai 30 dB atau bahkan lebih tinggi. Pada penutup telinga premolded mengurangi sekitar 10 dB, headset bisa sekitar 15 dB, dan penutup telinga (ear plug) sekitar 20 dB Perbedaan dalam perlindungan yang diberikan berbagai macam APD ketika dipakai dengan benar sangat kecil dibandingkan dengan APD yang dipakai dengan tidak benar atau faktor pengguna yang lalai. Faktor yang paling penting dalam memilih APD adalah ketepatan alat dan penerimaan oleh pekerja. Konseling dan motivasi merupakan hal yang penting. Mencegah pekerja takut akan kehilangan komunikasi atau peringatan pemakaian APD di tempat kerja.
MODUL UTAMA THT KOMUNITAS PENCEGAHAN DAN PENILAIAN KUALITAS HIDUP PADA BAYI DAN ANAK DENGAN GANGGUAN PENDENGARAN MODUL IX.1.3 KUALITAS HIDUP EDISI III KOLEGIUM ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER 2022
DAFTAR ISI A. WAKTU PEMBELAJARAN ....................................................................... 1 B. PERSIAPAN SESI ....................................................................................... 1 C. REFERENSI ................................................................................................. 8 D. KOMPETENSI ............................................................................................. 9 E. GAMBARAN UMUM ................................................................................. 9 F. CONTOH KASUS DAN DISKUSI ........................................................... 10 G. TUJUAN PEMBELAJARAN .................................................................... 10 H. METODE PEMBELAJARAN ................................................................... 11 I. EVALUASI ................................................................................................ 12 J. INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF................................................... 13 K. INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR ........................................... 14 L. DAFTAR TILIK ......................................................................................... 15 M. MATERI PRESENTASI ............................................................................ 16 N. MATERI BAKU ........................................................................................ 18
Modul IX.1.3 - Kualitas Hidup 1 MODUL IX.1.3 THT KOMUNITAS - PENCEGAHAN DAN PENILAIAN KUALITAS HIDUP PADA BAYI DAN ANAK DENGAN GANGGUAN PENDENGARAN : KUALITAS HIDUP A. WAKTU PEMBELAJARAN Proses Pengembangan Kompetensi Alokasi Waktu Sesi di dalam kelas Sesi dengan fasilitasi pembimbing Sesi praktek dan pencapaian kompetensi 2 X 45 menit (classroom session) 3 X 60 menit (coaching session) 16 jam (fasilitation and assessment) B. PERSIAPAN SESI 1. Materi presentasi: o Power point Kualitas Hidup a) Slide 1 b) Slide 2
Modul IX.1.3 - Kualitas Hidup 2 c) Slide 3 d) Slide 4 e) Slide 5
Modul IX.1.3 - Kualitas Hidup 3 f) Slide 6 g) Slide 7 h) Slide 8
Modul IX.1.3 - Kualitas Hidup 4 i) Slide 9 j) Slide 10 k) Slide 11
Modul IX.1.3 - Kualitas Hidup 5 l) Slide 12 m) Slide 13 n) Slide 14
Modul IX.1.3 - Kualitas Hidup 6 o) Slide 15 p) Slide 16 q) Slide 17
Modul IX.1.3 - Kualitas Hidup 7 r) Slide 18 s) Slide 19 t) Slide 20
Modul IX.1.3 - Kualitas Hidup 8 u) Slide 21 v) Slide 22 2. Kasus: Menilaikualitashidup pada pasien presbiakusis 3. Sarana dan alat bantu latih: (disesuaikan dengan pencapaian kompetensi): o Penuntun belajar (learning guide) terlampir o Tempat belajar (training setting): poliklinik THTKL, pelayanan di Komunitas- masyarakat o Kuesioner kualitas hidup C. REFERENSI 1. Flint PW, Haughey BH, Lund VJ, Niparko JK, Robbins KT, Thomas JR et al, Cumming Otolaryngology Head and Neck Surgery. Edisi ke-6. Canada. Saunders Elsevier. 2015
Modul IX.1.3 - Kualitas Hidup 9 2. Gelfand SA. Essentials of Audiology. 4 th ed. Thieme. 2016. 3. Zhang, Y., Bo, Q. U., Lun, S. S., Guo, Y., & Liu, J., 2 ³7KH -item short formhealtK VXUYH\ UHOLDELOLW\ DQG YDOLGLW\ LQ &KLQHVH PHGLFDOVWXGHQWV´ International journal of medical sciences, 9(7), 521. D. KOMPETENSI Memahami manfaat, prinsip, dan penilaian kualitas hidup. Keterampilan Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam menjelaskan : 1. Definisi dan ruang lingkup kualitas hidup 2. Komponen kualitas hidup 3. Menilai kualitas hidup seorang pasien E. GAMBARAN UMUM Kualitas hidup menitikberatkan pada penilaian fungsi dan status kesehatan seseorang. Hasil dari penilaian ini secara khas menitikberatkan pada skala/pengukuran yang hanya mengukur kesehatan berkaitan dengan kualitas hidup/health-related quality of life (HRQOL). Beberapa pengukuran dapat dikategorikan sebagai pengukuran generik atau penyakit spesifik. Dikatakan generik atau umum, bila skala/pengukuran digunakan untuk mengukur kualitas hidup pada pasien secara umum. Sedangkan skala/pengukuran penyakit spesifik dirancang untuk mengukur populasi pasien secaras pesifik, karena pengukuran ini terfokus pada topik yang khusus, maka pengukuran ini cenderung lebih responsif terhadapperubahan klinis pada populasi yang sedang diukur / diteliti. Pengukuran Generik Pengukuran yang paling banyakdiketahui dan digunakansecaraluas di dunia adalahMedical Outcomes Study Short Form 36 (SF-36). Instrumen pengukuran ini dirangcang untuk dewasa dan digunakan untuk survey status kesehatansecaraumum. Pengukuran ini juga menghasilkan skor untuk 8 elemen yang mempengaruhi kesehatan seperti vitalitas, nyeri, keterbatasan aktivitas fisik, dan memberikan dua skor yang merupakan kesimpulan status kesehatan fisik dan mental secara keseluruhan. Berbagai informasi mengenai SF-36 dapat dicari di websitewww.sf- 36.org.
Modul IX.1.3 - Kualitas Hidup 10 WHO telah membuat pengukuran Kualitas Hidup yang disebut WHO-QOL. Pengukuran untuk menilai status kesehatan diantaranya adalah Sickness Impact Profile (SI), The Quality of Well-Being (QWB) index dan The Health Utilities Index (HUI). F. CONTOH KASUS DAN DISKUSI Gangguan Dengar Usia Lanjut Seorang pria berusia 68 tahun datang ke poliklinik THT-KL untuk memeriksakan pendengarannya. Sejak 6 bulan yang lalu istrinya mengeluh VHULQJ ³WLGDN Q\DPEXQJ´ bila diajak berbicara dan selalu menonton televise dengan volume keras. Pemeriksaan fisik dan THT-KL : tidak terdapat kelainan. Bagaimana kualitas hidup Bapak tersebut? Jawaban Kualitas hidup dapat dinilai dengan pengukuran yang bersifat khusus seperti Hearing Handicap Inventory in the Elderly (HHIE) versi Indonesia. G. TUJUAN PEMBELAJARAN Proses, materi, dan metode pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam kualitas hidup para penderita gangguan pendengaran semua usia. Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Interactive lecture x Small group discussion. x Peer assisted learning (PAL). x Mengetahui pengertian tentang indikasi dan manfaat pengukuran kualitas hidup. x Mampu menjelaskan komponen yang dinilai pada pengukuran kualitas hidup secara umum x Mampu menjelaskan perbedaan pengukuran kualitas hidup yang bersifat umum dan spesifik penyakit. x Mengetahui berbagai jenis pengukuran kualitas hidup x Mampu menjelaskan, menentukan, dan melakukan pengukuran kualitas hidup
Modul IX.1.3 - Kualitas Hidup 11 H. METODE PEMBELAJARAN x Tujuan 1. Mengetahui pengertian tentang indikasi dan manfaat pengukuran kualitas hidup x Interactive lecture x Journal reading and review. x Task based medical education. Harus diketahui : x Definisi Kualitas Hidup x Manfaat pengukuran kualitas hidup x Tujuan 2. Mampu menjelaskan komponen yang dinilai pada pengukuran kualitas hidup secara umum Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Interactive lecture x Journal reading and review. x Peer assisted learning (PAL). x Task based medical education. Harus diketahui: x Komponen Kualitas Hidup x Tujuan 3. Mampu menjelaskan perbedaan pengukuran kualitas hidup yang bersifat umum dan spesifik penyakit. Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Interactive lecture x Journal reading and review. x Peer assisted learning (PAL). x Task based medical education. Harus diketahui : x Perbedaan pengukuran kualitas hidup yang bersifat umum dan spesifik penyakit x Berbagai pengukuran kualitas hidup umum x Berbagai pengukuran kualitas hidup spesifik penyakit x Tujuan 4. Mengetahui berbagai jenis pengukuran kualitas hidup Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Interactive lecture x Journal reading and review. x Bedside teaching x Case simulation and investigation exercise. x Equipment characteristics Harus diketahui :
Modul IX.1.3 - Kualitas Hidup 12 x Berbagai komponen pada berbagai pengukuran kualitas hidup umum x Berbagai komponen pada berbagai pengukuran kualitas hidup spesifik penyakit x Tujuan 5. Mampu menjelaskan dan menentukan pengukuran kualitas hidup Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Interactive lecture x Journal reading and review. x Case study Harus diketahui : x Kelebihan dan kekurangan berbagai pengukuran kualitas hidup x Tata carapengukuran kualitas hidup I. EVALUASI 1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre test dalam bentuk tulisan yang bertujuan menilai kemampuan awal yang dimiliki peserta didik serta mengidentifikasi kekurangan yang ada. 2. Selanjutnya dilakukDQ ³small group discussion´ EHUVDPD GHQJDQ IDVLOLtator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian. 3. Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan. 4. Self assesment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar. 5. Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education) 6. Pencapaian pembelajaran : - Ujian akhir stase divisi. - Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan THT-KLdilanjutkan oleh Kolegium Ilmu THT-KL.
Modul IX.1.3 - Kualitas Hidup 13 J. INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF x Kuesioner Sebelum Pembelajaran 1. Pernyataan yang benar mengenai kualitas hidup adalah: A. Istilah untuk kapabilitas dan limitasi fisik, emosi dan sosial seseorang B. Istilah untuk kapabilitas dan limitasi fisik, emosi dan status kesehatan seseorang C. Istilah yang menggambarkan bagaimana seseorang dapat melaksanakan peran, tugas maupun aktivitas dengan baik D. Istilah yang menitik beratkan pada nilai fungsi dan status kesehatan seseorang Jawaban : 2. Pengukuran kualitas hidup generik yang paling banyak diketahui dan luas penggunaannya adalah: A. Medical Outcomes Study Short Form 36 B. The University of Washington QualityofLifescale C. The Quality of Well-Beingindex D. The Health Utilities Index Jawaban : 3. Berikut ini adalah pernyataan yang benar mengenai SNOT-20: A. Merupakan pengukuran kualitas hidup yang bersifat generik B. Merupakan versi pendek dari31-item Rhinosinusitis Outcome Measure (RSOM-31) C. Perubahan skor merefleksikan perubahan secara klinik D. Merupakan pengukuran untuk sinusitis akut dan kronis Jawaban : 4. Pemeriksaan yang sering digunakan untuk menilai derajat kekantukan disiang hari adalah: A. FACT-HN B. ESS C. SNOT-22 D. HHIE E. Jawaban :
Modul IX.1.3 - Kualitas Hidup 14 K. INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR PENILAIAN KUALITAS HIDUP KEGIATAN KASUS I. PERSIAPAN x Mencari angka kejadian kasus THT-KL yang terjadi di masyarakat x Menentukan skala prioritas masalah yang harus mendapat penanganan x Menganalisis prioritas masalah x Menentukan daerah yang akan dikunjungi x Mempersiapkan alat/bahan, metode dan bahan ajar II. PELAKSANAAN x Mengucapkan salam dan memperkenalkan diri x Informed consent x Persiapan alat/bahan ajar, kuesioner, dll sesuai metode ajar yang dipilih saat tahap persiapan x Melakukan upaya promotif x Melakukan upaya preventif x Evaluasi pemahaman masyarakat/populasi/komunitas tertentu x Melakukan advokasi dan terapi komunitas; menemui tokoh masyarakat/pemimpin dari populasi yang akan dilakukan upaya promotif dan preventif x Merekapitulasi hasil evaluasi x Membuat laporan tertulis x Publikasi Menilai kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut: 1. Perlu perbaikan: langkah yang telah dibuat tidak dikerjakan atau tidak sesuai urutannya ( jika harus berurutan ) 2. Mampu : langkah yang dikerjakan sesuai dengan seharusnya tetapi tidak berurutan 3. Mahir : langkah yang dikerjakan sesuai dengan yang ditetapkan dan urutannya juga tepat T / D : Langkah tidak diamati ( penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan )
Modul IX.1.3 - Kualitas Hidup 15 L. DAFTAR TILIK DAFTAR TILIK DAFTAR TILIK PENILAIAN PROSEDUR PENGISIAN KUISIONER Berikan penilaian tentang masing ± masing kuisioner sesuai dengan penyakit yang diderita oleh peserta pada saat melaksanakan suatu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan di bawahini: V :Memuaskan : langkah atau kegiatan yang dilakukan sesuai dengan prosedur atau panduan standar X :Tidak memuaskan : langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar T/T:Tidak ditampilkan : langkah atau kegiatan yang dilakukan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi NAMA PESERT$ ««««« 7$1**$/ ««««««««««« KEGIATAN SCORE PERSIAPAN T/T V X 1. Mengucapkan salam dan memperkenalkan diri 2. Memeriksa Identitas pasien - menjelaskan bagaimana mengisi kuesioner - informed consent 3.Pasien sehat dan bersedia mengisi kuesioner PERSIAPAN PEMERIKSAAN 1. Pasien kooperatif 2. Persiapan kuesioner 3. Persiapan alat tulis PROSEDUR PEMERIKSAAN 1.Pasienmembaca/dibacakandenganseksama 2.Pasien melingkari atau mencentang jawaban yang sesuai dengan pasien 3. Ketika pasien tidak mampu laksana dibantu oleh asisten 4. Melakukan analisis dan interpretasi hasil pemeriksaan 5. Menilai hasil kuesioner 6. Melaporkan hasil penilaian pada yang terkait
Modul IX.1.3 - Kualitas Hidup 16 M. MATERI PRESENTASI
Modul IX.1.3 - Kualitas Hidup 17
Modul IX.1.3 - Kualitas Hidup 18 N. MATERI BAKU Kualitas hidup, status dan fungsi kesehatan merupakan istilah yang bermakna dalam literature kesehatan. Status kesehatan adalah istilah untuk kapabilitas dan limitasifisik, emosi dan social seseorang, sedangkan fungsi kesehatan adalah istilah yang menggambarkan bagaimana seseorang dapat melaksanakan peran, tugas maupun aktivitas dengan baik. Berbeda dengan kedua istilah tersebut, Kualitas hidup menitik beratkan pada nilai yang ditempatkan pada fungsi dan status kesehatan seseorang. Pada penilaian kualitas hidup, banyak aspek yang tidak berhubungan dengan status kesehatan pasien, sehingga hasil dari penilaian ini secara khas menitik beratkan pada skala/pengukuran yang hanya mengukur kesehatan yang berkaitan dengan kualitas hidup/health-related quality of life (HRQOL). Beberapa pengukuran dapat dikategorikan sebagai pengukuran generic atau penyakit spesifik. Dikatakan generic atau umum, bila skala/pengukuran digunakan untuk mengukur kualitas hidup pada pasien secara umum, dengan pengukuran ini (generik/umum) kita dapat membandingkan hasil/outcome dari beberapa penyakit (contoh: membandingkan kualitas hidup pasien transplantasi jantung dengan kualitas hidup penderita kanker). Sedangkan skala/pengukuran penyakit spesifik dirancang untuk mengukur populasi pasien secara spesifik, karena pengukuran ini terfokus pada topik yang khusus,
Modul IX.1.3 - Kualitas Hidup 19 maka pengukuran ini cenderung lebih responsive terhadap perubahan klinis pada populasi yang sedang diukur/diteliti. Berdasarkan hal tersebut, untuk mendapatkan manfaat yang maksimal sering dilakukan penelitian dengan menggunakan kedua tipe pengukuran tersebut (generik dan penyakit spesifik) untuk menilai outcome/ hasil. Sebagai tambahan dari pengukuran tersebut, terdapat beberapa pengukuran hasil/outcome yang popularitasnya semakin meningkat. Hasil yang diukur tersebut adalah evaluasi kepuasan pasien, biaya, pemanfaatan pelayanan kesehatan, dan pilihan pasien seperti kerelaan untuk membayar. Terdapat beberapa pengukuran yang telah divalidasi yang berkaitan dengan bidang THT-KL. Pengukuraninidilengkapi oleh pasien. Beberapa pengukuran yang sering digunakan di bidang THT-KL adalah: Pengukuran Penyakit Spesifik Tumor Kepala dan Leher Pada tahun 2002, National Institutes of Health (NIH) menjadi sponsor konferensi untuk membuat consensus mengenai metoda yang digunakan untuk mengukur dan melaporkan kualitas hidup pada kasus tumor kepala dan leher. Terdapat 3 pengukuran yang banyak digunakan yaitu European Organization for Research and Treatent of Cancer Quality of Life Questionnaire (EORTC-HN), the University of Washington Qualityof Life (UW-QOL) scale dan the Functional Assessment of Cancer Therapy Head and Neck module (FACT-HN). EORTC dan FACT dapat digunakan untuk mengukur kualitas hidup secara umum pada tumor kepala dan leher, tetapilebihbanyakitemnyadibandingkan 12 item UW-QOL scale. Terdapat pemeriksaan lain yang unggul, tervalidasi, dan diisi oleh pasien namun belum luas penggunaannya, sepertithe Head and Neck Quality of Life (HNQOL) scale dan the Head and Neck Survey (H&NS). Terdapat pula pemeriksaan lain yang menitik beratkan pada kumpulan gejala dan komplikasi yang langsung berkaitan dengan tumor kepala dan leher, yaitu the Head and Neck Distress Scale (HNDS) dan the M.D.Anderson Symptom Inventory, Head and Neck Module (MDASI-HN). Saat ini juga masih dikembangkan beberapa instrument untuk mengukur penyakit spesifik pada tumor kepala dan leher, pengukuran untuk menilai hasil operasi.
Modul IX.1.3 - Kualitas Hidup 20 Penyakit Otologi Pengukuran yang paling luaspenggunaannya, tervalidasi untuk menilai pendengaran dan hubungannya dengan kualitas hidup adalah Hearing Handicap Inventory in the Elderly (HHIE), yang terdiridari 25 item pengukuran dengan 2 komponen pengukuran yaitu pengukuran dampak gangguan dengar terhadap emosi dan sosial. Perbedaan skor yang minimal menggambarkan perbedaan klinik bermakna, tetapi kuesioner ini tidak membedakan tipe gangguan dengar. The Hearing Satisfaction Scale (HSS) dirancang khusus untuk menilai hasil setelah penatalaksanaan pada gangguan dengar konduktif. Oleh karena itu, pada pengukuran ini tercantum efek samping atau komplikasi penatalaksanaan secara singkat (15 item). Terdapat beberapa pengukuran yang tervalidasi untuk menilai hasil setelah penggunaan amplifikasi pendengaran. Salah satu yang sangat dikenal adalah the Abbreviated Profile of Hearing aid Benefit (APHAB) yang terdiridari 24 item untuk mengukur 4 aspek kemampuan komunikasi. The Effectiveness of Auditory Rehabilitation (EAR) mengukur kenyamanan dan isu kosmetik yang berhubungan dengan alat bantu dengar. The EAR terdiri dari 2 bagian dalam 10 item modul. The Inner EAR menilai faktor internal gangguan dengar seperti penurunan fungsi, fisik, emosi dan sosial, sedangkanthe Outer EAR menilai faktor eksternal seperti kenyamanan dan tampilan kosmetik. The Nijmegen Cochlear Implant Questionnaire (NCIQ) merupakan pemeriksaan untuk menilai efek implant kokleaterhadapkualitashidup, sedangkan the University of Washington Clinical Assessment of Musical Perception (CAMP) dikembangkan untuk menilai persepsi terhadap musik pada resipien implant koklea. Beberapa pengukuran lain untuk menilai aspek lain pada penyakit otology termasuk dizziness (the Dizziness Handicap Inventory/DHI), dan tinnitus (The Tinnitus Handicap Inventory/THI). Penyakit Rhinologi Perkembangan untuk menilai outcome pada rinosinusitis kronik berkembang secara dramatis dengan berkembangnya pengukuran penyakit spesifik.Dua pengukuran yang paling luasdigunakanadalahthe Sinonasal Outcomes Tes (SNOT-20) dan the Chronic Sinusitis Survey (CSS). SNOT-20 terdiridari 20 item, telah divalidasi secara ekstensif, dan merupakan versi pendek dari 31-item Rhinosinusitis Outcome
Modul IX.1.3 - Kualitas Hidup 21 Measure (RSOM-31). SNOT-20 responsif terhadap perubahan klinik dan perubahan skor merefleksikan perubahan secara klinik. Pemeriksaan CSS menilai 2 komponen yaitu komponen berdasarkan tingkat keparahan dan berdasarkan durasi. Selain 2 pengukuran di atas, terdapat juga pengukuran lain yang tervalidasi untuk penyakit sinusitis, pengukuran tersebut adalah the Mini Rhinoconjunctiviti sQuality of Life Questionnaire (mRQLQ), the Rhinitis Outcome Questionnaire (ROQ), dan the Nocturnal RhinoconjunctivitisQuality of Life Questionnaire (NRQLQ), yang spesifik untuk menilai rhinitis. Survey the Rhinosinusitis Quality of Life (RhinoQOL) merupakan pengukuran untuk sinusitis akut maupun kronis. Penyakit Laring Faring Masalah Suara Beberapa instrument telah dikembangkan untuk menilai outcome dari suara, diantaranya adalah the Voice Handicap Index (VHI) dan the Voice Outcome Survey (VOS). VHI merupakan instrument yang paling luas digunakan, pemeriksaan ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak psikososial dari dysphonia. Instrumen lainnya adalah the Voice Symptom Scale (VoiSS), the Vocal Performance Questionnaire (VPQ), the Voice-Related Quality of Life (V-RQOL) dan the Singing Voice Handicap Index (SVHI) (untukmenilaimasalah vocal spesifik pada penyanyi). Masalah Tidur Pengukuran yang paling luasdigunakanadalahthe 30-item Functional Outcomes of Sleep Questionnaire (FOSQ), the 50-item Calgary Sleep Apnea Quality of Life Index (SAQLI), the Quebec Sleep Questionnaire (QSQ), dan kuesionerthe Symptoms of Nocturnal Obstruction and Respiratory Events (SNORE-25). 8-item Epworth Sleepiness Scale (ESS) merupakan pemeriksaan yang sering digunakan untuk menilai derajat kekantukan di siang hari. Beberapa penelitian menunjukkan adanya variasi yang sangat beragam pada korelasi antara ESS dan pengukuran derajat sleep apnea secara objektif. Karena kekantukan dan kelelahan sulit untuk dibedakan pada pengukuran kualitas hidup dan pada praktek klinik, maka dibuat the Empirical Sleepiness and Fatigue.
Modul IX.1.3 - Kualitas Hidup 22 Pengukuran Gejala Terdapat 2 pengukuran spesifik pada proses menelan, pengukuran tersebuta adalah the M.D. Anderson Dysphagia Inventory (MDADI) yang terdiri dari 20 item untuk menilai disfagia pada pasien tumor kepala dan leher. Pengukuran the SWAL-QOL (44 item) lebih panjang dari MDADI tetapi sudah divalidasi untuk digunakan pada populasi yang besar. The Quality of Life in Reflux and Dyspepsia (QOLRAD) dikembangkan untuk menilai kualitas hidup pada pasien reflux laringofaringeal. Terakhir, beberapa instrument telah dikembangkan untuk menilai hasil operasi facial plastic, seperti Blepharoplasty Outcomes Evaluation (BOE). Penyakit Komunitas Pengukuran ganguan pendengaran pada penderita presbikusis dengan menggunakan skor kuesioner hearing handicap inventory for elderly. Sedangkan pada pemeriksaan anak, pasien tidak dapat melengkapi pemeriksaan secara mandiri, diperlukan bantuan dari orang dewasaThe Child Health Questionnaire (CHQ) merupakan pengukuran generic yang samadengan SF-36 pada dewasa. Instrumen ini telah digunakan secara luas dan telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Pengukuran ini status kesehatan yang dirancang untuk anak berusia 5 tahun keatas, dan dapat dilengkapi secara mandiri oleh anak 10 tahun keatas. Pengukuran kualitas hidup yang bersifat generic lainnya adalah the Pediatric Quality of Life Inventory (PedsQL), dan the Child Health and Illness Profile-Child Edition (CHIP_CE), sedangkanthe Glasgow ChiOGUHQ¶V %HQHILW ,QYHQWRU\ (GCBI) merupakanpengukuran pada penyakit THT. The Caregiver Impact Questionnaire (CIQ) digunakan untuk mengevaluasi dampak penyakit pada pengasuh anak. Telah berlaku pengukuran yang sangat baik, tervalidasi dan spesifikpenyakituntukanak-anak. Beberapa instrument telahdikembangkan untuk menilai dampak otitis media (OM); OM-6, merupakanpengukuran yang telah digunakan secara luas, merupakan 6 skala pengukuran untuk mengevaluasi otitis media dihubungkan dengan kualitas hidup pada anak. Pengukuran lainnya adalah OSA-18 dan OSA-6 untuk menilai kelainan tidur (obstruksi sleep apnea/OSA), the Tonsil and Adenoid Health Status Instrument (TAHSI) untuk tonsil dan adenoid pada anak, Pediatric Voice Outcomes Survey
Modul IX.1.3 - Kualitas Hidup 23 (PVOS) dan the Pediatric Voice-Related Quality of Life survey (PVRQOL) untuk mengevaluasi suara dikaitkan dengan kualitas hidup anak. Penyakit Alergi Kuesioner 36-Item Short Form Health (SF-36) dikembangkan olehBoston Health Research Institute di Amerika Serikat. Kuesioner SF-35 menyediakan metode singkat yang digunakan untuk memeriksa status kesehatan dari populasi umum yang berusia 14 tahun keatas. Kuesioner SF-36 dirancang untuk dapat diterapkan pada berbagai jeni sdan tingkat keparahan kondisi kesehatan. Instrumen ini berguna untuk memantau pasien dengan beberapa kondisi, membandingkan status kesehatan pasien dengan kondisi yang berbeda, dan juga membandingkan pasien dengan populasi umum. Kuesioner SF-36 mengukur 8 dimensi sebagai berikut: PF: Physical function (FungsiFisik), RP:Role limitations due to physical health problems (Keterbatasan aktifitas karena masalah kesehatan fisik), BP: Bodily pain (Nyeri badan), SF: Social functioning (Fungsisosial), MH: General mental health (Kesehatan mental secara umum), RE: Role limitations due to emotional problems (Pembatasan aktifitas karena masalah emosional), VT: Vitality (Vitalitas), GH: General health perceptions (Persepsi kesehatan secara umum) (McDowell, 2006). Selain 8 dimensidiatas, terdapat 2 komponen kesehatan secara umum yang digunakan yaitu dimensi kesehatan fisik (physical component summary / PCS) dan dimensi kesehatan mental (mental component summary/ MCS). Skor yang lebih tinggi menunjukkan status kesehatan yang lebih baik. KETERANGAN Kuesioner yang sudah tervalidasi versi Indonesia 1. The Tinnitus Handicap Inventory/THI Tahun 2015 Oleh Bashiruddin, dkk. 2. OTITIS MEDIATahun 2013 oleh Yayu. 3. Handicap Inventory in the Elderly (HHIE)tahun 2010 oleh Wibowo, Soedarmi, Lukmantya. 4. the Sinonasal Outcomes Tes (SNOT-20)tahun 2017 oleh Juanda, madia dipoera &R atunanda.
MODUL UTAMA THT KOMUNITAS MODUL IX.2 TULI KONGENITAL EDISI III KOLEGIUM ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNGTENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER 2022
DAFTAR ISI A. WAKTU PEMBELAJARAN ....................................................................... 1 B. PERSIAPAN SESI ....................................................................................... 1 C. REFERENSI ................................................................................................. 2 D. KOMPETENSI ............................................................................................. 2 E. GAMBARAN UMUM ................................................................................. 3 F. CONTOH KASUS & DISKUSI .................................................................. 4 G. TUJUAN PEMBELAJARAN ...................................................................... 5 H. METODE PEMBELAJARAN ..................................................................... 6 I. EVALUASI .................................................................................................. 9 J. INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF................................................... 10 K. INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR ........................................... 11 L. DAFTAR TILIK ......................................................................................... 12 M. MATERI PRESENTASI ............................................................................ 13 N. MATERI BAKU ........................................................................................ 13 O. ALGORITMA ............................................................................................ 22
Modul IX.2 ± Tuli Kongenital 1 MODUL IX.2 THT KOMUNITAS : TULI KONGENITAL A. WAKTU PEMBELAJARAN Proses Pengembangan Kompetensi Alokasi Waktu Sesi di dalam kelas Sesi dengan fasilitasi pembimbing Sesi praktik dan pencapaian kompetensi 4 X 60 menit (classroom session) 4 X 60 menit (coaching session) 16 jam (fascilitation and assessment) B. PERSIAPAN SESI Materi presentasi : Tuli kongenital pada bayi dan anak x Slide 1 : Embriologi telinga dan organ pendengaran x Slide 2 : Perkembangan mendengar x Slide 3 : Perkembangan wicara dan bahasa x Slide 4 : Etiologi dan faktor risiko tuli kongenital x Slide 5 : Gejala dan tanda tuli kongenital x Slide 6 : Pemeriksaan skrining pendengaran x Slide 7 : Pemeriksaan diagnostik tuli x Slide 8 : Diagnosis tuli kongenital x Slide 9 : Tatalaksana tuli kongenital x Slide 10 : Promotif dan preventif tuli kongenital Kasus : 1. Gangguan pendengaran sejak lahir pada bayi 2. Gangguan pendengaran, wicara, dan bahasa pada anak Sarana dan Alat Bantu Latih : x Model anatomi telinga dan video x Penuntun belajar : terlampir x Tempat belajar : Poliklinik THT Komunitas
Modul IX.2 ± Tuli Kongenital 2 C. REFERENSI 1. Betty R.V. 2021. Screening the newborn for hearing loss. Uptodate [Internet]. Updated December 20, 2021. (Cited 2022 April 09). Available from: https://www.uptodate.com/contents/newborn-screening 2. Hamam, K. and Purnami, N. 2020. Newborns Hearing Screening With Otoacoustic Emissions And Auditory Brainstem Response. Journal of Community Medicine and Public Health Research, 1(1), p. 1-12 3. JCIH. 2019. Year 2019 Position Statement: Principles and guidelines for early hearing detection and intervention programs. JEHDI. Vol. 4(2):1±44. 4. Katz J. 2014. Handbook of Clinical Audiology. 7 th ed. Lippincot Williams & Wilkins. 5. McCormick B. 1993. Practical Aspects of Audiology. Pediatric Audiology 0-5 years. 2 nd ed. Whurr Publishers London. 6. Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD. 2012. Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT-KL FK UI. Dalam: Gangguan Pendengaran dan Kelainan Telinga. Edisi ketujuh. Jakarta: Badan Penerbit FKUI. 7. WHO. 2010. Newborn and infant hearing screening: current issues and guiding principles for action. https://www.who.int/blindness/publications/Newborn_and_Infant_Hearing_Scre ening_Report.pdf?ua=1 8. WHO. 2016. Childhood Hearing Loss: Strategies for Prevention and Care. WHO Library Cataloguing-in-Publication Data 2016. Available from: https://www.who.int/docs/default-source/imported2/childhood-hearing-loss-- strategies-for-prevention-and-care.pdf?sfvrsn=cbbbb3cc_0 9. WHO. 2021. World report on hearing. Geneva: World Health Organization. Licence: CC BY-NC-SA 3.0 IGO. 10. WHO. 2021. Hearing Screening Considerations For Implementation. Geneva: World Health Organization. Licence: CC BY-NC-SA 3.0 IGO. D. KOMPETENSI a. Mampu melakukan skrining gangguan pendengaran pada bayi dan membuat diagnosis gangguan pendengaran berdasarkan anamnesis, pemeriksaan
Modul IX.2 ± Tuli Kongenital 3 THT, dan pemeriksaan pendengaran baik yang bersifat elektrofisiologik (objektif) maupun perilaku (subjektif). b. Memahami upaya preventif terhadap tuli kongenital serta mampu melakukan edukasi dan sosialisasi upaya tersebut kepada masyarakat. c. Dapat menentukan pilihan habilitasi pendengaran, wicara dan bahasa yang sesuai dengan usia dan kebutuhan pasien (berpusat pada pasien). d. Mampu bekerja sama dengan profesional multi disiplin yang terkait secara komprehensif dalam penanganan tuli kongenital yang optimal. Setelah mengikuti sesi ini peserta didik memiliki kemampuan: Kognitif: 1. Menjelaskan embriologi telinga dan organ pendengaran 2. Menjelaskan perkembangan mendengar 3. Menjelaskan perkembangan wicara dan bahasa 4. Menjelaskan etiologi dan faktor risiko tuli kongenital 5. Menerangkan gejala dan tanda tuli kongenital Psikomotor 1. Melakukan skrining pendengaran pada bayi dan anak 2. Melakukan pemeriksaan pendengaran baik subjektif maupun objektif 3. Mendiagnosis tuli kongenital 4. Menentukan metode/pilihan habilitasi pendengaran 5. Memahami upaya promotif, preventif, dan edukasi faktor penyebab/faktor risiko serta tindak lanjut tuli kongenital E. GAMBARAN UMUM Tuli kongenital pada bayi dan anak merupakan masalah yang tidak saja dirasakan oleh anak tetapi juga oleh orang tua dan keluarga. Angka kejadian terjadinya tuli kongenital di beberapa negara berkisar 1-3/1000 kelahiran. Pendengaran merupakan salah satu indera pada manusia yang berhubungan erat dengan kemampuan berbicara, sehingga dengan adanya kelainan pendengaran pada bayi atau anak yang terjadi sejak lahir akan menyebabkan gangguan kemampuan berbicara dan berbahasa dan lebih luas lagi akan berdampak pada kemampuan kognitif, sosial dan, akademik. Pentingnya skrining pendengaran pada bayi baru lahir dengan OAE (Otoacoustic Emission) dan AABR (Automated Auditory
Modul IX.2 ± Tuli Kongenital 4 Brainstem Respons) dalam deteksi dini merupakan langkah penting untuk melakukan intervensi dini dengan harapan anak mampu berkomunikasi. F. CONTOH KASUS & DISKUSI Contoh Kasus 1 Bayi laki- laki umur satu minggu dirujuk dari Bagian Ilmu Kesehatan Anak dengan kecurigaan gangguan pendengaran. Anamnesis diketahui ibu terkena infeksi Rubela pada kehamilan trimester pertama. Ditemukan katarak kongenital dan kelainan katup jantung. Pemeriksaan skrining OAE (OtoAcoustic Emission) ditemukan adanya gangguan fungsi koklea ditandai dengan adanya gangguan emisi sel rambut luar. Pemeriksaan AABR (Automated Auditory Brainstem Respons) ditemukan sampai 40 dB tidak ada respons pada kedua telinga. Diskusi Harus diketahui x Gangguan pendengaran pada bayi baru lahir dapat terjadi baik pada prenatal, perinatal, dan postnatal. x Penyebab terjadinya gangguan pendengaran pada bayi baru lahir disebabkan oleh berbagai faktor baik genetik maupun nongenetik. Infeksi Rubela dan Citomegalovirus merupakan salah satu faktor infeksi yang sering dijumpai di Indonesia. x Adanya katarak kongenital dan kelainan/kebocoran pada katup jantung merupakan gejala yang disebabkan oleh infeksi Rubela dan adanya gangguan pendengaran yang dialami merupakan suatu sindrom. x Selain pemeriksaan THT rutin, skrining OAE, dan AABR, kita perlu melakukan pemeriksaan lainnya yaitu pemeriksaan BOA (Behavioral Observation Audiometry) dan BERA diagnostik sehingga dapat memperkirakan ambang dengarnya. x Bila tidak tersedia fasilitas OAE dan AABR, apa yang harus dilakukan? x Habilitasi segera harus dilakukan sebelum usia 6 bulan. Jawaban :
Modul IX.2 ± Tuli Kongenital 5 Contoh Kasus 2 Anak wanita usia 2 tahun diantar oleh orang tuanya dengan keluhan tidak menoleh bila dipanggil dan kemampuan berbicara tidak sesuai dengan anak seusianya. Berdasarkan anamnesis diketahui anak mempunyai kakak yang juga mengalami gangguan pendengaran sejak lahir. Pada pemeriksaan BOA anak baru memberi respons dengan pemberian stimulus sampai 80 dB. Diskusi: Harus diketahui x Anak baru diantar orang tua saat usia 2 tahun merupakan periode yang sangat penting dalam perkembangan wicara dan bahasa seorang anak. Kasus ini menunjukkan kemampuan berbicara anak kurang dibandingkan anak seusia. x Mempunyai kakak yang juga mengalami gangguan pendengaran menunjukkan kemungkinan adanya faktor genetik. x Pada pemeriksaan BOA anak baru memberi respons pada pemberian stimulus 80 dB. x Pemeriksaan THT rutin, pemeriksaan Timpanometri, OAE dan BERA, ASSR. Diperlukan habilitasi dengan pemberian Alat Bantu Dengar dan terapi wicara/terapi mendengar. Tindak lanjut perlu dilakukan secara berkala untuk mengetahui perkembangan dengar, wicara, dan bahasa anak sehingga apabila sedikit/tidak mendapat manfaat dengan Alat Bantu Dengar selama 6 bulan, perlu dipikirkan untuk menjadi kandidat implan koklea. x Memberikan penyuluhan/informasi kepada orangtua tentang pentingnya pemeriksaan genetik. x Kolaborasi multi disiplin Jawaban : G. TUJUAN PEMBELAJARAN Proses, materi dan metode pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, ketrampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi yang diperlukan dalam mengenali dan melakukan tatalaksana tuli kongenital pada bayi dan anak :.
Modul IX.2 ± Tuli Kongenital 6 Kognitif 1. Menjelaskan embriologi telinga dan organ pendengaran 2. Menjelaskan perkembangan dengar 3. Menjelaskan perkembangan wicara dan bahasa 4. Menjelaskan etiologi dan faktor risiko tuli kongenital 5. Menerangkan gejala dan tanda tuli kongenital Psikomotor 1. Melakukan skrining pendengaran 2. Melakukan pemeriksaan diagnostik tuli kongenital 3. Mendiagnosis tuli kongenital 4. Melakukan tatalakasana tuli kongenital 5. Melakukan promotif dan preventif, edukasi faktor penyebab/faktor risiko serta tindak lanjut tuli kongenital H. METODE PEMBELAJARAN Tujuan 1: Menjelaskan embriologi telinga dan organ pendengaran Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini : x Kuliah interaktif x Diskusi kelompok Harus diketahui: x Embriologi telinga x Embriologi organ pendengaran Tujuan 2: Menjelaskan perkembangan dengar pada bayi dan anak Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikuti ini : x Kuliah interaktif x Journal reading and review x Diskusi kelompok x Bedside teaching x Studi kasus Harus diketahui : x Perkembangan dengar pada bayi dan anak
Modul IX.2 ± Tuli Kongenital 7 Tujuan 3: Menjelaskan perkembangan wicara dan bahasa Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini : x Kuliah interaktif x Journal reading and review x Diskusi kelompok x Bedside teaching x Studi kasus Harus diketahui : x Perkembangan wicara dan bahasa pada bayi dan anak Tujuan 4: Mampu menjelaskan etiologi dan faktor risiko tuli kongenital Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini : x Kuliah interaktif x Journal reading and review x Bedside teaching x Task based medical education x Diskusi kelompok x Studi Kasus Harus diketahui : x Faktor penyebab tuli kongenital pada bayi dan anak x Faktor risiko tuli kongenital pada bayi dan anak Tujuan 5: Mampu menerangkan gejala dan tanda tuli kongenital Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini : x Kuliah interaktif x Journal reading and review x Bedside teaching x Case simulation and investigation exercise x Equipment characteristics Harus diketahui : x Gejala dan tanda tuli kongenital pada bayi dan anak Tujuan 6: Mampu melakukan skrining pendengaran Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini : x Kuliah interaktif x Journal reading and review x Bedside teaching x Studi kasus Harus diketahui :
Modul IX.2 ± Tuli Kongenital 8 x Jenis skrining pendengaran x Cara dan teknik skrining pendengaran x Tolak ukur skrining pendengaran x Interpretasi hasil skrining pendengaran Tujuan 7: Mampu melakukan pemeriksaan tuli kongenital Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini : x Kuliah interaktif x Journal reading and review x Bedside teaching x Studi kasus Harus diketahui : x Jenis pemeriksaan tuli kongenital pada bayi dan anak x Cara dan teknik pemeriksaan tuli kongenital Tujuan 8: Mampu mendiagnosis tuli kongenital Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini : x Kuliah interaktif x Journal reading and review x Bedside teaching x Studi kasus Harus diketahui : x Analisis hasil anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tuli kongenital pada bayi dan anak Tujuan 9: Mampu menangani tuli kongenital Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini : x Kuliah interaktif x Journal reading and review x Bedside teaching x Studi kasus Harus diketahui : x Penatalaksanaan tuli kongenital Tujuan 10: Mampu melakukan promotif, preventif, edukasi faktor penyebab/faktor risiko tuli kongenital Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini : x Kuliah interaktif x Journal reading and review x Bedside teaching
Modul IX.2 ± Tuli Kongenital 9 x Studi kasus Harus diketahui : x Komunikasi dokter ± pasien/keluarga I. EVALUASI 1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pretest dalam bentuk tulisan bertujuan menilai Sikap Ketrampilan Perilaku awal yang dimiliki peserta didik serta mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pre test terdiri dari : - Embriologi telinga dan organ pendengaran - Perkembangan pendengaran, wicara, dan bahasa - Etiologi dan faktor risiko tuli kongenital - Pemeriksaan skrining dan diagnostik tuli kongenital (subyektif dan obyektif ) - Diagnosis tuli kongenital - Metode habilitasi pendengaran dan bicara pada tuli kongenital - Pencegahan tuli kongenital - Tindak lanjut tuli kongenital 2. Melakukan diskusi kelompok kecil bersama pembimbing /fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar. 3. Peserta didik wajib mempelajari penuntun belajar untuk mengaplikasi langkah- langkah yang tertera dalam penuntun belajar. Pada saat pelaksanaan penilai/fasilitator melakukan pengawasan langsung menggunakan Daftar Tilik pada saat peserta didik melakukan anamnesis, pemeriksaan THT, pemeriksaan skrining dan diagnostik pendengaran serta penatalaksanaannya. Selanjutnya dilakukan penilaian sesuai kriteria sebagai berikut : - Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan. - Cukup : pelaksanaan benar tetapi tidak efisien. - Baik : pelaksanaan benar dan efisien.
Modul IX.2 ± Tuli Kongenital 10 4. Di akhir penilaian dilakukan diskusi/mengulas kembali untuk mendapatkan penjelasan/klarifikasi dari berbagai hal yang tidak dapat dibicarakan di depan keluarga pasien dan memberikan masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan. 5. Penilaian diri sendiri dengan mempergunakan penuntun belajar 6. Pendidik/pembimbing/fasilitator - Pengamatan langsung dengan memakai form daftar tilik (evaluation check list form) secara berkala - Melakukan diskusi - Kriteria penilaian secara keseluruhan: cakap/ tidak cakap /lalai 7. Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan apabila perlu diberi tugas untuk dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education) 8. Pencapaian pembelajaran - Ujian akhir stase, berupa ujian tulis - Ujian kasus - Ujian akhir kognitif/psikomotor - Ujian akhir profesi, dilakukan pada akhir pendidikan berupa ujian tulisan J. INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF x Kuesioner Sebelum Pembelajaran 1. Seorang ibu membawa anaknya dengan keluhan terlambat bicara. Selama hamil ibu pernah mengalami demam disertai ruam kulit. Faktor risiko yang memungkinkan anak terlambat bicara adalah akibat terinfeksi: a. Citomegalovirus b. Toksoplasma c. Rubella d. Herpes e. HIV x Kuesioner Akhir Pembelajaran 1. Anak laki-laki usia 3 tahun dirujuk dari Tumbuh Kembang Anak dengan diagnosis keterlambatan bicara. Menurut ibu anak memberi respons terhadap
Modul IX.2 ± Tuli Kongenital 11 suara. Hasil pemeriksaan THT dalam batas normal. Hasil OAE Pass/Pass, timpanometri tipe A/A, refleks akustik negatif. Hasil BERA gelombang V tidak terdeteksi sampai 80 dB. Kemungkinan diagnosis pada anak tersebut adalah: a. Attention Deficit Hyperactive Disorder b. Auditory Neuropathy Spectrum Disorder c. Autism spectrum Disorder d. Aphasia sensori e. Aphasia motorik Jawaban : K. INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR SKRINING PENDENGARAN PADA BAYI DAN ANAK KEGIATAN KASUS I. PERSIAPAN PASIEN Mengucapkan salam dan memperkenalkan diri Memeriksa Identitas Pasien - Informed consent Penjelasan kepada penderita dan keluarganya mengenai pemeriksaan yang akan dijalani dan tujuannya, risiko pemakaian obat sedasi/narkoba umum, disertai dengan tanda tangan persetujuan dari orang tua. - Rencana pemeriksaan - Persiapan sebelum tindakan Persiapan pasien: sehat, tidak menderita ISPA Dalam pandemi :sesuai protokol kesehatan yang berlaku II. PERSIAPAN PEMERIKSAAN Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut : 1. Perlu perbaikan: langkah yang telah dibuat tidak dikerjakan atau tidak sesuai urutannya (jika harus berurutan) 2. Mampu: langkah yang dikerjakan sesuai dengan seharusnya tetapi tidak berurutan 3. Mahir: langkah yang dikerjakan sesuai dengan yang ditetapkan dan urutannya juga tepat T / D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
Modul IX.2 ± Tuli Kongenital 12 L. DAFTAR TILIK DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA PROSEDUR SKRINING BAYI Berikan penilaian tentang psikomotorik atau ketrampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan suatu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan di bawah ini : V : Memuaskan : langkah atau kegiatan yang diperagakan sesuai dengan Prosedur atau panduan standar X : Tidak memuaskan : langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan Prosedur atau panduan standar T/T : Tidak ditampilkan : langkah, kegiatan, atau ketrampilan tidak diperagakan oleh Peserta selama proses evaluasi oleh pelatih NAMA PESERTA: ...............................TANGGAL : ...................................... KEGIATAN KASUS 1. Persiapan status, gelang kuning 2. Memeriksa kesiapan alat; timpanometer , OAE dan AABR, oximeter, suction, emergency kit, tabung oksigen 3. Persiapan ruang pemeriksaan (<40 dB) 4. Pemeriksaan THT otoskopi, timpanometri (high frequency) Mengetahui keadaan liang telinga, membran timpani serta fungsi telinga tengah. - Bila ada kelainan, dilakukan penanganan terlebih dahulu. 5. Diberikan sedasi pada diagnostik (contoh: chloral hidrat 50-75 mg/kgBB, maksimal Pemberian 1.800 mg perkali (perhatikan indikasi dan kontra indikasi) III. PROSEDUR PEMERIKSAAN KEGIATAN SCORE I. PERSIAPAN PASIEN T/T X V Mengucapkan salam dan memperkenalkan diri Memeriksa Identitas Pasien - Informed consent - Rencana pemeriksaan - Persiapan sebelum tindakan - Persiapan pasien: sehat, tidak menderita ISPA Pada pandemi sesuai protokol kesehatan yang berlaku II. PERSIAPAN PEMERIKSAAN 1. Persiapan status 2. Memeriksa kesiapan alat; timpanometer , OAE dan AABR 3. Persiapan ruangan pemeriksaan (<40 dB) 4. Pemeriksaan THT (otoskopi & timpanometri)
Modul IX.2 ± Tuli Kongenital 13 M. MATERI PRESENTASI x Slide 1 : Embriologi Telinga dan Pendengaran x Slide 2 : Perkembangan dengar x Slide 3 : Perkembangan bicara x Slide 4 : Etiologi dan faktor risiko tuli kongenital x Slide 5 : Gejala dan tanda tuli kongenital x Slide 6 : Pemeriksaan skrining pendengaran x Slide 7 : Pemeriksaan diagnostik tuli kongenital x Slide 8 : Diagnosis tuli kongenital x Slide 9 : Penanganan tuli kongenital x Slide10 : Promotif, preventif, edukasi tuli kongenital N. MATERI BAKU Definisi Tuli yang terjadi sebelum persalinan atau pada saat persalinan. Disebabkan oleh kelainan secara genetik atau nongenetik (McCornick, 1993). Ruang lingkup Bayi/anak yang tidak memberi respons terhadap bunyi, mengalami keterlambatan /kelainan pola bicara dibandingkan anak seusia (Hamam, 2020). Indikasi pemeriksaan skrining pendengaran (WHO, 2021) - Bayi lahir dengan faktor risiko - Bayi/anak dengan kecurigaan tuli kongenital KEGIATAN SCORE 5. Bila perlu, diberikan sedasi III. PROSEDUR PEMERIKSAAN 1. Setelah anak tidur dilakukan pembersihan kulit dengan alkohol 70 %, dan gel pada tempat untuk menempelkan elektroda 2. Dilakukan pemasangan elektroda di kedua mastoid/lobulus dan dahi/pipi. 3. Dilakukan pemeriksaan impedansi sampai tercapai impedansi < 5 kOhm 4. Dilakukan pemeriksaan skrining OAE 5. Dilakukan pemeriksaan AABR ( Automated Auditory Brainstem Respons) 6. Melakukan analisis dan intepretasi hasil pemeriksaan 7. Diagnosis ditegakkan sebelum usia 3 bulan
Modul IX.2 ± Tuli Kongenital 14 Embriologi Telinga dan Pendengaran Pada usia gestasi 9 minggu mulai terbentuk ketiga lapisan gendang telinga dan minggu ke 20 sudah terjadi pematangan telinga dalam dan koklea mempunyai ukuran sama dengan orang dewasa, serta dapat memberi respons terhadap suara. Pada saat yang sama bentuk daun telinga sudah menyerupai daun telinga orang dewasa walaupun masih terus berkembang sampai usia 9 tahun. Pada usia gestasi 30 minggu terjadi pneumatisasi dari timpanum, demikian juga dengan liang telinga luar yang terus berkembang sampai usia 7 tahun. Osifikasi pada tulang maleus dan inkus sempurna pada usia gestasi 32 minggu sedangkan stapes terus berkembang sampai usia dewasa. Sel udara mastoid berkembang pada usia gestasi 34 minggu dan seminggu kemudian dilanjutkan dengan pneumatisasi pada antrum. Perkembangan auditorik berhubungan erat dengan perkembangan otak Neuron di bagian korteks mengalami pematangan dalam waktu 3 tahun pertama kehidupan, dan masa 12 bulan pertama kehidupan terjadi perkembangan otak sangat cepat. Berdasarkan pertimbangan di atas, maka, upaya melakukan deteksi dini gangguan pendengaran sehingga habilitasi dapat dimulai pada saat perkembangan otak masih berlangsung (McCornick, 1993). Perkembangan Dengar (JCIH, 2019) Neonatus : respons Moro atau Startle 4 bulan : menengok minimal suara datang setinggi telinga (horizontal) 7 bulan : menengok dengan tegas arah sumber suara setinggi telinga 9 bulan : menengok dengan tegas arah sumber suara setinggi telinga dan ke bawah 13 bulan : menengok dengan tegas arah sumber dari samping , bawah dan secara tidak langsung ke atas 16 bulan : menengok dengan tegas arah sumber dari samping , bawah dan secara langsung ke atas 21 bulan : mencari sumber suara dari segala sudut
Modul IX.2 ± Tuli Kongenital 15 Perkembangan Wicara dan Bahasa (JCIH, 2019) Perkembangan bicara dan bahasa seorang anak sejalan dengan pertambahan usianya dan perkembangan mendengar. Neonatus : Menangis, suara mendengkur (cooing), suara seperti berkumur (gargles) 2-3 bulan : Tertawa dan mengoceh tanpa arti (babbling) : aaa, ooo 4-6 bulan : Mengeluarkan suara kombinasi huruf hidup (vowel) dan mati (konsonan). ocehan bermakna (true babbling) atau lalling (pa..pa.., da..da) Memberi respons terhadap suara marah atau bersahabat Belajar menangis dengan suara yang bervariasi sesuai kebutuhan 7-11 bulan : Menggabungkan kata/suku kata yang tidak mengandung arti, seperti bahasa asing (jargon), usia 10 bulan mampu meniru suara (echolali) Mengerti kata perintah sederhana; kesini Mengerti nama objek sederhana; sepatu, cangkir 12-18 bulan : Menjawab pertanyaan sederhana Mengerti instruksi sederhana, menunjukkan bagian tubuh dan nama mainan. 24-35 bulan : Kata yang diucapkan antara 150-300 Volume dan pitch suara belum terkontrol dapat mengidentifikasi warna, mengerti konsep besar-kecil, sekarang- nanti 36-47 bulan : Kata yang diucapkan 900- 1200 Memberi respons pada 2 kalimat perintah yang tidak berhubungan seperti ambil sepatu kemudian letakkan gelas diatas meja Mulai bertanya kenapa dan bagaimana
Modul IX.2 ± Tuli Kongenital 16 Sampai usia 5 tahun anak sudah mengerti dan mengucapkan 2000-2500 kata dan sudah dapat membentuk kalimat. Mengerti cerita yang didengar dan dapat menjawab pertanyaan yang diajukan. Etiologi dan Faktor Risiko Gangguan pendengaran pada bayi dan anak dibedakan berdasarkan saat terjadinya yaitu (Betty, 2021) : Masa Prenatal: dibagi menjadi genetik dan nongenetik seperti gangguan/kelainan Masa Kehamilan: kelainan struktur anatomik (atresia liang telinga, aplasia koklea), dan kekurangan zat gizi (misal: defisiensi Yodium) paling penting adalah trimester I kehamilan, misalnya akibat infeksi bakteri atau virus (TORCHS). Di samping itu beberapa jenis obat ototoksik dan terato genik berpotensi menyebabkan gangguan pendengaran. Masa Perinatal: prematur, berat badan lahir rendah (<2500 gram), hiperbilirubinemia, asfiksia. Gangguan pendengaran pada kedua masa ini biasanya adalah tuli sensorineural bilateral derajat berat/sangat berat. Masa Postnatal: infeksi bakteri atau virus (rubela, campak, parotitis, infeksi otak), perdarahan telinga tengah, trauma tulang temporal mengakibatkan tuli saraf atau konduktif. Sebelas faktor risiko sebelumnya yang tercantum dalam JCIH 2007 sekarang terdaftar sebagai 12 faktor terpisah dan dibagi menjadi subkelompok yang didominasi perinatal (faktor risiko 1±9) dan perinatal atau pascanatal (faktor risiko 10-12). Beberapa faktor risiko yang perlu dipertimbangkan dan telah ditetapkan oleh American Joint Committée on Infant Hearing pada tahun 2019. Faktor risiko perinatal 1. Riwayat anggota keluarga mengalami gangguan pendengaran dengan onset di masa kanak-kanak Æ Telah terbukti secara konsisten dapat memprediksi bahwa gangguan pendengaran yang terjadi berkaitan dengan faktor genetik 2. Bayi yang membutuhkan perawatan di NICU selama lebih dari 5 hari Æ Digunakan sebagai indikator keparahan penyakit 3. Hiperbilirubinemia yang membutuhkan transfusi tukar (exchange transfusion)
Modul IX.2 ± Tuli Kongenital 17 Æ Merupakan satu-satunya faktor risiko yang direkomendasikan untuk tindak lanjut yang ketat terlepas dari lama rawat di NICU 4. Pemberian aminoglikosida lebih dari 5 hari 5. Asfiksia perinatal atau hypoxic ischemic encephalopathy 6. Riwayat ECMO (Extracorporeal membrane oxygenation) Æ Peningkatan risiko gangguan pendengaran onset lambat 7. Infeksi intrauteri seperti herpes, rubella, sifilis, toxoplasma, citomegalovirus, dan zika 8. Kelainan kongenital seperti malformasi kraniofasial (mikrosia/atresia, displasia telinga, oral facial cleft, mikroftalmia), mikrosefali, hidrosefalus, abnormalitas tulang temporal 9. Sindrome lain yang berhubungan dengan gangguan pendengaran atipikal Faktor risiko perinatal/post-natal 10. Meningitis atau ensefalitis bakteri dan atau virus yang terkonfirmasi perinatal dan postnatal (terutama virus herpes, varicella, hemophilus influenza dan menigitis pneumokokus) 11. Trauma kepala yang signifikan yang terjadi postnatal terutama bila didapatkan cedera pada mastoid dan kemoterapi. 12. Kekhawatiran keluarga/pengasuh mengenai pendengaran serta perkembangan bicara, dan berbahasa. Æ Ketika pengasuh mengungkapkan kekuatiran bahwa bayi tidak responsif terhadap suara di lingkungan rumah, atau tentang keterlambatan bicara dan atau bahasa, direkomendasikan bahwa penyedia layanan primer mendapatkan riwayat medis dan mengevaluasi anak dengan hati-hati untuk efusi telinga tengah. Gejala Gangguan Pendengaran Pada Bayi Dan Anak Pada bayi sulit diketahui mengingat ketulian tidak terlihat. Biasanya keluhan orang tua adalah tidak memberi respons terhadap bunyi. Umumnya pada seorang anak dikeluhkan oleh orangtua sebagai keterlambatan bicara (delayed speech), tidak memberi respons saat dipanggil atau ada suara/bunyi (Soepardi, 2012). Menurut Katz (2014), gangguan pendengaran dibedakan menjadi :
Modul IX.2 ± Tuli Kongenital 18 - tuli sebagian (hearing impaired) yaitu penurunan fungsí pendengaran tetapi masih bisa berkomunikasi dengan atau tanpa alat bantu dengar. - tuli total (deaf) adalah gangguan fungsí pendengaran yang sedemikian terganggu sehingga tidakdapat berkomunikasi sekalipun mendapat perkerasan bunyi. Kapan Kita Curiga Ada Gangguan Pendengaran (WHO, 2021) Bila pada : 12 bulan : belum dapat mengoceh (babbling) atau meniru 18 bulan : tidak dapat menyebut 1 kata berarti 24 bulan : perbendaharaan kata kurang dari 10 kata 30 bulan : belum dapat merangkai 2 kata. Deteksi dini gangguan pendengaran pada bayi menurut WHO (2021), ditetapkan melalui Program Newborn Hearing Screening (NHS) yang dikenal ada 2 macam yaitu : 1. Universal Newborn Hearing Screening: dilakukan pada semua bayi yang baru lahir. Upaya ini dapat dilakukan pada bayi usia 2 hari atau sebelum meninggalkan Rumah Sakit. Bila lahir pada fasilitas kesehatan yang tidak memiliki program ini maka paling lambat dilakukan skrining pada usia 1 bulan. 2. Targeted Newborn Hearing Screening : skrining pendengaran hanya dilakukan pada bayi yang mempunyai faktor risiko. Pedoman Skrining Pendengaran Bayi Baru Lahir Menurut WHO 2021, prinsip skrining pendengaran bayi baru lahir harus berdasar pada prinsip ³±3±´ x Semua bayi harus menjalani pemeriksaan pendengaran dalam usia 1 bulan. x Semua bayi yang skrining awal dan skrining ulang selanjutnya memerlukan pengujian diagnostik, harus memiliki evaluasi audiologis yang sesuai selambat- lambatnya pada usia 3 bulan untuk memastikan status pendengaran bayi. x Setelah gangguan pendengaran telah didiagnosis, bayi dan keluarga harus memiliki akses langsung ke layanan intervensi dini dimulai sesegera mungkin setelah diagnosis, dan tidak lebih dari usia 6 bulan.
Modul IX.2 ± Tuli Kongenital 19 Saat ini baku emas untuk skrining pendengaran digunakan OAE (Otoacoustic Emission) dan AABR (Automated Auditory Brainstem Respons) sebagai pemeriksaan obyektif (WHO, 2021). Pemeriksaan Diagnostik Semua bayi yang gagal dalam kedua tahap skrining harus menjalani pemeriksaan audiologi diagnostik untuk memastikan status pendengaran mereka pada usia 3 bulan. Menurut WHO (2021), tes yang dijalani mencakup: x Penilaian objektif respon batang otak terhadap stimulus suara untuk diagnosis gangguan pendengaran melalui: o Auditory Brainstem Response (ABR) ± penilaian standar yang digunakan untuk menegakkan diagnosis berdasarkan sifat dan tingkat gangguan pendengaran untuk memastikan manajemen yang tepat (misalnya amplifikasi). o Automated Auditory Brainstem Response (AABR) -- merupakan pemeriksaan BERA otomatis sehingga tidak diperlukan analisis gelombang evoked potential karena hasil pencatatan mudah dibaca, berdasarkan kriteria pass (lulus) atau refer (tidak lulus). Pemeriksaan ini sama dengan BERA konvensional yaitu menggunakan elektroda permukaan dengan pemberian stimulus click, mudah dilakukan, praktis, tidak invasif dan hanya dapat menggunakan intensitas 30 ± 40 dB (Hamam dan Purnami, 2020). o Auditory Steady-state Response (ASSR) ± dapat digunakan selain ABR untuk menilai perkiraan ambang batas frekuensi tertentu. x Timpanometri untuk menilai fungsi telinga tengah. x Refleks akustik untuk menguji fungsi telinga tengah dan integritas otak pendengaran. x Emisi otoakustik (OAE) o Bila dikombinasikan dengan tes ABR, hal ini memberikan informasi penting untuk diagnosis banding gangguan spektrum neuropati auditori dan gangguan pendengaran sensorineural. o Merupakan pemeriksaan eletrofisiologi untuk menilai fungsi sel rambut koklea. o Pemeriksaan ini tidak invasif, mudah, praktis, tidak membutuhkan waktu lama, efisien, dan hasilnya secara otomatis dengan menggunakan kriteria pass/refer. o Tidak harus dilakukan di ruang kedap suara tetapi harus cukup tenang, demikian juga dengan bayi yang diperiksa tidak harus menggunakan sedatif asal cukup
Modul IX.2 ± Tuli Kongenital 20 tenang. Hal ini untuk mengurangi efek noise yang dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan, demikian juga dengan persyaratan lain yaitu liang telinga yang bersih dan keadaan kavum timpani harus baik. o Hal lain yang perlu diperhatikan adalah ukuran sumbatan harus sesuai dengan liang telinga dan sumbatan sebaiknya mengarah ke gendang telinga. o Jenis OAE yang biasa digunakan adalah TEOAE (Transient Evoked OAE) yang menggunakan stimulus click atau tone pip dan DPOAE (Distortion Product OAE) yang menggunakan stimulus 2 nada murni yang berbeda frekuensi dan intensitasnya (Hamam dan Purnami, 2020). x Evaluasi medis untuk menentukan etiologi gangguan pendengaran. Pemeriksaan pendengaran secara obyektif juga perlu dilakukan dan disesuaikan dengan usia anak. Apabila terdapat kelainan maka diperlukan pemeriksaan lebih lanjut yang disesuaikan dengan alur skrining pendengaran bayi 2021. Tindak Lanjut Hasil "refer": Semua bayi yang memiliki hasil "refer" setelah skrining pertama harus ditindaklanjuti untuk memastikan bahwa mereka melakukan skrining kedua. Bayi yang gagal dalam skrining pertama dan kedua harus dirujuk untuk pengujian diagnostik dan ditindaklanjuti (WHO, 2021). Tindak lanjut harus dilakukan secara sistematis oleh orang yang ditunjuk untuk memastikan bahwa penyaringan atau pengujian diagnostik yang diperlukan telah selesai. Langkah-langkah dalam jalur tindak lanjut harus dipetakan dan sistem dibuat untuk memfasilitasi kehadiran keluarga di tindak lanjut untuk memastikan kepatuhan yang maksimal (WHO, 2021). +DVLO ³pass´: Orang tua/pengasuh harus diberi informasi tentang batasan pendengaran dan bahasa yang normal dan mengantisipasi pada perkembangan anak. Dalam situasi di mana batasan ini tidak terpenuhi, atau di mana curiga terdapat gangguan pendengaran, anak harus menjalani tes skrining pendengaran, terlepas dari hasil tes sebelumnya. Hal ini penting karena gangguan pendengaran dapat berkembang kapan saja setelah lahir, atau bersifat progresif, yang muncul seiring dengan pertumbuhan anak (WHO, 2021).
Modul IX.2 ± Tuli Kongenital 21 Diagnosa banding ADHD, Autism, CAPD, Afasia, Retardasi Mental, Disleksia, dan gangguan komunikasi lainnya (Betty, 2021). Pencegahan Mengingat tingginya angka infeksi yang dapat terjadi pada ibu hamil dan anak maka perlu dilakukan imunisasi misalnya untuk rubela. Apabila diketahui kemungkinan adanya faktor genetik, maka dianjurkan untuk konseling genetik bila menginginkan keturunan (WHO, 2016). Penanganan Apabila ditemukan adanya gangguan pendengaran maka dianjurkan untuk menggunakan alat bantu dengar sedini mungkin seperti yang direkomendasikan oleh American Joint Committee on Infant Hearing (2019), yaitu sebelum usia 6 bulan. Bila dengan ABD tidak membantu maka dianjurkan untuk menggunakan implan koklea. Disamping itu anak juga diberi terapi wicara atau terapi audio verbal sehingga dapat mendeteksi suara dan selanjutnya dapat berkomunikasi. Setelah memahami, menguasai dan mengerjakan modul ini, diharuskan seorang dokter ahli THT mempunyai kompetensi serta penerapannya dapat dikerjakan di RS pendidikan dan RS jejaring pendidikan dan dapat dipergunakan oleh program studi disiplin ilmu terkait. Intervensi idealnya dimulai pada saat bayi mencapai usia 6 bulan. Namun, jika hal tersebut sulit dilakukan, batas waktu waktu untuk memulai intervensi dilakukan pada usia 1 tahun. Keputusan mengenai manajemen tindakan harus berdasarkan persetujuan keluarga (WHO, 2021). Pilihan untuk intervensi termasuk terapi rehabilitatif untuk mendukung pengembangan keterampilan bahasa, bersama dengan: x Penggunaan teknologi pendengaran (alat bantu dengar atau implantasi koklea); x Pembelajaran bahasa isyarat; atau x Kombinasi keduanya. Selain itu, orang tua harus diarahkan untuk mendaftarkan anak mereka dalam program pendidikan dini yang sesuai (WHO, 2021)
Modul IX.2 ± Tuli Kongenital 22 O. ALGORITMA Alur Skrining Bayi Baru Lahir (2010)
MODUL UTAMA THT KOMUNITAS GANGGUAN PENDENGARAN DAN KOMUNIKASI PADA ANAK MODUL IX.3.1 GANGGUAN WICARA DENGAN PENDENGARAN NORMAL EDISI III KOLEGIUM ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER 2022
DAFTAR ISI A. WAKTU PEMBELAJARAN............................................................................. 1 B. PERSIAPAN SESI ............................................................................................. 1 C. REFERENSI ....................................................................................................... 1 D. KOMPETENSI ................................................................................................... 2 E. GAMBARAN UMUM ....................................................................................... 2 F. CONTOH KASUS & DISKUSI ........................................................................ 7 G. TUJUAN PEMBELAJARAN ............................................................................ 7 H. METODE PEMBELAJARAN ........................................................................... 8 I. EVALUASI ...................................................................................................... 10 J. INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF ........................................................ 12 K. DAFTAR TILIK............................................................................................... 13 L. MATERI PRESENTASI .................................................................................. 14 M. MATERI BAKU .............................................................................................. 14 N. ALGORITMA .................................................................................................. 22
Modul IX.3.1 ± Gangguan Wicara dengan Pendengaran Normal 1 MODUL IX.3.1 THT KOMUNITAS : GANGGUAN WICARA DENGAN PENDENGARAN NORMAL A. WAKTU PEMBELAJARAN Proses Pengembangan Kompetensi Alokasi Waktu Sesi di dalam kelas Sesi dengan fasilitasi pembimbing Sesi praktik dan pencapaian kompetensi 2 x 60 menit (classroom session) 4 x 60 menit (coaching session) 24 jam (fascilitation and assessment) B. PERSIAPAN SESI Materi presentasi (Terlampir) Kasus : 1. Delayed Speech Sarana dan Alat Bantu Latih : Kuesioner C. REFERENSI 1. Bailey BJ and Pillsburry II HC. Head and Neck Surgery-Otolaryngology. Philadephia, JB Lippincort. USA 2. Nelson. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Edisi 15. Jakarta. EGC. 3. Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak di Tingkat Pelayanan Kesehatan Dasar. 2011. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 4. Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2005. Depdiknas Jakarta. 5. Mc Cormick BPractical Aspects of Audiology. Pediatri Audiology 0±5 years. 2 nd. Edition17 Whurr Publishers London 6. Scoot Brown. Otorhinolaryngology, Head and Neck Surgery, Great Britain, Edward Arnold, 7 th ed. 7. Clinical Guidelines Speech Therapy Version 1.0.2019. Asuris Musculoskeletal Benefit Management Program: Speech Therapy Services. eviCore healthcare. 2017. All rights reserved. 400 Buckwalter Place %RXOHYDUG %OXIIWRQ 6&    -8924 8. Stimulasi Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang
Modul IX.3.1 ± Gangguan Wicara dengan Pendengaran Normal 2 D. KOMPETENSI Pengetahuan Setelah mengikuti sesi ini peserta mampu: a. Menjelaskan definisi gangguan wicara dan bahasa b. Menjelaskan patofisiologi terjadinya gangguan Bahasa dan Wicara c. Menjelaskan gejala-gejala / keluhan dan dapat mendiagnosis perkembangan Bahasa dan Wicara d. Menjelaskan kelainan Wicara (yg termasuk) dan kelainan bahasa (yg termasuk) e. Mampu mendeteksi adanya faktor risiko gangguan perkembangan Bahasa dan Wicara. f. Menjelaskan hubungan pendengaran dengan perkembangan Wicara & bahasa. g. Menjelaskan tatalaksana gangguan perkembangan Bahasa dan Wicara. Keterampilan Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam : a. Mampu melakukan pemeriksaan skrining dan diagnosis pada bayi dan anak dengan gangguan wicara & Bahasa b. Mampu merujuk berdasarkan kelainan pada disiplin ilmu yang terkait. c. Mampu mengevaluasi penatalaksanaan gangguan bahasa dan wicara E. GAMBARAN UMUM Dengan berkembangnya pemeriksaan dan deteksi dini pendengaran di Indonesia terdapat upaya lanjut yang harus dikatahui para peserta didik apa yang dapat dilakukan seteah mengetahui bahwa terdapat gangguan komunikasi dengan pendengaran normal. perlunya mengetahui hal lain seperti gangguan ekspresi, gangguan tumbuh kembang, bilingualisme dan lainnya yang sangat erat berhubungan dengan gangguan komunikasi, agar bila suatu saat nanti akan mempengaruhi faham komunikasi pada anak tersebut.
Modul IX.3.1 ± Gangguan Wicara dengan Pendengaran Normal 3 1. Definisi Definisi dan fungsi komunikasi Komunikasi adalah proses yang digunakan untuk bertukar informasi termasuk kemampuan memahami dan menghasilkan pesan. Pada proses komunikasi terjadi perpindahan semua jenis pesan atau informasi yang berhubungan dengan kebutuhan perasaan, keinginan, persepsi, ide dan pengetahuan. Komunikasi dapat terjadi melalui berbagai modalitas yaitu proses nonlinguistik verbal dan paralinguistic Aspek berbahasa 1. Fonologi (konsonan, vokal, suku kata yang tidak mempunyai arti) 2. Morfologi (unit terkecil dari kata yang mempunyai arti) 3. Sintaks (merangkai kata menjadi kalimat) 4. Semantik (menggunakan kata-kata) 5. Pragmatik (berbicara dan komunikasi dalam lingkungan sosial) 6. Sequence (kemampuan menyusun kalimat sesuai dengan alur cerita) Penyebab Gangguan bicara A. Problem struktur dari organ artikulasi : lidah, bibir, palatum durum dan molle, susunan gigi, kesegarisan rahang. B. Kelemahan atau inkoordinasi otot-otot yang terlibat dalam proses berbicara C. Faktor lingkungan. Beberapa faktor risiko diidentifikasi sebagai penyebab, yaitu status nutrisi, tingkat pendidikan rendah, kurangnya stimulasi, dll D. Faktor organik : kerusakan susunan saraf pusat (otak) terutama pada 1 tahun pertama kehidupan anak. E. 9DULDVL GDUL SHUNHPEDQJDQ VHSHUWL ³FRQVWLWXWLRQDO GHOD\´ PHUXSDNDQ periode perkembangan normal tetapi tercapai pada tahap akhir usia perkembangan. F. Gangguan postur dan gangguan fungsi respirasi G. Gangguan pendengaran. Penyebab gangguan berbahasa Gangguan pendengaran pada usia anak sekolah terdapat 3 macam berdasarkan jenisnya yaitu tulikonduktif, tuli sensorineural dan tuli campur.
Modul IX.3.1 ± Gangguan Wicara dengan Pendengaran Normal 4 Ada perbedaan antara bicara dan bahasa. Bicara adalah pengucapan, yang menunjukkan keterampilan seseorang mengucapkan suara dalam suatu kata.Bahasa berarti menyatakan danmenerima informasi dalam suatu cara tertentu. Bahasa merupakan salah satu cara berkomunikasi. Bahasa reseptif adalah kemampuan untuk mengerti apa yang dilihat dan apa yang didengar. Bahasa ekspresif adalah kemampuan untuk berkomunikasi secara simbolis baik visual (menulis, member tanda) atau auditorik. Seorang anak yang mengalami gangguan berbahasa mungkin saja dapat mengucapkan suatu kata dengan jelas tetapi ia tidak dapat menyusun dua kata dengan baik. Sebaliknya, ucapan seorang anak mungkin sedikit sulit untuk dimengerti, tetapi ia dapat menyusun kata-kata yang benar untuk menyatakan keinginannya. Masalah bicara dan bahasa sebenarnya berbeda tetapi kedua masalah ini sering kali tumpang tindih. 2. Epidemiologi Gangguan bicara dan bahasa dialami oleh 8% anak usia pra sekolah. Hampir sebanyak 20% dari anak berumur 2 tahun mempunyai gangguan keterlambatan bicara. Keterlambatan bicara paling sering terjadi pada usia 3-16 tahun. Pada umur 5 tahun, 19% dari anak-anak diidentifikasi memiliki gangguan bicara dan bahasa (6,4% kelemahan berbicara, 4,6% kelemahan bicara dan bahasa, dan 6% kelemahan bahasa). Gagap terjadi pada 45% pada usia 35 tahun dan 1% pada usia remaja. Lakilaki diidentifikasi memiliki gangguan bicara dan bahasa hampir dua kali lebih banyak daripada wanita. Skrining perkembangan bicara bahasa pada anak 1. Early Language Milestone (ELM) 2. Clinical Linguistic Auditory Milestone Scale (CAT/CLAM ± format dalam lampiran) untuk skrining perkembangan bahasa sejak usia lahir sampai usia 3 tahun dan kemampuan bicara untuk usia 24-48 bulan. Data didapatdari laporan orang tua dan interaksi langsung antara anak dan pemeriksaan 3. Pemeriksaan pendengaran (auditory)
Modul IX.3.1 ± Gangguan Wicara dengan Pendengaran Normal 5 Diagnosis fungsi gangguan bicara bahasa 1. Riwayat keluarga 2. Riwayat perkembangan bicara bahasa 3. Riwayat perkembangan sosial dan kognitif 4. Riwayat fungsi oromotor dan makan 5. Tanda dan gejala dapat dideteksi melalui tahapan perkembangan anaksecara menyeluruh baik aspek perkembangan motor kasar, motor halus;personal sosial dan bahasa 6. Pemeriksaan fisik. Pemeriksaan umum termasuk parameter pertumbuhan (berat badan, panjang badan; dan lingkar kepala), dismorfik wajah,atau kelainan neurologi, kemampuan berbahasa reseptif dan ekspresif (sintak, semantik, pragmatik dan fonologi), kualitas suara, resonansi dan kelancaran bahasa. Tatalaksana untuk rujukan 1) Tujuan utama penanganan kasus anak dengan keterlambatan bicara adalah meminimalisasi rasafrustasi pada anak dan orangtua 2) Anak dapat membaca dengan suara keras 3) Memberikan informasi kepada keluarga 4) Terapi : a. Pada masalah pendengaran perlu penggunaan alat bantu dengar atau penggunaan implan koklea b. Penanganan masalah infeksi telinga c. Edukasi 5) Terapi wicara dengan jenis sesuai kebutuhan, yaitu : a. Oral Motor b. Pengucapan (Articulation) c. Kosakata & Konsep Bahasa d. Ketrampilan Berkomunikasi (Communication Skills) e. Ketrampilan Pragmatik (Pragmatic Skills) f. Ketrampilan Akademis (Academic Skills) Skrining perkembangan bicara bahasa pada anak 1. Early Language Milestone (ELM)
Modul IX.3.1 ± Gangguan Wicara dengan Pendengaran Normal 6 2. Clinical Linguistic Auditory Milestone Scale (CAT/CLAM ± format dalam lampiran) untuk skrining perkembangan bahasa sejak usia lahir sampai usia 3 tahun dan kemampuan bicara untuk usia 24-48 bulan. Data didapatdari laporan orang tua dan interaksi langsung antara anak dan pemeriksaan 3. Pemeriksaan pendengaran (auditory) Diagnosis fungsi gangguan bicara bahasa 1. Riwayat keluarga 2. Riwayat perkembangan bicara bahasa 3. Riwayat perkembangan sosial dan kognitif 4. Riwayat fungsi oromotor dan makan 5. Tanda dan gejala dapat dideteksi melalui tahapan perkembangan anaksecara menyeluruh baik aspek perkembangan motor kasar, motor halus;personal sosial dan bahasa 6. Pemeriksaan fisik. Pemeriksaan umum termasuk parameter pertumbuhan(berat badan, panjang badan; dan lingkar kepala), dismorfik wajah,atau kelainan neurologi, kemampuan berbahasa reseptif dan ekspresif(sintak, semantik, pragmatik dan fonologi), kualitas suara, resonansi dankelancaran bahasa. Tatalaksana untuk rujukan 1) Tujuan utama penanganan kasus anak dengan keterlambatan bicara adalah meminimalisasi rasafrustasi pada anak dan orangtua 2) Anak dapat membaca dengan suara keras 3) Memberikan informasi kepada keluarga 4) Terapi : d. Pada masalah pendengaran perlu penggunaan alat bantu dengar atau penggunaan implantkoklea b. Penanganan masalah infeksi telinga c. Edukasi 5) Terapi wicara dengan jenis sesuai kebutuhan, yaitu : a. Oral Motor b. Pengucapan (Articulation) c. Kosakata & Konsep Bahasa
Modul IX.3.1 ± Gangguan Wicara dengan Pendengaran Normal 7 d. Ketrampilan Berkomunikasi (Communication Skills) e. Ketrampilan Pragmatik (Pragmatic Skills) f. Ketrampilan Akademis (Academic Skills) F. CONTOH KASUS & DISKUSI Diskusi 1. Must to know x Penyebab terjadinya gangguan wicara dan bahasa pada anak disebabkan oleh Jawaban Diskusi: 2. Must to know x Mengetahui penyebab gangguan keterlambatan bicara dan angguan bicara pada anak Jawaban : a. Retardasi mental b. Gangguan pendengaran c. Gangguan ekspresif d. Ganggguan penyimpangan psikososial e. Mutism f. Afasia a. Cerebreal palsy b. Global delay development c. Bilingual G. TUJUAN PEMBELAJARAN Proses, materi, dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan menatalaksanakan gangguan Bahasa dan Wicara yaitu : 1. Perkembangan wicara dan bahasa berdasarkan usia 2. Anamnesis dan pemeriksaan klinis gangguan perkembangan Bahasa dan Wicara 3. Gejala klinis gangguan perkembangan Wicara dan Bahasa
Modul IX.3.1 ± Gangguan Wicara dengan Pendengaran Normal 8 4. Kelainan Wicara (yg termasuk) dan Kelainan Bahasa (yg termasuk) 5. Faktor risiko pada gangguan perkembangan wicara dan bahasa 6. Pemeriksaan perkembangan bicara dan bahasa secara subyektif 7. Pemeriksaan menurut ELMS (Early Languange Milestones Scale) 8. Diagnosis 9. Tatalaksana gangguan perkembangan Wicara dan Bahasa 10. Evaluasi tatalaksana H. METODE PEMBELAJARAN Tujuan 1 : Perkembangan wicara dan bahasa berdasarkan usia, untuk mencapai tujuan ini maka digunakan metode pembelajaran berikut : - interactive lecture - small group discusstion - journal reading review Harus diketahui: - Perkembangan Wicara dan Bahasa Tujuan 2 : Anamnesis dan pemeriksaan klinis gangguan perkembangan Wicara dan Bahasa, untuk mencapai tujuan ini maka digunakan metode pembelajaran berikut : - interactive lecture - small group discusstion - jounal reading review Harus diketahui : - Penyebab gangguan perkembangan Wicara dan Bahasa Tujuan 3 : Gejala klinis gangguan perkembangan Wicara dan Bahasa, untuk mencapai tujuan ini maka digunakan metode pembelajaran berikut : - interactive lecture - small group discusstion - journal reading review Harus diketahui : - Penyebab gangguan perkembangan wicara dan bahasa.
Modul IX.3.1 ± Gangguan Wicara dengan Pendengaran Normal 9 Tujuan 4 : Kelainan Wicara (yg termasuk) dan Kelainan Wicara (yg termasuk), untuk mencapai tujuan ini maka digunakan metode pembelajaran berikut : - interactive lecture - small group discusstion - jounal reading revie Harus diketahui : - Penyebab kelainan wicara dan bahasa Tujuan 5 : Faktor risiko pada gangguan perkembangan Wicara dan Bahasa.Untuk mencapai tujuan ini maka digunakan metode pembelajaran berikut : - interactive lecture - small group discusstion - journal reading review Harus diketahui : - Faktor risiko terjadinya gangguan wicara dan bahasa Tujuan 6 : Pemeriksaan perkembangan Wicara dan Bahasa secara subyektif, untuk mencapai tujuan ini maka digunakan metode pembelajaran berikut : - interactive lecture - small group discusstion - journal reading reviw Harus diketahui : - Pemeriksaan gangguan atau perkembangan Wicara dan Bahasa Tujuan 7: Pemeriksaan menurut ELMS(Early Languange Milestones Scale), untuk mencapai tujuan ini maka digunakan metode pembelajaran berikut : - interactive lecture - small group discusstion - journal reading review Harus diketahui : - Pemeriksaan ELMS(Early Languange Milestones Scale), Tujuan 8: Diagnosis, untuk mencapai tujuan ini maka digunakan metode pembelajaran berikut :
Modul IX.3.1 ± Gangguan Wicara dengan Pendengaran Normal 10 - interactive lecture - small group discussion - jounal reading review - bed side teaching - case study - medical education Harus diketahui : - Diagnosis gangguan atau kelainan wicara dan bahasa Tujuan 9: Tatalaksana gangguan perkembangan Bahasa dan Wicara , untuk mencapai tujuan ini maka digunakan metode pembelajaran berikut : - interactive lecture - small group discussion - journal reading review - bed side teaching - case study - medical education Harus diketahui : - Tatalaksana gangguan perkembangan wicara dan bahasa Tujuan 10 :Evaluasi tatalaksana, untuk mencapai tujuan ini maka digunakan metode pembelajaran berikut : - interactive lecture - small group discussion - jounal reading review - bed side teaching - case study - medical education Harus diketahui : - Evaluasi tatalaksana gangguan perkembangan Wicara dan Bahasa I. EVALUASI A. Evaluasi Hasil Pembelajaran 1. Evaluasi Hasil Pembelajaran Evaluasi hasil pendidikan ditentukan berdasarkan proses dan hasil pembelajaran.
Modul IX.3.1 ± Gangguan Wicara dengan Pendengaran Normal 11 Untuk dapat dievaluasi, peserta PPDS harus memenuhi persyaratan kehadiran sebanyak 90%. Hasil akhir dimasukkan ke dalam SIAK-NG berupa dua nilai yaitu, pengetahuan THT Komunitas dan Keterampilan THT Komunitas Rekonstruksi. Nilai Pengetahuan terdiri dari : 1) Ujian Formatif : Dilakukan selama masa rotasi secara berkesinambungan dapat berupa Mini cex, pre test, atau Case Based Discussion, bertujuan untuk menilai pengetahuan peserta didik. 2) Ujian Sumatif : Dilakukan pada akhir masa rotasi, bertujuan untuk menilai tercapainya seluruh kompetensi yang diharapkan di modul THT Komunitas. 3) Sikap dan Perilaku : Dilakukan penilaian sikap dan perilaku (etika terhadap pasien, staf pendidik, teman sejawat, paramedis dan non paramedis), Profesionalisme, Patient safety, komunikasi, kerja sama dalam keseharian. II. Instrumen Evaluasi dan Kriteria/Indikator keberhasilan 1) Pre dan post test: Berupa ujian teori (multiple choice questions / MCQ/ vignette/essay) untuk menilai pemahaman/ kognitif PPDS terhadap topik yang berkaitan.NBL adalah 70. 2) Untuk menilai kemampuan menangani kasus plastik rekonstruksi dengan komplikasi maka dilakukan ujian diskusi kasus (Case based discussion/CBD). 3) Portofolio dan log book 4) Penilaian sikap dan perilaku didapatkan dari penilaian observasi tim (Team observation/TO) III. Waktu Pelaksanaan 1) Ujian pretest dilakukan dalam minggu pertama rotasi 2) Ujian Cased Based Discussion dan post test dilakukan pada selama stase 3) Ujian Sumatif dilakukan pada minggu ke IV (empat) IV. Pembobotan Penilaian kognitif atau pengetahuan memiliki bobot 40 % sedangkan ketrampilan (skill) 30 % dan perilaku (attitude) 30 %. B. Instrumen Evaluasi dan Kriteria/Indikator keberhasilan 1. Ujian tulis dan Portofolio.
Modul IX.3.1 ± Gangguan Wicara dengan Pendengaran Normal 12 Dapat berupa ujian essay pre test pada awal (minggu ke-1) dan post test pada awal minggu ke-5 untuk menilai pengetahuan dan kemampuan analisis PPDS. Nilai batas lulus NBL =70. 2. Minicex. Untuk penilaian berkesinambungan kemampuan peserta didik mengumpulkan data, menegakan diagnosis, memilih dan menerapkan tatalaksana dan memberikan edukasi ke pasien. 3. DOPS. Untuk mengevaluasi keterampilan pemeriksaan klinis/ prosedural/ tindakan. NBL adalah 70. 4. Log book 5. Penilaian sikap dan perilaku didapatkan dari keseharian. NBL adalah 80. J. INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF Penguasaan Pengetahuan (Domain Kognitif) Berdasarkan Bloom ± Anderson Tingkatan/ Level Kompetensi Kemampuan Definisi Capaian pembelajaran 1 Mengetahui Mengingat,memanggil informasi Sebutkan, ceritakan, kenali, menyebutkan kembali 2 Memahami Memahami maksud sebuah konsep Merangkum, mengkonversi, mempertahankan, menyatakan kembali 3 Mengaplikasikan Menggunakan konsep pada situasi yang berbeda Menghitung, menyiapkan, mencontoh 4 Menganalisis Membagi informasi menjadi beberapa konsep untuk dipahami Bandingkan, uraikan, bedakan, pisahkan 5 Mengevaluasi Menilai sebuah konsep Menilai, mengkritik, berargumentasi Penguasaan Psikomotorik berdasarkan Harrow NO KEMAMPUAN DEFINISI 1 Peniruan (Immitation) Menirukan gerak yang telah diamati 2 Penggunaan (Manipulation) Menggunakan konsep untuk melakukan gerak
Modul IX.3.1 ± Gangguan Wicara dengan Pendengaran Normal 13 K. DAFTAR TILIK DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA PROSEDUR SKRINING BAYI Berikan penilaian tentang psikomotorik atau ketrampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan suatu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan di bawah ini : V : Memuaskan: Langkah atau kegiatan yang diperagakansesuai dengan prosedur atau panduan standar X : Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan Prosedur atau panduan standar T/T: Tidak ditampilkan: Langkah,kegiatan atau ketrampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih NAMA PESERTA : ....................................... TANGGAL : ........................................ KEGIATAN NILAI PERSIAPAN 1. Kaji ulang anamnesis dan pemeriksaan THT 2. Menyiapkan pasien dalam kondisi sehat 3. Menyiapkan alat skrining yang akan digunakan 4. Informed consent 5. Pemberian obat sedatif sesuai berat badan 6. Ruangan yang tidak bising PROSEDUR SKRINING PENDENGARAN 1. Pada bayi / anak yang akan diperiksa pendengarannnya , sebelumnya dibersihkan liang telinganya dan keadaan telinga tengah baik. 2. Pada pemeriksaan OAE yang diperhatikan adalah program yang akan digunakan. Ukuran sumbatan sesuai ukuran liang telinga, dan arah sumbatan ke membran timpani. 3. Perhatikan noise floor serta internal noise yang bisa mempengaruhi hasil pemeriksaan sehingga usahakan ruangan maupun anak tenang. 4. Hasil yang diperoleh dipertimbangkan dengan pemeriksaan lainnya seperti BOA dan AABR 5. Lakukan AABR sekaligus bila memungkinkan. Sebelumnya dilakukan pembersihan pada tempat yang akan ditempeli oleh elektroda, setelah itu periksa impedance 3 Ketepatan (Precision) Melakukan gerak dengan teliti dan benar 4 Perangkaian (articulation) Merangkaikan berbagai gerakan secara berkesinambungan 5 Naturalisasi (naturalization) Melakukan gerak secara wajar dan efisien
Modul IX.3.1 ± Gangguan Wicara dengan Pendengaran Normal 14 KEGIATAN NILAI 6. Hasil AABR dibandingkan dengan hasil pemeriksaan lainnya. Gunakan algoritma skrining pendengaran berdasarkan Health Technology Assessment (HTA) 2010 7. Bila hasil OAE diagnostik dan BERA diagnostik terdapat kelainan maka habillitasi sebaiknya sudah dimulai pada usia 6 bulan, atau sesegera mungkin saat diagnosis diketahui. 8. Apabila hasil OAE Pass dan AABR Refer perlu pemeriksaan audiologi klainnya untuk menetapkan diagnosis 9. Interpretasi hasil skrining pemeriksaan dapat diketahui dan bila perlu pemeriksaan lanjutan atau merencanakan habilitasi yang akan dijalankan 10. Follow up pasien dilakukan untuk menilai habilitasi yang dijalankan. L. MATERI PRESENTASI Slide 1 Judul Perkembangan Bahasa dan Wicara pada Anak Slide 2&3 Perkembangan Bahasa dan Wicara Berdasarkan Usia dan perkembangan mendengar Slide 4 &5 Tabel Kemampuan berbahasa bayi dan anak ±anak Slide 6 Timeline perkembangan pendengaran Slide 7 Jenis Pendengaran Slide 8 Perkembangan Bahasa Slide 9 Perkembangan Bicara Slide 10-14 Etiologi dan faktor risiko gangguan komunikasi Slide 15 Gangguan Pendengaran Pada Bayi Slide 16 Jenis Pemeriksaan Slide 17 &18 Deteksi Dini Gangguan Wicara dan Dengar pada Anak Slide 19 Early Language Milestones Scale-2 /(ELM Scale-2) Slide 20 Alur Screening Bayi Baru Lahir Slide 21 Diagnosis Fungsi Gangguan Bicara Bahasa Slide 22 Tatalaksana untuk rujukan Slide 23 Kebutuhan Terapi Wicara M. MATERI BAKU Definisi: Tuli yang terjadi sebelum persalinan atau pada saat persalinan disebabkan oleh kelainan secara genetik, nongenetik.
Modul IX.3.1 ± Gangguan Wicara dengan Pendengaran Normal 15 Ruang lingkup: Bayi/anak yang tidak memberi respons terhadap bunyi, mengalami keterlambatan/kelainan pola bicara dibandingkan anak seusia. Indikasi pemeriksaan skrining pendengaran: - Bayi lahir dengan faktor risiko - Bayi/anak dengan kecurigaan gangguan pendengaran Anatomi Telinga dibagi atas telinga luar (daun telinga sampai membran timpani), telinga tengah (tulang pendengaran pada kavum timpani, dan Tuba Eustachius), serta telinga dalam (koklea dan semisirkularis ) Fisiologi Pendengaran Energi bunyi ditangkap oleh daun telinga, dialirkan melalui udara atau tulang ke koklea. Getaran diteruskan melalui rangkaian tulang pendengaran yang mengalami amplifikasi. Energi ini diteruskan sehingga perilimfa pada skala vestibuli bergerak. Getaran diteruskan melalui membrana Reissner yang mendorong endolimfe dan menimbulkan gerak relatif antara membran Basilaris dan membran Tektoria. Rangsang mekanik menyebabkan defleksi stereosilia sel rambut, selanjutnya terjadi proses depolarisasi yang akan melepaskan neurotransmiter ke dalam sinapsis. Potensial aksi terjadi pada saraf Auditorius, lalu dilanjutkan ke nukleus Auditorius sampai ke korteks pendengaran di lobus Temporalis. Perkembangan Sistem Pendengaran Pada usia gestasi 9 minggu mulai terbentuk ketiga lapisan pada gendang telinga, dan pada minggu ke 20 sudah terjadi pematangan telinga dalam yang mempunyai ukuran sama dengan orang dewasa, dan dapat memberi respons terhadap suara. Pada saat yang sama bentuk daun telinga sudah menyerupai daun telinga orang dewasa walaupun masih terus berkembang sampai usia 9 tahun. Pada usia gestasi 30 minggu terjadi pneumatisasi dari timpanum, demikian juga dengan liang telinga luar yang terus berkembang sampai usia 7 tahun. Osifikasi pada tulang maleus dan inkus sempurna pada usia gestasi 32 minggu sedangkan stapes terus berkembang sampai usia dewasa. Sel udara mastoid berkembang pada usia gestasi 34 minggu dan seminggu kemudian dilanjutkan dengan pneumatisasi pada antrum.
Modul IX.3.1 ± Gangguan Wicara dengan Pendengaran Normal 16 Perkembangan auditorik berhubungan erat dengan perkembangan otak Neuron dibagian korteks mengalami pematangan dalam waktu 3 tahun pertama kehidupan, dan masa 12 bulan pertama kehidupan terjadi perkembangan otak sangat cepat. Berdasarkan pertimbangan di atas, maka upaya melakukan deteksi dini gangguan pendengaran sehingga habilitasi dapat dimulai pada saatperkembangan otak masih berlangsung. Perkembangan Bicara dan Bahasa Perkembangan bicara seorang anak sejalan dengan pertambahan usianya dan perkembangan mendengar. Neonatus: - menangis ,suara mendengkur (cooing),suara seperti berkumur (gurgles) 2-3 bulan : - tertawa dan mengoceh tanpa arti ( babbling ) : aaa, ooo 4-6 bulan : - mengeluarkan suara kombinasi huruf hidup (vowel ) dan mati ( konsonan ). Ocehan bermakna ( true babling ) atau lalling ( pa..pa.., da..da ) - memberi respons terhadap suara marah atau bersahabat - belajar menangis dengan suara yang bervariasi sesuai kebutuhan 7-11 bulan : - menggabungkan kata / suku kata yang tidak mengandung arti, seperti bahasaasing (jargon) , usia 10 bulan mampu meniru suara (echolalia) - mengerti kata perintah sederhana ; kesini - mengerti nama objek sederhana ; sepatu, cangkir 12-18 bulan : - menjawab pertanyaan sederhana - mengerti instruksi sederhana, menunjukkan bagian tubuh dan nama mainan 24-35 bulan : - kata yang diucapkan antara 150 -300 - volume dan pitch suara belum terkontrol - dapat mengidentifikasi warna, mengerti konsep besar- kecil, sekarang-nanti 36-47 bulan : - kata yang diucapkan 900- 1200
Modul IX.3.1 ± Gangguan Wicara dengan Pendengaran Normal 17 - memberi respons pada 2 kalimat perintah yang tidak berhubungan seperti ambil sepatu kemudian letakkan gelas diatas meja - mulai bertanya kenapa dan bagaimana Sampai usia 5 tahun anak sudah mengerti dan mengucapkan 2000 - 2500 kata dan sudah dapat membentuk kalimat. Mengerti cerita yang didengar dan dapat menjawab pertanyaan yang diajukan. (The Early Language Milestone Scale [ELM]) Tabel Kemampuan berbahasa bayi dan anak ±anak mulai dari lahir sampai usia 2 tahun Usia (bulan) dimana perilaku sudah dapat dilakukan Perilaku menerima bahasa Perilaku mengekspresikan bahasa 1 Aktivitas terhenti dengan suara Perilaku mengekspresikan bahasa 2 Terlihat mendengar pembicara, mungkin tersenyum pada pembicara, melihat kearah pembicara Bersuara vokal senang, tersenyum, coing and gurgling 4 Respon berbeda terhadap suara marah dan senang Respon vokal terhadap stimulus sosial 5 Respon terhadap nama sendiri Mulai meniru suara 6 MengenaOL NDWD ³E\H PDPD SDSD´ Protes secara vokal, bersuara bila kesenangan 7 Respon dengan JHUDNDQ GHQJDQ NDWD ³D\R´ ³GDGDK´ Mulai menggunakan kata seperti suara dan beberapa jargon 8 Menghentikan aktivitas ketika nama sendiri dipanggil Mengikuti pola urutan suara 9 0HQJKHQWLNDQ DNWLILWDV PHQJLNXWL NDWD ³WLGDN´ Meniiru pola intonasi pembicaraan 10 Secara akurat mengikuti variasi tekanan Kata pertama muncul 11 Respon pada pertanyaan sederhana (dimana anjingnya?) dengan menunjuk / serta melihat Jargon sudah sempurna 12. Respon dengan gerakan terhadap beberapa permintaan verbal Memberi tahu keberadaan benda yang dikenal dengan naa 15 Mengenali nama bagian tubuh Kata yang benar terdapat pada jargon, biasa dengan gerakan tubuh 18 Mengidentifikasi gambar dari objek yang dikenal saat dinamai Menggunakan kata lebih sering dibandingkan gerakan tubuh untuk mengekspresikan keinginan 21 Mengikuti 2 perintah yang berhubungan (ambil topi dan letakan di kursi) Mulai mengkombinasi kata (daddy car, mama up) 24 Memahami kalimat kompleks (setelah kita masuk mobil kita pergi ke toko) Mengenali diri sendiri dengan nama.
Modul IX.3.1 ± Gangguan Wicara dengan Pendengaran Normal 18 Etiologi dan Faktor Risiko GANGGUAN KOMUNIKASI Prasyarat komunikasi dengan normal : Perkembangan komunikasi dimulai pada saat bayi mulai berinteraksi dengan pengasuhnya dalam bentuk bersuara, memandang, dan menggerakkan tubuh. Perkembangan komunikasi sejalan dengan kemajuan perkembangan anak terutama dalam hal kognitif, sosial emosi dan adaptasi. Secara umum anak yang sedang berkembang kaya akan gerak tubuh dan social prelinguistic sebelum produksi bahasa verbal. Definisi dan fungsi komunikasi Komunikasi adalah proses yang digunakan untuk bertukar informasi termasuk kemampuan memahami dan menghasilkan pesan. Pada proses komunikasi terjadi perpindahan semua jenis pesan atau informasi yang berhubungan dengan kebutuhan perasaan, keinginan, persepsi, ide dan pengetahuan. Komunikasi dapat terjadi melalui berbagai modalitas yaitu proses nonlinguistik verbal dan paralinguistik Aspek berbahasa 1. Fonologi (konsonan, vokal, suku kata yang tidak mempunyai arti) 2. Morfologi (unit terkecil dari kata yang mempunyai arti) 3. Sintaks (merangkai kata menjadi kalimat) 4. Semantik (menggunakan kata-kata) 5. Pragmatik (berbicara dan komunikasi dalam lingkungan sosial) 6. Sequence ( kemampuan menyusun kalimat sesuai dengan alur cerita) Penyebab Gangguan bicara a. Problem struktur dari organ artikulasi : lidah, bibir, palatum durum danmolle, susunan gigi, kesegarisan rahang. b. Kelemahan atau inkoordinasi otot-otot yang terlibat dalam prosesberbicara c. Faktor lingkungan. Beberapa faktor risiko diidentifikasi sebagai penyebab,yaitu status nutrisi, tingkat pendidikan rendah, kurangnya stimulasi, dll d. Faktor organik : kerusakan susunan saraf pusat (otak) terutama pada 1 tahun pertama kehidupan anak.
Modul IX.3.1 ± Gangguan Wicara dengan Pendengaran Normal 19 e. 9DULDVL GDUL SHUNHPEDQJDQ VHSHUWL ³FRQVWLWXWLRQDO GHOD\´ PHUXSDNDQ periode perkembangan normal tetapi tercapai pada tahap akhir usia perkembangan. f. Gangguan postur dan gangguan fungsi respirasi g. Gangguan pendengaran. Penyebab gangguan berbahasa Gangguan pendengaran pada usia anak sekolah terdapat 3 macam berdasarkan jenisnya yaitu tuli konduktif, tuli sensorineural dan tuli campur. Faktor resiko terjadinya gangguan pendengaran antara lain: a. Otitis media berulang ( 2 episode otitis media dalam 6 bulan atau 1 episode otitis media serasa lebih dari 4 minggu), Otitis Media Supuratif Kronik. b. Riwayat sering panas, tonsilitis, alergi c. Ada celah bibir atau palatum d. Kecurigaan ada gangguan pendengaran misalnya pernah tidak naik kelas e. Terdapat masalah berbicara dan bahasa f. Kesulitan mengikuti instruksi g. Rasa penuh ditelinga, tinitus h. Gagal pada penapisan pendengaran setahun sebelumnya i. Riwayat terpapar bising j. Riwayat dalam keluarga terdapat gangguan pendengaran k. Terdapat kelainan wajah dan kepala, terutama bentuk pina dan liang telinga l. Trauma kepala dengan disertai kehilangan kesadaran Skrining perkembangan bicara bahasa pada anak 1. Early Language Milestone (ELM) 2. Clinical Linguistic Auditory Milestone Scale (CAT/CLAM ± format dalam lampiran) untuk skrining perkembangan bahasa sejak usia lahir sampai usia 3 tahun dan kemampuan bicara untuk usia 24-48 bulan. Data didapat dari laporan orang tua dan interaksi langsung antara anak dan pemeriksa. 3. Pemeriksaan fungsi pendengaran Diagnosis fungsi gangguan bicara bahasa 1. Riwayat keluarga 2. Riwayat perkembangan bicara bahasa 3. Riwayat perkembangan sosial dan kognitif
Modul IX.3.1 ± Gangguan Wicara dengan Pendengaran Normal 20 4. Riwayat fungsi oromotor dan makan 5. Tanda dan gejala dapat dideteksi melalui tahapan perkembangan anaksecara menyeluruh baik aspek perkembangan motor kasar, motor halus;personal sosial dan bahasa 6. Pemeriksaan fisik. Pemeriksaan umum termasuk parameter pertumbuhan (berat badan, panjang badan; dan lingkar kepala), dismorfik wajah,atau kelainan neurologi, kemampuan berbahasa reseptif dan ekspresif (sintak, semantik, pragmatik dan fonologi), kualitas suara, resonansi dan kelancaran bahasa. Tatalaksana untuk rujukan 1. Tujuan utama penanganan kasus anak dengan keterlambatan bicara adalah meminimalisasi rasa frustasi pada anak dan orangtua 2. Anak dapat membaca dengan suara keras 3. Memberikan informasi kepada keluarga 4. Terapi : a. Pada masalah pendengaran perlu penggunaan alat bantu dengar atau penggunaan implan koklea b. Penanganan masalah infeksi telinga c. Edukasi 5. Terapi wicara dengan jenis sesuai kebutuhan, yaitu : a. Oral Motor b. Pengucapan (Articulation) c. Kosakata & Konsep Bahasa d. Ketrampilan Berkomunikasi (Communication Skills) e. Ketrampilan Pragmatik (Pragmatic Skills) f. Keterampilan Akademis (Academic Skills)
Modul IX.3.1 ± Gangguan Wicara dengan Pendengaran Normal 21 Deteksi Dini Gangguan Wicara & Dengar Anak Anak dengan : x Terlambat bicara; x Belum bicara; x Bicara tak jelas, x Gangguan wicara, x Reaksi dengar kurang, x Curiga gangguan pendengaran Anamnes, Pemeriksa fisik, Otoskopi 1. TES REAKSI (Behavior Test) 2. FFT (FREE FIELD TEST) 3. TIMPANOMETRI 4. ECHOSCREEN (SKRINING OAE) 5. BERA 6. OAE 7. ASSR 8. PLAY AUDIOMETRY (>5 THN) Pendengaran normal Ggn. Wicara/bahasa Pendengaran abnormal bilateral Ggn. Wicara Tuli konduktif/campur Tuli saraf berat/sedang Kelainan TL/TT Kelainan kongenital (Atresia LT, Mikrotia) Otitis media efusi Penatalaksanaan disesuaikan Evaluasi PlayAudiometry Visual reinforcement Audiometry Asesmen komunikasi 1. Kelainan wicara 2. Kelainan suara 3. Kelainan bahasa 4. Kelainan irama Asesmen Psikologi IQ Normal Pendengaran Normal Ggn. Wicara IQ Normal Pend. Abnormal Ggn. Wicara IQ Abnormal Pend. Normal Ggn. Wicara IQ Abnormal Pend. Abnormal Ggn. Wicara Sekolah Biasa Sekolah Khusus PAUD, SLB-B, ABD / IK Integrasi Sek. bisa SLB-C SLB-C ABD Terapi Wicara
Modul IX.3.1 ± Gangguan Wicara dengan Pendengaran Normal 22 N. ALGORITMA Bayi baru lahir / 2 hr OAE PASS REFER 1 ±3 BULAN Auto ABR atau click 35 dB P R 3 bulan Otoskopi Timpanometri OAE Auto ABR P R ABR Click & Tone B 500 Hz atau ASSR Timpanometri High Frequeny Pemantauan x Speech development x Audiologi Tiap 3-6 bulan smp (anak bisa bicara) usia 3 th Habilitasi usia 6 bulan Tidak perlu tindak lanjut ALUR SKRINING BAYI BARU LAHIR (2010) ABR Click + CochlearMicrophonic ABR Tone B 500 Hz atau ASSR Timpanometri ( refleks akustik) High Frequency Faktor Risi ko (-) Neuropati Audito rik Tuli Sensorine ural Faktor Ris iko (+)
MODUL UTAMA THT KOMUNITAS GANGGUAN PENDENGARAN DAN KOMUNIKASI PADA ANAK MODUL IX.3.2 HIPERNASAL DAN HIPONASAL EDISI III KOLEGIUM ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER 2022
DAFTAR ISI A. WAKTU .......................................................................................................... 1 B. PERSIAPAN SESI .......................................................................................... 1 C. REFERENSI .................................................................................................... 1 D. KOMPETENSI ................................................................................................ 2 E. GAMBARAN UMUM .................................................................................... 2 F. CONTOH KASUS .......................................................................................... 3 G. TUJUAN PEMBELAJARAN ......................................................................... 3 H. METODE PEMBELAJARAN ........................................................................ 4 I. EVALUASI ..................................................................................................... 6 J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF ............................. 6 K. DAFTAR TILIK .............................................................................................. 8 L. MATERI PRESENTASI ................................................................................. 8 M. MATERI BAKU ........................................................................................... 10 N. ALGORITMA ............................................................................................... 26
Modul IX.3.2 ± Hipernasal dan Hiponasal 1 MODUL IX.3.2 THT KOMUNITAS ± GANGGUAN PENDENGARAN DAN KOMUNIKASI PADA ANAK : HIPERNASAL & HIPONASAL A. WAKTU Proses Pengembangan Kompetensi Alokasi Waktu Sesi di dalam kelas Sesi dengan fasilitasi pembimbing Sesi praktik dan pencapaian kompetensi 7x 60 menit 6x 60 menit 24 jam (fascilitation and assessment) B. PERSIAPAN SESI 1. Materi presentasi: Hipernasal dan hiponasal Slide 1 Definisi Gangguan Hipo dan hipernasal Slide 2 Anatomi struktur resonansi bicara Slide 3 Anatomi hidung velum dan faring Slide 5 Penutupan velofaring Slide 6 Etiologi Slide 7 Diagnosis Slide 8 Penatalaksanaan 2. Kasus: x Hipernasal dan hiponasal x Gangguan berbahasa x Delayed speech 3. Sarana dan alat bantu latih (disesuaikan dengan pencapaian kompetensi): - Model anatomi, video - Nasofaringoskopi fleksibel - Nasometer - Kuesioner - Penuntun belajar (learning guide) terlampir - Tempat belajar (training setting): poliklinik THT-KL, ruang pemeriksaan audiologi THT-KL. C. REFERENSI 1. Bailey BJ and Pillsburry II HC. Head and Neck Surgery-Otolaryngology. Philadephia, JB Lippincort. USA. 2013 2. Kim EY, Yoon MS, Kim HH, Nam CM, Park ES, Hong SH. Characteristics of nasal resonance and; perceptual rating in prelingual hearing impaired adults. Clinical and experimental otorhinolaryngology. 2012; 5(1):1-9
Modul IX.3.2 ± Hipernasal dan Hiponasal 2 3. Mc Cormick B Practical Aspects of Audiology. Pediatric Audiology 0±5 years. 2 nd. edition Whurr Publishers London D. KOMPETENSI 1. Pengetahuan Setelah mengikuti sesi ini peserta mampu: a. Mendiagnosis dan merencanakan tatalaksana kasus hipernasal dan hiponasal b. Melakukan skrining dan diagnosis gangguan pendengaran dan intervensi dini pada pasien dengan gangguan bahasa dan bicara berdasarkan pemeriksaan fisik pendengaran dan keseimbangan dan serta pemeriksaan pemeriksaan tambahan/ penunjang. c. Memutuskan dan menangani secara mandiri termasuk memilih jenis rehabilitasi bila terjadi gangguan pendengaran pada keterlambatan bahasa dan bicara. d. Mendeteksi adanya faktor risiko dan gangguan pendengaran pada anak dengan keterlambatan bahasa dan bicara 2. Keterampilan Setelah mengikuti sesi ini peserta terampil dalam: 1. Menjelaskan anatomi dan fisiologi berbicara. 2. Menjelaskan patogenesis kelainan pada resonansi berbicara. 3. Menjelaskan pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosis hipernasal dan hiponasal. 4. Menggunakan nasometri mengetahui peranan berbicara bahasa resonansi 5. Membuat diagnosis klinis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan tambahan. 6. Menjelaskan rencana penatalaksanaan yang tepat untuk hipernasal dan hiponasal. E. GAMBARAN UMUM Misartikulasi atau sengau merupakan gejala klinis dari hiponasal dan hipernasal. Hipernasal merupakan kelainan resonansi yang disebabkan oleh keadaan velofaring
Modul IX.3.2 ± Hipernasal dan Hiponasal 3 yang tidak adekuat, sedangkan hiponasal merupakan penurunan atau reduksi pada resonansi nasal akibat sumbatan pada nasofaring atau kavum nasi. Kelainan resonansi dapat disebabkan oleh variasi struktur abnormal pada resonating chamber atau disfungsi velofaring. Kelainan tersebut meliputi hipernasal (rinolalia aperta), hiponasal (rinolalia clausa), dan resonansi cul-de-sac. Pada hipernasal dapat ditemukan gejala klinis regurgitasi nasal dan mis artikulasi. Pada hiponasal, gejala klinis yang ditemukan pada pasien adalah suara sengau terutama pada komponen nasal (/m/, /n/, dan /ng/). Terdapat beberapa penyakit terkait hipernasal dan hiponasal, seperti Labioplatoschizis, hipertrofii adenoid, septum deviasi, atresia koana. F. CONTOH KASUS Hipernasal dan hiponasal Seorang anak laki-laki,usia 5 tahun datang ke poli THT dengan keluhan suara sengau sejak lahir. Riwayat hidung tersumbat (-), riwayat terbangun dari tidur di malam hari (-), riwayat penurunan berat badan (-). Pasien pernah dilakukan tindakan palato plasti pada usia 2 tahun. i. Lakukan anamnesis ii. Melakukan pemeriksaan iii. Apa diagnosis pada anak ini. iv. Bagaimana rencana penanganannya? G. TUJUAN PEMBELAJARAN Proses, materi, dan metode pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan menatalaksana, yaitu: Hipernasal dan hiponasal 1. Menjelaskan anatomi struktur bicara. 2. Menjelaskan kelainan wicara hipernasal dan hiponasal. 3. Melakukan anamnesis kelainan fungsi wicara hipernasal dan hiponasal. 4. Menjelaskan pemeriksaan tambahan pada keadaan hipernasal dan hiponasal.
Modul IX.3.2 ± Hipernasal dan Hiponasal 4 5. Menjelaskan tatalaksana pada hipo dan hipernasal H. METODE PEMBELAJARAN Hipernasal dan hiponasal Tujuan 1.Mampu menjelaskan anatomi dan fisiologi Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: - Interactive lecture - Small group discussion - Task based medical education Must to know key points: - Anatomi dan fisiologi velofaring - Gambaran dan karakteristik hipernasal dan hiponasal Tujuan 2. Mampu menjelaskan etiologi Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: - Interactive lecture - Journal reading and review - Task based medical education Must to know key points: - Patogenesis - Gejala (keluhan pasien) - Tanda (temuan hasil pemeriksaan) - Gambaran klinik Tujuan 3. Mampu menjelaskan anamnesis dan gambaran klinis Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: - Interactive lecture - Journal reading and review Must to know key points: - Metoda standard anamnesis - Gejala dan gambaranklinis - Pemeriksan fisik
Modul IX.3.2 ± Hipernasal dan Hiponasal 5 Tujuan 4. Menjelaskan dan melihat pemeriksaan penunjang (pemeriksaan nasalens) Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: - Interactive lecture - Small group discussion Must to know key points: - Pemeriksaan fisik THT - Pemeriksaan nasofaringoskopi Tujuan 5. Mampu membuat diagnosis klinis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: - Interactive lecture - Journal reading and review - Case study - Demonstration and coaching Must to know key points: - Metode standar anamnesis - Gejala dan gambaran klinis - Pemeriksaan fisik THT - Pemeriksaan penunjang - Memilah diagnosis banding dan menentukan diagnosis kerja Tujuan 6. Mampu menjelaskan dan melaksanakan penatalaksanaan Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: - Interactive lecture - Journal reading and review - Morbidity and mortality case study - Operative procedure demonstration and coaching - Practice with real clients - Continuing professional development Must to know key points: - Prosedur operatif - Prosedur terapi bicara
Modul IX.3.2 ± Hipernasal dan Hiponasal 6 I. EVALUASI 1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dalam bentuk essay dan lisan sesuai dengan tingkat masa pendidikan, yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pre-test terdiri atas: - Anatomi dan fisiologi struktur berbicara - Penegakan diagnosis - Penatalaksanaan 2. Selanjutnya GLODNXNDQ ³small group discussion´ Bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membaha sisi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat proses penilaian. 3. Dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan. 4. Self assessment dengan mempergunakan penuntun belajar 5. Pencapaian pembelajaran: - Ujian akhir stase divisi oleh masing-masing sentra pendidikanTHT-KL lanjut oleh Kolegium THT-KL. - Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan THT-KL lanjut oleh Kolegium THT-KL. J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF Hipernasal dan hiponasal Kuesioner sebelum pembelajaran 1. Anak laki-laki, 16 tahun datang ke poli THT dengan keluhan suara sengau. Pasien riwayat operasi celah palatum usia 2 tahun. Apakah pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk menilai langsung penyebab utama suara sengau pada pasien? A. Nasometri B. Videofloroskopi
Modul IX.3.2 ± Hipernasal dan Hiponasal 7 C. Rinofaringolaringoskopi D. CT-Scan Jawaban: C 2. Anak perempuan, 15 tahun datang ke poli THT dengan keluhan suara sengau setelah dilakukan operasi pengangkatan tonsil. Pasien dilakukan tes mengucapkan huruf. Huruf yang tidak bisa dibaca dengan jelas pada pasien adalah huruf ? A. B B. M C. N D. NG Jawaban: A Kuesioner tengah pembelajaran 1. Anak laki-laki, usia 9 tahun dengan keluhan suara sengau dan tidur mendengkur. Pemeriksaan tonsil T1/T1.Pernyataan yang tidak benar dengan pasien di atas adalah: A. Suara sengau pasien merupakan jenis hiponasal B. Tatalaksana yang dapat dilakukan adalah medikamentosa C. Operatif merupakan tatalaksana terbaik pada pasien D. Pemeriksaan radiologi tidak dapat menilai penyebab suara sengau Jawaban: D 2. Yang tidak termasuk tipe velofaring berdasarkan pemeriksaan rino faringolaringoskopi adalah: A. Tipe sirkular B. Tipe koronal C. Tipe aksial D. Tipe sagital Jawaban: C
Modul IX.3.2 ± Hipernasal dan Hiponasal 8 Essay/Ujian lisan/Uji sumatif 1. Jelaskan langkah-langkah pemeriksaan fungsi berbicara dalam kaitannya dengan kelainan hipernasal dan hiponasal. 2. Bagaimana patofisiologi gangguan berbicara yang dikaitkan dengan resonansi. K. DAFTAR TILIK Hipernasal dan hiponasal DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA I PROSEDUR DIAGNOSIS HIPERNASAL DAN HIPONASAL PESERTA: ................ TANGGAL: ....................... KEGIATAN NILAI Langkah langkah 1. Memperkenalkan diri 2. Melakukan anamnesis terhadap pasien dan menelaah keluhan utama 3. Melakukan pemeriksaan hidung, telinga dan tenggorok secara lengkap 4. Pemeriksaan penunjang seperti nasofaringoskopi (nilai velum, kavum oris dan kavum nasi) 5. Menentukan dignosis 6. Menentukan pilihan terapi (terapi medikamentosa, tindakan bedah atau terapi wicara) L. MATERI PRESENTASI Hipernasal dan hiponasal Hipernasal merupakan kelainan resonansi yang disebabkan oleh keadaan velofaring yang tidak adekuat. Hiponasal merupakan penurunan atau reduksi pada resonansi nasal akibatsumbatan pada nasofaring atau kavum nasi. Hipernasalitas sering terjadi pada anak-anak dengan celah palatum karena resonansi hidung yang berlebihan saat berbicara karena rongga mulut tidak terpisah dengan baik dari rongga hidung. Dalam persentase kecil, anak-anak dengan celah palatum memiliki kesulitan bicara. Terkadang terlalu banyaknya udara yang masuk melalui hidung dapat menyebabkan suara hipernasal. Adanya pengaruh hipernasalitas
Modul IX.3.2 ± Hipernasal dan Hiponasal 9 terhadap keterampilan berbicara anak dengan celah palatum merupakan akibat dari insufisiensi velofaringeal. Adanya hipernasalitas dan berkurang keterampilan berbicara anak dikaitkan dengan skor bahasa dan skor membaca yang lebih rendah. Pada beberapa penelitian disebutkan bahwa sebagian besar pasien yang menderita gangguan pendengaran derajat berat dan sangat berat akan mengalami hipernasalDi sisi lain, rhinolalia atau perubahan suara yang tiba-tiba pada pasien dengan trauma wajah bagian tengah mungkin merupakan tanda yang menunjukkan diseksi udara melalui ruang retrofaring dan, oleh karena itu, kemungkinan menyebar ke rongga mediastinum. Rhinolalia tertutup atau "rhinolalia clausa" dicirikan oleh hiponasalitas, yang menyiratkan pengurangan atau tidak adanya resonansi normal dari konsonan hidung "m," "n," dan "ng," dan vokal di dekatnya. Temuan ini menunjukkan berbagai penyebab obstruksi di rongga hidung atau nasofaring (misalnya tumor, polip hidung, hipertrofi adenoid). Apabila terdapat obstruksi secara khusus mempengaruhi bagian posterior rongga hidung atau nasofaring, rhinolalia tertutup (posterior) ditunjukkan dengan "m," "n," "ng" nasal yang masing-masing terdengar sebagai plosifnya "b," "d ," dan "g". Slide 1. Definisi gangguan hiponasal dan hipernasal Slide 2. Anatomi struktur resonansi bicara Slide 3. Anatomi hidung velum dan faring Slide 4. Penutupan velofaring Slide 5. Etiologi Slide 6. Diagnosis Slide 7. Penatalaksanaan
Modul IX.3.2 ± Hipernasal dan Hiponasal 10 M. MATERI BAKU Hipernasal dan hiponasal Definisi Hipernasal merupakan kelainan resonansi yang disebabkan oleh keadaan velofaring yang tidak adekuat. Hiponasal merupakan penurunan atau reduksi pada resonansi nasal akibat sumbatan pada nasofaring atau kavum nasi. Anatomi Resonansi yang fisiologis tergantung pada struktur dan anatomi dari velofaring. Struktur velofaring terdiri atas velum, dinding faring lateral, dan dinding faring posterior. Penutupan velofaring dilakukan oleh Gerakan terkoordinasi dari struktur- struktur tersebut. Fisiologi Resonansi Resonansi merupakan kualitas suara yang dihasilkandari faring, kavumoris, dan kavum nasi. Energi bunyi dihasilkan oleh getaran pita suara sehingga memproduksi suara. Energi bunyi akan merambat kearah superior menuju resonator yang meliputi faring, kavumoris, dan kavum nasi. Ukuran dan sudut kavitas resonansi tersebut akan mempengaruhi kualitas suara dan resonansi. Mekanisme velofaring berfungsi meregulasi dan mentransmisi kan energy bunyi dan tekanan udara pada kavum oral dan kavum nasi.
Modul IX.3.2 ± Hipernasal dan Hiponasal 11 Selama produksi bunyi di kavumoris, mekanisme velofaring berfungsi sebagai katup dengan menutup kavum nasi. Sehingga secara langsung akan terjadi produksi suara oral. Resonator bunyi untuk fonem oral adalah kavumoris dan faring. Untuk konsonan nasal (/m/, /n/, dan/ng/), velofaring akan terbuka sehingga memungkinkan transmisi suara kekavum nasi, dimana merupakan resonator utama. Pada nasal, akan dihasilkan juga resonansi dalam jumlah sangat rendah pada kavumoris. Hal tersebut dikarenakan seluruh energi akustik akan merambat kearah superior menuju kavum nasi tanpa adanya obstruksi dan akan berubah menjadi energi bunyi. Pada keadaan normal, penutupan komplit dari velofaring akan menghasilkan suara oral. Pada saat bicara, velum bergerak dengan arah superior dan posterior seperti SHUJHUDNDQ ³OXWXW NDNL´ DJDU WHUMDGL penutupan velofaring kearah dinding faring posterior. Dinding faring posterior akan bergerak ke anterior untuk membantu penutupan velofaring. Dinding faring lateral akan bergerak ke medial untuk membantu penutupan velofaring. Penutupan velofaring ini berfungsi sebagai katup atau sfingter. Segel-Sadewitz dan Shpinten (1982) mengemukantentang 4 tipe penutupan velofaring, dibagi atas: 1) tipe koronal, 2) tipe sagital, 3) tipesirkular, dan 4) tipe
Modul IX.3.2 ± Hipernasal dan Hiponasal 12 sirkular dengan SDVVDYDQW¶V ULGJH. Penelitian yang dilakukan oleh Witzel dan Posnick (1989) melaporkan 68% variasi penutupan velofaring merupakan tipe koronal dengan penutupan velum dan dinding faring posterior yang dominan, 23% variasi tipe sirkular, 4% dengan tipe sagital, dan 5% dengan tipe sirkular dengan SDVVDYDQW¶V ULGJH pada dinding faring posterior. Gambar 1. Tipe penutupan velofaring Dalam pola penutupan sagital, gerakan utama diselesaikan oleh dinding faring lateral saat mereka berpindah ke medial. Velum dan dinding faring posterior biasanya menunjukkan sedikit atau tidak adanya gerakan menuju penutupan. Pada pola penutupan koronal, velum bergerak ke posterior untuk bertemu dengan dinding faring posterior. Dinding faring lateral dan posterior menunjukkan gerakan yang sangat minimal atau tidak ada sama sekali. Dalam pola penutupan sirkuler, velum dan dinding faring lateral mendekati dengan kontribusi yang sama untuk mencapai penutupan velofaringeal. Selama pola penutupan sirkuler, tonjolan di dinding posterior faring, yang dikenal sebagai 3DVVDYDQW¶V ridge dapat muncul (sirkuler
Modul IX.3.2 ± Hipernasal dan Hiponasal 13 dengan Passavant ridge). Namun, sangat tidak mungkin bahwa 3DVVDYDQW¶V ULGJH muncul pada posisi yang tepat untuk mendukung penutupan velofaringeal (sirkuler tanpa Passavant Ridge). Penutupan velofaringeal sering terlihat bersamaan dengan pembesaran adenoid, yang biasanya terlihat pada anak-anak sebelum involusi perkembangan kelenjar tiroid selama masa remaja. Velum biasanya beradaptasi untuk mencapai penutupan velofaringeal yang memadai saat adenoid berinvolusi selama masa remaja, tetapi kadang-kadang, velum mungkin tidak memiliki ukuranatau mobilitas yang cukup untuk kontak dengan adenoid yang lebih kecil. Pola penutupan velofaringeal juga berubah sepanjang rentang hidup, khususnya pada awal pubertas dan dengan involusi adenoid. Patogenesis Kelainan resonansi dapat disebabkan oleh variasi struktur abnormal pada resonating chamber atau disfungsi velofaring. Kelainan tersebut meliputi hipernasal (rinolalia aperta), hiponasal (rinolalia clausa), dan resonansi cul-de-sac. Kelainan resonansi banyak ditemukan pada pasiendengan anomaly kraniofasial seperti celah palatum. Pada hipernasal terjadi penutupan velofaring yang tidak adekuat. Akibat dari penutupan yang tidak adekuat tersebut terjadi resonansi suara yang tidak adekuat pada kavum nasi sehingga mempengaruhi kualitas bicara. Pada keadaan normal, seluruh bunyi konsonan dan vocal diproduksi secara oral kecuali huruf/m/ dan /n/. Terdapat huruf konsonan yang memerlukan tekanan tinggi seperti/p/, /b/, /t/, /d/, /k/, /g/, /s/, /z/, /sh/, /ch/, dan /j/. Sedangkan 1 huruf /r/, /l/, /w/, /h/, /y/, dan huruf vocal adalah tekanan rendah. Hipernasal terjadi pada komponen vocal dengan durasi yang lama dan komponen konsonan tekanan tinggi. Selain itu, hipernasal menyebabkan adanya emisi udara nasal selama produksi komponen oral. Velofaring yang tidak adekuat disebabkan oleh defisiensi anatomis atau defisiensi fisiologis. Insufisiensi velofaring merupakan salah satu defisiensi anatomi dimana ditemukan velum yang pendek. Inkompetensi velofaring merupakan defisiensi fisiologis dimana diakibatkan oleh kelemahan pergerakan velofaring. Sehingga kelainan pada katup velofaring dikenal dengan insufisiensi velofaring. Insufisiensi velofaring ditemukan pada pasien dengan
Modul IX.3.2 ± Hipernasal dan Hiponasal 14 celah palatum, abnormalitas basis kranii. Inkompeten velofaring ditemukan pada pasien dengan kelainan neurologis seperti pasien disartria. Pada hiponasal terjadi penurunan resonansi nasal akibat obstruksi pada nasofaring atau kavum nasi. Jika terjadi obsruksi total pada kavum nasi, dapat terjadi denasal. Hiponasal atau denasal dapat mempengaruhi kualitas komponen vocal selain itu dapat mempengaruhi produksi konsonan nasal (/m/, /n/, dan /ng/) sehingga pada komponen konsonan nasal akan terdengars eperti fonem oral (/b/, /d/, dan /g/). Hiponasal dan denasaldapatditemukan pada pasie ndengan pembesaran adenoid, rhinitis alergi, common cold, deviasi septum nasi, atresia koana, stenosis nares, dan defisiensi midfasial. Pada kelainan mixed hyper-hyponasality terjadi kombinasi keadaan hipernasal dan hiponasal dimana terjadi insufisiensi velofaring dengan obstruksi pada kavum nasi. Kelainan ini ditemukan pada pasien dengan kelainan oral-motor. Gejala Klinis Pada hipernasal dapat ditemukan gejala klinis regurgitasi nasal dan mis artikulasi. Pada hiponasal,gejala klinis yang ditemukan pada pasien adalah suara sengau terutama pada komponen nasal (/m/, /n/, dan /ng/). Pemeriksaan fisik hidung, rongga mulut, dan tenggorok dilakukan untuk menilai kelainan pada kavum nasi, kavumoris, dan faring. Pemeriksaan sederhana untuk menilai resonansi komponen oral dapat dilakukan dengan cul-de-sac test dilakukan dengan mengucapkan kalimat memakai konsonan oral saat hidung terbuka dan tertutup, apabila didengar bunyi yang sama maka dikatakan normal. Pemeriksaan kedua yang dapat dilakukan adalah tes cermin nasal, dimana dilakukan pemeriksaan emisi udara dari kavum nasi selama bicara dan tidak bicara. Pada hiponasal ditemukan reduksi emisi pada cermin nasal pada saat produksi konsonan nasal.
Modul IX.3.2 ± Hipernasal dan Hiponasal 15 Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan untuk mengevaluasi kelainan resonansi meliputi evaluasi patologi bicara dengan menggunakan nasometer dengan pengukuran skor nasalance, speech videofluoroscopy atau nasofaringoskopi. Pemeriksaan nasometer dilakukan dengan alat instrument berbasis komputer yang terdiri atas headset dengan mikrofon pada hidung dan mulut. Mikrofon akan menangkap energy akustik dari kavum nasi dan kavumoris. Kemudian nasometer akan menghitung rasio energy akustik pada kavum nasi dibandingkan dengan pada kavum nasi dan kavumoris. Hasil skor rata-UDWD ³nasalance´ DNDQ dikeluarkan oleh komputer. Hiponasal dan emisi nasal akan mempengaruhi skor nasalance. Skor nasalance dapat dihituung dengan : Pemeriksaan speech video fluoroscopy merupakan pemeriksaan radiologi dimana dilakukan visualisasi secara langsung pada sfingter velofaring selama berbicara. Selama pemeriksaan, pasien diminta untuk mengulang kalimat standard sehingga
Modul IX.3.2 ± Hipernasal dan Hiponasal 16 struktur velofaring dapat dinilai selama berbicara. Pemeriksa akan menilai pergerakan velum, dinding faring posterior, dan dinding lateral faring. Pemeriksan juga dapat menilai penutupan velofaring dan menilai ukuran serta sudut ketika membuka-menutup dari velofaring. Kelainan velofaring dapat dinilai dengan velum pendek, kelemahan pada velum dan dinding faring selama pergerakan. Pemeriksaan nasofaringoskopi merupakan pemeriksaan endoskopi untuk mengevaluasi fungsi velofaring selama bicara. Prosedur pemeriksaan adalah dengan pemberian xylocain spray pada kavum nasi. Nasofaringoskop di insersi hingga ke nasofaring dan dinilai keadaan velum, dinding faring posterior, dan dinding faring lateral. Langkah-langkah pemeriksaan nasofaringoskopi - Persiapkan ruang poliklinik THT yang baik - Siapkan seperangkat nasofaringoskop terdiri dari: 1 set nasofaringoskop fleksibel, hand scoen, xylocain gel,dan kapas alkohol. - Informed consent - Pasien diposisikan duduk dengan pemeriksa berada di depan pasien. - Dilakukan pemberian xylocain spray pada kedua kavum nasi - Nasofaringoskop fleksibel diinsersi melalui nares anterior menyusuri lantai hidung. - Identifikasi konka inferior, konka media, dan septum nasi. Adakah ditemukan kelainan - Nasofaringoskop di insersi hingga ke nasofaring dan diposisikan menghadap ke bawah. - Identifikasi keadaan nasofaring, velum, dinding faring lateral dan dinding faring posterior. - Pasien diminta untuk mengucapkan kalimat yang telah disiapkan. - Nilai penutupan velofaring. Adakah kelainan pada velum, dinding faring lateral, dan dinding faring posterior. Adakah kelainan penutupan velofaring.
Modul IX.3.2 ± Hipernasal dan Hiponasal 17 Beberapa Penyakit Terkait Hipernasal dan Hiponasal 1. Cleft Lip and Palate / Labioplatoschizis Cleft (celah) dapat melibatkan beberapa struktur yaitu (bibir, palatum durum dan palatum mole). Cleft dapat berupa (cleft lip saja atau cleft palatum saja) atau bisa keduanya. Gambar 6 : Representation of the most common types of cleft affecting the palate. (a)Unilateral cleft lip with alveolar involvement; (b) bilateral cleft lip with alveolar involvement; (c) unilateral cleft lip associated with cleft palate; (d) bilateral cleft lip and palate; (e) cleftpalate only. 13 Labiopalatoschizis dapat berupa terbuka langsung (overt palatal cleft) dimana dapat dinilai dari inspeksi intraoral dan dapat juga berupa submucous cleft palate (SCMCP), dimana mukosa oral intak namun otot otot yang mendasari velum tidak menyatu. Normal proses penutupan velopharhyngeal (VP) dipengaruhi oleh nasal dan oral cavitas yang nantinya akan mengahasilkan suara. Velopharyngeal Dysfunction/ VPD dapat dibagi menjadi cleft dan Non- cleft. Cleft VPD atau disebut juga velopharyngeal Insufficiency merupakan kelainan structural berupa cleft palate (overt ataupun submucous) dan insufisiensi post surgical ( post adenoidektomi atau palatum yang terlalu Panjang post operasi. Untuk VPD yang non- cleft dapat berupa kelainan structural, neurogenik dan
Modul IX.3.2 ± Hipernasal dan Hiponasal 18 mislearning. Mengenai pembagian Velopharyngeal Dysfunction / VPD dapat dilihat lebih jelas pada gambar berikut: Klasifikasi Disfungsi Velofaringeal. Pada saat memproduksi suara, VPD dapat menyebabkan hipernasal. Dampak dari VPD pada proses artikulasi dapat dihubungkan dengan cleft lip and palate. 2. Post adenoidektomi Pada proses bicara normal nasofaring berpengaruh untuk menghasilkan suara seperti as/ em / en. Penutupan nasofaring juga dibutuhkan untuk memproduksi huruf fokal seperti /ee/ dan /ah/, konsonan seperti /k/p/d/ dan frikatif /s/ dan /f/. Hubugan antara nasofaring dan orofaring berfungsi untuk mengkontrol spincter muscular. Pada saat penutupan soft palate (velum) bertentangan dengan proyeksi lateral dan posterior dinding faring. Kegagalan mekanisme ini dapat menyebabkan gangguan resonansi seperti hipernasal. Kelenjar adenoid terletak dibagian atap nasofaring dan berkurang ukurannya jika ada gangguan Velopharyngeal. Kontraksi dari soft palatum yang bertentangan dengan adenoid mencegah masuk kedalam nasofaring. Removal
Modul IX.3.2 ± Hipernasal dan Hiponasal 19 dari adenoid yang membesar pada gangguan velopharyngeal. Semua pasien tidak harus selalu mengalami hipernasal setelah adenoidektomi sebagai kompensasi dari soft palatum dengan meningkatkan efektivitas jarak terhadap dinding faring. Masalah yang sering timbul karena nyeri pada post operasi bengkak atau neuropraksia tetapi umumnya cepat pulih kembali. Pada anak yang sering mengalami hipernasal setelah adenoidektomi dapat dikonsulkan ke speech terapi dan sebaiknya dilakukan follow up setelah 1 tahun adenoidektomi. Penyakit penyakit Terkait Hiponasal 1. Hipertrofi Adenoid Hipertrofi adenoid adalah kondisi yang paling sering pada anak anak yang dapat menyebabkan bernafas melalui mulut (mouth- breathing), sekret pada hidung, mendengkur dan sleep apnea. Kualitas hidup anak dengan hipertorfi adenoid juga terganggu termasuk kemampuannya dalam berbicara. Gejala hipertrofi adenoid tergantung pada letak obstruksinya. Jika pasien mengalami obstruksi pada hidung maka gejala yang timbul dapat berupa rhinorea, sulit bernafas,batuk, post nasal drip dan snoring. Jika obstruksi pada tuba Eustachia biasanya gejala dapat berupa gangguan pendengaran, otalgia dan tinnitus. Dari pemeriksaan fisik, pasien tampak sering bernafas dari mulut, memiliki karakter suara hyponasal dan karakteristik wajah (adenoid face). Pada kasus akut dan kronik terapi dapat dengan pemberian antibiotik seperti Amoxicilin. Jika pemberian antibiotik tidak efektif tindakan bedah berupa adenoidektomi dapat dilakukan. 2. Deviasi Septum Deviasi septum nasi didefinisikan sebagai bentuk septum yang tidak lurus di tengah sehingga membentuk deviasi ke salah satu rongga hidung atau kedua rongga hidung yang mengakibatkan penyempitan pada rongga hidung. Bentuk
Modul IX.3.2 ± Hipernasal dan Hiponasal 20 septum normal adalahlurus di tengah rongga hidung tetapi pada orang dewasa biasanya septum nasi tidak lurus sempurna di tengah. Angka kejadian septum yang benar-benar lurus hanya sedikit dijumpai, biasanya terdapat pembengkokan minimal atau terdapat spina pada septum nasi. Bila kejadian ini tidak menimbulkan gangguan respirasi, maka tidak dikategorikan sebagai abnormal. Deviasi yang cukup berat dapat menyebabkan obstruksi hidung yang mengganggu fungsi hidung dan menyebabkan komplikasi atau bahkan menimbulkan gangguan estetik wajah karena tampilan hidung menjadi bengkok. Gejala sumbatan hidung dapat menurunkan kualitas hidup dan aktivitas penderita. Keluhan yang paling sering pada deviasi septum nasi adalah sumbatan hidung. Sumbatan dapat unilateral dan dapat pula bilateral, sebab pada sisi deviasi terdapat konka hipotrofi, sedangkan pada sisi sebelahnya terjadi konka yang hipertrofi, sebagaiakibat mekanisme kompensasi. Keluhan lainnya ialah rasa nyeri di kepala dan sekitar mata. Selain itu penciuman dapat terganggu, dan hiponasal speech akibat adanya obstruksi hidung pada deviasi septum yang berat. Pada deviasi septum nasi ringan yang tidak menyebabkan gejala, dilakukan observasi. Pada septum deviasi yang memberikan gejala obstruksi dilakukan pembedahan septoplasti. 3. Atresia Koana Atresia koana adalah tertutupnya satu atau kedua posterior kavum nasi oleh membran abnormal atau tulang. Hal ini terjadi akibat kegagalan embriologik dari membrane bukonasal untuk membelah sebelum kelahiran. Gejala yang paling khas pada atresia koana adalah tidak adanya atau tidak adekuatnya jalan napas hidung. Pada bayi baru lahir yang hanya bisa bernapas melalui hidung, kondisi ini merupakan keadaan gawat darurat dan perlu pertolongan yang cepat pada jalan napas atas untuk menyelamatkan hidupnya. Obstruksi koana unilateral kadang- kadang tidak menimbulkan gejala pada saat lahir tapi kemudian akan menyebabkan gangguan drainase nasal kronis unilateral pada masa anak-anak sedangkan atresia koana bilateral menyebabkan keadaan darurat pada saat kelahiran. Pada atresia koana terjadi
Modul IX.3.2 ± Hipernasal dan Hiponasal 21 penyempitan jalan udara dari hidung ke faring sehingga menyebabkan timbulnya gejala hiponasal. Pemeriksaan tambahan dapat berupa endoskopi fleksibel karena dapat menilai anatomi secara baik. Pemeriksaan radiologi yaitu CT scan kontras juga dapat membantu menenutkan diagnosis. Tindakan bedah yang dapat dilakukan adalah koanoplasti. Penatalaksanaan Tatalaksana kelainan resonansi meliputi tatalaksana operasi dan terapi bicara. Tatalaksana pada hiper nasal akibat insufisiensi velofaring meliputi Tindakan operasi. Jika ditemukan celah palatum, maka dilakukan repair pada celah palatum tersebut. Pada insufisiensi velofaring dilakukan superior based pharyngeal flap, dimana dilakukan soft tissue flap pada dinding faring posterior yang kemudian dilakukan penjahitan ke velum. Tatalaksana lain adalah sphincteroplasty, dimana dibuatkan spingter pada faring dengan mereposisi m. Palate faringeus. Waktu penutupan palatal bervariasi, dan ada trade-off antara penutupan palatum dini untuk membantu berbicara, dan penundaan penutupan palatum durum untuk memperbaiki pertumbuhan wajah. Tujuan dari palatoplasti adalah untuk mengorientasikan kembali otot- otot palatum untuk mencapai pemanjangan dan meningkatkan pergerakan palatum untuk menciptakan penutupan velofaringeal yang memadai. Ada berbagai pilihan bedah yangtersedia untuk ahli bedah terkait celah palatum, yang masing-masing memiliki preferensi tersendiri. Intravelarveloplasty, yang dipopulerkan oleh Sommerlad, melibatkan diseksi radikal otot velar dan reorientasi ke posisi melintang untuk menciptakan kembali sling levator anatomis. Mukosa hidung dan mulut dilakukan diseksi dari otot dan diperbaiki di atas sling yang baru terbentuk untuk menutup celah.
Modul IX.3.2 ± Hipernasal dan Hiponasal 22 Otot-otot celah palatum. LP, m. levator palatini; PP, m. palatopharyngeus; TP, m.tensor palatini Repair palatum dengan teknik Furlow. Perhatikan orientasi melintang dari m. levator veli palatini Pada insufisiensi velofaring dilakukan superior based pharyngeal flap, dimana dilakukan soft tissue flap pada dinding faring posterior yang kemudian dilakukan penjahitan ke velum. 5 Insufisiensi velofaring setelah perbaikan celah palatum dilaporkan terjadi pada sekitar 10% sampai 20% pasien. Banyak penulis merekomendasikan penggunaan operasi flap faring pada pasien dengan gerakan palatum yang buruk, celah port velofaring sentral yang besar, dan gerakan dinding lateral yang baik. 18
Modul IX.3.2 ± Hipernasal dan Hiponasal 23 Tatalaksana lain adalah sfingteroplasti, dimana dibuatkan sfingter pada faring dengan mereposisi m. palatofaringeus. 5 Faringoplasti sfingter ini biasanya digunakan pada pasien dengan gerakan palatum yang baik, celah velofaringeal sentral yang kecil, dan gerakan dinding lateral yang buruk. Konversi pada furlow palatoplasty juga merupakan teknik yang digunakan untuk mengoreksi insufisiensi velofaring pada pasien yang sebelumnya telah menjalani straight-line palatoplasty. Pasien yang dipilih untuk speech surgery sekunder sering menjalani prosedur tonsilektomi dan adenoidektomi 6 minggu sebelum operasi tersebut untuk menghilangkan jaringan yang dapat menyebabkan obstruksi yang signifikan pada port velofaring, mengurangi risiko hiponasalitas dan kemungkinan obstructive sleep apnea (OSA). Desain flap mukoperiosteal palatum durum unipedikel bilateral. B: Diseksi flap mukoperiosteal palatum durum unipedikel bilateral, masing-masing berisi arteri palatina mayor di setiap sisi. C: Diseksi lapisan hidung dari tepi posterior palatum durum. D: Perbaikan/repair selaput hidung di sepanjang tepi palatum durum dan molle dilakukan dengancepat. E: Perbaikan lapisan mulut di sepanjang tepi palatum durum dan molle dilakukan dengan cepat.
Modul IX.3.2 ± Hipernasal dan Hiponasal 24 Pada pasien dengan hiponasal dimana terjadi obstruksi pada kavum nasi, dilakukan operasi sesuai dengan obsruksi yang terjadi. Misal pada deviasi septum dilakukan septoplasti. Pada keadaan hiponasal akibat rinitis alergi maupun common cold diberikan terapi medika mentosa meliputi pemberian dekongestan. Misalnya, pada deviasi septum dilakukan septoplasti. 5 Septoplasti merupakan pendekatan konservatif untuk operasi septum. Dalam operasi ini, sebagian besar kerangka septum dipertahankan. Hanya bagian yang paling mengalami deviasi yang dihilangkan. Sisa kerangka septum dikoreksi dan direposisi. Flap mukoperikondrium/periosteal umumnya diangkat hanya pada satu sisi septum, mempertahankan perlekatan dan suplai darah di sisi lain. Septoplasti saat ini hampir menggantikan operasi reseksi submukosa/submucous resection (SMR). Operasi septum biasanya dilakukan setelah usia 17 tahun agar tidak mengganggu pertumbuhan tulang hidung. Namun, jika seorang anak memiliki deviasi septum yang parah yang menyebabkan obstruksi hidung yang nyata, pembedahan septum konservatif (septoplasty) dapat dilakukan untuk memberikan jalan napas yang baik. 14 Pada keadaan hiponasal akibat rinitis alergi maupun common cold diberikan terapi medikamentosa meliputi pemberian dekongestan. Adenoidektomi merupakan prosedur bedah pediatrik umum yang dilakukan oleh dokter spesialis THT saat ini.Indikasi pembedahan untuk adenoidektomi sebagaimana yang dipublikasikan oleh American Academy of Otolaryngology/ Head and Neck surgery pada tahun 2017 meliputi bicara hiponasal, salah satunya. Adenoidektomi dapat dilakukan dengan berbagai teknik bedah. Teknik adenoidektomi konvensional dilakukan melalui kuretase, yang masih digunakan oleh banyak ahli bedah meskipun prevalensinya menurun karena lebih banyak ahli bedah mengadopsi kauter suction dan adenoidektomi mikrodebrider. Teknik umum lainnya adalah membuang jaringan adenoid menggunakan alat kauter suction untuk ablasi dan suction jaringan limfoid. Teknik yang lebih baru adalah adenoidektomi dengan bantuan cermin atau endoskopi dengan mikrodebrider. Mikrodebrider adalah alat powered cutting yang secara tepat menghilangkan jaringan sambil menghindari trauma mukosa yang tidak disengaja. Manfaat utama adenoidektomi mikrodebrider adalah kemampuannya untuk memberikan hasil
Modul IX.3.2 ± Hipernasal dan Hiponasal 25 yang tepat, cepat, dan pengangkatan lengkap jaringan adenoid dengan cara yang aman, tanpa cedera pada fasia faringobasilar. Pertimbangan adenoidektomi yang cermat harus diberikan pada pasien dengan kondisi insufisiensi palatum. Individu dengan celah palatum yang diketahui atau celah palatum submukosa yang tersembunyi berada pada peningkatan risiko yang signifikan untuk mengembangkan insufisiensi velofaring setelah prosedur adenoidektomi yang dapat mengakibatkan bicara hipernasal persisten dan regurgitasihidung. Terapi bicara dilakukan pada : 1) Keadaan hipernasal-hiponasal ringan tanpa memerlukan Tindakan bedah, 2) Kelainan neurogenik, missal disartria, 3) Penutupan velofaring yang tidak konsisten (kadang dapat menutup rapat, kadang tidak), dan 4) Setelah pembedahan. Terapi bicara meliputi: 1) Hipernasal x Discrimination training Mendengarkan hypenasal speech dan oral speech secara simultan melalui tape recorder x Nasal/oral contrast Meninggikan dan merendahkan velum selama produksi KXUXI ³D´ GDQ menghasilkan perbedaan nasal/oral dengan KXUXI ³QJ- x Simulate denasality Pasien diminta berpura-pura berbicara seperti orang terkena flu. Secara gradual, kemampuan tersebut dikurangi untuk memproduksi resonansi oral. x Increase oral activity and volume Meningkatkan aktivitas pada oral akan meningkatkan resonansi oral. Terapi membuka mulut dengan lebar selama berbicara x Tactile feedback Meminta pasien menutup salah satu lubang hidung dengan jari tangan, kemudian mengucapkan IRQHP QDVDO ³PDPDPDPD´ SDVLHQ diminta
Modul IX.3.2 ± Hipernasal dan Hiponasal 26 merasakan vibrasi yang terjadi pada hidung yang ditutup. Lakukan hal yang sama dengan mengucapkan IRQHP RUDO ³SDSDSDSD´ $SDELOD pasien merasakan vibrasi yang sama. Pasien dilatih agar dapat mengurangi vibrasi pada saat mengucapkan fonem oral. x Tongue blade manipulation Pemeriksa diminta untuk menahan lidah dengan spatula sehingga velum akan naik. Kemudian pasien diminta untuk berbicara fonem vokal. Pasien diminta untuk menaikkan velum tanpa bantuan dengan mengucapkan fonem vocal seperti saat lidah ditahan oleh pemeriksa. x Yawn tehnique Pasien diminta untuk menguap sehingga diharapkan basis lidah memendek dan menaikkan velum. Kemudian pasien diminta mengucapkan fonem vokal dan konsonan oral dengan membayangkan saat sedang menguap. N. ALGORITMA Hipernasal dan hiponasal Keluhan Utama: Misartikulasi atau Sengau Hipernasal Hiponasal Insufisiensi Velofaring Penyakit Dasar (Deviasi Septum , Hipertrofi adenoid, Common cold dll) Pilihan Terapi: x Terapi Bedah x Terapi Wicara Pilihan Terapi: x Terapi Bedah x Terapi Wicara
MODUL UTAMA THT KOMUNITAS PEMERIKSAAN PEDIATRIK AUDIOLOGI KOMPREHENSIF MODUL IX.4.1 TYMPANOMETRY HIGH FREQUENCY EDISI III KOLEGIUM ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER 2022
DAFTAR ISI A. INFORMASI UMUM .................................................................................. 1 B. TUJUAN ...................................................................................................... 1 C. KOMPETENSI ............................................................................................ 2 D. METODE PEMBELAJARAN .................................................................... 2 E. SARANA DAN ALAT BANTU ................................................................. 4 F. MATERI BAKU .......................................................................................... 4 G. MATERI PRESENTASI............................................................................ 13 H. EVALUASI ................................................................................................ 14 I. REFERENSI .............................................................................................. 14
Modul IX.4.1 ± Tympanometry High Frequency 1 MODUL IX.4.1 THT KOMUNITAS ± PEMERIKSAAN PEDIATRIK AUDIOLOGI KOMPREHENSIF : TYMPANOMETRY HIGH FREQUENCY A. INFORMASI UMUM 1. Nama Program Studi/Jenjang : THT KL/Sp-1 2. Divisi : THT Komunitas 3. Nama Modul : Pemeriksaan Pediatric Audiologi 4. Nama Sub Modul : Tympanometry high frequency 5. Waktu : 6 Bulan 6. SKS : 12 SKS B. TUJUAN Modul ini disusun untuk proses pembekalan bagi pengembangan dan pencapaian kompetensi Sp.THT- KL/ Sp-1 untuk Keterampilan penggunaan Timpanometri TUJUAN PEMBELAJARAN Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan, sikap dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan timpanometri yang diperlukan dalam mendiagnosis, tatalaksana dan evaluasi lanjut, yaitu 1. Menjelaskan definisi timpanometri. 2. Menjelaskan fisiologi dan patofisiologi telinga tengah. 3. Menjelaskantujuan dan indikasi pemeriksaan timpanometri. 4. Menjelaskan prinsip dasar pengukuran hantaran bunyi mulai dari telinga luar sampai ke telinga tengah, termasuk persiapan sebelum melakukan pemeriksaan timapnometri. 5. Menjelaskan strategi analisis dan interpretasi hasil pemeriksaan timpanometri. 6. Memprediksi gangguan pendengaran pada pasien dengan gangguan pendengaran (sensorineural, konduktif, campuran), untuk melanjutkan ke pemeriksaan audiologi lainnya.
Modul IX.4.1 ± Tympanometry High Frequency 2 C. KOMPETENSI 1. Pengetahuan Klinis Memahami manfaat, aplikasi klinis, prinsip kerja, indikasi pemeriksaan, prosedur pemeriksaan (protokol), parameter berbagai jenis timpanometri, interpretasinya baik pada bayi dan anak. 2. Keterampilan Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam : a. Mampu menjelaskan prinsip dasar pengukuran ASSR. b. Mampu melakukan persiapan pemeriksaan ASSR ( lingkungan, alat, pasien). c. Mampu menjelaskan/parameter pemeriksaan timpanometri d. Mampu menjelaskan aplikasi klinis, indikasi dan manfaat lain pemeriksaan timpanometri. 3. Sikap dan perilaku Setelah mengikuti modul ini diharapkan peserta pelatihan/pendidikan Sp-1 mampu menjaga etika terhadap pasien/keluarga pasien, staf pendidik, kolega, paramedik dan non paramedik. Disiplin dan bertanggung jawab, serta taat dalam pengisian dokumen medik, tugas serta pedoman penggunaan. obat dan pemilihan alat bantu dengar. Peserta didik dapat berkomunikasi yang jujur dan terbuka, bekerjasama dalam tim, serta menjunjung tinggi patient safety. Lingkup bahasan materi untuk memenuhi kompetensi sikap dan perilaku adalah: - Materi JCI (code of conduct). - Keselamatan pasien. D. METODE PEMBELAJARAN Tujuan 1. Menjelaskan prinsip dasar pemeriksaan timpanometri merupakan pengukuran tak langsung dari kelenturan (gerakan) membran timpani dan sistem osikular dalam berbagai kondisi tekanan positif, normal, atau negatif. Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Modul IX.4.1 ± Tympanometry High Frequency 3 x Interactive lecture x Small group discussion. x Case study Tujuan 2. Menjelaskan/ melakukan pemeriksaan / protokol / parameter timpanometri. Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Interactive lecture x Journal reading and review. x Case study x Small group discussion x Demonstration and Coaching Tujuan 3. Menjelaskan tujuan dan indikasi pemeriksaan timpanometri. Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Interactive lecture x Journal reading and review. x Case study. Tujuan 4. Menjelaskan prinsip dasar pengukuran hantaran bunyi mulai dari telinga luar sampai ke telinga tengah, termasuk persiapan sebelum melakukan pemeriksaan timpanometri. Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Interactive lecture x Journal reading and review. x Case study Tujuan 5. Menjelaskan strategi analisis dan interpretasi hasil pemeriksaan timpanometri. Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Interactive lecture x Journal reading and review. x Bedside teaching x Case simulation and investigation exercise. x Equipment characteristics and operating instructions.
Modul IX.4.1 ± Tympanometry High Frequency 4 Tujuan 6. Memprediksi gangguan pendengaran pada pasien dengan gangguan pendengaran (sensorineural, konduktif, campuran), untuk melanjutkan ke pemeriksaan audiologi lainnya. Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Interactive lecture x Journal reading and review. x Bedside teaching x Case simulation and investigation exercise. x Equipment characteristics and operating instructions. E. SARANA DAN ALAT BANTU a. Penuntun belajar (learning guide), Text book. b. Audiovisual tentang tehnik/protokol pemeriksaan timpanometri. c. Tempat belajar (training setting): poliklinik THT, ruang kuliah (via zoom). d. Hardware dan software untuk timpanometri konvensional dan frekuensi tinggi. e. Menganalisa dan menginterpretasi hasil pemeriksaan timpanometri. F. MATERI BAKU Timpanometri merupakan pengukuran tak langsung dari kelenturan (gerakan) membran timpani dan sistem osikular dalam berbagai kondisi tekanan positif, normal, atau negatif. Pemeriksaan timpanometri diperlukan untuk menilaikondisi telinga tengah. Energi akustik tinggi dihantarkan pada telinga melalui suatu tabung tersumbat, sebagian diabsorpsi dan sisanya dipantulkan kembali ke kanalis dan dikumpulkan oleh saluran kedua dari tabung tersebut. Bila telinga terisi cairan, atau bila gendang telinga menebal, atau sistem osikular menjadi kaku, maka energi yang dipantulkan akan lebih besar dari telinga normal. Dengan demikian jumlah energi yang dipantulkan makin setara dengan energi insiden. Hubungan ini digunakan sebagai sarana pengukur kelenturan. Gambaran Timpanometri yang abnormal (adanya cairan atau tekanan negatif di telinga tengah) merupakan petunjuk adanya gangguan pendengaran konduktif. Alat diagnostik ini sangat baik dengan spesifitas
Modul IX.4.1 ± Tympanometry High Frequency 5 sebesar 85% pada kasus dengan gejala sekresi pada telinga tengah, dimana menunjukkan peningkatan impedansi pada propagasi suara oleh rantai kompleks tulangtimpani. Timpanometri mengukur tekanan pada telinga tengah (middle ear preasure), volume udara telinga tengah (ear canal volume), dan mobilitas telinga tengah (middle ear canal). Dari hasil pemeriksaan tersebut terdapat nilai standar normal yaitu : pada anak-anak : middle ear preasure (- 100 s/d + 50 daPa), ear canal volume (0,2 s/d 1,5 cc), middle ear canal (0,3 s/d 2,5 cc). Pada dewasa :middle ear pressure (-100 s/d 150 daPa), ear canal volume (0,2 s/d 2,0 cc), middle ear canal (0,3 s/d 2,5 cc). Kemampuan alat ini untuk mengukur mobilitas membran timpani dan tekanan telinga tengah yang berguna dalam penilaian kondisi dan fungsi telinga tengah, yang dapat berkontribusi untuk menilai gangguan pendengaran konduktif. Pemeriksaan ini bukan skrining untuk pendengaran dan bukan untuk mengidentifikasi potensi kehilangan pendengaran. Gambar 1. Timpanometer Pada timpanometri terdapat dua pendekatan yaitu pendekatan secara kualitatifdan kuantitatif.Pendekatan kualitatif adalah berdasarkan bentuk timpanogram dimana Jerger (1970) mengklasifikasikan timpanogram kepada jenis A, B dan C. Alat timpanometer modern sekarang membenarkan pendekatan kuantitatif diapliklasikan di dalam bidang klinik. Mesin timpanometer modern mampu mengukur komponen akustik admitan di dalam satuan akustik mmho serta mampu mengabaikan pengaruh volume liang telinga luar sewaktu menjalankan uji timpanometri. Maka hasil timpanogram yang dihasilkan lebih stabil dan dapat direkam.Oleh karena itu pengukuran
Modul IX.4.1 ± Tympanometry High Frequency 6 ciri-ciri parameter timpanometri adalah lebih tepat. Pada pemeriksaan timpanometri orang dewasa atau bayi berusia diatas 7 bulan ummnya menggunakanprobe tone berfrekuensi 226 Hz, dan tidak disarankan pada neonatus dan bayi yangberusia kurang dari 6 bulan. Beberapa penelitian, menyimpulkan bayi berumurkurang dari 6 bulan, dengan menggunakan probe tone berfrekuensi 678 Hz menunjukkan sensitivitas yang tinggi dan spesifitas rendah, sedangkan pada probetone berfrekuensi 1000 Hz menunjukkan peningkatan spesifisitas. Timpanogram memberikan beberapa informasi termasuk: 1. Compliance sistem telinga tengah (pergerakan gendang telinga). Compliance digambarkan secara vertikal di timpanogram.Compliance maksimal di telinga tengah terjadi ketika tekanan diruang telinga tengah sama dengan tekanan di kanalis akustikuseksterna. Compliance maksimal muncul di puncak kurva padagrafik timpanogram. Gambar 2. 2. Tekanan telinga tengah (normalnya sama dengan tekanan di telingayang sehat). Tekanan digambarkan mendatar di timpanogram. Tekanan dikanalis akustikus eksterna berkisar -200 daPa hingga +400 daPa ketika mengamati impedans (resistant to movement). Impedansi mencapai nilai terendah ketika tekanan di kanalis telinga sama dengan tekanan di ruang telinga tengah dengan menentukan nilai axis mendatar yang berpotongan dengan puncak grafik(compliance) pada axis vertikal.
Modul IX.4.1 ± Tympanometry High Frequency 7 Gambar 3. Volume saluran (kanalis) telingaSebagai aturan umum, nilai volume kanalis telinga harus berkisar0,2-2,0 mL (pada dewasa dan anak). Variasi antaranya akan terlihat pada rentang yang bergantung pada usia dan struktur telinga orang tersebut. Sebagai contoh >2,0 mL pada anak dapat menyatakan perforasi membran timpani atau paten eustachius tube, sementara dapat normal di pasien dewasa. Puncak compliance di dalam batas normal menyatakan pergerakan normal pada sistem telinga tengah. Puncak yang ditemukan di luar nilai normal ini menyatakan satu dari beberapa patologi yang mungkin terjadi. 9 3. Pola yang berhubungan dengan berbagai kelainan. a. Indikasi Salah satu penggunaan awal timpanometri adalah untuk memperkirakan tekanan telinga tengah dan secara tidak langsung untuk mengukur fungsi eustachii tube karena fungsi eustachius tube normal diperlukan untuk pemeliharaan tekanan telinga tengah. Efusi telinga tengah dikaitkan dengan adanya gangguan pendengaran konduktif. Gangguan yang terjadi secara jangka panjang pada kedua telinga dapat menimbulkan gangguan perkembangan bicara dan cacat kognitif lainnya.).Tidak semua penderita dengan keadaan patologi pada telinga memerlukan pemeriksaan Timpanometri. Pemeriksaan ini terutama direkomendasikan terhadap suspek efusi telinga tengah (OME).Selain itu, dilakukan pada keadaan patensi timpanostomi/tabung ventilasi, perforasi dari membran timpani, mobilitasmembran timpani, serta mobilitas dari rantai osikular auditiva. b. Manfaat Penggunaan timpanometri pada anak dapat menyingkirkan adanya otitismedia, membran timpani perforasi atau disfungsi eustachius tube. Timpanometri sering mengubah diagnosis dan pengobatan penyakit telinga tengah pada anak. Dalam suatu studi
Modul IX.4.1 ± Tympanometry High Frequency 8 dinyatakan bahwa sebesar 26% diagnosa awal berubah setelah menggunakan timpanometri, dan dengantimpanometri dapat mengurangi penggunaan antibiotik dari 7,6% menjadi 4,1%. c. Kelebihan dan Kekurangan Timpanometri adalah pemeriksaan yang bermanfaat untuk mendeteksi otitismedia efusi.Alat ini mudah digunakan, dapat digunakan secara berulang, murah,dan ditoleransi oleh pasien dewasa bahkan anak-anak.Sebagai tes non-invasif, timpanometri dengan cepat dan mudah dapatdilakukan pada pasien dari segala usia, dari bayi hingga orang dewasa.Pemeriksaan hanya membutuhkan waktu sekitar dua menit.Objektivitastimpanometri merupakan hasil yang akurat karena berdasarkan gambaran langsung dari timpanogram dan tidak bergantung pada respon dari pasien. Timpanometri tidak bermanfaat dalam mendiagnosis otitis media yang spesifik meskipun dapat digunakan sebagai alat adjuvant. Namun, di antara data pada pasien yang diperiksa timpanogram dengan peak dapat menunjukkankeadaan telinga tengah yang sehat sedangkan timpanogram yang datar bergunadalam mendeteksi otitis media efusi. Alat ini juga mampu membedakan telingatengah dengan efusi dan tanpa efusi. Karena otitis media akut dan otitis mediaefusi sering ditemukan dengan gejala yang khas pada anak, visualisasi membrantimpani diperlukan untuk menentukan diagnosis yang akurat untuk pertimbangan pilihan pengobatan. d. Cara Pemeriksaan Cara kerja timpanometri adalah alat (probe) yang dimasukkan ke dalam liangtelinga memancarkan sebuah nada dengan frekuensi 220 Hz. Alat lainnya mendeteksi respon dari membran timpani terhadap nada tersebut. Secara bersamaan, probe yang menutupi liang telinga menghadirkan berbagaijenis tekanan udara. Pertama positif, kemudian negatif ke dalam liang telinga.Jumlah energi yang dipancarkan berhubungan langsung dengan compliance.
Modul IX.4.1 ± Tympanometry High Frequency 9 Compliance menunjukkan jumlah mobilitas di telinga tengah.Sebagai contoh,lebih banyak energi yang kembali ke alat pemeriksaan, lebih sedikit energi yang diterima oleh membran timpani.Hal ini menggambarkan suatu compliance yang rendah. Compliance yang rendah menunjukkan kekakuan atau obstruksi padatelinga tengah.Data- data yang didapat membentuk sebuah gambar 2 dimensi pengukuran mobilitas membran timpani.Pada telinga normal, kurva yang timbul menyerupai gambaran lonceng. Penghantaran bunyi melalui telinga tengah akan maksimal bila tekanan udarasama pada kedua sisi membran timpani. Pada telinga yang normal, penghantaran maksimum terjadi pada atau mendekati tekanan atmosfir. Itulah sebabnya Ketika tekanan udara di dalam liang telinga sama dengan tekanan udara di dalam kavum timpani, imitans dari sistem getaran telinga tengah normal akan berada padapuncak optimal dan aliran energi yang melalui sistem ini akan maksimal.Tekanan telinga tengah dinilai dengan bermacam-macam tekanan pada liangtelinga yang ditutup probe sampai sound pressure level (SPL) berada pada titikminimum. Hal ini menggambarkan penghantaran bunyi yang maksimum melalui telinga tengah. Tetapi bila tekanan udara dalam salah satu liang telinga lebih dari (tekanan positif) atau kurang dari (tekanan negatif) tekanan dalam kavum timpani, imitans sistem akan berubah dan aliran energi berkurang. Dalam sistemyang normal, begitu tekanan udara berubah sedikit di bawah atau di atas daritekanan udara yang memproduksi imitans maksimum, aliran energi akan menurun dengan cepat sampai nilai minimum. Pada tekanan yang bervariasi di atas atau di bawah titik maksimum, SPL nada pemeriksaan di dalam liang telinga bertambah, menggambarkan sebuah penurunan dalam penghantaran bunyi yang melalui telinga tengah.
Modul IX.4.1 ± Tympanometry High Frequency 10 Gambar 4. Probe ini dimasukkan ke dalam kanalis telinga dan membuat ruang kedap udara dari ujung telinga terhadap dinding kanalis telinga.Sebuah nada dikirimkan melalui pengeras suara sementara tekanan udara diubah di dalam saluran yang kedap udara itu. Kemudian mikrofon mengukur jumlah suara yang dipantulkan kembali dari gendang telinga selama proses tekanan tersebut. Informasi ini kemudian ditampilkan dalam grafik ± timpanogram. 6 e. Interpretasi Timpanogram adalah suatu penyajian berbentuk grafik dari kelenturan relative sistem timpani osikular sementara tekanan udara liang telinga diubah-ubah. Kelenturan maksimal diperoleh pada tekanan udara normal, dan berkurang jika tekanan udara ditingkatkan atau diturunkan. Individu dengan pendengaran normal atau dengan gangguan sensorineural akan memperlihatkan sistem timpanoosikular yang normal. Liden (1969) dan Jerger (1970) mengembangkan suatu klasifikasi timpanogram. Tipe-tipe klasifikasi yang diilustrasikan adalah sebagai berikut : 1. Tipe A (Timpangan Normal). Kelenturan maksimal terjadi pada atau dekat tekanan udara sekitar, member kesan tekanan udara telinga tengah yang normal.Puncak compliance sekitar -150 hingga +100 dapa dan immitance 0,2 sampai 2,5 mmH20. (Dikutip dari kepustakaan 15)
Modul IX.4.1 ± Tympanometry High Frequency 11 Gambar 5. Timpanogram tipe A: Puncak dan tekanan yang normal. 1 2. Tipe As. Kelenturan maksimal terjadi pada atau dekat tekanan udarasekitar, tapi kelenturan lebih rendah daripada tipe A. Fiksasi atau kekakuan sistem osikular seringkali dihubungkan dengan tipe As. Timpanogram kelihatan seperti tipe A (normal), di mana puncak berada atau dekat titik 0 daPa, tapi dengan ketinggian puncak yang secara signifikan berkurang. Huruf s di belakang A berarti stiffness atau shallowness. Gambar 6. Timpanogram tipe As. 6 3. Tipe Ad. Kelenturan maksimum yang sangat tinggi terjadi pada tekanan udara sekitar, dengan peningkatan kelenturan yang amat cepat saat tekanan diturunkan mencapai tekanan udara sekitar normal. Tipe ini berkaitan
Modul IX.4.1 ± Tympanometry High Frequency 12 dengan diskontinuitas sistem osikular atau suatu membrane timpanometri. Timpanogram kelihatan seperti tipe A (normal), tetapi dengan puncak lebih tinggi secara signifikan dibandingkan normal. Huruf d dibelakang A berarti deep atau discontinuity. Puncak yang sangat tinggi (Ad), puncak compliance sekitar -150 hingga +100 daPA dan immetance lebih dari 2,5 mmH20 yang menunjukkan diskontinuitas tulang-tulang pendengaran. Gambar 7. Timpanogram tipe Ad. 6 4. Tipe B. Timpanogram tidak memiliki puncak melainkan polacenderung mendatar, atau sedikit membulat yang paling seringdikaitkan dengan cairan di telinga tengah (kavum timpani).Timpanogram ini berkaitan dengan cairan dalam telinga tengah, gendang telinga yang menebal atau sumbatan serumen. Ciri hambatan sistem timpano osikular didominasi oleh sifat tak dapat dipadatkan dari kelainan yang ada. Sedikit perubahan tekanan hanya kecil pengaruhnya.
Modul IX.4.1 ± Tympanometry High Frequency 13 Gambar 8. 5. Tipe C. Secara signifikan puncak kelenturan di bawah nol ( biasanya kurang dari -200 daPa), mengindikasikan tekanan negatif (sub- atmosferik)dalam ruang telinga tengah. Temuan ini menyimpulkan terjadinya disfungsi eustachius tube atau cairan pada telinga tengah. Gambar 9. Timpanogram tipe C G. MATERI PRESENTASI Slide 1 Judul Timpanometri Slide 2 Indikasi Timpanometri Slide 3 Manfaat Slide 4 Kelebihan Kekurangan Slide 5 Cara Kerja Slide 6 Cara Kerja 2 Slide 7 Cara kerja 3 Slide 8 Interpretasi
Modul IX.4.1 ± Tympanometry High Frequency 14 Slide 9 Interpretasi A, As, Ad Slide 10 Tipe B & C Slide 11 Referensi H. EVALUASI Evaluasi hasil pendidikan ditentukan berdasarkan proses dan hasil pembelajaran. Untuk dapat dievaluasi, peserta pelatihan kompetensi tambahan harus memenuhi persyaratan kehadiran sebanyak minimum 90%. Hasil akhir akan diserahkan kepada KODI THT KOMUNITAS dan Kolegium THT-KL berupa dua nilai yaitu, PENGETAHUAN dan KETERAMPILAN Nilai PENGETAHUAN terdiri dari: 1. Evaluasi Formatif: dilakukan selama masa pelatihan secara berkesinambungan, dan pembimbing diwajibkan memberikan umpan balik (feedback) pada pross pembelajaran. 2. Evaluasi Sumatif: dilakukan pada akhir tahapan pelatihan, bertujuan untuk menilai tercapainya seluruh kompetensi yang diharapkan di modul kompetensi tambahan otologi. 3. Sikap dan Perilaku: dilakukan penilaian sikap dan perilaku (etika terhadap pasien, staf pendidik, teman sejawat, paramedis dan non paramedis), profesionalisme, patient safety, komunikasi, kerja sama dalam keseharian penilaian dapat menggunakan penilaian 360 0 . Nilai modul KETERAMPILAN diperoleh dari Logbook dan DOPS saat ujian keterampilan. I. REFERENSI 1. Adams GL, Boies LR, Higler PA. Boies Buku Ajar Penyakit THT Edisi 6. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 1997. Hal. 30-37,46-58. 2. Stach Brad A. Clinical Audiology An Introduction. Second Edition. 3. Cummings CW, Flint PW, Harker LA, et al. Cummings Otolaryngology Head& Neck Surgery Fourth Edition. 4. Snow JB. Diagnostic Audiology, Hearing Aids, and Habilitation Options.
Modul IX.4.1 ± Tympanometry High Frequency 15 ,Q%DOOHQJHU¶V 0DQXDO RI 2WRUKLQROaryngology Head and Neck Surgery. BCDecker. Hamilton. London. 2002. p. 3-4 5. Oprescu C., Beuran M., Nicolau AE. Tympanometry as a predictor factor inthe evolution of otitis media with effusion. J Med Life. Dec 15, 2012; 5(4):452±454. 6. Otoscopy And Tympanometry Manual. 2014. Minnesota Department Of Health. http://www.health.state.mn.us/divs/fh/mch/ctc/. 7. Shanks J, Shohet J. Tympanometry in clinical practice. In: Handbook of Clinical Audiology. Fifth edition. Philadelpia Lippincott Williams & Wilkins. 2006. p.172-175. 8. Helenius KK. et al. Tympanometry in Discrimination of Otoscopic Diagnoses in Young Ambulatory Children. Pediatr Infect Dis J 2012;31: 1003±10. 9. Lous J. Use of tympanometry in general practice in Denmark. International Journal of Pediatric Otorhinolaryngology 78 (2014) 124±127. 10. Mikolai, Tricia. Duffey, Jenifer. A guide to tympanometry for hearing screening. Maico Dignostics. 2006
MODUL UTAMA THT KOMUNITAS PEMERIKSAAN PEDIATRIK AUDIOLOGI KOMPREHENSIF MODUL IX.4.2 OTO ACOUSTIC EMMISION (OAE) EDISI III KOLEGIUM ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER 2022
DAFTAR ISI A. INFORMASI UMUM .................................................................................. 1 B. TUJUAN....................................................................................................... 1 C. TUJUAN PEMBELAJARAN ...................................................................... 1 D. KOMPETENSI ............................................................................................. 2 E. METODE PEMBELAJARAN ..................................................................... 3 F. SARANA DAN ALAT BANTU.................................................................. 3 G. MATERI BAKU .......................................................................................... 3 H. MATERI PRESENTASI ............................................................................ 13 I. EVALUASI ................................................................................................ 14 J. REFERENSI ............................................................................................... 14
Modul IX.4.2 ± Oto Acoustic Emmision (OAE) 1 MODUL IX.4.2 THT KOMUNITAS ± PEMERIKSAAN PEDIATRIK AUDIOLOGI KOMPREHENSIF : OTO ACOUSTIC EMMISION (OAE) A. INFORMASI UMUM 1. Nama Program Studi/Jenjang : THT KL/Sp-1 2. Divisi : THT Komunitas 3. Nama Modul : Pemeriksaan Pediatric Audiologi 4. Nama Sub Modul : Oto Accoustic Emmission 5. Waktu : 6 Bulan 6. SKS : 12 SKS B. TUJUAN Modul ini disusun untuk proses pembekalan bagi pengembangan dan pencapaian kompetensi Sp.THT- KL Sp-1 untuk Keterampilan penggunaan Oto Accoustic Emmission C. TUJUAN PEMBELAJARAN Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan, sikap dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan OAE yang diperlukan dalam mendiagnosis, tatalaksana dan evaluasi lanjut, yaitu: 1. Menjelaskan definisi OAE 2. Mengetahui anatomi, fisiologi dan patofisiologi koklea 3. Mengetahui Peranan penggunaan OAE pada pemeriksaan fungsi kohlea. 4. Mengetahui Jenis-jenis stimulus OAE 5. Mampu melakukan persiapan pasien termasuk keadaan THT, pemeriksaan timpanometri 6. Mampu memeriksaan OAE sesuai dengan prosedur standart pemeriksaan yang akan dilakukan termasuk persiapan alat, bising lingkungan dan keadaan bayi yang akan di periksa. 7. Mampu menjelaskan kriteria pass dan refer pada pemilihan gelombang yang akan dilakukan.
Modul IX.4.2 ± Oto Acoustic Emmision (OAE) 2 D. KOMPETENSI 1. Pengetahuan Setelah mengikuti Program Sp-1 ini peserta didik mampu : 1. Menjelaskan definisi OAE 2. Mengetahui anatomi, fisiologi dan patofisiologi koklea 3. Mengetahui Peranan penggunaan OAE pada pemeriksaan fungsi kohlea. 4. Mengetahui Jenis-jenis stimulus OAE 5. Mampu menjelaskan kriteria pass dan refer pada pemilihan gelombang yang akan dilakukan. 6. Mampu melakuikan intepretasi hasil pemeriksaan OAE 2. Keterampilan Setelah mengikuti Program ini peserta didik terampil dalam 1. Melakukan pemeriksaan OAE secara baik 2. Melakukan pemeriksaan OAE pada bayi dan anak di berbagai unit yang ada di kesehatan (NICU, PICU dan unit layanan lainnya) 3. Sikap dan perilaku Setelah mengikuti modul ini diharapkan peserta pelatihan Sp-1 THT Komunitas [Oto Accoustic Emmision] mampu menjaga etika terhadap pasien/keluarga pasien, staf pendidik, kolega, paramedik dan non paramedik. Disiplin dan bertanggung jawab, serta taat dalam pengisian dokumen medik, tugas serta pedoman pemeriksaan dteksi dini gangguan pendengaran pada bayi dan anak. Peserta didik dapat berkomunikasi yang jujur dan terbuka, bekerjasama dalam tim, serta menjunjung tinggi patient safety. Lingkup bahasan materi untuk memenuhi kompetensi sikap dan perilaku adalah: 1. Standar Prosedur Operasional (SPO)/PNPK Tuli Kongenital /PPK/Clinical Pathway terkait dalam keterampilan tatalaksana OAE bidang THT Komunitas 2. Health Technology Assesment terkait penggunaan OAE Departemen Kesehatan 2006 3. Materi Joint Commision International (Code of conduct). 4. Keselamatan pasien [Patient safety].
Modul IX.4.2 ± Oto Acoustic Emmision (OAE) 3 E. METODE PEMBELAJARAN Untuk mencapai tujuan pembelajaran Modul 4 Pemeriksaan Pediatric Audiologi± Sub modul : OAE ini maka dipilih metode pembelajaran sebagai berikut: a. Interactive lecture b. Small group discussion. c. E-learning d. Laporan Kasus e. Journal/ literature reading f. Bedsite teaching di PICU/NICU Bisa juga dijelaskan bahwa kompetensi 1- 3 di capai dengan metode tersebut diatas. Kompetensi ketrampilan dicapai dengan mengikuti Pelatihan/ F. SARANA DAN ALAT BANTU a. Text book b. Tempat belajar (training setting): ruang kuliah, ruang praktikum, instalasi rawat jalan, NICU, PICU dan rawat gabung. c. Model/ manekin. d. OAE skrining dan AABR portable e. Video pemeriksaan pendengaran. G. MATERI BAKU OTOACOUSTIC EMISSION (OAE) LATAR BELAKANG Pada tahun 1978 David Kemp memperlihatkan bahwa stimulus click (transient ) akan menyebabkan kohlea memproduksi OAE yang di kenal sebagai cochlear echo ( Kemp Echo ). 5 Stimulus bunyi diberikan dari luar melalui loudspeaker mini yang berada di dalam sumbat telinga dari bahan plastik atau insert probe ( gambar 1 ), selanjutnya bunyi akan menuju telinga tengah dan kohlea. Sel-sel rambut luar ( outer hair cells) yang terletak pada Organ Corti Kohlea sehat akan memberikan respons dengan memproduksi OAE. Emisi echo tersebut akan di transmisi ke arah luar menuju telinga tengah , selanjutnya menyebabkan vibrasi membran timpani dan mencapai
Modul IX.4.2 ± Oto Acoustic Emmision (OAE) 4 liang telinga sehingga dapat diproses dan direkam oleh transducer berupa mikrofon mini yang terletak di dalam probe yang sama , selanjutnya dianalisa oleh program komputer ( Gambar 1 ). Gambar 1. Insert probe dan Jalur stimulasi OAE c : arah stimulus bunyi d : arah transmisi OAE ( Dikutip dari Kemp 5 . ) DEFINISI : OAE adalah bunyi halus yang dihasilkan oleh koklea sehat. OAE terjadi sebagai respons sel sel rambut luar terhadap stimulus akustik dari luar ( Evoked OAE). Namun dapat dijumpai pula bentuk OAE yang terjadi tanpa stimulus apapun (spontaneous OAE). OAE diperkenalkan sebagai indikator menentukan sehat tidaknya koklea oleh David Kemp pada tahun 1978, walaupun jauh sebelumnya telah banyak laporan tentang OAE oleh peneliti lainnya. Pemeriksaan OAE merupakan pemeriksaan audiologik berdasarkan prinsip elektrofisiologik yang obyektif, non invasif, cepat, otomatis, praktis dan hasilnya berdasarkan kriteria Pass/ Refer Pemeriksaan OAE memiliki sensitivitas dan spesifitas tinggi. MANFAAT PEMERIKSAAN OAE Pada awalnya OAE hanya dimanfaatkan untuk skrining pendengaran pada bayi, karena merupakan pemeriksaan obyektif untuk menilai fungsi kohlea, tidak invasif, praktis,mudah,cepat dan memiliki sensitifitas 100 % dan spesifitas 87 %. Selain itu metode OAE yang serba otomatis ini menggunakan program komputer sehingga tidak memerlukan keahlian khusus untuk interpretasi , karena hasilnya ditayangkan berdasarkan prinsip pass (lulus) dan refer ( tidak lulus). Keuntungan lainnya adalah pemeriksaan ini tidak perlu dilakukan dalam ruang kedap suara dan tidak memerlukan obat sedatif. Teknik OAE memungkinkan kita untuk melakukan deteksi dini gangguan pendengaran pada bayi mulai pada usia 2 hari,
Modul IX.4.2 ± Oto Acoustic Emmision (OAE) 5 Pada perkembangan selanjutnya OAE juga dimanfaatkan pula untuk orang dewasa dan sebagai pemeriksaan pendengaran yang disebabkan oleh patologi sel-sel rambut luar kohlea OAE mempunyai nilai klinis yang sangat berarti karena; (1) Sensitif untuk menentukan gangguan pendengaran, (2)sensitif terhadap permasalahan yang menyangkut integritas kohlea,khususnya sel-sel rambut luar, (3) bersifat pra-neural sehingga membedakannya dengan pemeriksaan lain yang melibatkan aktifitas neural. INDIKASI PEMERIKSAAN OAE Skrining pendengaran bayi baru lahir, anak, pekerja yang terpapar bising Kecurigaaan terhadap neuropati auditorik Monitoring penggunaan obat ototoksik Keluhan tinitus Penyakit/ gangguan pendengaran yang melibatkan koklea: tinitus, trauma akustik, sudden deafness dll JENIS OAE Sejak tahun 1999 disepakati suatu klasifikasi yang membedakan 2 jenis OAE, yaitu 1) Spontaneous OAE (SOAE) dan (2) Evoked OAE (EOAE). Pada Spontaneous OAE, emisi dihasilkan kohlea tanpa stimulus dari luar. Diperkirakan 60% manusia sehat mempunyai S-OAE. Karena tidak semua orang mempunyai S-OAE,maka S-OAE ini nilai klinisnya rendah. Evoked OAE merupakan respon kohlea terhadap stimulus bunyi. Saat ini dikenal 2 jenis Evoked OAE yaitu (1) Transient Evoked OAE ( TEOAE) yang menggunakan bunyi click sebagai stimulus dan (2) Distortion Product OAE (DPOAE) yang memakai 2 buah stimulus nada murni secara simultan. TEOAE TEOAE mengunakan stimulus click sebesar 40-45 dB, sehingga tidak dapat terdeteksi ( refer ) pada ketulian yang lebih besar dari 40 - 45 dB
Modul IX.4.2 ± Oto Acoustic Emmision (OAE) 6 DPOAE Agar kohlea dapat memproduksi DPOAE diberikan stimulus 2 buah nada murni (Primary tone ) secara simultan, dengan 2 intensitas ( L1 - L2) dan 2 frekuensi berbeda ( f1 dan f2 ). Berdasarkan parameter tsb diatas dihasilkan DPOAE dengan intensitas yang lebih rendah dibandingkan primary tone, sedangkan frekuensi DPOAE akan setara dengan 2 f1- f2. Perbedaan penting antara TEOAE dengan DPOAE adalah (1) DPOAE dapat memeriksa frekuensi yang lebih spesifik, karena dapat mendeteksi frekuensi tinggi ( 6 -10 KHz) , (2) DPOAE lebih stabil sehingga dapat dilakukan pada kondisi ruangan yang agak berisik, (3) DPOAE lebih dapat diandalkan untuk kepentingan diagnostik Gambar 3(a) DPOAE Gambar 3(b) Pengukuran DPOAE Gambar 2(a) : TEOAE -gram Gambar 2(b) : TEOAE
Modul IX.4.2 ± Oto Acoustic Emmision (OAE) 7 PEMERIKSAAN OAE Kenali mesin OAE yang akan digunakan : clinical OAE atau Screening OAE Clinical OAE memiliki spektrum frekuensi yang lebih luas dan terinci, mampu memeriksa 12 frekuensi; terdapat mekanisme kontrol impedance dan artefact rejection ( tidak boleh lebih dari 10 % total stimulus). x Sedangkan screening OAE paling banyak 6 frekuensi x Pada Screening OAE, ulangi pemasangan probe bila lampu indikator noise menyala x Pilih pemeriksaan OAE ( TEOAE atau DPOAE). x Pilih probe tip (karet) sesuai liang telinga; pada bayi baru lahir gunakan tree tip untuk mencegah kolaps liang telinga Pilih protokol kriteria Pass/ Refer :3/4, 4/6 x Nilai normal (pass) ditentukan berdasarkan rasio stimulus/noise (S/N ratio) lebih besar atau sama dengan 6 ANALISIS DAN INTERPRETASI HASIL PEMERIKSAAN OAE. Menganalisa dan memberikan interpretasi terhadap hasil pemeriksaan OAE termasuk pengertian tentang rasio S/N ( SNR) PENYAMPAIAN HASIL PEMERIKSAAN KEPADA ORANG TUA PASIEN Terangkan hasil pemeriksaan dan maknanya kepada pihak (keluarga) pasien, kemudian pemeriksaan lain yang harus dilakukan. Penggunaan OAE pada skrining pendengaran bayi baru lahir OAE adalah suatu pemeriksan elektrofisiologik yang obyektif, praktis, tidak invasif, otomatis dan hasilnya menggunakan kriteria Pass dan Refer. Pemeriksaan ini tidak membutuhkan obat sdatif dan dapat dilakukan diruang biasa ( tidak perlu kedap suara) Selain itu juga memiliki sensitifitas dan spesifitas yang tinggi . Hal hal tersebut sesuai dengan kriteria yang ditetapkan untuk Program skrining pendengaran bayi baru lahir,sehingga American Joint Comnmittee on Infant Hearing Screening mengakui sebagai baku emas utk program tsb,bersama dengan Automated BERA. OAE telah dapat digunakan pada bayi mulai usia 2 hari atau sebelum bayi meninggalkan RS.
Modul IX.4.2 ± Oto Acoustic Emmision (OAE) 8 Penggunaan OAE pada skrining pekerja industri Saat ini metode utk melakukan skrining pendengaran pada pekerja industri adalah dengan pemeriksaan audiometri nada murni tanpa hantaran tulang. Namun di negara maju mulai digunakan teknik OAE agar deteksi gangguan pendengaran dapat dilakukan lebih dini. Penelitian membuktikan pada pekerja yang mengalami gangguan pendengaran akibat bising tahap awal ( belum ada keluhan subyektif ) telah terlihat adanya kelainan gambaran OAE, walaupun hanya pada frekuensi tinggi saja. Pada saat yang sama audiometri belum menunjukkan kelainan. Penggunaan OAE pada kasus neuropati auditorik Sebelum pemeriksaan OAE dikenal, umumnya kita banyak mengadalkan hasil pemeriksaan BERA untuk menentukan adanya kelainan jaras auditorik secara obyektif. Setelah OAE dimanfaatkan kita mengetahui bahwa salah satu bentuk gangguan pendengaran yang dikenal sebagai neuropati auditorik (dys-synchrony) memiliki karakteristik utama berupa gambaran BERA yang abnormal atau hanya memberi respons pada stimulus dengan intensitas tinggi namun memiliki gambaran OAE yang normal (Pass). Jadi meskipun auditori neuropati bukanlah suatu penyakit baru namun hal ini akan luput dari perhatian kita tanpa memeriksa OAE. Hal ini akan berdampak pada proses habilitasi berupa pemasangan alat bantu dengar (ABD). Pada kasus gangguan pendengaran (berdasarkan pemeriksaan BERA saja) tentu klita dapat memasang ABD. Namun bila setelah diperiksa OAE dan ternyata hasilnya normal (kasus auditori neuropati) maka ABD bukanlah pilihan utama mengingat fungsi koklea normal sehingga pemasangan ABD dapat merusak sel sel rambut luar (outer hair cells) koklea. Kondisi yang mempengaruhi pemeriksaan OAE Telinga luar dan telinga tengah Hasil pemeriksaan OAE dipengaruhi oleh kondisi telinga luar dan /atau telinga tengah, sehingga disfungsi telinga luar dan / atau telinga tengah dapat menyebabkan kesalahan interpretasi hasil pemeriksaan OAE. Hasil OAE refer seharusnya merupakan petunjuk adanya disfungsi koklea bila tidak ada kelainan pada telinga luar dan/atau telinga dalam.
Modul IX.4.2 ± Oto Acoustic Emmision (OAE) 9 Pada saat skrining pendengaran bayi baru lahir, pada telinga tengah neonatus mungkin masih terdapat sisa cairan ketuban, yang mengakibatkan gangguan fungsi telinga tengah sehingga hasil OAE refer meskipun tidak ada disfungsi koklea. Untuk mengetahui adanya kelainan fungsi telinga tengah bayi digunakan timpanometer frekuensi tinggi ( high frequency tympanometer), karena memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang lebih baik dalam mendeteksi cairan telinga tengah atau efusi pada bayi dibandingkan dengan timpanometer standar 226 Hz. Disarankan menggunakan 1000 probe tone hingga usia 9 bulan Hal tersebut menunjukkan pentingnya status telinga tengah pada pengukuran OAE. Stimulus yang digunakan untuk membangkitkan evoked OAE harus melewati telinga tengah untuk menstimulasi koklea, pada arah yang sebaliknya energi evoked OAE juga akan melewati tengah telinga agar bisa dideteksi di liang telinga. Akibatnya kelainan pada telinga tengah dapat mengurangi amplitudo evoked OAE dan menyebabkan kesalahan interpretasi hasil OAE. Bising (noise) Hal lain yang berperan terhadap hasil pemeriksaan OAE adalah faktor noise (bising). Dikenal 2 jenis noise yaitu external noise yang berasal dari lingkungan di sekitar tempat pemeriksaan, dan internal noise yang berasal dari pasien sendiri, seperti gesekan insert probe dengan baju pasien, suara napas, gerakan rahang dan gerakan otot lainnya. Untuk mendapatkan hasil OAE yang sesungguhnya, penting untuk mengurangi external maupun internal noise, meskipun noise tidak dapat dihilangkan selama pemeriksaan OAE. Prosedur Pemeriksaan OAE o Pemeriksaan dilakukan oleh dokter spesialis THT, PPDS tahap Magang dan tahap Mandiri, Ahli Madya Audiologi, dan yang pernah mengikuti pelatihan OAE sebelumnya (perawat, dokter umum, dokter spesialis anak) o Pemeriksaan dapat dilakukan di poliklinik, ruang bayi (NICU/PICU), kamar operasi atau pada ruang yang tenang, tidak perlu ruang kedap suara (sound proof)
Modul IX.4.2 ± Oto Acoustic Emmision (OAE) 10 o Pemeriksa harus menjelaskan kepada orang tua /keluarga pasien tentang maksud, tujuan, dan prosedur yang akan dilakukan. o Untuk pasLHQ EHUXVLD   EXODQ DWDX \DQJ WLGDN NRSHUDWLI SHPHULNVDDQ 2$( dilakukan dengan pemberian sedasi, sebaiknya di lakukan bersamaan dengan pemeriksaan BERA o Sebelum pemberian sedasi oral, orang tua pasien harus memberikan persetujuan tertulis dengan mengisi dan menandatangani informed consent. o Obat sedasi ringan yang umum digunakan adalah kloralhidrat oral dosis 50 ± 75 mg/kg BB atau obat sedatif lainnya. Dosis maksimal 1800 mg. o Pasien yang mendapat obat sedatif harus dalam keadaan sehat, tidak sedang batuk, pilek, demam [ISPA] atau mempunyai kontraindikasi lainnya o Selama dalam pengaruh obat sedasi pasien menggunakan gelang resiko jatuh dan dilakukan pengawasan sistim respirasi dan monitoring kadar oksigen dalam darah dengan Pulse Oxymetri. o Bila terjadi efek samping (apneu dan/atau bradikardi hipoksemi, prolonged sedation dan/atau takipneu,mual, muntah, distensi perut, gelisah, sakit kepala, iritasi kulit, Steven Johnson sindrom, gangguan jantung berat, OSA, ketonuria) akibat pemberian sedasi, dilakukan tatalaksana yang sesuai. o Setelah pemeriksaan OAE selesai, pasien harus diobservasi tanda-tanda vital dan kesadarannya sebelum diperbolehkan pulang. o Untuk pasien dengan risiko penularan penyakit misalnya pasien HIV, prosedur dilakukan sesuai dengan prosedur POKJA AIDS. o Pada era pandemi Covid-19 saat ini, prosedur dilakukan sesuai protokol kesehatan Covid - 19. Jumlah frekuensi yang diperiksa: Pemeriksaan OAE untuk skrining digunakan 4 frekuensi Pemeriksaan OAE diagnostik digunakan 6 frekuensi, termasuk frekuensi tinggi Pemeriksaan OAE untuk tujuan monitoring pemakaian obat ototoksik atau paparan bisisng diperiksa 12 frekuensi (protokol ototoksik) Interpretasi hasil pemeriksaan OAE oleh Dokter Spesialis THT. Pemeriksaan dapat dilakukan oleh dokter THT, Audiologis, dokter spelialis anak, perawat dan bidan yang terlatih.
Modul IX.4.2 ± Oto Acoustic Emmision (OAE) 11 Kriteria pass (lulus) dan refer (tidak lulus). Hasil pass atau refer pada pemeriksaan OAE akan ditampilkan secara otomatis. Namun bila diperlukan konfirmasi atau diteliti masing-masing frekuensi dapat dilakukan penilaian berdasarkan SNR (Signal-to-Noise Ratio) tiap frekuensi o Pemeriksaan OAE dengan 4 Frekuensi, dikatakan - Pass: 3 dari 4 frekuensi yang diperiksa memiliki rasio SNR  - Refer: 3 dari 4 frekuensi yang diperiksa memiliki nilai rasio SNR <6 o Pemeriksaan OAE dengan 6 frekuensi, dikatakan - Pass  GDUL  IUHNXHQVL \DQJ GLSHULNVD PHPLOLNL QLODL UDVLR 615   - Refer: 4 dari 6 frekuensi yang diperiksa memiliki nilai rasio SNR < 6 PERSIAPAN PEMERIKSAAN OAE Persiapan Ruangan Pemeriksaan OAE dilakukan di ruang yang tenang (sound treated), tidak perlu ruang kedap suara (sound proof). Ruang tersebut tidak dipengaruhi oleh medan magnet (tidak berdekatan dengan ruangan pemeriksaan CT Scan atau MRI. Tabung O2, pompa penghisap (suction), dan emergency kit tersedia. Persiapan Alat Gunakan alat OAE yang secara rutin dikalibrasi Sebelum dilakukan pemeriksaan OAE beberapa hal yang harus diperhatikan; Pastikan liang telinga bersih tidak terdapat kotoran dengan melakukan otoskopi Pilih insert probe untuk transduser yang sesuai dengan ukuran liang telinga. Lubang probe tidak tersumbat kotoran. Tidak terdapat noise (internal dan eksternal). Persiapan pasien Anak harus dalam keadaan sehat (tidak sedang batuk dan pilek). Keluarga pasien telah mendapat penjelasan tentang maksud,tujuan dan prosedur pemeriksaan OAE, dan telah mengisi dan menandatangani informed consent (khusus pasien yang menggunakan obat sedasi). Untuk pasLHQ EHUXVLD   EXODn atau yang tidak koperatif, pemeriksaan OAE dilakukan dengan pemberian sedasi (kloralhidrat 50 ± 75 mg/KgBB, dosis maks 1800 mg). Pasien agar tidak tidur dalam perjalanan menuju tempat pemeriksaan.
Modul IX.4.2 ± Oto Acoustic Emmision (OAE) 12 Selama dibawah pengaruh obat sedasi, pasien menggunakan gelang Risiko Jatuh dan Pulse Oximetry. Bila terjadi efek samping obat (apneu dan/atau bradikardi hipoksemi, prolonged sedation dan/atau takipneu,mual, muntah, distensi perut, gelisah, sakit kepala, iritasi kulit, Steven Johnson sindrom, gangguan jantung berat, OSA, ketonuria), lakukan tatalaksana sesuai dengan efek samping yang terjadi. Dilakukan pemeriksaan otoskopi untuk mengetahui kondisi liang telinga dan membran timpani Untuk pemeriksaan OAE diagnostik perlu dilakukan pemeriksaan Timpanometri untuk memastikan tidak ada kelainan telinga tengah. Khusus untuk bayi usia dibawah 6 bulan sebaiknya menggunakan timpanometri frekuensi tinggi (1000 Hz) karena pada usia tersebut liang telinga cenderung kolaps. Bila ada kelainan telinga luar maupun telinga tengah sebaiknya dilakukan terapi terlebih dahulu dan dianjurkan untuk kembali kontrol dan menjalankan pemeriksaan lebih lanjut sesuai yang direncanakan. Pada bayi gangguan pendengaran sebesar 30 dBHL atau lebih pada frekuensi bicara (500 sampai 4000 Hz) dapat mengganggu perkembangan wicara dan bahasa, pemeriksaan pendengaran yang digunakan harus mampu mendeteksi gangguan pendengaran pada ambang pendengaran tersebut pada bayi kurang dari 3 bulan. Saat ini untuk penilaian fungsi pendengaran bayi baru lahir, pemeriksaan pendengaran fisiologis berupa kombinasi OAE dan ABR otomatis dianggap dapat memenuhi ketentuan tersebut. Ambang pendengaran yang terdeteksi dengan AABR sedikit lebih tinggi (40 - 45 dB HL) dibandingkan dengan OAE (30 - 35 dB HL), sehingga gangguan pendengaran ringan (25 - 40 dB HL) tidak terdeteksi pada skrining pendengaran dengan AABR. Sebaliknya,pemeriksaan OAE saja tidak dapat mendeteksi kasus Auditory neuropathy spectrum disorder (ANSD). Sebaiknya skrining pendengaran pada bayi dimulai dengan pemeriksaan OAE terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan ABR otomatis. Pada sejumlah bayi baru lahir yang telah lulus skrining pendengaran (OAE pass), beberapa bulan kemudian pada saat dilakukan evaluasi atau follow up ternyata baru
Modul IX.4.2 ± Oto Acoustic Emmision (OAE) 13 diketahui mengalami gangguan pendengaran. Hal ini dapat dijelaskan bahwa bayi dimaksud mengalami gangguan pendengaran delayed onset atau gangguan pendengaran progresif. Perlu dipertimbangkan bahwa baik teknologi skrining OAE maupun BERA automatis atau Automated ABR (AABR) dapat gagal mengidentifikasi gangguan pendengaran karena hasil skriningnya adalah false negative (negatif palsu), terjadi pada bayi dengan ambang pendengaran borderline atau derajat ringan maupun suatu bentuk gangguan pendengaran yang hanya terjadi pada frekuensi rendah tertentu ( isolated low frequency) misalnya pada 1.000 Hz atau gangguan pendengaran nada tinggi dengan kurva audiogram yang steeply sloping. H. MATERI PRESENTASI Slide 1 Judul OTO ACOUSTIC EMMISION (OAE) Slide 2 & 3 Latar Belakang Slide 4 Definisi OAE Slide 5 & 6 Manfaat Pemeriksaan OAE Slide 7 Indikasi Pemeriksaan OAE Slide 8 Jenis OAE Slide 9 Transient Evoked OAE (TEOAE) Slide 10 Distortion Product OAE Slide 11 Perbedaan Penting antara TEAOE dengan DPOAE Slide 12 & 13 Pemeriksaan OAE Slide 14 Penggunaan OAE Pada Skrining Pendengaran Bayi Baru Lahir Slide 15 Penggunaan OAE Pada Skrining Pekerja Industri Slide 16 Penggunaan OAE Pada Kasus Neuropati Auditorik Slide 17 Kondisi yang mempengaruhi pemeriksaan OAE Slide 18 & 19 Prosedur Pemeriksaan OAE Slide 20 Jumlah Frekuensi yang diperiksa Slide 21 Kriteria Pass ( Lulus & Refer (Tidak Lulus) Slide 22 - 26 Persiapan Pemeriksaan OAE Slide 27-28 Evaluasi Slide 29 Referensi
Modul IX.4.2 ± Oto Acoustic Emmision (OAE) 14 I. EVALUASI Evaluasi hasil pendidikan ditentukan berdasarkan proses dan hasil pembelajaran. Untuk dapat dievaluasi, peserta pelatihan kompetensi tambahan harus memenuhi persyaratan kehadiran sebanyak minimum 90 %. Hasil akhir akan diserahkan kepada KODI THT KOMUNITAS dan Kolegium THT-KL berupa dua nilai yaitu, PENGETAHUAN dan KETERAMPILAN. Nilai PENGETAHUAN terdiri dari: 1. Evaluasi Formatif: dilakukan selama masa pelatihan secara berkesinambungan, dan pembimbing diwajibkan memberikan umpan balik (feedback) pada proses pembelajaran. 2. Evaluasi Sumatif: dilakukan paalisme, patient safety, komunikasi, kerja sama dalam keseharian penilaian dapat menggunakan penilaian 360°. 3. Sikap dan Perilaku: dilakukan penilaian sikap dan perilaku (etika terhadap pasien, staf pendidik, teman sejawat, paramedis dan non paramedis), profesionalisme, patient safety, komunikasi, kerja sama dalam keseharian penilaian dapat menggunakan penilaian 360 0 Nilai KETERAMPILAN diperoleh dari Logbook dan DOPS (Direct Observation J. REFERENSI 1. Hall III JW. Handbook of Otoacoustic Emission. Singular Publishing Group.2000 TUJUAN PEMBELAJARAN METODA PENILAIAN Mengetahui anatomi, fisiologi dan patofisiologi Koklea Ujian tulis Pre - post Mengetahui faktor penyebab kerusakan koklea Ujian tulis Pre - post Mampu mengetahui peranan pemeriksaan OAE terhadap risiko gangguan pendengaran DOPS Mengetahui persiapan THT (pasien) untuk dilakukan pemeriksaan OAE DOPS Mampu melakukan pemilihan pemeriksaan OAE dan persiapan peralatan seblum melakukan pemeriksaan DOPS Mampu melakukan intepresikan hasil OAE yang didapatkan Procedural Skill) saat ujian keterampilan.
Modul IX.4.2 ± Oto Acoustic Emmision (OAE) 15 2. Katz J. Handbook of Clinical Audiology.5 th ed. Lippincott Williams & Wilkins. 2002 3. Ronny Suwento, Semiramis Zizlavsky, Hendarto Hendarmin. Gangguan Pendengaran Pada Bayi dan Anak. Dalam; Soepardi E, Iskandar N. Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT. Edisi 6. Balai Penerbit FKUI,2007. 4. Hall III JW. Audiologists Desk Refference vol I. Singular Publishing Group, 1997 5. .HPS 7ZHQW\ )LYH <HDUV RI 2$(¶V (17 1HZV 9RO  1XPEHU   6. Sininger Y, Starr A. Auditory Neuropathy: A New perspective on hearing disorder. Singular Publishing Group, 2001. 7. Join Committee on Infant Hearing. Position Statemen. 1994 8. The Jounal of Early Hearing Detection and Intervention. Year 2019 Position Statement: Principles and Guidelines for Early Hearing Detection and Intervention Programs. The Joint Committee on Infant Hearing. 2019; 4(2): 1- 44.
MODUL UTAMA THT KOMUNITAS PEMERIKSAAN PEDIATRIK AUDIOLOGI KOMPREHENSIF MODUL IX.4.3 BRAINSTEM EVOKED RESPONSE AUDIOMETRY (BERA) EDISI III KOLEGIUM ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER 2022
DAFTAR ISI A. INFORMASI UMUM .............................................................................................. 1 B. TUJUAN................................................................................................................... 1 C. KOMPETENSI ......................................................................................................... 2 D. METODE PEMBELAJARAN ................................................................................. 3 E. SARANA DAN ALAT BANTU.............................................................................. 4 F. MATERI BAKU ...................................................................................................... 5 G. MATERI PRESENTASI ........................................................................................ 11 H. EVALUASI ............................................................................................................ 11 I. REFERENSI ........................................................................................................... 12
Modul IX.4.3 ± Brainstem Evoked Response Audiometry (BERA) 1 MODUL IX.4.3 THT KOMUNITAS ± PEMERIKSAAN PEDIATRIK AUDIOLOGI KOMPREHENSIF : BRAINSTEM EVOKED RESPONSE AUDIOMETRY (BERA) A. INFORMASI UMUM 1. Nama Program Studi/Jenjang : THT KL/Sp-1 2. Divisi : THT Komunitas 3. Nama Modul : Pediatric Audiology 4. Nama Sub Modul : Brainstem Evoked Response Audiometry (Bera) 5. Waktu : 6 Bulan 6. SKS : 12 SKS B. TUJUAN Proses, materi dan metode pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan ketrampilan yang diperlukan untuk mengetahui pemeriksaan BERA, yaitu: 1. Menjelaskan prinsip dasar pemeriksaan BERA yang meliputi definisi, pengertian Auditory evoked potential, neural generator, neural synchrony. 2. Menjelaskan / melakukan pemeriksaan/protokol/parameter BERA hantaran udara (Click/Chirps/ToneBurst) dan BERA hantaran tulang (Bone Conduction). 3. Menjelaskan tujuan dan indikasi pemeriksaan. BERA skrining dan diagnostik. 4. Menjelaskan prinsip dasar perekaman evoked potential gelombang BERA termasuk tes kondisi lingkungan dan persiapan pasien sebelum pemeriksaan. 5. Menjelaskan strategi analisis dan interpretasi hasil pemeriksaan BERA termasuk karakteristik gelombang normal BERA dan mengenal nilai normal pada beberapa kondisi tertentu. 6. Menjelaskan makna frekuensi spesifik. pada pemeriksaan BERA. 7. Menjelaskan perbedaan jenis jenis pemeriksaan BERA.
Modul IX.4.3 ± Brainstem Evoked Response Audiometry (BERA) 2 8. Menjelaskan / melakukan pemeriksaan/protokol/parameter BERA hantaran udara (Click/Chirps/Tone Burst) dan Hantaran Tulang (Bone Conduction) C. KOMPETENSI 1. Pengetahuan Memahami manfaat, aplikasi klinis, prinsip kerja, indikasi pemeriksaan, prosedur pemeriksaan (protokol), parameter berbagai jenis BERA hantaran udara (Click/Chirps/ Tone Burst), BERA hantaran tulang serta interpretasinya baik pada bayi dan anak. 2. Keterampilan Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan: a. Mampu menjelaskan prinsip dasar pengukuran BERA. b. Mampu melakukan persiapan pemeriksaan BERA (lingkungan, alat, pasien). c. Mampu menjelaskan/parameter pemeriksaan BERA hantaran udara (Click/Chirps/Tone Burst) dan atau hantaran tulang (Bone Conduction). d. Mampu menjelaskan aplikasi klinis, indikasi dan manfaat lain pemeriksaan BERA Skrining, BERA hantaran udara dan hantaran tulang. e. Mampu menjelaskan hasil pemeriksaan BERA berdasarkan morfologi gelombang, amplitudo, masa laten. f. Mampu menjelaskan kegunaan pemeriksaan lanjutan seperti Behavioral Test dan ASSR. 3. Sikap dan perilaku Setelah mengikuti modul ini diharapkan peserta pelatihan/ pendidikan Sp-1 mampu menjaga etika terhadap pasien/keluarga pasien, staf pendidik, kolega, paramedik dan non paramedik. Disiplin dan bertanggung jawab, serta taat dalam pengisian dokumen medik, tugas serta pedoman penggunaan. obat dan pemilihan alat bantu dengar. Peserta didik dapat berkomunikasi serta jujur dan terbuka, bekerjasama dalam tim, serta menjunjung tinggi patient safety. Lingkup bahasan materi untuk memenuhi kompetensi sikap dan perilaku adalah: - Materi JCI (code of conduct).
Modul IX.4.3 ± Brainstem Evoked Response Audiometry (BERA) 3 - Keselamatan pasien. D. METODE PEMBELAJARAN Tujuan 1. Menjelaskan definisi dan prinsip dasar pemeriksaan BERA. Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Interactive lecture x Small group discussion. x Case study Tujuan 2. Menjelaskan/ Melakukan pemeriksaan BERA dan pemasangan elektroda Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Interactive lecture x Journal reading and review. x Case study x Small group discussion x Demonstration and Coaching Harus diketahui : x Pemasangan elektroda x Tahapan prosedur pemeriksaan BERA Tujuan 3. Menjelaskan indikasi pemeriksaan BERA skrining dan diagnostik. Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Interactive lecture x Journal reading and review. x Case study. Tujuan 4. Menjelaskan prinsip dasar perekaman evoked potential gelombang BERA Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Interactive lecture x Journal reading and review. x Case study
Modul IX.4.3 ± Brainstem Evoked Response Audiometry (BERA) 4 Tujuan 5. Menjelaskan strategi analisis dan interpretasi hasil pemeriksaan BERA. Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Interactive lecture x Journal reading and review. x Bedside teaching x Case simulation and investigation exercise. x Equipment characteristics and operating instructions. Tujuan 6. Menjelaskan makna frekuensi spesifik. pada pemeriksaan BERA. Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Interactive lecture x Journal reading and review. x Case study x Demonstration and Coaching Tujuan 7. Menjelaskan perbedaan jenis jenis pemeriksaan BERA (hantaran udara dan tulang) Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Interactive lecture x Journal reading and review. x Case study x Demonstration and Coaching x Practice with Real Clients E. SARANA DAN ALAT BANTU a. Penuntun belajar (learning guide) Text book b. Audiovisual tentang tehnik/protokol pemeriksaa BERA c. Tempat belajar (training setting): poliklinik THT, ruang kuliah (via zoom) d. Hardware dan software untuk Alat Bantu Dengar e. Hardware dan software untuk pemeriksaan BERA hantaran udara ( Click/Chirps/Tone Burst ), BERA hantaran tulang, ASSR f. Menganalisa dan menginterpretasi hasil pemeriksaan BERA (Click/Chirps/Tone Burst), BERA hantaran tulang & ASSR
Modul IX.4.3 ± Brainstem Evoked Response Audiometry (BERA) 5 F. MATERI BAKU Brainstem Evoked Response Audiometry (BERA) Istilah lain:Auditory Brainstem Response (ABR), Brainstem Auditory Evoked Potentials (BAEP), Brainstem Auditory Evoked Response (BAER) BERA: Respon listrik dari sistim saraf (n VIII dan batang otak) sebagai reaksi terhadap stimulus (akustik) dari luar. Respons berupa potensial listrik di otak dapat direkam melalui elektroda permukaan yang terpasang pada kulit kepala. Gambaran BERA berupa 5 gelombang defleksi positif (gelombang Jewett) dengan karakteristik dan amplitudo berbeda, yang terjadi sekitar 2 ± 12 ms setelah stimulus diberikan. Pemeriksaan BERA adalah suatu pemeriksaan elektrofisiologik yang obyektif, non invasif untuk menilai respons sistim auditorik ± termasuk batang otak- terhadap bunyi yang kita dengar, sehingga kita dapat mengetahui ambang pendengaran maupun letak lesi pada sistim auditork tsb. Awalnya pemeriksaan ini ditujukan pada kasus kasus yang sulit diperiksa misalnya pada bayi dan anak karena pertimbangan belum dapat dinilai kemampuan auditoriknya dengan tes behavioral (sesuai usia pasien). Pemeriksaan BERA sudah sedemikian luasnya saat ini karena juga dimanfaatkan untuk skrining pendengaran pada bayi baru lahir .American Joint Committee on Infant Hearing (2000) telah menetapkan pemeriksaan BERA sebagai salah satu baku emas pemeriksaan Universal Newborn Hearing Screening (UNHS), disamping pemeriksaan Oto Acoustic Emission (OAE). Demikian luasnya aplikasi pemeriksaan BERA sehngga dipandang perlu untuk membedakan pemeriksaan BERA pada bayi/ anak dengan dewasa karena faktor faktor maturitas maupun nilai normal yang berbeda dari kedua kelompok usia tersebut. Sebelum tahun 2003 di Indonesia hanya dikenal pemeriksaan BERA dengan stimulus click dengan segala keterbatasannya. Namun untuk kepentingan diagnostik dan habilitasi yang lebih akurat diperlukan jenis pemeriksaan BERA lainnya sehingga kita bisa memperoleh informasi ambang pendengaran yang bersifat frekuensi spesifik ( diketahui ambang masing masing frekuensi) sehingga dapat). Sejak saat itu kita mulai memanfaatkan pemeriksaan
Modul IX.4.3 ± Brainstem Evoked Response Audiometry (BERA) 6 BERA dengan stimulus toneburst, bahkan belakangan ini kita juga mulai terbiasa dengan pemeriksaan elektrofisiologik dengan stimulus mixed modulation pada pemeriksaan Auditory Steady State Response (ASSR) sehingga kita bisa menghemat waktu pemeriksaan. Pada saat yang sama kita juga telah mengenal pemeriksaan BERA hantaran tulang ( Bone Conduction ABR) sehingga kita dapat memeriksa fungsi pendengaran kasus atresia liang telinga dengan lebih baik disamping informasi tentang hantaran tulang secara lebih obyektif. Kegiatan skrining pendengaran pada bayi juga menjadi lebih mudah setelah kita mengenal pemeriksaan BERA Otomatis (Automated ABR) yang interpretasinya sedemikian mudahnya. Sampai dengan akhir tahun 2007, pemeriksaan BERA telah dapat dilakukan pada 16 kota di Indonesia. Poliklinik Departemen THT KL RSCM divisi THT Komunitas melakukan pemeriksaan BERA (Click/Tone Burst/ASSR) sejumlah 4058 selama 5 tahun periode 2016-2020. Dalam satu tahun terakhir ini 2020 tercatat 552 pasien (Tabel 1. Jumlah Pemeriksaan Audiologi Anak di Poliklinik Divisi THT Komunitas), Sedangkan jumlah pasien dan jumlah kasus tuli sensorineural pada periode yang sama dapat dilihat pada (Tabel 2. Jumlah Pasien dan Jumlah Kasus Tuli Sensorineural di Poliklinik Divisi THT Komunitas) Jumlah peserta yang pernah magang di divisi THT Komunitas departemen THT KL RSCM, yang terdiri dari dokter spesialis THT, dokter spesialis Anak, dokter spesialis Okupasi dan perawat Tabel 1. Jumlah Pemeriksaan Audiologi Anak di Poliklinik Divisi THT Komunitas
Modul IX.4.3 ± Brainstem Evoked Response Audiometry (BERA) 7 Tabel 2. Jumlah Pasien dan Jumlah Kasus Tuli Sensorineural di Poliklinik Divisi THT Komunitas NEURAL SYNCHRONY Perekaman respons BERA terjadi bersamaan dengan aktifitas listrik dari beberapa generator/ unit saraf lain (syncronous discharge) sehingga diperoleh gelombang dengan amplitudo kecil.untuk merekam beberapa generator secara simultan ( synchronous neural discharge) perlu stimulus electrical pulse yaitu Click (stimulus dengan onset tiba tiba dan cepat pada spektrum frekuensi yang cukup luas ). Pulsasi listrik tersebut (Click) akan menstimulasi semua bagian koklea secara simultan sehingga diperoleh respon neuron saraf dalam jumlah besar secara bersamaan yang disebut sebagai Neural synchrony. Dengan jumlah discharge neuron dari beberapa tempat secara bersamaan akan dihasilkan gelombang BERA dengan amplitudo yang besar. Jenis stimulus dgn onset cepat dan tiba tiba diperlukan pada pemeriksaan BERA. Stimulus yang lambat tidak menghasilkan respon yang baik dari sejumlah besar neuron dalam waktu singkat NEURAL GENERATOR Dengan stimlus onset cepat (Click/Tone Burst), pada bagian tertentu jaras auditorik sampai dengan batang otak akan terjadi bangkitan (evoked) potensial listrik . Lokasi spesifik tersebut dikenal sebagai neural generator masing masing gelombang BERA; yang terdiri dari Gelombang I : bagian distal n. VIII
Modul IX.4.3 ± Brainstem Evoked Response Audiometry (BERA) 8 Gelombang II : bagian proksimal n. VIII Gelombang III : (neuron) nucleus Cochlearis Gelombang IV : (neuron) komplek Olivarius superior Gelombang V : Lemniskus lateralis dan Coliculus inferior Dengan penilaian dan analisis pola respons dan menghitung masa laten suatu gelombang BERA dapat diperkirakan dari neural generator mana respons berasal. Gambar 1. Skema Neural Generator masing masing Gelombang BERA APLIKASI KLINIS x Audiometri objektif x Skrining pendengaran ( bayi) x Menilai patologi retrokohlear x Pasien yang tidak koperatif x Monitoring intra operatif x Evaluasi perkembangan batang otak PROSEDUR PEMERIKSAAN BERA x Pemeriksaan BERA dilakukan di poliklinik, Instalasi Bedah Pusat (IBP), PICU/NICU. x Pemeriksa harus menjelaskan kepada pasien dan keluarga pasien tentang prosedur yang akan dilakukan. x Pasien atau keluarga pasien memberikan persetujuan tertulis dengan mengisi dan menandatangani informed consent x Sebelum memulai tindakan, pasien diharuskan menyelesaikan administrasi terlebih dahulu x Setiap pemeriksaan BERA harus didokumentasikan x 8QWXN SDVLHQ EHUXVLD   EXODQ DWDX SDVLHQ \DQJ WLGDN NRSHUDWLI pemeriksaan dilakukan dengan sedasi kloralhidrat atau obat sedasi lainnya sesuai dosis. x Bila pemberian sedasi oral tidak berhasil, atau dengan dosis maksimal 1800 mg atau pasien dengan keadaan khusus (ancaman terhadap jalan
Modul IX.4.3 ± Brainstem Evoked Response Audiometry (BERA) 9 napas), atau pasien dengan tindakan tambahan khusus (pemasangan pipa ventilasi), pemeriksaan dilakukan dengan bius umum di IBP (Instalasi Bedah Pusat) oleh KSM Anestesiologi & Terapi Intensif. Beberapa hari sebelumnya pasien dikonsultasikan ke Departemen terkait (Anestesi, Ilmu Kesehatan Anak). x Pasien yang mendapat obat sedasi harus dalam keadaan sehat, tidak sedang batuk, pilek, diare, demam, riwayat alergi atau ada kontraindikasi lainnya x Bila terjadi efek samping (apneu dan/atau bradikardi hipoksemi, prolonged sedation dan/atau takipneu,mual, muntah, distensi perut, gelisah, sakit kepala, iritasi kulit, Steven Johnson sindrom, gangguan jantung berat, OSA, ketonuria) akibat pemberian sedasi, dilakukan tindakan yang sesuai. x Untuk pasien dengan risiko penularan penyakit yang tinggi misalnya pasien HIV, prosedur dilakukan sesuai dengan prosedur POKJA AIDS. x Dalam pandemi, disesuaikan dengan protokol kesehatan pandemi. x Interpretasi hasil pemeriksaan BERA oleh Dokter Spesialis THT. PERSIAPAN PEMERIKSAAN BERA Agar diperoleh gambaran gelombang BERA yang baik diperlukan persiapan dan pengetahuan yang baik tentang hal hal yang akan mengganggu pemeriksaan. Persiapan yang kurang baik menyebabkan kondisi perekaman yang tidak optimal sehingga gelombang sulit dinilai karena besarnya artefak dan waktu pemeriksaan yang lebih lama. Hal yang paling mengganggu proses perekaman adalah noise, baik berupa noise internal maupun eksternal Noise internal terjadi akibat gerakan tubuh pasien, kerja organ jantung dan pernapasan maupun kontraksi otot otot wajah. Pemberian sedasi ringan onset cepat sangat membantu dalam mengurangi noise internal, sedangkan noise eksternal dipengaruhi oleh kondisi di sekitar pasien, termasuk gelombang radiomagnetik.
Modul IX.4.3 ± Brainstem Evoked Response Audiometry (BERA) 10 Persiapan ruangan x Pemeriksaan BERA dilakukan di ruang yang tenang (40dB), tidak dipengaruhi medan magnet (tidak berdekatan dengan ruangan pemeriksaan CT Scan atau MRI). x Ruangan jangan terlalu terang dan hindari pemakaian lampu TL/neon (fluorecent). Ruangan sebaiknya menggunakan AC ( agar pasien tidur lebih tenang dan nyenyak). x Tabung O2, pompa penghisap (suction), dan emergency kit tersedia tidak jauh dari ruang pemeriksaan BERA Persiapan pasien x Keluarga pasien telah diberikan penjelasan tentang segala hal yang berhubungan dengan pemeriksaan BERA mengenai tujuan dan maksud pemeriksaan (dalam format form edukasi), dan bila mendapat obat sedasi telah mengisi form informed consent x Pasien dipesankan keramas sebelum datang untuk diperiksa, Pasien agar tidak tidur dalam perjalanan menunju tempat pemeriksaan. x Untuk bayi berusia kurang dari 3 bulan dapat dilakukan pemeriksaan tanpa obat sedasi, sedangkan pada bayi diatas usia 3 bulan sebaiknya diberikan sedasi Dalam pemberian sedasi dengan dosis 50-75mg/kgBB (kloralhidrat). Perlu diperhatikan agar pasien tidak sedang pilek batuk, diare atau demam. x Selama dibawah pengaruh obat sedasi, pasien menggunakan gelang Risiko Jatuh dan Pulse Oximetry x Bila pemberian sedasi oral gagal sebanyak 2 kali, maka pemeriksaan dilakukan dengan narkose umum. Persiapan Alat. x Gunakan alat BERA yang secara rutin dikalibrasi. x Pastikan mesin BERA, komputer dan tempat tidur telah dibumikan (grounding) dengan baik. x Periksa kabel penghubung elektroda dan transduser dalam keadaan terhubung baik. x Siapkan elektroda pad ( disposable) dengan daya rekat baik.
Modul IX.4.3 ± Brainstem Evoked Response Audiometry (BERA) 11 x Pilih probe tip untuk transduser yang sesuai diameter liang telinga dan pastikan transduser dapat mengeluarkan stimulus bunyi ( tidak tersumbat). 8QWXN ED\L   EXODQ SLOLK probe tip jenis tree tip x Perlu dipersiapkan alat-alat Life Safing seperti tabung oksigen, suction, emergency kit G. MATERI PRESENTASI Slide 1 Judul Brainstem Evoked Response Audiometry (BERA) Slide 2 Definisi BERA Slide 3 & 4 Pemeriksaan BERA Slide 5 Jumlah Pemeriksaan Audiologi Anak di Poliklinik Divisi THT Komunitas Slide 6 Jumlah Pasien dan Jumlah Kasus Tuli Sensorineural di Poliklinik Divisi THT Komunitas Slide 7 Aplikasi Klinis Slide 8 & 9 Prosedur Pemeriksaan BERA Slide 10 Persiapan BERA Slide 11 Evaluasi Slide 12 -17 Protokol BERA Hantaran Udara dengan stimulus Click Slide 18 ± 22 Protokol BERA Hantaran Tulang dengan Stimulus Click Slide 23-26 Protokol BERA frekuensi spesifik dengan stimulus Tone Burst H. EVALUASI Evaluasi hasil pendidikan ditentukan berdasarkan proses dan hasil pembelajaran. Untuk dapat dievaluasi, peserta pelatihan kompetensi tambahan harus memenuhi persyaratan kehadiran sebanyak mimimum 90%. Hasil akhir akan diserahkan kepada KODI THT KOMUNITAS dan Kolegium THT-KL berupa dua nilai yaitu, PENGETAHUAN dan KETERAMPILAN
Modul IX.4.3 ± Brainstem Evoked Response Audiometry (BERA) 12 Nilai PENGETAHUAN terdiri dari: 1. Evaluasi Formatif: dilakukan selama masa pelatihan secara berkesinambungan, dan pembimbing diwajibkan memberikan umpan balik (feedback) pada pross pembelajaran. 2. Evaluasi Sumatif: dilakukan pada akhir tahapan pelatihan, bertujuan untuk menilai tercapainya seluruh kompetensi yang diharapkan di modul kompetensi tambahan otologi. 3. Sikap dan Perilaku: dilakukan penilaian sikap dan perilaku (etika terhadap pasien, staf pendidik, teman sejawat, paramedis dan non paramedis), profesionalisme, patient safety, komunikasi, kerja sama dalam keseharian penilaian dapat menggunakan penilaian 360 0 . Nilai modul KETERAMPILAN diperoleh dari Logbook dan DOPS saat ujian keterampilan. I. REFERENSI 1. Sutton G, Lightfoot G, Stevens J. March 2013. NHPS Clinical Group. Guidance for Auditory Brainstem Response testing in babies V2.1. Dalam NEWBORN HEARING SCREENING AND ASSESSMENT. NHS Antenatal and Newborn Screening Programmes.. March 2013. 2. Katz J. Handbook of Clinical Audiology / editor-in-chief.2015. Sevent Edition.Wolters Kluwer Health. Lippincott Williams & Wilkins. Philadelphia. USA 3. James W Hall. 2017. Update on Auditory Evoked Responses: Evidence-Base ABR Protocol for Infant Hearing Assessment. 4. Valenzuela D, Kumar D, Atkins C, Kozak F, Chadha N. February 2016. Chloral hydrate sedation for auditory brainstem response (ABR) testing in children: Safety and effectiveness. International Journal of Pediatric OtorhinolaryngoIogy 82 (2016). 5. Joint Committe on Infant Hearing. 2007. Year 2007 Position Statement: Principles and Guidkines for Early Hearing Detection and Intervention. American Academy of Pediatrics. 6. Hood L.J. Clinical Applications of The Auditory Brainstem Response.Singular Publishing Group,Inc. San diego, London. 1998. 7. Sirlan F, Suwento R. Hasil Survei Kesehatan Indera Penglihatan dan Pendengaran (1993 -1996). Depkes RI, 1997. 8. Ronny Suwento, Semiramis Zizlavsky. Habilitasi dan Rehabilitasi Pendengaran. Dalam; Soepardi E, Iskandar N. Buku Ajar Ilmu Penyakit THT. Edisi 6. Balai Penerbit FKUI,2007 9. Hall J.W. Audiology Desk Reference. Vol 1. Singular, Thomson Learning,1997
Modul IX.4.3 ± Brainstem Evoked Response Audiometry (BERA) 13 LAMPIRAN PARAMETER BERA I. Protokol BERA Hantaran Udara dengan stimulus Click Stimulus Parameters Pilihan Rasional/komen 1. Transducer Insert earphone Ada banyak alasan baik untuk secara rutin menggunakan earphone sisipan untuk merekam BERA 2. Type Click atau Chirp Click Stimulus klik yang sangat transien efektif dalam menghasilkan aktivitas saraf sinkron yang mendasari BERA. Stimulasi klik biasanya menghasilkan BERA dengan semua gelombang utama memungkinkan kalkulasi latensi antar gelombang. Amplitudo BERA untuk chirp secara signifikan lebih besar daripada amplitudo untuk BERA yang ditimbulkan dengan stimulasi klik konvensional 3. Mode Monoaural BERA hampir selalu muncul dengan stimulasi telinga kanan dan kiri secara terpisah untuk informasi khusus telinga tentang fungsi pendengaran. Stimulasi binaural dimungkinkan. Ada banyak literatur tentang BERA yang diperoleh dengan stimulasi binaural 4. Duration 0,1 ms (100 s) Stimulus klik yang sangat singkat efektif dalam mengaktifkan BERA tetapi spektrum akustik yang luas tidak memberikan informasi frekuensi spesifik tentang sensitivitas pendengaran 5. Polaritas (Polarity) Penjernihan (Rarefraction) atau variabel Stimulasi polaritas penjernihan biasanya menghasilkan BERA dengan amplitudo yang lebih besar dan latensi yang sedikit lebih pendek daripada stimulasi kondensasi. BERA harus dicatat dengan stimulus penghalusan dan kondensasi dalam penilaian awal bayi dan anak untuk menyingkirkan gangguan spektrum neuropati auditori (ANSD). 6. Kecepatan (Rate) 21.1/detik Kecepatan stimulus antara 20 dan 25 per detik umumnya menghasilkan BERA yang terbentuk dengan cukup cepat dengan semua gelombang utama termasuk gelombang I. Angka ganjil paling tidak mungkin berinteraksi dengan artefak froelektrik dari sebagian besar jalur, seperti gangguan saluran listrik 50 atau 60 Hz dan
Modul IX.4.3 ± Brainstem Evoked Response Audiometry (BERA) 14 Stimulus Parameters Pilihan Rasional/komen harmoni nya. Tingkat stimulus yang sangat cepat > 90/detik dapat berkontribusi pada identifikasi disfungsi saraf pendengaran 7. Intensitas (Intensity) 8. Ramping Bervariasi dalam dB nHL Blackman Tingkat intensitas klik tinggi 80 hingga 95 dB nHL sering digunakan dalam perekaman BERA untuk tujuan diagnostik dengan tujuan menghasilkan gelombang I, III, dan V yang jelas. BERA untuk stimulasi klik pada 20 dB nHL konsisten dengan sensitivitas pendengaran normal untuk setidaknya beberapa frekuensi di wilayah 1000 hingga 4000 Hz. 0 dB nHL adalah level di mana orang dengan ambang pendengaran normal dapat mendeteksi stimulus klik. Penjalaran Blackman atau teknik windowing dapat mengurangi percikan spektral dan meningkatkan spesifisitas frekuensi stimulasi Tone Burst. 9. Pengulangan (Repetations) bervariasi Keputusan tentang jumlah pengulangan stimulus (sapuan) yang tepat didasarkan pada berapa banyak atau sedikit yang diperlukan selama perekaman BERA untuk menghasilkan rasio signal-to-noise (SNR) yang memadai untuk deteksi gelombang V baik secara visual maupun dengan algoritma statistik. Secara umum SNR (BERA ke bising residu) yang memadai adalah 3: 1. Biasanya sekitar 500 sampai 2000 sapuan sudah cukup. Lebih banyak sapuan diperlukan pada tingkat intensitas yang lebih rendah di mana amplitudo BERA menurun. Jumlah kebisingan yang ditemui selama skrining BERA merupakan faktor utama yang mempengaruhi SNR dan jumlah presentasi stimulus minimum yang dapat diterima 10. Masking (non- test ear) Bervariasi Kehadiran gelombang I yang jelas dalam BERA yang ditimbulkan dengan stimulasi konduksi udara menegaskan bahwa respon pada telinga spesifik dan tidak diperlukan masking. Jika gelombang I tidak teridentifikasi dan latensi gelombang V tertunda, maka masking pada telinga yang tidak diperiksa diindikasikan. Panduan
Modul IX.4.3 ± Brainstem Evoked Response Audiometry (BERA) 15 Parameter Akuisisi A. Elektroda 1. Non-inverting Fz Lokasi puncak dahi (Fz) lebih baik daripada lokasi verteks (Cz) pada bayi. Lokasi non-pembalik pada telinga kontralateral dan susunan elektroda horizontal (Ac-Ai) berguna untuk merekam BERA ketika ada artefak listrik yang berlebihan dengan susunan elektroda Fz-Ai yang khas 2. Inverting Ai Lokasi elektroda daun telinga (Ai) optimal dalam banyak kasus meskipun elektroda pada mastoid telinga yang terstimulus (Mi) juga memadai. Gelombang I umumnya lebih besar untuk BERA yang direkam dengan Ai dibandingkan lokasi elektroda Mi. 3. Ground (umum) Fpz lokasi dahi bagian rendah nyaman untuk elektroda dasar, tetapi elektroda dasar dapat ditempatkan di mana saja di tubuh B. Filters 1. Low pass 30 atau 75 Hz Frekuensi rendah penting untuk merekam amplitudo maksimum gelombang V pada BERA bayi. Pengaturan low pass filter yang lebih tinggi dari 100 Hz harus dihindari 2. High pass 3000 Hz Pengaturan high pass filter dapat diturunkan ke 2000 atau 1500 Hz jika artefak frekuensi tinggi yang berlebihan mengganggu perekaman BERA. Pengaturan high pass filter 3000 Hz lebih cenderung menghasilkan gelombang BERA dengan puncak tajam yang memungkinkan estimasi latensi yang lebih akurat 3. Notch Tidak ada Penggunaan filter notch tidak disarankan karena menghilangkan energi frekuensi rendah yang berkontribusi penting pada spektrum BERA bayi. Dengan filter notch Stimulus Parameters Pilihan Rasional/komen umum yaitu masking bising 50 dB ada melalui earphone sisipan
Modul IX.4.3 ± Brainstem Evoked Response Audiometry (BERA) 16 "diaktifkan", amplitudo gelombang V BERA bayi berkurang sehingga identifikasi yang meyakinkan menjadi lebih sulit Amplification (Amplifikasi) X100.000 Amplifikasi 100.000X sama dengan sensitivitas kurang lebih 25 mV dibutuhkan Analysis Time (Waktu analisis) 15 ms Periode rata-rata (Averanging Epoch) 15 ms mencakup seluruh BERA untuk BERA klik konduksi udara, termasuk gelombang V dan seterusnya bahkan pada tingkat intensitas stimulus rendah untuk BERA yang direkam pada bayi prematur. Pemilihan pedoman umum waktu analisis adalah memastikan bahwa komponen utama dari respons, seperti gelombang ABR V tepat di tengah Pre stimulus time (Waktu pre-stimulus) -1 ms Inspeksi bentuk gelombang dasar sebelum presentasi stimulus memberikan informasi tentang kondisi perekaman dan kualitas respons, dan mempengaruhi analisis BERA bayi Sweeps (#stimulus) bervariasi Berapa pun angka yang diperlukan untuk menghasilkan gelombang V BERA yang jelas dan terekam tiga kali lebih besar dari aktivitas listrik latar belakang sisa Display Gain Run (replication) 0.25 - 0.30  Capaian tampilan diatur untuk melihat gelombang V BERA secara memadai yang biasanya memiliki amplitudo ȝ9 &DSDLDQ GHIDXOW ȝ9 meratakan bentuk gelombang BERA yang mengakibatkan kesulitan mengidentifikasi gelombang V terutama pada tingkat intensitas rendah. Konfirmasi bahwa gelombang V BERA hadir sangat ditingkatkan dengan verifikasi bahwa responsnya dapat diandalkan, yaitu gelombang V diamati di wilayah latensi yang sama dalam dua atau lebih bentuk gelombang rata-rata yang terpisah. Bentuk gelombang BERA serupa pada tingkat intensitas menurun adalah bentuk replikasi. Replikasi paling penting untuk bentuk gelombang
Modul IX.4.3 ± Brainstem Evoked Response Audiometry (BERA) 17 BERA dekat ambang batas. Ingat "jika bentuk gelombang tidak mereplikasi, maka Anda harus menyelidikinya" II. Protokol BERA Hantaran Tulang dengan Stimulus Click Parameter Stimulus Pilihan Rasional/komen 1. Transduser B71 atau B81 Sangat penting untuk menggunakan vibrator tulang yang sama persis dengan yang dipasok oleh produsen dengan sistem respons yang ditimbulkan. Insert earphone yang dimasukkan tidak boleh dilepaskan selama perekaman BERA konduksi tulang 2. Tipe Click atau Chirp Click Stimulus biasanya untuk BERA konduksi tulang. Tujuan utamanya adalah untuk mendokumentasikan gangguan pendengaran konduktif secara umum daripada memperkirakan ambang batas konduksi tulang frekuensi tertentu. Versi Chirp klik menghasilkan respons amplitudo yang lebih besar 3. Lokasi Tulang Mastoid Tulang mastoid adalah lokasi biasa untuk presentasi stimulasi konduksi tulang. Penempatan vibrator tulang di manapun pada tulang temporal cukup untuk merekam BERA dari bayi 4. Durasi 0.1 ms (100 s) Durasi untuk stimulus klik konduksi tulang sama dengan durasi untuk stimulus klik konduksi udara meskipun respon frekuensinya berbeda untuk sinyal akustik. 5. Polaritas Alternating Stimulasi polaritas bergantian mengurangi artefak stimulus yang terkait dengan stimulasi konduksi tulang 6. Kecepatan 21.1/detik atau 11.1/detik Tingkat presentasi stimulus yang lebih lambat terkadang membantu dalam meningkatkan amplitudo gelombang I dalam merekam BERA konduksi tulang. 7. Intensitas 8. Ramping Bervariasi Blackman Tingkat intensitas stimulus maksimum dengan vibrator tulang sekitar 50 hingga 55 dB nHL. Penting untuk memverifikasi tingkat stimulus secara biologis dalam dB nHL untuk BERA konduksi tulang. Penjalaran Blackman atau teknik windowing dapat mengurangi percikan spektral dan meningkatkan spesifisitas frekuensi stimulasi tone burst. 9. Pengulangan Bervariasi Keputusan tentang jumlah pengulangan
Modul IX.4.3 ± Brainstem Evoked Response Audiometry (BERA) 18 Parameter akuisisi A. Elektroda Non-inverting Fz Lokasi puncak dahi (Fz) lebih baik daripada lokasi verteks (Cz) pada bayi. Lokasi non-pembalik pada telinga kontralateral dan susunan elektroda horizontal (Ac-Ai) berguna untuk merekam BERA ketika ada artefak listrik yang berlebihan dengan susunan elektroda Fz-Ai yang khas Inverting Ai Lokasi elektroda daun telinga (Ai) optimal dalam banyak kasus meskipun elektroda pada mastoid telinga yang terstimulus (Mi) juga memadai. Gelombang I umumnya lebih besar untuk BERA yang direkam dengan Ai dibandingkan lokasi elektroda Mi. Parameter Stimulus Pilihan Rasional/komen stimulus (sapuan) yang tepat didasarkan pada berapa banyak atau sedikit yang diperlukan selama perekaman BERA untuk menghasilkan rasio signal-to-noise (SNR) yang memadai untuk deteksi gelombang V baik secara visual maupun dengan algoritma statistik. Secara umum SNR (BERA ke bising residu) yang memadai adalah 3: 1. Biasanya sekitar 500 sampai 2000 sapuan sudah cukup. Lebih banyak sapuan diperlukan pada tingkat intensitas yang lebih rendah di mana amplitudo BERA menurun. Jumlah kebisingan yang ditemui selama skrining BERA merupakan faktor utama yang mempengaruhi SNR dan jumlah presentasi stimulus minimum yang dapat diterima. 10. Masking (Telinga yang tidak diperiksa) Bervariasi Kehadiran gelombang I yang jelas dalam BERA yang ditimbulkan dengan stimulasi konduksi udara menegaskan bahwa respon pada telinga spesifik dan tidak diperlukan masking. Jika gelombang I tidak teridentifikasi dan latensi gelombang V tertunda, maka masking pada telinga yang tidak diperiksa diindikasikan. Panduan umum yaitu masking bising 50 dB ada melalui earphone sisipan. Masking tidak diperlukan untuk bayi dibawah usia 6 bulan. Atenuasi inter-aural tinggi karena fusi tulang tengkorak yang tidak adekuat
Modul IX.4.3 ± Brainstem Evoked Response Audiometry (BERA) 19 Ground Fpz lokasi dahi bagian rendah nyaman untuk elektroda dasar, tetapi elektroda dasar dapat ditempatkan di mana saja di tubuh B. Filter 1. Low pass 30 atau 75 Hz Frekuensi rendah penting untuk merekam amplitudo maksimum gelombang V pada BERA bayi. Pengaturan low pass filter yang lebih tinggi dari 100 Hz harus dihindari 2. High pass 3000 Hz Pengaturan high pass filter dapat diturunkan ke 2000 atau 1500 Hz jika artefak frekuensi tinggi yang berlebihan mengganggu perekaman BERA. 3. Notch Tidak ada Penggunaan filter notch tidak disarankan karena menghilangkan energi frekuensi rendah yang berkontribusi penting pada spektrum BERA bayi. Dengan filter notch "diaktifkan", amplitudo gelombang V BERA bayi berkurang sehingga identifikasi yang meyakinkan menjadi lebih sulit Amplifikasi X100,000 Amplifikasi 100.000X sama dengan sensitivitas kurang lebih 25 mV dibutuhkan Waktu Analisa 15 ms Periode rata-rata (Average Epoch) 15 ms mencakup seluruh BERA untuk BERA klik konduksi udara, termasuk gelombang V dan seterusnya bahkan pada tingkat intensitas stimulus rendah untuk BERA yang direkam pada bayi prematur. Waktu pre-stimulus -1 ms Inspeksi bentuk gelombang dasar sebelum presentasi stimulus memberikan informasi tentang kondisi perekaman dan kualitas respons, dan mempengaruhi analisis BERA bayi. Display gain 0.25 hingga 0.30 V Capaian tampilan diatur untuk melihat gelombang V BERA secara memadai yang biasanya memiliki amplitudo ȝ9 Gain default ȝ9 PHUDWDNDQ bentuk gelombang BERA yang mengakibatkan kesulitan mengidentifikasi gelombang V terutama pada tingkat intensitas rendah.
Modul IX.4.3 ± Brainstem Evoked Response Audiometry (BERA) 20 Sweeps (#stimuli) Bervariasi Berapa pun angka yang diperlukan untuk menghasilkan gelombang V BERA yang jelas dan terekam tiga kali lebih besar dari aktivitas listrik latar belakang sisa. Runs (replication) 2 Konfirmasi bahwa gelombang V BERA hadir sangat ditingkatkan dengan verifikasi bahwa responsnya dapat diandalkan, yaitu gelombang V diamati di wilayah latensi yang sama dalam dua atau lebih bentuk gelombang rata-rata yang terpisah. Bentuk gelombang BERA serupa pada tingkat intensitas menurun adalah bentuk replikasi. Replikasi paling penting untuk bentuk gelombang BERA dekat ambang batas. Ingat "jika bentuk gelombang tidak mereplikasi, maka Anda harus menyelidikinya". III. Protokol BERA frekuensi spesifik dengan stimulus Tone Burs Parameter stimulus Saran Komentar 1. Transduser Insert earphone Alat dengar masuk memiliki banyak keuntungan pada penilaian BERA klinis, terutama pada bayi dan anak- anak 2. Tipe Konvensional Chirp Stimulus chirp tersedia pada beberapa sistem BERA. Stimuli chirp menghasilkan amplitudo BERA lebih tinggi dan berkontribusi pada identifikasi gelombang V BERA yang lebih meyakinkan. Penggunaan stimuli chirp mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk merekam gelombang BERA. 3. Polarity Rarefraction/Alternating (Penghalusan atau bergantian) Daripada polaritas penghalusan yang biasanya, polaritas stimuli alternating/bergantian dapat digunakan untuk mengurangi kemungkinan sebuah respon bertipe frequency-following pada toneburst 500 Hz. 4. Rate 37.7/detik Disarankan untuk menggunakan kecepatan yang agak cepat untuk mempercepat waktu pemeriksaan, dengan merekam gelombang V
Modul IX.4.3 ± Brainstem Evoked Response Audiometry (BERA) 21 secara jelas pada bayi dan anak kecil. Beberapa protokol merekomendasikan kecepatan stimulus hingga 49.1/detik. Stimulus berjumlah ganjil dapat mengurangi kemungkinan interaksi dengan artefak elektrik. 5. Ramping Blackman Penjalaran Blackman atau teknik windowing dapat mengurangi percikan spektral dan meningkatkan spesifisitas frekuensi stimulasi toneburst 6. Duration bervariasi Waktu peningkatan/penurunan dan datar pada stimuli toneburst berbeda-beda tergantung frekuensinya. Biasanya, durasi sinyal yang digunakan adalah waktu peningkatan 2 siklus, datar 0 siklus, dan waktu penurunan 2 siklus 7. intensitas bervariasi Tingkat intensitas pada layar pada sistem BERA modern biasanya dalam dB NHL. Meski begitu, data ambang behavioral tiap stimulus toneburst tetap harus direkam. Hasil rekaman akan digunakan pada BERA, untuk memverifikasi intensitas toneburst pada tiap keadaan pemeriksaan dimana perekaman BERA dilakukan. Parameter Akuisisi A.Tempat elektroda Fz-Ai Elektroda non-inverting ditempatkan pada garis tengah pada dahi atas (Fz) dan elektroda inverting ditempatkan pada cuping telinga ipsilateral pada telinga yang diberi stimulus (Ai). Dengan desain elektroda jepit telinga, elektroda cuping dapat dengan mudah dipasang, dengan impedansi rendah, dan elektrodanya dilepaskan dari regio mastoid. Elektroda telinga merekam gelombang I yang lebih besar dibandingkan elektroda mastoid, dan berhubungan dengan lebih sedikit artefak stimulus pada rekaman konduksi tulang BERA. Elektroda dasar dapat diletakkan pada dahi bawah (Fpz) atau pada
Modul IX.4.3 ± Brainstem Evoked Response Audiometry (BERA) 22 cuping kontralateral (namun akan membatasi perekaman pada kanal tunggal). B. Pengaturan filter 30 ke 3000 Hz Nilai potongan frekuensi rendah untuk high pass filter senilai 30 Hz direkomendasikan karena BERA toneburst didominasi energi frekuensi rendah, terutama pada bayi. Pengaturan high pass filter dapat ditingkatkan menjadi 75 Hz atau 100 Hz bila diperlukan. Analysis Time (Waktu analisis) 15-20 ms Untuk sinyal klik dan sinyal toneburst pada frekuensi yang lebih tinggi, waktu analisis 15 ms cukup untuk menunjukkan komponen gelombang V bahkan di bawah kondisi yang berhubungan dengan keterlambatan latensi gelombang V. untuk sinyal tone burst 1000 Hz dan lebih rendah, lebih baik menggunakan waktu analisis 20 ms. Display Gain (Tampilan peningkatan) 0.25-0.30 µV Tampilan peningkatan diatur untuk dapat melihat gelombang V BERA yang biasanya amplitudonya 0.5 µV. Biasanya, peningkatan senilai .80 µV akan menampilkan gelombang BERA dengan rata, sehingga sulit mengidentifikasi gelombang V, terutama pada intensitas rendah. Sweeps bervariasi Banyaknya sapuan atau pengulangan stimulus yang dibutuhkan pada perekaman BERA bergantung pada rasio sinyal-bising. Bila sinyalnya (amplitudo BERA) besar dan/atau bising latar belakangnya rendah, maka jumlah pengulangan stimulus juga makin sedikit. Jumlah pengulangan/sapuan minimal dapat diatur ke nilai tertentu, seperti 500, untuk memastikan konsistensi pengaturan dari satu uji ke uji berikutnya.
MODUL UTAMA THT KOMUNITAS PEMERIKSAAN PEDIATRIK AUDIOLOGI KOMPREHENSIF MODUL IX.4.4 AUDITORY STEADY STATE RESPONSE (ASSR) EDISI III KOLEGIUM ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER 2022
DAFTAR ISI A. INFORMASI UMUM ..................................................................................... 1 B. TUJUAN ......................................................................................................... 1 C. KOMPETENSI ............................................................................................... 2 D. METODE PEMBELAJARAN ....................................................................... 2 E. SARANA DAN ALAT BANTU .................................................................... 4 F. MATERI BAKU ............................................................................................. 4 G. MATERI PRESENTASI................................................................................. 8 H. EVALUASI ..................................................................................................... 8 I. REFERENSI ................................................................................................... 9
IX.4.4 ± Auditory Steady State Response (ASSR) 1 MODUL IX.4.4 THT KOMUNITAS ± PEMERIKSAAN PEDIATRIK AUDIOLOGI KOMPREHENSIF : AUDITORY STEADY STATE RESPONSE (ASSR) A. INFORMASI UMUM 1. Nama Program Studi/Jenjang : THT KL/Sp-1 2. Divisi : THT Komunitas 3. Nama Modul : Pemeriksaan Pediatric Audilogy 4. Nama Sub Modul : Auditory Steady State Response (ASSR) 5. Waktu : 6 Bulan 6. SKS : 12 SKS B. TUJUAN Proses, materi dan metode pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan ketrampilan yang diperlukan untuk mengetahui pemeriksaan ASSR, yaitu: 1. Menjelaskan prinsip dasar pemeriksaan ASSR yang merupakan pemeriksaan elektro fisiologis untuk menilai Auditory Evoked Potential (AEP/potensial auditori bangkitan) atau Steady - State Evoked Potential (SSEP). 2. Menjelaskan/ melakukan pemeriksaan/protokol/parameter ASSR hantaran udara dan hantaran tulang (Bone Conduction). 3. Menjelaskan tujuan dan indikasi pemeriksaan. ASSR. 4. Menjelaskan prinsip dasar perekaman auditory evoked potential elektro fisiologis ASSR termasuk tes kondisi lingkungan dan persiapan pasien sebelum pemeriksaan. 5. Menjelaskan strategi analisis dan interpretasi hasil pemeriksaan ASSR 6. Memprediksi konfigurasi audiogram pada gangguan pendengaran pada pasien dengan gangguan pendengaran (sensorineural, konduktif, campuran), untuk fitting ABD dan kemungkinan implan koklea.
IX.4.4 ± Auditory Steady State Response (ASSR) 2 C. KOMPETENSI 1. Pengetahuan Klinis Memahami prinsip kerja, indikasi pemeriksaan, parameter, prosedur pemeriksaan (protokol), interpretasi, manfaat, aplikasi klinis ASSR hantaran udara, ASSR hantaran tulang baik pada bayi dan anak. 2. Keterampilan Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan: a. Mampu menjelaskan prinsip dasar pengukuran ASSR. b. Mampu melakukan persiapan pemeriksaan ASSR ( lingkungan, alat, pasien). c. Mampu menjelaskan/parameter pemeriksaan ASSR hantaran udara dan atau hantaran tulang d. Mampu menjelaskan tentang indikasi, aplikasi klinis dan manfaat lain dari pemeriksaan ASSR. 3. Sikap dan perilaku Setelah mengikuti modul ini diharapkan peserta pelatihan/pendidikan Sp-1 mampu menjaga etika terhadap pasien/keluarga pasien, staf pendidik, kolega, paramedik dan non paramedik. Disiplin dan bertanggung jawab, serta taat dalam pengisian dokumen medik, tugas serta pedoman penggunaan.obat dan pemilihan alat bantu dengar. Peserta didik dapat berkomunikasi secara jujur dan terbuka, bekerjasama dalam tim, serta menjunjung tinggi patient safety. Lingkup bahasan materi untuk memenuhi kompetensi sikap dan perilaku adalah: - Materi JCI (code of conduct). - Keselamatan pasien. D. METODE PEMBELAJARAN Tujuan 1. Menjelaskan prinsip dasar pemeriksaan ASSR yang merupakan pemeriksaan elektro fisiologis lain untuk menilai Auditory Evoked Potential (AEP/potensial auditori bangkitan) atau Steady-State Evoked Potential (SSEP). Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Interactive lecture
IX.4.4 ± Auditory Steady State Response (ASSR) 3 x Small group discussion. x Case study Tujuan 2. Menjelaskan/ melakukan pemeriksaan/protokol/parameter ASSR hantaran udara dan Hantaran tulang (Bone Conduction). Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Interactive lecture x Journal reading and review. x Case study x Small group discussion x Demonstration and Coaching Tujuan 3. Menjelaskan tujuan dan indikasi pemeriksaan. ASSR. Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Interactive lecture x Journal reading and review. x Case study. Tujuan 4. Menjelaskan prinsip dasar perekaman auditoryevoked potential elektrofisiologis ASSR termasuk tes kondisi lingkungan dan persiapan pasien sebelum pemeriksaan. Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Interactive lecture x Journal reading and review. x Case study Tujuan 5. Menjelaskan strategi analisis dan interpretasi hasil pemeriksaan ASSR. Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Interactive lecture x Journal reading and review. x Bedside teaching x Case simulation and investigation exercise. x Equipment characteristics and operating instructions.
IX.4.4 ± Auditory Steady State Response (ASSR) 4 Tujuan 6. Memprediksi konfigurasi audiogram pada gangguan pendengaran pada pasien dengan gangguan pendengaran (sensorineural, konduktif, campuran), untuk fitting ABD dan kemungkinan implan koklea. Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Interactive lecture x Journal reading and review. x Bedside teaching x Case simulation and investigation exercise. x Equipment characteristics and operating instructions. E. SARANA DAN ALAT BANTU a. Penuntunbelajar (learning guide), Text book b. Audiovisual tentang tehnik/protokol pemeriksaa BERA c. Tempat belajar (training setting): poliklinik THT, ruang kuliah (via zoom) d. Hardware dan software untuk Alat Bantu Dengar e. Hardware dan software untuk pemeriksaan ASSR hantaran udara dan hantaran tulang f. Menganalisa dan menginterpretasi hasil pemeriksaan ASSR F. MATERI BAKU Auditory Steady-State Response (ASSR) Adanya perkembangan program skrining pendengaran bayi baru lahir yang universal dan persyaratan untuk pemasangan alat bantu dengar pada bayi dalam beberapa bulan setelah kelahiran, (sebelum berusia 6 bulan) terdapat permintaan klinis untuk menentukan derajat dan konfigurasi gangguan pendengaran yang objektif dan spesifik sebagai langkah awal dan kritis yang mengarah ke intervensi dini yang tepat. Penelitian telah mengkonfirmsi pentingnya memulai intervensi untuk gangguan pendengaran sejak masa
IX.4.4 ± Auditory Steady State Response (ASSR) 5 kanak-kanak dalam enam bulan pertama setelah kelahiran (Yoshinago-Itano et al, 1998). Pemeriksaan elektro fisiologis lain untuk menilai Auditory Evoked Potential (AEP/potensial auditori bangkitan) adalah ASSR, atau kadang-kadang dikenal juga sebagai Steady-State Evoked Potential (SSEP). ASSR pertama kali diperkenalkan sebagai pemeriksaan objektif untuk menentukan ambang pendengaran oleh Galambos tahun 1981. ASSR adalah respons otak yang terjadi akibat adanya stimulus bunyi secara simultan (steady-state). Respons otak yang timbul tetap terus-menerus (kontinu) ada selama diberikan stimulus simultan. Potensial listrik yang menggambarkan respons ASSR direkam melalui elektroda permukaan yang ditempatkan pada verteks atau dahi dan pada kedua mastoid. Pemasangan elektroda sama seperti pada pemeriksaan BERA. Terdapat 4 komponen yang berkaitan dengan stimulus ASSR, yaitu: (1) carrier frequency, (2) amplitudo modulation depth, (3) frequency modulation, dan (4) amplitudo modulation rate. Pada ASSR terjadi respons yang bersifat objektif, dalam hal ini pasien tidak perlu memberikan reaksi subyektif. Klinisi juga tidak perlu menentukanadatidaknyarespons secara subyektif, misalnya dengan melihat visualisasi respons berupa gelombang seperti yang dilakukan pada penilaian BERA. Analisis respons pada ASSR dilakukan secara statistik, otomatis oleh komputer dan memakai nilai kemaknaan. Nilai kemaknaan pada ASRR menggunakan program MASTER yaitu 0,05. Pada program MASTER, terdapat 3 warna indicator untuk menunjukkan ada tidaknya respons, umumnya dipakai warna : (1) merah, jika respons tidak terdekteksi pada frekuensi yang diperiksa dengan nilai kemaknaan lebih dari 0,1, (2) kuning, ASSR berarti kemungkinan 90-95% terdapat respons dengan nilai kemaknaan antara 0,1 dan 0,05, (3) hijau, ASSR berarti lebih dari 95% kemungkinan respons terdeteksi dengan nilai kemaknaan kurang dari 0,05. Keuntungan klinis dari ASSR Kelebihan dan kekurangan dari ASSR sebagai alat klinis dirangkum sebagai berikut:
IX.4.4 ± Auditory Steady State Response (ASSR) 6 Keuntungan Ɣ Sinyal dengan frekuensi spesifik digunakan untuk mengestimasi ambang dengar dari frekuensi audiometri, mulai dari 250 Hz hingga 8000 Hz. Ɣ Ambang batas frekuensi spesifik audiometric dapat diestimasi dengan sinyal melalui hantaran udara dan hantaran tulang. Ɣ Level intensitas stimulus dapat mencapai 120 dB HLyang dapat digunakan dalam memunculkan ambang batas frekuensi tertentu. ASSR berguna untuk penilaian elektro fisiologi gangguan pendengaran derajat berat pada bayi dan anak kecil. Ɣ Kemampuan deteksi dan analisis ASSR dilakukan secara otomatisasi dan berbasis statistik. Pada hasil yang diperoleh terdapat juga faktor koreksi pada setiap frekuensi. Pengalaman klinis dalam menganalisis bentuk gelombang tidak dibutuhkan. Ɣ Perangkat klinis tersedia dari berbagai produsen. Potensi kerugian Ɣ Perekaman ASSR membutuhkan lingkungan yang sunyi. Artefak gerakan dan gangguan dapat menghalangi hasil pemeriksaan atau dapat membatalkan hasil dengan perkiraan tingkat ambang pendengaran yang terlalu tinggi pada anak kecil yang tidak tidur. ASSR biasanya mengharuskan pasien tidur dengan menggunakan obat penenang. Anestesi terkadang diperlukan untuk penilaian sensitivitas pendengaran ASSR secara valid. Ɣ Pengaruh sedasi dalam dan anestesi pada ASSR yang ditimbulkan oleh frekuensi modulasi tinggi (ch, >60 Hz) memerlukan penyelidikan lebihlanjut. Sedasi dan anestesi membatalkan estimasi ambang batas untuk ASSR yang ditimbulkan dengan frekuensi modulasi lambat (ch, <60 Hz). Ɣ Perbedaan sederhana antara ambang ASSR dan ambang batas perilaku dan atau ABR dilaporkan dalam literatur. Ɣ Perbedaan antara ambang batas ASSR dan ambang bata sperilaku mungkin terjadi pada pasien dengan gangguan pendengaran konduktif.
IX.4.4 ± Auditory Steady State Response (ASSR) 7 Ɣ Estimasi ambang batas spesifik telinga dengan sinyal konduksi tulang memerlukan penggunaan penutup telinga yang tidak diuji. Tidakseperti ABR, tidak ada penanda biologi untuk tes pendengaran dengan ASSR. Ɣ Ada sedikit informasi spesifik lokasi untuk pasien dengan gangguan pendengaran karena bentuk gelombang ASSR tidak dapat di analisis. ASSR tidak dapat digunakan untuk membedakan disfungsi pendengaran sensorik dibandingkan penyebab saraf. Ɣ Tidak adanya ASSR tidak membedakan antara gangguan pendengaran sensorik yang sangat berat dibandingkan ANSD. Parameter ASSR Parameter Pilihan Transduser Earphone insert,earphoneatastelinga, bone oscillators, pengeras suara keras untuk stimulasi pada bidang suara FrekuensiPembawa (Carrier frequencies) 250, 500, 1000, 2000, 4000, 8000 Hz Frekuensi Modulasi Laju modulasi berbeda, dari 70-100 Modulasi Amplitudo (AM) 100% Modulasi frekuensi 10% Pilihan modulas ilanjut Modulasi eksponensial (AM2), disesuaikan dengan fase Batas intensitas stimulus 0 db-125 dB HL, tergantung frekuensi dan transduser Referensi kalibrasi dB HL Parameter Akusisi Parameter Stimulus tunggal Non-inverting Inverting Tanah (umum) Cz atau Fz Cuping ipsilateral atau mastoid Telinga kontralateral atau dahi bawah Stimulus banyak Non-inverting Inverting Tanah (umum) Cz atau Fz Tempat bukan di kepala (belakang leher atau dasar belakang kepala) Dahi bawah Impedans <6K Ohm dan balans<3K Ohm Aturan filter 30-3000 Hz Amplifikasi X10000 hingga 5000 Waktu rata-rata 40 detik hingga 15 menit Waktu analisis Biasanya 1 detik Sapuan >16 Analisis statistikal Uji F untuk analisis spektral Uji Koherens (phase-locked) untuk analisis fase
IX.4.4 ± Auditory Steady State Response (ASSR) 8 G. MATERI PRESENTASI Slide 1 Judul Auditory Steady-State Response (ASSR) Slide 2 ± 4 Pendahuluan Slide 5 Keuntungan Slide 6-8 Potensi Kerugian Slide 9 Parameter ASSR Slide 10 Parameter Akusisi Slide 11 Evaluasi Slide 12 Referensi H. EVALUASI Evaluasi hasil pendidikan ditentukan berdasarkan proses dan hasil pembelajaran. Untuk dapat di evaluasi, peserta pelatihan kompetensi tambahan harus memenuhi persyaratan kehadiran sebanyak minimum 90%. Hasil akhir akan diserahkan kepada KODI THT KOMUNITAS dan Kolegium THT-KL berupa dua nilai yaitu, PENGETAHUAN dan KETERAMPILAN. Nilai PENGETAHUAN terdiri dari: 1. Evaluasi Formatif: dilakukan selama masa pelatihan secara berkesinambungan, dan pembimbing diwajibkan memberikan umpan balik (feedback) pada pross pembelajaran. 2. Evaluasi Sumatif: dilakukan pada akhir tahapan pelatihan, bertujuan untuk menilai tercapainya seluruh kompetensi yang diharapkan di modul kompetensi tambahan otologi. 3. Sikap dan Perilaku: dilakukan penilaian sikap dan perilaku (etika terhadap pasien, staf pendidik, teman sejawat, paramedis dan non paramedis), profesionalisme, patient safety, komunikasi, kerja sama dalam keseharian penilaian dapat menggunakan penilaian 360 0 .
IX.4.4 ± Auditory Steady State Response (ASSR) 9 Nilai modul KETERAMPILAN diperoleh dari Logbook dan DOPS saat ujian keterampilan. I. REFERENSI 1. Sutton G, Lightfoot G, Stevens J. March 2013. NHPS Clinical Group. Guidance for Auditory Brainstem Response testing in babies V2.1. Dalam NEWBORN HEARING SCREENING AND ASSESSMENT. NHS Antenatal and Newborn Screening Programmes. March 2013. 2. Katz J. Handbook of Clinical Audiology / editor-in-chief. 2015. SeventEdition.Wolters Kluwer Health. Lippincott Williams & Wilkins. Philadelphia. USA 3. James W Hall. 2017. Update on Auditory Evoked Responses: Evidence- Base ABR Protocol for Infant Hearing Assessment. 4. Valenzuela D, Kumar D, Atkins C, Kozak F, Chadha N. February 2016. Chloral hydrate sedation for auditory brainstem response (ABR) testing in children: Safety and effectiveness. International Journal of Pediatric OtorhinolaryngoIogy 82 (2016). 5. Joint Committe on Infant Hearing. 2007. Year 2007 Position Statement: Principles and Guidkines for Early Hearing Detection and Intervention. American Academy of Pediatrics. 6. Hood L.J. Clinical Applications of The Auditory Brainstem Response.Singular Publishing Group,Inc. San diego, London. 1998. 7. Ronny Suwento, Semiramis Zizlavsky. Habilitasi dan Rehabilitasi Pendengaran. Dalam; Soepardi E, Iskandar N. Buku Ajar Ilmu Penyakit THT. Edisi 6. Balai Penerbit FKUI,2007 8. Hall J.W. Audiology Desk Reference. Vol 1. Singular, Thomson Learning,1997 9. Rance,G Auditory Steady-State Response. Generation, Recording and Clinical Applications. Plural Publishing, 2008
MODUL UTAMA THT KOMUNITAS GANGGUAN PENDENGARAN PADA POPULASI KHUSUS MODUL IX.5.1 GANGGUAN PENDENGARAN PADA ANAK USIA SEKOLAH EDISI III KOLEGIUM ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER 2022
DAFTAR ISI A. WAKTU ....................................................................................................... 1 B. PERSIAPAN SESI ....................................................................................... 1 C. REFERENSI ................................................................................................. 1 D. KOMPETENSI ............................................................................................. 2 E. GAMBARAN UMUM ................................................................................. 3 F. CONTOH KASUS DAN DISKUSI ............................................................. 3 G. TUJUAN PEMBELAJARAN ...................................................................... 4 H. METODE PEMBELAJARAN ..................................................................... 4 I. EVALUASI .................................................................................................. 7 J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF .......................... 8 K. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR ................... 9 L. MATERI PRESENTASI ............................................................................ 12 M. MATERI BAKU ........................................................................................ 12 N. ALGORITMA ............................................................................................ 14
IX.5.1 ± Gangguan Pendengaran pada Anak Usia Sekolah 1 MODUL IX.5.1 THT KOMUNITAS ± GANGGUAN PENDENGARAN PADA POPULASI KHUSUS: GANGGUAN PENDENGARAN PADA ANAK USIA SEKOLAH A. WAKTU Proses Pengembangan Kompetensi Alokasi Waktu Sesi di dalam kelas Sesi dengan fasilitasi pembimbing Sesi praktik dan pencapaian kompetensi 2 x 60 menit (classroom session) 3 x 60 menit (coaching session) 15 jam (fascilitation and assessment) B. PERSIAPAN SESI 1. Materi presentasi : Power point Skrining Pendengaran pada Anak Sekolah 2. Kasus: Gangguan pendengaran pada anak usia sekolah 3. Sarana dan alat bantu latih: (disesuaikan dengan pencapaian kompetensi): x Penuntun belajar (learning guide): terlampir x Model anatomi x Alat bantu latih: garputala, audiometer x Tempat belajar (training setting): ruang kuliah, sekolah x Komputer/laptop x Infocus C. REFERENSI 1. Rooser RJ, Clark Jl.Screening for auditory disorder. In Rohr MV editor. Audiotory disorder in school children edisi ke-4. Thime New York; 2004.p.96- 123 2. Downs Mp. Constribution of mild hearing loss to audiotory learning problems. In Rohr MV editor. Auditory disorder in school chidren edisi ke-4. Time New York; 2004. P. 233-48 3. Kallus D, Kalweit L, Lindeman J, Rice P, Wetzel C. Hearing screening procedures for infants and toddlers, early chldhood & schol age children. 4. Minesota Departemen of Health Hearing and Vision conservation Program Division of family health. Minneapolis, Minnesota; 1996. Disitasi dari internet;http://www.eric.ed.gov/ERICWebPortal/Home.portal?_nfpb=true&page
IX.5.1 ± Gangguan Pendengaran pada Anak Usia Sekolah 2 Label=RecordDetails&ERICExt_Searchvalue_0=ED408039&ERICExtSearchT ype_0ericobjecId=090000b8014307c 5. Connor GH, Lamp CB, Bradford BJ. Guidelines for school hearing screening for 3HQQ\VOYDQLD¶V VFKRRO DJH SRSXODWLRQ 'HSDUWPHQW RI +HDOWK 'LVLWDVL GDUL internet; http://www/dsf.health.state.pa.us/health/schoolhealth/HearingGuideline.pdf 6. Guidelines for a school hearing screening program, Screening, special sevices and soonerstart. Oklahoma State Department Health;1994. Disitasi dari 7. interner; http:// health. State.ok.us/PROGRAM/shcc/sch/schlrscn.pdf. 8. Carlson DL, Reeh Hl. Pediatric audiology. Dalam Bailey BJ. Head and Neck Surgery-Otolaryngology edisi ke 2. Philadelphia: Lippincott- 9. Raven;1998.p.1324-40. 10. Hearing screening. Disitasi dari internet: http://www.Agha.org/public/hearing/testing/ 11. National Vision Hearing Screening Protocols. D. KOMPETENSI Mampu melakukan skrining pendengaran pada murid sekolah berdasarkan anamnesis, pemeriksaan THT dan pemeriksaan pendengaran (Tes Penala, Timpanometri, Audiometri skrining). Dokter dapat memutuskan dan mampu menangani masalah tersebut secara mandiri dan merujuk apabila diperlukan. Keterampilan Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk : 1. Menjelaskan anatomi, fisiologi, dan patofisiologi sistem pendengaran 2. Menjelaskan etiologi dan faktor risiko gangguan pendengaran pada anak sekolah 3. Menjelaskan jenis , derajat gangguan pendengaran 4. Mampu melaksanakan program promotif dan preventif gangguan pendengaran pada anak sekolah 5. Mampu melakukan pemeriksaan subyektif skrining pendengaran pada anak sekolah 6. Menjelaskan jadwal skrining pendengaran yang diperlukan pada anak sekolah
IX.5.1 ± Gangguan Pendengaran pada Anak Usia Sekolah 3 7. Mampu menjelaskan kepada orang tua pemeriksaan yang akan dilakukan, Informed Consent 8. Mampu menganalisa hasil pemeriksaan skrining (kriteria tidak lulus skrining pendengaran dan menentukan kriteria rujukan) 9. Mampu menjelaskan hasil skrining, merencana pemeriksaan dan penanganan selanjutnya kepada orang tua dan keluarga. E. GAMBARAN UMUM Gangguan pendengaran pada anak sekolah berkaitan dengan tingginya angka infeksi saluran napas atas yang mempunyai dampak terjadinya Otitis media Efusi (OME) dan OMSK (Otitis Media Supuratif Kronik) yang menyebabkan tuli konduktif. Hoffman melakukan penapisan pada 4445 anak usia 6-19 tahun dengan menggunakan audiometri dan timpanometr ditemukan prevalensi OME: 5,1 % (usia 6 tahun), 4,5% (usia 7-10 tahun), 3.3% ( usia 11- 14 tahun), 2% (usia 15-19 tahun). Pada beberapa penelitian ditemukan juga tuli sensorineural ringan seperti yangdikemukakan Bess dengan melakukan penapisan pendengaran pada 1218 anak usia sekolah ditemukan prevalensi gangguan pendengaran sensorineural ringan 5,4% (1 diantara 20 anak). ASHA menemukan gangguan pendengaran berbagai derajat dengan prevalensi 131 tiap 1000 anak . Seringkali terjadi gangguan pendengaran derajat ringan tidak terdeteksi. Biasanya anak dirujuk apabila tidak memberi respons yang baik terhadap stimulus bunyi disertai dengan penurunan nilai akademik. F. CONTOH KASUS DAN DISKUSI Anak laki laki usia 6 tahun keluhan mengalami kesulitan belajar dalam pelajaran dikte. Dari anamnesis anak sering meminta untuk mengulangi pertanyaan. Anak sering batuk pilek berulang sejak 3 bulan terakhir. 1 minggu terakhir terdapat keluar cairan kekuningan dari telinga kanan. Pada pemeriksaan otoskopi tampak perforasi di gendang telinga kanan, serta sekret kekuningan. Pada pemeriksaan otoskopi telinga kiri tampak gendang telinga suram.
IX.5.1 ± Gangguan Pendengaran pada Anak Usia Sekolah 4 Diskusi: Must to know : x Gangguan pendengaran konduktif dapat disebabkan oleh berbagai sebab, seperti otitis media efusi, otitis media supuratif kronik x Etiologi pada kasus ini disebabkan adanya infeksi kronik saluran napas atas x Penting dilakukan pemeriksaan Timpanometri dan Audiometri untuk mengetahui adanya gangguan pendengaran. Jawaban : G. TUJUAN PEMBELAJARAN Proses, materi, dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi danketerampilan yang diperlukan dalam mengenali dan menatalaksanakan gangguan pendengaran pada anak usia sekolah, yaitu : 1. Menguasai anatomi, fisiologi, dan patofisiologi sistem pendengaran 2. Mampu menjelaskan etiologi terjadinya gangguan pendengaran pada anak usia sekolah. 3. Mampu menjelaskan gejala gangguan pendengaran pada anak usia sekolah 4. Mampu melakukan pemeriksaan subyektif skrining pendengaran pada anak usia sekolah 5. Mampu menganalisa hasil pemeriksaan skrining, membuat diagnosis, merencanakan pemeriksaan dan penanganan selanjutnya 6. Mampu merencanakan rehabilitasi pendengaran serta melakukan follow up H. METODE PEMBELAJARAN Tujuan 1. Menguasai anatomi, fisiologi, dan patofisiologi sistem pendengaran Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini : o Interactive lecture o Small group discussion o Peer assisted learning (PAL) Harus diketahui: (khususnya untuk level Sp1) : x Anatomi telinga x Fisiologi dan patofisiologi pendengaran
IX.5.1 ± Gangguan Pendengaran pada Anak Usia Sekolah 5 Tujuan 2. Mampu menjelaskan etiologi terjadinya gangguan pendengaran pada anak usia sekolah. Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini : o Interactive lecture o Small group discussion o Peer assisted learning (PAL) o Journal reading and review o Bedside teaching o Task based medical education Harus diketahui : Faktor risiko yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran. konduktif dan sensorineural Tujuan 3. Mampu menjelaskan gejala gangguan pendengaran pada anak usia sekolah Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini : o Interactive lecture o Small group discussion o Peer assisted learning (PAL) o Bedside teaching o Task based medical education sekolah o Continuing Professional Development Harus diketahui : Gejala dan tingkah laku meminta untuk mengulangi kata yang telah diucapkan, membaca gerakan bibir, sering salah mendengar instruksi yang diberikan, berbicara terlalu keras atau terlalu lemah. Tujuan 4. Mampu melakukan pemeriksaan subyektif skrining pendengaran pada anak usia sekolah Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini : o Interactive lecture o Small group discussion
IX.5.1 ± Gangguan Pendengaran pada Anak Usia Sekolah 6 o Peer assisted learning (PAL) o Bedside teaching o Task based medical education Harus diketahui : x Device sensitivity on Anomaly Findings x Device specivity on Anomaly Findings x Equitment characteristics and operating instructions x Continuing Professional Development Tujuan 5. Mampu menganalisa hasil pemeriksaan skrining, membuat diagnosis, merencanakan pemeriksaan dan penanganan selanjutnya. Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini : o Interactive lecture o Journal reading and review o Bedside teaching o Case simulation and investigation exercise o Practice with patient Harus diketahui : 1. Menganalisa hasil skrining pendengaran 2. Pemeriksaan pendengaran untuk diagnosis 3. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan THT-KL rutin, gejala gangguan pendengaran, pemeriksaan pendengaran baik yang subjektif maupun objektif. 4. Membuat diagnosis banding 5. Melakukan rujukan sesuai temuan 6. Menentukan rehabilitasi sesuai diagnosis Tujuan 6. Mampu merencanakan rehabilitasi pendengaran serta melakukan follow up Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini : o Interactive lecture o Journal reading and review
IX.5.1 ± Gangguan Pendengaran pada Anak Usia Sekolah 7 o Case study Harus diketahui : Melakukan follow up setelah rehabilitasi I. EVALUASI 1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dalam bentuk tulisan sesuai dengan tingkat masa pendidikan, bertujuan menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik, serta mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pre test terdiri dari: - Anatomi, fisiologi dan patofisiologi sistem pendengaran - Perkembangan pendengaran dan bicara pada anak - Etiologi dan faktor risiko - Prevensi - Pemeriksaan skrining pendengaran(subjektif dan objektif) - Penanganan - Tindak lanjut/follow up 2. Melakukan diskusi kelompok kecil bersama pembimbing/fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal ± hal yang berkenaan dengan penuntun belajar. 3. Peserta didik wajib mempelajari penuntun belajar untuk mengaplikasi langkah 2 yang tertera. Pada saat pelaksanaan penilai melakukan pengawasan langsung pada saat peserta didik melakukan anamnesa, pemeriksaan THT, pemeriksaan pendengaran dan memberikan penilaian sesuai kriteria dengan mengisi formulir sebagai berikut : - Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan. - Cukup : pelaksanaan benar tetapi tidak efisien. - Baik : pelaksanaan benar dan efisien 4. Di akhir penilaian dilakukan diskusi kembali untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak dapat dibicarakan didepan keluarga pasien danmemberikan masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan. 5. Self assessment dengan mempergunakan penuntun belajar 6. Pendidik/pembimbing
IX.5.1 ± Gangguan Pendengaran pada Anak Usia Sekolah 8 - Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form (terlampir) secara berkala. - Melakukan diskusi - Kriteria penilaian secara keseluruhan: cakap /tidak cakap /lalai 7. Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan apabila perlu diberi tugas untuk dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education) 8. Pencapaian pembelajaran - Ujian akhir stase, berupa ujian tulisan - Ujian akhir kognitif / psikomotor - Ujian akhir profesi, dilakukan pada akhir pendidikan berupa ujian tulisan J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF x Kuesioner Sebelum Pembelajaran 1. Skrining pendengaran pada anak sekolah dilakukan pada semua usia anak sekolah B S 2. Gangguan pendengaran pada usia sekolah disebabkan oleh tuli konduktif B S Jawaban : x Kuesioner Akhir Pembelajaran 1. Faktor risiko terjadinya gangguan pendengaran pada anak sekolah adalah a. Otitis media berulang b. Riwayat sering panas, tonsilitis, alergi c. Ada celah bibir atau palatum d. Semua benar Jawaban : x Essay/Ujian Lisan/Uji Sumatif
IX.5.1 ± Gangguan Pendengaran pada Anak Usia Sekolah 9 K. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR PEMERIKSAAN SKRINING PENDENGARAN PADA ANAK USIA SEKOLAH NAMA PESERTA :.............................. TANGGAL :............................. KEGIATAN KASUS I. KAJI ULANG SKRINING PEMERIKSAAN PENDENGARAN - Identitas - Informed Consent - Penjelasan kepada keluarga secara tertulis mengenai pemeriksaan yang akan dijalani II. PERSIAPAN PEMERIKSAAN - Kalibarasi alat timpanometri dan audiometri nada murni - Tempat pemeriksaan tida boleh melebihi batas bising lingkungan (<40 db), pengukuran dengan Sound Level Meter III. PROSEDUR PEMERIKSAAN 1. Melakukan anamnesis untuk mengetahui gejala dan tanda gangguan pendengaran serta kemungkinan etiologi dan faktor risiko yang mengakibatkan gangguan pendengaran, termasuk perkembangan auditori, perkembangan bicara serta perkembangan motorik 2. Pemeriksaan THT untuk mengetahui keadaan liang telinga, membran timpani serta fungsi telinga tengah. - Otoskopi - Tes Penala *Bila ada kelainan (misal serumen, benda asing, peradangan pada telinga luar dan telinga tengah) diberi terapi terlebih dahulu dan dianjurkan untuk kembali kontrol dan menjalankan pemeriksaan skrining pendengaran berikutnya. **Apabila Apabila tidak ada kelainan dilakukan pemeriksaan pendengaran dengan Audiometri dan timpanometri. 3. Pemeriksaan timpanometri ( bila tersedia ) 4. Pemeriksaan audiometri a. Untuk menghindari respon visual yang dapat Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut : 1. Perlu perbaikan : langkah yang telah dibuat tidak dikerjakan atau tidak sesuai urutannya (jika harus berurutan) 2. Mampu : langkah yang dikerjakan sesuai dengan seharusnya tetapi tidak berurutan 3. Mahir : langkah yang dikerjakan sesuai dengan yang ditetapkan dan urutannya juga tepat T / D : Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
IX.5.1 ± Gangguan Pendengaran pada Anak Usia Sekolah 10 KEGIATAN KASUS mengganggu. Anak duduk dengan sudut oblik sehingga pemeriksadan audiometer tidak terlihat dari pandangan anak b. Pemeriksa tidak boleh memberi tanda visual seperti ekspresi muka, gerakan mata atau kepala. c. Penempatan headphone atau earphone harus tepat. Kesalahan penempatan earphone 1 inchi menyebabkan pergeseran ambang dengar 30-35 dB d. Menjelaskan kepada anak tentang pemeriksaan yang akan dilakukan. Memberikan stimulus awal 60 db pada 1000 Hz untuk memperkenalkan suara yang harus diperhatikan oleh anak. Selanjutnya anak diinstruksikan untuk mengangkat tangan sesuai dengan sisi telinga yang mendengar. e. Pemeriksaan dilakukan untuk hantaran udara pada frekuensi 500, 1000, 2000, 4000 Hz dikedua telinga f. Waktu pemeriksaan cukup 3-5 menit g. Pemberian stimulus nada tidak boleh terlalu lama atau terlalu cepat (cukup 1-2 detik) IV. ANALISIS DAN INTERPRETASI HASIL SKRINING - Bila hasil pemeriksaan anak menunjukan respons < atau sama dengan 40 db (pada frekuensi 500,1000,2000, 4000 Hz berarti : Lulus skrining. - Bila hasil pemeriksaan anak menunjukan respons > 40 db pada frekuensi 500,1000,2000, 4000 Hz berarti : tidak Lulus skrining Æ rujuk - Bila hasil pemeriksaan anak menunjukan respons > 40 db pada frekuensi 500 Hz , sedangkan respons < atau sama dengan 40 db (,1000,2000, 4000 Hz) maka lihat batas bising lingkungan. a. Bila bising lingkungan < 40 db -Æ tidak lulus skrining Æ rujuk b. Bila bising lingkungan > 40 db, maka konfirmasi dengan hasil tes penala Weber dan timpanometri *Bila tidak terdapat lateralisasi pada tes Weber dan timpanometri normal -Æ lulus skrining *Bila terdapat lateralisasi pada tes penala Weber dan timpanometri tidak normal -Æ tidak lulus skrining Ærujuk V. PENATALAKSANAAN Penyuluhan mengenai kesehatan telinga dan pendengaran. Melakukan rujukan ke rumah Sakit yang memiliki fasilitas pemeriksaan lebih lengkap. - Diberi terapi disesuaikan dengan hasil pemeriksaan (misalnya bila ada serumen, OMSK) - Rehabilitasi disesuaikan dengan hasil pemeriksaan.
IX.5.1 ± Gangguan Pendengaran pada Anak Usia Sekolah 11 DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA PROSEDUR SKRINING PENDENGARAN PADA ANAK USIA SEKOLAH Berikan penilaian tentang kinerja psikomotor atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan suatu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini : V: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar X: Tidak memuaskan : Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar T/T: Tidak Ditampilkan : Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih PESERTA:........................................................ TANGGAL :......................... KEGIATAN NILAI PERSIAPAN 1. Kaji ulang pemeriksaan pendengaran ( identitas , ruangan, dll) 2. Menyiapkan alat-alat pemeriksaan PROSEDUR PEMERIKSAAN 1. Melakukan anamnesis untuk mengetahui gejala dan tanda gangguan pendengaran serta kemungkinan etiologi dan faktor risiko 2. Pemeriksaan THT dengan - Otoskopi - Tes penala dengan garpu tala 512 Hz (Tes Rinne dan Weber) 3. Pemeriksaan timpanometri 4. Pemeriksaan audiometri Anak duduk dengan sudut oblik sehingga pemeriksa dan audiometer tidak terlihat dari pandangan anak Pemeriksa tidak boleh memberi tanda visual seperti ekspresi muka, gerakan mata atau kepala Penempatan headphone atau earphone harus tepat Menjelaskan kepada anak tentang pemeriksaan yang akan dilakukan. Memberikan stimulus awal 60 db pada 1000 Hz untuk memperkenalkan suara yang harus diperhatikan oleh anak. Selanjutnya anak diinstruksikan untuk mengangkat tangan sesuai dengan sisi telinga yang mendengar Pemeriksaan dilakukan untuk hantaran udara pada frekuensi 500, 1000, 2000, 4000 Hz dikedua telinga Pemberian stimulus nada tidak boleh terlalu lama atau terlalu cepat (cukup 1-2 detik) Waktu pemeriksaan cukup 3-5 menit
IX.5.1 ± Gangguan Pendengaran pada Anak Usia Sekolah 12 L. MATERI PRESENTASI Slide 1 : Judul Gangguan Pendengaran Pada Anak Sekolah Slide 2 : Tujuan Pembelajaran Slide 3 : Anatomi Telinga Slide 4 : Fisiologi Pendengaran Slide 5 : Indikasi Skrining Slide 6 : Faktor Resiko Gangguan Pendengaran Slide 7 : Faktor Risiko Gangguan Pendengaran Slide 8 : Gejala Klinis Slide 9 : Gejala Klinis Slide 10: Pemeriksaan Slide 11 : Pemeriksaan Garpu Tala (Tes Rinne) Slide 12 : Pemeriksaan Garpu Tala (Tes Weber) Slide 13 : Pemeriksaan Audiometri Slide 14: Pemeriksaan Audiometri Slide 15 : Penatalaksanaan Slide 16: Referensi M. MATERI BAKU Ruang lingkup : Anak sekolah berusia antara 5 tahun hingga 15 tahun Indikasi pemeriksaan skrining pendengaran : - Saat pertama kali masuk sekolah SD - Diulang pada kelas 3 SD, dan 6 SD - Anak sekolah diatas kelas 3 SD, tetapi mempunyai faktor risiko gangguan pendengaran dilakukan penapisan tiap 1 tahun sekali. Anatomi Telinga Telinga dibagi atas telinga luar (daun telinga sampai membran timpani), telinga tengah (tulang pendengaran pada kavum timpani, dan Tuba Eustachius), serta telinga dalam (koklea dan semisirkularis) Fisiologi Energi bunyi ditangkap oleh daun telinga dalam bentuk gelombang ,dialirkan melalui udara atau tulang ke koklea. Getaran diteruskan melalui rangkaian tulang
IX.5.1 ± Gangguan Pendengaran pada Anak Usia Sekolah 13 pendengaran yang mengalami amplifikasi. Energi ini diteruskan sehingga perilimfa pada skala vestibuli bergerak. Getaran diteruskan melalui membrana Reissner yang mendorong endolimfa dan menimbulkan gerak relatif antara membran Basilaris dan membran tektoria. Rangsang mekanik menyebabkan defleksi stereosilia sel rambut, selanjutnya terjadi proses depolarisasi yang akan melepaskan neurotransmiter ke dalam sinapsis. Potensial aksi terjadi terjadi pada saraf Auditorius, lalu dilanjutkan ke nukleus Auditorius sampai ke korteks pendengaran di lobus Temporalis. Etiologi Dan Faktor Risiko Gangguan pendengaran pada usia anak sekolah terdapat 3 macam berdasarkan jenisnya yaitu tuli konduktif, tuli sensorineural dan tuli campur. Faktor risiko terjadinya gangguan pendengaran antara lain: a. Otitis media berulang (2 episode otitis media dalam 6 bulan atau 1 episode otitis media serosa lebih dari 4 minggu), otitis media supuratif kronis b. Riwayat sering panas, tonsilitis, alergi c. Ada celah bibir atau palatum d. Kecurigaan ada gangguan pendengaran misalnya pernah tidak naik kelas e. Terdapat masalah berbicara dan bahasa f. Kesulitan mengikuti instruksi g. Rasa penuh ditelinga, tinitus h. Gagal pada penapisan pendengaran setahun sebelumnya i. Riwayat terpapar bising j. Riwayat dalam keluarga terdapat gangguan pendengaran k. Terdapat kelainan wajah dan kepala, terutama bentuk pina dan liang telinga l. Trauma kepala dengan disertai kehilangan kesadaran Gejala Rasa penuh di telinga, bising di telinga, keluar cairan dari telinga, kurang dengar hingga tidak dapat mendengar, tingkah laku sering menarik-narik daun telinga, sering meminta untuk mengulangi kata yang telah diucapkan, menoleh kepala kearah orang yang mengajak berbicara, membaca gerakan bibir, sering salah mendengar instruksi yang
IX.5.1 ± Gangguan Pendengaran pada Anak Usia Sekolah 14 diberikan, sering mengisolasi diri, berbicara terlalu keras atau terlalu lemah, gangguan berbicara. Pemeriksaan Pemeriksaan THT-KL Pemeriksaan telinga dengan otoskop Pemeriksaan pendengaran - Skrining pendengaran secara subjektif (tes penala, tes audiometri) - Skrining pendengaran secara objektif (tes timpanometri) Setelah memahami, menguasai, dan mengerjakan modul ini, seorang dokter ahli THT diharuskan mempunyai kompetensi serta penerapannya dapat dikerjakan di RS pendidikan dan RS jejaring pendidikan dan dapat dipergunakan oleh program studi disiplin ilmu terkait. N. ALGORITMA ANAMNESIS PEMERIKSAAN FISIK TELINGA LUAR OTOSKOPI TIDAK NORMAL NORMAL Serumen/BA Infeksi BERSIHKAN/ ANGKAT BA TERAPI SEMBUH Penapisan nada murni 500,1000,2000,4000 Hz Respons = 40 db Respons >= 40 db LULUS RUJUK
MODUL UTAMA THT KOMUNITAS GANGGUAN PENDENGARAN PADA POPULASI KHUSUS MODUL IX.5.2 GANGGUAN PENDENGARAN AKIBAT KERJA EDISI III KOLEGIUM ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER 2022
DAFTAR ISI A. WAKTU PEMBELAJARAN ....................................................................... 1 B. PERSIAPAN SESI ....................................................................................... 1 C. REFERENSI ................................................................................................. 1 D. KOMPETENSI ............................................................................................. 2 E. GAMBARAN UMUM ................................................................................. 3 F. CONTOH KASUS ....................................................................................... 3 G. TUJUAN PEMBELAJARAN ...................................................................... 4 H. METODE PEMBELAJARAN ..................................................................... 4 I. EVALUASI .................................................................................................. 6 J. INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF..................................................... 8 K. INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR ........................................... 11 L. DAFTAR TILIK ......................................................................................... 13 M. MATERI PRESENTASI ............................................................................ 13 N. MATERI BAKU ........................................................................................ 14 O. ALGORITMA ............................................................................................ 19
Modul IX.5.2 ± Gangguan Pendengaran akibat Kerja 1 MODUL IX.5.2 THT KOMUNITAS ± GANGGUAN PENDENGARAN PADA POPULASI KHUSUS: GANGGUAN PENDENGARAN AKIBAT KERJA A. WAKTU PEMBELAJARAN Mengembangkan kompetensi Hari : 30 Sesi dalam Kelas Sesi dalam fasilitasi Pembimbing Sesi praktek dan pencapaian kompetensi 2 x 30 menit (classroom session) 6 x 30 menit (coaching session) 6 minggu (fasilitation and assessment) B. PERSIAPAN SESI Materi presentasi: Gangguan pendengaran akibat kerja x LCD 1 : Anatomi Pendengaran x LCD 2 : Derajat kebisingan yang diperkenankan x LCD 3 :Jenis bising dan vibrasi pada pekerja x LCD 4 : Gejala dan tanda gangguan akibat bising auditorik x LCD 5 : Gejala dan tanda gangguan akibat bising non auditorik x LCD 6 : Pemeriksaan yang dilakukan x LCD 7 : Penatalaksanaan x LCD 8 : Preventif (KIE) (jenis2 pelindungtelinga) Kasus: Gangguan pendengaran akibat bising x Sarana dan alat bantu latih x Penuntun belajar (learning guide) terlampir x Contoh form skrining pendengaran pekerja x Tempat belajar ( training setting) x Poliklinik THT x Lokasi kerja yang terpajanbising x Video C. REFERENSI 1. Soetirto I, Bashiruddin J. GangguanPendengaranAkibatBising (Noise Induced Hearing Loss). Soepardi EA, Iskandar N. Buku Ajar IlmuPenyakit THT, edisike 6; FKUI 2007 hal 49-52 2. Frederick N Martin, John G C, Introduction of Audiology.9 th ed, Pearson, 2006
Modul IX.5.2 ± Gangguan Pendengaran akibat Kerja 2 3. Johanson M, On Noise and Hearing Loss Prevalence and Reference Data, Linkopng 2003 4. Health and Safety Laboratory, Noise Levels and Noise Exposure of Worker in Pubs and Clubs A Review of the Literature, 2002 5. Direktorat Kesehatan Khusus Direktorat Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial RI. Kebijakan Depkes dan Kesos RI dalam Penanganan Penyakit akibat Hubungan Kerja Simposium THT Penyakit Akibat Hubungan Kerja dan Cacat Akibat Kecelakaan Kerja, Jakarta 2001 6. Bashiruddin J. Pengaruh Bising& Getaran pada Fungsi Keseimbangan dan Pendengaran. Disertasi. Jakarta, UI 2002 7. Chasin, M. (2008, January 28). Musicians and the Prevention of Hearing Loss: An Introduction. Audiology Online. Available via the Articles Archieve on http://www.audiologyonline.com 8. PL Dhingra, Shruti Dhingra, Deeksa Dhingra. 2018. Diseases of Ear, Nose and Throat & Head and Neck Surgery 7th Edition. RELX India Pvt, Ltd. New Delhi, India D. KOMPETENSI Mampu melakukan skrining pendengaran pada kelompok pekerja dengan risiko terpajan bising; dan penatalaksanaan / tindak lanjut kasus yang tidak lulus skrining dapat membuat mapping lokasi sumber bising pada suatu tempat kerja; serta dapat melakukan penyuluhan proteksi pendengaran terhadap bising. Keterampilan Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam: 1. Menerangkan pengertian bising. 2. Menjelaskan masalah bising dan bagaimana pola bising dapat mengganggu pendengaran 3. Menjelaskan gejala-gejala / keluhan yang timbul akibat bising pada organ pendengaran atau pada organ lainnya. 4. Menjelaskan bagaimana gangguan pendengaran yang sementara dapat menjadi gangguan pendengaran yang menetap 5. Menjelaskan parameter kebisingan dan pajananwaktu yang diperkenankan
Modul IX.5.2 ± Gangguan Pendengaran akibat Kerja 3 6. Dapat melakukan pemeriksaan skrining pendengaran pada pekerja yang terpajan bising secara subyektif dan obyektif 7. Dapat melakukan pemetaan lokasi bising yang diperkenankan 8. Dapat menjelaskan manfaat penggunaan alat pelindung telinga untuk pekerja yang memiliki resiko terpajan bising 9. Dapat melakukan follow up dan rehabilitasi bila terjadi gangguan pendengaran 10. Dapat memberikan masukan/saran kepada pimpinan tentang pentingnya rotasi pada pekerja yang terpajan bising E. GAMBARAN UMUM Adanya gangguan pendengaran pada pekerja saat ini merupakan masalah yang sering terjadi terutama pada pekerja yang terpajan bising. Pada tahap awal keluhan adanya gangguan pendengaran yang tidak dirasakan sehingga pekerja dating bila sudah mengalami gangguan pendengaran seharusnya dapat dicegah dan dideteksi perlunya penyuluhan, komunikasi, edukasi dan informasi tentang bahaya pajanan bising dilingkungan kerja. Para peserta didik di bidang THT diharuskan mampu menganjurkan untuk kebisingan mengurangi dampak yang timbul pada kelainan ini. F. CONTOH KASUS Seorang pekerja pria 38 tahun mengeluhkan terdapat keluhan jantung berdebar- debar dan sulit melakukan konsentrasi pada pekerjaan serta sulit menangkap pembicaraan teman-temannya terutarna di tempal yang ramai. Tidak terdapat keluhan gangguan pendengaran sebelumnya, tidak menggunakan alat pelindung telinga.Pajanan bising di tempat kerja> 95 db, sudah bekerja selama 15 tahun. Diskusi Must to know - Bising dan getaran dapat mengakibatkan gangguan pendengaran - Keluhan yang diakibatkan oleh bisingselain pada pendengaran - Dapat melakukan diagnosis akibat bising bising - Merencanakan penataksanaan gangguan pendengaran akibat bising dan getaran - Menentukan/merencanakan lokasi2 yang dapat mengakibatkan gangguan akibat bising dan getaran
Modul IX.5.2 ± Gangguan Pendengaran akibat Kerja 4 Jawaban : G. TUJUAN PEMBELAJARAN Proses, materi dan metodapembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan ketrampilan yang diperlukan dalam mengenali dan menatalaksanakan kelainan gangguan pendengaran akibat bising dan getaran yaitu: 1. Menguasai anatomi dan jaras-jaraspendengaran 2. Mampu menjelaskan gejala yang ditimbulkan akibat bising dan getaran 3. Mampu menjelaskan derajat dan waktu yang diperkenankan akibat bising getaran 4. Mampu melakukan pemeriksaan pendengaran pada pekerja terpajan bising 5. Mampu membuat diagnosis gangguan pendengaran akibat bising dan getaran 6. Mampu melakukan penatalaksanaan gangguan pendengaran akibat bising dan getaran dan pencegahannya H. METODE PEMBELAJARAN x Tujuan 1. Menguasai anatomi dan jaras jaras pendengaran Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: Interactive group discussion Small group discussion Peer assisted learning (PAL) Harus diketahui :Anatomi telinga dan fisiologi pendengaran x Tujuan 2. Mampu menjelaskan gejala yang ditimbulkan akibat bising dan getaran Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: Interactive lecture Journal reading and review Peer assisted learning (PAL) Small group discussion Harus diketahui : Mengetahui gejala yang ditimbulkan akibat bising pada pendengaran
Modul IX.5.2 ± Gangguan Pendengaran akibat Kerja 5 Mengetahui gejala yang ditimbulkan akibat bising pada organ lain x Tujuan 3. Mampu menjelaskanderajat dan waktu yang diperkenankan akibat bising getaran Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: Interactive lecture Journal reading and review Peer assisted learning (PAL) Harus diketahui : Mengetahui derajat Pendengaran yang diperkenankan sesuai dengan Kep Men Tenaga kerja Indonesia 1999/ Kep 51/ Menaker Mengetahui waktu yang diperkenankan pada kondisi lingkungan yang bising x Tujuan 4. Mampu melakukan pemeriksaan pendengaran pada pekerja terpajan bising Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih pembelajaran berikut Interactive lecture Joumal reading and review Praktek secara langsung di lapangan Harus diketahui : Mengetahui spesivisitas alat Mengetahui sensitivitas alat cara kerja masing-masing alat pemeriksaan x Tujuan 5. Mampu membuat diagnosis gangguan pendengaran akibat bising dan getaran Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini : Interactive lecture Journal reading and review Diskusikasus Demontrasi dan pelatihan Simulasi dan pemeriksaanlangsungdilapangan Workshop (continue medical education)
Modul IX.5.2 ± Gangguan Pendengaran akibat Kerja 6 Harus diketahui Anamnesis. Pemeriksaan THT Gejala dan tanda gangguan pendengaran akibat bising Pemeriksaan skrining pendengaran dengan menggunakan garpu tala, audiometer dan OAE x Tujuan 6. Mampu melakukan penatalaksanaan gangguan pendengaran akibat bising dan getaran dan pencegahannya Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini : Interactive lecture Journal reading and review Pelatihan dengan pekerja langsung dengan dan tanpa alat bantu Harus diketahui : Melakukan edukasi pada pekerja tentang pentingnya tindaklanjut penatalaksanaan Mengetahui jenis-jenis alat pelindung telinga untuk mencegah gangguan pendengaran Mengetahui dan dapat melakukan penatalaksanaan gangguan pendengaran akibat bising dengan ABD, terapi wicara, rotasi pekerja, dll Dapat melakukan tindakan rujukan bila masih terdapat keluhan organ lain akibat bising Rangkuman Gangguan pendengaran akibat bising adalah suatu gangguan yang diakibatkan pajanan bising dan getaran di lingkungan kerja. Diagnosis dan penatalaksanaan kasus ini perlu diketahui agar dapat dilakukan deteksi dini untuk mencegah terjadinya gangguan ntersebut. I. EVALUASI 1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre test dalam bentuk tulisan sesuai dengan tingkat masa pendidikan, bertujuan menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik serta mengidentifikasi kekurangan yang ada. 2. Materi pre-test terdiri dari : - Anatomi, fisiologi dan patofisiologi sistem pendengaran
Modul IX.5.2 ± Gangguan Pendengaran akibat Kerja 7 - Etiologi dan faktor risiko - Gelala-gejala - Preventif - Pemeriksaan skrining pendengaran (subjektif dan objektif) - Penanganan (rehabilitasi) - Tindak lanjut/follow up 3. Melakukan diskusi kelompok kecil bersama pembimbing / fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar. 4. Peserta didik wajib mempelajari penuntun belajar untuk mengaplikasi langkah- langkah yang tertera. Pada saat pelaksanaan, penilai melakukan pengawasan langsung saat peserta didik melakukan anamnesis, pemeriksaan THT, pemeriksaan pendengaran dan memberikan penilaian sesuai kriteria dengan mengisi formulir sebagai berikut : - Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan. - Cukup : pelaksanaan benar tetapi tidak efisien. - Baik : pelaksanaan benar dan efisien 5. Di akhir penilaian dilakukan diskusi kembali untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak dapat dibicarakan didepan keluarga pasien dan memberikan masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan. 6. Self assessment dengan mempergunakan penuntun belajar 7. Pendidik / pembimbing Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form(terlampir) secara berkala. Melakukan diskusi Kriteria penilaian secara keseluruhan: cakap/tidak cakap/lalai 8. Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education) 9. Pencapaian pembelajaran Ujian akhir stase, berupa ujian tulisan Ujian akhir kognitif / psikomotor
Modul IX.5.2 ± Gangguan Pendengaran akibat Kerja 8 Ujian akhir profesi, dilakukan pada akhir pendidikan berupa ujian tulisan J. INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF Kuesioner sebelum pembelajaran 1. Gangguan pendengaran akibat kerja dapat mengakibatkan gangguan pada organ vaskular dan dapatmengakibatkanhipertensi B S 2. Penggunaan alat pelindung telinga dapat efektif bila menggunakan tipe earplug dan helmet pada kondisi bising B S Jawaban : Kuesioner Tengah pembelajaran 1. OAE dapat digunakan sebagai monitor fungsi pendengaran jangka panjang B S 2. Pemantauan bising lingkungan menghasilkan Titik-titik sumber bising Analisa frekuensi sumber bising Peta kebisingan Bukan salah satu diatas Jawaban : Essay/UjianLisan/Uji Sumatif Contoh: Telinga kanan: Telinga kiri: - 500 Hz = 35 dB - 500 Hz = 40 dB - 1000 Hz = 40 dB - 1000 Hz = 50 dB - 2000 Hz = 45 dB - 2000 Hz = 50 dB - 3000 Hz = 60 dB - 3000 Hz = 60 dB Jumlah nilai ambang 500+1000+2000+3000 Hz: - telinga kanan : 35 +40 +45 +60 = 180 dB - telinga kiri : 40 +50 +50 +60 = 200 dB (Average Hearing Threshold Level = HTL rata-rata) + Telinga kanan : 180 : 4 = 45 dB + Telinga kiri : 200 : 4 = 50 dB
Modul IX.5.2 ± Gangguan Pendengaran akibat Kerja 9 Perhitungan Cacat Monaural usia< 40 tahun : Ambang dengar dikurangi 25 dB Telinga kanan : (45-25) X 1,5 % = 30 % Telinga kiri : (50-25) X 1,5 % = 37,5 % Konversikan Penurunan Pendengaran Monoaural Ke dalamPersentase Binaural Telinga kanan (lebih Baik) : 30 % X 5 = 150 % Telinga kiri (lebih Buruk) : 37,5% X 1 = 37,5 % Jumlah 150 % + 37,5% = 187,5 % : 6 = 31,25 % Penentuan Ganti Rugi Kecacatan Sesuai lampiran UU No 2/1951 Cacat pendengaran binaural total pada contoh di atas perhitungan persentase cacatnya adalah 31,25 X 40 % = 12,5 % PerhitunganKecacatan Pada Usia> 40 Th Telinga kanan : 45 - (25+1,5) = 18,5 dB Telinga kiri : 50 - (25+1,5) = 23,5 dB Persentase penurunan daya dengar monaural: Kanan : 18,5 X 1,5% = 25,75 % Kiri : 23,5 X 1,5% = 35,25 % Penilaian Kecacatan (Tabel) Contoh: Pasien A Telinga kanan : Telinga kiri : - 500 Hz = 15 dB - 500 Hz = 30 dB - 1000 Hz = 25 dB - 1000 Hz = 45 dB - 2000 Hz = 45 dB - 2000 Hz = 60 dB - 3000 Hz = 55 dB -3000 Hz = 85 dB 140 dB 220 dB Contoh : Pasien B Telingakanan : Telingakiri : - 500 Hz = 80 dB - 500 Hz = 75 dB - 1000 Hz = 90 dB - 1000 Hz = 80 dB - 2000 Hz = 100 dB - 2000 Hz = 90 dB - 3000 Hz = 100 dB - 3000 Hz = 95 dB 370 dB 340 dB
Modul IX.5.2 ± Gangguan Pendengaran akibat Kerja 10 Perhitungan persentase kehilangan pendengaran monaural, pada: Pasien A: Tingkat pendengaran telinga kanan adalah 140 dB sesuaidengan 15 %, pendengaran telinga kiri adalah 220 dB sesuai dengan 45 %. Pasien B : Tingkat pendengaran telinga kanan adalah 370 dB sesuai dengan 100 %, pendengaran telinga kiri adalah 340 dB sesuai dengan 90 %. Perhitungan Persentase Kehilangan Pendengaran Pasien A: Persentase akan kehilangan pendengaran binaural sebesar 20 % sesuai dengan 7 % dari kecacatan seluruh tubuh. Pasien B: Persentase kehilangan pendengaran binaural sebesar 92 % sesuaidengan 32% dari kecacatan seluruh tubuh. Kehilangan pendengaran karena pekerjaan --> ketulian akibat bising industri.
Modul IX.5.2 ± Gangguan Pendengaran akibat Kerja 11 K. INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR SKRINING PENDENGARAN AKIBAT BISING NAMA PESERTA : ........... TANGGAL : .......... KEGIATAN KASUS 1. KAJI ULANG PROSEDUR SKRINING PEMERIKSAAN PENDENGARAN - Identitas - Informed consent - Rencana pemeriksaan - Persiapan sebelum tindakan II. PERSIAPAN PEMERIKSAAN SKRINING PENDENGARAN - Dilakukan pada ruangan yang kedap suara< 40dB dengan menggunakan sound level meter Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut : 1. Perlu perbaikan : Langkah yang telah dibuat tidak dikerjakan atau tidak sesuai urutannnya (jika harus berurutan) 2. Mampu : langkah yang dikerjakan sesuai dengan seharusnya tetapi tidak berurutan 3. Mahir : Langkah -Langkah yang dikerjakan sesuai dengan yang ditetapkan dan urutannya juga tepat T/D Langkah tidak diamati (penilai menggganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
Modul IX.5.2 ± Gangguan Pendengaran akibat Kerja 12 KEGIATAN KASUS - Persiapan alat yang akan digunakan seperti : o Otoskop o Garpu Tala o OAE ( bila alat tersedia) o Audiometer Skrining (yang sudah kalibrasi) - Persiapan sebelum pemeriksaan pekerja harus bebas Bising minimal 16 jam sebelumnya. (ASHA) III. PROSEDUR PEMERIKSAAN SKRINING PENDENGARAN - Dilakukan Anamnesis - Pemeriksaan Telinga dengan menggunakan otoskop - Bila terdapat kelainan (serumen, OE, OME, dll) pemeriksaan ditunda dan dilakukan penatalaksaan yang sesuai - Dilakukan pemeriksaan garpu tala (512 Hz) - Dilakukan pemeriksaan dengan OAE minimal menggunakan 4 frekuensi dengan Kriteria Pass Refer 3/4 (bila alat tersedia) - Dilakukan Pemeriksaan audiometer pada frekuensi 500, 1000, 2000, dan 4000 Hz - Pemeriksaan area bising dengan menggunakan Sound Level Meter (menghitung rata-rata kebisingan di tempat kerja) - Interpretasi hasil skrining pendengaran IV. PENATALAKSAAN A. Pada skrining bila tidak ditemukan gangguan pendengaran Maka perlu dilakukan : - Penyuluhan tentang lokasi bising - Penyuluhan tentang pengaruh bising pd pendengaran - Pentingnya penggunaan alat pelindung telinga - Dilakukan pemeriksaan skrining pendengaran minimal 1x/th B. Bila ditemukan gangguan pendengaran - Penyuluhan tentang lokasi bising - Penyuluhan tentang pengaruh bising pd pendengaran - Pentingnya penggunaan alat pelindung telinga - Rehabilitasi dengan menggunakan alat bantu dengar dan terapi wicara (bila diperlukan) - Dilakukan pemeriksaan skrining pendengaran minimal 1x/th
Modul IX.5.2 ± Gangguan Pendengaran akibat Kerja 13 L. DAFTAR TILIK DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA SKRINING PENDENGARAN PADA PEKERJA Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau ketrampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan suatu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini : Memuaskan:langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar Tidak memuaskan :langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai Dengan prosedur atau panduan standart T/T Tidak ditampilkan:langkah, kegiatan atau ketrampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih NAMA PESERTA :.................................. TANGGAL :............................. KEGIATAN KASUS 1. Kaji ulang persiapan skrining pendengaran (ruangan, identitas, informed consent, dll) 2. Menyiapkan alat-alat pemeriksaan PROSEDUR PEMERIKSAAN 1. Melakukan anamnesis yang lengkap 2. Melakukan pemeriksaan telinga 3. Menegakkan diagnosis 4. Melakukan penatalaksaan M. MATERI PRESENTASI Slide 1 Judul Gangguan Pendengaran Akibat Bising Slide 2 Pendahuluan Slide 3 Anatomi Slide 4 Patogenesis Slide 5 Derajat Kebisingan yang diperbolehkan Slide 6 Niosh 1998 & Osha 2099 Slide 7 Peraturan Menteri Tenaga dan Transmigrasi Nomor PER.13/MEN/X/2011/Tahun 2011 Slide 8 Penentuan Derajat Gangguan Pendengaran Slide 9 NITTS &NIPTS Pada GPAB Slide 10 NITTSÆNIPTS Slide 11 Gejala Klinis/Simptom Slide 12 Faktor-Faktor Mempengaruhi GPAB
Modul IX.5.2 ± Gangguan Pendengaran akibat Kerja 14 Slide 13 Diagnosis Slide 14 Audiogram Slide 15 Mengapa NOTCH Pada 4.000 Hz ? Slide 16 Emisi Otoakustik Slide 17 Jenis OAE skrining buat GPAB Slide 18 Signal Noise To Ratio Slide 19 GPAB dapat menjadi cacat pendengaran Slide 20 Tatalaksana Slide 21 Pencegahan Slide 22 Program Konservasi Pendengaran Slide 23 Prognosis N. MATERI BAKU GANGGUAN PENDENGARAN AKIBAT BISING 1. Definisi a. Bising : suara yang tidak diinginkan Gangguan pendengaran akibat bising adalah gangguan pendengaran yang disebabkan akibat terpajan oleh bising yang cukup keras dalam jangka waktu yang cukup lama dan biasanya di akibatkan oleh bising lingkungan kerja. Sifat ketulian adalah sensorineural pada kedua telinga b. Skrining pendengaran adalah prosedur tespendengaran secara masal, cepat , praktis, cost effective pada populasitertentu, berdasarkan hasil skrining dapat dibedakan kelompok tanpa gangguan pendengaran dengan kelompok yang memerlukan tindaklanjut 2. Ruang Iingkup Pekerja terpajan bising 3. Gejala Kurang pendengaran disertai tinnitus atau tidak kadang-kadang disertai kesulitan menangkap pembicaraan dengan kekerasan biasa Pengaruh bising pada pekerja - Pengaruh auditorial - Pengaruh non auditorial
Modul IX.5.2 ± Gangguan Pendengaran akibat Kerja 15 4. Patogenesis Pengaruh bising menyebabkan adanya gangguan di dalam koklea berupa kerusakan sel-sel sensorik dan penunjang juga dapat menimbulkan efek pada sel-sel ganglion, saraf, membrane tektoria, pembuluh darah dan stria vaskularis. Jenis kerusakan pada struktur organ tertentu yang ditimbulkan bergantung pada intensitas, lama pajanan dan frekuensi bising. NITTS & NIPTS pada GPAB Noise Induced Temporary Threshold Shift (NITTS); kerusakan sel rambut koklea bersifat immediately dan reversible disebut kerusakan sementara waktu bisa menit atau jam dan akan kembali normal. . Noise Induced Permanent Threshold Shift (NIPTS); kerusakan sel rambut luar dan sinaps akibat kerusakan sel rambut yang permanen (tetap). NITTS -> NIPTS diperlukan waktubekerja dilingkungan bising selama 10 ± 15 tahun, tetapi hal ini bergantung juga kepada tingkat suara bising dan kepekaan seseorang terhadap suara bising. Pada mulanya seseorang akan mengalami kesulitan untuk mengadakan pembicaraan di tempat yang ramai, tetapi bila sudah menyebar ke frekwensi yang lebih rendah maka akan timbul kesulitan untuk mendengar suara yang sangat lemah. Notch bermula pada frekwensi 3000 ± 6000 Hz, Beberapa waktu gambaran audiogram menjadi datar pada frekwensi yang lebih tinggi. Kehilangan pendengaran pada frekwensi 4000 Hz akan terus bertambah dan menetap setelah 10 tahun dan kemudian perkembangannya menjadi lebih lambat 5. Diagnosis Berdasarkan anamnesis, riwayatpekerjaan, pemeriksaanfisik dan otoskopisertapemeriksaanpenunjangberupaaudiometri dan OAE (oto acoustic emmision). Pada pemeriksaan audiometric menunjukkan adanya tuli sensorineural pada frekuensi 3000 ² 6000 Hz dengan penurunan di 4000 Hz yang merupakan patognomonik untuk jenis ketulian ini. Pemeriksaan OAE menunjukkan hasil refer.
Modul IX.5.2 ± Gangguan Pendengaran akibat Kerja 16 Mengapa Notch Pada 4.000 Hz ? Telinga luar manusia mempengaruhi sifat fisik suara di luar kepala dengan resonansi pada frekuensi antara 2.000 dan 4.000 Hz, tergantung pada volume dan panjang saluran telinga Saat memasang alat bantu dengar, penempatan earmold menyebabkan gangguan resonansi saluran telinga yang normal, Respon bantuan telinga (REAR) harus memberikan penguatan untuk mengkompensasi hilangnya insersi, hanya untuk kembali ketingkat suara yang akan sampai di gendang telinga tanpa penutup telinga atau alat bantu dengar. Untuk suara dengan frekuensi luas, hasil dari TFOE (transfer function of the open ear) adalaht ingkat keseluruhan yang diukur di gendang telinga kira- kira 7 dB lebih tinggi daripada yang diukur di bahu. Mengingat bahwa Sebagian besar suara lingkungan relative luas, rentang frekuensi stimulasi maksimum kira-kira satu-setengah hingga satu oktaf di bawah 4.000 Hz. Inilah alasan lain mengapa wilayah frekuensi 4.000 Hz paling rentan terhadap kerusakan. Indikasi pemeriksaan skrining pendengaran : Orang yang terpajan bising (misalnya di pabrik) Orang yang mempunyai gaya hidup dengan resiko terpajan bising (misalnya penikmat musik, penikmat permainan elektronik yang bising, dll) 6. Diagnosa banding Presbikusis, gangguan pendengaran saraf lainnya 7. Penatalaksanaan Sesuai dengan penyebab ketulian, penderita sebaiknya dipindahkan kelingkungan kerja yang lebih aman. Penggunan alat pelindung terhadap bising seperti sumbat telinga, tutup telinga dan pelindung telinga harus digunakan pada lokasi kerja yang bising.Bila sudah terdapat gangguan pendengaran yang menetap maka dilakukan rehabilitasi. Otoskopi Garpu Tala Audiometri (OAE)
Modul IX.5.2 ± Gangguan Pendengaran akibat Kerja 17 8. OAE Suara berintensitas dihasilkan oleh sel rambut luar dari koklea dan dapat ditimbulkan oleh mikrofon yang diletakkan di telinga luar dan dianalisa di komputer. Suara dihasilkan oleh sel rambut luar dan bergerak pada arah yang berlawanan. Sel rambut luar Æ membran basilar Æ perilimph Æ oval window Æ ossicles (tulang kecil) Æ membran timpani Æ kanal telinga. OAE dapat dilakukan apabila sel rambut luar sehat dan tidakada yang rusak sehingga membantu menguji fungsi koklea. Tipe OAE dibagi 2 yaitu : Spontaneous OAE atau Evoked OAE 1. Spontaneous OAE : Pada orang dengan pendengaran normal yang sehat dimana gangguan pendengaran tidak melebihi 50 dB. Mungkin tidak ada pada 50% orang normal 2. Evoked OAE : Dibagi menjadi 2 tipe berdasarkan stimulus suara a) Transient evoked OAEs (TEOAEs) :Dibangkitkandenganklik. Serangkaian rangsangan klik disajikan pada 80-85 dB dan hasil respon dicatat b) Distortion product OAE (DPOAEs) :Dua nada secara bersamaan disajikan ke koklea untuk menghasilkan produk distorsi dan telah digunakan untuk menguji pendengaran dalam kisaran 1000-8000 Hz. Signal Noise To Ratio Signal to Noise Ratio (SNR) digunakan untuk menunjukkan perbedaan antara nilai pengukuran OAE dengan latar belakang tingkat pajanan bising. (Moussavi-Najarkolaet al., 2012) SNR digunakan untuk menunjukkan perbedaan antara emisi OAE yang diukur dengan tingkat kebisingan sebagai latar belakang (Dostiet al., 2014; Nassiriet al., 2016) RUMUS SNR = *DP= Distortion Product NF= Noise Floor
Modul IX.5.2 ± Gangguan Pendengaran akibat Kerja 18 9. Prognosis Pada gangguan pendengaran akibat bising prognosisnya kurang baik karena bersifat menetap sehingga pencegahan merupakan hal terpenting pada keadaan ini. 10. Pencegahan Keadaan lokasi kerja yang bising harus menggunakan alat pelindung telinga Pencegahan dengan program konservasi pendengaranmerupakan hal yang paling baik dilakukan dengan melakukan identifikasi sumber bising melalui survey kebisingan, melakukan analisis kebisingan dengan mengukur kebisingan menggunakan sound level meter, melakukan pemeriksaan pendengaran secara berkala dengan menggunakan audiometri dan OAE menerapkan sistem komunikasi, informasi dan edukasi serta menerapkan penggunaan alat pelindung diri secara ketat dan melakukan pencatatan dan pelaporan data. Setelah memahami, menguasai dan mengerjakan modul ini diharuskan seorang dokter ahli THT mempunyai kompetensi serta penerapannya pada pekerja di lingkungan bising. GPAB dapat menjadi cacat pendengaran: - Unilateral (monaural) Æsatu telinga - Bilateral (binaural) Ædua telinga GPAB karena: - Sensitifitas telinga individu berbeda - pajanan bising bervariasi - kelalaian akibat tidak memakai APD 11. Tatalaksana x Pemeriksaan audiometri Meyakinkan pasien dengan gangguan pendengaran yang signifikan untuk mencari pengobatan. x Alat Bantu Dengar Membantu memperbaiki fungsi pendengaran dan menaikkan ambang dengar penderita x Rehabilitasi Vokasional PEKERJA DENGAN RISIKO TERPAJAN BISING
Modul IX.5.2 ± Gangguan Pendengaran akibat Kerja 19 Meyakinkan bahwa pasien dapat bekerja dengan aman dan efektif dengan adanya gangguan pendengaran. O. ALGORITMA *) Pemeriksaan audiometeri tidak dilakukan pada pekeria yang terdapat tanda- tanda infeksi (OMSK aktif, OE, dll) serumen. KEPUSTAKAAN MATERI BAKU 1. Soetirto I, Bashiruddin J. GangguanPendengaranAkibatBising (Noise Induced Hearing Loss). Soepardi EA, Iskandar N. Buku Ajar IlmuPenyakit THT, edisike 6; FKUI 2007 hal 49-52 2. Frederick N Martin, John G C, Introduction of Audiology.9 th ed, Pearson, 2006 3. Johanson M, On Noise and Hearing Loss Prevalence and Reference Data, Linkopng 2003 4. Health and Safety Laboratory, Noise Levels and Noise Exposure of Worker in Pubs and Clubs A Review of the Literature, 2002 5. Direktorat Kesehatan Khusus Direktorat Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial RI. Kebijakan Depkes dan Kesos RI dalam Penanganan Penyakit Akibat Hubungan Kerja Simposium THT Penyakit Akibat Hubungan Kerja dan Cacat Akibat Kecelakaan Kerja, Jakarta 2001 6. Bashiruddin J. Pengaruh Bising & Getaran pada Fungsi Keseimbangan dan Pendengaran. Disertasi. Jakarta, UI 2002 7. Chasin, M. (2008, January 28). Musicians and the Prevention of Hearing Loss: An Introduction. Audiology Online. Available via the Articles Archieve on http://www.audiologyonline.com 8. PL Dhingra, Shruti Dhingra, Deeksa Dhingra. 2018. Diseases of Ear, Nose and Throat & Head and Neck Surgery 7th Edition. RELX India Pvt, Ltd. New Delhi, India
MODUL UTAMA THT KOMUNITAS GANGGUAN PENDENGARAN PADA POPULASI KHUSUS MODUL IX.5.3 OTOTOKSIK EDISI III KOLEGIUM ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER 2022
DAFTAR ISI A. WAKTU PEMBELAJARAN ..............................................................................1 B. PERSIAPAN SESI ...............................................................................................1 C. REFERENSI ........................................................................................................1 D. KOMPETENSI ....................................................................................................2 E. GAMBARAN UMUM ........................................................................................3 F. CONTOH KASUS DAN DISKUSI ....................................................................3 G. TUJUAN PEMBELAJARAN..............................................................................5 H. METODE PEMBELAJARAN ............................................................................5 I. EVALUASI ..........................................................................................................7 J. INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF ............................................................9 K. INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR ...................................................10 L. DAFTAR TILIK ................................................................................................12 M. MATERI PRESENTASI....................................................................................12 N. MATERI BAKU ................................................................................................13
Modul IX.5.3 ± Ototoksik 1 MODUL IX.5.3 THT KOMUNITAS ± OTOTOKSIK A. WAKTU PEMBELAJARAN Proses Pengembangan Kompetensi Alokasi Waktu Sesi di dalam kelas Sesi dengan fasilitasi pembimbing Sesi praktik dan pencapaian kompetensi 4 X 60 menit (classroom session) 4 X 60 menit (coaching session) 16 jam (fascilitation and assessment) B. PERSIAPAN SESI x Materi presentasi : Gangguan pendengaran akibat ototoksik Slide 1 : Anatomi koklea Slide 2: Patofisiologi ototoksisitas Slide 3: Farmakologi obat penyebab ototoksik Slide 4: Gejala dan tanda gangguan akibat ototoksik pada pendengaran dan organ lain. Slide 5: Monitoring dan Diagnosis Slide 6: Bias Pemeriksaan Slide 7: Penatalaksanaan dan (re)Habilitasi x Kasus: Gangguan Pendengaran akibat Ototoksik x Sarana dan alat bantu latih o Model Anatomi, Video o Penala, Audiometer Pure Tone, Impedance, BERA, OAE o Penuntun belajar (learning guide) terlampir o Tempat belajar (training setting) : Poliklinik THT-KL, Ruang Pemeriksaan Audiologi THT-KL. x Penuntun belajar (learning guide) terlampir o Algoritma skrining pendengaran pada ototoksik o Tempat belajar (training setting): o Poliklinik THT C. REFERENSI 1. Gregory JM, Leonard P. Ototoxic drugs head and neck surgery otolaryngology, Vol 2J.B. Lippincott company. Philadelphia, 1993:p.1793- 802. 2. Scott PS, William LM, Charles GW. Ototoxycity otolaryngology vol.3 Otol and Neurotol. Third Ed. WB Saunders. Company. 1991:p.1653-69. 3. Roland. Ototoxycity. 1 st edition. BC Decker Inc. Hamilton. London. 2004.
Modul IX.5.3 ± Ototoksik 2 4. Hall JW. Monitoring cochlear function in ototoxicity. In: Handbook of otoacoustic emissions. 1 st edition. Delmar, Cengange Learning. Canada, 2000. P463-79. 5. Huth ME, Ricci AJ, Cheng AG. Mechanisms of aminoglycoside ototoxicity and targets of hair cell protection. International Journal Otolaryngology. Vol 2011;1-20. 6. Rybak LP, Ramkumar. Ototoxicity. International Society of Nephrology. 2007:72;931-35. 7. Wei WI, Chua DTT. 2014. Nasopharyngeal carcinoma. Dalam: Newlands S, Amin M, Branstetter B, Casselbrant M, Eibling D, Ferguson B, et al (editor). Bailey's head & neck surgery. Edisi ke-5. Philadelphia: Lippincott- Raven Publisher; 2014. hlm. 1875-86. 8. Lin HW, Roberts DS, Harris JP (editor). Cummings review of otolaryngology. Edisi ke-7. Philadelphia: Elsevier;2017. 16-9. 9. Martin FN, Clark JG (editors). Introduction to audiology. Edisi ke-11. New Jersey: Pearson Education;2012.225-42. D. KOMPETENSI A. Pengetahuan Setelah mengikuti sesi ini peserta mampu: a. Mampu melakukan skrining dan diagnosis pendengaran dan intervensi dini pada pasien dengan risiko tinggi terjadinya ototoksik berdasarkan pemeriksaan fisik pendengaran dan keseimbangan dan serta pemeriksaan pemeriksaan tambahan / penunjang (?). b. Mampu memutuskan dan menangani secara mandiri termasuk memilih jenis rehabilitasi bila terjadi gangguan pendengaran akibat ototoksik. c. Mampu melakukan monitoring pemakaian obat ototoksik American Academy of Audiology Position Statement and Clinical Practice Guidelines: Ototoxicity Monitoring. October 2009. www. Audiology.org B. Keterampilan Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam : a. Menjelaskan anatomi koklea dan fisiologi pendengaran b. Menjelaskan defenisi ototoksik c. Menjelaskan patofisiologi terjadinya ototoksik d. Menjelaskan obat-obatan yang mempunyai risiko terjadinya ototoksik e. Menjelaskan gejala-gejala/keluhan yang timbul akibat ototoksik di organ pendengaran atau organ lainnya.
Modul IX.5.3 ± Ototoksik 3 f. Dapat melakukan pemeriksaan skrining dan diagnosis pada pasien yang terpajan obat ototoksik secara subyektif dan obyektif g. Dapat memberikan masukan/saran kepada teman sejawat untuk mempertimbangkan pemilihan obat alternatif yang bersifat kurang ototoksik h. Dapat melakukan monitoring pemakaian obat ototoksik i. Dapat melakukan dan rehabilitasi bila terjadi gangguan pendengaran E. GAMBARAN UMUM Memberikan penjelasan dan upaya yang akan dilakukan selama sesi atau praktek yang dilakukan terkait dengan sesi ini sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dalm waktu yang telah dialokasikan dan kompetensi yang diperoleh adalah sesuai yang diinginkan. Gangguan pendengaran akibat obat ototoksik adalah gangguan pendengaran atau ketulian yang disebabkan oleh pemakaian obat oral, topical, dan parenteral yang bersifat ototoksik. Obat ototoksik mempunyai dampak terjadinya menyebabkan gangguan pendengaran maupun gangguan pada organ lain. Gangguan pendengaran bersifat tuli sensorineural biasanya bilateral dan diawali di frekuensi tinggi. Keluhan dapat disertai dengan tinitus. Efek ototoksik berhubungan erat dengan usia dan dosis kumulatif (kemoterapi). Dalam melakukan evaluasi adanya gangguan pendengaran akibat ototoksik perlu adanya data dasar pendengaran seseorang sebelum mendapat terapi. Adanya gangguan pada sel rambut luar koklea dilakukan dengan pemeriksaan OAE (Otoacoustic Emission) terutama DPOAE protokol ototoksik secara berkala, selain melakukan pemeriksaan audiometri frekuensi tinggi. Perlunya penyuluhan, komunikasi, edukasi, dan informasi tentang bahaya ototoksik pada fungsi pendengaran. Para peserta didik di bidang THT diharuskan mampu melakukan protokol monitoring pada pasien yang menjalani pengobatan dengan risiko ototoksik F. CONTOH KASUS DAN DISKUSI Seorang pria 45 tahun mengeluhkan benjolan di leher dengan diagnosis karsinoma nasofaring mendapat kemoterapi. Setelah pemberian kemoterapi siklus ke 2 pasien mengeluh telinga berdenging. Sebelumnya keluhan tersebut
Modul IX.5.3 ± Ototoksik 4 tidak dirasakan. Pada pemeriksaan OAE protokol ototoksik terlihat adanya gangguan emisi pada frekuensi 6000 ± 8000 Hz. Audiometri nada murni tampak adanya penurunan ambang dengar pada frekuensi 8000 Hz sampai 60 dB, diawali dengan frekuensi tinggi. Kerusakan bagian apa yang terjadi pada sistem pendengaran pasien ini? a. Nervus VIII b. Sel rambut dalam koklea c. Sel rambut luar koklea d. Stria vaskularis Diskusi : Langkah awal adalah melakukan anamnesis dengan teliti mengenai keluhan pasien serta mencari tahu apakah terdapat data dasar status pendengaran sebelum diberikan kemoterapi. Kerusakan akibat obat kemoterapi mengenai sel rambut luar koklea terutama bagian basal. Berakibat gangguan pada frekuensi tinggi. Adanya gangguan yang terjadi pada frekuensi tinggi terdeteksi pada hasil pemeriksaan DPOAE protokol ototoksik dan audiometri nada murni frekuensi tinggi yang dilakukan secara berkala. Apabila gangguan pendengaran terjadi pada frekuensi lainnya maka perlu diberi masukan kepada dokter yang memberikan kemoterapi, apakah perlu penggantian jenis obat. Sebaliknya gangguan pendengaran akibat kemoterapi perlu rehabilitasi dengan pemberian ABD (alat bantu dengar) ataupun implan koklea. Must to know Obat ototoksik dapat mengakibatkan gangguan pendengaran akibat terjadinya kerusakan pada koklea. Bagian koklea yang pertama mengalami kerusakan adalah sel rambut luar bagian basal yang berdampak pada frekuensi tinggi sistem pendengaran. Pemeriksaan DPOAE dan audiometri nada murni frekuensi tinggi dapat menegakkan diagnosis adanya gangguan pendengaran akibat obat ototoksik Harus dilakukan monitoring pemakaian obat ototoksik Merencanakan penataksanaan gangguan pendengaran akibat obat ototoksik.
Modul IX.5.3 ± Ototoksik 5 G. TUJUAN PEMBELAJARAN Tujuan Pembelajaran Umum Setelah mengikuti sesi ini peserta didik terampil dalam : Proses, materi, dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan menatalaksanakan kelainan gangguan pendengaran akibat ototoksik yaitu : Tujuan Pembelajaran Khusus 1. Mampu menegakkan diagnosis klinis berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan. 2. Mampu memutuskan dan menangani secara mandiri kasus gangguan pendengaran akibat ototoksik. Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk : 1. Menjelaskan anatomi koklea dan fisiologi pendengaran. 2. Menerangkan definisi ototoksik. 3. Menjelaskan patofisiologi terjadinya ototoksik 4. Menjelaskan obat-obatan yang mempunyai risiko terjadinya ototoksik 5. Menjelaskan gejala-gejala/keluhan yang timbul akibat ototoksik di organ pendengaran atau organ lainnya. 6. Dapat melakukan pemeriksaan skrining dan diagnosis pada pasien yang terpajan obat ototoksik secara subjektif dan objektif 7. Dapat memberikan masukan/saran kepada teman sejawat untuk mempertimbangkan pemilihan obat alternatif yang bersifat kurang ototoksik 8. Dapat melakukan monitoring pemakaian obat ototoksik. 9. Dapat melakukan rehabilitasi bila terjadi gangguan pendengaran Menjelaskan jenis obat ototoksik. H. METODE PEMBELAJARAN Tujuan 1. Menguasai Anatomi Koklea dan Fisiologi Pendengaran Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut Interactive group discussion Small group discussion Peer assisted learning (PAL)
Modul IX.5.3 ± Ototoksik 6 Harus diketahui : Anatomi koklea Mekanisme transduksi suara menjadi listrik dalam koklea Fisiologi perilimf dan endolimf Siklus ion K+ dan peran stria vaskularis Tujuan 2. Mampu Menjelaskan Patofisiologi Ototoksitas Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: Interactive lecture Journal reading and review Peer assisted learning (PAL) Small group discussion Harus diketahui : Peran stria vaskularis dalam patofisiologi ototoksik Patologi kerusakan pada koklea dan saraf pendengaran akibat ototoksik Peran usia maupun dosis obat untuk terjadinya ototoksik Peran genetik dan faktor lain dalam kejadian ototoksik Tujuan 3. Mampu Menjelaskan Farmakologi Obat Penyebab Ototoksik Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut: Interactive lecture Journal reading and review Peer assisted learning (PAL) Harus diketahui : Jenis-jenis obat penyebab ototoksik Farmakologi dan perbedaan patofisiologi masing-masing obat terhadap terjadinya ototoksik Tujuan 4. Mampu Melakukan Pemeriksaan Skrining dan Mendiagnosis Pasien yang Terpajan Obat Ototoksik Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut : Interactive lecture Journal reading and review Praktek secara langsung di poliklinik Harus diketahui : Mengidentifikasi pajanan obat ototoksik Mampu melakukan pemeriksaan fisik telinga dan keseimbangan yang berhubungan dengan kasus ototoksik Mampu melakukan pemeriksaan penunjang yang sesuai dengan jenis obat yang digunakan Mampu merencanakan jadwal pemeriksaan berkala pasien dengan riwayat penggunaan obat ototoksik
Modul IX.5.3 ± Ototoksik 7 Tujuan 5. Mampu Melakukan Penatalaksanaan Pada Gangguan Pendengaran Akibat Obat Ototoksik Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut : Interactive lecture Journal reading and review Peer assisted learning (PAL) Harus diketahui : Pilihan tatalaksana untuk mengurangi efek ototoksik Mengetahui modalitas rehabilitasi pada gangguan menetap akibat ototoksik Mampu melakukan kandidasi pilihan alat bantu mendengar sesuai jenis kelainan Mampu merencanakan tatalaksana gangguan organ lain (keseimbangan) akibat ototoksik Rangkuman Gangguan pendengaran akibat ototoksik adalah suatu gangguan yang diakibatkan pemberian obat yang akan menimbulkan efek samping terhadap fungsi pendengaran. Pada anak hal ini sangat penting mengingat dalam masa pertumbuhan dapat memberikan dampak luas pada perkembangan berbicara dan berbahasa pada anak. Pemeriksaan otoacoustic emission (OAE) terutama DPOAE protokol ototoksik dapat memberikan gambaran kerusakan di koklea yang ditimbulkan obat ototoksik, sehingga peranannya sangat penting dalam memonitor efek samping. Diagnosis dan penatalaksanaan kasus ini perlu diketahui agar dapat dilakukan deteksi dini untuk mencegah terjadinya gangguan tersebut. I. EVALUASI 1. Panduan awal pertemuan dilaksanakan pre-test dalam bentuk tulisan sesuai dengan tingkat masa pendidikan, bertujuan menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik serta mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pre-test terdiri dari : Anatomi, fisiologi dan patofisiologi sistem pendengaran Etiologi dan faktor risiko Gelala-gejala Preventif
Modul IX.5.3 ± Ototoksik 8 Pemeriksaan skrining pendengaran (subyektif dan obyektif) Penanganan (rehabilitasi) Tindak lanjut / follow up 2. Melakukan diskusi kelompok kecil bersama pembimbing/fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal ± hal yang berkenaan dengan penuntun belajar. 3. Peserta didik wajib mempelajari penuntun belajar untuk mengaplikasi langkah- langkah yang tertera. Pada saat pelaksanaan, penilai melakukan pengawasan langsung saat peserta didik melakukan anamnesis, pemeriksaan THT, pemeriksaan pendengaran, dan memberikan penilaian sesuai kriteria dengan mengisi formulir sebagai berikut : Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan. Cukup : pelaksanaan benar tetapi tidak efisien. Baik : pelaksanaan benar dan efisien 4. Di akhir penilaian dilakukan diskusi kembali untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak dapat dibicarakan didepan keluarga pasien dan memberikan masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan. 5. Self assessment dengan mempergunakan penuntun belajar 6. Pendidik/pembimbing Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form (terlampir) secara berkala. Melakukan diskusi Kriteria penilaian secara keseluruhan: cakap / tidak cakap / lalai 7. Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education) 8. Pencapaian pembelajaran Ujian akhir stase, berupa ujian tulisan Ujian akhir kognitif / psikomotor Ujian akhir profesi, dilakukan pada akhir pendidikan berupa ujian tulisan
Modul IX.5.3 ± Ototoksik 9 J. INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF x Kuesioner sebelum pembelajaran 1. Organ Cortii adalah bagian dari koklea yang berfungsi mengubah energi suara menjadi listrik dan terletak di skala timpani B S 2. Perilimf dan endolimf memiliki komposisi elektrolit yang sama B S 3. Stria vaskularis memiliki peran penting dalam siklus K + B S 4. Kina adalah salah satu contoh obat yang dapat menyebabkan ototoksik B S 5. Semua pasien yang mendapatkan obat Streptomisin akan mengalami ototoksik/vestibulotoksik B S 6. Efek ototoksik gentamisin dapat digunakan sebagai pengobatan penyakit Meniere B S 7. Hasil OAE REFER pada pasien OMSK dalam pengobatan kemoterapi merupakan gejala terjadinya ototoksik B S 8. Pemeriksaan audiometri untuk monitoring ototoksik terdiri atas 500 Hz, 1KHz, 2 KHz dan 4 KHz B S KEGIATAN KASUS I. KAJI ULANG PROSEDUR SKRINING PEMERIKSAAN PENDENGARAN - Identitas - Informed consent - Rencana pemeriksaan - Persiapan sebelum tindakan II PERSIAPAN PEMERIKSAAN SKRINING PENDENGARAN - Dilakukan pada ruangan yang kedap suara < 40 dB dengan menggunakan sound level meter - Persiapan alat yang akan digunakan seperti : - Otoskop - OAE (idealnya DPOAE protokol ototoksik atau high frequency ) Audiometer (idealnya frekuensi sampai 20 KHz) III PROSEDUR PEMERIKSAAN SKRINING PENDENGARAN - Pemeriksaan idealnya dilakukan sebelum pasien diberi obat - Dilakukan anamesis - Pemeriksaan telinga dengan menggunakan otoskop - Lakukan pemeriksaan timpanometri untuk menyingkirkan kemungkinan OME - Bila terdapat kelainan (serumen, OE, OME dll) - pemeriksaan ditunda dan dilakukan penatalaksanaan yang sesuai - Dilakukan pemeriksaan dengan OAE idealnya DPOAE protokol ototoksik atau high frequency - Dilakukan pemeriksaan audiometer pada frekuensi o 500, 1000, 2000, 4000 Hz, 8 KHz, (10 KHz, 12 KHz, 16 KHz dan 20 KHz bila terdapat audiometer frekuensi tinggi)
Modul IX.5.3 ± Ototoksik 10 Jawaban : x Kuisioner Tengah pembelajaran 1. Efek ototoksik akan berhenti saat obat dihentikan B S 2. Pasien dengan ambang dengar lebih dari 40 dB pada frekuensi 4-8 KHz mengalami ototoksik grade 2 menurut Brocks B S 3. Semua jenis obat anti malaria memiliki derajat ototoksik yang sama B S 4. Salah satu cara mengurangi efek obat ototoksik adalah dengan mengurangi kecepatan penyuntikan B S 5. Efek ototoksik dari obat tetes disebabkan masuknya komponen obat ke dalam koklea melalui tingkap lonjong B S Jawaban : x Essay/Ujian Lisan/Uji Sumatif K. INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR SKRINING PENDENGARAN AKIBAT OTOTOKSIK - Interpretasi hasil skrining pendengaran, tentukan derajat gangguan dengar sesuai kriteria Brocks - Pasien diinstruksikan untuk datang kembali tiap minggu atau tiap 2 minggu selama pemberian obat - Pasien diminta datang pada minggu pertama, 1 bulan dan 3 bulan pasca pengobatan V. PENATALAKSANAAN A. Pada skrining bila tidak ditemukan gangguan pendengaran Pasien diedukasi untuk segera kontrol bila mengalami keluhan telinga berdenging, atau gangguan keseimbangan B. Bila ditemukan gangguan pendengaran pada DPOAE dan tidak pada Audiometri : Rekomendasi untuk mencegah gangguan dengar permanen/ lebih berat : penyesuaian dosis, pilihan obat lain yang sejenis, pemberian obat-obatan yang bersifat protektif C. Bila ditemukan gangguan dengar permanen - Habilitasi menggunakan FM sistem - Habilitasi menggunakan alat bantu dengar Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut : 1.Perlu perbaikan : langkah yang telah dibuat tidak dikerjakan atau tidak sesuai urutannya ( jika harus berurutan ) 2.Mampu : langkah yang dikerjakan sesuai dengan seharusnya tetapi tidak berurutan 3.Mahir : langkah yang dikerjakan sesuai dengan yang ditetapkan dan urutannya juga tepat T / D Langkah tidak diamati ( penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan )
Modul IX.5.3 ± Ototoksik 11 NAMA PESERTA :....................................... TANGGAL :............................. KEGIATAN KASUS I. KAJI ULANG PROSEDUR SKRINING PEMERIKSAAN PENDENGARAN - Identitas - Informed consent - Rencana pemeriksaan - Persiapan sebelum tindakan II PERSIAPAN PEMERIKSAAN SKRINING PENDENGARAN - Dilakukan pada ruangan yang kedap suara < 40 dB dengan menggunakan sound level meter - Persiapan alat yang akan digunakan seperti : Otoskop OAE (idealnya DPOAE protokol ototoksik atau high frequency ) Audiometer (idealnya frekuensi sampai 20 KHz) III PROSEDUR PEMERIKSAAN SKRINING PENDENGARAN - Pemeriksaan idealnya dilakukan sebelum pasien diberi obat - Dilakukan anamesis - Pemeriksaan telinga dengan menggunakan otoskop -Lakukan pemeriksaan timpanometri untuk menyingkirkan kemungkinan OME - Bila terdapat kelainan (serumen, OE, OME dll) pemeriksaan ditunda dan dilakukan penatalaksanaan yang sesuai - Dilakukan pemeriksaan dengan OAE idealnya DPOAE protokol ototoksik atau high frequency - Dilakukan pemeriksaan audiometer pada frekuensi 500, 1000, 2000, 4000 Hz, 8 KHz, (10 KHz, 12 KHz, 16 KHz dan 20 KHz bila terdapat audiometer frekuensi tinggi) - Interpretasi hasil skrining pendengaran, tentukan derajat gangguan dengar sesuai kriteria Brocks - Pasien diinstruksikan untuk datang kembali tiap minggu atau tiap 2 minggu selama pemberian obat - Pasien diminta datang pada minggu pertama, 1 bulan dan 3 bulan pasca pengobatan V. PENATALAKSANAAN A. Pada skrining bila tidak ditemukan gangguan pendengaran Pasien diedukasi untuk segera kontrol bila mengalami keluhan telinga berdenging, atau gangguan keseimbangan B. Bila ditemukan gangguan pendengaran pada OAE dan tidak pada Audiometri : - Rekomendasi untuk mencegah gangguan dengar permanen/ lebih berat : penyesuaian dosis, pilihan obat lain yang sejenis, pemberian obat-obatan yang bersifat protektif C. Bila ditemukan gangguan dengar permanen - Habilitasi menggunakan FM sistem - Habilitasi menggunakan alat bantu dengar
Modul IX.5.3 ± Ototoksik 12 L. DAFTAR TILIK M. MATERI PRESENTASI Slide 1 Judul Ototoksik Slide 2 Pendahuluan Slide 3 Pendahuluan Slide 4 Fisilogi Medengar Slide 5 Anatomi Koklea Slide 6 Koklea Slide 7 Sistem Vestibuler Slide 8 Patogenesis Tuli Akibat Ototoksik Slide 9 Efek Utama dari Obat Obat Ototoksik terhadap telinga Slide 10 Gejala Klinis Slide 11 Derajat Ototoksik Slide 12 Derajat Ototoksik DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA SKRINING PENDENGARAN AKIBAT OTOTOKSIK Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau ketrampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksnakan suatu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini : Memuaskan : Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar Tidak Memuaskan : Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standard T/T Tidak Ditampilkan : Langkah, kegiatan atau ketrampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih NAMA PESERTA :....................................... TANGGAL :............................. KEGIATAN Persiapan KASUS 1. Kaji ulang persiapan skrining pendengaran (ruangan, identitas, informed consent, dll) 2. Menyiapkan alat2 pemeriksaan PROSEDUR PEMERIKSAAN 1. Melakukan anamnesis yang langkap 2. Melakukan pemeriksaan Telinga 3. Menegakkan diagnosis 4. Melakukan penatalaksanaan
Modul IX.5.3 ± Ototoksik 13 Slide 13 Toksisitas Sistematik Slide 14 Golongan Obat Aminoglokosida Slide 15 Antibiotik lain Slide 16 Loop Dieuretik Slide 17 Obat Kemoterapi Slide 18 Antibiotik Topikal Slide 19 Antifungal Topikal Slide 20 Pemeriksaan Penunjang Slide 21 Deteksi Dini Ototoksisitas Slide 22 Deteksi Dini Ototoksisitas Slide 23 Regimen TB Slide 24 Penatalaksanaan Slide 25 Penatalaksanaan Slide 26 Pencegahan N. MATERI BAKU Gangguan Pendengaran akibat Ototoksik Definisi Ototoksisitas adalah suatu keadaan dimana terjadi kerusakan pada koklea ataupun apparatus vestibularis yang diakibatkan oleh paparan bahan kimia termasuk obat- obatan. Ototoksisitas didefinisikan juga sebagai kerusakan yang disebabkan oleh agen kimiawi dan farmasi tertentu yang dapat menyebabkan gangguan fungsi dan degenerasi seluler dari telinga dalam serta nervus VII. Obat ototoksik dapat didefinisikan sebagai obat yang mempunyai potensi yang dapat menyebabkan reaksi toksik pada struktur telinga dalam seperti koklea, vestibule, kanalis semisirkularis, dan otolith. Anatomi Telinga Dalam Bagian utama telinga dalam terdiri dari dua yaitu koklea sebagai organ pendengaran, vestibulum dan kanalis semisirkularis sebagai organ keseimbangan. Labirin terdiri dari dua bagian, satu bagian berada di dalam bagian lainnya. Bagian pertama adalah labirin tulang yang terdiri dari vestibulum, kanalis semisirkularis dan koklea,
Modul IX.5.3 ± Ototoksik 14 vestibulum dan koklea berisi cairan yang dinamakan perilimfe. Bagian kedua adalah labirin membran yang terdiri dari sakulus, utrikulus, duktus semisirkularis dan duktus koklearis (skala media). Labirin membran adalah struktur duplikat dari labirin tulang dan berisi cairan yang dinamakan endolimfe. Endolimfe adalah cairan yang memiliki komposisi ion mirip dengan cairan intraseluler dan mengisi membran auditorius dan labirin vestibularis. Endolimfe dibentuk oleh sel-sel sekret pada stria vaskularis dan oleh sel-sel gelap di dekat akhir dari krista ampularis pada duktus semisirkularis dan dinding utrikulus. Endolimfe diabsorbsi pada sakus endolimfatikus. Komposisi cairan ini adalah tinggi kalium dan rendah natrium. Perilimfe berbeda dengan endolimfe, perlimfe memiliki komposisi ion mirip dengan cairan ekstraseluler, rendah kalium dan tinggi sodium.Perbedaan kedua cairan ini penting untuk menciptakan arus listrik yang kuat disekitar organ dan mengakibatkan pembentukan impuls saraf pada sel rambut unit neuron aferen. Telinga dalam berada pada bagian petrosa tulang temporal, terdiri dari dua organ vestibularis dan koklea sebagai organ auditorius. Peran utama dari koklea adalah fungsi transduksi, yaitu merubah getaran mekanis menjadi impuls saraf yang dapat dibaca oleh jaras pendengaran pusat menuju otak. Sel-sel reseptor yang mengirimkan pesan ini yaitu sel-sel rambut dalam dan sel-sel rambut luar berada di dalam organ Corti yaitu pada membran basilaris. Bentuk koklea seperti keong dengan tabung tulang panjang 35 mm dan dibagi menjadi skala vestibularis, skala media dan skala timpani. Skala vestibularis dan skala timpani berisi perilimfe. Skala media terdiri dari membran Reissner, membran basilaris, lamina spiralis dan dinding lateral yang berisi endolimfe. Duktus koklearis dan struktur di dalamnya menempati bentukan keong dengan 2 ½ sampai 2 ¾ putaran (gambar 1). Koklea memiliki volume 0.2 mililiter. Dalam ruangan ini terdapat 30 000 sel rambut yang menerima dan mengirimkan getaran suara menjadi impuls saraf (transduksi) dan terdapat 19000 serabut saraf yang mengirim impuls saraf tersebut menuju otak. Energi akustik yang masuk ke dalam koklea melalui tingkap lonjong diterima oleh perilimfe pada skala vestibuli. Skala vestibuli berhubungan dengan perilimfe skala timpani melalui pembukaan kecil di apeks dari koklea yang dinamakan helikotrema. Jaringan yang paling penting dari koklea yang menjadi lokasi sel-sel reseptor
Modul IX.5.3 ± Ototoksik 15 sensoris adalah jaringan membran pada skala media, ruang ini juga dinamakan duktus koklearis. Fisiologi Pendengaran Proses pendengaran diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh daun telinga dalam bentuk gelombang yang dialirkan melalui udara atau tulang kekoklea. Getaran tersebut mengetarkan membran timpani diteruskan ke telinga tengah melalui rangkaian tulang pendengaran yang akan mengamplikasikan getaran melalui daya ungkit tulang pendengaran dan perkalian perbandingan luas membran timpani dan tingkap lonjong. Energi getar yang telah diamplikasi iniakan diteruskan ke stapes yang akan mengerakkan tingkap lonjong sehingga perilimfa pada skala vestibuli bergerak. Getaran ini diteruskan melalui membranreissner yang mendorong endolimfa, sehingga akan menimbulkan gerak relatif antara membran basilaris dan membran tektoria. Proses ini merupakan rangsangmekanik yang akan menyebabkan terjadinya defleksi stereosilia sel-sel rambut,sehingga kanal ion terbuka dan terjadi pelepasan ion bermuatan listrik dari badansel. Keadaan ini menimbulkan proses depolarisasi sel rambut, sehingga melepaskan neurotransmiter ke dalam sinapsis yang akan menimbulkan potensialaksi pada saraf auditorius, lalu dilanjutkan ke nukleus auditorius sampai ke korteks pendengaran (area 39-40) di lobus temporalis. Patogenesis Mekanisme dari tuli akibat ototoksik masih belum begitu jelas. Patologinya meliputi hilangnya sel rambut luar yang lebih apical, yang diikuti oleh sel rambut dalam. Hal ini permulaannya menyebabkan gangguan pendengaran frekuensi tinggi yang dapat berlanjut ke frekuensi rendah. Pasien-pasien tertentu tidak mengetahui adanya gangguan pendengaran hingga defisit mencapai derajat ringan sedang (>30 dB hearing level) pada frekuensi percakapan. Ototoksik akibat penggunaan antibiotik dapat menyebabkan hilangnya pendengaran dengan mengubah proses-proses biokimia yang penting yang menyebabkan penyimpangan metabolik dari sel rambut dan bisa menyebabkan kematian sel secara tiba-tiba. Efek utama dari obat-obat ototoksik terhadap telinga adalah hilangnya sel-sel rambut yang dimulai dari basal koklea, kerusakan seluler pada stria vaskularis, limbus
Modul IX.5.3 ± Ototoksik 16 spiralis, dan sel-sel rambut koklea dan vestibuler. Kerusakan vestibuler juga merupakan salah satu efek yang ditimbulkan oleh antibiotik aminoglikosida. Pada keadaan berat, kerusakan vestibuler dapat menyebabkan ketidakseimbangan dan osilopsia. Osilopsia, yang disebabkan oleh kerusakan sistem vestibuler bilateral, adalah ketidakmampuan sistem okuler untuk menjaga horizon yang stabil. Gejala Klinis Tinitus dan vertigo merupakan gejala utama ototoksisitas. Tinitus biasanya menyertai segala jenis tuli sensorineural oleh sebab apapun dan seringkali keluhan pertama yang muncul serta mengganggu jika dibandingkan dengan tulinya sendiri dimana pada ototoksik, tinitus cirinya kuat dan bernada tinggi, berkisar antara 4 KHz sampai 6 KHz serta biasa bilateral. Pada kerusakan yang menetap, tinnitus lama kelamaan tidak begitu kuat tetapi juga tidak pernah hilang, gejala lainnya juga terdapat gangguan keseimbangan badan, sulit memfiksasi pandangan, terutama setelah perubahan posisi, ataksia (kehilangan koordinasi otot) dan oscillopsia (pandangan kabur dengan pergerakan kepala) tanpa adanya riwayat vertigo sebelumnya, menyebabkan kesulitan melihat tanda lalu lintas ketika mengendarai kendaraan atau mengenali wajah orang ketika berjalan. Diuretik kuat dapat menimbulkan tinnitus yang kuat dalam beberapa menit setelah menyuntikkan intravena, tetapi pada kasus-kasus yang tidak begitu berat dapat terjadi tuli sensorineural secara perlahan-lahan dan progresif dengan hanya disertai tinnitus yang ringan dan biasanya menghasilkan audiogram yang mendatar atau sedikit menurun. Tinitus dan kurang pendengaran yang reversibel dapat terjadi pada penggunaan salisilat dan kina serta tuli akut yang disebabkan diuretik kuat dapat pulih dengan menghentikan pengobatan dengan segera. Gejala dini gangguan pendengaran pada ototoksisitas aminoglikosida sulit dikenali oleh pasien karena hanya bermanifestasi pada frekuensi tinggi. Pada keadaan lanjut akan mempengaruhi frekwensi percakapan dan ketuliannya akan semakin berat jika penggunaan obat ini diteruskan. Pada audiogram ditemukan ciri penurunan yang tajam untuk frekuensi tinggi.
Modul IX.5.3 ± Ototoksik 17 Derajat Ototoksik Derajat ototoksisitas didefinisikan oleh The National Cancer Institute Common Terminology Criteria for Adverse Events (CTCAE) dan Brock sebagai berikut: Menurut CTAE : x Derajat 1 : ambang dengar turun 15-25 dB dari pemeriksaan sebelumnya (1 tahun), dirata-rata pada 2 atau lebih frekuensi yang berurutan. x Derajat 2 : ambang dengar turun 25-90dB dari pemeriksaan sebelumnya (1 tahun), dirata-rata pada 2 atau lebih frekuensi yang berurutan. x Derajat 3 : penurunan pendengaran yang membutuhkan intervensi alat bantu dengar (>20dB bilateral pada frekuensi percakapan, > 30dB unilateral pada frekuensi percakapan) x Derajat 4 : penurunan pendengaran yang membutuhkan intervensi alat bantu dengar dan implan kokhlea. 0HQXUXW %URFN¶V  x Derajat 0 : ambang dengar kurang dari 40dB pada semua frekuensi x Derajat 1 : ambang dengarx > 40dB pada frekuensi 8.000Hz x Derajat 2 : ambang dengarx > 40dB pada frekuensi 4.000-8.000Hz x Derajat 3 : ambang dengarx > 40dB pada frekuensi 2.000-8.000Hz x Derajat 4 : ambang dengarx > 40dB pada frekuensi 1.000-8.000Hz Jenis ± jenis Obat Ototoksik Dengan makin banyak obat-obatan paten yang beredar di pasaran, kemungkinan daftar obat-obatan yang mempunyai efek samping pada telinga juga makin bertambah. Dari abad ke- 19 hingga kini telah banyak diketahui obat-obatan yang menimbulkan gangguan pada telinga diantaranya yaitu : Golongan Aminoglikosida Sejak diperkenalkan pada tahun 1944, banyak sediaan aminoglikosida menjadi mudah didapatkan seperti, streptomisin, dihidrostreptomisin, kanamisin, gentamisin, neomisin, tobramisin, netilmisin dan amikasin. Aminogikosida bersifat bakterisid yang berikatan dengan Ribosom 30S dan menghambat sistesis protein bakteri. Aminoglikosida hanya efektif pada basil gram negatif aerobik dan stafilokokus.
Modul IX.5.3 ± Ototoksik 18 Neomisin dan kanamisin memiliki spektrum antibakteri yang terbatas serta lebih toksik dari pada aminoglikosida lainnya. Mekanisme ototoksisitas aminoglikosid terjadi melalui gangguan pada proses sistesis protein di mitokodria dan terbentuknya radikal bebas. Pada level seluler, gangguan dengar terjadi akibat kerusakan sel rambut kokhlea khususnya sel rambut luar. Aminoglikosid dapat menghasilkan radikal bebeas di telinga dalam dengan mengaktifkan nitric oxide synthetase sehingga meningkatkan konsentrasi nitric oxide. Kemudian terjadi reaksi antara oksigen radikal dengan nitric oxide membentuk peroxynitrite radical yang bersifat destruktif dan mampu menstimulasi kematian sel secara langsung. Apoptosis adalah mekanisme kematian sel yang utama dan terutama diperantarai oleh kaskade intrinsik yang diperantarai oleh mitokondria. Tampaknya interaksi aminoglikosid dengan zat besi dan tembaga semakin menambah pembentukan radikal bebas. Sebagai hasil akhir dari kaskade tersebut terjadi kerusakan permanen sel rambut luar kokhlea yang berakibat gangguan dengar permanen. Insidensi efek ototoksik aminoglikosida sekitar 10%. Aminoglikosida dieksresi di ginjal, oleh karena itu pada pasien dengan gangguan ginjal bilateral, kandungan serum aminoglikosida akan meningkat sehingga akan meningkatkan resiko ototoksik. Aminoglikosida membutuhkan waktu lebih lama dibersihkan dari perilimfe daripada dari serum. Kerusakan akut sistem auditorik sering tejadi pada aminoglikosida, tetapi ditutupi oleh keluhan tinnitus. Gangguan pendengaran biasanya terjadi pada frekuensi tinggi tetapi dapat terjadi pada frekuensi rendah. Manusia dapat mendengar frekuensi lebih dari 16.000 Hz, tapi audiometri hanya bisa mendeteksi frekuensi dibawah 8.000 Hz. Karena pasien tidak bisa mengenali kehilangan pendengaran sampai mereka kehilangan 20 dB, atau sekitar 3.000 ± 4.000 Hz, akan sangat sulit mengetahui seorang pasien mengalami efek ototoksik atau tidak. Efek ototoksik akan tampak 2 ± 3 minggu setelah obat-obat tersebut berhenti digunakan secara permanen. Kadar aminoglikosid di cairan telinga dalam bertahan lebih lama dari kadar di serum sehingga ada efek ototoksik aminoglikosid bersifat laten. Sehingga gangguan pendengaran dapat dimulai atau bertambah parah setelah pemberian aminoglikosid dihentikan. Untuk itu pemeriksaan pasien untuk efek
Modul IX.5.3 ± Ototoksik 19 ototoksik dan vestibulotoksik sebaiknya tetap dilakukan sampai dengan 6 bulan setelah pemberian aminoglikosida. Beberapa contoh obat-obat golongan aminoglikosida yaitu : . Streptomisin Merupakan aminoglikosid yang pertama, efeknya terutama pada bakteri gram negatif. Efek vestibulotoksik lebih dominan.kerusakan vestibuler lebih sering dijumpai pada penggunaan jangka panjang dan pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal. Sekarang sudah jarang digunakan. Efek ototoksik dan nefrotoksik terjadi bila diberikan dalam dosis besar dan lama. Penggunaan 1 gram perhari obat ini selama 10 hari tidak menyebabkan sindrom vestibular. Penggunaan 2 gram perhari selama 14 hari dilaporkan menyebabkan sindrom vestibules pada 60 ± 70 % pasien atau pada pasien yang mendapatkan dosis total 10-12 gr dapat mengalami hal diatas. Ototoksik sangat tinggi terjadi pada kelompok usia 65 tahun dan pada orang hamil sehingga tidak boleh melebihi dosis total 20 gram dalam 5 bulan terakhir kehamilan untuk mencegah ketulian pada bayi (tuli kongenital). . Dihidrostreptomisin Dihidrostreptomisin dapat menyebabkan gangguan pendengaran yang berat dan tidak menentu bahkan sampai setelah 2 bulan setelah dihentikan. Ketulian tidak bisa, diramalkan serta tidak bergantung pada dosis obat yang diberikan. Karena efek ototoksiknya yang besar serta kegunaannya yang tidak lebih bagus daripada streptomisin, obat ini telah ditarik dari peredaran di Amerika Serikat. . Neomisin Neomisin adalah aminoglikosid yang paling kokhleotoksik jika diberikan secara oral dan dalam dosis tinggi, sehingga penggunaan secara sistemik tidak dianjurkan. Neomisin sangat lambat hilang dari perilimfa sehingga toksisitas lambat setelah 1-2 minggu penghentian terapi dapat terjadi. Neomisin sekarang digunakan terutama sebagai obat antibiotik tetes telinga yang efektif. Meskipun neomisin dianggap aman untuk digunakan secara topikal pada telinga, alternatif yang sama efektifnya banyak tersedia. Penyerapan neomisin tidak terlalu bagus bila diberikan secara oral maupun topikal. Walaupun demikian obat ini tetap diberikan secara tetes telinga karena efek ototoksik yang rendah. Tetapi penggunaan berulang pada jaringan yang meradang dapat menyebabkan tuli yang irreversibel. Dosis parenteral 5 - 8gram neomisin lebih
Modul IX.5.3 ± Ototoksik 20 dari 4 - 6 hari dapat menyebabkan tinnitus dan tuli ireversibel. Gangguan pendengaran dihubungkan dengan nilai diskriminasi percakapan rendah. . Gentamisin Gentamisin mempunyai efek vestibulotoksik lebih dominan. Bila kadar dalam serum masih dalam rentang terapi 10-12mcg/mL masih dianggap aman namun mungkin masih bisa berefek toksik pada beberapa pasien. Dosis harus disesuaikan dengan hati-hati bila digunakan pada pasien dengan gangguan ginjal. Pada sebuah penelitian diketahui bahwa gentamisin menyebabkan efek ototoksik sebesar 10 -15 %. . Kanamisin Efek ototoksik kanamisin tidak seberat neomisin, tetapi seperti halnya neomisin, efeknya terutama pada koklea. Kanamisin menyebabkan gangguan pendengaran sensorineural. Diantara obat-obat aminoglikosida, kanamisin paling sering menyebabkan kerusakan koklea unilateral. . Aminoglikosida lainnya Amikasin memiliki efek toksik yang ringan terhadap vestibular dan lebih rendah efek ototoksiknya daripada gentamisin. Obat ini tersedia untuk suntikan IM dan IV dalam vial berisi 100, 250, 500, 1.000, dan 2.000 mg. Antibiotik Lainnya . Eritromisin Gejala pemberian eritromisin intravena terhadap telinga tengah adalah kurang pendengaran subjektif, tinnitus yang meniup dan kadang-kadang vertigo. Tuli sensorineural pernah dilaporkan terjadi pada anak-anak maupun dewasa, terjadi tuli sensorineural nada tinggi dan tinnitus setelah pemberian intraverna dosis tinggi atau secara oral. Biasanya gangguan pendengaran dapat pulih setelah obat dihentikan. . Azitromisin dan Clindamisin Azitromisin dan clindamisin adalah antibiotik makrolid generasi yang lebih baru. Antibiotik ini lebih luas dipakai secara klinis karena efek samping pada traktus gastrointestinal yang lebih sedikit dan spektrum antibiotik yang lebih luas daripada eritromisin. Namun demikian beberapa laporan yang menyebutkan tentang efek
Modul IX.5.3 ± Ototoksik 21 ototoksiknya mulai muncul. Namun laporannya masih bersifat sporadis dan penelitian lebih lanjut masih dibutuhkan . Vankomisin Beberapa gejala yang sering muncul pada ototoksik pada umumnya adalah tinitus dimana ini terjadi pada pasien dengan konsentrasi serum vankomisin yang tinggi pada gagal ginjal atau pada pasien yang mendapatkan terapi aminoglikosida secara bersamaan, digunakan dalam waktu yang lama, dan dalam dosis yang besar. Karena sangat toksik, obat ini hanya digunakan bila penderita alergi terhadap obat yang lain lebih aman. Ketulian permanen dan uremia yang fatal karena itu perlu pemeriksaan audiogram dan faal ginjal secara teratur, lebih bila berlangsung dalam 1 minggu. . Loop Diuretik Dua diuretik penyebab utama efek ototoksik adalah furosemid dan asam etakrinat. Dimana kedua obat ini merupakan diuretik yang efeknya sangat kuat dibandingkan dengan yang lain. Efek ototoksisitas diuretik nampaknya berhubungan dengan stria vaskularis yang dipengaruhi oleh perubahan radien ion antara perilimfe dan endolimfe. Perubahan ini menyebabkan edema pada epitel stria vaskularis sehingga terjadi perubahan potensial pada endolimfe. Diuretik lain seperti ethacrynic acid, ternyata meningkatkan permeabilitas stria vaskularis, memungkinkan terjadinya difusi aminoglikosid ke endolimpha. Efek ototoksik yang disebabkan oleh ethacrynic acid terjadi secara bertahap dan efeknya bertahan lebih lama dibandingkan dengan furosemide atau bumetanide. Secara keseluruhan efek ototoksik akibat diuretik bersifat sementara Manifestasi ototoksiknya adalah gangguan pendengaran sensorineural, tinnitus dan vertigo. Asam etakrinat dapat menyebabkan ketulian sementara maupun menetap dan hal ini merupakan efek samping yang serius. Ketulian sementara juga dapat terjadi pada furosemid. Ketulian ini mungkin sekali disebabkan oleh perubahan komposisi elektrolit cairan endolimfe. Pencegahan ototoksisitas akibat diuretik dapat dilakukan dengan penggunaa dosis yang terendah yang masih bisa mencapai efek terapi dan menghindari penggunaan intravena dengan tetesan cepat. Pasien dengan faktor risiko tinggi seperti gagal ginjal, penggunaan aminoglikosid pada saat bersamaan harus diperhatikan karena penggunaan obat aminoglikosid dan diuretik secara bersamaan tidak dianjurkan
Modul IX.5.3 ± Ototoksik 22 . Salisilat Asam salisilat dan derivatnya yang lebih dikenal dengan sebagai asetosal dan aspirin sering dipakai sebagai analgetik, antiperitik, keratolitik dan antireumatik. Gejala toksik umumnya berupa asidosis metabolik sedangkan gejala utama berupa salisilismus, dan beberapa tahun ini ototoksik akibat salisilat banyak diteliti oleh karena terapi aspirin dosis tinggi pada arthritis rematoid. Asam salisilat dapat masuk dengan cepat ke kokhlea dan kadar di perilimfe setara dengan kadar di serum. Kadar yang semakin meningkat dapat menyebabkan tinitus dan biasanya gangguan dengar sensorineral yang sementara dengan gambaran audiogram yang datar. Mekanismenya multifaktorial dan multilokasi. Kelainan morfologi minimal pernah dilaporkan, hasil OAE juga menunjukkan adanya abnormalitas sel rambut luar kokhlea, penurunan aliran darah kokhlea juga diduga mempunyai peranan. Perubahan biokimia, dan permeabilitas sel rambut luar yang tidak normal juga dapat berpengaruh. Salisilat termasuk aspirin dapat mengakibatkan tuli sensori neural frekuensi tinggi, bilateral dan tinnitus. Tinnitus adalah gejala yang paling sering terjadi. Tinitus dulu dianggap sebagai tanda awal kejadian ototoksisitas. Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa kejadian tinitus sebaiknya tidak digunakan sebagai penanda kadar salisilat dalam serum karena efek ototoksik dapat terjadi meskipun pada kadar salisilat dalam serum yang rendah . Anti Malaria Kina adalah alkaloid penting yang diperoleh dari kulit pohon sinkona. Kina digunakan dalam terapi malaria. Toksisitas akibat kina dapat mengakibatkan tinnitus, gangguan pendengaran dan vertigo. Gangguan dengarnya biasanya sensorineural dan sementara. Temuan khas audiogram berupa gangguan dengar sensorineural dengan penurunan di frekuensi 4.000Hz . Gangguan dengar yang permanen sangat jarang dilaporkan pada toksisitas akibat penggunaan kina. Studi terbaru menyatakan bahwa kuinin mengganggu motilitas sel-sel rambut. Pada pemakaian klorokuin pada dosis tinggi (lebih dari 250 mg sehari) atau penggunaan lama (diatas 1 tahun), efek sampingnya lebih hebat, yaitu rambut rontok, tuli menetap, dan kerusakan menetap.
Modul IX.5.3 ± Ototoksik 23 . Obat Kemoterapi (Antineoplastik) Cisplatin, obat kemoterapi yang sering digunakan pada keganasan di daerah kepala dan leher, sudah diketahui memiliki efek tuli sensorineural yang ireversibel. Hasil penelitian menunjukkan penurunan glutathione akibat terbentuknya radikal bebas pada akhirnya dapat menyebabkan kerusakan pada sel rambut kokhlea. Selain cisplatin, carboplatin juga dilaporkan mempunyai efek ototoksik yang lebih rendah dibandingkan sisplatin. Obat ini sering digunakan pada keganasan di kebidanan, paru-paru, sistem saraf pusat, kepala dan leher dan keganasan testikuler. Obat kemoterapi bersifat nonspesifik pada siklus hidup sel, mempengaruhi DNA mengganggu proses replikasi sel. Cisplatin terdistribusi secara luas ke seluruh tubuh dan konsentrasi tertinggi didapatkan di ginjal, hati dan prostat. Cisplatin membentuk ikatan yang reversibel dengan protein plasma dan masih dapat dideteksi sampai dengan 6 bulan setelah penghentian terapi. Carboplatin tidak berikatan dengan protein plasma dan dapat bersihkan lebih cepat melalui ginjal. Dosis dan efektifitas sisplatin dan karboplatin dibatasi oleh efek samping yang ditimbulkan. Efek samping yang paling utama dalah nefrotoksik dan ototoksik yang tergantung pada dosis. Angka kejadian dan derajat keparahan ototoksisitas tergantung pada dosis, jumlah siklus terapi, keadaan ginjal dan pemberian obat ototoksik lainnya secara bersamaan. Angka kejadian yang lebih tinggi dilaporkan terjadi pada pasien pediatri dan pasien dengan keganasan daerah kepala leher yang menjalani terapi radiasi. Beberapa penelitian menyebutkan angka kejadian gangguan dengar sebesar 61% pada anak yang menerima kemoterapi sisplatin. Walaupun obat anti kanker dilaporkan bersifat ototoksik, obat-obatan tersebut sangat jarang ditemukan sebagai satu-satunya penyebab gangguan vestibuler. Cisplatin adalah anti kanker yang paling luas penggunaannya, namun sayangnya bersifat kokleotoksik dan nefrotoksik. Toksisitas cisplatin sinergis dengan gentamisin dan pada dosis tinggi cisplatin telah dilaporkan dapat menyebabkan tuli total. Pada binatang percobaan, ototoksisitas cisplatin berhubungan dengan peroksidasi lipid. Carpolatin dan cisplatin diklasifikasikan sebagai agents, keduanya merusak sel-sel kanker (dan beberapa seltubuh yang sehat juga ikut rusak) dengan cara merusak DNA dari sel tersebut.
Modul IX.5.3 ± Ototoksik 24 Gejala yang ditimbulkan cisplatin sebagai ototoksisitas adalah tuli subjektif, tinnitus dan otalgia, tetapi dapat juga disertai dengan gangguan keseimbangan. Tuli biasanya bersifat bilateral dimulai dengan frekuensi antara6 KHz dan 8 KHz, kemudian pada frekuensi yang lebih rendah. Tinnitus biasanya samar-samar, bila tuli ringan maka akan pulih pada penghentian pengobatan, tetapi bila tulinya berat biasanya menetap. . Obat Topikal Telinga Banyak obat tetes telinga mengandung antibiotika golongan aminoglikosida seperti neomisin dan polimiksin B, keduanya memiliki efek neurotoksik dan nefrotoksik. Obat-obatan tersebut menjadi ototoksik bila diberikan pada pasien dengan perforasi membran timpani. Neomisin tetes telinga pernah dilaporkan mengakibatkan hilangnya pendengaran yang relatif. Terjadinya ketulian oleh karena obat neomisin dan polimiksin B terjadi karena obat tersebut dapat menembus tingkap bundar. Walaupun membran tersebut pada manusia lebih tebal 3 kali dibandingkan pada Baboon (yaitu sekitar +/- > 65 mikron) tetapi dari hasil penelitian masih dapat ditembus obat-obatan tersebut. Derivat-derivat Penisilin seperti ticarsilin memiliki efek antibakterial yang kuat tetapi juga memiliki efek ototoksik. Florokuinolon, siprofloksasin dan ofloksasin aktif dalam membasmi bakteri yang mengakibatkan OMSK. Uji klinik dan uji pada hewan menyebutkan bahwa siprofloksasin dan ofloksasin tidak memiliki bukti yang signifikan menyebabkan ototoksik. Ofloksasin meskipun diberikan tiga kali sehari tidak menghasilkan kerusakan koklear yang berarti. . Obat ± obat Lainnya Obat anti impotensi dicurigai menyebabkan efek ototoksik. Badan Pengawas Obat di Amerika Serikat (FDA) bulan Oktober 2007 telah mengeluarkan peringatan adanya efek samping obat-obatan tersebut, yakni bisa menyebabkan gangguan pendengaran.Kendati belum ditemukan kaitan pasti antara obat anti impotensi dengan gangguan pendengaran, namun FDA tetap memutuskan mengeluarkan peringatan tersebut. Pasalnya, sejak tahun 1996 telah ada 29 laporan yang masuk dari para pasien. Selain obat anti impotensi, obat darah tinggi, Revatio, juga dilaporkan memiliki efek samping sama, mengingat obat, tersebut memiliki bahan aktif yang sama dengan viagra.
Modul IX.5.3 ± Ototoksik 25 Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penunjang pada ototoksik dapat menggunakan audiometri nada murni dan DP OAE 6 channel. Pada pemeriksaan audiometri nada murni, tuli akibat ototoksik mempunyai jenis tuli sensorineural dengan gambaran audiogram yang bervariasi tetapi biasanya kerusakan terjadi pada frekuensi tinggi dan terdapat gambaran downward sloping pada gambaran audiogram. OAE merupakan salah satu pemeriksaan yang dapat digunakan dalam menilai ketulian akibat ototoksik. Pemeriksaan OAE dapat dilakukan dengan cepat dan dapat digunakan pada hampir semua pasien. OAE yang digunakan pada praktik klinis berupa transient OAE dan Distortion Product OAE (DPOAE). DP OAE mempunyai keuntungan dalam menegakkan diagnosis ototoksik dibandingkan transient OAE dikarenakan DPOAE dapat mengukur kerusakan pada frekuensi tinggi dan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai area pada koklea yang terkena. DPOAE juga dapat menilai tuli sensorineural dengan derajat berat sampai sangat berat yang biasanya ditemukan pada ketulian akibat ototoksik. Deteksi Dini Ototoksisitas Deteksi dini dengan pemeriksaan pendengaran atau audiometri awal dan tes keseimbangan sebaiknya dilakukan sebelum pemberian obat kemoterapi seperti sisplatin dan karboplatin. Pada pasien yang menerima pengobatan aminoglikosid, pemeriksaan audiometri awal dapat dilakukan dalam 72 jam sejak terapi diberikan. Keputusan untuk melakukan deteksi dini pada pasien dipengaruhi oleh pasien dengan faktor risiko tinggi ototoksik, keadaan pasien yang dengan penyulit, tingkat kesadaran, usia dan profesi khusus yang memerlukan fungsi pendengaran dan keseimbangan yang baik seperti penyetel nada alat musik (piano, gitar, dll), penyanyi, pilot, penari balet dan lainnya. Pemeriksaan pendengaran awal yang dilakukan sebaiknya dilakukan selengkap mungkin, minimal dengan audiometri nada murni dengan frekuensi 0,25 ± 8kHz. Lengkapi juga dengan riwayat pasien, riwayat keluarga, pemeriksaan otoskopi telinga dan audiometri tutur bila memungkinkan. Pada pasien yang kurang kooperatif atau tidak dapat diperiksa dengan pemeriksaan audiometri standar, dapat dilakukan pemeriksaan Otoacoustic emission (OAE) dan atau Auditory Brainstem Response (ABR), pemeriksaan dilakukan untuk dokumentasi dan monitoring pasien. OAE
Modul IX.5.3 ± Ototoksik 26 khususnya sensitif dan dapat menggambarkan keadaan pada sel rambut luar kokhlea, dan dapat menilai kejadian kokhleotoksik secara objektif. OAE juga dilaporkan lebih sensitif bila dibandingkan dengan audiometri nada murni dalam mendeteksi gangguan kokhlea setelah pemberian gentamisin. Pemeriksaan vestibuler standar seperti tes kalori, VEMP dan VNG berguna untuk menentukan kelainan vestibuler. Namun pemeriksaan tersebut tidak praktis untuk dilakukan secara rutin pada pasien dalam jumlah besar di praktek sehari-KDUL ³+ead- 6KDNH 7HVW´ DGDODK FDUD mudah untuk mendeteksi adanya gangguan sistem vestibuler. Pasien dalam posisi duduk diperintahkan untuk menggelengkan kepalanya dengan cepat ke kanan dan ke kiri dengan sudut 10-20°. Pasien dengan gangguan vestibuler akan mengalami pandangan kabur atau rasa pening atau mual. Monitoring harus dilakukan dengan interval waktu yang tetap. Apabila didapatkan gejala ototoksisitas maka harus dilakukan upaya untuk mengurangi efek ototoksik secepat mungkin. Pada penggunaan antibiotik aminoglikosid, pemeriksaan sebaiknya dilakukan 1 atau 2 minggu sekali. Pada penggunaan obat kemoterapi, pemeriksaan sebaiknya dilakukan 1 minggu sekali. Jarak waktu pemeriksaan dapat menjadi lebih singkat apabila ditemukan gejala ototoksisitas. Pemeriksaan harus dilanjutkan sampai dengan 3-6 bulan setelah terapi ototoksik diberikan Penatalaksanaan Tuli yang diakibatkan oleh obat-obat ototoksik tidak dapat diobati. Hal yang penting dalam penatalaksanaan ototoksik adalah memberikan informasi yang cukup pada pasien tentang risiko dari pengobatan yang bersifat ototoksik dan menekankan agar pasien secepat mungkin melaporkan adanya gejala seperti tinitus, gangguan pendengaran, oskilopsia atau gangguan keseimbangan. Apabila ketulian sudah terjadi dapat dicoba melakukan rehabilitasi antara lain dengan alat Bantu dengar (ABD), psikoterapi, auditory training, termasuk cara menggunakan sisa pendengaran dengan alat bantu dengar, belajar komunikasi total dengan belajar membaca bahasa isyarat. Pada tuli total bilateral dapat dipertimbangkan pemasangan implan koklea. Pencegahan Gangguan pendengaran akibat ototoksik bersifat permanen dan tidak ada pengobatannya sehingga pencegahan terhadap terjadinya ganguan pendengaran akibat ototoksik menjadi lebih penting. Pencegahan ini termasuk pertimbangan
Modul IX.5.3 ± Ototoksik 27 penggunaan obat-obat ototoksik, menilai kerentanan pasien monitoring ketat level obat dalam serum dan fungsi ginjal harus baik sebelum, selama dan setelah terapi. Salah satu cara pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pemeriksaan audiometri sebelum terapi, memonitor efek samping secara dini, yaitu dengan memperhatikan gejala-gejala keracunan telinga dalam yang timbul seperti tinnitus, kurang pendengaran dan vertigo. Jika ditemukan gejala-gejala tersebut pada pasien yang menggunakan obat ototoksik maka harus dilakukan pertimbangan penggantian regimen obat, penurunan dosis obat dan evaluasi audiologi serta sebaiknya dilakukan pemantauan terhadap kadar obat dalam darah jika memungkinkan baik sebelum dan selama pengobatan berlangsung. Prognosis Prognosis ototoksik sangat tergantung kepada jenis obat, jumlah dan lamanya pengobatan, kerentanan pasien, adanya faktor resiko seperti gagal ginjal akut ataupun kronis dan penggunaan obat ototoksik yang lain secara bersamaan akan tetapi pada umumnya prognosis tidak begitu baik.
MODUL UTAMA THT KOMUNITAS GANGGUAN PENDENGARAN PADA POPULASI KHUSUS MODUL IX.5.4 PRESBIAKUSIS EDISI III KOLEGIUM ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER 2022
DAFTAR ISI A. WAKTU ....................................................................................................... 1 B. PERSIAPAN SESI ....................................................................................... 1 C. REFERENSI ................................................................................................. 1 D. KOMPETENSI ............................................................................................. 2 E. GAMBARAN UMUM ................................................................................. 3 F. CONTOH KASUS DAN DISKUSI ............................................................. 4 G. TUJUAN PEMBELAJARAN ...................................................................... 4 H. METODE PEMBELAJARAN ..................................................................... 4 I. EVALUASI .................................................................................................. 5 J. MATERI PRESENTASI .............................................................................. 6 K. MATERI BAKU .......................................................................................... 6 L. ALGORITMA ............................................................................................ 15
Modul IX.5.4-Presbiakusis 1 MODUL IX.5.4 THT KOMUNITAS ± PREBIAKUSIS A. WAKTU Proses Pengembangan Kompetensi Alokasi Waktu Sesi di dalam kelas Sesi dengan fasilitasi pembimbing Sesi praktik dan pencapaian kompetensi 2 X 60 menit (classroom session) 3 X 60 menit (coaching session) 4 jam (fascilitation and assessment) B. PERSIAPAN SESI 1. Materi Presentasi Terlampir 2. Kasus : Presbikusis 3. Sarana dan Alat Bantu Latih : - Penuntun belajar terlampir - Tempat belajar Klinik THT, Lokasi tertentu sesuai kebutuhan ??? - Alat pemeriksaan , perlu disebutkan ??? - Leaflet - Video - Komputer/Laptop C. REFERENSI 1. Katz J, Chasin M, English KM, Hood LJ, Tillery KL. Handbook of clinical audiology: Williams & Wilkins Baltimore; 2015.p.158-255 2. Geneva: World Health Organization. Addressing The Rising Prevalence of Hearing Loss [Internet]. World Health Organization: Geneva, Switzerland. 2018. 655±658 p.1-3 3. Cheslock M, De Jesus O. Presbycusis. [Updated 2020 Nov 14]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2020 Jan-.p.1-5 Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK559220/ 4. Arpini A. Infodatin Tunarungu 2019 [Internet]. 2019. p. 12. Available from: https://pusdatin.kemkes.go.id/resources/download/pusdatin/ infodatin/infodatin- tunarungu-2019.pdf
Modul IX.5.4-Presbiakusis 2 5. Johnson JT, Rosen CA, Bailey BJ. Bailey's head and neck surgery otolaryngology2014.p.253-260 6. Hansen JT. Netter's Clinical Anatomy E-Book: Elsevier Health Sciences; 2017.p 25-27 7. Flint PW, Haughey BH, Robbins KT, Thomas JR, Niparko JK, Lund VJ, et al. Cummings 8. Gates GA, Mills JH. Presbycusis. The Lancet. 2005;366(9491):1111-20.p.1-10 9. Bance M. Hearing and aging. Canadian Medical Association Journal. 2007;176(7):925.p.1-19 10. Howarth A, Shone G. Ageing and the auditory system. Postgraduate medical journal. 2006;82(965):166-71.p.1-12 11. Lee K-Y. Pathophysiology of age-related hearing loss (peripheral and central). Korean journal of audiology. 2013;17(2):45.p.1-8 12. Wang J, Puel J-L. Presbycusis: An Update on Cochlear Mechanisms and Therapies. Journal of Clinical Medicine. 2020;9(1):218.p.1-5 13. Krey JF, Gillespie PG. Molecular Biology of Hearing and Balance. Basic Neurochemistry: Elsevier; 2012. p. 916-27. 14. Joo Y, Hong OS, Wallhagen M. The Risk Factors for Age-Related Hearing /RVVௗ $Q ,QWHJUDWLYH 5HYLHZ $QQ *HURQWRO *HULatr Res. 2016;3(2):p.11±8. 15. WHO. Integrated Care for Older People. 2017. p. 52 D. KOMPETENSI 1. Mampu menjelaskan definisi presbikusis. 2. Mampu menjelaskan usaha pencegahan presbikusis. 3. Mampu menjelaskan faktor resiko, pengaruh dan usaha pencegahan terjadinya presbikusis. Keterampilan Setelah mengikuti sesi ini peserta didik memiliki kemampuan untuk : 1. Menjelaskan penyebab terjadinya presbiakusis. 2. Menjelaskan usaha pencegahan presbiakusis 3. Menjelaskan penyebab, dan pencegahan presbiakusis. Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan : sesuai dengan slide 1 ± 6
Modul IX.5.4-Presbiakusis 3 Pengetahuan : 1 ± 6 Mampu menjelaskan ......sesuai slide Ketrampilan 1. Mampu mengatasi masalah kesehatan masyarakat 2. Mampu melakukan upaya promotif 3. Mampu melakukan upaya preventif E. GAMBARAN UMUM Presbiakusis mengacu pada gangguan pendengaran bilateral yang terkait dengan bertambahnya usia. Dalam istilah literatur, presbiakusis berarti "pendengaran tua" atau "pendengaran yang lebih tua." Biasanya terjadi sekitar usia 60an dan berkembang perlahan. Namun, ada bukti bahwa stresor tertentu dapat mempercepat laju kerusakan saraf pendengaran. Diagnosis dapat dipastikan dengan audiometri nada murni dan audiometri nada tutur.Ciri khas dari presbiakusis adalah gangguan kemampuan untuk memahami komponen suara frekuensi tinggi (konsonan tanpa suara, seperti p, k, f, s, dan ch), dan sulit memahami percakapan sehari-hari. Presbiakusis tidak ada obatnya namun, alat bantu dengar yang berfungsi amplifikasi suara dapat digunakan untuk mengurangi gejala. Secara anatomis, presbiakusis melibatkan banyak komponen sistem pendengaran. Hal ini terutama disebabkan oleh perubahan terkait usia pada sel rambut, stria vascularis, dan neuron ganglion spiral aferen. Pada proses pendengaran normal, suara berupa getaran udara ditangkap oleh telinga luar yang berbentuk corong dan diteruskan ke membran timpani. Hal ini menyebabkan membran timpani bergetar pada frekuensi dan amplitudo tertentu. Gerakan ini diperkuat oleh tiga tulang pendengaran di telinga tengah:malleus, incus, dan stapes. Dari sana, sinyal berlanjut sebagai getaran yang ditransmisikan melalui cairan di dalam telinga bagian dalam ke cochlea. Di cochlea, reseptor yang dikenal sebagai sel rambut mengubah informasi yang dikodekan dalam getaran menjadi sinyal neurologis yang berjalan ke korteks pendengaran melalui saraf koklea.
Modul IX.5.4-Presbiakusis 4 F. CONTOH KASUS DAN DISKUSI Seorang pria usia 65 tahun datang dengan keluhan penurunan pendengaran yang semakin memberat sejak 3 tahun yamg lalu. Pasien merasakan kurang memahami percakapan dengan anak-anaknya, padahal jarak sudah dekat. Akibat dari penurunan pendengarannya, pasien merasa malu dan ingin menyendiri. Lalu keluarga pasien membawa berobat ke dokter THT-KL 1. anamnesis apa sajakah yang harus dilengkapi untuk menunjang diagnosis? 2. pemeriksaan fisik yang harus dilakukan? 3. pemeriksaan penunjang dan hasil yang diharapkan? 4. tatalaksana kasus tersebut Jawaban: 1. Riwayat penyakit sebelumnya, Riwayat paparan bising, Riwayat trauma pada telinga,Riwayat mengkonsumsi obat-obatan ototoksik, genetic 2. Pemeriksaan status lokalis telinga 3. Audiometri nada murni dengan penurunan di frekuensi tinggi (8000 hz) 4. Rehabilitasi dengan ABD. Diskusi : G. TUJUAN PEMBELAJARAN Proses, materi dan metoda, pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi preventif dan promotif ...disesuaikan slide dan kompetensi H. METODE PEMBELAJARAN Tujuan 1 : Menjelaskan penyebab presbiakusis Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikutini : x Interactive lecture x Small group discussion x Peer assisted learning (PAL)
Modul IX.5.4-Presbiakusis 5 Tujuan 2 : Menguasai usaha pencegahan presbiakusis Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini : x Interactive lecture x Journal reading and review x Small group discussion x Peer assisted learning (PAL) TUJUAN PEMBELAJARAN : disesuaikan dengan slide 1 ± 6 I. EVALUASI 1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre test dalam bentuk tulisan 2. Melakukan diskusi kelompok kecil bersama pembimbing/fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal±hal yang berkenaan dengan penuntun belajar. 3. Peserta didik wajib mempelajari penuntun belajar untuk mengaplikasi langkah yang tertera dalam penuntun belajar. Pada saat pelaksanaan penilai melakukan pengawasanlangsung pada saat peserta didik melakukan anamnesa, pemeriksaan THT - Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan - Cukup : pelaksanaan benar tetapi tidak efisien. - Baik : pelaksanaan benar dan efisien 4. Di akhir penilaian dilakukan diskusi kembali untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak dapat dibicarakan didepan keluarga pasien dan memberikan masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan. 5. Self assessment dengan mempergunakan penuntun belajar 6. Pendidik/pembimbing - Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form (terlampir) secara berkala. - Melakukan diskusi - Kriteria penilaian secara keseluruhan: cakap / tidak cakap / lalai 7. Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan apabila perlu diberi tugas untuk dapat memperbaiki kinerja ( task-based medical education )
Modul IX.5.4-Presbiakusis 6 8. Pencapaian pembelajaran - Ujian akhir stase, berupa ujian tulisan - Ujian akhir kognitif / psikomotor - Ujian akhir profesi, dilakukan pada akhir pendidikan berupa ujian tulisan A. INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF B. INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR C. DAFTAR TILIK D. MATERI PRESENTASI : slide2 E. MATERI BAKU : Narasi slide F. ALGORITMA J. MATERI PRESENTASI Slide 1 Judul Presbikusis Slide 2 Pendahuluan Slide 3 Gangguan Pendengaran Terkait Usia Slide 4 Penyebab Slide 5 Patofisiologi Slide 6 Gejala Slide 7 Diagnosis Slide 8 Tatalaksana K. MATERI BAKU Presbikusis Presbikusis berasal dari dua kata Yunani - presbus, seorang pria tua, dan acusis, pendengaran. Presbikusis atau Age-related Hearing Loss (ARHL) didefinisikan sebagai Sensorineural Hearing Loss (SNHL) yang bersifat progresif, bilateral, dan simetris akibat degenerasi struktur telinga bagian dalam berhubungan dengan usia. Presbikusis merupakan penurunan pendengaran alamiah yang terjadi sejalan dengan proses penuaan dan umumnya dimulai pada umur 65 tahun. Presbikusis terjadi pada nada tinggi dan pada pemeriksaan audiometri nada murni terlihat berupa penurunan
Modul IX.5.4-Presbiakusis 7 pendengaran jenis sensorineural yang bilateral pada kedua telinga dan simetris yang disebabkan oleh perubahan degeneratif telinga bagian dalam. Gambar 2.6 menunjukkan perkiraan jumlah peningkatan rata-rata ambang batas berdasarkan pertambahan usia pada pria dengan paparan minimal terhadap suara keras. Gangguan pendengaran terkait usia (presbycusis) mengacu pada gangguan pendengaran simetris bilateral akibat proses penuaan. Presbikusis adalah fenomena kompleks yang ditandai dengan pergeseran ambang audiometri, penurunan dalam pemahaman bicara dan kesulitan persepsi bicara. Gangguan pendengaran adalah masalah serius yang paling sering dihadapi seseorang karena dapat menimbulkan gangguan dalam berkomunikasi saat bersosialisasi. Gangguan pendengaran terutama sering terjadi pada usia lanjut. 1 WHO melaporkan 360 juta penduduk di seluruh dunia mengalami gangguan pendengaran dengan setengahnya terjadi pada individu berusia tua. Jumlah ini bertambah menjadi 466 juta pada tahun 2018. Dari seluruh wilayah, gangguan pendengaran paling banyak terjadi pada penduduk Asia Selatan dan Asia Pasifik. 2 WHO melaporkan 360 juta penduduk di seluruh dunia mengalami gangguan pendengaran dengan setengahnya terjadi pada individu berusia tua. Jumlah ini bertambah menajdi 466 juta pada tahun 2018. Dari seluruh wilayah, gangguan pendengaran paling banyak terjadi pada penduduk Asia Selatan dan Asia Pasifik. National Health and Nutritional Examination Survey (NHANES) melaporkan terjadi peningkatan prevalensi presbikusis sebanyak dua kali lipat setiap dekade mulai dari usia dua belas hingga 79 tahun. Sedangkan WHO melaporkan setengah dari populasi berusia lebih dari 75 tahun mengalami presbikusis dan diperkirakan menignkat menjadi 500 juta penderita pada tahun 2025. 3 Di Indonesia, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 melaporkan bahwa prevalensi gangguan pendengaran tertinggi terjadi pada kelompok berusia lebih dari 75 tahun, yaitu 36,6% diikuti dengan usia 65-74 tahun yaitu 17,1%. Di Jawa Barat, prevalensi ketulian lebih rendah dari prevalnsi di Indonesia yaitu 0,09%. Presbikusis terjadi pada nada tinggi dan pada pemeriksaan audiometri nada murni terlihat berupa penurunan pendengaran jenis sensorineural yang bilateral pada kedua telinga dan simetris yang disebabkan oleh perubahan degeneratif telinga
Modul IX.5.4-Presbiakusis 8 bagian dalam. Perubahan patologik pada organ auditori akibat proses degenerasi pada usia lanjut dapat menyebabkan gangguan pendengaran. Jenis ketulian yang terjadi pada kelompok geriatri umumnya tuli sensorineural, tetapi dapat juga terjadi tuli konduktif atau tuli campur. Gacek dan Schuknecht awalnya mendefinisikan empat tipe histopatologi presbikusis. Selanjutnya, dua kategori lagi ditambahkan: mixed dan intermediate. Kategori intermediet dapat mencapai 25% kasus. Studi terbaru menunjukkan bahwa campuran perubahan patologis mungkin paling banyak terjadi. Perubahan histologik ini berhubungan dengan gejala yang timbul dan hasil pemeriksaan auditorik. Prevalensi terbanyak menurut penelitian adalah jenis metabolik 34,6%, jenis lainnya neural 30,7%, mekanik 22,8% dan sensorik 11,9%. 7,8 Sensory Presbycusis Temuan audiometri pada jenis sensory presbycusis termasuk gangguan pendengaran sensorineural yang tiba-tiba, curam, dan frekuensi tinggi dengan perkembangan bilateral yang lambat dan simetris, biasanya dimulai dari masa usia menengah. Lesi patologis terbatas pada yang pertama beberapa milimeter dari putaran basal koklea. A perataan dan atrofi organ korti disebabkan oleh hilangnya sel-sel rambut dan sel pendukung. Akumulasi lipofuscin, penuaan pigmen, juga telah ditemukan dalam penelitian. 7 Neural Presbycusis Presbikusis tipe neural ditandai dengan berkurangnya sel-sel neuron dan jaras auditorik pada koklea. Menurut Schuknecht, 2100 neuron hilang setiap dekade (dari total 35.000). Hal ini dimulai sejal awal kehidupan dan mungkin peran genetik yang berpengaruh. Pengaruh tidak terlihat sampai usia tua karena rata-rata nada murni tidak terpengaruh sampai 90% dari neuron hilang. 7 Metabolic Presbycusis Presbikusis tipe metabolik merupakan tipe presbikusis yang paling sering dijumpai. Kerusakan yang terjadi pada tipe ini berupa atrofi stria vaskularis, potensial mikrofonik menurun, fungsi sel dan keseimbangan biokimia/bioelektrik kokhlea berkurang. Gangguan pendengaran yang terkait dengan strial presbycusis adalah kehilangan sensorik dimulai selama dekade ketiga hingga keenam dan berkembang perlahan. 7
Modul IX.5.4-Presbiakusis 9 Mechanical Presbycusis Pada presbikusis tipe mekanik terjadi perubahan gerakan mekanik duktus kokhlearis, atrofi ligamentum kokhlearis, dan membran basilaris menjadi lebih kaku. Secara histologis tampak hialinisasi dan klasifikasi membrana basalis, degenerasi kistik elemen stria, atrofi ligamen spiralis, pengurangan selularitas ligamen secara progesif serta kadang-kadang ligamen ruptur. 7 Etiologi Umumnya diketahui bahwa presbikusis merupakan akibat dari proses degenerasi, namun diduga kejadian presbikusis memiliki hubungan dengan berbagai faktor etiologi yang lain, seperti: A. Vaskular (hipertensi dan arteriosklerosis) Gangguan sirkulasi telah lama dihubungkan sebagai penyebab hilangnya pendengaran pada lansia. Penyakit vaskular yang banyak dihubungkan diantaranya adalah hipertensi, arteriosklerosis dan aterosklerosis. Arteriosklerosis adalah suatu penyakit vaskular yang ditandai dengan penebalan dan kehilangan elastisitas dinding pembuluh darah. Arteriosklerosis cukup sering terjadi pada orang tua dan mungkin dapat menyebabkan gangguan perfusi dan oksigenasi kokhlea. Hipoperfusi dapat menuju kepada perubahan radikal bebas yang dapat merusak telinga dalam seiring dengan rusaknya DNA mitokondira telinga dalam. Kerusakan ini sejalan dengan perkembangan presbikusis. Aterosklerosis memiliki etiologi yang berbeda dengan arteriosklerosis, aterosklerosis merupakan suatu penyakit penyempitan lumen pembuluh darah karena pembesaran plak. Plak aterosklerosis merupakan kumpulan lemak, sel busa, debris sel, dan kristal kolesterol.Baik arteriosklerosis maupun aterosklerosis dapat menyebabkan hipertensi yang akan memperparah gangguan perfusi dan oksigenasi kokhlea. B. Diet dan metabolisme (diabetes melitus dan hiperlipidemia) a. Diabetes melitus dan hiperlipidemia dapat mempercepat proses dari aterosklerosis.
Modul IX.5.4-Presbiakusis 10 b. Diabetes melitus menyebabkan proliferasi difus dan hipertrofi vaskular pada endotelia intima yang mungkin mengganggu perfusi kokhlea. C. Genetik Penegakan diagnosis sensorineural karena genetik sangat sulit, tetapi genetik tetap harus dipertimbangkan sebagai salah satu faktor predisposisi dari presbikusis. Penegakan diagnostik dapat diambil dari history taking mengenai riwayat keluarga yang lain. D. Noise (bising) Bising (frekuensi, intensitas, dan durasi paparan) memiliki hubungan langsung dengan kerusakan organ dalam telinga, namun bising dapat menyebabkan kerusakan organ dalam pada semua usia dan tidak terfokus hanya pada lansia saja. Bising termasuk ke dalam salah satu penyebab yang dapat memperparah keadaan presbikusis, kerusakan akibat bising termasuk ke dalam kerusakan mekanik. E. Efek obat ototoksik Ototoksisitas sebagai penyebab gangguan pendengaran mungkin sering tidak tersadari ² diperkirakan hingga 30% dari pasien lanjut usia yang datang dengan gangguan pendengaran minum obat yang berpotensi ototoksik. Gambar 2.3 menunjukkan obat-obat yang berpotensi bersifat ototoksik. F. Riwayat merokok G. Stress Patofisiologi dan Patogenesis Terdapat sejumlah proses patofisiologis yang dilaporkan terkait dengan perubahan terkait usia pada komponen fungsional di bagian dalam telinga. Gangguan vaskular terkait usia ditemukan di ligamen koklea atau spiral, sementara penyakit metabolik seperti diabetes juga dapat menyebabkan perubahan vaskular. Perubahan pada subunit saluran-K berpagar tegangan Kv1.1 dan Kv3.1 diamati pada neuron koklea dalam penuaan. Ditemukan perubahan glisin yang mempengaruhi tindakan hiperpolarisasi dalam inti koklea pada tikus C57 tua dan tikus Fischer danperubahan terkait usia pada reseptor neurotransmitter glutamat, yang dilepaskan saat depolarisasi di pendengaran.
Modul IX.5.4-Presbiakusis 11 neuron, telah ditemukan di saraf pendengaran.Sebuah penelitian menyarankan bahwa protein pengikat kalsium seperti parvalbumin, calretinin dan calbindin, yang meningkat seiring bertambahnya usia di inti koklea, menyebabkan degenerasi koklea. Aktivitas protein asam fibrillary glial, yang memelihara fungsi seluler diketahui dapat mengurangi cochlear nucleus selama proses penuaan pada tikus. Terdapat sejumlah proses patologis yang dilaporkan terkait dengan perubahan terkait usia pada komponen fungsional di telinga bagian dalam. Berbagai mekanisme yang terlibat dalam "proses pro-, atau anti-aging" dari koklea. Terdapat etidakseimbangan antara mekanisme anti penuaan dan pro penuaan dengan bertambahnya usia. Gambar skema menyebutkan beberapa mekanisme anti-penuaan dan pro-penuaan yang diidentifikasi dalam proses penuaan koklea. Mekanisme anti- penuaan termasuk estrogen, pembersihan kerusakan autofagik, dan dinamika mitokondria. Mekanisme pro-penuaan termasuk stres oksidatif, kerusakan DNA, disfungsi mitokondria, fenotipe seperti penuaan, dan peradangan terkait penuaan. Selama proses penuaan, penurunan aktivitas molekul anti-penuaan dan peningkatan aktivitas sifat pro-penuaan dapat menyebabkan akumulasi mutasi pada DNA mitokondria, peningkatan pH lisosom dengan akumulasi lipofuscin dan agregat, dan kerusakan DNA inti, yang menyebabkan koklea. degenerasi sel dan gangguan pendengaran terkait usia. Secara garis besar, perubahan degeneratif pada presbikusis mencakup iskemia perifer dan sentral, kompresi saraf koklea oleh hyperostosis, perubahan neruokimia, akumulasi katabolit intraseluler, dan penghapusan DNA mitokondria. Perubahan degeneratif ini berkontribusi terhadap berkembangnya gangguan pendengaran pada presbikusis. Bertambahnya usia telah menunjukkan hubungan yang kuat dan konsisten dengan risiko gangguan pendengaran di beberapa penelitian. Maka ryan dkk. menemukan perbedaan yang signifikan dalam tingkat penghapusan penuaan yang umum pada DNA mitokondria di koklea berdasarkan tingkat keparahan gangguan pendengaran. Perubahan terkait usia diamati dalam pertumbuhan faktor termasuk insulin seperti faktor pertumbuhan-1, faktor pertumbuhan saraf yang diturunkan trombosit, mengubah faktor pertumbuhan-ß1, faktor pertumbuhan fibroblas asam dan faktor neurotropik yang diturunkan dari otak. Pengaturan bawah terkait usia terkait pertumbuhan protein-43
Modul IX.5.4-Presbiakusis 12 ditemukan di inti koklea. Pengaruh stres oksidatif adalah salah satu penyebab utama gangguan pendengaran terkait penuaan. Enzim antioksidan seperti enzim metabolisme glutathione, katalase dan metionin sulfoksida reduktase ditemukan di koklea. Presbikusis terjadi pada mencit null fungsional terkait dengan glutathione peroksidase dan glutathione S-transferase Mu 1. Perubahan terkait usia juga berkembang di auditori sentral sistem. Hampir 20% kehilangan neuronal ditemukan di saraf vestibulocochlear pada tikus, terutama di kompleks olivari superior. Penurunan terkait usia pada efek penghambatan kompleks olivari medial menyebabkan hilangnya penekanan kontralateral DPOAE. Penurunan fungsional dari sistem pendengaran sentral, yang disebabkan oleh penuaan, mengurangi pemahaman bicara dalam kebisingan lingkungan dan meningkatkan defisit pemrosesan temporal di langkah-langkah deteksi celah. Hasil perubahan terkait usia pada sistem saraf pusat dari perubahan fungsional neurotransmitter dan sinapsis daripada hilangnya neuron. Selain itu, terkait usia penurunan konsentrasi, memori dan fungsi kognitif juga harus dianggap sebagai faktor yang berkontribusi pada presbikusis. Audiometri pada Presbikusis Pemeriksaan audiometri merupakan pemeriksaan pokok pada kasus presbikusis. Gambaran audiometri pada presbikusis dibagi menjadi 2, yaitu gambaran audiometri nada murni dan gambaran audiometri tutur atau bicara. Tabel 2. 1 Pemeriksaan Audiometri pada pasien Presbikusis No. Tipe Audiometri nada murni Audiometri tutur 1 Sensori Penurunan ambang dengar yang curam pada frekuensi tinggi (sharply slooping) Bergantung pada frekuensi yang terkena 2 Neural Penurunan pendengaran sedang pada semua frekuensi (gently slooping) Gangguan diskriminasi tutur berat 3 Metabolik (strial) Penurunan pendengaran dengan gambaran flat dan berjalan progresif pelan Gangguan diskriminasi tutur ringan 4 Mekanik Penurunan pendengaran dengan kurva menurun pada frekuensi tinggi secara lurus berjalan progresif pelan Bergantung pada kecuraman penurunan
Modul IX.5.4-Presbiakusis 13 Hasil Audiometri Gambar Journal of The South Carolina Academy of Science, [2019],17(1) | 5 Tatalaksana Secara keseluruhan, tujuan pengobatan presbikusis adalah memungkinkan komunikasi yang efektif di semua pengaturan. Meskipun mengatasi defisit fungsi perifer melalui alat bantu dengar dan implan koklea sangat penting, semakin banyak bukti yang menunjukkan hubungan antara gangguan pendengaran dan penurunan kognitif menunjukkan bahwa diperlukan strategi manajemen yang lebih komprehensif. Amplifikasi Prinsip penatalaksanaan pada penderita presbikusis berupa rehabilitasi medik dengan menggunakan alat bantu dengar (hearing aid) dan dibantu dengan konseling. Alat bantu dengar ini berfungsi sebagai alat yang membantu penggunaan sisa pendengaran untuk kepentingan komunikasi dengan lingkungan. Seseorang dinyatakan perlu untuk menggunakan alat bantu dengar apabila kehilangan pendengaran lebih dari 40 dB.
Modul IX.5.4-Presbiakusis 14 Koreksi Faktor Kesehatan Koreksi faktor-faktor kesehatan lainnya seperti merokok, hipertensi, dan kadar kolesterol harus diperhatikan karena dapat meningkatkan risiko terjadinya presbikusis. Penelitian yang dilakukan pada tahun 2010 melaporkan perokok aktif mengalami peningkatan risiko sebesar 1.63 kali untuk mengalami presbikusis. Penelitian lainnya pada tahun 2014 menyatakan hasil yang tidak jauh berbeda yaitu 1,15 kali lebih tinggi pada perokok aktif dan 1,28 kali pada perokok pasif. Gangguan kardiovaskular seperti hipertensi, penyakit jantung, stroke dan dislipidemia dilaporkan meningkatkan risiko presbikusis. Penelitian yang dilakukan pada pasien dengan riwayat infark miokardium melaporkan peningkatan risiko secara signifikan sebesar dua kali lipat pada wanita. Namun hasil yang tidak signifikan ditemukan pada populasi pria. Penelitian lain yang dilakukan oleh Gopinath et al. menyatakan peningkatan risiko sebesar 2.04 kali lipat pada pasien dengan riwayat stroke. Sedangkan pada pasien dengan diabetes, risiko terjadinya presbikusis lebih rendah yaitu 1,55 kali lipat. Implantasi Koklea Implan koklea merupakan perangkat elektronik yang mempunyai kemampuan menggantikan fungsi koklea untuk meningkatkan kemampuan mendengar dan berkomunikasi pada pasien tuli saraf berat dan total bilateral. Implan koklea sudah mulai dimanfaatkan semenjak 25 tahun yang lalu dan berkembang pesat di negara maju. Implantasi koklea pertama kali dikerjakan di Indonesia pada bulan Juli 2002. Selama 4 tahun terakhir telah dilakukan implantasi koklea pada 27 anak dan 1 orang dewasa. Tabel 2. 2 Indikasi dan Kontraindikasi Implantasi Koklea IMPLAN KOKLEA Indikasi Kontra Indikasi - keadaan tuli saraf berat bilateral atau tuli total bilateral (anak maupun dewasa) yang tidak / sedikit mendapat manfaat dengan alat bantu dengar konvensional, - usia 12 bulan sampai 17 tahun, tidak ada kontraindikasi medis - calonpengguna mempunyai perkembangan kognitif yang baik. - tuli akibat kelainan pada jalur saraf pusat (tuli sentral), - proses penulangan koklea - koklea tidak berkembang
Modul IX.5.4-Presbiakusis 15 L. ALGORITMA
MODUL UTAMA THT KOMUNITAS HABILITASI DAN REHABILITASI PENDENGARAN MODUL IX.6.1 ALAT BANTU DENGAR (ABD) EDISI III KOLEGIUM ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER 2022
DAFTAR ISI A. INFORMASI UMUM .................................................................................. 1 B. TUJUAN ...................................................................................................... 1 C. KOMPETENSI ............................................................................................ 2 D. METODE PEMBELAJARAN .................................................................... 4 E. SARANA DAN ALAT BANTU ................................................................. 4 F. GAMBARAN UMUM ................................................................................ 4 G. MATERI BAKU .......................................................................................... 5 H. MATERI PRESENTASI............................................................................ 15 I. EVALUASI ................................................................................................ 15 J. REFERENSI .............................................................................................. 16
Modul IX.6.1 ± Alat Bantu Dengar (ABD) 1 MODUL IX.6.1 THT KOMUNITAS ± HABILITASI DAN REHABILITASI PENDENGARAN : ALAT BANTU DENGAR (ABD) A. INFORMASI UMUM 1. Nama Program Studi/Jenjang : THT KL 2. Divisi : THT Komunitas 3. Nama Modul : Habilitasi & Rehabilitasi 4. Nama Sub Modul : Alat Bantu Dengar (ABD) 5. Waktu : 6 Bulan 6. SKS : 12 SKS B. TUJUAN Modul ini disusun untuk proses pembekalan bagi pengembangan dan pencapaian kompetensi Sp.THT- KL untuk Penatalaksanaan Habilitasi dan Rehabilitasi Gangguan Pendengaran dengan menggunakan Alat Bantu Dengar (ABD) TUJUAN PEMBELAJARAN Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan, sikap dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam Habilitasi dan Rehabiltasi Pendengaran bagi para penderita gangguan pendengaran semua usia yang memerlukan amplifikasi pendengaran,yaitu: 1. Mengetahui pengertian tentang indikasi, manfaat, saat paling tepat untuk melakukan pemasangan ABD. 2. Mampu menjelaskan komponen utama ABD serta karakteristik ± elektro akustik (electroacoustic - characteristic) ABD (gain , respons frekuensi spesifik, saturation sound pressure) 3. Mampu menjelaskan perbedaan pemasangan ABD pada dewasa dengan bayi/ anak 4. Mampu menjelaskan, menentukan dan melakukan pemeriksaan audiologi ( Audiometri, Audiometri behavioral, BERA click dan tone burst atau ASSR) untuk persiapan dan evaluasi pemasangan ABD
Modul IX.6.1 ± Alat Bantu Dengar (ABD) 2 5. Mengetahui jenis-jenis ABD serta keuntungan dan kerugian masing- masing ABD . Dan menjelaskan pengertian tentang sirkuit analog dan digital ( implan vs non implant) 6. Teknik pemasangan ABD pada tuli unilateral/ Single Side Deafness ( CROS, BICROS0 7. Mengetahui manfaat ear mould ( Open and Closed method) dan cara pembuatannya 8. Mengetahui proses pemilihan/ seleksi dan fitting ABD. 9. Mengetahui prosedur dan teknik evaluasi pasca pemasangan ABD (Hearing aid performance). Serta mengetahui penyebab kegagalan ABD dan alternatif amplifikasi selanjutnya (CCHA, Assisstive listening device, FM system, Implantasi koklea, BAHA, Cartilage Conduction Hearing Aid /CCHA) 10. Mengetahui perlu tidaknya pemasangan ABD pada ANSD serta risiko yang dapat terjadi. 11. Mengetahui cara pemeliharaan dan mendeteksi gangguan / kerusakan ABD (Troubleshoting) C. KOMPETENSI 1. Pengetahuan Setelah mengikuti Program Modul Sp-1 ini peserta didik mampu menjelaskan teori tentang: 1. Manfaat, prinsip kerja, indikasi pemasangan alat bantu dengar pada bayi, anak dan dewasa. 2. Mampu merencanakan, merujuk, melakukan evaluasi pasca pemasangan ABD. 2. Keterampilan Setelah mengikuti Program Modul Sp-1 ini peserta didik terampil dalam 1. Menjelaskan indikasi pemasangan ABD 2. Menjelaskan manfaat pemasangan ABD 3. Menjelaskan perbedaan pemasangan ABD pada dewasa dengan bayi/anak 4. Menjelaskan saat yang paling tepat untuk pemasangan ABD
Modul IX.6.1 ± Alat Bantu Dengar (ABD) 3 5. Menjelaskan komponen utama serta karakteristik ± elektro akustik dari ABD (gain, respons frekuensi, saturation sound pressure) 6. Menjelaskan dan melakukan tes audiologi (Audiometri, Audiometri behavioral, BERA click dan tone burst atau Auditory Steady State Response) untuk persiapan dan evaluasi pemasangan ABD 7. Menjelaskan jenis-jenis ABD serta keuntungan dan kerugian masing- masing ABD 8. Menjelaskan sirkuit analog, analog programable dan digital 9. Menjelaskan pengertian tentang ear mould dan cara pembuatannya. 10. Menjelaskan proses pemilihan/ seleksi ABD 11. Menjelaskan proses fitting ABD 12. Menjelaskan cara cara evaluasi pasca pemasangan ABD. 13. Menjelaskan hal hal yang menyebabkan kegagalan atau ketidak berhasilan pemasangan ABD serta alternatif amplifikasi 14. Menjelaskan alternatif habilitasi/ rehabilitasi pendengaran selain ABD, seperti Assisstiv listening device, FM system, BAHA, Cartilage Conduction Hearing Aid/CCHA,Implantasi koklea 15. Menjelaskan perlu tidaknya serta risiko pemasangan ABD pada Neuropati auditorik selanjutnya 16. Menjelaskan cara pemeliharaan dan mendeteksi gangguan / kerusakan ABD. 3. Sikap dan perilaku Setelah mengikuti modul ini diharapkan peserta Sp-1 THT Komunitas [sub Modul Alat Bantu Dengar] mampu menjaga etika terhadap pasien/keluarga pasien , staf pendidik, kolega, paramedik dan non paramedik. Disiplin dan bertanggung jawab, serta taat dalam pengisian dokumen medik, tugas serta pedoman penggunaan Alat Bantu dengar.Peserta didik dapat berkomunikasi yang jujur dan terbuka, bekerjasama dalam tim, serta menjunjung tinggi patient safety. Lingkup bahasan materi untuk memenuhi kompetensi sikap dan perilaku adalah:
Modul IX.6.1 ± Alat Bantu Dengar (ABD) 4 1. Standar Prosedur Operasional (SPO)/PNPK Tuli Kongenital /PPK/Clinical Pathway terkait dalam Habilitasi/ Rehabilitasi gangguan Pendengaran di bidang THT Komunitas 2. Materi Joint Commision International (Code of conduct). 3. Keselamatan pasien [Patient safety]. D. METODE PEMBELAJARAN Untuk mencapai tujuan pembelajaran Modul VI. Habilitasi & Rehabilitasi Sub modul : Alat Bantu Dengar ini maka dipilih metode pembelajaran sebagai berikut: a. Interactive lecture b. Small group discussion. c. E-learning d. Laporan Kasus e. Journal/ literature reading f. Tindakan Praktek Pemasangan ABD pada anak dan dewasa E. SARANA DAN ALAT BANTU a. Text book b. Tempat belajar (training setting): ruang kuliah, ruang praktikum, instalasi rawat jalan, c. Model/ manekin. d. Video ABD F. GAMBARAN UMUM Pemasangan ABD adalah salah satu upaya penting untuk habilitasi dan rehabilitasi gangguan pendengaran sehingga penderita mampu berkomunikasi dengan lingkungan. Berdasarkan data survei Nasional kesehatan indera pendengaran (1994- 1996) di Indonesia terdapat 16.8 % populasi dengan gangguan pendengaran; prevalensi ketulian adalah 0.4% sedangkan prevalensi tuli kongenital sekitar 0.1%. Diperkirakan angka ±angka tersebut telah mengalami peningkatan yang bermakna saat ini. Bila gangguan pendengaran terjadi sejak lahir dan tidak
Modul IX.6.1 ± Alat Bantu Dengar (ABD) 5 dilakukan upaya amplifikasi tentu kondisi ini akan berdampak luas karena akan meyebabkan kecacatan dengar dan wicara. Hal ini mengakibatkan terjadi peningkatan jumlah penyandang cacat dengar-wicara dengan kualitas hidup dan SDM yang rendah sehingga akan menjadi beban bagi keluarga, masyarakat dan Pemerintah. . Bila terjadi pada murid sekolah tentu akan berakibat pada prestasi akademik. Pada bayi dengan gangguan pendengaran sejak lahir, amplifikasi sudah harus dimulai pada usia 6 bulan. Berdasarkan pertimbangan tsb diatas diperlukan pemahaman dan keterampilan yang memadai bagi para dokter THT untuk mengetahui indikasi, pengetahuan tentang ABD agar dihasilkan amplifikasi pendengaran yang optimal. Kegagalan habilitasi pendengaran dengan ABD umumnya disebabkan oleh tidak adekuatnya informasi ambang pendengaran yang bersifat frekuensi spesifik sehingga menyulitkan proses fitting ABD; juga dapat disebabkan oleh diabaikannya proses follow-up pasca pemasangan ABD. G. MATERI BAKU ALAT BANTU DENGAR Pengertian Alat Bantu Dengar SHUDQJNDW HOHNWURQLN \J GSW P¶SHUNHUDV DPSOLILNDVL VXDUD OLQJNungan sehingga pengguna memperoleh input suara yg optimal utk dpt berkomunikasi (communication aid ). Alat elektronik yang berperan dalam meningkatkan sinyal akustik dari lingkungan sehingga penderita gangguan pendengaran masih dapat menggunakan sisa pendengarannya dengan efisien auditory prothesis yang dapat membantu penderita gangguan pendengaran atau ketulian utk mendengar lebih baik. Ruang Lingkup ABD Sebagai salah satu pilihan habilitasi/ rehabilitasi pendengaran , ABD berperan dalm memperkeras input suara yang masuk kedalam sistim pendengaran. ABD berperan dalam mengoptimalkan sisa pendengaran. Keberhasilan penggunaan ABD ditentukan antara lain oleh penentuan kandidat pengguna ABD, usia, derajat gangguan pendengaran dan konfigurasi audiogram,
Modul IX.6.1 ± Alat Bantu Dengar (ABD) 6 informasi ambang pendengaran per prekuensi ( frekuensi spesifik), metode seleksi ABD, performance ABD, proses fitting dan follow-up pasca pemasangan ABD. Tidak kalah pentingnya motivasi calon pengguna ABD Indikasi Pemasangan ABD - Bayi / anak dengan gangguan pendengaran permanen (sensorineural,konduktif) lebih dari 40 dB HL pada kedua telinga - Bayi/ anak dengan gangguan pendengaran unilateral pada frekuensi wicara ( Am. Acad.of Audiology, 2004) - Penderita dewasa dengan derajat pendengaran sedang , sedang-berat dan berat - Penderita dewasa dengan gangguan pendengaran ringan namun mengalami kesulitan mendengar pada kondisi lingkungan bising, terutama yang berhubungan dengan pekerjaannya Electro-Characteristic ABD o Gain Perbedaan relatif output terhadap input Pengukuran gain dilakukan dengan memberikan input suara sebesar 50 - 60 dB SPL melalui mikrofon ABD kemudian mengukur output yang dihasilkan ABD (SPL) o Respons frekuensi Menggambarkan gain ABD masing masing frekuensi o Saturation sound pressure level (SSPL) Kemampuan amplifier meningkatan input menjadi output yang lebih besar pada batas tertentu menjadi non linier. Hal ini disebabkan oleh amplifier tidak mampu lagi mengamplifikasi sinyal input yang terlalu besar karena nilai SPL input telah melampaui voltase batere (sumber tenaga amplifier), kondisi ini disebut sebagai SSPL yaitu nilai SPL terbesar yang dapat dihasilkan oleh suatu ABD Frekuensi Spesifik Yang dimaksud frekuensi spesifik adalah (prediksi) ambang pendengaran masing masing frekuensi. Pemasangan ABD pada bayi / anak untuk memperoleh performance ABD yang optimal diperlukan pemeriksaan obyektif yang frekuensi nya spesifik. Umumnya
Modul IX.6.1 ± Alat Bantu Dengar (ABD) 7 harus diupayakan informasi frekuensi spesifik pada 500, 1000, 2000, 4000 Hz.; pada tuli berat sebaiknya ditambahkan 250 Hz. Dengan BERA click tidak diperoleh frekuensi spesifik, untuk mendapatkan frekuensi spesifik digunakan BERA stimulus tone burst, namun pemeriksaan ini memerlukan waktu yang lebih lama. Untuk memperoleh informasi frekuensi spesifik yang lebih cepat pilihannya adalah Auditory Steady State Response (ASSR) karena dapat memeriksa 2 telinga pada saat yang sama, dengan 4 frekuensi pada masing masing telinga; berarti dapat diperiksa 8 frekuensi secara simultan. Komponen Dan Prinsip Kerja ABD Bagian utama suatu ABD adalah mikrofon,amplifier dan receiver (loudspeaker).Mikrofon dan receiver berperan sebagai transduser ( pengubah energi). Di dalam mikrofon input suara (enerji akustik) akan diubah menjadi enerji mekanik kemudian diubah lagi menjadi enerji listrik sehingga dapat diamplifikasi oleh amplifier. Di dalam receiver energi listrik yang telah di perbesar akan diubah kembali menjadi energi akustik (output). ABD standart memiliki komponen sebagai berikut; 1. Mikrofon : menangkap suara, merubah sinyal akustik menjadi sinyal listrik. 2. Amplifier : amplifikasi sinyal listrik 3. Receiver : atau speaker, merubah sinyal listrik menjadi sinyal akustik 4. Kontrol volume : berhubungan dgn amplifier ; mengatur volume 5. Tone Control ( Gain ): memilih nada supaya nyaman 6. Power supply 7. ON ±OFF Switch Skema Abd
Modul IX.6.1 ± Alat Bantu Dengar (ABD) 8 Sirkuit ABD Berdasarkan sirkuit yang terpasang di dalam suatu ABD, teknologi ABD dibedakan menjadi analog, digital yang dapat diprogram ( Digitally programmable) dan Digital. Pada ABD sistim analog, amplifikasi dilakukan secara sederhana melalui komponen mekanik dasar. Dengan sistim ini amplifikasi memiliki risiko distorsi, bising sirkuit atau terjadi interferensi dengan noise disekitar pengguna. ABD digital menggunakan chip komputer untuk menganalisa input sinyal suara. Sistim komputer akan memutuskan suara yang perlu diamplifikasi dan sinyal yang tidak perlu diamplifikasi (misalnya noise). Selain itu sistim digital dapat diprogram (programmable), artinya sistim komputer akan mengatur dengan tepat ( fine tune ) output ABD sesuai kebutuhan. Hal ini dimungkinkan oleh kemampuan sistim digital untuk memilah bunyi menjadi frekuensi yang spesifik sampai 8 frekuensi; sedangkan sistim analog hanya mampu memilahnya menjadi hanya 2 frekuensi saja. Jenis Alat Bantu Dengar Tipe saku / Pocket/ Body aid Tipe belakang telinga / Behind The Ear (BTE) Tipe telinga / In The Ear ( ITE ) Tipe liang telinga / In The Canal ( ITC) - Completely In the Canal (CIC) Tipe kaca mata / Spectacle Aid Jenis lain: x CROS ( Contra lateral Routing of Signal ) x Bone Conduction HA x BAHA ( Bone Anchored HA) x CCHA [Cartilage Conduction Hearing Aid] Tipe Saku / Pocket Type Hearing Aid Mikrofon dan amplifier dipisah dari receiver melalui kabel (cord ) x Tujuan : mendapat tenaga (power ) dan gain besar dgn feed back minimal Keunggulan : Dapat digunakan untuk penderita tuli berat
Modul IX.6.1 ± Alat Bantu Dengar (ABD) 9 Keterbatasan - Tdk praktis - Kemampuan lokalisir bunyi kurang - Noise ( gesekan ABD ± tubuh / baju ) - Cord putus Behind The Ear (BTE) o Dipasang di belakang daun telinga o Suara dari ABD di teruskan ke liang telinga melalui tubing o Kemampuan lokalisir suara cukup baik o Power cukup besar. Kerugian o Kosmetik o Penyetelan lebih sulit In The Ear (ITE) o Cekungan konka daun telinga o Menyatu dgn earmould o Hanya utk tuli sedang In The Canal (ITC) Seluruh komponen + ear mould dalam liang telinga Kosmetis lbh baik dari ITE Power terbatas tuli sedang Penyetelan manual sulit ; sekarang : remote control Spectacle Aid (ABD Jenis Kacamata) x ABD dipasang pada tangkai kacamata x Mirip BTE x Kosmetis lebih baik ABD jenis hantaran tulang ( Bone conduction hearing aid ) Digunakan pada gangguan pendengaran / tuli jenis hantaran ( konduktif). Biasanya dimanfaatkan pada kasus atresia liang telinga yang umunya terjadi bersama dengan mikrotia. Juga digunakan pada kasus dimana sewaktu waktu liang telinga terisi cairan yang berasal dari infeksi telinga tengah (OMSK). ABD jenis hantaran tulang dibedakan menjadi; (1). ABD jenis hantaran tulang konvensional. (2). BAHA ( Bone Anchored Hearing Aid) (1) ABD hantaran tulang konvensional
Modul IX.6.1 ± Alat Bantu Dengar (ABD) 10 Suara dari luar akan menggetarkan bone vibrator yang ditempelkan pada tulang mastoid dengan bantuan ikat kepala khusus ( head band ), kaca mata atau plastik mirip bando. Kerugian ABD jenis ini adalah tidak praktis, penampilan kurang menarik (kosmetik), butuh amplifikasi besar, dan konduksi suara tidak optimal (berubah-ubah) karena tekanan bone vibrator terhadap prosesus mastoid tidak stabil. Tekanan pada kulit yang terus menerus menyebabkan lecet/laserasi pada kulit yang menempel dengan bone vibrator. Pilihan model ABD pada sistim ini adalah jenis saku atau BTE. (2) ABD jenis BAHA (Bone Anchored Hearing Aid ) ABD yang mirip jenis saku dihubungkan melalui kabel dengan penggetar tulang (bone vibrator). yang dapat dipasang dan dilepas melalui sistim sekrup ± baut dengan lempengan logam dari bahan Titanium yang telah ditanam ke dalam tulang mastoid melalui tindakan operasi. Hantaran tulang lebih efektif dibandingkan ABD jenis hantaran tulang Indikasi Tuli konduktif Atresia liang telinga bilateral OMSK ABD jenis CROS (Contralateral routing of Signals) Digunakan pada penderita tuli berat hanya satu sisi telinga (unilateral). Mikrofon ditempatkan pada telinga yang terganggu. Selanjutnya suara diteruskan ke sisi telinga yang normal melalui kabel atau pemancar FM mini. Cara ini memungkinkan penderita menangkap bunyi dari sisi yang mengalami gangguan . Ear Mould o Cetakan telinga yg bentuk & ukurannya sesuai liang telinga o Bahan : acrylic ; silicon o Tujuan: Mencegah kebocoran akustik Mencegah feed back Menjaga tubing tetap stabil di liang telinga o Pada anak sering diganti
Modul IX.6.1 ± Alat Bantu Dengar (ABD) 11 o Tubing : pipa penghantar bunyi dari ABD ( receiver ) ke earmould Seleksi Abd Proses seleksi ( dan evaluasi) ABD dimaksudkan untuk menilai kemampuan amplifikasi ABD. - Metode komparatif : berdasarkan derajat gangguan pendengaran - Metode preskriptif : berdasarkan ambang dengar ( hearing threshold) Fitting ABD Pengaturan ABD agar diperoleh amplifikasi yang optimal sesuai dengan kebutuhan dan nyaman digunakan (comfortable) ditentukan oleh performance ABD yang dipilih meliputi parameter: gain, respons frekuensi dan saturation sound pressure level ( lihat electo-characteristik ABD) Follow-Up Pasca Pemasangan ABD Untuk menilai keberhasilan pemasangan ABD harus dilakukan follow up. Keberhasilan ini antara lain ditentukan oleh respons ABD. Beberapa cara penilaian respons ABD Functional Gain Test ± Dilakukan di dalam ruang sound proof , menggunakan metode Behavioral test ± Dinilai selisih ambang terkecil dengan / tanpa ABD Probe ± Microphone Test ± Mikrofon tipis pd liang telinga + ear mould ± Menilai langsung performance ABD insitu dgn menganalisa respon ± Kemampuan maksimum. ABD dlm memproses suara sesuai kebutuhan & comfortable level RECD ( Real Ear to Coupler Difference) ± Sebuak mikrofon khusus disisipkan di liang telinga pada sisi dalam ear mould, untuk menilai output ABD (SPL). Dengan input yang sama ABD tersebut di ukur dalam 2cc-coupler (perangkat simulasi respons ABD). Dinilai perbedaan SPL di dalam liang telinga(real ear) dengan 2 cc coupler. Cara ini digunakan pada bayi, dam harus diperiksa ulang setiap penggantian ear mould ± Estimasi real ear response ABD Pemasangan ABD Pada Anak Makin meluasnya kegiatan skrining pendengaran pada bayi dan anak berdampak pada upaya pemasangan ABD lebih awal. Saat ini bayi dengan gangguan pendengaran telah dianjurkan utk menggunakan ABD mulai usia 6 bulan; padahal beberapa tahun yang lalu ABD baru digunakan ketika anak berusia 15-18 bulan
Modul IX.6.1 ± Alat Bantu Dengar (ABD) 12 Tujuan utama pemasangan ABD pada bayi/ anak adalah agar suara percakapan lebih jelas terdengar. Pemasangan ABD pada bayi dan anak jauh lebih sulit dibandingkan dewasa, termasuk mengevaluasi respon yang dihasilkan ABD. Kesulitan tersebut disebabkan oleh beberapa kondisi sebagai berikut o Menentukan ambang dengar tepat & frekuensi spesifik o Jenis & spesifikasi ABD o Informasi behavioral minimal o Volume liang telinga kecil o Pinna kecil : penempatan ABD sulit ; feed back >> o Ear mould sering ganti Baku emas pemeriksaan pendengaran pada bayi saat ini adalah OAE dan BERA. Namun karena untuk menjamin hasil amplifikasi yang optimal diperlukan informasi frekuensi yang lebih spesifik, sehingga harus ditambahkan pe meriksaan BERA dengan stimulus tone burst terutama pada frekuensi rendah. Pemeriksaan terakhir ini membutuhkan waktu yang cukup lama sehingga ASSR (Auditory Steady State Response) yang mampu memeriksa secara simultan 4 frekuensi pada masing ± masing telinga merupakan solusi. Pada bayi dan anak dengan gangguan pendengaran bilateral,ABD harus dipasang pada kedua telinga (binaural), demikian pula pada bayi dan anak yang sedang/masih dalam periode perkembangan bicara. Bila hanya dipasang pada satu telinga (monoaural) akan terjadi kekacauan pendengaran [auditory deterioration]. Pada tuli berat atau sangat berat bilateral, namun terpaksa hanya dapat dipasang pada satu telinga, telinga mana yang dipilih? Bila ambang dengar < 70 dB agar dipasang pada sisi telinga yang lebih buruk, sebaliknya bila ambang dengar > 70 dB sebaiknya dipasang pada telinga yang mempunyai ambang dengar yang lebih baik. Pertimbangan lain bila hanya dapat memasang 1 ABD saja agar diprioritaskan pada: sisi telinga yang SRTnya lebih baik, kofigurasi audiogram yang lebih mendatar [flat], toleransi yang lebih baik pada pemberian volume yang lebihbesar. Kegagalan Pemasangan Abd o Data hasil pemeriksaan : Frekuensi tidak spesifik o Karakteristik ABD tidak sesuai konfigurasi audiogram ( Fitting, seleksi) o Karakteristik ABD terbatas o Neuropati Auditorik ( OAE tidak diperiksa) o Kelainan sentral (Auditory Processing??) Alternatif Habilitasi / Amplifikasi Pendengaran Assistive Listening Device ( ALD) Perangkat elektronik untuk meningkatkan kenyamanan mendengar pada kondisi lingkungan pendengaran tertentu seperti menonton televisi, mendengarkan
Modul IX.6.1 ± Alat Bantu Dengar (ABD) 13 telepon , mendengar suara bel rumah atau pada saat berada di ruang aula / auditorium. ALD dapat dipergunakan tersendiri atau dipasang pada ABD dengan maksud mengoptimalkan kerja ABD. Dikenal beberapa jenis ALD, seperti 1. Sistim Kabel Receiver dihubungkan melalui kabel dengan mikrofon yang digunakan oleh lawan bicara ( guru ). Cara ini dapat membantu pada pembicaraan jarak pendek. Juga dapat dihubungkan dengan pesawat televisi, radio, walkman, pemutar CD dan perangkat audio lainnya. Sistim ini memiliki keterbatasan karena ditentukan oleh panjangnyanya kabel. 2. Sistim FM ( Frequency Modulation) ABD dihubungkan dengan sumber suara tanpa mempergunakan kabel ( wireless). Suara dari lawan bicara, pembicara atau guru dipancarkan melalui sinyal/ gelombang radio FM menuju ABD yang digunakan. Tentu saja cara ini lebih fleksibel dibandingkan dengan cara sebelumnya. Sistim ini digunakan pada ruang kelas atau ruang pertemuan. 3. Sistim infra merah ( infra red) Sinyal dari sumber bunyi dipancarkan melalui gelombang sinar infra merah, seperti halnya dengan remote control Sistim infra merah ini memerlukan jalan sinyal bebashambatan antara transmitter dengan receiver. 4. Induction Loops Perangkat ini menghasilkan suatu medan magnet yang akan meningkatkan kenyamanan mendengar.Medan magnet tersebut akan ditangkap oleh receiver yang ada pada suatu headphone atau ABD. Rangkaian yang luas dapat di pasang pada suatu ruangan pertemuan. Sedangkan rangkaian yang lebih terbatas dapat dipasang disekitar leher dan dihubungkan dengan telepon, pemutar CD dll. ABD Pada Auditory Neuropathy Spectrum Disorders (ANSD) Salah satu ciri neuropati auditorik ( dys-synchrony) adalah fungsi koklea masih baik (OAE pass), walaupun tidak diperoleh respons evoked potential pada pemeriksaan BERA. Pemasangan ABD harus dipertimbangkan untung ruginya dan perlu diskusi dengan calon pemakai/ orang tua penderita. Disatu sisi amplifikasi merupakan kebutuhan namun dengan kondisi koklea yang masih baik, amplifikasi dengan ABD dapat mengakibatkan kerusakan pada sel sel rambut luar koklea. Bila diputuskan untuk tetap memasang ABD, pasien perlu kontrol berkala terutama untuk mengetahui fungsi koklea Deteksi Gangguan/ Kerusakan ABD Suara Lemah Ganti batere, perbesar volume Kotoran / embun pd pipa/ tubing ? Pipa/ tubing terlipat ? Tidak Ada Suara Ganti batere, posisi kontak Setting ABD : jangan posisi T
Modul IX.6.1 ± Alat Bantu Dengar (ABD) 14 Output ABD tersumbat ? Semua dalam keadaan baik : periksa ke pelayanan purna jual Feed Back Posisi ear mould ? Mengerut ? Pipa terlipat / tersumbat? Kotoran liang telinga / ear mould Gangguan menetap : periksa ke pelayanan purna jual Kadang Hidup / Mati Batere bocor ( serbuk putih) Logam kontak berkarat Setelah memahami, menguasai dan mengerjakan modul ini maka diharapkan seorang dokter ahli THT mempunyai kompetensi serta penerapannya dapat dikerjakan di RS Pendidikan dan RS jaringan pendidikan, serta dapat dipergunakan oleh program studi disiplin ilmu terkait. ALGORITMA DAN PROSEDUR List of skill meliputi : x Anamnesis x Pemeriksaan fisik dan audiologik x Pemeriksaan penunjang x Informed consent x Melakukan pembuatan ear impression dan fitting ABD (bimbingan, mandiri) x Follow up pasca pemasangan ABD x Mengenali kegagalan pemasangan ABD x Memilih alternatif habilitasi/ amplifikasi pendengaran KEPUSTAKAAN MATERI BAKU 1. Dillon H. Hearing Aids. Boomerang Press ; New York : Thieme, 2012. 2. Katz J. Handbook of Clinical Audiology.7 th ed. Lippincott Williams & Wilkins. 2014 3. Suwento R, Zizlavsky S. Habilitasi dan Rehabilitasi Pendengaran. Dalam; Soepardi E, Iskandar N, Bashiruddin J,Restuti RD. Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT. Edisi 7. Balai Penerbit FKUI,2018. 4. Guideline for Hearing Aid Fitting for Adult. Am.Speech Language Hearing Association, Ad Hoc Committee on Hearing Aid Selection, 1998 5. Popelka GR, Moore BCJ, Fay RR, Popper AN. Hearing Aids. Springer International Publishing Switzerland. 2016
Modul IX.6.1 ± Alat Bantu Dengar (ABD) 15 H. MATERI PRESENTASI Slide 1 : Judul Slide 2 : Introduction Slide 3 : Middle Ear Infection => Prevalence Slide 4 : Hearing Loss => Conductive, Mixed, Sensoryneural Slide 5 : Hearing Loss => OME, SNHL Slide 6 : Middle Ear Infection => Slide 7 : Benefit Of The Hearing AID Slide 8 : History Slide 9 : Input & Output Slide 10 : HA Slide 11 : Component Slide 12 : How It Works Slide 13 : Bone Conduction Hearing AID Slide 14 : Bone Conduction Device Slide 15 : Bone Conduction Hearing AID Slide 16 : BAHA Slide 17 : Cartilage Hearing Aid Slide 18 : Cartilage Hearing Aid Slide 19 : Cartilage Hearing Aid Slide 20 : Styles Of Hearing AID Slide 21 : Styles Of Hearing AID Slide 22 : Summary I. EVALUASI Evaluasi hasil pendidikan ditentukan berdasarkan proses dan hasil pembelajaran. Untuk dapat dievaluasi, peserta pelatihan kompetensi tambahan harus memenuhi persyaratan kehadiran sebanyak minimum 90%. Hasil akhir akan diserahkan kepada KODI THT KOMUNITAS dan Kolegium THT-KL berupa dua nilai yaitu, PENGETAHUAN dan KETERAMPILAN Nilai PENGETAHUAN terdiri dari: 1. Evaluasi Formatif: dilakukan selama masa pelatihan secara berkesinambungan, dan pembimbing diwajibkan memberikan umpan balik (feedback) pada proses pembelajaran. 2. Evaluasi Sumatif: dilakukan pada akhir tahapan pelatihan, bertujuan untuk menilai tercapainya seluruh kompetensi yang diharapkan.
Modul IX.6.1 ± Alat Bantu Dengar (ABD) 16 3. Evaluasi Sikap dan Perilaku: dilakukan penilaian sikap dan perilaku (etika terhadap pasien,staf pendidik, teman sejawat, paramedis dan non paramedis), profesionalisme, patient safety,komunikasi, kerja sama dalam keseharian penilaian dapat menggunakan penilaian 360°. Nilai KETERAMPILAN diperoleh dari Logbook dan DOPS (Direct Observation Procedural Skill) saat ujian keterampilan. J. REFERENSI 1. Dillon H. Hearing Aids. Thieme, Boomerang Press Sydney,2001 2. Katz J. Handbook of Clinical Audiology.5 th ed. Lippincott Williams & Wilkins. 2002 3. Sirlan F, Suwento R. Hasil Survei Kesehatan Indera Penglihatan dan Pendengaran (1993 -1996). Depkes RI, 1997. 4. Ronny Suwento, Semiramis Zizlavsky. Habilitasi dan Rehabilitasi Pendengaran. Dalam; Soepardi E, Iskandar N. Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT. Edisi 6. Balai Penerbit FKUI,2007 5. Guideline for Hearing Aid Fitting for Adult. Am.Speech Language Hearing Association, Ad Hoc Committee on Hearing Aid Selection, 1997 6. Popelka GR, Moore BCJ, Fay RR, Popper AN.Hearing Aid. Springer International Publishing AG Switzerland, 2016 TUJUAN PEMBELAJARAN METODA PENILAIAN 1. Mampu menjelaskan manfaat, prinsip kerja, indikasi pemasangan ABD pada bayi, anak dan dewasa. Ujian tulis Pre - post 2. Menjelaskan komponen, karakteristik elektro akustik, jenis-jenis sirkuit ABD Ujian tulis Pre - post 3. Dapat melakukan tes audiologi (Audiometri Nada murni, Audiometri behavioral, BERA click dan Tone burst dan Auditory Steady State Response) untuk persiapan pemasangan ABD DOPS 4. Dapat melakukan evaluasi pasca pemasangan ABD. DOPS
MODUL UTAMA THT KOMUNITAS HABILITASI DAN REHABILITASI PENDENGARAN MODUL IX.6.2 MAPPING PASCA IMPLANT KOKLEA EDISI III KOLEGIUM ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER 2022
DAFTAR ISI A. INFORMASI UMUM ..................................................................................... 1 B. TUJUAN.......................................................................................................... 1 C. KOMPETENSI ................................................................................................ 2 D. METODE PEMBELAJARAN ........................................................................ 3 E. SARANA DAN ALAT BANTU..................................................................... 4 F. MATERI BAKU ............................................................................................. 5 G. MATERI PRESENTASI ................................................................................. 6 H. EVALUASI ..................................................................................................... 6 I. REFERENSI .................................................................................................... 8
Modul IX.6.2 ± Mapping Pasca Implant Koklea 1 MODUL IX.6.2 THT KOMUNITAS ± HABILITASI DAN REHABILITASI PENDENGARAN : MAPPING PASCA IMPLANT KOKLEA A. INFORMASI UMUM 1. Nama Program Studi/Jenjang : THT KL/Sp-1 2. Divisi : THT Komunitas 3. Nama Modul : Habilitasi dan Rehabilitasi 4. Sub Modul : Mapping Pasca Implan Koklea 5. Waktu : 6 Bulan 6. SKS : 12 SKS B. TUJUAN Modul ini disusun untuk proses pembekalan bagi pengembangan dan pencapaian kompetensi Sp.THT- KL untuk tatalaksana (Re) habilitasi tuli sensorineural bagi pengguna implan koklea. TUJUAN PEMBELAJARAN Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan, sikap dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam (re) habilitasi pendengaran bagi penderita tuli sensorineural yang memerlukan mapping pasca implan koklea, yaitu: 1. Mengetahui pengertian tentang indikasi, kontra indikasi, manfaat dan saat paling tepat untuk implan koklea. 2. Mampu menjelaskan komponen utama implan koklea serta fungsinya. 3. Mampu menjelaskan perbedaan cara kerja ABD dan implan koklea 4. Mampu menjelaskan, menentukan dan melakukan pemeriksaan audiologik (Audiometri, Audiometri behavioral, BERA click dan tone burst atau ASSR) untuk persiapan implan koklea 5. Mampu menjelaskan tentang pemeriksaan impedansi dan NRI/ART/NRT baik intraoperasi, saat switch on dan mapping 6. Mampu menjelaskan evaluasi pasca implan dan komplikasi yang terjadi.
Modul IX.6.2 ± Mapping Pasca Implant Koklea 2 C. KOMPETENSI 1. Pengetahuan Setelah mengikuti Program PPDS ini peserta didik mampu menjelaskan teori tentang : 1. Pengertian tentang indikasi, kontra indikasi, manfaat dan saat paling tepat untuk implan koklea. 2. Komponen utama implan koklea serta fungsinya. 3. Perbedaan cara kerja ABD dan implan koklea 4. Menjelaskan tentang pemeriksaan impedansi dan NRI/ART/NRT baik intraoperasi, saat switch on dan mapping 2. Keterampilan Setelah mengikuti Program PPDS ini peserta didik terampil dalam 1. Menjelaskan, menentukan dan melakukan pemeriksaan audiologi (Audiometri, Audiometri behavioral, BERA click dan tone burst atau ASSR) untuk persiapan implan koklea 2. Melakukan evaluasi pasca implan dan komplikasi yang terjadi. 3. Sikap dan perilaku Setelah mengikuti modul ini diharapkan peserta PPDS-THT Komunitas mampu menjaga etika terhadap pasien/keluarga pasien, staf pendidik, kolega, paramedik dan non paramedik. Disiplin dan bertanggung jawab, serta taat dalam pengisian dokumen medik, tugas serta pedoman mapping pasca implan koklea. Peserta didik dapat berkomunikasi secara jujur dan terbuka, bekerjasama dalam tim, serta menjunjung tinggi patient safety. Lingkup bahasan materi untuk memenuhi kompetensi sikap dan perilaku adalah: 1. Standar Prosedur Operasional (SPO)/PNPK Tuli Kongenital/PPK/Clinical Pathway terkait dalam (Re) Habilitasi gangguan Pendengaran di bidang THT Komunitas. 2. Materi Joint Commision International (Code of conduct). 3. Keselamatan pasien [Patient safety].
Modul IX.6.2 ± Mapping Pasca Implant Koklea 3 D. METODE PEMBELAJARAN Untuk mencapai tujuan pembelajaran Modul 6. Habilitasi dan Rehabilitasi ± Sub modul : Mapping pasca implan koklea ini maka dipilih metode pembelajaran sebagai berikut: Tujuan 1. Mengetahui pengertian tentang indikasi, kontra indikasi, manfaat dan saat paling tepat untuk implan koklea. Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Interactive lecture x Small group discussion. x E-learning x Laporan Kasus x Journal/ literature reading Tujuan 2. Mampu menjelaskan komponen utama implan koklea serta fungsinya. Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Interactive lecture x Small group discussion. x E-learning Tujuan 3. Mampu menjelaskan perbedaan cara kerja ABD dan implant koklea Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Interactive lecture x Small group discussion. x E-learning Tujuan 4. Mampu menjelaskan, menentukan dan melakukan pemeriksaan audiologi (Audiometri, Audiometri behavioral, BERA click dan tone burst atau ASSR) untuk persiapan implan koklea
Modul IX.6.2 ± Mapping Pasca Implant Koklea 4 Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Interactive lecture x Small group discussion. x E-learning x LaporanKasus x Bed site teaching Tujuan 5. Mampu menjelaskan tentang pemeriksaan impedansi dan NRI/ART/NRT baik intraoperasi, saat switch on dan mapping Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Interactive lecture x Small group discussion. x E-learning x Bed site teaching Tujuan 6. Mampu menjelaskan evaluasi pasca implan dan komplikasi yang mungkin terjadi. Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Interactive lecture x Small group discussion. x E-learning x Laporan Kasus x Journal/ literature reading Kompetensi ketrampilan juga dapat dicapai dengan mengikuti Pelatihan / Workshop / Kursus tentang Mapping pasca implan koklea E. SARANA DAN ALAT BANTU a. Text book b. Tempat belajar (training setting): ruang kuliah, ruang praktikum, instalasi rawat jalan c. Hardware dan software untuk melakukan mapping
Modul IX.6.2 ± Mapping Pasca Implant Koklea 5 F. MATERI BAKU Tuli sensorineural berat sampai sangat berat seringkali dalam evaluasi tidak mencapai performa yang baik dalam perkembangan mendengar dan wicara dengan penggunaan Alat Bantu Dengar. Oleh karena itu implan koklea saat ini menjadi alternatif yang menjanjikan terutama pada tuli kongenital sebagai salah satu habilitasi maupun rehabiltasi. Implan koklea merupakan alat elektronik berukuran kecil yang dimasukkan ke dalam koklea dengan cara operasi dan berfungsi menggantikan sel rambut dalam di koklea untuk memberikan stimulasi secara langsung ke saraf pendengaran. Hal ini berbeda dengan Alat Bantu Dengar yang berfungsi amplifikasi. Komponen pada implan koklea terdiri dari komponen luar dan komponen dalam. Keberhasilan ini juga dipengaruhi oleh faktor seleksi, operasi dan (Re) habilitasi, selain banyak faktor lain seperti etiologi, derajat ketulian, usia saat operasi dll. Indikasi implan koklea saat ini berubah sesuai dengan kemajuan teknik dengan design alat yang lebih kecil dan terdiri dari chanel yang banyak sehingga suara yang dihasilkan lebih baik. Pada proses habilitasi komitmen dan dukungan orang tua sangat penting karena anak harus mengikuti program mapping secara berkala dan terapi audio verbal. Pada saat intra operasi setelah semua elektroda di insersi baik melalui kokleo stomi maupun round window dilakukan pengecekan impedansi yang menggambarkan integritas setiap elektroda. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan NRI/ART/NRT sesuai program yang diinginkan untuk melihat respon saraf pendengaran terhadap stimulasi yang diberikan pada elektroda tertentu sebagai data dasar untuk melakukan mapping. Switch on merupakan pengaktifan alat implan koklea yang umumnya dilakukan dua minggu pasca implantasi koklea dengan memperhatikan luka bekas operasi. Pemeriksaan impedansi dilakukan kembali sehingga bila ditemukan adanya short maupun open circuit elektroda tersebut di nonaktifkan. Pada saat alat diaktifkan perlu diperhatikan respon terhadap stimulus bunyi yang diberikan. Pada anak yang kecil program kemudian dibuat berdasarkan data NRI/ART/NRT yang ada. Proses ini dilakukan secara berkala sambil memperhatikan performa daripada pengguna implan koklea. Program dibuat dengan mengatur suara keras yang masih nyaman didengar (comfortable level) dan
Modul IX.6.2 ± Mapping Pasca Implant Koklea 6 suara kecil yang masih bisa dideteksi (threshold level) pada setiap elektroda. Jumlah program yang dibuat disesuaikan dengan speech processor yang digunakan. Hal ini dilakukan sampai memperoleh mapping yang stabil dan strategi yang digunakan disesuaikan dengan implan yang digunakan. Program Mapping juga dilakukan sejalan dengan terapi audio verbal sehingga masukan dari terapis maupun keluarga juga dibutuhkan untuk memperoleh hasil yang optimal. Evaluasi dapat dilakukan menggunakan Category Auditory Performance (CAP II) untuk menilai perkembangan bicara dan Speech Intelligibility Rating (SIR) untuk penilaian perkembangan bicara. Program Mapping selanjutnya dilakukan berdasarkan kebutuhan pasien. Apabila dalam habilitasi terdapat komplikasi ataupun kerusakan alat maka sebaiknya perlu ditangani secepat mungkin. G. MATERI PRESENTASI Slide 1 Judul Mapping Pasca Implan Koklea Slide 2 Pendahuluan Slide 3 Implan Koklea Slide 4 Indikasi dan Kontra Indikasi Slide 5 Indikasi Slide 6 Kontra Indikasi Slide 7 Keberhasilan Implan Koklea Slide 8 Habilitasi Slide 9 Intra Operasi Slide 10 Switch On Slide 11 Impedance Slide 12 NRI/ART/NRT Slide 13 Evaluasi Slide 14 Six Ling yang harus dikuasai H. EVALUASI Evaluasi hasil pendidikan ditentukan berdasarkan proses dan hasil pembelajaran. Untuk dapat dievaluasi, peserta pelatihan kompetensi tambahan harus memenuhi persyaratan kehadiran sebanyak mimimum 90%. Hasil akhir akan diserahkan kepada KODI THT KOMUNITAS dan Kolegium THT-KL berupa dua nilai yaitu, PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN
Modul IX.6.2 ± Mapping Pasca Implant Koklea 7 NILAI PENGETAHUAN terdiri dari: 1. Evaluasi Formatif : dilakukan selama masa pelatihan secara berkesinambungan,dan pembimbing diwajibkan memberikan umpan balik ( feedback ) pada proses pembelajaran. 2. Evaluasi Sumatif: dilakukan pada akhir tahapan pelatihan, bertujuan untuk menilai tercapainya seluruh kompetensi yang diharapkan. 3. Evaluasi Sikap dan Perilaku: dilakukan penilaian sikap dan perilaku (etika terhadap pasien, staf pendidik, teman sejawat, paramedis dan non paramedis), profesionalisme, patient safety, komunikasi, kerjasama dalam keseharian penilaian dapat menggunakan penilaian 360°. Nilai KETERAMPILAN diperoleh dari Logbook dan DOPS (Direct Observation Procedural Skill) saat ujian keterampilan TujuanPembelajaran MetodaPenilaian 1. Mengetahui pengertian tentang indikasi, kontra indikasi, manfaat dan saat paling tepat untuk implan koklea. Ujian tulis Pre - post 2. Mampu menjelaskan komponen utama implan koklea serta fungsinya. Ujian tulis Pre - post 3. Mampu menjelaskan perbedaan cara kerja ABD dan implan koklea Ujian tulis Pre - post 4. Dapat melakukan tes audiologi (Audiometri Nada murni, Audiometri behavioral, BERA click dan Tone burst dan Auditory Steady State Response) untuk persiapan implant koklea DOPS 5. Mampu menjelaskan tentang pemeriksaan impedansi dan NRI/ART/NRT baik intra operasi, saat switch on dan mapping Ujian tulis Pre - post 6. Mampu menjelaskan evaluasi pasca implan dan komplikasi yang mungkin terjadi. DOPS 7. Evaluasi Ujian tulis Pre-post
Modul IX.6.2 ± Mapping Pasca Implant Koklea 8 I. REFERENSI 1. Hughes ML. Objective Measures in Cochlear Implants. Core clinical conceps in audiology. Plural Publishing 2014 2. Gifford.RH. Cochlear Implant Patient Assessment.Evaluation of Candidacy, Performance, and Outcomes.2 nd .A Volume in the Core Clinical Concepts in Audiology Series. Plural Publishing 2020 3. Wolfe J, Schafer EC. Programming Cochlear Implants 2 nd ed. Plural Publishing 2015 4. Houston KT ,Janezic LD, Bradham TS,Teagle HFB.Cochlear Implants: Determining Candidacy for Young Children Who Are Deaf or Hard of Hearing. In :A Resource Guide for Early Hearing Detection & Intervention.The National Cener for Hearing Assessment & Management. EDHI 2017 5. Houston KT, Bradham TS. Cochlear Implants for Children Who Are Deaf or Hard of Hearing. In: A Resource Guide for Early Hearing Detection & Intervention. Early Detection Hearing & Intervention e book. 2021 6. Shapiro WH. Advancement in Cochlear Implant Programming.In: Cochlear Implants 3 th ed. Thieme 2013