MODUL ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER EDISI III KOLEGIUM ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA LEHER 2022
Tim Penyusun 1. Prof. dr. Bambang Hermani, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.L.F.(K) 2. Prof. Dr. dr. Farhat, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)., M.Ked(ORL-HNS) 3. Prof. Dr. dr. Widodo Ario Kentjono, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K) 4. Dr. dr. Achmad Chusnu Romdhoni, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K) 5. Dr. dr. Agung Dinasti Permana, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)., M.Kes 6. Dr. dr. Camelia Herdini, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)., M.Kes 7. Dr. dr. Fauziah Fardizza, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.L.F.(K), FICS 8. Dr. dr. Imam Prabowo, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K) 9. Dr. dr. Nani Iriani Djufri, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K) 10. Dr. dr. Nova Audrey Luetta Pieter, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)., FICS 11. Dr. dr. Sagung Rai Indrasari, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)., M.Kes 12. Dr. dr. Soehartono, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)., FICS 13. Dr. dr. Sukri Rahman, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)., FACS 14. Dr. dr. Yussy Afriani Dewi, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)., M.Kes., FICS 15. dr. Marlinda Adham, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)., PhD., FACS 16. dr. Ade Burhanudin, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)., M.Kes 17. dr. Benny Kurnia, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K) 18. dr. Chippy Ahwil, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)., M.Kes 19. dr. Denny Satria Utama, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)., M.Si.Med., FICS 20. dr. Eriza, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K) 21. dr. Fadhlia, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)., M.Ked(ORL-HNS) 22. dr. Hamsu Kadriyan, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)., M.Kes 23. dr. Ibnu Harris Fadillah, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K) 24. dr. I Gde Ardika Nuaba, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)., FICS 25. dr. Ika Dewi Mayangsari, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K) 26. dr. Ita Wahyuni, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K) 27. dr. Izry Naomi Lumbantobing, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)., M.Ked (ORL-HNS)., FICS 28. dr. Ni Ketut Susilawati, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)., FICS 29. dr. Slamet Suwondo, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K) 30. dr. Willy Yusmawan, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)., M.Si.Med 31. dr. Yulvina, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K) 32. dr. Kartika Sudrajat Budi Setyawan, Sp.T.H.T.B.K.L 33. dr. Karisma Prameswari Patria Mahatmi, Sp.T.H.T.B.K.L
KATA PENGANTAR Assalammu’alaikum Wr.Wb. Alhamdulillahirobbil ‘alamin, saya panjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allah swt yang senantiasa melimpahkan segala rahmat, taufik dan hidayah-Nya sehingga dapat menyelesaikan penyusun Buku Modul Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher (IK THTBKL) edisi ketiga ini. Modul ini disusun untuk memenuhi kebutuhan peserta pendidikan dokter spesialis THTBKL yang merupakan penyempurnaan edisi kedua, pemenambahan beberapa materi sesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan serta ketrampilan baru guna meningkatlan mutu proses pendidikan dokter spesialis THTBKL di Indonesia Selaras dengan dimulainya program fellowship serta persiapan pembukaan program pendidikan Subspesialisasi THTBKL, modul Pendidikan dokter spesialis THTBKL ini disusun agar pendidikan spesialis THTBKL terjaga menjadi satu kesatuan yang mendalam antara ketiga program pendidikan tersebut. Selain itu Buku Modul ini dapat menjadi pedoman untuk melaksanakan pendidikan secara terstruktur dan berkualitas, dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, monitoring hingga proses evaluasi secara berkesinambungan. Hal tersebut bertujuan agar lulusan peserta program studi IK THTBKL mempunyai kompetensi akademik dan kompetensi profesional unggul seiring berkembangnya jaman. Pada era baru ini para lulusan Dokter Spesialis THTBKL diharapkan memiliki kemampuan akademik professional bertaraf internasional, inovatif dan tangguh yang mampu berkiprah secara global sesuai Visi dan Misi Pendidikan Spesialis THTBKL. Semoga dengan terbitnya Buku Modul ketiga ini program pendidikan dokter spesialis THTBKL semakin maju dan menghasilkan pencapaian lulusan yang unggul, kompeten dan berkualitas. Apresiasi kami yang setinggi-tingginya kepada seluruh teman sejawat, Profesor Dokter, atas komitmen, dedikasi, serta pemikiran dan waktu yang telah diberikan terutama dalam suasana pandemi Covid-19. Keterbatasan jarak dan keadaan Pandemi telah membuka peluang pengembangan komunikasi, diskusi dan ujicoba modul ketiga, secara digital (TIK), sehingga kita dapat berkoordinasi, produktif menyelesaikan buku modul Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala dan Leher edisi ketiga ini. Semoga modul ini dapat bermanfaat bagi kita semua, khususnya para peserta didik dan semua yang kita lakukan selalu mendapat ridha Allah SWT. Wassalammu’alaikum Wr.Wb. Ketua Umum Kolegium IK THTBKL Indonesia Dr. dr. Trimartani, Sp T.H.T.B.K.L., F.P.R(K)., MARS
VII. ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER VII.1 PRINSIP DASAR ONKOLOGI KEPALA LEHER VII.2 PRINSIP RADIOTERAPI KEGANASAN KEPALA LEHER VII.3 PRINSIP DASAR KEMOTERAPI DAN TERAPI SISTEMIK LAINNYA PADA KEGANASAN KEPALA LEHER VII.4 NEOPLASMA RONGGA MULUT VII.5 TUMOR VASKULER KEPALA LEHER VII.6 KARSINOMA NASOFARING VII.7 NEOPLASMA OROFARING VII.8 NEOPLASMA HIDUNG DAN SINUS PARANASAL VII.9 LIMFOMA KEPALA LEHER VII.10 NEOPLASMA KELENJAR LIUR DAN RUANG PARAFARING VII.11 NEOPLASMA HIPOFARING VII.12 NEOPLASMA KELENJAR TIROID DAN PARATIROID VII.13 NEOPLASMA ESOFAGUS 1/3 PROKSIMAL VII.14 KARSINOMA LARING VII.15 KARSINOMA LEHER VII.16 NEOPLASMA JINAK LEHER VII.17 NEOPLASMA KULIT PADA KEPALA LEHER VII.18 NEOPLASMA TRAKEOBRONKIAL VII.19 NEOPLASMA TULANG DAN LESI ODONTOGENIK SEKITAR WAJAH VII.20 KARSINOMA TELINGA VII.21 SARKOMA DAN TUMOR JARINGAN LUNAK KEPALA LEHER
MODUL UTAMA ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER MODUL VII.1 PRINSIP DASAR ONKOLOGI KEPALA LEHER EDISI III KOLEGIUM ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER 2022
DAFTAR ISI A. WAKTU .......................................................................................................... 1 B. PERSIAPAN SESI .......................................................................................... 1 C. REFERENSI .................................................................................................... 1 D. KOMPETENSI ................................................................................................ 1 E. GAMBARAN UMUM .................................................................................... 2 F. TUJUAN PEMBELAJARAN ......................................................................... 2 G. METODE PEMBELAJARAN ........................................................................ 2 H. EVALUASI ..................................................................................................... 3 I. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF ............................. 3 J. MATERI PRESENTASI ................................................................................. 5 K. MATERI BAKU ............................................................................................. 9
Modul VII.1 - Prinsip Dasar Onkologi Kepala Leher 1 MODUL VII.1 ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER: PRINSIP DASAR ONKOLOGI KEPALA LEHER A. WAKTU Proses Pengembangan Kompetensi Alokasi Waktu Sesi di dalam kelas Sesi dengan fasilitasi Pembimbing Waktu: 2 x 50 menit (classroom session) 1 x 60 menit (coaching session) B. PERSIAPAN SESI 1. Materi presentasi: o Power point o LCD 2. Kasus: - 3. Sarana dan alat bantu latih: (disesuaikan dengan pencapaian kompetensi): o Penuntun belajar (learning guide): terlampir o Tempat belajar (training setting): ruang kuliah o Komputer/laptop o Infocus C. REFERENSI 1. Guo T. Califano JA. Molecular Biology and Immunology of Head and Neck Cancer. Surg Oncol Clin N Am.2015;24:397-407 2. Grivennikov SI, Greten FR, Karin M. Immunity, inflammation, and cancer. Cell. 2010;140(6):883-99. 3. Vaezi A, Grandis JR: Head and Neck Tumor Biology. In: BJ Bailey, et al., eds. Head and Neck Surgery±Otolaryngology.Vol 2. 5th Ed. Philadelphia; Lippincott Williams & Wilkins: 2014. 5 ed. p. 1645-71 4. Issaeva N, Yarbrough W.Tumor Biology of Head and Neck Cancer. In: Chan Y, *RGGDHG -& (GLWRUV .-/HH¶V (VVHQWLDO 2WRODU\QJRORJ\ +HDG DQG 1HFN Surgery. 11th (ed). United States: McGraw-Hill education. 2016. p. 740-45 D. KOMPETENSI 1. Pengetahuan Setelah mengikuti sesi ini peserta mampu memahami proses imunologi tumor. 2. Keterampilan Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil menjelaskan tentang: a. Karakteristik dan perubahan sel pada tumor b. Profil antigen yang membedakan antara jaringan normal dan jaringan tumor c. Pengaruh imunitas tubuh terhadap sel tumor d. Faktor imunologi yang berperan dalam terjadinya tumor
Modul VII.1 - Prinsip Dasar Onkologi Kepala Leher 2 E. GAMBARAN UMUM Imunologi tumor adalah interaksi antara sel-sel yang berpengaruh terhadap sistem imun dengan sel-sel tumor. Imunologi tumor merupakan interdisiplin ilmu, cabang dari biologi yang mempelajari mengenai pengaruh sistem imun terhadap progresifitas dan perkembangan sel kanker. Aplikasi dari ilmu ini adalah imunoterapi dan kemoterapi pada keganasan. F. TUJUAN PEMBELAJARAN a. Tujuan pembelajaran umum Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan dapat memahami respons imun tubuh terhadap tumor terutama di daerah kepala dan leher. b. Tujuan pembelajaran khusus Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan mampu untuk: 1. Mengetahui karakteristik dan perubahan sel pada tumor (tingkat kompetensi K2, A2) 2. Mengetahui profil antigen yang membedakan antara jaringan normal dan jaringan tumor (tingkat kompetensi K2, A2) 3. Mengetahui pengaruh imunitas tubuh terhadap (tingkat kompetensi K2, A2) sel tumor 4. Mengetahui faktor imunologi yang berperan dalam terjadinya tumor (tingkat kompetensi K2, A2) G. METODE PEMBELAJARAN Tujuan 1. Mengetahui karakteristik dan perubahan sel pada tumor. Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: Referat atau Mini lecture atau Harus diketahui: Karakteristik sel tumor Perubahan sel pada tumor Tujuan 2. Mengetahui profil antigen yang membedakan antara jaringan normal dan jaringan tumor. Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: Referat atau Mini Lecture atau Harus diketahui: Profil antigen pada jaringan normal dan jaringan tumor Tujuan 3. Mengetahui pengaruh imunitas tubuh terhadap sel tumor Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: Referat atau
Modul VII.1 - Prinsip Dasar Onkologi Kepala Leher 3 Mini Lecture Harus diketahui: Pengaruh imunitas tubuh terhadap sel tumor Tujuan 5. Mengetahui faktor imunologi yang berperan dalam terjadinya tumor Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: Referat Mini Lecture Harus diketahui: Faktor imunologi yang berperan dalam terjadinya tumor H. EVALUASI 1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pretest dalam bentuk essay sesuai dengan tingkat masa pendidikan, yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. 2. Selanjutnya dilakukan small group discussion bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar. 5. Self assesment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar. 6. Pendidik/ fasilitas: - Penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi - Kriteria penilaian keseluruhan : cakap/ tidak cakap/ lalai 7. Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education) 8. Pencapaian pembelajaran: - Ujian akhir stase, setiap divisi / unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan T.H.T.K.L lanjut oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L. - Ujian akhir dilakukan pada akhir pendidikan oleh Kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L I. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF 1. Kuesioner sebelum pembelajaran Soal: 1. Siklus sel: A. Setelah mitosis, sel memasuki fase G2, yaitu fase dimana sel sangat aktif tetapi tidak mensintesis DNA. B. Pada fase G0/G1 kandungan DNA N (haploid). C. Siklus sel berlajut ke fase M, dimana terjadi sintesis DNA. D. Pada fase G2, sel akan membelah diri menjadi 2 sel diploid. E. Waktu yang diperlukan untuk satu siklus sel terjadi pada fase M.
Modul VII.1 - Prinsip Dasar Onkologi Kepala Leher 4 Jawaban: D 2. Sifat umum sel kanker: A. Dapat tumbuh tetapi memerlukan rangsangan eksogen B. Sensitif terhadap sinyal anti pertumbuhan C. Mempunyai kemampuan apoptosis yang menurun D. Mempunyai kemampuan proliferasi yang tidak terbatas E. Tidak dapat menghindar dari sistem imun Jawaban: C 3. Berbagai proses yang bertanggung jawab atas perubahan proto-onkogen menjadi onkogen adalah: A. Aktivasi akibat duplikasi, transduksi, dan penyisipan retrovirus B. Aktivasi akibat translokasi kromosom C. Aktivasi akibat sintesis DNA D. Aktivasi akibat perubahan ekspresi gen E. Aktivasi akibat perubahan struktur protein Jawaban: B 2. Kuesioner tengah pembelajaran Soal : 1. Faktor pertumbuhan yang mempunyai potensi onkogenik adalah: A. Interleukin 4 B. TGF¢ C. EGFR D. TGF£ E. Wnt-3 Jawaban: B 2. Yang termasuk onkogen pada karsinoma sel skuamosa kepala dan leher adalah? A. PTEN B. SMAD 4 C. FHIT D. P16 E. EGFR Jawaban: E 3. Adanya peningkatan berlebihan BcL-2 dan BcL-X dapat mengakibatkan ? A. Penurunan apoptosis sel B. Peningkatan berlebihan p53 C. Proliferasi vaskular D. Peningkatkan sel kanker
Modul VII.1 - Prinsip Dasar Onkologi Kepala Leher 5 Jawaban: A 3. Kuesioner akhir pembelajaran Soal: 1. Imunitas seluler: A. Fungsi penting dari sel NK adalah sebagai pro tumor B. TGF£ yang mengawali apoptosis C. Tumor dapat mengekspresikan antigen dan memicu CTL spesifik yang dapat menghancurkan tumor itu sendiri D. Limfosit yang berikatan dengan self-antigen tidak mengalami apoptosis E. Antibodi membentuk kompleks imun yang mencegah sitotoksisitas sel T Jawaban: C 2. Sel imun yang berperan dalam terapi keganasan adalah: A. Neutrofil B. Limfosit B C. Monosit D. Makrofag E. Basofil Jawaban: D 4. Mekanisme escape: A. Supresi terhadap sel-sel B. Apoptosis sel efektor C. Merangsang terbentuknya sel B D. Menurunkan angiogenesis E. Imunosupresi ada lingkungan di luar tumor Jawaban: B J. MATERI PRESENTASI Slide 1-2: Judul dan Imunologi tumor
Modul VII.1 - Prinsip Dasar Onkologi Kepala Leher 6 Slide 3: Karakteristik tumor
Modul VII.1 - Prinsip Dasar Onkologi Kepala Leher 7 Slide 4 : Perubahan sel tumor Slide 5: Faktor-faktor yang berperan dalam respon imunologi pada tumor
Modul VII.1 - Prinsip Dasar Onkologi Kepala Leher 8 Slide 6: Sel imun yang berperan Slide 7: Profil antigen tumor dan jaringan normal
Modul VII.1 - Prinsip Dasar Onkologi Kepala Leher 9 Slide 8 : Peran sistem imun terhadap tumor K. MATERI BAKU Imunologi Tumor Sistem imun adalah sistem perlindungan dari pengaruh luar biologis yang dilakukan oleh sel dan organ pada suatu organisme. Jika sistem kekebalan bekerja dengan benar, sistem ini akan melindungi tubuh terhadap infeksi bakteri dan virus serta menghancurkan sel kanker dan zat asing lain dalam tubuh. Sistem kekebalan juga memberikan pengawasan terhadap sel tumor. Imunologi tumor merupakan cabang dari imunologi yang mempelajari interaksi antara sistem imunitas tubuh dan tumor. Bidang ini berkembang dari penelitian yang bertujuan untuk menemukan immunoterapi tumor yang inovatif untuk mengobati dan menghambat perkembangan penyakit. Respons imun, termasuk pengenalan terhadap antigen - tumor tertentu, adalah suatu pengetahuan yang diperoleh untuk mendorong perkembangan terapi spesifik (vaksin dan terapi antibodi) dan petanda tumor berbasis tes diagnostik. Fungsi sistem imun adalah fungsi protektif terhadap tumor yang mempunyai peran: 1. Melindungi individu dari perkembangan tumor yang diinduksi virus dengan mengeliminasi atau menekan virus tersebut. 2. Mengeliminasi patogen dan meredakan inflamasi secepatnya sehingga dapat mencegah terbentuknya lingkungan inflamasi yang kondusif untuk perkembangan tumor. 3. Mengidentifikasi secara spesifik dan mengeliminasi sel tumor berdasarkan ekspresi antigen atau molekul spesifik tumor berdasarkan ekspresi antigen atau molekul spesifik tumor yang terbentuk akibat perubahan sel yang menjadi ganas. Peran ini disebut sebagai immune surveillance.
Modul VII.1 - Prinsip Dasar Onkologi Kepala Leher 10 Banyak tumor ganas yang tetap bisa tumbuh pada individu yang imunokompeten karena immune surveillance terhadap tumor ganas ini relative tidak efektif. Sistem imun pada keadaan ini juga berfungsi menyeleksi varian sel tumor dengan imunogenitas rendah yang tidak dikenal oleh sistem imun sehingga tumor berkembang melalui mekanisme escape atau menghindari pengenalan dan eliminasi. Perkembangan tumor dipengaruhi oleh banyak faktor dan umumnya merupakan interaksi antara faktor gen dan lingkungan, khususnya lingkungan mikro sekitar tumor. Faktor Genetik dan Epigenetik Proliferasi dan maturase atau diferensiasi sel normal diatur oleh sejumlah proto- onkogen yang merangsang pertumbuhan dan dan berbagai anti onkogen atau gen supresor yang menghambat pertumbuhan. Perubahan genetik merujuk pada pewarisan informasi atas perubahan sekuen DNA, selain itu terdapat mekanisme epigenetik. Perubahan epigenetik merujuk pada perubahan fungsi gen tanpa disertai perubahan sekuen DNA. Perubahan epigenetik merupakan perubahan/ gangguan transkripsi gen yang tidak disebabkan perubahan sekuen DNA. Tetapi berdasarkan variasi struktur kromatin. Berbeda dengan mutasi (perubahan sekuen DNA) yang ireversibel, perubahan epigenetik ini bersifat reversibel dan stabil selama pembelahan sel dan dapat diwariskan pada anak. Faktor Lingkungan Respons inflamasi dapat meningkatkan angiogenesis, promosi perkembangan, dan penyebaran tumor, menyebabkan imunosupresi lokal dan instabilitas genomik. Respons inflamasi memegang peran penentu dalam berbagai stadium perkembangan tumor, mulai dari inisiasi, promosi, konversi maligna, invasi, dan metastasis. Lingkungan mikro tumor meningkatkan laju mutase dan proliferasi. Hubungan inflamasi dengan sel kanker bukan hubungan satu arah. Kerusakan DNA dalam sel kanker dapat berakibat inflamasi makin berat dan mempromosikan tumorigenesis. Reactive Oxygen Species (ROS) dan Reactive Nitrogen Intermediate (RNI) yang dihasilkan oleh sel inflamatori menyebabkan mutase dalam sel yang berdekatan. Sitokin yang diproduksi oleh sel inflamasi dapat meningkatkan kadar ROS dan RNI pada sel premaligna. Inflamasi dapat menyebabkan perubahan epigenetik dan meningkatkan tumorigenesis. Peran Inflamasi dalam Inisiasi dan Promosi Tumor
Modul VII.1 - Prinsip Dasar Onkologi Kepala Leher 11 Sitokin yang diproduksi oleh tumor infiltrating lymphocyte (TIL) mengaktifkan faktor transkripsi yaitu nuclear factor kappa-beta (NF-«B) dan signal transducer and activator of transcription 3 (STAT3) dalam sel premaligna untuk mengendalikan proses pro-tumorigenetik termasuk survival, proliferasi, pertumbuhan, angiogenesis, dan invasi. Kedua faktor tersebut menginduksi produksi kemokin yang menarik sel imun/sel inflamasi tambahan untuk mempertahankan inflamasi terkait tumor. Adanya keganasan di dalam tubuh manusia akan memicu respons imun. Respons imun yang muncul dapat berupa respons imun alami (inat) dan respons imun adaptif. Kedua respons imun tersebut dapat berupa selular dan humoral. Pada respons imun inat, respons yang muncul adalah datangnya sel-sel inflamasi ke tempat terjadinya keganasan, seperti sel NK, makrofag, granulosit, sel T non-MHC, dan sel T gamma/delta. Semua sel tersebut bersifat efektor dan berfungsi dalam membunuh sel- sel ganas. Pada respons imun adaptif, diperantarai oleh sel T. Sel T akan mengenali antigen yang dipresentasikan oleh sel APC. Antigen tersebut telah berikatan dengan molekul MHC-self. Sel tumor dapat bertindak sebagai APC tetapi molekul MHC yang dipresentasikannya lemah. Sel T yang berperan pada imunitas terhadap keganasan terutama adalah sel T-CD8 sebagai efektor dengan mengenali antigen yang berikatan dengan molekul MHC kelas I dan sel T-CD4 yang berfungsi sebagai perantara respons imun melalui molekul MHC kelas II. Respons imun terhadap keganasan terjadi secara lokal-regional pada tempat tumor tersebut berada dan juga secara sistemik. Pada respons imun lokal-regional terutama dilakukan oleh TIL (tumor infiltating limphocytes) sedangkan respons imun sistemik biasanya ditentukan melalui pemeriksaan sel-sel di sirkulasi atau dengan cara delayed- type hypersensitivity. Proses Imunostimulasi dan Imunosupresi Dalam Lingkungan MikroTumor Pada gambar diatas memperlihatkan dua kekuatan dalam lingkungan mikro yaitu stimulasi dan supresi yang mempengaruhi perkembangan tumor. Antigen tumor dan produk tumor menarik sel dendritik ke lokasi tumor. Sel dendritik menangkap antigen
Modul VII.1 - Prinsip Dasar Onkologi Kepala Leher 12 tumor berubah menjadi sel dendritik matur yang menghasilkan IL-12 dan merangsang sel CD4 + /Th1 untuk memproduksi IFN-¤.Sel ini membantu ekspansi CD8 + yang dapat menghancurkan sel tumor melalui granzyme B dan perforin yang diproduksinya. Di lain pihak antigen dan produk tumor mempromosikan maturasi sel dendritik lain, menghasilkan sitokin proinflamatorik IL-6 dan TNF-Į 6HO '& LQL PHPEDQWX pembentukan sel CD4 + /Th2 yang memproduksi IL-4 dan IL-3 mengakibatkan penyingkiran tumor tidak efektif. Lingkungan imunosupresi ini juga mempromosikan pembentukan sel Treg, akumulasi makrofag, dan MDSC. Antigen Tumor Antigen pada tumor yang dapat memicu terjadinya respons imun dapat dibagi menjadi dua, yaitu Tumor Specific Antigen (TSA) yang hanya dimiliki oleh sel tumor dan Tumor-associated antigen (TAA) dapat dimiliki oleh sel tumor maupun sel tubuh yang normal. Tumor Specific Antigen merupakan antigen spesifik yang dimiliki oleh sel tumor. Antigen ini hanya dimiliki oleh sel tumor tertentu dan tidak sama dengan sel tumor yang lain walaupun diberikan stimulus karsinogen yang sama bahkan pada individu yang sama. Pengenalan TSA ini terutama diperantarai oleh MHC kelas I. Dengan dipresentasikannya antigen tersebut melalui molekul MHC I, maka akan dikenali oleh sel T-CD8+ yang akan memicu terjadinya proses sitotoksik. Pengenalan ini juga sifatnya sangat spesifik untuk jenis antigen tertentu. Tumor-associated Antigen, dimiliki pula oleh sel-sel normal tertentu. TAA merupakan protein self yang normal, sehingga TAA tidak akan memicu respons imun. Dalam hal ini kepentingan TAA dalam reaksi penolakan tumor tidak terlalu berperan, akan tetapi terdeteksinya TAA ini sangat berguna dalam penegakan diagnosis dan antibodi terhadap TAA yang dibentuk juga berguna dalam imunoterapi terhadap tumor. TAA dibagi menjadi 3 kategori: Tumor-associated carbohydrate antigen (TACA). Merupakan ekspresi dari bentuk abnormal glikoprotein dan glikolipid, contohnya pada antigen darah dan musin epitel. Hal ini terjadi akibat gagalnya proses glikosilasi pada sel. Antigen Onkofetal, atau disebut juga antigen embrionik. Umumnya diekspresikan oleh jaringan embional tetapi tidak pada jaringan normal yang matur. Contoh dari antigen ini adalah alfa-feto-protein (AFP) dan karsinoembrionik antigen (CEA). Differentiation antigen. Merupakan antigen yang dipresentasikan selama masa diferensiasi suatu sel. Pada sel tumor, antigen ini muncul sebagai tanda pada tahap tersebut diferensiasi sel itu terhenti. Contoh pada sel leukemia dan limfoma terdapat antigen CALLA (CD10). Mekanisme Efektor untuk Melawan Tumor 1. Limfosit T Sel T sitotoksik (CTL) menghasilkan respons imun antitumor yang efektif in vitro. Sel efektor yang berperan dalam mekanisme anti-tumor adalah sel T CD8 + . Limfosit T yang menginfiltrasi jaringan tumor (tumor infiltrating lymphocytes/TILs) mengandung sel CTL yang mempunyai kemampuan melisiskan sel tumor. Sel T CD8 + menghambat pertumbuhan sel tumor melalui efek sitotoksik khususnya untuk sel tumor yang bermetastasis. Peran sel T CD4 + tidak bersifat sitotoksik bagi tumor, tetapi berperan dalam respons antitumor serta menyekresi
Modul VII.1 - Prinsip Dasar Onkologi Kepala Leher 13 TNF dan IFN¤ yang mampu meningkatkan ekrepsi molekul MHC kelas I dan sensitivitas tumor terhadap lisis oleh CTL. 2. Sel NK Sel NK berfungsi sebagai immune surveillance sehingga terdapat pada lesi-lesi premaligna dan bukan untuk tumor yang sudah lanjut, kurangnya sitokin (IL-2) pada tumor yang terutama berperan dalam aktivasi sel NK, dan fungsi sel NK untuk memfasilitasi interaksi antara sel DC dan sel T untuk memicu sistem imun untuk melawan TAA. 3. Sel iNKT Adalah subset limfosit T yang menjembatani imunitas bawaan dengan imunitas didapat. Sel ini dapat mengendalikan pertumbuhan tumor dengan cara membatasi atau menghambat Tumor Associated Macrophage (TAM). 4. Makrofag Sel makrofag (CD14+) juga banyak ditemukan pada tumor di manusia, biasanya disebut sebagai TAM. Pada fungsi normal, makrofag berperan sebagai APC dan berguna dalam mengontrol infeksi. Akan tetapi pada tumor, makrofag diprogram untuk menghambat fungsi limfosit melalui pelepasan sitokin-sitokin, prostaglandin, atau Metabolit Reaktif Oksigen (ROM, reactive oxygen metabolites). Hal tersebut terjadi akibat aktivasi TAM tersebut oleh tumor. Sitokin yang dikeluarkan antara lain IL-10 yang akan menghambat respon inflamasi, sedangkan metabolit reaktif oksigen adalah anion superoksida dan hidrogen peroksida yang dapat menghambat fungsi TIL dan menghambat proses sitotoksik. 5. Sel Dendritik (DC) Secara fenotip sel dendritik mempunyai antigen permukaan Lin- CD80+CD86+HLA-DR+, sangat banyak ditemukan pada tumor di manusia. Peran sel dendritik adalah untuk menangkap, memproses, dan mempresentasikan TAA kepada sel T. Sehingga sel T akan membentuk sel T efektor. Sel dendritik pada tumor (TADC, Tumor-associated Dendritic Cell), setelah terpapar oleh tumor akan mengalami apoptosis dan gangguan pada maturasinya. Hal ini disebabkan oleh adanya zat-zat yang berasal dari tumor (tumor derived factors), terutama gangliosida yang akan menghambat pembentukan dan fungsi dari sel dendritik. Efek gangliosida diperantarai oleh VEGF (vascular endothelial growth factor) yang dikenal sebagai faktor antidendropoeitik. Immuno Editing Lingkungan mikro tumor khususnya imunologiakan menyisakan sel tumor dengan imunogenitas rendah sehingga lebih tahan terhadap aktivitas supresi imun yang disebut immunoediting. Immunoediting memberi penekanan pada dua fungsi sistem imun yang berlawanan, yaitu fungsi protektif dan aktivitas mempromosikan terjadinya tumor. Tiga fase dalam immunoediting adalah fase eliminasi, fase equilibrium, dan fase escape. Biologi Tumor Keganasan Kepala dan Leher Analisis lanjut dari ekspresi dan alterasi gen dan protein telah menjelaskan bahwa alat ini penting untuk memperkirakan prognosis dan menentukan terapi yang sesuai untuk keganasan kepala dan leher. Upaya terbaru, Atlas Genomik Keganasan (TCGA), didukung oleh Institut Keganasan Nasional (NCI) telah menyediakan informasi mendetil mengenai defek gen yang umum dan pola ekspresi, seperti pola ekspresi protein yang ditemukan pada keganasan sel skuamosa kepala dan leher (HNSCC). Walaupun data yang
Modul VII.1 - Prinsip Dasar Onkologi Kepala Leher 14 sama juga didapati pada beberapa tipe keganasan kelenjar ludah dan analisis molekuler keganasan tiroid secara cepat berkembang, kami membatasi diskusi hanya pada HNSCC. HNSCC karena HPV harus dipertimbangkan sebagai penyakit berbeda dari HNSCC akibat tembakau atau HNSCC sporadis yang terjadi pada non perokok. Secara klinis, HNSCC positif HPV (HPV+) memiliki survival yang lebih baik dibandingkan dengan HPV negatif (HPV-) yang terjadi pada kohort singkat dengan faktor risiko berbeda, dan memiliki sejumlah defek molekuler yang mengarahkan tumor. Oleh karena perbedaan ini, HNSCC HPV- dan HPV+ akan dijelaskan secara terpisah. Etiologi HNSCC yang tidak disebabkan HPV didorong oleh konsumsi tembakau. Karsinogen tembakau diperkirakan untuk mendorong perubahan genetik yang menyebabkan keganasan. Kejadian genetik umum atau khusus yang terlihat pada HNSCC HPV- dikelompokkan di bawah. Persentase daftar HNSCC HPV- tercantum sebagai berikut. A. Tumor supresor (agen inaktivator) i. P53: proliferasi, apoptosis, maintenans genom a. Mutasi: 80% ii. CDKN2A (p16INK4a): proliferasi a. Mutasi: 25% b. Delesi: 32% c. Metilasi: 32% iii. FAT1: migrasi, proliferasi a. Mutasi: 25% b. Delesi: 7% iv. NOTCH1: diferensiasi a. Mutasi: 20% v. CASP8: apoptosis a. Mutasi 10% (terhubung dengan aktivasi HRAS) vi. Let-7c miRNA: diferensiasi a. Copy number loss: 35% B. Onkogen (agen aktivasi) i. PK3CA: proliferasi, survival a. Mutasi 19% b. Amplifikasi: 20% (amplikon besar 3q26-ter, tidak jelas apabila targetnya PIK3CA) ii. 11Q13: amplifikasi gen multipel 32% a. CCND1 (cyclin D1): proliferasi b. EMS1 (cortactin): migrasi, invasi, proliferasi c. FADD: apoptosis (peranan sebagai onkogen dipertanyakan) iii. EGFR: proliferasi, survival a. Amplifikasi: 12% iv. FGFR1: proliferasi, survival a. Amplifikasi: 12% v. HRAS: proliferasi, migrasi, survival Mutasi: 5% (terhubung dengan mutasi CASP8)
Modul VII.1 - Prinsip Dasar Onkologi Kepala Leher 15 Sejumlah regio kromosom yang mengalami amplifikasi dan delesi dan gen yang terlibat adalah A. Regio yang umum teramplifikasi i. 11q13: 32% a. Gen teramplifikasi: cyclin D1, EMS1 (cortactin), FADD ii. 3126-ter: 20% a. Gen teramplifikasi: PIK3CA, p63, h-TERC, SOX2, lainnya iii. 8q24: 14% a. Gen teramplifikasi: POU5F1B (isoform fungsional OCT4) iv. 7p11: 12% a. Gen teramplifikasi: EGFR v. 8p11: 12% a. Gen teramplifikasi: EGFR B. Regio yang umumnya mengalami delesi i. 9p21: 32% Gen terdelesi: CDKN2A Jaras biologis Mayor yang terganggu pada HNSCC HPV ± dan Alterasi Genetik yang Mendorong terjadinya Jaras Tersebut Sejumlah penamaan gen yang umum dilambangkan sebagai m=mutasi, a=amplifikasi, d=delesi Untuk amplifikasi/delesi, regio kromosom terlampir sebagai berikut (contoh, d:9p21 = delesi regio kromosom 9p21) A. Proliferasi/siklus sel: 053 (m), CDKN2A (p16 INK4a , m, d:9p21), CCND1 (cyclin D1, a:11q13), EMS1 (cortactin, a:11q13), EGFR (a:7p21), FGFR (a:8p11), FAT1 (m), PIK3CA (m, a:3q26-ter), HRAS (m) B. Survival/apoptosis: p53 (m), PIK3CA (m, a:3q26-ter), HRAS (m), EGFR (a:7p11), FGFR1 (a:8p11), CASP8 (m) C. Diferensiasi: NOTCH (m), p63 (a:3q26-ter), D. Migrasi: EMS1 (a:11q13), HRAS (m), FAT1 (m) HNSCC yang disebabkan HPV sangat berbeda dari HNSCC HPV- secara epidemiologi, biologi, dan klinis. Perbedaan molekuler yang memberakan HPV+ dan HPV- meliputi profil ekspresi ge dan mutasi somatik ang lebih sedikit dan abnormalitas kromosom pada HNSCC HPV+. Oleh karena onkoprotein HPV E6 dan E7 menginaktivasi p53 dan Rb, HNSCC HPV+ selalu menyimpan p53 wild type dan mengekspresikan CDKN2A dalam jumlah banyak yang mengkode p16 INK4a ± regulator yang meningkatkan Rb. Terlepas dari status HPVnya, HNSCC mendemonstrasikan kehilangan 3p dan 8p serta mengalami peningkatkan regio kromosom 3q dan 8q, menyebabkan patogenesis molekular. Keadaan genetik yang ditemukan pada HNSCC HPV+ adalah sebagai berikut A. Tumor Supresor (kejadian inaktivasi) i. NOTCH1: diferensiasi a. Mutasi 17% ii. TRAF3: imunitas a. Delesi fokal dan mutasi titik 20%
Modul VII.1 - Prinsip Dasar Onkologi Kepala Leher 16 iii. Let-7c miRNA: diferensiasi a. Copy number loss: 17% B. Onkogen (kejadian aktivasi) i. PIK3CA: proliferasi, survival a. Mutasi 37% b. Amplifikasi 27% (amplikon besar pada 3q, tidak jelas apakah PIK3CA menjadi target) ii. E2F1: proliferasi, survival a. Amplifikasi fokal 19% iii. FGFR3: angiogenesis, migrasi sel Jaras biologis Mayor yang terganggu pada HNSCC HPV + dan Alterasi Genetik yang Mendorong terjadinya Jaras Tersebut Sejumlah penamaan gen yang umum dilambangkan sebagai m=mutasi, a=amplifikasi, d=delesi A. Proliferasi/siklus sel: P53 (inaktivasi oleh HPV E6), Rb (inaktivasi oleh HPV E7), PIK3CA (m, a:3q26-ter), E2F1 (fokal a) B. Survival/apoptosis: PIK3CA (m, a:3q26-ter), FGFR3 (FGFR3-TACC3 f) C. Imunitas: TRAF3 (d dan m fokal) Diferensiasi: NOTCH1 (m), p63 (a:3q26-ter) Perbedaan antara Ekspresi Protein dan Aktivasi HNSCC HPV+ dan HPV-; RPPA Dengan menggunakan reverse phase protein array (RPPA), kami mengevaluasi ekspresi 137 protein total dan terfosforilasi in 29 HPV+ dan 12 HPV- dari HNSCC terkumpul. 33 protein dan 8 fosfoprotein diekspresikan pada tumer dengan perilaku bergantung HPV. Empat jaras mayor yang membedakan HNSCC HPV+ dan HPV- meliputi: (1) perbaikan DNA, (2) siklus sel, (3) apoptosis, dan (4) PI3K/AKT/MTOR. A. Perbaikan DNA merupakan kategori fungsional terbesar dari protein terekspresi berbeda (12 dari 41 protein terekspresi berbeda (29%), meliputi PARP1, BRCA2, PCNA, dan XRCC1) dengan tingkat protein total teregulasi naik pada tumor HPV+ dibandingkan HPV- B. Siklus sel: oleh karena regulasi turun Rb yang dipengaruhi oleh HPV E7, yang melepaskan aktivitas transkripsional E2F1, tumor HPV+ mengekspresikan Rb lebih rendah dan peningkatanS dan G2/M cyclins E1 dan B1. Di lain pihak, HNSCC HPV- mengekspresikan cyclin D1 yang lebih tinggi yang menyebabkan kadar fosfo-Rb yang juga meningkat C. Peningkatan markah apoptosis, meliputi pembelahan caspase 3 dan 7, ditemukan pada tumor HPV+ D. PI3K/AKT/mTOR: mutan PIK3CA pada tumor HPV+ lebih mengaktivasi mTOR, namun tidak pada jaras AKT. Target AKT langsung, meliputi fosfo-Raf, fosfoGSK3B dan fosfo-TSC2 diekspresikan dengan kadar lebih rendah pada tumor HPV+
Modul VII.1 - Prinsip Dasar Onkologi Kepala Leher 17 Deskripsi Singkat Mekasnisme Mayor pada HNSCC HPV + dan HPV- P53 merupakan satu dari dua supresor yang umum pada keganasan manusia, dan p53 fungsinya harus terganggu pada beberapa atau hampir seluruh kenker. P53 berfungsi sebagai respons terhadap sinyal proliferasi abnormal, kerusakan DNA, infeksi virus, dan stres seluler lain yang menyebabkan terhambatnya siklus sel atau kematian sel. HNSCC HPV- menginaktivasi p53 melalui mutasi pada mayoritas kasus, dimana tumor didorong oleh HPV mengekspresikan E6 onkoprotein viral untuk mendegradasi dan inaktivasi p53. P53 menghambat survival dan proliferasi dan merupakan efektor dari respon kerusakan DNA Retinoblastoma (Rb) merupakan supresor tumor umum lain pada keganasan manusia, dan seperti p53 ia berfungsi secara universal menghambat tumor. Tidak seperti p53, terdapat beberapa mutasi Rb pada HNSCC; namun demikian, Rb dihabat pada hampir seluruh HNSCC HPV- melalui kehilangan CDKN2A (p16) atau amplifikasi CCND1 (Cyclin D1). Tumor HPV+ menginaktivasi Rb melalui ekspresi onkoprotein viral E7. Rb adalah regulator mayor dari siklus sel dan proliferasi. CDKN2A (p16INK4a) berikatan dan menghambat cyclin-dependent kinase 4 dan 6 (CDK4/CDK6) mencegah fosforilasi dan hambatan Rb. Kehilangan p16INK4a menyebabkan CDK4 atau CDK6 (ihat dibawah) menginaktivasi Rb, yang mempromosikan proliferasi. P16 diekspresikan lebih banyak pada HNSCC HPV+ karena inaktivasi Rb oleh HPVE7 CCND1 (Cyclin D1) berikatan dengan CDK4 atau CDK6 mengaktivasi mereka untuk fosforilasi dan inaktivasi Rb. Keluarga Cyclin D1, cyclin D2, juga diamplifikasi dalam persentase rendah HNSCC (3%). Ekspresi berlebih dari cyclin D1 menghambat Rb, mempromosi proliferasi EF1 adalah faktor transkripsi yang dihambat oleh Rb, yang menghambat masuknya faktor transkripsi ini ke nukleus. Di dalam nukleus, E2F1 merupakan faktor transkripsi yang menterjemahkan banyak gen untuk mendukung proliferasi. E2F1 diamplifikasi pada 19% tumor HPV+. HPV16 E6 onkoprotein dalam kombinasi dengan protein sel, E6-associated protein, mengubikuinasi p53 menyebabkan degradasi, sehingga menghambat apoptosis dan menyebabkan proliferasi tidak terkontrol HPV16 E7 onkoprotein menginaktivasi Rb melalui ikatan langsung, ubikuinasi, dan degradasi bergantung proteasom, menyebabkan terlepasnya dan teraktivasinya faktor transkripsi E2F mendorong ekspresi gen fase S, menyebabkan deregulasi siklus sel dan promosi replikasi sel FAT1 adalah protokaderin yang menghambat sinyal WNT dengan menghambat B-katenin. Mutasi FAT1 menyebabkan sinyal B-katenin yang mendorong proliferasi dan migrasi serta memiliki peran dalam menyokong sel punca NOTCH1 merupakan reseptor transmembran yang memberi sinyal setelah berkatan dengan ligan Delta like-1 dan Jagged-1. Untuk sinyal, NOTCH dibelah ROHK Ȗ-sekretase melepaskan bagian domain intrasel Notch yang bertranslokasi ke nukleus. NOTCH1 dapat berfungsi sebagai onkogen atau tumor supresor bergantung pada konteks sel. Pada HNSCC, mutasi diinaktivasi menandkan
Modul VII.1 - Prinsip Dasar Onkologi Kepala Leher 18 bahwa NOTCH1 berperan sebagai tumor supresor. Sinyal NOTCH berperan dalam diferensiasi sel. EGFR (epidermal growth factor receptor) adalah reseptor tirosin kinase yang diaktivasi melalui ikatan epidermal growth factor atau ligan lain. Keluarga EGFR meliputi HER2 yang diamplifikasi dalam jumlah kecil HNSCC (3%). Sinyal melalui EGFR mendorong survival dan proliferasi FGFR1 (fibroblast growth factor receptor 1) adalah reseptor tirosin kinase yang diaktivasi oleh ikatan dengan ligan fibroblast growth factor. Sinyal melalui FGFR1 mendorong survival dan proliferasi FGFR3 (fibroblast growth factor 3) adalah reseptor tirosin kinase yang berperan dalam regulasi proliferasi sel dan apoptosis PIK3CA adalah subunit katalis dari fosfoinositida 3-kinase yang mengubah fosfatidilinositol 4,5-bifosfat (PIP2) menjadi fosfatidilinositol3,4,5 tri-fosfat (PIP3). PTEN adalah supresor tumor yang mengkatalis konversi berlawanan dari PIP2 menjadi PIP2 dan tidak terjadi pada sejumlah kecil HNSCC. Aktivasi PIK3CA menyebabkan sinyal PI3K melalui AKT, mTOR, dan target lain untuk mempromosikan proliferasi dan survival HRAS adalan onkogen yang diaktivasi dengan berikatan keGTP terstimulasi oleh sinyal dari reseptor tirosin kinase dan reseptor lain. Ras diinaktivasi oleh hidrolisis GTP menjadi GDP dan mutas mencegah inaktivasi ini. Sinyal HRAS melalui PI3K, RAF, dan MAPK, dan RALGDS untuk mendorong proliferasi dan survival TRAF3 adalah keluarga faktor terasosiasi reseptor TNF (TRAF). Protein ini memiliki peran penting dalan aktivasi respon interferon tipe I melawan virus DNA; hal ini juga meregulasi negatif jaras NF-kB. Inaktivasi TRAF3 terjadi secara eksklusif pada HNSCC HPV+ yang menandakan mekanisme keluar dari respon anti-virus bawaan dan didapat Let-7c microRNA (miRNA) adalah kandidat supresor tumor yang mengontrol proliferasi dan diferensiasi
MODUL UTAMA ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER MODUL VII.2 PRINSIP RADIOTERAPI KEGANASAN KEPALA LEHER EDISI III KOLEGIUM ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER 2022
DAFTAR ISI A. WAKTU ................................................................................................................ 1 B. PERSIAPAN SESI ................................................................................................ 1 C. REFERENSI .......................................................................................................... 1 D. KOMPETENSI ...................................................................................................... 1 E. GAMBARAN UMUM .......................................................................................... 2 F. TUJUAN PEMBELAJARAN ............................................................................... 2 G. METODE PEMBELAJARAN .............................................................................. 2 H. EVALUASI ........................................................................................................... 4 I. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF ................................... 5 J. MATERI PRESENTASI ....................................................................................... 7 K. MATERI BAKU ................................................................................................... 9
Modul VII.2 - Pinsip Radioterapi Keganasan Kepala Leher 1 MODUL VII.2 ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER: PRINSIP RADIOTERAPI KEGANASAN KEPALA LEHER A. WAKTU Proses Pengembangan Kompetensi Alokasi Waktu Sesi di dalam kelas Sesi dengan fasilitasi pembimbing Sesi praktek dan pencapaian kompetensi Waktu: 1 x 90 menit (classroom session) 1 x 60 menit (coaching session) 12 jam (facilitation and assessment) B. PERSIAPAN SESI x Materi presentasi:Prinsip radioterapi keganasan kepala leher o Power point o video x Kasus: - x Sarana dan alat bantu latih: (disesuaikan dengan pencapaian kompetensi): o Penuntun belajar (learning guide): terlampir o Tempat belajar (training setting): ruang radioterapi, ruang kuliah o Komputer/laptop o Infocus C. REFERENSI 1. Vaezi A, Grandis JR: Head and Neck Tumor Biology. In: BJ Bailey, et al., eds. Head and Neck Surgery±Otolaryngology.Vol 2. 5 th Ed. Philadelphia; Lippincott Williams & Wilkins: 2014. 5 ed. p. 1646-66 2. Duvvuri U, Kubicek GJ: Principles of Radiation Oncology. In: BJ Bailey, et al., eds. Head and Neck Surgery±Otolaryngology.Vol 2. 5 th Ed. Philadelphia; Lippincott Williams & Wilkins: 2014. 5 ed. p. 1682-9 3. Husain Z. Radiation Therapy for Head and Neck Cancer. In: Chan Y, Goddaed JC. Editors. K.- /HH¶V Essential Otolaryngology Head and Neck Surgery. 11th (ed). United States: McGraw-Hill education. 2016. p. 733-39 4. Kimle RJ, Chera BS, Harari P. General Principles of Radiation Therapy for Cancer of the Head and Neck In: Myers J, Hanna E, Myers E, ed. Cancer of The Head and Neck. 5th ed. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2017. p. 1281-318 5. Shah J. Radiation Therapy. In: Shah J, ed. Head and neck surgery and oncology. 5th ed. Philadelphia: Elsevier Co; 2020. p. 815-32 D. KOMPETENSI 1. Pengetahuan Setelah mengikuti sesi ini peserta mengetahui penatalaksanaan radioterapi pada pasien dengan keganasan di kepala leher. 2. Keterampilan Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil: 1. Mampu mengetahui prinsip dasar radioterapi untuk keganasan kepala dan leher 2. Mengetahui pemilihan penatalaksanaan dan penentuan dosis radioterapi
Modul VII.2 - Pinsip Radioterapi Keganasan Kepala Leher 2 3. Mampu melakukan persiapan/perencanaan sebelum penatalaksanaan radioterapi 4. Mengetahui penentuan batas-batas lapangan radiasi 5. Mengetahui teknik dalam melakukan radioterapi 6. Mampu melakukan evaluasi terhadap respons radiasi 7. Mengetahui komplikasi radioterapi 8. Melakukan follow up selanjutnya E. GAMBARAN UMUM Radioterapi adalah tindakan medis menggunakan radiasi pengion, bertujuan untuk mematikan sel kanker sebanyak mungkin dan memelihara jaringan sehat di sekitar tumor agar tidak menderita kerusakan terlalu berat. Radiasi pada jaringan dapat menimbulkan ionisasi air dan elektrolit dari cairan tubuh baik intra maupun ekstraseluler, sehingga timbul ion H+ dan OH - yang sangat reaktif. Ion itu dapat bereaksi dengan molekul DNA dalam kromosom, sehingga dapat terjadi rantai ganda DNA pecah, perubahan cross-linkage dalam rantai DNA, perubahan base yang menyebabkan degenerasi atau kematian sel. Ada 3 cara utama pemberian radioterapi, yaitu radiasi eksterna, radiasi interna, dan intravena. F. TUJUAN PEMBELAJARAN a. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah mengikuti sesi ini peserta didik trampil dalam: 1. Mengetahui prosedur radioterapi pada keganasan di kepala leher. b. Tujuan Pembelajaran Khusus: Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk: 1. Mampu mengetahui prinsip dasar radioterapi untuk keganasan kepala dan leher (tingkat kompetensi K2, A2) 2. Mengetahui pemilihan penatalaksanaan dan penentuan dosis radioterapi (tingkat kompetensi K2, A2) 3. Mampu melakukan persiapan/perencanaan sebelum penatalaksanaan radioterapi (tingkat kompetensi K2, A2) 4. Mengetahui penentuan batas-batas lapangan radiasi (tingkat kompetensi K2, A2) 5. Mengetahui teknik dalam melakukan radioterapi (tingkat kompetensi K2, A2) 6. Mampu melakukan evaluasi terhadap responss radiasi (tingkat kompetensi K2, A2) 7. Mengetahui komplikasi radioterapi (tingkat kompetensi K2, A2) 8. Melakukan follow up selanjutnya (tingkat kompetensi K2, A2) G. METODE PEMBELAJARAN Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan mempunyai kemampuan dasar untuk menentukan penatalaksanaan radioterapi pada keganasan di kepala leher.
Modul VII.2 - Pinsip Radioterapi Keganasan Kepala Leher 3 Tujuan 1. Mampu mengetahui prinsip dasar radioterapi untuk keganasan kepala dan leher Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Small group discussion. 3. Peer assisted learning (PAL) 4. Bedside teaching. 5. Task based medical education. Tujuan 2. Mengetahui pemilihan penatalaksanaan dan dosis radioterapi Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 6. Interactive lecture 7. Small group discussion. 8. Peer assisted learning (PAL) 9. Bedside teaching. 10. Task based medical education. Tujuan 3.Mampu melakukan persiapan/perencanaan penatalaksanaan radioterapi Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Small group discussion. 3. Peer assisted learning (PAL) 4. Bedside teaching. 5. Task based medical education. Tujuan 4. Mengetahui penentuan batas-batas lapangan radiasi Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Small group discussion. 3. Peer assisted learning (PAL) 4. Bedside teaching. 5. Task based medical education. Tujuan 5. Mengetahui teknik dalam melakukan radioterapi Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Small group discussion. 3. Peer assisted learning (PAL) 4. Bedside teaching.
Modul VII.2 - Pinsip Radioterapi Keganasan Kepala Leher 4 5. Task based medical education. Tujuan 6. Mampu melakukan evaluasi terhadap respons radiasi Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Small group discussion. 3. Peer assisted learning (PAL) 4. Bedside teaching. 5. Task based medical education Tujuan 7. Mengetahui komplikasi radioterapi Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Small group discussion. 3. Peer assisted learning (PAL) 4. Bedside teaching. 5. Task based medical education Tujuan 8. Melakukan follow up selanjutnya Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Small group discussion. 3. Peer assisted learning (PAL) 4. Bedside teaching. 5. Task based medical education H. EVALUASI 1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pretest dalam bentuk essay sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengindentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri atas; - Prinsip dasar radioterapi untuk keganasan kepala dan leher - Jenis pemilihan penatalaksanaan dan dosis radioterapi - Langkah persiapan/perencanaan sebelum penatalaksanaan radioterapi - Menjelaskan cara penentuan batas-batas lapangan radiasi - Menjelaskan teknik dalam melakukan radioterapi - Menjelaskan evaluasi terhadap respons radiasi - Menjelaskan komplikasi radioterapi - Menjelaskan follow up pada pasien pasca radioterapi 2. Selanjutnya dilakukan small group discussion bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian.
Modul VII.2 - Pinsip Radioterapi Keganasan Kepala Leher 5 4. Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan. 5. Self assesment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar. 6. Pendidik/ fasilitas: - Penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi - Kriteria penilaian keseluruhan : cakap/ tidak cakap/ lalai 7. Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education) 8. Pencapaian pembelajaran: - Ujian OSCE (K,P,A), dilakukan pada tahapan T.H.T.K.L dasar oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L - Ujian akhir stase, setiap divisi / unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan T.H.T.K.L lanjut oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L. - Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan T.H.T.K.L lanjut oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L. - Ujian akhir profesi (kasus bedah), dilakukan pada akhir pendidikan oleh Kolegium I T.H.T.K.L I. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF Kuesioner meliputi: 1. Sebelum pembelajaran Soal: a) Apakah yang dimaksud dengan radioterapi? Jawaban: Radioterapi adalah tindakan medis menggunakan radiasi pengion, bertujuan untuk mematikan sel-sel tumor sebanyak mungkin dan memelihara jaringan sehat di sekitar tumor agar tidak menderita kerusakan terlalu berat. b) Apa saja jenis sinar yang dipakai untuk radioterapi? Jawaban: Jenis sinar yang dipakai untuk radioterapi adalah (1). Sinar Alfa yang merupakan sinar korpuskuler atau partikel dari inti atom. Inti atom terdiri dari proton dan neutron. Sinar ini tidak dapat menembus kulit dan tidak banyak dipakai dalam radioterapi. (2) Sinar Beta yang merupakan sinar elektron. Sinar ini dipancarkan oleh zat radioaktif yang mempunyai energi rendah dengan daya tembusnya pada kulit terbatas, 3-5 mm, sehingga digunakan untuk terapi lesi yang superfisial. (3). Sinar Gamma yang merupakan sinar elektromagnetik atau foton. Sinar ini dapat menembus tubuh, dimana daya tembusnya tergantung dari besar energi yang menimbulkan sinar itu. Makin tinggi energinya atau makin tinggi voltasenya, makin besar daya tembusnya dan makin dalam letak dosis maksimalnya. c) Apa satuan dari dosis radioterapi?
Modul VII.2 - Pinsip Radioterapi Keganasan Kepala Leher 6 Jawaban: Pada kongres Radiologi Internasional ke VIII tahun 1953, ditetapkan RAD (Radiation Absorbed Dose) sebagai banyaknya energi yang di serap per unit jaringan. Saat ini unit Sistem Internasional (SI) dari dosis yang di absorpsi telah diubah menjadi Gray (Gy) dan satuan yang sering dipakai adalah satuan centi gray (cGy). 1 Gy = 100 rad dan 1 rad = 1 cGy = 10 -2 Gy. 2. Tengah pembelajaran Soal: a) Persiapan apa saja yang perlu dilakukan sebelum pemberian radioterapi? Jawaban: Sebelum diberi terapi radiasi, dibuat penentuan stadium klinik, diagnosis histopatologik, sekaligus ditentukan tujuan radiasi, kuratif atau paliatif. Penderita juga dipersiapkan secara mental dan fisik. Pada penderita, bila perlu juga keluarganya diberikan keterangan mengenai perlunya tindakan ini, tujuan pengobatan, efek samping yang mungkin timbul selama periode pengobatan. Pemeriksaan fisik dan laboratorium sebelum radiasi dimulai adalah mutlak. Penderita dengan keadaan umum yang buruk, gizi kurang, atau demam tidak diperbolehkan untuk radiasi, kecuali pada keadaan yang mengancam hidup penderita, seperti obstruksi jalan makanan, perdarahan yang masif dari tumor, radiasi tetap dimulai sambil memperbaiki keadaan umum penderita. Sebagai tolok ukur, kadar Hb tidak boleh kurang dari 10 gr%, jumlah lekosit tidak boleh kurang dari 3.000 per mm dan trombosit 100.000 per uL. b) Sebutkan jenis-jenis radioterapi yang digunakan pada keganasan kepala leher! Jawaban: Radioterapi interna, radioterapi eksterna, dan intravena c) Apa beda radiasi kuratif dan paliatif? Jawaban: - Radiasi kuratif diberikan kepada semua tingkatan penyakit, kecuali pada penderita dengan metastasis jauh. Sasaran radiasi adalah tumor primer, KGB leher dan supra klavikular. Dosis total radiasi yang diberikan adalah 6.600-7.000 rad dengan fraksi 200 rad, 5 x pemberian per minggu. Setelah dosis 4.000 rad medulla spinalis di blok dan setelah 5.000 rad lapangan penyinaran supraklavikular dikeluarkan. Tujuan utama dari radiasi kuratif/definitif adalah sebagai terapi utama dan diharapkan dapat melakukan eradikasi tumor secara komplit. - Radiasi paliatif diberikan untuk metastasis tumor pada tulang dan kekambuhan lokal. Dosis radiasi untuk metastasis tulang 3000 rad dengan fraksi 300 rad, 5 x per minggu. Untuk kekambuhan lokal, lapangan radiasi terbatas pada daerah kambuh. Tujuan radioterapi paliatif adalah: (1) memberikan kesempatan periode bebas gejala lebih lama, (2) memperpanjang waktu kesintasan pasien, (3) mengurangi gejala-gejala kegawatan seperti perdarahan, nyeri, dan obstruktif. Radioterapi paliatif diberikan untuk tumor stadium lanjut yang: (1) radioresponssif dan inoperabel, (2) ulkus yang berbau, (3) disertai metastasis tulang untuk mencegah fraktur, (4) disertai komplikasi obstruktif saluran cerna.
Modul VII.2 - Pinsip Radioterapi Keganasan Kepala Leher 7 3. Akhir pembelajaran Soal: a) Apa komplikasi radioterapi? Jawaban: komplikasi dini yang biasanya terjadi selama atau beberapa minggu setelah radioterapi, seperti xerostomia, mual-muntah, mukositis, anoreksi, dermatitis, eritema. Komplikasi lanjut dari radioterapi biasanya terjadi setelah 1 tahun pemberian radioterapi, seperti kontraktur, gangguan pertumbuhan. b) Bagaimana penanganannya? Jawaban: Penanganan diberikan sesuai dengan keluhan. c) Bagaimana menilai responss pasien pasca pemberian radioterapi? Jawaban: Penilaian responss radiasi berdasarkan kriteria WHO yaitu : complete responsse (menghilangkan seluruh kelenjar getah bening yang besar), partial responsse (pengecilan kelenjar getah bening sampai 50% atau lebih), no change (ukuran kelenjar getah bening yang menetap), progressive disease (ukuran kelenjar getah bening membesar 25% atau lebih) J. MATERI PRESENTASI Slide 1 : Radiobiologi radiasi ionisasi
Modul VII.2 - Pinsip Radioterapi Keganasan Kepala Leher 8 1. Dasar Fisika Radioterapi 2. Tujuan Radioterapi a. Terapi kuratif b. Terapi paliatif 3. Sinar yang dipakai dalam radioterapi 4. Persiapan Radioterapi 5. Penentuan batas radiasi Teknik Radioterapi a. Radiasi eksterna b. Radiasi Interna c. Radiasi Intravena Slide 2 : Slide 3:
Modul VII.2 - Pinsip Radioterapi Keganasan Kepala Leher 9 Slide 4: K. MATERI BAKU Radioterapi Pada Keganasan Kepala Leher Definisi Radioterapi adalah tindakan medis menggunakan radiasi pengion, bertujuan untuk mematikan sel-sel tumor sebanyak mungkin dan memelihara jaringan sehat di sekitar tumor agar tidak menderita kerusakan terlalu berat. Radiasi pada jaringan dapat menimbulkan ionisasi air dan elektrolit dari cairan tubuh baik intra maupun ekstra seluler, sehingga timbul ion H+ dan OH - yang sangat reaktif. Ion itu dapat bereaksi dengan molekul DNA dalam kromosom, sehingga dapat terjadi rantai ganda DNA pecah, perubahan cross-linkage dalam rantai DNA, dan perubahan yang menyebabkan degenerasi atau kematian sel. Dosis lethal dan kemampuan reparasi kerusakan pada sel-sel kanker lebih rendah dari sel-sel normal, sehingga akibat radiasi sel-sel kanker lebih banyak yang mati dan yang tetap rusak dibandingkan dengan sel-sel normal. Sel-sel yang masih tahan hidup akan mengadakan reparasi kerusakan DNA-nya sendiri-sendiri. Kemampuan reparasi DNA sel normal yang lebih baik dan lebih cepat dari sel kanker ini dipakai sebagai dasar untuk radioterapi pada kanker. Jenis sinar yang dipakai untuk radioterapi adalah (1). Sinar Alfa yang merupakan sinar korpuskuler atau partikel dari inti atom. Inti atom terdiri dari proton dan neutron. Sinar ini tidak dapat menembus kulit dan tidak banyak dipakai dalam radioterapi. (2) Sinar Beta yang merupakan sinar elektron. Sinar ini dipancarkan oleh zat radioaktif yang mempunyai energi rendah dengan daya tembusnya pada kulit terbatas, 3-5 mm, sehingga digunakan untuk terapi lesi yang superfisial. (3). Sinar Gamma yang merupakan sinar elektromagnetik atau foton. Sinar ini dapat menembus tubuh, dimana daya tembusnya tergantung dari besar energi yang menimbulkan sinar itu. Makin tinggi energinya atau makin tinggi voltagenya, makin besar daya tembusnya dan makin dalam letak dosis maksimalnya. Radiasi ionisasi menyebabkan kematian sel melalui kerusakan DNA. Kerusakan DNA terjadi ketika radiasi berinteraksi secara langsung dengan rantai DNA, atau lebih seringnya, ketika radiasi berinteraksi dengan molekul air sehingga menyebabkan kerusakan DNA sekunder. Ketika radiasi ionisasi menyerang molekul 1. Respons radiasi 2. Komplikasi radioterapi
Modul VII.2 - Pinsip Radioterapi Keganasan Kepala Leher 10 air, akan terbentuk radikal bebas. Radikal bebas ini sangat tidak stabil, jika terbentuk di sekitar rantai DNA dapat menimbulkan kerusakan DNA. Kerusakan DNA tidak selalu menyebabkan kematian sel. Sel memiliki kemampuan memperbaiki DNA yang rusak karena radiasi. Laju dan kemampuan untuk memberbaiki kerusakan berbeda pada setiap sel. Secara umum, sel yang tumbuh lebih cepat akan lebih rentan mengalami kerusakan akibat radiasi (proses pembelahan sel mengakibatkan DNA lebih rentan terhadap kerusakan, karena kerusakan DNA terjadi saat pembelahan DNA). Hal tersebut menjelaskan mengapa mukosa rongga mulut (yang selalu membelah dan digantikan) sangat sensitif terhadap efek radiasi. Secara umum, jaringan normal memiliki kapasitas yang lebih besar untuk memperbaiki DNA dibandingkan dengan sel kanker. Hal ini menjadi salah satu alasan untuk membagi dosis radiasi, yaitu untuk memberikan waktu jaringan normal untuk memperbaiki diri saat jeda pemberian dosis radiasi. Semakin besar kerusakan radiasi yang terjadi pada populasi sel, semakin banyak kematian sel. Dosis awal radiasi, menyebabkan kerusakan pada sel tetapi tidak selalu menyebabkan kematian sel. Semakin besar jumlah kerusakan sel akibat radiasi, maka kematian sel mulai terjadi. Cara sederhana untuk memahami hal tersebut dengan membayangkan kedua rantai DNA harus mengalami kerusakan terlebih dahulu agar terjadi kematian sel yang bersifat irreversibel. Dosis radiasi pertama kemungkinan merusak sejumlah rantai tunggal (salah satu dari kedua rantai DNA) DNA dan terkadang merusak kedua rantai DNA dalam sebuah sel. Semkin besar dosis radiasi yang diberikan, maka akan semakin besar kemungkinan terjadinya kerusakan pada kedua rantai DNA dalam satu sel, sehingga menyebabkan kematian sel. Pada tahap awal dari kerusakan DNA (kerusakan pada salah satu rantai DNA), memiliki kemungkinan sel dapat memperbaiki kerusakan pada salah satu rantai ini dan menghilangkan kerusakan akibat dari radiasi. Perbedaan kemampuan sel untuk memperbaiki DNA dLNHQDO GHQJDQ LVWLODK ³UDGLRVHQVLWLI´ GDQ ³UDGLRUHVLVWHQ´ Walaupun terminologi ini bersifat sangat subjektif, prinsip dasar dari terminologi ini adalah beberapa jenis sel dan tumor yang memiliki kemampuan untuk memperbaiki diri yang sangat kecil, sehingga kematian sel lebih cepat walaupun dengan radiasi dosis kecil. Di sisi lain, terdapat sel-VHO WXPRU ³UDGLRUHVLVWHQ´ 7XPRU-tumor ini memiliki kemampuan untuk memperbaiki DNA, sehingga pada sel tumor memiliki kemungkinan lebih kecil terjadinya kematian sel akibat kerusakan radiasi. Tipe tumor radiosensitif yaitu limfoma, sedangkan tumor yang bersifat radioresisten terdiri dari sarkoma dan melanoma. Selain adanya kemampuan untuk memperbaiki DNA, komponen lain yang memengaruhi sensitivitas radiasi (dan penurunan pada kurva kematian sel) adalah oksigenasi. Dalam kondisi hipoksia, radikal bebas (yang bertanggung jawab terhadap terjadinya kerusakan DNA) dapat diinduksi oleh sel dalam kondisi lingkungan asam yang diinduksi dalam keadaan hipoksia, dan oksigen dapat berperan dalam kaskade pembentukan radikal bebas. Tumor yang besar cenderung tumbuh lebih cepat daripada pembuluh darahnya, menyebabkan adanya area yang hipoksia di bagian tengah dari tumor tersebut. Fenomena ini diduga berkontribusi terhadap sulitnya mengontrol tumor kepala dan leher yang besar dengan radiasi ionisasi. Dosis dan Cara Pemberian Sebelum diberi terapi radiasi, dibuat penentuan stadium klinik, diagnosis histopatologik, sekaligus ditentukan tujuan radiasi, kuratif atau paliatif. Penderita juga
Modul VII.2 - Pinsip Radioterapi Keganasan Kepala Leher 11 dipersiapkan secara mental dan fisik. Pada penderita, bila perlu juga keluarganya diberikan keterangan mengenai perlunya tindakan ini, tujuan pengobatan, efek samping yang mungkin timbul selama periode pengobatan. Pemeriksaan fisik dan laboratorium sebelum radiasi dimulai adalah mutlak. Penderita dengan keadaan umum yang buruk, gizi kurang atau demam tidak diperbolehkan untuk radiasi, kecuali pada keadaan yang mengancam hidup penderita, seperti obstruksi jalan makanan, perdarahan yang masif dari tumor, radiasi tetap dimulai sambil memperbaiki keadaan umum penderita. Sebagai tolok ukur, kadar Hb tidak boleh kurang dari 10 gr%, jumlah lekosit tidak boleh kurang dari 3.000 per mm dan trombosit 100.000 per uL. Penentuan batas-batas lapangan radiasi merupakan salah satu langkah yang terpenting untuk menjamin berhasilnya suatu radioterapi. Lapangan penyinaran meliputi daerah tumor primer dan sekitarnya / potensi penjalaran perkontinuitatum serta kelenjar-kelenjar getah bening regional. Ada 3 cara utama pemberian radioterapi yaitu: (1). Radiasi Eksterna/Teleterapi dengan sumber sinar berupa aparat sinar-X atau radioisotop yang ditempatkan di luar tubuh. Sinar diarahkan ke tumor yang akan diberi radiasi. Dengan cara ini maka radiasi mempunyai jangkauan yang luas, bukan hanya sel kanker primer yang memperoleh radiasi tetapi Kelenjar Getah Bening (KGB) disekitarnya yang mempunyai potensi metastasis. Pemberian lapangan radiasi yang luas mempunyai risiko terlalu banyak jaringan sehat yang terkena sehingga meningkatkan efek samping baik akut maupun lanjut, Keterbatasan teknik ini yaitu; makin luas tentunya makin rendah dosis yang dapat diberikan. Adanya organ vital yang terkena radiasi akan sangat membatasi dosis maksimal yang dapat diberikan. (2). Radiasi Interna / Brachiterapi dengan sumber energi ditaruh di dalam tumor atau berdekatan dengan tumor di dalam rongga tubuh. Pemasangannya dapat berupa penanaman sumber (implantasi) seperti karsinoma lidah, pemasangan di sekitar organ yang mengandung sel kanker plesioterapi) yaitu intakaviter seperti pada karsinoma nasofaring, atau intraluminal pada karsinoma esofagus. Cakupan radiasi lebih sempit, hanya sedikit jaringan yang akan memperoleh radiasi. Sehingga pemberian dosis tinggi dimungkinkan tanpa merusak jaringan sehat sekitarnya. (3). Intravena dengan larutan radioisotop disuntikkan ke dalam vena, misalnya I 131 intra vena akan diserap oleh tiroid untuk mengobati kanker tiroid. Pada kongres Radiologi Internasional ke VIII tahun 1953, ditetapkan RAD (Radiation Absorbed Dose) sebagai banyaknya energi yang diserap per unit jaringan. Saat ini unit Sistem Internasional (SI) dari dosis yang di absorpsi telah diubah menjadi Gray (Gy) dan satuan yang sering dipakai adalah satuan centi gray (cGy). 1 Gy = 100 rad dan 1 rad = 1 cGy = 10 -2 Gy. Bentuk radiasi yang paling sering digunakan adalah foton, namun partikel lain juga dapat digunakan, termasuk elektron, proton, neutron, dan ion karbon. Foton lebih sering digunakan dibandingkan elektron untuk terapi. Dari segi kedalaman, penetrasi elektron bersifat dangkal; hal ini memungkinkan untuk pemberian dosis yang baik pada daerah permukaan jaringan dan dosis yang minimal pada jaringan yang lebih dalam (sebagai contoh, 6 MV elektron akan melepaskan 90% energinya 2 cm ke dalam jaringan). Sifat radiasi elektron ini menjadi pilihan terapi yang baik untuk tatalaksana kanker kulit. Proton dan ion karbon merupakan bentuk radiasi lain yang lebih jarang digunakan. Proton, neutron, dan ion karbon (disebut sebagai radiasi
Modul VII.2 - Pinsip Radioterapi Keganasan Kepala Leher 12 partikel berat) tidak dihasilkan dari akselerator linear onkologi radiasi yang normal, dan membutuhkan akselerator khusus (dengan harga yang sangat mahal) untuk menghasilkan radiasi jenis ini. Bentuk radiasi yang paling sering digunakan adalah foton, namun partikel lain juga dapat digunakan, termasuk elektron, proton, neutron, dan ion karbon. Foton lebih sering digunakan dibandingkan elektron untuk terapi. Dari segi kedalaman, penetrasi elektron bersifat dangkal; hal ini memungkinkan untuk pemberian dosis yang baik pada daerah permukaan jaringan dan dosis yang minimal pada jaringan yang lebih dalam (sebagai contoh, 6 MV elektron akan melepaskan 90% energinya 2 cm ke dalam jaringan). Sifat radiasi elektron ini menjadi pilihan terapi yang baik untuk tatalaksana kanker kulit. Proton dan ion karbon merupakan bentuk radiasi lain yang lebih jarang digunakan. Proton, neutron, dan ion karbon (disebut sebagai radiasi partikel berat) tidak dihasilkan dari akselerator linear onkologi radiasi yang normal, dan membutuhkan akselerator khusus (dengan harga yang sangat mahal) untuk menghasilkan radiasi jenis ini. Perlu diperhatikan bahwa semua jenis radiasi bekerja melalui mekanisme yang sama, walaupun alat-alat pemancar radiasinya berbeda. Radiasi foton (biasanya hanyD GLVHEXW GHQJDQ µUDGLDVL¶ GLEHQWXN ROHK DNVHOHUDWRU OLQHDU 3DVLHQ EHUEDULQJ GL meja terapi, lalu akselerator linear akan berputar di sekitar pasien untuk memberikan radiasi. Pasien tidak boleh bergerak selama diberikan radiasi, maka perlu digunakan alat immobilisasi; untuk kanker kepala dan leher (KKL), biasanya digunakan masker kepala termoplastik Jumlah radiasi yang diberikan diukur dalam dosis; satuan dosis yang umum digunakan adalah Gray (Gy). Satu Gray adalah jumlah dosis energi yang diserap per unit massa (1 Gy = 1 J/kg). Satuan yang lebih jarang digunakan yaitu rad, 1 rad sama dengan 0,01 Gy. Total dosis yang biasa diberikan pada tatalaksana KKL adalah 60 hingga 66 Gy untuk terapi adjuvan, sedangkan untuk terapi definitif diberikan 70 hingga 74 Gy. Sebagai perbandingan, dosis untuk limfoma sebesar 30 hingga 40 Gy, dan dosis CT-scan sebesar 0,1 hingga 0,2 Gy. Total dosis radiasi dibagi menjadi dosis yang lebih kecil yang disebut fraksi. Dosis dari satu fraksi radiasi sebesar 1,8 hingga 2,0 Gy, walaupun dapat juga diberikan dalam rentangan dosis yang lebih besar (misal, dosis untuk radiasi setelah pembedahan pada tatalaksana neuralgia trigeminalis dapat mencapai 80 Gy pada satu fraksi). Tujuan dari pemberian dosis total radiasi dalam sejumlah fraksi yang kecil adalah untuk memanfaatkan sifat normal sel untuk melakukan perbaikan kerusakan DNA. Sering kali, jaringan normal memiliki kemampuan yang lebih besar untuk memperbaiki DNA dibandingkan dengan sel kanker. Sehingga, jika dilakukan kerusakan yang sama pada kedua sel, yaitu sel normal dan sel kanker, jaringan sel normal akan dapat memperbaiki dirinya sendiri sedangkan sel kanker akan mati (hal ini tidak sepenuhnya akurat karena masih banyak jaringan normal yang rusak). Interaksi antara dRVLV GDQ IUDNVL GLVHEXW ³GRVLV HNXLYDOHQ UDGLRELRORJLV´ Beberapa model matematika dibentuk untuk mengkonversi dari satu dosis dan fraksi menjadi dosis lain pada fraksi berbeda (misalnya, pada toleransi sumsum tulang belakang, jika diberikan 3 Gy per fraksi, dosis maksimal yang diberikan adalah 30 Gy, sedangkan jika diberikan 2,0 Gy per fraksi, maka dosis maksimalnya adalah 45 Gy). Perbedaan perbaikan sel pada sel normal dan sel kanker semakin jelas terlihat seiring pemberian dosis radiasi dalam jangka waktu panjang. Hal ini memungkinkan
Modul VII.2 - Pinsip Radioterapi Keganasan Kepala Leher 13 adanya peningkatan profil toksisitas dan meminimalisasi toksisitas pada jaringan normal. Pemecahan dan Waktu Terapi Pola pemecahan dosis radiasi yang paling sering dilakukan adalah dengan memberikan radiasi setiap hari (Senin hingga Jumat) dan disebut sebagai pemecahan konvensional atau standar. Hipofraksionasi adalah memberikan kekurangan dari satu fraksi per hari (biasanya dilakukan pada radiasi pembedahan di mana diberikan satu fraksi per hari, lalu diselang 1 hari tanpa radiasi). hiperfraksionisasi adalah memberikan lebih dari satu fraksi per hari. Walaupun terdapat perbaikan DNA jaringan normal pada waktu jeda antara pemberian satu fraksi radiasi, terdapat juga perbaikan dari DNA sel kanker (diharapkan dalam jumlah kecil) dan kemungkinan pertumbuhan dari kanker itu sendiri. Untuk mengurangi risiko ini, telah dilakukan beberapa penelitian untuk melihat kemungkinan manfaat dari hiperfraksionisasi. Penelitian yang paling terkenal adalah RTOG 90-03. Pada penelitian ini, pasien dengan KKL stadium III dan IV secara acak mendapatkan radiasi konvensional, hiperfraksionisasi dengan terapi radiasi sebanyak dua kali sehari, hiperfraksionisasi dengan terapi radiasi dua kali sehari dengan jeda selama 2 minggu selama radiasi, dan hiperfraksionasi terakselerasi atau dosis tambahan secara bersamaan (concomitant boost) yang terdiri dari dosis terapi radiasi harian hingga tersisa 12 fraksi terapi terakhir, lalu diberikan dosis radiasi dua kali sehari pada 12 fraksi terakhir. Hasil penelitian ini menunjukkan perbaikan kontrol lokal pada pasien yang mendapat hiperfraksionasi dan hiperfraksionasi terakselerasi (terdapat tren peningkatan, namun tidak mencapai nilai yang signifikan secara statistik). Beberapa penelitian lain menunjukkan hasil yang sama, termasuk DHANCA, di mana pasien secara acak menerima lima atau enam kali terapi per minggu, dan terdapat peningkatan kontrol lokal pada terapi 6 kali per minggu (kontrol lokal 5 tahun 70% vs 60%). Perlu diperhatikan walaupun kontrol tumor lokal cenderung membaik dengan pengurangan waktu terapi, namun terdapat peningkatan pada toksisitas akut (kemampuan jaringan normal untuk memperbaiki diri menjadi berkurang). Penelitian-penelitian lain belum dapat menunjukkan peningkatan signifikan pada toksisitas lanjut. Selain hiperfraksionasi, kemoterapi juga dapat menjadi metode untuk memperbaiki keluaran atau kondisi pasien setelah pengobatan. Kemoterapi telah terbukti meningkatkan hasil terapi dibandingkan dengan pemberian hanya terapi radiasi saja, baik untuk terapi adjuvan maupun terapi definitif. Brizel, et al., menemukan bahwa kemoterapi yang diberikan secara bersamaan dengan terapi hiperfraksionasi menunjukkan kontrol lokoregional yang lebih baik dibandingkan dengan hanya terapi hiperfraksionasi saja (70% vs 44%). Brizel, et al., melakukan analisis matematis data dari RTOG 90-03 untuk menentukan efek kemoterapi terhadap dosis ekuivalen biologis. Berdasarkan penelitian tersebut terdapat peningkatan 1% dari dosis ekuivalen radiologis menyebabkan peningkatan kontrol lokoregional sebesar 1,1%. Penambahan kemoterapi secara efektif dapat meningkatkan total dosis ekuivalen radiologis sebesar 10 Gy. Kesimpulannya peningkatan dosis radiasi efektif ini tidak dapat secara aman dicapai hanya dengan meningkatkan jumlah radiasi yang diberikan ke pasien.
Modul VII.2 - Pinsip Radioterapi Keganasan Kepala Leher 14 RTOG 0129 meneliti apakah kemoterapi (Cisplatin 100 mg/m 2 setiap 2 minggu) ditambah dengan radiasi hiperfraksionasi dengan concomitant boost (dosis tambahan yang diberikan secara bersamaan dengan dosis utama) lebih baik dibandingkan dengan kemoterapi yang sama ditambah dengan radiasi standar (satu kali sehari). Penelitian ini tidak menemukan perbedaan antara kedua jenis perlakuan terapi tersebut, dan mengingat adanya peningkatan kejadian toksisitas akut dan kesulitan jika dilakukan hiperfraksionasi, kebanyakan institusi kesehatan memberikan terapi radiasi hanya satu kali sehari untuk pasien KKL yang bersifat locally advanced yang diterapi dengan kemoradioterapi. Dapat disimpulkan, berdasarkan pengetahuan mengenai manfaat kemoterapi dan hasil penelitian RTOG 0129 yang negatif, hiperfraksionasi hanya digunakan untuk pasien yang tidak dapat diberikan kemoterapi dan harus diterapi hanya dengan radiasi. Prinsip utama dari manfaat hiperfraksionasi adalah pengurangan waktu terapi secara keseluruhan akibat dari kontrol tumor yang membaik. Sebaliknya, jika total waktu terapi diperpanjang, kontrol tumor akan berkurang. RTOG meneliti pentingnya durasi waktu terapi radiasi dalam tatalaksana KKL, dan menemukan bahwa kegagalan terapi lokal meningkat jika total waktu terapi (dari pembedahan hingga selesai terapi radiasi) mencapai 11 minggu. Hal ini menjelaskan mengapa memberi jeda dalam terapi sebaiknya dihindarkan kecuali jika sangat diperlukan. PEMILIHAN PENGOBATAN Terapi Radiasi Preoperatif Dasar teori penggunaan terapi radiasi preoperatif adalah bahwa sel tumor berada dalam keadaan oksigenasi maksimal sehingga lebih responssif terhadap radiasi. Secara umum, dosis preoperatif sekitar 5000 cGy dengan fraksionasi konvensional, 180 hingga 200 cGy per fraksi diberikan 5 hari per minggu dengan total hingga 5 minggu. Periode pemulihan selama 4-6 minggu diperlukan bagi pasien agar reaksi inflamasi akut mereda sebelum intervensi bedah. Keuntungan dan kerugian radiasi preoperatif ditunjukkan pada Tabel 19.4. Faktor penting dalam radiasi preoperatif adalah batasan dosis. Peningkatan dosis radiasi preoperatif meningkatkan risiko komplikasi bedah dan kini tidak dianjurkan lagi. Saat ini, terapi radiasi preoperatif jarang digunakan dan hanya dilakukan dalam keadaan tertentu. Terapi Radiasi Definitif Penggunaan radiasi dikenal dengan baik dalam pengobatan definitif beberapa kanker kepala dan leher, seperti tumor nasofaring, orofaring, laring, dan hipofaring stadium awal. Peran terapi radiasi definitif untuk berbagai lokasi di kepala dan leher dibahas pada masing-masing bab. Namun, karsinoma orofaring dan nasofaring memiliki pertimbangan khusus dan dibahas di sini. Karsinoma Orofaring
Modul VII.2 - Pinsip Radioterapi Keganasan Kepala Leher 15 Dalam 2 dekade terakhir, insidensi karsinoma orofaringeal (OPC) telah meningkat secara substansial akibat proliferasi infeksi human papillomavirus (HPV) dan identifikasinya sebagai faktor etiologi dalam tumorigenesis. Pasien HPV positif menunjukkan hasil onkologis yang lebih unggul dibandingkan dengan pasien HPV negatif, dengan kelangsungan hidup lebih lama dan respons yang lebih baik terhadap terapi kemoradiasi. Tingkat kelangsungan hidup lima tahun secara keseluruhan adalah 80% hingga 90% untuk pasien HPV positif dan 50% hingga 70% untuk pasien HPV negatif. Pendekatan standar untuk OPC lokal stadium lanjut adalah kemoradiasi definitif dengan bolus cisplatin dosis tinggi bersamaan (100 mg/m2 setiap 3 minggu). Area penyakit yang berat diberikan 7000 Gy sementara area sekitar yang berisiko dan volume elektif pada leher diberikan dosis lebih rendah 3000 hingga 6000 cGy, yang dianggap cukup untuk melawan penyakit mikroskopis. Dengan pendekatan ini, tingkat kontrol lokoregional biasanya lebih dari 90%. OPC yang terkait HPV menunjukkan sensitivitas yang baik terhadap terapi radiasi, dengan respons klinis yang signifikan dapat diamati sejak awal terapi, umumnya pada minggu ketiga. Karena respons pengobatan yang baik, penelitian saat ini bertujuan untuk deeskalasi terapi untuk memperbaiki toksisitas sambil mempertahankan tingkat kesembuhan yang tinggi. Berbagai pendekatan untuk personalisasi terapi dan deeskalasi saat ini sedang dievaluasi, termasuk pengurangan dosis radiasi, eliminasi terapi sistemik, atau penggunaan alternatif cisplatin dan integrasi bedah robotik transoral dalam pendekatan multidisiplin. Pemantauan setelah terapi kemoradiasi definitif biasanya mencakup pemindaian PET tindak lanjut. Diseksi leher terencana tidak diperlukan dan sebagian besar telah ditinggalkan. Diseksi leher penyelamatan saat ini dipertimbangkan pada pasien dengan penyakit leher sisa atau progresif yang persisten, terutama jika hasil PET positif atau terbukti secara klinis. Pasien dengan penyakit HPV positif biasanya lebih muda dan lebih sehat. Hal ini, dikombinasikan dengan peningkatan presisi radiasi dan perawatan suportif, telah membuat kebutuhan tabung gastrostomi perkutan lebih jarang digunakan. Karsinoma Nasofaring Terapi radiasi adalah tatalaksana definitif untuk karsinoma nasofaring, yang merupakan tumor yang sangat sensitif terhadap radiasi. Khususnya, tumor nasofaring terkait infeksi virus Epstein-Barr (VEB) telah terbukti sangat responssif terhadap terapi radiasi. Pembedahan dilakukan pada pasien tertentu dengan kanker yang persisten atau rekuren. Metastasis kelenjar getah bening regional terjadi pada 75% sampai 90% pasien. Kelenjar getah bening yang berisiko adalah tingkat V dan II dan retrofaring. Metastasis kelenjar getah bening seringkali besar dan bilateral hingga pada 50% kasus. Oleh karena itu, penting untuk melibatkan kelenjar getah bening leher bilateral, serta retrofaring, dalam bidang radiasi. Standar perawatan untuk pasien dengan karsinoma nasofaring stadium lanjut locoregional saat ini adalah kemoterapi yang diberikan bersamaan dengan terapi radiasi. Cisplatinum dosis tinggi±kemoterapi bersamaan dengan radiasi merupakan standar perawatan. Cisplatinum diberikan pada hari ke 1, 22, dan 43 dari terapi radiasi. Cisplatinum adjuvan dan 5-fluorourasil sering diberikan setelah kemoradioterapi selesai.
Modul VII.2 - Pinsip Radioterapi Keganasan Kepala Leher 16 Berbeda dengan lokasi lainnya, metastasis kelenjar getah bening yang besar pada kanker nasofaring biasanya dapat dikontrol dengan pendekatan ini. Diseksi leher jarang diperlukan dan dipertimbangkan untuk penyakit persisten minimal 3 bulan setelah terapi radiasi selesai. Tingkat kelangsungan hidup lima tahun antara 60% dan 75% telah dilaporkan untuk penyakit stadium N0 hingga N1, dan antara 40% hingga 50% untuk penyakit stadium N2 hingga N3. Teknik modern, seperti simulasi CT dan perencanaan pengobatan IMRT, jauh lebih unggul dan memungkinkan distribusi dosis yang lebih homogen ke tumor primer dan kelenjar getah bening yang terlibat dengan mengurangi dosis ke struktur penting yang berdekatan (Gambar 19.8). Pasien menjalani rencana IMRT boost terintegrasi secara simultan. Tumor besar dengan margin adekuat diberikan 7000 cGy, sedangkan wilayah subklinis risiko tinggi diberikan 5.940 cGy. Tingkat kontrol yang dilaporkan dari beberapa institusi melebihi 90%, termasuk pasien dengan T3 hingga T4. Hasil ini telah diteliti ulang dalam uji coba kooperatif RTOG. Metastasis jauh tetap menjadi masalah. Kemoterapi adjuvan direkomendasikan setelah kemoradiasi. Uji coba NRG HN001 saat ini menilai apakah respons DNA VEB yang bersirkulasi dapat memandu pengambilan keputusan untuk kemoterapi adjuvan. Gambar Rencana perawatan terapi radiasi modulasi intensitas untuk kanker nasofaring yang menunjukkan kurva isodosa. Terapi Radiasi Pasca Operasi Terapi radiasi pasca operasi (postoperative radiation therapy/PORT) diindikasikan ketika perkiraan risiko kekambuhan penyakit secara lokoregional minimal 20%. Meskipun kemanjurannya dalam kontrol lokoregional tidak pernah secara langsung divalidasi dalam uji klinis acak, peran PORT diterima dengan baik dalam keadaan tertentu berdasarkan data retrospektif. Indikasi PORT tercantum pada Tabel 19.5. Uji coba acak yang membandingkan terapi radiasi preoperatif versus pasca operasi untuk karsinoma sel skuamosa kepala dan leher yang dapat dioperasi (RTOG 73-03) menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam kontrol lokoregional yang mendukung PORT dan
Modul VII.2 - Pinsip Radioterapi Keganasan Kepala Leher 17 tidak terdapat perbedaan dalam tingkat komplikasi antara kedua pendekatan. Kelebihan dan kekurangan PORT ditunjukkan pada dibawah ini. Tabel Indikasi untuk Radioterapi Post Operasi dan Kemoradiasi Faktor Tumor Primer x Lesi T3 atau T4 secara lokal lebih lanjut x Histologi high grade x Adanya invasi vaskular atau perineural x Menginfiltrasi dibandingkan mendorong batas tumor x Positif atau bats dekat dengan reseksi pembedahan Faktor Kelenjar leher x Stadium N lebih tinggi dari N1 x Kontaminasi pembedahan (contoh: biopsi eksisi atau insisi)sebelum pembedahan definitif x Adanya perluasan extranodal Tabel Keuntungan dan Kerugian dari Terapi Radiasi Post Operasi Keuntungan x Tidak ada terapi berhubungan dengan penundaan dalam pembedahan x Tidak ada batasa dosis radiasi x Mengijinkan pembedahan komplit, histopatologi dan evaluasi biologis dari tumor dan nodus limfatikus x Penyakit sisa yang mikroskopis bisa secara efektif disterilkan dengan improvisasi lokal dan atau regional Kerugian x Berpotensi untuk menunda inisiasi dari terapi radiasi jika pemulihan dari pembedahan rumit dengan adanya fistula atau masalah luka yang lain x Modifikasi jaringan parut dan vaskular dari pembedahan akan mengurangi oksigenasi jaringan dan berdampak pada radiasi untuk membunuh sel tumor Waktu inisiasi PORT belum pernah diteliti dalam uji coba acak. Secara umum, PORT harus dimulai dalam waktu 6 minggu setelah operasi untuk memaksimalkan manfaat dari pendekatan ini. Namun, penundaan dalam memulai PORT tidak mempengaruhi rekurensi lokal di lokasi primer, tetapi korelasi temporal yang kuat telah ditunjukkan antara penundaan dalam memulai PORT dan kegagalan berikutnya pada kelenjar getah bening servikal. Beberapa data menunjukkan bahwa manfaat PORT dapat terlihat meski diberikan 3 bulan setelah operasi. Bukti Tingkat I tersedia, menunjukkan bahwa dosis radiasi PORT optimal untuk lokasi tumor primer dan/atau daerah leher menggunakan fraksionasi konvensional terdiri dari fraksi 180 hingga 200 cGy per hari yang diberikan 5 hari per minggu dengan dosis total 6000 hingga 6600 cGy ke area berisiko tinggi dan 5000 hingga 5400 cGy untuk iradiasi nodal elektif. Uji coba acak oleh European Organization for Research and Treatment of Cancer (EORTC) (uji coba 22931) dan RTOG (uji coba 95-01) menunjukkan bahwa pemberian kemoterapi bersamaan dengan PORT meningkatkan kontrol lokoregional dibandingkan PORT saja untuk pasien dengan margin bedah positif di lokasi utama atau perluasan
Modul VII.2 - Pinsip Radioterapi Keganasan Kepala Leher 18 penyakit ekstra-nodal. Namun, manfaat ini juga disertai dengan toksisitas akut derajat tinggi yang signifikan. Peran Fraksinasi Pemberian radiasi dengan dosis terbagi (bukan dosis tunggal) menjadi beberapa fraksi dalam jangka waktu tertentu diharapkan diperoleh penghentian proses keganasan dengan tingkat cedera jaringan sehat yang masih dapat diterima. Hal-hal yang akan terjadi dengan pemberian radiasi dosis fraksi adalah: (1). Reoksigenisasi, pertumbuhan sel kanker yang cepat akan meninggalkan kecepatan pertumbuhan sel normal termasuk pembuluh darah sekitar tumor, akibatnya banyak bagian sel kanker terutama bagian tengahnya yang mengalami kekurangan pembuluh darah. Kekurangan ini akan menurunkan akses pasokan aliran darah yang akan diikuti oleh hipoksia lalu anoksia dan selanjutnya nekrosis jaringan tersebut. Jaringan yang bersifat hipoksia atau anoksia kurang sensitive terhadap radiasi dibandingkan karingan yang kaya oksigen dengan perbandingan 1:3. Perbandingan ini dikenal dengan oxygen enchancement ratio. (2). Repopulasi, setelah pemberian satu fraksi terjadi kematian sel pada sel yang mempunyai daya proliferasi tinggi. Salah satu cara agar jaringan ini tetap bertahan hidup adalah dengan melakukan repopulasi dari sel yang masih bertahan. Dengan bertambah panjangnya waktu pengobatan makin banyak kesempatan bagi sel ini untuk melakukan repopulasi. Bagi jaringan sehat, pemberian ini akan mengurangi efek akut yang timbul. (3). Redistribusi, dengan adanya siklus sel maka pada suatu saat terdapat sel dalam fase yang berbeda dan mempunyai kepekaan yang berbeda pula. Sel akan menjadi paling sensitive apabila berada pada fase transisi dari G2 ke M. Dengan radiasi terfraksi, maka setiap sel mempunyai kesempatan untuk mengalami redistribusi ke berbagai fase yang berbeda. Metode hiperfraksinasi akan menjadikan sel dalam fase yang sensitif. (4). Reparasi, proses kerusakan akibat radiasi biasanya berlangsung beberapa jam setelah pemberian. Sel yang memberikan responss akut terhadap radiasi ataupun sel maligna akan menunjukkan kesempatan reparasi yang lebih sedikit dibandingkan sel beresponss lambat seperti jaringan ikat, jaringan syaraf, dan lain-lain. Agar kematian sel kanker lebih banyak, maka pemberian radiasi dilakukan dengan hiperfraksi. Terdapat 2 jenis radiasi yaitu radiasi kuratif dan radiasi paliatif. Radiasi kuratif diberikan kepada semua tingkatan penyakit, kecuali pada penderita dengan metastasis jauh. Sasaran radiasi adalah tumor primer, KGB leher dan supra klavikular. Dosis total radiasi yang diberikan adalah 6600-7000 rad dengan fraksi 200 rad, 5 x pemberian per minggu. Setelah dosis 4000 rad medulla spinalis di blok dan setelah 5000 rad lapangan penyinaran supraklavikular dikeluarkan. Sedangkan Radiasi paliatif diberikan untuk metastasis tumor pada tulang dan kekambuhan lokal. Dosis radiasi untuk metastasis tulang 3000 rad dengan fraksi 300 rad, 5 x per minggu. Untuk kekambuhan lokal, lapangan radiasi terbatas pada daerah kambuh. Setelah diberikan radiasi, maka dilakukan evaluasi berupa responss terhadap radiasi. Responss dinilai dari pengecilan kelenjar getah bening leher dan pengecilan tumor primer. Penilaian responss radiasi berdasarkan kriteria WHO yaitu: complete responsse (menghilangkan seluruh kelenjar getah bening yang besar), partial
Modul VII.2 - Pinsip Radioterapi Keganasan Kepala Leher 19 responsse (pengecilan kelenjar getah bening sampai 50% atau lebih), no change (ukuran kelenjar getah bening yang menetap), progressive disease (ukuran kelenjar getah bening membesar 25% atau lebih) PHOTODYNAMIC THERAPY (PDT) Prinsip dan Prosedur PDT Photodynamic therapy (PDT) merupakan modalitas terapi baru yang berkembang dengan cepat dan dapat digunakan, baik dalam pengobatan tumor maupun penyakit non neoplastik lainnya. Terapi ini melibatkan suatu bahan peka cahaya (photosensitizer) yang akan terlokalisir pada jaringan target, oksigen dan sinar dengan panjang gelombang yang sesuai (visible light) yang digunakan untuk membunuh sel tumor. PDT merupakan prosedur yang invasif minimal, site specific, dan tidak panas (non thermal). PDT memerlukan substansi fotoreaktif / fotosensitiser (PS), yang terakumulasi pada sel-sel tumor, yang mengabsorbsi serta kemudian diaktivasi oleh sinar tampak/ visible light (photon) dengan panjang gelombang tertentu yang sesuai dengan karakteristik absorbsi dari PS. Photodynamic therapy adalah modalitas terapi lokal untuk kanker, berdasarkan pemberian obat fotosensitiser yang secara selektif diabsorbsi oleh sel-sel tumor, yang setelah dilakukan penyinaran, akan menyebabkan destruksi sel-sel tumor. Prosedur PDT terdiri dari 2 tahap, yaitu; 1) pemberian obat fotosensitiser; dan 2) penyinaran lokasi tumor dengan sinar dengan panjang gelombang tertentu. Secara umum, sinar dapat diberikan ke seluruh organ dalam badan menggunakan serat fiber-optic fleksibel. Selektifitas PDT terhadap tumor berdasarkan pada kemampuan PS terlokalisir di lesi neoplasma serta teknik penyinaran yang akurat/presisi ke arah lokasi tumor yang diterapi . Kombinasi dari reaksi PS, cahaya tampak, dan oksigen sel yang memproduksi cytotoxic reactive oxygen species (ROS) menyebabkan kematian sel-sel maligna dengan cara apoptosis dan/atau nekrosis, shutdown mikrovaskularisasi tumor dan menstimulasi sistem imun host. Gambar. Prinsip PDT ÖPhotodynamic therapy dapat diberikan sebelum atau setelah modalitas terapi lainnya seperti kemoterapi, radioterapi, ataupun pembedahan, tanpa mengurangi efektifitas modalitas terapi tersebut. Penelitian klinis membuktikan bahwa PS tidak terakumulasi di nukleus sel, sehingga kerusakan DNA sangat minimal. Dengan minimalnya kerusakan DNA, maka kemungkinan terjadinya karsinogenik atau Injeksi fotosensitizerr Lase Terapi 96 1 6 9 3 Penyinaran pada tumor
Modul VII.2 - Pinsip Radioterapi Keganasan Kepala Leher 20 perkembangan klon resisten juga minimal. Lebih lanjut disebutkan bahwa radioresistensi atau kemoresistensi tidak mempengaruhi sensitifitas terhadap PDT. Foscan £ dengan kandungan zat aktif Meta-tetrahydroxyphenilchlorin (m-TCHP), merupakan PS dengan puncak absorbsi cahaya 652 nm. Foscan £ telah digunakan untuk terapi kanker di kepala leher di negara-negara Eropa. Waktu antara pemberian PS dengan penyinaran/Drug Light Interval untuk Foscan £ adalah 72-96 jam. Fotosensitivitas kulit terhadap cahaya berlangsung sekitar 1-2 minggu. Fotosensitiser ini sangat fototoksik sehingga hanya memerlukan dosis obat sangat kecil dan dosis sinar sangat rendah 13 . Kedalaman efek terapi sekitar 1 cm 21 . Pada tingkat seluler, baik nekrosis maupun apoptosis merupakan reaksi yang dominan untuk memicu kematian sel-sel kanker. Mekanisme Dasar PDT PDT menghasilkan singlet oxygen ( 1 O2), suatu jenis oksigen yang a non-radikal tetapi sangat reaktif. Singlet oxygen merupakan jenis oksigen yang paling merusak dalam PDT. Singlet oxygen ( 1 O2) yang diproduksi selama penyinaran PDT dapat membunuh sel tumor melalui beberapa mekanisme. Singlet oxygen secara cepat menyebabkan toksisitas pada sel tumor, yang kemudian menyebabkan kematian sel tumor melalui apoptosis dan atau nekrosis. Active oxygen species dapat dihasilkan melalui reaksi tipe II antara molekul PS dan lingkungan biologi Molekul singlet oxygen( 1 O2) bereaksi secara cepat dan tidak selektif (no discriminatingly) dengan molekul elektrofil seperti lemak unsaturated, protein, asam nukleat, dll. Setelah mentransfer energinya kepada oksigen, molekul PS dapat kembali ke fundamental state ( 1 S) dan siklus yang sama berulang lagi. Molekul fotosensitiser, dalam bentuk triplet, dapat bereaksi dengan molekul target, dengan cara merubah hidrogen atau elektronnya. Reaksi ini disebut sebagai reaksi tipe Iq Efek Langsung PDT Efek langsung PDT didasarkan pada reaksi tipe II, dengan memproduksi singlet oxygen. Singlet oxygen mempunyai waktu hidup pendek (short lifetime), yaitu 0.01-ȝ detik dan jarak difusi yang terbatas dalam lingkungan biologi (0.01-0.02 ȝP NDUHQD reaktifitasnya, sehingga perubahan/deteriorasi seluler terjadi hanya pada daerah yang dekat dengan singlet oxygen. Letak dari molekul tersebut ditentukan oleh derajat lipofilik dari PS. Secara umum, PS dengan anionik lipofilik terakumulasi di membran sel dan organelnya (mitokondria, retikulum endoplasma, lisosome, dan membran nukleus). Fotooksidasi lemak dan protein pada membran sel menyebabkan aktivasi fosfolipase membran, yang kemudian menyebabkan perubahan permeabilitas membran, menurunnya fluiditas (fluidity) dan inaktifasi sistem ensimatik dan reseptor. Disebutkan bahwa penghambatan enzim mitokondria merupakan kunci dari kematian sel pada PDT.
Modul VII.2 - Pinsip Radioterapi Keganasan Kepala Leher 21 Gambar Mekanisme anti-tumor pada PDT Efek Sekunder PDT Akibat dari efek langsung PDT, sebagian besar massa tumor dihancurkan. Pada sel-sel tumor yang tidak terkena efek langsung, dapat terjadi efek sekunder atau tidak langsung, yaitu: 1) efek terhadap vaskularisasi. Efek akut dari PDT yang mudah diamati in vivo adalah pada mikrovaskularisasi, dimana terjadi stasis pembuluh darah. Penentu utama terjadinya vaskuler fotosensitifitas adalah konsentrasi PS di sirkulasi dan jarak waktu antara pemberian obat dengan penyinaran. Efek terhadap mikrovaskularisasi dapat ditunjukkan pada percobaan sel tumor di laboratorium, dimana terjadi agregasi mikrovaskuler diikuti dengan vasokonstriksi sementara (transitory vasoconstriction), vasodilatasi, stasis darah dan perdarahan; 2) inisiasi apoptosis. Apoptosis (kematian sel terprogram) juga berperan penting (disamping kematian sel langsung / nekrosis) dalam PDT. Pada apoptosis, mekanisme genetik dalam sel memulai program perusakan sel tanpa melibatkan inflamasi. Terjadi kondensasi sitoplasma dengan destruksi sel dalam bentuk fragmen-fragmen yang terkumpul di membran sel disebut korpuskulum apoptosis. Dalam jaringan, korpuskulum ini dihancurkan oleh makrofag. Penelitian mengenai apoptosis yang diinduksi oleh PDT telah banyak dilakukan baik secara in vitro maupun in vivo, dan telah membuktikan adanya hubungan antara fotodegradasi mitokondria dengan apoptosis sebagai respons sel; 3) inflamasi. PDT menginduksi reaksi inflamasi kuat pada jaringan yang mendapat terapi. Efek fototoksik pada membran sel menyebabkan pelepasan metabolit lemak yang merupakan aktivator penting terjadinya inflamasi. Pada PDT juga terjadi generasi respons imun yang luas yang sangat penting dalam mengontrol tumor jangka panjang (long term tumor control). Proses kompleks respons jaringan pada PDT belum sepenuhnya dimengerti. Mekanisme Kematian Sel Tumor Akibat PDT Photodynamic therapy merupakan prosedur pengobatan yang terdiri dari beberapa tahap, yaitu uptake selektif fotosensitiser pada jaringan tumor, diikuti dengan penyinaran daerah tumor dengan sinar dengan panjang gelombang yang sesuai sehingga terjadi reaksi yang kompleks yang menghasilkan singlet oxygen ( 1 O2) dan Reactive Oxygen Species lain (ROS). Singlet oxygen dan ROS menyebabkan kerusakan struktur sel pada lokasi dimana fotosensitiser terakumulasi. Pada jaringan tumor, fotosensitiser terakumulasi di
Modul VII.2 - Pinsip Radioterapi Keganasan Kepala Leher 22 membran plasma atau membran intraseluler Retikulum Endoplasma (RE), mitokondria, lisosome, atau kombinasi dari seluruh lokasi tersebut. Derajat kerusakan (photo-damage) dan sitotoksisitas yang terjadi dalam jaringan tergantung pada banyak faktor, seperti jenis fotosensitiser yang digunakan, lokasi subseluler fotosensitiser, jarak waktu antara penyuntikan fotosensitiser dengan penyinaran (Drug-Light Interval/DLI), serta kondisi saat dilakukan penyinaran. Jenis tumor dan kadar oksigen sel juga merupakan faktor yang mempengaruhi derajat kerusakan sel. Kematian sel secara langsung (photo- killing) terjadi melalui 3 mekanisme, yaitu: A. Apoptosis PDT menginduksi apoptosis melalui aktivasi 2 jalur, yaitu: 1) jalur ekstrinsik atau Death Receptor (DR); dan 2) jalur mitokondria. Jalur ekstrinsik dipicu oleh sitokin yang dihasilkan oleh stressed-cell atau dying-cells akibat PDT. Jalur intrinsik atau jalur mitokondria terjadi karena kerusakan mitokondria secara langsung, atau secara sekunder akibat aktivasi signaling pathway oleh kerusakan photodynamic pada organ subseluler lainnya. Diketahui bahwa permeabilisasi membran mitokondria (Mitochondrial Membrane Permeabilization/MMP) setelah PDT merupakan kejadian letal yang sangat ketat dikontrol oleh Bcl-2 family, serta tidak tergantung pada p53 (p53-independent) 40 . Di mitokondria, PDT secara langsung merusak protein Bcl-2 (mitochondria-associated anti- apoptotic Bcl-2 protein), sehingga memfasilitasi bax/Bak-mediated MMP, serta mengeluarkan caspase activator (seperti sitokrom-c dan Smac/DIABLO), serta molekul proapoptosis lain seperti Apoptosis-Inducing Factor (AIF). Bila kerusakan akibat PDT dominan terjadi di luar mitokondria (seperti di lisosom, Retikulum Endoplasma/RE), maka jalur apoptosis yang terjadi melalui aktivasi upstream pro-apoptotic BH3-only protein. Bila Fotosensitiser terakumulasi di lisosom, maka aktivasi yang terjadi adalah apoptosis intrinsik, sebagai akibat dari di-release-nya cathepsin akibat kerusakan lisosom, sehingga terjadi cleavage BH3-only Bid dan MMP. Bila fotosensitiser terakumulasi di RE, PDT menyebabkan up-regulation dari beberapa ER chaperon, termasuk glucose-regulated protein/ binding protein (GRP78/Bip), GRP94 dan protein disulfide isomerase (PDI), bersamaan dengan aktivasi RE stress responsse Melalui jalur/pathway ini, CCAAT/enhancer binding protein (C/EBP) homologous protein (CHOP), sebuah faktor transkripsi proapoptosis yang diaktivasi akibat dari stress ER berat, dapat mengconvey MMP melalui ekspresi BH3-only pro-apoptotic Bim. Caspase merupakan mediator penting terjadinya apoptosis pada PDT. Inhibisi caspase hanya melambatkan proses kematian sel (photo-killing) tanpa mencegahnya. Hal ini menerangkan bahwa PDT juga menyebabkan kematian sel melalui jalur caspase- independen atau jalur non-apoptosis. Inhibisi caspase atau defisiensi genetik pada komponen penting proses apoptosis merubah mekanisme kematian sel menjadi mekanisme nekrosis .
Modul VII.2 - Pinsip Radioterapi Keganasan Kepala Leher 23 B. Nekrosis Meskipun mekanisme molekuler yang mendasari programmed-necrosis masih belum jelas, dapat dijelaskan bahwa aktivasi Receptor Interacting Protein 1 kinase (RIP1), kerusakan mitokondria dengan ditandai hilangnya permeabilitas membran dalam mitokondria, produksi ROS mitokondria yang sangat banyak, penurunan drastis produksi ATP, kerusakan lisosom, ROS-mediated caspase inhibition serta overload Ca 2+ intrasel, semuanya berhubungan dengan nekrosis sel C. Autophagy Kematian sel akibat PDT (photo-killing) juga terjadi akibat stimulasi macroautophagy/autophagy pada sel yang mengandung fotosensitiser. Autophagy adalah jalur degradasi lisosom yang terjadi terhadap destruksi masal (bulk destruction) dan turn- over dari long-lived protein dan organel yang rusak akibat stimulasi bermacam-macam penyebab stres sel, termasuk stres oksidatif. Efek PDT pada Lingkungan Mikro Tumor Efek sitotoksik PDT tidak terbatas hanya pada sel tumor, akan tetapi juga mengenai sel-sel degenerasi maupun sel-sel normal dalam jaringan tumor PDT menyebabkan kerusakan jaringan yang masif yang dapat menginduksi reaksi kompleks host-tumor. Secara sederhana digambarkan bahwa PDT mentriger respons host yang menyerupai wound healing. Pada PDT yang efektif, lebih dari 90% sel tumor menjadi lethally damaged dalam beberapa jam setelah penyinaran PDT, sehingga proses sitotoksik saja tidak cukup untuk mengeradikasi tumor untuk jangka lama. Hal ini bertentangan dengan hasil PDT yang mampu memberikan complete respons jangka panjang, sehingga disimpulkan bahwa ada mekanisme anti tumor lain yang ikut berperan dalam memberikan hasil anti tumor jangka panjang. Perubahan lingkungan mikro tumor yang diakibatkan PDT berdampak sangat jelas pada aktifitas sel imun innate. PDT memerlukan konsumsi oksigen yang sangat cepat sehingga level oksigen dalam sel menurun dengan cepat. Bersamaan dengan destruksi pembuluh darah, maka PDT menyebabkan hipoksia berat pada tumor yang disinar. Stres yang diakibatkan oleh rendahnya level oksigen mengaktivasi Hypoxia- Inducible Factor (HIF), faktor transkripsi yang mampu meregulasi ekspresi lebih dari 100 gen. HIF mengatur produksi sitokin dan molekul ko-stimulator pada sel dendrit (DC), sehingga meningkatkan kemampuan DC dalam mempresentasikan antigen dan menginduksi proliferasi limfosit. Hipoksia dalam proses ini merupakan kondisi yang menjembatani antara respons imun innate dengan respons imun adaptif. PDT dan Respons imun anti-tumor PDT terdiri dari 3 komponen dasar, yaitu: fotosensitiser (PS), sinar, dan oksigen. Masing-masing ketiga komponen tersebut secara sendiri-sendiri tidak bersifat toksik, akan tetapi reaksi ketiga komponen tersebut menginisiasi reaksi fotokimia, yang berefek pada dihasilkannya produk yang sangat reaktif, yaitu singlet oxygen ( 1 O2). Singlet oxygen
Modul VII.2 - Pinsip Radioterapi Keganasan Kepala Leher 24 dapat secara cepat menyebabkan toksisitas yang mengakibatkan kematian sel melalui apoptosis dan atau nekrosis. Kerusakan pada daerah yang disinar akibat reakti fotooksidasi berhubungan dengan terbentuknya lesi dan structural rearrangements di dalam sitoplasma dan membran sel tumor, vaskuler dan sel-sel stroma. Bermacam-macam molekul yang secrara normal berada di intraseluler dikeluarkan atau ditranslokasikan ke permukaan sel yang rusak dan molekul-molekul ini yang disebut sebagai DAMPs berperan penting dalam imunomodulasi. A. PDT dan Sistem imun innate PDT memicu reaksi inflamasi akut hebat yang ditandai dengan adanya edem dan nyeri pada lokasi yang diterapi. Stres oksidatif akut yang disebabkan oleh PDT dipersepsi sebagai kerusakan jaringan oleh badan dan memicu reaksi protektif yang bertujuan untuk memperbaiki integritas jaringan. Reaksi inflamasi yang diinduksi oleh PDT ditandai secara jelas oleh perubahan dramatis pada vaskularisasi tumor yang menjadi permeable terhadap protein darah. Sel pro inflamasi, seperti netrofil, sel mast dan monosit/ makrofag secara masif dan cepat menginvasi tumor. Secara simultan, sebagai respons terhadap PDT, sejumlah besar debris sel tumor terpapar sehingga bisa difagositosis oleh sel-sel imun (termasuk makrofag, netrofil, sel dendrit/DC) dalam waktu yang relatif singkat. Sel tumor yang sekarat (dying tumor cells) akibat PDT memproduksi sinyal bahaya yang meningkatkan presentasi antigen oleh sel dendritik/ dendritic cells (DC) dan rekruitmen antigen-specific cytotoxic T lymphocytes (CTL) Inflamasi akut yang diinduksi oleh PDT berlaku sebagai sinyal bahaya (danger signal) pada innate immune system. Aktivasi innate immune system meningkatkan priming dari tumor-specific T lymphocytes yang mampu mengenali dan menghancurkan sel-sel tumor yang jauh, dan mampu menginduksi terjadinya immune memory yang akan melawan rekurensi sel kanker di kemudian hari. Gambar. Aktivasi Respons Imun Innate oleh PDT
Modul VII.2 - Pinsip Radioterapi Keganasan Kepala Leher 25 Respons imun host setelah PDT tersebut dapat terganggu oleh adanya mekanisme immune escape dari tumor, khususnya dengan adanya akumulasi sel T regulator (Treg) intra tumor. Kerusakan akibat PDT pada area tumor yang disinar tidak hanya terjadi secara spesifik pada sel-sel tumor, akan tetapi juga pada sel-sel stroma tumor dan Tumor Infiltrating Lymphocytes (TIL)/ sel-sel imun yang menghambat respons imun host, seperi Treg, Myeloid Derived Supressor Cells (MDSCs). Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa PDT dapat me-reset lingkungan mikro tumor yang bersifat imunosupresi tersebut. B. PDT dan Sistem imun adaptive Berbagai penelitian preklinis maupun klinis melaporkan bahwa PDT dapat menginisiasi reaksi imun adaptif atau sebaliknya, menyebabkan imunosupresi, tergantung pada regimen yang diberikan dan jenis fotosensitiser yang digunakan Inflamasi jaringan yang terjadi pada PDT menginduksi maturasi DC dan migrasi sejumlah besar DC matur ke limfonodi drainase (draining lymphnodes). DC matur mengekspresikan kompleks peptide-MHC dan molekul kostimulator pada permukaan selnya. Hal ini memungkinkan terjadinya priming CD4 + T helper cells dan CD8 + CTL, aktivasi sel limfosit B dan inisiasi respons imun adaptif Gambar. Skematik PDT Mempengaruhi Sel Tumor, Stroma Tumor, dan Sistem Imun Sebelumnya diduga bahwa meskipun sel kanker mengekspresikan antigen tumor, tumor tersebut tidak bisa mengaktivasi respons imun karena tumor tidak menginduksi inflamasi (karena tumor tidak bersifat patogen). Akan tetapi penelitian yang dilaksanakan berikutnya membantah pernyataan tersebut. Disebutkan bahwa produk dari sel tumor sekarat (dying tumor cells), seperti misalnya heat-shock proteins (HSP) dan monosodium
Modul VII.2 - Pinsip Radioterapi Keganasan Kepala Leher 26 urat, adalah contoh dari banyak substansi inflamasi di lingkungan mikro tumor, yang memberikan sinyal bahaya (dangerous signals) kepada sistem imun. PDT mengaktifasi respons imun anti tumor seluler dan respons imun anti tumor humoral. Respons imun seluler dimediasi oleh sel Limfosit T CD8+ dan sel Limfosit T CD4+ serta sel NK (Natural Killer cell) Toksisitas Radioterapi Komplikasi radioterapi dapat berupa komplikasi dini yang biasanya terjadi selama atau beberapa minggu setelah radioterapi, seperti xerostomia, mual-muntah, mukositis, anoreksi, dermatitis, eritema. Komplikasi lanjut dari radioterapi biasanya terjadi setelah 1 tahun pemberian radioterapi, seperti kontraktur gangguan pertumbuhan Radiasi memiliki beberapa efek samping dan toksisitas, beberapa dari efek tersebut terjadi pada saat terapi (akut) dan efek lain yang terjadi berbulan-bulan hingga bertahun-tahun setelah terapi (lambat). Bila kemoterapi ditambahkan sebagai modalitas terapi selain radiasi, terdapat peningkatan signifikan pada angka kejadian toksisitas akut, walaupun toksisitas lambat juga demikian. Terdapat jumlah variasi yang signifikan antar pasien dan bagaimana pasien menoleransi terapi radiasi, namun beberapa kesimpulan juga dapat dibuat. Selama radiasi, 2 minggu pertama umumnya berlangsung tanpa banyak kesulitan kecuali siklus kemoterapi pertama menimbulkan toksisitas berupa mual dan muntah atau dehidrasi. Setelah minggu kedua, efek radiasi akut semakin lama semakin meningkat; toksisitas meliputi rasa nyeri (daerah mulut dan sakit tenggorokan) akibat mukositis, perubahan indera pengecap, hilangnya atau rontoknya rambut-rambut wajah (pada daerah yang terpapar terapi) dan iritasi kulit, lendir kental, dan mulut kering. Toksisitas ini umumnya meningkat hingga mencapai puncak pada minggu ke-5 hingga ke-6, dan kemudian bersifat tetap dan konstan sepanjang terapi. Mayoritas pasien menyebutkan bahwa nyeri merupakan efek samping yang paling sulit diatasi, dan sering membutuhkan obat-obatan jenis narkotika. Setelah menyelesaikan terapi radiasi, efek samping secara perlahan menghilang. Minggu pertama paska-radiasi masih menjadi waktu yang sulit dengan pengurangan rasa nyeri dan efek samping lain secara perlahan; setelah 2 minggu, pasien mulai merasakan dampak perbaikan dari toksisitas yang cukup berkesan, dan efek ini berlangsung selama beberapa minggu. Kerusakan kulit yang terjadi biasanya sembuh dalam waktu 2 minggu, lendir kental hilang dalam waktu 3 hingga 4 minggu, kemudian nyeri berkurang namun masih tetap ada hingga minggu ke 8-12 setelah radiasi. Rasa mudah lelah dan kemampuan untuk kembali bekerja bergantung pada beberapa faktor, namun secara umum pasien dapat kembali bekerja setelah 8 minggu paska-radiasi. Selain timbulnya toksisitas akut, terdapat sejumlah efek samping lanjut yang muncul akibat radiasi. Salah satu efek yang paling sering terjadi adalah xerostomia (mulut kering) karena kerusakan pada kelenjar saliva; kondisi ini kadang merespons terhadap pemberian pilocarpine (Salagen), namun terkadang pasien perlu membawa botol air minum ke mana pun dan kemungkinan kesulitan menelan daging atau roti kering. Perubahan indera pengecap akan kembali 3 bulan setelah terapi radiasi selesai, walaupun rasa beberapa makanan tidak pernah kembali pada beberapa pasien dan memiliki intoleransi terhadap makanan pedas (akan terasa lebih atau sangat pedas). Beberapa efek samping lanjut terjadi beberapa bulan bahkan bertahun-tahun
Modul VII.2 - Pinsip Radioterapi Keganasan Kepala Leher 27 setelah terapi radiasi selesai antara lain hipotiroidisme, fibrosis leher, stenosis arteri karotid, osteoradionekrosis (insidensi kasus ini dapat meningkat dengan tatalaksana di bidang kedokteran gigi setelah terapi radiasi), dan disfagia yang disertai dengan aspirasi. Seperti yang telah ditunjukkan pada tabel 110.3, terdapat panduan umum mengenai besaran dosis radiasi yang dapat ditoleransi oleh beberapa jaringan. Dosis toleransi radiasi ditentukan berdasarkan kombinasi dari studi retrospektif dan studi pada hewan, dan data ini bersifat tentatif dengan berbagai alasan, sehingga sulit untuk dikembangkan. Secara umum, kejadian toksisitas jarang didokumentasikan; sehingga kebanyakan kejadian toksisitas dilaporkan dalam literatur. Machtay melaporkan toksisitas pemberian kemoterapi dan radiasi non-IMRT pada beberapa studi RTOG; terdapat 43% pasien mengalami efek samping lanjut, kebanyakan toksisitas ini berupa disfungsi faring dan laring (22). Eisbruch dan para rekan kerjanya baru-baru ini mempublikasikan data prospektifnya mengenai penggunaan IMRT dalam tatalaksana tumor orofaring (23). Gangguan menelan dinilai menggunakan dua metode, videofluoroskopi dan penilaian gejala subjektif. Videofluoroskopi menunjukkan bahwa rata-rata disfagia ringan pra-terapi memburuk menjadi disfagia sedang setelah kemoradioterapi. Meskipun banyak pasien sembuh dari keluhan menelannya, beberapa pasien tidak sembuh secara total. PERAWATAN PASIEN SELAMA TERAPI RADIASI Ahli onkologi radiasi harus melakukan pemeriksaan status mingguan pada pasien yang menjalani terapi radiasi. Riwayat interval terkait harus diperoleh dengan referensi khusus untuk sakit mulut atau tenggorokan, disfagia, suara serak, perubahan rasa, xerostomia, reaksi kulit, dan gejala telinga. Pemeriksaan lengkap harus mencakup status tumor dengan pengukuran atau foto jika sesuai. Pasien harus diperiksa untuk melihat adanya mukositis, kandidiasis oral, dan reaksi kulit. Kondisi umum, berat badan, dan pemeriksaan darah lengkap harus dipantau. Gambar. Reaksi Kulit Dari Terapi Radiasi
Modul VII.2 - Pinsip Radioterapi Keganasan Kepala Leher 28 Produk pelembab dan pelumas kulit yang dijual bebas dapat digunakan untuk mengobati luka bakar kulit derajat ringan hingga sedang. Bantalan Gel RadiaCare dapat digunakan untuk meredakan luka bakar kulit. Untuk mengobati sariawan, pasien harus melakukan irigasi mulut dan berkumur dengan larutan garam dan soda kue sesering mungkin. Obat kumur lidokain dapat digunakan untuk sariawan yang nyeri. Pasien juga disarankan untuk menggunakan humidifier untuk mencegah keringnya mukosa saluran nafas bagian atas. Obat nyeri, termasuk gabapentin dan opiat, diberikan sesuai kebutuhan. Parotitis akut kadang-kadang dapat terjadi dalam 12 jam pertama setelah inisiasi radiasi ke portal yang termasuk kelenjar parotid. Parotitis akut terjadi sebagai akibat dari reaksi inflamasi akut. Pasien dapat melaporkan pembengkakan parotis, nyeri lokal, dan terkadang demam ringan. Parotitis akut dapat sembuh sendiri secara spontan setelah beberapa jam, tetapi keluhan dapat membaik dengan pemberian obat anti-inflamasi non- steroid. Beberapa pasien, terutama yang menjalani kemoradiasi bersamaan, dapat mengalami penurunan berat badan dan dehidrasi secara progresif pada minggu keempat hingga kelima pengobatan. Hidrasi intravena pada pasien rawat jalan mungkin cukup, tetapi penggunaan selang gastrostomi endoskopi perkutan mungkin diperlukan. Asetaminofen (parasetamol) dengan kodein baik dalam bentuk tablet atau cairan dapat meredakan gejala awal mukositis, tetapi seringkali harus dilanjutkan ke morfin sulfat kerja panjang atau patch fentanil dengan morfin sulfat immediate release. Gabapentin diberikan untuk meminimalkan nyeri mukositis dan mengurangi kebutuhan opiat. Infeksi Candida oraldapat terjadi dan mungkin asimtomatik, atau dapat muncul sebagai eksaserbasi akut dari sakit mulut atau tenggorokan atau sebagai keluhan pengecapan yang tidak normal. Obat anti jamur biasanya efektif.
MODUL UTAMA ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER MODUL VII.3 PRINSIP KEMOTERAPI KEGANASAN KEPALA LEHER EDISI III KOLEGIUM ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER 2022
DAFTAR ISI A. WAKTU ............................................................................................................... 1 B. PERSIAPAN SESI ............................................................................................... 1 C. REFERENSI ......................................................................................................... 1 D. KOMPETENSI ..................................................................................................... 1 E. GAMBARAN UMUM ......................................................................................... 2 F. CONTOH KASUS DAN DISKUSI ..................................................................... 3 G. TUJUAN PEMBELAJARAN .............................................................................. 3 H. METODE PEMBELAJARAN ............................................................................. 4 I. EVALUASI DAN INSTRUMEN PENILAIAN .................................................. 5 J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF .................................. 6 K. MATERI PRESENTASI ...................................................................................... 7 L. MATERI BAKU ................................................................................................... 8
Modul VII.3 - Prinsip Kemoterapi Pada Keganasan Kepala dan Leher 1 MODUL VII.3 ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER: PRINSIP KEMOTERAPI KEGANASAN KEPALA LEHER A. WAKTU Proses Pengembangan Kompetensi Alokasi Waktu Sesi di dalam kelas Sesi dengan fasilitasi Pembimbing Sesi praktik dan pencapaian kompetensi Waktu: 3 x 50 menit (classroom session) 2 x 50 menit (coaching session) 20 jam (facilitation and assessment) B. PERSIAPAN SESI 1. Materi presentasi x Power point x Vidio 2. Kasus : pasien keganasan kepala dan leher 3. Sarana dan alat bantu latih : x Penuntun belajar x Tempat belajar : instalasi rawat inap, instalasi rawat jalan, kamar operasi, ruang praktikum, ruang kuliah x Model : kadaver x Komputer/laptop x LCD C. REFERENSI 1. Gourin CG, Forastiere AA. 2014. Chemoradiation. In: %DLOH\¶V +HDG DQG 1HFN Surgery Otolaryngology. Fifth edition. 2:1692-1707 2. Rao Krishna. 2012.Chemotherapy of Head and Neck Cancer. In K.J.Lee¶V Essential Otolaryngology Head and Neck Surgery. Tenth Edition. Mc Graw Hill. 871-76. 3. Saba N.F. Khuri F.R. 2017. Chemotherapy in the treatment of squamous cell carcinoma of the head and neck. In: Myers J.N. Hanna E.Y.N. et al. Editors: Cancer of the head and neck. 5 th ed. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2017.p. 1319-42. 4. Shah Jatin P, Patel SG, Singh B. 2020. SystHPLF WKHUDS\ ,Q -DWLQ 6KDK¶V +HDG DQG Neck Surgery and Oncology. fifth edition. 20:833-46 D. KOMPETENSI 1. Pengetahuan Mampu mengetahui talaksanaan kemoterapi pada keganasan kepala dan leher berdasarkan prinsip dasar kemoterapi, mekanisme kerja beberapa obat, teknik pemberian dan prosedur kemoterapi. 2. Keterampilan Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam : 1. Menjelaskan prinsip dasar kemoterapi pada keganasan kepala dan leher 2. Menjelaskan berbagai macam obat kemoterapi 3. Menjelaskan mekanisme kerja beberapa obat kemoterapi 4. Menjelaskan teknik pemberian kemoterapi 5. Menjelaskan prosedur kemoterapi yang meliputi :
Modul VII.3 - Prinsip Kemoterapi Pada Keganasan Kepala dan Leher 2 a. Persyaratan, indikasi dan kontra indikasi b. Protokol kemoterapi c. Pemantauan dan penanganan efek samping obat kemoterapi E. GAMBARAN UMUM Kemoterapi mengacu pada obat-obatan yang bersifat sitotoksik, obat-batan tersebut menyebabkan kematian sel. Ada berbagai jenis obat kemoterapi, semua obat memiliki mekanisme aksi yang berbeda yang mengakibatkan kematian sel. Kemoterapi dapat meningkatkan efek terapi radiasi, tetapi kemoterapi sebagai terapi tunggal pada umumnya bukan sebagai modalitas kuratif. Karena respons sel tumor sangat bervariasi terhadap kemoterapi. Sel kanker kepala dan leher juga dapat menunjukkan resistensi baik bawaan maupun didapat. Kemoterapi dapat menghasilkan efek yang nyata dalam mengecilkan tumor. Kemoterapi terbukti meningkatkan efek radiasi pada sel tumor bila digunakan dengan terapi radiasi. Kemoterapi bertindak sebagai radiosensitizer, membuat kanker sel lebih sensitif terhadap efek radiasi. Indikasi umum penggunaan kemoterapi pada pengobatan kanker kepala dan leher meliputi kanker stadium lanjut sebagai pengobatan awal dengan tujuan preservasi organ, locally advanced, tumor yang tidak dapat direseksi, tumor dengan risiko tinggi metastasis, paliatif, kekambuhan tumor atau tumor yang tidak dapat dioperasi. Kemoterapi bukan indikasi untuk pasien dengan stadium I, II, atau stadium III volume rendah (tumor primer kecil dengan atau tanpa nodul ipsilateral tunggal, diameter 3 cm atau kurang) yang belum pernah mendapat terapi sebelumnya. Secara teknis kemoterapi biasanya diberikan bersamaan dengan radioterapi (kemoradiasi) baik diberikan sebelum (neoadjuvan/induksi), bersamaan (konkaren) atau setelah radiasi (adjuvan). Studi permulaan kemoradiasi dengan menggunakan kemoterapi induksi. Pada teknik ini tiga siklus kemoterapi diberikan beberapa minggu secara terpisah; pasien dengan respons terhadap induksi kemoterapi kemudian menerima radioterapi definitif, sementara pasien yang tidak merespon dirawat dengan operasi dan radiasi pasca operasi. Kemoterapi induksi masih digunakan. akan tetapi sebagian besar digantikan oleh kemoradiasi konkuren atau konkomitan. Pada teknik ini kemoterapi diberikan bersamaan dengan radiasi terapi, baik sebagai terapi mingguan atau untuk total perawatan selama 6 sampai 8 minggu terapi radiasi. Berdasarkan penelitian teknik ini menunjukkan peningkatan respons tumor. Kemoterapi saja digunakan untuk tujuan paliatif pada penyakit metastasis. Peningkatan efek radiosensitisasi kemoterapi pada radiasi, berdampak pada efek samping dari kemoradiasi lebih besar dibanding radiasi saja. Semua efek samping yang terkait dengan radiasi terjadi, akan tetapi mukositis jaringan yang melapisi mulut dan tenggorokan, kesulitan menelan lebih parah dalam intensitas dan durasi dengan penambahan kemoterapi. Obat sitotoksik yang paling umum digunakan untuk terapi kanker sel skuamosa kepala dan leher rekurensi atau metastatik adalah cisplatin, carboplatin, docetaxel, paclitaxel, 5-fluorouradl (5-FU) dan metotreksat. Aktivitas sitotoksik juga ditunjukkan oleh agen biologis yang lebih baru yang menargetkan epidermal growth factor receptor (EGFR) seperti cetuximab. Obat sitotoksik untuk keganasan nonepitel kepala dan leher yaitu +RGJNLQ¶V O\PSKRPD +/ GDQ QRQ-+RGJNLQ¶V O\PSKRPD 1+/ adalah CHOP (Cyclophosphamide, Doxorubicin, Vincristine (oncovin) dan Prednisone). Pada kasus dengan CD 20+ : R-CHOP (Rituximab, Cyclophosphamide, Doxorubicin, Vincristine
Modul VII.3 - Prinsip Kemoterapi Pada Keganasan Kepala dan Leher 3 (oncovin) dan Prednisone). Keganasan nonepitel kepala dan leher yang paling umum ditemukan adalah jenis non-+RGJNLQ¶V O\PSKRPD 1+/. F. CONTOH KASUS DAN DISKUSI Seorang wanita berumur 46 tahun datang ke poliklinik Onkologi Bedah Kepala Leher dengan keluhan penglihatan ganda. Keluhan disertai dengan mimisan yang tidak terlalu banyak, hidung tersumbat, telinga terasa tersumbat, benjolan di leher, dan penurunan berat badan dalam 3 bulan terakhir. Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya benjolan di kedua leher dengan ukuran kurang lebih 4 cm dan multiple. Dari hasil pemeriksaan endoskopi didapatkan massa putih kemerahan yang memenuhi nasofaring. Hasil histopatologis menunjukkan jenis karsinoma tidak berdiferensiasi. Pasien juga telah membawa hasil CT Scan yang menunjukkan massa memenuhi nasofaring dan terdapat pembesarn kelenjar getah bening yang yang menyengat dengan penambahan kontras, Hasil rontgen thoraks dan USG abdomen serta bone scan dalam batas normal. Diskusi: x Prinsip dasar kemoterapi pada keganasan kepala dan leher x Berbagai macam obat kemoterapi x Mekanisme kerja obat kemoterapi x Teknik pemberian kemoterapi x Menjelaskan prosedur kemoterapi yang meliputi : o Persyaratan, indikasi dan kontra indikasi o Protokol kemoterapi o Pemantauan dan penanganan efek samping obat kemoterapi Jawaban: Diagnosis kerja : Karsinoma Nasofaring T4N2M0 stadium IVA Rencana terapi : Kemoradiasi/kemoterapi neo adjuvant G. TUJUAN PEMBELAJARAN a. Umum: Proses, materi dan metode pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, perilaku dan ketrampilan terkait dengan pencapaian kompetensi yang diperlukan yaitu mampu menjelaskan dan menjalankan talaksanaan kemoterapi pada keganasan kepala dan leher. b. Khusus: Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan terampil dalam: 1. Menjelaskan prinsip dasar kemoterapi pada keganasan kepala dan leher 2. Menjelaskan berbagai macam obat kemoterapi 3. Menjelaskan mekanisme kerja beberapa obat kemoterapi 4. Menjelaskan teknik pemberian kemoterapi 5. Menjelaskan prosedur kemoterapi yang meliputi : a. Persyaratan, indikasi dan kontra indikasi b. Protokol kemoterapi c. Pemantauan dan penanganan efek samping obat kemoterapi
Modul VII.3 - Prinsip Kemoterapi Pada Keganasan Kepala dan Leher 4 H. METODE PEMBELAJARAN Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan mempunyai kemampuan dasar untuk melakukan pemberian kemoterapi pada kasus keganasan kepala dan leher Tujuan 1.Menjelaskan Prinsip Dasar Kemoterapi pada Keganasan Kepala dan Leher Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: a. Interactive lecture b. Small group discussion c. Peer assisted learning d. Bedside teaching e. Task based medical education Tujuan 2. Menjelaskan berbagai macam obat kemoterapi Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: a. Interactive lecture b. Small group discussion c. Peer assisted learning d. Bedside teaching e. Task based medical education Tujuan 3. Menjelaskan mekanisme kerja obat-obat kemoterapi Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: a. Interactive lecture b. Small group discussion c. Peer assisted learning d. Bedside teaching e. Task based medical education Tujuan 4. Menjelaskan teknik pemberian kemoterapi Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: a. Interactive lecture b. Small group discussion c. Peer assisted learning d. Bedside teaching e. Task based medical education Tujuan 5. Menjelaskan prosedur kemoterapi Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: a. Interactive lecture b. Small group discussion c. Peer assisted learning d. Bedside teaching e. Task based medical education
Modul VII.3 - Prinsip Kemoterapi Pada Keganasan Kepala dan Leher 5 I. EVALUASI DAN INSTRUMEN PENILAIAN 1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre test dalam bentuk essay sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengindentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri atas; - Prinsip dasar kemoterapi pada keganasan kepala dan leher - Menjelaskan berbagai macam obat kemoterapi - Mekanisme kerja obat kemoterapi - Teknik pemberian kemoterapi - Prosedur kemoterapi 2. Selanjutnya dilakukan ³6PDOO JURXS GLVFXVVLRQ´ bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian 3. Setelah mempelajari penuntun belajar ini, peserta didik diwajibkan untuk mendiskusikan dengan teman-temannya (Peer Assisted Evaluation). Pada saat pelaksanaan evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut: - Perlu perbaikan: pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan - Cukup: pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien - Baik : pelaksanaan benar dan baik (efisien) 4. Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberikan masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan 5. Self assestment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar 6. Pendidik/fasilitas: - Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form ( terlampir) - Penjelasan lisan dari peserta didik/diskusi - Kriteria penilaian keseluruhan: cakap/tidak cakap/lalai 7. Diakhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education) 8. Pencapaian pembelajaran: - Ujian akhir stase, dilakukan oleh setiap divisi/unit kerja masing-masing sentra pendidikan T.H.T.K.L - Ujian akhir kognitif dan OSCE (K,P,A), dilakukan oleh Kolegium Ilmu kesehatan T.H.T.K.L 9. Perlu perbaikan: pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan Cukup: pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien Baik : pelaksanaan benar dan baik (efisien)
Modul VII.3 - Prinsip Kemoterapi Pada Keganasan Kepala dan Leher 6 J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF Kuesioner meliputi: 1. Sebelum pembelajaran Soal: 1. Apakah tujuan pemberian kemoterapi pada keganasan kepala dan leher? Kecuali : A. Radiosensitizer B. Menurunkan kontrol lokoregional C. Mencegah mikrometastasis D.Menurunkan kualitas hidupE. Menimbulkan kematian seluruh sel Jawaban : D 2. Bagaimana mekanisme kerja obat Alkylating agent ? A. Menghambat sintesa DNA dengan menukar gugus alkali sehingga membentuk ikatan silang DNA B. Berikatan dengan protein mikrotubuler sehingga menyebabkan disolusi struktur mitotic spindle pada fase mitosis C. Memperbaiki fungsi sel dengan melakukan transfer gugus alkali pada gugus amino, karboksil, sulfidril atau fosfat D. Menganggu fungsi enzim topoisomerase sehingga menghambat proses transkripsi dan replikasi E. Menghambat sintesis DNA berikatan dengan sintase tymidylate yang berujung pada pengurangan protein precursor sintesis DNA. Jawaban: A 2. Tengah pembelajaran Soal : 1. Berapakah dosis toleransi maksimal pemberian Cisplatin pada kemoterapi neo adjuvant penderita KNF ? A. 40 mg/m 2 . B. 60 mg/m 2 . C. 100 mg/m 2 . D. 120 mg/m 2 . E. 250 mg/m 2 . Jawaban : C 3. Akhir pembelajaran Soal : 1. Apakah kontraindikasi absolut pemberian kemoterapi ? A. Kadar Hb 9 gr/dl B. Neutropenia C. Gangguan faal hemostasis D.Systemic Inflammatory Response SyndromeE. Usia lanjut Jawaban : D
Modul VII.3 - Prinsip Kemoterapi Pada Keganasan Kepala dan Leher 7 K. MATERI PRESENTASI o SLIDE 1 : Prinsip dasar kemoterapi o SLIDE 2 : Jenis histopatologi dan stadium keganasan kepala leher o SLIDE 3 : Jenis Mekanisme kerja obat Berdasarkan mekanisme cara kerja obat: a. Antimetabolit, obat ini menghambat biosintesis purin atau pirimidin. Sebagai contoh MTX menghambat pembentukkan folat tereduksi yang dibutuhkan untuk sintesis timidin. b. Obat yang menganggu struktur atau fungsi molekul DNA. Zat pengalkil seperti Cyclophosphamide mengubah struktur DNA, dengan demikian menahan replikasi sel. c. Inhibitor mitosis seperti alkaloid vinka contohnya vincristine dan vinblastine, menahan pembelahan sel dengan menganggu filamen mikro pada kumparan mitosis. o SLIDE 4 : Teknik pemberian Secara umum metode kemoterapi digunakan dengan 4 cara kerja yaitu : 1. Sebagai neoadjuvan yaitu pemberian kemoterapi mendahului pembedahan dan radiasi. Tujuannya untuk mengecilkan tumor yang sensitive sehingga akan lebih mudah ditangani dengan radiasi atau pembedahan.
Modul VII.3 - Prinsip Kemoterapi Pada Keganasan Kepala dan Leher 8 2. Sebagai konkuren diberikan bersamaan dengan radiasi, dosis kemoterapi lebih rendah, sebagai radiosensitizer. 3. Sebagai terapi adjuvant yaitu sebagai terapi tambahan paska pembedahan dan atau radiasi. Tujuannya untuk mengatasi kemungkinan metastasis jauh dan meningkatkan kontrol lokal. 4. Sebagai terapi utama yaitu digunakan tanpa radiasi dan pembedahan terutama pada kasus-kasus stadium lanjut dan pada kasus kanker jenis hematologi (leukemia dan limfoma). Pemberian kemoterapi bertujuan untuk paliatif. o SLIDE 5 : Indikasi dan kontra indikasi kemoterapi Indikasi kemoterapi: 1. Menyembuhkan dan menghilangkan kanker 2. Memperpanjang hidup 3. Memperpanjang interval bebas kanker 4. Menghentikan progresifitas kanker 5. Mengecilkan volume kanker 6. Terapi paliatif Kontraindikasi kemoterapi Absolut: 1. Penyakit stadium terminal 2. Hamil trimester pertama, kecuali akan digugurkan 3. Septikemia 4. Koma Relatif: 1. Usia lanjut 2. Keadaan umum yang sangat jelek 3. Ada gangguan fungsi organ vital 4. Demensia 5. Penderita tidak dapat mengunjungi klinik/RS secara teratur 6. Tumor resisten terhadap obat, tidak ada fasilitas penunjang o SLIDE 6 : Menangani efek samping dan penangananya L. MATERI BAKU 1. Definisi Kemoterapi Kemoterapi merupakan pengobatan kanker dengan pemberian obat-obatan tertentu (sitostatika/obat anti kanker) yang bertujuan untuk menghambat pertumbuhan sel kanker ataupun membunuh sel kanker. Tujuan dari kemoterapi:
Modul VII.3 - Prinsip Kemoterapi Pada Keganasan Kepala dan Leher 9 a. sebagai radiosensitizer dan meningkatkan kontrol lokoregional b. mengobati penyakit mikrometastasis dan meningkatkan kualitas hidup c. preservasi organ d. terapi paliatif e. debulking tumor besar sehingga memungkinkan untuk dilakukan tindakan operasi 2. Mekanisme kerja obat-obat kemoterapi Berdasarkan mekanisme cara kerja obat: a. Antimetabolit, obat ini menghambat biosintesis purin atau pirimidin. Sebagai contoh MTX menghambat pembentukkan folat tereduksi yang dibutuhkan untuk sintesis timidin. b. Obat yang menganggu struktur atau fungsi molekul DNA. Zat pengalkil seperti Cyclophosphamide mengubah struktur DNA, dengan demikian menahan replikasi sel. c. Inhibitor mitosis seperti alkaloid vinka contohnya vincristine dan vinblastine, menahan pembelahan sel dengan menganggu filamen mikro pada kumparan mitosis. Berdasarkan kerjanya pada siklus sel, obat kemoterapi dapat dibedakan: (1). Cell Cycle Depending Drugs (CCDD) Obat ini bekerja selama terdapat proses pembelahan sel, dikelompokkan menjadi: a. Cell Cycle Depending Drugs Specific Phase (CCID) Bekerja pada fase tertentu dalam pembelahan sel, obat ini dapat efektif bekerja jika terdapat dalam jumlah yang cukup pada sel tumor yang memasuki fase tertentu. b. Cell Cycle Depending Drugs Non Spesific Phase Bekerja pada sel tumor yang sedang aktif membelah tetapi tidak tergantung pada proses pembelahan sel, efektif bekerja pada sel kanker yang sedang aktif membelah tanpa tergantung fasenya. (2). Cell Cycle Independing Drugs (CCID) Obat ini membunuh sel kanker pada setiap keadaan dan tidak tergantung pada pembelahan sel. Obat sitostatika yang hanya bekerja pada satu fase adalah golongan alkaloid, sedangkan yang dapat bekerja pada beberapa fase sekaligus adalah golongan antimetabolit. Berdasarkan mekanisme kerjanya, obat kemoterapi dapat dibedakan: - Alkylating agent Obat golongan ini menghambat sintesa DNA dengan menukar gugus alkali sehngga membentuk ikatan silang DNA dan menganggu fungsi sel dengan melakukan transfer gugus alkali pada gugus amino, karboksil, sulfidril atau fosfat. Contoh: Cyclophospamid, Carboplatin, Cisplatin, Ifosphamid, Chlorambucil - Antibiotik Obat golongan ini mekanisme kerjanya menghambat sintesa DNA dan RNA. Contoh: Bleomicin, Mitomicin, Epirubicin, Doxorubicin
Modul VII.3 - Prinsip Kemoterapi Pada Keganasan Kepala dan Leher 10 - Antimetabolit Bekerja dengan cara menghambat sintesa asam nukleat. Altivitasnya meningkat pada sel yang membelah cepat. Contoh: Leukovorin, Fluorouracil, Metotrexate, Hydroxyurea, Capecitabine - Mitotic Spindle Obat golongan ini akan berikatan dengan protein mikrotubuler sehingga menyebabkan disolusi struktur mitotic spindle pada fase mitosis. Contoh: Paclitaxel, Vincristine, Doxetaxel, Vinblastine - Topoisomerase inhibitor Obat golongan ini bekerja dengan cara menganggu fungsi enzim topoisomerase sehingga menghambat proses transkripsi dan replikasi Contoh: Etoposit, Irinotecan dan Topotecan - Hormonal Beberapa hormonal dapat digunakan dalam kemoterapi. Contoh: adrenokortikosteroid (Prednison, metilprednisolon, dexametason), androgen, antiandrogen, adrenal inhibitor, progrestin - Monoclonal antibodies Obat ini memiliki selektifitas relatif untuk jaringan tumor dan toksisitasnya relatif rendah. Obat ini dapat menyerang sel tertentu secara langsung dan dapat digabungkan dengan zat radioaktif atau kemoterapi tertentu. Contoh: Rituximab dan Trastuzumab - Hematopoietic Growth Factors - Eritropoitin, CSFs, dan platelet growth factors - Lain-lain: interferon alfa, IL-2, Suramin, Extramustine 3. Metoda Pemberian Kemoterapi Secara umum metode kemoterapi digunakan dengan 4 cara kerja yaitu : a. Sebagai neoadjuvan yaitu pemberian kemoterapi mendahului pembedahan dan radiasi. Tujuannya untuk mengecilkan tumor yang sensitive sehingga akan lebih mudah ditangani dengan radiasi atau pembedahan. b. Sebagai konkuren diberikan bersamaan dengan radiasi, dosis kemoterapi lebih rendah, sebagai radiosensitizer. c. Sebagai terapi adjuvant yaitu sebagai terapi tambahan paska pembedahan dan atau radiasi. Tujuannya untuk mengatasi kemungkinan metastasis jauh dan meningkatkan kontrol lokal. d. Sebagai terapi utama yaitu digunakan tanpa radiasi dan pembedahan terutama pada kasus-kasus stadium lanjut dan pada kasus kanker jenis hematologi (leukemia dan limfoma). Pemberian kemoterapi bertujuan untuk paliatif. 4. Indikasi dan Kontraindikasi Pemberian Kemoterapi Indikasi kemoterapi: a. Menyembuhkan dan menghilangkan kanker b. Memperpanjang hidup c. Memperpanjang interval bebas kanker d. Menghentikan progresifitas kanker e. Mengecilkan volume kanker
Modul VII.3 - Prinsip Kemoterapi Pada Keganasan Kepala dan Leher 11 f. Terapi paliatif Kontraindikasi kemoterapi Absolut: 1. Penyakit stadium terminal 2. Hamil trimester pertama, kecuali akan digugurkan 3. Septikemia 4. Koma Relatif: 1. Usia lanjut 2. Keadaan umum yang sangat jelek 3. Ada gangguan fungsi organ vital 4. Demensia 5. Penderita tidak dapat mengunjungi klinik/RS secara teratur 6. Tumor resisten terhadap obat, tidak ada fasilitas penunjang 5. Obat-obat kemoterapi yang sering digunakan untuk keganasan kepala dan leher - Paclitaxel dan Doxetaxel Golongan taxane ini menstabilkan tubulin polymer dan mencegah pembelahan sel. - Cisplatin Cisplatin menandai aktivitas tumor dan menghambat tumor yang tidak sensitive terhadap fase S inhibitor yang cepat bereaksi dengan sifat elektrofilik/oksidasi dengan target utama DNA sel. Cisplatin biasanya diberikan selama 2-6 jam dengan dosis 60 sampai 120 mg/m 2 . Toksisitas dapat berupa nefrotoksik, mual dan muntah, neurotoksik perifer, ototoksik, supresi sumsum tulang, elektrolit imbalance setelah pemberian beberapa siklus obat. Obat serupa Carboplatin sekarang banyak digunakan khususnya pada kasus- kasus paliatif, dapat mengurangi efek samping dan lama perawatan di rumah sakit. - 5-Fluorouracil Obat ini bekerja spesifik sebagai analog urasil pada fase S yang dapat diaktivasi melalui dua jalur utama intraseluler yaitu menggabungkan fosforilasi menjadi RNA dan aktivasi menjadi 5fluorodeoxyuridine monophosphate yang menghambat enzim thymidylate synthase dan konversi senyawa uridin menjadi timidin. Sehingga sel akan kekurangan timidin dan tidak dapat mensintesis DNA. Efek samping yang ditemukan adalah mielosupresi, mukositis, diare, dermatitis dan kardiotoksik. - Cetuximab - MerXSDNDQ REDW NDQNHU \DQJ PDVXN JRORQJDQ µWHUDSL WDUJHW¶ 2EDW LQL EHNHUMD sangat selektif dengan menjadikan zat-zat spesifik dalam tubuh yang berperan dalam proses pertumbuhan sebagai target pengobatan. Cetuximab menghambat produksi VEGF (Vascular epithelial growth factor) karsinoma epidermosa, sehingga mengurangi jumlah pembuluh darah tumor, down regulation VEGF, IL-8 dan ekspresi bFGF (basic fibroblast growth factor) pada xenograf tumor. Obat ini diberikan secara intravena dengan dosis 200-400 mg/m 2 dan memiliki waktu paruh 114 (75-188 jam), sehingga memungkinkan diberikan setiap minggu. Pada saat dosis awal diberikan secara
Modul VII.3 - Prinsip Kemoterapi Pada Keganasan Kepala dan Leher 12 perlahan secara intravena dalam dosis besar diberikan sekitar 2 jam. Untuk pemberian berikutnya diberikan seminggu sekali dalam waktu 1 jam. Pada kanker kepala dan leher cetuximab diberikan dengan kombinasi radioterapi. Efek samping cetuximab biasanya ringan seperti rash, jerawat, kulit kering dan fissure. - Methotrexate Antimetabolit yang bekerja menganggu metabolisme folat intraseluler dengan mengikat enzim dihydrofolate reductase. Menghambat konversi asam folat menjadi tetrahydrofolate sehingga terjadi kekurangan folat dalam sel dan menghambat sintesis DNA. Obat ini hanya aktif selama fase S dalam siklus sel. Sebagai agen tunggal, metrotrexate diberikan setiap minggunya dengan dosis 40-50 mg/m 2 . Efek samping berupa reaksi toksik; mielosupresi, mukositis, dermatitis, mual, muntah, diare, dan fibrosis hati, - Nimatozumab Termasuk dalam golongan terapi target, bekerja sangat selektif dalam proses pertumbuhan kanker sebagai target pengobatan. Efek samping jauh lebih ringan dibandingkan kemoterapi konvensional. Biasanya ditemukan efek samping berupa jerawat atau bisul dalam berbagai tingkat keparahan (bisa mencapai grade 3 atau 4) yang disebut skin rash.
MODUL UTAMA ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER MODUL VII.4 NEOPLASMA RONGGA MULUT EDISI III KOLEGIUM ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER 2022
DAFTAR ISI A. WAKTU ................................................................................................................... 1 B. PERSIAPAN SESI ................................................................................................... 1 C. REFERENSI ............................................................................................................. 1 D. KOMPETENSI ......................................................................................................... 2 E. GAMBARAN UMUM ............................................................................................. 2 F. CONTOH KASUS DAN DISKUSI ........................................................................ 3 G. TUJUAN PEMBELAJARAN ................................................................................ 11 H. METODE PEMBELAJARAN ............................................................................... 12 I. EVALUASI ............................................................................................................ 14 J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF .................................... 16 K. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR ............................. 23 L. DAFTAR TILIK ..................................................................................................... 28 M. MATERI PRESENTASI ........................................................................................ 32 N. MATERI BAKU .................................................................................................... 48
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 1 MODUL VII.4 ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER: NEOPLASMA RONGGA MULUT A. WAKTU Proses Pengembangan Kompetensi Alokasi Waktu Sesi di dalam kelas Sesi dengan fasilitasi Pembimbing Sesi praktik dan pencapaian kompetensi 1 x 90 menit (classroom session) 1 x 60 (coaching session) 16,5 jam (facilitation and assessment) B. PERSIAPAN SESI x Materi presentasi: o Power point o Video x Kasus: a. Karsinoma Lidah b. Neoplasma Dasar mulut c. Neoplasma Mukosa bukal d. Neoplasma Palatum x Sarana dan alat bantu latih: (disesuaikan dengan pencapaian kompetensi): o Penuntun belajar (learning guide): terlampir o Tempat belajar (training setting): instalasi rawat inap, instalasi rawat jalan, kamar operasi, ruang praktikum, ruang kuliah o Model/ manekin atau kadaver o Komputer/ laptop o Infocus C. REFERENSI 1. Oh YS, Russell MS, Eisele DW. Salivary gland neoplasms. In: Jhonson Jt, Rosen &$ HGLWRUV %DLOH\¶V KHad & neck surgery otolaryngology. 5th ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2014. p. 1760-87 2. Lee KJ, Chan Y, Das S, editors. Essential Otolaryngology Head & Neck Surgery, 11th ed. New York: McGraw-Hill;2017 3. Rocco JW. Excision of Cancer of The Floor of The Mouth. In: Myers EN, Ferris L. Head and Neck Surgery. Philadelphia: Lippicott Williams & Wilkins; 2017. 4. Donald PJ. Transoral inferior maxillectomy. In: Myers EN, Ferris L. Head and Neck Surgery. Philadelphia: Lippicott Williams & Wilkins; 2017. 5. 6KDK -3 3DWHO 6* 6LQJK % -DWLQ 6KDK¶V +HDG DQG 1HFN 6XUJHU\ DQG 2QFRORJ\ 5th ed. Philadelphia: Elsevier Mosby; 2020 6. American Joint Committee on Cancer. AJCC Cancer Staging Manual, 8th ed. Chicago: Springer; 2017 7. NCCN Guidlines Staging Head and Neck Cancers, 2020
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 2 D. KOMPETENSI 1. Pengetahuan Setelah mengikuti sesi ini peserta mampu mendiagnosis dan menatalaksana neoplasma rongga mulut. 2. Keterampilan Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil: 1. Mengenali gejala dan tanda neoplasma rongga mulut 2. Melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik terhadap neoplasma rongga mulut 3. Melakukan keputusan untuk pemeriksan penunjang seperti X-ray, CT Scan atau MRI 4. Melakukan biopsi massa neoplasma rongga mulut. 5. Melakukan tatalaksana pendahuluan terhadap kasus yang bersangkutan dan memberikan rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi untuk tatalaksana lebih lanjut. E. GAMBARAN UMUM Bibir merupakan organ di rongga mulut yang berbeda dari struktur sekitarnya. Bibir atas dimulai dari lubang hidung dan dasar ala nasi setiap sisi dan berakhir di lateral pada lipatan nasolabial. Bibir atas dibagi menjadi subunit oleh phitral columns. Phitral columns terbentuk oleh serat m. orbicularis oris kontralateral yang melalui garis tengah. Lekukan ditengah antar philtral columns disebut SKLWUDO JURRYH &XSLG¶V ERZ merupakan bagian persimpangan kulit dan vermilion diantara phitral columns. Bibir bagian bawah dimulai dari lipatan nasolabial di lateral dan dibatasi oleh lipatan labiomental. Lidah merupakan organ di rongga mulut yang dapat digerakkan. Area lidah meliputi anterior dari batas papila sirkumvalata ke permukaan bagian bawah lidah yang berhubungan dengan dasar mulut. Terdiri dari stuktur orofaringeal yang terbagi menjadi beberapa bagian yaitu ujung lidah, dorsum lidah, tepi lateral dan permukaan bawah (disebut sebagai aspek ventral). Dasar mulut merupakan salah satu komponen dari rongga mulut yang terletak di dalam alveolar ridge inferior. Struktur ini berbentuk seperti tapal kuda, mulai dari posterior gigi seri dan memanjang secara bilateral ke pilar tonsil anterior. Mukosa yang melapisi dasar mulut dibentuk oleh lapisan tipis dari epitel skuamous bertingkat dengan fleksibilitas yang tinggi. Karsinoma sel squamous mukosa bukal terjadi pada 5% sampai 10% kanker rongga mulut di Amerika Serikat, di India didapatkan 40% terkait dengan konsumsi buah pinang (battle nut). Pada fase awal gejala yang sering ditemui adalah sariawan yang tidak sembuh pada rongga mulut. Konsumsi alkohol dan merokok merupakan faktor predisposisi, juga riwayat karies dan masalah pada gigi geligi. Adanya trismus berkaitan dengan keterlibatan fossa infra temporal, yang merupakan batasan dapat tidaknya dilakukan tindakan operasi. Gigi yang tanggal merupakan indikasi adanya invasi dan penyebaran ke alveolus. Pada fase lanjut, dapat ditemui adanya rasa penuh pada satu sisi wajah serta kemerahan atau ulserasi pada kulit. Neoplasma mukosa bukal sering terdeteksi pada fase lanjut. Karena tidak adanya batas tegas anatomi memudahkan perluasan massa ke jaringan sekitar. Lapisan lemak bukal dan otot sangat mudah di invasi oleh karsinoma dan menyebabkan kelumpuhan otot wajah. Invasi kulit dan trismus jarang ditemukan.
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 3 Pembedahan merupakan pilihan utama pada neoplasma mukosa bukal. Pendekatan tersering yang dilakukan adalah melalui eksisi transoral. Lesi yang lebih besar membutuhkan kombinasi eksisi transoral dan trans servikal. Pada lesi yang lebih kecil dapat dilakukan penutupan primer dengan skin graft. Untuk Lesi yang lebih besar, rekostruksi soft tissue dengan regional pedikel flap seperti submental flap, temporoparietal facial flap atau fasciocutaneus free flap dapat dilakukan untuk menghindari kontraktur dan trismus. Ada tidaknya metastasis berkaitan dengan besarnya massa tumor dan kedalaman invasi neoplasma primer. Pada tahap lanjut T III dan T IV serta invasi >5mm perlu dipertimbangkan untuk dilakukan diseksi leher untuk menghindari kemungkinann adanya metastasis pada leher walaupun tidak ditemukan pembesaran KGB leher Karsinoma bukal memiliki prognosis yang buruk. Pada kasus yang tidak dapat di operasi tatalaksana utama adalah radioterapi + kemoterapi. Angka ketahanan hidup lima tahun berkisar antara 90% pada stadium I, 80% pada stadium II, 65% pada stadium III, dan 30% pada stadium IV. Karsinoma palatum merupakan salah satu kasus keganasan sel skuamosa (KSS) yang paling sering terjadi di rongga mulut. Angka kejadian KSS pada palatum hampir setara dengan kejadian neoplasma kelenjar ludah minor di palatum, yakni sebesar 50%. Neoplasma lain yang dapat berasal dari palatum adalah adenoid cystic carcinoma, polymorphous low-grade adenocarcinoma, dan mucoepidermoid carcinoma. F. CONTOH KASUS DAN DISKUSI a. Karsinoma lidah Seorang laki-laki, 52 tahun datang ke poli THTKL dengan keluhan benjolan di lidah kanan sejak 4 bulan lalu, penderita tidak mengeluhkan kesulitan menelan. Lidah pasien masih dapat digerakkan dengan mudah. Keluhan sesak napas disangkal, keluhan benjolan dileher disangkal. Diskusi: x Anatomi, fisiologi, dan histologi dasar mulut x Etiopatogenesis terjadinya tumor lidah x Tipe tumor lidah x Prosedur diagnosis x Rencana tatalaksana Jawaban: x Lidah merupakan bagian rongga mulut yang dapat digerakkan, meluas ke anterior dari batas papila sirkumvalata ke permukaan bagian bawah lidah yang berhubungan dengan dasar mulut. Terdiri dari stuktur orofaringeal yang terbagi menjadi beberapa bagian yaitu ujung lidah, dorsum lidah, tepi lateral dan permukaan bawah (disebut sebagai aspek ventral). Otot-otot ekstrinsik pada lidah adalah otot genioglosus, hioglosus, dan stiloglosus. Otot-otot instrinsik adalah serabut otot vertikal, transversal dan longitudinal. x Tumor lidah merupakan tumor kedua terbanyak (30%) dalam rongga mulut. Sering mengenai bagian lateral dari lidah. Faktor resiko terjadinya adalah tembakau, alkohol, imunosupresi dan oral hiegine yang buruk. Secara histologi, tumor invasi > 2-4 mm berhubungan dengan tingginya angka metastasis regional, rekurensi dan mortalitas. Invasi perineural pada tempat primer adalah indikator lain peningkatan rekurensi dan mortalitas.
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 4 x Tumor ganas pada lidah adalah suatu keganasan yang berasal dari jaringan epitel mukosa lidah dengan sel berbentuk KSS. Tumor ini dapat menginfiltrasi ke daerah sekitarnya, di samping itu dapat terjadi metastasis secara limfogen dan hematogen. KSS adalah jenis keganasan yang paling sering terjadi dalam rongga mulut, meliputi 95% dari seluruh kasus keganasan pada rongga mulut. x Gejala pada penderita tergantung pada lokasi kanker. Keluhan utamanya adalah timbulnya suatu massa yang seringkali terasa tidak sakit. Ulkus superfisialis yang tidak sakit melebar dengan tepinya bulat, berwarna abu-abu seperti nekrosis. Kadang-kadang hanya merupakan permukaan yang kasar, pada sepertiga anterior. Bila melibatkan sepertiga posterior lidah, seringkali kanker tersebut tidak diketahui oleh penderita. Cenderung berinfiltrasi ke bagian dalam, dan rasa sakit yang dialami biasanya dihubungkan dengan rasa sakit tenggorokan. Pada pemeriksaan fisik rongga mulut dapat ditemukan eritroplakia (merah, lesi inflamasi) yang merupakan bentuk awal terbanyak terjadinya KSS. Gejala lanjut dapat ditemukan adanya fiksasi lidah, penurunan sensasi lidah, perubahan suara dan gangguan menelan serta limfadenopati servikal. Metode skrining meliputi vital staining, spectral analysis, ViziLite (chemiluminescence) dan biopsi sikat (brushing). Metastasis regional dapat terjadi melalui drainase nodul primer ke level I-III. Pemeriksaan penunjang terdiri dari biopsi (IHK, VEGF, EGFR), pemeriksaan pencitraan (x-ray tomography dan CT scan, USG Abdomen, rontgen thorax) ekokardiografi, audiometri, pemeriksaan darah rutin dan kimia darah. x Penatalaksanaan berdasarkan derajat klinis (berdasarkan NCCN 2020) o T1-T2, N0 - Reseksi primer diikuti atau tanpa diseksi leher ipsilateral atau bilateral - Reseksi primer diikuti atau tanpa sentinel biopsi - Radioterapi definitif o T3, N0 atau T1-3, N1-3 atau T4a - Pembedahan N0, N1, N2a-b, N3 Reseksi primer diikuti diseksi leher ipsilateral atau bilateral N2c Reseksi primer diikuti diseksi leher bilateral o T4b atau nodus yang tak dapat direseksi atau tidak memungkinkan dioperasi - ECOG 0-1 Kemoterapi dan radioterapi konkuren Induksi kemoterapi diikuti dengan radioterapi - ECOG 2 Kemoterapi dan radioterapi konkuren Radioterapi definitif - ECOG 3 Radioterapi paliatif Kemoterapi dosis tunggal Perawatan suportif o M1 - ECOG 0-1 Platinum + 5FU + cetuximab Kemoterapi kombinasi lainnya Kemoterapi dosis tunggal
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 5 Pembedahan atau radioterapi atau kemoterapi diikuti radioterapi pada pasien dengan metastasis terbatas Perawatan suportif - ECOG 2 Kemoterapi dosis tunggal Perawatan suportif - ECOG 3 Perawatan suportif o T4 : dipertimbangkan kemoradiasi (bila ada keterlibatan tulang, maka diperlukan reseksi). o Angka kontrol lokoregional untuk 5 tahun adalah 91%. Angka harapan hidup (5 tahun). yaitu stadium I,II (60-75%); stadium III,IV (25-40%). b. Neoplasma dasar mulut Seorang laki-laki, 60 tahun datang ke poli THT dengan keluhan benjolan di dasar mulut sejak 4 bulan lalu. Benjolan semakin lama semakin besar sampai berukuran telur puyuh. Benjolan pada awalnya tidak nyeri namun seiring bertambah besarnya ukuran benjolan, maka benjolan dirasakan nyeri oleh pasien. Tidak didapatkan benjolan pada leher pasien. Pasien kemudian berobat ke rumah sakit setempat. Diskusi : x Anatomi, fisiologi, dan histologi dasar mulut x Etiopatogenesis terjadinya neoplasma dasar mulut x Tipe neoplasma dasar mulut x Prosedur diagnosis x Rencana penatalaksanaan Jawaban: x Anatomi Dasar mulut merupakan salah satu komponen dari rongga mulut yang terletak di dalam alveolar ridge inferior. Struktur ini berbentuk seperti tapal kuda, mulai dari posterior gigi seri dan memanjang secara bilateral ke pilar tonsil anterior. Mukosa yang melapisi dasar mulut dibentuk oleh lapisan tipis dari epitel skuamous bertingkat dengan fleksibilitas yang tinggi. Kelenjar saliva banyak ditemukan pada bagian ini, mencakup kelenjar saliva minor, kelenjar sublingual, dan komponen duktus dari kelenjar submandibula, yaitu duktus Wharton yang bermuara pada kedua sisi dari frenulum sublingual. Vaskularisasi dasar mulut diberikan oleh arteri lingualis, sedangkan inervasinya oleh serabut syaraf trigeminus cabang ketiga melalui nervus lingualis. Drainase dari sistem limfatik akan mengalir secara bilateral pada bagian superfisial, dimana pada bagian yang lebih dalam drainasenya akan mengalir ke level IA, IB, dan II secara ipsilateral. Otot yang terdapat pada area ini terdiri dari otot geniohyoid, genioglossus, dan mylohyoid. x Etiopatogenesis Faktor penyebab adalah merokok, mengunyah tembakau, penyalahgunaan alkohol (terutama bila dikombinasi dengan merokok), trauma kronik karena pemasangan gigi palsu. Juga berhubungan dengan fibrosis submukosa, kandidiasis hiperplastik atau sindroma Plummer Vinson. Mukosa bukal dan komisura oral adalah tempat tersering. Dapat juga mengenai dasar rongga mulut, lidah, sulkus bukoginggiva dan permukaan mukosa bibir. Paling sering pada usia dekade keempat, dengan insiden pada laki-laki 2-3 kali lebih sering dibandingkan pada wanita.
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 6 Secara klinis ada beberapa tipe, yaitu: 1. Homogen: Tampak sebagai selaput putih licin atau berkerut; 2. Nodular: Tampak sebagai selaput putih atau nodul dengan dasar eritema; 3. Erosif (eritroleukoplakia): Terdapat erosi dan fisura. Sekitar 25% leukoplakia menunjukkan bentuk displasia epitel ringan sampai berat. Derajat displasia yang lebih berat akan berubah menjadi malignansi. Perubahan ini terjadi sekitar 1-17,5% (5%) kasus. Potensi menjadi maligna tergantung pada predileksi, tipe leukoplakia dan durasi evaluasi. Gambar 1. Dasar mulut dan struktur penunjangnya x Tipe Lesi Premaligna Leukoplakia Definisi leukoplakia menurut WHO adalah suatu selaput putih yang tidak dapat dibedakan secara klinis atau patologis dari penyakit lainnya. Lesi lain dalam rongga mulut yang menjadi pengecualian, antara lain: Lichen planus, discoid lupus erythromatosus, white spongy nevus dan kandidiasis Eritroplakia Merupakan suatu selaput berwarna merah pada permukaan mukosa. Warna merah disebabkan penurunan keratinisasi dan hasil dari jaringan ikat vaskular berwarna merah dari alveolar bagian bawah, sulkus bukoginggiva dan dasar rongga mulut. Eritroplakia paling banyak terdapat pada displasia berat, karsinoma in situ atau karsinoma invasif murni saat pertama kali terlihat. Peluang terjadinya keganasan bila terdapat lesi ini adalah 17 kali lebih tinggi dari leukoplakia. Secara makroskopis, lesi terdiri dari tiga jenis, yaitu homogen, granular dan eritroplakia, yang diselingi oleh area leukoplakia (sering sulit dibedakan dengan erileukoplakia, tipe dari leukoplakia). Melanosis dan Hiperpigmentasi Mukosa Lesi jinak berpigmen dari mukosa mulut yang berubah bentuk menjadi melanoma maligna. Insidensinya tidak diketahui. Sekitar satu perempat dari mukosa melanoma dapat berasal dari lesi jinak dan biopsi sangat dianjurkan. Neoplasma Dasar Mulut Neoplasma dasar mulut menyumbangkan sebanyak 16% dari neoplasma pada rongga mulut. Sebagian besar dari neoplasma dasar mulut merupakan KSS sebanyak 75% neoplasma pada dasar mulut. Jenis kelamin pria relatif lebih banyak menderita penyakit ini dibandingkan wanita. Faktor risiko terjadinya adalah
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 7 tembakau, alkohol, imunosupresi dan kebersihan mulut yang buruk. Terjadinya neoplasma pada dasar mulut diduga karena area ini merupakan daerah yang paling sering kontak dengan berbagai makanan dan minuman yang masuk ke mulut sebelum ditelan, termasuk zat karsinogen yang mungkin terkandung didalamnya. Secara histologi, neoplasma invasi > 2-4mm berhubungan dengan tingginya angka metastasis regional, rekurensi dan mortalitas. Invasi perineural pada tempat primer adalah indikator lain peningkatan rekurensi dan mortalitas. x Tatalaksana (NCCN 2020) Penatalaksanaan untuk berdasarkan derajat klinis: a. T1-T2, N0 x Reseksi primer diikuti atau tanpa diseksi leher ipsilateral atau bilateral x Reseksi primer diikuti atau tanpa biopsi sentinel x Radioterapi definitif b. T3, N0 atau T1-3, N1-3 atau T4a Pembedahan x N0, N1, N2a-b, N3 Reseksi primer diikuti diseksi leher ipsilateral atau bilateral x N2c Reseksi primer diikuti diseksi leher bilateral c. T4b atau nodus yang tak dapat direseksi atau tidak memungkinkan dioperasi x ECOG 0-1 o Kemoterapi dan radioterapi konkuren o Induksi kemoterapi diikuti dengan radioterapi x ECOG 2 o Kemoterapi dan radioterapi konkuren o Radioterapi definitif x ECOG 3 o Radioterapi paliatif o Kemoterapi dosis tunggal o Perawatan suportif d. M1 x ECOG 0-1 o Platinum + 5FU + cetuximab o Kemoterapi kombinasi lainnya o Kemoterapi dosis tunggal o Pembedahan atau radioterapi atau kemoterapi diikuti radioterapi pada pasien dengan metastasis terbatas o Perawatan suportif x ECOG 2 o Kemoterapi dosis tunggal o Perawatan suportif x ECOG 3 o Perawatan suportif e. T4 : dipertimbangkan kemoiradiasi (bila ada keterlibatan tulang, maka diperlukan reseksi).
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 8 Angka ketahanan hidup 5 tahun berkisar antara 90% pada stadium I, 80% pada stadium II, 65% pada stadium III, dan 30% pada stadium IV. Pada tahap awal, neoplasma ini biasanya asimptomatik. Namun, seiring dengan perkembangan ukurannya, maka dapat ditemukan gejala nyeri, perdarahan, dan obstruksi duktus submandibula. Otot mylohyoid dan periosteum mandibular berperan sebagai penghambat terjadinya penyebaran neoplasma. Pada lesi invasif, maka tindakan mandibulektomi segmental maupun marginal dapat dipertimbangkan untuk dilakukan. Keterlibatan dasar lidah memerlukan glosektomi parsial, sedangkan bila neoplasma mengenai kelenjar submandibula maka reseksi primer terhadap kelenjar dan jaringan neoplasma sebaiknya dilakukan. Defek berukuran kecil pasca operasi dapat ditutup oleh tandur kulit split thickness. Tetapi, apabila defek mencapai ukuran 2 cm atau lebih, maka pemakaian flap dapat dipertimbangkan, seperti flap submental, flap nasolabial, flap platysma, dan flap pektoralis. Sementara bila dibutuhkan rekonstruksi vaskular yang besar, maka flap radialis lengan dan flap anterolateral paha merupakan pilihan yang terbaik. Mandibulektomi marginal maupun segmental diindikasikan pada neoplasma yang telah mendestruksi tulang mandibula. Pada mandibulektomi marginal, maka korteks luar atau tulang mandibula harus dipertahankan atau sekitar 1 cm dari ketebalan tulang mandibula. Sementara bila ditemukan indikasi untuk melakukan mandibulektomi segmental, maka defek tulang sebaiknya disambungkan oleh reconstruction bar atau penggunaan tandur tulang dari fibula, radius, skapular, dan iliaka. Sementara defek kulit dan mukosa dapat ditutup dengan flap yang disebutkan di atas. c.Neoplasma mukosa bukal Seorang Perempuan, 65 tahun datang ke poli THT dengan keluhan sariawan yang tidak sembuh sembuh pada pipi kanan sejak 3 bulan lalu. Pasien biasa mengkonsumsi pinang/menyirih, tidak ada wajah mencong pasien kemudian berobat ke rumah sakit setempat. Diskusi : x Anatomi rongga mulut x Etiopatogenesis terjadinya neoplasma mukosa buccal x Tipe neoplasma mukosa buccal x Prosedur diagnosis x Rencana penatalaksanaan Jawaban: x Rongga mulut yang disebut juga rongga bukal, dibentuk secara anatomis oleh pipi, palatum keras, palatum lunak, dan lidah. Pipi membentuk dinding bagian lateral masing - masing sisi dari rongga mulut. Pada bagian eksternal dari pipi dilapisi oleh kulit. Sedangkan pada bagian internalnya dilapisi oleh membran mukosa, yang terdiri dari epitel pipih berlapis yang tidak terkeratinasi. Otot-otot businator (otot yang menyusun dinding pipi) dan jaringan ikat tersusun di antara kulit dan membran mukosa dari pipi. Bagian anterior dari pipi berakhir pada bagian bibir
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 9 x Etiopatogenesis x Etiopatogenesis Alkohol dan rokok merupakan 2 hal yang selalu di kaitkan dengan perkembangan neoplasma bukal. Walaupun alkohol sendiri bukan merupakan faktor resiko yang cukup kuat. Kombinasi alkohol dan rokok secara sinergis dapat meningkatkan resiko terjadinya neoplasma bukal. Di Asia kebiasaan mengunyah pinang menjadi faktor resiko tertinggi, bahkan di India >90% penderita neoplasma mukosa bukal berhubungan dengan mengunyah pinang. Etiologi lainnya termasuk human papilloma virus, buruknya kebersihan mulut dan iritasi kronis. x Tipe neoplasma mukosa bukal KSS bukal terjadi pada 5% sampai 10% kanker rongga mulut di Amerika Serikat. x Prosedur Diagnosis Diagnosis di tegakkan berdasarkan anamnesis, sariawan yang tidak sembuh- sembuh, sejak 3 bulan yang lalu, riwayat menyirih, Pada pemeriksaan fisik di dapatkan, tampak lesi ukuran 2,5 cm, pada pemeriksaan kgb tidak terdapat pembesaran kgb Selanjutnya dilakukan biopsi, untuk mengetahui jenis tumor. Juga dilakukan pemeriksaan penunjang, laboratorium, radiologis, USG hingga CT Scan untuk mengetahui penyebaran tumor, pasien ini didiagnosis Tumor mukosa bukal T2N0M0
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 10 x Rencana tatalaksana Berdasarkan NCCN 2020, maka tatalaksana yang harus dilakukan, definitif radioterapi atau transoral/operasi terbuka. Bila terdapat sisa tumor maka di teruskan dengan operasi, begitu pula sebaliknya. Jika setelah operasi masih ada sisa tumor dilanjutkan dengan radioterapi. d. Neoplasma palatum Seorang laki-laki, 58 tahun datang ke klinik THT dengan keluhan benjolan dilangit-langit sejak 4 bulan lalu. Benjolan semakin lama semakin besar. Benjolan pada awalnya tidak nyeri namun seiring bertambah besarnya ukuran maka benjolan dirasakan nyeri oleh pasien. Tidak didapatkan benjolan pada leher pasien. Pasien kemudian berobat ke rumah sakit setempat. Diskusi : x Anatomi, fisiologi, dan histologi palatum x Etiopatogenesis terjadinya neoplasma palatum x Tipe neoplasma palatum x Prosedur diagnosis x Rencana penatalaksanaan Jawaban: x Anatomi Palatum durum merupakan suatu tulang tipis yang dilapisi oleh mukosa pada kedua sisi permukaan rongga mulut dan cavum nasi. Sepasang prosesus palatina pada maksila memanjang ke molar posterior kedua dan membentuk kubah palatum durum. Pada bagian posterior dari kedua prosesus horizontalis os palatina akan keluar nervus dan arteri palatina mayor melalui foramen palatina mayor. Penyebaran neoplasma pada palatum dapat melalui foramen yang berada di palatum durum, seperti foramen palatina mayor, palatina minor, dan foramen insisivus. Selain itu, pada mukosa palatum durum terdapat banyak kelenjar salivarius minor Aliran limfatik pada palatum durum mengalir ke KGB level I dan II serta KGB di retrofaring dan perifasial. x Etiopatogenesis Faktor predisposisi terjadinya karsinoma palatum ialah 75% dengan riwayat konsumsi rokok dan alkohol. Beberapa penelitian terbaru menyakini keterlibatan Human Papilloma Virus (HPV) sebagai salah satu faktor etiologi karsinoma pada rongga mulut. x Tipe Neoplasma palatum merupakan salah satu kasus KSS yang paling sering terjadi di rongga mulut. Namun, angka kejadian KSS pada palatum hampir setara dengan kejadian neoplasma kelenjar salivarius minor di palatum, yakni sebesar 50%. Neoplasma lain yang dapat berasal dari palatum adalah adenoid cystic carcinoma, polymorphous low-grade adenocarcinoma, dan mucoepidermoid carcinoma. x Diagnosis Keluhan yang sering dirasakan oleh pasien ialah sariawan berulang di langit- langit, luka menggaung (ulkus), dan benjolan yang menetap di langit-langit.
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 11 Keluhan penyerta seperti halitosis, penurunan berat badan, suara sengau serta odinofagia dapat dikeluhkan oleh pasien. Manifestasi klinis pada stadium dini karsinoma palatum adalah gambaran plak putih (leukoplakia), gambaran plak kemerahan (eritroplakia). Pada stadium lanjut ditemukan ulserasi hingga massa padat. Neoplasma palatum jarang bermanifestasi ke KGB. Pemeriksaan yang dapat dilakukan meliputi pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah CT Scan, MRI, maupun PET Scan. Pada karsinoma palatum, pemeriksaan CT scan akan lebih bermakna untuk melihat kerusakan tulang dibanding dengan MRI. Pada stadium lanjut dengan neoplasma yang sangat luas, PET Scan dapat lebih membantu. Lokasi metastase paling sering dari neoplasma palatum adalah paru, sehingga pemeriksaan rontgen toraks menjadi penting untuk melihat penyebaran ke organ tersebut. Pemeriksaan laboratorium darah dapat dilakukan untuk persiapan operasi meliputi darah rutin, dan faal hemostasis. Pemeriksaan histopatologi dapat dilakukan dengan biopsi pada lokasi primer lesi. x Tatalaksana Lesi awal di palatum paling sering mengenai tulang di atasnya dan tatalaksanan terbaik adalah dengan tindakan operasi. Reseksi transoral meliputi alveolektomi atau maksilektomi inferior serta palatektomi. Rekonstruksi fistula oroantral yang terjadi setelah reseksi dapat dilakukan dengan pemasangan prostesis palatal setelah pemasangan tampon pada sinus maksilaris. Pada defek yang luas atau defek mengenai premaksila dilakukan rekonstruksi premaksila dengan tujuan menjaga kontur wajah dan mencegah erosi prostesis. Seringkali kombinasi free flap dengan prostesis memberikan hasil kosmetik serta fungsional yang baik pada defek palatum durum. Aliran limfatik pada palatum durum mengalir ke KGB level I dan II serta KGB di retrofaring dan perifasial. Pada karsinoma palatum, metastase ke KGB jarang terjadi sehingga diseksi leher elektif jarang dilakukan. Pada beberapa studi dikatakan karsinoma palatum memiliki angka rekurensi lokoregional yang cukup tinggi, yakni sekitar 30%. Sebagai kontrol lokoregional, dapat dilakukan tatalaksana elektif pada leher baik operasi maupun radiasi. Radiasi merupakan modalitas kedua tatalaksana karsinoma palatum setelah operasi. Dosis radiasi yang diberikan berkisar 66 ± 70 Gy dengan dosis terfraksinasi 2 Gy per hari. G. TUJUAN PEMBELAJARAN a. Tujuan pembelajaran umum Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan mampu untuk melakukan anamnesis, pemeriksaan fisis, pemeriksaan penunjang, operasi dan membuat keputusan panatalaksanaan neoplasma rongga mulut ? b. Tujuan pembelajaran khusus 1. Menjelaskan anatomi, fisiologi, dan histologi dari rongga mulut mulut (tingkat kompetensi K4, A4) 2. Menjelaskan etiologi, macam-macam kelainan, precancerous lesions dan pencegahan neoplasma rongga mulut (tingkat kompetensi K4, A4) 3. Menjelaskan etiopatogenesis, gambaran klinik dari neoplasma rongga mulut (tingkat kompetensi K4, A4)
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 12 4. Menjelaskan lokasi tumor lidah dan penatalaksanaannya. (tingkat kompetensi K4, A4) 5. Mengetahui terdapatnya metastasis pada organ lain akibat neoplasma rongga mulut (tingkat kompetensi K4, A4) 6. Menjelaskan tindakan operasi, rekonstruksi terhadap neoplasma rongga mulut, terapi lanjutan pasca tindakan (radioterapi, kemoterapi). (tingkat kompetensi K4, A4 , P2) 7. Melakukan tindakan operasi Total Glosectomi dan Parsial Glosectomi neoplasma rongga mulut. (tingkat kompetensi K4, A4 , P2) 8. Melakukan tindakan operasi Ekstirpasi neoplasma palatum dan biopsi neoplasma lidah (tingkat kompetensi K4, A4 , P4) 9. Melakukan evaluasi selanjutnya pada neoplasma rongga mulut pasca operasi. (tingkat kompetensi K4, A4) H. METODE PEMBELAJARAN Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan mempunyai kemampuan dasar untuk menegakkan diagnosis tumor telinga? dan mampu untuk menentukan terapi yang sesuai. Tujuan 1. Menjelaskan anatomi, fisiologi, dan histologi rongga mulut Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Interactive lecture x Small group discussion. Harus diketahui: x Anatomi dan histologi rongga mulut x Fisiologi deglutasi Tujuan 2. Menjelaskan etiologi, macam-macam kelainan, precancerous lesions dan pencegahan neoplasma rongga mulut Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Interactive lecture x Journal reading and review. x Small group discussion Harus diketahui: x Etiologi dan macam-macam kelainan neoplasma rongga mulut x Lesi premaligna x Pencegahan neoplasma rongga mulut Tujuan 3. Menjelaskan etiopatogenesis, gambaran klinik dari neoplasma rongga mulut x Interactive lecture x Journal reading and review. x Small group discussion
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 13 Harus diketahui: x Etiopatogenesis x Gambaran klinik neoplasma rongga mulut Tujuan 4. Menjelaskan lokasi neoplasma rongga mulut dan penatalaksanaannya Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Interactive lecture x Journal reading and review. x Small group discussion x Practice with real client Harus diketahui: x Lokasi neoplasma rongga mulut (berdasarkan NCCN 2020) x Jenis tatalaksana yang direkomendasikan Tujuan 5. Mengetahui terdapatnya metastasis pada organ lain akibat neoplasma rongga mulut Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Interactive lecture x Journal reading and review. x Small group discussion Harus diketahui: x Pemeriksaan penunjang yang diperlukan (berdasarkan NCCN 2015) Tujuan 6. Menjelaskan tindakan operasi, rekonstruksi terhadap neoplasma rongga mulut, terapi lanjutan pasca tindakan (radioterapi, kemoterapi) Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Interactive lecture x Journal reading and review. x Morbidity and Mortality Case study x Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device). x Operative Procedure Demonstration and Coaching (video operasi) x Practice with Real Clients. x Continuing Professional Development Harus diketahui: x Tindakan operasi x Rekonstruksi x Radioterapi dan kemoterapi
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 14 Tujuan 7. Melakukan tindakan operasi neoplasma rongga mulut Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Interactive lecture x Journal reading and review. x Morbidity and Mortality Case study x Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device). x Cadaveric dissection x Operative Procedure Demonstration and Coaching x Practice with Real Clients. x Continuing Professional Development Harus diketahui: x Tindakan operasi dan anatomi Tujuan 8: Melakukan tindakan operasi ekstirpasi neoplasma palatum dan biopsy neoplasma lidah Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Interactive lecture x Journal reading and review. x Morbidity and Mortality Case study x Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device). x Cadaveric dissection x Operative Procedure Demonstration and Coaching x Practice with Real Clients. x Continuing Professional Development Harus diketahui: x Tindakan operasi dan anatomi Tujuan 9: Melakukan evaluasi selanjutnya pada neoplasma rongga mulut pasca operasi Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Interactive lecture x Journal reading and review. x Morbidity and Mortality Case study x Practice with Real Clients. x Continuing Professional Development I. EVALUASI 1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre test dalam bentuk essay dan oral / lisan sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengindentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri atas:
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 15 - Anatomi, fisiologi dan histopatologi rongga mulut - Penegakan diagnosis (PA, sistem staging) - Tatalaksana (operasi, rekonstruksi, radiasi, kemoterapi) - Evaluasi 2. 6HODQMXWQ\D GLODNXNDQ ³6PDOO JURXS GLVFXVVLRQ´ EHUVDPD GHQJDQ IDVLOLWDWRU XQWXN membahas kekurangan yang terindentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian 3. Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk mengaplikasikan lengkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk role play dan teman-temannya (Peer Assisted Evaluation) atau kepada SP (Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assisted Evaluation) setelah dianggap memadai, melalui metode bedside teaching dibawah pengawasan fasilitator, peserta dididik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut: - Perlu perbaikan: pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan - Cukup: pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien - Baik : pelaksanaan benar dan baik (efisien) 4. Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberik masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan 5. Self assestment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar 6. Pendidik/fasilitas: - Pengamatan langsung dengan memakai evaluation chacklist form (terlampir) - Penjelasan lisan dari peserta didik/diskusi - Kriteria penilaian keseluruhan: cakap/tidak cakap/lalai 7. Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja ( task-based medical education) 8. Pencapaian pembelajaran: - Ujian OSCE (K,P,A), dilakukan oleh kolegium Ilmu Kesehatan THTKL - Ujian akhir stase, setiap divisi/unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan THTKL. - Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan oleh kolegium Ilmu Kesehatan THTKL 9. Perlu perbaikan: pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan Cukup: pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien Baik : pelaksanaan benar dan baik (efisien)
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 16 J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF A. Kuesioner Sebelum Pembelajaran (Pre Test) Soal: 1. Jenis keganasan yang paling sering pada lidah A. Karsinoma sel skuamosa B. Karsinoma sel basal C. Adenocarcinoma D. Limfoma E. Adenoma pleomorfik Jawaban: A 2. Faktor resiko yang mendasari terjadinya keganasan pada lidah adalah A. Tembakau B. Alkohol C. Imunosupresi D. Oral hygiene yang buruk E. Semua benar Jawaban: E 3. Gejala lanjut pada pasien dengan keganasan pada lidah adalah A. Fiksasi lidah B. Penurunan sensasi lidah C. Perubahan suara dan gangguan menelan D. Limfadenopati servikal. E. Semua benar Jawaban : E 4. Soal: Sebagian besar dari keganasan yang terdapat pada daerah dasar mulut merupakan karsinoma sel skuamosa. Etiologi mendasari terjadinya kelainan tersebut adalah... A. Alkohol B. Tembakau C. Infeksi HPV D. Trauma E. Semua Benar Jawaban : E 5. Apakah predisposisi utama terjadinya neoplasma mukosa bukal? a) Alkohol dan rokok b) Pasta gigi c) Karies dentis d) Kebiasaan mengunyah pinang e) Makanan berpengawet
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 17 Jawaban : A 6. Jenis tumor apa yang sering menyerang mukosa bukal a) Karsinoma sel squamous b) Basal sel carcinoma c) Mucosal melanoma d) Spindel sel carcinoma e) Kaposi sarcoma Jawaban : A 7. Gejala klinis yang dapat ditemui pada fase lanjut, kecuali? a) Sariawan b) Trismus c) Gigi Tanggal d) Rasa Penuh pada satu sisi wajah e) Ulserasi pada kulit Jawaban : A 8. Apakah jenis neoplasma terbanyak di palatum? a) Adenoid cystic carcinoma b) Karsinoma mucoepidermoid c) Adenokarsinoma d) Karsinoma sel skuamosa e) Basalioma Jawaban : D. Karsinoma sel skuamosa 9. Manisfestasi klinis yang dijumpai pada stadium dini adalah a. Leukoplakia dan eritroplakia b. Pembesaran KGB c. Disfagia d. Dispnea e. Epistaksis Jawaban : A. Leukoplakia dan eritroplakia 10. Apakah pemeriksaan penting untuk menegakkan diagnosis neoplasma palatum a. Ct Scan b. MRI c. Open Biopsy d. FNAC e. Serologi sputum Jawaban : C. Open Biopsy
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 18 B. Kuesioner Tengah Pembelajaran Soal : Seorang laki-laki, 48 tahun datang ke poli THTKL dengan keluhan benjolan di lidah sejak 6 bulan lalu. Anamnesis: timbul benjolan di lidah kanan sejak 6 bulan yang lalu, Lidah pasien masih dapat digerakkan dengan mudah, keluhan sesak napas disangkal, sulit menelan (-). Pemeriksaan fisik: kesadaran : compos mentis (GCS E4M6V5), tekanan darah 120/80 mmHg, Nadi 85 kali/menit, pernapasan : 21 kali/menit, suhu : 36,7 0 C. Status lokalis : pemeriksaan telinga, hidung, dan tenggorok tidak ditemukan kelainan. Pada lidah tampak massa di lidah kanan, ukuran + 5 cm, permukan tidak rata. Timbul benjolan dileher kanan 4x3x2cm. Pasien kemudian dibiopsi, dan hasilnya adalah suatu karsinoma sel skuamosa. 1. Pada pemeriksaan fisik apa yang mungkin dapat ditemukan pada pasien ini. A. Leukoplakia B. Eritroplakia C. Ulkus D. Fisura E. Semua benar Jawaban: E 2. Gejala lanjut yang mungkin dapat ditemukan antara lain, kecuali.. A. fiksasi lidah B. penurunan sensasi lidah C. perubahan suara D. gangguan menelan E. eritroplakia Jawaban: E 3. Apa tatalaksana selanjutnya terhadap pasien ini? A. Radioterapi B. Kemoterapi C. Glosektomi total D. Glosektomi parsial diikuti diseksi leher dan radioterapi E. Kemoradiasi konkuren Jawaban: D 4. Seorang pasien datang ke tempat praktik anda dengan keluhan benjolan pada dasar mulut yang berukuran 2 cm dan terasa nyeri saat pasien mengunyah serta kadang-kadang berdarah. Pasien juga mengeluh adanya benjolan pada kedua sisi lehernya yang berukuran 3 cm. Pasien juga datang dengan membawa hasil biopsi pada dasar mulut yang hasilnya adalah suatu adenokarsinoma, serta pemeriksaan thoraks dan abdomen yang tidak
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 19 menunjukkan adanya metastasis dari neoplasma. Menurut penilaian saudara, pasien tersebut menderita suatu keganasan dasar mulut dengan stadium? A. Stadium I B. Stadium II C. Stadium III D. Stadium IV A E. Stadium IV B Jawaban : D 5. Seorang pasien wanita berusia 70 tahun datang ke praktek saudara dengan keluhan timbul sariawan pada pipi kiri,yang tidak sembuh sembuh. Pada pemeriksaan fisik, status generalis dalam batas normal, pada pemeriksaan telinga hidung dan teggorokan dalam batas normal. Pada status lokalis didapatkan lesi sariawan kemerahan pada region bukal sinistra dengan ukuran 2,5 x 1 cm x 0,3 cm tidak terasa nyeri, pasien dengan riwayat menyirih, (kebiasaan orang tua jaman dahulu, mengunyah sirih dengan kapur dan pinang), pasien tidak mengeluhkan benjolan disekitar leher. Setelah dilakukan pemeriksaan lanjutan, didapatkan hasil karsinoma sel squamous, dari hasil pemeriksaan rontgen thoraks dan usg abdomen tidak didapatkan nodul metastase, berdasarkan data diatas, apakah kemungkinan staging pasien tersebut berdasarkan NCCN 2015 a) T1N0MO b) T2N0M0 c) T3N0M0 d) T1N1M0 e) T2N1M0 Jawaban : B 6. Apakah modalitas utama pada kasus diatas a) Kemoterapi b) Operasi c) Radioterapi d) Medikamentosa e) Fisioterapi Jawaban : B Seorang laki-laki berusia 56 tahun datang ke klinik THT dengan keluhan utama benjolan di langit-langit sejak 3 bulan yang lalu. Anamnesis : Benjolan di langit-langit sejak 3 bulan yang lalu. Benjolan dirasakan menetap dan bertambah besar tanpa disertai nyeri. Pasien tidak mengeluhkan sakit menelan, sulit menelan, maupun benjolan di leher. Pemeriksaan fisik : kesadaran : compos mentis (GCS E4M6V5), tekanan darah 120/80 mmHg, Nadi 88 kali/menit, pernapasan : 20 kali/menit, suhu : 36,6 0 C. Status lokalis : pemeriksaan telinga, hidung, dan tenggorok tidak ditemukan kelainan. Pada regio
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 20 palatum tampak massa di midline palatum durum, soliter, ukuran 3x3x2 cm, teraba keras, permukaan berdungkul-dungkul, nyeri tekan (-), dan fluktuasi (-). 7. Pemeriksaan radiologi apa yang digunakan untuk menunjang penegakan diagnosis pada kasus di atas : a. MRI b. CT Scan c. Rontgen soft tissue cervical d. Rontgen cranium e. USG Jawaban : B. CT-Scan 8. Pemeriksaan lanjutan apa yang diperlukan untuk menentukan jenis tumor : a. Open Biopsy palatum b. Aspirasi jarum halus c. Swab orofaring d. Biopsi jarum halus e. Serologi sputum Jawaban : A. Open Biopsy Palatum C. Kuesioner Akhir Pembelajaran Soal: Seorang laki-laki, 52 tahun datang ke poli THTKL dengan keluhan benjolah di lidah kiri 3,5cm sejak 4 bulan lalu Anamnesis: timbul benjolan di lidah kiri sejak 4 bulan yang lalu. Lidah pasien masih dapat digerakkan, keluhan sesak napas disangkal, sulit menelan (-). Pemeriksaan fisik: kesadaran : compos mentis (GCS E4M6V5), tekanan darah 110/60 mmHg, Nadi 81 kali/menit, pernapasan : 21 kali/menit, suhu : 36,7 0 C. Status lokalis : pemeriksaan telinga, hidung, dan tenggorok tidak ditemukan kelainan. Pada lidah tampak massa di lidah kiri, ukuran + 3,5 cm, permukan tidak rata. benjolan dileher kiri 2x2x1cm Pasien kemudian dibiopsi, dan hasilnya adalah suatu karsinoma sel skuamosa. 1. Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis pasien ini, kecuali.. A. Rontgen cranium B. USG Abdomen C. Rontgen thorax D. Echocardiografi E. Audiometri Jawaban: A 2. Jika bagian 2/3 posterior lidah dan dasar lidah sudah terkena maka.. A. Prognosa baik B. Prognosa buruk
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 21 C. Daerah lesi tersering D. Oral hygiene buruk E. Stadium dini Jawaban : B 3. Apa tatalaksana selanjutnya terhadap pasien ini? A. Radioterapi B. Kemoterapi C. Glosektomi total D. Glosektomi parsial diikuti diseksi leher dan radioterapi E. Kemoradiasi konkuren Jawaban: D 4. Seorang pasien datang ke tempat praktik saudara dengan keluhan benjolan pada dasar mulutnya yang muncul pertama kali pada 6 bulan yang lalu dan semakin lama semakin besar sampai berukuran sebesar telur ayam. Pasien mengalami kesulitan dalam menelan dan terkadang tersedak saat makan. Pasien juga mengeluhkan adanya beberapa benjolan pada sisi kanan leher yang kadang- kadang berdarah. Benjolan pada dasar mulut pasien kemudian dibiopsi, dan hasilnya adalah suatu karsinoma sel skuamosa. Dari pemeriksaan abdomen, tampak kista pada pole atas ginjal kiri, dan jaringan parenkim yang inhomogen pada hepar disertai dengan bentukan nodul. Saat dilakukan pemeriksaan darah didapatkan SGOT dan SGPT pasien dengan nilai berturut-turut 39 dan 41 IU. Data pemeriksaan lainnya menunjukkan hasil yang normal. Apa saja pertimbangan tatalaksana pasien oleh saudara kecuali? A. 4 siklus kemoterapi dengan regimen platinum dan taxane diikuti dengan radioterapi dengan fraksinasi konvensional B. Kemoterapi dengan menggunakan cisplatin, 5-FU, paclitaxel bersama dengan radioterapi sebesar 2 Gy sebanyak 35 kali pemberian C. Radioterapi definitif sebesar 1.8 Gy (dua kali sehari) selama 7 minggu D. Radioterapi definitif sebesar 54-63 Gy E. Konsul bagian bedah urologi mengenai kista pole ginjal kiri Jawaban : dihapuskan (krn tidak sesuai metode)? Seorang pasien datang ke tempat praktik saudara dengan keluhan sariawan pada pipi kiri yang menggaung sejak 4 bulan yang lalu, sejak 1 bulan yang lalu pasien mengeluh timbul benjolan kecil pada rahang bawah kiri sebesar kelereng, benjolan tidak nyeri dan sewarna kulit. Pemeriksaan fisik : kesadaran : compos mentis (GCS E4M6V5), tekanan darah 120/80 mmHg, Nadi 88 kali/menit, pernapasan : 20 kali/menit, suhu : 36,6 0 C. Status lokalis : pemeriksaan telinga, hidung, dan tenggorok tidak ditemukan kelainan. Pada regio bukal sinistra didapatkan lesi kemerahan berukuran 3x2x1 cm, tidak terasa nyeri dan menggaung, tampak benjolan pada rahang bawah kiri berukuran 1x1x1,5 cm, terfiksir, tidak nyeri dan sewarna kulit.Pada pemeriksaan rontgen thorax dan usg abdomen tidak ditemukan adanya nodul metastasis
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 22 5. Jelaskan sistem staging berdasarkan NCCN 2015 (2020) a) T2N1M0 b) T1N1M0 c) T3N0M0 d) T3N1M0 e) T2N0MO Jawaban : A 6. Jenis operasi apa yang anda akan lakukan pada pasien ini a) Eksisi trans oral diikuti dengan skin graft dan neck diseksi bilateral b) Eksisi trans oral diikuti dengan skin graft dan neck diseksi ipsilateral c) Eksisi trans servical diikuti dengan skin graft dan neck diseksi bilateral d) Eksisi trans servical diikuti dengan skin graft dan neck diseksi ipsilateral e) Mandibulektomi Jawaban : A Seorang laki-laki berusia 48 tahun datang ke klinik THT dengan keluhan utama benjolan di langit-langit sejak 5 bulan yang lalu. Anamnesis : Benjolan di langit-langit sejak 5 bulan yang lalu. Benjolan dirasakan menetap dan bertambah besar disertai nyeri menelan. Pasien tidak mengeluhkan sulit menelan, maupun benjolan di leher. Pemeriksaan fisik : kesadaran : compos mentis (GCS E4M6V5), tekanan darah 120/80 mmHg, Nadi 88 kali/menit, pernapasan : 20 kali/menit, suhu : 36,6 0 C. Status lokalis : pemeriksaan telinga, hidung, dan tenggorok tidak ditemukan kelainan. Pada regio palatum tampak massa di midline palatum durum, soliter, ukuran 5x4x2 cm, teraba keras, permukaan berdungkul-dungkul, nyeri tekan (-), dan fluktuasi (-). 7. Berdasarkan Gambaran CT Scan palatum potongan aksial di atas, apakah interpretasi yang dapat disimpulkan dari gambaran di atas? a. Gambaran massa di palatum durum disertai destruksi palatum b. Gambaran massa di palatum durum tanpa destruksi palatum c. Gambaran massa di palatum durum yang meluas ke sinus maksilaris d. Gambaran massa di palatum durum yang meluas ke orofaring
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 23 e. Gambaran massa di palatum durum yang meluas ke parafaring Jawaban : B 8. Pada pemeriksaan histopatologi ditemukan karsinoma sel skuamosa dengan foto toraks tidak dijumpai kelainan. Sebutkan perkiraan staging TNM menurut NCCN 2018 yang paling mungkin ? a. T1N0M0 b. T2N0M0 c. T3N0M0 d. T4N0M0 e. T2N1M0 Jawaban : C 9. Apakah modalitas tatalaksana terbaik pada kasus di atas ? a. Reseksi palatum dengan diseksi leher ipsilateral b. Reseksi palatum tanpa diseksi leher c. Reseksi palatum dengan diseksi leher bilateral d. Radioterapi e. Kemoterap Jawaban : A K. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR GLOSSEKTOMI PARSIAL Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.: 1. Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan) 2. Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal 3. Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan) KEGIATAN NILAI 1 2 3 T/D I PERSIAPAN OPERASI 1. Informed consent 2. Menjelaskan tujuan operasi dan hasil yang diharapkan 3. Menjelaskan prosedur dan standar operasi pada pasien dan keluarganya (site marking)
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 24 KEGIATAN NILAI 1 2 3 T/D 4. Melakukan evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi operasi II PROSEDUR OPERASI 1. Pasien dalam posisi supinasi dan kepala ekstensi dalam anestesi umum dengan nasotracheal tube. 2. Dilakukan tindakan aseptik dan antiseptik dengan alkohol 70% dan dilanjutkan dengan povidone iodine 10% 3. Lidah ditraksi menggunakan DeBakey tang / dijahit kendali 4. Insisi dibuat menggunakan elektrokauter / coblation / harmonic scalpel pada mode pemotongan dan diperdalam melalui mukosa untuk mencakup seluruh lesi dengan setidaknya 1 sampai 1,5 cm dari jaringan fenotip yang normal 5. Dilakukan reseksi baji untuk tumor infiltratif lokal, dan tepi bebas tumor dipastikan dengan frozen section 6. Pembuluh darah harus dikontrol bipolar, atau kauter unipolar tergantung pada ukuran pembuluh darah 7. Penutupan luka dengan flap fasciokutaneus? atau penjahitan langsung, pemasangan NGT bila diperlukan. 8. Operasi selesai III PASCA OPERASI 1. Observasi perdarahan, jumlah cairan pada drain?, tekanan darah, nadi, suhu secara teratur 2. Pemberian antibiotika PROSEDUR EKSTIRPASI NEOPLASMA PALATUM Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.: 1. Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan) 2. Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal 3. Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 25 KEGIATAN NILAI 1 2 3 T/D I PERSIAPAN OPERASI 1. Informed consent 2. Menjelaskan tujuan operasi dan hasil yang diharapkan 3. Menjelaskan prosedur dan standar operasi pada pasien dan keluarganya 4. Melakukan evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi operasi, pertimbangkan untuk persiapan obturator bila diperlukan/ protesa II PROSEDUR OPERASI 1. Pasien dalam posisi supinasi 2. Dilakukan tindakan aseptik dan antiseptik dengan alkohol 70% dan dilanjutkan dengan povidone iodine 10% 3. Dilakukan tindakan anestesi umum dengan pemasangan endotracheal tube 4. Dilakukan insisi pada area sekitar neoplasma dengan margin 1-2 cm di sekitar neoplasma. 5. Dilakukan ekstirpasi neoplasma, dan pastikan batas tepi bebas tumor berdasarkan pemeriksaan frozen section 6. Dilakukan penjahitan penutupan mukosa dengan menggunakan benang 3.0, dan pemasangan NGT bila diperlukan 7. Operasi selesai III PASCA OPERASI 1. Observasi perdarahan, tekanan darah, nadi, suhu secara teratur 2. Pemberian antibiotika dilakukan sampai hari ketiga pasca operasi 3. Kontrol pasca operasi dilakukan pada hari ke-7 pasca operasi PROSEDUR BIOPSI NEOPLASMA LIDAH Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.: 1 Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan) 2 Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal 2 Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 26 KEGIATAN NILAI 1 2 3 T/D PERSIAPAN OPERASI 1. Informed consent 2. Menjelaskan tujuan operasi dan hasil yang diharapkan 3. Menjelaskan prosedur dan standar operasi serta kemungkinan resiko pada pasien dan keluarganya 4. Melakukan evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi operasi PROSEDUR OPERASI 1. Persiapan alat: a. Local anesthetic equipment b. Sterile scalpel blades no. 15. c. Scalpel handle. d. Surgical scissor with point tips e. Fine tissue forceps f. Small hemostat g. Gauze sponges (suction, if necessary) h. Needle holder DeBekay, Sarot. i. Deschamp ligature needle, blunt. j. Jarum dan benang (dexon)? k. Biopsy bottle containing 10% formalin l. Biopsy data sheet m. Periosteal elevator? n. Rongeur? o. Bur and rotatory handpiece? p. Sterile saline irrigation q. Curettes? r. Syringe 5ml or 10 ml? s. Needle 18 gauge? 2. Persiapan pasien: 1. Penjelasan operasi dan kemungkinan komplikasi yang dapat terjadi (informed consent) 2. Penderita dipuasakan minimal 6-8 jam sebelum tindakan dilakukan bila dilakukan bius umum, dan keadaan tidak puasa bila dilakukan bius lokal? 3. Ijin operasi 4. Ijin pembiusan bila dibius 5. Pemeriksaan laboratorium : Darah rutin Waktu perdarahan, waktu pembekuan 6. Pemeriksaan Penunjang: rontgen thoraks CT Scan axial dan coronal setingga oral cavity dengan kontras
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 27 KEGIATAN NILAI 1 2 3 T/D 7. Penderita > 40 tahun, pemeriksaan EKG 8. Dikonsulkan ke Bagian Ilmu Penyakit Dalam/Anak bila didapatkan kelainan pada hasil pemeriksaan 3. Prosedur Operasi: 1. Bila anestesi blok tidak memungkinkan, gunakan anestesi infiltrasi lokal, tetapi larutan diinjeksikan paling tidak 1 cm dari lesi. / Dapat dilakukan dengan narkose umum 2. Stabilisasi lidah dengan menggunakan heavy retraction suture atau towel clips. 3. Scalpel yang tajam digunakan untuk menginsisi jaringan yang akan di biopsi. 4. Dua insisi membentuk elips pada permukaan, dan EHUWHPX XQWXN PHPEHQWXN KXUXI ´9´ SDGD GDVDU OHVL menyediakan spesimen yang baik dan meninggalkan luka yang mudah menutup kembali. 5. 0RGLILNDVL XNXUDQ HOLSV GDQ SRUVL ´9´ WHUJDQWXQJ pada kedalaman lesi. 6. Palpasi membantu menentukan kedalaman lesi di bawah mukosa. 7. Insisi harus sedemikian rupa paralel pada struktur saraf, arteri, dan vena normal. Hal ini dilakukan untuk menghindari trauma pada struktur-struktur tersebut. 8. Insisi yang kecil tetapi dalam lebih baik daripada lebar tapi dangkal. 9. Jaringan periferal yang terlihat normal harus ikut di eksisi. Jika lesi terlihat benign, 2-3 mm jaringan perifeal ikut di eksisi. Bila terlihat malignant, berpigmen, vascular, dan berbatas difus maka dibutuhkan eksisi jaringan periferal sebanyak 5mm 10. Spesimen yang diangkat dimasukan ke dalam larutan formalin 10% tanpa menyentuh dinding wadah 11. Melakukan undermining mengikuti margin berbentuk elips, sehingga diperkirakan dalam penutupan jaringan hanya terdapat sedikit tegangan. 12. Insisi kemudian ditutup dengan jahitan secukupnya. 13. Operasi selesai PASCA OPERASI 1. Observasi perdarahan, tekanan darah, nadi, suhu secara teratur 2. Antibiotik dan obat simptomatik 3. Irigasi oral terus dilakukan sampai pasien keluar dari rumah sakit. 4. Kontrol kembali untuk mengontrol bekas luka 10-14 hari setelah bedah.
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 28 L. DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA PROSEDUR GLOSEKTOMI PARSIAL Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini: 9: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar ±: Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar T/T: Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih PESERTA: _________________________ TANGGAL :______________ KEGIATAN NILAI v x T/D I PERSIAPAN OPERASI 1. Informed consent 2. Menjelaskan tujuan operasi dan hasil yang diharapkan 3. Menjelaskan prosedur dan standar operasi pada pasien dan keluarganya (site marking) 4. Melakukan evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi operasi II PROSEDUR OPERASI 1. Pasien dalam posisi supinasi dan kepala ekstensi dalam anestesi umum dengan nasotracheal tube dilakukan tindakan trakeostomi pada tumor yang besar 2. Dilakukan tindakan aseptik dan antiseptik dengan alcohol 70% dan dilanjutkan dengan povidone iodine 10% 3. Lidah ditraksi menggunakan DeBakey tang / dijahit kembali 4. Insisi dibuat menggunakan elektrokauter / coblation / harmonic scalpel pada mode pemotongan dan diperdalam melalui mukosa untuk mencakup seluruh lesi dengan setidaknya 1 sampai 1,5 cm dari jaringan fenotip yang normal 5. Dilakukan reseksi baji untuk tumor infiltratif lokal, dan tepi bebas tumor dipastikan dengan frozen section. 6. Pembuluh darah harus dikontrol bipolar, atau kauter unipolar tergantung pada ukuran pembuluh darah 7. Penutupan luka dengan flap fasciokutaneus? atau penjahitan langsung, pemasangan NGT bila diperlukan 8. Operasi selesai III PASCA OPERASI 1. Observasi perdarahan, jumlah cairan pada drain, tekanan darah, nadi, suhu secara teratur 2. Pemberian antibiotika
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 29 PROSEDUR EKSTIRPASI NEOPLASMA PALATUM Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini: 9: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar ±: Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar T/T: Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih PESERTA: _________________________ TANGGAL :______________ KEGIATAN NILAI V X T/T I PERSIAPAN OPERASI 1. Informed consent 2. Menjelaskan tujuan operasi dan hasil yang diharapkan 3. Menjelaskan prosedur dan standar operasi pada pasien dan keluarganya 4. Melakukan evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi operasi, pertimbangkan untuk persiapan obturator bila diperlukan / protesa II PROSEDUR OPERASI 1. Pasien dalam posisi supinasi 2. Dilakukan tindakan aseptik dan antiseptik dengan alkohol 70% dan dilanjutkan dengan povidone iodine 10% 3. Dilakukan tindakan anestesi umum dengan pemasangan endotracheal tube 4. Dilakukan insisi pada area sekitar neoplasma dengan margin 1- 2 cm di sekitar neoplasma. 5. Dilakukan ekstispasi neoplasma, dan pastikan batas tepi bebas tumor berdasarkan pemeriksaan frozen section 6. Dilakukan penjahitan penutupan mukosa dengan menggunakan benang 3.0, dan pemasangan NGT bila diperlukan 7. Operasi selesai III PASCA OPERASI 1. Observasi perdarahan, tekanan darah, nadi, suhu secara teratur 2. Pemberian antibiotika dilakukan sampai hari ketiga pasca operasi 3. Kontrol pasca operasi dilakukan pada hari ke-7 pasca operasi
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 30 PROSEDUR BIOPSI NEOPLASMA LIDAH Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini: 9: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar ±: Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar T/T: Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih PESERTA: _________________________ TANGGAL :______________ KEGIATAN NILAI V X T/T I PERSIAPAN OPERASI 1. Informed consent 2. Menjelaskan tujuan operasi dan hasil yang diharapkan 3. Menjelaskan prosedur dan standar operasi serta kemungkinan resiko pada pasien dan keluarganya 4. Melakukan evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi operasi II PROSEDUR OPERASI 4. Persiapan alat: a. Local anesthetic equipment b. Sterile scalpel blades no. 15. c. Scalpel handle. d. Surgical scissor with point tips e. Fine tissue forceps f. Small hemostat g. Gauze sponges (suction, if necessary) h. Needle holder DeBekay, Sarot. i. Deschamp ligature needle, blunt. j. Jarum dan benang (dexon). k. Biopsy bottle containing 10% formalin l. Biopsy data sheet m. Periosteal elevator n. Rongeur o. Bur and rotatory handpiece p. Sterile saline irrigation q. Curettes r. Syringe 5ml or 10 ml s. Needle 18 gauge 5. Persiapan penderita:
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 31 KEGIATAN NILAI V X T/T a) Penjelasan operasi dan kemungkinan komplikasi yang dapat terjadi (informed consent) b) Penderita dipuasakan minimal 6-8 jam sebelum tindakan dilakukan bila dilakukan bius umum, dan keadaan tidak puasa bila dilakukan bius lokal c) Ijin operasi d) Ijin pembiusan bila dibius e) Pemeriksaan laboratorium : f) Darah rutin g) Waktu perdarahan, waktu pembekuan h) Pemeriksaan rontgen thoraks i) CT Scan axial dan coronal setingga oral cavity dengan kontras j) Penderita > 40 tahun, pemeriksaan EKG k) Dikonsulkan ke Bagian Ilmu Penyakit Dalam/Anak bila didapatkan kelainan pada hasil pemeriksaan 6. Prosedur Operasi: 1. Bila anestesi blok tidak memungkinkan, gunakan anestesi infiltrasi lokal, tetapi larutan diinjeksikan paling tidak 1 cm dari lesi. / Dapat dilakukan dengan narkose umum 2. Stabilisasi lidah dengan menggunakan heavy retraction suture atau towel clips. 3. Scalpel yang tajam digunakan untuk menginsisi jaringan yang akan di biopsi. 4. Dua insisi membentuk elips pada permukaan, GDQ EHUWHPX XQWXN PHPEHQWXN KXUXI ´9´ SDGD dasar lesi menyediakan spesimen yang baik dan meninggalkan luka yang mudah menutup kembali. 5. 0RGLILNDVL XNXUDQ HOLSV GDQ SRUVL ´9´ tergantung pada kedalaman lesi. 6. Palpasi membantu menentukan kedalaman lesi di bawah mukosa. 7. Insisi harus sedemikian rupa paralel pada struktur saraf, arteri, dan vena normal. Hal ini dilakukan untuk menghindari trauma pada struktur-struktur tersebut. 8. Insisi yang kecil tetapi dalam lebih baik daripada lebar tapi dangkal. 9. Jaringan periferal yang terlihat normal harus ikut di eksisi. Jika lesi terlihat benign, 2-3 mm
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 32 KEGIATAN NILAI V X T/T jaringan perifeal ikut di eksisi. Bila terlihat malignant, berpigmen, vascular, dan berbatas difus maka dibutuhkan eksisi jaringan periferal sebanyak 5mm 10. Spesimen yang diangkat dimasukan ke dalam larutan formalin 10% tanpa menyentuh dinding wadah 11. Melakukan undermining mengikuti margin berbentuk elips, sehingga diperkirakan dalam penutupan jaringan hanya terdapat sedikit tegangan. 12. Insisi kemudian ditutup dengan jahitan secukupnya. 13. Operasi selesai III PASCA OPERASI 1. Observasi perdarahan, tekanan darah, nadi, suhu secara teratur 2. Antibiotik dan obat simptomatik 3. Irigasi oral terus dilakukan sampai pasien keluar dari rumah sakit. 4. Kontrol kembali untuk mengontrol bekas luka 10-14 hari setelah bedah. M. MATERI PRESENTASI Karsinoma Lidah a. SLIDE 1 : Anatomi dan fisiologi lidah
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 33 b. SLIDE 2 : Definisi Tumor lidah c. SLIDE 3 : Etiopatologi
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 34 d. SLIDE 4 : Gejala Klinik e. SLIDE 5 : Diagnosis karsinoma lidah
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 35 f. SLIDE 6 : Penatalaksanaan karsinoma lidah NEOPLASMA DASAR MULUT o Slide 1 : Anatomi Rongga mulut
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 36 o Slide 2 : Definisi Neoplasma Dasar Mulut o Slide 3 : Etiopatogenesis
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 37 o Slide 4 : Gejala Klinik
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 38 Slide 5 : Diagnosis Neoplasma Dasar Mulut
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 39
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 40 NEOPLASMA MUKOSA BUKAL o SLIDE 1 : Anatomi dan fisiologi Rongga mulut
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 41 o SLIDE 2 : Definisi Neoplasma mukosa buccal o SLIDE 3 : Etiopatologi o SLIDE 4 : Gejala Klinik
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 42 o SLIDE 5 : Diagnosis Neoplasma mukosa buccal
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 43
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 44 NEOPLASMA PALATUM o LCD 1 : Anatomi dan fisiologi Rongga mulut
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 45 o LCD 2 : Definisi Neoplasma dasar mulut o LCD 3 : Etiopatologi o LCD 4 : Gejala Klinik
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 46 o LED 5: LCD 5 : Diagnosis Neoplasma dasar mulut
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 47
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 48 N. MATERI BAKU KARSINOMA BIBIR Karsinoma bibir adalah suatu bentuk keganasan mulut yang terjadi pada pertemuan antara rongga mulut dan kulit. Karsinoma bibir sering sekali salah dalam menentukan batas anatominya. Sebagian besar lesi ini muncul di perbatasan vermilion ('zona lipstik'), yaitu area antara mukosa labial dan kulit bibir. Sementara sebagian besar kanker ini tercatat sebagai kanker mulut, dan berpotensi beberapa akan diklasifikasikan sebagai kanker kulit. Macfarlane et al (1993) mengacu pada masalah klasifikasi potensial ini mencatat bahwa dalam kasus lesi besar biasanya sulit dalam menentukan lokasi yang tepat dari asal tumor. Untuk menghilangkan risiko ini di Australia Selatan, angka karsinoma bibir sudah termasuk kulit bibir. Namun, hal ini berpotensi mengangkat angka Australia Selatan. Morton et al (1983) telah mengamati 'ambiguitas dan ketidakseragaman' dalam literatur mengenai karsinoma bibir dan merujuk kembali ke definisi oleh Ebenius tahun 1943 bahwa 'Tidak ada kanker lain selain yang timbul di bibir harus dianggap sebagai kanker bibir asli'. Terlepas dari kesulitan dalam menetapkan lokasi utama karsinoma bibir, diketahui bahwa karsinoma ini jauh lebih sering terjadi pada pria, memiliki puncak kejadian pada dekade keenam dan ketujuh dan lebih sering terjadi pada bibir bawah daripada bibir atas. Pada pria kulit putih, bibir adalah tempat paling umum untuk karsinoma 'mulut', sebaliknya karsinoma ini relatif jarang terjadi pada pria kulit hitam. Perbedaan mencolok dalam pigmentasi pada laki-laki kulit hitam versus laki-laki kulit putih telah dijelaskan
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 49 karena efek perlindungan pigmen kulit alami terhadap aksi karsinogenik radiasi ultraviolet. Tanda dan gejala awal karsinoma bibir yang paling umum adalah ulserasi, kerak dan nyeri. Karsinoma bibir stadium lanjut muncul sebagai lesi ulseratif dan/atau infiltratif yang luas, tetapi tingkat pertumbuhan secara keseluruhan relatif lambat. Metastasis kelenjar getah bening adalah kejadian yang terlambat dalam sejarah alami penyakit dan karena lokasi lesi yang dapat diakses, eksisi luas biasanya bersifat kuratif sehingga memberikan karsinoma bibir yang berdiferensiasi baik dengan tingkat kelangsungan hidup 5 tahun yang sangat baik sebesar 80-90%. Johnson dan Warnakulasuriya (1993) telah melaporkan tingkat kelangsungan hidup 5 tahun mendekati 95% untuk kanker bibir di Inggris. Batas bibir dimulai dari pertemuan batas vermelion dengan kulit. Termasuk batas permukaan vermelion yang berkontak dengan sama-sama non skin. Karakteristik dari tumor bibir dan rongga mulut: a. Eksofitik, b. Ulserasi, dan c. Endofitik 7 WXPRU  FP T2: > 2cm ± 4 cm T3: > 4 cm
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 50 T4a: moderately advanced local disease, tumor menginvasi cortical bone, inferior alveolar nerve, floor of mouth, atau kulit wajah, dagu maupun hidung T4b: very advanced local disease, tumor involves masticator space, pterygoid plates (as shown), or skull base and/or encases internal carotid artery Tatalaksana Karsinoma Bibir berdasarkan NCCN 2020
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 51
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 52 KARSINOMA LIDAH Lidah merupakan bagian rongga mulut yang dapat digerakkan, meluas keanterior dari batas papila sirkumvalata ke permukaan bagian bawah lidah yang berhubungan dengan dasar mulut. Terdiri dari stuktur orofaringeal yang terbagi menjadi beberapa bagian yaitu ujung lidah, dorsum lidah, tepi lateral dan permukaan bawah (disebut sebagai aspek ventral). Otot-otot ekstrinsik pada lidah adalah otot genioglosus, hioglosus, dan stiloglosus. Otot-otot instrinsik adalah serabut otot vertikal, transversal dan longitudinal. Tumor lidah merupakan tumor kedua terbanyak (30%) dalam rongga mulut. Sering mengenai bagian lateral dari lidah. Faktor resiko terjadinya adalah tembakau, alkohol, imunosupresi dan oral hiegine yang buruk. Secara histologi, tumor invasi > 2-4mm berhubungan dengan tingginya angka metastasis regional, rekurensi dan mortalitas. Invasi perineural pada tempat primer adalah indikator lain peningkatan rekurensi dan mortalitas. Tumor ganas pada lidah adalah suatu neoplasma maligna yang berasal dari jaringan epitel mukosa lidah dengan sel berbentuk squamous cell carcinoma (sel epitel gepeng berlapis). Tumor ini dapat menginfiltrasi ke daerah sekitarnya, di samping itu dapat melakukan metastase secara limfogen dan hematogen. Karsinoma sel skuamosa adalah jenis keganasan yang paling sering terjadi dalam rongga mulut, meliputi 95% dari seluruh kasus keganasan pada rongga mulut. Gejala pada penderita tergantung pada lokasi kanker. Keluhan utamanya adalah timbulnya suatu massa yang seringkali terasa tidak sakit, ulkus superfisialis yang tidak sakit, lama kelamaan ulkus melebar, tepinya bulat, berwarna abu-abu seperti nekrosis. Kadang-kadang hanya merupakan permukaan yang kasar, pada sepertiga anterior. Sepertiga posterior lidah, kanker tersebut selalu tidak diketahui oleh penderita, sukar terlihat, cenderung berinfiltrasi ke bagian dalam, dan rasa sakit yang dialami biasanya dihubungkan dengan rasa sakit tenggorokan. Pada pemeriksaan fisik rongga mulut dapat ditemukan eritroplakia (merah, lesi inflamasi) yang merupakan bentuk awal terbanyak terjadinya karsinoma sel skuamous.
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 53 Gejala lanjut adalah fiksasi lidah, penurunan sensasi lidah, perubahan suara dan gangguan menelan serta limfadenopati servikal. Metode skrining meliputi vital staining, spectral analysis, ViziLite (chemiluminescence) dan biopsi sikat. Metastasis regional melalui drainase nodul primer ke level I-III. Pemeriksaan penunjang: biopsi (IHK,VEGF,EGFR), pemeriksaan pencitraan: x-ray tomography dan CT scan, USG Abdomen, rontgen thorax, echocardiografi, audiometri, pemeriksaan darah rutin dan kima darah. x Penatalaksanaan untuk berdasarkan derajat klinis: o T1-T2, N0 a.Reseksi primer diikuti atau tanpa diseksi leher ipsilateral atau bilateral b.Reseksi primer diikuti atau tanpa biopsi nodus limfatikus sentinel c. Radioterapi definitif o T3, N0 atau T1-3, N1-3 atau T4a d.Pembedahan N0, N1, N2a-b, N3 Reseksi primer diikuti diseksi leher ipsilateral atau bilateral N2c Reseksi primer diikuti diseksi leher bilateral o T4b atau nodus yang tak dapat direseksi atau tidak memungkinkan dioperasi e. ECOG 0-1 Kemoterapi dan radioterapi konkuren Induksi kemoterapi diikuti dengan radioterapi f. ECOG 2 Kemoterapi dan radioterapi konkuren Radioterapi definitif g.ECOG 3 Radioterapi paliatif Kemoterapi dosis tunggal Perawatan suportif o M1 h.ECOG 0-1 Platinum + 5FU + cetuximab Kemoterapi kombinasi lainnya Kemoterapi dosis tunggal Pembedahan atau radioterapi atau kemoterapi diikuti radioterapi pada pasien dengan metastasis terbatas Perawatan suportif i. ECOG 2 Kemoterapi dosis tunggal Perawatan suportif j. ECOG 3 Perawatan suportif o T4 : dipertimbangkan kemoiradiasi (bila ada keterlibatan tulang, maka diperlukan reseksi). Angka kontrol lokoregional untuk 5 tahun adalah 91%. Angka harapan hidup (5 tahun). yaitu stadium I,II (60-75%); stadium III,IV (25-40%).
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 54 NEOPLASMA DASAR MULUT Anatomi Dasar mulut merupakan salah satu komponen dari rongga mulut yang terletak di dalam alveolar ridge inferior. Struktur ini berbentuk seperti tapal kuda, mulai dari posterior gigi seri dan memanjang secara bilateral ke pilar tonsil anterior. Mukosa yang melapisi dasar mulut dibentuk oleh lapisan tipis dari epitel skuamous bertingkat dengan fleksibilitas yang tinggi. Kelenjar saliva banyak ditemukan pada bagian ini, mencakup kelenjar saliva minor, kelenjar sublingual, dan komponen duktus dari kelenjar submandibula, yaitu duktus Wharton yang bermuara pada kedua sisi dari frenulum sublingual. Vaskularisasi dasar mulut diberikan oleh arteri lingualis, sedangkan inervasinya oleh serabut syaraf trigeminus cabang ketiga melalui nervus lingualis. Drainase dari sistem limfatik akan mengalir secara bilateral pada bagian superfisial, dimana pada bagian yang lebih dalam drainasenya akan mengalir ke level IA, IB, dan II secara ipsilateral. Otot yang terdapat pada area ini terdiri dari otot geniohyoid, genioglossus, dan mylohyoid. Etiopatogenesis Faktor penyebab adalah merokok, mengunyah tembakau, penyalahgunaan alkohol (terutama bila dikombinasi dengan merokok), trauma kronik karena pemasangan gigi palsu. Juga berhubungan dengan fibrosis submukosa, kandidiasis hiperplastik atau sindroma Plummer Vinson. Mukosa bukal dan komisura oral adalah tempat tersering. Dapat juga mengenai dasar rongga mulut, lidah, sulkus bukoginggiva dan permukaan mukosa bibir. Paling sering pada usia dekade keempat, dengan insiden pada laki-laki 2-3 kali lebih sering dibandingkan pada wanita. Secara klinis ada beberapa tipe, yaitu: 1. Homogen: Tampak sebagai selaput putih licin atau berkerut; 2. Nodular: Tampak sebagai selaput putih atau nodul dengan dasar eritema; 3. Erosif (eritroleukoplakia): Terdapat erosi dan fisura. Sekitar 25% leukoplakia menunjukkan bentuk displasia epitel ringan sampai berat. Derajat displasia yang lebih berat akan berubah menjadi malignansi. Perubahan ini terjadi sekitar 1-17,5% (5%) kasus. Potensi menjadi maligna tergantung pada predileksi, tipe leukoplakia dan durasi evaluasi. Gambar 1. Dasar mulut dan struktur penunjangnya
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 55 Tipe Lesi Premaligna x Leukoplakia Definisi leukoplakia menurut WHO adalah suatu selaput putih yang tidak dapat dibedakan secara klinis atau patologis dari penyakit lainnya. Lesi lain dalam rongga mulut yang menjadi pengecualian, antara lain: Lichen planus, discoid lupus erythromatosus, white spongy nevus dan kandidiasis x Eritroplakia Merupakan suatu selaput berwarna merah pada permukaan mukosa. Warna merah disebabkan penurunan keratinisasi dan hasil dari jaringan ikat vaskular berwarna merah dari alveolar bagian bawah, sulkus bukoginggiva dan dasar rongga mulut. Eritroplakia paling banyak terdapat pada displasia berat, karsinoma in situ atau karsinoma invasif murni saat pertama kali terlihat. Peluang terjadinya keganasan bila terdapat lesi ini adalah 17 kali lebih tinggi dari leukoplakia. Secara makroskopis, lesi terdiri dari tiga jenis, yaitu homogen, granular dan eritroplakia, yang diselingi oleh area leukoplakia (sering sulit dibedakan dengan erileukoplakia, tipe dari leukoplakia). Melanosis dan Hiperpigmentasi Mukosa Lesi jinak berpigmen dari mukosa mulut yang berubah bentuk menjadi melanoma maligna. Insidensinya tidak diketahui. Sekitar satu perempat dari mukosa melanoma dapat berasal dari lesi jinak dan biopsi sangat dianjurkan. Neoplasma Dasar Mulut Neoplasma dasar mulut menyumbangkan sebanyak 16% dari neoplasma pada rongga mulut. Sebagian besar dari neoplasma dasar mulut merupakan karsinoma sel skuamosa, yang yaitu sebanyak 75% dari seluruh kasus neoplasma pada dasar mulut. Jenis kelamin pria relatif lebih banyak menderita penyakit ini dibandingkan wanita. Faktor risiko terjadinya adalah tembakau, alkohol, imunosupresi dan kebersihan mulut yang buruk. Terjadinya neoplasma pada dasar mulut diduga karena area ini merupakan daerah yang paling sering kontak dengan berbagai makanan dan minuman yang masuk ke mulut sebelum ditelan, termasuk zat karsinogen yang mungkin terkandung didalamnya. Secara histologi, neoplasma invasi > 2-4mm berhubungan dengan tingginya angka metastasis regional, rekurensi dan mortalitas. Invasi perineural pada tempat primer adalah indikator lain peningkatan rekurensi dan mortalitas. Penatalaksanaan untuk berdasarkan derajat klinis: (NCCN 2020) a. T1-T2, N0 x Reseksi primer diikuti atau tanpa diseksi leher ipsilateral atau bilateral x Reseksi primer diikuti atau tanpa biopsi nodus limfatikus sentinel x Radioterapi definitif b. T3, N0 atau T1-3, N1-3 atau T4a Pembedahan x N0, N1, N2a-b, N3 Reseksi primer diikuti diseksi leher ipsilateral atau bilateral x N2c Reseksi primer diikuti diseksi leher bilateral c. T4b atau nodus yang tak dapat direseksi atau tidak memungkinkan dioperasi
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 56 x ECOG 0-1 Kemoterapi dan radioterapi konkuren Induksi kemoterapi diikuti dengan radioterapi x ECOG 2 Kemoterapi dan radioterapi konkuren Radioterapi definitif x ECOG 3 Radioterapi paliatif Kemoterapi dosis tunggal Perawatan suportif d. M1 x ECOG 0-1 Platinum + 5FU + cetuximab Kemoterapi kombinasi lainnya Kemoterapi dosis tunggal Pembedahan atau radioterapi atau kemoterapi diikuti radioterapi pada pasien dengan metastasis terbatas Perawatan suportif x ECOG 2 Kemoterapi dosis tunggal Perawatan suportif x ECOG 3 Perawatan suportif e. T4 Æ dipertimbangkan kemoiradiasi (bila ada keterlibatan tulang, maka diperlukan reseksi). Persentase harapan hidup pada 5 tahun berkisar antara 90% pada stadium I, 80% pada stadium II, 65% pada stadium III, dan 30% pada stadium IV. Pada tahap awal, neoplasma ini biasanya asimptomatik. Namun, seiring dengan perkembangan ukurannya, maka dapat ditemukan gejala nyeri, perdarahan, dan obstruksi duktus submandibula. Otot mylohyoid dan periosteum mandibular berperan sebagai pengahalang dari penyebaran neoplasma. Pada lesi invasif, maka tindakan mandibulektomi segmental maupun marginal dapat dipertimbangkan untuk dilakukan. Keterlibatan dasar lidah memerlukan glosektomi parsial. Sedangkan bila neoplasma mengenai kelenjar submandibula, maka reseksi primer terhadap kelenjar dan jaringan neoplasma sebaiknya dilakukan. Defek berukuran kecil pasca operasi dapat ditutup oleh tandur kulit split thickness. Tetapi, apabil defek mencapai ukuran 2 cm atau lebih, maka pemakaian flap dapat dipertimbangkan, seperti flap submental, flap nasolabial, flap platysma, dan flap pektoralis. Sementara bila dibutuhkan rekonstruksi vaskular yang besar, maka flap radialis lengan dan flap anterolateral paha merupakan pilihan yang terbaik. Mandibulektomi marginal maupun segmental diindikasikan pada neoplasma yang telah mendestruksi tulang mandibula. Pada mandibulektomi marginal, maka korteks luar atau tulang mandibula harus dipertahankan atau sekitar 1 cm dari ketebalan tulang mandibula. Sementara bila ditemukan indikasi untuk melakukan mandibulektomi segmental, maka
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 57 defek tulang sebaiknya disambungkan oleh reconstruction bar atau penggunaan tandur tulang dari fibula, radius, skapular, dan iliaka. Sementara defek kulit dan mukosa dapat ditutup dengan flap yang disebutkan di atas. NEOPLASMA MUKOSA BUKAL Karsinoma sel squamous mukosa buccal terjadi pada 5% sampai 10% kanker rongga mulut di Amerika Serikat, di India didapatkan 40% terkait dengan konsumsi biji pinang.Pada fase awal gejala yang sering ditemui adalah sariawan yang tidak sembuh pada rongga mulut. Konsumsi alcohol dan merokok merupakan factor predisposisi, juga riwayat karies dan masalah pada gigi geligi. Nyeri dirasakan bila terdapat infiltrasi dalam data penyebaran tumor local. Trismus dikaitkan dengan keterlibatan fossa infratemporal, yang merupakan tanda bahwa neoplasma tidak dapat dioperasi. Gigi yang tanggal merupakan indikasi adanya invasi dan penyebaran alveolus. Pada fase lanjut, dapat ditemui adanya rasa penuh pada satu sisi wajah serta kemerahan atau ulserasi pada kulit. Neoplasma mukosa bukal sering terdeteksi pada fase lanjut karena tidak adanya batas tegas anatomi yang memudahkan penyebarannya. Lapisan lemak bukal dan otot sangat mudah di invasi oleh karsinoma dan kelumpuhan otot wajah, invasi kulit dan trismus merupakan presentasi primer yang tidak lazim didapatkan. Pembedahan merupakan pilihan utama pada neoplasma mukosa bukal, pendekatan tersering yang dilakukan adalah melalui eksisi transoral. Lesi yang lebih besar membutuhkan kombinasi eksisi transoral dan trans servikal. Pada lesi yang lebih kecil dapat dilakukan penutupan primer atau skin graft . Untuk Lesi yang lebih besar, rekostruksi soft tissue dengan regional pedikel flap seperti submental flap, temporoparietal facial flap atau fasciocutaneus free flap mungkin dibutuhkan untuk menghindari kontraktur dan trismus. Kemungkinan untuk terjadi metastase terkait dengan T dan kedalaman invasi neoplasma primer. Pada tahap lanjut T III dan T IV setra invasi >5mm dihubungkan dengan peningkatan resiko metastase cervical dan neck dissection elektif dapat dipertimbangkan bila tidak terdappat keterlibatan KGB. Karsinoma bukal dapat memberikan prognosis yang buruk, banyak bukti yang menyatakan bahwa karsinoma bukal yang terburuk dibanding lesi lain di rongga mulut. Pada pasien yang tidak dapat di operasi, pilihannya adalah kemoterapi, karena rekurensi yang tinggi bila hanya radiotherapy saja serta menurunkan survival rate. Persentase harapan hidup pada 5 tahun berkisar antara 90% pada stadium I, 80% pada stadium II, 65% pada stadium III, dan 30% pada stadium IV. Penatalaksanaan untuk berdasarkan derajat klinis: a. T1-T2, N0 x Reseksi primer diikuti atau tanpa diseksi leher ipsilateral atau bilateral x Reseksi primer diikuti atau tanpa biopsi nodus limfatikus sentinel x Radioterapi definitif b. T3, N0 atau T1-3, N1-3 atau T4a Pembedahan o N0, N1, N2a-b, N3 Reseksi primer diikuti diseksi leher ipsilateral atau bilateral o N2c
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 58 Reseksi primer diikuti diseksi leher bilateral c. T4b atau nodus yang tak dapat direseksi atau tidak memungkinkan dioperasi x ECOG 0-1 o Kemoterapi dan radioterapi konkuren o Induksi kemoterapi diikuti dengan radioterapi x ECOG 2 o Kemoterapi dan radioterapi konkuren o Radioterapi definitif x ECOG 3 o Radioterapi paliatif o Kemoterapi dosis tunggal o Perawatan suportif d. M1 x ECOG 0-1 o Platinum + 5FU + cetuximab o Kemoterapi kombinasi lainnya o Kemoterapi dosis tunggal o Pembedahan atau radioterapi atau kemoterapi diikuti radioterapi pada pasien dengan metastasis terbatas o Perawatan suportif x ECOG 2 o Kemoterapi dosis tunggal o Perawatan suportif x ECOG 3 o Perawatan suportif e. T4 Æ dipertimbangkan kemoiradiasi (bila ada keterlibatan tulang, maka diperlukan reseksi). Diagnosis Keganasan Rongga Mulut Menurut AJCC 8 th Depth Of Invasion (DOI) Berdasarkan AJCC 8 th , DOI menilai seberapa dalam invasif suatu karsinoma. Diukur horizontal membran basal dari mukosa skuamosal terdekat sampai batas terdalam dari invasi sel tumor (diukur dalam mm). Depth of invasiyn (DOI). The horizon is established at the level of the basement membrane relative to the closest iQWDFW VTXDPRXV PXFRVD 7KH JUHDWHVW '2, LV PHDVXUHG E\ GURSSLQJ D ³SOXPE OLQH´IURP WKH KRUL]RQ
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 59 Depth of invasiyQ '2, LQ DQ XOFHUDWHG FDUFLQRPD 1RWLFH KRZ ³WXPRU WKLFNQHVV´ ZRXOG EH GHFHSWLYHO\ WKLQQHU WKDQ DOI Klasifikasi TMN rongga mulut menurut AJCC 8 th Neoplasma primer (T) Tx Tidak dapat dinilai Tis Karsinoma in situ T1 Neoplasma <  FP   PP '2, T2 1HRSODVPD   FP  '2, !  PP   PP DWDX 1HRSODVPD !  FP WDSL   FP '2,   PP T3 Neoplasma > 4 cm, atau DOI >10 mm T4 Penyebaran sedang atau Penyebaran lokal yang luas T4a Moderately advanced local disease, Bibir : Invasi, meliputi: x Cortical bone x Nervus Alveolar Inferior x Dasar mulut x Kulit wajah (dagu, hidung) Rongga Mulut : Invasi struktur : x Cortical bone of mandible or maxilla atau x Sinus maksilaris, atau x Kulit wajah Superficial erosion of bone/tooth socket (alone) by gingival primary is not sufficient to classify a tumor as T4. T4b Very advanced local disease Invasi Tumor : x Masticator space x Pterygoid plates x Skull base x Encases the internal carotid artery Nodul regional (N) Nx Tidak dapat dinilai No Tidak ada metastasis regional
Modul VII.4 ± Neoplasma Rongga Mulut 60 N1 Metastasis pada KGB ipsilateral, soliter, < 3 cm ENE (-) N2 Single ipsilateral node >3cm but <6cm in greatest dimension and ENE (-); Or Multiple ipsilateral LNs, none >6cm and ENE (-) Or Bilateral or contralateral LNs, none >6cm and ENE(-) N2a Metastasis pada KGB ipsilateral, soliter, > 3 cm sampai < 6 cm, ENE (-) N2b Metastasis pada KGB ipsilateral, multiple, < 6 cm, ENE (-) N2c Metastasis pada KGB bilateral atau kontralateral < 6 cm ENE (-) N3 LNs >6cm and ENE (-) Or Any node(s) and clinically overt ENE(-) N3a Metastasis pada KGB > 6 cm ENE (-) N3b Metastasis pada KGB manapun ENE (+) Metastasis jauh (M) M0 Tidak ada matastasis jauh M1 Metastasis jauh AJCC 8 th Prognostic Stage Groups T N M Staging T1 N0 M0 I T2 N0 M0 II T3 N0 M0 III T1,2,3 N1 M0 III T4a N0,1 M0 IV A T1,2,3,4a N2 M0 IV A Any T N3 M0 IV B T4b Any N M0 IV B Any T Any N M1 IV C Tatalaksana Keganasan Rongga Mulut berdasarkan ECOG Performance Scal
MODUL UTAMA ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER TUMOR VASKULAR KEPALA LEHER MODUL VII.5.1 ANGIOFIBROMA NASOFARING BELIA EDISI III KOLEGIUM ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER 2022
DAFTAR ISI A. WAKTU ........................................................................................................... 1 B. PERSIAPAN SESI ........................................................................................... 1 C. REFERENSI .................................................................................................... 1 D. KOMPETENSI ................................................................................................ 1 E. GAMBARAN UMUM .................................................................................... 2 F. CONTOH KASUS DAN DISKUSI ................................................................ 2 G. TUJUAN PEMBELAJARAN.......................................................................... 3 H. METODE PEMBELAJARAN ........................................................................ 3 I. EVALUASI ...................................................................................................... 6 J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF .............................. 8 K. INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR ................................................. 8 L. DAFTAR TILIK ............................................................................................ 11 M. MATERI PRESENTASI................................................................................ 12 N. MATERI BAKU ............................................................................................ 16
Modul VII.5.1± Angiofibroma Nasofaring Belia 1 MODUL VII.5.1 ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER: TUMOR VASKULAR KEPALA LEHER²ANGIOFIBROMA NASOFARING BELIA A. WAKTU Mengembangkan Kompetensi Alokasi Waktu Sesi di dalam kelas Sesi dengan fasilitasi Pembimbing Sesi praktik dan pencapaian kompetensi 2 x 90 menit (classroom session) 1x 60 menit (coaching session) 19 Jam (facilitation and assessment) B. PERSIAPAN SESI o Materi presentasi : Angiofibroma Nasofaring Belia a. Power point b. Video o Kasus: Angiofibroma Nasofaring Belia o Sarana dan alat bantu latih (disesuaikan dengan pencapaian kompetensi): a. Penuntun belajar (learning guide): terlampir b. Tempat belajar (training setting): instalasi rawat inap, instalasi rawat jalan, kamar operasi, ruang praktikum, ruang kuliah c. Model/manekin atau kadaver d. Komputer/laptop e. Infocus C. REFERENSI 1. Jonas T Johnson, Clark A. Rrosen, et.al. Juvenil Nasopharyng Angiofibroma in 2WRODU\QJRORJ\ %DLOH\¶V Head & Neck Surgery volume 2. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. 2014. Pp: 2023-8 2. Evan J. Propst, Robin T. Cotton. Pediatric Otolaryngology: Head and Neck Surgery. In: Chan Y, Goddaed JC. EditoUV .-/HH¶V (VVHQWLDO 2WRlaryngology Head and Neck Surgery. 11th (ed). United States: McGraw-Hill education. 2016. p. 873-874 3. Hanna N, Su S, Kupferman EM, Raza MS, DeMonte F. Cancer of the Nasal Cavity and the Paranasal Sinuses in: Myers NJ, Hanna NY, Myers NE. Rditors. Cancer of the Head and Neck. 5 th (ed). Wolters Kluwer.2017 Philadelphia: 442- 559 4. Jatin S. Transpalatal exiciton of a nasofaring angiofibroma. In: Head and neck surgery and Oncology 5th Ed. Philadelphia: Elsevier. 2020. 318-25 5. 5 tahun terakhir 6. Bailey + ballanger D. KOMPETENSI a. Pengetahuan Menegakkan diagnosis Angiofibroma Nasofaring Belia berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang b. Keterampilan Setelah Mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam:
Modul VII.5.1± Angiofibroma Nasofaring Belia 2 a. Menjelaskan anatomi, fisiologi dan histologi nasofaring b. Menjelaskan etiologi dan faktor risiko Angiofibroma Nasofaring Belia c. Menjelaskan patogenesis dan gambaran klinis Angiofibroma Nasofaring Belia d. Menjelaskan dan melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik Angiofibroma Nasofaring Belia e. Melakukan keputusan untuk perlu tidaknya pemeriksan penunjang seperti nasal endoskopi dan CT Scan nasofaring f. Membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhubungan dengan Angiofibroma Nasofaring Belia g. Menjelaskan tentang tatalaksana operasi ekstirpasi tumor/angiofibroma, Melakukan operasi ekstirpasi Angiofibroma Nasofaring Juvenile dan ligasi arteri Karotis eksterna dengan supervisi, pemberian terapi hormonal, dan radiasi pada Angiofibroma Nasofaring Belia h. Menjelaskan rehabilitasi pasca operasi ekstirpasi tumor/Angiofibroma Nasofaring Belia i. Memutuskan terapi pendahuluan serta merujuk ke fasilitas kesehatan yang relevan. E. GAMBARAN UMUM Angiofibroma Nasofaring Belia merupakan tumor pembuluh darah yang berasal dari dinding posterolateral nasofaring dekat foramen sfenopalatina. Secara histologi tumor ini bersifat jinak, tetapi memiliki sifat ekspansif dan progresif ke daerah sekitarnya. Gejala klinis adalah obstruksi nasi dan epistaksis berulang. Angiofibroma Nasofaring Belia cenderung mudah berdarah karena secara histologi mempunyai dua komponen yaitu jaringan vaskuler dan jaringan fibrus, makin banyak jaringan vaskuler kemungkinan besar mudah terjadi perdarahan. Vaskularisasi dari arteri Karotis eksterna, kadang-kadang dari arteri Karotis interna. Angiofibroma Nasofaring Belia pada umumnya diderita oleh laki-laki terutama umur dekade kedua (pubertas). Kejadian ANB kurang dari 0,5% dari seluruh tumor kepala dan leher, di berbagai rumah sakit di beberapa negara dilaporkan 1:16.000 dari seluruh penderita T.H.T.K.L. Teori pembentukan yang paling banyak diakui adalah tumor ini berasal dari kondrokartilago embriologi selama pembentukan tulang kranial. Penyebab tidak diketahui, kemungkinan terdapat faktor hormonal. F. CONTOH KASUS DAN DISKUSI Seorang laki-laki, 14 tahun datang ke klinik telinga hidung tenggorok bedah kepala dan leher dengan keluhan mimisan sejak 2 hari yang lalu dan sering berulang dalam 3 bulan terakhir. Mimisan terjadi dalam jumlah yang cukup banyak, kira-kira 3 gelas minum dan sulit berhenti sendiri. Pilek terkadang, sesak nafas tidak ada, makan dan minum lancar. Pembauan agak terganggu sejak 1 bulan terakhir. Tidak didapatkan riwayat trauma dan manipulasi hidung sebelumnya. Pemeriksaan tanda vital dalam batas normal, dan laboratorium didapatkan kadar hemoglobin (Hb) 8 mg/dl, lekosit 9.000, trombosit 250.000. Diskusi : x Bagaimana etiopatogenesis epistaksis Angiofibroma Nasofaring Belia? x Sebutkan insidensi Angiofibroma Nasofaring Belia? x Bagaimana gambaran klinis Angiofibroma Nasofaring Belia?
Modul VII.5.1± Angiofibroma Nasofaring Belia 3 Jawaban : x Angiofibroma Nasofaring Belia cenderung mudah berdarah karena secara histologi mempunyai dua komponen yaitu jaringan vaskuler dan jaringan fibrus, makin banyak jaringan vaskuler kemungkinan besar mudah terjadi perdarahan. Vaskularisasi dari arteri karotis eksterna (%), kadang-kadang dari arteri karotis interna (%). x Terbanyak pada laki-laki terutama umur dekade kedua (pubertas). Kejadian ANB kurang dari 0,5% dari seluruh tumor kepala dan leher, di berbagai rumah sakit di beberapa negara dilaporkan 1:16.000 dari seluruh penderita THT. x Gambaran klinis adalah obstruksi nasi, epistaksis berulang, gangguan fungsi tuba, proptosis/diplopia, nyeri pipi, sinusitis, palatum mole buldging, sefalgia, gangguan pendengaran (bila ada otitis media efusi) bahkan dapat terjadi deformitas wajah. G. TUJUAN PEMBELAJARAN a. Tujuan pembelajaran umum Proses, materi dan metode pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan melakukan tindakan yang tepat terhadap penderita ANB. b. Tujuan pembelajaran khusus 1. Mampu menguasai anatomi, histologi, fisiologi sinonasal dan nasofaring (tingkat kompetensi (K4, A3) 2. Mampu menjelaskan etiologi dan faktor risiko Angiofibroma Nasofaring Belia (tingkat kompetensi K4, A3) 3. Menjelaskan patogenesis dan gambaran klinis Angiofibroma Nasofaring Belia (tingkat kompetensi K3,A3) 4. Menentukan dan melakukan pemeriksan penunjang (nasal endoskopi/ nasofaringoskopi dan CT scan nasofaring) (tingkat kompetensi K3, P5, A3) 5. Membuat diagnosis Angiofibroma Nasofaring Belia berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik maupun penunjang (tingkat kompetensi K3, P5, A3) 6. Melakukan tatalaksana Angiofibroma Nasofaring Belia dan rehabilitasi pasca operasi ligase arteri Karotis Eksterna(tingkat kompetensi K3, P3, A3) 7. Melakukan tatalaksana Angiofibroma Nasofaring Belia dan rehabilitasi pasca operasi ekstirpasi (tingkat kompetensi K3, P2, A3) 8. Melakukan evaluasi dan memutuskan terapi pendahuluan serta merujuk ke fasilitas kesehatan yang relevan. (tingkat kompetensi K3, A3) H. METODE PEMBELAJARAN Setelah mengkuti sesi ini peserta didik akan mempunyai kemampuan dasar untuk menegakkan diagnosis ANB dan mampu untuk menentukan terapi yang sesuai. Tujuan 1. Anatomi, topografi, histologi, embriologi, fisiologi nasofaring Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metoda pembelajaran berikut ini 1. Interactive lecture 2. Small group discussion. 3. Peer assisted learning (PAL). 4. Bedside teaching. 5. Task based medical education.
Modul VII.5.1± Angiofibroma Nasofaring Belia 4 Harus diketahui : (khususnya untuk level Sp1) x Anatomi sinonasal, dan nasofaring x Gambaran dan karakteristik histologis nasofaring x Fisiologi nasofaring x Patogenesis angiofibroma nasofaring Tujuan 2. Menjelaskan etio-patogenesis dan macam ANB Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review. 3. Peer assisted learning (PAL). 4. Bedside teaching. 5. Task based medical education. Harus diketahui : (sedapat mungkin pilih specific features, signs & symptoms): x Etiologi dan faktor predisposisi x Patofisiologi klinik x Gejala (keluhan pasien) x Tanda (temuan hasil pemeriksaan) x Gambaran klinik Tujuan 3. Menjelaskan gambaran klinik ANB (anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang) Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review. 3. Case simulation and investigation exercise. 4. Equipment characteristics and operating instructions. Tujuan 4. Menegakkan diagnosis ANB dari pemeriksaan fisik dan penunjang Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review. 3. Case study 4. Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device). 5. Demonstration and Coaching 6. Practice with Real Clients. Harus diketahui : x Metoda standar anamnesis x Gejala dan tanda tentang adanya tumor angiofibroma nasofaring x Pemeriksaan penunjang yang sensitif dan spesifik x Memilah diagnosis banding dan menentukan diagnosis kerja x Rencana pengobatan atau tatalaksana pasien
Modul VII.5.1± Angiofibroma Nasofaring Belia 5 Tujuan 5. Melaksanakan tatalaksana ANB Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review. 3. Morbidity and Mortality Case study 4. Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device). 5. Operative Procedure Demonstration and Coaching 6. Practice with Real Clients. 7. Continuing Professional Development Harus diketahui : x Prosedur konservatif o Radioterapi o Terapi hormonal x Prosedur operatif o Transpalatal o Rinotomi lateral o Midfacial degloving o Kombinasi x Prosedur alternatif o Angiografi embolisasi. Tujuan 6. Melakukan evaluasi dan mampu memutuskan untuk melakukan rujukan ANB Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Interactive lecture 1. Journal reading and review. 2. Case study 3. Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device). 4. Demonstration and Coaching 5. Practice with Real Clients. Harus diketahui : x Work-up Key Points x Jenis-jenis terapi yang direkomendasikan x Kondisi atau situasi penting untuk membuat keputusan untuk merujuk Tujuan 7. Menentukan terapi yang tepat pada kasus Angiofibroma Nasofaring Belia Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review
Modul VII.5.1± Angiofibroma Nasofaring Belia 6 3. Case study 4. Practice with Real Clients Harus diketahui 1. Terapi medikamentosa 2. Terapi pembedahan Tujuan 8. Melakukan tindakan pembedahan Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review 3. Case study 4. Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device) 5. Demonstration and Coaching 6. Practice with Real Clients Harus diketahui 1. Jenis pembedahan (ekstirpasi Angiofibroma Nasofaring Belia dan ligasi arteri Karotis eksterna dengan supervisi) 2. Langkah-langkah pembedahan Tujuan 9. Melakukan perawatan penderita pra dan pasca pembedahan Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review 3. Case study 4. Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device) 5. Demonstration and Coaching 6. Practice with Real Clients Harus diketahui 1. Sermon of relaxation 2. Informed consent 3. Komplikasi operasi I. EVALUASI 1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri atas : - Anatomi dan fisiologi sinonasal dan nasofaring - Penegakan diagnosis - Penatalaksanaan - Evaluasi
Modul VII.5.1± Angiofibroma Nasofaring Belia 7 2. 6HODQMXWQ\D GLODNXNDQ ³small group discussion´ EHUVDPD GHQJDQ IDVLOLWDWRU XQWXN membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian. 3. Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam EHQWXN ³role play´ GDQ WHPDQ-temannya (Peer Assisted Evaluation) atau kepada SP (Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assisted Evaluation) setelah dianggap memadai, melalui metode bedside teaching dibawah pengawasan fasilitator, peserta didik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut: - Perlu perbaikan: pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan. - Cukup: pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien. - Baik: pelaksanaan benar dan baik (efisien) 4. Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan. 5. Self assesment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar. 6. Pendidik/ fasilitas: - Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form (terlampir) - Penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi - Kriteria penilaian keseluruhan: cakap/ tidak cakap/ lalai 7. Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education) 8. Pencapaian pembelajaran: - Ujian OSCE (K,P,A), dilakukan pada tahapan T.H.T.K.L dasar oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L - Ujian akhir stase, setiap divisi / unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan T.H.T.K.L lanjut oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L. - Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan T.H.T.K.L lanjut oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L. - Ujian akhir profesi (kasus bedah), dilakukan pada akhir pendidikan oleh Kolegium I T.H.T.K.L
Modul VII.5.1± Angiofibroma Nasofaring Belia 8 J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF A. Kuesioner Sebelum Pembelajaran (Pre Test) Soal : Apakah yang anda ketahui tentang Angiofibroma Nasofaring Belia? Jawaban : Angiofibroma Nasofaring Belia merupakan tumor pembuluh darah yang berasal dari dinding posterolateral nasofaring dekat foramen sfenopalatina. Secara histologi tumor ini bersifat jinak, tetapi memiliki sifat ekspansif dan progresif ke daerah sekitarnya B. Kuesioner Tengah Pembelajaran Soal : Bagaimana cara menegakkan diagnosis Angiofibroma Nasofaring Belia? Jawaban : Diagnosis berdasarkan gejala klinis, pada foto polos tampak adanya masa soft tissue pada posterior kavum nasi dengan atau tanpa penyebaran ke nasofaring dan sinus paranasal, sedangkan pada CT Scan terlihat gambaran arsitektur tulang sinonasal dengan peningkatan vaskularisasi yang jelas (dengan atau tanpa kontras) dan pada MRI dapat melihat perluasan tumor ke jaringan lunak intrakranial, intratemporal dan intraorbita. C. Kuesioner Akhir Pembelajaran Soal : Bagaimana tatalaksana Angiofibroma Nasofaring Belia? Jawaban : Pada prisnsipnya terdapat dua penanganan yaitu yang pertama penanganan perdarahan yang dapat terjadi sewaktu-waktu dan yang kedua adalah pendekatan operatif. Bila terdapat perluasaan dapat dipertimbangkan untuk dilakukan radioterapi sampai ke basis kranii. Pemberian hormonal seperti esterogen sebagai terapi definitif tidak memberikan hasil yang optimal. Tindakan embolisasi sebaiknya dipertimbangkan untuk persiapan preoperatif. K. INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR EKSTIRPASI/ WIDE EXCISION ANGIOFIBROMA NASOFARING BELIA Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.: 1 Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan) 2 Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal 3 Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien 4 T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan) NAMA PESERTA: .................................. TANGGAL: ................................. KEGIATAN KASUS I. PERSIAPAN OPERASI 1 2 3 T/D
Modul VII.5.1± Angiofibroma Nasofaring Belia 9 KEGIATAN KASUS x Informed Consent x Rencana Tindakan x Persiapan Sebelum Tindakan II. PERSIAPAN PROSEDUR EKSTIRPASI ANGIOFIBROMA NASOFARING BELIA (Transpalatal) x Pastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan esensial untuk prosedur Ekstirpasi Angiofibroma Nasofaring telah tersedia dan lengkap, yaitu: a) Sterile scalpel blades no : 15 b) Scalpel handle c) Surgical scissors blunt/blunt, curved (Cooper) d) Mouth spreider e) Dower catheter (small) ± 2 pieces f) Choanal forcep g) Raspatorium h) Dissecting scissor, curved (Metzenbaum)/dissecting scissor for plastic surgery Gorney/scissor, delicate (Chadwick) i) Vessel and tendon scissors, curved and straight (Stevens) j) Standard tissue forcep k) Dissecting forcep, delicate (Adson); dissecting, nontraumatic forcep l) Hemostatic, delicate forcep/klem, straight and curved (Halsteid-mosquito) m) Hemostatic forcep standard (Adson, Leriche) n) Dissecting and ligature forceps (Baby-Overholt and Baby-Mixter) o) Bulldog clamps (DeBekey) p) Dressing and sponge forcep (Rample) q) Towel clamps (Backhaus) r) Retractor Lagenbeck-Green dan Wound and vein retractors (Kocher/Cushing) s) Needle holder DeBekay, Sarot t) Deschams ligature needle, blunt u) Sponge forceps, curved (Duplay) v) Jarum dan benang III. PROSEDUR EKSTIRPASI /WIDE EXCISION ANGIOFIBROMA NASOFARING BELIA 1 Dilakukan insisi paralel sepanjang batas ginggiva, dengan meninggalkan cukup mukosa untuk jahitan pada saat penutupan. Batas anterior irisan adalah 1 cm dari pangkal gigi incisivus atas. 2 Mukosa palatum dielevasi bersamaan dengan periosteumnya. Pembuluh darah dan nervus menempel pada flap mukosa. A.Palatina mayor jangan sampai terpotong
Modul VII.5.1± Angiofibroma Nasofaring Belia 10 KEGIATAN KASUS 3 Flap mukosa palatum dielevasi, tulang palatum durum dibuka dengan tatah dan dilebarkan dengan forcep. Tulang palatum durum dibawah irisan mukosa harus dipertahankan untuk landasan muksa yang dijahit. Mukosa pada dasar kavum nasi diinsisi untuk mencapai tumor. 4 Ekstirpasi tumor dilakukan secara tumpul, hindari trauma tajam pada tumor dan pembuluh darah yang memvaskularisasinya. 5 Perdarahan dikontrol dengan suction, dan kauter. 6 Dipasang tampon anterior dan posterior (Belloque). 7 Flap palatum dijahit kembali. Dipasang tampon laba-- laba untuk menekan flap dan menjaga posisi flap sedekat mungkin dengan mukosa dasar kavum nasi. IV. PROSEDUR LIGASI ARTERI KAROTIS EKSTERNA (sebelum dilakukan ektirpasi Angiofibroma Nasofaring Belia) 1. Pasien diposisikan supine dengan leher ekstensi 2. Dibuat insisi horizontal sekitar dua jari dibawah batas mandibula yang menyilang pinggir anterior m. Sternokleidomastoideus. 3. Setelah mencapai subplatisma dibuat flap dan dielevasi, m. Sternokleidomastoideus di retraksi ke posterior. 4. Diseksi dilanjutkan sampai mencapai selubung karotis 5. Lakukan identifikasi bifurkasio karotis, kemudian a. karotis eksterna dipisahkan. 6. Lakukan ligasi pada a. karotis eksterna dengan menggunakan benang atau Bulldog clamps (DeBekey) 7. Setelah selesai melakukan tindakan ekstirpasi angiofibroma nasofaring belia, ikatan/ jepitan pada a. karotis eksterna dilepaskan. 8. Jahit lapis demi lapis sampai kulit. V. PASCA EKSTIRPASI/WIDE EXCISION ANGIOFIBROMA NASOFARING BELIA Instruksi Pasca Ekstirpasi Angiofibroma Nasofaring Belia: 1. Pemberian obat-obatan yang sesuai 2. Belajar makan dan minum dengan terpasang tampon posterior 3. Tampon di lepas pada hari ke-2
Modul VII.5.1± Angiofibroma Nasofaring Belia 11 L. DAFTAR TILIK PROSEDUR EKSTIRPASI/WIDE EXCISION ANGIOFIBROMA NASOFARING BELIA Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini: 9: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar ±: Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar T/T: Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih PESERTA: _________________________ TANGGAL :______________ KEGIATAN NILAI 9 ± T/T Persiapan 1. Kaji ulang diagnosis dan informed Consent 2. Menyiapkan peralatan operatif 3. Menyiapkan diri untuk tindakan operatif 4. Menyiapkan posisi pasien 5. Melakukan tindakan a & anti septik PROSEDUR OPERASI EKSTIRPASI /WIDE EXCISION ANGIOFIBROMA NASOFARING BELIA 1. Melakukan insisi pada palatum 2. Elevasi mukopereosteal flap 3. Membuka tulang palatum durum 4. Insisi mukosa dasar kavum nasi 5. Reseksi tumor secara tumpul 6. Pasang tampon anterior dan posterior 7. Menjahit flap palatum PROSEDUR OPERASI LIGASI ARTERI KAROTIS EKSTERNA 1. Pasien diposisikan supine dengan leher ekstensi 2. Dibuat insisi horizontal sekitar dua jari dibawah batas mandibula yang menyilang pinggir anterior m. Sternokleidomastoideus 3. Setelah mencapai subplatisma dibuat flap dan dielevasi, m. Sternokleidomastoideus di retraksi ke posterior.
Modul VII.5.1± Angiofibroma Nasofaring Belia 12 KEGIATAN NILAI 9 ± T/T 4. Diseksi dilanjutkan sampai mencapai selubung karotis 5. Lakukan identifikasi bifurkasio karotis, kemudian a. karotis eksterna dipisahkan. 6. Lakukan ligasi pada a. karotis eksterna dengan menggunakan benang atau Bulldog clamps (DeBekey) 7. Setelah selesai melakukan tindakan ekstirpasi angiofibroma nasofaring belia, ikatan/ jepitan pada a. karotis eksterna dilepaskan. 8. Jahit lapis demi lapis sampai kulit. M. MATERI PRESENTASI Slide 1: Anatomi dan Faktor Risiko Angifibroma Nasofaring Belia
Modul VII.5.1± Angiofibroma Nasofaring Belia 13 Slide 2: Penegakan Diagnosis Angiofibroma Nasofaring Belia Slide 3: Staging dan Tatalaksana Angiofibroma Nasofaring Belia
Modul VII.5.1± Angiofibroma Nasofaring Belia 14 Slide 4: Teknik Operatif Ekstirpasi Angiofibroma Nasofaring Belia
Modul VII.5.1± Angiofibroma Nasofaring Belia 15
Modul VII.5.1± Angiofibroma Nasofaring Belia 16 Slide 5: Clinical Decision Making dan Medikamentosa Terapi hormonal N. MATERI BAKU Angiofibroma Nasofaring Belia Angiofibroma Nasofaring Belia (disebut juga Juvenille Nasopharyngeal Angiofibroma) merupakan tumor jinak vaskuler tetapi bersifat agresif (klinis ganas). Angifibroma terjadi khususnya pada laki-laki, usia 20 tahunan dipertimbangkan berhubungan dengan faktor hormonal. Tumor berasal dari basisfenoid dekat foramen palatina, pada daerah hubungan antara orbita dan sfenoid proses pada tulang palatum dan sfenoid, tumor biasanya menyebar ke fossa pterygopalatina, kavum nasi, nasofaring, sinus etmoid dan sinus sfenoid. Angiofibroma juga bisa menyebar ke orbita dan rongga kranial akibat destruksi tulang. Vaskularisasi dari arteri karotis eksterna melalui cabang a. maksilaris interna, kadang-kadang dari arteri karotis interna. Gejala klinis adalah obstruksi nasi, epistaksis berulang, gangguan fungsi tuba, proptosis/diplopia, nyeri di pipi, sinusitis, palatum mole buldging, sefalgi, gangguan dengar (bila ada otitis media efusi) bahkan deformitas wajah. Pada pemeriksaan fisik tergantung penyebaran dari tumor, tampak massa berwarna merah keabu-abuan, licin, massa polipoid meskipun bisa berbentuk ireguler dan berlobus. Diagnosis berdasarkan klinis, pada foto polos tampak adanya massa jaringan lunak pada posterior kavum nasi dengan atau tanpa penyebaran ke nasofaring dan sinus paranasal, sedangkan CT Scan terlihat gambaran arsitektur tulang sinonasal dan dasar tengkorak dan dengan kontras tampak gambaran vaskularisasi yang jelas
Modul VII.5.1± Angiofibroma Nasofaring Belia 17 dan MRI lebih baik untuk melihat perluasan tumor ke jaringan lunak intrakranial, intratemporal, dan intraorbital . Dengan angiografi dapat diketahui vaskularisasi tumor dan biasanya merupakan cabang dari a. maksilaris interna dan faringeal asendens cabang dari a. carotis interna. Perluasan tumor bisa sampai ke nasofaring, sinus sfenoid, rongga orbita, dan fossa infratemporal maupun ke intrakranial. Angiografi dan embolisasi hanya dilakukan bila pasien direncanakan akan dilakukan operasi. Anatomi vaskular dari angiofibroma penting dalam operasi reseksi. Stadium pada ANB (Radowski): Stadium Ia : Terbatas pada nares posterior dan/ atau atap nasofaring Ib : Stage Ia, dengan perluasan ke salah satu sinus paranasal Stadium IIa : Perluasan minimal ke fossa pterigomaksila IIb : Melibatkan fossa pterygomaksila dengan atau tanpa adanya erosi tulang orbita IIc : Meluas ke dalam fossa temporal, atau bagian posterior dari fossa pterigoids Stadium IIIa : Perluasan minimal ke intrakaranial IIIb: Perluasan jauh ke intrakranial dengan/ tanpa perluasan ke sinus kavernosus Diagnosis Banding x Polip antrokoanal x Karsinoma nasofaring Manajemen Penanganan ANB pada prinsipnya ada dua, yaitu yang pertama adalah penanganan perdarahan yang bisa terjadi sewaktu-waktu dan penegakan diagnosis. Yang kedua adalah terapi. Diagnosis ANB berdasarkan CT Scan dengan kontras. MRI dapat digunakan dan membantu menentukan adanya perluasan ke intrakranial. Biopsi tidak disarankan karena risiko perdarahan yang sangat hebat. Angiografi dilakukan untuk mengetahui pembuluh darah yang mensuplai tumor dan untuk tujuan embolisasi. Pembuluh darah yang mensuplai Angiofibroma nasofaring belia biasanya berasal dari arteri karotis eksterna (arteri maksilaris interna dan arteri faringealis ascendens). Pada tumor yang meluas ke intraorbital atau intrakranial, kemungkinan besar rnendapat suplai dari arteri karotis interna. Demikian pula pada tumor yang besar yang melewati linea mediana, kemungkinan besar mendapat suplai dari pembuluh darah kontralateral. Untuk itu, angiografi dilakukan pada arteri karotis eksterna dan arteri karotis interna. Terapi utama ANB adalah operatif. Tindakan operatif dilakukan dengan pendekatan medial maksilektomi, transpalatal, fasial degloving, skull base surgery, endoskopi tergantung kondisi tumor. Dua pendekatan yang dilakukan bersama akan memberikan lapang pandang yang lebih baik. Dilaporkan pendekatan transpalatal maupun kraniofasial skull base surgery dapat menjamin reseksi tumor secara komplit. Dilaporkan angka rekurensi 6-24%. Radioterapi dilakukan pada kasus dengan perluasan ke intrakranial, melibatkan sinus kavernosus dan kiasma optikus, ukuran tumor besar yang sulit untuk di ekstirpasi atau tumor yang mengancam jiwa mengingat lokasi tumornya.
Modul VII.5.1± Angiofibroma Nasofaring Belia 18 Radioterapi kurang disukai oleh karena komplikasi jangka panjang antara lain keterlambatan pertumbuhan, panhipo-pituitarisme, nekrosis lobus temporal, katarak dan keratopati. Pemberian terapi hormonal seperti estrogen sebagai terapi definitif tidak memberikan hasil yang optimal. Tindakan ligasi arteri karotis atau embolisasi sebelum operasi direkomendasikan sebagai prosedur standar untuk mengurangi terjadinya perdarahan selama operasi sehingga memungkinkan untuk pengangkatan total massa tumor. Embolisasi dapat dilakukan 48-72 jam pre-operasi. Bahan embolisasi yang digunakan antara lain gel foam, partikel Polivinil alkohol (PVA), coil (kumparan), detachable sack atau baloon maupun bahan sklerosan lain. Prosedur Operasi Ekstirpasi Angiofibroma Nasofaring Belia (Transpalatal) Kompetensi Dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai keterampilan ekstirpasi ANB (teori, indikasi, prosedur, dan komplikasi). Selama pendidikan pernah melihat atau menjadi asisten, dan pernah menerapkan keterampilan ini di bawah supervisi. Definisi Ekstirpasi Angiofibroma Nasofaring Belia adalah operasi pengangkatan tumor pembuluh darah di daerah nasofaring. Indikasi Angiofibroma Nasofaring Belia Pendekatan Transpalatal Indikasi: 1. Angiofibroma Nasofaring Belia stadium 1 2. Tumor ukuran kecil Dengan pendekatan ini, pterigomaksilaris space dapat dijangkau. Catatan : Dapat dipertimbangkan operasi pada Angiofibroma Nasofaring belia yang besar dan meluas ke fossa infra temporal. Bila lesi luas melebihi area nasofaring, pendekatan lain atau kombinasi dengan pendekatan lain, seperti transmaksilari antral, rinotomi lateralis, transbukal mungkin diperlukan tergantung ke arah mana perluasannya, dengan Teknik operasi: 1. Pasien diposisikan supine dengan leher ekstensi 2. Lakukan anestesi lokal dengan injeksi lidokain 1% dengan perbandingan 1: 100.000 epinephrin sepanjang bagian atas dental alveolar pada bagian palatum durum 3. Pasang pharingeal pack Dilakukan insisi paralel sepanjang batas ginggiva, dengan meninggalkan cukup mukosa untuk jahitan pada saat penutupan. Batas anterior irisan adalah 1 cm dari pangkal gigi incisivus atas.
Modul VII.5.1± Angiofibroma Nasofaring Belia 19 4. Mukosa palatum dielevasi bersamaan dengan periosteumnya. Pembuluh darah dan nervus menempel pada flap mukosa. A.Palatina mayor jangan sampai terpotong 5. Flap mukosa palatum dielevasi, tulang palatum durum dibuka dengan irisan EHUEHQWXN ³8´ WHUEDOLN GHQJDQ WDWDK GDQ GLOHEDUNDQ dengan forcep. Tulang palatum durum dibawah irisan mukosa harus dipertahankan untuk landasan muksa yang dijahit. Mukosa pada dasar kavum nasi diinsisi untuk mencapai tumor. 6. Dengan memakai osteotom atau high speed drill untuk mengebor daerah posterior dari palatum durum dipotong untuk mendapatkan akses dari regio koana posterior di bagian kiri 7. Ekstirpasi tumor dilakukan secara tumpul, hindari trauma tajam pada tumor dan pembuluh darah yang memvaskularisasinya. 8. Perdarahan dikontrol dengan suction, penjahitan, dan kauter. 9. Dipasang tampon anterior dan posterior (Belloque). 10. Flap palatum dijahit kembali dan menjaga posisi flap sedekat mungkin dengan mukosa dasar kavum nasi. Komplikasi 1. Perdarahan 2. Fistula 3. Deformitas wajah Perawatan Pasca Operasi 1. Antibiotik sistemik 2. Analgetik sistemik 3. Antiperdarahan sistemik 4. Belajar makan dan minum dengan terpasang tampon posterior 5. Tampon dilepas pada hari ke-2 Instrumen yang diperlukan a) Sterile scalpel blades no 15 b) Scalpel handle c) Surgical scissors blunt/blunt, curved (Cooper) d) Mouth spreider e) Dower catheter (small) ± 2 pieces f) Choanal forcep g) Raspatorium h) Dissecting scissor, curved (Metzenbaum)/dissecting scissor for plastic surgery Gorney/scissor, delicate (Chadwick) i) Vessel and tendon scissors, curved and straight (Stevens) j) Standard tissue forcep k) Dissecting forcep, delicate (Adson); dissecting, nontraumatic forcep l) Hemostatic, delicate forcep/klem, straight and curved (Halsteid-mosquito) m)Hemostatic forcep standard (Adson, Leriche) n) Dissecting and ligature forceps (Baby-Overholt and Baby-Mixter) o) Bulldog clamps (DeBekey)
Modul VII.5.1± Angiofibroma Nasofaring Belia 20 p) Dressing and sponge forcep (Rample) q) Towel clamps (Backhaus) r) Retractor Lagenbeck-Green dan Wound and vein retractors (Kocher/Cushing) s) Needle holder DeBekay, Sarot t) Deschams ligature needle, blunt u) Sponge forceps, curved (Duplay) v) Jarum dan benang Prosedur Operasi Ligasi Arteri Karotis Eksterna Kompetensi Dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai keterampilan ligasi arteri karotis eksterna (teori, indikasi, prosedur ,dan komplikasi). Selama pendidikan pernah melihat atau menjadi asisten, dan pernah menerapkan keterampilan ini di bawah supervisi. Definisi Ligasi arteri karotis eksterna adalah tindakan pengikatan arteri karotis yang bersifat sementara dengan menggunakan benang atau Bulldog clamps (DeBekey) yang bertujuan untuk mengurangi perdarahan saat operasi misalnya ekstirpasi ANB. Teknik operasi : 1. Pasien diposisikan supine dengan leher ekstensi 2. Dibuat insisi horizontal sekitar dua jari dibawah batas mandibula yang menyilang pinggir anterior m. Sternokleidomastoideus. 3. Setelah mencapai subplatisma dibuat flap dan dielevasi, m. Sternokleidomastoideus di retraksi ke posterior. 4. Diseksi dilanjutkan sampai mencapai selubung karotis 5. Lakukan identifikasi bifurkasio karotis, kemudian a. karotis eksterna dipisahkan. 6. Lakukan ligasi pada a. karotis eksterna dengan menggunakan benang atau dijepit menggunakan Bulldog clamps (DeBekey) 7. Setelah selesai melakukan tindakan ekstirpasi ANB, ikatan/ jepitan pada a karotis eksterna dilepaskan. 8. Jahit lapis demi lapis sampai kulit. Instrumen yang diperlukan a) Sterile scalpel blades no : 15 b) Scalpel handle c) Surgical scissors blunt/blunt, curved (Cooper) d) Dissecting scissor, curved (Metzenbaum)/dissecting scissor for plastic surgery Gorney/scissor, delicate (Chadwick) e) Vessel and tendon scissors, curved and straight (Stevens) f) Standard tissue forcep g) Dissecting forcep, delicate (Adson); dissecting, nontraumatic forcep h) Hemostatic, delicate forcep/klem, straight and curved (Halsteid-mosquito) i) Hemostatic forcep standard (Adson, Leriche) j) Dissecting and ligature forceps (Baby-Overholt and Baby-Mixter)
Modul VII.5.1± Angiofibroma Nasofaring Belia 21 k) Bulldog clamps (DeBekey) l) Dressing and sponge forcep (Rample) m) Towel clamps (Backhaus) n) Retractor Lagenbeck-Green dan Wound and vein retractors (Kocher/Cushing) o) Needle holder DeBekay, Sarot p) Deschams ligature needle, blunt q) Sponge forceps, curved (Duplay) r) Jarum dan benang
MODUL UTAMA ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER TUMOR VASKULAR KEPALA LEHER MODUL VII.5.2 HEMANGIOMA KEPALA DAN LEHER EDISI III KOLEGIUM ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER 2022
DAFTAR ISI A. WAKTU ................................................................................................................ 1 B. PERSIAPAN SESI ................................................................................................ 1 C. REFERENSI .......................................................................................................... 1 D. KOMPETENSI ...................................................................................................... 1 E. GAMBARAN UMUM .......................................................................................... 2 F. CONTOH KASUS DAN DISKUSI ...................................................................... 2 G. TUJUAN PEMBELAJARAN ............................................................................... 2 H. METODE PEMBELAJARAN .............................................................................. 3 I. EVALUASI ........................................................................................................... 6 J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF ................................... 7 K. INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR ...................................................... 8 L. DAFTAR TILIK .................................................................................................... 9 M. MATERI PRESENTASI ..................................................................................... 10 N. MATERI BAKU ................................................................................................. 10
Modul VII.5.2 ± Hemangioma Kepala Leher 1 MODUL VII.5.2 ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER: TUMOR VASKULAR KEPALA LEHER² HEMANGIOMA KEPALA LEHER A. WAKTU Mengembangkan Kompetensi Alokasi Waktu Sesi di dalam kelas Sesi dengan fasilitasi Pembimbing Sesi praktik dan pencapaian kompetensi 2 x 90 menit (classroom session) 1x 60 menit (coaching session) 19 Jam (facilitation and assessment) B. PERSIAPAN SESI x Materi presentasi : Hemangioma a. Power point b. Video x Kasus: Hemangioma x Sarana dan alat bantu latih (disesuaikan dengan pencapaian kompetensi): a. Penuntun belajar (learning guide): terlampir b. Tempat belajar (training setting): instalasi rawat inap, instalasi rawat jalan, kamar operasi, ruang praktikum, ruang kuliah c. Model/manekin atau kadaver d. Komputer/laptop e. Infocus C. REFERENSI 1. Buck ML. Oral Propranolol for Hemangiomas of Infancy. Pediatr Pharm. 2010;16(8) 2. Smith SC1, Patel RM, Lucas DR, McHugh JB. Sinonasal lobular capillary hemangioma: a clinicopathologic study of 34 cases characterizing potential for local recurrence. Head Neck Pathol; 2013 7(2):129-34 3. Hamdan AL, Waji GS, Husseini S. Cavernous Hemagioma of The Maxillary Sinus: A Rare Cause of Epistaxis. Anesth 2012;21(5) ;757-760 4. 2]NÕULVD 0 $\GÕQD 5 $ UDUH FDXVH RI SHGLDWULF QDVDO REVWUXFWLRQ DQG HSLVWD[LV Nasal septal mixed hemangioma. Volume 8, Issue 2013;3(9);, 104±7 D. KOMPETENSI a. Pengetahuan Menegakkan diagnosis hemangioma berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang b. Keterampilan Setelah Mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam: a. Menjelaskan anatomi, fisiologi histologi sinonasal b. Menjelaskan etiologi dan faktor risiko hemangioma c. Menjelaskan patogenesis dan gambaran klinis hemangioma d. Menjelaskan dan melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik hemangioma
Modul VII.5.2 ± Hemangioma Kepala Leher 2 e. Melakukan keputusan untuk perlu tidaknya pemeriksan penunjang seperti endoskopi, CT Scan, dan angiografi f. Membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhubungan dengan hemangioma g. Menjelaskan tentang tatalaksana operasi wide excision/ excisional biopsy h. Menjelaskan rehabilitasi pasca operasi hemangioma i. Memutuskan terapi pendahuluan serta merujuk ke fasilitas kesehatan yang relevan. E. GAMBARAN UMUM Hemangioma adalah tumor jinak pembuluh darah, yang berasal dari kulit, mukosa dan struktur dalam seperti tulang, otot dan kelenjar. Hemangioma bisa juga terjadi pada rongga hidung dan sinus paranasal. Hemangioma terdiri dari dua jenis utama, yaitu hemangioma kapiler dan kavernosa. Hemangioma lainnya adalah hemangioma tipe campur. Sebagian besar dari neoplasma ini adalah hemangioma kapiler dan ditemukan melekat pada septum hidung. Hemangioma kavernosa sering ditemukan pada dinding lateral rongga hidung. Hemangioma pada septum nasal adalah penyakit yang paling sering ditemukan di bagian anterior dari septum hidung. 1,2,3,4 F. CONTOH KASUS DAN DISKUSI Seorang laki-laki, 24 tahun datang ke poliklinik telinga hidung tenggorok bedah kepala dan leher dengan keluhan mimisan sejak 2 hari yang lalu dan sering berulang dalam 3 bulan terakhir. Mimisan terjadi dalam jumlah yang cukup banyak, kira-kira 3 gelas minum dan sulit berhenti sendiri. Pilek terkadang, sesak nafas tidak ada, makan dan minum lancar. Pembauan agak terganggu sejak 1 bulan terakhir. Tidak didapatkan riwayat trauma dan manipulasi hidung sebelumnya. Pemeriksaan tanda vital dalam batas normal, dan laboratorium didapatkan kadar hemoglobin (Hb) 8 mg/dl, lekosit 9.000, trombosit 250.000. Diskusi : x Bagaimana etiopatogenesis hemangioma x Sebutkan insidensi hemangioma x Bagaimana gambaran klinis hemangioma Jawaban : G. TUJUAN PEMBELAJARAN a. Tujuan pembelajaran umum Proses, materi dan metode pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan melakukan tindakan yang tepat terhadap hemangioma b. Tujuan pembelajaran khusus 1. Mampu menguasai anatomi, histologi, fisiologi nasofaring (tingkat kompetensi (K4, A3) 2. Mampu menjelaskan etiologi dan faktor risiko hemangioma (tingkat kompetensi K4, A3)
Modul VII.5.2 ± Hemangioma Kepala Leher 3 3. Menjelaskan patogenesis dan gambaran klinis hemangioma (tingkat kompetensi K3,A3) 4. Menentukan dan melakukan pemeriksan penunjang (nasal endoskopi/ nasofaringoskopi, CT scan sinonasal, dan angiografi ) (tingkat kompetensi K3, P5, A3) 5. Membuat diagnosis hemangioma berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik maupun penunjang (tingkat kompetensi K3, P5, A3) 6. Melakukan tatalaksana hemangioma dan rehabilitasi pasca operasi (tingkat kompetensi K3, P3, A3) 7. Melakukan evaluasi dan memutuskan terapi pendahuluan serta merujuk ke fasilitas kesehatan yang relevan. (tingkat kompetensi K3, A3) H. METODE PEMBELAJARAN Setelah mengkuti sesi ini peserta didik akan mempunyai kemampuan dasar untuk menegakkan diagnosis hemangioma dan mampu untuk menentukan terapi yang sesuai. Tujuan 1. Anatomi, topografi, histologi, embriologi, fisiologi sinonasal Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metoda pembelajaran berikut ini 1. Interactive lecture 2. Small group discussion. 3. Peer assisted learning (PAL). 4. Bedside teaching. 5. Task based medical education. Harus diketahui : (khususnya untuk level Sp1) x Anatomi daerah sinonasal x Gambaran dan karakteristik histologis hemangioma x Patogenesis hemangioma Tujuan 2. Menjelaskan etio-patogenesis dan macam hemangioma Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review. 3. Peer assisted learning (PAL). 4. Bedside teaching. 5. Task based medical education. Harus diketahui : (sedapat mungkin pilih specific features, signs & symptoms): x Etiologi dan faktor predisposisi x Patofisiologi klinik x Gejala (keluhan pasien) x Tanda (temuan hasil pemeriksaan) x Gambaran klinik
Modul VII.5.2 ± Hemangioma Kepala Leher 4 Tujuan 3. Menjelaskan gambaran klinik hemangioma (anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang) Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review. 3. Case simulation and investigation exercise. 4. Equipment characteristics and operating instructions. Tujuan 4. Menegakkan diagnosis hemangioma dari pemeriksaan fisik dan penunjang Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review. 3. Case study 4. Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device). 5. Demonstration and Coaching 6. Practice with Real Clients. Harus diketahui : x Metoda standar anamnesis x Gejala dan tanda pasti tentang adanya hemangioma x Pemeriksaan penunjang yang sensitif dan spesifik x Memilah diagnosis banding dan menentukan diagnosis kerja x Rencana pengobatan atau tatalaksana pasien Tujuan 5. Melaksanakan tatalaksana hemangioma Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review. 3. Morbidity and Mortality Case study 4. Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device). 5. Operative Procedure Demonstration and Coaching 6. Practice with Real Clients. 7. Continuing Professional Development Harus diketahui : x Prosedur konservatif x Observasi x Injeksi kortikosteroid intralesi x Kortikosteroid sistemik x Interferon alfa x Injeksi sklerosin
Modul VII.5.2 ± Hemangioma Kepala Leher 5 x Prosedur operatif x Indikasi terapi pada hemangioma yang besar, problematik, atau membahayakan. x Pilihan prosedur terapi lainnya o Angiografi embolisasi. o Laser Tujuan 6. Melakukan evaluasi dan mampu memutuskan untuk melakukan rujukan hemangioma Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Interactive lecture 1. Journal reading and review. 2. Case study 3. Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device). 4. Demonstration and Coaching 5. Practice with Real Clients. Harus diketahui : x Work-up Key Points x Jenis-jenis terapi yang direkomendasikan x Kondisi atau situasi penting untuk membuat keputusan untuk merujuk Tujuan 7. Menentukan terapi yang tepat pada kasus hemangioma Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review 3. Case study 4. Practice with Real Clients Harus diketahui 1. Terapi medikamentosa 2. Terapi pembedahan 3. Pilihan prosedur terapi lainnya Tujuan 8. Melakukan tindakan pembedahan Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review 3. Case study 4. Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device) 5. Demonstration and Coaching
Modul VII.5.2 ± Hemangioma Kepala Leher 6 6. Practice with Real Clients Harus diketahui 1. Jenis operasi 2. Langkah-langkah pembedahan Tujuan 9. Melakukan perawatan penderita pra dan pasca pembedahan Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review 3. Case study 4. Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device) 5. Demonstration and Coaching 6. Practice with Real Clients Harus diketahui 1. Sermon of relaxation 2. Informed consent 3. Komplikasi operasi I. EVALUASI 1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri atas : - Anatomi dan fisiologi kepala dan leher - Penegakan diagnosis - Penatalaksanaan - Evaluasi 2. 6HODQMXWQ\D GLODNXNDQ ³small group discussion´ EHUVDPD GHQJDQ IDVLOLWDWRU XQWXN membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian. 3. Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam EHQWXN ³role play´ GDQ WHPDQ-temannya (Peer Assisted Evaluation) atau kepada SP (Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assisted Evaluation) setelah dianggap memadai, melalui metode bedside teaching dibawah pengawasan fasilitator, peserta didik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut:
Modul VII.5.2 ± Hemangioma Kepala Leher 7 - Perlu perbaikan: pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan. - Cukup: pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien. - Baik: pelaksanaan benar dan baik (efisien) 4. Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan. 5. Self assesment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar. 6. Pendidik/ fasilitas: - Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form (terlampir) - Penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi - Kriteria penilaian keseluruhan: cakap/ tidak cakap/ lalai 7. Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education) 8. Pencapaian pembelajaran: - Ujian OSCE (K,P,A), dilakukan pada tahapan T.H.T.K.L dasar oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L - Ujian akhir stase, setiap divisi / unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan T.H.T.K.L lanjut oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L. - Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan T.H.T.K.L lanjut oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L. - Ujian akhir profesi (kasus bedah), dilakukan pada akhir pendidikan oleh Kolegium I T.H.T.K.L J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF A. Kuesioner Sebelum Pembelajaran (Pre Test) Soal : Apakah yang anda ketahui tentang hemangioma? Jawaban : B. Kuesioner Tengah Pembelajaran Soal : Bagaimana cara menegakkan diagnosis hemangioma Jawaban : C. Kuesioner Akhir Pembelajaran Soal : Bagaimana tatalaksana hemangioma? Jawaban :
Modul VII.5.2 ± Hemangioma Kepala Leher 8 K. INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR OPERASI HEMANGIOMA Catatan OP ANB NAMA PESERTA: .................................. TANGGAL: ................................. KEGIATAN KASUS I. PERSIAPAN OPERASI 1 2 3 T/D x Informed Consent x Rencana Tindakan x Persiapan Sebelum Tindakan II. PERSIAPAN PROSEDUR OPERASI HEMANGIOMA x Pastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan esensial untuk operasi telah tersedia dan lengkap, yaitu: a) Sterile scalpel blades no : 15 b) Scalpel handle c) Surgical scissors blunt/blunt, curved (Cooper) d) Mouth spreider e) Raspatorium f) Dissecting scissor, curved (Metzenbaum)/dissecting scissor for plastic surgery Gorney/scissor, delicate (Chadwick) g) Vessel and tendon scissors, curved and straight (Stevens) h) Standard tissue forcep i) Dissecting forcep, delicate (Adson); dissecting, nontraumatic forcep j) Hemostatic, delicate forcep/klem, straight and curved (Halsteid-mosquito) k) Hemostatic forcep standard (Adson, Leriche) l) Dissecting and ligature forceps (Baby-Overholt and Baby- Mixter) m) Dressing and sponge forcep (Rample) n) Towel clamps (Backhaus) o) Retractor Lagenbeck-Green dan Wound and vein retractors (Kocher/Cushing) p) Needle holder DeBekay, Sarot q) Deschams ligature needle, blunt Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.: 1 Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan) 2 Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal 3 Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien 4 T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
Modul VII.5.2 ± Hemangioma Kepala Leher 9 KEGIATAN KASUS r) Sponge forceps, curved (Duplay) s) Jarum dan benang III. PROSEDUR OPERASI HEMANGIOMA 1 Disesuaikan dengan lokasi dan besar massa tumor, untuk pertimbangan teknik transpalatal 2 Ekstirpasi tumor dilakukan secara tumpul, hindari trauma tajam pada tumor dan pembuluh darah yang memvaskularisasinya. 3 Perdarahan dikontrol dengan suction, dan kauter. 4 Dipasang tampon anterior dan posterior (Belloque). IV. PASCA OPERASI HEMAGIOMA Instruksi Pasca Operasi 1. Pemberian obat-obatan yang sesuai 2. Perawatan luka 3. Tampon di lepas pada hari ke-2 L. DAFTAR TILIK PROSEDUR OPERASI HEMANGIOMA Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini: 9: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar ±: Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar T/T: Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih PESERTA: _________________________ TANGGAL :______________ KEGIATAN NILAI 9 ± T/T Persiapan 1. Kaji ulang diagnosis dan informed Consent 2. Menyiapkan peralatan operatif 3. Menyiapkan diri untuk tindakan operatif 4. Menyiapkan posisi pasien 5. Melakukan tindakan a & anti septik PROSEDUR OPERASI HEMANGIOMA 1. Disesuaikan dengan lokasi dan besar massa tumor, untuk pertimbangan teknik transpalatal 2. Ekstirpasi tumor dilakukan secara tumpul, hindari trauma tajam pada tumor dan pembuluh darah yang
Modul VII.5.2 ± Hemangioma Kepala Leher 10 KEGIATAN NILAI 9 ± T/T memvaskularisasinya. 3. Perdarahan dikontrol dengan suction, dan kauter. 4. Dipasang tampon anterior dan posterior (Belloque). 5. Disesuaikan dengan lokasi dan besar massa tumor, untuk pertimbangan teknik transpalatal 6. Ekstirpasi tumor dilakukan secara tumpul, hindari trauma tajam pada tumor dan pembuluh darah yang memvaskularisasinya. 7. Perdarahan dikontrol dengan suction, dan kauter. M. MATERI PRESENTASI Slide 1: Pendahuluan dan Gambaran Umum Slide 2: Penegakan Diagnosis Hemangioma Slide 3: Tatalaksana Hemangioma Slide 4: Terapi Medikamentosa Slide 5 : Teknik Operatif Hemangioma Slide 6 : Pilihan prosedur terapi lainnya N. MATERI BAKU Hemangioma adalah tumor jinak pembuluh darah, yang berasal dari kulit, mukosa dan struktur dalam seperti tulang, otot dan kelenjar. Hemangioma bisa juga terjadi pada rongga hidung dan sinus paranasal. Hemangioma terdiri dari dua jenis utama, yaitu hemangioma kapiler dan kavernosa. Hemangioma lainnya adalah hemangioma tipe campur. Sebagian besar dari neoplasma ini adalah hemangioma kapiler dan ditemukan melekat pada septum hidung. Hemangioma kavernosa sering ditemukan pada dinding lateral rongga hidung. Hemangioma pada septum nasal adalah penyakit yang paling sering ditemukan di bagian anterior dari septum hidung. 1,2,3,4 Kekerapan Hemangioma kepala leher dapat terjadi pada gingiva, bibir, lidah dan bukal mukosa. 6 Hemangioma mukosa rongga hidung, sinus paranasal dan nasofaring terjadi pada 10% dari semua hemangioma kepala dan leher. Sekitar 80% dari hemangioma hidung timbul dari septum hidung di daerah yang dikenal sebagai ³OLWWOH DUHD´ GDQ  ODLQQ\D EHUDVDO GDUL GLQGLQJ ODWHUDO URQJJD KLGung. Hemangioma dapat terjadi pada segala usia. 3,8 Namun paling sering ditemukan pada wanita kulit putih usia lebih dari 40 tahun. 5 Sedangkan pada usia kurang dari 18 tahun, paling sering dijumpai pada lakilaki. 7 Perbedaan dalam distribusi jenis
Modul VII.5.2 ± Hemangioma Kepala Leher 11 kelamin dengan usia menunjukkan adanya keterlibatan faktor hormonal dalam etiologi hemangioma kapiler. Stimulasi hormon progesterone meningkat, sehingga meningkatkan kejadian hemangioma 4,5 Etiologi Faktor biologis pencetus hemangioma masih belum diketahui, begitu juga asal dari sel-sel endothelial tumor ini belum diketahui, Penyebab lain yang mungkin adalah genetik dan viral. Angiogenesis kemungkinan memiliki peranan dalam pertumbuhan pembuluh darah. Cytokines, seperti Basic Fibroblast Growth Factor (BFGF) dan Vascular Endotelial Growth Factor (VEGF), mempunyai peranan dalam proses angiogenesis. Peningkatan faktorfaktor pembentukan angiogenesis seperti penurunan kadar angiogenesis inhibitor misalnya gamma-interferon, tumor necrosis factor±beta, dan transforming growth factor±beta berperan dalam etiologi terjadinya hemangioma. 6 Frekuensi Hemangioma adalah tumor yang paling sering pada bayi dan anakanak. Kejadiannya 4 % - 10 % pada kulit putih. Lesi ini 3 ± 5 kali lebih sering pada anak perempuan daripada laki-laki. Begitupun kebanyakan hemangioma yang problematik pada anak perempuan daripada laki-laki. Frekuensi lebih tinggi pada bayi prematur yaitu 23 % pada yang berat badannya kurang dari 1200 gram. Hemangioma lebih jarang pada yang berkulit gelap. Klasifikasi Secara histologik Hemangioma diklasifikasikan berdasarkan besarnya pembuluh darah, menjadi tiga : 8. Hemangioma kapiler terdiri atas : a. Hemangioma kapiler pada anak (nevus vasculosus, strawberry nevus, Port wine stain, Strawberry mark) b. Granuloma piogenik. c. Cherry-spot (ruby-spot), angioma senillis. Hemangioma kapiler, berupa bercak merah tidak menonjol dari permukaan NXOLW ³Salmon patch´ EHUZDUQD lebih muda, sHGDQJNDQ ³Port wine stain´ OHELK JHODS kebiru-biruan, kadang-kadang membentuk benjolan di atas permukaan kulit. 2. Hemangioma kavernosum
Modul VII.5.2 ± Hemangioma Kepala Leher 12 7DPSDN VHEDJDL VXDWX EHQMRODQ NHPHUDKDQ WHUDVD KDQJDW GDQ ³compressible´ (tumor mengecil bila ditekan dan bila dilepas dalam beberapa waktu membesar kembali). 3. Hemangioma campuran (kapiler dan kavernosum). Diantara jenis hemangioma kavernosum dan campuran ada yang disertai fistula arterio-venous (bawaan). Patogenesis Hemangioma Hemangioma adalah tumor endotelial yang memiliki sifat biologis yang unik. Yaitu tumbuh cepat, lambat regresi, dan tidak pernah rekuren.Sifatnya yang ´angiogenesis dependent´ WHUJDQWXQJ GDUL SHPEHQWXNDQ SHPEXOXK-pembuluh darah baru untuk pertumbuhannya. Hal ini terjadi karena hilangnya mekanisme kontrol terhadap pertumbuhan pembuluh darah baru. Ini bisa terjadi karenaup-regulation dari faktor-faktor angiogenik, atau down-regulation dari inhibitornya. Ada tiga tahap siklus hidup hemangioma : 1. Fase proliferasi (usia 0 ± 1 thn) Fase proliferasi : ditandai dengan 3URGXNVL VWLPXODWRU Ĺ  9(*)E)*) HQ]LP- enzim padaextracellular remodelling (tipe IV collagenase, urokinase, dan protease), monocyte chemoattractant protein, dan vitronectin (disimpan di ruang subendothelial selama proliferasi). InhibitRUV Ļ  LQWHUIHURQ±ȕ GL HSLGHUPLV NXOLW GL DWDV Kemangioma. 0DWUL[ PHWDOORSURWHLQDVHV 003V Ĺ 3UROLIHUDWLRQ ĹĹ $SRSWRVLV Ļ 2. Fase involusi (usia 1 ± 5 tahun) Fase involusi ditandai dengan a. VWLPXODWRUV Ļ b. ,QKLELWRUV Ĺ - 003V Ļ  c. ProliferatLRQ Ļ  QDWLYe antiangiogenic mROHFXOHV Ĺ  WLVVXH LQKLELWRU Rf 003  ĺ VXSUHVL SHPEHQWXNDQ SHPEXOXK GDUDK EDUX 0XQFXO PDVW FHOO yang memproduksi modulator- modulator yang menurunkan endothelial turnover. Produksi interferon- ȕ GL HSLGHUPLV Ĺ d. ApoptosLV Ĺ  SXQFDNnya pada usia 2 tahun e. Beginning of fibrofatty replacement of the hemangioma f. Tampak dilatasi lumen vascular, flattening of endothelial cells, dan deposisi progresif jaringan ikat perivaskular dan interlobular atau intralobular untuk membentuk lobular architecture
Modul VII.5.2 ± Hemangioma Kepala Leher 13 g. Stromal cells menjadi lebih jelas pada fase ini h. Tampak penurunan volume tumor dan konsistensi menjadi lunak 3. Fase pasca involusi (usia > 5 thn) Setelah regresi selesai, yang tertinggal adalah pembuluh- pembuluh darah kecil menyerupai kapiler dan vena yang biasanya melebar dikelilingi oleh jaringan fibrofatty bercampur dengan kolagen dan serat retikular.Endotel pembuluh darah tampak datar dan mature. Membran basalis yang berlapis-lapis tampak persisten di sekitar sisa-sisa kapiler. Diagnosis Banding 1. Jinak : Angiofibroma Nasofaring - granuloma pyogenic - hemangioendothelioma - kaposiform hemangioendothelioma 2. Ganas : Karsinoma Nasofaring - glomus tumor - angioblastoma - angiosarcoma Manajemen Manajemen Hemangioma antara lain : 1. Observasi Observasi :informasi dan edukasi tentang perjalanan penyakit dan kemungkinan- kemungkinannya kepada orang tua pasien. 2. Terapi lokal untuk ulserasi dan bleeding : diberikan antibiotika topikal, perawatan luka, bila perlu dilakukan debridement dalam narkose,bila tersedia dapat dilakukan pulsed-dye laser untuk mengatasi nyeri dan mempercepat penyembuhan. 3. Injeksi kortikosteroid intralesi Terapi farmakologik : diindikasikan untuk hemangioma problematik dan membahayakan. a. Kortikosteroid Ditujukan untuk hemangioma superfisial yanJ NHFLO ĭ  FP). Diberikan suntikan triamsinolon dengan dosis 3 ± 5 mg/kg per kali dengan
Modul VII.5.2 ± Hemangioma Kepala Leher 14 interval 6 ± 8 minggu. Umumnya dibutuhkan tiga sampai lima kali suntikan. b. Kortikosteroid sistemik Merupakan terapi pilihan untuk hemangioma yang besar/ luas ,membahayakan jiwa. Pemberian prednisolon oral 2 ± 3 mg/kg/hari dosis tunggal selama 4 ± 6 minggu kemudian dilanjutkan dengan tappering-off perlahan sampai usia 10 ± 11 bulan. Sebaiknya disertai pemberian H2 reseptor inhibitor. Tujuan terapi adalah mempercapat regresi atau stabilisasi pertumbuhan masa tumor. Perlu diperhatikan bahwa selama pemberian ini sebaiknya dihindari pemberian vaksinasi dengan PHQJJXQDNDQ YDNVLQ KLGĮXS 4. Interferon alfa Merupakan terapi pilihan kedua untuk hemangioma yang membahayakan jiwa. Indikasinya adalah untuk kasus yang : tidak respons terhadap kortikosteroid a. kontraindikasi untuk pemberian kortikosteroid jangka Panjang b. terdapat komplikasi kortikosteroid c. orang tua menolak kortikosteroid d. fenomena Kassabach- Merrit Pemberian kortikosteroid tidak boleh digabungkan dengan interferon. Dosis interferon adalah 2 ± 3 mU/m2 subkutan tiap hari, dosis dititrasi bila BB naik. Terapi diberikan selama 6 ± 10 bulan. Khusus pada fenomena Kassabach ±Merrit ada 2 hal yang harus diperhatikan yaitu : a. jangan berikan transfusi trombosit kecuali ada perdarahan aktif atau indikasi bedah b. jangan berikan heparin karena akan menstimuli pertumbuhan masa tumor dan memperberat platelet trapping. 5. Embolisasi 6. Injeksi sklerosin 7. Laser
Modul VII.5.2 ± Hemangioma Kepala Leher 15 Hati-hati dapat terjadi hipopigmentasi, luka bakar derajat 2 dan scarring (parut). 8. Operatif (Indikasi terapi pada hemangioma yang besar, problematik, atau membahayakan) Operasi dapat dilakukan pada ketiga fase hemangioma. : sesuai indikasi pada masing-masing fase. metode terbaik pengobatan adalah dengan reseksi luas tumor hingga dasar mukosa dan perikondrium a. Fase proliferasi (bayi) : Indikasi operasi relatif yaitu a.1 ancaman terjadinya obstruksi padavisual, subglottik a.2 deformitas : mis. Distorsi periorbital dengan amblyopia astigmatic sekunder. a.3 perdarahan atau ulserasi yang tidak responsif terhadap terapi topical atau sistemik a.4 bila skar akibat ulserasi lebih buruk daripada skar eksisi. b. Fase involusi (masa kanak-kanak awal) : dapat dilakukan eksisi total atau bertahap. Indikasi operasi : b.1skar yang buruk pasca ulserasi b.2 kulit yang menggelambir atau inelastik b.3 bila skar yang terjadi pasca eksisi sama saja dengan operasi pada fase ketiga b.4 bila skar mudah disembunyikan b.5 bila diperlukan eksisi bertahap atau rekonstruksi. b.6 Hemangioma pada area anatomik tertentu memerlukan eksisi yang khusus. c. Fase pasca involusi Indikasi operasi : c.1 Kulit yang rusak/buruk c.2 Kontur abnormal c.3 Distorsi d. Atas permintaan pasien 9. Kemoterapi merupakan terapi pilihan kedua untuk kasus yang problematik. Biasanya diberikan vincristine, Bleomicine. (Batasan Kemoterapi)
Modul VII.5.2 ± Hemangioma Kepala Leher 16 Prosedur Operasi HEMANGIOMA Kompetensi Dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai keterampilan operasi (teori, indikasi, prosedur, dan komplikasi). Selama pendidikan pernah melihat atau menjadi asisten, dan pernah menerapkan keterampilan ini di bawah supervisi. Definisi Operasi hemangioma adalah operasi pengangkatan tumor jinak pembuluh darah, yang berasal dari kulit, mukosa dan struktur dalam seperti tulang, otot dan kelenjar Indikasi Hemangioma Teknik operasi: 1. Disesuaikan dengan lokasi dan besar massa tumor, untuk pertimbangan teknik transpalatal 2. Ekstirpasi tumor dilakukan secara tumpul, hindari trauma tajam pada tumor dan pembuluh darah yang memvaskularisasinya. 3. Perdarahan dikontrol dengan suction, dan kauter. 4. Dipasang tampon anterior dan posterior (Belloque). Pasca Operasi Hemagioma Instruksi Pasca Operasi 1. Pemberian obat-obatan yang sesuai 2. Perawatan luka 3. Tampon di lepas pada hari ke-2 Komplikasi 1. Perdarahan
MODUL UTAMA ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER TUMOR VASKULAR KEPALA LEHER MODUL VII.5.3 CAROTID BODY TUMOR EDISI III KOLEGIUM ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER 2022
DAFTAR ISI A. WAKTU ........................................................................................................... 1 B. PERSIAPAN SESI ........................................................................................... 1 C. REFERENSI .................................................................................................... 1 D. KOMPETENSI ................................................................................................ 4 E. GAMBARAN UMUM .................................................................................... 4 F. CONTOH KASUS DAN DISKUSI ................................................................ 4 G. TUJUAN PEMBELAJARAN.......................................................................... 5 H. METODE PEMBELAJARAN ........................................................................ 5 I. EVALUASI ...................................................................................................... 8 J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF .............................. 9 K. INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR ............................................... 10 L. DAFTAR TILIK ............................................................................................ 11 M. MATERI PRESENTASI................................................................................ 12 N. MATERI BAKU ............................................................................................ 12
Modul VII.5.3 ± Carotid Body Tumor 1 MODUL VII.5.3 ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER: TUMOR VASKULAR KEPALA LEHER² CAROTID BODY TUMOR A. WAKTU Mengembangkan Kompetensi Alokasi Waktu Sesi di dalam kelas Sesi dengan fasilitasi Pembimbing Sesi praktik dan pencapaian kompetensi 2 x 90 menit (classroom session) 1x 60 menit (coaching session) 19 Jam (facilitation and assessment) B. PERSIAPAN SESI x Materi presentasi : Carotid Body Tumor a. Power point b. Video x Kasus: Carotid Body Tumor x Sarana dan alat bantu latih (disesuaikan dengan pencapaian kompetensi): a. Penuntun belajar (learning guide): terlampir b. Tempat belajar (training setting): instalasi rawat inap, instalasi rawat jalan, kamar operasi, ruang praktikum, ruang kuliah c. Model/manekin atau kadaver d. Komputer/laptop e. Infocus C. REFERENSI 1. Georgiadis GS, Lazarides MK, Tsalkidis A, Argyropoulou P, Giatromanolaki A. Carotid body tumor in a 13-year-old child: Case report and review of the literature. J Vasc Surg. 2008 Apr. 47(4):874-880. [Medline]. 2. Knight TT Jr, Gonzalez JA, Rary JM, Rush DS. Current concepts for the surgical management of carotid body tumor. Am J Surg. 2006 Jan. 191(1):104- 10. [Medline]. 3. Sajid MS, Hamilton G, Baker DM;. A multicenter review of carotid body tumour management. Eur J Vasc Endovasc Surg. Aug/2007. 34:127- 30. [Medline]. [Full Text]. 4. Li-Shan L, Chang-Wei L, Heng G, Yue-Hong Z, Xing-Ming C, Yong-Jun L. Efficacy of surgical therapy for carotid body tumors. Chin Med Sci J. 2011 Dec. 26(4):241-5. [Medline]. 5. Shamblin WR, ReMine WH, Sheps SG, Harrison EG Jr. Carotid body tumor (chemodectoma). Clinicopathologic analysis of ninety cases. Am J Surg. 1971 Dec. 122(6):732-9. [Medline]. 6. Mitchell RO, Richardson JD, Lambert GE. Characteristics, surgical management, and outcome in 17 carotid body tumors. Am Surg. 1996 Dec. 62(12):1034-7. [Medline]. 7. Naughton J, Morley E, Chan D, Fong Y, Bosanquet D, Lewis M. Carotid body tumours. Br J Hosp Med (Lond). 2011 Oct. 72(10):559-64. [Medline]. 8. H Martin. Surgery of Head and Neck Tumors. Surgery of Head and Neck Tumors. New York: Hoeber-Harper Books; 1957.
Modul VII.5.3 ± Carotid Body Tumor 2 9. Sevilla Garcia MA, Llorente Pendas JL, Rodrigo Tapia JP, Garcia Rostan G, Suarez Fente V, Coca Pelaz A. [Head and neck paragangliomas: revision of 89 cases in 73 patients]. Acta Otorrinolaringol Esp. 2007 Mar. 58(3):94- 100. [Medline]. 10. Kotelis D, Rizos T, Geisbusch P, Attigah N, Ringleb P, Hacke W, et al. Late outcome after surgical management of carotid body tumors from a 20-year single-center experience. Langenbecks Arch Surg. 2009 Mar. 394(2):339- 44. [Medline]. 11. Jani P, Qureshi AA, Verma S, Walker L. Familial carotid body tumours: is there a role for genetic screening?. J Laryngol Otol. 2008 Sep. 122(9):978- 82. [Medline]. 12. Davila VJ, Chang JM, Stone WM, et al. Current surgical management of carotid body tumors. J Vasc Surg. 2016 Dec. 64 (6):1703-1710. [Medline]. 13. JL Netterville, KM Reilly D, Robertson, ME Reiber, WB Armstrong and P. Childs. Carotid body tumors: a review of 30 patients with 46 tumors. Laryngoscope. 1995. 105:114-126. 14. Karatas E, Sirikci A, Baglam T, Mumbuc S, Durucu C, Tutar E. Synchronous bilateral carotid body tumor and vagal paraganglioma: a case report and review of literature. Auris Nasus Larynx. 2008 Mar. 35(1):171-5. [Medline]. 15. Gardner P, Dalsing M, Weisberger E, Sawchuk A, Miyamoto R. Carotid body tumors, inheritance, and a high incidence of associated cervical paragangliomas. Am J Surg. 1996 Aug. 172(2):196-9. [Medline]. 16. Barnes L, Tse LLY, Hunt JL. Carotid Body Paragangliomas. Pathology and Genetics of Head and Neck Tumors. IARC. 2005. 364-365. 17. Baysal BE, Myers EN. Etiopathogenesis and clinical presentation of carotid body tumors. Microsc Res Tech. 2002 Nov 1. 59(3):256-61. [Medline]. 18. de Franciscis S, Grande R, Butrico L, et al. Resection of Carotid Body Tumors reduces arterial blood pressure. An underestimated neuroendocrine syndrome. Int J Surg. 2014. 12 Suppl 1:S63-7. [Medline]. 19. Jansen JC, van den Berg R, Kuiper A, van der Mey AG, Zwinderman AH, Cornelisse CJ. Estimation of growth rate in patients with head and neck paragangliomas influences the treatment proposal. Cancer. 2000 Jun 15. 88(12):2811-6. [Medline]. 20. Isik AC, Imamoglu M, Erem C, Sari A. Paragangliomas of the head and neck. Med Princ Pract. 2007. 16(3):209-14. [Medline]. 21. Ghoreishi M, Akbar-Beigi A, Tahery D, Sehhat S. Fever as the main presenting symptom of a carotid body tumor. Arch Iran Med. 2008 Mar. 11(2):214- 7. [Medline]. 22. Lack EE. Anatomy and physiology of peripheral arterial chemoreceptors. Pathology of adrenal and extra-adrenal paraganglia. Philadelphia: W.B Saunders; 1-14. 23. Maxwell JG, Jones SW, Wilson E, Kotwall CA, Hall T, Hamann S. Carotid body tumor excisions: adverse outcomes of adding carotid endarterectomy. J Am Coll Surg. 2004 Jan. 198(1):36-41. [Medline]. 24. Terry A. Day John K. Joe. Primary Neoplasms of the neck. Cummings: Otolaryngology: Head & Neck Surgery. 4th. St Louis: Elsevier-Mosby; 2005. 113.
Modul VII.5.3 ± Carotid Body Tumor 3 25. Straughan DM, Neychev VK, Sadowski SM, et al. Preoperative Imaging Features are Associated with Surgical Complications Following Carotid Body Tumor Resection. World J Surg. 2015 Aug. 39 (8):2084-9. [Medline]. 26. Rosa M, Sahoo S. Bilateral carotid body tumor: the role of fine-needle aspiration biopsy in the preoperative diagnosis. Diagn Cytopathol. 2008 Mar. 36(3):178- 80. [Medline]. 27. Arya S, Rao V, Juvekar S, Dcruz AK. Carotid body tumors: objective criteria to predict the Shamblin group on MR imaging. AJNR Am J Neuroradiol. 2008 Aug. 29(7):1349-54. [Medline]. 28. Dorobisz K, Dorobisz T, Temporale H, et al. Diagnostic and Therapeutic Difficulties in Carotid Body Paragangliomas, Based on Clinical Experience and a Review of the Literature. Adv Clin Exp Med. 2016 Nov-Dec. 25 (6):1173- 7. [Medline]. [Full Text]. 29. Makeieff M, Raingeard I, Alric P, Bonafe A, Guerrier B, Marty-Ane Ch. Surgical management of carotid body tumors. Ann Surg Oncol. 2008 Aug. 15(8):2180-6. [Medline]. 30. Sahin MA, Jahollari A, Guler A, Doganci S, Bingol H, Karaman B, et al. Results of combined preoperative direct percutaneous embolization and surgical excision in treatment of carotid body tumors. Vasa. 2011 Nov. 40(6):461- 6. [Medline]. 31. Cobb AN, Barkat A, Daungjaiboon W, et al. Carotid Body Tumor Resection: Just as Safe without Preoperative Embolization. Ann Vasc Surg. 2020 Apr. 64:163-8. [Medline]. 32. Texakalidis P, Charisis N, Giannopoulos S, et al. Role of Preoperative Embolization in Carotid Body Tumor Surgery: A Systematic Review and Meta- Analysis. World Neurosurg. 2019 Sep. 129:503-13.e2. [Medline]. 33. Kim H, Cho YP, Moon KM, Kwon TW. Embolic stroke after carotid artery ligation during carotid body tumor resection. Vascular. 2011 Nov 18. [Medline]. 34. Zhang TH, Jiang WL, Li YL, et al. Perioperative approach in the surgical management of carotid body tumors. Ann Vasc Surg. 2012 Aug. 26(6):775- 82. [Medline]. 35. Abu-Ghanem S, Yehuda M, Carmel NN, Abergel A, Fliss DM. Impact of preoperative embolization on the outcomes of carotid body tumor surgery: A meta-analysis and review of the literature. Head Neck. 2016 Apr. 38 Suppl 1:E2386-94. [Medline]. 36. Cobb AN, Barkat A, Daungjaiboon W, et al. Carotid Body Tumor Resection: Just as Safe without Preoperative Embolization. Ann Vasc Surg. 2018 Jan. 46:54-9. [Medline]. 37. Spinelli F, Massara M, La Spada M, et al. A simple technique to achieve bloodless excision of carotid body tumors. J Vasc Surg. 2014 May. 59(5):1462- 4. [Medline]. 38. van der Mey AG, Jansen JC, van Baalen JM. Management of carotid body tumors. Otolaryngol Clin North Am. 2001 Oct. 34(5):907-24, vi. [Medline]. 39. Kim GY, Lawrence PF, Moridzadeh RS, et al. New predictors of complications in carotid body tumor resection. J Vasc Surg. 2017 Jun. 65 (6):1673- 9. [Medline].
Modul VII.5.3 ± Carotid Body Tumor 4 D. KOMPETENSI a. Pengetahuan Menegakkan diagnosis Carotid Body Tumor berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang b. Keterampilan Setelah Mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam: a. Menjelaskan anatomi, fisiologi dan histologi leher dan paraganglia b. Menjelaskan etiologi dan faktor risiko Carotid Body Tumor c. Menjelaskan patogenesis dan gambaran klinis Carotid Body Tumor d. Menjelaskan dan melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik Carotid Body Tumor e. Melakukan keputusan untuk perlu tidaknya pemeriksan penunjang seperti CT Scan dan angiografi f. Membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhubungan dengan Carotid Body Tumor g. Menjelaskan tentang tatalaksana operasi Carotid Body Tumor h. Melakukan operasi Carotid Body Tumor pemberian terapi medikamentosa dan terapi lain i. Menjelaskan rehabilitasi pasca operasi Carotid Body Tumor j. Memutuskan terapi pendahuluan serta merujuk ke fasilitas kesehatan yang relevan. E. GAMBARAN UMUM Carotid body tumor/Tumor tubuh karotis (CBT), biasanya muncul sebagai massa leher dalam asimtomatik yang membesar perlahan pada tingkat bifurkasi karotis. Pada sebagian kecil pasien, nyeri muncul di sekitar tumor. Karena berhubungan dengan arteri karotis, mereka bergerak ke lateral, tetapi terfiksasi secara rostrokaudal pada pemeriksaan. Sebagai tumor membesar, bruit dapat diauskultasi dan selain massa leher, hasil ekstensi parafaring di perpindahan lateral langit-langit lunak medial dan anterior. Gejala kelumpuhan saraf kranial tidak biasa dan muncul pada tumor yang sangat besar dengan ekstensi superior ke arah foramen jugularis. Berikut 3 jenis Carotid Body Tumor (CBT) yang terdapat dalam literatur: Familial, Sporadic, Hiperplastik. Bentuk sporadic adalah jenis yang paling umum, mewakili sekitar 85% dari Carotid Body Tumor (CBTs). Tipe familial (10-50%) lebih sering terjadi pada pasien yang lebih muda. Bentuk hiperplastik sangat umum pada pasien dengan hipoksia kronis, yang meliputi pasien yang tinggal di ketinggian (> 5000 kaki di atas permukaan laut), seperti pasien yang tinggal di New Mexico, Peru, dan Colorado. [3] Bentuk hiperplastik juga terlihat pada pasien yang memiliki penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) atau penyakit jantung sianotik. F. CONTOH KASUS DAN DISKUSI Seorang laki-laki, 34 tahun datang ke poli telinga hidung tenggorok bedah kepala leher dengan keluhan benjolan di leher sebelah kanan atas, sejak beberapa bulan yang lalu. Benjolan tidak disertai dengan nyeri, konsistensi padat-kenyal, membesar secara perlahan, tidak disertai perubahan warna kulit. Keluhan telinga, hidung, tenggorok lainnya disangkal. Tidak didapatkan riwayat trauma dan manipulasi hidung sebelumnya. Pemeriksaan tanda vital dalam batas normal, dan
Modul VII.5.3 ± Carotid Body Tumor 5 laboratorium didapatkan kadar hemoglobin (Hb) 13 mg/dl, lekosit 9.000, trombosit 250.000. Diskusi : x Bagaimana etiopatogenesis Carotid body tumor? x Sebutkan insidensi Carotid body tumor? x Bagaimana gambaran klinis Carotid body tumor? Jawaban : G. TUJUAN PEMBELAJARAN a. Tujuan pembelajaran umum Proses, materi dan metode pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan melakukan tindakan yang tepat terhadap penderita Carotid body tumor b. Tujuan pembelajaran khusus 1. Mampu menguasai anatomi, histologi, fisiologi nasofaring (tingkat kompetensi (K4, A3) 2. Mampu menjelaskan etiologi dan faktor risiko Carotid body tumor Belia (tingkat kompetensi K4, A3) 3. Menjelaskan patogenesis dan gambaran klinis Carotid body tumor (tingkat kompetensi K3,A3) 4. Menentukan dan melakukan pemeriksan penunjang CT scan dan angiografi (tingkat kompetensi K3, P5, A3) 5. Membuat diagnosis Carotid body tumor berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik maupun penunjang (tingkat kompetensi K3, P5, A3) 6. Melakukan tatalaksana Carotid body tumor dan rehabilitasi pasca operasi (tingkat kompetensi K3, P3, A3) 7. Melakukan evaluasi dan memutuskan terapi pendahuluan serta merujuk ke fasilitas kesehatan yang relevan. (tingkat kompetensi K3, A3) H. METODE PEMBELAJARAN Setelah mengkuti sesi ini peserta didik akan mempunyai kemampuan dasar untuk menegakkan Carotid body tumor dan mampu untuk menentukan terapi yang sesuai. Tujuan 1. Anatomi, topografi, histologi, embriologi, fisiologi leher dan paraganglia Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metoda pembelajaran berikut ini 1. Interactive lecture 2. Small group discussion. 3. Peer assisted learning (PAL). 4. Bedside teaching. 5. Task based medical education. Harus diketahui : (khususnya untuk level Sp1) x Anatomi leher dan paraganglia x Gambaran dan karakteristik histologis leher dan paraganglia x Fisiologi leher dan paraganglia
Modul VII.5.3 ± Carotid Body Tumor 6 x Patogenesis Carotid body tumor Tujuan 2. Menjelaskan etio-patogenesis dan macam Carotid body tumor Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review. 3. Peer assisted learning (PAL). 4. Bedside teaching. 5. Task based medical education. Harus diketahui : (sedapat mungkin pilih specific features, signs & symptoms): x Etiologi dan faktor predisposisi x Patofisiologi klinik x Gejala (keluhan pasien) x Tanda (temuan hasil pemeriksaan) x Gambaran klinik Tujuan 3. Menjelaskan gambaran klinik Carotid body tumor (anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang) Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review. 3. Case simulation and investigation exercise. 4. Equipment characteristics and operating instructions. Tujuan 4. Menegakkan diagnosis Carotid body tumor dari pemeriksaan fisik dan penunjang Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review. 3. Case study 4. Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device). 5. Demonstration and Coaching 6. Practice with Real Clients. Harus diketahui : x Metoda standar anamnesis x Gejala dan tanda pasti tentang adanya Carotid body tumor x Pemeriksaan penunjang yang sensitif dan spesifik x Memilah diagnosis banding dan menentukan diagnosis kerja x Rencana pengobatan atau tatalaksana pasien Tujuan 5. Melaksanakan tatalaksana Carotid body tumor Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture
Modul VII.5.3 ± Carotid Body Tumor 7 2. Journal reading and review. 3. Morbidity and Mortality Case study 4. Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device). 5. Operative Procedure Demonstration and Coaching 6. Practice with Real Clients. 7. Continuing Professional Development Harus diketahui : x Prosedur konservatif x Prosedur operatif x Prosedur alternatif Tujuan 6. Melakukan evaluasi dan mampu memutuskan untuk melakukan rujukan Carotid body tumor Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Interactive lecture 1. Journal reading and review. 2. Case study 3. Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device). 4. Demonstration and Coaching 5. Practice with Real Clients. Harus diketahui : x Work-up Key Points x Jenis-jenis terapi yang direkomendasikan x Kondisi atau situasi penting untuk membuat keputusan untuk merujuk Tujuan 7. Menentukan terapi yang tepat pada kasus Carotid body tumor Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review 3. Case study 4. Practice with Real Clients Harus diketahui 1. Terapi pembedahan Tujuan 8. Melakukan tindakan pembedahan Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review 3. Case study 4. Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device) 5. Demonstration and Coaching 6. Practice with Real Clients
Modul VII.5.3 ± Carotid Body Tumor 8 Harus diketahui 1. Jenis pembedahan Carotid body tumor 2. Langkah-langkah pembedahan Tujuan 9. Melakukan perawatan penderita pra dan pasca pembedahan Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review 3. Case study 4. Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device) 5. Demonstration and Coaching 6. Practice with Real Clients Harus diketahui 1. Sermon of relaxation 2. Informed consent 3. Komplikasi operasi I. EVALUASI 1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri atas : - Anatomi dan fisiologi leher dan paraganglia - Penegakan diagnosis - Penatalaksanaan - Evaluasi 2. 6HODQMXWQ\D GLODNXNDQ ³small group discussion´ EHUVDPD GHQJDQ IDVLOLWDWRU XQWXN membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian. 3. Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam EHQWXN ³role play´Gan teman-temannya (Peer Assisted Evaluation) atau kepada SP (Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assisted Evaluation) setelah dianggap memadai, melalui metode bedside teaching dibawah pengawasan fasilitator, peserta didik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut: - Perlu perbaikan: pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan.
Modul VII.5.3 ± Carotid Body Tumor 9 - Cukup: pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien. - Baik: pelaksanaan benar dan baik (efisien) 4. Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan. 5. Self assesment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar. 6. Pendidik/ fasilitas: - Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form (terlampir) - Penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi - Kriteria penilaian keseluruhan: cakap/ tidak cakap/ lalai 7. Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education) 8. Pencapaian pembelajaran: - Ujian OSCE (K,P,A), dilakukan pada tahapan T.H.T.K.L dasar oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L - Ujian akhir stase, setiap divisi / unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan T.H.T.K.L lanjut oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L. - Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan T.H.T.K.L lanjut oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L. - Ujian akhir profesi (kasus bedah), dilakukan pada akhir pendidikan oleh Kolegium I T.H.T.K.L J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF A. Kuesioner Sebelum Pembelajaran (Pre Test) Soal : Apakah yang anda ketahui tentang Carotid body tumor ? Jawaban : B. Kuesioner Tengah Pembelajaran Soal : Bagaimana cara menegakkan diagnosis Carotid body tumor ? Jawaban : C. Kuesioner Akhir Pembelajaran Soal : Bagaimana tatalaksana Carotid body tumor? Jawaban :
Modul VII.5.3 ± Carotid Body Tumor 10 K. INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR OPERASI CAROTID BODY TUMOR Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.: 1 Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan) 2 Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal 3 Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien 4 T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan) NAMA PESERTA: .................................. TANGGAL: ................................. KEGIATAN KASUS I. PERSIAPAN OPERASI 1 2 3 T/D x Informed Consent x Rencana Tindakan x Persiapan Sebelum Tindakan II. PERSIAPAN PROSEDUR OPERASI CAROTID BODY TUMOR x Pastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan esensial untuk prosedur Ekstirpasi Angiofibroma Nasofaring telah tersedia dan lengkap, yaitu: a) Sterile scalpel blades no : 15 b) Scalpel handle c) Surgical scissors blunt/blunt, curved (Cooper) d) Mouth spreider e) Dower catheter (small) ± 2 pieces f) Choanal forcep g) Raspatorium h) Dissecting scissor, curved (Metzenbaum)/dissecting scissor for plastic surgery Gorney/scissor, delicate (Chadwick) i) Vessel and tendon scissors, curved and straight (Stevens) j) Standard tissue forcep k) Dissecting forcep, delicate (Adson); dissecting, nontraumatic forcep l) Hemostatic, delicate forcep/klem, straight and curved (Halsteid-mosquito) m) Hemostatic forcep standard (Adson, Leriche) n) Dissecting and ligature forceps (Baby-Overholt and Baby- Mixter) o) Bulldog clamps (DeBekey) p) Dressing and sponge forcep (Rample) q) Towel clamps (Backhaus)
Modul VII.5.3 ± Carotid Body Tumor 11 KEGIATAN KASUS r) Retractor Lagenbeck-Green dan Wound and vein retractors (Kocher/Cushing) s) Needle holder DeBekay, Sarot t) Deschams ligature needle, blunt u) Sponge forceps, curved (Duplay) v) Jarum dan benang III. PROSEDUR OPERASI 1. Pasien diposisikan supine dengan leher ekstensi 2. Dibuat insisi horizontal sekitar dua jari dibawah batas mandibula yang menyilang pinggir anterior m. Sternokleidomastoideus 3. Setelah mencapai subplatisma dibuat flap dan dielevasi, m. Sternokleidomastoideus di retraksi ke posterior. 4. Diseksi dilanjutkan sampai mencapai selubung karotis 5. Lakukan identifikasi bifurkasio karotis, kemudian a. karotis eksterna dipisahkan. 6. Tumor diangkat dengan memperhatikan tindakan tidak melukai nervus dan vaskuler 7. Setelah selesai melakukan tindakan 8. Jahit lapis demi lapis sampai kulit. L. DAFTAR TILIK PROSEDUR OPERASI CAROTID BODY TUMOR Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini: 9: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar ±: Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar T/T: Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih PESERTA: _________________________ TANGGAL :______________ KEGIATAN NILAI 9 ± T/T Persiapan 1. Kaji ulang diagnosis dan informed Consent 2. Menyiapkan peralatan operatif 3. Menyiapkan diri untuk tindakan operatif 4. Menyiapkan posisi pasien 5. Melakukan tindakan a & anti septik PROSEDUR OPERASI CAROTID BODY TUMOR 1. Pasien diposisikan supine dengan leher ekstensi 2. Dibuat insisi horizontal sekitar dua jari dibawah batas
Modul VII.5.3 ± Carotid Body Tumor 12 KEGIATAN NILAI 9 ± T/T mandibula yang menyilang pinggir anterior m. Sternokleidomastoideus 3. Setelah mencapai subplatisma dibuat flap dan dielevasi, m. Sternokleidomastoideus di retraksi ke posterior. 4. Diseksi dilanjutkan sampai mencapai selubung karotis 5. Lakukan identifikasi bifurkasio karotis, kemudian a. karotis eksterna dipisahkan. 6. Tumor diangkat dengan memperhatikan tindakan tidak melukai nervus dan vaskuler 7. Jahit lapis demi lapis sampai kulit. M. MATERI PRESENTASI Slide 1: Anatomi dan Fisiologi Leher dan Paraganglia Slide 2: Penegakan Diagnosis Carotid Body Tumor Slide 3: Staging dan Tatalaksana Carotid Body Tumor Slide 4: Teknik Operatif Carotid Body Tumor Slide 5: Tatalaksana pasca operasi dan rehabilitasi N. MATERI BAKU Tumor vaskular kepala dan leher terdiri dari berbagai entitas berbeda yang tidak berhubungan satu sama lain. Bab ini berfokus pada tumor vaskular didapat yang menghadirkan masalah klinis yang rumit. Berdasarkan klasifikasi Batsakis pada tumor vaskular, dapat dibedakan: tumor yang kongenital dan/atau timbul atas nama sindrom dan yang didapat. PARAGANGLIA Anatomi dan Fisiologi Paraganglia Paraganglia adalah bagian dari sistem kelompok sel yang memfasilitasi refleks baroreseptif dan kemoreseptif dari sistem kardiovaskular. Mereka didistribusikan secara difus ke seluruh tubuh bagian atas. Mereka mengandung sel-sel yang mampu mensekresi neuropeptida yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi refleks vaskular. Struktur ini merupakan bagian dari sistem neuroendokrin difus yang berasal dari sel asal krista neural. Turunan neural crest, menghasilkan sel C kelenjar tiroid,
Modul VII.5.3 ± Carotid Body Tumor 13 melanosit, dan paraganglia. Paraganglia ditemukan di medula adrenal atau didistribusikan secara difus sebagai paraganglia ekstraadrenal. Belakangan ini paraganglia ekstra-adrenal yang terdistribusi secara difus dibagi menjadi paraganglia branchiomer dan paraganglia vagal. Paraganglia branchiomeric didistribusikan di sepanjang arteri dan saraf kranial di kepala dan leher. Paraganglia jugulotympanic muncul dari arkus brankial kedua sedangkan paraganglia karotis muncul dari arkus brankial ketiga. Paraganglia intravagal tidak mengikuti distribusi kantong faring embriologis ini dan dengan demikian diklasifikasikan secara terpisah. Meski begitu, lokasi paraganglioma yang tidak biasa telah dicatat yang tidak sesuai dengan klasifikasi ini: laring, orbit, tiroid, rongga hidung, dan sinus serta intrakranial. Carotid body adalah struktur oval kecil berwarna coklat kemerahan, terletak di aspek posteromedial dari bifurkasi arteri karotis. Kelenjar yang sehat berukuran diameter 3-5 mm dan berat rata-rata kurang dari 15 mg. Sebagian besar literatur menyatakan bahwa kelenjar ini terletak di adventitia dekat bifurkasi arteri karotis. Namun, menurut Maxwell et al, sebagian besar ahli bedah yang berpengalaman dengan diseksi tubuh karotis mempertahankan lokasinya lebih perifer, di dalam jaringan periadventitial. Perbedaan ini sangat penting, karena pembedahan pada bidang arteri karotis yang lebih dalam dikaitkan dengan risiko komplikasi yang lebih tinggi dari cedera pembuluh darah. Kelenjar ini sangat vaskular dan menerima suplai darahnya dari pembuluh darah yang mengalir melalui ligamen Mayer, terutama dari arteri karotis eksterna, biasanya arteri faring asendens. Ini dipersarafi oleh saraf Hering, berasal dari saraf glossopharyngeal sekitar 1,5 cm distal foramen jugularis. Carotid body adalah kemoreseptor yang merasakan perubahan tekanan oksigen arteri, pH, dan carbon dioksida. Bersama dengan jantung dan aorta, ini adalah satu- satunya kemoreseptor di paraganglia. Carotid body adalah struktur oval terpisah yang terletak di belakang bifurkasio karotis dan menerima suplai darahnya langsung dari bifurkasi karotis melalui arteri glomik. Refleks aferen diperantarai oleh cabang nervus glossopharyngeus (nervus Hering). Carotid Body Tumor (CBT) adalah neoplasma langka, meskipun mereka mewakili sekitar 65% dari paraganglioma kepala dan leher. Tumor ini berkembang dalam adventitia aspek medial bifurkasi karotis. Berbagai studi pencitraan dapat
Modul VII.5.3 ± Carotid Body Tumor 14 digunakan untuk mengkonfirmasi diagnosis tumor tubuh karotis (CBT), dimulai dengan ultrasonografi sederhana dengan Doppler warna. Pertumbuhan diobati dengan pembedahan atau radioterapi. Carotid body, yang berasal dari neural crest, penting dalam adaptasi akut tubuh terhadap fluktuasi konsentrasi oksigen, karbon dioksida, dan pH. Carotid body melindungi organ dari kerusakan hipoksia dengan melepaskan neurotransmiter yang meningkatkan laju ventilasi bila dirangsang. Carotid Body Tumor Carotid body tumor/Tumor tubuh karotis (CBT), biasanya muncul sebagai massa leher dalam asimtomatik yang membesar perlahan pada tingkat bifurkasi karotis. Pada sebagian kecil pasien, nyeri muncul di sekitar tumor. Karena berhubungan dengan arteri karotis, mereka bergerak ke lateral, tetapi terfiksasi secara rostrokaudal pada pemeriksaan. Sebagai tumor membesar, bruit dapat diauskultasi dan selain massa leher, hasil ekstensi parafaring di perpindahan lateral langit-langit lunak medial dan anterior. Gejala kelumpuhan saraf kranial tidak biasa dan muncul pada tumor yang sangat besar dengan ekstensi superior ke arah foramen jugularis. Berikut 3 jenis Carotid Body Tumor (CBT) yang terdapat dalam literatur: Familial, Sporadic, Hiperplastik. Bentuk sporadic adalah jenis yang paling umum, mewakili sekitar 85% dari Carotid Body Tumor (CBTs). Tipe familial (10-50%) lebih sering terjadi pada pasien yang lebih muda. Bentuk hiperplastik sangat umum pada pasien dengan hipoksia kronis, yang meliputi pasien yang tinggal di ketinggian (> 5000 kaki di atas permukaan laut), seperti pasien yang tinggal di New Mexico, Peru, dan Colorado. [3] Bentuk hiperplastik juga terlihat pada pasien yang memiliki penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) atau penyakit jantung sianotik. Epidemiologi Frekuensi paraganglioma parasimpatis jarang terjadi, dengan prevalensi 1-2 per 100.000 penduduk. Tumor tubuh karotis (CBTs) merupakan sekitar 65% dari paraganglioma kepala dan leher. Tumor tubuh karotis (CBT) dapat terjadi pada anak-anak; namun, tumor tubuh karotis (CBT) dianggap sebagai penyakit usia paruh baya. Usia rata-rata onset dilaporkan 45 tahun. Paraganglioma diwariskan pada 10-50% kasus. Usia onset pada kelompok herediter biasanya lebih muda, pada dekade kedua hingga keempat.
Modul VII.5.3 ± Carotid Body Tumor 15 Sebuah studi retrospektif oleh Davila et al menyarankan bahwa tumor tubuh karotis juga cenderung muncul pada usia yang lebih muda pada pasien dengan mutasi suksinat dehidrogenase (lihat Patofisiologi). Dalam studi tersebut, dari 183 pasien dengan tumor tubuh karotis, 18 pasien menjalani tes dehidrogenase suksinat, dengan 17 ditemukan positif untuk mutasi. Pasien positif didiagnosis dengan tumor pada usia rata- rata 38,0 tahun, dibandingkan dengan 50,3 tahun untuk pasien tanpa mutasi yang diketahui. Sekitar 5% dari tumor tubuh karotis (CBT) adalah bilateral dan 5-10% ganas, tetapi angka ini jauh lebih tinggi pada pasien dengan penyakit bawaan. Tumor familial ditemukan 5,8 kali lebih umum di antara pasien yang memiliki tumor tubuh karotis dibandingkan dengan pasien yang memiliki paraganglioma di tempat lain. Menariknya, rasio pria-wanita berbeda pada pasien yang tinggal di ketinggian di atas 2.000 meter (1 : 8,3) dibandingkan pasien yang tinggal di permukaan laut (1 : 1.0-1,4). Etiologi Satu-satunya faktor risiko yang diketahui adalah adanya stimulasi hipoksia kronis dan kecenderungan genetik. Patofisiologi Tumor tubuh karotis (CBTs) diklasifikasikan ke dalam bentuk sporadis, familial, dan hiperplastik. Bentuk paraganglioma familial adalah entitas yang heterogen secara genetik; saat ini, 4 gen diidentifikasi. 3 gen pertama mengkodekan subunit kompleks enzim suksinat dehidrogenase, yang merupakan bagian dari siklus Kreb. Sindrom paraganglioma (PG) 1, 3, dan 4 terjadi karena mutasi gen yang sesuai dari subunit D, C, dan B. Mutasi gen sindrom PG 2 belum dapat diidentifikasi. Dehidrogenase suksinat yang rusak telah didalilkan menyebabkan peningkatan konsentrasi mediator hipoksia molekuler intraseluler dan faktor pertumbuhan endotel vaskular (VEGF) sehingga mengakibatkan hiperplasia, angiogenesis, dan neoplasia. Pada pasien yang tidak memiliki riwayat keluarga yang positif, mutasi germline pada gen kerentanan PGL masih mungkin terjadi melalui berbagai penyebab, termasuk pencetakan genom, penetrasi berkurang, atau mutasi de novo pada gen gamet induk. Kondisi hipoksia kronis, seperti pasien yang tinggal di dataran tinggi atau mereka yang memiliki penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) atau masalah jantung sianotik, dapat membebani badan karotis dan selanjutnya menyebabkan hipertrofi, hiperplasia, dan neoplasia sel utama. Kondisi ini terlihat pada tipe hiperplastik tumor
Modul VII.5.3 ± Carotid Body Tumor 16 tubuh karotis (CBTs). Namun, mekanisme penurunan konsentrasi oksigen dapat menyebabkan hiperplasia CB tidak jelas. Tumor tubuh karotis (CBT) kadang-kadang dapat digabungkan dengan tumor nonparaganglonik pada sindrom, termasuk MEN tipe II, sindrom von Hippel-Lindau, dan neurofibromatosis tipe 1. Sebuah studi oleh de Franciscis et al menyarankan bahwa tumor tubuh karotis memiliki efek neuroendokrin pada tekanan darah arteri. Penelitian tersebut, pada 17 pasien dengan tumor tubuh karotis jinak atau ganas, menemukan bahwa pada saat masuk, individu dengan tumor tubuh karotis ganas memiliki tekanan darah lebih tinggi daripada kontrol dan bahwa mereka dengan tumor ganas memiliki tekanan darah lebih tinggi daripada mereka dengan neoplasma jinak. Selain itu, para peneliti menentukan bahwa 10 hari setelah reseksi tumor, semua 17 pasien menunjukkan penurunan yang signifikan pada tekanan darah dan tingkat matriks metaloproteinase. Presentasi Klinis Presentasi klinis paraganglioma adalah spesifik lokasi. Saat tumor ini membesar, mereka cenderung menghasilkan neuropati kranial. Selain itu, tumor dapat menghasilkan hipertensi, takikardia, berkeringat, dan gugup sekunder karena pelepasan katekolamin. Tumor tubuh karotis (CBT) hadir paling sering sebagai massa leher teraba asimtomatik di segitiga anterior leher. Mereka adalah tumor yang tumbuh lambat yang dapat tetap tanpa gejala selama bertahun-tahun. The doubling time (TD) tumor tubuh karotis (CBT), seperti yang diperkirakan oleh Jansen et al menggunakan pencitraan sekuensial, adalah 7,13 tahun dengan tingkat pertumbuhan rata-rata 0,83 mm/tahun. Pada pemeriksaan, massa biasanya terfiksasi secara vertikal karena perlekatannya pada bifurkasi karotis komunis (tanda Fontaine). Bruit bisa dirasakan; Namun, tidak adanya bruit tidak mengesampingkan tumor tubuh karotis (CBT). Tumor tubuh vagal terletak lebih ke kranial dan kadang-kadang menonjol ke dalam faring lateral sebagai massa yang berdenyut. Sekitar 10% kasus hadir dengan kelumpuhan saraf kranial dengan kelumpuhan hipoglossal, glossofaringeal, laring berulang, atau saraf aksesori tulang belakang, atau keterlibatan rantai simpatis. Tumor tubuh karotis (CBTs) mungkin, oleh karena itu,
Modul VII.5.3 ± Carotid Body Tumor 17 berhubungan dengan nyeri, suara serak, disfagia, sindrom Horner, atau penurunan bahu (shoulder drop). Saat tumor membesar dan menekan arteri karotis dan saraf di sekitarnya, gejala lain juga dapat muncul, seperti nyeri, paresis lidah, suara serak, sindrom Horner, dan disfagia. Demam adalah tanda yang jarang dari tumor tubuh karotis (CBT), meskipun literatur telah melaporkannya sebagai salah satu penyebab demam yang tidak diketahui asalnya. Dalam kasus tumor tubuh karotis fungsional (CBTs), gejala yang mirip dengan pheochromocytoma, seperti hipertensi paroksismal, palpitasi, dan diaforesis, terlihat. Klasifikasi Shamblin Klasifikasi Shamblin biasanya digunakan untuk menentukan stadium tumor tubuh karotis, dan meskipun ini didasarkan pada temuan intraoperatif, klasifikasi ini dapat diterapkan pada temuan radiologis sebelum pengobatan. Type 1 : tumor yang relatif kecil dengan perlekatan minimal pada pembuluh darah karotis Type 2 : tumor yang lebih besar dengan perlekatan sedang pada pembuluh darah karotis tetapi dapat direseksi dengan mempertahankan pembuluh darah karotis Type 3 : tumor membungkus pembuluh darah karotis yang membutuhkan pengorbanan arteri dengan rekonstruksi Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan katekolamin urin pada pasien yang memiliki gejala tumor tubuh karotis fungsional (CBT). Berbagai studi pencitraan dapat digunakan untuk mengkonfirmasi diagnosis tumor tubuh karotis (CBT), dimulai dengan ultrasonografi sederhana dengan warna Doppler, yang dapat menilai vaskularisasi massa leher dan kadang-kadang dapat mengungkapkan kemungkinan tumor tubuh karotis (CBT), meskipun itu bukan modalitas pencitraan terbaik untuk mendeteksi tumor ini. Computed tomography (CT) pemindaian kepala dan leher juga membantu dan biasanya mengungkapkan tumor hipervaskular yang terletak di antara arteri karotis eksternal dan internal. CT scan dengan kontras adalah pilihan pencitraan yang sangat baik untuk diagnosis dan penggambaran paraganglioma. Karena tumor ini sangat vaskular, peningkatan kontras awal dan intens terlihat. hubungan tumor dengan arteri
Modul VII.5.3 ± Carotid Body Tumor 18 eksternal dan karotis, serta vena jugularis, membuat modalitas ini pada dasarnya bersifat diagnostik. Tumor tubuh karotis menunjukkan pelebaran karakteristik arteri karotis internal dan eksternal oleh massa yang berbatas tegas yang menempati bifurkasi karotis. tumor tubuh karotis menggantikan arteri karotis interna posterolateral. Pencitraan resonansi magnetik (MRI) dianggap sebagai standar kriteria untuk WXPRU WXEXK NDURWLV &%7 GDQ WXPRU WHUVHEXW PHPLOLNL SHQDPSLODQ ³VDOW DQG SHSSHU´ yang khas pada T1-weighted images. Magnetic resonance angiography (MRA) memberikan gambaran yang lebih baik tentang vaskularitas tumor dan pembuluh darah yang memperdarahinya. Namun, diagnosis yang akurat biasanya didasarkan pada kriteria angiografi, yang menunjukkan typical lyre sign yang khas. Angiografi juga membantu untuk visualisasi yang lebih baik dari pembuluh darah pengumpan dan sangat penting untuk tumor berisiko tinggi (Shamblin II atau III) yang memerlukan embolisasi atau tes oklusi balon pra operasi. Pada pasien yang diduga memiliki beberapa tumor kecil, seperti tumor tubuh karotis familial (CBT), melakukan pemeriksaan fisik dan melengkapinya dengan studi pencitraan (termasuk CT, MRI, atau skintigrafi metaiodobenzylguanidine [MIBG]) sangat penting. Pemindaian MIBG lebih cepat dilakukan daripada MRI dan juga digunakan pada pasien yang sesak. Satu-satunya masalah dengan pemindaian ini adalah hanya dapat digunakan pada pasien yang memiliki tumor fungsional. Dalam kasus di mana tumor tidak berfungsi, tes yang lebih baik adalah pemindaian pentetreotida, yang menggunakan analog somatostatin berlabel radio. Sebuah studi oleh Straughan et al menunjukkan bahwa hasil pencitraan pra operasi yang menunjukkan jarak dari ujung sarang C2 ke aspek superior tumor tubuh karotis di bawah 3 cm menunjukkan kemungkinan peningkatan cedera saraf kranial perioperatif. Penelitian ini melibatkan 19 pasien (20 reseksi tumor tubuh karotis). Prosedur Diagnostik Karena gambaran radiografik dan klinis klasik dari hipervaskularitas dan lokasi antara arteri, biopsi insisional tumor tubuh karotis (CBTs) tidak diindikasikan dan tidak boleh dilakukan kecuali dalam kasus yang sangat tidak biasa. Biopsi yang tidak disengaja dapat menyebabkan perdarahan hebat dan/atau cedera saraf kranial. Biopsi aspirasi jarum halus hanya membantu jika diagnosis tidak jelas melalui studi pencitraan.
Modul VII.5.3 ± Carotid Body Tumor 19 Temuan histologis Tumor tubuh karotis (CBTs) adalah tumor yang sangat vaskular terdiri dari 2 jenis sel berikut yang disusun dalam karakteristik pola pseudoalveolar paraganglioma yang dikenal sebagai "cell balls" (zellballen) - Sel tipe I, yang merupakan sel utama yang mendominasi tumor tubuh karotis (CBT) dan mengandung butiran terikat katekolamin - Sel tipe II, yang merupakan sel sustentakular yang terletak di pinggiran, tidak memiliki granula Paraganglioma diklasifikasikan menjadi tipe non-invasif, invasif lokal, dan metastasis. Sayangnya, keganasan tidak dapat dideteksi dengan temuan histologis rutin dan hanya ditentukan ketika tumor bermetastasis ke kelenjar getah bening regional atau tempat yang lebih jauh. Polimorfisme nuklir, invasi neurovaskular, indeks mitosis yang tinggi, dan nekrosis dapat terjadi pada tumor tubuh karotis jinak dan ganas (CBT). Staging Shamblin menjelaskan 3 jenis atau stadium tumor tubuh karotis yang berbeda. Tipe I terdiri dari tumor kecil yang mudah dibedah dari pembuluh darah yang berdekatan di bidang periadventitial. Tumor tipe II lebih besar dan lebih melekat dan sebagian mengelilingi pembuluh darah. Tumor tipe III berukuran besar dan mengelilingi bifurkasi karotis. [27] Seperti yang dijelaskan, tumor tipe II dan III lebih mungkin memerlukan reseksi karotis Sejarah Prosedur Deskripsi operasi untuk tumor tubuh karotis telah ada selama lebih dari 100 tahun. Laporan awal menggambarkan komplikasi yang signifikan, terutama kematian akibat perdarahan intraoperatif. Di Amerika Serikat, reseksi tumor tubuh karotis yang paling awal berhasil dilakukan oleh Scudder pada tahun 1903. Bahkan hingga pertengahan abad ke-20, reseksi tumor ini tetap menjadi masalah karena komplikasinya; Hayes Martin, dalam buku teksnya tentang tumor kepala dan leher, merekomendasikan untuk tidak melakukan reseksi tumor apa pun yang sekarang dianggap sebagai Shamblin tipe III (lihat Pementasan). Pencitraan modern dan teknik bedah dan vaskular saat ini telah meningkatkan keamanan dan keberhasilan operasi ini secara signifikan.
Modul VII.5.3 ± Carotid Body Tumor 20 Manajemen tumor tubuh karotis Tumor tubuh karotis (CBT) di tatalaksana dengan pembedahan atau radioterapi. Saat memilih pengobatan, pertimbangkan faktor-faktor berikut: apakah ada paraganglioma lain, adakah tumor tubuh karotis bilateral (CBT), usia dan kesehatan pasien, dan preferensi pasien. Dalam sebuah penelitian oleh Dorobisz et al dari 49 paraganglioma tubuh karotis (47 pasien) yang ditangani dengan pembedahan, termasuk 43 reseksi sederhana, pengobatan 40 tumor (82%) berjalan lancar, dengan pasien yang mengalami periode pasca operasi tanpa komplikasi. Meskipun demikian, perawatan bedah tumor tubuh karotis dapat dikaitkan dengan morbiditas yang signifikan, terutama dengan tumor Shamblin III besar (lebih besar dari 5 cm). [29] Untuk alasan ini, pasien yang memiliki kondisi medis yang buruk, pasien lanjut usia, atau pasien dengan tumor berulang biasanya diobati dengan terapi radiasi. Evaluasi pra operasi sangat penting untuk menghindari komplikasi bedah besar. Penggunaan MRI dan pengujian genetik pada keluarga yang rentan telah memungkinkan deteksi dini tumor multisentrik pada banyak pasien. Risiko operasi berhubungan langsung dengan ukuran dan luas tumor. Embolisasi pra operasi masih kontroversial, meskipun telah digunakan untuk mengurangi risiko perdarahan intraoperatif, terutama pada tumor yang lebih besar. [30] Sebuah studi oleh Cobb et al menunjukkan bahwa embolisasi tumor prabedah tidak memberikan manfaat pada pasien yang menjalani reseksi tumor tubuh karotis (CBT), tidak menemukan perbedaan yang signifikan dalam mortalitas, cedera saraf kranial, dan kehilangan darah antara pasien yang menjalani embolisasi dan mereka yang menjalani embolisasi. tidak. Selain itu, seperti yang dievaluasi setelah penyesuaian risiko, embolisasi dikaitkan dengan masa rawat yang lebih lama. Sebaliknya, tinjauan literatur oleh Texakalidis et al melaporkan bahwa pada pasien yang menjalani embolisasi sebelum reseksi, kehilangan darah intraoperatif secara signifikan lebih rendah dan waktu operasi lebih pendek daripada mereka yang tidak. Selain itu, para peneliti menemukan lama tinggal yang sama antara kedua kelompok. Radioterapi sebagai modalitas utama pengobatan untuk tumor tubuh karotis juga telah banyak diperdebatkan, karena beberapa peneliti telah menemukan bahwa tumor ini tidak radiosensitif dan telah melaporkan pertumbuhan kembali setelah penekanan.
Modul VII.5.3 ± Carotid Body Tumor 21 Tumor yang diobati terutama dengan radiasi juga sulit untuk direseksi setelahnya karena fibrosis yang diinduksi radiasi. Peneliti lain telah melaporkan tidak ada tingkat kesembuhan untuk pasien yang menerima radiasi untuk tumor tubuh karotis mereka. Tujuan utama radioterapi adalah untuk memperlambat atau menghentikan perkembangan. Untuk alasan ini, pembedahan biasanya merupakan modalitas pengobatan pilihan untuk pasien yang lebih muda dan lebih sehat dengan tumor tubuh karotis (CBT), dan radioterapi dicadangkan untuk orang tua, pasien yang merupakan kandidat bedah yang buruk, dan individu terpilih dengan beberapa paraganglioma yang dapat dilakukan reseksi. menjadi sangat morbid. Detail Praoperasi Tumor tubuh karotis jarang dikaitkan dengan gejala mirip feokromositoma, tetapi pemeriksaan katekolamin urin, asam vanillylmandelic (VMA), dan metanephrine sangat membantu dan rutin dilakukan di banyak pusat. Pencitraan pra operasi diperlukan untuk mengevaluasi luasnya penyakit dan multiplisitasnya. Jika kadar katakolamin meningkat, evaluasi untuk pheochromocytomas adrenal harus dilakukan. Jika terdeteksi tumor ini harus diangkat sebelum operasi karotis. Carotid ballon test occlusion/Oklusi uji balon karotis dilakukan pada pasien yang berisiko tinggi menjalani reseksi karotis karena keterlibatan tumor. Dalam kasus seperti itu, konsultasi dengan ahli bedah vaskular dan ahli saraf untuk pemantauan EEG intraoperatif mungkin diperlukan. Selain pengujian di atas, diskusi dengan pasien tentang komplikasi pasca operasi sangat penting; ini termasuk risiko cedera saraf kranial (IX, X, XI, XII), perdarahan, infeksi, kemungkinan bypass atau cangkok vena karotis, stroke, dan kematian. Embolisasi tumor tubuh karotis telah menjadi topik kontroversial. Telah direkomendasikan oleh beberapa ahli bedah ketika ukuran tumor melebihi ukuran 4 cm. Kehilangan darah tampaknya lebih sedikit dengan embolisasi sebelumnya dari tumor yang lebih besar. Arteriografi bilateral juga dapat dilakukan untuk menggambarkan vaskularisasi tumor dan untuk mendeteksi tumor pada sisi kontralateral.
Modul VII.5.3 ± Carotid Body Tumor 22 Sebuah studi oleh Zhang et al menunjukkan bahwa embolisasi tumor pra operasi, dilakukan kurang dari 48 jam sebelum operasi, secara signifikan dapat mengurangi kehilangan darah, waktu operasi, dan lama tinggal di rumah sakit pada pasien yang menjalani reseksi tumor tubuh karotis. Para peneliti memperingatkan bahwa embolisasi harus dilakukan hanya pada pembuluh darah yang dapat dikateterisasi secara subselektif dan yang tidak memungkinkan media kontras untuk secara bebas refluks ke dalam arteri karotis interna. Penelitian ini melibatkan 32 pasien, termasuk 21 pasien yang menjalani embolisasi dan 11 yang tidak. Sebaliknya, tinjauan literatur oleh Abu-Ghanem et al menunjukkan bahwa dalam reseksi tumor tubuh karotis, embolisasi pra operasi tidak lebih efektif daripada nonembolisasi dalam hal perkiraan kehilangan darah, lama operasi atau tinggal di rumah sakit, atau risiko stroke, saraf kranial. cedera, atau cedera vaskular. Sebuah studi oleh Cobb et al juga menunjukkan bahwa embolisasi arteri pra operasi tidak berkontribusi pada keamanan reseksi tumor tubuh karotis. Para peneliti menemukan bahwa tingkat kematian, cedera saraf kranial, dan kehilangan darah tidak berbeda secara signifikan antara pasien dalam penelitian yang menjalani reseksi tumor tubuh karotis saja dan mereka yang pertama kali menjalani embolisasi pra operasi. CT scan dengan kontras IV menunjukkan tumor tubuh karotis kiri yang membesar meluas ke ruang parafaring ke orofaring
Modul VII.5.3 ± Carotid Body Tumor 23 Angiografi empat pembuluh darah dari pasien berusia 57 tahun dengan tumor tubuh karotis bilateral Detail Intraoperatif Komunikasi yang efektif antara ahli bedah dan ahli anestesi sangat penting selama operasi. Apakah pasien benar-benar rileks adalah pilihan ahli bedah. Beberapa ahli bedah lebih memilih paralysis untuk membantu retraksi otot dan untuk memfasilitasi penggunaan elektrokauter. Ahli bedah lain lebih suka pasien untuk tidak paralysis yang menurut mereka, membantu dalam identifikasi saraf kranial. Berbagai jenis sayatan leher telah dijelaskan. Sayatan yang dipilih biasanya didasarkan pada ukuran dan luas tumor. Sayatan horizontal di leher tengah memberikan eksposur yang sangat baik baik secara superior maupun inferior dan biasanya memberikan kosmetik yang sangat baik. Beberapa ahli bedah lebih memilih pendekatan endarterektomi menggunakan sayatan servikal transversal di sepanjang batas anterior sternokleidomastoid. Untuk tumor yang lebih besar, banyak sayatan telah dijelaskan, termasuk perluasan insisi preauricular untuk tumor yang meluas ke fossa infratemporal. Langkah yang paling penting dalam pengangkatan tumor adalah kontrol superior dan inferior dari pembuluh darah. Ini termasuk identifikasi vena jugularis interna, dan arteri karotis interna dan penempatan pembuluh darah pada masing-masingnya. (Dalam laporan pada 11 pasien dengan tumor tubuh karotis Shamblin II atau III, Spinelli et al menggambarkan teknik bedah di mana reseksi tumor dari arteri karotis interna dilakukan tanpa darah dengan menjepit arteri karotis eksternal [pada asalnya dan cabang distal] ] tetapi bukan arteri karotis interna).
Modul VII.5.3 ± Carotid Body Tumor 24 Dalam kasus di mana tumor tidak melibatkan saraf hypoglossal dan vagus, saraf ini harus diekspos dan diikuti secara kranial. Identifikasi saraf aksesori dan glossopharyngeal juga dilakukan; dalam kasus tertentu, otot digastrik harus dikorbankan untuk eksposur yang lebih baik. Pembuluh darah kecil, bersama dengan beberapa cabang dari arteri karotis eksterna, diligasi. Diseksi antara arteri karotis eksterna dan interna memperlihatkan pembuluh makanan yang lebih besar, termasuk arteri faring asendens, yang merupakan pembuluh makanan utama hampir sepanjang waktu. Ini diikuti oleh diseksi craniocaudal tumor dari pembuluh karotis. Pada tumor yang diidentifikasi secara intraoperatif sebagai Shamblin tipe III, bidang diseksi dapat ditemukan pada sisi dorsolateral karotis interna atau sisi ventrolateral karotis eksterna. Diseksi tumor tubuh karotis dilakukan di bidang subadventitial baik menggunakan pembesar atau mikroskop, seperti yang dijelaskan oleh Gordon-Taylor. Ini dilengkapi dengan penggunaan kauter bipolar, yang membatasi kehilangan darah dan mengontrol perdarahan. Setiap cedera pada pembuluh karotis yang membutuhkan penjepitan artri internal membutuhkan heparinisasi sementara dengan risiko komplikasi yang rendah; ini sering diikuti dengan rekonstruksi vaskular. Van der Mey melaporkan bahwa 65% pasien yang arteri karotis internanya diligasi mengalami stroke dan 25% pasien yang lulus tes oklusi balon mengalami stroke tertunda. Selama pengangkatan tumor tubuh karotis, perawatan harus dilakukan sekali lagi untuk menghindari cedera saraf, terutama saraf laring superior, yang telah dilaporkan sebagai saraf yang paling terluka selama pembedahan. Saraf ini sering terlibat dengan tumor di posterior. Idealnya, dapat diidentifikasi dan dibedah saat keluar dari nervus vagus dan berjalan ke medial menuju laring. Detail Pascaoperasi Pada periode segera pascaoperasi, pasien harus diobservasi dengan cermat untuk setiap komplikasi prosedur, termasuk perdarahan pascaoperasi atau stroke lanjut. Pada pasien yang menjalani rekonstruksi vaskular, dianjurkan masuk ICU, bersama dengan heparinisasi.
Modul VII.5.3 ± Carotid Body Tumor 25 Follow Up Pasien harus diamati dengan cermat untuk setiap kekambuhan lokal, meskipun ini biasanya jarang terjadi. Jika pasien tidak memiliki morbiditas dari operasi awal, tumor kontralateral juga harus direseksi. Pada pasien dengan morbiditas permanen yang signifikan pada saraf kranial, radiasi ke sisi kontralateral dapat dipertimbangkan. Seperti biasa, penimbangan pro dan kontra yang cermat harus dilakukan dan disajikan kepada pasien. Operasi pada tumor kecil memiliki tingkat komplikasi yang sangat rendah dan efek radiasi jangka panjang pada pasien yang lebih muda berpotensi menjadi kontraindikasi. Komplikasi Diseksi subadventitial tumor yang hati-hati dan kontrol karotis proksimal dan distal meminimalkan komplikasi vaskular. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa ukuran tumor dan keterlibatan arteri karotis memprediksi risiko komplikasi vaskular. Risiko tertinggi diamati pada tumor yang lebih besar dari 5 cm dan/atau grade 3 menurut klasifikasi Shamblin. Pasien dengan tumor besar ini juga lebih sering mengalami cedera saraf kranial pascaoperasi. Sebuah studi oleh Kim et al menunjukkan bahwa pada reseksi tumor tubuh karotis, untuk setiap pengurangan 1 cm jarak tumor ke dasar tengkorak, risiko kehilangan darah lebih besar dari 250 mL meningkat 1,8 kali, dan risiko cedera saraf kranial meningkat 1,5. waktu. Saraf yang paling sering cedera adalah saraf laring superior. Saraf ini mempersarafi otot krikotiroid dan memberikan sensasi ke laring supraglotis. Pasien pasca operasi mungkin menderita beberapa derajat aspirasi dan perubahan suara (ketidakmampuan untuk membuat suara bernada tinggi). Cedera pada saraf vagus menyebabkan kelumpuhan pita suara dengan hasil suara serak dan peningkatan risiko aspirasi. Bila dikombinasikan dengan kelumpuhan saraf superior, seperti halnya dengan cedera vagal yang tinggi, aspirasi merupakan masalah yang signifikan karena laring tidak hanya tidak berfungsi dengan baik tetapi juga anestesi. Ini dapat dikompensasi oleh pita suara kontralateral dari waktu ke waktu. Jika masalah berlanjut, maka prosedur mediasi pita suara harus dilakukan.
Modul VII.5.3 ± Carotid Body Tumor 26 Masalah bicara dan menelan terjadi akibat cedera saraf hipoglosus. Jika saraf terpotong secara tidak sengaja, reanastomosis primer harus dicoba terlebih dahulu. Jika anastomosis primer gagal, maka pilihan lain termasuk cangkok saraf aurikularis yang lebih besar. Nyeri dan kelemahan bahu pascaoperasi biasanya merupakan akibat dari cedera saraf aksesori. Hal ini menyebabkan kecacatan yang signifikan bagi pasien. First bite syndrome adalah komplikasi lain yang terjadi ketika suplai simpatis ke kelenjar parotid ipsilateral terputus. Kelenjar parotid yang dihasilkan memiliki suplai parasimpatis yang tidak berkurang. Sampai saat ini, tidak ada pengobatan yang berhasil untuk sindrom ini. Dalam kasus eksisi tumor bilateral dengan hilangnya saraf Hering bilateral, pasien mengalami tekanan darah labil pasca operasi, yang sulit dikendalikan secara medis. Oleh karena itu, eksisi bersamaan dari tumor tubuh karotis bilateral harus dihindari, meskipun staging operasi mungkin membantu karena kompensasi yang diberikan oleh reseptor aorta. Eksisi preauricular diperpanjang pada leher pasien yang memiliki ukuran tumor yang besar
Modul VII.5.3 ± Carotid Body Tumor 27 Kontrol proksimal dan distal karotis sangat penting dan dapat menjadi sulit pada tumor yang lebih besar Foto pasca operasi setelah pengangkatan tumor
Modul VII.5.3 ± Carotid Body Tumor 28 kontrol proksimal dan distal dari loop pembuluh karotis Pengangkatan tumor subadventitial lengkap dengan karotid utuh
Modul VII.5.3 ± Carotid Body Tumor 29 Carotid body tumor setelah total eksisi Prosedur Operasi Carotid Body Tumor Kompetensi Dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai keterampilan operasi Carotid Body Tumor (teori, indikasi, prosedur, dan komplikasi). Selama pendidikan pernah melihat atau menjadi asisten, dan pernah menerapkan keterampilan ini di bawah supervisi. Definisi Pembedahan yang dilakukan pada carotid body tumor Indikasi Carotid Body Tumor Tipe I, II Pertimangan khusus pada Tipe III Differential diagnosis - Aneurisma - Pseudoaneurisma - Glomus vagal tumor - Hematoma - Vagal Schwannoma
Modul VII.5.3 ± Carotid Body Tumor 30 Kontraindikasi: - KU buruk - Usia lanjut - Tumor berulang Pilihan prosedur lainya - Radioterapi - Konsul sejawat terkait Komplikasi - Perdarahan - Cranial nerve injury - CVA - Kematian - Perlu by pass carotid Perawatan Pasca Operasi 1. Antibiotik sistemik 2. Analgetik sistemik 3. Antiperdarahan sistemik
MODUL UTAMA ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER MODUL VII.6 KARSINOMA NASOFARING EDISI III KOLEGIUM ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER 2022
DAFTAR ISI A. WAKTU ................................................................................................................. 1 B. PERSIAPAN SESI ................................................................................................. 1 C. REFERENSI ........................................................................................................... 1 D. KOMPETENSI ....................................................................................................... 2 E. GAMBARAN UMUM ........................................................................................... 2 F. CONTOH KASUS DAN DISKUSI ....................................................................... 3 G. TUJUAN PEMBELAJARAN ................................................................................ 3 H. METODE PEMBELAJARAN ............................................................................... 4 I. EVALUASI ............................................................................................................ 6 J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF .................................... 7 K. INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR ....................................................... 9 L. DAFTAR TILIK ................................................................................................... 10 M. MATERI PRESENTASI ...................................................................................... 11 N. MATERI BAKU .................................................................................................. 13
Modul VII.6 ± Karsinoma Nasofaring 1 MODUL VII.6 ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER: KARSINOMA NASOFARING A. WAKTU Mengembangkan Kompetensi Alokasi Waktu Sesi di dalam kelas Sesi dengan fasilitasi Pembimbing Sesi praktik dan pencapaian kompetensi 2 x 90 menit (classroom session) 1 x 60 menit (coaching session) 12 jam (facilitation and assessment) B. PERSIAPAN SESI 1. MATERI PRESENTASI Karsinoma Nasofaring o Power point o Video 2. KASUS Karsinoma Nasofaring (epidemiologi dan masalahnya/magnitude of the problem) 3. SARANA DAN ALAT BANTU LATIH o Penuntun belajar (learning guide): terlampir o Tempat belajar (training setting): instalasi rawat inap, instalasi rawat jalan, kamar operasi, ruang praktikum, ruang kuliah o Model/manekin atau kadaver o Komputer/laptop o Infocus C. REFERENSI 1. Wei W, Chua D. Nasopharyngeal cDUFLQRPD ,Q -RKQVRQ 7 5RVHQ & HGLWRUV %DLOH\¶V KHDG and neck surgery otolaryngology, 5 ed. Philapdelphia: Lippincott Wiliams & Wilkins; 2014. p. 1975ʹ893. 2. Eibling D. Carcinoma of the Oral Cavity, Pharynx, and Esophagus.: Head and Neck Surgery,Q &KDQ < *RGGDHG -& (GLWRUV .-/HH¶V (VVHQWLDO Otolaryngology Head and Neck Surgery. 11th (ed). United States: McGraw-Hill education. 2016. p. 703-8 3. Wi W, Sham JS. Cancer of the nasopharynx. In: Myers E, Suen J, Myers J, Hanna E, editors. Cancer of the head and neck, 4th ed. Philadelphia: Saunders; 2003. p. 229ʹ47. 4. Jatin S. 2019. Pharynx And Esophagus In: Head and neck surgery and Oncology 5th Ed. Philadelphia: Elsevier. p. 299-364 5. Cancer AJCC. AJCC cancer staging manual, 8th ed. Chicago: Springer; 2017. 6. Pfister DG, Spenser S, Adelstein D, Adkins D, Brizel DM, Burtness BA. NCCN Clinical Practise Guidelines in Oncology. Head and Neck Cancer: National Comprehensive Cancer Network; 2020. p225 7. Lazim NM, Spinato G, Abdullah K, Boscollo-Rizzo P. Survival rates and quality of life of nasopharyngeal carcinoma patients. In Abdullah B, Balasubramanian A, Lazim NM, ed. An Evidence-Based Approach to the management of Nasopharyngeal Cancer. 2020. Elsevier:United Kingdom. p255-271. 8. Tian YM, Huang WZ, Lan YH, Zhao C, Bai L, Han F. Prognostic model and optimal treatment for patients with stage IVC NPC at diagnosis. Scientific reports.2019;9:1-7
Modul VII.6 ± Karsinoma Nasofaring 2 9. Farhat, Adham M, Dewi YA, Indrasari SR. Karsinoma Nasofaring. 1 st ed. Jakarta:EGC;2021. D. KOMPETENSI 1. Pengetahuan Mampu membuat diagnosis karsinoma nasofaring berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik. dan beberapa pemeriksaan tambahan (misalkan pemeriksaan nasofaringoskopi dan CT Scan nasofaring). Dapat memutuskan dan melakukan terapi pendahuluan serta merujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi, setelah diatasi masalah kegawatdaruratannya. 2. Keterampilan Setelah Mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam: 1. Menjelaskan anatomi, fisiologi, dan histologi nasofaring 2. Menjelaskan etiologi dan faktor risiko karsinoma nasofaring 3. Menjelaskan patogenesis dan gambaran klinis karsinoma nasofaring 4. Menjelaskan dan melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik karsinoma nasofaring 5. Melakukan keputusan untuk perlu tidaknya pemeriksan penunjang seperti nasofaringoskopi dan CT Scan nasofaring 6. Membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhubungan dengan karsinoma nasofaring 7. Menjelaskan tentang tatalaksana karsinoma nasofaring, pemberian kemoterapi, dan radiasi pada karsinoma nasofaring 8. Memutuskan terapi pendahuluan serta merujuk ke fasilitas kesehatan yang relevan. E. GAMBARAN UMUM Karsinoma Nasofaring (KNF) merupakan karsinoma sel skuamosa (KSS) yang berasal dari epitel nasofaring. Keganasan dapat berasal dari setiap bagian nasofaring, dan yang paling sering pada fossa Rossenmuler, yang terletak di medial osteum tuba eustachius. Faktor risiko kejadian KNF diantaranya kandungan nitrosamin (akibat konsumsi ikan asin), Virus Epstein Barr Virus (VEB) (keberadaannya dalam spesimen biopsi nasofaring meningkatkan insidensi 6 kali lipat), faktor genetik juga memegang peranan penting dalam etiologi. Gejalanya KNF tergantung dari lokasi tumor primer, infiltrasi ke sekitar nasofaring atau metastasis ke Kelenjar Getah Bening (KGB) leher. Obstruksi hidung, epistaksis (akibat ulserasi tumor, biasanya ringan bercampur sekret), disfungsi tuba (akibat perluasan ke posterolateral ruang paranasofaringeal), tuli konduksi, otitis media efusi, sakit kepala (akibat infiltrasi superior ke skull base), diplopia (infiltrasi ke sinus kavernosus dan ventrikel lateralis, ventrikel ke 3 dan ke 4 juga nervus VI), nyeri wajah (akibat infiltrasi ke arah foramen ovale). Karsinoma Nasofaring mempunyai kecenderungan yang tinggi untuk metastasis ke KGB leher, berupa massa yang tidak nyeri tekan, sering terdapat di leher bagian atas. Gejala yang berhubungan dengan metastasis jauh pada KNF relatif jarang. Metastasis ke tulang, hepar, dan paru merupakan tempat metastasis yang dapat dijumpai.
Modul VII.6 ± Karsinoma Nasofaring 3 Rasio penderita KNF antara laki laki dan wanita adalah 3 : 1, dengan umur rata rata 50 tahun. Gejala pada pasien muda sama dengan pasien dewasa. F. CONTOH KASUS DAN DISKUSI Seorang laki-laki, 50 tahun datang ke poli T.H.T.K.L dengan keluhan epistaksis/mimisan hilang timbul, sering berulang dalam 3 bulan terakhir. Pasien juga mengeluh gangguan penghidu, pendengaran penuh, dan berkurang. Benjolan di leher kanan dan kiri dirasakan sejak 6 bulan terakhir, semakin lama semakin besar dan tidak nyeri, pandangan dobel juga dirasakan. Pemeriksaan tanda vital dalam batas normal, dan laboratorium didapatkan kadar hemoglobin (Hb) 9.2 mg/dl, lekosit 9.000, trombosit 250.000. Diskusi : x Etiopatogenesis epistaksis x Insidensi karsinoma nasofaring x Gambaran klinis karsinoma nasofaring Jawaban : x Pada KNF dapat terjadi epistaksis akibat adanya ulserasi dari tumor dan biasanya bercampur dengan sekret. x KNF dapat terjadi pada setiap usia antara 45-54 tahun, namun dalam 2 dekade terakhir dilaporkan peningkatan kasus kejadian pada usia yang lebih muda. KNF terbanyak pada pria dengan perbandingan 3:1. x Gejala karsinoma nasofaring tergantung dari lokasi tumor primer, infiltrasi ke sekitar nasofaring atau metastasis ke KGB leher. Obstruksi hidung, epistaksis (akibat ulserasi tumor, biasanya ringan bercampur sekret), disfungsi tuba (akibat perluasan ke posterolateral ruang paranasofaringeal), tuli konduksi, otitis media efusi, sakit kepala (akibat infiltrasi superior ke skull base), diplopia (infiltrasi ke sinus kavernosus dan ventrikel lateralis, ventrikel ke 3 dan ke 4 juga nervus VI), nyeri wajah (akibat infiltrasi ke arah foramen ovale). G. TUJUAN PEMBELAJARAN a. Tujuan pembelajaran umum Proses, materi, dan metode pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan melakukan tindakan yang tepat terhadap penderita karsinoma nasofaring. b. Tujuan pembelajaran khusus Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan mampu untuk: 1. Menguasai anatomi, histologi, fisiologi nasofaring (tingkat kompetensi K3, A3) 2. Mampu menjelaskan etiologi dan faktor risiko karsinoma nasofaring (tingkat kompetensi K3, A3) 3. Menjelaskan patogenesis dan gambaran klinis karsinoma nasofaring (tingkat kompetensi K3, A3) 4. Menentukan dan melakukan pemeriksan penunjang (nasal endoskopi/ nasofaringoskopi dan CT Scan nasofaring) (tingkat kompetensi K3, A3) 5. Membuat diagnosis karsinoma nasofaring berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik maupun penunjang (tingkat kompetensi K3, A3, P5)
Modul VII.6 ± Karsinoma Nasofaring 4 6. Melakukan tatalaksana karsinoma nasofaring (radioterapi, kemoterapi, operatif, imunoterapi, paliatif) (tingkat kompetensi K3, A3) 7. Melakukan evaluasi dan memutuskan terapi pendahuluan serta merujuk ke fasilitas kesehatan yang relevan. (tingkat kompetensi K3, A3) H. METODE PEMBELAJARAN Setelah mengkuti sesi ini peserta didik akan mempunyai kemampuan dasar untuk menegakkan diagnosis karsinoma nasofaring dan mampu untuk menentukan terapi yang sesuai. Tujuan 1. Anatomi, topografi, histologi, embriologi, fisiologi nasofaring Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metoda pembelajaran berikut ini 1. Referat 2. Skill Lab 3. Cadaver dissection/ atlas review Harus diketahui: x Anatomi nasofaring x Gambaran dan karakteristik histologis nasofaring x Fisiologi nasofaring x Etiopatogenesis karsinoma nasofaring Tujuan 2. Menjelaskan etio-patogenesis dan macam KNF Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Referat 2. Literature reading 3. Journal reading Harus diketahui : (sedapat mungkin pilih specific features, signs & symptoms): x Etiologi dan faktor predisposisi x Patofisiologi klinik x Gejala (keluhan pasien) x Tanda (temuan hasil pemeriksaan) x Gambaran klinik Tujuan 3. Menjelaskan gambaran klinik karsinoma nasofaring (anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang) Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Bedside teaching 2. Praktik lapangan (poliklinik) 3. Case report Tujuan 4. Membuat diagnosis karsinoma nasofaring dari pemeriksaan fisik dan penunjang Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Bedside teaching
Modul VII.6 ± Karsinoma Nasofaring 5 2. Praktik lapangan (poliklinik) 3. Praktik lapangan (OK) 4. Case report Harus diketahui: x Metode standar anamnesis x Gejala dan tanda pasti tentang adanya tumor di nasofaring x Pemeriksaan penunjang yang sensitif dan spesifik x Memilah diagnosis banding dan menentukan diagnosis kerja x Rencana pengobatan atau tatalaksana pasien Tujuan 5. Melaksanakan tatalaksana karsinoma nasofaring Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Bedside teaching x Praktik lapangan (poliklinik) x Praktik lapangan (OK) x Case report x Referat Harus diketahui: x Prosedur konservatif o Radioterapi o Kemoterapi o Operatif x Prosedur operatif o Biopsi nasofaring o Nasofaringektomi. Tujuan 6. Melakukan evaluasi, menentukan terapi karsinoma nasofaring tingkat lanjut (residif dan rekuren) Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Bedside teaching 2. Praktik lapangan (poliklinik) 3. Praktik lapangan (OK) 4. Case report 5. Referat 6. Mini research 7. Bakti social di bidang THT (ditentukan oleh RS setempat) Harus diketahui: x Evaluasi hal penting x Jenis-jenis terapi yang direkomendasikan x Kondisi atau situasi penting untuk membuat keputusan untuk merujuk
Modul VII.6 ± Karsinoma Nasofaring 6 Tujuan 7. Pemberian kemoterapi dan penatalaksanaan komplikasi Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Bedside teaching 2. Praktik lapangan (poliklinik) 3. Case report 4. Referat 5. Mini research Tujuan 8. Penatalaksanaan bedah untuk KNF residif dan rekuren Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Bedside teaching/ ronde 2. Praktik lapangan (poliklinik) 3. Praktik lapangan (OK) 4. Case report 5. Referat 6. Mini research Harus diketahui: x Kondisi pasien pasca tindakan bedah (post operasi hingga follow up di poliklinik) x Komplikasi tindakan bedah I. EVALUASI 1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta Fellow dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri atas : - Anatomi nasofaring - Penegakan diagnosis KNF lanjut - Penatalaksanaan KNF lanjut - Evaluasi penatalaksanaan KNF lanjut 2. Selanjutnya dilakukan small group discussion bersama dengan mentor untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian. 3. Setelah mempelajari penuntun belajar ini, Fellow diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk role play dan teman-temannya (Peer Assisted Evaluation) atau kepada SP (Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assisted Evaluation) setelah dianggap memadai, melalui metode bedside teaching dibawah pengawasan fasilitator, peserta didik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut:
Modul VII.6 ± Karsinoma Nasofaring 7 - Perlu perbaikan: pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan. - Cukup: pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien. - Baik: pelaksanaan benar dan baik (efisien) 4. Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan. 5. Self assesment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar. 6. Pendidik/fasilitas: - Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form (terlampir) - Penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi - Kriteria penilaian keseluruhan: cakap/ tidak cakap/ lalai 7. Di akhir penilaian peserta Fellow dievaluasi jumlah kompetensi yang telah dicapai sesuai dengan modul. Jika Fellow belum memenuhi jumlah yang ditentukan, bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task- based medical education) atau perpanjangan Fellow (berdasarkan evaluasi mentor) J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF A. Kuesioner Sebelum Pembelajaran (Pre Test) Soal : Jelaskan patogenesis dari KNF Jawaban: Karsinoma Nasofaring merupakan KSS yang berasal dari epitel nasofaring. Keganasan dapat berasal dari setiap bagian nasofaring, dan yang paling sering pada fossa Rossenmuler, yang terletak di medial osteum tuba eustachius. Faktor risiko kejadian KNF diantaranya kandungan nitrosamin (akibat konsumsi ikan asin), VEB (keberadaannya dalam spesimen biopsi nasofaring meningkatkan insidensi KNF 6 kali lipat), faktor genetik juga memegang peranan penting dalam etiologi KNF. B. Kuesioner Tengah Pembelajaran Soal : Bagaimana gejala klinis KNF? Jawaban : Gejala KNF tergantung dari lokasi tumor primer, infiltrasi ke sekitar nasofaring atau metastasis ke KGB leher. Obstruksi hidung, epistaksis (akibat ulserasi tumor, biasanya ringan bercampur sekret), disfungsi tuba (akibat perluasan ke posterolateral ruang paranasofaringeal), tuli konduksi, otitis media efusi, sakit kepala (akibat infiltrasi superior ke skull base), diplopia (infiltrasi ke sinus kavernosus dan ventrikel lateralis, ventrikel ke 3 dan ke 4 juga nervus VI), nyeri wajah (akibat infiltrasi ke arah foramen ovale). Karsinoma Nasofaring mempunyai kecenderungan yang tinggi untuk metastasis ke KGB leher, berupa massa yang tidak nyeri tekan, sering terdapat di leher bagian atas. Gejala gejala yang berhubungan dengan metastasis jauh pada KNF
Modul VII.6 ± Karsinoma Nasofaring 8 relatif jarang. Metastasis ke tulang, hepar, dan paru merupakan tempat metastasis yang dapat dijumpai. C. Kuesioner Akhir Pembelajaran Soal : Bagaimana tata laksana pada KNF? Jawaban : Terdapat beberapa modalitas penatalaksanaan utama pada KNF: 1. Radioterapi KNF mempunyai sifat radiosensitif sehingga radioterapi masih sebagai pilihan terapi utama pada KNF. Radioterapi mempunyai efek samping dan kesulitan dalam tatalaksana karena KNF terletak dibawah skull base dan dikelilingi jaringan otak, saraf spinal, jalur pituitary-hipothalamus, lobus temporalis, mata, telinga tengah, dan glandula parotis. 2. Kemoterapi Kemoterapi ditambahkan sebagai terapi bersama dengan radioterapi. Penelitian yang sudah dilakukan melaporkan hasil kemoterapi neoajuvan, konkuren. konkomitan, dan adjuvan. Regimen yang dapat digunakan pada saat ini adalah platinum based, 5FU, dan ifosfamid serta terapi target. 3. Immunoterapi Imunoterapi pada kanker didasarkan kepada penghambatan kemampuan sel kanker dalam menghindari sistem imun. Ada berbagai cara untuk menghasilkan respons imun antikanker yaitu Teknik imunoterapi dengan target EBV, terapi penghambat kinase, Programmade death (PD-1) inhibitor, terapi sel dendritic, terapi chimeric antigen receptor T-cell (CAR-T) dan vaksin kanker. 4. Operatif (Nasofaringektomi dan diseksi leher) Tindakan operatif merupakan pilihan modalitas terapi untuk kasus KNF residif dan rekuren. Pembedahan dapat merupakan penanganan terhadap residif atau rekurensi lokal dan regional (kelenjar getah bening). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pembedahan berpotensi memberikan control tumor lokal yang lebih baik serta menurunkan mortalitas dan morbiditas pasca perawatan dibandingkan re-iradiasi. 5. Paliatif Penatalaksanaan paliatif merupakan rangkaian penatalaksanaan multidisiplin yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien serta mendukung keluarga dan care provider dalam menghadapi permasalahan yang berhubungan dengan KNF. Penatalaksanaan paliatif meiputi identifikasi, penilaian, dan tatalaksana nyeri serta masalah fisik, psikososial dan spiritual.
Modul VII.6 ± Karsinoma Nasofaring 9 K. INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR PROSEDUR BIOPSI NASOFARING Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.: 1. Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan) 2. Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal 3. Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien 4. T/D : Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan) NAMA PESERTA: ...................................... TANGGAL: ................................. KEGIATAN KASUS I. KAJI ULANG DIAGNOSIS DAN PROSEDUR TINDAKAN 1 2 3 T/D x Informed Consent x Rencana Tindakan x Persiapan Sebelum Tindakan II. PERSIAPAN PROSEDUR BIOPSI NASOFARING x Pastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan esensial untuk prosedur biopsi nasofaring telah tersedia dan lengkap, yaitu: a) Lidokain 2% b) Larutan epineprin c) Kassa gulung d) Endoskopi rigid 0 derajat, monitor, dan light source e) Cunam biopsi f) Pinset bayonet g) Lampu kepala h) Nasal speculum i) Suction j) Botol berisi formalin III. PROSEDUR BIOPSI NASOFARING 1. Tampon hidung dengan kassa efedrin-lidokain atau penyemprotan/spray dengan anestesi lokal dimulai dari rongga hidung 1 semprotan dilanjutkan ke daerah nasofaring 2 semprotan 2. Aplikasi obat anestesi dilakukan 2 kali masing-masing selama 5 menit. Sekret dan jaringan nekrotik yang ada dibersihkan dengan suction 3. Dengan bantuan endoskopi, cunam biopsi dimasukkan menyusuri dasar hidung, konka media sampai dinding belakang nasofaring diarahkan menuju massa tumor.
Modul VII.6 ± Karsinoma Nasofaring 10 KEGIATAN KASUS 4. Ujung forseps digeserkan ke samping mengikuti dinding lateral sambil ditarik ke depan perlahan-lahan. Penarikan forceps ke depan + 1 cm dibelakang koana dan + 1 cm dari dinding posterior torus tubarius atau dicari daerah fossa Rossenmuller. 5. Dilakukan pengambilan sebagian jaringan yang dicurigai. 6. Jaringan tumor dimasukkan ke dalam botol berisi formalin 10%. 7. Perdarahan dirawat dengan memasukkan kassa berisi cairan vasokontriktor. 8. Pasien diberikan terapi antibiotik lini pertama dan analgetik 9. Bila masih terdapat perdarahan massif, dapat dilakukan pemasangan tampon anterior 10. Pelepasan tampon anterior dilakukan pada hari kedua setelah biopsi L. DAFTAR TILIK PROSEDUR BIOPSI NASOFARING Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini: 9: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar ±: Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar T/T: Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih PESERTA: _________________________ TANGGAL :______________ KEGIATAN NILAI 9 ± T/T Persiapan 1. Kaji ulang diagnosis 2. Menyiapkan peralatan operatif 3. Menyiapkan diri untuk tindakan operatif 4. Menyiapkan posisi pasien 5. Melakukan tindakan a & anti septik PROSEDUR OPERASI 1. Tampon hidung dengan kassa efedrin-lidokain atau penyemprotan/spray dengan anestesi lokal dimulai dari rongga hidung 1 semprotan dilanjutkan ke daerah nasofaring 2
Modul VII.6 ± Karsinoma Nasofaring 11 KEGIATAN NILAI 9 ± T/T semprotan 2. Aplikasi obat anestesi dilakukan 2 kali masing-masing selama 5 menit. Sekret dan jaringan nekrotik yang ada dibersihkan dengan suction 3. Dengan bantuan endoskopi, cunam biopsi dimasukkan menyusuri dasar hidung, konka media sampai dinding belakang nasofaring diarahkan menuju massa tumor. 4. Ujung forseps digeserkan ke samping mengikuti dinding lateral sambil ditarik ke depan perlahan-lahan. Penarikan forceps ke depan + 1 cm dibelakang koana dan + 1 cm dari dinding posterior torus tubarius atau dicari daerah fossa Rossenmuller. 5. Dilakukan pengambilan sebagian jaringan yang dicurigai. 6. Jaringan tumor dimasukkan ke dalam botol berisi formalin 10%. 7. Perdarahan dirawat dengan memasukan kassa berisi cairan vasokontriktor. 8. Pasien diberikan terapi antibiotik lini pertama dan analgetik 9. Bila masih terdapat perdarahan massif, dapat dilakukan pemasangan tampon anterior 10. Pelepasan tampon anterior dilakukan pada hari kedua setelah biopsi M. MATERI PRESENTASI Slide 1: Karsinoma nasofaring
Modul VII.6 ± Karsinoma Nasofaring 12 Slide 2: Teknik Pemeriksaan Slide 3 :Metode Diagnosis Anamnesis: Anamnesis dimulai dengan pertanyaan yang meliputi gejala: 1. Hidung tersumbat. 2. Telinga berdengung/tertutup 3. Epistaksis/Ingus bercampur darah 4. Benjolan pada leher/tidak 5. Penglihatan Ganda 6. Waktu (sudah berapa lama)/kapan mulai dirasakan
Modul VII.6 ± Karsinoma Nasofaring 13 Slide 4 : Algoritma diagnosis dan penatalaksaan karsinoma nasofaring Algoritme Diagnosis Karsinoma Nasofaring Algoritme Penatalaksanaan Karsinoma Nasofaring N. MATERI BAKU Karsinoma Nasofaring Karsinoma nasofaring adalah tumor ganas yang berasal dari sel epitel nasofaring (merupakan KSS). Tumor ini bermula dari dinding lateral nasofaring (fossa Rosenmuller) yang terletak di medial osteum tuba eustachius dan dapat menyebar kedalam atau keluar nasofaring menuju dinding lateral, posterosuperior, dasar Serologi EBV (±) CT-scan (±) Serologi EBV (+) CT-scan (±) Biopsi ulang (anestesi umum) + Panendoskopi CT-scan KNF (ʹ) KNF (ʹ) Terapi KNF Lihat Algoritme Penatalaksanaan Serologi EBV (ʹ) KSS/Ca Undiff Biopsi nasofaring +/ʹ panendoskopi Follow Up KNF (ʹ)
Modul VII.6 ± Karsinoma Nasofaring 14 tengkorak, palatum, kavum nasi, dan orofaring serta metastasis ke kelenjar limfe leher. Secara anatomi, nasofaring berhubungan dengan kavum nasi dan merupakan jalan udara selama kita bernafas. Kebiasaan mengkonsumsi ikan asin adalah salah satu faktor yang menyebabkan KNF, karena kandungan Nitrosamin yang ada di dalamnya. Pada suatu penelitian dilaporkan bahwa kebiasaan mengkonsumsi ikan asin kurang dari 10 tahun berhubungan dengan peningkatan risiko KNF. Virus Epstein Barr juga sering disebut mempunyai peranan dalam karsinogenesis KNF, sebab genome VEB sering ditemukan dalam spesimen biopsi KNF. Virus Epstein Barr dapat ditemukan di tubuh manusia. Adanya VEB dalam tubuh meningkatkan insidensi KNF 6 kali dibandingkan kelompok kontrol. Ini menyokong bahwa faktor genetik memegang peranan penting dalam etiologi KNF. Penelitian mengenai genom menggambarkan bahwa mutasi terjadi. Pasien KNF mempunyai satu atau lebih dari empat gejala. Gejalanya tergantung dari lokasi tumor primer, infiltrasi ke sekitar nasofaring atau metastasis ke KGB leher. Massa tumor di nasofaring dapat mengakibatkan obstruksi hidung dan adanya sekret. Pada tumor yang kecil, obstruksi hidung terjadi unilateral, dan tumor akan membesar dan obstruksi menjadi bilateral. Ketika tumor mengalami ulserasi dapat terjadi epistaksis. Epistaksis biasanya ringan dan bercampur dengan sekret sebagai post-nasal drip, terutama pagi hari. Tumor sebagian besar di nasofaring, dengan atau tanpa perluasan ke posterolateral ke ruang paranasofaringeal menyebabkan disfungsi tuba eustachius. Ini dapat menyebabkan cairan terkumpul di kavum timpani sehingga pasien dapat mengeluh gangguan dengar konduktif unilateral, otitis media dan gejala otologi lainnya (misalnya otalgia, tinnitus). Infiltrasi tumor ke superior skull base akan menyebabkan pasien sakit kepala, infiltrasi tumor ke sinus kavernosus dan ventrikel lateralis, ventrikel ketiga dan ventikel ke empat, juga nervus VI maka akan terjadi diplopia. Apabila tumor tumbuh kearah foramen ovale, nervus V dapat terkena dan mengakibatkan nyeri wajah dan ganguan anestetik. Karsinoma nasofaring mempunyai kecenderungan yang tinggi untuk metastasis ke KGB leher, dengan gejala yang umum adalah massa yang tidak nyeri tekan, sering terdapat di leher bagian atas, massa di KGB leher dapat unilateral atau bilateral. Gejala yang berhubungan dengan metastasis jauh pada KNF jarang terjadi. Metastasis ke tulang, hepar, dan paru merupakan tempat metastasis yang dijumpai. Tidak khasnya gejala di hidung dan pendengaran, pembesaran KGB leher yang tidak disertai rasa nyeri menyebabkan pasien KNF terdiagnosis pada stadium lanjut. Epitel sel malignansi pada KNF adalah khas berupa sel poligonal yang besar dengan sintitial. Nukleusnya berbentuk oval dengan sedikit kromatin dan nukleolus yang jelas. Sel ini sering bersama dengan sel limfoit di nasofaring, yang disebut limfoepitelioma. World Health Organization (WHO) merekomendasikan klasifikasi KNF berdasarkan gambaran histopatologisnya sejak tahun 1991, yang dibagi menjadi: 1. Berkeratinisasi 2. Tanpa keratinisasi a. Berdiferensiasi (WHO tipe II) b. tidak berdiferensiasi (WHO tipe III)
Modul VII.6 ± Karsinoma Nasofaring 15 a. WHO tipe I. Karsinoma sel skuamosa berkeratinisasi. Sel kanker dapat berdiferensiasi baik sampai sedang dan menghasilkan relatif cukup banyak bahan keratin, baik di dalam sitoplasma maupun di luar sel. b. WHO tipe II. Karsinoma tanpa keratinisasi. Pada tipe ini dijumpai adanya diferensiasi sedang, jembatan antarsel tidak ada, dan batas sel masih jelas. Sel- sel ganas tersusun secara stratified atau berimpitan, menyerupai gambaran pada karsinoma sel transisional. c. WHO tipe III. Karsinoma tidak berdiferensiasi. Pada tipe ini sel tumor memperlihatkan inti yang vesikuler, berbentuk oval atau bulat dengan nukleoli yang jelas, batas sel tidak jelas. Penegakan diagnosis dilakukan dengan klinis, radiologis dan histopatologis. pemeriksaan fisik seperti pembesaran KGB leher, cairan di kavum timpani, dan keterlibatan nervus kranialis. Pemeriksaan secara langsung dengan rinoskopi posterior kearah hidung bagian belakang, meskipun terdapat variasi anatomis pada beberapa pasien. Pemeriksaan lain adalah dengan pemeriksaan antibodi VEB, pemeriksaan radiologis (CT Scan/MRI) serta endoskopi untuk evaluasi dan biopsi. Pemeriksaan Darah Pemeriksaan dasar yang dapat dilakukan pada keganasan ditampilkan pada Tabel 10.1. Pola persebaran keganasan dapat membantu memilih jenis pemeriksaan yang dapat dilakukan. Tabel 1. Pemeriksaan darah pada kasus keganasan No. Pemeriksaan Keterangan 1. Hemoglobin Anemia normositik normokromin dapat menandakan karsinoma stadium lanjut 2. Laju endap darah Laju endap darah yang tinggi dapat menandakan adanya mieloma atau limfoma 3. SGOT/SGPT Evaluasi fungsi liver untuk evaluasi metastasis 4. Bilirubin Membantu evaluasi kemungkinan metastasis 5. Alkali fosfatase Evaluasi adanya metastasis tulang 6. 7. Kalsium darah Serologi VEB Evaluasi adanya metastasis tulang Analisis kuantitatif dan DNA VEB Diagnosis Banding x Angiofibroma Nasofaring Belia x Limfoma x Hipertrofi Adenoid x Hemangioma x Melanoma x Plasmacytoma Stadium Sistem yang digunakan dalam menentukan stadium KNF adalah sistem berdasarkan The American Joint Committee on Cancer/Union Interrnationale Contre le Cancer (AJCC / UICC) edisi ke-8.
Modul VII.6 ± Karsinoma Nasofaring 16 Tabel 2. Sistem Klasifikasi TNM edisi 8 AJCC 2017 Tumor Primer (T) TX : Tumor primer tidak dapat dinilai T0 : Tumor primer tidak ditemukan, tetapi VEB-positif, terdapat keterlibatan KGB T1: Tumor terbatas di nasofaring, atau ekstensi ke orofaring dan/atau kavum nasi tanpa terdapat keterlibatan parafaringeal T2 : Tumor dengan ekstensi ke ruang parafaring, dan/atau keterlibatan jaringan lunak disekitarnya (pterigoid medial, pterigoid lateral, muskulus prevertebra). T3 : Tumor dengan infiltrasi ke struktur tulang di dasar tengkorak, vertebra servikalis, petrigoid, dan/atau sinus parasanal T4 :Tumor dengan ekstensi ke intrakranial, keterlibatan nervus kranialis, hipofaring, orbita, glandula parotis, dan/atau infiltrasi ekstensif dari jaringan lunak didepan permukaan lateral dari muskulus pterigoid lateral Kelenjar Getah Bening (N) NX : Kelenjar getah bening tidak dapat dinilai N0 : Tidak ada metastasis ke kelanjar getah bening N1 : Unilateral metastasis pada kelanjar getah bening dam/atau unilateral atau bilateral metastasis pada kelenjar getah bening retrofaringeal, berukuran < 6cm, diatas batas kaudal kartilago krikoid N2 : Bilateral metastasis pada kelenjar getah bening, berukuran < 6cm, diatas batas kaudal kartilago krikoid N3 : Unilateral atau bilateral metastasis pada kelenjar getah bening, berukuran > 6cm, dan/atau ekstensi dibawah batas kaudal dari kartilago krikoid Metastasis Jauh (M) M0 : Tidak didapatkan metastasis jauh M1 : Terdapat metastasis jauh Tabel 3. Stadium Prognostik AJCC T N M Stadium Tis N0 M0 0 T1 N0 M0 I T1, T0 N1 M0 II T2 N0 M0 II T2 N1 M0 II T1, T0 N2 M0 III T2 N2 M0 III T3 N0 M0 III T3 N1 M0 III
Modul VII.6 ± Karsinoma Nasofaring 17 T3 N2 M0 III T4 N0 M0 IVA T4 N1 M0 IVA T4 N2 M0 IVA Semua T N3 M0 IVA Semua T Semua N M1 IVB Tatalaksana Radioterapi Karena lokasi nasofaring yang tersembunyi, dikelilingi struktur organ penting dan sifatnya yang infiltrative, maka operasi untuk reseksi tumor masih terus dalam penelitian. KNF mempunyai sifat radiosensitive, sehingga radioterapi merupakan terapi utama. Radioterapi meskipun efektif tetapi juga mempunyai komplikasi, sebab KNF terletak dibawah skull base dan dikelilingi jaringan otak, syaraf spinal, jalur pituitary ± hypothalamus, lobus temporalis, mata, telinga tengah dan telinga dalam dan glandula parotis. Organ organ ini harus dipertimbangkan dalam pemberian dosis radioterapi untuk tumornya. Sebab KNF cenderung bersifat infiltrative dan menyebar ke organ sekitarnya, sehingga sulit untuk mencegah pemberian radioterapi ke tumor primer tanpa mengenai organ disekitarnya. Walaupun di leher tidak ada pembesaran KGB, leher biasanya tetap mendapat radiasi, sehingga kontrol lokoregional yang baik dapat dicapai, sebab apabila terjadi kekambuhan lokoregional akan meningkatkan resiko terjadinya metastase jauh. Kemoterapi Untuk penatalaksanaan KNF terutama yang sudah lanjut, kemoterapi ditambahkan sebagai terapi bersama dengan radioterapi.. Penelitian yang sudah dilakukan melaporkan hasil kemoterapi neoadjuvan, konkuren dan ajuvan. Pemberian kemoterapi neoadjuvan dapat meningkatkan angka survival dengan bebas kekambuhan, tetapi tidak meningkatkan overall survival. Pada saat ini telah disepakati bahwa untuk KNF yang sudah lanjut konkuren kemoradiasi diperlukan, disamping terapi lain yang diperlukan untuk evaluasi. Untuk meningkatkan hasil pemberian konkomitan kemoradisi, pemberian neoadjuvan kemoterapi yang diikuti dengan konkomitan kemoradioterapi dilaporkan dapat meningkatkan survival dan efek sampingnya lebih dapat ditoleransi. Regimen yang dapat digunakan adalah platinum based, 5-FU (Flouro Uracyl), dan ifosfamid serta terapi target. Follow up Quality of live pasien KNF yang sudah diteliti secara umum menggambarkan kondisi yang terganggu. Komplikasi jangka lama yang tampak akibat radiasi pada organ yang terkena. Komplikasi yang terjadi antara lain adalah gangguan neuroendokrin,
Modul VII.6 ± Karsinoma Nasofaring 18 pendengaran, xerostomia yang dapat menyebabkan oral hygiene yang jelek, fibrosis pada jaringan ikat dan stenosis arteri karotis. Komplikasi defisit neurologis berupa nekrosis lobus temporalis, paralisis nervus kranialis dan berkurangnya fungsi memori, kognitif dan disfungsi neurofisiologi. Penggunaan cisplatin mempunyai efek ototoksik. Adanya remisi yang komplit pada KNF dapat dievaluasi dengan pemeriksaan fisik, pemeriksaan endoskopik dengan atau tanpa biopsy dan pemeriksaan radiologis. Sudah dilakukan suatu penelitian untuk membandingkan antara PET, MRI dan CT Scan dalam men deteksi KNF yang persisten atau rekuren, dan didapatkan bahwa PET lebih baik. Deteksi awal kekambuhan lokoregional adalah penting, karena tumor masih dapat disembuhkan bila dideteksi awal. Pada kasus KNF yang persisten, apabila salah satu dari nasofaring atau leher 10 minggu post terapi masih didapatkan tumor. KNF Persisten atau Rekuren Meskipun konkomitan kemoraditerapi efektif pada KNF, kegagalan lokal maupun regional adalah gambaran dari KNF persisten atau rekuren. Untuk mencapai kesembuhan yang tinggi, deteksi dini dan penatalaksanaannya adalah penting. PET lebih baik dibandingkan MRI dan CT Scan dalam mendeteksi KNF persisten maupun rekuren, yang biasanya dikonfirmasi dengan hasil biopsy dengan bantuan pemeriksaan endoskopi. Adanya persisten atau rekuren pada KGB setelah kemoradioterapi merupakan tanda buruk yang sulit untuk di terapi, sebab hanya merupakan gambaran Terapi agresif pada KNF dengan lokal rekuren biasanya baik, sebab meskipun angka survival post retreatmen adalah buruk, tetapi angka survivalnya masih lebih panjang dibandingkan hanya diterapi suportif saja. Untuk pasien KNF, dengan kegagalan terapi lokoregional, terapi yang agresif sebaiknya diberikan dengan selektif. Nasofaringektomi Apabila KNF persisten atau residu meluas ke paranasofaringeal space yang terlalu besar untuk berhasil dengan bracyterapi, dilakukan nasofaringektomi. Nasofaringektomi efektif untuk eradiasi untuk tumor local secara selektif. Nasofaring berlokasi di tengah dari kepala. Sulit untuk membuka region ini secara adekuat dan mengeluarkan massa tumor yang sudah meluas ke sekitarnya. Pendekatan bervariasi untuk membuka nasofaring. Pendekatan dari otak dan saraf spinal tidak praktis dilakukan. Pendekatan transantral dan midfasial degloving untuk membuka nasofaring dari depan tidak dapat melihat semua nasofaring. Pendekatan anterior dengan membuka palatum durum hanya bisa melihat dinding posterior nasofaring dan tidak bisa untuk dinding lateral. Pendekatan nasofaring dari lateral akan dapat dicapai fossa infratemporal. Prosedur ini dimulai dengan radikal mastoidektomi dan adanya variasi struktur yang harus dimobilisasi, termasuk arteri karotis interna, nervus V dan lantai dari fossa middle cranial. Hasilnya morbiditas kecil dan membuka nasofaring dari dinding lateral tidak dapat melihat seluruh nasofaring.
Modul VII.6 ± Karsinoma Nasofaring 19 Pendekatan nasofaring dapat dari arah inferior. Menggunakan pendekatan transpalatal, transmaksilari dan transservical. Pendekatan ini digunakan pada tumor yang berlokasi di sentral dan dinding posterior nasofaring. Untuk tumor yang luas, terutama yang terletak didinding lateral, space paranasofaringeal sulit dengan pendekatan inferior dan arteri karotis interna dapat diproteksi. Pendekatan melalui anterolateral ke nasofaring atau swing maksilar juga dapat digunakan pada nasofaringektomi. Mengikuti anatomi tulang, tulang maksila melekat pada dinding anterior pipi dapat ditarik ke lateral sebagai satu osteokutaneus komplek. Dengan pendekatan ini nasofaring dan paranasofaringeal space dapat dibuka dan massa tumor dapat diangkat. Prosedur operasi yang mirip dengan maksilektomi, memudahkan untuk konterol arteri karotis interna. Mortalitas dari nasofaringectomi secara umum adalah rendah. Seperti pada pasien yang mendapat radioterapi radikal, penyembuhannya memerlukan waktu dan beberapa pasien menjadi trismus. Secara umum sepanjang tumor persisten atau rekuren dapat diambil sampai bersih, hasilnya memuaskan. Angka 5 year survival control tumor di nasofaring setelah nasofaringektomi dilaporkan sampai 65%. Dan angka 5 year bebas penyakit sampai 54%. Pendekatan nasofaringektomi secara endoskopi memberikan modalitas baru pada kelainan pada dasar otak, setelah ditemukannya metode untuk mencapai dasar otak, perkembangan bedah endoskopi mampu berkembang hingga bedah dasar otak bagian lateral. Pendekatan nasofaringektomi endoskopi transpterigoid memperlihatkan lapangan operasi yang leih baik dan akses langsung ke strutur paramedian seperti sinus paranasal, sinus sfenoid, sela, sinus kavernosus, tuba eustachius, dan cabang posterior arteri karotis. Pendekatan ini dapat meminimalisir cedera struktur penting saat operasi. Prognosis KNF Fokus studi terhadap prognosis dan ketahanan hidup pasien KNF semakin meningkat seiring dengan peningkatan kasus yang cukup signifikan setiap tahun. Kasus advanced KNF didiagnosis sekitar 60-70% pasien. Kemajuan dalam teknik radiasi dengan IMRT secara signifikan dilaporkan meningkatkan kontrol lokal dan 5-year survival rate hingga 80%. Kemoterapi bersama terapi radiasi juga dilaporkan dapat meningkatan ketahan hidup pasien KNF stadium II dan terutama pada KNF stadium III dan IV. Studi menunjukkan bahwa kombinasi terapi radiasi dan kemoterapi dapat menurunkan risiko mortalitas sebesar 18% dan meningkatkan 4-6% angka 5-year survival rate. Tatalaksana neoadjuvant kemoterapi yang dilanjutkan dengan konkuren kemoradiasi dilaporkan dapat memberikan prognosis yang lebih baik. Prognosis buruk dilaporkan pada kasus KNF dengan metastasis meskipun telah mendapatkan terapi kemoterapi paliatif. Namun, beberapa pasien yang mendapatkan kemoterapi disertai radiasi dengan dosis definitive lokal dilaporkan memiliki prognosis yang cukup baik. Pasien dengan keterlibatan hanya 1 organ metastasis menunjukkan prognosis yang lebih baik dibandingkan pasien dengan multiple organ metastasis. Metastasis pada area liver dilaporkan memiliki prognosis yang lebih buruk dibandingkan metastasis pada tulang dan paru.
Modul VII.6 ± Karsinoma Nasofaring 20 Faktor usia dilaporkan juga dapat mempengaruhi ketahanan hidup pasien. Beberapa literatur menunjukkan bahwa usia yang lebih muda dapat memiliki prognosis yang lebih baik, namun peneliti lain juga melaporkan faktor stadium T dan N juga sangat mempengaruhi prognosis pada berbagai usia. Usia yang lebih muda diyakini memiliki toleransi yang lebih baik terhadap efek samping pengobatan. Beberapa faktor yang dapat menyebabkan prognosis buruk pada pasien adalah 1. Faktor pasien : usia yang lebih tua, jenis kelamin wanita, ekonomi rendah, indeks massa tubuh yang tinggi dan komorbid lain yang diderita. 2. Faktor stadium : T dan N yang advanced 3. Faktor efek samping terapi : Efek samping terapi radiasi : perubahan rasa, xerostomia, nyeri tenggorok, gangguan menelan. Efek samping kemoterapi : mual muntah, nyeri menelan, gangguan makan, penurunan berat badan. 4. Faktor Quality of Life (QoL) : dipengaruhi oleh anxietas dan depresi yang dialami oleh 25-54% pasien. Disfagia dapat terjadi pada 50% pasien dan dapat menyebabkan terjadi malnutrisi serta resiko pneumonia aspirasi. Cancer related fatigue (CRF) dapat dialami oleh pasien KNF dalam menjalani terapi dengan prevalensi 65-100% bahkan dapat bertahan sebanyak 30% pada survival kanker. Faktor-faktor yang mempengaruhi prognosis pasien adalah : - Skor Karnofsky performances <70 - Metastasis liver - Metastasis multipel organ - Lesi metastasis > 2 - LDH > 245 IU/I - Tidak respons terhadap kemoterapi
MODUL UTAMA ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER MODUL VII.7 NEOPLASMA OROFARING EDISI III KOLEGIUM ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER 2022
DAFTAR ISI A. WAKTU ......................................................................................................... 1 B. PERSIAPAN SESI.......................................................................................... 1 C. REFERENSI ................................................................................................... 1 D. KOMPETENSI ............................................................................................... 2 E. GAMBARAN UMUM.................................................................................... 2 F. CONTOH KASUS DAN DISKUSI ............................................................... 2 G. TUJUAN PEMBELAJARAN ........................................................................ 7 H. METODE PEMBELAJARAN ....................................................................... 7 I. EVALUASI .................................................................................................... 8 J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF ............................... 9 K. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR ...................... 11 L. DAFTAR TILIK ........................................................................................... 11 M. MATERI PRESENTASI .............................................................................. 13 N. MATERI BAKU ........................................................................................... 22
Modul VII.7 ± Neoplasma Orofaring 1 MODUL VII.7 ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER: NEOPLASMA OROFARING A. WAKTU Proses Pengembangan Kompetensi Alokasi Waktu Sesi di dalam kelas Sesi praktik dan pencapaian kompetensi Waktu: 1 x 60 menit (classroom session) 8 jam (facilitation and assessment) B. PERSIAPAN SESI 1. Materi presentasi: o Power point o Video 2. Kasus: neoplasma orofaring Diskusi kasus dan tatalaksana 3. Sarana dan alat bantu latih: (disesuaikan dengan pencapaian kompetensi): o Penuntun belajar (learning guide): terlampir o Tempat belajar (training setting): instalasi rawat inap, instalasi rawat jalan, kamar operasi, ruang praktikum, ruang kuliah o Model/manekin atau kadaver o Komputer/laptop o Infocus C. REFERENSI 1. Pou AM., Johnson JT. Oropharyngeal Cancer. 2014. in Bailey B.J, Johnson J.T, , In : Head and Neck Surgery - Otolaryngology, 5th. edition, Volume two, Lippincott Williams & Wilkins, 2014, p : 1898 - 916. 2. Gonzales D., Robbins K.T.O. Carcinoma of the oral cavity,pharynx,and esophagus. In: K.J. Lee., ed. Essential otolaryngology head and neck surgery. 11th ed. New York: McGraw-Hill Education; 2016. p. 715-9 3. Neskey D.M.Hutcheson K.A. et al. Cancer of the oropharynx In: Myers J.N. Hanna E.Y.N. et al. Editors: Cancer of the head and neck. 5 th ed. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2017. p. 617-44 4. Shah JP, Patel SG, Singh B, Wong RJ. Pharynx and Esophagus. In -DWLQ 6KDK¶V Head and Neck Surgery and Oncology. 5 th Edition. Philadelphia : Elsevier co. 2020; p363-364. 5. Cancer AJCC. AJCC cancer staging manual, 8th ed. Chicago: Springer; 2017. 6. Pfister DG, Spenser S, Adelstein D, Adkins D, Brizel DM, Burtness BA. NCCN Clinical Practise Guidelines in Oncology. Head and Neck Cancer: National Comprehensive Cancer Network; 2020. p225 7. Montero PH, Migliacci JC, Patel SG. Oncologic Outcome. In Shah JP, Johnson NW editor. Oral and Oropharyngeal Cancer. 2 nd edition. Florida: Taylor and Francis. P441-456.
Modul VII.7 - Neoplasma Orofaring 2 D. KOMPETENSI 1. Pengetahuan Setelah mengikuti sesi ini peserta mampu mendiagnosis dan menatalaksana neoplasma orofaring. 2. Keterampilan Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil: 1. Mengenali gejala dan tanda neoplasma orofaring 2. Melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan endoskopi terhadap neoplasma orofaring 3. Melakukan keputusan untuk pemeriksan penunjang Radiologi seperti CT Scan atau MRI dengan kontras 4. Melakukan biopsi massa tumor orofaring. 5. Membuat diagnosis, keputusan penatalaksanaan dan prognosis neoplasma orofaring. E. GAMBARAN UMUM Neoplasma orofaring adalah suatu pertumbuhan jaringan abnormal yang terjadi pada daerah orofaring. Massa tumor dapat berasal dari 1/3 posterior lidah, palatum mole, tonsil palatina dinding posterior dan lateral orofaring. Massa tumor yang terdapat pada orofaring seringkali menimbulkan gejala subklinik pada stadium awal, sehingga seringkali datang pada saat sudah stadium lanjut. Infeksi HPV berdasarkan studi merupakan salah satu faktor resiko kasus neoplasma orofaring dan dapat mempengaruhi prognosis penyakit. F. CONTOH KASUS DAN DISKUSI Seorang laki-laki, 45 tahun mengeluh rasa mengganjal di tenggorok, keluhan disertai dengan benjolan di amandel kanan dan benjolan di leher kanan. Keluhan ini dirasakan sejak 6 bulan yang lalu. Saat ini pasien makan minum masih normal. Tidak ada keluhan sesak napas, suara serak, nyeri menelan. Dari pemeriksaan orofaring didapatkan massa pada tonsil kanan permukaannya licin, kemerahan, tidak mudah berdarah. Diskusi : x Anatomi orofaring x Patogenesis terjadinya neoplasma orofaring x Tipe neoplasma orofaring x Prosedur diagnosis x Rencana penatalaksanaan dan prognosis Jawaban: x Anatomi orofaring Termasuk dalam orofaring adalah palatum mole, tonsil dan fosa tonsilaris, pangkal lidah serta dinding faring mulai dari setinggi palatum mole sampai setinggi valekula. Daerah orofaring sangat kaya dengan aliran limfe, 15 sampai 75% pasien keganasan orofaring datang dengan metastasis ke kelenjar getah bening leher. x Faktor resiko terjadinya neoplasma orofaring - Merokok/mengunyah tembakau.
Modul VII.7 - Neoplasma Orofaring 3 - Alkohol - Infeksi HPV - Oral higine yang buruk. - Defisiensi nutrisi dan vitamin. - Imunodefisiensi. - Genetik x Prosedur diagnosis - Anamnesis - Pemeriksaan fisik dan pemeriksaan endoskopi - Pemeriksaan penunjang : Laboratorium dan Radiologi - Biopsi/Sitologi - Menentukan stadium (berdasarkan TNM AJCC edisi 8) x Rencana penatalaksanaan Pengobatan Kanker Orofaring Menurut National Comprehensive Cancer Network 2021:
Modul VII.7 - Neoplasma Orofaring 4
Modul VII.7 - Neoplasma Orofaring 5
Modul VII.7 - Neoplasma Orofaring 6
Modul VII.7 - Neoplasma Orofaring 7 G. TUJUAN PEMBELAJARAN a. Tujuan pembelajaran umum Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan mampu untuk melakukan anamnesis, pemeriksaan fisis, pemeriksaan endoskopi, mengusulkan pemeriksaan penunjang, melakukan biopsi/sitologi dan membuat keputusan panatalaksanaan neoplasma orofaring. b. Tujuan pembelajaran khusus Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan mampu untuk: 1. Menjelaskan anatomi, histologi, fisiologi orofaring 2. Menjelaskan etiopatogenesis neoplasma orofaring 3. Menjelaskan dan melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan endoskopi neoplasma orofaring 4. Melakukan keputusan untuk pemeriksan penunjang yang diperlukan seperti: biopsi jarum halus/fine needle aspiration biopsy (FNAB), USG, dan CT scan/MRI dengan kontras 5. Melakukan biopsi pada massa neoplasma orofaring dan biopsi insisional pada KGB leher 6. Membuat diagnosis klinik dengan menentukan stadium tumor berdasarkan pemeriksaan fisik, endoskopi, hasil biopsi dan pemeriksaan penunjang yang berhubungan dengan neoplasma orofaring 7. Menjelaskan tentang tatalaksana pilihan terapi berdasarkan stadium (operasi, radioterapi, kemoterapi) dan prognosis penyakit 8. Mengenali secara dini berbagai masalah penyulit dan komplikasi yang mungkin terjadi pada neoplasma orofaring seperti disfagia atau ancaman sumbatan jalan napas, serta memutuskan terapi pendahuluan dan merujuk ke spesialis yang relevan. H. METODE PEMBELAJARAN Tujuan 1. Menjelaskan anatomi, histologi, fisiologi orofaring Untuk mencapai tujuan ini, maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Referat 2. Video 3. Atlas review 4. Bedside teaching Tujuan 2. Menjelaskan etiopatogenesis neoplasma orofaring Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Referat 2. Literatur reading 3. Journal reading Tujuan 3. Menjelaskan dan melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan endoskopi neoplasma orofaring Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Bedside teaching/ Poliklinik 2. Case report
Modul VII.7 - Neoplasma Orofaring 8 Tujuan 4. Melakukan keputusan untuk pemeriksan penunjang yang diperlukan seperti, biopsi jarum halus/fine needle aspiration biopsy (FNAB), USG, dan CT scan/MRI dengan kontras Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Bedside teaching/ Poliklinik 2. Case report Tujuan 5. Melakukan biopsi pada massa neoplasma orofaring dan biopsy insisi pada KGB leher Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Bedside teaching 2. Praktik lapangan (OK) 3. Case report Tujuan 6. Membuat diagnosis klinik dengan menentukan stadium tumor berdasarkan pemeriksaan fisis, endoskopi, hasil biopsi dan pemeriksaan penunjang yang berhungan dengan neoplasma orofaring Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Bedside teaching/ Poliklinik 2. Praktik lapangan (OK) 3. Case report Tujuan 7. Menjelaskan tentang tatalaksana pilihan terapi berdasarkan stadium (operasi, radioterapi, kemoterapi) dan prognosis penyakit Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Bedside teaching/ Poliklinik 2. Praktik lapangan (OK) 3. Case report 4. Referat Tujuan 8. Mengenali secara dini berbagai masalah penyulit dan komplikasi yang mungkin terjadi pada neoplasma orofaring seperti disfagia atau ancaman sumbatan jalan napas atas, serta memutuskan terapi pendahuluan dan merujuk ke spesialis yang relevan Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Bedside teaching/ Poliklinik dan ruang perawatan 2. Case report 3. Referat I. EVALUASI 1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan, yang bertujuan untuk menilai kinerja awal, yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri atas: anatomi, gambaran klinik, pemeriksaan fisik, pemeriksaan endoskopi, pemeriksaan penunjang, diagnosis, penatalaksanaan dan prognosis. 2. Small group discussion bersama fasilitator untuk membahas kekurangan yang ada, hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar dan proses penilaian.
Modul VII.7 - Neoplasma Orofaring 9 3. Setelah mempelajari penuntun belajar ini mahasiswa diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk role play dengan teman-teman (peer assisted learning) atau kepada standardized patient. Pada saat tersebut yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar dpegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (peer assieted evaluation). Setelah dianggap memeadai melalui metode bed side teaching dibawah pengawasan fasilitator, peserta didik mengaplikasikan penuntun belajar dari model anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya paqda pasien sesunggguhnya. Pada saat pelaksaan, evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation) dan mengisi formulir penilaian berikut : - Perlu perbaikan: pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan - Cukup : pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misalnya pemeriksaan terlalu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien - Baik : pelaksanaan benar dan baik (efisien) 4. Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali small group discussion untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan. 5. Self assesment dan peer assisted evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar 6. Pendidik / fasilitator : - Pengamatan langsung dengan memakai evaluation check list form (terlampir) - Penjelasan lisan dari peserta didik / diskusi - Kriteria penilaian keseluruhan : cakap / tidak cakap / lalai 7. Pada akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education) 8. Pencapaian pembelajaran : - Ujian akhir setelah penyelesaian modul - Ujian Tulis Kolegium THT-KL - Ujian Lisan OSCE Kolegium THT-KL J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF Kuesioner meliputi : 1. Kuesioner Sebelum Pembelajaran Soal : 1. Tumor orofaring yang sudah melibatkan otot pterigoid lateral adalah stadium: a. T1 b. T2 c. T3 d. T4a e. T4b Jawaban: E 2. Apakah faktor yang paling sering dihubungkan sebagai etiologi tumor ganas dasar lidah saat ini? a. Konsumsi alkohol yang kronis
Modul VII.7 - Neoplasma Orofaring 10 b. Tembakau c. Perokok pasif d. Infeksi human papilloma virus (HPV) tipe 16 Jawaban: D 2. Kuesioner Tengah Pembelajaran Soal : Seorang laki-laki, 47 tahun datang berobat dengan mengeluh nyeri menelan sejak 2 bulan yang lalu, keluhan disertai dengan benjolan di bagian belakang mulut sebelah kanan dan benjolan di leher kanan yang tidak nyeri. Tidak ada keluhan sesak napas, suara dirasakan berubah seperti bergumam, kadang-kadang ludah bercampur darah. Dari pemeriksaan orofaring didapatkan massa pada tonsil kanan dengan bagian yang ulseratif, kemerahan, mudah berdarah. Apakah langkah- langkah penatalaksanaan pada pasien di atas? Jawaban: x Anamnesis yang lengkap x Pemeriksaan fisik dan endoskopi secara komprehensif x Pemeriksaan Radiologi CT Scan/ MRI dengan kontras untuk menentukan perluasan tumor dan pembesaran KGB, yang berguna dalam penentuan staging T dan N. x Pemeriksaan biopsi massa orofaring x Pemeriksaan Rontgen Thoraks AP/PA, USG Abdomen, Bone scan dan pemeriksaan laboratorium lengkap untuk mengevaluasi adanya metastasis jauh. x Penentuan stadium berdasarkan AJCC edisi 8 x Penentuan rencana penetalaksanaan dapat menggunakan NCCN tahun 2021 3. Kuesioner Setelah Pembelajaran (post test) Soal : 1. A 60-year old man presents to the hospital with a 5 cm solitary lymph node in the upper right cervical region and abnormal looking right tonsil. Assuming this is a squamous cell ca nRGDO PHWDVWDVLV ZKDW LV WKH ³1´ FODVVLILFDWLRQ" A. N1 B. N2a C. N2b D. N2c E. N3 Answer : B
Modul VII.7 - Neoplasma Orofaring 11 K. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR BIOPSI NEOPLASMA TONSIL Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.: 1 Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan) 2 Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal 3 Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan) NAMA PESERTA: ................................. TANGGAL:................................. KEGIATAN NILAI 1 2 3 T/D I. PERSIAPAN TINDAKAN 1. Informed consent - Menjelaskan tujuan tindakan dan hasil yang diharapkan - Menjelaskan prosedur dan standar tindakan pada pasien dan keluarganya - Menjelaskan dampak dan komplikasi tindakan 2.Melakukan evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi tindakan II. PROSEDUR TINDAKAN 3. Pasien diminta duduk tegak dan membuka mulut, tumor diidentifikasi 4. Dilakukan anestesi lokal pada daerah tonsil yang akan dilakukan biopsi 5. Tekan lidah dengan spatula lidah 6. Ambil jaringan tumor dengan menggunakan forsep biopsy di beberapa tempat (2-3 titik) 7. Daerah biopsi yang berdarah ditekan dengan menggunakan kassa epinefrin/adrenalin 8. Jaringan tumor dimasukkan ke dalam botol berisi formalin 10% III. PASCA TINDAKAN 9. Diobservasi ada tidaknya komplikasi 10. Pasien diberikan terapi analgetik dan antibiotika lini pertama 11. Pasien diperbolehkan pulang dan diedukasi untuk segera kontrol bila ada keluhan seperti perdarahan, nyeri hebat, disfagia dan gejala sumbatan jalan napas atas 12. Pasien kontrol setelah ada hasil biopsi L. DAFTAR TILIK BIOPSI NEOPLASMA TONSIL
Modul VII.7 - Neoplasma Orofaring 12 Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini: 9 Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar ± Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar T/T Tidak Ditampilkan: Langkah kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih NAMA PESERTA: ........................... TANGGAL: ................................. KEGIATAN NILAI 1 2 3 T/D II. PERSIAPAN TINDAKAN 1. Informed consent - Menjelaskan tujuan tindakan dan hasil yang diharapkan - Menjelaskan prosedur dan standar tindakan pada pasien dan keluarganya - Menjelaskan dampak dan komplikasi tindakan 2.Melakukan evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi tindakan II. PROSEDUR TINDAKAN 3. Pasien diminta duduk tegak dan membuka mulut, tumor diidentifikasi 4. Dilakukan anestesi lokal pada daerah tonsil yang akan dilakukan biopsi 5. Tekan lidah dengan spatula lidah 6. Ambil jaringan tumor dengan menggunakan forsep biopsi di beberapa tempat (2-3 titik) 7. Daerah biopsi yang berdarah ditekan dengan menggunakan kassa epinefrin/adrenalin 8. Jaringan tumor dimasukkan ke dalam botol berisi formalin 10% III. PASCA TINDAKAN 9. Diobservasi ada tidaknya komplikasi 10. Pasien diberikan terapi analgetik dan antibiotika lini pertama 11. Pasien diperbolehkan pulang dan diedukasi untuk segera kontrol bila ada keluhan seperti perdarahan, nyeri hebat, disfagia dan gejala sumbatan jalan napas atas 12. Pasien kontrol setelah ada hasil biopsi
Modul VII.7 - Neoplasma Orofaring 13 M. MATERI PRESENTASI Slide 1: Anatomi, histologi dan fisiologi orofaring Slide 2 : Epidemiologi Neoplasma orofaring
Modul VII.7 - Neoplasma Orofaring 14 Slide 3 : Etiopatogenesis o Etiologi pasti: belum diketahui o Bersifat multi faktor o Hubungan kuat dengan rokok dan konsumsi alkohol o Perokok Æ meningkat 5-25 kali o Efek dari Rokok dan alkohol berhubungan dengan jumlah o Virus HPV Slide 4 : Gejala Klinik o Pada kanker orofaring stadium awal, gejala klinis biasanya tidak terlihat/asimtomatik. o Gejala biasanya terlihat jelas jika kanker sudah dalam stadium lanjut. o Gejala klinis nyeri tenggorok yang tidak sembuh-sembuh ÆNyeri ini biasanya bertambah pada saat menelan. Nyeri dapat menyebar ke telinga (otalgia) akibat referred pain Disfagia & disatria. Limfadenopati Penurunan berat badan Trismus. dll Slide 5 : Staging Neoplasma orofaring HPV positif/p16 +
Modul VII.7 - Neoplasma Orofaring 15
Modul VII.7 - Neoplasma Orofaring 16 HPV negatif/P16 negatif
Modul VII.7 - Neoplasma Orofaring 17
Modul VII.7 - Neoplasma Orofaring 18 Slide 6 : Penatalaksanaan Neoplasma orofaring
Modul VII.7 - Neoplasma Orofaring 19
Modul VII.7 - Neoplasma Orofaring 20
Modul VII.7 - Neoplasma Orofaring 21
Modul VII.7 - Neoplasma Orofaring 22 N. MATERI BAKU a. Anatomi Termasuk dalam orofaring adalah palatum mole, tonsil dan fossa tonsilaris, pangkal lidah serta dinding faring mulai dari setinggi palatum mole sampai setinggi valekula. Daerah orofaring sangat kaya dengan aliran limfe, 15 sampai 75% pasien keganasan orofaring datang dengan metastasis ke kelenjar getah bening leher. b. Etiologi Etiologi penyakit masih belum diketahui secara pasti, diduga berhubungan dengan faktor resiko yaitu: Merokok/mengunyah tembakau. Hal ini merupakan faktor resiko yang paling kuat dalam terjadinya kanker tonsil. Semakin lama menggunakan tembakau, semakin lama kemungkinan terkena kanker tersebut. Hal ini bisa menyebabkan iritasi akibat mulut terlalu lama terpapar dengan tembakau dan membuat sel berubah menjadi sel karsinogen. Alkohol. Merupakan faktor resiko yang selanjutnya setelah merokok/mengunyah tembakau. Hal ini disebabkan oleh adanya proses eliminasi asetaldehide, karsinogen terbentuk dari metabolisme alkohol sehingga terjadi penurunan proses eliminasi dari asetaldehide. Virus. Berbagai penelitian mendapatkan peningkatan insiden keganasan ini yang berhubungan dendan virus human papiloma, terutama HPV 16. 60-70% tumor ganas orofaring yang baru terdiagnosis di amerika dan eropa berhubungan dengan HPV. Virus dapat langsung masuk ke sel di daerah mulut dan merubah gen menjadi sel kanker. Human Papiloma Virus (HPV) merupakan virus yang diduga dapat merubah sel normal menjadi sel kanker. Ebstein Barr Virus (EBV) juga merupakan virus yang diduga berperan dalam patogenesis terjadinya kanker. Walaupun menurut Jian dkk EBV tidak terdeteksi dalam sel kanker sehingga belum jelas hubungan antara EBV dengan penyebab sel kanker. Oral higine yang buruk. Makin kotornya mulut dan tenggorok, makin membuat zat tersebut membuat iritasi yang menetap. Setiap saliva mengandung beribu bakteria, dan menghasilkan suatu zat yang dapat membersihkan gigi dan tonsil (plak). Walaupun plak sendiri bukan merupakan penyebab terjadinya kanker, tapi membuat zat kimia lain tetap berada di mulut, mengiritasi dan menstimulasi sel agar berubah. Makin sel berubah, makin banyak kemungkinan dari mereka berubah menjadi sel kanker. Defisiensi nutrisi dan vitamin. Merupakan faktor resiko yang lain, yang dapat menyebabkan sel normal berubah menjadi sel kanker. Imunodefisiensi. Merupakan faktor resiko yang berperan dalam timbulnya kanker melalui pengerusakan mekanisme respon imun. Genetik. Faktor ini berperan dalam timbulnya kanker misalnya pada orang asia timur yang membawa sel mutan alel inaktif dalam gennya sehingga jika ada faktor lain dapat memperberat kemungkinan terjadinya perubahan sel kanker. c. Gejala Klinis Pada kanker orofaring stadium awal, gejala klinis biasanya tidak terlihat/asimtomatik. Gejala biasanya terlihat jelas jika kanker sudah dalam stadium lanjut. Adapun gejala klinis yang biasanya terdapat pada penyakit ini antara lain : nyeri tenggorok yang tidak sembuh-sembuh yang merupakan salah satu gejala pada penyakit ini. Nyeri ini biasanya bertambah pada saat menelan. Nyeri dapat menyebar ke telinga (otalgia) akibat referred pain yang biasanya terjadi akibat
Modul VII.7 - Neoplasma Orofaring 23 pembesaran kanker apalagi jika kanker menekan saraf. Selain itu, akibat dari pembesaran kanker dapat juga menyebabkan disfagia & disatria. Gejala lain yang dapat ditemui adalah limfadenopati, biasanya pembesaran KGB ini keras dan terfiksir. Penurunan berat badan juga dapat ditemui pada pasien ini, hal ini dapat terjadi karena pasien mengalami kesulitan sewaktu makan. Jika infiltrasi sudah mengenai m. pterygoidei maka dapat menimbulkan gejala trismus. Batuk juga dapat terjadi akibat kenaikan produksi lendir di tenggorok. Menurut literatur lain kelainan/ sindrom di saraf dapat terjadi karena kanker menekan saraf, sindrom yang biasanya terjadi adalah sindrom Jacob¶V EHrhubungan dengan ekspresi muka, mata dan gerakan rahang) dan VLOODUHW¶V NHVXOLWDQ PHQHODQ GDQ NHVXOLWDQ JHUDNDQ OLGDK dan leher). d. Diagnosis Anamnesis Untuk menentukan diagnosis dari penyakit ini, didasarkan pada keluhan utama ,riwayat perjalanan penyakit, riwayat kebiasaan pasien (lifestyle), riwayat penyakit keluarga dan status sosial. Informasi tersebut dapat digunakan untuk mengetahui kemungkinan faktor resiko kanker pada pasien. Pemeriksaan fisik Setelah melakukan anamnesis, kita melakukan pemeriksaan fisik yang merupakan suatu hal yang rutin dalam menegakkan suatu penyakit. Adapun pemeriksaan fisik pada penyakit ini adalah inspeksi sebaiknya menggunakan lampu kepala (sinar cahaya yang terang). Tampak tumor di daerah orofaring dengan permukaan yang tidak rata, kemerahan yang kadang disertai perdarahan. Selanjutnya kita melakukan palpasi bimanual (menggunakan sarung tangan, spatula lidah dan kasa). Pada palpasi teraba tumor dengan konsistensi lunak sampai padat. Palpasi dilakukan untuk menentukan besarnya tumor, perlekatan dengan struktur sekitarnya (otot-otot lidah, dasar mulut, palatum, maksila dll). Palpasi juga dilakukan di daerah leher untuk memeriksa kelenjar getah bening (menentukan ukuran, konsistensi dan perlekatan dengan jaringan sekitarnya). Pemeriksaan dilakukan dari belakang pasien secara lege artis. Selain itu, dilakukan juga pemeriksaan dengan menggunakan endsokopi. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penunjang penting untuk mengetahui histopatologi tumor melalui prosedur biopsi tumor. Jika memang diperlukan kita melakukan tindakan fine needle aspiration biopsy (FNAB) pada pembesaran KGB leher. Pemeriksaan Radiologi diperlukan untuk melihat ukuran, lokasi dan perluasan tumor serta keterlibatan KGB leher. Selain itu pemeriksaan radiologi juga diperlukan untuk evaluasi adanya metastasis jauh. Pemeriksaan penunjang yang disarankan adalah: CT scan/MRI dengan kontras (MRI dengan kontras lebih dianjurkan), Foto thorax AP/PA(untuk mengevaluasi adakah metastasis paru), USG abdomen (untuk mengevaluasi adakah kelainan/metastasis di hepar dan pembesaran KGB intra-abdomen). Pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk melihat status fisik pasien misalnya : hitung darah, kimia darah, fungsi liver, dll yang mendukung. e. Stadium Penentuan stadium karsinoma orofaring yang digunakan berdasarkan UICC/ AJCC edisi ke-8 tahun 2018 yaitu : karsinoma orofaring P16 -
Modul VII.7 - Neoplasma Orofaring 24 Tumor primer (T) : Tx : adanya tumor primer belum dapat ditentukan. Tis : karsinoma in situ. T1 : 2 cm T2 : !  FP WHWDSL   FP T3 : tumor 4 cm atau ekstensi ke bagian lingual dari epiglotis. T4a : Moderately advanced local disease. Terdapat invasi tumor ke laring, m. ekstrinsik dari lidah, medial pterigoid, palatum durum atau mandibula. T4b : very advanced local disease, Terdapat invasi ke m. pterigoid lateral, pterigoid plate, lateral nasofaring, dasar tengkorak atau membungkus arteri karotis. Kelenjar limfe regional (N) : Nx : kelenjar limfe tidak dapat ditentukan No : tidak ada metastasis kelenjar limfe regional. N1 : metastasis pada satu kelenjar limfe ipsilateral, 3 cm ENE (-) N2a : metastasis pada kelenjar limfe ipsilateral single, >3FP   cm ENE (-) N2b : metastasis pada multiple kelenjar limfe ipsilateral, 6 cm ENE (-) N2c : metastasis pada kelenjar limfe bilateral/kontralateral, 6 cm ENE (-) N3 : metastasis pada kelenjar limfe > 6 cm, ENE (-) atau salah satu kelenjar secara klinis menunjukkan ENE +. N3a : metastasis pada kelenjar limfe > 6 cm ENE (-) N3a : metastasis pada kelenjar limfe yang secara klinis menunjukkan ENE + Metastasis jauh (M) : Mo : tidak ada metastasis jauh. M1 : terdapat metastasis jauh. Stadium Anatomi/ Kelompok Prognosis : Stadium 0 Tis N0 M0 Stadium I T1 N0 M0 Stadium II T2 N0 M0 Stadium III T3 N0 M0 Stadium III T1,2,3 N1 M0 Stadium IVa T4a N0,N1, M0 Stadium IVa T1,T2,T3,T4a N2 Mo Stadium IVb T4b any N Mo Stadium IVb any T N3 M0 Stadium IVc any T any N M1 Karsinoma orofaring P16 + Tumor primer (T) : T0 : adanya tumor primer belum dapat ditentukan. T1 : 2 cm T2 : !  FP WHWDSL   FP T3 : tumor 4 cm atau ekstensi ke bagian permukaan lingual dari epiglotis. T4 : Moderately advanced local disease. Terdapat invasi tumor ke laring, m. ekstrinsik dari lidah, medial pterigoid, palatum durum atau mandibula atau sekitar mandibula. Kelenjar limfe regional (N) : Nx : kelenjar limfe tidak dapat ditentukan No : tidak ada metastasis kelenjar limfe regional. N1 : metastasis pada satu atau lebih kelenjar limfe ipsilateral,  cm
Modul VII.7 - Neoplasma Orofaring 25 N2 : metastasis pada kelenjar limfe kontra lateral atau bilateral ,  cm N3 : metastasis pada kelenjar limfe 6 cm, Metastasis jauh (M) : Mo : tidak ada metastasis jauh. M1 : terdapat metastasis jauh. Stadium Anatomi/ Kelompok Prognosis : Stadium I T0 ,T1, N0 atau N1 M0 Stadium II T0, T1 ,T2, N2, M0 Stadium II T3, N0, N1 atau N2, M0 Stadium III T0,T1,T2,T3,T4 N3 M0 Stadium III T4, N0,N1,N2 atau N3 M0 Stadium IV any T any N M1 f. Histopatologi Kanker orofaring biasanya termasuk dalam tipe sel squamosa berdiferensiasi baik sampai sedang (terdapat kira-kira pada 50% pasien). Untuk karsinoma sel squamosa diberikan pengobatan operasi, radiasi baik tunggal atau kombinasi. Limfoepitelioma lebih jarang ditemukan pada tonsil (kurang dari 1,5%). Limfoepitelioma menunjukkan diferensiasi yang buruk, karsinoma sel squamosa tidak berkeratinisasi dengan infiltrasi jaringan limfe. Gambaran klasik tumor ini biasanya terdapat sel epitel yang jernih, nukleus yang berisi satu atau lebih nukleus yang besar. Limfoepitelioma dapat diberikan pengobatan radiasi karena termasuk jenis yang sensitif dengan pengobatan tersebut. Tindakan operasi bertujuan untuk penyelamatan atau penyakit leher yang persisten. Limfoma maligna, biasanya tipe non-+RGJNLQ¶V \DQJ merupakan 10-15% kanker pada tonsil. Menurut klasifikasi Rappaport, mereka dibagi menjadi tipe sel yang kecil dan besar. Mereka cenderung tumbuh secara submukosa dan dapat mencapai ukuran yang besar tanpa menimbulkan ulserasi mukosa. Untuk Limfoma diberikan NHPR GDQ UDGLRWHUDSL 3HQ\DNLW +RGJNLQ¶V \DQJ SULPHU SDGD WRQVLO VDQJDW MDUDQJ terjadi. Menurut Conley dan Pack, Melanoma maligna pd fossa tonsilaris hanya terdapat 6% dari seluruh melanoma. Untuk Melanoma dan Sarkoma diberikan pengobatan dengan eksisi lokal dan diseksi leher digunakan bila terdapat keterlibatan kelenjar atau untuk akses tindakan operasi. g. Penatalaksanaan Pengobatan untuk kanker orofaring sangat kompleks. Berbagai modalitas pengobatan yang dapat diberikan berupa operasi, radioterapi dan kemoterapi. Masing-masing modalitas terapi dapat diberikan secara tunggal atau kombinasi. Kanker orofaring dengan T1 atau T2 dapat diberikan radiasi atau operasi. Untuk kanker orofaring dengan T3 atau T4 dilakukan pengobatan kombinasi antara kemoradiasi dan operasi. Operasi Tindakan operasi menjadi pilihan pengobatan pada tumor stadium dini dan stadium lanjut yang resectable. Keuntungan tindakan ini adalah operasi memberikan reseksi yang luas dan akses untuk histopatologis tumor primer. Tetapi memberikan kerugian seperti kecacatan fungsi akibat tindakan reseksi tersebut. Radioterapi Tindakan radioterapi diberikan sebagai terapi kuratif atau paliatif. Kombinasi pembedahan dan radioterapi dapat memberikan kontrol lokal yang baik. Radiasi dapat menjadi pilihan ketika pasien menolak untuk dilakukan tindakan pembedahan
Modul VII.7 - Neoplasma Orofaring 26 atau pada pasien yang memiliki resiko tinggi untuk dilakukan tindakan pembedahan. Radiasi dapat dikombinasi dengan kemoterapi, yang bertujuan untuk mengeradikasi sisa tumor dan meningkatkan efektifitas radioterapi. Pedoman Pengobatan Radioterapi Pada Kanker Orofaring : Stadium Dosis (Gy) Radiasi Tunggal x Tumor Primer T1 T2 T3-4 60-65 65-70 70-75 x Kel. limfe servikal N0 N1 N2 a,b N3 50 65 (mengurangi daerah setelah 50 Gy) 65-70 (mengurangi daerah setelah 50 Gy) 70-75 (mengurangi daerah setelah 50 & 60) Radiasi Preoperasi 40-45 pada kanker primer & leher ipsi/ bilateral Radiasi Postoperasi x Tepi (-) 50 x T3-4,/ N2b, N3/ tepi positif 50 pada kanker primer & leher bilateral, ditambah booster dosis total 60-65 Gy Dosis fraksinasi perhari 1,8-2 Kemoterapi Kemoterapi merupakan terapi sistemik yang dapat menjadi terapi utama atau pendukung untuk tumor yang tidak operable/tidak dapat direseksi, sudah metastasis jauh, untuk jenis tumor yang agresif secara histopatologi, untuk mengeliminasi mikrometastasis jauh dan memperkuat (sensitizer) radioterapi. Kemoterapi dapat diberikan secara neoadjuvant (induksi), konkuren/konkomitan, maupun adjuvant. Cara terbaru menggunakan konkuren kemoterapi dengan radioterapi untuk kanker orofaring yang lanjut mulai popular. Beberapa penelitian menyatakan konkuren kemoradiasi mempunyai kontrol lokal dan regional yang baik, dengan angka kelangsungan hidup yang mirip jika dibandingkan operasi dan radiasi postoperasi untuk kanker orofaring yang lanjut. Menurut literatur lain penggunaan adjuvan kemoterapi masih diteliti, walaupun sebagian onkologis tetap menggunakan adjuvan kemoterapi dalam pengobatan kanker orofaring stadium lanjut. Pernyataan ini didukung juga oleh beberapa penelitian yang menyatakan jika ukuran kanker > 6 cm, terdapat nekrosis koagulasi dan metastasis di rongga abdomen maka adjuvan kemoterapi dianjurkan.
Modul VII.7 - Neoplasma Orofaring 27 Pengobatan Kanker Orofaring Menurut National Comprehensive Cancer Network 2021:
Modul VII.7 - Neoplasma Orofaring 28
Modul VII.7 - Neoplasma Orofaring 29
Modul VII.7 - Neoplasma Orofaring 30 h. Prognosis Peningkatan kasus kanker orofaring dikaitkan dengan kasus infeksi HPV dalam 2 dekade terakhir dan telah mempengaruhi strategi laksana. Prognosis yang lebih baik dilaporkan pada pasien kanker orofaring dengan p16 positif dibandingkan dnegan kanker orofaring dengan p16 negatif. Faktor resiko merokok juga dilaporkan memiliki efek negatif terhadap prognosis pasien. Hasil dari progression-free survival (PFS) pada kanker orofaring dengan p16-positif dan p16-negatif ditunjukkan pada gambar berikut.
Modul VII.7 - Neoplasma Orofaring 31 Kurva ketahanan hidup/survival pasien dengan stadium I hingga III dapat dilihat pada gambar berikut. Penurunan resiko kematian sebanyak 61% dan penurunan progresifitas penyakit sebanyak 62% ditemukan pada pasien dengan HPV positif yang mendapatkan terapi definitive. Kelompok pasien ini juga memiliki respons kemoterapi yang lebih baik dibandingkan pasien dengan HPV negative (84% banding 57%). Pasien HPV positif dengan stadium III dan IV memiliki overall survival yang lebih baik secara signifikan. Kebiasaan merokok merupakan prediktor independent terhadap prognosis kanker
Modul VII.7 - Neoplasma Orofaring 32 orofaring yang buruk. Prognosis pasien didasarkan kepada beberapa faktor seperti: HPV status, riwayat merokok, keterlibatang kelenjar getah bening dan status T.
MODUL UTAMA ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER MODUL VII.8 NEOPLASMA HIDUNG DAN SINUS PARANASAL EDISI III KOLEGIUM ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER 2022
DAFTAR ISI A. WAKTU ........................................................................................................... 1 B. PERSIAPAN SESI ........................................................................................... 1 C. REFERENSI .................................................................................................... 1 D. KOMPETENSI ................................................................................................ 1 E. GAMBARAN UMUM .................................................................................... 2 F. CONTOH KASUS ........................................................................................... 2 G. TUJUAN PEMBELAJARAN.......................................................................... 3 H. METODE PEMBELAJARAN ........................................................................ 3 I. EVALUASI ...................................................................................................... 6 J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF .............................. 7 K. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR ....................... 9 L. DAFTAR TILIK ............................................................................................ 13 M. MATERI PRESENTASI................................................................................ 17 N. MATERI BAKU ............................................................................................ 23
Modul VII.8 ± Neooplasma Hidung dan Sinus Paranasal 1 MODUL VII.8 ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER: NEOPLASMA HIDUNG DAN SINUS PARANASAL A. WAKTU Mengembangkan Kompetensi Alokasi Waktu Sesi di dalam kelas Sesi dengan fasilitas pembimbing Sesi praktek dan pencapaian kompetensi 1 x 90 menit (classroom session) 1 x 60 menit (coaching session) 28 Jam (facilitation and assessment) B. PERSIAPAN SESI x Materi presentasi: a. Power point b. Video x Kasus: Neoplasma Hidung dan Sinus Paranasal x Sarana dan Alat Bantu Latih: (disesuaikan dengan pencapaian kompetensi): a. Penuntun belajar (learning guide): terlampir b. Tempat belajar (training setting): instalasi rawat inap, instalasi rawat jalan, kamar operasi, ruang praktikum, ruang kuliah c. Model/manekin atau kadaver d. Komputer/laptop e. Infocus C. REFERENSI 1. Jonas T Johnson, Clark A. Rrosen, et.al. Neoplasm of the Nose and Paranasal Sinuses LQ 2WRODU\QJRORJ\ %DLOH\¶V +HDG 1HFN 6XUJHU\ YROXPH  Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. 2014. Pp: 2044-63 2. Zanation A. Tumors of the Paranasal Sinus: Head and Neck Surgery. In: Chan < *RGGDHG -& (GLWRUV .-/HH¶V (VVHQWLDO 2WRODU\QJRORJ\ +HDG DQG 1HFN Surgery. 11th (ed). United States: McGraw-Hill education. 2016.510-21 3. Hanna N, Su S, Kupferman EM, Raza MS, DeMonte F. Cancer of the Nasal Cavity and the Paranasal Sinuses in: Myers NJ, Hanna NY, Myers NE. Rditors. Cancer of the Head and Neck. 5 th (ed). Wolters Kluwer.2017 Philadelphia: 442- 559 4. Shah JP, Patel SG, Singh B, Wong R. Jatin Shah's Head and Neck Surgery and Oncology 5 th (ed). Edinburgh: Elsevier. 2020. p. 647-699 5. Cancer AJCC. AJCC cancer staging manual, 8th ed. Chicago: Springer; 2017. 6. Pfister DG, Spenser S, Adelstein D, Adkins D, Brizel DM, Burtness BA. NCCN Clinical Practise Guidelines in Oncology. Head and Neck Cancer: National Comprehensive Cancer Network; 2020. 225 p. D. KOMPETENSI 1) Pengetahuan Mampu membuat diagnosis neoplasma hidung dan sinus paranasal berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan histopatologi dan beberapa pemeriksaan penunjang (foto polos kepala posisi :DWHU¶V GDQ $3-
Modul VII.8 ± Neooplasma Hidung dan Sinus Paranasal 2 lateral, endoskopi hidung (nasoendoskopi), CT scan hidung dan sinus paranasal).Dokter dapat memutuskan dan melakukan terapi hingga tuntas apabila tindakan yang dibutuhkan berupa maksilektomi medial/rinotomi lateral, serta pengetahuan tentang reseksi neoplasma hidung dan sinus paranasal dan merujuk apabila dibutuhkan tindakan yang lebih ekstensif (bukan kasus gawat darurat). 2) Keterampilan Setelah Mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam: a) Menjelaskan anatomi, histologi dan fisiologi hidung dan sinus paranasal b) Menjelaskan etiologi dan jenis kelainan yang berhubungan dengan neoplasma hidung dan sinus paranasal c) Menjelaskan patofisiologi dan gambaran klinis neoplasma hidung dan sinus paranasal d) Menjelaskan dan melakukan diagnosis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan histopatologi pada neoplasma hidung dan sinus paranasal e) Menjelaskan tentang tatalaksana operasi reseksi neoplasma hidung dan sinus paranasal, pemberian kemoterapi dan radiasi serta rekonstruksi paska operasi reseksi neoplasma hidung dan sinus paranasal f) Mampu mengambil keputusan untuk perlu tidaknya pemeriksaan penunjang seperti nasal endoskopi dan CT Scan hidung dan sinus paranasal. g) Mampu melakukan tindakan biopsi tumor sinonasal,dan mampu melakukan tindakan operasi maksilektomi medial dengan pendekatan rinotomi lateral dan mid facial degloving. h) Mampu untuk merujuk penderita yang membutuhkan tindakan yang lebih ekstensif. E. GAMBARAN UMUM Neoplasma hidung dan sinus paranasal merupakan 3% dari kasus neoplasma saluran nafas atas. Insidensi lebih sering terjadi pada ras kulit putih dan pria dua kali lebih sering dibandingkan wanita. Gejala neoplasma hidung dan sinus paranasal pada umumnya hampir sama dengan gejala infeksi sinus paranasal, seperti hidung tersumbat, epistaksis, sakit kepala, nyeri wajah dan hidung berair serta sering tanpa gejala pada 9 - 12% pasien, sehingga mengakibatkan keterlambatan dalam menegakkan diagnosis dan penyakit telah berada pada stadium lanjut. F. CONTOH KASUS Seorang laki-laki, 49 tahun datang ke poliklinik THT-KL dengan keluhan benjolan di pipi kanan disertai hidung kanan tersumbat terus menerus sejak 6 bulan yang lalu,disertai keluar cairan bercampur darah dari hidung kanan. Pada pemeriksaan fisik,kavum nasi kanan dijumpai massa, septum nasi terdorong ke kiri. Diskusi: x Anamnesis apalagi yang perlu ditambahkan? x Pemeriksaan fisik apa saja yang harus dilakukan? x Pemeriksaan penunjang apa saja yang diperlukan untuk menegakan diagnosis?
Modul VII.8 ± Neooplasma Hidung dan Sinus Paranasal 3 Jawaban: x Anamnesis yang perlu ditambahkan o Faktor resiko o Riwayat keluarga o Dll x Pemeriksaan fisik o Rinoskopi anterior dan posterior o Palpasi kgb leher x Nasoendoskopi Æ Biopsi tumor x Histopatologi x Ct-Scan sinus paranasal+Kontras x Ro.Thorax G. TUJUAN PEMBELAJARAN 1. Tujuan Pembelajaran Umum Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan melakukan tindakan yang tepat terhadap penderita neoplasma hidung dan sinus paranasal. 2. Tujuan pembelajaran khusus 1. Mampu menguasai anatomi, histologi dan fisiologi hidung dan sinus paranasal (K4, A4) 2. Mampu menguasai etiologi dan faktor resiko yang berhubungan dengan neoplasma hidung dan sinus paranasal (K4, A4) 3. Mampu menguasai patofisiologi dan gambaran klinis neoplasma hidung dan sinus paranasal (K4, A4) 4. Mampu mengambil keputusan untuk perlu tidaknya pemeriksaan penunjang seperti nasal endoskopi dan CT scan hidung dan sinus paranasal (K4, A4) 5. Mampu melakukan diagnosis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik , pemeriksaan penunjang dan histopatologi pada neoplasma hidung dan sinus paranasal (K4, A4) 6. Mampu melakukan tindakan biopsi tumor sinonasal,mampu melakukan operasi maksilektomi medial / dengan pendekatan rinotomi lateral dan midfacial degloving.(K4, A4, P5) 7. Mampu menguasai pengetahuan pemberian kemoterapi dan radiasi serta rekonstruksi paska operasi reseksi neoplasma hidung dan sinus paranasal (K4, A4, P5) 8. Mampu memutuskan untuk merujuk penderita yang membutuhkan tindakan yang lebih ekstensif (tingkat kompetensi K4, A4) H. METODE PEMBELAJARAN Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan mempunyai kemampuan dasar untuk menegakkan diagnosis neoplasma hidung dan sinus paranasal dan mampu untuk menentukan dan melakukan tatalaksana yang sesuai. Tujuan 1. Anatomi, topografi, histologi, embriologi, fisiologi hidung dan sinus paranasal Harus diketahui:
Modul VII.8 ± Neooplasma Hidung dan Sinus Paranasal 4 a. Anatomi hidung dan sinus paranasal b. Gambaran dan karakteristik histologis hidung dan sinus paranasal c. Fisiologi hidung dan sinus paranasal d. Patofisiologi neoplasma hidung dan sinus paranasal Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: a. Interactive lecture b. Small group discussion c. Peer assisted learning (PAL) d. Bedside teaching e. Task based medical education. Tujuan 2. Menjelaskan etio - patofisiologi dan jenis neoplasma hidung dan sinus paranasal Harus diketahui: a. Etiologi dan faktor predisposisi b. Patofisiologi klinik. Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: a. Interactive lecture b. Journal reading and review c. Peer Assisted Learning (PAL) d. Bedside teaching e. Task based medical education. Tujuan 3. Menjelaskan gambaran klinik neoplasma hidung dan sinus paranasal (anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan histopatologi dan penunjang) Harus diketahui: a. Gambaran klinis penderita b. Pemeriksaan penunjang Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: a. Interactive lecture b. Journal reading and review c. Case simulation and investigation exercise d. Equipment characteristics and operating instructions e. Bedside teaching Tujuan 4. Menegakkan diagnosis neoplasma hidung dan sinus paranasal dari pemeriksaan fisik dan penunjang Harus diketahui: a. Metode standar anamnesis b. Gejala dan tanda neoplasma hidung dan sinus paranasal c. Pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan d. Cara melakukan biopsi massa hidung / sinus paranasal e. Membuat diagnosis banding dan menentukan diagnosis kerja f. Rencana pengobatan atau tatalaksana pasien.
Modul VII.8 ± Neooplasma Hidung dan Sinus Paranasal 5 Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: a. Interactive lecture b. Journal reading and review c. Case study d. Simulation and real examination exercises (Physical and device) e. Demonstration and coaching f. Practice with real clients. Tujuan 5. Melakukan tatalaksana neoplasma hidung dan sinus paranasal Harus diketahui: a. Prosedur Maksilektomi Medial - Rinotomi Lateral b. Reseksi Radikal Maksila dengan Eksenterasi Orbita dan Sebagian Etmoid c. Reseksi Maksila Termasuk Dasar Orbita dengan mempertahankan Bola Mata d. Maksilektomi Parsial x Maksilektomi Suprastruktur x Maksilektomi Infrastruktur e. Maksilektomi Total f. Prosedur lain (radioterapi, kemoterapi, paliatif) g. Prosedur rekonstruksi pasca bedah Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: a. Morbidity and mortality case study b. Simulation and real examination exercises (Physical and Device) c. Operative procedure demonstration and coaching d. Operasi mandiri e. Practice with real clients Tujuan 6. Melakukan evaluasi, dan mampu memutuskan untuk melakukan rujukan neoplasma hidung dan sinus paranasal Harus diketahui: a. Work - up key points b. Jenis-jenis terapi yang direkomendasikan c. Kondisi atau situasi penting untuk membuat keputusan untuk merujuk. Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: a. Case study b. Simulation and real examination exercises (Physical and Device) c. Demonstration and coaching d. Practice with real clients. Tujuan 7. Melakukan perawatan penderita pra dan pasca pembedahan Harus diketahui: 1. Sermon of relaxation 2. Informed consent
Modul VII.8 ± Neooplasma Hidung dan Sinus Paranasal 6 Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Case study 2. Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device) 3. Demonstration and Coaching 4. Practice with Real Clients I. EVALUASI 1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri atas: a. Anatomi dan fisiologi hidung dan sinus paranasal b. Penegakan diagnosis c. Tatalaksana d. Follow up. 6HODQMXWQ\D GLODNXNDQ ³small group discussion´ EHUVDPD GHQJDQ fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian. 3. Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam EHQWXN ³role play´ GDQ WHPDQ-temannya (peer assisted evaluation) atau kepada SP (Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer assisted evaluation) setelah dianggap memadai, melalui metode bedside teaching di bawah pengawasan fasilitator, peserta dididik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation) dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut: x Perlu perbaikan: Pelaksanaan belum benar/sebagian langkah tidak dilaksanakan. x Cukup : Pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien. x Baik : Pelaksanaan benar dan baik (efisien). 4. Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan. 5. Self assesment dan peer assisted evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar. 6. Pendidik/fasilitas : a. Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form (terlampir) b. Penjelasan lisan dari peserta didik/diskusi c. Kriteria penilaian keseluruhan: cakap/tidak cakap/lalai. 7. Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task based medical education) 8. Pencapaian pembelajaran:
Modul VII.8 ± Neooplasma Hidung dan Sinus Paranasal 7 a. Ujian OSCE (K,P,A), dilakukan pada tahapan T.H.T.K.L dasar oleh Kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L b. Ujian akhir stase, setiap divisi/unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan T.H.T.K.L lanjut oleh Kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L c. Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan T.H.T.K.L lanjut oleh Kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L. J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF i. Kuesioner Sebelum Pembelajaran (Pre Test) 1. Gejala Tumor ganas pada hidung dan sinus paranasal yang paling jarang ditemukan adalah A. Sering ditemukan metastase regional B. Gejala oklusi tuba tidak mudah terjadi C. Gejala pada mata terjadi karena invasi tumor D. Gejala hipoestesia pada wajah E. Sumbatan jalan napas Jawaban : A 2. Komplikasi operasi tumor ganas pada hidung dan sinus paranasal yang jarang dijumpai pada orbita adalah A. Terrpotongnya duktus nasolakrimalis B. Enoptalmos dan hipotalmos C. Stenosis muara sakus lakrimalis, dapat mengakibatkan epifora D. Strabismus E. Diplopia Jawaban: D 3. Pemeriksaan penunjang yang menjadi baku standar untuk menegakkan diagnosis tumor hidung dan sinus paranasal adalah: A. CT scan B. Biopsi C. Foto polos sinus paranasal D. PET scan E. MRI Jawaban: B 4. Kegawatdaruratan yang mungkin pada penyakit ini. A. Kebocoran cairan serebrospinal B. Trauma pada duktus nasolakrimalis C. Osteoradionekrosis D. Abses intrakranial E. Perdarahan orbita Jawaban: A ii. Kuesioner Tengah Pembelajaran Seorang wanita usia 34 tahun datang ke unit rawat jalan T.H.T.K.L dengan keluhan pipi kanan membengkak, disertai dengan hidung tersumbat. Hal ini dialami sejak 9 bulan yang lalu, hidung tersumbat terjadi terus menerus dan dirasakan semakin
Modul VII.8 ± Neooplasma Hidung dan Sinus Paranasal 8 memberat. Sering mengeluarkan ingus kental dan terkadang bercampur darah dari hidung kanan. Nyeri kepala dan pipi kanan dijumpai. Pada pemeriksaan tampak dorsum nasi melebar ke kanan. Pada kavum nasi kanan dijumpai massa berwarna kemerahan, permukaan berbenjol, kesan rapuh dan mudah berdarah. Septum nasi terdorong ke kiri. Tampak sekret mukopurulen bercampur darah. Pada pasien ini direncanakan untuk nasoendoskopi biopsi massa pada kavum nasi kanan. Jelaskan langkah-langkah prosedur nasoendoskopi biopsi Jawaban: 1. Pasien didudukkan di kursi tindakan, lalu tampon yang telah diberikan anestesi topikal bersama dengan vasokonstriktor dimasukkan ke dalam kavum nasi. Tampon dibiarkan selama 10 menit, kemudian tampon dikeluarkan dari kavum nasi. 2. Dengan menggunakan teleskop 0o, kavum nasi kanan dievaluasi. Tampak massa memenuhi kavum nasi kanan, berwarna kemerahan, permukaan berbenjol, kesan rapuh dan mudah berdarah. 3. Forsep biopsi dimasukkan kedalam kavum nasi bersamaan dengan teleskop 0o sebagai panduan. Forsep dengan ujung yang masih tertutup diarahkan pada massa, kemudian ditekan menembus massa tersebut, lalu forsep dibuka dan massa dijepit dengan forsep biopsi, kemudian forsep diputar lalu ditarik keluar dari kavum nasi. 4. Kontrol perdarahan dengan pemasangan tampon kasa. 5. Jaringan hasil biopsi dimasukkan ke dalam wadah berisi larutan formalin 10%, untuk kemudian dilakukan pemeriksaan histopatologi. iii. Kuesioner Akhir Pembelajaran Seorang wanita usia 50 tahun, datang ke unit rawat jalan T.H.T.K.L dengan keluhan pipi kiri membengkak disertai hidung tersumbat. Hal ini dialami os sejak 1 tahun yang lalu. Pasien sering mengeluarkan ingus kental dan kadang bercampur darah. Nyeri kepala dan pipi kiri dijumpai. Rasa sakit telah dirasakan os sejak setahun yang lalu, mula-mula ringan dan makin lama makin memberat. Tidak ada gangguan mata. Berat badan tidak menurun. Pemeriksaan fisik: Kompos mentis, keadaan umum baik, berat badan 45 kg, tinggi 166 cm, tensi 120/80 mmHg, nadi 76 kali/menit, suhu 36,50 oC. Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening leher. Pada pemeriksaan tampak dorsum nasi melebar ke kiri. Pada kavum nasi kiri dijumpai massa berwarna kemerahan, kesan rapuh dan mudah berdarah. Septum nasi terdorong ke kanan. Tampak sekret mukopurulen bercampur darah. Palatum durum utuh. Pertanyaan: 1. Apa Diagnosis dan diagnosis banding? Jelaskan secara singkat! 2. Bagaimana penanganan selanjutnya? Jawaban : 1. Tumor sinonasal kiri - Dd/ Rinosinusitis kronis dengan Polip - Papiloma inverted 2. Lakukan pemeriksaan fisik lengkap o Lakukan pemeriksaan penunjang; nasoendoskopi, Ct scan, Biopsi
Modul VII.8 ± Neooplasma Hidung dan Sinus Paranasal 9 o Rencanakan tindakan operatif sesuai dengan hasil pemeriksaan yang telah dilakukan -> Maksilektomi medial ± rinotomi lateral K. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR MAKSILEKTOMI MEDIAL DENGAN PENDEKATAN RINOTOMI LATERAL Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.: 1) Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan) 2) Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal 3) Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien 4) T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan) Nama peserta didik: Tanggal: Nama pasien: No Rekam Medis: No KEGIATAN / LANGKAH KLINIK KASUS 1 2 3 T/D PERSIAPAN PRE OPERASI 1 Informed Consent 2 Memeriksa dan melengkapi persiapan alat dan kelengkapan operasi TINDAKAN OPERASI 1 Insisi kulit dimulai dibawah sisi medial alis, sepanjang 4 - 5 mm kantus medial anterior melalui tulang hidung sepanjang bagian terdalam celah nasomaksila dan menelusuri lipatan ala nasi. Perluasan insisi dengan membelah bibir tidak diperlukan. Untuk memperjelas area operasi, flap pipi dielevasi dari maksila secara subperiosteal dan mengelilingi saraf infra orbita. Periorbita dielevasi dari lamina papirasea, kemudian sutura frontoetmoid diidentifikasi dan diteruskan ke arah belakang sampai arteri etmoid posterior teridentifikasi. Dinding anterior antrum tepatnya pada fosa kanina ditembus dengan pahat ukuran 4 mm. Antrostomi diperluas dengan rongeur Kerrison mengelilingi saraf infraorbita dan ke arah atas menuju tepi orbita. 2 Tulang diangkat melalui tepi orbita termasuk fosa lakrimalis. 3 Duktus nasolakrimalis dipisahkan dan sakus
Modul VII.8 ± Neooplasma Hidung dan Sinus Paranasal 10 No KEGIATAN / LANGKAH KLINIK KASUS 1 2 3 T/D lakrimalis dibuka dan dimarsupialisasi. 4 Selanjutnya dilakukan osteotomi dan pengangkatan jaringan. Osteotomi diperluas melalui apertura piriformis pada level dasar rongga hidung, diarahkan ke belakang sampai dinding belakang antrum. Orbita diretraksi ke arah lateral, kemudian dilakukan osteotomi pada sutura frontoetmoid, meluas ke belakang sampai pada jarak 2 - 3 mm di belakang arteri etmoid posterior (yaitu di depan foramen optikum). 5 Tulang tipis lantai orbita bagian medial dipotong mengikuti garis yang menghubungkan fosa lakrimalis dan osteotomi superior. Pemotongan tulang terdiri dari 3 langkah. Pertama, osteotom dimasukkan melalui antrostomi anterior dan diarahkan melalui dinding antrum medioposterior. Osteotomi diperluas ke atas untuk mencapai level osteotomi superior dan didorong ke arah medial. Kedua, osteotom yang lebih lebar dimasukkan melalui hidung, kemudian diarahkan ke dalam dinding depan sinus sfenoid dan selanjutnya didorong ke lateral.Ketiga, gunting lurus dimasukkan melalui osteotomi inferior dengan satu sisi di dalam hidung dan sisi lainnya di dalam antrum untuk memulai pemotongan belakang di belakang konka. 6 Gunting bengkok kemudian dimasukkan dengan satu sisi pada kavum nasi dan sisi yang lainnya pada daerah osteotomi superior sepanjang perlekatan superior dari konka. Jaringan diangkat dengan tarikan ke depan dan ke bawah. Hemostasis dilakukan dengan klem atau kauterisasi. Tepi tulang dihaluskan dengan rongeur. Sisa mukosa etmoid diangkat dengan forsep etmoid dan dilakukan sfenoidotomi dengan rongeur Kerrison. Rongga ditutup tampon pita dengan salep antibiotik. Luka dijahit lapis demi lapis. KOMPLIKASI OPERASI 1 Obstruksi jalan nafas 2 Komplikasi orbita : a. Stenosis muara sakus lakrimalis, dapat mengakibatkan epifora b. Terbatasnya pergerakan otot ekstra okuler c. Tertekannya saraf optik selama mobilisasi spesimen atau reseksi kraniofasial d. Enoptalmos
Modul VII.8 ± Neooplasma Hidung dan Sinus Paranasal 11 No KEGIATAN / LANGKAH KLINIK KASUS 1 2 3 T/D 3 Komplikasi luka operasi : a. Perdarahan b. Infeksi 4 Komplikasi dasar tengkorak : a. Keluarnya cairan serebrospinal b. Meningitis, abses intrakranial c. Osteomielitis. PERAWATAN PASCA BEDAH 1 Penderita dirawat inap Posisi tidur dengan kepala ditinggikan 2 Antibiotik Analgetik ± anti inflamasi Anti perdarahan 3 Perawatan luka: Bekas luka jahitan Cuci hidung 4 Kontrol 1-2 minggu setelah tindakan operasi PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR EKSTIRPASI TUMOR APPROACH FACIAL DEGLOVING Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.: 1. Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan) 2. Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal 3. Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien 4 T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan) Nama peserta didik : Tanggal : Nama pasien : No Rekam Medis : No Kegiatan / Langkah Kasus 1 2 3 T/D PERSIAPAN PRE OPERASI 1 Informed Consent 2 Memeriksa dan melengkapi persiapan alat dan kelengkapan operasI: BAHAN : Larutan Betadine 100 ml Alkohol 70% 25 ml Kassa steril 1 pack (@5 lembar) Handscoon
Modul VII.8 ± Neooplasma Hidung dan Sinus Paranasal 12 No Kegiatan / Langkah Kasus 1 2 3 T/D Larutan NaCl 0,9% Duk steril benang catgut chromic 1 pack benang silk 1 pack Benang Vicryl 1-0 1 pack ALAT : Scalpel Mata Pisau Gunting Mayo Bengkok Pinset Anatomis Pinset Chirurgis Klem Allis Mosquito Klem Arteri Roberts Klem Kocher Needle Holder Retraktor Langenbeck Kanula Suction Monopolar dan Bipolar Elektrokauter Mesin suction dan selang suction TINDAKAN OPERASI 1 Mendesinfektan daerah yang akan di insisi dengan larutan betadin. 2 Memasangkan duk steril di daerah yang akan di insisi. 3 Menganestesi bagian yang akan di insisi dengan memberikan injeksi lidokain sesuai kebutuhan. 4 Memastikan bahwa daerah yang dianestesi sudah tidak terasa sakit. 5 Mulai menyayat bagian yang sudah ditentukan dengan prinsip steril. 6 Melakukan pembedahan sesuai dengan kebutuhan pasien. Pembedahan bersifat terbuka dengan pendekatan anterior dengan teknik midfacial degloving (pendekatan sublabial). Pendekatan ini merupakan perluasan dari insisi sublabial bilateral dan tarnsversal maksila. 7 Melakukan teknik operasi dengan menggabungkan empat macam insisi yaitu insisi sublabial bilateral, pada sulkus ginggivobukal, insisi transfiksi yang memisahkan tulang rawan lateral atas dan jaringan lunak hidung, serta insisi apertura piriformis pada kedua sisi. Setelah itu keempat insisi dihubungkan, jaringan muka sepertiga tengah dapat ditarik ke kranial sampai mencapai sutura nasofrontal dan lengkung infraorbita, serta dapat dilakukan reseksi tulang untuk mencapai lapangan operasi yang diinginkan. (Conley dan Price) 8 Membersihkan daerah pembedahan dengan kassa steril.
Modul VII.8 ± Neooplasma Hidung dan Sinus Paranasal 13 No Kegiatan / Langkah Kasus 1 2 3 T/D 9 Menjahit daerah yang di insisi. 10 Membersihkan daerah yang dijahit dengan cairan NaCl 0,9%, mengoleskan betadin di daerah yang dijahit, menutup luka dengan kassa steril. KOMPLIKASI OPERASI 1 Komplikasi luka operasi: a. Perdarahan b. Infeksi c. Hilangnya flap rekonstruktif atau graft kulit. PERAWATAN PASCA BEDAH 1 Penderita dirawat inap Posisi tidur dengan kepala ditinggikan 2 Antibiotik x Lokal x Sistemik 3 Perawatan luka 4 Kontrol 3-4 minggu setelah tindakan operasi L. DAFTAR TILIK DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA PROSEDUR MAKSILEKTOMI MEDIAL RINOTOMI LATERAL Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini: 9: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar ±: Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar T/T: Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih Nama peserta didik : Tanggal : Nama pasien : No Rekam Medis : No Kegiatan / Langkah Klinik Nilai 9 ± T/T PERSIAPAN PRE OPERASI 1 Informed Consent 2 Bila perlu lakukan tindakan trakeostomi elektif 3 Memeriksa dan melengkapi persiapan alat dan kelengkapan operasi TINDAKAN OPERASI 1 Insisi kulit dimulai dibawah sisi medial alis, sepanjang 4 - 5 mm kantus medial anterior melalui tulang hidung sepanjang bagian terdalam celah nasomaksila dan menelusuri lipatan ala nasi. Perluasan insisi dengan membelah bibir tidak diperlukan. Untuk
Modul VII.8 ± Neooplasma Hidung dan Sinus Paranasal 14 No Kegiatan / Langkah Klinik Nilai 9 ± T/T memperjelas area operasi, flap pipi dielevasi dari maksila secara subperiosteal dan mengelilingi saraf infra orbita. Periorbita dielevasi dari lamina papirasea, kemudian sutura frontoetmoid diidentifikasi dan diteruskan ke arah belakang sampai arteri etmoid posterior teridentifikasi. Dinding anterior antrum tepatnya pada fosa kanina ditembus dengan pahat ukuran 4 mm. Antrostomi diperluas dengan rongeur Kerrison mengelilingi saraf infraorbita dan ke arah atas menuju tepi orbita. 2 Tulang diangkat melalui tepi orbita termasuk fosa lakrimalis. 3 Duktus nasolakrimalis dipisahkan dan sakus lakrimalis dibuka dan dimarsupialisasi. 4 Selanjutnya dilakukan osteotomi dan pengangkatan jaringan. Osteotomi diperluas melalui apertura piriformis pada level dasar rongga hidung, diarahkan ke belakang sampai dinding belakang antrum. Orbita diretraksi ke arah lateral, kemudian dilakukan osteotomi pada sutura frontoetmoid, meluas ke belakang sampai pada jarak 2 - 3 mm di belakang arteri etmoid posterior (yaitu di depan foramen optikum). 5 Tulang tipis lantai orbita bagian medial dipotong mengikuti garis yang menghubungkan fosa lakrimalis dan osteotomi superior. Pemotongan tulang terdiri dari 3 langkah. Pertama, osteotom dimasukkan melalui antrostomi anterior dan diarahkan melalui dinding antrum medioposterior. Osteotomi diperluas ke atas untuk mencapai level osteotomi superior dan didorong ke arah medial. Kedua, osteotom yang lebih lebar dimasukkan melalui hidung, kemudian diarahkan ke dalam dinding depan sinus sfenoid dan selanjutnya didorong ke lateral. Ketiga, gunting lurus dimasukkan melalui osteotomi inferior dengan satu sisi di dalam hidung dan sisi lainnya di dalam antrum untuk memulai pemotongan belakang di belakang konka. 6 Gunting bengkok kemudian dimasukkan dengan satu sisi pada kavum nasi dan sisi yang lainnya pada daerah osteotomi superior sepanjang perlekatan superior dari konka. Jaringan diangkat dengan tarikan ke depan dan ke bawah. Hemostasis dilakukan dengan klem atau kauterisasi. Tepi tulang dihaluskan dengan rongeur. Sisa mukosa etmoid diangkat dengan forsep etmoid dan dilakukan sfenoidotomi dengan rongeur Kerrison. Rongga ditutup tampon pita dengan salep antibiotik. Luka dijahit lapis demi lapis. KOMPLIKASI OPERASI 1 Obstruksi jalan nafas kecuali telah dilakukan trakeostomi 2 Komplikasi orbita : a. Terpotongnya duktus nasolakrimalis b. Stenosis muara sakus lakrimalis, dapat mengakibatkan epifora c. Terbatasnya pergerakan otot ekstra okuler d. Tertekannya saraf optik selama mobilisasi spesimen atau reseksi kraniofasial
Modul VII.8 ± Neooplasma Hidung dan Sinus Paranasal 15 No Kegiatan / Langkah Klinik Nilai 9 ± T/T e. Enoptalmos atau hipoptalmos. 3 Komplikasi luka operasi : a. Perdarahan b. Infeksi c. Hilangnya flap rekonstruktif atau graft kulit. 4 Komplikasi dasar tengkorak : a. Keluarnya cairan serebrospinal b. Meningitis, abses intrakranial c. Pneumosefalus d. Osteomielitis. PERAWATAN PASCA BEDAH 1 Penderita dirawat inap Posisi tidur dengan kepala ditinggikan 2 Antibiotik x Lokal x Sistemik 3 Perawatan luka 4 Kontrol 3 - 4 minggu setelah tindakan operasi Peserta dinyatakan : Layak Tidak layak melakukan prosedur Pelatih ( ............................................... ) DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA PROSEDUR EKSTIRPASI TUMOR APPROACH FACIAL DEGLOVING Berikan tanda ¥ dalam kotak yang tersedia bila keterampilan / tugas telah dikerjakan dengan memuaskan, dan berikan tanda × bila dikerjakan dengan memuaskan serta T/D bila tidak dilakukan pengamatan ¥ Memuaskan : Langkah / tugas dikerjakan sesuai dengan prosedur standar atau penuntun × Tidak memuaskan : Tidak mampu untuk mengerjakan langkah / tugas sesuai dengan prosedur standar atau penuntun T/D Tidak diamati : Langkah, tugas atau ketrampilan tidak dilakukan oleh peserta latih selama penilaian atau pelatih Nama peserta didik : Tanggal : Nama pasien : No Rekam Medis : No Kegiatan / Langkah NILAI 9 ± T/T PERSIAPAN PRE OPERASI 1 Informed Consent 2 Memeriksa dan melengkapi persiapan alat dan kelengkapan operasi BAHAN :
Modul VII.8 ± Neooplasma Hidung dan Sinus Paranasal 16 No Kegiatan / Langkah NILAI 9 ± T/T Larutan Betadine 100 ml Alkohol 70% 25 ml Kassa steril 1 pack (@5 lembar) Handscoon Larutan NaCl 0,9% Duk steril benang catgut chromic 1 pack benang silk 1 pack Benang Vicryl 1-0 1 pack ALAT : Scalpel Mata Pisau Gunting Mayo Bengkok Pinset Anatomis Pinset Chirurgis Klem Allis Mosquito Klem Arteri Roberts Klem Kocher Needle Holder Retraktor Langenbeck Kanula Suction Monopolar dan Bipolar Elektrokauter Mesin suction dan selang suction TINDAKAN OPERASI 1 Mendesinfektan daerah yang akan di insisi dengan larutan betadin. 2 Memasangkan duk steril di daerah yang akan di insisi. 3 Menganestesi bagian yang akan di insisi dengan memberikan injeksi lidokain sesuai kebutuhan. 4 Memastikan bahwa daerah yang dianestesi sudah tidak terasa sakit. 5 Mulai menyayat bagian yang sudah ditentukan dengan prinsip steril. 6 Melakukan pembedahan sesuai dengan kebutuhan pasien. Pembedahan bersifat terbuka dengan pendekatan anterior dengan teknik midfacial degloving (pendekatan sublabial). Pendekatan ini merupakan perluasan dari insisi sublabial bilateral dan tarnsversal maksila. 7 Melakukan teknik operasi dengan menggabungkan empat macam insisi yaitu insisi sublabial bilateral, pada sulkus ginggivobukal, insisi transfiksi yang memisahkan tulang rawan lateral atas dan jaringan lunak hidung, serta insisi apertura piriformis pada kedua sisi. Setelah itu keempat insisi dihubungkan, jaringan muka sepertiga tengah dapat ditarik ke kranial sampai mencapai sutura nasofrontal dan lengkung infraorbita, serta dapat dilakukan reseksi
Modul VII.8 ± Neooplasma Hidung dan Sinus Paranasal 17 No Kegiatan / Langkah NILAI 9 ± T/T tulang untuk mencapai lapangan operasi yang diinginkan. (Conley dan Price) 8 Membersihkan daerah pembedahan dengan kassa steril. 9 Menjahit daerah yang di insisi. 10 Membersihkan daerah yang dijahit dengan cairan NaCl 0,9%, mengoleskan betadin di daerah yang dijahit, menutup luka dengan kassa steril. KOMPLIKASI OPERASI 1 Komplikasi luka operasi : d. Perdarahan e. Infeksi f. Hilangnya flap rekonstruktif atau graft kulit. PERAWATAN PASCA BEDAH 1 Penderita dirawat inap Posisi tidur dengan kepala ditinggikan 2 Antibiotik x Lokal x Sistemik 3 Perawatan luka 4 Kontrol 3 - 4 minggu setelah tindakan operasi M. MATERI PRESENTASI Slide 1: Anatomi, fisiologi, histopatologi hidung dan sinus paranasal
Modul VII.8 ± Neooplasma Hidung dan Sinus Paranasal 18 Side 2: Definisi dan ruang lingkup neoplasma hidung dan sinus paranasal
Modul VII.8 ± Neooplasma Hidung dan Sinus Paranasal 19 Slide 3: Neoplasma hidung dan sinus paranasal
Modul VII.8 ± Neooplasma Hidung dan Sinus Paranasal 20 Slide 4: Reseksi neoplasma hidung dan sinus paranasal
Modul VII.8 ± Neooplasma Hidung dan Sinus Paranasal 21 Slide 5: Clinical decision making dan medikamentosa
Modul VII.8 ± Neooplasma Hidung dan Sinus Paranasal 22
Modul VII.8 ± Neooplasma Hidung dan Sinus Paranasal 23 N. MATERI BAKU PENDAHULUAN Tumor hidung dan sinus paranasal pada umumnya jarang ditemukan, baik yang jinak maupun yang ganas. Dimana dijumpai 0,2 - 0,8% dari keganasan seluruh tubuh atau 3% dari seluruh keganasan dikepala leher. Angka kejadiannya pada laki-laki ditemukan lebih banyak dari perempuan dengan rasio 2:1. Etiologi tumor ganas sinonasal belum diketahui, tetapi diduga akibat paparan dengan bahan industri antara lain nikel, debu kayu, formaldehid, kromium, minyak isopropil. Pekerja di bidang ini mendapatkan kemungkinan terjadi keganasan hidung dan sinus jauh lebih besar. Merokok juga mempunyai peran penting dalam perkembangan tumor sinonasal. DEFINISI Reseksi neoplasma hidung dan sinus paranasal adalah tindakan pembedahan pengangkatan neoplasma hidung dan sinus paranasal, yaitu maksilektomi medial - rinotomi lateral, reseksi radikal maksila dengan eksenterasi orbita dan sebagian etmoid, reseksi maksila termasuk dasar orbita dengan mempertahankan bola mata dan maksilektomi parsial (maksilektomi infrastruktur dan maksilektomi suprastruktur). Pemilihan tindakan pembedahan berdasarkan : 1. Penilaian terhadap struktur tulang dan jaringan lunak untuk dilakukan reseksi en bloc 2. Pendekatan harus direncanakan untuk paparan jaringan yang adekuat guna mempertahankan fungsi jaringan dan kosmetik apabila memungkinkan 3. Repair direncanakan dengan menggunakan teknik prostetik atau jaringan lunak untuk mendapatkan hasil yang terbaik. RUANG LINGKUP Setelah memahami, menguasai dan mengerjakan modul ini maka diharapkan seorang dokter PPDS I THT-KL mempunyai kompetensi melaksanakan tindakan operatif neoplasma maksilektomi medial - rinotomi lateral dengan tingkat kemampuan keterampilan klinis 4, reseksi radikal maksila dengan eksenterasi orbita dan sebagian etmoid dengan tingkat kemampuan keterampilan klinis 2, reseksi maksila termasuk
Modul VII.8 ± Neooplasma Hidung dan Sinus Paranasal 24 dasar orbita dengan mempertahankan bola mata dengan tingkat kemampuan keterampilan klinis 2 dan maksilektomi parsial (maksilektomi infrastruktur dan maksilektomi suprastruktur) dengan tingkat kemampuan keterampilan klinis 2. Penerapannya dapat dikerjakan di RS pendidikan dan RS jejaring, serta dapat dipergunakan sebagai tambahan referensi program studi disiplin ilmu terkait. ANATOMI Hidung dan Sinus Paranasal Anatomi Hidung 1. Hidung bagian luar Hidung luar berbentuk piramid dengan bagian-bagiannya yaitu pangkal hidung, dorsum nasi, puncak hidung, ala nasi, kolumela dan rongga hidung (nares anterior). Hidung bagian luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan. Kerangka tulang terdiri dari sepasang os nasalis, prosesus frontalis os maksila dan prosesus nasalis os frontal, sedangkan kerangka tulang rawan terdiri dari beberapa pasang tulang rawan yang terdiri dari sepasang kartilago nasalis lateralis superior, sepasang kartilago lateralis inferior (kartilago ala mayor) dan tepi anterior kartilago septum nasi. Kerangka tulang dan tulang rawan ini dilapisi oleh kulit, jaringan ikat dan beberapa otot yang berfungsi untuk pergerakan dari nasal tip dan ala nasi. Gambar 1. Anatomi hidung luar 2. Hidung bagian dalam Hidung bagian dalam terdiri dari : a. Vestibulum Terletak tepat di belakang nares anterior, dilapisi oleh kulit yang mempunyai banyak kelenjar sebasea dan rambut-rambut yang disebut vibrissae. b. Septum nasi Septum dibentuk oleh tulang dan tulang rawan, yang membagi kavum nasi menjadi dua ruang kanan dan kiri, dimana bagian tulang terdiri dari : Lamina perpendikularis os etmoid, vomer, krista nasalis os maksila dan krista nasalis os palatina. Bagian tulang rawan terdiri dari : Kartilago septum (lamina kuadriangularis) dan kolumela. c. Kavum nasi
Modul VII.8 ± Neooplasma Hidung dan Sinus Paranasal 25 1. Dasar hidung, dibentuk oleh prosesus palatina os maksila dan prosesus horizontal os palatum. 2. Atap hidung, terdiri dari kartilago lateralis superior dan inferior, os nasal, prosesus frontalis os maksila, korpus os etmoid dan korpus os sfenoid. Sebagian besar atap dibentuk oleh lamina kribosa yang dilalui oleh filament- filamen n. olfaktorius yang berasal dari permukaan bawah bulbus olfaktorius berjalan menuju bagian teratas septum nasi dan permukaan kranial konka superior. 3. Dinding lateral, dibentuk oleh permukaan dalam prosesus frontalis os maksila, os lakrimalis, konka superior, konka media, konka inferior, lamina perpendikularis os palatum dan lamina pterigoideus media. 4. Konka, pada dinding lateral hidung terdapat 4 buah konka. Yang terbesar dan letaknya paling bawah ialah konka inferior, kemudian yang lebih kecil ialah konka media dan konka superior, sedangkan yang terkecil disebut konka suprema. Konka suprema ini biasanya rudimenter. Konka inferior merupakan tulang tersendiri yang melekat pada os maksila dan labirin etmoid, sedangkan konka media, superior dan suprema merupakan bagian dari labirin etmoid. 5. Meatus nasi, di antara konka-konka dan dinding lateral hidung terdapat rongga sempit yang disebut meatus. Meatus inferior terletak di antara konka inferior dengan dasar hidung dan dinding lateral rongga hidung. Pada meatus inferior terdapat muara nasolakrimalis. Meatus media terletak di antara konka media dan dinding lateral rongga hidung. Pada meatus media terdapat bula etmoid, prosesus unsinatus, hiatus semilunaris dan infundibulum etmoid. Disini terdapat muara sinus maksila, frontalis dan sinus etmoid anterior. Pada meatus superior yang merupakan ruang diantara konka superior dan konka media terdapat muara sinus etmoid posterior dan sinus sfenoid. 6. Dinding medial, dinding medial hidung adalah septum nasi.
Modul VII.8 ± Neooplasma Hidung dan Sinus Paranasal 26 Gambar 2. Anatomi hidung dalam Sinus Paranasal Sinus paranasal merupakan rongga berisi udara dalam tulang tengkorak. Secara klinis terbagi atas dua grup: - Anterior : Sinus maksila, frontal dan etmoid anterior - Posterior : Sinus etmoid posterior dan sfenoid Sinus maksila Merupakan sinus terbesar yang kapasitasanya hingga 15 ml pada dewasa. - Dinding anterior sinus ialah permukaan fasial os maksila yang disebut fosa kanina - Dinding posterior adalah permukaan infra temporal maksila - Dinding medialnya ialah dinding lateral rongga hidung - Dinding superior ialah dasar orbita - Dinding inferior ialah prosessus alveolaris dan palatum Sinus frontal Sinus frontal terletak di os frontal. Sinus frontal kanan dan kiri biasanya tidak simetris. Berdrainase melalui ostiumnya yang terletak di resessus frontal. Sinus etmoid Sinus etmoid adalah rongga udara yang berdinding tipis dimassa lateral tulang etmoid. Jumlahnya antara 3 - 18 sel. Secara klinis, sel-sel etmoid terbagi atas etmoid anterior yang bermuara di meatus media dan etmoid posterior yang bermuara di meatus superior.
Modul VII.8 ± Neooplasma Hidung dan Sinus Paranasal 27 Sinus sfenoid Sinus sfenoid terletak dalam os sfenoid di belakang sinus etmoid posterior. Sinus sfenoid dibagi dua oleh sekat yang disebut septum intersfenoid. Gambar 3. Anatomi sinus paranasal KEKERAPAN Tumor sinus paranasal dijumpai sekitar 3% dari seluruh tumor kepala dan leher, dan 0,5% dari seluruh tumor ganas. Dengan insidensi pada pria 2:1 dibandingkan pada wanita. Dimana 60% tumor sinonasal berkembang didalam sinus maksilaris, 20 - 30% didalam rongga nasal, 10 - 15% didalam sinus etmoidalis, dan 1% didalam sinus sfenoidalis dan frontalis. Apabila hanya melibatkan sinus-sinus paranasal tersendiri, 77% tumor maligna muncul didalam sinus maksilaris, 22% didalam sinus etmoidalis dan 1% didalam sinus sfenoidalis dan frontalis. Neoplasma maligna pada tempat-tempat ini dapat mengakibatkan kematian dan kecacatan dalam jumlah yang signifikan. Di India, tumor ganas dan sinus paranasal berkisar sekitar 0,44% dari seluruh tumor ganas (0,57% pada pria dan 0,44% pada wanita). Paling banyak ditemukan pada sinus maksilaris dan diikuti pada sinus etmoidalis, sinus frontal sinus sfenoidalis. Insidensi tertinggi keganasan sinonasal ditemukan di Jepang yaitu 2 sampai 3,6 per-100.000 penduduk pertahun. Di Departemen THT FKUI RSCM Jakarta keganasan ini ditemukan 10 - 15% dari seluruh tumor ganas THT. Di Departemen THT-KL FK USU/RSUP.HAM Medan, kasus tumor ganas sinonasal pada periode bulan januari 2005 hingga bulan desember 2009 terdapat 51 kasus dimana sebagian besar ditemukan stadium lanjut 44 kasus (86,3%). ETIOLOGI Etiologi tumor ganas sinonasal belum diketahui, tetapi diduga beberapa zat hasil industri merupakan penyebab antara lain nikel, debu kayu, kulit, formaldehid, kromium, minyak isopropil dan lain-lain. Pekerja dibidang ini mendapat kemungkinan terjadi keganasan hidung dan sinus paranasal jauh lebih besar. Alkohol, asap rokok, makanan yang diasinkan atau diasap diduga meningkatkan kemungkinan terjadi keganasan, sebaliknya buah-buahan dan sayuran mengurangi keganasan.
Modul VII.8 ± Neooplasma Hidung dan Sinus Paranasal 28 HISTOLOGI Lebih dari 80% tumor ganas adalah karsinoma sel skuamosa. Sisanya adalah adenokarsinoma, adenoid kistik karsinoma, melanoma dan berbagai jenis sarkoma. Karsinoma sel skuamous merupakan tumor sinonasal yang terbanyak. Dilaporkan pada pria kulit putih dengan umur dekade 5 - 6. Prognosis berhubungan dengan luas dan letak tumor. Adenokarsinoma sebanyak 4 - 8% dari seluruh tumor sinonasal. Awalnya kebanyakan di sinus etmoid dan rongga hidung, dihubungkan dengan paparan serbuk kayu. Karsinoma kistik adenoid pada sinonasal sebanyak 14 - 20% dari seluruh karsinoma kistik adenoid di kepala dan leher. Karakteristiknya adalah perluasan yang cepat ke struktur neurovaskular, submukosa dan didiagnosa pertama kali pada stadium yang sudah lanjut. Melanoma pada sinonasal bisa berupa primer maupun metastase. Walaupun 20% dari melanoma yang ada di kepala dan leher, kurang dari 1% timbul dari sinonasal. Kebanyakan pada rongga hidung, kemudian di sinus maksilaris, etmoid, dan frontal. Sarkoma neurogenik jarang di kepala dan leher dan umumnya berhubungan dengan neurofibromatosis. Sifatnya agresif dan sering muncul dengan metastase jauh. GEJALA DAN TANDA Gejala yang paling sering pada tumor sinonasal sama dengan gejala pada infeksi sinus, seperti hidung tersumbat, epistaksis, sakit kepala, nyeri wajah, hidung berair, dan bisa asimptomatik pada 9 - 12% pasien, tergantung dari perkembangan penyakit. Gejala orbital, seperti diplopia, proptosis, hilang penglihatan dan epipora, dapat timbul dengan adanya invasi atau ekspansi ke mata. Memasuki dasar tengkorak hingga fossa kranial anterior menimbulkan nyeri kepala, neuropati kranial, bahkan sindrom lobus frontalis. Tumor juga bisa menembus maksila dan timbul massa di palatum. DIAGNOSIS Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang dan diagnosis pasti ditegakkan berdasarkan pemeriksaan histopatologi. 1. Anamnesis Penting untuk dilakukan anamnesis yang teliti, biasanya perlu ditanyakan apakah ada obstruksi hidung, hidung berdarah, diplopia, pasien mengeluh apakah gigi palsunya tidak pas lagi atau gigi geligi goyah. 2. Pemeriksaan Fisik Pada pemeriksaan fisik dapat dijumpai pembengkakan wajah sebelah atas seperti sisi batang hidung dan daerah kantus medius, penonjolan daerah pipi dan pembengkakan palatum durum, palatum mole, tepi alveolar atau lipatan mukosa mulut. Perluasan tumor keintrakranial menyebabkan sakit kepala hebat, gangguan visus. Dapat disertai likuorea yaitu cairan otak yang keluar dari hidung.Pemeriksaan dilanjutkan dengan memeriksa kavum nasi dan nasofaring melalui rinoskopi anterior dan posterior. Sekret yang keluar harus diperiksa dengan teliti. Sekret yang berbau busuk mungkin berasal dari nekrosis jaringan yang sering berhubungan dengan proses suatu neoplasma. 3. Pemeriksaan Penunjang Foto polos sinus paranasal kurang berfungsi dalam mendiagnosis dan menentukan perluasan tumor kecuali pada tumor tulang seperti osteoma. Tetapi foto polos tetap
Modul VII.8 ± Neooplasma Hidung dan Sinus Paranasal 29 berfungsi sebagai diagnosis awal, terutama jika ada erosi tulang dan perselubungan padat unilateral, harus dicurigai keganasan dan buatlah tomogram atau CT scan, dimana CT scan merupakan sarana terbaik karena lebih jelas memperlihatkan tumor dan destruksi tulang. MRI dapat membedakan jaringan tumor dari jaringan normal tetapi kurang baik dalam memperlihatkan destruksi tulang. Foto polos paru diperlukan untuk melihat adanya metastasis tumor di paru. 4. Pemeriksaan histopatologi Diagnosis pasti ditegakkan berdasarkan pemeriksaan histopatologi. Jika tumor tampak dirongga hidung atau rongga mulut, maka biopsi mudah dan harus segera dilakukan. Biopsi tumor maksila, dapat dilakukan melaui tindakan sinoskopi atau melalui operasi Caldwell-Luc yang insisinya melalui sulkus gingivo-bukal. Jika dicurigai tumor vaskuler, misalnya hemangioma atau angiofibroma, jangan dilakukan biopsi karena akan sangat sulit menghentikan perdarahan yang terjadi. KLASIFIKASI TNM DAN STADIUM TUMOR Stadium tumor ganas sinonasal menurut American Joint Committee on Cancer (AJCC) tahun 2018 yaitu: Tumor Primer (T) Tx : Tumor primer tidak bisa ditentukan Tis : Karsinoma insitu  6LQXV PDNVLODULV T1 : Tumor terbatas pada mukosa sinus maksilaris tanpa erosi dan destruksi tulang T2 : Tumor menyebabkan erosi atau destruksi tulang hingga palatum atau meatus media tanpa melibatkan dinding posterior sinus maksilaris, jaringan subkutaneus T3 : Tumor menginvasi dinding posterior tulang sinus maksilaris, subkutaneus jaringan dinding dasar dan medial orbita, fossa pteriogoid, sinus etmoidalis. T4a : Tumor menginvasi bagian anterior orbita, kulit pipi, fossa pterigoid, fossa infra temporal, fossa kribriformis, sinus sfenoidalis atau frontal. T4b : Tumor menginvasi salah satu dari apeks orbita, duramater, otak, fossa kranial medial, nervus kranialis selain dari divisi maksilaris nervus trigeminal (V2), nasofaring atau klivus. Kavum nasi dan sinus etmoidalis Tumor Primer (T) Tx : Tumor primer tidak bisa ditentukan Tis : Karsinoma insitu T1 : Tumor terbatas pada salah satu bagian dengan atau tanpa invasi tulang. T2 : Tumor berada didua bagian dalam satu regio atau tumor meluas dan melibatkan daerah nasoetmoidal kompleks, dengan atau tanpa invasi tulang.
Modul VII.8 ± Neooplasma Hidung dan Sinus Paranasal 30 T3 : Tumor menginvasi dinding medial atau dasar orbita, sinus maksilaris, palatum atau fossa kribiformis. T4a : Tumor menginvasi salah satu bagian anterior orbita, kulit nasal atau pipi, meluas minimal ke fossa pterigoid, sinus sfenoidalis atau frontal. T4b : Tumor menginvasi salah satu dari apeks orbita, dura, otak, fossa kranial medial, nervus kranialis selain dari V2, nasofaring atau klivus. Kelenjar getah bening regional (N) Nx : Pembesaran kelenjar limfe regional tidak dapat ditentukan N0 : Tidak ada metastasis kekelenjar limfe regional N1  0HWDVWDVLV NHOHQMDU OLPIH LSVLODWHUDO GLDPHWHU   FP (NE (-) N2 : Metastasis tunggal kelenjar limfe ipsilateral diameter 3 - 6 cm, atau 6 cm ENE (-) multipel Kelenjar limfe ipsilateral < 6 cm atau metastasis bilateral atau NRQWUDODWHUDO GLDPHWHU   FP (1( -) N2a : Metastasis kelenjar limfe ipsilateral diameter 3 - 6 cm ENE (-) N2b  0HWDVWDVLV PXOWLSOH SDGD NHOHQMDU OLPIH LSVLODWHUDO GLDPHWHU  FP (1( -) N2c  0HWDVWDVLV SDGD NHOHQMDU OLPIH ELODWHUDO DWDX NRQWUDODWHUDOGLDPHWHU  FP (1( (-) N3 : Metastasis kelenjar limfe diameter lebih dari 6 cm ENE (-), atau metastasis pada nodus limfatikus dimanapun dengan ENE + N3a : Metastasis nodus limfatikus tidak lebih dari 6 cm ENE (-) N3b : Metastasis pada nodus limfatikus dimanapun dengan ENE (ENEc) Metastasis jauh (M) MO : Tidak ada metastasis jauh MI : Ada metastasis jauh Stadium karsinoma sinus maksila dan sinus ethmoid Stadium I : T1 N0 M0 Stadium II : T2 N0 M0 Stadium III : T3 N0 M0 T1 N1 M0 T2 N1 M0 T3 N1 M0 Stadium IV : T4a N0 M0 T4a N1 M0 T1 N2 M0 T2 N2 M0 T3 N2 M0 T4a N2 M0 Stadium IVB : Setiap T N3 M0 T4b setiap N M0 Stadium IVC : Setiap T setiap N M1
Modul VII.8 ± Neooplasma Hidung dan Sinus Paranasal 31 DIAGNOSIS BANDING Diagnosis banding pada tumor ganas sinusparanasal yang paling tinggi adalah karsinoma sel skuamous, diikuti oleh adenokarsinoma, adenoid kista karsinoma, olfaktori estesioneuroblastoma, maligna mukosa melanoma dan karsinoma undifferentiated sinonasal. PENATALAKSANAAN Pembedahan atau lebih sering bersama dengan modalitas terapi lainnya seperti radiasi dan kemoterapi sebagai adjuvant sampai saat ini masih merupakan pengobatan utama untuk keganasan hidung dan sinus paranasal, penyakit stadium lanjut jika diobati, membutuhkan multimodalitas terapi, yaitu operasi dengan radiasi sebelum atau setelah operasi. Katz et al, mencatat angka harapan hidup 5 tahun bagi pasien yang menerima radiasi setelah operasi adalah 79% dibandingkan dengan pasien yang diobati dengan radioterapi saja adalah 49%. Kemoterapi sebagai tambahan radioterapi dan pembedahan telah menunjukkan peningkatan hasil pengobatan pada satadium III/IV. Pembedahan masih diindikasikan walaupun menyebabkan morbiditas yang tinggi bila terbukti dapat mengangkat tumor secara lengkap. Pembedahan dikontraindikasikan pada kasus yang telah bermetastasis jauh, sudah meluas kesinus kavernosus bilateral atau tumor sudah mengenai kedua orbita. Untuk tumor ganas, tindakan operasi seradikal mungkin. Biasanya dilakukan maksilektomi, dapat berupa maksilektomi medial, total atau radikal. Maksilektomi radikal dilakukan misalnya pada tumor yang sudah mengenai seluruh dinding sinus maksila dan sering juga masuk kerongga orbita, sehingga pengangkatan maksila dilakukan secara en bloc disertai eksenterasi orbita. Jika tumor sudah masuk kerongga intrakranial dilakukan reseksi kraniofasial atau kalau perlu kraniotomi, tindakan dilakukan dalam tim bersama dokter bedah saraf. Penatalaksanaan tumor ganas sinonasal berdasarkan National Comprehensive Cancer Network (NCCN) tahun 2020:
Modul VII.8 ± Neooplasma Hidung dan Sinus Paranasal 32
Modul VII.8 ± Neooplasma Hidung dan Sinus Paranasal 33
Modul VII.8 ± Neooplasma Hidung dan Sinus Paranasal 34
Modul VII.8 ± Neooplasma Hidung dan Sinus Paranasal 35 INDIKASI OPERASI 1. Reseksi bedah biasanya dianjurkan dengan maksud penyembuhan (kuratif) 2. Eksisi paliatif dapat dimaksudkan untuk meredakan nyeri yang tidak tertahankan, untuk dekompresi struktur vital atau mengurangi besarnya lesi masif.
Modul VII.8 ± Neooplasma Hidung dan Sinus Paranasal 36 PROSEDUR OPERASI Persiapan pre operasi : 1. Penjelasan kepada penderita dan atau orang tua / keluarga mengenai tindakan operasi yang akan dijalani serta risiko / komplikasi. Meminta tandatangan persetujuan untuk dilakukan operasi dari penderita dan atau orang tua / keluarga (informed consent) 2. Pemeriksaan laboratorium 3. Pemeriksaan penunjang 4. Cairan 5. Dalam keadaan diperlukan kontrol jalan nafas, atau kemungkinan terjadinya ancaman sumbatan jalan nafas, perlu dilakukan tindakan trakeostomi elektif 6. Memeriksa dan melengkapi persiapan alat dan kelengkapan operasi 7. Penderita puasa minimal 6 jam sebelum operasi. TINDAKAN OPERASI 1. Maksilektomi Medial a. Insisi kulit dimulai dibawah sisi medial alis, sepanjang 4 - 5 mm kantus medial anterior melalui tulang hidung sepanjang bagian terdalam celah nasomaksila dan menelusuri lipatan ala nasi. Perluasan insisi dengan membelah bibir tidak diperlukan. Untuk memperjelas area operasi, flap pipi dielevasi dari maksila secara subperiosteal dan mengelilingi saraf infra orbita. Periorbita dielevasi dari lamina papirasea, kemudian sutura frontoetmoid diidentifikasi dan diteruskan ke arah belakang sampai arteri etmoid posterior teridentifikasi. Dinding anterior antrum tepatnya pada fosa kanina ditembus dengan pahat ukuran 4 mm. Antrostomi diperluas dengan rongeur Kerrison mengelilingi saraf infraorbita dan ke arah atas menuju tepi orbita. b. Tulang diangkat melalui tepi orbita termasuk fosa lakrimalis. c. Duktus nasolakrimalis dipisahkan dan sakus lakrimalis dibuka dan dimarsupialisasi d. Selanjutnya dilakukan osteotomi dan pengangkatan jaringan. Osteotomi diperluas melalui apertura piriformis pada level dasar rongga hidung, diarahkan ke belakang sampai dinding belakang antrum. Orbita diretraksi ke arah lateral, kemudian dilakukan osteotomi pada sutura frontoetmoid, meluas ke belakang sampai pada jarak 2 - 3 mm di belakang arteri etmoid posterior (yaitu di depan foramen optikum). e. Tulang tipis lantai orbita bagian medial dipotong mengikuti garis yang menghubungkan fosa lakrimalis dan osteotomi superior. Pemotongan tulang terdiri dari 3 langkah. Pertama, osteotom dimasukkan melalui antrostomi anterior dan diarahkan melalui dinding antrum medioposterior. Osteotomi diperluas ke atas untuk mencapai level osteotomi superior dan didorong ke arah medial. Kedua, osteotom yang lebih lebar dimasukkan melalui hidung, kemudian diarahkan ke dalam dinding depan sinus sfenoid dan selanjutnya didorong ke lateral. Ketiga, gunting lurus dimasukkan melalui osteotomi inferior dengan satu sisi di dalam hidung dan sisi lainnya di dalam antrum untuk memulai pemotongan belakang di belakang konka. f. Gunting bengkok kemudian dimasukkan dengan satu sisi pada kavum nasi dan sisi yang lainnya pada daerah osteotomi superior sepanjang perlekatan superior dari konka. Jaringan diangkat dengan tarikan ke depan dan ke bawah.
Modul VII.8 ± Neooplasma Hidung dan Sinus Paranasal 37 Hemostasis dilakukan dengan klem atau kauterisasi. Tepi tulang dihaluskan dengan rongeur. Sisa mukosa etmoid diangkat dengan forsep etmoid dan dilakukan sfenoidotomi dengan rongeur Kerrison. Rongga ditutup tampon pita dengan salep antibiotik. Luka dijahit lapis demi lapis. Kontraindikasi 1. Paparan dari reseksi tumor yang meluas ke palatum, fossa infratemporal, nasofaring atau fossa kranial anterior 2. Paparan lateral dari foramen infraorbital 3. Pembedahan setelah gagal dengan radiasi dosis tinggi pada daerah hidung dan sinus paranasal pada kasus-kasus dimana insisi wajah harus dihindarkan. 2. Reseksi Radikal Maksila dengan Eksenterasi Orbita dan Sebagian Etmoid a. Insisi Weber - Dieffenbach (Fergusson) dilakukan dengan perluasan ke dalam dasar hidung. Insisi bibir atas dilakukan untuk meminimalkan kontraktur pasca operasi. Garis vertikal tepat di sebelah medial filtrum dan garis horisontal mengikuti batas vermilion. Kelopak mata dijahit satu sama lain dan dibiarkan menyatu pada flap kulit atau mata. Jika direncanakan akan dilakukan pemasangan prostesis mata, akan lebih menguntungkan untuk mengangkat kelopak mata beserta flap kulit. Diskusikan pilihan ini dengan prostodontis maksilofasial. Insisi pada dasar nares merupakan pilihan lain, karena transeksi dasar hidung dapat dilakukan tanpa insisi ini. Sudut yang sempit saat insisi kulit harus dihindari pada daerah dekat kantus medial. Reseksi kulit pipi dapat dilakukan jika daerah tersebut terlibat. b. Daerah tulang yang direseksi termasuk seluruh antrum dengan palatum durum dan dasar orbita, rima orbita lateral, korpus zigoma (tulang malar) dan sebagian arkus zigomatikus. Arteri maksila interna terletak di superfisial atau lebih dalam dari otot pterigoideus eksternus atau berjalan diantara kedua pangkal otot tersebut. Labirin etmoid, dinding anterior sinus etmoid dan seluruh dinding lateral kavum nasi beserta ketiga konka juga ikut direseksi. Septum nasi dibiarkan tetap intak kecuali bila septum juga terlibat. Jika septum nasi terlibat, maka dilakukan reseksi melalui dasar hidung di sisi kontralateral. Insisi melalui tepi alveolar lebih disukai melalui soket gigi untuk mempertahankan viabilitas gigi yang bersebelahan. c. Flap kulit didiseksi dengan mempertahankan otot orbikularis oris dan businator di flap lateral. Bagian yang tersisa dari otot wajah dibiarkan tetap melekat pada dinding depan antrum. Insisi dari bibir dilanjutkan sepanjang sulkus gingivobukal ke arah posterolateral hingga melewati tuberositas maksila. Perlekatan otot businator pada tepi bawah maksila yang meluas hingga tuberositas ditranseksi. Prosesus nasal maksila kemudian direseksi dengan pahat atau sagittal plane saw hingga mencapai kantus medial mata. Daerah ini sesuai dengan garis sutura maksila dengan tulang frontal dan berperan sebagai penanda level lamina kribriformis etmoid / dasar fossa kranial anterior. Ini merupakan level atas reseksi di bagian medial. d. Gigi insisivus atas pada sisi yang direseksi diangkat. Dibuat luka tembus ke dalam kavum nasi pada tepi posterior palatum durum. Melalui luka tersebut klem bengkok diselipkan ke dalam rongga hidung dan digunakan untuk menjepit ujung gergaji gigli, yang dimasukkan ke dalam nares. Jika terdapat fragmen gigi tertahan pada tepi potongan gergaji, maka harus diangkat.
Modul VII.8 ± Neooplasma Hidung dan Sinus Paranasal 38 e. Palatum durum ditranseksi secara longitudinal melalui dasar kavum nasi dengan gergaji gigli. Kemudian insisi dilakukan melalui tepi posterior palatum durum, memisahkannya dari palatum mole. Palatum mole dibiarkan intak. f. Perlekatan anterior otot masseter harus diangkat dari bagian anterior arkus zigomatikus. Sepanjang 2 cm potongan arkus zigomatikus dieksisi dengan gergaji gigli. Pembukaan ini memungkinkan akses ke dalam fosa pterigomaksila dan terlihatnya sebagian arteri maksila interna yang kemudian ditranseksi diantara dua penjepit perak. g. Perios diinsisi sepanjang bagian superior, medial dan lateral mengelilingi orbita (bagian inferior akan dieksisi bersama reseksi en bloc). Dengan resparatorium perios, periorbita dielevasi hingga apeks orbita. Dengan bola mata diretraksi ke arah bawah dan medial suatu penjepit melengkung diselipkan melalui fisura orbita inferior untuk memegang gergaji gigli. Kadang-kadang diperlukan pematahan sedikit tulang tipis untuk memasukkan penjepit. Jika menyelipkan penjepit tidak memungkinkan, tepi orbita lateral direseksi menggunakan sagittal plane saw. h. Dengan mengarahkan gergaji gigli ke atas dan ke depan tepi lateral orbita dipotong. Saraf optikus dipotong di pertengahan antara bola mata dan foramen optikus atau sejauh mungkin ke arah belakang sesuai indikasi. Hindari tarikan berlebihan pada saraf optikus karena hal ini dapat mengakibatkan kerusakan pada chiasma optikum dan defek lapangan penglihatan pada mata kontralateral. Arteri optalmika yang terletak medial dari saraf optikus diligasi. Dalam bantalan lemak mata terdapat pembuluh-pembuluh darah kecil yang harus diligasi. i. Pemotongan dilakukan dengan pahat atau sagittal plane saw, dimulai dari bagian atas osteotomi yang telah dilakukan pada tahap c. Ini akan memisahkan maksila dari tulang frontal. Pahat diarahkan sedikit ke arah bawah dan ke arah dalam, mengenai bagian dalam lamina kribriformis. Ini harus dilakukan secara perlahan dan hati-hati untuk menghindari trauma terhadap lamina kribriformis. Pemotongan diperluas melalui tepi atas tulang lakrimalis dan melalui sepertiga atas lamina papirasea tulang etmoid ke perluasan anterolateral sinus sfenoid. Dengan cara ini sebanyak mungkin labirin etmoid diangkat secara en bloc dengan maksila. j. Perlekatan posterolateral maksila dapat dibebaskan dengan salah satu dari dua cara. Prosesus pterigoideus ditranseksi dekat origonya dari corpus dan ala mayor tulang sfenoid. Ini dapat dicapai dengan pertama-tama mereseksi otot pterigoid eksternus dan internus dari lamina pterigoid lateral dan medial dan kemudian melakukan transeksi terhadap prosesus pterigoid dengan rongeurs menyudut. Lamina pterigoid lateral dan medial merupakan perluasan dari prosesus pterigoid. Kedua lamina bersatu di anterior dan superior dan membuka ke arah posterior dan inferior. Di atas otot pterigoid terdapat pembuluh darah utama dan beberapa cabang arteri maksila interna. Arteri ini bervariasi dan dapat berjalan lebih dalam dari otot pterigoid eksternus atau diantara kedua pangkal otot. Pembuluh-pembuluh darah ini merupakan sumber perdarahan yang signifikan, jika tidak satu persatu diligasi atau ditutup dengan penjepit perak. Tindakan ini dilakukan pada awal operasi dengan mengangkat sebagian kecil arkus zigomatikus, dengan mengingat variasi lokasi arteri. Arteri karotis interna dapat cedera pada saat pemotongan prosesus pterigoid. Jarak antara arteri karotis interna dengan tepi posterior lamina pterigoid lateral sekitar 1,5 cm atau kurang.
Modul VII.8 ± Neooplasma Hidung dan Sinus Paranasal 39 Prosesus stiloid terletak di atas arteri karotis interna. Foramen laserum terletak di dasar lamina pterigoid medial. Bagian bawah foramen laserum terisi dengan lapisan fibrokartilago yang di atasnya berjalan arteri karotis interna, setelah melalui orifisium kanal karotis. Orifisium ini terletak lebih posterior dari foramen laserum. k. Metode lain yang dapat digunakan untuk membebaskan perlekatan posterolateral maksila adalah dengan mengarahkan pahat diantara prosesus pterigoid dan maksila. Pemotongan ini meluas ke dalam fisura pterigomaksila. Cabang arteri maksila interna memerlukan ligasi. Metode ini tidak dianjurkan pada keadaan dimana dicurigai telah terjadi erosi tulang dinding belakang antrum. l. Keseluruhan jaringan biasanya pada tahap ini telah cukup bebas sehingga sisa perlekatan yang lemah dari maksila pada bagian medial orbita akan terputus dengan cara menggoyangkan jaringan ke arah belakang dan depan. Jika diperlukan sebuah pahat dapat digunakan secara perlahan untuk memotong perlekatan ini. Garis transeksi meluas ke arah belakang sampai mencapai sel udara etmoid posterior, biasanya dengan mengangkat dinding anterior sinus sfenoid. Pada tahap ini arteri maksila interna dan cabang-cabangnya terlihat. Penjepit perak digunakan untuk menyumbat pembuluh darah. Arteri maksila interna terletak superfisial dari otot pterigoid eksternus tetapi dapat lebih dalam atau terletak diantara kedua pangkal otot. Upaya memaparkan pembuluh darah difasilitasi dengan retraktor panjang Langenbeck. Kadang-kadang manuver ini gagal. Pendekatan ini juga memungkinkan evaluasi perluasan penyakit di daerah pterigomaksila. Pemaparan tambahan daerah ini dapat dilakukan dengan melakukan transeksi dasar prosesus koronoid mandibula, namun hal ini jarang diperlukan. m. Sisa sel sinus etmoid anterior dan posterior dibersihkan dengan kuret. Kuret digunakan dengan gerakan ke arah bawah dan bukan ke atas untuk menghindari cedera lamina kribriformis etmoid. Dinding depan sinus sfenoid jika masih intak, diangkat dengan menggunakan forsep penjepit depan (Jansen - Middleton) atau forsep penjepit belakang (Hajek atau Kerrison). Jika identitas sinus diragukan (sinus etmoid posterior atau sfenoid), letakkan probe metal pada daerah tersebut dan dicek menggunakan radiografi intraoperatif. Sel etmoid posterior yang besar dapat menyerupai sinus sfenoid. Arteri karotis interna terletak tepat di lateral sinus etmoid posterior dan sfenoid. n. Setelah perdarahan berhasil dikontrol, permukaan terbuka yang jauh di dalam defek tulang maupun di bawah flap kulit ditutup dengan kulit split thickness. Jika memungkinkan graft dijahit menggunakan catgut kromik nomor 4. Daerah sisanya ditutup dengan kasa absorben yang dibasahi cairan povidone - iodine atau salep klortetrasiklin. Kapas tersebut harus diperas hingga hampir kering untuk menghindari cairan betadin menetes ke dalam laring kemudian masuk ke paru-paru dan dapat terjadi pneumonia akibat betadin. o. Defek orbita diisi dengan tampon. p. Dilakukan penjahitan dengan menggunakan nilon 3-0 melalui palatum, defek berfungsi sebagai penahan untuk menahan tampon pada tempatnya. Flap kulit didekatkan dengan jahitan 2 lapis. 3. Reseksi Maksila Termasuk Dasar Orbita dengan Mempertahankan Bola Mata a. Eksplorasi dasar orbita dilakukan dengan melakukan insisi sepanjang sisi atas tepi infraorbita. Dengan elevasi perios secara hati-hati pada titik ini, dapat
Modul VII.8 ± Neooplasma Hidung dan Sinus Paranasal 40 dilakukan palpasi isi orbita. Jika tidak didapatkan tanda adanya perluasan penyakit di dalam orbita, jika dasar orbita masih intak dan jika CT scan preoperatif menunjukkan tidak adanya erosi tulang maka dasar rongga orbita (atap antrum) direseksi dan bola mata tetap dipertahankan. b. Prosesus frontal dan arkus zigomatikus ditranseksi dengan gergaji gigli. Perlekatan medial tepi infraorbita ditranseksi dengan menggunakan sagittal plane saw tepat di bagian bawah ligamen kantus medial. Gigi insisivus tengah pada sisi yang terlibat diekstraksi. Transeksi tulang dilakukan melalui soket gigi. c. Dengan menggunakan retraktor melengkung, bola mata beserta otot orbikularis okuli dan perios secara halus ditarik ke arah atas. Dasar orbita bagian belakang dan bawah ditranseksi dengan menggunakan osteotom melengkung. Insisi tulang dapat dilakukan jauh ke belakang hingga 4 cm dari tepi orbita bawah dengan hati-hati agar tidak mencederai saraf optik dan tanpa memasuki antrum. Bahaya kerusakan saraf optik lebih besar pada sisi medial saat melakukan diseksi lamina papirasea. d. Tahap berikutnya pada prosedur ini sama dengan operasi yang lebih radikal, dengan pengecualian bahwa bola mata dipertahankan. Flap otot temporal kemudian dimobilisasi dengan cara memisahkan 1 cm otot dari insersinya dan melekatkan ujung distal bebas ini di dekat kantus medial mata. Perlekatan ini dapat dilakukan ke fasia di daerah atau melalui sebuah lubang kecil yang dibuat dengan bor ke dalam sisa tulang pada sisi medial orbita. Flap otot temporal dengan demikian membentuk suatu penahan untuk menopang bola mata. Ligamen kantus medial membutuhkan reseksi jika reseksi tulang yang dilakukan lebih tinggi. Kemudian bagian lateral dari ligamen kantus medial diamankan ke lubang yang dibuat dengan bor pada tulang hidung. Lubang-lubang ini terletak pada lokasi yang sama dimana otot temporal penopang dilekatkan. Harus diperhatikan bahwa sakus lakrimalis di bagian medial ligamen kantus medial tidak rusak. Kontraindikasi 1. Isi orbita tidak dapat dipertahankan oleh karena erosi dasar tulang atau dinding medial orbita, oleh karena invasi periorbita, apex orbita atau saraf intraorbita, atau kebutuhan penyinaran pasca operasi dekat dengan orbita atau positif margin 2. Tumor dengan perluasan ke intrakranial. 4. Maksilektomi Parsial Maksilektomi Infrastruktur Teknik ini mengikuti prinsip dasar maksilektomi radikal kecuali orbita dibiarkan intak dan labirin etmoid tidak diangkat secara en bloc namun hanya dikuret. a. Setelah kelopak mata didekatkan (tarsorafi temporer), insisi Weber - Dieffenbach (Fergusson) dimulai menyilang bagian tengah bibir atas seperti tangga untuk mengurangi terjadinya kontraktur jaringan parut. Insisi diteruskan ke atas di sulkus nasolabial sampai setinggi kantus medial dan kemudian terus secara horisontal di bawah bulu mata dari kelopak mata bawah dan melewati kantus lateral. Otot orbikularis okuli dibiarkan intak dan dipertahankan di tempatnya. Sebuah insisi dibuat dalam sulkus ginggivobukal dan flap pipi, termasuk otot businator dan direfleksi ke belakang ke tuberositas maksila. b. Area direseksi secara sistematis. Ini termasuk dua pertiga bawah maksila termasuk palatum durum yang bersebelahan. Sebuah gergaji gigli digunakan
Modul VII.8 ± Neooplasma Hidung dan Sinus Paranasal 41 untuk memotong palatum durum. Prosesus nasal maksila dipotong dengan pahat sejauh 1 - 1,5 cm ke level infraorbita. Dengan demikian konka inferior (tulang terpisah) termasuk dalam spesimen yang direseksi, sementara konka superior dan medial, yang merupakan bagian etmoid, dieksisi sebagai fragmen terpisah setelah spesimen utama diangkat. Jika tumor mengenai dinding medial antrum, maka konka media dan superior diangkat en bloc bersama spesimen utama. Bila tumor mengenai septum, maka dasar hidung ditranseksi pada sisi kontralateral. Septum akhirnya diangkat bersama spesimen utama. Jika memungkinkan, kolumela dipertahankan; jika tidak, sebuah graft anterior diselipkan sebagai penopang. c. Otot orbikularis okuli diretraksi ke atas. Sebuah gergaji stryker memotong sepertiga atas maksila, sambil mempertahankan sebagian besar tepi infraorbita dan dasar orbita. Pemotongan ini diperluas ke lateral menyilang badan zigoma. Perlekatan posterolateral maksila dipisahkan dari prosesus pterigoid tulang sfenoid dengan pahat. Dinding posterior maksila biasanya cukup bebas untuk pengangkatan spesimen dengan menggoyang maksila. Cabang-cabang arteri maksila interna, khususnya yang berada di dalam fosa pterigomaksila perlu diligasi. Sinus etmoidalis anterior dan posterior dikuret, dengan kehati-hatian yang sama seperti melakukan etmoidektomi. Graft kulit split thickness digunakan untuk menutupi semua area yang terbuka. d. Povidone - iodine digunakan sebagai tampon, yang akan diangkat dalam 7 sampai 10 hari dan sebuah prostesa sementara diselipkan. Dalam 2 minggu tarsorafi sementara dilepaskan. Kontraindikasi 1. Tumor yang meluas ke tulang orbita dan pterigoid 2. Tumor dengan perluasan ke intrakranial (dural) 3. Tumor yang menyebar ke daerah lateral atau palatum 4. Tumor yang menyebar ke lantai orbital atau malar Maksilektomi suprastruktur Maksilektomi suprastruktur dilakukan dengan prosedur yang sama dengan maksilektomi radikal, tetapi tidak dilakukan pemotongan tulang untuk mengeluarkan maksila bagian bawah (lihat prosedur maksilektomi radikal dan maksilektomi medial). KOMPLIKASI OPERASI 1. Obstruksi jalan nafas kecuali telah dilakukan trakeostomi 2. Kecacatan pada tulang maksila 3. Kelainan fungsional akibat trauma tindakan reseksi tumor : a. Kolaps pada bibir b. Gangguan bicara c. Sulit menelan 4. Komplikasi orbita : a. Terpotongnya duktus nasolakrimalis b. Stenosis muara sakus lakrimalis, dapat mengakibatkan epifora c. Terbatasnya pergerakan otot ekstra okuler d. Tertekannya saraf optik selama mobilisasi spesimen atau reseksi kraniofasial
Modul VII.8 ± Neooplasma Hidung dan Sinus Paranasal 42 e. Enoptalmos atau hipoptalmos. 5. Komplikasi luka operasi : a. Perdarahan b. Infeksi c. Hilangnya flap rekonstruktif atau graft kulit. 6. Komplikasi dasar tengkorak : a. Keluarnya cairan serebrospinal b. Meningitis, abses intrakranial c. Pneumosefalus d. Osteomielitis. KOMPLIKASI LANJUT 1. Mukokel sinonasal 2. Rinitis kronik 3. Tumor residif 4. Osteoradionekrosis PERAWATAN PASCABEDAH 1. Penderita dirawat inap x Posisi tidur dengan kepala ditinggikan 2. Antibiotik x Sistemik 3. Analgetik sistemik 4. Perawatan luka 5. Kontrol 3 - 4 minggu setelah tindakan operasi. INSTRUMEN YANG DIPERLUKAN 1. Rongeur Kerrison 2. Forsep etmoid 3. Pahat ukuran 4 mm 4. Osteotom ukuran 2 mm 5. Klem 6. Kauterisasi 7. Gel foam 8. Gergaji gigli 9. Penjepit perak 10. Pahat atau sagittal plane saw 11. Resparatorium perios 12. Penjepit melengkung 13. Kuret 14. Rongeur menyudut 15. Forsep penjepit depan (Jansen - Middleton) 16. Forsep penjepit belakang (Hajek atau Kerrison) 17. Probe metal 18. Retraktor panjang Langenbeck 19. Bor 20. Gergaji stryker
Modul VII.8 ± Neooplasma Hidung dan Sinus Paranasal 43 21. Benang catgut kromik nomor 4 22. Cairan povidone - iodine 23. Salep klortetrasiklin 24. Benang nilon 3-0 25. Retraktor melengkung 26. Kasa absorben 27. Tampon 28. Gunting bengkok. PROGNOSIS Pada umumnya prognosis kurang baik. Banyak sekali faktor yang mempengaruhi prognosis keganasan hidung dan sinus paranasal,cara tepat dan akurat. Faktor- faktor tersebut seperti, perbedaan diagnosis histologi, asal tumor, pengobatan yang diberikan sebelumnya, status batas sayatan, terapi ajuvan yang diberikan, status immunologis, lamanya follow up dan banyak lagi faktor lain yang dapat berpengaruh terhadap agresifitas penyakit dan hasil pengobatan yang tentunya berpengaruh juga terhadap prognosis penyakit ini. Walaupun demikian pengobatan yang agresif secara multimodalitas akan memberikan hasil yang terbaik dalam mengontrol tumor primer dan akan meningkatkan angka bertahan hidup selama 5 tahun sebesar 75% untuk seluruh stadium tumor.
MODUL UTAMA ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER MODUL VII.9 LIMFOMA KEPALA LEHER EDISI III KOLEGIUM ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER 2022
DAFTAR ISI A. WAKTU ........................................................................................................... 1 B. PERSIAPAN SESI ........................................................................................... 1 C. REFERENSI..................................................................................................... 1 D. KOMPETENSI................................................................................................. 1 E. GAMBARAN UMUM..................................................................................... 2 F. CONTOH KASUS ........................................................................................... 3 G. TUJUAN PEMBELAJARAN .......................................................................... 4 H. METODE PEMBELAJARAN......................................................................... 5 I. EVALUASI ...................................................................................................... 6 J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF .............................. 7 K. MATERI PRESENTASI .................................................................................. 8 L. MATERI BAKU ............................................................................................ 10
Modul VII.9 ± Limfoma Kepala Leher 1 MODUL VII.9 ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER: LIMFOMA KEPALA LEHER A. WAKTU Mengembangkan Kompetensi Alokasi Waktu Sesi di dalam kelas Sesi dengan fasilitas pembimbing Sesi praktek dan pencapaian kompetensi 1 x 90 menit (classroom session) 1 x 60 menit (coaching session) 8 Jam (facilitation and assessment) B. PERSIAPAN SESI x Materi presentasi: Sarkoma jaringan lunak kepala leher Slide 1: Limfoma kepala leher Slide 2: Teknik pemeriksaan Slide 3: Metoda diagnostik Slide 4: Guideline penatalaksanaan x Kasus: Non Hodgkin Limfoma pada tonsila palatina x Sarana dan Alat Bantu Latih: a. Penuntun belajar (learning guide): terlampir b. Tempat belajar (training setting): bangsal rawat inap T.H.T.K.L, Poliklinik T.H.T.K.L, kamar operasi. c. Komputer/laptop d. Infocus C. REFERENSI 1. Chai RL, Tassler AB, Kim S: Lymphomas of the head and neack. In: BJ Bailey, et al., eds. Head and Neck Surgery±Otolaryngology.Vol 2. 5 th Ed. Philadelphia; Lippincott Williams & Wilkins: 2014. 5 ed. p. 2032-43 2. Cheah CY,Hagemeister FB. Lymphoma Presenting in the Head and Neck; Curent Issues in Diagnosis and Managementn: Myers J, Hanna E, Myers E, ed. Cancer of The Head and Neck. 5th ed. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2017. p. 1095-559 3. Yeung J, Chan Y. HIV: Head and Neck Surgery. In: Chan Y, Goddaed JC. (GLWRUV .-/HH¶V (VVHQWLDO 2WRODU\QJRORJ\ +HDG DQG 1HFN 6XUJHU\ WK HG United States: McGraw-Hill education. 2016. p. 195-7 4. Shah JP, Patel SG, Singh B, Wong R. Jatin Shah's Head and Neck Surgery and Oncology 5 th (ed). Edinburgh: Elsevier. 2020. p. 647-699 D. KOMPETENSI a. Pengetahuan a. Memahami anatomi, histologi, dan fisiologi sistem limfatik secara umum b. Memahami etiologi dan proses limfomagenesis terutama limfoma di regio kepala dan leher c. Mengetahui dan memahami klasifikasi limfoma d. Mengetahui dan memahami faktor risiko terjadinya limfoma di regio kepala dan leher
Modul VII.9 ± Limfoma Kepala Leher 2 e. Mengetahui berbagai pemeriksaan yang diperlukan untuk menegakan diagnosis, staging dan prognosis limfoma diregio kepala dan leher f. Memahami tatalaksana limfoma diregio kepala dan leher secara lengkap b. Keterampilan Setelah Mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam: a. Melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik b. Mampu mengenali gejala dan tanda adanya limfoma kepala leher c. Mampu menegakan diagnosis limfoma diregio kepala dan leher d. Mampu menjelaskan tatalaksana limfoma di regio kepala leher secara lengkap e. Mampu melakukan follow up pada pasien limfoma kepala dan leher. E. GAMBARAN UMUM Limfoma merupakan keganasan dari sistem limfoid. Limfoma dapat berkembang pada organ limfoid primer maupun sekunder dan juga dapat muncul diberbagai bagian dari tubuh manusia diluar kelenjar getah bening akibat kemampuan infiltrasi dari sel limfosit yang malignan. Limfoma dibagi menjadi dua tipe yaitu Hodgkin limfoma dan non Hodgkin limfoma (NHL). Kedua tipe limfoma ini dibedakan dengan adanya sel reed Sternberg pada Hodgkin limfoma. Data epidemiologi menunjukan insidens Non Hodkin Limfoma enam kali lebih sering dibandingkan dengan Hodgkin Limfoma. Sebagian besar Limfoma kepala dan leher adalah tipe non Hodgkin Limfoma dan merupakan sub tipe Diffuse Large B cell Lymphoma(DLBCL). Pada regio kepala dan leher limfoma dapat bermanifestasi pada kelenjar getah bening yang ada di region kepala leher (Nodal), dan bermanifestasi di struktur selain kelenjar getah bening (Ekstra Nodal). Manifestasi Limfoma pada organ limfoid seperti pada cincin waldeyer termasuk pada limfoma ekstra nodal. Perkembangan Non Hodgkin Limfoma diawali dengan akumulasi gangguan genetik yang menginduksi pertumbuhan yang menguntungkan bagi klon sel malignan. Translokasi berulang yang muncul selama tahapan perkembangan sel limfosit B seringkali menjadi tahap awal dalam perubahan menjadi suatu keganasan. Translokasi ini akan menyebabkan deregulasi ekspresi onkogen yang mengontrol proliferasi, ketahanan dan diferensiasi sel B. Walaupun demikian gangguan genetik ini seringkali tidak mencukupi untuk perkembangan limfoma. Diperlukan gangguan genetik sekunder untuk menjadikan transformasi keganasan yang lengkap. 36 Limfoma sel B berkembang dari berbagai tahapan diferensiasi sel B yang normal dan akan mewakili pasangan keganasannya. Perkembangan sel B terdiri dari tahapan yang berbeda dan diawali pada organ limfoid primer dan selanjutnya akan mengalami perkembangan lebih lanjut pada jaringan limfoid sekunder seperti kelenjar getah bening, lien, atau tonsil. Selama perkembangan tersebut terjadi beberapa modifikasi DNA yang penting untuk perkembangan respon imun yang normal. Proses perkembangan dan diferensiasi sel B memiliki resiko untuk terjadinya abnormalitas genetik dan dapat memicu terjadinya limfoma. Perkembangan sel limfosit B pada sumsum tulang diawali dengan rekombinasi acak dari gen yang menyandi region heavy dan light rantai antibodi untuk membentuk B-cell Receptor ( BCR). Proses ini dikenal sebagai V(D)J rekombinasi dan melibatkan pemecahan rantai ganda DNA oleh recombinant activating gen 1 (RAG-1) dan recombination activating gene 2(RAG-2),
Modul VII.9 ± Limfoma Kepala Leher 3 yang akan diakhiri dengan proses perbaikan nonhomologues end- joining. Gen rantai berat immunoglobulin terdiri dari beberapa elemen V(variable), D(diversity) dan J(joining), sedangkan rantai ringan merupakan rekombinasi dari elemen V dan J. F. CONTOH KASUS Penderita datang dengan keluhan benjolan pada leher padat kenyal membesar dengan cepat.Benjolan juga didapatkan pada tonsil sebelah kanan. Penderita juga mengeluh timbul benjolan pada ketiak dan lipatan paha. Diskusi : 1. Bagaimana cara menegakan diagnosis pada pasien tersebut? 2. Pemeriksaan apa yang diperlukan untuk menegakkan diagnosis pasien ini? Jawaban: Diagnosis limfoma Penegakan diagnosis Limfoma memerlukan pemeriksaan yang cermat dan kompleks mulai dari pemeriksaan hematologi, biokimia, pemeriksaan pencitraan (CT-scan, MRI, PET-Ct), histopatologi, dan biologi molekular. Anamnesis Dilakukan anamnesis lengkap pada pasien,meliputi: x Gejala dan keluhan yang dirasakan penderita o Sejak kapan benjolan dirasakan muncul o Gejala yang menyertai seperti; nyeri, sesak nafas o B symptoms: Panas badan, banyak berkeringat, penurunan berat badan x Faktor risiko o Riwayat keluarga o HIV konfirmasi dengan pemeriksaan Laboratorium o Paparan zat kimia Pemeriksaan penunjang 1. Pemeriksaan Hematologi Pemeriksan hematologi lengkap pada limfoma sering kali dalam batas normal, tetapi bila terdapat infiltrasi pada sumsum tulang dapat menyebabkan anemia, trombositopeni dan leukopeni. Pada beberapa subtipe limfoma dapat terjadi fenomena autoimmune dimana akan didapatkan kondisi limfopenia seperti pada tipe chronic lymphocytic leukemia dan small lymphocytic lymphoma. 2. Pemeriksaan Biokimia Laktat dehidrogenase (LDH), albumin dan beta-2-microgloblin dapat mempengaruhi prognosis dari NHL. Beberapa tipe limfoma dapat berhubungan dengan monoclonal gammopathies atau hipogmaglobulinemia. 3. Pemeriksaan serologi Pemeriksaan serologi terhadap faktor etiologi seperti EBV, HIV dan hepatitis C kadang dilakukan meskipun belum menjadi standar pemeriksaan rutin pada limfoma. Status hepatitis B dan CMV juga diperlukan dan dapat mempengaruhi terapi yang diberikan .
Modul VII.9 ± Limfoma Kepala Leher 4 4. Pemeriksaan Histopatologi Pemeriksaan histopatologi merupakan baku emas untuk menentukan jenis dan tipe limfoma. Bahan pemeriksaan diambil dari biopsi kelenjar dan jaringan yang terkena. Jaringan yang diambil dilakukan pewarnaan haematoxylin dan eosin (H&E) sebelum dilakukan pemeriksaan imonohistokimia. Saat ini sudah terdapat beberapa panel antibody yang menjadi standar untuk pemeriksaan limfoma. Biopsi dari sumsum tulang dilakukan jika dicurigai terdapat keterlibatan sumsum tulang. Jika terbukti adanya keterlibatan sumsum tulang maka pemeriksaan untuk mencari limfoma pada strukur jaringan yang lain. Pemeriksaan bone scan, cerebrospinal fluid dan MRI pelu dilakukan untuk konfirmasi diagnosis. 5. Pemeriksaan Pencitraan CT-Scan diperlukan untuk menentukan stadium dari limfoma. Ct-scan akan memberikan gambaran mengenai penyebaran dan kelompok kelenjar jaringan yang terlibat. Pemeriksaan fluorodeoxyglucose- positron emission tomography (FDG-PET) saat ini juga telah digunakan dalam penentuan staging dan respons terapi HL dan NHL. Peranan FDG ±PET dalam tatalaksana limfoma menjadi penting karena kemampuannya dalam menentukan adanya residu tumor pasca terapi G. TUJUAN PEMBELAJARAN 1. Tujuan Pembelajaran Umum Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan melakukan tindakan yang tepat terhadap penderita Limfoma Kepala dan Leher. 2. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan mampu untuk: 1. Secara khusus di regio kepala dan leher (tingkat kompetensi K3, A3) 2. Mampu menguasai etiologic dan proses limfomagenesis Limfoma secara umum (tingkat kompetensi K3, A3) 3. Mampu melakukan pemeriksaan dan menegakan diagnosis serta menguasi sistem staging dari limfoma (tingkat kompetensi K3, A3) 4. Mampu melaksanakan tindakan pengambilan sampel biopsi dengan tehnik yang baik (tingkat kompetensi K3, A3,P4) (lihat ditindakan modul onkologi biopsi orofaring) 5. Menentukan dan melakukan pemeriksan penunjang (Rinolaringofiberopetik (RLFO lihat di modul laring faring),nasal endoskopi/ nasofaringoskopi (lihat di modul Rinologi dan modul onkologi NPC) CT scan nasofaring,CT Thorax,CT Abdomen) (tingkat kompetensi K3, A3,P4)
Modul VII.9 ± Limfoma Kepala Leher 5 6. Membuat diagnosis Limfoma kepala dan leher berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik maupun penunjang (tingkat kompetensi K3, A3) 7. Melakukan tatalaksana Limfoma Kepala dan leher dan follow up pasca terapi (tingkat kompetensi K3, A3) Melakukan work-up dan memutuskan terapi pendahuluan serta merujuk ke fasilitas kesehatan yang relevan. (tingkat kompetensi K3, A3) H. METODE PEMBELAJARAN Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan mempunyai kemampuan dasar untuk menegakkan diagnosis limfoma kepala dan leher dan mampu untuk menentukan tatalaksana yang sesuai. Tujuan 1. Anatomi dan fisiologi sistem limfatik di regio kepala dan leher Peserta didik harus tahu: x Sistem limfatik di regio kepala dan leher x Pembagian Limfoma ekstranodal dan nodal pada regio kepala dan leher x Patofisiologi dan limfomagenesis Untuk mencapai tujuan tersebut dengan: a. Interactive lecture b. Small group discussion. c. Peer assisted learning (PAL) d. Bedside teaching. e. Task based medical education Tujuan 2. Terampil melakukan pemeriksaan dan menegakkan diagnosis Peserta didik harus tahu: x Cara melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik dengan benar Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Literature Reading 2. Skill lab 3. Bedside teaching 4. Case report 5. Praktik poliklinik Tujuan 3. Mampu/memiliki keterampilan dalam penatalaksanaan limfoma kepala leher Peserta didik harus tahu: x Melakukan tindakan penatalaksanaan limfoma kepala leher Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Literature Reading 2. Journal reading 3. Bedside teaching
Modul VII.9 ± Limfoma Kepala Leher 6 4. Case report 5. Praktik poliklinik I. EVALUASI 1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pretest dalam bentuk essay sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengindentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri atas; - Mampu menguasai Anatomi dan fisiologi system limfatik secara umum dan secara khusus di regio kepala dan leher - Mampu menguasai etiologic dan proses limfomagenesis Limfoma secara umum - Mampu melakukan pemeriksaan dan menegakan diagnosis serta menguasi sistem staging dari limfoma - Mampu melaksanakan tindakan pengambilan sampel biopsi dengan tehnik yang baik 2. Selanjutnya dilakukan small group discussion bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian. 3. Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk role play dan teman-temannya (Peer Assisted Evaluation) atau kepada SP (Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assisted Evaluation) setelah dianggap memadai, melalui metode bedside teaching dibawah pengawasan fasilitator, peserta dididik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomi dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut : Perlu perbaikan: pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan. Cukup: pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien. Baik: pelaksanaan benar dan baik (efisien) 4. Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan. 5. Self assesment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar. 6. Pendidik/ fasilitas:
Modul VII.9 ± Limfoma Kepala Leher 7 - Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form (terlampir) - Penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi - Kriteria penilaian keseluruhan : cakap/ tidak cakap/ lalai 7. Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education) 8. Pencapaian pembelajaran: - Ujian OSCE (K,P,A), dilakukan pada tahapan T.H.T.K.L dasar oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L - Ujian akhir stase, setiap divisi / unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan T.H.T.K.L lanjut oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L. - Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan T.H.T.K.L lanjut oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L. - Ujian akhir profesi (kasus bedah), dilakukan pada akhir pendidikan oleh Kolegium I T.H.T.K.L. J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF A. Kuesioner Sebelum Pembelajaran (Pre Test) Soal: a) Apa definisi limfoma kepala leher? Jawaban: Kelompok keganasan primer limfosit dalam sistem limfe, berasal dari limfosit B, limfosit T dan jarang dari sel Natural Killer yang berada dalam sistem limfe; sangat heterogen, baik tipe histologis, gejala, perjalanan klinis, respon terhadap pengobatan maupun prognosis. b) Dimana saja bisa terjadi pembesaran KGB pada NHL? Jawaban: NHL sering melibatkan kelenjar limfe servikal dan pada 10% kasus di regio kepala- leher dapat terjadi ekstranodal, yaitu pada cincin Waldeyer, sinus paranasal, kavum nasi, laring, orofaring, nasofaring, kelenjar ludah, tiroid dan orbita. B. Kuesioner tengah pembelajaran Soal: a) Apakah etiologi dari NHL? Jawaban: Etiologi sebagian besar NHL tidak diketahui. Namun terdapat beberapa faktor resiko terjadinya NHL antara lain imunodefisiensi, agen infeksius seperti Epstein Barr Virus (EBV), paparan lingkungan dan pekerjaan seperti peternak, pekerja hutan dan pertanian, konsumsi makanan tinggi lemak hewani, merokok dan yang terkena paparan ultraviolet. b) Pemeriksaan penunjang apa yang diperlukan pada NHL? Jawaban:
Modul VII.9 ± Limfoma Kepala Leher 8 Terapi primer untuk NHL terdiri atas radiasi, kemoterapi atau kombinasi. Limfoma merupakan jenis tumor yang sensitif terhadap kemoterapi. Obat kemoterapi yang digunakan yaitu : Cyclophosphamide, Chlorambucil, Vincristin, Prednison, Doxorubicine/Adriamycin, Bleomycin, Methotrexate dan Fludarabine. Untuk meningkatkan respon terapi maka digunakan kombinasi C. Kuesioner akhir pembelajaran 43 years old male came to the clinic with the chief complaint mass at the right neck, he complaint the mass for 5 years ago. There were no history of fever, pain at the neck, hoarseness, bleeding from the nose, voice changes, weight loss, cough. From physical examination we found at the upper right neck below the auricle, there was a mass diameter 3cm, mobile, no tenderness, firm. Other examination within normal limit. From ancillary test we didn't find any disease at chest x-ray and laboratory What other examination for diagnosis: a. Open biopsy b. Neck dissection c. Thyroid Function test d. Biopsy from nasopharynx e. Fine Needle Aspiration Biopsy Answer: E Kemoterapi dengan mempertimbangkan toksisitas yang terjadi. Regimen yang sering digunakan adalah CVP: Cyclophosphamide, Vincristin, Prednison, CHOP: Cyclophosphamide, Hydroxydaunorubicin, Oncovin/Vincristin, Prednison dan R: Rituximab. Kemoterapi CHOP dan CVP diberikan setiap 3 minggu sampai terjadi respon lengkap diikuti 2 siklus kemoterapi konsolidasi. Jika sampai siklus ke-6 tidak terjadi remisi komplit sebaiknya diganti regimen lain. Pemberian kemoterapi dengan kombinasi radiasi pada NHL derajat rendah yaitu stadium I/II, pemberian 3-6 siklus sudah cukup adekuat. K. MATERI PRESENTASI Slide 1 : Limfoma kepala leher Slide 2 : Tehnik pemeriksaan Slide 3 : Metoda diagnostik dan staging Slide 4 : Guideline penatalaksanaan
Modul VII.9 ± Limfoma Kepala Leher 9 1. Definisi : Kelompok keganasan primer limfosit dalam sistem limfe, berasal dari limfosit B, limfosit T dan jarang dari sel Natural Killer yang berada dalam sistem limfe 2. Insidensi 3. Ruang Lingkup 4. Faktor resiko 5. Etiologi 1. Teknik Pemeriksaan : Pemeriksaan laboratorium menunjukkan, anemia, leukopenia, trombositopenia serta alkali fosfatase, SGOT dan SGPT yang meningkat. Peningkatan Lactic dehydrogenase (LDH) , Thoraks, USG abdomen Diagnosis pasti dengan biopsi untuk mengetahui morfologi dan imunohistologi tumor. Slide 1 Slide 2
Modul VII.9 ± Limfoma Kepala Leher 10 1. Terapi primer untuk NHL terdiri atas radiasi, kemoterapi atau kombinasi. Limfoma merupakan jenis tumor yang sensitif terhadap kemoterapi Slide 3. Sistem staging Slide 4. Penatalaksanaan L. MATERI BAKU Limfoma Kepala Leher Definisi : Kelompok keganasan primer limfosit dalam sistem limfe, berasal dari limfosit B, limfosit T dan jarang dari sel Natural Killer yang berada dalam sistem limfe; sangat heterogen, baik tipe histologis, gejala, perjalanan klinis, respon terhadap pengobatan maupun prognosis. Pada NHL sebuah sel limfosit berproliferasi secara tak terkendali yang mengakibatkan terbentuknya tumor. Seluruh sel NHL berasal dari satu sel limfosit, sehingga semua sel dalam tumor pasien NHL sel B memiliki imunoglobulin yang sama pada permukaan selnya. Insidensi: NHL sering melibatkan kelenjar limfe servikal dan pada 10% kasus di regio kepala- leher dan dapat terjadi ekstranodal, yaitu pada cincin Waldeyer, sinus paranasal, kavum nasi, laring, orofaring, nasofaring, kelenjar ludah, tiroid dan orbita. NHL secara umum terjadi pada pria. Insidensi NHL meningkat seiring dengan bertambahnya usia dan
Modul VII.9 ± Limfoma Kepala Leher 11 mencapai puncak pada kelompok usia 80-84 tahun. Di Indonesia NHL bersama-sama dengan penyakit Hodgkin dan leukemia menduduki urutan ke enam tersering. Sampai saat ini belum diketahui sepenuhnya mengapa angka kejadian NHL terus meningkat. Ruang Lingkup: Manifestasi klinis bervariasi tergantung pada lokasi tumor dan stadiumnya.Gejala awal yang timbul sering tidak spesifik seperti sekret hidung, sinusitis, sakit kepala, bengkak pada wajah dan periorbita. Limfoma sel NK/T ini dapat mengadakan metastasis cepat seperti ke kulit, saluran gastrointestinal, testis atau limfenodi servikal. Dapat pula timbul gejala sistemik seperti febris, keringat malam dan penurunan berat badan (B Symtomps). Faktor Resiko: NHL ini dapat terjadi pada semua usia, umumnya terjadi pada dekade ke 4-6, dengan usia rata-rata >60 tahun. Laki-laki lebih banyak dibandingkan perempuan dengan perbandingan 3:1. Etiologi: Etiologi sebagian besar NHL tidak diketahui. Namun terdapat beberapa faktor resiko terjadinya NHL antara lain imunodefisiensi, agen infeksius seperti Epstein Barr Virus (EBV), paparan lingkungan dan pekerjaan seperti peternak, pekerja hutan dan pertanian, konsumsi makanan tinggi lemak hewani, merokok dan yang terkena paparan ultraviolet. Pemeriksaan Penunjang: Pemeriksaan laboratorium menunjukkan, anemia, leukopenia, trombositopenia serta alkali fosfatase, SGOT dan SGPT yang meningkat. Peningkatan Lactic dehydrogenase (LDH) sering pada NHL dengan proliferasi sel yang cepat dan pada penyakit yang telah meluas. Pemeriksaan foto toraks dan USG abdomen untuk menentukan keterlibatan kelenjar limfe mediastinal dan paraaorta. Aspirasi sumsum tulang dilakukan hanya pada penderita stadium III-IV, disertai anemia atau leukopenia yang tidak jelas sebabnya atau disertai kelainan radiologi. Diagnosis pasti dengan biopsi untuk mengetahui morfologi dan imunohistologi tumor.
Modul VII.9 ± Limfoma Kepala Leher 12 Sistem staging Penentuan Prognosis berdasarkan IPI Score
Modul VII.9 ± Limfoma Kepala Leher 13 Terapi: Terapi primer untuk NHL terdiri atas radiasi, kemoterapi atau kombinasi. Limfoma merupakan jenis tumor yang sensitif terhadap kemoterapi. Obat kemoterapi yang digunakan yaitu : Cyclophosphamide, Chlorambucil, Vincristin, Prednison, Doxorubicine/Adriamycin, Bleomycin, Methotrexate dan Fludarabine. Untuk meningkatkan respon terapi maka digunakan kombinasi kemoterapi dengan mempertimbangkan toksisitas yang terjadi. Regimen yang sering digunakan adalah CVP: Cyclophosphamide, Vincristin, Prednison, CHOP: Cyclophosphamide, Hydroxydaunorubicin, Oncovin/Vincristin, Prednison dan R: Rituximab. Kemoterapi CHOP dan CVP diberikan setiap 3 minggu sampai terjadi respon lengkap diikuti 2 siklus kemoterapi konsolidasi. Jika sampai siklus ke-6 tidak terjadi remisi komplit sebaiknya diganti regimen lain. Pemberian kemoterapi dengan kombinasi radiasi pada NHL derajat rendah yaitu stadium I/II, pemberian 3-6 siklus sudah cukup adekuat. 2 Belum ada ketentuan tentang waktu yang paling tepat untuk kombinasi radioterapi dengan kemoterapi Tindak Lanjut: 1. Evaluasi komplikasi radioterapi dan kemoterapi 2. Evaluasi adanya sisa tumor atau rekurensi pasca terapi. :HJHQHU¶V *UDQXORPDWRVLV :HJHQHU¶V *UDQXORPDWRVLV (WG) adalah suatu penyakit sistemik yang jarang dijumpai, belum diketahui penyebabnya, ditandai dengan adanya inflamasi pada dinding pembuluh darah (vaskulitis), yang dapat mengenai pembuluh darah kecil dan sedang. Inflamasi pada pembuluh darah menimbulkan kerusakan pada organ tubuh yang terkena, oleh karena berkurangnya aliran darah ke organ tersebut dan kemudian dapat menimbulkan kerusakan jaringan. WG dapat mengenai seluruh organ tubuh tetapi organ yang paling sering terkena adalah organ pernapasan dan ginjal. Prevalensi WG adalah 3 per 100.000 penduduk di Amerika Serikat dan 10,2 hingga 250 kasus per 1.000.000 penduduk di Inggris. Penyakit ini menyerang semua tingkatan usia dengan kejadian terbanyak pada usia antara 40 hingga 50 tahun, dan sangat jarang mengenai anak-anak. WG dapat diderita oleh laki-laki dan perempuan dengan rasio yang sama dan lebih banyak mengenai orang berkulit putih daripada kulit hitam. Penyebab WG belum diketahui sampai saat ini, meskipun pengetahuan tentang penyakit ini sudah memperoleh kemajuan. Dikatakan bahwa penyakit ini muncul sebagai akibat reaksi dari sistem imun, selain itu faktor genetik dan lingkungan juga memiliki peran dalam timbulnya penyakit ini. Gejala klinis WG pada saat aktif pada umumnya berupa gejala yang tidak spesifik, seperti lelah, lemah, nyeri pada sendi, nafsu makan yang berkurang, penurunan berat badan, demam, dan berkeringat di malam hari. Selanjutnya gejala yang muncul sesuai dengan organ yang terkena, yaitu gejala penyakit yang mengenai telinga, hidung, tenggorok, paru, ginjal, mata dan organ lainnya.Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan laboratorium darah tidak menunjukkan hal yang spesifik. Pada pemeriksaan kimia darah dapat ditemukan adanya peningkatan ureum kreatinin dan hipoalbuminemia. Pada penderita harus dilakukan urinalisis termasuk pemeriksaan sedimen urine untuk mengetahui adanya hematuria dan proteinuria.
Modul VII.9 ± Limfoma Kepala Leher 14 Pemeriksaan serologis ditujukan untuk mendeteksi adanya Antineutrophyl Cytoplasmic Autoantibodies (ANCA), dengan cara pemeriksaan Indirect Immunofluorescent (IIF) dan ELISA (Enzyme Linked Imunoabsorbent Assay). Pemeriksaan histologis dilakukan dengan melakukan biopsi jaringan pada organ yang terkena. Gambaran histologi yang spesifik yakni necrotizing granulomatousvasculitis merupakan hal yang penting pada penegakan diagnosis WG serta untuk membedakannya dari penyakit lain yang memberikan gejala mirip atau pada kasus dengan manifestasi klinis yang tidak muncul. Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis WG dapat berupa bronkoskopi, spirometri, endoskopi. American College of Rheumatology menyusun kriteria klasifikasi sebagai berikut: inflamasi hidung dan mulut (berupa ulkus pada mulut atau adanya cairan hidung yang berdarah);pemeriksaan radiologi paru yang abnormal (nodul, infiltrat atau kavitas); sedimen urine nefritik (mikrohematuria atau cast sel darah merah); serta inflamasi granulomatosa pada biopsi. Untuk ditetapkannya diagnosis WG, pasien harus memiliki 2 atau lebih dari 4 kriteria di atas. Pengobatan WG saat ini terutama menggunakan kombinasi kortikosteroid dan obat sitotoksik, di samping beberapa obat lain. Obat-obat yang dipakai pada pengobatan WG selain mempunyai efek terapeutik juga mempunyai efek toksisitas, sehingga pemilihan obat, dosis, dan pengawasan pasien harus diperhatikan. Selain pengawasan terhadap remisi penyakit dan kekambuhan, juga sangat penting dilakukan pengawasan terhadap efek samping obat.
MODUL UTAMA ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER MODUL VII.10 NEOPLASMA KELENJAR LIUR EDISI III KOLEGIUM ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER 2022
DAFTAR ISI A. WAKTU .................................................................................................................. 1 B. PERSIAPAN SESI .................................................................................................. 1 C. REFERENSI ........................................................................................................... 1 D. KOMPETENSI ....................................................................................................... 2 E. GAMBARAN UMUM ........................................................................................... 2 F. CONTOH KASUS .................................................................................................. 3 G. TUJUAN PEMBELAJARAN................................................................................. 3 H. METODE PEMBELAJARAN ............................................................................... 4 I. EVALUASI ............................................................................................................. 5 J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF ..................................... 6 K. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR .............................. 7 L. DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA ........................................................... 10 M. MATERI PRESENTASI....................................................................................... 13 N. MATERI BAKU ................................................................................................... 16
Modul VII.10 - Neoplasma Kelenjar Liur 1 MODUL VII.10 ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER: NEOPLASMA KELENJAR LIUR A. WAKTU Mengembangkan Kompetensi Alokasi Waktu Sesi dalam kelas Sesi dengan fasilitas pembimbing Sesi praktek dan pencapaian kompetensi 3x 90 menit (classroom session) 3 x 60 menit (coaching session) 24 jam (facilitation and assessment) B. PERSIAPAN SESI 1. Materi presentasi: o Power point o Video 2. Kasus: tumor jinak parotis, submandibula, sublingual 3. Sarana dan alat bantu latih: (disesuaikan dengan pencapaian kompetensi): o Penuntun belajar (learning guide): terlampir o Tempat belajar (training setting): instalasi rawat inap, instalasi rawat jalan, kamar operasi, ruang praktikum, ruang kuliah o Model/manekin atau kadaver o Komputer/laptop o Infocus C. REFERENSI 1. Oh YS, Russell MS, Eisele DW. Salivary gland neoplasms. In: Jhonson Jt, Rosen &$ HGLWRUV %DLOH\¶V KHDG  QHFN VXUJHU\ RWRODU\QJRORJ\ WK HG 3KLODGHOSKLD Lippincott Williams & Wilkins; 2014. p. 1760-87 2. Mydlarz W, Ha P, Eisele DW. Salivary Gland Disease. Chan Y, Goddaed JC. (GLWRUV .-/HH¶V (VVHQWLDO 2WRODU\QJRORJ\ +HDG DQG 1HFN 6XUJHU\ WK HG United States: McGraw-Hill education. 2016. p. 543-63 3. Koshkareva YA, Ferris RL. Cancer of the Salivary Glands. In: Myers JN, Hanna EYN, Myers EN. Editors. Cancerof the Head and Neck 5 th (ed). Philadelphia: Wolters Kluwer, Lippincott Williams & Wilkins. 2017. p. 890-927 4. Shah J. Larynx and Trachea. In: Shah J, ed. Head and neck surgery and oncology. 5 th ed. Philadelphia: Elsevier Co; 2020. p. 557-608 5. Amin, M.B., Edge, S.B. and American Joint Committee on Cancer, 2017. AJCC Cancer Staging Manual, 8th ed. Springer 6. Pfister DG, Spenser S, Adelstein D, Adkins D, Brizel DM, Burtness BA. NCCN Clinical Practise Guidelines in Oncology. Head and Neck Cancer: National Comprehensive Cancer Network; 2020. p.1-225
Modul VII.10 - Neoplasma Kelenjar Liur 2 D. KOMPETENSI 1. Pengetahuan Mampu membuat diagnosis neoplasma kelenjar liur berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Peserta didik dapat memutuskan dan melakukan terapi pendahuluan serta merujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi. 2. Keterampilan Setelah Mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam : 1. Melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik neoplasma kelenjar liur. 2. Membuat keputusan pemeriksan penunjang yang diperlukan (biopsi aspirasi jarum halus/fine needle aspiration biopsy (FNAB), sialografi, USG, dan CT scan parotis, MRI, dll) 3. Menetapkan diagnosis termasuk penentuan stadium neoplasma kelenjar liur. 4. Membuat keputusan klinik. 5. Menjelaskan langkah operasi parotidektomi, ektirpasi tumor submandibula dan ekstirpasi kelenjar sublingal beserta komplikasi yang mungkin serta memberikan terapi pendahuluan. 6. Melakukan rujukan pada fasilitas kesehatan yang lebih tinggi. E. GAMBARAN UMUM Kelenjar liur dibagi menjadi kelenjar liur mayor dan minor. Neoplasma kelenjar liur relatif jarang, sekitar 3-6% dari seluruh tumor di kepala dan leher. Faktor risiko dan distribusi histopatologi tumor berbeda antara masing-masing kelenjar liur. Sebagian besar neoplasma kelenjar liur muncul di parotis, dan umumnya jinak. Insiden tumor ganas pada parotis hanya sekitar 25%, sisanya jinak, sedangkan tumor di kelenjar submandibula dan kelenjar liur minor berupa tumor ganas masing-masing 50% dan 80%. Tumor jinak paling sering pada kelenjar liur adalah adenoma pleomorfik, kelenjar parotis merupakan lokasi paling sering diikuti kelenjar submandibula dan kelenjar liur minor. Tumor ini umumnya muncul pada usia dekade kelima dan keenam dan lebih sering pada wanita. Sementara tumor ganas paling sering pada parotis adalah karsinoma mukoepidermoid, sedangkan pada kelenjar submandibula dan kelenjar liur minor keganasan paling sering adalah karsinoma adenoid kistik. Kelenjar saliva mayor yang paling kecil adalah kelenjar sublingual. Kelenjar sublingual ada sepasang dan terletak tepat di bawah mukosa dari dasar mulut, anterior duktus submandibular dan di atas otot mylohyoid dan geniohyoid. Drainase kelenjar sublingual mengalir melalui 8-20 saluran ekskretoris Rivinus ke saluran kelenjar submandibula dan ke mulut pada puncak membran mukosa yang disebut plica fimbriata yang terletak di kedua sisi frenulum lidah. Nervus lingual berada menyilang duktus submandibular di dasar lateral mulut. Saraf lingual berfungsi untuk sensasi somatik pada dua pertiga anterior lidah. Selain itu, saraf ini mensuplai serat sekretomotorik ke
Modul VII.10 - Neoplasma Kelenjar Liur 3 submandibular dan kelenjar sublingual, serta memberikan sensasi rasa dari lidah. Serabut sekretomotorik dan sensorik khusus berasal dari nervus fasialis, dan mencapai nervus lingualis melalui saraf chorda timpani. Tumor kelenjar sublingual sangat jarang dan umumnya bersifat jinak. Kasus tumor malignan yang terbanyak adalah karsinoma adenoid kistik. F. CONTOH KASUS 1. Seorang wanita umur 55 tahun datang ke poli T.H.T.K.L dengan keluhan benjolan dibagian bawah daun telinga kiri, soliter, tidak nyeri. Benjolan sudah dirasakan sejak 2 tahun yang lalu dan sudah di periksakan ke dokter umum diberi obat dan bila tidak mengecil, dianjurkan untuk periksa ke dokter T.H.T.K.L. Benjolan dirasakan bertambah besar secara lambat. 2. Seorang pasien laki-laki umur 42 tahun dilaporkan dengan riwayat benjolan di daerah submandibular kiri selama 8 bulan terakhir. Benjolan tersebut tumbuh lambat dan tidak nyeri. Ukuran sekitar 7 cm × 5 cm dan berbentuk oval. Pada palpasi massa tampak berbatas tegas, tidak nyeri tekan dan mobile. Pemeriksaan intraoral menunjukkan tidak ada berkurangnya salivasi dari duktus Wharton kiri. Diagnosis sementara tumor kelenjar submandibular kiri diberikan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. 3. Seorang pasien wanita berusia 25 tahun datang dengan keluhan benjolan di regio submental selama 4 bulan terakhir bersifat lunak, tidak nyeri tekan, membesar dan meluas ke regio submandibular kanan. Tidak ada riwayat trauma, infeksi, atau prosedur bedah mulut atau leher. Pemeriksaan fisik menunjukkan penonjolan jaringan lunak berbentuk oval, dengan kulit di atasnya yang normal membesar dari mandibula kanan ke regio submental. G. TUJUAN PEMBELAJARAN 1. Tujuan pembelajaran umum Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan mempunyai kemampuan dasar untuk menegakkan diagnosis tumor kelenjar liur dan mampu untuk menentukan terapi yang sesuai. 2. Tujuan pembelajaran khusus Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan mampu untuk: 1) Menguasai anatomi dan fisiologi kelenjar liur mayor dan minor sehingga mampu menerapkan konsep-konsep dasar anatomi dan fisiologi kelenjar liur mayor dan minor untuk tindakan-tindakan klinis yang diperlukan dalam konteks evaluasi dan penatalaksanaan terhadap kasus yang kompleks. 2) Mampu menjelaskan epidemiologi dan etiologi/faktor risiko serta macam kelainan neoplasma kelenjar liur mayor & minor sehingga mampu menerapkan konsep-konsep dasar epidemiologi dan etiologi/ faktor risiko serta macam kelainan neoplasma kelenjar liur mayor & minor untuk tindakan-tindakan klinis yang diperlukan dalam konteks evaluasi dan penatalaksanaan terhadap kasus
Modul VII.10 - Neoplasma Kelenjar Liur 4 yang kompleks. 3) Mampu menjelaskan gambaran klinis neoplasma kelenjar liur mayor dan minor sehingga mampu menerapkan konsep dasar gambaran klinis neoplasma kelenjar liur untuk tindakan-tindakan klinis yang diperlukan dalam konteks evaluasi dan penatalaksanaan terhadap kasus yang kompleks. 4) Mampu menentukan dan melakukan interpretasi pemeriksaan penunjang (FNAB parotis, USG, dan CT scan parotis, sialografi) sehingga mampu menerapkan konsep dasar interpretasi pemeriksaan penunjang untuk tindakan-tindakan klinis yang diperlukan dalam konteks evaluasi dan penatalaksanaan terhadap kasus kelenjar liur mayor dan minor yang umum ditemui. 5) Membuat diagnosis neoplasma kelenjar liur mayor dan minor berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik maupun penunjang sehingga tindakan-tindakan klinis yang diperlukan dalam penatalaksanaan terhadap kasus kelenjar liur yang kompleks dapat dilakukan. 6) Memutuskan terapi serta merujuk ke spesialis yang relevan sehingga tindakan- tindakan klinis yang diperlukan dalam penatalaksanaan terhadap kasus kelenjar liur mayor dan minor yang kompleks dapat dilakukan. 7) Melakukan tatalaksana pasca operasi dan melakukan tindakan-tindakan klinis yang diperlukan dalam konteks evaluasi dan penatalaksanaan terhadap kasus paska operasi kelenjar liur mayor dan minor yang umum ditemui. H. METODE PEMBELAJARAN Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan melakukan tindakan yang tepat terhadap penderita neoplasma kelenjar liur, yaitu : Tujuan 1. Anatomi dan fisiologi kelenjar liur. Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metoda pembelajaran berikut ini x Interactive lecture x Small group discussion. Tujuan 2. Epidemiologi dan etiologi/faktor risiko, macam kelainan neoplasma kelenjar liur mayor & minor Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Interactive lecture x Task based medical education. Tujuan 3. Gambaran klinis neoplasma kelenjar liur Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Case simulation and investigation exercise. x Equipment characteristics and operating instructions. Tujuan 4. Menentukan dan melakukan interpretasi pemeriksan penunjang (FNAB parotis, USG, dan CT scan parotis, sialografi.
Modul VII.10 - Neoplasma Kelenjar Liur 5 Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Case study x Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device). x Practice with Real Clients. Tujuan 5. Diagnosis neoplasma kelenjar liur berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik maupun penunjang. Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device). x Practice with Real Clients. Tujuan 6. Melakukan work-up, menentukan terapi dan memutuskan untuk melakukan rujukan neoplasma kelenjar liur Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device). x Practice with Real Clients. x Continuing Professional Development I. EVALUASI 1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dalam bentuk tulisan dan wawancara singkat yang bertujuan untuk menilai pengetahuan awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri atas : - Anatomi dan fisiologi kelenjar liur. - Penegakan diagnosis - Penatalaksanaan - Follow up 2. 6HODQMXWQ\D GLODNXNDQ ³small group discussion´ EHUVDPD GHQJDQ IDVLOLWDWRU XQWXN membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian. 3. Mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk kepada SP (Standardized Patient) atau melalui metode bedside teaching dibawah pengawasan fasilitator,. Pada saat pelaksanaan evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut : x Perlu perbaikan : Pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan. x Cukup : Pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien. x Baik : Pelaksanaan benar dan baik (efisien) 4. Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan. 5. Self assesment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar.
Modul VII.10 - Neoplasma Kelenjar Liur 6 J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF Kuesioner meliputi : 1. Kuesioner Sebelum Pembelajaran Soal : 1. Motorik sebagian besar otot wajah dipersarapi oleh saraf yang melewati kelenjar parotis, Gambarkanlah sketsa saraf fasialis mulai dari trunkus utama. 2. Urutan angka kejadian tumor ganas berdasarkan lokasi pada kelenjar liur adalah: a. Parotis<kelenjar liur minor<submandibula b. kelenjar liur minor<submandibula<parotis c. Parotis<submandibula<kelenjar liur minor d. Submandibula<parotis<kelenjar liur minor Jawaban: B 3. Apakah jenis patologi keganasan yang paling sering ditemukan pada kelnjar parotis? a. Karsinoma Adenoid sistik b. Karsinoma Mukoepidermoid c. Karsinoam ex Adenoma pleomorfik d. Adenokarsinoma e. Karsinoma sel asinik Jawaban: B 2. Kuesioner Tengah Pembelajaran Soal : Seorang pasien wanita umur 15 tahun datang ke poli T.H.T.K.L dengan keluhan benjolan dibagian bawah daun telinga kiri, permukaan tidak rata dengan bagian ulseratif, kadang- kadang disertai nyeri. Benjolan sudah dirasakan sejak 2 tahun yang lalu dan sudah di periksakan ke dokter umum diberi obat dan bila tidak mengecil, dianjurkan untuk periksa ke dokter T.H.T.K.L.Dari pemeriksaan Biopsi aspirasi jarum halus gambaran patologi berupa karsinoma mukoepidermoid, tidak terdapat benjolan dileher. Lakukanlah evaluasi dan penatalaksanaan termasuk staging pada pasien tersebut. Jawaban: Langkah yang harus dilakukan : x Anamnesis yang lengkap x Pemeriksaan fisik yang lenkap x Pemeriksaan CT Scan/ MRI untuk menentukan perluasan tumor dan pemebesaran KGB, yang berguna dalam penentuan staging T dan N. x Pemeriksaan Rontgen thoraks dan pemeriksaan laboratorium lengkap untuk mengevaluasi adanya metastasis jauh. x Penentuan stadium berdasarkan UICC/AJCC edisi 8
Modul VII.10 - Neoplasma Kelenjar Liur 7 x Penentuan rencana penetalaksanaan dapat menggunakan (tapi tidak terbatas) pada NCCN edisi terbaru K. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR EKSISI KELENJAR SUBMANDIBULA Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.: 1. Perlu perbaikan : Langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan) 2. Mampu : Langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal 3. Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan) NAMA PESERTA: ...................................... TANGGAL: ................................. KEGIATAN KASUS 1 2 3 T/D I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF - Diagnosis - Informed Consent - Rencana tindakan - Persiapan sebelum tindakan II. PERSIAPAN PROSEDUR EKSISI KELENJAR SUBMANDIBULA Pastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan esensial untuk prosedur eksisi kelenjar submandibula telah tersedia dan lengkap III. PROSEDUR OPERASI Prosedur Operasi Teknik Operasi: Eksisi Kelenjar Submandibula a. Pasien berbaring posisi supine dengan leher diekstensikan b. Insisi kulit dilakukan mengikuti garis kulit pada dua jari dibawah margo madibula mulai dari batas depan otot sternokeidomastoid ke arah submental, kulit dan platisma diinsisi. c. Dilanjutkan dengan pembuatan flap ke superior sampai batas inferior dari tulang mandibula dan ke inferior sampai melewati batas bawah kelenjar submandibula
Modul VII.10 - Neoplasma Kelenjar Liur 8 KEGIATAN KASUS 1 2 3 T/D d. Selanjutnya dilakukan identifikasi saraf marginal mandibula, dan secara gentle di retraksi ke superior melewati batas bawah tulang mandibula. e. Fasia yang menutupi kelenjar diinsisi dan dibebaskan, sampai kelenjar terlihat. Diseksi dilanjutkan ke superior, Arteri fasialis dibebaskan dan diligasi. f. Otot milohioid diretraksi ke anterior, dan kelenjar submandibula diretraksi ke posterior untuk mengekspos saraf lingual dan duktus Wharton, Saraf lingual dibebaskan, sedangkan duktus Wharton diligasi g. Luka operasi ditutup, setelah sebelumnya perdarahan diatasi dan pemasangan drain h. Operasi selesai IV. PASCA OPERASI Instruksi pasca operasi Tindak Lanjut: 1. Pemberian antibiotika pasca operasi. 2. Pemberian analgetika pasca operasi. 3. Evaluasi komplikasi operasi. 4. Evaluasi adanya sisa tumor atau rekurensi pasca terapi. PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR EKSTIRPASI KELENJAR SUBLINGUAL Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.: 1. Perlu perbaikan : Langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan) 2. Mampu : Langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal 4. Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
Modul VII.10 - Neoplasma Kelenjar Liur 9 NAMA PESERTA: ...................................... TANGGAL: ................................. KEGIATAN KASUS 1 2 3 T/D I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF - Diagnosis - Informed Consent - Rencana tindakan - Persiapan sebelum tindakan II. PERSIAPAN PROSEDUR EKSTIRPASI KELENJAR SUBLINGUAL Pastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan esensial untuk prosedur eksisi kelenjar sublingual telah tersedia dan lengkap III. PROSEDUR OPERASI Prosedur Operasi Teknik Operasi: Ekstirpasi Kelenjar Sublingual b. Pasien berbaring posisi supine dengan leher diekstensikan. Leher bagian anterior dan wajah bagian bawah disterilkan. Draping dilakukan sedemikian rupa sehingga mulut dan leher bagian atas terbuka. Retraktor digunakan untuk membuka mulut. Ujung lidah dijahit untuk traksi agar dasar anterior mulut terlihat. c. Mukosa dasar mulut diinsisi di atas massa hati-hati agar tidak menusuk ke massa. Dilakukan diseksi submukosa disekitar dinding massa menggunakan diseksi tajam dan tumpul, massa dieksisi, diambil hati-hati jangan sampai melukai duktus submandibular atau saraf lingual. d. Jika duktus submandibular terluka, maka ditranslokasi ke dasar lateral mulut dengan memobilisasi duktus tersebut, dan menjahitnya pada mukosa dasar lateral mulut. d. Kelenjar sublingual terletak tepat di dalam mukosa di anterior duktus submandibular di dasar mulut bagian depan. Dapat dieksisi dengan menggunakan elektrokauter dan diseksi tumpul. Struktur yang berisiko tercedera adalah duktus submandibular dan saraf lingual. f. Luka operasi ditutup, setelah sebelumnya perdarahan diatasi dan pemasangan drain h. Operasi selesai IV. PASCA OPERASI Instruksi pasca operasi Tindak Lanjut:
Modul VII.10 - Neoplasma Kelenjar Liur 10 KEGIATAN KASUS 1 2 3 T/D 1. Pemberian antibiotika pasca operasi. 2. Pemberian analgetika pasca operasi. 3. Evaluasi komplikasi operasi. Penilaian Kinerja Keterampilan (ujian akhir) L. DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA PROSEDUR EKSISI KELENJAR SUBMANDIBULA Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan satu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini: ض: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar : Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar T/T: Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih PESERTA: _____________________________ TANGGAL :______________ KEGIATAN NILAI V X T/T PERSIAPAN Pastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan esensial untuk prosedur eksisi kelenjar submandibula telah tersedia dan lengkap PROSEDUR OPERASI Prosedur Operasi Teknik Operasi: Eksisi Kelenjar Submandibula a. Pasien berbaring posisi supine dengan leher diekstensikan b. Insisi kulit dilakukan mengikuti garis kulit pada dua jari dibawah margo madibula mulai dari batas depan otot sternokeidomastoid ke arah submental, kulit dan platisma diinsisi. c. Dilanjutkan dengan pembuatan flap ke superior sampai batas inferior dari tulang mandibula dan ke inferior sampai melewati batas bawah kelenjar submandibula d. Selanjutnya dilakukan identifikasi saraf marginal mandibula, dan secara gentle di retraksi ke superior melewati batas bawah tulang mandibula. e. Fasia yang menutupi kelenjar diinsisi dan dibebaskan, sampai kelenjar terlihat. Diseksi dilanjutkan ke superior, Arteri fasialis dibebaskan dan diligasi.
Modul VII.10 - Neoplasma Kelenjar Liur 11 f. Otot mylohioid diretraksi ke anterior, dan kelenjar submandibula diretraksi ke posterior untuk memperlihatkan saraf lingual dan duktus Wharton, Saraf lingual dibebaskan, sedangkan duktus Wharton diligasi g. Luka operasi ditutup, setelah sebelumnya perdarahan diatasi dan pemasangan drain h. Operasi selesai PROSEDUR EKSISI KELENJAR SUBMANDIBULA Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan satu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini: ض: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar : Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar T/T: Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih PESERTA: _____________________________ TANGGAL :______________ KEGIATAN KASUS 1 2 3 T/D I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF - Diagnosis - Informed Consent - Rencana tindakan - Persiapan sebelum tindakan II. PERSIAPAN PROSEDUR EKSTIRPASI KELENJAR SUBLINGUAL Pastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan esensial untuk prosedur eksisi kelenjar sublingual telah tersedia dan lengkap III. PROSEDUR OPERASI Prosedur Operasi Teknik Operasi: Ekstirpasi Kelenjar Sublingual a. Pasien berbaring posisi supine dengan leher diekstensikan. Leher bagian anterior dan wajah bagian bawah disterilkan. Draping dilakukan sedemikian rupa sehingga mulut dan leher bagian atas terbuka. Retraktor digunakan untuk membuka mulut. Ujung lidah dijahit untuk traksi agar dasar anterior mulut terekspos.
Modul VII.10 - Neoplasma Kelenjar Liur 12 b. Mukosa dasar mulut diinsisi di atas massa, hati-hati agar tidak menusuk massa. Dilakukan diseksi submukosa disekitar dinding massa, menggunakan diseksi tajam dan tumpul, massa dieksisi, diambil hati- hati jangan sampai melukai duktus submandibular atau saraf lingual. c. Jika duktus submandibular terluka, maka ditranslokasi ke dasar lateral mulut dengan memobilisasiduktus tersebut, dan menjahitnya pada mukosa dasar lateral mulut. d. Kelenjar sublingual terletak tepat di dalam mukosa di anterior duktus submandibular di dasar mulut bagian depan. Dapat dieksisi dengan menggunakan elektrokauter dan diseksi tumpul. Struktur yang berisiko tercedera adalah duktus submandibular dan saraf lingual. e. Luka operasi ditutup, setelah sebelumnya perdarahan diatasi dan pemasangan drain f. Operasi selesai IV. PASCA OPERASI Instruksi pasca operasi Tindak Lanjut: 1. Pemberian antibiotika pasca operasi. 2. Pemberian analgetika pasca operasi. 3. Evaluasi komplikasi operasi.
Modul VII.10 - Neoplasma Kelenjar Liur 13 M. MATERI PRESENTASI o SLIDE 1: Anatomi dan Fisiologi Kelenjar Liur o SLIDE 2: Epidemiologi dan Etiologi Neoplasma Kelenjar Liur
Modul VII.10 - Neoplasma Kelenjar Liur 14 o SLIDE 3: Neoplasma Jinak Kelenjar Liur o SLIDE 4: Neoplasma Ganas Kelenjar Liur
Modul VII.10 - Neoplasma Kelenjar Liur 15 o SLIDE 5: Diagnosis dan Staging Neoplasma Kelenjar Liur o SLIDE 6: Penatalaksanaan Neoplasma Kelenjar Liur x Eksisi kelenjar submandibula
Modul VII.10 - Neoplasma Kelenjar Liur 16 N. MATERI BAKU a. Anatomi Kelenjar liur dibagi menjadi kelenjar liur mayor dan minor. Neoplasma kelenjar liur relatif jarang, sekitar 3-6% dari seluruh tumor di kepala dan leher. Faktor risiko dan distribusi histopatologi tumor berbeda antara masing-masing kelenjar liur. Sebagian besar neoplasma kelenjar liur muncul di parotis, dan umumnya jinak. Insiden tumor ganas pada parotis hanya sekitar 25%, sisanya jinak, sedangkan tumor di kelenjar submandibula dan kelenjar liur minor berupa tumor ganas masing-masing 50% dan 80%. Tumor jinak paling sering pada kelenjar liur adalah adenoma pleomorfik, kelenjar parotis merupakan lokasi paling sering diikuti kelenjar submandibula dan kelenjar liur minor. Tumor ini umumya muncul pada usia dekade kelima dan keenam dan lebih sering pada wanita. Sementara tumor ganas paling sering pada parotis adalah karsinoma mukoepidermoid, sedangkan pada kelenjar submandinula dan kelenjar liur minor keganasan paling sering adalah karsinoma adenoid kistik. b. Insidensi Kejadian neoplasma kelenjar liur sekitar 1/100.000 , sekitar 70% neoplasma berasal dari kelenjar parotis. Dari semua neoplasma parotis 75-80%-nya merupakan tumor jinak. Sedangkan neoplasma dari kelenjar liur minor 50-80% merupakan tumor ganas. Neoplasma Jinak 1. Adenoma pleomorfik 2. Tumor Warthin Neoplasma Ganas 1. Karsinoma Mukoepidermoid 2. Karsinoma Adenoid sistik 3. Karsinoma sel asinik 4. Adenokarsinoma 5. Karsinoma ex Adenoma pleomorfik c. Etiologi dan Faktor Risiko Etiologi neoplasma kelenjar liur belum sepenuhnya diketahui, kebiasaan merokok berhubungan dengan peningkatan kejadian tumor warthin, namun tidak untuk jenis tumor yang lain. Diduga dosis rendah radiasi berhubungan dengan kejadian neoplasma kelenjar liur. Tumor ganas kelenjar liur yang paling sering berhubungan dengan radiasi adalah karsinoma epidermoid dan adenokarsinoma. d. Diagnosis Gejala Pasien dengan neoplasma kelenjar liur biasanya datang dengan adanya benjolan yang asimptomatis, Apabila tumor mengalami infeksi, dapat disertai keluhan nyeri. Keluhan nyeri juga dapat terjadi akibat pembesaran kista atau invasi saraf oleh tumor. Sedangkan untuk kelenjar liur minor sangat tergantung lokasi tumor, seperti di cavum nasi dapat menimbulkan keluhan sumbatan hidung.
Modul VII.10 - Neoplasma Kelenjar Liur 17 Pemeriksaan Fisik Pada pemeriksaan harus dilakukan penentuan lokasi, ukuran, konsistensi dan mobilitas massa, serta ada tidaknya nyeri. Fungsi saraf fasial harus diperiksa, adanya paresis saraf fasialis biasanya berhungan dengan tumor ganas. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan biopsi aspirasi jarum halus merupakan pemeriksaan yang cukup sederhana untuk menentukan apakah massa tersebut perlu dilakukan pengangkatan atau tidak, dengan pemeriksaan ini dapat dihindari pengangkatan pada limfoma, kelenjar getah bening reaktif dan non-neoplasma. Pencitraan yang sering digunakan adalah CT scan dan MRI untuk menentukan perluasan tumor, keterlibatan ruang parafaring dan erosi tulang. Ultrasonografi juga dapat digunakan pada diagnosis tumor jinak parotis superfisial dan membantu pada saat biopsi aspirasi. e. Penentuan Stadium Pada tumor ganas harus dilakukan penentuan stadium (staging), dengan menggunakan sistem TNM menurut AJCC/UICC edisi ke-8 tahun 2017. Sebagai berikut Tumor Primer (T) - TX : Tumor primer tidak dapat dinilai - T0 : Tidak ada bukti tumor primer - Tis : Karsinoma in situ - T1 : Tumor kurang dari 2 cm pada dimensi terbesarnya dan tidak ada ekstensi ektraparenkimal * - T2 : Besar tumor 2-4 cm pada dimensi terbesarnya dan tidak ada ekstensi ekstraparenkimal * - T3 : Besar tumor lebih dari 4 cm dan atau ada ekstensi ekstraparenkimal* - T4 : Moderat advanced atau sangat advanced - T4a : Tumor invasi ke kulit, mandibula, kanalis akustikus eksternus, dan atau N. Fasialis. - T4b : Tumor invasi ke intrakranial, dan atau pterigoid, dan atau a. carotis * Note : Ekstensi ekstraparenkim adalah bukti klinis atau makroskopis dari invasi jaringan lunak. Bukti mikroskopis saja bukan merupakan perluasan ekstraparenkim untuk tujuan klasifikasi. Kelenjar Getah Bening regional (N) - NX : KGB regional tidak bisa dinilai - N0 : Tidak ada metastasis ke KGB regional - N1 : Metastasis ke satu KGB ipsilateral dengan ukuran <3 cm pada dimensi terbesarnya dan ENE (-) - N2 : Metastasis ke satu KGB ipsilateral dengan ukuran 3-6 cm pada dimensi terbesarnya dan ENE (-) atau metastasis ke multipel KGB ipsilateral dengan ukuran <6 cm pada dimensi terbesarnya dan ENE (-) atau pada bilateral atau
Modul VII.10 - Neoplasma Kelenjar Liur 18 kontralateral KGB, tidak lebih dari 6 cm pada dimensi terbesarnya dan ENE (-) - N2a : Metastasis pada satu KGB ipsilateral, ukuran 3-6 cm pada dimensi terbesarnya dan ENE (-) - N2b : Metastasis ke multipel KGB ipsilateral dengan ukuran < 6 cm pada dimensi terbesarnya dan ENE (-) - N2c : Metastasis pada bilateral atau kontralateral KGB, tidak lebih dari 6 cm pada dimensi terbesarnya dan ENE (-) - N3 Metastasis dengan KGB >6 cm pada dimensi terbesarnya dan ENE (-) - N3a : Metastasis dengan KGB >6 cm pada dimensi terbesarnya dan ENE (-) - N3b : Metastasis di setiap node dengan ENE + yang jelas secara klinis Metastasis Jauh (M) - M0 : Tidak ada metastasis jauh - M1 : Terdapat metastasis jauh Stadium Anatomi/Kelompok Prognosis Stage 0 Tis N0 M0 Stage I T1 N0 M0 Stage II T2 N0 M0 Stage III T3 N0 M0 T0 N1 M0 T1 N1 M0 T2 N1 M0 T3 N1 M0 Stage IVA T4a N0 M0 T4a N1 M0 T1 N2 M0 T2 N2 M0 T3 N2 M0 T4a N2 M0 Stage IVB T4b Any N M0 Any T N3 M0 Stage IVC Any T Any N M1 f. Terapi: 1. Operasi Operasi merupakan terapi utama pada sebagian besar neoplasma kelenjar liur. Karena sebagian besar tumor parotis berada superfisial dari saraf fasialis, sehingga parotidektomi dengan identifikasi dan preservasi saraf fasial merupakan operasi yang sering dilakukan. Tumor harus diangkat dengan secara lengkap dengan menyertakan jaringan normal, dan hindarkan agar tumor dida pecah, beberapa jenis parotidektomi x Parotidektomi superficial/Parotidektomi lateral/Total lateral Lobectomy x Parotidektomi dalam (deep)/Parotidektomi medial/Deep Lobectomy
Modul VII.10 - Neoplasma Kelenjar Liur 19 x Parotidektomi total. x Parotidektomi radikal 2. Radioterapi. Prosedur Operasi Parotidektomi Prosedur operasi: 1. Butir-butir penting: a. Syaraf fasialis merupakan organ yang sangat penting pada operasi parotis. Tumor parotis jarang menginfiltrasi syaraf, sehingga pengangkatan syaraf fasialis harus dipertimbangkan dengan matang. b. Identifikasi syaraf fasialis sangat penting pada operasi parotis. Ada beberapa cara/pendekatan untuk mengidentifikasi syaraf fasialis, yaitu: 1. Identifikasi trunkus utama saraf fasialis (main trunk) pada tempat keluarnya syaraf fasialis dari foramen stylomastoideus, berada di superior m. digastrikus venter posterior. Tragal pointer berada di superior dan superfisial dari trunkus ini. 2. Indentifikasi saraf fasialis yang perifer, kemudian diikuti ke proksimal sampai menemukan saraf fasialis utama (retrograde). 3. Identifikasi syaraf fasialis melalui operasi mastoidektomi. Cara ini digunakan bila tumor telah menjerat syaraf sehingga sebagian syaraf fasialis harus dikorbankan. Apapun cara/pendekatan parotidektomi dianjurkan untuk mengurangi trauma pada syaraf fasialis c. Landmark untuk identifikasi trunkus utama saraf fasialis: 1. Tragal pointer 2. Sutura timpanomastoidea. 3. Muskulus digastrikus venter posterior. 4. Prosesus mastoideus 2. Teknik Operasi: Parotidektomi Superfisial (lateral) 1. Pasien berbaring posisi supine, kepala dan toraks dielevasi setidaknya 20 0 dengan kepala menoleh ke sisi kontralateral. 2. Wajah ditutup dengan duk transparan atau setengah wajah dibuka untuk memungkinkan evaluasi selama operasi. 3. Insisi kulit dilakukan pada daerah preaurikuler setinggi tragus dari kranial ke kaudal melingkari lobulus sampai pada tip mastoid, dan dilanjutkan ke kaudal mengikuti kerutan kulit pada dua jari dibawah margo madibula. 4. Dilanjutkan dengan pembuatan flap kulit dengan melepas kulit dari jaringan dibawahnya ke anterior, superfisial terhadap fasia dengan meninggalkan lemak subkutan pada flap. 5. Dengan menggunakan klem kecil dilakukan diseksi secara tumpul memisahkan kelenjar parotis dari m. sternokleidomastoideus dan kartilago kanalis auditorius
Modul VII.10 - Neoplasma Kelenjar Liur 20 ektemus. Cabang posterior saraf aurikularis mayor dipreservasi bila memungkinkan. 6. Selanjutnya otot digastrikus venter posterior dipaparkan dengan mengangkat bagian tail dari parotis. Otot ini menjadi landmark trunkus utama syaraf fasialis. 7. Dengan menggunakan klem kecil fasia temporoparotid dielevasi secara hati-hati, Fasia ini berjalan dari fisura timpanomastoid ke kelenjar parotis. Dibawah fasia ini terletak syaraf utama fasialis. 8. Setelah syaraf utama fasialis diidentifikasi, akan tampak cabang cervicofacial (lower) dan cabang temporozygomaticus (upper). Dengan menggunakan klem kecil, syaraf syaraf tersebut disiangi, dilepaskan dari jaringan sekitarnya, dan bila perlu dapat digunakan detektor syaraf. 9. Setelah cabang marginal mandibuler, buccinators dari cervicofacialis tampak, jaringan parotis yang terletak disebelah lateralnya dipegang dan sedikit ditarik dengan klem Allis, diikuti dengan pemisahan sehingga jaringan parotis bagian lateral (superfisial) terangkat semuanya. 10. Luka operasi ditutup, setelah sebelumnya perdarahan diatasi dan pemasangan drain. 11. Operasi selesai. Bila tumor terletak di lobus profunda maka setelah parotidektomi superfisial selanjutnya nervus fasialis beserta cabang- cabangnya dibebaskan dari jaringan sekitarnya dan di teugel dengan potongan sarung tangan (handscoen) kemudian lobus profunda (beserta tumornya) dikeluarkan (deep lobe parotidectomy). Tindakan pembedahan dengan mengeluarkan seluruh jaringan kelenjar parotis ini disebut sebagai parotidektomi total. g. Tindak Lanjut: 1. Pemberian antibiotika pasca operasi. 2. Pemberian analgetika pasca operasi. 3. Evaluasi komplikasi operasi. x Gustatory sweating/Frey syndrome. 4. Evaluasi fungsi syaraf fasialis pasca operasi. x Paralise sementara. x Terjadi sampai 4-6 minggu pasca operasi. x Untuk menguranginya dapat di berikan korticosteroid, dengan catatan bahwa operator yakin tidak memotong syaraf. x Paralise permanen. x Terjadi bila syaraf terpotong pada waktu operasi, dan bila terjadi dapat dilakukan segera penyambungan syaraf, dengan prolene . x Paralise total atau paralise sebagian.
Modul VII.10 - Neoplasma Kelenjar Liur 21 5. Evaluasi adanya sisa tumor atau rekurensi pasca terapi. h. Pasca Operasi : Instruksi Pasca Operasi Tindak Lanjut: 1. Pemberian antibiotika pasca operasi. 2. Pemberian analgetika pasca operasi. 3. Evaluasi komplikasi operasi. x Gustatory sweating/Frey syndrome. 4. Evaluasi fungsi syaraf fasialis pasca operasi. x Paralise sementara. x Terjadi sampai 4-6 minggu pasca operasi. x Untuk menguranginya dapat di berikan corticosteroid, dengan catatan bahwa operator yakin tidak memotong syaraf. x Paralise permanen. Terjadi bila syaraf terpotong pada waktu operasi, dan bila terjadi dapat dilakukan segera penyambungan syaraf, dengan prolene . x Paralise total atau paralise sebagian. 5. Evaluasi adanya sisa tumor atau rekurensi pasca terapi. i. Kompetensi Dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai keterampilan parotidektomi (teori, indikasi, prosedur dan komplikasi). Selama pendidikan pernah melihat atau menjadi asisten, dan pernah menerapkan keterampilan ini di bawah supervisi serta memiliki pengalaman untuk menggunakan dan menerapkan keterampilan parotidektomi dalam praktik mandiri. Instrumen yang diperlukan a. Sterile scalpel blades no : 15 b. Scalpel handle c. Surgical scissors blunt/blunt, curved (Cooper) d. Choanal forcep e. Cautery bipolar f. Raspatorium g. Dissecting scissor, curved (Metzenbaum)/dissecting scissor for plastic surgery Gorney/scissor, delicate (Chadwick) h. Vessel and tendon scissors, curved and straight (Stevens) i. Standard tissue forcep j. Dissecting forcep, delicate (Adson); dissecting, nontraumatic forcep k. Hemostatic, delicate forcep/klem, straight and curved (Halsteid-mosquito) l. Hemostatic forcep standard (Adson, Leriche) m. Dissecting and ligature forceps (Baby-Overholt and Baby-Mixter) n. Bulldog clamps (DeBekey) o. Dressing and sponge forcep (Rample)
Modul VII.10 - Neoplasma Kelenjar Liur 22 p. Towel clamps (Backhaus) q. Retractor Lagenbeck-Green dan Wound and vein retractors (Kocher/Cushing) r. Needle holder DeBekay, Sarot s. Deschams ligature needle, blunt t. Sponge forceps, curved (Duplay) u. Jarum dan benang (dexon)
MODUL UTAMA ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER MODUL VII.11 NEOPLASMA RUANG PARAFARING EDISI III KOLEGIUM ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER 2022
DAFTAR ISI A. WAKTU .......................................................................................................... 1 B. PERSIAPAN SESI .......................................................................................... 1 C. REFERENSI ................................................................................................... 1 D. KOMPETENSI ............................................................................................... 2 E. GAMBARAN UMUM.................................................................................... 2 F. CONTOH KASUS & DISKUSI ..................................................................... 2 G. TUJUAN PEMBELAJARAN ......................................................................... 3 H. METODE PEMBELAJARAN....................................................................... 4 I. EVALUASI ..................................................................................................... 6 J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF ............................. 7 K. MATERI PRESENTASI ................................................................................. 8 L. MATERI BAKU ............................................................................................. 9
Modul VII.11 – Neoplasma Ruang Parafaring 1 MODUL VII.11 ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER: NEOPLASMA RUANG PARAFARING A. WAKTU Mengembangkan Kompetensi Alokasi Waktu : Sesi di dalam kelas Sesi dengan fasilitasi Pembimbing Sesi praktik dan pencapaian kompetensi 5 x 60 menit 1 x 60 menit 8 x 60 menit B. PERSIAPAN SESI 1. Materi presentasi Neoplasma Parafaring a. Slide 1: Gejala Neoplasma Parafaring b. Slide 2: Anamnesis dan Pemeriksaan Neoplasma Parafaring c. Slide 3: Pemeriksaan Penunjang Diagnostik d. Slide 4: Faktor Risiko Neoplasma Parafaring e. Slide 5: Tatalaksana Neoplasma Parafaring 2. Kasus Neoplasma Parafaring (epidemiologi dan masalahnya/magnitude of the problem) 3. Sarana dan alat bantu latih a. Model anatomi faring b. Rinofaringolaringoskopi c. Videostroboskopi d. Penuntun belajar (learning guide) terlampir e. Tempat belajar (training setting) : bangsal THT-KL, Poliklinik THT-KL, kamar operasi, bangsal perawatan pasca bedah THT-KL. C. REFERENSI 1. Ferro MF, Sanroman JF, Lopez AC, Gutierrez JS, de Sanchez AL. Surgical treatment of benign parapharyngeal space tumours. Presentation of two clinical cases and revision of the literature. Med Oral Patol Oral Cir Bucal. 2008 Jan 1;13(1)p61- 4 2. Olsen KD. Excision of Tumors of the Prestyloid Parapharyngeal Space available from http://bookpromos.Iww.com/wp- content/uploads/2013/12/FerrisVol2Chapter29.pdf .pdf (cited Mei 2015) 3. Fagan J. Acces to the Parapharyngeal Space. Fagan J ed. The Open Acces Atlas of Otolaryngology, Head and Neck Operative Surgery. Available from www.entdev.uct.sc.za (cited Mei 2015) 4. Prasad, Pathak. Palato-pharyngeal Approach to the Parapharyngeal Space. MJAFI 2004; 60 : 407- 409 5. Khandawala P. Parapharyngeal Space Tumors. Available from http://www.jaypeejournals.com/eJournals/ShowTe xt.aspx?ID=2021&Type=FREE&TYP=TOP&IN=_eJournals/images/JPLOGO.gif&IID =170&isPDF=NO (cited Mei 2015) 6. Beswick DM, VAezy A, Granados EC, Duvvuri U. Minimally Invasive Surgery for Parapharyngeal Space Tumors . Laryngoscope, 122:1072–1078, 2012
Modul VII.11 – Neoplasma Ruang Parafaring 2 D. KOMPETENSI 1. Pengetahuan Mampu menegakkan diagnosis neoplasma parafaring berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan (endoskopi, laringoskopi indirek, biopsi, CT Scan leher dan MRI). Peserta didik dapat memutuskan dan melakukan terapi pendahuluan serta merujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih tinggi (termasuk kasus darurat). 2. Keterampilan Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam : 1. Menjelaskan anatomi, topografi, histologi dan fisiologi parafaring 2. Menjelaskan patogenesis neoplasma parafaring 3. Menjelaskan gejala klinis neoplasma parafaring 4. Melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik pada neoplasma parafaring 5. Melakukan keputusan untuk pemeriksan penunjang seperti endoskopi, biopsi, CT- Scan Leher dan atau MRI Leher 6. Membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhubungan dengan neoplasma parafaring 7. Menentukan terapi yang tepat pada kasus neoplasma parafaring 8. Melakukan rujukan pada fasilitas kesehatan yang lebih tinggi E. GAMBARAN UMUM Tumor pada ruang parafaring sangat jarang dan hanya berkisar 0,5% dari tumor kepala leher. Sebagian besar dari tumor yang tumbuh di ruang parafaring bersifat jinak sekitar 80% dan sekitar 20% sisanya bersifat ganas. Diagnosis banding dari tumor primer di ruang parafaring termasuk tumor kelenjar liur, tumor neurogenik dan metastasis dari kavum nasi, nasofaring, palatum serta sinus maksila. Tumor parafaring ini penting disebabkan sulit untuk melakukan diagnosis dini karena sedikitnya gejala pada tahap awal dan kemungkinan komplikasi yang dapat terjadi pada saat dilakukan tindakan bedah di daerah parafaring. F. CONTOH KASUS & DISKUSI Seorang laki-laki, 37 tahun datang ke poli THT dengan keluhan benjolan di leher kiri sejak 2 tahun. Pasien juga merasakan kesulitan menelan, suara sengau, tidur mendengkur namun tanpa nyeri. Pada pemeriksaan fisik didapatkan arkus faring asimetris, uvula terdorong ke kanan, dinding lateral faring kiri menonjol ke medial. Benjolan leher kiri berukuran 5x5x2cm, terfiksir, tidak nyeri. Hasil CT-Scan Leher didapatkan massa parafaring sisi kiri yang menyangat kontras secara heterogen, mendorong struktur vaskuler ke lateral, tanpa infiltrasi vaskuler.
Modul VII.11 – Neoplasma Ruang Parafaring 3 CT SCAN LEHER POTONGAN AXIAL & SAGITAL Diskusi : a. Anatomi dan fisiologi parafaring b. Patofisiologi terjadinya disfagi Jawaban : G. TUJUAN PEMBELAJARAN a. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan mampu untuk menegakkan diagnosis dan melakukan terapi terhadap prinsip terapi neoplasma parafaring dan merujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi. b. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan mampu untuk : 1. Menguasai anatomi, topografi, histopatologi dan fisiologi parafaring (mampu menerapkan konsep-konsep dasar keilmuan THT-KL evaluasi dan penatalaksanaan atas kasus yang kompleks serta melakukan tindakan-tindakan klinik yang dibutuhkan dalam konteks evaluasi dan penatalaksanaan penyakit THT-KL atas kasus yang kompleks) 2. Mampu menjelaskan patogenesis neoplasma parafaring (mampu menerapkan konsep-konsep dasar keilmuan THT-KL evaluasi dan penatalaksanaan atas kasus yang kompleks serta melakukan tindakan-tindakan klinik yang dibutuhkan dalam konteks evaluasi dan penatalaksanaan penyakit THT-KL atas kasus yang kompleks) 3. Menjelaskan gambaran klinis neoplasma hipofaring (mampu menerapkan konsep- konsep dasar keilmuan THT-KL evaluasi dan penatalaksanaan atas kasus yang kompleks serta melakukan tindakan-tindakan klinik yang dibutuhkan dalam konteks evaluasi dan penatalaksanaan penyakit THT-KL atas kasus yang kompleks) 4. Melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik pada neoplasma hipofaring (mampu menerapkan konsep-konsep dasar keilmuan THT-KL evaluasi dan penatalaksanaan atas kasus yang kompleks serta melakukan tindakan-tindakan klinik yang dibutuhkan dalam konteks evaluasi dan penatalaksanaan penyakit THT-KL atas kasus yang kompleks) 5. Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang. Misalkan : endoskopi dan biopsi, CT Scan Leher/MRI Leher (mampu menerapkan konsep-konsep dasar keilmuan THT-KL evaluasi dan penatalaksanaan atas kasus yang kompleks serta
Modul VII.11 – Neoplasma Ruang Parafaring 4 melakukan tindakan-tindakan klinik yang dibutuhkan dalam konteks evaluasi dan penatalaksanaan penyakit THT-KL atas kasus yang kompleks) 6. Membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhungan dengan neoplasma parafaring (mampu menerapkan konsep-konsep dasar keilmuan THT-KL evaluasi dan penatalaksanaan atas kasus yang kompleks serta melakukan tindakan-tindakan klinik yang dibutuhkan dalam konteks evaluasi dan penatalaksanaan penyakit THT-KL atas kasus yang kompleks) 7. Dapat menjelaskan prinsip operasi parafaring pendekatan peroral, pendekatan transservikal, transparotis dan submandibular (mampu menerapkan konsep-konsep umum dalam diagnosis dan tatalaksana penyakit THT-KL dan mendemonstrasikan keterampilan klinik sesuai standar kompetensi dokter) 8. Dapat menjelaskan prinsip perawatan pra dan pasca operasi serta mampu mengatasi komplikasi (mampu menerapkan konsep-konsep dasar keilmuan THT-KL evaluasi dan penatalaksanaan atas kasus yang umum ditemui serta melakukan tindakan- tindakan klinik yang dibutuhkan dalam konteks evaluasi dan penatalaksanaan penyakit THT-KL atas kasus yang umum ditemui) H. METODE PEMBELAJARAN Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan mempunyai kemampuan dasar untuk menegakkan diagnosis neoplasma parafaring dan mampu untuk menentukan terapi yang tepat. Tujuan 1. Menjelaskan anatomi, fisiologi, histopatologi parafaring Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metoda pembelajaran berikut ini a. Literatur reading b. Referat. c. Bedside teaching d. Skill lab e. Praktek poliklinik f. Praktek operasi Harus diketahui : a. Anatomi parafaring b. Gambaran dan karakteristik histologis parafaring c. Fisiologi faring d. Patogenesis neoplasma parafaring Tujuan 2. Mampu menjelaskan patogenesis neoplasma parafaring Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: a. Literatur reading b. Referat. c. Bedside teaching d. Skill lab e. Praktek poliklinik f. Praktek operasi .
Modul VII.11 – Neoplasma Ruang Parafaring 5 Tujuan 3. Menjelaskan gambaran klinis neoplasma parafaring Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: a. Literatur reading b. Referat. c. Bedside teaching d. Skill lab e. Praktek poliklinik f. Praktek operasi Harus diketahui : Device Sensitivity on Anomaly Findings Tujuan 4. Melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik pada neoplasma parafaring Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: a. Literatur reading b. Referat. c. Bedside teaching d. Skill lab e. Praktek poliklinik f. Praktek operasi Harus diketahui : a. Metoda standar anamnesis b. Gejala dan Tanda neoplasama parafaring c. Pemeriksaan penunjang yang sensitif dan spesifik d. Memilah diagnosis banding dan menentukan diagnosis kerja(harus ada DD) e. Rencana penatatalaksanan neoplasma parafaring Tujuan 5. Melakukan keputusan untuk pemeriksan penunjang. Misalkan : endoskopi dan biopsi, CT Scan Leher/MRI Leher Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: a. Literatur reading b. Referat. c. Bedside teaching d. Skill lab e. Praktek poliklinik f. Praktek operasi Harus diketahui : Pemeriksaan penunjang yang sensitif dan spesifik Tujuan 6. Membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhubungan dengan neoplasma parafaring Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: a. Literatur reading b. Referat. c. Bedside teaching
Modul VII.11 – Neoplasma Ruang Parafaring 6 d. Skill lab e. Praktek poliklinik f. Praktek operasi Harus diketahui : a. Tanda pasti tentang adanya kelainan kongenital b. Pemeriksaan penunjang yang sensitif dan spesifik c. Memilah diagnosis banding dan menentukan diagnosis kerja d. Rencana pengobatan atau tatalaksana pasien Tujuan 7. Membuat keputusan klinik untuk operasi parafaring pendekatan peroral, pendekatan transservikal, transparotis dan submandibular Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: a. Literatur reading b. Referat. c. Bedside teaching d. Skill lab e. Praktek poliklinik f. Praktek operasi Harus diketahui : a. Prosedur konservatif b. Prosedur operatif c. Prosedur alternatif Tujuan 8. Perawatan penderita pra dan pasca operatif serta mampu mengatasi komplikasi Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: a. Literatur reading b. Referat. c. Bedside teaching d. Skill lab e. Praktek poliklinik f. Praktek operasi Harus diketahui : a. Point penting untuk tatalaksana b. Jenis-jenis terapi yang direkomendasikan c. Kondisi atau situasi penting untuk membuat keputusan untuk merujuk I. EVALUASI 1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri atas : a. Anatomi dan fisiologi parafaring
Modul VII.11 – Neoplasma Ruang Parafaring 7 b. Penatalaksanaan neoplasma parafaring c. Evaluasi pasca bedah 2. Selanjutnya dilakukan “small group discussion” bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian. 3. Setelah mempelajari penuntun belajar ini, PPDS diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk “role play” dan teman-temannya (Peer Assisted Evaluation) atau kepada SP (Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assisted Evaluation) setelah dianggap memadai, melalui metode bedside teaching dibawah pengawasan fasilitator, peserta dididik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut : - Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan. - Cukup : pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien. - Baik : pelaksanaan benar dan baik (efisien) 4. Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan. J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF Kuesioner meliputi : 1. Sebelum pembelajaran - Berikut ini yang BUKAN gejala neoplasma parafaring? a. Perubahan suara (mumble voice) b. Suara serak c. Trismus d. Defisit saraf kranial e. Sulit menelan Jawaban : 2. Tengah pembelajaran - Sebutkan pemeriksaan penunjang yang BUKAN untuk mendiagnosis neoplasma parafaring? a. CT Scan leher b. USG leher c. MRI leher
Modul VII.11 – Neoplasma Ruang Parafaring 8 d. Rontgen (x-ray) leher e. BAJAH Jawaban : 3. Akhir pembelajaran - Sebutkan pendekatan pembedahan pada neoplasma parafaring? a. Pendekatan oral b. Pendekatan transservikal c. Pendekatan transparotis d. Pendekatan transmandibular e. Semua di atas Jawaban : K. MATERI PRESENTASI Slide 1: Gejala Karsinoma Parafaring perubahan suara (mumble voice) trismus massa di leher defisit saraf kranial penurunan pendengaran karena otitis media efusi karena tertutupnya tuba eustachius obstruktif sleep apnea Slide 2: Anamnesis dan Pemeriksaan Karsinoma Parafaring Anamnesis : Gejala : sulit menelan, perubahan suara (mumble voice), trismus, massa di leher, defisit saraf kranial, penuruan pendengaran karena otitis media efusi karena tertutupnya tuba eustachius dan obstruktif sleep apnea. Pemeriksaan fisik : terdapat pendorongan uvula ke sisi kontralateral dan terlihat ada pembengkakan di palatum tanpa ada tanda peradangan. Pemeriksaan ini dapat dengan spatel tongue. Pemeriksaan fisik harus dilakukan dengan palpasi bimanual. Pemeriksaan FisikTumor yang kecil bila berukuran kurang dari 3 cm biasanya tidak menimbulkan endorongan dinding lateral faring dan hanya terdeteksi dengan pencitraan computer tomografi atau pemeriksaan Resonansi magnetik. Bisa juga terdeteksi adanya massa di leher dan juga harus dilakukan pemeriksaan saraf kranialis. Slide 3: Pemeriksaan Penunjang Diagnostik Pemeriksaan penunjang : Pemeriksaan radiologi : X-foto leher AP dan lateral (jaringan lunak) CT Scan leher (bila tersedia fasilitas) MRI Biopsi : Biopsi dilakukan dengan biopsi aspirasi jarum halus (BAJAH)
Modul VII.11 – Neoplasma Ruang Parafaring 9 Slide 4: Faktor Risiko Karsinoma Parafaring Etiologi dari neoplasma parafaring masih belum diketahui dengan jelas seperti kebanyakan jenis tumor lainnya. Namun, semakin banyak bukti bahwa faktor lingkungan tertentu seperti radiasi, virus, diet dan eksposur pekerjaan tertentu dapat meningkatkan risiko terjadinya tumor kelenjar ludah. Slide 5: Tatalaksana Pembedahan merupakan pilihan utama tumor pada ruang parafaring. Pemilihan teknik pembedahan tergantung ukuran, lokasi, pembuluh darah besar di sekitar tumor, dan kecurigaan keganasan. Terdapat beberapa pendekatan pembedahan yang umum digunakan pada tumor parafaring, di antaranya : pendekatan per oral, pendekatan transservikal, pendekatan transparotis, pendekatan transmandibular dan pendekatan fossa infra temporal. L. MATERI BAKU Neoplasma Parafaring Definisi Neoplasma yang mengenai struktur parafaring. Etiologi Etiologi dari neoplasma parafaring masih belum diketahui dengan jelas seperti kebanyakan jenis tumor lainnya. Namun, semakin banyak bukti bahwa faktor lingkungan tertentu seperti radiasi, virus, diet dan eksposur pekerjaan tertentu dapat meningkatkan risiko terjadinya tumor kelenjar ludah. Selain faktor lingkungan, kelainan genetik tertentu juga dikaitkan dengan pertumbuhan tumor. Epidemiologi Daerah parafaring mempunyai anatomi yang kompleks. Tumor primer parafaring hanya berkisar 0.5% dari semua tumor kepala dan leher. Delapan puluh persen tumor ini adalah jinak dan 20% bersifat ganas. Tumor di parafaring dapat merupakan tumor primer ataupun sekunder yang merupakan metastasis dari tempat lain. Diagnosis banding tumor parafaring adalah tumor kelenjar ludah, tumor neurogenic dan mix tumor. 1, 2 Delapan puluh persen dari tumor ini bersifat jinak dan berasal dari tumor parotis. Sisanya adalah schwannoma, parganglioma dan pembesaran kelenjar getah bening leher. Diagnosis 1) Anamnesis : Gejala : Tumor ini dapat berada di parafaring tanpa menimbulkan gejala tetapi menyebabkan pergeseran struktur anatomi orofaring ke arah medial. Gejala yang mungkin dirasakan pasien adalah perubahan suara (mumble voice), trismus, massa di leher, defisit saraf kranial, penuruan pendengaran karena otitis media efusi karena tertutupnya tuba eustachius dan obstruktif sleep apnea. Pemeriksaan fisik : terdapat pendorongan uvula ke sisi kontralateral dan terlihat ada pembengkakan di palatum tanpa ada tanda peradangan. Pemeriksaan ini dapat dengan spatel tongue. Pemeriksaan fisik harus dilakukan dengan palpasi bimanual.
Modul VII.11 – Neoplasma Ruang Parafaring 10 Pemeriksaan FisikTumor yang kecil bila berukuran kurang dari 3 cm biasanya tidak menimbulkan endorongan dinding lateral faring dan hanya terdeteksi dengan pencitraan computer tomografi atau pemeriksaan Resonansi magnetik. Bisa juga terdeteksi adanya massa di leher dan juga harus dilakukan pemeriksaan saraf kranialis. 2) Pemeriksaan penunjang : Pemeriksaan radiologi : X-ray (rontgen) leher CT Scan leher (bila tersedia fasilitas) MRI leher (bila ada fasilitas, lebih baik menggunakan MRI dibanding CT scan) CT thoraks/ PET scan bila pada keganasan Biopsi : Biopsi dilakukan dengan biopsi aspirasi jarum halus (BAJAH) Tabel 1. Jenis histopatologi tumor yang ditemukan pada daerah prestyloid 2 Jinak Ganas Adenoma pleomorfik Warthin tumor Onkocytoma Lesi limfoepitelial jinak Kista brankialis Malformasi vena Fibroma Schwannoma neurofibroma Rhabdomyoma Hibernoma Mukoepidermoid karsinoma Adenokarsinoma karsinoma sel asinik Karsinoma adenoid kistik Karsinoma pleomorphic Hemangiopericytoma sarkoma Tabel 2. Jenis histopatologi tumor yang ditemukan pada daerah poststyloid 2 Jinak Carotid body tumor Paraganglioma dari vagus dan trunkus simpatikus Schwannoma Penentuan Stadium Karsinoma parafaring Tumor primer (T) : Untuk tumor primer yang berasal dari kelenjar liur maka yang digunakan adalah klasifikasi T menurut AJCC 8 untuk kelenjar mayor liur Definisi Tumor Primer (T) Kriteria T Tx : Tumor primer tidak dapat dinilai T0 : Tidak ada bukti tumor primer T1s: Karsinoma in situ
Modul VII.11 – Neoplasma Ruang Parafaring 11 T1 : Tumor berukuran 2 cm atau lebih kecil tanpa perluasan ekstraparenkimal T2 : Tumor berukuran lebih dari 2 cm namun tidak lebih dari 4 cm tanpa perlusan ekstraparenkimal T3 : Tumor berukuran lebih besar dari 4 cm dengan/tanpa adanya perluasan ekstraparenkimal T4 : Moderately advanced atau sangat advanced T4a : Tumor menginvasi kulit, mandibula, liang telinga dan/atau saraf fasial T4b : Tumor menginvasi dasar tengkorak dan/atau lempeng pterygoid dan/atau melibatkan arteri karotis Untuk tumor primer yang berasal dari syaraf seperti schwannoma maka, staging TNM tidak begitu mempengaruhi prognosis. Sistem T pada kegasanan yang berasal dari primer susunan syaraf pusat tidak lebih baik dari jenis histologi tumor maka yang dipakai adalah lebih ke grading tumor. Kelenjar limfe regional (N) : Penentuan N ditentukan bila yang didapatkan di leher adalah bentuk anak sebar dari tumor primer. Nx : kelenjar limfe tidak dapat ditentukan No : tidak ada metastasis kelenjar limfe regional. N1 : metastasis pada satu kelenjar limfe ipsilateral, ≤ 3 cm ENE (-) N2a : metastasis pada satu kelenjar limfe ipsilateral, >3cm 6 cm ENE (-) N2b : metastasis pada multiple kelenjar limfe ipsilateral, ≤ 6 cm ENE (-) N2c : metastasis pada kelenjar limfe bilateral/kontralateral, ≤ 6 cm ENE (-) N3a : metastasis pada kelenjar limfe > 6 cm ENE (-) N3b : metastasis pada kelenjar limfe yang secara klinis menunjukkan ENE + Kategori Metastasis : M0 : tidak ada metastasis M1: terdapat metastasis Stadium Anatomi/ Kelompok Prognosis : Stadium 0 Tis No Mo Stadium I T1 No Mo Stadium II T2 No Mo Stadium III T3 No Mo Stadium III T1,2,3 N1 Mo Stadium IVa T4a N0,N1, M0 Stadium IVa T1,T2,T3,T4a N2 Mo Stadium IVb T4b N1-3 Mo Stadium IVb T1-4b N3 M0 Stadium IVc T1-4b N1-3 M1 Diagnosis banding Anak sebar dari tumor primer Penatalaksanaan Pembedahan merupakan pilihan utama tumor pada ruang parafaring. Pemilihan teknik pembedahan tergantung ukuran, lokasi, pembuluh darah besar di sekitar tumor, dan kecurigaan keganasan.
Modul VII.11 – Neoplasma Ruang Parafaring 12 Terdapat beberapa pendekatan pembedahan yang umum digunakan pada tumor parafaring, di antaranya : pendekatan per oral, pendekatan transservikal, pendekatan transparotis, pendekatan transmandibular dan pendekatan fossa infra temporal. Gambar 1. Pendekatan (teknik insisi) pembedahan neoplasma parafaring Evaluasi Preoperatif Sebelum melakukan operasi harus diketahui apakah massa tumor jinak atau ganas, vaskularisasi dan tentukan apakah prestyloid atau post styloid, apakah massa prestyloid berasal dari kelenjar parotis dan juga harus ditentukan posisi arteri carotis dengan tumornya. Penentuan ganas atau tidaknya tumor dapat dilakukan dengan Biopsi aspirasi jarum halus. 2 Untuk vaskularisasi dapat diperiksakan dengan komputer tomografi dan pencitraan resonansi magnetik. Pada tumor prestyloid akan terjadi pendorongan lemak ke arah anteromedial 3
Modul VII.11 – Neoplasma Ruang Parafaring 13 Gambar 2. tampak massa pada prestyloid yang mendorong lemak ke anteromedial 3 Tumor post styloid ditandai dengan massa pada daerah lateral leher yang meluas pada orofaring atau nasofaring dan kadang didapatkan adanya disfungsi dari saraf kranial. Tumor pada daerah poststyloid menyebabkan pendorongan lemak pada anterolateral. 3 Gambar 3. Komputer tomografi dari vagal scwannoma menunjukkan adanya pendorongan lemak pada anterolateral dan terdorongnya carotis Bila tumor merupakan tumor vaskular dibutuhkan angiografi dan embolisasi untuk mengetahui posisi arteri karotis. 2,3 Penentuan massa prestyloid apakah dari kelenjar parotis untuk menentukan apakah akan dilakukan pendekatan secara cervical dan apakah akan ditambahkan parotidektomi total. Memang sangat sulit menentukan apakah adenoma pleomorphic berasal dari kelenjar liur yang ectopic atau dari lobus dalam
Modul VII.11 – Neoplasma Ruang Parafaring 14 kelenjar parotis. Empat informasi ini diperlukan untuk menegakkan diagnosis yang akurat dan untuk informed consent tentang sequelae yang mungkin terjadi. 2 Pendekatan transoral Pendekatan eksisi pada parafaring terdiri dari pendekatan transcervical, transoral, transparotis dan mandibulotomy. 2,3 Pendekatan transoral dilakukan pada tumor parafaring yang terdeteksi di leher yang tidak meluas pada parafaring superior. Pendekatan transoral dilakukan pada tumor yang avascular dengan ukuran yang relatif kecil, teraba di mulut dan tidak teraba pada leher. Pendekatan ini hampir sana dengan ekstended tonsilektomi dan kadang membutuhkan mandibulotomy untuk akses tambahan. Kerugian pendekatan ini adalah leher tidak dibuka dan pembuluh darah tidak terlihat dengan jelas sehingga cedera pada pembuluh darah sulit dikontrol. 3 Cara melakukan pendekatan intraoral Gambar 4. gambar insisi pada pendekatan intraoral tumor parafaring Pasien dioperasi dengan anestesi umum. Dilakukan pemasangan mouth gag davys untuk mencapai akses operasi. Dilakukan insisi pada pilar anterior dengan blade no 15. Insisi lateral dilakukan dari superior dari tumor dengan memperhatikan letak pterigoid hummulus untuk melindungi arteri palatine asenden, vena palatine dan serabut saraf palatal. Setelah di insisi tampak tumor berkapsul. Dilakukan diseksi tumpul dengan disektor tonsil. Tumor dapat dikeluarkan secara intoto. Perdarahan diatasi dengan klem dan diikat. Dinding faring lateral dijahit dengan menggunakan vicryl. Pendekatan Transservikal Transervikal merupakan pendekatan yang optimal untuk mengangkat tumor yang berasal dari kompartemen pre atau postvaskular. Biasanya jenis tumornya adalah schwannoma, paraganglioma dan adenoma pleomorphik. Cara melakukan pendekatan transservikal :
Modul VII.11 – Neoplasma Ruang Parafaring 15 1. Pasien tidur dalam posisi kepala ekstensi, kepala menghadap ke sisi kontralateral dan di fiksasi dengan donat. Meja operasi dibuat kepala lebih tinggi supaya mengurangi perdarahan. 2. Dilakukan tindakan a dan antisepsis 3. Dilakukan insisi dari tip mastoid sampai melalui arkus krikoid , biasanya 2-3 jari di bawah submandibula dengan blade no 15. Insisi menembus subkutan dan platysma. Flap superior subplatysma dibuat memaparkan vena jugular eksterna. Hati2 untuk tidak mencederai nervus marginal mandibularis. 4. Melakukan pemaparan sternokleidomastoid dan muskulus digastrikus. Sternokleidomastoid lalu dibebaskan dari fasia dan ditarik ke lateral. Hati2 untuk mencederai n. spinalis asesorius. 5. Setelah spinal asesorius dipaparkan, maka pembuluh darah besar dan syaraf juga harus dipaparkan dan dilanjutkan dengan pemaparan m. digastrikus. Pemaparan muskulus digastrikus dimulai dengan retraksi sternocleidomastoid ke lateral dan ramus mandibular. 6. Tahap selanjtnya memaparkan arteri carotis dan vena jugular interna dengan cabang2nya. 7. Setelah itu dilakukan pemaparan atas dari digastrikus. 8. Dilakukan pemaparan nerve hypoglossal. 9. SEtelah itu dilakukan pemaparan tumor dan tumor mesti dilihat hubungannya dengan syaraf dan pembuluh darah. Dengan klem lakukan pemisahan tumor dari jaringan penting. MUskulus stilohyoid dan stilomandibular dapat dipotong untuk mengangkat tumor. 10. Proksimal dan distal dari tumor di klem dan diikat untuk mengurangi perdarahan dengan silk 3-0. Lalu tumor diangkat intoto. 11. Lapangan operasi disiram dengan dievaluasi perdarahannya dan diatasi perdarahan. 12. Dipasang drain dan difiksasi 13. Dijahit platysma dan subkutan dan kulit dijahit. Pendekatan Transservikal dan Transparotis Tumor ini baik untuk tumor yang berasal dari lobus bagian dalam parotis. Tumor yang tersering adalah adenoma pleomorfik. Cara operasinya adalah : 1. Insisi Blair 2. Lakukan superfisial parotidektomi 1. Cabang-cabang n 7 dipisahkan sampai ke distal mungkin untuk memudahkan mobilisasi dari sarafnya sendiri. 2. Pisahkan tumor dari nervus facialis 3. Submandibular didiseksi dan ditarik ke anterior 4. Melakukan pemaparan sternocleidomastoid dan muskulus digatrikus. Sternokleido lalu dibebaskan dari fasia dan ditarik ke lateral. Hati2 untuk mencederai n. spinalis asesorius. 5. Setelah spinal asesorius dipaparkan, maka pembuluh darah besar dan syaraf juga harus dipaparkan dan dilanjutkan dengan pemaparan m. digastrikus. Pemaparan muskulus digastrikus dimulai dengan retraksi sternocleidomastoid ke lateral dan ramus mandibular. 6. Tahap selanjtnya memaparkan arteri carotis dan vena jugular interna dengan cabang2nya.
Modul VII.11 – Neoplasma Ruang Parafaring 16 7. Setelah itu dilakukan pemaparan atas dari digastrikus. 8. Dilakukan pemaparan nerve hypoglossal. 9. Setelah itu dilakukan pemaparan tumor dan tumor mesti dilihat hubungannya dengan syaraf dan pembuluh darah. Dengan klem lakukan pemisahan tumor dari jaringan penting. Muskulus stilohyoid dan stilomandibular dapat dipotong untuk mengangkat tumor. 10. Proksimal dan distal dari tumor di klem dan diikat untuk mengurangi perdarahan dengan silk 3-0. Lalu tumor diangkat intoto. 11. Lapangan operasi disiram dengan dievaluasi perdarahannya dan diatasi perdarahan. 12. Dipasang drain dan difiksasi 13. dijahit platysma dan subkutan dan kulit dijahit. Pendekatan transmandibular Pendekatan ini dipakai pada pasien yang telah dilakukan radiasi, pada tumor yang besar dan pada tumor vaskular. 1. Dilakukan insisi split mandibular dan berlanjut ke vertical kartilago krikoid dan dilanjutkan ke horizontal leher sampai ke mastoid 2. Dilakukan insisi dan pembuatan flap superior sampai 1 jari di bawah ramus mandibular dan 1 jari di atas sternal 3. Hati-hati mencederai mandibular branch n. fasialis 4. Muskulus sternocleido di paparkan 5. N. spinalis asesorius dipaparkan 6. Dicari arteri karotis dan vena jugular interna dan cabang2nya , tumor dipisahkan dari struktur penting ini. 7. N. hipoglosal didiseksi dan dipaparkan dipisahkan dari tumor 8. Setelah insisi kulit bibir, maka selanjutnya korteks mandibular dipaparkan. Dilakukan insisi gingivolabial, pertahankana mukosa setengah cm untuk penjahitan. Jaringan di atas korteks mandibular disisihkan bilateral di level yang lebih dalam dari periosteum, lebih kurang 2-3 cm dari garis tengah. 9. Pertahankan n. mentalis. Sebelum melakukna osteotomy, dilakukan pengukuran miniplate pada mandibular. Satu dipasang pada anterior dari korteks dan kedua pada bagian batas bawah mandibula. 10. Lakukan osteotomy. Begitu mandibular di osteotomy, ramus pada sisi ipsilateral di geser ke lateral. 11. Insisi gingivobuccal di lanjutkan sampai ke pilar tonsil untuk menambahkan paparan ke daerah parafaring. 12. Tumor diangkat secara in toto, dengan mengikat pada pool bawah dan superior 13. Perdarahan di cek dan diatasi 14. Rekonstruksi diteruskan dengan menggunakan free flap. 15. Dilakukan penjahitan mukosa gingivobucaal dengan vycril dan penjahitan subkutan 16. Kulit dijahit dengan benang yang tidak diserap. Kelenjar getah bening leher Diseksi leher dilakukan bila terdapat adanya metastasis pada kelenjar getah bening leher. Ketika pembesaran kelenjar getah bening teraba, maka modified neck disection dilakukan untuk mengangkat kelenjar yang terlibat. Komplikasi operasi
Modul VII.11 – Neoplasma Ruang Parafaring 17 1. Perdarahan 2. Sumbatan jalan nafas atas 3. Kerusakan syaraf 4. Komplikasi karena diseksi leher seperti perdarahan pada leher, sumbatan jalan nafas atas, cidera pada arteri dan vena, chylous leakage, drop shoulder. Follow Up a. Pemberian antibiotik dan analgetik b. Melihat pemeriksaan orofaring dan menilai sumbatan jalan nafas atas c. Asupan nutrisi melalui nasogastric tube (NGT) sampai intake pasien adekuat dan baik d. Selama perawatan diobservasi ada tidaknya komplikasi. Instrumen yang diperlukan 1. Scalpel no 15 2. Mata Pisau 3. Gunting jaringan pada set tonsil 4. Pinset Anatomis 5. Pinset Chirurgis 6. Respa tonsil 7. Klem tonsil 8. Set tonsilektomi 9. Klem Arteri pada set tonsil 10. Klem Kocher 11. Needle Holder 12. Retraktor 13. Langenbeck 14. Kanula Suction 15. Monopolar dan Bipolar Elektrokauter 16. Jarum 17. Benang Catgut Chromic 18. Benang Silk 2-0
MODUL UTAMA ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER MODUL VII.12 NEOPLASMA HIPOFARING EDISI III KOLEGIUM ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER 2022
DAFTAR ISI A. WAKTU........................................................................................................... 1 B. PERSIAPAN SESI .......................................................................................... 1 C. REFERENSI .................................................................................................... 1 D. KOMPETENSI ................................................................................................ 2 E. GAMBARAN UMUM .................................................................................... 2 F. CONTOH KASUS & DISKUSI ...................................................................... 2 G. TUJUAN PEMBELAJARAN ......................................................................... 3 H. METODE PEMBELAJARAN ....................................................................... 4 I. EVALUASI ..................................................................................................... 6 J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF.............................. 8 K. INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR ............................................... 10 L. DAFTAR TILIK ............................................................................................ 11 M. MATERI PRESENTASI ............................................................................... 12 N. MATERI BAKU ............................................................................................ 13
Modul VII.12 - Neoplasma Hipofaring 1 MODUL VII.12 ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER: NEOPLASMA HIPOFARING A. WAKTU Mengembangkan Kompetensi Alokasi Waktu : Sesi di dalam kelas Sesi dengan fasilitasi Pembimbing Sesi praktik dan pencapaian kompetensi 1x90 menit (classroom session) 1x60 (coaching session) 8 jam (facilitation and assessment) B. PERSIAPAN SESI 1. Materi presentasi Neoplasma Hipofaring a. Slide 1: Gejala Neoplasma Hipofaring b. Slide 2: Anamnesis dan Pemeriksaan Neoplasma Hipofaring c. Slide 3: Pemeriksaan Penunjang Diagnostik d. Slide 4: Faktor Risiko Neoplasma Hipofaring e. Slide 5: Tatalaksana Neoplasma Hipofaring 2. Kasus Neoplasma Hipofaring (epidemiologi dan masalahnya/magnitude of the problem) 3. Sarana dan alat bantu latih a. Model anatomi faring b. Videostroboskopi c. Penuntun belajar (learning guide) terlampir d. Tempat belajar (training setting): bangsal THT-KL, Poloklinik THT-KL, kamar operasi, bangsal perawatan pasca bedah THT-KL. C. REFERENSI 1. Bhayani MK, Weber RS. 2014. Hypopharyngeal and Cervical Esophageal Carcinoma.In %DLOH\¶V +HDG DQG 1HFN 6XUJHU\ - Otolaryngology. Fifth Edition. Lippincott Williams & Wilkins. Philadelphia. 122 (2): 1917-39 2. Uppaluri R, Sunwoo JB. 2005. Neoplasm of the Hypopharynx and Cervical (VRSKDJXV 'DODP &XPPLQJ¶V Otolaryngology Head and Neck Surgery. Fourth Edition. Chapter 82. Mosby Inc. Philadelphia. 3. Gonzalesz D, Robbins KT.Carcinoma the oral cavity, pharynx, esophagus. In: &KDQ < *RGGDHG -& (GLWRUV .-/HH¶V (VVHQWLDO 2WRlaryngology Head and Neck Surgery. 11th (ed). United States: McGraw-Hill education. 2016. p. 701- 40 4. Sinha P, Bruce, Haughey . Cancer of the Hypopharynx and cervical esophagus in: Myers J, Hanna E, Myers E, ed. Cancer of The Head and Neck. 5th ed. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2017. p. 710-318 5. Shah J. Pharynx and Esophagus. In: Shah J, ed. Head and neck surgery and oncology. 5th ed. Philadelphia: Elsevier Co; 2020. p. 299-364 6. Cancer AJCC. AJCC cancer staging manual, 8th ed. Chicago: Springer; 2017. 7. Pfister DG, Spenser S, Adelstein D, Adkins D, Brizel DM, Burtness BA. NCCN Clinical Practise Guidelines in Oncology. Head and Neck Cancer: National
Modul VII.12 - Neoplasma Hipofaring 2 Comprehensive Cancer Network; 2020. 225 p. D. KOMPETENSI 1. Pengetahuan Mampu menegakkan diagnosis neoplasma hipofaring berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisis dan pemeriksaan tambahan (endoskopi, laringoskopi indirek, biopsi, CT Scan leher dan MRI). Peserta didik dapat memutuskan dan melakukan terapi pendahuluan serta merujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih tinggi(termasuk kasus darurat). 2. Keterampilan Setelah Mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam : 1. Menjelaskan anatomi, topografi, histologi dan fisiologi hipofaring 2. Menjelaskan patogenesis neoplasma hipofaring 3. Menjelaskan gejala klinis neoplasma hipofaring 4. Melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik pada neoplasma hipofaring 5. Melakukan keputusan untuk pemeriksan penunjang seperti endoskopi, biopsi, CT-Scan Leher dan atau MRI Leher 6. Membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhubungan dengan neoplasma hipofaring 7. Menentukan terapi yang tepat pada kasus neoplasma hipofaring 8. Melakukan rujukan pada fasilitas kesehatan yang lebih tinggi E. GAMBARAN UMUM Neoplasma hipofaring termasuk 5 ± 10 % dari keganasan saluran aerodigestif. Kompleksnya anatomi dan fungsi penting dari regio ini membutuhkan pendekatan multidisiplin yang melibatkan ahli bedah kepala leher, onkologi, onkologi radiasi dan speech pathologists. Patologi dari neoplasma hipofaring biasanya mengarah ke keganasan dan ditandai adanya penyebaran pada submukosa, dan metastasis pada kelenjar limfe unilateral atau bilateral. Karena itu, pasien dengan neoplasma hipofaring biasanya datang dengan stadium lanjut dan malnutrisi berat yang memperburuk perawatannya. Untuk alasan ini, prognosis keseluruhan dari neoplasma hipofaring termasuk buruk. F. CONTOH KASUS & DISKUSI Seorang laki-laki, 49 tahun datang ke poli THT dengan keluhan: disfagi sejak 3 bulan dirasakan makin lama makin memberat, terutama makanan padat. Riwayat odinofagi ada. Benjolan pada leher kiri ada, dirasakan sejak 3 bulan, awalnya sekecil kelereng, makin membesar hingga seperti saat ini. Riwayat merokok sejak puluhan tahun yang lalu. Pada pemeriksaan didapatkan benjolan pada leher kiri dengan ukuran + 7x6x4 cm, terfiksasi, tidak nyeri. Hasil CT-Scan Leher potongan axial massa heterogen submandibula sinistra.
Modul VII.12 - Neoplasma Hipofaring 3 CT SCAN LEHER POTONGAN AXIAL & SAGITAL NASOENDOSKOPI FLEXIBEL Diskusi : a. Anatomi dan fisiologi hipofaring b. Patofisiologi terjadinya disfagi Jawaban : G. TUJUAN PEMBELAJARAN a. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan mampu untuk menegakkan diagnosis dan melakukan terapi terhadap prinsip terapi neoplasma hipofaring dan merujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi. b. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan mampu untuk : 1. Menguasai anatomi, topografi, histopatologi dan fisiologi hipofaring sehingga mampu menerapkan konsep-konsep dasar anatomi, topografi dan fisiologi hipofaring untuk tindakan-tindakan klinis yang diperlukan dalam konteks evaluasi dan penatalaksanaan terhadap kasus yang kompleks. 2. Mampu menjelaskan patogenesis neoplasma hipofaring sehingga mampu menerapkan konsep-konsep dasar patogenesis neoplasma hipofaring untuk tindakan-tindakan klinis yang diperlukan dalam konteks evaluasi dan penatalaksanaan terhadap kasus yang kompleks. 3. Menjelaskan gambaran klinis neoplasma hipofaring sehingga mampu menerapkan konsep dasar gambaran klinis neoplasma hipofaring untuk tindakan-tindakan klinis yang diperlukan dalam konteks evaluasi dan penatalaksanaan terhadap kasus yang kompleks. 4. Melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik pada neoplasma hipofaring sehingga mampu menerapkan konsep dasar anamnesis dan pemeriksaan fisik
Modul VII.12 - Neoplasma Hipofaring 4 untuk tindakan-tindakan klinis yang diperlukan dalam konteks evaluasi dan penatalaksanaan terhadap kasus yang kompleks. 5. Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang, misalkan: endoskopi dan biopsi, CT Scan Leher/MRI Leher sehingga mampu menerapkan konsep dasar pemeriksaan penunjang untuk tindakan-tindakan klinis yang diperlukan dalam konteks evaluasi dan penatalaksanaan terhadap kasus yang umum dijumpai. 6. Membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhungan dengan neoplasma hipofaring sehingga tindakan- tindakan klinis yang diperlukan dalam penatalaksanaan terhadap kasus neoplasma hipofaring yang kompleks dapat dilakukan. 7. Dapat menjelaskan prinsip operasi pharyngectomy pada tindakan-tindakan klinis yang diperlukan dalam konteks evaluasi dan penatalaksanaan terhadap kasus neoplasma hipofaring yang umum ditemui. 8. Dapat menjelaskan prinsip perawatan pra dan pasca operasi serta mampu mengatasi komplikasi dalam penatalaksanaan kasus neoplasma hipofaring yang umum ditemui. H. METODE PEMBELAJARAN Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan mempunyai kemampuan dasar untuk menegakkan diagnosis neoplasma hipofaring dan mampu untuk menentukan terapi yang tepat. Tujuan 1. Menjelaskan anatomi, fisiologi, histopatologi hipofaring Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metoda pembelajaran berikut ini a. Interactive lecture b. Small group discussion. c. Peer assisted learning (PAL) d. Bedside teaching. e. Task based medical education f. Praktek operasi Harus diketahui : a. Anatomi hipofaring b. Gambaran dan karakteristik histologis hipofaring c. Fisiologi faring d. Patogenesis neoplasma hipofaring Tujuan 2. Mampu menjelaskan patogenesis neoplasma hipofaring Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: a. Literatur reading b. Referat. c. Bedside teaching d. Skill lab e. Praktek poliklinik f. Praktek operasi Tujuan 3. Menjelaskan gambaran klinik neoplasma hipofaring Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: a. Literatur reading
Modul VII.12 - Neoplasma Hipofaring 5 b. Referat. c. Bedside teaching d. Skill lab e. Praktek poliklinik f. Praktek operasi Harus diketahui : Device Sensitivity on Anomaly Findings Tujuan 4. Melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik pada neoplasma hipofaring Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: a. Interactive lecture b. Small group discussion. c. Peer assisted learning (PAL) d. Bedside teaching. e. Task based medical education f. Poli klinik Harus diketahui : a. Metoda standar anamnesis b. Gejala dan Tanda neoplasama hipofaring c. Pemeriksaan penunjang yang sensitif dan spesifik d. Memilah diagnosis banding dan menentukan diagnosis kerja(harus ada DD) e. Rencana penatatalaksanan neoplasma hipofaring Tujuan 5. Melakukan keputusan untuk pemeriksan penunjang. Misalkan : endoskopi dan biopsi, CT Scan Leher/MRI Leher Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: a. Literatur reading b. Referat. c. Bedside teaching d. Skill lab e. Praktek poliklinik f. Praktek operasi Harus diketahui : Pemeriksaan penunjang yang sensitif dan spesifik Tujuan 6. Membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhubungan dengan neoplasma hipofaring Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: a. Literatur reading b. Referat. c. Bedside teaching d. Skill lab e. Praktek poliklinik f. Praktek operasi
Modul VII.12 - Neoplasma Hipofaring 6 Harus diketahui : a. Tanda pasti tentang adanya kelainan kongenital b. Pemeriksaan penunjang yang sensitif dan spesifik c. Memilah diagnosis banding dan menentukan diagnosis kerja d. Rencana pengobatan atau tatalaksana pasien Tujuan 7. Membuat keputusan klinik untuk pharyngectomy Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: a. Literatur reading b. Referat. c. Bedside teaching d. Skill lab e. Praktek poliklinik f. Praktek operasi Harus diketahui : a. Prosedur konservatif b. Prosedur operatif c. Prosedur alternatif Tujuan 8. Perawatan penderita pra dan pasca operatif serta mampu mengatasi komplikasi Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: a. Literatur reading b. Referat. c. Bedside teaching d. Skill lab e. Praktek poliklinik f. Praktek operasi Harus diketahui : a. Point penting untuk tatalaksana b. Jenis-jenis terapi yang direkomendasikan c. Kondisi atau situasi penting untuk membuat keputusan untuk merujuk I. EVALUASI 1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri atas : a. Menjelaskan anatomi, topografi, histologi dan fisiologi hipofaring b. Menjelaskan patogenesis neoplasma hipofaring c. Menjelaskan gejala klinis neoplasma hipofaring d. Melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik pada neoplasma hipofaring e. Melakukan keputusan untuk pemeriksan penunjang seperti endoskopi, biopsi, CT-Scan Leher dan atau MRI Leher f. Membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan
Modul VII.12 - Neoplasma Hipofaring 7 pemeriksaan tambahan yang berhubungan dengan neoplasma hipofaring g. Menentukan terapi yang tepat pada kasus neoplasma hipofaring h. Melakukan rujukan pada fasilitas kesehatan yang lebih tinggi 2. Selanjutnya dilakukan small group discussion bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal- hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian. 3. Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk role play dan teman-temannya (Peer Assisted Evaluation) atau kepada SP (Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assisted Evaluation) setelah dianggap memadai, melalui metode bedside teaching dibawah pengawasan fasilitator, peserta dididik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomi dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut : Perlu perbaikan: pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan. Cukup: pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien. Baik: pelaksanaan benar dan baik (efisien) 4. Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan. 5. Self assesment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar. 6. Pendidik/ fasilitas: a. Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form (terlampir) b. Penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi c. Kriteria penilaian keseluruhan : cakap/ tidak cakap/ lalai
Modul VII.12 - Neoplasma Hipofaring 8 7. Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education) 8. Pencapaian pembelajaran: a. Ujian OSCE (K,P,A), dilakukan pada tahapan T.H.T.K.L dasar oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L b. Ujian akhir stase, setiap divisi / unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan T.H.T.K.L lanjut oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L. c. Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan T.H.T.K.L lanjut oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L. d. Ujian akhir profesi (kasus bedah), dilakukan pada akhir pendidikan oleh Kolegium I T.H.T.K.L J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF Kuesioner meliputi : 1. Sebelum pembelajaran 1. Sebutkan daerah mana dari hipofaring yang paling sering ditemukan adanya neoplasma? a. Sinus Piriformis b. Dinding posterior faring c. Post cricoid space d. Semuanya Benar e. BSSD Jawaban : 2. Sebutkan faktor resiko yang paling sering menjadi penyebab neoplasma hipofaring? a. Alkohol b. Merokok c. Mengkonsumsi Sirih d. Makanan berpengawet e. Makanan berminyak Jawaban : 3. Sebutkan gejala klinis neoplasma hipofaring? a. Suara serak,sesak,pembesaran kelenjar b. Coughing,chocking,gasping,gangging c. Disfagia,hoarseness,massa pada leher,penurunan berat badan, nyeri tenggorok,dan otalgia. d. Disfonia menetap, rasa mengganjal di tenggorok, sering mendehem (clearing throat) tanpa mengeluarkan sekret, disfagia e. Odinofagia, nyeri tenggorokan, malaise, demam, batuk, mual Jawaban :
Modul VII.12 - Neoplasma Hipofaring 9 2. Tengah pembelajaran 1. Sebutkan pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk mendiagnosis neoplasma hipofaring? a. CT Scan leher dan FNA b. USG leher dan FNA c. USG leher dan CT Scan leher d. CT scan leher dan biopsi e. FNA dan Biopsi Jawaban : 2. Sebutkan tatalaksana untuk neoplasma hipofaring a. Radiasi b. Kemoterapi c. Radiasi dan pembedahan d. Kemoterapi dan pembedahan e. Pembedahan,radiasi dan kemoterapi Jawaban : 3. Akhir pembelajaran 1. Sebutkan tatalaksana neoplasma hipofaring yang telah mempunyai metastase KGB? a. RND,Pembedahan dan radiasi b. Radiasi dan pembedahan c. Radiasi dan kemoterapi d. Pembedahan dan RND e. Pembedahan dan kemoterapi Jawaban : 2. Sebutkan pendekatan pembedahan pada neoplasma hipofaring? a. Eksisi internal b. Eksisi eksternal c. Eksis internal dan eksternal d. Eksisi trans oral e. Eksisi intra oral Jawaban : 3. Sebutkan komplikasi yang dapat terjadi pasca prosedur faringektomi? a. Fistula laring,stenosis,aspirasi b. Infeksi,stenosis,perdarahan c. Perdarahan,aspirasi,stenosis d. A dan B benar e. A,B dan C benar Jawaban :
Modul VII.12 - Neoplasma Hipofaring 10 K. INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR BIOPSI NEOPLASMA HIPOFARING Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.: 1 Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan) 2 Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal 3 Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien 4 T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan) NAMA PESERTA: ...................................... TANGGAL: ................................. KEGIATAN KASUS 1 2 3 T/D PERSIAPAN OPERASI x Nama x Diagnosis x Informed Choice & Informed Consent x Rencana Tindakan x Persiapan Sebelum Tindakan 1. Laringoskopi Kleinseser 2. Forsep biopsy mikro 3. Suction 4. Pelilit kapas micro 5. AgNO3 6. Telescope 0 7. Kamera system 8. Sumber cahaya + kabel sumber cahaya
Modul VII.12 - Neoplasma Hipofaring 11 KEGIATAN KASUS 1 2 3 T/D i. Pasien tidur terlentang dalam anestesi umum. Kepala hiperekstensi ii. Masukkan laringoskop kleinseser pada mulut menggunakan tangan kiri (sebelumnya lindungi gigi atas dengan kassa) menyusuri palatum, uvula, dinding faring posterior hingga tampak epiglottis iii. Singkap epiglotis ke atas agar tepat berada di atas ujung laringoskop sehingga tampak pita suara dan rima glottis atau massa tumor iv. Fiksasi laringoskop v. Lakukan suction jika terdapat sekret yang mengahalangi vi. Lakukan biopsi tumor dengan menggunakan forsep biopsi micro vii. Perdarahan diatasi dengan pelilit kapas yang dibasahi AgNO3 PASCA BIOPSI a. Pemberian antibiotik dan analgetik b. Selama perawatan pasien dianjurkan tidak banyak bicara c. Perawatan kanul trakeostomi bila sebelumnya dilakukan trakeostomi L. DAFTAR TILIK BIOPSI NEOPLASMA HIPOFARING Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini: 9 : Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar ±: Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar T/T: Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan disesuaikan peserta selama proses evaluasi oleh pelatih PESERTA: ____________________________TANGGAL :______________ KEGIATAN NILAI 9 ± T/T 1. Kaji ulang diagnosis 2. Menyiapkan peralatan operatif 3. Menyiapkan diri untuk tindakan operatif
Modul VII.12 - Neoplasma Hipofaring 12 KEGIATAN NILAI 9 ± T/T 4. Menyiapkan posisi pasien 5. Melakukan tindakan septik & anti septik PROSEDUR OPERASI Biopsi Neoplasma Hipofaring 1. Pasien tidur terlentang dalam anestesi umum. Kepala hiperekstensi 2. Masukkan laringoskop kleinseser pada mulut menggunakan tangan kiri (sebelumnya lindungi gigi atas dengan kassa) menyusuri palatum, uvula, dinding faring posterior hingga tampak epiglottis 3. Singkap epiglotis ke atas agar tepat berada di atas ujung laringoskop sehingga tampak pita suara dan rima glottis atau massa tumor 4. Fiksasi laringoskop 5. Lakukan suction jika terdapat sekret yang mengahalangi 6. Lakukan biopsi tumor dengan menggunakan forsep biopsi micro 7. Perdarahan diatasi dengan pelilit kapas yang dibasahi AgNO3 PASCA BIOPSI a. Pemberian antibiotik dan analgetik b. Selama perawatan pasien dianjurkan tidak banyak bicara c. Perawatan kanul trakeostomi bila sebelumnya dilakukan trakeostomi M. MATERI PRESENTASI Slide 1: Gejala Karsinoma Hipofaring o Sulit menelan (disfagia) o suara parau (hoarseness) o massa pada leher o penurunan berat badan o nyeri tenggorok o otalgia. Slide 2: Anamnesis dan Pemeriksaan Karsinoma Hipofaring Anamnesis: Gejala: sulit menelan (disfagia), suara parau (hoarseness), massa pada leher, penurunan berat badan, nyeri tenggorok, dan otalgia. Pemeriksaan fisik: laringoskopi indirek, rigid endoskopi, atau fleksibel melalui hidung Slide 3: Pemeriksaan Penunjang Diagnostik
Modul VII.12 - Neoplasma Hipofaring 13 Pemeriksaan penunjang: Pemeriksaan radiologi: x X-foto leher AP dan lateral (jaringan lunak) x CT Scan leher (bila tersedia fasilitas) x MRI Biopsi: Biopsi dilakukan dengan LI, LD atau LSO/FOL. Slide 4: Faktor Risiko Karsinoma Hipofaring Merokok adalah faktor resiko terpenting untuk kanker kepala dan leher (termasuk kanker pada hipofaring). Konsumsi alkohol juga meningkatkan resiko terkena kanker. Peminum berat memiliki resiko yang lebih tinggi beberapa kali daripada yang bukan peminum. Orang yang mengkonsumsi keduanya, tembakau dan alkohol memiliki resiko yang paling tinggi. Mengkombinasikan kedua kebiasaan tersebut bukan menambah resiko, tetapi malah melipat gandakannya. Slide 5: Tatalaksana Pengobatan sangat kompleks dan memerlukan pertimbangan beberapa faktor Faktor: Sejauh mana penyakit primer dan status kelenjar getah bening leher, status generalis pasien, pemeriksaan paru, dan komorbiditas Pengobatan untuk stadium awal (T1 dan T2), terapi radiasi definitif adalah pilihan pengobatan yang utama. Operasi faring juga dapat dipertimbangkan untuk pasien yang mempunyai indikasi untuk dilakukan operasi Untuk kanker hipofaring stadium lanjut (T3 dan T4), reseksi pembedahan di ikuti dengan terapi radiasi pasca operasi tetap menjadi pilihan terapi standar Terapi pembedahan dilakukan terhadap tumor-tumor pada semua stadium yang belum mempunyai metastasis ke leher atau metastasis jauh. Pada tumor yang telah memberikan metastasis ke leher, sebelum tindakan operasi tumor primer dilakukan tindakan diseksi leher radikal dan dilanjutkan dengan penyinaran. Untuk tumor yang sudah bermetastasis jauh hanya diberikan terapi sitostatika. N. MATERI BAKU Neoplasma Hipofaring Definisi Neoplasma yang mengenai struktur hipofaring, termasuk sinus piriformis. Etiologi Merokok adalah 90 persen faktor resiko terpenting untuk kanker kepala dan leher (termasuk kanker pada hipofaring). Konsumsi alkohol juga meningkatkan resiko terkena kanker. Peminum berat memiliki resiko yang lebih tinggi beberapa kali daripada yang bukan peminum. Orang yang mengkonsumsi keduanya, tembakau dan alkohol memiliki resiko yang paling tinggi. Kombinasi dari kedua kebiasaan
Modul VII.12 - Neoplasma Hipofaring 14 tersebut bukan menambah resiko, tetapi malah melipat gandakannya. Literatur lain menyebutkan adanya sindrom Plummer Vinson dan gastroesofageal reflux yang menjadi faktor predisposisi untuk kanker hipofaring, sementara HPV tidak dihubungkan dengan kanker hipofaring. Epidemiologi Hipofaring adalah organ yang jarang dikenai tumor, mayoritas adalah ganas dan ditemukan kurang dari 3 persen dari semua keganasan karsinoma sel skuamosa kepala leher secara keseluruhan. Kekerapan keseluruhan di dunia barat adalah satu per 100.000 per tahunnya. Terdapat insiden yang tinggi di utara Perancis sebesar 14.8 per 100.000 per tahun, merupakan 18 persen dari kanker kepala dan leher yang tercatat. Distribusi geografis kanker hipofaring Lokasi USA Eropa Eropa Utara Sinus Piriformis 66-75 % 75-80 % 60 % Dinding posterior faring 20-25 % 20-25 % 10 % Post cricoid Space >10 % >15 % 30 % Diagnosis 1. Anamnesis Gejala: sulit menelan (disfagia), suara parau (hoarseness), massa pada leher, penurunan berat badan, nyeri tenggorok, dan otalgia. Pemeriksaan fisik: laringoskopi indirek, rigid endoskopi, atau fleksibel melalui hidung. 2. Pemeriksaan penunjang: Pemeriksaan radiologi: CT Scan leher (bila tersedia fasilitas) MRI Biopsi: dilakukan dengan LI, LD atau LSO/FOL. Penentuan Stadium Karsinoma hipofaring Tumor primer (T) : Tx : adanya tumor primer belum dapat ditentukan Tis : karsinoma in situ T1 : tumor terbatas di saWX DUHD KLSRIDULQJ GDQ DWDX XNXUDQ   FP T2 : Tumor menginvasi lebih dari satu area hipofaring atau struktur VHNLWDUQ\D DWDX EHUXNXUDQ !  FP WHWDSL   FP WDQSD ILNVDVL KHPLODULQJ
Modul VII.12 - Neoplasma Hipofaring 15 T3 : tumor > 4 cm atau terdapat fiksasi hemilaring atau terdapat ekstensi ke mukosa esofagus T4a : Moderately advanced local disease. Tumor menginvasi kartilago tiroid / krikoid. Os hyoid, kelenjar tiroid, m. esofagus atau jaringan lunak daerah central kompartmen T4b : very advanced local disease, tumor menginvasi fascia prevertebralis membungkus arteri carortis atau melibatkan struktur mediastinum Kelenjar limfe regional (N): Nx : kelenjar limfe tidak dapat ditentukan No : tidak ada metastasis kelenjar limfe regional. N1 : metastasis pada satu kelenjar limfe single ipsilateral,   FP (1( -) N2a : PHWDVWDVLV SDGD NHOHQMDU OLPIH LSVLODWHUDO VLQJOH !FP   FP (1( -) N2b : PHWDVWDVLV SDGD PXOWLSOH NHOHQMDU OLPIH LSVLODWHUDO   FP (1( -) N2c : PHWDVWDVLV SDGD NHOHQMDU OLPIH ELODWHUDONRQWUDODWHUDO   FP (1( -) N3a : metastasis pada kelenjar limfe > 6 cm ENE (-) N3b : metastasis pada kelenjar limfe yang secara klinis menunjukkan ENE + Metastasis jauh (M): Mo : tidak ada metastasis jauh M1 : terdapat metastasis jauh Stadium Anatomi/ Kelompok Prognosis : Stadium 0 Tis No Mo Stadium I T1 No Mo Stadium II T2 No Mo Stadium III T3 No Mo T1,2,3 N1 Mo Stadium IVa T4a N0,N1, M0 T1,T2,T3,T4a N2 Mo Stadium IVb T4b any N Mo any T N3 M0 Stadium IVc any T any N M1 Diagnosis banding Tumor laring, tumor orofaring Penatalaksanaan Pengobatan pasien dengan kanker hipofaring sangat kompleks dan memerlukan pertimbangan beberapa faktor. Beberapa factor tersebut yaitu, termasuk sejauh mana penyakit primer dan status kelenjar getah bening leher serta status generalis pasien, pemeriksaan paru, dan komorbiditas, harus
Modul VII.12 - Neoplasma Hipofaring 16 dipertimbangkan. Pengobatan untuk stadium awal (T1 dan T2) dari semua subsites dari hipofaring, terapi radiasi definitif adalah pilihan pengobatan yang utama. Operasi faring juga dapat dipertimbangkan untuk pasien yang mempunyai indikasi untuk dilakukan operasi. Untuk kanker hipofaring stadium lanjut (T3 dan T4), reseksi pembedahan di ikuti dengan terapi radiasi pasca operasi tetap menjadi pilihan terapi standar. Terapi pembedahan dilakukan terhadap tumor-tumor pada semua stadium yang belum mempunyai metastasis ke leher atau metastasis jauh. Pada tumor yang telah memberikan metastasis ke leher, sebelum tindakan operasi tumor primer dilakukan tindakan diseksi leher radikal dan dilanjutkan dengan penyinaran. Untuk tumor yang sudah bermetastasis jauh hanya diberikan terapi sitostatika. Eksisi internal Teknik operasi dari hypopharyngectomy parsial transoral telah dikenal dengan baik, dan preferensi saat ini adalah dengan menggunakan teknik endoskopi dengan laser karbon dioksida. Sebuah supraglottoscope digunakan untuk pemaparan dari hipofaring pada pasien yang diintubasi secara oral. Pada pasien dimana tumor telah menyebar ke kaudal dan melibatkan orofaring atau bahkan nasofaring, mouth gag juga digunakan. Pada lesi yang melibatkan dinding posterior hipofaring, garis reseksi diambil sekitar tumor dengan laser pada awal prosedur, diikuti dengan melakukan insisi yang lebih dalam yang dibuat menggunakan laser sekitar 1 cm arah kranial dari perbatasan superior tumor, sampai mengenai fasia prevertebral. Dengan insisi ini, volume tumor dengan semua lapisan dinding faring direseksi secara lengkap atau total dari fasia prevertebral menggunakan laser CO2, persis seperti pisau bedah atau gunting, tapi tetap dalam batas-batas eksisi yang telah ditandai sejak awal. Karena graft tidak menutupi luka secara adekuat, proses penyembuhan sebagian besar biasanya melalui penyembuhan sekunder, membutuhkan waktu 3-4 minggu untuk membentuk jaringan granulasi dan penyembuhan. Dalam kasus tersebut, penggunaan trakeostomi dan nasogastric tube feeding jarang diperlukan. Dinding hypopharyngeal bagian lateral dan medial dari sinus Piriform dapat ditangani dengan cara yang sama. Jika pembuluh darah lebih dari 0,5 mm ditemukan, maka dilakukan dengan klem alligator, dikoagulasi dan dipisahkan dengan laser. Tumor Postcricoid hanya dilakukan reseksi, bila tumor terbatas pada satu arytenoid dan tidak menginfiltrasi kartilago krikoid. Juga jika puncak dari sinus Piriform terlibat atau kanker postcricoid bagian bawah, akses mungkin sulit atau tidak mungkin untuk dapat melihat, dan jika direseksi dengan margin yang aman, penderita-penderita berada pada risiko tinggi untuk berkembang menjadi stenosis faring, yang mungkin memerlukan operasi lanjutan. Komplikasi dilaporkan dengan penggunaan laser eksisi termasuk infeksi lokal, emfisema, pharyngocutaneus fistula, perdarahan pasca operasi, dyspnoea karena edema atau stenosis, kesulitan menelan dan masalah aspirasi, termasuk pneumonia. Eksisi eksternal Pharyngectomi parsial, laryngektomi parsial, perbaikan flap Kanker dinding posterior faring dan beberapa jenis kanker dari dinding
Modul VII.12 - Neoplasma Hipofaring 17 lateral sinus Piriform mungkin cukup kecil untuk dilakukan eksisi lokal melalui pendekatan pharyngotomy lateral dan perbaikan primer dengan kulit, jaringan bebas atau dapat disembuhkan dengan tindakan sekunder. Namun, pasien ini perlu diseleksi secara ketat sehingga laring dapat dipertahankan, dengan morbiditas yang minimal. Jenis-jenis jaringan yang digambarkan untuk digunakan dalam defect tersebut meliputi radial forearm, flap otot platysma dan flap pectoralis myocutaneus. Banyak peneliti telah menganjurkan penggunaan operasi laring parsial dengan pharyngectomi parsial. Ogura dan Mallen menyebutkan pasien yang menderita kanker dinding medial sinus Piriform tanpa keterlibatan apex, yang mana cocok untuk pengobatan dengan laryngopharyngectomy parsial. Mereka menganjurkan memasuki hypoparynx yang jauh dari tumor secara klinis, memungkinkan paparan bedah dari lesi, sambil menjaga sebanyak mungkin dinding faring untuk rekonstruksi berikutnya. Luasnya reseksi laring tergantung pada tingkat keterlibatan dari tumor primer sinus Piriform dan jaraknya dari laryngectomy subglotic ke reseksi arytenoid. Penggunaan hemilaryngopharyngectomy supracricoid dipopulerkan pada pertengahan 1960-an dan diindikasikan untuk tumor dari bagian atas supracricoid dari sinus Piriform dan karsinoma dari dinding lateral dengan mobilitas normal dari pita suara. Penggunaan near total laryngectomy juga telah dianjurkan untuk kanker stadium lanjut dari sinus Piriform, yang meliputi situs dinding lateral dan medial, dengan atau tanpa fiksasi dari pita suara. Prosedur ini, akhir-akhir ini dilaporkan telah berhasil mempertahankan fungsi berbicara dan tidak adanya aspirasi saat menelan, sehingga banyak pasien dapat terhindar dari tracheostomi permanen. Total laryngectomy dan pharyngectomy parsial - primer dengan dan tanpa penutupan flap Pada sebagian besar pasien di seluruh dunia yang menderita kanker hypoparynx, lokasi primer subsite adalah sinus Piriform. Pengobatan bedah kanker ini membutuhkan laryngectomy total dan pharyngectomy parsial. Indikasi untuk prosedur ini meliputi keterlibatan puncak sinus, keterlibatan sebagian mukosa postcricoid, dan invasi kartilago tiroid atau adanya kelumpuhan hemilarynx. Setelah laryngectomy total dengan pharyngectomy parsial, adalah mungkin untuk menutup faring terutama jika lebar terkecil dari sisa-sisa faring adalah 1,5 cm atau 2,5 cm jika dibentangkan tanpa adanya massa tumor. Jumlah ini, sisa jaringan faring yang cukup untuk mengembalikan fungsi menelan. Bila sisa jaringan kurang dari 50% atau <2,5 cm dari mukosa yang terbentang setelah pengangkatan tumor hypopharyngeal, maka mukosa yang tersisa perlu dilengkapi dengan 'patch technic' baik menggunakan flap jaringan bebas, seperti radial forearm atau pectoralis sebuah flap myocutaneus, ini akan meminimalkan kemungkinan fistula dan stenosis faring selanjutnya. Hal ini dianggap bahwa menggunakan 'patch technic' dalam keadaan seperti ini dapat menghasilkan fungsi menelan lebih baik daripada perbaikan defek circumferensial, penggunaan jaringan residual faring akan mempertahankan fisiologi yang akurat.
Modul VII.12 - Neoplasma Hipofaring 18 Konsep rekonstruksi hypopharyngeal harus berhadapan dengan pemulihan yang tidak mudah yang bukan merupakan pipa yang sederhana tetapi sesuatu yang kompleks yang terdiri dari kekuatan konstriktif dan pendorong dengan sirkuit sensorik yang halus. Pendekatan bedah yang dipilih harus bertujuan mencapai reseksi lengkap tumor dan pembentukan kembali dua fungsi utama: menelan dan fonasi. Untuk saat ini, penggunaan flaps bebas merupakan pilihan pertama untuk kedua rekonstruksi hypopharyngeal oncologi parsial dan total, dan pedikel flap harus dipertimbangkan hanya ketika flaps bebas kontraindikasi pada keadaan umum dan vaskular. Pharyngolaryngectomy total dan perbaikan flap Perlunya eksisi menyeluruh hipofaring disertai total laryngectomy, didasarkan pada perluasan tumor yang circumferencial dan adanya tumor pada area post cricoid, meluas pada atau melibatkan oeshopagus servical. Hipofaring adalah tabung berbentuk corong, dengan circumferrence bagian atas yang lebih besar yang menyempit ke persimpangan pharyngo-esofagus. Oleh karena kanker pada ujung bawah hypoparynx dan oeshopagus atas, memerlukan reseksi circumferrential lengkap serta perbaikan. defek pembedahan membutuhkan pengganti tubular yang dapat berupa kulit dan otot (myocutaneus atau jaringan bebas), viskus (baik jejenum, caecum, kurvatora mayor dari perut dengan omentum atau pedicled perut) atau graft usus besar. Masalah-masalah atau kesulitan yang berhubungan dengan primer dan sekunder hypopharyngectomy berbeda, dan defek bedah mengharuskan tindakan yang berbeda dan harapan yang realistis, tidak hanya oleh dokter tetapi oleh pasien dan perawat. Pasien dipertimbangkan untuk operasi penyelamatan adalah kelompok berisiko tinggi baik dari segi morbiditas operasi dan kelangsungan hidup. Telah diusulkan untuk menggunakan gastro-omentum flap karena secara anatomi, fisiologis dan imunologis adalah ideal untuk rekonstruksi dalam perbaikan defek bedah, terutama untuk kanker hypopharyngeal. Bila dianggap gagal terhadap pengobatan primer maka dengan menggunakan kemoradioterapi. Pasien dengan nodul metastasis, penyebaran ekstra kapsulere dan tumor berdiferensiasi buruk cenderung pasrah pada penyakit mereka dan harus dipilih untuk memperoleh terapi adjuvan bila memungkinkan. Teknik rekonstruksi ideal untuk defek circumferensial dari hipofaring dan esofagus atas harus memiliki banyak faktor seperti, margin bedah yang memadai, terutama tepi inferior, atau pembentukan fistula, waktu yang singkat untuk menelan, terdengar normal untuk berbicara sehari-hari, kemampuan jaringan untuk bertahan terhadap radioterapi pasca operasi dengan atau tanpa kemoterapi, penanganan yang simultan pada saat yang sama sebagai operasi eksisi untuk mengurangi waktu operasi, rawat inap pendek, dan tim dokter bedah yang berpengalaman terhadap prosedur dan penanganan komplikasi Kelenjar getah bening leher Mengingat kecenderungan yang tinggi akan adanya metastase ke kelenjar getah bening leher pada pasien kanker hypopharyngeal, maka perhatian terhadap hal ini sama pentingnya dengan reseksi dan perbaikan defek primer. Metode
Modul VII.12 - Neoplasma Hipofaring 19 pengobatan nodul metastasis akan tergantung kepada metode pengobatan utama apakah itu adalah operasi, radioterapi atau kemoterapi. Untuk pasien dengan tidak ada kelenjar getah bening leher yang teraba (N0), dilakukan selectif neck disection untuk mengangkat kelenjar getah bening di level II, III, dan IV yang dilakukan dengan reseksi dari tumor primer. Ketika pembesaran kelenjar getah bening teraba, maka modified neck disection harus dipertimbangkan. Pembesaran kelenjar getah bening sepanjang paratrakeal harus dicari ketika tumor primer terletak dibawah dari sinus Piriform atau ruang postcricoid. Kadang-kadang, upper mediastinum perlu dibuka dan mediastinal neck disection dilakukan. Instrumen yang diperlukan 1. Scalpel 2. Mata Pisau 3. Gunting Mayo Bengkok 4. Gunting Diseksi Metzembaum 5. Gunting Bengkok Ferguson 6. Pinset Anatomis 7. Pinset Chirurgis 8. Klem Allis 9. Mosquito 10. Klem Arteri Roberts 11. Klem Kocher 12. Needle Holder 13. Retraktor 14. Langenbeck 15. Kanula Suction 16. Monopolar dan Bipolar Elektrokauter 17. Jarum 18. Benang Catgut Chromic 19. Benang Silk Teknik Operasi Faringektomi Suprahyoid a. Insisi kulit horizontal di atas tulang hioid hingga mencapai valeculla b. Insisi di perlebar ke lateral hingga cornu mayor tulang hioid, hindari cedera pada N.laringeus superior dan N.hipoglosus c. Os hioid di angkat, d. Masuk ke dalam lumen faring secara lateral dan medial e. Insisi pada dinding posterior hipifaring dilanjutkan ke bawah hingga fascia prevertebral f. Jika tumor meluas ke ruang pravertebral maka otot prevertebral harus dipotong g. Defek pada dinding posterior hipofaring dapat direkonstruksi dengan split-thickness/dermal skin graft h. Setelah reseksi dinding posterior, skin graft dijahit ke bipedikel
Modul VII.12 - Neoplasma Hipofaring 20 prevertebral atau otot pectoralis miofasial flap. i. Faringotomi ditutup dengan lapisan dengan menghindari jahitan ligasi dari nervus hipoglosal dan nervus laryngeus superior j. Insisi kulit horizontal di atas tulang hioid hingga mencapai valeculla k. Insisi di perlebar ke lateral hingga cornu mayor tulang hioid, hindari cedera pada N.laringeus superior dan N.hipoglosus l. Os hioid di angkat, m. Masuk ke dalam lumen faring secara lateral dan medial n. Insisi pada dinding posterior hipifaring dilanjutkan ke bawah hingga fascia prevertebral Pasca Faringektomi 1. Pemberian antibiotik dan analgetik 2. Selama perawatan pasien dianjurkan tidak menelan ludah 3. Asupan nutrisi melalui nasogastric tube (NGT) selama 10-14 hari 4. Dilakukan tes minum sebelum NGT dicabut, dapat dicoba asupan oral 2 sampai 3 minggu setelah operasi. 5. Selama perawatan diobservasi ada tidaknya komplikasi. 6. Drain dilepas bila cairan <25 cc. 7. Jahitan dilepas hari ke tujuh bartahap hingga hari ke sepuluh. Komplikasi operasi 1. Perdarahan 2. Kerusakan dari dinding posterior trakea 3. Sikatriks 4. Leakage pasca rekonstruksi faring Follow Up a. Pemberian antibiotik dan analgetik b. Selama perawatan pasien dianjurkan tidak menelan ludah c. Asupan nutrisi melalui nasogastric tube (NGT) selama 10-14 hari d. Dilakukan tes minum sebelum NGT dicabut, dapat dicoba asupan oral 2 sampai 3 minggu setelah operasi. e. Selama perawatan diobservasi ada tidaknya komplikasi. f. Drain dilepas bila cairan <25 cc. g. Jahitan dilepas hari ke tujuh bartahap hingga hari ke sepuluh.
MODUL UTAMA ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER MODUL VII.13 NEOPLASMA KELENJAR TIROID EDISI III KOLEGIUM ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER 2022
DAFTAR ISI A. WAKTU ................................................................................................................... 1 B. PERSIAPAN SESI ................................................................................................... 1 C. REFERENSI ............................................................................................................. 1 D. KOMPETENSI ......................................................................................................... 2 E. GAMBARAN UMUM ............................................................................................. 2 F. CONTOH KASUS ................................................................................................... 2 G. TUJUAN PEMBELAJARAN .................................................................................. 3 H. METODE PEMBELAJARAN ................................................................................. 3 I. EVALUASI DAN INSTRUMEN PENILAIAN ...................................................... 6 J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF ...................................... 8 K. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR ............................... 9 L. DAFTAR TILIK PENILAIAN PSIKOMOTOR .................................................. 11 M. MATERI PRESENTASI ..................................................................................... 13 N. MATERI BAKU .................................................................................................... 14
Modul VII.13 - Neoplasma Kelenjar Tiroid 1 MODUL VII.13 ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER: NEOPLASMA KELENJAR TIROID A. WAKTU Mengembangkan Kompetensi Alokasi Waktu Sesi di dalam kelas Sesi dengan fasilitas pembimbing Sesi praktek dan pencapaian kompetensi 2 x 90 menit (classroom session) 2 x 60 menit (coaching session) 36 Jam (facilitation and assessment) B. PERSIAPAN SESI x Materi presentasi: Struma Nodosa Non Toksik a. Power point b. Video x Kasus: Struma nodosa non toksik x Sarana dan Alat Bantu Latih: a. Penuntun belajar (learning guide): terlampir b. Tempat belajar (training setting): instalasi rawat inap, instalasi rawat jalan, kamar operasi, ruang praktikum, ruang kuliah c. Model/manekin atau kadaver d. Komputer/laptop e. Infocus C. REFERENSI 1. Zhang I, Jablonski SD, Ferris RL. Treatment of Thyroid Neoplasms. In: Bailey BJ, Johnson JT, et al. Head & Neck Surgery-Otolaryngology. 5 th ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2014. Vol 2; p. 2115-30 2. Scharpf J, Randolph GW. Thyroid and Parathyroid Glands. In: Lee KJ, ed. Essential Otolaryngology Head & Neck Surgery. 11 th ed. New York: McGraw- Hill Education; 2016. p. 606-40 3. Cracchiolo JR, Shaha AR. Thyroid Cancer. In: Myers J, Hanna E, Myers E, ed. Cancer of The Head and Neck. 5 th ed. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2017. p. 812-54 4. Shah JP. Thyroid and Parathyroid Glands. In: Shah JP, ed. Head and Neck Surgery and Oncology. 5 th ed. Philadelphia: Elsevier; 2020. p. 489-556 5. Amin MB, et al. Thyroid ± Differentiated and Anaplastic Carcinoma. In: Amin MB, Edge SB, Greene FL, et al. AJCC Cancer Staging Manual. 8 th ed. Chicago; Springer Nature; 2018. p. 881-910 6. Pfister DG, Spenser S, Adelstein D, Adkins D, Brizel DM, Burtness BA. NCCN Clinical Practise Guidelines in Oncology. Head and Neck Cancer: National Comprehensive Cancer Network; 2020. 225 p.
Modul VII.13 - Neoplasma Kelenjar Tiroid 2 D. KOMPETENSI a. Pengetahuan Menegakkan diagnosis neoplasma tiroid (struma nodosa non toksik) berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang b. Keterampilan Setelah Mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam: a. Menjelaskan anatomi, topografi, histologi, dan fisiologi tiroid b. Menjelaskan patogenesis neoplasma tiroid c. Menjelaskan gejala dan tanda neoplasma tiroid d. Melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik pada neoplasma tiroid e. Melakukan keputusan untuk pemeriksan penunjang seperti biopsi aspirasi jarum halus (BAJH)/fine needle aspiration biopsy (FNAB), Faal Tiroid, USG tiroid, dan CT Scan tiroid f. Membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhubungan dengan neoplasma tiroid g. Menentukan pilihan terapi pada kasus neoplasma tiroid h. Melakukan tindakan pembedahan pada penderita neoplasma tiroid (tiroidektomi) i. Merawat penderita pra operatif, memberi penjelasan kepada penderita dan keluarga (informed consent), dan pasca operasi serta mampu mengatasi komplikasi yang terjadi E. GAMBARAN UMUM Neoplasma tiroid adalah adanya massa/benjolan abnormal pada kelenjar tiroid. Massa/benjolan tersebut tumbuh membesar dari sel kelenjar tiroid. Pembesaran tersebut bisa menjadi non-cancerous (jinak) atau cancerous (ganas). Beberapa massa tersebut dapat berbentuk nodul yang berisi cairan (kista), dapat pula padat. Patologi neoplasma tiroid bervarasi, dapat berupa nodul jinak atau ganas. Pada kasus ganas dapat disertai keluhan suara serak (parau). Neoplasma tiroid yang besar dapat menekan jalan napas (laring/trakea) dengan gejala sesak napas. F. CONTOH KASUS Seorang perempuan, berusia 45 tahun datang ke poli T.H.T.K.L dengan keluhan utama benjolan pada leher depan. Benjolan tidak diketahui sejak kapan namun baru disadari sejak 2 minggu yang lalu, sebesar kelereng, tidak nyeri, bergerak saat menelan, warna kulit tidak berubah. Tidak didapatkan suara parau dan gangguan menelan. Penderita masih dapat makan dan minum dengan baik. Temperatur tubuh 36,7 0 C dan pemeriksaan lekosit darah adalah 4.300. Diskusi: a. Diagnosis banding neoplasma leher anterior b. Indikasi tiroidektomi Jawaban:
Modul VII.13 - Neoplasma Kelenjar Tiroid 3 a. Diagnosis banding - Struma uninodosa non toksik - Struma multinodosa non toksik - Karsinoma tiroid (papiler/folikuler/meduler/anaplastik) - Kista duktus tiroglosus b. Indikasi tiroidektomi: 1. Goiter besar/multinodular goiter 2. Kanker tiroid 3. Penderita tirotoksikosis yang tidak responsif terapi medikamentosa 4. Gejala penekanan akibat tonjolan tumor (disfagia, sesak, dan/atau suara serak) 5. Alasan kosmetik G. TUJUAN PEMBELAJARAN 1. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan mampu untuk menegakkan diagnosis dan melakukan terapi terhadap neoplasma leher anterior. 2. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan mampu untuk: 1. Menguasai anatomi, topografi, histologi, dan fisiologi tiroid (tingkat kompetensi K3, A3) 2. Mampu menjelaskan patogenesis neoplasma tiroid (tingkat kompetensi K3, A3) 3. Menjelaskan gejala dan tanda neoplasma tiroid (tingkat kompetensi K3, A3) 4. Melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik pada neoplasma tiroid (tingkat kompetensi K3, A3) 5. Melakukan keputusan untuk pemeriksan penunjang. Misalkan BAJH, USG tiroid, CT Scan tiroid. (tingkat kompetensi K3, P5, A3) 6. Membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhubungan dengan struma (tingkat kompetensi K3, P5, A3) 7. Membuat keputusan klinik untuk tiroidektomi (tingkat kompetensi K3, P5, A3) 8. Melakukan tindakan operasi tiroidektomi (tingkat kompetensi K3, P5, A3) 9. Merawat penderita pra dan pasca operatif serta mampu mengatasi komplikasi (tingkat kompetensi K3, P5, A3) H. METODE PEMBELAJARAN Setelah mengkuti sesi ini peserta didik akan mempunyai kemampuan dasar untuk menegakkan diagnosis struma nodosa non toksik (SNNT) dan mampu untuk menentukan terapi yang sesuai
Modul VII.13 - Neoplasma Kelenjar Tiroid 4 Tujuan 1. Menjelaskan anatomi, topografi, histologi, dan fisiologi tiroid Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metoda pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Small group discussion. 3. Peer assisted learning (PAL) 4. Bedside teaching. 5. Task based medical education. Tujuan 2. Mampu menjelaskan patogenesis struma Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review. 3. Peer assisted learning (PAL) 4. Bedside teaching. 5. Task based medical education. Tujuan 3. Menjelaskan gejala dan tanda struma Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review 3. Case simulation and investigation exercise 4. Equipment characteristics and operating instructions Tujuan 4. Melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik pada struma Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review 3. Case study 4. Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device) 5. Demonstration and Coaching 6. Practice with Real Clients Harus diketahui: 1. Metoda standar anamnesis 2. Gejala dan tanda pasti neoplasma tiroid 3. Pemeriksaan penunjang yang sensitif dan spesifik 4. Memilah diagnosis banding dan menentukan diagnosis kerja 5. Rencana pengobatan atau tata laksana pasien Tujuan 5. Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review.
Modul VII.13 - Neoplasma Kelenjar Tiroid 5 3. Morbidity and Mortality Case study 4. Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device). 5. Operative Procedure Demonstration and Coaching 6. Practice with Real Clients. 7. Continuing Professional Development Must to know keypoints: 1. Prosedur konservatif x Medikamentosa 2. Prosedur operatif x Lobektomi total x Isthmulobektomi x Tiroidektomi total x Tiroidektomi total dengan diseksi leher x Tiroidektomi total dengan laringektomi Tujuan 6. Membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhungan dengan struma Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review 3. Case study 4. Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device) 5. Demonstration and Coaching 6. Practice with Real Clients Harus diketahui: 1. Work-up Key Points 2. Indikasi pemilihan pemeriksaan tambahan 3. Analisis data untuk menegakkan diagnosis Tujuan 7. Menentukan terapi yang tepat pada kasus struma Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review 3. Case study 4. Practice with Real Clients Harus diketahui: 1. Terapi medikamentosa 2. Terapi pembedahan berdasarkan AMES,AGES Tujuan 8. Melakukan tindakan pembedahan (tiroidektomi) Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture
Modul VII.13 - Neoplasma Kelenjar Tiroid 6 2. Journal reading and review 3. Case study 4. Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device) 5. Demonstration and Coaching 6. Practice with Real Clients Harus diketahui: 1. Jenis pembedahan (tiroidektomi) 2. Langkah-langkah pembedahan Tujuan 9. Melakukan perawatan penderita pra dan pasca pembedahan (tiroidektomi) Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review 3. Case study 4. Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device) 5. Demonstration and Coaching 6. Practice with Real Clients Harus diketahui: 1. Sermon of relaxation 2. Informed consent 3. Komplikasi operasi Rangkuman: Neoplasma tiroid banyak ditemukan pada orang dewasa, terutama wanita dengan ratio 3:1. Jenis dapat berupa jinak maupun ganas, tipe ganas yang paling sering adalah papiler. Penanganannya adalah tiroidektomi, tipe tiroidektomi disesuaikan dengan besar dan perluasan tumor. I. EVALUASI DAN INSTRUMEN PENILAIAN 1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pre- test terdiri atas: - Anatomi, topografi, histologi dan fisiologi tiroid - Penegakan diagnosis - Penatalaksanaan - Follow up 2. Selanjutnya dilakukan small group discussion bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian.
Modul VII.13 - Neoplasma Kelenjar Tiroid 7 3. Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk role play dan teman-temannya (Peer Assisted Evaluation) atau kepada SP (Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assisted Evaluation) setelah dianggap memadai, melalui metode bedside teaching dibawah pengawasan fasilitator, peserta dididik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomi dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut: 1. Perlu perbaikan: pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan. 2. Cukup: pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien. 3. Baik: pelaksanaan benar dan baik (efisien) 4. Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan. 5. Self assesment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar. 6. Pendidik/ fasilitas: - Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form (terlampir) - Penjelasan lisan dari peserta didik/diskusi - Kriteria penilaian keseluruhan: cakap/ tidak cakap/ lalai 7. Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education). 8. Pencapaian pembelajaran: - Ujian OSCE (K,P,A), dilakukan pada tahapan T.H.T.K.L dasar oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L - Ujian akhir stase, setiap divisi/unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan T.H.T.K.L lanjut oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L. - Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan T.H.T.K.L lanjut oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L. - Ujian akhir profesi (kasus bedah), dilakukan pada akhir pendidikan oleh Kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L
Modul VII.13 - Neoplasma Kelenjar Tiroid 8 J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF A. Kuesioner Sebelum Pembelajaran (Pre Test) Soal: 1. Diagnosis pasti struma ditegakkan melalui: A. CT Scan B. FNAB coli C. FNAB tiroid D. Ultrasonografi E. Biopsi insisional Jawab: C 2. Tumor leher kongenital tersering pada anak usia dibawah 15 tahun adalah: A. Kista dukstus tiroglosus B. Kista brankial C. Sialolitiasis D. Neoplasma E. Limfoma Jawaban: A 3. Pemeriksaan tambahan yang dapat digunakan menegakkan diagnosis tumor leher adalah: A. CT scan kepala leher dengan kontras B. Biopsi eksisi C. USG leher D. FNAB coli E. Benar semua Jawaban: E B. Kuesioner Tengah Pembelajaran Soal: Seorang laki-laki berusia 30 tahun datang dengan keluhan benjolan di leher kanan dirasakan sejak kecil tapi terasa membesar sejak 1 tahun yang lalu. Tidak ditemukan nyeri dan rasa mengganjal saat menelan. Benjolan setinggi level III, tidak melekat pada dasarnya. Tidak bergerak saat menjulurkan lidah maupun menelan. BAJH menunjukkan hasil kista brankialis. Bagaimana penatalaksanaan operatif kasus tersebut: A. Diseksi leher radikal modifikasi B. Diseksi leher supraomohioid C. Ekstirpasi tumor D. Ekstraksi tumor E. Biopsi eksisi Jawaban: C C. Kuesioner Akhir pembelajaran Soal: Seorang laki-laki usia 58 tahun datang dengan keluhan bercak hitam berkoreng pada daerah hidung. Pasein mengaku keluhan diawali dengan tahi lalat hitam yang makin lama membesar dan terasa gatal. Pasien mengaku sering tidak sengaja tergaruk sehingga timbul luka. Pada pemeriksaan T.H.T.K.L tidak ditemukan kelainan.
Modul VII.13 - Neoplasma Kelenjar Tiroid 9 Bagaimana cara mendiagnosis dan terapi pada kasus ini? Jawaban: x Dilakukan biopsi pada daerah lesi untuk menentukan histopatologinya x Jika positif neoplasma kulit kepala dan leher (melanoma maupun non melanoma) pilihan terapi adalah eksisi luas x Jika defek cukup luas bisa dilakukan skin graft atau flap kulit setelah eksisi luas K. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR TIROIDEKTOMI Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.: 1 Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan) 2 Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal 3 Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien 4 T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan) NAMA PESERTA: ..................................... TANGGAL: ................................. KEGIATAN KASUS 1 2 3 T/D I PERSIAPAN OPERASI 1. Informed consent 2. Menjelaskan tujuan operasi dan hasil yang diharapkan 3. Menjelaskan prosedur dan standar operasi pada pasien dan keluarganya 4. Melakukan evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi operasi II PROSEDUR OPERASI 1. Pasien dalam posisi supinasi dengan kepala hiperekstensi dengan bantal di bawah pundak 2. Desinfeksi lapangan operasi dengan non-iodine, lalu dipersempit dengan linen steril Æ gambar insisi pada daerah sefalokaudal (2 jari di atas sternal notch) dengan metilen blue. Dilakukan infiltrasi anestesi lokal di daerah insisi. 3. Insisi dengan scalpel dan diperdalam hingga m. platisma dengan elektrokauter 4. Dibuat flap subplatisma ke superior sampai kartilago tiroid notch dan ke inferior sampai sternal notch, kedua flap difiksasi ke atas dan ke bawah pada linen dengan benang silk 2.0
Modul VII.13 - Neoplasma Kelenjar Tiroid 10 KEGIATAN KASUS 1 2 3 T/D 5. idenfikasi vena jugularis anterior dan fasia di diinsisi pada pertengahannya. strap muscle terpapar. Linea alba teridentifikasi ke arah inferior dan diinsisi . 6. Otot sternohioid dan sternotiroid kanan kiri dipisahkan ke arah lateral dengan melepaskannya dari kapsul tiroid 7. Evaluasi dan identidikasi kelenjar tiroid. konsistensi, jenis nodul dan adanya lobus piramidalis atau abnormalitas 8. Diseksi a. Tiroidea superior dan v. Tiroidea superior dengan klem kemudian potong dan diligasi dengan silk 2.0 Hati-hati agar tidak mengganggu vaskularisasi dari kelenjar paratiroid 9. Bebaskan tiroid bagian superior, kemudian identifikasi n. Rekuren pada sulkus trakeoesofagus di bawah kelenjar tiroid yang terletak di antara kapsul posterior tiroid dan a. Tiroidea inferior 10. Bebaskan tiroid bagian lateral, kemudian identifikasi kelenjar Paratiroid pada permukaan posterior kelenjar Tiroid berdekatan dengan a. Tiroidea inferior 11. V. Tiroidea media dan inferior di ligasi dengan silk 2.0, kemudian tarik tiroid ke medial 12. Diseksi kelenjar paratiroid 13. N. Rekuren diindentifikasi dari lateral ke medial, dan perdarahan dikontrol. 14. Fasia pretrakeal ditembus dan bebaskan tiroid dari fasia trakea ke sisi kontralateral. kemudian kelenjar tiroid yang tersisa dijahit dengan silk 2.0 15. Transeksi ismus sampai kontralateral (ismulobektomi) 16. Spesimen yang telah diangkat diinspeksi 17. Pemasangan drain 18. Lapangan operasi di tutup dengan jahitan subkutikuler. 19. Operasi selesai III PASCA OPERASI b. Observasi tanda vital, sesak napas, perubahan suara, perdarahan, jumlah cairan pada drain, status lokalis: hematom atau oedem c. Memeriksa kadar kalsium darah, fungsi tiroid d. Pemberian antibiotika, antiperdarahan, e. Drain dilepas pada hari ke-2/cairan retensi <25 cc/hari f. Jahitan dilepas pada hari ke-7
Modul VII.13 - Neoplasma Kelenjar Tiroid 11 L. DAFTAR TILIK PENILAIAN PSIKOMOTOR DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA PROSEDUR TIROIDEKTOMI Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini: 9 : Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar ± : Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar T/T: Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih PESERTA: _________________________ TANGGAL :______________ KEGIATAN NILAI 9 ± T/T I PERSIAPAN OPERASI 1. Informed consent 1. Menjelaskan tujuan operasi dan hasil yang diharapkan 2. Menjelaskan prosedur dan standar operasi pada pasien dan keluarganya 3. Melakukan evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi operasi II PROSEDUR OPERASI 1. Pasien dalam posisi supinasi dengan kepala hiperekstensi dengan bantal di bawah pundak 2. Desinfeksi lapangan operasi dengan non-iodine, lalu dipersempit dengan linen steril Æ gambar insisi pada daerah sefalokaudal (2 jari di atas sternal notch) dengan metilen blue. Dilakukan infiltrasi anestesi lokal di daerah insisi. 3. Insisi dengan scalpel dan diperdalam hingga m.platisma dengan elektrokauter 4. Dibuat flap subplatisma ke superior sampai kartilago tiroid notch dan ke inferior sampai sternal notch, kedua flap difiksasi ke atas dan ke bawah pada linen dengan benang silk 2.0 5. idenfikasi vena jugularis anterior dan fasia di diinsisi pada pertengahannya. strap muscle terpapar. Linea alba teridentifikasi ke arah inferior dan diinsisi . 6. Otot sternohioid dan sternotiroid kanan kiri dipisahkan ke arah lateral dengan melepaskannya dari kapsul tiroid 7. Evaluasi dan identidikasi kelenjar tiroid. konsistensi, jenis nodul dan adanya lobus piramidalis atau abnormalitas
Modul VII.13 - Neoplasma Kelenjar Tiroid 12 KEGIATAN NILAI 9 ± T/T 8. Diseksi a. Tiroidea superior dan v. Tiroidea superior dengan klem kemudian potong dan diligasi dengan silk 2.0 Hati- hati agar tidak mengganggu vaskularisasi dari kelenjar paratiroid 9. Bebaskan tiroid bagian superior, kemudian identifikasi n. Rekuren pada sulkus trakeoesofagus di bawah kelenjar tiroid yang terletak di antara kapsul posterior tiroid dan a. Tiroidea inferior 10. Bebaskan tiroid bagian lateral, kemudian identifikasi kelenjar Paratiroid pada permukaan posterior kelenjar Tiroid berdekatan dengan a. Tiroidea inferior 11. V. Tiroidea media dan inferior di ligasi dengan silk 2.0, kemudian tarik tiroid ke medial 12. Diseksi kelenjar paratiroid 13. N. Rekuren diindentifikasi dari lateral ke medial, dan perdarahan dikontrol. 14. Fasia pretrakeal ditembus dan bebaskan tiroid dari fasia trakea ke sisi kontralateral. kemudian kelenjar tiroid yang tersisa dijahit dengan silk 2.0 15. Transeksi ismus sampai kontralateral (ismulobektomi) 16. Spesimen yang telah diangkat diinspeksi 17. Pemasangan drain 18. Lapangan operasi di tutup dengan jahitan subkutikuler. 19. Operasi selesai III PASCA OPERASI F. Observasi tanda vital, sesak napas, perubahan suara, perdarahan, jumlah cairan pada drain, status lokalis: hematom atau oedem, G. Memeriksa kadar kalsium darah, fungsi tiroid H. Pemberian antibiotika, antiperdarahan I. Drain dilepas pada hari ke-2/cairan retensi <25 cc/hari J. Jahitan dilepas pada hari ke-7
Modul VII.13 - Neoplasma Kelenjar Tiroid 13 M. MATERI PRESENTASI LCD 1: Anatomi dan Fisiologi Tiroid. Ukuran kelenjar tiroid LCD 2: Penatalaksanaan Neoplasma Tiroid
Modul VII.13 - Neoplasma Kelenjar Tiroid 14 N. MATERI BAKU Batasan Tumor tiroid adalah adanya massa/benjolan abnormal pada kelenjar tiroid. Massa/benjolan tersebut tumbuh membesar dari sel kelenjar tiroid. Pembesaran tersebut bisa menjadi non cancerous (jinak) atau cancerous (ganas). Beberapa massa tersebut dapat berbentuk nodul yang berisi cairan (kista), dapat pula padat. Kejadian mencapai 95% dari seluruh tumor endokrin, dan 2,5% dari seluruh keganasan. Sebagian besar tumor merupakan tumor jinak, dan angka keganasan mencapai 5%. Tumor ganas tiroid ditemukan pada perempuan tiga kali lebih banyak dibandingkan laki-laki, dan dua kali lebih berisiko menderita tipe anaplastik. Rata-rata penderita berusia 47 tahun dengan puncak usia 4549 thn pada perempuan, dan 6569 thn pada laki-laki. Faktor risiko antara lain genetik, usia tua, riwayat, kekurangan yodium saat kecil, riwayat terpapar radiasi, riwayat keluarga dengan penyakit yang sama, menderita penyakit *DUGQHU¶V syndrome, familial adenomatous polyposis, Carney complex atau &RZGHQ¶V V\QGURPH. Gejala klinis mencakup benjolan pada leher daerah tiroid dan suara parau. Pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratoium, BAJH, USG tiroid, dan dapat dilakukan pencitraan pada indikasi tertentu. Tipe tumor jinak tiroid adalah adenoma tiroid yang biasanya asimtomatis. Klasifikasi pada tumor ganas adalah berdiferensiasi baik dan buruk. Tipe tumor ganas berdiferensiasi baik terbagi atas tipe papiler (yang paling sering), folikuler dan sel hurtle, sedangkan yang berdiferensiasi buruk terbagi atas sel anaplastik dan tipe meduler. Tipe meduler merupakan tipe yang berasal dari sel parafolikuler. Survival rate dalam 10 tahun secara keseluruhan adalah 98%, yaitu 92% tipe papiler, 89% tipe folikuler, 80% tipe meduler, dan 13% tipe anaplastik. Penyakit ini dapat metastasis regional sebesar 34% kasus, dan metastasis jauh pada 5% kasus. Prognosis dapat menjadi buruk jika usia lebih dari 45 tahun, reseksi tumor inkomplet, perluasan ekstratiroid atau ke vaskular, keterlibatan kelenjar limfe dan terdapat metastasis. Risiko terjadi rekuren jika usia di bawah 20 tahun atau di atas 60 tahun, besar tumor lebih dari 4 cm, perluasan ekstratiroid atau ke vaskular, ukuran tumor lebih dari 4 cm, dan adanya keterlibatan kelenjar limfe. Masih terdapat kontroversi mengenai terapi dari karsinoma tiroid dan perluasan dari tiroidektomi. Intervensi penyakit ini juga sulit dievaluasi karena follow-up yang lama. Terapi pada tumor tiroid ini mencakup operasi tiroidektomi, radiasi dan kemoterapi serta ablasi. Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik 1. Anamnesis yang perlu ditanyakan adalah: a. Gejala yang dikeluhkan pasien mencakup benjolan leher daerah tiroid, suara
Modul VII.13 - Neoplasma Kelenjar Tiroid 15 parau b. Riwayat terpapar radiasi c. Riwayat keluarga dengan penyakit yang sama d. Menderita penyakit *DUGQHU¶V V\QGURPH IDPLOLDO DGHQRPDWRXV SRO\SRVLV Carney complex atau &RZGHQ¶V V\QGURPH 2. Manifestasi klinis: a. Teraba pembesaran leher di regio tiroid b. Pada benjolan leher ditentukan besar dan mobilitas, konsistensi. c. Kelainan lain (massa sekunder, ulkus, dan lain-lain) Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaan laboratorium a. Pemeriksaan TSH merupakan pemeriksaan screening yang utama. Kadar tiroglobulin tidak dapat membedakan sel jinak maupun ganas, namun dapat digunakan pada post tiroidektomi tipe berdiferensi baik. b. Serum kalsitonin pada penderita dengan riwayat keluarga mengidap tipe medular atau curiga tipe meduler c. Serum kalsium untuk menyingkirkan hiperparatiroid 2. FNAB/BAJH a. Tingkat akurasi 99%, sebagai gold standard b. Membedakan tumor jinak, ganas, dan tipe sel. 3. USG tiroid a. Indikasi pada pasien dengan keluhan benjolan leher b. Besar nodul, solid atau kistik, non toksik atau toksik 4. Pemeriksaan CT scan, MRI dan PET a. Jika lesi terfiksir b. MRI lebih akurat dari CT scan b. Evaluasi mediastinum, trakea, esofagus atau ekstratiroid 5. Laringoskopi indirek atau FOL Untuk evaluasi pita suara pada penderita yang mengeluh suara parau 6. Scan Tiroid Radionukleotida a. Jika TSH menurun Diagnosis Banding 1. Struma uninodosa non toksik 2. Struma multinodosa non toksik 3. Karsinoma tiroid (papiler/folikuler/meduler/anaplastik) 4. Kista duktus tiroglosus Klasifikasi Stadium TNM menurut AJCC edisi ke-8 pada Papiler, Folikuler, Poorly Differentiated, Sel Hurthle dan Karsinoma Tiroid Anaplastik Kategori Kriteria
Modul VII.13 - Neoplasma Kelenjar Tiroid 16 Tx Tumor primer tidak dapat dinilai T0 Tidak didapat tumor primer T1 Tumor dengan ukuran 2 cm atau kurang, masih terbatas pada tiroid T1a Tumor dengan ukuran 1 cm atau kurang, terbatas pada tiroid T1b Tumor lebih dari 1 cm tetapi kurang 2 cm, terbatas pada tiroid T2 Tumor dengan ukuran lebih dari 2 cm tetapi tidak lebih dari 4 cm, masih terbatas pada tiroid T3 Tumor dengan ukuran lebih dari 4 cm masih terbatas pada tiroid, atau tumor dengan penyebaran minimal ke ektra tiroid hanya menginvasi strap muscles T3a Tumor lebih dari 4 cm terbatas pada tiroid T3b Ukuran tumor berapapun yang menyebar ke ekstra tiroid menginvasi strap muscle (sternohyoid, sternothyroid, thyrohyoid, atau omohyoid) T4 Termasuk perluasan ke ekstratiroid T4a Tumor dengan ukuran berapa saja yang telah meluas keluar ekstratiroid, yang menginvasi jaringan lunak subkutis, laring, trakea, esofagus, atau saraf laringeus rekuren T4b Tumor dengan ukuran berapa saja yang meluas keluar ekstratiroid, telah menginvasi fasia prevertebral atau arteri karotis atau pembuluh darah mediastinum Nx KGB tidak dapat dinilai N0 Tidak didapat metastasis ke KGB lokoregional N0a Satu atau lebih hasil sitologi atau histologi terkonfirmasi limfonodi jinak N0b Tidak ditemukan dari hasil radiologi atau pemeriksaan klinis metastasis KGB lokoregional N1 Terdapat metastasis ke KGB regional N1a Metastasis pada KGB servikal level VI atau VII (pretrakeal, paratrakeal, atau prelaringeal/Delphian, atau superior mediastinum). Dapat ditemukan unilateral atau bilateral. N1b Metastasis pada KGB servikal unilateral, bilateral, atau kontralateral pada level (I, II, III, IV, atau V) atau daerah retrofaring M0 Tidak terdapat metastasis jauh M1 Terdapat metastasis jauh Prognosis AJCC Berdasarkan Stadium Differentiated Age T N M Stage <55 years Any T Any N M0 I <55 years Any T Any N M1 II  \HDUV T1 N0/Nx M0 I  \HDUV T1 N1 M0 II
Modul VII.13 - Neoplasma Kelenjar Tiroid 17  \HDUV T2 N0/Nx M0 I  \HDUV T2 N1 M0 II  \HDUV T3a/T3b Any N M0 II  \HDUV T4a Any N M0 III  \HDUV T4b Any N M0 IVA  \HDUV Any T Any N M1 IVB Anaplastik T N M Stage T1 ± T3a N0/Nx M0 IVA T1 ± T3a N1 M0 IVB T3b Any N M0 IVB T4 Any N M0 IVB Any T Any N M1 IVC AJCC TNM pada Karsinoma Meduler Tiroid Kategori Kriteria Tx Tumor primer tidak dapat dinilai T0 Tidak didapat tumor primer T1 Tumor dengan ukuran 2 cm atau kurang, masih terbatas pada tiroid T1a Tumor dengan ukuran 1 cm atau kurang, terbatas pada tiroid T1b Tumor lebih dari 1 cm tetapi kurang 2 cm, terbatas pada tiroid T2 Tumor dengan ukuran lebih dari 2 cm tetapi tidak lebih dari 4 cm, masih terbatas pada tiroid T3 Tumor dengan ukuran lebih dari atau sama dengan 4 cm, atau tumor dengan penyebaran ke ektratiroid T3a Tumor lebih dari atau sama dengan 4 cm terbatas pada tiroid T3b Ukuran tumor berapapun yang menyebar ke ekstra tiroid menginvasi strap muscle (sternohyoid, sternothyroid, thyrohyoid, atau omohyoid) T4 Stadium lanjut T4a Tumor dengan ukuran berapa saja yang telah meluas keluar ekstratiroid, yang menginvasi masuk ke jaringan di sekitar leher, termasuk jaringan lunak subkutis, laring, trakea, esofagus, atau saraf laringeus rekuren T4b Tumor dengan ukuran berapa saja yang telah meluas ke tulang belakang atau sekitar pembuluh darah besar, telah menginvasi fasia prevertebral atau arteri karotis atau pembuluh darah mediastinum Nx KGB tidak dapat dinilai N0 Tidak didapat metastasis ke KGB N0a Konfirmasi satu atau lebih secara sitologis atau histologis dengan hasil nodul kelenjar getah bening jinak N0b Tidak ada bukti radiologis atau klinis dari metastasis KGB regional N1 Terdapat metastasis ke KGB regional
Modul VII.13 - Neoplasma Kelenjar Tiroid 18 Kategori Kriteria N1a Metastasis pada KGB servikal level VI & VII (pretrakeal, paratrakeal, dan delphian atau mediastinum bagian atas). Dapat unilateral atau bilateral N1b Metastasis pada KGB servikal unilateral, bilateral, kontralateral pada level I, II, III, IV, V atau daerah KGB retrofaring M0 Tidak terdapat metastasis jauh M1 Terdapat metastasis jauh Prognosis AJCC Berdasarkan Stadium Karsinoma Meduler Tiroid T N M Stage T1 N0 M0 I T2 N0 M0 II T3 N0 M0 II T1 ± 3 N1a M0 III T4a Any N M0 IVA T1 ± 3 N1b M0 IVA T4b Any N M0 IVB Any T Any N M1 IVC Tabel Klasifikasi Bethesda No Kategori diagnostik Risiko Kanker (%) Tatalaksana Umum 1 Nondiagnostik 1 ± 4 BAJH dengan panduan USG 2 Jinak 0 ± 3 Pemantauan Klinis 3 Atipik atau lesi folikuler yang belum ditentukan atau atypia of undetermined significance/follicular lession of undetermined significance (AUS/FLUS) 5 ± 15 Ulangi BAJH 4 Neoplasma folikuler (follicular neoplasm/FN) 15 ± 30 Lobektomi 5 Curiga Kanker (SUSP) 69 ± 75 Tiroidektomi hampir total atau lobektomi 6 Kanker 97 ± 99 Tiroidektomi hampir total atau total Tatalaksana x BAJH, indikasi: untuk diagnostik x Operasi merupakan pilihan utama pada kasus tumor tiroid. Terdapat keadaan khusus dimana operasi tidak mungkin dilakukan, seperti: x Usia lanjut x Menolak dilakukan operasi
Modul VII.13 - Neoplasma Kelenjar Tiroid 19 x Keadaan umum buruk x Jenis operasi: subtotal lobektomi, lobektomi, ishtmulobektomi, dan total tiroidektomi. x Bila terdapat pembesaran KGB leher, dilakukan diseksi leher selektif. x Radiasi merupakan terapi tambahan pada tipe anaplastik. x Kemoterapi merupakan terapi tambahan pada tipe anaplastik dan meduler Gambar 1. Algoritma penatalaksanaan nodul tiroid (Bailey, 2014) Prosedur Tiroidektomi Tiroidektomi adalah pengangkatan sebagian atau seluruh kelenjar tiroid, terutama bila tiroid mengandung tumor ganas, atau kelainan lain pada tiroid seperti hypertiroid atau goiter. Pendekatan operasi ditentukan oleh besar dan perluasan tumor tiroid. Tatalaksana kombinasi, dengan menambahkan radioterapi ajuvan atau kemoradiasi merupakan pilihan alternatif pada keganasan tipe berdiferensiasi buruk seperti tipe meduler atau anaplastik. Kontraindikasi absolut untuk tindakan tiroidektomi adalah penolakan dari pasien, usia lanjut atau keadaan umum buruk. Operasi tiroidektomi termasuk operasi bersih, dan teknik pembedahan tiroidektomi dengan berbagai modifikasi seperti lobektomi, ismulobektomi dan total tiroidektomi ditentukan berdasarkan perluasan tumor dan jenisnya. Macam operasi tiroid: 1. Subtotal Lobektomi: yaitu mengangkat sebagian dari lobus tiroid 2. Lobektomi: yaitu mengangkat satu lobus tiroid 3. Ismulobektomi: yaitu mengangkat satu lobus tiroid dan ismus yang mengandung jaringan patologis 4. Tiroidektomi Total: yaitu mengangkat seluruh kelenjar tiroid. 5. Operasi tiroid yang diperluas (extended tiroidektomi)
Modul VII.13 - Neoplasma Kelenjar Tiroid 20 GAMBAR Keterangan: 1. Esofagus 2. N. Laringeus rekuren 3. Kelenjar paratiroid 4. Trakea A + B = Lobektomi C + D = Istmulobektomi A+B+C+D= Tiroidektomi total Setelah memahami, menguasai dan mengerjakan modul ini maka diharapkan seorang ahli T.H.T.K.L memiliki kompetensi, dan penerapannya dapat dilakukan di RS pendidikan dan RS jejaring pendidikan serta dapat dipergunakan oleh program studi disiplin ilmu terkait. ALGORITMA DAN PROSEDUR Tahapan residen T.H.T.K.L awal (sebagai asisten 2, asisten 1, operator) Persiapan pra operasi: x Anamnesis x Jelaskan prosedur dan standar operasi pada pasien/keluarganya x Jelaskan tujuan operasi dan hasil yang akan diharapkan x Pemeriksaan fisik x Evaluasi indikasi dan kontra indikasi x Pemeriksaan penunjang o Laboratorium darah o Faal tiroid o BAJH tiroid o Foto polos dada, USG tiroid o EKG x Informed consent x Konsultasi ke Departemen Anestesi x Konsultasi ke Departemen Penyakit Dalam Endokrin x Puasa minimal 6 jam sebelum operasi x Follow up dan rehabilitasi bila ada dapat digunakan modalitas PET scan
Modul VII.13 - Neoplasma Kelenjar Tiroid 21 Teknik operasi x Memeriksa dan melengkapi persiapan alat dan kelengkapan operasi. x Pembiusan dengan endotrakeal, posisi kepala hiperekstensi dengan bantal di bawah bahu penderita x Desinfeksi lapangan operasi dengan larutan antiseptik, kemudian dipersempit dengan linen steril. x Dilakukan tiroidektomi. ALAT UNTUK OPERASI
Modul VII.13 - Neoplasma Kelenjar Tiroid 22 Posisi Supinasi dan ekstensi No. Jenis alat Jumlah No. Jenis alat Jumlah 1. Baki instrumen 1 1. Alkohol 70% 2. Doek pembungkus dalam & luar 2 2. Pehacain dan lidokain 2 3 3. Klem disinfeksi 1 3. Kasa steril 2 inchi 10 4. Pegangan pisau + mess 1 4. Benang dermalon 2.0 2 bh 5. Klem arteri 6 5. Benang dexon 3.0 2 bh 6. Klem bengkok sedang 6 6. Hypafix 7. Klem kocher lurus kecil 4 7. Drain 1 8. Haak Langenbeck kecil 2 8. Spuit 10 cc 1 9. Rough haak sedang 2 9. Betadine 11. Gunting jaringan 1 12. Needle holder 1 13. Pinset chirurgis biasa & halus 2 14. Pinset anatomis 1 15. Elektrode diatermi 1 16. Kabel diatermi 1 17. Kanula suction sedang 1 18. Doek klem 6 19. Baskom bengkok 2
Modul VII.13 - Neoplasma Kelenjar Tiroid 23 Lokasi Insisi Retraksi dan pelepasan sternotiroid
Modul VII.13 - Neoplasma Kelenjar Tiroid 24 Diseksi a/v Tiroidea superior Pembebasan tiroid bagian Inferior Identifikasi N. laringeal rekuren Transeksi ismus beserta lobus piramidalis
Modul VII.13 - Neoplasma Kelenjar Tiroid 25 Hasil akhir ismusektomi Hasil akhir tiroidektomi subtotal TUMOR PARATIROID Kelenjar paratiroid menghasilkan parathormon (PTH), yang mengendalikan homeostasis kalsium. Hiperparatiroidisme terjadi akibat produksi berlebih PTH dari kelenjar paratiroid. Pasien dengan hiperparatiroidisme primer muncul dengan hiperkalsemia, hipofosfatemia, hiperkalsiuria, dan peningkatan kadar PTH. Sebagian besar pasien dengan hiperparatiroidisme primer memiliki adenoma tunggal (85%), dan adenoma multipel atau hiperplasia multi kelenjar membentuk sisa 15% dari kasus yang ada. Hiperparatiroidisme sekunder terjadi pada pasien dengan gagal ginjal (hiperparatiroidisme renal), menyebabkan hipokalsemia dan hiperplasia pada seluruh jaringan paratiroid. Karsinoma primer pada kelenjar paratiroid jarang terjadi dan biasanya berhubungan dengan hiperkalsemia ekstrim. Karsinoma paratiroid agresif secara lokal, dengan tingkat metastasis yang tinggi pada kelenjar getah bening regional. Evaluasi Diagnosis 1. Evaluasi keseimbangan PTH-kalsium dalam serum. 2. Hiperparatiroidisme primer asimtomatik banyak teridentifikasi dari pemeriksaan serum rutin untuk kondisi penyakit lain. Konfirmasi diagnosis yang tepat membutuhkan penilaian terhadap serum kalsium, PTH, dan 25-hidroksivitamin D serta analisis urin untuk hiperkalsiuria. Pada pasien asimtomatik, paratiroidektomi dilakukan pada kadar kalsium yang tinggi (>1 mg/dL di atas normal), osteoporosis ditegakkan pada pemeriksaan densitas mineral tulang (T score < í) pada lumbar spinalis, panggul, distal radius, atau leher femur. 3. Pencitraan: USG pada leher, technetium-99m sestamibi scan, sestamibi Single- Photon Emission Computed Tomography (SPECT), dan CT scan empat dimensi (4D).
Modul VII.13 - Neoplasma Kelenjar Tiroid 26 Tatalaksana Pembedahan merupakan satu-satunya tatalaksana kuratif hiperparatiroidisme primer. Sebuah adenoma tunggal yang terlokalisir secara pencitraan dapat diangkat dengan paratiroidektomi insisi servikal kecil sebesar 2-3 cm (minimal invasif). Keberhasilan pembedahaan dapat dikonfirmasi secara intraoperatif dengan analisis spesimen dan penilaian PTH intraoperatif setelah pengangkatan adenoma. Umumnya dua pengukuran nilai dasar PTH dilakukan, pertama pada saat induksi anestesi, dan kedua pada saat identifikasi kelenjar. Setelah eksisi tumor, dua sampel tambahan diambil untuk evaluasi PTH, pertama pada menit ke 5, berikutnya pada menit ke 10. Apabila ditemukan penurunan sebesar 50% atau lebih dari kadar PTH dan kadar PTH kembali pada rentang normal, prosedur dihentikan. Pada beberapa pasien, penurunan kadar PTH dapat terjadi lebih dari 10 menit, sehingga sampel ketiga pada menit ke 20 setelah pengangkatan adenoma perlu dievaluasi. Pasien dengan adenoma multipel, tanpa adenoma tunggal terlokalisir, atau hiperparatiroidisme sekunder membutuhkan eksplorasi terhadap keempat kelenjar paratiroid. Pada pasien dengan hiperparatiroidisme primer dan hiperplasia multi kelenjar, direkomendasikan eksisi terhadap seluruh kelenjar paratiroid yang membesar, mengangkat tiga dan setengah kelenjar dan menyisakan 50-100 mg sisa jaringan yang masih baik. Apabila paratiroidektomi total diperlukan (hiperparatiroidisme sekunder), maka autotransplantasi pada lengan bawah perlu dilakukan secara selektif, karena pada pasien tersebut terdapat risiko yang lebih tinggi untuk hipoparatiroidisme permanen, dibandingkan dengan eksisi tiga dan setengah kelenjar. Pada kondisi ini, tandur lengan bawah dapat memfasilitasi secara lebih mudah eksisi jaringan paratiroid hiperplastik tanpa reeksplorasi leher. Asuhan Pascaoperasi Pasien pascaoperasi ini membutuhkan suplementasi kalsium dengan atau tanpa vitamin D, yang dosisnya dapat diturunkan selama periode 6 minggu. Komplikasi 1. Hematoma dapat terbentuk pada 1% pasien yang menjalani pembedahan untuk kelenjar tiroid atau paratiroid. 2. Hipoparatiroidisme 3. Cedera pada nervus laringeal superior atau rekuren. 4. Disfungsi paratiroid sementara (terjadi hingga pada 25% kasus), disfungsi ini hilang dalam 4-6 minggu pada hampir seluruh pasien.
MODUL UTAMA ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER MODUL VII.14 NEOPLASMA ESOFAGUS 1/3 PROKSIMAL EDISI III KOLEGIUM ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER 2022
DAFTAR ISI A. WAKTU .................................................................................................................... 1 B. PERSIAPAN SESI .................................................................................................... 1 C. REFERENSI .............................................................................................................. 1 D. KOMPETENSI .......................................................................................................... 1 E. GAMBARAN UMUM .............................................................................................. 2 F. CONTOH KASUS DAN DISKUSI ......................................................................... 2 G. TUJUAN PEMBELAJARAN ................................................................................... 4 H. METODE PEMBELAJARAN .................................................................................. 5 I. EVALUASI DAN INSTRUMEN PENILAIAN ....................................................... 7 J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF ....................................... 8 K. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR .............................. 10 L. DAFTAR TILIK PENILAIAN PSIKOMOTOR ................................................... 12 M. MATERI PRESENTASI ......................................................................................... 14 N. MATERI BAKU ..................................................................................................... 17
Modul VII.14 - Neoplasma Esofagus 1/3 Proksimal 1 MODUL VII.14 ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER: NEOPLASMA ESOFAGUS 1/3 PROKSIMAL A. WAKTU Mengembangkan Kompetensi Alokasi Waktu Sesi dalam kelas Sesi dengan fasilitas pembimbing Sesi praktek dan pencapaian kompetensi 1 x 90 menit (classroom session) 1 x 60 menit(coaching session) 3 1 /2 jam (facilitation and assessment) B. PERSIAPAN SESI 1. Materi presentasi o Power point o Video 2. Kasus Neoplasma esofagus 3. Sarana dan alat bantu latih (disesuaikan dengan pencapaian kompetensi): o Penuntun belajar (learning guide): terlampir o Tempat belajar (training setting): instalasi rawat inap, instalasi rawat jalan, kamar operasi, ruang praktikum, ruang kuliah o Model/manekin atau kadaver o Komputer/laptop o Infocus C. REFERENSI 1. Bhayani M, Weber R. Hypopharyngeal and Cervical Esophageal Carcinoma. In: JohnVRQ 7 5RVHQ & HGLWRUV %DLOH\¶V KHDG DQG QHFN VXUJHU\ RWRODU\QJRORJ\  th ed. Vol 2. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. 2014. p. 1917-35 2. Gonzalez D, Robbins K. Carcinoma o the Oral Cavity, Pharynx, and Esophagus. In: Chan Y, Goddaed JC. Editors .-/HH¶V (VVHQWLDO 2WRODU\QJRlogy Head and Neck Surgery. 11 th ed. United States: McGraw-Hill education. 2016. p. 701-26 3. Spector ME, Uppaluri R. Neoplasms of the hypopharynx and cervical esophagus. In: Flint PW, Francis HW, Haughey BH, Lesperance MM, Lund VJ, Robbins KT, et al, editors. Cummings Otolaryngology Head and Neck Surgery. 7 th ed. Philadelphia: Elsevier. 2021. p. 5799-863 4. Shah J. Pharynx and Esophagus. In: Shah J, ed. Head and neck surgery and oncology. 5 th ed. Philadelphia: Elsevier Co; 2020. p. 299-364 5. Rice TW, Kelsen D, Blackstone EH, Ishwaran H, Patil DT, Bass AJ, et al. Esophagus and Esophagogastric Junction In: Amin MB, Edge SB, GreeneFL, et al. AJCC Cancer Staging Manual. 8 th ed. Springer Nature. Chicago; 2017. p. 185-234 D. KOMPETENSI a. Pengetahuan Menegakkan diagnosis neoplasma esofagus berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
Modul VII.14 - Neoplasma Esofagus 1/3 Proksimal 2 b. Keterampilan Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam: a. Menjelaskan anatomi, topografi, histologi, dan fisiologi esofagus b. Menjelaskan patogenesis neoplasma esofagus c. Menjelaskan gejala dan tanda neoplasma esofagus d. Melakukan anamnesis serta pemeriksaan pada neoplasma esofagus e. Melakukan keputusan untuk pemeriksan penunjang seperti esogoskopi, esofagografi, dan CT Scan atau MRI. f. Membuat diagnosis klinik untuk penatalaksanaan lanjut neoplasma esofagus, seperti meruju ke bagian yang terkait. g. Menentukan pilihan terapi pada kasus neoplasma esofagus h. Membuat keputusan penatalaksanaan komplikasi neoplasma esofagus E. GAMBARAN UMUM Neoplasma esofagus adalah suatu proses metaplasi dari esofagus yang dapat menimbulkan gangguan fungsi menelan. Diagnosis dan tatalaksana yang baik dapat mencegah timbulnya komplikasi yang disebabkan kelainan ini. F. CONTOH KASUS DAN DISKUSI Seorang laki-laki, 55 tahun datang ke poli THT dalam keadaan sulit menelan sejak 3 bulan lalu, semakin hari semakin memberat dan sejak 1 minggu lalu bila makan atau minum dimuntahkan kembali setelah 3 menit ditelan yang bercampur sedikit darah warna merah. Terdapat keluhan rasa penuh dan nyeri di dada, keluhan tersedak tidak ada. Barium esofagogram : tampak massa pada 1/3 tengah esofagus dengan permukaan mukosa tidak rata, tampak kontras sedikit di lambung. Diskusi: x Anatomi dan histologi esofagus x Patogenesis terjadinya neoplasma esofagus x Tipe neoplasma esofagus x Prosedur diagnosis x Rencana penatalaksanaan Jawaban: Anatomi dan Histologi esofagus Esofagus merupakan suatu saluran cerna yang menghubungkan hipofaring dengan lambung. Bagian proksimkal atau bagian atas disebut intrutus esofagus atau porta esofagus, yang terletak setinggi batas bawah kartilagi krikoid. Esofagus dalam perjalanannya dari daerah servikal ke daerah torak berada di mediastinum superior antara trakea dan kolumne vertebra dan melanjut ke mediatinum posterior di belakang atrium kiri serta menembus diafragma setinggi vertebra thorak X dengan jarak 3cm di depannya. Esofagus sampai abdomen dibawah diafragma menjadi kardia dan selanjutnya membesar yang disebut lambung atau gaster. Esofagus merupakan traktus digestivus yang memanjang antara vertebra serikal V-VI sampai pntu masuk kardia setinggi vertebra torak X.
Modul VII.14 - Neoplasma Esofagus 1/3 Proksimal 3 Esofagus terbagi menjadi 3 bagian yaitu bagian servikal dengan panjang sekitar 5-6 cm dimana pada bagian ini terdapat lokus minoris karena tidak tertutup muskulus konstriktor faring inferior. Bagian esofagus yang kedua adalah bagian torakal dengan panjang 16-18 cm serta bagian yang ketiga adalah esofagus bagian abdominal yang terdiri dari esofagus di diafragma dengan panjang 1-1,5 cm, dan didalam rongga abdomen 2-3 cm. Dalam perjalanan dari introitus sampai difragma ditandai dengan 4 tempat penyempitan, yaitu 1. Penyempitan I :terletak di bagian proksimal, disebabkan penekanan kartilago krikoid 2. Penyempitan II : disebabkan karena penyilangan arkus aorta 3. Penyempitan III : disebabkan karena penekanan bronkus kiri 4. Penyempitan IV : dibagian distal esofagus oleh sfingter esofagus inferior dan vestibulu esofagus gaster Esofagus bagian servikal mendapat vaskularisasi dari a. Tiroidea inferior, bagian torakal dari a. Bronkialis dan a. Interkosta, sedang bagian abdominal dari a, gastrika sinistra dan a. Frenikus inerior. Aliran vena di submukosa akan masuk ke dalam v. Gastrika sinistra dan menerus ke v. Kava inferior. Esofagus disarafi oleh vagus dan cabang cabangnya. Saraf simpatis mengandung serabut eferen dan aferen yang menyalurkan rangsangan ke dan dari pembuluh darah, kelenjar, otot dan mukosa. Saraf parasimpatis membawa serabut aferen dan eferen ke nukleus dorsalis N vagus yang mengandung serabut saraf eferen dan aferen viseral. Serabut serabut ini akan mensarafi otot seran lintang faring dan bagian proksimal esofagus. Sistem saraf intrinsik esofagus melalui pleksus enterikus yang berhubungan dengan pleksus Aurbach di lapisan otot dan pleksus Meissner di bagian submukosa. Dinding esofagus terdiri dari lapisan mukosa, submukosa, otot dantunika adventisia. Mukosa esofagus terdiri dari eitel skuamous komplek yang merupakanlanjutan dari mukosa faring, lamina propia dan tunika muskularis. Epitel ini berubah menjadi epitel torak di daerah perbatasan esofagus dengan lambung. Lapisan submukosa terdiri dari jaringna elastik dan kolagen. Lapisan otot terdiri dari otot sirkuler dibagian dalam dan otot longitudinal di bagian luar. Dinatara 2 lapisan ini terdapat pleksus mesenterikus Aurbach dan pada lapisan submukosa terdapat pleksus Mesisner. Di esofagus erdapat 2 kelenjar yaitu: kelenjar mukosa esofagus yang letaknya di submukosa dan kelenjar kardia di lamina propia. Etiopatologi Tumor jinak tumbuh dengan lambat dan mengadakan ekspansi, pembesaran dapat menyerupai balon, dan menekan organ di sekitarnya, tidak terdapat metastasis, dapat terjadi kalsifikasi yang dapat membahayakan penderita dengan beberapa cara: - Melalui komplikasi insidentil seperti obstruksi lumen - Melalui regurgitasi dan obstruksi jalan nafas - Melalui efek penekanan terhadap struktur mediastinal disekelilingnya - Melalui ulserasi dan perdarahan Tipe Neoplasma Esofagus Neoplasma jinak: - Papiloma sel skuamosa
Modul VII.14 - Neoplasma Esofagus 1/3 Proksimal 4 Merupakan true papilloma yang jarang terjadi mempunyai struktur papiler dengan inti sentral pada stroma jaringan penunjang pembuluh darah yang ditutupi oleh epitel squamosa bertingkat yang tebal - Polip hipervaskuler Tumor mukosa yang kecil, dan tumbuh ke arah lumen, kadang-kadang tumor tumbuh dengan ukuran yang besar dan mempunyai pedikel yang sangat panjang. Neoplasma ganas: - Karsinoma sel skuamosa - Adenokarsinoma Diagnosis - Gambaran klinis tumor jinak esofagus dapat berlangsung menahun dan tidak memberikan gejala klinis (<85%) - Jika tumor terletak di bawah spingter otot krikofaring keluhan biasanya berupa ³VSOXWWHULQJ´ VHWLDS NDOL SHQGHULWD PHQHODQ - Gangguan menelan yang ringan dan intermitten, disertai dengan perasaan tertekan retrosternal, hematemesis dan melena jarang terjadi - Diagnosis yang akurat biasanya dilakukan dengan anamnesis, pemeriksaan radiografi dan esofagoskopi - Biopsi endoskopi dihindari bila mukosa yang melapisi intak - Pemeriksaan barium esofagogram sering digunakan untuk mendiagnosis leimioma intramural Terapi - Operasi dengan bedah reseksi - Radioterapi - Kemoterapi - Kombinasi kemoradiasi - Rekonstruksi G. TUJUAN PEMBELAJARAN a. Tujuan pembelajaran umum Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan mampu untuk melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang neoplasma esofagus dan merujuk ke bagian ilmu yang terkait b. Tujuan pembelajaran khusus Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan mampu untuk: 1. Menjelaskan anatomi, topografi, histologi dan fisiologi esofagus (tingkat kompetensi K3, A3) 2. Menjelaskan etiologi neoplasma esofagus (tingkat kompetensi K3, A3) 3. Menjelaskan patomekanisme, gambaran klinik dan penanganan neoplasma esofagus (tingkat kompetensi K3, A3, P2) 4. Menjelaskan pemeriksaan penunjang diagnosis seperti esofagoskopi, esofagografi dan CT-scan esofagus
Modul VII.14 - Neoplasma Esofagus 1/3 Proksimal 5 (tingkat kompetensi K3, A3, P2) 5. Melakukan work-up penderita neoplasma esofagus yang meliputi anamnesis, pemeriksaan fisis dan pemeriksaan penunjang (tingkat kompetensi K3, A3) 6. Menentukan operabilitas, prognostik dan pilihan terapi pada penderita neoplasma esofagus (tingkat kompetensi K3, A3, P2) 7. Merawat penderita neoplasma esofagus (memberi penjelasan kepada penderita dan keluarganya, informed consent), serta mampu melakukan penanganan komplikasi yang terjadi (tingkat kompetensi K3, A3, P2 H. METODE PEMBELAJARAN Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan mempunyai kemampuan dasar untuk menegakkan diagnosis neoplasma esofagus dan mampu untuk menentukan terapi yang sesuai. Tujuan 1. Menjelaskan anatomi, topografi, histologi dan fisiologi esofagus Untuk mencapai tujuan ini, maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Small group discussion x Peer assisted learning x Bedside teaching x Task-based medical education x Log-book Harus diketahui: x Anatomi esofagus x Gambaran dan karakteristik esofagus x Fisiologi dan patofisiologi esofagus Tujuan 2. Mampu menjelaskan etiopatogenesis dan gambaran klinis dari neoplasma esofagus Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Small group discussion x Peer assisted learning x Bedside teaching x Task-based medical education x Log-book Harus diketahui: x Etiologi x Patofisiolgi klinik x Gejala (keluhan pasien) x Tanda (hasil pemeriksaan) x Gambaran klinik Tujuan 3. Menentukan dan melakukan pemeriksaan penunjang (x-Ray, CT Scan, esofagoskopi) untuk pemeriksaan esofagus
Modul VII.14 - Neoplasma Esofagus 1/3 Proksimal 6 Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Small group discussion x Peer assisted learning x Bedside teaching x Task-based medical education x Log-book . Harus diketahui: x Metode standar anamnesis x Pemeriksaan penunjang yang sensitive dan spesifik x Device sensitivity on neoplasma on Anomaly Finding x Device specivity on Anomaly Finding Tujuan 4. Membuat diagnosis neoplasma esofagus dari pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Small group discussion x Peer assisted learning x Bedside teaching x Task-based medical education x Log-book Harus diketahui: x Metoda anamnesis x Gejala dan tanda neoplasma esofagus x Pemeriksaan penunjang yang sensitif dan spesifik x Menentukan diagnosis kerja Tujuan 5. Menjelaskan penatalaksanaan dari neoplasma esofagus Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Small group discussion x Peer assisted learning x Bedside teaching x Task-based medical education x Log-book Harus diketahui: x Prosedur konservatif x Prosedur operatif reseksi x Prosedur alternatif Tujuan 6. Melakukan work up, memutuskan terapi pendahuluan serta merujuk Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: x Small group discussion x Peer assisted learning x Bedside teaching
Modul VII.14 - Neoplasma Esofagus 1/3 Proksimal 7 x Task-based medical education x Log-book Harus diketahui: x Work up key points x Jenis-jenis terapi yang direkomendasikan x Kondisi atau situasi penting untuk membuat keputusan untuk merujuk I. EVALUASI DAN INSTRUMEN PENILAIAN 1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan, yang bertujuan untuk menilai kinerja awal, yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri atas: Anatomi, gambaran klinik, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, diagnosis, penatalaksanaan dan prognosis. 2. Small group discussion bersama fasilitator untuk membahas kekurangan yang ada, hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar dan proses penilaian. 3. Setelah mempelajari penuntun belajar ini mahasiswa diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk role play dengan teman-teman (peer assisted learning) atau kepada standardized patient. Pada saat tersebut yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar dpegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (peer assieted evaluation). Setelah dianggap memeadai melalui metode bed side teaching dibawah pengawasan fasilitator, peserta didik mengaplikasikan penuntun belajar dari model anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesunggguhnya. Pada saat pelaksaan, evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation) dan mengisi formulir penilaian berikut: - Perlu perbaikan: pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan - Cukup: pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misalnya pemeriksaan terlalu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien - Baik: pelaksanaan benar dan baik (efisien) 4. Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan. 5. Self assesment dan peer assisted evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar 6. Pendidik/fasilitator: - Pengamatan lamngsung dengan memakai evaluation checklist form (terlampir) - Penjelasan lisan dari dari peserta didik/diskusi - Kriteria penilaian keseluruhan: cakap/tidak cakap/lalai 7. Pada akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education) 8. Pencapaian pembelajaran: - Ujian akhir setelah penyelesaian modul meliputi (K, P, A) - Ujian Tulis Kolegium T.H.T.K.L - Ujian Lisan OSCE Kolegium T.H.T.K.L
Modul VII.14 - Neoplasma Esofagus 1/3 Proksimal 8 J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF 1. Kuesioner Sebelum Pembelajaran Soal: Sebutkan anatomi esofagus? Jawaban: Anatomi dan Histologi esofagus Esofagus merupakan suatu saluran cerna yang menghubungkan hipofaring dengan lambung. Bagian proksimkal atau bagian atas disebut intrutus esofagus atau porta esofagus, yang terletak setinggi batas bawah kartilagi krikoid. Esofagus dalam perjalanannya dari daerah servikal ke daerah torak beraa di mediastinum superior antara trakea dan kolumne vertebra dan melanjut ke mediatinum posterior di belakang atrium kiri serta menembus diafragma setinggi vertebra torak X dengan jarak 3cm di depannya. Esofagus sampai abdomen dibawah diafragma menjadi kardia dan selanjutnya membesar yang disebut lambung atau gaster. Esofagus merupakan traktus digestivus yang memanjang antara vertebra serikal V-VI sampai pintu masuk kardia setinggi vertebra torak X. Esofagus terbagi menjadi 3 bagian yaitu bagian servikal dengan panjang sekitar 5-6 cm dimana pada bagian ini terdapat lokus minoris karena tidak tertutup muskulus konstriktor faring inferior. Bagian esofagus yang kedua adalah bagian torakal dengan panjang 16-18 cm serta bagian yang ketiga adalah esofagus bagian abdominal yang terdiri dari esofagus di diafragma dengan panjang 1-1,5 cm, dan didalam rongga abdomen 2-3 cm. Dalam perjalanan dari introitus sampai diafragma ditandai dengan 4 tempat penyempitan, yaitu: 1. Penyempitan I : Terletak di bagian proksimal, disebabkan penekanan kartilago krikoid 2. Penyempitan II : Disebabkan karena penyilangan arkus aorta 3. Penyempitan III : Disebabkan karena penekanan bronkus kiri 4. Penyempitan IV : Dibagian distal esofagus oleh sfingter esofagus inferior dan vestibulum esofagus gaster Esofagus bagian servikal mendapat vaskularisasi dari a. Tiroidea inferior, bagian torakal dari a. Bronkialis dan a. Interkostal, sedang bagian abdominal dari a, gastrika sinistra dan a. Frenikus inerior. Aliran vena di submukosa akan masuk ke dalam V. Gastrika sinistra dan menerus ke V. kava inferior. Esofagus disarafi oleh vagus dan cabang cabangnya. Saraf simpatis mengandung serabut eferen dan aferen yang menyalurkan rangsangan ke dan dari pembuluh darah, kelenjar, otot dan mukosa. Saraf parasimpatis membawa serabut aferen dan eferen ke nukleus dorsalis N. vagus yang mengandung serabut saraf eferen dan aferen viseral. Serabut serabut ini akan mensarafi otot seran lintang faring dan bagian proksimal esofagus. Sistem saraf intrinsik esofagus melalui pleksus enterikus yang berhubungan dengan pleksus Aurbach di lapisan otot dan pleksus Meissner di bagian submukosa. Dinding esofagus terdiri dari lapisan mukosa, submukosa, otot dan tunika adventisia. Mukosa esofagus terdiri dari epitel skuamous komplek yang merupakan lanjutan dari mukosa faring, lamina propia dan tunika muskularis. Epitel ini berubah menjadi epitel torak di daerah perbatasan esofagus dengan lambung. Lapisan submukosa terdiri dari jaringan elastik dan kolagen. Lapisan otot terdiri dari otot sirkuler dibagian dalam dan otot longitudinal di bagian luar. Diantara 2 lapisan ini terdapat pleksus mesenterikus
Modul VII.14 - Neoplasma Esofagus 1/3 Proksimal 9 Aurbach dan pada lapisan submukosa terdapat pleksus Mesisner. Di esofagus terdapat 2 kelenjar yaitu: kelenjar mukosa esofagus yang letaknya di submukosa dan kelenjar kardia di lamina propia. 2. Kuesioner Tengah Pembelajaran Soal: Sebutkan tipe-tipe neoplasma esofagus? Jawaban: Tipe Neoplasma Esofagus Neoplasma jinak: - Papiloma sel skuamosa Merupakan true papilloma yang jarang terjadi mempunyai struktur papiler dengan inti sentral pada stroma jaringan penunjang pembuluh darah yang ditutupi oleh epitel squamosa bertingkat yang tebal. - Polip hipervaskuler Tumor mukosa yang kecil, dan tumbuh ke arah lumen, kadang-kadang tumor tumbuh dengan ukuran yang besar dan mempunyai pedikel yang sangat panjang. Neoplasma ganas: - Karsinoma sel skuamosa - Adenokarsinoma 3. Essay/Ujian Lisan/Uji Sumatif Soal: Seorang laki-laki, 55 tahun datang ke poli T.H.T.K.L dalam keadaan sulit menelan sejak 3 bulan lalu, semakin hari semakin memberat dan sejak 1 minggu lalu bila makan atau minum dimuntahkan kembali setelah 3 menit ditelan yang bercampur sedikit darah warna merah. Langkah apa yang anda lakukan dalam penegakan dignosis penderita tersebut ? Jawaban: Melakukan anamnesis yang lengkap untuk mengetahui gejala lain yang berkaitan dengan keganasan esofagus diantaranya penurunan berat badan yang progresif serta adanya sensasi rasa terbakar atau panas saat menelan. Langkah selanjutnya dilakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan fisik luar tidak terlalu jelas menunjukkan adanya tanda dan kelainan sehingga perlu dilakukan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang yang dilakukna adalah Barium esofagogram, endoskopi, CT scan, PET scan, bronkoskopi untuk mengevaluasi adanya kemungkinan metastasis ke saluran nafas, serta staging untuk mendeteksi biomarker yang berkaitan dengan keganasan esofagus
Modul VII.14 - Neoplasma Esofagus 1/3 Proksimal 10 Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.: 1. Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan) 2. Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal 3. Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan) K. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR BIOPSI NEOPLASMA ESOFAGUS 1/3 PROKSIMAL DENGAN ESOFAGOSKOPI KAKU NAMA PESERTA: .............................. TANGGAL:................................. KEGIATAN KASUS I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR x Nama x Diagnosis x Informed Choice&Informed Consent x Rencana Tindakan x Persiapan Sebelum Tindakan x Laboratorium x Pemeriksaan penunjang II. PERSIAPAN PROSEDUR 1. Pastikan kelengkapan peralatan esofagoskopi telah tersedia dan lengkap, yaitu: 1. Esofagoskop berbagai ukuran 2. Teleskop 0 3. Forceps ekstraksi sesuai dengan jenis benda asing 4. Kanul suction 5. Sumber cahaya + kabel sumber cahaya 6. Camera system, monitor dan lumina jika tersedia 2. Persiapan Pasien 1. Penderita puasa minimal 6 jam sebelum esofagoskopi 2. Anestesi umum 3. Penderita berbaring terlentang dengan posisi kepala ditinggikan 15 cm dari meja operasisehingga leher fleksi dan kepala ekstensi maksimal 4. Asisten duduk sebelah kiri pasien memegangkepala III. TAHAPAN PROSEDUR TINDAKAN 1. Esofagoskop dipegang dengan tangan kanan di bagian proksimal dan tangan kiri di bagian distal seperti memegang pensil 2. Jari tengah dan jari manis tangan kiri membuka bibir atas dan mengait gigi insisivus 3. Jari telunjuk dan ibu jari tangan kiri memegang bagian
Modul VII.14 - Neoplasma Esofagus 1/3 Proksimal 11 KEGIATAN KASUS distal esofagoskop serta menarik bibir agar tidak terjepit di antara esofagoskop dengan gigi 4. Tangan kanan memegang bagian proksimal esofagoskop dengan menjepit di antara jari telunjuk dan jari tengah 5. Esofagoskop didorong perlahan dengan menggerakkan ibu jari tangan kiri menyusuri sisi bawah esofagoskop dan tangan kanan berfungsi untuk mengarahkan esofagoskop dengan memegangnya seperti memegang pensil pada leher pegangan 6. Esofagoskop dimasukkan secara vertikal ke dalam mulut pada garis tengah lidah 7. Identifikasi uvula dan dinding faring posterior 8. Esofagoskop didorong menyusuri dinding posterior faring sampai terlihat adanya aritenoid kanan dan kiri 9. Esofagoskop disusupkan ke bawah aritenoid. Suatugerakan ringan ibu jari tangan kiri diberikan pada ujung esofagoskop sehingga tampak lumen introitus esofagus 10. Scope didorong memasuki lumen esofagus dengan hati- hati dengan menggerakan ibu jari tangan kiri secara perlahan. Dilakukan evaluasi introitus kearah atas, bawah, kanan dan kiri 11. Selanjutnya esofagoskop didorong menyusuri lumen esofagus dengan gerakan ibu jari tangan kiri 12. Bila didapatkan keadaan patologis seperti tumor, dilakukan pengambilan jaringan yang dicurigai dengan menggunakan forceps. 13. Jaringan yang telah diambil dapat difiksasi dengan formalin, dikirim ke Bagian Patologi Anatomi untuk pemeriksaan histopatologi. 14. Perdarahan dirawat sampai perdarahan berhenti 15. Pada saat mengeluarkan esofagoskop, posisi penderita dan arah gerakan esofagoskop dilakukan dengan cara yang berlawanan 16. Untuk evaluasi (adanya laserasi mukosa, perdarahan, perforasi dan kemungkinan adanya kelainan esofagus yang lain) dilakukan esofagoskopi ulangan IV. PASCA TINDAKAN 1. Observasi tanda perdarahan akibat laserasi atau adanya perforasi 2. Pasien diberikan analgetik dan antibiotik pascaoperasi
Modul VII.14 - Neoplasma Esofagus 1/3 Proksimal 12 L. DAFTAR TILIK PENILAIAN PSIKOMOTOR DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA PROSEDUR BIOPSI NEOPLASMA ESOFAGUS 1/3 PROKSIMAL DENGAN ESOFAGOSKOPI KAKU Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini: 9 : Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar ± : Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar T/T: Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih PESERTA: _________________________ TANGGAL :______________ KEGIATAN NILAI 9 ± T/T I PERSIAPAN OPERASI 1. Informed consent 2. Menjelaskan tujuan operasi dan hasil yang diharapkan 3. Menjelaskan prosedur dan standar operasi pada pasien dan keluarganya 4. Melakukan evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi operasi 5. Menyiapkan kelengkapan peralatan esofagoskopi dengan lengkap II PROSEDUR OPERASI 1. Penderita berbaring terlentang dengan posisi kepala ditinggikan 15 cm dari meja operasisehingga leher fleksi dan kepala ekstensi maksimal 2. Desinfeksi lapangan operasi dengan non-iodine, lalu dipersempit dengan linen steril 3. Esofagoskop dipegang dengan tangan kanan di bagian proksimal dan tangan kiri di bagian distal seperti memegang pensil 4. Jari tengah dan jari manis tangan kiri membuka bibir atas dan mengait gigi insisivus 5. Jari telunjuk dan ibu jari tangan kiri memegang bagiandistal esofagoskop serta menarik bibir agar tidak terjepit di antara esofagoskop dengan gigi 6. Tangan kanan memegang bagian proksimal esofagoskop dengan menjepit di antara jari telunjuk dan jari tengah 7. Esofagoskop didorong perlahan dengan menggerakkan ibu jari tangan kiri menyusuri sisi bawah esofagoskop dan tangan kanan berfungsi untuk mengarahkan esofagoskop
Modul VII.14 - Neoplasma Esofagus 1/3 Proksimal 13 KEGIATAN NILAI 9 ± T/T dengan memegangnya seperti memegang pensil pada leher pegangan 8. Esofagoskop dimasukkan secara vertikal ke dalam mulut pada garis tengah lidah 9. Identifikasi uvula dan dinding faring posterior 10. Esofagoskop didorong menyusuri dinding posterior faring sampai terlihat adanya aritenoid kanan dan kiri 11. Esofagoskop disusupkan ke bawah aritenoid. Suatu gerakan ringan ibu jari tangan kiri diberikan pada ujung esofagoskop sehingga tampak lumen introitus esofagus 12. Scope didorong memasuki lumen esofagus dengan hati- hati dengan menggerakan ibu jari tangan kiri secara perlahan. Dilakukan evaluasi introitus kearah atas, bawah, kanan dan kiri 13. Selanjutnya esofagoskop didorong menyusuri lumen esofagus dengan gerakan ibu jari tangan kiri. 14. Bila didapatkan keadaan patologis seperti tumor, dilakukan pengambilan jaringan yang dicurigai dengan menggunakan forceps. 15. Jaringan yang telah diambil dapat difiksasi dengan formalin, dikirim ke Bagian Patologi Anatomi untuk pemeriksaan histopatologi. 16. Perdarahan dirawat sampai perdarahan berhenti 17. Pada saat mengeluarkan esofagoskop, posisi penderita dan arah gerakan esofagoskop dilakukan dengan cara yang berlawanan 18. Untuk evaluasi (adanya laserasi mukosa, perdarahan, perforasi dan kemungkinan adanya kelainan esofagus yang lain) dilakukan esofagoskopi ulangan 19. Operasi selesai III PASCA OPERASI 1. Observasi tanda perdarahan akibat laserasi atau adanya perforasi 2. Pemberian analgetik dan antibiotika
Modul VII.14 - Neoplasma Esofagus 1/3 Proksimal 14 M. MATERI PRESENTASI LCD 1: Anatomi dan fisiologi Esofagus LCD 2: Definisi Neoplasma Esofagus
Modul VII.14 - Neoplasma Esofagus 1/3 Proksimal 15 LCD 3: Etiopatologi LCD 4: Gejala Klinik
Modul VII.14 - Neoplasma Esofagus 1/3 Proksimal 16 LCD 5: Diagnosis Neoplasma Esofagus LCD 6: Penatalaksanaan Neoplasma Esofagus
Modul VII.14 - Neoplasma Esofagus 1/3 Proksimal 17 N. MATERI BAKU NEOPLASMA ESOFAGUS 1. Anatomi dan Histologi esofagus Esofagus merupakan organ berotot yang memanjang dari otot cricopharingeus hingga persimpangan esofagogastrik. Esofagus dibagi tidak hanya berdasarkan anatomi tetapi kecenderungan untuk terjadinya neoplasma didaerah tersebut. Esofagus cervical memanjang dari otot cricopgaryngeus hingga pintu masuk thoraks. Bagian 1/3 atas dari thorakal esofagus memanjang dari pintu masuk thoraks kebifurcatio trakea, tepat di bawah lengkungan aorta. Pertengahan thorakal esofagus memanjang dari bifurcatio trakea ke titik tengah antara carina dan persimpangan esofagogastrik. Thorakal esofagus terbawah memanjang dari titik tengah ini ke persimpangan esofagogastrik. Jaringan otot esofagus disusun lapisan longitudinal pada bagian luar dan lapisan sirkuler pada bagian dalam. Bagian sepertiga proksimal sampai setengah dari propria muskularis berasal dari arkus brakialis, sehingga mirip dengan otot rangka(lurik) sehingga memungkinkanterjadi rhabdomyosarcomas, sementara bagian bawahnya terdiri dari otot polos yag memungkinka terjadinya leiomioma dan leiomiosarkoma. Jaringan fibrous, lemak, dan jaringan ikat pada dinding esofagus juga dapat menyebabkan sarkoma. Esofagus sebagian besar tersusun atas epitel skuamosa, yang dapat menimbulkan keganasan berupa karsinoma sel skuamosa, yang merupakan neoplasma yang paling umum dari esofagus. Kanker ini paling sering terjadi di esofagus cervical serta esofagus toraks atas dan tengah. Carcinosarcoma dan karsinoma sel spindle, yang merupakansubtype dari kanker sel skuamosa, jarang terjadi di wilayah ini. Bagian distal 2 sampai 3 cm dari esofagus dan kardia dilapisi oleh epitel kolumnar, sehingga pada daerah inidapat terjadi adenokarsinoma. Pemanjangan mukosa kolumnar ke arah yang lebih lebih proksimal, dikenal sebagai esofagus Barrett¶V, yang memungkinkan terjadinya adenokarsinoma pada esofagus torakaltengah dan atas. Unsur-unsur lain pada mukosa, kelenjar submukosa, dan muskularis propria dapat menimbulkan neoplasma yang tidak biasa, seperti small cell karsinoma, melanoma maligna, tumor sel granular, karsinoma mukoepidermoid, dan adenoid cystic carcinoma. Tumor jinak esofagus jarang terjadi dibandingkan gangguan esofagus yang lain seperti refluks esofagus, gangguan motilitas, kanker dan divertikulum, jumlahnya kurang dari 1% dari semua neoplasma esofagus. Gejala dan tanda gangguan esofagus merupakan masalah yang sulit oleh karena beberapa faktor antara lain: 1. Esofagus merupakan tabung otot yang berukuran 23±25 cm, memanjang mulai dari faring sampai gaster. 2. Mempunyai fungsi yang relatif simple mengantar bolus makanan secara cepat masuk ke dalam gaster melalui gerakan peristaltik aktif dan mencegah terjadinya regurgitasi 3. Sensasi esofagus dapat dirasakan seperti rasa terbakar substernal yang digambarkan sebagai nyeri dada dan nyeri susternal yang identik terhadap gangguan arteri koroner 4. Esofagus relatif mudah diperiksa melalui pemeriksaan kontras radiologi, CT-Scan, USG esofagus dan esofagoskopi Oleh karena tumor esofagus tumbuh dengan perlahan, sehingga kebanyakan penderita tidak merasakan keluhan pada tahap dini, sampai tumor esofagus mencapai tahap lanjut.
Modul VII.14 - Neoplasma Esofagus 1/3 Proksimal 18 Gangguan yang dirasakan pasien biasanya berupa gangguan menelan, perasaan tidak enak pada dada, kontraksi peristaltik yang abnormal, nyeri yang menyerupai cardiac pain, yang dapat berkurang dengan pemberian nitrat, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan khusus untuk membedakan nyeri esofagus dan cardiac pain. Kesulitan menelan jangan pernah diabaikan oleh karena esofagus merupakan transit tube, dimana makanan tidak dapat dicerna dan biasanya tidak stagnan sehingga dapat terjadi ulserasi dan perdarahan yang disebabkan oleh tumor jinak. Tumor jinak kadang-kadang bisa bersama dengan kondisi yang lain seperti divertikulum esofagus, akalasia, hernia dan kanker. 1.1. Patofisiologi Tumor jinak tumbuh dengan lambat dan mengadakan ekspansi, pembesaran dapat menyerupai balon, dan menekan organ di sekitarnya, tidak terdapat metastase, dapat terjadi kalsifikasi yang dapat membahayakan penderita dengan beberapa cara: 1. Melalui komplikasi insidentil seperti obstruksi lumen 2. Melalui regurgitasi dan obstruksi jalan nafas 3. Melalui efek penekanan terhadap struktur mediastinal di sekelilingnya 4. Melalui ulserasi dan perdarahan 1.2. Lokasi Anatomis Esofagus lebih banyak terletak pada mediastinum posterior, kecuali bagian segmen terkecil yang terletak pada leher dan abdomen. Tumor intramural yang terletak di bawah otot spingter krikofaring biasanya bermanifestasi dengan cepat disertai kesulitan menelan dan batuk yang keras pada saat penderita menelan. Sejalan dengan ekspansi tumor yang perlahan di balik strukrur tulang thorakis dapat menyebabkan obstruksi saluran nafas bagian atas. Di dalam mediastinum esofagus mempunyai hubungan yang erat dengan trachea, bronkus utama kiri, jantung, aorta, dengan tulang vertebra torarakalis, sehingga suatu tumor yang besar yang meluas dari permukaan luar esofagus yang mencapai rongga mediastinum dan pleura dapat memberikan penekanan pada struktur mediastinal sehingga menyebabkan atelektasis, sesak dan sindrom obstruksi v. kava superior. 1.3. Diagnosis Gambaran klinis tumor jinak esofagus dapat berlangsung menahun dan tidak memberikan gejala klinis (<85%), dan ditemukan secara kebetulan pada saat pemeriksaan radiologi dan endoskopi. Pemeriksaan fisik biasanya negatif pada tumor esofagus yang jinak, jika tumor terletak di bawah spingter otot krikofaring keluhan biasan\D EHUXSD ¶VSOXWWHULQJ¶ VHWLDS kali penderita menelan. Sangat jarang pasien mengeluhkan stridor inspiratoar dan obstruksi nafas saluran atas. Disfagia berat dan berkelanjutan disertai dengan pneumonitis biasanya disebabkan oleh spill over yang berulang dan aspirasi. Kadang-kadang penderita mengeluhkan gangguan menelan yang ringan dan intermiten, disertai dengan perasaan tertekan retrosternal, hematemesis dan melena jarang terjadi. Diagnosis yang akurat biasanya dilakukan dengan anamnesis yang cermat, disertai dengan pemeriksaan radiografi dan esofagoskopi. Bila gambaran endoskopi meragukan diperlukan biopsi untuk menunjang diagnosis. Hemangioma esofagus dapat didiagnosis dengan pemeriksaan endoskopi sebagai massa polipoid submukosa berwarna biru keabuan dan lunak. Biopsi endoskopi
Modul VII.14 - Neoplasma Esofagus 1/3 Proksimal 19 sebaiknya dihindari bila mukosa yang melapisinya intak. Spesimen biopsi sebaiknya dianalisis dengan pemeriksaan imunohistokimia. Pemeriksaan barium esofagogram sering digunakan untuk mendiagnosis leiomioma intramural, tumor ini dapat berukuran sangat besar sampai mencapai ukuran >10 cm. Dilatasi esofageal progresif yang terjadi dapat didiagnosis sebagai akalasia, lebih lanjut tumor mid-esofagus dapat didiagnosis bila pedikel tumor tersebut mencapai faringo- esofageal junction. Pada saat endoskopi tumor dapat tidak terlihat oleh karena tertutup lapisan mukosa esofagus yang normal. Kesulitan dalam mendiagnosis dapat terjadi bila leiomiomioma intramural menutup esofagogastric junction yang dapat didignosis sebagai striktur peptik atau tumor ganas. Bila tumor gagal terdiagnosis, dilatasi esofageal dapat menyebabakan perforasi esofagus. Penggunaaan USG esofagus dalam mendiagnosis tumor submukosa seperti leiomioma, kista atau fibroma. CT kontras dan angiografi radionuklear merupakan dua teknik pemeriksaan noninvasif yang dapat digunakan untuk membantu mendiagnosis hemangioma esofagus. Tumor-tumor yang terletak pada mediastinum posterior baik yang belum atau sudah mengalami kalsifikasi, pemeriksaan CT-Scan merupakan pemeriksaan yang tepat. 1.4. Deskripsi Dan Terapi x Papilloma Sel Squamosa Merupakan true papilloma yang jarang terjadi mempunyai struktur papiler dengan inti sentral pada stroma jaringan penunjang pembuluh darah yang ditutupi oleh epitel squamosa bertingkat yang tebal. Insidensi antara 0,01%-0,04%, diduga disebabkan oleh human papilloma virus. Terletak pada 1/3 bawah esofagus. Pada pemeriksaan endoskopi papilloma terlihat sebagai tumor yang multilobulus dan sesile dengan permukaan licin dan konsistensi yang lunak. Sulit dibedakan dengan veruka karsinoma sel squamosa, sehingga dibutuhkan biopsi. Terdapat dua indikasi eksisi untuk tumor tersebut yaitu obstruksi esofagus dan kesulitan menyingkirkan suatu keganasan. Pengangkatan tumor secara endoskopi dilakukan bila terjadi lesi obstruktif. Jika diduga merupakan suatu keganasan atau tidak dapat mengangkat seluruh tumor, eksplorasi secara pembedahan dapat dilakukan dengan lokal eksisi dan rekonstruksi esofagus pascaoperasi. x Polip Hipervaskuler Sering sebagai lesi yang soliter, umumnya terjadi pada laki-laki tua antara 60± 70 tahun, lokasi tumor 85% pada esofagus bagian atas, biasanya berasal dari tepi bawah otot spingter krikofaringeus, diawali sebagai tumor mukosa yang kecil, dan tumbuh ke arah lumen, kadang-kadang tumor tumbuh dengan ukuran yang besar dan mempunyai pedikel yang sangat panjang. x Karsinoma esofagus a. Faktor risiko: Penyebab kanker esofagus belum diketahui dengan pasti akan tetapi para peneliti percaya bahwa beberapa faktor risiko seperti merokok dan alkohol, dapat menyebabkan kanker esofagus dengan cara merusak DNA sel yang melapisi bagian dalam esofagus, akibatnya DNA sel tersebut menjadi abnormal. Iritasi yang berlangsung lama paGD GLQGLQJ HVRIDJXV VHSHUWL \DQJ WHUMDGL SDGD *(5' %DUUHWW¶V esophagus dan akalasia dapat memicu terjadinya kanker
Modul VII.14 - Neoplasma Esofagus 1/3 Proksimal 20 x Karsinoma sel skuamosa adalah tembakau, alkohol, akalasia, caustic injury, plummer vincent syndrome, riwayat kanker kepala dan leher, radiasi tumor mediastinum, sosial ekonomi rendah x Adenokarsinoma: Barret's esofagus, penggunaan tembakau, dan riwayat radioterapi mediastinum b. Gejala Klinis x Disfagia Gejala utama dari kanker esofagus adalah masalah menelan, sering dirasakan oleh penderita seperti ada makanan yang tersangkut di tenggorok atau dada. Ketika menelan menjadi sulit, maka penderita biasanya mengganti makanan dan kebiasan makannya secara tidak sadar. Penderita makan dengann jumlah gigitan yang lebih sedikit dan mengunyah makanan dengan lebih pelan dan hati-hati. seiring dengan pertumbuhann kanker yang semakin besar, penderita mulai makan makanan yang lebih lembut dengan harapan makanan dapat dengan lebih mudah masuk melewati esofagus, hingga akhirnya penderita berhenti mengkonsumsi makanan padat dan mulai mengkonsumsi makanan cair. Akan tetapi, jika kanker tetap terus tumbuh, bahkan makanan cair pun tidak bisa melewati esofagus. Untuk membantu makanan melewati esofagus biasanya tubuh mengkompensasi dengan menghasilkan saliva. Hal ini juga yang menyebabkan orang yang menderita kanker esofagus sering mengeluh banyak mengeluarkan mukus atau saliva. x Merasakan benjolan dan nyeri pada saat menelan Nyeri pada dada, regurgitasi makanan yang tak tercerna dengan bau nafas dan akhirnya cegukan. Nyeri dada sering dideskripsikan dengan perasaan tertekan atau terbakar di dada. Gejala ini sering sekali diartikan dengan gejala yang berkaitan dengan organ lain, seperti jantung, sehingga sering kali orang tidak menyadari kalau gejala tersebut adalah salah satu gejala yang sering dikeluhkan pada penderita kanker esofagus. x Kehilangan berat badan dan kekuatan secara progresif akibat kelaparan Sekitar sebagian dari pasien yang menderita kanker esofagus mengalami penurunan berat badan. Hal ini terjadi karena masalah menelan sehingga penderita mendapat masukan makanan yang kurang untuk tubuhnya. Penyebab lain dikarenakan berkurangnya nafsu makan dan meningkatnya proses metabolisme kanker yang diderita oleh pasien. x Perdarahan Pendarahan juga bisa terjadi pada pasien kanker esofagus. Sel tumor yang tumbuh mampu mengeluarkan aliran darah, menyebabkan terjadinya nekrosis dan ulserasi pada mukosa dan menghasilkan pendarahan di daerah gastrontestinal. Jika pendarahan terjadi dalam jumlah yang banyak, maka feses juga bisa berubah menjadi warna hitam tapi hal ini bukan berarti tanda bahwa kanker esofagus pasti ada. c. Pemeriksaan penunjang 1. Barium esofagogram Pada uji ini, cairan yang disebut barium ditelan. Barium akan melapisi dinding esofagus. Ketika dilakukan penyinaran (sinar X), barium akan membentuk esofagus dengan jelas. Tes ini dapat digunakan untuk melihat apakah ada kelainan
Modul VII.14 - Neoplasma Esofagus 1/3 Proksimal 21 pada permukaan dinding esofagus. Tes barium biasanya menjadi pilihan utama untuk melihat penyebab disfagia. Bahkan sebagian kecil tumor, dapat terlihat dengan menggunakan tes ini. Tes barium tidak dapat digunakan untuk menentukan seberapa jauh kanker telah metastasis. Pemeriksaan ini dapat mengetahui tumor terletak supra atau sub carinal, memberikan informasi derajat stenosis yang disebabkan oleh tumor. 2. Endoskopi Endoskopi merupakan uji diagnostik yang paling utama untuk mendiagnosis kanker esofagus. Dengan bantuan endoskopi, dokter dapat melihat kanker dan melakukan biopsi terhadap jaringan kanker maupun jaringan lain yang ada di sekitar kanker yang tampak tidak normal. Contoh jaringan yang telah diambil kemudian dikirim ke laboratorium, dan dengan bantuan mikroskop dapat ditentukan apakah jaringan tersebut merupakan jaringan yang bersifat ganas (kanker). Jika kanker esofagus menutupi lumen esofagus, maka lumen tersebut dengan bantuan alat dan endoskopi dapat dilebarkan sehingga makanan dan cairan dapat melalui bronkoskopi Diindikasikan untuk menyingkirkan invasi pada percabangan tracheobronchial 3. CT Scan CT Scan biasanya tidak digunakan untuk mendiagnosis kanker esofagus, tetapi CT Scan dapat membantu dalam menentukan penyebaran dari kanker esofagus. CT Scan dapat menunjukkan lokasi dimana kanker esofagus berada dan dapat membantu dalam menentukan apakah pembedahan merupakan tatalaksana terbaik untuk kanker esofagus. Sebelum gambar diambil, pasien diminta untuk minum cairan kontras, sehingga esofagus dan bagian usus dapat terlihat jelas sehingga tidak terjadi pembiasan pada daerah sekitarnya. CT tidak terlalu akurat untuk menentukan status tumor primer (T) tetapi berguna untuk menilai apakah ada invasi langsung ke aorta atau saluran nafas utama yang menghindarkan dari intervensi operasi. Kecurigaaan invasi ke aorta ketika lebih dari 25% lingkar aorta tidak terlihat oleh kanker esofagus. Penentuan ini susah karena kakeksia menyingkirkan lemak di sekitar esofagus, membuat false positif pada invasi. Keakuratan penilaian invasi aorta sebesar 90%. Kecurigaan invasi ke saluran nafas ketika ada deviasi trakea atau bronkus utama oleh tumor primer. Bronkoskopi diperlukan untuk membedakan deviasi dan invasi. Keakuratan penilaian invasi saluran nafas sebesar 90% Keterlibatan limfonodi oleh kanker esophagus tidak akurat terdeteksi dengan CT. Limfonodi normal dengan berbagai ukuran terletak di mediastinum dan abdomen, limfonodi karena penyebaran metastasis biasanya tidak membesar dibandingkan normal. Sensitivitas CT untuk mendeteksi limfonodi sangat rendah, keakuratan kurang dari 60%. CT sangat berguna untuk mendeteksi metastasis jauh. Daerah penyebaran metastasis dari limfonodi non regional (liver, paru, peritoneum, kelenjar adrenal, tulang dan ginjal). Keakuratan deteksi CT terhadap metastasis liver sebesar 90%.
Modul VII.14 - Neoplasma Esofagus 1/3 Proksimal 22 4. Bronkoskopi Bronkoskopi dilakukan pada semua pasien yang akan dilakukan operasi dan tumor berdekatan dengan trakea atau bronkus utama sehingga dapat melihat secara langsung keterlibatan lumen dan submucosa saluran nafas. Penyimpangan carina memberikan keterlibatan limfonodi subcarinal sehingga dibutuhkan evaluasi aspirasi jarum transbronkial untuk evaluasi sitologi. Kultur rutin sekresi respiratori berguna untuk memilih terapi antibiotik jika pasca operasi terjadi pneumonia. Bronkoskopi memiliki sensitifitas 78%, spesifitas 98% dan keakuratan 96% untuk diagnosis invasi ke saluran nafas. 5. Ultrasonografi endoskopi Pemeriksaan ini diperkenalkan untuk keakuratan staging tumor primer dan limfonodi regional.Kemudian pengalaman memberikan tambahan nilai untuk menilai beberapa limfonodi non regional (metastasis). Keakuratan Endoskopi Ultrasonografi (EUS) staging untuk tiap komponen bergantung pada pemeriksaan frekuensi ultrasound ke jaringan karena frekuensi tinggi (20mHz) menghasilkan detail yang lebih baik tetapi kedalamannya kurang daripada frekuensi rendah (7,5mHz, 12mHz). Diameter standar ultrasound endoskopi terlalu besar untuk melewati obstruksi tumor, membuat evaluasi inkomplit sekitar 25% dari jumlah pasien. EUS menggambarkan esophagus normal dengan mengubah lapisan hiperekoik dan hipoekoik menunjukkan mukosa dan lamina propria, muskularis mukosa, submukosa, muskularis propia, dan adventisia. Kedalaman invasi tumor dengan menilai perluasan tumor. EUS berguna untuk menilai keterlibatan aorta, tetapi invasi ke saluran nafas tidak akurat dinilai karena sinyal ultrasound oleh saluran udara trakea. Keakuratan EUS untuk stadium tumor primer bergantung pada stadium patologi tumor secara keseluruhan sekitar 80%. EUS kurang akurat pada stadium primer tumor setelah kemoradioterapi.Teknik ini tidak dapat membedakan fibrosis karena terapi dan residu tumor. Keakuratan sekitar 45%. Dalam menilai limfonodi dengan EUS, ada 3 kriteria yang digunakan: ukuran, karakteristik batas, dan arsitektur internal. Limfonodi yang membesar memiliki batas luar yang tegas, dan karakteristik sama, arsitekstur internal hipoekoik biasanya maligna. Menggunakan kriteria ini keaukuratan staging limfonodi oleh EUS sekitar 75%. Setelah kemoradioterapi keakuratan EUS untuk staging limfonodi menurun lebih dari 50%. 6. Magnetic Resonance Imaging (MRI) Sebagai metode rutin staging neoplasma esophagus, MRI tidak memberikan keuntungan yang lebih dibandingkan CT. Kedua teknik memiliki kesamaan spesifisitas, sensitifitas, dan keakuratan untuk menilai resektabilitas dengan memperhatikan invasi langsung ke aorta dan saluran nafas. Keduanya memberikan informasi yang berguna tentang limfonodi regional dan metastasis. MRI tidak memiliki nilai lebih daripada CT dalam mengevaluasi liver untuk matastasis. MRI lebih mahal dan ketersediaannya terbatas dibandingkan dengan CT. 7. Positron Emission Tomography (PET) PET scan mendeteksi keterlibatan limfonodi dan metastasis dengan peningkatan metabolism F-fluorodeoxyglucose.Kemampuan mendeteksi metastasis
Modul VII.14 - Neoplasma Esofagus 1/3 Proksimal 23 limfonodi regional lebih baik daripada CT tapi tidak sebagus EUS, dengan sensitifitas 51%, spesifisitas 80%, dan keakuratan hanya 59%.Untuk mengetahui metastasis jauh, sensitifitas 88%, spesifisitas 93% dan keakuratan 91%. 8. Minimally Invasive Surgical Staging Laparoskopi dan torakoskopi dilakukan di beberapa pusat sebelum terapi pre reseksional.Laparoskopi digunakan untuk evaluasi pasien dengan penyebaran intraabdominal saat reseksi sebelum dilakukan laparotomi dan torakotomi. Torakoskopi dilakukan dengan anestesi umum, biasanya mendekati diseksi pada dada kanan. Teknik ini mengevaluasi tumor primer yang menyebar berdekatan dengan organ dan dilakukan biopsi pada limfonodi pada mediastinum. Sensitifitas sebesar 50%, spesifisitas 100%, dan keakuratan staging limfonodi sebesar 90%. Laparoskopi dilakukan dengan general anestesi. Evaluasi liver, omentum, dan permukaan peritoneal, beberapa limfonodi dapat dibiopsi, dan cairan peritoneal diambil sampel untuk evaluasi sitologi. Teknik ini berguna untuk staging pasien dengan adenokarsinoma pada distal esophagus dan cardia. Keakuratan staging limfonodi sekitar 90%, dan total staging abdominal mendekati 100%. 9. Neck Ultrasonography Keterlibatan limfonodi servikal dan supraklavikular oleh penyebaran metastasis sekitar 30% pasien dengan neoplasma pada esofagus bagian torakal dan kebanyakan tidak terdeteksi dengan pemeriksaan fisik. Keakuratan penilaian terhadap limfonodi servikal dan supraklavikular sekitar 90%. Aspirasi jarum dengan bantuan ultrasound untuk sitologi menambah nilai dari teknik ini. 10. Biologic Staging Beberapa marker untuk prognosis neoplasma esofagus, meliputi growth factor (EGF, TGF-Ȑ, PDGF), onkogen (c-myc, int-2, hst-1, cyclin D, EGFR, HER- 2/new, h-ras), tumor suppressor gene (Rb, p53, p73, APC, MCC, p27), E-cadherin molekul sel adhesi, marker perkembangan tumor CEA, dan DNA content. d. Staging menurut AJCC/UICC edisi ke-8 tahun 2017 Karsinoma sel skuamosa dan adenokarsinoma TUMOR PRIMER (T) TX Tumor primer tidak dapat dinilai T0 Tidak ada bukti ada tumor primer Tis Displasia tingkat tinggi, didefinisikan sebagai di epitel dengan dasar membran T1 Invasi ke lamina propia, mukosa muskularis, atau submukosa T1a Invasi ke lamina propia atau mukosa muskularis T1b Invasi ke submukosa T2 Invasi ke tunika muskularis propia T3 Invasi ke tunika adventitia. T4 Invasi ke struktur sekitar. T4a Tumor invasi ke pleura, perikardium, vena azygos, diafragma, atau peritoneum T4b Tumor invasi ke struktur sekitar, seperti aorta,
Modul VII.14 - Neoplasma Esofagus 1/3 Proksimal 24 corpus vertebra, atau jalan nafas Kelenjar Getah Bening (N) NX Kelenjar getah bening regional tak dapat dinilai N0 Tidak ada metastasis jauh N1 Ada metastasis 1 atau 2 KGB N2 Metastasis pada 3 sampai 6 KGB N3 Metastasis pada 7 atau lebih KGB METASTASIS (M) M0 Tak ada metastasis jauh M1 Ada metastasis jauh HISTOLOGI (G) GX Tak ada metastasis jauh G1 Well differentiated G2 Moderately differentiated G3 Poorly differentiated, undifferentiated LOKASI (L) X Lokasi tidak diketahui Atas Esofagus servikal sampai batas bawah vena azygos Tengah Batas bawah vena azygos sampai batas bawah vena pulmonari inferior Bawah Batas bawah vena pulmonari inferior sampai perut, termasuk gastroesofageal junction Catatan: Lokasi didefinisikan sebagai posisi episenter dari tumor esofagus Prognosis AJCC berdasarkan Stadium Karsinoma Sel Skuamosa Klinis (cTNM) Staging Tumor Nodul Metastasis Stage 0 Tis N0 M0 Stage I T1 N0-1 M0 Stage II T2 T3 N0-1 N0 M0 M0 Stage III T3 T1-3 N1 N2 M0 M0 Stage IVA T4 any T N0-2 N3 M0 M0 Stage IVB any T Any N M1 Patologis (pTNM) Staging Tumor Nodul Metastasis Lokasi Histologi Stage 0 Tis N0 M0 Any N/A Stage IA T1a T1a N0 N0 M0 M0 Any Any G1 GX Stage IB T1a N0 M0 Any G2-3
Modul VII.14 - Neoplasma Esofagus 1/3 Proksimal 25 T1b T1b T2 N0 N0 N0 M0 M0 M0 Any Any Any G1-3 GX G1 Stage IIA T2 T2 T3 T3 N0 N0 N0 N0 M0 M0 M0 M0 Any Any Lower Upper/middle G2-3 GX Any G1 Stage IIB T3 T3 T3 T1 N0 N0 N0 N1 M0 M0 M0 M0 Upper/middle Any Location X Any G2-3 GX Any Any Stage IIIA T1 T2 N2 N1 M0 M0 Any Any Any Any Stage IIIB T2 T3 T4a N2 N1-2 N0-1 M0 M0 M0 Any Any Any Any Any Any Stage IVA T4a T4b Any T N2 N0-2 N3 M0 M0 M0 Any Any Any Any Any Any Stage IVB Any T Any N M1 Any Any Terapi Postneoadjuvan (ypTNM) Staging Tumor Nodul Metastasis Stage 1 T0-2 N0 M0 Stage II T3 N0 M0 Stage IIIA T0-2 N1 M0 Stage IIIB T3 T0-3 T4a N1 N2 N0 M0 M0 M0 Stage IVA T4a T4a T4b Any T N1-2 NX N0-2 N3 M0 M0 M0 M0 Stage IVB any T Any N M1 Adenokarsinoma Klinis (cTNM) Staging Tumor Nodul Metastasis Stage 0 Tis N0 M0 Stage I T1 N0-1 M0 Stage IIA T1 N1 M0 Stage IIB T2 N0 M0 Stage III T2 T3 T4a N1 N0-1 N0-1 M0 M0 M0 Stage IVA T1-4a N2 M0
Modul VII.14 - Neoplasma Esofagus 1/3 Proksimal 26 T4b Any T N0-2 N3 M0 M0 Stage IVB Any T Any N M1 Patologis (pTNM) Staging Tumor Nodul Metastasis Histologi Stage 0 Tis N0 M0 N/A Stage IA T1a T1a N0 N0 M0 M0 G1 GX Stage IB T1a T1b T1b N0 N0 N0 M0 M0 M0 G2 G1-2 GX Stage IC T1 T2 N0 N0 M0 M0 G3 G1-2 Stage IIA T2 T2 N0 N0 M0 M0 G3 GX Stage IIB T1 T3 N1 N0 M0 M0 Any Any Stage IIIA T1 T2 N2 N1 M0 M0 Any Any Stage IIIB T2 T3 T4a N2 N1-2 N0-1 M0 M0 M0 Any Any Any Stage IVA T4a N2 M0 Any e. Terapi a. Operasi dengan bedah reseksi x Stadium awal dilakukan dengan pendekatan transtoraksik atau transhiatal untuk esofagektomi sebagian atau total. x Pendekatan transervikal untuk esofagus servikal atas atau penyebaran ke depan dari hipofaring x Laringektomi dengan atau tanpa reseksi trakea sebagian sangat penting untuk kanker esofagus servikal atas x Endoskopi b. Radioterapi x Radioterapi primer digunakan sebagai terapi alternatif pasien untuk mencegah tindakan bedah reseksi x Post operatif radioterapi meningkatkan kontrol lokal disease, dan bermanfaat pada pasien dengan resiko kekambuhan tinggi, fistula trakeoesofageal atau gejala sisa c. Kemoterapi x Kemoterapi preoperatif menghasilkan penurunan ukuran tumor primer dan sebagai terapi regional dan metastasis
Modul VII.14 - Neoplasma Esofagus 1/3 Proksimal 27 x Kemoterapi post operatif juga sebagai terapi regional dan metastasis tetapi hasilnya akan terjadi peningkatan toksisitas, morbiditas atau tidak terjadi perbaikan d. Kombinasi kemoradiasi x Ada peningkatan toksisitas tetapi respon tumor lebih baik dengan terapi ini x Digunakan sebagai terapi preoperasi untuk mengecilkan ukuran tumor, tetapi manfaatnya belum jelas x Bermanfaat sebagai terapi primer pada pasien yang tidak dilakukan operasi reseksi e. Rekonstruksi x Transposisi lambung atau pull-up digunakan pada pasien dilakukan esofagektomi total x Esofagektomi servikal atau laringofaringektomi total adalah pilihan terbaik f. Prognosis Jika terdiagnosis secara dini, secara keseluruhan tumor esofagus memiliki prognosis yang baik. Sebanyak 70% penderita mengalami metastasis pada kelenjar limfonodi. Jika tidak ada keterlibatan limfonodi, maka 50% pasien dapat bertahan hidup selama 5 tahun. Jika sudah terjadi metastasis, maka hanya 1 dari 8 penderita yang mampu bertahan hingga 5 tahun.
MODUL UTAMA ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER MODUL VII.15 KARSINOMA LARING EDISI III KOLEGIUM ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER 2022
DAFTAR ISI A. WAKTU .................................................................................................................. 1 B. PERSIAPAN SESI .................................................................................................. 1 C. REFERENSI ........................................................................................................... 1 D. KOMPETENSI ....................................................................................................... 2 E. GAMBARAN UMUM ........................................................................................... 2 F. CONTOH KASUS DAN DISKUSI ....................................................................... 2 G. TUJUAN PEMBELAJARAN................................................................................. 3 H. METODE PEMBELAJARAN ............................................................................... 3 I. EVALUASI ............................................................................................................. 6 J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF .................................... 7 K. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR ........................... 10 L. DAFTAR TILIK ................................................................................................... 11 M. MATERI PRESENTASI....................................................................................... 13 N. MATERI BAKU ................................................................................................... 15
Modul VII.15± Karsinoma Laring 1 MODUL VII.15 ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER: KARSINOMA LARING A. WAKTU Mengembangkan Kompetensi Alokasi Waktu Sesi di dalam kelas Sesi dengan fasilitasi Pembimbing Sesi praktik dan pencapaian kompetensi 2 x 90 menit (classroom session) 2 x 60 menit (coaching session) 18 jam (facilitation and assessment) B. PERSIAPAN SESI x Materi presentasi: a. Power point b. Video x Kasus: Neoplasma laring x Sarana dan alat bantu latih: (disesuaikan dengan pencapaian kompetensi): o Penuntun belajar (learning guide): terlampir o Tempat belajar (training setting): instalasi rawat inap, instalasi rawat jalan, kamar operasi, ruang praktikum, ruang kuliah o Model/manekin atau kadaver o Komputer/laptop o Infocus C. REFERENSI 1. Sinha P, Okuyemi O, Haughey BH. Early Larungeal Cancer. In: Johnson JT, Rosen CA, et al. Editors. %DLOH\¶V +HDG DQG 1HFN 6XUJHU\-Otolaryngology 5 th (ed). Vol.2. Philadelphia: Wolters Kluwer, Lippincott Williams & Wilkins. 2014. p. 1940-60. 2. Loehn BC, Kunduk M, McWhorter AJ. Advanced Larungeal Cancer. In: Johnson JT, Rosen CA, et al. Editors. %DLOH\¶V +HDG DQG 1HFN 6XUJHU\-Otolaryngology 5 th (ed). Vol.2. Philadelphia: Wolters Kluwer, Lippincott Williams & Wilkins. 2014. p. 1961-77. 3. Hodnett BL, Renukuntla S, Johnson JT. Tumors of the larynx. In: Chan Y, *RGGDHG -& (GLWRUV .-/HH¶V (VVHQWLDO 2WRODU\QJRORJ\ +HDG DQG 1HFN Surgery. 11th (ed). United States: McGraw-Hill education. 2016. p. 688-700 4. Wein RO, Gold KA, Gunn B, Weber RS. Cancer of the larynx. In: Myers JN, Hanna EYN, Myers EN. Editors. Cancerof the Head and Neck 5 th (ed). Philadelphia: Wolters Kluwer, Lippincott Williams & Wilkins. 2017. p. 654-709 5. Shah J. Larynx and Trachea. In: Shah J, ed. Head and neck surgery and oncology. 5 th ed. Philadelphia: Elsevier Co; 2020. p. 365-440 6. Amin, M.B., Edge, S.B. and American Joint Committee on Cancer, 2017. AJCC Cancer Staging Manual, 8th ed. Springer 7. Pfister DG, Spenser S, Adelstein D, Adkins D, Brizel DM, Burtness BA. NCCN Clinical Practise Guidelines in Oncology. Head and Neck Cancer: National Comprehensive Cancer Network; 2020. p.1-225
Modul VII.15± Karsinoma Laring 2 D. KOMPETENSI 1. Pengetahuan Mampu membuat diagnosis karsinoma laring berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. 2. Keterampilan Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam: 1. Menjelaskan anatomi dan topografi regio laring. 2. Menjelaskan patogenesis karsinoma laring. 3. Menjelaskan gejala dan tanda karsinoma laring. 4. Melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik pada karsinoma laring. 5. Membuat keputusan untuk pemeriksan penunjang seperti Rhinolaryngoscopy Fiber Optic (RLFO), biopsi mikrolaring, CT Scan kepala leher. 6. Menegakkan diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhubungan dengan karsinoma laring. 7. Menentukan pilihan terapi yang tepat pada kasus karsinoma laring. 8. Mempersiapkan penderita pra operatif (memberi penjelasan kepada penderita dan keluarga, informed consent), dan merawat penderita pascaoperasi serta mampu mengatasi komplikasi yang terjadi. E. GAMBARAN UMUM Neoplasma laring adalah keganasan pada laring yang berasal dari sel epitel laring, yang dapat mengenai regio laring (supraglotik, glotik, subglotik). Insiden kejadian karsinoma laring 0,7 % dengan angka kematian 0,3 %. Jika dideteksi secara dini maka dapat diterapi secara efektif, tetapi lebih dari 40% karsinoma laring datang dalam stadium lanjut (stadium 3 dan 4). Karsinoma laring lebih sering terjadi pada usia kurang dari 65 tahun (6,9%) dan > 65 tahun (2,3%) dengan frekuensi laki-laki dan perempuan 4:1. Karsinoma laring menempati urutan ketiga dari seluruh keganasan kepala dan leher. Fungsi laring adalah sebagai proteksi, respirasi dan fonasi. Keganasan laring dapat mempengaruhi satu atau lebih fungsi dari laring. Gejala utamanya adalah parau, sesak nafas, dan rasa mengganjal saat menelan. Terapi untuk karsinoma laring perlu mempertimbangkan kualitas hidup. Terapi pada karsinoma laring meliputi laringektomi partial dan total. Setelah dilakukan operasi diberikan kemoradiasi konkuren. Terapi baku karsinoma laring adalah laringektomi total dengan kemoradiasi pasca operasi. F. CONTOH KASUS DAN DISKUSI Seorang laki-laki, 65 tahun datang ke poli THT-KL dengan keluhan: suara serak sejak 3 bulan yang lalu, keluhan ini dirasakan makin lama makin memberat, dan tidak pernah membaik. Keluhan kemudian disertai dengan sesak napas, terutama bila beraktifitas, kadang-kadang disertai dengan batuk. Penderita masih dapat makan dan minum dengan baik. Riwayat merokok sejak 40 tahun yang lalu sebanyak 1 bungkus rokok kretek perhari. Pada pemeriksaan didapatkan retraksi otot-otot pernafasan (epigastrial dan interkostal). Suara tambahan saat bernafas (inspirasi) terdengar pelan. Temperatur tubuh 36,7 0 dan pemeriksaan leukosit darah adalah 10.000 mm 3 , lain-lain dalam batas normal. Pemeriksaan Thorax X-Ray dalam batas normal
Modul VII.15± Karsinoma Laring 3 Pemeriksaan CT-Scan axial dan koronal setinggi laring dengan kontras menunjukkan massa didaerah laring (transglotis terutama sisi kiri) yang hampir menutupi jalan nafas. Tidak ditemukan pembesaran kelenjar getah bening leher. Diskusi: x Anatomi, fisiologi, dan histologi laring x Patogenesis terjadinya karsinoma laring x Etiologi dan faktor risiko x Derajat obstruksi saluran nafas atas x Penegakan diagnosis dan stadium x Rencana terapi x Pemeriksaan pra dan pasca bedah Jawaban: Diagnosis: Karsinoma laring transglotis T4N0M0 stadium IV Terapi: Laringektomi total Diseksi leher Tiroidektomi ipsilateral (kiri) Kemoradiasi pasca bedah Rehabilitasi suara G. TUJUAN PEMBELAJARAN 1. Tujuan pembelajaran umum Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan mampu untuk menegakkan diagnosis dan melakukan terapi terhadap neoplasma laring. 2. Tujuan pembelajaran khusus Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan mampu untuk: 1. Menguasai anatomi, topografi, histologi, dan fisiologi laring 2. Mampu menjelaskan patogenesis neoplasma laring 3. Menjelaskan gejala dan tanda neoplasma laring 4. Melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik pada neoplasma laring 5. Membuat keputusan untuk pemeriksan penunjang 6. Menegakkan diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan. 7. Membuat keputusan klinik untuk laringektomi 8. Melakukan tindakan operasi laringektomi 9. Mempersiapkan penderita pra operatif dan merawat penderita pasca operatif (mandiri) serta mampu mengatasi komplikasi (dengan supervisi) H. METODE PEMBELAJARAN Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan mempunyai kemampuan dasar untuk menegakkan diagnosis karsinoma laring dan mampu untuk menentukan terapi yang sesuai.
Modul VII.15± Karsinoma Laring 4 Tujuan 1. Menjelaskan anatomi dan topografi regio laring Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture. 2. Small group discussion. 3. Peer assisted learning (PAL) 4. Bedside teaching. 5. Task based medical education. Tujuan 2. Menjelaskan patogenesis karsinoma laring Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture. 2. Journal reading and review. 3. Peer assisted learning (PAL) 4. Bedside teaching. 5. Task based medical education. Tujuan 3. Menjelaskan gejala dan tanda karsinoma laring Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review 3. Case simulation and investigation exercise 4. Equipment characteristics and operating instructions Tujuan 4. Melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik pada karsinoma laring Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review 3. Case study 4. Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device) 5. Demonstration and Coaching 6. Practice with Real Clients Harus diketahui: 1. Metode standar anamnesis 2. Gejala dan tanda pasti karsinoma laring Tujuan 5. Membuat keputusan untuk pemeriksaan penunjang yang berhubungan dengan karsinoma laring Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review. 3. Morbidity and Mortality Case study 4. Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device). 5. Operative Procedure Demonstration and Coaching 6. Practice with Real Clients. 7. Continuing Professional Development Harus diketahui: 1. Indikasi pemilihan pemeriksaan tambahan 2. Pemeriksaan penunjang yang sensitif dan spesifik
Modul VII.15± Karsinoma Laring 5 Tujuan 6. Menegakkan diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhubungan dengan karsinoma laring Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review 3. Case study 4. Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device) 5. Demonstration and Coaching 6. Practice with Real Clients Harus diketahui: 1. Analisis data untuk menegakkan diagnosis 2. Memilah diagnosis banding dan menentukan diagnosis kerja Tujuan 7. Mampu menjelaskan penatalaksanaan karsinoma laring Untuk mencapai tujuan tersebut maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review 3. Case study 4. Practice with Real Clients Harus diketahui: 1. Rencana pengobatan atau tata laksana pasien 2. Prosedur konservatif: Kemoradiasi 3. Prosedur operatif: Laringektomi parsial Laringektomi Total Laringektomi total dengan diseksi leher Laringektomi total dengan tiroidektomi dan diseksi leher Tujuan 8. Melakukan tindakan pembedahan (laringektomi) Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review 3. Case study 4. Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device) 5. Demonstration and Coaching 6. Practice with Real Clients Harus diketahui: 1. Jenis pembedahan 2. Langkah-langkah pembedahan 3. Komplikasi operasi Tujuan 9. Melakukan persiapan penderita pra operatif dan merawat penderita pasca operatif serta mampu mengatasi komplikasi (dengan supervisi) Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review 3. Case study 4. Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device) 5. Demonstration and Coaching
Modul VII.15± Karsinoma Laring 6 6. Practice with Real Clients Harus diketahui: 1. Persiapan preoperatif 2. Komplikasi pascaoperasi Rangkuman: Karsinoma laring banyak ditemukan pada usia >55 tahun, terutama laki-laki dengan rasio 4:1. Karsinoma sel skuamosa (SCCA) mewakili 85% sampai 95% keganasan laring. Tatalaksana karsinoma laring bisa berupa operatif, radioterapi, kemoterapi atau kombinasi ketiganya. Karsinoma leher dilakukan penatalaksanaan sesuai dengan diagnosis yang ditegakkan. Diseksi leher pada karsinoma laring dilakukan sesuai indikasi. I. EVALUASI 1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Tengah pembelajaran dilaksanakan mid-test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat kompetensi yang dicapai yang bertujuan untuk menilai capaian peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Pada akhir pertemuan dilaksanakan post-test dalam bentuk essay dan oral yang bertujuan untuk menilai kinerja akhir peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pre-test, mid-test, dan post-test terdiri atas: - Anatomi, topografi, histologi dan fisiologi tiroid - Penegakan diagnosis - Penatalaksanaan - Follow up 2. Selanjutnya dilakukan small group discussion bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian. 3. Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk role play dan teman-temannya (Peer Assisted Evaluation) atau kepada SP (Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assisted Evaluation) setelah dianggap memadai, melalui metode bedside teaching dibawah pengawasan fasilitator, peserta dididik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomi dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut :
Modul VII.15± Karsinoma Laring 7 1. Perlu perbaikan: pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan. 2. Cukup: pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terlalu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien. 3. Baik: pelaksanaan benar dan baik (efisien). 4. Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan. 5. Self assesment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar. 6. Pendidik/ fasilitas: - Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form (terlampir) - Penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi - Kriteria penilaian keseluruhan : cakap/ tidak cakap/ lalai 7. Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education) 8. Pencapaian pembelajaran: - Ujian OSCE (K,P,A), dilakukan pada tahapan T.H.T.K.L dasar oleh Kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L - Ujian akhir stase, setiap divisi / unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan T.H.T.K.L lanjut oleh Kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L. - Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan T.H.T.K.L lanjut oleh Kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L. - Ujian akhir profesi (kasus bedah), dilakukan pada akhir pendidikan oleh Kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L. J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF 1. Kuesioner Sebelum Pembelajaran (Pre Test) Soal : 1. Indikasi dilakukan total laringektomi adalah: a. Karsinoma laring stadium 1 dan 2 yang gagal dengan terapi radiasi dan kemoterapi b. Karsinoma laring stadium 3 yang tidak mungkin dilakukan parsial laringektomi c. Karsinoma laring stadium 3 dan 4 yang ekstensi ke glotis d. Karsinoma subglotik atau karsinoma glotik dengan ekstensi ke subglotik > 1,5 cm e. Karsinoma basis lidah yang ekstensinya belum melebihi papila sirkumvalata Jawaban: D 2. Tn A 45 tahun, seorang petani berobat ke poliklinik Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L dengan keluhan suara serak yang makin lama semakin memberat sejak 3 bulan terakhir. Pada pemeriksaan telinga, hidung, dan faring tidak ditemukan kelainan. Tidak terdapat pembesaran kelenjar leher Pertanyaan:
Modul VII.15± Karsinoma Laring 8 Pemeriksaan selanjutnya yang harus dilakkukan adalah a. CT-Scan leher b. Foto polos leher AP/lateral c. Trakeostomi untuk persiapan biopsi d. Fleksibel laringoskopi dan biopsi e. Direk laringoskopi dan biopsi Jawaban: D 3. Rehabilitasi suara yang banyak dilakukan segera pasca total laringektomi adalah: a. Suara esofagus b. Shunt and valve c. Prostesis suara d. Prostesis trakeoesofageal e. Laring elektronik Jawaban: E 4. Komplikasi yang paling sering sesudah tindakan total laringektomi adalah a. Hipertiroidism b. Esofagitis c. Stenosis esofagus d. Fistula dan infeksi luka operasi e. Disfagia Jawaban: D 5. Perawatan pasien pasca total laringektomi a. Makan dan minum setelah 5 hari perawatan b. Posisi pasien tidur terlentang c. Drain diangkat pada hari ke 2 atau bila jumlah perdarahan < 15 cc d. NGT dipertahankan sampai hari ke 5 e. Pasien dianjurkan tidak menelan ludah Jawaban: E 2. Kuesioner Tengah pembelajaran Soal : Seorang laki-laki usia 56 tahun datang dengan keluhan suara serak sejak 4 bulan yang lalu, tidak disertai demam, sakit menelan, maupun batuk. Pasien memiliki riwayat merokok sejak remaja. Pada pemeriksaan fisik telinga dan hidung tidak didapatkan kelainan. Pada laringoskopi indirek ditemukan massa kemerahan pada keseluruhan plika vokalis kanan dengan gerakan masih baik. 1. Pada biopsi didapatkan hasil PA SCC differensiasi baik. Pemeriksaan penunjang apakah yang saudara anjurkan selanjutnya? a) CT-scan b) Soft Tissue Leher c) USG leher d) MRI Jawaban: D 2. Manajemen apakah yang paling tepat untuk pasien tersebut? a) Laringektomi parsial tanpa diseksi leher
Modul VII.15± Karsinoma Laring 9 b) Laringektomi parsial dengan diseksi leher c) Laringektomi total tanpa diseksi leher d) Laringektomi total dengan diseksi leher Jawaban: A 3. Apakah yang harus diperhatikan pada durante tindakan operasi? a) frozen section b) pemasangan/persiapan provox c) pemberian marker pada specimen d) penutupan stoma pada akhir operasi Jawaban: C 3. Kuesioner Akhir pembelajaran Soal : Seorang pasien laki-laki usia 62 tahun datang dengan keluhan sesak nafas. Keluhan tersebut diawali dengan suara serak sejak 1 tahun yang lalu kemudian memberat dalam 2 bulan terakhir. Keluhan disertai batuk dengan dahak yang disertai bercak darah, tidak didapatkan benjolan pada leher. Pada pemeriksaan fisik didapatkan rektraksi supraklavikula dengan stridor inspiratoir. Pasien telah dilakukan trakeostomi cito. 1. Pemeriksaan lanjutan apakah yang saudara sarankan untuk pasien ini? a) USG leher b) Ct-scan c) Rontgen toraks d) triple endoskopi Jawaban: D 2. Pada hasil 2 macam pemeriksaan yaitu ct-scan dan triple endoskopi. Hasil ct-scan ditemukan massa sudah mendestruksi kartilago tiroid dan meluas ke anterior. Hasil triple endoskopi tidak didapatkan massa/ perluasan ke esofagus. Apa perkiraan stadium pada pasien ini menurut saudara? a) T1N0Mx b) T2N0Mx c) T3N0Mx d) T4N0Mx Jawaban: D 3. Pada biopsi didapatkan hasil PA SCC differensiasi buruk, manajemen apakah yang saudara anjurkan untuk pasien ini? a) Laringektomi parsial tanpa diseksi leher b) Laringektomi parsial dengan diseksi leher c) Laringektomi total tanpa diseksi leher d) Laringektomi total dengan diseksi leher Jawaban: C
Modul VII.15± Karsinoma Laring 10 K. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR Penuntun Belajar Prosedur Biopsi Tumor Laring Approach Mikrolaringoskopi Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut : 1. Perlu perbaikan 2. Mampu 3. Mahir 4. T/D langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan) langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi diluar normal. langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan). NAMA PESERTA: .................................. TANGGAL: ................................. NO KEGIATAN/LANGKAH KLINIK KASUS 1 2 3 T/D PERSIAPAN PRA-TINDAKAN 1 Informed Consent 2 Pemeriksaan Penunjang 3 Penderita Puasa 4 Memeriksa Dan Melengkapi Alat Persiapan alat: - Direk Laringoskopi - Light source - Forceps - Aplikator kapas, jelly Botol kecil + formalin (fiksasi) jaringan. 5 Persiapan penderita: - Informed consent - Penderita dipuasakan minimal 6 ± 8 jam sebelum tindakan dilakukan. - Pemeriksaan laboratorium (darah rutin, kimia darah, waktu bekuan, waktu perdarahan). - Pemeriksaan rontgen thoraks. - Penderita > 40 tahun, dilakukan pemeriksaan EKG. - Dikonsulkan ke bagian IPD/Anak bila didapatkan kelainan pada hasil pemeriksaan. - Penderita > 40 tahun, dilakukan pemeriksaan EKG. - Dikonsulkan ke bagian IPD/Anak bila didapatkan kelainan pada hasil pemeriksaan.
Modul VII.15± Karsinoma Laring 11 NO KEGIATAN/LANGKAH KLINIK KASUS 1 2 3 T/D 6 - Persiapan Tindakan: Posisi penderita terlentang dan kepala ekstensi. - Bila dibutuhkan dapat dilakukan trakeostomi praoperasi dengan lokal anestesi. TINDAKAN 1 Memasukkan Laringoskop direk dengan cara Laringoskopi dipegang dengan tangan kiri, jari tengah, dan jari manis membuka biit atas. 2 Evaluasi daerah valekula dan epiglotis. 3 Epiglotis diangkat ke atas sehingga dapat diperiksa. 4 Bila didapatkan keadaan patologis seperti tumor, dilakukan pengambilan jaringan yang dicurigai dengan menggunakan forceps. 5 Jaringan yang telah diambil dapat difiksasi dengan formalin, dikirim ke Bagian Patologi Anatomi untuk pemeriksaan histopatologis. 6 Perdarahan dirawat dengan menggunakan albothyl melalui kapas aplikator sampai perdarahan berhenti/minimal 7 Pasien diberikan analgetik dan antibiotika post operasi L. DAFTAR TILIK Prosedur Biopsi Tumor Laring Approach Mikrolaringoskopi Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini: 9 : Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar ± : Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar T/T: Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih PESERTA: _________________________ TANGGAL :______________ NO KEGIATAN/LANGKAH KLINIK NILAI 9 ± T/T PERSIAPAN PRA-TINDAKAN 1 Informed Consent 2 Pemeriksaan Penunjang 3 Penderita Puasa
Modul VII.15± Karsinoma Laring 12 NO KEGIATAN/LANGKAH KLINIK NILAI 9 ± T/T 4 Memeriksa Dan Melengkapi Alat Persiapan alat: - Direk Laringoskopi - Light source - Forceps - Aplikator kapas, jelly - Botol kecil + formalin (fiksasi) jaringan. 5 Persiapan penderita: - Informed consent - Penderita dipuasakan minimal 6 ± 8 jam sebelum tindakan dilakukan. - Pemeriksaan laboratorium (darah rutin, kimia darah, waktu bekuan, waktu perdarahan). - Pemeriksaan rontgen thoraks. - Penderita > 40 tahun, dilakukan pemeriksaan EKG. - Dikonsulkan ke bagian IPD/Anak bila didapatkan kelainan pada hasil pemeriksaan. - Penderita > 40 tahun, dilakukan pemeriksaan EKG. - Dikonsulkan ke bagian IPD/Anak bila didapatkan kelainan pada hasil pemeriksaan 6 - Persiapan Tindakan : Posisi penderita terlentang dan kepala ekstensi. - Bila dibutuhkan dapat dilakukan trakeostomi pra operasi dengan lokal anestesi TINDAKAN 1 Memasukkan Laringoskop direk dengan cara Laringoskopi dipegang dengan tangan kiri, jari tengah, dan jari manis membuka biit atas. 2 Evaluasi daerah valekula dan epiglotis. 3 Epiglotis diangkat ke atas sehingga dapat diperiksa. 4 Bila didapatkan keadaan patologis seperti tumor, dilakukan pengambilan jaringan yang dicurigai dengan menggunakan forceps. 5 Jaringan yang telah diambil dapat difiksasi dengan formalin, dikirim ke Bagian Patologi Anatomi untuk pemeriksaan histopatologis. 6 Perdarahan dirawat dengan menggunakan albothyl melalui kapas aplikator sampai perdarahan berhenti/minimal 7 Pasien diberikan analgetik dan antibiotika post operasi
Modul VII.15± Karsinoma Laring 13 M. MATERI PRESENTASI 1. Anatomi dan topografi regio laring
Modul VII.15± Karsinoma Laring 14 2. Jenis neoplasma laring 3. Patogenesiskarsinoma laring 4. Pemeriksaan dan diagnosis karsinoma laring
Modul VII.15± Karsinoma Laring 15 5. Penatalaksanaan karsinoma laring N. MATERI BAKU KARSINOMA LARING a. Definisi Keganasan pada laring yang dapat mengenai regio laring (supraglotik, glotik, subglotik) b. Etiologi 1. Merokok dan mengkonsumsi alkohol merupakan etiologi tersering menyebabkan karsinoma laring sebanyak 89% 2. Sebanyak 5% keganasan laring disebabkan faktor makanan, refluks gastroesofageal, riwayat radiasi sebelumnya dan infeksi virus 3. Humam papilloma virus tipe 16 dan 18 merupakan etiologi karsinoma laring dengan frekuensi sebanyak 5-32%. 4. Terpapar zat karsinogen seperti debu kayu, polisiklik hidro karbon dan asbestos meningkatkan rsiko terjadinya karsinoma laring di negara berkembang. c. Epidemiologi Insiden kejadian karsinoma laring 0,7 % dengan angka kematian 0,3 %. Jika dideteksi secara dini maka dapat diterapi secara efektif, tetapi lebih dari 40% karsinoma laring datang dalam stadium lanjut pada stadium 3 dan 4. Karsinoma laring lebih sering terjadi pada usia kurang dari 65 tahun (6,9%) dan > 65 tahun (2,3%) dengan frekuensi laki-laki dan perempuan 4:1. Karsinoma laring menempati urutan ketiga dari seluruh keganasan kepala dan leher
Modul VII.15± Karsinoma Laring 16 d. Diagnosis 1) Anamnesis: Gejala Klinis kasinoma laring tergantung lokasi tumor : a. Tumor supraglotis - Rasa mengganjal - Hot potatoes voices/muffle - Disfagia - Dipsneu - Otalgi - Servikal metastasis b. Tumor glotis - Hoarseness c. Tumor subglotis - Airway obstruction Pada pasien dalam stadium lanjut karsinoma laring gejala-gejala tersebut dapat ditemukan secara bersamaan. 2) Pemeriksaan fisik: a. Pemeriksaan T.H.T.K.L lengkap b. Pemeriksaan leher : x Palpasi : untuk memeriksa pembesaran pada membrane krikotiroid atau tirohioid, yang merupakan tanda ekstensi tumor ke ekstra laryngeal. Infiltrasi tumor ke kelenjar tiroid menyebabkan tiroid membesar dan keras. Memeriksa pembesaran kelenjar getah bening leher. c. Pemeriksaan penunjang : indirek laringoskopi, fleksibel endoskopi 3) Pemeriksaan radiologi (imaging): a. Rontgen soft tissue leher AP dan lateral b. Rontgen thorax c. CT-Scan laring atau MRI d. Biopsi dapat dilakukan dengan direk laringoskopi dalam narkose umum atau dengan fleksibel laringoskopi dalam narkose lokal e. Penentuan Stadium (AJCC 8, 2017) Tumor Primer (T) Supraglotis Tx : Tumor primer tidak bisa ditentukan Tis : Karsinoma insitu T1 : Tumor terbatas pada satu subsite dari supraglotis dengan pergerakan pita suara normal. T2 : Tumor menginvasi mukosa lebih dari satu subsite di supraglotis atau glotis atau diluar supraglotis (seperti mukosa pangkal lidah, valekula, atau dinding medial sinus piriformis) tanpa fiksasi laring. T3 : Tumor terbatas pada laring dengan fiksasi pita suara dan/ atau menginvasi postkrikoid, ruang pre-epiglotis, ruang paraglotis dan/ atau korteks dalam dari kartilago tiroid. T4 : Moderately advanced atau sangat Advanced T4a : Moderately advanced tumor primer, tumor menginvasi korteks luar tulang rawan tiroid dan/atau meluas ke jaringan ekstra laring (trakea, kartilago krikoid, jaringan lunak leher termasuk otot ekstrinsik dalam dari lidah,otot-
Modul VII.15± Karsinoma Laring 17 otot strap, tiroid atau esofagus). T4b : Sangat Advanced tumor lokal, tumor menginvasi ruang prevertebra, arteri karotis, atau menginvasi struktur mediastinum. Glotis Tx : Tumor primer tidak bisa ditentukan Tis : Karsinoma insitu T1 : Tumor terbatas pada pita suara/plika vokalis (bisa melibatkan komisura anterior ataupun posterior), pergerakan normal. T1a : Tumor terbatas pada satu pita suara T1b : Tumor melibatkan kedua pita suara T2 : Tumor meluas sampai ke supraglotis dan/atau subglotis dan atau dengan gangguan pergerakan pita suara. T3 : Tumor terbatas pada laring dengan fiksasi pita suara dan/atau menginvasi ruang paraglotis dan/atau inner cortex dari kartilago tiroid. T4 : Moderately advanced atau sangat Advanced T4a : Moderately advanced tumor primer, tumor menginvasi korteks luar tulang rawan tiroid dan/ atau meluas ke jaringan ekstra laring (trakea, kartilago krikoid, jaringan lunak leher termasuk otot ekstrinsik dalam dari lidah,otot- otot strap, tiroid atau esofagus). T4b : Sangat Advanced tumor lokal, tumor menginvasi ruang prevertebra, arteri karotis, atau menginvasi struktur mediastinum. Subglotis Tx : Tumor primer tidak bisa ditentukan Tis : Karsinoma insitu T1 : Tumor terbatas pada subglotis T2 : Tumor meluas ke pita suara dengan atau tanpa gangguan pergerakan. T3 : Tumor terbatas pada laring dengan fiksasi pita suara dan/ atau menginvasi ruang paraglotis dan/ atau korteks dalam dari kartilago tiroid. T4 : Moderately advanced atau sangat Advanced T4a : Moderately advanced tumor primer, tumor menginvasi korteks luar tulang rawan tiroid dan/ atau meluas ke jaringan ekstra laring (trakea, kartilago krikoid, jaringan lunak leher termasuk otot ekstrinsik dalam dari lidah,otot- otot strap, tiroid atau esofagus). T4b : Sangat Advanced tumor lokal, tumor menginvasi ruang prevertebra, arteri karotis, atau menginvasi struktur mediastinum. Kelenjar Getah bening Regional (N) Nx : Kelenjar limfe regional tidak tidak bisa ditentukan. N0 : Tidak terdapat metastasis ke kelenjar getah bening regional. N1 : Metastasis pada satu kelenjar limfe ipsilateral dengan ukuran diameter WHUSDQMDQJ   FP GDQ (1( -). N2a: Metastasis pada satu kelenjar limfe ipsilateral dengan ukuran diameter terpanjang lebih dari 3 cm tapi tidak lebih dari 6 cm dan ENE (-). N2b: Metastasis pada multipel kelenjar limfe ipsilateral dengan diameter terpanjang tidak lebih dari 6 cm dan ENE (-). N2c: Metastasis bilateral atau kontralateral kelenjar limfe dengan diameter
Modul VII.15± Karsinoma Laring 18 terpanjang tidak lebih dari 6 cm dan ENE (-). N3a: Metastasis kelenjar limfe dengan diameter terpanjang lebih dari 6 cm dan ENE(-) N3b: Metastasis pada setiap kelenjar limfe dengan ENE (+) Metastasis Jauh (M) M0 : Tidak ada metastasis jauh. M1 : Terdapat metastasis jauh. Stadium Stadium 0 : Tis N0 M0 Stadium I : T1 N0 M0 Stadium II : T2 N0 M0 Stadium III : T3 N0 M0 T1,T2,T3 N1 M0 Stadium IVA : T4a N0, N1 M0 T1,T2,T3 ,T4a N2 M0 Stadium IVB : Semua T N3 M0 T4b semua N M0 Stadium IVC : semua T semua N M1 *ENE: Extra Nodular Extension f. Diagnosis Banding xTuberkulosis laring xTumor jinak laring (papiloma, kista, polip) xPenyakit granuloma g. Terapi x Pembedahan : o Laringektomi parsial (LP) o Laringektomi total (LT), dapat dikombinasi dengan: Diseksi leher fungsional (DLF) Diseksi leher radikal (DLR) x Radioterapi, kemoterapi, dan terapi target ALGORITMA DAN PROSEDUR Bedah Mikrolaring Teknik operasi 1. Pasien tidur diatas meja operasi posisi supine 2. Dokter anestesi mengintubasi laring (jika ada penggunaan laser diantisipasi) diarahkan ke sisi kiri mulut 3. Bantalan ditempatkan dibawah bahu supaya bisa ekstensi kepala dan leher secara sempurna. 4. Meja ditempatkan di posisi tredelenburg terbalik agar didapatkan posisi yang nyaman untuk melihat laring melalui mikroskop. 5. Laringoskop dimasukkan seperti yang sebelumnya disebutkan. 6. Saat laring sudah tervisualisasi dengan adekuat, ujung dari laringoskop operator didekatkan ke midline sehingga jaringan yang patologi terlihat.
Modul VII.15± Karsinoma Laring 19 7. Laringoskop dimasukkan, epiglotis diungkit, lalu laringoskop dimasukkan untuk mengevaluasi seluruh struktur anterior laring 8. Alat suspension apparatus disambungkan ke laringoskop lalu disambungkan ke Mayo stand atau direkatkan ke meja operasi. Laringoskop yang tergantung dari meja yang menempel dari tempat tidur membuat pergerakan dari meja tanpa mengganggu posisi laringoskop. 9. Mikroskop didekatkan ke lapangan operasi dan laring divisualisasi dengan lensa pembesaran 400 mm. Instrumen laring dapat digunakan dengan alat mikro sesuai indikasi (forsep yang sesuai dengan peruntukannya). 10. Bila menggunakan laser CO2 maka wajah harus ditutup dengan handuk yang lembab dan mata ditutup dengan penutup mata yang lembab. Tidak satupun bagian dari wajah yang boleh terekspos. Petugas kamar operasi harus menggunakan pelindung mata. 11. Bila diperlukan pemeriksaan pada komisura posterior dan area ini tertutup oleh ETT, maka ETT dipindahkan dan ventilasi dilanjutkan dengan menggunakan alat Venturi Jet. Venturi diletakkan pada saluran cahaya laringoskop dan diposisikan diatas inlet laryngeal. Saat posisi sudah adekuat, pergerakan dinding dada dapat dilihat dengan baik tanpa obstruksi pada laring. 12. Instrumen kanul penghisap diletakkan di saluran cahaya dapat membantu menghisap asap yang dihasilkan dari prosedur laser. Hal ini memungkinkan karena pencahayaan untuk prosedur ini dihasilkan dari mikroskop. 13. Di akhir dari prosedur, pasien dapat di intubasi ulang untuk pemulihan anestesi, hal ini dapat dilakukan dengan dua metode: a. Laringoskop diangkat dan pasien diintubasi seperti biasa b. Pasien di intubasi ulang dengan laringoskop masih pada posisi Gambar 1. Pengaturan ruangan operasi pada prosedur bedah laser
Modul VII.15± Karsinoma Laring 20 Gambar 2. Posisi operator dan pasien Gambar 3. Instrumen mikrolaring e. Komplikasi 1. Laringospasme 2. Edema glotik 3. Trauma gigi Bedah Laser Endoskopi Transoral untuk Karsinoma Laring Untuk kanker laring tahap awal, pilihan pengobatan termasuk radiasi, transoral endoscopic laser microsurgery (TLM), atau laringektomi parsial terbuka. Dua laser yang paling umum digunakan adalah KTP (kalium titanyl phosphate) laser dan CO 2 laser. CO
Modul VII.15± Karsinoma Laring 21  ODVHU PHPLOLNL SDQMDQJ JHORPEDQJ  ȝP GDQ EHUDGD GL ZLOD\DK LQIUD PHUDK WDN terlihat) dari spektrum cahaya. Oleh karena itu, laser koaksial He-Ne built-in yang dibutuhkan. CO2 laser memiliki beberapa keunggulan, antara lain hamburan minimal, pantulan minimal, dan daya serap air yang kuat. Area nekrosis sekitarnya kurang dari 0,5 ȝP GHQJDQ NHGDODPDQ SHQ\HUDSDQ  PP Prinsip pembedahan laser adalah untuk pengangkatan tumor yang lengkap, tetapi tidak seperti pembedahan terbuka, akses ke tumor tidak memerlukan gangguan pada kerangka laring atau mengorbankan pedikel neurovaskular normal. Reseksi dilakukan setelah tumor menyebar, dan oleh karena itu reseksi disesuaikan dengan kebutuhan setiap pasien. Karena bidang operasi yang kecil, seringkali diperlukan transeksi tumor untuk menilai kedalaman invasi dan untuk membuat visualisasi yang diperlukan untuk reseksi tumor sekuensial. h. Kontra indikasi 1. Metastasis jauh 2. Usia yang sangat lanjut atau keadaan umum yang buruk i. Persiapan pre operasi a. Konsultasi terapi bicara b. Pemeriksaan laboratorium c. Pemeriksaan penunjang lainnya yang diperlukan d. Antibiotik pre dan selama operasi j. Komplikasi - Fistula dan infeksi luka operasi - Tracheostomal recurrence - Hipotiroidism dan hipoparatiroidism - Ulkus peptikum - Stenosis faringoesofagus - Trakeitis - Perdarahan sekunder (jarang) - Jika fistula terjadi setelah hari ke 10-14 pasca operasi, curiga awal rekurensi - Subkutaneus hematom - Sulit menelan - Krusta dan plug pada stoma - Pseudoepitelioma hiperplasia k. Perawatan Pascaoperasi 1. Pasien diposisikan 30-45 0 2. Drain diangkat setelah 2 hari, apabila masih aktif adanya cairan jaringan (>25 cc/hari) maka ditunda sampai + 5 hari. 3. Selama perawatan pasien dianjurkan tidak menelan ludah 4. Makan-minum melalui nasogastric tube (NGT) selama 7-10 hari 5. Dilakukan tes minum sebelum NGT dicabut, untuk menentukan ada tidaknya fistula trakeoesofagus atau fistula esofagokutan 6. Jahitan diangkat hari kelima bartahap hingga hari ketujuh. 7. Selama perawatan diobservasi ada tidaknya komplikasi 8. Terapi bicara dimulai setelah pasien dapat menelan
Modul VII.15± Karsinoma Laring 22 Rehabilitasi Suara setelah Laringektomi Total Pemulihan suara setelah laringektomi total dapat dilakukan dengan (1) bicara esofagus, (2) elektrolaring, dan (3) TEP (Tracheoesophageal Puncture) dan prostesis suara. Bicara esofagus membutuhkan pelatihan intensif dan bahkan pada pasien ini, kualitas bicara kurang optimal dan panjang kata yang dihasilkan untuk setiap muatan udara yang dihasilkan terbatas. Penggunaan elektrolaring tidak membutuhkan menelan dan regurgitasi udara; suara dihasilkan dengan resonansi mekanis dari kolom udara faring. Tusukan trakeoesofageal, dan prostesis suara, memberikan kemampuan bicara yang didukung oleh paru-paru dengan mengarahkan udara dari paru-paru ke faring melalui katup prostetik, dan dengan demikian suara tersebut memiliki kualitas yang lebih kuat, berkelanjutan, dan lebih dapat dipahami. Perangkat prostetik yang tersedia saat ini termasuk prostesis Blom-Singer dan Provox, yang merupakan peningkatan signifikan atas katup duckbill karena dapat dipertahankan hingga 6 bulan tanpa perubahan. TEP dapat dilakukan terutama pada saat laringektomi total dan lebih disukai jika kualitas jaringan lokal dan penutupan faring memuaskan. Stenosis Stoma setelah Laringektomi Total Insidensi stenosis stoma setelah laringektomi berkisar antara 4 sampai 34%. Berbagai faktor yang berkontribusi terjadinya stenosis stoma diantaranya infeksi, fistula pasca operasi, tautan mukokutan yang tidak tepat, jaringan parut yang berlebihan, dan lemak yang berlebihan di sekitar stoma, cincin trakea yang rusak, dan tumor berulang. Berbagai teknik pembedahan telah dijelaskan untuk pelebaran stomal. Teknik paling sederhana adalah memotong jaringan parut di sekelilingnya dan menjahit tepi yang baru menjadi satu. Teknik lain termasuk advancement flap, Y-V advancement, Z plasty dan flap interposisi. Yang paling banyak digunakan adalah Y-V advancement technique dan two circular incisions technique. a. Y-V advancement Sayatan Y dibuat pada posisi jam 3 dan jam 9 dari stoma. Flap berikutnya dimasukkan ke dalam stoma. Penutupan dilakukan Y ke V, dalam satu atau dua lapisan. b. Two circular incisions Dua sayatan dibuat melingkar dibuat di sekitar trakea. Bagian luar dibuat sayatan kulit di luar jaringan parut dan bagian dalam sampai mukosa trakea yang sehat. Jaringan di antara kedua sayatan diangkat dan dibuang, karena terdiri dari jaringan parut. Empat sayatan radial sepanjang 5 cm dibuat pada posisi jam 10, 2, 4 dan 8. Kulit dibuka sejauh mungkin dengan membuat empat lipatan. Flap ini dijahit ke mukosa trakea dalam dua lapisan, satu dengan 3-0 vicryl dan yang lainnya dengan 4- 0 ethilon atau prolene.
MODUL UTAMA ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER MODUL VII.16 KARSINOMA LEHER EDISI III KOLEGIUM ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER 2022
DAFTAR ISI A. WAKTU .................................................................................................................. 1 B. PERSIAPAN SESI .................................................................................................. 1 C. REFERENSI ........................................................................................................... 1 D. KOMPETENSI ....................................................................................................... 1 E. GAMBARAN UMUM ........................................................................................... 2 F. CONTOH KASUS DAN DISKUSI ....................................................................... 2 G. TUJUAN PEMBELAJARAN................................................................................. 3 H. METODE PEMBELAJARAN ............................................................................... 4 I. EVALUASI ............................................................................................................. 6 J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF ..................................... 6 K. MATERI PRESENTASI......................................................................................... 8 L. MATERI BAKU ................................................................................................... 11
Modul VII.16 ± Karsinoma Leher 1 MODUL VII.16 ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER: KARSINOMA LEHER A. WAKTU Mengembangkan Kompetensi Alokasi Waktu Sesi di dalam kelas Sesi dengan fasilitasi Pembimbing Sesi praktik dan pencapaian kompetensi 2 x 90 menit (classroom session) 1 x 60 menit (coaching session) 10 jam (facilitation and assessment) B. PERSIAPAN SESI x Materi presentasi: 1. Power point 2. Video x Kasus: Metastasis karsinoma leher x Sarana dan alat bantu latih: (disesuaikan dengan pencapaian kompetensi): o Penuntun belajar (learning guide): terlampir o Tempat belajar (training setting): instalasi rawat inap, instalasi rawat jalan, kamar operasi, ruang praktikum, ruang kuliah o Model/manekin atau kadaver o Komputer/laptop o Infocus C. REFERENSI 1. Medina JE, Vasan NR. Neck Dissection. In: Jhonson JT, Rosen CA, eds. %DLOH\¶V head and neck surgeryotolaryngology. 5 th ed, vol 1. Philadelphia: Lippicott Wiliams & Wilkins; 2014. p. 1807-38 2. Shah J. Larynx and Trachea. In: Shah J, ed. Head and neck surgery and oncology. 5 th ed. Philadelphia: Elsevier Co; 2020. p. 365-440 3. Medina JE. Cancer of the neck. In: Myers JN, Hanna EYN, Myers EN. Editors. Cancerof the Head and Neck 5 th (ed). Philadelphia: Wolters Kluwer, Lippincott Williams & Wilkins. 2017. p. 757-811 4. Cancer AJCC. AJCC cancer staging manual, 8th ed. Chicago: Springer; 2017. 5. Pfister DG, Spenser S, Adelstein D, Adkins D, Brizel DM, Burtness BA. NCCN Clinical Practise Guidelines in Oncology. Head and Neck Cancer: National Comprehensive Cancer Network; 2020. 225 p. D. KOMPETENSI 1. Pengetahuan Mampu menegakkan diagnosis metastasis karsinoma leher berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. 2. Keterampilan Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam: 1. Menjelaskan anatomi dan topografi regio leher 2. Menjelaskan patogenesis metastasis karsinoma leher 3. Menjelaskan gejala dan tanda metastasis karsinoma leher 4. Melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik pada metastasis karsinoma leher
Modul VII.16 ± Karsinoma Leher 2 5. Melakukan keputusan untuk pemeriksan penunjang seperti biopsi aspirasi jarum halus (BAJH), USG leher, CT Scan kepala leher 6. Menegakkan diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhubungan dengan karsinoma leher 7. Menentukan neoplasma ganas primer 8. Menentukan pilihan terapi yang tepat pada kasus metastasis karsinoma leher 9. Mempersiapkan penderita pra operatif (memberi penjelasan kepada penderita dan keluarga, informed consent), dan perawatan pascaoperasi serta mampu mengatasi komplikasi yang terjadi. E. GAMBARAN UMUM Karsinoma leher sekitar 90% merupakan metastasis kelenjar getah bening (KGB) leher dari keganasan di kepala leher. Penegakan diagnosis karsinoma leher berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis T.H.T.K.L lengkap dan pemeriksaan penunjang seperti USG, CT Scan kepala leher, dan pemeriksaan histopatologi. Diagnosis dari karsinoma leher dilakukan berdasarkan hasil sitologi yang diambil dari tindakan Biopsi Aspirasi Jarum Halus (BAJH) pada neoplasma tersebut. Bila hasil sitologi menunjukkan metastasis keganasan, maka lokasi primer keganasan di kepala leher harus ditemukan. Penatalaksanaan karsinoma leher tergantung dari diagnosis yang ditegakkan. Pada metastasis karsinoma leher, penatalaksanaannya tergantung dari tumor primernya. F. CONTOH KASUS DAN DISKUSI 1. Seorang laki-laki berusia 45 tahun datang ke poli T.H.T.K.L, dengan keluhan benjolan di leher kanan sejak 3 bulan yang lalu. Awalnya kecil makin lama makin besar. Benjolan terletak di dekat rahang bawah kanan, berukuran 2x3x1 cm, tidak nyeri, dan mobile. Riwayat penyakit sebelumnya pasien menderita tumor pada lidah sebelah kanan berukuran tumor lidah 2x1x0,5 cm dan sudah dilakukan operasi 6 bulan sebelumnya dan setelah dilakukan operasi diketahui hasil histopatologi tumor lidah tersebut skuamous sel karsinoma. Diskusi: x Menegakkan diagnosis kondisi tersebut di atas x Penatalaksanaan kondisi tersebut di atas Jawaban : Algoritma
Modul VII.16 ± Karsinoma Leher 3 G. TUJUAN PEMBELAJARAN a. Tujuan pembelajaran umum Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan mampu untuk menegakkan diagnosis dan melakukan terapi terhadap metastasis karsinoma leher. b. Tujuan pembelajaran khusus Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan mampu untuk: 1. Menguasai anatomi, topografi regio leher. (tingkat kompetensi K3, A3) 2. Mampu menjelaskan patogenesis metastasis karsinoma leher. (tingkat kompetensi K3, A3) 3. Menjelaskan gejala dan tanda metastasis karsinoma leher. (tingkat kompetensi K3, A3) 4. Melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik pada metastasis karsinoma leher. (tingkat kompetensi K3, A3, P5) 5. Membuat keputusan untuk pemeriksan penunjang pada metastasis karsinoma leher. (tingkat kompetensi K3, A3, P5) 6. Menegakkan diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhubungan dengan metastasis karsinoma leher. (tingkat kompetensi K3, A3, P2) 7. Membuat keputusan klinik untuk diseksi leher. (tingkat kompetensi K3, A3, P2) BAJH dengan/tanpa guiding USG
Modul VII.16 ± Karsinoma Leher 4 8. Melakukan tindakan operasi diseksi leher. (tingkat kompetensi K3, A3, P2) 9. Mempersiapkan penderita pra dan perawatan pasca operatif serta mampu mengatasi komplikasi. (tingkat kompetensi K3, A3, P3) H. METODE PEMBELAJARAN Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan mempunyai kemampuan dasar untuk menegakkan diagnosis metastasis karsinoma leher dan mampu untuk menentukan terapi yang sesuai Tujuan 1.Menjelaskan anatomi dan topografi regio leher Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture. 2. Small group discussion. 3. Peer assisted learning (PAL) 4. Bedside teaching. 5. Task based medical education. Tujuan 2. Mampu menjelaskan patogenesis metastasis karsinoma leher Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture. 2. Small group discussion. 3. Journal reading and review. 4. Peer assisted learning (PAL) 5. Bedside teaching. 6. Task based medical education. Tujuan 3. Menjelaskan gejala dan tanda metastasis karsinoma leher Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review 3. Case simulation and investigation exercise 4. Equipment characteristics and operating instructions Tujuan 4. Mampu melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik pada metastasis karsinoma leher Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review 3. Case study 4. Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device) 5. Demonstration and Coaching 6. Practice with Real Clients Harus diketahui: Metode standar anamnesis Gejala dan tanda pasti metastasis karsinoma leher Tujuan 5. Membuat keputusan untuk pemeriksaan penunjang Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture
Modul VII.16 ± Karsinoma Leher 5 2. Journal reading and review. 3. Morbidity and Mortality Case study 4. Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device). 5. Operative Procedure Demonstration and Coaching 6. Practice with Real Clients. 7. Continuing Professional Development Harus diketahui: Indikasi pemilihan pemeriksaan tambahan Pemeriksaan penunjang yang sensitif dan spesifik Tujuan 6. Menegakkan diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhubungan dengan metastasis karsinoma leher Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review 3. Case study 4. Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device) 5. Demonstration and Coaching 6. Practice with Real Clients Harus diketahui Analisis data untuk menegakkan diagnosis Memilah diagnosis banding dan menentukan diagnosis kerja Tujuan 7. Mampu menjelaskan penatalaksanaan metastasis karsinoma leher (diseksi leher) Untuk mencapai tujuan tersebut maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Small group discussion 2. Video 3. Interactive lecture Harus diketahui: Rencana pengobatan atau tata laksana pasien Jenis pembedahan Tujuan 8. Melakukan tindakan pembedahan metastasis karsinoma leher (diseksi leher) Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review 3. Case study 4. Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device) 5. Demonstration and Coaching 6. Practice with Real Clients Harus diketahui: Teknik operasi Langkah-langkah pembedahan
Modul VII.16 ± Karsinoma Leher 6 Komplikasi operasi Tujuan 9. Melakukan persiapan penderita pra pembedahan dan perawatan pasca pembedahan metastasis karsinoma leher Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review 3. Case study 4. Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device) 5. Demonstration and Coaching 6. Practice with Real Clients Harus diketahui: Persiapan preoperatif Komplikasi pascaoperasi Rangkuman: Metastasis karsinoma leher seringkali ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Penatalaksanaan metastasis karsinoma leher diawali dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan tambahan. Tatalaksana baik operatif maupun non operatif ditentukan dari hasil BAJH leher. Metastasis karsinoma leher dilakukan penatalaksanaan sesuai dengan diagnosis yang ditegakkan. Diseksi leher dilakukan pada metastasis karsinoma leher, dengan jenis diseksi leher sesuai indikasi. Harus ditentukan terlebih dahulu neoplasma ganas primernya. I. EVALUASI 1. Pada tahap awal pertemuan diberikan pengantar kuliah tentang metastasis karsinoma leher dengan ilustrasi gambar. Karena bahan dan ilustrasi gambar yang ada hanya sedikit maka peserta didik diharapkan mencari bahan dan gambar dari text book ataupun internet untuk menambah wacana. 2. Dilakukan diskusi dengan instruktur pembimbing untuk membahas materi pembelajaran yang ada dan teknik operasi. 3. Pendidik/fasilitas a. diskusi b. kriteria penilaian : cakap/tidak cakap, lalai 4. Diakhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila perlu diberi tugas untuk bisa lebih terampil 5. Pencapaian pembelajaran pendidikan J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF A. Kuesioner Sebelum Pembelajaran (Pre Test) Soal : 1. Diagnosis pasti benjolan di leher ditegakkan dengan: A. BAJH pada benjolan tersebut B. Biopsi pada benjolan tersebut C. CT scan leher D. USG leher E. MRI leher Jawab: A
Modul VII.16 ± Karsinoma Leher 7 2. Pemeriksaan tambahan yang dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis tumor leher adalah: A. BAJH coli B. CT Scan kepala leher C. Biopsi eksisi D. Core Biopsi E. Biopsi insisi Jawab: B 3. Munculnya tumor pada area submandibula beberapa waktu setelah dilakukan operasi pada tumor ganas lidah seperti pada kasus di atas disebut : A. Sinchronous primary tumor B. Tumor primer rekuren C. Metachronous tumor D. Metastasis regional E. Occult metastasis Jawab: D 4. Seorang penderita datang dengan keluhan benjolan pada leher kiri dan kanan sejak 4 bulan yang lalu. Benjolan awalnya di sebelah kiri, makin lama makin besar dan diikuti munculnya benjolan di leher sebelah kanan.Penatalaksanaan selanjutnya untuk mengetahui jenis tumornya adalah: A. Pemeriksaan BAJH tumor leher B. Pemeriksaan CT Scan kepala dan leher C. Pemeriksaan MRI D. Biopsi eksisional E. Biopsi ekstirpasi Jawab: A 5. Berikut pernyataan yang BENAR pada penderita dengan benjolan di leher di level III dengan hasil BAJH keganasan adalah: A. Kemungkinan besar merupakan metastasis keganasan dari lidah B. Kemungkinan besar merupakan metastasis keganasan dari tiroid C. Untuk diagnosis pasti CT Scan pada tiroid D. Untuk diagnosis pasti dilakukan biopsi pada tiroid E. Penatalaksanaan pada kasus ini adalah radioterapi Jawab: B B. Kuesioner Tengah Pembelajaran Soal : Seorang laki-laki berusia 45 tahun datang ke poli T.H.T.K.L, dengan keluhan benjolan di leher kanan sejak 3 bulan yang lalu. Awalnya kecil makin lama makin besar. Benjolan terletak di dekat rahang bawah kanan, berukuran 2x3x1 cm, tidak nyeri, dan mobile. Riwayat penyakit sebelumnya pasien menderita tumor pada lidah sebelah kanan berukuran tumor lidah 2x1x0,5 cm dan sudah dilakukan operasi 6 bulan sebelumnya dan setelah dilakukan operasi diketahui hasil histopatologi tumor lidah tersebut skuamous sel karsinoma.
Modul VII.16 ± Karsinoma Leher 8 Terapi yang disarankan pada penderita tersebut adalah: A. Diseksi leher radikal B. Biopsi eksisi C. Ekstirpasi tumor D. Diseksi leher supraomohioid E. Diseksi leher modifikasi Jawab: E K. MATERI PRESENTASI 1. Pendahuluan 2. Anatomi dan topografi regio leher
Modul VII.16 ± Karsinoma Leher 9 3. Jenis neoplasma 4. Patogenesis karsinoma leher
Modul VII.16 ± Karsinoma Leher 10 5. Pemeriksaan dan diagnosis karsinoma leher 6. Penatalaksanaan karsinoma leher
Modul VII.16 ± Karsinoma Leher 11 L. MATERI BAKU KARSINOMA LEHER Karsinoma leher adalah pertumbuhan jaringan baru pada leher yang bersifat ganas. Karsinoma leher, sekitar 90% merupakan metastasis kelenjar getah bening leher dari keganasan di kepala leher. Penegakan diagnosis karsinoma leher berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis T.H.T.K.L lengkap, dan pemeriksaan penunjang seperti USG, CT Scan atau MRI kepala leher serta pemeriksaan histopatologi. Diagnosis karsinoma leher dilakukan berdasarkan hasil sitologi yang diambil dari tindakan Biopsi Aspirasi Jarum Halus (BAJH) pada neoplasma tersebut. Bila hasil sitologi menunjukkan metastasis keganasan, maka lokasi primer keganasan di kepala leher harus ditemukan. Pemeriksaan klinis T.H.T.K.L lengkap harus dilakukan untuk mencari lokasi tumor primer. Level pada KGB leher dapat dipakai untuk menentukan asal tumor primer. Biopsi dilakukan pada tumor primer. Penatalaksanaan selanjutnya sesuai dengan tatalaksana tumor primer. Bila hasil sitologi menunjukkan adanya suatu keganasan tetapi tumor primer tidak dapat ditentukan, maka tatalaksana selanjutnya sesuai dengan unknown primary tumor. 1. Anatomi Jaringan limfatik area kepala dan leher terletak dalam dua lapisan yang dipisahkan oleh fasia servikalis (deep cervical fascia). Limfatik superfisial mengalir ke kelenjar getah bening suboksipital, preaurikuler dan postaurikuler, fasial prevaskuler, dan kelenjar getah bening jugularis eksterna. Kelenjar getah bening ini pada akhirnya mengalir ke kelenjar getah bening jugularis dalam. Kelompok kelenjar getah bening utama di daerah kepala dan leher dibagi menjadi tujuh level. Level I Kelompok submental atau level I (IA) meliputi kelenjar getah bening antara perut anterior otot digastrik dari batas bawah simfisis cephal mandibula ke cauda tulang hyoid. Kelompok submandibular atau level I (IB) meliputi kelenjar getah bening di daerah segitiga yang dibatasi oleh perut anterior dan posterior otot digastrik dan batas inferior tubuh mandibula. Kelenjar getah bening yang berdekatan dengan kelenjar ludah submandibular dan sepanjang arteri fasialis (fasial prevaskuler) termasuk dalam kelompok ini. Level II Level II adalah kelompok jugularis atas, yang meliputi kelenjar getah bening di sekitar sepertiga atas vena jugularis interna dan bagian atas dari saraf aksesori tulang belakang, membentang dari dasar tengkorak hingga bifurkasi arteri karotis atau ke tingkat dari tulang hyoid. Batas posterior untuk level ini adalah batas posterior otot sternokleidomastoid, dan batas anterior adalah batas lateral otot sternohyoid. Kelenjar getah bening di anterior saraf aksesori spinal disebut level IIA, dan yang di posteriornya disebut level IIB. Level III Level III adalah kelompok midjugularis, yang meliputi kelenjar getah bening di sekitar sepertiga tengah vena jugularis interna dari tulang hyoid sampai ke batas inferior kartilago krikoid. Batas anterior dan posterior sama dengan batas tingkat II.
Modul VII.16 ± Karsinoma Leher 12 Level IV Level IV adalah kelompok jugularis bawah, yang meliputi kelenjar getah bening di sekitar sepertiga bagian bawah vena jugularis interna dari batas inferior kartilago krikoid hingga ke klavikula. Batas anterior dan posterior sama dengan batas level II dan III. Level V Level V adalah kelompok segitiga posterior, yang meliputi kelenjar getah bening di sekitar bagian bawah saraf aksesori tulang belakang dan di sepanjang pembuluh servikalis transversal. Itu dibatasi oleh segitiga yang dibentuk oleh klavikula, batas posterior otot sternokleidomastoid, dan batas anterior otot trapezius. level V dibagi menjadi dua tingkat oleh bidang pada tingkat batas inferior tulang rawan krikoid. Level VA lebih tinggi dari bidang ini, dan level VB lebih rendah darinya. Secara umum, level VA meliputi kelenjar getah bening rantai aksesori dan level VB termasuk rantai serviks transversal dan kelenjar getah bening supraklavikula. Level VI Level VI adalah kelompok kompartemen sentral, yang meliputi kelenjar getah bening di prelaryngeal, (Delphian), pretracheal, paratracheal, dan tracheoesophageal groove. Batas-batasnya adalah cephal tulang hyoid ke caudad takik suprasternal dan di antara batas medial selubung karotis. Level VII Level VII adalah kelompok mediastinal anterosuperior, yang meliputi kelenjar getah bening di mediastinum anterosuperior dan alur trakeofagus, memanjang dari suprasternal notch ke arteri innominata. Gambar 1. Sistem Memorial Sloan Kettering Cancer Center untuk menetapkan level kelenjar getah bening servikalis. A, Sisi lateral leher. B, Kompartemen sentral dan mediastinum superior
Modul VII.16 ± Karsinoma Leher 13 Gambar 2. Modifikasi penetapan level kelenjar getah bening oleh American Academy of Otolaryngology- Head and Neck Surgery 2. Patofosiologi Risiko metastasis KGB tergantung pada berbagai faktor yang berhubungan dengan tumor primer. Ini termasuk situs, ukuran (besar atau kecil), T staging, lokasi utama tumor (dalam suatu organ seperti pita suara dibandingkan dengan supraglottis), dan histomorfologi primer tumor. Risiko metastasis meningkat sebagai salah satu kemajuan dari bagian anterior ke posterior dari traktus aero-digestif atas; dari bibir (10%) berkembang sepanjang lidah (25%), gusi (30%), dasar rongga mulut (40%), orofaring (55%) menuju hipofaring (65%). Tumor endofitik, tumor dengan diferensiasi buruk, tumor dengan ukuran lebih tebal (lidah dan dasar rongga mulut) lebih mungkin untuk memiliki metastasis. 3. Diagnosis Tumor leher dapat dilakukan pemeriksaan fisik dengan palpasi daerah leher, pemeriksaan penunjang yang mendukung dapat dilakukan Computed Tomography (CT Scan), Magnetic Resonance Imaging (MRI), Positron Emission Tomography (PET), USG tumor leher dilakukan bersamaan dan sekaligus sebagai penuntun BAJH. 4. Klasifikasi Klasifikasi yang luas antara diseksi leher komprehensif dan selektif telah digunakan selama dua dekade terakhir. Diseksi Leher Komprehensif Istilah "diseksi leher komprehensif" diterapkan pada semua prosedur pembedahan di bagian lateral leher yang secara komprehensif mengangkat kelenjar getah bening serviks dari level I hingga V. Prosedur operasi yang termasuk dalam kategori ini: x Diseksi leher radikal klasik x Diseksi leher radikal yang diperpanjang (yaitu, reseksi kelenjar getah bening regional tambahan atau pengorbanan struktur lain seperti saraf kranial, otot, atau kulit)
Modul VII.16 ± Karsinoma Leher 14 x Modifikasi diseksi leher tipe I (MND-I), yang secara selektif mempertahankan satu struktur, saraf aksesori tulang belakang x Modifikasi diseksi leher tipe II (MND-II), yang mempertahankan dua struktur anatomis, saraf aksesori tulang belakang dan otot sternokleidomastoid, tetapi mengorbankan vena jugularis interna x Modifikasi diseksi leher tipe III (MND-III), yang mempertahankan tiga struktur anatomis, saraf aksesori tulang belakang, vena jugularis interna, dan otot sternocleidomastoid Diseksi Leher Selektif Operasi diseksi leher selektif mengangkat hanya kelompok tertentu dari kelenjar getah bening yang berisiko mikrometastasis di leher N0 klinis. Operasi ini meliputi: x Diseksi leher supraomohyoid, yang mencakup diseksi kelenjar getah bening di tingkat I, II, dan III untuk tumor primer rongga mulut (diseksi leher supraomohyoid diperpanjang meliputi tingkat I, II, III, dan IV direkomendasikan untuk kanker primer dari batas lateral lidah oral) x Diseksi nodus jugularis, yang meliputi diseksi kelenjar getah bening pada level II, III, dan IV untuk tumor primer hipofaring dan laring x Diseksi leher anterolateral, yang meliputi diseksi kelenjar getah bening pada tingkat I, II, III, dan IV untuk tumor primer rongga mulut dan orofaring; operasi ini digunakan sebagai operasi elektif seperti yang disebutkan sebelumnya tetapi juga mungkin untuk node metastasis volume rendah hanya pada level I dan II, sebagai operasi terapeutik x Diseksi leher posterolateral, yang meliputi kelenjar getah bening di segitiga suboksipital, segitiga posterior leher, tingkat V, dan rantai jugularis dalam dari kelenjar getah bening di tingkat II, III, dan IV untuk melanoma dan karsinoma skuamosa dari kulit kepala posterior x Diseksi leher kompartemen sentral, yang meliputi pembersihan kelenjar getah bening di tingkat VI di kompartemen pusat leher yang berdekatan dengan kelenjar tiroid dan di alur trakeoesofagus untuk kanker tiroid American Head and Neck Society merekomendasikan bahwa setelah operasi diseksi leher, ahli bedah harus secara akurat mencatat tingkat kelenjar getah bening yang diangkat serta struktur non-limfatik lainnya yang direseksi pada setiap kasus. Jenis pencatatan sinoptik ini menyampaikan apa yang sebenarnya telah dihapus selama prosedur dan apa yang disimpan. Skema umum pencatatan sinoptik adalah sebagai berikut: x Simbol "ND" harus digunakan untuk mewakili istilah diseksi leher dan diterapkan sebagai komponen pertama dari deskripsi. Awalan harus dimasukkan untuk menunjukkan sisi leher yang telah dilakukan pembedahan dengan menggunakan singkatan L untuk kiri, dan R untuk kanan. Jika bilateral, kedua belah pihak harus diklasifikasikan secara independen. x Komponen kedua dari deskripsi harus berupa tingkat leher dan /atau sub-tingkat yang dihilangkan, masing-masing ditentukan oleh angka Romawi I hingga VII, dalam urutan menaik.
Modul VII.16 ± Karsinoma Leher 15 x Komponen ketiga dari deskripsi harus berupa struktur non-limfatik yang dihilangkan, masing-masing diidentifikasi melalui penggunaan akronim (simbol) tertentu, yang semuanya telah diterima secara universal. Penunjukan sinoptik dari berbagai operasi dan nama saat ini yang digunakan ditunjukkan pada Tabel 1 Tabel 1. Pencatatan Sinoptik dari Berbagai Jenis Diseksi Leher Nomenklatur Usulan Nomenklatur AAO-HNS / AHNS ND (I±V, SCM, IJV, CNXI) Diseksi leher radikal ND (II±IV) Diseksi leher selektif (II ± IV) ND (I±III) Diseksi leher selektif (I ± III) ND (I±V, SCM, IJV) Diseksi leher radikal yang dimodifikasi dengan pelestarian SAN ND (I±V, SCM, IJV, CNXI and XII) Diseksi leher diperpanjang dengan pengangkatan saraf hipoglosus ND (II, III) Diseksi leher selektif (II, III) ND (II±IV, SCM) NA ND (I±III, SCM, IJV, CNXI) NA ND (II±IV, VI) NA ND (VI) Diseksi leher radikal yang dimodifikasi dengan pemeliharaan Diseksi leher kompartemen sentral atau diseksi leher selektif (VI) ND (VI, VII) Diseksi leher selektif (VI, VII) 5. Indikasi operasi - Nodul KGB leher - Sebagai salvage surgery untuk mengangkat residu keganasan di leher setelah radiasi atau kemoradiasi 6. Kontra indikasi - Unresektabilitas tumor Leher (Sindrom Horner, paralisis nervus vagus dan atau nervus phrenicus, invasi pleksus brakialis atau muskulus prevertebralis) 7. Pemeriksaan penunjang 1. Laboratorium darah: FH, Hb, WBC, SGOT, SGPT, BUN, SK, GDA, HbsAg 2. CT-Scan Kepala Leher 8. Komplikasi x Trauma duktus toracikus x Emboli udara vena subklavia x Pneumotoraks x Ventrikular fibrilation x Edema wajah
MODUL UTAMA ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER MODUL VII.17 NEOPLASMA JINAK LEHER EDISI III KOLEGIUM ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER 2022
DAFTAR ISI A. WAKTU .................................................................................................................. 1 B. PERSIAPAN SESI .................................................................................................. 1 C. REFERENSI ........................................................................................................... 1 D. KOMPETENSI ....................................................................................................... 2 E. GAMBARAN UMUM ........................................................................................... 2 F. CONTOH KASUS DAN DISKUSI ....................................................................... 4 G. TUJUAN PEMBELAJARAN................................................................................. 4 H. METODE PEMBELAJARAN ............................................................................... 5 I. EVALUASI ............................................................................................................. 8 J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF ..................................... 8 K. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR .............................. 9 L. DAFTAR TILIK ................................................................................................... 11 M. MATERI PRESENTASI....................................................................................... 13 N. MATERI BAKU ................................................................................................... 18
Modul VII.17 - Neoplasma Jinak Leher 1 MODUL VII.17 ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER: NEOPLASMA JINAK LEHER A. WAKTU Mengembangkan Kompetensi Alokasi Waktu Sesi di dalam kelas Sesi dengan fasilitasi Pembimbing Sesi praktik dan pencapaian kompetensi 2 x 50 menit (classroom session) 2 x 50 menit (coaching session) 24 jam (facilitation and assessment) B. PERSIAPAN SESI x Materi presentasi: 1. Power point 2. Video https://www.youtube.com/watch?v=MYD3B-CT7C0&t=7s Kasus: Kista duktus tiroglosus Sarana dan alat bantu latih: (disesuaikan dengan pencapaian kompetensi): o Penuntun belajar (learning guide): terlampir o Tempat belajar (training setting): instalasi rawat inap, instalasi rawat jalan, kamar operasi, ruang praktikum, ruang kuliah o Model/manekin atau kadaver o Komputer/laptop o Infocus C. REFERENSI 1. Yellon R.F . Congenital cyst and sinuses of the head and neck. 2014. in Bailey B.J, Johnson J.T, , In : Head and Neck Surgery - Otolaryngology, 5th. edition, Volume two, Lippincott Williams & Wilkins, 2014, p : 1607-15 2. Propst E.J., Cotton R.T.Pediatric otolaryngology: head and neck surgery. In: K.J. Lee., ed. Essential otolaryngology head and neck surgery. 11th ed. New York: McGraw-Hill Education; 2016. p. 900-11 3. Cohen JI. Thyroglossal Duct Cyst Excision (Sistrunk Procedure) in: Cohen JI , Clayman GL. Atlas of Head and Neck Surgery. Philadelpia: Elsevier Saunders; 2011. p. 121-27 4. Ricard Simo, Jean-Pierre Jeannon and Enyinnaya Ofo. Benign Neck Disease. In: Watkinson, John C., Clarke, Ray (Raymond), editors.Title: Scott-%URZQ¶V otorhinolaryngology and head and neck surgery. Boca Raton; CRC Press: 2019.p. 607-22
Modul VII.17 - Neoplasma Jinak Leher 2 D. KOMPETENSI 1.Pengetahuan Mampu membuat diagnosis kelainan kista duktus tiroglossus berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang serta dapat menangani kasus kelainan kongenital kepala dan leher tersebut secara mandiri dan tuntas 2.Keterampilan Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam : 1. Menjelaskan anatomi dan topografi regio leher 2. Menjelaskan patogenesis kelainan kista duktus tiroglossus 3. Menjelaskan gejala dan tanda kelainan kista duktus tiroglossus 4. Melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik pada kelainan kista duktus tiroglossus 5. Membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhubungan dengan kelainan kista duktus tiroglossus 6. Menentukan pilihan terapi yang tepat pada kasus kelainan kista duktus tiroglossus 7. Melakukan tindakan pembedahan pada penderita kelainan kista duktus tiroglossus 8. Merawat penderita pra operatif (memberi penjelasan kepada penderita dan keluarga, informed consent), dan pasca operasi serta mampu mengatasi komplikasi yang terjadi E. GAMBARAN UMUM Massa atau benjolan di leher sering terjadi. Pada populasi dewasa, sekitar 75% dari massa leher non-tiroid adalah neoplastik, dan dari jumlah tersebut 80% metrupakan metastatik. Sekitar 75% dari metastasis leher ini disebabkan oleh tumor primer yang terletak di atas klavikula. Pada anak di bawah 15 tahun, 90% massa leher adalah jinak dan dari jumlah ini hingga 55% kenainan bawaan. Neoplasma jinak leher dapat diklasifikasikan sebagai kongenital atau didapat. Kelompok yang terakhir sering sering merupakan pemembesaran kelenjar getah bening, tetapi terdapat berbagai patologi yang berbeda. Biopsi aspirasi jarum halus (BAJH/FNAB) dengan atau tanpa panduan ultrasound (USG) sekarang merupakan pemeriksaan standar. Evaluasi dan manajemen pasien dengan benjolan leher harus mencakup pendekatan klinis yang sistematis. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan traktus aerodigestif bagian atas dan kepala dan leher, diikuti oleh pemeriksaan yang relevan, yang mungkin termasuk pemeriksaan darah dan radiologi. Neoplasma di leher dapat dibedakan menjadi kongenital dan didapat. MASSA LEHER KONGENITAL Kista Duktus Tiroglosus Kista duktus tiroglosus adalah lesi garis tengah leher atas yang paling sering, hampir sepertiga dari semua massa leher kongenital. Kista dapat muncul sebagai massa atau benjolan, pada leher antara foramen caecum dan mediastinum atas, sebagian besar sekitar tulang hyoid. Secara histologis kista ini memiliki epitel kolumnar seperti di daerah dasar lidah hingga mediastinum. Terletak pada bagian tengah/sentral dari leher, biasa dijumpai pada
Modul VII.17 - Neoplasma Jinak Leher 3 anak-anak namun juga dapat baru dijumpai saat dewasa setelah kista membesar dan penderita merasa terganggu. Keberhasilan penatalaksanaan kista duktus tiroglosus harus didasari pemahaman embriologi dan perkembangan anatomi kelenjar tiroid. Kista yang sangat besar dapat menyulitkan saat menelan atau terjadi sumbatan jalan nafas. Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus adalah pembedahan yang dikenal sebagai prosedur Sistrunk, yaitu mengangkat kista dan reseksi duktus termasuk struktur di atasnya (meliputi tulang hioid). Kekambuhan setelah operasi mencapai 3-5% dan akan meningkat bila pembedahan tidak maksimal atau jika terinfeksi ulang. Limfangioma Limfangioma adalah lesi degeneratif yang timbul dari limfatik, dan dapat diklasifikasi menjadi: limfangioma simpleks/ sederhana, limfangioma kavernosa, dan higroma kistik. Kista Dermoid Kista dermoid dibagi menjadi kista epidermoid, dermoid sejati dan teratoid, tergantung pada jenis jaringan yang diidentifikasi secara patologis di dalamnya. Dua puluh persen dari semua kista dermoid ditemukan di leher dan 30% di antaranya di wajah. Kista ini merupakan 28% dari semua kista di garis tengah. Kista Brankhial Kata brankhial berasal dari bahasa Yunani 'bragchia' yang berarti insang. Kista branchial muncul sebagai kegagalan perkembangan aparatus branchial. Anomali branchial mencapai hingga 19% dari semua massa leher pada anak. ering bermanifestasi pada dewasa muda dengan insiden puncak pada dekade ketiga. Kista biasanya dilapisi oleh epitel skuamosa berlapis kecuali pada 10% kasus yang mungkin memiliki epitel pernapasan sebagai gantinya; 80% memiliki jaringan limfoid di dinding luar dan berisi cairan mengandung kristal kolesterol. Fistula dan Sinus Brankhial Fistula branchial adalah kelainan bawaan yang terdiri dari saluran dilapisi epitel kulit, di internal membuka sebagai celah pada bagian anterior fossa tonsil jika berasal dari lengkungan kedua. Di eksternal berada di batas anterior otot sternokleidomastoid, di berbatasan sepertiga tengah dan bawahnya m Sternokleidomastoid. Sinus brankial atau pits brankial terbuka sepanjang garis antara tragus dan sendi sternoklavikularis pada batas anterior otot sternokleidomastoid tetapi tanpa lubang internal. MASSA LEHER DIDAPAT Kista sebasea Kista sebasea adalah lesi akneksa kulit yang terjadi terutama di mana terdapat kelenjar sebaceous dan paling sering terjadi pada kulit berbulu, terutama di daerah jenggot dan kulit kepala.
Modul VII.17 - Neoplasma Jinak Leher 4 Lipoma Lipoma adalah lesi jinak pada lapisan adiposa. Sel-sel adiposa menjadi lobulus besar yang dibagi oleh septa fibrosa longgar. Lipoma yang besar kadang-kadang bisa menyebabkan nyeri. Meskipun sebagian besar lipoma bersifat sporadis, sebagian kecil dapat bersifat familial. Lipomatosis familial yang paling umum daerah kepala dan leher adalah lipomatosis Madelug. Di daerah leher, lipoma mungkin subfascial atau timbul di dalam otot. Tumor ini tumbuh sangat lambat dan memiliki risiko transformasi ganas yang sangat rendah. F. CONTOH KASUS DAN DISKUSI 1. Seorang pasien laki-laki 25 tahun datang ke poliklinik T.H.T.K.L dengan keluhan benjolan di leher bagian depan yang semakin membesar sejak 1 bulan sebelum masuk Rumah Sakit. Awalnya Pasien mengeluhkan benjolan dirasakan sejak 2 tahun yang lalu. Benjolan tidak terasa nyeri dan pertambahan besar benjolan lambat. Pasien mengeluhkan nyeri dan benjolan membengkak dan memerah 1 bulan yang lalu kemudian pasien berobat ke Poli T.H.T.K.L dan diberi obat kemudian bengkak dan merah pada benjolan menghilang pasien kemudian dirujuk. Pada pemeriksaan fisik regio colli anterior dibawah tulang hyoid (infrahyoid), pada palpasi teraba massa kistik ukuran 40x30x15 mm, kenyal padat, berbatas tegas, permukaan rata, tidak ada nyeri tekan dan benjolan ini bergerak pada waktu pasien menelan dan bergerak naik ketika lidah dijulurkan. Tidak ditemukan pembesaran kelenjar getah bening. 2. Seorang anak laki-laki berusia 5 tahun dibawa orang tuanya berobat ke poliklinik T.H.T.K.L dengan keluhan benjolan di leher kiri yang semakin membesar sejak 3 tahun yang lalu. Sebelumnya benjolan sudah ada sejak pasien lahir, awalnya kecil, namun semakin membesar sejak 3 tahun terakhir. Benjolan tidak terasa nyeri. Pada pemeriksaan regio colli sisi kiri teraba massa kistik berukuran 8,0 x 7,5 x 6,0 cm, kenyal, permukaan licin, berbatas tegas, fluktuatif, meluas sampai ke regio parotis sisi kiri, tidak nyeri tekan, tidak teraba hangat, benjolan tidak bergerak ketika pasien menelan. Warna sama dengan kulit sekitar. Diskusi : Menegakkan diagnosis Massa leher Tatalaksana operatif pada massa leher G. TUJUAN PEMBELAJARAN a. Tujuan pembelajaran umum Proses, materi dan metoda pembelajaran yang disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan,keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan
Modul VII.17 - Neoplasma Jinak Leher 5 keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan menatalaksana kelainan kista duktus tiroglossus b. Tujuan pembelajaran khusus 1. Menguasai anatomi dan topografi regio leher 2. Mampu menjelaskan patogenesis kelainan kista duktus tiroglossus 3. Mampu melakukan pemeriksaan dan menegakkan diagnosis kelainan kista duktus tiroglossus 4. Mampu melaksanakan tindakan operatif kelainan kista duktus tiroglossus H. METODE PEMBELAJARAN Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan mempunyai kemampuan dasar untuk menegakkan diagnosis tumor jinak leher dan mampu untuk menentukan terapi yang sesuai Tujuan 1.Menjelaskan anatomi dan topografi regio leher Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture. 2. Small group discussion. 3. Peer assisted learning (PAL) 4. Bedside teaching. 5. Task based medical education. Peserta didik harus tahu : menjelaskan anatomi dan topografi regio leher Tujuan 2. Mampu menjelaskan patogenesis kelainan kista duktus tiroglossus Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini 1. Interactive lecture. 2. Small group discussion. 3. Journal reading and review. 4. Peer assisted learning (PAL) 5. Bedside teaching. 6. Task based medical education. Peserta didik harus tahu : menjelaskan tentang patogenesis neoplasma leher Tujuan 3. Menjelaskan gejala dan tanda kelainan kista duktus tiroglossus Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review 3. Case simulation and investigation exercise 4. Equipment characteristics and operating instructions Tujuan 4. Mampu melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik pada kelainan kista duktus tiroglossus Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review
Modul VII.17 - Neoplasma Jinak Leher 6 3. Case study 4. Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device) 5. Demonstration and Coaching 6. Practice with Real Clients Peserta didik harus dapat : 1. Melakukan anamnesis dan pemeriksaan leher dengan baik dan benar 2. Mampu menjelaskan pemilihan pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan Harus diketahui : 1. Metoda standar anamnesis 2. Gejala dan tanda pasti neoplasma leher 3. Pemeriksaan penunjang yang sensitif dan spesifik 4. Memilah diagnosis banding dan menentukan diagnosis kerja 5. Rencana pengobatan atau tata laksana pasien Tujuan 5. Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review. 3. Morbidity and Mortality Case study 4. Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device). 5. Operative Procedure Demonstration and Coaching 6. Practice with Real Clients. 7. Continuing Professional Development Tujuan 6. Membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhubungan dengan kelainan kista duktus tiroglossus Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review 3. Case study 4. Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device) 5. Demonstration and Coaching 6. Practice with Real Clients Harus diketahui 1. Work-up Key Points 2. Indikasi pemilihan pemeriksaan tambahan 3. Analisis data untuk menegakkan diagnosis Tujuan 7. Mampu menjelaskan penatalaksanaan operatif kelainan kista duktus tiroglossus Untuk mencapai tujuan tersebut maka dipilih metode pembelajaran berikut ini : 1. Small group discussion 2. Video 3. Interactive lecture Peserta didik harus dapat menjelaskan :tindakan operatif tumor leher
Modul VII.17 - Neoplasma Jinak Leher 7 Tujuan 8. Melakukan tindakan pembedahan ekstirpasi kelainan kista duktus tiroglossus Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review 3. Case study 4. Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device) 5. Demonstration and Coaching 6. Practice with Real Clients Harus diketahui 1.Jenis pembedahan 2.Langkah-langkah pembedahan Tujuan 9. Melakukan perawatan penderita pra dan pasca pembedahan neoplasma leher Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review 3. Case study 4. Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device) 5. Demonstration and Coaching 6. Practice with Real Clients Harus diketahui 1.Sermont of relaxation 2. Informed consent 3. Komplikasi operasi Rangkuman : Massa atau benjolan di leher sering terjadi. Pada populasi dewasa, sekitar 75% dari massa leher non-tiroid adalah neoplastik, dan dari jumlah tersebut 80% metrupakan metastatik. Sekitar 75% dari metastasis leher ini disebabkan oleh tumor primer yang terletak di atas klavikula. Pada anak di bawah 15 tahun, 90% massa leher adalah jinak dan dari jumlah ini hingga 55% kenainan bawaan. Neoplasma jinak leher dapat diklasifikasikan sebagai kongenital atau didapat. Kelompok yang terakhir sering sering merupakan pemembesaran kelenjar getah bening, tetapi terdapat berbagai patologi yang berbeda. Biopsi aspirasi jarum halus (BAJH/FNAB) dengan atau tanpa panduan ultrasound (USG) sekarang merupakan pemeriksaan standar. Evaluasi dan manajemen pasien dengan benjolan leher harus mencakup pendekatan klinis yang sistematis. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan traktus aerodigestif bagian atas dan kepala dan leher, diikuti oleh pemeriksaan yang relevan, yang mungkin termasuk pemeriksaan darah dan radiologi. Neoplasma di leher dapat dibedakan menjadi Kongenital dan Didapat.
Modul VII.17 - Neoplasma Jinak Leher 8 I. EVALUASI 1. Pada tahap awal pertemuan diberikan pengantar kuliah tentang kelainan kista duktus tiroglossus dengan ilustrasi gambar. Karena bahan dan ilustrasi gambar yang ada hanya sedikit maka peserta didik diharapkan mencari bahan dan gambar dari text book ataupun internet untuk menambah wacana. 2. Dilakukan diskusi dengan instruktur pembimbing untuk membahas kekurangan materi pembelajaran yang ada dan tehnik/keterampilan ekstraksi 3. Pendidik/fasilitas a. diskusi b. kriteria penilaian : cakap/tidak cakap, lalai 4. Diakhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila perlu diberitugas untuk bisa lebih terampil . 5. Pencapaian pembelajaran pendidikan J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF A. Kuesioner sebelum pembelajaran (pre test) Soal : 1. Seorang pasien laki-laki usia 23 tahun datang ke dokter THT-KL dengan keluahan benjolan di bagian anterior leher dibawah tulang hioid superior dari kartilago tiroid, massa bergerak ke atas (menghilang) saat menjulurkan lidah, Apakah kemungkinan diagnosis pasien tersebut? a. Kista tiroid b. Kista higroma c. Kista dermoid d. Kista Brachialis e. Kista duktus tiroglosus 2. Seorang pasien 40 tahun datang dengan keluan benjolan lunak di leher sisi kiri sejak 4 tahun yang lalu, membesar secara lambat, saat ini ukuran 4x2x1 cm, pada palpasi teraba lunak dan tidak terdapat fluktuasi, tidak ditemukan tumor lain di daerah kepala dan leher. Pemeriksaan tambahan apa yang paling penting untuk menegakkan diagnosis massa pada pasien ini? a. Biopsi aspirasi jarum halus (BAJAH/FNAB) b. CT scan kepala leher dengan kontras c. Rontgen polos leher Ap dan Lateral d. USG leher e. MRI leher 3. Seorang pasien laki-laki usia 20 tahun datang ke dokter THT-KL dengan keluahan benjolan di bagian anterior leher dibawah tulang hioid superior dari kartilago tiroid, massa bergerak ke atas (menghilang) saat menjulurkan lidah, Apakah nama operasi untuk kelainan ini? a. Insisi Weber Ferguson b. Insisi modifikasi Blair c. Operasi Cadwell-Luc
Modul VII.17 - Neoplasma Jinak Leher 9 d. Operasi Sistrunk e. Operasi Tiroplasti B. Kuesioner tengah pembelajaran A 10-year-old female patient presents for swelling of the neck and difficulty breathing. The patient states that she has been having trouble swallowing foods and liquids. The physical exam finds a tender and mobile mass in the midline of the neck. The chest x-ray of the patient is normal. On ultrasound of the neck, there is a midline neck mass close to the hyoid bone. It is determined that the structure is a cyst that occurs due to abnormal development. What is the embryonic origin of this structure? a. Thyroglossal duct b. Pharyngeal arches c. Neural Tube d. Ectoderm e. Mesoderm K. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR EKSISI KISTA DUKTUS TIROGLOSUS Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sbb: 1. Perlu Perbaikan : langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan) 2. Mampu : langkah sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya, pelatih hanya membimbing sedikit untuk perbaikan 3. Mahir : langkah dikerjakan dengan benar sesuai dg urutan aturannyadan waktu kerja yang sangat efisien 4 T/D : langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan) Nama Peserta :......................... Tanggal : .................. NO KEGIATAN KASUS 1 2 3 T/D I. PERSIAPAN OPERASI 1 Informed Consent 2 Menjelaskan tujuan operasi dan hasil yang diharapkan 3 Menjelaskan prosedur dan standar operasi pada pasien keluarganya 4 Melakukan evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi operasi 5 Persiapkan peralatan
Modul VII.17 - Neoplasma Jinak Leher 10 NO KEGIATAN KASUS 1 2 3 T/D II PROSEDUR OPERASI (Cohen JI) 1. Pasien dalam posisi supine dengan leher ekstensi. 2. Desinfeksi lapangan operasi dengan betadine, lalu persempit dengan doek steril 3. Buat insisi horizontal setinggi atau tepat di bawah hyoid. 4. Elevasi flap kulit ke superior sampai level hioid dan di inferior hingga di bawah level kista. 5. Pisahkan otot strap di garis tengah dan bebaskan dari kista. Bebaskan otot sternohioid dan tirohioid secara horizontal tepat di bawah perlekatannya pada hioid. 6. Diseksi hioid secara melingkar di medial sambungan kornu mayor dan minor dengan melewatkan klem di bawahnya dari inferior ke superior. Gunakan pemotong tulang untuk memotong tulang hioid secara bilateral, sehingga corpus hioid bebas dari perlekatannya dari inferior dan lateral. 7. Diseksi dimulai dari inferior dan lateral dari kista, jika saluran juga terdapat ke inferior dari kista ke lobus piramidalis tiroid, dipotong. 8. Bebaskan jaringan lunak yang melapisi otot milohioid secara horizontal di antara kornu minor. Pegang corpus hioid dengan klem Allis atau sejenisnya dan tarik ke anterior dan inferior. Sama seperti yang dilakukan di inferior hioid, pisahkan secara horizontal otot milohioid dan geniohioid dari hioid dengan meninggalkan sedikit otot yang melekat ke hioid untuk menghindari terpotongnya saluran kista yang berdekatan dengan periosteum hioid. 9. Hioid ditarik ke inferior sebagai pegangan, dan selanjutnya dibebaskan dari jaringan sekitarnya kecuali geniohioid, lanjutkan diseksi kista / saluran sampai ke foramen sekum 10. Tidak jarang salurannya cukup kecil dan sulit untuk diidentifikasi pada saat ini. Ligasi saluran ini saat sebelum masuk ke orofaring sudah cukup. 11. Tutup luka lapis demi lapis dengan dekatkan kembali otot strep, milohioid dan infrahioid jika memungkinkan. Sebelumnya pasang drain Penrose atau suction drain kecil di dasar luka. 12 Operasi Selesai III PASCA OPERASI 1 Observasi perdarahan, tekanan darah, nadi, suhu dan produksi drain secara teratur
Modul VII.17 - Neoplasma Jinak Leher 11 NO KEGIATAN KASUS 1 2 3 T/D 2 Antibiotika dapat diberikan setelah operasi terutama pada penderita dengan infeksi sekunder kista brankial 3 Jahitan dapat dilepas pada hari ke 7 IV KOMPLIKASI OPERASI 1 Hipoestesia pada jaringan parut daerah servikal 2 Terbentuk jaringan parut sampai dengan keloid 3 Cidera pada nervus hypoglossus, nervus laringeal superior, nervus asesorius dan mandibula cabang nervus fasialis L. DAFTAR TILIK EKSISI KISTA DUKTUS TIROGLOSUS Berikan penilaian kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan suatu kegiatan dengan ketentuan sebagai berikut ini: ط: memuaskan : langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar X: tidak memuaskan : langkah atau kegiatan tidak ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar T/T: tidak ditampilkan : langkah kegiatan atau keterampilan tidak dikerjakan PESERTA: TANGGAL: NO KEGIATAN NILAI ط x T/T I PERSIAPAN OPERASI 1 Informed Consent 2 Menjelaskan rencana tindakan dan hasil yang diharapkan 3 Menjelaskan prosedur dan standar operasi pada pasien dan keluarganya 4 Melakukan evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi operasi 5 Persiapkan peralatan II. PROSEDUR OPERASI 1 Pasien dalam posisi supine dengan leher ekstensi. 2 Desinfeksi lapangan operasi dengan betadine, lalu persempit dengan doek steril 3 Buat insisi horizontal setinggi atau tepat di bawah hyoid. 4 Elevasi flap kulit ke superior sampai level hioid dan di inferior hingga di bawah level massa.
Modul VII.17 - Neoplasma Jinak Leher 12 NO KEGIATAN NILAI ط x T/T 5 Pisahkan otot strap infrahioid di garis tengah dan bebaskan dari kista. Bebaskan otot sternohioid dan tirohioid secara horizontal tepat di bawah perlekatannya pada hioid. 6 Diseksi hioid secara melingkar di medial sambungan kornu mayor dan minor dengan melewatkan klem di bawahnya dari inferior ke superior. Gunakan pemotong tulang untuk memotong tulang hioid secara bilateral, sehingga corpus hioid bebas dari perlekatannya dari inferior dan lateral. 7 Diseksi dimulai dari bawah dan lateral dari kista, jika saluran juga terdapat ke inferior dari kista ke lobus piramidalis tiroid, dipotong. 8 Bebaskan jaringan lunak yang melapisi otot mylohioid secara horizontal di antara kornu minor. Pegang corpus hioid dengan klem Allis atau sejenisnya dan tarik ke anterior dan inferior. Sama seperti yang dilakukan di inferior hyoid, pisahkan secara horizontal otot milohioid dan geniohioid dari hyoid dengan meninggalkan sedikit otot yang melekat ke hioid untuk menghindari terpotongnya saluran yang berdekatan dengan periosteum hioid. 9 Hioid ditarik ke inferior sebagai peganga, dan selanjutnya dibebaskan dari jaringan sekitarnya kecuali geniohioid, lanjutkan diseksi kista / saluran sampai ke foramen sekum 10 Tidak jarang salurannya cukup kecil dan sulit untuk diidentifikasi pada saat ini. Ligasi saluran ini saat sebelum masuk ke orofaring sudah cukup. 11 Tutup luka lapis demi lapis dengan dekatkan kembali otot strep, milohioid dan infrahioid jika memungkinkan. Sebelumnya pasang drain Penrose atau suction drain kecil di dasar luka. III. PASCA OPERASI 1 Observasi perdarahan, tekanan darah, nadi, suhu dan produksi drain secara teratur 2 Antibiotika dapat diberikan setelah operasi terutama pada penderita dengan infeksi sekunder kista brankial 3 Drain dapat dilepas jika produksi drain kurang dari 10cc dalam 24 jam 4 Jahitan dapat dilepas pada hari ke 7 IV. KOMPLIKASI OPERASI 1 Hipoestesia pada jaringan parut daerah servikal
Modul VII.17 - Neoplasma Jinak Leher 13 NO KEGIATAN NILAI ط x T/T 2 Terbentuk jaringan parut sampai dengan keloid 3 Cidera pada nervus hypoglossus, nervus laringeal superior, nervus asesorius dan mandibula cabang nervus fasialis M. MATERI PRESENTASI Slide 1: Ruang lingkup
Modul VII.17 - Neoplasma Jinak Leher 14
Modul VII.17 - Neoplasma Jinak Leher 15
Modul VII.17 - Neoplasma Jinak Leher 16
Modul VII.17 - Neoplasma Jinak Leher 17
Modul VII.17 - Neoplasma Jinak Leher 18 N. MATERI BAKU NEOPLASMA JINAK LEHER Massa atau benjolan di leher sering terjadi. Pada populasi dewasa, sekitar 75% dari massa leher non-tiroid adalah neoplastik, dan dari jumlah tersebut 80% metrupakan metastatik. Sekitar 75% dari metastasis leher ini disebabkan oleh tumor primer yang
Modul VII.17 - Neoplasma Jinak Leher 19 terletak di atas klavikula. Pada anak di bawah 15 tahun, 90% massa leher adalah jinak dan dari jumlah ini hingga 55% kenainan bawaan. Neoplasma jinak leher dapat diklasifikasikan sebagai kongenital atau didapat. Kelompok yang terakhir sering sering merupakan pemembesaran kelenjar getah bening, tetapi terdapat berbagai patologi yang berbeda. Biopsi aspirasi jarum halus (BAJH/FNAB) dengan atau tanpa panduan ultrasound (USG) sekarang merupakan pemeriksaan standar. Evaluasi dan manajemen pasien dengan benjolan leher harus mencakup pendekatan klinis yang sistematis. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan traktus aerodigestif bagian atas dan kepala dan leher, diikuti oleh pemeriksaan yang relevan, yang mungkin termasuk pemeriksaan darah dan radiologi. Neoplasma di leher dapat dibedakan menjadi Kongenital dan Didapat. A. NEOPLASMA LEHER KONGENITAL 1. Kista Duktus Tiroglosus Duktus tiroglosus adalah struktur tubular sempit yang terbentuk saat penurunan kelenjar tiroid dari foramen caecum menuju ke bagian depan pharyngeal duct. Bagian distal duktus berdiferensiasi menjadi lobus piramidal kelenjar tiroid pada sekitar 50% orang. Duktus tiroglosus biasanya berinvolusi pada minggu kesepuluh kehamilan namun jika terjadi kegagalan involusi maka sekresi dari lapisan epitel duktus akan menyebabkan peradangan dan terjadi pembentukan kista duktus tiroglosus. Kista duktus tiroglosus terjadi pada sekitar 1% populasi di seluruh dunia. 2 Frekuensi kejadiannya sama antara individu pria dan wanita. Kista duktus tiroglosus paling sering terjadi pada masa anak-anak namun kista ini juga dapat muncul pada orang dewasa dengan jumlah kasus yang bervariasi pada tiap rentang usia. Kista duktus tiroglosus sangat erat kaitannya dengan tulang hyoid. Presentasi kejadiannya sekitar 24% terjadi pada level suprahyoid, 76% muncul pada level infrahyoid. Kista duktus tiroglosus muncul sebagai massa pada leher dengan lokasi di garis tengah leher yang mobile di dekat tulang hyoid. Kista duktus tiroglosus seringkali asimtomatik. Kista dapat bertambah besar dengan terjadinya infeksi saluran pernapasan bagian atas. Perlekatan duktus tiroglosus ke foramen caecum di dasar lidah menyebabkan kista dapat bergerak ke atas pada saat menelan dan menjulurkan lidah. Kista duktus tiroglosus jika tidak ditangani dengan benar, memiliki risiko untuk berkembang menjadi karsinoma kista duktus tiroglosus. Kejadian karsinoma terjadi sekitar 1% dari total kasus kista duktus tiroglosus, dengan jenis karsinoma kista duktus tiroglosus primer paling banyak adalah papillary carcinoma.Secara histopatologis kista duktus tiroglosus merupakan struktur kistik yang dilapisi oleh epitel pernapasan, epitel skuamosa maupun kombinasi keduanya. Pemeriksaan miskoskopis duktus tiroglosus pada hampir 70% kasus terdapat jaringan kelenjar tiroid ektopik di dalam dinding kista. Ultrasonografi adalah pilihan pencitraan awal yang ideal dan non-invasif. Tomografi komputer dan Magnetic Resonance Imaging (MRI) dapat digunakan untuk mengevaluasi kista duktus tiroglosus dan jaringan tiroid normal.
Modul VII.17 - Neoplasma Jinak Leher 20 Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus dengan pembedahan eksisi massa tumor, tulang hyoid dan inti jaringan lidah di sekitar saluran di dasar lidah ke foramen caecum yang dikenal dengan prosedur Sistrunk. Eksisi kista saja (kistektomi) dilakukan jika saluran kista tidak ditemukan intra operasi Embriologi Tiroid mulai berkembang pada minggu ketiga kehamilan, primordium tiroid berasal dari foramen caecum di persimpangan dua pertiga anterior dan sepertiga posterior lidah. Primordial tiroid turun ke leher, melewati jalur anterior dan berhubungan erat dengan tulang hyoid yang sedang berkembang dan mencapai posisi terakhirnya di leher pra- trakea inferior pada minggu ketujuh kehamilan. Tiroid primordial (tiroid lingual) muncul pada hari ke-17 saat masa embriogenesis sebagai proliferasi sel epitel yang tidak berdiferensiasi, di garis tengah lantai faring antara tuberkulum di anterior dan kupula di posterior, selanjutnya menyesuaikan dengan foramen caecum. Struktur endodermal ini muncul sebagai suatu struktur yang menyerupai tali yang lambat laun membentuk rongga. Saluran duktus tiroglosus kemudian meluas ke permukaan anterior trakea pada minggu ke-6, berkembang dan menyebar membentuk dua lobus di laterotrakeal, sehingga membentuk kelenjar tiroid akhir minggu ke-7. Selama migrasi ini, duktus tiroglosus terletak di posterior lengkung faring pertama dan melewati jalur anterior ke elemen lengkung faring ke-2 dan ke-3: tulang hyoid, membran tiroid, dan tulang rawan tiroid. Pertumbuhan dan rotasi anterior tulang hyoid menyebabkan bagian duktus ditarik ke posterior di permukaan dalam corpus tulang hyoid. Selama proses rotasi ini, tulang hyoid memberikan tekanan pada duktus tiroglosus yang dapat mengakibatkan segmentasi duktus pada prehyoid, transhyoid, dan retrohyoid. Epidemiologi Kista duktus tiroglosus merupakan kelainan kongenital berupa masa kistik kedua terbanyak setelah limfadenopati benigna. Kista duktus tiroglosus terdapat pada sekitar 1% populasi di seluruh dunia. Kejadiannya sama antara individu pria dan wanita. Kista duktus tiroglosus paling sering terjadi pada anak- anak dibanding orang dewasa sekitar 60% kasus. Kista duktus tiroglosus sangat erat kaitannya dengan tulang hyoid. 3 Kista duktus tiroglosus setinggi tulang hyoid pada 15% kasus dan dibawahnya 65% kasus. Kista muncul di garis tengah leher sebanyak 75% kasus sementara sisanya muncul 2 cm dari garis tengah. Kista juga ditemukan pada 10% pada sisi lateral kiri. Etiopatogenesis Etiopatogenesis kista duktus tiroglosus terdiri dari dua teori. Teori klasik menyatakan terbentuknya kista duktus tiroglosus oleh karena kegagalan obliterasi dari
Modul VII.17 - Neoplasma Jinak Leher 21 duktus tiroglosus. Teori Otto menyatakan kista duktus tiroglosus terjadi akibat bertambah naiknya bagian kepala yang diikuti oleh kelenjar tiroid sehingga duktus tiroglosus mengandung dua jenis epitel yaitu epitel dasar mulut di bagian superfisial atau pars epitelialis dan epitel tiroid di bagian inferior atau pars tiroidea. Area perbatasan yang berbeda pada saat berdiferensiasi diantara kedua epitel ini akan menyebabkan terjadinya ruptur pada minggu ke-6, jika duktus tiroglosus tidak mengalami ruptur level bawah atau pars tiroidea, maka jaringan tiroid akan tetap berada pada daerah ujung kranial duktus tiroglosus pada saat bertambah naiknya bagian kepala. Duktus tiroglosus apabila ruptur pada level yang lebih tinggi atau pada pars epitelialis, jaringan epitel non tiroid akan menetap pada area di antara dasar lidah dan kelenjar tiroid sehingga bisa menjadi lokasi untuk terbentuknya suatu kista epitel atau kista duktus tiroglosus. Kista epitel ini juga bisa mengandung jaringan tiroid. Diagnosis Pasien dengan dugaan kista duktus tiroglosus harus diperiksa dengan tes fungsi tiroid dan BAJH dengan panduan ultrasonografi. Kadar TSH dan T4 akan menentukan status tiroid pasien. USG dapat membantu lokasi dan diagnosis kista, dan akan mengkonfirmasi keberadaan kelenjar tiroid normal di posisinya. BAJAH akan menunjukkan isi kistik yang mengandung koloid. Pemindaian isotop dengan Tc99 atau I123 mungkin berguna jika kista terletak di atas hyoid atau di lidah posterior, untuk mengidentifikasi atau menyingkirkan tiroid lingual. CT scan atau MRI harus dipertimbangkan pada kista yang besar, ketika dicurigai keganasan dan adanya kecurigaan tiroid lingual. Histopatologi Gambaran histopatologis kista duktus tiroglosus berbentuk sebuah kista yang dilapisi oleh epitel saluran respiratori dan epitel skuamosa maupun kombinasi dari keduanya. Secara makroskopis, lesi tampak sebagai kista padat atau bernodul. Sebuah studi menemukan 1% kasus memiliki epitel campuran dan hanya 10% yang dilapisi sel epitel skuamosa. Sel epitel respiratorik yang tampak berupa epitel kolumnar pseudokompleks bersilia hingga sel kuboid. Pada sel epitel skuamosa, didominasi oleh epitel skuamosa kompleks tidak berkeratin. Infiltrat sel-sel inflamasi dan sel histiosit dapat terlihat bersamaan dengan pembentukan jaringan granulasi. Gambaran hiperplasia dari folikel limfoid dapat tampak pada sebagia kecil kasus. Keberadaan sel histiosit, lemak kolestrol, dan sel raksasa berkaitan dengan ruptur dinding kista. Dinding kista yang mengalami inflamasi menjadi jaringan fibrotik yang membuat sulit untuk mengidentifikasi sel epitel awal. Sebanyak 70% dari kasus dapat ditemukan jaringan kelenjar tiroid ektopik pada lesi. Sel tiroid ektopik dapat pula ditemukan pada jaringan otot maupun jaringan lemak di sekitar lesi. Sebaliknya jaringan kista duktus tiroglosus juga dapat ditemukan pada kelenjar tiroid (Gambar 2).
Modul VII.17 - Neoplasma Jinak Leher 22 Diagnosis Banding Diagnosis banding kista duktus tiroglosus termasuk di antaranya adalah branchial cleft cyst, metastasis karsinoma tiroid, kista dermoid atau epidermoid, kista sebasea, kelenjar getah bening metastasis kistik. Kelenjar getah bening metastasis kistik biasanya berasal dari papillary thyroid carcinoma maupun squamous cell carcinom dari traktus aerodigestif. Kista dermoid atau epidermoid juga bisa muncul sebagai massa pada garis tengah leher. Branchial cleft cyst juga merupakan massa kistik di leher anterior, namun biasanya berlokasi di lateral dan tidak berhubungan dengan tulang hyoid. Adanya keterkaitan yang besar antara kista duktus tiroglosus dengan keterlibatan tulang hyoid adalah manifestasi kunci untuk membedakannya dengan penyakit lain. Tata Laksana Eksisi bedah adalah terapi pilihan, karena ada kemungkinan besar kista dapat terinfeksi, mengakibatkan hilangnya lapisan jaringan normal, atau jaringan parut pada kulit leher dan terjadinya pembesaran kista berulang yang menyebabkan ketidaknyamanan bagi pasien. prosedur Sistrunk dijelaskan pada tahun 1920, yang menghasilkan penyembuhan permanen untuk sebagian besar kasus. Sebelumnya tulang hyoid tidak dieksisi menghasilkan tingkat kekambuhan hingga 50%, Modifikasi teknik Sistrunk saat ini digunakan sebagai prosedur bedah standar, tanpa perlu diseksi epitel dasar lidah. Eksisi dilakukan melalui insisi leher di garis tengah melintang tepat di bawah kista. Kista dibebaskan dari otot leher infra-hioid dan kartilago laring. Diseksi kemudian berlanjut ke atas ke daerah tulang hioid. Pada titik ini otot-otot suprahioid, yaitu milohioid, geniohioid dan genioglossus, dibebaskan dari tulang hioid, sedangkan sepertiga tengah tulang hyoid, antara cornu minor dipotong dan dimobilisasi dengan spesimen kista duktus tiroglosus masih melekat. Diseksi dilanjutkan ke atas, ke dasar lidah, sampai ke daerah foramen caecum. Teknik ini menghasilkan penurunan yang signifikan dalam tingkat kekambuhan, bila dibandingkan dengan eksisi sederhana atau pengangkatan kista saja (Prosedur Shalang) Komplikasi Komplikasi dari duktus tiroglosus terdiri dari komplikasi minor dan mayor. Komplikasi minor seperti seroma, infeksi lokal pada duktus/kista dan fistula. 17 Komplikasi mayor umumnya terjadi pada saat pengangkatan kista, bisa berupa hematoma pada jaringan sekitar, abses, cedera pada laringotrakeal, paresis nervus hipoglosus dan hipotiroidisme. Cedera pada laringotrakeal jarang terjadi dan hal tersebut merupakan komplikasi dari prosedur Sistrunk yang menyebabkan obstruksi jalan nafas, disfagia dan disfonia. Cedera laringotrakeal disebabkan oleh reseksi yang salah pada kartilago tiroid, bukan tulang hyoid. Identifikasi yang tepat pada tulang hyoid, kartilago tiroid dan membran tirohyoid sangat penting untuk mencegah komplikasi ini selama operasi.
Modul VII.17 - Neoplasma Jinak Leher 23 Fistula tiroglosus adalah komplikasi dari kista duktus tiroglosus yang terinfeksi atau sayatan yang tidak disengaja di atas kista yang terinfeksi pada abses atau pengangkatan kista duktus tiroglosus yang tidak tuntas, hal ini dapat diidentifikasi dengan ditemukannya hooding sign positif pada fistula tiroglosus. Cedera pada hipoglosus juga jarang terjadi, tetapi telah dilaporkan setelah prosedur Sistrunk, mengakibatkan kelumpuhan separuh lidah. Saraf hipoglosus berjalan lateral ke otot hyoglossus dan medial dari otot stylohyoid dan saraf lingual di dekat bagian lateral tulang hyoid. Penting untuk menjaga reseksi medial hyoid ke kornu bawah hyoid untuk menghindari cedera hipoglosus. Prognosis Faktor yang berperan terhadap rekurensi yaitu eksisi inkomplit, ruptur intraoperatif, ketrampilan dalam operasi dan pengalaman serta kemunculan infeksi pada kasus. Prognosis kista dusktus tiroglosus dengan prosedur Sistrunk sangat baik, hanya sekitar 1,5-10% dari kista duktus tiroglosus kambuh setelah Sistrunk.Tingkat kekambuhan jauh lebih tinggi dengan eksisi sederhana tanpa eksisi sepertiga tengah tulang hyoid sekitar 50%. Kista duktus tiroglosus bersifat ganas sekitar 1% dari seluruh kasus, biasanya diagnosis ditegakkan setelah operasi pengangkatan kista pada hasil pemeriksaan histopatologi. 2. Limphangioma Limfangioma adalah malforma-si kongenital jinak dari sistem limfatik dan merupakan kasus yang langka. Limfangioma dapat berkembang di bagian tubuh manapun, 75% di daerah kepala dan leher. Klasifikasi limfangioma yaitu kapiler/ simpleks, kavernosa, atau higroma kistik. Higroma kistik terjadi lebih sering dibandingkan dengan jenis limfangioma lainnya. Paling sering pada lateral leher, trigonum colli posterior dan bisa meluas hingga mediastinum. Limfangioma simpleks juga disebut limfangioma kapiler. Terdiri dari saluran limfatik seukuran kapiler berdinding tipis, biasanya asimtomatik dan muncul sebagai lesi kecil seperti vesikel pucat yang terlihat pada kulit atau rongga mulut. Limfangioma kavernosa merupakan 40% dari semua limfangioma, terdiri dari ruang limfatik yang melebar, seringkali dengan adventitia fibrosa, biasanya terjadi di lidah, pipi dan bibir, dan muncul sebagai pembengkakan difus yang tidak nyeri. Higroma kistik terdiri dari kista dan sinus, dengan ukuran diameter bervariasi dari beberapa milimeter sampai beberapa sentimeter, biasanya muncul sebagai massa kistik yang mengandung cairan limfa aselular. Embriologi Pada minggu ke delapan kehamilan, enam kantung limfatik bisa diidentifikasi dalam perkembangan embrio. Kantung limfatik ini terdiri dari dua kantung jugular, dua iliaka, satu di pangkal akar mesenterium dan satu dorsal ke aorta abdominal. Limfatik jugular
Modul VII.17 - Neoplasma Jinak Leher 24 berkembang di daerah leher. Pada minggu ke 9, kantung akan dilapisi jaringan ikat membentuk kelenjar getah bening. Kantung limfatik primer muncul dari populasi sel endotel dari vena embrionik dan selanjutnya endotel terus menerus tumbuh dari kantung limfatik ke jaringan dan organ sekitarnya. Etiologi Sistem limfatik muncul dari lima kantung primitif (dua kantung jugularis, dua kantung sciatic posterior dan satu kantung retroperitoneal) yang berkembang dari sistem vena. Dua teori utama untuk menjelaskan asal usul limfangioma yaitu Sekuestrasi jaringan limfatik dan Proliferasi membran fibrilasi endotel. Gambaran Klinis Meskipun umumnya muncul saat lahir, kadang-kadang juga dapat bermanifestasi untuk pertama kalinya pada orang dewasa muda. Dapat muncul di mana saja di kepala dan leher. Pada palpasi terasa kistik dan transiluminasi. Dapat menetap atau mengecil, tetapi dalam beberapa kasus membesar terutama setelah perdarahan internal atau infeksi, dapat tumbuh dengan cepat yang berpotensi menimbulkan risiko obstruksi jalan napas yang mengancam jiwa. Diagnosis Diagnosis biasanya ditegakkan berdasarkan gambaran klinis tetapi CT scan dan MRI akan lebih akurat menentukan ukuran, lokasi, dan hubungannya dengan struktur penting serta membantu perencanaan operasi. Terapi Tatalaksana limfangioma menantang dan banyak modalitas pengobatan telah dijelaskan selama bertahun-tahun. Strategi pengobatan bervariasi tergantung pada lokasi anatomi, ukuran dan keterlibatan struktur sekitarnya. 15% pasien mungkin mengalami regresi spontan. Aspirasi berulang dapat membantu jika terjadi peningkatan ukuran yang cepat yang menyebabkan gejala penekanan sambil menunggu pengobatan definitif. Injeksi sklerosan seperti bleomisin, tetrasiklin dan alkohol telah pernah dilaporkan, tetapi jaringan parut internal tidak dapat diprediksi sehingga mengakibatkan kesulitan pada operasi berikutnya dan saat ini tidak direkomendasikan. Injeksi intra-lesi OK-432 (Picinabil) telah menunjukkan hasil yang menjanjikan. Tindakan ini menyebabkan reaksi inflamasi dan trombosis yang diikuti nekrosis. Eksisi bedah tetap menjadi pengobatan pilihan, tetapi menantang oleh sebab itu sebaiknya dilakukan oleh ahli bedah berpengalaman di pusat layanan spesialis. 3. Kista Dermoid Kista dermoid dibagi menjadi kista epidermoid, dermoid sejati dan teratoid, tergantung pada jenis jaringan yang diidentifikasi secara patologis di dalamnya. Dua puluh persen dari semua kista dermoid ditemukan di leher dan 30% di antaranya di wajah. Kista ini merupakan 28% dari semua kista di garis tengah. Kista epidermoid hanya berisi kulit dan tidak ada struktur adneksa lainnya. Mereka dilapisi dengan epitel skuamosa dengan atau tanpa bahan keratin. Ini adalah varietas yang paling sering ditemui, sementara Kista dermoid sejati dilapisi dengan epitel skuamosa
Modul VII.17 - Neoplasma Jinak Leher 25 dan mengandung kulit dengan pelengkap seperti rambut, folikel rambut, kelenjar sebaceous dan kelenjar keringat dan Kista teratoid dilapisi baik dengan epitel skuamosa atau pernapasan. Mereka mengandung ketiga elemen embriologis; ektodermal, endodermal dan elemen mesodermal seperti kuku, gigi, otak dan jaringan kelenjar. Etiologi Lesi ini muncul karena diferensiasi ektodermal sel multipotensial yang terperangkap pada saat penutupan neuropore anterior, terutama di sepanjang garis fusi, sehingga terletak di sepanjang garis tengah leher. Gambaran Klinis Usia puncak kejadian biasanya dekade kedua dan ketiga. Berupa massa kistik atau padat tanpa rasa nyerit, biasanya di daerah submental, di atas atau di bawah otot milohioid. Jarang bermanifestasi sebagai pembengkakan inflamasi akut yang berhubungan dengan infeksi. Diagnosis Diagnosis ditegakkan berdasarkan usia pasien, lokasi klinis, dan presentasi klinis. BAJAH dengan panduan ultrasound berguna dalam diagnosis lesi ini. CT scan dan MRI dapat membantu menggambarkan perluasan lesi yang besar, dan membantu perencanaan operasi. Terapi Eksisi bedah lengkap adalah pengobatan pilihan. 4. Kista Brankhial Kata brankhial berasal dari bahasa Yunani 'bragchia' yang berarti insang. Kista branchial muncul sebagai kegagalan perkembangan aparatus branchial. Anomali branchial mencapai hingga 19% dari semua massa leher pada anak. Sering bermanifestasi pada dewasa muda dengan insiden puncak pada dekade ketiga. Kista biasanya dilapisi oleh epitel skuamosa berlapis kecuali pada 10% kasus yang mungkin memiliki epitel pernapasan sebagai gantinya; 80% memiliki jaringan limfoid di dinding luar dan berisi cairan mengandung kristal kolesterol. Gambaran Klinis Enam puluh persen terletak di sepertiga atas leher, di pinggir anterior otot sternokleidomastoid, meskipun tumor ini telah dilaporkan di semua tempat leher termasuk kelenjar parotid. Gejala dapat berupa benjolan leher yang persisten pada 80% (dengan sifat intermiten 20%), 42 sampai 70% tampak kistik meskipun hingga 30% mungkin terasa padat. Pada hampir 40% kasus, riwayat infeksi saluran pernapasan atas sebelum ditemukan massa dapat ditemukan. Kista yang meradang dapat terjadi pembentukan abses dengan kemungkinan pecah. Diagnosis Semua pasien dengan kecurigaan kista brankial harus dilakukan pemeriksaan BAJH dengan panduan ultrasound. BAJH yang dipandu USG menghasilkan cairan aselular
Modul VII.17 - Neoplasma Jinak Leher 26 dengan kristal kolesterol pada pemeriksaan. Pemindaian CT scan dan MRI bermanfaat pada kista yang besar untuk perencanaan operasi. Tatalaksana Eksisi adalah pengobatan pilihan. Operasi jadi pilihan karena kista branchial memiliki kecenderungan untuk terinfeksi, dapat menjadi berukuran besar yang menyebabkan ketidaknyamanan, gejala penekanan dan deformitas kosmetik yang jelas. Prosedur ini dimulai dengan sayatan melintang pada leher yang dibuat pada lipatan kulit leher di atas kista. Platisma diinsisi dan flap sub-platisma dielevasi. Fasia leher diinsisi di atas batas anterior otot sternokleidomastoid, yang ditarik ke lateral. Kista kemudian diidentifikasi dan didiseksi dari perlekatan fasia dan kapsulnya untuk memastikan bahwa dinding kista tidak pecah. Selama diseksi, selubung karotis dan isinya harus diidentifikasi dan dimobilisasi keluar dari area operasi. Selain itu, cabang marginal dari saraf fasial, vagus, saraf assesorius dan saraf hipoglosus harus diidentifikasi dan dipreservasi. Kista dieksisi seluruhnya dan biasanya tidak perlu mencari saluran meskipun ujung kista mungkin perlu diseksi kelenjar parotis atau ruang parafaring. 5. Fistula dan Sinus Brankhial Fistula branchial adalah kelainan bawaan yang terdiri dari saluran dilapisi epitel kulit, di internal membuka sebagai celah pada bagian anterior fossa tonsil jika berasal dari lengkungan kedua. Di eksternal berada di batas anterior otot sternokleidomastoid, di berbatasan sepertiga tengah dan bawahnya m Sternokleidomastoid. Sinus brankial atau pits brankial terbuka sepanjang garis antara tragus dan sendi sternoklavikularis pada batas anterior otot sternokleidomastoid tetapi tanpa lubang internal. Etiologi Timbul dari kegagalan perkembangan lengkap aparatus brankial termasuk lengkungan pertama, kedua, ketiga dan keempat. Selama minggu ke-4 kehidupan intrauterin, enam arkus branchial berkembang sebagai sel-sel krista neuralis yang bermigrasi ke kranial. Selama minggu ke-5, lengkung brankial kedua tumbuh di atas celah brankial ketiga dan keempat, membentuk sinus servikal. Kegagalan penutupan sinus servikal memungkinkan terjadinya komunikasi dengan kantong brankial kedua di daerah fossa tonsil, kantong ketiga di daerah laring, dan keempat di fossa piriformis. Gambaran Klinis Pasien biasanya bayi muda dengan sinus yang mengeluarkan cairan, yang bisa dengan atau tanpa lubang fistula internal. Secara klinis, fistula celah brankial kedua yang paling sering. Fistula ini memiliki lubang kulit di sepanjang batas anterior sternokleidomastoid, biasanya di batas sepertiga tengah dan bawah otot sternokleidomastoid, menelusuri antara arteri karotis internal dan eksternal yang berakhir di fossa tonsilaris. Fistula brankial ketiga dan keempat jarang terjadi, muncul bagian bawah leher dan berakhir di sinus piriformis, dengan lubang yang terkadang terlihat pada pemeriksaan endoskopi.
Modul VII.17 - Neoplasma Jinak Leher 27 Diagnosis Diagnosis dibuat berdasarkan temuan klinis. Barium meal atau CT fistulogram dapat membantu untuk menentukan jalur saluran, membedakan sinus dari fistula dan membantu perencanaan operasi. Terapi Eksisi bedah adalah terapi pilihan. Eksisi dilakukan dengan cara stepladder, menghilangkan stoma sinus dengan elips di kulit leher. Traktus diikuti ke atas setinggi mungkin dan kemudian dibuat insisi servikal atau servikal-fasial transversal lainnya. Diseksi kemudian dilanjutkan ke daerah tonsil di mana saluran biasanya menghilang dan harus diligasi sebelum avulsi, untuk meminimalkan kekambuhan. B. MASSA LEHER DIDAPAT 1. Kista sebasea Kista sebasea adalah lesi akneksa kulit yang terjadi terutama di mana terdapat kelenjar sebaceous dan paling sering terjadi pada kulit berbulu, terutama di daerah jenggot dan kulit kepala. Etiologi Kista ini timbul ketika saluran kelenjar kulit sebaceous, yang bertanggung jawab untuk produksi sebum tersumbat. Sekresi yang terperangkap menyebabkan pembesaran kelenjar yang progresif. Gambaran Klinis Lesi bisa tunggal atau multipel, dan dengan ukuran yang berbeda. Cenderung bulat, kecil dan berbatas tegas, meregangkan kulit di atasnya dan puncak saluran yang tersumbat sering terlihat sebagai 'punctum'. Kista sebaceous memiliki kecenderungan untuk terinfeksi. Diagnosis Kista sebasea sering menunjukkan gambaran klinis yang sangat berbeda dan jarang memerlukan pemeriksaan penunjang. Memiliki penampilan sonografi non-spesifik dan BAJAH tidak diperlukan kecuali ada keraguan klinis. Terapi Eksisi bedah adalah pengobatan pilihan karena alasan kosmetik, cenderung membesar, pecah, terinfeksi dan kambuh. Eksisi harus dilakukan dengan sangat hati-hati untuk memastikan bahwa punctum, dan bekas luka jika sebelumnya telah insisi dan kering setelah infeksi, dieksisi dengan elips kecil dari kulit yang sehat, untuk menghindari meninggalkan bagian dari kapsul kista yang akan menyebabkan kekambuhan. 2. Lipoma Lipoma adalah lesi jinak pada lapisan adiposa. Sel-sel adiposa menjadi lobulus besar yang dibagi oleh septa fibrosa longgar. Lipoma yang besar kadang-kadang bisa menyebabkan nyeri. Meskipun sebagian besar lipoma bersifat sporadis, sebagian kecil
Modul VII.17 - Neoplasma Jinak Leher 28 dapat bersifat familial. Lipomatosis familial yang paling umum daerah kepala dan leher adalah lipomatosis Madelug. Di daerah leher, lipoma mungkin subfascial atau timbul di dalam otot. Tumor ini tumbuh sangat lambat dan memiliki risiko transformasi ganas yang sangat rendah. Etiologi Etiologinya tidak diketahui, namun, riwayat diduga trauma sebelumnya yang menyebabkan kerusakan lapisan adiposa dan pertumbuhan abnormal n. Gambaran Klinis Lipoma biasanya terjadi pada orang dewasa dan memiliki ukuran yang bervariasi. Tumor memiliki permukaan yang halus dan berlobus dengan tepi yang jelas. Cenderung lunak, dan karena terletak di bawah dermis, mobile terhadap kulit di atasnya. Diagnosis Lipoma memiliki penampilan yang khas pada USG, dan tidak memerlukan BAJAH, kecuali jika dicurigai adanya risiko transformasi maligna. Untuk lipoma besar, CT scan dan MRI berguna dalam menilai anatomi dan membantu perencanaan operasi. Terapi Eksisi bedah adalah pengobatan pilihan ketika lesi berukuran besar yang menyebabkan deformitas kosmetik yang jelas, adanya kecurigaan keganasan, atau karena pilihan pasien.
MODUL UTAMA ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER MODUL VII.18 NEOPLASMA KULIT PADA KEPALA LEHER EDISI III KOLEGIUM ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER 2022
DAFTAR ISI A. WAKTU ........................................................................................................... 1 B. PERSIAPAN SESI ........................................................................................... 1 C. REFERENSI..................................................................................................... 1 D. KOMPETENSI................................................................................................. 2 E. GAMBARAN UMUM..................................................................................... 2 F. CONTOH KASUS DAN DISKUSI................................................................. 2 G. TUJUAN PEMBELAJARAN .......................................................................... 3 H. METODE PEMBELAJARAN......................................................................... 3 I. EVALUASI ...................................................................................................... 4 J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF .............................. 4 K. INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR ................................................ 6 L. DAFTAR TILIK .............................................................................................. 7 M. MATERI PRESENTASI .................................................................................. 8 N. MATERI BAKU ............................................................................................ 10
Modul VII.18 ± Neoplasma Kulit pada Kepala Leher 1 MODUL VII.18 ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER: NEOPLASMA KULIT PADA KEPALA LEHER A. WAKTU Proses Pengembangan Kompetensi Alokasi Waktu Sesi di kompetensi 2 x 50 menit (classroom session) 2 x 50 menit (coaching session) 10 jam (facilitation and assessment) B. PERSIAPAN SESI Materi presentasi: o Power point : https://youtu.be/JHIQDVQC_00 o Video : Kasus : Neoplasma kulit kepala leher Sarana dan alat bantu latih: (disesuaikan dengan pencapaian kompetensi): o Penuntun belajar (learning guide) : terlampir o Tempat belajar (training setting) : instalasi rawat inap, instalasi rawat jalan, kamar operasi, ruang praktikum, ruang kuliah o Model/manekin atau kadaver o Komputer/laptop o Infocus C. REFERENSI 1. Berger AJ, Myers JN, Nemechek AJ, et al. Malignant Melanoma of the Head and Neck Region. In: Bailey BJ, Johnson JT, et al. Head & Neck Surgery- Otolaryngology. 5 th ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2014. p. 1739-59 2. Weber R, Ow T. Malignant Melanoma of the Head and Neck. In: Lee KJ, ed. Essential Otolaryngology Head & Neck Surgery. 11 th ed. New York: McGraw- Hill Education; 2016. p. 674-87 3. Buchanan MA, Palme CE, Riffat F, et al. Non-melanoma skin cancer. In: Myers J, Hanna E, Myers E, ed. Cancer of The Head and Neck. 5 th ed. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2017. p. 342-79 4. Schmalbach CE, Durham AB, Johnson TB, et al. Melanoma of the Head and Neck. In: Myers J, Hanna E, Myers E, ed. Cancer of The Head and Neck. 5 th ed. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2017. p. 342-79 5. Shah JP, Patel SG, Singh et al. Scalp and Skin. In: Shah JP, ed. Head and Neck Surgery and Oncology. 5 th ed. Philadelphia: Elsevier; 2020. p. 27-78
Modul VII.18 ± Neoplasma Kulit pada Kepala Leher 2 6. Amin MB, et al. Cutaneus Carcinoma of the Head ad Neck. In: Amin MB, Edge SB, Greene FL, et al. AJCC Cancer Staging Manual. 8 th ed. Chicago; Springer Nature; 2018. p. 172-80 D. KOMPETENSI 1. Pengetahuan Setelah mengikuti sesi ini peserta mampu menegakkan diagnosis neoplasma kulit kepala leher yaitu melanoma maligna dan non melanoma (Basalioma, Karsinoma sel skuamosa) berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Peserta didik dapat memutuskan tindakan yang tepat dan melakukan terapi pembedahan (eksisi luas). 2. Keterampilan Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil: a. Mengenali gejala dan tanda neoplasma kulit kepala dan leher b. Melakukan anamnesis dan pemeriksaan klinis neoplasma kulit kepala dan leher c. Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang seperti biopsi, CT Scan d. Membuat keputusan klinik untuk penatalaksanaan lanjut yaitu eksisi luas e. Membuat keputusan penatalaksanaan komplikasi neoplasma kulit kepala dan leher f. Mampu melakukan perawatan paska operasi dan follow up E. GAMBARAN UMUM Neoplasma kulit kepala dan leher merupakan kanker kulit yang berbahaya dengan predileksi 3.500.000 jenis non melanoma di Amerika Serikat tiap tahunnya. Neoplasma ini timbul akibat paparan sinar matahari. Neoplasma terbanyak adalah jenis karsinoma sel basal, yang kedua adalah jenis karsinoma sel skuamosa sel, dan yang ketiga adalah melanoma maligna. Untuk jenis yang ketiga yaitu melanoma maligna memiliki perilaku yang berbeda, sehingga neoplasma terbagi menjadi non melanoma (karsinoma sel basal dan karsinoma sel skuamosa) dan melanoma maligna. F. CONTOH KASUS DAN DISKUSI Seorang laki-laki, berusia 58 tahun datang ke poli T.H.T.K.L dengan keluhan utama terdapat tahi lalat di pipi kanan yang makin membesar dan menjadi berwarna hitam kecoklatan sejak 8 bulan yang lalu. Keluhan disertai rasa gatal pada tahi lalat. Penderita bekerja sebagai petani. Riwayat sering terpapar sinar matahari diakui. Diskusi: 1. Anatomi dan histologi kulit 2. Etiopatogenesis neoplasma kulit kepala dan leher
Modul VII.18 ± Neoplasma Kulit pada Kepala Leher 3 3. Tipe neoplasma kulit kepala dan leher 4. Penegakkan diagnosis 5. Rencana penatalaksanaan G. TUJUAN PEMBELAJARAN a. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan mampu untuk melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, dan menegakkan diagnosis neoplasma kulit kepala dan leher (karsinoma sel basal, karsinoma sel skuamosa dan melanoma maligna) serta melakukan penatalaksanaan bedah (eksisi luas) b. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan mampu untuk: 1. Menguasai anatomi, topografi dan histologi yang berhubungan dengan neoplasma kulit kepala dan leher. (tingkat kompetensi K3, A3) 2. Mampu menjelaskan faktor predisposisi neoplasma kulit kepala dan leher. (tingkat kompetensi K3, A3) 3. Mampu menjelaskan etiopatogenesis, gambaran klinik dan penegakkan diagnosis neoplasma kulit kepal dan leher. (tingkat kompetensi K3, A3) 4. Mampu menjelaskan pemeriksaan penunjang diagnosis seperti biopsi dan CT Scan. (tingkat kompetensi K3, A3, P5) 5. Mampu menjelaskan prinsip dasar tatalaksana penderita neoplasma kulit kepala dan leher (memberi penjelasan kepada penderita dan keluarganya, informed consent) dan mampu melakukan tindakan pembedahan (eksisi luas). (tingkat kompetensi K3, A3, P5) H. METODE PEMBELAJARAN Tujuan 1. Menguasai anatomi, topografi dan histologi yang berhubungan dengan neoplasma kulit kepala dan leher Untuk mencapai tujuan ini, maka dipilih metode pembelajaran berikut : 1. Referat 2. Skill Lab 3. Atlas review Tujuan 2. Mampu menjelaskan faktor predisposisi neoplasma kulit kepala dan leher Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut : 1. Referat 2. Literature reading
Modul VII.18 ± Neoplasma Kulit pada Kepala Leher 4 Tujuan 3. Mampu menjelaskan etiopatogenesis, gambaran klinik dan penegakkan diagnosis neoplama kulit kepal dan leher Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut : 1. Bedside teaching 2. Praktik lapangan (poliklinik) Tujuan 4. Mampu menjelaskan pemeriksaan penunjang diagnosis seperti biopsi dan CT Scan. Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut : 1. Bedside teaching 2. Praktik lapangan (poliklinik) Tujuan 5. Mampu menjelaskan prinsip dasar tatalaksana penderita neoplasma kulit kepala dan leher (memberi penjelasan kepada penderita dan keluarganya, informed consent) dan mampu melakukan tindakan pembedahan (eksisi luas). Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut : 1. Bedside teaching 2. Praktik lapangan (OK) I. EVALUASI 1. Pada tahap awal pertemuan diberikan pengantar kuliah tentang neoplasma kulit kepala dan leher dengan ilustrasi gambar. Karena bahan dan ilustrasi gambar yang ada hanya sedikit maka peserta didik diharapkan mencari bahan dan gambar dari text book ataupun internet untuk menambah wacana. 2. Dilakukan diskusi dengan instruktur pembimbing untuk membahas kekurangan materi pembelajaran yang ada dan teknik/keterampilan ekstraksi 3. Pendidik/fasilitas a. diskusi b. kriteria penilaian : cakap/tidak cakap, lalai 4. Diakhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila perlu diberi tugas untuk bisa lebih terampil . 5. Pencapaian pembelajaran pendidikan J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF A. Kuesioner sebelum pembelajaran (pretest) 1. Faktor apakah yang menyebabkan agresisifitas kanker skuamosa pada kulit kepala dan leher? a. riwayat paparan matahari b. riwayat radiasi pada kulit sebelumnya c. riwayat ingesti arsen d. riwayat kanker skuamosa lain sebelumnya
Modul VII.18 ± Neoplasma Kulit pada Kepala Leher 5 e. ukuran dan dalamnya tumor Jawaban: A 2. Dimanakah yang sering terjadi rekurensi keganasan kulit kapala & leher ? a. sulkus preaurikuler b. kantus medialis c. mentum d. alar-nasal-labial junction e. kolumela nasal Jawaban: D 3. Apakah terapi utama pada melanoma maligna pada kepala dan leher ? a. irradiasi b. operatif c. kemoterapi d. imunoterapi e. observasi Jawaban: B B. Kuesioner tengah pembelajaran 1. Apa yang harus dilakukan apabila ditemukan lesi kecil berpigmen yang mencurigakan pada anak? a. observasi b. diukur dan didokumentasikan c. dioperasi untuk tujuan diagnostik d. dioperasi untuk tujuan aestetik e. kemoterapi Jawaban: C 2. Kapan diseksi leher direkomendasikan pada keganasan kulit kepala dan leher? a. tidak ada b. melanoma dengan ketebalan lebih dari 1.2 mm c. melanoma yang mencapai level II d. melanoma yang telah mengalami ulserasi e. selalu dilakukan rutin Jawaban: B C. Kuesioner Akhir pembelajaran Seorang laki-laki usia 58 tahun datang dengan keluhan bercak hitam berkoreng pada daerah hidung. Pasein mengaku keluhan diawali dengan tahi lalat hitam yang makin lama membesar dan terasa gatal. Pasien mengaku sering tidak sengaja tergaruk sehingga
Modul VII.18 ± Neoplasma Kulit pada Kepala Leher 6 timbul luka. Pada pemeriksaan T.H.T.K.L tidak ditemukan kelainan. Bagaimana cara mendiagnosis dan terapi pada kasus ini ? Jawaban: Dilakukan biopsi pada daerah lesi untuk menentukan histopatologinya Jika positif neoplasma kulit kepala dan leher (melanoma maupun non melanoma) pilihan terapi adalah eksisi luas Jika defek cukup luas bisa dilakukan skin graft atau flap kulit setelah eksisi luas K. INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR PROSEDUR EKSISI LUAS NEOPLASMA KULIT KEPALA LEHER Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.: 1. Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan) 2. Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal 3. Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan) NAMA PESERTA: ............................... TANGGAL: ................................. NO KEGIATAN KASUS 1 2 3 T/D I. PERSIAPAN SEBELUM TINDAKAN Informed consent Rencana tindakan Persiapan peralatan II. PERSIAPAN PROSEDUR OPERASI 1. Penderita dalam keadaan teranestesi dan lakukan desinfeksi daerah yang akan dioperasi 2. Membuat marker dengan batas reseksi yang adekuat diperlukan untuk mencapai batas aman 4 mm, bagi kebanyakan kasus BCC dan SCC batas 4 mm dari lesi cukup untuk lesi yang berukuran 2cm atau kurang. Namun untuk lesi dengan ukuran lebih dari 2cm terletak di area yang berisko rekurensi dan diinvasi lemak atau tidak berdiferensiasi baik diperlukan batas eksisi 6 mm. Sebagai tambahan diperlukan pertimbangan untuk mencapai batas yang aman. 3. Insisi kulit sesuai dengan marker, insisi diperdalam sampai seluruh tumor terangkat
Modul VII.18 ± Neoplasma Kulit pada Kepala Leher 7 NO KEGIATAN KASUS 1 2 3 T/D 4 Rekonstruksi dari defek tergantung pada ukuran defek dan sifat tumor yang dieksisi. Untuk lesi yang lebih kecil penutupan primer dan proses penyembuhan luka adalah pilihan yang direkomendasikan 5 Pada defek yang lebih besar (intermediate) diperlukan skin graft atau rotational flap untuk penutupan defek yang adekuat. Untuk defek yang besar maka diperlukan maka perlu regional atau pedicled flaps atau free flaps 6 Operasi selesai L. DAFTAR TILIK PROSEDUR EKSISI TUMOR KULIT KEPALA DAN LEHER Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini: طMemuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar Î Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan proseduratau panduan standar T/T Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih PESERTA: _______________________ TANGGAL :______________ NO KEGIATAN KASUS ط X T/T I. PERSIAPAN SEBELUM TINDAKAN Informed consent Rencana tindakan Persiapkan peralatan II. PERSIAPAN PROSEDUR OPERASI 1. Penderita dalam keadaan teranestesi dan lakukan desinfeksi daerah yang akan dioperasi 2. Membuat marker dengan batas reseksi yang adekuat diperlukan untuk mencapai batas aman 4mm, bagi kebanyakan kasus BCC dan SCC batas 4mm dari lesi cukup untuk lesi yang berukuran 2cm atau kurang. Namun untuk lesi dengan ukuran lebih dari 2cm terletak di area yang berisko rekurensi dan dinvasi lemak atau tidak berdiferensiasi baik diperlukan batas eksisi 6mm. Sebagai tambahan diperlukan pertimbangan untuk mencapai batas yang aman. 3. Insisi kulit sesuai dengan marker, insisi diperdalam sampai seluruh tumor terangkat
Modul VII.18 ± Neoplasma Kulit pada Kepala Leher 8 NO KEGIATAN KASUS ط X T/T 4 Rekonstruksi dari defek tergantung pada ukuran defek dan sifat tumor yang dieksisi. Untuk lesi yang lebih kecil penutupan primer dan proses penyembuhan luka adalah pilihan yang direkomendasikan 5 Pada defek yang lebih besar (intermediate) diperlukan skin graft atau rotational flap untuk penutupan defek yang adekuat. Untuk defek yang besar maka diperlukan maka perlu regional atau pedicled flaps atau free flaps 6 Operasi selesai M. MATERI PRESENTASI Slide 1: Anatomi dan histologi kulit
Modul VII.18 ± Neoplasma Kulit pada Kepala Leher 9 Slide 2: Faktor predisposisi dan jenis-jenis neoplasma kulit kepala dan leher Slide 3: Gejala klinik neoplasma kulit kepala leher
Modul VII.18 ± Neoplasma Kulit pada Kepala Leher 10 Slide 4: Diagnosis neoplasma kulit kepala leher Slide 5: Penatalaksanaan neoplasma kulit kepala leher N. MATERI BAKU 1. Definisi Kanker kulit ialah suatu penyakit yang ditandai oleh pertumbuhan sel-sel kulit yang tidak terkendali, dapat merusak jaringan di sekitarnya dan dapat menyebar ke bagian tubuh lain. 2. Ruang lingkup Keluhan penderita umumnya adalah adanya perubahan pada kulit berupa lesi ulserasi, tahi lalat yang terasa gatal dan makin membesar. Adapun faktor predisposisi terjadinya tumor kulit adalah paparan sinar ultraviolet, paparan zat kimia arsen, imunosupresif, dan faktor genetik. 3. Lapisan Kulit Kulit terdiri dari 3 lapis, yaitu 1. Epidermis 2. Dermis 3. Hipodermis Tidak ada garis tegas yang memisahkan dermis dan subkutis, subkutis yang ditandai dengan adanya jaringan ikat longgar dan adanya lemak. 4. Fungsi Kulit 1. Fungsi Proteksi 2. Fungsi Absoprsi 3. Fungsi Eksresi 4. Fungsi Persepsi
Modul VII.18 ± Neoplasma Kulit pada Kepala Leher 11 5. Fungsi Termoregulasi 6. Fungsi Pembentukan Pigmen 7. Fungsi Keratinisasi 8. Fungsi pembentukan vitamin D Faktor predisposisi terjadinya tumor kulit: 1. Paparan sinar matahari Faktor risiko terpenting pada patogenesis Non Melanoma Skin Cancers (NMSCs) adalah tingkat paparan dari sinar ultraviolet, adapun panjang sinar ultraviolet berkisar 290-320 nm yang berperan sebagai karsinogenesis. Akibat paparan dalam waktu yang lama maka akan menyebabkan perubahan struktur dari kulit yang normal menjadi aktinik kemudian akhirnya menjadi kanker kulit, proses ini berjalan progresif dan terjadi dalam beberapa dekade. 2. Paparan zat arsen Faktor lain yang dapat berhubungan dengan keganasan kulit adalah paparan jangka panjang terhadap zat kimia yaitu zat arsen pada pada penderita yang mendapat terapi Fowlers solution, penderita dengan radiodermatitis kronik. Zat arsen dapat mengganggu mekanisme DNA repair sehingga proses mutasi yang terjadi karena ultra violet B tidak bisa diperbaiki. 3. Immunosupresi Pada penderita yang mendapat transplantasi organ dan pada penderita leukemia atau limfoma dapat meningkatkan insidensi keganasan dari kulit 4. Faktor genetik Terdapat dua macam penderita dengan sindrom genetik yang jarang yaitu xeroderma pigmentosa dan nevoid basal cell carcinoma syndrome yang akan berkembang menjadi NMSC. Xeroderma pigmentosa kelainan genetik autosomal resesif dimana terdapat penurunan kapasitas perbaikan kerusakan DNA akibat radiasi sinar ultraviolet. Sindrom Nevoid karsinoma sel basal adalah suatu sindrom genetik autosomal dominan yang ditandai dengan terdapatnya atau terjadinya beberapa BCC, kista pada rahang, kelainan tulang rusuk, pits pada palmar dan plantar, dan kalsifikasi pada falx cerebri. Faktor lain yang mempengaruhi adalah: 1. Usia 2. Pekerjaan 3. Kebiasaan berjemur 4. lokasi geografi (dianggap secara tidak langsung meningkatkan paparan sinar matahari) 5. Trauma (luka bakar, ulcers, contoh: Marjolin ulcer) 6. HPV 5. Pembagian neoplasma kulit kepala dan leher 1. Non melanoma
Modul VII.18 ± Neoplasma Kulit pada Kepala Leher 12 a. Basal Cell Carcinoma (BCC) / Kasinoma sel basal / Basalioma Suatu tumor ganas yang berasal dari pertumbuhan neoplastik sel basal epidermis dan apendiks kulit. Basalioma bersifat invasif, destruktif lokal dan sangat jarang bermetastasis ke organ lain. Lebih dari 90% etiologi basalioma adalah paparan sinar matahari atau penyinaran ulraviolet yang berlebihan. Lokasi predileksi terutam pada wajah (pipi, hidung, lipatan nasolabial, daerah periorbital), leher, lengan, tangan, badan, kaki dan kulit kepala. Gambaran klinik basalioma bervariatif diantaranya adalah nodulo-ulseratif, berpigmen, morfea, superfisial dan fibroepitelioma. b. Squamous Cell Carcinoma (SCC) / Karsinoma sel skuamosa (KSS) Suatu proliferasi ganas dari keratinosit epidermis yang merupakan tipe sel epidermis yang paling banyak dan merupakan salah satu kanker kulit yang sering dijumpai setelah basalioma. Faktor predisposisi KSS antara lain radiasi sinar ultraviolet, bahan karsinogen, dan paparan arsenik. Lokasi predileksi tersering adalah wajah, telinga, punggung, tangan dan tungkai bawah. Secara klinis ada 2 bentuk KSS, yaitu : (1) KSS in situ yaitu terbatas pada epidermis (2) KSS invasif yaitu berupa nodul kecil dengan batas yang tidak tegas, warna sama dengan kulit atau agak sedikit eritem. Permukaannya mula-mula lembut berkembang menjadi veruka atau papilomatosa, ulserasi timbul didekat tumor, mudah berdarah dan pinggir ulkus biasanya meninggi dan mengeras. Shah JP et al. Scalp and Skin. Head and Neck Surgery and Oncology. 5 th ed.,2020.
Modul VII.18 ± Neoplasma Kulit pada Kepala Leher 13 2. Melanoma Maligna Suatu keganasan sel melanosit yang dapat terjadi pada kulit, mata, telinga, GIT dan mukosa oral atau genital. MM merupakan salah satu tumor ganas dengan kemampuan metastasis ke beberapa organ termasuk otak dan hati. Kejadian MM kurang lebih 4% dari seluruh keganasan kulit namun merupakan penyebab 79% kematian akibat karsinoma kulit. MM tiga kali lebih sering terjadi pada kulit putih dibandingkan kulit berwarna dan lebih sering diderita oleh laki-laki dengan umur rata-rata pasien 53 tahun. Penyebab melanoma maligna bersifat multifaktorial dan berkaitan dengan berbagai faktor risiko yaitu kulit terang (tipe I dan II), paparan sinar matahari berlebihan, lepuh kulit akibat terbakar sinar matahari, mole (tahi lalat), displastik yang jumlahnya banyak, riwayat MM pda keluarga dan dijumpai perubahan pada kulit. Terdapat 4 subtipe kliniko-histopatologik melanoma primer meliputi: (1) Superficial Spreading Melanoma (SSM), (2) Nodular Melanoma (NM), (3) Lentigo Maligna Melanoma (LMM), (4) Acral Lentiginous Melanoma (ALM). NM merupakan tipe terbanyak terjadi di Indonesia yaitu 15-30% pasien. Gambaran klinis berupa nodul berbentuk kubah atau papul berwarna coklat kehitaman, kadang-kadang mengalami ulserasi dan perdarahan akibat trauma minor. Shah JP et al. Scalp and Skin. Head and Neck Surgery and Oncology. 5 th ed.,2020.
Modul VII.18 ± Neoplasma Kulit pada Kepala Leher 14 Pasien MM merlukan pengawasan periodik terhadap rekurensi, metastasis dan keganasan baru selama sisa hidupnya. Angka ketahanan hidup 5 tahun MM pada semua ras rata-rata mencapai 90%. Penentuan stadium klinik menurut AJCC GDQ 8,&& WHUEDUX 6HODLQ LWX MXJD ELVD GLJXQDNDQ NULWHULD &ODUN¶V /HYHO. Penentuan stadium tumor kulit NMSCs berdasarkan American Joint Committee on Cancer menggunakan TNM AJCC 8 tahun 2017 (Tumor, Node, Metastasis). 6. Klasifikasi TNM: untuk NMSC (BCC dan SCC) Tx : Tumor primer tidak dapat dinilai T0 : Tidak didapat tumor primer Tis : Tumor insitu T1  ΅ΦΞΠΣ ΕΖΟΘΒΟ ΦΜΦΣΒΟ   ΔΞ  T2 : Tumor ΕΖΟΘΒΟ ΦΜΦΣΒΟ     ΔΞ T3 : Tumor > 4 cm pada dimensi maximum atau ada erosi tulang minor aatau invasi perineural atau invasi yang dalam T4 : Tumor dengan tulang kortikal/ marrow atau invasi ke foramen pada skull base T4a : Tumor dengan invasi ke tulang kortikal / marrow T4b : Tumor dengan invasi skull base atau keterlibatan foramen skull base Nx : KGB tidak dapat dinilai N0 : Tidak didapat metastasis ke KGB, N1 : Terdapat metastasis ke KGB, tunggal, ipsilateral < 3 cm ENE (-) N2a : Terdapat metastasis ke KGB, tunggal, ipsilateral , lebih dari 3 cm tapi kurang dari 6 cm, ENE (-) N2b : Terdapat metastasis ke KGB, multiple, ipsilateral , lebih dari 6 cm N2 c : Metastasis pada bilateral atau kontralateral nodus limfatikus atau > 6 cm, ENE (-) N3a : Metastasis pada nodus limfatikus > 6 cm N3b : Metastasis pada nodus manapun dan ENE (+) M0 : Tidak terdapat metastasis jauh M1 : Terdapat metastasis jauh
Modul VII.18 ± Neoplasma Kulit pada Kepala Leher 15 Stadium Stadium 0 : Tis N0 M0 Stadium I : T1 N0 M0 Stadium II : T2 N0 M0 Stadium III : T3 N0 M0; T1,2,3 N1 M0 Stadium IV : T1,2,3 N2 M0 Any T , N3, M0 T4, Any N, M0 Any T, Any N, M1 7. Terapi pada neoplasma kulit kepala dan leher NMSCs : Saat melakukan operasi reseksi kanker kulit di daerah kepala dan leher, tujuannya adalah melakukan reseksi tumor dengan membersihkan daerah margin pembedahan sambil mempertahankan fungsi dan kosmetik sebelum dilakukan rekonstruksi definitif. Adapun beberapa tindakan yang dapat dilakukan adalah : 1. Kuretase dengan elektrodisekasi Kuretase dengan elektrodisekasi merupakan terapi terbanyak untuk BCC atau lebih dikenal electrosurgery atau elektrodisekasi dengan kuretase. Metode ini banyak dipakai oleh ahli dermatologi yang menangani sebagaian besar dari lesi tersebut, dan menunjukkan hasil yang baik apabila digunakan secara tepat dengan tingkat kesembuhan 81±97%. Alasan pemilihan metode ini pada BCC dan SCC adalah karena keduanya memiliki permukaan yang lembut, sehingga dapat dilakukan kuretase. Ditangan yang ahli dengan metode ini dapat mengangkat semua tumor yang teraba menggunakan alat kuret berbagai ukuran, setelah didapatkan jaringan yang terasa normal pada bagian basal yang di eksisi maka dilakukan elektrodisekasi atau fulgurasi. Proses ini dilakukan sebanyak 2-6 kali. Keuntungan metode ini adalah menyisakan jaringan normal sebanyak mungkin, serta mudah dilakukan. Kerugiannya adalah perlu perawatan pada luka terbuka, menimbulkan skar, dan perdarahan. Indikasi menggunakan metode ini hanya pada lesi dengan diameter kurang dari 2 cm. Kontraindikasi metode ini antara lain lesi dengan invasi dalam, karsinoma sel basal sklerotik (morphea-like), letak lesi di area yang memiliki tingkat rekurensi tinggi (hidung, telinga, periokular, dan perioral), melanoma maligna, dan tumor rekuren. 2. Cryosurgery (bedah beku) Cryosurgery atau bedah beku adalah pilihan terapi lain yang mungkin sesuai untuk beberapa lesi sel basal. Sebagaimana elektrosurgery dibutuhkan keahlian dan pengalaman Cryogen terbanyak yang digunakan berupa nitrogen cair. Temperatur yang dianggap letal bagi jaringan tumor adalah minimal -30 o C sampai -50 o C. Jaringan tumor dan area sekitar tumor dibekukan untuk memastikan ablasi yang adekuat. Termocaupel diinsersikan ditepi area lesi untukmenjamin suhu yang sesuai agar terjadi kematian sel. Kelebihan dari teknik ini adalah angka kesembuhan yang tinggi, banyak menyelamatkan jaringan yang sehat di sekitarnya. Indikasi dan
Modul VII.18 ± Neoplasma Kulit pada Kepala Leher 16 kontraindikasi metode ini sama dengan metode elektrodisekasi. Kekurangan metode ini lamanya fase penyembuhan, dan perawatan luka. 3. Radiasi Terapi radiasi efektif untuk mengatasi kanker kulit dan telah digunakan sebelumnya. semakin ditinggalkannya terapi radikal maka terapi radiasi makin populer. Kelebihan metode ini adalah kemampuan untuk menjangkau secara luas jaringan tumor, dan menghindari pembedahan. kekurangannya meliputi metode ini memakan waktu berlarut- larut biaya yang tidak murah, efek jaringan yang berdekatan, efektivitas terbatas jika tumor melibatkan tulang rawan atau tulang, radiodermatitis. Terapi radiasi biasanya dipilih pada pasien yang tidak layak di operasi karena kondisi umumnya, terapi tambahan untuk pembedahan, terapi paliatif pada lesi yang luas. 4. Terapi Photodinamik untuk keganasan kulit pada kepala dan leher Photodynamic therapy (PDT) adalah metodeterapi yang menggunakan zat photosentizasi yang akan mencapai lokasi tumor secara selektif, zat tersebut akan aktif apabila terkena paparan sinar sehingga memberikan efek terapi. Walaupun metode ini menjanjikan, tapi masih diteliti lebih lanjut. Terdapat dua komponen untuk melakukan metode terapi ini, yaitu obat photosensitisasi, dan laser yang mengaktivasi obat. Obat yang paling banyak digunakan pada keganasan kulit kepala dan leher adalah porphyrin. Beberapa obat lain yang digunakan adalah tetrasiklin, fluorese, dan rodamin. Berdasarkan kajian literatur pada awalnya metode ini digunakan untuk tindakan kanker kulit stadium lanjut. Beberapa seri metode ini memberikan respon awal yang baik pada beberapa pasien, namun pemantauan jangka panjang sulit dilakukan. Masalah utama yang perlu dievaluasi adalah keragaman dari teknik, obat, dan dosis sinar. Keuntungan PDT adalah beberapai lesi dapat diterapi secara bersamaan, memiliki hasil kosmetik yang baik, dan tidak memerlukan anestesi. Kekurangannya meliputi respon yang tidak dapat diprediksi pada lesi lanjut, dan phosensitifisitas. 5. ,QWHUIHURQ Į ,QWHUIHURQ Į PHUXSDNDQ NHORPSRN VLWRNLQ \DQJ PXQFXO VHFDUD DODPL GDQ PHPLliki efek biologis antara lain mengatur pertumbuhan dan diferensiasi sel, memodulasi respon LPXQ GDQ PHPLOLNL DNWLILWDV DQWLYLUDO 3HPHEHULDQ ,QWHUIHURQ Į LQWUDOHVL FRFRN XQWXN mengobati karsinoma sel basal superfisial dan nodular dengan angka kesembuhan lebih dari 80%. 6. Bedah Eksisi (Eksisi luas) Merupakan metode terbanyak yang dipakai untuk keganasan kulit pada kepala dan leher. Klinisi harus memiliki 4 tujuan yaitu: 1. Pengangkatan/penghancuran total tumor 2. Mempertahankan sebanyak mungkin jaringan normal 3. Mempertahankan fungsi 4. Perhatikan kosmetik.  0RK¶V 6XUJHU\ Merupakan teknik operasi untuk membersihan semua epidermis, intradermal,
Modul VII.18 ± Neoplasma Kulit pada Kepala Leher 17 dan sub dermal secara histologis dari kanker kulit. Merupakan teknik pembedahan khusus yang mampu mempertahankan jaringan sehat semaksimal mungkin. Ini diindikasikan untuk kanker kulit dengan subklinis yang tidak terduga dengan ekstensinya pada daerah dengan risiko tinggi untuk kekambuhan lokal. Sebelum melakukan eksisi tumor lengkap diperlukan insisi awal. Dengan metode ini pasta zinc klorida diaplikasikan ke massa tumor untuk memfiksasi in situ dan melakukan eksisi serial agar dapat dilakukan pemeriksaan seluruh spesimen secara histologis. Hal ini mempermudah pengambilan sisa tumor sehingga dapat dilakukan eksisi ulang pada kanker tersebut. Sebelum eksisi lengkap tumor, serta awal sayatan harus mencakup tanda asimetris agar batas tumor menjadi akurat. Spesimen dibagi menjadi 4 untuk mempermudah proses pemeriksaan histologis dari seluruh sisi tumor. Serial reseksi dan pemeriksaan patologis ini di ulang sampai daerah bebas tumor. Dibandingkan dengan modalitas terapi lain metode ini memberikan angka kesembuhan yang tinggi pada kanker kulit. Angka harapan hidup 5 tahun lebih 99% pada BCC dengan SCC dengan eksisi primer, juga bisa dilakukan pada tumor rekuren 96%, disisi lain SCC yang diterapi dengan metode ini angka kesembuhan 5 tahunnya pada pasien dengan metastasis adalah 16%, sedangkan pada pada yang tidak metastasis sampai 96%. Kekurangan metode ini adalah prosedur tindakannya lama, perlu peralatan khusus (cryostat), dan perlu tim ahli khusus. 8. Laser karbondioksida Eksisi dengan metode laser cocok untuk beberapa kanker kulit. Indikasi metode ini adalah pada penderita dengan status kardio atau kondisi medis lainnya yang merupakan kontraindikasi pemberian epinefrin untuk anestesi lokal. Lidokain tanpa tambahan vasokonstriktor memiliki durasi 10 menit, lebih lama dari waktu yang diperlukan untuk melakukan reseksi sebagaian besar lesi di muka pada kondisi kekurangan darah dengan terapi laser CO2. Apabila di tepi lesi masih ditemukan tumor, dibutuhkan anestesi infiltrasi tambahan jika diperlukan untuk pengambilan jaringan. Jika telah ditentukan bahwa batas lesi bebas tumor, maka area flap lokal di infiltrasi dan dilakukan rekonstruksi. Terapi laser ini juga memiliki keuntungan pada penderita dengan kelainan darah. Indikasi lain dari laser CO2 adalah reseksi atau vaporisasi lesi kecil multipel yang tidak memerlukan rekonstruksi. Lesi yang berukuran antara 7±8 mm dapat direseksi tanpa disertai perdarahan, dan dapat sembuh sempurna dalam 10 hari, sehingga dapat mempertahankan kosmetik. Metode ini terutama efektif dalam penatalaksanaan lesi multipel premalignansi atau yang berpotensi malignan pada kanker kulit. 8. Tatalaksana Melanoma Skin Cancer / Melanoma Kulit 1. Bedah Eksisi Terapi standar untuk melanoma kulit adalah bedah eksisi komplit dari lesi primer. Menurut pedoman American Academy Dermatology (AAD) terbaru tatalaksana melanoma kulit merekomdasikan 0,5cm dari batas melanoma in situ,
Modul VII.18 ± Neoplasma Kulit pada Kepala Leher 18 1cm untuk melanoma invasif dengan ketebalan <2mm, 2cm batas dari tumor untuk tumor dengan ketebalan >2mm. Eksisi melanoma pada tempat yang khusus seperti telinga, hidung atau tempat yang lain di kepala dan leher memerlukan teknik pembedahan yang khusus dengan memperhatikan kosmetik. Sebagai tambahan seorang ahli bedah harus berfikir 3 dimensi, yaitu bagaimana mendapat batas yang dalam sebagaimana batas lateral 40 (contoh pertimbangan perlu tidaknya reseksi otot dan tulang muka untuk mendapat batas yang adekuat). 2. Biopsi sentinel kelenjar getrah bening dan diseksi elektif kelenjar getah bening. Sentinel KGB adalah nodus KGB pertama atau KGB yang merupakan drainase ke massa tumor. Biopsi KGB sentinel dilakukan untuk menentukan apakah terjadi metastasis regional. Area kepala dan leher merupakan area yang sulit dipetakan, angka keberhasilannya 70-80%, namun dengan menggunakan teknik pemetaan dapat meningkat sampai 95%. 3. Terapi adjuvant Terapi adjuvan yang ideal belum ditemukan. Penelitian terbaru menunjukkan angka kebebasan tumor meningkat secara signifikan pada penderita resiko tinggi \DQJ PHQGHULWD PHODQRPD VHWHODK PHQGDSDW LQWUIHURQ Į GRVLV WLQJJL 5HJLPHQ pemberiaannya yaitu IFN-Į LQWUDYHQD [ ,8P KDUL VHODPD  KDUL GDODP seminggu untuk 4 minggu), diikuti pemberian IFN-Į VXENXWDQ [ ,8P /hari, selama 3 hari dalam seminggu untuk 11 bulan) dengan pertimbangan efek samping yang dapat terjadi pemberian IFN-Į GRVLV WLQJJL WHODK GLWHPXNDQ ,)1-Į dosis rendah yang memili imunitas lebih baik berdasarkan penelitian in vitro; penelitian terbaru menggunakan IFN-Į VXENXWDQ GRVLV UHQGDK VHODPD  WDKXQ 4. Kemoterapi Tujuan pemberian Kemoterapi terbagi menjadi dua bagian besar : sebagai terapi adjuvant pada penderita risiko tinggi dan sebagai terapi paliatif pada penderita stadium IV.
MODUL UTAMA ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER MODUL VII.19 NEOPLASMA TRAKEOBRONKIAL EDISI III KOLEGIUM ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER 2022
DAFTAR ISI A. WAKTU ........................................................................................................... 1 B. PERSIAPAN SESI ........................................................................................... 1 C. REFERENSI ..................................................................................................... 1 D. KOMPETENSI ................................................................................................. 1 E. GAMBARAN UMUM ..................................................................................... 2 F. CONTOH KASUS DAN DISKUSI ................................................................ 2 G. TUJUAN PEMBELAJARAN .......................................................................... 2 H. METODE PEMBELAJARAN ......................................................................... 3 I. EVALUASI ...................................................................................................... 3 J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF .............................. 3 K. INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR ................................................. 5 L. DAFTAR TILIK............................................................................................... 7 M. MATERI PRESENTASI .................................................................................. 9 N. MATERI BAKU ............................................................................................ 11
Modul VII.19 - Neoplasma Trakeobronkial 1 MODUL VII.19 ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER: NEOPLASMA TRAKEOBRONKIAL A. WAKTU Proses Pengembangkan Kompetensi Alokasi Waktu Sesi dalam kelas Sesi dengan fasilitas pembimbing Sesi praktek dan pencapaian kompetensi 2 x 60 menit (classroom session) 1 x 60 menit (coaching session) 6 Jam (facilitation and assessment) B. PERSIAPAN SESI 1. Materi presentasi Karsinoma Nasofaring a. Power point b. Video 2. Kasus Neoplasma trakeobronkial 3. Sarana dan alat bantu latih a. Penuntun belajar (learning guide): terlampir b. Tempat belajar (training setting): instalasi rawat inap, instalasi rawat jalan, kamar operasi, ruang praktikum, ruang kuliah c. Model/manekin atau kadaver d. Komputer/laptop e. Infocus C. REFERENSI 1. Potts KL., Bumpous JM. Tracheal Tumors. 2014. in Bailey B.J, Johnson J.T, , In : Head and Neck Surgery - Otolaryngology, 5th. edition, Volume two, Lippincott Williams & Wilkins, p : 1990 - 9. 2. Gilbert RW, Keshavjee S. Tumor of the Cervical Trachea. In: Myers J, Hanna E, Myers E, ed. Cancer of The Head and Neck. 5th ed. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2017. p. 741-56 3. Shah JP, Patel SG, Singh B, et al. Scalp and Skin. In: Shah JP, ed. Head and Neck Surgery and Oncology. 5th ed. Philadelphia: Elsevier; 2020. p. 365-440 D. KOMPETENSI 1. Pengetahuan Mampu menegakkan diagnosis neoplasma trakeobronkial berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang (bronkoskopi, biopsi, CT-scan). Peserta didik dapat memutuskan dan melakukan terapi pendahuluan serta merujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih tinggi/ tersier (bedah toraks kardiovaskuler)
Modul VII.19 - Neoplasma Trakeobronkial 2 2. Keterampilan Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil: 1. Mengenali gejala dan tanda neoplasma trakeobronkial. 2. Melakukan anamnesis dan pemeriksaan klinis neoplasma trakeobronkial. 3. Melakukan keputusan untuk pemeriksan penunjang seperti foto polos leher, bronkoskopi, CT-scan atau MRI. 4. Membuat keputusan klinik untuk penatalaksanaan lanjut neoplasma trakeobronkial, seperti merujuk ke pelayanan kesehatan yang lebih tinggi / tersier (bedah toraks kardiovaskuler) E. GAMBARAN UMUM Neoplasma trakeobronkial adalah massa tumor yang terdapat didalam lumen trakeabronkial. Tumor ini jarang dijumpai dan lambat terdiagnosa karena tidak ada gejala spesifik dan foto toraks dalam batas normal. Tumor trakea cenderung menyebabkan gejala progresif dari beberapa bulan sampai beberapa tahun karena sifatnya tumbuhnya lambat, mereka sering menyebabkan diagnosis akurat yang tertunda. Gejala yang ditimbulkan tergantung dari besarnya tumor yang menyebabkan obstruksi jalan napas sehingga sering memerlukan pengelolaan saluran napas yang bersifat segera. Jika lesi berupa ulcer, maka batuk kronis dan hemoptisis dapat timbul. Mengi, stridor, suara serak kesulitan throat clearing dan infeksi saluran napas dapat juga ditemui. F. CONTOH KASUS DAN DISKUSI Seorang laki-laki, 54 tahun mengeluh batuk, dengan dahak bercampur darah (haemoptisis) disertai sesak dan stridor. Keluhan ini dirasakan sejak 3 tahun. Telah dilakukan foto toraks dengan hasil paru normal. Riwayat pengobatan ke dokter diberikan antibiotika. Hasilnya membaik tapi kambuh kembali, sesak makin memberat disertai disfagia. Pada bronkoskopi didapatkan massa kemerahan berbenjol pada 1/3 atas trakea. Diskusi : 1. Anatomi & histologi trakeobronkial 2. Etiopatogenesis neoplasma trakeobronkial 3. Tipe neoplasma trakeobronkial 4. Prosedur diagnosis 5. Rencana penatalaksanaan G. TUJUAN PEMBELAJARAN Tujuan pembelajaran umum Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan mampu untuk melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, penegakkan diagnosis neoplasma trakeobronkial dan merujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih tinggi /tersier (bedah toraks kardiovaskuler)
Modul VII.19 - Neoplasma Trakeobronkial 3 Tujuan pembelajaran khusus Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan mampu untuk : 1. Menguasai anatomi, topografi, histologi yang berhubungan dengan neoplasma trakeobronkial 2. Mampu menjelaskan faktor risiko neoplasma trakeobronkial 3. Mampu menjelaskan etiopatogenesis, gambaran klinik dan penegakkan diagnosis neoplasma trakeobronkial 4. Mampu menjelaskan pemeriksaan penunjang diagnosis seperti foto polos leher, bronkoskopi, esofagoskopi dan CT-scan 5. Mampu menjelaskan prinsip dasar tatalaksana penderita neoplasma trakeobronkial (memberi penjelasan kepada penderita dan keluarganya, informed consent) serta mampu merujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi/ tersier (bedah toraks kardiovaskuler). H. METODE PEMBELAJARAN Untuk mencapai tujuan 1-5 diatas, menggunakan metode pembelajaran sebagai berikut: 1. small group discussion 2. peer assisted learning 3. bedside teaching 4. task-based medical education 5. log-book I. EVALUASI 1. Pada tahap awal pertemuan diberikan pengantar kuliah tentang neoplasma trakeobronkial dengan ilustrasi gambar. Karena bahan dan ilustrasi gambar yang ada hanya sedikit maka peserta didik diharapkan mencari bahan dan gambar dari text book ataupun internet untuk menambah wacana. 2. Dilakukan diskusi dengan instruktur pembimbing untuk membahas kekurangan materi pembelajaran yang ada dan tehnik/keterampilan ekstraksi 3. Pendidik/fasilitas a. diskusi b. kriteria penilaian : cakap/tidak cakap, lalai 4. Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila perlu diberi tugas untuk bisa lebih terampil . 5. Pencapaian pembelajaran pendidikan J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF A. Kuesioner Sebelum Pembelajaran (pre-test) 1. Jenis neoplasma apakah yang terbanyak ditemukan pada trakeobronkial? a. SCC dan Adenocarcinoma b. SCC dan adenoid cystic carcinoma c. SCC dan mukoepidermoid carcinoma
Modul VII.19 - Neoplasma Trakeobronkial 4 d. Adenoid cystic carcinoma dan chondrosarkoma e. Adenoid cystic carcinoma dan mukoepidermoid carcinoma Jawaban: B 2. Pemeriksaan radiologis apakah yang disarankan dalam mendiagnosis neoplasma trakeobronkial? a. Rontgen thorax b. Soft tissue leher c. Ct-scan d. MRI e. USG Jawaban: C 3. Pada pasien yang dicurigai menderita neoplasma trakeobronkial didaerah proksimal, tindakan apakah yang sebaiknya dilakukan pada pasien tersebut? a. AJH b. Reseksi trakea c. sitologi sputum selam 3 hari berturut-turut d. Bronkoskopi kaku dengan anestesi umum e. Bronkoskopi fleksibel dengan anestesi lokal Jawaban : E B. Kuesioner Tengah Pembelajaran Seorang laki-laki usia 67 tahun mengalami keluhan suara serak disertai stridor dan sesak nafas yang dirasakan sejak 3 tahun yang lalu dan makin lama makin memberat, kadang disertai dengan darah. Pasien ini adalah perokok berat selama 35 tahun. Pada pemeriksaan rontgen toraks tidak ditemukan kelainan yang signifikan. Pada pemeriksaan THT tidak ditemukan kelainan dan tidak ada pembesaran kelenjar getah bening leher. Tindakan apakah yang sebaiknya dilakukan pada pasien tersebut untuk menegakkan diagnosis? Jawaban : Bronkoskopi dan biopsi massa (untuk mengetahui histopatologi) Ct-scan atau PET CT sentrasi trakeobronkial (untuk mengetahui lokasi tumor) Rujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih tinggi/ tersier (bedah toraks kardiovaskuler)
Modul VII.19 - Neoplasma Trakeobronkial 5 K. INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR PENUNTUN BELAJAR BIOPSI NEOPLASMA TRAKEOBRONKIAL DENGAN MENGGUNAKAN BROKOSKOPI KAKU Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.: 1 Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan) 2 Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal 3 Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien 4 T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan) Nama Peserta :......................... Tanggal : .................. PENUNTUN BELAJAR NO KEGIATAN KASUS 1 2 3 T/D I. PERSIAPAN SEBELUM TINDAKAN Informed choice &Informed consent Rencana tindakan Persiapkan peralatan II. PERSIAPAN PROSEDUR OPERASI 1. Narkose umum dan anestesi topikal (spray) pada pita suara 2. Setelah bronkoskop masuk ke lumen trakea, anestesi dan oksigen disambung pada bronkoskop (Holinger Ventilation Bronchoscope) 3. Lumen bronkoskop ditutup dengan penutup kaca (glass cupped adaptor) Persiapan Bronkoskopi 1. Penderita terlentang diatas meja operasi, seorang perawat membantu memegang dan mengatur posisi kepala. 2. Alat-alat endoskopi disiapkan dibagian belakang kanan operator untuk memudahkan operator alat apa yang akan dibutuhkan dan dibantu oleh perawat instrumen. III. PROSEDUR OPERASI Tindakan Bronkoskopi A. Bronkoskopi / Trakeoskopidengan Bantuan Laringoskop dan Biopsi Neoplasma 1. Laringoskop dengan Removable slide dipegang dengan tangan kiri kemudian dimasukkan,
Modul VII.19 - Neoplasma Trakeobronkial 6 (sementara gigi atas dan bawah dilindungi); sampai pita suara terlihat. 2. Bronkoskop dipegang dengan tangan kanan dan dimasukkan melalui laringoskop kemudian masuk melalui laring ke trakea. 3. Slide dari laringoskop dilepas dan laringoskop ditarik kebelakang sehingga hanya bronkoskop yang tertinggal. 4. Bronkoskop dipegang dengan tangan kiri seperti memegang stik billiard sehingga tangan kanan bebas untuk memegang instrumen lainnya seperti suction canule, teleskop, forsep biopsi. 5. Inspeksi dinding trakea dengan menggerakan bronkoskop dari sisi ke sisi lain, atas dan bawah dengan memakai teleskop untuk evaluasi adanya tumor (bentuk,permukaan,besar, posisi). Kemudian dilakukan biopsi tumor dengan forsep biopsi yang sesuai. Kontrol perdarahan dengan suction dan lilit kapas yang telah diberi adrenalin. B. Bronkoskopi / Trakeoskopi tanpa Laringoskop dan Biopsi Neoplasma 1. Bronkoskop dipegang dengan tangan kanan seperti memegang pen dimasukkan sedikit agak ke sudut kanan mulut kemudian kebelakang sampai melewati lidah dan tampak epiglotis. 2. Bronkoskop lewat dibawah epiglotis, tampak glotis melewati pita suara, komisura posterior. Kepala lebih ekstensi sehingga bronkoskop masuk ke trakea. 3. Bronkoskop dipegang dengan tangan kiri seperti memegang stik billiard sehingga tangan kanan bebas untuk memegang instrumen lainnya seperti suction canule, teleskop, forsep. 4. Inspeksi dinding trakea dengan menggerakan bronkoskop dari sisi ke sisi lain, atas dan bawah dengan memakai teleskop untuk evaluasi adanya tumor (bentuk,permukaan,besar, posisi). Kemudian dilakukan biopsi tumor dengan forsep biopsi yang sesuai. Kontrol perdarahan dengan suction dan lilit kapas yang telah diberi adrenalin 5. Operasi selesai
Modul VII.19 - Neoplasma Trakeobronkial 7 L. DAFTAR TILIK PROSEDUR BRONKOSKOPI KAKU Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini: : Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar X: Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar T/T: Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih PESERTA: _________________________ TANGGAL :______________ NO KEGIATAN KASUS X T/D I. PERSIAPAN SEBELUM TINDAKAN Informed choice &Informed consent Rencana tindakan Persiapkan peralatan II. PERSIAPAN PROSEDUR OPERASI 1. Narkose umum dan anestesi topikal (spray) pada pita suara 2. Setelah bronkoskop masuk ke lumen trakea, anestesi dan oksigen disambung pada bronkoskop (Holinger Ventilation Bronchoscope) 3. Lumen bronkoskop ditutup dengan penutup kaca (glass cupped adaptor) Persiapan Bronkoskopi 1. Penderita terlentang diatas meja operasi, seorang perawat membantu memegang dan mengatur posisi kepala. 2. Alat-alat endoskopi disiapkan dibagian belakang kanan operator untuk memudahkan operator alat apa yang akan dibutuhkan dan dibantu oleh perawat instrumen. III. PROSEDUR OPERASI Tindakan Bronkoskopi A. Bronkoskopi/Trakeoskopi dengan bantuan Laringoskop dan Biopsi Neoplasma 1. Laringoskop dengan Removable slide dipegang dengan tangan kiri kemudian dimasukkan, (sementara gigi atas dan bawah dilindungi); sampai pita suara terlihat. 2. Bronkoskop dipegang dengan tangan kanan dan dimasukkan melalui laringoskop kemudian masuk melalui laring ke trakea. 3. Slide dari laringoskop dilepas dan laringoskop ditarik kebelakang sehingga hanya bronkoskop yang tertinggal.
Modul VII.19 - Neoplasma Trakeobronkial 8 NO KEGIATAN KASUS X T/D 4. Bronkoskop dipegang dengan tangan kiri seperti memegang stik billiard sehingga tangan kanan bebas untuk memegang instrumen lainnya seperti suction canule, teleskop, forsep biopsi. 5. Inspeksi dinding trakea dengan menggerakan bronkoskop dari sisi ke sisi lain, atas dan bawah dengan memakai teleskop untuk evaluasi adanya tumor (bentuk,permukaan,besar, posisi). Kemudian dilakukan biopsi tumor dengan forsep biopsi yang sesuai. Kontrol perdarahan dengan suction dan lilit kapas yang telah diberi adrenalin. B. Bronkoskopi/Trakeoskopi tanpa Laringoskop dan Biopsi Neoplasma 1. Bronkoskop dipegang dengan tangan kanan seperti memegang pen dimasukkan sedikit agak ke sudut kanan mulut kemudian kebelakang sampai melewati lidah dan tampak epiglotis. 2. Bronkoskop lewat dibawah epiglotis, tampak glotis melewati pita suara, komisura posterior. Kepala lebih ekstensi sehingga bronkoskop masuk ke trakea. 3. Bronkoskop dipegang dengan tangan kiri seperti memegang stik billiard sehingga tangan kanan bebas untuk memegang instrumen lainnya seperti suction canule, teleskop, forsep. 4. Inspeksi dinding trakea dengan menggerakan bronkoskop dari sisi ke sisi lain, atas dan bawah dengan memakai teleskop untuk evaluasi adanya tumor (bentuk,permukaan,besar, posisi). Kemudian dilakukan biopsi tumor dengan forsep biopsi yang sesuai. Kontrol perdarahan dengan suction dan lilit kapas yang telah diberi adrenalin 5. Operasi selesai
Modul VII.19 - Neoplasma Trakeobronkial 9 M. MATERI PRESENTASI x SLIDE 1 : Anatomi dan fisiologi trakeobronkial
Modul VII.19 - Neoplasma Trakeobronkial 10 SLIDE 2 : Faktor risiko dan jenis-jenis patologi neoplasma trakeobronkial x Faktor risiko timbulnya neoplasma trakeobronkial: x Merokok x Alkohol x Radiasi x Pekerjaan x Faktor-faktor lain x Patologi ganas: adenocarcinoma, adenosquamuss carcinoma, small cell carcinoma, atypical carcinoid, melanoma, chondrosarcoma, spindle cell carcinoma, rhabdomyosarcoma. Tapi sebanyak 2/3 adalah tipe squamuss cell carcinoma and adenoid cystic x Patologi jinak: squamus papiloma, pleomorfik adenoma, granular cell tumor, fibrus histiositoma, leiomyoma, chondroma, chondroblastoma, schwanoma, paraganglioma, hemangioendotelioma, vascular malformation. x Sifat: onsetnya perlahan dan tersembunyi sehingga sering terjadi keterlambatan diagnosis. Rata-rata durasi mulai timbulnya gejala sampai terdiagnosis pada squamuss cell carcinoma adalah 4 bulan sedangkan pada adenoid cystic adalah 18 bulan
Modul VII.19 - Neoplasma Trakeobronkial 11 x SLIDE 3 : Gejala Klinik neoplasma trakeobronkial Gejala yang timbul pada neoplasma trakeobronkial: x Batuk kronis x Hemoptisis x Sesak nafas x Mengi x Stridor x Infeksi saluran napas atas x Sesuai tipe tumor: x squamous cell carcinoma: hemoptysis is prominent, hoarseness x adenoid cystic: wheezing or stridor x SLIDE 4 : Diagnosis neoplasma trakeobronkial Pemeriksaan Penunjang Radiologis: x CT-scan x PET CT x MRI x Rontgen thoraks x SLIDE 5 : Penatalaksanaan neoplasma trakeobronkial x Bronkoskopi kaku dan biopsi dengan anestesi umum x Rujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi/ tersier (bedah toraks kardiovaskuler) x Trakeostomi bila memungkinkan untuk menjaga airway N. MATERI BAKU Neoplasma Trakeobronkial Neoplasma trakeobronkial adalah massa tumor yang terdapat didalam lumen trakeabronkial. Tumor ini jarang dijumpai dan lambat terdiagnosa karena tidak ada gejala spesifik dan foto toraks dalam batas normal. Tumor trakea cenderung menyebabkan gejala progresif dari beberapa bulan sampai beberapa tahun karena sifatnya tumbuhnya lambat, mereka sering menyebabkan diagnosis akurat yang tertunda. Gejala yang ditimbulkan tergantung dari besarnya tumor yang menyebabkan obstruksi jalan napas sehingga sering memerlukan pengelolaan saluran napas yang bersifat segera. Jika lesi berupa ulcer, maka batuk kronis dan hemoptisis dapat timbul. Mengi, stridor, suara serak, kesulitan throat clearing dan infeksi saluran napas dapat juga ditemui. Pencitraan yag sering digunakan adalah CT-scan dengan kontras atau PET- CT. CT dengan kontras memungkinkan pencitraan multiplanar yang adekuat dari saluran napas mulai dari segmen hioid sampai segmen bronkus. PET-CT berguna untuk membedakan patologi bersifat agresif and dapat lebih sensitif untuk mendeteksi keterlibatan paratrakeal dan mediastinum. MRI dapat berguna dalam melihat kondisi trakea tetapi tidak untuk kondisi mediastinum dan thorak oleh karena distorsi dari gerakan artefak oleh karena gerakan bernafas. Bronkoskopi adalah tindakan untuk menegakkan diagnosis neoplasma trakeobronkial. Apabila airway stabil maka dalat dilakukan bronkoskopi elektif, jika tidak makan bronkoskopi segera (emergensi) diperlukan untuk menstabilkan jalan napas. bronkoskopi dapat memprediksi kelainan airway dan obstruksinya. Letak tumor, luas trakea yang terkena tumor, dan struktur anatomi yang terkena dapat ditentukan. Biopsi
Modul VII.19 - Neoplasma Trakeobronkial 12 pada tumor perlu dilakukan pada saat bronkoskopi. Pemetaan luasnya tumor dapat membantu dalam menentukan manajemen selanjutnya. Untuk tumor didaerah proksimal trakea, lebih baik menggunakan bronkoskopi kaku, sementara untuk yang lebih distal penggunaan bronkoskopi fleksibel lebih disukai. Beberapa pasien mampu mentolerir obstruksi yang cukup besar (75%) atau lebih tetapi dikompensasi dengan peningkatan sekresi atau peradangan. Dalam keadaan mendesak, intubasi endotrakeal mungkin tidak dapat dilakukan karena dapat menyebabkan obstruksi napas total. Dalam hal ini bronkoskopi kaku dapat dilakukan dengan tujuan melebarkan saluran napas sehingga dapat pula dilakukan debulking tumor. Faktor Risiko: a. Merokok Merokok tembakau merupakan faktor risiko yang paling sering untuk terjadinya tumor trakeobronkial, makin banyak merokok risiko makin besar dan di daerah tempat merokok 5 sampai 35 kali lebih banyak dari daerah bukan tempat merokok. Ethyl nitrit didapatkan sebagai bahan karsinogen pada asap rokok. Merokok lebih dari 40 batang sigaret perhari mortalitas 15/100.000 sedangkan pada yang bukan perokok 0,6/100.000. b. Alkohol Alkohol dapat menyebabkan iritasi pada mukosa, kerusakan hepar, imunokompetensi menurun, sebagai kofaktor perubahan nitrit menjadi ntrosamine dan mempermudah absorbs karsinogen. Pemakaian kombinasi dengan tembakau akan lebih meningkatkan risiko terjadinya keganasan. Efek tembakau dan alcohol saling sinergis. c. Radiasi Irradiasi telah lama diketahui sebagai karsinogenik. Adanya tumor yang diinduksi radiasi (radiation-induced tumor) pernah dilaporkan yaitu sebanyak 2 kasus karsinoma squamosa. d. Pekerjaan Faktor pekerjaan sebagai penyebab terjadinya karsinoma daerah trakea dipengaruhi dengan adanya konsumsi rokok dan kebiasaan minum alkohol. Beberapa peneliti mendapatkan pada sekelompok orang yang pekerjaannya berhubungan dengan debu kayu, asap cat, nikel terdapat peningkatan karsinoma trakeobronkial daripada kelompok lainnya. e. Faktor ± faktor lain Infeksi virus Human Papilloma yang awalnya pertumbuhan benign dapat menjadi maligna pada waktu kemudian. Penderita infeksi virus 25% dapat menjadi karsinoma trakeobronkial, dimana virus menginvasi sel hidup untuk reproduksi dengan menempel pada reseptor permukaan sel target. Setelah masuk sel terjadi integrasi material genetic dengan host yang dengan mekanisme tertentu dapat menjadi kanker dan secara tidak langsung hal ini terjadi melalui proses imunodefisiensi. Pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosis a. Laringoskopi Prosedur ini dilakukan untuk menentukan apakah ada kelainan di laring, baik sebagai perluasan atau kelainan selain di trakea, dan juga untuk menilai fungsi glottis. Penilaian fungsi laring dengan pemeriksaan dengan laringoskopi atau bronkoskopi fleksibel. Pasien sadar dapat bekerja sama dalam manuver yang diperlukan untuk menunjukkan apakah pita suara bergerak normal.
Modul VII.19 - Neoplasma Trakeobronkial 13 b. Bronkoskopi Untuk lesi trakea, bronkoskopi memiliki dua tujuan. Yang pertama adalah untuk mendapatkan diagnosis yang tepat dari jenis dan luasnya lesi. Diutamakan dengan bronkoskopi rigid. Yang kedua adalah untuk mengobati obstruksi, jika ada, mampu memberikan jalan napas yang adekuat untuk reseksi segera, untuk memungkinkan penundaan untuk studi lebih lanjut atau pengobatan sebelum reseksi, atau untuk pengobatan non operasi yang aman seperti stenting atau iradiasi. Untuk tujuan pertama, diutamakan dengan bronkoskopi rigid. Untuk tujuan terapeutik, instrumen yang kaku sangat penting. Hal ini memberikan penggambaran yang tepat dari luasnya glotis dan cedera subglottic lesion. Pengukuran jarak trakea antara besar landmark normal dan patologis yang lebih akurat menggunakan bronkoskop rigid. Selain itu bronkoskopi rigid mampu mengontrol lebih baik dari jalan napas. Bronkoskopi fleksibel berguna untuk visualisasi dan untuk manuver diagnostik seperti biopsi, menyikat, dan aspirasi. Hal ini terutama berguna untuk penentuan posisi yang tepat dari tabung endotrakeal, membimbing kateter atau stent untuk lokalisasi intraoperatif lesi, dan untuk pemeriksaan anastomosis baru. Biasanya, pemeriksaan radiologis jalan napas mendahului bronkoskopi. c. Radiografi Foto polos leher merupakan pemeriksaan radiologis rutin laring dan trakea yang terdiri dari anteroposterior (AP) dan lateral. Tampilan lateral leher diperoleh dengan kepala sedikit hiperekstensi untuk membawa laring dan trakea bagian atas naik dari posisi retrosternal. Tampilan lateral ini memberikan informasi yang berguna tentang dasar lidah, daerah vallecula, tiroid dan kartilago krikoid, struktur intralaringeal (termasuk epiglotis, lipatan aryepiglottik, arytenoid, pita suara palsu, ventrikel, pita suara sejati, dan ruang subglotis), dinding faring posterior, dan jaringan lunak precervikal. Tampilan anteroposterior memberikan tampilan frontal laring dan trakea yang diperoleh dengan menggunakan highkilovoltage sebuah Teknik (120 kV) dan menempatkan filter tembaga 1 mm di depan tube. Tampilan ini memberikan gambaran seluruh jalan napas dari tulang hyoid ke bifurkasio trakea dan bronkus utama. Rontgen torak merupakan skrining tradisional trakea. Tampilan Postero-anterior (PA) dan lateral dada secara rutin digunakan. Gambaran leher bagian distal dan bagian intratoraks trakea terlihat pada kedua pandangan. d. Computed Tomography CT scan adalah teknik pemeriksaan yang lebih disukai untuk mengevaluasi laring, trakea, dan bronkus utama. Helical CT scan dapat meningkatkan kualitas pencitraan CT saluran nafas. Sebagai perbandingan, CT scan konvensional menggunakan waktu scanning yang lama dan memperoleh potongan aksial individu terpisah selama individu bernafas. Kualitas dua dimensi (2-D) dan tiga dimensi (3-D) diformat ulang sehingga nyata membaik. Generasi terbaru multidetector heliks CT scanner menggunakan array multidetector, yang meningkatkan kecepatan pemindaian. e. Magnetic Resonance Imaging (MRI) Magnetic resonance imaging (MRI) adalah modalitas lain yang digunakan untuk mengevaluasi radiologis laring dan trakea. Kelebihan MRI dibanding CT adalah akuisisi koronal, miring, dan sagital bagian yang menunjukkan segmen panjang atau seluruh panjang trakea. MRI dapat memvisualisasikan laring dan struktur trakea dengan sangat
Modul VII.19 - Neoplasma Trakeobronkial 14 detail dalam potongan melintang, sagital, dan koronal. Struktur anatomi normal dapat dibedakan atas dasar intensitas sinyal yang berbeda. Patologi Tumor Trakeobronkial a. Tumor Jinak Tumor jinak trakea sangat langka, jumlahnya 10% dari tumor trakea.1,4 90 % dari tumor yang ditemui pada kelompok usia pediatrik adalah jinak. Sebagian besar tumor jinak lesinya beragam mayoritas lesi tidak memiliki fitur karakteristik tersendiri. Terdiri dari Tumor jinak epitel dan masenkim. Tumor jinak epitel terdiri dari Papilloma Adenoma Myoepitelial Tumor. Tumor jinak masekim terdiri dari lipoma, Neurofibroma, Chondroma, Hemangioma. b. Tumor Ganas Meskipun sangat jarang, tumor primer trakea lebih sering ditemukan daripada tumor jinak. Karsinoma sel skuamosa adalah tumor ganas trakea yang paling sering (50%), diikuti oleh adenoid karsinoma kistik (30%) dan adenokarsinoma (10%). Tumor ganas yang jarang ditemui lainnya antara lain karsinoma mucoepidermoid, karsinoma differentiated, karsinoma small cell, dan karsinosarcoma. Kejadian tumor trakeobronkial kurang dari 0,4% dari semua tumor di tubuh. Karsinoma trakeobronkial banyak mengenai laki ± laki dibandingkan dengan perempuan (5:1). Dimana terbanyak pada kelompok perokok bila dibandingkan dengan yang bukan perokok. Seiring berkembangnya waktu kebiasaan meokok tidak hanya dimiliki oleh laki- laki saja, tetapi banyak juga wanita memiliki kebiasaan ini sehingga insidensinya mengalami peningkatan Tatalaksana a. Mengatasi obstruksi jalan napas atas Untuk tumor trakea, bronkoskopi merupakan pilihan andalan dalam manajemen jalan napas awal dan diagnosis. Jika jalan napas stabil, dapat dilakukan bronkoskopi elektif (dengan atau tanpa narkose) dilanjutkan dengan biopsi. Namun, pada pasien dengan obstruksi jalan napas atas akut, apabila memungkinkan dilakukan trakeostomi terlebih dahulu. Jika tumor terletak di distal trakea, hanya diberikan oksigenasi saja. Untuk tumor trakea proksimal, menggunakan bronkoskopi kaku karena kemampuannya pada ventilasi selama evaluasi. Bronkoskopi fleksibel dapat memberikan informasi tambahan mengenai kondisi saluran yang lebih distal. b. Merujuk pasien ke fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih tinggi (tersier) Prognosis Prognosis tumor ganas trakea ditentukan oleh lokasi tumor pada trakea, tipe histopatologi, adanya metastasis dan terapi.
MODUL UTAMA ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER MODUL VII.20 NEOPLASMA TULANG DAN LESI ODONTOGENIK SEKITAR WAJAH EDISI III KOLEGIUM ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER 2022
DAFTAR ISI A. WAKTU ........................................................................................................... 1 B. PERSIAPAN SESI ........................................................................................... 1 C. REFERENSI ..................................................................................................... 1 D. KOMPETENSI ................................................................................................. 2 E. GAMBARAN UMUM ..................................................................................... 2 F. CONTOH KASUS DAN DISKUSI ................................................................ 3 G. TUJUAN PEMBELAJARAN .......................................................................... 3 H. METODE PEMBELAJARAN ......................................................................... 4 I. EVALUASI ...................................................................................................... 7 J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF .............................. 9 K. MATERI PRESENTASI ................................................................................ 12 L. MATERI BAKU ............................................................................................ 31
Modul VII.20 - Neoplasma Tulang dan Lesi Odontogenik Sekitar Wajah 1 MODUL VII.20 ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER: NEOPLASMA TULANG DAN LESI ODONTOGENIK SEKITAR WAJAH A. WAKTU Mengembangkan Kompetensi Waktu: Sesi di dalam kelas Sesi dengan fasilitasi Pembimbing Sesi praktik dan pencapaian kompetensi 1 x 90 menit (classroom session) 1x 60 menit (coaching session) 6 jam (facilitation and assessment) B. PERSIAPAN SESI 1. Materi presentasi Neoplasma Tulang Sekitar wajah dan lesi odontogenik a. Slide 1-2 : Judul dan Ruang Lingkup b. Slide 3 : Anatomi daerah tulang sekitar wajah c. Slide 4 : Proses odontogenesis d. Slide 5 : Diagnosis neoplasma tulang sekitar wajah dan lesi odontogenik e. Slide 6 : Jenis neoplasma tulang sekitar wajah dan lesi odontogenik f. Slide 7 : Tatalaksana g. Slide 8-13 : Teknik operasi h. Slide 14 : Perawatan pasca operasi 2. Kasus : Kista mandibula 3. Sarana dan alat bantu latih a) Model anatomi daerah mandibula b) Penuntun belajar (learning guide) terlampir c) Tempat belajar (training setting) : bangsal THT-KL, Poliklinik THT-KL, kamar operasi, bangsal perawatan pasca bedah. d) Video e) Diseksi kadaver C. REFERENSI 1. Chung WL, Summersgill KF, Ochs MW. Odontogenic Cysts, Neoplasmas, and Related Jaw Lesions. In: Bailey BJ, Johnson JT, et al. Head & Neck Surgery- Otolaryngology. 5th ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2014. Vol 2; p. 2097-114. 2. Jatana KR, Jatana C. Cysts and Neoplasmas of Jaw. In: Lee KJ, ed. Essential Otolaryngology Head & Neck Surgery. 12th ed. New York: McGraw-Hill Education; 2019. p. 722-36 3. Jatin S. Bone Neoplasma and Odontogenic Lession. In: Head and neck surgery and Oncology 5th Ed. Philadelphia: Elsevier. 2020. 714-66.
Modul VII.20 - Neoplasma Tulang dan Lesi Odontogenik Sekitar Wajah 2 4. OA Effiom, OM Ogundana, AO Kinshipo, Shipo Akintoye. Ameloblastoma :Current ethiopathological concepts and management. Oral Diseases.2017. 20 Jan 17; DOI : 10.111: 1-10 5. John M. Right, Merva Soluk Tekessin. Odontogenic Tumors : Where are we in 2017.J Istanbul Univ Fac Dent. 2017. 4 Agust 2017; 51 (3 supl): 10-30. 6. Cordeiro PG, Santamaria E, Disa JJ. Mandible reconstruction. In: Shah JP, editor. American cancer society atlas of clinical oncology cancer of the head and neck. London: BC Decker Inc; 2001. p.358-75. D. KOMPETENSI 1. Pengetahuan Mendiagnosis dan menatalaksana neoplasma tulang sekitar wajah dan lesi odontogenic 2. Keterampilan Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil : 1. Menjelaskan anatomi daerah tulang sekitar wajah 2. Menjelaskan proses osteogenesis dan patogenesis neoplasma tulang sekitar wajah 3. Menjelaskan gejala dan tanda neoplasma tulang tulang sekitar wajah 4. Melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik terhadap neoplasma tulang sekitar wajah 5. Melakukan pemeriksan penunjang yang diperlukan seperti foto panoramik, CT scan maksilofasial dengan dan tanpa kontras + 3D bila perlu, biopsi jarum halus halus/fine needle aspirationbiopsy (FNAB), pemeriksaan biopsi jaringan neoplasma 6. Membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhungan dengan neoplasma tulang sekitar wajah 7. Menentukan terapi yang tepat pada berbagai kasus neoplasma tulang sekitar wajah 8. Melakukan tindakan pembedahan pada penderita dengan neoplasma tulang sekitar wajah 9. Merawat penderita pra operatif (memberi penjelasan kepada penderita dan keluarga, informed consent), dan pasca operasi serta mampu mengatasi komplikasi yang terjadi E. GAMBARAN UMUM Tulang terdiri dari fasa mineral padat dan sebuah fasa osteoid matriks yang mengandung osteoklas (sel resorbsi tulang), osteoblas (sel pembentuk tulang), dan osteosit (sel osteoblas yang menjadi tergabung ke dalam matriks). Neoplasma juga dapat muncul dari elemen odontogenik di maksila dan mandibula. Umumnya kerusakan transformasi tulang dan remodeling seperti pada penyakit Paget juga dapat meningkatkan risiko berkembangnya neoplasma ganas pada tulang yang terlibat. Neoplasma jinak primer tulang kraniofasial terdiri dari osteoma, osteokondroma dan
Modul VII.20 - Neoplasma Tulang dan Lesi Odontogenik Sekitar Wajah 3 osteofibroma. Lesi kistik pada tulang sering terjadi di daerah kepala dan leher dan paling sering berasal dari odontogenik. F. CONTOH KASUS DAN DISKUSI Seorang laki-laki, berusia 30 tahun datang ke poli THT-KL dengan keluhan utama benjolan pada mandibula bawah sebelah kiri. Benjolan sejak 2 tahun yang lalu, membesar perlahan, tidak nyeri. Benjolan lunak bila dipegang. Penderita masih dapat makan dan minum dengan baik. Tidak ada asimetris wajah. Demam tidak ada. Sakit gigi tidak ada. Suhu 36,7oC, Leukosit 6000. Diskusi : a. Penegakkan diagnosis neoplasma mandibula b. Terapi neoplasma mandibula Jawaban: a. Penegakkan diagnosis neoplasma mandibula Anamnesis Kebanyakan asimtomatik Adanya benjolan pada mandibula yang dapat disertai nyeri Rasa baal pada mandibula Gangguan mengunyah Pemeriksaan Fisik - Gigi geligi bergeser - Maloklusi - Tampak benjolan pada mandibula Pemeriksaan penunjang - Radiologi panoramik - Ct scan maksilofasial - Aspirasi dan biopsi pada kista - Pemeriksaan patologi anatomi b. Terapi neoplasma mandibula x Pembedahan tergantung jenis lesi, dapat berupa ekstraksi gigi, enukleasi, kuretase, reseksi lesi dan bila perlu rekonstruksi x Operasi bersama dengan spesialis Bedah Mulut, Divisi Plastik Rekonstruksi THT, dan spesialis Bedah Plastik bila perlu G. TUJUAN PEMBELAJARAN Tujuan pembelajaran umum Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan mampu untuk menegakkan diagnosis dan melakukan terapi terhadap neoplasma tulang sekitar wajah dan lesi odontogenik. Tujuan pembelajaran khusus Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan mampu untuk : 1. Menjelaskan anatomi tulang sekitar wajah (tingkat kompetensi K4, A4)
Modul VII.20 - Neoplasma Tulang dan Lesi Odontogenik Sekitar Wajah 4 2. Mampu menjelaskan odontogenesis, patogenesis, dan faktor resiko penyebab neoplasma tulang sekitar wajah dan lesi odontogenic (tingkat kompetensi K4, A4) 3. Menjelaskan jenis-jenis neoplasma pada daerah tulang sekitar wajah dan lesi pada daerah odontogenic (tingkat kompetensi K4, A4) 4. Melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik pada neoplasma pada daerah tulang sekitar wajah dan lesi pada daerah odontogenic (tingkat kompetensi K4, A4) 5. Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang dan mampu menyimpulkan/ menginterpretasi tanda neoplasma pada daerah tulang sekitar wajah dan lesi pada daerah odontogenik berdasarkan pemeriksaan penunjang (tingkat kompetensi K4, A4) 6. Menetapkan diagnosis dan diagnosis banding berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan klinis (tingkat kompetensi K4, A4) 7. Mampu melakukan aspirasi biopsi terhadap neoplasma pada daerah tulang sekitar wajah dan lesi pada daerah odontogenic (tingkat kompetensi K4, A4) 8. Mampu melakukan konsultasi ke disiplin yang lain (tingkat kompetensi K4, A4) 9. Menyusun rencana terapi/pengelolaan neoplasma pada daerah tulang sekitar wajah dan lesi pada daerah odontogenic (tingkat kompetensi K4, A4) 10. Melaksanakan terapi neoplasma pada daerah tulang sekitar wajah dan lesi pada daerah odontogenic (tingkat kompetensi K4, A4) 11. Melakukan perawatan penderita pra dan pasca pembedahan neoplasma pada daerah tulang sekitar wajah dan lesi pada daerah odontogenic (tingkat kompetensi K4, A4) 12. Menjelaskan prognosis neoplasma pada daerah tulang sekitar wajah dan lesi pada daerah odontogenic (tingkat kompetensi K4, A4) H. METODE PEMBELAJARAN Setelah mengkuti sesi ini peserta didik akan mempunyai kemampuan dasar untuk menegakkan diagnosis neoplasmamandibula dan mampu untuk menentukan terapi yang sesuai. Tujuan 1. Menjelaskan anatomi daerah tulang sekitar wajah Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metoda pembelajaran berikut ini a) Literature reading b) Skill lab c) Journal reading d) Bedside teaching e) Praktik poliklinik Harus diketahui : Anatomi daerah mandibula Tujuan 2. Mampu menjelaskan odontogenesis, patogenesis dan faktor resiko penyebab neoplasma tulang sekitar wajah dan lesi odontogenik Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: a. Literature reading
Modul VII.20 - Neoplasma Tulang dan Lesi Odontogenik Sekitar Wajah 5 b. Skill lab c. Journal reading d. Bedside teaching e. Praktik poliklinik Harus diketahui : o Odontogenesis o Patogenesis terjadinya neoplasma pada daerah tulang sekitar wajah dan lesi odontogenik o Faktor resiko penyebab neoplasma pada daerah tulang sekitar wajah dan lesi odontogenik Tujuan 3. Menjelaskan jenis-jenis neoplasma pada daerah pada daerah tulang sekitar wajah dan lesi odontogenik Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: a. Literature reading b. Skill lab c. Journal reading d. Bedside teaching e. Praktik poliklinik Harus diketahui : Jenis-jenis neoplasma mandibula Tujuan 4. Melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik pada neoplasma daerah tulang sekitar wajah dan lesi odontogenik Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: a. Literature reading b. Skill lab c. Journal reading d. Bedside teaching e. Praktik poliklinik Harus diketahui : o Metoda standar anamnesis o Gejala dan tanda pasti neoplasma pada daerah tulang sekitar wajah dan lesi odontogenik Tujuan 5. Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang dan mampu menyimpulkan/ menginterpretasi tanda neoplasma pada daerah sekitar wajah dan lesi odontogenik berdasarkan pemeriksaan penunjang Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: a. Literature reading b. Skill lab c. Journal reading d. Bedside teaching e. Praktik poliklinik Harus diketahui:
Modul VII.20 - Neoplasma Tulang dan Lesi Odontogenik Sekitar Wajah 6 a. Pemeriksaan penunjang yang sensitif dan spesifik b. Gambaran hasil pemeriksaan radiologi Tujuan 6. Membuat diagnosis klinik dan diagnosis banding neoplasma daerah tulang sekitar wajah dan lesi odontogenik Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: a. Literature reading b. Skill lab c. Journal reading d. Bedside teaching e. Praktik poliklinik Harus diketahui a. Analisis data untuk menegakkan diagnosis b. Memilah diagnosis banding dan menentukan diagnosis kerja Tujuan 7. Mampu melakukan aspirasi biopsi terhadap neoplasma pada daerah tulang sekitar wajah Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: a. Literature reading b. Skill lab c. Journal reading d. Bedside teaching e. Praktik poliklinik Harus diketahui a. Indikasi aspirasi biopsi b. Teknik aspirasi biopsi Tujuan 8. Mampu melakukan konsultasi ke disiplin yang lain Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: a. Literature reading b. Skill lab c. Journal reading d. Bedside teaching e. Praktik poliklinik Harus diketahui Indikasi konsultasi ke disiplin yang lain Tujuan 9. Menyusun rencana terapi/pengelolaan neoplasma tulang sekitar wajah Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: a. Literature reading b. Skill lab c. Journal reading d. Bedside teaching e. Praktik poliklinik
Modul VII.20 - Neoplasma Tulang dan Lesi Odontogenik Sekitar Wajah 7 Harus diketahui : Terapi yang tepat untuk tatalaksana neoplasmamandibula Tujuan 10. Melaksanakan terapi neoplasma tulang sekitar wajah Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: a. Literature reading b. Skill lab c. Journal reading d. Bedside teaching e. Praktik poliklinik Harus diketahui a. Jenis pembedahan pada neoplasma tulang sekitar wajah b. Langkah-langkah pembedahan Tujuan 11. Melakukan perawatan penderita pra dan pasca pembedahan neoplasma tulang sekitar wajah Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: a. Literature reading b. Skill lab c. Journal reading d. Bedside teaching e. Praktik poliklinik f. Interactive lecture Harus diketahui a. Informed consent b. Komplikasi operasi Tujuan 12. Mampu menjelaskan prognosis neoplasma tulang sekitar wajah Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: a. Literature reading b. Skill lab c. Journal reading d. Bedside teaching e. Praktik poliklinik f. Interactive lecture Harus diketahui : Prognosis pada neoplasma tulang sekitar wajah dan lesi odontogenik I. EVALUASI 1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-tes dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan, yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pre-tes terdiri atas: a. Anatomi, b. Gambaran klinik, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang,
Modul VII.20 - Neoplasma Tulang dan Lesi Odontogenik Sekitar Wajah 8 c. Diagnosis, d. Penatalaksanaan e. Prognosis 2. Selanjutnya dilakukan small group discussion bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian 3. Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk role-play dengan teman-temannya (peer assisted learning) atau kepada SP (standardized patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan: membawa penuntun belajar, penuntun belajar dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (peer assisted evaluation). Setelah dianggap memadai melalui metoda bedside teaching di bawah pengawasan fasilitator, peserta didik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan, evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut : a) Perlu perbaikan: pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan b) Cukup: Pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal: pemeriksaan pendahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien c) Baik: Pelaksanaan benar dan baik (efisien) 4. Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan didepan pasien dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan 5. Self assesment dan peer assisted evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar 6. Pendidik / fasilitas: a. Pengamatan langsung dengan memakai evaluation check list form (terlampir) b. Penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi c. Kriteria penilian keseluruhan: cakap/ tidak cakap/lalai 7. Diakhir penilaian, peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (tes based medical evaluation) 8. Pencapaian pembelajaran: a) Ujian akhir setelah penyelesaian modul b) Ujian tulis kolegium THT-KL c) Ujian OSCE dilakukan pada tahapan dasar oleh kolegium Ilmu Kesehatan THT- KL
Modul VII.20 - Neoplasma Tulang dan Lesi Odontogenik Sekitar Wajah 9 J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF Kuesioner sebelum pembelajaran Soal : 1. Wanita, 30 tahun dengan benjolan pada rahang atas sejak 1 tahun yang lalu. Benjolan membesar perlahan. Pemeriksaan fisik : tampak benjolan ukuran 1 cm, batas tegas, lunak. Pasien didiagnosis dengan kista odontegenik. Berdasarkan prevalensi diagnosis pasien, kemungkinan terbesar jenis kista pada pasien adalah A. Radikular B. Dentigerus C. Calcifying odontogenic D. Glandular odontogenic Jawaban: A 2. Laki-laki, 45 tahun dengan benjolan pada rahang bawah. Dilakukan CT scan tampak gambaran neoplasma pada rahang bawah seperti foto di bawah. Apakah kemungkinan diagnosis pasien? A. Abses apikal B. Ameloblastoma C. Kista dentigerus D. Karsinoma sel skuamosa E. Neoplasma odontogenik keratokistik Jawaban : B 3. Kista pada rahang terdiri dari kista inflamasi, kista perkembangan, dan kista non odontogenik. Jenis kista yang termasuk kista non odontogenik adalah ? A. Kista gorlin B. Kista radikular C. Kista dentigerus D. Kista duktus nasopalatine Jawaban : D Kuesioner tengah pembelajaran Soal : 1. Tatalaksana utama ameloblastoma pada adalah: A. Ekstraksi gigi B. Enukleasi
Modul VII.20 - Neoplasma Tulang dan Lesi Odontogenik Sekitar Wajah 10 C. Enukleasi dan kuretase D. Reseksi dengan 1-1.5 cm batas tepi tulang. Jawaban : D 2. Tatalaksana primer ameloblastoma adalah : A. Enukleasi B .Ekstraksi gigi C. Enukleasi dan kuretase D. Reseksi dengan batas 11,5 cm dari tulang sehat Jawaban : D 3. Wanita, 40 tahun dengan keluhan terdapat benjolan di daerah dagu kiri sejak 6 bulan yang lalu. Pemeriksaan fisik tampak benjolan, berbatas tegas. Apakah diagnosa pada pasien ini? A. Kista radikular B. Kista dentigerus C.Kista duktus nasopalatine D. Granuloma giant cell reparative Jawaban: D Kuesioner akhir pembelajaran Soal : 1. Laki-laki, 30 tahun datang dengan keluhan benjolan di wajah. Dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang. Neoplasma berkembang, dan pasien menunjukkan adanya neoplasma besar yang memenuhi rongga hidung, maksila antrum kiri, dan regio ethmoid, dengan ekstensi ekstradural ke fossa kranial anterior. Neoplasma telah menyebar ke periorbita sisi kiri dan telah menggeser bola mata di orbital kanan. Apakah diagnosa pada pasien ini?
Modul VII.20 - Neoplasma Tulang dan Lesi Odontogenik Sekitar Wajah 11 A. Hemangioma B. Kista dentigerus C. Osteogenik sarcoma D. Granuloma giant cell reparative Jawaban: C 2. Laki-laki, 40 tahun datang dengan keluhan benjolan di rahang bawah sejak 1 tahun yang lalu, membesar perlahan. Keluhan gigi goyang ada. Dari hasil CT scan pasien dicurigai ameloblastoma mandibula. Dilakukan reseksi segmental mandibula pada pasien. Otot apakah yang tidak boleh dipotong saat tindakan operasi pada pasien ? A. Pterigoid interna B. Pterigoid eksterna C. Otot digastrikus pars anterior D. Otot digastrikus pars posterior Jawaban : D 3. Rekonstruksi yang tidak dapat dilakukan segera setelah reseksi segmental mandibula pada kasus ameloblastoma adalah? A.Vascularized bone graft B. Plate dengan bone graft C. Non vascularized free bone graft D. Steinmann pin tanpa bone graft Jawaban : C
Modul VII.20 - Neoplasma Tulang dan Lesi Odontogenik Sekitar Wajah 12 K. MATERI PRESENTASI Slide : Judul dan Ruang Lingkup
Modul VII.20 - Neoplasma Tulang dan Lesi Odontogenik Sekitar Wajah 13
Modul VII.20 - Neoplasma Tulang dan Lesi Odontogenik Sekitar Wajah 14 Tabel Klasifikasi WHO (2017) Neoplasma dan kista odontogenik Classification Malignant odontogenic tumors Ɣ odontogenic carcinomas ż ameloblastic carcinoma ż primary intraosseous carcinoma, not otherwise specified ż sclerosing odontogenic carcinoma ż clear cell odontogenic carcinoma ż ghost cell odontogenic carcinoma Ɣ odontogenic carcinosarcoma Ɣ odontogenic sarcomas Benign odontogenic tumors Ɣ benign epithelial odontogenic tumors Ɣ ameloblastoma ameloblastoma, unicystic type ameloblastoma, extraosseous/peripheral type metastasizing ameloblastoma ż squamous odontogenic tumor ż calcifying epithelial odontogenic tumor ż adenomatoid odontogenic tumor
Modul VII.20 - Neoplasma Tulang dan Lesi Odontogenik Sekitar Wajah 15 benign mixed epithelial and mesenchymal odontogenic tumors ż ameloblastic fibroma ż primordial odontogenic tumor ż odontoma ż dentinogenic ghost cell tumor Ɣ benign mesenchymal odontogenic tumors ż odontogenic fibroma ż odontogenic myxoma/myxofibroma ż cementoblastoma ż cemento-ossifying fibroma Odontogenic cysts Ɣ odontogenic cysts of inflammatory origin ż radicular cyst ż inflammatory collateral cysts Ɣ odontogenic and non-odontogenic developmental cysts ż dentigerous cyst ż odontogenic keratocyst ż lateral periodontal and botryoid odontogenic cysts ż gingival cysts ż glandular odontogenic cyst ż calcifying odontogenic cyst ż orthokeratinized odontogenic cyst ż nasopalatine duct cyst Malignant maxillofacial bone and cartilage tumors Ɣ chondrosarcoma Ɣ mesenchymal chondrosarcoma Ɣ osteosarcoma Benign maxillofacial bone and cartilage tumors Ɣ chondroma Ɣ osteoma Ɣ melanotic neuroectodermal tumor of infancy Ɣ chondroblastoma Ɣ chondromyxoid fibroma Ɣ osteoid osteoma Ɣ osteoblastoma Ɣ desmoplastic fibroma Fibro-osseous and osteochondromatous lesions Ɣ ossifying fibroma Ɣ familial gigantiform cementoma Ɣ fibrous dysplasia Ɣ cemento-osseous dysplasia Ɣ osteochondroma Giant cell lesions and simple bone cyst Ɣ central giant cell granuloma Ɣ peripheral giant cell granuloma Ɣ cherubism Ɣ aneurysmal bone cyst Ɣ simple bone cyst
Modul VII.20 - Neoplasma Tulang dan Lesi Odontogenik Sekitar Wajah 16 Hematolymphoid tumors Ɣ solitary plasmacytoma of bone Slide 3: anatomi mandibula
Modul VII.20 - Neoplasma Tulang dan Lesi Odontogenik Sekitar Wajah 17 Slide 4 : Proses odontogenesis Slide 5: Diagnosis neoplasma mandibula
Modul VII.20 - Neoplasma Tulang dan Lesi Odontogenik Sekitar Wajah 18 Slide 6: Jenis neoplasma tulang sekitar wajah
Modul VII.20 - Neoplasma Tulang dan Lesi Odontogenik Sekitar Wajah 19
Modul VII.20 - Neoplasma Tulang dan Lesi Odontogenik Sekitar Wajah 20
Modul VII.20 - Neoplasma Tulang dan Lesi Odontogenik Sekitar Wajah 21
Modul VII.20 - Neoplasma Tulang dan Lesi Odontogenik Sekitar Wajah 22
Modul VII.20 - Neoplasma Tulang dan Lesi Odontogenik Sekitar Wajah 23
Modul VII.20 - Neoplasma Tulang dan Lesi Odontogenik Sekitar Wajah 24
Modul VII.20 - Neoplasma Tulang dan Lesi Odontogenik Sekitar Wajah 25
Modul VII.20 - Neoplasma Tulang dan Lesi Odontogenik Sekitar Wajah 26
Modul VII.20 - Neoplasma Tulang dan Lesi Odontogenik Sekitar Wajah 27
Modul VII.20 - Neoplasma Tulang dan Lesi Odontogenik Sekitar Wajah 28 Slide 7: Tatalaksana Slide 8 - 12: Prosedur operatif
Modul VII.20 - Neoplasma Tulang dan Lesi Odontogenik Sekitar Wajah 29
Modul VII.20 - Neoplasma Tulang dan Lesi Odontogenik Sekitar Wajah 30
Modul VII.20 - Neoplasma Tulang dan Lesi Odontogenik Sekitar Wajah 31 Slide 14: Perawatan pra operatif dan pasca operasi neoplasma mandibula L. MATERI BAKU Tulang terdiri dari fasa mineral padat dan sebuah fasa osteoid matriks yang mengandung osteoklas (sel resorbsi tulang), osteoblas (sel pembentuk tulang), dan osteosit (sel osteoblas yang menjadi tergabung ke dalam matriks). Neoplasma juga dapat muncul dari elemen odontogenik di maksila dan mandibula. Umumnya kerusakan transformasi tulang dan remodeling seperti pada penyakit Paget juga dapat meningkatkan risiko berkembanganya neoplasma ganas pada tulang yang terlibat. Neoplasma jinak primer tulang kraniofasil terdiri dari osteoma, osteokondroma dan osteofibroma.Terkadang, neoplasma jinak vaskular sering asimtomatik dan ditemukan secara tidak sengaja. Bagaimanapun, lesi tulang jinak yang paling umum di daerah kepala dan leher adalah malformasi yang berkembang pada daerah garis fusi embrionik, seperti torus palatinus. Osteoma biasanya asimtomatik dan mungkin muncul pada calvarium dan di dalam sinus paranasal. Osteoma biasanya munculsetelah pubertas dan membutuhkan intervensi jika simtomatik. Transformasi maligna tidak sering terjadi namun terkadang berhubungan dengan sindrom Gardner. Sindrom Gardner merupakan salah satu varian FAP (poliposis adenomatosa familial), dimana polip tumbuh di sepanjang usus halus dan usus besar.
Modul VII.20 - Neoplasma Tulang dan Lesi Odontogenik Sekitar Wajah 32 Penderita penyakit ini juga dapat memiliki tumor jinak di bagian tubuh lain seperti kulit, perut, atau tulang. Kelainan ini memicu muncul banyaknya polip yang bergerigi. Osteoid osteoma (ivory osteoma) merupakan lesi yang lebih kecil, sedangkan osteoma dianggap sebagai lesi yang lebih besar, lebih aggresif. Osteoid osteoma terjadi pada anak- anak dan dewasa muda, biasanya berbentuk soliter dan berkaitan dengan nyeri yang tidak sesuai dengan ukurannya. Eksisi lokal merupakan perawatan yang adekuat. Sebaliknya, osteoblastoma sangat jarang terasa sakit, melibatkan tulang panjang dan memiliki kemungkinan kecil berkembang menjadi sebuah osteosarkoma. Neoplasma jinak kartilago terdiri dariosteokondroma, kondroma, kondroblastoma dan kondromiksoid fibroma. Osteokondroma (eksostosis) adalah jinak, ditutupi tulang rawan, pertumbuhan tulang berlebih. Neoplasma ini biasanya soliter tapu bisa multifokal pada pasien dengan osteokondromatosis familial. Lesi soliter biasanya melibatkan mandibula dan dasar tengkorak. Kondroma (enkondroma) adalah neoplasma kartilago hialin yang biasanya timbul di dalam tulang. Ini diperkirakan berasal dari sisa-sisa kartilago simfisis. Neoplasma ini biasanya soliter namun bisa multipel pada orang dengan Ollier disease (enkondromatosis), yang merupakan penyakin spontanius non-herediter. Sebuah varian familial juga muncul ( Sindrom Maffuci) dimana kondroma muncul bersamaan dengan hemangioma kutan. Neoplasma yang soliter memiliki resiko rendah bertransformasi menjadi ganas, multipel, kelompok neoplasma ini berkembang menjadi kondrosarkoma mencapai 50% dari kasus. Kondroblastoma biasanya muncul sepanjang daerah epifis tulang panjang. Walaupun jarang terjadi pada tulang tengkorak dan leher, lesi ini bisa muncul di tulang temporal, mandibula atau parietal. Lesi ini secara histologi merupakan lesi jinak dan gambaran radiologinya menyerupai lesi ganas. Kondromiksoid fibroma khasnya melibatkan tulang panjang namun bisa juga muncul di mandibula, walaupun kemunculannya jarang terjadi. Lesi ini jinak dan membutuhkan intervensi bedah hanya jika mereka memiliki gejala simtomatik. Kista tulang non-odontogenik yang seringmuncul adalah kista fisura yang mungkin terletak dilateral (nasolabial atau globulomaksila), medial (nasopalatinal atau medial palatal), atau median mandibular.Kista Nasolabial (Klestadt cysts) berasal dari sisa sel epitel membentuk "fusi" dari prosesus glabelar dengan prosesus lateral nasal dan prosesus
Modul VII.20 - Neoplasma Tulang dan Lesi Odontogenik Sekitar Wajah 33 maksila, atau karna persistensi dari sisa epitel yang berasal dari perluasan duktus nasolakrimal prosesus nasal lateral dan prominens maksila. Lesi ini memiliki predileksi pada wanita (75 %) dan ditemukan dekat dengan dasar dari lubang hidung. Kista bisa menjadi bilateral sekitar 10% dari total kasus. Kista nasopalatina adalah kista developmental yang dianggap berasal dari sisa epitel dari embrionik duktus nasopalatin di dalam kanal insisif. Mereka merupakan kista non odontogenik yang paling sering terjadi dan predileksinya pada laki-laki. Kista globulomaksilaris berasal dari elemen epitel yang terperangkap dalam garis fusi embrionik antara prosesus glabelar dari tulang frontonasalis dan prosesus maksila tulang palatinus. Kista Odontogenik diperkirakan berasal dari sisa dental lamina atau dari organ enamel. Hal itu bisa berupa periodontal (apikal, lateral atau residual), dentigerous, gingival, primordial, atau keratinisasi dan kalsifikasi (Gambar 16.2). Kista periapikal atau radikal terjadi lebih dari 50% dari lesi kista. Kista radikular diperkirakan berasal dari prosesus inflamatori dari sisa sel epitel melassez. Kista dentigerus adalah kista developmental yang berasal dari enamel atau dental lamina dari gigi yang tidak erupsi. Hal itu merupakan kantung epitelium-lined yang melibatkan mahkota dari gigi yang tidak erupsi. Kista dentigerus paling sering berasal dari molar ketiga namun bisa juga dari bikuspid, cuspid atau gigi kaninus. Kista gingival berasal dari sisa dental lamina yang berlokasi di corium dibawah permukaan epitel. Hal ini biasanya muncul sebagai nodul multipel padan alveolar ridge bayi baru lahir atau bayi. Kista ini umumnya asimptomatik dan biasanya berubah secara spontan. Kista periodontal lateral umunya berasal dari sisa epitel ligamen periodontal. Kista primordial berkembang pada gigi ketika gigi mengalami degenerasi kistik. Hal ini juga bisa berasal dari benih gigi supernumerer. Perawatannya adalah bedah enukleasi atau kuretase dengan tetap menjaga daerah gigi yang berdekatan. Pada 2005, World Health Organization (WHO) mengubah terminologi lesi yang sebelumnya mengacu pada odontogenyc cyst (OKC) menjadi calcifying cystic odontogenic neoplasma (CCOT). Alasan terjadinya perubahan nama lesi tersebut adalagdata genetik menunhukkan perubahan gen PTCH1 dan potensial agresif dari lesi tersebut. Namun, klasifikasi WHO 2017 kembali menggunakan terminologi "odontogenic keratocyst". Selanjutnya, klasifikasi WHO 2017 menyebutkan bahwa CCOT merupakan sinonim dari "calcifying odontogenic cyst", kista sederhana yang
Modul VII.20 - Neoplasma Tulang dan Lesi Odontogenik Sekitar Wajah 34 dilapisi oleh epitel odontogenik menyerupai ameloblastoma, berkaitan dengan ghost cells. Alsan perubahan tambahan ini tidak jelas, namun, merupakan hal penting untuk dipahami terlepas dari "terminology de jour", bentuk intik mencakup spektrum dari klinikal behaviour. Odontogenic keratosis sering melibatkan daerah molar ketiga dari mandibula dan meluas ke ramus asending. Lesi ini diberdakan dari kista odontogenik lainnya berdasarkan adanya lapisan epitel berkeratin. Mereka dapat bervariasi dari kistik ke padat, dan OKC mungkin melibatkan mahkota dari gigi namun juga menunjukkan variasi keratinisaasi dari kista lateral periodontal. Multifokal OKC berhubungan dengan nevoid basal cell carcinoma syndrom. Lesi kecil bisa diobati dengan enukleasi secara efektif. Namun, enukleasi inadekuat pada lesi yang lebih besar dengan dinding tipis dan kista satelit. Fibrous displasia jarang terjadi, lesi tulang primer idiopatik ditandai dengan penggantian progresif tulang medular dengan proliferasi, secara sembarangan diatur jaringan fibrosa isomorpik. Fibrous displasia dapat berupa lesi monostotic (70-75%_ ataupun poliostotic, lesi ini sangat jarang berkaitan dengan pigmentasi kulit dan disfungsi endokrin (albright syndrome). Daerah kepala dan leher merupakan daerah yang tidak lazim untuk fibrous dysplasia (<1%), tetapi ketika terjadi, mereka sering melibatkan mandibula, maksila, tulang frontal atau calvarium. Lesi ini cenderung menjadi progresif dan menyebabkan gejala oleh tekanan dari struktur sekitar. Intervensi biasanya melibatkan pengendaluan gejala atau untuk alasan kosmetik. Kurang dari 1% dari lesi ini menjadi degenerasi malignan. Giant cell neoplasma (GCT) tulang adalah lesi yang sering terjadi pada tulang panjang, tapi juga muncul di daerah kepala dan leher (misal, tulang temporal, spenoid dan laring). Neoplasma ini terjadi di dewasa muda dan agressif secara lokal, dengan angka rekurensi yang tinggi setelah eksisi tidak lengkap. Sebagian kecil dari neoplasma ini menjadi degenerasi maligna dan bermetastasis ke daerah yang jauh. Neoplasma ini harus dibedakan dari giant cell reparative granuloma (epulis) yang terjadi di mandibula dan maksila dan memiliki gambaran histologi serupa namun tidak cenderung menjadi ganas. Ameloblastoma adalah neoplasma yang paling umum berasal dari epitel odontogenik. Dapat dilihat paling sering pada mandibula (Gambar 16.3). Sebagian besar lesi ini terlokalisir, namun dapat mncul sebagai lesi unikistik, dan jarang berasal dari ektraosseus. Gambaran klasik ameloblastoma pada radiografi adalah multilokuler, lesi yang meluas
Modul VII.20 - Neoplasma Tulang dan Lesi Odontogenik Sekitar Wajah 35 dengan "bentuk soap bubble" (Gambar 16.4). Walaupun secara histologi jinak, neoplasma ini bisa berdegenerasi menjadi ameloblastik karsinoma. Ameloblastoma jinak yang kecil dapat diobati dengan enukleasi, namun metode ini tidak efektif untuk lesi yang lebih besar dan memiliki angka rekurensi lokal yang tinggi. Rekurensi multifokal dengan melibatkan jaringan lunak bisa terjadi setelah perawatan yang tidak adekuat. Untuk lesi yang lebih besar pada mandibula, mandibulektomi segmental dibutuhkan untuk kontrol lokal. Gambar 16.3 Penyebaran ameloblastoma pada rahang *DPEDU  *DPEDUDQ NODVLN ³VRDS-EXEEOH´ DPHOREODVWRPD SDGD UDGLRJUDIL VSHVLPHQ mandibulektomi segmental Proses odontogenesis Neoplasma odentogenik terjadi hasil dari interupsi atau reaktivasi jaringan yang terlibat pada proses odontogenesis. Neoplasma yang terjadi ditentukan oleh fase perkembangan dimana proses odontogenesis terhenti. Penjelasan ringkas odontogenesis dapat membantu memahami patogenesis dan karakteristik neoplasma odontogenik. Minggu ke enam gestasi, odontogenesis dimulai dengan proliferasi area tertentu pada ektoderm oral untuk membentuk lamina dental. Pada masing-masing lokasi di mana gigi akan dibentuk, lamina dental akan membentuk enamel awal. Enamel, papila dental, dan katung dental membentuk gigi dan struktur penunjang. Lamina dental yang asalnya
Modul VII.20 - Neoplasma Tulang dan Lesi Odontogenik Sekitar Wajah 36 menghubungkan enamel organ ke epitel mulut terpisah sehingga memisahkan gigi dari epitel rongga mulut. Fase odontogenesis terdiri atas fase Bud stage, Cap stage, Bell stage dan Apposition. Fase Bud stage merupakan fase inisiasi dan pembentukan enamel organ. Pada fase Cap stage terjadinya proliferasi. Pertumbuhan yang tidak sama akan mengakibatkan bentuk karakteristik sel. Sel perifer berbentuk kuboid disebut epitel enamel luar dan sel kolumnar disebut epitel dental dalam. Sel poligen yang berada antara epitel enamel luar dan dalam membentuk jaringan selular yang disebut stellate reticulum berisi cairan mukoid. Proliferasi epitel tersebut akan membentuk papila dental. Sel-sel papila dental bergabung dengan jaringan ektomesenkimal terdekat dan membentuk pulpa gigi dan dentin. Sedangkan kondensasi ekto-mesenkim yang mengelilingi enamel akan membentuk kantung gigi. Sel-sel pada kantung gigi membentuk sementum dan ligamen periodontal. Pada fase Bell stage terjadinya histodeferensiasi (tahap awal) dan morfodiferensiasi (tahap lanjut). Enamel pada fase ini berbentuk lonceng panjang dan mempunyai 4 tipe sel epitel. epitel enamel luar, stratum intermedium, stellate reticulum, danepitel enamel dalam epitel enamel dalam bersatu dan menginduksi sel sekitar papila dental untuk berdiferensiasi menjadi odontoblas yang membentuk dentin. Dentin akan menginduksi epitel enamel dalam untuk berdeferensiasi menjadi ameloblas yang melapisi matriks enamel. Induksi yang berkelanjutan ini penting untuk membentuk gigi. Intermedium terdiri dari beberapa lapis sel skuamosa antara epitel enamel dalam dan stella reticulum. Lapisan ini penting untuk membentuk enamel. Stellate reticulum meluas dengan meningkatkan sejumlah cairan intraselular. Daerah ini menyempit sebelum pembentukan enamel dan mengakibatkan ameloblas lebih dekat ke kapiler yang berdekatan dengan epitel enamel lua. Epitel enamel luar yang sebelumnya licin menjadi berlipat. Pada lipatan tersebut, mesenkim kantung gigi membentuk lipatan dengan kapiler menyediakan nutrisi untuk aktivitas metabolic enamel. Fase Apposition berlangsung terjadinya deposit matriks untuk membentuk struktur keras gigi. Struktur ini kemudian mulai kalsifikasi, erupsi, dan erosi Gambar 16.5 Lesi kista odontogenik mandibular Neoplasma mandibula merupakan kelainan pada daerah mandibula yang dapat berupa kista atau neoplasma odontogenik. Kista odontogenik dapat berupa inflamasi atau kelainan perkembangan yang dapat berupa odontogenik atau non odontogenik. Kista
Modul VII.20 - Neoplasma Tulang dan Lesi Odontogenik Sekitar Wajah 37 odontogenik merupakan struktur berlapis epitel yang berasal dari epitel odontogenik. Neoplasma odontogenik merupakan hasil terhentinya atau reaktivasi jaringan yang terlibat pada proses odontogenesis. Neoplasma ini berasal dari sel epitel, sel mesenkimal, atau keduanya yang berhubungan dengan struktur gigi. Anamnesis Asimtomatik Adanya benjolan pada mandibula yang dapat disertai nyeri Rasa baal pada mandibula Gangguan mengunyah Pemeriksaan Fisik - Gigi geligi bergeser - Maloklusi - Tampak benjolan pada mandibula Pemeriksaan penunjang - Radiologi panoramik - Ct scan maksilofasial - Aspirasi dan biopsi pada kista - Pemeriksaan patologi anatomi Diagnosis kerja Neoplasma mandibula yang meliputi kista radikular, kista odontogenik developmental (dentigerous, eruption, follicular, gingival, lateral periodontal, primordial), kista daerah mulut non odontogenik (kista nasolabial/nasoalveolar, kista duktus nasopalatin), kista lain pada mandibula(NOS, aneurismal, haemorrhagic, traumatic), Kista lainnya daerah mulut yang tidak dapat diklasifikasikan (kista dermoid, kista epidermoid, dan kista limfoepitelial), kista daerah mulut tidak spesifik, Kelainan perkembangan pada mandibula (Latent bone cyst of jaw, Stafne cyst, torus mandibularis cyst, torus palatines cyst), neoplasma jinak mandibula bawah, dan neoplasma ganas mandibula Diagnosis banding Diagnosis banding didasarkan pada pemeriksaan histopatologi Terapi Pembedahan tergantung jenis lesi, dapat berupa ekstraksi gigi, enukleasi, kuretase, reseksi lesi dan bila perlu rekonstruksi Operasi bersama Onkologi THT bersama dengan spesialis bedah mulut, THT plastik rekonstruksi, dan spesialis bedah plastik bila diperlukan. Reseksi Mandibula (mandibulectomy) Reseksi mandibula dapat terdiri dari beberapa jenis yaitu segmental dan marginal dan hemimandibuktomi. Pada reseksi marginal (kointinuitas tulang rahang tidak terganggu), reseksi segmental (kontinuitas tulang rahang terputus) atau partial (hemimandibulektomi). Hemimandibulektomi merupakan pola yang sama dengan eksisi blok yang diperluas yang mungkin saja melibatkan pembuangan angulus, ramus atau bahkan pada beberapa kasus dilakukan pembuangan kondilus. Pembuangan bagian anterior mandibula sampai ke regio simfisis tanpa menyisakan border bawah mandibular akan PHQJDNLEDWNDQ SHUXEDKDQ EHQWXN ZDMDK \DQJ GLQDPDNDQ ³andy gump deformity´
Modul VII.20 - Neoplasma Tulang dan Lesi Odontogenik Sekitar Wajah 38 Reseksi mandibula dilakukan setelah trakeostomi dan diseksi leher radikal (bila diperlukan) telah dilakukan. Akses biasanya diperoleh dengan insisi splitting bibir bawah. Bibir bawah dipisahkan dan sebuah insisi vertikal dibuat sampai ke dagu. Insisi itu NHPXGLDQ GLEHORNNDQ VHFDUD KRULVRQWDO VHNLWDU » LQFL GL EDZDK ERUGHU EDZDK PDQGLEXOD Kemudian insisi diperluas mengikuti angulus mandibula sampai mastoid. Setelah akses diperoleh, di dekat foramen mentale mungkin saja dapat terjadi perndarahan karena adanya neurovaskuler. Permukaan dalam mandibula secara perlahan-lahan dibuka dengan mendiseksi mukosa oral. Dengan menggunakan gigli saw pemotongan dilakukan secara vertikal di daerah mentum. Hal ini akan memisahkan mandibula secara vertikal. Mandibula terbebas dari otot yang melekat antara lain muskulus depressor labii inferior, depressor anguli oris dan platysma. Bagian mandibula yang akan direseksi dibebaskan dari perlekatannya dari mukosa oral dengan hati-hati. Setelah itu, komponen rahang yang mengandung massa tumor dieksisi dengan margin yang cukup. Bagian margin dari defek bedah harus dibiopsi untuk pemeriksaan untuk menentukan apakah reseksi yang dilakukan cukup atau tidak. Jika bagian itu bebas dari tumor, bagian ramus dan kondilus mandibula harus dipertahankan untuk digunakan pada rekonstruksi yang akan datang. Ramus paling baik dipotong secara vertikal. Ketika mandibula disartikulasi, maka ada resiko pendarahan karena insersi temporalis dan otot pterygoid lateral dipisahkan. Hal ini dapat dihindari dengan membiarkan kondilus dan prosessus koronoid berada tetap in situ. Setelah hemimandibulektomi, penutupan luka intraoral biasanya dilakukan dengan penjahitan langsung. Gambar 16.6 : Tipe Umum dari reseksi mandibula; A dengan keterlibatan kondilus, B tanpa pembuangan kondilus Rekonstruksi mandibula Rekonstruksi mandibula merupakan hal yang harus dihadapi oleh ahli bedah plastik pada kasus±kasus tumor yang melibatkan mandibula. Tujuan dari rekonstruksi mandibula adalah membangun kontinuitas mandibula, membangun osseus alvelolar bases dan koreksi terhadap defek jaringan lunak. Pada umumnya kehilangan mandibula yang diakibatkan karena proses patologis akan meninggalkan jaringan lunak yang akan sembuh. Bila dilakukan mandibulektomi akan menghasilkan defek tulang yang besar dan jaringan lunak. Defek pada mandibula bagian lateral lebih dapat ditoleransi dan tidak membutuhkan rekonstruksi. Kebalikannya defek pada anterior mandibula akan menimbulkan kecacatan fungsional dan kosmetik yang parah. Beberapa teknik rekonstruksi yang sering digunakan untuk rekonstruksi mandibula adalah 1) tandur tulang nonvaskularisasi (nonvascularized bone grafts), 2) lempeng rekonstruksi dengan dan tanpa jabir pedikel jaringan lunak (reconstruction plates with
Modul VII.20 - Neoplasma Tulang dan Lesi Odontogenik Sekitar Wajah 39 and without soft-tissue pedicled flaps) dan 3) jabir osteokutaneus dengan vaskularisasi (vascularized osteocutaneous flaps). Nonvascularized Bone Grafts Tandur tulang nonvaskularisasi telah digunakan selama bertahun-tahun untuk rekonstruksi defek parsial mandibula. Angka keberhasilannya hanya mencapai 17-22%, oleh karena itu tandur ini diindikasikan untuk defek parsial atau segmental pada mandibula dengan ukuran kecil. Tandur ini tidak boleh digunakan pada pasien-pasien yang telah atau akan menjalani terapi radiasi. Beberapa penelitian membuktikan bahwa terapi radiasi dapat menurunkan angka keberhasilan tandur ini dan meningkatkan komplikasi serta resorpsi tulang. Karena kemampuan jaringan sekitar untuk memberikan suasana vaskularisasi terhadap tandur tersebut berkurang. Reconstruction Plates With and Without Soft-Tissue Pedicled Flaps Beberapa bahan telah digunakan untuk menyangga jaringan lunak dan mencegah kolapsnya segmen mandibula, diantaranya adalah polimer, keramik dan metal. Beberapa institusi juga menggunakan bahan stainless steel atau lempeng titanium untuk rekonstruksi. Lempeng ini memiliki tingkat keberhasilan tinggi bila digunakan untuk rekonstruksi defek segmen lateral yang pendek. Risiko ekstrusi lempeng meningkat seiring banyaknya jaringan lunak atau mukosa yang direseksi, atau bila lempeng diletakkan di posisi anterior. Rekonstruksi mandibula dengan lempeng ini hanya diindikasikan untuk segmen lateral yang pendek, pasien yang tidak menjalani reseksi jaringan lunak atau mukosa dan pasien yang tidak akan menjalani radiasi. Banyak para ahli yang menggunakan kombinasi lempeng dengan jabir jaringan lunak, dilaporkan angka keberhasilan yang cukup tinggi atas penggunaan jabir pedikel miokutan m. pektoralis mayor yang dikombinasi dengan penggunaan lempeng untuk rekonstruksi. Vascularized Osteocutaneous Flaps Rekonstruksi segera dengan satu kali tindakan bedah merupakan keuntungan utama teknik ini. Tulang dengan vaskularisasi dapat mengalami penyembuhan dalam waktu 2- 3 bulan pada pasien dengan atau tanpa radiasi preoperatif. Teknik ini merupakan pilihan utama untuk rekonstruksi karena angka keberhasilan dalam penyatuan tulang yang tinggi yaitu mencapai >98%. Selain itu kualitas penyembuhan tulang yang baik memungkinkan ditanam dental implan untuk rekonstruksi gigi geligi. Empat jabir osteokutaneus yang paling sering digunakan adalah radial forearm, iliac crest, scapula dan fibula (Gambar 3). Masing-masing jabir tersebut memiliki keuntungan dan kerugian. Beberapa parameternya adalah availabilitas sisi donor, pilihan pasien, kemudahan diseksi dan kondisi medis pasien secara umum. Radial Forearm Osteocutaneous Flap Jabir radial forearm osteocutaneous memiliki pembuluh darah donor yang paling baik dengan panjang dan diameter yang cukup. Oleh karena itu jabir ini sangat tepat untuk memperbaiki defek mukosa intraoral. Kerugian jabir ini adalah tulang yang tidak adekuat dan morbiditas tinggi dari sisi donor dan dapat terjadi fraktur idiopatik tulang radius. Jabir ini cocok digunakan untuk rekonstruksi defek yang memerlukan jumlah kulit intraoral yang banyak sedangkan jumlah tulang untuk sisi lateral yang sedikit.
Modul VII.20 - Neoplasma Tulang dan Lesi Odontogenik Sekitar Wajah 40 Iliac Crest Pada tahun 1980-an, krista iliaka menjadi pilihan utama dalam rekonstruksi mandibula. Namun dalam perkembangannya, dengan penggunaan jabir fibula yang lebih sering, penggunaan jabir krista iliaka menjadi jarang. Kekurangan dari tulang ini adalah tindakan osteotomi dapat menyebabkan devaskularisasi segmen distal sehingga pembentukan tulang secara akurat untuk rekonstruksi mandibula sulit dilakukan. Banyak pasien memberikan keluhan baal pada pinggul bagian anterior dan benjolan akibat hernia otot oblikus interna. Kulit dari krista iliaka berukuran terlalu besar untuk menutupi defek intraoral ataupun eksternal. Oleh karena itu, jabir krista iliaka hanya diindikasikan pada kasus-kasus dimana jabir fibula atau skapula tidak tersedia. Fibula Flap Fibula merupakan jabir pilihan utama untuk rekonstruksi hampir seluruh segmen defek mandibula. Jabir ini diperdarahi oleh arteri dan vena peroneal. Jabir ini dapat menyertakan m. flexor hallucis longus yang memberikan jaringan lunak yang besar. Bagian kulit dapat dibentuk untuk mencakup seluruh segmen lateral dan dapat diposisikan intraoral ataupun eksternal. Kualitas pembuluh darah jabir ini sangat baik dari segi ukuran panjang maupun diameter. Jabir ini dapat menyediakan tulang hingga 27 cm. Karena tulang ini mendapat perdarahan secara segmental maupun intraoseus maka osteotomi multipel dapat dilakukan tanpa menyebabkan devaskularisasi. Tulang bikortikal ini mempunyai kualitas baik untuk integrasi tulang sehingga dapat digunakan untuk rekonstruksi mandibula segmen lateral ataupun anterior. Posisi jabir ini yang terletak di tungkai bawah memudahkan diseksi simultan yang bersamaan dengan reseksi mandibula. Gambar 16.7 Empat jabir osteokutaneus a. scapula, b. radial forearm, c. illiac crest, d. fibula Scapula Flap Jabir ini dapat menyediakan tulang sepanjang 14 cm namun kualitasnya kurang baik. Walaupun dapat menghasilkan integrasi tulang, jabir ini tidak sebaik fibula ataupun krista iliaka. Morbiditas biasanya minimal, namun pada pasien dengan diseksi leher radikal biasanya mengakibatkan kaku bahu. Pengambilan jabir ini tidak dapat dilakukan bersama-sama prosedur reseksi mandibula, sehingga penggunaan jabir ini dihindari untuk rekonstruksi defek kepala leher. Jabir skapula mengandung banyak kulit dan jaringan
Modul VII.20 - Neoplasma Tulang dan Lesi Odontogenik Sekitar Wajah 41 lunak dengan vaskularisasi baik dan sedikit mengandung tulang, maka jabir ini dindikasikan untuk defek yang memerlukan segmen tulang yang sedikit namun memiliki defek jaringan yang luas.
MODUL UTAMA ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER MODUL VII.21 KARSINOMA PADA TELINGA EDISI III KOLEGIUM ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER 2022
DAFTAR ISI A. WAKTU .......................................................................................................... 1 B. PERSIAPAN SESI .......................................................................................... 1 C. REFERENSI .................................................................................................... 1 D. KOMPETENSI ................................................................................................ 2 E. GAMBARAN UMUM .................................................................................... 2 F. CONTOH KASUS .......................................................................................... 2 G. TUJUAN PEMBELAJARAN ......................................................................... 3 H. METODE PEMBELAJARAN ........................................................................ 4 I. EVALUASI ..................................................................................................... 7 J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF ............................. 8 K. MATERI PRESENTASI ................................................................................. 8
Modul VII.21 ± Karsinoma Telinga 1 MODUL VII.21 ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER: KARSINOMA TELINGA A. WAKTU Mengembangkan Kompetensi Alokasi Waktu Sesi di dalam kelas Sesi dengan fasilitas pembimbing Sesi praktek dan pencapaian kompetensi 2 x 60 menit (classroom session) 1 x 60 menit (coaching session) 10 Jam (facilitation and assessment) B. PERSIAPAN SESI x Materi presentasi: Karsinoma telinga a. Power point b. Video x Kasus: Karsinoma Telinga x Sarana dan Alat Bantu Latih: a. Penuntun belajar (learning guide): terlampir b. Tempat belajar (training setting): instalasi rawat inap, instalasi rawat jalan, kamar operasi, ruang praktikum, ruang kuliah c. Model/manekin atau kadaver d. Komputer/laptop e. LCD Proyektor C. REFERENSI 1. Pickett BP, Crawley BK. Neoplasms of the ear and lateral skull base. In: Johnson JT, Rosen CA, et al. Editors. %DLOH\¶V +HDG DQG 1HFN 6XUJHU\- Otolaryngology 5 th (ed). Vol.2. Philadelphia: Wolters Kluwer, Lippincott Williams & Wilkins. 2014. p. 2358-83.. 2. Gantz BJ. Tumors of the temporal bone. In: Chan Y, Goddaed JC. Editors. .-/HH¶V (VVHQWLDO Otolaryngology Head and Neck Surgery. 11th (ed). United States: McGraw-Hill education. 2016. p. 435-49 3. Gidley PW. Ear and Temporal Bone Cancer. In: Myers JN, Hanna EYN, Myers EN. Editors. Cancerof the Head and Neck 5 th (ed). Philadelphia: Wolters Kluwer, Lippincott Williams & Wilkins. 2017. p. 954-1000 4. Allanson BM, Low TH, Clark JR, Gupta R. Squamous cell carcinoma of the external auditory canal and temporal bone: An Update. Head and Neck Pathology. 2018;12: 407-18 5. Amin, M.B., Edge, S.B. and American Joint Committee on Cancer, 2017. AJCC Cancer Staging Manual, 8th ed. Springer 6. Morita S, Mizumachi T, Nakamura Y, Sakashita T, Kano S, Hoshino K, et al. Comparison of the University of Pittsburgh staging system and the eighth edition of the American Joint Committee on Cancer TNM classification for the prognostic evaluation of external auditory canal cancer. International Journal of Clinical Oncology. 2018:1-9
Modul VII.21 ± Karsinoma Telinga 2 D. KOMPETENSI a. Pengetahuan Menegakkan diagnosis karsinoma telinga berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang serta menentukan management dan melakukan tindakan eksisi karsinoma telinga kecil di daerah aurikula dan KAE. b. Keterampilan Setelah Mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam: a. Menjelaskan anatomi, topografi, dan fisiologi telinga b. Menjelaskan definisi, patogenesis dan faktor risiko karsinoma telinga c. Menjelaskan gejala dan tanda karsinoma telinga d. Melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik pada karsinoma telinga e. Melakukan keputusan untuk pemeriksan penunjang seperti biopsi massa dan CT Scan temporal dengan kontras f. Membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhubungan dengan karsinoma telinga g. Menentukan pilihan terapi dan memberikan informed consent kepada penderita dan keluarga pada kasus karsinoma telinga h. Melakukan tindakan pembedahan simple untuk karsinoma aurikula dan KAE kecil kurang dari atau sama dengan 5mm i. Melakukan persiapan pre operatif untuk karsinoma aurikula atau KAE yang kecil dan pasca operasi serta mampu mengatasi komplikasi yang terjadi. j. Melakukan rujukan pada kasus karsinoma telinga stadium lanjut dengan sebelumnya memberikan perawatan yang diperlukan. E. GAMBARAN UMUM Karsinoma telinga merupakan keganasan dengan kasus yang jarang, terjadi kurang dari 0,2% seluruh keganasan pada regio kepala dan leher. Keganasan di telinga luar berasal dari kanalis akustikus eksternus (KAE). Secara histologis, karsinoma sel skuamosa merupakan jenis karsinoma tersering pada KAE. Berbagai jenis lainnya antara lain karsinoma sel basal, Merkel cell carcinoma, melanoma maligna, angiosarkoma, adenoid cystic carcinoma, dan limfoma. Tumor ini umumnya terjadi pada dekade ke 5 hingga ke 7 kehidupan dengan kecenderungan tersering pada jenis kelamin laki±laki. Otorea merupakan keluhan tersering yang dilaporkan sekitar 50% hingga 90% kasus. Keluhan lain berupa nyeri, penurunan pendengaran dan tumor pada liang telinga. Cedera pada nervus fasialis terjadi pada 16±50% pasien. Karsinoma sel skuamosa terjadi pada 80% kasus. F. CONTOH KASUS Seorang laki-laki usia 50 tahun datang ke IGD dengan keluhan wajah merot ke kiri sejak 1 minggu yang lalu. Riwayat sejak satu tahun terakhir keluar cairan kuning
Modul VII.21 ± Karsinoma Telinga 3 dan kadang disertai darah dari telinga sebelah kanan. Sejak 6 bulan terakhir mengeluh ada benjolan di liang telinga. Daun telinga kanan terasa lebih menonjol ke luar. Pada pemeriksaan fisik; parese nervus fasialis kanan, liang telinga terdapat masa, benjolan pada retroarikula kanan. Pertanyaan: 1. Anamnesis tambahan, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. 2. Diagnosis kerja yang paling mungkin dan stadium 3. Jelaskan patofisiologi dan patogenesisnya 4. Rencana terapi 5. Persiapan pra dan pasca operasi 6. Apa komplikasi yang mungkin terjadi Jawaban: 1. Anamnesis tambahan meliputi penurunan pendengaran, gejala-gejala yang berhubungan dengan arah ekstensi tumor, faktor risiko pada pasien. Pemeriksaan fisik meliputi THT lengkap (termasuk periksaan garputala), pemeriksaan leher, tes nervus fasialis, tes keseimbangan. Pemeriksaan penunjang meliputi foto mastoid (posisi schuller), audiometri nada murni, biopsi dan pemeriksaan histopatologi, CT scan/ MRI temporal, rongent thorax, bone survey, USG Abdomen. 2. Diagnosis kerja adalah tumor ganas telinga 3. Tumor yang mengivasi ke tulang temporal ditandai dengan parese nervus fasialis. 4. Penderita dirujuk ke dokter yang lebih kompeten. Rencana terapi meliputi pembedahan (reseksi tulang temporal, parotidektomi), radiasi, dan kemoterapi 5. Komplikasi yang mungkin terjadi : Perdarahan, LCS leak dan infeksi intrakranial. G. TUJUAN PEMBELAJARAN 1. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan mampu untuk menegakkan diagnosis dan melakukan terapi terhadap karsinoma telinga. 2. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan mampu untuk: 1. Menguasai anatomi, topografi dan fisiologi telinga (tingkat kompetensi K3, A3) 2. Mampu menjelaskan patogenesis karsinoma telinga (tingkat kompetensi K3, A3) 3. Menjelaskan gejala dan tanda karsinoma telinga (tingkat kompetensi K3, A3) 4. Melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik pada karsinoma telinga (tingkat kompetensi K3, A3) 5. Melakukan keputusan untuk pemeriksan penunjang. Misalkan biopsi massa, CT Scan temporal atau MRI temporal dengan kontras. (tingkat kompetensi K3, P5, A3)
Modul VII.21 ± Karsinoma Telinga 4 6. Membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhubungan dengan karsinoma telinga (tingkat kompetensi K3, P5, A3) 7. Membuat keputusan klinik untuk parotidektomi (tingkat kompetensi K3, P2, A3) 8. Melakukan tindakan operasi parotidektomi (tingkat kompetensi K3, P2, A3) 9. Merawat penderita pra dan pasca operatif serta mampu mengatasi komplikasi (tingkat kompetensi K3, P5, A3) H. METODE PEMBELAJARAN Setelah mengkuti sesi ini peserta didik akan mempunyai kemampuan dasar untuk menegakkan diagnosis karsinoma telinga dan mampu untuk menentukan terapi yang sesuai Tujuan 1. Menjelaskan anatomi, topografi dan fisiologi telinga Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metoda pembelajaran berikut ini 1. Interactive lecture 2. Small group discussion. 3. Peer assisted learning (PAL) 4. Bedside teaching. 5. Task based medical education. Tujuan 2. Mampu menjelaskan patogenesis karsinoma telinga Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review. 3. Peer assisted learning (PAL) 4. Bedside teaching. 5. Task based medical education. Tujuan 3. Menjelaskan gejala dan tanda karsinoma telinga Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review 3. Case simulation and investigation exercise 4. Equipment characteristics and operating instructions Tujuan 4. Melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik pada karsinoma telinga Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review 3. Case study 4. Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device) 5. Demonstration and Coaching 6. Practice with Real Clients
Modul VII.21 ± Karsinoma Telinga 5 Harus diketahui : 1. Metoda standar anamnesis 1. Gejala dan tanda pasti karsinoma telinga 2. Pemeriksaan penunjang yang sensitif dan spesifik 3. Memilah diagnosis banding dan menentukan diagnosis kerja 4. Rencana pengobatan atau tata laksana pasien Tujuan 5. Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review. 3. Morbidity and Mortality Case study 4. Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device). 5. Operative Procedure Demonstration and Coaching 6. Practice with Real Clients. 7. Continuing Professional Development Must to know keypoints: 1. Prosedur paliatif x Kemoradiasi 2. Prosedur operatif x parotidektomi Tujuan 6. Membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhungan dengan karsinoma telinga Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review 3. Case study 4. Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device) 5. Demonstration and Coaching 6. Practice with Real Clients Harus diketahui 1. Work-up Key Points 2. Indikasi pemilihan pemeriksaan tambahan 3. Analisis data untuk menegakkan diagnosis Tujuan 7. Menentukan terapi yang tepat pada kasus karsinoma telinga Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review 3. Case study 4. Practice with Real Clients Harus diketahui 1. Terapi kemoterapi 2. Terapi pembedahan
Modul VII.21 ± Karsinoma Telinga 6 Tujuan 8. Melakukan tindakan pembedahan (parotidektomi) Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review 3. Case study 4. Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device) 5. Demonstration and Coaching 6. Practice with Real Clients Harus diketahui 1. Jenis pembedahan parotidektomi 2. Langkah-langkah pembedahan Tujuan 9. Melakukan perawatan penderita pra dan pasca pembedahan (parotidektomi) Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review 3. Case study 4. Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device) 5. Demonstration and Coaching 6. Practice with Real Clients Harus diketahui o Sermon of relaxation o Informed consent o Komplikasi operasi Tujuan 10. Melakukan tindakan pembedahan/ eksisi karsinoma telinga kecil di daerah aurikula dan KAE serta melakukan perawatan penderita pra dan pasca pembedahan Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review 3. Case study 4. Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device) 5. Demonstration and Coaching 6. Practice with Real Clients Harus diketahui 1. Langkah-langkah pembedahan 2. Sermon of relaxation 3. Informed consent 4. Komplikasi operasi Rangkuman: Karsinoma telinga banyak ditemukan pada orang laki-laki. Jenis dapat berupa jinak maupun ganas, tipe ganas yang paling sering adalah karsinoma sel skuamosa.
Modul VII.21 ± Karsinoma Telinga 7 Penanganannya adalah pembedahan (reseksi tulang temporal, parotidektomi), radiasi, dan kemoterapi disesuaikan dengan besar dan perluasan tumor. I. EVALUASI 1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pre- test terdiri atas: - Anatomi, topografi, dan fisiologi telinga - Penegakan diagnosis - Penatalaksanaan - Follow up 2. Selanjutnya dilakukan small group discussion bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian. 3. Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk role play dan teman-temannya (Peer Assisted Evaluation) atau kepada SP (Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assisted Evaluation) setelah dianggap memadai, melalui metode bedside teaching dibawah pengawasan fasilitator, peserta dididik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomi dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut : 1. Perlu perbaikan: pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan. 2. Cukup: pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien. 3. Baik: pelaksanaan benar dan baik (efisien) 4. Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan. 5. Self assesment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar. 6. Pendidik/ fasilitas: - Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form (terlampir) - Penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi
Modul VII.21 ± Karsinoma Telinga 8 - Kriteria penilaian keseluruhan : cakap/ tidak cakap/ lalai 7. Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education) 8. Pencapaian pembelajaran: - Ujian OSCE (K,P,A), dilakukan pada tahapan T.H.T.K.L dasar oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L - Ujian akhir stase, setiap divisi / unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan T.H.T.K.L lanjut oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L. - Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan T.H.T.K.L lanjut oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L. - Ujian akhir profesi (kasus bedah), dilakukan pada akhir pendidikan oleh Kolegium I T.H.T.K.L J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF A. Kuesioner Pembelajaran Soal : Seorang laki-laki 50 tahun mengalami kelumpuhan nervus fasialis selama 1 tahun. 6HPHQWDUD GLGLDJQRVLV GHQJDQ %HOO¶V SDOV\ GDQ PHQGDSDW WHUDSL NRUWLNRVWHURLG tetapi tidak terdapat perbaikan. Pada pemeriksaan ulangan ditemukan perbaikan pada daerah muka, penurunan pendengaran dan keluar darah dari telinga. Tidak ada kelumpuhan pada bagian kepala-leher yang lain. Dugaan anada adalah: A. Infeksi telinga tengah B. Infeksi Herpes Zoster C. Fraktur tulang temporal D. Penyakit Lyme E. Kemungkinan suatu neoplasma Jawab: E K. MATERI PRESENTASI LCD 1: Anatomi dan Fisiologi Telinga
Modul VII.21 ± Karsinoma Telinga 9 LCD 2: Patologi Karsinoma KAE LCD 3: Tatalaksana Karsinoma KAE
Modul VII.21 ± Karsinoma Telinga 10 L. MATERI BAKU Karsinoma liang telinga seringkali meluas ke telinga tengah dan sebaliknya tumor telinga tengah juga seringkali meluas ke liang telinga. Keganasan pada kanalis akustikus eksternus (KAE)/ liang telinga merupakan kasus yang jarang, terjadi kurang dari 0,2% seluruh keganasan pada regio kepala dan leher. Keganasan pada KAE terjadi 1 dari 5000±15.000 kelainan yang terjadi pada telinga. Tumor ini umumnya terjadi pada dekade ke 5 hingga ke 7 kehidupan dengan kecenderungan tersering pada jenis kelamin laki±laki. Ada berbagai jenis tumor yang timbul pada telinga luar dan tulang temporal, namun yang tersering adalah karsinoma sel skuamosa terjadi pada 80% kasus. Jenis lainnya adenoid cystic carcinoma, adenocarcinoma, basal sel karsinoma, melanoma. Embryonal rhabdomyosarcoma mungkin dijumpai pada anak anak. Gejala klinik Diagnosis seringkali terlambat, tanda dan gejala mirip dengan OMSK dengan cairan yang keluar disertai darah. Otorea merupakan keluhan tersering yang dilaporkan sekitar 50% hingga 90% kasus. Keluhan lain berupa nyeri, penurunan pendengaran dan tumor pada liang telinga. Cedera pada nervus fasialis terjadi pada 16±50% pasien. Tumor menyebar menginvasi tulang sehingga dapat mengenai nervus VII, temporomandibula join, labirin dan tuba Esustachii dengan ditandai adanya parese otot wajah, kesulitan atau terasa sakit ketika membuka mulut, kurang pendengaran. Rasa sakit yang progresif, sulit diredakan dengan analgetik. Pemeriksaan penunjang Biopsi, foto mastoid (posisi Schuller), audiometri nada murni, dan CT scan temporal dengan kontras/MRI temporal. Staging Saat ini tidak ada sistem stadium yang diterima secara universal untuk karsinoma liang telinga dan tulang temporal. Ada dua sistem, masing-masing dengan modifikasi, tersedia dalam literatur. Sistem yang paling umum digunakan untuk karsinoma KAE adalah klasifikasi Pittsburgh, yang dikemukakan oleh Arriaga et al dengan modifikasi yang diusulkan oleh Moody et al. Sistem kedua adalah yang diusulkan oleh Stell dan McCormick dengan modifikasi berikutnya yang dikemukakan oleh Clark et al. Kedua sistem ini didasarkan pada temuan klinis dan radiologis dan tidak termasuk keterlibatan KGB. Karsinoma sel skuamosa kulit adalah keganasan paling umum yang melibatkan KAE. Oleh karena itu, dipertimbangkan penggunaan sistem stadium American Joint Committee on Cancer (AJCC) untuk karsinoma sel skuamosa kulit kepala dan leher karena parameter histopatologi menjadi pertimbangan dan juga menyediakan keterlibatan nodal.
Modul VII.21 ± Karsinoma Telinga 11 Sistem Staging Modifikasi Pittsburgh untuk Karsinoma Liang Telinga T1 : Tumor terbatas pada EAC tanpa erosi tulang atau bukti keterlibatan jaringan lunak T2 : Tumor dengan erosi tulang EAC terbatas (ketebalan tidak penuh) atau jaringan lunak terbatas (<0,5 cm) T3 : Tumor mengerosi tulang dengan masa tumor < 0,5 cm atau tumor yang meliputi telinga tengah dan atau mastoid T4 : Tumor mengerosi koklea, apek petrosus, dinding medial telinga tengah, kanalis carotis, foramen jugular, atau dura atau tumor sebesar > 0,5 cm seperti keterlibatan sendi temporomandibular atau prosesus styloid, atau terdapat parase saraf wajah NX : Kelenjar getah bening regional tidak dapat dinilai N0 : Tidak ada metastasis kelenjar getah bening regional N1 : Metastasis pada satu kelenjar getah bening ipsilateral, 3 cm atau lebih kecil dalam dimensi terbesar dan ENE (-) N2a : Metastasis di satu kelenjar getah bening ipsilateral atau kontralateral, 3 cm atau lebih kecil dalam dimensi terbesar dan ENE (+); Atau kelenjar getah bening ipsilateral tunggal yang lebih besar dari 3 cm tetapi tidak lebih dari 6 cm dalam dimensi terbesar dan ENE (-) N2 b : Metastasis di beberapa kelenjar getah bening ipsilateral, dimensi terbesar tidak lebih dari 6 cm dan ENE (-) N2c : Metastasis pada kelenjar getah bening bilateral atau kontralateral, dimensi maksimum tidak lebih dari 6 cm dan ENE (-) N3a : Metastasis pada kelenjar getah bening berukuran lebih dari 6 cm dengan dimensi terbesar dan ENE (-) N3b : Metastasis dalam satu simpul ipsilateral yang lebih besar dari 3 cm dalam dimensi terbesar dan ENE (+); Atau Beberapa node ipsilateral, kontralateral, atau bilateral, apa saja dengan ENE (+) M0 : Tidak ada metastasis M1 : Metastasis jauh Terapi Pemilihan modalitas pengobatan untuk karsinoma KAE dikelola oleh tim multidisiplin dan berdasarkan sejauh mana penyakit, komorbiditas, status kinerja, keinginan pasien dan/atau kebijaksanaan dokter yang terlibat dalam setiap kasus. Operasi dilanjutkan dengan radioterapi adalah pilihan utama. Tindakan operasi adalah dengan mereseksi en bloc tumor dan dengan sebisa mungkin mempertahankan fungsi pendengaran dan nervus facialis. Reseksi tulang temporal lateral dipilih sebagai pilihan awal pengobatan untuk pasien dengan tumor yang terbatas pada KAE. Tumor kecil T1 tidak menginvasi tulang dapat dieksisi dengan mengangkat kulit liang telinga di lateral membran timpani, serta saluran tulang rawan di bawahnya tanpa pengangkatan kanal tulang timpani. (Sleeve resection). Pada tumor T2 yang terbatas pada liang telinga tetapi sudah mengenai tulang temporal, Lateral Temporal Bone Resection (LTBR)
Modul VII.21 ± Karsinoma Telinga 12 diperlukan. Prosedurnya adalah dengan diseksi tulang temporal sekitar liang telinga mulai dari luar sampai mendekati telinga tengah dengan mempertahankan membrana timpani. Tumor T3 dengan perluasan ke mastoid atau telinga tengah dengan melakukan Subtotal Temporal Bone Resection (STBR), tindakan ini dengan mengangkat liang telinga, telinga tengah, tulang petrosus, temporomandibula join dengan partial atau total parotidektomi. Nervus fasialis dikorbankan bila sudah terkena, grafting dengan nervus sural atau greater auricle bila tepi proksimal dan distal bebas dari tumor. Bila tumor T4, tumor meluas ke sisi medial tulang temporal, diperlukan reseksi total tulang temporal/Total Temporal Bone Resection (TTBR) dengan mengorbankan arteri carotis. Karsinoma sel skuamosa yang mengenai tulang petrosus pada dasarnya tidak dapat diterapi dengan prosedur tersebut, meskipun demikian prosedur tersebut dapat dilakukan pada adenoid cystic carcinoma dan sarcoma. Setelah dilakukan reseksi total, regional atau free flap rekonstruksi dapat digunakan untuk menutup dura yang terbuka, mencegah bocornya LCS dan menutup dead space pasca operasi. Retrograd Parotidektomi dilakukan pada LTBR dan STBR. Indikasi total parotidektomi adalah pada kasus kasus dimana terdapat pertumbuhan ke arah anterior di depan dinding kanalis akustikus esterna. Superficial parotidektomi dapat dilakukan sebagai profilaktik pada T1 dan T2. Profilaktik slective neck diseksi dilakukan pada LTBR dsn STBR dengan neck node (-). Modifikasi neck diseksi leher tipe 3 dilakukan pada neck node +. Neck diseksi tidak dilakukan pada pasien anak anak dengan N0 atau pasien yang mempunyai prognosis buruk. Jika pada pemeriksaan radiologi ditemukan pertumbuhan pasien ke arah kondilus mandibula atau temporomandibular join maka harus dilakukan en blok resection. Jadi T1 dan T2 yang akan dilakukan LTBR diperlukan superficial parotidektomi dan diseksi leher. T3 dan T4, tumor menyebar ke arah kartilago kanalis jaringan lunak periaurikular atau ke anterior melewati dinding anterior kanalis akustikus eksternus ke ruang parotis dilakukan LTBR total parotidektomi dan diseksi leher. T3 dan T4 pada tumor yang meluas ke arah mastoid atau timpani atau daerah medial dari os temporal dilakukan STBR, total parotidektomi dan diseksi leher. Evaluasi pasien post operasi dilakukan setiap 3 bulan pada tahun pertama, setiap 6 bulan selama 4 tahun, kemudian setiap tahun. Pemeriksaan radiologis CT atau MRI dengan kontrak dilakukan setiap 6 bulan pada tahun pertama dan setiap tahun sampai 10 tahun kemudian. Parotidektomi dikombinasikan dengan reseksi lesi primer jika metastasis kelenjar getah bening intraparotid positif atau invasi ke kelenjar parotis terdeteksi secara klinis. Diseksi leher selain parotidektomi dilakukan pada kasus yang secara klinis positif untuk metastasis kelenjar getah bening leher. Tidak ada diseksi leher profilaksis yang dilakukan. Adjuvan RT atau CRT (dosis total 60-70 Gy pada 2,0 Gy per fraksi) untuk pasien dengan tumor yang melampaui KAE secara sistematis diusulkan setelah reseksi bedah. Untuk tumor lokal lanjut dengan ekstensi ke apeks piramidal, fossa kranial posterior, fossa kranial tengah atau arteri karotis interna, CRT definitif atau RT (dosis total 65-70 Gy pada 2,0-2,5 Gy per fraksi) juga dilakukan.
Modul VII.21 ± Karsinoma Telinga 13 Pasien yang menolak pembedahan atau tidak dapat menjalani pembedahan karena penyakit penyerta, seperti penyakit pernapasan, hati, ginjal dan / atau kardiovaskular yang parah, menjalani RT saja (dosis total 65-70 Gy pada 2.0±2.5 Gy per fraksi). Kemoterapi diberikan regimen TPF (cisplatin, 5-fluorouracil dan docetaxel). Pemberian cisplatin intravena mingguan dan infus cisplatin dosis tinggi superselektif cepat (RADPLAT) dapat menjadi pilihan.
MODUL UTAMA ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER MODUL VII.22 SARKOMA DAN TUMOR JARINGAN LUNAK KEPALA LEHER EDISI III KOLEGIUM ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER 2022
DAFTAR ISI A. WAKTU .......................................................................................................... 1 B. PERSIAPAN SESI .......................................................................................... 1 C. REFERENSI .................................................................................................... 1 D. KOMPETENSI ................................................................................................ 1 E. GAMBARAN UMUM .................................................................................... 2 F. CONTOH KASUS .......................................................................................... 2 G. TUJUAN PEMBELAJARAN ......................................................................... 3 H. METODE PEMBELAJARAN ........................................................................ 3 I. EVALUASI ..................................................................................................... 5 J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF ............................. 6 K. MATERI PRESENTASI ................................................................................. 7 L. MATERI BAKU ............................................................................................. 8
Modul VII.22 ± Sarkoma dan Tumor Jaringan Lunak Kepala Leher 1 MODUL VII.22 ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER: SARKOMA DAN TUMOR JARINGAN LUNAK KEPALA LEHER A. WAKTU Mengembangkan Kompetensi Alokasi Waktu Sesi di dalam kelas Sesi dengan fasilitas pembimbing Sesi praktek dan pencapaian kompetensi 2 x 60 menit (classroom session) 1 x 60 menit (coaching session) 10 Jam (facilitation and assessment) B. PERSIAPAN SESI x Materi presentasi: Sarkoma jaringan lunak kepala leher a. Power point b. Video x Kasus: Sarkoma jaringan lunak kepala leher x Sarana dan Alat Bantu Latih: a. Penuntun belajar (learning guide): terlampir b. Tempat belajar (training setting): instalasi rawat inap, instalasi rawat jalan, kamar operasi, ruang praktikum, ruang kuliah c. Model/manekin atau kadaver d. Komputer/laptop e. LCD Proyektor C. REFERENSI 1. Marcus M, Monroe BA. Sarkomas and soft tissue tumors of the head and neck. In: Myers JN, Hanna EYN, Myers EN. Editors. Cancer of the Head and Neck. 5 th (ed). Philadelphia: Wolters Kluwer, Lippincott Williams & Wilkins. 2017. p. 1847-1890 2. Irvin Pathak, CDPLOOD &DUUROO %ULDQ 2¶VXOOLYDQ HW DO. Sarcomas of the head and neck. In: Principles and Practice of HEAD AND NECK ONCOLOGY. 24:790- 801. 3. Amin MB, Edge SB, American Joint Committee on Cancer.AJCC. Cancer Staging Manual. 8 th (ed). 2017. Springer 4. Shah JP, Patel SG, Singh B, Wong R. Jatin Shah's Head and Neck Surgery and Oncology 5 th (ed). Edinburgh: Elsevier. 2020. p. 647-699 5. Niederhuber JE, Armitage JO, Doroshow JH, Kastan MB, Tepper JE. Abeloff's Clinical Oncology 6 th (ed). 2020. Philadelphia: Elsevier. 6. Flint PWt, Haughey BH, Lund VJ, Robbins KT, Thomas JR, Lesperance MM, Francis HW. Cummings Otolaryngology: Head and Neck Surgery 7 th (ed). 2021. Philadelphia: Elsevier. D. KOMPETENSI a. Pengetahuan Menegakkan diagnosis sarkoma jaringan lunak kepala leher berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. b. Keterampilan Setelah Mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam:
Modul VII.22 ± Sarkoma dan Tumor Jaringan Lunak Kepala Leher 2 a. Menjelaskan definisi, pathogenesis dan faktor risiko sarkoma jaringan lunak kepala leher. b. Menjelaskan gejala dan tanda sarkoma jaringan lunak kepala leher c. Melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik pada sarkoma jaringan lunak kepala leher d. Melakukan keputusan untuk pemeriksan penunjang seperti biopsi massa dan CT Scan dengan kontras e. Membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhubungan dengan sarkoma jaringan lunak kepala leher f. Menentukan pilihan terapi dan memberikan informed consent kepada penderita dan keluarga pada kasus sarkoma jaringan lunak kepala leher. g. Melakukan rujukan pada kasus sarkoma jaringan lunak kepala leher E. GAMBARAN UMUM Sarkoma kepala leher merupakan kelompok keganasan yang mempunyai gambaran klinis dan outcome yang bervariasi. Sarkoma kepala leher berasal dari jaringan mesenkim di daerah kepala leher, termasuk jaringan lunak dalam, tulang, dan kartilago. Sekitar 15 % sarkoma tumbuh di daerah kepala leher. Hanya 4,3% sarkoma jaringan lunak dewasa yang muncul di daerah kepala leher. Sarkoma sering diklasifikasikan berdasarkan sel asalnya dan secara umum dikelompokkan menjadi sarkoma jaringan lunak dan tulang/ kartilago. Sarkoma juga diklasifikasikan berdasarkan derajat histologinya, yang lebih menjadi dasar dalam pemilihan modalitas terapi dibanding sel asalnya. Sarcoma jaringan lunak dapat muncul dari hampir seluruh bagian anatomi di daerah kepala dan leher, meskipun kelenjar parotis, leher, wajah, dahi dan kulit kepala adalah lokasi yang paling sering dijumpai. Presentasi paling umum yaitu lesi massa atau gejala akibat tekanan pada struktur neovaskular atau visera yang berdekatan. F. CONTOH KASUS Seorang wanita usia 67 tahun, datang ke poliklinik THT-KL dengan keluhan benjolan didaun telinga kanan. benjolan tersebut berukuran sebesar kelereng, keluhan tidak disertai dengan nyeri, keluhan disertai dengan luka yang tidak kunjung sembuh. Awalnya benjolan berukuran sebesar kacang tanah dan muncul sejak 1 tahun yang lalu. Pada pemeriksaan fisik didapatkan benjolan ukuran 3x4x5 cm batas tidak tegas, terfiksir pada aurikula dextra. Terdapat ulkus ukuran 1x1x0,5 cm. Pertanyaan : Apa kemungkinan diagnosis pada kasus di atas? Jawaban : Chondrosarkoma
Modul VII.22 ± Sarkoma dan Tumor Jaringan Lunak Kepala Leher 3 G. TUJUAN PEMBELAJARAN 1. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan mampu untuk menegakkan diagnosis dan melakukan terapi terhadap sarkoma jaringan lunak kepala leher. 2. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan mampu untuk: 1. Mampu menjelaskan patogenesis sarkoma jaringan lunak kepala leher (tingkat kompetensi K3, A3) 2. Menjelaskan gejala dan tanda sarkoma jaringan lunak kepala leher (tingkat kompetensi K3, A3) 3. Melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik pada sarkoma jaringan lunak kepala leher (tingkat kompetensi K3, A3) 4. Melakukan keputusan untuk pemeriksan penunjang. Misalkan biopsi massa, CT Scan atau MRI dengan kontras. (tingkat kompetensi K3, P5, A3) 5. Membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhubungan dengan sarkoma jaringan lunak kepala leher (tingkat kompetensi K3, P5, A3) H. METODE PEMBELAJARAN Setelah mengkuti sesi ini peserta didik akan mempunyai kemampuan dasar untuk menegakkan diagnosis sarkoma jaringan lunak kepala leher dan mampu untuk menentukan terapi yang sesuai Tujuan 1. Mampu menjelaskan patogenesis sarkoma jaringan lunak kepala leher Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review. 3. Peer assisted learning (PAL) 4. Bedside teaching. 5. Task based medical education. Tujuan 2. Menjelaskan gejala dan tanda sarkoma jaringan lunak kepala leher Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review 3. Case simulation and investigation exercise 4. Equipment characteristics and operating instructions Tujuan 3. Melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik pada sarkoma jaringan lunak kepala leher Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review
Modul VII.22 ± Sarkoma dan Tumor Jaringan Lunak Kepala Leher 4 3. Case study 4. Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device) 5. Demonstration and Coaching 6. Practice with Real Clients Harus diketahui : 1. Metoda standar anamnesis 1. Gejala dan tanda pasti sarkoma jaringan lunak kepala leher 2. Pemeriksaan penunjang yang sensitif dan spesifik 3. Memilah diagnosis banding dan menentukan diagnosis kerja 4. Rencana pengobatan atau tata laksana pasien Tujuan 4. Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review. 3. Morbidity and Mortality Case study 4. Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device). 5. Operative Procedure Demonstration and Coaching 6. Practice with Real Clients. 7. Continuing Professional Development Must to know keypoints: 1. Prosedur pembedahan 2. Prosedur kemoradiasi Tujuan 5. Membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhubungan dengan sarkoma jaringan lunak kepala leher Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review 3. Case study 4. Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device) 5. Demonstration and Coaching 6. Practice with Real Clients Harus diketahui 1. Work-up Key Points 2. Indikasi pemilihan pemeriksaan tambahan 3. Analisis data untuk menegakkan diagnosis Tujuan 6. Menentukan terapi yang tepat pada kasus sarkoma jaringan lunak kepala leher Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini: 1. Interactive lecture 2. Journal reading and review 3. Case study
Modul VII.22 ± Sarkoma dan Tumor Jaringan Lunak Kepala Leher 5 4. Practice with Real Clients Harus diketahui 1. Terapi pembedahan 2. Terapi kemoradiasi Rangkuman: Sarkoma kepala leher merupakan kelompok keganasan yang mempunyai gambaran klinis dan outcome yang bervariasi. Sarkoma kepala leher berasal dari jaringan mesenkim di daerah kepala leher, termasuk jaringan lunak dalam, tulang, dan kartilago. Tanda dan gejala klinis sarcoma jaringan lunak kepala leher sangat bervariasi sesuai dengan subtype histologi dan lokasi tumor, tetapi beberapa jenis sarcoma mempunyai tanda khas. Pembedahan merupakan terapi utama pada kasus sarkoma. Kemoterapi ajuvan telah terbukti meningkatkan kelangsungan hidup secara keseluruhan, sedangkan terapi radiasi meningkatkan kontrol lokal. I. EVALUASI 1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pre- test terdiri atas: - Penegakan diagnosis - Penatalaksanaan - Follow up 2. Selanjutnya dilakukan small group discussion bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian. 3. Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk role play dan teman-temannya (Peer Assisted Evaluation) atau kepada SP (Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assisted Evaluation) setelah dianggap memadai, melalui metode bedside teaching dibawah pengawasan fasilitator, peserta dididik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomi dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut : 1. Perlu perbaikan: pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan. 2. Cukup: pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien.
Modul VII.22 ± Sarkoma dan Tumor Jaringan Lunak Kepala Leher 6 3. Baik: pelaksanaan benar dan baik (efisien) 4. Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan. 5. Self assesment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar. 6. Pendidik/ fasilitas: - Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form (terlampir) - Penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi - Kriteria penilaian keseluruhan : cakap/ tidak cakap/ lalai 7. Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education) 8. Pencapaian pembelajaran: - Ujian OSCE (K,P,A), dilakukan pada tahapan T.H.T.K.L dasar oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L - Ujian akhir stase, setiap divisi / unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan T.H.T.K.L lanjut oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L. - Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan T.H.T.K.L lanjut oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L. - Ujian akhir profesi (kasus bedah), dilakukan pada akhir pendidikan oleh Kolegium I T.H.T.K.L J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF A. Kuesioner Pembelajaran Soal : Seorang wanita berusia 45 tahun datang ke poli THT-KL dengan keluhan benjolan hidung. Keluhan tidak disertai dengan hidung tersumbat. Benjolan dirasakan padat dan melekat pada tulang hidung. Pada pemeriksaan fisik didapatkan benjolan ukuran 2x3x4 cm padat, batas tidak tegas permukaan licin. Cavum nasi dalam batas normal. Pemeriksaan apakah yang disarankan pada pasien tersebut ? a. FNAB dan MRI b. FNAB dan CT Scan c. USG dan CT Scan d. FNAB dan Ro Waters Jawaban : A
Modul VII.22 ± Sarkoma dan Tumor Jaringan Lunak Kepala Leher 7 K. MATERI PRESENTASI LCD 1: Gambaran Umum LCD 2: Klasifikasi Histologi
Modul VII.22 ± Sarkoma dan Tumor Jaringan Lunak Kepala Leher 8 LCD 3: Stadium Sarkoma Jaringan Lunak Kepala Leher L. MATERI BAKU Sarkoma kepala leher merupakan kelompok keganasan yang mempunyai gambaran klinis dan outcome yang bervariasi. Sarkoma kepala leher berasal dari jaringan mesenkim di daerah kepala leher, termasuk jaringan lunak dalam, tulang, dan kartilago. Sekitar 15 % sarkoma tumbuh di daerah kepala leher. Hanya 4,3% sarkoma jaringan lunak dewasa yang muncul di daerah kepala leher (Gambar 1). Gambar 1. Distribusi sarkoma jaringan lunak pada dewasa Sarkoma sering diklasifikasikan berdasarkan sel asalnya dan secara umum dikelompokkan menjadi sarkoma jaringan lunak dan tulang/ kartilago. Sarkoma juga diklasifikasikan berdasarkan derajat histologinya, yang lebih menjadi dasar dalam pemilihan modalitas terapi dibanding sel asalnya. Contoh, sarkoma high grade lebih membutuhkan terapi multidisiplin yang komplek dibanding sarkoma low grade. Klasifikasi histologi tumor jaringan lunak ganas ditunjukkan pada tabel 1. Sarkoma jaringan lunak dapat muncul pada hampir semua bagian anatomi di daerah kepala leher. Lokasi paling sering yaitu pada kelenjar parotis, leher, wajah, dahi, dan kulit kepala.
Modul VII.22 ± Sarkoma dan Tumor Jaringan Lunak Kepala Leher 9 Sebagian besar etiologi sarkoma tidak diketahui. Faktor genetik dan lingkungan dikaitkan dengan perkembangan sarkoma. Beberapa sindroma bawaan diketahui meningkatkan jenis sarkoma tertentu. Li-Fraumeni syndrome dan Werner syndrome dikaitkan dengan sarkoma jaringan lunak dan tulang, Gardner syndrome dikaitkan dengan tumor desmoid, Neurofibromatosis tipe 1 dikaitkan dengan MPNST, Costello syndrome dan Beckwith-Wiedemann syndrome dikaitkan dengan rhabdomiosarkoma. Faktor risiko lingkungan yang berhubungan dengan kejadian sarkoma adalah infeksi HIV (dihubungkan dengan sarkoma kaposi akibat infeksi human herpes virus 8), paparan radiasi pengion, klorofenol, herbisida, dan bahan kimia produk limbah industri. Tabel 1. Klasifikasi Histologi Tumor Jaringan Lunak Ganas ASAL JARINGAN GANAS Lemak Liposarkoma Jaringan fibrosa/myofibroblastik Fibrosarkoma, miksofibrosarkoma, sarkoma fibromiksoid, histiositoma fibrosa ganas/ sarkoma pleomorfik tidak terdiferensiasi Pembuluh darah Angiosarkoma, hemangioendotelioma epiteloid, Kaposi sarkoma Pembuluh limfatik Limfangiosarkoma Otot polos Leiomiosarkoma Otot rangka Rhabdomiosarkoma embrional, rhabdomiosarkoma alveolus, rhabdomiosarkoma pleomorfik Tumor selubung saraf Malignant peripheral nerve sheath tumor (MPNST), MPNST epiteloid, tumor sel granular ganas Tumor dengan diferensiasi tidak jelas Sarkoma sinovial, sarkoma epiteloid, sarkoma bagian lunak alveolar, sarkoma Ewing ekstraskeletal, sarkoma tidak terdiferensiasi/tidak terklasifikasi Gejala dan Tanda Sarkoma pada kepala leher dapat dibagi menjadi 2 kategori dasar, yaitu tumor yang berasal dari jaringan lunak dan tulang/ kartilago. Tumor yang berasal dari jaringan lunak kepala leher terbagi menjadi beberapa kelompok dengan gambaran histologi, lokasi, serta ciri yang beragam. 1. Sarkoma yang berasal dari otot lurik pada anak anak Rhabdomiosarkoma (RMS) kepala leher jarang ditemukan pada orang dewasa. Akan tetapi tumor ini adalah tumor yang paling sering ditemukan pada anak anak di bawah 15 tahun. Tiga per empat dari seluruh RMS pada anak ditemukan di daerah kepala leher. Berdasarkan lokasinya dapat dibagi menjadi 16 % pada daerah parameningeal, orbital 9% dan non orbital non parameningeal 10 %. Gejala dan tanda ± tanda awal bervariasi tergantung lokasi dan ukuran dari lesi. Manifestasi awal berupa otorea atau obstruksi nasi, dapat juga menyerupai gejala ± gejala umum tumor kepala leher pada anak akibat keterlambatan diagnosis. Secara histologis, RMS nampak seperti musculo skeletal bayi umumnya. Klasifikasinya diadopsi dari Komite Intergroup Rhabdomyosarkoma Study (IRS)
Modul VII.22 ± Sarkoma dan Tumor Jaringan Lunak Kepala Leher 10 dan WHO berdasarkan rekomendasi dari Horn dan Enterline. Klasifikasi ini dikenal dengan subtipe embrional, botryoid, alveolar dan pleomorpik. 60% dari RMS bersifat embrional dan 20% alveolar. 2. Sarkoma pada otot lurik orang dewasa Secara primer RMS pada orang dewasa berasal dari tulang craniofasial dan paling banyak pada sinus etmoid. Gejala awal biasanya muncul pada usia 20-an tahun. Lesi yang terbanyak ditemukan pada IRS grup III dan IV. Sebagian besar pada pasien dengan RMS ethmoid akan bermetastasis jauh ke orbita dan fossa cranial anterior. 3. Sarkoma pada jaringan fibrosa Yang paling sering ditemukan adalah fibrohistiocytic tumor. Lesi tersebut terdiri neoplastic spindle cell tetapi bisa juga berupa harbour histiocytic cell yang mengandung material phagosit yang menyerupai zat besi. Tumor -tumor jaringan fibrous membentuk spektrum yg bersifat tumor ganas, mulai dari benign tumour histiocytoma (dermatofibroma) sampai dermatofibrosarkoma protuberan dan malignat fibrous histiocytoma. Dermatofibroma merupakan tumor jaringan fibrosa jinak yang ditandai dengan adanya nodul subcutan yang mengandung fibroblast-like spindle cell, histiocytes dan pembuluh pembuluh darah dan dapat dibedakan dengan hyperplastic epidermis oleh adanya clear (grenz) zone. Dermatofibrosarkoma protuberan (DFSP) adalah tumor dermis yang jarang ditemukan, tetapi mempunyai rekurensi yang tinggi dan bisa berpotensi berubah menjadi tipe sarkoma yang lain. DFSP mengandung packed spindle cell yang padat yang tersusun dan bentuk storiform atau cartwheel. Subtipe dari DFSP ini antara lain adalah Bednar tumour yang mengandung sel melanin. Di bagian perifer dari DFSP ini terdapat infitrasi difus stroma dermal ke dalam jaringan subcutan yang memberi gambaran honeycomb. 4. Sarkoma pada jaringan vascular Angiosarkoma Angiosarkoma adalah tumor pada jaringan vaskular yang bisa muncul di daerah mana saja pada bagian tubuh kita tetapi paling sering di daerah kepala leher. Gambaran umum berupa lesi berwarna ungu pada kulit kepala leher orang dewasa. Laki laki lebih banyak dengan perbandingan 3:1. Separuh dari tumor tersebut timbul pada kulit kepala dan bersifat multifokal dan sisanya pada daerah dahi. Gambaran makular dan bruise-like appearance dari tumor tersebut berkaitan dengan keterlambatan intervensi karena adanya misdiagnosis. Gambaran patologisnya beragam yang terdiri atas vascula channel area, sheet of cell dan cells of undifferentiated morphology. Sebagian besar mengandung satu dari ketiga bentuk sel tersebut. Namun ada juga pada kondisi tertentu mengandung ketiga bentuk sel tersebut.
Modul VII.22 ± Sarkoma dan Tumor Jaringan Lunak Kepala Leher 11 Hemangipericytoma Tumor ini menempati urutan ketiga pada bagian kepala leher. Lokasinya terletak pada leher, perioral shoft tissue dan traktus sinonasal. Gejala umum yg timbul berupa massa pada daerah leher, atau jaringan lunak wajah yang tidak nyeri pada perabaan. Sinonasal hemangiopericytoma muncul dengan gejala berupa epistaksis dan obstruksi hidung dan berupa benjolan polipoid keabu-abuan dan mudah berdarah saat dimanipulasi. KDSRVL¶V sarkoma Tumor ini paling sering ditemukan pada penderita HIV. Sekitar 95% dari penderita AIDS berupa bentuk kutaneus dan viseral. Tumor ini bersifat multifokal, penyakit systemik yang sering mengenai permukaan kulit dan mukosa di daerah intraoral paling sering ditemukan pada palatum durum. Jarang pada daerah viseral. Lesinya beragam dari bentuk nodul merah keunguan, macula atau plaques. Pada lesi kulit terbagi menjadi tingkatan patch, plaque atau nodular. Derajat beratnya dibagi menjadi 3, yaitu derajat 1 terbatas pada kulit, derajat 2 seluruh kulit dan derajat 3 kulit dan daerah viseral. Pemeriksaan penunjang Biopsi Tindakan biopsi sangat penting dilakukan untuk menegakkan diagnosis jaringan yang tepat. Hasil patologi anatomi (PA) harus sudah tegak sebelum dilakukan intervensi pembedahan, walaupun secara klinis menunjukan ke arah keganasan. Teknik biopsi dapat dilakukan dengan FNAB (Fine Needle Aspiration Biopsy), open biopsy (biopsi insisi ataupun biopsi eksisi). Jika tumor cukup besar dan teraba jelas, dapat dilakukan FNAB atau biopsi insisi. Sedangkan untuk tumor yang kecil dan berbatas tegas, biopsi eksisi lebih akurat dan adekuat. Pemeriksaan Radiologi Penilaian yang akurat untuk perluasan tumor jaringan lunak pada daerah kepala leher dievaluasi dengan pemeriksaan CT Scan dan MRI. Pemeriksaan tersebut dapat membedakan jaringan lunak dengan struktur vital di sekitarnya. Tumor yang hipervaskuler dapat dilakukan pemeriksaan CT angiografi atau arteriografi. Jika dari hasil pemeriksaan angiografi tersebut menunjukan terdapat feeding arteri besar, dapat dipertimbangkan tindakan embolisasi sebelum operasi. CT scan lebih akurat untuk melihat perluasan ke tulang. Pemeriksaan CT scan atau MRI potongan axial, sagital dan koronal dengan kontras, sangat baik untuk melihat perluasan anatomi, keterlibatan jaringan sekitar sehingga memudahkan untuk perencanaan tindakan pembedahan. Stadium Sistem stadium pada sarkoma jaringan lunak kepala leher selain kriteria TNM, derajat histologi tumor primer juga ditambahkan untuk menentukan stadium (Tabel 2). Tabel 2. Sistem Stadium Sarkoma Jaringan Lunak Kepala Leher (AJCC edisi 8)
Modul VII.22 ± Sarkoma dan Tumor Jaringan Lunak Kepala Leher 12 Terapi Eksisi bedah adalah tatalaksana utama untuk seluruh tumor jaringan lunak. Neoplasma ganas dieksisi secara adekuat, sebaiknya dengan cara monoblok, dengan pendekatan bedah yang sesuai tergantung pada ukuran dan lokasi anatomi tumor. Lesi vaskular paling baik ditangani dengan embolisasi preoperatif, bila memungkinkan, untuk meminimalkan kehilangan darah. Sebaliknya, untuk tumor jaringan lunak ganas, harus mempertimbangkan berbagai faktor yang mempengaruhi prognosis akhir. Faktor- faktor ini terkait dengan jenis dan derajat histologis tumor serta ukuran dan lokasi sarkoma. Terapi radiasi tambahan harus dipertimbangkan pada pasien dengan tumor yang memiliki derajat histologi yang tinggi dan tumor dengan batas yang tidak jelas. Radioterapi eksternal atau brakiterapi dapat digunakan dengan efektivitas yang sama. Pilihan modalitas perawatan bergantung pada lokasi, histologi, dan ukuran bidang. Meskipun kontrol lokal dicapai dengan terapi radiasi tambahan. Perawatan sarkoma daerah kepala dan leher melibatkan evaluasi dan perencanaan multidisiplin untuk memberikan peluang penyembuhan dan rehabilitasi yang optimal, mencakup konsultasi dengan ahli bedah kepala dan leher, ahli onkologi medis, ahli onkologi radiasi dan ahli patologi dan rehabilitasi medis. Terapi setiap jenis histologis sarkoma dan tempat asalnya akan bervariasi. Pembedahan merupakan terapi utama pada kasus sarkoma, serta radioterapi ajuvan harus dipertimbangkan setiap kali ada keraguan mengenai kecukupan margin bedah atau jika lokasi tumor menghalangi eksisi lengkap. Pada pengobatan osteosarkoma kepala dan leher terutama mencakup reseksi bedah dengan atau tanpa radiasi dan kemoterapi. Kemoterapi ajuvan telah terbukti meningkatkan kelangsungan hidup secara keseluruhan, sedangkan terapi radiasi meningkatkan kontrol lokal. Tumor T1 7XPRU  2 cm T2 Tumor > 2 cm dan 4 cm T3 Tumor > 4 cm T4 Tumor dengan invasi struktur yang berdekatan T4a Invasi orbita, dasar tengkorak, dura, visera kompartemen sentral, tulang wajah, atau otot pterigoid T4b Invasi otak, otot prevertebral, melapisi arteri karotis, atau penyebaran perineural ke sistem saraf pusat Metastasis Nodal N0 Tidak ada metastasis nodal N1 Metastasis nodal Metastasis Jauh M0 Tidak ada metastasis jauh M1 Metastasis jauh Grade G1 Skor diferensiasi total, jumlah mitosis, dan nekrosis 2 atau 3 G2 Skor diferensiasi total, jumlah mitosis, dan nekrosis 4 atau 5 G3 Skor diferensiasi total, jumlah mitosis, dan nekrosis 6, 7, atau 8