Tim Penyusun
Prof. Dr. dr. M. Thaufiq S. Boesoirie, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.F.P.R(K)., M.S.
Dr. dr. Azwar Ridwan, Sp.MK, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Oto.(K), FICS
Dr. dr. Devira Zahara, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Oto.(K)
Dr. dr. Edi Handoko, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Oto.(K), FICS
Dr. dr. Hadi Sudrajad, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Oto.(K), M.Si.Med.
Dr. dr. Harry A. Asroel, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Oto.(K), M.Ked.
Dr. dr. Lina Lasminingrum, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Oto.(K), M.Kes.
Dr. dr. Made Lely Rahayu, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Oto.(K)
Dr. dr. Masyita Gaffar, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Oto.(K)
Dr. dr. Ratna Dwi Restuti, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Oto.(K)
Dr. dr. RM Tedjo Oedono, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Oto.(K)
Dr. dr. Shinta Fitri Boesoirie, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.F.P.R.(K), M.Kes.
dr. Abla Ghanie, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Oto.(K)
dr. Ahmad Dian Wahyudiono, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Oto.(K)
dr. Arif Dermawan, Sp.T.H.T.B.K.L, Subsp.A.I.(K), M.Kes
dr. Artono, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Oto.(K), FICS
dr. Bambang Purwanto, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.B,E.(K), M.M.
dr. Dewi Pratiwi Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Oto.(K), M.Kes.
dr. Dian Ayu Ruspita, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Oto.(K), M.Si.Med.
dr. Dyah Ayu Kartika Dewanti, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Oto.(K), M.Sc.
dr. Eka Putra Setiawan, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Oto.(K)
dr. Harim Priyono, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Oto.(K)
dr. Jacky Munilson, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Oto.(K)
dr. M. Pahala Hanafi Harahap, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Oto.(K), M.Ked.
dr. Pujo Widodo, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Oto.(K)
dr. Rangga Rayendra Saleh, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Oto.(K)
dr. Rosydiah Rahmawati, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Oto.(K)
dr. Sally Mahdiani, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Oto.(K), M.Kes.
dr. Titiek Ahadiah, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Oto.(K)
dr. Trining Dyah, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp. N.O.(K), M.Kes
dr. Yan Edward, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Oto.(K)
dr. Zulfikar Naftali, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Oto.(K)
dr. Ahmad Hifni, Sp.T.H.T.B.K.L.
dr. Ayu Astria Sriyana, Sp.T.H.T.B.K.L.
dr. Fiona Widyasari, Sp.T.H.T.B.K.L.
KATA PENGANTAR
Assalammu’alaikum Wr.Wb.
Alhamdulillahirobbil ‘alamin, saya panjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allah swt yang senantiasa melimpahkan segala rahmat, taufik dan hidayah-Nya sehingga dapat menyelesaikan penyusun Buku Modul Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher (IK THTBKL) edisi ketiga ini.
Modul ini disusun untuk memenuhi kebutuhan peserta pendidikan dokter spesialis THTBKL yang merupakan penyempurnaan edisi kedua, pemenambahan beberapa materi sesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan serta ketrampilan baru guna meningkatlan mutu proses pendidikan dokter spesialis THTBKL di Indonesia
Selaras dengan dimulainya program fellowship serta persiapan pembukaan program pendidikan Subspesialisasi THTBKL, modul Pendidikan dokter spesialis THTBKL ini disusun agar pendidikan spesialis THTBKL terjaga menjadi satu kesatuan yang mendalam antara ketiga program pendidikan tersebut. Selain itu Buku Modul ini dapat menjadi pedoman untuk melaksanakan pendidikan secara terstruktur dan berkualitas, dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, monitoring hingga proses evaluasi secara berkesinambungan. Hal tersebut bertujuan agar lulusan peserta program studi IK THTBKL mempunyai kompetensi akademik dan kompetensi profesional unggul seiring berkembangnya jaman.
Pada era baru ini para lulusan Dokter Spesialis THTBKL diharapkan memiliki kemampuan akademik professional bertaraf internasional, inovatif dan tangguh yang mampu berkiprah secara global sesuai Visi dan Misi Pendidikan Spesialis THTBKL. Semoga dengan terbitnya Buku Modul ketiga ini program pendidikan dokter spesialis THTBKL semakin maju dan menghasilkan pencapaian lulusan yang unggul, kompeten dan berkualitas.
Apresiasi kami yang setinggi-tingginya kepada seluruh teman sejawat, Profesor Dokter, atas komitmen, dedikasi, serta pemikiran dan waktu yang telah diberikan terutama dalam suasana pandemi Covid-19. Keterbatasan jarak dan keadaan Pandemi telah membuka peluang pengembangan komunikasi, diskusi dan ujicoba modul ketiga, secara digital (TIK), sehingga kita dapat berkoordinasi, produktif menyelesaikan buku modul Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala dan Leher edisi ketiga ini.
Semoga modul ini dapat bermanfaat bagi kita semua, khususnya para peserta didik dan semua yang kita lakukan selalu mendapat ridha Allah SWT.
Wassalammu’alaikum Wr.Wb.
Ketua Umum Kolegium IK THTBKL Indonesia
Dr. dr. Trimartani, Sp T.H.T.B.K.L., F.P.R(K)., MARS
I. OTOLOGI | |
I.1 GANGGUAN TELINGA LUAR | |
I.1.1 | BENDA ASING LIANG TELINGA |
I.1.2 | IMPAKSI SERUMEN |
I.1.3 | KERATOSIS OBTURANS |
I.1.4 | KOLESTEATOMA EKSTERNA |
I.1.5 | INFLAMASI TELINGA LUAR |
I.1.6 | PERIKONDRITIS/OTHEMATOM |
I.2 GANGGUAN TELINGA TENGAH | |
I.2.1 | GANGGUAN FUNGSI TUBA – PATOULUS TUBA EUSTACHIUS |
I.2.2 | INFLAMASI TELINGA TENGAH |
I.2.3 | OTOSKLEROSIS |
I.3 GANGGUAN TELINGA DALAM | |
I.3.1 | INFLAMASI TELINGA DALAM |
I.3.2 | INJEKSI INTRATIMPANI |
I.4 | TRAUMA TELINGA DAN TULANG TEMPORAL |
I.5 | GANGGUAN NERVUS FASIALIS |
I.6 | KELAINAN KONGENITAL TELINGA |
I.7 | NEOPLASMA TELINGA |
I.8 | KELAINAN TELINGA AKIBAT PENYAKIT SISTEMIK |
I.9 | IMPLANTASI PADA GANGGUAN PENDENGARAN |
DAFTAR ISI
WAKTU PEMBELAJARAN 1
PERSIAPAN SESI 1
REFERENSI 1
KOMPETENSI 2
CONTOH KASUS DAN DISKUSI 2
TUJUAN PEMBELAJARAN 3
METODE PEMBELAJARAN 3
EVALUASI 5
INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF 7
INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR 9
DAFTAR TILIK 11
MATERI PRESENTASI 12
MATERI BAKU 17
MODUL I.1.1
OTOLOGI – GANGGUAN TELINGA LUAR : BENDA ASING LIANG TELINGA
WAKTU PEMBELAJARAN
Proses Pengembangan Kompetensi | Alokasi Waktu |
Sesi dalam kelas | 4 x 120 menit (classroom session) |
Sesi praktikum | 5 x 120 menit (coaching session) |
Sesi praktik dan pencapaian kompetensi | 6 jam (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi presentasi: Power point
Kasus: Benda Asing Liang Telinga.
Sarana dan alat bantu latih: (disesuaikan dengan pencapaian kompetensi)
Penuntun belajar (learning guide): terlampir.
Tempat belajar (training setting): instalasi rawat jalan, instalasi rawat inap, kamar operasi, ruang praktikum.
Model/manekin (liang) telinga atau cadaver.
Komputer/laptop.
In focus.
REFERENSI
Jung TT, Jinn TH. Diseases of The External Ear. In : Snow JB, Ballenger JJ. Ballenger’s Manual of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. 18th Edition. London: BC Dekker Inc. 2018; 21-33.
Linstrom CJ, Lucente FE. Diseases of the External Ear. In : Bailey BJ, Johnson JT, Newlands SD, Editors. Head and Neck Surgery Otolaryngology. 5th ed. Vol
2. Philadelphia, USA. Lippincott Williams & Wilkins. 2013; p 2333-2357.
Lee.K.J. Infections of the ear. Essential Otolaryngology Head and Neck Surgery 12th Edition. Elseiver Science Publishers, 2015, p. 345
Khan, T. A., Mahboob, H. M., Tahir, I., Nasir, M., Ali, A., Abbas, I & Khan, A.
A. Foreign Bodies Presentation at Otorhinolaryngology Emergencies in A Tertiary Care Hospital. Annals of King Edward Medical University, 24(S).2018: 893-896.
Rafique M, Shaikh AA, Siddiqui AH. Foreign Bodies in Ear - Its Type, Diagnosis and Management. J Liaquat Uni Med Health Sci. 2015;14(02):86-9.
Falcon-Chevere JL, Giraldez L, Rivera-Rivera JO, Suero-Salvador T. Critical ENT skills and procedures in the emergency department. Emerg. Med. Clin. North Am. 2013 Feb;31(1):29-58. [PubMed]
Friedman EM. VIDEOS IN CLINICAL MEDICINE. Removal of Foreign Bodies from the Ear and Nose. N. Engl. J. Med. 2016 Feb 18;374(7):e7. [PubMed]
KOMPETENSI
Pengetahuan
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik mampu:
Menegakkan diagnosis benda asing liang telinga berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
Memutuskan dan menangani secara mandiri kasus benda asing liang telinga.
Keterampilan
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam:
Menjelaskan anatomi dan fisiologi liang telinga.
Menjelaskan macam-macam benda asing liang telinga.
Menjelaskan gambaran klinis dan terapi benda asing liang telinga.
Menegakkan diagnosis benda asing liang telinga.
Melakukan penanganan benda asing liang telinga dan komplikasinya.
Melakukan tindakan bedah pada kasus sulit benda asing (terletak lebih dalam).
Melakukan work-up penderita benda asing liang telinga.
CONTOH KASUS DAN DISKUSI
Kasus
Seorang laki-laki usia 22 tahun datang ke instalasi gawat darurat dengan keluhan telinga kemasukan binatang sejak 4 jam yang lalu ketika sedang berbaring di lantai. Keluhan disertai nyeri karena binatang masih bergerak dan akhirnya berhenti bergerak 1 jam yang lalu setelah ditetesi minyak kelapa. Pada pemeriksaan tampak serangga menutupi liang telinga.
Pertanyaan:
Tindakan apa yang perlu dilakukan dalam penatalaksanaan kasus tersebut?
Jawaban:
Langkah awal adalah pemeriksa menentukan jenis benda asing di dalam laing telinga. Bila benda asingnya adalah serangga, harus dipastikan sudah mati. Selanjutnya pemeriksa melakukan ekstraksi terhadap benda asing dan melakukan evaluasi struktur anatomi liang telinga dan membran timpani. Bila dijumpai komplikasi akibat benda asing maupun tindakan, memberikan terapi yang sesuai.
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan Pembelajaran Umum
Setelah mengikuti sesi ini peserta:
Mampu menegakkan diagnosis benda asing liang telinga berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
Mampu memutuskan dan menangani secara mandiri kasus benda asing liang telinga.
Tujuan Pembelajaran Khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam:
Menjelaskan anatomi dan fisiologi liang telinga.
Menjelaskan macam-macam benda asing liang telinga.
Menjelaskan gambaran klinis dan terapi benda asing liang telinga.
Menegakkan diagnosis benda asing liang telinga.
Melakukan penanganan benda asing liang telinga dan komplikasinya.
Melakukan tindakan bedah pada kasus sulit benda asing (terletak lebih dalam).
Melakukan work-up penderita benda asing liang telinga.
METODE PEMBELAJARAN
Tujuan 1. Menjelaskan anatomi dan fisiologi liang telinga.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Diskusi kelompok.
Harus diketahui :
Anatomi liang telinga
Fisiologi liang telinga
Tujuan 2. Menjelaskan macam-macam benda asing.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Diskusi kelompok.
Harus diketahui :
Jenis/pembagian jenis benda asing liang telinga.
Contoh masing-masing jenis benda asing liang telinga. Tujuan 3. Menjelaskan gambaran klinis dan terapi benda asing. Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Mini lecture.
Diskusi kelompok.
Skills lab.
Harus diketahui:
Tanda dan gejala klinis benda asing liang telinga.
Teknik/metode ekstraksi benda asing liang telinga dan pengobatan/terapi medikamentosa.
Tujuan 4. Mampu menegakkan diagnosis benda asing liang telinga.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Diskusi kelompok.
Bedside teaching.
Praktik pada pasien. Harus diketahui :
Tanda dan gejala klinis benda asing liang telinga yang baru maupun lama.
Tujuan 5. Mampu melakukan penanganan benda asing liang telinga dan komplikasinya.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Minilecture
Diskusi kelompok.
Bedside teaching.
Skills lab.
Praktik pada pasien. Harus diketahui :
Teknik/metode ekstraksi benda asing liang telinga.
Komplikasi benda asing liang telinga.
Tujuan 6. Melakukan tindakan bedah pada kasus sulit benda asing (terletak lebih dalam).
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Diskusi kelompok.
Minilecture.
Bedside teaching.
Skills lab.
Bimbingan operasi dan asistensi.
Praktik pada pasien. Harus diketahui :
Teknik/metode ekstraksi benda asing liang telinga yang terletak lebih dalam (tersangkut pada isthmus).
Tujuan 7. Melakukan work-up penderita benda asing liang telinga.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Diskusi kelompok.
Harus diketahui :
Hal-hal yang harus diawasi dan dijelaskan kepada pasien selama pascaekstraksi benda asing.
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pretes dalam bentuk tes tertulis dan lisan sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretes terdiri atas:
Anatomi dan fisiologi telinga.
Penegakan diagnosis.
Teknik operasi.
Follow up.
Selanjutnya dilakukan “small group discussion” bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, bedside teaching dan proses penilaian.
Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk diskusi dan praktikum. Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assisted Evaluation) setelah dianggap memadai, melalui metode bedside teaching di bawah pengawasan fasilitator, peserta dididik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation) dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut:
Perlu perbaikan: pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan.
Cukup: pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien.
Baik: pelaksanaan benar dan baik (efisien).
Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
Self assesment dan Peer Assisted Evaluation dengan menggunakan penuntun belajar.
Pendidik/fasilitas:
Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist penilaian (terlampir).
Penjelasan lisan dari peserta didik atau diskusi.
Kriteria penilaian keseluruhan: cakap/tidak cakap/lalai.
Pada akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education).
Pencapaian pembelajaran:
Ujian OSCA (K,P,A), dilakukan pada tahapan bedah dasar oleh kolegium I THT.
Ujian akhir stase, setiap divisi/unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan bedah lanjut oleh kolegium ilmu THT.
Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan bedah lanjut oleh kolegium ilmu THT.
INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF
Kuesioner
Sebelum pembelajaran
Soal:
Bagian paling sempit liang telinga adalah.....................
Lapisan atau struktur anatomi di bawah kulit liang telinga duapertiga dalam adalah.............
Sebutkan nervus kranialis yang menginnervasi KAE … Langkah pertama menghadapi kasus benda asing laing telinga organik dan masih hidup adalah...............
Jawaban:
Bony-kartilaginue junction (Isthmus).
Periosteum.
nervus kranial V3 (cabang mandibular) dan N.X. Nervus VII dan IX
Tengah pembelajaran
Soal:
Sebutkan 2 bagian paling sempit liang telinga disebut........
Lapisan atau struktur anatomi di bawah kulit liang telinga duapertiga dalam adalah.........
Langkah pertama menghadapi kasus benda asing laing telinga organik dan masih hidup adalah.........
Sebutkan nervus kranialis yang memberi innervasi yang palin besar pada KAE
… Jawaban:
Bony-cartilaginous junction (Isthmus) dan daerah tepat di lateral membrane timpani
Periosteum.
Benda asing tersebut harus dimatikan terlebih dahulu.
Nervus V3 (cabang mandibular)
Akhir pembelajaran
Soal:
Sebutkan kontraindikasi pengeluaran benda asing liang telinga?
Sebutkan dua daerah penyempitan alamiah pada kanalis akustikus eksternus........
Lapisan atau struktur anatomi di bawah kulit liang telinga duapertiga dalam adalah........
Langkah pertama menghadapi kasus benda asing laing telinga organik dan masih hidup adalah........
Jawaban:
Pasien tidak kooperatif dan tidak dapat dilakukan pemberian sedative yang aman
Bony-cartilagineus junction dan tepat di lateral membrane timpani
Periosteum.
Benda asing tersebut harus dimatikan terlebih dahulu.
Essay/Ujian lisan
Seorang laki-laki usia 22 tahun datang ke instalasi gawat darurat dengan keluhan telinga kemasukan binatang sejak 4 jam yang lalu ketika sedang berbaring di lantai. Keluhan disertai nyeri karena binatang masih bergerak dan akhirnya berhenti bergerak 1 jam yang lalu setelah ditetesi minyak kelapa. Pada pemeriksaan tampak serangga menutupi liang telinga.
Pertanyaan:
Tindakan apa yang perlu dilakukan dalam penatalaksanaan kasus tersebut? Jawaban :
Langkah awal adalah pemeriksa menentukan jenis dan letak benda asing di dalam liang telinga. Bila benda asingnya adalah serangga, harus dipastikan sudah mati. Selanjutnya pemeriksa melakukan persiapan instrument yang sesuai dan tepat untuk jenis benda asing
tersebut. Ekstraksi terhadap benda asing dan melakukan evaluasi struktur anatomi liang telinga dan membran timpani. Bila dijumpai komplikasi akibat benda asing maupun tindakan, memberikan terapi yang sesuai.
J. INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR
PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR EKSTRAKSI BENDA ASING
Kinerja setiap langkah yang dievaluasi diberi nilai sesuai skala berikut: | |
1 | Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan). |
2 | Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal. |
3 | Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien |
T/D | Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan). |
NAMA PESERTA: ......................................TANGGAL: ...................................
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||||
| |||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR EKSTRAKSI BENDA ASING | |||||
Posisi pasien penting. Pada pasien yang kooperatif tindakan dapat dilakukan pada posisi duduk atau berbaring dengan telinga yang terkena searah dengan pemeriksa. Pada anak-anak, ada beberapa pilihan pengaturan posisi. Pasien bisa duduk di pangkuan orang tuanya sambil satu tangan memeluk badan anak untuk fiksasinya dan tangan yang lain memegang kepala anak atau kedua tangan memeluk badan anak dan perawat memegang kepala anak. Pasien dapat juga dibaringkan posisi supin atau prone dengan kepala miring. Prinsip operasi : Kategori benda asing dibagi: - Benda asing reaktif (baterai, concrete, iron slag): berbahaya karena dapat berinteraksi dengan epitel telinga luar dan menyebabkan edema serta obstruksi sehingga dapat | |||||
terjadi infeksi sekunder dan sekret yang berbau. Benda asing ini harus diekstraksi segera.
Persiapan instrument Instrumen yang akan digunakan harus tepat sesuia jenis benda asing dan ukuran sesuai untuk tindakan di KAE. | |||||
III. PROSEDUR TINDAKAN | |||||
Cara melihat liang telinga lebih jelas dan lebih lurus, pegang pinna dengan satu tangan dan tarik ke posterior dan superior pada orang dewasa dan ditarik ke posterior pada infant. Evaluasi liang telinga adakah cedera pada membrane timpani, jenis benda asing, dan lokasinya pada liang telinga, serta kooperatifnya pasien. Pada kasus-kasus benda asing yang tertanam dalam liang telinga:
memegang serangga menggunakan forceps alligator atau pinset bayonet | |||||
Apabila membrana timpani intak, ekstraksi benda asing pada liang telinga juga dapat dikeluarkan dengan teknik irigasi. Teknik irigasi pada telinga:
benda asing sehingga benda asing melekat pada lem dan tarik bersama-sama keluar dari liang telinga. |
K. DAFTAR TILIK
PROSEDUR EKSTRAKSI BENDA ASING
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini: | |
✓ | Memuaskan: langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar. |
X | Tidak memuaskan: langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar. |
T/D | Tidak ditampilkan: langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih. |
NAMA PESERTA: ......................................TANGGAL: ...................................
KEGIATAN | NILAI | |||
1 | Kaji ulang diagnosis | |||
2 | Persiapan tindakan | |||
3 | Melakukan ekstraksi benda asing dengan instrumen yang sesuai | |||
4 | Memberikan terapi setelah tindakan | |||
L. MATERI PRESENTASI
M. MATERI BAKU
Pendahuluan
Benda asing liang telinga biasanya merupakan kasus perawatan tiba-tiba, khususnya pada penderita anak-anak. Banyak dokter sering menghadapi kondisi ini. Tujuan modul pembelajaran ini adalah memberi pengertian tentang kondisi ini dan metode dalam penatalaksanaan pada benda asing liang telinga.
Definisi:
Terdapatnya benda pada liang telinga yang pada keadaan normal tidak dijumpai.
Anatomi dan fisiologi
Kanalis akustikus eksternus (KAE) terletak sepanjang sisi luar membrane timpani, dibentuk oleh cleft branchial pertama. Bagian dua-pertiga medial adalah tulang yang dilapisi oleh epitel kulit stratified squamous, sementara rangka kartilago membentuk sepertiga luar yang dilapisi oleh kulit yang mengandung rambut-rambut, kelenjar keringat modifikasi yang mensekresi serumen (earwax). Innervasi KAE berasal dari nervus kranial V3 (cabang mandibular) dan N.X. Nervus VII dan IX memberi kontribusi yang lebih sedikit. Innervasi terbesar dari KAE berasal dari N.V3. KAE pada anak-anak hampir lurus. Akan menjadi ukuran dewasa dengan panjang sekitar 2,5 cm pada usia 9 tahun. Pada orang dewasa bentuknya menjadi lebih sigmoid dimana bagian kartilagio menyudut ke posterior dan superior dan bagian tulang kearah anterior inferior. Oleh karena itu untuk meluruskan KAE dan mendapatkan visualisasi yang baik pada membrane timpani, helix ditarik kearah posterior dan superior. Pada penatalaksanaan benda asing KAE, terdapat dua penyempitan alamiah yaitu penyempitan pertama pada bony-cartilaginous junction dan yang kedua adalah tepat di lateral membrane timpani. Gambaran anatomi penting lainnya adalah membrane timpani berpotensi blind spot pada sulkus timpani yang menggambarkan arah membrane timpani slope oblique menjauh dari KAE yang sesungguhnya adalah kearah inferior.
Indikasi
Indikasi untuk prosedur ini adalah terdapatnya benda asing pada liang telinga luar, diperlukan instrument yang tepat dalam mengeluarkan benda asing KAE dan pasien kooperatif ( bila perlu diberi sedative atau fiksasi bisa dilakukan dengan menggunakan kain /doek )
Kontraindikasi
Kontraindikasi pengeluaran benda asing dari KAE terkait dengan kooperatifnya pasien, lokasi benda asing pada kanal, terbatasnya instrument yang sesuai dan jenis benda asing, hal ini dapat mengakibatkan pengeluaran benda asing menjadi tidak tepat. Pada pasien yang tidak kooperatif dan tidak dapat dilakukan pemberian sedasi yang aman pada pasien tersebut merupakan kontraindikasi dalam melakukan tindakan pengeluaran benda asing.
Pada benda asing yang terperangkap tepat di depan membrane timpani atau yang tidak mudah digenggam oleh instrument seperti benda asing bulat, mungkin membutuhkan instrument yang lebih khusus.
Terdapat tindakan tertentu yang merupakan kontraindikasi untuk kondisi tertentu seperti irigasi untuk kasus benda asing yang disertai dugaan perforasi membrane timpani, pengeluaran benda asing organic atau battery, termasuk juga pada material yang dapat mengembang pada kondisi terkena air.
Faktor Predisposisi:
Faktor predisposisi utama terjadinya benda asing pada telinga adalah usia anak -anak dan pada orang dewasa dengan riwayat retardasi mental, penderita demensia atau kecelakaan/trauma
Pembagian benda asing:
Benda asing telinga terdiri dari benda asing hidup dan benda asing mati Benda asing mati dapat dibagi lagi menjadi benda asing mati organik dan benda asing non organik. Benda asing hidup dapat berupa cacing, kecoa, lalat, nyamuk dan sebagainya. Benda asing mati organik dapat berupa kacang, daun, dan sebagainya sedangkan benda asing mati non organik dapat berupa logam, batu, kapas dan sebagainya.
Penelitian yang dilakukan oleh Rafique dkk melaporkan bahwa benda asing telinga yang paling sering ditemukan adalah manik-manik (30,4%), ujung kapas dan korek api (22,3%), biji-bijian (13,8%), kertas (12,1%), serangga (10,7%), baterai kecil (5,8%), dan batu serta kacang (3,1%). Hal yang berbeda didapatkan dalam penelitian di negara- negara Barat dimana benda asing telinga yang paling sering ditemukan adalah biji-bijian atau kacang-kacangan (47,1%).
Gambar 1. Skema jenis benda asing telinga
Gambar 2. Benda asing pada liang telinga anorganik dan organik
Kekerapan
Beberapa penelitian multisenter melaporkan bahwa benda asing telinga paling sering di temukan pada jenis kelamin laki-laki (52%) dibandingkan perempuan (48%). Penelitian yang dilakukan oleh Rafique dkk melaporkan benda asing pada telinga paling sering ditemukan pada anak usia dibawah 7 tahun (50,4%). Hal yang sama juga dilaporkan oleh Chai dkk dimana benda asing telinga paling sering ditemukan pada anak dibawah usia 5 tahun (48,3%).
Gejala Klinis
Mayoritas pasien dengan benda asing di telinga sering kali tidak memiliki keluhan ataupun gejala klinis lainnya walaupun masih terdapat benda asing didalam liang telinga. Gejala klinis yang dapat timbul pada benda asing liang telinga diantaranya nyeri di liang telinga dan rasa berat pada telinga.
Pemeriksaan fisik dan penunjang
Pemeriksaan benda asing pada telinga biasanya hanya memerlukan lampu kepala dan otoskopi untuk melihat benda asing di telinga. Pada beberapa kasus yang sulit dinilai dengan lampu kepala ataupun otoskop, pemeriksaan dapat menggunakan mikrokop untuk melihat keadaan liang telinga dengan lebih jelas. Pada kasus anak-anak ataupun orang dewasa dengan retardasi mental yang sulit untuk diperiksa, pemeriksaan telinga dapat menggunakan bantuan anestesi.
Pemeriksaan penunjang jarang dilakukan pada benda asing telinga kecuali pada kasus benda asing telinga yang sulit untuk diektraksi ataupun benda asing telinga logam yang di rencanakan ekstraksi dalam anestesi umum, dapat dilakukan pemeriksaan tomografi komputer untuk memberikan gambaran lebih baik keadaan benda asing dan liang telinga.
Ruang Lingkup
Benda asing liang telinga menyebabkan obstruksi, ketulian dan kadang-kadang kerusakan kulit liang telinga atau membran timpani.
Benda asing organik sangat mudah mengembang dan menyebabkan obstruksi, ketulian, inflamasi dan nyeri.
Benda asing anorganik akan menunjukkan gejala dalam waktu yang lama.
Instrumen
Berbagai opsi pilihan instrument dalam tindakan pengangkatan benda asing liang telinga. Tiap instrument tergantung pada jenis benda asing, bentuk, lokasi dan kerjasama (kooperatif) pasien. Umumnya alat yang diperlukan adalah: forcep alligator, cup forcep, right angle hook, balloon catheter (Fogarty catheter), rosen needle. Penggunaan instrument yang halus, tajam perlu difasilitasi oleh mikroskop.
Irigasi sebagai salah satu opsi menggunakan syringe 20 ml- 30 ml dengan memasang needle, abbocat, angiocatheter atau modifying a butterfly catheter yang diujungnya telah dipotong. Tindakan ini perlu memperhatiakan beberapa kondisi terutama kodisi membrane timpani yang harus dipastikan tanpa perforasi. Suction (Frazier suction) merupakan instrument yang harus tersedia saat tindakan ekstraksi benda asing liang telinga.
Tatalaksana
Ekstraksi benda asing pada liang tergantung pada evaluasi awal yaitu adakah cedera pada membrane timpani, jenis benda asing, dan lokasinya pada liang telinga, serta kooperatifnya pasien. Sebelum memulai tindakan pemeriksa harus bisa memperkirakan berapa kali tindakan ini mampu dilakukan ( sekali tindakan atau dua kali) dan bila diperlukan tindakan berulang, teknik lain apa yang digunakan untuk tindakan berikutnya. Apabila tindakan berulang tidak berhasil dan disertai penyulit maka perlu dipertimbangkan untuk mengkonsul ke supervisor utnuk mendapat petunjuk. Setelah prosedur pengeluaran benda asing telah dilakukan, telinga kontra lateral perlu di periksa juga terutama pada anak-anak.
Benda asing serangga harus dimatikan terlebih dahulu dengan menyemprotkan eter, alkohol, minyak, air garam ke dalam liang telinga dan kemudian diekstraksi dengan menggunakan forcep.
Benda asing organik yang kecil dapat diekstraksi dengan pengait benda asing atau forcep.
Benda asing organik higroskopis mudah mengembang bila terkena cairan, oleh karenanya benda asing higrosopis dihindari agar tidak terkena cairan.
Benda asing anorganik yang terlihat dapat diekstraksi dengan pengait kecil dan bila tidak terlihat cukup disemprot dengan cairan.
Bila kasusnya sulit misalnya benda asing terdapat di ismus atau resesus anterior, perlu dilakukan insisi endaural atau insisi post aurikuler.
Metode lainnya adalah penggunaan cyanoacrylate (superglue) atau lem tissue yang diaplikasi pada ujung instrument aplikator kapas yang akan ditempelkan ke benda asing sehingga benda asing melekat pada saat lem telah kering dan tarik bersama-sama keluar dari liang telinga.
Komplikasi
Komplikasi dari benda asing telinga dapat terjadi akibat benda asing itu sendiri atau tindakan saat ekstraksi benda asing. Komplikasi yang dapat terjadi diantaranya pembengkakan, ekskoriasi, laserasi dan erosi pada liang telinga, otitis eksterna, perforasi membran timpani, kerusakan rantai osikula dan refleks vagal. Angka kejadian komplikasi dapat berbeda di tiap tempat, hal ini dikarenakan komplikasi benda asing tergantung dari benda asing itu sendiri dan keahlian dokter dalam melakukan ekstraksi benda asing.
DAFTAR PUSTAKA
Jung TT, Jinn TH. Diseases of The External Ear. In : Snow JB, Ballenger JJ. Ballenger’s Manual of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. 18th Edition. London: BC Dekker Inc. 2018; 21-33.
Linstrom CJ, Lucente FE. Diseases of the External Ear. In : Bailey BJ, Johnson JT, Newlands SD, Editors. Head and Neck Surgery Otolaryngology. 5th ed. Vol
2. Philadelphia, USA. Lippincott Williams & Wilkins. 2013; p 2333-2357.
Lee.K.J. Infections of the ear. Essential Otolaryngology Head and Neck Surgery 12th Edition. Elseiver Science Publishers, 2015, p. 345
Khan, T. A., Mahboob, H. M., Tahir, I., Nasir, M., Ali, A., Abbas, I & Khan, A.
A. Foreign Bodies Presentation at Otorhinolaryngology Emergencies in A Tertiary Care Hospital. Annals of King Edward Medical University, 24(S).2018: 893-896.
Rafique M, Shaikh AA, Siddiqui AH. Foreign Bodies in Ear - Its Type, Diagnosis and Management. J Liaquat Uni Med Health Sci. 2015;14(02):86-9.
Falcon-Chevere JL, Giraldez L, Rivera-Rivera JO, Suero-Salvador T. Critical ENT skills and procedures in the emergency department. Emerg. Med. Clin. North Am. 2013 Feb;31(1):29-58. [PubMed]
Friedman EM. VIDEOS IN CLINICAL MEDICINE. Removal of Foreign Bodies from the Ear and Nose. N. Engl. J. Med. 2016 Feb 18;374(7):e7. [PubMed]
DAFTAR ISI
WAKTU PEMBELAJARAN 1
PERSIAPAN SESI 1
REFERENSI 1
KOMPETENSI 2
CONTOH KASUS & DISKUSI 2
TUJUAN PEMBELAJARAN 3
METODE PEMBELAJARAN 3
EVALUASI 5
INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF 6
INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR 8
DAFTAR TILIK 9
MATERI PRESENTASI 10
MATERI BAKU 12
MODUL I.1.2
OTOLOGI – GANGGUAN TELINGA LUAR : IMPAKSI SERUMEN
WAKTU PEMBELAJARAN
Proses pengembangan kompetensi | Alokasi waktu |
Sesi dalam kelas | 2 x 60 menit (classroom session) |
Sesi praktikum | 3 x 60 menit (coaching session) |
Sesi praktik dan pencapaian kompetensi | 20 x 60 menit (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi presentasi: Power point
Kasus: Impaksi Serumen
Sarana dan alat bantu latih: (disesuaikan dengan pencapaian kompetensi)
Penuntun belajar (learning guide): terlampir.
Tempat belajar (training setting): ruang kuliah, ruang praktikum, instalasi rawat jalan.
Model/manekin (liang) telinga.
Komputer/laptop.
In focus.
REFERENSI
Linstrom CJ, Lucente FE. Disease of the external ear. In: Johnson JT, Rosen CA, eds. Bailey’s Head and Neck Surgery-Otolaryngology. 5th ed. China: Lippincott Williams & Wilkins; 2014. p. 2333-57
Probst R. External Ear. In: Probst R, Grevers G, Iro H, eds. Basic Otorhinolayngology: A Step-By-Step Learning Guide. New York: George Thieme Verlag; 2006. p. 207-27
Smith W, Burton M. Drug therapy in otology. In: Gleeson M, editor. Scott- Browns’s Otorhinolaryngology, Head and Neck Surgery. 7th ed. Great Britain: Edward Arnold Ltd; 2008. p. 429-35
Kenneth S, editor. Anatomy & Physiology: The Unity of Form and Function, 5th Edition. New York: McGraw-Hill, 2010.
Koçer M, Güldür T, Akarçay M, Miman MC, Beker G. Investigation of age, sex and menstrual stage variation in human cerumen lipid composition by high performance thin layer chromatography. J Laryngol Otol. 2008;122:881–6. 10.1017/S0022215107000783
Shokry E, de Oliveira AE, Avelino MA, de Deus MM, Filho NR. Earwax: a neglected body secretion or a step ahead in clinical diagnosis. J Proteomics. 2017;159:92–101. 10.1016/j.jprot.2017.03.005
KOMPETENSI
Pengetahuan
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik mampu:
Menegakkan diagnosis kasus impaksi serumen berdasarkan anamnesis, dan pemeriksaan fisik.
Menatalaksana secara mandiri kasus impaksi serumen.
Keterampilan
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam:
Melakukan penanganan impaksi serumen dan komplikasinya.
Melakukan follow-up pasien impaksi serumen.
CONTOH KASUS & DISKUSI
Seorang laki-laki usia 30 tahun datang ke Poliklinik THT-KL dengan keluhan telinga kanan terasa penuh sejak 4 hari yang lalu setelah mengorek-ngorek telinga menggunakan cotton bud. Keluhan dapat disertai penurunan pendengaran dan tidak disertai nyeri. Pada pemeriksaan tampak material kecoklatan menutupi liang telinga. Konsistensi padat.
Soal:
Apa diagnosis kerja yang paling mungkin untuk pasien ini.
Bagaimana penatalaksanaan pasien ini
Jawaban :
Impaksi serumen.
Pembersihan liang telinga dengan teknik irigasi liang telinga, suction atau penggunaan pengait serumen. Jika serumen telalu keras dan akan menimbulkan rasa sakit jika dibersihkan maka dapat digunakan obat tetes untuk melunakkan serumen, terutama pada anak-anak. Obat tetes yang dapat digunakan seperti cairan ceruminolytic (Karbogliserin), atau hidrogen peroksida selama beberapa hari kemudian serumen dapat dibersihkan dengan irigasi atau dihisap/suction.
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan Pembelajaran Umum
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik terampil dalam :
Mampu menegakkan diagnosis klinis impaksi serumen berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Mampu mentatalaksana secara mandiri kasus impaksi serumen.
Tujuan Pembelajaran Khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam :
Menjelaskan anatomi, histologi, dan fisiologi liang telinga.
Menjelaskan patofisiologi impaksi serumen.
Menjelaskan gambaran klinis impaksi serumen.
Menegakkan diagnosis impaksi serumen.
Melakukan penanganan impaksi serumen dan komplikasinya.
Melakukan follow-up pasien impaksi serumen.
METODE PEMBELAJARAN
Tujuan 1. Menjelaskan anatomi, histologi, topografi dan fisiologi liang telinga.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Diskusi kelompok.
Harus diketahui:
Anatomi, histologi, dan topografi liang telinga.
Fisiologi liang telinga.
Tujuan 2. Menjelaskan patofisiologi impaksi serumen.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Tinjauan pustaka.
Diskusi kelompok.
Harus diketahui:
Patofisiologi impaksi serumen.
Tujuan 3. Menjelaskan gambaran klinis impaksi serumen.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Tinjauan pustaka.
Kuliah.
Diskusi kelompok.
Harus diketahui:
Gambaran klinis (gejala dan tanda) impaksi serumen.
Tujuan 4. Menegakkan diagnosis impaksi serumen.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Kuliah.
Diskusi kelompok.
Bedside teaching.
Praktik pada pasien.
Harus diketahui:
Tanda dan gejala klinis impaksi serumen.
Tujuan 5. Melakukan penanganan impaksi serumen dan komplikasinya.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Kuliah.
Diskusi kelompok.
Praktikum.
Bedside teaching.
Praktik pada pasien.
Bakti sosial.
Harus diketahui:
Tata laksana impaksi serumen.
Komplikasi impaksi serumen.
Komplikasi dari tata laksana impaksi serumen.
Tujuan 6. Melakukan follow up pasien impaksi serumen.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Kuliah.
Diskusi kelompok.
Bedside teaching.
Praktikum.
Praktik pada pasien.
Harus diketahui:
Hal-hal yang harus diperhatikan pada pasien dengan impaksi serumen.
Edukasi yang perlu diberikan pada pasien.
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pretest dalam bentuk tertulis dan lisan sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai pengetahuan awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri atas :
Anatomi, histologi dan fisiologi telinga luar.
Penegakan diagnosis impaksi serumen.
Penatalaksanaan impaksi serumen.
Follow up impaksi serumen.
Selanjutnya dilakukan diskusi bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar.
Peserta didik diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar melalui metode bedside teaching pada pasien sesungguhnya dibawah pengawasan fasilitator dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut :
Perlu perbaikan: pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan.
Cukup: pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien.
Baik: pelaksanaan benar dan baik (efisien).
Melakukan case based discussion (formulir penilaian terlampir).
peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education).
Penilaian pencapaian pembelajaran :
Ujian nasional dilakukan pada akhir tahapan pendidikan spesialis oleh kolegium ilmu kesehatan THT-KL.
Ujian akhir stase, setiap divisi/ unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan.
I. INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF
Kuesioner:
A. Sebelum pembelajaran Soal:
Jelaskan patofisiologi terjadinya impaksi serumen.
Jelaskan gejala dan tanda klinis impaksi serumen.
Jelaskan teknik ekstraksi serumen. Jawaban:
Impaksi Serumen disebabkan oleh gangguan mekanisme pembersihan sendiri liang telinga secara normal atau akibat sekresi serumen yang berlebihan. Impaksi Serumen terdiri dari sekresi dari kelenjar seruminosa yang bercampur dengan sebum, debris yang lepas dan kontaminan. Kebiasaan membersihkan telinga dengan swab kapas (cotton bud) menyebabkan serumen terdorong lebih jauh ke dalam dan penggunakan jepit rambut atau pena dapat menyebabkan infeksi liang telinga/otitis ekserna. Sumbatan liang telinga oleh serumen dapat disebabkan oleh impaksi dari serumen atau serumen yang mengembang karena kontak dengan air. Seiring dengan bertambahnya usia, keringnya kulit liang telinga dan perubahan sekresi di liang telinga
menghasilkan pembentukan serumen yang keras dan cenderung untuk menetap di dalam liang telinga, terutama pada liang telinga yang sempit. Hal ini merupakan masalah yang sering ditemukan karena menyebabkan gangguan pendengaran dan ketidaknyamanan serta menjadi sumber infeksi.
Impaksi Serumen dapat menimbulkan sensasi rasa penuh pada telinga disertai dengan penurunan pendengaran. Beberapa pasien mengeluhkan vertigo dan tinitus. Pada otoskopi terlihat serumen berwarna kuning kecoklatan hingga hitam yang menyumbat liang telinga.
Beberapa teknik dapat digunakan dalam membersihkan serumen:
Irigasi liang telinga
Tidak boleh dilakukan jika ada perforasi membran timpani. Irigasi telinga paling baik dilakukan pada serumen yang lunak dan berminyak. Irigasi dilakukan dengan syringe, dan air yang digunakan harus sesuai dengan suhu tubuh. Cairan irigasi diarahkan sepanjang bagian superior-posterior dinding liang telinga.
Suction
Pasien sebaiknya diingatkan kemungkinan terjadinya vertigo yang disebabkan oleh tes kalori, juga antisipasi terhadap rasa mual. Jelaskan bahwa kadang-kadang prosedur ini menyakitkan.
Penggunaan pengait serumen
Apabila pasien tersebut anak-anak: selama prosedur anak dalam pangkuan orang dewasa. Hindari pemaksaan dalam membersihkan liang telinga atau keadaan dimana pemeriksa tidak mampu melihat keadaan di liang telinga. Prosedur yang pelan-pelan dan hati-hati lebih baik daripada prosedur cepat. Bila pasien mampu menoleransi pembersihan, lakukan hingga bersih.
B. Akhir pembelajaran
Sama dengan kuesioner sebelum pembelajaran, sehingga dapat dilakukan perbandingan nilai sebelum dan sesudah pembelajaran
J. INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR
PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR EKSTRAKSI IMPAKSI SERUMEN
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.:
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
NAMA PESERTA: ...................................... TANGGAL: .........................
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR TINDAKAN | |||||
| |||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR EKSTRAKSI SERUMEN PROP | |||||
Persiapan alat :
| |||||
III. PROSEDUR TINDAKAN | |||||
| |||||
KEGIATAN | KASUS | ||||
Berbagai teknik ekstraksi impaksi serumen:
Hindari ekstraksi serumen apabila pemeriksa tidak mampu melihat keadaan di liang telinga. Prosedur yang pelan- pelan dan hati-hati lebih baik daripada prosedur cepat. Bila pasien mampu menoleransi pembersihan, lakukan hingga bersih. Jika serumen telalu keras dan akan menimbulkan rasa sakit jika dibersihkan maka dapat digunakan obat tetes untuk melunakkan serumen, terutama pada anak-anak. Obat tetes yang dapat digunakan seperti cairan ceruminolytic (Karbogliserin) atau hidrogen peroksida selama beberapa hari kemudian serumen dapat dibersihkan dengan irigasi atau dihisap/suction | |||||
K. DAFTAR TILIK
PROSEDUR EKSTRAKSI IMPAKSI SERUMEN
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini:
: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
X: Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
T/T: Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
PESERTA: TANGGAL :
KEGIATAN | NILAI | ||
1. Kaji ulang diagnosis | |||
2. Persiapan tindakan | |||
3. Melakukan ekstraksi impaksi serumen dengan instrumen yang sesuai | |||
4. Memberikan terapi setelah tindakan | |||
L. MATERI PRESENTASI
Slide 1. Definisi
Slide 2. Patofisiologi
Slide 3. Gejala dan Tanda
Slide 4. Penatalaksanaan
M. MATERI BAKU
Definisi
Serumen atau wax merupakan campuran sekresi kelenjar sebasea (lemak) dan kelenjar apokrin (ceruminous) dengan debris epitel. Kombinasi komposisi ini membentuk lapisan asam (pH normal serumen 6,8) yang membantu mencegah infeksi liang telinga. Bentuk dan konsistensi serumen berbeda secara genetik dan rasial. Hal ini diduga berhubungan dengan kandungan imunoglobulin dan lisozim. Liang telinga memiliki kemampuan untuk self-cleansing dengan cara migrasi epitel dari membran timpani keluar melalui liang telinga.
Patofisiologi
Serumen di liang telinga pada beberapa individu jumlahnya sedikit, namun sebagian lain membentuk massa padat yang bersifat obstruktif. Impaksi Serumen disebabkan oleh gangguan mekanisme pembersihan sendiri liang telinga secara normal atau akibat sekresi serumen yang berlebihan. Impaksi Serumen terdiri dari sekresi dari kelenjar seruminosa yang bercampur dengan sebum, debris yang lepas dan kontaminan. Kebiasaan membersihkan telinga dengan swab kapas (cotton bud) menyebabkan serumen terdorong lebih jauh ke dalam dan penggunakan jepit rambut
atau pena dapat menyebabkan infeksi liang telinga/otitis ekserna. Sumbatan liang telinga oleh serumen dapat disebabkan oleh impaksi dari serumen atau serumen yang mengembang karena kontak dengan air. Seiring dengan bertambahnya usia, keringnya kulit liang telinga dan perubahan sekresi di liang telinga menghasilkan pembentukan serumen yang keras dan cenderung untuk menetap di dalam liang telinga, terutama pada liang telinga yang sempit. Hal ini merupakan masalah yang sering ditemukan karena menyebabkan gangguan pendengaran dan ketidaknyamanan serta menjadi sumber infeksi.
Komposisi dan fungsi serumen
Serumen adalah substansi wax yang disekresi oleh kelenjar seruminosa “ apocrine sweat” yang berlokasi pada subkutaneus kanalis akustikus eksternus (KAE). Kelenjar seruminosa bersama dengan kelenjar sebaseus menghasilkan serumen telinga yang merupakan percampuran sekresi keringat dan material lemak dari kelenjar sebaseus. Berdasarkan komposisi kimia, terdiri dari fatty acid, alkohol, seramid, wax ester triacylglycerol, hidro karbon rantai panjang, cholesterol precursors seperti lanosterol, squalene, and cholesterol yang merupakan produk akhir pada jalur hyroxymethylglutaryl-CoA (HMG-CoA) reductase dengan konsistensi basah , lunak, dan kuning atau kecoklatan sampai kering, Produksi serumen dipengaruhi oleh berbagai factor antara lain: kondisi pekerjaan, cuaca, atau bahkan peningkatan konsentrasi kolesterol dapat memnghambat jalur HMG-CoA reductase dengan feedback negatif.
Fenotipe serumen ditentukan oleh dua allele pada gen tunggal ABCC11. Polimorfisme nukleotida tunggal (SNP), pada gen ini mengkode ATP- yang bertanggung jawab terhadap pompa protein yang berperan terhadap variasi sekresi kelenjar apokrin yang mengatur jenis serumen apakah kering atau basah.
Diantara fungsi utama serumen adalah pelembab, pembersih, lubrikasi, dan melindungi kulit liang telinga dengan peranannya sebagai antibakterial yang menjaga keasaman lingkungan liang telinga dan pelindung terhadap air, serangga dan debu. Juga dapat memberi informasi individual penting terkait suku, etnis, gender, penyakit-penyakit makanan yang dikomsumsi dan paparan polutan lingkungan sekitar.
Gejala dan Tanda Klinis
Impaksi Serumen dapat menimbulkan sensasi rasa penuh pada telinga disertai dengan penurunan pendengaran. Beberapa pasien mengeluhkan vertigo dan tinitus. Pada otoskopi terlihat serumen berwarna kuning kecoklatan hingga hitam yang menyumbat liang telinga.
Komplikasi
Dapat berlanjut menjadi otitis eksterna, meskipun sangat jarang terjadi.
Penatalaksanaan
Beberapa teknik dapat digunakan dalam membersihkan serumen:
Irigasi liang telinga
Tidak boleh dilakukan jika ada perforasi membran timpani. Irigasi telinga paling baik dilakukan pada serumen yang lunak dan berminyak. Irigasi dilakukan dengan syringe, dan air yang digunakan harus sesuai dengan suhu tubuh. Cairan irigasi diarahkan sepanjang bagian superior-posterior dinding liang telinga.
Suction
Pasien sebaiknya diingatkan kemungkinan terjadinya vertigo yang disebabkan oleh tes kalori, juga antisipasi terhadap rasa mual. Jelaskan bahwa kadang-kadang prosedur ini menyakitkan.
Penggunaan pengait serumen
Apabila pasien tersebut anak-anak: selama prosedur anak dalam pangkuan orang dewasa. Hindari pemaksaan dalam membersihkan liang telinga atau keadaan dimana pemeriksa tidak mampu melihat keadaan di liang telinga. Prosedur yang pelan-pelan dan hati-hati lebih baik daripada prosedur cepat. Bila pasien mampu menoleransi pembersihan, lakukan hingga bersih.
Jika serumen telalu keras dan akan menimbulkan rasa sakit jika dibersihkan maka dapat digunakan obat tetes untuk melunakkan serumen, terutama pada anak-anak. Obat tetes yang dapat digunakan seperti cairan ceruminolytic (karbogliserin), atau hidrogen peroksida selama beberapa hari kemudian serumen dapat dibersihkan dengan irigasi atau dihisap/suction.
Prinsip Dasar Ekstraksi Serumen
Posisikan pasien dalam posisi yang nyaman baik posisi duduk ataupun setengah berbaring. Hal yang harus diantisipasi adalah respon vagal yang harus disiapkan
penatalaksanaanya jika melakukan berbagai tindakan di liang telinga, seperti penatalaksanaan epistaksis. Pencegahan lebih baik dari pengobatan.
Gunakan mikroskop, bukan otoskop tangan. Hal yang paling baik adalah dokter dapat menggunakan teknik fiberoptic imaging untuk nasofaring dan laring tetapi menangani sumbatan serumen tanpa mikroskop.
Jelaskan hal yang akan dilakukan. Apakah akan menggunakan alat penghisap atau pengait serumen saat menggunakan mikroskop. Jika akan menggunakan alat penghisap, pasien harus diingatkan dapat mengalami vertigo seperti pada tes kalori. Antisipasi juga rasa pusing dan mual. Jelaskan pada pasien bahwa dokter akan berhenti membersihkan serumen bila menimbulkan nyeri, dilanjutkan jika sudah mereda.
Prosedur yang pelan-pelan dan hati-hati lebih ditoleransi dengan baik daripada prosedur yang cepat. Jika pasien dapat mentolerasi pembersihan dengan baik, lanjutkan sampai benar-benar bersih. Beberapa pasien membutuhkan peroksida 3% untuk mengeluarkan serumen dan ditunggu sehingga lebih lunak untuk dikeluarkan yang biasanya dilakukan dengan suction.
Hindari melakukan irigasi secara paksa, apabila liang telinga tidak dapat dievaluasi dengan jelas. Apabila dilakukan dengan keaadan tersebut dapat menyebabkan perforasi iatrogen pada membran timpani. Kebanyakan pasien dapat dilakukan pembersihan dengan baik.
Pastikan spongostan/gelfoam dan forcep alligator tersedia. Perdarahan dapat terjadi terutama pada pasien yang sedang diterapi dengan antikoagulan seperti aspirin dan warfarin. Perdarahan dapat dikendalikan dengan pemasangan tampon epinefrin/efedrin pada liang telinga. Kaustik dengan AgNO3 atau pemasangan spongostan/gelfoam dapat digunakan untuk mengontrol perdarahan yang masih belum teratasi dengan tampon epinefrin/efedrin.
Setelah serumen dibersihkan, inspeksi seluruh bagian membran timpani untuk melihat tanda-tanda penyakit lainnya, seperti perforasi atau adanya kolesteatom.
DAFTAR ISI
WAKTU 1
PERSIAPAN SESI 1
REFERENSI 1
KOMPETENSI 2
CONTOH KASUS & DISKUSI 2
TUJUAN PEMBELAJARAN 3
METODE PEMBELAJARAN 3
EVALUASI 5
INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF & PSIKOMOTOR 6
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR 8
DAFTAR TILIK 9
MATERI PRESENTASI 10
MATERI BAKU 19
MODUL I.1.3
OTOLOGI – GANGGUAN TELINGA LUAR : KERATOSIS OBTURANS
WAKTU
Proses pengembangan kompetensi | Alokasi waktu |
Sesi dalam kelas | 1 x 60 menit (classroom session) |
Sesi praktikum | 1 x 60 menit (coaching session) |
Sesi praktik dan pencapaian kompeten | 2 x 60 menit (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi presentasi:
Power point
Kasus: Keratosis Obturan
Sarana dan alat bantu latih: (disesuaikan dengan pencapaian kompetensi)
Penuntun belajar (learning guide): terlampir
Tempat belajar (training setting): ruang kuliah, ruang praktikum, instalasi rawat jalan, kamar operasi.
Model/manekin telinga.
Komputer/laptop.
In focus.
REFERENSI
Antonio SM, Strasnick B. Diseases of the Auricle, External Auditory Canal and Tympanic Membrane. In: Gulya AJ, Minor LB, Poe DS. Glasscock- Shambaugh Surgery of the Ear. 6th ed. USA: PMPH-USA Ltd; 2010. p. 379- 96.
Linstrom CJ, Lucente FE. Disease of the external ear. In: Johnson JT, Rosen CA, eds. Bailey’s Head and Neck Surgery-Otolaryngology. 5th ed. China: Lippincott Williams & Wilkins: 2014. p. 2350.
Roberson JB, Perkins R. Canalplasty for exostoses of the external auditory canal and miscellaneous auditory canal problems. In: Brackmann, Shelton, Arriaga, eds. Otologic Surgery. 3rd ed. Philadelphia: Saunders Elsevier; 2010.
p. 21-31.
Lesser THJ. Keratosis Obturans, Primary Auditory Canal Cholesteatoma and Benign Necrotizing Otitis Externa. In: Watkinson JC, Clarke RW,eds. Scott- Brown’s Otorhinolaryngology Head & Neck Surgery. Vol 2. Pediatrics The Ear Skull Base. 8th ed. Florida: CRC Press. Taylo and Francis Group; 2018. P.941-46.
Hanson MB, Lucente FE. Diseases of the External Ear. In: Wackym PA, Snow Jr JB, eds. Ballenger’s Otorhinolaryngology 18 Head and Neck Surgery.18th ed. Connecticut: People’s Medical Publishing House Shelton; 2016. P 696-7.
KOMPETENSI
Setelah mengikuti sesi ini peserta mampu membuat diagnosis keratosis obturan liang telinga berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan mampu melakukan penatalaksanaan secara mandiri.
CONTOH KASUS & DISKUSI
Seorang laki-laki usia 30 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan nyeri pada kedua telinga, terutama telinga kanan sejak 2 hari yang lalu dan telinga terasa penuh ± 1 bulan ini. Pada pemeriksaan tampak massa putih memenuhi liang telinga.
DISKUSI:
Lengkapi anamnesis pada pasien ini.
Lengkapi pemeriksaan fisik pada pasien ini.
Apa diagnosis kerja dan diagnosis banding yang mungkin untuk pasien ini.
Bagaimana penatalaksanaan pasien ini.
JAWABAN:
Perlu ditanyakan mengenai keluhan penyerta, seperti penurunan pendengaran yang progresif, tinitus, dan nyeri telinga. Apakah terdapat riwayat sinusitis atau bronkiektasis.
Pada pemeriksaan otoskopi, atau otoendoskopi, atau pemeriksaan mikroskop ditemukan liang telinga bengkak, menebal, hiperemis, dan
dipenuhi oleh massa keratin, kadang terdapat jaringan granulasi. Membran timpani tampak menebal.
Keratosis obturans.
Pada pasien dilakukan debridement/pembersihan liang telinga secara berkala dan diberikan terapi antibiotik dan kortikosteroid topikal. Apabila jumlahnya sangat banyak dan menimbulkan rasa sakit saat pembersihan, diberikan anestesi lokal pada liang telinga.
Pada kasus yang sulit seperti akumulasi keratin yang berulang, nyeri, dan sulit untuk dibersihkan di poliklinik perlu dipertimbangkan tindakan kanaloplasti dalam anestesi umum.
TUJUAN PEMBELAJARAN
Pembelajaran materi ini bertujuan untuk mendapatkan pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan kompetensi yang diperlukan, yaitu:
Mampu menjelaskan patogenesis dan patofisiologi keratosis obturans.
Mampu menjelaskan gambaran dan tanda klinis keratosis obturans.
Dapat menegakkan diagnosis keratosis obturans.
Dapat melakukan penanganan keratosis obturans telinga dan komplikasinya.
Mampu melakukan work-up penderita keratosis obturans liang telinga.
METODE PEMBELAJARAN
Tujuan 1. Mampu menjelaskan patogenesis dan patofisiologi keratosis obturans.
Untuk mencapai tujuan ini maka dilakukan metode Pembelajaran sebagai berikut:
Belajar mandiri.
Diskusi kelompok.
Praktikum.
Mahasiswa harus mengerti dan menguasai:
Anatomi, histologi, dan topografi liang telinga.
Fisiologi liang telinga.
Tujuan 2. Mampu menjelaskan gambaran dan tanda klinis keratosis obturans.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran sebagai berikut:
Belajar mandiri.
Diskusi kelompok.
Bedside teaching.
Mahasiswa harus mengerti dan menguasai:
Tanda dan gejala keratosis obturan.
Tujuan 3. Dapat menegakkan diagnosis keratosis obturans.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran sebagai berikut:
Belajar mandiri.
Diskusi kelompok.
Bedside teaching.
Praktik pada pasien.
Mahasiswa harus mengerti dan menguasai:
Tanda dan gejala klinis keratosis obturan.
Diagnosis banding keratosis obturan.
Tujuan 4. Dapat melakukan penanganan keratosis obturans telinga dan komplikasinya.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran sebagai berikut:
Belajar mandiri.
Kuliah.
Diskusi kelompok.
Bedside teaching.
Praktikum.
Supervisi tindakan.
Melakukan tindakan mandiri. Mahasiswa harus mengerti dan menguasai:
Teknik debridement keratosis obturan.
Komplikasi tindakan yang dilakukan.
Tujuan 5. Mampu melakukan work-up penderita keratosis obturans liang telinga.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode Pembelajaran sebagai berikut:
Belajar mandiri.
Diskusi kelompok.
Supervisi tindakan.
Melakukan tindakan mandiri. Mahasiswa harus mengerti dan menguasai:
Hal-hal yang harus diawasi dan dijelaskan kepada pasien saat menjalani terapi dan setelah terapi keratosis obturan.
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pretest dalam bentuk tertulis dan lisan sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai pengetahuan awal yang dimiliki peserta didik, serta untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri atas:
Anatomi, histologi, dan fisiologi liang telinga.
Patogenesis dan patofisiologi keratosis obturan.
Gejala dan tanda klinis keratosis obturan.
Penegakan diagnosis keratosis obturan.
Tata laksana keratosis obturan.
Follow up keratosis obturan.
Selanjutnya dilakukan “small group discussion” bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian.
Peserta didik diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar melalui metode bedside teaching pada pasien sesungguhnya dengan pengawasan fasilitator dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut:
Perlu perbaikan: pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan.
Cukup: pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien.
Baik: pelaksanaan benar dan baik (efisien).
Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi dengan melakukan case based discussion (formulir penilaian terlampir) untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
Peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education).
Pencapaian pembelajaran:
Ujian akhir stase, setiap divisi/unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan.
Ujian akhir pendidikan, dilakukan pada akhir tahapan lanjut oleh kolegium Ilmu Kesehatan THT-KL.
INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF & PSIKOMOTOR
Kuesioner:
Sebelum pembelajaran
Soal:
Keratosis obturan adalah penyakit pada telinga bagian tengah. (Benar/Salah)
Penyebab keratosis obturan adalah migrasi epitel kulit liang telinga yang abnormal. (Benar/Salah)
Pasien dengan keratosis obturan mengeluh keluar cairan dari telinga disertai rasa nyeri. (Benar/Salah)
Penatalaksanaan keratosis obturan adalah debridemen dan pembersihan liang telnga secara berkala. (Benar/Salah)
Keratosis obturan adalah penyakit yang diturunkan. Jawaban:
Salah.
Benar.
Salah.
Benar.
Salah.
Akhir Pembelajaran
Soal:
Jelaskan patofisiologi terjadinya keratosis obturans liang telinga
Jelaskan gejala dan tanda klinis keratosis obturans liang telinga
Jelaskan penatalaksanaan utama keratosis obturans liang telinga Jawaban:
Keratosis obturans disebabkan oleh migrasi epitel abnormal dari kulit liang telinga, biasanya berhubungan dengan sinusitis atau bronkiektasis. Kelainan ini ditandai dengan adanya akumulasi deskuamasi keratin dalam jumlah besar pada osseus kanalis akustikus eksternus. Keratosis obturans dapat terjadi dalam 2 bentuk, bentuk primer dan sekunder. Pasien dengan bentuk primer biasanya disebabkan oleh migrasi epitel abnormal dari kulit liang telinga dan sering terjadi pada usia dibawah 40 tahun. Pada bentuk sekunder, lebih sering terjadi pada laki-laki usia lanjut dan biasanya disebabkan oleh terhalangnya migrasi dari keratin liang telinga akibat serumen yang keras dan padat yang dalam waktu lama menyumbat di liang telinga. Pada keadaan lanjut, sebagai respon terhadap iritasi kronis dan infeksi, epitel skuamosa tipis yang melapisi kanal dapat menjadi likenifikasi (menebal) dan juga tersumbat oleh debris- debris padat dan stenosis sekunder.
Pasien dengan keratosis obturans mengeluhkan nyeri telinga, gatal atau keluar cairan dan dapat menyebabkan penurunan pendengaran (tuli konduktif). Liang telinga membengkak dan kulit liang telinga tampak hiperemis, tampak massa keratin memenuhi liang telinga, kadang terdapat jaringan granulasi. Membran timpani terlihat menebal.
Penatalaksanaan keratosis obsturans meliputi debridement/pembersihan liang telinga secara berkala. Penambahan terapi antibiotik dan kortikosteroid ototopikal dapat mengurangi inflamasi jaringan dan munculnya infeksi sekunder.
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut:
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan).
Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal.
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien.
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan).
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR DEBRIDEMENT KERATOSIS OBTURAN
NAMA PESERTA: ......................................... TANGGAL: ...........................
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR DEBRIDEMENT KERATOSIS OBTURANS | |||||
Persiapan alat : | |||||
III. PROSEDUR TINDAKAN | |||||
alligator atau irigasi secara hati-hati dan | |||||
Nama
Diagnosis
Informed Choice & Informed Consent
Rencana Tindakan
Persiapan Sebelum Tindakan
Suction/penghisap.
Cotton applicator/kapas pemintal.
Pengait serumen.
Forsep aligator.
Alat irigasi: syringe, cairan irigasi, cawan ginjal, handuk.
Anestesi lokal dengan Xylocain spray/jelly.
Lampu kepala/otoskop.
Mikroskop.
Jelaskan pada pasien tindakan yang akan dilakukan.
Pasien duduk bersandar pada posisi nyaman di kursi periksa.
Membersihkan liang telinga dengan penghisap, pengait serumen, kapas pemintal dan forsep
pelanpelan, dapat dengan menggunakan mikroskop. d. Jika keratosis terlalu padat akan menimbulkan rasa nyeri saat diekstraksi, sehingga dibutuhkan pemberian blok anestesi lokal di 4 kuadran telinga. Dapat diberikan obat tetes seperti obat tetes kortikosteroid dan antibiotik selama beberapa hari kemudian keratosis dapat dibersihkan dengan penghisap /kapas pemintal dan forcep alligator. |
DAFTAR TILIK
PROSEDUR DEBRIDEMENT KERATOSIS OBTURAN
NAMA PESERTA: ................................... TANGGAL: ............................
KEGIATAN | NILAI | ||
1. Kaji ulang diagnosis. | |||
2. Persiapan tindakan. | |||
3.Melakukan debridement keratosis obturans dengan instrumen yang sesuai. | |||
4. Memberikan terapi setelah tindakan. | |||
MATERI PRESENTASI
MATERI BAKU
Definisi
Keratosis obturans adalah akumulasi plak yang besar dari deskuamasi keratin di kanalis akustikus eksternus (KAE). Keratosis obturans merupakan bentuk dari dermatitis yang ditandai inflamasi dan peningkatan vaskularisasi kulit KAE. Inflamasi kronik menyebabkan peningkatan deskuamasi dari kulit KAE dan mengurangi migrasi abnormal epitel.
Gambar 1. A. Lapisan keratin menutupi KAE, B. Keratin- forming plug
Di sebagian tulang KAE dan C.Keratin setelah pengangkatan.
Insiden
Keratosis obturans umumnya terjadi pada pasien usia muda antara 5-20 tahun dan dapat menyerang satu atau kedua telinga. Pasien yang menderita keratosis obturans dan mempunyai riwayat bronkiektasis atau sinusitis dilaporkan lebih dari 70% ditemukan pada usia remaja. Tahun 1956, Morrison melaporkan 70% dari 50 kasus keratosis obturans diantaranya 20 pasien berumur 5-9 tahun, 15 pasien berumur antara 9-19 dan 15 pasien berumur antara 20-59 tahun dan 44% terjadi bilateral. Tahun 1958 Black and Clayton melaporkan terjadinya keratosis obturans pada anak-anak dengan insidens 90% terjadi bilateral.
Etiopatogenesis
Etiologi keratosis obturans hingga saat ini masih belum jelas. Beberapa hipotesis menyatakan keratosis obturans berhubungan dengan eksema, dermatitis seboroik dan furunkulosis. Keratosis obturans terjadi karena migrasi abnormal epitel pada lapisan kulit KAE. Secara normal, epitel dari permukaan membran timpani pars flaksida bermigrasi turun ke pars tensa dan bergerak ke arah inferior melewati membran timpani, namun
pergerakan sel epitel pada penyakit ini terbalik. Kegagalan migrasi ini atau adanya obstruksi pada saat migrasi yang disebabkan oleh lapisan keratin menyebabkan akumulasi debris epitel pada bagian dalam KAE. Hal ini sesuai dengan studi tentang kulit normal pada telinga luar yang dilakukan oleh Alberti pada tahun 1964 menunjukkan bahwa secara normal terdapat migrasi epitel dari membran timpani ke KAE.
Menurut Mayer, Paparella dan Shumrick keratosis obturans dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain produksi berlebihan dari sel epitel, kegagalan migrasi epitel kulit dan ketidakmampuan mekanisme pembersihan diri oleh KAE. Mekanisme pembersihan diri oleh KAE merupakan hasil dari kordinasi proses maturasi keratin dan migrasi sel ke luar. Pada keratosis obturans mekanisme ini tidak berfungsi. Tahun 1956 Morrison melaporkan adanya hubungan bronkiektasis dan sinusitis dengan kejadian keratosis obturans. Bronkiektasis disebabkan oleh stimulus refleks simpatis dari cabang trakeobronkial yang merangsang refleks sekresi serumen sehingga menyebabkan obstruksi keratin dan pembentukan sumbatan epidermal.
Klasifikasi
Menurut Hawke dan Shanker terdapat dua tipe keratosis obturans. Tipe pertama terdapat inflamasi kronik pada jaringan subepitel dan ini menyebabkan terjadinya hiperplasia epitel dan pembentukan material skuamous pada KAE. Tipe yang kedua terjadi secara bilateral dan mungkin disebabkan oleh kelainan herediter atau dapatan dimana ditemukan enzim yang belum dikenal yang berperan pada pemisahan lapisan superfisial dari keratin, kondisi ini bisa terjadi jika lapisan tersebut bergerak ke arah luar selama proses migrasi normal.
Soucek dan Michaels berpendapat adanya migrasi epitel yang abnormal mungkin berasal dari membran timpani sendiri atau KAE, dengan demikian dapat menimbulkan dua jenis penyakit yang berbeda. Perbedaan ini jauh dari tipe yang dideskripsikan oleh Hawke dan Shanker.
Diagnosis
Keratosis obturans pada umunya mengenai usia muda, kurang dari 40 tahun, gangguan pendengaran tipe konduksi bilateral, nyeri yang hebat, KAE lebih lebar dan hiperemi, tinnitus, membran timpani yang utuh tapi lebih tebal,dan jarang ditemukan
otore. Gangguan pendengaran dan rasa nyeri yang hebat merupakan keluhan sekunder yang selalu terjadi akibat penumpukan keratin di KAE.
Pemeriksaan otoskopi didapatkan penumpukan gumpalan debris keratin pada KAE berwarna putih yang berisi serumen berwarna coklat pada bagian tengah . Adanya gumpalan keratin dalam KAE meningkatkan tekanan pada dinding KAE sehingga terjadi remodeling tulang.
Gambar 2. Keratosis obturans.
Gambaran radiologi pada keratosis obturans dengan pemeriksaan CT-Scan tulang temporal memperlihatkan soft tissue lesion, pada umumnya bilateral, terletak di KAE, meluas dan melebarkan KAE yang menyebabkan smooth scalloping tanpa disertai erosi tulang yang mendasarinya.
Gambar 3. CT-Scan keratosis obturans potongan axial.
Gambar 4. CT-scan keratosis obturans potongan koronal.
Diagnosis keratosis obturans ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan klinis, sedangkan pemeriksaan penunjang CT scan dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya gambaran erosi tulang. Anamnesis didapatkan nyeri telinga yang hebat, gangguan pendengaran tipe konduksi bilateral, jarang terjadinya otore. Pada pemeriksaan otoskopi terlihat adanya penumpukan keratin sepanjang KAE, membran timpani utuh tapi lebih tebal. Pada pemeriksaan penunjang CT scan didapatkan erosi dan pelebaran KAE. Pada pemeriksaan histopatologi didapatkan sumbatan keratin, pada keratosis obturans terlihat seperti garis geometric didalam KAE yang terlihat seperti gambaran onionskin layer.
Diagnosis Banding
Keratosis obturans perlu dibedakan dengan kolesteatoma eksterna karena mempunyai gambaran klinis yang mirip, sedangkan penanganannya berbeda. Kolesteatoma eksterna ditandai dengan lesi yang terbentuk oleh epitel skuamosa berlapis berkeratin yang terjadi pada tulang temporal, tulang dinding inferior dan posterior KAE paling sering terkena. Terdapat beberapa hal yang membedakan keratosis obturans dengan kolesteatoma.
Tabel 1. Perbedaan Keratosis Obturans dan Kolesteatoma Eksterna
Keratosis Obturans Kolesteatoma Eksterna
Usia
Asosiasi Sistemik Nyeri
Gangguan Pendengaran
muda , dewasa sinusitis, bronkiektasis akut, berat
lanjut usia tidak ada kronik
sedikit/tidak sama sekali
Otore Lateralisasi Erosi tulang
Kelompok squamous Kulit MAE* Osteonekrosis*
sedang, konduktif jarang
biasanya bilateral melingkar berlapis
utuh tidak ada
sering
biasanya unilateral terlokalisasi
acak
ulserasi fokal biasanya ada
(*) Ada atau tidak adanya osteonekrosis dan epitel diatasnya merupakan fitur pembeda yang paling andal.
Terapi
Pengobatan pada keratosis obturans berupa pengangkatan desquamated squamous epithelium. Selain itu, dapat dilakukan operasi dengan general anestesi untuk debridement canal plasty dan timpanomastoidektomi dapat dilakukan untuk mencegah berlanjutnya erosi tulang. Penyakit ini biasanya dapat dikontrol dengan melakukan pembersihan KAE secara periodik setiap satu sampai tiga bulan sekali untuk mengurangi akumulasi debris dan mengobati peradangan yang mendasarinya. Namun, mayoritas kasus keratosis obturans karena kegagalan mekanisme migrasi secara normal dan akan terus mengalami re-akumulasi sehingga membutuhkan pembersihan keratinasi seumur hidup. Pemberian obat tetes telinga dari campuran alkohol atau gliserin dalam peroksida 3%, tiga kali seminggu sering kali dapat menolong. Kortikosteroid lokal mempunyai peranan penting mengurangi inflamasi.
Farrior (tahun 1990) merekomendasikan setelah pembersihan debris, KAE ditutup dengan kasa basah antibiotik dan kortikosteroid untuk mengurangi inflamasi akut . Pasien yang telah mengalami erosi tulang KAE, seringkali diperlukan tindakan bedah dengan melakukan tandur jaringan ke bawah kulit untuk menghilangkan gaung di dinding KAE, yang penting ialah membuat agar KAE berbentuk seperti corong, sehingga pembersihan KAE secara spontan lebih terjamin.
Komplikasi
Keratosis obturans pada umumnya suatu kondisi tidak berbahaya tetapi bisa menimbulkan komplikasi serius. Keratosis obturans bisa menyebabkan erosi tulang yang
luas termasuk automastoidektomi tetapi tidak didapatkan komplikasi intrakranial. Plug dari debris keratin skuamus perlahan-lahan menjadi luas, bisa menekan tulang KAE dalam menyebabkan reabsorpsi cukup besar. Setelah pengangkatan plug yang cukup luas, scooped out KAE akan terlihat jelas. Pasien yang memiliki keratin plug KAE yang berulang-ulang selama lima tahun akan menyebabkan penekanan posterior dinding tulang KAE dan dinding mastoid akan diresorpsi sehingga terjadi automastoidektomi.
Gambar 5. Automastoidektomi sekunder akibat keratosis obturans.
DAFTAR ISI
WAKTU PEMBELAJARAN 1
PERSIAPAN SESI 1
REFERENSI 1
KOMPETENSI 2
CONTOH KASUS DAN DISKUSI 2
TUJUAN PEMBELAJARAN 3
METODE PEMBELAJARAN 3
EVALUASI 4
INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF 5
INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR 6
DAFTAR TILIK 7
MATERI PRESENTASI 9
MATERI BAKU 20
MODUL I.1.4
OTOLOGI – GANGGUAN TELINGA LUAR : KOLESTEATOMA EKSTERNA
WAKTU PEMBELAJARAN
Proses Pengembangan Kompetensi | Alokasi Waktu |
Sesi dalam kelas | 2 x 60 menit (classroom session) |
Sesi dengan fasilitasi pembimbing | 3 x 60 menit (coaching session) |
Sesi praktik dan pencapaian kompetensi | 2 x 60 menit (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi presentasi: Power point.
Kasus: Kolesteatoma eksterna.
Sarana dan Alat Bantu Latih: (disesuaikan dengan pencapaian kompetensi)
Penuntun belajar (learning guide): terlampir.
Tempat belajar (training setting): ruang praktikum (skills lab), Poliklinik THT, kamar operasi, ruang rawat inap.
Model/manekin telinga.
Komputer/laptop.
In focus.
REFERENSI
Antonio SM, Strasnick B. Diseases of the Auricle, External Auditory Canal and Tympanic Membrane. In: Gulya AJ, Minor LB, Poe DS, eds. Glasscock- Shambaugh Surgery of the Ear. 6th ed. Connecticut: People’s Medical Publishing House Shelton ; 2010. P. 386.
Dhingra PL Anatomy of ear. In: Dhingra PL, ed. Diseases of Ear, Nose and Throat & Head and Neck Surgery. 6th ed. New York: Elsevier; 2014.p.2-3.
Naim R, Linthicum F, Shen T, Bran G, Hormann K. Classification of the external auditory canal cholesteatoma. Laryngoscope 2005; 115:455-60.
Owen HH,Rosborg J, Gaihede M. Cholesteatoma of the external ear canal
:etiological factors, symptoms and clinical findings in a series of 48 cases. BMC Ear, Nose and Throat Disorder 2006;6(16):1-9.
Hanson MB, Lucente FE. Diseases of the External Ear. In: Wackym PA, Snow Jr JB, eds. Ballenger’s Otorhinolaryngology 18 Head and Neck Surgery.18th ed. Connecticut: People’s Medical Publishing House Shelton; 2016. P 696-7.
Non infectious Disorders of the Ear. In :Chan Y, Goddard JC,eds. KJ Lee’s Essential Otolaryngology Head & Neck Surgery.11th ed. New York: Mc Graw Hill Education; 2016. P 426.
Lesser THJ. Keratosis Obturans, Primary Auditory Canal Cholesteatoma and Benign Necrotizing Otitis Externa. In: Watkinson JC, Clarke RW,eds. Scott- Brown’s Otorhinolaryngology Head & Neck Surgery. Vol 2. Pediatrics The Ear Skull Base. 8th ed. Florida: CRC Press. Taylo and Francis Group; 2018. P.941-46.
Linstrom CJ, Lucente FE. Disease of the external ear. In: Johnson JT, Rosen CA, eds. Bailey’s Head and Neck Surgery-Otolaryngology. 5th ed. China: Lippincott Williams & Wilkins: 2014. p. 2351.
KOMPETENSI
Pengetahuan
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik mampu:
Menjelaskan anatomi, histologi, topografi, dan fisiologi liang telinga.
Menjelaskan definisi, etiopatogenesis, patofisiologi, klasifikasi, dan stadium kolesteatoma eksterna.
Menjelaskan gejala dan gambaran klinis kolesteatoma eksterna.
Mengetahui dan mengeri diagnosis banding kolesteatoma eksterna.
Mengerti dan dapat menjelaskan penatalaksanaan kolesteatoma eksterna.
Mengerti dan dapat menjelaskan work up bagi penderita kolesteatoma eksterna.
Keterampilan
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam:
Melakukan anamnesis pasien kolesteatoma eksterna.
Melakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang, termasuk otomikroskopi, pemeriksaan x-ray, dan CT scan.
Menegakkan diagnosis kerja kolesteatoma eksterna.
Melakukan tata laksana operatif mulai persiapan operasi hingga mampu mengatasi komplikasi yang terjadi, dan terapi kolesteatoma eksterna.
Melakukan work up pasien kolesteatoma eksterna.
CONTOH KASUS DAN DISKUSI
Kasus
Seorang lelaki 55 tahun datang dengan nyeri telinga kiri sejak 3 hari. Terdapat riwayat keluar cairan selama 3 bulan, pendengaran tidak menurun. Pada pemeriksaan otoskopi tampak sekret pus pada liang telinga.
Soal :
Lengkapi anamnesis pada pasien tersebut.
Lengkapi pemeriksaan fisik.
Sebutkan diagnosis banding dan diagnosis kerja
Jelaskan etiopatogenesis bila ditemukan kolesteatoma dan membran timpani utuh.
Jelaskan klasifikasi dan stadium.
Jelaskan tatalaksana yang tepat untuk pasien tersebut.
Jawaban:
Apakah nyeri berhubungan dengan gerakan mengunyah atau sentuhan pada daun telinga. Apakah nyeri timbul setelah trauma liang telinga. Apakah ada rasa gatal atau buntu.
Sekret di liang telinga dibersihkan, apakah ada debris, serumen, kolesteatoma, kondisi kulit liang telinga, melihat membran timpani bila mungkin.
Diagnosis banding: Furunkel KAE, otitis eksterna, keratosis obturan, kolesteatoma eksterna, OMSK.
Etiopatogenesis kolesteatoma eksterna belum pasti, namun diduga karena proses osteitis, trauma lokal atau kegagalan migrasi epitel.
Klasifikasi secara umum terbagi menjadi primer dan sekunder. Sedangkan stadium terbagi menjadi 4. Stadium I: hiperplasi dan hiperemi epitel kulit MAE. Stadium II: epitel hiperproliferasi dan periosteitis. Stadium III: destruksi dan sekuestrasi tulang KAE, akumulasi debris keratin dengan infeksi sekunder. Stadium IV: destruksi dari struktur yang berdekatan, sesuai subkelas M: mastoid, S: skull base, J: TMJ, F: nervus fasialis.
Terapi tergantung stadium, bila masih terbata di KAE maka dibersihkan secara berkala dan diberikan salep antibiotika dan hidrokortison selama 1 minggu. Bila sudah meluas ke strutur sekitar maka perlu tindakan operatif antara lain: kuretase, kanalplasti atau mastoidektomi
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan Pembelajaran Umum
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik terampil dalam :
Mampu menegakkan diagnosis klinis kolesteatoma eksterna berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Mampu mentatalaksana secara mandiri kasus kolesteatoma eksterna.
Tujuan Pembelajaran Khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam :
Menguasai anatomi, histologi, dan fisiologi liang telinga.
Mampu menjelaskan definisi, etiopatogenesis, klasifikasi dan stadium kolesteatoma eksterna.
Mampu menjelaskan keluhan subyektif dan obyektif.
Dapat membuat diagnosis kerja dan diagnosis banding.
Mampu melakukan terapi konservatif dan operatif sesuai indikasi.
Mampu menjelaskan komplikasi dan penanganannya.
METODE PEMBELAJARAN
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Presentasi modul.
Mini lecture.
Journal reading.
Bedside teaching.
Praktikum.
Supervisi tindakan.
Tindakan mandiri.
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pre test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri atas:
Anatomi, histologi, dan fisiologi liang telinga.
Penegakan diagnosis.
Teknik operasi.
Follow up.
Selanjutnya dilakukan “small group discussion” bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian.
Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk “role play” dan teman-temannya (Peer Assisted Evaluation) atau kepada SP (Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assisted Evaluation) setelah dianggap memadai, melalui metode bedside teaching dibawah pengawasan fasilitator, peserta dididik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomi dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut:
Perlu perbaikan: pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan.
Cukup: pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien.
Baik: pelaksanaan benar dan baik (efisien).
Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
Self assesment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar.
Pendidik/ fasilitas:
Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form (terlampir).
Penjelasan lisan dari peserta didik/diskusi.
Kriteria penilaian keseluruhan : cakap/tidak cakap/lalai.
Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education).
Pencapaian pembelajaran:
Ujian OSCA (K,P,A), dilakukan pada tahapan THT dasar oleh kolegium Ilmu Kesehatan THTKL.
Ujian akhir stase, setiap divisi/unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan.
Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan lanjut oleh kolegium Ilmu Kesehatan THTKL.
INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF
Kuesioner :
Sebelum pembelajaran Soal:
Kolesteatoma adalah salah satu jenis tumor jinak telinga. (Benar/Salah)
Kolesteatoma eksterna paling sering mendestruksi dinding anterior liang telinga. (Benar/Salah)
Faktor-faktor yang memperngaruhi terbentuknya kolesteatoma eksterna adalah HGF/SF, reseptor tirosin kinase c-Met, dan VEGF. (Benar/Salah)
Kolesteatoma eksterna terbagi ke dalam 4 stadium dan 5 subkelas. (Benar/Salah)
Tata laksana kolesteatoma eksterna secara operatif adalah dengan kuretase dan kanalplasti. (Benar/Salah)
Jawaban:
Salah.
Salah.
Benar.
Salah.
Benar.
Akhir pembelajaran
Soal:
Jelaskan etiopatogenesis terjadinya kolesteatoma eksterna.
Jelaskan faktor predisposisi terjadinya kolesteatoma eksterna.
Jelaskan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang diperlukan untuk mendiagnosis kolesteatoma eksterna.
Jelaskan diagnosis banding kasus kolesteatoma eksterna.
Jelaskan tata laksana untuk kasus kolesteatoma eksterna. Jawaban:
Kolesteatoma eksterna terjadi karena adanya invasi jaringan epitel skuamosa ke dalam tulang KAE yang bersifat lokal. Etiologi belum dapat dijelaskan secara pasti, diduga merupakan proses reaktif akibat osteitis. Pada kondisi
normal, epitel KAE yang mengalami deskuamasi bermigrasi kea rah latera, namun pada kolesteatoma eksterna epitel gagal bermigrasi ke arah lateral. Debris keratin yang terperangkap menumpuk di KAE dan membentuk kantong.
Faktor predisposisi terjadinya kolesteatoma adalah faktor mekanik (penggunaan alat bantu dengar), iskemia lokal, dan perubahan migrasi epitel dan kelenjar serumen yang terkait usia.
Pemeriksaan fisik yang dilakukan adalah otoskopi, otomikroskopi. Pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah CT scan (tampak massa jaringan lunak, destruksi KAE yang ireguler, dan gambaran fragmen tulang, serta pemeriksaan audiometri (normal atau gangguan pendengaran ringan).
Diagnosis banding kolesteatoma eksterna adalah keratosis obturan.
Tata laksana kolesteatoma eksterna adalah konservatif (pembersihan debris keratin berkala, terpi lokal dengan salisilat dan kortison, pemberian salep antibiotic dan hidrokortison selama 1 minggu) dan terapi operatif (dengan kanalplasti, timpanoplasti, atau mastoidektomi bila diperlukan).
J. INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR
PENUNTUN BELAJAR
1. PROSEDUR DEBRIDEMAN KOLESTEATOMA EKSTERNA
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.:
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
NAMA PESERTA: ...................................... TANGGAL: .................................
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||||
| |||||
KEGIATAN | KASUS | ||||
| |||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR DEBRIDEMAN KOLESTEATOMA EKSTERNA | |||||
| |||||
III. PROSEDUR OPERASI | |||||
| |||||
K. DAFTAR TILIK
PROSEDUR DEBRIDEMAN KOLESTEATOMA EKSTERNA
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini:
: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
X: Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
T/T: Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
NAMA PESERTA: TANGGAL :
KEGIATAN | NILAI | ||
1. Kaji ulang diagnosis | |||
2. Persiapan tindakan | |||
3. Melakukan anestesi local | |||
4. Melakukan debrideman kolesteatoma eksterna dengan instrumen yang sesuai | |||
5. Memberikan terapi setelah tindakan | |||
2. PROSEDUR KURETASE & KANALPLASTY
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini:
: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau
panduan standar
X: Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
T/T: Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
NAMA PESERTA: ...................................... TANGGAL: .................................
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||||
| |||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR KURETASE & KANALPLASTY | |||||
Prinsip operasi :
dengan doek steril | |||||
III. PROSEDUR OPERASI | |||||
| |||||
DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA PROSEDUR KURETASE & KANALPLASTY
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini:
: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau
panduan standar
X: Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan
prosedur atau panduan standar
T/T: Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
NAMA PESERTA: TANGGAL :
KEGIATAN | NILAI | ||
1. Kaji ulang diagnosis | |||
2. Persiapan tindakan | |||
3. Melakukan desinfeksi | |||
4. Melakukan infiltrasi dengan Lidokain : Epinefrin = 1: 100.000 | |||
5. Melakukan debrideman kolestestoma eksterna dengan instrumen yang sesuai | |||
6. Melakukan insisi kulit pada lesi KAE | |||
7. Melakukan kuretase pada daerah lesi | |||
8. Menutup lesi dengan graft fascia atau perikondrium | |||
9. Mengembalikan kulit KAE | |||
10. Memasang tampon antibiotika pada KAE | |||
L. MATERI PRESENTASI
M. MATERI BAKU
Definisi
Kolesteatoma adalah lesi (massa) kistik yang dibatasi oleh epitel skuamus berlapis berkeratin dan berisi debris keratin yang terdapat pada tulang temporal (telinga tengah, apex petrosa dan KAE). Lesi ini bersifat mengerosi tulang. Kolesteatoma Eksterna adalah invasi jaringan epitel skuamosa ke dalam tulang KAE yang bersifat lokal. Erosi biasanya terjadi pada tulang dinding inferior dan posterior KAE.3 Kolesteatoma eksterna pertama kali dilaporkan oleh Toynbee pada tahun 1850, dengan deskripsi lesi pada KAE yang berisi sisik epidermis.
Gambar 1. Ilustrasi kolesteatoma Eksterna. Tampak kolesteatoma (tanda panah terbuka)
Anatomi Kanalis Akustikus Eksternus
Kanalis akustikus eksternus(KAE) merupakan sebuah saluran berbentuk tabung mulai dari dasar konka sampai membran timpani. Panjang dinding posterior KAE kurang lebih 24 milimeter. Posisi oblik dari membran timpani menyebabkan bagian posterosuperior KAE lebih pendek enam millimeter daripada bagian anteroinferior. Bentuk KAE tidaklah lurus, bagian lateral KAE lebih ke arah posterosuperior, sedangkan bagian medial lebih ke arah anteroinferior.
Kanalis akustikus eksternus terdiri atas dua bagian yaitu bagian kartilago dan bagian tulang. Pertemuan antara bagian kartilago dan bagian tulang membentuk suatu penyempitan (ismus) yang merupakan bagian tersempit dari KAE.
Bagian Kartilago
Bagian kartilago dari KAE merupakan lanjutan dari dari kartilago aurikula. Bagian ini membentuk sepertiga luar dari KAE dengan panjang delapan milimeter. Terdapat dehisensi kartilago pada dinding anterior yang dikenal dengan fisura Santorini. Infeksi atau tumor KAE bisa menyebar ke kelenjar parotis atau sendi temporo-mandibula melalui dehisensi ini, atau sebaliknya.
Epitel KAE merupakan kelanjutan dari epitel aurikula dan epitel membran timpani. Kulit pada bagian ini tebal (0,5-1 mm) dan mempunyai kelenjar serumen dan kelenjar pilosebaseus yang mensekresi serumen (earwax), seperti terlihat pada gambar 2. Rambut hanya terdapat pada bagian ini, sehingga furunkel hanya bisa terjadi pada sepertiga lateral dari KAE.
Gambar 2. Potongan koronal KAE. Menunjukkan bagian kartilago dan bagian tulang dari KAE dan kulit yang melapisinya.
Bagian Tulang
Bagian tulang membentuk duapertiga sebelah medial dari KAE, dengan panjang kurang lebih 16 mm. Bagian anteroinferior terdapat cekungan yang disebut resesus anterior yang merupakan tempat menumpuknya cairan dan debris pada infeksi KAE dan telinga tengah. Pada bagian anteroinferior ini juga bisa terdapat dehisensi tulang yang disebut foramen Huschke yang memungkinkan penyebaran infeksi dari parotis dan sebaliknya. Dehisensi tersebut paling banyak ditemukan pada anak usia sampai empat tahun dan jarang pada dewasa.
Kulit yang melingkupi bagian ini tipis dengan ketebalan kurang lebih 0,2 mm, dan berlanjut sampai membran timpani. Kulit yang tipis tersebut menyebabkan mudah terjadi trauma. Tidak terdapat folikel rambut dan kelenjar serumen pada bagian ini. Inervasi dinding anterior KAE oleh nervus aurikulotemporal (N. V3). Inervasi dinding posterior dan inferior oleh cabang auricular dari nervus vagus (N. X). Dinding posterior juga mendapat inervasi dari serabut sensoris nervus fasialis (N. VII) melalui cabang aurikularis dari nervus vagus. Aliran limfa KAE merupakan saluran yang penting pada penyebaran infeksi dan neoplasma. Limfa dari bagian anterior dan superior KAE mengalir ke kelenjar limfa preaurikular dan kelenjar limfa leher dalam sebelah superior. Limfa dari bagian inferior KAE mengalir ke kelenjar limfa infraaurikular di dekat angulus mandibula. Bagian posterior KAE mengalir ke kelenjar limfa retroaurikular dan kelenjar limfa leher dalam superior.
Etiopatogenesis
Etiologi Kolesteatoma eksterna primer masih belum jelas, namun ada hipotesis yaitu merupakan proses reaktif akibat osteitis. Faktor yang diduga mempengaruhi antara lain faktor mekanik (penggunaan alat bantu dengar), iskemia lokal, dan perubahan migrasi epitel dan kelenjar serumen yang terkait usia. Serumen lebih kering pada usia tua yang akan menyebabkan akumulasi sel epitel.
Epitel KAE yang mengalami deskuamasi bermigrasi ke arah lateral pada orang normal. Epitel gagal bermigrasi ke arah lateral pada penderita. Debris keratin yang terperangkap akan menumpuk di KAE dan membentuk kantong. Kecepatan migrasi sel epitel pada dinding inferior KAE pada penderita lebih lambat diduga akibat kondisi hipoksia karena berkurangnya aliran darah pada area tersebut. Hipoksia dapat memicu
terjadinya angiogenesis pada KAE. Faktor-faktor angiogenik seperti hepatocyte growth factor/scatter factor (HGF/SF), reseptor tirosin-kinase c-Met, dan vascular endothelial growth factor (VEGF) terekspresi kuat pada sediaan kolesteatoma eksterna. Stimulasi sel kolesteatoma dengan HGF/SF menghasilkan peningkatan kecepatan proliferasi dan peningkatan rilis VEGF pada suatu penelitian. Enzim proteolitik yang terdapat pada dinding kantong kolesteatoma menyebabkan periostitis sekuestrasi tulang.
Kolesteatoma eksterna iatrogenik (pasca operasi) disebabkan karena terjebaknya epitel berkeratin di bawah graft atau flap kulit. Owen menyatakan bahwa terdapat risiko terjadi kolesteatoma eksterna iatrogenik sebesar 1,3 dalam seribu kasus operasi telinga dengan berbagai teknik. Masa laten terdeteksi kolesteatoma eksterna pasca operasi kira- kira 7 tahun. Kolesteatoma eksterna pasca trauma mempunyai mekanisme yang mirip yaitu terjebaknya epitel di dalam garis patah tulang atau defek tulang beserta dengan adanya akumulasi epitel akibat stenosis KAE pasca trauma.558
Kolesteatoma eksterna pasca infeksi dihubungkan dengan osteitis dan invasi epitel akibat infeksi yang terjadi sebelumnya. Radioterapi yang mengenai KAE menyebabkan perubahan pada jaringan lunak dan hiperplasia epitel. Radiasi juga menyebabkan atropi jaringan, osteitis dan nekrosis sehingga menyebabkan terbentuknya kolesteatoma. Secara garis besar, dugaan etiologi kolesteatoma eksterna antara lain adalah karena mikrotrauma KAE, retensi serumen yang keras, osteitis fokal, hipoksia yang menyebabkan angiogenesis, dan penurunan migrasi epitel akibat usia lanjut atau akibat menurunnya aliran darah lokal.
Klasifikasi
Beberapa klasifikasi diajukan oleh para pakar, seperti pada tabel 1.
Tabel 1. Klasifikasi kolesteatoma eksterna
Peneliti Klasifikasi
Farrior (1990) | 1. | Akibat atresia KAE kongenital dan stenosis KAE |
2. 3. | Berhubungan dengan tindakan timpanoplasti, operasi telinga tengah, atau trauma kulit KAE Berhubungan dengan keratosis obturan | |
4. | Berhubungan dengan osteitis fokal | |
Holt (1992) | 1. | Pasca operasi |
2. | Pasca trauma | |
3. | Stenosis KAE (sering kongenital) |
4. | Obstruksi mae sekunder karena tumor atau osteoma | |
5. | Penyebab yang belum diketahui | |
Tos (1997) | 1. | Primer |
2. 3. | Sekunder (pasca operasi, pasca infeksi, dan pasca trauma) Berhubungan dengan atresia KAE kongenital | |
Owen (2006) | 1. | Primer |
2. | Sekunder (pasca operasi, pasca infeksi, pasca radioterapi, dan pasca trauma) |
Stadium
Stadium dapat ditentukan dengan pemeriksaan HRCT tulang temporal pada tabel 2.
Tabel 2. Stadium kolesteatoma eksterna
Stadium kolesteatoma eksterna
Stadium I Hiperplasia dan hiperemi epitel KAE. Peningkatan kecepatan apoptosis pada permukaan kolesteatoma.
Stadium II Inflamasi lokal dari epitel yang mengalami hiperproliferasi dan gambaran periosteitis. Tidak terdapat destruksi tulang KAE. Terdapat akumulasi debris keratin. Secara klinis terdapat keluhan nyeri tumpul dan otore bila terjadi infeksi sekunder.
Permukaan epitel intak, tanpa terlihat tulang KAE.
Terdapat defek epitel, dan tulang KAE terlihat.
Stadium III Destruksi tulang KAE dengan disertai sekuestrasi tulang (osteonekrosis aseptik). Defek epitel sampai ke tulang. Akumulasi debris keratin dengan disertai infeksi sekunder dan otore.
Stadium IV Destruksi spontan dari struktur yang berdekatan (sesuai subkelas) dengan disertai otore, gangguan pendengaran, parese nervus fasialis, thrombosis sinus sigmoid, dan abses intrakranial.
Subkelas M : Mastoid
Subkelas S : Skull base (dasar tengkorak) dan sinus sigmoid Subkelas J : Temporo-mandibular joint
Subkelas F : Nervus fasialis
Kolesteatoma eksterna dibagi menjadi empat stadium berdasarkan gambaran Computed Tomography Scan (CT scan), yaitu stadium I, kolesteatoma terbatas pada KAE; stadium II, kolesteatoma mengenai membran timpani dan telinga tengah; stadium III, kolesteatoma mengakibatkan defek pada dinding KAE dan mengenai sel-sel mastoid; dan stadium IV, kolesteatoma meluas sampai ke luar tulang temporal.10 Pembagian stadium berdasarkan gambaran CT scan tersebut seperti terlihat pada gambar 3.
A
B
C
D
Gambar 3. Stadium kolesteatome eksterna pada gambaran CT scan tulang temporal. (A) Stadium I, lesi terbatas pada KAE. (B). Stadium II, lesi mengenai telinga tengah. (C) Stadium III, lesi mengenai kavum mastoid. (D) Stadium IV, lesi meluas keluar tulang temporal.
Gambaran Klinis
Kolesteatoma eksterna pada umumnya hanya mengenai satu sisi telinga. Gambaran klinis yang sering didapat adalah otalgi dan otore unilateral. Keluhan otalgi bervariasi dari nyeri ringan sampai nyeri hebat. Otalgi biasanya samar-samar atau hanya otalgi ringan, tetapi dapat pula berupa nyeri tumpul yang kronis. Pada beberapa kasus didapatkan keluhan nyeri hebat. Keluhan buntu telinga bisa ditemukan. Keluhan gatal dan penurunan pendengaran lebih jarang didapatkan. Pada beberapa penderita tidak didapatkan keluhan sama sekali (asimtomatik).
Pemeriksaan otoskopi didapatkan penumpukan debris keratin dan kolesteatoma pada KAE. Erosi tulang biasanya terjadi pada dinding inferior dan posterior dari KAE. Otore biasanya purulen terutama apabila terdapat infeksi sekunder. Membran timpani normal, kecuali apabila terdapat perluasan kolesteatoma ke telinga tengah. Contoh gambar pemeriksaan otoskopi seperti terlihat pada gambar 4. Pemeriksaan audiometri nada murni bisa normal atau terdapat gangguan pendengaran ringan.
Gambar 4. Gambar KAE kanan. Kolesteatoma dan debris skuama pada dinding posterior KAE. Tampak membran timpani intak.
Diagnosis Banding
Kolesteatoma perlu dibedakan dengan keratosis obturan karena mempunyai gambaran klinis yang mirip, sedangkan penanganannya berbeda. Keratosis obturan ditandai dengan penumpukan plak debris keratin yang besar pada bagian tulang dari KAE sehingga menimbulkan keluhan otalgi hebat dan akut, serta gangguan pendengaran. Pada pemeriksaan didapatkan oklusi KAE oleh plak yang padat dan keras akibat penumpukan debris dari deskuamasi epitel. Penanganan keratosis obturan adalah dengan pembersihan KAE secara berkala.
Terdapat beberapa hal yang membedakan kolesteatoma eksterna dengan keratosis obturan. Kolesteatoma eksterna terjadi pada penderita usia tua, pada umumnya unilateral, dan gejala klinis ditandai dengan nyeri tumpul pada telinga dan adanya otore. Pendengaran biasanya masih dalam batas normal. Keratosis obturan terjadi pada penderita usia muda dengan keluhan otalgia akut dan adanya gangguan pendengaran tipe konduksi bilateral. Pemeriksaan telinga pada penderita kolesteatoma eksterna didapatkan divertikulum epidermal yang berasal dari dinding bawah KAE, sedangkan bagian lain dari KAE yang tidak terkena tampak normal. Pada keratosis obturan didapatkan KAE terisi penuh dengan plak keratin, KAE tampak melebar dan hiperemi. Terdapat erosi tulang pada kolesteatoma eksterna, sedangkan pada keratosis obturan tidak terdapat erosi tulang.
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasar anamnesis, pemeriksaan klinis, HRCT dan histopatologi. Anamnesis dapat berupa nyeri telinga unilateral, otore, buntu dan kurang pendengaran. Pada pemeriksaan didapatkan kolesteatoma, sekret dan pada umumnya membran timpani normal. Temuan pada HRCT tergantung stadiumnya.
Terapi
Terapi kolesteatoma eksterna bergantung beratnya penyakit. Tujuan dari terapi
adalah eradikasi penyakit dengan preservasi struktur normal dan mengembalikan migrasi epitel ke arah normal.
Terapi konservatif dilakukan bila kolesteatoma dan erosi tulang masih terbatas di KAE. Pembersihan debris keratin berkala, dan terapi lokal dengan salisilat dan kortison. Dapat pula dengan kasa yang diberi salep antibiotik dan hidrokortison selama satu minggu, dan diulang setiap tiga bulan. Pemakaian 5-fluorourasil topikal dapat dipertimbangkan.
Tindakan operatif dilakukan bila terdapat salah satu dari : perluasan ke telinga tengah atau mastoid, terdapat komplikasi atau berpotensi terjadi komplikasi, otore tidak tertangani dengan terapi konservatif, atau penurunan pendengaran signifikan. Prinsip tindakan bedah adalah membersihkan jaringan patologis. Tindakan bedah mulai dari pembersihan dengan cara kuretase sekuestrasi tulang di KAE dengan anestesi lokal, kanalplasti, atau mastoidektomi, tergantung lokasi lesi dan luasnya destruksi tulang. Tindakan operatif kolesteatoma eksterna berdasarkan stadium secara ringkas dapat dilihat pada tabel 3.
Tindakan operatif dilakukan dengan eksisi kolesteatoma hingga mencapai 1-2 milimeter dari batas kulit KAE normal. Tulang yang mengalami erosi dibersihkan dengan mata bor diamond untuk meratakan tepi yang tajam. Defek pada tulang ditutup dengan graft kulit split thickness, graft jaringan lunak, kartilago aurikula ipsilateral, atau fasia temporalis.
Tabel 3. Stadium kolesteatoma KAE dan terapi berdasarkan stadium.10
Stadium Terapi
Terbatas pada KAE Perawatan lokal atau kanalplasti
Invasi membran timpani dan telinga tengah
Defek pada dinding KAE dan mengenai sel-sel mastoid
Meluas sampai keluar tulang temporal
Kanalplasti + timpanoplasti
Kanalpasti + mastoidektomi ± timpanoplasti ± rekonstruksi dinding KAE
Membersihkan kolesteatoma dengan berbagai pendekatan
Komplikasi
Komplikasi kolesteatoma eksterna sesuai dengan perluasan destruksi. Komplikasi tersebut antara lain: erosi tulang-tulang pendengaran, fistula labirin, dan parese nervus fasialis. Komplikasi tersebut akibat perluasan ke mastoid yang luas. Perluasan ke arah anterior menyebabkan destruksi sendi temporo-mandibula. Gangguan pendengaran tipe konduksi bisa terjadi bila terjadi obliterasi KAE.
DAFTAR ISI
WAKTU PEMBELAJARAN 1
PERSIAPAN SESI 1
REFERENSI 1
KOMPETENSI 2
CONTOH KASUS & DISKUSI 2
TUJUAN PEMBELAJARAN 3
METODE PEMBELAJARAN 3
EVALUASI 5
INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF 6
INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR 8
DAFTAR TILIK 10
MATERI PRESENTASI 11
MATERI BAKU 33
MODUL I.1.5
OTOLOGI – GANGGUAN TELINGA LUAR : INFLAMASI TELINGA LUAR
WAKTU PEMBELAJARAN
Proses pengembangan kompetensi | Alokasi waktu |
Sesi dalam kelas | 4 x 60 menit (classroom session) |
Sesi praktikum | 2 x 60 menit (coaching session) |
Sesi praktik dan pencapaian kompetensi | 2 x 60 menit (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi presentasi: Power point
Kasus: Inflamasi Telinga Luar.
Sarana dan alat bantu latih : (disesuaikan dengan pencapaian kompetensi)
Penuntun belajar (learning guide): terlampir.
Tempat belajar (training setting): ruang kuliah, ruang praktikum, instalasi rawat jalan, instalasi rawat inap, kamar operasi,.
Model/ manekin (liang) telinga.
Komputer/ Laptop.
In focus.
REFERENSI
Becker W. Naumann HH, Pfalt CR, Outer Ear Infection in Nose and Throat Disease, Second edition, Thieme Medical Publishers Inc., New York, 1994, p. 71-5.
Figueiredo RR, Azevedo AA, Kós AO, Tomita S. Complications of ent foreign bodies: a retrospective study. Braz J Otorhinolaryngol. Jan-Feb 2008;74(1):7- 15.
Jung T.T.K, Jinn T.H. Disease of The External Ear. In Ballenger’s Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery 16th Edition. Ontario: BC Decker Inc; 2003. p. 234-5.
Kroon D.F, Strasnick B. Disease of the Auricle, External Auditory Canal, and Tympanic Membrane. In Glasscock Shambaugh Surgery Of The Ear 5th Edition. Ontario : BC Decker Inc;2003. p.351-2.
Lee .K.J. Noninfectious disorders of the ear. Essential Otolaryngology Head and Neck Surgery 9th Edition. Elseiver Science Publishers, 2008, p. 345
KOMPETENSI
Pengetahuan
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik mampu:
Menegakkan diagnosis inflamasi telinga luar berdasarkan anamnesis, dan pemeriksaan fisik.
Menatalaksana secara mandiri kasus inflamasi telinga luar.
Keterampilan
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam :
Menjelaskan anatomi dan fisiologi liang telinga.
Menjelaskan patofisiologi inflamasi telinga luar.
Menjelaskan gambaran klinis inflamasi telinga luar.
Menegakkan diagnosis inflamasi telinga luar.
Melakukan penanganan inflamasi telinga luar dan komplikasinya.
Melakukan follow-up pasien inflamasi telinga luar.
CONTOH KASUS & DISKUSI
Kasus
Seorang laki-laki usia 22 tahun datang ke instalasi gawat darurat dengan keluhan telinga kanan terasa nyeri sekali sejak 4 jam yang lalu. Dua hari sebelumnya saat pasien membersihkan liang telinga. Saat datang pendengaran berkurang dan telinga kanan dirasakan penuh, tetapi tidak disertai keluar cairan.
Soal:
Sebutkan tanda klinis yang dapat ditemukan saat melakukan pemeriksaan fisik liang telinga.
Sebutkan faktor predisposisi terjadinya penyakit tersebut.
Sebutkan diagnosis yang paling mungkin pada pasien tersebut.
Sebutkan penatalaksanaan pada penyakit tersebut.
Jawaban :
Nyeri tekan tragus dan atau nyeri tarik daun telinga, gangguan pendengaran, furunkel pada sepertiga luar liang telinga.
Maserasi kulit liang telinga akibat trauma mengorek liang telinga yang memudahkan invasi bakteri patogen,
Otitis eksterna sirkumkripta telinga kanan.
Pemberian antibiotik topikal.
Tampon liang telinga dengan salep antibiotik dan dilepas setelah hari ke 2-3.
Antibiotik tetes telinga dengan atau tanpa tampon liang telinga.
Antibiotik oral diberikan jika terdapat gejala dan tanda infeksi sistemik (seperti demam), Terapi gejala simptomatis seperti analgetik dapat diberikan jika diperlukan.
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan Pembelajaran Umum
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik terampil dalam :
Mampu menegakkan diagnosis klinis inflamasi telinga luar berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Mampu mentatalaksana secara mandiri kasus inflamasi telinga luar.
Tujuan Pembelajaran Khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam :
Menjelaskan anatomi dan fisiologi liang telinga.
Menjelaskan patofisiologi inflamasi telinga luar.
Menjelaskan gambaran klinis inflamasi telinga luar.
Menegakkan diagnosis inflamasi telinga luar.
Melakukan penanganan inflamasi telinga luar dan komplikasinya.
Melakukan follow-up pasien inflamasi telinga luar.
METODE PEMBELAJARAN
Tujuan 1. Menjelaskan anatomi, histologi, topografi dan fisiologi telinga luar.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Diskusi kelompok.
Harus diketahui:
Anatomi, histologi, dan topografi telinga luar.
Fisiologi telinga luar.
Tujuan 2. Menjelaskan patofisiologi inflamasi telinga luar.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Tinjauan pustaka.
Diskusi kelompok.
Harus diketahui:
Patofisiologi inflamasi telinga luar.
Tujuan 3. Menjelaskan gambaran klinis inflamasi telinga luar.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Tinjauan pustaka.
Kuliah.
Diskusi kelompok.
Harus diketahui:
Gambaran klinis (gejala dan tanda) inflamasi telinga luar.
Tujuan 4. Menegakkan diagnosis inflamasi telinga luar.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Kuliah.
Diskusi kelompok.
Bedside teaching.
Praktik pada pasien. Harus diketahui:
Tanda dan gejala klinis inflamasi telinga luar.
Tujuan 5. Melakukan penanganan inflamasi telinga luar dan komplikasinya.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Kuliah.
Diskusi kelompok.
Praktikum.
Bedside teaching.
Praktik pada pasien.
Bakti sosial.
Harus diketahui:
Tata laksana inflamasi telinga luar.
Komplikasi inflamasi telinga luar.
Komplikasi dari tata laksana inflamasi telinga luar.
Tujuan 6. Melakukan follow up pasien inflamasi telinga luar.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Kuliah.
Diskusi kelompok.
Bedside teaching.
Praktikum.
Praktik pada pasien. Harus diketahui:
Hal-hal yang harus diperhatikan pada pasien dengan inflamasi telinga luar.
Edukasi yang perlu diberikan pada pasien.
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pretest dalam bentuk tertulis dan lisan sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai pengetahuan awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri atas :
Anatomi dan fisiologi telinga luar.
Penegakan diagnosis inflamasi telinga luar.
Penatalaksanaan inflamasi telinga luar.
Follow up inflamasi telinga luar.
Selanjutnya dilakukan diskusi bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar.
Peserta didik diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar melalui metode bedside teachingpada pasien sesungguhnya dibawah pengawasan fasilitator dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut:
Perlu perbaikan: pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan.
Cukup: pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien.
Baik: pelaksanaan benar dan baik (efisien).
Melakukan case based discussion (formulir penilaian terlampir).
peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education).
Penilaian pencapaian pembelajaran:
Ujian nasional dilakukan pada akhir tahapan pendidikan spesialis oleh kolegium ilmu kesehatan THT-KL.
Ujian akhir stase, setiap divisi/unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan.
INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF
Kuesioner:
Sebelum pembelajaran
Soal:
Jelaskan anatomi dan fisiologi liang telinga.
Sebutkan faktor predisposisi terjadinya inflamasi telinga luar.
Sebutkan gejala dan tanda klinis yang dapat ditemukan pada pasien inflamasi telinga luar.
Jawaban:
Liang telinga terbagi menjadi 1/3 luar (yang biasa disebut liang telinga bagian kartilago) dan liang telinga 2/3 dalam (yang biasa disebut sebagai liang telinga bagian tulang). Liang telinga tertutup oleh lapisan kulit, dan pada liang telinga 1/3 luar memiliki adneksa kulit (seperti kelenjar seruman dan folikel rambut). Pada liang telinga terdapat mekanisme fisiologi self cleansing yaitu migrasi epitel kulit ke arah luar dan adanya sekresi kelenjar serumen yang selalu menjaga kondisi liang telinga menjadi asam. Kedua mekanisme tersebut mencegah terjadinya infeksi pada kulit liang telinga.
Faktor predisposisi terjadinya inflamasi liang telinga adalah:
Iklim tropis yang hangat dan lembab.
Maserasi kulit liang telinga yang memudahkan invasi bakteri patogen.
Penurunan pH kulit liang telinga akibat berenang dan pembersihan serumen berlebih.
Keluhan yang sering dirasakan pasien adalah gatal, nyeri (otalgia), gangguan pendengaran. Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan liang telinga sempit akibat kulit yang edema, hiperemis, dan sekret purulen. Pada anak usia dini, diagnosis tersebut kadang sulit didapatkan dan menyerupai dengan temuan pada otitis media atau mastoiditis.
Tengah pembelajaran
Soal :
Jelaskan anatomi dan fisiologi liang telinga.
Sebutkan faktor predisposisi terjadinya inflamasi telinga luar.
Sebutkan gejala dan tanda klinis yang dapat ditemukan pada pasien inflamasi telinga luar.
Jawaban:
Liang telinga terbagi menjadi 1/3 luar (yang biasa disebut liang telinga bagian kartilago) dan liang telinga 2/3 dalam (yang biasa disebut sebagai liang telinga bagian tulang). Liang telinga tertutup oleh lapisan kulit, dan pada liang telinga 1/3 luar memiliki adneksa kulit (seperti kelenjar seruman dan folikel rambut). Pada liang telinga terdapat mekanisme fisiologi self cleansing yaitu migrasi epitel kulit ke arah luar dan adanya sekresi kelenjar serumen yang selalu menjaga kondisi liang telinga menjadi asam. Kedua mekanisme tersebut mencegah terjadinya infeksi pada kulit liang telinga.
Faktor predisposisi terjadinya inflamasi liang telinga adalah:
Iklim tropis yang hangat dan lembab.
Maserasi kulit liang telinga yang memudahkan invasi bakteri patogen.
Penurunan pH kulit liang telinga akibat berenang dan pembersihan serumen berlebih.
Keluhan yang sering dirasakan pasien adalah gatal, nyeri (otalgia), gangguan pendengaran. Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan liang telinga sempit akibat kulit yang edema, hiperemis, dan sekret purulen. Pada anak usia dini, diagnosis tersebut kadang sulit didapatkan dan menyeripai dengan temuan pada otitis media atau mastoiditis.
Akhir pembelajaran
Soal :
Jelaskan anatomi dan fisiologi liang telinga.
Sebutkan faktor predisposisi terjadinya inflamasi telinga luar.
Sebutkan Gejala dan tanda klinis yang dapat ditemukan pada pasien inflamasi telinga luar.
Sebutkan / jelaskan terapi pada otitis eksterna.
Jawaban :
Liang telinga terbagi menjadi 1/3 luar (yang biasa disebut liang telinga bagian kartilago) dan liang telinga 2/3 dalam (yang biasa disebut sebagai liang telinga bagian tulang). Liang telinga tertutup oleh lapisan kulit, dan pada liang telinga 1/3 luar memiliki adneksa kulit (seperti kelenjar seruman dan folikel rambut). Pada liang telinga terdapat mekanisme fisiologi self cleansing yaitu migrasi epitel kulit ke arah luar dan adanya sekresi kelenjar serumen yang selalu menjaga kondisi liang telinga menjadi asam. Kedua mekanisme tersebut mencegah terjadinya infeksi pada kulit liang telinga..
Faktor predisposisi terjadinya inflamasi liang telinga adalah:
Iklim tropis yang hangat dan lembab.
Maserasi kulit liang telinga yang memudahkan invasi bakteri patogen.
Penurunan pH kulit liang telinga akibat berenang dan pembersihan serumen berlebih.
Keluhan yang sering dirasakan pasien adalah gatal, nyeri (otalgia), gangguan pendengaran. Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan liang telinga sempit akibat kulit yang edema, hiperemis, dan sekret purulen. Pada anak usia dini, diagnosis tersebut kadang sulit didapatkan dan menyeripai dengan temuan pada otitis media atau mastoiditis.
J. INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR
PENUNTUN BELAJAR
Kinerja setiap langkah yang dievaluasi diberi nilai sesuai skala berikut: | |
1 | Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan). |
2 | Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal. |
PROSEDUR PEMBERIAN ANTIBIOTIK TOPIKAL PADA LIANG TELINGA
3 | Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien |
T/D | Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan). |
NAMA PESERTA: ......................................... TANGGAL: .................................
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR | |||||
| |||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR PEMBERIAN ANTIBIOTIK TOPIKAL PADA LIANG TELINGA | |||||
seluruh obat keluar dari dalam liang telinga. | |||||
K. DAFTAR TILIK
PROSEDUR PEMBERIAN ANTIBIOTIK TOPIKAL PADA LIANG TELINGA
Kinerja setiap langkah yang dievaluasi diberi nilai sesuai skala berikut: | |
1 | Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan). |
2 | Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal. |
3 | Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien |
T/D | Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan). |
NAMA PESERTA: ......................................... TANGGAL: .................................
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR | |||||
| |||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR PEMBERIAN ANTIBIOTIK TOPIKAL PADA LIANG TELINGA | |||||
ditetes menghadap ke atas. Selanjutnya obat | |||||
diteteskan ke dalam liang telinga diikuti dengan tindakan menekan tragus. Setelah jumlah tetesan yang dianjurkan tercapai, obat/cairan antibiotik didiamkan di dalam liang telinga selama 10 menit. Selanjutnya cairan obat dibuang dengan memiringkan kepala kearah berlawanan sehingga seluruh obat keluar dari dalam liang telinga. |
L. MATERI PRESENTASI
M. MATERI BAKU
Otitis Eksterna Difusa
Inflamasi pada CAE termasuk pada kulitnya (eksim, dermatitis yang disebabkan cedera mekanik, zat toksik atau alergi) akan memperberat infeksi bakteri akut pada kulit yang bercampur dengan flora normal termasuk organisme gram negatif (pseudomonas aeruginosa, proteus mirabilis) dan bakteri anaerob. Penyakit ini biasanya ditandai dengan keluhan gatal. Bisa juga disertai dengan rasa nyeri pada infeksi akut. Terkadang pasien mengeluhkan adanya krusta akibat
adanya riwayat cairan purulen yang keluar. Pada pemeriksaan fisik dapat kita temukan adanya penebalan disertai dengan adanya deskuamasi. Ditemukan juga adanya pembengkakan yang disertai dengan adanya cairan atau krusta. Penanganannya dapat dilakukan dengan pembersihan yang berulang dan membuat telinga menjadi kering dengan pemberian cairan antiseptik dan antibiotik tetes telinga. Bisa juga diobati dengan pemberian kombinasi antara antibiotik dengan steroid tetes telinga, tetapi tidak boleh lebih dari 2 minggu karena dapat menyebabkan resistensi.12
Otitis Eksterna Sirkumskripta
Disebut juga dengan furunkel, dimana terjadi infeksi bakteri akut pada jaringan tulang rawan di CAE. Disebabkan oleh adanya trauma lokal dan kontaminasi dari CAE yang menyebabkan obstruksi pada folikel rambut dan biasanya disebabkan oleh infeksi kuman staphilococcus pada unit pilosebaseus. Gejalanya biasanya pasien merasakan sangat nyeri disertai adanya pembengkakan. Penyakit ini ditangani dengan melakukan pembersihan dengan teliti kemudian diberikan kasa alkohol 70% selama 1-2 hari. Setelah itu dapat kita berikan salep antibiotik. Setelah bengkaknya teratasi barulah kita berikan tetes telinga kombinasi antibiotik dengan steroid.12
Otomikosis
Otomikosis adalah infeksi jamur yang terdapat pada kulit kanal eksterna. Meskipun jamur mungkin patogen utama, mereka biasanya bersamaan dengan infeksi bakteri kronis pada kanal eksterna atau telinga tengah. Otomikosis sekunder cenderung kambuh jika infeksi primer yang mendasari tidak terkontrol. Semua jamur memiliki tiga persyaratan pertumbuhan dasar ; kelembaban, kehangatan, dan kegelapan. Spesies Aspergillus adalah yang paling umum, biasanya A. niger. Tetapi bisa juga disebabkan oleh candida albikans, mucor dan dermatophyta. Jika pada kultur aural tumbuh A. fumigatus atau A. flavus, maka kita harus curiga tentang infeksi yang lebih invasif.1,3,4,12
Pruritus adalah keluhan klinis utama. Pemeriksaan otoskopi umumnya mengungkapkan membran putih abu-abu, hitam, atau putus-putus. Pembersihan menyeluruh di bawah mikroskop dengan pasien terlentang untuk menghilangkan kotoran jamur adalah langkah pertama dan benar-benar paling penting dalam terapi. Dilakukan aural toilet disertai dengan aplikasi topikal seperti aluminium sulfat- kalsium asetat (Domeboro) atau dengan bubuk pengeringan seperti asam borat. Krim atau salep clotrimazole (Lotrimin) juga dapat digunakan. Pada perforasi membran timpani atau ventilasi paten tuba, tetes clotrimazole atau lotion mungkin sangat menyakitkan. Terapi dengan tindakan pembersihan dan pengeringan menggunakan serbuk bisa memberikan hasil yang baik. Tympanoplasty merupakan
tindakan terbaik yang dilakukan untuk menutup perforasi yang sebentar-sebentar mengeluarkan cairan yang disertai dengan infeksi jamur.1,3,4,12
Gentian violet biasanya ditoleransi dengan baik pada pasien dengan adanya lubang di mastoid. Karena akan menjadi noda pada kulit dan pakaian secara permanen, dalam jumlah kecil digunakan dengan perlindungan yang memadai dari daerah sekitarnya.1
Banyak pasien dengan infeksi otomykosis refraktori mungkin telah menjalani operasi mastoid sebelumnya. Seringkali dinding saluran menjadi lebih rendah. Karena terkadang sampai terjadi gangguan pendengaran yang sedang sampai parah, pasien mungkin perlu memakai alat bantu dengar dengan cetakan tertutup. Ini merupakan masalah yang signifikan karena pasien bergantung pada alat bantu hampir sepanjang hari dan enggan untuk melepas alat bantu tersebut. Instruksikan ke pasien untuk berhati-hati, debridement telinga secara teliti, dan penggunaan agen pengeringan seperti bubuk asam borat, bubuk Chloromycetin- sulfanilamide-Fungizone (amfoterisin B) atau bubuk Chloromycetin-sulfanilamide
- Tinactin (tolnaftate) sering akan membantu membersihkan rongga. Salep di rongga tertutup dengan alat bantu dengar dapat mendorong pertumbuhan jamur karena akumulasi kelembaban. Dalam kasus refrakter, gentian violet atau metacresyl asetat (Cresylate) digunakan secara topikal.1
DAFTAR ISI
WAKTU PEMBELAJARAN 1
PERSIAPAN SESI 1
REFERENSI 1
KOMPETENSI 2
CONTOH KASUS DAN DISKUSI 2
TUJUAN PEMBELAJARAN 2
METODE PEMBELAJARAN 3
EVALUASI 3
INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF 4
INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR 5
DAFTAR TILIK 7
MATERI PRESENTASI 7
MATERI BAKU 15
MODUL I.1.6
OTOLOGI – GANGGUAN TELINGA LUAR : PERIKONDRITIS & OTHEMATOM
WAKTU PEMBELAJARAN
Proses pengembangan kompetensi | Alokasi waktu |
Sesi dalam kelas | 2 x 60 menit (classroom session) |
Sesi praktikum | 3 x 60 menit (coaching session) |
Sesi praktik dan pencapaian kompetensi | 20 x 60 jam (facilitationand assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi presentasi: Power point
Kasus: Perikondritis dan othematom.
Sarana dan alat bantu latih: (disesuaikan dengan pencapaian kompetensi)
Penuntun belajar (learning guide): terlampir.
Tempat belajar (training setting): instalasi rawat jalan, instalasi rawat inap, kamar operasi, ruang praktikum.
Model/manekin telinga.
Komputer/laptop.
In focus.
REFERENSI
Linstrom CJ, Lucente FE. Infections of the External Ear. In: Bailey BJ, Johnson JT, Newlands SD, editors. Head & Neck Surgery – Otolaryngology, 5th ed. Lippincott Willia&Wilkins Publisher;2010.p. 1988-2001
Buchman CA, Levine JD, Balkany TJ. Infection of the Ear. In : Lee KJ, editor. Essential Otolarngology Head & Neck Surgery, 8th ed. McGraw-Hill;2003.p.462- 511.
Browning GG. Aetiopathology of inflammatory conditions of the external and middle ear.In: Booth JB, editor. Otology, Scott-Browns’s Otolaryngology, 6th ed. Butterworth Heinemann;1997.p.3/3/1-3/3/36
Austin DF. Diseases of the external ear. In : Ballenger JJ, Snow JB, editors. Otorhinolarngology: Head ad Neck surgery, 17th ed. Williams & Wilkins; 2007.p.974-88.
Prasad HK, Sreedharan S, Prasad HS, Meyyappan MH, Harsha KS. Perichondritis of the auricle and its management. J Laryngol Otol. 2007;121(6):530–4. Epub 2007 Feb 26. [PubMed] [Google Scholar]
Bassiouny A. Perichondritis of the auricle. Laryngoscope1981;91:422–
Prasad KC, Karthik S, Prasad SC. A comprehensive study on the lesions of the pinna. Am J Otolaryngol Head Neck,Med Surgery 2005;26:1–6
Buchman Craig A, Levine JD, Balkany TJ. Infection of the Ear in Essential Otolaryngology Head & Neck Surgery K.J Lee. The 8th ed. 1999; 462
KOMPETENSI
Pengetahuan
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik mampu:
Menegakkan diagnosis perikondritis dan othematom berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan
Menatalaksana secara mandiri kasus perikondritis dan othematom
Keterampilan
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan mampu:
Menjelaskan epidemiologi dan patofisiologi perikondritis.
Melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang pada kasus perikondritis dan othematom.
Menjelaskan gejala dan tanda perikondritis.
Menentukan sikap dalam penatalaksanan perikondritis.
Melakukan penatalaksanaan secara optimal dan tuntas pada perikondritis.
CONTOH KASUS DAN DISKUSI
Kasus :
Seorang laki-laki, umur 32 tahun datang dengan keluhan telinga kanan bengkak, terasa gatal, nyeri dan disertai keluar cairan dari telinga yang dirasakan sejak 3 hari.
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan Pembelajaran Umum
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik terampil dalam:
Mampu menegakkan diagnosis klinis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang pada kasus perikondritis dan othematom.
Mampu memutuskan dan menangani kasus perikondritis dan othematom sesuai kompetensi.
Tujuan Pembelajaran Khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk:
Menjelaskan anatomi, histologi, topografi dan fisiologi daun telinga.
Menjelaskan definisi dan patofisiologi perikondritis dan othematom.
Menjelaskan gambaran klinis perikondritis dan othematom.
Melakukan penanganan nonbedah pada perikondritis dan othematom.
Melakukan penanganan bedah pada perikondritis dan othematom sesuai kompetensi.
METODE PEMBELAJARAN
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Presentasi modul
Referat/tinjauan pustaka
Skills lab
Poliklinik
Bedside teaching
Tindakan/operasi
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pretest dalam bentuk tertulis dan lisan sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai pengetahuan awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri atas:
Anatomi dan fisiologi daun telinga.
Penegakan diagnosis.
Penatalaksanaan.
Selanjutnya dilakukan diskusi bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar.
Peserta didik diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar melalui metode bedside teaching kepada pasien sesungguhnya dengan pengawasan fasilitator dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut:
Perlu perbaikan: pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan.
Cukup: pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien.
Baik: pelaksanaan benar dan baik (efisien).
Melakukan case based discussion (formulir penilaian terlampir).
Peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education).
Pencapaian pembelajaran:
Ujian akhir stase, setiap divisi/unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan.
Ujian nasional dilakukan pada akhir tahapan pendidikan spesialis oleh kolegium ilmu kesehatan THT-KL.
INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF
Kuesioner:
Sebelum Pembelajaran
Jelaskan anatomi dan histologi daun dan liang telinga.
Jelaskan etiologi dan faktor risiko perikondritis.
Jelaskan patogenesis dan patofisiologi terjadinya perikondritis.
Sebutkan pemeriksaan penunjang dalam menegakkan diagnosis perikondritis.
Jelaskan penatalaksanaan pada perikondritis. Jawaban:
Tengah Pembelajaran
Perikondritis dapat disebabkan oleh:
Proteus mirabilis
P. aeruginosa
Enterobacter
S. aureus
Semua jawaban di atas benar Penatalaksanaan pada perikondritis, kecuali:
Antibiotika profilaksis
Antibiotika tetes telinga
Antibiotika antipseudomonas
Operasi untuk mengurangi kartilago yang nekrotik
Evakuasi seroma atau hematoma Jawaban:
Essay/Ujian Lisan/Uji Sumatif
Seorang laki-laki, umur 32 tahun datang dengan keluhan telinga kanan bengkak, terasa gatal, nyeri dan disertai keluar cairan dari telinga yang dirasakan sejak 3 hari.
Apa saja kemungkinan penyakit yang diderita?
Pemeriksaan apa saja yang diperlukan untuk menunjang dalam menegakkan diagnosis?
Jelaskan perbedaan antara othematom dan perikondritis.
Jelaskan patofisiologi terjadinya othematom dan perikondritis.
Jelaskan penatalaksanaan othematom dan perikondritis.
Jawaban:
INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR
PENUNTUN BELAJAR
PROSEDUR INSISI DAN KOMPRESI DAUN TELINGA
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.:
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan).
Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal.
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu pengerjaan efisien.
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan).
NAMA PESERTA:......................................... TANGGAL: .................................
KEGIATAN | KASUS KE- | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||||
II. PROSEDUR | |||||
1. Membersihkan daun dan liang telinga dengan cairan aquadest atau NaCl 0,9% hangat. | |||||
2. Mengusap daun telinga dengan Betadine sebagai tindakan a dan antiseptik. | |||||
2. Melakukan tindakan anestesi lokal dengan lidocain dan adrenalin = 2:1 pada daerah di sekitar area perikondritis. | |||||
3. Insisi perikondritis di daerah yang berfluktuasi atau indurasi dengan arah insisi searah dengan kurvatura telinga. | |||||
4. Dilakukan drainase darah, serosa, dan kuretase serta pembersihan jaringan nekrotik dan granulasi pada daerah daun telinga. | |||||
5. Dilakukan balut tekan pada kedua sisi daun telinga (depan dan belakang) dengan penjahitan through and through yang melewati balutan hingga menembus kartilago. | |||||
6. Dilakukan pemeriksaan kultur dan sensitivitas atau pengiriman jaringan ke bagian Patologi Anatomi apabila diperlukan. | |||||
7. Dilakukan pemberian obat antibiotik dan antinyeri secara oral. | |||||
Nama
Diagnosis
Informed choice dan informed consent
Rencana Tindakan
Persiapan Sebelum Tindakan
DAFTAR TILIK
PROSEDUR INSISI DAN KOMPRESI DAUN TELINGA
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini:
: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
X: Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
T/T: Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
PESERTA: ...................................... TANGGAL :.........................................
KEGIATAN | NILAI | ||
1. Kaji ulang diagnosis. | |||
2. Persiapan tindakan. | |||
3. Melakukan tindakan sesuai dengan prosedur. | |||
4. Melakukan follow up setelah tindakan. | |||
MATERI PRESENTASI PERIKONDRITIS DAN OTHEMATOM
MATERI BAKU
Pendahuluan
Daun telinga sangat rentan terhadap trauma, infeksi dan gangguan akibat kondisi lingkungan (cuaca, polutan, dll) oleh karena posisi daun telinga yang terekspos dan tidak adanya lemak subkutan yang melindungi lapisan kartilago pada permukaan anterior.
PERIKONDRITIS
Perikondritis aurikula adalah peradangan pada perikondrium dan kartilago daun telinga. Pada umumnya akibat komplikasi dari trauma telinga yang dapat menimbulkan deformitas. Terminologi perikondritis itu sendiri tidak akurat oleh karena inflamasi ini hampir selalu melibatkan kartilago, dengan formasi abses dan serum cairan darah terkumpul di lapisan subperikondrial.
Epidemiologi dan Patofisiologi
Trauma tumpul yang menyebabkan terjadinya hematoma dan infeksi sekunder merupakan penyebab tersering perikondritis.
Infeksi aurikula ini menunjukan infeksi yang lebih berat pada jaringan mesenkimal daun telinga. Luka penetrasi seperti tindik telinga dan akupuntur dapat menyebabkan infeksi langsung. Pada kasus yang tidak berat, kerusakan kartilago biasanya terbatas, sedangkan pada infeksi yang lebih berat dapat mengakibatkan kerusakan integritas kartilago akibat gangguan vaskuler. Perikondritis supuratif dapat menyertai operasi mastoid dan sebagai komplikasi dari luka bakar. Pada luka bakar kerusakan kartilago biasanya lebih luas.
Perbedaan Perikondritis dan kondritis hanya dapat dipastikan pada saat operasi dengan ditemukannya kartilago yang nekrotik, sebagai tanda pasti sudah terjadinya kondritis. Setelah terjadi trauma awal darah atau serum terkumpul pada ruang subperikondrial dan dapat mengalami infeksi sekunder oleh kuman S. Aureus, P. aeruginosa dan Proteus sp. Apabila rongga subperikondrial ini dievakuasi, pada minggu kedua hingga keempat deposisi kartilago mulai terjadi dari perikondrium yang tersisa dan matriks menjadi tidak rata serta dapat membentuk deformitas telinga yang disebut dengan cauliflower.
DIAGNOSIS
Anamanesis
Anamnesis yang teliti dilakukan untuk mencari riwayat adanya trauma, pemasangan anting, akupuntur, luka bakar, hematoma pinna, laserasi dan lain-lain.
Komorbid seperti diabetes mellitus dapat sebagai predisposisi terjadinya perikondritis. Perlu pula ditanyakan penggunaan antibiotik sebelumnya dan apakah ada riwayat otitis eksterna berulang.
Pemeriksaan
Perikondritis aurikula/pinna memberi gambaran yang tipikal berupa infeksi kartilago aurikula dan terpisah dari lobulus, sementara selulitis berupa gambaran infeksi yang tidak terpisah dari lobulus. Hal ini penting dibedakan oleh karena organisme penyebab biasanya berbeda.
Pada pemeriksaan telinga dijumpai
Eritema yang disertai nyeri dan indurasi aurikula dengan hilangnya kontur.
Lokasi formasi abses
Nekrosis jaringan lunak
Otitis eksterna sebagai penyakit primer,(endoskopi)
Penyebaran selulitis dari wajah atau kepala
Tanda trauma atau luka-luka lain
Pemeriksaan lower nervus kranialis dan pemeriksaan neurologic umum sesuai indikasi
Semua perhiasan terutama yang terdapat di daerah perikondritis, selulitis atau abses harus dilepaskan.
Apabila terdapat gejala dan tanda ringan yang mengenai aurikula dan hidung secara bersamaan, perlu diduga adanya relapsing polikondritis yang merupakan kondisi autoimun yang mengenai kartilago dan bukan kondisi infeksi
Gejala dan Tanda Klinis
Infeksi ini dapat bersifat akut dan kronik, gejala dan gambaran klinik dapat terjadi beberapa minggu setelah faktor pencetus muncul. Keluhan awal sering berupa nyeri tumpul dan berawal pada daerah heliks dan anti-heliks. Biasanya terjadi setelah trauma atau trauma pembedahan atau terjadi sebagai komplikasi otitis eksterna atau perluasan dari erysipelas aurikula. Telinga yang terkena akan mengalami nyeri,
eritema dan pembengkakan berfluktuasi dan dapat mengeluarkan eksudat, krusta yang terbentuk dari debris skuamosa, hingga akhirnya terjadi kerusakan kartilago.
Gambar1. Perikondritis disertai abses dan keluarnya eksudat
Bakteri Penyebab
Bakteri penyebab tersering adalah Pseudomonas aeruginosa, dan beberapa bakteri penyebab lain lain seperti S. aureus, Enterobacter, Proteus mirabilis dan organisme gram negatif lain.
Sedangkan pada selulitis aurikula bakteri penyebabnya adalah Staphylococcus aureus atau oleh organisme kulit yang lain.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah pemeriksaan kultur dan sensitivitas, serta biopsi untuk pemeriksaan patologi anatomi jaringan.
Tatalaksanaan
Tujuan utama tatalaksana yang dilakukan adalah untuk eradikasi infeksi.
Optimalisasi tindakan operatif yang dilakukan dengan tujuan untuk mengembalikan bentuk daun telinga ke bentuk asal (kosmetik). Bedah plastik dan rekonstruksi dilakukan pada kasus deformitas berat pada aurikula.
Perawatan luka, evakuasi hematoma atau seroma, pembalutan telinga, pemberian antibiotika topikal profilaksis, dan pemberian antibiotika sistemik merupakan standar tatalaksana pasca trauma daun telinga.
Pada kasus derajat ringan tindakan debridemen dan pengobatan dengan antibiotika oral maupun topikal memiliki efek yang baik.
Terapi dengan menggunakan antibiotika ditujukan untuk eradikasi bakteri gram negatif dan S. aureus.
Pada kasus derajat sedang dapat dilakukan pengobatan dengan pemberian Ciprofloxacin oral dengan kombinasi dengan anti-Pseudomonas tetes telinga, seperti Gentamycin atau Fluoroquinolone. Prosedur debridemen membutuhkan tindakan berulang dan jangka panjang oleh karena sering terjadi kerusakan kartilago yang mengakibatkan deformitas berat.
Antipseudomonas aminopenicillin atau fluoroquinolone selama 2 hingga 4 minggu.
Salf topikal fusidic acid dapat membantu dalam terapi infeksi staphylococcus.
Apabila infeksi menyebar hingga ke jaringan lunak regional dan kelenjar limfe, pasien harus dirawat dan diberikan antibiotika intravena hingga keadaan klinis yang stabil tercapai.
Pada kasus berat/ lanjut, eksisi luas dengan reseksi komposit dari kulit, nekrosis kartilago dan perikondrium dengan preservasi permukaan kulit kontralateral. Prosedur operasi dengan eksisi material nekrosis melalui insisi heliks dan menyelipkan model bivalve pada telinga. Operasi (insisi dan kompresi daun telinga) dilakukan untuk mengeliminasi kartilago yang mengalami nekrosis dan meminimalisir terjadinya deformitas bentuk daun telinga. Beberapa operator juga melakukan insersi pipa polyethylene didalam drain penrose yang diletakkan di anterior dan posterior kartilago yang terinfeksi, dan dilakukan irigasi rutin antibiotik tiap hari pada daerah yang terinfeksi ini melalui pipa tersebut.
Tindakan debridemen yang optimal dan adekuat memiliki efek terapi yang baik pada semua tahapan infeksi perikondritis.
Apabila infeksi sudah berjalan subakut ataupun kronis dan terdapat kerusakan pada kartilago, maka tindakan intervensi operasi diperlukan.
Gambar 2. Insisi dan bebat tekan
Gambar 3. Cauliflower telinga akibat perikondritis
Indikasi rawat inap
Penderita dengan abses aurikula atau nekrosis jaringan
Penderita dengan infeksi telinga dan disertai gangguan status neurologi
Penderita yang tidak memberi respon terhadap pengobatan antibiotik oral
Penderita immunocompromised dan immune suppressed (DM tidak terkontrol, HIV AIDS, penderita yang menjalani kemoterapi)
Hati-hati pada penderita baru dengan gejala selulitis aurikula lima hari atau lebih dan penderita dengan riwayat trauma penetrasi dan gejala perikondritis pinna.
ALGORITMA DAN PROSEDUR
Debridement
Antibiotik oral
Antibiotik topikal
Debridement ulang
Kultur
Antibiotik (Ciprofloxacin)
Anti-Pseudomonas tetes telinga
Antibiotik topikal lab: darah lengkap, GDS Ureum,electrolite, CRP, Coag/INR
-
-
-
-
-
Lab:
Debridement ulang Kultur
Rawat inap
Anti-Pseudomonas intravena Tindakan operatif
darah
lengkap,
GDS,Ureum,electrolit, CRP, Coag/INR
Derajat berat
Infeksi menyebar hingga jaringan lunak regional dan kelenjar limfe, atau
Nekrosis kartilago
Derajat ringan
Bengkak daun telinga
Fluktuasi jaringan
gatal hingga liang telinga
Nyeri
Derajat sedang
Eritema
Bengkak
Nyeri tekan
Keluar cairan dari telinga
krusta yang terbentuk amosa
Anamnesis
Pemeriksaan fisik
Pasien dengan keluhan bengkak daun telinga, gatal, nyeri
HEMATOMA AURIKULA (OTHEMATOM)
Merupakan komplikasi trauma langsung pada anterior yang menyebabkan pemisahan perikondrium anterior dari dasarnya, yaitu perlekatan kuat kartilago berakibat robeknya pembuluh darah dan terbentuk formasi hematoma. Robeknya pembuluh darah perikondrium dapat mengganggu viabilitas kartilago dibawahnya yang bersifat avaskuler. Terjadinya hematoma perikondrium dapat menstimulasi terbentuknya kartilago baru yang asimetri. Deformitas inilah yang disebut sebagai cauliflower telinga atau wrestler’s ear.
Gambar 4. Hematoma aurikula
TATALAKSANA
Tujuan dari tatalaksana adalah untuk mengevakuasi hematoma dalam mencegah timbulnya formasi neokartilago. Evakuasi ini juga akan menyebabkan stimulasi sel-sel mesenkim perikondrial. Untuk eliminasi dead space dilakukan metode kompressi (bebat tekan). Dengan dilakukannya bebat tekan pada rongga tersebut maka bisa dihindari rekurensi hematoma.
Gambar 5. Aspirasi hematoma aurikula
REFERENSI
Linstrom CJ, Lucente FE. Infections of the External Ear. In: Bailey BJ, Johnson JT, Newlands SD, editors. Head & Neck Surgery – Otolaryngology, 5th ed. Lippincott Willia&Wilkins Publisher;2010.p. 1988-2001
Buchman CA, Levine JD, Balkany TJ. Infection of the Ear. In : Lee KJ, editor. Essential Otolarngology Head & Neck Surgery, 8th ed. McGraw-Hill;2003.p.462-511.
Browning GG. Aetiopathology of inflammatory conditions of the external and middle ear.In: Booth JB, editor. Otology, Scott-Browns’s Otolaryngology, 6th ed. Butterworth Heinemann;1997.p.3/3/1-3/3/36
Austin DF. Diseases of the external ear. In : Ballenger JJ, Snow JB, editors. Otorhinolarngology: Head ad Neck surgery, 17th ed. Williams & Wilkins; 2007.p.974- 88.
Prasad HK, Sreedharan S, Prasad HS, Meyyappan MH, Harsha KS. Perichondritis of the auricle and its management. J Laryngol Otol. 2007;121(6):530–4. Epub 2007 Feb 26. [PubMed] [Google Scholar]
Bassiouny A. Perichondritis of the auricle. Laryngoscope1981;91:422–
Prasad KC, Karthik S, Prasad SC. A comprehensive study on the lesions of the pinna. Am J Otolaryngol Head Neck,Med Surgery 2005;26:1–6
Buchman Craig A, Levine JD, Balkany TJ. Infection of the Ear in Essential Otolaryngology Head & Neck Surgery K.J Lee. The 8th ed. 1999; 462
DAFTAR ISI
WAKTU PEMBELAJARAN 1
PERSIAPAN SESI 1
REFERENSI 1
KOMPETENSI 2
CONTOH KASUS DAN DISKUSI 2
TUJUAN PEMBELAJARAN 3
METODE PEMBELAJARAN 4
EVALUASI 6
INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF 7
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR 10
DAFTAR TILIK 11
MATERI PRESENTASI 13
MATERI BAKU 21
MODUL I.2.1
OTOLOGI – GANGGUAN FUNGSI TUBA : PATULOUS TUBA EUSTACHIUS
WAKTU PEMBELAJARAN
Proses pengembangan kompetensi | Alokasi waktu |
Sesi dalam kelas | 1 x 60 menit (classroom session) |
Sesi dengan fasilitas pembimbing | 1 x 60 menit (coaching session) |
Sesi praktik dan pencapaian kompetensi | 1 x 60 menit (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi presentasi: Power point.
Kasus : Patulous tuba Eustachius.
Sarana dan alat bantu latih: (disesuaikan dengan pencapaian kompetensi)
Penuntun belajar (learning guide): terlampir.
Tempat belajar (training setting): instalasi rawat jalan, instalasi rawat inap, kamar operasi, ruang praktikum.
Model/manekin telinga atau tulang temporal.
Komputer/laptop.
In focus.
REFERENSI
Watkinson JC, Clarke RW, Scott-Brown’s Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery, Volume 2, CRC Press Taylor & Francis Group, Florida, 2018, p. 115- 154.
Flint PW, Haughey BH, Lund VJ, Niparko JK, Robbins KT, Thomas JR, et al., cummings Otolaryngology Head and Neck Surgery, sixth edition, Elsevier Saunders, Philadelphia, 2015, p. 2027-2037.
Johnson JT, Rosen CA, Bailey’s Head and Neck Surgery-Otolaryngology, fifth edition, Lippincott Williams & Wilkins, Baltimore, 2014, p. 1292-1293, 1485- 1488, 1497-1500.
Bluestone CD, Simons JP, Healy GB, Bluestone and Stool’s Pediatric Otolaryngology, fifth edition, People’s Medical Publishing House, Connecticut, 2014, p. 633-657.
LaRouere MJ, Babu SC, Bojrab DI, Surgical Techniques in Otolaryngology Head and Neck Surgery, The Health Sciences Publisher, Philadelphia, 2015, p. 5-10.
KOMPETENSI
Pengetahuan
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik mampu:
Menjelaskan anatomi, histologi, topografi, dan fisiologi tuba Eustachius.
Menjelaskan definisi dan patofisiologi patulous tuba Eustachius.
Menjelaskan gambaran klinis patulous tuba Eustachius.
Menegakkan diagnosis patulous tuba Eustachius.
Menjelaskan penanganan patulous tuba Eustachius dan komplikasinya sesuai kompetensi.
Menjelaskan tindakan bedah pada kasus patulous tuba Eustachius.
Menjelaskan work-up penderita patulous tuba Eustachius.
Keterampilan
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam:
Melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan penunjang pada patulous tuba Eustachius.
Menegakkan diagnosis patulous tuba Eustachius.
Melakukan pemasangan pipa ventilasi (sesuai Modul Inflamasi Telinga Tengah).
CONTOH KASUS DAN DISKUSI
Seorang laki-laki usia 45 tahun datang ke instalasi rawat jalan dengan keluhan telinga terasa penuh dan pasien dapat mendengar suara napas dengan jelas pada telinga kiri sejak 4 bulan sebelumnya. Pasien mengalami penurunan berat badan sebanyak 15 kg selama 6 bulan terakhir akibat penyakit diabetes yang diderita.
Diskusi:
Sebutkan diagnosis yang paling mungkin pada pasien.
Jelaskan patofisiologi penyakit yang menjadi diagnosis kerja pada pasien.
Sebutkan pemeriksaan penunjang yang diperlukan untuk menegakkan diagnosis tersebut, berserta temuan yang diharapkan.
Sebutkan terapi untuk diagnosis tersebut.
Jawaban:
Diagnosis kerja: Patulous tuba Eustachius kanan.
Patulous tuba Eustachius disebabkan oleh atrofi atau berkurangnya jaringan lunak penunjang tuba.
Pada pemeriksaan membran timpani dengan otoskopi atau otomikroskopi atau otoendoskopi didapatkan membran timpani yang tipis dan bergerak ke dalam dan ke luar sesuai gerakan pernapasan.
Terapi pada patulous tuba Eustachius terdiri atas nonbedah (medikamentosa) dan bedah.
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan Pembelajaran Umum
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik terampil dalam:
Menegakkan diagnosis klinis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
Memutuskan dan menangani kasus patulous tuba Eustachius sesuai kompetensi.
Tujuan Pembelajaran Khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk:
Menjelaskan anatomi, histologi, topografi dan fisiologi tuba Eustachius.
Menjelaskan definisi dan patofisiologi patulous tuba Eustachius.
Menjelaskan gambaran klinis patulous tuba Eustachius.
Menegakkan diagnosis patulous tuba Eustachius.
Melakukan penanganan nonbedah pada patulous tuba Eustachius dan komplikasinya sesuai kompetensi.
Melakukan tindakan pemasangan pipa ventilasi.
Melakukan work-up penderita patulous tuba Eustachius.
METODE PEMBELAJARAN
Tujuan 1. Menjelaskan anatomi, histologi, topografi dan fisiologi tuba Eustachius.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Diskusi kelompok.
Harus diketahui:
Anatomi, histologi, dan topografi tuba Eustachius.
Fisiologi tuba Eustachius.
Tujuan 2. Menjelaskan definisi dan patofisiologi patulous tuba Eustachius.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Diskusi kelompok.
Harus diketahui:
Definisi patulous tuba Eustachius.
Patofisiologi terjadinya patulous tuba Eustachius.
Tujuan 3. Menjelaskan gambaran klinis patulous tuba Eustachius.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Kuliah.
Diskusi kelompok.
Harus diketahui:
Gambaran klinis (gejala dan tanda) patulous tuba Eustachius.
Tujuan 4. Menegakkan diagnosis patulous tuba Eustachius.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Kuliah.
Diskusi kelompok.
Bedside teaching.
Praktik pada pasien. Harus diketahui:
Tanda dan gejala klinis patulous tuba Eustachius.
Tujuan 5. Melakukan penanganan nonbedah pada patulous tuba Eustachius dan komplikasinya sesuai kompetensi.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Kuliah.
Diskusi kelompok.
Bedside teaching.
Praktik pada pasien. Harus diketahui:
Terapi nonbedah pada patulous tuba Eustachius.
Komplikasi patulous tuba Eustachius.
Tujuan 6. Melakukan pemasangan pipa ventilasi pada patulous tuba Eustachius dan komplikasinya sesuai kompetensi.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Kuliah.
Diskusi kelompok.
Bedside teaching.
Latihan keterampilan di ruang praktikum atau mengikuti
workshop/pelatihan.
Bimbingan operasi dan asistensi.
Operasi mandiri Harus diketahui:
Teknik pemasangan pipa ventilasi pada patulous tuba Eustachius.
Komplikasi pemasangan pipa ventilasi pada patulous tuba Eustachius.
Tujuan 7. Melakukan work-up penderita patulous tuba Eustachius.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Kuliah.
Diskusi kelompok.
Harus diketahui:
Hal-hal yang harus diawasi dan dijelaskan kepada pasien saat menjalani terapi dan setelah terapi patulous tuba Eustachius.
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pretest dalam bentuk tertulis dan lisan sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri atas:
Anatomi, histologi, dan fisiologi tuba Eustachius.
Penegakan diagnosis.
Teknik operasi.
Follow up.
Selanjutnya dilakukan “small group discussion” bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian.
Setelah mempelajari penuntun belajar ini, peserta didik diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk praktikum pada skills lab dan bedside teaching. Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assisted Evaluation) setelah dianggap memadai, melalui metode bedside teaching dengan dibawah pengawasan fasilitator, peserta dididik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomi dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan, pembimbing melakukan pengawasan langsung (direct observation) dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut:
Perlu perbaikan: pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan.
Cukup: pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien.
Baik: pelaksanaan benar dan baik (efisien).
Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
Self assesment dan Peer Assisted Evaluation dengan menggunakan penuntun belajar.
Pendidik/fasilitas:
Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist penilaian (terlampir).
Penjelasan lisan dari peserta didik atau diskusi.
Kriteria penilaian keseluruhan: cakap/tidak cakap/lalai.
Pada akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education).
Pencapaian pembelajaran:
Ujian akhir stase, setiap divisi/unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan.
Ujian akhir pendidikan, dilakukan pada akhir tahapan lanjut oleh kolegium ilmu THT-KL.
INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF
Kuesioner:
Sebelum pembelajaran
Soal:
Tuba Eustachius tersusun dari tulang pada bagian 2/3 proksimal dan otot pada bagian 1/3 distal. (Benar/Salah)
Fungsi utama tuba Eustachius adalah ventilasi, proteksi, dan drainase. (Benar/Salah)
Pada keadaan normal, tuba Eustachius tertutup dan terbuka bila ada kontraksi otot levator velli palatini. (Benar/Salah)
Patulous tuba adalah keadaan tuba Eustachius yang selalu tertutup karena kekakuan otot levator velli palatini. (Benar/Salah)
Pada patulous tuba terdapat jaringan lunak penunjang, khususnya jaringan lemak Ostmann yang berkurang atau hilang. (Benar/Salah)
Jawaban:
Salah.
Benar.
Benar.
Salah.
Benar.
Tengah pembelajaran
Soal:
Jelaskan anatomi tuba Eustachius.
Jelaskan fungsi utama tuba Eustachius.
Jelaskan patofisiologi trjadinya patulous tuba Eustachius. Jawaban:
Tuba Eustachius tersusun atas bagian tulang (1/3 proksimal yang mengarah ke telinga tengah) dan jaringan lunak yang terdiri dari tulang rawan dan otot (2/3 distal yang mengarah ke nasofaring).
Fungsi utama tuba Eustachius adalah:
Ventilasi: untuk menyamakan tekanan telinga tengah dengan udara luar melalui nasofaring.
Proteksi telinga tengah dari suara dan refluks isi nasofaring ke telinga tengah.
Drainase sekret telinga tengah ke nasofaring melalui mucociliary clearance.
Patulous tuba Eustachius ditandai dengan tuba Eustachius yang selalu berada dalam keadaan terbuka. Kelainan ini disebabkan berkurang atau hilangnya jaringan lunak penunjang tuba, khususnya jaringan lemak Ostmann.
Akhir pembelajaran
Soal:
Jelaskan anatomi tuba Eustachius.
Jelaskan fungsi utama tuba Eustachius.
Jelaskan patofisiologi trjadinya patulous tuba Eustachius.
Jelaskan gejala dan tanda klinis patulous tuba Eustachius.
Jelaskan tindakan bedah pada patulous tuba Eustachius. Jawaban:
Tuba Eustachius tersusun atas bagian tulang (1/3 proksimal yang mengarah ke telinga tengah) dan jaringan lunak yang terdiri dari tulang rawan dan otot (2/3 distal yang mengarah ke nasofaring).
Fungsi utama tuba Eustachius adalah:
Ventilasi: untuk menyamakan tekanan telinga tengah dengan udara luar melalui nasofaring.
Proteksi telinga tengah dari suara dan refluks isi nasofaring ke telinga tengah.
Drainase sekret telinga tengah ke nasofaring melalui mucociliary clearance.
Patulous tuba Eustachius ditandai dengan tuba Eustachius yang selalu berada dalam keadaan terbuka. Kelainan ini disebabkan berkurang atau hilangnya jaringan lunak penunjang tuba, khususnya jaringan lemak Ostmann.
Gejala dan tanda klinis terkadang tidak khas. Dari anamnesis didapatkan riwayat penurunan berat badan, kehamilan dan kontrasepsi oral, riwayat operasi tonsil dan kelenjar parotis, penyakit neuromuskuler, dan gangguan sendi temporomandibular. Pasien juga mengeluhkan suara pernafasan yang terdengar keras di telinga dan suara pasien yang terdengar kencang apabila pasien bicara.
Tindakan bedah pada patulous tuba Eustachius adalah pemasangan pipa ventilasi telinga tengah, augmentasi bedah orifisium nasofaring dengan kartilago autologous, implant alloderm atau kalsum hidroksiapatit.
Essay/Ujian lisan:
Seorang laki-laki usia 45 tahun datang ke instalasi rawat jalan dengan keluhan telinga terasa penuh dan pasien dapat mendengar suara napas dengan jelas pada telinga kiri sejak 4 bulan sebelumnya. Pasien mengalami penurunan berat badan sebanyak 15 kg selama 6 bulan terakhir akibat penyakit diabetes yang dideritanya.
Pertanyaan:
Sebutkan diagnosis yang paling mungkin pada pasien.
Jelaskan patofisiologi penyakit yang menjadi diagnosis kerja pada pasien.
Sebutkan pemeriksaan penunjang yang diperlukan untuk menegakkan diagnosis tersebut, berserta temuan yang diharapkan.
Sebutkan terapi untuk diagnosis tersebut.
Jawaban:
Diagnosis kerja: Patulous tuba Eustachius kanan.
Patulous tuba Eustachius terjadi apabila tuba Eustachius selalu berada dalam keadaan terbuka. Kelainan ini disebabkan oleh atrofi atau berkurangnya jaringan lunak penunjang tuba.
Pada pemeriksaan membran timpani dengan otoskopi atau otomikroskopi atau otoendoskopi didapatkan membran timpani yang tipis dan bergerak ke dalam dan ke luar sesuai gerakan pernapasan.
Terapi pada patulous tuba Eustachius terdiri atas non-bedah (medikamentosa) dan pemasangan pipa ventilasi.
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR PROSEDUR PEMASANGAN PIPA VENTILASI
Kinerja setiap langkah dievaluasi dan diberi nilai sesuai skala berikut: | |
1 | Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan). |
2 | Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Instruktur hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal. |
3 | Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang efisien. |
T/D | Langkah tidak diamati (instruktur menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan). |
NAMA PESERTA: ……………………… TANGGAL: ……………….
KEGIATAN | KASUS | ||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||
II. PERSIAPAN | |||
Persiapan bahan habis pakai: - NaCl 0,9%. Persiapan alat: | |||
III. PROSEDUR OPERASI | |||
Nama.
Diagnosis.
Informed choise & informed consent.
Rencana tindakan.
Persiapan sebelum tindakan.
Pipa ventilasi telinga tengah (Sheppard atau pipa T).
Spuit 3 cc.
Alkohol 70%.
Tampon liang telinga steril.
Miringotom (pisau miringotomi).
Tip suction liang telinga (diameter 1-3 mm).
Forsep alligator.
Rosen needle.
Antiseptik liang telinga dengan memasukkan larutan alkohol 70% dan didiamkan selama 10 – 15 menit di dalam liang telinga.
Aspirasi alkohol hingga bersih.
Cuci sisa alcohol dnegan larutan NaCl 0,9%.
Melakukan miringotomi (tidak pada kuadran posterosuperior membrant timpani) dengan miringotom.
Pipa ventilasi dipegang dengan forsep alligator dan diletakkan pada permukaan membrane timpani.
Pipa ventilasi digerakkan dengan rosen needle mendekati lubang miringotomi dan bagian ujung tajamnya diselipkan ke dalam lubang.
Pipa ventilasi didorong sehingga terselip ke dalam lubang miringotomi.
Memastikan tidak ada tepi perforasi membrane timpani yang terlipat ke dalam dengan menggunakan rosen needle.
Liang telinga ditutup dengan tampon steril di bagian luar dan tidak boleh menyentuh atau mendorong pipa ventilasi.
DAFTAR TILIK
PROSEDUR PEMASANGAN PIPA VENTILASI
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini:
M | Memuaskan: langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar. |
TM | Tidak memuaskan: langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar. |
TD | Tidak ditampilkan: langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh instruktur. |
NAMA PESERTA: ……………………… TANGGAL: ……………….
KEGIATAN | NILAI | ||
II. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||
II. PERSIAPAN | |||
Persiapan bahan habis pakai: - NaCl 0,9%. Persiapan alat: | |||
III. PROSEDUR OPERASI | |||
tidak boleh menyentuh atau mendorong pipa ventilasi. | |||
Nama.
Diagnosis.
Informed choice & informed consent.
Rencana tindakan.
Persiapan sebelum tindakan.
Pipa ventilasi telinga tengah (Sheppard atau pipa T).
Spuit 3 cc.
Alkohol 70%.
Tampon liang telinga steril.
Miringotom (pisau miringotomi).
Tip suction liang telinga (diameter 1-3 mm).
Forsep alligator.
Rosen needle.
Antiseptik liang telinga dengan memasukkan larutan alkohol 70% dan didiamkan selama 10 – 15 menit di dalam liang telinga.
Aspirasi alkohol hingga bersih.
Cuci sisa alcohol dnegan larutan NaCl 0,9%.
Melakukan miringotomi (tidak pada kuadran posterosuperior membrant timpani) dengan miringotom.
Pipa ventilasi dipegang dengan forsep alligator dan diletakkan pada permukaan membrane timpani.
Pipa ventilasi digerakkan dengan rosen needle mendekati lubang miringotomi dan bagian ujung tajamnya diselipkan ke dalam lubang.
Pipa ventilasi didorong sehingga terselip ke dalam lubang miringotomi.
Memastikan tidak ada tepi perforasi membrane timpani yang terlipat ke dalam dengan menggunakan rosen needle.
Liang telinga ditutup dengan tampon steril di bagian luar dan
MATERI PRESENTASI
MATERI BAKU
Definisi
Patulous tuba Eustachius adalah kondisi abnormal dari tuba Eustachius yang selalu terbuka.
Etiologi
Faktor-faktor dibawah ini merupakan etiologi utama yang menyebabkan patulous tuba Eustachius:
Perubahan dari lingkungan kompresi tuba (kehilangan Ostmann’s fat setelah penurunan berat badan)
Faktor neuromuskular
Kehilangan elastisitas kartilago pada proses penuaan
Jaringan parut pada daerah nasofaring dan orofaring setelah operasi dan radiasi.
Faktor hormonal (estrogen).
Pengurangan bantalan lemak Ostmann selama prosses penurunan berat badan dianggap sebagai salah satu faktor utama yang menyebabkan gejala patulous tuba Eustachius. Pada beberapa penelitian yang mengamati patulous tuba Eustachius pada
pasien dengan karsinoma orofaring memperlihatkan bahwa terdapat kejadian penguranan bantalan lemak Ostmann selama fase rekurensi dan kakeksia. Otopsi menunjukkan bahwa apabila terjadi kehilangan lemak total dapat mengakibatkan kontak langsung antara otot tensor veli palatini dan lumen tuba Eustachius.
Modifikasi anatomi nasofaring melalui prosedur bedah, seperti adenoidektomi atau tonsilektomi yang disertai jaringan parut pascaoperasi, dapat juga menjadi penyebab. Demikian juga jaringan parut setelah iradiasi kranium juga dapat menyebabkan kegagalan penutupan tuba Eustachius, Para penulis berpendapat bahwa ini disebabkan oleh hilangnya turgor dan elastisitas jaringan tuba dan perubahan tegangan pada permukaan mukosa tuba pada inflamasi telinga tengah.
Komplians tuba Eustachius dapat dipengaruhi oleh estrogen. Beberapa penelitian mendokumentasikan 17 pasien wanita dalam 12 tahun yang selama kehamilan menunjukkan gejala patulous tuba Eustachius. Level estrogen pada wanita hamil berdampak pada viskositas lendir intratubal serta komplians dari kartilago tuba. Selain itu, peningkatan estrogen menyebabkan peningkatan metabolisme lemak yang mengarah ke pengurangan kadar bantalan lemak Ostmann.
Salah satu faktor neuromuskuler adalah gangguan pembukaan tuba selama pernapasan di nasofaring yang menyebabkan proses penutupan tuba menjadi relatif telambat. Selain itu perubahan patologis dari pusat dan sistem saraf perifer harus dipertimbangkan, seperti trauma atau penyakit sistem neurologis, seperti multiple sclerosis, penyakit Parkinson atau poliomyelitis.
Patofisiologi
Tuba Eustachius menutup saat beristirahat dan aktif terbuka hanya dalam kondisi yang terkontrol saat pernapasan di nasofaring. Apabila tuba Eustachius terubuka lebih dari periode waktu tertentu, maka terdapat sebuah diskomunikasi antara nasofaring dan kavum timpani. Diskomunikasi ini dapat menyebabkan perpindahan fluktuasi tekanan dari faring ke telinga tengah baik secara intermiten maupun konstan. Gejala yang dapat timbul tidak hanya sensasi penuh di telinga dan autofoni, tapi dapat juga berupa, gejala gejala pada telinga dalam seperti penurunan pendengaran tipe sensorineural, tinitus, atau vertigo.
Diagnosis
Gangguan fungsi proteksi pada Tuba Eustachius akan menyebabkan gejala autofoni yang menggangu dan sensasi penuh pada telinga, dan kumpulan gejala tadi dapat juga disebut sebagai patulous Eustachian tube. Kejadian patulous tuba Eustachius sendiri sering disebut sebagai fenomena gunung es.
Gejala klinis dari patulous tuba Eustachius biasanya tidak jelas. Dalam banyak kasus, membran timpani dan telinga tengah tampak normal pada pemeriksaan menggunakan mikroskop telinga. Itulah sebabnya diagnosis dikonfirmasikan dengan menyelidiki riwayat medis yang tepat. Deskripsi gejala intermiten dan permanen, riwayat penurunan berat badan, kehamilan dan kontrasepsi oral di masa lalu harus ditanyakan dengan jelas. Anamnesis harus mencakup riwayat operasi pada amandel dan kelenjar gondok, penyakit neuromuskuler dan, terutama, gangguan sendi di temporomandibular. Beberapa pasien mengeluh timbul gejala setelah kejadian otitis media. Jika gejala klinis muncul pada pemeriksaan, gejala dapat dihilangkan dengan kompresi vena jugularis. Kadang-kadang gerakan medial dan lateral dari membran timpani terlihat dan dapat dikonfirmasi saat menggunakan tympanometry.
MRI atau CT dapat membantu mengkonfirmasi perubahan morfologis struktur paratubal tetapi tidak menggantikan pengamatan klinis yang menyeluruh.
Tata Laksana
Secara umum patulous tuba Eustachius tidak menyebabkan perubahan struktural dalam rongga timpani. Apabila terdapat gangguan pada telinga tengah maka harus diobati terlebih dahulu. Namun, jika terdapat atrofi pada membran timpani dan terdapat gejala patulous tuba Eustachius yang nyata, timpanoplasti dapat dipertimbangkan dan dapat digunakan kartilago untuk graft.
Dalam kasus patulous tuba Eustachius yang diinduksi estrogen, penghentian kontrasepsi hormonal dan metode KB lainnya harus dipertimbangkan. Gangguan- gangguan dari saluran pencernaan bagian atas, seperti hipotonia arteri serta gastroesofageal refluks harus diperhatikan.
Terapi konservatif
Tatalaksana medis untuk penyakit tuba Eustachius harus berdasarkan dari penyebab utama. Saat ini, terapi medis yang efisien masih diteliti. Intervensi farmakologi meliputi steroid hidung, antihistamin, dekongestan hirup dan sistemik. Pada penelitian random, double-blind, placebo-controlled trial meneliti mengenai
efek dekongestan (xylometazoline chloride 0,1%) dan placebo (salin 0,9%) diberikan langsung pada bukaan faringeal dari tuba Eustachius. Penelitian menyimpulkan bahwa dekongestan topikal meningkatkan fungsi tuba Eustachius tetapi hanya saat tekanan tinggi tidak fisiologis. Penelitian lain yang menginvestigasi efisiensi aqueous triamcinolone acetonide intranasal dalam mengobati tanda-tanda timpanometrik dan gejala penyakit tuba Eustachius. Temuan tersebut tidak mendukung penggunaan steroid spray intranasal untuk mengobati manifestasi penyakit tuba Eustachius.
Kebanyakan penanganan nonbedah untuk patulous tuba Eustachius bertujuan untuk mengatasi obstruksi pada orifisium faring. Induksi lokal mukosa edema dapat dilakukan dengan pemberian secara transnasal menggunakan asam borat bubuk, asam salisilat, asam trikloroasetat, asam nitrat, fenol atau perak nitrat. Keberhasilan sementara dilaporkan untuk perawatan intranasal dengan asam klorida encer, benzyl alkohol dan klorobutanol, dengan estrogen terkonyugasi, dengan atropin dan dengan aplikasi oral larutan kalium iodida walaupun mekanisme kerjanya belum dapat dijelaskan.
Rekomendasi pada pasien yang mengalami penurunan berat badan dalam waktu singkat adalah untuk meningkatkan berat badan terlebih dahulu.
Terapi Injeksi
Terapi yang sering disarankan adalah augmentasi dari nasofaringeal orifisium tuba Eustachius. Tingkat keberhasilan terapi augmentasi tergantung pada stabilitas jangka panjang daripada jumlah zat yang disuntikan. Beberapa peneliti menggunakan pasta polytetrafl uoroethylene (Teflon). Zat ini disuntikkan ke dalam batas anteroinferior dari tuba Eustachius. Namun produksi dan penggunaan zat ini telah dihentikan, mengingat komplikasi dan risiko yang dapat timbul apa bila zat salah disuntikkan ke arteri karotis. Bahan lain telah digunakan untuk augmentasi dan/atau penyumbatan, seperti lemak autologous, kolagen dan bahkan silikon, namun belum ada penelitian jangka panjang yang dapat menilai keberhasilan dan komplikasi penggunaan zat ini.
Terapi Pembedahan
Pemasangan pipa ventilasi ke dalam membran timpani adalah prosedur yang paling sering disarankan untuk patulous tuba Eustachius. Tingkat keberhasilan
hingga 50% atau lebih tinggi. Pemasangan pipa ventilasi tidak memiliki efek yang signifikan pada gejala autofoni berat. Shunt ventilasi timpani hanya mampu menyerap perubahan tekanan di rongga timpani, yang disebabkan oleh menelan dan bernapas. Transmisi suara transtubal yang disebabkan oleh gangguan fungsi perlindungan tidak terpengaruh. Efek pipa ventilasi yang tidak pasti dan tidak lengkap juga dibatasi oleh efek samping lokal dari tabung timpanostomi, seperti otorea.
Penanganan Obstruksi bedah pada tuba Eustachius dapat dilakukan di nasofaring atau orifisium timpani, dengan menggunakan probe diatermi urologis. Prosedur lain yang dapat dilakukan adalah penggunaan metode augmentasi bedah orifisium nasofaring menggunakan kartilago autologus, implan alloderm atau kalsium hidroksiapatit, dengan menggunakan pendekatan transnasal/transoral dan memasukkan graft di bawah kontrol endoskopi anterolateral ke lumen tuba.
Dalam kasus patulous tuba Eustachius persisten setelah terapi konservatif, beberapa ahli menggunakan kartilago septum untuk augmentasi lubang nasofaring. Septum nasal dipanen dalam ukuran sekitar 2,5 × 1 cm dan ditanamkan di antara otot tensor veli palatini dan tuba Eustachius dengan anestesi umum. Untuk implantasi, pendekatan transpalatinal digunakan, yang dikendalikan oleh endoskopi hidung. Sistem navigasi dapat membantu menghindari salah penempatan. Setelah alas untuk tulang rawan dibentuk oleh gunting, belat didorong ke atas sejauh mungkin.
Ada banyak keuntungan dari metode ini:
Tulang rawan septum hidung adalah bahan yang stabil yang mudah dipanen.
Pendekatan implantasi transpalatinal langsung dapat dengan mudah dikendalikan oleh teleskop.
Otot tensor veli palatini penanda yang aman untuk penempatan kartilago.
Prosedurnya bersifat reversibel.
Penggunaan metode ini dapat menghilangkan autofoni dan sensasi penuh pada telinga.
DAFTAR ISI
WAKTU 1
PERSIAPAN SESI 1
REFERENSI 1
KOMPETENSI 2
CONTOH KASUS 2
TUJUAN PEMBELAJARAN 3
METODE PEMBELAJARAN 3
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR 8
DAFTAR TILIK 20
MATERI PRESENTASI 28
MATERI BAKU 46
MODUL I.2.2
OTOLOGI – GANGGUAN TELINGA TENGAH : INFLAMASI TELINGA TENGAH
WAKTU
Proses Pengembangan Kompetensi | Waktu |
Sesi dalam kelas Sesi dengan fasilitas pembimbing Seksi praktik dan pencapaian kompetensi | 5 x 60 menit (kuliah/ diskusi) 10 x 120 menit (bimbingan) 8 minggu |
PERSIAPAN SESI
Kasus
Kasus : Otitis Media Akut stadium perforasi
Sarana dan Alat Bantu
Model Anatomi Telinga
Video Presentasi
Fasilitas Diseksi Tulang Temporal:
Tulang Temporal
Alat-alat diseksi
Seperangkat bor tulang temporal
Video diseksi
Pembimbing
Buku bimbingan
Buku acuan/referensi
Tempat: Poliklinik, Bangsal Perawatan, Ruang Operasi, ruang praktikum
REFERENSI
Chole RA, Brodie HA, Jacob A. Surgery of the Mastoid and Petrosa. In Byron J. Bailey & Jonas T. Johnson Head and Neck Surgery Otolaryngology. Fifth edition. Volume two. Lippincott Williams & Willimns. Philadelphia. 2014
Lee K..J. Infections of the Temporal Bone. In:Essential Otolaryngology. 12 th Ed. McGraw Hill. 2019
Flint, P.W, Haughey B.H, Lund V.J, Niparko J.K, Richardson M.A, Robbins K.T, Thomas J.R. Chronic Otitis Media Mastoiditis and Petrositis in Cummings Otolaryngology Head and Neck Surgery. 5th Ed. Volume two. Mosby Elsevier. 2015
Gulya, A.J, Minor L.B, Poe D.S. Pathology and Clinical Course of the Inflammatory Disease of the Middle Ear in Glasscock-Shambaugh Surgery of the Ear. Sixth edition. Peoples’s Medical Publishing House-USA. 2010
Brackmann, D.E, Shelton C, Arriaga M.A. Complication of Surgery for Chronic Otitis Media in Otologic Surgery. Fourth edition. Saunders Elsevier. 2016
Chole RA, Brodie HA, Jacob A. Surgery of the Mastoid and Petrosa. In Byron J. Bailey & Jonas T. Johnson Head and Neck Surgery Otolaryngology. Vol 2. 5th Ed. Lippincott Williams & Willimns. Philadelphia. 2014.
Helmi. Bedah Telinga Tengah untuk Otitis Media Supuratif Kronis. Penerbit FK UI Jakarta. 2005. h: 170
KOMPETENSI
Pengetahuan
Mampu membuat diagnosis radang telinga tengah berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan-pemeriksaan tambahan (misalnya otomikroskopi, pemeriksaan radiologi seperti foto polos dan HRCT mastoid). Dapat memutuskan dan mampu menangani masalah tersebut secara mandiri hingga tuntas
Keterampilan
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam :
Menjelaskan anatomi , topogarafi, fisiologi telinga
Menjelaskan etiologi dan macam-macam radang telinga tengah
Menjelaskan patofisiologi, gambaran klinis, dan terapi radang telinga tengah
Menjelaskan pemeriksaan penunjang diagnosis
Menjelaskan komplikasi dan penanganan radang telinga tengah
Menjelaskan teknik operasi pada radang telinga tengah dan komplikasinya
Melakukan perencanaan tatalaksana penderita radang telinga tengah (follow-up selanjutnya)
Melakukan terapi terhadap radang telinga tengah
Melakukan tindakan pembedahan pada radang telinga tengah
Melakukan perawatan pra operatif ( memberikan penjelasan kepada penderita dan keluarga, informed consent) dan pasca operasi serta mampu mengatasi komplikasi yang terjadi.
CONTOH KASUS
Seorang anak laki-laki berusia 4 tahun dibawa orang tuanya ke Instalasi Gawat Darurat pada malam hari dengan keluhan keluar cairan dari telinga kiri sejak 2 hari. Pasien menderita batuk pilek sejak 1 minggu dan demam tinggi 3 hari yang lalu. Keadaan umum pasien saat datang: kompos mentis, subfebris. Pemeriksaan otoskopi kanan liang telinga lapang, membran timpani utuh, hiperemis. Sedangkan telinga kiri: terdapat sekret mukoid di liang telinga kiri dan terdapat perforasi sentral pada membran timpani.
Diskusi:
Lengkapkan anamnesis pada pasien ini
Lengkapkan pemeriksaan fisik pada pasien ini
Apa diagnosis kerja yang paling mungkin untuk pasien ini
Jelaskan patogenesisnya
Apa komplikasi yang mungkin terjadi
Bagaimana penatalaksaan pada pasien ini
Jawaban:
Perlu ditanyakan apakah keluhan ini timbul pertama kali ataukah berulang-ulang. Adakah keluhan gangguan pendengaran pada anak ini. Apakah penderita sering
bernafas melalui mulut. Apakah pasien memiliki riwayat penyakit alergi atau riwayat keluarga dengan penyakit alergi seperti asma, rinitis alergi, ataupun faktor predisposisi otitis media lainnya.Apakah sudah diberikan obat sebelumnya? Apakah ada keluhan yang mengarahkan pada komplikasi yang mungkin timbul seperti sakit kepala, dan lainnya.
Pemeriksaan THT lengkap perlu dilakukan yaitu menilai kondisi tenggorok, ukuran tonsil, dan tanda infeksi lainnya bila mungkin dilihat ukuran adenoid. Pemeriksaan hidung dilakukan untuk menilai keadaan cavum nasi dan tanda- tanda infeksi.
Diagnosis kerja:
telinga kanan: otitis media akut stadium hiperemis Telinga kiri: otitis media akut stadium perforasi
Diagnosis tambahan lainnya disesuaikan dengan hasil pemeriksaan hidung dan tenggorok yang didapatkan pada pasien.
Gangguan fungsi tuba Eustachius merupakan faktor utama awal terjadinya otitis media. Pada gangguan tersebut fungsi tuba sebagai penyeimbang tekanan, proteksi telinga tengah, dan fungsi ventilasi tidak dapat berjalan dengan baik. Dengan demikian kan terjadi tekanan negatif di telinga tengah, yang menyebabkan transudasi cairan hingga supurasi.
Dapat terjadi komplikasi intrakranial maupun intratemporal.
Pada pasien dengan diagnosis otitis media akut ini perlu diberikan analgetik/antipiretik serta antibiotik. Antibiotika lini pertama yang terpilih adalah amoxicillin dan lini kedua adalah amoxicillin-clavulanat. Telinga kiri dengan stadium perforasi dapat obat antibiotik topikal ofloxacin 0.3%.
TUJUAN PEMBELAJARAN
Pembelajaran materi ini bertujuan untuk mendapatkan pengetahuan, ketrampilan dan perilaku yang terkait dengan kompetensi yang diperlukan, yaitu:
Menguasai anatomi, topografi, fisiologi telinga
Mampu menjelaskan etiologi dan macam-macam radang telinga tengah.
Mampu menjelaskan patofisiologi, komplikasi, gambaran klinis, serta mendiagnosis kasus radang telinga tengah.
Dapat membuat perencanaan tatalaksana penderita radang telinga tengah (follow- up selanjutnya).
Melakukan tindakan pembedahan pada radang telinga tengah
Mampu menjelaskan komplikasi dan penanganan radang telinga tengah
Mampu melakukan perawatan praoperatif (memberikan penjelasan kepada penderita dan keluarga, informed consent) dan perawatan pasca-operasi serta mampu mengatasi komplikasi yang terjadi.
METODE PEMBELAJARAN
Tujuan 1. Menguasai anatomi, topografi, dan fisiologi telinga
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri
Kuliah
Diskusi kelompok
Pelatihan diseksi tulang temporal
Harus diketahui :
Anatomi telinga
Fisiologi telinga
Topografi dan landmark bedah mikro telinga
Tujuan 2. Mampu menjelaskan etiologi, patofisiologi dan macam-macam radang telinga tengah.
Workshop/ pelatihan
Belajar mandiri
Kuliah
Diskusi kelompok
Continuing professional development
Harus diketahui :
Etiologi dan predisposisi
Patofisiologi
Patogenesis penyakit
Tujuan 3. Mampu menjelaskan gambaran klinis, diagnosis, serta komplikasi kasus radang telinga tengah.
Belajar mandiri
Kuliah
Diskusi kelompok
Visite bedside teaching
Praktik pada pasien
Continuing professional development
Harus diketahui :
Gejala (keluhan pasien)
Tanda klinis penyakit
Pemeriksaan penunjang
Diagnosis kerja dan diagnosis definitif
Komplikasi penyakit
Patofisiologi komplkasi
Tujuan 4. Dapat membuat perencanaan tatalaksana penderita radang telinga tengah (follow-up selanjutnya)
Belajar mandiri
Kuliah
Diskusi kelompok
Visite bedside teaching
Praktik pada pasien
Continuing professional development
Harus diketahui :
Tatalaksana pasien baik non pembedahan maupun pembedahan
Keperluan konsultasi dalam tatalaksana
Tujuan/ goal tatalaksana
Tujuan 5. Melakukan tindakan pembedahan pada radang telinga tengah
Workshop/ pelatihan
Belajar mandiri
Kuliah
Diskusi kelompok
Visite bedside teaching
Pelatihan diseksi tulang temporal
Bimbingan operasi dan asistensi
Praktik pada pasien
Continuing professional development
Harus diketahui :
Jenis-jenis pembedahan
Pertimbangan jenis pembedahan yang dilakukan
Target pencapaian pembedahan
Evaluasi hasil pembedahan
Tujuan 6. Mampu menjelaskan komplikasi dan penanganan radang telinga tengah
Belajar mandiri
Kuliah
Grup diskusi
Visite bedside teaching
Workshop/ pelatihan
Bimbingan operasi dan asistensi
Praktik pada pasien
Continuing professional development
Harus diketahui :
Komplikasi dan tanda-tandanya
Tatalaksana komplikasi
Minimalisasi komplikasi
Tujuan 7. Mampu melakukan perawatan praoperatif (memberikan penjelasan kepada penderita dan keluarga, informed consent) dan perawatan pasca-operasi serta mampu mengatasi komplikasi yang terjadi.
Belajar mandiri
Kuliah
Grup diskusi
Visite bedside teaching
Workshop/ pelatihan
Kasus morbiditas dan mortalitas
Praktik pada pasien
Continuing professional development
Harus diketahui :
Persiapan praoperatif
Perawatan properatif
Perawatan pascaoperasi
E. EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pre test dalam bentuk tertulis sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri atas :
Anatomi dan fisiologi telinga
Penegakan diagnosis
Teknik operasi
Follow up
Selanjutnya dilakukan “small group discussion” bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian.
Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk “role play” dan teman-temannya (Peer Assisted Evaluation) atau kepada SP (Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi setelah dianggap memadai, melalui metode bedside teaching dibawah pengawasan fasilitator, peserta dididik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut :
Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan.
Cukup : pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien.
Baik : pelaksanaan benar dan baik (efisien)
Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
Self assesment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar.
Pendidik/ fasilitas :
pengamatan langsung dengan memakai formulir ceklis terlampir
penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi
Kriteria penilaian keseluruhan : cakap/ tidak cakap/ lalai
Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education)
Pencapaian pembelajaran :
Ujian akhir stase, setiap divisi/ unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan.THT-KL
Ujian akhir kognitif dan ketrampilan, dilakukan pada akhir tahapan THT-KL lanjut oleh kolegium ilmu THT-KL
F. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Kuesioner Sebelum Pembelajaran
Sebutkan 3 struktur sebagai landmark saat akan melakukan mastoidektomi superfisialis.
Sebutkan 3 struktur sebagai landmark jika akan melakukan timpanotomi posterior
Sebutkan dan jelaskan 2 mekanisme proteksi di telinga tengah Jawaban :
Linea temporalis, Spine of Henle dan dinding posterior CAE
Nervus fasialis pars mastoidea, Chorda timpani dan incus buttress
Proteksi di telinga tengah dilakukan oleh tuba eustachius dan m. Stapedius
Kuesioner Tengah Pembelajaran
Sama dengan kuesioner sebelum pembelajaran, sehingga dapat dilakukan pembandingan nilai sebelum dan sesudah pembelajaran
Essay/ Ujian Lisan
Soal :
Seorang anak berusia 5 tahun dibawa oleh ibunya ke poli THT dengan keluhan kurang respons bila dipanggil. Pasien tidak ada keluhan demam, nyeri telinga maupun keluar cairan, tidak ada batuk pilek. Pengasuh dan guru tk pasien mengeluh pasien sulit menangkap instruksi ataupun suara bila dipanggil. Orangtua pasien mengeluh pasien mengorok ketika tidur. Pada pemeriksaan fisik kedua telinga didapatkan liang telinga lapang, sekret tidak ada, membran timpani intak dan tidak hiperemis dengan refleks cahaya suram dan tampak cairan jernih kekuningan di belakang membran timpani dengan air fluid level di kedua telinga.
Sebutkan diagnosis kerja yang paling mungkin pada pasien ini
Sebutkan 3 pemeriksaan penunjang yang diperlukan dan jelaskan tujuan pemeriksaan
Jelaskan penatalaksanaan yang komprehensif pada pasien ini Jawaban :
Otitis media efusi bilateral
Pemeriksaan pendengaran menggunakan penala, audiometri atau pemeriksaan BERA bila diperlukan, timpanometri, evaluasi hipertrofi adenoid (menggunakan fleksibel endoskop atau foto polos sinus paranasal posisi lateral)
Bila pasien didapatkan gangguan pendengaran konduktif dengan gambaran timpanogram sesuai dengan otitis media efusi maka dapat dilakukan watchful waiting sampai dengan 3 bulan. Akan tetapi bila pada pasien ini didapatkan tuli konduktif bilateral diperlukan intervensi lebih awal untuk tindakan miringotomi disertai dengan pemasangan pipa timpanostomi (grommet).dengan atau tanpa adenoidektomi. Evaluasi faktor risiko lain seperti alergi juga diperlukan agar dapat dilakukan tatalaksana menyeluruh pada pasien.
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR
PENUNTUN BELAJAR I PROSEDUR MIRINGOTOMI
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.:
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
NAMA PESERTA: ...................................... TANGGAL: ................................
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||||
II. PROSEDUR MIRINGOTOMI (dalam anestesi umum/ lokal) | |||||
- Cuci tangan, mengenakan sarung tangan steril | |||||
- Evaluasi membran timpani dengan baik menggunakan mikroskop | |||||
- Tindakan pembersihan liang telinga dengan kapas aplikator dan alkohol 70 %, setelah itu bila prosedur tersebut dilakukan dalam anestesi lokal dilakukan anestesi lokal menggunakan lidocaine 10 % spray atau lidocaine cream 5 % | |||||
- Insisi membran timpani, kecuali kuadran postero-superior, menggunakan miringotom atau jarum steril. | |||||
- Hisap sekret yang keluar dari telinga tengah melalui luka insisi dan kultur sekret (bila diperlukan) | |||||
PASCA MIRINGOTOMI Instruksi pasca tindakan | |||||
Nama
Diagnosis
Informed Consent
Rencana Tindakan
Persiapan Sebelum Tindakan
pemberian antibiotik sistemik disesuaikan dengan etiologi penyakit yang mendasari tindakan miringotomi
pemberian analgetik/antinflamasi
evaluasi 7 hari pasca-miringotomi
PENUNTUN BELAJAR II PROSEDUR PEMASANGAN PIPA GROMMET
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.:
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
NAMA PESERTA: ...................................... TANGGAL: ................................
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||||
II. PROSEDUR MIRINGOTOMI (dalam anestesi loal) | |||||
- Cuci tangan, mengenakan sarung tangan steril | |||||
- Evaluasi membran timpani dengan baik menggunakan mikroskop | |||||
- Tindakan pembersihan liang telinga dengan kapas aplikator dan alkohol 70 %, setelah itu dilakukan anestesi lokal menggunakan lidocaine 10 % spray atau lidocaine cream 5 % | |||||
- Insisi membran timpani yang dapat dilihat dengan baik, kecuali daerah postero-superior, menggunakan miringotom atau jarum steril. | |||||
memegang ujung sayap seperti pada contoh gambar seperti di bawah ini: | |||||
Nama
Diagnosis
Informed Consent
Rencana Tindakan
Persiapan Sebelum Tindakan
Hisap sekret yang keluar dari telinga tengah melalui luka insisi
Pipa grommet dipegang menggunakan forcep alligator dan diletakan di tempat insisi membran timpani. Kemudian dimasukan ke lubang insisi dengan menggunakan pick seperti memasukan ke lubang kancing.
Atau bila menggunakan pipa T-tube, forcep alligator dipakai untuk
KEGIATAN | KASUS | ||||
PASCA MIRINGOTOMI | |||||
Instruksi pasca tindakan
pemberian antibiotik sistemik bila diperlukan disesuaikan dengan etiologi penyakit yang mendasari tindakan
pemberian analgetik/antinflamasi
evaluasi 7 hari pasca-miringotomi
PENUNTUN BELAJAR III
PROSEDUR INSISI & DRAINASE ABSES SUBPERIOSTEAL
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut:
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
NAMA PESERTA: ...................................... TANGGAL: ...............................
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||||
II. PROSEDUR INSISI ABSES SUBPERIOSTEAL | |||||
- Cuci tangan, mengenakan sarung tangan steril | |||||
- Aseptik dan antiseptik daerah yang akan diinsisi | |||||
- Anestesi lokal dengan chlor ethyl spray atau injeksi lidocaine intrakutan | |||||
Nama
Diagnosis
Informed Consent
Rencana Tindakan
Persiapan Sebelum Tindakan
KEGIATAN | KASUS | ||||
- Aspirasi abses dengan spuit ➔pus dikirim untuk pemeriksaan kultur dan tes resistensi | |||||
- Insisi dengan scalpel no11 atau .15 di bagian yang paling fluktuatif sampai daerah subperiosteal (tegak lurus sampai mencapai bagian tulang) | |||||
- Kantong abses dibuka secara tumpul dengan klem hemostat | |||||
- Cuci dengan Nacl 0.9 % dan betadine (bila perlu ditambahkan H2O2 3 %), setelahnya perlu dibilas dengan Nacl 0.9% | |||||
- Pasang drain selama 2 hari atau hingga produksi pus berhenti | |||||
- Ganti verban dan rawat luka setiap hari hingga tidak ada produksi pus | |||||
POST INSISI ABSES SUBPERIOSTEAL - Instruksi pasca operasi | |||||
pemberian antibiotika sistemik
pemberian analgetik/antinflamasi
evaluasi setiap hari sampai tidak ada produksi pus
PENUNTUN BELAJAR IV
PROSEDUR TIMPANOPLASTI DENGAN MASTOIDEKTOMI DINDING UTUH
Prosedur mastoidektomi dinding utuh dengan timpanoplasti memiliki beberapa nomenklatur yaitu:
Canal wall up mastoidectomy.
Canal wall up tympanoplasty.
Intact canal wall mastoidectomy.
Intact canal wall tympanoplasty.
Combined approach tympanoplasty (CAT).
Tympano-mastoidectomy.
Canal wall up tympano-mastoidectomy.
Intact canal wall tympano-mastoidectomy
Closed cavity mastoidectomy
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut:
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
NAMA PESERTA: ...................................... TANGGAL: .................................
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR TIMPANOMASTOIDEKTOMI | |||||
- Pemberian antibiotika profilaksis/ empiris/ definitif perioperatif, secara injeksi | |||||
- Menyiapkan mikroskop dan alat-alat yang akan digunakan | |||||
- Cuci tangan, memakai baju operasi dan handscoon | |||||
- tindakan a dan antiseptik pada daerah operasi dan sekitarnya dengan menggunakan povidon iodine atau antiseptik lainnya | |||||
- Pasang kain penutup operasi steril pada pasien, kecuali di area operasi | |||||
- Posisi pasien: terlentang, kepala miring ke arah berlawanan dengan sisi telinga yang dioperasi | |||||
III. PROSEDUR OPERASI perlu dilakukan timpanotomi posterior. | |||||
Nama
Diagnosis
Informed Consent
Rencana Tindakan
Persiapan Sebelum Tindakan
Operasi dilakukan dalam narkosis
Pada daerah operasi yang akan diinsisi dilakukan suntikan dengan larutan lidocain 2% dengan epinefrin 1 : 100.000- 200.000., untuk memisahkan periosteum
Dilakukan insisi retroaurikular 5-10 mm dari sulkus retroaurikular, mulai dari kulit, subkutis, kemudian dilanjutkan secara tangensial mendekati liang telinga
Dilakukan pengambilan tandur fasia muskulus temporalis atau perikondrium tragus
Dilakukan insisi pada muskuloperiosteal dari batas linea temporalis dan kearah inferior hingga tip mastoid
Korteks mastoid dipaparkan dengan menyingkap muskuloperiosteal flap
Mastoidektomi superfisialis:
Bor korteks mastoid dengan landmark segitiga Mc Ewen, dengan mengidentifikasi dinding posterior liang telinga, linea temporalis dan spina Henle. Identifikasi tegmen timpani, tegmen mastoid, sinus sigmoid dan kanalis semisirkulatis lateralis.
Mastoidektomi dalam
Identifikasi aditus ad antrum, fosa inkudis, solid angle dan N. Fasialis pars vertikal. Bila ada jaringan patologis/ jaringan granulasi dibersihkan
Identifikasi inkus, inkudomaleolar join dan maleus serta periksa mobilitas osikel dan patensi aditus ad antrum. Bila
KEGIATAN | KASUS | ||||
Instruksi pasca operasi tampon liang telinga harus diangkat lebih awal. | |||||
Pasang tandur yang sudah disiapkan dengan salah satu teknik pemasangan tandur (inlay, underlay, overlay, inlay- underlay), sesuai dengan tipe timpanoplasti
Tandur difiksasi dengan gel foam dan tampon liang telinga dengan lapisan salep antibiotik.
Luka operasi ditutup dengan jahitan lapis demi lapis PASCA OPERASI
pemberian antibiotika sistemik (profilaksis/ empiris/definitif)
pemberian analgetik/antiinflamasi
evaluasi pascaoperasi berupa adanya: perdarahan, paresis N.fasialis dan gangguan pendengaran sensorineurineural, gangguan keseimbangan
saat pemulangan pasien disesuaikan dengan kondisi medis yang dievaluasi operator
Perawatan luka pasca operasi: perawatan luka retrourikula anjuran 1 minggu pasca operasi, tampon liang telinga diangkat 7-14 hari pasca operasi (tergantung kondisi medis yang dievaluasi operator). Bila ditemukan tanda infeksi,
PENUNTUN BELAJAR V
PROSEDUR TIMPANOPLASTI DENGAN MASTOIDEKTOMI DINDING RUNTUH
Prosedur ini memiliki beberapa nomenklatur yaitu:
Canal wall down mastoidectomy
Open cavity mastoidectomy
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut:
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
NAMA PESERTA: ...................................... TANGGAL: .................................
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR | |||||
- Pemberian antibiotika profilaksis/ empiris/ definitif perioperatif, secara injeksi | |||||
- Menyiapkan mikroskop dan alat-alat yang akan digunakan | |||||
- Cuci tangan, memakai baju operasi dan handscoon | |||||
- tindakan a dan antiseptik pada daerah operasi dan sekitarnya dengan menggunakan povidon iodine atau antiseptik lainnya | |||||
- pasang kain penutup operasi steril pada pasien, kecuali di area operasi | |||||
- Posisi pasien : terlentang, kepala miring ke arah berlawanan dengan sisi telinga yang dioperasi | |||||
III. PROSEDUR OPERASI MASTOIDEKTOMI RADIKAL | |||||
- Pada daerah retroauricula dan liang telinga yang akan diinsisi dilakukan suntikan dengan lidocain 2% dengan epinefrin 1 : 100.000- 200.000. | |||||
Nama
Diagnosis
Informed Consent
Rencana Tindakan
Persiapan Sebelum Tindakan
KEGIATAN | KASUS | ||||
- Dilakukan insisi retroaurikular 5-10 mm dari sulkus atau pada batas kulit rambut daerah retroaurikular, mulai dari kulit, subkutis hingga lapisan fascia m.temporalis | |||||
Dilakukan pengambilan graft fasia muskulus temporalis
Dilakukan elevasi muskuloperiosteal flap dari korteks mastoid dengan menggunakan respatorium
Pasang retraktor (2 buah)
KEGIATAN | KASUS | ||||
Langkah-langkah mastoidektomi dinding runtuh dengan timpanoplasti | |||||
PASCA OPERASI | |||||
ditemukan tanda infeksi, tampon liang telinga harus diangkat lebih awal. | |||||
Bor korteks mastoid dengan landmark segitiga Mc Ewen, dengan mengidentifikasi dinding posterior liang telinga, linea temporalis dan spina Henle. Identifikasi tegmen timpani, tegmen mastoid, sinus sigmoid dan kanalis semisirkulatis lateralis.
Identifikasi aditus ad antrum, fosa inkudis, solid angle dan N. Fasialis pars vertikal. Bila ada jaringan patologis/ jaringan granulasi dan kolesteatoman dibersihkan
Identifikasi osikel (jika masih ada)
Bridge diruntuhkan dan dinding posterior direndahkan hingga setinggi fasial ridge
Kavitas operasi dibersihkan
Dilakukan meatoplasti
Jaringan kolesteatoma dibersihkan sebersih mungkin dan apabila kavitas bersih dari jaringan patologis (kolesteatoma), dipasang tandur fasia temporalis menutupi kavitas operasi
Diletakkan tampon yang sudah dilapisi dengan salep antibiotik untuk menutup kavitas operasi.
Luka operasi ditutup dengan jahitan lapis demi lapis
pemberian antibiotika sistemik (profilaksis/ empiris/definitif)
pemberian analgetik/antiinflamasi
evaluasi pascaoperasi berupa adanya: perdarahan, paresis N.fasialis dan gangguan pendengaran sensorineurineural, keseimbangan
saat pemulangan pasien disesuaikan dengan kondisi medis yang dievaluasi operator
perawatan luka pasca operasi : perawatan luka retrourikula anjuran 1 minggu pasca operasi, tampon liang telinga diangkat 7-14 hari pasca operasi (tergantung kondisi medis yang dievaluasi operator). Bila
PENUNTUN BELAJAR VI PROSEDUR MEATOPLASTI
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.:
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
KEGIATAN | KASUS | ||||
I PROSEDUR MEATOPLASTI | |||||
Panjang insisi sesuai dengan ukuran rongga mastoid | |||||
berbentuk triangular pada kedua sisi. | |||||
kemudian dipotong lagi berbentuk bulan sabit. Pengangkatan kartilago sudah cukup apabila kulit dapat dilipat kearah medial | |||||
konkal atau jaringan lunak. | |||||
setelah mastoidektomi selesai, isi mastoid dengan tampon untuk mencegah darah masuk ke rongga ini
Menggunakan speculum, konka distabilisasi
Insisi konka dilakukan pada permukaan anterior dari aurikula. Kulit, kartilago konka dan jaringan lunak diinsisi dari pertengahan dinding meatus posterior ke antehelix, parallel terhadap crus helix.
Kulit dibagian superior insisi dipegang dengan forsep dan dlakukan diseksi antara kulit dengan kartilago dibawahnya menggunakan gunting tajam, demikian pula diseksi dilakukan antara kartilago dengan jaringan dibawahnya. Hal yang sama dilakukan dikulit bagian inferior ari insisi. Setelah cukup luas kartilago yang terekspos, dilakukan pengangkatan kartilago
Bila kartilago yang diangkat belum cukup luas, tambahan kartilago dapat diambil melalui luka retroaurikula. Karatilago
Dari luka retoaurikular, jabir kulit meatal dilipat kearah posterior, kemudian diperkirakan posisi ideal dari rongga mastoid. Jabir ini kemudia dijahit kearah inferior dan superior ke lapisan muskuloperiosteal dengan vicryl 3/0. Pastikan bahwa permukaan yang kasar dari ujung kartilago seluruhnya ditutupi oleh kulit
Prosedur selanjutnya mengikuti tahapan operasi mastoidektomi dinding runtuh dengan timpanoplasti
Insisi retroaurikular dijahit lapis demi lapis.
PENUNTUN BELAJAR VII PROSEDUR FAT PLUG TIMPANOPLASTY
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.:
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR FAT PLUG TIMPANOPLASTY | |||||
Prinsip operasi : - Menutup perforasi pada membran timpani menggunakan lemak yang diambil dari lobulus telinga. (untuk perforasi kecil) | |||||
III. PROSEDUR OPERASI | |||||
Pasca fat plug graft timpanoplasty Instruksi pasca tindakan | |||||
Nama
Diagnosis
Informed Consent
Rencana Tindakan
Persiapan Sebelum Tindakan
Pemberian antibiotika profilaksis/ empiris/ definitif perioperatif, secara injeksi
Tindakan dilakukan di bawah anestesi umum/ lokal
Pasien dilakukan anestesi lokal.
Lakukan insisi kulit dilakukan dari lobul telinga bagian posterior untuk mengambil lemak
Ambil lemak dengan ukuran 2x dari ukuran perforasi
Hati-hati agar tidak menembus lobulus sampai bagian anterior
Luka post insisi dijahit.
Graft lemak dimasukkan di dalam cairan antibiotik
Dilakukan trimming tepi perforasi membran timpani (prosedur ini dapat dilakukan sebelum ataupun sesudah pengambilan graft)
Masukkan gelfoam kecil ke dalam telinga tengah melalui perforasi yang sudah ada
Fat plug graft dimasukkan ke dalam perforasi dengan cara champagne cork
Fat plug graft ditutup dengan gel foam
Pasang tampon antibiotik
Pemberian antibiotik sistemik
Pemberian analgetik
Perawatan luka pasca operasi : perawatan luka lobul anjuran 1 minggu pasca operasi, tampon liang telinga diangkat 7-14 hari pasca operasi (tergantung operator dalam evaluasi kondisi pasien). Bila ditemukan tanda infeksi, tampon liang telinga harus diangkat lebih awal.
PENUNTUN BELAJAR VIII PROSEDUR TIMPANOPLASTI TIPE I
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.:
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
NAMA PESERTA: ...................................... TANGGAL: ..............................
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR TIMPANOPLASTY I | |||||
Prinsip operasi : - Menutup perforasi pada membran timpani menggunakan fascia profunda m. temporalis | |||||
III. PROSEDUR OPERASI 200.000 m. temporalis. Dilakukan pengambilan tandur fascia m temporalis superficial ATAU dilakukan insisi pada daerah posterior tragus bila pilihan tandur yang digunakan adalah tandur perikondium/kartilago tragus | |||||
Nama
Diagnosis
Informed Consent
Rencana Tindakan
Persiapan Sebelum Tindakan
Pemberian antibiotika profilaksis/ empiris/ definitif perioperatif, secara injeksi
Tindakan dilakukan di dalam anestesi umum
Dilakukan a dan antisepsis lapangan operasi
Infiltrasi pada ke empat kuadran liang telinga dan retroauricular/tragus dengan epinephrine 1: 100.000-
Lakukan insisi retroauricular sampai ditemukan fascia
Luka insisi dijahit
Dilakukan trimming pada tepi perforasi membran timpani
Lakukan insisi sirkuler pada kulit liang telinga sekitar 3-5 mm dari membran timpani
Lakukan elevasi jabir timpanomeatal
Kavum timpani dimasukan gelfoam
KEGIATAN | KASUS | ||||
underlay/inlay/overlay | |||||
Pasca timpanoplasti tipe I Instruksi pasca operasi awal. | |||||
Tandur fascia m. temporalis dipasang secara
Jabir timpanomeatal dikembalikan seperti letak semula
Tandur dan jabir timpanomeatal difiksasi dengan gelfoam
Pasang tampon antibiotik
Pemberian antibiotik sistemik
Pemberian analgetik
Perawatan luka pasca operasi : perawatan luka retroaurikular anjuran 1 minggu pasca operasi, tampon liang telinga diangkat 7-14 hari pasca operasi (tergantung operator dalam evaluasi kondisi pasien). Bila ditemukan tanda infeksi, tampon liang telinga harus diangkat lebih
DAFTAR TILIK
DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA I PROSEDUR MIRINGOTOMI
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau ketrampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan suatu prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan di bawah ini:
: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
X : Tidak memuaskan:Langkah atau kegiatan tidak ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
T/T : Tidak ditampilkan: langkah, kegiatan atau ketrampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
PESERTA: ................ TANGGAL: .......................
KEGIATAN | NILAI | ||
Langkah-langkah | |||
1. Cuci tangan, mengenakan sarung tangan steril | |||
2. Evaluasi membran timpani dengan baik menggunakan mikroskop | |||
3. Tindakan pembersihan liang telinga dengan kapas aplikator dan alkohol 70 %, setelah itu dilakukan anestesi lokal menggunakan lidocaine 10 % spray atau lidocaine cream 5 % | |||
4. Insisi membran timpani, kecuali daerah postero-superior, menggunakan miringotom atau jarum steril. | |||
5. Hisap sekret yang keluar dari telinga tengah melalui luka insisi dan kultur sekret. | |||
6. Cuci tangan, mengenakan sarung tangan steril | |||
Instruksi pasca tindakan
pemberian antibiotik sistemik disesuaikan dengan etiologi penyakit yang mendasari tindakan miringotomi
pemberian analgetik/antinflamasi
rencana evaluasi 7 hari pasca-miringotomi
PASCA MIRINGOTOMI
DAFTAR TILIK II
PROSEDUR PEMASANGAN PIPA GROMMET
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.:
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
NAMA PESERTA: ...................................... TANGGAL: ................................
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||||
II. PROSEDUR MIRINGOTOMI (dalam anestesi local) | |||||
- Cuci tangan, mengenakan sarung tangan steril | |||||
- Evaluasi membran timpani dengan baik menggunakan mikroskop | |||||
- Tindakan pembersihan liang telinga dengan kapas aplikator dan alkohol 70 %, setelah itu dilakukan anestesi lokal menggunakan lidocaine 10 % spray atau lidocaine cream 5 % | |||||
- Insisi membran timpani yang dapat dilihat dengan baik, kecuali daerah postero-superior, menggunakan miringotom atau jarum steril. | |||||
- Hisap sekret yang keluar dari telinga tengah melalui luka insisi | |||||
Nama
Diagnosis
Informed Consent
Rencana Tindakan
Persiapan Sebelum Tindakan
KEGIATAN | KASUS | ||||
| |||||
PASCA MIRINGOTOMI Instruksi pasca tindakan | |||||
Pipa grommet dipegang menggunakan forcep alligator dan diletakan di tempat insisi membran timpani. Kemudian dimasukan ke lubang insisi dengan menggunakan pick seperti memasukan ke lubang kancing.
Atau bila menggunakan pipa T-tube, forcep alligator dipakai untuk memegang ujung sayap seperti pada contoh gambar seperti di bawah ini:
pemberian antibiotik sistemik bila diperlukan disesuaikan dengan etiologi penyakit yang mendasari tindakan miringotomi
pemberian analgetik/antinflamasi
rencana evaluasi 7 hari pasca-miringotomi
DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA II PROSEDUR INSISI & DRAINASE ABSES SUBPERIOSTEAL
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.:
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
NAMA PESERTA: ...................................... TANGGAL: .................................
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||||
II. PROSEDUR INSISI ABSES SUBPERIOSTEAL | |||||
- Cuci tangan, mengenakan sarung tangan steril | |||||
- Aseptik dan antiseptik daerah yang akan diinsisi | |||||
- Anestesi lokal dengan chlor ethyl spray atau injeksi lidocaine intrakutan | |||||
- Aspirasi abses dengan spuit 5 cc ➔pus dikultur | |||||
- Insisi dengan scalpel no11 atau .15 di bagian yang paling fluktuatif sampai daerah subperiosteal (tegak lurus sampai mencapai bagian tulang) | |||||
- Kantong abses dibuka dengan klem hemostat | |||||
- Cuci dengan Nacl 0.9 % dan yodium povidon 10 % (bila perlu ditambahkan H2O2 3 % dan dibilas kembali dengan Nacl 0.9%) | |||||
- Pasang drain selama 2 hari atau hingga produksi pus berhenti | |||||
- Ganti verban dan rawat luka setiap hari hingga tidak ada produksi pus | |||||
POST INSISI ABSES SUBPERIOSTEAL -Instruksi pasca operasi: | |||||
Nama
Diagnosis
Informed Choice & Informed Consent
Rencana Tindakan
Persiapan Sebelum Tindakan
pemberian antibiotik sistemik
pemberian analgetik/antinflamasi
evaluasi setiap hari sampai tidak ada produksi pus
DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA III
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau ketrampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan suatu prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan di bawah ini:
: Memuaskan :
Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
X :Tidak memuaskan : Langkah atau kegiatan tidak ditampilkan sesuai
dengan prosedur atau panduan standar T/T : Tidak ditampilkan : langkah, kegiatan atau ketrampilan tidak
diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
PROSEDUR TIMPANOPLASTI DENGAN MASTOIDEKTOMI DINDING UTUH
PESERTA:.............................. TANGGAL:..................................
KEGIATAN | NILAI | ||
1. Persiapan tindakan | |||
2. Infiltrasi daerah operasi | |||
3. Insisi daerah retroaurikular | |||
4. Pengambilan graft fasia muskulus temporalis | |||
6. Mastoidektomi dalam: Identifikasi aditus ad antrum Identifikasi fossa inkudis dan osikel Identifikasi kanalis fasialis | |||
7. Pemasangan graft | |||
8. Pemasangan tampon telinga | |||
9. Penutupan luka operasi | |||
10. Monitoring pasca operasi | |||
Mastoidektomi superfisialis:
Identifikasi tegmen timpani dan tegmen mastoid
Identifikasi sinus sigmoid
Identifikasi kanalis semisirkularis
DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA IV
PROSEDUR TIMPANOPLASTI DENGAN MASTOIDEKTOMI DINDING RUNTUH
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau ketrampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan suatu prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan di bawah ini:
: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
X : Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
T/T : Tidak ditampilkan: langkah, kegiatan atau ketrampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
PESERTA:................................ TANGGAL:......................................
KEGIATAN | NILAI | ||
1. Persiapan tindakan | |||
2. Infiltrasi daerah operasi | |||
3. Insisi retroaurikular | |||
4. Pengambilan graft fasia muskulus temporalis | |||
5.Mastoidektomi superfisialis: | |||
7. Mengangkat jaringan patologis berupa jaringan granulasi dan kolesteatoma | |||
8. Meruntuhkan bridge | |||
9. Merendahkan dinding posterior | |||
10. Meatoplasti | |||
11. Pemasangan tandur | |||
12 Pemasangan tampon telinga | |||
13. Penutupan luka operasi | |||
14. Monitoring pascaoperasi |
Identifikasi tegmen timpani dan tegmen mastoid
Identifikasi sinus sigmoid
Identifikasi kanalis semisirkularis
Mastoidektomi dalam:
Identifikasi aditus ad antrum
Identifikasi fossa inkudis dan osikel
Identifikasi kanalis fasialis
DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA V PROSEDUR MEATOPLASTI
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau ketrampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan suatu prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan di bawah ini:
: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
X : Tidak memuaskan:Langkah atau kegiatan tidak ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
T/T : Tidak ditampilkan: langkah, kegiatan atau ketrampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
PESERTA:.............................. TANGGAL:..................................
KEGIATAN | NILAI | ||
1. Tampon rongga mastoid mencegah darah masuk | |||
2. Insisi konka aurikula | |||
3. Pengangkatan kartilago konka | |||
4. Penjahitan jabir meatal | |||
5. Tampon rongga mastoid | |||
6. Penjahitan luka retroaurikular | |||
7. Monitoring pasca operasi | |||
DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA VI PROSEDUR FAT PLUG TIMPANOPLASTI
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau ketrampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan suatu prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan di bawah ini:
: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
X : Tidak memuaskan:Langkah atau kegiatan tidak ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
T/T : Tidak ditampilkan: langkah, kegiatan atau ketrampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
PESERTA:.............................. TANGGAL:..................................
KEGIATAN | NILAI | ||
1. Persiapan tindakan | |||
2. Tindakan dilakukan di bawah anestesi umum/ lokal | |||
3. Pengambilan lemak dari lobulus bagian posterior | |||
4. Penjahitan luka lobulus | |||
5. membuat luka pada tepi perforasi membran timpani | |||
6. memasukkan fat pada perforasi membran | |||
7. Pasang gelfoam dan tampon antibiotik | |||
8. Monitoring pasca operasi | |||
DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA VII PROSEDUR TIMPANOPLASTI TIPE I
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau ketrampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan suatu prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan di bawah ini:
: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
X : Tidak memuaskan:Langkah atau kegiatan tidak ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
T/T : Tidak ditampilkan: langkah, kegiatan atau ketrampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
PESERTA:.............................. TANGGAL:..................................
KEGIATAN | NILAI | ||
1. Persiapan tindakan | |||
2. Infiltrasi liang telinga di 4 kuadran | |||
3. Pengambilan fascia profunda m. temporalis atau pengambilan graft perikondrium tragus | |||
4. Penjahitan luka retroaurikular atau tragus | |||
5. membuat luka pada tepi perforasi membran | |||
6. Membuat timpanomeatal flap | |||
7. Meletakkan graft fascia pada perforasi membran secara underlay atau inlay | |||
8. fiksasi graft dengan gelfoam | |||
9. Pasang tampon antibiotik | |||
10. Monitoring pasca operasi |
MATERI PRESENTASI
MATERI BAKU
OTITIS MEDIA AKUT
Meski merupakan rangkaian kesatuan, OM dapat disubklasifikasikan menjadi Otitis Media Akut (OMA) dan Otitis Media Efusi (OME) berdasarkan tanda dan gejala klinis. Mengingat penatalaksanaan OMA dan OME berbeda, penting untuk secara akurat mendiagnosis kedua kondisi ini.
Definisi
Otitis media akut ditandai dengan onset yang cepat dari tanda dan gejala peradangan di telinga tengah yang disertai dengan efusi di telinga tengah. Tanda inflamasi meliputi bulging membran timpani, eritema dan perforasi akut MT dengan otorrhea. Gejala meliputi otalgia, iritabilitas dan demam.
Insidensi
Insidensi tertinggi OMA terjadi pada usia 6-11 bulan. Bila onset terjadinya episode OMA untuk pertama kalinya didapatkan sebelum usia 6 bulan atau 12 bulan, hal ini menjadi prediktor yang kuat untuk terjadinya rekurensi
Faktor Risiko
OMA merupakan kelanjutan dari gangguan fungsi tuba yang terjadi saat infeksi virus akut saluran napas atas. Faktor risiko OMA antara lain usia (anak), alergi, kelainan kraniofasial, paparan asap rokok atau iritan lain, paparan di tempat penitipan anak, riwayat keluarga dengan OMA rekuren, refluks, imunodefisiensi, tidak minum ASI, menggunkan dot/empeng, infeksi saluran napas atas.
Mikrobiologi
Bakteri dapat dikultur dari cairan telinga tengah pada 50-90% kasus. Streptokokus pneumonia, Haemofillus Influenza, dan Moraxella catharralis adalah organisme tersering penyebab OMA.
Faktor Risiko
OMA merupakan kelanjutan dari gangguan fungsi tuba yang terjadi saat infeksi virus akut saluran napas atas. Faktor risiko OMA antara lain usia (anak), alergi, kelainan kraniofasial, paparan asap rokok atau iritan lain, paparan di tempat penitipan anak, riwayat keluarga dengan OMA rekuren, refluks, imunodefisiensi, tidak minum ASI, menggunkan dot/empeng, infeksi saluran napas atas
Patogenesis
Gangguan fungsi tuba Eustachius merupakan faktor utama awal terjadinya otitis media. Pada keadaan tersebut fungsi tuba sebagai penyeimbang tekanank proteksi telinga tengah, dan fungsi ventilasi tidak dapat berjalan dengan baik. Dengan demikian akan terjadi tekanan negatif di telingah tengah, yang menyebabkan transudasi cairan hingga supurasi.
OMA terdiri atas 5 stadium, yaitu (1) stadium oklusi tuba; (2) stadium hiperemis (presupurasi); (3) stadium supurasi; (4) stadium perforasi; (5) stadium resolusi. Keluhan dan gejala klinik tergantung dari stadium tersebut.
Gejala
Diagnosis ditegakkan berdasarkan kombinasi dari gejala dan tanda. Diagnosis berdasarkan gejala saja tidak tepat karena pada usia anak, gejala tidak spesifik untuk otitis media. Sepertiga anak menunjukan gejala yang tidak berkaitan dengan telinga dan 2/3 pasien anak tidak mengalami demam. Gejala yang menunjukan tanda khas otitis media akut antara lain nyeri telinga, gangguan pendengaran, otorea, demam, tangisan keras, iritabilitas, batuk pilek, muntah, sulit makan, dan menarik telinga. Otitis media akut biasanya terjadi 3-4 hari setelah onset batuk pilek. Nyeri telinga akan berkurang dalam 24 jam tanpa adanya pengobatan. Gejala akan berkurang tanpa pengobatan pada 88% pasien pada hari ke 4-7.
Tanda
Penilaian membran timpani terutama warna, posisi dan pergerakan penting dalam mendiagnosis otitis media akut. Membran timpani dapat berwarna opak, paling sering berwarna kekuningan atau kuning agak kemerahan dan hanya 18-19% berwarna merah. Posisi membran timpani yang menonjol dapat memprediksi adanya OMA. Pergerakan membran timpani yang terbatas (hipomobilitas) dengan pneumatik otoskopi menunjukan adanya efusi di telinga tengah dan mendukung ke arah diagnosis. Otitis media akut stadium perforasi dapat ditandai dengan keluarnya cairan dari membran timpani yang perforasi.
Diagnosis
Diagnosis OMA berdasarkan American Academy of Pediatrics guideline antara lain bulging/ membrane timpani yang menonjol sedang hingga berat. Onset baru otorea yang tidak disebabkan otitis eksterna, membran timpani yang menonjol (ringan) disertai dengan keluhan nyeri telinga (kurang dari 48 jam) atau eritema. Bila terjadi 3 episode OMA berulang dalam periode 6 bulan atau 4 episode atau lebih dalam 12 bulan maka dapat dikatakan OMA rekuren.
Tatalaksana Farmakologi Analgetik
Analgetik direkomendasikan untuk keluhan nyeri telinga,
demam dan iritabilitas. Ibuprofen dan asetaminofen efektif, namun ibuprofen lebih dipilih karena durasi kerja yang lebih lama dan toksisitas yang lebih rendah.
Antibiotik
Anak usia 6 bulan atau lebih dengan otorea dan gejala tanda sedang hingga berat, otalgia berat, otalgia dalam 48 jam, demam 39 derajat atau lebih membutuhkan antibiotik selama 10 hari
Anak usia 6 bulan hingga 23 bulan dengan OMA bilateral tanpa tanda dan gejala yang berat memerlukan pemberian antibiotik selama 10 hari
Anak usia 6 bulan hingga 23 bulan dengan OMA unilateral tanpa tanda dan gejala yang berat dapat dilakukan observasi atau dilakukan pemberian antibiotik selama 10 hari
Anak usia diatas 2 tahun tanpa gejala dan tanda yang berat dapat dilakukan observasi atau pemberian antibiotik selama 5-7 hari
Pilihan antibiotik pada fase awal atau delayed
Antibiotik lini pertama
Amoxicillin (80 to 90 mg/kg per hari dalam dosis terbagi 2) atau Amoxicillin-clavulanate* (90 mg/kg amoxicillin per hari dalam dosis terbagi 2)
Alternatif pada pasien alergi penisilin
Cefdinir (14 mg/kg per hari 1-2 dosis)
Cefuroxime (30 mg/kg per per hari dengan dosis terbagi 2) Cefpodoxime (10 mg/kg per hari dengan dosis terbagi 2)
Ceftriaxone (50 mg/kg IM or IV per hari untuk 1-3 hari, maksimal 1 g per hari)
Pilihan antibiotik setelah 48-72 jam fase inisial atau gagal terapi inisial Antibiotik lini pertama
Amoxicillin-clavulanate* (90 mg/kg per hari dengan dosis terbagi 2) atau
Ceftriaxone (50 mg/kg IM atau IV per hari untuk 1-3 hari, maksimal 1 g per hari)
Alternatif
Ceftriaxone, 3 hari clindamycin (30–40 mg/kg per per hari dalam dosis terbagi 3), dengan atau tanpa cephalosporin generasi ketiga
Kegagalan antibiotik kedua
Clindamycin (30–40 mg/kg per hari dalam dosis terbagi 3) ditambah cephalosporin generasi ketiga
Timpanosintesis
Observasi
Observasi dilakukan selama 48-72 jam. Bila terdapat gejala dan tanda OMA persisten dapat mulai dilakukan pemberian antibiotik atau penggantian antibiotik. Anak dengan OMA persisten setelah pemberian antibiotik harus dilakukan pemeriksaan ulang.
Edukasi
Pada pasien dengan OMA rekuren perlu diketahui penyebab yang mendasari misalnya alergi. Penggunaan dot dan paparan asap rokok perlu dihindari, serta direkomendasikan imunisasi dengan vaksin pneumokokus dan vaksin influenza.
Daftar Pustaka
Johnson, J.T, Rosen C.A. Otitis Media in the Age of Antimicrobial Resistance in Bailey’s Head and Neck Surgery-Otolaryngology. Fifth edition. Volume two. Lippincott Williams & Wilkins. 2014
Lee K.J. Infections of the Temporal Bone. In: Essential Otolaryngology. 12 th Ed. McGraw Hill. 2019
Gulya, A.J, Minor L.B, Poe D.S. Pathology and Clinical Course of the Inflammatory Disease of the Middle Ear in Glasscock-Shambaugh Surgery of the Ear. Sixth edition. Peoples’s Medical Publishing House-USA. 2010
Djaafar ZA, Helmi, Restuti RD. Kelainan Telinga Tengah. Dalam: Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD. Buku Ajar Ilmu Penyakit Penyakit Telinga Hidung Tenggorok Edisi keenam. Balai Penerbit FK UI, Jakarta, 2007. h: 64-77.
Rea PA, Ronan N. Acute Otitis Media. In: Watkinson J, Clarke R, editors. Scott- Brown’s otorhinolaryngology head and neck surgery. 2. 8th Ed ed. Boca Raton: Taylor & Francis Group; 2018. p. 137-52.
Lieberthal AS, Caroll AE, Chonmaitree T, Ganiats TG, et al. The diagnosis and management of acute otitis media. Pediatrics 2013 Mar 13 (3): e 964-99
Granath A. Recurrent Acute Otitis Media: What Are the Options for Treatment and Prevention ?. Curr Otorhinolaryngol Rep. 2017;5(2):93-100. doi:10.1007/s40136-017- 0151-7
OTITIS MEDIA EFUSI
Definisi
Otitis media efusi adalah efusi telinga tengah (MEE=Middle Ear Effusion) tanpa tanda dan gejala inflamasi akut seperti yang didapatkan pada OMA. Mungkin sulit untuk menentukan kejadian OME yang sebenarnya, mengingat OME secara definisi adalah asimptomatik, kecuali OME akut yang umumnya terjadi akibat penerbangan atau penyelaman. Karena itu diperlukan observasi beberapa kali dengan interval waktu (antar observasi) yang pendek untuk dapat secara akurat menilai onset dan berapa lama waktu untuk terjadinya resolusi pada tiap episode OME baru.
Insidensi
Diperkirakan 65% episode OME pada anak usia 2-7 tahun akan mengalami resolusi dalam waktu 1 bulan. Pemeriksaan berkala setiap bulan dengan otoskopi dan timpanometri pada anak usia 2-6 tahun di tempat penititipan anak di Pittsburgh mendapatkan kejadian efusi telinga tengah sedikitnya sekali pada 53-61% anak dan penelitian lain juga mendapatkan insiden efusi telinga tengah sebesar 26% pada anak usia
7 tahun yang diperiksa secara berkala setiap bulannya selama 1 tahun dengan timpanometri. Hampir semua anak akan mengalami setidaknya satu episode OME saat mencapai usia 3 tahun.
Faktor risiko
Faktor risiko dapat berkaitan dengan host ataupun lingkungan.
Faktor risiko yang berkaitan dengan host di antaranya, usia, ras, prematuritas, alergi, immunokompeten (defek pada status imun), celah palatum dan abnormalitas kraniofasial, predisposisi genetik. Risiko terjadinya MEE persisten (OME) setelah suatu episode OMA
berbanding terbalik dengan usia. Anak yang mengalami episode MEE untuk pertama kalinya sebelum usia 2 bulan, memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap terjadinya OME (menetapnya cairan di telinga tengah) pada tahun pertama kehidupan dibandingkan dengan anak yang mengalami episode tersebut pada usia yang lebih tua.
Faktor risiko yang berkaitan dengan lingkungan di antaranya infeksi saluran napas atas, musim, tempat penitipan anak, jumlah saudara kandung, paparan asap rokok, ASI, status sosioekonomik, kebiasaan menggunakan dot pada bayi dan obesitas.
Faktor risiko ini berperan penting terhadap terjadinya penyakit telinga tengah demikian juga terhadap terjadinya rekurensi ataupun persistensi penyakit
Terapi
Observasi
Watchful waiting sebaiknya dipertimbangkan untuk anak yang tidak memiliki risiko gangguan bicara dan bahasa atau gangguan belajar seperti yang direkomendasikan oleh guideline OME. Observasi berkala harus dilakukan ketat pada pasien anak hingga tidak lagi tampak adanya efusi, gangguan pendengaran, atau gambaran abnormal lain dari membran timpani. OME umumnya akan terjadi resolusi spontan dalam 3 bulan, namun 30-40% anak akan memiliki episode OME berulang dan 5-10% episode berlangsung selama 1 tahun. Pada pasien anak dengan risiko tinggi terjadi keterlambatan perkembangan, diperlukan diagnosis dan penatalaksanaan OME secara dini. Pada otitis media efusi dengan abnormalitas struktural pada membran timpani, tindakan pembedahan dapat dipertimbangkan.
Tabel 1. Indikasi tindakan operatif pada OME Gangguan pendengaran yang berhubungan dengan OME Kecurigaan keterlambatan bicara dan berbahasa
Autism spectrum disorder dan gangguan perkembangan lainnya
Down syndrome atau craniofacial disorder yang meliputi keterlambatan bicara, bahasa dan kognitif
Kebutaan atau gangguan pengelihatan
Celah palatum dengan atau tanpa sindrom penyerta Gangguan perkembangan
Operatif
Keputusan dilakukannya terapi operatif pada OME bergantung terutama pada status pendengaran, gejala klinis terkait, risiko terhadap perkembangan anak dan antisipasi terhadap terjadinya resolusi spontan dari efusi dalam jangka waktu tertentu. Miringotomi dan pemasangan pipa ventilasi pemasangan pipa ventilasi (tympanostomy tube) merupakan tatalaksana yang dianjurkan untuk otitis media efusi yang tidak mengalami perbaikan setelah observasi selama 3 bulan.Pemasangan pipa ventilasi merupakan
prosedur pilihan pertama. Adenoidektomi tidak diperlukan kecuali didapatkan indikasi tertentu (hidung tersumbat, adenoiditis kronik). Jika diperlukan tindakan operatif kembali (repeat surgery) sebaiknya meliputi adenoidektomi dan miringotomi dengan ataupun tanpa pemasangan pipa ventilasi. Tonsilektomi saja ataupun miringotomi saja sebaiknya tidak digunakan untuk menatalaksana OME
Komplikasi
Atelektasis dan Otitis Media Adhesiva biasanya terjadi bersamaan dengan OME, meski OME dapat mengalami resolusi sehingga memungkinkan aerasi atik dan mastoid, namun meninggalkan telinga tengah yang kolaps. Tidak semua pasien dengan OME kronik berkembang menjadi atelektasis. Kebanyakan pasien OME, hanya sedikit yang mengalami retraksi membran timpani. Pada pasien dengan OME bilateral, 1.5% telinga yang tidak diterapi dan 2% telinga yang diterapi dengan pipa ventilasi berkembang menjadi atelektasis berat.
Bila terjadi atelektasis, membran timpani akan mengalami retraksi ke promontorium dan tulang-tulang pendengaran di telinga tengah. Pada telinga yang atelektaktik, terjadi obliterasi sebagian atau seluruh rongga telinga tengah, namun membran timpani tidak melekat ke dinding medial telinga tengah, dan mukosa yang melapisi telinga tengah masih intak. Sebaliknya, otitis media adhesiva terjadi bila rongga telinga tengah mengalami obliterasi total dan membran timpani melekat ke tulang-tulang pendengaran dan promontorium, serta tidak didapatkan lapisan mukosa. Retraksi dari membran timpani dapat menyebabkan erosi prosesus longus inkus dan stapes suprastruktur.
Episode berulang dari otitis media akut dapat menyebabkan semakin lemah dan tipisnya membran timpani yang memungkinkan berkembang menjadi atelektasis. Sadé dan Berco mendapatkan destruksi pada lapisan fibrosa membran timpani yang mengandung kolagen pada beberapa telinga dengan infeksi rekuren. Destruksi kolagen pada membran timpani dapat menyebabkan komplikasi lain dari OME, yaitu timpanosklerosis. Sadé dan Berco demikian juga Tos dan Poulsen menggambarkan 4 stadium dari retraksi membran timpani:
stadium I : membran timpani retraksi ringan
stadium II : membran timpani retraksi dan kontak dengan inkus atau stapes
stadium III : atelektasis telinga tengah ( membran timpani menyentuh promontorium)
stadium IV : otitis media adhesiva (membran timpani melekat pada promontorium)
Gambar 4 stadium atelektasis telinga tengah (dikutip dari Sade J, Berco E. Atelectasis and secretory otitis media. Ann Otol Rhinol Laryngol. 1976;85
Atelektasis telinga tengah dapat bersifat reversibel dengan pemasangan pipa ventilasi. Sadé mendapatkan bahwa pemasangan pipa ventilasi dapat memperbaiki keadaan atelektasis.
Daftar Pustaka
Flint, P.W, Haughey B.H, Lund V.J, Niparko J.K, Richardson M.A, Robbins K.T, Thomas J.R. Cummings Otolaryngology Head and Neck Surgery. Seventh edition. Volume two. Mosby Elsevier. 2020
Johnson, J.T, Rosen C.A. Otitis Media in the Age of Antimicrobial Resistance in Bailey’s Head and Neck Surgery-Otolaryngology. Fifth edition. Volume two. Lippincott Williams & Wilkins. 2014
Gulya, A.J, Minor L.B, Poe D.S. Pathology and Clinical Course of the Inflammatory Disease of the Middle Ear in Glasscock-Shambaugh Surgery of the Ear. Sixth edition. Peoples’s Medical Publishing House-USA. 2010
Rosenfeld RM, Shin JJ, Scwartz SR, Coggins R, Gagnon L, Hackell JM, et al. Clinical practice guidelines: otitis media with effusion executive summary (update). Otolaryngology Head and Neck Surgery. 2016;154(2):201–14.
Robb PJ, Williamson I. Otitis media effusion. In: Watkinson JC, Clarke RW, editors. Scott- Brown’s otorhinolaryngology head and neck surgery. 2. 8 ed. Boca Raton: Taylor and Francis Group; 2018. p. 115-36.
Banerjee A. Acute otitis media with effusion in adults. In: Watkinson JC, Clarke RW, editors. Scott-Brown’s otorhinolaryngology head and neck surgery. 8. Boca Raton: Taylor & Francis Group; 2018. p. 971-5.
Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK)
Definisi
Infeksi kronis di telinga tengah dengan perforasi membran timpani dan sekret yang keluar dari telinga tengah lebih dari 2 bulan, terus menerus atau hilang timbul. Sekret mungkin encer atau kental, bening atau berupa nanah .
Ruang lingkup
Otitis Media Supuratif Kronik terdiri dari 2 tipe yaitu: OMSK tanpa Kolesteatoma ( tipe tubotimpani/ tipe mukosa/ tipe aman) dan OMSK dengan Kolesteatoma (tipe atikoantral, tipe tulang/ tipe bahaya).
OMSK tanpa Kolesteatoma (tipe tubotimpani/ tipe mukosa/ tipe aman)
Proses peradangan terbatas pada mukosa saja dan biasanya tidak mengenai tulang. Perforasi terletak di sentral, jarang menimbulkan komplikasi yang berbahaya. Pada OMSK tipe ini tidak terdapat kolesteatoma, terdiri atas fase tenang (kering) dan fase aktif.
Pemeriksaan penunjang
Kultur dan tes resistensi sekret telinga tengah, foto polos mastoid (posisi Schuller), HRCT scan mastoid (jika memungkinkan), dan audiometri nada murni.
Terapi
Konservatif, bila sekret keluar terus menerus dapat diberi H2O2 3%, antibiotik topikal berupa tetes telinga, dan antibiotik sistemik jika diperlukan.
Indikasi operasi
Bila perforasi masih menetap setelah 3 bulan pengobatan medikamentosa maka idealnya dapat dilakukan operasi, yaitu timpanoplasti dengan atau tanpa mastoidektomi dinding utuh. (Lihat Algoritma 1 dan 2)
OMSK dengan Kolesteatoma
OMSK ini ditandai dengan perforasi disertai dengan kolesteatoma. Perforasi membran timpani umumnya yang terletak di marginal (posterosuperior) atau di atik dan sering menimbulkan komplikasi berbahaya.
Pemeriksaan penunjang
Kultur dan tes resistensi sekret telinga tengah, foto polos mastoid (posisi Schuller) atau HRCT mastoid, CT Scan kepala (jika curiga komplikasi intrakranial) dan audiometri nada murni.
Terapi
Operasi timpanoplasti dengan mastoidektomi dinding runtuh (Algoritma 3)
Komplikasi
Intrakranial: abses ekstradural, trombofleblitis sinus sigmoid, abses otak, hidrosefalus otikus, meningitis, dan abses subdural
Komplikasi ektrakranial terdiri dari ektratemporal dan intratemporal.
Intratemporal: mastoiditis, petrositis, labirinitis, paresis fasialis, fistula labirin Ekstratemporal yaitu abses subperiosteal.
Komplikasi lain dapat terjadi jauh dari telinga tengah seperti abses parafaring, abses retrofiring, sindroma foramen Jugular, dll
Komplikasi dapat terjadi lebih dari satu dalam waktu bersamaan.
Tatalaksana OMSK dengan Kolesteatoma dengan komplikasi intrakranial dapat dilihat di Algoritma 4.
Algoritma 4
PROTOKOL PENATALAKSANAAN PASIEN OMSK DENGAN
KECURIGAAN KOMPLIKASI INTRA KRANIAL16
Rawat inap
Periksa sekret telinga
Konsul spesialis saraf/saraf anak
CT scan+kontras
Antibiotik dosis tinggi intravena 7-15 hari, obat ajuvan
Abses intrakranial Hidrosefalus otitik
Abses intrakranial Hidrosefalus otitik
CT scan tidak dapat dilakukan
Pengobatan medikamentosa bersama spesialis Bedah Saraf
Keadaan Umum baik
Keadaan Umum buruk
Konsul
Bedah Saraf KU
baik mi dalam
Mastoidekto-
KU
buruk
bius umum
Mastoidekto- mi dalam bius lokal
Mastoidekto- mi dalam bius umum
Pertimbangkan mastoidektomi dalam bius lokal
Bedah Saraf tidak operasi
Bedah Saraf: operasi
Medikamentosa 1-2 bln, monitor perkembangan komplikasi dengan CT scan tiap 1 – 2 minggu
KU baik
Mastoidektomi bersama bedah saraf
Mastoidektomi kemudian
Mastoidekto- KU buruk Pertimbangkan mi dalam mastoidektomi
bius umum dalam bius
lokal
LCD 25 : Algoritma
Timpanoplasti dengan Mastoidektomi Dinding Utuh
Definisi
Mastoidektomi dinding utuh dengan timpanoplasti adalah tindakan mastoidektomi dengan mempertahankan dinding posterior liang telinga disertai dengan tindakan rekonstruksi telinga tengah (timpanoplasti). Mastoidektomi dinding utuh dengan timpanoplasti atau canal wall up/closed tympanoplasty terdiri dari tahapan operasi mastoidektomi sederhana, atikotomi posterior(epitimpanotomi), dan timpanotomi posterior.
Ruang Lingkup
Terdapat OMSK yaitu radang kronis telinga tengah dengan perforasi membran timpani dan riwayat keluarnya sekret dari telinga (otore) lebih dari 2 bulan, baik terus menerus atau hilang timbul. Juga dapat dilakukan pada eksplorasi kasus mastoiditis koalesen yang tidak memberikan respons baik dengan terapi konservatif.
Indikasi Operasi
OMSK tipe aman, dengan perforasi menetap lebih dari 3 bulan dengan keadaan keluar cairan berulang dan gangguan pendengaran
Mastoiditis koalesen
Abses subperiosteal retroaurikula
Kolesteatoma pada anak atau pada kolesteatoma (terbatas) dengan mastoid yang pneumatisasi baik
Implantasi koklea
Dekompresi N facialis
Beberapa kasus glomus jugular kelas B
Atelektasis grade IV dan V
Kontra Indikasi (relatif) Operasi
Pada only hearing ear
Pada telinga yang secara signifikan lebih baik sedang pendengaran kontralateral tidak dapat ditolong dengan alat bantu dengar.
Pasien dengan risiko tinggi apabila dilakukan pembedahan
Keadaan yang tidak memungkinkan dilakukan perawatan pascaoperasi dengan baik
Pemeriksaan Penunjang
Audiometri nada murni, dapat disertai audiometri tutur
Foto polos mastoid (Schuller) atau HRCT scan mastoid (jika memungkinkan)
Kultur dan tes sensitivitas sekret telinga tengah
Teknik Operasi
Digunakan anestesi umum. Dapat dilakukan dengan anestesi lokal jika anestesi umum dikontraindikasikan.
Dapat dilakukan insisi retroaurikular atau endaural. Insisi retroaurikular memberikan paparan lapangan operasi yang lebih baik.
Bor korteks mastoid dengan landmark segitiga Mc Ewen, dengan mengidentifikasi dinding posterior liang telinga, linea temporalis dan spina Henle. Identifikasi tegmen timpani, tegmen mastoid, sinus sigmoid dan kanalis semisirkulatis lateralis
Identifikasi aditus ad antrum, fosa inkudis, solid angle dan N. Fasialis pars vertikal.
Bila ada jaringan patologis/ jaringan granulasi dibersihkan
Identifikasi inkus, inkudimaleolar join dan maleus serta periksa mobilitas osikel dan patensi aditus ad antrum. Bila perlu dilakukan timpanotomi posterior.
Pasang tandur yang sudah disiapkan dengan salah satu teknik pemasangan tandur (inlay, underlay, overlay, inlay-underlay), sesuai dengan tipe timpanoplasti yang dilakukan dan dilakukan fiksasi dengan gel foam
Diletakkan tampon antibiotik di liang telinga,.
Luka operasi ditutup dengan jahitan lapis demi lapis
Komplikasi
Paralisis fasial
Perdarahan akibat cedera sinus (sinus sigmoid, sinus petrosal superior dan bulbus jugularis)
Cedera dura
Subluksasi inkus
Ekstraksi inkus
Tuli nada tinggi traumatik
Anakusis
Stenosis meatal
Fiksasi tulang maleus dan inkus
Perawatan Pascaoperasi
Pemberian antibiotik sistemik.
saat pemulangan pasien disesuaikan dengan kondisi medis yang dievaluasi operator
Luka jahitan retroaurikula dibuka pada hari ke 7 atau setelah luka operasi kering Tampon liang telinga diangkat 7-14 hari pasca operasi (tergantung operator). Bila ditemukan tanda infeksi, tampon liang telinga harus diangkat lebih awal.
Daftar Pustaka
Johnson, J.T, Rosen C.A. Bailey’s Head and Neck Surgery-Otolaryngology. Fifth edition. Volume two. Lippincott Williams & Wilkins. 2014
Lee K..J. Infections of the Temporal Bone in Essential Otolaryngology. 12th edition. McGraw Hill. 2019
Flint, P.W, Haughey B.H, Lund V.J, Niparko J.K, Richardson M.A, Robbins K.T, Thomas J.R. Chronic Otitis Media Mastoiditis and Petrositis in Cummings Otolaryngology Head and Neck Surgery. Seventh Edition. Volume two. Mosby Elsevier. 2020
Gulya, A.J, Minor L.B, Poe D.S. Pathology and Clinical Course of the Inflammatory Disease of the Middle Ear in Glasscock-Shambaugh Surgery of the Ear. Sixth edition. Peoples’s Medical Publishing House-USA. 2010
Brackmann, D.E, Shelton C, Arriaga M.A. Complication of Surgery for Chronic Otitis Media in Otologic Surgery. Third edition. Saunders Elsevier. 2010
Helmi, Otitis Medis Supuratif Kronis, Balai Penerbit FK-UI, Jakarta, 2005, 147- 150
Sanna M, Sunose H, Mancini F, Russo A, Taibah A, Flacioni M. Middle ear and mastoid microsurgery.2nd Ed. Thieme: New York. 2012
Timpanoplasti dengan Mastoidektomi Dinding Runtuh Kompetensi
Dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai keterampilan mastoidektomi modifikasi (konsep, teori, prinsip maupun indikasi, cara melakukan, komplikasi dan sebagainya). Selain itu selama pendidikan pernah melihat atau pernah didemonstrasikan keterampilan mastoidektomi modifikasi.
Definisi
Operasi telinga tengah yang dilakukan melalui jalur posterior (transmastoid), pada akhir prosedur dinding posterior liang telinga diruntuhkan, dan dilakukan prosedur timpanoplasti.
Indikasi
Indikasi dilakukan tindakan ini antara lain:
kolesteatoma pada mastoid yang sklerotik
kolesteatoma dengan erosi luas epitimpanum
kolesteatoma rekuren pasca mastoidektomi dinding utuh
kolesteatoma pada pasien Cleft palate and Down syndrome
kolesteatoma dengan fistula labirin
kolesteatoma dengan gangguan pendengaran sensorineural sangat berat
Anestesi
Biasanya dilakukan dengan anestesi umum. Anestesi lokal bisa dilakukan pada kasus- kasus yang tidak memungkinkan pasien dibius.
Teknik operasi
Insisi postaural atau endaural
Retraksi jaringan lunak dan memaparkan daerah mastoid. Daerah mastoid mulai dari pangkal posterior tulang zigoma sampai ke belakang sudut suprameatal dan diatas linea temporalis sampai ke bagian bawah tip mastoid dibuka dengan cara mengelevasi periosteum dan meretraksi luka insisi.
Mengangkat tulang dan membuka atik dan antrum. Dengan bantuan bor tulang diangkat dari daerah sudut supra meatal, spine of henle, pangkal tulang zigoma sampai ke bagian atas dinding anterior meatus, bagian atas dinding superior meatus juga diruntuhkan. Tindakan ini akan memaparkan daerah antrum dan atik. Kemudian dilakukan identifikasi daerah tegmen mastoid dan kanalis semi sirkularis.
Angkat jaringan patologis. Kolesteatoma, granulasi dan mukosa yang tidak sehat diangkat. Inkus dan kepala dari maleus perlu untuk diangkat apabila kolesteatoma meluas ke arah medial, tetapi sedapat mungkin dipertahankan.
Facial ridge direndahkan
Kavum mastoid dihaluskan dengan bor diamond, sambil dilakukan irigasi
Rekonstruksi mekanisme pendengaran. Pars tensa dari membran timpani dan telinga tengah apabila sehat, dibiarkan/tidak diganggu. Bila penyakit meluas ke telinga tengah, hanya jaringan ireversibel yang dibuang. Rekonstruksi dari membran timpani atau rantai osikel, apabila rusak dapat dilakukan (mastoidektomi dengan timpanoplasti)
Meatoplasti dan penutupan luka operasi sama pada mastoidektomi radikal.
Komplikasi operasi
Cedera nervus fasialis.
Perikondritis daun telinga.
Kebocoran dura atau sinus sigmoid.
Labirintitis
Trauma telinga dalam
Pemeriksaan penunjang
Kultur dan tes resistensi sekret telinga
Foto polos Mastoid posisi Schuller atau HRCT Mastoid
Audiometri nada murni, dapat disertai audiometri tutur
Perawatan pascabedah
Perban mastoid (perban melingkari kepala) dibuka keesokan harinya, diganti dengan perban biasa yang menutup luka operasi dan liang telinga. Perban tersebut dibuka pada hari ke 7 sekaligus buka jahitan kulit. Tampon liang telinga dalam diangkat pada hari ke 7 - 14.
Setelah itu, bila dianggap perlu pasien diinstruksikan meneteskan antibiotik tetes telinga. Pemberian antibiotik oral pasca operasi tergantung tanda-tanda infeksi yang ditemukan waktu operasi dan lamanya operasi serta keyakinan operator terhadap bersihnya lingkungan tempat operasi dilakukan.
Follow-up
Evaluasi operasi dipantau secara periodik 1 mingu pascaoperasi, 2 minggu, 4 minggu, 6 minggu, 8 minggu dan 12 minggu. Selanjutnya setiap 6 bulan-tahun sekali untuk mencegah terjadinya debris dan infeksi. Audiometri nada murni dilakukan setelah 2 – 3 bulan pascaoperasi.
Daftar Pustaka
Chole RA, Brodie HA, Jacob A. Surgery of the Mastoid and Petrosa. In Byron J. Bailey & Jonas T. Johnson Head and Neck Surgery Otolaryngology. Fifth edition. Volume two. Lippincott Williams & Willimns. Philadelphia. 2014. p: 2447
Lee K..J. Infections of the Temporal Bone. In:Essential Otolaryngology. 12 th Ed. McGraw Hill. 2019
Flint, P.W, Haughey B.H, Lund V.J, Niparko J.K, Richardson M.A, Robbins K.T, Thomas J.R. Chronic Otitis Media Mastoiditis and Petrositis in Cummings Otolaryngology Head and Neck Surgery. Fifth edition. Volume two. Mosby Elsevier. 2010
Gulya, A.J, Minor L.B, Poe D.S. Pathology and Clinical Course of the Inflammatory Disease of the Middle Ear in Glasscock-Shambaugh Surgery of the Ear. Sixth edition. Peoples’s Medical Publishing House-USA. 2010
Brackmann, D.E, Shelton C, Arriaga M.A. Complication of Surgery for Chronic Otitis Media in Otologic Surgery. Third edition. Saunders Elsevier. 2010
Chole RA, Brodie HA, Jacob A. Surgery of the Mastoid and Petrosa. In Byron J. Bailey & Jonas T. Johnson Head and Neck Surgery Otolaryngology. Vol 2. 4th. Lippincott Williams & Willimns. Philadelphia. 2006. p: 2101-2
Helmi. Bedah Telinga Tengah untuk Otitis Media Supuratif Kronis. Penerbit FK UI Jakarta. 2005. h: 170
Sanna M, Sunose H, Mancini F, Russo A, Taibah A, Flacioni M. Middle ear and mastoid microsurgery.2nd Ed. Thieme: New York. 2012
Mastoidektomi Radikal Kompetensi
Dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai keterampilan mastoidektomi radikal (konsep, teori, prinsip maupun indikasi, cara melakukan, komplikasi dan sebagainya). Selain itu selama pendidikan pernah melihat atau pernah didemonstrasikan keterampilan mastoidektomi radikal.
Definisi
Tindakan membuang seluruh sel-sel mastoid di rongga mastoid, meruntuhkan seluruh dinding belakang liang telinga, pembersihan seluruh sel mastoid yang mempunyai drainase ke kavum timpani yaitu membersihkan total sel-sel mastoid disudut sinodural, didaerah segitiga Trautmann, disekitar kanalis fasialis, disekitar liang telinga yaitu di prosesus zigomatikus, juga di prosesus mastoideus sampai ke ujung mastoid. Kemudian membuang inkus dan maleus, hanya stapes atau sisa yang dipertahankan, sehingga terbentuk kavitas operasi yang merupakan gabungan rongga mastoid, kavum timpani dan liang telinga.
Indikasi
OMSK dengan Kolesteatoma (OMSK tipe bahaya/atikoantral/tipe tulang)
Tumor telinga
Kontraindikasi
Otitis media supuratif kronik tanpa kolesteatoma dengan perforasi sentral
Otitis media akut dengan mastoiditis.
Otitis media tuberkulosis.
Pemeriksaan penunjang
Kultur dan tes resistensi sekret telinga tengah
Foto polos Mastoid (Schuller)
CT scan temporal (jika perlu dan memungkinkan)
Audiometri nada murni, audiometri tutur
Setelah memehami, menguasai dan mengerjakan modul ini maka diharapkan seorang dokter ahli mempunyai kompetensi serta penerapannya dapat dikerjakan di RS pendidikan dan RS jaringan pendidikan, serta dapat dipergunakan oleh program studi disiplin ilmu terkait.
Anestesi
Biasanya dilakukan dengan anestesi umum. Lokal anestesi dilakukan hanya pada kasus yang tidak memungkinkan pasien dibius.
Teknik operasi
Dilakukan insisi postaural atau endaural
Retraksi jaringan lunak dan memaparkan daerah mastoid. Daerah mastoid mulai dari pangkal posterior tulang zigoma sampai ke belakang sudut suprameatal dan diatas linea temporalis sampai ke bagian bawah tip mastoid dibuka dengan cara mengelevasi periosteum
Identifikasi tegmen timpani dan tegmen mastoid
Identifikasi sinus sigmoid
Identifikasi kanalis semisirkularis
Identifikasi aditus ad antrum
Identifikasi fossa inkudis dan osikel
Identifikasi kanalis fasialis
Mengangkat jaringan patologis berupa jaringan granulasi dan kolesteatoma
Meruntuhkan bridge
Merendahkan dinding posterior
Meatoplasti.
Jika kavum mastoid sangat besar dan kolesteatoma bersih, maka dilakukan obliterasi dengan muskulus temporal atau jaringan lunak namun harus memperhatikan risiko tersisanya matriks kolesteatoma.
Menutup luka operasi. Kavum timpani ditutup dengan tampon antibiotik, dan luka operasi dijahit satu persatu.
Komplikasi operasi
Paresis nervus fasialis.
Perikondritis daun telinga.
Kebocoran dura atau sinus sigmoid.
Labirintitis.
Kista coklat atau mukus.
Kolesteatoma berulang.
Terbentuknya jaringan granulasi.
Perawatan pascabedah
Perban mastoid (perban melingkari kepala) dibuka keesokan harinya, diganti dengan perban biasa yang menutup luka operasi dan liang telinga. Jahitan luka dibuka pada hari ke 7. Tampon dalam dikeluarkan pada hari ke 10-14, kecuali terjadi infeksi dapat diganti sebelum hari ke 10.
Setelah itu, bila dianggap perlu pasien di instruksikan meneteskan obat tetes telinga. Pemberian antibiotik oral pascaoperasi tergantung tanda-tanda infeksi yang ditemukan waktu operasi dan lamanya operasi serta keyakinan operator terhadap bersihnya lingkungan tempat operasi dilakukan.
Follow-up
Evaluasi operasi dipantau secara periodik 1 minggu pascaoperasi, 2 minggu, 4 minggu, 6 minggu, 8 minggu dan 12 minggu. Selanjutnya setiap 6 bulan - 1 tahun sekali untuk mencegah terjadinya debris dan infeksi. Audiometri nada murni dilakukan setelah 2 – 3 bulan pascaoperasi.
Daftar Pustaka
Chole RA, Brodie HA, Jacob A. Surgery of the Mastoid and Petrosa. In Byron J. Bailey & Jonas T. Johnson Head and Neck Surgery Otolaryngology. Fifth edition. Volume two. Lippincott Williams & Willimns. Philadelphia. 2014. p: 2447
Lee K..J. Infections of the Temporal Bone. In:Essential Otolaryngology. 12 th Ed. McGraw Hill. 2019
Flint, P.W, Haughey B.H, Lund V.J, Niparko J.K, Richardson M.A, Robbins K.T, Thomas J.R. Chronic Otitis Media Mastoiditis and Petrositis in Cummings Otolaryngology Head and Neck Surgery. Fifth edition. Volume two. Mosby Elsevier. 2010
Gulya, A.J, Minor L.B, Poe D.S. Pathology and Clinical Course of the Inflammatory Disease of the Middle Ear in Glasscock-Shambaugh Surgery of the Ear. Sixth edition. Peoples’s Medical Publishing House-USA. 2010
Brackmann, D.E, Shelton C, Arriaga M.A. Complication of Surgery for Chronic Otitis Media in Otologic Surgery. Third edition. Saunders Elsevier. 2010
Chole RA, Brodie HA, Jacob A. Surgery of the Mastoid and Petrosa. In Byron J. Bailey & Jonas T. Johnson Head and Neck Surgery Otolaryngology. Vol 2. 4th. Lippincott Williams & Willimns. Philadelphia. 2006. p: 2101-2
Helmi. Bedah Telinga Tengah untuk Otitis Media Supuratif Kronis. Penerbit FK UI Jakarta. 2005. h: 170
Sanna M, Sunose H, Mancini F, Russo A, Taibah A, Flacioni M. Middle ear and mastoid microsurgery.2nd Ed. Thieme: New York. 2012
LCD 2 :
LCD 3 :
LCD 4 :
LCD 5 :
LCD 6 :
LCD 7 :
LCD 8 :
LCD 9 :
KANALOPLASTI
Kompetensi
Dokter memiliki ketrampilan teoritis mengenai ketrampilan kanaloplasti (Konsep , teori, prinsip maupun indikasi, cara melakukan , komplikasi dan sebagainya). Selama pendidikan pernah melihat ataupun pernah didemonstrasikan ketrampilan kanaloplasti.
Definisi
Prosedur tindakan untuk memperlebar liang telinga luar yang sempit. Kondisi liang telinga luar yang sempit tersebut dapat diakibatkan oleh : pertumbuhan tulang yang tidak normal (anterior overhang atau eksostosis) atau jaringan lunak (jaringan parut), serta untuk mempermudah pemasangan tandur lateral pada proses timpanoplasti.
Indikasi
Eksostosis
Osteoma
Prosedur Timpanoplasti
Stenosis Liang telinga akibat proses infeksi
Kontra Indikasi
Kondisi Liang telinga yang terinfeksi pada saat operasi
Exostosis dan osteoma yang kecil dan tidak menimbulkan keluhan
Pemeriksaan Penunjang
Audiometri Nada Murni
HRCT scan Temporal
Setelah memahami, menguasai dan mengerjakan modul ini, maka diharapkan seorang dokter ahli mempunyai kompetensi serta penerapannya dapat dikerjakan di rumah sakit pendidikan dan RS jaringan pendidikan, serta dapat dipergunakan oleh program studi disiplin ilmu terkait.
Anastesi
Biasanya dilakukan dengan anastesi umum. Anastesi lokal dilakukan hanya pada kasus yang tidak memungkinkan pasien dibius.
Teknik Operasi
Insisi dibuat di daerah insisura terminalis (endaural)
Memasang Retraktor endaural supaya liang telinga luar terdilatasi
Kulit diinsisi disebelah lateral dari exostosis dan dielevasi ke medial sampai tampak tonjolan tulang exostosis
Aluminium shield atau bola kapas diletakkan diantara flap kulit dan tulang exostosis untuk melindungi kulit pada saat dilakukan pengeboran
Setelah exostosis hilang, maka permukaan tulang dihaluskan dengan bor poles (diamond boor)
Flap kulit dikembalikan dan difiksasi dengan spongestan, gelfoam atau tampon pita antibiotika
Komplikasi
Cedera saraf Fasialis (VII)
Kulit Liang telinga luar robek
Perforasi Membran timpani
Perawatan Psaca Operasi
Perban dan tampon telinga dilepas setelah hari ke 7 – 14 pasca operasi
Berikan antibiotika tetes telinga beberapa hari sampai liang telinga luar kering
Daftar Pustaka
Linstrom CJ, Lucente FE. Diseases of the External Ear. In : Johnson JT, Rosen CA, eds. Bailey’s Head & Neck Surgery Otolaryngology.5th ed. Philadelphia : Lippincott Williams & Wilkins; 2014. P 2333-57
Sanna M, Sunose H, Mancini F, Russo A, Taibah A, Flacioni M. Middle ear and mastoid microsurgery.2nd Ed. Thieme: New York. 2012
MEATOPLASTI
Setelah operasi mastoidektomi dinding runtuh, meatus dan mastoid menjadi suatu rongga yang lebih besar. Rongga ini merupakan area yang dalam dan sulit untuk dijangkau. Pembersihan alami (self cleansing) atau bahkan pembersihan terhadap telinga pasien di rawat jalan menjadi lebih sulit dibandingkan sebelumnya. Akumulasi debris epitelial dapat menyebabkan inflamasi berulang dan bahkan pembentukan kolesteatoma. Pada suatu penelitian, stenosis meatal pasca operasi mastoidektomi ditemukan pada 60% rongga mastoid yang bermasalah. Untuk menghindari hal ini dilakukan meatoplasti dengan memperlebar meatus sehingga didapat rongga mastoid yang relatif kecil, dangkal dan mudah diakses. Meatoplasti yang adekuat diperlukan untuk mendapatkan hasil operasi yang baik.
Definisi
Meatoplasti adalah tindakan untuk memperlebar meatus sehingga didapatkan rongga mastoid yang dangkal dan mudah diakses.
Tahapan Operasi
Meatoplasti dilakukan setelah mastoidektomi selesai untuk menyesuaikan ukuran meatus terhadap rongga mastoid
Rongga mastoid diisi tampon untuk mencegah darah masuk ke rongga ini
Menggunakan speculum, konka distabilisasi. Insisi konka dilakukan pada permukaan anterior dari aurikula. Kulit, kartilago konka dan jaringan lunak diinsisi dari pertengahan dinding meatus posterior ke antehelix, parallel terhadap crus helix. Panjang insisi yang diperlukan tergantung pada ukuran rongga mastoid, semakin besar rongga, semakin panjang insisi yang diperlukan. Sebagai patokan, telunjuk harus dapat dilewatkan dengan mudah melalui meatus setelah kartilago kanka diangkat. Insisi tidak pernah sampai sejauh antehelix.
Kulit dipegang dengan forsep dan dlakukan diseksi antara kulit dengan kartilago dibawahnya menggunakan gunting tajam, demikian pula diseksi dilakukan antara kartilago dengan jaringan dibawahnya. Setelah cukup luas kartilago yang terekspos, dilakukan pengangkatan kartilago berbentuk triangular. Luas kartilago yang diangkat tergantung dari ukuran dan kontur rongga mastoid. Sangat penting mempreservasi kartilago pada crus helix untuk mempertahankan bentuk aurikula.
Bila kartilago yang diangkat belum cukup luas, tambahan kartilago dapat diambil melalui luka retroaurikula. Aurikula ditekuk ke anterior dan dipegang oleh scrub nurse. Karatilago kemudiang dipotong lagi berbentuk bulan sabit. Pengangatan kartilago sudah cukup apabila kulit dapat dilipat kearah medial yang tidak hanya akan mengurangi area dengan permukaan kasar tapi juga mencegah perikondritis yang disebabkan terpaparnya ujung kartilago yang direseksi. Untuk dapat lebih jauh memfasilitasi lipatan medial, jabir kulit dapat ditipiskan dengan mengangkat sebagian jaringan lunak subkutan.
Luka retoaurikular, jabir kulit meatal dilipat kearah posterior, kemudian diperkirakan posisi ideal dari rongga mastoid. Jabir ini kemudia dijahit kearahposterior dan superior ke lapisan muskuloperiosteal dengan benang absorbable 3/0. Pastikan bahwa permukaan yang kasar dari ujung kartilago seluruhnya ditutupi oleh kulit konkal atau jaringan lunak.
Setelah menjahit jabir kulit meatal, bagian tengah dari kartilago konkal akan tertarik posterosuperior dan posteroinferior menyebabkan rotasi anterior dari seluruh aurikula sehingga aurikula tampak lebih prominen pasca operasi. Teknik yang dapat dilakukan untuk menghindari maslah kosmetik ini adalah dengan membuat dua jahitan di bagian yang lebih lateral dari meatus dan menarik aurikula kea rah posterior.
Rongga mastoid diisi dengan gelfoam dan tampon antibiotik.Insisi retroaurikular dijahit lapis demi lapir.
Daftar Pustaka
Johnson JT., Rosen CA,. 2010. Surgery of The Mastoid and Petros in Bailey’s Head and Neck Surgery-Otolaryngology. 5th ed, Volume two, Lippincott Wilkins
Fisch U. 2008. Tympanoplasty, Mastoidectomy and Stapes surgery. 2nd ed., Thieme Stuttgart-New York
Sanna M., Sunose H., Mancini A., Taibah A., Falcioni M. 2012. Middle Ear and Mastoid Microsurgery. 2nd ed.Thieme Stuttgart New York.
TIMPANOPLASTI
Istilah timpanoplasti pertama kali digunakan oleh Wullstein pada tahun 1953 untuk tindakan operasi rekonstruksi pendengaran telinga tengah yang mengalami kerusakan akibat infeksi telinga kronis.
Definisi
Menurut American Academy of Otolaryngology and Ophtlamology subcomitee on conservation of hearing 1965 timpanoplasti adalah prosedur operasi memperbaiki sistem konduksi suara dengan atau tanpa penanduran membran timpani.
Timpanoplasti dibagi menjadi 5 berdasarkan Wullstein yaitu:
Timpanoplasti tipe 1 adalah memperbaiki membran timpani dengan kondisi tulang pendengaran normal. Disebut juga dengan miringoplasti
Timpanoplasti tipe 2 adalah rekonstruksi membran timpani pada keadaan tanpa handle maleus, graft diletakkan pada sisa maleus dan long process of the incus
Timpanoplasti tipe 3 adalah rekonstruksi membran timpani keadaan maleus dan inkus tidak ada, graft diletakkan pada stapes yang intak dan mobile
Timpanoplasti tipe 4 adalah graft diletakkan diatas stapes footplate
Timpanoplasti tipe 5 dilakukan fenestra canalis semisirkularis lateral karena stapes terfiksasi
Gambar timpanoplasti. A adalah gambar timpanoplasti tipe I, B adalah gambar timpanoplasti tipe II, C adalah gambar timpanoplasti tipe III, D adalah gambar timpanoplasti tipe IV, dan E adalah gambar timpanoplasti tipe V
Indikasi Operasi
Perforasi membran timpani disertai kerusakan osikel dengan gangguan pendengaran konduksi
Kontraindikasi
Keganasan pada telinga luar dan tengah
Infeksi pseudomonas di telinga tengah pada penderita diabetes
Komplikasi intrakranial akibat infeksi telinga
Pada telinga yang pendengaran lebih baik secara bermakna
Relatif: OMSK eksaserbasi akut, otitis eksterna kronis, disfungsi tuba, batuk kronis
Persiapan operasi
Pemeriksaan telinga dengan otoskop dan atau mikroskop
Pemeriksaan audiometri
Pemeriksaan foto polos mastoid Schuller atau HRCT scan Mastoid untuk evaluasi mastoid
Teknik Operasi
Tindakan ini menggunakan anastesi umum, namun dapat dilakukan dengan anestesi lokal jika terdapat kontraindikasi untuk anastesi umum.
Tepi perforasi dibuang atau dibuat luka baru
Dilakukan jabir timpanomeatal untuk evaluasi telinga tengah, membersihkan jaringan patologi di telinga tengah dan rekonstruksi osikel.
Tandur membran timpani diambil dari fascia temporalis atau perikondrium tragus.
Telinga tengah diisi dengan gelfoam untuk mencegah terjadinya adesi
Graft membran timpani diletakkan secara underlay/ inlay/ onlay
Canalis akustikus eksternus diisi dengan gelfoam.
Selain teknik diatas dengan membuat jabir timpanomeatal
, untuk perforasi kecil dapat dilakukan tindakan lain tanpa pembuatan jabir, misalnya dengan fat plug.
Perawatan Poscaoperasi
Pemberian antibiotik sistemik
saat pemulangan pasien disesuaikan dengan kondisi medis yang dievaluasi operator
Luka jahitan retroaurikula dibuka pada hari ke 7 atau setelah luka operasi kering
Tampon liang telinga diangkat 7-14 hari pasca operasi (tergantung operator). Bila ditemukan tanda infeksi, tampon liang telinga harus diangkat lebih awal.
Daftar Pustaka
Tos, M. Mannual of Middle Ear Surgery, Vol. 2, Thieme Medical Publishers Inc. New York, 1993, 96-105
Johnson, GD; Simple Mastoid Operation, dalam Glascock-Shambaugh’s Surgery of the Ear, 5th edition, BC Decker Inc. Ontario, 2003, 487-97.
Frootko, NJ. Reconstruction of the Middle Ear, dalam Scott Brown’s Otolaryngology, Vol.3, 6th edition, Butterworth Heinemann, Oxford, 1997, 3/11/1-25.
Dornhoffer JL, Gluth MB. Reconstruction of the Tympanic Membrane and Assicular Chain. In Hirsch RJ, Jackler RK editors.
Bailey's Head and Neck Surgery - Otolaryngology. Philadelpia: Wolters Kluwer/Lippincott Williams & Wilkins; 2006. p. 1184-1198.
Sanna M, Sunose H, Mancini F, Russo A, Taibah A, Flacioni M. Middle ear and mastoid microsurgery.2nd Ed. Thieme: New York. 2012
OTOSKLEROSIS
Definisi
Otosklerosis (oto, “ telinga” , sklerosis, “pengerasan abnormal jaringan tubuh”) merupakan penyakit primer yang mengenai kapsul tulang labirin yang mengalami spongiosis di daerah kaki stapes. Pada tahap lanjut mengakibatkan sklerosis sehingga stapes menjadi kaku dan tidak dapat menghantarkan suara ke labirin sehingga terjadi tuli konduksi. Jika meluas ke koklea dan labirin dapat mengakibatkan tuli campuran. Proses otosklerosis terjadi dalam 2 fase: (1) fase aktif yaitu adanya resorpsi tulang (spongiosis), dan (2) fase remisi yaitu terjadinya deposit tulang (sklerosis).
Insidensi
Insiden otosklerosis paling tinggi pada ras Kaukasian (4-8%), bangsa Jepang 1%, dan Afrikan-Amerika (1%). Otosklerosis bersifat herediter yang diturunkan secara autosomal dominan (60%). Otosklerosis lebih banyak ditemukan pada wanita dari pada laki-laki dengan perbandingan 2:1. Otosklerosis sering dimulai di usia pertengahan (10- 48 thn) dengan insidensi tertinggi pada dekade empat dan lima kehidupan. Ada banyak laporan yang mengaitkan timbulnya gangguan pendengaran pada wanita hamil yang disebabkan oleh otosklerosis. Pada wanita hamil, otosklerosis memburuk lebih progresif dibanding wanita tidak hamil. Beberapa peneliti mengemukakan bahwa kurang lebih 50% dari penderita otosklerosis memiliki keluhan gangguan pendengaran yang memberat sehubungan dengan kehamilannya.
Patofisiologi
Secara klinis, proses otosklerosis dibagi menjadi 2 yaitu fase otospongiosis dan fase otosklerosis. Pada awalnya terjadi proses spongiosis. Pada fase ini terjadi aktivasi dari sel-sel osteosit, osteoblas, dan histiosit yang menyebabkan gambaran sponge. Aktifitas osteosit akan meresorpsi jaringan tulang di sekitar pembuluh darah yang akan mengakibatkan vasodilatasi sekunder. Pada pemeriksaan otoskopi akan tampak Schwarze sign. Pada fase lanjut akan terjadi proses sklerosis, yang terjadi jika osteoklas secara perlahan diganti oleh osteoblas sehingga terjadi perubahan densitas sklerotik pada tempat-tempat yang mengalami spongiosis. Jika proses ini terjadi pada foramen ovale di dekat kaki stapes, maka kaki stapes akan menjadi kaku dan terjadilah tuli konduksi. Kekakuan tersebut mengakibatkan fiksasi kaki stapes sehingga mempengaruhi gerakan
stapes. Akibatnya, transmisi gelombang suara ke telinga tengah (kopling osikel) terganggu.
Pada fase lanjut, tuli konduksi bisa menjadi tuli sensorineural yang disebabkan oleh obliterasi pada struktur sensorineural antara koklea dan ligamentum spirale. Selain itu, kerusakan outer hair cell akibat dari pelepasan enzim hidrolitik pada lesi spongiosis ke telinga dalam, menurunnya vaksularisasi, dan penyebaran sklerotik secara langsung juga menjadi penyebab terjadinya tuli sensorineural.
Etiologi
Penyebab otosklerosis belum diketahui secara pasti. Faktor predisposisi antara lain herediter, endokrin metabolik, vaskuler autoimun, dan infeksi measles.
Tipe Otosklerosis
Histologic Otosclerosis
Fenestral Otosclerosis
Cochlear Otosclerosis
Malignant Otosclerosis
Far Advance Otosclerosis
Gambar Histologic Otosclerosis. O: Fokus dari Histologic Otosclerosis; V: Vestibulum; SF: Stapes footplate; C: Cochlea. (Dikutip dari University of Minnesota temporal bone collection. Kindly contributed by Dr. Cureoglu and Dr. Paparella)
Gejala dan Tanda
Penurunan pendengaran yang progresif dengan speech discrimination yang baik. Biasanya terjadi bilateral. Dapat menjadi tuli campuran atau sensineoral jika mengenai koklea.
Tinitus terjadi pada sekitar 70% penderita yang digambarkan dengan suara berdenging, gemuruh, atau suara nada tinggi yang muncul berulang-ulang.
Paracusis Willisi yaitu pasien mendengar lebih baik di lingkungan yang bising diakibatkan tuli konduksinya menutupi kebisingan di sekitar.
Schwartze’ Sign yaitu pada pemeriksaan otoskopi tampak warna kemerahan pada membran timpani di dekat promontorium yang disebabkan peningkatan vaksularisasi pada fase aktif.
Carhart Notch yaitu pada pemeriksaan audiometri didapatkan penurunan ambang konduksi tulang pada frekuensi 2000Hz.
Diagnosis
Diagnosis otosklerosis ditegakkan berdasarkan gejala tanda klinis, pemeriksaan THT dan pemeriksaan penunjang.
Pemeriksaan penala
Pemeriksaan pertama yang harus dilakukan adalah pemeriksaan penala dengan garpu tala frekuensi 512Hz. Didapatkan tuli konduksi dengan hasil test Rinne negatif yang menggambarkan hantaran tulang lebih baik dari hantara udara. Test Weber didapatkan lateralisasi ke telinga yang lebih berat derajat tuli konduksinya. Jika derajat tuli konduksi sama beratnya di kedua telinga, mungkin tidak ditemukan lateralisasi pada test Weber.
Audiometri nada murni
Pada pemeriksaan audiometri nada murni didapatkan tanda khas berupa Carhart’s Notch. Gambaran ini akan hilang setelah dilakukan stapedektomi.
Gambar audiogram nada murni pasien otosklerosis. Penurunan konduksi tulang pada frekuensi 2000Hz. Didapatkan hasil test Rinne negatif bilateral dan test Weber lateralisasi di kedua telinga. Nilai diskriminasi tutur 90% sangat baik.
Audiometri impedans
Pada pemeriksaan audiometri impedance didapatkan hasil normal. Pemeriksaan reflek stapedius bisa negatif atau positif tergantung derajat fiksasi yang dikenal sebagai “on-off refleks stapedius”.
CT scan
Ct scan bermanfaat untuk menegakan diagnosis tuli konduksi karena otosklerosis. Selain itu dapat menunjukkan anomali tulang lainnya.
Gambar CT scan tulang temporal pasien otosklerosis koklear. Pada fase aktif, koklea dan kanalis semisirkularis mengalami demineralisasi (panah). (dikutip dari Dr. Neil Sperling)
Diagnosis Banding
Gangguan rantai tulang pendengaran
Fiksasi stapes kongenital
Presbikusis
Osteogenesis imperfekta
Tatalaksana
Farmakologi
Tidak ada terapi obat yang spesifik untuk otosklerosis. Sodium floride dan vitamin D dapat dipertimbangkan untuk menghambat otosklerosis. Pada fase aktif, diberikan sodium floride dosis 50mg/hari. Jika schwartze’s sign positif dan disapatkan tuli sensorineural dosis dapat ditingkatkan 75mg/hari. Jika pendengaran stabil, schwartze’s sign memudar, dan dari radiologi tampak rekalsifikasi, dosis dapat dimaintenance 25mg/hari. Vitamin D 400U dapat diberikan untuk meningkatkan absorbsi kalsium di usus.
Alat Bantu Dengar (Hearing Aid)
Beberapa kondisi yang memungkikan alat bantu dengar sebagai pilihan terapi adalah:
Terdapat kontraindikasi absolut operasi
Pasien menolak operasi
Only hearing ear
Skor diskriminasi tutur yang buruk
Tuli konduksi ringan
Fiksasi stapes kongenital yang diduga tidak dapat membaik meskipun dilakukan operasi
Pembedahan
Stapedektomi total
Stapedektomi parsial
Stapedotomi
Komplikasi
Ada beberapa komplikasi yang mungkin terjadi baik durante operasi ataupun post operasi yaitu:
Tuli sensorineural post operasi (1-2%)
Parese N VII permanen
Gangguan fungsi pengecapan akibat lesi dari korda timpani
Tinitus dan vertigo disertai mual muntah
Meskipun begitu, keberhasilan operasi memiliki prognosis baik sekitar lebih dari 90%.
Daftar Pustaka
De Souza CE, Glasscock ME. Pathology of Otosclerosis. Otosclerosis and Stapedectomy. New York, NY: Thieme; 2004: 3–21.
Johnson, J.T, Rosen C.A. Otosclerosis in Bailey’s Head and Neck Surgery- Otolaryngology. Fifth edition. Volume two. Lippincott Williams & Wilkins. 2014
De Souza C, Marcos V. Goycoolea, Neil M. Sperling. Otosclerosis. Diagnosis, Evaluation, Pathology, Surgical Technique, and Outcomes. San Diego: 2014.
DAFTAR ISI
WAKTU 1
PERSIAPAN SESI 1
REFERENSI 1
KOMPETENSI 2
CONTOH KASUS 2
TUJUAN PEMBELAJARAN 3
METODE PEMBELAJARAN 3
EVALUASI 6
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF 7
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR 8
DAFTAR TILIK 21
MATERI BAKU 28
MODUL I.2.3
OTOLOGI – GANGGUAN TELINGA TENGAH : OTOSKLEROSIS
WAKTU
Proses Pengembangan Kompetensi | Waktu |
Sesi dalam kelas Sesi dengan fasilitas pembimbing Seksi praktik dan pencapaian kompetensi | 5 x 60 menit (kuliah/ diskusi) 10 x 120 menit (bimbingan) 8 minggu |
PERSIAPAN SESI
Kasus
Kasus : Otitis Media Akut stadium perforasi
Sarana dan Alat Bantu
Model Anatomi Telinga
Video Presentasi
Fasilitas Diseksi Tulang Temporal:
Tulang Temporal
Alat-alat diseksi
Seperangkat bor tulang temporal
Video diseksi
Pembimbing
Buku bimbingan
Buku acuan/referensi
Tempat: Poliklinik, Bangsal Perawatan, Ruang Operasi, ruang praktikum
REFERENSI
Chole RA, Brodie HA, Jacob A. Surgery of the Mastoid and Petrosa. In Byron J. Bailey & Jonas T. Johnson Head and Neck Surgery Otolaryngology. Fifth edition. Volume two. Lippincott Williams & Willimns. Philadelphia. 2014
Lee K..J. Infections of the Temporal Bone. In:Essential Otolaryngology. 12 th Ed. McGraw Hill. 2019
Flint, P.W, Haughey B.H, Lund V.J, Niparko J.K, Richardson M.A, Robbins K.T, Thomas J.R. Chronic Otitis Media Mastoiditis and Petrositis in Cummings Otolaryngology Head and Neck Surgery. 5th Ed. Volume two. Mosby Elsevier. 2015
Gulya, A.J, Minor L.B, Poe D.S. Pathology and Clinical Course of the Inflammatory Disease of the Middle Ear in Glasscock-Shambaugh Surgery of the Ear. Sixth edition. Peoples’s Medical Publishing House-USA. 2010
Brackmann, D.E, Shelton C, Arriaga M.A. Complication of Surgery for Chronic Otitis Media in Otologic Surgery. Fourth edition. Saunders Elsevier. 2016
Chole RA, Brodie HA, Jacob A. Surgery of the Mastoid and Petrosa. In Byron J. Bailey & Jonas T. Johnson Head and Neck Surgery Otolaryngology. Vol 2. 5th Ed. Lippincott Williams & Willimns. Philadelphia. 2014.
Helmi. Bedah Telinga Tengah untuk Otitis Media Supuratif Kronis. Penerbit FK UI Jakarta. 2005. h: 170
KOMPETENSI
Pengetahuan
Mampu membuat diagnosis otosklerosis berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan-pemeriksaan tambahan (misalnya otomikroskopi, pemeriksaan radiologi seperti foto polos dan HRCT mastoid). Dapat memutuskan dan mampu menangani masalah tersebut secara mandiri hingga tuntas
Keterampilan
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam :
Menjelaskan anatomi , topogarafi, fisiologi telinga
Menjelaskan etiologi dan macam-macam otosklerosis
Menjelaskan patofisiologi, gambaran klinis, dan terapi otosklerosis
Menjelaskan pemeriksaan penunjang diagnosis
Menjelaskan komplikasi dan penanganan otosklerosis
Menjelaskan teknik operasi pada otosklerosis dan komplikasinya
Melakukan perencanaan tatalaksana penderita otosklerosis (follow-up selanjutnya)
Melakukan terapi terhadap otosklerosis
Melakukan tindakan pembedahan pada otosklerosis
Melakukan perawatan pra operatif ( memberikan penjelasan kepada penderita dan keluarga, informed consent) dan pasca operasi serta mampu mengatasi komplikasi yang terjadi.
CONTOH KASUS
Seorang anak laki-laki berusia 4 tahun dibawa orang tuanya ke Instalasi Gawat Darurat pada malam hari dengan keluhan keluar cairan dari telinga kiri sejak 2 hari. Pasien menderita batuk pilek sejak 1 minggu dan demam tinggi 3 hari yang lalu. Keadaan umum pasien saat datang: kompos mentis, subfebris. Pemeriksaan otoskopi kanan liang telinga lapang, membran timpani utuh, hiperemis. Sedangkan telinga kiri: terdapat sekret mukoid di liang telinga kiri dan terdapat perforasi sentral pada membran timpani.
Diskusi:
Lengkapkan anamnesis pada pasien ini
Lengkapkan pemeriksaan fisik pada pasien ini
Apa diagnosis kerja yang paling mungkin untuk pasien ini
Jelaskan patogenesisnya
Apa komplikasi yang mungkin terjadi
Bagaimana penatalaksaan pada pasien ini
Jawaban:
Perlu ditanyakan apakah keluhan ini timbul pertama kali ataukah berulang-ulang. Adakah keluhan gangguan pendengaran pada anak ini. Apakah penderita sering bernafas melalui mulut. Apakah pasien memiliki riwayat penyakit alergi atau riwayat keluarga dengan penyakit alergi seperti asma, rinitis alergi, ataupun faktor predisposisi otitis media lainnya.Apakah sudah diberikan obat sebelumnya? Apakah ada keluhan yang mengarahkan pada komplikasi yang mungkin timbul seperti sakit kepala, dan lainnya.
Pemeriksaan THT lengkap perlu dilakukan yaitu menilai kondisi tenggorok, ukuran tonsil, dan tanda infeksi lainnya bila mungkin dilihat ukuran adenoid. Pemeriksaan hidung dilakukan untuk menilai keadaan cavum nasi dan tanda- tanda infeksi.
Diagnosis kerja:
telinga kanan: otitis media akut stadium hiperemis Telinga kiri: otitis media akut stadium perforasi
Diagnosis tambahan lainnya disesuaikan dengan hasil pemeriksaan hidung dan tenggorok yang didapatkan pada pasien.
Gangguan fungsi tuba Eustachius merupakan faktor utama awal terjadinya otitis media. Pada gangguan tersebut fungsi tuba sebagai penyeimbang tekanan, proteksi telinga tengah, dan fungsi ventilasi tidak dapat berjalan dengan baik. Dengan demikian kan terjadi tekanan negatif di telinga tengah, yang menyebabkan transudasi cairan hingga supurasi.
Dapat terjadi komplikasi intrakranial maupun intratemporal.
Pada pasien dengan diagnosis otitis media akut ini perlu diberikan analgetik/antipiretik serta antibiotik. Antibiotika lini pertama yang terpilih adalah amoxicillin dan lini kedua adalah amoxicillin-clavulanat. Telinga kiri dengan stadium perforasi dapat obat antibiotik topikal ofloxacin 0.3%.
TUJUAN PEMBELAJARAN
Pembelajaran materi ini bertujuan untuk mendapatkan pengetahuan, ketrampilan dan perilaku yang terkait dengan kompetensi yang diperlukan, yaitu:
Menguasai anatomi, topografi, fisiologi telinga
Mampu menjelaskan etiologi dan macam-macam otosklerosis.
Mampu menjelaskan patofisiologi, komplikasi, gambaran klinis, serta mendiagnosis kasus otosklerosis.
Dapat membuat perencanaan tatalaksana penderita otosklerosis (follow-up selanjutnya).
Melakukan tindakan pembedahan pada otosklerosis
Mampu menjelaskan komplikasi dan penanganan otosklerosis
Mampu melakukan perawatan praoperatif (memberikan penjelasan kepada penderita dan keluarga, informed consent) dan perawatan pasca-operasi serta mampu mengatasi komplikasi yang terjadi.
METODE PEMBELAJARAN
Tujuan 1. Menguasai anatomi, topografi, dan fisiologi telinga
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri
Kuliah
Diskusi kelompok
Pelatihan diseksi tulang temporal Harus diketahui :
Anatomi telinga
Fisiologi telinga
Topografi dan landmark bedah mikro telinga
Tujuan 2. Mampu menjelaskan etiologi, patofisiologi dan macam-macam otosklerosis.
Workshop/ pelatihan
Belajar mandiri
Kuliah
Diskusi kelompok
Continuing professional development
Harus diketahui :
Etiologi dan predisposisi
Patofisiologi
Patogenesis penyakit
Tujuan 3. Mampu menjelaskan gambaran klinis, diagnosis, serta komplikasi kasus otosklerosis.
Belajar mandiri
Kuliah
Diskusi kelompok
Visite bedside teaching
Praktik pada pasien
Continuing professional development
Harus diketahui :
Gejala (keluhan pasien)
Tanda klinis penyakit
Pemeriksaan penunjang
Diagnosis kerja dan diagnosis definitif
Komplikasi penyakit
Patofisiologi komplkasi
Tujuan 4. Dapat membuat perencanaan tatalaksana penderita otosklerosis (follow-up selanjutnya)
Belajar mandiri
Kuliah
Diskusi kelompok
Visite bedside teaching
Praktik pada pasien
Continuing professional development
Harus diketahui :
Tatalaksana pasien baik non pembedahan maupun pembedahan
Keperluan konsultasi dalam tatalaksana
Tujuan/ goal tatalaksana
Tujuan 5. Melakukan tindakan pembedahan pada otosklerosis
Workshop/ pelatihan
Belajar mandiri
Kuliah
Diskusi kelompok
Visite bedside teaching
Pelatihan diseksi tulang temporal
Bimbingan operasi dan asistensi
Praktik pada pasien
Continuing professional development
Harus diketahui :
Jenis-jenis pembedahan
Pertimbangan jenis pembedahan yang dilakukan
Target pencapaian pembedahan
Evaluasi hasil pembedahan
Tujuan 6. Mampu menjelaskan komplikasi dan penanganan otosklerosis
Belajar mandiri
Kuliah
Grup diskusi
Visite bedside teaching
Workshop/ pelatihan
Bimbingan operasi dan asistensi
Praktik pada pasien
Continuing professional development
Harus diketahui :
Komplikasi dan tanda-tandanya
Tatalaksana komplikasi
Minimalisasi komplikasi
Tujuan 7. Mampu melakukan perawatan praoperatif (memberikan penjelasan kepada penderita dan keluarga, informed consent) dan perawatan pasca-operasi serta mampu mengatasi komplikasi yang terjadi.
Belajar mandiri
Kuliah
Grup diskusi
Visite bedside teaching
Workshop/ pelatihan
Kasus morbiditas dan mortalitas
Praktik pada pasien
Continuing professional development
Harus diketahui :
Persiapan praoperatif
Perawatan properatif
Perawatan pascaoperasi
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pre test dalam bentuk tertulis sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri atas :
Anatomi dan fisiologi telinga
Penegakan diagnosis
Teknik operasi
Follow up
Selanjutnya dilakukan “small group discussion” bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian.
Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk “role play” dan teman-temannya (Peer Assisted Evaluation) atau kepada SP (Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi setelah dianggap memadai, melalui metode bedside teaching dibawah pengawasan fasilitator, peserta dididik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut :
Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan.
Cukup : pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien.
Baik : pelaksanaan benar dan baik (efisien)
Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
Self assesment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar.
Pendidik/ fasilitas :
pengamatan langsung dengan memakai formulir ceklis terlampir
penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi
Kriteria penilaian keseluruhan : cakap/ tidak cakap/ lalai
Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education)
Pencapaian pembelajaran :
Ujian akhir stase, setiap divisi/ unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan.THT-KL
Ujian akhir kognitif dan ketrampilan, dilakukan pada akhir tahapan THT-KL lanjut oleh kolegium ilmu THT-KL
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Kuesioner Sebelum Pembelajaran
Sebutkan 3 struktur sebagai landmark saat akan melakukan mastoidektomi superfisialis.
Sebutkan 3 struktur sebagai landmark jika akan melakukan timpanotomi posterior
Sebutkan dan jelaskan 2 mekanisme proteksi di telinga tengah Jawaban :
Linea temporalis, Spine of Henle dan dinding posterior CAE
Nervus fasialis pars mastoidea, Chorda timpani dan incus buttress
Proteksi di telinga tengah dilakukan oleh tuba eustachius dan m. Stapedius
Kuesioner Tengah Pembelajaran
Sama dengan kuesioner sebelum pembelajaran, sehingga dapat dilakukan pembandingan nilai sebelum dan sesudah pembelajaran
Essay/ Ujian Lisan
Soal :
Seorang anak berusia 5 tahun dibawa oleh ibunya ke poli THT dengan keluhan kurang respons bila dipanggil. Pasien tidak ada keluhan demam, nyeri telinga maupun keluar cairan, tidak ada batuk pilek. Pengasuh dan guru tk pasien mengeluh pasien sulit menangkap instruksi ataupun suara bila dipanggil. Orangtua pasien mengeluh pasien mengorok ketika tidur. Pada pemeriksaan fisik kedua telinga didapatkan liang telinga lapang, sekret tidak ada, membran timpani intak dan tidak hiperemis dengan refleks cahaya suram dan tampak cairan jernih kekuningan di belakang membran timpani dengan air fluid level di kedua telinga.
Sebutkan diagnosis kerja yang paling mungkin pada pasien ini
Sebutkan 3 pemeriksaan penunjang yang diperlukan dan jelaskan tujuan pemeriksaan
Jelaskan penatalaksanaan yang komprehensif pada pasien ini Jawaban :
Otitis media efusi bilateral
Pemeriksaan pendengaran menggunakan penala, audiometri atau pemeriksaan BERA bila diperlukan, timpanometri, evaluasi hipertrofi adenoid (menggunakan fleksibel endoskop atau foto polos sinus paranasal posisi lateral)
Bila pasien didapatkan gangguan pendengaran konduktif dengan gambaran timpanogram sesuai dengan otitis media efusi maka dapat dilakukan watchful waiting sampai dengan 3 bulan. Akan tetapi bila pada pasien ini didapatkan tuli konduktif bilateral diperlukan intervensi lebih awal untuk tindakan miringotomi disertai dengan pemasangan pipa timpanostomi (grommet).dengan atau tanpa adenoidektomi. Evaluasi faktor risiko lain seperti alergi juga diperlukan agar dapat dilakukan tatalaksana menyeluruh pada pasien.
J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR
PENUNTUN BELAJAR I PROSEDUR MIRINGOTOMI
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.:
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
NAMA PESERTA: ...................................... TANGGAL: .................................
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||||
| |||||
II. PROSEDUR MIRINGOTOMI (dalam anestesi umum/ lokal) | |||||
- Cuci tangan, mengenakan sarung tangan steril | |||||
- Evaluasi membran timpani dengan baik menggunakan mikroskop | |||||
- Tindakan pembersihan liang telinga dengan kapas aplikator dan alkohol 70 %, setelah itu bila prosedur tersebut dilakukan dalam anestesi lokal dilakukan anestesi lokal menggunakan lidocaine 10 % spray atau lidocaine cream 5 % | |||||
- Insisi membran timpani, kecuali kuadran postero-superior, menggunakan miringotom atau jarum steril. | |||||
- Hisap sekret yang keluar dari telinga tengah melalui luka insisi dan kultur sekret (bila diperlukan) | |||||
PASCA MIRINGOTOMI Instruksi pasca tindakan
| |||||
PENUNTUN BELAJAR II
PROSEDUR PEMASANGAN PIPA GROMMET
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.:
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
NAMA PESERTA: ...................................... TANGGAL: ...............................
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||||
| |||||
II. PROSEDUR MIRINGOTOMI (dalam anestesi lokal) | |||||
- Cuci tangan, mengenakan sarung tangan steril | |||||
- Evaluasi membran timpani dengan baik menggunakan mikroskop | |||||
- Tindakan pembersihan liang telinga dengan kapas aplikator dan alkohol 70 %, setelah itu dilakukan anestesi lokal menggunakan lidocaine 10 % spray atau lidocaine cream 5 % | |||||
- Insisi membran timpani yang dapat dilihat dengan baik, kecuali daerah postero-superior, menggunakan miringotom atau jarum steril. | |||||
untuk memegang ujung sayap seperti pada contoh gambar seperti di bawah ini: | |||||
KEGIATAN | KASUS | ||||
PASCA MIRINGOTOMI Instruksi pasca tindakan
| |||||
PENUNTUN BELAJAR III
PROSEDUR INSISI & DRAINASE ABSES SUBPERIOSTEAL
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut:
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
NAMA PESERTA: ...................................... TANGGAL: ...............................
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||||
| |||||
II. PROSEDUR INSISI ABSES SUBPERIOSTEAL | |||||
- Cuci tangan, mengenakan sarung tangan steril | |||||
- Aseptik dan antiseptik daerah yang akan diinsisi | |||||
- Anestesi lokal dengan chlor ethyl spray atau injeksi lidocaine intrakutan | |||||
- Aspirasi abses dengan spuit ➔pus dikirim untuk pemeriksaan kultur dan tes resistensi | |||||
- Insisi dengan scalpel no11 atau .15 di bagian yang paling fluktuatif sampai daerah subperiosteal (tegak lurus sampai mencapai bagian tulang) | |||||
- Kantong abses dibuka secara tumpul dengan klem hemostat | |||||
- Cuci dengan Nacl 0.9 % dan betadine (bila perlu ditambahkan H2O2 3 %), setelahnya perlu dibilas dengan Nacl 0.9% | |||||
- Pasang drain selama 2 hari atau hingga produksi pus berhenti | |||||
- Ganti verban dan rawat luka setiap hari hingga tidak ada produksi pus | |||||
POST INSISI ABSES SUBPERIOSTEAL Instruksi pasca operasi
| |||||
PENUNTUN BELAJAR IV
PROSEDUR TIMPANOPLASTI DENGAN MASTOIDEKTOMI DINDING UTUH
Prosedur mastoidektomi dinding utuh dengan timpanoplasti memiliki beberapa nomenklatur yaitu:
Canal wall up mastoidectomy.
Canal wall up tympanoplasty.
Intact canal wall mastoidectomy.
Intact canal wall tympanoplasty.
Combined approach tympanoplasty (CAT).
Tympano-mastoidectomy.
Canal wall up tympano-mastoidectomy.
Intact canal wall tympano-mastoidectomy
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut:
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
NAMA PESERTA: ...................................... TANGGAL: .................................
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||||
| |||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR TIMPANOMASTOIDEKTOMI | |||||
- Pemberian antibiotika profilaksis/ empiris/ definitif perioperatif, secara injeksi | |||||
- Menyiapkan mikroskop dan alat-alat yang akan digunakan | |||||
- Cuci tangan, memakai baju operasi dan handscoon | |||||
- tindakan a dan antiseptik pada daerah operasi dan sekitarnya dengan menggunakan povidon iodine atau antiseptik lainnya | |||||
- pasang kain penutup operasi steril pada pasien, kecuali di area operasi | |||||
KEGIATAN | KASUS | ||||
- Posisi pasien: terlentang, kepala miring ke arah berlawanan dengan sisi telinga yang dioperasi | |||||
III. PROSEDUR OPERASI
| |||||
PASCA OPERASI Instruksi pasca operasi
7-14 hari pasca operasi (tergantung kondisi medis yang | |||||
KEGIATAN | KASUS | ||||
dievaluasi operator). Bila ditemukan tanda infeksi, tampon liang telinga harus diangkat lebih awal. | |||||
PENUNTUN BELAJAR V
PROSEDUR TIMPANOPLASTI DENGAN MASTOIDEKTOMI DINDING RUNTUH
Prosedur ini memiliki beberapa nomenklatur yaitu:
Canal wall down mastoidectomy
Open cavity mastoidectomy
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut:
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
NAMA PESERTA: ...................................... TANGGAL: .................................
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||||
| |||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR | |||||
- Pemberian antibiotika profilaksis/ empiris/ definitif perioperatif, secara injeksi | |||||
- Menyiapkan mikroskop dan alat-alat yang akan digunakan | |||||
- Cuci tangan, memakai baju operasi dan handscoon | |||||
- tindakan a dan antiseptik pada daerah operasi dan sekitarnya dengan menggunakan povidon iodine atau antiseptik lainnya | |||||
- pasang kain penutup operasi steril pada pasien, kecuali di area operasi | |||||
KEGIATAN | KASUS | ||||||
- Posisi pasien : terlentang, kepala miring ke arah berlawanan dengan sisi telinga yang dioperasi | |||||||
III. PROSEDUR OPERASI MASTOIDEKTOMI RADIKAL | |||||||
- Pada daerah retroauricula dan liang telinga yang akan diinsisi dilakukan suntikan dengan lidocain 2% dengan epinefrin 1 : 100.000- 200.000. | |||||||
- Dilakukan insisi retroaurikular 5-10 mm dari sulkus atau pada batas kulit rambut daerah retroaurikular, mulai dari kulit, subkutis hingga lapisan fascia m.temporalis | |||||||
- Dilakukan pengambilan graft fasia muskulus temporalis | |||||||
KEGIATAN | KASUS | ||||||
| |||||||
Langkah-langkah mastoidektomi dinding runtuh dengan timpanoplasti - Bor korteks mastoid dengan landmark segitiga Mc Ewen, dengan mengidentifikasi dinding posterior liang telinga, linea temporalis dan spina Henle. Identifikasi tegmen timpani, tegmen mastoid, sinus sigmoid dan kanalis semisirkulatis lateralis. | |||||||
KEGIATAN | KASUS | ||||||
| |||||||
PASCA OPERASI | |||||||
tampon liang telinga harus diangkat lebih awal. | |||||||
PENUNTUN BELAJAR VI PROSEDUR MEATOPLASTI
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.:
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
NAMA PESERTA: ...................................... TANGGAL: .................................
KEGIATAN | KASUS | ||||
I PROSEDUR MEATOPLASTI | |||||
| |||||
| |||||
Panjang insisi sesuai dengan ukuran rongga mastoid | |||||
berbentuk triangular pada kedua sisi. | |||||
kartilago sudah cukup apabila kulit dapat dilipat kearah medial | |||||
konkal atau jaringan lunak. | |||||
| |||||
| |||||
PENUNTUN BELAJAR VII PROSEDUR FAT PLUG TIMPANOPLASTY
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.:
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
NAMA PESERTA: ...................................... TANGGAL: .................................
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||||
| |||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR FAT PLUG TIMPANOPLASTY | |||||
Prinsip operasi : - Menutup perforasi pada membran timpani menggunakan lemak yang diambil dari lobulus telinga. (untuk perforasi kecil) | |||||
III. PROSEDUR OPERASI
| |||||
Pasca fat plug graft timpanoplasty Instruksi pasca tindakan
ditemukan tanda infeksi, tampon liang telinga harus diangkat lebih awal. | |||||
PENUNTUN BELAJAR VIII PROSEDUR TIMPANOPLASTI TIPE I
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.:
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
NAMA PESERTA: ...................................... TANGGAL: .............................
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||||
| |||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR TIMPANOPLASTY I | |||||
Prinsip operasi : - Menutup perforasi pada membran timpani menggunakan fascia profunda m. temporalis | |||||
III. PROSEDUR OPERASI
| |||||
KEGIATAN | KASUS | ||||
| |||||
Pasca timpanoplasti tipe I Instruksi pasca operasi
| |||||
K. DAFTAR TILIK
DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA I PROSEDUR MIRINGOTOMI
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau ketrampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan suatu prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan di bawah ini:
: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
X : Tidak memuaskan:Langkah atau kegiatan tidak ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
T/T : Tidak ditampilkan: langkah, kegiatan atau ketrampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
PESERTA: ................ TANGGAL: .......................
KEGIATAN | NILAI | ||
Langkah-langkah | |||
1. Cuci tangan, mengenakan sarung tangan steril | |||
2. Evaluasi membran timpani dengan baik menggunakan mikroskop | |||
3. Tindakan pembersihan liang telinga dengan kapas aplikator dan alkohol 70 %, setelah itu dilakukan anestesi lokal menggunakan lidocaine 10 % spray atau lidocaine cream 5 % | |||
4. Insisi membran timpani, kecuali daerah postero- superior, menggunakan miringotom atau jarum steril. | |||
5. Hisap sekret yang keluar dari telinga tengah melalui luka insisi dan kultur sekret. | |||
6. Cuci tangan, mengenakan sarung tangan steril |
Instruksi pasca tindakan
pemberian antibiotik sistemik disesuaikan dengan etiologi penyakit yang mendasari tindakan miringotomi
pemberian analgetik/antinflamasi
rencana evaluasi 7 hari pasca-miringotomi
PASCA MIRINGOTOMI
DAFTAR TILIK II
PROSEDUR PEMASANGAN PIPA GROMMET
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.:
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
NAMA PESERTA: ...................................... TANGGAL: .................................
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||||
| |||||
II. PROSEDUR MIRINGOTOMI (dalam anestesi local) | |||||
- Cuci tangan, mengenakan sarung tangan steril | |||||
- Evaluasi membran timpani dengan baik menggunakan mikroskop | |||||
KEGIATAN | KASUS | ||||
- Tindakan pembersihan liang telinga dengan kapas aplikator dan alkohol 70 %, setelah itu dilakukan anestesi lokal menggunakan lidocaine 10 % spray atau lidocaine cream 5 % | |||||
- Insisi membran timpani yang dapat dilihat dengan baik, kecuali daerah postero-superior, menggunakan miringotom atau jarum steril. | |||||
| |||||
KEGIATAN | KASUS | |||||
PASCA MIRINGOTOMI | ||||||
| n | eti | olo | gi | ||
DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA II PROSEDUR INSISI & DRAINASE ABSES SUBPERIOSTEAL
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.:
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
NAMA PESERTA: ...................................... TANGGAL: .................................
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||||
| |||||
II. PROSEDUR INSISI ABSES SUBPERIOSTEAL | |||||
- Cuci tangan, mengenakan sarung tangan steril | |||||
- Aseptik dan antiseptik daerah yang akan diinsisi | |||||
- Anestesi lokal dengan chlor ethyl spray atau injeksi lidocaine intrakutan | |||||
- Aspirasi abses dengan spuit 5 cc ➔pus dikultur | |||||
- Insisi dengan scalpel no11 atau .15 di bagian yang paling fluktuatif sampai daerah subperiosteal (tegak lurus sampai mencapai bagian tulang) | |||||
- Kantong abses dibuka dengan klem hemostat | |||||
- Cuci dengan Nacl 0.9 % dan yodium povidon 10 % (bila perlu ditambahkan H2O2 3 % dan dibilas kembali dengan Nacl 0.9%) | |||||
- Pasang drain selama 2 hari atau hingga produksi pus berhenti | |||||
KEGIATAN | KASUS | ||||
- Ganti verban dan rawat luka setiap hari hingga tidak ada produksi pus | |||||
POST INSISI ABSES SUBPERIOSTEAL -Instruksi pasca operasi:
| |||||
DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA III
erikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau ketrampilan yang diperagakan oleh eserta pada saat melaksanakan suatu prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan i bawah ini:
: Memuaskan :
X :Tidak memuaskan :
Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
Langkah atau kegiatan tidak ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
/T : Tidak ditampilkan : langkah, kegiatan atau ketrampilan tidak
diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
B
p d
T
PROSEDUR TIMPANOPLASTI DENGAN MASTOIDEKTOMI DINDING UTUH
PESERTA:.............................. TANGGAL:..................................
KEGIATAN | NILAI | ||
1. Persiapan tindakan | |||
2. Infiltrasi daerah operasi | |||
3. Insisi daerah retroaurikular | |||
4. Pengambilan graft fasia muskulus temporalis | |||
| |||
6. Mastoidektomi dalam: Identifikasi aditus ad antrum Identifikasi fossa inkudis dan osikel Identifikasi kanalis fasialis | |||
7. Pemasangan graft | |||
8. Pemasangan tampon telinga | |||
9. Penutupan luka operasi | |||
10. Monitoring pasca operasi | |||
DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA IV
PROSEDUR TIMPANOPLASTI DENGAN MASTOIDEKTOMI DINDING RUNTUH
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau ketrampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan suatu prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan di bawah ini:
: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
X : Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
T/T : Tidak ditampilkan: langkah, kegiatan atau ketrampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
PESERTA:................................ TANGGAL:......................................
KEGIATAN | NILAI | ||
1. Persiapan tindakan | |||
2. Infiltrasi daerah operasi | |||
3. Insisi retroaurikular | |||
4. Pengambilan graft fasia muskulus temporalis | |||
| |||
| |||
7. Mengangkat jaringan patologis berupa jaringan granulasi dan kolesteatoma | |||
8. Meruntuhkan bridge | |||
9. Merendahkan dinding posterior | |||
10. Meatoplasti | |||
11. Pemasangan tandur | |||
12 Pemasangan tampon telinga | |||
13. Penutupan luka operasi | |||
14. Monitoring pascaoperasi | |||
DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA V PROSEDUR MEATOPLASTI
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau ketrampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan suatu prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan di bawah ini:
: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
X : Tidak memuaskan:Langkah atau kegiatan tidak ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
T/T : Tidak ditampilkan: langkah, kegiatan atau ketrampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
PESERTA:.............................. TANGGAL:..................................
KEGIATAN | NILAI | ||
1. Tampon rongga mastoid mencegah darah masuk | |||
2. Insisi konka aurikula | |||
3. Pengangkatan kartilago konka | |||
4. Penjahitan jabir meatal | |||
5. Tampon rongga mastoid | |||
6. Penjahitan luka retroaurikular | |||
7. Monitoring pasca operasi | |||
DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA VI PROSEDUR FAT PLUG TIMPANOPLASTI
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau ketrampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan suatu prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan di bawah ini:
: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
X : Tidak memuaskan:Langkah atau kegiatan tidak ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
T/T : Tidak ditampilkan: langkah, kegiatan atau ketrampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
PESERTA:.............................. TANGGAL:..................................
KEGIATAN | NILAI | ||
1. Persiapan tindakan | |||
2. Tindakan dilakukan di bawah anestesi umum/ lokal | |||
3. Pengambilan lemak dari lobulus bagian posterior | |||
4. Penjahitan luka lobulus | |||
5. membuat luka pada tepi perforasi membran timpani | |||
6. memasukkan fat pada perforasi membran | |||
7. Pasang gelfoam dan tampon antibiotik | |||
8. Monitoring pasca operasi | |||
DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA VII PROSEDUR TIMPANOPLASTI TIPE I
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau ketrampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan suatu prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan di bawah ini:
: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
X : Tidak memuaskan:Langkah atau kegiatan tidak ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
T/T : Tidak ditampilkan: langkah, kegiatan atau ketrampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
PESERTA:.............................. TANGGAL:..................................
KEGIATAN | NILAI | ||
1. Persiapan tindakan | |||
2. Infiltrasi liang telinga di 4 kuadran | |||
3. Pengambilan fascia profunda m. temporalis atau pengambilan graft perikondrium tragus | |||
4. Penjahitan luka retroaurikular atau tragus | |||
5. membuat luka pada tepi perforasi membran | |||
6. Membuat timpanomeatal flap | |||
7. meletakkan graft fascia pada perforasi membran secara underlay atau inlay | |||
8. fiksasi graft dengan gelfoam | |||
9. Pasang tampon antibiotik | |||
10. Monitoring pasca operasi | |||
L. MATERI BAKU OTOSKLEROSIS
Definisi
Otosklerosis (oto, “ telinga” , sklerosis, “pengerasan abnormal jaringan tubuh”) merupakan penyakit primer yang mengenai kapsul tulang labirin yang mengalami spongiosis di daerah kaki stapes. Pada tahap lanjut mengakibatkan sklerosis sehingga stapes menjadi kaku dan tidak dapat menghantarkan suara ke labirin sehingga terjadi tuli konduksi. Jika meluas ke koklea dan labirin dapat mengakibatkan tuli campuran. Proses otosklerosis terjadi dalam 2 fase: (1) fase aktif yaitu adanya resorpsi tulang (spongiosis), dan (2) fase remisi yaitu terjadinya deposit tulang (sklerosis).
Insidensi
Insiden otosklerosis paling tinggi pada ras Kaukasian (4-8%), bangsa Jepang 1%, dan Afrikan-Amerika (1%). Otosklerosis bersifat herediter yang diturunkan secara autosomal dominan (60%). Otosklerosis lebih banyak ditemukan pada wanita dari pada laki-laki dengan perbandingan 2:1. Otosklerosis sering dimulai di usia pertengahan (10- 48 thn) dengan insidensi tertinggi pada dekade empat dan lima kehidupan. Ada banyak laporan yang mengaitkan timbulnya gangguan pendengaran pada wanita hamil yang disebabkan oleh otosklerosis. Pada wanita hamil, otosklerosis memburuk lebih progresif dibanding wanita tidak hamil. Beberapa peneliti mengemukakan bahwa kurang lebih 50% dari penderita otosklerosis memiliki keluhan gangguan pendengaran yang memberat sehubungan dengan kehamilannya.
Patofisiologi
Secara klinis, proses otosklerosis dibagi menjadi 2 yaitu fase otospongiosis dan fase otosklerosis. Pada awalnya terjadi proses spongiosis. Pada fase ini terjadi aktivasi dari sel-sel osteosit, osteoblas, dan histiosit yang menyebabkan gambaran sponge. Aktifitas osteosit akan meresorpsi jaringan tulang di sekitar pembuluh darah yang akan mengakibatkan vasodilatasi sekunder. Pada pemeriksaan otoskopi akan tampak Schwarze sign. Pada fase lanjut akan terjadi proses sklerosis, yang terjadi jika osteoklas secara perlahan diganti oleh osteoblas sehingga terjadi perubahan densitas sklerotik pada tempat-tempat yang mengalami spongiosis. Jika proses ini terjadi pada foramen ovale di dekat kaki stapes, maka kaki stapes akan menjadi kaku dan terjadilah tuli konduksi. Kekakuan tersebut mengakibatkan fiksasi kaki stapes sehingga mempengaruhi gerakan stapes. Akibatnya, transmisi gelombang suara ke telinga tengah (kopling osikel) terganggu.
Pada fase lanjut, tuli konduksi bisa menjadi tuli sensorineural yang disebabkan oleh obliterasi pada struktur sensorineural antara koklea dan ligamentum spirale. Selain itu, kerusakan outer hair cell akibat dari pelepasan enzim hidrolitik pada lesi spongiosis ke telinga dalam, menurunnya vaksularisasi, dan penyebaran sklerotik secara langsung juga menjadi penyebab terjadinya tuli sensorineural.
Etiologi
Penyebab otosklerosis belum diketahui secara pasti. Faktor predisposisi antara lain herediter, endokrin metabolik, vaskuler autoimun, dan infeksi measles.
Tipe Otosklerosis
Histologic Otosclerosis
Fenestral Otosclerosis
Cochlear Otosclerosis
Malignant Otosclerosis
Far Advance Otosclerosis
Gambar Histologic Otosclerosis. O: Fokus dari Histologic Otosclerosis; V: Vestibulum; SF: Stapes footplate; C: Cochlea. (Dikutip dari University of Minnesota temporal bone collection. Kindly contributed by Dr. Cureoglu and Dr. Paparella)
Gejala dan Tanda
Penurunan pendengaran yang progresif dengan speech discrimination yang baik. Biasanya terjadi bilateral. Dapat menjadi tuli campuran atau sensineoral jika mengenai koklea.
Tinitus terjadi pada sekitar 70% penderita yang digambarkan dengan suara berdenging, gemuruh, atau suara nada tinggi yang muncul berulang-ulang.
Paracusis Willisi yaitu pasien mendengar lebih baik di lingkungan yang bising diakibatkan tuli konduksinya menutupi kebisingan di sekitar.
Schwartze’ Sign yaitu pada pemeriksaan otoskopi tampak warna kemerahan pada membran timpani di dekat promontorium yang disebabkan peningkatan vaksularisasi pada fase aktif.
Carhart Notch yaitu pada pemeriksaan audiometri didapatkan penurunan ambang konduksi tulang pada frekuensi 2000Hz.
Diagnosis
Diagnosis otosklerosis ditegakkan berdasarkan gejala tanda klinis, pemeriksaan THT dan pemeriksaan penunjang.
Pemeriksaan penala
Pemeriksaan pertama yang harus dilakukan adalah pemeriksaan penala dengan garpu tala frekuensi 512Hz. Didapatkan tuli konduksi dengan hasil test Rinne negatif yang menggambarkan hantaran tulang lebih baik dari hantara udara. Test Weber didapatkan lateralisasi ke telinga yang lebih berat derajat tuli konduksinya. Jika derajat tuli konduksi sama beratnya di kedua telinga, mungkin tidak ditemukan lateralisasi pada test Weber.
Audiometri nada murni
Pada pemeriksaan audiometri nada murni didapatkan tanda khas berupa Carhart’s Notch. Gambaran ini akan hilang setelah dilakukan stapedektomi.
Gambar audiogram nada murni pasien otosklerosis. Penurunan konduksi tulang pada frekuensi 2000Hz. Didapatkan hasil test Rinne negatif bilateral dan test Weber lateralisasi di kedua telinga. Nilai diskriminasi tutur 90% sangat baik.
Audiometri impedans
Pada pemeriksaan audiometri impedance didapatkan hasil normal. Pemeriksaan reflek stapedius bisa negatif atau positif tergantung derajat fiksasi yang dikenal sebagai “on-off refleks stapedius”.
CT scan
Ct scan bermanfaat untuk menegakan diagnosis tuli konduksi karena otosklerosis. Selain itu dapat menunjukkan anomali tulang lainnya.
Gambar CT scan tulang temporal pasien otosklerosis koklear. Pada fase aktif, koklea dan kanalis semisirkularis mengalami demineralisasi (panah). (dikutip dari Dr. Neil Sperling)
Diagnosis Banding
Gangguan rantai tulang pendengaran
Fiksasi stapes kongenital
Presbikusis
Osteogenesis imperfekta
Tatalaksana
Farmakologi
Tidak ada terapi obat yang spesifik untuk otosklerosis. Sodium floride dan vitamin D dapat dipertimbangkan untuk menghambat otosklerosis. Pada fase aktif, diberikan sodium
floride dosis 50mg/hari. Jika schwartze’s sign positif dan disapatkan tuli sensorineural dosis dapat ditingkatkan 75mg/hari. Jika pendengaran stabil, schwartze’s sign memudar, dan dari radiologi tampak rekalsifikasi, dosis dapat dimaintenance 25mg/hari. Vitamin D 400U dapat diberikan untuk meningkatkan absorbsi kalsium di usus.
Alat Bantu Dengar (Hearing Aid)
Beberapa kondisi yang memungkikan alat bantu dengar sebagai pilihan terapi adalah:
Terdapat kontraindikasi absolut operasi
Pasien menolak operasi
Only hearing ear
Skor diskriminasi tutur yang buruk
Tuli konduksi ringan
Fiksasi stapes kongenital yang diduga tidak dapat membaik meskipun dilakukan operasi
Pembedahan
Stapedektomi total
Stapedektomi parsial
Stapedotomi
Komplikasi
Ada beberapa komplikasi yang mungkin terjadi baik durante operasi ataupun post operasi yaitu:
Tuli sensorineural post operasi (1-2%)
Parese N VII permanen
Gangguan fungsi pengecapan akibat lesi dari korda timpani
Tinitus dan vertigo disertai mual muntah
Meskipun begitu, keberhasilan operasi memiliki prognosis baik sekitar lebih dari 90%.
Daftar Pustaka
De Souza CE, Glasscock ME. Pathology of Otosclerosis. Otosclerosis and Stapedectomy. New York, NY: Thieme; 2004: 3–21.
Johnson, J.T, Rosen C.A. Otosclerosis in Bailey’s Head and Neck Surgery- Otolaryngology. Fifth edition. Volume two. Lippincott Williams & Wilkins. 2014
De Souza C, Marcos V. Goycoolea, Neil M. Sperling. Otosclerosis. Diagnosis, Evaluation, Pathology, Surgical Technique, and Outcomes. San Diego: 2014.
DAFTAR ISI
WAKTU PEMBELAJARAN 1
PERSIAPAN SESI 1
REFERENSI 1
KOMPETENSI 3
CONTOH KASUS DAN DISKUSI 3
TUJUAN PEMBELAJARAN 4
METODE PEMBELAJARAN 5
EVALUASI 7
INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF 8
INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR 10
DAFTAR TILIK 12
MATERI PRESENTASI 13
MATERI BAKU 22
MODUL I.3.1
OTOLOGI – GANGGUAN TELINGA DALAM : INFLAMASI TELINGA DALAM
WAKTU PEMBELAJARAN
Proses pengembangan kompetensi | Alokasi waktu |
Sesi dalam kelas | 2 x 60 menit (classroom session) |
Sesi praktikum | 4 x 60 menit (coaching session) |
Sesi praktik dan pencapaian kompetensi | 1 minggu (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi presentasi: Power point
Kasus: Inflamasi Telinga Dalam
Sarana dan alat bantu latih: (disesuaikan dengan pencapaian kompetensi)
Penuntun belajar (learning guide): terlampir.
Tempat belajar (training setting): ruang kuliah, ruang praktikum, instalasi rawat jalan.
Model/manekin (liang) telinga.
Komputer/laptop.
In focus.
REFERENSI
Durand, M. L. and D. G. Deschler. Infections of the Ears, Nose, Throat, and Sinuses, Springer;2018;7:79-88
Bluestone, C. D. Pediatric otolaryngology, Gulf Professional Publishing;2014;38:797-901
World Health Organization. Chronic suppurative otitis media:burden of illness and management options. Geneve:World Health Organization; 2004.
Scott-Brown, W. G.. Scott-Brown's Otorhinolaryngology, Head and Neck Surgery:Plastic surgery of the head and neck, Hodder Arnold;2008;83:1010-14
Bailey, B. J. and J. T. Johnson. Bailey's head and neck surgery-otolaryngology, Wolters Kluwer Health/Lippincott Williams & Wilkins;2014;149:2399-2408
Dornhoffer, J. L. and M. B. Gluth. The chronic ear, Thieme;2016;17:125-132
Walker, M. F. "Treatment of vestibular neuritis." Current treatment options in neurology.2009; 11(1): 41.
Strupp, M., et al.. "Methylprednisolone, valacyclovir, or the combination for vestibular neuritis." New England Journal of Medicine.2004;351(4): 354-361.
Shupak, A., et al. "Prednisone treatment for vestibular neuritis." Otology & Neurotology.2008; 29(3): 368-374.
Beyea, J. A., et al. "Recent advances in viral inner ear disorders." Current opinion in otolaryngology & head and neck surgery.2012;20(5): 404-408.
Amber, K. T., et al. "Prophylactic valacyclovir in a patient with recurrent vestibular disturbances secondary to vestibular neuritis." American journal of otolaryngology.2012;33(4): 487-488.
Göksu, N., et al. "Surgical treatment of peripheral vertigo and vertiginous diseases." ORL.2005;67(1): 1-9.
Gacek, R. R. and M. R. Gacek. "Comparison of labyrinthectomy and vestibular neurectomy in the control of vertigo." The Laryngoscope.1996;106(2): 225-230..
Alarcón, A. V., et al. "Labyrinthectomy and vestibular neurectomy for intractable vertiginous symptoms." International archives of otorhinolaryngology.2017;21(02): 184-190
John L.D, Michael B. G. The chronic ear. Thieme Medical Publisher. New York: 2016.
Michael J.L, Seilesh C. B, Dennis I. B. Otologic and Neurotologic Surgery. Jaypee Brothers Medical Publishers. New Delhi: 2015.
Adunka O.F, Buchman C.A. Otology, neurotology and lateral skull base surgery. Thieme: New York: 2011 : 141-143
Alarcón A.V , Hidalgo L.O.V, Arevalo R J, Diaz M.P. Labyrinthectomy and Vestibular Neurectomy for Intractable Vertiginous Symptoms , Int Arch Otorhinolaryngol. 2017 Apr; 21(2): 184–190.
KOMPETENSI
Pengetahuan
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik mampu:
Menegakkan diagnosis klinis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang pada kasus inflamasi telinga dalam akibat perluasan inflamasi telinga tengah.
Memutuskan dan menangani kasus inflamasi telinga dalam akibat perluasan inflamasi telinga tengah sesuai kompetensi.
Keterampilan
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam:
Menjelaskan anatomi, topografi dan fisiologi telinga tengah dan dalam (labirin).
Menjelaskan definisi dan patofisiologi inflamasi telinga dalam.
Menjelaskan gambaran klinis inflamasi telinga dalam akibat perluasan inflamasi telinga tengah.
Melakukan penanganan non-bedah pada inflamasi telinga dalam atau labirintitis dan komplikasinya sesuai kompetensi.
Melakukan penanganan bedah pada inflamasi telinga dalam atau labirintitis dan komplikasinya akibat perluasan inflamasi telinga tengah sesuai kompetensi.
Melakukan follow up pasien inflamasi telinga dalam atau labirintitis akibat perluasan inflamasi telinga tengah.
CONTOH KASUS DAN DISKUSI
Kasus
Seorang wanita usia 36 tahun dibawa ke instalasi gawat darurat akibat rasa pusing berputar, disertai mual, muntah dan demam sejak 1 hari sebelumnya. Keluarga pasien juga mengeluhkan sejak 1 minggu sebelumnya telinga kanan dikeluhkan nyeri dan telinga berair dan berbau. Riwayat telinga berair sudah ada sejak kecil, hilang timbul, dan akhir-akhir ini disertai keluhan oleng. Pada pemeriksaan ditemukan sekret mukopurulen pada telinga kanan disertai adanya nistagmus dengan fase cepat ke kiri (opposite). Tes fistula positif.
Soal :
Sebutkan diagnosis yang paling mungkin pada pasien tersebut di atas.
Jelaskan patofisiologi penyakit yang menjadi diagnosis kerja pada pasien.
Sebutkan pemeriksaan penunjang yang diperlukan untuk menegakkan diagnosis tersebut, berserta temuan yang diharapkan.
Sebutkan terapi untuk diagnosis tersebut.
Jawaban:
Diagnosis kerja Otitis media supuratif kronis dengan komplikasi labirintitis supuratif difus kanan
Labirintitis disebabkan adanya perluasan infeksi ke telinga dalam yang dapat terjadi melalui jalur yang telah terbentuk seperti tingkap lonjong dan bundar atau melalui erosi pada labirin (fistula labirin) pada OMSK yang disertai kolesteatoma. Penyebaran kuman yang memiliki virulensi tinggi tersebut menyebabkan inflamasi di dalam labirin.
Pada pemeriksaan telinga ditemukan adanya sekret yang mukopurulen. Membran timpani perforasi. Pada pemeriksaan fungsi pendengaran dapat ditemukan adanya tuli campur. Pada tes fistula (pada penekanan tragus atau liang telinga diberi tekan udara dengan pneumatoskop) pasien merasa pusing berputar
. Foto polos Schuller dan/atau CT scan tulang temporal, MRI.
Terapi utama adalah pemberian antibiotik intravena untuk mencegah komplikasi lanjut berupa meningitis. Bila diperlukan tindakan operatif yang dilakukan adalah timpanomastoidektomi dan penutupan fistula labirint bila ditemukan, dan/atau labirintektomi pada kasus yang refrakter
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan Pembelajaran Umum
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik terampil dalam:
Menegakkan diagnosis klinis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang pada kasus inflamasi telinga dalam akibat perluasan inflamasi telinga tengah.
Memutuskan dan menangani kasus inflamasi telinga dalam akibat perluasan inflamasi telinga tengah sesuai kompetensi.
Tujuan Pembelajaran Khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam:
Menjelaskan anatomi, topografi dan fisiologi telinga tengah dan dalam (labirin).
Menjelaskan definisi dan patofisiologi inflamasi telinga dalam.
Menjelaskan gambaran klinis inflamasi telinga dalam akibat perluasan inflamasi telinga tengah.
Melakukan penanganan non-bedah pada inflamasi telinga dalam atau labirintitis dan komplikasinya sesuai kompetensi.
Melakukan penanganan bedah pada inflamasi telinga dalam atau labirintitis dan komplikasinya akibat perluasan inflamasi telinga tengah sesuai kompetensi.
Melakukan follow up pasien inflamasi telinga dalam atau labirintitis akibat perluasan inflamasi telinga tengah.
METODE PEMBELAJARAN
Tujuan 1. Menjelaskan anatomi, histologi, topografi dan fisiologi telinga dalam.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Diskusi kelompok.
Harus diketahui:
Anatomi, histologi, dan topografi telinga dalam.
Fisiologi telinga dalam.
Tujuan 2. Menjelaskan patofisiologi inflamasi telinga dalam.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Tinjauan pustaka.
Diskusi kelompok.
Harus diketahui:
Patofisiologi inflamasi telinga dalam.
Tujuan 3. Menjelaskan gambaran klinis inflamasi telinga dalam.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Tinjauan pustaka.
Kuliah.
Diskusi kelompok.
Harus diketahui:
Gambaran klinis (gejala dan tanda) inflamasi telinga dalam.
Tujuan 4. Menegakkan diagnosis inflamasi telinga dalam.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Kuliah.
Diskusi kelompok.
Bedside teaching.
Praktik pada pasien. Harus diketahui:
Tanda dan gejala klinis inflamasi telinga dalam.
Tujuan 5. Melakukan penanganan inflamasi telinga dalam dan komplikasinya.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Kuliah.
Diskusi kelompok.
Praktikum.
Bedside teaching.
Praktik pada pasien.
Bakti sosial.
Harus diketahui:
Tata laksana inflamasi telinga dalam.
Komplikasi inflamasi telinga dalam.
Komplikasi dari tata laksana inflamasi telinga dalam.
Tujuan 6. Melakukan follow up pasien inflamasi telinga dalam.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Kuliah.
Diskusi kelompok.
Bedside teaching.
Praktikum.
Praktik pada pasien.
Harus diketahui:
Hal-hal yang harus diperhatikan pada pasien dengan inflamasi telinga dalam.
Edukasi yang perlu diberikan pada pasien.
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pretest dalam bentuk tertulis dan lisan sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai pengetahuan awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri atas:
Anatomi dan fisiologi telinga tengah dan telinga dalam.
Penegakan diagnosis.
Penatalaksanaan.
Selanjutnya dilakukan diskusi bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar.
Peserta didik diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar melalui metode bedside teaching kepada pasien sesungguhnya dengan pengawasan fasilitator dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut:
Perlu perbaikan: pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan.
Cukup: pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terlalu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien.
Baik: pelaksanaan benar dan baik (efisien).
Melakukan case based discussion (formulir penilaian terlampir).
Peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education).
Pencapaian pembelajaran:
Ujian akhir stase, setiap divisi/unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan.
Ujian nasional dilakukan pada akhir tahapan pendidikan spesialis oleh kolegium ilmu kesehatan THT-KL.
INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF
Kuesioner:
Sebelum pembelajaran
Soal:
Tanda utama labirintitis adalah nyeri kepala hebat. (Benar/Salah)
Labirintitis terjadi karena invasi produk inflamasi dari infeksi kronis telinga tengah melalui foramen ovale. (Benar/salah)
Tujuan labirintektomi adalah untuk eradikasi infeksi telinga dalam. (benar/salah)
Labirintektomi dilakukan pada the only hearing ear. (Benar/salah)
Injeksi steroid intratimpanik meruoakan salah satu tatalaksana labirintitis. (Benar/salah)
Jawaban:
S
B
S
S
S
Tengah pembelajaran
Soal:
Komplikasi intratemporal pada otitis media terdiri atas...............
Secara klinis kecurigaan adanya inflamasi telinga dalam atau labirintitis adalah ditemukan adanya................
Patofisiologi terjadinya inflamasi telinga dalam atau labirintitis adalah.............. Jawaban:
(1) mastoiditis, (2) petrositis, (3) labirintitis, dan (4) paresis nervus fasialis (5) fistula labirin.
(1) infeksi akut persisten lebih dari 2 minggu, (2) rekurensi gejala infeksi dalam kurun waktu 2 minggu pengobatan, (3) eksaserbasi akut dan cepat penyakit infeksi kronik, (4) sekret telinga tengah yang berbau selama pengobatan, (5) hasil kultur kuman berupa H. Influenzae tipe B atau kuman anaerob, (6) adanya demam pada kasus perforasi membran timpani dengan atau tanpa kolesteatoma.
Obstruksi aditus ad antrum pada saat infeksi telinga tengah, jalur menuju tingkap oval dan bundar yg terbentuk secara kongenital, atau celah yang terbentuk akibat fraktur pada trauma dan proses erosi tulang pada infeksi kronik (granulasi, kolesteatoma). Keadaan tersebut menyebabkan kuman dapat menyebar dengan cepat.
Akhir pembelajaran
Soal:
Komplikasi intratemporal pada otitis media terdiri atas
Secara klinis kecurigaan adanya inflamasi telinga dalam atau labirintitis adalah ditemukan adanya................
Patofisiologi terjadinya inflamasi telinga dalam atau labirintitis adalah..............
Gejala dan tanda klinis inflamasi telinga dalam atau labirintitis supuratif difus adalah..............
Pengobatan bedah pada inflamasi telinga dalam atau labirintitis adalah.............. Jawaban:
(1) mastoiditis, (2) petrositis, (3) labirintitis, dan (4) paresis nervus fasialis (5) fistula labirin.
(1) infeksi akut persisten lebih dari 2 minggu, (2) rekurensi gejala infeksi dalam kurun waktu 2 minggu pengobatan, (3) eksaserbasi akut dan cepat penyakit infeksi kronik, (4) sekret telinga tengah yang berbau selama pengobatan, (5) hasil kultur kuman berupa H. Influenzae tipe B atau kuman anaerob, (6) adanya demam pada kasus perforasi membran timpani dengan atau tanpa kolesteatoma.
Obstruksi aditus ad antrum pada saat infeksi telinga tengah, jalur menuju tingkap oval dan bundar yg terbentuk secara kongenital, atau celah yang terbentuk akibat fraktur pada trauma dan proses erosi tulang pada infeksi kronik (granulasi, kolesteatoma). Keadaan tersebut menyebabkan kuman dapat menyebar dengan cepat.
Gangguan pendengaran tipe campur dan gangguan keseimbangan akibat paralitik kanal sisi telinga yang terlibat.
Bedah: Pada kasus infeksi akut, tindakan terbatas pada miringotomi.
Pada kasus otitis media kronik, tindakan bedah berupa mastoidektomi disertai penutupan fistula labirin bila ditemukan.
dan implan koklea pada kasus labirintitis ossifikan.
Essay/Ujian lisan:
Seorang wanita usia 36 tahun dibawa ke instalasi gawat darurat akibat demam, disertai mual dan muntah sejak 1 hari sebelumnya. Keluarga pasien juga mengeluhkan sejak 1 minggu sebelumnya telinga kanan dikeluhkan nyeri dan telinga berair dan berbau. Riwayat telinga berair sudah ada sejak kecil, hilang timbul. Pada pemeriksaan ditemukan sekret mukopurulen pada telinga kanan disertai adanya nistagmus dengan fase cepat ke kiri.
Soal:
Sebutkan diagnosis yang paling mungkin pada pasien tersebut di atas.
Jelaskan patofisiologi penyakit yang menjadi diagnosis kerja pada pasien.
Sebutkan pemeriksaan penunjang yang diperlukan untuk menegakkan diagnosis tersebut, berserta temuan yang diharapkan.
Sebutkan terapi untuk diagnosis tersebut. Jawaban:
Diagnosis kerja: Otitis media supuratif kronis dengan komplikasi labirintitis supuratif difus kanan.
Labirintitis disebabkan adanya perluasan infeksi ke telinga dalam yang dapat terjadi melalui jalur yang telah terbentuk seperti tingkap lonjong dan bundar. Penyebaran kuman yang memiliki virulensi tinggi tersebut menyebabkan inflamasi di dalam labirin.
Pada pemeriksaan telinga ditemukan adanya sekret yang mukopurulen, membran timpani perforasi. Pada pemeriksaan fungsi pendengaran dapat ditemukan adanya tuli campur. Pada tes fistula pasien merasa pusing berputar, nistagmus fase cepat ke arah berlawanan. Foto polos mastoid dan/atau CT scan tulang temporal.
Terapi utama adalah pemberian antibiotik intravena untuk mencegah komplikasi lanjut berupa meningitis. Bila diperlukan tindakan operatif yang dilakukan adalah timpanomastoidektomi dan penutupan fistula labirin bila ditemukan dan/atau labirintektomi pada kasus refrakter.
J. INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR
PENUNTUN BELAJAR
PROSEDUR LABIRINTEKTOMI TRANSMASTOID
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.:
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan).
Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal.
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien.
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan).
NAMA PESERTA: ...................................... TANGGAL: .................................
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||||
| |||||
KEGIATAN | KASUS | ||||
Pasien diberi penjelasan (informed consent) bahwa gangguan keseimbangan akan terjadi pasca operasi.
| |||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR | |||||
- Pemberian antibiotik profilaksis | |||||
- Menyiapkan mikroskop dan alat-alat yang akan digunakan. | |||||
- Cuci tangan, memakai baju operasi dan hadscoon. | |||||
- tindakan a dan antiseptik pada daerah operasi dan sekitarnya dengan menggunakan povidon iodine atau antiseptik lainnya. | |||||
- pasang kain penutup operasi steril pada pasien, kecuali di area operasi. | |||||
- Posisi pasien: terlentang, kepala miring ke arah berlawanan dengan sisi telinga yang dioperasi. | |||||
III. PROSEDUR OPERASI LABIRINTEKTOMI
| |||||
KEGIATAN | KASUS | ||||
kondisi stabil. | |||||
K. DAFTAR TILIK
PROSEDUR LABIRINTEKTOMI
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan suatu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini:
: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau
panduan standar
X: Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
T/T: Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
PESERTA: ............................................. TANGGAL: .........................................
KEGIATAN | NILAI | ||
1. Kaji ulang diagnosis. | |||
2. Persiapan tindakan. | |||
3. Melakukan tindakan sesuai dengan prosedur. | |||
4. Melakukan follow up setelah tindakan. | |||
L. MATERI PRESENTASI
Slide 1
Slide 2
Slide 3
Slide 4
Slide 5
Slide 6
Slide 7
Slide 8
Slide 9
Slide 10
Slide 11
Slide 12
Slide 13
Slide 14
Slide 15
Slide 16
Slide 17
Slide 18
Slide 19
Slide 20
Slide 21
M. MATERI BAKU
LABIRINTITIS
Labirintitis adalah infeksi organ labirin yaitu koklea dan apparatus vestibuler yang merupakan komplikasi dari otitis media (otogen) atau meningitis (meningogen) yang terjadi ketika infeksi menyebar ke telinga dalam. Struktur telinga dalam terletak dalam tulang temporal yang dikelilingi struktur tulang yang kompak (ottic capsul) hal ini menyebabkan telinga dalam terlindungi dengan baik dari infeksi. Sebagian besar infeksi
bakteri yang terkena pada telinga dalam merupakan ekstensi dari infeksi dan peradangan telinga tengah atau system saraf sentral (CNS). Rute yang jarang terjadi adalah melalui erosi dari tulang temporal atau dehisensi semisirkular kanal lateralis sebagai akibat dari otitis media kronik yang disertai kolesteatoma.
Masuknya bakteri ke telinga dalam dapat menyebabkan labirintitis supuratif yang berakibat pada ketulian berat, vertigo, dan gejala vegetative.
Demikian pula pada penderita meningitis, bakteri akan menginvasi labirinth melalui kanalis akustikus internus atau aquaduktus koklear. Ketulian sensorineural merupakan komplikasi yang paling sering dari meningitis, khususnya pada anak-anak. Sepertiga penderita meningitis bacterial mengalami gangguan pendengaran. Ketulian tipikal bilateral dan stabil, dapat juga unilateral dan progresif atau fluktuatif. CT scan menunjukan peningkatan tekanan intrakranial, nuchal rigidity, level glukosa rendah dan Streptokokus pneumonia sebagai agen infeksi berkaitan dengan peningkatan insiden ketulian sensorineural post meningitis. Organ auditori dan vestibular di telinga dalam sangat sensitif terhadap kerusakan akibat infeksi maupun trauma. Keluhan yang akan timbul dapat berupa penurunan pendengaran maupun kehilangan keseimbangan. Infeksi telinga dalam jika semakin parah dapat menyebar ke ruang intrakranial dan menyebabkan meningoensefalitis, tromboplebitis dan abses intrakranial. Penyebab dari labirintitis dapat disebabkan oleh bakteri maupun virus.
Labirintitis yang disebabkan oleh bakteri menurut Schuknecht diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu:
Labirintitis serosa (toxic), dimana terdapat toksin bakteri atau keterlibatan biokimia, tapi tidak terdapat adanya bakteri
Labirintitis supuratif (akut dan kronis supuratif otogenik), dimana bakteri menginvasi kapsul otik
Labirintitis supuratif meningiogenik (Labirintitis osifikan, Labirintitis sklerosis)
, dimana hasil dari invasi bakteri dari subarachnoid space ke dalam labirin kemudian terjadi pergantian struktur normal labirin dengan jaringan fibrosa dan tulang.
Dari klasifikasi ini labirintitis serosa dan supuratif masuk dalam klasifikasi labirintitis akut, sedangan labirintitis supuratif meningiogenik dapat diklasifikasikan sebagai labirintitis kronis.
Labirintitis Serosa
Labirintitis serosa merupakan inflamasi dari organ labirin tanpa ditemukan bakteri di dalamnya. Labirintitis tipe ini diakibatkan adanya toksin dari bakteri yang masuk dan mencetuskan inflamasi labirin. Toksin bakteri dari infeksi telinga tengah yang masuk ke dalam telinga dalam, melalui round window yang intak atau melalui defek kongenital antara telinga tengah dan telinga dalam. Pintu masuk mungkin juga dapat melalui defek yang didapat pada labirin, seperti trauma kepala atau pembedahan telinga tengah atau mastoid sebelumnya. Koklea biasanya terlibat lebih berat dibandingkan sistem vestibular. Gangguan dengar sensorineural yang berfluktuasi telah dijelaskan pada pasien dengan otitis media dan disebabkan hidrops endolimfatik atau fistula perilimfatik. Sebuah studi pada hewan menunjukan bahwa pemberian protein pneumokokus pada telinga tengah dapat menyebabkan inflamasi dan kerusakan sel rambut pada telinga dalam. Labirintitis serosa merupakan kasus yang jarang dan dilaporkan < 1% dari komplikasi penyakit otitis media.
Tanda dan gejala dari labirintitis serosa (khususnya ketika terdapat fistula perilimfatik) bersifat tiba-tiba, progresif, disertai gangguan dengar sensorineural fluktuatif dan vertigo yang berhubungan dengan otitis media atau salah satu dari komplikasinya , seperti osteitis mastoid. Pada beberapa anak yang memiliki infeksi telinga tengah rekuren, pendengaran mungkin normal antara episodenya. Pada kasus yang lain , gangguan dengar sensorineural derajat ringan atau sedang dapat muncul setiap waktu. Adanya vertigo mungkin tidak jelas pada anak-anak, khususnya infant. Nistagmus spontan fase cepat kearah telinga yang sakit atau telinga yang terkena dapat juga timbul, tetapi tanda dan gejala dari labirintitis akut supuratif, seperti mual, muntah, dan rasa sakit yang mendalam biasanya tidak ada. Demam, jika ada biasanya disebabkan bersamaan dengan infeksi saluran napas atas atau otitis media akut. Jika terdapat fistula perilimfatik kongenital, nistagmus mungkin dapat mucul saat episode dari otitis media akut, sebagai tambahan dari gangguan dengar tipe campur.
Fistula labirintin mungkin dapat diidentifikasi dengan menjalankan tes fistula dengan otoskop pneumatik siegle atau dengan mengaplikasikan tekanan negatif dan positif pada liang telinga luar dengan menggunakan sistem pump-manometer dari impedansi audiometri. Hasil tes fistula dipertimbangkan positif jika nistagmus atau vertigo dihasilkan dengan tekanan. Electronystagmography dapat dilakukan pada pasien yang memiliki membran timpani perforasi atau timpanostomi tube. Fistula biasanya berhubungan dengan defek yang didapat atau kongenital pada tulang temporal, seperti malformasi Mondini. CT scan dapat membantu mengidentifikasi adanya defek, seperti dilatasi aquaduktus vestibularis. Weber,dkk mengajukan tes untuk menunjukkan adanya perilimfe pada telinga tengah sebagai jalan untuk mengkonfirmasi adanya fistula perilimfatik.
Gambar 1. Gambaran histopatologi pasien dengan labirintitis serosa, didapatkan pelebaran skala media dikarenakan hidrops endolimfatic
Ketika komplikasi ini muncul saat serangan dari otitis media akut, timpanosentesis dan miringotomi sebaiknya dilakukan untuk penilaian mikrobiologi dari efusi telinga tengah dan drainase. Antibiotik sistemik broadspectrum diberikan berdasarkan kultur dan resistensi dari cairan telinga tengah. Antimikroba yang efektif untuk melawan S. pneumoniae, H. influenzae dan M. Catarrhalis, seperti amoksisilin- sulbaktam parenteral sebaiknya diberikan; organisme lain seperti S. aureus dan Pseudomonas, telah diisolasi dari telinga tengah anak-anak yang memiliki labirintitis akut. Setelah resolusi dari otitis media dengan efusi, tanda dan gejala dari labirintitis secara cepat menghilang; bagaimanapun, gangguan dengar tipe sensorineural mungkin tetap ada. Timpanostomi tube sebaiknya dipasang kembali jika terdapat otitis media rekuren. Sistemik kortikosteroid dapat diberikan dengan tujuan mengurangi kerusakan pada organ audiovestibular serta menurunkan angka kejadian labirintitis osifikan. Ketika terdapat osteitis mastoid akut, otitis media supuratif kronis, atau kolesteatoma, pengobatan definitf dan pembedahan pada kondisi ini penting untuk menyingkirkan keterlibatan labirin. Bagaimanapun juga labirintektomi tidak diindikasikan untuk
labirintitis serosa. Prosedur pembedahan untuk memperbaiki fistula perilimfatik atau cairan serebrospinal.
Labirintitis Supuratif Otogenik
Labirintitis Supuratif Otogenik dapat disebabkan karena infeksi bakteri yang menyebar ke telinga dalam melalui telinga dalam dan struktur tulang temporal di sekitarnya. Otitis media akut meluas ke dalam labirin melalui membran foramen ovale yang rapuh atau dehisen, kelainan labirin kongenital seperti deformitas Mondini, melalui aquaduktus vestibularis, dan pada individu yang menjalani pembedahan pada stapes. Infeksi telinga dalam juga dapat terjadi karena kolesteatoma merusak struktur tulang di sekitar telinga tengah sehingga organ labirin terpapar.
Cara mendiagnosis dan tatalaksana labirintitis supuratif otogenik sama dengan labirintitis serosa. Gejala yang dialami pasien dengan labirintitis supuratif otogenik yaitu penurunan pendengaran sensorineural dan vertigo. Gejala ini biasanya bersifat permanen. Pada labirintitis supuratif difus nistagmus fase cepat ke arah berlawanan. Setelah infeksi sembuh, organ labirin akan terisi oleh jaringan fibrosa dan jaringan tulang, proses ini yang selanjutnya disebut dengan labirintitis osifikans. Hal ini disebabkan karena proses infeksi menyebar melalui foramen pada canalis akustikus internus. Bakteri penyebab labirintitis sama dengan bakteri yang menyebabkan otitis media akut.
Penanganan dari labirintitis supuratif tanpa adanya meningitis terdiri dari pembedahan yang dikombinasikan dengan terapi antimikroba. Antimikroba broad- spectrum dapat diberiksan segera setelah pasien dicurigai menderita labirintitis supuratif. Bila labirintitis disebabkan karena kolesteatoma, maka terapi pembedahan yang dilakukan adalah membersihkan telinga tengah, rongga mastoid, telinga dalam dan organ sekitarnya dari kolesteatoma. Labirintektomi sedapat mungkin dihindari walaupun itu
memungkinkan dan sebaiknya dilakukan hanya jika terdapat intractable vertigo atau gangguan vestibuler perifer yang gagal pada pengobatan konservatif ( refrakter)
Gambar 2. CT scan potongan axial yang menunjukan otitis media kronik dengan kolesteatoma yang mengerosi struktur tulang di sekitar telinga tengah sehingga kanalis semisirkularis horisontal terpapar.
Bila memungkinkan, pertimbangan untuk dilakukan implan koklea sebelum lumen koklea tertutup karena proses labirintitis osifikans.
Labirintitis Supuratif Meningogenik
.Gangguan dengar sensorineural dapat diawali dengan meningitis bakterial, rute penyebaran infeksi ke telinga dalam melalui aquaduktus koklearis dan kanalis akustikus internal. Infeksi ini selanjutnya dapat merusak organ labirin baik koklea maupun organ vestibular. Dan bila infeksi ini terus berlanjut dan tidak mendapatkan penanganan yang tepat, akan terbentuk jaringan tulang di dalam lumen koklea dan organ vestibular. Hal ini akan menyebabkan kehilangan pendengaran dan gangguan keseimbangan yang permanen. Sebaiknya segera dilakukan implan koklea sebelum labirintitis osifikans terbentuk.
Gambar 3. Gambaran histopatologi yang menunjukan pasien dengan labirintitis osifikans beberapa tahun setelah pasien mengalami penurunan pendengaran disertai demam.
Labirintitis Sebagai Komplikasi Intratemporal dan Intrakranial pada Otitis Media
Pola dari komplikasi dan keterlibatan patogen sering diasosiasikan dengan tingkat kronisitas dari penyakit. Otitis media akut biasanya melibatkan Streptococcus pneumonia, Haemophilus influeanza, dan Moraxela catarrhalis dan lebih sering menyebabkan paralisis fasial, labirintitis dan meningitis.
Labirintitis dapat merupakan hasil dari kejadian kontaminasi bakteri secara langsung (labirintitis supuratif) atau berasal dari difusi mediator inflamasi di membran oval window atau round window (labirintitis serosa). Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan nistagmus horizontal spontan dangan fase cepat yang mengarah pada telinga yang sakit, namun selanjutnya arah nystagmus akan berbalik menjauhi telinga yang sakit (hipofungsi) dalam rentang 24-48 jam bersamaan dengan fungsi neurosensori vestibular yang akan berangsur menurun. Peran labirin telinga sangat penting pada fungsi neurosensori vestibular. Labirin berperan sebagai pembatas anatomi penting yang memisahkan telinga tengah dengan ruang intrakranial. Telinga dalam berkomunikasi secara bebas dengan ruang subarachnoid melalui akuaduktus koklea, oleh sebab itu
labirintitis otogenik dapat berkembang menjadi meningitis dan juga sebaliknya; meningitis primer dapat berkembang menjadi bilateral labirintitis.
Labirintitis serosa dan supuratif hanya bisa dibedakan melalui riwayat penyakit pasien dan outcome kesembuhan yang dialami oleh pasien. Hal ini dikarenakan, pemeriksaan analisis perilimfe tidak bisa dilakukan. Oleh karena itu, semua pasien dengan kecurigaan labirintitis harus mendapatkan terapi glukokortikoid dan antibiotik yang dapat menembus blood – brain barrier. Timpanomastoidektomi dini harus dipertimbangkan pada kondisi penyakit yang akut. Pasien pasien dengan meningitis berulang dan malformasi kongenital telinga dalam dapat mengalami obliterasi vestibular. Semua pasien labirintitis supuratif dan meningitis primer yang mengalami penurunan pendengaran sensorineural derajat berat hingga sangat berat harus dilakukan pemeriksaan T2-Weighted MRI (TW21) dengan mempertimbangkan implant koklear dini sejak saat gejala awal labirintitis osifikan tampak.
Komplikasi Labirintitis
Meningitis
Meningitis bakterial ditandai dengan nyeri kepala hebat menyeluruh, demam, mual/muntah, fotofobia, dan berbagai perubahan status mental (dari iritabilitas hingga penurunan kesadaran). Pasien dapat berkembang rigiditas leher, ditandai dengan nyeri dan keterbatasan dari fleksi leher. Dengan proses dari penyakit, papil edema dan reflek abnormal termasuk Kernig sign (ketidakmampuan untuk ekstensi lutus seluruhnya ketika tungkai fleksi pada pinggang) dan Brudzinski sign (fleksi leher secara pasif mengakibatkan fleksi aktif dari pinggang dan lutut).
Para klinisi yang mengevaluasi pasien dengan diagnosis meningitis sebaiknya mengidentifikasi juga rute penyebaran ke meningen dan organ yang terlibat. Semua
pasien dengan tanda meningeal sebaiknya dilakukan pemeriksaan otoskopi untuk mengetahui otitis media akut dan otitis medis supuratif kronis. Kebanyakan kasus dari menigitis otogenik pada anak merupakan hasil dari penyebaran secara hematogen dari oragnisme yang invasif saat mengalami otitis media akut ( S. pneumoniae).
Punksi lumbal dilakukan untuk memastikan diagnosis klinis dan mengidentifikasi organisme penyebab. CT atau MRI sebaiknya dilakukan saat awal untuk mengidentifikasi temuan yang mengarah kepada peningkatan tekanan intrakranial yang mungkin dapat berisiko herniasi dengan pungsi lumbal, juga dapat mengidentifikasi abses intrakranial, empiema subdural, atau cerebritis. Ketika meningitis disebabkan dari subakut atau otitis media supuratif kronis, penyakit telinga tersebut butuh dilakukan pembedahan, untuk membersihkan infeksi pada telinga tengah dan rongga mastoid, menginspeksi adanya defek pada dura atau abses yang tersembunyi.
Gambar 4. S. pneumoniae pada Meningitis
Jaringan granulasi atau abses ekstradural (Epidural)
Jaringan granulasi dan abses mungkin dapat terbentuk antara tulang temporal dan duramater yang berdekatan ketika infeksi koalesen akut atau otitis media kronis dengan atau tanpa kolesteatoma yang mengikis tulang yang mengelilinginya. Kantong dari infeksi kemudian meluas sepanjang bagian depan dari fossa kranii media atau posterior.
Jaringan granulasi dan abses epidural ditandai dengan nyeri kepala dan demam, tapi secara klinis sering tanpa gejala sehingga abses membesar. CT scan dengan kontras dapat memperlihatkan erosi dari lempeng sigmoid atau tegmen. Penanganan dari jaringan granulasi dan abses ekstradural dimulai dengan identifikasi intraoperatif. Mastoidektomi sebaiknya diperluas agar dapat dilakukan inspeksi dengan hati-hati pada duramater dari tegmen timpani, tegmen mastoid, sinus sigmoid, dan fosa kranii posterior bagian medial tulang ke segitiga Trautmann. Jaringan granulasi dapat disingkirkan secara perlahan dengan elevator tumpul.
Abses Otak
Abses otak otogenik dapat muncul dari otitis media akut atau otitis media kronis. Penyebab abses otak karena kolesteatoma telah digantikan oleh otitis media akut sebagai penyebab dari kebanyakan kasus. Infeksinya biasanya polimikroba dengan secara relatif memiliki proporsi tinggi anaerob. Abses otak mempunyai 4 tahapan klinis. Tahap pertama adalah invasi (inisiasi cerebritis), saat dimana destruksi infeksi otak dapat ditandai dengan demam, malaise, mengantuk, kehilangan kemampuan untuk konsentrasi, dan nyeri kepala. Gejala ini biasanya halus dan seringnya diabaikan dan mungkin secara spontan membaik setelah beberapa hari. Tahapan kedua, lokalisasi (abses laten atau diam), ketika jaringan menjadi nekrosis dan edema, mungkin secara klinis diam dan bertahan untuk beberapa minggu. Saat tahap ketiga, pembesaran (manifestasi abses), suatu bentuk abses yang nyata dari cerbritis sebelumnya. Pasien dapat mengeluhkan demam tinggi, nyeri kepala, gejala neurologis fokal, atau penurunan kesadaran. Abses dari lobus temporal dapat ditandai dengan kejang, defisit lapang pandang, dan hemiparese. Abses cerebellar dapat ditandai dengan vertigo, nistagmus, ataxia, dan dismetria. Pada tahap keempat, terminasi (ruptur dari abses), kapsul abses ruptur ke dalam
ventrikel atau ke dalam celah subarachnoid. Hasil ini biasanya progresif sangat cepat, seringnya fatal.
Penanganan dari abses otak membutuhkan antimikroba parenteral broad – spectrum secepatnya dan konsultasi bedah saraf. Jika tindakan pembedahan dari abses otak direkomendasikan, itu mengambil prioritas melebihi penanganan dari penyakit telinga. Pendekatan pembedahan untuk mengobati penyakit telinga dapat dilakukan setelah kestabilan neurologis dapat dicapai dengan antibiotik, aspirasi, drainage terbuka, atau eksisi abses.
Empyema Subdural
Empiema subdural adalah infeksi purulen yang dibentuk antara dura dan membran pia-arachnoid. Celah subdural diunggulkan via saluran vena atau infeksi dalam tulang atau otak yang berdekatan. Ini merupakan komplikasi otitis media yang paling jarang. Karena efek dari massa dan jarak dekat ke korteks cerebri, progres gejala sangat cepat dan pasien ditandai dengan nyeri kepala hebat, ditandai defisit fokal neurologis, kejang, dan penurunan kesadaran. Tanda meningeal jelas. CT scan dengan kontras intravena mugkin bisa melewatkan abses subdural dini tapi dapat mendeteksi lesi lebih besar sebagai gambaran hipodens ekstracerebral dengan menguatkan batas medial. Pungsi lumbal dapat mencetuskan herniasi pada kondisi ini dan sebaiknya dihindari jika lesi telah terdeteksi dengan imaging terlebih dahulu. Empiema subdural merupakan pembedahan neurologi emergensi. Penanganan dari abses subdural membutuhkan drainage secepatnya dan pemberian antibiotik parenteral. Penanganan dari penyakit telinga yang berhubungan dituntaskan setelah stabilisasi neurologis.
Tromboplebitis Sinus Sigmoid
Sinus tromboplebitis dapat berkembang ketika infeksi yang berada di bawah sinus sigmoid telah menyatu, yaitu jaringan granulasi atau kolesteatoma yang telah membuat inflamasi pada dinding sinus. Sinus sigmoid paling rentan karena lokasinya yang menonjol berdekatan ke sel udara mastoid. Trombosis retrograde dari vena cerebri (Labbe) dan sinus (transversal, sagital, petrosal, dan cavernosus) dapat menyebabkan terjadinya hipertensi intracranial, abses otak, infark, dan kematian. Trombus dapat menyebar ke vena jugularis interna dan bulbus jugularis, menghasilkan septik emboli dan atau sindrom foramen jugulare.
Terapi antibiotik saat ini telah menurunkan insidensi trombosis sinus sigmoid. Pada keadaan dimana otitis media akut dan otitis media kronis yang tidak diobati dapat menyebabkan komplikasi berupa trombosis sinus sigmoid dengan gejala otologi yang menonjol (otorea, otalgia, nyeri dan kemerahan pada postaurikula), nyeri kepala hebat, tortikolis, dan demam yang disebabkan oleh sepsis dengan adanya leukositosis.
Penanganan tromboplebitis sinus lateralis memerlukan pemberian antibiotik spektrum luas dikombinasi dengan pembedahan. Mastoidektomi dilakukan membersihkan dinding sinus dan dura yang terinflamasi dan untuk menyingkirkan jaringan granulasi. Abses epidural dan subperiosteal bisa ditangani secara konkomitan. Venotomi dapat dilakukan untuk mengevakuasi trombus yang telah terinfeksi atau abses intraluminal.
Penggunaan antikoagulan untuk mencegah penyebaran trombus juga masih dalam perdebatan. Ketika trombus berada di sinus sigmoid, pemberian antikoagulan mungkin tidak bermanfaat tetapi tetap perlu dipertimbangkan untuk mencegah trombus menyebar ke sinus disekitarnya. Trombolitik tidak direkomendasikan karena trombolitik dapat menyebabkan septik emboli pada dinding pembuluh darah yang terinfeksi.
TATALAKSANA
Tatalaksana pada pasien dengan labrintitis dan neuritis vestibular umumnya bersifat suportif. Pasien yang masih muda dan sehat sebagian besar akan mendapatkan kembali fungsi pendengaran. Tatalaksana kausatif pada labrintitis umumnya terdiri dari pemberian antimikroba , steroid oral, obat-obatan antivirus, atau kombinasi keduanya. Tatalaksana gejala terdiri dari pemberian anti-emetik dan vestibular suppressants untuk kontrol gejala dari labirintitis, terutama mual oleh karena vertigo. Tatalaksana labirintitis viral dapat menggunakan kortikosteroid. Penggunaan obat-obatan antivirus untuk labirintitis viral juga masih belum terbukti efektif dalam menurunkan durasi gejala.
Tabel 1. Dosis penggunaan steroid oral untuk labirintitis.
Metilprednisolone8 Hari
100 mg 1 – 3
80 mg 4 – 6
60 mg 7 – 9
40 mg 10 – 12
20 mg 13 – 15
10 mg 16 – 18, 20 – 22
Prednisone9 Hari
1 mg/kg 1 – 5
1 mg/kg minus 20 mg 6 – 8
1 mg/kg minus 40 mg 9 – 11
1 mg/kg minus 60 mg (10 – 20 mg sebagai dosis minimal)
1 mg/kg minus 80 mg (5 – 10 mg sebagai dosis minimal)
5 mg (apabila dosis pertama adalah
>7.5 mg)
12 – 14
15 – 17
18 – 20
Penelitian oleh Strupp dkk. dengan menggunakan metilprednisolone pada pasien dengan labirintitis akut menemukan bahwa terdapat peningkatan fungsi vestibular perifer (dinilai dengan menggunakan rumus paresis vestibular oleh Jongkee) yang signifikan
pada grup pasien yang diberikan metilprednisolone dibandingkan dengan grup plasebo. Pada penelitian tersebut, juga ditemukan bahwa valacyclovir tidak memberikan peningkatan skor yang signifikan dibandingkan dengan grup plasebo. Penelitian oleh Shupak dkk. menemukan bahwa terdapat penyembuhan yang lebih cepat dalam grup yang diberikan prednisone. Walaupun demikian, perbedaan tersebut tidak tergolong signifikan. Amber dkk. melaporkan sebuah kasus pada pasien berusia 57 tahun dengan riwayat herpes simplex labialis dengan vertigo rekuren (kurang lebih terjadi setiap 2 bulan sekali dengan durasi 2 hari). Pasien tersebut diberikan valacyclovir dosis rendah (500 mg per hari) sebagai profilaksis. Sejak mengonsumsi valacyclovir dengan rutin, pasien tersebut tidak mengalami vertigo lagi dalam 6 bulan terakhir.
Indikasi untuk pembedahan pada pasien dengan labirintitis adalah pasien dengan vertigo yang tidak dapat ditangani dengan pengobatan medikamentosa dan dapat mengganggu kualitas hidup secara signifikan. Ablasi fungsi vestibula perifer merupakan salah satu metode yang paling efektif dalam tatalaksana penyakit yang refrakter. Terdapat dua jenis tatalaksana berdasarkan dampaknya terhadap pendengaran: destruktif dan non- destruktif.
Labirintektomi merupakan salah satu prosedur ablasi organ vestibuler pada gangguan vestibular perifer. Labirintektomi merupakan salah satu tatalaksana yang efektif pada pada pasien-pasien dengan episodic vertigo akibat dari penyakit Meniere’s, labirintitis dan kasus-kasus lain yang menyebabkan intractable vertigo yang gagal dengan pengobatan konservatif dan pada pasien dengan fungsi pendengaran tidak ada lagi pada telinga yang terkena. Gacek dkk. menemukan tingkat keberhasilan operasi yang kurang lebih sama pada labirintektomi (98.8%) dibandingkan dengan neurektomi selektif
(97.8%). Tingkat komplikasi yang terjadi antara kedua prosedur tersebut juga tidak memiliki perbedaan yang signifikan.
Terdapat dua metode pendekatan pembedahan dalam labirintektomi: transkanal dan transmastoid. Pendekatan secara transkanal dilakukan dengan melepaskan stapes dilanjutkan dengan pelepasan neuroepitelium yang dilakukan dari lubang yang telah dibuat di antara round dan oval windows. Pada pendekatan transmastoid, kanalis semisirkularis dan vestibula dibuka dan dilepaskan dari neuroepitelium. Kedua prosedur tersebut memiliki tingkat keberhasilan yang relatif tinggi dan efektif dalam menangani vertigo yang tidak dapat ditangani dengan penggunaan obat-obatan.
Labirintektomi Transmastoid
Labirintektomi pertama kali dilaporkan pada tahun 1904 oleh Lake dan dipopulerkan pada tahun 1940an dan 1950an. Prosedur tersebut dapat dilaksanakan dalam bentuk transcanal atau transmastoid. Pendekatan transmastoid lebih umum dilakukan, memudahkan visualisasi langsung dan pemisahan pada elemen neuroepithelial serta memiliki tingkat keberhasilan yang cenderung tinggi. Waktu operasi umumnya akan lebih lama untuk pendekatan transmastoid.
Kontrol vertigo adalah sebanyak 85-100% dan pasien secara konsisten melaporkan peningkatan dalam kualtas hidup. Kegagalan yang terlaporkan sebagai hasil dari diagnosa sekunder seperti contohnya kontralateral Meniere’s, ketidaksempurnaan pemindahan pada keseluruhan elemen neuroepithelial dan formasi neuroma. Satu manfaat pasca labirintektomi adalah pengurangan dari kebutuhan untuk melakukan diet ketat dan pengobatan.
Dampak pasca pembedahan yang umum terjadi adalah disequilibrium persistent. Ini bisa disebabkan oleh ketidaksempurnaan kompensasi, hasil dari diagnosa sekunder,
dan ketidaksempurnaan pembedahan ablasi yang dapat mengganggu pribadi dan fungsi pekerjaan. Kerusakan saraf wajah dan kebocoran CSF merapakan salah satu komplikasi yang mungkin terjadi.
Prosedur Labirintektomi
Pembiusan umum untuk endotracheal dapat dimanfaatkan. Pasien diberikan dexamethasone intravena pra operasi untuk mengatasi mual pasca operasi dan antibiotik perioperatif.
Langkah ke-1
Lima langkah pertama dan empat gambar terlampir memiliki kesamaan dengan pembedahan endolymphatic sac .
Langkah ke-2
Setelah inisiasi pada mastoidectomy, sinus sigmoid dan pembungkus dapat didentifikasikan sebagai pedoman. Pada mastoid dengan pneumatisasi yang baik, ini mungkin tidak perlu. Saat pengeboran berlangsung secara medial, perawatan selalu diperhatikan untuk memastikan pengeboran superior di sepanjang tegmen untuk menjaga saraf wajah aman. Antrum diidentifikasi dan horizontal semicircular canal dan short process pada incus terlihat. Perawatan harus dilakukan pada area yang terdapat cutting burr dikarenakan saraf pada wajah yang dapat terlukai jika cutting burr berputar kedepan. Untuk keamanan, diamond burr dapat digunakan untuk area tersebut dalam mode terbalik. Inferior mastoid air cells terbuka dan segmen vertikal pada saraf wajah dapat teridentifikasi dengan diamond burr yang besar dan terlapisi oleh tulang.
Langkah ke-3
Dikarenakan saraf wajah terletak langsung secara horizontal dibawah semisirkular kanal, kanal tersebut terbagi 2 secara superior.
Gambar 5. Buka lumen kanalis semisirkularis horizontal (saraf fasial ditunjukkan oleh panah).
Langkah 4
Setelah lumen kanal horizontal dibuka, drilling dilanjutkan ke posterior untuk mengidentifikasi kanalis semisirkularis posterior, yang kemudian lumennya dibuka. Lubang dengan tulang pelindung di sekitarnya dibuat untuk melindungi struktur yang berdekatan.
Gambar 6. Buka kanalis semisirkularis posterior (lumen kanal posterior ditunjukkan oleh panah).
Langkah 5
Kanalis posterior superior diikuti secara medial untuk mengidentifikasi common crus dan kanalis semisirkularis superior posterior.
Gambar 7. Identifikasi common crus yang ditunjukkan oleh panah kecil; kanalis semisirkularis superior posterior ditunjukkan oleh panah besar.
Langkah 6
Kanalis superior kemudian dibuka secara keseluruhan dari posterior ke anterior dan ujung ampulasinya divisualisasikan. Beberapa pendarahan dari arteri subarcuate mungkin ditemui tetapi mudah dikontrol dengan diamond bur. Ujung ampulasi kanalis semisirkularis horizontal, sedikit lateral dan inferior dari ujung ampulasi kanalis superior, diidentifikasi dan dibuka.
Gambar 8. Kanalis semisirkularis superior yang sepenuhnya dieksenterasi (arteri subarcuate ditunjukkan oleh panah besar; ujung ampulasi kanalis superior ditunjukkan oleh panah kecil; lumen kanalis semisirkularis posterior ditunjukkan oleh panah ganda). Langkah 7
Perhatian diarahkan ke posterior dan kanalis posterior inferior dibuka ke ujung ampulasinya dengan segmen vertikal saraf fasial di bawah penglihatan langsung.
Langkah 8
Kanalis semisirkularis terhubung dan vestibula terbuka secara luas. Perawatan dilakukan tanpa mengganggu dinding bagian dalam vestibula dan tanpa meningkatkan risiko kebocoran cairan serebrospinal.
Langkah 9
Dengan manipulasi lembut (umumnya dengan pisau sendi) dan pengisapan, elemen neuroepitelial vestibular dari makula dan kanalis semisirkularis dengan hati-hati dihilangkan.
Langkah 10
Luka diirigasi dengan larutan garam fisiologis, pasang fasia temporalis menutup struktur dan rongga yang terbuka lalu dilapisi lemak. Luka insisi ditutup lapis demi lapis dengan Vicryl 3-0. Kulit dijahit dan pasang pembalut mastoid.
Perawatan pascaoperasi.
Pasca operasi disekuilibrium dialami pada sebagian besar pasien. Pada beberapa pasien dengan keadaan kelemahan vestibular ipsilateral yang ekstrem, gejalanya akan terbatas atau tidak ada. Pada pagi hari pertama pasca operasi, terapis vestibular akan bertemu dengan pasien untuk memberikan instruksi dalam terapi vestibular. Pembalut dilepas pada pagi pertama pasca operasi. Pasien dipulangkan ke rumah ketika asupan cairan terjamin dan ambulasi aman biasanya 1-4 hari.
Tidak ada aktivitas berat yang direkomendasikan selama 3 minggu pasca operasi. Pasien dapat melanjutkan mengemudi dan kembali untuk bekerja ketika mereka merasa percaya diri, biasanya 3-6 minggu.
DAFTAR PUSTAKA
Durand, M. L. and D. G. Deschler. Infections of the Ears, Nose, Throat, and Sinuses, Springer;2018;7:79-88
Bluestone, C. D. Pediatric otolaryngology, Gulf Professional Publishing;2014;38:797-901
World Health Organization. Chronic suppurative otitis media : burden of illness and management options. Geneve : World Health Organization; 2004.
Scott-Brown, W. G.. Scott-Brown's Otorhinolaryngology, Head and Neck Surgery: Plastic surgery of the head and neck, Hodder Arnold;2008;83:1010-14
Bailey, B. J. and J. T. Johnson . Bailey's head and neck surgery-otolaryngology, Wolters Kluwer Health/Lippincott Williams & Wilkins;2014;149:2399-2408
Dornhoffer, J. L. and M. B. Gluth . The chronic ear, Thieme;2016;17:125-132
Walker, M. F. "Treatment of vestibular neuritis." Current treatment options in neurology.2009; 11(1): 41.
Strupp, M., et al.. "Methylprednisolone, valacyclovir, or the combination for vestibular neuritis." New England Journal of Medicine.2004;351(4): 354-361.
Shupak, A., et al. "Prednisone treatment for vestibular neuritis." Otology & Neurotology.2008; 29(3): 368-374.
Beyea, J. A., et al. "Recent advances in viral inner ear disorders." Current opinion in otolaryngology & head and neck surgery.2012;20(5): 404-408.
Amber, K. T., et al. "Prophylactic valacyclovir in a patient with recurrent vestibular disturbances secondary to vestibular neuritis." American journal of otolaryngology.2012;33(4): 487-488.
Göksu, N., et al. "Surgical treatment of peripheral vertigo and vertiginous diseases." ORL.2005;67(1): 1-9.
Gacek, R. R. and M. R. Gacek. "Comparison of labyrinthectomy and vestibular neurectomy in the control of vertigo." The Laryngoscope.1996;106(2): 225-230..
Alarcón, A. V., et al. "Labyrinthectomy and vestibular neurectomy for intractable vertiginous symptoms." International archives of otorhinolaryngology.2017;21(02): 184-190
John L.D, Michael B. G. The chronic ear. Thieme Medical Publisher. New York: 2016.
Michael J.L, Seilesh C. B, Dennis I. B. Otologic and Neurotologic Surgery. Jaypee Brothers Medical Publishers. New Delhi: 2015.
Adunka O.F, Buchman C.A. Otology, neurotology and lateral skull base surgery. Thieme: New York: 2011 : 141-143
Alarcón A.V , Hidalgo L.O.V, Arevalo R J, Diaz M.P. Labyrinthectomy and Vestibular Neurectomy for Intractable Vertiginous Symptoms , Int Arch Otorhinolaryngol. 2017 Apr; 21(2): 184–190.
DAFTAR ISI
WAKTU PEMBELAJARAN 1
PERSIAPAN SESI 1
REFERENSI 1
KOMPETENSI 2
CONTOH KASUS DAN DISKUSI 3
TUJUAN PEMBELAJARAN 3
METODE PEMBELAJARAN 3
EVALUASI 5
INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF 6
INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR 6
DAFTAR TILIK 8
MATERI PRESENTASI 9
MATERI BAKU 13
MODUL I.3.2
OTOLOGI – GANGGUAN TELINGA DALAM : INJEKSI INTRATIMPANI
WAKTU PEMBELAJARAN
Proses Pengembangan Kompetensi | Alokasi Waktu |
Sesi dalam kelas Sesi praktikum Sesi praktik dan pencapaian kompetensi | 1 x 60 menit (classroom session) 1 x 120 menit (coaching session) 2 minggu |
PERSIAPAN SESI
Bahan penunjang presentasi
Power point
Video
Kasus: Idiopathic Sudden Sensorineural Hearing Loss.
Sarana dan alat bantu latih: (disesuaikan dengan pencapaian kompetensi)
Penuntun belajar (learning guide) terlampir
Tempat belajar (training setting): instalasi rawat jalan, kamar operasi, ruang praktikum.
Model/manekin telinga.
Komputer/laptop.
In focus.
REFERENSI
Tarkan O, Dagkiran M, Surmelioglu O, Ozdemir S, Tuncer U, Dogrusoz M, et al. Intratympanic methylprednisolone versus dexamethasone for the primary treatment of idiopathic sudden sensorineural hearing loss. J Int Adv Otol. 2018;14(3):451-5.
Jeong SH, Lee SH, Kim GJ, Ha JB, Park YH, Kim DK. Intratympanic steroid treatment alone as an initial treatment for the patients with severe or profound sudden sensorineural hearing loss and medical problems in steroid use. Korean J Otorhinolaryngol Head Neck Surg. 2016;59(3):202-6.
Liu YC, Chi FH, Yang TH, Liu TC. Assessment of complication due to intratympanic injections. World J Otorhinolaryngol Head Neck Surg. 2016;2:13-6.
Staecker H. Rodgers B. Gene therapy and inner-ear drug delivery. In: Wackym PA, Snow JB. Ballenger’s Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. 18th ed. Shelton, Connecticut. People’s Medical publishing. 2016. p311-40.
Plontke SK. Diagnostics and therapy of sudden hearing loss. GMS Curr Topics Otorhinolaryngol Head Neck Surg. 2017;16:1-21.
Paksoy M, Altin G, Eken M, Hardal U. Effectiveness of intratympanic dexamethasone in otitis media with effusion resistant to conventional therapy. Indian J Otolaryngol Head Neck Surg. 2013;65(3):S461-7.
Stachler RJ, Chandrasekhar SS, Archer SM, Rosenfeld RM, Schwartz SR, Barrs DM, et al. Clinical Practice Guideline : Sudden Hearing Loss. Otolaryngology -- Head and Neck Surgery 2012 146: S1 DOI: 10.1177/0194599812436449.
Hussein A, Salaheldin AH, Abul-Nasr KM. Intratympanic versus oral steroids in the management of idiopathic sudden sensorineural hearing loss. Med J Cairo Univ. 2012;80(2):77-83.
KOMPETENSI
Pengetahuan
Mampu membuat diagnosis dan melakukan terapi injeksi intratimpani sesuai indikasi berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan (otomikroskopi dan pemeriksaan pendengaran). Tingkat kompetensi 4.
Keterampilan
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam:
Menjelaskan anatomi, topografi telinga.
Menjelaskan etiopatogenesis dan indikasi melakukan injeksi intratimpani.
Menjelaskan dan mampu melakukan tindakan injeksi intratimpani dengan baik dan benar.
CONTOH KASUS DAN DISKUSI
Seorang perempuan usia 65 tahun datang ke poliklink THTKL dengan keluhan telinga kiri tiba-tiba mengalami penurunan pendengaran 1 hari sebelumnya. Pasien memiliki riwayat diabetes melitus dan hipertensi.
Pertanyaan:
Lengkapi anamnesis.
Apa saja kemungkinan hasil pemeriksaan pada telinga kiri dan pemeriksaan penunjang.
Diagnosis yang mungkin ditemukan pada pasien.
Tatalaksana untuk diagnosis kerja pada pasien.
TUJUAN PEMBELAJARAN
Pembelajaran materi ini bertujuan untuk mendapatkan pengetahuan, ketrampilan dan perilaku yang terkait dengan kompetensi yang diperlukan, yaitu:
Tujuan umum:
Menjelaskan anatomi dan fisiologi telinga.
Menjelaskan indikasi melakukan injeksi intratimpani.
Menjelaskan dan mampu melakukan tindakan injeksi intratimpani dengan baik dan benar.
Tujuan khusus :
Menguasai anatomi dan fisiologi telinga.
Menguasai mekanisme kerja obat melalui injeksi intratimpani.
Terampil dalam melakukan injeksi intratimpani sesuai indikasi.
METODE PEMBELAJARAN
Tujuan 1: Menguasai anatomi, fisiologi dan topografi telinga.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilh metode pembelajaran berikut ini
:
Belajar mandiri
Kuliah interaktif
Diskusi kelompok
Model anatomi telinga
Hal-hal yang harus diketahui:
Anatomi dan fisiologi telinga .
Tujuan 2: Mampu menjelaskan etiopatogenesis yang berkaitan dengan tatalaksana injeksi intratimpani dan indikasi melakukan injeksi intratimpani
Untuk mencapai tujuan ini dipilih metode pembelajaran:
Kuliah interaktif
Case simulation and investigation exercise
Bedside teaching
Task based medical education
Hal-hal yang harus diketahui :
Diagnosis penyakit yang membutuhkan terapi injeksi intratimpani
Patogenesis penyakit yang berkaitan dengan terapi injeksi intratimpani
Tujuan 3: Menjelaskan dan mampu melakukan tindakan injeksi intratimpani dengan baik dan benar.
Untuk mencapai tujuan ini dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Kuliah interaktif
Diskusi kelompok
Textbook & Journal reading and review
Case simulation and investigation exercise
Bedside teaching
Pelatihan dengan manekin
Hal-hal yang harus diketahui :
Tahapan melakukan injeksi intratimpani
Jenis obat, dosis dan mekanisme kerja obat yang digunakan dalam injeksi intratimpani
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pre test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri atas:
Anatomi dan fisiologi telinga
Penegakan diagnosis dan diagnosis banding
Indikasi tindakan injeksi intratimpani
Selanjutnya dilakukan “small group discussion” bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian.
Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk “role play” dan teman-temannya (Peer Assisted Evaluation) atau kepada SP (Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assisted Evaluation).
Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
Self assesment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar.
Pendidik/fasilitas:
Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form (terlampir)
Penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi
Kriteria penilaian keseluruhan : cakap/ tidak cakap/ lalai
Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education)
Pencapaian pembelajaran :
Ujian OSCA (K,P,A), dilakukan pada tahapan THT dasar oleh kolegium Ilmu THT
Ujian akhir stase, setiap divisi/ unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan.
Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan lanjut oleh kolegium ilmu THT.
INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF
Kuesioner Sebelum Pembelajaran:
Sebutkan anatomi dan batas-batas telinga tengah?
Sebutkan dan gambarkan anatomi dari telinga dalam?
Jelaskan fisiologi pendengaran.
Kuesioner Tengah pembelajaran:
Sebutkan indikasi injeksi intratimpani!
Jelaskan mekanisme masuknya obat dari telinga tengah ke telinga dalam!
Essay/Ujian Lisan/Ujian Sumatif:
Jelaskan penegakan diagnosis dan tatalaksana sudden idiopathic sensorineural hearing loss!
Jelaskan pilihan tatalaksana sudden idiopathic sensorineural hearing loss!
Jelaskan tahapan melakukan tindakan injeksi intratimpani!
J. INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR
PENUNTUN BELAJAR I PROSEDUR INJEKSI INTRATIMPANI
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.:
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
NAMA PESERTA: ...................................... TANGGAL: ..............................
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||||
| |||||
II. PROSEDUR INJEKSI INTRATIMPANI | |||||
- Cuci tangan, mengenakan sarung tangan steril | |||||
- Evaluasi membran timpani dengan baik menggunakan mikroskop | |||||
- Tindakan pembersihan liang telinga dengan kapas aplikator dan alkohol 70 %, setelah itu dilakukan anestesi local menggunakan lidocaine 10 % spray atau lidocaine cream 5 % | |||||
- Injeksi menggunakan jarum spinal no.25 G atau 27 G dengan spuit 3 cc yang telah diisi obat (methylprednisolone/ dexamethasone) pada kuadran anteroinferior/anterosuperior/inferoposterior (kecuali posterosuperior) hingga obat memenuhi kavum timpani (sekitar 0.4-0.8 ml) | |||||
berbicara selama 30 menit | |||||
PASCA INJEKSI INTRATIMPANI
Rencana pemeriksaan ulang audiometri 1 minggu pascainjeksi terakhir. | |||||
K. DAFTAR TILIK
DAFTAR TILIK
PROSEDUR INJEKSI KORTIKOSTEROID INTRATIMPANIK
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini:
X: Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar T/T: Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih | |||||
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||||
| |||||
II. PROSEDUR INJEKSI INTRATIMPANI | |||||
- Cuci tangan, mengenakan sarung tangan steril | |||||
- Evaluasi membran timpani dengan baik menggunakan mikroskop | |||||
- Tindakan pembersihan liang telinga dengan kapas aplikator dan alkohol 70 %, setelah itu dilakukan anestesi local menggunakan lidocaine 10 % spray atau lidocaine cream 5 % | |||||
- Injeksi menggunakan jarum spinal no.25 G atau 27 G dengan spuit 3 cc yang telah diisi obat (methylprednisolone/ dexamethasone) pada kuadran anteroinferior/anterosuperior/inferoposterior (kecuali posterosuperior) hingga obat memenuhi kavum timpani (sekitar 0.4-0.8 ml) | |||||
berbicara selama 30 menit | |||||
PASCA INJEKSI INTRATIMPANI - Instruksi pasca tindakan Hindari telinga terkena air Kontrol untuk injeksi ulangan (4x injeksi dalam periode 2 minggu) Rencana pemeriksaan ulang audiometri 1 minggu pasca injeksi terakhir. | |||||
L. MATERI PRESENTASI
M. MATERI BAKU
ANATOMI KAVUM TIMPANI
Membran timpani dibagi ke dalam 4 kuadran yaitu anterosuperior, posterosuperior, anteroinferior dan posteroinferior. Injeksi intratimpani dapat dilakukan pada kuadran posteroinferior atau anteroinferior. Obat yang masuk ke kavum timpani akan melewati foramen rontundum. Foramen rotundum memiliki 3 lapis membran yang memisahkan antara skala timpani dengan kavum timpani. Lapisan terluar epitelium terdiri dari sel selapis dengan mikrovili yang jarang. Lapisan tengah jaringan ikat yang terdiri dari fibroblast, kolagen, serabut saraf bermielin dan tidak bermielin, pembuluh darah dan limfatik. Lapisan terdalam epitelium skuamosa dengan perluasan lateral ke ruang ekstraseluler yang memungkinkan untuk pengantaran substansi yang masuk melalui membran ini. Membran foramen rotundum adalah semipermeabel. Faktor yang mempengaruhi permeabilitas membran
ini meliputi ukuran partikel, berat molekul yang besar, perubahan listrik dan ketebalan membrane foramen rotundum.
Gambar 1. Kavum timpani sinistra. Pendekatan ke telinga dalam dari telinga tengah, melalui foramen rotundum. OW = oval window, s = stapes, RW = round window
VARIASI ANATOMI
Kegagalan terapi injeksi intratimpani dapat disebabkan oleh adanya membran foramen rotundum palsu yang menghambat masuknya obat melalui foramen ini. Variasi anatomi ini terjadi pada 25-33% kasus..
INDIKASI
Injeksi intratimpani dapat dilakukan pada kasus Meniere’s disease, tuli mendadak, tinitus refrakter, penyakit autoimun telinga dalam, otitis media efusi dan sebagai proteksi telinga dalam sebelum dilakukan pemasangan implant koklea.
CARA KERJA OBAT
Kortikosteroid yang diinjeksikan ke telinga tengah akan mencapai skala timpani pada telinga dalam melalui membran foramen rotundum dalam beberapa menit. Kemudian secara cepat mencapai skala vestibuli melalui ligament spiralis di lateral dan/atau kanal Rosenthal di medial. Difusi obat juga terjadi melalui helicotrema pada apeks koklea. Kortikosteroid memiliki beberapa mekanisme aksi, diantaranya supresi imun, antiinflamasi, stabilisasi membran, regulasi keseimbangan ion dan meningkatkan perfusi. Deksametason merupakan jenis kortikosteroid intratimpani yang memiliki efikasi lebih tinggi dibandingkan metilprednisolon. Meskipun konsentrasi obat ini lebih rendah di endolimfe, tetapi absorbsinya ke stria dan jaringan sekitar lebih cepat dibandingkan metilprednisolon.
PROSEDUR
Cuci tangan sebelum tindakan dan lakukan tindakan antiseptik telinga yang akan diinjeksi. Pasien berada pada posisi supine dengan kepala dimiringkan 450 ke sisi telinga sehat. Pada posisi duduk, obat yang diinjeksikan akan menjauhi foramen rotundum karena pengaruh gravitasi. Evaluasi telinga dengan menggunakan mikroskop atau endoskopi. Amati liang telinga yang normal dan membran timpani utuh. Lakukan anestesi lokal dengan kapas yang telah direndam dengan xylocaine spray 10% yang diletakkan pada membran timpani atau dengan cara menyemprotkan xylocaine spray 10% ke liang telinga. Setelah 15-30 menit, lakukan suction cairan pada liang telinga. Hangatkan obat sesuai suhu tubuh selama 5-10 menit. Kemudian obat disuntikkan pada membran timpani kuadran posteroinferior menggunakan jarum spinal 25 atau 27-gauge sebanyak 0,4-0,8 ml atau cairan tampak memenuhi kavum timpani dan keluar ke liang telinga. Pasien diinstruksikan untuk tidak menelan, bicara atau bergerak selama 30 menit untuk memaksimalkan absorbsi obat melalui foramen rontundum. Apabila pasien menelan, maka injeksi kedua diulang setelah 10 menit. Pasien tetap pada prosedur yang sama dalam 10 menit. Tindakan injeksi dilakukan dengan total injeksi sebanyak 4 kali dalam 2 minggu.
JENIS OBAT YANG DIGUNAKAN
Steroid yang paling sering digunakan adalah deksametason, diikuti metilprednisolon. Namun, konsentrasi metilprednisolon paling tinggi dan bertahan paling lama, baik di perilimfe maupun endolimfe, dibandingkan deksametason dan hidrokortison. Setelah injeksi intratimpani, konsentrasi metilprednisolon di telinga dalam mencapai puncaknya dalam waktu 2 jam dan tetap tinggi hingga 6 jam pertama. Konsentrasi metilprednisolon di perilimfe berkurang secara perlahan dan hilang setelah 24 jam. Deksametason dan hidrokortison hanya dapat dideteksi hingga 6 jam setelah injeksi pada telinga tengah.1 Deksametason dikeluarkan dari kokela melalui blood- labyrinthine barrier dalam jumlah yang besar dibandingkan steroid lainnya.
KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat muncul setelah injeksi intratimpani adalah vertigo dengan kejadian 40 menit hingga 5 jam pasca injeksi, nyeri telinga, sensasi panas di dalam telinga, disgeusia, perforasi membran timpani dan otitis media.
DAFTAR ISI
WAKTU PEMBELAJARAN 1
PERSIAPAN SESI 1
REFERENSI 1
KOMPETENSI 2
CONTOH KASUS & DISKUSI 3
TUJUAN PEMBELAJARAN 4
METODE PEMBELAJARAN 4
EVALUASI 7
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF 8
MATERI PRESENTASI 9
MATERI BAKU 14
MODUL I.4
OTOLOGI – TRAUMA TELINGA DAN TULANG TEMPORAL
WAKTU PEMBELAJARAN
Proses pengembangan kompetensi | Alokasi waktu |
Sesi dalam kelas | 2 x 60 menit (classroom session) |
Sesi praktikum | 3 x 60 menit (coaching session) |
Sesi praktik dan pencapaian kompetensi | 20 x 60 menit (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi presentasi: Power point
Kasus: Impaksi Serumen
Sarana dan alat bantu latih: (disesuaikan dengan pencapaian kompetensi)
Penuntun belajar (learning guide): terlampir.
Tempat belajar (training setting): ruang kuliah, ruang praktikum, instalasi rawat jalan.
Model/manekin (liang) telinga.
Komputer/laptop.
In focus.
REFERENSI
Linstrom CJ ,Lucente FE. Diseases of the External Ear. In : Johnson JT, Rosen CA, eds. Bailey’s Head & Neck Surgery Otolaryngology.5th ed. Philadelphia : Lippincott Williams & Wilkins; 2014. P 2346-48
Hanson MB, Lucente FE. Diseases of the External Ear. In : Wackym PA, Snow Jr JB, eds. Ballenger’s Otorhinolaryngology HEAD AND NECK SURGERY. 18th ed. Connecticut : People’s Medical Publishing House-USA; 2016. P 683- 686
Goddard JC, Mc Rackan TR. Non Infectious Disorders of The Ear. In : Chan Y, Goddard JC, eds. K.J. Lee’s Essential Otolaryngology Head & Neck Surgery. 11th ed. New York : Mc Graw Hill Education; 2016. P 424-34
Dhingra PL, Dhingra S. Dieseases of Ear, Nose and Throat & Head and Neck Surgery. 6th ed. New Delhi : Elsevier. 2014. P 48-55
Toynton SC. Ear Trauma. In : Watkinson JC, Clarke RW, eds. Scott-Brown’s Otorhinolaryngology Head & Neck Surgery. Vol 2. Paediatrics The Ear Skull Base. 8th ed. London : CRC Press. Taylor and Francis Group. 2018. P1099-1133
Diaz RC, Kamal SM, Brodie HA. Middle Ear & Temporal Bone Trauma. In : Johnson JT, Rosen CA, eds. Bailey’s Head & Neck Surgery Otolaryngology.5th ed. Philadelphia : Lippincott Williams & Wilkins; 2014. P 2410-32
Welling DB, Spear SA, Packer MD. Trauma to the Middle Ear, Inner Ear and Temporal Bone. In : Wackym PA, Snow Jr JB, eds. Ballenger’s Otorhinolaryngology 18 HEAD AND NECK SURGERY. 18th ed. Connecticut : People’s Medical Publishing House-USA; 2016. P 924-60
Brodie HA, Wilkerson BJ. Management of Temporal Bone Trauma. In : Flint PW eds. Cummings Otolaryngology HEAD AND NECK SURGERY. 6th ed. Philadelphia : Elsevier Saunders; 2015. P2220-33
Basavaraju U, Jayaramaiah SK, Turamari RU, Prakash V, Mankani S. Temporal Bone Fracture and its Classification : Retrospective Study of Incidence, Causes, Clinical Features, Complication and Outcome. International Journal of Anatomy, Radiology and Surgery. 2017 Oct, Vol-6(4): RO57-RO61.
Tiwary PK, Sahoo NK,Thakral A, Ranjan U. The initial management of styloid process fractures is usually directed towards conservative therapy comprising of soft diet, analgesics and muscle relaxants. Craniomaxillofacial trauma.https://doi.org/10.1016/j.joms.2017.06.016
KOMPETENSI
Pengetahuan
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik mampu:
Menegakkan diagnosis pada trauma telinga dan tulang temporal berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan (otomikroskopi, pemeriksaan X-Ray, CT Scan). Tingkat kompetensi 4
Menatalaksana secara mandiri kasus trauma telinga dan tulang temporal.
Keterampilan
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam :
Menjelaskan anatomi, topogarafi telinga
Menjelaskan anatomi, topografi tulang temporal
Menjelaskan klasifikasi dan macam trauma telinga
Menjelaskan klasifikasi dan macam trauma temporal
Menjelaskan etiopatogenesis, gambaran klinis, diagnosis dan komplikasi trauma telinga
Menjelaskan etiopatogenesis, gambaran klinis, diagnosis dan komplikasi trauma temporal
Melakukan rujukan dengan tepat
CONTOH KASUS & DISKUSI
Kasus 1
Seorang perempuan usia 35 tahun dating ke IGD THTKL dengan keluhan telinga kiri berdengung setelah ditempeleng suaminya.
Soal :
Lengkapi anamnesis
Apa saja kemungkinan hasil pemeriksaan pada telinga kiri
Lengkapi pemeriksaan penunjang yang diperlukan, dan kemungkinan hasilnya
Apa saja diagnosis banding
Bagaimana tata laksana sesuai diagnosis banding
Jawaban :
Ada atau tidaknya kurang dengar setelah kejadian, vertigo, perdarahan, nyeri telinga. Adakah keluhan keluar cairan sebelumnya
Pemeriksaan fisik telinga:
Retroaurikula, aurikula dan preaurikular terdapat jejas/hematom/hiperemis atau tidak ada kelainan
Liang telinga : kemungkinan didapatkan perdarahan/laserasi/ tidak ada kelainan Membran timpani : kemungkinan terdapat hemotimpanum, ruptur, perdarahan Pemeriksaan penala: kemungkinan menunjukan gangguan pendengaran tipe konduktif atau normal.
Audiometri nada murni : tanpa adanya gangguan pendengaran sebelumnya maupun riwayat perforasi membran timpani sebelumnya kemungkinan hasilnya: tuli konduksi ringan sampai sedang.
HRCT temporal bila dicurigai terjadi dislokasi rantai osikel.
Hemotimpanum, Ruptur membran timpani, Dislokasi rantai osikel
Hemotimpanum : observasi dalam selama 4 minggu.
Ruptur membran timpani yang kecil dengan tuli konduksi ringan : observasi selama 3-10 bulan. Ruptur yang besar dapat dilakukan tatalaksana timpanoplasti. Dislokasi rantai osikel dapat dilakukan osikuloplasti
Kasus 2
Seorang laki-laki usia 23 tahun datang ke IGD setelah kecelakaan lalu lintas, terdapat trauma kepala dengan keluhan dibidang THTKL adalah perdarahan telinga kanan. Kesadaran GCS E4M5 V6. Saat pemeriksaan dijumpai mata kanan tidak bisa menutup.
Soal :
Lengkapi anamnesis
Apa saja kemungkinan hasil pemeriksaan pada telinga kanan
Lengkapi pemeriksaan penunjang yang diperlukan
Apa diagnosis banding
Bagaimana tatalaksana sesuai diagnosis banding
Jawaban :
Kejadian kecelakaan, jarak waktu kecelakaan sampai datang ke IGD, keluhan telinga sebelumya (cairan, gangguan dengar atau nyeri), keluhan gangguan keseimbangan maupun gangguan pendengaran
Laserasi KAE, fraktur KAE, ruptur membran timpani, LCS leakage
Inspeksi regio temporal, pemeriksaan n.VII, Audiometri, HRCT temporal
Fraktur temporal dengan parese n.VII
Kortikosteroid, dekompresi n.VII
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan Pembelajaran Umum
Mengenali gejala dan tanda trauma telinga dan temporal
Menjelaskan patofisiolgi trauma telinga dan temporal
Melakukan tatalaksana trauma telinga dan temporal
Melakukan rujukan dengan tepat
Tujuan Pembelajaran Khusus
Menguasai anatomi, fisiologi dan topografi telinga dan temporal
Mampu menjelaskan patofisiologi terkait dengan gambaran klinis trauma telinga dan temporal
Mampu menjelaskan klasifikasi trauma telinga dan temporal
Mampu mendiagnosis trauma telinga dan temporal
Mampu melakukan terapi bedah maupun non bedah pada trauma telinga dan temporal
Mampu mengenali dan melakukan tatalaksana komplikasi dari trauma telinga dan temporal
Mampu menentukan waktu dan tujuan untuk merujuk pasien trauma telinga dan temporal
METODE PEMBELAJARAN
Tujuan 1: Menguasai anatomi, fisiologi dan topografi telinga dan temporal .
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilh metode pembelajaran berikut ini :
Belajar mandiri
Kuliah interaktif
Diskusi kelompok
Model anatomi telinga Harus diketahui :
Anatomi dan fisiologi telinga .
Faktor risiko trauma telinga.
Keterkaitan anatomi dengan organ sekitar.
Tujuan 2: Menjelaskan patofisiologi terkait dengan gambaran klinik trauma telinga dan temporal
Untuk mencapai tujuan ini dipilih metode pembelajaran:
Kuliah interaktif
Case simulation and investigation exercise
Bedside teaching
Task based medical education Harus diketahui :
Etiologi dan faktor predisposisi dari berbagai jenis trauma telinga dan temporal.
Menganalisis mode of injury dengan kelainan dan komplikasi yang terjadi
Gejala dan tanda berbagai jenis trauma telinga dan temporal
Tujuan 3: Menjelaskan klasifikasi trauma telinga dan temporal
Untuk mencapai tujuan ini dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Kuliah interaktif
Diskusi kelompok
Textbook & Journal reading and review
Case simulation and investigation exercise
Bedside teaching Harus diketahui :
Menentukan klasifikasi trauna telinga dan temporal
Menilai perlunya pemeriksaan tambahan dan konsultasi ke bagian lain yang terkait.
Mengetahui saat yang tepat untuk tiap pemeriksaan
Tujuan 4: Menegakkan diagnosis trauma telinga dan temporal.
Untuk mencapai tujuan ini dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Kuliah Interaktif
Case simulation and investigation exercise
Bedside teaching
Task based medical education
Harus diketahui :
Merangkum dan menganalisis data dari anamnesis dan pemeriksaan
Menegakkan diagnosis secara lengkap
Tujuan 5: Melakukan terapi bedah dan non bedah pada trauma telinga dan tulang temporal
Untuk mencapai tujuan ini dipilih metode pembelajaran:
Belajar mandiri dari buku ataupun video operasi
Diskusi interaktif
Studi kasus
Bedside teaching
Bimbingan operasi dan asistensi
Praktek pada pasien Harus diketahui:
Tata laksana pasien yang perlu pembedahan maupun yang bukan pembedahan
Farmakologi obat yang dipakai untuk terapi oral, parenteral, topikal maupun profilaksis
Saat yang tepat untuk menentukan tindakan bedah atau non bedah
Persiapan, prosedur, komplikasi dan perawatan pasca pembedahan
Tujuan 6: Mengenali dan melakukan tatalaksana awal komplikasi trauma telinga dan temporal
Untuk mencapai tujuan ini dipilih metode pembelajaran
Belajar mandiri dari buku ataupun dari jurnal
Diskusi kelompok
Studi kasus
Bedside teaching Harus diketahui :
Jenis jenis komplikasi akibat trauma
Tatalaksana/ rehabilitasi akibat trauma tulang temporal dan basis kranium
Evaluasi hasil rehabilitasi
Mengetahui farmakologi serta efek samping pemakaian obat untuk komplikasi itu
Tujuan 7: Menentukan waktu dan tujuan untuk merujuk pasien trauma telinga dan temporal
Untuk mencapai tujuan ini dipilih metode pembelajaran
Belajar mandiri dari buku ataupun dari jurnal
Diskusi kelompok
Studi kasus
Bedside teaching Harus diketahui :
Waktu tepat untuk merujuk
Edukasi ke pasien tentang tujuan rujukan yang dilakukan
Cara merujuk yang benar
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pre test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri atas :
Anatomi dan fisiologi telinga
Definisi, klasifikasi dan stadium
Penegakan diagnosis dan diagnosis banding
Selanjutnya dilakukan diskusi bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar.
Peserta didik diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar melalui metode bedside teaching pada pasien
sesungguhnya dibawah pengawasan fasilitator dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut :
Perlu perbaikan: pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan.
Cukup: pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien.
Baik: pelaksanaan benar dan baik (efisien).
Melakukan case based discussion (formulir penilaian terlampir).
peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education).
Penilaian pencapaian pembelajaran :
Ujian nasional dilakukan pada akhir tahapan pendidikan spesialis oleh kolegium ilmu kesehatan THT-KL.
Ujian akhir stase, setiap divisi/ unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan.
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Kuesioner
Sebelum Pembelajaran :
Soal :
Sebutkan 3 keadaan yang dapat menyebabkan trauma pada telinga luar
Jelaskan tata laksana ruptur membran timpani yang disebabkan trauma
Sebutkan kelainan yang dapat terjadi akibat barotrauma
Sebutkan dan jelaskan klasifikasi trauma tulang temporal
Sebutkan komplikasi yang dapat muncul akibat trauma tulang temporal Jawaban :
Tengah pembelajaran :
Soal :
Sebutkan dan jelaskan tatalaksana pada pasien dibawah ini
Pasien dengan keluhan keluar darah dari liang telinga
Pasien datang dengan daun telinga kiri nyeri dan bengkak
Pasien mengeluh nyeri telinga dan berdenging menetap setelah perjalanan dengan pesawat sehari yang lalu
Pasien konsulan dari TS bedah syaraf dengan trauma kepala dan didapatkan penurunan pendengaran telinga kanan
Pasien trauma kepala, didapatkan cairan dari telinga kiri Jawaban :
A. Essay / Ujian Lisan / Ujian Sumatif :
Sebutkan kelainan yang ditemukan pada trauma telinga berdasarkan jenis trauma !
Sebutkan klasifikasi fraktur tulang temporal berdasarkan garis frakturnya !
Pemeriksaan apa saja yang diperlukan bila berhadapan dengan kasus trauma tulang temporal dengan kelumpuhan N. 7 ?
Jelaskan tata laksana perdarahan telinga yang disertai dengan trauma kapitis
?
Jelaskan tatalaksana kelainan telinga akibat barotrauma !
J. MATERI PRESENTASI
LCD 1 : Anatomi telinga dan tulang temporal
LCD 2 : Patofisiologi trauma telinga dan tulang temporal
LCD 3 : Klasifikasi Trauma telinga dan tulang temporal
LCD 4 : Tatalaksana trauma telinga luar
LCD 5 : Tatalaksana trauma telinga tengah
LCD 6 : Tatalaksana trauma telinga dalam
LCD 7 : Tatalaksana fraktur tulang temporal
K. MATERI BAKU
Trauma Telinga
Trauma Telinga Luar
Trauma tumpul
Trauma tumpul dapat terjadi pada aurikula dan KAE dengan patologi yang didapatkan berupa hematoma. Hematoma pada aurikula sering terjadi pada olahragawan. Penyakit ini akan dibahas lebih mendalam dalam bahasan modul Othematoma dan Perikondritis. Hematoma pada KAE dapat terjadi akibat trauma pada waktu membersihkan telinga dan dapat pula akibat barotrauma. Berbeda dengan hematoma aurikula, hematoma KAE tidak memerlukan terapi khusus kecuali bila terjadi infeksi sekunder dapat diberikan antibiotik tetes telinga.
Trauma tajam
Trauma tajam pada telinga luar ini dapat berupa abrasi, laserasi yang simple, laserasi yang kompleks dengan atau tanpa kehilangan jaringan, parsial atau total avulsi. Laserasi pada telinga luar dapat disebabkan kebiasaan menggaruk daun telinga, mengorek liang telinga dengan jari ataupun alat lain seperti jepit rambut atau klip kertas. Laserasi pada anak- anak sering terjadi akibat usaha mengeluarkan benda asing. Keluhaan nyeri dan perdarahan dapat terjadi pada aurikula ataupun pada dinding KAE. Laserasi yang ringan tidak diperlukan terapi khusus, hanya menjaga KAE kering. Apabila terjadi perdarahan yang banyak maka dilakukan pemasangan tampon steril.
Trauma tajam yang sedang dan berat dapat menyebabkan laserasi kompleks pada kartilago daun telinga. Trauma pada aurikula merupakan kondisi yang sulit untuk diatasi karena anatominya yang terdiri dari tulang rawan. Bila kartilago sebagai penyangga aurikula terkena trauma langsung akan lebih menyulitkan penanganan. Penatalaksanaan yang terpenting adalah menghentikan perdarahan, eksplorasi, debridemen untuk membuat tepi luka bersih dan sehat dan pemasangan tampon diperlukan untuk mencegah stenosis. Laserasi KAE harus dipastikan keterkaitan dengan fraktur mandibular dan fraktur temporal
Apabila penyebab trauma adalah gigitan binatang atau manusia maka diperlukan pemberian tetanus toxoid, debridema dan kadang diperlukan tandur kulit.
Trauma termal (luka bakar dan frostbite)
Trauma termal diklasifikasikan berdasarkan sifat alami penyebab luka bakar (panas atau dingin) dan derajat kerusakan kulit telinga luar.
Derajat | Patologi | Pemeriksaan | Keluhan | Terapi |
I | Epidermal superfisial | Eritema, udim | Nyeri hebat | Krim emolien Analgetik |
II | Epidermolisis | Bula | Nyeri | Salep |
subepidermal | antibiotik Analgetik | |||
III | Full thickness Nekrosis kulit dan kartilago | Kehitaman atau putih kaku beku | Anestesi | Ditambahkan antibiotik perenteral |
Penyembuhan yang tidak sempurna kadang diperlukan tindakan rekonstruksi. Pada derajat I bisa sembuh tanpa jaringan parut.
Frostbite terjadi pada negara dengan 4 musim, dan terjadi saat musim dingin. Ekposur aurikula pada suhu dibawah 0º C dalam waktu yang lama mengakibatkan anestesi, pucat dan pembentukan kristal es didalam jaringan. Cedera ini dianggap sebagai kerusakan selular dan mikrovaskular yang mengarah kepada iskemia lokal. Pertolongan pertama harus segera dengan kompres hangat bersuhu antara 100-108°F dan lembab tanpa penekanan sampai terlihat tanda-tanda pencairan, pemberian analgetik, dan jika terdapat infeksi pemberian antibiotik diperlukan.
Trauma kimia (asam) pada aurikula dan KAE
Trauma kimia dapat disebabkan zat kimia asam dan kimia basa. Trauma ini umumnya terjadi akibat tindakan kriminal. Trauma asam bersifat superfisial (nekrosis koagulasi) sedangkan trauma basa dapat mengakibatkan kerusakan yang dalam. Irigasi dengan air bersih secara masiv dan lama harus segera dikerjakan. Kompres dingin steril juga dapat mengurangi kerusakan jaringan lebih lanjut. Bila kulit rusak dan bagian kartilago terbuka, defek tersebut harus ditutup dengan
menggunakan kulit dari bagian sekitarnya. Tindakan rekonstruksi parsial maupun total dilakukan pada tahap selanjutnya setelah luka mengalami penyembuhan. Pada kasus tertentu terkadang diperlukan amputasi aurikula. Hipertrofi dan atau terjadinya keloid dapat dihindari dengan compressive dressing dan atau injeksi steroid. Apabila KAE terpapar maka diberikan tampon dengan antibiotika.
Fraktur KAE
Trauma kepala yg sedang atau berat dapat mnyebabkan frakur KAE. Fraktur KAE umumnya terjadi berkaitan dengan struktur sekitar, seperti sendi temporomandibula dan tulang temporal utamanya fraktur temporal longitudinal. Evaluasi dilakukan pemeriksaan KAE, membran timpani (ruptur, hemotimpanum), pergerakan mandibular dan kelainan otologi lain. Pemeriksaan lanjutan diperlukan bila terdapat dugaan fraktur temporal (lihat Fraktur Temporal).
Barotrauma KAE
Kompresi pada KAE dapat terjadi bila udara terjebak di KAE akibat tekanan dari lateral KAE dengan fungsi tuba Eustachius yang normal. Penyebabnya serumen obturans, benda asing, eksostosis atau ear plug. Tekanan yang tinggi menyebabkan nyeri meningkat sesuai kedalaman, hipervaskular injeksi pada dinding KAE dan membran timpani bahkan dapat menjadi ruptur membran timpani. Terapi dilakukan pada faktor penyebabnya, hindari ear plug yang terlalu sempit dan modifikasi teknik menyelam.
Trauma Telinga Tengah
Trauma telinga tengah dapat disebabkan trauma langsung, barotrauma dan trauma kepala. Trauma langsung bisa disebabkan trauma tumpul dan trauma tajam. Barotrauma disebabkan karena menyelam, ledakan dan perjalanan udara. Kelainan telinga tengah akibat barotrauma terdiri dari 6 tingkatan :
Tk | Kelainan | Terapi |
0 | Tidak ada keluhan dan kelainan | Hindari 24-48 jam |
1 | Hiperemi dan retraksi | konservatif Dekongestan oral atau topikal, hindari menyelam 7-21 hari |
2 | Perdarahan intra timpani | |
3 | Perdarahan intra timpani lebih banyak | |
4 | Hematotimpani | |
5 | Perforasi membran timpani (100-400 mmHg) | Observasi atau operasi |
Trauma telinga tengah dapat menjadi tanda trauma kepala yang berat dan blast injury. Patologi yang dapat ditemukan pada trauma telinga tengah disampaikan dibawah ini
Ruptur membran timpani
Ruptur membran timpani dapat terjadi akibat tusukan atau perubahan tekanan pada KAE yang mendadak (ledakan, tamparan, penyelaman dan ketinggian) atau akibat benda asing kimia. Anamnesis tentang kejadian kecelakaan sangat penting untuk memperkirakan luasnya kerusakan. Pasien dapat mengeluhkan nyeri lokal, keluar darah dari telinga, pendengaran terganggu atau gangguan keseimbangan.
Inspeksi dilakukan pada telinga dan organ sekitarnya. Otomikroskopi dilakukan setelah debris, darah atau cairan pada KAE dibersihkan. Bila perdarahan belum berhenti dapat diberikan tampon atau lebih baik dengan absorbable sponge. Antibiotik quinolon tetes telinga bisa diberikan bila terdapat tanda infeksi. Pemberian paper patch atau absorbable sponge dapat mempercepat kesembuhan spontan dari ruptur.
Kesembuhan ruptur timpani tergantung dari luas perforasi, penyebab perforasi dan adanya infeksi sekunder. Ruptur yg kecil akibat trauma langsung pada membran timpani 88 % dapat sembuh spontan dalam 3-10 bulan tetapi pada ruptur akibat burn dan blast kesembuhan spontan kurang dari 50%.
Ruptur membran timpani perlu dievaluasi adanya kerusakan osikula dan telinga dalam terutama pada penderita dengan keluhan gangguan pendengaran dan keseimbangan.
Dislokasi osikula
Trauma kepala sedang dan berat dengan atau tanpa trauma temporal merupakan penyebab tersering terjadinya dislokasi osikula. Penyebab lain trauma penetrasi, barotrauma dan iatrogenik trauma seperti tindakan mastoidektomi dan injeksi intra timpani. Kelainan paling sering terjadi pada inkus yaitu displasemen inkus, dislokasi inkus, subluksasi incudostapedial joint atau complete incus separation.
Keluhan penurunan pendengaran setelah trauma merupakan gejala yang perlu dicurigai adanya dislokasi osikula. Hemotimpanum juga dapat ditemukan pada dislokasi osikula bila tanpa disertai ruptur membran timpani. Pemeriksaan audiometri awal dapat dilakukan kemudian diulang setelah perforasi atau hemotimpanum mengalami resolusi . Gangguan pendengaran pada frekuensi tinggi dicurigai adanya trauma pada koklea. Timpanogram dapat menunjukkan high compliance dengan high peaked (tipe Ad). Pilihan pemeriksaan untuk diagnosis dislokasi osikula adalah menggunakan HRCT potongan aksial dan coronal. Diagnosis pasti dilakukan dengan timpanotomi eksplorasi untuk melihat langsung kondisi tulang pendengaran.
Pemulihan pendengaran yang baik dapat terjadi alami karena terbentuknya jaringan fibrous pada incudostapedial joint. Masa konservatif ditunggu sampai 3 bulan untuk memutuskan perlunya dilakukan tindakan bedah. Tidak disarankan melakukan operasi lebih
awal dari 3 bulan karena edema jaringan pasca trauma, perdarahan dan rapuhnya jaringan penyembuhan sekitarnya. Gangguan pendengaran sensorineural memberikan prognosis yang kurang baik bila dilakukan operasi.
Hematoma kavum timpani/hemotimpanum
Hematoma kavum timpani atau hemotimpanum terjadi akibat perdarahan dalam kavum timpani dengan membran timpani yang utuh. Hal ini sering disebabkan karena barotrauma, trauma kepala yang sedang dan berat, gangguan pembekuan darah dan akibat pemasangan tampon hidung. Keluhan pasien terasa penuh, nyeri dan penurunan pendengaran. Pemeriksaan yang dilakukan otomikroskopi, evaluasi audiometri dan bila perlu dilakukan pemeriksaan radiologi. Tatalaksana hemotimpanum adalah konservatif dan umumnya resolusi hemotimpanum terjadi dalam 4 minggu
Trauma Telinga Dalam
Barotrauma
Barotrauma terjadi akibat perbedaan antara tekanan atmosfer dan telinga tengah. Hal ini dapat terjadi pada menyelam, perjalanan udara, bilik hipo- hiperbarik, perjalanan mendaki gunung dan pergerakan elevator yang cepat.
Hukum Boyle menyatakan bahwa suatu penurunan atau peningkatan pada tekanan lingkungan akan memperbesar atau menekan (secara berurutan) suatu volume gas dalam ruang tertutup. Bila gas terdapat dalam struktur yang lentur, maka struktur tersebut dapat rusak karena ekspansi ataupun kompresi.
Barotrauma paling sering terjadi pada telinga tengah terutama bila terjadi disfungsi tuba Eustachius atau oklusi KAE yang disebabkan serumen atau benda asing. Tuba Eustachius secara normal selalu menutup namun dapat terbuka pada gerakan menelan, mengunyah, menguap, dan dengan menuver valsava. Rinitis alergi serta berbagai variasi anatomis individual, semuanya merupakan predisposisi terhadap disfungsi tuba Eustachius.
Jika perbedaan tekanan antara rongga telinga tengah dan lingkungan sekitar menjadi terlalu besar (sekitar 90-100mmHg) maka bagian kartilaginosa dari tuba Eustachius akan sangat menciut. Hal ini disebabkan otot yang normal aktivitasnya tidak mampu membuka tuba. Pada keadaan ini terjadi tekanan negatif di rongga telinga tengah, sehingga cairan keluar dari pembuluh darah kapiler mukosa dan kadang-kadang disertai dengan ruptur pembuluh darah sehingga cairan di telinga tengah dan rongga mastoid tercampur darah. Jika tidak ditambahkan udara melalui tuba Eustachius untuk memulihkan volume telinga tengah, maka struktur-struktur dalam telinga tengah dan jaringan didekatnya akan rusak dengan makin berambahnya perbedaan tekanan. Terjadi rangkaian kerusakan yang dapat diperkirakan dengan berlanjutnya keadaan vakum relatif dalam rongga
telinga tengah. Mula-mula membran timpani tertarik ke dalam. Retraksi menyebabkan teregang dan pecahnya pembuluh-pembuluh darah kecil sehingga tampak gambaran injeksi dan bula hemoragik pada gendang telinga. Dengan makin meningkatnya tekanan, pembuluh-pembuluh darah kecil pada mukosa telinga tengah juga akan berdilatasi dan pecah, menimbulkan hemotimpanum. Gejala barotrauma pada telinga tengah: nyeri, rasa penuh dan berkurangnya pendengaran.
Diagnosis barotrauma ini dipastikan dengan otoskopi, gendang telinga tampak mengalami injeksi dengan pembentukan darah di belakang telinga Kadang-kadang membran timpani akan mengalami perforasi..14,15
Komplikasi barotrauma pada telinga berupa infeksi telinga akut, ketulian, ruptur atau perforasi membran timpani. Barotrauma telinga tengah tidak jarang menyebabkan kerusakan telinga dalam. Kerusakan telinga dalam merupakan masalah yang serius dan mungkin memerlukan pembedahan untuk mencegah kehilangan pendengaran yang menetap. Semua orang yang mengeluh kehilangan pendengaran dengan barotrauma harus menjalani uji pendengaran untuk memastikan bahwa gangguan pendengaran bersifat konduktif dan bukannya sensorineural. Episode-episode vertigo yang singkat yang terjadi saat naik atau turun disebut vertigo alternobarik. Hal ini sering dikeluhkan dan lazim menyertai barotrauma telinga tengah. Selama vertigo dapat mereda dalam beberapa detik, tidak diperlukan pengobatan ataupun evaluasi lebih lanjut.14,15
Pengobatan barotrauma diantaranya, jika selama penerbangan perubahan tekanan yang terjadi secara tiba-tiba menyebabkan rasa penuh atau nyeri di telinga, maka untuk menyamakan tekanan di telinga tengah dan mengurangi rasa nyeri bisa diatasi dengan menguap, mengunyah permen karet, menghisap permen, menelan. Mengunyah atau menelan bisa membantu membuka tuba eustachius sehingga udara bias keluar masuk untuk menyamakan tekanan dengan udara luar. Penderita infeksi atau alergi hidung dan tenggorokan bisa mengalami rasa nyeri ketika bepergian dengan pesawat terbang atau menyelam. Untuk meringankan penyumbatan dan membantu membuka tuba eustakhius diberikan dekongestan, misalnya fenileprin dalam bentuk tetes hidung atau obat semprot.15
Pencegahan barotrauma yaitu menggunakan dekongestan atau antihistamin sebelum mengalami perubahan ketinggian. Selama menderita infeksi saluran nafas atas atau selama serangan alergi sebaiknya tidak mengikuti penerbangan, menyelam, atau bepergian ke daerah denagan ketinggian yang berbeda.15
Fistula perilimfa
Trauma pada tulang stapes karena operasi stapes atau barotrauma dapat menyebabkan terjadinya fistula perilimf. Penderita mengeluhkan penurunan pendengaran yang mendadak atau progresif disertai dengan tinnitus,
diaskusis dan diskuilibrium. Pemeriksaan didapatkan Hennebert sign (vertigo with pneumatic otoscopy), audiometri serial dan radiologi utk menyingkirkan kelainan retrokoklea
Terapi dilakukan bedrest 7-10 hari, elevasi kepala, hindari batuk, mengejan, pemberian steroid dan operasi dilakukan pada keluhan yang menetap dan progresif.
Trauma Tulang Temporal
Fraktur tulang temporal pada umumnya terjadi akibat kecelakaan lalu lintas. Predominan pada laki-laki. Enam puluh persen termasuk dalam fratur terbuka dengan adanya bloody otorrhea, herniasi otak atau kebocoran liquor serebrospinal pada KAE, tuba Eustachius atau terjadi penetrasi.
Klasifikasi lama : berdasar orientasi relatif terhadap aksis petrosus ridge
Fraktur longitudinal
Fraktur ini memiliki garis fraktur yang paralel dengan aksis dari petrosus ridge. Merupakan jenis fraktur yang sering ditemukan pada trauma tulang temporal (70-90%). Fraktur terjadi akibat benturan dari lateral atau regio temporo-parietal dan melintasi foramen laserum paralel dengan tuba Eustachius dan IAC. Gejala yang sering didapatkan bloody ottorhea, penurunan pendengaran dan sebanyak 10-25% dari fraktur ini dijumpai paresis Fasialis. Fraktur longitudinal merupakan jenis fraktur yang paling sering dihubungkan dengan kejadian CSF leakage.
Gambar 2.1 Gambaran CT scan irisan aksial dengan panah hitam menunjukkan pemisahan incudomalleolar yang berasal dari otic capsule sparing pada fraktur tulang temporal longitudinal. (Dikutip dari: Ballenger’s Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. 18th ed. Connecticut : People’s Medical Publishing House-USA; 2016)
Fraktur transversal
Fraktur ini memiliki garis fraktur yang tegak lurus terhadap os Petrosus dan lebih jarang dijumpai (10-30%). Terjadi akibat benturan pada regio oksipito-frontal. Tanda dan gejala yang dijumpai adalah hemotimpanum, SNHL, vertigo, nistagmus dan paresis Fasialis pada 38- 50% kasus.
(A)
(B)
Gambar 2.2 Gambaran CT scan irisan aksial dari otic capsule violating fraktur transversal pada pasien dengan kelumpuhan saraf wajah. (A) Panah putih menunjukkan fraktur diastasis pada segmen labirin distal dari N. fasialis. Sendi incudo-malleolar masih utuh. (B) Garis fraktur yang berada dekat dengan kantung endolimfatik, memanjang melalui kanalis semisirkularis posterior dan membentuk hemotympanum yang menonjol. (Dikutip dari: Ballenger’s Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. 18th ed. Connecticut : People’s Medical Publishing House-USA; 2016)
Fraktur oblik dan kompleks
Beberapa ahli berdebat mengenai klasifikasi jenis fraktur ini, karena sebagian besar fraktur sebenarnya adalah oblik dibanding dengan longitudinal, atau bahkan sering fraktur campur / kompleks.
Gambar 2.3 Fraktur oblik dan kompleks pada os temporal. Fraktur obliq pada tulang temporal petrosus kiri dengan otic capsule violation dan pneumocephalus yang dekat dengan tulang temporal. (Dikutip dari: Basavaraju, et al.. Temporal Bone Fracture and its Classification : Retrospective Study of Incidence, Causes, Clinical Features, Complication and Outcome. International Journal of Anatomy, Radiology and Surgery2017)
Klasifikasi Baru Fraktur Temporal :
Klasifikasi berdasar anatomi diatas tampaknya tergeser dengan klasifikasi baru yang lebih berdasar pada keterlibatan telinga dalam (otic capsule), karena lebih dapat memberikan prediksi risiko potensial terjadinya komplikasi
Otic capsule sparing /non-petrous/non-labyrinthine
Fraktur temporal diklasifikasikan sebagai otic capsule sparing apabila kapsul otik tidak mengalami fraktur, umumnya mengenai skuama dari os temporal dan postero-superior dari KAE. Fraktur mengenai sel- sel mastoid dan kavum timpani, tegmen di area hiatus fasial, dan anterolateral dari kapsul otik. Pada umumnya akibat benturan pada regio temporoparietal.Tanda yang sering dijumpai yaitu ruptur membran timpani pada area notch of Rivinus dan merusak rantai osikel yang menyebabkan gangguan pendengaran jenis konduksi.
Gambar 2.4 Otic capsule sparing /non-petrous/non-labyrinthine. Fraktur Longitudinal tulang temporal petrous kiri dengan otic capsule violation, hemomastoid dan hemosinus sfenoid ((Dikutip dari: Basavaraju, et al.. Temporal Bone Fracture and its Classification : Retrospective Study of Incidence, Causes, Clinical Features, Complication and Outcome. International Journal of Anatomy, Radiology and Surgery2017))
Otic capsule violating (disrupting) /petrous/labyrinthine
Fraktur yang melintasi kapsul otik pada umumnya kelanjutan dari foramen magnum diseberang piramis os petrosus dan kapsul otik, sering juga melintasi foramen jugular, IAC dan foramen laserum. Sebagai akibat benturan dari regio oksipital tanpa melibatkan rantai osikel dan KAE. Angka kejadian paresis N. fasialis menjadi 2 kali lipat, risiko kebocoran liquor cerebrospinal (LCS) menjadi 4 kali lebih besar dan SNHL menjadi 7 kali lebih besar. Kapsul otik yang mengalami fraktur tidak dapat mengalami remodeling, sehingga angka terjadinya meningitis pun lebih besar dan kadang terjadi nya lambat. Angka kejadian hanya 2,5-5,8%. Bila dihubungkan dengan klasifikasi lama maka fraktur jenis ini lebih berorientasi pada longitudinal
Gambar 2.5 Otic capsule violating (disrupting) /petrous/labyrinthine. Fraktur transversal dari tulang petrous temporal kanan, otic capsule sparing ((Dikutip dari: Basavaraju, et al. Temporal Bone Fracture and its Classification : Retrospective Study of Incidence, Causes, Clinical Features, Complication and Outcome. International Journal of Anatomy, Radiology and Surgery2017))
Pemeriksaan penunjang adalah audiometri nada murni dan tutur, timpanometri dan tes vestibuler yang dikerjakan sesuai dengan kondisi mobilitas pasien. High-definition CT sebagai pilihan untuk diagnosis, namun kontroversi pada kasus yang tidak memerlukan tindakan operatif. MRI dikerjakan pada kecurigaan defisit neurologi dan trauma vaskular.
Terapi antibiotika dan steroid tidak menunjukkan manfaat, dan lebih ditujukan pada komplikasi yang terjadi, antara lain : Paresis N. Fasialis, kebocoran liquor serebrospinal, meningitis, ketulian, kolesteatoma, stenosis KAE, trauma vaskular dan vestibulopati
Fraktur Styloid
Styloid process merupakan bagian dari tulang temporal yang dapat mengalami fraktur. Fraktur isolated styloid biasanya berhubungan dengan terjadinya fraktur mandibula. Kasus ini merupakan kasus yang jarang dengan gejala klinis menyerupai eagle syndrome yaitu rasa nyeri tumpul di tenggorok, disfagia, sensasi benda asing , trismus, gangguan pergerakan mandibula, nyeri saat menengok ke satu sisi, otalgia, tinnitus, terdapat nyeri saat dilakukan palpasi di fosa tonsillar dan retromandibular. Gejala klinis tersebut merupakan akibat dari
tertekannya arteri karotis dan pleksus simpatis di sekitarnya. Gejala klinis lain yang mungkin ditemukan antara lain migrain, neuralgia trigeminalm glosofaringeal neuralgia dan sindrom arteri karotis. Nervus kranialis IX, X, XI dan XII dapat terkena trauma karena letaknya yang dekat dengan prosesus styloid.
CT scan memiliki peran penting dalam konfirmasi diagnosis dan memberikan gambaran segmen fraktur terhadap struktur sekitar. Tatalaksana awal fraktur styloid adalah konservatif dengan analgesic, muscle relaxanm dan diet lunak. Tatalaksana operatif dengan membuang fragmen fraktur dipertimbangkan bila keluhan tidak menghilang dengan jangka waktu yang cukup lama.
Komplikasi Fraktur Temporal
Paresis N. Fasialis akibat fraktur temporal
Manajemen paresis N.Fasialis sesuai algoritma (lihat modul Gangguan Nervus Fasialis):
Bagan 2.1 Algoritma manajemen paresis N. Fasialis (Dikutip dari: Bailey’s Head & Neck Surgery Otolaryngology.5th ed. Philadelphia : Lippincott Williams & Wilkins; 2014)
Kebocoran Liquor Cerebrospinal
Trauma temporal dengan kebocoran Liquor Cerebrospinal (LCS) berpotensi terhadap terjadinya meningitis. Angka kejadian 11-33% dari fraktur temporal. Pada jenis fraktur otic capsule sparing, kebocoran terjadi pada tegmen timpani
atau mastoid. Apabila terjadi ruptur membran timpani maka akan terjadi kebocoran pada KAE, dan bila melalui tuba Eustachius akan terjadi rinore liquor. Pada fraktur otic capsule violating, liquor keluar melalui fosa kranii posterior ke telinga tengah. Sebagian besar kasus resolusi spontan dalam waktu 5 hari dan 14 hari, kecuali dengan defek yang luas, Untuk kasus yang ringan tatalaksana dengan tirah baring dengan posisi kepala elevasi, mencegah terjadinya batuk, bersin dan mengejan. Apabila lebih dari 10 hari belum menutup spontan maka diperlukan tindakan bedah. Penelitian membuktikan penggunaan antibiotik tidak dapat mencegah terjadinya meningitis. Algoritma tatalaksana kebocoran liquor serebrospinal dapat dilihat pada bagan 2.2.
Bagan 2.2 Algoritma tatalaksana kebocoran liquor serebrospinal (Dikutip dari: Bailey’s Head & Neck Surgery Otolaryngology.5th ed. Philadelphia : Lippincott Williams & Wilkins; 2014)
Gangguan Pendengaran
Trauma temporal dapat menyebabkan gangguan pendengaran tipe konduksi, sensorineural atau campur. Gangguan dengar konduksi terjadi akibat hemotimpanum, ruptur membran timpani atau dislokasi rantai osikel. Pada otic capsule sparing fracture 20% dijumpai kerusakan rantai osikel, dimana sebagian besar adalah subluksasi sendi inkudostapedial, diikuti dislokasi inkus dan fraktur krura dari stapes. Pertimbangan timpanoplasti ( lihat modul timpanoplasti) bila tuli konduksi lebih besar dari 30dB dan menetap selama 2 bulan, kecuali bila telinga tersebut adalah the only hearing ear, atau bila hantaran tulang lebih buruk dari 30 dB pada telinga kontra lateral. Hemotimpanum 80% dapat diresorbsi spontan dalam waktu beberapa minggu sampai bulan.
Pada otic capsule disrupting terjadi tuli sensorineural. Patofisiologi adalah adanya robekan labirin membranosa, avulsi n. Koklearis, terputusnya vaskular pada koklea, perdarahan didalam koklea dan fistula perilimf, atau hidrops endolimf akibat obstruksi duktus endolimfatikus.
Kolesteatoma dan Stenosis KAE
Kolesteatoma dapat terbentuk beberapa tahun setelah kejadian fraktur temporal. Patogenesis terjadinya dapat melalui :
terjebaknya epitel pada garis fraktur,
epitel tumbuh didalam garis fraktur yang tidak menutup,
implantasi lapisan kulit membran timpani yang rupture pada kavum timpani,
terjebaknya epitel medial dari stenosis.
Tatalaksana lihat modul Kolesteatoma eksterna dan Stenosis KAE
Trauma Vaskular
Perdarahan dari arteri karotis intratemporal akibat laserasi merupakan komplikasi trauma tulang temporal yang mungkin dijumpai. Oklusi pembuluh darah dengan balon oleh radiologi intervensi dapat dilakukan selain tindakan bedah yaitu ligasi atau repair pembuluh darah oleh ahli bedah saraf.
Vestibulopati Perifer
Lihat modul NO
DAFTAR ISI
WAKTU PEMBELAJARAN 1
PERSIAPAN SESI 1
REFERENSI 1
KOMPETENSI 3
CONTOH KASUS DAN DISKUSI 4
TUJUAN PEMBELAJARAN 4
METODE PEMBELAJARAN 5
EVALUASI 5
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF 6
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR 8
DAFTAR TILIK 12
MATERI PRESENTASI 14
MATERI BAKU 24
MODUL I.5
OTOLOGI – GANGGUAN NERVUS FASIALIS
WAKTU PEMBELAJARAN
Proses pengembangan kompetensi | Alokasi waktu |
Sesi dalam kelas | 2 x 60 menit (classroom session) |
Sesi praktikum | 4 x 60 menit (coaching session) |
Sesi praktik dan pencapaian kompetensi | 4x 1 minggu (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Bahan penunjang presentasi:
Power point
Video
Kasus: kelainan nervus fasialis
Sarana dan alat bantu latih: (disesuaikan dengan pencapaian kompetensi)
Penuntun belajar (learning guide): terlampir.
Tempat belajar (training setting): instalasi rawat jalan, instalasi rawat inap, kamar operasi, ruang praktikum.
Model/manekin telinga atau tulang temporal atau cadaver.
Komputer/laptop.
In focus.
Smart TV
REFERENSI
Ballenger JJ. Manual of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery, 1st ed. BC Dekker ,London 2002
Byron J Bailey : Head and Neck Surgery Otolaryngology, 4th, J P Lippincot, Philadelphia, 2014
Efiaty Soepardy, Nurbaiti Iskandar : Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT, Ed 7, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2012.
Gacek RR. Ear Surgery. Springer, Berlin, 2008
Hildmann H, Sudhoff H. Middle Ear Surgery. Springer. Berlin. 2006
Lee K.J : Essential Otolaryngology Head and Neck Surgery, 10th ed, Mac Graw Hill, 2012
Probst R, Grevers G, Iro H : Basic Otorhinolaryngology , A Step by step Learning Guide,1st ed,Georg Thieme Verlag, Germany,2006
Monkhouse S, Cranial Nerve : Functional anatomy. Cambridge University Press, USA, 2006
Gulya AJ. Anatomy of the Temporal Bone and Skull Base in Glasscock- Sambaugh Surgery of the ear. Sixth Ed. People’s Medical Publishing House-USA, Shelton, Connecticut.2010
Anderson RG. Facial Nerve Disorders and Surgery In Selected Readings in Plastic Surgery. Vol 10 number 14, 2006. University of Texas Southwestern Medical Centre at Dallas.
Sainsbury D, Borschel G, Zuker R. Surgical Reanimation Techniques for Facial Palsy/Paralysis. In Open acces atlas of otolartngology, Head and Neck Operative Surgery, 2005. www.entdev.uct.ac.za.
Facial Nerve Anatomy and Clinical Applications Article Author:Sinali Seneviratne Article Editor: Bhupendra Patel Updated:1/24/2020 10:33:02 AM)
Dominika Dulak; Imama A. Naqvi.Last Update: October 27, 2018., (Neuroanatomy, Cranial Nerve 7 (Facial)
Danner CJ. Facial nerve paralysis. Otolaryngol. Clin. North Am. 2008 Jun;41(3):619-32, x. [PubMed]
Gothard KM, The amygdalo-motor pathways and the control of facial expressions. Frontiers in neuroscience. 2014; [PubMed PMID: 24678289
Kochhar A,Larian B,Azizzadeh B, Facial Nerve and Parotid Gland Anatomy. Otolaryngologic clinics of North America. 2016 Apr; [PubMed PMID: 27040583]
Facial nerve disorder Michigan Ear institute protocol
Facial Nerve Paralysis , Chapter 8 in Primer Care Otolaryngoloy, 3rd edition; American Academy of Otolaryngology Head –Neck Surgery.2011
Adam JC, Liberman M.C ; Anatomy of the Facial Nerve in Schuknecht’s Pathology of the Ear. 3rd Ed .pp.66-68.2010
Nadol J.B ; Neural Disorder in Schuknecht’s Pathology of the Ear. 3rd Ed pp.697- 713.2010
Andrews JC, Rubinstein EH, Lambert PR ‘The Facial Nerve’ in The Ear Comprehensive Otology; pp 205-219. 2010
Reitzen SD,Babb JS,Lalwani AK, Significance and reliability of the House- Brackmann grading system for regional facial nerve function. Otolaryngology-- head and neck surgery : official journal of American Academy of Otolaryngology- Head and Neck Surgery. 2009 Feb [PubMed PMID: 19201280]
Walker.N, Mistry W; Facial Nerve Palsy, Ed. Thomas Mazzoni, 2018
Gantz BJ, Redleaf MI,Perry BP ; Management of Bell’s Palsy and Ramsay Hunt Syndrome in Otologic Surgery; Brackmann, Shelton, Arriaga; Ed 3rd. 2010.
KOMPETENSI
Pengetahuan
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik mampu :
Menjelaskan anatomi, topografi, histologi, fisiologi dan embriologi nervus fasialis(K3,A3)
Menjelaskan pemeriksaan fungsi nervus fasialis : Klasifikasi House-Brackmann (K3,A3)
Menjelaskan etiologi dan macam gangguan nervus fasialis perifer (K3,A3)
Menjelaskan patofisiologi dan gambaran klinis gangguan nervus fasialis perifer (K3,A3)
Menjelaskan pemeriksaan objektif diagnosis tes-tes topografi:, tes pengecapan, gustometri, tes Schirmer, refleks stapedius (K3,A3)
Menjelaskan pemeriksaan penunjang diagnosis seperti:,foto mastoid, CT Scan
tulang temporal dan MRI (K3,A3)
Menjelaskan derajat kerusakan nervus fasialis perifer berdasarkan pemeriksaan elektrofisiologi ENoG dan EMG (K3,A3)
Melakukan dan menginterpretasikan hasil pemeriksaan objektif tes topografi seperti: tes pengecapan, gustometri, tes Schirmer, refleks stapedius (K3,P4,A3)
Menginterpretasikan hasil pemeriksaan penunjang diagnosis seperti: foto
mastoid, CT scan tulang temporal dan MRI (K3,P4,A3)
Menetapkan diagnosis dan diferensial diagnosis gangguan nervus fasialis perifer (K3,A3)
Menjelaskan dan melakukan penatalaksanaan pengobatan medikamentosa / konservatif gangguan nervus fasialis perifer (K3,P4,A3)
Menjelaskan dan melakukan penatalaksanaan pembedahan gangguan nervus fasialis perifer (K3,P2,A3)
Melakukan konsultasi penatalaksanaan ke disiplin ilmu lain (rehabilitasi medik, neurologi, bedah saraf) (K3,A3)
Menentukan prognosis gangguan nervus fasialis perifer (K3,A3)
Keterampilan
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam :
Mengenali gejala dan tanda gangguan nervus fasialis perifer
Melakukan anamnesis dan pemeriksaan pada gangguan nervus fasialis perifer
Membuat keputusan untuk pemeriksaan objektif seperti: tes pengecapan, gustometri, tes schirmer, refleks stapedius dan pemeriksaan penunjang foto mastoid, CT scan dan MRI serta konsultasi pemeriksaan neurologik seperti EnoG dan EMG
Membuat keputusan klinik dalam penatalaksanaan dan pengobatan yang tepat
CONTOH KASUS DAN DISKUSI
Kasus 1
Seorang perempuan usia 42 tahun dirujuk dari poliklinik bedah saraf ke poliklinik THT.KL dengan keluhan asimetri wajah sisi kiri. 2 minggu sebelumnya penderita mengalami trauma kepala akibat KLL dan 6 hari setelah KLL penderita merasakan wajah sisi kiri mencong. Pada pemeriksaan fisis keadaan umum penderita baik, tanda vital normal.
Soal :
Sebutkan pemeriksaan yang perlu dilakukan dalam penegakan diagnosis pada pasien tsb?
Apabila dalam pemeriksaan fungsi nervus fasialis didapatkan hasil berupa: pada keadaan istirahat wajah kanan kiri simetris, pada saat pergerakan: terdapat sedikit gerakan dahi kiri, kelopak mata kiri menutup rapat dengan usaha, mulut sedikit lemah dengan usaha maksimal?
Sebutkan derajat gangguan fungsi n.VII pada penderita tersebut di atas menurut kriteria House-Brackmann?
Sebutkan pemeriksaan topognostik apa saja yang dapat dilakukan dalam menilai letak dan posisi anatomi lesi ?
Jawaban
Pemeriksaan inspeksi: pre aurikuler, aurikula dan retro aurikuler kanan dan kiri, otoskopi: untuk menilai MAE kanan dan kiri; ukuran (normal,menyempit,membesar) dan bentuk (normal, tidak), membrane timpani kanan dan kiri , cone of light menilai intak, atau ada tidaknya robekan, adakah perdarahan di liang telinga atau di kavum timpani . Pemeriksaan fungsi nervus fasialis, pemeriksaan topognosis,pemeriksaan pendengaran (tes penala, audiometri nada murni)
Derajat III kriteria House-Brackmann
Tes Shirmer, tes Pengecap dan impedans
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan Pembelajaran Umum
Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan mampu untuk:
Mengenali gejala dan tanda gangguan nervus fasialis perifer
Melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisis tentang gangguan nervus fasialis perifer
Membuat keputusan untuk pemeriksaan penunjang seperti: foto mastoid, tes pengecapan, gustometri, tes Schirmer, refleks stapedius dan konsultasi pemeriksaan neurologik seperti ENoG dan EMG
Membuat keputusan klinik untuk pemberian pengobatan
Tujuan Pembelajaran Khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk:
Menjelaskan anatomi, topografi, histologi, fisiologi dan embriologi nervus fasialis(K3,A3)
Menjelaskan pemeriksaan fungsi nervus fasialis : Klasifikasi House-Brackmann (K3,A3)
Menjelaskan etiologi dan macam gangguan nervus fasialis perifer (K3,A3)
Menjelaskan patofisiologi dan gambaran klinis gangguan nervus fasialis perifer (K3,A3)
Menjelaskan pemeriksaan objektif diagnosis tes-tes topografi:, tes pengecapan, gustometri, tes Schirmer, refleks stapedius (K3,A3)
Menjelaskan pemeriksaan penunjang diagnosis seperti:,foto mastoid, CT Scan
tulang temporal dan MRI (K3,A3)
Menjelaskan derajat kerusakan nervus fasialis perifer berdasarkan pemeriksaan elektrofisiologi ENoG dan EMG (K3,A3)
Melakukan dan menginterpretasikan hasil pemeriksaan objektif tes topografi seperti: tes pengecapan, gustometri, tes Schirmer, refleks stapedius (K3,P4,A3)
Menginterpretasikan hasil pemeriksaan penunjang diagnosis seperti: foto
mastoid, CT scan tulang temporal dan MRI (K3,P4,A3)
Menetapkan diagnosis dan diferensial diagnosis gangguan nervus fasialis perifer (K3,A3)
Menjelaskan dan melakukan penatalaksanaan pengobatan medikamentosa / konservatif gangguan nervus fasialis perifer (K3,P4,A3)
Menjelaskan dan melakukan penatalaksanaan pembedahan gangguan nervus fasialis perifer (K3,P2,A3)
Melakukan konsultasi penatalaksanaan ke disiplin ilmu lain (rehabilitasi medik, neurologi, bedah saraf) (K3,A3)
Menentukan prognosis gangguan nervus fasialis perifer (K3,A3)
METODE PEMBELAJARAN
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Presentasi modul
Mini lecture
Journal reading
Bedside teaching
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pretest dalam bentuk tertulis dan lisan sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai pengetahuan awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri atas:
Menjelaskan anatomi, topografi, histologi, fisiologi dan embriologi nervus fasialis
Penegakan diagnosis gangguan nervus fasialis.
Penatalaksanaan gangguan nervus fasialis.
Selanjutnya dilakukan diskusi bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar.
Peserta didik diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar melalui metode bedside teaching kepada pasien sesungguhnya dengan pengawasan fasilitator dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut:
Perlu perbaikan: pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan.
Cukup: pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terlalu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien.
Baik: pelaksanaan benar dan baik (efisien).
Melakukan case based discussion (formulir penilaian terlampir).
Peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education).
Pencapaian pembelajaran:
Ujian akhir stase, setiap divisi/unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan.
Ujian nasional dilakukan pada akhir tahapan pendidikan spesialis oleh kolegium ilmu kesehatan THT-KL.
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Kuesioner:
Sebelum pembelajaran Soal:
Fungsi utama nervus fasialis adalah fungsi sensoris khusus (Benar/Salah)
Letak gangguan pada nervus fasialis dapat dinilai dengan pemeriksaan impedans (Benar/salah)
Salah satu penyakit yang menyebabkan gangguan nervus fasialis adalah lime disease (Benar/salah)
Bell’s palsy merupakan salah satu penyakit yang menyebabkan kelumpuhan nervus fasialis upper motor neuron (Benar/salah)
Tengah pembelajaran Soal :
Sebutkan segmen intratemporal dari nervus fasialis yang sering mengalami cedera iatrogenic pada operasi mastoidektomi ...............
Sebutkan jenis fraktur tulang temporal yang lebih sering mengakibatkan trauma pada nervus fasialis?................
Sebutkan tiga tercabangan nervus fasialis intratemporal?.............. Jawaban :
(1) segmen vertikal, (2) second genu
Fraktur transversal tulang temporal
(1) nervus petrosus superfisial (2) nervus stapedius (3) korda timpani
Akhir pembelajaran
Soal : Tipe kerusakan jaringan saraf Jawaban :
Menurut klasifikasi Sunderland, kerusakan saraf terbagi menjadi 5 kelas yaitu :
Cedera tingkat I atau blok konduksi (neuropraksia), terjadi bila konduksi impuls terhambat, membendung sebagian aliran transpor plasma. Bila penekanan dihilangkan, maka fungsinya akan segera kembali normal.
Cedera tingkat ll (aksonotmesis), terjadi bila aliran transpor aksoplasma total terhenti selama beberapa hari, sehingga terjadi diskontinuitas akson.
Cedera tingkat lll (neurotmesis) terjadi bila tekanan intraneural berlanjut dan terjadi kerusakan lapisan endoneurium. Pada kerusakan ini akan terjadi perbaikan tidak lengkap, karena akson memasuki lapisan endoneurium yang salah sehingga menyebabkan sinkinesis.
Cedera tingkat IV, terjadi total kerusakan pada perineum, hanya selubung perineum yang intak dan pemulihan spontan biasanya jelek.
Cedera tingkat V,terjadi kerusakan total secara anatomi saraf. Termasuk epineurium. Tidak ada spontan pemulihan dari kerusakan tanpa intervensi bedah.
Akhir pembelajaran
Soal : Pengambilan donor saraf pada nerve grafting untuk saraf fasialis. Jawaban :
Pengambilan graft berasal dari greater auricular nerve, sural nerve dan medial antebrachial cutaneous nerve yang merupakan potensial donor bagi saraf fasialis.
Greater auricular nerve
Diameter saraf tersebut cocok dengan diameter saraf fasialis, dan kerugian pada pasien hanya pada 2/3 inferior saraf dari aurikula dan mandibular. Dapat ditemukan dalam platysma dan berjalan diatas m.sternocleidomastoideus dari ERB’s poin paralele dan 1-2 cm posterior dari vena jugular eksterna.
Sural nerve
Letaknya yang terlalu jauh dari wajah tetap mempunyai diameter yang sama dengan saraf fasialis serta meninggalkan defek minimal. Biasanya defek pada sensory loss di tepi lateral dari kaki. Terletak posterior dari lateral malleus dan mempunyai cabang banyakserta panjang saraf dapat melebih panjang donor saraf yang lain.
Medial antebrachial cutaneous nerve
Untuk rekontruksi total saraf fasialis dari cabang utama ke perifer menggunakan medial antebrachial cutaneous nerve. Biasanya ada lebih dari empat cabang dan
menyediakan panjang yang signifikan dengan panjang saraf fasialis. Dari ganglion geniculatum ke tepi medial kelenjar parotis.
J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR
PENUNTUN BELAJAR
PROSEDUR TOPOGNOSTIK SEDERHANA SARAF FASIAL PERIFER
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.:
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya
atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
NAMA PESERTA: ...................................... TANGGAL: .................................
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR TOPOGNOSTIK | |||||
| |||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR TOPOGNOSTIK SEDERHANA | |||||
| |||||
III. PROSEDUR TOPOGNOSTIK SEDERANA | |||||
| |||||
2. untuk rasa pahit; 3. untuk rasa asin; 4. untuk rasa asam |
Penilaian Kinerja Keterampilan DAFTAR TILIK PENILAIAN
PROSEDUR TOPOGNOSTIK SEDERHANA SARAF FASIAL PERIFER
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini:
: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
X: Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
T/T: Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
PESERTA: TANGGAL :
KEGIATAN | NILAI | ||
1. Kaji ulang diagnosis. | |||
2. Persiapan tindakan. | |||
3. Melakukan tindakan sesuai dengan prosedur. | |||
4. Melakukan follow up setelah tindakan. | |||
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR PENUNTUN BELAJAR
PROSEDUR DEKOMPRESI NERVUS FASIAL PERIFER TRANSMASTOID
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.:
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya
atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang
sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
NAMA PESERTA: ...................................... TANGGAL: .................................
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR TOPOGNOSTIK | |||||
| |||||
II. PERSIAPAN TRANSMASTOID | PROSEDUR | DEKOMPRESI | NERVUS | FASIALIS | |
| |||||
III. PROSEDUR OPERASI | |||||
temporalis sampai mendekati tip mastoid | |||||
Mastoidektomi :
| |||||
dibentuk oleh N.VII medial , korda timpani dan annulus timpani di lateral dan short process inkus di bagian superior. Identifikasi inkus, inkudimaleolar join dan maleus serta periksa mobilitas osikel dan patensi aditus ad antrum. apabila selusuh segmen horisontal harus dilakukan dekompressi maka inkus juga dilakukan disartikulasi. Membuka Canalis fasialis dan sheath nerve
| |||||
PASCA OPERASI Instruksi pasca operasi
|
K. DAFTAR TILIK
DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA PROSEDUR DEKOMPRESI SARAF FASIAL PERIFER
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini:
: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau
panduan standar
X: Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
T/T: Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
PESERTA: TANGGAL :
KEGIATAN | NILAI | ||
1. Kaji ulang diagnosis. | |||
2. Persiapan tindakan. | |||
3. Melakukan tindakan sesuai dengan prosedur. | |||
4. Melakukan follow up setelah tindakan. | |||
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR PENUNTUN BELAJAR
PROSEDUR NERVE GRAFTING PADA NERVUS FASIAL PERIFER
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.:
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal
4 Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
NAMA PESERTA: ...................................... TANGGAL: .................................
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||||
| |||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR NERVE GRAFTING PADA NERVUS FASIAL PERIFER | |||||
- Pemberian antibiotika profilaksis preoperatif, secara injeksi | |||||
KEGIATAN | KASUS | ||||
- Menyiapkan mikroskop dan alat-alat yang akan digunakan | |||||
- Cuci tangan, memakai baju operasi dan glove yang steril | |||||
- Tindakan a dan antiseptik pada daerah operasi dan sekitarnya dengan menggunakan povidon iodine atau antiseptik lainnya | |||||
- Pasang kain penutup operasi steril pada pasien, di area operasi | |||||
- Posisi pasien: terlentang, tempat donor nerve apabila akan mengambil sural nerve maka kaki yang akan dipersiapkan. | |||||
III. PROSEDUR OPERASI
Instruksi pasca operasi
| |||||
KEGIATAN | KASUS | ||||
| |||||
Penilaian Kinerja Keterampilan DAFTAR TILIK PENILAIAN
PROSEDUR NERVE GRAFTING PADA NERVUS FASIAL PERIFER
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini:
: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau
panduan standar
X: Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
T/T: Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
NAMA PESERTA: ...................................... TANGGAL: .................................
KEGIATAN |
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF |
|
L. MATERI PRESENTASI
M. MATERI BAKU
Gangguan Nervus Fasialis Pendahuluan
Nervus fasialis adalah nervus kranialis ketujuh yang merupakan nervus kranialis terpanjang. Nervus fasialis berasal dari pons bagian bawah berjalan ke posterior dari nervus abdusen (N.VI) dan anterior terhadap nervus vestibulokoklear (N.VIII). Nervus fasialis melalui perjalanan yang kompleks pada daerah pontine, subarachnoid, intratemporal dan ekstratemporal.
Nervus ini sering mengalami gangguan karena mempunyai perjalanan yang panjang dan berkelok-kelok. Pada tulang temporal berada didalam saluran tulang yang sempit dan kaku oleh karena itu kelainan nervus fasial umumnya terletak di dalam tulang temporal.
Ekspresi wajah adalah bagian dari komunikasi sehari-hari. Penderita dengan disfungsi nervus fasialis akan mengalami tekanan emosional yang merupakan efek
sosial dari kelemahan wajah yg dialaminya dan ketidak pastian lamanya pemulihan. Terdapat pula resiko komplikasi fungsional terkait dengan hilangnya/terganggunya fungsi proteksi mata dan kompetensi oral.
Tik, kelemahan atau paralisis pada wajah merupakan suatu gejala yang diakibatkan oleh beberapa gangguan yang melibatkan nervus fasialis dan bukan penyakit yang terjadi pada wajah itu sendiri.
Gangguan ini dapat diakibatkan oleh berbagai macam kelainan yang berbeda, antara lain gangguan sirkulasi, trauma, infeksi atau tumor sehingga perlu dicari penyebabnya.
Gangguan nervus fasialis dapat disertai dengan gangguan pendengaran pada saat yang bersamaan. Kelainan ini dapat terkait atau tidak berkaitan dengan problem pada nervus fasialis.
Evaluasi disfungsi nervus fasialis diawali dengan anamnesis riwayat secara mendalam dan pemeriksaan kepala leher lengkap. Pencitraan dan pemeriksaan objektif dapat membantu diagnosis dan menentukan prognosis.
Anatomi, embriologi dan fisiologi nervus fasialis
Nervus fasialis terdiri dari ~ 10000 serat. Mayoritas serat tersebut (7000) adalah serat brankial motoric. Selebihnya terdistribusi diantara serat motoris viseral (visceral motor), sensori khusus (special sensory) dan sensoris umum (general sensory).
Disfungsi nervus fasialis ini dapat mengenai satu atau seluruh subdivisi tersebut di atas.
Terdapat tiga inti yang membentuk serat pada nervus fasialis, yang menginnervasi region kepala dan leher:
Nucleus fasialis motoris yang terletak pada kaudal pons.
Nucleus salivatori superior terletak pada dorsal nucleus motoris pada batang otak.
Nucleus traktus solitary pada medulla oblongata.
Struktur dan fungsi
Nervus fasialis membawa serat motoris dan sensoris. Komponen motoris merupakan komponen utama yang mensuplai otot-otot untuk ekspresi wajah oleh sebab itu sebagian besar kelainan nervus fasial menyebabkan berkurang atau hilangnya ekspresi wajah pada sisi yang terkena atau bahkan bisa tampak simetris pada keadaan istirahat. Kelainan yang lain bermanifestasi sebagai peningkatan atau tidak terkoordinasinya gerakan dari nervus fasialis.
Komponen motoris nervus fasialis terdiri dari upper motor neuron (UMN) dan lower motor neuron (LMN). UMN berada di dalam area motoric fasial dari gyrus presentral. Axon dari UMN berjalan sepanjang ipsilateral traktus kortikobulbar ke pons bagian bawah, dan sebagian besar seratnya menyilang ke sisi seberang (berlawanan) dan bersinapsis dengan LMN. LMN terbagi atas 4 subnukleus; dorsal, intermediate, lateral dan medial. Subnukleus dorsal menginnervasi otot wajah ipsilateral kuadran atas dan
mendapat input kortikobulbar dari kedua hemisfer. Subnukleus lateral hanya berhubungan dengan serat kortikobulbar kontralateral dan menginnervasi otot-otot ipsilateral kuadran bawah dari wajah.
Korteks serebri akan memberikan persarafan bilateral pada nucleus N.VII yang mengontrol otot dahi, tetapi hanya memberi persarafan kontra lateral pada otot wajah bagian bawah
Adanya perbedaan innervasi ini bisa terlihat pada kelumpuhan UMN hanya terjadi kelumpuhan pada wajah kontralateral (sisi berlawanan) kuadran bawah, sementara pada kelumpuhan LMN akan mengalami kelumpuhan setengah wajah ipsilateral (sesisi).
Untuk ekspresi wajah dalam keadaan emosional akan mengikuti jalur yang berbeda, melibatkan sistem limbik dan ekstra piramidal.
Fungsi N. fasialis terbagi atas
Serat efferent visceral khusus (special visceral efferent (SVE)) (brachiomotor) adalah komponen utama N. fasialis. Fungsi: innervasi otot-otot ekspresi wajah, m. stapedial, m. stilohyoid, dan m. digastric belly posterior. Neuron serat ini berlokasi pada nucleus fasialis pada tegmentum kaudal pons.
Serat efferent visceral umum (general visceral efferent) (GVE) (serat motoric parasympatik preganglion) meninggalkan N. fasialis sebagai nervus petrosus mayor dan N. korda timpani. Setelah bersinapsis didalam ganglion pterigopalatina, N. petrosus mayor mengatur innervasi parasimpatik postganglion ke kelenjar nasal, oral dan kelenjar palatina. Nervus petrosus mayor mensuplai kelenjar lakrimal dengan memberi percabangan ke cabang zigomatik dari N. maksilaris yang selanjutnya berjalan sebagai n. lakrimalis ke kelenjar lakrimalis. Serat postganglion ini menyebabkan vasodilatasi dan sekresi pada kelenjar lakrimal. Korda timpani bersinapsis didalam ganglion submandibularis dan kemudian GVE berjalan sebagai N. lingual, yang merupakan percabangan N. mandibularis. N. lingualis mencapai kelenjar submandibularis dan sublingualis dimana serat GVE menyebabkan vasodilatasi dan stimulasi sekresi. Neuron preganglion GVE berada pada nucleus superior salivatory pada batang otak.
Aferen visceral umum (general visceral afferent (GVA)) merupakan komponen yang sangat kecil/sedikit. Neuron sensori primer terdapat pada ganglion genikulatum dan menerima informasi sensoris melalui N. petrosus mayor dari rongga hidung, bagian palatum molle dan rongga
sinus paranasal. Serat memasuki batang otak bersama N. intermedius dan bersinapsis didalam nucleus traktus solitarius.
Aferen visceral khusus (special visceral afferent (SVA)) (primarily sensory) mendapatkan informasi pengecap dari dua pertiga anterior lidah. Seratnya berjalan bersama N. lingualis dan korda timpani. Merupakan neuron primer yang berada dalam ganglion genikulatum pada genu dari N. fasialis. Seratnya memasuki otak melaluin nervus intermedius dan berakhir pada nukleus ipsilateral dari traktus solitarius pada rostral medulla.
Afferent somatic umum (general somatic afferent (GSA)) mengumpulkan informasi sensoris dari aurikula telinga dan meatus akustikus eksternus dengan membentuk nervus aurikularis bersama dengan nervus vagus. Neuron sensoris primer berlokasi pada ganglion genikulatum. Proses sentralnya memasuki batang otak (brain-stem) bersama N. intermedius dan berakhir pada nucleus spinal dari nervus kranialis V (trigeminus).
Tabel 1. Komponen dan fungsi nervus fasialis.
Divisi | fungsi | Suplai organ |
Motorik | Fungsi volunter otot (efferent visceral-khusus) Reflex akustik | Otot-otot ekspresi wajah (facial mimetic musculature), m. digastrikus posterior, m. stylohioid, m. buccinator, m. occipitofrontalis, m. post-aurikularis m. stapedial |
Sensoris | bagian posterior membran timpani, dinding posterior liang telinga dan konka aurikula lapisan mukosa rongga hidung, rongga sinus paranasal, palatum dan faring. Sensasi pengecap dari 2/3 anterior lidah | |
Afferent somatic umum | ||
Afferent visceral-sensory | ||
Afferent sensorik khusus (aferen visceral khusus) | ||
Parasimpatis | Serat preganglion Efferent Visceral umum | Suplai sekretori Kelenjar lakrimal, submandibular dan sublingual, saliva minor |
Embriologi
Nervus fasialis berasal dari arkus brankial kedua (second branchial arch). Arkus brankial kedua juga membentuk otot-otot wajah, m. oksipitofrontalis, m. platisma,
m. stilohyoid, m. digastrikus belly posterior, m. stapedius dan m. aurikularis, yang keseluruhan mendapat innervasi dari n. fasialis.
Skema 1. Percabangan dan komponen nervus fasialis
Nervus
Inti motorik nervus fasialis terletak pada bagian ventolateral tegmentum pons bagian bawah. Dari sini berjalan kebelakang dan mengelilingi inti N VI dan membentuk genu internal nervus facialis, kemudian berjalan ke bagian-lateral batas kaudal pons pada sudut serebellopontin.
Terdiri dari dua bagian yaitu: nervus fasialis itu sendiri dan nervus intermedius Wrisberg. Nervus fasialis mengandung komponen motoris dan sedikit komponen aferen somatic umum (general somatic afferent), sementara n. intermedius membawa komponen sensoris dan viseromotoris parasimpatis. Saraf intermedius terletak pada bagian diantara N VII dan N VIII.
Perjalanan nervus fasialis dan hubungannya ke susunan saraf pusat dapat dibagi menjadi 3 segmen:
Intrakranial
Segmen pertama dari nervus fasialis adalah intracranial (segmen sisternal). Segmen ini terdiri dari dua akar saraf yang muncul dari pons. Akar motoric dan nervus intermedius yang akan melewati fossa kranii posterior sepanjang nervus
vestibulokoklearis (N.VIII) pada serebellopontin angle, sebelum saraf fasial meninggalkan batang otak, serabut motoriknya berbelok melingkari nucleus abducen dan membentuk "genu intenal"yang lalu berjalan bersama dengan saraf vestibulocochlearis.memasuki fundus meatus akustikus internus pada tulang petrosus.
Intratemporal
Segmen meatal (kanalikuler) (panjang 23-24 mm)
Bersama-sarma nevus VIII, n.fasialis berjalan pada kuadran antero-superior dari meatus akustikus internus ke fundus. Pada fundus terdapat plat tulang tipis yaitu krista falsiformis, yang membagi kanal menjadi kompartemen superior dan inferior. Tulang (vertical crest) yang memisahkan kanal bagian superior menjadi kompartemen anterior dan posterior disebut Bill’s bar.
Segmen labirin (panjang 2,5-5 mm)
Segmen ini berjalan di dalam kanalis fasialis (kanalis Fallopi) sesaat setelah nervus fasialis melalui meatus akustikus internus sampai ganglion genikulatum. Setelah melewati meatus akustikus internus, akar motorik nervus fasialis dan nervus intermedius memasuki kanalis fasialis dan kemudian berjalan antara koklea dan vestibule sebelum melekuk ke posterior pada ganglion genikulatum (genu pertama) yang merupakan tempat bergabungnya akar motoric dan nervus intermedius.
Segmen labirin membentuk tiga percabangan:
N. petrosus superfisial mayor (greater superficial petrosal) mengandung serat parasimpatik untuk glandula lakrimalis dan serat pengecap dari palatal
nervus petrosus minor (lesser petrosal nerve)
nervus petrosus eksterna.
Segmen timpani/ pars horisontalis (panjang 8-11 mm)
segmen ini bermula dari distal ganglion genikulatum. Berjalan pada kavum timpani, lurus sampai posteriot dan membentuk sudut 10o arah lateral. Berjalan medial terhadap prosessus kokhleariformis, tensor timpani, di atas oval window dan stapes dan tepat di bawah kanalis semisirkular lateral, membentuk penonjolan (bulging) pada regio vestibule. Tulang kanalis pada daerah ini tipis dan biasanya dehisensi.
Segmen mastoid/ pars vertikalis (panjang 10-14 mm)
segmen ini dimulai setelah segmen timpani, berjalan ke belakang, distal dari eminensia piramidalis pada kavum timpani. Perubahan posisi dari segmen timpani menjadi segmen mastoid disebut sebagai segmen piramidal atau genu eksterna (lateral/second genu). Bagian ini merupakan bagian paling posterior dari n.fasialis, sehingga mudah terkena trauma pada saat operasi mastoidektomi, selanjutnya segmen ini berjalan ke arah kaudal menuju foramen stilomastoid. Ketika melewati prosesus mastoid, nervus fasialis membentuk dua percabangan.
Pada regio eminensia piramidalis, nervus mengarah ke muskulus stapedius. Sementara di inferior korda timpani nervus terpisah dari segmen midvertical dari
N. fasialis pada sudut 150o yang kemudian berjalan kearah superior melalui tulang temporal. Pada level sekitar round window korda timpani memasuki telinga tengah tepat di medial annulus membrane timpani. Korda timpani berjalan superior dan anterior pada telinga tengah, lateral dari prosesus longus inkus dan medial dari prosesus longus maleus, dan meninggalkan telinga tengah melalui salurannya sendiri menuju korda anterior pada fisura petrotimpanik.
Ekstratemporal
Segmen ekstratemporal merupakan segmen terakhir dari n. fasialis. Segmen ini bermula ketika nervus fasialis keluar dari tulang temporal melalui foramen stilomastoid. Setelah keluar dari foramen stilomastoid nervus fasialis memberi dua percabangan; nervus aurikularis posterior (suplai m. aurikularis posterior, m. aurikularis superior, cabang occipital dari m. occipitofrontal) dan n. digastrikus (suplai m. digastrikus posterior dan m. stilohyoid). Segmen ini selanjutnyamemasuki kelenjar parotis. Nervus fasialis membentuk dua trunkus di dalam kelenjar parotis:
Trunkus temporofasial superior
Trunkus cervicofasial inferior
Kedua trunkus ini membentuk plexus parotis dan dari plexus ini muncul 5 cabang yaitu cabang temporal/frontal menginnervasi m.frontalis, m. orbicularis oris, dan otot wajah bagian atas, cabang zigomatik menginnervasi otot wajah bagian tengah
, cabang buccal innervasi otot pipi termasuk m. buccinator, cabang mandibular untuk innervasi otot wajah bagian bawah, dan cervical innervasi otot dibawah dagu dan sekitarnya serta m. platisma.
Suplai darah dan limfatik
UMN dari N. fasialis berlokasi pada gyrus presentral mendapatkan suplai darah dari arteri serebral media, sementara nucleus fasialis yg mengandung LMN pada pons mendapat suplai dari arteri serebellar anterior inferior yang merupakan cabang dari arteri basilaris. Setelah keluar dari batang otak menuju meatus akustikus internus, N.fasialis mendapatkan suplai darah dari arteri auditori interna, yang sering merupakan percabangan dari arteri serebellar anterior inferior atau terkadang berasal langsung dari arteri basilaris. Keduanya memberi suplai darah ke N.fasialis di dalam kanalis fasialis cabang petrosus dari arteri meningea media dan arteri stilomastoid. Suplai darah utama dari n.fasialis berasal dari cabang arteri stilomastoid. Pada kelenjar parotis, N.fasialis mendapatkan perdarahan dari arteri fasial transversal dan arteri temporalis superfisial termasuk juga dari arteri occipital serta arteri auricular posterior.
Gambar Perjalanan dan percabangan nervus fasialis
Struktur nervus fasialis
Pada sudut serebellopontin nervus fasialis terdiri dari monofasikuler dengan hanya dilindungi oleh lapisan perinerium yang berasal dari jaringan pia dan arachnoid. Pada saat nervus berada pada meatus akustikus internus mulai terbentuk lapisan epinerium. Pada saat nervus berjalan pada rongga telinga tengah dan mastoid lapisan perinerium dan epinerium mulai menebal. Ketika keluar dari foramen stilomastoid, nervus menjadi polifasikuler dan dilindungi oleh pembungkus nervus yang kokoh.
Komponen nervus terdiri dari:
Endonerium
Lapisan sekeliling tiap serat nervus (axon)
Mengatur regenerasi pipa endoneural
Apabila terdapat kerusakan prognosis jelek Perinerium
pembungkus sekelompok serat nervus (fasikula)
Pengatur kekuatan tekanan
Mencegah infeksi pada nervus
Mengatur tekanan
Epinerium
membungkus seluruh nervus
Mengatur nutrisi nervus
Gambar 2. Potong lintang nervus perifer
Kelainan nervus fasialis
Abnormalitas fungsi nervus fasialis dapat disebabkan oleh gangguan sirkulasi, infeksi, tumor atau trauma. Evaluasi mendalam diperlukan untuk bisa mengetahui penyebab kelainan dan lokalisasi area nervus yang terkena/terlibat.
Diperlukan diagnosis topografi dari setiap segmen saraf tersebut yang akan digunakan sebagai dasar penatalaksanaan gangguan saraf fasial perifer.
Pendekatan diagnostik sistematik dan pengenalan tanda-tanda penting dalam penilaian dan penatalaksanaan kelumpuhan nervus fasialis perlu dilakukan. Anamnesia (riwayat) yang terperinci, pemeriksaan fisis meyeluruh kepala leher; otoskopi, pemeriksaan kulit regional, kelenjar limfatik dan kelenjar parotis. Pemeriksaan neurologic lengkap, test objektif, pencitraan dan pemeriksaan penunjang lain yang relevan untuk konfirmasi dan prognosis.
Berbagai macam diagnosis banding dari kelemahan nervus fasialis
Kategori | Etiologi |
kongenital | Mobius syndrome, Melkersson-Rosenthal syndrome |
trauma | Fraktur, trauma perinatal, trauma iatrogenik |
Inflamasi/infeksi | Herpes Zoster otikus, otitis media, mastoiditis, otitis eksterna maligna, tuberculosis, lyme diasease, HIV/AIDS, mononukleosis |
Neoplasia | Kolesteatoma, vestibuler schwanoma, facial nerve schwanoma, meningioma, tumor glomus, karsinoma, leukemia, histiositosis, rhabdomiosarkoma |
Metabolic/sistemik | Diabetes mellitus, hipertiroidisme, sarkoidosis, penyakit autoimun |
neurologik | Multiple sclerosis, Guillain-Barre syndrome |
History | Physical examination | Laboratory studies | Other consideration |
Onset Duration Rate of progression Recurrent Familial Associated symptoms Major medical illness Previous surgery | Complete head and neck examination Microscopic otoscopy Upper aerodigestive tract examination Cranial nerve ass. (III-XII) Palpation of Parotid gland & neck Neurologic exam. Cerebellar sign Motor Facial palsy Complete vs incomplete paresis Segmental vs uniform involvement Unilateral vs bilateral Schirmer test | Pure tone & speech audiometry Electrophisiology tests Nerve excitability test (NET) Electroneurography (ENoG) Electromyography (EMG) Radiographic study CT Scan Magnetic Resonance Imaging (MRI) | Complete blood count & differential with sedimentation rate Serum antibody tests (lyme titers) Lumbar puncture with CSF assay |
Riwayat (anamnesis)
Elemen yang paling penting dari anamnesis adalah terkait onset, progresivitas dan durasi dari kelumpuhan wajah. Kelemahan wajah yang terjadi dalam kurun waktu 48 sampai 72 jam yang kemudian stabil berbeda dibandingkan dengan kasus yang terjadi perlahan lahan dalam beberapa minggu. Kelemahan wajah yang terjadi sesaat terjadinya trauma atau pembedahan akan mempunyai prognosis yang berbeda dengan kasus kelumpuhan yang onsetnya lebih lambat. Adalah penting juga untuk mengenali progresifitas dari suatu kelumpuhan inkomplit menjadi kelumpuhan total.
Contohnya pada Bell’s palsy, kelumpuhan muncul secara tiba-tiba dan stabil setelah hari ke 2-3. Kelemahan yang progresif biasanya tidak terkait dengan diagnosis ini. Demikian
pula kelumpuhan wajah yang berulang harusnya memperkuat dugaan adanya suatu neoplasma pada N. fasialis. Gejala yang menyertai dapat juga membantu mempersempit diagnosis; disertai neuropati kranial merupakan petunjuk bagi kita adanya etiologi sindroma Ramsay-Hunt atau kelainan pada sistem saraf pusat, sementara apabila terdapat riwayat otitis media merupakan petunjuk etiologi yang berasal dari telinga tengah dan mastoid. Adanya gejala pada mata seperti mata kering dan nyeri terkait menurunnya produksi air mata atau penutupan palpebra mata yang tidak komplit.
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan lengkap kepala leher harus dilakukan, termasuk pemeriksaan fungsi nervus kranialis. Pemeriksaan telinga untuk menyingkirkan adanya vesikel atau kelainan pada telinga tengah seperti infeksi atau neoplasma. Palpasi leher terhadap adanya limfadenopathi atau massa parotis.
Evaluasi fungsi N. fasialis diperlukan untuk menentukan letak lesi (perifer atau sentral), beratnya kelumpuhan dan prognosis. Pemeriksaan meliputi fungsi motorik otot wajah, dimulai dengan pemeriksaan wajah saat istirahat untuk deteksi adanya abnormalitas dari tonus motoris, ada tidaknya sinkinesis atau hemispasme. Percabangan nervus fasialis dilakukan evaluasi tersendiri. Wajah bagian atas mendapat innervasi dari kedua kortex dan terpisahnya fungsi wajah bagian atas biasanya mengindikasikan patologi sentral atau supranuklear. Pemeriksaan lain adalah tes topografi dan tes elektrofisiologik.
Lesi LMN : bisa terletak di pons, disudut serebelo pontin, tulang petrosus, cavum tympani, pada foramen stilomastoideus dan pada cabang-cabang tepi nervus facialis. Lesi di pons yang terletak disekitar n. abducens bisa merusak akar n. facialis, inti n.abducens dan fasikulus longitudinalis medialis. Karena itu paralysis facialis LMN tersebut akan disertai kelumpuhan rektus lateris atau gerakan melirik ke arah lesi. Proses patologi disekitar meatus akuatikus internus akan melibatkan nervus facialis dan akustikus sehingga paralysis facialis LMN akan timbul berbarengan dengan tuli perseptif ipsilateral dan ageusia ( tidak bisa mengecap dengan 2/3 bagian depan lidah).
Pemeriksaan Fungsi Motorik
Terdapat beberapa macam sistem penilaian fungsi motorik N. fasialis. Sistem yang paling sering digunakan adalah sistem grading House-Brackmann yaitu pemeriksaan gerakan dan ekspresi wajah. Terdapat 6 skala penilaian evaluasi regional dan telah diadopsi oleh American Academy of Otorhinolaryngolog- Head and Neck Surgery 1985. Pada penilaian dengan sistem House-Brackmann:
Derajat 1 fungsi motorik wajah normal di semua area.
Derajat 2 disfungsi ringan, saat istirahat tonus otot normal dan simetris, gerakan kerutan dahi normal atau terdapat gangguan ringan/berkurang, mata dapat menutup sempurna dengan usaha minimal, gerakan mulut asimetri minimal.
Derajat 3 disfungsi sedang, saat istirahat tonus otot normal dan simetris dapat terlihat sinkinesis, kontraktur, atau spasme hemifasial yang tidak berat, gerakan
kerutan dahi terlihat gangguan ringan-sedang, mata dapat menutup sempurna dengan usaha, gerakan mulut lemah dengan usaha maksimal.
Derajat 4 disfungsi sedang berat, terdapat kelemahan yang jelas pada satu sisi wajah, saat istirahat tonus otot normal dan simetris, , tidak terdapat gerakan kerutan dahi, mata tidak dapat menutup sempurna, gerakan mulut asimetris dengan usaha maksimal.
Derajat 5 disfungsi berat, saat istirahat wajah asimetris, tidak terdapat gerakan kerutan dahi, mata tidak dapat menutup sempurna, gerakan mulut minimal.
Derajat 6, paralisis total.
House-Brackmann Facial Nerve Grading System
(dikutip dari Essential otolaryngology, K.J.Lee)
Tes topografik n.fasialis
Lesi perifer merupakan penyebab tersering dari paralisis N. fasialis, oleh karena itu untuk membantu dalam menentukan anatomi letak lesi dapat dilakukan test topografi yaitu: tes Schirmer, reflex stapedius dan tes pengecap walaupun sulit mendapatkan hasil yang akurat namun mudah dalam prosedur pelaksanaannya.
Tes Schirmer
Kerusakan N. fasialis dapat mengganggu fungsi lakrimasi (melalui n. intermedius dan n. Petrosus superfisial mayor). Kertas strip ditempatkan pada fornix konjungtiva pada kedua mata secara bersamaan (dapat menggunakan anastesi local tetes mata). Kelopak mata dalam keadaan tertutup selama 5 menit kemudian panjang kedua kertas strip yang basah dibandingkan. Hasil test dibaca normal apabila kertas yang basah 15 mm atau lebih. Gangguan fungsi ringan apabila kertas yang basah 9-14 mm dan gangguan fungsi sedang dan berat apabila tercatat kurang dari 9 mm.
Test Pendengaran (reflex stapedius)
Tes pendengaran dilakukan untuk mengetahui apakah kelainan nervus fasialis melibatkan mekanisme pendengaran yang rumit. Apabila terjadi kelumpuhan total pada wajah (yang berat), tes pendengaran khusus (reflex stapedius) dapat membantu menunjukan lokasi area yang bermasalah.
Refleks kontraksi otot stapedius terjadi ketika telinga kontralateral dirangsang dengan bunyi yang keras akibatnya akan mengubah compliance telinga tengah. Kejadian ini dapat diukur melalui audiometri impedans. Jika lesi melibatkan cabang saraf proksimal yang mengarah ke otot stapedius, otot tersebut tidak akan berkontraksi dan tidak ada perubahan impedans.
Audiometri nada murni dan audiometri tutur penting untuk mengetahui jenis dan derajat gangguan pendengaran
Tes Uji Pengecapan
Pemeriksaan pengecapan merupakan suatu indikator yang dapat diandalkan dalam mendeteksi terganggunya fungsi saraf korda timpani. Hilangnya pengecapan akibat cedera saraf korda timpani, terbatas pada duapertiga anterior lidah dan berakhir pada garis tengah.
Caranya dengan menyuruh penderita menjulurkan lidah, kemudian meletakkan pada lidah penderita bubuk gula, kina, sitrat atau garam begiliran dan diselingi istirahat. Lalu penderita disuruh menyatakan pengecapan yang dirasakan dengan isyarat., misalnya 1. untuk rasa manis; 2. untuk rasa pahit; 3. untuk rasa asin; 4. untuk rasa asam.
Electrogustometry
Lidah dirangsang secara elektrik untuk memproduksi rasa metalik dan kedua sisi lidah dibandingkan.
Level lesi | lokasi | efek |
Infrakordal | Inferior cabang korda timpani | Pengecap, lakrimasi dan reflex stapedial normal |
infrastapedial | Antara korda timpani dan N. stapedius | Pengecap terganggu. Reflex Stapedius dan lakrimasi normal |
Suprastapedial | Antara N. stapedius dan ganglion genikulatum | Pengecap dan reflex stapedius terganggu. Lakrimasi normal |
supragenikulatum | Ganglion genikulatum dan nucleus motor | Pengecap, lakrimasi dan reflex stapedius terganggu |
Skema untuk diagnosis topografik lesi pada kelumpuhan fasialis menurut Jepsen 1965 dikutip dari Schuknecht’s Pathology of the Ear Ed ketiga 2010
Balance Test
Tes keseimbangan dengan test EnG (electronystagmography) dianjurkan dilakukan pada kasus-kasus yang memerlukan klarifikasi penyebab dan lokasi kelainan nervus fasialis. Test elektrofisiologi
Terdapat tiga test untuk menilai fungsi n. fasialis: nerve excitability test, electroneurography and electromyography.
Nerve Excitability Test (NET)
Test ini membantu kita dalam menilai ekstensi kerusakan serat nervus pada kasus paralisis total. Hasil test bisa menunjukan normal pada paralisis yang mengindikasikan harapan yang lebih baik untuk kembalinya fungsi.
Pada beberapa test eksitabilitas mungkin diperlukan pengulangan setiap hari atau untuk mendeteksi adanya perubahan yang mungkin saja mengindikasikan suatu perburukan progresif. Bantuan alat stimulator n. fasial yang mempunyai kekuatan 22,5 volt dan mengalirkan arus listrik secara konstan dengan ambang 0-10 mA sangat diperlukan. Pemeriksaan ini secara perkutaneus yang dimulai dari sudut rahang atau foramen stylomastoid
Maximal stimulation test (MST)
Pemeriksaan ini sangat baik untuk mengevaluasi degenerasi n.fasialis sesaat setelah onset. Pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan menggunakan alat stimulus saraf yang tersedia secara komersil. Pemeriksaan dilakukan 5 area wajah yaitu : dahi dan alis mata, area periorbita, bibir atas dan ala nasi, bibir bawah area servikal dan platysma.
Electroneurography (ENoG)
Pemeriksaan ini disebut juga evoked electomyographry (EEMG) Electroneurography melibatkan penggunaan computer dalam mengukur respon otot terhadap stimulasi elektrik dari nervus fasialis. Alat ini merekam electrode yang diletakkan pada wajah dan
N. fasialis distimulasi dengan perangsangan elektrik bermuatan kecil. Kontraksi otot direkam oleh computer digunakan untuk menghitung secara kuantitatif persentase serabut saraf yang masih respon terhadap rangsang elektrik.
Electromyography (EMG)
Electromyography dapat menilai kasus-kasus dengan paralisis yang sudah berlang cukup lama. Test ini dapat membantu kita untuk mengetahui apakah saraf atau otot mengalami penyembuhan. Jarum halus digunakan untuk mengukur respon-respon.
Konsultasi pemeriksaan neurologik seperti EMG dilakukan untuk menentukan derajat kerusakan nervus fasialis perifer seperti neuropraxia, axonotmesis dan neurotmesis dan pada kasus Bell’s palsy digunakan sebagai prediktor kesembuhan.
Klasifikasi kerusakan nervus
Klasifikasi kerusakan nervus perifer pertamakali dipresentasikan oleh Seddon dalam istilah neuropraxia, axonotmesis dan neurotmesis.
Kemudian Sunderland membuatnya secara terperinci sbb: Class I (Neuropraxia)
terhambatnya konduksi, disebabkan oleh hambatan aliran axoplasmik
perbaikan penuh (full recovery)
Class II (Axonotmesis)
axon mengalami kerusakan
terjadi degenerasi Wallerian pada distal dari kerusakan pipa endoneural tetap intak
ada harapan perbaikan (expected full recover) Class III (Neurotmesis)
pipa neural mengalami kerusakan prognosis jelek (incomplete recovery)
Jika terjadi regenerasi, kemungkinan besar terjadi synkinesis (gerakan otot abnormal dimana terjadi kontraksi abnormal yang terjadi bersamaan)
Class IV Transeksi parsial
Kerusakan axon, pipa endonerium dan perinerium Epineurium tetap intak
fungsional outcome jelek dengan resiko sinkinesis lebih tinggi Class V kerusakan total
Kerusakan seluruh nervus
kemungkinan kecil terjadi regenerasi (no recovery) Resiko terbentuk formasi neuroma
Bagan. Klasifikasi Seddon-Sunderland untuk kerusakan saraf
Bagan. Pemeriksaan elektrofisiologis nervus fasialis
Pemeriksaan Penunjang lain X-Ray
Pemeriksaan penunjang meliputi radiologis mastoid dan tomografi komputer (CT Scan) high resolusi atau MRI dengan gadolinium biasanya dilakukan untuk melihat adanya infeksi, tumor atau fraktur tulang
Diagnosis letak lesi berdasar level kerusakan
Level of impairment | Signs | Diagnosis |
Supranuclear | Good tone, intact upper face, presence of spontaneous smile, neurologic deficits | Cerebrovascular accident, trauma |
Nuclear | Involvement of the VI and VII cranial nerves, corticospinal tract signs | Vascular or neoplastic, poliomyelitis, multiple sclerosis, enchepalitis |
Angle | Involment of vestibular and cochlear portions of the VIII cranial nerve (facial nerve, particularly taste, lacrimation and salivation may be altered); the V and later IX, X and XI cranial nerves may become impaired | Neurinoma, meningioma, fracture, cholesteatoma, arachnoid cyst |
Geniculate ganglion | Facial paralysis, hypercusis alteration of lacrimal,salivation and taste | Herpes zoster oticus, fracture, bell’s palsy, cholesteatoma, neurinoma, arteriouvenous malformation, meningioma |
Tympanomastoid | Fasial paralysis, alternation in salivation and taste, lacrimation intact | Bell’s palsy, cholesteatoma, fracture, infection |
Extracranial | Facial paralysis (usually a branch is spared), salivation and taste intact, deviation of jaw to normal side | Trauma, tumor, parotid carcinoma, pharyngeal carcinoma |
(dikutip dari Essential otolaryngology, K.J.Lee)
Etiologi
Penyebab kelumpuhan nervus fasialis (LMN) lainnya adalah; infeksi telinga tengah (OMSA/ OMSK), mastoiditis, kolesteatoma, iatrogenic (tympanoplasti/mastoidektomi),
Lyme disease, HIV AIDS, penyakit inflamatori seperti sarcoidosis, Guillain Barre Syndrome (gangguan demielinisasi) , gangguan vascular seperti pada hemifacial spasm yang disebabkan oleh kompressi neurovascular, thermal injuries dan neoplasma.
Bell’s Palsy (idiopatik) (70%)
Merupakan kelumpuhan N. fasialis (lower motor neuron)yang paling sering ditemukan, sekitar 80% dari semua kasus. Insidens sindrom ini sekitar 23 kasus per 100.000 orang setiap tahun. Dikenal juga dengan nama unilateral paralisis fasialis idiopatik.
Sindrom ini pertama sekali dideskripsikan pada tahun 1821 oleh seorang anatomis dan dokter bedah bernama Sir Charles Bell.
Patogenesis terjadinya parese saraf fasialis
Terdapat lima teori yang kemungkinan menyebabkan terjadinya Bell’ s palsy, yaitu iskemik vaskular, virus, bakteri, herediter, dan imunologi. Salah satu teori yaitu terjadinya edema yang disebabkan oleh infeksi virus. Penelitian dengan menggunakan Polymerase chain reaction menunjukan infeksi herpes pada mayoritas kasus. Bell’s palsy dapat dibedakan dengan paralisis fasialis karena penyebab lain dengan adanya gambaran onset yang cepat/ tiba-tiba sekitar beberapa jam tanpa disertai adanya trauma, dan biasanya penderita menyampaikan gejala terjadi sesaat terbangun dari tidur. Gambaran lainnya adalah tidak terdapatnya kelainan nervus kranialis lain, motoris dan sensoris ekstremitas dalam batas normal.
adalah jenis paralisisnya sangar sering menyembuh sendiri (self-limiting) dan biasanya penderita membaik dalam hitungan hari sampai minggu. Namun gejala residual dapat pula berupa kelemahan wajah, sinkinesis, lakrimasi dan kontraktur.
Manifestasi klinis Bell’s palsy dapat berbeda berdasarkan letak lesi. Bila lesi di foramen stylomastoid, dapat terjadi gangguan komplit yang menyebabkan paralisis semua otot ekspresi wajah. Saat menutup kelopak mata, kedua mata melakukan rotasi ke atas (Bell’s phenomenon). Manifestasi komplit lainnya ditunjukkan dengan makanan yang tersimpan antara gigi dan pipi akibat gangguan gerakan wajah dan air liur keluar dari sudut mulut. Lesi di kanalis fasialis (di atas persimpangan dengan korda timpani tetapi di bawah ganglion genikulatum) akan menunjuk semua gejala seperti lesi di foramen stylomastoid ditambah pengecapan menghilang pada dua per tiga anterior lidah pada sisi yang sama. Bila lesi terdapat di saraf yang menuju ke muskulus stapedius dapat terjadi hiperakusis (sensitivitas nyeri terhadap suara keras). Selain itu, lesi pada ganglion genikulatum akan menimbulkan gangguan lakrimasi dan berkurangnya salivasi serta dapat melibatkan saraf kedelapan. Bila terdapat hiperakusis, saat stetoskop diletakkan pada telinga pasien maka suara akan terdengar lebih jelas pada sisi cabang muskulus stapedius yang paralisis.
Tata laksana parese n fasialis pada Bell’s palsy
Bagan. Algoritma Bell’s palsy (dikutip dari Surgery of the Ear, Glascock)
Terapi lain yang dianjurkan adalah dalam tiga hari adalah steroid oral 60 mg prednisolone/hari dan antiviral tampaknya meningkatkan frekuensi penyembuhan komplit. (Primary care otolaryngology; American Academy of Otolaryngology Head and Neck Surgery, 3 rd Ed. 2011)
Lakukan tes elektrofisiologi tiap hari sampai :
Ambang respon dari sisi paralisis meningkat hingga 4 mA lebih besar dari sisi normal
Ada perbaikan sebagian fungsi nervus fasialis
Bila (1) ditemukan, dekompresi nervus fasialis mulai dari foramen stilomastoid sampai level kerusakan harus dipertimbangkan. Dekompresi fossa media harus dilakukan bila kerusakan melibatkan nervus petrosus superfisial mayor.
Hati-hati dengan pencatatan riwayat ketika dalam pengobatan. Meningkatnya onset gejala, paralisis tidak menunjukan perbaikan dalam waktu 6-8 minggu, gejala berulang pada sisi yang sama maka perlu dilakukan pemeriksaan MRI gadolinium. Penelitain menunjukan 30% penderita yang didiagnosis dengan
Bell’s palsy idiopatik ternyata ditemukan penyebab lain dari paralisis fasialisnya, diantaranya adalah neuroma, malignansi kelenjar parotis atau tumor cerebello-pontine angle.
Ramsay-Hunt’s Syndrome (infeksi virus) (4,5- 7%)
Sindrom lain yang menyebabkan paralisis N. fasialis adalah Ramsay-Hunt’s atau herpes zoster oticus. Gejala yang dikeluhkan pada kasus ini adalah paralisisi N. fasialis yang disertai dengan nyeri berat dan erupsi vesikuler pada kanalis akustikus eksternus dan aurikula sesuai distribusi n. fasialis. Lesi vesikuler umumnya, tapi tidak selalu mengawali kelumpuhan N. fasialis. Vesikel kecil (terkadang tidak tampak) dan tidak nyeri. Prognosis penyembuhan lebih jelek dari Bell’s palsy. Terapi dengan antiviral agent dan steroid oral merupakan terapi standar., analgesia + acyclovir 800 mg 5 kali pemberian perhari dalam masa 7-10 hari.
Infeksi bakteri
Otitis media akut dapat menyebabkan kelemahan pada kanalis fasialis yang akan mengakibatkan paralisis nervus. Penyebab lain dari kelumpuhan N. fasialis adalah kolesteatoma dan otitis eksterna maligna. Salah satu penyebab yang jarang ditemukan adalah Lyme disease, yang terjadi akibat infeksi dan gigitan kutudengan gejala fatigue, sakit kepala arthralgia, eritema migran yang menyertai kelumpuhan n. fasialis,
terjadi antara 1-2 minggu setelah terpapar oleh kutu (‘tick’). Mioperikarditis dan artritis dapat terjadi sebagai bagian dari sindrom ini. Pemeriksaan serologi IgM+ IgG merupakan pemeriksaan yang penting. Pada penderita dengan riwayat eritema migran dan pernah melakukan perjalanan perlu segera dilakukan pemeriksaan untuk Lyme disease.
Fraktur Temporal Bone (10-23%)
Nervus fasialis mempunyai perjalanan yang panjang di dalam tulang temporal.
Trauma kepala dapat mengakibatkan fraktur pada tulang temporal yang bisa mengenai N. fasialis pada satu atau dua arah. Garis fraktur dapat langsung transeksi pada N. fasialis atau menyebabkan fragmen tulang menusuk atau melukai nervus, atau garis fraktur mungkin saja berjarak dari nervus namun menyebabkan peregangan pada nervus.Keadaan ini bisa menyebabkan edema dan pembengkakan pada nervus dan pembungkusnya, yang dapat mengganggu aliran axoplasmik dan menyebabkan hambatan konduksi. Bila N. fasialis tidak mengalami transeksi total, pembengkakan dan paralisis dapat terjadi dalam masa72 jam. Diperlukan pemeriksaan cermat N. fasialis pada presentasi awal dalam menentukan penatalaksanaan yang tepat.
Fraktur tulang temporal biasanya ditemukan pada trauma kepala yang berat dan penderita mendapatkan luka multiple sehingga tidak menyadari adanya gangguan pada otot wajah. Intervensi utama oleh team medis biasanya adalah lifesaving sehingga pemeriksaan N. fasialis tidak menjadi prioritas. Apabila ingin mengetahui status nervus maka tes elektrofisiologis dan CT scan high-resolusi dapat dilakukan.
Apabila tampak ada serpih tulang yang menusuk maka perlu dilakukan eksplorasi transmastoid dan atau pendekatan intracranial. Nervus fasialis yang mengalami transeksi dapat dilakukan perbaikan dengan reanastomosis langsung atau apabila tindakan ini menyebabkan peregangan nervus maka dapat dilakukan prosedur grafting interposisi (nervus aurikularis magnus atau suralis)
Trauma tulang temporal dapat pula mengganggu pendengaran. Gangguan pendengaran sensorineural biasanya ditemukan apabila garis fraktur mengenai koklea dan organ keseimbangan. Sementara jika fraktur mencederai telinga tengah atau liang telinga maka gangguan pendengaran konduktif dapat terjadi akibat adanya hemotimpanum, terputusnya rantai osikula atau robeknya membrane timpani. Pemeriksaan pendengaran dapat dilakukan setelah penatalaksanaan kondisi luka akut telah stabil.
Penatalaksanaan trauma tulang temporal yang mengakibatkan kelumpuhan fasialis berupa konservatif (medical) atau pembdahan tergantung pada berat dan ekstensi kerusakan. Terapi konservatif serupa dengan terapi pada Bell’s palsy
Terapi pembedahan terdapat tiga jenis pembedahan N. fasialis:
Dekompressi nervus fasialis dengan mastoidektomi yang buth perawatan 2-4 hari. Tulang mastoid disekitar saraf yang bengkak dibuang dan dibersihkan sehingga mengurangi tekanan dan melancarkan kembali sirkulasi.
Dekompressi fossa kranii media N. fasialis apabila terjadi gangguan N. fasialis pada bagian yang lebih dalam. Grafting N. fasialis bila terjadi kerusakan saraf yang berat. Paralisis total akan tampak sampai nervus tumbuh kembali melalui graft. Biasanya perlu waktu 6-15 bulan. Beberapa kelemahan wajah dapat bersifat permanen.
Neoplasia (2.2 to 5%)
Kelumpuhan fasialis dengan onset progresif lambat dapat dicurigai adalah diakibatkan oleh suatu malignansi dan perlu dilakukan pemeriksaan yang mendalam pada kepala leher. Keganasan yang dapat menyebakan kelemahan fasialis antara lain keganasan kelenjar parotis, akustik/ fasial neuroma, meningioma, dan kista arahnoid. Manifestasi kelumpuhan N. fasialis derajatnya bervariasi tergantung pada lokasi relative dari tumor.
Kelumpuhan n. fasialis pada anak-anak
Penyebab kelumpuhan n. fasialis pada anak terbagi atas kongenital dan dapatan (acquired). Penyebab kelumpuhan N. fasialis dapatan sama dengan yang terjadi pada kelompok dewasa yang telah dijelaskan di atas penyebabnya.
Sedangkan untuk kelainan kongenital antara lain sbb:
Trauma seperti berat badan lahir yang besar, kelahiran dengan bantuan forcep, prematuritas, kelahiran dengan operasi seksio.
Kasus-kasus sindromik; abnormalitas kraniofasial seperti Moebius syndrome, Goldenhar syndrome syringobulbia, dan Arnold Chiari malformations.
Kelainan genetic seperti: hereditary myopathies (myasthenia dan myotonic dystrophy.
Kelumpuhan N. fasialis bilateral
Kelumpuhan N. fasialis bilateral tidak sering terjadi tetapi dapat ditemukan dan cukup penting untuk diketahui. Kasus bilateral dapat ditemukan sebanyak 0.3 - 2% dari semua kasus kelumpuhan n. fasialis. Kasus ini merupakan sesuatu yang penting oleh karena kelumpuhan bilateral ini tampaknya merupakan representasi dari kelainan sistemik dari satu penyakit, dimana dibawah 20% adalah idiopatik. Lyme disease dapat menunjukan gambaran signifikan kelumpuhan n. fasialis, terhitung sekitar 35% dari kasus-kasus. Penyakit lain adalah Guillain-Barre syndrome, diabetes, dan sarcoidosis. Penyebab neurologis lain dari kelumpuhan N. fasialis bilateral adalah; Parkinson disease, multiple sclerosis, dan pseudobulbar/bulbar palsy
Penatalaksanaan Gangguan Nervus Fasialis Perifer
Terapi pada otitis media akut yang disertai kelumpuhan N. fasialis adalah antibiotik intravena. Jenis dan durasi antibiotik dipilih berdasarkan panduan jenis kuman mikroorganisme lokal.
Penatalaksanaan untuk Lyme disease tergantung pada usia dan beratnya
penyakit. Pada keluhan yang terlokalisasi penderita usia diatas 8 tahun, 200 mg doxycycline dosis tunggal dengan lama pemberian 10 hari. Pada penderita usia dibawah 8 tahun pengobatan amoxicillin atao cefuroxime selama 14 hari. Pada kasus awal terapi ini bersifat kuratif. Iatrogenik pasca operasi timpanoplasti/ mastoidektomi
Pada kasus iatrogenic apabila parese fasialis terjadi sesaat (immediate) setelah prosedur operasi mastoidektomi, maka ‘watch and wait’ harus dilakukan oleh karena ini bisa disebabkan oleh penggunaan anastesi local. Setelah efek dari local anastesi ini disingkirkan sebagai penyebab dan ada keyakinan dari ahli bedah bahwa epinerium N. fasialis intak, maka pendekatan konservatif dengan pemberian steroid sebagai pilihan. Namun dapat juga diperlukan re-eksplorasi segera, dekompresi fasialis +/- grafting nervus.
Kelumpuhan yang terjadi lambat (delayed) pasca operasi dapat disebabkan oleh edema dan infeksi oleh karena itu perlu pemberian steroid dan antibiotik., dapat juga disebabkan oleh kuatnya penekanan tampon pada operasi mastoid terbuka dan perlu dikurangi tekanannya dengan melonggarkan atau melepaskan tamponnya.
Penatalaksanaan Operatif Gangguan Nervus Fasialis Perifer
Otitis media akut + mastoiditis
myringotomy +/- ventilation tube dan atau mastoidektomi cortical
Otitis media kronik (parsial/komplit)
Mastoidektomi dan dekompresi nervus fasialis
Onset lambat (parsial/komplit) : ikuti rencana penanganan Bell’s palsy
Onset cepat (parsial/komplit) : eksplorasi nervus fasialis ”before the sun set”
Fraktur tulang temporal
Jika terjadi kelumpuhan sesaat (immediate) setelah trauma dan terjadi paralisis yang komplit, diperlukan dekompressi segera setelah kondisi penderita sudah memungkinkan (biasanya 2-3 minggu). Jika terjadi keterlambatan diagnosis dan pada pemeriksaan ENoG degenerasi > 90%, maka diperlukan pembedahan eksplorasi. Pemeriksaan N. fasialis spesifik akan membantu menunjukan pendekatan oleh karena dapat diketahui lokasi kerusakan nervusnya. Bila tidak ada fasilitas ENoG, maka pada pertimbangan untuk melakukan tindakan dapat dilakukan berdasarkan pemeriksaan HRCT mastoid. Bila didapatkan garis fraktur yang memotong sumbu panjang saraf atau fragmen tulang yang terlihat memperkecil diameter kanal Falopii (menjepit saraf) dan paresisnya adalah akut
/ immediate, maka dekompresi dapat dilakukan.
Indikasi operasi pada N. fasialis yaitu :
Paralisis komplet onset cepat setelah fraktur temporal traumatik
Lesi iatrogenik selama operasi telinga
Paralisis komplit postopeartif setelah operasi telinga pada pasien dengan fungsi fasialis normal sebelumnya
Paralisis komplit preoperatif pada pasien dengan penyakit inflamasi kronik pada telinga atau tumor.
Penatalaksanaan pembedahan dekompressi pada segmen labyrinth tidak direkomendasikan pada anak berdasarkan peneitian yang menunjukan hasil yang tidak memuaskan dan dengan resiko terjadinya ketulian sensorineural oleh prosedur tersebut. Namun untuk tindakan grafting nervus dan transfer otot tetap menjadi salah satu opsi.
Deteksi dini, evaluasi dan intervensi adalah hal-hal yang penting untuk diperhatikan dalam pemulihan optimal saraf fasialis.
Bagan. Algoritma Tatalaksana Paralisis saraf fasialis post operasi ( dikutip dari Hildmann)
Pendekatan Operasi : Dekompresi dan eksplorasi saraf fasialis
Pendekatan teknik operasi berdasarkan lokasi kerusakan saraf fasialis yaitu:
tranmastoid, transtemporal atau kombinasi.
Pendekatan transmastoid dilakukan apabila fungsi telinga dalam telah rusak, Eksplorasi dan dekompresi dimulai dengan mastoidektomi cortical dengan pendekatan translabirin. Pada kasus trauma dengan garis fraktur terlihat maka ekspose N. fasialis intratemporal secara menyeluruh sangat membantu dalam lapang pandang.
Pendekatan transtemporal meliputi pembukaan N .fasialis dari sudut cerebellopontine ke region perigeniculatum. Operasi N. fasialis intratemporal termasuk dekompresi dan eksplorasi segmen N. fasialis pada segmen mastoid atau segmen tympani, serta eksplorasi kearah meatus akustikus internus sejauh sudut cerebellopontine dapat dilakukan pendekatan transtemporal.
Jika dimungkinkan trans mastoid dapat dikombinasi dengan transtemporal sehingga perjalanan jaras N. fasialis dapat diikuti sampai ke ganglion genikulatum. Operasi melibatkan bagian bedah saraf apabia operasi ekstensi ke intracranial.
Gambar dekompressi N. fasialis segmen mastoid
Aspek penting dari operasi saraf fasialis adalah :
Dekompresi saraf fasialis dan mempertahankan jalur saraf tersebut
Jahitan pada saraf fasialis
Graf interposisi saraf fasialis
Anastomosis saraf fasialis
Re-routing saraf fasialis
Dalam dekompresi saraf, faktor identifikasi dan ekspos N.fasialis dari hematoma postrauma dan edema serta memindahkan fragmen tulang yang menekan saraf tersebut.Jika saat eksplorasi didapatkan N fasialis masih intak, maka pembuangan fragmen tulang, dan juga insisi pembungkus (sheat) N fasialis di epineural untuk melepas tekanan nervus dari pembengkakan. Apabila saat eksplorasi tampak saraf telah terputus, maka dimungkinkan untuk melakukan rekontruksi / reanimasi nervus fasialis.
Segmen mastoid merupakan daerah yang paling sering tercederai pada operasi mastoidektomi (iatrogenic), dan pada kasus trauma tulang temporal area perigeniculatum merupakan area yang paling sering terkena.
Gbr. Insisi sheath neural | Gbr. Insisi saraf yg terpotong | Gbr. nerve grafting/ interposition |
TEKNIK NERVE GRAFTING
(dikutip dari Hildmann)
Gambar donor graft nerve. A. medial antebrachial cutaneous nerve dan B. greater auricular nerve_(Bailey B)
Ada dua teknik dalam nerve grafting yaitu: prosedur statis dan dinamik. Prosedur statis tidak menciptakan gerakan dinamik dari wajah. Seperti proteksi pada mata khusus kornea yang cepat kering, memperbaiki fungsi hidung, mencegah drooling, memperbaiki asimetrik pada wajah saat fase intirahat. Indikasi prosedur statis adalah untuk geriatri, menolak operasi jangka lama, defek luas akibat kanker atau trauma serta gagal mengikuti prosedur mikrovaskular. Prosedur statis untuk mengkoreksi disabilitas secara fungsional termasuk operasi tarsorhaphy, insertion of gold weights, palpebral springs, brow lift , forehead skin excision, dan sebagainya.
Pada prosedur dinamik bertujuan untuk memperbaiki wajah agar menjadi simetris dan memperbaiki gerakan wajah. Pengambilan graft berasal dari N. aurikularis magnus (greater auricular nerve), N. suralis (sural nerve) dan medial antebrachial cutaneous nerve yang merupakan potensial donor bagi N. fasialis.
Greater auricular nerve
Diameter saraf tersebut cocok dengan diameter saraf fasialis, dan kerugian pada pasien hanya pada 2/3 inferior saraf dari aurikula dan mandibular.Dapat ditemukan dalam platysma dan berjalan diatas m.sternocleidomastoideus dari ERB’s poin paralele dan 1-2 cm posterior dari vena jugular eksterna.
Sural nerve
Letaknya yang jauh dari wajah tetapi mempunyai diameter yang sama dengan saraf fasialis serta meninggalkan defek minimal. Biasanya defek pada sensory loss di tepi lateral dari kaki. Terletak posterior dari lateral malleus dan mempunyai cabang banyakserta panjang saraf dapat melebih panjang donor saraf yang lain.
Medial antebrachial cutaneous nerve
Untuk rekontruksi total saraf fasialis dari cabang utama ke perifer menggunakan medial antebrachial cutaneous nerve. Biasanya ada lebih dari empat cabang dan menyediakan panjang yang signifikan dengan panjang saraf fasialis.Dari ganglion geniculatum ke tepi medial kelanjar parotis
Gambar. Complete Nerve repair
Gambar. Nervus suralis
Untuk nerve grafting dan nerve repair, operasi harus dilakukan dalam 72 jam pertama setelah cedera/kerusakan saraf sehingga selama waktu tersebut, distal dari saraf masih terdapat stimulus elektrik yang memudahkan identifikasi.
Selain teknik diatas, juga terdapat teknik Re Innervation :Cross Facial Nerve grafting (CFNG) baik dalam 1 atau 2 tahapan operasi. Serta terdapat teknik untuk mengatasi distal stump yaitu nerve transfer menggunakan metode Nerve Coaption menggunakan :
Hypoglossal nerve ( lebih sering)
Nerve to masseter
Glossopharyngeal nerve
Accessory nerve
Phrenic nerve tranfer
Indikasi untuk Cross Facial Nerve grafting (CFNG) adalah :
Terdapat distal stump pada saraf
Transeksi komplet dimana proksimal ipsilateral saraf mengalami nerve stump
sehingga tidak dapat dilakukan grafting.
Otot wajah masih dapat berfungsi setelah re inervasi.
Prognosis
Faktor yang diduga memperburuk prognosis apabila kelumpuhan n. fasialis disertai:
Kelumpuhan komplit
Refleks stapediaus negative (tidak ada)
Tidak ada tanda perbaikan dalam tiga minggu
Usia diatas 50 tahun
Ramsay Hunt syndrome
Respon jelek pada test elektrofisiologik
Komplikasi
Sejumlah komplikasi kelumpuhan N. fasialis yang signifikan. – Komplikasi mata bisa berupa keratitis eksposur dan kornea kering dengan potensi ulserasi, perawatan konservatif mata diperlukan untuk mengurangi/mencegah komplikasi tersebut. Komplikasi hiperkinetik seperti hemifacial spasm, asimetri fasial dan sinkinesis
Hemifacial spasm merupakan akibat degenerasi axonal akibat paralisis n. fasialis sehingga terjadi kontraksi otot involunter pada setengah wajah.
Asimetri wajah menjadi perhatian dan dapat mengakibatkan tekanan bagi penderita.
Synkinesis adalah gerakan fasialis volunteer yang disertai dengan gerakan involunter. Manifestasi yang paling sering dari sinkinesis adalah gerakan involunter pada mulut manakala mata menutup dan ini dikenal sebagai sinkinesis ocular - oral. Manifestasi lain dari sinkinesis adalah gustatory-lacrimal yang dikenal dengan istilah ‘crocodile tear syndrome’
Penetalaksanaan untuk komplikasi hiperkinetik dari kelumpuhan n. fasialis adalah terapi otot fasial dan injeksi toksin Botulinum. Terapi otot fasialis bertujuan menguatkan otot wajah yang lemah sebagai kompensasi sinkinesis. Toksin Botulinum bertujuan untuk melumpuhkan otot fasialis dan digunakan untuk tatalaksana sinkinesis dan spasme hemifasial.
REFERENSI
Ballenger JJ. Manual of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery, 1st ed. BC Dekker
,London 2002
Byron J Bailey : Head and Neck Surgery Otolaryngology, 4th, J P Lippincot, Philadelphia, 2014
Efiaty Soepardy, Nurbaiti Iskandar : Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT, Ed 7, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2012.
Gacek RR. Ear Surgery. Springer, Berlin, 2008
Hildmann H, Sudhoff H. Middle Ear Surgery. Springer. Berlin. 2006
Lee K.J : Essential Otolaryngology Head and Neck Surgery, 10th ed, Mac Graw Hill, 2012
Probst R, Grevers G, Iro H : Basic Otorhinolaryngology , A Step by step Learning Guide,1st ed,Georg Thieme Verlag, Germany,2006
Monkhouse S, Cranial Nerve : Functional anatomy. Cambridge University Press, USA, 2006
Gulya AJ. Anatomy of the Temporal Bone and Skull Base in Glasscock- Sambaugh Surgery of the ear. Sixth Ed. People’s Medical Publishing House-USA, Shelton, Connecticut.2010
Anderson RG. Facial Nerve Disorders and Surgery In Selected Readings in Plastic Surgery. Vol 10 number 14, 2006. University of Texas Southwestern Medical Centre at Dallas.
Sainsbury D, Borschel G, Zuker R. Surgical Reanimation Techniques for Facial Palsy/Paralysis. In Open acces atlas of otolartngology, Head and Neck Operative Surgery, 2005. www.entdev.uct.ac.za.
Facial Nerve Anatomy and Clinical Applications Article Author:Sinali Seneviratne Article Editor: Bhupendra Patel Updated:1/24/2020 10:33:02 AM)
Dominika Dulak; Imama A. Naqvi.Last Update: October 27, 2018., (Neuroanatomy, Cranial Nerve 7 (Facial)
Danner CJ. Facial nerve paralysis. Otolaryngol. Clin. North Am. 2008 Jun;41(3):619-32,
x. [PubMed]
Gothard KM, The amygdalo-motor pathways and the control of facial expressions. Frontiers in neuroscience. 2014; [PubMed PMID: 24678289
Kochhar A,Larian B,Azizzadeh B, Facial Nerve and Parotid Gland Anatomy. Otolaryngologic clinics of North America. 2016 Apr; [PubMed PMID: 27040583]
Facial nerve disorder Michigan Ear institute protocol
Facial Nerve Paralysis , Chapter 8 in Primer Care Otolaryngoloy, 3rd edition; American Academy of Otolaryngology Head –Neck Surgery.2011
Adam JC, Liberman M.C ; Anatomy of the Facial Nerve in Schuknecht’s Pathology of the Ear. 3rd Ed .pp.66-68.2010
Nadol J.B ; Neural Disorder in Schuknecht’s Pathology of the Ear. 3rd Ed pp.697- 713.2010
Andrews JC, Rubinstein EH, Lambert PR ‘The Facial Nerve’ in The Ear Comprehensive Otology; pp 205-219. 2010
Reitzen SD,Babb JS,Lalwani AK, Significance and reliability of the House-Brackmann grading system for regional facial nerve function. Otolaryngology--head and neck surgery : official journal of American Academy of Otolaryngology-Head and Neck Surgery. 2009 Feb [PubMed PMID: 19201280]
Walker.N, Mistry W; Facial Nerve Palsy, Ed. Thomas Mazzoni, 2018
Gantz BJ, Redleaf MI,Perry BP ; Management of Bell’s Palsy and Ramsay Hunt Syndrome in Otologic Surgery; Brackmann, Shelton, Arriaga; Ed 3rd. 2010.
DAFTAR ISI
WAKTU PEMBELAJARAN 1
PERSIAPAN SESI 1
REFERENSI 1
KOMPETENSI 2
CONTOH KASUS DAN DISKUSI 3
TUJUAN PEMBELAJARAN 5
METODE PEMBELAJARAN 5
EVALUASI 7
INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF 8
INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR 8
MATERI PRESENTASI 9
MATERI BAKU 30
MODUL I.6
OTOLOGI – KELAINAN KONGENITAL TELINGA
WAKTU PEMBELAJARAN
Proses pengembangan kompetensi | Alokasi waktu |
Sesi dalam kelas | 6 x 60 menit (classroom session) |
Sesi praktikum | 6 x 60 menit (coaching session) |
Sesi praktik dan pencapaian kompetensi | 6 x 60 menit (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Bahan penunjang presentasi:
Power point
Video
Kasus: Kelainan Kongenital Telinga.
Sarana dan alat bantu latih: (disesuaikan dengan pencapaian kompetensi)
Penuntun belajar (learning guide): terlampir.
Tempat belajar (training setting): instalasi rawat jalan, instalasi rawat inap, kamar operasi, ruang praktikum.
Model/manekin telinga.
Komputer/laptop.
In focus.
REFERENSI
Snow, J.B, P. Ashley W. 2009. Ballengers Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. 17th Edition. Peoples’s Medical Publishing House. Connecticut.
Gulya, A.J., Lloyd B.M., Dennis S.P. 2010. Glasscock-Shambaugh Surgery of the Ear. 6th Edition. People’s Medical Publishing House-USA. Connecticut.
Chan, Y., John C.G. 2016. K.J. Lee’s Essential Otolaryngology Head and Neck Surgery. 11th Edition. Mc Graw Hill. New York.
Johnson, J.T., Clark A.R. 2014. Bailey’s Head and Neck Surgery Otolaryngology.
5th Edition. Lippincott Williams & Wilkins. Philadelphia.
Flint, P.W., Bruce H.H., Valerie J.L., John K.N., Mark A.R., K. Thomas R., J. Regan T. 2010. Cummings Otolaryngology Head and Neck Surgery. 5th Edition. Mosby Elsevier. Philadelphia.
Gleeson, M., Browning G.G., Burton M.J., Clarke R., Hibbert J., Jones N.S., Lund V.J., Luxon L.M., Watkinson J.C. 2008. Scott-Brown’s Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. Mosby Elsevier. Philadelphia.
Wigand M.E, 2001. Restitusional surgery of the Ear and Temporal Bone. Thieme, Stuttgard.
KOMPETENSI
Pengetahuan
Setelah mengikuti sesi ini peserta mampu:
Menjelaskan embriologi, anatomi, topografi dan fisiologi telinga luar, tengah dan dalam.
Menjelaskan definisi dan patofisiologi kelainan kongenital telinga luar, tengah dan dalam.
Menjelaskan gambaran klinis dan penatalaksanaan kelainan kongenital telinga luar, tengah dan dalam.
Menegakkan diagnosis kelainan kongenital telinga luar, tengah dan dalam.
Menjelaskan penanganan kelainan kongenital telinga luar, tengah dan dalam dan komplikasinya sesuai kompetensi.
Menjelaskan tindakan bedah pada kasus kelainan kongenital telinga luar, tengah dan dalam.
Menjelaskan work-up pasien kelainan kongenital telinga luar, tengah dan dalam.
Keterampilan
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam:
Melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang pada kelainan kongenital telinga luar, tengah dan dalam.
Menegakkan diagnosis kelainan kongenital telinga luar, tengah dan dalam.
Melakukan tindakan bedah pada kasus kelainan kongenital telinga luar, tengah dan dalam.
Melakukan rujukan bila pada penderita dengan stadium lanjut
CONTOH KASUS DAN DISKUSI
Kasus 1
Seorang anak laki – laki usia 1 tahun dibawa oleh orang tuanya dengan keluhan liang telinga kanan tidak terbentuk sejak pasien lahir. Orang tua pasien mengeluhkan daun telinga kanan pasien lebih kecil dibandingkan daun telinga sebelah kiri. Apabila pasien diberikan rangsang mainan pasien kurang merespon.
Diskusi:
Lengkapi anamnesis.
Lengkapi pemeriksaan fisik.
Sebutkan diagnosis banding.
Jelaskan bagaimana tatalaksana. Jawaban:
Ditanyakan riwayat kehamilan dan kelahiran pasien. Ditanyakan perkembangan setelah lahir apakah ada kelainan lain selain dari organ telinga.
Fokus pemeriksaan fisik awal adalah untuk melihat adakah adakah abnormalitas atau sindrom terkait perkembangan arkus brankial pertama atau kedua yang berhubungan dengan atresia aural. Lakukan palpasi lembut mandibular untuk mencari adanya mikrosomia hemifasial ringan. Perkembangan palatum dan struktur intraoral harus diperiksa. Lakukan pengecekan KAE dan tentukan derajatnya, apakah normal, stenosis (ringan/ berat) atau atresia komplit. Jika mungkin, lakukan otoskopi untuk melihat membrane timpani. Pada anak, cek milestone bicara dan ambulasi dengan anamnesis dan observasi langsung. Anomali wajah yang paling sering terjadi adalah tidak adanya otot depressor anguli oris.
Malformasi Mayor : Liang telinga luar dan membrane timpani tidak ada, stenosis kanal yang parah, membrane timpani yang kecil menempel pada septum tulang, ukuran rongga telingah tengah mengecil, maleus dan inkus berubah bentuk dan menyatu. Rongga telinga tengah dapat sangat hipoplastik bahkan tulang telinga dapat tidak ditemukan. Nervus fasialis biasanya dehisens. Malformasi mayor sering terjadi pada Mikrotia derajat II dan III. Fungsi telinga dalam biasanya normal. Malformasi Minor : Defek signifikan biasanya akibat adanya deformitas atau gangguan fiksasi pada tulang pendengaran telinga tengah. Hal ini
menyebabkan adanya gangguan pendengaran konduktif. Rongga telinga tengah dan membrane timpani normal. KAE paten / stenosis ringan. Dapat terjadi dehisensi atau displace nervus fasialis. Pinna biasanya normal atau sedikit berubah bentuk.
Pasien dengan atresia unilateral lebih jarang dilakukan operasi kerana lebih rendahnya manfaat yang akan diterima dibandingkan tingginya resiko trauma, infeksi dan lamanya perawatan mastoid. Pasien dengan atresia bilateral harus dioperasi dengan tujuan untuk mengembalikan pendengaran sebanyak mungkin sehingga amplifikasi tidak lagi diperlukan. Telinga terbaik yang dipilih untuk prosedur bedah awal.
Kasus 2
Seorang anak laki-laki usia 2 tahun datang ke poliklinik THTKL dengan keluhan belum bisa bicara. Pasien merupakan anak kedua dari 2 bersaudara dengan riwayat kelahiran kurang bulan. Pasien lahir secara normal dan tidak langsung menangis. Pasien mempunyai riwayat dirawat di ruang intensif saat pasien baru lahir. Saat ini pasien sudah dapat berjalan. Paisen didiagnosis dengan gangguan dengar sensori neural derajat berat sejak usia 1 tahun. Pasien sudah menggunakan alat bantu dengar selama 1 tahun tetapi belum ada perkembangan yang signifikan.
Diskusi:
Lengkapi anamnesis.
Lengkapi pemeriksaan fisik.
Sebutkan diagnosis banding.
Jelaskan bagaimana tatalaksana. Jawaban :
Ditanyakan riwayat kehamilan dan kelahiran pasien. Ditanyakan perkembangan setelah lahir apakah ada kelainan lain selain dari organ telinga. Ditanyakan riwayat penggunakan alat bantu dengar dan terapi wicara.
Dilakukan pemeriksaan secara general, apakah ada kelainan kongenital yang menyertai.
Dapat didiagnosis banding dengan aplasia koklea, hypoplasia, common cavity, incomplete partition
Tatalaksana dapat dilakukan pemasangan implantasi koklea.
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan Pembelajaran Umum
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik terampil dalam:
Mampu menegakkan diagnosis klinis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang pada kasus kelainan kongenital telinga luar, tengah dan dalam.
Mampu memutuskan dan menangani kasus kelainan kongenital telinga luar, tengah dan dalam sesuai kompetensi.
Tujuan Pembelajaran Khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk:
Menjelaskan embriologi, anatomi, topografi dan fisiologi telinga luar, tengah dan dalam.
Menjelaskan definisi dan patofisiologi kelainan kongenital telinga luar, tengah dan dalam.
Menjelaskan gambaran klinis kelainan kongenital telinga luar, tengah dan dalam.
Melakukan penanganan bedah pada kelainan kongenital telinga luar, tengah dan dalam.
Melakukan follow up pasien kelainan kongenital telinga luar, tengah dan dalam.
Melakukan rujukan bila pada penderita dengan stadium lanjut.
METODE PEMBELAJARAN
Tujuan 1. Menjelaskan embriologi, anatomi, histologi, topografi dan fisiologi telinga luar, tengah dan dalam.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Diskusi kelompok.
Harus diketahui:
Embriologi, anatomi, histologi, dan topografi telinga luar, tengah dan dalam.
Fisiologi telinga luar, tengah dan dalam.
Tujuan 2. Menjelaskan definisi dan patofisiologi kelainan kongenital telinga luar, tengah dan dalam.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Tinjauan pustaka.
Diskusi kelompok.
Harus diketahui:
Patogenesis dan patofisiologi kelainan kongenital telinga luar, tengah dan dalam.
Tujuan 3. Menjelaskan gambaran klinis kelainan kongenital telinga luar, tengah dan dalam.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Tinjauan pustaka.
Kuliah.
Diskusi kelompok.
Harus diketahui:
Gambaran klinis (gejala dan tanda) kelainan kongenital telinga luar,
tengah dan dalam.
Pencitraan kelainan kongenital telinga luar, tengah dan dalam.
Tujuan 4. Melakukan penanganan bedah pada kelainan kongenital telinga luar, tengah dan dalam sesuai kompetensi.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Kuliah.
Diskusi kelompok.
Praktikum.
Bedside teaching.
Praktik pada pasien. Harus diketahui:
Prosedur tindakan bedah pada kelainan kongenital telinga luar, tengah dan dalam sesuai kompetensi.
Komplikasi tindakan bedah pada kelainan kongenital telinga luar, tengah dan dalam.
Tujuan 5. Melakukan follow up pasien kelainan kongenital telinga luar, tengah dan dalam.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Kuliah.
Diskusi kelompok.
Bedside teaching.
Praktik pada pasien. Harus diketahui:
Hal-hal yang harus diperhatikan pada pasien dengan kelainan kongenital telinga luar, tengah dan dalam.
Edukasi yang perlu diberikan pada pasien.
Tujuan 6. Melakukan rujukan bila pasien dalam stadium lanjut
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Kuliah.
Diskusi kelompok.
Bedside teaching.
Praktik pada pasien. Harus diketahui:
Stadium kelainan kongenital telinga luar, tengah dan dalam.
Kondisi kegawatdaruratan pada kelainan kongenital telinga luar, tengah dan dalam.
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pretest dalam bentuk tertulis dan lisan sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai pengetahuan awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri atas:
Embriologi, anatomi dan fisiologi telinga luar, tengah dan dalam.
Pemeriksaan fisik/THT/penunjang
Penegakan diagnosis.
Penatalaksanaan.
Selanjutnya dilakukan diskusi bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar.
Peserta didik diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar melalui metode bedside teaching kepada pasien sesungguhnya dengan pengawasan fasilitator dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut:
Perlu perbaikan: pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan.
Cukup: pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien.
Baik: pelaksanaan benar dan baik (efisien).
Melakukan case based discussion (formulir penilaian terlampir).
Peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education).
Pencapaian pembelajaran:
Ujian akhir stase, setiap divisi/unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan.
Ujian nasional dilakukan pada akhir tahapan pendidikan spesialis oleh kolegium ilmu kesehatan THT-KL.
I. INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF
Sebutkan jenis-jenis kelainan kongenital telinga luar, tengah dan dalam.
J. INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR
Kanaloplasti (sesuai materi di Modul Inflamasi Telinga Tengah).
K. MATERI PRESENTASI
L. MATERI BAKU
Malformasi Kongenital Telinga Luar dan tengah
Atresia Aural Kongenital Embriologi
Kanalis akustikus eksternus terbentuk dari celah brankial (ektoderm) pertama. Terdiri dari sel epitel berinti padat yang meluas ke cincin timpani dan kantung pharyngeal pertama. Sel ini menetap hingga trimester kedua. Kemudian secara progresif menyebar kearah medial dan lateral. Jika proses kanalisasi ini terhenti (premature), membran timpani dan kanalis austikus eksterna bisa normal tetapi kanalis membranosanya atresia atau stenosis.Selanjutnya, dapat menjadi fraktor predisposisi terjadinya kolestatoma kanal karena ada epitel squamosal yang terperangkap dan mengalami deskuamasi terus menerus.
Bagian luar KAE dibentuk dari tulang timpani, yang mulai mengeras pada bulan ke-3, membentuk cincin timpani dan bagian tulang KAE. Malformasi tulang timpani menghasilkan adanya atresia tulang setinggi membrane timpani dan menyebabkan atresia KAE. Kondilus mandibular berartikulasi dengan tulang timpani yang belum sempurna ini.
Klasifikasi
Derajat Mikrotia :
Derajat 1 : Malformasi minor, Aurikula lebih kecil dari normal dengan semua bagian terlihat
Derajat II : Daun telinga diwakili oleh jaringan yang melengkung atau vertical Derajat III : Hanya terdapat struktur jaringan lunak yang kecil
Malformasi Mayor :
Liang telinga luar dan membrane timpani tidak ada, stenosis kanal yang parah, membrane timpani yang kecil menempel pada septum tulang, ukuran rongga telingah tengah mengecil, maleus dan inkus berubah bentuk dan menyatu. Rongga telinga tengah dapat sangat hipoplastik bahkan tulang telinga dapat tidak ditemukan. Nervus fasialis biasanya
dehisens. Malformasi mayor sering terjadi pada Mikrotia derajat II dan III. Fungsi telinga dalam biasanya normal.
Malformasi Minor :
Defek signifikan biasanya akibat adanya deformitas atau gangguan fiksasi pada tulang pendengaran telinga tengah. Hal ini menyebabkan adanya gangguan pendengaran konduktif. Rongga telinga tengah dan membrane timpani normal. KAE paten / stenosis ringan. Dapat terjadi dehisensi atau displace nervus fasialis. Pinna biasanya normal atau sedikit berubah bentuk.
Evaluasi Pasien
Malformasi major biasanya terdeteksi saat lahir, karena adanya mikrotia atauoun anomali kraniofasial. Pasien malformasi ringan lebih sulit untuk didiagnosa dan seringnya hanya dapat ditemukan saat adanya screening pendengaran di sekolah.
Pemeriksaan Fisik
Fokus pemeriksaan fisik awal adalah untuk melihat adakah adakah abnormalitas atau sindrom terkait perkembangan arkus brankial pertama atau kedua yang berhubungan dengan atresia aural. Lakukan palpasi lembut mandibular untuk mencari adanya mikrosomia hemifasial ringan. Perkembangan palatum dan struktur intraoral harus diperiksa. Lakukan pengecekan KAE dan tentukan derajatnya, apakah normal, stenosis (ringan/ berat) atau atresia komplit. Jika mungkin, lakukan otoskopi untuk melihat membrane timpani.
Pada anak, cek milestone bicara dan ambulasi dengan anamnesis dan observasi langsung. Anomali wajah yang paling sering terjadi adalah tidak adanya otot depressor anguli oris.
Evaluasi Audiometri
Pada atresia unilateral dapat dilakukan Audiometri Behavioral atau BERA untuk bayi dan anak. Pada atresia bilateral dapat dilakukan BERA. Jika kanal auditori paten, Elektrokokleografi dapat digunakan.
CT Scan
CT scan tulang temporal perlu dilakukan sebelum operasi. Pada stenosis KAE, CT scan dapat membantu melihat adanya kolestatoma. Potongan axial dapat membantu untuk melihat badan maleus dan inkus, sendi inkudostapedial dan round window. Potongan coronal lebih baik dalam melihat stapes, oval window dan vestibular. Anak dibawah 3 tahun tidak direkomendasikan untuk dilakukan CT Scan karena kerjasama yang sulit dan hasil yang sub optimal.
Terapi Medis
Atresia Unilateral
Anak dengan atresia unilateral tidak membutuhkan alat bantu dengar selama telinga kontralateral normal. Pada dewasa, alat bantu dengar dapat digunakan untuk membantu melokalisasi suara, mendapat respon frekuensi yang lebih luas dan distorsi suara yang lebih sedikit.
Atresia Bilateral
Amplifikasi dini dalam 3-4 bulan pertama kehidupan sangat penting. Perangkat pendengaran (BAHA) harus segera dipasang setelah evaluasi medis dan audiologi selesai.
Manajemen Operasi
Pasien dengan atresia unilateral lebih jarang dilakukan operasi kerana lebih rendahnya manfaat yang akan diterima dibandingkan tingginya resiko trauma, infeksi dan lamanya perawatan mastoid. Pasien dengan atresia bilateral harus dioperasi dengan tujuan untuk mengembalikan pendengaran sebanyak mungkin sehingga amplifikasi tidak lagi diperlukan. Telinga terbaik yang dipilih untuk prosedur bedah awal.
Kriteria
Memiliki defisit konduktif residual min. 10 db
Fungsi sensori neural normal pada atresia unilateral
CT scan : Hipoplasia rongga telinga tengah, gangguan anatomii tulang pendengaran, hubungan nervus fasialis dan oval window normal atau overhanging
Lihat prognosis berdasarkan klasifikasi JAHRSDOEFER, jika skor 8 baik, 7 cukup, 6 kandidat marginal, 5 prognosis buruk.
SISTEM KLASIFIKASI JAHRSDOEFER
Parameter | Poin |
Ada Stapes | 2 |
Oval window paten | 1 |
Rongga telinga tengah | 1 |
Nervus fasialis | 1 |
Kompleks malleus-inkus | 1 |
Pneumatisasi mastoid | 1 |
Koneksi inkus-stapes | 1 |
Round window | 1 |
Tampilan telinga luar | 1 |
Pada kasus atresia unilateral hanya kandidat yang ideal saja yang dioperasi. Pada kasus bilateral kriteria minimal adalah besar telinga tengah setengah ukuran normal dan terdapat massa osikel.
Waktu yang tepat untuk operasi pada anak, biasanya pada usia 6/7 tahun
Teknik Operasi
Pendekatan mastoid : Identifikasi sudut sinodural dan ikuti antrum. Resess fasial dibuak dan sendi inkudostapedial dipisah kemudian tulang yang atresia diangkat.
Pendekatan anterior : Eksposur ke mastoid air cells terbatas. Pengeboran terbatas pada area sendi temporomandibular (TMJ) di anterior, fossa dura kranial tengah di superior dan mastoid air cells di posterior.
Insisi
Insisi post aurikular digunakan untuk mengekspos tulang mastoid. Jaringan lunak diangkat ke anterior sampai terjadi depresi. Batasi manipulasi karena nervus fasialis sering keluar dari tulang menuju fossa glenoidalis.
Gambar Mastoid korteks dan tulang yang atresia (sisa tulang timpani) melalui insisi post aurikular
Pengeboran Kanal
Jika tidak dapat diidentifikasi, terdapat ruang yang cukup antara fossa glenoid anterior dan mastoid air cell untuk kanal. Pengeboran dimulai dari sedikit posterior dan superior fossa glenoid. Penanda superiornya fossa dura kranial tengah dan penanda anterior TMJ.
Gambar pengeboran awal KAE
Pembebasan osikel
Selain fossa inkudis, seluruh tulang disekitar okel harus diangkat, meninggalkan ruang 2-3 mm diantara struktur dan dinding kanal. Tipiskan dengan diamond burr kemudian diangkat dengan pisau sendi inkudostapedial atau small hook.
Gambar pembukaan osikel
Operasi telinga tengah
Biarkan osikel pada posisinya. Meskipun terjadi deformasi, osikel tetap bergerak dan lebih baik ditinggalkan dibandingkan jika diganti dengan prosthesis ataupun autograft
Gambar osikel telah terekspos
Graft Membran timpani
Terdapat 2 teknik dalam memasang fascia graft. Pertama, graft diselipkan di bawah tepian tulang anterior dan superior dinding kanal. Kedua, Tutup fascia graft dengan The Split-Thickness Skin Graft (STSG) dari kanal dan tempatkan kancing silastik yang telah dikontur ke lingkaran kanal diatas osikel yang sudah tertutup.
Meatoplasti
Buat meatus yang besarnya dua kali ukuran meatus normal. Sisakan hanya sedikit jaringan subkutan di sekitar meatus untuk membatasi panjang kanal membranosa dan mencegah stenosis.
Graft kulit
Ambil graft kulit dari lengan atau paha dengan ukuran 4 x 6 cm berbentuk hexagonal dan digunakan untuk melapisi saluran kanal. Telinga kemudian diretraksi, STSG diposisikan di kanal tulang sehingga tumpang tinddih dengan fascia graft.Penutupan sebagian fascia graft dan skin graft diperbolehkan untuk memfasilitasi epitalisasi membrane timpani baru. Silastik disk diletakkan diatas osikel untuk mencegah lateralisasi. Stabilitas STSG dicapai dengan menempatkan Marocel wicks yang dihidrasi dengan larutan antibiotic steroid.
Gambar fascia graft dan STSG distabilisasi oleh Marocel wicks
Perawatan Postoperatif
Tidak perlu antibiotik postoperatif. Pasien cukup meneteskan 10 tetes larutan antibiotik- steroid 2x sehari untuk menjaga Marocel wicks tetap lembab. Setelah 10 hari Marocel wicks dan silastic disc akan dilepas.
Komplikasi
Cedera labirintin
Cedera nervus fasialis
Stenosis kanal
Infeksi kronis
Gangguan degar konduktif
Malformasi Kongenital Telinga Dalam
Embriologi
Labirin membranous berasal dari permukaan ectoderm dekat rhombencephalondan bermula sebagai otic pit. Selama minggu keempat kehamilan, otic pit berubah menjadi otocyst. Adensitas sel mesenkim yang berada di sekitar vesikula otic meningkat dan menjadi prekartilago, yang mana akan membentuk kapsula otik primitif. Pada minggu kelima kehamilan, vesikula otic akan mengalami elongasi dan tiga proyeksi akan terlihat. Sakulus dan duktus koklearis berkembang dari proyeksi ventromedial, utrikulus dan duktus semisirkularis berkembang dari proyeksi dorsal dan duktus endolimpatik dan kantungnya berkembang dari proyeksi dorsomedial. Perkembangan koklea selesai pada minggu kesembilan bersamaan dengan munculnya epitalium neural. Pembentukan sakulus, utrikulus dan duktus endolimpatik selesai pada minggu kesebelas. Pembentukan labirin membranous selesai diantara minggu kesepuluh hingga keduabelas kehamilan. Kanalis semisirkularis muncul pada minggu keenam kehamilan tapi selesai sekita minggu keduapuluh hingga duapuluh dua kehamilan. Kanalis semisirkularis lateral merupakan bagian yang paling terakhir selesai. Perilimpa, yang mengisi ruang antara lapisan periosteal dalam kapsula otik dan labirin membranous terbentuk dari mesoderm disekitar labirin membranous. Jaringan mesodermal ini mengalami regresi dan berubah menjadi prekartilag, kemudian berubah lagi menjadi retikulum vascular longgar.
Neuroblas ganglion koklear akan terpisah dari epitelium neural otik dan serabut dari badan sel ganglion ini mulai tumbuh secara perifer kembali ke epitelium otk dan secara sentral ke brainstem pada sekitar usia ke 9-10 kehamilan. Perkembangan telinga dalam tidak tergantung pada stimulus neural ataupun efek tropik. Hal ini menjelaskan mengapa koklear dapat tetap normal pada kasus aplasia nervus vestibulokoklear.
Klasifikasi dan Malformasi Labirin
21% penuruna pendengaran tipe sensorineural kongenital terjadi akibat malformasi telinga dalam. Bing-Sibenmann, Scheibe, Mondini, Alexander, Michel, dkk adalah ilmuwan pertama yang menyebutkan mengenai malformasi telinga dalam. Istilah itu kemudian digantikan pada tahun 1987 dengan klasifikasi Robert Jackler, yang berhipotesis bahwa beberapa anomaly telinga dalam terjadi akibat gagalnya maturasi pada banyak tingkatan yang berbeda embriogenesis telinga dalam. Oleh karena itu,
malformasi yang paling parah, seperti aplasia total dari aplasia labirin dan rongga umum terjadi karena gangguan pada awal perkembangan otik pit dan kista otik. Kanalis semisirkularis lateral merupakan organ yang terakhir terbentuk, menjelaskan mengapa kasusnya paling banyak, tapi tidak parah secara klinis. Namun, jelas terbukti bahwa mayoritas malformasi telinga dalam terjadi secara genetikdan bukan gangguan proses embriologis. Levent Sennaroglu memperkenalkan klasifikasi malformasi koklear yang lebih praktis pada tahun 2002, yang membantu operator untuk mengetahui apakah implantasi koklear atau batang otak mungkin dilakukan dan mengingatkan akan bahaya yang mungkin terjadi, seperti bocornya cairan serebrospinal, resiko terjadinya meningitis, lengkung abnormal nervus fascialis, dll.
Kanalis semisirkularis
Malformasi kanal yang paling sering terjadi di kanalis semisirkularis lateral, karena merupakan organ yang paling terakhir terbentuk. Hal ini juga menjelaskan mengapa malformasi kanalis semisirkularis posterior dan superior dengan kanalis semisirkularis lateralis yang normal sangat jarang terjadi. Malformasi yang halus kadang terjadi tanpa adanya gejala klinis, seperti kanal yang besar tapi pendek, kanal yang sempit, kanal dengan sudut lebih banyak atau ampulla yang membesar dan kadang kanal yang menyatu sebagian bisa ditemukan tanpa adanya temuan klinis yang berarti. Meski begitu, seluruh kelainan ini harus tetap dideteksi dan dilaporkan karena dapat membantu untuk melihat apakah terdapat malformasi telinga dalam yang tidak terlihat. Laporan ini juga membantu operator saat berurusan dengan telinga yang lebih rentan dan memiliki risiko tinggi mengalami tuli pasca operasi, kanalis semisirkularis lateral dianggap sudah membesar apabila bagian posteromedialnya lebih lebar dari 1.8mm. Terkadang terlihat juga suatu kavitas yang terdiri dari vestibulum dan kanalis semisirkularis lateral. Malformasi ini disebut displasia kanalis semisirkularis lateral vestibulum. Biasanya tidak ada malformasi telinga dalam lainnya dan secara klinis sulit diketahui. Malformasi ini dapat terjadi secara bilateral. Bila terjadi bersamaan dengan malformasi telinga dalam lainnya, malformasi ini tidak lagi disebut sebagai displasia kanalis semisirkularis lateralis vestibulum. Aplasia kanalis atau duktus semisirkularis total atau sebagian lebih jarang terjadi dan dapat atau tidak dapat berhubungan dengan malformasi koklear.
Tidak adanya kanalis semisirkularis pada MRI tehnik T-2 weighted harus dicek ulang dengan CT-Scan dimana obliterasi serabut atau ossifikasi kanal dapat menyerupai
apalasia pada MRI. Tidak adanya kanalis semisirkularis dengan koklear yang normal selalu akan dihubungkan dengan suatu sindrom yang dikenal sebagai CHARGE ( Coloboma, Heart Disease, Atresia Choanae, Retarded Growth and Development, Genital Hypoplasia, Ear Abnormalities). Sebagian kasus terjadi akibat mutasi pada gen CHD7 (kromosom 8) dan bisa diturunkan secara autosomal dominan. Aplasia yang hanya terjadi pada duktus semisirkularis superior terjadi pada pasien dengan sindrom Alagille dan Waardenburg. Aplasia yang hanya terjadi pada kanalis semisirkularis posterior dilaporka terjadi akibat adanya paparan dengan obat thalidomide selama masa kehamilan. Dehisens kanalis semisirkularis superior dipertimbangkan sebagai abnormalitas tumbuh-kembang, Meskipun tulang tipis abnormal di atas kanal superior pada sekitar 1-2% dari keseluruhan populasi mempengaruhi perkembangannya. Tekanan yang terus menerus dari lobus temporal dan aliran cairan sereebrospinal serta adanya trauma dapat mengganggu tulang tipis ini dan hal ini menjelaskan mengapa kasus ini biasa terdiagnosis pada usia sekitar 45 tahun. Hal ini menciptakan energi suara dari window baru, yang sebelumnya hanya ada oval window dan round window. Energi suara ini ditransmisikan ke labirin vestibular dan menstimulai sel rambut untuk membentuk suara yang dapat menginduksi terjadinya vertigo atau nistagmus, yang disebut Fenomena Tullio.
Malformasi Vestibular
Anomali tersering dari vestibular dan struktur utrikulus sakulus biasanya berkaitan dengan malformasi telinga dalam. Deformitas sendiri atau pembesaran vestibulum lebih jarang terjadi. Saat membesar, bagian posterior dari vestibular meluas lebih jauh ke posterior daripada bagian paling posterior dari kanal semisirkularis lateral. Kanalis semisirkularis lateral menjadi lebih pendek saat vestibular membesar dan mulai berasimilasi dengan vestibula. Vestibular dapat dikatakan membesar apabila pada CT- Scan permukaan bone island disekita kanalis semisirkularis lateral menurun menjadi 6 mm2 . pada pasien yang mengkonsumsi thalidomide dilaporkan kejadian pembesaran vestibular tanapa asimilasi dengan kanais semisirkularis lateral.
Malformasi koklear : klasifikasi Sennaroglu
Aplasia Labirin
Aplasia labirin merupakan malformasi telinga dalam yang paling parah, dikenal sebagai
deformitas Michel. Pada kasusu yang sangat jarang, koklea, vestibula dan semikanalis
sirkularis, aquaduktus vestibular dan aquaduktus koklear tidak ditemukan. Aplasia labirin dapat berkaitan dengan aplasia tulang petrous dan pada pasien-pasien ini kanalis auditori interna tidak ada. Saat kanalis auditori interna ditemukan, biasanya hanya berisi nervus fascialis. Nervus vestibulokoklear tidak ditemukan pada pasien dengan aplasia labirin dan
oleh karena itu implantasi koklear tidak mungkin dapat dilakukan.
Aplasia koklear
Koklear tidak ditemukan. Vestibula dan kanalis semisirkularis mungkin normal atau terjadi malformasi dan berlokasi posterolateral menuju fundus kanalis auditori interna. Pada kasus ini, implantasi koklea tidak mungkin dilakukan.
Common Cavity
Koklear dan vestibula terlihat sebagai satu kavitasberbentuk bulat atau telur. Kanalis semisirkularis dapat normal ataupun terjadi malformasi. Kanalis auditori interna biasanya mencapai common cavity pada bagian tengahnya, cavitas ini berisi struktur neural dari koklear dan vestibular, tetapi keberadaan nervus kokleavestibular atau cabang koklear dari nervus vestibulokoklearis harus bisa ditemukan sebelum mempertimbangkan untuk dilakukan implantasi koklear. Karena bahkan saat ditemukan nervus vestibulakoklear sekalipun, hasil setelah pemasangan implantasi koklear biasanya buruk. Common cavity harus dibedakan dari kasus aplasia koklear dengan dilatasi vestibular. Aplasia koklear dengan dilatasi vestibular terletak posterolateral dari fundus kanalis auditori interna dan stimulasi dengan implantasi koklea pada pasien-pasien ini tidak mungkin dilakukan.
Partisi Inkomplit tipe I, II dan III
Pada pasien-pasien ini, abnormalitas didalam koklear ditemukan mempengaruhi modiulus dan septa interscalar.
Tipe I :
Pada tipe koklea ini, modiulus dan seluruh septa interskalar tidak ditemukan. Koklea terlihat seperti struktur kistik kosong. Oleh karena itu abnormalitas ini disebut dengan malformasi kokleovestibular kistik. Dimensi luar dari koklea normal. Lokasi sel ganglion tidak diketahui, tetapi harus terletak di perifer dari koklea kistik dan oleh karena itu, non
hugging electrode dengan ring komplit harus digunakan. Vestibular mengalami dilatasi dan akuaduktus vestibular seringnya normal tetapi terdapat defek diantara koklea dan fundus kanalis auditori interna akibat tidak adanya modiulus . defek ini mengakibatkan tekanan cairan serebrospinal bertransmisi ke ruang perilipa dan mengakibatkan semburan telinga saat dilakukan implantasi koklea. Oleh karena itu, operatordapat menggunakan elektroda yang dibuat sendiri dengan tipe cork cincin silikon.
Tipe II :
Hanya bagian basal dari modiulus yang ditemukan pada kolea tipe II, tidak ditemukan modiulus dan septa interscalar pada bagian apeks koklear. Hal ini menyebabkan adanya gambaran kistik pada apeks koklear akibat pertemuan belokan apeks dan medial. Perubahan koklear yang mirip dideskripsikan juga oleh Mondini dan dikenal dengan nama deformitas mondini. Deformitas mondini terjadi saat kelainan koklear ini berhubungan dengan adanya dilatasi vestibular dan akuaduktus vestibular yang besar. Sel ganglion spiral ditemukan pada bagian basal koklear yang normal, oleh karena itu, stimulasi yang baik dengan elektroda yang diletakkan di belokan basal yang normal dapat dilakukan pada kasus ini.
Tipe III :
Abnormalitas koklear tipe III ini itemukan pada pasien dengan tuli yang berkaitan dengan kromosom X. modiulus sama sekali tidak ditemukan, septa interskalar ditemukan pada dinding lateral koklea. Dimensi luar koklea normal dan terletak pada lateral ujung fundus kanalis auditori interna dan tidak pada posisi normalnya yaitu anterolateral fundus kanalis auditori intern. Elektroda full-ring short, yang membuat satu putaran pada koklea merupakan jenis yang tepat untuk kasus ini. Elektroda normal yang panjang berisiko untuk kasuk ke kanalis auditori interna.
Hipoplasia koklear
Pada hypoplasia koklear, dimensi luar dari koklea lebih kecil dari normal. Sulit untuk menghitung ukuran pastinya melalui CTScan dan MRI. Elektroda yang lebih pendek biasanya digunakan untuk pasien-pasien ini. Terdapat tiga tipe hypoplasia koklear dapat dibedakan dengan klasifikasi Sennaroglu.
Tipe I atau koklea seperti kuncup : koklea terlihat seperti kuncup kecil yang terletak di lateral ujung kanalis auditori interna. Modiulus dan septainterskalar tidak ditemukan.
Tipe II atau koklea hipoplastik kistik : dimensi koklea lebih kecil dari normal, tetapi arsitektur ekternalnya normal modiulus dan septa interskalar tidak ada dan terdapat koneksi yang luas diantara koklea dan kanalis auditori interna, akuaduktus vestibular membesar dan vestibular sedikit mengalami dilatasi. Pada pasien ini semburan telinga dapat terjadi dan juga terdapat risiko bahwa elektroda bisa masuk ke kanalis auditori interna.
Tipe III atau koklea kurang dari dua putaran : modiulus lebih kecil dan panjang septa scalar berkurang, menyebabkan kurangnya putaran .koklea memiliki arsitektur internal dan eksternal yang normal dan biasanya terjadi bersamaan dengan hipolasia vestibular dan kanalis semisirkularis.
Daftar pustaka
Jafek BW, Nager GI, Strife J. et al. Congenital aural atresia: an analysis of 311 cases. 1Tans Am Acad Ophthalmol Otolaryngol 1975;80:588-592.
Bellucci RJ. Congenital aural malformations: diagnosis and treat- ment. Otolaryngol Clin North Am 1981;14:95-124.
Jalusdoerfer RA. Congenital atresia of the ear. La1J111goscope 1978;88(Suppl13):1-46.
Lambert PR. Congenital absence ofthe oval window. La1J111goscope 1990;100:37-40.
Gerhardt HJ, Otto HD. The intratemporal course of the facial nerve and its influence on the development of the ossicular chain. Acta Otol
DAFTAR ISI
MODUL I.7
OTOLOGI - NEOPLASMA TELINGA
WAKTU PEMBELAJARAN
Proses pengembangan kompetensi | Alokasi waktu |
Sesi dalam kelas | 6 x 60 menit (classroom session) |
Sesi praktikum | 6 x 60 menit (coaching session) |
Sesi praktik dan pencapaian kompetensi | 6 x 60 menit (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Bahan penunjang presentasi:
Power point
Video
Kasus: Neoplasma telinga luar, tengah dan dalam.
Sarana dan alat bantu latih: (disesuaikan dengan pencapaian kompetensi)
Penuntun belajar (learning guide): terlampir.
Tempat belajar (training setting): instalasi rawat jalan, instalasi rawat inap, kamar operasi, ruang praktikum.
Model/manekin telinga.
Komputer/laptop.
In focus.
REFERENSI
Snow, J.B, P. Ashley W. 2009. Ballengers Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. 17th Edition. Peoples's Medical Publishing House. Connecticut.
Gulya, A.J., Lloyd B.M., Dennis S.P. 2010. Glasscock-Shambaugh Surgery of the Ear. 6th LEST JTNAK DAN NEOPLASMAEdition. People's Medical Publishing House- USA. Connecticut.
Chan, Y., John C.G. 2016. K.J. Lee's Essential Otolaryngology Head and Neck
Surgery. 11th Edition. Mc Graw Hill. New York.
Johnson, J.T., Clark A.R. 2014. Bailey's Head and Neck Surgery Otolaryngology. 5th Edition. Lippincott Williams & Wilkins. Philadelphia.
Flint, P.W., Bruce H.H., Valerie J.L., John K.N., Mark A.R., K. Thomas R., J. Regan
T. 2010. Cummings Otolaryngology Head and Neck Surgery. 5th Edition. Mosby Elsevier. Philadelphia.
Gleeson, M., Browning G.G., Burton M.J., Clarke R., Hibbert J., Jones N.S., Lund V.J., Luxon L.M., Watkinson J.C. 2008. Scott-Brown's Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. Mosby Elsevier. Philadelphia.
Wigand M.E, 2001. Restitusional surgery of the Ear and Temporal Bone. Thieme, Stuttgard.
KOMPETENSI
Pengetahuan
Setelah mengikuti sesi ini peserta mampu:
Menjelaskan anatomi, topografi dan fisiologi telinga luar, tengah dan dalam.
Menjelaskan definisi dan patofisiologi lesi jinak dan neoplasma telinga luar, tengah dan dalam
Menjelaskan gambaran klinis dan penatalaksanaan neoplasma telinga luar, tengah dan dalam.
Menegakkan diagnosis lesi jinak dan neoplasma telinga luar, tengah dan dalam.
Menjelaskan penanganan lesi jinak dan neoplasma telinga luar, tengah dan dalam dan komplikasinya sesuai kompetensi.
Menjelaskan tindakan bedah pada kasus lesi jinak dan neoplasma telinga luar, tengan dan dalam.
Menjelaskan work-up pasien lesi jinak dan neoplasma telinga luar, tengah dan dalam.
Keterampilan
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam:
Melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang pada lesi jinak dan neoplasma telinga luar, tengah dan dalam.
Menegakan diagnosis lesi jinak dan neoplasma telinga luar, tengah dan dalam.
Melakukan tindakan bedah pada kasus lesi jinak dan neoplasma telinga luar, tengah dan dalam.
Melakukan rujukan bila pada penderita dengan stadium lanjut
CONTOH KASUS DAN DISKUSI
Kasus 1
Seorang lelaki 25 tahun datang dengan keluhan telinga kanan terasa penuh sejak 6 bulan, tidak ada keluhan otore dan otalgi. Pendengaran normal. Pada pemeriksaan otoskopi tampak KAE telinga kanan sempit, penonjolan massa dengan permukaan kulit sama dengan kulit sekitar.
Diskusi:
Lengkapi anamnesis.
Lengkapi pemeriksaan fisik.
Sebutkan diagnosis banding.
Jelaskan bagaimana tatalaksana. Jawaban:
Menanyakan pekerjaan dan hobi, misalnya penyelam atau surfer.
Melakukan pemeriksaan telinga dengan otoskopi dan palpasi massa dengan sonde.
Bila keras diagnosis banding adalah osteoma dan eksostosis, bila teraba lunak adalah Adenoma atau tumor jaringan lunak lain.
Untuk menegakkan diagnosis dilakukan pemeriksaan CT Scan. Bila diagnosis adenoma maka dikerjakan operasi eksisi luas dan rekonstruksi liang telinga. Bila eksostosis atau osteoma maka dikerjakan eksisi dengan pendekatan yang sesuai dengan grade.
Kasus 2
Seorang wanita usia 50 tahun datang dengan keluhan telinga kiri berdenyut sejak 1 tahun. Pada pemeriksaan otoskopi tampak membran timpani intak berwarna merah kebiruan.
Diskusi:
Lengkapi anamnesis.
Sebutkan pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan.
Apa diagnosis banding.
Bagaimana pengobatannya bila diagnosisnya adalah glomus timpanikum.
Jawaban:
Menanyakan keluhan penurunan pendengaran, ada perdarahan atau tidak. Bagaimana fungsi nervus fasialis, ada paresis atau tidak. Bagaimana keluhan sistemik, apakah ada nyeri kepala, jantung berdebar, dan berkeringat banyak.
Audiometri nada murni, CT scan dan MRI.
Glomus timpanikum, kolesteatoma kongenital, kista, granuloma kolesterol.
Modalitas terapi dapat surgikal, radiasi, embolisasi maupun kombinasi. Terapi surgikal melalui pendekatan transkanal bila tumor klas I, mastoidektomi dengan extended facial recess bila tumor klas II-IV. Radiasi dan embolisasi untuk mengurangi vaskularisasi.
Kasus 3
Seorang wanita usia 55 tahun datang ke klinik THT dengan keluhan daun telinga kanan terdapat luka yang tidak sembuh sembuh sejak satu tahun, luka semakin melebar disertai nyeri. Pada pemeriksaan fisik; lesi tertutup krusta, ketika krusta dilepas tampak ulkus.
Diskusi:
Lengkapi anamnesis pada pasien ini.
Lengkapi pemeriksaan fisik pada pasien ini.
Apa diagnosis kerja yang paling mungkin pada pasien ini.
Jelaskan patogenesisnya!
Apa komplikasi yang mungkin terjadi?
Bagaimana penatalaksanaan pada pasien ini? Jawaban:
Perlu ditanyakan bagaimana awal terbentuknya luka tersebut apakah ada trauma sebelumnya atau diawali dengan munculnya benjolan, apakah sudah pernah berobat atau belum. Apakah penderita mempunyai riwayat DM. Apakah sebelumnya ada benjolan berwarna hitam (nevus pigmentosus). Apakah luka disertai dengan keluhan lain seperti nyeri, luka mudah berdarah, apakah luka cepat membesar/meluas. Apakah pekerjaan penderita tersebut, bila seorang petani, paparan sinar matahari sebagai faktor risiko.
Bagaimana ukuran lesi dan gambaran lesinya.
Diagnosis kerja adalah karsinoma sel skuamosa .
Paparan sinar matahari sebagai faktor risiko.
Komplikasi metastase ke kelenjar limfe leher meskipun jarang.
Pada pasien ini dilakukan biopsi untuk pemeriksaan histopatologi dan dilakukan eksisi dengan tepi bebas tumor. Lesi yang kecil dieksisi dan dilakukan rekonstruksi, sedangkan lesi yang besar dilakukan aurikulektomi total.
Kasus 4
Seorang laki-laki usia 50 tahun datang ke IGD dengan keluhan wajah merot ke kiri sejak 1 minggu yang lalu. Riwayat sejak satu tahun terakhir keluar cairan dari telinga sebelah kanan. Cairan warana kuning kadang disertai darah.. Daun telinga kanan terasa lebih menonjol ke luar. Demam disangkal. Pada pemeriksaan fisik; parese nervus fasialis kanan, liang telinga terdapat massa, benjolan pada retroarikula kanan.
Diskusi:
Lengkapi anamnesis pada pasien ini!
Lengkapi pemeriksaan fisik pada pasien ini!
Apa diagnosis kerja yang paling mungkin pada pasien ini?
Jelaskan patogenesisnya!
Apa komplikasi yang mungkin terjadi?
Bagaimana pemeriksaan dan penatalaksanaan pada pasien ini? Jawaban:
Apakah ada riwayat otore sebelumnya? Apakah terasa nyeri, terus-menerus dan semakin berat? Apakah disertai pusing berputar atau gangguan kesimbangan dan kurang pendengaran? Apakah sakit ketika membuka mulut? Sudah berapa lama muncul benjolan di liang telinga dan belakang telinga?
Ukuran dan konsistensi benjolan. Warna dan bentuk massa pada liang telinga. Warna cairan telinga. Derajat parese nervus fasialis. Kelenjar limfe leher.
Diagnosis kerja adalah tumor ganas telinga tengah. Diagnosis banding OMSK disertai kolesteatoma.
Tumor yang mengivasi ke tulang temporal ditandai dengan parese nervus fasialis.
Komplikasi metastase ke kelenjar limfe leher, invasi ke labirin, metastase intrakranial, parese nervii kranialis. Destruksi sendi temporomandibula.
Pada pasien ini dilakukan pemeriksaan THT (inspeksi, palpasi, otoskopi, pemeriksaan kelenjar limfe leher), tes fungsi nervus facialis, pemeriksaan CT Scan/ MRI temporal sebelum dilakukan biopsi, Penderita dirujuk ke dokter yang lebih kompeten.
Kasus 5
Seorang wanita usia 55 tahun datang ke klinik THT dengan keluhan daun telinga kanan terdapat luka yang tidak sembuh sembuh sejak satu tahun, luka semakin melebar disertai nyeri. Pada pemeriksaan fisik; lesi tertutup krusta, ketika krusta dilepas tampak ulkus.
Diskusi:
Lengkapi anamnesis pada pasien ini.
Lengkapi pemeriksaan fisik pada pasien ini.
Apa diagnosis kerja yang paling mungkin pada pasien ini.
Jelaskan patogenesisnya!
Apa komplikasi yang mungkin terjadi?
Bagaimana penatalaksanaan pada pasien ini?
Jawaban:
Perlu ditanyakan bagaimana awal terbentuknya luka tersebut apakah ada trauma sebelumnya atau diawali dengan munculnya benjolan, apakah sudah pernah berobat atau belum. Apakah penderita mempunyai riwayat DM. Apakah sebelumnya ada benjolan berwarna hitam (nevus pigmentosus). Apakah luka disertai dengan keluhan lain seperti nyeri, luka mudah berdarah, apakah luka cepat membesar/meluas. Apakah pekerjaan penderita tersebut, bila seorang petani, paparan sinar matahari sebagai faktor risiko.
Bagaimana ukuran lesi dan gambaran lesinya.
Diagnosis kerja adalah karsinoma sel skuamosa .
Paparan sinar matahari sebagai faktor risiko.
Komplikasi metastase ke kelenjar limfe leher meskipun jarang.
Pada pasien ini dilakukan biopsi untuk pemeriksaan histopatologi dan dilakukan eksisi dengan tepi bebas tumor. Lesi yang kecil dieksisi dan dilakukan rekonstruksi, sedangkan lesi yang besar dilakukan aurikulektomi total.
Kasus 6
Seorang laki-laki usia 50 tahun datang ke IGD dengan keluhan wajah merot ke kiri sejak 1 minggu yang lalu. Riwayat sejak satu tahun terakhir kedalam cairan dari telinga sebelah kanan. Cairan warana kuning kadang disertai darah.. Daun telinga kanan terasa lebih menonjol ke dalam. Demam disangkal. Pada pemeriksaan fisik; parese nervus fasialis kanan, liang telinga terdapat massa, benjolan pada retroarikula kanan.
Diskusi:
Lengkapi anamnesis pada pasien ini!
Lengkapi pemeriksaan fisik pada pasien ini!
Apa diagnosis kerja yang paling mungkin pada pasien ini?
Jelaskan patogenesisnya!
Apa komplikasi yang mungkin terjadi?
Bagaimana pemeriksaan dan penatalaksanaan pada pasien ini? Jawaban:
Apakah ada riwayat otore sebelumnya? Apakah terasa nyeri, terus-menerus dan semakin berat? Apakah disertai pusing berputar atau gangguan kesimbangan dan kurang pendengaran? Apakah sakit ketika membuka mulut? Sudah berapa lama muncul benjolan di liang telinga dan belakang telinga?
Ukuran dan konsistensi benjolan. Warna dan bentuk massa pada liang telinga. Warna cairan telinga. Derajat parese nervus fasialis. Kelenjar limfe leher.
Diagnosis kerja adalah tumor ganas telinga tengah. Diagnosis banding OMSK disertai kolesteatoma.
Tumor yang mengivasi ke tulang temporal ditandai dengan parese nervus fasialis.
Komplikasi metastase ke kelenjar limfe leher, invasi ke labirin, metastase intrakranial, parese nervii kranialis. Destruksi sendi temporomandibula.
Pada pasien ini dilakukan pemeriksaan THT (inspeksi, palpasi, otoskopi, pemeriksaan kelenjar limfe leher), tes fungsi nervus facialis, pemeriksaan CT Scan/ MRI temporal sebelum dilakukan biopsi, Penderita dirujuk ke dokter yang lebih kompeten.
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan Pembelajaran Umum
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik terampil dalam:
Mampu menegakkan diagnosis klinis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang pada kasus lesi jinak dan neoplasma telinga luar, tengah dan dalam.
Mampu memutuskan dan menangani kasus lesi jinak dan neoplasma telinga luar, tengah dan dalam sesuai kompetensi.
Tujuan Pembelajaran Khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk:
Menjelaskan anatomi, topografi dan fisiologi telinga luar, tengah dan dalam
Menjelaskan definisi dan patofisiologi lesi jinak dan neoplasma telinga luar, tengah dan dalam.
Menjelaskan gambaran klinis lesi jinak dan neoplasma telinga luar, tengah dan dalam.
Melakukan biopsi pada kasus lesi jinak dan neoplasma telinga luar, tengah dan dalam.
Melakukan penanganan bedah pada lesi jinak dan neoplasma telinga luar, tengah dan dalam sesuai kompetensi.
Melakukan follow up pasien lesi jinak dan neoplasma telinga luar, tengah dan dalam.
Melakukan rujukan bila pada penderita dengan stadium lanjut.
METODE PEMBELAJARAN
Tujuan 1. Menjelaskan anatomi, histologi, topografi dan fisiologi telinga luar, tengah dan dalam.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Diskusi kelompok. Harus diketahui:
Anatomi, histologi, dan topografi telinga luar, tengah dan dalam.
Fisiologi telinga luar, tengah dan dalam.
Tujuan 2. Menjelaskan definisi dan patofisiologi lesi jinak dan neoplasma telinga luar, tengah dan dalam.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Tinjauan pustaka.
Diskusi kelompok. Harus diketahui:
Patogenesis dan patofisiologi lesi jinak dan neoplasma telinga luar, tengah dan dalam.
Tujuan 3. Menjelaskan gambaran klinis lesi jinak dan neoplasma telinga luar, tengah dan dalam.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Tinjauan pustaka.
Kuliah.
Diskusi kelompok. Harus diketahui:
Gambaran klinis (gejala dan tanda) lesi jinak dan neoplasma telinga luar, tengah dan dalam.
Pencitraan telinga luar, tengah dan dalam.
Tujuan 4. Melakukan biopsi pada kasus lesi jinak dan neoplasma telinga dan tulang temporal.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Kuliah.
Diskusi kelompok.
Praktikum.
Bedside teaching.
Praktik pada pasien. Harus diketahui:
Prosedur biopsi lesi jinak dan neoplasma telinga luar, tengah dan dalam.
Komplikasi tindakan biopsi lesi jinak dan neoplasma telinga luar, tengah dan dalam.
Tujuan 5. Melakukan penanganan bedah pada lesi jinak dan neoplasma telinga luar, tengah dan dalam sesuai kompetensi.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Kuliah.
Diskusi kelompok.
Praktikum.
Bedside teaching.
Praktik pada pasien. Harus diketahui:
Prosedur tindakan bedah pada lesi jinak dan neoplasma telinga luar, tengah dan dalam sesuai kompetensi.
Komplikasi tindakan bedah pada lesi jinak dan neoplasma telinga luar, tengah dan dalam.
Tujuan 6. Melakukan follow up pasien lesi jinak dan neoplasma telinga luar, tengah dan dalam.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Kuliah.
Diskusi kelompok.
Bedside teaching.
Praktik pada pasien. Harus diketahui:
Hal-hal yang harus diperhatikan pada pasien dengan lesi jinak dan neoplasma telinga luar, tengah dan dalam.
Edukasi yang perlu diberikan pada pasien.
Tujuan 7. Melakukan rujukan bila pasien dalam stadium lanjut
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Kuliah.
Diskusi kelompok.
Bedside teaching.
Praktik pada pasien. Harus diketahui:
Stadium lesi jinak dan neoplasma telinga luar, tengah dan dalam.
Kondisi kegawatdaruratan pada lesi jinak dan neoplasma telinga luar, tengah dan dalam.
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pretest dalam bentuk tertulis dan lisan sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai pengetahuan awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri atas:
Anatomi dan fisiologi telinga luar, tengah dan dalam.
Pemeriksaan fisik/THT/penunjang
Penegakan diagnosis.
Penatalaksanaan.
Selanjutnya dilakukan diskusi bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar.
Peserta didik diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar melalui metode bedside teaching kepada pasien sesungguhnya dengan pengawasan fasilitator dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut:
Perlu perbaikan: pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan.
Cukup: pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien.
Baik: pelaksanaan benar dan baik (efisien).
Melakukan case based discussion (formulir penilaian terlampir).
Peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education).
Pencapaian pembelajaran:
Ujian akhir stase, setiap divisi/unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan.
Ujian nasional dilakukan pada akhir tahapan pendidikan spesialis oleh kolegium ilmu kesehatan THT-KL.
INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF
Sebutkan jenis-jenis lesi jinak dan neoplasma telinga luar, tengah dan dalam.
Kuesioner:
Sebelum pembelajaran
Soal
Apakah yang yang dimaksud lesi jinak dan neoplasma.
Sebutkan klasifikasi lesi jinak pada telinga luar, tengah dan dalam .
Sebutkan lesi jinak pada telinga luar, tengah dan dalam.
Tengah pembelajaran
Soal
Apakah adenoma? Sebutkan macamnya!
Sebutkan diagnosis banding osteoma dan pemeriksaan yang diperlukan!
Bagaimana etiopatogenesis eksostosis?
Essay/ujian Lisan/Ujian Sumatif
Bagaimana penatalaksanaan lesi jinak liang telinga?
J. INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR
PENUNTUN BELAJAR KANALOPLASTI
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutan tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan) pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
NAMA PESERTA: .................. TANGGAL:......................
KEGIATAN | KASUS | ||
KAJIAN ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||
| |||
I. PROSEDUR KANALOPLASTI | |||
- Insisi dibuat di daerah insisura terminalis (endaural). | |||
- Memasang retraktor endaural agar liang telinga luar terdilatasi. | |||
- Kulit diinsisi disebelah lateral dari eksostosis dan dielevasi ke medial sampai tampak tonjolan tulang eksostosis. | |||
- Aluminium shield atau bola kapas diletakkan di antara flap kulit dan tulang eksostosis untuk melindungi kulit pada saat dilakukan pengeboran. | |||
| |||
PENUNTUN BELAJAR
BIOPSI NEOPLASMA DAUN TELINGA
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.:
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
NAMA PESERTA:.................. TANGGAL:......................
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJIAN ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||||
| |||||
| |||||
II. PROSEDUR BIOPSI | |||||
- Cuci tangan, mengenakan sarung tangan steril. | |||||
- Tindakan aseptik pada daerah tumor dan sekitarnya dengan povidon iodine. | |||||
- Biopsi dengan mikrobiopsi forcep. | |||||
- Evaluasi luka biopsi, kendali perdarahan dan rawat luka biopsi. |
PENUNTUN BELAJAR II
PROSEDUR RESEKSI NEOPLASMA LIANG TELINGA
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutan tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan) pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
NAMA PESERTA:............................... TANGGAL:..................
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||||
| |||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR RESEKSI NEOPLASMA LIANG TELINGA | |||||
- Pemberian antibiotik preoperative secara injeksi. | |||||
- Menyiapkan mikroskop dan alat-alat yang akan digunakan. | |||||
- Cuci tangan, memakai baju operasi. | |||||
- Tindakan aseptik dan antiseptik pada daerah operasi dengan menggunakan povidon iodine atau dengan antiseptik lainnya. | |||||
- Pasang kain penutup steril, kepala miring ke bawah berlawanan dengan sisi yang dioperasi. | |||||
III. PROSEDUR OPERASI | |||||
| |||||
K. DAFTAR TILIK
DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA KANALOPLASTI
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini:
: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau
panduan standar
X: Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
T/T: Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
PESERTA: ..................................................... TANGGAL: ................................
KEGIATAN | NILAI | ||
1. Kaji ulang diagnosis. | |||
2. Persiapan tindakan. | |||
3. Melakukan tindakan sesuai dengan prosedur. | |||
4. Melakukan follow up setelah tindakan. | |||
DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA PROSEDUR BIOPSI NEOPLASMA DAUN TELINGA
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini:
: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
X: Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
T/T: Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
NAMA PESERTA:.................. TANGGAL:......................
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJIAN ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||||
| |||||
II. PROSEDUR BIOPSI | |||||
- Cuci tangan, mengenakan sarung tangan steril. | |||||
- Tindakan aseptik pada daerah tumor dan sekitarnya dengan povidon iodine. | |||||
- Biopsi dengan mikrobiopsi forcep. | |||||
- Evaluasi luka biopsi, kendali perdarahan dan rawat luka biopsi. | |||||
DAFTAR TILIK II
PROSEDUR RESEKSI NEOPLASMA LIANG TELINGA
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini:
: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
X: Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
T/T: Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
NAMA PESERTA:............................... TANGGAL:..................
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||||
| |||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR RESEKSI NEOPLASMA LIANG TELINGA | |||||
- Pemberian antibiotik preoperative secara injeksi. | |||||
- Menyiapkan mikroskop dan alat-alat yang akan digunakan. | |||||
- Cuci tangan, memakai baju operasi. | |||||
- Tindakan aseptik dan antiseptik pada daerah operasi dengan menggunakan povidon iodine atau dengan antiseptik lainnya. | |||||
- Pasang kain penutup steril, kepala miring ke bawah berlawanan dengan sisi yang dioperasi. | |||||
III. PROSEDUR OPERASI | |||||
| |||||
|
PENUNTUN BELAJAR RESEKSI TULANG TEMPORAL | ||||||
NO | KEGIATAN | KASUS | ||||
1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | ||||||
| Nama | |||||
| Diagnosis | |||||
| Informed Choice & Informed Consent | |||||
| Rencana Tindakan | |||||
| Persiapan Sebelum Tindakan | |||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR OPERASI | ||||||
1. | Pemberian antibiotika preoperatif, secara injeksi | |||||
2. | Menyiapkan mikroskop dan alat-alat yang akan digunakan | |||||
3. | Cuci tangan, memakai baju operasi | |||||
4. | Tindakan a dan antiseptik pada daerah operasi dan sekitarnya dengan menggunakan povidon iodine atau antiseptik lainnya | |||||
5. | Pasang kain penutup operasi steril pada pasien, kecuali di area operasi | |||||
6. | Posisi pasien: terlentang, kepala miring ke arah berlawanan dengan sisi telinga yang dioperasi | |||||
III. PROSEDUR OPERASI | ||||||
Tindakan reseksi tulang temporal lateral | ||||||
1. | Dilakukan pembuatan landmark dari liang telinga luar dan dilakukan insisi post aurikular. | |||||
2. | Daun telinga ditarik ke depan hingga dapat mengekspos kelenjar karotis. Nervus fasialis didiseksi dari foramen stilomastoideus hingga pes ancerinus. | |||||
3. | Dilakukan simple mastoidektomy hingga resesus fasialis terpapar. Nervus fasialis bagian second genu harus dibuka sampai ke foramen stilomastoid. Sendi | |||||
inkudostapedial dilepaskan dan nervus fasialis lebih paparkan ke arah anterior sepanjang segmen horizontal. | ||||||
4. | Kemudian spesimen tumor dibuang dengan cara en bloc. Dilakukan dua sudut lapangan operasi. | |||||
5. | Bagian atas liang telinga bagian tulang diekspos dengan cara membuka bagian epitimpani dan pangkal zigomatikus. Lapangan pandang kedua dibentuk dengan arah anterior-inferior dan medial, transeksi bagian medial tulang timpani sampai ke annulus timpanikus, tetapi sebelah lateral dari bulbus jugularis dan nervus fasialis. Lapangan pandang ini diteruskan ke anterior sampai fossa glinoid terekspos. | |||||
6. | Massa yang terletak disisi anterior dari tulang timpani dapat dibebaskan dengan menggunakan osteotom. Kavitas mastoid yang luas terbentuk. | |||||
7. | Sisa massa tumor yang melekat pada kelenjar parotis kemudian diangkat. Tuba eusthacius dapat ditutup dengan menggunakan otot dan defek yang terbentuk ditutup dengan split-thickness skin graft. | |||||
Tindakan reseksi tulang temporal total | ||||||
1. | Flap kulit aurikular dan servikal diangkat dan pembuluh darah besar serta nervus di leher diidentifikasi. Kelenjar karotis, nervus fasialis, dan ramus asendens mandibula direseksi. | |||||
2. | Arteri karotis interna dan eksterna dipisahkan beserta nervus kranial IX (glosofaringeus), nervus X (vagus), dan nervus XI (assesorius), dan vena jugularis internus, otot pterigoideus dipisahkan. Nervus trigeminalis bagian mandibular (V3) diidentivikasi dan dipreservasi. | |||||
3. | Kraniotomi dilakukan. Fossa dura media dan posterior diekspos. Sinus transversus diligasi di bagian posterior pada pertemuan dengan sinus sigmoideus. Sinus petrosus superior dipisahkan di bagian anteriornya sebelum ia masuk kedalam sinus kavernosus. Pahat diletakkan di foramen ovale dan diarahkan ke sinus petrosus superior. Ia melewati bagian lateral sinus kavernosus melalui kanalis karotikus, basis kranii, dan dinding kranii lateral, untuk membebaskan bagian anterior dasar fossa media. | |||||
4. | Insisi posterior dilakukan pada sebelah lateral hingga ke medial diarahkan ke anterior dan dihentikan pada bagian posteromedial hingga ke tip mastoid dan posterior dari foramen jugular. Insisi yang menyambung dilakukan |
dari insisi posterolateral melalui bagian medial foramen jugular dan lateral dari foramen magnum. | ||||||
5. | Sinus petrosus inferior dipisahkan dan koneksi akhir membuat massa dapat dikeluarkan melalui teknik en bloc. | |||||
IV. PASCAOPERASI | ||||||
1. | Penderita dirawat di ruang yang tenang memberi waktu yang cukup untuk istirahat | |||||
2. | Observasi tanda-tanda perforasi atau komplikasi lain | |||||
L. MATERI PRESENTASI NEOPLASMA TELINGA LUAR
M. MATERI BAKU
Modul ini dikhususkan untuk tumor-tumor yang jarang ditemukan dan yang relatif sedikit diketahui. Beberapa ahli bedah mungkin tidak pernah menemukan ini selama kehidupan profesional mereka. Tujuan modul ini pertama, untuk memberikan informasi yang cukup untuk ahli bedah sehingga kondisi yang tidak jelas ini dapat dicurigai dari sejak tahap awal. Kedua, untuk memberikan gambaran tentang apa yang dianggap menjadi manajemen terbaik untuk neoplasma yang jarang ini.
Neoplasma telinga (tulang temporal dan telinga) juga dapat diklasifikasikan berdasarkan lokasi anatominya, di antaranya neoplasma pinna, CAE, telinga tengah dan mastoid, tulang temporal dan cerebellopontine angle (CPA). Pada umumnya karsinoma dari aurikulum dan meatus eksternus akan lebih mudah didiagnosis sehingga baik prognosisnya, sedangkan pada telinga tengah, mastoid dan dasar tengkorak diagnosis dan pengobatannya menjadi lebih sulit dan prognosisnya menjadi buruk.
Tabel 1.Klasifikasi Neoplasma Telinga (Tulang Temporal)
Jinak | Ganas | |
Telinga luar (aurikula dan kanalis auditori eksternus) |
|
|
BCCA: Basal Cell Carcinoma, SCCA: Squamous Cell Carcinoma
NEOPLASMA AURIKULA DAN KANALIS AUDITORI EKSTERNUS NEOPLASMA JINAK
Osteoma
Osteoma liang telinga merupakan massa tulang bertangkai, sering didapatkan unilateral, soliter, berasal dari sutura timpanoskuamosa dan sutura timpanomastoid serta letaknya lebih lateral dari eksostosis.
Kebanyakan ditemukan pada dewasa muda, walaupun neoplasama ini juga dapat ditemukan pada semua kelompok usia dan lebih sering didapatkan pada perempuan. Etiologinya belum diketahui. Bila tumor sudah sedemikian besar, pasien dapat mengalami tuli konduktif atau otitis eksterna rekuren.
Diagnosis diperoleh dari pemeriksaan otologi ketika pada palpasi tampak penonjolan tulang di bagian tulang liang telinga yang terfiksir dan tampak berwarma putih mutiara atau kemerahan. Pembedahan untuk mengangkat tumor yang simtomatik dapat dilakukan dengan pendekatan transkanal atau post auricular, dengan burr osteoma dibuang sementara sebisa mungkin kulit dipertahankan. Split-thickness skin grafts digunakan untuk menutupi bagian tulan timpanik yang tidak tertutup kulit.
Gambar 1. Osteoma: unilateral, singular, ditemukan di liang telinga lateral, tampak bertangkai (pedunculated)
Eksostosis
Eksostosis merupakan pertumbuhan tulang di (kanalis akustikus eksternus) KAE dengan basis yang lebar, timbul di sekitar sekeliling bagian medial tulang KAE. Tampak sebagai lesi multipel dan seringkali bilateral. Kebanyakan pasien terdiagnosis di usia remaja atau dewasa muda dan lebih sering didapatkan pada laki-laki.
Berhubungan erat dengan paparan air dingin, sering disebut "swimmer's nodules" atau "surfer's ear", diduga terjadi akibat cold-induced periostitis. Kebanyakan asimtomatik sampai KAE tertutup penuh atau sebagian.
Tata laksana pembedahan untuk eksostosis lebih menyulitkan dibandingkan osteoma. Biasanya menggunakan pendekatan post aurikular dan disarankan untuk monitor n.fasialis karena n.fasialis pars mastoid bagian distal berisiko mengalami cedera pada saat membuang sisi posteroinferior KAE dengan burr. Skin flaps dibuat sebelum memaparkan bagian lesi tulang baru kemudian eksostosis dibuang dengan burr sambal tetap mempertahankan kulit liang telinga. Split thickness skin graft mungkin diperlukan untuk mencegah pembentukan jaringan parut post operatif.
Gambar 2 Eksostosis, didapatkan di liang telinga sebelah medial, biasanya multipel dan bilateral dan tidak bertangkai (sessile)
Adenoma seruminosa
Merupakan neoplasma jinak tidak berkapsul, tidak mengivasi struktur di sekitarnya. Berasal dari kelenjar seruminosa, lebih banyak pada laki-laki dan usia rata- rata pasien pada saat terdiagnosis adalah 60 tahun.
Adenoma pleomorfik
Adenoma pleomorfik KAE serupa dengan neoplasma kelenjar ludah, merupakan tumor jinak, laki-laki dan perempuan 1:1, usia rata-rata saat terdiagnosis adalah 51 tahun.
Papilloma sel skuamosa
Papilloma skuamosa adalah neoplasma jinak yang biasa terjadi pada KAE. Lesi ini khas seperti pada lesi papillomatous lainnya dan biasanya eksofitik dan berwarna hitam atau coklat. Diyakini memiliki etiologi karena virus (HPV tipe 6 dan 11). Biopsi eksisional seringkali bersifat kuratif. Papilloma Schneiderian (inverting), umumnya ditemukan pada traktus sinonasal, jarang melibatkan telinga tengah dan mastoid. Terapi untuk papilloma telinga tengah ini adalah pembedahan. Pembedahan konservatif seringkali gagal karena lesi ini memiliki kecenderungan rekurensi yang sangat tinggi. Perhatian harus diarahkan ke tuba eustachius sebagai jalur utama perluasan dari traktus sinonasal ke telinga tengah dapat terjadi. Bahaya dari inverting papilloma terletak pada kecenderungannya mengalami degenerasi keganasan dan karenanya perlu untuk manajemen bedah dini dan agresif.
NEOPLASMA GANAS
Karsinoma Sel Basal (Basal Cell Carcinoma)
Aurikula mempunyai resiko yang meningkat terhadap keganasan disebabkan karena terpaparnya dalam waktu yang lama pada sinar matahari. Keganasan ini terdapat pada sekitar 6 % dari keganasan pada kulit. Selain faktor paparan sinar matahari, terdapat juga faktor predisposisi lain seperti tingkat pigmentasi yaitu lebih sering pada orang kulit putih-rambut pirang jarang pada kulit hitam.
Mempunyai riwayat paparan sinar matahari, biasanya pada orang tua, lelaki lebih banyak dari wanita (2:1). Ditemukan pada orang kulit putih. Kebanyakan basal sel karsinoma
terjadi di aurikula atau area periaurikular karena banyak terpapar sinar matahari dan hanya sekitar 15% didapatkan di KAE.
Gambaran klinik berupa gambaran ulserasi dengan tepi yang meninggi, tidak nyeri, berbatas tegas, tetapi dapat berupa nodul atau plaque. Sering ditemukan pada heliks dan anterior aurikula.
Karsinoma sel basal (BCCA) pada telinga merupakan neoplasma yang pertumbuhannya lambat dan diagnosis dapat segera ditegakkan melalui inspeksi dan biopi. Bila tidak diterapi, keganasan low grade ini semakin lama akan semakin membesar dan menginfiltrasi ke perifer ke jaringan periauricular atau ke arah medial menuju ke KAE, telinga tengah dan mastoid. Perluasan ke tulang temporal dapat tidak terdeteksi sampai keganasan berkembang menjadi sangat lanjut.
Karsinoma sel basal paling baik ditatalaksana dengan pembedahan (eksisi komplit), namun rekurensinya tinggi dibandingkan dengan BCCA daerah kepala leher lainnya karena sering terjadi invasi yang dalam. Bedah mikrografik Mohs tampaknya menjadi teknik yang paling berhasil untuk meminimalisir rekurensi dan mempertahankan jaringan non neoplastik. Terapi radiasi digunakan sebagai terapi paliatif atau sebagai terapi tambahan untuk tumor yang luas atau rekuren.
Karsinoma sel skuamosa (Squamous Cell Carcinoma)
Tumor dari liang telinga tengah seringkali meluas ke telinga tengah dan sebaliknya tumor telinga tengah juga seringkali meluas ke liang telinga. Gambaran ini tentunya akan menyebabkan kesulitan menentukan asal dari tumor tersebut. Karsinoma sel skuamosa adalah jenis paling banyak dari neoplasma telinga tengah.
Faktor Presdiposisi:
Inflamasi kronik.
Paparan aflatoksin B yg dihasilkan oleh jamur.
Riwayat radioterapi pada kepala dan leher.
Patologi
Ada berbagai jenis tumor yang timbul pada telinga luar dan tulang temporal, namun yang tersering adalah karsinoma sel skuamosa. Jenis lainnya adenoid cystic carcinoma, adenocarcinoma, basal sel karsinoma, melanoma. Embryonal rhabdomyosarcoma mungkin dijumpai pada anak anak. Tumor seringkali berasal dari liang telinga dan meluas ke telinga tengah.
Gejala klinik
Diagnosis seringkali terlambat, tanda dan gejala mirip dengan OMSK dengan cairan yang keluar disertai darah. Tumor menyebar menginvasi tulang sehingga dapat mengenai nervus VII, temporomandibular joint, labirin dan tuba Esustachii dengan ditandai adanya parese otot wajah, kesulitan atau terasa sakit ketika membuka mulut, kurang pendengaran. Rasa sakit yang progresif, sulit diredakan dengan analgetik.
Pemeriksaan penunjang
Biopsi, foto mastoid (posisi Schuller), audiometri dan CT scan temporal untuk melihat perluasan tumor.
Penyebaran
Kelenjar parotis dan fossa infratemporalis berada di anterior KAE, sementara TMJ yang berada di fossa glenoid terletak lebih inferior. Foramen Huscke terbentuk sebagai akibat penutupan tidak sempurna dari tulang timpanik di anterior sementara fissures of Santorini merupakan defek kecil yang terletak di anterior kanal kartilago. Defek di dinding anterior tersebut menjadi rute potensial untuk penyebaran tumor ke struktur di anterior KAE. Bagian medial KAE yaitu membran timpani memberikan sedikit resistensi untuk tumor menginvasi ke cavum timpani. Dinding posterior kanal dan atap KAE memberikan barrier terhadap penyebaran tumor, namun bila barrier ini ditembus bagian posterior akan melibatkan kavum mastoid dan kanal fallopian di posterior serta fossa media di superior.
Gambar 3. Tumor di CAE secara mudah menyebar melalui fisura anatomik di dinding anterior CAE. Setelah melewati batas kanal, tumor dapat meluas ke fossa infratemporal (A), fossa glenoid atau fisura pterygomaksilaris (B) dan kelenjar parotis (C). Jalur ke anterior ini seringkali menjadi tempat terjadinya rekurensi atau persistensi tumor.
Staging
Belum diterimanya protokol staging dari AJC atau UICC untuk keganasan pada tulang temporal dan telinga. Ini mungkin dengan pertimbangan heterogenitas histopatologi yg menyebabkan kesulitan dalam mengidentifikasi asal dari tumor tersebut. Salah satu sistem staging yg sering dipergunakan adalah yang berasal dari University of Pittsburgh, yang mengevaluasi klinik dan radiologik.
Tabel 2. Sistem Staging Pittsburgh untuk Karsinoma Kanalis Auditori Eksternus
T1 | tumor terbatas di kanal auditori eksternus tanpa erosi tulang atau perluasan ke jaringan lunak |
T2 | tumor dengan erosi terbatas di bagian tulang kanal auditori eksternus atau temuan radiologi yang konsisten dengan hal tersebut dan keterlibatan jaringan lunak yang terbatas (<0.5 cm) |
T3 | tumor mengerosi bagian tulang kanal auditori eksternus (full thickness) dengan keterlibatan jaringan lunak yang terbatas (< 0.5 cm) atau tumor melibatkan telinga tengah dan atau mastoid atau pasien menunjukkan fasial paralisis |
T4 | Tumor mengerosi koklea, apeks petrosus, dinding medial telinga tengah, kanal karotid, foramen jugulare atau dura atau dengan keterlibatan jaringan lunak yang luas (>0.5 cm) |
N | Prognosis buruk bila didapatkan keterlibatan kelenjar limfe dan secara otomatis masuk dalam stadium lanjut misal stadium III (T1,N1) atau stadium IV (T2,3,4,N1) |
M | Metastasis jauh mengindikasikan prognosis yang buruk dan secara langsung masuk kategori stadium IV |
Penatalaksanaan
Operasi dilanjutkan dengan radioterapi adalah pilihan utama. Tindakan operasi adalah dengan mereseksi en bloc tumor dan dengan sebisa mungkin mempertahankan fungsi pendengaran dan nervus fasialis. Sleeve resection hanya dilakukan untuk tumor pinna primer dengan batas bebas tumor yang bersih.
T1
Lateral temporal bone resection (LTBR).
Parotidektomi superfisial bisa dipertimbangkan untuk menilai metastasis KGB mikroskopik.
Parotidektomi superifisial dapat dipertimbangkan untuk menilai metastasis mikroskopik ke KGB.
Radiasi postoperasi rutin tidak diperlukan bila tepi bebas tumor didapatkan hasil PA negatif, bila tidak ada bukti metastas ke KGB dan tidak ada invasi perineural/limfovaskular.
T2
LTBR atau extended LTBR
Parotidektomi
Pertimbangkan kondilektomi terutama untuk tumor di CAE anterior.
Diseksi leher selektif ipsilateral meliputi level 2-4.
Lokoregional vs rekonstruksi (free tissue transfer)*
Radiasi adjuvan telah terbukti dapat meningkatkan ketahanan hidup secara signifikan.
T3
Subtotal temporal bone resection (STBR)
Parotidektomi-superfisial vs total
Diseksi leher - level 2-4 serta mengidentifikasi pembuluh darah untuk rekonstruksi mikrovaskular
Pertimbangkan mandibulektomi
Free tissue transfer untuk rekonstruksi*
Radiasi adjuvan
T4
STBR vs total temporal bone resection (TTBR)
Parotidektomi
Mandibulektomi
Diseksi leher
Free tissue transfer untuk rekonstruksi*
Radiasi adjuvan
Pertimbangkan kemoterapi adjuvan atau neoadjuvan
*free flap rekonstruksi dapat digunakan untuk menutup dura yang terbuka, mencegah bocornya LCS dan menutup dead space pasca operasi.
Reseksi total tulang temporal en bloc jarang dikerjakan karena mortalitas operasi dan morbiditas post operasi yang signifikan. Kasus stadium lanjut yang diterapi dengan LTBR dilanjutkan dengan kemoradiasi post operasi dilaporkan ketahanan hidupnya (overall survival) 30-40% (serupa dengan bila dilakukan STBR dan TTBR).
Gambar 4. Algoritma Tata Laksana Keganasan KAE dan tulang temporal high grade
Prognosis
Angka ketahanan hidup 5 tahun pasien dengan SCCA tulang temporal dilaporkan 30% dan 45%. Status T yang semakin tinggi berkaitan dengan prognosis yang semakin buruk. Prognosis buruk bila didapatkan (a) penyebaran ke KGB (N), (b) rekurensi penyakit setelah terapi definitive (kebanyakan pasien mengalami rekurensi dalam 12 bulan post terapi), (c) keterlibatan n. fasialis, (d) tidak bisa didapatkan batas operasi bebas tumor (positive surgical margins).
Crabtree dkk mengusulkan, penanganan yang berhasil dari suatu karsinoma KAE tergantung pada 4 faktor, yaitu diagnosis dini, penentuan yang tepat dari perluasannya,
pembedahan yang adekuat dan radiasi pasca operasi bila spesimen patologi menunjukan tepi operasi yang tidak bersih.
Melanoma
Melanoma maligna hanya sekitar 3% dari tumor ganas kulit namun dilaporkan 75% kematian akibat tumor ganas kulit disebabkan oleh melanoma. Telinga luar merupakan tempat asal dari sekitar 10% seluruh melanoma primer di kepala dan leher dan 1% dari seluruh melanoma, dengan lokasi tersering didapatkan pada helik dan antihelik. Melanoma primer di KAE sangat jarang ditemukan dan melanoma di telinga tengah tampaknya merupakan metastase dari tempat lain atau perluasan dari daerah sekitarnya.
Usia rata-rata terdiagnosis melanoma di pinna adalah 50 tahun, tetapi keganasan ini dapat terjadi pada semua kelompok usia kecuali anak-anak. Lebih sering didapatkan pada laki-laki dibanding perempuan (3:1) dan individu berkulit putih dengan rambut pirang atau merah, mata biru dan bintik-bintik di wajah menjadi faktor predisposisi. Paparan sinar matahari, terutama paparan yang intens dan berulang berperan dalam patogenesis neoplasma ini. Faktor genetik juga berperan, karena itu keturunan pertama dari pasien dengan melanoma memiliki risiko dua kali lebih besar mendapatkan melanoma dan familial dysplastic nevus syndrome juga meningkatkan risiko terjadinya melanoma.
Melanoma pada telinga dibagi menjadi 5 subtipe berdasarkan penampakan potensi terjadinya invasi dermal.
superficial spreading melanoma➔ tipe yang paling sering ditemukan.
nodular melanoma➔ tipe yang paling agresif
lentigo maligna
desmoplastic melanomas➔ rekurensi local tinggi dan sering mengenai perineural namun jarang bermetastase
mucosal melanomas➔ bisa berkaitan dengan tuba eustachius atau meski jarang dapat juga terjadi primer dari mukosa telinga tengah. Prognosis buruk akibat sering
datang dalam stadium lanjut dan sulit mendapatkan batas daerah operasi yang adekuat.
Diagnosis melanoma dapat dicurigai jika terdapat perubahan warna atau tekstur atau ukurannya bertambah besar dengan cepat atau ulseratif pada pigmented lesion. Biopsi eksisi harus segera dikerjakan untuk semua pigmented lesion yang mencurigakan karena melanoma stadium dini prognosisnya baik (curable)
Prognosis buruk bila didapatkan konfigurasi nodular, ulseratif dan adanya metastase regional atau metastase jauh. Jika telah mengivasi dermis, kemunkinan metastase regional atau metastase jauh meningkat. Sepertiga pasien pada saat datang pertama kali sudah didapatkan keterlibatan kelenjar limfe. Pemetaan sentinel node menggungakan lymphoscintigrahy preoperative dan injeksi marker intradermal intraoperative dan radioaktif isoto menjadi metode utama dalam mengidentifikasi kelenjar limfe yang terlibat.
Tata laksana terpilih untuk melanoma maligna adalah eksisi bedah komplit dengan batas bebas tumor setidaknya 1 cm untuk kedalaman lesi < 2mm dan > 2cm untuk lesi yang lebih dalam. Bila terdapat ulserasi, ivasi ke kartilago atau rekurensi, full thicknes wedge resection direkomendasikan. Sleeve resection liang telinga bila meluas ke KAE, bila perluasan lebih jauh maka dilakukan lateral temporal bone resection. Rekonstruksi sebaiknya tidak dilakukan sampai batas bebas tumor bersih. Terapi tambahan lainnya meliputi terapi imunomodulasi, vaksinasi, radioterapi dan kemoterapi meski belum terbukti meningkatkan ketahanan hidup namun masih terus diteliti.
Tumor glandular
Tumor glandular biasanya tampak sebagai massa jaringan lunak yang asimtomatik di liang telinga. Setelah liang telinga menjadi tertutup oleh massa, dapat timbul tuli konduktif atau otitis eksterna sekunder. Lesi yang ganas lebih sering tampak ulseratif atau menyebabkan otalgia. Baik lesi jinak ataupun ganas tumbuh sepanjang jalur dengan resistensi yang lemah meluas ke lateral (meatus) atau ke medial (membran timpani) menuju telinga tengah. Tumor ganas yang invasive juga meluas melalu kartilago aurikula dan fissures of Santorini menuju ke ke kelenjar parotis atau jaringan periaurikula di sekitarnya.
Diagnosis dibuat berdasarkan pemeriksaan mikroskopik spesimen biopsi. Untuk membedakan tumor seruminosa jinak dan ganas, spesimen biopsi harus cukup besar untuk
mengidentifikasi invasi ke jaringan yang lebih dalam selain itu HRCT tulang temporal dan MRI jaringan lunak lateral skull base juga dapat membedakan.
Lateral temporal bone resection dan radioterapi post operasi dikerjakan untuk lesi dini. Tumor ganas yang lebih besar memerlukan reseksi tulang temporal yang luas, parotidektomi dan diseksi kelenjar limfe servikal dan radioterapi post operasi.
Adenokarsinoma seruminosa
Merupakan neoplasma yang invasif yang dapat bermetastase ke kelenjar limfe regional. Secara histologis mirip dengan Adenoma jinak, dibedakan dengan didapatkannya metastase regional dan perluasan ke jaringan sekitarnya. Lebih sering pada laki-laki, usia rata-rata terdiagnosis adalah 48 tahun.
Adenoid cystic carcinoma
Neoplasma glandular pada KAE yang paling sering didapatkan, secara histologis serupa dengan tumor ganas kelenjar ludah. Sering ditemukan invasi perineural dan invasi ke jaringan yang lebih dalam. Metastase kelenjar limfe regional sering terjadi dan dapat terjadi metastase jauh (paling sering ke paru). Lebih sering didapatkan pada perempuan dan terdiagnosis rata-rata pada usia 43 tahun. Karena angka rekurensinya tinggi, tata laksana harus agresif.
NEOPLASMA TELINGA TENGAH, MASTOID DAN TULANG TEMPORAL
Paraganglioma merupakan lesi yang paling sering melibatkan telinga tengah dan tulang temporal. Namun demikian, diagnosis banding dari lesi jinak tulang temporal sangat luas. Miringotomi dan biopsi, solusi tradisional untuk masalah ini, seharusnya jarang diperlukan mengingat kapasitas pencitraan yang sangat baik, yang diberikan oleh CT dan MRI resolusi tinggi. Embriologi tulang temporal yang luas berkontribusi pada keragaman berbagai patologi yang diperlihatkan di dalamnya.
Kebanyakan keganasan tulang temporal berawal dari tumor pada meatus eksternus. Umumnya penderita adalah orang tua dengan gejala seperti gangguan pendengaran, perdarahan telinga, krusta, gatal dan kadang otore yang berbau.
Karena sering ditemukan sebagai otitis eksterna kronis maka tidak terdiagnosis atau terabaikan untuk jangka waktu lama.
Tumor yang berawal pada pars kartilagineus KAE, cenderung menyebar lebih luas karena hanya sedikit barrier alami. Sementara tumor pada pars osseus lebih dibatasi tulang timpani yang kompak dan jaringan fibrous membrana timpani. Namun demikian, bila perluasan progresif ke arah mastoid dan telinga tengah maka akan cepat meluas ke bagian perifer dari tulang temporal. Adanya vaskuler dan saraf yang yang melintangi tulang temporal dan jaringan sekitarnya membuka peluang ekstensi tumor tersebut. Sehingga deteksi dini tumor ini dan pengobatan akan meningkatkan kontrol dari penyakit tersebut. Penyakit ini dianggap masih localized bila tidak mencapai mukosa telinga tengah atau tidak mengenai nervus fasialis. Ekstensi yang terbatas ini memungkinkan reseksi secara en bloc dari tulang dan kartilago meatus eksternus, bersama-sama osikula dan membrana timpani. Bila tumor meluas ke mastoid atau menginvasi nervus fasialis maka dianggap telah lanjut atau tumor yang ekstensif.
Beberapa tumor yang sering ditemukan adalah Karsinoma sel skuamosa, Hans- Schuller-Christian Syndrome ( Langerhans cell histiocytosis).
NEOPLASMA JINAK
Tumor Glomus (Paraganglioma)
Paraganglioma juga dikenal sebagai tumor glomus adalah tumor yang paling umum didapatkan di telinga tengah dan tumor kedua yang paling umum dari tulang temporal. Paraganglioma jugulotimpanik memiliki kecenderungan predileksi perempuan dan biasanya terjadi pada dekade kelima kehidupan.
Tumor ini muncul dari glomus bodies (paraganglioma) yang ditemukan pada tunika adventitia dari bulbus jugularis dan pada regio nervus Jacobson atau nervus Arnold pada telinga tengah. Karena sangat dekat hubungan antara struktur ini maka asal dari tumor ini biasanya sulit untuk ditentukan.
Patogenesis
Paraganglia adalah bagian dari sistem neuroendokrin yang bermigrasi bersama dengan ganglia sistem saraf otonom. Paraganglia ekstra adrenal dengan pengecualian carotid bodies yang mempunyai fungsi kemoreseptif, biasanya mengalami involusi progresif sampai pubertas. Tumor paraganglia ini dibagi menjadi 2 kelompok: (1) Paraganglioma adrenal yang dikenal sebagai pheochromocytomas dan (2) Paraganglioma ekstra-adrenal yang terletak di daerah abdomen, dada, dan daerah kepala dan leher. Paraganglioma kepala dan leher diklasifikasikan berdasarkan lokasi anatomis dan termasuk di antaranya paraganglioma carotid body, jugulotimpanik, vagal, laringeal, nasal dan orbital.
Sebagian besar tumor glomus muncul secara sporadis tetapi sebagian kecil dari tumor ini (<10%) mungkin herediter dan berhubungan dengan sindrome tumor seperti multiple endocrine neoplasia tipe II (MEN2), VHL, neurofibromatosis tipe I (NF1) dan paraganglioma familial. Multisentrisitas terjadi pada sekitar 10% dari tumor spontan dan meningkat hingga 30% pada tumor familial. Tumor glomus mengandung sel-sel utama, yang merupakan bagian dari sistem neuroendokrin difus (DNES), dan memiliki potensi untuk menghasilkan katekolamin yang menghasilkan respons fisiologis yang mirip dengan pheochromocytomas. Hal ini sangat jarang pada paraganglioma kepala dan leher (<3%) tetapi dapat terjadi lebih sering pada paraganglioma familial. Tumor ini secara histologis jinak meski sekitar 4% dapat bermetastasis.
Pasien usia muda, riwayat keluarga dengan paraganglioma, tumor multisentri, tumor yang mensekresi (gejala pelepasan katekolamin), atau tumor ganas semuanya menunjukkan kemungkinan penyakit herediter. Dalam kasus tersebut, pemeriksaan fisik lebih detail termasuk pemeriksaan funduskopi untuk angioma retina (terlihat pada VHL) dan pemeriksaan kulit untuk cafe au lait spot (terkait dengan NF1) harus dilakukan.
Klasifikasi
Paraganglioma di tulang temporal dapat dibagi menjadi glomus timpanikum dan glomus jugulare. Glomus timpanikum terutama melibatkan kavum timpani dan muncul di sepanjang perjalanan n. jacobson. Glomus jugulare timbul dari bulbus jugularis dan melibatkan struktur di foramen jugularis. Tumor glomus biasanya memiliki pertumbuhan progresif yang lambat dan menyebar melalui jalur dengan resistensi paling rendah. Namun,
lesi lanjut memiliki kemampuan untuk menginvasi saraf kranial. Presentasi klinis dan manajemen operasi kedua lesi ini sangat berbeda. Varian lain, glomus vagale muncul di bawah dasar tengkorak di dekat saraf vagus (X) dan mungkin melibatkan tulang temporal melalui penyebaran retrograde melalui foramen jugularis.
Klasifikasi menurut Fisch dan Glasscock-Jackson membagi tumor glomus menurut asal, perluasan dan pendekatan pembedahan.
Tabel 3. Skema Klasifikasi Tumor Glomus
Fisch | |
Tipe A | Terbatas di telinga tengah |
Tipe B | Terbatas di area timpanomastoid dengan keterlibatan kompartemen infralabyrinthin |
Tipe C | Keterlibatan kompartermen infralabyrinthin dan apeks petrosus C1-keterlibatan sebagian carotid canal C2 - invasi ke bagian vertikal carotid canal C3 - invasi ke bagian horizontal carotid canal, tidak melibatkan foramen laserum C4 - keterlibatan seluruh bagian carotid intrapetrosus |
Tipe D | Perluasan ke intracranial De1 - ekstradural, ekstensi < 2 cm De2 - ekstradural, ekstensi > 2 cm Di1 - intradural, ekstensi < 2 cm Di2 - intradural, ekstensi > 2 cm Di3 - intradural, tidak dapat direseksi (unresectable) |
Glassock-Jackson | |
Glomus timpanikum | |
Tipe I | massa kecil terbatas di promontorium |
Tipe II | tumor mengisi rongga telinga tengah secara komplit |
Tipe III | tumor mengisi telinga tengah dan meluas ke prosesus mastoid |
Tipe IV | tumor mengisi telinga tengah, meluas ke mastoid atau melalui membran timpani mengisi kanal auditori eksternus; dapat meluas ke anterior melibatkan arteri karotis internal |
Glomus jugulare | |
Tipe I | tumor kecil melibatkan bulbus jugularis, telinga tengah dan mastoid |
Tipe II | tumor meluas ke bawah kanal auditori internal, bisa didapatkan perluasan ke intrakranial |
Tipe III | tumor meluas ke apeks petrosus, bisa didapatkan perluasan ke intrakranial |
Tipe IV | tumor meluas melewati batas apeks petrosus menuju ke klivus atau fossa infratemporal, bisa didapatkan perluasan ke intrakranial |
Glomus timpanikum
Presentasi klinis glomus tympanikum termasuk pulsatile tinnitus (76%), gangguan pendengaran (konduktif 52% , campuran 17%, sensorineural 5%), telinga terasa penuh atau tertekan (18%), vertigo (9%), perdarahan liang telinga (7%) dan sakit kepala (4%). Ketulian sensorineural dapat terjadi bila telah terjadi invasi ke koklea atau kompresi retrokoklea.
Brown sign terlihat ketika massa telinga tengah berwarna ungu kemerahan berdenyut, tampak memucat dengan pemberian tekanan positif dengan otoskop pneumatik. Meskipun sering disebutkan dalam literatur, tanda ini memiliki nilai klinis yang kecil.
Tumor glomus tympanikum terutama ditatalaksana dengan eksisi bedah. Lesi kecil yang terbatas pada mesotimpanum pada otoscopi dan CT scan, dapat melalui pendekatan transkanal. Timpanomeatal flap digunakan untuk mengekspose telinga tengah dan EAC dapat dibor kea rah inferior untuk mengakses ke hipotimpanum. Lesi yang lebih besar diekspose dengan pendekatan postaurikular dan extended facial-recess approach. Karena tumor ini cukup vaskular, laser dan kauter bipolar sering digunakan selama reseksi untuk hemostasis. Pengangkatan tumor secara komplit dicapai pada> 90% kasus dan air-bone gap normalnya menghilang. Sebagian kecil pasien mungkin mengalami kehilangan pendengaran sensorineural setelah reseksi.
Glomus jugulare
Berbeda dengan tumor glomus timpanikum yang memberikan gejala lebih awal karena tumbuh di telinga tengah, tumor glomus jugulare sering dapat tetap tanpa gejala selama bertahun-tahun. Pertumbuhan ke dalam telinga tengah terjadi pada 70% pasien dan menyebabkan gejala tinnitus pulsatil yang paling umum, gangguan pendengaran, otalgia dan rasa penuh di telinga. Pertumbuhannya di foramen jugularis menyebabkan disfungsi lower cranial nerves sehingga timbul keluhan suara serak, disfagia, dan kelemahan bahu. Vertigo, kelemahan wajah, dan sakit kepala juga bisa terjadi. Saraf hipoglosus (XII) jarang terlibat, namun bila terdapat disfungi n.XII menunjukkan indikasi penyakit yang luas.
Pada angiografi, suplai arteri primer berasal dari arteri faringeal asenden, meskipun tumor yang lebih besar mungkin juga memiliki suplai dari cabang arteri karotis eksterna lainnya, arteri karotis interna dan sistem vertebra-basilar.
Tatalaksana tumor glomus jugulare lebih kompleks daripada tumor glomus timpanikum karena kedekatannya dengan struktur saraf dan pembuluh darah yang penting. Tergantung pada ukuran dan lokasi tumor, teknik bedah termasuk matoidektomi CWU atau CWD, pendekatan translabirin, pendekatan fossa infratemporal, pendekatan transkoklear, atau kombinasi. Mendapatkan kontrol pembuluh darah di atas dan di bawah lesi adalah prinsip bedah utama untuk mengontrol perdarahan selama pengangkatan tumor. Defisit saraf kranial pasca operasi terjadi pada 25-5% kasus, dengan lesi yang lebih besar memiliki insiden neuropati yang lebih tinggi. Rehabilitasi dengan terapi wicara, medialisasi pita suara dan reanimasi n.fasialis seringkali efektif. Pasien harus dikonseling tentang risiko operasi serta risiko defisit fungsional jika tumor dibiarkan tidak dilakukan pengangkatan. Dengan teknik kontemporer, reseksi bedah memiliki tingkat kekambuhan yang rendah, tingkat kecacatan yang rendah dan hasil fungsional yang baik.
Stereotacic radiosurgery atau radioterapi diindikasikan pada tumor yang direseksi tidak lengkap atau yang memiliki margin bedah positif. Beberapa sentra juga menganjurkan terapi radiasi sebagai terapi lini pertama untuk tumor lanjut atau untuk pasien usia lanjut. Dua article review besar mendapatkan tingkat kontrol yang serupa untuk tingkat kekambuhan dan morbiditas antara operasi dan radiasi. Namun kurangnya tindak lanjut jangka panjang dan kecenderungan untuk memasukkan tumor yang tidak dapat direseksi dalam kelompok radiasi dapat menyebabkan bias hasil penelitian tersebut. Risiko keganasan yang disebabkan oleh radiasi harus dipertimbangkan, terutama pada pasien yang lebih muda.
Radiologi
CT scan tanpa dan dengan kontrast, MRI, arteriografi, embolisasi preoperative.
Laboratorium
Urinalisis untuk hematuria, katekolamin urin, kalsium serum dan kalsitonin serum juga dapat diukur untuk tumor fungsional yang tersembunyi, VHL, dan MEN2 (Multiple
Endocrine Neoplasia type II). Peningkatan serum katekolamin ditandai dengan ditemukannnya vanillylmandelic acid dan metanephrine dalam urine.
Penatalaksanaan
Pembedahan, radioterapi, embolisasi atau kombinasi. Tergantung dari perluasan tumor maka pembedahan dapat dilakukan melalui pendekatan transmeatal, transmastoid atau skull base.
Radioterapi tidak menyembuhkan tetapi dapat mereduksi vaskularisasi dan menghentikan pertubuhan tumor. Radioterapi digunakan pada keadaan tumor yang inoperable, residual tumor, rekuren atau pada orang tua dimana pembedahan ekstensive dasar tengkorak tidak diindikasikan .
Embolisasi dapat mengurangi vaskularisasi tumor sebelum pembedahan atau merupakan terapi tunggal pada penderita yang inoperabel yang menerima radioterapi.
Tumor Endolymphatic Sac
Tumor endolymphatic sac merupakan tumor papillary telinga tengah dan mastoid yang agresif dan jarang didapatkan. Usia rata-rata pasien saat terdiagnosis adalah 40 tahun, lebih sering didapatkan pada perempuan.
Pada tahun 1984, Hasserd dan rekannya melaporkan tumor endolymphatic sac pertama, yang ditemukan selama operasi endolymphatic sac untuk dugaan penyakit Meniere; mereka menggambarkan massa lobular yang sangat vaskular terpusat di sepanjang bagian posterior tulang temporal. Baik lokasi anatomi dan histopatologi sangat menunjukkan berasal dari endolymphatic sac. Heffner, berbasis pada mikroskopis (baik mikroskop cahaya dan elektron) dan pemeriksaan imunohistokimia dari 20 tumor papillary-adenomatous pada tulang temporal, berpendapat bahwa endolymphatic sac memang merupakan tempat asal tumor dan bahwa tumor tersebut ditetapkan sebagai "adenokarsinoma endolymphatic sac".
Saat ini dianggap bahwa endolymphatic sac (bukan mukosa kompartemen tympanomastoid) merupakan asal dari tumor papiler agresif low grade dari tulang temporal. Tumor yang sangat merusak ini berpusat diantara sinus sigmoid dan IAC di area vestibular aqueduct dan sering meluas ke intrakranial. Secara makroskopis, tumor tampak berwarna
merah, vaskular, dan polipoid. Secara mikroskopis, tumor menampakan arsitektur papiler- kistik, dengan pembentukan vili, dilapisi epitel kolumnar atau kuboid, dengan lapisan sel myoepithelial atau spindel, dan lumen glandular menyerupai neoplasma tiroid.
Tumor endolymphatic sac harus dibedakan dari adenoma dan adenokarsinoma telinga tengah, serta tumor karsinoid dan pleksus koroid. Analisis imunohistokimia dapat membantu dalam diagnosis banding. Sebagai contoh, Levin dan rekannya menunjukkan bahwa, serupa dengan jaringan endolymphatic sac normal, tumor endolymphatic sac mengekspresikan sitokeratin, protein S-100, NSE, dan vimentin tetapi bukan glial fibrillary acidic protein (GFAP). Mergerian dkk menemukan ekspresi marker tumor yang dapat membedakan antara papilloma pleksus choroid dan tumor endolymphatic sac yaitu transthyretin.
Tumor endolymphatic sac tumbuh lambat dan sering tidak terdiagnosis sampai terjadi kerusakan lokal dan ICE yang luas; namun, tidak ada tumor yang dilaporkan bermetastasis. Manifestasi klinis yang khas meliputi tuli sensorineural (tiba-tiba atau progresif) dan kelumpuhan wajah, dengan gangguan pendengaran didiagnosis bertahun-tahun sebelum didiagnosis sebagai tumor endolymphatic sac, rata-rata 10,6 tahun. Tumor endolymphatic sac dapat menyerupai penyakit meniere, memicu gangguan pendengaran, tinitus, dan vertigo episodik.
Gaffey dkk mendokumentasikan hubungan yang sangat signifikan dari tumor endolymphatic sac dengan von Hippel-Lindau disease (VHL) (VHL adalah phakomatosis herediter autosomal dominan, terdiri dari angiomatosis retina dan serebellar). Sekitar 10% pasien dengan VHL didapatkan tumor endolymphatic sac dan 60% pasien dengan VHL yang mengalami gangguan pendengaran akan berkembang menjadi tumor endolymphatic sac. Karena itu perlu untuk dilakukan skrining adanya tumor endolymphatic sac pada pasien dengan von Hippel-Lindau disease. Demikian pula, pada tumor endolymphatic sac (jika berhubungan dengan manifestasi utama VHL) harus segera mempertimbangkan diagnosis VHL. Deteksi dini tumor endolymphatic sac memungkinkan reseksi tumor dengan preservasi pendengaran.
Pada CT scan, tumor endolymphatic sac muncul sebagai lesi destruktif yang terpusat di bagian retrolabirintin tulang temporal dan mengandung area kalsifikasi. Temuan MRI
mencakup area dengan intensitas sinyal tinggi pada T1 dan T2, serta enhancement dengan gadolinium.
Eksisi bedah komplit adalah manajemen yang direkomendasikan. Embolisasi tumor preoperatif dapat mempercepat eksisi bedah. Tindak lanjut jangka panjang disarankan karena tumor ini dapat kambuh 10 tahun setelah reseksi.
Gambar 5. Tumor papillary agresif tulang temporal (tumor endolymphatic sac). CT aksial memperlihatkan tumor mengerosi bagian posterior tulang petrosus dan menginvasi (tanda panah) apeks petrosus yang berdekatan dengan basal koklea. Tumor ini berasal dari endolymphatic sac dan meluas ke
inferior sebelum menginvasi tulang temporal
Choristoma
Choristoma merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan jaringan normal yang tumbuh di lokasi yang bukan tempat aslinya, terdiri dari sisa jaringan heterotopik yang secara histologis normal. Bila choristoma didapatkan di telinga tengah, biasanya merupakan jaringan kelenjar liur, meski kelenjar sebaseus dan jaringan neural juga pernah dilaporkan. Choristomas kemungkinan berasal dari sisa jaringan kelenjar liur yang terperangkap di telinga tengah. Sisa jaringan ini berkembang matur menjadi massa kecil namun tanpa potensi neoplastik. Choristoma berupa massa lobular berwarna pink atau
kecoklatan yang terletak di lateral dari prosesus longus inkus dan medial dari manubrium dan beberapa berkaitan dengan anomali osikel atau bagian intratemporal n. fasialis.
Choristoma biasanya datang dengan keluhan gangguan pendengaran konduktif unilateral dan massa timpani; branchial cleft dan kelainan n.fasialis juga sering ditemukan, namun kebanyakan asimtomatik. Membedakannya dari tumor telinga tengah lainnya sulit. Biasanya tampak sebagai massa di telinga tengah yang tidak sengaja ditemukan saat pemerikaan otoskopik rutin. Choristomas hanya sediki sekali potensinya untuk tumbuh membesar dan hanya memerlukan biopsi insisi atau eksisi untuk mengkonfirmasi diagnosis.
Temuan intraoperatif termasuk kelainan osikular dan keterlibatan n.fasialis, dimana bila didapatkan keterlibatan n.fasialis akan mempersulit eksisi choristoma. Upaya pembedahan tympanoplasty dan rekonstruksi osikular sama-sama mengalami kegagalan. Karena choristoma bukan neoplasma sejati dan tidak memiliki potensi agresif, manajemen konservatif (pengawasan) biasanya direkomendasikan.
Hemangioma
Hemangioma adalah neoplasma hamartomatosa yang berasal dari pembuluh darah. Meskipun jinak, hemangioma menyebabkan gejala yang timbul akibat kompresi struktur yang berdekatan. Hemangioma terdiri dari hemangiom kapilare dan hemangioma kavernosa. Hemangioma kapilare biasanya timbul di daerah ganglion genikulatum berhubungan dengan perigeniculate capillary plexus. Lesi ditandai dengan kelemahan wajah progresif meskipun jauh lebih kecil daripada neuroma n.fasialis. Tinitus pulsatile muncul dengan semakin berkembangnya lesi dan dapat mencapai basal koklea bagian atas. CT memperlihatkan pembesaran ganglion genikulatum dan pembesaran kanal falopii segmen labirin oleh massa jaringan lunak. Meskipun hemangioma kapilare pada CT kontras tampak enhancement (+), hemangioma kapilare menyebabkan kelemahan wajah pada tahap awal sehingga belum dapat jelas terlihat dari CT, dan sedikit sekali enhancement di daerah segmen labirin mungkin menjadi satu-satunya temuan. Temuan CT lainnya termasuk honeycomb bone, batas tulang yang iregular dan tidak jelas, dan spikula tulang intratumor. Temuan ini kontras dengan yang neuroma n.fasialis, yang lebih besar, lesi yang lebih jelas dengan tepi
tulang yang tajam.
Hemangioma kavernosa adalah tipe kedua hemangioma. Lesi ini timbul di kanal auditori internal dan memberikan gejala khas seperti pada neuroma akustik. Meskipun hemangioma kavernosa cenderung menghasilkan gejala lebih cepat daripada neuroma akustik, kedua jenis tumor ini identik pada CT. Namun, pada MRI, hemangioma kavernosa cenderung sedikit lebih hiperintens daripada neuroma akustik.
Langerhans' cell histiocytosis
Langerhans 'cell histiocytosis (LCH), sebelumnya bernama histiocytosis X, adalah suatu kondisi yang ditandai oleh proliferasi histiosit yang memiliki karakteristik sel- sel Langerhans (biasanya terletak di dermis). Sel-sel ini dikenali oleh adanya badan inklusi di sitoplasma, yang disebut Birbeck granules. Proliferasi dan infiltrasi sel-sel ini dapat berkembang di organ mana saja di tubuh, termasuk tulang, kulit, paru-paru, hati, limpa dan sistem saraf. Histositosit sel Langerhans sekarang menjadi nama untuk kondisi berikut yang sebelumnya dianggap sebagai tiga entitas yang berbeda, tetapi sekarang diakui sebagai satu kondisi. (terdapat juga dalam modul otologic manifestation of systemic disease).
Granuloma Eosinofilik: Umumnya merujuk pada penyakit osseus saja dan mungkin unifokal atau multifokal.
Hand-Schuller-Christian disease: Penyakit sistemik yang diidentifikasi oleh lesi osseus multifokal, dengan keterlibatan terbatas pada ekstraskeletal, seperti kelenjar getah bening dan visera.
Letterer - Siwe disease: Penyakit paling serius dan progresif cepat, ditandai dengan penyakit diseminata dengan keterlibatan multiorgan.
Dalam serangkaian kasus yang ditinjau oleh Irving dkk, 73% pasien terdapat keterlibatan kepala dan leher, 24 % pasien terdapat keterlibatan kulit KAE dan 19 % terdapat keterlibatan tulang temporal. Usia rata-rata datang berobat adalah 3,2 tahun dan rasio pria- wanita adalah 1,7: 1.
Gejala dan tanda keterlibatan telinga dan tulang temporal seringkali tidak dapat dibedakan dengan OMSK, seperti tuli konduktif atau sensorineural. Tiga puluh persen pasien dengan keterlibatan tulang temporal memiliki keterlibatan bilateral. Penampakan radiologis
yang khas dari tulang temporal adalah 'punched out' atau litik. Sementara kerusakan yang luas dari tulang temporal dapat terjadi, namun hanya sedikit yang melaporkan adanya keterlibatan kapsul otic dengan penyakit, sering terbatas pada telinga luar dan tengah.
Prognosis pasien dengan LCH tergantung apakah penyakit ini unifokal, multifokal atau difus. Usia saat datang berobat kurang dari dua tahun dengan disfungsi organ merupakan indikator prognosis yang jauh lebih buruk. Penyakit unifokal, di sisi lain, memiliki prognosis yang sangat baik terhadap terapi lokal, termasuk reseksi lokal atau radioterapi. Kebanyakan memiliki tingkat kesembuhan 95-100 %. LCH multifokal juga memiliki respons yang baik terhadap pengobatan, tetapi LCH difus dapat berakibat fatal. Keterlibatan tulang temporal sering menandakan LCH multifokal yang paling baik ditatalaksana dengan multidisiplin, multimodalitas dengan kombinasi radioterapi, kemoterapi dan terapi steroid. Tala laksana bedah lesi tulang temporal sekarang menjadi jauh lebih konservatif, mengingat bahwa ada risiko komplikasi yang tinggi, terutama pada struktur seperti n.fasialis.
Cholesterol Granuloma
Cholesterol granuloma apeks petrosus bukan merupakan neoplasam sejati tetapi lebih merupakan massa yang terjadi akibat proses reaktif di tulang temporal. Dapat didiagnosis dari pemeriksaan pencitraan dan harus dimasukkan ke dalam diagnosis banding ketika mengevaluasi massa di tulang temporal.
Cholesterol granuloma pertama kali dilaporkan lebih dari 100 tahun yang lalu yang tampak sebagai membran timpani yang berwarna biru tua sehingga disebut sebagai "idiopathic hematoympanum". Kondisi ini terjadi pada pasien dengan disfungsi tuba eustachius dan seringkali disertai dengan otitis media kronik atau kolesteatoma.
Hipotesisnya bahwa cholesterol granuloma terjadi sebagai konsekuensi dari 4 faktor:
dipengaruhi drainase telinga tengah
perdarahan
obstruksi ventilasi
reaksi benda asing terhadap kristal kolesterol yang berasal dari katabolisme hemoglobin.
Cholesterol granuloma dapat dihasilkan dengan cara menginjeksikan kolesterol ke telinga tengah atau dengan menutup tuba eustachius. Cholesterol granuloma apeks petrosus meski tidak perlu ada kaitannya dengan otitis media atau kolesteatoma, kemungkinan terjadi akiabt proses patofisiologik yang serupa. Didapatkan pada tulang petrosus yang pneumatik, yang didapatkan pada 30% pasien. Proses ini diawali dengan tergangggunya ventilasi cellulae petrosus akibat trauma tulang temporal, difungsi tuba eustachius atau edema mukosa. Inflamasi atau trauma tulang petrosus dapat menyebabkan perdarahan di sellulae apeks petrosus dan karena tidak ada jalur drainase yang efektif, detritus dari perdarahan tersebut terakumulasi di sellulae. Membran sel darah merah yang megalami degenerasi nampaknya menjadi sumber utama dari kristal kolesterol yang kemudian memicu reaksi benda asing. Inflamasi akibat reaksi benda asing akan meningkatkan perdarahan dan edema mukosa, dan kemudian meningkatkan siklus inflamatori sehingga granuloma akan semakin membesar.
Alternatif teori terbentuknya cholesterol granuloma dikemukakan bahwa lesi ini terjadi akibat jalur sellulae yang dilapisi mukosa bertemu dengan sumsum tulang di apeks petrosus. Pertemuan antara lapisan mukosa dan sumsum tulang mengakibatkan perdarahan terus-menerus dan progresif dari sumsum tulang sehingga menyebabkan terbentuknya kista dan semakin membesar. Cholesterol granuloma dapat terbatas di tulang petrosus dan asimtomatik. Dapat juga meluas ke fossa cranial posterior dan menyebabkan parese n.abducens, diplopia, nyeri wajah, kelemahan otot wajah atau twitching, sakit kepala, dizziness, tinnitus dan gangguan pendengaran.
Diagnosis cholesterol granuloma dapat ditegakkan dari MRI yang memperlihatkan lesi ekspansif dengan dinding yang licin, nonenhancing dengan intensitas sinyal tinggi baik pada T1dan T2.
Terapi utama pembedahan yaitu dengan drainase sederhana yang memungkinkan aerasi permanen dari rongga tersebut. Namun kontroversi muncul tentang apakah dinding fibrosa kista perlu diangkat untuk mendapatkan kesembuhan jangka panjang.
NEOPLASMA GANAS
Karsinoma Sel Skuamosa
Karsinoma sel skuamosa (SCCA) yang mengenai telinga dan lateral skull base seringkali merupakan neoplasma kulit yang berasal dari kulit pinna atau KAE. Termasuk tumor yang agresif dengan prognosis dipengaruhi oleh kedalaman invasi tumor, adanya destruksi kartilago dan invasi limfovaskular. Walaupun kemungkinannya sangat kecil, keganasan ini dapat berasal dari telinga tengah, terutama dari mukosa telinga tengah yang metaplastic
Karsinoma sel skuamosa pada telinga dan tulang temporal didapatkan 24% dari seluruh SCCA pada kepala dan leher. Kebanyakan tumor ini didapatkan di pinna, lebih dari separuhnya didapatkan pada heliks. Paparan sinar matahari dan cedera dingin menjadi predisposisi pada keganasan ini, namun faktor lain seperti paparan radiasi dan infeksi kronik nampaknya juga berperan. Untuk SCCA yang berasal dari telinga tengah, otitis media kronik dan human papillomavirus diduga menjadi faktor yang berperan dalam terjadinya keganasan ini.
Usia rata-rata SCCA aurikula adalah pada usia 60 tahun akhir, sementara lesi primer di KAE umumnya muncul 10-15 tahun lebih awal. Tumor (SCCA) yang berasal dari telinga tengah didapatkan rata-rata pada usia 60 tahun. Karsinoma sel skuamosa pada telinga dan tulang temporal didapatkan 24% dari seluruh SCCA pada kepala dan leher.
Tumor ini lebih ulserasi dari basal sel karsinoma, bagian yang ulseratif sering ditutupi oleh krusta atau eksudat serosanguinus, lebih mudah berdarah dengan tepi yang kurang jelas. Pasien dengan SCCA di liang telinga seringkali datang dengan otorrhea yang hemoragik yang telah diterapi bertahun-tahun sebagai otitis eksterna. Pada pasien usia tua, keluar cairan dari telinga bercampur darah yang kronik dan tiba-tiba disertai nyeri telinga yang dalam harus diduga adanya suatu keganasan yang invasif. Indikasi lainnya bila didapatkan defisit n. fasialis ipsilateral. Keterlibatan luas dari KAE atau telinga tengah menyebabkan tuli konduktif, namun bila sudah terjadi invasi ke kanalis akustikus internus (KAI), cerebeloopontine angle, atau kapsul labirin menyebabkan tuli sensorineural. Metastasis ke KGB servikal atau parotis terjadi pada sekitar 30% pasien yang menginvasi ke tulang temporal.
Diagnosis SCCA pinna mudah ditegakkan lewat biopsi, namun banyak keganasan telinga tengah dan KAE telah berada pada stadium lanjut pada saat terdiagnosis. Biopsi
disarankan apabila terdapat infeksi telinga luar atau telinga tengah yang tidak merespon terhadap pengobatan medis yang adekuat.
Tata laksana SCCA telinga dan lateral skull base meski belum stadium lanjut sebaiknya agresif karena tingkat kekambuhannya tinggi. Reseksi bedah komplit lebih dipilih bila memungkinkan. Reseksi komplit lesi di pinna lebih mudah dilakukan dengan teknik bedah mikrografik Mohs. Karsinoma yang telah menginvasi bagian kartilago KAE dapat dieksisi dengan reseksi sleeve dengan tandur kulit pada defek operasi. Tumor yang telah menginvasi bagian tulang KAE memerlukan eksisi en block dengan lateral temporal bone resection. Ketika tumor meluas melalui membran timpani ke telinga tengah sampai ke selulae mastoid, atau menginvasi kapsul otik, maka indikasi dilakukan sub total temporal bone resection. Parotidektomi dan diseksi leher juga dapat dilakukan dan terapi radiasi direkomendasikan untuk pasien dengan karsinoma stadium lanjut untuk meningkatkan ketahanan hidup. Kemoterapi kadang diperlukan sebagi terapi ajuvan atau paliatif tetapi belum terbukti meningkatkan ketahanan hidup.
Prognosis menjadi buruk jika lesi di liang telinga meluas ke medial ke tulang timpanik atau melewati membran timpani dan menuju ke telinga tengah. Tumor di telinga tengah meluas ke anterior menuju ke tuba eustahia dan kanal carotid dan ke posterior menuju sistem selulae mastoid. Dari kanal carotis, SCCA dapat menginvasi apeks petrosus, anterior skull base dan sinus cavernosus. Telinga dalam secara umum lebih tahan terhadap invasi tumor tetapi tumor di mastoid dapat mempenetrasi lempeng dural dan meluas ke fossa cranial posterior.
Sarcoma dan Chordoma
Sarcoma pada lateral skull base merupakan neoplasma yang sangat jarang dijumpai, namun pada anak-anak tumor tersebut merupakan tumor ganas primer tulang temporal yang paling sering dijumpai.
Rhabdomyosarcoma
Rhabdomyosarcoma paling sering didapatkan, meliputi 30% tumor-tumor tulang temporal sarcomatous dan 4-7% dari seluruh keganasan tulang temporal. Sembilan puluh
persen pasien dengan rhabdomyosarcoma berusia < 10 tahun, dengan usia rata-rata saat datang berobat 4.5 tahun. Sel mesenkimal pluripotensial di telinga tengah dan tuba eustachius merupakan asal dari neoplasma ini. Kebanyakan pasien datang dengan otorrhea kronik dan otalgia yang gagal merespon dengan terapi medikal yang adekuat. Pada pemeriksaan otologi tampak polip aural yang rapuh, secret telinga campur darah dan atau bengkak daerah mastoid. Kelemahan fasialis atau paralisis sering didapatkan di awal proses penyakit dan dapat mengindikasikan adanya suatu keganasan. Metastase KGB regional jarang terjadi, tetapi metastase jauh ke paru, liver, otak dan tulang didapatkan pada 14% pasien pada saat datang berobat. Rhabdomyosarcoma dibagi menjadi beberapa tipe histologic: embryonal, botryoid, alveolar dan pelomorfik. Tipe embryonal paling sering dijumpai. Alveolar rhabdomyosacoma prognosisnya paling buruk. Pencitraan tulang temporal memperlihatkan jaringan lunak di telinga tengah dan mastoid dengan destruksi tulang di sekitarnya. Eksisi bedah radikal jarang berhasil baik pada neoplasma yang sangat ganas ini. Tata laksana saat ini meliputi intervensi bedah terbatas, external beam radioterapi dan kemoterapi. Tingkat ketahanan hidup meningkat dengan penggunaan terapi ajuvan kontemporer dan 5-year failure free survival melebihi 60%.
Chondrosarcoma
Sarcoma low grade ini dijumpai kebanyakan pada dewasa muda dekade ke- 4 dan 5, laki-laki dan perempuan sebanding, terbanyak bermula dari regio petroclival dekat foramen laserum dan apeks petrosus. Pasien datang dengan sakit kepala dan gejala yang melibatkan saraf kranial seperti diplopia, hoarseness, disfagia, facial dysesthesia dan gangguan pendengaran. Seperti rhabdomyosarcoma, terdapat beberapa subtipe histologik dari chondrosarcoma dan prognosis bervariasi tergantung subtipe histologik dan derajat differensiasinya. CT scan memperlihatkan destruksi tulang dari skull base lateral sampai ke midline dan penyengatan tumor pada kontras. Eksisi bedah merupakan modalitas terapi utama namun eksisi komplit seringkali tidak mungki dilakukan dan rekurensi sering didapatkan. Baik radioterapi dan kemoterapi belum terbukti manfaatnya.
Gambar 6. Chondrosarcoma. CT aksial memperlihatkan neoplasma agresif mengerosi apeks petrosus kiri dan tulang sphenoid (asterisk)
Ewing sarcoma, Osteogenic Sarcoma dan Fibrosarcoma
Ewing sarcoma, osteogenic sarcoma dan fibrosarcoma jarang didapatkan di tulang temporal. Ewing sarcoma tulang temporal merupakan keganasan yang jarang dijumpai dan bersifat agresif, yang didapatkan pada pasien berusia < 20 tahun. Pasien datang dengan tanda dan gejala yang serupa dengan sarcoma tulang temporal, pada CT scan memperlihatkan lesi jaringan lunak berbatas tegas yang mengerosi tulang di sekitarnya. Prognosisnya tidak diketahui, ewing sarcoma hanya terdapat tidak lebih dari 20 kasus yang dilaporkan di literature. Metastase tidak didapatkan dan hasil yang baik bisa diperoleh dengan kombinasi reseksi tulang temporal, radioterapi dan kemoterapi.
Osteogenic sarcoma tulang temporal bersifat sangat ganas namun sangat jarang ditemukan. Kebanyakan pasien berusia 10-30 tahun dan laki-laki lebih sering daripada perempuan (3:2). Pasien datang dengan pembengkakan periaurikula yang nyeri dan progresif. Reseksi tulang temporal kombinasi dengan radioterapi dan kemoterapi dianjurkan. Fibrosarcoma tulang temporal dapat terjadi pada bayi dan hampir sepertiga bayi dengan neoplasma ini sudah didapatkan sejak lahir. Metastase kelenjar limfe dapat terjadi pada 10% pasien anak, namun angka ketahanan hidup 5 tahun di atas 80% setelah terapi pembedahan. Prognosisnya untuk pasien dewasa kurang baik. Metastase ke KGB regional
terjadi pada 50% kasus dan fibrosarcoma yang terjadi post radioterapi pada pasien dewasa bersifat letal.
Skull base chordomas
Merupakan keganasan low-intermediate grade. Chordoma ini tidak hanya timbul di clivus tetapi juga di intracranial atau tumor jaringan lunak nasofaring. Kebanyakan didapatkan pada laki-laki, usia 35-45 tahun. Pemeriksaan imunohistokimia didapatkan positif untuk cytokeratin dan antigen membran epitel, yang dapat digunakan untuk membedakan chordoma dari chondrosarcoma. Metastase jarang didapatkan dan kebanyakan chordoma tumbuh lambat dan tidak diketahui, mengerosi skull base dan mencederai struktru neurovascular. Sakit kepala, diplopia dan defisit visual merupakan keluhan yang sering didapatkan, dan pada pemeriksaan fisik didapatkan abnormalitas fungsi okulomotor, terutama parese n.abdusens. ketika chordoma berasal dari atau meluas ke nasofaring, pasien dapat datang dengan sumbatan jalan napas atas dan massa di nasofaring. Pada kebanyakan kasus, diagnosis didapat dari pemeriksaan pencitraan dan evaluasi sitologi dari FNAB. CT scan memperlihatkan erosi tulang clivus atau basiocciput di garis tengah sementara pada chondrosarcoma erosi yang terjadi di lateral. Tata laksana utama adalah eksisi bedah dengan pendekatan transoral-transpalatal, transcondylar, atau infratemporal fossa, namun reseksi komplit seringkali tidak dapat dilakukan dan rekurensi sering terjadi. Radioterapi dengan proton atau stereotactic radiosurgery post operasi dapat meningkatkan ketahanan hidup dan memperpanjang interval bebas sakit.
NEOPLASMA KANALIS AUDITORI INTERNAL DAN CEREBELLOPONTINE ANGLE
Meningioma Epidemiologi
Meningioma adalah tumor tersering kedua yang ditemukan di CPA (<10%), tumor intrakranial kedua yang paling umum didapatkan (<20%), dan tumor sistem saraf pusat kedua yang paling sering setelah glioma. Tidak seperti vestibular schwannoma, ada
kecenderungan 2:1 lebih sering pada wanita, paling sering didiagnosis pada dekade kelima hingga keenam kehidupan.
Patogenesis
Faktor risiko untuk meningioma termasuk NF2, dan diperkirakan seperlima remaja dengan meningioma menderita NF2. Radiasi telah terbukti meningkatkan risiko meningioma empat kali lipat. Terdapat juga hubungan antara meningioma dan hormon seks; tumor ini lebih umum pada wanita, telah dikaitkan dengan ca mammae dan telah terbukti memiliki reseptor untuk estrogen dan progesteron.
Diagnosis
Secara klinis, keluhan utama pasien dapat berupa gangguan pendengaran progresif, sakit kepala, vertigo, tinnitus, otorrhea, otalgia, kelemahan wajah atau kehilangan pengecapan, diplopia atau gangguan penglihatan, disfagia, disartria, disfonia, mual dan muntah, nyeri wajah atau paresthesia, exophtalmus, hemiparesis tungkai bawah atau paraparesis dan pembengkakan periauricular atau massa di leher. Meskipun gangguan pendengaran, vertigo, dan tinitus merupakan gejala yang paling sering didapatkan pada meningioma di CPA dan VS, namun hanya 60% meningioma didapatkan dengan gangguan pendengaran dibandingkan dengan 98% dari VS. Meningioma yang meluas ke telinga tengah dapat memperlihatkan membran timpani hiperemik, tuli konduktif dan keterlibatan n.fasialis. Meningioma di foramen jugularis memberikan gejala tinitus pulsatil, massa telinga tengah, dan disfungsi lower cranial nerves.
Pemeriksaan audiometri dan vestibular mendapatkan hasil serupa dengan lesi CPA lainnya; oleh karena itu, perannya dalam diagnostik terbatas. Baseline audiometry, bagaimanapun berguna dalam memutuskan berbagai strategi perawatan dan konseling pasien. MRI dengan gadolinium adalah modalitas pencitraan yang paling efektif untuk diagnosis meningioma.
Penatalaksanaan
Meningioma adalah tumor jinak, tetapi bersifat destruktif secara lokal dan dengan kemampuan menginvasi saraf kranial. Pilihan penatalaksanaannya mirip dengan VS, tetapi variasi dalam lokasi tumor dan gejala membuatnya sulit untuk dibuat algoritma manajemen standar. Secara umum, usia pasien dan perkiraan harapan hidup, morbiditas pengangkatan tumor, dan perjalanan alamiah tumor harus dipertimbangkan. Penatalaksanaan konservatif dengan pencitraan serial harus dipertimbangkan pada tumor yang sepertinya tidak menimbulkan gejala yang mengancam harapan hidup pasien dan pada tumor dimana eksisi bedah menyebabkan morbiditas yang berat.
Eksisi bedah adalah tata laksana pilihan bila memungkinkan. Secara umum, pasien memiliki hasil yang lebih baik ketika operasi dilakukan sebelum timbulnya tanda-tanda neurologis. Oleh karena itu, tumor yang diikuti secara konservatif harus dipantau dengan cermat untuk pertumbuhan dan gejalanya. Pasien muda dengan tumor besar atau tanda neurologis progresif harus ditatalaksana dengan pembedahan. Pendekatan bedah ditentukan oleh ukuran tumor, lokasi relatif tumor terhadap struktur saraf dan pembuluh darah dan status pendengaran. Tulang yang berdekatan yang terlibat dengan tumor harus direseksi karena kecenderungan meningioma untuk menyebar melalui kanal osseus haversian. berbagai pendekatan bedah dapat digunakan berdasarkan karakteristik tumor; termasuk fossa media, retrosigmoid, translabirin, transkoklear dan kombinasi tranlabyrinthine-suboccipital. Preservasi pendengaran jauh lebih dimungkinkan pada menigioma dibandingkan dengan VS, oleh karena itu labyrinth-sparing approaches digunakan bila memungkinkan, terlepas dari ukuran tumor. Simpson mengklasifikasikan perluasa pengangkatan tumor (grade I-IV) dan klasifikasi ini telah berkorelasi dengan hasil setelah pembedahan. Reseksi tumor komplit seringkali sulit karena lokasi dan keterlibatan struktur saraf dan pembuluh darah, oleh karena itu tingkat kekambuhan dilaporkan setinggi 30% bahkan setelah pengangkatan tumor (yang tampaknya) komplit. Karena tingkat kekambuhan klinis meningkat dari waktu ke waktu, direkomendasikan untuk melakukan follow up jangka panjang dan pemeriksaan radiologis.
Peran radiosurgery sterotacic atau radioterapi pada meningioma masih kontroversial. walaupun seterotactic radiosurgery atau radioterapi dapat digunakan terutama untuk tumor
yang tidak dapat diakses atau pasien tidak layak untuk pembedahan, dan semakin sering digunakan sebagai modalitas tambahan setelah reseksi subtotal.
Neuroma Akustik (Vestibular Schwannoma)
Neuroma adalah suatu tumor jinak yang mengenai selubung atau sarung saraf. Nama lainnya neurolemmoma atau schwannoma. Umumnya neuroma berkembang lambat dan lebih sering terjadi pada nervus kranial V (n. trigeminus) dan VIII (n. vestibulokokhlear), namun dapat juga terjadi pada saraf kranial lainnya. Dalam perjalanannya nervus vestibulokokhlear berjalan berdampingan dengan nervus fasialis dalam satu saluran yaitu kanalis auditorius internus yang panjangnya kurang lebih 2 cm (0,8 inci). Adanya hubungan yang dekat antara nervus vestibulokokhlear dengan nervus fasialis ini dapat menerangkan terjadinya kelemahan otot wajah apabila ada pertumbuhan tumor yang besar.Tumor ini merupakan tumor infratentorial tersering yang tumbuh pada permukaan batang saraf maupun dapat meluas difus pada batang saraf dan memisahkan serabut dan fasikulus saraf.
Neuroma akustik tumbuh secara perlahan-lahan dan kemudian dapat mengerosi saluran telinga dalam dan kemudian muncul di sudut serebellopontin yang kemudian akan tumbuh kearah anterosuperior menekan N V, ke inferior menekan N IX, X, XI, cerebellum, meningkatkan tekanan intra cranial dan menekan syaraf kranialis lainnya seiring dengan bertambah besarnya tumor tersebut.
Neuroma akustik adalah tumor ekstraaksial intrakranial yang berasal dari selubung sel Schwann yang membungkus salah satu saraf vestibuler atau koklear. Nervus vestibulokoklear merupakan saraf kranial yang bertanggung jawab terhadap keseimbangan dan pendengaran. Neuroma akustik ini terutama terjadi pada bagian vestibuler saraf kranial VIII sehingga lebih tepat dinamakan vestibular schwannomas.
Insiden
Neuroma akustik meliputi sekitar 6% dari semua tumor intracranial, 30% tumor batang otak dan sekitar 85% dari tumor cerebellopontin. Dapat ditemukan diseluruh dunia dengan insidens 1 : 100.000 penduduk. Ditemukan lebih banyak pada wanita daripada pria dengan perbandingan 3:2, dengan usia antara 30-60 tahun.
Etiologi
Penyebab neuroma akustik secara umum tidak diketahui, namun diperkirakan pertumbuhan neoplastik muncul terutama di perbatasan antara komponen saraf kranial sentral dan perifer yang disebut obersteiner-redlich zone yang bervariasi letaknya untuk tiap saraf kranial. Tumor ini dapat terjadi secara spontan atau dapat disebabkan oleh suatu neurofibromatosis tipe II akibat abnormalitas gen penekan tumor yang berlokasi pada kromosom 22. Neuroma akustik dapat juga disebabkan oleh mekanisme molekuler yang berhubungan dengan faktor proliferasi yakni nerve growth factor (NGF). Selain itu juga berhubungan dengan adanya pengaruh faktor hormon yang berpotensi seperti estrogen, progesteron dan testosteron.
Patogenesis
Neuroma akustik mula-mula berada pada nervus VIII kemudian membesar dan menekan struktur didekatnya yaitu nervus VII, n fasialis secara berangsur-angsur meregang dan secara perlahan-lahan membesar kearah otak menonjol dari saluran telinga dalam masuk ke satu area di otak yaitu daerah cerebellopontin. Dalam tahap ini tumor berebntuk seperti buah peer atau jamur dimana bagian yang lebih kecil berada di dalam saluran telinga dan bagian yang besar kearah otak. Tumor ini kemudian menekan N V atau N Trigeminus yang berfungsi menjaga sensibilitas dari wajah dan dengan meningkatnya ukuran tumor dapat terjadi penuttupan pada aquaductus sylvii yang kemudian dapat tejadi hydrosefalus yang disertai peningkatan tekanan, akhirnya terjadi herniasi tentorial dari foramen magnum dan dengan kompresi pada medulla oblongata yang mengakibatkan henti nafas.
Gejala Klinis
Gejala awal yang mengarah pada diagnosis schwannoma vestibular tergantung pada lokasi pasti tumor di sepanjang saraf vestibular. Jika tumor muncul di KIA, akan menyebabkan tinnitus dan gangguan pendengaran di awal perjalanan penyakit. Jika lesi berada di cerebellopontine angle (CPA), tinitus dan gangguan pendengaran mungkin baru munculu setelah tumor mencapai ukuran yang lebih besar.
Setiap pasien dengan tuli sensorineural unilateral dan / atau tinnitus unilateral, dengan atau tanpa gangguan keseimbangan, harus dicurigai menderita schwannoma vestibular. Pasien harus dilakukan evaluasi neurotologi yang mencakup anamnesis, pemeriksaan fisik dan audiometri rutin. Jika evaluasi neurotologi mengungkapkan temuan yang mencurigakan, dapat dilakukan pemeriksan audiometri khusus dan pemeriksaan vestibular. MRI dengan gadolinium merupakan modalitas yang paling sensitif untuk mendiagnosis schwannoma vestibular; oleh karena itu, pencitraan diperlukan untuk pasien ini.
Gambaran klinik dari pasien dengan neuroma akustik terdiri atas 5 tahap yaitu:
Tumor masih berada di dalam intra kanalikuli sehingga kelainan terbatas pada n. Vestibulokoklearis dan dapat meluas ke n fasialis, yang dapat menimbulkan gejala berupa
Rasa penuh pada telinga
Hilangnya pendengaran atau ketulian unilateral dan tinnitus
Gejala ini paling sering terjadi (> 90%), ketulian ini terjadi secara perlahan-lahan dalam jangka wakrtu beberapa bulan sampai 20 tahun lebih, rata-rata 2 tahun. Pasien menyadari adanya tanda-tanda awal ketulian tetapi sering diabaikan. Tanda awal berupa berkurangnya kemampuan pasien untuk membedakan kata-kata dalam percakapan sehari-hari terutama bila berkomunikasi lewat telepon. Tinnitus biasanya terjadi bersamaan atau mendahului ketulian dan hanya terbatas pada telinga yang sakit.
Ketidakseimbangan
Terutama dirasakan pada saat perubahan posisi kepala dan posisi badan terutama dalam gelap.
Keterlibatan n fasialis
Nervus fasialis dapat tertekan oleh desakan tumor yang semakin besar dan dapat menimbulkan gejala berupa parese otot-otot wajah dan gangguan pengecapan.
Keterlibatan n. trigeminus
Gejala trigeminal terjadi jika ukuran tumor 2-2,5 cm berupa parestesi, rasa nyeri pada wajah dan penurunan refleks kornea.
Pada tahap ini telah terjadi penekanan pada batang otak dan cerebellum, yang menimbulkan gejala neurologi berupa ataksia dan nistagmus.
Peningkatan tekanan intrakranial
Gejala yang muncul jika terjadi peningkatan intrakranial adalah nyeri kepala hebat yang seringkali disertai gejala nausea dan vomitus.
Tahap terminal
Ditandai dengan kegagalan tanda-tanda vital.
Tabel 4. Progresifitas Gejala Vestibular Schwannoma berdasarkan Pertumbuhan Tumor
Intrakanalikular | Gg pendengaran, tinnitus, vertigo |
Cisternal | Gg pendengaran memburuk, vertigo menghilang, gangguan keseimbangan memberat |
Kompresi Batang Otak | Hypesthesia midfasial dan korneal (V), occipital headache, muncul ataxia |
Hydrocephalic | Gejala trigeminal bertambah berat, ataxia bertambah berat, sakit kepala terasa di semua bagian kepala, gangguan penglihatan karena TTIK, disfungsi lower cranial nerves (suara serak, disfagia, aspirasi, kelemahan bahu dan lidah), long tract signs, kematian karena tonsillar herniation |
Gambar 7. Vestibular schwannoma. (A) Tahap intrakanalikular. (B) Tahap cisternal. Bagian tumor yang berada di CPA berukuran 1 cm belum ada kompresi batang otak atau keterlibatan nervus trigeminal yang signifikan. (C) Tahap penekanan batang otak. Perhatikan kompresi ke bagian lateral dari pons, indentasi
cerebellar peduncle dan pergeseran nervus trigeminal. (D) Tahap hidrosefalik. Perhatikan kollaps ventrikel IV yang berakibat hidrosefalus
Diagnosis
Setiap pasien dengan tuli sensorineural unilateral dan / atau tinnitus unilateral, dengan atau tanpa gangguan keseimbangan, harus dicurigai menderita schwannoma vestibular. Pasien harus dilakukan evaluasi neurotologi yang mencakup anamnesis, pemeriksaan fisik dan audiometri rutin. Jika evaluasi neurotologi mengungkapkan temuan yang mencurigakan, dapat dilakukan pemeriksan audiometri khusus dan pemeriksaan vestibular. MRI dengan gadolinium merupakan modalitas yang paling sensitif untuk mendiagnosis schwannoma vestibular; oleh karena itu, pencitraan diperlukan untuk pasien ini.
Pemeriksaan Neurotologis
Selain pemeriksaan kepala dan leher rutin, semua pasien yang diduga memiliki schwannoma vestibular memerlukan pemeriksaan neurotologis lengkap.
Skrining neurotologis meliputi evaluasi fungsi audiovestibular, serebelar, dan saraf kranial. Pemeriksa pertama-tama mencatat ada atau tidak adanya nistagmus spontan, gaze nystagmus, dan nistagmus vertikal. Kaca mata Frenzel sangat membantu dalam mencegah pasien dari fiksasi visual, dan menekan nistagmus yang berasal dari perifer.
Nystagmus gaze horizontal kadang-kadang didapatkan, dan komponen cepat biasanya menjauhi telinga yang sakit. Nystagmus rotatori dan nystagmus posisi juga dapat dilihat dengan telinga yang sakit berada pada posisi tergantung. Nystagmus vertikal selalu patologis dan menunjukkan gangguan vestibular sentral seperti kompresi batang otak atau keterlibatan serebelar oleh tumor. Tes Romberg mungkin menimbulkan pergeseran, dan tes Fukuda melangkah berputar ke sisi lesi. Tes finger to nose atau tes past pointing dapat memunculkan dysmetria (gerakan halus), demikian pula ataxic gait atau abnormal tes heel-to-shin semua memperlihatkan keterlibatan serebelar.
Beberapa saraf kranial dapat dipengaruhi oleh tumor CPA dan jumlah saraf yang terlibat biasanya berbanding lurus dengan ukuran tumor. Disfungsi saraf kedelapan ditandai dengan tinitus, gejala vestibular, dan gangguan pendengaran. Pemeriksaan garpu tala membantu mendeteksi gangguan pendengaran sensorineural pada sisi yang
dicurigai. Keterlibatan saraf kranial kelima oleh tumor yang lebih besar dapat menghilangkan refleks kornea dan menyebabkan hipestesia wajah ipsilateral. Meskipun tumor besar sering mempengaruhi fungsi sensori saraf kranial kelima namun jarang menyebabkan pengecilan otot mastikator. Demikian pula, fungsi sensorik dari saraf kranial ketujuh dipengaruhi lebih dini, dan lebih sering, daripada fungsi motoriknya. Keterlibatan saraf sensorik yang lebih rentan dari saraf ketujuh dapat memunculkan tanda Hitzelberger yaitu hipestesia atau rasa sakit pada dinding posterior KAE. Spasme hemifasial jarang terlihat.
Tidak lazim bagi schwannoma vestibular melibatkan saraf kranial selain CN. VIII, V, dan VII. Namun, tumor CPA yang besar juga dapat secara langsung mempengaruhi lower cranial nerves (CN. IX, X, XI) yang berdekatan, atau secara tidak langsung mempengaruhi fungsi saraf kranial melalui kompresi ventrikel keempat yang menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial (ICP) dan papilledema sehingga menyebabkan kompresi n.optikus. Dengan demikian, pemeriksaan saraf kranial yang lengkap disarankan.
Tes audiologi
Pure tune audiometry (PTA)
Dengan PTA akan didapatkan gambaran tuli sensorineural pada frekuensi tinggi.
Audiometri tutur
Didapatkan skor 0-30% pada pemeriksaan Speech discrimination test dimana pasien tidak mampu mengulang kata-kata dengan benar.
BERA
Tes ini dapat digunakan untuk mengetahui lesi yang terjadi pada retrokoklea, pada neuroma akusitik didapatkan hasil gelombang V yang memanjang.
Timpanometri
Pada neuroma akustik, sekitar 88% pasien refleks akustiknya negatif.
Tes vestibuler
Tes kalori akan memperlihatkan depresi atau hilangnya fungsi vestibuler pada telinga yang sakit. Elektroneurografi dan tes kalori infra merah sangat berguna untuk mengidentifikasi apakah tumor berasal dari nervus vestibuler superior atau inferior.
Hasil pemeriksaan tersebut sangat membantu dalam upaya mempertahankan fungsi pendengaran dimana kemungkinan untuk mempertahankan fungsi pendengaran lebih besar bila yang terkena adalah nervus vestibuler superior.
Pemeriksaan radiologi
CT-Scan
CT scan merupakan radiasi non invasif relatif aman untuk melihat struktur anatomi dalam otak. Ini khususnya berguna untuk melihat perubahan dalam struktur tulang. Karakteristik yang ditemukan pada neuroma akustik adalah pelebaran dari kanalis auditorius internus. CT scan potongan tipis pada kanalis auditorius internus dengan kontras dapat menentukan tumor ukuran sedang atau besar tetapi tidak dapat mendeteksi tumor yang lebih kecil dari 1 - 1,5 cm.
MRI
Gambar 8. Vestibular schwannoma (T1-weighted MRI)
MRI adalah pemeriksaan yang non invasif yang memberi gambaran lebih terperinci mengenali struktur otak . Kontras godalinium disuntikkan ke dalam aliran darah selama scanning agar tumor lebih mudah terlihat
Cisternogram kontras udara mempunyai sensivitas yang tinggi dan dapat digunakan secara relatif pada tumor-tumor intra kanalikuler kecil bila dicurigai dan terdapat kontra indikasi pada penggunaan MRI
Pemeriksaan Histologi
Secara mikroskopis sel-sel neoplastik memperlihatkan dua bentuk yang khas yang dijelaskan oleh Atoni (1920) yaitu jaringan Antoni tipe A dan tipe B. Pada Atoni tipe A atau tipe fasikulasi terdapat sel-sel paralel yang tersusun rapih dengan inti fusiform yang berwarna gelap tersusun di dalam bungkusan atau terpisah satu dengan lainnya oleh jaringan fibrous aseluler secara relatif. Yang lebih sering adalah Atoni tipe B atau tipe retikuler yaitu terdapat susunan retikuler tersebar dengan elemen seluler lebih sedikit dan suatu nukleus yang tersusun lebih rapi. Suatu neuroma akustik dapat mengandung kedua tipe jaringan tersebut. Disamping itu gambaran histologis neuroma akustik kadang sulit dibedakan dari meningioma
Diagnosis Banding
Diagnosis banding schwannoma vestibular termasuk setiap kelainan yang menyebabkan gangguan pendengaran sensorineural unilateral dan / atau tinitus. Schwannomas vestibular adalah lesi yang paling umum dari sudut serebellopontine. Tiga lesi paling umum berikutnya adalah meningioma, kolesteatoma primer, dan kista arachnoid. Schwannoma yang berasal dari divisi koklea dari saraf kedelapan, atau dari saraf ketujuh, serta, lipoma KAI, hemangioma, dan kompresi loop vaskular jarang dijumpai. Setiap lesi ini dapat menyerupai schwannoma vestibular dan dapat dibedakan dengan MRI dan / atau computed tomography (CT).
Prediksi Tingkat Pertumbuhan Tumor
Kemampuan untuk secara akurat memprediksi tingkat pertumbuhan schwannoma dengan mengevaluasi faktor-faktor seperti ukuran tumor pada saat terdiagnosis, hubungannya dengan NF2, usia pasien, atau interval pertumbuhan selama periode pengamatan awal, akan sangat membantu dalam memutuskan tata laksana yang dipilih. Sampai sekarang masih diperdebatkan faktor mana yang dapat memprediksi tingkat pertumbuhan. Pertumbuhan tumor selama tahun pertama telah dilaporkan sebagai prediksi pertumbuhan pada tahun berikutnya oleh Bederson dkk, tetapi Charabi dkk melaporkan bahwa pola pertumbuhan berubah selama periode pengamatan yang panjang. Ogawa dkk
mendapatkan bahwa tingkat pertumbuhan schwannoma vestibular unilateral lebih lambat daripada schwannoma vestibular bilateral NF2. Tingkat pertumbuhan tumor rekuren juga lebih cepat daripada tumor primer. Sebaliknya, Levo dkk menemukan bahwa schwannoma unilateral tumbuh lebih cepat daripada schwannoma yang terkait dengan NF2. Selama pengamatan mereka, tingkat pertumbuhan rata-rata schwannomas vestibular unilateral adalah 3,5 mm per tahun dibandingkan dengan 1,5 mm per tahun untuk tumor NF2.
Penatalaksaan
Terdapat 3 pilihan tata laksana untuk manajemen vestibular schwannoma yaitu eksisi bedah, radiasi stereotactic, dan observasi. Setiap pilihan memiliki kelebihan dan kekurangan. Keputusan sebagian besar didasarkan pada preferensi pasien dan hasil penelitian observasional. Tidak ada penelitian RCT yang menilai secara objektif hasil dari pilihan tata laksana ini. Akibatnya, pengambilan keputusan klinis bisa menjadi sulit. Dari segi morbiditas dan mortalitas dalam dekade terakhir, hasil dari ketiga pilihan tatalaksana ini cukup baik.
Pada tumor yang besar penanganannya lebih kompleks. Oleh karena itu diagnosis dini dan terapi sangat penting. Umumnya penanganan neuroma akustik yang dianjurkan adalah operasi yang dilakukan oleh seorang ahli bedah saraf dan ahli otologi.
Observasi
Sifat indolen (lamban) dari banyak vestibular schwannoma telah lama diketahui, menyebabkan beberapa dokter merekomendasikan observasi tanpa intervensi segera sebagai pilihan tata laksana. Jumlah tumor yang dilaporkan bertumbuh dari waktu ke waktu berkisar antara 30-82%. Dalam penelitian terbaru, pertumbuhan terjadi pada 66% pasien yang diikuti selama periode 5 tahun. Keuntungan dari non intervensi untuk pasien dengan vestibular schwannoma yang tidak menunjukkan pertumbuhan adalah jelas, tidak ada intervensi yang diperlukan jika pertumbuhan kritikal tidak terjadi selama masa hidup mereka.
Protokol observasi bervariasi tetapi biasanya, MRI dilakukan 6 bulan setelah diagnostik, dan setiap tahun setelahnya jika tidak ada bahaya kompresi batang otak. Observasi dianggap sebagai tata laksana yang sesuai untuk only hearing ear ketika pendengaran
masih bisa diperbaiki dan fungsi batang otak tidak berada dalam bahaya. Observasi juga sesuai untuk pasien dengan tumor yang kecil, pasien berusia lanjut (> 65 tahun) atau lemah secara medis, atau karena pilihan pasien. Beberapa pasien lebih menyukai pilihan menggunakan pendengaran yang mereka miliki selama mereka bisa, dibandingkan risiko yang didapat dengan terapi pembedahan atau radiasi.
Pembedahan
Secara historis, eksisi bedah mikro telah menjadi tata laksana pilihan untuk schwannoma vestibular. Prioritas pertama pembedahan adalah melindungi hidup, yang kedua mempertahankan fungsi saraf fasialis dan ketiga memelihara manfaat pendengaran pada tumor telinga secara sosial jika memungkinkan. Terdapat beberapa tehnik pendekatan untuk mencapai tumor. Tiga pendekatan yang berbeda digunakan dalam penanganan neuroma akustik yaitu pendekatan retrosigmoid (suboccipital) a, translabirin dan fossa kranii media atau kombinasi (combine approach). Pendekatan yang dipilih tergantung pada beberapa faktor termasuk ukuran tumor, posisi tumor, status pendengaran dan keadaan umum penderita dan pengalaman ahli bedah.
Tiga pendekatan operatif yang dapat dilakukan untuk mengangkat tumor akustik yaitu pendekatan melalui fossa kranii media, sub occipital dan translabirin.
Pendekatan Fossa media umumnya digunakan untuk tumor-tumor intrakanali yang kecil dimana pemeliharaan fungsi saraf fasialis dan pendengaran optimal
Suboccipital approach atau disebut juga retrosigmoid memungkinkan ahli bedah mengangkat tumor-tumor kecil dan besar selain menjaga fungsi saraf fasial dan derajat fungsi pendengaran bila memungkinkan.
Translabirin approach, biasanya digunakan bila penderita mempunyai ketulian atau ukuran tumor dan posisi pengangkatan labirin.
Stereotactic Surgery
Menggunakan suatu radiasi tunggal yang terkonsentrasi dan sinar langsung secara tepat untuk mengobati tumor-tumor otak secara aman, efektif dan tanpa insisi tunggal. Prosedur ini dilakukan pada penderita rawat jalan. Suatu bingkai metal diletakkan di
kepala penderita dengan 4 peniti. Sewaktu menggunakan bingkai penderita di scan dalam MRI. Penggunaan bingkai sebagai petunjuk, lokasi pasti dari tumor ditentukan secara tiga dimensi pada komputer. Ahli bedah kemudian menggunakan sinar radiasi yang terfokus untuk merusak tumor dan menghambat pertumbuhannya.
Hal yang terbaru, terdapat dua tipe teknik radiosurgery yaitu LINAC dan Gamma Knife, suatu alat hemisferis yang mengelilingi kepala penderita, 201 sasaran sorotan radiasi cobalt-60 pada tumor. Masing-masing perjalanan sinar melalui suatu daerah yang berbeda dalam otak. Dengan sendirinya, ini cukup kuat tanpa merugikan jaringan yang dilaluinya. Sinar-sinar akan tumpang tindih dalam daerah sasaran, dan dimana sinar terpotong dapat membuat suatu lesi. LINAc merupakan tipe yang lain adalah suatu akselerator linier khas yang berputar di sekitar penderita, menghasilkan sinar radiasi multipel, masing-masing memancar mengarah ke sasaran tumor melalui jaringan yang berbeda. Masing-masing sinar terkumpul yang menyebabkan kerusakan ringan.
Penggunaan radiostatik pembedahan ditunjang oleh 25 tahun penelitian dan keberhasilan pengobatan diantara 1000 penderita di Eropa dan Amerika Utara. Pengaruh pengobatan terjadi lebih dari satu periode waktu, sehingga tumor tidak akan memperlihatkan hasil yang cepat. Secara bertahap, lesi berhenti bertumbuh dan pada beberapa kasus mungkin menyusut ukurannya. Hal ini seringkali efektif dalam mengobati tumor-tumor yang tidak berespon terhadap pembedahan, radiasi konvensional atau kemoterapi.
Beberapa pemeriksaan dilakukan sebelum pembedahan termasuk EKG dan tes darah. Seorang audiologis akan melakukan tes pendengaran dan penilaian pra bedah tentang fungsi saraf kranial.
Prognosis
Angka kematian neuroma akustik berhubungan dengan ukuran tumor. Untuk tumor berukuran kecil angka kematiannya nol dan meningkat 2% bila tumornya bertambah besar. Angka kematian 1-3% dan biasanya disebabkan oleh kerusakan struktur vaskuler yang penting yaitu arteri cerebellum anterior inferior.
METASTASIS TUMOR KE TULANG TEMPORAL
Metastasis ke tulang temporal jarang terjadi. Kejadian metastasis paling umum terjadi melalui penyebaran hematogen ke area tulang temporal yang mengandung bone marrow. Tumor ganas yang paling umum bermetastasis ke tulang temporal adalah mammae (25%), paru-paru (11%), ginjal (9%), abdomen (6%), bronkus (6%), dan prostat (6%). Area tulang temporal yang menunjukkan kecenderungan kejadian metastasis tumor termasuk apeks petrous, mastoid, dan kanal auditori internal. Labirin tulang tampaknya tidak didapatkan invasi neoplastik karena keterlibatan telinga bagian dalam jarang terjadi.
Keluhan utama yang paling sering didapatkan termasuk gangguan pendengaran, kelumpuhan wajah, dan vertigo. Kejadian metastasis ke tulang temporal harus dipertimbangkan sebagai kemungkinan penyebab gangguan pendengaran pada pasien dengan riwayat klinis neoplasma ganas, terutama pada pasien dengan lesi tulang temporal yang tumbuh cepat disertai dengan gejala neurologis progresif.
Prognosis untuk pasien dengan metastasis tulang temporal bervariasi tergantung pada histopatologi tumor tetapi biasanya buruk. Penatalaksanaan biasanya terdiri dari radioterapi paliatif.
RESEKSI TULANG TEMPORAL
Definisi
Tindakan pembedahan berupa reseksi tulang temporal yang disebabkan keganasan pada telinga.
Indikasi Tindakan
Keganasan pada tulang temporal
Kontra Indikasi Tindakan
Keganasan stadium lanjut atau yang sudah bermetastasis seperti: tumor- tumor yang sudah menyebar ke apeks petrosus dan tumor-tumor yang sudah menyebar ke basis kranii, invasi ke sinus kavernosus, arteri karotis interna, fossa infratemporal, dan otot paraspinous.
Komplikasi
Kelumpuhan nervus kranialis
Kegagalan flap
Persiapan Operasi
Pencitraan untuk mengidentivikasi perluasan tumor
Konsultasi ke bagian lain yang terkait tergantung lesi (bedah saraf dan rekonstruksi)
Prosedur Operasi
Tabel 5.Reseksi Tulang Temporal
Prosedur operasi | Jaringan yang diangkat | Batas diseksi |
LTBR Lateral Temporal Bone Resection | Pengangkatan en bloc bagian kartilago dan tulang EAC, MT, maleus, inkus | A: kapsul TMJ S: epitympanum, root of zygoma P: kavum mastoid I: n.fasialis, tulang hipotimpanik, fossa infratemporal M: stapes |
Opsional: parotidektomi, neck dissection, mandibular condyle | ||
STBR Subtotal Temporal Bone Resection | LTBR+telinga tengah dan mastoid, kapsul otik, dinding medial telinga tengah | A: kapsul anterior TMJ, ramus mandibula S: dura fossa media P: dura fossa posterior I: fossa infratemporal M: IAC, apeks petrosus dengan struktur neurovaskular |
Opsional: n. fasialis, dura, fossa infratemporal, sigmoid, parenkim otak | ||
Dapat dilakukan secara reseksi en bloc atau piecemeal | ||
TTBR Total Temporal Bone Resection | STBR + apeks petrosus dan neurovascular bundle Reseksi piecemeal digunakan bila carotid dan lower cranial nerve dipertahankan; pada reseksi en bloc carotid dan lower cranial nerve tidak dipertahankan | A: kapsul anterior TMJ, ramus mandibula S: lobus temporalis P: serebellum I: fossa infratemporal M: +/- carotid, clivus |
A, anterior; I, inferior; M, medial; P, posterior; S, superior
Reseksi tulang temporal lateral
Dapat dilakukan untuk tumor yang melibatkan kartilago dan tulang liang telinga, tetapi tidak melibatkan annulus timpanikus maupun kavum timpani. Keseluruhan liang telinga bagian luar dibuang dengan teknik en bloc termasuk membran timpani, maleus, dan inkus. Pertama dilakukan pembuatan landmark dari liang telinga luar dan dilakukan insisi post aurikular. Daun telinga ditarik ke depan hingga dapat mengekspos kelenjar karotis. Nervus fasialis didiseksi dari foramen stilomastoideus hingga pes ancerinus. Dilakukan simple mastoidektomyhingga resesus fasialis terpapar. Nervus fasialis bagiansecond genuharus dibuka sampai ke foramen stilomastoid. Sendi inkudostapedial dilepaskan dan nervus fasialis lebih dipaparkan ke arah anterior sepanjang segmen horizontal. Kemudian spesimen tumor dibuang dengan cara en bloc. Dilakukan dua sudut lapangan operasi. Bagian atas liang telinga bagian tulang diekspos dengan cara membuka bagian epitimpani dan pangkal zigomatikus. Lapangan pandang kedua dibentuk dengan arah anterior-inferior dan medial, transeksi bagian medial tulang timpani sampai ke annulus timpanikus, tetapi sebelah lateral dari bulbus jugularis dan nervus fasialis. Lapangan pandang ini diteruskan ke anterior sampai fossa glinoid terekspos. Massa yang terletak disisi anterior dari tulang timpani dapat dibebaskan dengan menggunakan osteotom. Kavitas mastoid yang luas terbentuk. Sisa massa tumor yang melekat pada kelenjar parotis kemudian diangkat. Tuba eusthacius dapat ditutup dengan menggunakan otot, dan defek yang terbentuk ditutup dengan split-thickness skin graft.
Reseksi tulang temporal total
Reseksi tulang temporal totaldilakukan untuk membuang tulang temporal secara keseluruhan dan mengangkat arteri karotis interna. Tindakan ini memerlukan evaluasi preoperatif yang khusus, apakah pasien dapat bertahan dengan satu arteri karotis interna. Flap kulit aurikular dan servikal diangkat dan pembuluh darah besar serta nervus di leher diidentivikasi. Kelenjar karotis, nervus fasialis, dan ramus asendens mandibula direseksi. Arteri karotis interna dan eksterna dipisahkan beserta nervus kranial IX (glosofaringeus), nervus X (vagus), dan nervus
XI (assesorius), dan vena jugularis internus, otot pterigoideus dipisahkan. Nervus trigeminalis bagian mandibular (V3) diidentivikasi dan dipreservasi. Kraniotomi dilakukan. Fossa dura media dan posterior diekspos. Sinus transversus diligasi di bagian posterior pada
pertemuan dengan sinus sigmoideus. Sinus petrosus superior dipisahkan di bagian anteriornya sebelum ia masuk kedalam sinus kavernosus. Pahat diletakkan di foramen ovale dan diarahkan ke sinus petrosus superior. Ia melewati bagian lateral sinus kavernosus melalui kanalis karotikus, basis kranii, dan dinding kranii lateral, untuk membebaskan bagian anterior dasar fossa media. Insisi posterior dilakukan pada sebelah lateral hingga ke medial diarahkan ke anterior dan dihentikan pada bagian posteromedial hingga ke tip mastoid dan posterior dari foramen jugular. Insisi yang menyambung dilakukan dari insisi posterolateral melalui bagian medial foramen jugular dan lateral dari foramen magnum. Sinus petrosus inferior dipisahkan dan koneksi akhir membuat massa dapat dikeluarkan melalui teknik en bloc.
Prognosis
Angka harapan hidup pasien malignansi tulang temporal secara keseluruhan adalah 28-66%. Penelitian terbaru mengenai angka harapan hidup untuk lima tahun adalah 77 %. Hasil dari operasi ini tidak menggambarkan secara akurat buruknya prognosis pada pasien.
DAFTAR ISI
WAKTU PEMBELAJARAN 1
PERSIAPAN SESI 1
REFERENSI 2
KOMPETENSI 2
CONTOH KASUS DAN DISKUSI 3
TUJUAN PEMBELAJARAN 4
METODE PEMBELAJARAN 5
EVALUASI 7
INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF 8
INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR 10
DAFTAR TILIK 12
MATERI PRESENTASI 14
MATERI BAKU 38
MODUL I.8
OTOLOGI – KELAINAN TELINGA AKIBAT PENYAKIT SISTEMIK
WAKTU PEMBELAJARAN
Proses pengembangan kompetensi | Alokasi waktu |
Sesi dalam kelas | 2 x 60 menit (classroom session) |
Sesi praktikum | 0 menit (coaching session) |
Sesi praktik dan pencapaian kompetensi | 0 menit (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi presentasi:
LCD 1: Definisi dan ruang lingkup.
LCD2: Penyakit Infeksi Virus dan manifestasi (Herpes simplex CMV, Rubella, Varicella zoster, Mumps and Measles, HIV).
LCD 3: Penyakit Infeksi Bakteri dan manifestasi (Lyme disease, lepra, tuberculosis, sifilis).
LCD 4: Penyakit Imunologik/autoimun dan manifestasinya (Wegener granulomatosis, relapsing polychondritis, Cogan’s syndrome, Discoid lupus erythematosus, Systemic lupus erythematosus, Polyarteritis nodosa, Rheumatoid arthritis, Autoimmune inner ear disease.
LCD 5: Penyakit metabolik dan manifestasinya (Gout, Ochronosis, Mucopolysaccharidoses.
LCD 6: Penyakit tulang dan manifestasinya (osteogenesis imperfect, osteopetrosis, Paget disease, Fibrous dysplasia.
LCD 7: Penyakit granulomatosis dan manifestasinya (Histiocytosis X, Langerhans histiocytosis, Sarcoidosis, Wegener granulomatosis).
Kasus: Ramsay Hunt
Sarana dan alat bantu latih: (disesuaikan dengan pencapaian kompetensi)
Penuntun belajar (learning guide): terlampir.
Tempat belajar (training setting): instalasi rawat jalan, instalasi rawat inap, kamar operasi, ruang kuliah, ruang praktikum.
Model/manekin telinga atau tulang temporal atau cadaver.
Komputer/laptop.
In focus.
REFERENSI
Lee K.J : Essential Otolaryngology Head and Neck Surgery, 10th ed, Mac Graw Hill, 2012.
Byron J Bailey: Head and Neck Surgery Otolaryngology, 5thed, J P Lippincot, Philadelphia, 2015.
Scott Brown: Otolaryngology Head and Neck Surgery, 8th ed, vol 2, CRC press, Taylorand Francis Group, New York, USA, 2018.
Bluestone and Stool’s : Pediatric Otolaryngology, 5th ed, vol 1, People;s Medical Publishing House, Conecticut, USA, 2014.
John LD, Michael BG, : The Chronic Ear, 1st ed, Thieme, New York, USA, 2016. Otologic Manifestations of Langerhans' Cell Histiocytosis.
Cunningham M.J. Curtin H.D, Jaffe R, Arch Otolaryngol Head Neck Surg. 1989;115(7):807-813. doi:10.1001/archotol.1989.01860310045020.
Joseph B.Nadol Jr 9 Schuknecht’s pathology of the ear ‘infections’.3rd edition. People;s Medical Publishing House, Conecticut, USA, 2010.
KOMPETENSI
Pengetahuan
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik mampu:
Mengetahui etiologi terjadinya kelainan telinga dari kasus dan penyakit- penyakit sistemik.
Mengetahui patogenesis terjadinya kelainan telinga dari kasus dan penyakit- penyakit sistemik.
Mengetahui patofisiologi kelainan telinga dari kasus dan penyakit-penyakit sistemik.
Keterampilan
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam:
Menegakkan diagnosis kasus kelainan otologi pada kasus dan penyakit- penyakit sistemik.
Menatalaksana secara mandiri kelainan otologi pada kasus dan penyakit- penyakit sistemik.
Melakukan penanganan kasus kelainan otologi pada kasus dan penyakit- penyakit sistemik.
Melakukan follow-up kasus kelainan otologi pada kasus dan penyakit- penyakit sistemik.
CONTOH KASUS DAN DISKUSI
Seorang laki-laki berusia 56 tahun datang ke klinik THTKL dengan keluhan timbul bercak bintik merah pada daun telinga kanan disertai wajah sebelah kanan mencong sejak 2 hari yang lalu. Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya vesikel berkelompok pada daun telinga kanan.
Soal:
Lengkapi anamnesis pada pasien ini.
Lengkapi pemeriksaan fisik dan penunjang pada pasien ini.
Apa diagnosis kerja yang paling mungkin pada pasien ini.
Apa komplikasi yang mungkin terjadi.
Bagaimana penatalaksanaan pada pasien ini.
Jawaban:
Perlu ditanyakan bagaimana awal terbentuknya vesikel pada auris dextra, apakah ada riwayat demam, riwayat keluar cairan dari telinga, nyeri pada telinga apakah terdapat gangguan pendengaran dan vertigo. Apakah penderita mempunyai riwayat DM dan hipertensi.
Pemeriksaan otoskopi untuk menilai membran timpani, kanalis akustikus eksternus, gambaran vesikel pada auris dextra. Menilai fungsi motorik dan tingkat gradasi parese nervus VII. Dilakukan pemeriksaan audiometri dan keseimbangan bila terdapat keluhan pendengaran dan keseimbangan. Pemeriksaan radiologis seperti CT-Scan dan MRI dapat dilakukan untuk menyingkirkan etiologi lainnya.
Diagnosis kerja adalah Herpes Zoster Otikus atau Sindrom Ramsay Hunt
Komplikasi dapat berupa neuralgia pasca herpetic, residual paresis dan terjadi herpes zoster ensefalitis.
Terapi utama pada kasus ini adalah pemberian antiviral, kortikosteroid dan obat-obat lain sesuai dengan gejala yang dikeluhkan oleh pasien seperti analgetika, antibiotika bila terdapat infeksi sekunder dan sebagainya. Dapat juga dilakukan fisioterapi untuk merangsang otot otot wajah yang mengalami parese.
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan Pembelajaran Umum
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik terampil dalam:
Mampu menegakkan diagnosis klinis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang pada kasus-kasus otologi akibat penyakit sistemik.
Mampu memutuskan dan menangani kasus kasus-kasus otologi akibat penyakit sistemik sesuai kompetensi.
Tujuan Pembelajaran Khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk:
Menjelaskan anatomi, topografi dan fisiologi telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam.
Menjelaskan kasus-kasus dan patofisiologi penyakit sistemik yang bermanifestasi otologi.
Menjelaskan gambaran klinis manifestasi otologi dari penyakit-penyakit sistemik.
Melakukan penanganan non-bedah pada kasus manifestasi otologi dari penyakit- penyakit sistemik sesuai kompetensi.
Melakukan penanganan bedah pada kasus-kasus manifestasi otologi dari penyakit sistemik dan komplikasinya sesuai kompetensi.
Melakukan follow up kasus otologic manifestation of systemic disease.
Mampu mendiagnosis dan menatalaksana manifestasi otologi dari penyakit-penyakit sistemik.
METODE PEMBELAJARAN
Tujuan 1. Menjelaskan anatomi, histologi, topografi dan fisiologi telinga luar, tengah, dan dalam.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Diskusi kelompok.
Harus diketahui:
Anatomi, histologi, dan topografi telinga luar, tengah, dan dalam.
Fisiologi telinga luar, tengah, dan dalam.
Tujuan 2. Menjelaskan patofisiologi penyakit sistemik yang bermanifestasi otologi.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Tinjauan pustaka.
Diskusi kelompok.
Harus diketahui:
Patofisiologi penyakit sistemik yang bermanifestasi otologi.
Tujuan 3. Menjelaskan gambaran klinis manifestasi otologi dari penyakit- penyakit sistemik.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Tinjauan pustaka.
Kuliah.
Diskusi kelompok.
Bedside teaching.
Praktik langsung pada pasien. Harus diketahui:
Gambaran klinis (gejala dan tanda) manifestasi otologi dari penyakit- penyakit sistemik.
Tujuan 4. Melakukan penanganan non-bedah pada kasus manifestasi otologi dari penyakit-penyakit sistemik sesuai kompetensi.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Kuliah.
Diskusi kelompok.
Bedside teaching.
Praktik pada pasien. Harus diketahui:
Tata laksana nonbedah untuk kasus otologi sebagai manifestasi dari penyakit sistemik.
Farmakologi obat.
Tujuan 5. Melakukan penanganan bedah pada kasus-kasus manifestasi otologi dari penyakit sistemik dan komplikasinya sesuai kompetensi.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Kuliah.
Diskusi kelompok.
Praktikum.
Bedside teaching.
Praktik pada pasien.
Bakti sosial.
Harus diketahui:
Tata laksana impaksi serumen.
Komplikasi impaksi serumen.
Komplikasi dari tata laksana impaksi serumen.
Tujuan 6. Melakukan follow up kasus otologic manifestation of systemic disease.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Kuliah.
Diskusi kelompok.
Bedside teaching.
Praktikum.
Praktik pada pasien.
Harus diketahui:
Hal-hal yang harus diperhatikan pada pasien dengan kelainan otologi karena kasus penyakit sistemik.
Edukasi yang perlu diberikan pada pasien.
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pretest dalam bentuk tertulis dan lisan sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai pengetahuan awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri atas:
Anatomi, histologi, dan fisiologi telinga luar, tengah dan telinga dalam.
Pemeriksaan fisis/THT/penunjang
Penegakan diagnosis.
Penatalaksanaan.(medikamentosa dan pembedahan).
Selanjutnya dilakukan diskusi bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar.
Peserta didik diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar melalui metode bedside teaching kepada pasien sesungguhnya dengan pengawasan fasilitator dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut:
Perlu perbaikan: pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan.
Cukup: pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien.
Baik: pelaksanaan benar dan baik (efisien).
Melakukan case based discussion (formulir penilaian terlampir).
Peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education).
Pencapaian pembelajaran:
Ujian akhir stase, setiap divisi/unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan.
Ujian nasional dilakukan pada akhir tahapan pendidikan spesialis oleh kolegium ilmu kesehatan THT-KL.
INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF
Kuesioner:
Sebelum pembelajaran Soal:
Manifestasi otologi pada varicella-zoster adalah otalgia telinga dalam. (Benar/Salah)
Manifestasi otologi pada penderita CMV simptomatis adalah ketulian SNHL derajat sedang. (Benar/Salah)
Salah satu manifestasi otologi pada penderita otitis media tuberkulosis adalah parese nervus VII (Benar/Salah)
Organisme yang menjadi vector Borrelia burgdorferi pada Lyme disease adalah kutu. (Benar/Salah)
Jawaban:
Benar
Salah
Benar
Benar
Tengah pembelajaran Soal:
Manifestasi otologi yang sering ditemukan pada Penyakit Lepra adalah Manifestasi otologi yang sering ditemukan pada penderita Wagener granulomatous.
Pada penderita Lupus Eritematous ditemukan manifestasi otologi berupa
……… Jawaban :
(1) numbness
gangguan pada n. aurikularis magnus
nodul ulseratif aurikula
(1) Necrotizing granuloma pada telinga tengah dan rongga mastoid.
gangguan fungsi tuba eustachius menyebabkan ketulian konduktif. (3) gangguan telinga dalam dan menyebabkan ketulian sensorineural.
Lesi pada telinga luar.
Akhir pembelajaran Soal:
Patologi yang menyebabkan adanya gangguan otologi pada penderita sifilis adalah………….
Rheumatoid arthritis adalah gangguan autoimun yang bermanifestasi di telinga luar dan tengah?
Pengobatan medikamentosa untuk rheumatoid arthritis? Jawaban:
Kuman treponema pallidum akan menyerang kapsul otik dan menyebabkan osteitis.
(1) Nodul rheumatoid pada telinga luar.
(2) CHL akibat terkenanya ligamentum suspensorius dan sendinya.
ASA, NSAIDs, glucocorticoids, imunosuppressan.
Essay/Ujian lisan:
Seorang laki-laki usia 46 tahun datang ke poliklinik THT dengan keluhan keluar cairan dari telinga kiri yang dialami sejak 1 tahun terakhir. Keluhan ini disertai dengan gangguan pendengaran pada telinga kiri. Riwayat berobat rutin tetapi cairan tidak pernah kering, pasien menjalani pengobatan MDR yang sudah berlangsung 3 bulan.. Pada pemeriksaan otoskopi sekret mukopurulen pada telinga kiri, tampak membran timpani perforasi sentral multipel disertai jaringan granulasi di telinga tengah.
Pertanyaan:
Sebutkan diagnosis yang paling mungkin pada pasien tersebut di atas.
Jelaskan patofisiologi penyakit yang menjadi diagnosis kerja pada pasien.
Sebutkan pemeriksaan penunjang yang diperlukan untuk menegakkan diagnosis tersebut, berserta temuan yang diharapkan.
Sebutkan terapi untuk diagnosis tersebut.
Jawaban:
Diagnosis kerja: Otitis media tuberculosis.
Masuknya kuman micobacterium ke telinga tengah melalui tuba eustachius.
Pada pemeriksaan telinga ditemukan adanya sekret yang mukopurulen. Membran timpani perforasi multipel. Pada pemeriksaan fungsi pendengaran dapat ditemukan adanya gangguan pendengaran konduktif. Pemeriksaan rontgen thoraks tampak perselubungan pada apex paru. Pemeriksaan PCR sekret telinga ditemukan microbakterium.
Terapi utama adalah pemberian obat-obat tuberkulostatik.
J. INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR
PENUNTUN BELAJAR
PROSEDUR MASTOIDEKTOMI KORTIKAL, TIMPANOPLASTI DAN OSIKULOPLASTI
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.:
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan).
Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal.
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien.
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan).
NAMA PESERTA: ...................................... TANGGAL: .................................
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||||
| |||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR | |||||
- Pemberian antibiotik profilaksis dan deksametason intravena 1 mg/kgBB | |||||
- Menyiapkan mikroskop dan alat-alat yang akan digunakan. | |||||
- Cuci tangan, memakai baju operasi dan hadscoon. | |||||
KEGIATAN | KASUS | ||||
- tindakan a dan antiseptik pada daerah operasi dan sekitarnya dengan menggunakan povidon iodine atau antiseptik lainnya. | |||||
- pasang kain penutup operasi steril pada pasien, kecuali di area operasi. | |||||
- Posisi pasien: terlentang, kepala miring ke arah berlawanan dengan sisi telinga yang dioperasi. | |||||
III. PROSEDUR OPERASI MASTOIDEKTOMI
IV. PASCAOPERASI Instruksi pascaoperasi
| |||||
K. DAFTAR TILIK
DAFTAR TILIK I
PROSEDUR MASTOIDEKTOMI KORTIKAL, TIMPANOPLASTI DAN OSSIKULOPLASTI
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini:
: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau
panduan standar
X: Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
T/T: Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
NAMA PESERTA:…............................ TANGGAL:….............
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||||
| |||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR RESEKSI NEOPLASMA LIANG TELINGA | |||||
- Pemberian 12ntiseptic preoperative secara injeksi | |||||
- Menyiapkan mikroskop dan alat-alat yang akan digunakan | |||||
- Cuci tangan, memakai baju operasi | |||||
- Tindakan 12ntisep dan 12ntiseptic pada daerah operasi dengan menggunakan 12ntisept iodine atau dengan 12ntiseptic lainnya | |||||
- Pasang kain penutup steril, kepala miring ke bawah berlawanan dengan sisi yang dioperasi | |||||
III. PROSEDUR OPERASI MASTOIDEKTOMI | |||||
semisirkulatis lateralis. | |||||
IV. PASCAOPERASI Instruksi pascaoperasi
|
L. MATERI PRESENTASI
M. MATERI BAKU
Pendahuluan
Sejumlah penyakit sistemik dapat mengenai telinga, mengakibatkan berbagai gangguan otologi antara lain gangguan pendengaran, disfungsi vestibuler dan parese nervus fasialis. Penyakit-penyakit ini berasal dari berbagai penyebab yang berbeda antara lain infeksi, granulamatous, autoimun, tulang dan akibat ganguan metabolic.
PENYAKIT SISTEMIK DENGAN MANIFESTASI OTOLOGI
INFEKSI | IMUNOLOGIK/ AUTOIMUN | METABOLIK | PENYAKIT TULANG | GRANULOMATOSIS |
Herpes simplex | Wegener granulomatosis | Gout | Osteogenesis imperfecta | Histiocytosis X |
Varicella zooster | Relapsing polychondritis | Ochronosis | Osteopetrosis | Langerhans histiocytosis |
Sitomegalovirus | Cogan’s syndrome | Mucopolysaccharidoses | Sarcoidosis | |
Rubella | Wegener granulomatosis | |||
Mumps | Discoid lupus erythematosus | Paget disease | ||
Measles | Systemic lupus erythematosus | Fibrous dysplasia | ||
Human immunodeficiency virus (HIV) | Polyarteritis nodosa | |||
Lyme disease | Rheumatoid arthritis |
Lepra | Autoimmune inner ear disease | |||
Tuberkulosis | ||||
Sifilis |
Penyakit infeksi
Penyakit infeksi merupakan jenis penyakit sistemik yang paling sering bermanifestasi dalam patologi telinga. Patogen (virus dan bakteri) dapat menginfeksi telinga dalam dan jaras auditori sehingga menyebabkan sindrom tuli kongenital yang menyebabkan ketulian. Penyakit infeksi yang menyebabkan ketulian dapat juga terjadi setelah kelahiran.
Herpes Simpleks
Disebabkan oleh virus Herpes Simpleks Virus (DNA virus). Infeksi primer terjadi pada penderita yang belum terbentuk imunitas sempurna seperti pada infant/ anak. Manifestasi klinis gejala herpes simpleks dapat berupa sebagai gingivostomatitis, keratokonjunctivitis ataupun meningoencephalitis Pada telinga, gejala klinis yang timbul dapat berupa vesikel pada kulit aurikula dan telinga (herpetic external otitis). Tatalaksana pada infeksi Herpes Simpleks dapat berupa simptomatik dan antiviral, yang sangat efektif terutama pada fase infeksi prodromal (Asiklovir 400mg/8 jam untuk 7-10 hari).
Sitomegalovirus
Sitomegalovirus (CMV) merupakan jenis virus double-stranded DNA yang merupakan keluarga virus herpes. CMV merupakan infeksi kongenital yang paling sering ditemukan di dunia. Manifestasi penyakit ini dapat dalam bentuk primer dan laten dengan penyebaran transmisi horizontal dan vertical. Pada bayi-bayi yang terkena infeksi CMV, 10% diantaranya mengalami infeksi simptomatik (cytomegalic inclusion disease) dimana hampir semuanya selalu didapatkan dari infeksi maternal primer yang terjadi dalam masa kehamilan. Pada bayi yang lahir dengan infeksi CMV dalam periode neonatal ini mayoritas akan mengalami defisit neurologis berat dan 20-65 % diantaranya mengalami ketulian sensorineural (SNHL) derajat berat bilateral. Pada CMV kongenital yang asimptomatik, sekitar 7-15%% bayi akan mengalami SNHL dengan derajat ketulian ringan atau sedang, namun dapat juga derajat berat pada beberapa kasus. Gangguan pendengaran juga dapat
terjadi dalam beberapa bulan/tahun setelah kelahiran, oleh karena itu sering terlewatkan pada pemeriksaan rutin atau skrining neonatal.. Kelainan vestibuler dapat juga ditemukan pada kasus CMV tetapi dalam jumlah kecil yang dapat terdeteksi dengan pemeriksaan elektonistagmografi.
Pemeriksaan gold standar untuk diagnosis infeksi kongenital CMV adalah dengan isolasi virus pada urin penderita namun sampai saat ini belum ada screening universal untuk infeksi CMF. Terapi yang ada sampai saat ini pada penderita CMV simptomatis adalah terapi suportif.
Rubella (German measles)
Rubella adalah salah satu anggota keluarga Togaviridae. Infeksi maternal primer pada masa trimester pertama kehamilan dapat diakibatkan oleh sindrome Rubella.
Manifestasi yang paling sering pada penyakit ini adalah ketulian sensorineural, yang mencapai 60% pada bayi yang terkena penyakit ini. Ketulian unilateral atau bilateral dapat bermanifestasi paling lambat pada usia dua tahun kehidupan dan dapat merupakan satu-satunya tanda infeksi. Gambaran lain dari infeksi Rubella dapat ditemukan adanya malformasi okuler termasuk katarak dan retinopati dan penyakit sistem nervus sentral (CNS). Infeksi postnatal Rubella dapat menyebabkan cacar Jerman ( German measles) yang merupakan penyakit virus ringan.
Gambaran histopatologi penyakit ini pada telinga dalam menunjukkan terjadinya degenerasi koklear dan sakulus serta atropi pada stria vaskularis tanpa mengenai utrikulus, kanalis semisirkularis dan epitel sensoris vestibulum.
Gejala klinis dari rubella kongenital (Gregg’s syndrome) dapat mengenai sebagian besar sistem organ seperti katarak, mikropthalmia, defek jantung, lesi kulit ‘blueberry muffin’, retardasi pertumbuhan dan gangguan pendengaran yang terjadi pada 50% penderita rubella, umumnya berupa derajat ketulian berat dan sangat berat. Perubahan pendengaran dapat terjadi beberapa bulan sampai tahun setelah infeksi awal. Gangguan pendengaran tidak ditemukan pada rubella dapatan (acquired).
Varicella-Zoster
Virus varicella-zoster (VZV) merupakan suatu virus herpes yang menyebabkan varicella atau chickenpox sebagai infeksi primer. Setelah infeksi primer menyembuh, VZV tetap akan dorman pada akar ganglia dorsalis. Reaktivasi virus akan kembali bila terjadi supresi imunitas seluler atau diaktivasi oleh penyakit sistemik seperti
linfoma Hodgkin’s, usia tua, kemoterapi dan HIV-AIDS yang menyebabkan timbulnya erupsi vesikuler dermatom. Reaktivasi VZV pada ganglion genikulatum dapat menyebabkan terjadinya sindroma Ramsay- Hunt atau herpes zoster oticus. Apabila nervus fasialis terkena dapat meyebabkan gambaran klasik berupa otalgia, erupsi vesikuler pada telinga luar dan membran timpani serta parese nervus fasialis. Ekstensi dari proses peradangan dapat mengenai nervus vestibulokoklear yang akan mengakibatkan ketulian sensorineural dan vertigo.
Mumps dan Rubeola
Virus mumps dan rubeola (measles) merupakan anggota dari keluarga Paramyxoviridae. Infeksi virus ini jarang terjadi di negera maju oleh karena penggunaan vaksinasi yang telah meluas tetapi masih umum ditemukan di seluruh dunia. Manifestasi klinis dari infeksi mumps dapat berupa parotitis unilateral/bilateral dan orkitis pada laki-laki. Gambaran klasik gejala rubeola berupa batuk, konjungtivitis, lesi mukosa mulut (Koplik spot) dan rash makulopapular. Ketulian sensorineural pada mumps dan rubeola jarang terjadi yaitu 0,05% dan 0,1% pada penderita dengan kecenderungan unilateral.
Tuberkulosis
Infeksi tuberculosis dapat menyerang berbagai organ seperti pada kepala leher, laring, faring, rongga mulut, rongga nasal, kelenjar saliva, tulang belakang servical, telinga tengah dan mastoid. Infeksi pada telinga tengah dapat terjadi melalui penyebaran hematogen ataupun penyebaran keatas melalui tuba eustachius dari nasofaring.
Manifestasi otologi dari infeksi tuberkulosis dapat berupa paralisis nervus fasialis, otorea persisten, otitis media berulang dan perikondritis. Ketulian konduktif akibat infeksi tuberculosis dapat terjadi akibat adanya erosi pada osikel dan ketulian sensorineural terjadi akibat adanya labirinitis pada stadium infeksi lanjut.
Lepra
Pada infeksi Lepra, Mukosa nasal merupakan tempat pertama dari transmisi Mycobacterium leprae. Infeksi Lepra diklasifikasikan menjadi tuberkuloid, tuberkuloid borderline, borderline, borderline lepromatous dan lepromatous. Gejala klinis yang muncul dapat berupa lesi kulit, numbness, ulserasi, wajah leonine(singa). Lepra mempunyai kecenderungan untuk menginfeksi saraf, termasuk n. aurikularis
magnus ( greater auricular nerve) , n. ulnaris, n. radialis, dan perineal yang 70% diantaranya akan bermanifestasi pada aurikula.
HIV
Infeksi HIV disebabkan oleh RNA retrovirus. Sekitar 20-30% penderita HIV dapat mengalami gejala otologi. Gejala klinis yang umumnya timbul dapat berupa otitis media, otitis eksterna berulang, otitis media serosa akibat hipertrofi adenoid dan limfoma Gejala klinis lainnya dapat disertai ketulian sensorineural yang berat, namun keterkaitan keduanya belum sepenuhnya dimengerti.
Sifilis
Sifilis disebabkan oleh infeksi Treponema pallidum, yang dapat ditransmisikan lewat transplasenta (sifilis kongenital) atau melalui kontak seksual (acquired syphilis). Meningitis asimptomatis dapat ditemukan pada 40% penderita sifilis yang walaupun jarang tetapi dapat disertai dengan ketulian mendadak bilateral dan vertigo. Tes-tes treponemal seperti tes fluorescent treponemal antibody absorption (FTA- ABS) atau tes microhemagglutination untuk T. pallidum, mempunyai sensitifitas dan spesifitas yang tinggi dan diperlukan dalam diagnosis penyakit ini. Pada kasus ketulian sensorineural idiopatik progresif dianjurkan untuk melakukan tes untuk otosifilis dan neurosifilis. Manifestasi otologi dari sifilis berupa gangguan pendengaran dan vestibuler. Ketulian sensorineural sangat sering terjadi pada sifilis kongenital (40%) dan stadium lanjut sifilis dapatan (acquired). Ketulian sensorineural terjadi sekitar 80-90% pada neurosifilis.
Banyak penderita sifilis menunjukan disfungsi vestibuler menyerupai penyakit Meniere’s. Pada kasus Sifilis yang tidak mendapat pengobatan, sifilis otogenik lebih agresif dibandingkan penyakit Meniere’s, umumnya menyerang kedua telinga dan menyebabkan ketulian sangat berat. Hennebert sign (vertigo dan nystagmus yang diinduksi oleh tekanan udara pada telinga tengah) dan Tullio phenomenon (vertigo dan nystagmus diakibatkan oleh suara keras) dapat menyertai sifilis tertier. Pada sifilis sekunder dan tertier, infeksi akan menyerang otik kapsul yang menyebabkan osteitis tulang otik kapsul. Dapat juga terjadi degenerasi pada membran labirin, hidrops endolimfa dan fibrosis. Sistem vestibuler perifer dan nervus kranial VIII juga dapat terkena pada meningoneurolabyrinthitis fulminant. Prognosis ketulian pada
sifilis otogenik cenderung buruk dengan perbaikan pendengaran kurang dari sepertiga dari paenderita yang mendapat terapi.
Lyme Disease
Infeksi Spirocheta (Borrelia Burgdoferi) yang menyebabkan Lyme Disease , dapat menimbulkan terjadinya ketulian sensorineural Organisme ini menembus kulit melalui gigitan kutu (genus Ixodes) yang terinfeksi. Lyme disease belum jelas gambaran klinis mengenai gejala yang merupakan akibat dari infeksi disseminated atau oleh respon inflamasi sistemik. Pada kepala leher, lyme disease umumnya disertai parese fasialis, khususnya pada anak-anak. Lyme Disease juga dilaporkan dapat menyebabkan ketulian mendadak sensorineural ataupun Ménière-like syndrome.
Relapsing polycondritis
Merupakan penyakit autoimun dengan karakteristik adanya episode inflamasi dari struktur kartilago seperti telinga,hidung, trakea, laring dan tuba Eustachius) yang menyebabkan atropi, jaringan parut dan distorsi kartilago. Gambaran otologic dapat berupa pinna/aurikula hiperemis tanpa adanya gangguan pada liang telinga (untuk membedakan dengan otitis eksterna).
Discoid Lupus Erythematosus kronik
Jenis discoid lupus erythematosus terbatas pada kompleks imun area kulit pada epidermal-dermal junction. Dapat ditemukan berupa lesi pada telinga luar. Terapi dengan corticosteroid topical, menghindari paparan sinar matahari.
Polyarteritis nodosa
Terjadinya necrotizing vasculitis pada arteri diameter kecil-sedang. Diagnosis pada biopsi jaringan menunjukan adanya invasi PMN pada semua lapisan dinding pembuluh darah dengan deposisi kompleks imun dan angiografi menunjukan aneurisma kecil pada cabang-cabang pembuluh darah. Manifestasi otologi berupa ketulian konduktif (CHL) atau SNHL. Pengobatan dengan kortikosteroids dan siklofosphamide.
Rheumatoid Arthritis
Manifestasi otologi berupa adanya nodul rheumatoid pada telinga luar, tuli konduktif akibat terkenanya ligamentum suspensorius dan sendinya dan SNHL oleh karena penyakit autoimun telinga dalam.
Gout
Pada Gout, terjadi gangguan metabolism purin dan penngkatan level asam urat sehingga mengakibatkan penumpukan pada jaringan lunak dan sendi. Manifestasi otologi berupa tophus auricular. Penanganan adalah allopurinol dan probenacid.
Mukopolisakarida
Manifestasi otologi berupa adanya mixed hearing loss, CHL yang diakibatkan oleh disfungsi tuba eustachius dan disertai otitis media efusi. SNHL disebabkan oleh metabolisme abnormal lipid pada sel saraf.
PENYAKIT GRANULOMATOUS
Langerhans Histiocytosis
Langerhans histiocytosis ( histiocytosis X) adalah kelompok penyakit idiopatik yang disebabkan oleh proliferasi abnormal dari histiocytes. Histiocytes merupakan sel jinak yang ditemukan pada dermis atau epidermis, kulit, tulang, kelenjar limfe, dan organ visceral. Kelompok penyakit ini terdiri dari tiga penyakit yaitu, eosinophilic granuloma, Hand-Schüller-Christian disease, dan Letterer-Siwe disease
Manifestasi otologi diakibatkan oleh terbentuknya granuloma pada tulang temporal yang mengakibatkan ketulian konduktif, otorea, paralisis nervus fasialis, vertigo dan ketulian sensorineural tergantung pada struktur anatomi yang terganggu oleh granuloma.
Pemeriksaan Computed tomography (CT) scan dengan kontras bermanfaat dalam diagnosis oleh karena dapat memberikan gambaran adanya kelainan baik pada tulang maupun jaringan lunak pada tulang temporal. Manfaat lain dari CT scan adalah dapat membantu terapi lokal sebagai guideline pembedahan biopsi dan prosedur kuretase atau dalam menentukan batas-batas pada terapi radiasi dosis rendah. Penatalaksanaan kasus granulomatosis tulang temporal adalah pembedahan debulking yang bisa disertai dengan pemberian steroid topikal dan injeksi intralesi. Terapi radiasi cukup berhasil dalam penanganan lesi tulang temporal yang refrakter terhadap reseksi.
Sarkoidosis
Sarkoidosis adalah kelainan multisistem kronik, dengan karakteristik adanya granuloma noncaseating. Gambaran klasik berupa gejala paru seperti batuk persisten
dan limfadenopati hilar pada foto thoraks. Gejala lain dapat terbentuk granuloma pada kulit, iridosiklitis, keratokonjunktivitis, hepatosplenomegali, myalgias, arthralgias, dan neuropathi. Pemeriksaan laboratorium memberikan gambaran khas adanya hipercalcemia dan peninggian level enzim angiotensin-converting. Manifestasi otologi yang ditemukan pada penyakit ini adalah demam uveoparotid ( sindroma Heerfordt) atau penyakit granulomatous pada telinga tengah dan tulang temporal. Demam uveoparotid merupakan gabungan manifestasi klinis berupa adanya parotitis, uveitis, demam dan parese fasialis. Granuloma pada tulang temporal dan telinga tengah mengakibatkan ketulian konduktif atau sensorineural dan disfungsi vestibuler . Pengobatan sarkoidosis adalah kortikosteroid. Pada kasus refrakter pengobatan adalah methotrexate, cyclophosphamide, dan agen imunomodulator.
Wegener Granulomatosis
Wegener granulomatosis (WG) adalah vaskulitis sistemik dari pembuluh darah kecil dan sedang yang menyebabkan trias gejala berupa necrotizing granuloma pada saluran nafas atas, necrotizing glomerulonephritis, dan necrotizing angiitis sistemik. Penyakit ini merupakan proses autoimmun. Necrotizing granuloma dapat tumbuh pada telinga tengah dan rongga mastoid, menyerang rantai osikula dan fungsi tuba eustachius sehingga menyebabkan ketulian konduktif. Pada 8% - 20% kasus, WG dapat menyerang telinga dalam dan menyebabkan ketulian sensorineural. Prognosis pada pendengaran buruk apabila pengobatan yang tepat tidak diberikan pada stadium awal dari penyakit ini. WG harus dimasukkan dalam diferensial diagnosis pada kasus-kasus inflamasi telinga atipikal. Diagnosis awal dan pengobatan yang tepat sangat penting untuk mencegah perubahan irreversible pada telinga tengah dan dalam.
PENYAKIT AUTOIMUN
Inflamasi autoimun pada telinga dalam dapat merupakan bagian dari sindroma autoimun sistemik atau dapat terjadi secara terpisah sebagai proses spesifik end- organ. Penyakit autoimun yang paling sering menyerang telinga adalah sindroma Cogan, polyarteritis nodosa (PAN), rheumatoid arthritis, relapsing polychondritis, dan Wegener granulomatosis.
Manifestasi otologi pada beberapa penyakit autoimun adalah ketulian mendadak dan bukti histopatologik adanya labirintitis.
Cogan Syndrome
Sindroma Cogan merupakan penyakit yang jarang dengan karakteristik oleh keratitis
nonsyphilitic interstitial disertai dengan vertigo, tinnitus, dan ketulian.
Osteogenesis Imperfecta
Kelainan jaringan ikat yang dapat menyebabkan tingginya kerentanan untuk mengalami fraktur patologis. Beratnya penyakit beragam dari bentuk lethal pada periode perinatal sampai bentuk ringan yang bersifat subklinis. Manifestasi otologi adalah ketulian konduktif dan SNHL yang ditemukan pada 90% dari individu usia
> 30 tahun. CHL disebabkan oleh adanya fraktur patologi pada osikel, fiksasi footplate stapes. CHL biasanya disertai dengan sklera biru sedangkan SNHL biasanya disertai dengan sklera abu-abu dan putih. Penatalaksanaan adalah dengan alat bantu dengar dan stapedectomy.
Osteopetrosis
Merupakan inherited disoroder yang menyebabkan kegagalan proses remodeling tulang. Manifestasi otologi berupa SNHL akibat kranial neuropathy progressive yang menimbulkan kompresi pada foramen telinga dalam, paralisis nervus fasialis dan CHLyang diakibatkan oleh penebalan osikula dan fiksasi footplate stapes Paget’s Disease
Merupakan kelainan dimana terjadi peningkatan aktifitas osteoblast dan osteoclast, hipertrofi dan remodeling tulang. Manifestasi otologi adalah tuli campuran (mixed HL) yang dikaitkan dengan perubahan densitas tulang yang mengganggu mekanisme pendengaran normal pada telinga tengah dan dalam. Pengobatan dengan calcitonin dan etidronate disodium untuk menurunkan aktifitas osteoclast.
DAFTAR ISI
WAKTU PEMBELAJARAN 1
PERSIAPAN SESI 1
REFERENSI 1
KOMPETENSI 1
CONTOH KASUS & DISKUSI 2
TUJUAN PEMBELAJARAN 3
METODE PEMBELAJARAN 3
EVALUASI 5
INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF 6
INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR 9
DAFTAR TILIK 10
MATERI PRESENTASI 11
MATERI BAKU 11
MODUL I.9
OTOLOGI – IMPLANTASI PADA GANGGUAN PENDENGARAN
WAKTU PEMBELAJARAN
Proses pengembangan kompetensi | Alokasi waktu |
Sesi dalam kelas | 4 x 60 menit (classroom session) |
Sesi praktikum | 2 x 60 menit (coaching session) |
Sesi praktik dan pencapaian kompetensi | 2 x 60 menit (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi presentasi: Power point
Kasus: Implantasi Pendengaran
Sarana dan alat bantu latih: (disesuaikan dengan pencapaian kompetensi)
Penuntun belajar (learning guide): terlampir.
Tempat belajar (training setting): ruang kuliah, ruang praktikum, instalasi rawat jalan, instalasi rawat inap, kamar operasi,.
Model/manekin (liang) telinga.
Komputer/laptop.
In focus.
REFERENSI
Johnson, J.T, Rosen C.A. Cochlear Implant in Bailey’s Head and Neck Surgery- Otolaryngology. Fifth edition. Volume two. Lippincott Williams & Wilkins. 2014.
Johnson, J.T, Rosen C.A. Vibrant Soundbridge in Bailey’s Head and Neck Surgery-Otolaryngology. Fifth edition. Volume two. Lippincott Williams & Wilkins. 2014.
Johnson, J.T, Rosen C.A. Bone Anchored Hearing Appliance in Bailey’s Head and Neck Surgery-Otolaryngology. Fifth edition. Volume two. Lippincott Williams & Wilkins. 2014.
Lee. K.J, Cochlear Implant. Esential Otolaryngology Head and Neck Surgery. 10th Edition. 2012.
KOMPETENSI
Pengetahuan
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik mampu:
Menegakkan diagnosis yang memerlukan implantasi pendengaran.
Mengetahui cara kerja setiap implantasi pendengaran.
Menentukan jenis implantasi pendengaran yang sesuai untuk setiap kondisi.
Mengetahui dan dapat mengusulkan pemeriksaan penunjang untuk penegakan diagnosis dan persiapan pemakaian implantasi pendengaran.
Keterampilan
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam:
Menjelaskan anatomi dan fisiologi telinga tengah dan telinga dalam.
Menjelaskan patofisiologi gangguan dengar konduktif, sensorineural, dan tipe campur.
Menentukan jenis implantasi pendengaran yang sesuai untuk setiap kondisi.
Menjelaskan
CONTOH KASUS & DISKUSI
Kasus
Seorang anak laki-laki usia 2 tahun datang ke poliklinik THTKL dengan keluhan belum bisa bicara. Pasien merupakan anak kedua dari 2 bersaudara dengan riwayat kelahiran kurang bulan. Pasien lahir secara normal dan tidak langsung menangis. Pasien mempunyai riwayat dirawat di ruang intensif saat pasien baru lahir. Saat ini pasien sudah dapat berjalan.
Soal:
Sebutkan tanda klinis yang dapat ditemukan saat melakukan pemeriksaan fisik liang telinga.
Sebutkan faktor predisposisi terjadinya penyakit tersebut.
Sebutkan diagnosis yang paling mungkin pada pasien tersebut.
Sebutkan penatalaksanaan pada penyakit tersebut.
Jawaban :
Nyeri tekan tragus dan atau nyeri tarik daun telinga, gangguan pendengaran, furunkel pada sepertiga luar liang telinga.
Maserasi kulit liang telinga akibat trauma mengorek liang telinga yang memudahkan invasi bakteri patogen,
Otitis eksterna sirkumkripta telinga kanan.
Pemberian antibiotik topikal.
Tampon liang telinga dengan salep antibiotik dan dilepas setelah hari ke 2-3.
Antibiotik tetes telinga dengan atau tanpa tampon liang telinga.
Antibiotik oral diberikan jika terdapat gejala dan tanda infeksi sistemik (seperti demam), Terapi gejala simptomatis seperti analgetik dapat diberikan jika diperlukan.
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan Pembelajaran Umum
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik terampil dalam :
Menegakkan diagnosis penyakit yang membutuhkan alat bantu dengar (Implantasi pendengaran)
Tujuan Pembelajaran Khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam :
Menjelaskan anatomi dan fisiologi telinga tengah dan telinga dalam.
Menjelaskan patofisiologi inflamasi telinga tengah dan telinga dalam.
Menjelaskan gambaran klinis inflamasi telinga tengah dan telinga dalam.
Menegakkan diagnosis inflamasi telinga tengah dan telinga dalam.
Melakukan penanganan inflamasi telinga tengah dan telinga dalam serta komplikasinya.
Melakukan follow-up pasien tengah dan telinga dalam
METODE PEMBELAJARAN
Tujuan 1. Menjelaskan anatomi, histologi, topografi dan fisiologi telinga tengah dan telinga dalam.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Diskusi kelompok. Harus diketahui:
Anatomi, histologi, dan topografi telinga tengah dan telinga dalam.
Fisiologi telinga tengah dan telinga dalam.
Tujuan 2. Menjelaskan patofisiologi inflamasi telinga tengah dan telinga dalam.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Tinjauan pustaka.
Diskusi kelompok. Harus diketahui:
Patofisiologi inflamasi telinga tengah dan telinga dalam.
Tujuan 3. Menjelaskan gambaran klinis inflamasi telinga tengah dan telinga dalam.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Tinjauan pustaka.
Kuliah.
Diskusi kelompok. Harus diketahui:
Gambaran klinis (gejala dan tanda) inflamasi telinga tengah dan telinga dalam.
Tujuan 4. Menegakkan diagnosis inflamasi telinga tengah dan telinga dalam.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Kuliah.
Diskusi kelompok.
Bedside teaching.
Praktik pada pasien. Harus diketahui:
Tanda dan gejala klinis inflamasi telinga tengah dan telinga dalam.
Tujuan 5. Melakukan penanganan inflamasi telinga tengah dan telinga dalam serta komplikasinya.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Kuliah.
Diskusi kelompok.
Praktikum.
Bedside teaching.
Praktik pada pasien.
Bakti sosial. Harus diketahui:
Tata laksana inflamasi telinga tengah dan telinga dalam.
Komplikasi inflamasi telinga tengah dan telinga dalam.
Komplikasi dari tata laksana inflamasi telinga tengah dan telinga dalam.
Tujuan 6. Melakukan follow up pasien inflamasi telinga tengah dan telinga dalam.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri.
Kuliah.
Diskusi kelompok.
Bedside teaching.
Praktikum.
Praktik pada pasien. Harus diketahui:
Hal-hal yang harus diperhatikan pada pasien dengan inflamasi telinga tengah dan telinga dalam.
Edukasi yang perlu diberikan pada pasien
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pretest dalam bentuk tertulis dan lisan sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai pengetahuan awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri atas :
Anatomi dan fisiologi telinga tengah dan telinga dalam.
Penegakan diagnosis inflamasi telinga tengah dan telinga dalam.
Penatalaksanaan inflamasi telinga tengah dan telinga dalam.
Follow up inflamasi telinga tengah dan telinga dalam.
Selanjutnya dilakukan diskusi bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar.
Peserta didik diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar melalui metode bedside teaching pada pasien sesungguhnya dibawah pengawasan fasilitator dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut:
Perlu perbaikan: pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan.
Cukup: pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien.
Baik: pelaksanaan benar dan baik (efisien).
Melakukan case based discussion (formulir penilaian terlampir).
peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education).
Penilaian pencapaian pembelajaran:
Ujian nasional dilakukan pada akhir tahapan pendidikan spesialis oleh kolegium ilmu kesehatan THT-KL.
Ujian akhir stase, setiap divisi/unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan.
INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF
Kuesioner:
Sebelum pembelajaran
Soal:
Cochlear implants stimulate:
Inner hair cells
Outer hair cells
Spiral ganglion cells
Reissner’s membrane
Cochlear nucleus
Cochlear implants are not appropriate for:
Prelingual deafness
Ossified cochleas
Congenitally deformed cochleas
Michel deformity
Postlingual deafness
The essential components of a cochlear implant system are:
Electrode array
Microphone
Processor
Transmission link
All of the above
Jelaskan prosedur pembedahan pada BAHA!
Titanium implant pada umumnya diletakan pada 50-55mm dari kanalis akustikus eksterna dan secara horizontal sejajar dengan bagian atas daun telinga. Pertama area implant diberi tanda dengan metilen blue diatas kulit yang akan di bor. Selanjutkan dilakukan insisi vertikal atau horizontal pada kulit dan jaringan subkutan. Lapisan periosteal dibersihkan kemudian nilai ketebalan tulang dengan
panduan bor. Selanjutnya, buat lubang dengan mengebor tegak lurus terhadap permukaan tengkorak dengan bor berukuran 3mm kemudian dilanjutkan dengan bor 4mm. Setelah mencapai kedalaman yang diinginkan, lubang diperlebar dengan bor cautersink. Kemudian, implant ditanam dalam lubang menggunakan bor dengan kecepatan yang sangat rendah dengan torsi 40-50Ncm (lebih rendah pada anak-anak). Jahit jaringan lunak disekitar abutment kemudian tutup dengan kasa antibiotik. Pasien diwajibkan kontrol setelah satu minggu untuk memastikan luka tidak terinfeksi dan dilakukan penggantian kasa. Prosesor suara dapat digunakan sekitar 12 minggu post operasi.
Sebutkan kriteria pasien yang dapat dilakukan implant VBS!
Dewasa usia ≥18th dengan gangguan sensorineural, konduksi, maupun campuran
Memiliki riwayat menggunakan alat bantu dengar konvensional yang menginginkan elternatif terapi lain
Pasien dengan gangguan dengar sensorineural ringan hingga sedang dengan diskriminasi tutur yang tidak membaik dengan alat bantu dengar konvensional
Fungsi telinga tengah normal dibuktikan dengan pemeriksaan klinis, audiometri, dan timpanometri
Tidak ada gangguan pendengaran retrokoklea maupun gangguan pendengaran sentral
Tengah pembelajaran
Soal :
Cochlear implants stimulate:
Inner hair cells
Outer hair cells
Spiral ganglion cells
Reissner’s membrane
Cochlear nucleus
Cochlear implants are not appropriate for:
Prelingual deafness
Ossified cochleas
Congenitally deformed cochleas
Michel deformity
Postlingual deafness
The essential components of a cochlear implant system are:
Electrode array
Microphone
Processor
Transmission link
All of the above
Jelaskan prosedur pembedahan pada BAHA!
Titanium implant pada umumnya diletakan pada 50-55mm dari kanalis akustikus eksterna dan secara horizontal sejajar dengan bagian atas daun telinga. Pertama area implant diberi tanda dengan metilen blue diatas kulit yang akan di bor. Selanjutkan dilakukan insisi vertikal atau horizontal pada kulit dan jaringan subkutan. Lapisan periosteal dibersihkan kemudian nilai ketebalan tulang dengan panduan bor. Selanjutnya, buat lubang dengan mengebor tegak lurus terhadap permukaan tengkorak dengan bor berukuran 3mm kemudian dilanjutkan dengan bor 4mm. Setelah mencapai kedalaman yang diinginkan, lubang diperlebar dengan bor cautersink. Kemudian, implant ditanam dalam lubang menggunakan bor dengan kecepatan yang sangat rendah dengan torsi 40-50Ncm (lebih rendah pada anak-anak). Jahit jaringan lunak disekitar abutment kemudian tutup dengan kasa antibiotik. Pasien diwajibkan kontrol setelah satu minggu untuk memastikan luka tidak terinfeksi dan dilakukan penggantian kasa. Prosesor suara dapat digunakan sekitar 12 minggu post operasi.
Sebutkan kriteria pasien yang dapat dilakukan implant VBS!
Dewasa usia ≥18th dengan gangguan sensorineural, konduksi, maupun campuran
Memiliki riwayat menggunakan alat bantu dengar konvensional yang menginginkan elternatif terapi lain
Pasien dengan gangguan dengar sensorineural ringan hingga sedang dengan diskriminasi tutur yang tidak membaik dengan alat bantu dengar konvensional
Fungsi telinga tengah normal dibuktikan dengan pemeriksaan klinis, audiometri, dan timpanometri
Tidak ada gangguan pendengaran retrokoklea maupun gangguan pendengaran sentral
J. INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR
PENUNTUN BELAJAR
PROSEDUR PEMASANGAN IMPLANTASI PENDENGARAN
Kinerja setiap langkah yang dievaluasi diberi nilai sesuai skala berikut: | |
1 | Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan). |
2 | Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal. |
3 | Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien |
T/D | Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan). |
NAMA PESERTA: ......................................... TANGGAL: .................................
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR | |||||
| |||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR PEMASANGAN IMPLANTASI PENDENGARAN | |||||
antibiotik diteteskan pada tampon tersebut. | |||||
seluruh obat keluar dari dalam liang telinga. |
K. DAFTAR TILIK
PROSEDUR PEMASANGAN IMPLANTASI PENDENGARAN
Kinerja setiap langkah yang dievaluasi diberi nilai sesuai skala berikut: | |
1 | Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan). |
2 | Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal. |
3 | Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien |
T/D | Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan). |
NAMA PESERTA: ......................................... TANGGAL: .................................
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR | |||||
| |||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR PEMASANGAN IMPLANTASI PENDENGARAN | |||||
hari ke2. | |||||
seluruh obat keluar dari dalam liang telinga. |
L. MATERI PRESENTASI
M. MATERI BAKU
Jenis perangkat prostetik auditori:
stimulator sel rambut
Pada pasien dengan populasi sel rambut yang cukup, dibutuhkan perangkat prostetik stimulator sel rambut yang dapat digunakan untuk mengamplifikasi sinyal akustik melalui sel rambut.
Stimulator sel rambut mengaktifkan sistem auditorik dengan cara meningkatkan transfer energi akustik ke telinga dalam melalui alat bantu dengar, Implan telinga tengah aktif dan implan pendengaran osseointegrated. Alat bantu dengar konvensional mengamplifikasi suara melalui membran timpani di kanalis auditori eksterna. Implan telinga tengah aktif mengamplifikasi suara melalui osikel atau oval/round window telinga dalam. Implan pendengaran osseointegrated menstimulasi telinga dalam melalui konduksi tulang cranii.
stimulator neural
Pada pasien dengan populasi rambut yang kurang tetapi sarafnya baik, dibutuhkan perangkat prostetik stimulator neural yang dapat memberikan stimulus listrik secara langsung ke atau dalam jaringan saraf pendengaran.
Stimulator neural dapat berupa implant koklea, implan batang otak dan implan otak tengah. Implant koklea didesain untuk pasien dengan populasi saraf pendengaran cukup. Implan diletakkan secara longitudinal didalam lumen koklea dekat serabut saraf distal. Perangkat ini sangat bergantung pada susunan tonotopik dari serabut saraf di dalam koklea untuk dapat menstimulasi frekuensi yang spesifik. Implan batang otak dapat digunakan untuk pasien yang tidak memiliki
saraf pendengaran.elektroda diletakkan di permukaan atau di dalam nucleus koklea batang otak di foramen luschka pontomedullary junction. Implant otak tengah sampai saat ini masih dalam penelitian, mungkin akan diindikasikan untuk pasien yang nukleus kokleanya tidak tersedia baik karena gangguan patologis ataupun pembedahan.
Implan Koklea:
Implan koklea adalah perangkat yang dirancang untuk mengubah suara lingkungan menjadi impuls listrik yang dikirimkan ke sepanjang elektroda ganda yang terletak dekat dengan nervus koklearis. Hasil akhir implantasi koklear dapat dilihat dari kesadaran akan suara, peningkatan kemampuan membaca bibir, peningkatan persepsi bicara, kualitas hidup dan efektivitas biaya. Pada orang dewasa akan didapati perbaikan dalam hal bersosialisasi, kesempatan bekerja, pendapatan, kesehatan dan kesejahteraan secara keseluruhan. Pada anak akan didapati peningkatan kemampuan berbicara dan bahasa.
Prinsip stimulasi listrik sistem pendengaran :
Desain implant koklea saat ini terdiri dari perangkat eksternal (mikrofon, speech processor dan headpiece/transmitter) dan perangkat internal (receiver-stimulator, multichannel electrode array) yang saling terhubung dibawah kulit melalui radiofrekuensi.
Antena perangkat internal dan eksternal menggunakan magnet terintegrasi untuk menyelaraskan transmisi. Mikrofon mendeteksi suara dan mengirimkan informasi ke prosesor sinyal. Prosesor, yang mencakup serangkaian bank filter transformasi fast fourier, mengubah partisi sinyal akustik ke dalam masing-masing pita frekuensi dan menerjemahkan informasi menjadi sinyal listrik. Sinyal diproses, diperkuat dan dikompresi agar sesuai dengan jangkauan dinamis elektrik yang sempit dari telinga dan dikirim ke receiver stimulator. Receiver stimulator akan membawa sinyal listrik menuju susunan elektroda yang berada di lumen koklea melalui kabel. Di dalam koklea, impuls listrik pada elektroda merangsang elemen saraf, melewati sel-sel rambut yang tidak berfungsi. Informasi frekuensi tinggi diubah menjadi impuls listrik yang dikirimkan ke elektroda basal sedangkan informasi frekuensi rendah secara progresif diteruskan ke lokasi yang lebih apikal.
Strategi pengkodean :
Saat ini semua strategi modern menggunakan beberapa variasi denyutan (on-off), stimulasi sisipan dari banyak elektroda dalam satu paket dalam usaha mencapai stimulasi spesifik dan mencegah interaksi antar saluran, sehingga meningkatkan selektivitas frekuensi. Oleh karena itu, elektroda yang ter[isah secara spasial diaktifkan pada waktu yang berbeda untuk memperhitungkan waktu refraktori saraf, penyebaran arus dan interaksi medan listrik. Stretegi ini secara komersial dikenal sebagai Continuous Interleaved Sampling (CIS), Advanced Combination Encoder (ACE), Spektral Peak (SPeak) dan HiResolution (HiRes) dan digunakan secara individual oleh ketiga produsen implant koklea dalam poduk mereka. Perbedaan utama diantara ketiganya adalah tingkat stimulasi, jumlah saluran, hubungan antara jumlah filter dan jumlah elektroda yang diaktifkan serta perincian tentang bagaimana masing-masing selubung saluran diekstraksi dan berapa banyak informasi sinyal akustik temporal yang dipertahankan.
Pemilihan pasien :
Kontraindikasi absolut untuk implantasi koklear adalah aplasia koklea atau tidak adanya nervus koklea. Kontraindikasi relative dapat berupa pasien yang sedang memiliki penyakit telinga tengah aktif, resiko anastesi yang tinggi, dan pasien dengan residual hearing yang berat.
Pada pasien dengan gangguan anatomi koklea dan gangguan saraf pusat perlu diberikan pemahaman akan potensi lebih rendahnya hasil yang akan didapatkan setelah dilakukan pemasangan implant. Adapun gangguan anatomi koklea dibagi menjadi dua, yaitu gangguan koklea seperti obstruksi koklea yang luas, otosklerosis atau malformasi telinga dalam yang berat dan gangguan nervus koklea seperti defisiensi nervus koklearis atau tumor N.VIII ( vestibular schwannoma). Gangguan saraf pusat bisa berupa adanya riwayat stroke, penyakit degenerative seperti sklerosismultipel, demensia, tumor atau infeksi.
Modalitas radiologi pada implantasi koklea
Gambaran radiologi diagnostik tulang temporal dan otak adalah hal yang krusial untuk mengidentifikasi etiologi penurunan pendengaran, menentukan anatomi untuk operasi, melihat potensi adanya komplikasi yang mungkin terjadi dan mengidentifikasi faktor yang dapat berdampak negatif terhadap prognosis pennggunaan perangkat.
Kelainan yang ditemukan dapat berupa anomali labirin, penyakit sistem saraf pusat, otosklerosis, inflamasi, fibrosis dan osifikasi telinga dalam.
Anomali labirin dapat diidentifikasi dengan menggunakan CT Scan ataupun MRI. Adapun, MRI lebih unggul digunakan untuk mengidentifikasi penyakit sistem saraf pusat seperti schwannoma vestibular, demielinasi atau stroke dan obstruksi lumen telinga dalam seperti fibrosis. MRI merupakan modalitas yang baik untuk mengidentifikasi koklea dan nervus koklearis. CT scan dapat lebih baik dalam menentukan derajat obstruksi labirin akibat osifikasi, patensi bukaan nervus koklea dalam kasus kanalis auditori interna yang kecil dan lokasi nervus fasialis didalam tulang temporal. CT scan secara selektif digunakan jika terdapat obstruksi koklea, kanalis auditori interna yang kecil atau tidak adanya kanalis semisirkularis sehingga menyebabkan anomali nervus fasialis dan adanya patologi pada tulang temporal.
Pada kasus anomali labirin, struktur koklea dapat normal, tidak ada (malformasi Michel), kistik, partisi inkomplit atau hipoplastik. Akuaduktus vestibular atau kantung dan duktus endolimfatik dapat membesar, sendiri atau bersama ddengan partisi inkomplit koklea. Grup ini sering disebut sebagai spektrum IP-EVA (pembasaran akuaduktus vestibular partisi inkomplit). Apabila seluruh partisi koklea tidak ada tetapi masih ada pemisahan antara kompartemen koklea dan labirin, maka disebut malformasi kokleovestibular kistik. Jika tidak ada diferensiasi didalam labirin maka disebut common cavity.
Defisiensi nervus koklearis merupakan penyakit dimana saraf pendengaran tidak ditemukan atau ditemukan kecil pada hasil gambaran radiologi. Penyakit ini dapat ditemukan pada pasien dengan morfologi telinga dalam yang normal maupun yang malformasi. Obstruksi koklea akibat inflamasi koklea biasanya terjadi pada pasien dengan riwayat meningitis dan penyakit imun telinga dalam seperti Cogan syndrome atau pada perjalanan penyakit otitis media yang berat.
Operasi Implantasi koklea :
Operasi implant koklea dilakukan dengan anastesi umum selama 2 jam. Pasien dengan komorbiditas tertentu harus menjalani assessment resiko anastesi. Sebelum operasi, telinga tengah harus dikonfirmasi bersih melalui otoskopi, timpanometri dan gambaran radiologi tulang temporal untuk memastikan perangkat tidak terpapar bakteri
pathogen yang dapat menyebabkan infeksi. Pemeriksaan nervus fasialis rutin dikerjakan untuk seluruh operasi. Antibiotik perioperative diberikan 30 menit sebelum insisi kulit. Sefalosporin generasi 1 sudah cukup karena pathogen telinga seperti streptococcus pneumonia, haemophilus influenza dan pseudomonas aeruginosa jarang muncul pada kasus rutin. Dalam kasus dimana mungkin terdapat pathogen telinga tengah, maka antibiotik spectrum luas harus dipertimbangkan.
Persiapan :
Pasien telentang dengan posisi supin dengan kepala menoleh sehingga postaurikular terekspos. Mencukur rambut seringnya tidak diperlukan. Sebelum dilakukan insisi pada kulit, anastesi lokal berupa vasokontriktor difiltrasi di daerah postauricular. Insisi kulit direncanakan mencapai lokasi penempatan receiver stimulator yang jauh dari pinna dan mastoid. Apabila lokasi receiver stimulator terlalu dekat dengan pinna dikhawatirkan akan timbul interaksi antara magnetic headpiece dan speech processor. Apabila terlalu dekat dengan mastoid dikhawatirkan jika terjadi retraksi kulit, perangkat akan terpapar dengan hal yang tidak diinginkan. Petunjuk lokasi yang disediakan oleh pabrik implant dapat membantu untuk menentukan lokasi yang tepat. Injeksi fokal metilen blue ke kulit dan tulang membantu indentifikasi posisi tulang untuk perangkat internal setelah elevasi kulit. Penentuan lokasi perangkat secara relatif di rongga mastoid setelah pemaparan tulang dapat menjadi tidak efektif karena ukuran mastoid sangat bervariasi diantara individu dari berbagai macam usia. Posisi akhir receiver stimulator biasanya terletak superior dan posterior dari pinna. Sumbu panjang perangkat membentuk kemiringan 45 derajat melalui arkus zygomatikum.
Peletakan receiver stimulator dan fiksasi :
Setelah insisi kulit dibentuk subperiosteal pocket, di lokasi yang akan menjadi tempat receiver stimulator internal, yang dibatasi secara inferior oleh jahitan lambdoid dan ukurannya dibatasi untuk tempat penanaman perangkat. Untuk orang dewasa, semua tehnik bisa cukup dilakukan, sedangkan untuk anak, penjahitan simpel periosteum memberikan fiksasi yang kaku ke tulang dan mampu menghindari lubang bor atau sekrup intra atau transkortikal yang dapat membahayakan dura atau sinus vena dibawahnya.
Pendekatan :
Masitoidektomi standar dilakukan. Recessus fasialis dibuka maksimal dengan menggunakan kanalis semisirkularis horizontal, fossa incudis, chorda tympani, dan nevus
fasialis sebagai area penanda. Nervus fasialis biasanya dapat dilihat melewati tulang tanpa perlu mengeksposnya. Round window niche pada awalnya diidentifikasi sebagai area menonjol yang bulat dan bertulang yang terletak inferior dari oval window niche dan anterior-inferior dari tendon stapedius. Round window niche selalu terletak di posterior dari nervus Jacobson pada promontorium koklea dan 1-2 mm inferior dari oval window. Dengan eksplorasi yang adekuat, round window niche diambil untuk mengekspos membran round window, area penanda utama untuk skala timpani.
Kokleostomi
Ketika menjelaskan teknik pembedahan untuk pembuatan kokleostomi, Anda harus mengingat objektif mendasar berikut: buka skala timpani (dan bukan skala vestibuli), minimalisir trauma kolateral terhadap struktur intrakoklea yang relevan secara fisiologis, dan buat jalan insersi yang relatif lurus terhadap sumbu longitudinal dari basal koklea untuk memungkinkan insersi elektroda yang bebas hambatan. Saat ini, berbagai teknik kokleostomi yang berbeda telah tersedia dan dapat diadaptasi untuk situasi klinis bergantung pada kondisi berikut: susunan elektroda yang digunakan, morfologi koklea, dan keinginan untuk preservasi pendengaran.
Pendekatan kokleostomi adaptif digunakan ketika susunan elektroda bersifat panjang, kaku, dan diinsersi dengan stylet atau insersi alat yang kaku dilakukan pada kokleostomi yang terpisah. Untuk susunan elektroda yang sangat panjang dan dirancang untuk mengcover koklea secara lengkap, kokleostomi dengan insersi melingkar dapat dilakukan pada bony wall atau membran round window. Pada kasus tersebut, panjang koklea menentukan apakah resistensi insersi akan ditemukan atau tidak. Pada kasus susunan elektroda yang lebih pendek untuk preservasi pendengaran, pembukaan yang mencakup membran round window merupakan teknik yang digunakan.
Insersi Elektroda
Insersi susunan elektroda ke dalam skala timpani tanpa adanya hambatan merupakan tujuan dari sebagian besar implantasi. Berbagai alat tersedia untuk berbagai perangkat. Secara umum, forsep jeweler standar merupakan alat terbaik untuk sebagian besar insersi susunan elektroda.
Telemetri dan Pencitraan
Setelah peletakkan perangkat dan penutupan luka bedah, pemeriksaan perangkat dilakukan oleh perangkat lunak produsen. Semua perangkat memiliki program telemetri
yang memungkinkan pengukuran impendansi elektroda dan potensial aksi senyawa yang dibangkitkan secara elektrik. Pengukuran impendansi berguna untuk mengidentifikasi sirkuit terbuka. Jika sejumlah sirkuit ditemukan terbuka, pergantian perangkat harus dipertimbangkan untuk memastikan jumlah elektroda yang tersedia mencukupi untuk stimulasi. Meskipun potensial aksi senyawa yang dibangkitkan secara elektrik kemungkinan tidak berguna pada kasus pasien dewasa, dimana jumlah nervus koklearis bukanlah suatu masalah, teknik ini dapat menyediakan informasi yang berguna pada kemungkinan kasus gangguan neural seperti ANSD, malformasi telinga dalam, atau CND. Pada kasus di atas, hasil dari tindakan tersebut telah terbukti berhubungan dengan performa upaya open-set speech perception ke depannya. Selanjutnya, penentuan threshold atau nilai ambang untuk potensial aksi senyawa yang dibangkitkan secara elektrik dapat mengidentifikasi poin awal stimulasi yang berguna untuk anak-anak.
Komplikasi:
Komplikasi yang terjadi diakibatkan pembedahan dan komplikasi yang berhubungan dengan implant.
Infeksi pada luka flap
Kebocoran LCS
Perdarahan
Penyisipan elektroda yang tidak lengkap
Ekstruksi elektroda
Cedera nervus fasialis
Kerusakan alat
Sirkuit elektroda yang terbuka
Ringkasan
Implan koklea merupakan intervensi prostetik dengan keberhasilan tinggi untuk pasien dengan tuli sensorineural yang tidak dapat ditangani dengan amplifikasi high gain konvensional. Implan koklea menggunakan susunan multielektroda untuk mengembalikan pendengaran melalui stimulasi saraf auditori pada batas tonotopik koklea, sehingga memungkinkan stimulasi yang spesifik terhadap frekuensi. Perangkat tersebut dapat diinsersikan dalam waktu 1-2 jam pembedahan dengan risiko yang relatif kecil. Aktivasi dapat menghasilkan respon terhadap suara dan pemahaman terhadap ucapan, dengan demikian dapat meningkatkan perkembangan bahasa lisan, kesempatan
pendidikan untuk anak, komunikasi, sosialisasi, serta kesempatan bekerja untuk dewasa. Manfaat tersebut memberikan hasil yang sangat memuaskan, baik dari segi biaya maupun kualitas hidup. Area penelitian di masa depan terfokus pada indikasi yang lebih luas, mengkombinasi perangkat tersebut dengan alat pendengaran akustik konvensional, teknologi implantable total, dan paradigma stimulasi yang lebih baru.
Daftar pustaka
Johnson, J.T, Rosen C.A. Cochlear Implant in Bailey’s Head and Neck Surgery- Otolaryngology. Fifth edition. Volume two. Lippincott Williams & Wilkins. 2014
Johnson, J.T, Rosen C.A. Vibrant Soundbridge in Bailey’s Head and Neck Surgery-Otolaryngology. Fifth edition. Volume two. Lippincott Williams & Wilkins. 2014
Johnson, J.T, Rosen C.A. Bone Anchored Hearing Appliance in Bailey’s Head and Neck Surgery-Otolaryngology. Fifth edition. Volume two. Lippincott Williams & Wilkins. 2014
Lee. K.J, Cochlear Implant. Esential Otolaryngology Head and Neck Surgery. 10th Edition. 2012
VBS (Vibrant Soundbridge Implant)
Vibrant Soundbridge (VBS) atau biasa dikenal sebagai Active Midle Ear Implant adalah alat bantu dengar generasi baru dimana receiver diletakkan di telinga tengah melalui pembedahan. VBS merupakan perangkat elektromagnetik yang mengubah suara dari eksternal menjadi getaran mekanik langsung ke rantai tulang pedengaran khususnya inkus sehingga mampu menghasilkan kualitas suara yang lebih baik. VBS terdiri atas dua bagian, yaitu:
Audio Processor yang dipasang di belakang telinga pasien dengan magnet dari Vibrating Ossicular Prostesis (VORP) yang ditanam di dalam telinga tengah. Audio Processor mencakup mikrofon untuk menangkap suara dari lingkungan, sirkuit pemrosesan suara yang berfungsi memodifikasi sinyal output sesuai kebutuhan pasien, dan baterai yang berfungsi memberikan daya pada perangkat. Meskipun diletakkan di belakang telinga, Audio Processor memberikan kenyamanan pada pasien karena letaknya yang tersembunyi dibawah rambut.
Vibrating Ossicular Prostesis (VORP) yang terdiri atas internal coil, magnet, demodulator, conductor link, dan Floating Mass Transducer (FMT). FMT diletakkan di prosesus longus inkus. Sinyal dari audio processor ditransmisikan ke VORP dan
diubah menjadi getaran mekanis oleh FMT. FMT bergetar secara teratur sesuai kebutuhan pendengaran pasien. FMT adalah komponen utama pada VBS.
Gambar komponen eksternal VBS. Audio processor yang diletakkan dibelakang telinga.
Gambar Vibrating Ossicular Prostesis (VORP) dengan komponen internal coil,
magnet, demodulator, conductor link, dan Floating Mass Transducer (FMT).
Kriteria pasien
Dewasa usia ≥18th dengan gangguan sensorineural, konduksi, maupun campuran
Memiliki riwayat menggunakan alat bantu dengar konvensional yang menginginkan elternatif terapi lain
Pasien dengan gangguan dengar sensorineural ringan hingga sedang dengan diskriminasi tutur yang tidak membaik dengan alat bantu dengar konvensional
Fungsi telinga tengah normal dibuktikan dengan pemeriksaan klinis, audiometri, dan timpanometri
Tidak ada gangguan pendengaran retrokoklea maupun gangguan pendengaran sentral
Prosedur pembedahan
Jalur resesus fasialis melalui mastoidektomi dan timpanotomi posterior
Gambar prosedur penanaman VBS dengan mastoidektomi dan timpanotomi posterior
Jalur transmeatal melalui meatus akustikus. Penentuan jalur pembedahan disesuaikan dengan kondisi klinik telinga pasien. Teknik kombinasi mungkin dikerjakan untuk meletakkan FMT di prosesus longus inkus ataupun di round window niche.
Gambar FMT yang diletakkan pada prosesus longus inkus dengan titanium klip
proses pembedahan membutuhkan waktu sekitar 2-2,5 jam dan dapat dikerjakan pada pasien rawat jalan maupun rawat inap. Pasien diwajibkan kontrol setelah 4-8 minggu post operasi untuk dilakukan evaluasi dan pemrograman audio processor untuk mengaktifkan VBS.
Komplikasi
Cedera n. korda timpani
Infeksi post-operasi
Aktivasi device oleh medan elegtromagnet lain (microwave, oven, dll)
Krusakan demodulator implant
Kesalahan meletakkan implant
Daftar pustaka
Johnson, J.T, Rosen C.A. Cochlear Implant in Bailey’s Head and Neck Surgery- Otolaryngology. Fifth edition. Volume two. Lippincott Williams & Wilkins. 2014
Johnson, J.T, Rosen C.A. Vibrant Soundbridge in Bailey’s Head and Neck Surgery-Otolaryngology. Fifth edition. Volume two. Lippincott Williams & Wilkins. 2014
Johnson, J.T, Rosen C.A. Bone Anchored Hearing Appliance in Bailey’s Head and Neck Surgery-Otolaryngology. Fifth edition. Volume two. Lippincott Williams & Wilkins. 2014
Lee. K.J, Cochlear Implant. Esential Otolaryngology Head and Neck Surgery. 10th Edition. 2012
BAHA (Bone Anchored Hearing Appliance) Definisi
Bone Anchored Hearing Appliance (BAHA) adalah bone-integrated implant yang diperkenalkan oleh ilmuan Swedia tahun 1970-an. BAHA adalah alat pendengaran konduksi tulang yang mentransmisikan suara secara langsung ke telinga dalam melalui impedensi kulit dan jaringan subkutan. BAHA direkomendasikan untuk tiga kriteria gangguan dengar yaitu:
Gangguan dengar tipe konduksi
Gangguan dengar tipe campuran
Gangguan dengar unilateral (SSD)
BAHA terdiri atas tiga bagian yaitu:
Prosesor suara berfungsi menangkap sinyal suara melalui mikrofon. Sinyal tersebut kemudian diperkuat dan diubar menjadi osilasi terkontrol.
Abutment (konektor) berfungsi menghubungkan sinyal suara dengan titanium implant.
Implant (screw) adalah alat yang berukuran kecil yang diletakkan dibelakang telinga untuk mentransfer sinyal suara langsung ke tulang tengkorak.
Prosesor suara Abutment Titanium implant (screw)
Indikasi
Gambar sistem BAHA dengan bagian-bagiannya. Prosesor suara, abutment (konektor), implant (screw)
Malformasi kongenital telinga tengah
Gangguan dengar tipe konduksi akibat kelainan tulang pendengaran
Terdapat kontraindikasi dengan alat bantu dengar konvensional
Penyakit infeksi telinga tengah (otore berulang, OMA, OE)
Atresia kongenital pada anak (direkomendasikan pada anak usia 5th)
Prosedur Pembedahan
Titanium implant pada umumnya diletakan pada 50-55mm dari kanalis akustikus eksterna dan secara horizontal sejajar dengan bagian atas daun telinga. Pertama area implant diberi tanda dengan metilen blue diatas kulit yang akan di bor. Selanjutkan dilakukan insisi vertikal atau horizontal pada kulit dan jaringan subkutan. Lapisan periosteal dibersihkan kemudian nilai ketebalan tulang dengan panduan bor. Selanjutnya, buat lubang dengan mengebor tegak lurus terhadap permukaan tengkorak dengan bor berukuran 3mm kemudian dilanjutkan dengan bor 4mm. Setelah mencapai kedalaman yang diinginkan, lubang diperlebar dengan bor cautersink. Kemudian, implant ditanam dalam lubang menggunakan bor dengan kecepatan yang sangat rendah dengan torsi 40- 50Ncm (lebih rendah pada anak-anak). Jahit jaringan lunak disekitar abutment kemudian tutup dengan kasa antibiotik. Pasien diwajibkan kontrol setelah satu minggu untuk memastikan luka tidak terinfeksi dan dilakukan penggantian kasa. Prosesor suara dapat digunakan sekitar 12 minggu post operasi.
Komplikasi
Infeksi lokal jaringan lunak sekitar implant
Perdarahan
Kegagalan osteointegrasi
Daftar pustaka
Johnson, J.T, Rosen C.A. Cochlear Implant in Bailey’s Head and Neck Surgery- Otolaryngology. Fifth edition. Volume two. Lippincott Williams & Wilkins. 2014
Johnson, J.T, Rosen C.A. Vibrant Soundbridge in Bailey’s Head and Neck Surgery-Otolaryngology. Fifth edition. Volume two. Lippincott Williams & Wilkins. 2014
Johnson, J.T, Rosen C.A. Bone Anchored Hearing Appliance in Bailey’s Head and Neck Surgery-Otolaryngology. Fifth edition. Volume two. Lippincott Williams & Wilkins. 2014
Lee. K.J, Cochlear Implant. Esential Otolaryngology Head and Neck Surgery. 10th Edition. 2012