Prof. dr. Bambang Hermani, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.L.F.(K)
Prof. Dr. dr. Farhat, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)., M.Ked(ORL-HNS)
Prof. Dr. dr. Widodo Ario Kentjono, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)
Dr. dr. Agung Dinasti Permana, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)., M.Kes
Dr. dr. Muhtarum Yusuf, Sp.T.H.T.K.L(K)., Subsp.Onk.(K)., FICS
Dr. dr. Sagung Rai Indrasari, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)., M.Kes
Dr. dr. Yussy Afriani Dewi, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)., M.Kes., FICS
dr. Benny Kurnia, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)
dr. Ika Dewi Mayangsari, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)
dr. Rizalina A. Asnir, Sp.T.H.T.K.L(K)., Subsp.Onk.(K)., FICS
Alhamdulillahirobbil ‘alamin, saya panjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allah swt yang senantiasa melimpahkan segala rahmat, taufik dan hidayah-Nya sehingga dapat menyelesaikan penyusun Buku Modul Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher (IK THTBKL) edisi ketiga ini.
Modul ini disusun untuk memenuhi kebutuhan peserta pendidikan dokter spesialis THTBKL yang merupakan penyempurnaan edisi kedua, pemenambahan beberapa materi sesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan serta ketrampilan baru guna meningkatlan mutu proses pendidikan dokter spesialis THTBKL di Indonesia
Selaras dengan dimulainya program fellowship serta persiapan pembukaan program pendidikan Subspesialisasi THTBKL, modul Pendidikan dokter spesialis THTBKL ini disusun agar pendidikan spesialis THTBKL terjaga menjadi satu kesatuan yang mendalam antara ketiga program pendidikan tersebut. Selain itu Buku Modul ini dapat menjadi pedoman untuk melaksanakan pendidikan secara terstruktur dan berkualitas, dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, monitoring hingga proses evaluasi secara berkesinambungan. Hal tersebut bertujuan agar lulusan peserta program studi IK THTBKL mempunyai kompetensi akademik dan kompetensi profesional unggul seiring berkembangnya jaman.
Pada era baru ini para lulusan Dokter Spesialis THTBKL diharapkan memiliki kemampuan akademik professional bertaraf internasional, inovatif dan tangguh yang mampu berkiprah secara global sesuai Visi dan Misi Pendidikan Spesialis THTBKL. Semoga dengan terbitnya Buku Modul ketiga ini program pendidikan dokter spesialis THTBKL semakin maju dan menghasilkan pencapaian lulusan yang unggul, kompeten dan berkualitas.
Apresiasi kami yang setinggi-tingginya kepada seluruh teman sejawat, Profesor Dokter, atas komitmen, dedikasi, serta pemikiran dan waktu yang telah diberikan terutama dalam suasana pandemi Covid-19. Keterbatasan jarak dan keadaan Pandemi telah membuka peluang pengembangan komunikasi, diskusi dan ujicoba modul ketiga, secara digital (TIK), sehingga kita dapat berkoordinasi, produktif menyelesaikan buku modul Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala dan Leher edisi ketiga ini.
Semoga modul ini dapat bermanfaat bagi kita semua, khususnya para peserta didik dan semua yang kita lakukan selalu mendapat ridha Allah SWT.
Ketua Umum Kolegium IK THTBKL Indonesia
Mengembangkan kompetensi | Hari: |
Sesi dengan fasilitas pembimbing Sesi pencapaian kompetensi | 5x 120 menit (bimbingan teori dan praktik) 1x 60 menit |
LCD 1: Pengenalan Theater Etiquette
LCD 2: Scrubbing
LCD 3: Gowning & Gloving
LCD 4: Handling instrument
LCD 5: Knots: Reef knot, instrument tie, surgeons knot, tie at depth LCD 6: Suturing: Needle manipulation and driving, interrupted, sub-cuticular, Vertical mattress
LCD 7: Skin lesions & local anasthesia techniques: skin lession, sebaceouscyst
LCD 8: Wound management: Abscess drainage, debriding traumatic woundLCD 9: Haemostasis: ligation in continuity, pedicle ligation, transfixtion LCD 10: Fine tissue handling: Vein patch exercise
LCD 11: Introduction to endoscopic surgery
LCD 12: Tendon Repair
LCD 13: Bowel anastomosis (End to end anastomosis)
LCD 14: Diathermy
Minor Set : Pisau dan handle, pinset, forcep (toothed da non toothed), hemostat, gunting, needle holder
Tali atau Benang wool 2 warna
Papan dengan sepasang bar elastis sejajar
Benang braided 3/0 atau 2/0, misal: silk
Kaki hewan seperti sapi, babi, kambing atau bahan pengganti seperti silicon plate, kanebo.
Paha ayam dan balon isi mayonaise
Buku-buku acuan/ referensi
Tempat: Skills lab
Boland BA, Rogers E. Basic surgical principles. In Byron J. Bailey & Jonas T. Johnson Head and Neck Surgery Otolaryngology.Fifth edition. Volume two. Lippincott Williams & Wilkins. Philadelphia. 2014.p: 18-24
Basic Surgical Skills provided by The Royal College of Surgeons of Edinbergh
Pelatihan Keterampilan Teknik Bedah Dasar PERHATI-KL
Mampu menerapkan teknik bedah yang baik dengan mengutamakan segi keamanan bagi tim bedah dan pasien
Prosedur pembedahan memerlukan keterampilan dan penguasaan instrumen yang baik agar dapat melakukan tindakan bedah dengan aman. Keterampilan yang diberikan pada modul ini bukan merupakan satu-satunya teknik bedah yang ada, namun merupakan salah satu teknik yang aman untuk dilakukan baik untuk operator ataupun pasien. Penguasaan teknik bedah dapat dinilai dari efisiensi tenaga dan gerakan serta aplikasi gerakan-gerakan yang luwes dan wajar.
Terdapat banyak instrumen yang tersedia dan dapat digunakan oleh dokter bedah, sehingga dokter bedah diharapkan mampu mengenali kegunaan dan cara pemakaian yang tepat dari instrumen yang tersedia. Modul ini bertujuan untuk melatih kebiasaan yang baik dan aman untuk dapat diterapkan ke dalam prosedur pembedahan. Pembedahan yang aman lebih baik dari pada pembedahan yang cepat tetapi memiliki resiko mencederai. Bagi peserta yang sudah terbiasa dengan gerakan yang kurang benar diharapkan selama kursus dapat diubah menjadi gerakan yang benar. Setelah menjalani kursus ini harus
ditindaklanjuti dengan pemahiran di institusi masing-masing.
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan mampu untuk:
Mengetahui Theater Etiquette
Mengetahui dan mampu melakukan teknik scrubbing
Mengetahui dan mampu melakukan teknik gowning dan gloving
Mengetahui prosedur aseptik, antiseptik dan pencegahan infeksi
Mengetahui jenis surgical needle dan benang jahit
Menguasai teknik bedah yang terdiri dari efisiensi tenaga dan gerakanyang luwes dan wajar
Mengenali Instrumen bedah dan mengetahui cara pemakaian yang tepat
Mengetahui dan mampu melakukan teknik menyimpul
Mengetahui dan mampu melakukan suturing: interrupted, subcuticular,vertical matress, needle manipulation and driving
Mengetahui dan mampu melakukan teknik insisi dan penjahitan
Mengetahui dan mampu melakukan perawatan luka, misal : drainase abses,debridement luka traumatic
Menguasai teknik hemostasis
Mengetahui penanganan cedera vaskuler (patching & anastomosis)
Memiliki penguasaan teknik bedah endoskopi
Mengetahui teknik tendon repair
Mengetahui prosedur end to end anastomosis
Mengetahui jenis dan teknik diathermy
Tujuan 1. Mengetahui Theater Etiquette
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri
Kuliah
Pelatihan
Tujuan 2. Mengetahui dan mampu melakukan teknik scrubbing
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaranberikut ini:
Belajar mandiri
Kuliah
Pelatihan
Tujuan 3. Mengetahui dan mampu melakukan teknik gowning dan gloving
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri
Kuliah
Pelatihan
Tujuan 4. Menguasai teknik bedah yang terdiri dari efisiensi tenaga dan gerakan yang luwes dan wajar
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaranberikut ini:
Belajar mandiri
Kuliah
Pelatihan
Tujuan 5. Mengenali instrumen bedah dan mengetahui cara pemakaian yang tepat Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaranberikut ini:
Belajar mandiri
Kuliah
Pelatihan
Tujuan 6. Mengetahui dan mampu melakukan teknik menyimpul
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaranberikut ini:
Belajar mandiri
Kuliah
Pelatihan
Tujuan 7. Mengetahui dan melakukan teknik insisi dan penjahitan Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri
Kuliah
Pelatihan
Tujuan 8. Menguasai dan mampu melakukan perawatan luka, misal: drainase abses, debridement luka traumatik
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri
Kuliah
Pelatihan
Tujuan 9. Menguasai teknik hemostasis
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri
Kuliah
Pelatihan
Tujuan 10. Mengetahui penanganan cedera vaskuler (patching dananastomosis) Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaranberikut ini:
Belajar mandiri
Kuliah
Pelatihan
Tujuan 11. Memiliki penguasaan teknik bedah endoskopi Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri
Kuliah
Pelatihan
Tujuan 12. Mengetahui teknik tendon repair
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri
Kuliah
Pelatihan
Tujuan 13. Mengetahui teknik bowel anastomosis (end to end anastomosis)Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri
Kuliah
Pelatihan
Tujuan 14. Mengetahui jenis dan kegunaan diathermy
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri
Kuliah
Pelatihan
Setelah mempelajari penuntun belajar ini, peserta didik diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar di bawah pengawasan fasilitator, terutama cara menjahit, membuat simpul benang dan melepaskan simpul. Pada saat pelaksanaan evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut :
Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan.
Baik : pelaksanaan benar dan baik (efisien)
Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan apabila belum melakukan secara benar dan diminta untuk
memperbaiki secara langsung di bawah pengawasan fasilitator. Hal ini dilakukan sampai dengan peserta didik dapatmelakukan semua tahapan secara benar
Evaluasi aplikasi modul dilakukan juga di dalam ruang operasi.
Kuesioner Sebelum Pembelajaran Pertanyaan
Sebutkan macam-macam simpul yang biasa dilakukan di kamar operasi
Jelaskan cara menjahit luka elips dan luka linear, apakah terdapat perbedaan?
Jawaban :
Reef knot, Surgeon's knot, Deep tying
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.:
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
NAMA PESERTA: ...................................... TANGGAL: ................................
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||||
| |||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR | |||||
- Memakai topi, masker, cuci tangan, baju operasi dan sarung tangan | |||||
KEGIATAN | KASUS | ||||
- Menyiapkan alat-alat steril | |||||
- Melakukan prosedur aseptik dan antiseptik pada daerah operasi dan sekitarnya | |||||
- Persiapan Sebelum Tindakan | |||||
III. PERSIAPAN PROSEDUR MENYIMPUL | |||||
Prosedur Reef knot
Prosedur Deep Tying
| |||||
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut:
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai(jika harus berurutan)
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
NAMA PESERTA: ......................................TANGGAL: .................................
KEGIATAN | KASUS | ||||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||||||
| |||||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR | |||||||
- Memakai topi, masker, cuci tangan, baju operasi dan sarung tangan | |||||||
- Menyiapkan alat-alat steril | |||||||
- Melakukan prosedur aseptik dan antiseptik pada daerah operasi dan sekitarnya | |||||||
- Persiapan Sebelum Tindakan | |||||||
III. PERSIAPAN PROSEDUR INSISI | |||||||
- Pisau Bistouri dipegang seperti memegang pensil dengan arah vertikal 90 derajat pada awal insisi, kemudian dilanjutkan dengan sudut 45 derajat mengikuti garis insisi, sampai pada akhir insisi arah pisau kembali vertikal 90 derajat. Kelingking tangan merupakan alat fiksasi | |||||||
- | Pisau Scalpel dipegang seperti memegang pisau dapur dengan arah vertikal 90 derajat pada awal insisi, kemudian dilanjutkan dengan dengan arah horizontal mengikuti garis insisi, sampai pada akhir insisi arah pisau kembali vertikal 90 derajat. Tekanan jari telunjuk merupakan penentu kedalaman insisi. | ||||||
-Penanganan jahitan: tidak ada tegangan, paralel, jarak yang sama, jarak yang usama dari tepikulit atau counter traksi Jarak dari tepi sesuai dengan ketebalan jaringan, jahitan berikutnya berjarak | |||||||
-dua kali si elips dilakukan dengan perbandingan antara panjang dan lebar > 3x : x | |||||||
Dua jari (telunjuk dan ibu jari tangan lainnya) dapat dipakai
ntuk fiksasi
Inisi
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut:
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai(jika harus berurutan)
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
NAMA PESERTA: ...................................... TANGGAL: .................................
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF |
|
II. PERSIAPAN PROSEDUR |
|
III. PROSEDUR MENJAHIT |
|
luka yang berlawanan
Jahitan subkutikular, dapat diserap, tidak dapat diserap |
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.:
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai(jika harus berurutan)
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
NAMA PESERTA: ..................................... TANGGAL: .................................
KEGIATAN | KASUS | |||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | ||||
| ||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR | ||||
- Memakai topi, masker, cuci tangan, baju operasi dan sarung tangan | ||||
- Menyiapkan alat-alat steril | ||||
- Melakukan prosedur aseptik dan antiseptik pada daerah operasi dan sekitarnya | ||||
- Persiapan Sebelum Tindakan | ||||
III. PERSIAPAN PROSEDUR PERAWATAN LUKA | ||||
Prinsip Perawatan luka
| ||||
Perawatan drainase abses
| ||||
KEGIATAN | KASUS | |||
| ||||
Perawatan luka traumatik
Perawatan luka traumatik Lakukan pembersihan luka dari arah dalam ke luar dengan menggunakan kasa
| ||||
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.:
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai(jika harus berurutan)
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||||
| |||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR | |||||
- Memakai topi, masker, cuci tangan, baju operasi dan sarung | |||||
- Menyiapkan alat-alat steril | |||||
- Melakukan prosedur aseptik dan antiseptik pada daerah operasi dan sekitarnya | |||||
- Persiapan Sebelum Tindakan | |||||
III. PERSIAPAN PROSEDUR HEMOSTASIS | |||||
- Identifikasi pembuluh darah | |||||
- Ligation in continuity: Benang diletakkan pada 2 sisi (proksimal dan distal pembuluh darahyang akan diligasi). Dilakukan penyimpulan benang dengan reef knot pada kedua sisi tersebut, kemudian dilakukan pemotongan pembuluh darah ditengahnya | |||||
- Pedicle ligation: pembuluh darah diklem pada ujung distal dan proksimal, kemudiandilakukan pemotongan di tengahnya, dan masing-masing ujung diikat dengan simpul reef knot | |||||
- Transfixion: pembuluh darah diikat dengan menggunakan benang jarum | |||||
LCD 1 : Theater Etiquette
LCD 2 : Mengetahui dan mampu melakukan teknik scrubbing
LCD 3 : Mengetahui dan mampu melakukan teknik gowning dan
gloving
LCD 4 : Mengenali Instrumen bedah dan mengetahui cara pemakaian yang tepat
LCD 5 : Mengetahui dan mampu melakukan teknik menyimpul
Reef Knot
4
3
2
1
Langkah-langkah :
6
5
7
2
1
Langkah-langkah :
4
3
6
5
8
7
4
3
2
1
9
Surgeon's Knot
10
9
8
7
6
5
3
2
1
14
13
12
11
Deep Tying
6
5
4
10
9
8
7
6
5
1
2
3
4
11
Instrument tie
8
7
13
11
10
9
14
12
LCD 6 : Suturing : Needle manipulation and driving, interrupted,subcuticular, vertical mattress
LCD 7 : Mengetahui dan mampu melakukan teknik insisi dan penjahitan
LCD 8: Mengetahui dan mampu melakukan perawatan luka, misal: drainaseabses, debridement luka traumatic
LCD 9 : Menguasai teknik hemostasis
LCD 10: Mengetahui penanganan cedera vaskuler (patching & anastomosis)
LCD 11: Memiliki penguasaan teknik bedah endoskopi
Sesuai dengan Modul Rinologi dan Bronkoesofagologi LCD 12. Mengetahui teknik
tendon repair
LCD 13. Mengetahui teknik end to end anastomosis
LCD 14. Mengetahui jenis dan kegunaan diathermy
Standar kewaspadaan infeksi diperlukan untuk mencegah dan menekan terjadinya perpindahan mikroorganisme penyebab infeksi dari pasien ke pasien, pasien ke tenaga medis dan dari tenaga medis ke pasien. Suatu proses infeksi terjadi apabila terdapat invasi dari mikroorganisme berbahaya/pathogen ke dalam tubuh yang dapat berupa bakteri, jamur, parasite, riketsia dan virus. Kejadian infeksi nosokomial di negara maju dilaporkan sekitar 5% sedangkan di Asia dan Arika mencapai 40%.
Komponen standar kewasapdaan pencegahan infeksi yaitu:
Setiap orang berpotensi menularkan infeksi
Perlindungan diri : memakai sarung tangan, masker, pelindung mata,penutup kepala, gaun dan sepatu dengan benar
Cuci tangan
Memakai sarung tangan
Memproses instrument dengan bahan yang benar
Menggunakan bahan antiseptik
Sanitasi lingkungan (membuang limbah dengan benar)
Melakukan upaya kerja yang aman : mencegah perlukaan saat bekerja ketika memegang dan menyerahkan instrument tajam, menutup jarum suntik, melakukan teknik operasi dengan benar, memakai sarung tangan ganda, melepas gaun operasi sebelum sarung tangan
Komponen standar dari universal precaution berupa:
Memproteksi diri dari darah, cairan tubuh pasien yang potensialmenularkan infeksi (darah dan semua cairan tubuh lain)
Proteksi harus dilaksanakan secara konsisten dengan tidak pandangbulu pada seluruh pasien
Tenaga medis harus berusaha memutus rantai infeksi
Pada saat operasi, terjadinya infeksi pada luka operasi dapat disebabkan oleh mikroorganisme/microflora yang berasal dari kulit penderita atau tangan operator. Prosedur cuci tangan dan membersihkan kulit lapangan operasi dengan larutan antiseptic adalah suatu pencegahan infeksi yang sangat penting karena zat antiseptic dirancang untuk embunuh/menyingkirkan sebanyak mungkin mikroorganisme tanpa merusak/mengiritasi kulit/mukosa. Teknik asepsis atau aseptic adalah istilah umum yang digunakan dalam asuhan kesehatan untuk menggambarkan segala upaya yang dilakukan untuk mencegah masuknya mikroorganisme ke dalam tubuh yang kemungkinan besar akan mengakibatkan infeksi. Tujuanasepsis adalah untuk mengurangi/menghilangkan sejulah mikroorganisme baik yang terdapat pada permukaan benda
hidup (kulit, jaringan) maupun benda- benda mati (alat kesehatan) hingga mencapai tarif aman. Antisepsis adalah pencegahan infeksi dengan membunuh atau menghambat pertumbuhanmikroorganisme pada kulit dan ajringan tubuh lainnya.
Beberapa zat kimia yang berkualifikasi menjadi antiseptik kulit/mukosayang aman adalah:
Alkohol (60-90%), etil isopropyl atau metal spiritus
Cetrimide dan chlorhexidine gluconate, dalam berbagai konsentrasi(missal: Savlon)
Chlorhexidine gluconate (4%) (misalMicroshield, Hibiscrub, Hibitane)
Hexachlorophene (3%) (misal:Phisohex)
Parachlorometaxylenol (PCMX atau Chloroxylenol), dalam berbagaikonsentrasi (misal : Dettol)
Iodine (1 sampai 3%), dalam air atau tingtur (missal: Lugol)
Iodophor, dalam berbagai konsentrasi (misal: Betadine)
Terdapat dua jenis benang yaitu yang dapat diserap (absorbable) dan yang tidak dapat diserap (nonabsorbable). Benang yang dapat diserap diproses secara enzimatik dan akan menghilang dalam waktu 60 hari. Contoh dari benang yang dapat diserap ini adalah surgical gut, polyglactin (Vicryl), polydioxa-none (PDS II), glycolic acid (Maxon), dan poliglecap- rone
25 (Monocryl). Benang yang tidak dapat diserap akan selalu menjaga kekuatan jahitan. Contoh dari benang yang tidak dapat diserap ini adalah silk, nylon, polypropylene (Prolene), dan polyester (Dacron, Ethibond). Walaupun dikatakan silk merupakan benang yang tidak dapat diserap, tetapi karena berasal dari bahan alami, suatu saat akan diserap dalam waktu yang cukup lama.1
Benang dapat dikenali pula sebagai benang monofilamen atau benang
braided. Benang Monofilamen terdiri dari benang tunggal dan dapat melalui jaringan dengan mudah tanpa menimbulkan trauma. Benang Braided terdiri dari beberapa jalinan benang sehingga tidak terasa licin. Kelemahan dari benang braided ini adalah kemungkinan terdapatnya mikro organisma diantara jalinan benang sehingga menyebabkan kemungkinan terjadinya infeksi. Benang memiliki ukuran tertentu, yang disimbolkan dengan 0 (nol). Semakin tinggi nomor nol, semakin kecil ukuran benang. Sebagai contoh adalah 2-0 vicryl lebih tebal dan kuat dibandingkan 4-0 vicryl.1
Faktor penting lainnya dalam menentukan pilihan benang yang akan dipakai adalah memory, memori, elastisitas, dan reaksi jaringan. Memori adalah kemampuan benang untuk kembali kepada konfigurasi semula. Benang dengan memori yang tinggi lebih terasa licin dan membutuhkan lebih banyak simpul. Contoh benang dengan memori tinggi adalah glycolicacid (Maxon), polypropylene (Prolene), dan polydioxanone (PDS 11). Elastisitas adalah kemampuan benang untuk meregang dan kemudian kembali ke panjang semula. Elastisitas penting ketika berhadapan dengan luka yang kemungkinan besar akan terjadi edema pasca operasi. Reaksi jaringan adalah inflamasi yang timbul sebagai reaksi terhadap bahan benang. Dari penelitian ditemukan bahwa benang sintetik dan monofilamen memiliki reaksi jaringan yang lebih minimal.1
Tabel 1 dan 2 : Material benang yang umum dipakai dalam pembedahan2
Jenis-jenis cara simpul/knot
Pilar dari teknik menyimpul merupakan gabungan dari gerakan pergelangan, ibu jari dan jari lainnya.3
Gambar 1. Gabungan gerakan pergelangan, ibu jari dan jari-jari3
Terdapat 4 jenis simpul yang umum dipakai saat prosedur pembedahan yaitu:
Square knot/ Reef Knot
Reef knot dibuat dengan menyilangkan untai benang kanan di atas untai kiri pada lemparan pertama diikuti dengan untai benang kiri di atas kanan pada lemparan kedua (kanan-atas- kiri, kiri-atas-kanan). Jika simpul persegi dimulai dengan
Gambar 2. Reef Knot
menyilangkan untai kiri ke kanan maka harus diselesaikan dengan menyilangkan untai kanan di atas kiri. Jika tahapan ini dilakukan, maka simpul tidak akan mudah terlepas.3
Surgeon's knot
Surgeon's knot adalah simpul persegi yang terdiri dari putaran ganda pada lemparan simpul pertama. Putaran ganda membuat simpul pertama menjadi lebih sulit untuk terlepas saat untai benang diputar untuk simpul kedua.3
Gambar 3. Surgeon's Knot
Slip Knot
Slip knot adalah simpul pseudosquare. Untaian benag saat putaran kedua menyilang dalam urutan yang sama dengan untaian putaran pertama (kanan-atas-kiri, kanan-atas-kiri). Simpul ini dapat bermanfaat pada area rongga yang dalam. Simpul ini harus diperkuat dengan Reef knot atau Aberdeen knot.3
Gambar 4. Slip knot
Aberdeen Knot
Aberdeen knot dijelaskan dengan menggunakan istilah bight dan turn. Simpul ini lebih mudah dibandingkan Reef knot atau surgeon's knot dan baik digunakan pada akhir proses jahitan.3
Gambar 5. Aberdeen knot
Jahitan diamankan dengan melakukan simpul/secure knot sebanyak >3 simpul pada benang multifilamen, dan >6 simpul pada benang monofilamen
Gambar 6. Secure knot
Umumnya jarum yang dipakai untuk jahitan luka berdiameter 3/8 lingkaran dan Z 3 bagian : ujung point, badan jarum dan ujung swage.4
Gambar 7. Bagian jarum jahit bedah
Badan jarum dapat berbentuk lengkung, setengah lengkung atau lurus. Pemilihan bentuk jarum disesuaikan dengan jenis jaringan, kedalaman dan aksesibilitas. Jarum yang lengkung dipegang dengan holder dan digunakan pada luka permukaan kecil dan luka jauh di dalam rongga tubuh. Jarum lurus biasanya dapat dipegang dengan tangan dan digunakan pada luka di permukaan.4
Gambar 8. Jenis-jenis jarum jahit bedah
Jarum round tapped digunakan untuk area fasia dan jaringan lunak seperti kandung kemih dan visera berongga. Jarum cutting dapat berbentuk melengkung atau lurus dan digunakan untuk jaringan padat seperti kulit dan tendon. Jarum dengan reversed cutting digunakan pada kulit. Jarum tapercut digunakan untuk prosedur pada pembuluh darah karena memiliki jarum halus yang cukup tajam untuk menembus pembuluh darah namun tidak terlalu tajam untuk merusak dinding pembuluh darah yang halus.4
Gambar 9. Jenis ujung jarum jahit bedah
Setelah membuka bungkus suture kit, jarum berada pada posisi yangsudah siap untuk dipasang di needle holder.
Pegang jarum pada 2/3 dari needle tip dengan menggunakan ujung
needle holder.
Saat melepaskan jarum dan benang dari bungkusnya, dapat dibantu dengan menggunakan kelingking untuk menahan agar benang tidak kendor
Jarum juga dapat dipegang pada 2/3 dari needle tip dan tegak lurus dengan needle holder, atau dapat dipegang pada pertengahan jarum ketika menggunakan jarum setengah lingkaran dengan sedikit miring/sudut minimal.
Penting untuk diperhatikan bahwa jarum dipegang pada ujung jaw needle holder
Gambar 10. Prosedur mengeluarkan jarum, bagian dari needle holder dan cara memegang jarum
Petunjuk dalam menjahit luka5 :
Ukuran jahitan cukup luas untuk memberikan kekuatan yang adekuat pada jaringan yang dijahit
Berikan tekanan yang sama pada kedua untai benang sehingga simpulmenjadi cukup aman dan kuat untuk mencegah terjadi edema
Pada luka yang dalam, lakukan aproksimasi jaringan lapis demi lapis karena luka akan tertutup untuk mencegah terbentuknya rongga yangdapat meningkatkan resiko infeksi
Gambar 11. Aproksimasi luka lapis demi lapis
Jarak dari kedua ujung puncture sebanding dengan kedalaman jaringan yang dijahit dan mencakup jumlah jaringan yang sama pada kedua sisijahitan.
Gambar 12. Jarak ujung puncture jarum sebanding dengan kedalaman jahitan
Jarak sejauh ¼ inchi (0,635 cm) diantara jahitan untuk menyokong kekuatan kulit.
Potong ujung sisa benang setelah disimpul. Ujung dari benang silk dan material sintetik dipotong hingga 3 mm. Material yang absorbable dipotong hingga 6 mm.
Bagian tubuh yang berbeda akan sembuh dalam waktu dan kecepatan yang berbeda. Luka area wajah dapat menyembuh dalam 3-5 hari, luka area kulit kepala dalam 7-10 hari, tungkai selama 10-14 hari, area sendi selama 14 hari, dan area badan selama 7-10 hari.
Semua jahitan terletak pada sudut yang tepat terhadap garis luka dalam jarakyang sama antara pinggir luka dengan jahitan untuk menyetarakan tekanan terhadap panjang luka.
Gambar 13. Jarak ujung luka dengan masing-masing ujung jahitan Jenis dari pola jahitan adalah:5
Interuptus: terdiri dari kumpulan satu persatu jahitan dalam satu baris dan masing-masing jahitan memiliki simpul sendiri. Tekanan pada masing- masing jahitan sepanjang insisi dapat disesuaikan selama prosedur.
Gambar 14. Jahitan interuptus
Kontinyu: Diawali dengan simpul awal dan dilanjutkan terus hinggaujung akhir luka.
Gambar 15. Jahitan kontinyu
Matras terputus, horizontal dan vertikal
Jahitan matras horizontal dapat berupa inetruptus dan kontinyu. Pada pola ini, jahitan terletak paralel dengan pinggir luka dengan jarak yang sama pada kedua sisi seperti apda jahitan interuptus. Pembuluh darah kecil di sepanjang luka diikat dengan jahitan horizontal
Gambar 16. Jahitan matras horizontal
Jahitan matras vertikal memotong jaringan pada lapisan superfisial danlapisan dalam dan secara tidak langsung menekan pembuluh darah.
Gambar 17. Jahitan matras vertikal
Subkutikuler
Jahitan ini tidak memiliki bekas pada bagian luar, dan untuk keamanan dapat
ditambahkan dengan plester di atas luka. Pada akhir jahatan, jarum dibawa ke arah yang berlawanan dari luka.
Gambar 18. Jahitan subkutikuler
Gambar 19. Jahitan subkutikuler menggunakan benang yang absorbable
Gambar 20. Jahitan subkutikuler menggunakan benang yang non-absorbable
Penting untuk diingat bahwa bagian dari jahitan yang terletak pada area permukaan kulit berpotensi untuk terinfeksi. Bagian ini tidak boleh melewati jaringan dalam ketika jahitan dilepas dan benang ditarik. Jahitan digunting tepat dibawah simpul dan benang ditarik sedemikian sehingga bagian luar/area kulit tidak melewati jaringan dalam.
Gambar 21. Cara menggunting dan menarik benang
Salah satu prinsip dasar yang terkait dengan penyembuhan luka, adalahoptimalisasi perawatan luka (gambar 16).6
Gambar 22. Prinsip perawatan luka6
Irigasi luka dilakukan dengan menggunakan larutan garam fisiologis. Jika terdapat eksudat pada permukaan luka, irigasi harus dilakukan. Permukaan luka ditutup dengan kain kasa lembab yang lembut, dan harus dijaga agar tidak mengganggu jaringan granulasi (Gambar 17).7
Menjaga Kelembaban Bed Luka
Pada prinsipnya, luka harus dijaga kelembabannya sehingga terjadi penyembuhan luka yang baik. Penyembuhan luka akan baik pada keadaan lembab karena kondisi lembab memberikan banyak keuntungan, diantaranya menurunnya angka dehidrasi dan kematian sel, meningkatnya angiogenesis, enhanced autolytic debridement, meningkatnya reepitelisasi, dan sebagai penghalang bakteri serta menurunkan angka infeksi dan nyeri.6,8
Perawatan luka kronik didahului debridement jaringan nekrotik dan kelembaban harus dijaga dengan memakai klorida gel natrium
isotonik. Perawatan luka optimal membutuhkan dressing basah yang
mendukung debridement autolitik, dan menyerap eksudat, serta melindungi kulit normal di sekitarnya.7,8
Untuk luka kering, dapat dipakai dressing hidrokoloid, seperti DuoDerm atau intrasite hidrokoloid, yang kedap oksigen, kelembaban, dan bakteri. Bahan tersebut mempertahankan lingkungan yang lembab, dan mendukung debridement autolitik. Untuk luka eksudatif, dressing serap, seperti alginat kalsium(misalnya Kaltostat dan Curasorb), dan dressing hydrofiber, misalnya Aquacel dan Aquacel-AG dapat dipakai.8
Gambar 23. Kelembaban luka penting untuk penyembuhan luka9
Boland BA, Rogers E. Basic surgical principles. In Byron J. Bailey & Jonas T. Johnson Head and Neck Surgery Otolaryngology.Fifth edition. Volume two. Lippincott Williams & Wilkins. Philadelphia. 2014.p: 18-24
Kantor J. Suture materials, knot tying and post operative care. In Jonathan Kantor ed. Atlas of Suturing Techniques.1st ed. McGraw Hill Education. New York. 2016. p:12-14.
Giddings FD. Anatomical and surgical knot tying fundamentals.
Surgical Knots and Suturing Techniques. 5th ed. Giddings studio publishing. Washington. 2018. p:3-5
Giddings FD. Suture materials, surgical needles and forceps. Surgical Knots and Suturing Techniques. 5th ed. Giddings studio publishing. Washington. 2018. p:36-37
Giddings FD. Suturing methods, suture patterns. Surgical Knots and Suturing Techniques. 5th ed. Giddings studio publishing. Washington. 2018. p:42-49
Keast D, Orsted H. The Basic Principle of Wound Healing. Available from: http://cawc.net
Fairview Health Services. Treating Pressure Ulcers. Fairview;2014; Availablefrom: http://www.fairview.org/about/ContactUs/index.htm2015
Daley BJ. Wound Care Treatment & Management. Emedicine; 2014; Available from: http://emedicine.medscape.com/article
Hollis, G. Types of Wound. 2014; Available from: http://dechra.nl/Therapy- Areas/Woundcare/Types-of-wound.aspx