MODUL KETERAMPILAN BEDAH DASAR‌‌‌‌‌‌‌‌‌


EDISI III‌



Tim Penyusun

  1. Prof. dr. Bambang Hermani, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.L.F.(K)

  2. Prof. Dr. dr. Farhat, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)., M.Ked(ORL-HNS)

  3. Prof. Dr. dr. Widodo Ario Kentjono, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)

  4. Dr. dr. Agung Dinasti Permana, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)., M.Kes

  5. Dr. dr. Muhtarum Yusuf, Sp.T.H.T.K.L(K)., Subsp.Onk.(K)., FICS

  6. Dr. dr. Sagung Rai Indrasari, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)., M.Kes

  7. Dr. dr. Yussy Afriani Dewi, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)., M.Kes., FICS

  8. dr. Benny Kurnia, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)

  9. dr. Ika Dewi Mayangsari, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)

  10. dr. Rizalina A. Asnir, Sp.T.H.T.K.L(K)., Subsp.Onk.(K)., FICS

KATA PENGANTAR

Assalammu’alaikum Wr.Wb.


Alhamdulillahirobbil ‘alamin, saya panjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allah swt yang senantiasa melimpahkan segala rahmat, taufik dan hidayah-Nya sehingga dapat menyelesaikan penyusun Buku Modul Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher (IK THTBKL) edisi ketiga ini.


Modul ini disusun untuk memenuhi kebutuhan peserta pendidikan dokter spesialis THTBKL yang merupakan penyempurnaan edisi kedua, pemenambahan beberapa materi sesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan serta ketrampilan baru guna meningkatlan mutu proses pendidikan dokter spesialis THTBKL di Indonesia


Selaras dengan dimulainya program fellowship serta persiapan pembukaan program pendidikan Subspesialisasi THTBKL, modul Pendidikan dokter spesialis THTBKL ini disusun agar pendidikan spesialis THTBKL terjaga menjadi satu kesatuan yang mendalam antara ketiga program pendidikan tersebut. Selain itu Buku Modul ini dapat menjadi pedoman untuk melaksanakan pendidikan secara terstruktur dan berkualitas, dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, monitoring hingga proses evaluasi secara berkesinambungan. Hal tersebut bertujuan agar lulusan peserta program studi IK THTBKL mempunyai kompetensi akademik dan kompetensi profesional unggul seiring berkembangnya jaman.


Pada era baru ini para lulusan Dokter Spesialis THTBKL diharapkan memiliki kemampuan akademik professional bertaraf internasional, inovatif dan tangguh yang mampu berkiprah secara global sesuai Visi dan Misi Pendidikan Spesialis THTBKL. Semoga dengan terbitnya Buku Modul ketiga ini program pendidikan dokter spesialis THTBKL semakin maju dan menghasilkan pencapaian lulusan yang unggul, kompeten dan berkualitas.


Apresiasi kami yang setinggi-tingginya kepada seluruh teman sejawat, Profesor Dokter, atas komitmen, dedikasi, serta pemikiran dan waktu yang telah diberikan terutama dalam suasana pandemi Covid-19. Keterbatasan jarak dan keadaan Pandemi telah membuka peluang pengembangan komunikasi, diskusi dan ujicoba modul ketiga, secara digital (TIK), sehingga kita dapat berkoordinasi, produktif menyelesaikan buku modul Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala dan Leher edisi ketiga ini.


Semoga modul ini dapat bermanfaat bagi kita semua, khususnya para peserta didik dan semua yang kita lakukan selalu mendapat ridha Allah SWT.


Wassalammu’alaikum Wr.Wb.


Ketua Umum Kolegium IK THTBKL Indonesia


Dr. dr. Trimartani, Sp T.H.T.B.K.L., F.P.R(K)., MARS

MODUL UTAMA


MODUL X KETERAMPILAN BEDAH DASAR


EDISI III


DAFTAR ISI


  1. WAKTU 1

  2. PERSIAPAN SESI 1

  3. REFERENSI 2

  4. KOMPETENSI 2

  5. GAMBARAN UMUM 2

  6. TUJUAN PEMBELAJARAN 3

  7. METODE PEMBELAJARAN 3

  8. EVALUASI 5

  9. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF 6

  10. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR 6

  1. MATERI PRESENTASI 13

  2. MATERI BAKU 51

  3. DAFTAR PUSTAKA 72

MODUL X

TOPIK : KETERAMPILAN BEDAH DASAR


  1. WAKTU


    Mengembangkan kompetensi

    Hari:

    Sesi dengan fasilitas pembimbing Sesi pencapaian kompetensi

    5x 120 menit (bimbingan teori dan praktik) 1x 60 menit


  2. PERSIAPAN SESI

    Materi presentasi:

    LCD 1: Pengenalan Theater Etiquette

    LCD 2: Scrubbing

    LCD 3: Gowning & Gloving

    LCD 4: Handling instrument

    LCD 5: Knots: Reef knot, instrument tie, surgeons knot, tie at depth LCD 6: Suturing: Needle manipulation and driving, interrupted, sub-cuticular, Vertical mattress

    LCD 7: Skin lesions & local anasthesia techniques: skin lession, sebaceouscyst

    LCD 8: Wound management: Abscess drainage, debriding traumatic woundLCD 9: Haemostasis: ligation in continuity, pedicle ligation, transfixtion LCD 10: Fine tissue handling: Vein patch exercise

    LCD 11: Introduction to endoscopic surgery

    LCD 12: Tendon Repair

    LCD 13: Bowel anastomosis (End to end anastomosis)

    LCD 14: Diathermy

    Sarana dan Alat Bantu


  3. REFERENSI

    1. Boland BA, Rogers E. Basic surgical principles. In Byron J. Bailey & Jonas T. Johnson Head and Neck Surgery Otolaryngology.Fifth edition. Volume two. Lippincott Williams & Wilkins. Philadelphia. 2014.p: 18-24

    2. Basic Surgical Skills provided by The Royal College of Surgeons of Edinbergh

    3. Pelatihan Keterampilan Teknik Bedah Dasar PERHATI-KL


  4. KOMPETENSI

    Mampu menerapkan teknik bedah yang baik dengan mengutamakan segi keamanan bagi tim bedah dan pasien

  5. GAMBARAN UMUM

    Prosedur pembedahan memerlukan keterampilan dan penguasaan instrumen yang baik agar dapat melakukan tindakan bedah dengan aman. Keterampilan yang diberikan pada modul ini bukan merupakan satu-satunya teknik bedah yang ada, namun merupakan salah satu teknik yang aman untuk dilakukan baik untuk operator ataupun pasien. Penguasaan teknik bedah dapat dinilai dari efisiensi tenaga dan gerakan serta aplikasi gerakan-gerakan yang luwes dan wajar.

    Terdapat banyak instrumen yang tersedia dan dapat digunakan oleh dokter bedah, sehingga dokter bedah diharapkan mampu mengenali kegunaan dan cara pemakaian yang tepat dari instrumen yang tersedia. Modul ini bertujuan untuk melatih kebiasaan yang baik dan aman untuk dapat diterapkan ke dalam prosedur pembedahan. Pembedahan yang aman lebih baik dari pada pembedahan yang cepat tetapi memiliki resiko mencederai. Bagi peserta yang sudah terbiasa dengan gerakan yang kurang benar diharapkan selama kursus dapat diubah menjadi gerakan yang benar. Setelah menjalani kursus ini harus


    ditindaklanjuti dengan pemahiran di institusi masing-masing.


  6. TUJUAN PEMBELAJARAN


    Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan mampu untuk:

    1. Mengetahui Theater Etiquette

    2. Mengetahui dan mampu melakukan teknik scrubbing

    3. Mengetahui dan mampu melakukan teknik gowning dan gloving

    4. Mengetahui prosedur aseptik, antiseptik dan pencegahan infeksi

    5. Mengetahui jenis surgical needle dan benang jahit

    6. Menguasai teknik bedah yang terdiri dari efisiensi tenaga dan gerakanyang luwes dan wajar

    7. Mengenali Instrumen bedah dan mengetahui cara pemakaian yang tepat

    8. Mengetahui dan mampu melakukan teknik menyimpul

    9. Mengetahui dan mampu melakukan suturing: interrupted, subcuticular,vertical matress, needle manipulation and driving

    10. Mengetahui dan mampu melakukan teknik insisi dan penjahitan

    11. Mengetahui dan mampu melakukan perawatan luka, misal : drainase abses,debridement luka traumatic

    12. Menguasai teknik hemostasis

    13. Mengetahui penanganan cedera vaskuler (patching & anastomosis)

    14. Memiliki penguasaan teknik bedah endoskopi

    15. Mengetahui teknik tendon repair

    16. Mengetahui prosedur end to end anastomosis

    17. Mengetahui jenis dan teknik diathermy


  7. METODE PEMBELAJARAN


    Tujuan 1. Mengetahui Theater Etiquette

    Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:


  8. EVALUASI


    1. Setelah mempelajari penuntun belajar ini, peserta didik diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar di bawah pengawasan fasilitator, terutama cara menjahit, membuat simpul benang dan melepaskan simpul. Pada saat pelaksanaan evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut :

      • Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan.

      • Baik : pelaksanaan benar dan baik (efisien)

    2. Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan apabila belum melakukan secara benar dan diminta untuk


      memperbaiki secara langsung di bawah pengawasan fasilitator. Hal ini dilakukan sampai dengan peserta didik dapatmelakukan semua tahapan secara benar

    3. Evaluasi aplikasi modul dilakukan juga di dalam ruang operasi.


  9. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF


      • Kuesioner Sebelum Pembelajaran Pertanyaan

    1. Sebutkan macam-macam simpul yang biasa dilakukan di kamar operasi

    2. Jelaskan cara menjahit luka elips dan luka linear, apakah terdapat perbedaan?

      Jawaban :

      1. Reef knot, Surgeon's knot, Deep tying

      2. Linear: dimulai dari tengah luka dan dilanjutkan setiap pertengahan luka atau insisi yang tersisa. Jarak masuk dan keluarnya jarum dari tepi sayatan sama dengan dalamnya jaringan yang diambil (x) dan jarak antar jahitan sama dengan 2x jarak tersebut

    Elips: dimulai dari tepi luka di kedua sisi menuju ke tengah luka. Arah jarum tegak lurus dengan tepi sayatan luka

  10. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR PENUNTUN BELAJAR I PROSEDUR MENYIMPUL

Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.:

  1. Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)

  2. Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien


NAMA PESERTA: ...................................... TANGGAL: ................................


KEGIATAN

KASUS

I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF

  • Nama

  • Diagnosis

  • Informed Consent

  • Rencana Tindakan

  • Persiapan Sebelum Tindakan






II. PERSIAPAN PROSEDUR

- Memakai topi, masker, cuci tangan, baju operasi dan sarung tangan







KEGIATAN

KASUS

- Menyiapkan alat-alat steril






- Melakukan prosedur aseptik dan antiseptik pada daerah operasi dan sekitarnya






- Persiapan Sebelum Tindakan






III. PERSIAPAN PROSEDUR MENYIMPUL






Prosedur Reef knot

  1. Benang yang jauh diambil dengan tangan kiri kemudian dipengang oleh ibu jari dan jari tengah/jari manis tangan kiri

  2. Benang yang dipegang oleh telunjuk tangan kanan diputar membentuk lingkaran

  3. Telunjuk tangan kiri mengait kedalam lingkaran lalu dipertahankan oleh jari tengah, kemudian benang ditarik berlawanan dari arah datangnya benang (dari arah jauh ditarik ke arah dekat)

  4. Kemudian dengan posisi tangan kiri di dekat dokter bedah, mengambil ujung benang lalu diputarkan seolah membuat lingkaran

  5. Jari tengah tangan kiri mengait benang di dalam lingkaran kemudian benang ditarik berlawanan (dari arah dekat ke jauh) Prosedur Surgeon's knot

  1. Benang yang jauh diambil dengan tangan kiri kemudian dipengang oleh ibu jari dan jari tengah/jari manis tangan kiri

  2. Benang yang dipegang oleh telunjuk tangan kanan diputar membentuk lingkaran

  3. Telunjuk tangan kiri mengait kedalam lingkaran lalu dipertahankan oleh jari tengah dan dikait sekali lagi dengan cara yang sama (terdapat 2 kali uliran/kaitan), kemudian benang ditarik berlawanan dari arah datangnya benang (dari arah jauh ditarik ke arah dekat)

  4. Kemudian dengan posisi tangan kiri di dekat dokter bedah, mengambil ujung benang dengan telunjuk lalu diputarkan seolah membuat lingkaran

  5. Jari tengah tangan kiri mengait benang di dalam lingkaran dan jari telunjuk tangan

    kanan mengait benang di dalam lingkaran (terdapat 2 kali uliran/kaitan) kemudianbenang ditarik berlawanan (dari arah dekat ke jauh)

  6. Lalu ditutup dengan reef knot (multifilamen minimal 3 simpul)

Prosedur Deep Tying

  1. Dilakukan seperti tahapan Reef Knot

  2. Saat pengencangan simpul, benang tidak boleh ditarik ke atas,namun didorong ke bawah menggunakan jari telunjuk







PENUNTUN BELAJAR II PROSEDUR INSISI


Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut:

  1. Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai(jika harus berurutan)

  2. Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien


NAMA PESERTA: ......................................TANGGAL: .................................


KEGIATAN

KASUS

I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF

  • Nama

  • Diagnosis

  • Informed Consent

  • Rencana Tindakan

  • Persiapan Sebelum Tindakan






II. PERSIAPAN PROSEDUR

- Memakai topi, masker, cuci tangan, baju operasi dan sarung tangan






- Menyiapkan alat-alat steril






- Melakukan prosedur aseptik dan antiseptik pada daerah operasi dan sekitarnya






- Persiapan Sebelum Tindakan






III. PERSIAPAN PROSEDUR INSISI

- Pisau Bistouri dipegang seperti memegang pensil dengan arah vertikal 90 derajat pada awal insisi, kemudian dilanjutkan dengan sudut 45 derajat mengikuti garis insisi, sampai pada akhir insisi arah pisau kembali vertikal 90 derajat. Kelingking tangan merupakan alat fiksasi






-

Pisau Scalpel dipegang seperti memegang pisau dapur dengan arah vertikal 90 derajat pada awal insisi, kemudian dilanjutkan dengan dengan arah horizontal mengikuti garis insisi, sampai pada akhir insisi arah pisau kembali vertikal 90 derajat. Tekanan jari telunjuk merupakan penentu kedalaman insisi.







-Penanganan jahitan: tidak ada tegangan, paralel, jarak yang sama, jarak yang

usama dari tepikulit atau counter traksi

Jarak dari tepi sesuai dengan ketebalan jaringan, jahitan berikutnya berjarak







-dua kali si elips dilakukan dengan perbandingan antara panjang dan

lebar > 3x : x


Dua jari (telunjuk dan ibu jari tangan lainnya) dapat dipakai

ntuk fiksasi

Inisi

PENUNTUN BELAJAR III PROSEDUR MENJAHIT


Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut:

  1. Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai(jika harus berurutan)

  2. Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien

NAMA PESERTA: ...................................... TANGGAL: .................................

I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF

  • Identitas

  • Diagnosis

  • Informed Choice & Informed Consent

  • Rencana Tindakan

  • Persiapan sebelum tindakan

II. PERSIAPAN PROSEDUR


  1. Memakai topi, masker, cuci tangan, baju operasi dan sarung tangan.

  2. Mempersiapkan alat-alat steril (spuit, lidocain, NaCl, kasa, povidon iodin, benang jahit, needle holder, pinset,gunting, kasa antibiotik, plester)

  3. Melakukan aseptik & antiseptik pada daerah operasi dan sekitarnya dengan menggunakan povidoniodin/antiseptik lainnya

  4. Pasang kain penutup operasi steril pada pasien, kecuali di daerah operasi

III. PROSEDUR MENJAHIT

  1. Objektif:

    1. Mengenal jenis material benang

    2. Melakukan tehnik penjahitan: interrupted, matras interrupted (horizontal dan vertikal), kontinue, subkutikular.

    3. Penanganan jahitan: tidak ada tegangan, paralel, jarak yang sama, jarak yang sama dari tepi

    4. Jarak dari tepi sesuai dengan ketebalan jaringan, jahitan berikutnya berjarak dua kali

    5. Untuk luka linear: prosedur penjahitan dimulai dari tengah luka dan dilanjutkan setiap pertengahan luka atau insisi yang tersisa. Untuk luka Elips: prosedur penjahitan dimulai dari tepi luka di kedua sisi menuju ke tengahluka. Arah jarum tegak lurus dengan tepi sayatan luka.


      Long wound : half-half, start from the middle


      Ellips wound, start from the edge, last stitch in the middle

  2. Praktek

    1. Sayatan kulit, pegangan telapak tangan / pensil, 90 - 45 - 90 derajat, letakkan pisau bedah di atas piring ginjal

    2. Jenis Benang yang digunakan

    3. Cara membuka bahan jahitan dari paknya, Mount needle

    4. Pegang jarum pada 2/3 bagian dari tepi

    5. Selalu letakkan jarum saat digunakan di bawah pengawasan langsung

    6. Jangan pernah menyentuh jarum dengan jari

    7. Masukkan jarum di sudut kanan ke jaringan dan dengan lembut maju melalui jaringan

    8. Jangan pernah memegang benang dengan penahan jarum, kecuali di bagian tepi

    9. Gunakan tang bedah untuk mengangkat tepi luka dan sebagai counter traksi di tepi


luka yang berlawanan

  1. Simpul dengan instrumen

  2. Letakkan jarumnya

  3. Manuver jarum, forehand dan backhand

  4. Pencabutan jahitan, tarik benang ke arah luka, bagian luar, jangan pernah melewati bagian dalam luka

  5. Jahitan terputus

  6. Jahitan matras terputus, horizontal, vertikal

  7. Jahitan kontinu

Jahitan subkutikular, dapat diserap, tidak dapat diserap


PENUNTUN BELAJAR IV PROSEDUR PERAWATAN LUKA

Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.:

  1. Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai(jika harus berurutan)

  2. Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien

NAMA PESERTA: ..................................... TANGGAL: .................................

KEGIATAN

KASUS

I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF

  • Nama

  • Diagnosis

  • Informed Consent

  • Rencana Tindakan

  • Persiapan Sebelum Tindakan





II. PERSIAPAN PROSEDUR

- Memakai topi, masker, cuci tangan, baju operasi dan sarung tangan





- Menyiapkan alat-alat steril





- Melakukan prosedur aseptik dan antiseptik pada daerah operasi dan sekitarnya





- Persiapan Sebelum Tindakan





III. PERSIAPAN PROSEDUR PERAWATAN LUKA





Prinsip Perawatan luka

  1. Irigasi dengan menggunakan garam fisiologis. Jika terdapat eksudat pada permukaan luka, irigasi harus dilakukan.

  2. Menjaga kelembaban luka. Area luka harus dijaga kelembabannya sehingga terjadi penyembuhan luka yang baik.

  3. Perawatan luka kronik didahului dengan debridement dan kelembaban harus dijaga dengan memakai klorida gel natrium isotonik.

  4. Untuk luka kering, dapat dipakai dressing hidrokoloid, seperti DuoDerm atau intrasite hidrokoloid, yang kedap oksigen, kelembaban, dan bakteri





Perawatan drainase abses

  1. Dilakukan anestesi lokal di luar abses

  2. Dilakukan insisi dengan blade no.11 ke bagian dalam kantong abses

  3. Dilakukan proses milking, semua cairan abses dikeluarkan dengan cara dipijat dengan bantuan kasa steril






KEGIATAN

KASUS

  1. Dilakukan cross incision dengan menggunakan pinset dan gunting jaringan untuk memperlebar area insisi

  2. Setelah cukup lebar, dilakukan eksplorasi dengan memasukkan jari kelingking untuk merasakan apakah masih ada sisa abses

  3. Kantong abses dicuci dengan larutan garam fisiologi (NaCl 0,9%) hingga bersih

  4. Luka ditutup kasa steril





Perawatan luka traumatik

  1. Lakukan pembersihan luka dari arah dalam ke luar dengan menggunakan kasa

  2. Kenali jaringan kulit yang sehat dan yang rusak. Buang bagian kulit rusak akibat trauma dengan menggunakan pinset dan blade sehingga semua jaringan yang kotor akan terekspos

  3. Jika teridentifikasi otot dibawah kulit kotor dan terkena trauma, dapat dibuang sehingga area trauma semakin terkespos agar dapat diidentifikasi apakah terdapat benda asing

  4. Setelah semua area trauma terkespos, bersihkan dengan menggunakan kassa dari arah dalam ke luar

  5. Masukkan ujung tip spuit yang berisikan larutan garam fisiologis (NaCl 0,9%) ke area dalam luka traumatik kemudian cairan disemprotkan untuk membersihkan area luka yang telah terekspos

  6. Luka ditutup dengan kassa steril

  7. Luka ditutup kasa steril

Perawatan luka traumatik

Lakukan pembersihan luka dari arah dalam ke luar dengan menggunakan kasa

  1. Kenali jaringan kulit yang sehat dan yang rusak. Buang bagian kulit rusak akibat traumadengan menggunakan pinset dan blade sehingga semua jaringan yang kotor akan terekspos

  2. Jika teridentifikasi otot dibawah kulit kotor dan terkena trauma, dapat dibuang sehingga areatrauma semakin terkespos agar dapat diidentifikasi apakah terdapat benda asing

  3. Setelah semua area trauma terkespos, bersihkan dengan menggunakan kassa dari arah dalamke luar

  4. Masukkan ujung tip spuit yang berisikan larutan garam fisiologis (NaCl 0,9%) ke area dalam luka traumatik kemudian cairan disemprotkan untuk membersihkan area luka yang telah terekspos

  5. Luka ditutup dengan kassa steril






Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.:

  1. Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai(jika harus berurutan)

  2. Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien

PENUNTUN BELAJAR V PROSEDUR HEMOSTASIS




NAMA PESERTA: ...................................... TANGGAL: .................................


KEGIATAN

KASUS

I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF

  • Nama

  • Diagnosis

  • Informed Consent

  • Rencana Tindakan

  • Persiapan Sebelum Tindakan






II. PERSIAPAN PROSEDUR

- Memakai topi, masker, cuci tangan, baju operasi dan sarung






- Menyiapkan alat-alat steril






- Melakukan prosedur aseptik dan antiseptik pada daerah operasi dan sekitarnya






- Persiapan Sebelum Tindakan






III. PERSIAPAN PROSEDUR HEMOSTASIS

- Identifikasi pembuluh darah






- Ligation in continuity: Benang diletakkan pada 2 sisi (proksimal dan distal pembuluh darahyang akan diligasi). Dilakukan penyimpulan benang dengan reef knot pada kedua sisi tersebut, kemudian dilakukan pemotongan pembuluh darah ditengahnya






- Pedicle ligation: pembuluh darah diklem pada ujung distal dan proksimal, kemudiandilakukan pemotongan di tengahnya, dan masing-masing ujung diikat dengan simpul reef knot






- Transfixion: pembuluh darah diikat dengan menggunakan benang jarum







J. MATERI PRESENTASI


LCD 1 : Theater Etiquette









LCD 2 : Mengetahui dan mampu melakukan teknik scrubbing





LCD 3 : Mengetahui dan mampu melakukan teknik gowning dan

gloving




Teknik gloving







LCD 4 : Mengenali Instrumen bedah dan mengetahui cara pemakaian yang tepat







LCD 5 : Mengetahui dan mampu melakukan teknik menyimpul


Reef Knot

Putaran simpul pertama



4

3

2

1

Langkah-langkah :





6

5



7

Putaran simpul kedua :



2

1

Langkah-langkah :





4

3



6

5



8

7



4

3

2

1

9

Surgeon's Knot









10

9

8

7

6

5





3

2

1

14

13

12

11

Deep Tying








6

5

4





10

9

8

7



6

5

1

2

3

4

11

Instrument tie





8

7




13

11

10

9


14

12


LCD 6 : Suturing : Needle manipulation and driving, interrupted,subcuticular, vertical mattress









LCD 7 : Mengetahui dan mampu melakukan teknik insisi dan penjahitan







LCD 8: Mengetahui dan mampu melakukan perawatan luka, misal: drainaseabses, debridement luka traumatic





LCD 9 : Menguasai teknik hemostasis



LCD 10: Mengetahui penanganan cedera vaskuler (patching & anastomosis)




LCD 11: Memiliki penguasaan teknik bedah endoskopi


Sesuai dengan Modul Rinologi dan Bronkoesofagologi LCD 12. Mengetahui teknik

tendon repair



LCD 13. Mengetahui teknik end to end anastomosis





LCD 14. Mengetahui jenis dan kegunaan diathermy





K. MATERI BAKU


  1. Prosedur asepsis, antisepsis dan pencegahan infeksi


    Standar kewaspadaan infeksi diperlukan untuk mencegah dan menekan terjadinya perpindahan mikroorganisme penyebab infeksi dari pasien ke pasien, pasien ke tenaga medis dan dari tenaga medis ke pasien. Suatu proses infeksi terjadi apabila terdapat invasi dari mikroorganisme berbahaya/pathogen ke dalam tubuh yang dapat berupa bakteri, jamur, parasite, riketsia dan virus. Kejadian infeksi nosokomial di negara maju dilaporkan sekitar 5% sedangkan di Asia dan Arika mencapai 40%.

    Komponen standar kewasapdaan pencegahan infeksi yaitu:


  2. Jenis-jenis benang suture


    Terdapat dua jenis benang yaitu yang dapat diserap (absorbable) dan yang tidak dapat diserap (nonabsorbable). Benang yang dapat diserap diproses secara enzimatik dan akan menghilang dalam waktu 60 hari. Contoh dari benang yang dapat diserap ini adalah surgical gut, polyglactin (Vicryl), polydioxa-none (PDS II), glycolic acid (Maxon), dan poliglecap- rone


    25 (Monocryl). Benang yang tidak dapat diserap akan selalu menjaga kekuatan jahitan. Contoh dari benang yang tidak dapat diserap ini adalah silk, nylon, polypropylene (Prolene), dan polyester (Dacron, Ethibond). Walaupun dikatakan silk merupakan benang yang tidak dapat diserap, tetapi karena berasal dari bahan alami, suatu saat akan diserap dalam waktu yang cukup lama.1

    Benang dapat dikenali pula sebagai benang monofilamen atau benang


    braided. Benang Monofilamen terdiri dari benang tunggal dan dapat melalui jaringan dengan mudah tanpa menimbulkan trauma. Benang Braided terdiri dari beberapa jalinan benang sehingga tidak terasa licin. Kelemahan dari benang braided ini adalah kemungkinan terdapatnya mikro organisma diantara jalinan benang sehingga menyebabkan kemungkinan terjadinya infeksi. Benang memiliki ukuran tertentu, yang disimbolkan dengan 0 (nol). Semakin tinggi nomor nol, semakin kecil ukuran benang. Sebagai contoh adalah 2-0 vicryl lebih tebal dan kuat dibandingkan 4-0 vicryl.1

    Faktor penting lainnya dalam menentukan pilihan benang yang akan dipakai adalah memory, memori, elastisitas, dan reaksi jaringan. Memori adalah kemampuan benang untuk kembali kepada konfigurasi semula. Benang dengan memori yang tinggi lebih terasa licin dan membutuhkan lebih banyak simpul. Contoh benang dengan memori tinggi adalah glycolicacid (Maxon), polypropylene (Prolene), dan polydioxanone (PDS 11). Elastisitas adalah kemampuan benang untuk meregang dan kemudian kembali ke panjang semula. Elastisitas penting ketika berhadapan dengan luka yang kemungkinan besar akan terjadi edema pasca operasi. Reaksi jaringan adalah inflamasi yang timbul sebagai reaksi terhadap bahan benang. Dari penelitian ditemukan bahwa benang sintetik dan monofilamen memiliki reaksi jaringan yang lebih minimal.1


    Tabel 1 dan 2 : Material benang yang umum dipakai dalam pembedahan2


  3. Jenis-jenis cara simpul/knot


Pilar dari teknik menyimpul merupakan gabungan dari gerakan pergelangan, ibu jari dan jari lainnya.3



Gambar 1. Gabungan gerakan pergelangan, ibu jari dan jari-jari3


Terdapat 4 jenis simpul yang umum dipakai saat prosedur pembedahan yaitu:

  1. Square knot/ Reef Knot

    Reef knot dibuat dengan menyilangkan untai benang kanan di atas untai kiri pada lemparan pertama diikuti dengan untai benang kiri di atas kanan pada lemparan kedua (kanan-atas- kiri, kiri-atas-kanan). Jika simpul persegi dimulai dengan



    Gambar 2. Reef Knot


    menyilangkan untai kiri ke kanan maka harus diselesaikan dengan menyilangkan untai kanan di atas kiri. Jika tahapan ini dilakukan, maka simpul tidak akan mudah terlepas.3

  2. Surgeon's knot


    Surgeon's knot adalah simpul persegi yang terdiri dari putaran ganda pada lemparan simpul pertama. Putaran ganda membuat simpul pertama menjadi lebih sulit untuk terlepas saat untai benang diputar untuk simpul kedua.3



    Gambar 3. Surgeon's Knot


  3. Slip Knot


    Slip knot adalah simpul pseudosquare. Untaian benag saat putaran kedua menyilang dalam urutan yang sama dengan untaian putaran pertama (kanan-atas-kiri, kanan-atas-kiri). Simpul ini dapat bermanfaat pada area rongga yang dalam. Simpul ini harus diperkuat dengan Reef knot atau Aberdeen knot.3


    Gambar 4. Slip knot


  4. Aberdeen Knot


Aberdeen knot dijelaskan dengan menggunakan istilah bight dan turn. Simpul ini lebih mudah dibandingkan Reef knot atau surgeon's knot dan baik digunakan pada akhir proses jahitan.3


Gambar 5. Aberdeen knot


Jahitan diamankan dengan melakukan simpul/secure knot sebanyak >3 simpul pada benang multifilamen, dan >6 simpul pada benang monofilamen


Gambar 6. Secure knot


Jenis Teknik Jahitan


Umumnya jarum yang dipakai untuk jahitan luka berdiameter 3/8 lingkaran dan Z 3 bagian : ujung point, badan jarum dan ujung swage.4




Gambar 7. Bagian jarum jahit bedah


Badan jarum dapat berbentuk lengkung, setengah lengkung atau lurus. Pemilihan bentuk jarum disesuaikan dengan jenis jaringan, kedalaman dan aksesibilitas. Jarum yang lengkung dipegang dengan holder dan digunakan pada luka permukaan kecil dan luka jauh di dalam rongga tubuh. Jarum lurus biasanya dapat dipegang dengan tangan dan digunakan pada luka di permukaan.4



Gambar 8. Jenis-jenis jarum jahit bedah


Jarum round tapped digunakan untuk area fasia dan jaringan lunak seperti kandung kemih dan visera berongga. Jarum cutting dapat berbentuk melengkung atau lurus dan digunakan untuk jaringan padat seperti kulit dan tendon. Jarum dengan reversed cutting digunakan pada kulit. Jarum tapercut digunakan untuk prosedur pada pembuluh darah karena memiliki jarum halus yang cukup tajam untuk menembus pembuluh darah namun tidak terlalu tajam untuk merusak dinding pembuluh darah yang halus.4



Gambar 9. Jenis ujung jarum jahit bedah


Cara memasukkan jarum ke needle holder






Gambar 10. Prosedur mengeluarkan jarum, bagian dari needle holder dan cara memegang jarum


Petunjuk dalam menjahit luka5 :


  1. Ukuran jahitan cukup luas untuk memberikan kekuatan yang adekuat pada jaringan yang dijahit

  2. Berikan tekanan yang sama pada kedua untai benang sehingga simpulmenjadi cukup aman dan kuat untuk mencegah terjadi edema

  3. Pada luka yang dalam, lakukan aproksimasi jaringan lapis demi lapis karena luka akan tertutup untuk mencegah terbentuknya rongga yangdapat meningkatkan resiko infeksi



    Gambar 11. Aproksimasi luka lapis demi lapis


  4. Jarak dari kedua ujung puncture sebanding dengan kedalaman jaringan yang dijahit dan mencakup jumlah jaringan yang sama pada kedua sisijahitan.



    Gambar 12. Jarak ujung puncture jarum sebanding dengan kedalaman jahitan


  5. Jarak sejauh ¼ inchi (0,635 cm) diantara jahitan untuk menyokong kekuatan kulit.

  6. Potong ujung sisa benang setelah disimpul. Ujung dari benang silk dan material sintetik dipotong hingga 3 mm. Material yang absorbable dipotong hingga 6 mm.

  7. Bagian tubuh yang berbeda akan sembuh dalam waktu dan kecepatan yang berbeda. Luka area wajah dapat menyembuh dalam 3-5 hari, luka area kulit kepala dalam 7-10 hari, tungkai selama 10-14 hari, area sendi selama 14 hari, dan area badan selama 7-10 hari.


Semua jahitan terletak pada sudut yang tepat terhadap garis luka dalam jarakyang sama antara pinggir luka dengan jahitan untuk menyetarakan tekanan terhadap panjang luka.


Gambar 13. Jarak ujung luka dengan masing-masing ujung jahitan Jenis dari pola jahitan adalah:5



Jahitan ini tidak memiliki bekas pada bagian luar, dan untuk keamanan dapat


ditambahkan dengan plester di atas luka. Pada akhir jahatan, jarum dibawa ke arah yang berlawanan dari luka.




Gambar 18. Jahitan subkutikuler



Gambar 19. Jahitan subkutikuler menggunakan benang yang absorbable




Gambar 20. Jahitan subkutikuler menggunakan benang yang non-absorbable


Cara menggunting/melepaskan jahitan


Penting untuk diingat bahwa bagian dari jahitan yang terletak pada area permukaan kulit berpotensi untuk terinfeksi. Bagian ini tidak boleh melewati jaringan dalam ketika jahitan dilepas dan benang ditarik. Jahitan digunting tepat dibawah simpul dan benang ditarik sedemikian sehingga bagian luar/area kulit tidak melewati jaringan dalam.



Gambar 21. Cara menggunting dan menarik benang


Perawatan Penyembuhan Luka


Salah satu prinsip dasar yang terkait dengan penyembuhan luka, adalahoptimalisasi perawatan luka (gambar 16).6



Gambar 22. Prinsip perawatan luka6


  1. Irigasi


    Irigasi luka dilakukan dengan menggunakan larutan garam fisiologis. Jika terdapat eksudat pada permukaan luka, irigasi harus dilakukan. Permukaan luka ditutup dengan kain kasa lembab yang lembut, dan harus dijaga agar tidak mengganggu jaringan granulasi (Gambar 17).7

  2. Menjaga Kelembaban Bed Luka



isotonik. Perawatan luka optimal membutuhkan dressing basah yang


mendukung debridement autolitik, dan menyerap eksudat, serta melindungi kulit normal di sekitarnya.7,8

Untuk luka kering, dapat dipakai dressing hidrokoloid, seperti DuoDerm atau intrasite hidrokoloid, yang kedap oksigen, kelembaban, dan bakteri. Bahan tersebut mempertahankan lingkungan yang lembab, dan mendukung debridement autolitik. Untuk luka eksudatif, dressing serap, seperti alginat kalsium(misalnya Kaltostat dan Curasorb), dan dressing hydrofiber, misalnya Aquacel dan Aquacel-AG dapat dipakai.8



Gambar 23. Kelembaban luka penting untuk penyembuhan luka9


L. DAFTAR PUSTAKA


  1. Boland BA, Rogers E. Basic surgical principles. In Byron J. Bailey & Jonas T. Johnson Head and Neck Surgery Otolaryngology.Fifth edition. Volume two. Lippincott Williams & Wilkins. Philadelphia. 2014.p: 18-24

  2. Kantor J. Suture materials, knot tying and post operative care. In Jonathan Kantor ed. Atlas of Suturing Techniques.1st ed. McGraw Hill Education. New York. 2016. p:12-14.

  3. Giddings FD. Anatomical and surgical knot tying fundamentals.


    Surgical Knots and Suturing Techniques. 5th ed. Giddings studio publishing. Washington. 2018. p:3-5

  4. Giddings FD. Suture materials, surgical needles and forceps. Surgical Knots and Suturing Techniques. 5th ed. Giddings studio publishing. Washington. 2018. p:36-37

  5. Giddings FD. Suturing methods, suture patterns. Surgical Knots and Suturing Techniques. 5th ed. Giddings studio publishing. Washington. 2018. p:42-49

  6. Keast D, Orsted H. The Basic Principle of Wound Healing. Available from: http://cawc.net

  7. Fairview Health Services. Treating Pressure Ulcers. Fairview;2014; Availablefrom: http://www.fairview.org/about/ContactUs/index.htm2015

  8. Daley BJ. Wound Care Treatment & Management. Emedicine; 2014; Available from: http://emedicine.medscape.com/article

  9. Hollis, G. Types of Wound. 2014; Available from: http://dechra.nl/Therapy- Areas/Woundcare/Types-of-wound.aspx