KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA LEHER
2022
Tim Penyusun
Prof. dr. Bambang Hermani, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.L.F.(K)
Dr. dr. Fauziah Fardizza, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.L.F.(K), FICS
dr. Arie Cahyono, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.L.F.(K)
dr. Dian Paramita Wulandari, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.L.F.(K), M.Sc
dr. Diar Mia Ardani, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.L.F.(K), FICS
dr. Farokah, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.L.F.(K), M.Si.Med
dr. I Dewa Gede Arta Eka Putra, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.L.F.(K), FICS
dr. Kanti Yunika, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.L.F.(K), FICS
dr. Lily Setiyani, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.L.F.(K), FICS
dr. Lisa Apri Yanti, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.L.F.(K), FICS
dr. Mohammad Dwijo Murdiyo, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.L.F.(K)
dr. Novialdi, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.L.F.(K), FICS
dr. Ongka Muhammad Saifuddin, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.L.F.(K), FICS
dr. Syahrial M. Hutauruk, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.L.F.(K)
dr. Vicky Eko Nurcahyo H., Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.L.F.(K), M.Sc
KATA PENGANTAR
Assalammu’alaikum Wr.Wb.
Alhamdulillahirobbil ‘alamin, saya panjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allah swt yang senantiasa melimpahkan segala rahmat, taufik dan hidayah-Nya sehingga dapat menyelesaikan penyusun Buku Modul Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher (IK THTBKL) edisi ketiga ini.
Modul ini disusun untuk memenuhi kebutuhan peserta pendidikan dokter spesialis THTBKL yang merupakan penyempurnaan edisi kedua, pemenambahan beberapa materi sesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan serta ketrampilan baru guna meningkatlan mutu proses pendidikan dokter spesialis THTBKL di Indonesia
Selaras dengan dimulainya program fellowship serta persiapan pembukaan program pendidikan Subspesialisasi THTBKL, modul Pendidikan dokter spesialis THTBKL ini disusun agar pendidikan spesialis THTBKL terjaga menjadi satu kesatuan yang mendalam antara ketiga program pendidikan tersebut. Selain itu Buku Modul ini dapat menjadi pedoman untuk melaksanakan pendidikan secara terstruktur dan berkualitas, dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, monitoring hingga proses evaluasi secara berkesinambungan. Hal tersebut bertujuan agar lulusan peserta program studi IK THTBKL mempunyai kompetensi akademik dan kompetensi profesional unggul seiring berkembangnya jaman.
Pada era baru ini para lulusan Dokter Spesialis THTBKL diharapkan memiliki kemampuan akademik professional bertaraf internasional, inovatif dan tangguh yang mampu berkiprah secara global sesuai Visi dan Misi Pendidikan Spesialis THTBKL. Semoga dengan terbitnya Buku Modul ketiga ini program pendidikan dokter spesialis THTBKL semakin maju dan menghasilkan pencapaian lulusan yang unggul, kompeten dan berkualitas.
Apresiasi kami yang setinggi-tingginya kepada seluruh teman sejawat, Profesor Dokter, atas komitmen, dedikasi, serta pemikiran dan waktu yang telah diberikan terutama dalam suasana pandemi Covid-19. Keterbatasan jarak dan keadaan Pandemi telah membuka peluang pengembangan komunikasi, diskusi dan ujicoba modul ketiga, secara digital (TIK), sehingga kita dapat berkoordinasi, produktif menyelesaikan buku modul Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala dan Leher edisi ketiga ini.
Semoga modul ini dapat bermanfaat bagi kita semua, khususnya para peserta didik dan semua yang kita lakukan selalu mendapat ridha Allah SWT.
Wassalammu’alaikum Wr.Wb.
Ketua Umum Kolegium IK THTBKL Indonesia
Dr. dr. Trimartani, Sp T.H.T.B.K.L., F.P.R(K)., MARS
IV. LARING-FARING | |
IV.1 | FARINGITIS |
IV.2 | LARINGITIS |
IV.3 PERADANGAN RONGGA MULUT | |
IV.3.1 | INFEKSI OTONDENTIK |
IV.3.2 | MUKOSITIS |
IV.3.3 | STOMATITIS |
IV.4 | TONSILITIS |
IV.5 PENYAKIT KELENJAR LUDAH | |
IV.5.1 | SIALOLITIASIS |
IV.5.2 | SIALODENITIS |
IV.5.3 | PAROTITIS |
IV.6 | DISFONI/VOICE DISORDER |
IV.7 | REFLUKS LARINGO-FAARING |
IV.8 | OBSTRUCTIVE SLEEP APNEA SYNDROME |
IV.9 | LESI NON NEOPLASTIK LARING |
IV.10 | NEOPLASMA JINAK LARING |
IV.11 | NEOPLASMA GANAS LARING |
IV.12 | TRAUMA LEHER |
IV.13 | SUMBATAN JALAN NAFAS ATAS |
IV.14 | ABSES RUANG LEHER DALAM |
IV.15 | KELAINAN KONGENITAL LARING |
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
WAKTU 1
PERSIAPAN SESI 1
REFERENSI 1
KOMPETENSI 1
GAMBARAN UMUM 2
CONTOH KASUS 2
TUJUAN PEMBELAJARAN 2
METODE PEMBELAJARAN 2
EVALUASI 3
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF 4
MATERI PRESENTASI 5
MATERI BAKU 5
MODUL IV.1
LARING-FARING : FARINGITIS
WAKTU
Proses Pengembangkan Kompetensi | Alokasi Waktu : |
Sesi di dalam kelas Sesi Pratikum Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi | 5 X 60 menit (classroom session) 1 X 60 menit (coaching session) 27 X 60 menit (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi presentasi: Faringitis
Slide 1 : Anatomi dan Fisiologi faring
Slide 2 : Klasifikasi Faringitis
Slide 3 : Faringitis Virus
Slide 4 : Faringitis Bakteri
Slide 5 : Faringitis Jamur
Slide 6 : Faringitis Granulomatous
Slide 7 : Faringitis Penyebab Lain
Kasus :
Seorang laki-laki, 16 tahun dikonsulkan dari klinik ODHA datang ke poliklinik THT-KL dengan keluhan rasa terbakar dan nyeri tenggorokan, kadang disertai demam. Pemeriksaan fisik: tampak pseudomembran putih pada dinding posterior orofaring. Lab: Apus tenggorok KOH tampak hifa, CD4 < 200 sel/µL
Sarana dan Alat Bantu Latih :
Penuntun belajar (learning guide) terlampir
Tempat belajar (training setting): bangsal THT, Poliklinik THT, kamar operasi, bangsal perawatan pasca bedah THT.
REFERENSI
Alper C., Myers E N., Eibling., Decicion Making In Ear, Nose, and Throat Disorders, Saunders Company, 152-153., 2001
Bailey BJ., Johnson JT. Pharyngitis, 601-613., 2006
Becker W., Nauman H H., Pfaltz R C., Ear, Nose, and Throat Diseases, Thieme, 299-387., 1194
KOMPETENSI
Kompetensi Umum
Mampu membuat diagnosa dan melakukan tatalaksana faringitis
Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini, peserta diharapkan terampil :
Mengenali gejala dan tanda faringitis
Melakukan anamnesis dan pemeriksaan tentang faringitis
Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang seperti kultur & test resistensi apus tenggorok, lab daerah dan ASTO
Membuat keputusan klinik untuk pemberian antibiotik yang tepat serta keputusan tonsilektomi.
GAMBARAN UMUM
Faring merupakan bagian dari saluran nafas dan pencernaan. Diagnosis berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan klinis dan umumnya mengalami perbaikan setelah pemberian antibiotika atau pengobatan simptomatis. Fungsi faring terutama untuk pernapasan, penelanan, resonansi suara dan artikulasi. Disebabkan oleh banyak faktor seperti infeksi bakteri, virus dan jamur, granulomatous, penyebab lain seperti LPR.
CONTOH KASUS
Seorang laki-laki, 16 tahun dikonsulkan dari klinik ODHA datang ke poliklinik THT-KL dengan keluhan rasa terbakar dan nyeri tenggorokan, kadang disertai demam. Pemeriksaan fisik: tampak pseudomembran putih pada dinding posterior orofaring. Lab: Apus tenggorok KOH tampak hifa, CD4 < 200 sel/µL.
Diskusi :
Jenis-jenis penyebab faringitis (infeksi oportunistik)
Penatalaksanaan faringitis jamur candida
TUJUAN PEMBELAJARAN
Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan menatalaksana faringitis seperti yang telah disebutkan diatas, yaitu :
Menjelaskan anatomi, topografi, histologi, fisiologi dari faring.
Menjelaskan anamnesis dan pemeriksaan faring.
Menjelaskan etiologi, patofisiologi, dan gambaran klinik faringitis.
Melakukan work-up penderita faringitis yang meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang seperti kultur & test resistensi apus tenggorok, lab darah dan ASTO
Membuat keputusan klinik untuk pemberian antibiotik yang tepat
Menentukan prognostik
METODE PEMBELAJARAN
Interactive lecture
Small group discussion.
Peer assisted learning (PAL).
Bedside teaching.
Task based medical education.
Journal reading and review.
Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).
Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients.
Continuing Professional Development
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan, yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pre-test terdiri atas :
Anatomi, fisiologi dan patologi faring.
Penegakan diagnosis.
Komplikasi dan penanganannya.
Follow up.
Selanjutnya dilakukan small group discussion bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian.
Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk role-play dengan teman-temannya (peer assisted learning) atau kepada SP (standardized patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (peer assited evaluation). Setelah dianggap memadai, melalui metode bedside teaching di bawah pengawasan fasilitator, peserta didik mengaplikasikan penuntun belajar pada nodel anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan, evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation) dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut :
Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan.
Cukup : pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terlalu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien
Baik : pelaksanaan benar dan baik (efisien)
Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
Self assessment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar.
Pendidik/ fasilitas
Pengamatn langsung dengan memakai evaluation checklist form
(terlampir).
Penjelasan lisan dari peserta didik/diskusi.
Kriteria penilaian keseluruhan : cakap/ tidak cakap/ lalai.
Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical educcation).
Pencapaian pembelajaran :
Ujian OSCE
Ujian akhir divisi
Ujian akhir kognitif
Ujian akhir profesi
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Kuesioner Sebelum Pembelajaran
Seorang laki laki 25 tahun bekerja sebagai pelaut, datang ke dokter tht dengan keluhan odinofagi yang dialami sejak lama hilang timbul, dari pemeriksaan fisis ditemukan pembesaran tonsil dan adenopati cervical.
Pemeriksaan penunjang yang tepat dapat dilakukan pada kasus tersebut diatas?
Kultur faring
Faringoskop
Laringoskop indirek
Fleksible endoskopik
Semua diatas benar Jawaban : A
Diagnosa dari kasus tersebut diatas ?
Faringitis streptococcus
Faringitis gonococcus
Faringitis bacterioides
Haemofilus faringitis
Faringitis staphylococcus Jawaban : B
Terapi yang tepat untuk diagnosa tersebut diatas ?
Antibiotik
Antivirus
Antiinflamasi
Terapi local (kaustik)
Semua diatas benar Jawaban : A
Pemeriksaan penunjang untuk mengetahui faringitis yang disebabkan oleh GERD?
Kultur faring
Faringoskop
Fleksible endoskop
pH 24-hour esophageal
Esofagoskop Jawaban : D
Terapi yang tepat pada penderita faringitis akibat jamur yaitu?
Kortikosteroid
Antibiotik
Anti jamur sistemik (oral)
Antijamur lokal ( nistatin drops)
Semua diatas benar Jawaban : D
MATERI PRESENTASI
Ruang Lingkup
Anatomi dan Fisiologi faring
Klasifikasi Faringitis
Faringitis Virus
Faringitis Bakteri
Faringitis Jamur
Faringitis Granulomatous
Faringitis Penyebab Lain
MATERI BAKU
Faringitis
Faringitis adalah proses infeksi pada mukosa dan submukosa dari faring. Jaringan yang berpengaruh antara lain orofaring, nasofaring, hypofaring, tonsil. Penyebab faringitis antara lain infeksi, kongenital dan neoplasma.
Diagnosis berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan klinis dan umumnya mengalami perbaikan setelah pemberian antibiotika atau pengobatan simtomatis, kecuali terjadi pada infeksi yang disebabkan oleh kuman oportunis atau neoplasma. Komplikasi yang penting pada faringitis yaitu sepsis, perdarahan dan obstruksi saluran nafas.
Anatomi
Faring merupakan bagian dari saluran nafas dan pencernaan. Terbentuk dari endodermal foregut primitif dan mempunyai panjang 12 – 14 cm. Faring berbentuk seperti tabung musculomembraneus mulai dari dasar tengkorak dan belakang dari mulut dan hidung setingkat vertebra cervical 6 sampai esophagus. Mukosa bagian atas berupa epitel pseudostratified bersilia dan bagian bawah berupa epitel squameus.
Di belakang mukosa dinding belakang faring terdapat dasar tulang sphenoid dan dasar tulang oksiput sebelah atas, kemudian bagian depan tulang atas dan sumbu badan, dan vertebra servikalis. Nasofaring membuka kearah depan ke hidung melalui koana posterior. Superior, adenoid terletak di atap nasofaring. Muskulus tensor vili palatini merupakan otot yang menegangkan palatum dan membuka tuba eustachii, masuk ke faring melalui ruangan ini. Otot ini membentuk tendon yang melekat sekitar humulus tulang untuk memasuki palatum mole. Otot tensor vili palatini dipersyarafi oleh syaraf mandibularis melalui ganglion optic.
Faring dibagi 3 bagian yaitu: nasofaring, orofaring, hypofaring atau laryngofaring. Bagian atas berhubungan dengan hidung melalui choana, muara tuba eustachii terletak di dinding posterolateral dan dibawah choana. Palatum molle memisahkan nasofaring dan orofaring. Hyphofaring melalui dasar lidah dan meluas sampai bagian bawah cartilago cricoid. Faring terletak didepan, ephiglotis pada dasar lidah, terletak ditengah dan lateral glossoepiglotik fold.
Otot pada faring saling overlaping diatas, ditengah dan bawah. Muskulus konstriktor quadrilateral superior faringeal mulai dari prossesus pterigoid bagian caudal, ramus pterigomandibula, bagian posterior dari garis tengah mandibular myelohyoid, dan dasar lidah. Serabut ini melekat pada muskulus pterigofaringeal, buccofaringeal, myelofaringeal dan glossofaringeal. Fossa Rossenmuller terletak datas bersebelahan dengan muara tuba eustachii di nasofaring. Muskulus konstriktor inferior dari permukaan lateral kartilago tyroid dan cricoid. Serabut dari kartilago tiroid ke dinding poterior faring membentuk muskulus thyrofaringeus, dan dari kartilago cricoid ke dinding faring menjadi muskulus cricofaringeus. Bagian atas muskulus konstriktor inferior bagian posterior overlaping dengan serabut muskulus konstriktor bagian bawah.Tiga muskulus tambahan membujur secara miring ke dalam dinding faring yaitu muskulus palatofaringeus, salphingofaringeus dan stylofaringeus. Certain planes ada dibelakang dan lateral dari muskulus faringeal.
Fascia Buccofaringeal bagian dalam menutupi muskulus faringeal. Muskulus faringeal teroisah dari fascia prevertebra oleh jaringan ikat membentuk retrofaringeal space, yang tertutup oleh parotid sheats. Dilateral faring membentuk parafaringeal space yang meluas keatas sampai dasar tengkorak dan batas bawah setingkat os hyoid dengan glandula submandibuler dan stylohyoid dan muskulus digastrikusposterior.
Arteri faring dari cabang mayor arteri carotis eksterna. Termasuk arteri faringeal ascending cabang dari arteri lingua, tonsiler cabang dari arteri fascialis, dan palatum cabang dari arteri maksillary. Vena faring bagian atas berhubungan dengan pleksus pterigoideus dan pleksus vertebra, bagian inferior berhubungan dengan vena jugularis interna.
Muskulus styloglosus mendapat inervasi dari nervus glossofaringeal, muskulus faringeal mendapat inervasi dari nervus phagus cabang pleksus faringeal.
Kelenjar limfatik dari nasofaring ke l.n retropharyng kemudian l.n faring lateralis menuju l.n yugularis. Orofaring ke l.n retrofaring dan l.n cervicalis superior menuju l.n yugularis. Hipofaring ke retrofaring dan l.n faringeal lateralis, l.n cervicalis dan nodus yugularis
Fisiologi Faring
Fungsi faring terutama untuk pernapasan, penelanan, resonansi suara dan artikulasi.
Proses penelanan dibagi menjadi 3 tahap. Pertama gerakan makanan dari mulut ke faring secara volunter. Tahap kedua transport makanan melalui faring dan tahap ketiga jalannya bolus melalui esophagus keduanya secara involunter. Langkah yang sebenarnya adalah pengunyahan makanan dilakukan pada sepertiga tengah lidah. Elevasi lidah dan palatum mole mendorong bolus ke orofaring. Otot suprahioid berkonstraksi, elevasi tulang hioid dan laring dengan
demikian membuka hipofaring dan sinus piriphormis. Secara bersamaan otot laringitis instrinstik berkontraksi dalam gerakan seperti sfingter untuk mencegah aspirasi. Gerakan yang kuat dari lidah bagian belakang akan mendorong makanan kebawah melalui orofaring, gerakan dibantu oleh konstraksi otot konstriktor faring media dan superior. Bolus dibawa melalui introitus esophagus ketika otot konstriktor faring inferior berkontraksi dan otot krikofaringeus berelaksasi. Peristaltik dibantu oleh gaya berat, menggerakkan makanan melalui esophagus dan masuk ke lambung.
Infeksi Penyebab Faringitis
Infeksi Oleh Karena Bakteri
Streptococcus
Merupakan bakteri yang paling sering terutama pada anak-anak yaitu Streptokokkus B hemoliticus ( Streptokokkus pyogenes ).
Kuman penyebab lain antara lain :
Streptokokkus Pneumoniae
Streprokokkus kelompok C
Masa inkubasi untuk Streptokokkus B hemolitikus adalah 12 jam sampai 4
hari. Faringotonsilitis oleh karena bakteri ini jarang ditemukan pada bayi. Insiden puncak umur 5 – 15 tahun.
Gejala Klinik :
Sakit tenggorok
Sulit menelan
Demam
Rhinorea dan batuk umumnya tidak terdapat pada infeksi ini. Tampak Limphadenophati Cervical.
Komplikasi yang serius adalah demam rematik Komplikasi nonsupuratif glomerulonephritis, rhamatoid fever, grisel sindrom, subluxatio atlantoaxial joint sampai proses inflamasi pada kepala dan leher. Komplikasi supurasi adalah otitis media dan sinusitis akut.
Diagnosis untuk penyakit ini yang paling sederhana dengan swab kultur dari faring. Secara konvensional kultur memakai darah reguler pada media
agar. Pemeriksaan lain dengan :
Immunoessay mempunyai kepekaan dan spesifitas yang baik
Kultur
Test rapid
Penatalaksanaan :
Pemberian Penisillin atau amoxillin baik oral atau i.v . Bila alergi penicillin bisa diberikan eritromicin dan cephalosporin.
Staphylokokkus
Terutama Staphilokokkus Aureus atau Staphilokokkus Salivarius. Gejala klinik yang sering timbul adalah eritem dan edem. Terapi dengan Antibiotika seperti penicillin, eritromisin atau cephalosporin sesuai hasil kultur dan sensitivitas.
Diphteri
Penyebab utama Corynebacterium Diphteriae merupakan kuman gram positif. Masa inkubasi 2 – hari, exotoxins yang diproduksi menyebabkan jaringan nekrosis dan inflamasi. Penyakit ini sering ditemukan pada anak-anak dibawah usia 10 tahun.
Diphteroid masuk melalui mulut dan hidung kemudian dilokalisir di mukosal permukaan respiratorius bagian atas. Tampak pseudomembran warna abu-abu yang menempel kuat pada dasar jaringan. Perluasan selaput sampai nasofaring atau laryng menyebabkan ketidakmampuan untuk membersihkan sekret dan obstruksi saluran nafas. Toksin bisa masuk pembuluh darah dan saluran limfe, terutama jika tonsil terkena infeksi, sehingga akan menyebabkan sistem respirasi dan vaskularisasi kolap (Infark Miokardial ). Terapi spesifik adalah pemberian antitoksin. Antibiotika diberikan sebagai terapi adjuvan dengan pemberian terapi asimptomatik.
Pertusis
Etiologi Bordetella Pertussis, merupakan penyakit akut pada anak-anak.
Gejala klinik : batuk dengan inspiratory yang nyaring atau batuk rejan. Masuk ke host melalui inhalasi .
Masa inkubasi kira-kira 1 minggu. Ada 3 stadium :
Stadium Cattarhal: Selama 1 -2 minggu
Tanda: demam ringan dan gejala yang berhubungan dengan saluran nafas.
Stadium Paroximal: Batuk khas, tidak ada demam
Organisma menghasilkan endotoksin dan agglutinogen pada epitel kolumner bersilia sehingga akan terjadi proliferasi.
Organisma berada pada superfisial epitel sehingga terjadi nekrosisepitel yang ditandai dengan eksudat yang mukopurulent.
Berlangsung: 2 – 4 minggu
Masa konvalesen : antara 1 – 2 minggu
Terapi: self-limiting dan kematian jarang terjadi
Gonorrhea
Etiologi Neisseria Gonorrhoeae, suatu bekteri gram negatif Pyogenic Diplococcus. Organisme menginfeksi mukosa dan kelenjar sehingga menyebabkan ulcerasi epitel dan infiltrat lekosit polimorphonuclear . Biasanya asimptomatik, tetapi kadang-kadang faring tampak sakit.
Tampak: Tonsil hipertrofi dan adenopathy cervical.
Penatalaksanaan dengan penisillin, tetrasiklin, cephalosporin atau kuinolon berdasarkan sensitivitas dan kultur test.
Siphilis
Suatu penyakit kelamin sistemik yang bermanifestasi klinik di kepala dan leher. Etiologi oleh Treponema Pallidum. Masa inkubasi bervariasi dari 3 – 90 hari (rata-rata 3 minggu)
Stadium Siphilis :
1 . Primer
Papula yang kemudian menjadi ulkus dengan tepi mengalami indurasi.
Mikroskopis: infiltrasi dan inflamasi terdiri sel plasma histiocyt, limphosit dan polimorphonuklear leukosit.
Umumnya sembuh spontan dalam 3 – 6 minggu.
Sekunder
Tampak faringotonsilitis.
Mukosa mengalami erosi yang tidak sakit, dangkal dengan warna keabu-abuan dengan tepi warna merah.
Sangat menular apabila tidak diobati sepertiga akan sembuh sempurna, sepertiga menjadi carrier dan sepertiga lagi ke stadium tertier.
Tersier
Berkembang beberapa tahun sejak infeksi awal
Terjadi secara pelan-pelan dan progresif
Umumnya sistem syaraf dan aorta terkena
Tampak adanya gumma yang menggambarkan proses granulomatosus pada tepinya dikelilingi polisading machrophage dan fibroblast.
Test serologik pada siphilis ada 2 yaitu:
Nonspesifik Nontreponemal Antibody test
Murah, cepat dan bisa mengetahui adanya aktivitas penyakit
Dengan test Veneral Desease Reseach Laboratory (VDRL)
Modifikasi dari VDRL adalah Test Rapid Plasma Reagin
VDRL dan Rapid Plasma test bisa untuk skrening
Sangat sensitit pada stadium sekunder kira-kira 99 % positif
Spesifik Treponemal Antibody test
Adalah FTA-ABS Test
Bisa dipakai untuk diagnosis dan prognosis karena sangat sensitif False positif pada test serologi oleh karena suatu infeksi yang sangat cepat dan noninfeksius, umumnya terjadi pada Nontreponemal Antibody test. Terapi: dosis tunggal penisilin. Bila alergi dengan penisillin maka tetrasiklin atau erytromysin dapat digunakan.
Infeksi Oleh Karena Virus
Virus merupakan penyebab yang paling umum pada faringitis. Pada beberapa kasus tampak oedem dan eritema. Penatalaksanaan umumnya simptomatis
Herpes Simplex Virus
Herpes Simplek Virus mempunyai 2 subtype:
Tipe 1 ( pada umumnya oral )
Tipe 2 ( pada umumnya genital )
Infeksi pada traktus aerodigestive atas bisa terjadi baik primer ataupun rekuren
Infeksi primer paling sering sebagai ginggivostomatitis atau faringitis akut
Mempunyai kecenderungan menginfeksi sel di ektoderm asal, pada umumnya didalam selaput lendir atau kulit
Paling sering terladi pada anak umur 10 bulan sampai 3 tahun
Gambaran klinik pada remaja dapat berupa faringitis eksudatif akut sedang pada orang dewasa terlihat sebagai faringitis streptococcal atau influenza.
Penularan: melalui air liur atau ingus, infeksi kuku atau mengisap ibu jari
Masa inkubasi pendek antara 2 – 12 hari
Gejala klinik:
Rasa tidak enak pada badan, demam
Sakit tenggorok
Tampak lesi vasikuler yang mudah berdarah pada faring atau tampak ulkus pada tonsil yang tertutup suatu eksudat berwarna kelabu
Pembesaran dan rasa sakit pada limphonodi cervikalis
Kondisi-kondisi yang mempengaruhi terjadinya Herpes simplek virus antara lain : Infeksi neonatal, immunodefisiensi, kurang gizi, terapi immunosupresi, kehamilan, luka bakar, trauma, kelainan kulit (seperti dermatitis atopik, impetigo bullosa dan phemphigus), sarcoidosis.
Histopatologi : permukaan mukosa mengalami ulserasi dengan sel raksasa multinukleated dan intranuklear.
Diagnosis: Test Enzymelinked immunosorbent assay (ELISA), test radiometrik
Biasanya self limited deseas
Terapi untuk menghilangkan gejala yang timbul dan Acyclovir dipakai untuk menghambat replikasi virus nucleic acid
Campak
Rubela atau campak suatu morbillivirus yang sangat menular
Gejala klinik: panas tinggi, coryza dan conjunctivitis, buccal mukosa tampak lesi exanthematous ( koplik nods ), hiperplasia limphoretikuler,
ruam erithematous pada kulit.
Penatalaksanaan : simptomatis dan umumnya self-limited
Epstein Barr Virus
Sering berhubungan dengan carcinoma nasofaring dan limphoma burkit
Diperkirakan 80 – 90 % berhubungan dengan mononukleosis
EBV yang berhubungan dengan mononukleosis menyerupai faringotonsilitis akut
Gejala: sakit tenggorok, demam dan rasa tidak enak badan
Tampak eksudat pada faring maupun tonsil, limphadenopati cervical
Diagnosis: dari gejala klinik dan pemeriksaan laboratorium
Gejala klinik akan mengalami resolusi setelah beberapa bulan
Terapi: suportif antara lain istirahat dan minum yang banyak
Cytomegalovirus
Bisa kongenital atau akuisita
Infeksi biasanya asimptomatis kecuali pasien dengan immunokompresi
Infeksi bisa melalui air susu ibu, kontak dengan air liur, semen
Virus dapat dideteksi melalui isolasi kuman virus, serologi atau PCR
Beda dengan EBV mononukleosis pada cytomegalovirus tidak terlihat gejala faringitis dan heterophile antibodi negatif
Human Immunodeficiency Virus Tipe I
Akhir-akhir ini terjadi peningkatan pasien yang terinfeksi oleh HIV tipe 1, terutama bersama dengan Immunodeficiency sindrom (AIDS)
Gejala klinis: sakit tenggorok, demam, malaise, myalgia, arthralgia,
photophobia, lymphadenophati dan ruam makulopapular
Diagnosis: Analisa PCR dan Immunohistochemical
Infeksi Jamur
Infeksi oleh karena jamur atau parasit umumnya tidak menimbulkan gejala kecuali pasien dengan immunosupresi atau pasien dengan kondisi lemah yang kronis. Kalau terjadi infeksi maka menimbulkan penyakit sistemis dan akan menyebabkan kematian. Terutama terjadi pada pasien kanker, pasien yang mengalami pencakokan organ, mengalami perawatan dengan agen immunosupresi dan penderita AIDS.
Infeksi Candida
Merupakan penyebab faringitis jamur yang tersering
Candida merupakan flora normal di mulut tetapi jika sistem immun
terganggu dapat menginvasi mukosa sehingga menimbulkan sakit atau disphagia
Terutama terjadi pada pasien HIV-positif dan setelah radioterapi kanker leher dan kepala
Mukosa tampak mengalami perlukaan dengan warna keabuan
Identifikasi jamur dengan: pengecatan gram Noda atau acid-Schiff noda berkala, kultur dengan agar Sabauraud
Histologi: tampak pseudohifa yang saling berhubungan, infiltrasi sel-sel
radang
Penatalaksanaan: pemberian nystatin pada rongga mulut atau faring, ketoconazol oral atau fluconazol
Pencegahan pada pasien dengan HIV-positif dengan fluconazol oral sangat
efektif
Bila terjadi peradangan diberi antibiotik Amphetericin B
Deep-seated Mycosis
Jamur lain yang menyebabkan faringitis antara lain: Cryptococcus neoformans, Rhinosporidiosis seeberi, Histoplasma capsulatum, Blastomyces dermatitidis dan Paracoccidioides brasiliensis
Granulomatous Penyebab Faringitis
Granuloma adalah suatu infeksi kronis yang digambarkan dengan perubahan machrophage (epithelioid histiocytes), dengan adanya sel raksasa dan fibroblast. Peradangan granulomatous biasanya berhubungan dengan infeksi bakteri, mycobacteria, jamur, siphilis, benalu, sarcoidosis, Wegener Granulomatosis dan keganasan.
Mycobacterium Tuberculosa
Di Amerika Serikat, granulomatous berhubungan dengan Mycobacterium Tuberkulisa. Micobacterial faringotonsilitis dapat terjadi oleh karena dahak dari paru-paru yang mengalami infeksi. Penyakit ini terutama terjadi pasien dengan sosial ekonomi rendah.
Gejala Klinik: Sakit tenggorok, hidung tersumbat, lymphadenophati cervical, dan gejela yang berhubungan dengan paru-paru
Lepra
Oleh karena Mycobacterium Leprae
Faring mengalami infeksi setelah rongga hidung terinfeksi
Digolongkan: tipe Lepramatous dan Tuberculoid
Untuk mengetahui pasien Lepra tipe Tuberculoid dengan Mitsuda test
positif diameter > 5 mm (Reaksi Lepromin sebagai area indurasi dimana respon yang paling cepat timbul pada 48 jam dan respon lambat pada 3 – 4 minggu)
Tipe Lepramatous: Mitsuda test lemah atau negatif ( 0 – 2 mm ),
boderline ( 3 – 5 mm )
Gambaran histopatologik Tuberculoid : noncaseasing granulomatous dengan atau tanpa sel raksasa
Gambaran histopatologik Lepromatous: ada perkembangbiakan
machrophages yang berisi bacilli, tetapi tidak ada bentuk granulomatpus
Penatalaksanaan: pemberian Dapsone, clofazimin dan rifampisin
Penyebab Lain Faringitis
Faringitis Radiasi
Radiasi dapat menyebabkan atropi pada mukosa mulut dan faring.
Dosis radiasi yang sering menimbulkan atropi adalah 16 – 22cGy
Radiasi dapat menimbulkan produksi air liur menurun sehingga mudah terjadi superinfeksi oleh karena bakteri atau jamur.
Faringitis radiasi tidak mungkin dicegah oleh karena merupakan efek samping yang timbul pada radiasi
Penatalaksanaan: secara simptomatik dengan pemberian Sucralfat, diphenhidramin, antibacterial agent dan corticosteroid topical
Meningkatkan aliran ludah: pemberian Pilocarpine baik selama atau sesudah radiasi
Perawatan spesifik superinfeksi dengan Antifungal topikal (nystatin) atau antifungal sistemik atau antibiotik
Steven-Johnson Sindrom
Terutama terjadi pada anak-anak dan dewasa muda, pria lebih banyak dari perempuan
Etiologi tidak diketahui, biasanya mengikuti suatu infeksi infeksi pernapasan bagian atas atau penggunaan obat tertentu seperti
Sulfonamides, Anticonvulsan dan obat tidur
Tampak gambaran erythematous vasculer dan bullaa terutama di daerah mukosa mulut, faring dengan laring
Bulla bisa mengalami ulserasi sehingga menimbulkan perdarahan dan terbentuknya krusta
Biasanya self limited dengan lesi kulit yang membaik kira-kira 4 minggu
Penatalaksanaan biasanya simptomatis dengan memperhatikan keseimbangan cairan dan keseimbangan elektrolit baik fase akut atau
dengan infeksi sekunder
Pemphigus
Merupakan infeksi autoimmun tetapi jarang terjadi terutama mengenai kulit dan membran mukosa
Tidak ada perbedaan laki-laki dan perempuan umumnya terjadi pada
pasien diatas 30 tahun
Pada daerah yang terkena tampak adanya vesikel dan bula
Yang terjadi di faring antara lain: phemphigus vulgaris, phemphigus foliaceus, phemphigus erythematous, drug-induse phemphigus
P Vulgaris: tampak vesikel dan bula yang sering mengalami erosi sehingga sering menimbulkan sakit waktu makan atau menelan, produksi
saliva akan meningkat.
Infeksi sekunder akan timbul pada oral higiene yang buruk
Nikolsky sign pada umumnya negatif
Histopathologi : jaringan yang terkena berisi vesikel intraephitelial atau
bullae yang menimbulkan robekan pada suprabasiler, Prevesiculer odem dan intercelluler bride menghasilkan acantholysis. Perubahan ini mengakibatkan perubahan sel epitel (Tzanck sel) mengambang di dalam vesiculer. Pada sel nukleus membesar dan hiperchromasia, banyak pengandung lekosit polimhorphonuklear dan limfosit.
Penatalaksanaan : Steroid, pemberian immunosupresi dan antibiotika bila
terjadi infeksi sekunder.
Reflux Faringitis
Gastroeshophageal reflux disease (GERD) merupakan salah satu penyebab faringitis dan laringitis
Gejala klinik: serak, sakit tenggorok, batuk kronis, globus faringeus,
disphagia, nafas bau, dingin tetapi perut tidak terasa nyeri atau panas.
Pada faring sering tampak erytema ringan dan cobblestoning, arythenoid eritema
Diagnosis test: pH 24-hour esophageal tetapi test ini invasif dan mehal
Penatalaksanaan : memperbaiki gaya hidup dan aturan makan, pemberian histamin-2
Pfapa
Suatu sindrom dengan gejala klinik: Panas berkala (sampai 40,5oC), aphtous stomatitis, faringitis dan cervical adenitis
Terutama terjadi pada anak-anak sekitar umur 3 tahun
Etiologi tidak diketahui
Penatalaksanaan : corticosteroid, cimetidine serta tonsilektomi
Faringitis Idiopathic
Faktor predisposisi: post nasal drip dan refluk asam lambung, minum alkohol, merokok, makanan panas dan pedas
Penyebab lain pemberian spray tenggorok yang berisi obat desinfektan dan astrigent, cairan yang bersifat saline, trauma,penggunaan obat bius, faktor
psikis dan emosional
Penatalaksanaan sukar, pendekatan psikologis dan pemberian obat simptomatis perlu dipikirkan
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
WAKTU 1
PERSIAPAN SESI 1
REFERENSI 1
KOMPETENSI 2
GAMBARAN UMUM 2
CONTOH KASUS 2
TUJUAN PEMBELAJARAN 2
METODA PEMBELAJARAN 3
EVALUASI 3
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF 4
INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR 5
DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA 6
MATERI PRESENTASI 7
MATERI BAKU 7
MODUL IV.2
LARING-FARING : LARINGITIS
WAKTU
Proses Pengembangkan Kompetensi | Alokasi Waktu : |
Sesi di dalam kelas Sesi Pratikum Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi | 6 X 60 menit (classroom session) 2 X 60 menit (coaching session) 31 Jam (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi presentasi: Laringitis
Slide 1: Gejala Laringitis
Slide 2: Anamnesis Dan Pemeriksaan Laringitis
Slide 3: Pemeriksaan Penunjang Diagnostik
Slide 4: Faktor Risiko Laringitis
Slide 5: Clinical Decision Making Dan Medikamentosa
Kasus
Sarana dan Alat Bantu Latih
Model anatomi laring, set pemeriksaan laring
Penuntun belajar (learning guide) terlampir
Tempat belajar: poliklinik THT, bangsal THT, ruang kuliah
REFERENSI
Sasaki CT, Kim YH. Anatomy and physiology of the larynx. Dalam: Ballenger JJ, Snow JB. Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. Edisi ke-16. London. Hamilton, 2003; h.1090-107
Silica L. Voice: Anatomy, Physiology and Clinical Evaluation. Dalam: Bailey JB, Johnson JT. Head and Neck Surgery-Otolaryngology. Edisi ke-5. Edisi ke-5. Philadelphia: Lippincott Williams and Wilkins; 2014.h.945-954
Derkay CS, Gallagher TQ. Infectious and Inflammatory Disorders of the Larynx and Trachea. Dalam: Wackym PA, Snow JB. Ballenger’s Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. Edisi ke-18. USA: People’s Medical Publishing House, 2016; h.1025-1033.
Villari CR, Statham MM. Infection, Infiltration and Benign Neoplasms of the Larynx. Dalam: Johnson JT, Rosen CA. Bailey’s Head and Neck Surgery Otolaryngology. Edisi ke-5. Philadelphia: Lippincott Williams and Wilkins; 2014.
h. 978-983.
Dhingra PL, Dhingra S. Disease of Ear Nose and Throat & Head Neck Surgery. Edisi ke 6. India: Elsevier; 2014. h. 289-294.
Probst R, Grevers G, Iro H. Basic Otorhinolaryngology A Step-By-Step Learning Guide. Edisi ke 2. New York: Thieme. 2006. h. 357-361.
KOMPETENSI
Kompetensi Umum:
Mampu mendiagnosis dan melakukan tatalaksana laringitis
Kompetensi Khusus :
Setelah Mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil:
Mengenali gejala dan tanda laringitis
Melakukan anamnesis dan pemeriksaan laring
Mengenali faktor risiko kejadian laringitis
Membuat keputusan klinik serta melakukan tatalaksana
Deteksi dini dan melakukan tatalaksana terhadap masalah atau penyulit yang mungkin terjadi pada laringitis.
GAMBARAN UMUM
Modul ini disusun untuk proses pembelajaran bagi pengenalan dan penatalaksanaan laringitis melalui sesi pembelajaran di dalam kelas, bimbingan oleh instruktur dan praktik klinik yang terkait dengan laringitis sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dalam waktu yang telah dialokasikan dan kompetensi yang diperoleh adalah sesuai yang diinginkan.
Laring adalah organ yang komplek yang secara fisiologis berperan dalam proteksi jalan napas, respirasi maupun fonasi. Laringitis adalah peradangan pada laring yang dapat disebabkan oleh virus, bakteri atau jamur. Laringitis merupakan salah satu kelainan patologi yang paling sering terjadi pada laring dan dapat mengenai semua kelompok usia. Gambaran klinis dapat bervariasi dari suara parau, gangguan menelan hingga obstruksi pada jalan nafas atas.
CONTOH KASUS
Pasien perempuan usia 2 tahun diantar orang tuanya ke poliklinik THT dengan keluhan suara parau dan kadang sesak napas sejak 2 hari yang lalu. Sebelumya pasien juga dikeluhkan demam, batuk dan pilek sejak 3 hari sebelum ke rumah sakit. Pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya: retraksi supraklavikula, hiperemi pada mukosa hidung, faring dan tonsil. Pemeriksaan Laringoskopi indirekta didapatkan korda vokalis yang udem dan hiperemi.
Diskusi:
Tentukan apa yang harus diketahui terkait dengan butir-butir dibawah ini
Sebutkan gejala dan tanda klinis penderita
Perlunya pemeriksaan penunjang lain
Rencana terapi penderita
TUJUAN PEMBELAJARAN
Proses, materi dan metode pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi kasus laringitis, yaitu:
Menjelaskan anatomi dan fisiologi laring
Menjelaskan etiologi, patofisiologi dan gambaran klinik laringitis
Mampu mendiagnosis laringitis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
Mampu menentukan faktor risiko setiap kasus
Membuat keputusan klinik serta tatalaksana
Deteksi dini dan melakukan tatalaksana terhadap masalah atau penyulit yang mungkin terjadi pada laringitis.
METODA PEMBELAJARAN
Interactive lecture
Small group discussion.
Peer assisted learning (PAL).
Bedside teaching.
Task based medical education.
Journal reading and review.
Case simulation and investigation exercise.
Equipment characteristics and operating instructions.
Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).
Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients.
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).
Operative Procedure Demonstration and Coaching
Continuing Professional Development
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilakukan prates dalam bentuk essay, multiple choice atau oral sesuai dengan masa tingkat pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi prates terdiri dari anatomi, fisiologi, patofisiologi, penegakan diagnosis, pemeriksaan, terapi konservatif dan operatif, prognosis dan tindak lanjut
Self assessment dan peer assisted evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar
Selanjutnya dilakukan diskusi kelompok kecil bersama dengan fasilitator guna membahas kekurangan yang teridentifikasi; membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar dan kesempatan yang akan diperoleh pada saat visite kecil maupun besar dan proses penilaian
Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk role-play dengan teman-temanya (peer assisted learning) atau pada standardized patient. Pada saat tersebut yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar. Penuntun belajar dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (per asisited evaluation). Setelah dianggap memadai
maka perlu diasah lagi melalui metode bed site teaching dibawah pengawasan fasilitator, peserta didik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomi dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanan,evaluator melaksaanakan pengawasan langsung dan mengisi form penilaian sebagai berikut:
1) perlu perbaikan berarti pelaksanaan belum benar atau ada langkah yang tidak dlakukan; 2) cukup berarti pelaksanan sudah benar tetapi tidak efisien; baik berarti langkah benar dan efisien
Setelah selesai bed side teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak mungkin dibicarakan di depan pasien dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
Pendidikan/fasilitas: 1) pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form (terlampir), 2) penjelasan lisan dari peserta berupa cakap, kurang cakap atau lalai.
Diakhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas guna memperbaiki kinerja (task-based medical education)
Pencapaian pembelajaran dilakukan dengan:
ujian OSCE dilakukan pada tahap bedah dasar oleh Kolegium IK THT-KL
ujian akhir stase pada setiap devisi/unit kerja oleh masing-masing senter pendidikan;
ujian akhir kognitif dilakukan pada akhir tahapan bedah lanjut (jaga II) oleh Kolegium IK THT-KL
ujian akhir profesi dilakukan pada akhir pendidikan oleh Kolegium IK THT-KL.
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Kuesioner Sebelum Pembelajaran (contoh Soal)
Pasien laki-laki usia 30 tahun datang ke rumah sakit dengan keluhan suara parau sejak 5 hari yang lalu. Pasien juga mengeluhkan demam naik turun dengan batuk dan pilek sejak 7 hari yang lalu. Saat ini nyeri saat berbicara atau menelan mulai dirasakan. Dari pemeriksaan laringoskopi didapatkan hiperemi dan edema hingga plika vokalis.
Apakah kemungkinan diagnose pasien ini?
Laringitis kronik
Laringitis luetika
Laringitis tuberculosis
Laringitis akut
Laringitis jamur Jawaban : D
Apakah kemungkinan penyebab paling sering kasus diatas?
Rhinovirus
Mycobacterium tuberculosis
Candida sp.
Staphylococcus sp
Mycobacterium leprae Jawaban : A
INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR
Penuntun Belajar
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :
Perlu perbaikan langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu
langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk
Mahir kondisi diluar normal.
4. T/D
langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan).
Prosedur Pemeriksaan Laring
PENUNTUN BELAJAR LARINGOSKOPI LANGSUNG | ||||||
NO | KEGIATAN/LANGKAH KLINIK | KESEMPATAN KE | ||||
1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
PERSIAPAN PRA-TINDAKAN | ||||||
1 | Informed consent | |||||
2 | Pemeriksaan penunjang | |||||
3 | Penderita puasa | |||||
4 | Memeriksa dan melengkapi alat | |||||
5 | Persiapan tindakan | |||||
6 | Cara tidur penderita dan posisi kepala | |||||
TINDAKAN | ||||||
1 | Memasukkan laringoskop | |||||
2 | Memasukkan teleskop | |||||
3 | Evaluasi laring | |||||
PENUNTUN BELAJAR LARINGOSKOPI SERAT OPTIK (FOL) | ||||||
NO | KEGIATAN/LANGKAH KLINIK | KESEMPATAN KE | ||||
1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
PERSIAPAN PRA-TINDAKAN | ||||||
1 | Informed consent | |||||
2 | Pemeriksaan penunjang | |||||
3 | Memeriksa dan melengkapi alat | |||||
4 | Persiapan tindakan | |||||
5 | Cara duduk penderita dan posisi kepala | |||||
TINDAKAN | ||||||
1 | Memasukkan fiber optic | |||||
2 | Evaluasi rongga hidung | |||||
3 | Evaluasi nasofaring | |||||
4 | Evaluasi laring | |||||
DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan status kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini :
✓
Memuaskan
langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
X
Tidak langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai
Memuaskan dengan prosedur atau panduan standar
T/D
Tidak Diamati
langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
Penilaian Kinerja Keterampilan (Ujian Akhir) Prosedur Pemeriksaan Laring
DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA PROSEDUR LARINGOSKOPI LANGSUNG | ||||||
NO | KEGIATAN KLINIS | KESEMPATAN KE | ||||
1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
Posisi pemeriksa | ||||||
Cara memegang laringoskop | ||||||
Memasukkan laringoskop | ||||||
Mengait epiglotis | ||||||
Memasukkan teleskop | ||||||
Mengevaluasi laring | ||||||
Mengevaluasi korda vokalis |
DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA LARINGOSKOPI SERAT OPTIK | ||||||
NO | KEGIATAN/LANGKAH KLINIK | KESEMPATAN KE | ||||
1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
1 | Posisi pemeriksa | |||||
2 | Cara memegang fiber optic | |||||
3 | Memasukkan fiber optic | |||||
4 | Evaluasi rongga hidung | |||||
5 | Evaluasi nasofaring | |||||
6 | Evaluasi laring | |||||
7 | Evaluasi korda vokalis | |||||
8 | Cara mengeluarkan fiber optic | |||||
MATERI PRESENTASI
Slide 1: Gejala Laringitis
Slide 2: Anamnesis Dan Pemeriksaan Laringitis
Slide 3: Pemeriksaan Penunjang Diagnostik
Slide 4: Faktor Risiko Laringitis
Slide 5: Clinical Decision Making Dan Medikamentosa
MATERI BAKU LARING
Anatomi
Laring adalah organ yang komplek yang secara fisiologis berperan dalam proteksi jalan napas, respirasi maupun fonasi. Bentuknya menyerupai limas segitiga terpancung dengan bagian atas lebih besar dari bagian bawah. Kerangka laring terdiri dari sebuah tulang yaitu tulang hioid dan beberapa buah kartilago yaitu kartilago krikoid, kartilago tiroid, kartilago aritenoid, kartilago kornikulata atau Santorini, kartilago kuneiformis atau Wrisberg, dan epiglotis.
Struktur Rangka Laring
Tulang Hioid
Tulang ini terdiri dari korpus, dua kornu mayor dan dua kornu minor. Permukaan posterosuperior hioid merupakan perlekatan dengan membran hioepiglotis dan tirohioid. Tulang hioid berbentuk seperti huruf U terdapat pada bagian superior laring. Pada permukaan superior tulang hioid melekat tendon, otot-otot lidah, mandibula dan kranium. Pada bagian bawah tulang hioid terdapat kartilago tiroid yang berbentuk perisai dan berfungsi sebagai pelindung bagian dalam laring.
Kartilago Tiroid
Merupakan tulang hialin terbesar di laring. Terdiri dari dua ala yang bertemu di anterior dan membentuk sudut lancip yang bervariasi menurut jenis kelamin. Pada pria dewasa membentuk penonjolan subkutan (Adam’s apple) dengan sudut 90° dan 120° pada wanita. Kornu superior adalah tempat perlekatan ligamentum tirohioid lateral. Kornu inferior berhubungan dengan permukaan posterolateral krikoid membentuk sendi krikotiroid.
Kartilago Krikoid
Kartilago krikoid merupakan kartilago hialin, tidak berpasangan dan berbentuk cincin. Kartilago krikoid merupakan satu-satunya penyokong laring yang utuh mengelilingi jalan napas dan memiliki peranan yang besar dalam fungsi laring yaitu menjaga patensi jalan napas. Dibentuk oleh arkus anterior yang sempit dan lamina kuadratus yang luas di posterior. Permukaan anterosuperior lamina kuadratus mempunyai dua sisi, dengan sumbu panjang sejajar garis lamina. Ini merupakan bidang sendi dengan kartilago aritenoid.
Gambar 1. Struktur laring dari arah anterior dan posterior
Kartilago aritenoid
Merupakan kartilago hialin yang berpasangan, berbentuk piramid, bersendian dengan kartilago krikoid. Permukaan sendi berbetuk pelana dengan sudut siku-siku terhadap permukaan sendi krikoid di artikulasio krikoaritenoid sehingga dapat terjadi gerakan meluncur dan juga gerakan rotasi
Kartilago Kornikulata dan Kartilago Kuneiformis
Kartilago kornikulata dan kartilago kuneiformis merupakan pasangan kartilago yang kecil dan fibroelastis. Kartilago kornikulata terletak pada bagian apeks dari kartilago aritenoid. Kartilago kuneiformis terdapat pada lateral kartilago kornikulata dan menempel dengan ariepiglotis.
Epiglotis
Merupakan kartilago yang tipis, fleksibel, berbentuk daun dan fibroelastik. Petiola merupakan bagian inferior yang sempit melekat pada kartilago tiroid tepat di atas komisura anterior. Tidak seperti perikondrium kartilago hialin, perikondrium epiglotis sangat melekat. Oleh karena itu, infeksi akan cenderung terlokalisasi jika mengenai epiglotis. 5,6
Gambar 2. Potongan Koronal laring
Ligamentum Dan Membran
Membran tirohioid berhubungan dengan batas superior kartilago tiroid dan batas posterosuperior os. hioid. Ligamentum hioepiglotis berhubungan dengan permukaan anterior epiglotis dan permukaan posterior os. hioid membentuk atap ruang praepiglotis dan dasar valekula. Konus elastikus di anterior melekat pada tepi inferior kartilago tiroid membentuk membran krikotiroid. Batas atas yang bebas menebal membentuk ligamentum vokalis.
Ligamentum vokalis meluas dari prosesus vokalis melalui tendon komisura anterior. Dibagian posteriornya, ligamentum krikoaritenoid posterior meluas dari batas superior lamina krikoid menuju permukaan medial kartilago aritenoid.
Otot-Otot Laring
Ekstrinsik
Berperan pada gerakan dan fiksasi laring secara keseluruhan. Terdiri dari kelompok otot elevator dan depresor. Kelompok otot depresor terdiri dari m. tirohioid, sternohioid, dan omohioid. Kelompok elevator terdiri dari m. digastrikus anterior dan posterior, stilohioid, geniohioid, dan milohioid. Kelompok otot ini penting pada fungsi menelan dan fonasi dengan mengangkat laring sampai di bawah dasar lidah.
Otot ekstrinsik laring ada yang terletak di atas tulang hioid atau suprahioid dan di bawah tulang hioid atau infrahioid. Otot suprahioid adalah muskulus digastrikus, muskulus geniohioid, muskulus stilohioid, dan muskulus milohioid. Otot-otot ini menggerakkan laring ke atas dan ke depan saat proses menelan. Otot infrahioid adalah muskulus sternohioid, muskulus omohioid dan muskulus tirohioid. Otot-otot ini menggerakkan laring ke bawah saat inspirasi.
Intrinsik
Gambar 3A. Pandangan lateral penunjang Gambar 3B. Pita suara laring
Otot intrinsik semua berpasangan kecuali m. interaritenoid. Terdiri dari golongan aduktor (m. krikoaritenoid lateral, m. tiroaritenoid, m. krikotiroid, m. interaritenoid obligus, m. interaritenoid tranversus) dan golongan abduktor (m. krikoaritenoid posterior). Otot intrinsik laring menggerakkan struktur yang berhubungan dengan pita suara. Fungsinya mempertahankan dan mengontrol jalan udara pernafasan melalui laring, mengontrol tahanan terhadap udara ekspirasi selama fonasi dan membantu fungsi sfingter dalam mencegah aspirasi benda asing selama proses menelan.5,6
Persendian Laring
Terdiri dari persendian krikotiroid dan krikoaritenoid. Persendian krikotiroid merupakan sendi antara kornu inferior kartilago tiroid dan bagian posteromedial kartilago krikoid. Sendi ini merupakan titik tumpu fungsi m. krikotiroid, sehingga jika terjadi destruksi atau fiksasi sendi akan mengurangi efek m. krikotiroid pada peregangan pita suara. Persendian krikoaritenoid merupakan sendi pada masing-masing kartilago aritenoid dengan batas posterosuperior cincin krikoid.
Bagian Dalam Laring
Rongga laring terbagi 3 bagian yaitu plika vokalis atau pita suara asli dan plika ventrikularis atau pita suara palsu menjadi daerah vestibulum laring atau supraglotis, daerah ventrikulus laring Morgagni atau glotis dan daerah infraglotis atau subglotis. Batas superior laring ditandai oleh pinggir bebas epiglotis, plika ariepiglotika, kartilago kornikulatum dan batas superior daerah interaritenoid. Batas inferior adalah pinggir inferior kartilago krikoid.
Vestibulum laring adalah bagian di atas pita suara, terdapat penonjolan dalam vestibulum yaitu plika ventrikularis atau pita suara palsu. Daerah di atas batas inferior pita suara palsu disebut supraglotis. Ventrikulus laring Morgagni adalah daerah antara plika ventrikularis dan plika vokalis.
Daerah subgotis adalah rongga laring yang terletak di bawah plika vokalis. Plika vokalis dan plika ventrikularis terbentuk dari lipatan mukosa pada ligamentum vokale dan ligamentum ventrikulare. Bidang yang terbentuk antara plika vokalis kanan dan kiri disebut rima glotis sedangkan bidang yang terbentuk antara kedua plika ventrikularis disebut rima vestibuli. Rima glotis merupakan ruang antara pinggir bebas pita suara. Istilah glotis menunjukkan suatu daerah laring di antara permukaan superior pita suara dengan garis khayal kira-kira 3 mm di bawahnya. Daerah di bawah ini adalah subglotis.
Pembagian ini dibuat karena adanya perbedaan aliran limfe kedua daerah tersebut. Pita suara asli dan palsu dipisahkan oleh sulkus yang mengarah ke lateral yang disebut ventrikel.
Pada dinding anterior fosa piriformis terdapat suatu penonjolan yang menyilang yang merupakan patokan n. laringeus internus untuk kepentingan anestesi lokal.
Inervasi, Vaskularisasi dan Pembuluh Limfe
Laring dipersarafi oleh cabang-cabang nervus vagus yaitu nervus laringeus superior dan inferior. Kedua saraf tersebut merupakan campuran dari serabut motorik dan sensorik. Nervus laringeus superior terdiri atas cabang sensori interna yang mempersarafi bagian anterior laring, turun sampai ke glotis dan cabang eksterna yang merupakan motorik mempersarafi muskulus krikotiroidea eksterna. Nervus laringeus inferior merupakan lanjutan dari nervus laringeus rekuren. Nervus laringeus rekuren kanan melewati arteri subklavia dan berjalan ke atas antara trakea dengan esofagus sedangkan nervus rekuren kiri berputar mengelilingi arkus aorta sebelum mencapai laring pada lekukan antara trakea dan esofagus.
Pembuluh darah laring terdiri dari dua pasang pembuluh darah diantaranya arteri laringeus superior dan arteri laringeus inferior. Arteri laringeus superior merupakan cabang arteri tiroid superior, kemudian bersama cabang nervus laringeus superior menembus membran tirohioid untuk berjalan di bawah mukosa dinding lateral dan lantai sinus piriformis dan memperdarahi otot-otot laring. Arteri laringeus inferior cabang arteri tiroid inferior dan bersama-sama nervus laringeus inferior berjalan ke belakang sendi krikotiroid dan memasuki laring melalui pinggir bawah otot konstriktor inferior.
Vena laringeus superior dan inferior letaknya sejajar dengan pembuluh nadinya untuk selanjutnya bergabung dengan vena tiroid superior dan inferior.
Pembuluh limfe laring cukup banyak. Di plika vokalis, pembuluh limfe dibagi dalam golongan superior dan inferior. Pembuluh eferen dari golongan superior berjalan lewat lantai sinus piriformis dan arteri laringis superior, kemudian ke atas, dan bergabung dengan kelenjar dari bagian superior rantai servikal dalam. Sedangkan pembuluh eferen golongan inferior berjalan ke bawah dengan arteri laringis inferior dan bergabung dengan kelenjar servikal dalam. Beberapa
diantaranya menjalar sampai sejauh kelenjar supraklavikular.
Fisiologi
Fungsi laring adalah untuk proteksi jalan nafas, respirasi dan fonasi. Fungsi laring untuk proteksi adalah mencegah makanan dan benda asing masuk ke dalam trakea dengan jalan menutup aditus laring dan rima glottis secara bersamaan. Cara menutup aditus laring yaitu dengan pengangkatan laring ke atas akibat kontraksi otot-otot ekstrinsik laring. Penutupan rima glotis terjadi karena penutupan plika vokalis akibat gerak aduksi dari otot-otot intrinsik. Fungsi respirasi laring adalah dengan mengatur besar kecilnya rima glotis. Bila otot krikoaritenoid posterior berkontraksi akan menyebabkan prosesus vokalis kartilago aritenoid bergerak ke lateral, sehingga rima glotis terbuka dan terjadilah inspirasi. Pada saat ekspirasi tekanan udara dari paru menyebabkan plika vokalis bergerak ke lateral sehingga udara dapat keluar. Fungsi untuk fonasi dengan membuat suara serta menentukan tinggi rendahnya nada dengan mengatur peregangan plika vokalis. Bila plika vokalis dalam keadaan aduksi maka otot krikotiroid akan merotasikan kartilago tiroid ke
bawah dan ke depan menjauhi kartilago aritenoid. Pada saat bersamaan otot krikoaritenoid posterior akan menahan atau menarik kartilago aritenoid ke belakang. Pada saat ini plika vokalis dalam keadaan paling efektif untuk berkontraksi. Sebaliknya kontraksi otot krikoaritenoid akan mendorong kartilago aritenoid ke depan sehingga plika vokalis relaksasi. Kontraksi dan relaksasinya plika vokalis akan menentukan tinggi rendahnya nada.
LARINGITIS AKUT
Laringitis adalah peradangan pada laring yang dapat disebabkan oleh virus, bakteri atau jamur. Laringitis merupakan salah satu kelainan patologi yang paling sering terjadi pada laring dan dapat mengenai semua kelompok usia. Gambaran klinis dapat bervariasi dari suara serak, gangguan menelan hingga obstruksi pada jalan nafas atas.
Etiologi
Laringitis akut umumnya disebabkan oleh infeksi (virus, bakteri, atau jamur). Penyebab lain yang tidak terkait dengan infeksi antara lain penyalahgunaan vokal, refluks, polusi, rokok atau paparan bahan thermal dan kimia pada laring.
Virus : rhinovirus, influenza, parainfluenza, adenovirus, coronavirus Bakteri : Haemopfilus influenza, Streptococcus sp. dan Staphylococcus sp.
Jamur : Candida Sp, blastomycosis, coccidiodomycosis dan histoplasmosis. Laringitis spesifik juga dapat disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis, Mycobacterium leprae, mycobacterium lepromatosis, Corynebacterium diphtheria dan treponema pallidum.
Faktor resiko
Penderita infeksi saluran napas atas, infeksi pada paru, terapi radiasi/brachytherapy, pasien imunosupresi atau pemberian terapi imunosupresi, kemoterapi, penggunaan suara berlebih terutama pada pasien dengan profesi guru, penyanyi, pramuniaga.
Gejala Klinis
Suara parau hingga afoni
Odinofagia
Batuk
Disfagia
Keluhan umum: demam, batuk, lemas
Sesak
Pemeriksaan fisik dan penunjang
Laringoskopi indirek/direk, rigid/flexible optic laryngoscope :
Gambaran laring dapat bervariasi sesuai dengan tingkat severitas infeksi. Hiperemi dan edema dimulai pada epiglottis, ariepiglotika, aritenoid, ventricular bands hingga pita suara. Dapat terlihat juga sekret diantara pita suara dan regio interaritenoid.
Patofisiologi
Laringitis dapat terjadi akibat invasi virus/bakteri langsung ke struktur laring yang diawali infeksi pada saluran nafas atas, hematogen, atau iritasi akibat kontak trauma. Inflamasi dapat terjadi pada area supraglotis (epiglotis, aritenoid, pita suara palsu), glotis, dan subglotis.
Diagnosis
Dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis dan hasil dari pemeriksaan laringoskopi/endoskopi.
Penatalaksanaan
Istirahat suara
Antibiotik
Antifungal tablet pada infeksi jamur
Terapi kortikosteroid terutama pada bayi dan anak dengan potensi terjadi sumbatan jalan napas atas.
Terapi simtomatis: analgesik, antipiretik, mukolitik.
Humidifikasi
Tindakan operasi trakeostomi dilakukan bila didapatkan obstruksi jalan napas atas yang gagal penanganan konservatif.
Tindak Lanjut
Umumnya penyembuhan dalam waktu 3-7 hari
LARINGITIS KRONIK
Definisi
Peradangan kronis pada laring
Faktor Resiko
resolusi inkomplit dari laringitis akut atau infeksi yang terus berulang
Adanya infeksi kronis pada sinus paranasal, gigi, tonsil atau paru.
Paparan bahan kimia, merokok dan alcohol
Voice abuse
Refluks laringofaringeal
Kelainan autoimun
Etiologi
Bakterial: M tuberculosis, M leprae, T pallidum, K rhinoscleromatis, A israelii. Fungal: histoplasmosis, blastomicosis, Coccidiosis, Candidiasis, Aspergillosis, Rhinosporidiosis. Laringitis non-spesifik, refluks gastrointestinal, trauma inhalasi, trauma radiasi, trauma intubasi, gangguan endokrin, dan autoimun.
Gejala Klinis
Suara parau hingga afoni yang menetap
Sering mendehem
Tidak nyaman di tenggorok
Batuk
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laringoskopi indirekta, direkta dan fiber optic laryngoscope akan didapatkan penebalan pada mukosa laring yang difus.
Permeriksaan radiologi dan pemeriksaan laboratorium.
Terapi
Mengatasi faktor resiko
Istirahat suara dan speech therapy
Terapi Konservatif: antiinflamasi, ekspetorant/mukolitik, anti refluks
Laringitis Fungal
Terjadi pada pasien dengan status imukompromis seperti HIV, diabetes, atau pasien dengan kemoterapi, atau pengguna antibiotik serta inhaler steroid jangka panjang. Keluhan yang muncul seperti suara parau dan disfagia. Pada pemeriksaan akan dilihat plak putih pada mukosa laring yang dapat bersifat lokal atau difus. Penatalaksaan berupa pemberian terapi antifungal oral dan topikal.
Laringitis Tuberkulosis
Infeksi pada laring disebabkan karena Mycobacterium tuberculosis yang berhubungan dengan infeksi aktif pada paru, tetapi dapat juga merupakan infeksi terbatas hanya pada laring saja. Sering kali, bila tuberkulosis sudah teratasi tetapi laringitis masih menetap karena struktur mukosa laring dengan vaskularisasi yang tidak sebaik paru, sehingga proses infeksi terjadi lebih lama. Bakteri dapat masuk melalui udara pernafasan, sputum atau penyebaran langsung melalui aliran darah dan limfa.
Gejala yang muncul berhubungan dengan infeksi pada paru seperti batuk, penurunan berat badan, keringat malam. Gejala pada laring antara lain suara parau, disfagia dan odinofagia. Pada pemeriksaan akan terlihat gambaran granuloma kaseosa yang merupakan gambaran khas dari infeksi akibat M. tuberculosis. Edema dapat timbul dari fosa interaritenoid, aritenoid, plika vokalis, plika ventrikularis epiglotis hingga subglotis. Diagnosis dapat ditengakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Penunjang yang dapat dilakukan antara lain rontgen thorax, pemeriksaan sputum dan biopsi laring. Penatalaksanaan dilakukan sesuai dengan terapi tuberkulosis paru.
Laringitis Luetika
Infeksi pada laring lainnya yang jarang terjadi adalah akibat Treponema pallidum. Pada stadium awal dapat di lihat luka yang tidak menimbulkan nyeri pada orofaring. Manifestasi laring pada stadium berikutnya berupa leukoplakia, massa eksofitik, dan penurunan mobilitas plika vokalis. Gejala klinis yang muncul yaitu suara parau, batuk dan disfagia Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan laringoskopi dan serologi. Tatalaksana dilakukan dengan pemberian penisilin dosis tinggi dan dapat dilakukan trakeostomi bila terjadi sumbatan jalan nafas atas.
Laringitis pada Lepra
Mycobacterial leprae dan Mycobacterium lepromatosis juga dapat menyebabkan perubahan pada mukosa laring. Pada pemeriksaan akan didapatkan nodul, edema dan lesi ulseratif pada supraglotis yang tidak disertai rasa nyeri. Pasien biasanya asimptomatik hingga suara parau. Diagnosis dapat ditegakkan dengan pemeriksaan biopsi atau nasal smears. Terapi yang diberikan antara lain antituberkular. Prognosis umumnya baik.
PROSEDUR PEMERIKSAAN LARING
Butir-butir Penting
Pada pemeriksaan Laringoskopi Direk diperlukan persiapan puasa dan dilakukan premedikasi. Posisi kepala penderita harus tepat supaya pelaksanaan tindakan dapat dilakukan dengan baik.
Pada pemeriksaan Fiber Optic Laryngoscope diperlukan kerjasama dengan penderita meskipun tindakan ini relatif tidak menyakitkan penderita.
Teknik Pemeriksaan: Laringoskopi Direk :
No | Langkah-Langkah | Bagaimana | Mengapa |
1. | Premedikasi | Luminal/atropin | Tidak valium, karena |
depresi pernapasan | |||
Biar air liur sedikit | |||
2. | Anestesi lokal | Spray xylocain, pd | Epiglotis dikait, perlu |
epiglotis | anestesi | ||
3. | Atur posisi kepala | Posisi high: fleksi | Mudah mengait epiglotis |
leher/dada, ekstensi | keatas | ||
occipito atlanto | |||
Selalu digaris | |||
tengah | Akan terlihat uvula- | ||
epiglotis sebagai pedoman | |||
4. | Mengait epiglotis | Epiglotis dikait | Kalau terlalu banyak, |
sedikit saja | aritenoid terkait | ||
Kalau terlalu sedikit: | |||
lepas | |||
Mudah melihatnya, | |||
Kalau teleskop harus | |||
5. | Melihat korda vokalis | Dengan bantuan | mengait epiglotis,bisa |
teleskop (0o,30o) | basah-buram |
Laringoskopi Serat Optik (FOL):
No | Langkah-langkah | Bagaimana | Mengapa |
1 2 | Anaestesi local Atur duduk penderita | Kapas xylocain ephedrin1 % di kavum nasi d/s Spray xylocain pd faring/epiglotis Duduk tegak | Tidak nyeri,tidak trauma Memudahkan alat masuk |
3 | Memasukkan alat FOL | Melalui dasar kavum | Tempat terlebar |
nasi | |||
4 | Melihat nasofaring | Lurus ke belakang | Tampak nasofaring dulu |
5 | FOL diarahkan ke laring | Dengan | |
membengkokkan ke | |||
bawah | |||
Memeriksa laring | |||
6 | FOL diarahkan mula- | ||
mula tampak dari | |||
jauh, lalu makin | |||
mendekat | |||
Kalau tak ada tumor | |||
dilihat pergerakan | |||
korda vokalis |
Instrumen yang diperlukan:
Laringoskop dewasa
Laringoskop anak-anak
Laringoskop bayi
Teleskop 00 , 300 , 900
Fiber Optic Laryngoscope dan forsep biopsi
Forsep lurus dan upturn
Pompa Penyedot (Suction pump)
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
WAKTU 1
PERSIAPAN SESI 1
REFERENSI 1
KOMPETENSI 1
GAMBARAN UMUM 2
CONTOH KASUS & DISKUSI 2
TUJUAN PEMBELAJARAN 2
METODE PEMBELAJARAN 3
EVALUASI 3
INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF & PSIKOMOTOR 4
DAFTAR TILIK 4
MATERI PRESENTASI 5
MATERI BAKU 5
MODUL IV.3.1
LARING-FARING – PERADANGAN RONGGA MULUT : INFEKSI ODONTOGENIK
WAKTU
Mengembangkan Kompetensi | Hari : |
Sesi di dalam kelas Sesi Pratikum Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi | 6 X 60 menit (classroom session) 6 X 60 menit (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi INFEKSI ODONTOGENIK meliputi:
Anatomi Rongga mulut
Definisi Infeksi Odontogenik
Etiologi Infeksi Odontogenik
Klasifikasi Infeksi Odontogenik
Tahapan Infeksi Odontogenik
Patogenesis Infeksi Odontogenik
Gejala klinis Infeksi Odontogenik
Diagnosis Infeksi Odontogenik
Penatalaksanaan Infeksi Odontogenik
Kasus : Seorang laki-laki 16 tahun mengeluh nyeri pada gusi pada saat mengunyah dan disertai demam
Sarana dan Alat bantu latih
Penuntun belajar (learning guide) terlampir
Tempat belajar (training setting): bangsal THT, Poliklinik THT.
REFERENSI
Bailey BJ, Johnson JT, Head & Neck Surgery – Otolaryngology, Fourth Edition, Volume two, Lippincott Williams & Wilkins, 2006, p : 1356-1365
Alper C., Myers E N., Eibling., Decicion Making In Ear, Nose, and Throat Disorders, Saunders Company, 152-153., 2001
Becker W., Nauman H H., Pfaltz R C., Ear, Nose, and Throat Diseases, Thieme, 299-387., 1194
Topazian Richard G, Morton H Goldberg, James R hupp. Oral and Maxillofacial Infection, 4th ed;Philadelphia.
Fragiskos D. Frangiskos. Oral Surgery. Greece:Spinger. 2007. h 205-40
Gordon W. Pederson. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. Jakarta: EGC.1996
KOMPETENSI
Kompetensi Umum
Mampu mendiagnosis Infeksi Odontogenik berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang diperlukan.
Mampu melakuan tatalaksana Infeksi Odontogenik
Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini, peserta diharapkan terampil :
Mengenali gejala, tanda Infeksi Odontogenik
Melakukan anamnesis dan pemeriksaan tentang Infeksi Odontogenik
Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang seperti foto panoramik, CT-Scan dan pemeriksaan laboratorium.
Membuat keputusan klinik untuk pemberian antibiotik yang tepat
GAMBARAN UMUM
Rongga mulut memiliki fungsi yang meliputi makanan dan asupan cairan, rasa dan respon sensorik untuk makanan, mastikasi ( mengunyah), pencernaan kimia, menelan, berbicara dan respirasi. Mulut memiliki peranan penting dalam makan, minum dan bernapas. Mulut juga membantu dalam mengunyah dan menggigit makanan kita.
CONTOH KASUS & DISKUSI
Contoh Kasus
Seorang laki-laki, 16 tahun datang ke poliklinik THT-KL dengan keluhan rasa nyeri pada gusi saat mengunyah makanan dan disertai demam. Pemeriksaan fisik: bengkak pada gusi, fluktuasi (+), hiperemi (+),nyeri tekan (+)
Diskusi :
Jenis-jenis penyebab
Penatalaksanaan
Jawaban :
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan Pembelajaran umum
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan :
Menjelaskan anatomi, topografi, histologi, fisiologi dari Rongga mulut
Menjelaskan anamnesis dan pemeriksaan Infeksi odontogenik.
Menjelaskan etiologi, patofisiologi, dan gambaran klinikInfeksi odontogenik .
Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang seperti foto panoramik,
CT-Scan, dan pemeriksaan laboratorium
Membuat keputusan klinik untuk pemberian antibiotik yang tepat
Tujuan Pembelajaran khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk :
Menjelaskan anatomi, topografi, histologi, fisiologi dari rongga mulut
Menjelaskan etiologi dan macam Infeksi odontogenik
Menjelaskan patofisiologi, gambaran klinis, terapi Infeksi odontogenik
Melakukan work-up penderita Infeksi odontogenik yang meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
Menentukan prognostik dan pilihan terapi Infeksi odontogenik
METODE PEMBELAJARAN
Literatur Reading
Referat
Bimbingan
Jurnal Reading
Praktik Lapangan (Poliklinik)
Bedside Teaching
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan, yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pre-test terdiri atas :
Anatomi, definisi dan patologi infeksi odontogenik.
Penegakan diagnosis.
Komplikasi dan penanganannya.
Follow up.
Selanjutnya dilakukan small group discussion bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian.
Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk role-play dengan teman-temannya (peer assisted learning) atau kepada SP (standardized patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (peer assited evaluation). Setelah dianggap memadai, melalui metode bedside teaching di bawah pengawasan fasilitator, peserta didik mengaplikasikan penuntun belajar pada nodel anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan, evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation) dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut :
Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan.
Cukup : pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terlalu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien
Baik : pelaksanaan benar dan baik (efisien)
Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
Self assessment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar.
Pendidik/ fasilitas
Pengamatn langsung dengan memakai evaluation checklist form
(terlampir).
Penjelasan lisan dari peserta didik/diskusi.
Kriteria penilaian keseluruhan : cakap/ tidak cakap/ lalai.
Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical educcation).
Pencapaian pembelajaran :
Ujian OSCA
Ujian akhir stase
Ujian akhir kognitif
Ujian akhir profesi
INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF & PSIKOMOTOR
Instrumen Penilaian Kompetensi Kognitif
Bakteri yang paling sering menyebabkan infeksi odontogenik adalah:
Staphylococcus
Streptococcus
Fusobacterium
Bacteroides
Eubacterium
Jawaban : B
Penderita laki-laki 17 tahun datang dengan keluhan nyeri menelan berulang, timbul ulcus ± 1 cm didaerah palatum mole dan kambuhnya ditempat yang sama. Apa kemungkinan diagnosis penyakit ini :
Stomatitis aftosa rekuren
Sutton Disease
Kandidiasis
Herpes zoster
Herpes simpleks
Jawaban : B
Lesi yang terjadi khas pada pertemuan Mukokutaneus terjadi pada penyakit :
Stomatitis Aftosa rekuren
Kandidiasis
Herpes zoster
Herpes simpleks primer
Herpes simplek sekunder
Jawaban : E
DAFTAR TILIK
DAFTAR TILIK
Penilaian Kinerja Keterampilan (Ujian Akhir)
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan status kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini :
Memuaskan langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
X
Tidak Memuaskan
langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
T/D Tidak Diamati langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan
oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
Prosedur Pemeriksaan Laring
KEGIATAN | NILAI | ||
Pemeriksaan Laringoskopi Langsung | |||
1. Persiapan tindakan | |||
2.Tindakan | |||
Pemeriksaan Laringoskopi Serat Optik (FOL) | |||
1. Persiapan tindakan | |||
2. Tindakan | |||
MATERI PRESENTASI
Anatomi Rongga mulut
Definisi Infeksi Odontogenik
Etiologi Infeksi Odontogenik
Klasifikasi Infeksi Odontogenik
Tahapan Infeksi Odontogenik
Patogenesis Infeksi Odontogenik
Gejala klinis Infeksi Odontogenik
Diagnosis Infeksi Odontogenik
Penatalaksanaan Infeksi Odontogenik
MATERI BAKU
Definisi Infeksi Odontogenik :
Infeksi odontogenik merupakan salah satu diantara beberapa infeksi yang paling sering kita jumpai pada manusia. Pada kebanyakan pasien infeksi ini bersifat minor atau kurang diperhitungkan dan seringkali ditandai dengan drainase spontan di sepanjang jaringan gingiva pada gigi yang mengalami gangguan.
Fistula Bakteremie-Septikemie
Selulitis Acute-Chronic Infeksi Spasium Periapikal Infection yang dalam
Abses intra oral/ Osteomielitis spasium yang lebih jaringan lunak-kutis tinggi / infeksi serebral
Gambar 1. Arah Penyebaran Infeksi odontogenik
Infeksi odontogenik merupakan infeksi rongga mulut yang paling sering terjadi. Infeksi odontogenik dapat merupakan awal atau kelanjutan penyakit periodontal, perikoronal, trauma, atau infeksi pasca pembedahan.Infeksi odontogenik juga lebih sering disebabkan oleh beberapa jenis bakteri seperti streptococcus. Infeksi dapat terlokalisir atau dapat menyebar secara cepat ke sisi wajah lain.
Anatomi
Rongga mulut merupakan sebuah bagian tubuh yang terdiri dari : lidah bagian oral (dua pertiga bagian anterior dari lidah), palatum durum (palatum keras), dasar dari mulut, trigonum retromolar, bibir, mukosa bukal, ‘alveolar ridge’, dan gingiva. Tulang mandibula dan maksila adalah bagian tulang yang membatasi rongga mulut.Rongga mulut yang disebut juga rongga bukal, dibentuk secara anatomis oleh pipi, palatum keras, palatum lunak, dan lidah.Pipi membentuk dinding bagian lateral masing-masing sisi dari rongga mulut.Pada bagian eksternal dari pipi, pipi dilapisi oleh kulit.Sedangkan pada bagian internalnya, pipi dilapisi oleh membran mukosa, yang terdiri dari epitel pipih berlapis yang tidak terkeratinasi.Otot-otot businator (otot yang menyusun dinding pipi) dan jaringan ikat tersusun di antara kulit dan membran mukosa dari pipi.Bagian anterior dari pipi berakhir pada bagian bibir.
Etiologi
Paling sedikit ada 400 kelompok bakteri yang berbeda secara morfologi dan biochemical yang berada dalam rongga mulut dan gigi.Kekomplekan flora rongga mulut dan gigi dapat menjelaskan etiologi spesifik dari beberapa tipe terjadinya infeksi gigi dan infeksi dalam rongga mulut, tetapi lebih banyak disebabkan oleh adanya gabungan antara bakteri gram positif yang aerob dan anaerob.Dalam cairan gingival, kira-kira ada 1.8 x 1011 anaerobs/gram.Pada umumnya infeksi odontogen secara inisial dihasilkan dari pembentukan plak gigi.Sekali bakteri patologik ditentukan, mereka dapat menyebabkan terjadinya komplikasi lokal dan menyebar/meluas seperti terjadinya bacterial endokarditis, infeksi ortopedik, infeksi pulmoner, infeksi sinus kavernosus, septicaemia, sinusitis, infeksi mediastinal dan abses otak.
Infeksi odontogen biasanya disebabkan oleh bakteri endogen.Lebih dari setengah kasus infeksi odontogen yang ditemukan (sekitar 60 %) disebabkan oleh bakteri anaerob. Organisme penyebab infeksi odontogen yang sering ditemukan pada pemeriksaan kultur adalah alpha-hemolytic Streptococcus, Peptostreptococcus, Peptococcus, Eubacterium, Bacteroides (Prevotella) melaninogenicus, and Fusobacterium. Bakteri aerob sendiri jarang menyebabkan infeksi odontogen (hanya sekitar 5 %).Bila infeksi odontogen
disebabkan bakteri aerob, biasanya organisme penyebabnya adalah species Streptococcus. Infeksi odontogen banyak juga yang disebabkan oleh infeksi campuran bakteri aerob dan anaerob yaitu sekitar 35 %. Pada infeksi campuran ini biasanya ditemukan 5-10 organisme pada pemeriksaan kultur.
Klasifikasi
Berdasarkan tipe infeksinya, infeksi odontogen bisa dibagi menjadi :
Infeksi odontogen lokal / terlokalisir, misalnya: Abses periodontal akut; peri implantitis.
Infeksi odontogen luas/ menyebar, misalnya: early cellulitis,deep-space infection.
Life-Threatening, misalnya: Facilitis dan Ludwig's angina.
Tahapan infeksi
Infeksi odontogenik umumnya melewati tiga tahap sebelum mereka menjalani resolusi:
Selama 1 sampai 3 hari - pembengkakan lunak, ringan, lembut, dan adonannya konsisten.
Antara 5 sampai 7 hari – tengahnya mulai melunak dan abses merusak kulit atau mukosa sehingga membuatnya dapat di tekan. Pus mungkin dapat dilihat lewat lapisan epitel, membuatnya berfluktuasi.
Akhirnya abses pecah, mungkin secara spontan atau setelah pembedahan secara drainase. Selama fase pemecahan, regio yang terlibat kokoh/tegas saat dipalpasi disebabkan oleh proses pemisahan jaringan dan jaringan bakteri.
Patogenesis
Penyebaran infeksi odontogenik akan melalui tiga tahap yaitu tahap abses dentoalveolar, tahap yang menyangkut spasium dan tahap lebih lanjut yang merupakan tahap komplikasi.Infeksi biasanya dimulai dari permukaan gigi yaitu adanya karies gigi yang sudah mendekati ruang pulpa, kemudian akan berlanjut menjadi pulpitis dan akhirnya akan terjadi kematian pulpa gigi (nekrosis pulpa). Infeksi gigi dapat terjadi secara lokal atau meluas secara cepat.Adanya gigi yang nekrosis menyebabkan bakteri bisa menembus masuk ruang pulpa sampai apeks gigi.Foramen apikalis dentis pada pulpa tidak bisa mendrainase pulpa yang terinfeksi. Selanjutnya proses infeksi tersebut menyebar progresif ke ruangan atau jaringan lain yang dekat dengan struktur gigi yang nekrosis tersebut. Rangsangan yang ringan dan kronis menyebabkan membran periodontal di apikal mengadakan reaksi membentuk dinding untuk mengisolasi penyebaran infeksi.Respon jaringan periapikal terhadap iritasi tersebut dapat berupa periodontitis apikalis yang supuratif atau abses dentoalveolar.
Pada infeksi sekitar foramen apikalis terjadi nekrosis disertai akumulasi leukosit yang banyak dan sel-sel inflamasi lainnya. Sedangkan pada jaringan sekitar abses akan tampak hiperemis dan edema. Bila masa infeksi bertambah, maka tulang sekitarnya akan tersangkut, dimulai dengan hiperemia pembuluh darah kemudian infiltrasi leukosit dan akhirnya proses supurasi. Penyebaran selanjutnya akan melalui kanal tulang menuju permukaan tulang dan periosteum. Tahap berikutnya periosteum pecah dan pus akan terkumpul di suatu tempat di
antara spatia sehingga membentuk suatu rongga patologis. Pembentukan abses pada umumnya didahului oleh periodontitis apikalis akut, namun dapat juga langsung tanpa didahului oleh periodontitis apikalis.
Gejala klinis
Respon tubuh terhadap agen penyebab infeksi adalah inflamasi. Pada keadaan ini substansi yang beracun dilapisi dan dinetralkan. Juga dilakukan perbaikan jaringan, proses inflamasi ini cukup kompleks dan dapat disimpulkan dalam beberapa tanda :
Hiperemi yang disebabkan vasodilatasi arteri dan kapiler dan peningkatan permeabilitas dari venula dengan berkurangnya aliran darah pada vena.
Keluarnya eksudat yang kaya akan protein plasma, antiobodi dan nutrisi dan berkumpulnya leukosit pada sekitar jaringan.
Berkurangnya faktor permeabilitas, leukotaksis yang mengikuti migrasi leukosit polimorfonuklear dan kemudian monosit pada daerah luka (Fragiskos, 2005)
Terbentuknya jalinan fibrin dari eksudat, yang menempel pada dinding lesi.
Fagositosis dari bakteri dan organisme lainnya
Pengawasan oleh makrofag dari debris yang nekrotik
Adanya gejala infeksi
Gejala-gejala tersebut dapat berupa : rubor atau kemerahan terlihat pada daerah permukaan infeksi yang merupakan akibat vasodilatasi. Tumor atau edema merupakan pembengkakan daerah infeksi. Kalor atau panas merupakan akibat aliran darah yang relatif hangat dari jaringan yang lebih dalam, meningkatnya jumlah aliran darah dan meningkatnya metabolisme. Dolor atau rasa sakit, merupakan akibat rangsangan pada saraf sensorik yang di sebabkan oleh pembengkakan atau perluasan infeksi. Akibat aksi faktor bebas atau faktor aktif seperti kinin, histamin, metabolit atau bradikinin pada akhiran saraf juga dapat menyebabkan rasa sakit. Fungsio laesa atau kehilangan fungsi, seperti misalnya ketidakmampuan mengunyah dan kemampuan bernafas yang terhambat. Kehilangan fungsi pada daerah inflamasi disebabkan oleh faktor mekanis dan reflek inhibisi dari pergerakan otot yang disebabkan oleh adanya rasa sakit.
Limphadenopati
Pada infeksi akut, kelenjar limfe membesar, lunak dan sakit. Kulit di sekitarnya memerah dan jaringan yang berhubungan membengkak. Pada infeksi kronis perbesaran kelenjar limfe lebih atau kurang keras tergantung derajat inflamasi, seringkali tidak lunak dan pembengkakan jaringan di sekitarnya biasanya tidak terlihat. Lokasi perbesaran kelenjar limfe merupakan daerah indikasi terjadinya infeksi. Supurasi kelenjar terjadi jika organisme penginfeksi menembus sistem pertahanan tubuh pada kelenjar menyebabkan reaksi seluler dan memproduksi pus. Proses ini dapat terjadi secara spontan dan memerlukan insisi dan drainase.
Diagnosis
Berdasarkananamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang, ditegakkan diagnosis infeksi odontogen apakah termasuk infeksi odontogen lokal / terlokalisir atau infeksi odontogen umum / menyebar Penderita biasanya datang dengan keluhan sulit untuk membuka mulut (trismus), tidak bisa makan
karena sulit menelan (disfagia), nafas yang pendek karena kesulitan bernafas. Penting untuk ditanyakan riwayat sakit gigi sebelumnya, onset dari sakit gigi tersebut apakah mendadak atau timbul lambat, durasi dari sakit gigi tersebut apakah hilang timbul atau terus-menerus, disertai dengan demam atau tidak, apakah sudah mendapat pengobatan antibiotik sebelumnya.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan tanda-tanda infeksi yaitu ;
Rubor : permukaan kulit yang terlibat infeksi terlihat kemerahan akibat vasodilatasi, efek dari inflamasi
Tumor : pembengkakan, terjadi karena akumulasi nanah atau cairan eksudat
Calor : teraba hangat pada palpasi karena peningkatan aliran darah ke area infeksi
Dolor : terasa sakit karena adanya penekanan ujung saraf sensorik oleh jaringan yang bengkak akibat edema atau infeksi
Fungsiolaesa : terdapat masalah denagn proses mastikasi, trismus, disfagia, dan gangguan pernafasan.
Infeksi yang fatal bisa menyebabkan gangguan pernafasan, disfagia, edema palpebra, gangguan penglihatan, oftalmoplegia, suara serak, lemah lesu dan gangguan susunan saraf pusat (penurunan kesadaran, iritasi meningeal, sakit kepala hebat, muntah).
Pemeriksaan fisik dimulai dari ekstra oral, lalu berlanjut ke intra oral.Dilakukan pemeriksaan integral (inspeksi, palpasi dan perkusi) kulit wajah, kepala, leher, apakah ada pembengkakan, fluktuasi, eritema, pembentukan fistula, dan krepitasi subkutaneus.Dilihat adakah limfadenopati leher, keterlibatan ruang fascia, trismus dan derajat dari trismus.Kemudian diperiksa gigi, adakah gigi yang karies, kedalaman karies, vitalitas gigi, lokalisasi pembengkakan, fistula dan mobilitas gigi.Dilihat juga adakah obstruksi duktus Wharton dan Stenson, serta menilai kualitas cairan duktus Wharton dan Stenson (pus atau saliva).Pemeriksaan oftalmologi dilakukan bila dicurigai mata terkena infeksi. Pemeriksaan mata meliputi : fungsi otot-otot ekstraokuler, adakah proptosis, adakah edema preseptal atau postseptal.
Pemeriksaan penunjang yang bisa membantu menegakkan diagnosis adalah pemeriksaan kultur, foto rontgen dan CT scan (atas indikasi). Bila infeksi odontogen hanya terlokalisir di dalam rongga mulut, tidak memerlukan pemeriksaan CT scan, foto rontgen panoramik sudah cukup untuk menegakkan diagnosis.CT scan harus dilakukan bila infeksi telah menyebar ke dalam ruang fascia di daerah mata atau leher.
Penatalaksanaan
Tujuan manajemen infeksi odontogen adalah :
Menjaga saluran nafas tetap bebas
dasar mulut dan lidah yang terangkat ke arah tonsil akan menyebabkan gagal nafas
mengetahui adanya gangguan pernafasan adalah langkah awal diagnosis yang paling penting dalam manajemen infeksi odontogen
tanda-tanda terjadi gangguan pernafasan adalah pasien terlihat gelisah, tidak dapat tidur dalam posisi terlentang dengan tenang, mengeluarkan air liur, disfonia, terdengar stridor
saluran nafas yang tertutup merupakan penyebab kematian pasien infeksi odontogen
jalan nafas yang bebas secara kontinu dievaluasi selama terapi
Tindakan drainase
pemberian antibiotika tanpa drainase pus tidak akan menyelesaikan masalah penyakit abses
memulai terapi antibiotika tanpa pewarnaan gram dan kultur akan menyebabkan kesalahan dalam mengidentifikasi organisme penyebab penyakit infeksi odontogen
penting untuk mengalirkan semua ruang primer apalagi bila pada pemeriksaan, ruang sekunder potensial terinfeksi juga
CT scan dapat membantu mengidentifikasi ruang-ruang yang terkena infeksi
Foto Rontgen panoramik dapat membantu identifikasi bila diduga gigi terlibat infeksi
Abses canine, sublingual dan vestibular didrainase intraoral
Abses ruang masseterik, pterygomandibular, dan pharyngea lateral bisa didrainase dengan kombinasi intraoral dan ekstraoral
Abses ruang temporal, submandibular, submental, retropharyngeal, dan bukal disarankan diinsisi ekstraoral dan didrainase.
Medikamentosa
rehidrasi (karena kemungkinan pasien menderita dehidrasi adalah sangat besar)
merawat pasien yang memiliki faktor predisposisi terkena infeksi (contohnya Diabetes Mellitus)
mengoreksi gangguan atau kelainan elektrolit
memberikan analgetika dan merawat infeksi dasar bila pasien menderita trismus, pembengkakan atau rasa sakit di mulut.
Identifikasi bakteri penyebab
Diharapkan bakteri penyebabnya adalah alpha-hemolytic Streptococcus dan bakteri anaerob lainnya
kultur harus dilakukan pada semua pasien melalui incisi dan drainase dan uji sensitivitas dilakukan bila pasien tidak kunjung membaik (kemungkinan resisten terhadap antibiotika)
Hasil aspirasi dari abses bisa dikirim untuk kultur dan uji sensitivitas jika incisi dan drainase terlambat dilakukan
Menyeleksi terapi antibotika yang tepat
penicillin parenteral
metronidazole dikombinasikan dengan penicillin bisa dipakai pada infeksi yang berat
Clindamycin untuk pasien yang alergi penicillin
Cephalosporins (cephalosporins generasi pertama)
antibiotika jangan diganti selama incisi dan drainase pada kasus infeksi odontogen yang signifikan
jika mediastinal dicurigai terkena infeksi harus dilakukan CT scan thoraks segera dan konsultasi kepada dokter bedah thoraks kardiovaskular
ekstraksi gigi penyebab akan menyembuhkan infeksi odontogen
Kepustakaan Materi Baku
Bailey BJ, Johnson JT, Head & Neck Surgery – Otolaryngology, Fourth Edition, Volume two, Lippincott Williams & Wilkins, 2006, p : 1356-1365
Alper C., Myers E N., Eibling., Decicion Making In Ear, Nose, and Throat Disorders, Saunders Company, 152-153., 2001
Becker W., Nauman H H., Pfaltz R C., Ear, Nose, and Throat Diseases,
Thieme, 299-387., 1194
Topazian Richard G, Morton H Goldberg, James R hupp. Oral and Maxillofacial Infection, 4th ed;Philadelphia.
Fragiskos D. Frangiskos. Oral Surgery. Greece:Spinger. 2007. h 205-40
Gordon W. Pederson. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. Jakarta: EGC.1996
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
WAKTU 1
PERSIAPAN SESI 1
REFERENSI 1
KOMPETENSI 2
GAMBARAN UMUM 2
CONTOH KASUS & DISKUSI 3
TUJUAN PEMBELAJARAN 3
METODE PEMBELAJARAN 3
EVALUASI 3
DAFTAR TILIK 5
MATERI PRESENTASI 6
MATERI BAKU 6
KEPUSTAKAAN MATERI BAKU 11
MODUL IV.3.2
LARING-FARING - PERADANGAN RONGGA MULUT : MUKOSITIS
WAKTU
Mengembangkan Kompetensi | Frekuensi |
Sesi di dalam kelasSesi Pratikum Sesi Praktik dan pencapaiankompetensi | 6 X 60 menit (classroom session) 6 X 60 menit (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi Mukositis Oral, meliputi:
Slide 1 : Ruang Lingkup
Slide 2 : Anatomi dan Etiopatogenesis Mukositis OralSlide 3 : Gejala Klinis Mukositis Oral
Slide 4 : Penegakkan Diagnosis Mukositis OralSlide 5 : Pengobatan Mukositis Oral
Slide 6 : Pencegahan Mukositis Oral
Contoh Kasus
Seorang laki-laki usia 50 tahun datang ke UGD dengan keluhan nyeri pada rongga mulut, nyeri menelan sejak 7 hari, dan hanya bisa makan makanan cair. Rongga mulut tampak kemerahan disertai bercak putih. Penderita mempunyai riwayat perokok berat dan telah menjalani pengobatan kemoterapi dan radioterapi setelah didiagnosis kanker nasofaring 2 tahun yang lalu.
Sarana dan Alat Bantu Latih :
Penuntun belajar (learning guide) terlampir
Tempat belajar (training setting) : Poliklinik THT-KL
Video
REFERENSI
Myers EN. Cancer of the Head and Neck, Saunders Company; 2001. p.120-4.
Wein RO, O’Leary M. Stomatitis. In: Johnson JT, Rosen CA, editors. Bailey’s Head and Neck Surgery-Otolaryngology. 5th ed. Philadelphia. Lippincott Williams & Wilkins; 2014. 51: 736-56.
Lee KJ. Essential Otolaryngology Head and Neck Surgery. 11th ed. Chan Y, Goddard JC, editors. New York. McGraw Hill; 2016. p.570-1.
Jameson MJ, Levine PA. Neoplasms of the Oral Cavity. In: Bailey BJ., Johnson JT., Newlands SD., editors. Head and Neck Surgery- Otolaryngology. 4th Edition. Philadelphia. Lippincott Williams & Wilkins;2006. 111: 1552-3.
Naidu M et.al. Chemotherapy-Induced and/or Radiation Therapy Induced Oral Mucositis Complicating the Treatment of Cancer. Nizam’s Institute of Medical Sciences. Vol. 6, No. 5, September/October 2004: p. 423-31.
KOMPETENSI
Kompetensi Umum
Mampu membuat diagnosis mukositis oral berdasarkan anamnesis,pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan tambahan yang diperlukan
Mampu melakukan tatalaksana mukositis oral.
Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini, peserta didik diharapkan terampil:
Menjelaskan anatomi, etiopatogenesis mukositis oral
Mengenali gejala, tanda mukositis oral
Melakukan anamnesis dan pemeriksaan tentang mukositis oral
Membuat keputusan klinik untuk pemberian pengobatan yang tepatserta pencegahan mukositis oral.
GAMBARAN UMUM
Mukositis oral merupakan suatu proses peradangan pada mukosa rongga mulut yang berkaitan dengan radioterapi atau kemoterapi pada penderita kanker kepala dan leher. Pada kasus mukositis oral yang parah dapat berupa ulserasi dan menyebabkan gangguan pada fungsi dan integritas rongga mulut. Insidensi dan keparahan mukositis oral bervariasi tergantung pada pengobatan terapi kankernya. Insidensi mukositis oral diperkirakan 40% pada pasien yang menerima kemoterapi standar, 70-90% pada pasien yang menerima kemoterapi dosis tinggi, pasien yang menjalani transplantasi darah dan sel stem sumsum tulang dan 80-100% pada pasien yang menjalani terapi radiasi yang melibatkan daerah orofaring. Studi terbaru menunjukkan, mukositis oral yang parah terjadi pada 30-60% dari seluruh pasien yang menerima radioterapi, khususnya untuk kanker kepala dan leher. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, sehingga pengobatan yang tepat dapat diberikan kepada penderita mukositis oral. Pencegahan utama dengan menjaga kebersihan rongga mulut dan menghindari faktor iritan mukosa rongga mulut.
CONTOH KASUS & DISKUSI
Contoh Kasus
Seorang laki-laki usia 50 tahun datang ke UGD dengan keluhan nyeri pada rongga mulut, nyeri menelan sejak 7 hari, dan hanya bisa makan makanan cair. Rongga mulut tampak kemerahan disertai bercak putih. Penderita mempunyai riwayat perokok berat dan telah menjalani pengobatan kemoterapi dan radioterapi setelah didiagnosis kanker nasofaring 2 tahun yang lalu.
TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk
:
Menjelaskan anatomi dan fisiologi rongga mulut
Mengenali etiopatogenesis, gejala, dan tanda mukositis oral
Melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik tentang mukositis oral
Membuat keputusan klinik untuk pemberian pengobatan yang tepat sertapencegahan mukositis oral.
METODE PEMBELAJARAN
Literatur Reading
Referat
Bimbingan
Journal Reading
Praktik Lapangan (Poliklinik)
Bedside Teaching
I. EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan, yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pre-test terdiri atas :
Anatomi dan fisiologi rongga mulut
Etiopatogenesis mukositis oral
Penegakan diagnosis
Penatalaksanaan
Follow up
Selanjutnya dilakukan “small group discussion” bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperolehpada saat bedside teaching dan proses penilaian.
Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk “role-play” dengan teman-temannya (Peer Assisted Evaluation) atau kepada SP (Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assited Evaluation). Setelah dianggap memadai, melalui metode bedside teaching di bawah pengawasan fasilitator, peserta didik mengaplikasikan penuntun belajar pada model anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan, evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation) dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut:
Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian Langkah tidak dilaksanakan.
Cukup : pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien missal pemeriksaan terlalu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien.
Baik : pelaksanaan benar dan baik (efisien).
Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
Self assessment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar.
Pendidik/fasilitas:
Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form
(terlampir).
Penjelasan lisan dari peserta didik/diskusi.
Kriteria penilaian keseluruhan : cakap/ tidak cakap/ lalai.
Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education).
Pencapaian pembelajaran :
Ujian OSCE (K, P, A), dilakukan pada tahapan THT-KL dasar olehKolegium Ilmu Kesehatan THT-KL.
Ujian akhir stase, setiap divisi/unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan THT-KL lanjut oleh Kolegium Ilmu Kesehatan THT-KL.
Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan THT-KL lanjut oleh Kolegium Ilmu Kesehatan THT-KL.
INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF & PSIKOMOTOR
Instrumen Penilaian Kompetensi Kognitif
Beberapa hal yang tidak dapat digunakan mengatasi mulut kering pada penderita yang menjalani radioterapi dan kemoterapi:
Minum air sesuai kebutuhan
Menggunakan air ludah sintesis
Menggunakan salep vaselin
Mencuci mulut dengan campuran ½ sendok teh baking soda dan atau
¼ - ½ sendok teh garam dalam 1 cangkir air hangat
Menghindari faktor iritan mukosa rongga mulut Jawaban : C
DAFTAR TILIK
DAFTAR TILIK
Penilaian Kinerja Keterampilan (Ujian Akhir)Prosedur Pemeriksaan Orofaring
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperaga kan oleh peserta, pada saat melaksanakan status kegiatan atau prosedu dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini :
Memuaskan langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan
prosedur atau panduan standar.
X
Tidak Memuaskan
langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar.
T/D
Tidak Diamati
langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih.
Peserta : ……………………. Tanggal : ………………
NO | KEGIATAN | KESEMPATAN KE | ||||
1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
I. PERSIAPAN PASIEN DAN ALAT | ||||||
1 | Inform consent | |||||
2 | Jelaskan tujuan pemeriksaan dan hasil yang diharapkan | |||||
3 | Pastikan kelengkapan peralatan telah tersedia : | |||||
Lampu kepala
Spatula lidah
Sarung tangan
II. PROSEDUR PEMERIKSAAN | ||||||
NO | KEGIATAN | KESEMPATAN KE | ||||
1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
1 | Pasien duduk berhadapan dengan dokter. | |||||
2 | Pasien diinstruksikan membuka mulut. | |||||
3 | Perhatikan struktur di dalam cavum oris mulai dari gigi geligi, palatum, lidah, bukkal. Lihat ada tidaknya kelainan berupa, pembengkakan, hiperemis, massa, atau kelainan kongenital. | |||||
4 | Lakukan penekanan lidah secara lembut dengan spatula lidah. | |||||
5 | Perhatikan struktur arkus anterior dan posterior, tonsil, dinding dorsal faring. Deskripsikan kelainan-kelainan yang tampak. | |||||
5 | Dengan menggunakan sarung tangan lakukan palpasi pada daerah mukosa bukkal, dasar lidah dan daerah palatum untuk menilai adanya kelainan-kelainan dalam rongga mulut. | |||||
MATERI PRESENTASI
Slide 1 : Ruang Lingkup
Slide 2 : Anatomi dan Etiopatogenesis Mukositis oral
Slide 3 : Gejala Klinis Mukositis oral
Slide 4 : Penegakkan Diagnosis Mukositis oral
Slide 5 : Pengobatan Mukositis oral
Slide 6 : Pencegahan Mukositis oral
MATERI BAKU
Definisi Mukositis oral
Suatu proses peradangan pada mukosa rongga mulut yang berkaitan dengan radioterapi atau kemoterapi pada penderita kanker kepala dan leher.
Ruang Lingkup
Anatomi
Rongga mulut dimulai dari bibir sampai dengan pilar tonsil. Rongga mulut terdiri dari bibir, mukosa bibir, prosessus alveolar superior dan Inferior, trigonum retromolar, 2/3 anterior lidah, dasar mulut dan palatum durum. Bagian atap dibatasi oleh palatum durum dan palatum mole. Dasar rongga mulut dibagi menjadi dua bagian oleh barisan tulang alveolar dan gigi yaitu bagian luar berupa vestibulum dan bagian dalam merupakan
rongga mulut yang sebenarnya. Vaskularisasi dasar rongga mulut berasal dari arteri lingualis. Persarafan dilayani oleh nervus V2, V3 dan VII. Drainase kelenjar limfe dialirkan menuju limfonodi sekitar parotis dan jugularis superior.
Gambar 1. Anatomi Rongga Mulut
Faktor Risiko
Penderita dengan tumor primer di rongga mulut, orofaring atau nasofaring yang mendapatkan kemoterapi ataupun radioterapi. Adapun faktor resiko lainnya :
Keluhan nyeri dalam rongga mulut sebelum radioterapi
Kurang diperhatikannya perawatan kebersihan mulut sebelum,selama dan setelah radioterapi
Perubahan pengecapan
Cacat fungsi seperti pada saat makan, minum, menelan dan bicara
Kekurangan gizi.
Faktor risiko tambahan adalah :
Jenis kanker
Letak kanker
Zat antineoplastik yang digunakan
Dosis
Jadwal pemberian zat
Daerah radiasi
Umur pasien
Etiopatogenesis
Reaksi jaringan terhadap trauma akibat radiasi atau kemoterapi.
Beberapa literatur membagi patogenesis mukositis oral akibat radioterapi dan kemoterapi menjadi 5 fase, yaitu :
Fase inisiasi
Fase peningkatan regulasi inflamasi
Fase massaging, signaling dan amplifikasi
Fase ulserasi
Fase penyembuhan.
Ada pula yang membagi fase mukositis dalam 4 fase, antara lain :
Fase inflamasi
Fase epitelial
Fase ulserasi/bakterial
Fase penyembuhan.
Diagnosis
Anamnesis :
Penderita mengeluh nyeri pada rongga mulut disertai nyeri menelan, hanya bisa makan makanan cair, rasa nyeri odynodysphagia, dysgeusia, yang berakibat timbulnya dehidrasi dan malnutrisi karena menurunnya asupan gizi dan derajat kesehatan mulut serta meningkatkan risiko infeksi lokal dan sistemik.
Pemeriksaan fisik :
Didapatkan karakteristik berupa eritema pada mukosa kemudian edema pada mukosa, berlanjut pada pengelupasan mukosa, Mukositis oral dapat meluas sampai palatum mole, mukosa hipofaring, dasar mulut, mukosa pipi, dasar lidah, bibir dan bagian belakang lidah. Mukositis oral derajat berat disebut juga ulcerative atau pseudomembrane mucositis (ulserasi yang ditutupi pseudomembran dan eksudat).
Adapun guidelines untuk assessmen mukositis oral:
Derajat keparahan mukositis oral memakai beberapa skaladiantaranya :
WHO, World Health Organization, RTOG, Radiation Therapy Oncology Group, CTCAE (NCI), Common Terminology Criteria for Adverse Events (National Cancer Institute)
Terapi
Medikamentosa
Pemberian obat topikal anestesi dan analgetik, suspensi pelindung mukosa rongga mulut (suspensi sukralfat)
Oral hygiene
Direkomendasikan protokol perawatan oral, meliputi gosok gigi dengan sikat gigi halus, berkumur dengan larutan air garam dan sodium bikarbonat. Beberapa hal yang dapat dipakai untuk mengatasi mulut kering adalah minum air sesuai kebutuhan, menggunakan produk artifisial seperti air ludah sintesis. Mencuci mulut dengan campuran ½ sendok teh baking soda dan atau ¼ - ½ sendok teh garam dalam 1 cangkir air hangat beberapa kali sehari untuk membersihkan, melumasi jaringan rongga mulut dan menetralkan suasana lingkungan rongga mulut.
Berdasarkan tinjauan literatur yang komprehensif oleh Mucositis Study Group of the Multinational Association for Supportive Care in Cancer and the International Society of Oral Oncology (MASCC/ISOO), maka dapat digunakan panduan klinis sebagai berikut :
Dukungan nutrisi
Pengendalian nyeri
Dekontaminasi mulut
Paliasi mulut kering
Penatalaksanaan perdarahan oral
Terapi intervensi untuk mukositis oral.
Pencegahan
Dengan menjaga kebersihan rongga mulut serta perlindungan awal terhadap mukosa rongga mulut, perlindungan terhadap obat kemoterapi dan radiasi, menghindari faktor iritan mukosa rongga mulut seperti konsumsi tembakau, alkohol, makanan pedas serta asam diharapkan dapat memperlambat terjadinya mukositis. Pemenuhan gizi juga menjadi faktor penting, penderita dianjurkan makan makanan lunak.
KEPUSTAKAAN MATERI BAKU
Myers EN. Cancer of the Head and Neck, Saunders Company; 2001. 120-124.
Wein RO, O’Leary M. Stomatitis. In: Johnson JT, Rosen CA, editors. Bailey’s Head and Neck Surgery-Otolaryngology. 5th ed. Philadelphia.Lippincott Williams & Wilkins; 2014. p.736-56.
Lee KJ. Essential Otolaryngology Head and Neck Surgery. 11th ed. Chan Y, Goddard JC, editors. New York. McGraw Hill; 2016. p.570-1.
Jameson MJ, Levine PA. Neoplasms of the Oral Cavity. In: Bailey BJ., Johnson JT., Newlands SD., editors. Head and Neck Surgery- Otolaryngology. 4th Edition. Lippincott Williams & Wilkins; 2006. 111: 1552-3.
Naidu M et.al. Chemotherapy-Induced and/or Radiation Therapy Induced Oral Mucositis Complicating the Treatment of Cancer. Nizam’s Institute of Medical Sciences. Vol. 6, No. 5, September/October 2004: p. 423-431.
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROKBEDAH KEPALA DAN LEHER 2022
DAFTAR ISI
WAKTU 1
PERSIAPAN SESI 1
REFERENSI 1
KOMPETENSI 1
GAMBARAN UMUM 2
CONTOH KASUS & DISKUSI 2
TUJUAN PEMBELAJARAN 2
METODE PEMBELAJARAN 3
EVALUASI 3
INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF & PSIKOMOTOR 4
DAFTAR TILIK 5
MATERI PRESENTASI 6
MATERI BAKU 6
KEPUSTAKAAN MATERI BAKU 14
MODUL IV.3.3
LARING-FARING - PERADANGAN RONGGA MULUT : STOMATITIS
WAKTU
Mengembangkan Kompetensi | Frekuensi: |
Sesi di dalam kelas Sesi Praktikum Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi | 6 X 60 menit (classroom session) 6 X 60 menit (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi Stomatitis, meliputi:
Etiologi stomatitis
Stomatitis terkait terapi
Stomatitis terkait infeksi
Stomatitis terkait imunologi
Stomatitis terkait kondisi sistemik
Stomatitis terkait nutrisi
Stomatitis idiopatik
Stomatitis pada anak-anak
Kasus : Stomatitis (epidemiologi dan masalahnya/magnitude of the problem)
Sarana dan Alat Bantu Latih :
Penuntun belajar (learning guide) terlampir
Tempat belajar (training setting): Poliklinik THT-KL
REFERENSI
Wein RO, O’Leary M. Stomatitis. In: Johnson JT, Rosen CA, editors. Bailey’s Head and Neck Surgery-Otolaryngology. Vol 1. 5th ed. Philadelphia. Lippincott Williams & Wilkins; 2014. p.736-56.
Adams GL, Boies Jr, LR, Hilger PA. Boies Fundamentals of Otolaryngology. 8th Ed. Philadelphia. WB Saunders Company; 1997. p. 290-8.
Lee KJ. Essential Otolaryngology Head and Neck Surgery. 11th ed. Chan Y,Goddard JC, editors. New York. McGraw Hill; 2016. p.570-1.
KOMPETENSI
Kompetensi Umum
Mampu mendiagnosis stomatitis berdasarkan anamnesis, pemeriksaanfisik dan pemeriksaan tambahan yang diperlukan
Mampu melakukan tatalaksana stomatitis.
Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini, peserta didik diharapkan terampil :
Menjelaskan etiologi, macam kelainan yang berhubungan dengan stomatitis
Mengenali gejala dan tanda stomatitis
Melakukan anamnesis dan pemeriksaan tentang stomatitis
Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang
Membuat keputusan klinik untuk tatalaksana stomatitis dengan tepat.
GAMBARAN UMUM
Stomatitis merupakan suatu proses peradangan dan kerusakan permukaan mukosa rongga mulut dan biasanya menimbulkan keluhan. Lokasinya bisa meluas sampai ke daerah orofaring atau daerah perioral eksternal. Etiologinya bermacam-macam diantaranya infeksi, proses imunologi, kondisi sistemik, gangguan nutrisi, akibat terapi, maupun idiopatik. Gambaran klinisnya bervariasi, mulai dari yang terlokalisir sampai manifestasi yang berat (fulminan) dan dapat memberikan gambaran seperti eritema mukosa, hiperkeratosis, ulserasi, pseudomembran, dan atau pembentukan vesikel. Penatalaksanaan meliputi pemberian medikamentosa, oral hygiene, menghilangkan faktor pencetus atau penyakit dasarnya serta pemberian pengobatan simptomatisnya.
CONTOH KASUS & DISKUSI
Seorang wanita, 45 tahun datang ke poliklinik THT-KL dengan keluhan luka disudut mulut yang berulang. Luka dirasakan sangat nyeri, sehingga penderita kesulitan untuk makan. Pasien juga datang dengan keluhan badan lemas, mata berkunang-kunang, dan sering berdebar.
TUJUAN PEMBELAJARAN
Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, ketrampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan ketrampilan yang diperlukan dalam mengenali dan melakukan tindakan yang tepat terhadap penderita stomatitis, seperti yang telah disebutkan diatas, yaitu
Menjelaskan etiologi, macam kelainan yang berhubungan dengan stomatitis
Mengenali gejala dan tanda stomatitis
Melakukan anamnesis dan pemeriksaan tentang stomatitis
Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang
Membuat keputusan klinik untuk tatalaksana stomatitis dengan tepat.
METODE PEMBELAJARAN
Literatur Reading
ReferatBimbingan
Journal Reading
Praktik Lapangan (Poliklinik)
Bedside Teaching
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan, yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pre-test terdiri atas :
Anatomi, fisiologi dan patologi rongga mulut
Penegakan diagnosis
Komplikasi dan penanganannya
Follow up
Selanjutnya dilakukan small group discussion bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian.
Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk role-play dengan teman-temannya (peer assisted learning) atau kepada SP (standardized patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (peer assited evaluation). Setelah dianggap memadai, melalui metode bedside teaching di bawah pengawasan fasilitator, peserta didik mengaplikasikan penuntun belajar pada model anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan, evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation) dan mengisi formulir penilaian sebagaiberikut :
Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan
Cukup : pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terlalu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien
Baik : pelaksanaan benar dan baik (efisien).
Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak
memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
Self assessment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakanpenuntun belajar.
Pendidik/fasilitas :
Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form (terlampir).
Penjelasan lisan dari peserta didik/diskusi.
Kriteria penilaian keseluruhan : cakap/tidak cakap/lalai.
Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberitugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical educcation).
Pencapaian pembelajaran :
Ujian OSCE (K, P, A) dilakukan pada tahapan THT-KL dasar olehkolegium Ilmu Kesehatan THT-KL.
Ujian akhir stase, setiap divisi/unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan THT-KL lanjut oleh kolegium Ilmu Kesehatan THT-KL.
Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan THT-KL lanjut olehkolegium Ilmu Kesehatan THT-KL.
Ujian akhir profesi.
INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF & PSIKOMOTOR
Instrumen Penilaian Kompetensi Kognitif
Yang termasuk treatment-related stomatitis adalah:
Stomatitis angularis
Stomatitis herpetiformis
Stomatitis ulseratif
Graft Versus Host Disease
Stomatitis candida
Jawaban : D
Stomatitis akibat infeksi yang paling sering ditemukan adalah stomatitisyang disebabkan oleh:
HIV
Jamur kandida
HSV
Tuberkulosis
Jamur non kandida
Jawaban : B
2. Instrumen Penilaian Kompetensi Psikomotor
DAFTAR TILIK
DAFTAR TILIK
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan status kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini :
Memuaskan langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
X Tidak langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai
Memuaskan dengan prosedur atau panduan standar
T/D Tidak
Diamati
langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
Penilaian Kinerja Keterampilan (Ujian Akhir)Prosedur Pemeriksaan Orofaring
Peserta : ……………………. Tanggal : ………………
NO | KEGIATAN | KESEMPATAN KE | ||||
1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
I. PERSIAPAN PASIEN DAN ALAT | ||||||
1 | Inform consent | |||||
2 | Jelaskan tujuan pemeriksaan dan hasil yang diharapkan | |||||
3 | Pastikan kelengkapan peralatan telah tersedia : | |||||
II. PROSEDUR PEMERIKSAAN | ||||||
1 | Pasien duduk berhadapan dengan dokter. | |||||
2 | Pasien diinstruksikan membuka mulut. | |||||
Lampu kepala
Spatula lidah
Sarung tangan
NO | KEGIATAN | KESEMPATAN KE | ||||
1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
3 | Perhatikan struktur di dalam cavum oris mulai dari gigi geligi, palatum, lidah, bukkal. Lihat ada tidaknya kelainan berupa, pembengkakan, hiperemis, massa, atau kelainan kongenital. | |||||
4 | Lakukan penekanan lidah secara lembut dengan spatula lidah. | |||||
5 | Perhatikan struktur arkus anterior dan posterior, tonsil, dinding dorsal faring. Deskripsikan kelainan-kelainan yang tampak. | |||||
5 | Dengan menggunakan sarung tangan lakukan palpasi pada daerah mukosa bukkal, dasar lidah dan daerah palatum untuk menilai adanya kelainan-kelainan dalam rongga mulut. |
MATERI PRESENTASI
Slide 1. Pendahuluan
Slide 2. Etiologi dan macam kelainan yang berhubungan dengan stomatitis
Slide 3. Gejala dan tanda stomatitis
Slide 4. Penatalaksanaan stomatitis
MATERI BAKU
Definisi Stomatitis
Stomatitis merupakan suatu proses peradangan dan kerusakan permukaanmukosa rongga mulut dan biasanya menimbulkan keluhan.
Ruang Lingkup
Faktor Risiko
Oral hygiene dan penyakit sistemik
Etiology
Treatment-related (akibat terapi infeksi, proses imunologi, kondisi sistemik, gangguan nutrisi,maupun idiopatik.
Diagnosis
Anamnesis :
Penderita mengeluh timbul luka, nyeri di rongga mulut, maupun nyeri menelan. Beberapa dapat disertai gejala sistemik seperti demam, diare, dan gejala penyerta lainnya.
Pemeriksaan fisik :
Gambaran klinisnya bervariasi, mulai dari yang terlokalisir sampai manifestasi yang berat (fulminan) dan dapat memberikan gambaran seperti eritema mukosa, hiperkeratosis, ulserasi, pseudomembran, dan atau pembentukan vesikel.
Pemeriksaan penunjang :
KOH swab, pengecatan Gram, Darah lengkap, LED, dan pemeriksaan imunologi lain.
Penatalaksanaan meliputi pemberian medikamentosa, oral hygiene, menghilangkan faktor pencetus atau penyakit dasarnya serta pemberian pengobatan simptomatisnya.
Treatment-related stomatitis
Kondisi ini dapat terjadi akibat berbagai macam terapi, namun paling sering adalah akibat terapi kanker (kemoterapi dan radioterapi). Yang termasuk dalam treatment-related stomatitis ini antara lain Graft Versus Host Disease (GVHD) dan reaksi likenoid.
Graft Versus Host Disease (GVHD)
Graft Versus Host Disease (GVHD) dapat terjadi akut (diperantarai CD8) atau kronis (diperantarai CD4). Dengan manifestasi xerostomia, ulserasi, gangguan pengecapan dan infeksi jamur berulang. Terapi untuk GVHD ini adalah imunosupresan non spesifik.
Gambar 1. GVHD dengan riwayat transplantasi bone marrow.
Reaksi Likenoid
Reaksi likenoid merupakan suatu respon imunologis terhadap rangsangan lokal maupun sistemik. Reaksi likenoid dapat muncul sebagai stomatitis kontak, yang terlihat pada mukosa bukal yang berhadapan dengan amalgam gigi. Selain itu, stomatitis kontak likenoid dilaporkan juga pada bumbu kayu manis, mints dan mouthwashes. Reaksi likenoid juga dapat timbul sebagai reaksi obat pada permulaan pengobatan. Obat oral yang paling sering menyebabkan reaksi likenoid adalah NSAID, anti hipertensi dan anti retroviral pengobatan HIV.
Terjadinya reaksi likenoid sangat bervariasi, biasanya terjadi dalam 2 sampai 3 bulan setelah memulai pengobatan. Terapi berupa oral hygiene dan menghilangkan agen penyebab.
Gambar 2. Reaksi likenoid kontak dengan amalgam.
Stomatitis infeksi
Agen penyebab stomatitis karena infeksi antara lain jamur (kandida dan non kandida), virus (HSV, HIV-associated), dan tuberkulosis. Insiden yang paling sering adalah stomatitis karena jamur kandida.
Kandidiasis
Pertumbuhan berlebih jamur kandida pada rongga mulut disebabkan karena faktor lokal maupun sistemik. Manifestasi klinis kandidiasis dibagi menjadi 5 kategori.
Kandidiasis eritematosus merupakan presentasi klinis yang paling sering ditemukan disamping bentuk lain seperti pseudomembran candidiasis (thrush), acute atrophic candidiasis (antibiotic sore mouth), chronic hyperplastic candidiasis (candidal leukoplakia), kandida yang berhubungan dengan diagnosis yaitu actinic cheilitis, median thromboid glossitis dan linear ginggival erythema.
Gambar 3. Erythemathous candidiasis, termasuk gambaran
angular cheilitis.
Gambar 4. Pseudomembran candidiasis (thrush), tampak lesi berwarna putih menyerupai gumpalan keju atau susu pada mukosa bukal.
Gambar 5. Chronic hyperplastic candidiasis (candidal leukoplakia),
tampak bercak putih yang melekat erat dan tidak dapat dikerok.
Diagnosis dapat ditegakkan hanya dengan pemeriksaan klinis atau memerlukan penunjang dengan ditemukan pseudo hifa dengan blastosis. Pengobatan diberikan dengan pengobatan anti jamur secara topikal dan sistemik. Obat topikal anti jamur yang dapat diberikan mikonazol, nistatin, amfoterisin B, dan ketoconazole. Obat oral anti jamur diantaranya flukonazol, ketokonazol, dan itrakonazol dengan durasi pengobatan bervariasi sekitar 2 sampai 3 minggu.
Jamur Non Kandida
Manifestasinya serupa dengan oral kandidiasis. Agen penyebab yang paling sering paracoccidium micosis, histoplasmosis dan mucormicosis. Terapi yang digunakan pemberian anti jamur.
Stomatitis karena virus herpes simpleks
Paling sering disebabkan oleh virus HSV1 dengan presentasi klinis berupa vesikel jernih kekuningan yang timbul setelah gejala prodromal. Vesikel mengandung virus aktif dengan lokasi paling sering pada ginggiva, palatum durum, dan di bibir daerah batas vermilion. Terapinya dengan anti viral topikal maupun sistemik.
Gambar 6. Herpes ulserasi pada palatum durum.
Stomatitis terkait infeksi HIV
Gambaran klinis yang paling sering pada penderita HIV positif adalah pseudo membran. Citomegalo virus dan Epstein-Barr virus merupakan agen penyebab infeksi oportunistik karena virus pada infeksi HIV. Terapinya dengan perbaikan sistem imun dengan pemberian anti retro viral.
Gambar 7. Stomatitis pada infeksi HIV.
Stomatitis terkait infeksi Tuberkulosis
Meskipun jarang, infeksi primer tuberkulosis paru dapat menyebar ke daerah kepala leher. Presentasi klinisnya bervariasi, dapat berupa ulserasi kronis yang sulit sembuh atau massa sub mukosa yg diskrit. Diagnosa ditegakkan dengan biopsi dengan gambaran reaksi granulomatus dan ditemukannya micobakterium. Terapi dengan obat anti tuberkulosis.
Stomatitis terkait imunologi
Lesi dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu vesiko bulosa dan ulseratif kronik.
Lesi vesikulo bulosa
Kelainan yang termasuk dalam lesi ini, pemfigoid mukus membran, pemfigoid bulosa, dan epidermolisis bulosa (ketiganya tersebut terletak di sub mukosa), serta pemfigus vulgaris yang terletak di intra mukosa. Terapi secara umum diberikan imunosupresi sistemik dengan kortikosteroid sebagai pilihan utama.
Gambar 8. Deskuamasi gingivitis pada pemfigoid mukus membran
Gambar 9. Manifestasi kutaneus pemfigoid bulosa
Gambar 10. Pemfigus vulgaris
Gambar 11. Deskuamasi gingivitis dan cheilitis pada pemphigus vulgaris
Lesi ulseratif kronis
Kelainan ini jarang ditemukan. Dengan presentasi khas yang berupa ulkus yang nyeri di daerah lidah dan paling sering terjadi pada wanita post menopause. Kelainan ini memberikan respon yang baik terhadap hidroksi klorokuin.
Stomatitis karena kondisi sistemik
Beberapa kondisi sistemik yang dapat menyebabkan kelainan pada rongga mulut antara lain penyakit lupus, inflamatory bowel disease (IBD), kehamilan, penyakit Behcet, sarcoidosis dan kelainan hematologi (leukemia atau limfoma).
Stomatitis karena gangguan nutrisi
Paling sering disebabkan oleh defisiensi besi dan vitamin yang larut dalam air. Manifestasi klinisnya serupa yaitu cheilitis angularis dan atropi glositis.Pada defisiensi vitamin C kelainan berupa ginggivitis hemoragik dengan hipertrofi serta perdarahan submukosa (petekie).
Stomatitis idiopatik
Beberapa contohnya antara lain recurrent apthous stomatitis (RAS), oral liken planus, dan eritema migran.. RAS didefinisikan sebagai ulkus berulang yang terbatas pada mulut dan terlihat tanpa adanya penyakit sistemik. RAS biasanya pertama kali muncul di masa kanak-kanak dan mereda pada dekade ketiga kehidupan. Prevalensi berkisar 5% sampai 21% dan insiden yang lebih rendah terjadi pada perokok. Lebih sering terjadi pada wanita. pada orang Kaukasia, dan pada orang dari status sosial ekonomi tinggi. Manifestasi klinis RAS diklasifikasikan menjadi ulkus aftosa minor, ulkus aftosa mayor dan uklus herpetiformis. Penatalaksanaan dengan steroid topikal dalam bentuk krim atau mouthwash.
Gambar 12. RAS ulkus aftosa minor, ukuran diameter ulkus <1cm
Gambar 13. RAS ulkus aftosa mayor, ukuran dimater >1cm
Gambar 14. RAS ulkus herpetiformis,lesi multipel (> 20)
E. Stomatitis pada anak-anak
Kelainan stomatitis yang khas pada anak-anak adalah sindroma marshal dangranuloma eusinofilik traumatik atau penyakit Riga- Fede.
Sindroma marshal paling sering terjadi pada anak usia dibawah 5 tahun dengan penyebab tidak diketahui dan gejalanya berupa demam, aphthous stomatitis, faringitis dan adenitis. Sindroma ini dapat terjadi selama 4 tahun yang hilang timbul atau periodik. Terapi dengan pemberian steroid dan cimetidin. Tonsilektomi bisa disarankan pada yang tidak berespon dengan medikamentosa.
Penyakit Riga-Fede terjadi pada bayi baru lahir (newborn) akibat pertumbuhan gigi neonatal dengan lesi berupa ulserasi pada daerah permukaan ventral lidah dan atau frenulum lidah. Penatalaksanaannya berupa pencabutan gigi dan pemberian steroid topikal.
N. KEPUSTAKAAN MATERI BAKU
Wein RO, O’Leary M. Stomatitis. In: Johnson JT, Rosen CA, editors. Bailey’s Head and Neck Surgery-Otolaryngology. Vol
1. 5th ed. Philadelphia. Lippincott Williams & Wilkins; 2014. p.736-56.
Adams GL, Boies Jr, LR, Hilger PA. Boies Fundamentals of Otolaryngology. 8th Ed. Philadelphia. WB Saunders Company; 1997. p. 290-8.
Lee KJ. Essential Otolaryngology Head and Neck Surgery. 11th ed. Chan Y, Goddard JC, editors. New York. McGraw Hill; 2016. p.570-1.
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
WAKTU 2
PERSIAPAN SESI 2
REFERENSI 2
KOMPETENSI 3
GAMBARAN UMUM 3
CONTOH KASUS & DISKUSI 3
TUJUAN PEMBELAJARAN 3
METODE PEMBELAJARAN 4
EVALUASI 4
INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF & PSIKOMOTOR 5
DAFTAR TILIK 8
MATERI PRESENTASI 9
MATERI BAKU 10
KEPUSTAKAAN MATERI BAKU 20
MODUL IV.4
LARING-FARING – TONSILITIS
WAKTU
Mengembangkan Kompetensi | Frekuensi |
Sesi di dalam kelas Sesi Pratikum Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi | 8 X 60 menit (classroom session) 2 X 60 menit (coaching session) 35 X 60 menit (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi TONSILITIS, meliputi:
Slide 1: Anatomi, histopatologi dan fisiologi tonsil dan cincin Waldeyer Slide 2: Etio-patogenesis terjadi tonsilitis
Slide 3: Penatalaksanaan tonsilitis
Slide 4: Indikasi dan kontraindikasi tonsilektomi dan atau adenoidektomi Slide 5: Teknik operasi tonsilektomi dan atau adenoidektomi
Slide 6: Perawatan pasca tonsilektomi dan atau adenoidektomi Slide 7: Komplikasi tonsilektomi dan atau adenoidektomi
Contoh Kasus : Tonsilitis kronik
Seorang laki-laki, 10 tahun datang ke poliklinik THT-KL dengan keluhan nyeri tenggorok sejak 4 hari lalu. Keluhan disertai demam dan batuk. Keluhan seperti ini dikeluhkan sejak 5 tahun lalu hilang timbul, dalam 1 tahun > 6 kali. Riwayat tidur mengorok +. Masih bisa makan dan minum. Pemeriksaan fisik: Tonsil hiperemis dan hipertrofi bilateral (ukuran T3-T3), detritus+/+, kripta melebar
+/+.
Sarana dan Alat Bantu Latih :
Alat pemeriksaan THT rutin dan set tonsilektomi
Tempat belajar (training setting): bangsal THT-KL, Poliklinik THT-KL, kamar operasi, bangsal perawatan pasca bedah THT-KL.
REFERENSI
Bailey B. J. Adenotonsilar Disease in Children In : Head and Neck Surgery Otolaryngology. Fourth Edition. Texas. Lippincott Williams & Wilkins. 2014 : 1430-1441.
Bailey B. J. Tonsillectomy, Adenoidectomy, and UPPP. In : Pediatric and General Otolaryngology. 2001 : 858-63.
Adams G. L. Penyakit-penyakit Nasofaring dan Orofaring. Dalam : Highler B.
A. Boeis Buku Ajar Penyakit THT-KL. Edisi 6. Jakarta. EGC. 1997 : 327-40.
Rusmarjono, Soepardi E. Penyakit Serta Kelainan Faring dan Tonsil. Dalam : Soepardi E, Iskandar N. Buku ajar ilmu kesehatan THT-KL-KL. Ed 7. Jakarta. Balai Penerbit FKUI, 2007: 183-4.
Safar P, Escarraga LA, Chang F. Upper airway obstruction in the unconscious patient. J Appl Physiol 1959;14:760-4.
Ballenger J. J. Tonsil. Dalam : Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala dan Leher. Edisi 13. Jakarta. Binarupa Aksara. 1994 : 352-7.
Lore M. J, Medina J. E. Tonsillectomy and Adenoidectomy. In : An Atlas of Head and Neck Surgery. Fourth Edition. New York. Elsevier Saunders. 2005 : 770-2
Dhingra PL. Tonsillitis. Dalam: Disease of Ear, Nose and Throat. 6th Ed. New Delhi. Elsevier. 2015: 239-43
KOMPETENSI
Kompetensi Umum
Mampu mendiagnosis tonsilitis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang diperlukan
Mampu melakukan tatalaksana tonsilitis
Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini, peserta diharapkan terampil :
Menjelaskan anatomi, histologi dan fisiologi tonsil
Menjelaskan etiologi dan patofisiologi tonsilitis
Melakukan anamnesis dan pemeriksaan tentang tonsilitis
Melakukan pemeriksaan penunjang yang diperlukan seperti: kultur & test resistensi apus tenggorok, laboratorium darah dan ASTO
Mampu tatalaksana medikamentosa tonsilitis
Mampu melakukan tonsilektomi dan atau adenoidektomi
GAMBARAN UMUM
Tonsil merupakan salah satu jaringan limfoid (cincin Waldeyer) yang sering mengalami infeksi. Infeksi pada tonsil sering berulang yang mengakibatkan hipertrofi tonil dan mengakibatkan komplikasi lokal (seperti otitis media dan abses leher dalam) maupun komplikasi sistemik (endokarditis, glomerulonefritis dan artritis). Tatalaksana tonsilitis berupa konservatif dan operatif.
CONTOH KASUS & DISKUSI
Seorang laki-laki, 10 tahun datang ke poliklinik THT-KL dengan keluhan nyeri tenggorok sejak 4 hari lalu. Keluhan disertai demam dan batuk. Keluhan seperti ini dikeluhkan sejak 5 tahun lalu hilang timbul, dalam 1 tahun > 6 kali. Riwayat tidur mengorok +. Masih bisa makan dan minum. Pemeriksaan fisik: Tonsil hiperemis dan hipertrofi bilateral (ukuran T3-T3), detritus+/+, kripta melebar +/+.
TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk :
Menjelaskan anatomi dan fisiologi cincin Waldeyer
Menjelaskan etiologi, patofisiologi dan histopatologi tonsilitis
Menjelaskan gambaran klinis dan terapi tonsilitis
Mampu mendiagnosis tonsilitis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
Mampu tatalaksana konservatif
Mampu melakukan tonsilektomi dan atau adenoidektomi
Mampu melakukan tatalaksana komplikasi tonsilektomi dan atau adenoidektomi
Mampu melakukan perawatan pasca tonsilektomi dan atau adenoidektomi
METODE PEMBELAJARAN
Literatur Reading
Referat
Bimbingan Referat
Jurnal Reading
Praktik Lapangan (Poliklinik)
Skills Lab
Praktik Lapangan (OK)
Bedside Teaching
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pre test dalam bentuk essay, oral, Mini CEX, CbD, sesuai dengan tingkat masa pendidikan, yang bertujuan untuk menilai kinerja awal. Yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pre test terdiri atas :
Anatomi, fisiologi dan patologi tonsil
Penegakan Diagnosis
Terapi (teknik operasi)
Komplikasi dan penanganannya
Follow up
Selanjutnya dilakukan “small group discussion” bersama dengan fasiliator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian.
Setelah mempelajari penuntun belajar ini, peserta didik diwajibkan untuk, mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk role-play dengan teman-temannya (peer assited learning) atau kepada SP (standardized patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan : membawa penuntun belajar, penuntun belajar dipegang oleh teman-temannya untuk : melakukan evaluasi (peer assisted evaluation). Setelah dianggap memadai, melalui metoda bedside teaching dibawah pengawasan fasilitator, peserta didik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan, evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut.
Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan.
Cukup : pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien misal pemeriksaan terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien
Baik : pelaksanaan benar dan baik ( efisien )
Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
Self assesment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar.
Pendidik/fasilitas:
Pengamatan langsung dengan memakai evaluation check list form (terlampir)
Penjelasan lisan dari eserta didik/diskusi
Kriteria penelian keseluruhan : cakap/tidak cakap/lalai
Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila perlu diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (taks-based medical education)
Pencapaian pembelajaran :
Ujian post test, DOPS
Ujian OSCE
INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF & PSIKOMOTOR
Instrumen Penilaian Kompetensi Kognitif
Apakah diagnosis yang paling mungkin pada kasus ini?
Tonsilitis Akut
Rinofaringitis akut
Tonsilitis kronis
Hipertrofi tonsil
Adenoiditis Jawaban: C
Pada pasien tersebut di atas dilakukan pemeriksaan fisik dan didapati tonsil T3-T3 dengan muara kripte melebar dan detritus jika ditekan, plika anterior tampak hiperemis, dan dari palpasi didapati pembesaran limfono di cervialis, maka manajemen pada pasien ini adalah :
Dilakukan pengobatan dengan analgetik sistemik
Disarankan untuk tonsilektomi
Disarankan untuk adenoidektomi
Diterapi antibiotic golongan kuinolon Jawaban: B
Of the following is not part of the summary statement from the 2010 ClinicalPractice Guideline on Tonsillectomy?
In children with abnormal polysomnography and hypertrophic tonsils, tonsillectomy can provide a means to improve health.
Children undergoing tonsillectomy do not need perioperative antibiotics .
Children undergoing tonsillectomy will benefit from perioperative antibiotics .
Clinicians should evaluate their rates of primary and secondary postoperative hemorrhage annually.
A single dose of intraoperative intravenous dexamethasone during tonsillectomy
Jawaban: C
What is the best treatment option?
Observation with symptomatic treatment of fever and sore throat
One-week course of amoxicillin
Admit to the hospital for IV antibiotics until afebrile for at least 4 8 hours, and then
switch to an oral antibiotic such as amoxicillin and claculanic acid
Excisional lymph node biopsy with systemic chemotherapy Jawaban: A
Which of the following is the next appropriate step in management?
Confirmation with GABHS culture on blood agar
Symptomatic therapy
Treatment with amoxicillin
Treatment with azithromycin
Treatment with acetaminophen Jawaban: C
What is the best diagnostic procedure?
Fine-needle aspirate biopsy
Small incisional biopsy of single node with frozen sections and cultures
Biopsy with permanent hematoxylin/ eosin sections, and immunohistochemistry andcytogenetics studies
Needle aspirate of enlarged node with fungal and atypical mycobacterial cultures
Jawaban: C
Instrumen Penilaian Kompetensi Psikomotor
PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR TONSILEKTOMI DISEKSI-JERAT
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.:
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
NAMA PESERTA: ...................................... TANGGAL: .................................
KEGIATAN | KASUS | ||||||
I. PERSIAPAN OPERASI | |||||||
1. Informed consent | |||||||
2. Jelaskan tujuan operasi dan hasil yang diharapkan | |||||||
3. Jelaskan prosedur dan standar operasi pada pasien/ keluarganya | |||||||
4. Evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi operasi | |||||||
II. PROSEDUR OPERASI | |||||||
1. Pasien dalam posisi terlentang, kepala ekstensi. | |||||||
2. Dipasang mouth gag Davis sesuai dengan ukuran rongga mulut pasien. | |||||||
3. Pole atas tonsil dipegang dengan klem kemudian ditarik kearah medial | |||||||
4. Lakukan insisi secara tajam antara massa tonsil dan pillar dengan menggunakan sickle knife mulai dari pole atas tonsil. | |||||||
5. Selanjutnya insisi dilanjutkan secara gentle. | |||||||
6. Kemudian dilakukan diseksi tonsil menggunakan disektor sampai tinggal pedikel tonsil di pole inferior. Diseksi juga dapat dilakukan dengan menggunakan electrosurgery/ diathermy, radiofrequency ablation, coblation, harmonic scalpel, thermal welding, carbon dioxide laser, micro debrider. | |||||||
7. Pedikel di klem dengan Negus Artery Forceps, tonsil digunting. | |||||||
8. Perdarahan dirawat dengan cara ligasi menggunakan benang Silk 2-0. | |||||||
9. Hal yang sama dilakukan pada tonsil sisi kontralateral. | |||||||
10. Dilakukan evaluasi pada fossa tonsil, bila ada perdarahan dilakukan hemostasis. | |||||||
11. Mouth gag Davis dilepas | |||||||
IV. PASCA OPERASI | |||||||
1. Observasi jalan nafas, perdarahan, tekanan darah, suhu dan nadi secara teratur | |||||||
2. Disarankan pasien tidur miring tanpa bantal | |||||||
3. Kompres es di sekitar leher | |||||||
4. Mengawasi terjadinya dehidrasi | |||||||
5. Pemberian antibiotik segera setelah operasi | |||||||
6. Pemberian minuman dingin dan makanan lembut untuk beberapa hari pertama, untuk menghindari terjadinya perdarahan | |||||||
Medikamentosa
Antibiotika oral
Analgetika oral
Terapi simtomatis sesuai indikasi
DAFTAR TILIK
Penilaian Kinerja Keterampilan (ujian akhir) DAFTAR TILIK PENILAIAN
PROSEDUR TONSILEKTOMI DISEKSI JERAT
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini:
: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau
panduan standar
X: Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
T/T: Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
PESERTA: TANGGAL :
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. PERSIAPAN OPERASI | |||||
1. Informed consent | |||||
2. Jelaskan tujuan operasi dan hasil yang diharapkan | |||||
3. Jelaskan prosedur dan standar operasi pada pasien/ keluarganya | |||||
4. Evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi operasi | |||||
KEGIATAN | KASUS | ||||||
II. PROSEDUR OPERASI | |||||||
1. Pasien dalam posisi terlentang, kepala ekstensi. | |||||||
2. Dipasang mouth gag Davis sesuai dengan ukuran rongga mulut pasien. | |||||||
3. Pole atas tonsil dipegang dengan klem kemudian ditarik kearah medial | |||||||
4. Lakukan insisi secara tajam antara massa tonsil dan pillar dengan menggunakan sickle knife mulai dari pole atas tonsil. | |||||||
5. Selanjutnya insisi dilanjutkan secara gentle. | |||||||
6. Kemudian dilakukan diseksi tonsil menggunakan disektor sampai tinggal pedikel tonsil di pole inferior. Diseksi juga dapat dilakukan dengan menggunakan electrosurgery/ diathermy, radiofrequency ablation, coblation, harmonic scalpel, thermal welding, carbon dioxide laser, micro debrider. | |||||||
7. Pedikel di klem dengan Negus Artery Forceps, tonsil digunting. | |||||||
8. Perdarahan dirawat dengan cara ligasi menggunakan benang Silk 2-0. | |||||||
9. Hal yang sama dilakukan pada tonsil sisi kontralateral. | |||||||
10. Dilakukan evaluasi pada fossa tonsil, bila ada perdarahan dilakukan hemostasis. | |||||||
11. Mouth gag Davis dilepas | |||||||
IV. PASCA OPERASI | |||||||
1. Observasi jalan nafas, perdarahan, tekanan darah, suhu dan nadi secara teratur | |||||||
2. Disarankan pasien tidur miring tanpa bantal | |||||||
3. Kompres es di sekitar leher | |||||||
4. Mengawasi terjadinya dehidrasi | |||||||
5. Pemberian antibiotik segera setelah operasi | |||||||
6. Pemberian minuman dingin dan makanan lembut untuk beberapa hari pertama, untuk menghindari terjadinya perdarahan | |||||||
Medikamentosa
Antibiotika oral
Analgetika oral
Terapi simtomatis sesuai indikasi
MATERI PRESENTASI
Slide 1. Pendahuluan
Slide 2. Ananatomi dan Fisiologi cincin Waldeyer
Slide 3. Patogenesa terjadi hipertrofi tonsil
Slide 4. Indikasi dan KontraindikasiTonsilektomi
Slide 5. Tehnik Operasi Tonsilektomi
Slide 6. Perawatan Pasca Tonsilektomi
Slide 7. Komplikasi Tonsilektomi
MATERI BAKU
Anatomi, Histologi dan Fisiologi Cincin Waldeyer
Tonsil (faucial atau palatina) berjumlah sepasang, merupakan organ yang berbentuk oval yang berlokasi di dinding lateral orofaring, di fossa tonsilaris diantara plika palatoglossus dan plika palatofaringeus.3,4 Organ ini beserta adenoid merupakan bagian dari lingkaran jaringan limfoid yang disebut cincin Waldeyer,). Tonsila palatina diliputi oleh selapis tipis epitel yang menjorok masuk ke dalam parenkimnya membentuk kripte-kripte.5 Diantara kapsula tonsil dengan otot faring terdapat jaringan ikat yang longgar .Permukaan dalam tonsil bersinggungan dengan fasia muskulus konstriktor superior. Batas anterior adalah muskulus palatoglosus (pilar anterior), dan batas posterior adalah muskulus palatopharyngeus (pilar posterior). Tonsil bisa meluas ke inferior dan menyambung dengan jaringan tonsil lingual pada dasar lidah.3
Suplai darah tonsil sangat bervariasi, tetapi secara umum disuplai dari arteri faringeal ascendens, palatina ascendens, dan cabang dari arteri lingual dan fasial, semua cabang arteri carotis externa. Jarang diperdarahi langsung oleh arteri carotis externa itu sendiri. Arteri carotis interna berjalan kira-kira 2 cm di posterolateral dasar tonsil; sehingga pada waktu pembedahan, harus diperhatikan tempat yang tepat untuk diseksi untuk menghindari cedera pada pembuluh darah. Saluran limfatik dari tonsil yang utama adalah ke limfonodi cervical superior dalam dan jugular; dengan demikian penyakit inflamasi dari tonsil merupakan faktor yang signifikan pada perkembangan abses atau adenitis cervical pada anak-anak. Inervasi sensoris berasal dari nervus glossopharyngeal dan beberapa cabang dari nervus palatina lewat ganglion sphenopalatina.3,5
Lokasi anatomi tonsil tersebut mengakibatkan adanya hubungan dengan penyakit pada tuba eustachius / telinga tengah dan sinus; tetapi tonsil dan adenoid secara bersama lebih sering mengakibatkan proses penyakit : infeksi kronik / rekuren dan atau hiperplasia obstruktif.3
Hiperplasia tonsil bisa menyebabkan posisi lidah abnormal, lidah terasa ditusuk- tusuk, pola bicara yang abnormal, dan perubahan pertumbuhan orofasial dan kraniofasial. Serupa dengan adenoid, hubungan antara volume orofaring, ukuran tonsil, dan etiologi obstruksi jalan napas atas merupakan multifaktor dan berhubungan dengan hiperplasia tonsil, variasi anatomi, dan faktor genetik.3
Struktur histologi tonsil sangat erat hubungannya dengan fungsinya sebagai organ imunologis. Seperti adenoid, tonsil palatina tidak mempunyai limfatik aferen tetapi mempunyai 10 sampai 30 invaginasi seperti kripte yang cabangnya terletak di dalam parenkim tonsil dan dihubungkan dengan epitel squamous
antigen-processing khusus. Epitel ini bekerja sebagai sistem imun untuk antigen inhalasi dan ingesti. Epitel kripte mempunya sistem kompleks sel antigen- processing khusus dan micropores yang mengirim antigen pada cel limfoid aktif imunologis. Empat zona (atau bagian) yang penting pada proses antigen yaitu: epitel squamous khusus, area extrafolikuler (area kaya sel T), lapisan folikel limfoid, dan pusat germinal folikel limfoid (sel B). 3
Tonsil dan adenoid merupakan jaringan limfoid utama pada traktus aerodigestivus. Keduanya terlibat dalam imunitas lokal maupun sistemik. Adenoid juga menjadi target organ pada stimulasi alergi, yang dapat berakibat terjadinya hipertrofi. Efek adenotonsilektomi terhadap keseluruhan integritas sistem imun hanyalah minimal. Meskipun tidak ditemukan adanya efek samping setelah ekstirpasi kedua organ ini, namun keduanya memang berperan dalam fungsi imunitas yang tidak boleh dikesampingkan begitu saja, terutama pada masa awal kanak-kanak. Sehingga tindakan mengambil adenoid dan tonsilapalatina harus disertai adanya definisi penyakit klinis yang jelas.3
Patofisiologi Tonsilitis
Patogenesis infeksi dan inflamasi pada tonsil dan adenoid dipengaruhi oleh lokasi tonsil yang letaknya di orofaring, nasofaring dan dasar lidah membentuk suatu cincin pertahanan imunitas (Waldeyer’s ring). Organ ini akan memproses antigen virus, bakteri dan mikroorganisme lain, sehingga mudah terkena infeksi dan pada akhirnya dapat menjadi fokus infeksi. Infeksi virus yang diikuti infeksi bakteri sekunder mungkin merupakan salah satu mekanisme dari infeksi akut menjadi infeksi kronis, tetapi hal ini juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan, pejamu, alergi dan penggunaan antibiotik yang luas dan gizi.1
Tonsilitis
Tonsilits dibagi menjadi tonsilitis akut dan tonsilitis kronis.
Tonsilitis Akut :
Acute Catarrhal/ superficial tonsillitis
Acute follicular tonsillitis
Acute parenchymatous tonsillitis
Acute membranous tonsillitis
Tonsilitis Kronis :
Chronic follicular tonsillitis
Chronic parenchymatous tonsillitis
Chronic fibroid tonsillitis
Tonsilitis alergi (lihat di Modul Alergi Imunologi)
Diagnosis banding tonsilitis kronik yaitu hipertrofi tonsil dan tumor tonsil.
Tatalaksana Tonsilitis
Tatalaksana tonsilitis berupa medikamentosa dan operatif berupa tonsilektomi dan atau adenoidektomi. Antibiotika yang diberikan adalah golongan penisilin masih merupakan terapi pilihan.
Prosedur pengangkatan tonsila palatina dapat berupa pengangkatan tonsil secara total (tonsilektomi) atau secara parsial (tonsilotomi). Pada adenoid hipertrofi dilakukan adenoidektomi.
Tonsilektomi :
Tonsilektomi didefinisikan sebagai suatu tindakan bedah yang mengangkat keseluruhan jaringan tonsil palatina, termasuk kapsulnya dengan melakukan diseksi ruang peritonsiler diantar kapsula tonsil dan dinding muskuler tonsil. Tindakan ini dapat dilakukan dengan atau tanpa adenoidektomi. 1,2
Indikasi Operasi
Obstruksi 3,6,7
Hiperplasia/hipertrofi tonsil yang menyebabkan gangguan berupa:
Gangguan bernapas saat tidur.
Obstructive sleep apnea syndrome
Upper airway resistance syndrome
Obstructive hypoventilation syndrome
Gagal tumbuh
Cor pulmonale
Gangguan menelan
Gangguan berbicara
Abnormalitas orofacial/dental
Gangguan limfoproliferatif3
Infeksi
Tonsilitis rekuren/kronik6,7
Tonsilitis dengan :
Abses nodus cervical
Obstruksi jalan napas akut
Penyakit jantung katup
Tonsilitis persisten dengan :
Sore throat persisten
Nodus cervical yang nyeri
Halitosis
Tonsilolithiasis
Status karier streptococcal yang tidak responsif terhadap terapi medis pada anak-anak atau keluarga yang beresiko6,7
Abses peritonsial yang tidak responsif terhadap terapi medis atau pada pasien dengan tonsilitis rekuren atau abses rekuren3
Tonsilitis yang menimbulkan kejang demam6
Terjadi 3 atau lebih infeksi tonsil dalam satu tahun dengan pengobatan adekuat6
Neoplasma
Tersangka neoplasma, baik benigna maupun maligna.5,6 (Cummings, 2005; HTA, 2004; HTA Ireland 2013)
Ada pula indikasi dengan menggunakan kriteria Paradise 8, yaitu :
≥ 7 episode tonsilitis per tahun dengan pengobatan adekuat
≥ 5 episode tonsilitis per tahun dalam 2 tahun terakhir
≥ 3 episode tonsilitis per tahun dalam 3 tahun berturut-turut
Tonsilitis dengan gejala nyeri tenggorok disertai paling tidak 1 dari gejala berikut:
Demam ≥ 38,3 °
Cervical limfadenopati
Tonsilar eksudat
Positif kultur Streptokokus beta hemolitikus
Adenoidektomi
Adenoidektomi adalah tindakan pengangkatan adenoid, dapat dilaksanakan dengan atau tanpa tonsilektomi.
Indikasi Adenoidektomi:
Hipertrofi Adenoid
Adenoiditis yang menyebabkan
Otitis Media Rekuren
Sinusitis Akut Rekuren
Sinusitis Kronik Pada Anak
Obstructive Sleep Apnea Syndrome
Kontra Indikasi Operasi
Kelainan darah, seperti hemofilia, diskrasia darah, anemia
Risiko tinggi pembiusan umum (general anesthessia)
Palatoskizis
Pemeriksaan penunjang
Laboratorium darah: Darah rutin, BT, CT dan atau PT, APPT
Bila perlu: kultur resistensi (swab tenggorok), rhinopharyngolaryngoscope (RFL) (lihat Modul Refluks Laringo- Faring), Foto Kepala AP dan Lateral sentrasi adenoid, polysomnography (lihat Modul OSAS)
Foto rontgen dada, EKG untuk usia lebih dari 35 tahun
Teknik Operasi
Terdapat banyak variasi teknik tonsilektomi dan adenoidektomi. Sejarah pengangkatan tonsil pertama sebagai tindakan medis telah dilakukan pada abad 1 Masehi oleh Cornelius Celsus di Roma dengan menggunakan jari tangan6. Selama bertahun-tahun, berbagai teknik dan instrumen untuk tonsilektomi telah dikembangkan. Sampai saat ini teknik tonsilektomi yang optimal dengan morbiditas yang rendah masih menjadi kontroversi, masing- masing teknik memiliki kelebihan dan kekurangan. Di Indonesia teknik
tonsilektomi yang terbanyak digunakan saat ini adalah teknik Guillotine dan diseksi.6
Tonsilektomi dapat dilakukan dengan pisau, protected electrocautery blade, scalpel harmonic, koblasi, mikrodebrider, atau laser. Hemostatis dapat dilakukan dengan elektrokauter, ligasi, jahitan, maupun thrombin. Jaringan adenoid dapat dieksisi dengan kuret, adenotom, atau powered instrument. Seiring waktu berbagai instrumen dan teknik tonsilektomi telah berkembang, yang pertama kali dikembangkan adalah teknik guillotine di abad ke-18.10
Tonsilektomi cara guillotine dikerjakan secara luas sejak akhir abad ke 19, dan dikenal sebagai teknik yang cepat dan praktis untuk mengangkat tonsil. Greenfield Sluder pada sekitar akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 merupakan seorang ahli yang sangat merekomendasikan teknik Guillotine dalam tonsilektomi. Beliau mempopulerkan alat Sluder yang merupakan modifikasi alat Guillotin.5 Hingga kini, di UK tonsilektomi cara guillotine masih banyak digunakan. Hingga dikatakan bahwa teknik Guillotine merupakan teknik tonsilketomi tertua yang masih aman untuk digunakan hingga sekarang. Kepustakaan menyebutkan beberapa keuntungan teknik ini yaitu cepat, komplikasi anestesi kecil, biaya kecil.6
Frampton et al dalam penelitiannya menyatakan bahwa guillotine merupakan metode tonsilektomi yang efektif dan efisien waktu dengan perdarahan intraoperative yang lebih sedikit dan nyeri post operatif yang lebih ringan dibandingkan teknik cold diseksi. 10
Sejak para pakar bedah mengenal anestesi umum dengan endotrakeal pada posisi Rose yang mempergunakan alat pembuka mulut Davis, mereka lebih banyak mengerjakan tonsilektomi dengan cara diseksi.6 . Saat ini teknik inilah yang paling sering digunakan. Teknik cold dissection (diseksi dingin) meliputi eksisi tonsil menggunakan gunting dan disektor tonsil tumpul. dengan menggunakan anestesi umum dengan intubasi endotrakeal.10 Teknik operasi meliputi: memegang tonsil, membawanya ke garis tengah, insisi membran mukosa, mencari kapsul tonsil, mengangkat dasar tonsil dan mengangkatnya dari fossa dengan manipulasi hati-hati. Lalu dilakukan hemostasis dengan elektokauter atau ikatan.
Berbagai teknik diseksi baru telah ditemukan dan dikembangkan disamping teknik diseksi standar, yaitu: 6,7,10
Elektrokauteri
Radiofrekuensi
Skalpel harmonic
Coblation
Intrakapsular parsial tonsilektomi
Laser6,7, 10
Diseksi
Memeriksa dan melengkapi persiapan alat dan kelengkapan operasi.
Pembiusan dengan endotracheal , posisi kepala penderita hiperektensi dengan bantal dibawah bahu penderita.
Desinfeksi dengan larutan antiseptik , kemudian ditutup dengan kain steril berlubang.
Dipasang retraktor mulut.
Diseksi Menurut Lore and Medina
Dengan mouth gag Jennings dan penekan lidah, tonsil dicengkram dengan klem Allis atau klem tonsil lain yang serupa. Suction Yankauer digunakan untuk menarik palatum molle. Dengan menarik palatum, dan traksi tonsil keluar, mukosa pilar posterior tonsil terlihat. Mukosa pilar posterior diinsisi dimulai dari kutub superior.
Sisa mukosa pada kutub superior dan mukoas pilar anterior diinsisi dan klem mencengkram kapsul di kutub superior. Bagian belakang pisau (Neivert) digunakan untuk memisahkan kapsul tonsil dari fossanya.
Klem digunakan dalam posisi horizontal, dan diseksi secara tumpul dilakukan di kutub superior untuk melihat pembuluh darah kutub superior.
Pembuluh darah ini diklem di bagian proximal dan dipotong di bagian distal dengan gunting.
Benang catgut 2.0 atau 3.0 diletakkan di sekeliling klem pembuluh darah dan diikat dengan menggunakan klem lain.
Pilar anterior di retraksi dengan retraktor Herd, kapsul dipisahkan secara diseksi tumpul. Gunting Metzenbaum juga bisa digunakan untuk diseksi.
Saat diseksi mencapai kutub inferior, senar digunakan untuk mengangkat tonsil secara utuh.
Bila terdapat sisa jaringan limfoid di kutub inferior, diangkat dengan menggunakan senar
Fossa diinspeksi, dan perdarahan di klem dan diikat. Jahitan di bagian di dalam dihindari, karena arteri carotis intera bisa terkena. Setelah mengatasi perdarahan, letakkan kassa pada fossa untuk beberapa menit.
Pengikatan perdarahan bisa dengan pengikat dari ruder. Setelah pendarahan diklem, benang cat gut 2,0 atau 3,0 setelah diikat simpul yang bisa digerakkan dimasukkan ke pengikat ruder, diluwib back disekeliling pembuluh darah yang diklem kemudian dieratkan.
Teknik Diseksi Menurut Byron J. Bailey1
Alat :
Lampu kepala
Retraktor McIvor
Pisau Dean dan Fischer
Bantalan
Kutub superior dari salah satu tonsil di pegang dengan klem Allis dan di tarik ke depan ke arah garis tengah. Mukosa di sekitar kutub superior tonsil di insisi dengan menggunakan pisau lengkung pada pertemuan antara tonsil dan musculus pilar. Insisi ke arah anterior dan inferior menuju kutub inferior tonsil. Ujung pisau masuk ke dalam mukosa dan kemudian menelusuri tepi pilar posterior tonsil.
Kapsul diangkat dari landasan otot fossa tonsilar dengan menggunakan tekanan dengan tepi pisau Fischer/disektor tonsil. Pembuluh darah yang tampak,
bisa di electrocoagulated sebelum dipisahkan atau di cauter setelah di klem dengan hemostat. Diseksi dilanjutkan sampai tonsil melekat dengan hanya satu pembuluh darah dan mukosa di kutub inferior. Lingkaran logam (kawat) masuk mengelilingi tonsil, melingkari perlekatan kutub inferior dengan pergerakan yang lambat dan mantap, lingakaran dieratkan sampai tonsil lepas. Saat perlekatan kutub inferior tonsil dilepas, biasanya terjadi perdarahan, yang diatasi dengan meletakkan dua buah kapas pada fossa tonsilar.
Pedarahan dicegah dengan meletakkan kapas pada sisi tonsilektomi dan atau adenoidektomi sementara prosedur yang sama dilakukan pada sisi kontralateral. Setelah menyelesaikan tonsilektomi dan atau adenoidektomi, kassa dilepas dari nasofaring, dan daerah tersebut diirigasi dengan larutan saline untuk membersihkan clotting. Inspeksi nasofaring dengan cermin dilakukan dengan menarik kedua kateter karet untuk membuka daerah tersebut. Perdarahan diatasi dengan kassa atau elektrokoagulasi. Kassa diangkat dari sisi tonsilektomi dan atau adenoidektomi yang pertama, dan kemudian dasar tonsil diamati dengan cermat. Dapat dilihat kumpulan pembuluh darah dekat kutub superior dan inferior di setiap tonsil. Perdarahan kecil diatasi dengan elektrokoagulasi, dan perdarahan besar dengan klem dan ligasi menggunakan benang catgut 2,0 atau 3,0 atau Vicryl pada jarum semisirkuler.
Komplikasi Anestesi 6:
Laringospasme
Gelisah pasca operasi
Mual muntah
Kematian saat induksi dengan hipovolemi
Hipotensi
Henti jantung
Hipersensitif obat anestesi
Komplikasi Operasi1,6,7,10
Perdarahan
Nyeri
Airway obstruction
Postoperatif pulmonary edema
Dehidrasi
Insufisiensi velofaringeal
Stenosis nasofaring
Lesi di bibir, lidah, gigi
Pneumonia
Durante Operasi
Trauma pada gigi, bibir, lidah, dinding faring dan tuba eustachius (pada adenoidektomi).
Dislokasi sendi rahang11 (temporomandibular joint), jika membuka mulut terlalu lebar atau kesalahan pemasangan mouth gag
Trauma pada vertebra servikal karena hiperekstensi kepala
Perdarahan1,6,7,11,15, mungkin terjadi karena :
Jaringan tonsil yang tertinggal (rest tonsil)
Baru saja infeksi, atau ada kelainan darah (gangguan faktor pembekuan)
Riwayat abses peritonsil sebelumnya (scar/fibrotik)
Terdapat pembuluh darah yang terbuka
Sumbatan jalan nafas karena darah terkumpul di daerah faring sehingga menyebabkan sumbatan mekanik jalan nafas1,4,6,14
Post Operasi (Recovery)
Perdarahan (8 jam pertama), kemungkinan penyebabnya adalah :
Ikatan pembuluh darah terlepas
Tekanan darah meningkat
Hilangnya vasokonstriktor adrenalin (lokal)
Bekuan darah terlepas
Peningkatan tekanan vena karena terbatuk (mulai sadar)
Sumbatan jalan nafas karena terkumpulnya darah di saluran nafas atas (faring)
Spasme laring karena ekstubasi terlalu cepat atau terkumpulnya darah pada jalan nafas
Shock hipovolemik
Post Operasi (Kemudian)
Perdarahan sekunder, biasanya terjadi hari ke 5-10 karena peradangan, selaput fibrin yang menutup fosa tonsilaris terlalu cepat lepas, ikatan
pembuluh darah terlepas, iritasi karena batuk-batuk dan trauma akibat makanan yang terlalu keras.
Nyeri alih ke telinga / otalgia6,7,11,15, karena terganggunya tuba eustachius
Otitis media akut (infeksi sekunder melalui tuba eustachius)
Odema palatum molle dan uvula, akibat trauma
Sepsis lokal
Komplikasi paru, misal atelektasis, pneumonia dan abses paru, terjadi karena aspirasi darah / debris/ fragmen tonsil, atau perluasan infeksi dari saluran nafas atas.
Komplikasi jantung
Dehidrasi dan malnutrisi7,15
Perawatan Post Operasi6,10, 15
Sangat penting mengamati perdarahan, sehingga disarankan pasien tidur miring tanpa bantal.
Kompres es di sekitar leher
Awasi tekanan darah dan nadi secara teratur
Mengawasi terjadinya dehidrasi, karena biasanya setelah operasi, pasien tidak tertarik untuk makan dan minum
Pemberian antibiotik segera setelah operasi untuk mencegah infeksi
Pemberian analgetik untuk mengurangi nyeri
Pemberian minuman dingin dan makanan lembut untuk beberapa hari pertama, untuk menghindari terjadinya perdarahan.
KEPUSTAKAAN MATERI BAKU
Bailey B. J. Adenotonsilar Disease in Children In : Head and Neck Surgery Otolaryngology. Fourth Edition. Texas. Lippincott Williams & Wilkins. 2014
: 1430-1441.
Bailey B. J. Tonsillectomy, Adenoidectomy, and UPPP. In : Pediatric and General Otolaryngology. 2001 : 858-63.
Adams G. L. Penyakit-penyakit Nasofaring dan Orofaring. Dalam : Highler
B. A. Boeis Buku Ajar Penyakit THT-KL. Edisi 6. Jakarta. EGC. 1997 : 327- 40.
Rusmarjono, Soepardi E. Penyakit Serta Kelainan Faring dan Tonsil. Dalam : Soepardi E, Iskandar N. Buku ajar ilmu kesehatan THT-KL-KL. Ed 7. Jakarta. Balai Penerbit FKUI, 2007: 183-4.
Safar P, Escarraga LA, Chang F. Upper airway obstruction in the unconscious patient. J Appl Physiol 1959;14:760-4.
Ballenger J. J. Tonsil. Dalam : Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala dan Leher. Edisi 13. Jakarta. Binarupa Aksara. 1994 : 352-7.
Lore M. J, Medina J. E. Tonsillectomy and Adenoidectomy. In : An Atlas of Head and Neck Surgery. Fourth Edition. New York. Elsevier Saunders. 2005
: 770-2
Dhingra PL. Tonsillitis. Dalam: Disease of Ear, Nose and Throat. 6th Ed. New Delhi. Elsevier. 2015: 239-43
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
WAKTU 1
PERSIAPAN SESI 1
REFERENSI 1
KOMPETENSI 2
GAMBARAN UMUM 2
CONTOH KASUS 2
TUJUAN PEMBELAJARAN 2
METODE PEMBELAJARAN 2
EVALUASI 3
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF 4
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR 5
DAFTAR TILIK 7
MATERI PRESENTASI 9
MATERI BAKU 9
MODUL IV.5.1
LARING-FARING – PENYAKIT KELENJAR LUDAH : SIALOLITIASIS
WAKTU
Proses Pengembangkan Kompetensi | Alokasi Waktu : |
Sesi di dalam kelas Sesi Pratikum Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi | 6 X 60 menit (classroom session) 1 X 60 menit (coaching session) 9 X 60 menit (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi presentasi : Sialolitiasis
Slide 1. Pendahuluan
Slide 2. Anatomi Kelenjar Liur
Slide 3. Fisiologi Kelenjar Liur
Slide 4. Sialolitiasis
Slide 5. Etiologi
Slide 6. Diagnosis
Slide 7. Penatalaksanaan
Contoh Kasus :
Seorang laki-laki usia 38 tahun datang dengan keluhan benjolan pada bawah lidah, hilang timbul, nyeri dirasakan setelah makan, merah tidak ada, rasa panas pada benjolan tidak ada, demam tidak ada.
Sarana dan Alat Bantu Latih :
Model Anatomi, Video
Penuntun belajar (learning guide) terlampir
Tempat belajar (training setting) : bangsal THT-KL, klinik THT-KL, kamar operasi, bangsal perawatan pasca bedah THT-KL
REFERENSI
Rohan R, Matthew W, Bowen A. Non Neoplastic Diseases of Salivary Gland. In
: Bailey BJ, Pillsbury HC, Newlands SD, Healy GB, Derkay CS, Friedman NR, editors. Head and neck surgery – otolaryngology. 5th ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2014. p.708-710
Yuan F, Butt S. Non Infectious Inflammatory Diseases Sialolithiasis. In : Current Diagnosis & Treatment Otolaryngology Head And Neck Surgery. Chapter V. 3rd ed. McGrownHill; 2012. P.320-322
Witt RL. Salivary Gland Diseases. In Essential Otolaryngology Head and Neck Surgery 9th ed. Amerika Serikat: The McGraw-Hill Companies, 2008: 512-529
Carroll WR dan Morgan CE. Diseases of the Salivary Glands. In Ballenger’s Manual of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. 2008: 507-519
Yuan Fidelia dan Butt Shin.CURRENT Diagnosis & Treatment in Otolaryngology Head and Neck Surgery 2nd ed. 2008: 294-300
KOMPETENSI
Kompetensi Umum
Mampu mendiagnosis sialolitiasis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang diperlukan.
Mampu melakukan tatalaksana sialolitiasis serta merujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi bila diperlukan.
Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini, peserta diharapkan terampil :
Menjelaskan anatomi, histologi, fisiologi kelenjar liur
Menjelaskan etiologi sialolitiasis
Menjelaskan patofisiologi, gambaran klinis dari sialolitiasis
Menjelaskan dan melakukan pemeriksaan penunjang yaitu pemeriksaan laboratorium, sialografi, sialoendoskopi
Membuat diagnosis klinis berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan
Menjelaskan dan melaksanakan penatalaksanaan sialolitiasis
Melakukan work-up pada penderita sialolitiasis (follow-up selanjutnya)
GAMBARAN UMUM
Sialolitiasis adalah kejadian adanya batu yang letaknya bias di duktus, hilum atau jaringan parenchyma galadula (gld). Frekuensi terjadinya 80% di gld. Submandibularis;20% di parotis sedang 1% di sublingualis.
CONTOH KASUS
Seorang laki-laki usia 38 tahun datang dengan keluhan benjolan pada bawah lidah, hilang timbul, nyeri dirasakan setelah makan, merah tidak ada, rasa panas pada benjolan tidak ada, demam tidak ada.
TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk :
Menguasai anatomi, histologi, fisiologi kelenjar saliva
Mampu menjelaskan etiologi, patofisiologi dan gambaran klinis sialolitiasis
Menentukan dan melakukan pemeriksaan penunjang (pemeriksaan laboratorium, foto rontgen, sialografi, sialoendoskopi)
Membuat diagnosis sialolitiasis
Melaksanakan penatalaksanaan sialolitiasis
Melakukan work-up pada penderita sialolitiasis (follow-up selanjutnya)
METODE PEMBELAJARAN
Interactive lecture
Small group discussion
Peer assisted learning (PAL)
Task based medical education
Journal reading and review
Case simulation and investigation exercise
Equipment characteristics and operating instructions
Simulation and real examination exercises (physical and device)
Demonstration and coaching
Practice with real clients
Continuing professional development
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dan post-test pada akhir pertemuan dalam bentuk essay dan lisan sesuai dengan tingkat masa pendidikan, yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada.
Materi pre-test dan post test terdiri atas :
Anatomi, fisiologi dan patologi kelenjar liur
Penegakan diagnosa
Penatalaksanaan
Follow up
Selanjutnya dilakukan “small group discussion” bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat proses penilaian.
Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk role-play dengan teman-temannya (Peer Assisted Learning) atau SP (Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assisted Evaluation). Peserta didik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan, evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut:
Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan
Cukup : pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terlalu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien
Baik : pelaksanaan benar dan baik (efisien)
Dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan
Self assessment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar
Pendidik / fasilitator :
Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form
(terlampir)
Penjelasan lisan dari peserta didik / diskusi
Kriteria penilaian keseluruhan : cakap / tidak cakap / lalai
Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education)
Pencapaian pembelajaran :
Ujian akhir OSCA (K, P, A), dilakukan pada tahap akhir THT-KL oleh Kolegium Ilmu Kesehatan THT-KL
Ujian akhir stase, setiap divisi/unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan THTKL-KL lanjut oleh Kolegium Ilmu THT-KL
Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan THT-KL oleh Kolegium Ilmu Kesehatan THT-KL
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Sebelum pembelajaran ( pretest)
Seorang laki-laki usia 52 tahun datang dengan keluhan terasa ada pasir di mulut sejak 3 hari yang lalu. Tensi 150/90 mmHg. Riwayat penyakit gout (+) sejak 7 tahun yang lalu.
Apa diagnosis pada pasien ini?
Sialodenitis akut
Sialodenitis rekuren kronis
Sialodenitis kronis eksaserbasi akut
Sialolitiasis
Sindroma Frey Jawaban: D
Apa tatalaksana pada pasien ini?
Antiinflamasi
Antibiotik parenteral
Antibiotik oral
Pembedahan Jawaban: E
Perlu diberikan obat-obatan untuk terapi hipertensi pada pasien ini KARENA hipertensi merupakan salah satu faktor resiko penyakit ini
Benar, benar, saling berhubungan
Benar, benar, tidak berhubungan
Benar, salah
Salah, benar
Salah, salah
Jawaban: C
Komplikasi yang mungkin terjadi pada penyakit ini
Cutaneus hematoma
Pembentukan abses
Kerusakan n. Lingualis
Kerusakan n. Hipoglosus
Parese n. Fasialis
Jawaban: B
Pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan untuk menegakkan diagnosis?
CT-scan
USG
MRI
Foto polos Jawaban: E
Tengah pembelajaran (5 soal)
Seorang laki-laki usia 30 tahun datang dengan keluhan benjolan pada rahang kanan bawah, nyeri tekan tidak ada, merah pada kulit tidak ada, rasa panas pada benjolan tidak ada.
Pemeriksaan penunjang apa saja yang perlu dilakukan?
Apa diagnosis pada pasien ini dan diagnosis bandingnya?
Apa tatalaksananya?
Sebutkan etiologi dan faktor resikonya?
Komplikasi apa saja yang mungkin terjadi?
Akhir pembelajaran (post test)(5 soal)
Seorang perempuan usia 42 tahun datang dengan keluhan benjolan pada rahang kanan bawah, nyeri tekan tidak ada, merah pada kulit tidak ada, rasa panas pada benjolan tidak ada. Dilakukan USG didapatkan gambaran radioopaque pada glandula submandibularis. Jika operasi merupakan terapi pilhan,
Kapan digunakan general anesthesi?
Jelaskan teknik operasinya?
Komplikasi apa saja yang mungkin terjadi akibat tindakan operasi?
Bagaimana follow up nya?
Jika terjadi rekurensi, bagaimana tatalaksananya?
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR
Penuntun Belajar
Prosedur Operasi Sialolitiasis
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :
Perlu perbaikan langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi diluar normal.
Mahir langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan).
PENUNTUN BELAJAR TINDAKAN OPERASI SIALOLITIASIS | ||||||
NO | KEGIATAN/LANGKAH KLINIK | KESEMPATAN KE | ||||
1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
PERSIAPAN PRA-TINDAKAN | ||||||
1 | Informed Consent | |||||
2 | Pemeriksaan Penunjang | |||||
3 | Penderita Puasa | |||||
4 | Memeriksa Dan Melengkapi Alat | |||||
5 | Persiapan Tindakan | |||||
6 | Cara Tidur Penderita Dan Posisi Kepala | |||||
7 | Bila batu ada di duktus Wharton dapat di ambil secara operasi major dengan neurolep atau GA dan hal ini tergantung ada tidaknya striktura distal dari letak batu atau letak batu, apakah di duktus, di hilum atau di parenchyme gld atau dapat secara operasi minor denga cara sialolithectomy mengunakan CO2 laser atau secara sialolithotrpsy mengunakan pulse dye laseratau dengan extracorporeal electromagnitic shock-wave lipthotripsy. | |||||
8 | Bila batu di Hilum atau parenchyme paroitis sebaiknya secara minor dengan alat canggih atau operasi major pengambilan batu dibawah mikroskop. | |||||
TINDAKAN | ||||||
1 | Dilakukan dilatasi muara dengan punctum dilator pada ductus Wharton; hal ini biasanya dilakukan dengan anestesi local mengunakan tetracaine 2%, buffacain 2-4% , pentacaine 2-3% atau xylocaine 5-10%; terkadang bias dilakukan dengan neurolep yang dikerjakan pada sialolithiasis dengan sialoadenitis rekuren khronik. Cara kerja dengan punctum dilator adalah sebagai berikut: mulai dengan dilator no. 1 dan di coba sampai dengan no.6. Bila dengan dilator tetap gagal guna mengeluarkan batu, maka perlu dilakukan insisi di tas batu dan lubang jangan di jahit atau kita lakukan marsupialisasi. | |||||
2 | Pada gld submandibularis dengan hasil sondase adanya striktura distal dari letak batu maka dikerjakan marsupialisasi | |||||
3 | Pada gld. Parotis, apabila batu dekat dengan muara ductus Stensen ma ka dilakukan insisi tepi dari muaras melalui puntum dilator yang dipasang kemudian batu di ambil lubang, kemudian insisi dijahit.. Biasa dlakukan dengan tehnik lannya yaitu mengunakan narrow ponted scissor guna memotong tepi muara ductus. Setelah batu dikeluarkan insisi dijahit dengan tetapmeninggalkan lobang aslinya | |||||
4 | Cara marsupialisasi | |||||
setelah persiapan oprasi yaitu melihat dan menambah alat yang dioerlukan untuk operasi
mengatur letak pasien di meja operasi
desinfektan dan meutupi dan minimalisasi medan operasi
5 | Bila tidak ada striktura di distal letak batu maka dilakukan sialodochoplasty. Cara sialodochoplsty : | |||||
6 | Bila batu berulang kembali maka sebaiknya di lakukan eksterpasi glandula (cara seperti di modul sialoadenitis berulang khronik) sedang parotis seperti modul tumor parotis |
setelah dipasang mouth gag dengan penekan lidah maka dilakkan insisi sjajsr dengan tepi mandibula bagian dalam dan diambil batunya
tepi lubang insisi ditekuk kedalam lobang dan dijahit melingkar lobang nonkontinyu kemudian di pasang slang infuse yang dipotong pendek(jangan terlalu pendek), kemudian buat jahitan tabakzak melingkari lobang insisi dan diikat dengan sebelumnya jarum di tusukan ke slang dan disimpulkan. Ujung slang di jahitkan pada dasar mulut di tengah tengah dekat sisi dalam mandibula
Slang infuse dibiarkan +/- 2 minggu
Benang jahit memakai prolena atau sutera
Setelah insisi dan batu diambil
dipasang slang silicon/polyethylene dengan diameter seperti slang pada operasi pengaliran cairan otak untuk baji terkadang dipotong separuh
irisan dijahit entropion dengan jahitan vicryl / chromic (3/4/5-0)
DAFTAR TILIK
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan status kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini :
✓
X
Memuaskan
langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
T/D
Tidak Memuaskan Tidak Diamati
langkah, kegiatan atau keterampilan tidak
diperagakan
oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
Penilaian Kinerja Keterampilan (Ujian Akhir) Prosedur Tindakan Operasi Sialolitiasis
KEGIATAN KLINIS | NILAI | ||
1 | 2 | 3 | |
PERSIAPAN PRAOPERASI | |||
Informed Consent | |||
Laboratorium | |||
Pemeriksaan Penunjang | |||
Pemberian Antibiotik Profilaksi | |||
Cairan Dan Darah | |||
Memeriksa Dan Melengkapi Alat | |||
Penderita Puasa | |||
BIUS | |||
Ga Atau Neurolep Atau Lokal | |||
PERSIAPAN LOKAL DAERAH OPERASI | |||
Cara Tidur Penderita Dan Posisi Kepala | |||
Desinfeksi Dengan Bahan Apa? Dan Cara? | |||
Cara Menutupi Daerah Operasi | |||
TINDAKAN OPERASI | |||
Dilakukan dilatasi muara dengan punctum dilator pada ductus Wharton; hal ini biasanya dilakukan dengan anestesi local mengunakan tetracaine 2%, buffacain 2-4% , pentacaine 2-3% atau xylocaine 5-10%; terkadang bias dilakukan dengan neurolep yang dikerjakan pada sialolithiasis dengan sialoadenitis rekuren khronik. Cara kerja dengan punctum dilator adalah sebagai berikut: mulai dengan dilator no. 1 dan di coba sampai dengan no.6. Bila dengan dilator tetap gagal guna mengeluarkan batu, maka perlu dilakukan insisi di tas batu dan lubang jangan di jahit atau kita lakukan marsupialisasi. | |||
Pada gld submandibularis dengan hasil sondase adanya striktura distal dari letak batu maka dikerjakan marsupialisasi | |||
Pada gld. Parotis, apabila batu dekat dengan muara ductus Stensen ma ka dilakukan insisi tepi dari muaras melalui puntum dilator yang dipasang kemudian batu di ambil lubang, kemudian insisi dijahit.. Biasa dlakukan dengan tehnik lannya yaitu mengunakan narrow ponted scissor guna memotong tepi muara ductus. Setelah batu dikeluarkan insisi dijahit dengan tetapmeninggalkan lobang aslinya | |||
Cara marsupialisasi | |||
setelah persiapan oprasi yaitu melihat dan menambah alat yang dioerlukan untuk operasi
mengatur letak pasien di meja operasi
desinfektan dan meutupi dan minimalisasi medan operasi
setelah dipasang mouth gag dengan penekan lidah maka dilakkan insisi sjajsr dengan tepi mandibula bagian dalam dan diambil batunya
Bila tidak ada striktura di distal letak batu maka dilakukan sialodochoplasty. Cara sialodochoplsty : | |||
Bila batu berulang kembali maka sebaiknya di lakukan eksterpasi glandula (cara seperti di modul sialoadenitis berulang khronik) sedang parotis seperti modul tumor parotis |
tepi lubang insisi ditekuk kedalam lobang dan dijahit melingkar lobang nonkontinyu kemudian di pasang slang infuse yang dipotong pendek(jangan terlalu pendek), kemudian buat jahitan tabakzak melingkari lobang insisi dan diikat dengan sebelumnya jarum di tusukan ke slang dan disimpulkan. Ujung slang di jahitkan pada dasar mulut di tengah tengah dekat sisi dalam mandibula
slang infuse dibiarkan +/- 2 minggu
benang jahit memakai prolena atau sutera
setelah insisi dan batu diambil
dipasang slang silicon/polyethylene dengan diameter seperti slang pada operasi pengaliran cairan otak untuk baji terkadang dipotong separuh
irisan dijahit entropion dengan jahitan vicryl / chromic (3/4/5-0)
MATERI PRESENTASI
Slide 1. Pendahuluan
Slide 2. Anatomi Kelenjar Liur
Slide 3. Fisiologi Kelenjar Liur
Slide 4. Sialolitiasis
Slide 5. Etiologi
Slide 6. Diagnosis
Slide 7. Penatalaksanaan
MATERI BAKU SIALOLITHASIS
Pendahuluan
Sialolitiasis adalah kejadian adanya batu yang letaknya bias di duktus, hilum atau jaringan parenchyma galadula (gld). Frekuensi terjadinya 80% di gld. Submandibularis;20% di parotis sedang 1% di sublingualis.Untuk gld salivarius minor sangat jarang; kalaupun ada hanya di bibir atas dan pipi.75% di gld salivarius major singgel;3% multiple.Laki-2 lebih dari wanita dan sebagian besar middle age. Frekuensi untuk seluruh gld. Multipel 25% sedang single 75%. Biokimiawi batu kelenjar liur mengandung substansi organik dan inorganik. Substansi umumnya kalsium karbonat dan kalsium fosfat. pada sialolitiasis berupa kalsium posfat dengan sedikit komponen magnesium, ammoniumdan karbonat (hydroxyapatite) ditambah dengan karbohidrat dan asam amino sebagai imatrik organic. Pada gout batu terutama terdiri atas asam urat.
Anatomi dan Fisiologi Kelenjar Liur
Kelenjar parotis merupakan kelenjar liur yang terbesar berukuran 5,8 x 3,4cm dan berat rata-rata 15-30 g. Berlokasi di regio pre aurikula dan bagian posterior mandibula. Kelenjar parotis berhubungan dengan rongga mulut melalui duktus Stensen dan bermuara ke mukosa bukal setinggi molar 2 atas. Nervus fasialis yang berfungsi motorik untuk otot wajah masuk ke kelenjar parotis dan membaginya menjadi dua zona surgikal (lobus superfisial dan lobus profunda. Lobus superfisialis terletak pada bagian lateral dari maseter, lobus profunda terletak diantara prosessus mastoid tulang temporal dan ramus mandibula. Kelenjar parotis bagian superior dibatasin oleh zigomatikus.bagian bawah dari kelenjar parotis meluas kebawah berbatasan dengan anteromedial otot sternokleidomastoid.
Arteri yang berdekatan dengan kelenjar ini adalah a.karotis externa, a.maksilaris binterna dan temporalis superfisialis. Drainage melaluui vena retromandibular yang terletak disebelah dalam nerbus fasilalis, sedangkan drainage limfatik melalui kelenjar getah bening yang terletak di dalam kelenjar parotis dan paraparotis.
Kelenjar submandibula beratnya setengah dari kelenjar parotis, yang merupakan kelenjar saliva mayor terbesar kedua, terletak di dalam segitiga yang dibentuk oleh m.digastrikus anterior, posterior belly dan inferior ramus mandibula. Nervus fasialis cabang marginal mandivula berjalan superfisial dari kelenjar ini dan sebelah dalam dari m.platisma. duktus submandibularis (duktus Wharton’s)keluar dari permukaan medial dari kelenjar ini dan berjalan diantara m.milohioid dan hioglosuske m. Genioglosus. Arteri yang memperdarahi kelenjar submandibula adalah cabang submental dari arteri fasialis. Drainase melalui vena fasialis yang melewati permukaan lateral kelenjar submndibula.
Kelenjar sublingual merupakan kelenjar saliva mayor yang paling kecil dengan berat sekitar 2 – 4 g, terletak di bawah mukosa dasar mulut antara mandibula dan
m. Genioglosus. Duktus Wharton dan nervus lingualis melewati diantara sublingual dan m.genioglosus. Kelenjar ini tidak memiliki kapsul, tidak memiliki duktus yang dominan, drainase melalui kurang lebih 10 duktus kecil-kecil (duktus rivinus) dan bermuara ke lipatan sublingual pada dasar mulut.
Kelenjar saliva minor , kelenjar yang tidak memiliki duktus ,jumlahnya sangat banyak berkisar 600 sampai 1000 kelenjar, tersebar di regio bukal, labial, palatal, dan lingual. Dapat ditemukan juga pada bagian atas tonsil dan dasar lidah. Suplai darah berasal dari arteri di sekitar rongga mulut. Kelenjar saliva minor menerima inervasi dari nervus lingualis, kecuali kelenjar di palatum yang menerima inervasi dari nervus palatinum.
Gambar anatomi
Fisiologi
Fungsi utama dari kelenjar saliva adalah memproduksi saliva yang berguna pada proses digestif, lubrikasi dan pertahanan tunbuh. Saliva secara aktif di produksi dalam jumah yang besar sesuai dengan ukuran kelenjar saliva, secara ekstrinsik dikontrol oleh syaraf simpatik dan para simpatik.
Kelenjar saliva di lidah memproduksi lipase yang berfungsi menghancurkan trigliserida. Enzim ini berfungsi di dalam lambung dan juga proksimal dari duodenum karena enzim ini aktif secara optimal pada Ph rendah. Saliva terdiri dari inorganik dan organik. Kandungan organik terdiri dari: amilase, lingualifase, lisozim, glikoprotein, laktoferin dan imunoglobulin A, saliva juga mengandung antibakterial yang dapat berfungsi protektif ( glikoprotein dan imunoglobulin A ) yang secara aktif dapat melawan virus dan bakteri. Enzim lisosim menyebabkan bakteri mengalami aglutinasi dan menyebabkan autolisis pada dinding sel bakteri. enzim laktoferin menghambat pertumbuhan dari bakeri.
Etiologi dan Faktor Resiko
Adanya factor resiko pada material yang memudahakan pengendapan garam; kejadian pada gld submandibularis ok. Salivanya lebih alkali dan konsentrasi tinggi kalsium dan posfatdan komponen mucus lebih banyak. Duktus disitu cukup panjang dan gerakan saliva melawan gravitasi.
Faktor resiko berupa sialoadenitis kumatan khronik/sialoadenitis rekuren khronik, penyakit gout
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Dari anamnesis didapatkan pasien umumnya mengeluh ada benjolan yang kumatan pada bawah rahang bawah (kelenjar submandibularis) sedang parotis pada pipi, benjolan yang difus, kenyal dan agak sakit tekan. Benjolan ini akan tambah besar dan lebih sakit pada saat makan Bila abses akan keluar pus pada muara duktus dan disertai rasa sakit baik spontan maupun tekanpada gld. Dan terkadang panas badan.
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan antara lain sialografi, USG, CT- scan/CT-sialografi. Perlu diketahui bahwa 65-90% batu di gld submandibularis adalah radiopaque sedangkan 65-90% batu di gld.parotis radiolucent dengan standar foto polos.
Gambar pemeriksaan fisik pada sialolitiasis
Gambar sialografi pada sialolitiasis
Penatalaksanaan
Antimikkroba per-oral: Untuk stafilokokus; ingat beta laktam bakteri; bakteri anaerob dengan chloramfenikol bila ada infeksi akut
Sebaiknya antibiotika parenteral di poli kemudian dilanjutkan per oral, Buku panduan→ memakai amoksilin dengan asam klavulanat atau ampisilin dengan surbactam
Terapi simtomatis: anti inflamasi dan analgesi/analgesic antipiretik, mokolitik
Terapi operasi major dan minor.
Bila batu ada di duktus Wharton dapat di ambil secara operasi major dengan neurolep atau GA dan hal ini tergantung ada tidaknya striktura distal dari letak batu atau letak batu, apakah di duktus, di hilum atau di parenchyme gld atau dapat secara operasi minor denga cara sialolithectomy mengunakan CO2 laser atau secara sialolithotrpsy mengunakan pulse dye laseratau dengan extracorporeal electromagnitic shock-wave lipthotripsy.
Bila batu di Hilum atau parenchyme paroitis sebaiknya secara minor dengan alat canggih atau operasi major pengambilan batu dibawah mikroskop.
Teknik Operasi :
Dilakukan dilatasi muara dengan punctum dilator pada ductus Wharton; hal ini biasanya dilakukan dengan anestesi local mengunakan tetracaine 2%, buffacain 2-4% , pentacaine 2-3% atau xylocaine 5-10%; terkadang bias dilakukan dengan neurolep yang dikerjakan pada sialolithiasis dengan
sialoadenitis rekuren khronik. Cara kerja dengan punctum dilator adalah sebagai berikut: mulai dengan dilator no. 1 dan di coba sampai dengan no.6. Bila dengan dilator tetap gagal guna mengeluarkan batu, maka perlu dilakukan insisi di tas batu dan lubang jangan di jahit atau kita lakukan marsupialisasi.
Pada gld submandibularis dengan hasil sondase adanya striktura distal dari letak batu maka dikerjakan marsupialisasi
Pada gld. Parotis, apabila batu dekat dengan muara ductus Stensen ma ka dilakukan insisi tepi dari muaras melalui puntum dilator yang dipasang kemudian batu di ambil lubang, kemudian insisi dijahit.. Biasa dlakukan dengan tehnik lannya yaitu mengunakan narrow ponted scissor guna memotong tepi muara ductus. Setelah batu dikeluarkan insisi dijahit dengan tetapmeninggalkan lobang aslinya
Cara marsupialisasi
Setelah persiapan oprasi yaitu melihat dan menambah alat yang dioerlukan untuk operasi
Mengatur letak pasien di meja operasi
Desinfektan dan meutupi dan minimalisasi medan operasi
Setelah dipasang mouth gag dengan penekan lidah maka dilakkan insisi sjajsr dengan tepi mandibula bagian dalam dan diambil batunya
Tepi lubang insisi ditekuk kedalam lobang dan dijahit melingkar lobang nonkontinyu kemudian di pasang slang infuse yang dipotong pendek(jangan terlalu pendek), kemudian buat jahitan tabakzak melingkari lobang insisi dan diikat dengan sebelumnya jarum di tusukan ke slang dan disimpulkan. Ujung slang di jahitkan pada dasar mulut di tengah tengah dekat sisi dalam mandibula
Slang infuse dibiarkan +/- 2 minggu
Benang jahit memakai prolena atau sutera
Bila tidak ada striktura di distal letak batu maka dilakukan sialodochoplasty. Cara sialodochoplsty :
Setelah insisi dan batu diambil
Slang silicon/polyethylene dengan diameter seperti slang pada operasi pengaliran cairan otak untuk baji terkadang dipotong separuh
Irisan dijahit entropion dengan jahitan vicryl / chromic (3/4/5-0)
Bila batu berulang kembali maka sebaiknya di lakukan eksterpasi glandula (cara seperti di modul sialoadenitis berulang khronik) sedang parotis seperti modul tumor parotis
Komplikasi
Obstruksi persisten dari sialolitiasis menyebabkan stasis kelenjar saliva. Merupakan predisposisi infeksi rekuren akut kelenjar dan pembentukan abses. Rekurensi batu kelenjar liur hampir 20%. Jika factor resiko dikoreksi, dapat menurunkan rekurensi.
Follow Up
Oleh karena factor resiko kejadian banyak yang masih mesteri maka perlu diberitahukan pada pasien paska operasi selalu secara rutin di masase pada daerah kelanjar dan periksa bila gejala berulang seperti sebelum operasi secara dini
Bila penyebab penyakit GOUT maka perlu mengontrol asam urat dengan obat- obatan
USG & CT dan foto polos dapat menginformasikan tentang ada atau tidaknya batu
Kepustakaan
Rohan R, Matthew W, Bowen A. Non Neoplastic Diseases of Salivary Gland. In
: Bailey BJ, Pillsbury HC, Newlands SD, Healy GB, Derkay CS, Friedman NR, editors. Head and neck surgery – otolaryngology. 5th ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2014. p.708-710
Yuan F, Butt S. Non Infectious Inflammatory Diseases Sialolithiasis. In : Current Diagnosis & Treatment Otolaryngology Head And Neck Surgery. Chapter V. 3rd ed. McGrownHill; 2012. P.320-322
Witt RL. Salivary Gland Diseases. In Essential Otolaryngology Head and Neck Surgery 9th ed. Amerika Serikat: The McGraw-Hill Companies, 2008: 512-529
Carroll WR dan Morgan CE. Diseases of the Salivary Glands. In Ballenger’s Manual of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. 2008: 507-519
Yuan Fidelia dan Butt Shin.CURRENT Diagnosis & Treatment in Otolaryngology Head and Neck Surgery 2nd ed. 2008: 294-300
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
WAKTU 1
PERSIAPAN SESI 1
REFERENSI 2
KOMPETENSI 2
GAMBARAN UMUM 2
CONTOH KASUS 2
TUJUAN PEMBELAJARAN 3
METODE PEMBELAJARAN 3
EVALUASI 3
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF 4
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR 7
DAFTAR TILIK 11
MATERI PRESENTASI 12
MATERI BAKU 12
MODUL IV.5.2
LARING-FARING – PENYAKIT KELENJAR LUDAH : SIALODENITIS
WAKTU
Proses Pengembangkan Kompetensi | Alokasi Waktu : |
Sesi di dalam kelas Sesi Pratikum Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi | 6 X 60 menit (classroom session) 1 X 60 menit (coaching session) 9 X 60 menit (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi presentasi : Sialodenitis
Slide 1. Pendahuluan
Slide 2. Anatomi Kelenjar Liur
Slide 3. Fisiologi Kelenjar Liur
Slide 4. Sialodenitis
Slide 5. Etiologi
Slide 6. Diagnosis
Slide 7. Penatalaksanaan
Slide 8. Komplikasi
Contoh Kasus :
Seorang laki-2 umur 49 tahun datang ke klinik THTKL dengan keluhan: rasa sakit dibawah lidah bagian kanan bila makan terutama yang kecut dan pedas; selang satu hari ada benjolan pada bawah rahang bawah bagian kanan yang sakit tekan; hari kedua badan terasa mriang (subfibril); kemudian hari ketiga dia merasa ada cairan kental kuning keluar dari mulut bila mengucah makanan. Untuk keluhan ini dia mengobati sendiri dengan antalgin. Pada hari keempat setelah rasa sakit tersebut tak reda dan benjolan semakin besar, dia memeriksakan ke poli THTKL. Secara anamnesis dia mengatakan bahwa dia menderita pepmphigus vulgaris dan sering mendapat prednisone dalam jangka lama (+/-1 bulan berulang). Pemeriksaan fisik terlihat adanya: cairan kental kuning berasal dari bawah lidah bagian kanan dan mukosa disitu tampak eritema; benjolan dibawah rahang bawah kanan lunak, fluktuasi dan sakit tekan. Temperatur tubuh 38,50 sedang pemeriksaan penunjang berupa jumlah AL adalah 14.000 dengan hitung jenis geser kiri.
Sarana dan Alat Bantu Latih :
Model Anatomi, Video
Penuntun belajar (learning guide) terlampir
Tempat belajar (training setting) : bangsal THTKL, klinik THTKL, kamar operasi, bangsal perawatan pasca bedah THTKL
REFERENSI
Rohan R, Matthew W, Bowen A. Non Neoplastic Diseases of Salivary Gland. In
: Bailey BJ, Pillsbury HC, Newlands SD, Healy GB, Derkay CS, Friedman NR, editors. Head and neck surgery – otolaryngology. 5th ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2014. p.708-710
Yuan F, Butt S. Non Infectious Inflammatory Diseases Sialolithiasis. In : Current Diagnosis & Treatment Otolaryngology Head And Neck Surgery. Chapter V. 3rd ed. McGrownHill; 2012. P.320-322
Witt RL. Salivary Gland Diseases. In Essential Otolaryngology Head and Neck Surgery 9th ed. Amerika Serikat: The McGraw-Hill Companies, 2008: 512-529
Carroll WR dan Morgan CE. Diseases of the Salivary Glands. In Ballenger’s Manual of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. 2008: 507-519
Yuan Fidelia dan Butt Shin.CURRENT Diagnosis & Treatment in Otolaryngology Head and Neck Surgery 2nd ed. 2008: 294-300
KOMPETENSI
Kompetensi Umum
Mampu membuat diagnosis sialodenitis (akut/kronik) berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan beberapa pemeriksaan tambahan yang diperlukan.
Mampu melaksanakan tatalaksana sialodenitis (akut/kronik)serta merujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi bila diperlukan.
Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini, peserta diharapkan terampil :
Mengenali gejala dan tanda sialodenitis (akut/kronik)
Melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik sialodenitis (akut/kronik)
Melakukan keputusan untuk perlu tidaknya pemeriksan penunjang seperti sialografi, radiosialografi.
Mengenali faktor resiko kejadian sialodenitis (akut/kronik)
Membuat keputusan klinik untuk pemberian anti biotika, anti radang, analgesik antipiretik, hidrasi, sialogogues, minor operasi dan major operasi
Mengenali secara dini berbagai masalah dan penyulit yang mungkin terjadi pada sialodenitis (akut/kronik)
GAMBARAN UMUM
Sialodenitis akut adalah Peradangan akut pada kelenjar ludah. Kemungkinan penyakit ini disebabkan oleh adanya stasis saliva, akibat adanya obstruksi atau berkurangnya produksi saliva.
CONTOH KASUS
Seorang laki-2 umur 49 tahun datang ke klinik THTKL dengan keluhan: rasa sakit dibawah lidah bagian kanan bila makan terutama yang kecut dan pedas; selang satu hari ada benjolan pada bawah rahang bawah bagian kanan yang sakit tekan; hari kedua badan terasa mriang (subfibril); kemudian hari ketiga dia merasa ada cairan kental kuning keluar dari mulut bila mengucah makanan. Untuk keluhan ini dia mengobati sendiri dengan antalgin. Pada hari keempat setelah rasa sakit tersebut tak reda dan benjolan semakin besar, dia memeriksakan ke poli THTKL. Secara anamnesis dia mengatakan bahwa dia menderita pepmphigus vulgaris dan sering mendapat prednisone dalam jangka lama (+/-1 bulan berulang). Pemeriksaan fisik
terlihat adanya: cairan kental kuning berasal dari bawah lidah bagian kanan dan mukosa disitu tampak eritema; benjolan dibawah rahang bawah kanan lunak, fluktuasi dan sakit tekan. Temperatur tubuh 38,50 sedang pemeriksaan penunjang berupa jumlah AL adalah 14.000 dengan hitung jenis geser kiri.
TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk :
Menjelaskan anatomi, fisiologi kelenjar liur
Menjelaskan etiopatogenesis sialodenitis (akut/kronik) dan gambaran klinik(anamnesis, pemeriksaan fisik)
Menjelaskan dan melakukan pemeriksan penunjang diagnosis
Menjelaskan dan melakukan tatalaksana medikamentosa maupun tindakan operatif serta komplikasinya dan menentukan langkah terapi
Menjelaskan dan melakukan pencegahan komplikasi yang bisa terjadi
Melakukan work-up, menentukan terapi dan merujuk ke RS dengan fasilitas yang lebih tinggi bila terjadi komplikasi
METODE PEMBELAJARAN
Interactive lecture
Small group discussion
Peer assisted learning (PAL)
Task based medical education
Journal reading and review
Case simulation and investigation exercise
Case study
Simulation and real examination exercises (physical and device)
Demonstration and coaching
Practice with real clients
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilakukan pre-test dan pada akhir pertemuan dilakukan post-test dalam bentuk essay, multiple choice atau oral sesuai dengan masa tingkat pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi prates terdiri atas: anatomi, embriologi, histologi, topografi, fisiologi/biokimia, patofisiologi, penegakan diagnosis, terapi konservatif dan operatif, komplikasi dan penanganan, tindak lanjut
Self assessment dan peer assisted evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar
Selanjutnya dilakukan diskusi kelompok kecil bersama dengan fasilitator guna membahas kekurangan yang teridentifikasi; membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar dan kesempatan yang akan diperoleh pada saat visite kecil maupun besar dan proses penilaian
Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk role-play dengan teman-temanya (peer assisted learning) atau pada standardized patient. Pada saat tersebut yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar. Penuntun belajar dipegang oleh teman-temannya
untuk melakukan evaluasi (per asisited evaluation). Peserta didik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomi dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanan,evaluator melaksaanakan pengawasan langsung dan mengisi blangko penilaian sebagai berikut: 1) perlu perbaikan berarti pelaksanaan belum benar atau ada langkah yang tidak dlakukan; 2) cukup berarti pelaksanan sudah benar tetapi tidak efisien; baik berarti langkah benar dan efisien
Selanjutnya dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak mungkin dibicarakan di depan pasien dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan
Pendidikan/fasilitas: 1) pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form (terlampir),2) penjelasan lisan dari peserta
cakap, kurang cakap atau lalai
Diakhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas guna memperbaiki kinerja (task-based medical education)
Pencapaian pembelajaran dilakukan dengan:1) ujian OSCE dilakukan pada tahap akhir oleh KOLEGIUM THTKL; 2) ujian akhir stase pada setiap devisi/unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan;3) ujian akhir kognitif dilakukan pada akhir tahapan THTKL oleh KOLEGIUM THTKL.
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Sebelum pembelajaran ( pretest)
Fungsi utama dari kelenjar saliva adalah
Proses digestif, lubrikasi dan pertahanan tunbuh
Proses digestif dan lubrikasi
Proses respirasi dan digestif
Proses pertahan tubuh dan digestif
Proses digestif, lubrikasi dan respirasi Jawaban: A
Kelenjar saliva mayor terbesar kedua, terletak di dalam segitiga yang dibentuk oleh
m.digastrikus lateral, posterior belly dan inferior ramus mandibula
m.digastrikus posterior, posterior belly dan inferior ramus mandibula
m.digastrikus anterior, posterior belly dan inferior ramus mandibula
m.digastrikus superior, posterior belly dan inferior ramus mandibula
m.digastrikus medial, posterior belly dan inferior ramus mandibula Jawaban: C
Pasien laki laki 40 tahun datang dengan keluhan nyeri pada rahang bawah sejak 3 hari yang lalu. Keluhan disertai dengan timbul benjolan di rahang bawah, kemerahan dan nyeri tekan. Pasien mengatakan jarang menyikat gigi. Pada pemeriksaan didaptkan tekanan darah130/80mmHg, Nadi 92 x/menit nafas 20 x/menit, suhu 37,4C, tampak benjolan di daerah submandibula ukuran 3x3x4 difus, kemerahan, kenyal, nyeri bila ditekan.
Kemungkinan diagnosis pada kasus diatas
Sialolhitiasis
Abses peritonsil
Uvuleitis
Abses ginggingva
Sialodenitis akut Jawaban: E
Pemeriksaan yang tidak disarankan pada kasus diatas
Foto konvensional pandangan lateral
USG
Sialodenoskopi diagnostik
MRI
Sialografi Jawaban: E
Tatalaksana pada kasus diatas
Masase lemah lembut berulang, rehidrasi, kompres air hangat, oral irigasi dengan antiseptik serta pemberian antimikroba intravena
Rehidrasi, kompres air hangat, oral irigasi dengan antiseptik, kompres dengan air dingi serta pemberian antimikroba peroral
Masase lemah lembut berulang, rehidrasi, kompres air dingin, pemberian antimikroba peroral
Masase lemah lembut berulang, rehidrasi, kompres air dingin, oral irigasi dengan antiseptik serta pemberian antimikroba peroral
Pemberian antimikroba intravena saja Jawaban: A
Tengah pembelajaran (5 soal)
Seorang pria usia 28 th datang dengan keluhan bengkak pada pipi kanan sejak lebih kurang 4 hari yang lalu, keluhan disertai nyeri dan demam serta sulit membuka mulut. Os masi dapat makan dan minum seperti biasa, namun karena kondisi tersebut os menjadi jarang minum. Penderita juga merasa mulut menjadi kering dan wajah bengkak kemerahan pada sisi wajah samping.
Apakah diagnosa yang mungkin pada pasien ini :
Sialoadenitis akut
Sialoadenitis kronis
Abses peritonsil
Sialolitiasis Jawaban: A
Anamnesa tambahan yang perlu ditanyakan :
Riwayat sebelumnya yang pernah dialami
Disertai kejang
Disertai penurunan rasa
Disertai menggigil
Riwayat operasi Jawaban: C
Sebutkan yang bukan merupakan factor resiko pada penyakit ini :
Post kemoterapi atau radio terapi
Hygiene mulut jelek
Syndroma Sjorgen
Usia
Dehidrasi Jawaban: D
Apakah penatalaksanaan yang tepat pada pasien ini :
Rehidrasi
Kompres hangat + antipiretik + analgetik
Pemberian antibiotic
Massage
Semua jawaban benar Jawaban: E
Kuman penyebab terbanyak sialoadenitis :
Staphylococcus aureus
Proteus mirabilis
Pseudomonas Aeruginosa
E.coli
Staphylococcus epidermidis Jawaban: A
Akhir pembelajaran (post test)(5 soal)
Kelenjar parotis bagian superior dibatasi oleh
Zigomatikus
Maksilaris
Frontalis
Parietalis
Etmooidalis Jawaban: A
kelenjar parotis meluas kebawah berbatasan dengan
anteromedial otot maseter
anteromedial otot sternokleidomastoid
anteromedial otot orbikularis oris
anteromedial otot trapezius
anteromedial otot frontalis Jawaban: B
Kelenjar saliva minor menerima inervasi dari
nervus laringeus rekurent
nervus palatinum
nervus vagus
nervus lingualis
nervus trigeminal
Jawaban: D
Kelenjar di palatum yang menerima inervasi dari
nervus laringeus rekurent
nervus palatinum
nervus vagus
nervus lingualis
nervus trigeminal Jawaban: B
Seorang wanita berusia 24 tahun datang dengan keluhan bengkak di pipi kanan sejak 4 hari, terasa nyeri, keluar nanah (+) dari bawah lidah. Penderita juga mengeluhkan demam. Pada pemeriksaan fisik teraba benjolan pada daerah pipi kanan, benjolan kenyal dan berwarna kemerahan. Penatalaksanaan awal apa yang dapat dilakukan pada pasien ini ?
Aspirasi dan antibiotik
Antivirus dan kompres air hangat
Masase lembut, kompres air hangat dan oral irigasi
Analgetik dan konsul bagian gigi
Insisi dan drainase segera Jawaban: C
Kapan sebaiknya dilakukan insisi dan drainase pada pasien ini?
Sesegera mungkin setelah diagnosis telah ditegakkan
Jika tidak respon terhadap medikamentosa dalam 24-48 jam
Bila bengkak telah melebihi 5 cm
Bila pada pemeriksaan USG ditemukan adanya sumbatan
Jika disertai dengan trismus. Jawaban: B
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR
Penuntun Belajar
Prosedur Ekstirpasi Glandula Submandibularis
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :
Perlu perbaikan
Mampu
Mahir
T/D
langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi diluar normal.
langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
NAMA PESERTA :…………………….. TANGGAL :………………..........
NO | KEGIATAN/LANGKAH KLINIK | KASUS | ||||
1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | ||||||
PERSIAPAN PRAOPERASI | ||||||
1 | Informed Consent | |||||
2 | Laboratorium | |||||
3 | Pemeriksaan Penunjang | |||||
4 | Pemberian Antibiotik Profilaksi | |||||
5 | Cairan Dan Darah | |||||
6 | Memeriksa Dan Melengkapi Alat | |||||
7 | Penderita Puasa | |||||
BIUS | ||||||
Ga Atau Neurolep Atau Lokal | ||||||
PERSIAPAN LOKAL DAERAH OPERASI | ||||||
1 | Cara Tidur Penderita Dan Posisi Kepala | |||||
2 | Desinfeksi Dengan Bahan Apa? Dan Cara? | |||||
3 | Cara Menutupi Daerah Operasi | |||||
TINDAKAN OPERASI | ||||||
1 | Butir-butir penting: | |||||
2 | Insisi kulit dibuat 4 cm dibawah tepi bawah mandibula secara horizontal agak melengkung ke | |||||
Nama
Diagnosis
Informed Choice & Informed Consent
Rencana tindakan
Persiapan sebelum tindakan
Insisi kulit agak jauh di bawah mandibula
Hindari perlukaan pada r.mandibularis n.VII dan r. cervicalis nVII
Hindari trauma pada n. hypoglossus dan n. lingualis
V fasialis anterior lebih superficial dari glandula
Lapisan-2 dari luar ke dalam adalah kulit , subkutan, platysma, fasia superficialis cervicalis, r mandibularis dan cervicalis n. VII, vasa vena dan arteri dan kapsula glandula
Hafal anatomi dan topografi regio supra hyaoid
bawah. | ||||||
3 | Insisi dilanjutkan mendalam melalui lapis platysma sampai dengan fascia cervicalis superficial (FCF). Semua irisan ini dibuat sebagai flap kulit. Ujung lateral sampai tepi anterior m strenocleidomastoideus dan tepi ini perlu diperlihatkan. Pada dataran ini perlu dicari v Retromandibularis / fasialis communis dan anak cabangnya yaitu v fasialis posterior/fasialis dan anterior/submentalis, dilakukan jahitan pancang melalui platysma dan fascia di atas. Pada saat memotong platysma dan dideseksi keatas bersama dgn FCF maka kita menjumpai r.cervicallis n.VII yang mensarafi platysma. Sebaiknya anda mempertahankan saraf ini. Dan perlu dicamkan guna mengembalikan fungsinya perlu dijahit kembal tepi insisi antara atas dan bawah platysma yang di iris.. insisi pilihan lain adalah irisan kulit sampai platysma, kemudian deseksi lembut ke atas sampai tepi bawah mandibula. Platysma dibelah secara vertical dan diretraksi dengan retractor ke medial dan lateral. Akan tetapi pandangan kearah glandula terbatas bila glandula tidak terlalu besar maka pandangan tetap luas sedang apabila terlalu besar pandangan operator terbatas. | |||||
4 | Terjadilah flap superior dan inferior. Yang inferior dideseksi secara lembut sampai tendo intermediate dari m.digastricus. Flap yang superior di desksi ke atas antara FCF dengan kapsula glandula sampai tepi bawah mandibula. Ekstra hati-2 ok. Sedikit di bawah tepi mandibula secara horizontal lewat r.mandibularis n. VII/r. mandibularis marginalis sehingga sebaiknya saat deseksi didaerah ini nerve stimulator sangat perlu. Atau terlebih dulu vena di potong dan bagian atas vena dibelokan ke atas melindungi saraf dari trauma. (menurut Lampe).Perhatian: sebaiknya selama deseksi flap kulit superior selalu diidentifikasi adanya r. mandibularis yang jalannya horizontal. Bila r mandibularis melekat pada glandula dan jaringan lemak peri glandular tebal ok. Infeksi peri glandulair maka insisi untuk membentuk flap kulit dimulai seperti diatas tetap horizontal agak melangkung ke bawah yang terdiri atas kulit, subkutis dan platysma saja setelah sampai setinggi |
tepi bawah glandula baru dibuat irisan pada fascia dan selanjutnya desksi priglandular lemak dengan sangat hati-2 sebaiknya mengunakan nerves stimulator | ||||||
5 | A.maxilaris externa (A.ME) dan vena facialis anterior/communis (VFA/C) di klem dan diligasi. Puntung superior keduanya di belokan k etas guna melindungi saraf. Bila diperlukan untuk meretraksi flap kulit kearah atas sebaiknya memakai Cushing vein retractor (CVR). | |||||
6 | Pengangkatan glandula dimulai dari bagian tepi inferior glandula. Diantara tendo intermediate dengan glandula. Dan tepat didaerah itu harus diiidentifikasi n hypoglossus. Vena lingualis dekat nervus tersebut kearah laterocranial.AME terlihat lebih kearah lateroocranial melalui sebelah dalam dari m.digastricus venter posterior dan m. stylohyoideus. | |||||
7 | Klem dan ligasi AME dan diutamakan puntung proksimal diikat 2 kali dengan sutera sedang puntung distal diikat satu kali. | |||||
8 | Lobus dalam diangkat dengan cara meretraksi m.mylohyoideus dengan CVR kearah medial dan meretraksi tepi atas perlukaan keatas dengan slender finger retractor dengan dibantu menarik glandula dengan klem (dressing and sponge forcep). N lingualis beserta dengan serabut eferen dari chorda tympani (serabut exitogladular) dan ganglion submaxillaris/submandibularis. | |||||
9 | Duktus glandula submandibularis(Wharton’s duct) dipotong dan diligasi. Serabut eferen n.chordatympani dipotong proksimal dari pertemuan nervus; disini perlu ekstra hati-2 ok. Ada vasa kecil mengikuti n. chordatympani. | |||||
10 | Glandula mudah diangkat secara tumpul | |||||
11 | Dasar trigonum submandibulare tampak serta vasa dan nervus seperti tersebut di atas dan perlu ditunjukan pada asisten | |||||
12 | Pematus kecil (selang infuse) yang diberi lubang banyak dipasang atau dengan alat pematus khusus yaitu JACKSON- PRATT DRAIN dan jahitan lapis demi lapis; fascia dengan jarum fascia dan benang |
plain-catgut, platysma dengan jarum fascia dan benang chromic gut nomer 4-0, kulit dengan jarum kulit dan benang nylon/prolene/sutera/ nomer 5-0. | ||||||
Instruksi pasca operasi |
Penderita dirawat 2 hari
Selama perawatan diobservasi ada tidaknya komplikasi
Pematus diangkat setelah 24 jam bila masih aktif adanya cairan jaringan maka ditunda sampai +/- 5 hari.
Jahitan diangkat hari ke tujuh
DAFTAR TILIK
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan status kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini :
✓
Memuaskan
langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
X
Tidak langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai
Memuaskan dengan prosedur atau panduan standar
T/D
Tidak Diamati
langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
Penilaian Kinerja Keterampilan (Ujian Akhir) Prosedur Ekstirpasi Glandula Submandibularis
KEGIATAN | |||
KEGIATAN KLINIS | NILAI | ||
1 | 2 | 3 | |
PERSIAPAN PRAOPERASI | |||
Informed Consent | |||
Laboratorium | |||
Pemeriksaan Penunjang | |||
Pemberian Antibiotik Profilaksi | |||
Cairan Dan Darah | |||
Memeriksa Dan Melengkapi Alat | |||
Penderita Puasa | |||
BIUS | |||
Ga Atau Neurolep Atau Lokal | |||
PERSIAPAN LOKAL DAERAH OPERASI | |||
Cara Tidur Penderita Dan Posisi Kepala | |||
Desinfeksi Dengan Bahan Apa? Dan Cara? | |||
Cara Menutupi Daerah Operasi | |||
TINDAKAN OPERASI | |||
Butir-2 Penting | |||
Insisi Dan Pambuatan Flap Kulit | |||
Deseksi Flap | |||
Batas Flep Superor Dan Inferior Dan Bangunan Yang Perlu Diamati Dan Dilindungi | |||
Bangunan Yang Perlu Diamati Dan Perlu Dilindungi Dan Diligasi | |||
Mulai Mengangkat Glandula | |||
Bangunan Yang Diamati, Dilindungi Dan Ditindak | |||
Pengangkatan Lobus Profunda; Bangunan Jang Diamati,Dirawat Dan Ditindak | |||
Pemotongan Duktus; Adakah Bangunan Disini Yang Perlu Dipotong Dan Diligasi? | |||
Pengangkatan Glandula Selannutnya | |||
Penutupan Kulit Dan Pemasangan Pematus |
MATERI PRESENTASI
Slide 1. Pendahuluan
Slide 2. Anatomi Kelenjar Liur
Slide 3. Fisiologi Kelenjar Liur
Slide 4. Sialodenitis
Slide 5. Etiologi
Slide 6. Diagnosis
Slide 7. Penatalaksanaan
Slide 8. Komplikasi
MATERI BAKU
SIALODENITIS AKUT
Pendahuluan
Sialodenitis akut adalah peradangan akut pada kelenjar ludah. Kemungkinan penyakit ini disebabkan oleh adanya stasis saliva, akibat adanya obstruksi atau berkurangnya produksi saliva.
Anatomi kelenjar saliva mayor
Kelenjar parotis merupakan kelenjar liur yang terbesar berukuran 5,8 x 3,4cm dan berat rata-rata 15-30 g. Berlokasi di regio pre aurikula dan bagian posterior
mandibula. Kelenjar parotis berhubungan dengan rongga mulut melalui duktus Stensen dan bermuara ke mukosa bukal setinggi molar 2 atas. Nervus fasialis yang berfungsi motorik untuk otot wajah masuk ke kelenjar parotis dan membaginya menjadi dua zona surgikal (lobus superfisial dan lobus profunda. Lobus superfisialis terletak pada bagian lateral dari maseter, lobus profunda terletak diantara prosessus mastoid tulang temporal dan ramus mandibula. Kelenjar parotis bagian superior dibatasin oleh zigomatikus.bagian bawah dari kelenjar parotis meluas kebawah berbatasan dengan anteromedial otot sternokleidomastoid.
Arteri yang berdekatan dengan kelenjar ini adalah a.karotis externa, a.maksilaris binterna dan temporalis superfisialis. Drainage melaluui vena retromandibular yang terletak disebelah dalam nerbus fasilalis, sedangkan drainage limfatik melalui kelenjar getah bening yang terletak di dalam kelenjar parotis dan paraparotis.
Kelenjar submandibula beratnya setengah dari kelenjar parotis, yang merupakan kelenjar saliva mayor terbesar kedua, terletak di dalam segitiga yang dibentuk oleh m.digastrikus anterior, posterior belly dan inferior ramus mandibula. Nervus fasialis cabang marginal mandivula berjalan superfisial dari kelenjar ini dan sebelah dalam dari m.platisma. duktus submandibularis (duktus Wharton’s)keluar dari permukaan medial dari kelenjar ini dan berjalan diantara m.milohioid dan hioglosuske m. Genioglosus. Arteri yang memperdarahi kelenjar submandibula adalah cabang submental dari arteri fasialis. Drainase melalui vena fasialis yang melewati permukaan lateral kelenjar submndibula.
Kelenjar sublingual merupakan kelenjar saliva mayor yang paling kecil dengan berat sekitar 2 – 4 g, terletak di bawah mukosa dasar mulut antara mandibula dan
m. Genioglosus. Duktus Wharton dan nervus lingualis melewati diantara sublingual dan m.genioglosus. Kelenjar ini tidak memiliki kapsul, tidak memiliki duktus yang dominan, drainase melalui kurang lebih 10 duktus kecil-kecil (duktus rivinus) dan bermuara ke lipatan sublingual pada dasar mulut.
Kelenjar saliva minor , kelenjar yang tidak memiliki duktus ,jumlahnya sangat banyak berkisar 600 sampai 1000 kelenjar, tersebar di regio bukal, labial, palatal, dan lingual. Dapat ditemukan juga pada bagian atas tonsil dan dasar lidah. Suplai darah berasal dari arteri di sekitar rongga mulut. Kelenjar saliva minor menerima inervasi dari nervus lingualis, kecuali kelenjar di palatum yang menerima inervasi dari nervus palatinum.
Fisiologi
Fungsi utama dari kelenjar saliva adalah memproduksi saliva yang berguna pada proses digestif, lubrikasi dan pertahanan tunbuh. Saliva secara aktif di produksi dalam jumah yang besar sesuai dengan ukuran kelenjar saliva, secara ekstrinsik dikontrol oleh syaraf simpatik dan para simpatik.
Kelenjar saliva di lidah memproduksi lipase yang berfungsi menghancurkan trigliserida. Enzim ini berfungsi di dalam lambung dan juga proksimal dari duodenum karena enzim ini aktif secara optimal pada Ph rendah. Saliva terdiri dari inorganik dan organik. Kandungan organik terdiri dari: amilase, lingualifase, lisozim, glikoprotein, laktoferin dan imunoglobulin A, saliva juga mengandung antibakterial yang dapat berfungsi protektif ( glikoprotein dan imunoglobulin A ) yang secara aktif dapat melawan virus dan bakteri. Enzim lisosim menyebabkan bakteri mengalami aglutinasi dan menyebabkan autolisis pada dinding sel bakteri. enzim laktoferin menghambat pertumbuhan dari bakeri.
Frekuensi: sering pada gld. Parotis bisa mengenai yang lain
Ruang Lingkup
pasien mengeluh sakit pada bawah rahang bawah (kelenjar sumandibularis) sedang parotis pada pipi, benjolan yang difus, kenyal dan sakit tekan/spontan, kemerahan di kulit/eritem. Bila abses akan keluar pus pada muara duktus. Bila duktus erosi maka saliva akan mengisi jaringan sekitarnya (ingat sifat saliva adalah fragmentasi dan proteolitik)
Faktor Resiko
pasien debil, pasien dehidrasi (operasi major/op. mulut, pharynx + larynx, gastrointestinal), terapi radiasi/brachytherapy, pemberian imunosupresi, kemoterapi, atau, hygiene mulut jelek, perawatan rumah sakit yang tak higienis(infeksi nosokomial), pasien banyak kali puasa/tak suka makan
Etiologi
Sstafilokokus koagulasi positif dan bisa diikuti oleh streptokokus pneumoni, E. coli, hemofilius influenza sedang bakteria anaerob yang sering adalah bakterosides m dan streptokokus micros
Pemeriksaan Penunjang
Sialografi merupakan kontra indikasi; foto konvensional pandangan lateral,USG, sialoendoskopi diagnostik, CT potongan aksial, koronal maupun sagital & MRI dapat dikerjakan.
Terapi:
Masase lemah-lembut berulang, rehidrasi, kompres hangat, oral irigasi dengan anti septik
Antimikroba per-oral: tu. Untuk stafilokokus; ingat beta laktam bakteri; bakteri anaerob dengan khoramfenikol
Sebaiknya antibiotika parenteral di poli kemudian dilanjutkan per oral, Buku panduan → memakai amoksilin dengan asam klavulanat atau ampisilin dengan sulbaktam
Terapi simtomatis: anti inflamasi dan analgesik/analgesik antipiretik, mokolitik.
Terapi operasi minor dan major: major tak dikerjakan sedang insisi(minor) dilakukan.
Tindak Lanjut
Umunya penyembuhan dalam waktu 24-48 jam
Bila tidak, perlu insisi dan drainase.
USG & CT dapat menginformasikan tentang masih ada atau tidaknya abses
Prosedur operasi minor:
Butir –butir Penting:
Bila jelas ada abses dengan fluktuasi di permukaan maka perlu insisi. Untuk parotis sesuai dengan garis Lange di wajah dan kemudian pasang pematus berupa selang infuse yang dibuat lubang banyak dan anastesi lokal saja sedang glandula submandibularis perlu insisi kulit bawah mandibula sekitar 4 cm dibawah mandibula guna menghidari perlukaan terhadap r.cervikalis n. VII dengan anastesi local atau sebaiknya dengan neurolep lalu dipasang pematus.
Pada parotis abses sulit dilacak ok. Atasnya terdiri atas fasia yang tebal sehingga bila terbukti ada abses dan terapi konvensional tak membawa hasil maka perLu insisi dengan GA/neorolep atau aspirasi jarum dengan panduan CT atau USG dengan bius lokal.
Teknik Insisi:
Dikerjakan bila tak ada fluktuasi. Penjelasan kepada penderita dan keluarganya mengenai tindakan operasi yang akan dijalani seta resiko komplikasi disertai dengan tandatangan persetujuan dan permohonan dari penderita untuk dilakukan operasi (informed consent). Pemeriksaan kelengkapan alat operasi, obat anastesi. Panderita puasa minimal 6 jam bila akan GA atau neurolep.
Bila dengan Ga atau neurolep, penderita ditidurkan terlentang kepala hiperekstensi dan miring kearah yang sehat.Dilakukan disinfeksi dengan larutan desinfeksi sesuai prosedur kemudian daerah operasi ditutup dan dipersempit dengan linen steril.
Untuk Parotis, insisi dengan standar parotidectomy flap dan dengan
hemostad dibuat lubang banyak yaitu tempat-2 yang fluktuasi
Kemudian alat pematus ditempatkan pada lubang-2 itu dan kulit ditutup
Operasi selesai
SIALOADENITIS REKUREN KRONIK
Definisi
Peradangan pada glandula salivarius yang khronik; dasar waktu 12-14 minggu, berulang kambuh, terkadang diluar serangan masih teraba benjolan bawah rahang bawah walaupun tidak sakit. Bila stadium akut terjadi pembesaran dan sedikit sakit tekan. Bisa kejadian saliva berkurang produksinya sehingga 80% maka penderita menderita xerostomia( rasa kering mulut, perih di mukosa mulut dan mudah kejadian erosi mukosa.
Ruang Lingkup
Serangan berulang dengan kejadian benjolan yang difus, sedikit sakit tekan dan kenyal (indurasi) terutama saat makan. Di darah submandibula atau pipi.
Faktor Resiko
aliran saliva berkurang ok. Penyempitan→ striktura,
kalkulus/kalkuli; perubahan stuktur dari saliva ok→radang akut tidak sembuh, radiasi ,sitostatika
Pemeriksaan Penunjang
Seperti yang akut akan tetapi disini sialografi dapat dilakukan. Guna melihat aktivitas dinamik dari glandula maka dapat dilakukan dengan radiosialografi atau radionucleide imeging menggunakan sodium pertechnetrate (Tc 99m) dan Gallium 67 citrate untuk membedakan sel tumor atau inflamasi yang sekarang diganti thalium 201
Terapi
Faktor resiko: faktor resiko harus hilang
Terapi konservatif tahap 1: a) sialogogues, masase berulang, b) antibiotika peroral dengan obat seperti di atas, c) antiinflamasi, analgetik, antipiretika bila eksaserbasi akut.
Terapi konservatif tahap 2: a)dilatasi duktus periodik, 2) kastrasi glandula dengan cara diikat duktusnya atau radiasi glandula total
Terapi Operasi Nonglandula: Tympanic Necrotomy.
Terapi Pamungkas: Sialoadenektomi atau eksisi glandula
Tindak Lanjut:
disesuaikan dengan tahap terapi seperti di atas
kemungkinan dapat atrofi mandiri ok. Duktus tersumbat akibat duktus meyempit karena hiperplasi selular atau kejadian tumpukan saliva kental dan karena endapan protein.
Perlu observasi untuk terbentuknya lesi benign lymphoepithelial yang perlu ditidak lanjuti ok mungkin makin membesar dan kambuhan sialoadenitis atau pertumbuhan karsinoma undeferentiated dan pseudolymphoma
Prosedur Operasi Major (hanya untuk GLD submandibularis)
Butir-butir penting:
Insisi kulit agak jauh di bawah mandibula
Hindari perlukaan pada r.mandibularis n.VII dan r. cervicalis nVII
Hindari trauma pada n. hypoglossus dan n. lingualis
V fasialis anterior lebih superficial dari glandula
Lapisan-2 dari luar ke dalam adalah kulit , subkutan, platysma, fasia superficialis cervicalis, r mandibularis dan cervicalis n. VII, vasa vena dan arteri dan kapsula glandula
Hafal anatomi dan topografi regio supra hyaoid
Teknik Operasi
Insisi kulit dibuat 4 cm dibawah tepi bawah mandibula secara horizontal agak melengkung ke bawah.
Insisi dilanjutkan mendalam melalui lapis platysma sampai dengan fascia cervicalis superficial (FCF). Semua irisan ini dibuat sebagai flap kulit. Ujung lateral sampai tepi anterior m strenocleidomastoideus dan tepi ini perlu diperlihatkan. Pada dataran ini perlu dicari v Retromandibularis / fasialis communis dan anak cabangnya yaitu v fasialis posterior/fasialis dan anterior/submentalis, dilakukan jahitan pancang melalui platysma dan fascia di atas. Pada saat memotong platysma dan dideseksi keatas bersama dgn FCF maka kita menjumpai r.cervicallis n.VII yang mensarafi platysma. Sebaiknya anda mempertahankan saraf ini. Dan perlu dicamkan guna mengembalikan fungsinya perlu dijahit kembal tepi insisi antara atas dan bawah platysma yang di iris.. insisi pilihan lain adalah irisan kulit sampai platysma, kemudian deseksi lembut ke atas sampai tepi bawah mandibula. Platysma dibelah secara vertical dan diretraksi dengan retractor ke medial dan lateral. Akan tetapi pandangan kearah glandula terbatas bila glandula tidak terlalu besar maka pandangan tetap luas sedang apabila terlalu besar pandangan operator terbatas.
Terjadilah flap superior dan inferior. Yang inferior dideseksi secara lembut sampai tendo intermediate dari m.digastricus. Flap yang superior
di desksi ke atas antara FCF dengan kapsula glandula sampai tepi bawah mandibula. Ekstra hati-2 ok. Sedikit di bawah tepi mandibula secara horizontal lewat r.mandibularis n. VII/r. mandibularis marginalis sehingga sebaiknya saat deseksi didaerah ini nerve stimulator sangat perlu. Atau terlebih dulu vena di potong dan bagian atas vena dibelokan ke atas melindungi saraf dari trauma. (menurut Lampe).Perhatian: sebaiknya selama deseksi flap kulit superior selalu diidentifikasi adanya
r. mandibularis yang jalannya horizontal. Bila r mandibularis melekat pada glandula dan jaringan lemak peri glandular tebal ok. Infeksi peri glandulair maka insisi untuk membentuk flap kulit dimulai seperti diatas tetap horizontal agak melangkung ke bawah yang terdiri atas kulit, subkutis dan platysma saja setelah sampai setinggi tepi bawah glandula baru dibuat irisan pada fascia dan selanjutnya desksi priglandular lemak dengan sangat hati-2 sebaiknya mengunakan nerves stimulator.
A.maxilaris externa (A.ME) dan vena facialis anterior/communis (VFA/C) di klem dan diligasi. Puntung superior keduanya di belokan k etas guna melindungi saraf. Bila diperlukan untuk meretraksi flap kulit kearah atas sebaiknya memakai Cushing vein retractor (CVR).
Pengangkatan glandula dimulai dari bagian tepi inferior glandula. Diantara tendo intermediate dengan glandula. Dan tepat didaerah itu harus diiidentifikasi n hypoglossus. Vena lingualis dekat nervus tersebut kearah laterocranial.AME terlihat lebih kearah lateroocranial melalui sebelah dalam dari m.digastricus venter posterior dan m. stylohyoideus.
Klem dan ligasi AME dan diutamakan puntung proksimal diikat 2 kali dengan sutera sedang puntung distal diikat satu kali.
Lobus dalam diangkat dengan cara meretraksi m.mylohyoideus dengan CVR kearah medial dan meretraksi tepi atas perlukaan keatas dengan slender finger retractor dengan dibantu menarik glandula dengan klem (dressing and sponge forcep). N lingualis beserta dengan serabut eferen dari chorda tympani (serabut exitogladular) dan ganglion submaxillaris/submandibularis.
Duktus glandula submandibularis(Wharton’s duct) dipotong dan diligasi. Serabut eferen n.chordatympani dipotong proksimal dari pertemuan nervus; disini perlu ekstra hati-2 ok. Ada vasa kecil mengikuti n. chordatympani.
Glandula mudah diangkat secara tumpul
Dasar trigonum submandibulare tampak serta vasa dan nervus seperti tersebut di atas dan perlu ditunjukan pada asisten.
Pematus kecil (selang infuse) yang diberi lubang banyak dipasang atau dengan alat pematus khusus yaitu JACKSON- PRATT DRAIN dan jahitan lapis demi lapis; fascia dengan jarum fascia dan benang plain- catgut, platysma dengan jarum fascia dan benang chromic gut nomer 4-0, kulit dengan jarum kulit dan benang nylon/prolene/sutera/ nomer 5-0.
Komplikasi Baik Operasi Minor Maupun Major
Kelajuan ringan sampai berat dari bibir bawah. Bila 9-12 bulan tak kunjung sembuh maka revisi bibir bawah
Perdarahan
Trauma pada n hypoglossi n. lingualis
Tindak Lanjut Paska Operasi:
Penderita dirawat 2 hari
Selama perawatan diobservasi ada tidaknya komplikasi
Pematus diangkat setelah 24 jam bila masih aktif adanya cairan jaringan maka ditunda sampai +/- 5 hari.
Jahitan diangkat hari ke tujuh
Instrumen Yang Diperlukan
Sterile scalpel blades no:19-22
Scalpel handle
Surgical scissors blunt/blunt, curved (Cooper)
Dissecting scissor, curved (Metzenbaum)/dissecting scissor for plastic surgery Gorney/scissor, delicate (Chadwick)
Vessel and tendon scissors, curved and straight (stevens)
Standard tissue forcep
Dissecting forcep, delicate (Adson); dissecting, nontraumatic forcep
Hemostatic, delicate forcep/klem straight and curved (Halsteid- mosquito)
Hemostatic forcep standard (Adson, Leriche)
Dissecting and ligature forceps (Baby-Overholt and Baby-Mixter)
Bulldog clamps (DeBekey)
Dressing and sponge forcep(Rample)
Towel clamps (Backhaus)
Sonde/probe 1,0mm,1,5 mm diam. Of tips
Retractor Lagenbeck-Green dan Wound and vein retractors (Kocher/Cushing)
Needle holder DeBekay, Sarot
Deschams ligature needle, blunt
Sponge forceps, curved (Duplay)
Mouth gag (Whitehead-Jennings, Featherstone)
Tongue depressor (Tobold/Weder)
Jarum dan benang yang didunakan: 1)kulit luar dgn. Jarum conventional/reverse cutting;badan jarum 3/8 atau ¼ sedang utk.plastik memakai half curved dan tipe benang sutera /vicryl/nylon/prolene, subkutan dg. Jarum spatula; badan jarum ½ dan tipe benang cat gut, platysma dg. Jarum taper point; badan jarum ½ dan tipe benang chromic/cat gut, untul fascia dgn. Jarum taper pont, badan jarum 1/2 atau 5/8 dan benang chromic/cat gut, vasa dengan benang sutera/ vasakecil bisa dgn. chromic dan badan jarum 1/2 atau 5/8 begitu pula ductus.
Kepustakaan :
Rohan R, Matthew W, Bowen A. Non Neoplastic Diseases of Salivary Gland. In
: Bailey BJ, Pillsbury HC, Newlands SD, Healy GB, Derkay CS, Friedman NR, editors. Head and neck surgery – otolaryngology. 5th ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2014. p.708-710
Yuan F, Butt S. Non Infectious Inflammatory Diseases Sialolithiasis. In : Current Diagnosis & Treatment Otolaryngology Head And Neck Surgery. Chapter V. 3rd ed. McGrownHill; 2012. P.320-322
Witt RL. Salivary Gland Diseases. In Essential Otolaryngology Head and Neck Surgery 9th ed. Amerika Serikat: The McGraw-Hill Companies, 2008: 512-529
Carroll WR dan Morgan CE. Diseases of the Salivary Glands. In Ballenger’s Manual of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. 2008: 507-519
Yuan Fidelia dan Butt Shin.CURRENT Diagnosis & Treatment in Otolaryngology Head and Neck Surgery 2nd ed. 2008: 294-300
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
WAKTU 1
PERSIAPAN SESI 1
REFERENSI 1
KOMPETENSI 2
GAMBARAN UMUM 2
CONTOH KASUS 2
TUJUAN PEMBELAJARAN 2
METODE PEMBELAJARAN 3
EVALUASI 3
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF 4
MATERI PRESENTASI 7
MATERI BAKU 8
Daftar Pustaka 11
MODUL IV.5.3
LARING-FARING – PENYAKIT KELENJAR LUDAH : PAROTITIS
WAKTU
Proses Pengembangkan Kompetensi | Alokasi Waktu : |
Sesi di dalam kelas Sesi Pratikum Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi | 6 X 60 menit (classroom session) 1 X 60 menit (coaching session) 9 X 60 menit (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi presentasi : Parotitis
Slide 1. Pendahuluan
Slide 2. Anatomi Kelenjar Liur
Slide 3. Fisiologi Kelenjar Liur
Slide 4. Parotitis
Slide 5. Etiologi
Slide 6. Diagnosis
Slide 7. Penatalaksanaan
Contoh Kasus :
Seorang anak laki-laki berusia 13 tahun dengan keluhan bengkak pada daerah pipi kiri sejak 3 hari yang lalu, disertai dengan demam, nafsu makan berkurang, lemas. Bengkak pada daerah pipi kiri disertai warna kemerahan. Penderita juga mengeluhkan bengkak dan nyeri pada kantung zakar kanan.
Sarana dan Alat Bantu Latih :
Alat pemeriksaan THT rutin Model Anatomi, Video
Penuntun belajar (learning guide) terlampir
Tempat belajar (training setting) : bangsal THTKL, Klinik THTKL.
REFERENSI
Bailey BJ. Head and Neck Surgery – Otolaryngology, Fifth Edition, Lippincott Williams & Wilkins, Philadelphia, 2014, 703 – 704.
McCaffrey TV dan Arrieta AJ. Inflammatory Disorders of The Salivary Glands. In Cummings Otolaryngology Head and Neck Surgery 5th ed. Philadelpia: Mosby Elseviere, 2010.
Witt RL. Salivary Gland Diseases. In Essential Otolaryngology Head and Neck Surgery 9th ed. Amerika Serikat: The McGraw-Hill Companies, 2008: 512-529.
Carroll WR dan Morgan CE. Diseases of the Salivary Glands. In Ballenger’s Manual of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. 2008: 507-519.
Yuan Fidelia dan Butt Shin.CURRENT Diagnosis & Treatment in Otolaryngology Head and Neck Surgery 2nd ed. 2008: 294-300
KOMPETENSI
Kompetensi Umum
Mampu membuat diagnosis parotitis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan beberapa pemeriksaan tambahan yang diperlukan.
Mampu melaksanakan tatalaksana parotitis serta merujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi bila diperlukan.
Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam :
Menjelaskan anatomi, fisiologi struktur kelenjar liur
Menjelaskan etiologi, macam-macam virus
Menjelaskan gambaran klinik dari parotitis
Menjelaskan dan melakukan pemeriksaan penunjang.
Membuat diagnosis klinis berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan.
Menjelaskan dan melaksanakan penatalaksanaan parotitis
Melakukan work-up pada penderita parotitis (follow-up selanjutnya)
Merujuk ke rs dengan fasilitas yang lebih tinggi
GAMBARAN UMUM
Parotitis adalah penyakit infeksi pada kelenjar parotis akibat virus. Penyakit ini merupakan penyebab edema kelenjar parotis yang paling sering. Kejadian parotitis saat ini berkurang karena adanya vaksinasi. Sebelum diperkenalkan vaksinasi mumps pada tahun 1967, insiden mumps di Amerika Serikat meningkat hingga
300.000 kasus tiap tahunnya. Insiden ini menurun secara dramatis hingga 266 kasus yang dilaporkan pada tahun 2001. Secara demografis, terjadi peralihan penyakit dari masa kanak-kanak hingga paling sering dijumpai pada remaja muda. Insidensi parotitis tertinggi pada anak-anak berusia antara 4-6 tahun
CONTOH KASUS
Seorang anak laki-laki berusia 13 tahun dengan keluhan bengkak pada daerah pipi kiri sejak 3 hari yang lalu, disertai dengan demam, nafsu makan berkurang, lemas. Bengkak pada daerah pipi kiri disertai warna kemerahan. Penderita juga mengeluhkan bengkak dan nyeri pada kantung zakar kanan.
TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk :
Menjelaskan anatomi, fisiologi struktur kelenjar liur
Menjelaskan etiologi, macam-macam virus, dan gambaran klinik dari parotitis
Menjelaskan dan melakukan pemeriksaan penunjang.
Membuat diagnosis klinis berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan.
Menjelaskan dan melaksanakan penatalaksanaan parotitis
Melakukan work-up pada penderita parotitis (follow-up selanjutnya) dan merujuk ke RS dengan fasilitas yang lebih tinggi bila terjadi komplikasi
METODE PEMBELAJARAN
Interactive lecture
Small group discussion
Peer assisted learning (PAL)
Task based medical education
Journal reading and review
Case simulation and investigation exercise
Equipment characteristics and operating instructions
Simulation and real examination exercises (physical and device)
Demonstration and coaching
Practice with real clients
Continuing professional development
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dan pada akhir pertemuan dilakukan post-test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan, yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada.
Materi pre-test terdiri atas :
Anatomi, fisiologi kelenjar liur
Penegakan diagnosa
Penatalaksanaan
Follow up
Selanjutnya dilakukan “small group discussion” bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian.
Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk mengaplikasikan l angkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk role-play dengan teman-temannya (Peer Assisted Learning) atau SP (Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assisted Evaluation). Setelah dianggap memadai, melalui metoda bedside teaching di bawah pengawasan fasilitator, peserta didik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan, evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut:
Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan.
Cukup : pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terlalu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien.
Baik : pelaksanaan benar dan baik (efisien)
Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
Self assessment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar.
Pendidik / fasilitator :
Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form
(terlampir).
Penjelasan lisan dari peserta didik / diskusi.
Kriteria penilaian keseluruhan : cakap / tidak cakap / lalai.
Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education)
Pencapaian pembelajaran :
Ujian akhir OSCA (K, P, A), dilakukan pada tahap akhir THTKL oleh Kolegium Ilmu THTKL.
Ujian akhir stase, setiap divisi/unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan THTKL lanjut oleh Kolegium Ilmu THTKL
Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan THTKL oleh Kolegium Ilmu THTKL.
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Sebelum pembelajaran ( pretest)(5 soal)
Insidensi tertinggi parotitis pada anak-anak berusia antara
1-3 tahun
4-6 tahun
9-11 tahun
11-13 tahun
13-15 tahun Jawaban: B
Kelenjar liur terbesar adalah
Kelenjar Submandibula
Kelenjar Sublingual
Kelenjar Parotis
Kelenjar Von Ebner
Kelenjar Tiroid Jawaban: C
Seorang anak laki-laki berusia 4 tahun dibawa ibunya berobat ke Klinik THT dengan keluhan bengkak pada pipi kanan dan kiri sejak 2 hari yang lalu.
Keluhan disertai demam, dan tidak nafsu makan. Gejala klinis apalagi yang dapat ditemukan pada penderita ini?
Mialgia
Lesu
Sakit kepala
Nyeri
Semua benar Jawaban: E
Pemeriksaan fisik yang dapat ditemukan pada penderita ini adalah
Wheezing
Oral hygiene buruk
Stridor
Trismus
nyeri menelan Jawaban: B
Komplikasi yang mungkin dapat dijumpai pada penderita ini antara lain
Uveitis
Glomerulonephritis
Miokarditis
Arthritis
Semua benar Jawaban: C
Tengah pembelajaran (5 soal)
Seorang anak laki-laki berusia 5 tahun dibawa ibunya berobat ke Klinik THT dengan keluhan bengkak pada pipi kanan sejak 3 hari yang lalu. Keluhan disertai demam, lesu, dan tidak nafsu makan. Anak juga mengeluhkan bengkak pada kantung zakar. Apa kemungkinan etiologi keluhan di atas?
Paramixovirus, Coxsackie A dan B, Influenza A
Haemophilus influenzae, Klebsiella pneumoniae, Pseudomonas aeruginosa
Measles, Herpes Simpleks, Rubella
Eschericia coli, Enterobacter sp., Helicobacter pylori
Chlamydia trachomatis, Neisseria gonorrhoe
Jawaban: A
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan antara lain
Antibodi mump S dan antigen V
Biopsi
Rontgen thorax
MRI
Isolasi virus dari cairan cerebrospinal Jawaban: A
Jika terdapat gejala meningitis aseptic pada penderita ini, pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menegakan diagnosa adalah
Antibodi mump S dan antigen V
Biopsi
Rontgen thorax
MRI
Isolasi virus dari cairan cerebrospinal Jawaban: E
Apakah terapi yang paling tepat untuk penderita di atas saat ini?
Meningkatkan oral higiene
Analgetik-antipiretik
Antibiotik
Antiviral
Istirahat Jawaban: C
Pemeriksaan penunjang apa saja yang dapat dilakukan untuk menegakan diagnosa parotitis
Rontgen thorax
USG abdomen
USG parotis
MRI
CT scan Jawaban: C
Komplikasi yang jarang terjadi pada penderita parotitis adalah:
Pankreatitis
Meningitis aseptik
Tuli sensorineural
Miokarditis
BPPV
Jawaban: C
Akhir pembelajaran (post test)(5 soal)
Seorang anak perempuan berusia 5 tahun dibawa ibunya berobat ke Klinik THT dengan keluhan bengkak dan nyeri pada pipi kiri sejak 2 hari yang lalu. Keluhan disertai demam, sakit kepala dan lesu. Apa etiologi yang mungkin menyebabkan keluhan penderita ini?
paramiksovirus,
sitomegalovirus,
Coxsackie A dan B,
virus koriomeningitis limfositik.
Semua Benar Jawaban: E
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan antara lain
Isolasi/ kultur cairan dari saliva
Isolasi/ kultur cairan dari urin
PCR
Antibodi Mumps S dan antigen V
Semua benar Jawaban: E
Komplikasi yang mungkin dapat terjadi pada penderita ini kecuali
Orkitis
Pankreatitis
Miokarditis
Meningitis aseptic
Sialodenitis Jawaban: A
Tatalaksana pasti pada pasien parotitis , kecuali
Istirahat
Hidrasi yang adekuat
Pemberian antipiretik
Pemberian analgetik
Pemberian antibiotic Jawaban: E
Edukasi pasien parotitis yang dapat dianjurkan adalah
Menjaga oral hygiene
Bebat tekan
Menggunakan antibiotic
Masase pada daerah bengkak
Kurangi minum Jawaban: A
MATERI PRESENTASI
Slide 1. Pendahuluan
Slide 2. Anatomi Kelenjar Liur
Slide 3. Fisiologi Kelenjar Liur
Slide 4. Parotitis
Slide 5. Etiologi
Slide 6. Diagnosis
Slide 7. Penatalaksanaan
MATERI BAKU PAROTITIS
Pendahuluan
Parotitis adalah penyakit infeksi pada kelenjar parotis akibat virus. Penyakit ini merupakan penyebab edema kelenjar parotis yang paling sering. Kejadian parotitis saat ini berkurang karena adanya vaksinasi. Sebelum diperkenalkan vaksinasi mumps pada tahun 1967, insiden mumps di Amerika Serikat meningkat hingga 300.000 kasus tiap tahunnya. Insiden ini menurun secara dramatis hingga 266 kasus yang dilaporkan pada tahun 2001. Secara demografis, terjadi peralihan penyakit dari masa kanak-kanak hingga paling sering dijumpai pada remaja muda. Insidensi parotitis tertinggi pada anak-anak berusia antara 4- 6 tahun.
Anatomi kelenjar saliva mayor
Kelenjar parotis merupakan kelenjar liur yang terbesar berukuran 5,8 x 3,4cm dan berat rata-rata 15-30 g. Berlokasi di regio pre aurikula dan bagian posterior mandibula. Kelenjar parotis berhubungan dengan rongga mulut melalui duktus Stensen dan bermuara ke mukosa bukal setinggi molar 2 atas. Nervus fasialis yang berfungsi motorik untuk otot wajah masuk ke kelenjar parotis dan membaginya menjadi dua zona surgikal (lobus superfisial dan lobus profunda. Lobus superfisialis terletak pada bagian lateral dari maseter, lobus profunda terletak diantara prosessus mastoid tulang temporal dan ramus mandibula. Kelenjar parotis bagian superior dibatasin oleh zigomatikus.bagian bawah dari kelenjar parotis meluas kebawah berbatasan dengan anteromedial otot sternokleidomastoid.
Arteri yang berdekatan dengan kelenjar ini adalah a.karotis externa, a.maksilaris binterna dan temporalis superfisialis. Drainage melalui vena retromandibular yang terletak disebelah dalam nervus fasilalis, sedangkan drainage limfatik melalui kelenjar getah bening yang terletak di dalam kelenjar parotis dan paraparotis.
Kelenjar submandibula beratnya setengah dari kelenjar parotis, yang merupakan kelenjar saliva mayor terbesar kedua, terletak di dalam segitiga yang dibentuk oleh m.digastrikus anterior, posterior belly dan inferior ramus mandibula. Nervus fasialis cabang marginal mandivula berjalan superfisial dari kelenjar ini dan sebelah dalam dari m.platisma. duktus submandibularis (duktus
Wharton’s)keluar dari permukaan medial dari kelenjar ini dan berjalan diantara m.milohioid dan hioglosuske m. Genioglosus. Arteri yang memperdarahi kelenjar submandibula adalah cabang submental dari arteri fasialis. Drainase melalui vena fasialis yang melewati permukaan lateral kelenjar submndibula.
Kelenjar sublingual merupakan kelenjar saliva mayor yang paling kecil dengan berat sekitar 2 – 4 g, terletak di bawah mukosa dasar mulut antara mandibula dan
m. Genioglosus. Duktus Wharton dan nervus lingualis melewati diantara sublingual dan m.genioglosus. Kelenjar ini tidak memiliki kapsul, tidak memiliki duktus yang dominan, drainase melalui kurang lebih 10 duktus kecil- kecil (duktus rivinus) dan bermuara ke lipatan sublingual pada dasar mulut. Kelenjar saliva minor , kelenjar yang tidak memiliki duktus ,jumlahnya sangat banyak berkisar 600 sampai 1000 kelenjar, tersebar di regio bukal, labial, palatal, dan lingual. Dapat ditemukan juga pada bagian atas tonsil dan dasar lidah. Suplai darah berasal dari arteri di sekitar rongga mulut. Kelenjar saliva minor menerima inervasi dari nervus lingualis, kecuali kelenjar di palatum yang menerima inervasi dari nervus palatinum.
Fisiologi
Fungsi utama dari kelenjar saliva adalah memproduksi saliva yang berguna pada proses digestif, lubrikasi dan pertahanan tunbuh. Saliva secara aktif di produksi dalam jumah yang besar sesuai dengan ukuran kelenjar saliva, secara ekstrinsik dikontrol oleh syaraf simpatik dan para simpatik.
Kelenjar saliva di lidah memproduksi lipase yang berfungsi menghancurkan trigliserida. Enzim ini berfungsi di dalam lambung dan juga proksimal dari duodenum karena enzim ini aktif secara optimal pada Ph rendah. Saliva terdiri dari inorganik dan organik. Kandungan organik terdiri dari: amilase, lingualifase, lisozim, glikoprotein, laktoferin dan imunoglobulin A, saliva juga mengandung antibakterial yang dapat berfungsi protektif (glikoprotein dan imunoglobulin A) yang secara aktif dapat melawan virus dan bakteri. Enzim lisosim menyebabkan bakteri mengalami aglutinasi dan menyebabkan autolisis pada dinding sel bakteri. enzim laktoferin menghambat pertumbuhan dari bakeri.
Etiologi
Virus yang terlibat dalam terjadinya parotitis viral akut antara lain paramiksovirus, sitomegalovirus, Coxsackie A dan B, ecovirus, influenza A, dan virus koriomeningitis limfositik.
Diagnosis
Onset penyakit ini diawali dengan adanya rasa nyeri dan bengkak pada daerah sekitar kelenjar parotis (gambar 1). Onset parotitis biasanya terjadi dalam 24 jam dan berlangsung hingga satu minggu kemudian. Masa inkubasi berkisar antara 2 hingga 3 minggu. Gejala prodromal meliputi demam, malaise, mialgia, sakit kepala, dan anoreksia. Pada umumnya parotitis terjadi bilateral, tetapi dapat juga unilateral. Kelenjar salivarius lainnya seperti kelenjar submandibula dan sublingual lebih jarang terlibat dan hampir tidak pernah sendirian terlibat.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan konfirmasi antibodi mumps S dan antigen V. Diagnosis juga dapat dibuat dengan cara mengisolasi virus dari cairan serebrospinal pada saat 3 hari pertama muncul gejala meningitis aseptik. Virus juga ditemukan pada saliva sekitar 1 minggu mulai dari 2-3 hari sebelum onset parotitis. Kultur virus dari urin juga mungkin dilakukan dalam 2 minggu pertama. PCR atau kultur virus dapat digunakan untuk mendeteksi keberadaan virus.
Gambar 2. Bengkak di daerah kelenjar parotis
Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi antara lain orkitis, meningitis aseptik, pankreatitis, dan miokarditis. Komplikasi yang jarang terjadi adalah tuli sensorineural. Sialodenitis obstruktif kronis dapat berkembang beberapa tahun setelah episode parotitis akut.
Tata Laksana
Terapinya istirahat, hidrasi yang adekuat, meningkatkan oral hygiene, pemberian antipiretik dan analgetik, pemberian antiviral atau imunomodulator. Pemberian antibiotik diindikasikan jika ditemukan superinfeksi atau komplikasi.
Daftar Pustaka
Bailey BJ. Head and Neck Surgery – Otolaryngology, Fifth Edition, Lippincott Williams & Wilkins, Philadelphia, 2014, 703 – 704.
McCaffrey TV dan Arrieta AJ. Inflammatory Disorders of The Salivary Glands. In Cummings Otolaryngology Head and Neck Surgery 5th ed. Philadelpia: Mosby Elseviere, 2010.
Witt RL. Salivary Gland Diseases. In Essential Otolaryngology Head and Neck Surgery 9th ed. Amerika Serikat: The McGraw-Hill Companies, 2008: 512-529.
Carroll WR dan Morgan CE. Diseases of the Salivary Glands. In Ballenger’s Manual of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. 2008: 507-519.
Yuan Fidelia dan Butt Shin.CURRENT Diagnosis & Treatment in Otolaryngology Head and Neck Surgery 2nd ed. 2008: 294-300
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
WAKTU 1
PERSIAPAN SESI 1
REFERENSI 1
KOMPETENSI 1
GAMBARAN UMUM 2
CONTOH KASUS 2
TUJUAN PEMBELAJARAN 2
METODA PEMBELAJARAN 2
EVALUASI 3
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF 4
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR 5
DAFTAR TILIK 6
MATERI PRESENTASI 6
MATERI BAKU 7
MODUL IV.6
LARING-FARING : DISFONI
WAKTU
Proses Pengembangkan Kompetensi | Alokasi Waktu : |
Sesi di dalam kelas Sesi Pratikum Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi | 8 X 60 menit (classroom session) 2 X 60 menit (coaching session) 24 X 60 menit (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi presentasi : Disfoni
Slide I : Gejala dan Tanda Disfoni
Slide 2 : Anamnesis & Pemeriksaan Disfoni
Slide 3 : Pemeriksaan Penunjang Diagnostik
Slide 4 :Faktor Resiko Disfoni
Slide 5 :Clinical Decision Making dan Medikamentosa
Kasus : Disfoni
Sarana dan Alat Bantu Latih :
Model anatomi laring, video
Penuntun belajar (learning guide) terlampir
Tempat belajar (training setting): bangsal THT-KL, Poliklinik THT-KL, kamar operasi, bangsal perawatan pasca bedah THT-KL.
REFERENSI
Ballenger JJ. Disease of the Nose, Throat, Ear, Head and Neck, Philadelphia, Lea & Fabiger, 1993, chapter 34&35, pp.569-619.
Bailey BJ and Pillsburry III HC. Head and Neck Surgery – Otolaryngology. Philadelphia, JB Lippincott Co, 2014.
Paparella MM, Shumrick DA, Gluckman JL, Meyerhoff WL. Otolaryngology. Philadelphia. WBSaunders Co.,1991, chapter 29,31,33&34, pp. 2257-384.
3. Lee KJ. Essential Otolaryngology. Head & Neck Surgery. New York. McGraw Hill, 8th Ed, Chapter 31, pp. 724-92
KOMPETENSI
Kompetensi Umum
Mampu membuat diagnosis disfoni berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang bila diperlukan (Laringoskopi Indirek/ Laringoskopi Direk/ Fiber-Optic Laringoscopy (FOL)/ foto polos leher AP dan lateral/ CT scan leher/ Waktu Fonasi Maksimal/ Perceptual Analisis/ Voice Handicap Index (VHI))
Mampu melakukan tatalaksana serta merujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi bila diperlukan.
Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam :
Mengenali gejala dan tanda klinis penyakit yang menyebabkan disfoni
Melakukan keputusan untuk perlu tidaknya pemeriksan penunjang seperti Laringoskopi Indirek/ Laringoskopi Direk/ Fiber-Optic Laringoscopy
(FOL)/ foto polos leher AP dan lateral/ CT scan leher/ Waktu Fonasi Maksimal/ Perceptual Analisis/ Voice Handicap Index (VHI))
Mengenali faktor resiko terjadinya disfoni
Mampu melakukan tatalaksana konservatif dan operatif
Deteksi dini penyulit yang mungkin terjadi pada disfoni, dan merujuk bila perlu
GAMBARAN UMUM
Disfoni adalah gangguan suara yang disebabkan kelainan pada laring, bukan merupakan suatu penyakit tetapi merupakan gejala penyakit. Disfoni dapat berupa suara parau (hoarseness), suara mendesah (breathy voice), suara kaku (strain voice) sampai tidak bersuara (afoni). Penyebab disfoni adalah kelainan pada laring dapat berupa infeksi/ peradangan, kelainan neurologis, trauma laring, tumor jinak dan tumor ganas.
CONTOH KASUS
Seorang wanita, 49 tahun datang ke poliklinik THT-KL dengan keluhan: suara parau sudah 3 bulan. Empat bulan sebelumnya dia menjalani operasi tiroid. Dari pemeriksaan laringoskopi indirek dan laringoskopi direk didapatkan kelumpuhan pita suara sebelah kiri.
TUJUAN PEMBELAJARAN
Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan menatalaksana disfoni seperti yang telah disebutkan diatas, yaitu:
Mengenali gejala dan tanda Disfoni
Melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik Disfoni
Melakukan keputusan untuk perlu tidaknya pemeriksan penunjang seperti foto leher jaringan lunak, pemeriksaan laringoskopi tak langsung dan langsung, laringoskopi serat optik.
Mengenali faktor resiko kejadian Disfoni
Membuat keputusan klinik dan menatalaksana untuk pemberian antibiotika, anti radang, analgesik antipiretik, dan operasi.
Deteksi dini dan menatalaksana berbagai masalah dan penyulit yang mungkin terjadi pada Disfoni.
METODA PEMBELAJARAN
Interactive lecture
Small group discussion.
Peer assisted learning (PAL).
Bedside teaching.
Task based medical education.
Journal reading and review.
Case simulation and investigation exercise.
Equipment characteristics and operating instructions.
Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).
Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients.
Continuing Professional Development
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pre test dan post-test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pre test dan post test terdiri atas :
Anatomi dan fisiologi laring
Penegakan diagnosa
Penatalaksanaan
Follow up
Selanjutnya dilakukan “small group discussion” bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian.
Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk
mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk “role play” dan teman-temannya (Peer Assisted Evaluation) atau kepada SP (Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assisted Evaluation) setelah dianggap memadai, melalui metode bedside teaching dibawah pengawasan fasilitator, peserta dididik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut :
Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan.
Cukup : pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien.
Baik : pelaksanaan benar dan baik (efisien)
Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
Self assesment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar.
Pendidik/ fasilitas :
pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form (terlampir)
penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi
Kriteria penilaian keseluruhan : cakap/ tidak cakap/ lalai
Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan
diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education)
Pencapaian pembelajaran :
Ujian OSCA (K,P,A), dilakukan pada tahapan THT-KL dasar oleh kolegium Ilmu kesehatan THT-KL
Ujian akhir stase, setiap divisi/unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan
Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan THT-KL lanjut oleh kolegium ilmu THT-KL.
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Kuesioner Sebelum Pembelajaran
Sorang pria usia 19 tahun dirujuk ke unit gawat darurat 2 jam setelah kecelakaan lalu lintas, dengan riwayat leher terbentur setir mobil. Penderita mengeluh suara parau tapi tidak sesak. Pada pemeriksaan didapatkan leher sebelah kiri udem dan ada sidikit luka lecet. Pemeriksaan tambahan apa yang paling diperlukan pada kasus tersebut?
Ct-scan leher
Foto soft tissue leher AP/Lateral
FOL
LD
Foto Thorak Jawaban : C
Penyebab tersering paralisis korda vokalis unilateral adalah :
A. Trauma kecelakaan B . Neoplasma.
C. Infeksi
D. Vaskuler
C. Tiroidektomi Jawaban : A
Penyebab tersering paralisis korda vokalis bilateral adalah :
Tiroidektomi
Neoplasma
Trauma kecelakaan
Infeksi
Idiopatik Jawaban : A
Pernyataan yang paling benar pada paralisis korda vokalis adalah :
Anomali kongenital lebih sering menyebabkan paralisis korda vokalis kanan
Pada trauma akut paralisis korda vokalis bilateral sebaiknya segera dilakukan rekontruksi saraf untuk mengembalikan fungsi laring
Salah satu indikasi injeksi teflon adalah paralisis korda vokalis unilateral
Indikasi aritenoidektomi adalah paralisis korda vokalis aduktor bilateral
Pada kasus paralisis korda vokalis dengan metode tertentu mudah diidentifikasi serat saraf yang menginervasi otot aduktor maupun abduktor
Jawaban : C
Pernyataan yang paling benar pada kasus papiloma laring pada anak :
Tidak mempunyai potensi berubah jadi ganas
Morbiditasnya rendah
Tidak ada hubungan dengan hormonal
Penyebab pasti adalah human papiloma virus
Pada saat operasi harus dilakukan dengan hati-hati jangan melukai mukosa normal sekitarnya
Jawaban : E
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR
Penuntun Belajar Prosedur Pemeriksaan Laring
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :
Perlu perbaikan langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang
seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi diluar normal.
Mahir langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan).
PENUNTUN BELAJAR LARINGOSKOPI LANGSUNG | ||||||
NO | KEGIATAN/LANGKAH KLINIK | KESEMPATAN KE | ||||
1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
PERSIAPAN PRA-TINDAKAN | ||||||
1 | Informed Consent | |||||
2 | Pemeriksaan Penunjang | |||||
3 | Memeriksa Dan Melengkapi Alat | |||||
4 | Persiapan Tindakan | |||||
5 | Cara Duduk Penderita Dan Posisi Kepala | |||||
TINDAKAN | ||||||
1 | Memasukkan Laringoskop | |||||
2 | Memasukkan teleskop | |||||
3 | Evaluasi Laring | |||||
PENUNTUN BELAJAR FIBER OPTIC LARYNGOSCOPY (FOL) | ||||||
NO | KEGIATAN/LANGKAH KLINIK | KESEMPATAN KE | ||||
1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
PERSIAPAN PRA-TINDAKAN | ||||||
1 | Informed Consent | |||||
2 | Pemeriksaan Penunjang | |||||
3 | Memeriksa Dan Melengkapi Alat | |||||
4 | Persiapan Tindakan | |||||
5 | Cara Duduk Penderita Dan Posisi Kepala | |||||
TINDAKAN | ||||||
1 | Memasukkan Fiber Optic | |||||
2 | Evaluasi Rongga Hidung | |||||
3 | Evaluasi Nasofaring | |||||
4 | Evaluasi Laring |
DAFTAR TILIK
Penilaian Kinerja Keterampilan (ujian akhir)
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan status kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini :
✓
Memuaskan
langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
X
Tidak langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai
Memuaskan dengan prosedur atau panduan standar
T/D
Tidak Diamati
langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
Prosedur Pemeriksaan Laring
KEGIATAN | NILAI | ||
Pemeriksaan Laringoskopi Langsung | |||
1. Persiapan tindakan | |||
2.Tindakan | |||
Pemeriksaan Laringoskopi Serat Optik (FOL) | |||
1. Persiapan tindakan | |||
2. Tindakan | |||
MATERI PRESENTASI
Slide 1: Gejala dan Tanda Disfoni
Slide 2: Anamnesis & Pemeriksaan Disfoni Slide 3: Pemeriksaan Penunjang Diagnostik Slide 4: Faktor Resiko Disfoni
Slide 5: Clinical decision making and Medikamentosa
MATERI BAKU
DISFONI
Definisi
Disfoni adalah gangguan suara yang disebabkan kelainan pada laring, bukan merupakan suatu penyakit tetapi merupakan gejala penyakit. Disfoni dapat berupa suara parau (hoarseness), suara mendesah (breathy voice), suara kaku (strain voice) sampai tidak bersuara (afoni). Penyebab disfoni adalah kelainan pada laring yang meliputi infeksi/ peradangan, kelainan neurologis, trauma laring, tumor jinak dan tumor ganas.
Faktor Resiko
Trauma leher, operasi daerah leher, kelainan paru, kelaianan jantung dan penyakit sistemik lain.
Etiologi
Etiologi yang sering dijumpai adalah : Infeksi/peradangan, kelainan neurologis, trauma laring, tumor jinak dan tumor ganas. Etiologi yang jarang dijumpai adalah gangguan psikologis seperti stress, obat-obatan, hormonal, usia, variasi anatomi dan penyakit neuromuskuler.
Diagnosis
Anamnesis :
Anamnesis komprehensif :
Keluhan utama :
- Durasi, hilang timbul, pernah normal lagi ?
Faktor predisposisi :
Dimulai dengan infeksi saluran napas akut? Teriak?
Riwayat medis yang lalu :
Trauma, pasca operasi/intubasi, hipotiroid?
Simptom yang berhubungan dengan :
Disfagi, batuk kronis, alergi, sesak napas
Riwayat sosial :
Pekerjaan, rokok, alkohol, vocal misuse/abuse
Riwayat obat-obatan, terkait efek samping :
Kekeringan mukosa
Obat jantung bisa berefek samping batuk
Hormon
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan kepala dan leher :
Inspeksi dan palpasi untuk melihat tumor koli, tiroid dan pergerakan kartilago laring
Pemeriksaan laring :
Pemeriksaan dengan cermin
Laringoskopi kaku/teleskop/fleksibel
Pemeriksaan penunjang lainnya sesuai dengan indikasi :
Foto polos leher AP dan lateral
CT scan leher
Waktu Fonasi Maksimal
Perceptual Analisis
Voice Handicap Index (VHI)
BEBERAPA PENYAKIT PENYEBAB DISFONI
Laringitis Akut
Definisi : adalah infeksi akut pada mukosa laring
Etiologi :
Virus : adeno virus, influenza virus
Bakteri : Streptokokus pneumoniae, Hemofilus influenzae, Streptokokus hemolitikus
Gejala klinik :
Suara parau samapi suara hilang
Rasa tak enak dan nyeri di laring
Batuk
Sekret laring, awalnya sedikit menjadi banyak kental dan kadang ada darah
Mukosa laring merah dan udem
Korda vokalis merah dan udem
Terapi :
Istirahat
Vocal rest
Simptomatis : antipiretik dan ekspektorans
Bila ada infeksi skunder oleh bakteri perlu antibiotika
Laringitis Akut Pada Bayi Dan Anak
Dapat fatal karena :
Rima glotis kecil, bila udem dapat tersumbat
Bayi udem 1 mm, lumen berkurang 50%
Dewasa udem 1mm, lumen berkurang 20%
Banyak jaringan ikat kendor pada daerah subglotik, sehingga mudah udem dan sesak
Gejala klinik :
Parau, panas badan, sesak napas inspiratoir
Terapi :
Oksigenasi
Injeksi deksamotason 0,3 – 0,5 mg/kgBB, bila belum membaik dapat diulang 2x, bila gagal trakeotomi.
Stoom (nebulizer/uap air panas)
Antibioktika
Laringitis Difteri
Etiologi : C. Diphtheria
Patologi :
Biasanya perluasan dari tonsilofaringitis difteri, jarang primer
Pseudomembran dan udem pada mukosa korda vokalis dapat menutup rima glotis,
menimbulkan parau dan sesak napas
Insidens : sering pada anak
Gejala klinik :
Parau
Panas subfibril
Sesak napas inspiratoir
Stridor inspiratoir
Bull neck
Komplikasi :
Seperti tonsilofaringitis difteri
Dapat fatal karena obstruksi laring
Terapi :
ADS
Penicilin
Isolasi
Trakeotomi bila perlu
Laringitis Kronis Non Spesifik
Etiologi :
Iritasi
Infeksi di jalan napas, meliputi hidung, sinus paranasalis dan paru
Eksogen : bahan kimia dan rokok
Gejala klinik :
Parau yang lama
Korda vokalis : udem, penebalan lokal/difus, eritema, bercak2 putih, keratosis, jarang menimbulkan obstruksi
Terapi : sesuai dengan penyebab
Laringitis Kronis Spesifik Tuberkulosa
Etiologi : Mycobacterium tuberculosis, biasanya sekunder oleh karena penyebaran TB paru, jarang primer
Gejala klinik :
Suara parau lama
Batuk kadang ada darah
Nyeri telan
Demam
Perasaan kedinginan
Keringat malam
Berat badan turun
Sesak napas
Gambaran klasik pada korda vokalis :
Lesi di komisura posterior
Mukosa kemerahan
Eksudat kekuningan
Nodul kecil-kecil
Ulserasi
Bagian posterior tak rata (Mouse eaten appearance)
Granulasi/tuberkuloma
Gambaran klinik dapat berupa :
Lesi lebih menyebar
Tersering pada korda vokalis, meluas ke sulkus interaritenoid, epiglotis, ariteniod dan plika ventrikularis
Sering lesi multipel
Sering lesi menyerupai lesi non spesifik dan bentukan tumor sehingga perlu dibedakan dengan keganasan laring
Terapi :
Lesi sekunder karena TBC paru
Laringitis TBC = laringitis ektra pulmonal
Isoniazid + Rimfampicine + Pirazinamide selama 2 bulan
Dilanjutkan dengan Isoniazid + Rimfampicine selama 4 bulan
Nodul Vokal
Sinonim : singer’s nodule, teacher’s nodule
Nodul adalah benjolan kecil pada 1/3 anterior dan 1/3 tengah korda vokalis, biasanya simetris kanan dan kiri. Terbentuk pada daerah yang mendapat tekanan terbanyak ketika korda vokalis bertemu waktu vibrasi. Tekanan berulang-ulang pada daerah yang sama sehingga menimbulkan kerusakan dan pada proses penyembuhan timbul nodul
Etiologi :
Vocal abuse/vocal misuse
Sering pada anak-anak, guru, penyanyi
Vocal abuse :
Perilaku atau kejadian yang menyebabkan trauma pada korda vokalis, misalnya : banyak bicara, bersihkan tenggorok, batuk, menghirup iritan, merokok, berteriak.
Vocal misuse :
Penggunaan suara yang salah, misalnya : bicara terlalu keras, bicara dengan nada tinggi dan rendah yang abnormal
Terapi :
Voice therapy
Kurangi berbicara, jangan berbisik
Bila cukup besar, ekstirpasi dengan bedah laring mikroskopik (BLM)
Granuloma Laring
Granuloma laring adalah benjolan yang biasanya di prosesus vokalis atau ariteniod. Ada riwayat refluk, trauma laring atau intubasi
Gejala klinik :
Suara parau
Tenggorok terasa ngganjel
Terapi :
Obat anti refluk
BLM
Kista Laring
Gambaran umum:
Lebih sering pada supra glotis
Lebih sering kista retensi
Bila besar bisa menimbulkan obstruksi
Pada korda vokalis menimbulkan parau
Terapi : BLM
Papiloma Laring
Gambaran umum:
Tumor jinak pada laring, dapat meluas ke faring, trakea dan bronkus
Sering pada anak-anak, dapat mengenai dewasa
Etiologi :
Diduga ada hubungan kuat dengan human papiloma virus tipe 6 dan 11
Diduga ada hubungan dengan hormonal
Gejala klinik :
Suara parau progresif
Dapat menyebabkan sesak sehingga perlu trakeotomi
Sering residif, tumbuh kembali dengan cepat
Terapi :
BLM, ekstraksi sebersih mungkin
Bila residif dioperasi lagi
Perlu trakeotomi bila sesak
Bisa dicoba antiviral
Paralisis Korda Vokalis
Etiologi :
Trauma (motor accident)
Neoplasma
Tiroidektomi
Infeksi/neurologis
Idiopatik
Vaskuler
Miscellaneous
Gejala klinik :
Pada paralisis aduktor : korda vokalis tidak dapat merapat di garis median saat fonasi
Unilateral : parau, tidak ada sesak
Bilateral : afoni
Batuk tidak efektif, kadang gangguan menelan
Pada paralisis abduktor : korda vokalis merapat di garis tengah dan tidak dapat bergerak ke lateral saat fonasi
Unilateral : suara nyaring, sesak ringan
Bilateral : suara nyaring dan sesak napas
Terapi :
Pada paralisis aduktor :
Augmentasi korda vokalis dengan teflon/fat
Tiroplasti medialisasi
Pada paralisis abduktor :
Aritenoidektomi
PROSEDUR PEMERIKSAAN LARING
Butir-2 Penting
Pada pemeriksaan Laringoskopi langsung diperlukan persiapan puasa dan dilakukan premedikasi. Posisi kepala penderita harus tepat supaya pelaksanaan tindakan dapat dilakukan dengan baik.
Pada pemeriksaan Laringoskopi serat optik diperlukan kerjasama dengan penderita meskipun tindakan ini relatif tidak menyakitkan penderita.
Teknik Pemeriksaan: Laringoskopi Direkta :
No | LANGKAH-LANGKAH | BAGAIMANA | MENGAPA |
1 | Premedikasi | Luminal/atropin | Tidak valium, karena depresi |
pernapasan | |||
Biar air liur sedikit | |||
2 | Anestesi lokal | Spray xylocain, pd | Epiglottis dikait, perlu |
epiglottis | anestesi | ||
3 | Atur posisi kepala | Posisi high: fleksi | Mudah mengait epiglottis |
leher/dada, ekstensi | keatas | ||
occipito atlanto | |||
4. | Mengait epiglottis | Selalu digaris tengah | Akan terlihat uvula-epiglotis |
sebagai pedoman | |||
Kalau terlalu banyak, | |||
Epiglotis dikait | aritenoid terkait | ||
sedikit saja | Kalau terlalu sedikit: lepas | ||
Mudah melihatnya, | |||
Kalau telescope harus | |||
5 | Melihat pita suara | Dengan bantuan | mengait epiglottis,bisa |
teleskop (0o,30o) | basah-buram |
Laringoskopi Serat Optik (FOL):
No | Langkah-langkah | Bagaimana | Mengapa |
1 | Anaestesi local | Kapas xylocain ephedrin1 % di cavum nasi d/s Spray xylocain pd | Tidak nyeri,tidak trauma |
faring/epiglotis | |||
2 | Atur duduk penderita | Duduk tegak | Memudahkan alat masuk |
3 | Memasukkan alat FOL | Melalui dasar cavum | Tempat terlebar |
nasi | |||
4 | Melihat nasofaring | Lurus kebelakang | Tampak naso faring dulu |
5 | FOL diarahkan ke laring | Dgn membengkokkan | |
kebawah | |||
Memeriksa laring | |||
6 | FOL diarahkan mula- | ||
mula tampak dari jauh, | |||
lalu makin mendekat | |||
Kalau tak ada tumor | |||
dilihat pergerakan pita | |||
suara |
Instrumen yang diperlukan:
Laringoscope dewasa
Laringoscope anak-anak
Laringoscope bayi
Telescope 00 , 300 , 900
Fibre Optic Laryngoscope dan forcep biopsi
Forcep lurus dan upturn
Pompa Penyedot (Sucktion pump)
DAFTAR PUSTAKA
Ballenger JJ. Disease of the Nose, Throat, Ear, Head and Neck, Philadelphia, Lea & Fabiger, 1993, chapter 34&35, pp.569-619.
Bailey BJ and Pillsburry III HC. Head and Neck Surgery – Otolaryngology. Philadelphia, JB Lippincott Co, 2014.
Paparella MM, Shumrick DA, Gluckman JL, Meyerhoff WL. Otolaryngology. Philadelphia. WBSaunders Co.,1991, chapter 29,31,33&34, pp. 2257-384.
Lee KJ. Essential Otolaryngology. Head & Neck Surgery. New York. McGraw Hill, 8th Ed, Chapter 31, pp. 724-92
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROKBEDAH KEPALA DAN LEHER 2022
DAFTAR ISI
WAKTU 1
PERSIAPAN SESI 1
REFERENSI 1
KOMPETENSI 2
GAMBARAN UMUM 2
CONTOH KASUS & DISKUSI 2
TUJUAN PEMBELAJARAN 2
METODE PEMBELAJARAN 3
EVALUASI 3
INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF & PSIKOMOTOR 4
IINSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR 6
DAFTAR TILIK 7
MATERI PRESENTASI 7
MATERI BAKU 8
MODUL IV.7
LARING-FARING – REFLUKS LARINGO-FARING (LPR)
WAKTU
Mengembangkan Kompetensi | Frekuensi: |
Sesi di dalam kelas Sesi Pratikum Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi | 7 X 60 menit (classroom session) 18 X 60 menit (coaching session) 2 X 60 menit (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi Presentasi
Slide I : Ruang Lingkup
Slide II : Anatomi dan Etiopatogenesis Gejala LPR
Slide III :Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik LPR
Slide IV :Pemeriksaan Penunjang LPR
Slide V :Faktor Risiko LPR
Slide VI :Penatalaksanaan LPR
Kasus
Seorang ibu, 29 tahun, ke poliklinik THT-KL dengan keluhan suara parau dan tenggorokan mengganjal 2 bulan. Penderita merasa sebulan ini sering batuk terutama pagi hari, dan sering berdehem. Penderita adalah seorang ibu rumah tangga, tidak ada riwayat penggunaan suara berlebih, ada riwayat sakit maag, telah mencoba obat warung tidak ada perubahan. Pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya: post nasal drip, faring granuler.
Sarana dan Alat bantu latih
Laringoskopi indirek
Rigid laringoscopy / Fiber optic laringoscopy
Tempat belajar: klinik THT-KL
REFERENSI
Bailey BJ. Laryngopharyngeal Reflux. In: Head and Neck Surgery Otolaryngology. 5th edition. Bailey BJ et all editors. Lippincott Raven Publisher. 2014 ; p 958-75
Belafsky PC, Rees CJ. Identifying and Managing Laryngopharyngeal Reflux. Hosp Physic. 2007: 15-20.
Rees CJ, Belafsky PC. Laryngopharyngeal Reflux: Current Concepts in Patophysiology, Diagnosis, and Treatment. Int J Speech-Language Pathol. 2008;10(4): 245-53.
Naseri I. Laryngopharyngeal Reflux: Overview and Clinical Implications. North Flo Med. 2011; 62(1):35-8
Khan AM, Hashmi SR, Elahi F, Tariq M, Ingrams DR. Laryngopharyngeal Reflux: A Literature review. Surgeon. 2006; 4(4):221-5
KOMPETENSI
Kompetensi Umum:
Mampu membuat diagnosis LPR berdasarkan anamnesis (Reflux Symptom Index) , pemeriksaan (Reflux Finding Score) dengan Fiber optic laringoscopy dan pemeriksaan penunjang lain seperti double probe 24 hour monitoring, barium esophagogram,dll.
Kompetensi Khusus:
Setelah Mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan mampu dan trampil:
Mengetahui Anatomi dan Etiopatogenesis Gejala LPR
Melakukan Anamnesis, Pemeriksaan Fisik dan Faktor Risiko LPR
Melakukan penilaian RSI dan RFS serta pemeriksaan penunjang LPR
Membuat keputusan klinik dan menatalaksana medikamentosa
Deteksi dini dan menatalaksana berbagai masalah dan penyulit yang mungkin terjadi pada LPR.
GAMBARAN UMUM
Refluks Laringofaring (LPR)
Refluks laringofaring sering salah diagnosis dengan faringitis kronis sehingga tatalaksana sering kurang tepat.
Refluks laringofaring adalah aliran balik cairan lambung ke laring, faring, trakea dan bronkus. Keluhan yang tersering yaitu mendehem (throat clearing) (98%), batuk yang terus mengganggu (97%), perasaan mengganjal di tenggorok (95%) dan suara parau (95%). Tanda klinis yang sering ditemukan pada penyakit refluks laringofaring adalah laringitis posterior dengan eritema, edema dan penebalan dinding posterior dari glottis. Kelainan lain yang mungkin ditemukan adalah granuloma pita suara, contact ulcer, stenosis subglottis.
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan yaitu pemeriksaan Fiber optic laryngoscopy, monitoring PH 24 jam dll sesuai sarana prasarana yang tersedia. Bila sarana penunjang belum ada, maka dapat langsung dilakukan PPI test sesuai algoritma tatalaksana LPR (RSI>13 atau RFS>7).
CONTOH KASUS & DISKUSI
Seorang ibu, 29 tahun, ke poliklinik THT-KL dengan keluhan suara parau dan tenggorokan mengganjal 2 bulan. Penderita merasa sebulan ini sering batuk terutama pagi hari, dan sering berdehem. Penderita adalah seorang ibu rumah tangga, tidak ada riwayat penggunaan suara berlebih, ada riwayat sakit maag, telah mencoba obat warung tidak ada perubahan. Pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya: post nasal drip, faring granuler.
TUJUAN PEMBELAJARAN
Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan menatalaksana LPR seperti yang telah disebutkan diatas, yaitu:
Mengetahui Anatomi dan Etiopatogenesis LPR
Melakukan Anamnesis, Pemeriksaan Fisik dan Faktor Risiko LPR
Melakukan penilaian RSI dan RFS serta pemeriksaan penunjang LPR
Membuat keputusan klinik dan menatalaksana medikamentosa
Deteksi dini dan menatalaksana berbagai masalah dan penyulit yang mungkin terjadi pada LPR.
METODE PEMBELAJARAN
Literatur Reading
Referat
Bimbingan Referat
Jurnal Reading
Praktik Lapangan (Poliklinik)
Skills Lab
Bedside Teaching
Tindakan Diagnostik
EVALUASI
Dilakukan prates dan postes dalam bentuk essay, multiple choice atau oral sesuai dengan masa tingkat pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pra/postes terdiri atas:
Anatomi
Fisiologi
Patofisiologi
Penegakan diagnosis
Pemeriksaan
Terapi konservatif dan operatif bila perlu
Prognosis
Tindak lanjut.
Self assessment dan peer assisted evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar.
Selanjutnya dilakukan diskusi kelompok kecil bersama dengan fasilitator guna membahas kekurangan yang teridentifikasi; membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar dan kesempatan yang akan diperoleh pada saat visite kecil maupun besar dan proses penilaian.
Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk role-play dengan teman-temanya (peer assisted learning) atau pada standardized patient. Pada saat tersebut yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar. Penuntun belajar dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (per asisited evaluation). Setelah dianggap memadai maka perlu diasah lagi melalui metode bed site teaching dibawah pengawasan fasilitator, peserta didik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomi dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanan,evaluator melaksaanakan pengawasan langsung dan mengisi blangko penilaian sebagai berikut:
Perlu perbaikan berarti pelaksanaan belum benar atau ada langkah yang tidak dlakukan
Cukup berarti pelaksanan sudah benar tetapi tidak efisien
Baik berarti langkah benar dan efisien.
Setelah selesai bed side teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak mungkin dibicarakan di depan pasien dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan
Pendidikan/fasilitas:
Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form
(terlampir)
Penjelasan lisan dari peserta cakap, kurang cakap atau lalai
Diakhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas guna memperbaiki kinerja (task-based medical education)
Pencapaian pembelajaran dilakukan dengan:
Ujian OSCE
Ujian akhir stase pada setiap divisi/unit kerja oleh masing-masing senter pendidikan
Ujian akhir kognitif
Ujian akhir profesi dilakukan pada akhir pendidikan oleh KOLEGIUM IK THT-KL.
INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF & PSIKOMOTOR
Instrumen penilaian kompetensi kognitif
Regimen terapi eradikasi H.pyloripada LPR pada lini-1 adalah :
PPI + Amoxilin 1.000 mg / 12 jam dan Klaritromisin 500 mg / 12 jam, selama 7 – 14 hari
PPI + Amoxilin 1.000 mg / 12 jam dan Levofloksasin 500 mg / 12 jam selama 7 – 14 hari
PPI +Amoxilin 1.000 mg / 12 jam dan Metromedazole 500 mg / 8 jam
PPI +Tetrasiklin Metromedazole 500 mg / 8 jam
PPI +Bismut subsalisilat 2 tablet / 12 jam dan Levofloksasin 500 mg / 12 jam selama 7 – 14 hari
Jawaban: A
Setelah pemberian terapi eradikasi H.pyloripada LPR, maka harus dilakukan pemeriksaan konfirmasi sebagai gold standard dengan menggunakan :
Urea Breath Test
H.pylori Stool Antigen monoclonal Test
Rapid Urine Test
Rapid Urea Test
Kultur dengan media sparrow Jawaban: A
Pemeriksaan HpSA (H.pylori Stool Atigen monoclonal) untuk konfirmasi setelah pemberian terapi eradikasi H.pylori dapat dilakukan dalam waktu :
2 minggu setelah akhir dari terapi
4 minggu setelah akhir dari terapi
8 minggu setelah akhir dari terapi
12 minggu setelah akhir dari terapi
24 minggu setelah akhir dari terapi
Jawaban: B
SOAL VIGNETT MODUL LPR
Seorang wanita 35 tahun datang ke klinik THT dengan keluhan batuk sejak 2 bulan yang lalu disertai tenggorok terasa mengganjal. Riwayat sering minum obat mag. Pada pemeriksaan laring tampak aritenoid hiperemis dan edema pada plika vokalis. Diagnosis pada pasien tersebut adalah...
Faringitis Kronik
Reinkhe edema
Laringitis kronik
LPR
GERD
Jawaban: D
Seorang wanita 27 tahun datang ke klinik THT dengan keluhan serak 1 bulan. Sejak 2 bulan yang lalu batuk terus menerus. Pasien sudah berobat namun tidak sembuh, tenggorok terasa mengganjal dan sering mendehem. Pada pemeriksaan, berat badan 80kg, pada faring tonsil T1-T1 tidak hiperemis, laring sulit dinilai. Untuk menegakkan diagnosis, pemeriksaan lanjutan yang harus dilakukan adalah...
Indirect Laryngoscopy
Direct Laryngoscopy
Fiber Optic Laryngoscopy
Fiber Optic Bronchoscopy
Fiber Optic Esophagoscopy Jawaban: C
Seorang wanita umur 30 tahun datang ke klinik THT untuk konsultasi dengsn membawa hasil endoskopi. Pada hasil tersebut tercatat RFS = 20, RSI = 15.
Apakah penatalaksanaan pada pasien tersebut ?
Terapi PPI selama 1-3 bulan dengan evaluasi klinis RSI tiap 1 minggu dan RFS tiap 1 bulan
Terapi PPI selama 1-3 bulan dengan evaluasi klinis RSI tiap 1 bulan dan RFS tiap 3 bulan
Terapi PPI selama 3-6 bulan dengan evaluasi klinis RSI tiap 1 bulan dan RFS tiap 3 bulan
Terapi PPI selama 3-6 bulan dengan evaluasi klinis RSI tiap 2 bulan dan RFS tiap 2 bulan
Terapi PPI selama 3-6 bulan dengan evaluasi klinis RSI tiap 3 bulan dan RFS tiap 3 bulan
Regimen terapi eradikasi H.pylori pada LPR pada lini-1 adalah :
PPI + Amoxilin 1.000 mg / 12 jam dan Klaritromisin 500 mg / 12 jam, selama 7 – 14 hari
PPI + Amoxilin 1.000 mg / 12 jam dan Levofloksasin 500 mg / 12 jam selama 7 – 14 hari
PPI + Amoxilin 1.000 mg / 12 jam danMetromedazole 500 mg / 8 jam
PPI +Tetrasiklin Metromedazole 500 mg / 8 jam
PPI +Bismut subsalisilat 2 tablet / 12 jam danLevofloksasin 500 mg / 12 jam selama 7 – 14 hari
Jawaban: A
Setelah pemberian terapi eradikasi H.pylori pada LPR, maka harus dilakukan pemeriksaan konfirmasi sebagai gold standard dengan menggunakan :
Urea Breath Test
H.pylori Stool Antigen monoclonal Test
Rapid Urine Test
Rapid Urea Test
Kultur dengan media sparrow Jawaban: A
IINSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR
Lampiran 1.
PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR PEMERIKSAAN LARING
Lakukan Penilaian Kinerja Pada Setiap Langkah/Tugas Dengan Mengunakan Skala Penilaian Dibawah Ini | |
Perlu Perbaikan Cukup Baik | Tidak Benar Benar Dan Tidak Lancar Benar Dan Lancar |
NAMA PESERTA DIDIK | TANGGAL |
NAMA PASIEN | NO. REKAM MEDIK |
PENUNTUN BELAJAR FIBER OPTIC LARYNGOSCOPY (FOL) | ||||||
NO | KEGIATAN/LANGKAH KLINIK | KESEMPATAN KE | ||||
1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
PERSIAPAN PRA-TINDAKAN | ||||||
1 | Informed Consent | |||||
2 | Pemeriksaan Penunjang | |||||
3 | Memeriksa Dan Melengkapi Alat | |||||
4 | Persiapan Tindakan | |||||
5 | Cara Duduk Penderita Dan Posisi Kepala | |||||
TINDAKAN | ||||||
1 | Memasukkan Fiber Optic | |||||
2 | Evaluasi Rongga Hidung | |||||
3 | Evaluasi Nasofaring | |||||
4 | Evaluasi Laring | |||||
DAFTAR TILIK
Lampiran 2
DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA PROSEDUR PEMERIKSAAN LARING
Berikan Tanda”V” Dalam Kotak Yang Tersedia Bila Ketrampilan/Tugas Telah Dikerjakan Dengan Memuaskan Dan Berikan Tanda “X” Bila Tidak Dikerjakan Dengan Memuaskan Serta Tanda T/D Bila Tidak Dilakukan | |
Memuaskan Tidak Memuaskan Tidak Diamati/Melakukan (T/D) | Ketrampilan Memuaskan Ketrampilan Tidak Memuaskan Tak Bisa Melakukan |
NAMA PESERTA DIDIK | TANGGAL |
NAMA PASIEN | NO. REKAM MEDIK |
DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA FIBER OPTIC LARYNGOSCOPY | ||||||
NO | KEGIATAN/LANGKAH KLINIK | KESEMPATAN KE | ||||
1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
1 | Posisi Pemeriksa | |||||
2 | Cara Memegang Fiber Optic | |||||
3 | Memasukkan Fiber Optic | |||||
4 | Evaluasi Rongga Hidung | |||||
5 | Evaluasi Nasofaring | |||||
6 | Evaluasi Laring | |||||
7 | Evaluasi Korda Vokalis | |||||
8 | Cara Mengeluarkan Fiber Optic | |||||
MATERI PRESENTASI
1: Gejala LPR
2: Anamnesis dan Pemeriksaan LPR
3: Pemeriksaan Penunjang Diagnostik
4: Faktor Risiko LPR
5: Clinical Decision Making dan Medikamentosa
MATERI BAKU
Definisi
LPR adalah aliran balik cairan lambung ke laring, faring, trakea dan bronkus
Ruang Lingkup
LPR dapat disebabkan GERD atau dapat pula disertai penyakit lain seperti Rhinosinusitis, faringitis, stenosis laring, dll.
FAKTOR RISIKO
Gaya hidup, GERD
Etiologi
Komponen refluks yang berperan menyebabkan kelainan patologi di daerah laring adalah asam, pepsin, asam empedu dan tripsin. Pepsin dengan asam telah diketahui menjadi komponen yang paling berbahaya yang berhubungan erat dengan kejadian lesi di daerah laring. Pada percobaan pada hewan secara in vitro
menunjukkan pepsin menjadi aktif dan menyebabkan trauma pada sel-sel laring sampai pH 6.
Anamnesis
Untuk penilaian atas gejala pasien dengan penyakit refluks laringofaring, Belafsky membuat sembilan komponen indeks gejala yang dikenal dengan indeks gejala refluks ( Reflux Symptom Index = RSI). RSI mudah dilaksanakan , mempunyai reabilitas dan validitas yang baik, serta dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari satu menit. Skala untuk setiap komponen bervariasi dari nilai 0 (tidak mempunyai keluhan) sampai dengan nilai 5 (keluhan berat) dengan skor total maksimum 45 dan RSI dengan nilai > 13 dicurigai penyakit refluks laringofaring.
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan laringoskopi indirek
Tanda klinis yang sering ditemukan pada penyakit refluks laringofaring adalah laringitis posterior dengan eritema, edema dan penebalan dinding posterior dari glottis. Tanda-tanda lain adalah granuloma pita suara, contact ulcer, stenosis subglottis.
Untuk memeriksa keadaan patologis laring setelah terjadinya refluks laringofaring. Belafsky juga memperkenalkan skor refluks, yaitu Reflux Finding Score (RFS) yang merupakan delapan skala penilaian dalam menentukan beratnya gambaran kelainan laring yang dilihat dari pemeriksaan Rigid laryngoscopy dengan menggunakan teleskop 700/ 900, Fiber optic laryngoscopy sebagai baku emas . Skala ini bervariasi dari nilai 0 (tidak ada kelainan) sampai dengan nilai maksimum 26 ( nilai yang terburuk) dan RFS >
7 yang dianggap tidak normal. RFS merupakan penilaian kelainan yang mudah dilakukan dan mempunyai inter and intraobserver reproducibility yang baik. Walaupun setiap komponen bersifat subyektif tetapi skor secara keseluruhan merupakan penilaian yang dapat dipercaya dalam melihat perbaikan dengan terapi anti refluks (Belafsky et al. 2001; Tamin 2008).
Pemeriksaan Penunjang
Fiber optic laryngoscopy, PH monitoring 24 jam, barium esophagogram
Terapi
Faktor Risiko : Faktor risiko harus terkontrol
Terapi Konservatif : PPI
Terapi bedah dilakukan bila LPR berat dan resisten PPI: funduplikasi.
Prosedur Pemeriksaan Laring
Butir-2 Penting
Pada pemeriksaan Fiber Optic Laryngoscope diperlukan kerjasama dengan penderita meskipun tindakan ini relatif tidak menyakitkan penderita.
Teknik Pemeriksaan:
Fiber optic laryngoscopy (FOL):
No | Langkah-langkah | Bagaimana | Mengapa |
1 | Anaestesi lokal | Kapas xylocain ephedrin1 % di | Tidak nyeri,tidak |
kavum nasi d/s | trauma | ||
Spray xylocain pd faring/epiglotis | |||
Duduk tegak | |||
2 | Atur duduk | ||
penderita | Melalui dasar kavum nasi | Memudahkan alat | |
3 | Memasukkan alat | masuk | |
FOL | |||
Lurus ke belakang | Tempat terlebar | ||
4 | Melihat nasofaring | ||
FOL diarahkan ke | Dengan membengkokkan ke bawah | ||
5 | laring | Tampak | |
FOL diarahkan mula-mula tampak | nasofaring dulu | ||
dari jauh, lalu makin mendekat | |||
Memeriksa laring | dilihat tanda-tanda patologis dan | ||
6 | pergerakan korda vokalis |
Instrumen yang diperlukan:
Laringoskop dewasa
Laringoskop anak-anak
Laringoskop bayi
Teleskop 00 , 300 , 900
Fiber Optic Laryngoscope dan forsep biopsi
Forsep lurus dan upturn
Pompa Penyedot (Suction pump)
OBSTRUCTIVE SLEEP APNEA SYNDROME (OSAS)
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
WAKTU 1
PERSIAPAN SESI 1
REFERENSI 1
KOMPETENSI 1
GAMBARAN UMUM 2
CONTOH KASUS 2
TUJUAN PEMBELAJARAN 2
METODE PEMBELAJARAN 2
EVALUASI 3
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF 4
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR 5
DAFTAR TILIK 6
MATERI PRESENTASI 6
MATERI BAKU 7
MODUL IV.8
LARING-FARING - OBSTRUCTIVE SLEEP APNEA SYNDROME (OSAS)
WAKTU
Proses Pengembangkan Kompetensi | Alokasi Waktu : |
Sesi di dalam kelas Sesi Pratikum Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi | 7 X 60 menit (classroom session) 2 X 60 menit (coaching session) 18 X 60 menit (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi OSAS meliputi:
Slide 1 : Anatomi dan fisiologi saluran pernapasan atas
Slide 2 : Fisiologi “normal sleep”
Slide 3 :Klasifikasi, faktor predisposisi, gejala klinis, diagnosis patofisiologi OSAS.
Slide 4 : Komplikasi OSAS
Slide 5 : Penatalaksanaan OSAS (Konservatif dan Operatif)
Kasus : OSAS
Seorang laki-laki usia 30 tahun dengan riwayat tidur mendengkur sampai tersedak. Keluhan dirasakan sejak 3 tahun terakhir. Saat bangun pagi hari badan tidak terasa segar. Pasien mudah mengantuk dan sulit konsentrasi saat bekerja. Pada pemeriksaan fisik BB 80 kg, tinggi badan 168 cm. Pemeriksaan THT: Tonsil T3-T3, Lidah Mallampati 3.
Sarana dan Alat Bantu Latih :
Penuntun belajar (learning guide) terlampir
Tempat belajar (training setting): bangsal THT-KL, Poliklinik THT-KL, kamar operasi, bangsal perawatan pasca bedah THT-KL.
Video
REFERENSI
Walker RP. Snoring and obstructive sleep apnea. In: Bailey JB, Johnson JT, Eds. Head Neck Surgery Otolaryngology. 4th ed. Philadelphia: Lippincot 2006. P 645-64
Welch KC,Goldberg AN. Sleep disorders.In: Lalwani AK ed. Current diagnosis and treatment Otolaryngology Head Neck Surgery. 2nd ed. New York:McGraw Hill Comp LANGE;2008.p535-47
KOMPETENSI
Kompetensi Umum
Mampu mendiagnosis OSAS berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang diperlukan
Mampu melakukan tatalaksana OSAS
Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini, peserta diharapkan terampil dalam:
Mengetahui anatomi dan fisiologi saluran napas atas.
Mengetahui fisiologi “normal sleep”
Mengetahui patofisiologi OSAS, klasifikasi OSAS, gejala klinis dan komplikasi OSAS
Melakukan anamnesis, pemeriksaan dan mendiagnosis pasien OSAS
Melakukan pemeriksaan penunjang yang diperlukan
Mampu melakukan tatalaksana konservatif dan operatif terhadap pasien OSAS
GAMBARAN UMUM
OSAS (Obstructive Sleep Apneu Syndrome) didefinisikan sebagai berhentinya aliran udara pernapasan selama 10 detik atau lebih yang disebabkan oleh sumbatan jalan napas. OSA ditandai gejala mendengkur saat tidur, tersedak atau napas tersengal saat tidur, sering mengantuk yang berlebihan di siang hari (Excessive Daytime Sleepiness, EDS). OSAS lebih sering ditemukan pada laki-laki daripada perempuan. Diagnosis ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan polisomnografi. Untuk mengatasi OSAS dilakukan tata laksana penurunan berat badan, terapi konservatif maupun operatif.
CONTOH KASUS
Seorang laki-laki usia 30 tahun dengan riwayat tidur mendengkur sampai tersedak. Keluhan dirasakan sejak 3 tahun terakhir. Saat bangun pagi hari badan tidak terasa segar. Pasien mudah mengantuk dan sulit konsentrasi saat bekerja. Pada pemeriksaan fisik BB 80 kg, tinggi badan 168 cm. Pemeriksaan THT: Tonsil T3- T3, Lidah Mallampati 3.
TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk :
Menjelaskan anatomi dan fisiologi saluran napas atas
Menjelaskan fisiologi “normal sleep”
Menjelaskan klasifikasi, predisposisi, gejala klinis, komplikasi, patofisiologi OSAS
Menjelaskan pemeriksaan penunjang yang diperlukan untuk mendiagnosis OSAS.
Mampu mendiagnosis OSAS
Mampu tatalaksana konservatif dan operatif pada penderita OSAS
METODE PEMBELAJARAN
Interactive lecture
Small group discussion.
Peer assisted learning (PAL).
Bedside teaching.
Task based medical education.
Journal reading and review.
Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).
Demonstration and Coaching
Equipment characteristics and operating instructions.
Practice with Real Clients.
Continuing Professional Development
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pre test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan, yang bertujuan untuk menilai kinerja awal. Yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pre test dan post-test terdiri atas :
Anatomi dan fisiologi saluran napas atas
Fisiologi “normal sleep”
Klasifikasi, predisposisi, patofisiologi, diagnosis OSAS
Penatalaksanaan OSAS
Selanjutnya dilakukan “small group discussion” bersama dengan fasiliator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian.
Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk, mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk role-play dengan teman-temannya (peer assited learning) atau kepada SP (standardized patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan : membawa penuntun belajar, penuntun belajar dipegang oleh teman-temannya untuk : melakukan evaluasi (peer assisted evaluation). Setelah dianggap memadai, melalui metoda bedside teaching dibawah pengawasan fasilitator, peserta didik mengaplikasikan penuntun belajar kepada nodel anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan, evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut.
Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan.
Cukup : pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien misal pemeriksaan terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien
Baik : pelaksanaan benar dan baik ( efisien )
Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
Self assesment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar.
Pendidik/fasilitas:
Pengamatan langsung dengan memakai evaluation check list form (terlampir)
Penjelasan lisan dari eserta didik/diskusi
Kriteria penelian keseluruhan : cakap/tidak cakap/lalai
Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila perlu diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (taks-based medical education)
Pencapaian pembelajaran :
Ujian OSCA ( K,P,A) dilakukan pada tahapan bedah dasar oleh Kolegium
I. THT-KL
Ujian akhir stase, setiap divisi/unit kerja oleh masing-masing senter pendidikan .
Ujian akhir kognitif. Dilakukan pada akhir tahapan bedah lanjut ( jaga II) oleh Kolegium I THT-KL.
Ujian akhir profesi (kasus bedah), dilakukan pada akhir pendidikan oleh Kolegium I THT-KL.
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Polisomnografi harus dipertimbangkan pada semua pasien yang dicurigai menderita OSA untuk:
Menentukan penyebab terjadinya OSA.
Menentukan jenis operasi yang akan dilakukan untuk mengatasi OSA
Dapat memperkirakan lokasi terjadinya sumbatan jalan napas saat tidur
Mengevaluasi akibat fisiologik pada saat tidur akibat gangguan pernapasan
Memastikan diagnosis adanya penyakit tetapi tidak dapat menentukan derajatnya
Jawaban : D
Pada pemeriksaan fisik pasien yang dicurigai OSA:
Pemeriksaan index massa tubuh diperlukan tetapi tidak bermakna dengan terjadinya OSA
Pemeriksaan lingkar leher perlu tetapi tidak berhubungan dengan faktor etiologi OSA
Ukuran tonsil yang besar merupakan salah satu faktor etiologi OSA karena menyebabkan penyempitan anterosuperior
Berdasarkan kriteria Fujita maka pasien dengan “grade” yang tinggi akan memberikan hasil yang lebih baik apabila dilakukan tindakan koreksi OSA dengan operasi dibandingkan dengan pasien yang “grade” nya lebih rendah.
Dengan pemeriksaan “Muller Manuver” kita dapat menentukan tindakan operasi yang akan kita lakukan untuk mengkoreksi penyebab OSA
Jawaban : E
Yang tidak termasuk komplikasi OSA adalah
Hipertensi
Alzheimer disease
Penyakit arteri koroner
Gangguan irama jantung
Lesi atero sklerotik serebral Jawaban : B
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR
Penuntun Belajar
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :
1. Perlu perbaikan langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang
seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
2. Mampu
langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi diluar normal.
3. Mahir
langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
4. T/D
Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan).
Mendiagnosis Obstructive Sleep Apneu Syndrome (Osas)
KEGIATAN | KASUS | ||||
1. Anamnesis | |||||
2. Keluhan utama : Mendengkur saat tidur, tersedak atau napas tersengal saat tidur, sering mengantuk yang berlebihan di siang hari (Excessive Daytime Sleepiness, EDS), | |||||
3. Menilai Epworth Sleepiness Score (ESS) | |||||
5. Menilai Derajat OSAS menurut Fujita | |||||
6. Interpretasi hasil Polisomnografi (Sleep test) | |||||
7. Dapar melakukan pemeriksaan Müller Maneuver dengan endoskopi | |||||
Melakukan pemeriksaan fisik:
Indeks Massa Tubuh
Lingkar leher posisi lidah dan palatum dengan Kriteria Friedman Tongue Position atau Modifikasi Malampatti
Ukuran Tonsil
Ukuran dan bentuk rahang bawah
DAFTAR TILIK
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan status kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini :
✓
Memuaskan
langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
X
Tidak langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai
Memuaskan dengan prosedur atau panduan standar
T/D
Tidak Diamati
langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
Penilaian Kinerja Keterampilan (ujian akhir) Mendiagnosis Obstructive Sleep Apneu Syndrome (Osas)
KEGIATAN | KASUS | ||||
1. Anamnesis | |||||
2. Keluhan utama : Mendengkur saat tidur, tersedak atau napas tersengal saat tidur, sering mengantuk yang berlebihan di siang hari (Excessive Daytime Sleepiness, EDS), | |||||
3. Menilai Epworth Sleepiness Score (ESS) | |||||
9. Menilai Derajat OSAS menurut Fujita | |||||
10. Interpretasi hasil Polisomnografi (Sleep test) | |||||
11. Dapar melakukan pemeriksaan Müller Maneuver dengan endoskopi | |||||
Melakukan pemeriksaan fisik:
Indeks Massa Tubuh
Lingkar leher posisi lidah dan palatum dengan Kriteria Friedman Tongue Position atau Modifikasi Malampatti
Ukuran Tonsil
Ukuran dan bentuk rahang bawah
MATERI PRESENTASI
Slide 1 : Anatomi dan fisiologi saluran pernapasan atas
Slide 2 : Fisiologi “normal sleep”
Slide 3 :Klasifikasi, faktor predisposisi, gejala klinis, diagnosis patofisiologi OSAS.
Slide 4 : Komplikasi OSAS
Slide 5 : Penatalaksanaan OSAS (Konservatif dan Operatif)
MATERI BAKU
Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS)
Definisi
Mendengkur adalah suara getaran pada saat tidur yang dihasilkan terutama pada waktu inspirasi dan disebabkan oleh vibrasi palatum mole dan pilar yang membatasi rongga orofaring. Mendengkur menunjukkan adanya obstruksi sebagian saluran napas atas.
Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS) adalah berhentinya aliran udara pernapasan selama 10 detik atau lebih, mendengkur pada saat tidur walaupun terjadi usaha bernapas (respirasi effort) yang disebabkan oleh obstruksi jalan napas atas.
OSAS adalah keadaan apnea (penghentian aliran udara selama 10 detik sehingga menyebabkan 2-4% penurunan saturasi oksigen) dan hipopnea (penurunan aliran udara paling sedikit 30-50% sehingga menyebabkan penurunan saturasi oksigen) ada sumbatan total atau sebagian jalan napas atas yang terjadi secara berulang pada saat tidur selama non-REM atau REM sehingga menyebabkan aliran udara ke paru menjadi terhambat.
Etiologi Multifaktorial
Kolaps jaringan lunak saluran napas atas
Kolaps otot konstriktor faring, lidah, otot-otot palatofaringeus, salfingofaringeus, stilofaringeus, glosofaringeus, levator veli palatini dan uvula.
Deposit lemak di bawah membran mukosa, di sekitar otot leher dan fossa tonsilaris.
Kelainan anatomi kerangka wajah yaitu mandibula dan maksila, obstruksi hidung yang disebabkan deviasi kartilago dan tulang septum dan hidung.
Umur yang lebih tua berhubungan dengan:
Penebalan jaringan lunak tenggorok, elongasi palatum dan penurunan tonus otot pada saat istirahat.
Relaksasi dan kolaps plika ariepiglotika yang menyebabkan stridor pada saat tidur dan bangun.
Resorbsi gigi geligi, maksila dan mandibula akan menyebabkan perubahan anatomi rongga mulut.
Kifosis yang disebabkan resorbsi tulang vertebra servikal dan torakal atas.
Laki-laki lebih banyak yang mendengkur dan menderita OSA dibanding perempuan. Progesterone akan mengurangi mendengkur dan OSA pada laki- laki, sedangkan testosteron akan meningkatkan resistensi saluran napas atas pada perempuan.
Faktor genetik yang berperan contohnya hipoplasisa maksila dan / atau mandibula, disproporsi berbagai kerangka tulan yang menyebabkan obstruksi, overweight dan diabetes.
Disfungsi saraf kranial yang mengakibatkan gangguan enervasi motorik seperti Arnold-Chiari malformasi, stroke, sklerosis multipel, trauma bedah pada saraf dan penyakit Parkinson.
Faktor Predisposisi / Kontribusi
Inflamasi hidung seperti polip dan rinitis alergi
Massa di sekitar leher dan saluran napas atas, misalnya kista kongenital, karsinoma sel skuamosa dan limfoma tonsil lingualis, tonsil palatina, adenoid, hipertrofi tonsil, tumor kelenjar liur minor.
Refluks laring-faring atau refluks gastro-esofagus bekerja secara sinergis dengan OSA. Jika terjadi sumbatan jalan napas, akan terjadi usaha napas yang keras sehingga tekanan intratorakal meningkat. Tekanan negatif pada rongga dada akan menyebabkan isi lambung tersedot ke dalam esofagus torakal. Cairan asam ini akan meluap ke dalam glotis dan teraspirasi kare plika vokalis mengalami abduksi untuk usaha inspirasi.
Gangguan endokrin seperti hipotiroid, diabetes dan akromegali.
Kriteria Diagnosis
Anamnesis
Untuk menegakkan diagnosis diperlukan anamnesis terstruktur yang baik dan benar. Kuesioner tervalidasi yang digunakan adalah Epworth Sleepiness Scale untuk Excessive Daytime Sleepiness dan modifikasi Kenny Pang untuk kecurigaan OSA
Kuesioner OSA Modifikasi Kenny Pang
Curiga OSA jika terdapat salah satu gejala di bawah ini dengan frekuensi
>3x/seminggu
Terbangun dari tidur karena tersedak (terbatuk-batuk)
Apnea pada saat tidur (sesuai dengan keterangan teman tidur)
Bangun tidur dengan perasaan tidak segar
Epworth Sleepiness Scale
Nilai Epworth Sleepiness Scale > 10 ditegakkan kecurigaan OSA, dengan kriteria 0 = tidak pernah mengantuk, 1 = sedikit mengantuk, 2 = cukup mengantuk, 3 = sangat mengantuk dan tertidur, pada situasi-situasi tertentu di bawah ini:
Duduk & membaca
Menonton televisi
Duduk diam di tempat umum (di bioskop atau rapat)
Sebagai penumpang mobil selama 1 jam tanpa istirahat
Rebahan untuk beristirahat sore ketika lingkungan memungkinkan
Duduk dan berbicara dengan seseorang
Duduk tenang setelah makan siang tanpa minum alkohol
Saat mengemudi dan mobil berhenti beberapa menit dalam kemacetan.
Pemeriksaan Fisik
Indeks Masa Tubuh (Body Mass Index) kg/m2
Underweight : < 18,5 kg/m2
Normoweight : 18,5 – 24,9 kg/m2
Overweight : 25 – 29,9 kg/m2
Obese 1 : 30 – 35 kg/m2
Obese 2 : > 35 kg/m2
Lingkar leher berhubungan dengan faktor etiologi OSA yaitu deposit lemak pada mukosa leher dan meningkatkan risiko terjadinya OSA. Ukuran lingkar leher sebagai berikut:
Risiko rendah : kurang dari 43 cm.
Risiko sedang : 43 - 48 cm,
Risiko tinggi : lebih dari 48 cm.
Posisi Lidah dan Palatum dengan menggunakan Kriteria Friedman Tongue Position atau Modifikasi Malampatti. Posisi 3 dan 4 berhubungan dengan risiko tinggi OSA karena makroglosia. Tanda lain makroglosia adalah jejas gigitan gigi (dental mark) pada bagian tepi lidah. Perhatikan pula palatum mole apakah terdapat webbing. Pada Kriteria Friedman pasien diminta membuka mulut dan lidah tidak dijulurkan, sedangkan pada Malampatti lidah dijulurkan.
Posisi 1: seluruh bagian uvula dan tonsil terlihat
Posisi 2: sebagian tonsil terlihat
Posisi 3: sebagian uvula terlihat, dan tonsil tidak terlihat.
Posisi 4: uvula dan tonsil tidak terlihat.
Ukuran Tonsil berhubungan dengan penyempitan laterolateral pada orofaring.
T1 : Tonsil tidak melebihi arkus palatofaringeus
T2 : Tonsil melebihi arkus palatofaringeus, tetapi tidak melebihi garis tengah antara arkus palatofaringeus dan uvula.
T3 : Tonsil melebihi garis tengah antara arkus palatofaringeus dan uvula.
T4 : Tonsil kanan dan kiri bersentuhan (kissing tonsil)
Uvula yang besar dan panjang merupakan akibat dan sebab dari getaran selama mendengkur. Perhatikan panjang dan basisnya dibandingkan ukuran normal.
Ukuran dan bentuk rahang bawah. Mikrognatia dan Retrognatia merupakan faktor risiko yang akan menyempitkan rongga orofaring dan hipofaring pada mendengkur & OSA.
Berdasarkan pemeriksaan fisik dapat ditentukan derajat OSA menurut Fujita.
Stadium Friedman Tongue Position Tonsil BMI
Stadium 1 | 1 | 3,4 | < 30 |
2 | 3,4 | < 30 | |
Stadium 2 | 1,2 | 0,1,2 | < 30 |
3,4 | 3,4 | < 30 | |
Stadium 3 | 3 | 0,1,2 | Any |
4 | 0,1,2 | Any | |
Any | Any | > 30 |
Pemeriksaan Penunjang
Nasolaringoskopi Statik dan Dinamik dengan Manuver Muller Pemeriksaan endoskopi serat optik pada nasolaring dengan posisi duduk pada saat statik (istirahat) dan dinamik (manuver Muller) merupakan
pemeriksaan untuk menentukan level obstruksi saluran napas atas. Level
obstruksi harus diketahui untuk menentukan stadium OSA dan tindakan pembedahan yang dapat dilakukan. Manuver Muller dilakukan pada level retropalatal, retroglosal dan supraglotik dengan meminta pasien menarik napas dengan kuat sambil menutup hidung dan mulutnya (reversed Valsava). Kekuatan inspirasi negatif akan menyebabkan kolaps saluran napas atas. Kolaps dapat terjadi pada bagian antero-posterior, latero-lateral maupun konsentrik (seluruh bagian). Klasifikasi berdasarkan skoring atau persentase ukuran kolaps level tertentu dapat dibagi menjadi: < 25%, 25- 50%, 50-75%, >75%.
Sleep Endoscopy
Nasolaringoskopi yang dilakukan pada kondisi sedasi (simulasi tidur) memungkinkan identifikasi obstruksi dan kolaps saluran napas atas dengan tonus otot yang mengalami relaksasi. Sedasi yang digunakan adalah titrasi propofol yang dilakukan oleh dokter spesialis Anestesi dengan monitor ketat kardiorespirasi. Keadaan obstruksi saluran napas atas yang dapat terlihat adalah palatal flutter, palatal floppy, obstruksi palatal dengan obstruksi orofaring intermiten, obstruksi multilevel memanjang, dan obstruksi dasar lidah.
Polisomnografi
Polisomnografi harus dipertimbangkan pada semua pasien yang dicurigai menderita OSA untuk: (1) memastikan diagnosis adanya penyakit dan menentukan derajatnya, (2) menentukan frekuensi dan derajat episode gangguan respirasi, (3) mengevaluasi akibat fisiologik pada saat tidur akibat gangguan pernapasan. Tes tidur (sleep study) juga dikerjakan pada semua pasien mendengkur dengan tanda fisik yang merupakan faktor risiko OSA, excessive daytime sleepiness (skor ESS >10), dan penyakit penyerta seperti hipertensi, hipotiroid, penyakit kardiovaskuler dan riwayat stroke.
American Sleep Disorders Association menggolongkan pemeriksaan tidur menjadi 4 tingkatan berdasarkan jumlah kanal (channel) pemeriksaan yang dilakukan di laboratorium tidur dengan pengawasan oleh teknisi tidur atau tanpa pengawasan teknisi tidur yang dapat dilakukan di rumah atau rawat inap rumah sakit.
Di Klinik Mendengkur & OSA Departemen THT FKUI – RSCM polisomnografi yang digunakan adalah polisomnografi level 2, dengan pilihan 10-28 kanal dan tanpa pengawasan teknisi tidur yang dapat dilakukan di rumah maupun di rumah sakit.
Parameter penting Polisomnografi untuk bidang THT adalah:
Apnea : fase berhenti napas pada saat tidur yang berlangsung minimal 10 detik yang terukur dengan tidak adanya aliran udara pada sensor aliran udara.
Hipopnea : periode respirasi dengan reduksi 50% aliran udara atau reduksi udara kurang dari 50% disertai dengan desaturasi 3% atau pasien terbangun.
Saturasi O2 : Saturasi O2 rata-rata pada saat tidur yang terukur dengan kanal pulse oxymetry
LSAT (Lowest Sat O2) : Saturasi O2 terendah pada saat tidur.
Kategori OSA Berdasarkan Polisomnografi:
OSA | AHI | LSAT |
Ringan | 5-15 | 86 - 90% |
Sedang | 15-30 | 70 – 85% |
Berat | >30 | < 70% |
Penatalaksanaan
Konservatif
Program Penurunan BB
Perbaiki diet untuk mengurangi deposit lemak tubuh dan menurunkan BB harus disertai dengan olahraga teratur untuk meningkatkan tonus otot.
Terapi medikamentosa
Stimulan. Modafinil yang berguna untuk meningkatkan kesiagaan (wakefullness) tidak mengakibatkan gejala kardiovaskuler, efektif untuk pengobatan excessive daytime sleepiness (EDS) yang menyertai OSA. Obat ini juga berguna pada penderita OSA yang sudah menggunakan CPAP tetapi EDS menetap dengan skoring ESS yang tetap dan manifestasi EDS yang lain.
Antidepresan. Protriptyline adalah trisiklik antidepresan non-sedasi yang dapat menekan waktu tidur REM (rapid eye movement) berhubungan dengan episode mendengkur keras dan episode apnea obstruktif yang lebih sering dan lebih panjang.
Terapi pengganti tiroid untuk kasus hipotiroid dapat diberikan dengan pengawasan dokter spesialis endokrin atau penyakit dalam.
Obat penurun BB yang disetujui oleh FDA adalah sibutramine dan orlistat. Sibutramine memberikan efek anoreksia yang tidak berhubungan dengan amfetamin dan tidak adiktif tetapi dapat meningkatkan tekanan darah, denyut nadi dan kontraindikasi pada hipertensi yang tidak terkontrol. Orlistat adalah inhibitor lipase yang
mencegah digesti dan absorpsi lemak dalam diet. Orlistat tidak diabsorpsi oleh tubuh dan tidak adak efek sistemik, tetapi meningkatkan faeses yang berlemak dan berminyak serta frekuensi defekasi.
Terapi oksigen biasanya bersama-sama penggunaan CPAP untuk pengobatan hipoksemia persisten yang tidak respons dengan CPAP saja.
Peralatan untuk terapi konservatif
Banyak peralatan yang telah dipasarkan secara bebas seperti alat pengatur tidur supaya tidur tetap miring seperti snore ball atau snore sock, alat ekstensi leher seperti korset leher dan bantal anti ngorok.
Dental / Oral Appliance
Alat ini digunakan untuk memposisikan lidah sehingga posisi lidah lebih terjulur ke anterior dan mencegah lidah jatuh ke belakang dan menutup saluran udara faring. Alat bekerja dengan menarik mandibula dan dasar lidah ke anterior, menstabilkan mandibula dan mencegah terbuka pada saat tidur, sehingga mengubah posisi mandibula melalui rotasi ke arah bawah dan meningkatakan aktivitas otot dasar genioglosus untuk menjaga patensi aliran udara.
Dilator nasal.
Untuk membuka anterior nasal valve pada tempat pertautan upper lateral cartilage dan lower lateral cartilage dengan septum di medial
CPAP (Continous Positive Airway Pressure)
Tekanan udara positif kontinyu melalui masker nasal merupakan terapi tunggal yang paling efektif dan tidak invasif untuk OSA. CPAP akan menghilangkan efek samping penyakit termasuk EDS, gangguan fungsi intelektual dan kematian kardiovaskuler usia muda.
Operatif
Terapi operatif dapat dilakukan sesuai dengan level obstruksi masing-masing atau terapi kombinasi sesuai dengan derajat penyakit sesuai modifikasi kriteria Fujita & kriteria AHI. (Lihat guidelines).
Level Hidung : reduksi konka, septoplasti, adenoidektomi, ekstirpasi polip atau massa hidung.
Level Velo- Orofaring
Level Hipofaring & Laring
: • Penyempitan AP : Implantasi Pillar, RDF Palatum, UPPP
Penyempitan Latero-lateral : UPPP Extension + Tonsilektomi
Penyempitan Konsentrik : Kombinasi 1 & 2
Palatal Flutter ok penipisan : Implan Pillar
Palatal Flutter ok elongasi palatum molle : UPPP
Hipertrofi tonsil: Tonsilektomi
Penyempitan retroglossal ok lidah besar : reduksi lidah dg. RDF, Repose, Suspensi Hioid
: • RDF Tonsil lingual
Pengobatan Refluks
Komplikasi
Komplikasi OSA
Hipertensi
Penyakit kardiovaskuler: penyakit arteri koroner, miokard infark akut, episode thrombosis akut, aterosklerosis kronik
Penyakit jantung kongestif
Aritmia jantung
Lesi aterosklerotik serebral (stroke)
Komplikasi Terapi Operatif
Krisis pernapasan: intubasi dengan penyulit, obstruksi akibat penggunaan sedatif, narkotik, relaksan dan antiemetik.
Krisis kardiovaskuler: krisis hipertensis, aritmia, infark miokard, stroke akut, edem paru.
Perdarahan
Inkompetensi velofaring
Stenosis palatal-nasofaring
Dehisensi luka operasi
Lain-lain: disfagia, paresis lidah, hilang indra pencecap.
Konsultasi
Dokter Spesialis Penyakit Dalam
Dokter Spesialis Jantung
Dokter Spesialis Paru
Dokter Spesialis Saraf
Dokter Spesialis Anestesi
Referensi
Walker RP. Snoring and obstructive sleep apnea. In: Bailey JB, Johnson JT, Eds. Head Neck Surgery Otolaryngology. 4th ed. Philadelphia: Lippincot 2006. P.645-64
Welch KC,Goldberg AN. Sleep disorders.In: Lalwani AK ed. Current diagnosis and treatment Otolaryngology Head Neck Surgery. 2nd ed. New York:McGraw Hill Comp LANGE;2008. p.535-47
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
WAKTU 1
PERSIAPAN SESI 1
REFERENSI 1
KOMPETENSI 1
GAMBARAN UMUM 2
CONTOH KASUS 2
TUJUAN PEMBELAJARAN 3
METODE PEMBELAJARAN 3
EVALUASI 3
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF 4
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR 7
DAFTAR TILIK 12
MATERI PRESENTASI 15
MATERI BAKU 15
MODUL IV.9
LARING-FARING – LESI NON NEOPLASTIK LARING
WAKTU
Proses Pengembangkan Kompetensi | Alokasi Waktu : |
Sesi di dalam kelas Sesi Pratikum Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi | 7 X 60 menit (classroom session) 2 X 60 menit (coaching session) 22 X 60 menit (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi presentasi: Lesi Non Neoplastik Laring
Slide 1: Gejala dan Tanda Lesi Non Neoplastik Laring
Slide 2: Anamnesis & Pemeriksaan Lesi Non Neoplastik Laring
Slide 3: Pemeriksaan Penunjang Diagnostik
Slide 4: Faktor Resiko Lesi Non Neoplastik Laring
Slide 5: Clinical Decision Making dan Medikamentosa
Kasus : Lesi Non Neoplastik
Seorang laki-laki, 39 tahun datang ke poli THT dengan keluhan: suara parau sudah 3 bulan. Os bekerja sebagai guru SD. Dari pemeriksaan laringoskopi tak langsung dan langsung didapatkan massa sebesar kacang hijau pada pitasuara kanan dan kiri pada sepertiga anterior.
Sarana dan Alat Bantu Latih :
Model anatomi laring video
Penuntun belajar (learning guide) terlampir
Tempat belajar (training setting): bangsal THT-KL, PoliklinikTHT- KL , kamar operasi, bangsal perawatan pasca bedah THT-KL.
REFERENSI
Bailey BJ and Pillsburry III HC. Head and Neck Surgery – Otolaryngology.Philadelphia, JB Lippincott Co, 2014, chapter 68, pp.980-1003
Ballenger JJ. Disease of the Nose, Throat, Ear, Head and Neck, Philadelphia,Lea & Fabiger, 2016, chapter 29,31-33,37, pp.570-588,605- 41,682-746
Scott Brown. Otorhinolaryngology, Head and Neck Surgery, Great Britain,Edward Arnold, 8thed, 2018 Chapter 88, pp.1135- 49
KOMPETENSI
Kompetensi Umum
Mampu membuat diagnosis lesi non neoplastik laring berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang diperlukan (Laringoskopi Indirekta menggunakan cermin laring atau Tele Rigid, Laringoskopi direkta/Fiber Optic Laringoscopy (FOL) / foto polos leher AP dan lateral / CT scan leher / biopsi).
Mampu melakukan tatalaksana serta merujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi bila diperlukan.
Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam :
Mengenali gejala dan tanda lesi non neoplastik laring
Melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik lesi non neoplastik laring
Melakukan keputusan untuk perlu tidaknya pemeriksaan penunjang seperti diperlukan (Laringoskopi Indirekta menggunakan cermin laring atau Tele Rigid, Laringoskopi direkta/Fiber Optic Laringoscopy (FOL)
/ foto polos leher AP dan lateral / CT scan leher / biopsi).
Mengenali faktor resiko kejadian lesi non neoplastik laring
Membuat keputusan klinik dan menatalaksana untuk pemberian antibiotika, anti radang, analgesik-antipiretik, dan operasi.
Deteksi dini dan menatalaksana berbagai masalah dan penyulit yang mungkin terjadi pada lesi non neoplastik laring
GAMBARAN UMUM
Yang disebut lesi non neoplastik laring bukanlah neoplasma sejati melainkan adalah massa yang menyerupai tumor yang terbentuk sebagai hasil dari infeksi, trauma atau degenerasi. Terbagi atas; lesi solid lesi jinak pita suara (nodul pitasuara, polip pita suara, edema Reinke’s, Ulkus kontak, Granuloma intubasi, Leukoplakia ) lesi infiltrasi laring (Wagener granulomatosis, Rheumatoid Artritis, Amiolidosis, Relapsing policondritis, Sistemic Lupus Eritromatosus, Pemhigus dan pemphigoid, sarcoidosis, Radiasi sinar eksternal) dan lesi kistik (Kista duktus, kista sakular, laringokel). Non neoplastik laring merupakan suatu penyakit yang cukup sering dijumpai di praktik sehari-hari, baik yang datang dalam keadaan serak, tidak progresif, dapat menyebabkan sesak ringansampai berat. Gejala sesak yang hebat dapat mengancam nyawa bila tidak ditangani secara cepat dan tepat. Kejadian lesi non neoplastik laring dapat terjadi pada semua usia maupun jenis kelamin. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan VHI, pemeriksaan laringoskopi indirek dengan cermin laring atau tele rigid dan laringoskopi direkta serta pemeriksaan histopatologi
CONTOH KASUS
Seorang laki-laki, 39 tahun datang ke poli THT dengan keluhan: suara parau sudah 3 bulan. Os bekerja sebagai guru SD. Dari pemeriksaan laringoskopi taklangsung dan langsung didapatkan massa sebesar kacang hijau pada pita suarakanan dan kiri pada sepertiga anterior.
Diskusi: (tentukan apa yang harus diketahui terkait dengan butir-butir dibawahini)
Sebutkan gejala dan tanda klinis penderita
Perlunya pemeriksaan penunjang lain
Rencana terapi penderita
TUJUAN PEMBELAJARAN
Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan menatalaksana lesi non neoplastik laring seperti yang telah disebutkan diatas, yaitu:
Mengenali gejala dan tanda Lesi non neoplastik Laring
Melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik Lesi non neoplastik Laring dan pemeriksaan VHI
Melakukan keputusan untuk perlu tidaknya pemeriksan penunjang seperti foto leher jaringan lunak, pemeriksaan laringoskopi indirekta dengan cermin laring atau tele rigid dan direkta dengan laringoskopi serat optik.
Mengenali faktor resiko kejadian Lesi non neoplastik Laring
Membuat keputusan klinik dan menatalaksana untuk pemberian antibiotika, anti radang, analgesik antipiretik, dan operasi.
Deteksi dini dan menatalaksana berbagai masalah dan penyulit yang mungkin terjadi pada Lesi non neoplastik Laring
METODE PEMBELAJARAN
Interactive lecture
Small group discussion.
Peer assisted learning (PAL).
Bedside teaching.
Task based medical education.
Journal reading and review.
Case simulation and investigation exercise.
Equipment characteristics and operating instructions.
Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).
Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients.
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pre test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri atas :
Anatomi dan fisiologi laring
Penegakan diagnosa
Penatalaksanaan
Follow up
Selanjutnya dilakukan “small group discussion” bersama dengan fasilitatoruntuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperolehpada saat bedside teaching dan proses penilaian.
Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar
dalam bentuk “role play” dan teman-temannya (Peer Assisted Evaluation) atau kepada SP (Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assisted Evaluation) setelah dianggap memadai, melalui metode bedside teaching dibawah pengawasan fasilitator, peserta dididik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi formulirpenilaian sebagai berikut :
Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidakdilaksanakan.
Cukup : pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien.
Baik : pelaksanaan benar dan baik (efisien)
Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaikikekurangan yang ditemukan.
Self assesment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar.
Pendidik/ fasilitas :
Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form(terlampir)
Penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi
Kriteria penilaian keseluruhan : cakap/ tidak cakap/ lalai
Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education)
Pencapaian pembelajaran :
Ujian OSCA (K,P,A), dilakukan pada tahapan THT-KL dasar olehkolegium I. THT-KL
Ujian akhir stase, setiap divisi/ unit kerja oleh masing-masing sentrapendidikan.THT lanjut oleh kolegium ilmu THT-KL.
Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan THT-KL lanjut olehkolegium ilmu THT-KL.
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Seorang laki-laki 53 tahun datang ke poliklinik THTKL dengan keluhan suaraserak sejak 6 bulan yang lalu dan semakin parah. Apabila banyak bicara pasien mengeluh napas terasa berat. Pasien bekerja sebagai montir di bengkel mobil. Riwayat merokok 10-15 batang sehari selama lebih dari 20 tahun. Pasien jugamengkonsumsi kopi setiap hari.Pemeriksaan laringoskopi kaku didapatkan bengkak sepanjang pita suara bilateral.
Kemungkinan diagnosis pada pasien ini adalah
Polip pita suara bilateral
Granuloma pita suara bilaretal
Amiloidosis pita suara
Reinke’s edema
Kista pita suara bilateral Jawaban : D
Apa penyebab utama pada kasus diatas ?
Alkohol
Asap Rokok
Laryngopharyngeal reflux
Voice abuse
Infeksi
Jawaban : B
Pada kasus diatas, kelainan suara yang sering terjadi adalah:
Increased pitch
Decreased pitch
Increased fundamental frequency
Decreased loudness
Increased loudness Jawaban : B
Pembedahan pada kasus diatas, meliputi:
Reseksi ligamen vokalis
Reseksi semua mucosa pita suara
Reseksi sebagian lapisan superficial dari lamina propria
Reseksi seluruh lapisan superfisial lamina propria
Reseksi epitel pita suara
Jawaban : C
Seorang anak usia 5 tahun dibawa ke dokter THT karena suaranya parau sejak beberapa bulan terakhir. Parau menetap dan tidak pernah hilang dan anak selalu ngotot bila mau mengeluarkan suara sehingga tampak otot lehernya. Demam, batukdan sesak napas tidak ada.. Tidak ada masalah dalam hal makan dan tidur. Pada pemeriksaan fisik tidak ada kelainan. Pada pemeriksaan endoskopi tampak gambaran seperti tertera di bawah. Apakah diagnosis yang paling tepat pada anak ini?
Nodul pita suara
Papiloma laring
Polip pita suara
Kista pita suara
Laringitis kronis Jawaban : A
Di klinik THT-KL ada seorang pasien wanita usia 27 tahun mengeluh suaranya serak sejak 1 bulan dan capek bila sering berbicara. Sesak napas tidak ada. Demam dan batuk tidak ada. Wanita ini berprofesi sebagai sales elektroknik di mall. Hasil endoskopi laring didapatkan tampak lesi di 1/3 anterior pita suara bilateral. Hasil VHI 10 : 15. Apa terapi pilihan pada pasien ini?
Terapi suara
Ekstirpasi
Steroid dosis tinggi
Mukolitik
Antibiotik
Jawaban : A
Wanita 35 tahun datang ke Rumah Sakit dengan suara parau sejak 3 bulan, tidak ada sesak, batuk maupun demam. Penderita adalah seorang guru. Sudah pernah berobat namun tidak ada perbaikan. Diagnosis apakah yang paling mungkin padapasien ini?
Laringitis akut
Laringitis difteri
Ca laring
Nodul plika vokalis
Paresis kronik Jawaban : D
A 40-year-old male smoker presents with hoarseness for 4 months. Fiberoptic laryngoscopy reveals a superficial hyperkeratotic lesion on the right anterior vocal cord. Cord mobility is normal. What would be the next logical step in management?
MRI
Administration of antireflux agents and speech therapy
Direct laryngoscopy with transoral laser microsurgery (TLM) excisionalbiopsy
Fiberoptic laryngoscopy after 1 month Jawaban : C
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR
Penuntun Belajar
PROSEDUR LARINGOSKOPI INDIREKTAMENGGUNAKAN CERMIN LARING
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :
Perlu perbaikan Langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang
seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu Langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi diluar normal.
Mahir Langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan).
NO | KEGIATAN | KESEMPATAN KE | ||||
1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
I. PERSIAPAN PASIEN DAN ALAT | ||||||
1 | Informed consent | |||||
2 | Jelaskan tujuan tindakan dan hasil yang diharapkan | |||||
3 | Jelaskan prosedur pada pasien/ keluarganya | |||||
4 | Evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi tindakan | |||||
5 | Pastikan kelengkapan peralatan laringoskopi indirekta telah tersedia dan berfungsi dengan baik dan lengkap : | |||||
II. PROSEDUR TINDAKAN | ||||||
Lampu kepala
Cermin Laring
Pemanas Cermin laring
Kassa steril
6 | Pasien duduk berhadapan dengan dokter, posisi pasien sedikit lebih tinggi dibandingkan dokter, dengan kepala sedikitmendongak keatas. Tubuh pasien sedikit condong ke depan, dengan mulut terbuka lebar dan lidah dijulurkan keluar. | |||||
7 | Hangatkan cermin laring sampai sedikit diatas suhu tubuh. | |||||
8 | Pegang ujung lidah pasien dengan kassa steril, tarik ujung lidah kedepan dan kebawah supaya tetap berada di luar mulut.Minta pasien untuk tenang dan mengambil nafas secara lambat dan dalam melalui mulut. | |||||
9 | Fokuskan sinar dari lampu kepala keorofaring pasien. | |||||
10 | Arahkan cermin laring ke dalam orofaring tanpa menyentuh mukosa kavum oris, palatum molle atau dinding posterior orofaring kemudian miringkan cermin laring ke arah kanan dan kiri sampai dapatmelihat permukaan mukosa hipofaring dan laring | |||||
11 | Amati struktur tonsil lingual, valekula, epiglotis, aritenoid, sinus piriformis, plika ventrikularis, plika vokalis dan rima glotis | |||||
12 | Pasien diminta untuk berkata “iii”, amati pergerakan plika vokalis (Amati gerakan pita suara (adakah asimetris gerakan, granulasi, nodul atau tumor pada pita suara) | |||||
13 | Amati pula daerah subglotis. |
Penuntun Belajar
PROSEDUR LARINGOSKOPI INDIREKTA MENGGUNAKAN TELE RIGID
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :
Perlu perbaikan
Mampu
Mahir
T/D
Langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan) Langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi diluar normal.
Langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan).
PESERTA : TANGGAL :
NO | KEGIATAN | KESEMPATAN KE | ||||
1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
I. PERSIAPAN PASIEN DAN ALAT | ||||||
1 | Informed consent | |||||
2 | Jelaskan tujuan tindakan dan hasil yang diharapkan | |||||
3 | Jelaskan prosedur pada pasien/ keluarganya | |||||
4 | Evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi tindakan | |||||
5 | Pastikan kelengkapan peralatan laringoskopi indirekta telah tersedia dan berfungsi dengan baik dan lengkap : | |||||
II. PROSEDUR TINDAKAN | ||||||
6 | Pasien duduk berhadapan dengan dokter, posisi pasien sedikit lebih tinggi dibandingkan dokter, dengan kepala sedikit mendongak keatas. Tubuh pasien sedikit condong ke depan, dengan mulut terbuka lebar dan lidah dijulurkan keluar. | |||||
7 | Pegang ujung lidah pasien dengan kassa steril, tarik ujung lidah kedepan dan kebawah supaya tetap berada di luar mulut.Minta pasien untuk tenang dan mengambil nafas secara lambat dan dalam melalui mulut. | |||||
8 | Arahkan telescope 90º ke dalam orofaring tanpa menyentuh mukosa kavum oris, palatum molle atau dinding posterior orofaring kemudian arahkan telescope 90º sedikit kebawah sampai dapat melihat permukaan mukosa hipofaring dan laring | |||||
9 | Amati struktur tonsil lingual, valekula, epiglotis, aritenoid, sinus piriformis, plika ventrikularis, plika vokalis dan rima glotis | |||||
10 | Pasien diminta untuk berkata “iii”, amati pergerakan plika vokalis (Amati gerakan pita suara (adakah asimetris gerakan, granulasi, nodul atau tumor pada pita suara) | |||||
11 | Amati pula daerah subglotis. | |||||
Telepack, light source
Telescope 90º
Kassa steril
Penuntun Belajar
PROSEDUR LARINGOSKOPI DIREKTA
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :
Perlu perbaikan Langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang
seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu Langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi diluar normal.
Mahir Langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan).
PESERTA : TANGGAL :
NO | KEGIATAN | KESEMPATAN KE | ||||
1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
I. PERSIAPAN OPERASI | ||||||
1 | Informed consent | |||||
2 | Jelaskan tujuan operasi dan hasil yang diharapkan | |||||
3 | Jelaskan prosedur dan standar operasipada pasien/ keluarganya | |||||
4 | Evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi operasi | |||||
5 | Pastikan kelengkapan peralatan laringoskopi direkta telah tersedia dan berfungsi dengan baik dan lengkap : | |||||
II. PROSEDUR OPERASI | ||||||
6 | Posisi operator diatas kepala pasien danposisi operator duduk | |||||
7 | Pasien dalam posisi terlentang, dengan posisi Sniffing (bahu diganjal, leher fleksi, kepala ekstensi) dalam general anestesi | |||||
8 | Aseptik dan antiseptik daerah operasi (dariluar sekitar mulut sampai dagu sentripetal, terakhir mukosa orofaring) sesuai prosedur | |||||
9 | Lapangan operasi di persempit dengan doek steril | |||||
Telepack, light source
Laringoskop Kleinseiser, chest holder
Siapkan suction dan instrumen lain sesuai indikasi
10 | Laringoskop kleinsasser dipegang dengan tangan kiri dengan gigi bagian atas dilindungi dengan menggunakan teeth protector dan tangan kanan cross finger untuk membuka mulut | |||||
11 | Laringoskop kleinsasser dimasukkan kedalam mulut sejajar dengan garis tengahpalatum durum hingga tampak uvula, kemudian menyusuri dinding faring posterior hingga tampak epiglottis | |||||
12 | Laringoskop kleinsasser diarahkan ke atas hingga menyingkap epiglotis dan tampak aritenoid kemudian diungkit dan didorong hingga terlihat seluruh struktur laring | |||||
13 | Dilakukan fiksasi dengan menggunakan chest holder yang bertumpu di atas dada pasien | |||||
14 | Dilakukan identifikasi struktur daerah laring (aritenoid, plika arieepiglotika, plika ventrikularis, plika vokalis, rima glottis,daerah subglotis dll) | |||||
15 | Dilakukan tindakan sesuai dengan indikasi | |||||
16 | Chest holder di lepaskan, laringoskop klainsasser dikeluarkan secara perlahansambil dilakukan evaluasi apakah ada laserasi atau perdarahan, aspirasi, edema laring, laringospasme, trauma gigi danruptur pita suara | |||||
III. PASCA OPERASI | ||||||
17 | Observasi jalan nafas, perdarahan, tekanan darah, suhu dan nadi secara teratur | |||||
18 | Medikamentosa | |||||
Antibiotika sistemik
Analgetika
Steroid jika diperlukan
Terapi simtomatis sesuai indikasi
DAFTAR TILIK
Penilaian kinerja keterampilan (ujian akhir) DAFTAR TILIK PENILAIAN
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan status kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini :
Memuaskan
Tidak
X Memuaskan
T/D Tidak Diamati
Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
PROSEDUR LARINGOSKOPI INDIREKTAMENGGUNAKAN CERMIN LARING
PESERTA : TANGGAL :
NO | KEGIATAN | KESEMPATAN KE | ||||
1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
I. PERSIAPAN PASIEN DAN ALAT | ||||||
1 | Informed consent | |||||
2 | Jelaskan tujuan tindakan dan hasil yang diharapkan | |||||
3 | Jelaskan prosedur pada pasien/ keluarganya | |||||
4 | Evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi tindakan | |||||
5 | Pastikan kelengkapan peralatan laringoskopi indirekta telah tersedia dan berfungsi dengan baik dan lengkap : | |||||
II. PROSEDUR TINDAKAN | ||||||
6 | Pasien duduk berhadapan dengan dokter, posisi pasien sedikit lebih tinggi dibandingkan dokter, dengan kepala sedikit mendongak keatas. Tubuh pasien sedikit condong ke depan, dengan mulut terbuka lebar dan lidah dijulurkan keluar. | |||||
7 | Hangatkan cermin laring | |||||
8 | Pegang ujung lidah pasien dengan kassa steril, tarik ujung lidah kedepan dan kebawah supaya tetap berada di luar mulut. Minta pasien untuk tenang dan mengambil nafas secara lambat dan dalam melalui mulut. | |||||
9 | Fokuskan sinar dari lampu kepala ke orofaring pasien. | |||||
10 | Arahkan cermin laring ke dalam orofaring tanpa menyentuh mukosa kavum oris, palatum molle atau dinding posterior orofaring kemudian miringkan cermin laring ke arah kanan dan kiri sampai dapat melihat permukaan mukosa hipofaring dan laring | |||||
11 | Amati struktur tonsil lingual, valekula, epiglotis, aritenoid, sinus piriformis, plika ventrikularis, plika vokalis dan rima glotis | |||||
12 | Pasien diminta untuk berkata “iii”, amati pergerakan plika vokalis (Amati gerakan pita suara (asimetris gerakan, granulasi, nodul atau tumor pada pita suara) | |||||
13 | Amati pula daerah subglotis. | |||||
Lampu kepala
Cermin Laring
Pemanas Cermin laring
Kassa steril
DAFTAR TILIK
Penilaian kinerja keterampilan (ujian akhir) DAFTAR TILIK PENILAIAN
PROSEDUR LARINGOSKOPI INDIREKTAMENGGUNAKAN TELE RIGID
PESERTA : TANGGAL :
NO | KEGIATAN | KESEMPATAN KE | ||||
1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
I. PERSIAPAN PASIEN DAN ALAT | ||||||
1 | Informed consent | |||||
2 | Jelaskan tujuan tindakan dan hasil yangdiharapkan | |||||
3 | Jelaskan prosedur pada pasien/ keluarganya | |||||
4 | Evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasitindakan | |||||
5 | Pastikan kelengkapan peralatan laringoskopi indirekta telah tersedia dan berfungsi dengan baik dan lengkap : | |||||
II. PROSEDUR TINDAKAN | ||||||
6 | Pasien duduk berhadapan dengan dokter, posisi pasien sedikit lebih tinggi dibandingkan dokter, dengan kepala sedikit mendongak keatas. Tubuh pasien sedikit condong ke depan, dengan mulut terbuka lebar dan lidah dijulurkan keluar. | |||||
7 | Pegang ujung lidah pasien dengan kassa steril, tarik ujung lidah kedepan dan kebawah supaya tetap berada di luar mulut. Minta pasien untuk tenang dan mengambil nafas secara lambat dan dalam melalui mulut. | |||||
8 | Arahkan telescope 90º ke dalam orofaring tanpa menyentuh mukosa kavum oris, palatum molle atau dinding posterior orofaring kemudian arahkan telescope 90º sedikit kebawah sampai dapat melihat permukaan mukosa hipofaring dan laring | |||||
9 | Amati struktur tonsil lingual, valekula, epiglotis, aritenoid, sinus piriformis, plika ventrikularis, plika vokalis dan rima glotis | |||||
10 | Pasien diminta untuk berkata “iii”, amati pergerakan plika vokalis (Amati gerakan pita suara adakah asimetris gerakan, granulasi, nodul atau tumor pada pita suara) | |||||
11 | Amati pula daerah subglotis. | |||||
Telepack, light source
Telescope 90º
Kassa steril
DAFTAR TILIK
Penilaian kinerja keterampilan (ujian akhir)
NO | KEGIATAN | KESEMPATAN KE | ||||
1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
I. PERSIAPAN OPERASI | ||||||
1 | Informed consent | |||||
2 | Jelaskan tujuan operasi dan hasil yang diharapkan | |||||
3 | Jelaskan prosedur dan standar operasi pada pasien/ keluarganya | |||||
4 | Evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi operasi | |||||
5 | Pastikan kelengkapan peralatan laringoskopi direkta telah tersedia dan berfungsi dengan baik dan lengkap : | |||||
II. PROSEDUR TINDAKAN | ||||||
6 | Posisi operator diatas kepala pasien dan posisi operator duduk | |||||
7 | Pasien dalam posisi terlentang, dengan posisi Sniffing (bahu diganjal, leher fleksi, kepala ekstensi) dalam general anestesi | |||||
8 | Aseptik dan antiseptik daerah operasi (dari luar sekitar mulut sampai dagu sentripetal, terakhir mukosa orofaring) sesuai prosedur | |||||
9 | Lapangan operasi di persempit dengan doeksteril | |||||
10 | Laringoskop kleinsasser dipegang dengantangan kiri dengan gigi bagian atas dilindungi dengan menggunakan teeth protector dan tangan kanan cross finger untuk membuka mulut | |||||
11 | Laringoskop kleinsasser dimasukkan kedalam mulut sejajar dengan garis tengah palatum durum hingga tampak uvula, kemudian menyusuri dinding faring posterior hingga tampak epiglotis | |||||
12 | Laringoskop kleinsasser diarahkan ke atashingga menyingkap epiglotis dan tampak arytenoid kemudian diungkit dan didorong hingga terlihat seluruh struktur laring | |||||
13 | Dilakukan fiksasi dengan menggunakan chest holder yang bertumpu di atas dadapasien | |||||
14 | Dilakukan identifikasi struktur daerah laring (aritenoid, plika arieepiglotika, plika ventrikularis, plika vokalis, rima glottis, daerah subglotis dll) | |||||
15 | Dilakukan tindakan sesuai dengan indikasi | |||||
16 | Chest holder di lepaskan, laringoskop klainsasser dikeluarkan secara perlahan sambil dilakukan | |||||
Telepack, light source
Laringoskop Kleinseiser, chest holder
Siapkan suction dan instrumen lain sesuaiindikasi
DAFTAR TILIK PENILAIAN PROSEDUR LARINGOSKOPI DIREKTA PESERTA : TANGGAL :
MATERI PRESENTASI
Slide 1: Gejala dan Tanda Lesi Non Neoplastik Laring
Slide 2: Anamnesis & Pemeriksaan Lesi Non Neoplastik Laring
Slide 3: Pemeriksaan Penunjang Diagnostik
Slide 4: Faktor Resiko Lesi Non Neoplastik Laring
Slide 5: Clinical Decision Making dan Medikamentosa
MATERI BAKU
LESI NON NEOPLASTIK LARING
Definisi
Lesi non neoplastik laring bukanlah neoplasma sejati melainkan adalah massa yang menyerupai tumor yang terbentuk sebagai hasil dari infeksi, trauma ataudegenerasi.
Terbagi atas; lesi solid lesi jinak pita suara (nodul pita suara, polip pita suara, edema Reinke’s, Ulkus kontak, Granuloma intubasi, Leukoplakia) dan lesi infiltrasi laring (Wagener granulomatosis, Rheumatoid Artritis, Amiolidosis, Relapsing policondritis, Sistemik Lupus Eritromatosus, Pemhigus dan pemphigoid, sarcoidosis, Radiasi sinar eksternal) dan lesi kistik (Kista duktus, kista sakular, laringokel)
Lesi Jinak Pita Suara
Nodul Pita Suara (singer’s or screamer’s nodes)
Letak lesi pada persambungan sepertiga anterior atau dua pertiga posterior biasanya bilateral dimana area ini merupakan tempat vibrasi maksimal dari pita suara dan sering mengalami trauma maksimal.
Ukuran bervariasi dari ukuran kepala peniti sampai separuh kacangpolong.
Biasanya terjadi pada guru, aktor, penjaga atau penyanyi dan pemandu sorak, anak-anak yang sering berteriak atau senang berbicara.
Patologis: Nodul pita suara terjadi akibat trauma suara pada saat seseorang berbicara dengan nada rendah yang tidak alami dalam periode waktu yang lama atau pada intensitas yang tinggi dan batuk yang berat. trauma pada pita suara dalam bentuk penyalahgunaan atau penyimpangan suara menimbulkan edema dan perdarahan pada ruang submukosa. Hal ini menyebabkan hyalinisasi dan fibrosis. Epitel yang mendasarinya juga mengalami hyperplasia dan membentuk nodul.
Pada tingkat awal, nodul terlihat lembut, kemerahan dan bengkak edema namun kemudian menjadi keabu-abuan atau berwarna putih.
Pasien dengan nodul pita suara mengeluhkan suara serak/parau.
Kasus dini dari nodul pita suara dapat diobati secara konservatifdengan mengedukasi pasien cara penggunaan suara
yang tepat.
Tindakan bedah diperlukan pada nodul yang berukuran besar ataunodul yang sudah lama diderita oleh penderita dewasa.
Nodul di eksisi secara tepat dengan menggunakan mikroskop untukmenghindari trauma pada ligament vokal yang mendasarinya.
Terapi bicara dan edukasi dalam bersuara adalah hal yang pentinguntuk mencegah kekambuhan.
Gambar 1. Nodul pita suara
Polip Pita Suara
Polip pita suara timbul akibat penyalahgunaan dan penyimpangan suara.
Paling banyak terjadi pada laki-laki, usia 30-50 tahun.
Umumnya polip pita suara muncul unilateral di posisi yang sama seperti nodul pita suara pada batuk kronis dan infeksi laring yang berulang.
Massanya lembut, licin dan seringkali dasarnya seperti bertangkai (pedunculated).
Suara serak/parau adalah gejala yang umum. Polip yang besar dapatmenyebabkan dipsnue, stridor dan sensasi tercekik sewaktu- waktu. Beberapa pasien mengeluhkan diplofonia (double voice) akibat dariperbedaan frekuensi getar dari kedua pita suara.
Histologi dapat dijumpai mukosa out- pouching, adanya edema dan stroma yang longgar nodul pita suara ini dapat turun kearah glottis pada saat respirasi dan fonasi.
Terapi pada polip pita suara adalah bedah eksisi dengan menggunakan mikroskop (bedah mikrolaring/endolaring(FELT)) diikuti dengan terapi bicara.
Gambar 2. Polip Pita Suara
Gambar 3. Polip pita suara dengan hemorrhage
Edema Reinke’s
Terjadi Akibat akumulasi cairan edema pada ruang subepitel Reinke, bisa unilateral atau bilateral
Paling sering ditemukan pada wanita dan disebabkan oleh penyalahgunaan pita suara (vocal abuse), merokok, dan laryngopharyngeal reflux.
Kedua pita suara menunjukkan pembengkakan difus yang simetris, bentuk bulat, dan berwarna kuning pada pita suara
Pada pemeriksaan histologis, degenerasi polipoid pita suara tampaksebagai pembentukan lamina propia yang berlebih.
Intervensi bedah dilakukan pada pasien dengan obstruksi jalan napas atau yang gagal dengan terapi konservatif. Teknik operasi yang dapat digunakan cold excision, eksisi laser CO2, mikrodebridement, terapi laser hemoglobin-specific (pulsed dye, pulsed KTP lasers).
Terapi awal dengan mengeliminasi faktor penyebab reinke edema memiliki dampak yang signifikan pada prognosis jangka panjang setelah operasi.
Terapi dilakukan dengan melepaskan lapisan pita suara dengan mempertahankan mukosa yang cukup untuk reepitelisasi dengan bedah mikrolaring/endolaring(FELT).
Edukasi dilakukan untuk kemungkinan risiko kambuh kembali padapasien yang terus merokok, timbulnya jaringan parut pada pita suara,dan kegagalan perbaikan suara.
Ulkus kontak
Gambar 4. Edema Reinke’s
Adalah inflamasi massa yang berasal dari peradangan kronis dan iritasi pada perikondrium kartilago aritenoid.
Dibagi menjadi 2 grup yaitu yang berhubungan dengan intubasi dantidak berhubungan dengan intubasi
Ulkus kontak ini berhubungan dengan kesalahan produksi suara yang dimana prosesus vokalis aritenoid menekan satu sama lain danmenimbulkan ulkus dan granuloma.
Keluhan utama : suara serak/parau, dorongan untuk membersihkan tenggorokan (mendehem) dan nyeri tenggorokan terutama memburuk saat fonasi.
Pemeriksaan menunjukkan ulkus bilateral atau unilateral dengan kongesti pada kartilago aritenoid.
Pasien granuloma yang berhubungan dengan intubasi dapat diterapi dengan konservatif dan beberapa bulan kemudian lesi dapat sembuh spontan. Sedangkan, yang tidak berhubungan dengan intubasi lebihsulit diobati.
Penatalaksanaan diantaranya mengontrol refluk asam, mengubah gaya hidup, diet dan penggunaan proton pump inhibitor dan terapi suara.
Gambar 5. Ulkus kontak pita suara
Granuloma intubasi
Trauma pada prosesus vokalis aritenoid karena proses intubasi yang tidak lancar, penggunaan tube yang berukuran besar dan posisi tube yang lama diantara kedua pita suara. Ulserasi mukosa diikuti dengan pembentukan granuloma diatas kartilago yang terekspos.
Biasanya terbentuk secara bilateral melibatkan sepertiga posterior dari plika vokalis.
Keluhan yang timbul adalah suara serak/parau dan bila ukurannya besar bisa timbul dipsnea.
Terapi adalah istirahat suara dan operasi granuloma dengan endoskopi
Gambar 6. Granuloma intubasi pita suara
Leukoplakia atau Keratosis
Merupakan bentuk dari hiperplasia epitel yang melibatkanpermukaan atas pada satu atau kedua pita suara.
Bentuknya seperti plak berwarna putih atau seperti kutil pada pita suara tanpa mempengaruhi gerakannya.
Keratosis dan leukoplakia merupakan lesi epitel premalignant
padamukosa laring.
Etiologinya : merokok, vocal abuse, laringitis kronis, GERD, dandefisiensi vitamin.
Gejalanya serak.
Pemeriksaan fisik yaitu penebalan, bercak kemerahan atau putih.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil biopsi.
Penatalaksanaan konservatif yaitu berhenti merokok, terapi antirefluk, terapi suara, direckta mikrolaringoskopi dengan biopsi eksisi.
Follow up berkala diperlukan untuk mendeteksi rekurensi, atau kemungkinan adanya lesi baru.
Komplikasi dapat terbentuknya parut dan serak yang kronis.
Gambar 7. Leukoplakia Pita Suara
Lesi Infiltrasi Laring
Wagener granulomatosis
Wegener granulomatosis berhubungan dengan radang granulomatosa nekrotikans dan vaskulitis pada pembuluh darah kecil.
Penyakit ini cenderung menyerang saluran napas bagian atas, paru- paru, dan ginjal. Pasien datang karena adanya ulkus kronis di rongga hidung atau lebih jarang ditemukan adanya stenosis subglotis.
Diagnosa ditegakkan berdasarkan pemeriksaan fisik secara menyeluruh, pemeriksaan hidung dan laring menggunakan endoskopi, serta pengujian antineutrofil klasik antibodi sitoplasma (c-ANCA). 10% sampai 20% dari mereka yang memiliki gejala jalan napas telah dilaporkan mengalami tes c- ANCA negatif.
Penatalaksanaan terbaik adalah melalui pendekatan multidisiplin. Tatalaksana terapi untuk mencapai remisi dengan diberikan kotrikosteroid sistemik dan atau siklofosfamid, sedangkan untuk maintenance diberikan obat-obatan seperti metotreksat, trimetoprimmetoksazol, atau azathioprine.
Tatalaksana pembedahan meliputi dilatasi pada daerah subglotis diikuti dengan injeksi kortikosteroid. Dilatasi subglotis sebaiknya dihindari pada pasien yang tertrakeostomi. Pada kasus wagener granulomatosis remisi yang disertai stenosis subglotis, maka reseksi krikotrakeal merupakan pilihan terapi.
Gambar 8. Wagener Granulomatosis
Rhematoid Arthritis
Rhematoid Arthritis (RA) terjadi pada jutaan orang di seluruh dunia dengan kecenderungan terjadi pada perempuan. Pada ¼ kasus ditemukan pada laring.
Pasien dengan rheumatoid arthritis lebih sering datang dengan keluhan disfonia pada frekuensi tinggi (high pitch), penurunan mobilitas pita suara, dan edema laring. Kelainan pada laring mengikuti status rheumatoid arthritis pasien. Rhematoid arthritis yang kronis cenderung muncul dengan gambaran laringitis substansial dengan mukosa aritenoid eritematosa. Rheumatoid arthritis kronis juga secara selektif mempengaruhi kartilago aritenoid, tetapi secara spesifik lebih mempengaruhi sendi krikoaritenoid yang menyebabkan terjadinya ankilosis dan kemungkinan fiksasi pada sendi.
Pada pita suara da pat ditemukan gambaran nodul rheumatoid, yang dikenal dengan bamboo nodes, yang merupakan lesi fokal subepiteal yang terdapat pada permukaan superior membran plika vokalis.
Tatalaksana rheumatoid artritis dengan pemberian immunomodulator dan anti-inflamasi. Ekstirpasi nodul rheumatoid artritis atau injeksi steroid dapat digunakan untuk memperbaiki kualitas fonasi.
Gambar 9. Lesi Rheumatologi pada pita suara
Amiloidosis
Amiloidosis adalah suatu kondisi autoimun yang ditandai dengan deposisi protein fibrilar di ekstrasel. Amiloidosis laring jarang terjadi, bisa berhubungan dengan amiloidosis sistemik (seperti multiple nieloma) atau dapat berdiri sendiri.
Sering dijumpai pada laki-laki di usia 50-70 tahun.
Gambaran klinis meliputi batuk, disfonia, disfagia, dan kemungkinan stridor. Ukuran tumor dapat bervariasi dan muncul dengan bentuk plak licin atau massa pedunculated, yang merupakan deposisi protein amiloid yang dapat menginfiltrasi pita suara, ruang paraglotis, dan supraglotis.
Biopsi sebagai gold standard untuk mendiagnosis amiloidosis, yang memberikan gambaran patogomonik yaitu apple green birefringence setelah pewarnaan Congo Red.
Intervensi bedah biasanya dilakukan untuk mengatasi gejala dan untuk memperbaiki defisit vokal.
Rekurensi cukup sering ditemukan
Gambar 10. Amiloidosis pita suara
Relapsing policondritis
Relapsing policondritis ditandai dengan episode rekuren intermiten inflamasi struktur tulang rawan. Selain laring, lokasi yang sering terkena adalah telinga dan hidung. Pada 14% kasus, mengalami keterlibatan laring dengan hampir setengahnya mengalami gejala saluran nafas.
Pasien datang dengan keluhan telinga dan hidung, yang dapat disertai dengan keluhan sumbatan jalan nafas atas.
Chondritis purulen pada laring merupakan gejala sequele dari infeksi sekunder sebelumnya.
Pemeriksaan radiologi seperti Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan Computed Tomography (CT) dapat mengidentifikasi perubahan pada tulangrawan.
Terapi maintanance utama meliputi pemberian kortikosteroid dosis rendah dengan atau tanpa metotreksat. Dapson juga sudah terbukti bermanfaat. Trakeostomi dapat dilakukan jika terjadi sumbatan jalan nafas atas untuk mengamankan saluran nafas.
Gambar 11. Relapsing policondritis pita suara
Sistemik lupus eritromatosus
Sistemik lupus eritromatosus (SLE) lebih sering dijumpai pada wanita.
Pada 12 pasien yang menderita SLE, 11 pasien diantaranya memiliki kelainan laring. Hubungan langsung antara SLE dan kelainan laring masih belum dapat dijelaskan.
Keluhan biasanya tidak terbatas pada laring dan dua pertiga pasien tidak mengalami keluhan pada laring. Namun keluhan laringofaring yang bervariasi seperti disfonia dan dispnea juga dapat dikeluhkan.
Pada pemeriksaan dapat ditemukan edema atau ulserasi hingga paralisis
pada pita suara.
Gambar 12. Nodul Pita Suara pada SLE
Pemfigus and Pemfigoid
Pemfigus dan pemfigoid adalah kondisi autoimun yang berhubungan, namun terdapat perbedaan pada target autoantibodinya. Kedua kondisi ini menyebabkan reaksi inflamasi hebat yang dapat menimbulkan cedera padaepitel. Pada pemfigus, autoantibodi menyerang intraepitel sedangkan pada pemfigoid autoantibodi menyerang antigen subepitel.
Prevalensi keterlibatan laring berbeda pada kedua penyakit karena alasan yang tidak diketahui. Satu studi menunjukkan bahwa keterlibatan laring pada 21 pasien (40%) dari 53 pasien dengan pemfigus yang memiliki manifestasi kepala dan leher, sedangkan studi lain menunjukkan bahwa keterlibatan laring pada 10 pasien (26%) dari 38 pasien dengan pemfigoid yang memiliki manifestasi kepala dan leher.
Pasien datang dengan keluhan pada hidung dan laring dengan tempat predileksi pada laring adalah mukosa supraglotis.
Pemeriksaan imunofluoresen dari biopsi jaringan digunakan untuk diagnosis pasti yang dapat mengidentifikasi karakteristik autoantibodi.
Kortikosteroid dosis tinggi digunakan untuk mengontrol pada fase aktif dan pengurangan dosis untuk terapi maintenance. Imunomodulator lain seperti azathioprine, siklofosfamid, dan siklosporin juga dapat dipertimbangkan untuk diberikan.
Intervensi bedah digunakan untuk biopsi diagnostik dengan atau tanpa intervensi pada saluran napas.
Gambar 13. Pemfigoid Pada Laring
Sarkoidosis
Sarkoidosis adalah kondisi autoimun yang didefinisikan secara patologis ditemukannya noncaseating granulomas. Penyakit ini paling sering dijumpai pada wanita Afro-Amerika usia dewasa muda. Keterlibatan laring ditemukan pada 3% - 5% kasus dan biasanya mengenai daerah supraglotis.
Keluhan laring meliputi batuk non-produktif dan dispnea sehingga sulit dibedakan dengan penyakit paru.
Sarkoidosis masih merupakan penyakit yang sukar di diagnosis dan memerlukan berbagai modalitas karena melibatkan berbagai organ. Diagnosis sarkoidosis laring tergantung dari pemeriksaan laringoskopi, yang ditemukan infiltrasi submukosa pada infraglotis, ruang paraglotis, dan supraglotis. Keterlibatan epiglotis menyebabkan distorsi dan penebalan yang disebut dengan epiglotis turban. Pada biopsi lesi secara klasik menunjukkan adanya noncaseating granulomas.
Terapi utama adalah kortikosteroid, tetapi imunomodulator lain seperti azathioprine juga dapat diberikan.
Intervensi bedah digunakan untuk biopsi diagnostik, eksisi pada lesi, atau intervensi obstruktif pada saluran napas.
Gambar 14. Sarcoidosis Pada Laring
Radiasi sinar eksternal
Penggunaan radiasi sinar external banyak digunakan untuk penatalaksanaan keganasan di daerah kepala dan leher. Setelah terapi radiasi, banyak dari pasien mengalami keluhan laringofaring seperti disfonia, disfagia. dan sensasi mengganjal di tenggorokan.
Radiasi electron beam menginduksi perubahan fibrotik bertahap yang menimbulkan atrofi otot dan fibrosis laring serta pengeringan pada mukosa, namun perubahan ini tergantung dari dosis radiasi yang diberikan. Fibrosis di dalam lamina propria dapat diketahui saat terjadi penurunan kelenturan mukosa pada pemeriksaan stroboskopi. Pada pemeriksaan ditemukan gambaran atrofi yang tidak sesuai terhadap perkiraan hilangnya volume plika vokalis yang berkaitan dengan usia. Hipervaskuler pada plika vokalis adalah temuan umum karena vaskulitis yang terjadi selama terapi radiasi.
Perbaikan pada suara dilaporkan setelah menjalani radiasi laring untuk kanker laringeal dini, tetapi suara yang dihasilkan terkait dengan fibrosis setelah radiasi pada pita suara masih belum jelas.
Biopsi eksisi digunakan untuk diagnosis awal. Pada pasien yang tetap merokok setelah pengobatan, akan terjadi peningkatan resiko kualitas suarayang memburuk setelah dilakukan pengobatan.
Gambar 15. Radiasi sinar ekternal laring
Lesi kistik
Kista duktus
Merupakan retensi kista karena kelenjar seromucinous mukosa laringeal yang tersumbat.
Tampak pada valekula, lipatan ariepiglotik, pita suara palsu, fossa ventrikel dan piriformis.
Dapat asimptomatik bila berukuran kecil, atau menyebabkan suara serak/parau, batuk, nyeri tenggorokan dan dipsnue bila berukuran besar,
Terkadang kista antar pita suara dapat muncul pada pita suara sejati.Hal ini mirip dengan kista inklusi epidermoid.
Laringokel
Gambar 16. Kista ductus
Merupakan pembengkakan kista berisi udara akibat dilatasi dari sakulus.
Sakulus laringeal adalah kelenjar mukus yang terletak antara pita suara palsu dan kartilago tiroid. Sakulus ini juga merupakan kantong yang keluar dari ventrikel laring dan meluas sebagai kantong posterolateral yang buntu dan meluas ke pinggir epiglotis pada bagian permukaan laring.
Fungsi dari sakulus masih belum diketahui.
Klasifikasi laringokel tergantung lokasinya.
Dapat dibagi menjadi internal, eksternal dan kombinasi.
Internal; terbatas diantara laring dan muncul sebagai pita suarapalsu dan lipatan aryepiglotik yang distensi.
Eksternal; yaitu herniasi sakulus yang distensi melalui membranthyroid dan muncul di leher; atau
Kombinasi atau campuran; dimana terdapat internal dan eksternal komponen yang terlihat.
Laringokel muncul dari tekanan udara transglotik pada peniup terompet, peniup kaca atau pada orang yang sering mengangkat beban berat.
Keluhan utama : suara serak/parau, batuk dan bila besar dapat mengobstruksi jalan nafas.
Laringokel eksternal muncul sebagai bengkak yang hilang timbul yang bertambah ukurannya bila batuk atau melakukan perasat valsava.
Diagnosa dapat dilakukan dengan laringoskopi indirekta, dan foto rontgen jaringan lunak leher AP dan lateral dengan valsava. CT scandapat membantu memperlihatkan perluasan lesi.
Terapi adalah eksisi bedah melalui insisi leher eksternal. Marsupialisasi dari laringokel internal dapat dilakukan dengan laringoskopi namun ada kemungkinan rekurensi. Laringokel pada dewasa mungkin berhubungan dengan karsinoma.
Kista sakular
Gambar 16. Laringokel
Obstruksi dari orifisium sakulus menyebabkan retensi sekresi dan distensi sakulus yang terlihat dalam bentuk kista pada ventrikel laring
Kista sakulus anterior muncul pada bagian anterior ventrikel dan mengaburkan bagian dari pita suara.
Kista sakulus lateral, yang lebih besar, meluas ke pita suara palsu, lipatan ariepiglotik dan bisa saja muncul pada leher melalui membrane tirohioid sama seperti laringocele.
Kista sakular kongenital dapat muncul pada bayi dan ditandai dengan menangis lemah, stridor dan atau sianosis.
Gejala : disfonia, stridor, batuk kronik, massa pada leher dan kadang- kadang disertai disfagia.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan fisik termasuk foto laring transnasal atau transoral dan pemeriksaan leher.
Pada kista sakular anterior, massa dapat dilihat dari vestibulum sampai ke lumen laring sedangkan kista sakular lateral muncul sebagai massa di submukosa pita suara palsu.
Kista sakular dapat menjadi infeksi akut yang ditandai dengan gejalayang memburuk, demam dan obstruksi jalan nafas.
Lokasi dan perluasan lesi dapat dilihat pada CT scan.
Eksisi dengan endoskopi pada lesi ini merupakan penatalaksaan utama
Pemeriksaan
Gambar 16. Kista saccular
Pemeriksaan fisik: telinga, hidung dan tenggorok, daerah leher dan dada
Laringoskopi indirekta dengan cermin laring dan tele rigid
Laringoskopi direkta
Fiber – Optic Laringoscopy (FOL)
Pemeriksaan VHI 10 dan VHI 30.
Foto polos leher AP dan lateral
CT scan leher
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Stroboskopi, Ro Thorak, pemeriksaan laboratorium
Penatalaksanaan
Bedah Mikrolaring dengan Pendekatan Laringoskopi Direkta Alat dan Bahan :
Telepack, light source
Laringoskop Kleinseiser, chest holder
Siapkan suction dan instrumen lain sesuai indikasi
Prosedur operasi
Pasien tidur diatas meja operasi posisi supine
Dokter anestesi mengintubasi laring (jika ada penggunaan laser diantisipasi) diarahkan ke sisi kiri mulut
Bantalan ditempatkan dibawah bahu supaya dapat ekstensi kepala danleher fleksi secara sempurna.
Meja ditempatkan di posisi tredelenburg terbalik agar didapatkan posisiyang nyaman untuk melihat laring.
Laringoskop dimasukkan seperti yang sebelumnya disebutkan.
Saat laring sudah tervisualisasi dengan adekuat, ujung dari laringoskopoperator didekatkan ke midline sehingga jaringan yang patologi terlihat.
Laringoskop dimasukkan, epiglotis diungkit, lalu laringoskop
dimasukkan untuk mengevaluasi seluruh struktur anterior laring
Alat suspension apparatus disambungkan ke laringoskop lalu disambungkan ke Mayo stand atau direkatkan ke meja operasi atau
dilakukan fiksasi dengan chest holder yang bertumpu di atas dada pasien. Laringoskop yang tergantung dari meja yang menempel dari tempat tidur membuat pergerakan dari meja tanpa mengganggu posisi laringoskop.
Instrumen laring dapat digunakan dengan alat mikro sesuai indikasi
(forsep yang sesuai dengan peruntukannya).
Bila menggunakan laser CO2 maka wajah harus ditutup dengan handuk yang lembab dan mata ditutup dengan penutup mata yang lembab. Tidak satupun bagian dari wajah yang boleh terekspos. Petugas kamaroperasi harus menggunakan pelindung mata.
Bila diperlukan pemeriksaan pada komisura posterior dan area ini tertutup oleh ETT, maka ETT dipindahkan dan ventilasi dilanjutkan dengan menggunakan alat Venturi Jet. Venturi diletakkan pada saluran cahaya laringoskop dan diposisikan diatas inlet laryngeal. Saat posisi sudah adekuat, pergerakan dinding dada dapat dilihat dengan baik tanpaobstruksi pada laring.
Instrumen kanul penghisap diletakkan di saluran cahaya dapat membantu menghisap asap yang dihasilkan dari prosedur laser.
Di akhir dari prosedur, pasien dapat di intubasi ulang untuk
pemulihan
anestesi, hal ini dapat dilakukan dengan dua metode:
Laringoskop diangkat dan pasien diintubasi seperti biasa
Pasien di intubasi ulang dengan laringoskop masih pada posisi
Gambar 15. Pengaturan ruangan operasi pada prosedur bedah laringoskopi direkta
Gambar 16. Laringoskopi Direkta
Gambar 17. Instrumen mikrolaring
Komplikasi:
Laringospasme
Edema glotik laring
Trauma gigi
Laserasi atau perdarahan
Aspirasi
Ruptur pita suara
PROSEDUR PEMERIKSAAN LARING
Butir-butir Penting
Pada pemeriksaan Laringoskopi Direkta diperlukan persiapan puasa dan dilakukan premedikasi. Posisi kepala penderita harus tepat supaya pelaksanaan tindakan dapat dilakukan dengan baik.
Pada pemeriksaan Fiber Optic Laryngoscope diperlukan kerjasama dengan penderita meskipun tindakan ini relatif tidak menyakitkan penderita.
Alat dan Bahan:
Lampu kepala
Cermin Laring
Pemanas Cermin laring
Kassa steril
Teknik Pemeriksaan :
Laringoskopi Indirekta dengan cermin laring
Pasien dalam posisi duduk tegak, dengan kepala ekstensi dan leher fleksi (sniffer’s posisition)
Pemeriksa duduk berhadapan dengan dengan memakai lampu kepala
Pasien diminta untuk membuka mulut dan menjulurkan lidah, bagian anterior lidah dipegang oleh pemeriksa dengan menggunakan kain kassa.
Dimasukkan cermin laring hangat yang telah dipanaskan sebelumnya ke dalam rongga mulut melewati uvula dan bagian distal palatum mole. Suhu cermin laring haruslah diperiksa terlebih dahulu pada tangan pemeriksa sebelum dimasukkan ke dalam mulut pasien untuk mencegah terbakarnya mukosa mulut.
Alat pemeriksa diputar sampai pemeriksa mendapatkan visualisasi yang baik dari struktur laring dan hipofaring.
Pasien diminta mengucapkan “iii” untuk mengobservasi adduksi pitasuara.
Bila pasien terlihat tersedak, maka pasien diminta untuk bernafas pelan sehingga palatum dapat rileks dan pemeriksaan dapat dilanjutkan.
Pasien yang sensitive dapat diberikan anestesi lokal dengan menggunakan xylocain spray 10%.
Gambar 18. Laringoskopi Indirekta dengan cermin laring
Laringoskopi Indirekta dengan teleskop kaku
Alat dan bahan :
Telepack, light source
Telescope 90º
Kassa steril
Teknik Pemeriksaan :
Lidah pasien dipegang dengan kain kassa steril
Dimasukkan teleskop 90° yang telah diberikan anti embun ke ronggamulut melewati atas lidah dengan berhati-hati tidak menyentuh posterior lidah serta dinding faring.
Visualisasi struktur laring dan hipofaring diperoleh dengan cara yangsama seperti pemeriksaan dengan kaca laring
Bila pasien terlihat tersedak, maka pasien diminta untuk bernafas pelan sehingga palatum dapat rileks dan pemeriksaan dapat
dilanjutkan.
Pasien yang sensitive dapat diberikan anestesi lokal dengan menggunakan xylocain spray 10%.
Gambar 19. Laringoskopi Direkta dengan teleskop rigid
Laringoskopi Serat Optik (FOL)
No | Langkah- langkah | Bagaimana | Mengapa |
1 | Anaestesi lokal | Kapas xylocain ephedrin1 % di cavum nasi d/s | Tidak nyeri,tidak trauma |
2 | Atur duduk penderita | Spray xylocain pd faring/epiglotis Duduk tegak | Memudahkan alat masuk |
3 | Memasukkan alat FOL | Melalui dasar cavum nasi | Tempat terlebar |
4 | Melihat nasofaring | Lurus kebelakang Dgn membengkokkan kebawah | Tampak naso faring dulu |
5 | FOL diarahkan ke laring | FOL diarahkan mula- mula tampak dari jauh, lalu makin mendekat, laring dievaluasi | |
6 | Memeriksa laring | Observasi pergerakan pita suara, dengan pasien menyebutkan ”iii”, evaluasi apabila terdapat tumor; bentuk, ukuran, permukaan, mobilitas dan warnatumor |
Gambar 21. Laringoskopi Serat Optik (FOL)
KEPUSTAKAAN MATERI BAKU
Bailey BJ and Pillsburry III HC. Head and Neck Surgery – Otolaryngology. Philadelphia, JB Lippincott Co, 2014, chapter 68, pp.980-1003
Ballenger JJ. Disease of the Nose, Throat, Ear, Head and Neck, Philadelphia, Lea & Fabiger, 2016, chapter 29,31-33,37, pp.570- 588,605-41,682-746
Scott Brown. Otorhinolaryngology, Head and Neck Surgery, Great Britain, Edward Arnold, 8thed, 2018 Chapter 88, pp.1135- 49
LAMPIRAN
Voice Handicap Index – 10
Kode | Pengalaman | Tidak Pernah | Hampir Pernah | Kadang- kadang | Hampir Selalu | Selalu (setiap saat) |
1 | Suara saya sulit di dengar orang lain | 0 | 1 | 2 | 3 | 4 |
2 | Orang-orang sulit memahami saya di ruangan yang bising | 0 | 1 | 2 | 3 | 4 |
3 | Permasalahan suara ini membatasi kehidupan pribadidan social | 0 | 1 | 2 | 3 | 4 |
4 | Saya merasa ditinggalkan dalam percakapan karenasuara saya | 0 | 1 | 2 | 3 | 4 |
5 | Masalah suara saya menyebabkan saya kehilangan pendapatan | 0 | 1 | 2 | 3 | 4 |
6 | Saya merasa harus berupaya keras untuk mengeluarkan suara | 0 | 1 | 2 | 3 | 4 |
7 | Kejernihan suara saya tidak bisa diduga | 0 | 1 | 2 | 3 | 4 |
8 | Permasalahan suara saya menggangu saya | 0 | 1 | 2 | 3 | 4 |
9 | Suara saya membuat saya merasa cacat | 0 | 1 | 2 | 3 | 4 |
10 | Orang-orang bertanya “adaapa dengan suaramu?” | 0 | 1 | 2 | 3 | 4 |
TOTAL | ||||||
Keterangan:
Skor >11 : abnormal
Voice Handicap Index – 30
Kode | Pengalaman | Tidak Pernah | Hampir Pernah | Kadang- kadang | Hampir Selalu | Selalu (setiap saat) |
F1 | Suara saya membuat orang- orang sulit mendengar saya | 0 | 1 | 2 | 3 | 4 |
P2 | Saya seperti kehabisan udara atau bernafas saat berbicara | 0 | 1 | 2 | 3 | 4 |
F3 | Orang-orang sulit mengerti saya saat berbicara di ruang yang ribut dikarenakan suara say | 0 | 1 | 2 | 3 | 4 |
P4 | Suara saya bervariasi dalam selang satu hari | 0 | 1 | 2 | 3 | 4 |
F5 | Keluarga saya kesulitan mendengar saya ketika saya memanggil mereka saat di rumah | 0 | 1 | 2 | 3 | 4 |
F6 | Saya jarang menggunakan telepon dikarenakan suara saya | 0 | 1 | 2 | 3 | 4 |
F7 | Saya gugup jika berbicaradengan orang lain karena suara saya | 0 | 1 | 2 | 3 | 4 |
F8 | Saya cenderung menghindari sekumpulan orang karena suara saya | 0 | 1 | 2 | 3 | 4 |
E9 | Orang-orang tampaknya terganggu dengan suara saya | 0 | 1 | 2 | 3 | 4 |
P10 | Orang-orang bertanya “adaapa dengan suaramu?” | 0 | 1 | 2 | 3 | 4 |
F11 | Saya jarang berbicara dengan teman-teman, tetangga, atau saudara karena suara saya | 0 | 1 | 2 | 3 | 4 |
F12 | Orang-orang meminta sayauntuk mengulangi apa yang saya katakan ketika berbicara berhadap-hadapan | 0 | 1 | 2 | 3 | 4 |
P13 | Suara saya terdengar serakdan kering | 0 | 1 | 2 | 3 | 4 |
P14 | Saya merasa seakan-akan saya harus berusaha kerasuntuk menghasilkan suara | 0 | 1 | 2 | 3 | 4 |
E15 | Saya mengetahui orang lain tidak mengerti permasalahan suara saya | 0 | 1 | 2 | 3 | 4 |
F16 | Permasalahan suara saya membatasi kehidupan pribadidan sosial saya | 0 | 1 | 2 | 3 | 4 |
P17 | Kejelasan suara saya tidakdapat diprediksi | 0 | 1 | 2 | 3 | 4 |
P18 | Saya mencoba untuk mengubah suara saya menjadi suara yang berbeda | 0 | 1 | 2 | 3 | 4 |
F19 | Saya merasa ditinggalkandari pembicaraan karena suara saya | 0 | 1 | 2 | 3 | 4 |
P20 | Saya menggunakan usahayang keras untuk berbicara | 0 | 1 | 2 | 3 | 4 |
P21 | Suara saya lebih parah pada malam hari | 0 | 1 | 2 | 3 | 4 |
F22 | Permasalahan suara saya membuat saya kehilangan pendapatan | 0 | 1 | 2 | 3 | 4 |
E23 | Masalah suara saya membuat saya marah | 0 | 1 | 2 | 3 | 4 |
E24 | Saya kurang bisa bergaul karena permasalahan suarasaya | 0 | 1 | 2 | 3 | 4 |
E25 | Suara saya membuat sayamerasa cacat | 0 | 1 | 2 | 3 | 4 |
P26 | Suara saya “hilang” pada saat berbicara | 0 | 1 | 2 | 3 | 4 |
E27 | Saya merasa terganggu ketika orang-orang meminta saya untuk mengulang kata-katasaya | 0 | 1 | 2 | 3 | 4 |
E29 | Suara saya membuat saya merasa rendah diri | 0 | 1 | 2 | 3 | 4 |
E30 | Saya malu dengan masalah suara saya | 0 | 1 | 2 | 3 | 4 |
TOTAL | ||||||
Keterangan:
0-30 : Ringan (skor rendah, mengidentifikasikan bahwa sangat mungkin terdapat kecacatan minimal yang berkaitan dengan kelainan suara)
31-60 : Sedang (menandakan adanya kecacatan derajat sedang terkaitmasalah suara)
61-120 : Berat (menandakan adanya kecacatan berat, signifikan, dan seriusterkait masalah suara)
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
WAKTU 1
PERSIAPAN SESI 1
REFERENSI 1
KOMPETENSI 2
GAMBARAN UMUM 2
CONTOH KASUS 2
TUJUAN PEMBELAJARAN 2
METODA PEMBELAJARAN 3
EVALUASI 3
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF 4
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR 5
DAFTAR TILIK 6
MATERI PRESENTASI 7
MATERI BAKU 7
MODUL IV.10
LARING-FARING – NEOPLASMA JINAK LARING
WAKTU
Proses Pengembangkan Kompetensi | Alokasi Waktu : |
Sesi di dalam kelas Sesi Pratikum Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi | 6 X 60 menit (classroom session) 1 X 60 menit (coaching session) 18 X 60 menit (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi Neoplasma Jinak Laring, meliputi:
Slide 1: Gejala Dan Tanda Neoplasma Jinak Laring
Slide 2: Anamnesis & Pemeriksaan Neoplasma Jinak Laring
Slide 3:Pemeriksaan Penunjang Diagnostik
Slide 4: Faktor Resiko Neoplasma Jinak Laring
Slide 5: Clinical Decision Making Dan Medikamentosa
Kasus : Neoplasma Jinak Laring
Seorang anak laki-laki, 1 tahun datang ke poli THT dengan keluhan: suara parau sejak lahir, os anak pertama dengan riwayat kelahiranan normal pervaginam.
Dari pemeriksaan laringoskopi tak langsung dan langsung didapatkan massa multipel pada kedua pita suara
Sarana dan Alat Bantu Latih :
Model anatomi laring video
Penuntun belajar (learning guide) terlampir
Tempat belajar (training setting): bangsal THT-KL, Poliklinik THT-KL, kamar operasi, bangsal perawatan pasca bedah THT-KL.
REFERENSI
Ballenger JJ. Disease of the Nose, Throat, Ear, Head and Neck, Philadelphia, Lea & Fabiger, 2009, chapter 29,31-33,37, pp.570-588,605-41,682-746
Bailey BJ and Pillsburry III HC. Head and Neck Surgery – Otolaryngology. Philadelphia, JB Lippincott Co, 2014, chapter 68, pp.989-1003
Dhingra PL. Disease of Ear, Nose and Throat & Head and Neck Surgery. New Delhi, Elsevier, 6th Ed, 2014, Chapter 61, pp.303-07
Lee KJ. Essential Otolaryngology. Head & Neck Surgery. New York. McGraw Hill, 8th Ed, 2002, Chapter 31, pp. 724-92
Nauman HH. Head and Neck Surgery, Vol 3, New York, Thieme Medical Publishers Inc, 1997, Chapter 13, pp 358-59
Potsic WP. Surgical Pediatric Otolaryngology, New York, Thieme Medical Publishers Inc, 1997, Chapter 42, pp 532-37
Scott Brown. Otorhinolaryngology, Head and Neck Surgery, Great Britain, Edward Arnold, 7thed, 2007 Chapter 88, pp.1135- 49
KOMPETENSI
Kompetensi Umum
Mampu membuat diagnosis neoplasma jinak laring berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang diperlukan (Laringoskopi Direk/ Fiber Optic Laringoscopy (FOL) / foto polos leher AP dan lateral / CT scan leher).
Mampu melakukan tatalaksana serta merujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi bila diperlukan.
Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam :
Mengenali gejala dan tanda neoplasma jinak laring
Melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik neoplasma jinak laring
Melakukan keputusan untuk perlu tidaknya pemeriksaan penunjang seperti
Mengenali faktor resiko kejadian neoplasma jinak laring
Membuat keputusan klinik dan menatalaksana untuk pemberian antibiotika, anti radang, analgesik-antipiretik, dan operasi.
Deteksi dini dan menatalaksana berbagai masalah dan penyulit yang mungkin terjadi pada neoplasma jinak laring.
GAMBARAN UMUM
Yang termasuk neoplasma jinak laring antara lain adalah; papilomatosis laring (anak dan dewasa), kondroma, hemangioma, tumor sel granular, tumor glandular, rhabdomyoma, lipoma dan fibroma. Neoplasma jinak laring merupakan suatu penyakit yang cukup sering dijumpai di praktik sehari-hari, baik yang dating dalam keadaan serak, tidak progresif, dapat menyebabkan sesak ringan sampai berat. Gejala sesak yang hebat dapat mengancam nyawa bila tidak ditangani secara cepat dan tepat. Kejadian neoplasma jinak laring dapat terjadi pada semua usia maupun jenis kelamin. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laringoskopi indirek dan laringoskopi direk serta pemeriksaan histopatologi.
CONTOH KASUS
Seorang anak laki-laki, 1 tahun datang ke poli THT dengan keluhan: suara parau sejak lahir, os anak pertama dengan riwayat kelahiranan normal pervaginam. Dari pemeriksaan laringoskopi tak langsung dan langsung didapatkan massa multipel pada kedua pita suara.
TUJUAN PEMBELAJARAN
Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan menatalaksana tumor jinak laring neoplastik seperti yang telah disebutkan diatas, yaitu:
Mengenali gejala dan tanda neoplasma jinak laring
Melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik neoplasma jinak laring
Melakukan keputusan untuk perlu tidaknya pemeriksan penunjang seperti laringoskopi direk/ fiber optic laringoscopy (FOL)/ foto polos leher AP dan lateral/ CT scan leher.
Mengenali faktor resiko kejadian neoplasma jinak laring
Mampu tatalaksana konservatif dan operasi
Deteksi dini dan menatalaksana berbagai masalah dan penyulit yang mungkin terjadi pada neoplasma jinak laring
METODA PEMBELAJARAN
Interactive lecture
Small group discussion.
Peer assisted learning (PAL).
Bedside teaching.
Task based medical education.
Journal reading and review.
Case simulation and investigation exercise.
Equipment characteristics and operating instructions.
Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).
Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients.
Continuing Professional Development
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan, yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pre-test terdiri atas :
Anatomi dan fisiologi laring
Penegakan diagnosa
Penatalaksanaan
Follow up
Selanjutnya dilakukan “small group discussion” bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian.
Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk “role play” dan teman-temannya (Peer Assisted Evaluation) atau kepada SP (Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assisted Evaluation) setelah dianggap memadai, melalui metode bedside teaching dibawah pengawasan fasilitator, peserta dididik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut :
Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan.
Cukup : pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien.
Baik : pelaksanaan benar dan baik (efisien)
Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
Self assesment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar.
Pendidik/ fasilitas :
pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form (terlampir)
penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi
Kriteria penilaian keseluruhan : cakap/ tidak cakap/ lalai
Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education)
Pencapaian pembelajaran :
Ujian OSCA (K,P,A), dilakukan pada tahapan THT-KL dasar oleh kolegium I. THT-KL
Ujian akhir stase, setiap divisi/ unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan.THT-KL lanjut oleh kolegium ilmu THT-KL.
Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan THT lanjut oleh kolegium ilmu THT-KL.
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
What is the first-line treatment for recurrent respiratory papillomatosis?
Surgical removal
Inhaled cidofovir
High-dose oral steroid burst
Azathioprine
Radiation therapy Jawaban : A
Antoni A and Antoni B areas are classically seen in which of the following laryngeal pathologies?
Chondroma
Schwannoma
Recurrent respiratory papillomatosis
Systemic lupus erythematous
Amyloid deposits Jawaban : B
Seorang bayi laki-laki umur 4 bulan dibawa ibunya ke unit gawat darurat dengan keluhan sering mengalami sesak napas terutama bila menangis, suara tangisan nyaring, muka tidak membiru. Tidak demam dan tidak batuk. Pada pemeriksaan terdengar stridor, ada retraksi supraklavikular dan interkostal. Serangan ini sudah berulang terjadi sejak seminggu. Dugaan utama anak menderita:
Papilloma laring
Laryngeal web
Laryngomalacia
Epiglotitis akut
Laringotrakeobronkitis Jawaban : A
Manakah pernyataan dibawah ini yang paling banyak digunakan untuk pengobatan paliloma laring?
Interferon
Cidofovir
Photodinamic therapy
Viral vaccine
Topical steroid Jawaban : B
An 81-year-old man with submucosal laryngeal mass. What is the most likely diagnosis?
A. Osteosarcoma
B .Chondrosarcoma
C. Squamous cell carcinoma SCC)
D. Hemangioma
E. Polyp Jawaban : B
Yang manakah pernyataan di bawah ini yang bukan merupakan neoplasma jinak laring?
Schwannoma
Hamartoma
Polip
Chondroma
Hemangioma Jawaban : C
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR
membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi diluar normal.
Mahir Langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu
tidak perlu diperagakan).
Langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya
2. Mampu
1. Perlu perbaikan
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :
Penuntun Belajar Prosedur Pemeriksaan Laring
NAMA PASIEN | NO. REKAM MEDIK | |||||
PENUNTUN BELAJAR LARINGOSKOPI LANGSUNG | ||||||
NO | KEGIATAN/LANGKAH KLINIK | KESEMPATAN KE | ||||
1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
PERSIAPAN PRA-TINDAKAN | ||||||
1 | Informed Consent | |||||
2 | Pemeriksaan Penunjang | |||||
3 | Penderita Puasa | |||||
4 | Memeriksa Dan Melengkapi Alat | |||||
5 | Persiapan Tindakan | |||||
6 | Cara Tidur Penderita Dan Posisi Kepala | |||||
TINDAKAN | ||||||
1 | Memasukkan Laringoskop | |||||
2 | Memasukkan Teleskop | |||||
3 | Evaluasi Laring | |||||
PENUNTUN BELAJAR LARINGOSKOPI SERAT OPTIK (FOL) | ||||||
NO | KEGIATAN/LANGKAH KLINIK | KESEMPATAN KE | ||||
1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
PERSIAPAN PRA-TINDAKAN | ||||||
1 | Informed Consent | |||||
2 | Pemeriksaan Penunjang | |||||
3 | Memeriksa Dan Melengkapi Alat | |||||
4 | Persiapan Tindakan | |||||
5 | Cara Duduk Penderita Dan Posisi Kepala | |||||
TINDAKAN | ||||||
1 | Memasukkan Fibre Optic | |||||
2 | Evaluasi Rongga Hidung | |||||
3 | Evaluasi Nasofaring | |||||
4 | Evaluasi Laring | |||||
DAFTAR TILIK
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan status kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini :
✓
X
Memuaskan
T/D
langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
Tidak langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai
Memuaskan dengan prosedur atau panduan standar
Tidak langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan
Diamati oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
Penilaian Kinerja Keterampilan (Ujian Akhir) Prosedur Pemeriksaan Laring
KEGIATAN | NILAI | ||
Pemeriksaan Laringoskopi Langsung | |||
1. Persiapan tindakan | |||
2.Tindakan | |||
Pemeriksaan Laringoskopi Serat Optik (FOL) | |||
1. Persiapan tindakan | |||
2. Tindakan | |||
MATERI PRESENTASI
Slide 1: Gejala Dan Tanda Neoplasma Jinak Laring
Slide 2: Anamnesis & Pemeriksaan Neoplasma Jinak Laring
Slide 3:Pemeriksaan Penunjang Diagnostik
Slide 4: Faktor Resiko Neoplasma Jinak Laring
Slide 5: Clinical Decision Making Dan Medikamentosa
MATERI BAKU NEOPLASMA JINAK LARING
Jenis Neoplasma Jinak Laring
Yang termasuk tumor jinak laring neoplastik antara lain adalah; papilomatosis laring (tipe juvenile dan onset dewasa), kondroma, hemangioma, tumor sel granular, tumor glandular, rhabdomyoma, lipoma dan fibroma.
Papilomatosis laring (recurrent papilomatosis)
Tumor jinak yang disebabkan infeksi virus, dengan tingkat kekambuhan yang tinggi.
Tempat utama terbentuknya papilomatosis di pita suara, namun bisa terdapat dihidung sampai ke bronchiolus.
Walaupun jinak namun dapat menyebabkan kematian dan berpotensi menjadi ganas..
Penyebabnya diketahui human papilloma virus subtype 6 dan 11.
Gejala awal serak, gejala lanjut dapat berupa stridor dan dyspnea.
Diagnosa dengan endoskopi. Diagnosa definitif dengan laryngoskopi dan biopsi.
Penatalaksanaan dapat pengangkatan lesi secara konservatif merupakan terapi utama, mikrolaringoskopi suspensi dan eksisi, pada lesi yang kecil dan kurang agresif dengan menggunakan endoskopi dengan anestesi local, cryotherapi, photodynamic therapy, antiviral (Cidofovir).
Riwayat terapi radiasi, merokok dan immunosupresi sistemik diketahui berperan dalam perubahan kearah malignansi.
Sebanyak 80% kasus neoplasma di laring merupakan papiloma laring, dapat dibedakan menjadi tipe juvenile dan onset dewasa.
Papiloma juvenile
Disebabkan oleh virus dan multipel, sering melibatkan bayi baru lahir dan anak-anak.
Keluhan suara serak/parau dan stridor.
Umumnya terlihat pada pita suara palsu dan sejati dan pada epiglottis, namun dapat melibatkan lokasi lain di laring dan trakea.
Secara klinis, muncul dengan warna keputihan berkilau yang irregular,
pedunculated atau sessile, rapuh dan mudah berdarah.
Dikenal sering terjadi rekurensi setelah pengangkatan sehingga mungkin diperlukan laringoskopi multipel.
Papiloma ini dapat menghilang secara spontan setelah pubertas.
Terapi dapat dilaksanakan secara endoskopik dengan forsep cup, krioterapi dan mikroelektrokauter.
Akhir-akhir ini laser CO2 lebih dipilih karena pengangkatan yang presisi dan sedikit berdarah. Terapi interferon telah dicoba dan dinyatakan sukses mencegah kekambuhan.
Papiloma onset dewasa
Biasanya single, ukuran lebih kecil, tidak terlalu agresif, dan tidak muncul kembali setelah pengangkatan.
Banyak terjadi pada laki-laki (2:1) pada umur 30-50 tahun dan biasanya muncul di bagian setengah anterior dari pita suara atau komisura anterior.
Dapat berubah menjadi prekanker
Kondroma
Umumnya muncul dari kartilago krikoid dan bisa muncul pada area subglotik
Menyebabkan dyspnoe atau dapat muncul benjolan dari lempeng posterior dari krikoid dan menyebabkan sensasi ganjalan di tenggorokan dan disfagia.
Umumnya mengenai laki-laki usia 40-60 tahun.
Tumor yang terdiri dari sebagian besar kartilago hialin dengan tampilan licin dan merupakan lesi submukosa.
Lebih sering pada laki-laki daripada perempuan.
Pertumbuhan tumor lambat dan tidak bermetastase.
Gejala yang timbul serak, dyspnea, dysphagia dan globus sensation.
Relatif asimtomatik, namun lesi dapat menyebabkan sumbatan jalan nafas ataupun massa leher eksternal.
Diagnosis dilakukan dengan endoskopi dan CT scan.
Penatalaksanaan dilakukan bedah eksisi, thyrotomy.
Hemangioma,
Hemangioma infantile melibatkan area subglotik dan muncul keluhan stridor pada 6 bulan pertama kehidupan.
Sekitar 50% anak memiliki hemangioma di bagian tubuh yang lain khususnya area kepala dan leher.
Hemangioma cenderung involusi secara spontan namun trakeostomi mungkin dibutuhkan untuk mengurangi obstruksi jalan nafas bila terjadi.
Sebagian besar merupakan tipe kapiler dan dapat dibersihkan dengan laser CO2.
Hemangioma pada dewasa meliputi pita suara atau supraglotik laring. Ada tipe kavernosus dan tidak dapat diterapi dengan laser. Dapat dibiarkan bila asimptomatik. Untuk yang berukuran lebih besar yang menimbulkan gejala, terapi steroid dan radiasi mungkin dapat dilakukan.
Hemangioma laring paling sering dijumpai pada populasi anak-anak.
Selalu muncul pada daerah subglotis, sedangkan pada dewasa muda pada derah supraglotis. Hemangiona biasanya asimptomatis tapi dapat menimbulkan gejala sumbatan jalan.
Kortikosteroid, terapi radiasi merupakan pendekatan konservatif yang mendukung.
Meskipun pada anak-anak berhasil dengan baik, ablasi laser dihindari pada pasien dewasa karena struktur pembuluh darah dapat melampaui kapasitas koagulasi CO2.
Propanolol juga berhasil dalam terapi pada anak-anak, tapi tidak ada laporan untuk pasien dewasa.
Tumor sel granular
Muncul dari sel Schwann dan seringkali submukosa.
Epitel yang mendasarinya menunjukkan hyperplasia pseudoepitelioma, yang secara histology mirip dengan karsinoma well differentiated.
Tumor glandular
Dapat muncul di seluruh area tubuh tapi paling banyak pada kepala dan leher.
Pada laring ini sangat jarang.
Asal usul berasal dari neuron dan dalam laring, meluas secara perlahan dan mengisolasi pita suara.
Gejala klinis suara serak, , stridor, disfagi dan batuk.
Biopsi dibutuhkan untuk melihat sifat tumor.
Pewarnaan serologi pada specimen biopsy menunjukkan positif dari S-100, enolase neuron spesifik, vimentin, CD 68.
Reseksi komplit dengan instrument microlaryngeal phonosurgical.
Prinsipnya adalah menghasilkan suara kembali yang normal.
Rhabdomyoma
Merupakan tumor jinak yang terdiri dari striated muscle.
Lokasi tersering pada laring, namun pernah ditemukan pada otot laring intrinsik dan ekstrinsik.
Diagnosis dilakukan dengan biopsy atau MRI.
Penatalaksanaan terapi dilakukan reseksi secara menyeluruh.
Hamartoma
Hamartoma jarang dijumpai, lesi jinak dapat berupa malformasi kongenital ataupun lesi lain.
Terdeteksi secara insidental atau karena adanya gejala saluran nafas yang signifikan, terutama pada anak anak.
Presentasi dan gejala berhubungan dengan lokasi neoplasma,
Hamartoma paling sering terdapat pada supraglottis dan subglottis.
Penatalaksanaan dilakukan biopsi eksisi dan reseksi.
Fibroma
Fibroma laring merupakan kasus yang sangat jarang
Pemeriksaan histology memperlihatkan matriks ektraseluler yang banyak dengan area pausiseluler yang berselang seling, dan matrik ekstraseluler cenderung bersusun dengan sebutan •cytologically bland spindle cells."
Gejala klinis : batuk dan disfoni. Ct scan dan MRI dapat menggambarkan perluasan lesi untuk perencanaan reseksi.
Eksisi sampai batas tepi lesi meminimalkan kekambuhan.
Schwannoma
Berasal dari lapisan fiber nervus, ditemukan 1% dari seluruh tumor laring.
Gambaran endoskopi : massa submukosa yang licin pada sinus piriformis atau area eryoepiglotis.
Gejala klinis sensasi rasa seperti ada benda bulat ditenggorokan, disfagi, disfoni, dan apabila membesar dapat menimbulkan sumbatan jalan nafas.
Histopatologi terlihat area Antoni A dan Antoni B dengan schwannoma yang lain.
Komplikasi postoperatif yang mungkin terjadi disfoni, parese pita suara dan keterlibatan laring.
Pemeriksaan
Pemeriksaan fisik: telinga, hidung dan tenggorok, daerah leher dan dada
Laringoskopia indirekta
Laringoskopia direkta
Fiber – Optic Laringoscopy (FOL)
Foto polos leher AP dan lateral
CT scan leher
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Stroboscope, Ro Thorak, pemeriksaan laboratorium.
Penatalaksanaan Bedah Mikrolaring Teknik operasi
Pasien tidur diatas meja operasi posisi supine
Dokter anestesi mengintubasi laring (jika ada penggunaan laser diantisipasi) diarahkan ke sisi kiri mulut
Bantalan ditempatkan dibawah bahu supaya bisa ekstensi kepala dan leher secara sempurna.
Meja ditempatkan di posisi tredelenburg terbalik agar didapatkan posisi yang nyaman untuk melihat laring melalui mikroskop.
Laringoskop dimasukkan seperti yang sebelumnya disebutkan.
Saat laring sudah tervisualisasi dengan adekuat, ujung dari laringoskop operator didekatkan ke midline sehingga jaringan yang patologi terlihat.
Laringoskop dimasukkan, epiglotis diungkit, lalu laringoskop dimasukkan untuk mengevaluasi seluruh struktur anterior laring
Alat suspension apparatus disambungkan ke laringoskop lalu disambungkan ke Mayo stand atau direkatkan ke meja operasi. Laringoskop yang tergantung dari meja yang menempel dari tempat tidur membuat pergerakan dari meja tanpa mengganggu posisi laringoskop.
Mikroskop didekatkan ke lapangan operasi dan laring divisualisasi dengan lensa pembesaran 400 mm. Instrumen laring dapat digunakan dengan alat mikro sesuai indikasi (forsep yang sesuai dengan peruntukannya).
Bila menggunakan laser CO2 maka wajah harus ditutup dengan handuk yang lembab dan mata ditutup dengan penutup mata yang lembab. Tidak satupun bagian dari wajah yang boleh terekspos. Petugas kamar operasi harus menggunakan pelindung mata.
Bila diperlukan pemeriksaan pada komisura posterior dan area ini tertutup oleh ETT, maka ETT dipindahkan dan ventilasi dilanjutkan dengan menggunakan alat Venturi Jet. Venturi diletakkan pada saluran cahaya laringoskop dan diposisikan diatas inlet laryngeal. Saat posisi sudah adekuat, pergerakan dinding dada dapat dilihat dengan baik tanpa obstruksi pada laring.
Instrumen kanul penghisap diletakkan di saluran cahaya dapat membantu menghisap asap yang dihasilkan dari prosedur laser. Hal ini memungkinkan karena pencahayaan untuk prosedur ini dihasilkan dari mikroskop.
Di akhir dari prosedur, pasien dapat di intubasi ulang untuk pemulihan anestesi, hal ini dapat dilakukan dengan dua metode:
Laringoskop diangkat dan pasien diintubasi seperti biasa
Pasien di intubasi ulang dengan laringoskop masih pada posisi
Gambar 1. Pengaturan ruangan operasi pada prosedur bedah laser
Gambar 2. Posisi operator dan pasien
Gambar 3. Instrumen mikrolaring
Komplikasi
Laringospasme
Edema glotik
Trauma gigi
Prosedur Pemeriksaan Laring
Butir-butir Penting
Pada pemeriksaan Laringoskopi Direkta diperlukan persiapan puasa dan dilakukan premedikasi. Posisi kepala penderita harus tepat supaya pelaksanaan tindakan dapat dilakukan dengan baik.
Pada pemeriksaan Fibre Optic Laryngoscope diperlukan kerjasama dengan penderita meskipun tindakan ini relatif tidak menyakitkan penderita.
Teknik Pemeriksaan:
Laringoskopi Indirect
Pasien dalam posisi duduk tegak, dengan kepala ekstensi dan leher fleksi (sniffer’s posisition)
Pemeriksa duduk berhadapan dengan pasien dengan memakai lampu kepala
Pasien diminta untuk membuka mulut dan menjulurkan lidah, bagian anterior lidah dipegang oleh pemeriksa dengan menggunakan kain kassa.
Dimasukkan kaca laring hangat yang telah dipanaskan sebelumnya ke dalam rongga mulut melewati uvula dan bagian distal palatum mole. Suhu kaca laring haruslah diperiksa terlebih dahulu pada tangan pemeriksa sebelum dimasukkan ke dalam mulut pasien untuk mencegah terbakarnya mukosa mulut.
Alat pemeriksa diputar sampai pemeriksa mendapatkan visualisasi yang baik dari struktur laring dan hipofaring.
Pasien diminta mengucapkan “iii” untuk mengobservasi adduksi pita suara.
Bila pasien terlihat tersedak, maka pasien diminta untuk bernafas pelan sehingga palatum dapat rileks dan pemeriksaan dapat dilanjutkan.
Pasien yang sensitive dapat diberikan anestesi local dengan menggunakan xylocain spray 10%.
Gambar 4. Laringoskopi Indirect dengan kaca laring
Laringoskopi Direct dengan teleskop kaku
Lidah pasien dipegang dengan kain kassa
Dimasukkan teleskop 90° yang telah diberikan anti embun ke rongga mulut melewati atas lidah dengan berhati-hati tidak menyentuh posterior lidah serta dinding faring.
Visualisasi struktur laring dan hipofaring diperoleh dengan cara yang sama seperti pemeriksaan dengan kaca laring
Bila pasien terlihat tersedak, maka pasien diminta untuk bernafas pelan sehingga palatum dapat rileks dan pemeriksaan dapat dilanjutkan.
Pasien yang sensitive dapat diberikan anestesi local dengan menggunakan xylocain spray 10%.
Pasien yang sensitive dapat diberikan anestesi local dengan menggunakan xylocain spray 10%.
Gambar 5. Laringoskopi Direct dengan teleskop kaku
Laringoskopi Direct :
No | Langkah-Langkah | Bagaimana | Mengapa |
1 | Premedikasi | Luminal/atropin | Tidak valium, karena depresi |
pernapasan | |||
Biar air liur sedikit | |||
2 | Anestesi lokal | Spray xylocain, pd | Epiglottis dikait, perlu |
epiglottis | anestesi | ||
3 | Atur posisi kepala | Posisi high: fleksi | Mudah mengait epiglottis |
leher/dada, ekstensi | keatas | ||
occipito atlanto | |||
4. | Mengait epiglottis | Selalu digaris tengah | Akan terlihat uvula-epiglotis |
sebagai pedoman | |||
Epiglotis dikait sedikit | Kalau terlalu banyak, | ||
saja | aritenoid terkait | ||
Kalau terlalu sedikit: lepas | |||
5 | Melihat pita suara | Dengan bantuan teleskop | Mudah melihatnya, |
(0o,30o) | Kalau telescope harus | ||
mengait epiglottis,bisa basah- | |||
buram |
Gambar 6. Laringoskopi Direct
Laringoskopi Serat Optik (FOL):
No | Langkah-langkah | Bagaimana | Mengapa |
1 | Anaestesi local | Kapas xylocain ephedrin1 % di | Tidak nyeri,tidak trauma |
cavum nasi d/s | |||
Spray xylocain pd | |||
faring/epiglotis | |||
2 | Atur duduk penderita | Duduk tegak | Memudahkan alat masuk |
3 | Memasukkan alat FOL | Melalui dasar cavum nasi | Tempat terlebar |
4 | Melihat nasofaring | Lurus kebelakang | Tampak naso faring dulu |
5 | FOL diarahkan ke | Dgn membengkokkan kebawah | |
laring | |||
FOL diarahkan mula-mula | |||
tampak dari jauh, lalu makin | |||
mendekat, laring dievaluasi | |||
6 | Memeriksa laring | Observasi pergerakan pita | |
suara, dengan pasien | |||
menyebutkan ”iii”, evaluasi | |||
apabila terdapat tumor; bentuk, | |||
ukuran, permukaan, mobilitas | |||
dan warna tumor. |
Gambar 7. Laringoskopi Serat Optik (FOL)
Instrumen yang diperlukan:
Laringoscope dewasa
Laringoscope anak-anak
Laringoscope bayi
Telescope 00 , 300 , 900
Fibre Optic Laryngoscope dan forcep biopsi
Forcep lurus dan upturn
Pompa Penyedot (Suction pump)
Prosedur Tindakan Trakeotomi Dapat Dilihat Pada Modul Sumbatan Jalan Nafas Atas
Kepustakaan Materi Baku
Ballenger JJ. Disease of the Nose, Throat, Ear, Head and Neck, Philadelphia, Lea & Fabiger, 2009, chapter 29,31-33,37, pp.570-588,605-41,682-746
Bailey BJ and Pillsburry III HC. Head and Neck Surgery – Otolaryngology. Philadelphia, JB Lippincott Co, 2014, chapter 68, pp.989-1003
Dhingra PL. Disease of Ear, Nose and Throat & Head and Neck Surgery. New Delhi, Elsevier, 6th Ed, 2014, Chapter 61, pp.303-07
Lee KJ. Essential Otolaryngology. Head & Neck Surgery. New York. McGraw Hill, 8th Ed, 2002, Chapter 31, pp. 724-92
Nauman HH. Head and Neck Surgery, Vol 3, New York, Thieme Medical Publishers Inc, 1997, Chapter 13, pp 358-59
Potsic WP. Surgical Pediatric Otolaryngology, New York, Thieme Medical Publishers Inc, 1997, Chapter 42, pp 532-37
Scott Brown. Otorhinolaryngology, Head and Neck Surgery, Great Britain, Edward Arnold, 7thed, 2007 Chapter 88, pp.1135- 49
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
WAKTU 1
PERSIAPAN SESI 1
REFERENSI 1
KOMPETENSI 2
GAMBARAN UMUM 3
CONTOH KASUS 3
TUJUAN PEMBELAJARAN 3
METODA PEMBELAJARAN 4
EVALUASI 4
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF 5
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR 6
DAFTAR TILIK 8
MATERI PRESENTASI 10
MATERI BAKU 13
MODUL IV.11
LARING-FARING – NEOPLASMA GANAS LARING
WAKTU
Proses Pengembangkan Kompetensi | Alokasi Waktu : |
Sesi di dalam kelas Sesi Pratikum Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi | 9 X 60 menit (classroom session) 2 X 60 menit (coaching session) 27 X 60 menit (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi Neoplasma ganas laring meliputi:
Slide 1 : Anatomi, histologi dan fisiologi Laring
Slide 2 : Etiologi, patofisiologi dan gejala klinis Neoplasma Ganas Laring
Slide 3 : Anamnesis,pemeriksaan fisik danpemeriksaan penunjang Neoplasma Ganas Laring
Slide 4 : Penegakkan Diagnosis dan Stadium Neoplasma Ganas Laring
Slide 5 : Penatalaksaan Neoplasma Ganas Laring
Slide 6 : Pencegahan Neoplasma Ganas Laring
Kasus : Neoplasma ganas laring
Sarana dan Alat bantu latih :
Model anatomi kadaver / manekin/ hewan
Penuntun belajar (learning guide) terlampir
Tempat belajar (training setting) : bangsal THT-KL, Poliklinik THT-KL, kamar operasi, bangsal perawatan pasca bedah THT-KL, Unit Gawat Darurat, Intensive Care Unit
REFERENSI
Hermani B, Hutauruk SM. Disfoni. Dalam: Soepardi EA, Iskandar N, editor. Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT. Ed.6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2010. Hal:231-41.
Hermani B, Abdurrachman H. Tumor Laring. Dalam: Soepardi EA, Iskandar N, editor. Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT. Ed.6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2010. Hal:194-8.
Hadiwikarta A, Rusmarjono, Soepardi EA. Penanggulangan Sumbatan Laring. In: Soepardi EA, editors. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. 6th ed. Jakarta: Balai Pustaka FKUI; 2008. p243- 53.
Lore JM, Medina JE. The Larynx. In: An Atlas of Head& Neck Surgery. 4th Ed. Philladelphia: Elsevier Saunders; 2005: p.1069-164.
Bailey BJ and Johnson JT. Advanced Cancer of the larynx. Head and Neck Surgery–otolaryngology. Lippincott Williams and Wilkins. Fourth Edition.2006. p.1758-77.
Beenken SW. Laryngeal Cancer (Cancer of the larynx). Armenian Health Network, Health.am. Retrieved 2007-03-22.
Ridge JA, Glisson BS, Lango MN, et al. Headand Neck Tumor in Pazdur R, Wagman LD, Camphausen KA, Hoskins WJ (Eds) Cancer Management: A Multidisciplinary Approach. 11 ed. 2008.
Raitiola H, Pukander J, Laippala P. Glottic and Supraglottic Laryngeal Carcinoma: Differences in Epidemiology, Clinical Characteristics and Prognosis. Acta Otolaryngol (Stockh) 1999; 119: 847–851.
Harris, E Randall. Global Epidemiology of Cancer. Epidemiology of laryngeal cancer. Jones & Bartlett Publishers, 7 Mei 2015. p59-68.
Rahmi H. Data penelitian Hastuti Rahmi. 2015
Xiangwei Li et al. Human Papillomavirus Infection and Laryngeal. Cancer Risk: A Systematic Review and Meta-Analysis. The Journal of Infectious Diseases 2013; 207: 479–88.
Hashibe et al. Contribution of Tobacco and Alcohol to the High Rates of Squamous Cell Carcinoma of the Supraglottis and Glottis in Central Europe. American Journal of Epidemiology. 2007;165:814–820.
Qadeer MA, Colabianchi N, Vaezi MF. Is GERD a risk factor for laryngeal cancer? Laryngoscope. 2005. Mar; 115(3): 486-91.
Hoff CM, Grau C, Overgaard J. Effect of smoking on oxygen delivery and outcome in patients treated with radiotherapy for head and neck squamous cell carcinoma – A prospective study. Radiotherapy and Oncology 103 (2012) 38– 44.
Farshadpour F. Non-smoking and Non-drinking patients with Head and Neck Squamous Cell Carcinoma, A Distinct Population. 2011 F. Farshadpour, The Netherlands.
National Comprehensive Cancer Network. NCCN Clinical Practice in Oncology. Head and Neck Cancers. Version I. 2015.
KOMPETENSI
Kompetensi Umum
Mampu mendiagnosis Neoplasma ganas laring berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang diperlukan (Laringoskopi Direk/ Fiber-Optic Laringoscopy/ foto polos leher AP dan lateral/ CT scan leher /Pemeriksaan Biosi Tumor/ Pemeriksaan Patologi Anatomi)
Mampu melakukan tatalaksana serta merujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi bila diperlukan.
Mampu melakukan deteksi dini dan pencegahan terjadinya Neoplasma ganas laring
Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan mampu dan terampil dalam :
Menjelaskan anatomi, histologi, fisiologi laring
Menjelaskan etiologi, macam kelainan yang berhubungan dengan Neoplasma ganas laring
Menjelaskan patofisiologi dan gambaran klinis Neoplasma ganas laring
Menjelaskan dan melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik Neoplasma
Melakukan keputusan untuk perlu tidaknya pemeriksan penunjang seperti Laringoskopi Direk/ Fiber-Optic Laringoscopy/ foto polos leher AP dan lateral/ CT scan leher /Pemeriksaan Biopsi Tumor/ Pemeriksaan Patologi Anatomi
Membuat diagnosis klinik berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhubungan dengan Neoplasma ganas laring
Mampu melakukan tindakan intubasi endotrakeal, krikotirotomi dan trakeostomi pada Neoplasma ganas laring
Menjelaskan pemeliharaan dan komplikasi pasca tindakan trakeostomi
Menjelaskan faktor-faktor risiko yang berpengaruh terhadap terjadinya Neoplasma ganas laring
Menjelaskan gejala dan tanda Neoplasma ganas laring Stadium dini
GAMBARAN UMUM
Karsinoma sel skuamosa laring adalah tumor epitel maligna dengan diferensiasi skuamosa seperti jembatan interseluler dan terbentuknya keratin. Keganasan kepala leher menempati 5 % dari seluruh keganasan yang ada dan 3 % dari keganasan tersebut berakibat kematian. Neoplasma ganas laring merupakan bagian dari keganasan kepala leher yang menempati urutan ke-3 terbanyak, setelah karsinoma nasofaring, karsinoma hidung dan sinus paranasal. Insiden dan angka kematian kanker laring merupakan yang tertinggi dengan penyebab tersering adalah perokok dan pengguna alcohol.
Pasien datang dengan keluhan sesak disertai suara serak yang memberat, juga disertai gangguan menelan. Pasien mempunyai riwayat merokok dan mengkonsumsi alkohol. Penatalaksanaan pasien dengan keganasan pada laring memerlukan pertimbangan yang tepat mengingat fungsi laring yang sangat penting.
CONTOH KASUS
Seorang laki-laki usia 59 tahun datang ke IGD dengan keluhan sesak napas sejak 2 minggu, makin lama makin sesak. Keluhan didahului suara serak sejak 6 bulan lalu, pasien juga mengeluhkan susah menelan makanan padat sejak 1 bulan lalu. Pasien mempunyai riwayat merokok lebih dari 20 batang sehari selama lebih dari 40 tahun. Pasien juga sering mengkonsumsi alkohol.
TUJUAN PEMBELAJARAN
Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan ketrampilan yang diperlukan dalam mengenali dan melakukan tindakan yang tepat terhadap penderita Neoplasma ganas laring, seperti yang telah disebutkan di atas, yaitu:
Menjelaskan anatomi, histologi, fisiologi laring
Menjelaskan etiologi, macam kelainan yang berhubungan dengan Neoplasma ganas laring
Menjelaskan patofisiologi dan gambaran klinis Neoplasma ganas laring
Menjelaskan dan melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik Neoplasma
Melakukan keputusan untuk perlu tidaknya pemeriksan penunjang seperti Laringoskopi Direk/ Fiber-Optic Laringoscopy/ foto polos leher AP dan lateral/ CT scan leher / Pemeriksaan Biopsi Tumor/ Pemeriksaan Patologi Anatomi
Membuat diagnosis klinik berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhubungan dengan Neoplasma ganas laring
Mampu melakukan tindakan intubasi endotrakeal, krikotirotomi dan trakeostomi pada Neoplasma ganas laring
Menjelaskan pemeliharaan dan komplikasi pasca tindakan trakeostomi
Melakukan work-up dan memutuskan terapi pendahuluan serta merujuk ke spesialis yang relevan (bila kegawatdaruratan sudah tidak ada).
Mampu melakukan deteksi dini dan pencegahan terjadinya Neoplasma ganas laring
METODA PEMBELAJARAN
Interactive lecture
Small group discussion
Peer assisted learning (PAL)
Bedside teaching
Task based medical education
Interactive lecture
Journal reading and review
Case simulation and investigation exercise
Equipment characteristics and operating instructions
Case study
Demonstration and coaching
Simulation and real examination exercises (physical and device)
Operative procedure demonstration and coaching
Practice with real clients
Continuing professional development
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dan post-test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest dan post-test terdiri atas :
Anatomi dan fisiologi laring
Penegakan diagnosa
Penatalaksanaan
Follow up
Selanjutnya dilakukan “small group discussion” bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian.
Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk role-play dengan teman-temannya (Peer Assisted Learning) atau SP
(Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assisted Evaluation). Setelah dianggap memadai, melalui metoda bedside teaching di bawah pengawasan fasilitator, peserta didik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan, evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut:
Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan.
Cukup : pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terlalu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien.
Baik : pelaksanaan benar dan baik (efisien)
Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
Self assessment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar.
Pendidik / fasilitator :
Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form
(terlampir).
Penjelasan lisan dari peserta didik / diskusi.
Kriteria penilaian keseluruhan : cakap / tidak cakap / lalai.
Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education)
Pencapaian pembelajaran :
Ujian akhir OSCA (K, P, A), dilakukan pada tahapan THT-KL dasar oleh Kolegium Ilmu THT-KL.
Ujian akhir stase, setiap divisi/unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan.
Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan THT-KL lanjut oleh Kolegium Ilmu THT-KL.
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Seorang laki-laki 56 tahun datang ke RS dengan keluhan sesak nafas sejak 2 minggu yang makin lama makin berat, nafas berbunyi dan tidak bisa menelan makanan padat sehingga hanya minum air dan susu. Sebelumnya sejak 4 bulan suara pasien serak yang tidak pernah sembuh. Sejak itu pasien mulai berhenti merokok.Terdapat benjolan sebesar telur ayam di leher kiri.
Kemungkinan diagnosis pada pasien ini
Karsinoma glottis
Karsinoma supraglotis
Karsinoma subglotis
Karsinoma transglotis
Karsinoma esofagus Jawaban : D
Perkiraan Clinical staging
A.T4N1Mx B.T3N2Mx C.T3N1Mx D.T4N2Mx E.T4N3Mx
Jawaban : D
Menurut evidenced base Kelenjar getah bening yang sering terkena pada level
I
II
III
IV
IIB
Jawaban : B
Histopatologi terbanyak untuk karsinoma laring adalah
KSS berdiferensiasi baik
KSS berdiferensiasi buruk
Adenokarsinoma
KSS berkeratin berdiferensiasi buruk
KSS berkeratin berdiferensiasi baik Jawaban : E
Tindakan terbaik pada karsinoma laring stadium IV adalah
Laringektomi total + Radioterapi
Laringektomi total + Kemoradiasi
Laringektomi total + Deseksi leher radikal
Laringektomi total + Deseksi leher + Radioterapi
Laringektomi total + Deseksi leher + Kemoradiasi Jawaban : E
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR
Penuntun Belajar Prosedur Trakeostomi
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :
Perlu perbaikan langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi diluar normal.
Mahir langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan).
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||||
II. PROSEDUR OPERASI | |||||
1. Pastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan esensial untuk prosedur Trakeostomi telah tersedia dan lengkap | |||||
2. Trakeotomi dapat dilakukan dengan anestesi lokal maupun umum. | |||||
3. Posisi penderita tidur telentang, kepala hiperektensi (punggung diganjal bantal). | |||||
4. Desinfeksi betadin daerah operasi dan sekitarnya, lapangan operasi dipersempit dengan doek steril. | |||||
5. Infiltrasi lidokain epinefrin di daerah operasi untuk anestesi dan vasokonstriksi. | |||||
6. Insisi secara vertikal (atau horisontal) antara kartilago tiroid sampai batas atas suprasternal, lapangan operasi diperlebar dengan retraktor. | |||||
7. Insisi di garis tengah dipisahkan (diperdalam) lapis demi lapis, hati-hati terhadap vena jugularis anterior, arteri tiroidea ima, kelenjar tiroid (ismus tiroid dapat diklem dipotong selanjutnya diligasi/kauter atau disisihkan ke atas atau ke bawah). | |||||
8. Identifikasi krikoid dan trakea dengan punksi percobaan (bila mengenai lumen trakea ditandai udara masuk dalam spuit). | |||||
9. Trakea dikait di tempat punksi percobaan, selanjutnya dilakukan insisi trakea pada ring kedua dan ketiga dari arah inferior ke superior. | |||||
10. Kanul trakea diinsersikan secara gentle dan dilakukan tes benang (bila kanul trakea masuk dalam lumen trakea, maka benang akan bergerak dihembus oleh udara pernapasan lewat kanul). | |||||
11. Kanul trakea difiksasi dengan meniup balon kanul, jahitan pada kulit leher, dan pita leher. | |||||
12. Luka operasi yang terlalu lebar dapat dijahit secara longgar, terakhir ditutup dengan kasa, anak kanul dipasang. | |||||
13. Operasi selesai. | |||||
Nama
Diagnosis
Informed Choice & Informed Consent
Rencana Tindakan
Persiapan Sebelum Tindakan
Evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi operasi
KEGIATAN | KASUS | ||||
14. Pastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan esensial untuk prosedur Trakeostomi telah tersedia dan lengkap | |||||
III. PASCA OPERASI | |||||
1. Observasi pasase kanul, perdarahan, tekanan darah, suhu dan nadi secara teratur | |||||
2. Mencegah terjadinya dehidrasi | |||||
3. Pemberian antibiotik segera setelah operasi | |||||
4. Mencegah terjadinya komplikasi pasca operasi | |||||
IV. PERAWATAN PASCA TRAKEOSTOMI | |||||
1. Perawatan kanul | |||||
2. Perawatan komplikasi | |||||
3. Bila fiksasi menggunakan balon, maka balon dikempiskan dalam 24 jam. | |||||
4. Jahitan fiksasi kulit leher diangkat sebelum penderita dipulangkan atau pada hari ke-5. | |||||
5. Penderita diedukasi cara perawatan kanul dan anak kanul serta tindakan pertama bila kanul buntu total atau salah posisi | |||||
6. Prosedur Dekanulasi | |||||
DAFTAR TILIK
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan status kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini :
✓
Memuaskan
langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
X
Tidak langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai
Memuaskan dengan prosedur atau panduan standar
T/D
Tidak Diamati
langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
Penilaian Kinerja Keterampilan (ujian akhir) Prosedur Trakeostomi
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||||
1. Nama | |||||
KEGIATAN | KASUS | ||||||
II. PROSEDUR OPERASI | |||||||
1. Pastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan esensial untuk prosedur Trakeostomi telah tersedia dan lengkap | |||||||
2. Trakeotomi dapat dilakukan dengan anestesi lokal maupun umum. | |||||||
3. Posisi penderita tidur telentang, kepala hiperektensi (punggung diganjal bantal). | |||||||
4. Desinfeksi betadin daerah operasi dan sekitarnya, lapangan operasi dipersempit dengan doek steril. | |||||||
5. Infiltrasi lidokain epinefrin di daerah operasi untuk anestesi dan vasokonstriksi. | |||||||
6. Insisi secara vertikal (atau horisontal) antara kartilago tiroid sampai batas atas suprasternal, lapangan operasi diperlebar dengan retraktor. | |||||||
7. Insisi di garis tengah dipisahkan (diperdalam) lapis demi lapis, hati-hati terhadap vena jugularis anterior, arteri tiroidea ima, kelenjar tiroid (ismus tiroid dapat diklem dipotong selanjutnya diligasi/kauter atau disisihkan ke atas atau ke bawah). | |||||||
8. Identifikasi krikoid dan trakea dengan punksi percobaan (bila mengenai lumen trakea ditandai udara masuk dalam spuit). | |||||||
9. Trakea dikait di tempat punksi percobaan, selanjutnya dilakukan insisi trakea pada ring kedua dan ketiga dari arah inferior ke superior. | |||||||
10. Kanul trakea diinsersikan secara gentle dan dilakukan tes benang (bila kanul trakea masuk dalam lumen trakea, maka benang akan bergerak dihembus oleh udara pernapasan lewat kanul). | |||||||
11. Kanul trakea difiksasi dengan meniup balon kanul, jahitan pada kulit leher, dan pita leher. | |||||||
12. Luka operasi yang terlalu lebar dapat dijahit secara longgar, terakhir ditutup dengan kasa, anak kanul dipasang. | |||||||
13. Operasi selesai. | |||||||
III. PASCA OPERASI | |||||||
1. Observasi pasase kanul, perdarahan, tekanan darah, suhu dan nadi secara teratur | |||||||
Diagnosis
Informed Choice & Informed Consent
Rencana Tindakan
Persiapan Sebelum Tindakan
Evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi operasi
KEGIATAN | KASUS | ||||||
2. Mencegah terjadinya dehidrasi | |||||||
3. Pemberian antibiotik segera setelah operasi | |||||||
4. Mencegah terjadinya komplikasi pasca operasi | |||||||
IV. PERAWATAN PASCA TRAKEOSTOMI | |||||||
1. Perawatan kanul | |||||||
2. Perawatan komplikasi | |||||||
3. Bila fiksasi menggunakan balon, maka balon dikempiskan dalam 24 jam. | |||||||
4. Jahitan fiksasi kulit leher diangkat sebelum penderita dipulangkan atau pada hari ke-5. | |||||||
5. Penderita diedukasi cara perawatan kanul dan anak kanul serta tindakan pertama bila kanul buntu total atau salah posisi | |||||||
6. Prosedur Dekanulasi | |||||||
MATERI PRESENTASI
Slide 1 : Anatomi, histologi dan fisiologi Laring
Slide 2 : Etiologi, patofisiologi dan gejala klinis Neoplasma Ganas Laring
Slide 3 : Anamnesis,pemeriksaan fisik danpemeriksaan penunjang Neoplasma Ganas Laring
Slide 4 : Penegakkan Diagnosis dan Stadium Neoplasma Ganas Laring
Tumor Primer
Tx Tumor tidak dapat dinilai
T0 Tidak terdapat tumor
Tis Tumor in situ
Tumor Supraglotis
T1 Tumor terbatas pada 1 sisi pita suara palsu (gerakan baik)
T2 Tumor sudah meluas ke 1 atau 2 sisi supraglotis atau glotis tanpa fiksasi pita suara
T3 Tumor teratas pada pita suara asli dengan fiksasi atau meluas ke posterior krikoid, dinding medial sinus piriformis, jaringan preepiglotis, ruang paraglotis, dan atau erosi minimal pada kartilago tiroid
T4a Tumor sudah meluas ke kartilago tiroid dan atau ke jaringan di sekitar laring seperti trakea, otot dasar lidah, strap muscle, tiroid atau esofagus)
T4b Tumor meluas ke ruang prevetrebal, arteri karotis atau struktur mediastinum
Tumor Glotis
T1 Tumor terbatas pada pita suara (dapat dengan keterlibatan komisura anterior atau posterior) dengan gerakan baik
T1a Tumor pada 1 pita suara
T1b Tumor pada 2 pita suara
T2 Tumor meluas ke supraglotis atau subglotis dengan atau tanpa gangguan gerakan pita suara
T3 Tumor masih terbatas di laring dengan fiksasi pita suara dan atau invasi ruang paraglotis, dan atau erosi minimal kartilago tiroid
T4a Tumor invasi ke kartilago tiroid atau jaringan sekitar laring
T4b Tumor menginvasi ruang prevertebral, arteri karotis, struktur mediastinum
Tumor Subglotis
T1 Tumor terbatas pada subglotis
T2 Tumor meluas ke pita suara dengan gerakan normal
T3 Tumor terbatas di laring dengan fiksasi pita suara
T4a Tumor menginvasi kartilago krikoid atau tiroid dan atau invasi jaringan sekitar laring
T4b Tumor menginvasi ruang prevertebral, arteri karotism dan struktur mediastinum
Penyebaran kelenjar limfa Regional
N0 Tidak ada penyebaran tumor ke kelenjar limfa regional
N1 Teraba 1 kelenjar limfa ipsilateral ukuran terbesar ≤ 3 cm
N2a Teraba 1 kelenjar limfa ipsilateral ukuran terbesar 3 – 6 cm
N2b Teraba kelenjar limfa multipel ipsilateral ukuran terbesar < 6 cm
N2c Teraba kelenjar limfa bilateral atau kontralateral ukuran terbesar < 6 cm
N3 Teraba kelenjar limfa ukuran terbesar ≥ 6 cm
Metastasis Jauh
Mx Metastasis tidak dapat dinilai
M0 Tidak terdapat metastasis jauh
M1 Terdapat metastasis jauh
Slide 5 : Penatalaksaan Neoplasma Ganas Laring
Slide 6 : Pencegahan Neoplasma Ganas Laring
MATERI BAKU
Karsinoma Sel Skuamosa Laring
Definisi
Karsinoma sel skuamosa laring adalah tumor epitel maligna dengan diferensiasi skuamosa seperti jembatan interseluler dan terbentuknya keratin. Penatalaksanaan pasien dengan keganasan pada laring memerlukan pertimbangan yang tepat mengingat fungsi laring yang sangat penting.
Epidemiologi KSS laring
Keganasan kepala leher menempati 5 % dari seluruh keganasan yang ada dan 3
% dari keganasan tersebut berakibat kematian. Neoplasma ganas laring merupakan bagian dari keganasan kepala leher yang menempati urutan ke-3 terbanyak, setelah karsinoma nasofaring, karsinoma hidung dan sinus paranasal. Laporan dari World Health Organization (WHO) yang dikutip oleh Bambang menyatakan 1,5 orang dari 100.000 penduduk meninggal karena tumor ganas. Di Indonesia angka kekerapan Neoplasma ganas laring diperkirakan mencapai 1
% dari semua keganasan di bidang Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher (THT-KL). The American Cancer Society melaporkan pada tahun 2006 di Amerika tercatat 12.000 kasus baru dengan 4740 kasus meninggal akibat Neoplasma ganas laring.
Karsinoma sel skuamosa (KSS) laring lebih banyak 7 kali lipat pada laki-laki dibandingkan perempuan. Insiden dan angka kematian kanker laring merupakan yang tertinggi dengan penyebab tersering adalah perokok dan pengguna alkohol. Usia tersering adalah 55 hingga 75 tahun dimana sekitar 58% terdiagnosis pada rentang usia ini. Kanker laring subtipe tertentu terdiagnosa lebih awal contohnya kanker laring yang disebabkan virus human papilloma, dapat terdiagnosa 4 tahun lebih cepat dibandingkan kanker laring yang disebabkan merokok dan alkohol.
Penderita karsinoma sel skuamosa laring di RSCM dari tahun 2009-2011 sebanyak 77 pasien dimana 59 pasien dengan riwayat merokok dan 18 pasien tidak ada riwayat merokok. Tahun 2014 di RSCM tercatat 30 pasien karsinoma sel skuamosa laring dengan 21 orang diantaranya dengn riwayat merokok. Tahun 2015 di RSCM tercatat sebanyak 17 pasien karsinoma sek skuamosa laring dengan 16 orang diantaranya dengan riwayat merokok.
Karsinoma sel skuamosa merupakan histologis tersering dari kanker laring yaitu sekitar 90%. Karsinoma sel skuamosa laring adalah tumor epitel maligna dengan diferensiasi skuamosa seperti jembatan interseluler dan terbentuknya keratin. Berasal dari permukaan epitel sel skuamosa atau dari epitel saluran napas bersilia yang telah terjadi metaplasi
Faktor resiko
Perokok kronis meningkatkan resiko kanker laring apalagi bila disertai dengan konsumsi alkohol. Resiko meningkat selaras dengan lama dan banyaknya rokok yang dikonsumsi. Merokok adalah faktor resiko dominan yang indipenden. Tahun 1956, Wynder et al dikutip dari Haris et al3 melakukan penelitian pada 209 kasus kanker laring didapatkan 99,5% kasus dengan riwayat merokok kronis dan peminum alkohol. Penemuan histologis paling signifikan berhubungan dengan merokok adalah adanya sel atipikal yang selalu ditemukan pada perokok dan jarang ditemukan pada bukan perokok. Penemuan ini memberikan bukti kuat bahwa merokok adalah penyebab penting terjadinya kanker laring. Ansary et al dikutip dari Haris et al melakukan penelitian meta analisis kemungkinan kanker laring yang fatal lebih besar 10 kali lipat pada perokok kronis dibandingkan dengan orang yang tidak merokok. Hashibe et al melakukan penelitian didapatkan pasien perokok dan peminum alkohol meningkatkan resiko kanker laring hingga 14 kali lipat dibandingkan dengan bukan perokok dan bukan peminum alkohol.
Konsumsi alkohol juga merupakan faktor resiko indipenden kanker laring, namun memiliki dampak yang lebih lemah dibandingkan dengan rokok. Corao et al dikutip dari Haris et al melakukan penelitian meta analisis pada 20 kasus, didapatkan kejadian kanker laring meningkat 4 kali lipat pada peminum alkohol dibandingkan dengan bukan peminum alkohol, resiko meningkat selaras dengan meningkatnya konsumsi alkohol.
Infeksi kronik pada jaringan laring oleh Human papilloma virus (HPV) meningkatkan resiko terjadinya kanker. Infeksi HPV virulensi rendah (HPV-6 dan HPV-11) mengakibatkan papilloma (tumor benigna), infeksi HPV virulensi tinggi (HPV-16 dan HPV-18) menyebabkan karsinoma sel skuamosa. Li et al menyimpulkan bahwa infeksi HPV terutama HPV-16 meningkatkan resiko terjadinya kanker laring yang berkaitan dengan kejadian seks bebas, maka dari itu kasus kanker laring akibat infeksi HPV muncul pada usia yang lebih muda dibandingkan kanker laring akibat merokok dan alkohol.
Beberapa faktor resiko lain yang berhubungan dengan kanker laring adalah terpapar radiasi di leher saat usia muda atau radioterapi pada keganasan kepala leher. Martin et al dikutip dari Haris et al melakukan penelitian pada 109 pasien dengan kanker laring yang dilakukan radioterapi didapatkan 8 pasien terjadi kanker laring berulang 7-15 tahun setelah radiasi.
Riwayat keluarga dengan kanker laring setidaknya satu tingkat diatas memiliki resiko kanker laring dua kali lipat dibandingkan dengan tanpa riwayat keluarga terkena kanker laring. Faktor resiko lain yaitu penyakit refluks gastroesofagus, imonosupresi akibat HIV atau transplantasi organ dan riwayat sebelumnya terkena kanker di kepala leher. Paparan terhadap bahan dari lingkungan seperti paparan lama terhadap debu batubara, debu kayu dan asbestos dapat meningkatkan resiko kanker laring. Diet terlalu banyak makan daging olahan dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker laring.
Anatomi laring
Struktur pembentuk laring terdiri dari beberapa tulang rawan dan satu buah tulang. Tulang hioid merupakan satu-satunya tulang dan enam tulang rawan yaitu kartilago tiroid, krikoid, epiglotis, aritenoid, kornikulata dan kuneiformis. Tulang dan kartilago ini disatukan oleh ligamen dan otot intrinsik laring. Otot intrinsik laring berfungsi mengubah panjang, ketegangan, bentuk, dan posisi spasial dari pita suara dengan mengubah orientasi otot dan pita suara pada aritenoid dengan komisura anterior.
Otot intrinsik laring dibagi menjadi 3 otot adduksi (krikoaritenoid lateral, thyroaritenoid dan interaretinoid), 1 otot abduksi (muskulus krikoaretinoid posterior) dan 1 otot tensor (muskulus krikotiroid). Otot ekstrinsik laring yaitu infrahyoid strap muscle ( muskulus sternotiroid, sternohioid dan tirohioid), muskulus milohyoid, digastrikus, geniohyoid dan stylofaring, semua otot-otot ekstrinsik laring berfungsi sebagai stabilisasi laring dan secara tidak langsung mempengaruhi posisi pita suara. Nervus laringeus reccuren memberikan persarafan motorik pada muskulus krikoaritenoid posterior, interaretinoid, krikoaritenoid lateral dan thyroaritenoid serta memberikan persarafan sensorik pada subglotis. Nervus laringeus superior memberikan persarafan sensorik pada glottis dan supraglotis serta memberikan persarafan motorik pada muskulus krikothyroid.
Gambar 1. Anatomi Laring
Batas laring di bagian kranial adalah tepi bebas dari epiglotis, aritenoid, interaritenoid. Batas kaudal laring adalah batas inferior kartilago krikoid yang berbatasan dengan cincin trakea. laring dibagi atas tiga bagian berdasarkan anatomi yaitu supraglotis, glotis dan subglotis. Supraglotis dimulai dari aditus laring sampai sinus morgagni, glotis dimulai dari plika vokalis sampai 1 cm di bawah plika vokalis dan subglotis dimulai dari batas bawah glotis sampai batas bawah kartilago krikoid.
Mikroanatomi yang kompleks dari pita suara memungkinkan lapisan mukosa superfisial bergerak secara bebas diatas jaringan yang kaku dibawahnya. Pita suara dapat dibagi menjadi 3 bagian: mukosa, ligamentum vokalis dan otot. Mukosa pita suara dapat dibagi menjadi epitel squamosa dan 3 lapis lamina propia (lamina propia superfisial (LSP), lamina propia intermedia dan lamina propia profunda). LSP sebagian besar terdiri dari aseluler dan matriks protein ekstraseluler, air serta kolagen dan elastin. LSP bersifat gelatin. Ruang potensial antara LSP dan lamina propia intermedia adalah ruang Reinke. Lamina propia intermediet dan profunda sebagian besar terdiri dari elastin dan kolagen. Lamina propia profunda sangat dense dan terdiri dari serat kolagen. Lamina propia intermediet dan profunda membentuk ligamentum vokalis.
Gambar 3. Mikroanatomi Laring.
Histopatologi
Penampakan makroskopik dari karsinoma sel skuamosa bervariasi termasuk lesi datar dengan pinggiran yang meninggi, eksofitik polipoid dan lesi papiler seperti lesi infiltrative tipe endofitik. Permukaan tumor biasanya terdapat ulkus. Penampakan mikroskopik karsinoma sel skuamosa ditandai oleh pertumbuhan infasif dan adanya diferensiasi sel skuamosa. Pertumbuhan infasif ditandai dengan gangguan dari membran basalis dan pertumbuhan sel tumor pada subepitel, tumor yang besar dapat menginvasi struktur yang lebih dalam seperti otot, kartilago dan tulang. Invasi ke perineural dan kelenjar limfe serta pembuluh darah dapat terjadi dan merupakan tanda kanker invasif. Differensiasi sel skuamosa terlihat dari jembatan interselular dan keratinisasi pada sel skuamosa.
Karsinoma sel skuamosa (KSS) laring dibedakan menjadi 3 jenis yaitu diferensiasi baik, diferensiasi sedang dan diferensiasi buruk. Kriteria pembagian ini adalah derajat diferensiasi, pleomorfiem sel dan aktifitas mitosis. Karsinoma sel skuamosa laring berdiferensiasi baik mirp dengan sel skuamosa normal dan terdiri dari berbagai ukuran sel skumosa keratinocyte-like dan sel basal tipe kecil yang biasanya terdapat pada pinggiran tumor. Terdapat jembatan interseluler dan keratinisasi namun jarang terjadi mitosis. Karsinoma sel skuamosa laring berdiferensiasi sedang menunjukkan lebih banya pleimorfisme sel dan lebih banya mitosis termasuk mitosis abnormal dan terdapat lebih sedikit keratinisasi. Karsinoma sel skuamosa laring berdiferensiasi buruk didominasi dengan sel basal dengan daerah mitosis yang tinggi dengan mitosis yang abnormal, jarang terdapat jembatan jaringan dan keratinisasi minimal. Jaringan keratinisasi lebih sering ditemukan pada KSS laring diferensiasi baik dan sedang namun jangan dijadikan patokan untuk pembagian KSS laring.
Stadium kanker laring
Tabel 1. Stadium kanker laring.
Tumor Primer
Tx Tumor tidak dapat dinilai
T0 Tidak terdapat tumor
Tis Tumor in situ
Tumor Supraglotis
T1 Tumor terbatas pada 1 sisi pita suara palsu (gerakan baik)
T2 Tumor sudah meluas ke 1 atau 2 sisi supraglotis atau glotis tanpa fiksasi pita suara
T3 Tumor teratas pada pita suara asli dengan fiksasi atau meluas ke posterior krikoid, dinding medial sinus piriformis, jaringan preepiglotis, ruang paraglotis, dan atau erosi minimal pada kartilago tiroid
T4a Tumor sudah meluas ke kartilago tiroid dan atau ke jaringan di sekitar laring seperti trakea, otot dasar lidah, strap muscle, tiroid atau esofagus)
T4b Tumor meluas ke ruang prevetrebal, arteri karotis atau struktur mediastinum
Tumor Glotis
T1 Tumor terbatas pada pita suara (dapat dengan keterlibatan komisura anterior atau posterior) dengan gerakan baik
T1a Tumor pada 1 pita suara
T1b Tumor pada 2 pita suara
T2 Tumor meluas ke supraglotis atau subglotis dengan atau tanpa gangguan gerakan pita suara
T3 Tumor masih terbatas di laring dengan fiksasi pita suara dan atau invasi ruang paraglotis, dan atau erosi minimal kartilago tiroid
T4a Tumor invasi ke kartilago tiroid atau jaringan sekitar laring
T4b Tumor menginvasi ruang prevertebral, arteri karotis, struktur mediastinum
Tumor Subglotis
T1 Tumor terbatas pada subglotis
T2 Tumor meluas ke pita suara dengan gerakan normal
T3 Tumor terbatas di laring dengan fiksasi pita suara
T4a Tumor menginvasi kartilago krikoid atau tiroid dan atau invasi jaringan sekitar laring
T4b Tumor menginvasi ruang prevertebral, arteri karotism dan struktur mediastinum
Penyebaran kelenjar limfa Regional
N0 Tidak ada penyebaran tumor ke kelenjar limfa regional
N1 Teraba 1 kelenjar limfa ipsilateral ukuran terbesar ≤ 3 cm
N2a Teraba 1 kelenjar limfa ipsilateral ukuran terbesar 3 – 6 cm
N2b Teraba kelenjar limfa multipel ipsilateral ukuran terbesar < 6 cm
N2c Teraba kelenjar limfa bilateral atau kontralateral ukuran terbesar < 6 cm
N3 Teraba kelenjar limfa ukuran terbesar ≥ 6 cm
Metastasis Jauh
Mx Metastasis tidak dapat dinilai
M0 Tidak terdapat metastasis jauh
M1 Terdapat metastasis jauh
Stadium | T | N | M |
I | T1 | N0 | M0 |
II | T2 | N0 | M0 |
III | T3 | N0 | M0 |
T1-3 | N1 | M0 | |
IVA | T4a | N0, N1 | M0 |
T1 – T4a | N2 | M0 | |
IVB | T4b | Semua N | M0 |
Semua T | N3 | M0 | |
Semua T | Semua N | M1 |
Terapi
Penatalaksanaan Neoplasma ganas laring berbagai negara berbeda. Satu-satunya keadaan klinis yang mendapat persetujuan secara menyeluruh di dunia adalah penanganan karsinoma laring T4 dengan keterlibatan kartilago laring yaitu laringektomi total dengan radioterapi pascaoperasi.
Memilih modalitas penatalaksanaan karsinoma laring harus mempertimbangkan stadium, kondisi psikologis pasien, faktor biaya, gejala sisa, dan efektivitas terapi. Penatalaksanan harus melibatkan multidisiplin ilmu seperti dokter THT- KL, radiologi onkologi, ahli kemoterapi, rehabilitasi medis dan lain-lain.
Secara umum penatalaksanaan karsinoma laring stadium awal adalah bedah dan radiasi. Pembedahan dapat dilakukan secara transoral mikrolaring reseksi atau parsial laringektomi. Secara statistik saat ini radiasi maupun bedah dianggap memiliki efektivitas yang sama untuk terapi karsinoma laring stadium awal walaupun masih didapatkan rekurensi pada beberapa penelitian. Penatalaksanaan karsinoma laring stadium awal hampir selalu menggunakan satu modalitas sehingga sekuele pasca terapi harus benar-benar diperhatikan.
Berhenti merokok dapat menurunkan angka kejadian karsinoma sel skuamosa laring. Altieri et al melakukan penelitian dari tahun 1992-2000 pada 527 kasus kanker laring didapatkan dampak positif berhenti merokok menurunkan resiko kanker laring lebih dari 70% pada 10 tahun atau lebih setelah berhenti merokok.
ALGORITMA
Algoritma dan Prosedur
Referensi
Hermani B, Hutauruk SM. Disfoni. Dalam: Soepardi EA, Iskandar N, editor. Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT. Ed.6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2010. Hal:231-41.
Hermani B, Abdurrachman H. Tumor Laring. Dalam: Soepardi EA, Iskandar N, editor. Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT. Ed.6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2010. Hal:194-8.
Hadiwikarta A, Rusmarjono, Soepardi EA. Penanggulangan Sumbatan Laring. In: Soepardi EA, editors. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. 6th ed. Jakarta: Balai Pustaka FKUI; 2008. p243-53.
Lore JM, Medina JE. The Larynx. In: An Atlas of Head& Neck Surgery. 4th Ed. Philladelphia: Elsevier Saunders; 2005: p.1069-164.
Bailey BJ and Johnson JT. Advanced Cancer of the larynx. Head and Neck Surgery–otolaryngology. Lippincott Williams and Wilkins. Fourth Edition.2006. p.1758-77.
Beenken SW. Laryngeal Cancer (Cancer of the larynx). Armenian Health Network, Health.am. Retrieved 2007-03-22.
Ridge JA, Glisson BS, Lango MN, et al. Headand Neck Tumor in Pazdur R, Wagman LD, Camphausen KA, Hoskins WJ (Eds) Cancer Management: A Multidisciplinary Approach. 11 ed. 2008.
Raitiola H, Pukander J, Laippala P. Glottic and Supraglottic Laryngeal Carcinoma: Differences in Epidemiology, Clinical Characteristics and Prognosis. Acta Otolaryngol (Stockh) 1999; 119: 847–851.
Harris, E Randall. Global Epidemiology of Cancer. Epidemiology of laryngeal cancer. Jones & Bartlett Publishers, 7 Mei 2015. p59-68.
Rahmi H. Data penelitian Hastuti Rahmi. 2015
Xiangwei Li et al. Human Papillomavirus Infection and Laryngeal. Cancer Risk: A Systematic Review and Meta-Analysis. The Journal of Infectious Diseases 2013; 207: 479–88.
Hashibe et al. Contribution of Tobacco and Alcohol to the High Rates of Squamous Cell Carcinoma of the Supraglottis and Glottis in Central Europe. American Journal of Epidemiology. 2007;165:814–820.
Qadeer MA, Colabianchi N, Vaezi MF. Is GERD a risk factor for laryngeal cancer? Laryngoscope. 2005. Mar; 115(3): 486-91.
Hoff CM, Grau C, Overgaard J. Effect of smoking on oxygen delivery and outcome in patients treated with radiotherapy for head and neck squamous cell carcinoma – A prospective study. Radiotherapy and Oncology 103 (2012) 38–44.
Farshadpour F. Non-smoking and Non-drinking patients with Head and Neck Squamous Cell Carcinoma, A Distinct Population. 2011 F. Farshadpour, The Netherlands.
National Comprehensive Cancer Network. NCCN Clinical Practice in Oncology. Head and Neck Cancers. Version I. 2015.
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
WAKTU 1
PERSIAPAN SESI 1
REFERENSI 1
KOMPETENSI 1
GAMBARAN UMUM 2
CONTOH KASUS & DISKUSI 2
TUJUAN PEMBELAJARAN 2
METODE PEMBELAJARAN 3
EVALUASI 3
INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF & PSIKOMOTOR 4
DAFTAR TILIK 6
MATERI PRESENTASI 6
MATERI BAKU 7
DAFTAR PUSTAKA 8
ALGORITMA DAN PROSEDUR 8
MODUL IV.12
LARING-FARING – TRAUMA LEHER
WAKTU
Mengembangkan Kompetensi | Frekuensi |
Sesi di dalam kelas Sesi Pratikum Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi | 9 X 60 menit (classroom session) 2 X 60 menit (coaching session) 19 X 60 menit (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi presentasi
Slide 1: Anatomi, Fisiologi leher
Slide 2: Mekanisme Trauma leher
Slide 3: Pemeriksaan fisik dan Penunjang
Slide 4: Algoritma dan Prosedur
Kasus : Trauma tumpul leher
Seorang wanita usia 22 tahun di rujuk ke emergensi THT dengan riwayat trauma tumpul didaerah leher. Dari anamnesis didapatkan bahwa penderita mengalami benturan di daerah lehernya akibat terkena besi saat bekerja di pabrik 3 jam yang lalu. Dari pemeriksaan fisik penderita terlihat sesak, dan suara menjadi parau. Stridor inspiratoir (+) dengan gambaran jejas didaerah lener setinggi laring. Dari perabaan diapatkan adanya krepitasi dan emphisema yang meluas ke daraeh supraclavicula. Penderita masih dapat makan dan minum.
Sarana dan Alat Bantu Latih :
Model Anatomi
Penuntun belajar (learning guide) terlampir
Tempat belajar (training setting) : Instalasi gawat darurat, bangsal THT, Poliklinik THT, Ruang Operasi
REFERENSI
Bailey BJ. Head and Neck Surgery – Otolaryngology, Third Edition, Lippincott Williams & Wilkins, Philadelphia, 2014, 717 – 821.
Lore JM, Medina JE. An Atlas of Head and Neck Surgery, Fourth Edition, Elsevier Inc, W.B Saunders, Philadelphia, 2005, 856.
KOMPETENSI
Kompetensi Umum
Mampu membuat diagnosis trauma leher berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
Mampu melakukan tatalaksana trauma leher serta merujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi bila diperlukan.
Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam :
Menjelaskan anatomi, fisiologi struktur leher
Menjelaskan etiologi, macam-macam trauma leher
Menjelaskan patofisiologi, gambaran klinis dari trauma leher
Menjelaskan dan melakukan pemeriksaan penunjang yaitu Endoskopi serat lentur, imaging (foto rontgen soft tissue leher, CT scan, MRI)
Membuat diagnosis klinis berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan.
Menjelaskan dan melaksanakan penatalaksanaan trauma leher
Melakukan work-up pada penderita trauma leher (follow-up selanjutnya)
Memutuskan terapi pendahuluan serta merujuk ke spesialis yang relevan (bukan kasus gawat darurat)
GAMBARAN UMUM
Semua trauma pada leher secara potensial membahayakan kehidupan karena banyak struktur vital melalui daerah ini. Trauma leher diklasifikasikan menjadi tumpul atau menembus. Trauma tumpul pada leher dapat mengakibatkan cedera saraf spinal leher, cedera faring dan trakea, dan cedera arteri karotis. Trauma leher menembus diklasifikasikan menurut lokasinya (zona I, II, III).
Pemeriksaan klinis dari trauma leher meliputi penilaian jalan nafas, termasuk evaluasi suara parau, stridor, dispneu dan hemoptisis. Emfisema subkutan, krepitasi, dan perubahan landmark laring merupakan indikasi cedera laringotrakea. Disfagi dan nyeri dada adalah kas untuk cedera esofagus. Pemeriksaan Endoskopi (Laringoskopi fiberoptik) dilakukan untuk memeriksa jalan nafas bagian atas. Jika terdapat ancaman gangguan jalan nafas atas, dilakukan trakeotomi. Krikotirotomi tidak digunakan pada keadaan seperti ini, karena resiko cedera lebih lanjut pada laring dan trakea bagian atas.
CONTOH KASUS & DISKUSI
Contoh Kasus
Seorang wanita usia 22 tahun di rujuk ke emergensi THT dengan riwayat trauma tumpul didaerah leher. Dari anamnesis didapatkan bahwa penderita mengalami benturan di daerah lehernya akibat terkena besi saat bekerja di pabrik 3 jam yang lalu. Dari pemeriksaan fisik penderita terlihat sesak, dan suara menjadi parau. Stridor inspiratoir (+) dengan gambaran jejas didaerah lener setinggi laring. Dari perabaan diapatkan adanya krepitasi dan emphisema yang meluas ke daraeh supraclavicula. Penderita masih dapat makan dan minum.
Diskusi :
Tatalaksana kegawatdaruratan pada kasus tersebut
Struktur yang mengalami cidera
Pemeriksaan penunjang
Tatalaksana komplikasi
Jawaban :
TUJUAN PEMBELAJARAN
Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan menatalaksana trauma leher seperti yang telah disebutkan diatas, yaitu :
Menguasai anatomi, histologi, fisiologi struktur leher
Mampu menjelaskan etiologi, patofisiologi dan gambaran klinis trauma leher
Menentukan dan melakukan pemeriksaan penunjang (endoskopi, imaging ;foto rontgen soft tissue leher, CT scan, MRI, foto rontgen dada, angiografi)
Membuat diagnosis trauma leher
Melaksanakan penatalaksanaan trauma leher : keputusan penanganan tindakan.
Melakukan work-up, menentukan terapi dan memutuskan untuk melakukan rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi.
METODE PEMBELAJARAN
Literatur Reading
Referat
Bimbingan Referat
Jurnal Reading
Praktik Lapangan (Poliklinik)
Skills Lab
Bedside Teaching
Tindakan (OK)
Case Report
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan, yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pre-test terdiri atas :
Anatomi, fisiologi dan patologi struktur leher
Penegakan diagnosa
Penatalaksanaan
Follow up
Selanjutnya dilakukan “small group discussion” bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian.
Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk role-play dengan teman-temannya (Peer Assisted Learning) atau SP (Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assisted Evaluation). Setelah dianggap memadai, melalui metoda bedside teaching di bawah pengawasan fasilitator, peserta didik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan, evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut:
Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan.
Cukup : pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terlalu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien.
Baik : pelaksanaan benar dan baik (efisien)
Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
Self assessment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar.
Pendidik / fasilitator :
Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form
(terlampir).
Penjelasan lisan dari peserta didik / diskusi.
Kriteria penilaian keseluruhan : cakap / tidak cakap / lalai.
Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education)
Pencapaian pembelajaran :
Ujian akhir OSCA (K, P, A), dilakukan pada tahapan THT dasar oleh Kolegium Ilmu THT.
Ujian akhir stase, setiap divisi/unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan. THT lanjut oleh Kolegium Ilmu THT
Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan THT lanjut oleh Kolegium Ilmu THT.
INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF & PSIKOMOTOR
Instrumen Penilaian Kompetensi Kognitif
Airway management in penetrating neck trauma should be undertaken
By tracheostomy laone
By tracheostomy if only unable to intubate
By assessment of airway status by physical examination and/or flexible laryngoscopy and airway support as needed
By direct rigid laryngoscopy
Only after C-spine is cleared by x-ray
Jawaban : C
Which of these signs would likely not be found in laryngeal injury in penetrating neck trauma?
Voice changes
Hemoptysis
Crepitance
Subcutaneous emphysema
Facial nerve paralysis
Jawaban : E
Instrumen Penilaian Kompetensi Psikomotor
Lakukan penilaian kinerja pada setiap langkah atau tugas dengan menggunakan skala penilaian di bawah ini :
1. Perlu Langkah atau tugas tidak dikerjakan secara benar atau dalam
Perbaikan urutan yang salah.
2. Cukup
Langkah atau tugas dikerjakan secara benar dalam urutan yang benar tetapi belum dikerjakan secara lancar.
3. Baik
Langkah atau tugas dikerjakan secara efisien dan dikerjakan dalam urutan yang benar.
PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR DIAGNOSTIK TRAUMA
PENUNTUN BELAJAR | ||||||
NO | Kegiatan / langkah klinik | Kesempatan ke | ||||
1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
Anamnesis | ||||||
1. | Menilai kondisi kesiapan pasien (vital sign) | |||||
2. | Tanyakan mengenai onset kejadian | |||||
3. | Tanyakan mengenai jenis dan mekanisme dan jenis trauma, Apakah terkena trauma tumpul atau trauma tajam | |||||
4. | Deskripsikan tentang arah trauma , apakah dari anterior atau lateral | |||||
5. | Tanyakan mengenai komplikasi, apakah ada sesak, gangguan menelan,suara serak, rasa nyeri dada | |||||
6. | Tanyakan mengenai penyakit yang bisa memperberat kondisi pasien seperti;riwayat trauma leher sebelumnya, riwayat operasi didaerah leher | |||||
Pemeriksaan Fisik | ||||||
1. | Vital sign ; Kesadaran,Tekanan darah , Heart rate, Respiratori rate, temperatur, saturasi O2 | |||||
2. | Periksa apakah ada tanda-tanda obstruksi saluran nafas; Stridor, Retraksi supraclavicula, suprasternal,epigastrium, intercostal | |||||
3. | Inspeksi : Jejas didareah leher, luas luka,Kedalaman luka ( Trauma tajam) | |||||
4 | Palpasi ; Krepitasi,emphisema subcutis,Landmark laring dan trachea,apakah ada deformitas | |||||
Pemeriksaan penunjang | ||||||
1 | Rontgen Soft tissue Leher ( AP dan Lateral) | |||||
Dinilai mengenai kolum udara, struktur tulang dan soft tissue | ||||||
2. | Endoskopi ( Laringoskopi fiber optic) | |||||
Lihat modul ........ | ||||||
3 | CT-Scan / MRI | |||||
Dinilai struktur penting dileher, Laring, trachea, Pembuluh darah,Tulang Leher,esofagus, | ||||||
4 | Bronchoscopi | |||||
LIHAT MODUL ...... | ||||||
5 | Esofagoskopi | |||||
LIHAT MODUL ....... |
DAFTAR TILIK
MATERI PRESENTASI
Trauma leher adalah trauma pada leher baik yang berakibat luka tumpul atau menembus.
Slide 1 : Definisi
Slide 2 : Ruang Lingkup
Trauma leher diklasifikasikan menjadi tumpul atau menembus, yang secara potensial membahayakan kehidupan. Trauma tumpul pada leher dapat mengakibatkan cedera saraf spinal leher, cedera faring dan trakea, dan cedera arteri karotis.
Slide 3 : Algoritma dan Prosedur
Protokol penatalaksanaan trauma akut pada laring
Dikutip dari Bailey BJ 1
Algoritma penatalaksanaan awal penderita dengan cedera trauma leher menembus
Dikutip dari Bailey BJ 1
MATERI BAKU
Definisi Trauma Leher
Trauma leher adalah trauma pada leher, tumpul dan menembus.
Ruang Lingkup
Trauma leher diklasifikasikan menjadi tumpul atau menembus, yang secara potensial membahayakan kehidupan. Trauma tumpul pada leher dapat mengakibatkan cedera saraf spinal leher, cedera faring dan trakea, dan cedera arteri karotis.
Pemeriksaan penunjang
Endoskopi peroral, imaging (foto rontgen soft tissue daerah visera, CT scan, MRI, foto rontgen dada), angiografi
Penatalaksanaan
Upaya suportif dasar
Pemasangan infus
Pencegahan tetanus
Antibiotik
Gangguan jalan nafas
rongga mulut dan orofaring
hipofaring,
laring,
trakea
Intubasi endotrakeal
Krikotirotomi
Trakeotomi
Perdarahan
eksternal,
dalam rongga (terutama hipofaring, rongga mulut, orofaring),
internal didalam jaringan lunak (misalnya hematom yang membesar)
pembengkakan eksternal
pembengkaan hipofaring, rongga mulut, orofaring
Penekanan dari luar secara langsung
Eksplorasi bedah
Ligasi
Rekonstruksi pembuluh darah besar
Perforasi visera
hipofaring,
laring,
trakea
esofagus
Eksplorasi bedah
Penutupan dengan bedah, khususnya esofagus
Drainase bedah, terutama jika tidak mungkin dilakukan penutupan
Gangguan saraf
Perbaikan cedera saraf, misalnya saraf otak
DAFTAR PUSTAKA
Bailey BJ. Head and Neck Surgery – Otolaryngology, Third Edition, Lippincott Williams & Wilkins, Philadelphia, 2001, 717 – 821.
Lore JM, Medina JE. An Atlas of Head and Neck Surgery, Fourth Edition, Elsevier Inc, W.B Saunders, Philadelphia, 2005, 856.
ALGORITMA DAN PROSEDUR
Dikutip dari Bailey BJ 1
Protokol penatalaksanaan trauma akut pada laring
Algoritma penatalaksanaan awal penderita dengan cedera trauma leher menembus
Dikutip dari Bailey BJ 1
List of skill
Tahapan THT dasar
Persiapam pra operasi
Anamnesis
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan penunjang
Informend consent
Tahapan THT lanjut
Persiapan pra operasi
Anamnesis
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan penunjang
Informed consent
Melakukan operasi (bimbingan, mandiri)
Penanganan komplikasi
Follow-up dan rehabilitasi
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
WAKTU 1
PERSIAPAN SESI 1
REFERENSI 1
KOMPETENSI 2
GAMBARAN UMUM 2
CONTOH KASUS & DISKUSI 2
TUJUAN PEMBELAJARAN 2
METODE PEMBELAJARAN 3
EVALUASI 3
INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF & PSIKOMOTOR 4
DAFTAR TILIK 7
MATERI PRESENTASI 9
MATERI BAKU 9
MODUL IV.13
LARING-FARING – SUMBATAN JALAN NAFAS ATAS (SJNA)
WAKTU
Mengembangkan Kompetensi | Frekuensi |
Sesi di dalam kelas Sesi Pratikum Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi | 9 X 60 menit (classroom session) 2 X 60 menit (coaching session) 33 X 60 menit (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi SUMBATAN JALAN NAPAS ATAS (SJNA), meliputi:
Gejala dan tanda SJNA
Anamnesis dan pemeriksaan SJNA
Pemeriksaan penunjang diagnostik
Faktor risiko SJNA
Clinical decision making dan medikamentosa
Kasus : Sumbatan jalan napas atas (SJNA)
Seorang laki-laki usia 59 tahun datang ke IGD dengan keluhan sesak napas sejak 2 minggu, makin lama makin sesak disertai napas bunyi ketika menarik napas. Sejak enam bulan yang lalu suara parau, kadang-kadang batuk disertai darah. Makan dan minum tidak ada masalah.
Penderita mempunyai riwayat sebagai perokok berat.
Sarana dan Alat bantu latih :
Model anatomi kadaver / manekin/ hewan
Penuntun belajar (learning guide) terlampir
Tempat belajar (training setting) : bangsal THT-KL, Poliklinik THT-KL, kamar operasi, bangsal perawatan pasca bedah THT-KL, Unit Gawat Darurat, Intensive Care Unit
REFERENSI
Myers EN. Tracheostomy. In : EN Myers, ed. Operative Otolaryngology Head and Neck Surgery vol. 1. WB Saunders. Philadelphia. 2014, pp. 293-305
Goldsmith AJ, Wynn R. Upper airway obstruction. In: Lucente FE, Har-el.eds. Essential of otolaryngology 5th ed. Lippincott Williams & Wilkins. Philadelphia, 2004; 257-61.
Burkey BB. Airway Control and Laryngotracheal Stenosis in Adults. In : JJ Ballenger, ed. Diseases of the Nose, Throat, Ear, Head and Neck. 17th Ed. Lea & Febiger. Philadelphia. 2009, pp. 903-12
Kost KM. Tracheotomy & Intubation. In : BJ Bailey, et al., eds. Head and Neck Surgery – Otolaryngology.Vol 2. 5th Ed. Philadelphia. Lippincott Williams & Wilkins. 2014, pp. 908-944
Yu KCY. Airway Management & Tracheotomy. In : AK Lalwani, ed. Current Diagnosis & Treatment in Otolaryngology – Head and Neck Surgery. International Edition. McGraw-Hill, Boston, 2012. pp. 536-42
Woodson G. The Larynx. In : KJ Lee, ed. Essential Otolaryngology Head and Neck Surgery, 10th Ed. McGraw-Hill, New York. 2012, pp. 529-56
Bhatti, NI. Surgical Management of the Difficult Adult Airway.In : Cummings Otolaryngology Head and Neck Surgery. 5th ed. Philadelphia.2010.pp 122-29
KOMPETENSI
Kompetensi Umum
Mampu mendiagnosis sumbatan jalan napas atas berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang diperlukan (Laringoskopi Direk/ Fiber-Optic Laringoscopy/ foto polos leher AP dan lateral/ CT scan leher).
Mampu melakukan tatalaksana serta merujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi bila diperlukan.
Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan mampu dan terampil dalam :
Menjelaskan anatomi, histologi, fisiologi jalan napas atas
Menjelaskan etiologi, macam kelainan yang berhubungan dengan sumbatan jalan napas atas
Menjelaskan patofisiologi dan gambaran klinis sumbatan jalan napas atas
Menjelaskan dan melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik sumbatan jalan napas atas
Melakukan keputusan untuk perlu tidaknya pemeriksan penunjang seperti Laringoskopi Direk/ Fiber-Optic Laringoscopy/ foto polos leher AP dan lateral/ CT scan leher
Membuat diagnosis klinik berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhubungan dengan sumbatan jalan napas atas
Mampu melakukan tindakan intubasi endotrakeal, krikotirotomi dan trakeostomi pada sumbatan jalan napas atas
Menjelaskan pemeliharaan dan komplikasi pasca tindakan trakeostomi
GAMBARAN UMUM
Sumbatan jalan napas atas (SJNA) merupakan suatu gejala penyakit yang sering dijumpai di praktik sehari-hari, baik yang datang dalam keadaan sesak ringan maupun hebat. Gejala sesak yang hebat dapat mengancam nyawa bila tidak ditangani secara cepat dan tepat. Kejadian SJNA dapat terjadi pada semua usia maupun jenis kelamin. SJNA dapat disebabkan oleh adanya infeksi, benda asing, tumor, dll. Diagnosis ditegakkan terutama melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik (kriteria Jackson). Untuk mengatasi SJNA tersebut salah satu cara yang dikerjakan adalah trakeostomi.
CONTOH KASUS & DISKUSI
Seorang laki-laki usia 59 tahun datang ke IGD dengan keluhan sesak napas sejak 2 minggu, makin lama makin sesak disertai napas bunyi ketika menarik napas. Sejak enam bulan yang lalu suara parau, kadang-kadang batuk disertai darah. Makan dan minum tidak ada masalah. Penderita mempunyai riwayat sebagai perokok berat.
TUJUAN PEMBELAJARAN
Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan ketrampilan yang diperlukan dalam mengenali dan melakukan
tindakan yang tepat terhadap penderita sumbatan jalan napas atas, seperti yang telah disebutkan di atas, yaitu :
Menguasai anatomi, histologi, fisiologi jalan napas atas
Mampu menjelaskan etiologi, macam kelainan yang berhubungan dengan sumbatan jalan napas atas
Menjelaskan patofisiologi dan gambaran klinis sumbatan jalan napas atas
Menentukan dan melakukan pemeriksan penunjang (laringoskop serat optik (LSO)/FOL (fiber-optic laryngoscopy), foto polos leher, CT Scan laring)
Membuat diagnosis sumbatan jalan napas atas berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik maupun penunjang
Melakukan tatalaksana sumbatan jalan napas atas
Melakukan work-up dan memutuskan terapi pendahuluan serta merujuk ke spesialis yang relevan (bila kegawatdaruratan sudah tidak ada).
METODE PEMBELAJARAN
Literatur Reading
Referat
Bimbingan Referat
Jurnal Reading
Case Report
Prakti Lapangan (Emergensi)
Bedside Teaching
Operasi
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dan post-test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest dan post-test terdiri atas :
Anatomi dan fisiologi jalan napas atas
Penegakan diagnosa
Penatalaksanaan
Follow up
Selanjutnya dilakukan “small group discussion” bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian.
Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk “role play” dan teman-temannya (Peer Assisted Evaluation) atau kepada SP (Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assisted Evaluation) setelah dianggap memadai, melalui metode bedside teaching dibawah pengawasan fasilitator, peserta dididik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan
kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut :
Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan.
Cukup : pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien.
Baik : pelaksanaan benar dan baik (efisien)
Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
Self assesment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar.
Pendidik/ fasilitas :
Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form (terlampir)
Penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi
Kriteria penilaian keseluruhan : cakap/ tidak cakap/ lalai
Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education)
Pencapaian pembelajaran :
Ujian OSCE (K,P,A), dilakukan pada tahapan THT-KL-KL dasar oleh kolegium Ilmu Kesehatan THT-KL-KL
Ujian akhir stase, setiap divisi / unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan THT-KL-KL lanjut oleh kolegium ilmu THT-KL-KL.
Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan THT-KL-KL lanjut oleh kolegium Ilmu Kesehatan THT-KL-KL.
INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF & PSIKOMOTOR
Instrumen Penilaian Kompetensi Kognitif
Seorang anak laki-laki umur 2 tahun datang ke IGD sebuah rumah sakit dengan keluhan sesak nafas sejak 2 hari yang lalu dan makin berat dalam 2 jam terakir. Pada pemeriksaan fisik terlihat bull neck dan terdapat retraksi supra sternal dan epigastrium. Suhu 38,5 C. Pemeriksaan orofaring sukar dinilai.
Apakah kemungkinan diagnosis pada pasien ini?
CROUP
Tonsillitis difteri
Laryngitis akut
Laringomalacia
Tonsillitis akut dengan abses retrofaring
Jawaban: B
Bagaimana penatalaksanaan lebih lanjut pada pasien ini?
ATS + Trakeostomi
Anti biotic intravena + insisi abses
Anti biotic intravena + kortikosteroid
Observasi
Intubasi
Jawaban: A
Seorang laki-laki usia 61 tahun datang ke IRD dengan keluhan sesak napas sejak 5 hari, bersifat memberat, bila tidur disertai mendengkur. Enam bulan yang lalu suara mulai parau, kadang-kadang batuk disertai darah. Makan dan minum tidak ada masalah.
Penderita mempunyai riwayat sebagai perokok berat. Terdapat stridor inspirasi dan retraksi intercostal dan epigastrium.
Apakah kemungkinan diagnosis pada pasien tersebut?
TB laring
Tumor laring Supraglotis
Tumor laring Glotis
Tumor laring subglotis
Papiloma laring
Jawaban: D
Pemeriksaan apa yang harus dilakukan untuk membuktikan diagnosis diatas?
Biopsi laring
Laringoscopy dan CT Scan
Ro foto Cervical AP dan Lateral
MRI
Pemeriksaan sputum
Jawaban: B
Bagaimana penatalaksanaan awal pada pasien ini?
Tentukan derajat obstruksi jalan nafas
Kortikosteroid
Antibiotik intravena
Mukolitik
Biopsi laring
Jawaban: A
Instrumen Penilaian Kompetensi Psikomotor
PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR TRAKEOSTOMI
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.:
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
NAMA PESERTA: ............................ TANGGAL:.................................
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||||
II. PROSEDUR OPERASI | |||||
Nama
Diagnosis
Informed Choice & Informed Consent
Rencana Tindakan
Persiapan Sebelum Tindakan
Evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi operasi
Pastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan esensial untuk prosedur Trakeostomi telah tersedia dan lengkap
Trakeotomi dapat dilakukan dengan anestesi lokal maupun umum.
Posisi penderita tidur telentang, kepala hiperektensi (punggung diganjal bantal).
Desinfeksi betadin daerah operasi dan sekitarnya, lapangan operasi dipersempit dengan doek steril.
Infiltrasi lidokain epinefrin di daerah operasi untuk anestesi dan vasokonstriksi.
Insisi secara vertikal (atau horisontal) antara kartilago tiroid sampai batas atas suprasternal, lapangan operasi diperlebar dengan retraktor.
Insisi di garis tengah dipisahkan (diperdalam) lapis demi lapis, hati-hati terhadap vena jugularis anterior, arteri tiroidea ima, kelenjar tiroid (ismus tiroid dapat diklem dipotong selanjutnya diligasi/kauter atau disisihkan ke atas atau ke bawah).
Identifikasi krikoid dan trakea dengan punksi percobaan (bila mengenai lumen trakea ditandai udara masuk dalam spuit).
Trakea dikait di tempat punksi percobaan, selanjutnya dilakukan insisi trakea pada ring kedua dan ketiga dari arah inferior ke superior.
Kanul trakea diinsersikan secara gentle dan dilakukan tes benang (bila kanul trakea masuk dalam lumen trakea, maka benang akan bergerak dihembus oleh udara pernapasan lewat kanul).
Kanul trakea difiksasi dengan meniup balon kanul, jahitan pada kulit leher, dan pita leher.
Luka operasi yang terlalu lebar dapat dijahit secara longgar, terakhir ditutup dengan kasa, anak kanul dipasang.
Operasi selesai.
III. PASCA OPERASI
Observasi pasase kanul, perdarahan, tekanan darah, suhu dan nadi secara teratur
Mencegah terjadinya dehidrasi
Pemberian antibiotik segera setelah operasi
KEGIATAN | KASUS | ||||
d. Mencegah terjadinya komplikasi pasca operasi | |||||
IV. PERAWATAN PASCA TRAKEOSTOMI
Perawatan kanul
Perawatan komplikasi
Bila fiksasi menggunakan balon, maka balon dikempiskan dalam 24 jam.
Jahitan fiksasi kulit leher diangkat sebelum penderita dipulangkan atau pada hari ke-5.
Penderita diedukasi cara perawatan kanul dan anak kanul serta tindakan pertama bila kanul buntu total atau salah posisi
Prosedur Dekanulasi
DAFTAR TILIK
Penilaian Kinerja Keterampilan (ujian akhir) DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA PROSEDUR TRAKEOSTOMI
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini:
: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau
panduan standar
X : Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
T/T : Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
NAMA PESERTA: .............................. TANGGAL:.................................
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||||
II. PROSEDUR OPERASI | |||||
Nama
Diagnosis
Informed Choice & Informed Consent
Rencana Tindakan
Persiapan Sebelum Tindakan
Evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi operasi
Pastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan esensial untuk prosedur Trakeostomi telah tersedia dan lengkap
Trakeotomi dapat dilakukan dengan anestesi lokal maupun umum.
Posisi penderita tidur telentang, kepala hiperektensi (punggung diganjal bantal).
Desinfeksi betadin daerah operasi dan sekitarnya, lapangan operasi dipersempit dengan doek steril.
Infiltrasi lidokain epinefrin di daerah operasi untuk anestesi dan vasokonstriksi.
KEGIATAN | KASUS | ||||
III. PASCA OPERASI | |||||
IV. PERAWATAN PASCA TRAKEOSTOMI | |||||
Insisi secara vertikal (atau horisontal) antara kartilago tiroid sampai batas atas suprasternal, lapangan operasi diperlebar dengan retraktor.
Insisi di garis tengah dipisahkan (diperdalam) lapis demi lapis, hati-hati terhadap vena jugularis anterior, arteri tiroidea ima, kelenjar tiroid (ismus tiroid dapat diklem dipotong selanjutnya diligasi/kauter atau disisihkan ke atas atau ke bawah).
Identifikasi krikoid dan trakea dengan punksi percobaan (bila mengenai lumen trakea ditandai udara masuk dalam spuit).
Trakea dikait di tempat punksi percobaan, selanjutnya dilakukan insisi trakea pada ring kedua dan ketiga dari arah inferior ke superior.
Kanul trakea diinsersikan secara gentle dan dilakukan tes benang (bila kanul trakea masuk dalam lumen trakea, maka benang akan bergerak dihembus oleh udara pernapasan lewat kanul).
Kanul trakea difiksasi dengan meniup balon kanul, jahitan pada kulit leher, dan pita leher.
Luka operasi yang terlalu lebar dapat dijahit secara longgar, terakhir ditutup dengan kasa, anak kanul dipasang.
Operasi selesai.
Observasi pasase kanul, perdarahan, tekanan darah, suhu dan nadi secara teratur
Mencegah terjadinya dehidrasi
Pemberian antibiotik segera setelah operasi
Mencegah terjadinya komplikasi pasca operasi
Perawatan kanul
Perawatan komplikasi
Bila fiksasi menggunakan balon, maka balon dikempiskan dalam 24 jam.
Jahitan fiksasi kulit leher diangkat sebelum penderita dipulangkan atau pada hari ke-5.
Penderita diedukasi cara perawatan kanul dan anak kanul serta tindakan pertama bila kanul buntu total atau salah posisi
Prosedur Dekanulasi
MATERI PRESENTASI
Slide 1: Sumbatan Jalan Nafas Atas
Slide 2: Definisi & Ruang Lingkup
Slide 3: Etio-patofisiologi Sumbatan Jalan Nafas Atas
Slide 4: Trakeostomi
Slide 5: Algoritma dan Prosedur
MATERI BAKU
Sumbatan Jalan Napas Atas
Definisi
Kondisi terbuntunya jalan napas atas baik sebagian/parsial maupun keseluruhan yang menyebabkan terjadinya gangguan ventilasi.
Ruang lingkup
Faktor Risiko
Penderita tumor/infeksi di orofaring maupun laring.
Etiologi
Tertutupnya jalan napas atas karena tumor, benda asing atau infeksi terutama di daerah orafaring dan laring.
Diagnosis
Anamnesis :
Penderita mengeluh sesak napas memberat disertai dengan bunyi napas seperti orang ngorok, tidak dapat berkomunikasi dengan baik serta gangguan kesadaran.
Pemeriksaan fisik :
Didapatkan adanya cuping hidung yang bergerak saat inspirasi, disertai cekungan pada supraklavikula, interkosta, dan epigastrial.
Pemeriksaan penunjang : Pemeriksaan radiologi :
X-foto leher AP dan lateral (jaringan lunak)
CT-Scan kepala & leher (dengan dan tanpa kontras)
Terapi
Oksigenasi
Medikamentosa (bila kausanya infeksi)
Trakeotomi (pada kasus tumor)
Tindak Lanjut
Konservatif bila dengan medikamentosa menunjukkan perbaikan (kasus infeksi) dan operatif bila sesak napas memberat/permanen (kasus tumor).
Prosedur Trakeostomi
Kompetensi
Dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai keterampilan trakeostomi (teori, indikasi, prosedur dan komplikasi). Selama pendidikan pernah melihat atau menjadi asisten, dan pernah menerapkan keterampilan ini di bawah supervisi serta memiliki pengalaman untuk menggunakan dan menerapkan keterampilan trakeostomi dalam praktik mandiri.
Definisi
Trakeostomi adalah tindakan mengiris/membuat lubang pada trakea.
Indikasi
Mengatasi sumbatan jalan napas atas, yang dapat disebabkan oleh :
Infeksi saluran napas (epiglotitis akut, laringotrakeobronkitis akut)
Trauma daerah kepala leher
Tumor jinak maupun ganas daerah faring, laring, esofagus
Kelainan kongenital saluran napas atas
Abduktor paralisis bilateral
Benda asing jalan napas
Mengeluarkan sekret dari trakeobronkial (bronkopnemoni, bronkiektasis, koma, …)
Menunjang pemberian napas bantuan (emfisema paru, paralisis otot napas,
…)
Mencegah aspirasi (operasi bedar daerah kepala leher, kelumpuhan laring)
Teknik Operasi
Trakeotomi dapat dilakukan dengan anestesi lokal maupun umum.
Posisi penderita tidur telentang, kepala hiperektensi (punggung diganjal bantal).
Desinfeksi betadin daerah operasi dan sekitarnya, lapangan operasi dipersempit dengan doek steril.
Infiltrasi lidokain epinefrin di daerah operasi untuk anestesi dan vasokonstriksi.
Insisi secara vertikal (atau horisontal) antara kartilago tiroid sampai batas atas suprasternal, lapangan operasi diperlebar dengan retraktor.
Insisi di garis tengah dipisahkan (diperdalam) lapis demi lapis, hati-hati terhadap vena jugularis anterior, arteri tiroidea ima, kelenjar tiroid (ismus tiroid dapat diklem dipotong selanjutnya diligasi/kauter atau disisihkan ke atas atau ke bawah).
Identifikasi krikoid dan trakea dengan punksi percobaan (bila mengenai lumen trakea ditandai udara masuk dalam spuit).
Trakea dikait di tempat punksi percobaan, selanjutnya dilakukan insisi trakea pada ring kedua dan ketiga dari arah inferior ke superior.
Kanul trakea diinsersikan secara gentle dan dilakukan tes benang (bila kanul trakea masuk dalam lumen trakea, maka benang akan bergerak dihembus oleh udara pernapasan lewat kanul).
Kanul trakea difiksasi dengan meniup balon kanul, jahitan pada kulit leher, dan pita leher.
Luka operasi yang terlalu lebar dapat dijahit secara longgar, terakhir ditutup dengan kasa, anak kanul dipasang.
Operasi selesai.
Komplikasi operasi
Perdarahan
Infeksi
Emfisema subkutis
Pnemotoraks
Pnemomediastinum
Fistula trakeoesofagal
Obstruksi kanul
Kanul salah posisi
Problem menelan
Henti jantung/napas
Fistula trakeokutan
Terbentuk granuloma
Stenosis trakea
Kesulitan dekanulasi
Tindak lanjut pasca operasi
Penderita dirawat selama 5 hari.
Selama dirawat dilakukan perawatan kanul dan anak kanul serta observasi ada tidaknya komplikasi.
Bila fiksasi menggunakan balon, maka balon dikempiskan dalam 24 jam.
Jahitan fiksasi kulit leher diangkat sebelum penderita dipulangkan atau pada hari ke-5.
Penderita diedukasi cara perawatan kanul dan anak kanul serta tindakan pertama bila kanul buntu total atau salah posisi.
Instrumen yang diperlukan
Pisau bedah no.11 dan 15
Pemegang pisau
Gunting bedah tumpul/tumpul, panjang dan agak lengkung (Metzenbum)
Pinset chirurgi
Klem arteri (Mosquito)
Klem kocher
Pemegang jarum
Jarum dan benang (untuk jaringan subkutan: benang catgut/chromic catgut/Vicryl 3.0 dengan jarum round type ½; untuk kulit: benang sutra/nilon 3.0 dengan jarum cutting type)
Kait tajam
Tripot (retractor trakea)
Kanul trakea
Referensi:
Myers EN. Tracheostomy. In : EN Myers, ed. Operative Otolaryngology Head and Neck Surgery vol. 1. WB Saunders. Philadelphia. 2014, pp. 293- 305
Goldsmith AJ, Wynn R. Upper airway obstruction. In: Lucente FE, Har- el.eds. Essential of otolaryngology 5th ed. Lippincott Williams & Wilkins. Philadelphia, 2004; 257-61.
Burkey BB. Airway Control and Laryngotracheal Stenosis in Adults. In : JJ Ballenger, ed. Diseases of the Nose, Throat, Ear, Head and Neck. 17th Ed.
Lea & Febiger. Philadelphia. 2009, pp. 903-12
Kost KM. Tracheotomy & Intubation. In : BJ Bailey, et al., eds. Head and Neck Surgery – Otolaryngology.Vol 2. 5th Ed. Philadelphia. Lippincott Williams & Wilkins. 2014, pp. 908-944
Yu KCY. Airway Management & Tracheotomy. In : AK Lalwani, ed. Current Diagnosis & Treatment in Otolaryngology – Head and Neck Surgery. International Edition. McGraw-Hill, Boston, 2012. pp. 536-42
Woodson G. The Larynx. In : KJ Lee, ed. Essential Otolaryngology Head and Neck Surgery, 10th Ed. McGraw-Hill, New York. 2012, pp. 529-56
Bhatti, NI. Surgical Management of the Difficult Adult Airway. In : Cummings Otolaryngology Head and Neck Surgery. 5th ed. Philadelphia.2010.pp 122-29
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
WAKTU 1
PERSIAPAN SESI 1
REFERENSI 1
KOMPETENSI 1
GAMBARAN UMUM 2
CONTOH KASUS 2
TUJUAN PEMBELAJARAN 3
METODA PEMBELAJARAN 3
EVALUASI 3
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF 4
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR 7
DAFTAR TILIK 9
MATERI PRESENTASI 11
MATERI BAKU 14
ALGORITMA DAN PROSEDUR 18
MODUL IV.14
LARING-FARING – ABSES RUANG LEHER DALAM
WAKTU
Proses Pengembangkan Kompetensi | Alokasi Waktu : |
Sesi di dalam kelas Sesi Pratikum Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi | 7 X 60 menit (classroom session) 2 X 60 menit (coaching session) 28 X 60 menit (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi presentasi : Abses Ruang Leher Dalam
Slide 1 : Definisi dan Ruang Lingkup
Slide 2 : Drainase abses ruang retrofaring dan ruang bahaya
Slide 3 : Drainase abses ruang parafaring (ruang faringo maksila) dan ruang viscera vaskuler
Slide 4 : Drainase abses ruang submandibula
Slide 5 : Drainase abses ruang masticator
Slide 6 : Drainase abses ruang peritonsil
Slide 7 : Drainase abses ruang temporal
Slide 8 : Drainase abses ruang viscera anterior (ruang pre trakea)
Slide 9 : Algoritma dan Prosedur
Kasus : Abses ruang leher dalam
Sarana dan Alat Bantu Latih :
Model Anatomi, Video, hewan
Penuntun belajar (learning guide)
Tempat belajar (training setting) : bangsal THT-KL, Poliklinik THT-KL, kamar operasi, bangsal perawatan pasca bedah THT-KL, Unit Gawat Darurat, Intensive Care Unit
REFERENSI
Bailey BJ. Head and Neck Surgery – Otolaryngology, Third Edition, Lippincott Williams & Wilkins, Philadelphia, 2001, 702 – 715.
Lore JM, Medina JE. An Atlas of Head and Neck Surgery, Fourth Edition, Elsevier Inc, W.B Saunders, Philadelphia, 2005, 854 - 855.
KOMPETENSI
Kompetensi Umum
Mampu mendiagnosis abses ruang leher dalam berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang diperlukan (foto polos leher AP dan lateral/ CT scan leher, pungsi aspirasi).
Mampu mendiagnosis abses ruang leher dalam yang meliputi abses di daerah di ruang potensial leher yang meliputi:
Ruang sepanjang leher
Ruang retrofaring
Ruang bahaya (danger space)
Ruang prevertebral
Ruang viscera vaskuler
Ruang terbatas diatas tulang hyoid
Ruang faringomaksila / ruang parafaring
Ruang submandibula
Ruang parotis
Ruang mastikator
Ruang peritonsil
Ruang temporal
Ruang terbatas dibawah tulang hyoid
Ruang viscera anterior / ruang pre trakea
Mampu melakukan tatalaksana serta merujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi bila diperlukan.
Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam :
Menjelaskan anatomi, histologi, fisiologi fasial leher dan ruang leher dalam
Menjelaskan etiologi, macam-macam abses ruang leher dalam
Menjelaskan patofisiologi, gambaran klinis dari abses ruang leher dalam
Membuat diagnosis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan.
Menjelaskan dan melakukan pemeriksaan penunjang yaitu pemeriksaan foto leher AP/lateral, CT scan leher/ pungsi aspirasi.
Menjelaskan dan melaksanakan penatalaksanaan abses ruang leher dalam
Memberikan terapi antibiotik empirik sambil menunggu hasil kultur dan tes sensitivitas
Melakukan work-up pada penderita abses leher dalam (follow-up selanjutnya)
GAMBARAN UMUM
Perkembangan antibiotika menurunkan insiden dan angka kematian dari abses ruang leher dalam. Antibiotik juga merubah penyebab dan penanganan penyakit ini. Meski masih dianggap penyakit dibidang bedah, beberapa infeksi dini memberi respon pada pemberian antibiotik saja. Meskipun demikian, abses dari ruang leher dalam tetap membahayakan jiwa. Keterlambatan diagnosis atau pengobatan yang tidak memadai atau tidak tepat dapat menjurus pada komplikasi yang mengerikan, seperti mediastinitis, yang mempunyai angka kematian sampai 40 %. Ahli bedah kepala dan leher harus mempunyai pengetahuan yang tepat mengenai fasia leher dan ruang potensial yang dibatasinya untuk memahami penatalaksanaan dan komplikasi penyakit ini.
CONTOH KASUS
Seorang laki-laki usia 35 tahun datang ke UGD dengan keluhan nyeri telan sejak 4 hari yang lalu, makin lama keluhan makin berat disertai demam. Penderita mengeluh tidak bisa makan dan minum. Sejak 1 hari yang lalu, suara penderita berubah seperti menggumam dan tidak bisa buka mulut. Tidak ada sesak napas.
TUJUAN PEMBELAJARAN
Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan menatalaksana abses ruang leher dalam seperti yang telah disebutkan diatas, yaitu :
Menguasai anatomi, fisiologi fasial leher dan ruang leher dalam
Mampu menjelaskan etiologi, patofisiologi dan gambaran klinis abses ruang leher dalam
Membuat diagnosis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan.
Menjelaskan dan melakukan pemeriksaan penunjang yaitu pemeriksaan foto leher AP/lateral, CT scan leher/ pungsi aspirasi.
Menjelaskan dan melaksanakan penatalaksanaan abses ruang leher dalam
Memberikan terapi antibiotik empirik sambil menunggu hasil kultur dan tes sensitivitas
Melakukan work-up pada penderita abses leher dalam (follow-up selanjutnya)
METODA PEMBELAJARAN
Interactive lecture
Small group discussion
Peer assisted learning (PAL)
Bedside teaching
Task based medical education
Interactive lecture
Journal reading and review
Case simulation and investigation exercise
Equipment characteristics and operating instructions
Case study
Demonstration and coaching
Simulation and real examination exercises (physical and device)
Operative procedure demonstration and coaching
Practice with real clients
Continuing professional development
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan, yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pre-test terdiri atas :
Anatomi, fisiologi dan patologi fasial leher dan ruang leher dalam
Penegakan diagnosa
Penatalaksanaan
Follow up
Selanjutnya dilakukan “small group discussion” bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal
yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian.
Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk role-play dengan teman-temannya (Peer Assisted Learning) atau SP (Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assisted Evaluation). Setelah dianggap memadai, melalui metoda bedside teaching di bawah pengawasan fasilitator, peserta didik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan, evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut:
Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan.
Cukup : pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terlalu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien.
Baik : pelaksanaan benar dan baik (efisien)
Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
Self assessment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar.
Pendidik / fasilitator :
Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form
(terlampir).
Penjelasan lisan dari peserta didik / diskusi.
Kriteria penilaian keseluruhan : cakap / tidak cakap / lalai.
Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education)
Pencapaian pembelajaran :
Ujian akhir OSCA (K, P, A), dilakukan pada tahapan THT-KL dasar oleh Kolegium Ilmu THT-KL.
Ujian akhir stase, setiap divisi/unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan.
Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan THT-KL lanjut oleh Kolegium Ilmu THT-KL.
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Kuesioner Sebelum Pembelajaran
In adult, what is the most common cause of deep neck space infection?
Odontogenic source
Foreign bodies
Spread of superficial infections
Surgical wound infections
Congenital deformities Jawaban : A
The clinical presentation of deep neck space infections does not include which of the following?
Fever and pain
Localized maculopapular rash
Localized swelling
Ptosis and contraction of the ipsilateral pupil
Dysphagia and odynophagia Jawaban : B
What is the proper management of descending necrotizing mediastinitis?
Antibiotics and observation
Cervical drainage and observation
Cervical drainage and antibiotics
Thoractomy alone
Thoractomy and antibiotics Jawaban : E
Radiographic findings characteristic of retropharyngeal abscesses include all but which of the following?
Reversal of the normal cervical contour
Air in the prevertebral soft tissue
Tuberculous erosion of the cervical vertebra
Posterior pharyngeal soft tissue thicker than 7 mm at the sixth cervical vertebra
Fluid collectin in the retropharyngeal Jawaban : D
Which of the following is true of Ludwig’s angina?
It involves only the sublingual space
It result in anterior protrustion of the tongue
It is characterized by boardlike firmness of the floor of the mouth
It rarely cause airway compromise
It necessitates identification and drainage of the abscess cavity Jawaban : C
Kuesioner Akhir Pembelajaran
Datang seorang laki – laki usia 28 tahun, dengan keluhan nyeri menelan. Nyeri dirasakan sejak ± 3 hari yang lalu, makin lama makin berat, diderati demam. Pasien juga mengeluh suaranya sengau. Pada pemeriksaan fisik ditemukan nyeri tekan (+) di leher kiri, pembesaran KGB, fluktuasi (+). Pemeriksaan orofaring ditemukan tonsil terdorong kontralateral hiperemis, tonsil T3 / T3, detritus (+).
Diagnosis apa kemungkinan pada pasien tersebut diatas?
Abses submandibula
Abses parafaring
Abses retrofaring
Abses peritonsil
Abses tonsil Jawaban : D
Penanganan apa yang sebaiknya dilakukan pertama kali?
Antibiotik
Antibiotik, Anti-inflamasi
Antibiotik, Analgesik, Anti-inflamasi
Insisi
Insisi, Drainase
Jawaban : E
Diagnosis tersebut diatas dapat menyebabkan mediastinitis melalui………..
Abses meluas ke bawah
Penjalaran secara hematogen
Aspirasi dari abses peritonsil yang pecah
Emboli paru
Carotis Seath
Jawaba : E
Hasil terbanyak biakan kuman dari pus pemeriksaan pada pasien tersebut diatas adalah…..
Pseudomonas aeruginosa
Kombinasi banyak kuman
Kuman gram positif
Kuman gram negatif
Kuman aerob Jawaban : B
Infeksi pada kasus tersebut diatas kemungkinan terbesar disebabkan
Virus EBV
H. Influenza
S. Pyogenes
S. Pneumonia
Catarrhalis
Jawaban : C
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR
Penuntun Belajar
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :
1. Perlu perbaikan langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan
yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
2. Mampu
langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi diluar normal.
3. Mahir
langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
4. T/D
Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan).
Prosedur Drainase Abses Ruang Leher Dalam
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR | |||||
III. PROSEDUR | |||||
Drainase eksternal yaitu melalui fosa sub maksilaris | |||||
Nama
Diagnosis
Informed Choice & Informed Consent
Rencana Tindakan
Persiapan Sebelum Tindakan
Pastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan esensial untuk prosedur drainase abses ruang leher dalam telah tersedia dan lengkap, yaitu :
Alat : sesuai dengan tindakan operasi
Bahan : sesuai dengan tindakan operasi
Obat : cairan, antibiotik, obat premedikasi, obat anestesi, lainnya
Abses ruang retrofaring dan ruang bahaya
Posisi penderita : berbaring terlentang, posisi Rose untuk mencegah aspirasi pus.
Insisi melalui pendekatan trans oral, untuk menghindari terlihatnya jaringan parut dan kontaminasi jaringan lain di leher.
Abses ruang parafaring (ruang faringo maksila) dan ruang viscera vaskuler
submandibula, dan digunakan untuk diseksi secara tumpul sepanjang venter posterior otot digastrikus ke dalam ke apeks mastoid, ke arah prosesus stiloid yang terletak didalam ruang parafaring. hyoid merupakan pedoman inferior penting yang tetap. |
Insisi bentuk T atau hanya insisi horisontal yang lebih kosmetis
insisi horisontal sejajar dan dibawah mandibula
insisi vertikal sepanjang tepi depan otot sternokleidomastoid
Selubung karotis ditelusuri untuk menemukan rongga abses. Jari operator dimasukkan dibawah kelenjar
Dipasang drain terpisah dibagian superior dan inferior ruang yang telah dibuka. Ujung kornu majus tulang
Abses ruang submandibula
Abses lidah dan dasar mulut yang berada di submental space (Ludwig’s angina).
Insisi horisontal dibuat sepanjang tepi bawah massa (A).
Lipatan kulit atas yang sangat terbatas dibuat untuk mengidentifikasi raphe mylohyoid. Insisi vertikal dibuat sepanjang raphe (B).
Rongga abses dimasuki dengan menggunakan klem bengkok. Otot geniohyoid dapat diidentifikasi dan dipisahkan (C).
Drain Penrose kecil dimasukkan. Dilakukan penutupan otot platysma pada tepi insisi (D).
Abses leher lateral
Insisi kulit pendek dan horizontal dilakukan jika mungkin pada lipatan kulit alamiah, pada titik yang paling menonjol (E).
Lipatan kulit atas yang sangat terbatas dilakukan untuk mengidentifikasi tepi depan otot sternocleidomastoid. Insisi dilakukan sepanjang tepi depan ini (F).
Klem bengkok dimasukkan ke dalam rongga abses. Ini dapat meluas sampai dibawah mandibula. Harus dihindarkan arah yang salah (G).
Drain Penrose kecil dimasukkan. Dilakukan penutupan otot platysma pada tepi insisi (H).
Abses ruang mastikator
Insisi dibawah mandibula sampai mencapai periosteum.
Diseksi secara tumpul dilakukan disisi superfisial dan
dalam mandibula. - Jika abses tidak terlokalisir, diperlukan insisi yang lebih lebar. |
Abses ruang peritonsil
Pilihan : aspirasi jarum, insisi dan drainase atau tonsilektomi segera
Aspirasi atau insisi dan drainase dapat dilakukan setelah anestesi topikal dan infiltrasi, tetapi kadang memerlukan anestesi umum.
Aspirasi dengan jarum spinal 18 G atau insisi dilakukan pada daerah yang paling fluktuatif.
Setelah insisi, rongga abses dibuka lebar dengan menggunakan hemostat panjang.
Jika gagal dengan drainase dan antibiotik (jarang), dianjurkan tonsilektomi.
Abses ruang temporal
Drainase eksternal
Insisi kira-kira 3 cm dibelakang kantus lateral atau insisi kening horisontal.
Harus dilakukan drainase kompartemen superfisial dan dalam.
Abses ruang viscera anterior (ruang pre trakea)
Drainase eksternal
Insisi : - Jika abses terlokalisir dengan jelas, insisi di area yang menonjol.
DAFTAR TILIK
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan status kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini :
✓
X
Memuaskan
T/D
langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
Tidak langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai
Memuaskan dengan prosedur atau panduan standar
Tidak langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan
Diamati oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
Penilaian Kinerja Keterampilan (ujian akhir) Prosedur Drainase Abses Ruang Leher Dalam
KEGIATAN | NILAI | |||
1. | Persiapan Prosedur | |||
1. Alat : sesuai dengan tindakan operasi | ||||
2. Bahan : sesuai dengan tindakan operasi | ||||
3. Obat : cairan, antibiotik, obat premedikasi, obat anestesi, | ||||
lainnya | ||||
2. | Prosedur | |||
Drainase eksternal yaitu melalui fosa sub maksilaris submandibula, dan digunakan untuk diseksi secara tumpul sepanjang venter posterior otot digastrikus ke dalam ke apeks mastoid, ke arah prosesus stiloid yang terletak didalam ruang parafaring. hyoid merupakan pedoman inferior penting yang tetap. | ||||
Abses ruang retrofaring dan ruang bahaya
Posisi penderita : berbaring terlentang, posisi Rose untuk mencegah aspirasi pus.
Insisi melalui pendekatan trans oral, untuk menghindari terlihatnya jaringan parut dan kontaminasi jaringan lain di leher.
Abses ruang parafaring (ruang faringo maksila) dan ruang viscera vaskuler
Insisi bentuk T atau hanya insisi horisontal yang lebih kosmetis
insisi horisontal sejajar dan dibawah mandibula
insisi vertikal sepanjang tepi depan otot sternokleidomastoid
Selubung karotis ditelusuri untuk menemukan rongga abses. Jari operator dimasukkan dibawah kelenjar
Dipasang drain terpisah dibagian superior dan inferior ruang yang telah dibuka. Ujung kornu majus tulang
Abses ruang submandibula
Abses lidah dan dasar mulut yang berada di submental space (Ludwig’s angina).
Insisi horisontal dibuat sepanjang tepi bawah massa (A).
Lipatan kulit atas yang sangat terbatas dibuat untuk mengidentifikasi raphe mylohyoid. Insisi vertikal dibuat sepanjang raphe (B).
Rongga abses dimasuki dengan menggunakan klem bengkok. Otot geniohyoid dapat diidentifikasi dan dipisahkan (C).
Drain Penrose kecil dimasukkan. Dilakukan penutupan otot platysma pada tepi insisi (D).
Abses leher lateral
Insisi kulit pendek dan horizontal dilakukan jika mungkin pada lipatan kulit alamiah, pada titik yang paling menonjol (E).
Lipatan kulit atas yang sangat terbatas dilakukan untuk mengidentifikasi tepi depan otot sternocleidomastoid. Insisi dilakukan sepanjang tepi depan ini (F).
Klem bengkok dimasukkan ke dalam rongga abses.
Ini dapat meluas sampai dibawah mandibula. Harus dihindarkan arah yang salah (G). - Drain Penrose kecil dimasukkan. Dilakukan penutupan otot platysma pada tepi insisi (H). | ||||
- Jika abses tidak terlokalisir, diperlukan insisi yang lebih lebar. |
Abses ruang mastikator
Insisi dibawah mandibula sampai mencapai periosteum.
Diseksi secara tumpul dilakukan disisi superfisial dan dalam mandibula.
Abses ruang peritonsil
Pilihan : aspirasi jarum, insisi dan drainase atau tonsilektomi segera
Aspirasi atau insisi dan drainase dapat dilakukan setelah anestesi topikal dan infiltrasi, tetapi kadang memerlukan anestesi umum.
Aspirasi dengan jarum spinal 18 G atau insisi dilakukan pada daerah yang paling fluktuatif.
Setelah insisi, rongga abses dibuka lebar dengan menggunakan hemostat panjang.
Jika gagal dengan drainase dan antibiotik (jarang), dianjurkan tonsilektomi.
Abses ruang temporal
Drainase eksternal
Insisi kira-kira 3 cm dibelakang kantus lateral atau insisi kening horisontal.
Harus dilakukan drainase kompartemen superfisial dan dalam.
Abses ruang viscera anterior (ruang pre trakea)
Drainase eksternal
Insisi : - Jika abses terlokalisir dengan jelas, insisi di area yang menonjol.
MATERI PRESENTASI
Slide 1 : Definisi
Abses ruang leher dalam adalah abses yang terbentuk di dalam ruang (potensial) leher dalam.
Slide 2 : Ruang Lingkup
Abses di dalam ruang (potensial) leher dalam meliputi abses yang terbentuk di :
Ruang sepanjang leher
Ruang retrofaring
Ruang bahaya (danger space)
Ruang prevertebral
Ruang viscera vaskuler
Ruang terbatas diatas tulang hyoid
Ruang faringomaksila / ruang parafaring
Ruang submandibula
Ruang parotis
Ruang mastikator
Ruang peritonsil
Ruang temporal
Ruang terbatas dibawah tulang hyoid
Ruang viscera anterior / ruang pre trakea
Slide 3 : Drainase abses ruang retrofaring dan ruang bahaya
Posisi penderita : berbaring terlentang, posisi Rose untuk mencegah aspirasi pus.
Insisi melalui pendekatan trans oral, untuk menghindari terlihatnya jaringan parut dan kontaminasi jaringan lain di leher.
Slide 4 : Drainase abses ruang parafaring (ruang faringo maksila) dan ruang viscera Vaskuler
Drainase eksternal yaitu melalui fosa sub maksilaris
Insisi bentuk T atau hanya insisi horisontal yang lebih kosmetis
insisi horisontal sejajar dan dibawah mandibula
insisi vertikal sepanjang tepi depan otot sternokleidomastoid
Selubung karotis ditelusuri untuk menemukan rongga abses. Jari operator dimasukkan dibawah kelenjar submandibula, dan digunakan untuk diseksi secara tumpul sepanjang venter posterior otot digastrikus ke dalam ke apeks mastoid, ke arah prosesus stiloid yang terletak didalam ruang parafaring.
Dipasang drain terpisah dibagian superior dan inferior ruang yang telah dibuka. Ujung kornu majus tulang hyoid merupakan pedoman inferior
penting yang tetap.
Dikutip dari Lore J.M, Medina J.E2
Slide 5 : Drainase abses ruang submandibula
Slide 6 : Drainase abses ruang mastikator
Insisi dibawah mandibula sampai mencapai periosteum.
Diseksi secara tumpul dilakukan disisi superfisial dan dalam mandibula.
Slide 7 : Drainase abses ruang peritonsil
Pilihan : aspirasi jarum, insisi dan drainase atau tonsilektomi segera
Aspirasi atau insisi dan drainase dapat dilakukan setelah anestesi topikal dan infiltrasi, tetapi kadang memerlukan anestesi umum.
Aspirasi dengan jarum spinal 18 G atau insisi dilakukan pada daerah yang paling fluktuatif.
Setelah insisi, rongga abses dibuka lebar dengan menggunakan hemostat panjang.
Jika gagal dengan drainase dan antibiotik (jarang), dianjurkan tonsilektomi.
Slide 8 : Drainase abses ruang temporal
Drainase eksternal
Insisi kira-kira 3 cm dibelakang kantus lateral atau insisi kening horisontal.
Harus dilakukan drainase kompartemen superfisial dan dalam.
Slide 9 : Drainase abses ruang viscera anterior (ruang pre trakea)
Drainase eksternal
Insisi : - Jika abses terlokalisir dengan jelas, insisi di area yang menonjol.
- Jika abses tidak terlokalisir, diperlukan insisi yang lebih lebar.
Slide 10 : Algoritma dan Prosedur
History Physical examination
Secure airway Culture, IV antibiotics
CT Scan
No abscess
Clinical improvement?
Yes
Watch and wait 24 – 48 hours
Yes
Continue antibiotics,
± needle aspirations
Small abscess
Needle aspiration for culture and drainage
No
Impending complications?
No
Large abscess
Surgical incision and drainage
MATERI BAKU
Dikutip dari Bailey BJ 1
ABSES RUANG LEHER DALAM
Definisi
Abses ruang leher dalam adalah abses yang terbentuk di dalam ruang (potensial) leher dalam.
Ruang Lingkup
Abses di dalam ruang (potensial) leher dalam meliputi abses yang terbentuk di:
Ruang sepanjang leher
Ruang retrofaring
Ruang bahaya (danger space)
Ruang prevertebral
Ruang viscera vaskuler
Ruang terbatas diatas tulang hyoid
Ruang faringomaksila / ruang parafaring
Ruang submandibula
Ruang parotis
Ruang mastikator
Ruang peritonsil
Ruang temporal
Ruang terbatas dibawah tulang hyoid
Ruang viscera anterior / ruang pre trakea
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium, aspirasi untuk membedakannya dengan selulitis,
imaging (foto rontgen, CT scan, MRI, USG).
Penatalaksanaan
Tujuan pertama haruslah menjamin dan memelihara jalan nafas yang memadai. Kebanyakan penderita hanya memerlukan oksigen dan observasi ketat. Jika diperlukan jalan nafas buatan, intubasi endotrakea dapat sulit dilakukan karena abses merubah atau membuntu jalan nafas atas. Jika intubasi tidak mungkin dilakukan, dilakukan trakeotomi atau krikotirotomi. Terapi selanjutnya dimaksudkan untuk mengatasi infeksi dan mencegah komplikasi. Hapir selalu perlu perawatan inap.
Diambil spesimen untuk kultur darah, aspirasi abses dengan jarum untuk kultur, dan pemberian antibiotika. Resusitasi cairan sering diperlukan. Pada kebanyakan penderita, terapi medis saja tidak mencukupi, dan diperlukan drainase bedah.
Drainase bedah diindikasikan untuk penderita dengan abses atau ancaman terjadinya komplikasi, dan mereka yang keadaannya tidak membaik setelah pembelian antibiotik parenteral 48 jam. Ruang primer yang terkena dan perluasan ke ruang lainnya harus dibuka dan di drainase. Keberhasilan terapi bedah tergantung pada visualisasi yang bagus, kontrol pembuluh darah yang memadai, insisi luas, dan drainase terbuka.
Aspirasi pada abses yang kecil atau pemasangan kateter untuk aspirasi berulang dari abses yang lebih besar merupakan alternatif untuk insisi bedah dan drainase.
DRAINASE ABSES RUANG LEHER DALAM
Kompetensi
Dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai keterampilan drainase abses ruang leher dalam (konsep, teori, indikasi, cara melakukan dan komplikasi). Selama pendidikan pernah melihat atau pernah didemonstrasikan tindakan keterampilan drainase abses ruang leher dalam, dan pernah menerapkan keterampilan ini beberapa kali di bawah supervisi serta memiliki pengalaman untuk menggunakan dan menerapkan keterampilan drainase abses ruang leher dalam dalam konteks praktek secara mandiri (tingkat kemampuan keterampilan klinis 4).
Definisi
Suatu tindakan pembedahan mengeluarkan pus pada ruang potensial leher.
Ruang lingkup
Diharapkan seorang dokter PPDS I THT memiliki pengetahuan teoritis mengenai keterampilan drainase abses ruang leher dalam, pernah melihat atau pernah didemonstrasikan, pernah menerapkan keterampilan ini beberapa kali di bawah supervisi, serta memiliki pengalaman untuk menggunakan dan menerapkan dalam konteks praktek secara mandiri.
Indikasi operasi
Infeksi leher dalam yang tidak sembuh dengan terapi konservatif dan berkembang menjadi abses
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium, aspirasi untuk membedakannya dengan selulitis,
imaging (foto rontgen, CT scan, MRI, USG).
Teknik operasi
Menjelang pembedahan
Psikologi yaitu mengurangi kecemasan, menerangkan secara jelas keuntungan dan resiko selama dan setelah operasi. Menerangkan secara jelas apa saja tindakan yang akan dilakukan selama operasi.
Farmakologi, pasien diberi obat penenang 1 jam sebelum tindakan bedah, bila diperlukan.
Anestesi sesuai indikasi
Tahapan pembedahan
Abses ruang retrofaring dan ruang bahaya
Posisi penderita : berbaring terlentang, posisi Rose untuk mencegah aspirasi pus.
Insisi melalui pendekatan trans oral, untuk menghindari terlihatnya jaringan parut dan kontaminasi jaringan lain di leher.
Abses ruang parafaring (ruang faringo maksila) dan ruang viscera vaskuler
Drainase eksternal yaitu melalui fosa sub maksilaris
Insisi bentuk T atau hanya insisi horisontal yang lebih kosmetis
insisi horisontal sejajar dan dibawah mandibula
insisi vertikal sepanjang tepi depan otot sternokleidomastoid
Selubung karotis ditelusuri untuk menemukan rongga abses. Jari operator dimasukkan dibawah kelenjar submandibula, dan digunakan untuk diseksi secara tumpul sepanjang venter posterior otot digastrikus ke dalam ke apeks mastoid, ke arah prosesus stiloid yang terletak didalam ruang parafaring.
Dipasang drain terpisah dibagian superior dan inferior ruang yang telah dibuka. Ujung kornu majus tulang hyoid merupakan pedoman inferior penting yang tetap.
Abses ruang submandibula
Abses lidah dan dasar mulut yang berada di submental space (Ludwig’s angina).
Insisi horisontal dibuat sepanjang tepi bawah massa (A).
Lipatan kulit atas yang sangat terbatas dibuat untuk mengidentifikasi
raphe mylohyoid. Insisi vertikal dibuat sepanjang raphe (B).
Rongga abses dimasuki dengan menggunakan klem bengkok. Otot geniohyoid dapat diidentifikasi dan dipisahkan (C).
Drain Penrose kecil dimasukkan. Dilakukan penutupan otot platysma pada tepi insisi (D).
Abses leher lateral
Insisi kulit pendek dan horizontal dilakukan jika mungkin pada lipatan kulit alamiah, pada titik yang paling menonjol (E).
Lipatan kulit atas yang sangat terbatas dilakukan untuk mengidentifikasi tepi depan otot sternocleidomastoid. Insisi dilakukan sepanjang tepi depan ini (F).
Klem bengkok dimasukkan ke dalam rongga abses. Ini dapat meluas sampai dibawah mandibula. Harus dihindarkan arah yang salah (G).
Drain Penrose kecil dimasukkan. Dilakukan penutupan otot platysma pada tepi insisi (H).
Abses ruang mastikator
Insisi dibawah mandibula sampai mencapai periosteum.
Diseksi secara tumpul dilakukan disisi superfisial dan dalam mandibula.
Abses ruang peritonsil
Pilihan : aspirasi jarum, insisi dan drainase atau tonsilektomi segera
Aspirasi atau insisi dan drainase dapat dilakukan setelah anestesi topikal dan infiltrasi, tetapi kadang memerlukan anestesi umum.
Aspirasi dengan jarum spinal 18 G atau insisi dilakukan pada daerah yang paling fluktuatif.
Setelah insisi, rongga abses dibuka lebar dengan menggunakan hemostat panjang.
Jika gagal dengan drainase dan antibiotik (jarang), dianjurkan tonsilektomi.
Abses ruang temporal
Drainase eksternal
Insisi kira-kira 3 cm dibelakang kantus lateral atau insisi kening horisontal.
Harus dilakukan drainase kompartemen superfisial dan dalam
Abses ruang viscera anterior (ruang pre trakea)
Drainase eksternal
Insisi :
Jika abses terlokalisir dengan jelas, insisi di area yang menonjol.
Jika abses tidak terlokalisir, diperlukan insisi yang lebih lebar.
Komplikasi
Obstruksi jalan nafas khususnya pada Ludwig’s angina.
Pada diagnosa salah : aneurisma arteriosklerotik arteri karotis interna, khususnya pada abses submandibula.
Cedera pada saraf otak (VII, X, XII) dan pembuluh darah besar, pada drainase abses submandibula
Cedera pada saraf otak (IX sampai XII) atau pleksus simpatikus, pada drainase abses parafaring.
Perawatan pasca bedah
Penderita pada umumnya perlu di rawat inap.
Antibiotik
Penatalaksanaan komplikasi.
Follow-up
Penilaian keberhasilan pengobatan
Kepustakaan materi baku
Bailey BJ. Head and Neck Surgery – Otolaryngology, Third Edition, Lippincott Williams & Wilkins, Philadelphia, 2001, 702 – 715.
Lore JM, Medina JE. An Atlas of Head and Neck Surgery, Fourth Edition, Elsevier Inc, W.B Saunders, Philadelphia, 2005, 854 – 855
No
History
Physical examination
Secure airway
Culture, IV antibiotics
CT Scan
No abscess
Small abscess
Large abscess
Needle aspiration for culture and drainage
Watch and wait 24 – 48 hours
Impending complications?
Yes
Clinical improvement?
Yes
No
Surgical incision and drainage
Continue antibiotics,
± needle aspirations
Dikutip dari Bailey BJ 1
ALGORITMA DAN PROSEDUR
List of skill
Tahapan THT dasar
Persiapam pra operasi
Anamnesis
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan penunjang
Informend consent
Tahapan THT lanjut
Persiapan pra operasi
Anamnesis
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan penunjang
Informed consent
Melakukan operasi (bimbingan, mandiri)
Penanganan komplikasi
Follow-up dan rehabilitasi
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
WAKTU 1
PERSIAPAN SESI 1
REFERENSI 1
KOMPETENSI 2
GAMBARAN UMUM 2
CONTOH KASUS 2
TUJUAN PEMBELAJARAN 2
METODA PEMBELAJARAN 3
EVALUASI 3
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF 4
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR 6
DAFTAR TILIK 7
MATERI PRESENTASI 8
MATERI BAKU 30
MODUL IV.15
LARING-FARING – KELAINAN KONGENITAL LARING
WAKTU
Proses Pengembangkan Kompetensi | Alokasi Waktu : |
Sesi di dalam kelas Sesi Pratikum Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi | 6 X 60 menit (classroom session) 2 X 60 menit (coaching session) 25 X 60 menit (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi Kelainan Kongenital Laring meliputi :
Slide 1: Gejala dan Tanda Kelainan Kongenital Laring
Slide 2: Anamnesis & Pemeriksaan Kelainan Kongenital Laring
Slide 3: Pemeriksaan Penunjang Diagnostik
Slide 4: Faktor Resiko Kelainan Kongenital Laring
Slide 5: Clinical Decision Making dan Medikamentosa
Kasus : Kelainan kongenital laring
Seorang bayi laki2, 4 bulan datang ke poli THT-KL dengan keluhan: suaranafas berbunyi sejak lahir yang hilang timbul. Suara nafas 1 bulan ini menetap. Suara dan tangis relatif normal.
Sarana dan Alat Bantu Latih :
Model anatomi laring, video
Penuntun belajar (learning guide) terlampir
Tempat belajar (training setting): bangsal THT-KL, Poliklinik THT-KL, bangsal IKA, kamar operasi, bangsal perawatan pascabedah THT-KL.
REFERENSI
Lusk Rodney. Congenital Anomalies of the Larynx In : Ballenger’s Head and Neck Surgery-Otorhinolaryngology. Philadelphia, Lea & Febiger, 2009. 17th Ed pp.815-816
Dohar Joseph, Anne Samantha. Stridor Aspiration and Cough. In Bailey Head & Neck Surgery – Otolaryngology. Philadelphia, JB Lippincott Co. 2014. 5th Ed. pp.1338-1339
Paparella MM, Shumrick DA, Gluckman JL, Meyerhoff WL. Otolaryngology. Philadelphia. WB Saunders Co., 1991, chapter 13, pp. 333-42
Lee KJ. Essential Otolaryngology. Head & Neck Surgery. New York. McGraw Hill. 2012. 10th Ed, Chapter 22, pp. 551-552
KOMPETENSI
Kompetensi Umum
Mampu membuat diagnosis kelainan kongenital laring berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang diperlukan ( Laringoskopi Direk/ Fiber-Optic Laringoscopy (FOL)/ foto polos leher AP dan lateral/ CT scan leher)
Mampu melakukan tatalaksana serta merujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi bila diperlukan.
Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam :
Mengenali gejala dan tanda kelainan laring kongenital
Melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik kelainan laring kongenital
Melakukan keputusan untuk perlu tidaknya pemeriksaan penunjang seperti Laringoskopi Direk/ Fiber-Optic Laringoscopy (FOL)/ foto polos leher AP dan lateral/ CT scan leher
Mengenali faktor resiko kejadian kelainan laring kongenital
Mampu tatalaksana konservatif dan merujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi bila memerlukan tatalaksana operasi.
Deteksi dini dan tatalaksana penyulit yang mungkin terjadi pada kelainan laring kongenital.
GAMBARAN UMUM
Kelainan kongenital pada laring dapat berupa laringomalasia, stenosis subglotik, laryngeal web, hemangioma dan laryngeal cleft. Kelainan kongenital laring yang paling sering ditemukan adalah laringomalasia. Dua pertiga dari kasus stridor laring kongenital disebabkan oleh kelainan ini. Kelainan kongenital laring pada bayi dapat menyebabkan gejala sumbatan jalan nafas, suara tangis melemah sampai tidak ada sama sekali. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
CONTOH KASUS
Seorang bayi laki2, 4 bulan datang ke poli THT-KL dengan keluhan: suara nafas berbunyi sejak lahir yang hilang timbul. Suara nafas 1 bulan ini menetap. Suara dan tangis relatif normal.
TUJUAN PEMBELAJARAN
Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan menatalaksana kelainan kongenital laring seperti yang telah disebutkan diatas,yaitu:
Mengenali gejala dan tanda kelainan kongenital laring.
Melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik kelainan kongenital laring.
Melakukan keputusan untuk perlu tidaknya pemeriksan penunjang seperti
Laringoskopi Direk/ Fiber-Optic Laringoscopy (FOL)/ foto polos leher AP dan lateral/ CT scan leher.
Mengenali faktor resiko kejadian kelainan kongenital laring.
Mampu tatalaksana konservatif dan operasi.
Deteksi dini dan menatalaksana berbagai masalah dan penyulit yang mungkin terjadi pada kelainan kongenital laring.
METODA PEMBELAJARAN
Interactive lecture
Small group discussion
Peer assisted learning (PAL)
Bedside teaching
Task based medical education
Interactive lecture
Journal reading and review
Case simulation and investigation exercise
Equipment characteristics and operating instructions
Case study
Demonstration and coaching
Simulation and real examination exercises (physical and device)
Operative procedure demonstration and coaching
Practice with real clients
Continuing professional development
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dan post-test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest dan post-test terdiri atas :
Anatomi dan fisiologi laring
Penegakan diagnosa
Penatalaksanaan
Follow up
Selanjutnya dilakukan “small group discussion” bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal- hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian.
Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk role-play dengan teman-temannya (Peer Assisted Learning) atau SP (Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun
belajar yang dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assisted Evaluation). Setelah dianggap memadai, melalui metoda bedside teaching di bawah pengawasan fasilitator, peserta didik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan, evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut:
Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan.
Cukup : pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terlalu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien.
Baik : pelaksanaan benar dan baik (efisien)
Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
Self assessment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar.
Pendidik / fasilitator :
Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form
(terlampir).
Penjelasan lisan dari peserta didik / diskusi.
Kriteria penilaian keseluruhan : cakap / tidak cakap / lalai.
Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education)
Pencapaian pembelajaran :
Ujian akhir OSCA (K, P, A), dilakukan pada tahapan THT-
Ujian akhir stase, setiap divisi/unit kerja oleh masing-masing sentrapendidikan.
Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan THT-KL lanjutoleh Kolegium Ilmu THT-KL.
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Kuesioner awal pembelajaran
Seorang bayi baru lahir dengan stridor inspiratory “high pitched”menunjukkan adanya kelainan pada :
Daerah subglotik
Trakea
Nasofaring
Orofaring
Supraglotik
Jawaban: E
Kelainan di bawah ini yang merupakan kelainan kongenital laring adalah :
Papillomatosis laring
Hemangioma subglotik
Vocal nodule
Kista pita suara
Polip pita suara Jawaban: B
Kuesioner Akhir Pembelajaran
Seorang bayi perempuan berusia 8 bulan di bawa ke IGD dengan keluhan sesak napas sejak 3 hari yang lalu, disertai adanya stridor inspirasi dan retraksi ringan di suprasternal. Sesak berkurang bila penderita tidur miring atau memakai bantal. Tidak ada demam, tidak disertai gangguan bicara. Keluhan ini dirasakan sejak lahir dan sering kambuh. Kemungkinan diagnosanya adalah :
Stenosis subglotik
Hemangioma laring
Laryngeal web
Laringomalasia
Laryngeal cleft Jawaban: D
Pada kasus di atas, hasil pemeriksaan foto leher soft tissue menunjukkan adanya penyempitan di daerah laring, pemeriksaan penunjang lain yang terbaik untuk direncanakan adalah :
Naso-endoskopi
Foto thorak
Fiber-optic Laringoscopy
Esofagoskopi rigid
Bronkoskopi rigid Jawaban: C
Seorang bayi laki-laki, usia 3 minggu dating ke Poli THT-KL dengan keluhan adanya stridor biphasic yang semakin memberat, keluhan sesak memburuk bila bayi menangis. Hasil pemeriksaan radiologis menunjukkan kemungkinan suatu hemangioma subglotik. Tatalaksana yang paling baik untuk kasus ini adalah :
Steroid inhalasi
Pemberian epinephrine
Laser carbondioksida
Laser Nd:YAG
Injeksi steroid lokal Jawaban: C
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :
1. Perlu perbaikan langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan
yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
2. Mampu
langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi diluar normal.
3. Mahir
langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
4. T/D
Langkah tidak diamati (penilai menganggap
langkah tertentu tidak perlu diperagakan).
Penuntun Belajar Prosedur Pemeriksaan Laring
NAMA PASIEN | NO. REKAM MEDIK | |||||
PENUNTUN BELAJAR LARINGOSKOPI LANGSUNG | ||||||
NO | KEGIATAN/LANGKAH KLINIK | KESEMPATAN KE | ||||
1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
PERSIAPAN PRA-TINDAKAN | ||||||
1 | INFORMED CONSENT | |||||
2 | PEMERIKSAAN PENUNJANG | |||||
3 | PENDERITA PUASA | |||||
4 | MEMERIKSA DAN MELENGKAPI ALAT | |||||
5 | PERSIAPAN TINDAKAN | |||||
6 | CARA TIDUR PENDERITA DAN POSISI KEPALA | |||||
TINDAKAN | ||||||
1 | MEMASUKKAN LARINGOSKOP | |||||
2 | MEMASUKKAN TELESKOP | |||||
3 | EVALUASI LARING | |||||
PENUNTUN BELAJAR LARINGOSKOPI SERAT OPTIK (FOL) | ||||||
NO | KEGIATAN/LANGKAH KLINIK | KESEMPATAN KE | ||||
1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
PERSIAPAN PRA-TINDAKAN | ||||||
1 | INFORMED CONSENT | |||||
2 | PEMERIKSAAN PENUNJANG | |||||
3 | MEMERIKSA DAN MELENGKAPI ALAT | |||||
4 | PERSIAPAN TINDAKAN | |||||
5 | CARA DUDUK PENDERITA DAN POSISI KEPALA | |||||
TINDAKAN | ||||||
1 | MEMASUKKAN FIBRE OPTIC | |||||
2 | EVALUASI RONGGA HIDUNG | |||||
3 | EVALUASI NASOFARING | |||||
4 | EVALUASI LARING | |||||
DAFTAR TILIK
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan status kegiatan atau prosedur,dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini :
✓
Memuaskan
langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
X
Tidak Memuaskan
langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuaidengan prosedur atau panduan standar
T/D
Tidak Diamati
langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakanoleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
Penilaian Kinerja Keterampilan (ujian akhir) Prosedur Pemeriksaan Laring
KEGIATAN | NILAI | ||
Pemeriksaan Laringoskopi Langsung | |||
1. Persiapan tindakan | |||
2.Tindakan | |||
Pemeriksaan Laringoskopi Serat Optik (FOL) | |||
1. Persiapan tindakan | |||
2. Tindakan | |||
MATERI PRESENTASI
MATERI BAKU
KELAINAN KONGENITAL LARING
Definisi
Kelainan kongenital pada laring dapat berupa laringomalasia, stenosis subglotik kongenital, laryngeal web, hemangioma dan laryngeal cleft.
Frekuensi
Kelainan kongenital laring yang paling sering ditemukan adalah laringomalasia. Dua pertiga dari kasus stridor laring kongenital disebabkan oleh kelainan ini. Pada beberapa anak merupakan autosomaldominan lesion.
Ruang Lingkup
Kelainan kongenital laring yang menyebabkan sumbatan jalan nafas dan gangguan menelan.
LARINGOMALASIA
Definisi
Laringomalasia merupakan kelainan kongenital pada laring. Kondisi dimana laryngeal inlet kolaps pada saat inspirasi menyebabkan terjadinya stridor.
Etiologi
Etiologi pasti belum diketahui. Kemungkinan imaturitas dari neurologisatau struktural dari laring.
Pemeriksaan
Anamnesis:
Stridor selalu timbul saat anak menangis, menyusui atau dalam posisi terlentang dalam minggu pertama kehidupan. Stridor tidak menetap
,dapat hilang sesaat dan tidak lama kemudian sangat jelas.memburuk jika bayi terlentang dan membaik pada posisi tengkurap dan sering hilang jikabayi tidur. Suara dan tangis relatif normal.
GERD menunjukkan lebih sering terjadi sehubungan dengan laryngomalasia
Tanda GERD harus timbul termasuk meludah sering spit-ups, recurrent emesis and back arching setelah makan.
Pemeriksaan:
Pemeriksaan fisik: telinga, hidung dan tenggorok, daerah leher dan dada
Stridor inspirasi (high-pitched) dan cekungan suprasternal dan atau substernal timbul waktu lahir atau beberapa minggu kemudian menunjukkan obstruksi berat.
Laryngomalasia yang berat dapat menyebabkan hilangnya berat badan dan gagal tumbuh dapat dengan episode sianosis atau tidak.
Pneumonitis aspirasi, obstruktif sleep apneu dan sentral apneu.
Laringoskopia direkta
Flexible laryngoscope
Fiber Optic laryngoscope ditemukan gambaran klasik dari prolaps epiglottis “omega shape” dan “Falls backward saat inspirasi. Mobilitas pita suara normal, edema supraglotis. Bisa terjadi refluks
Pemeriksaan Penunjang:
Ro Thorak dan leher lateral
Terapi
Biasanya diobservasi akan hilang dalam 12 hingga 16 minggu
Epiglottoplasty endoscopic bila terjadi stridor memberat, corpulmonale dan gagal dalam perkembangan
Tindakan operasi secara endoskopi diindikasikan bila dicurigai adanya anomali lainnya atau stridor menjadi sangat berat dengan sianosis
Trakeostomi mungkin diperlukan bila bayi mengalami kesukaran bernafas sehubungan dengan infeksi saluran nafas atas
Tindak Lanjut
Laryngomalasia akan sembuh dengan spontan lebih dari 1-2 tahun awal kehidupan
STENOSIS SUBGLOTIK KONGENITAL
Stenosis subglottis merupakan penyebab terbanyak ke 3 timbulnya stridor pada neonatus setelah laringomalasia dan paralisis pita suara. Dikatakan stenosis apabila diameter lumen subglottis <4,0 mm pada level krikoid.
Stenosis subglottis kongenital biasanya disebabkan karena abnormalitas kartilago atau jaringan subglottis dimana terjadi kegagalan rekanalasi lumen laring. Kelainan ini biasanya terjadi pada fase embrional yang dapat pula disertai dengan atresia laring, stenosis laring, dan webs.
Stenosis subglottis sering mengakibatkan infeksi saluran nafas atas rekuren atau yang lebih dikenal dengan istilah croup. Pada anak-anak obstruksi paling berat terjadi bila terdapat sumbatan 2-3 cm di bawah pita suara.
Stenosis subglottis kongenital biasanya disertai oleh kelainan kongenital kepala dan leher yang lain (laring yang kecil pada syndrom Down).
Klasifikasi stenosis subglottis kongenital:
Berdasarkan histopatologi:
Membranous type:
Granulasi tissue
Submucosal gland hyperplasia
Submucosal fibrosis
Cartilaginous type
Cricoid cartilage deformity
Normal shape that is small for infant’s size
Abnormal shape
Large anterior lamina
Large posterior lamina
Generalized thickening
Elliptical shape
Submucosal cleft
Other congenital cricoid stenosis
Trapped first tracheal ring
Combined stenosis
Derajat stenosis laring (Myer-Cotton grading scale)
Grade | Laryngeal Lumen Obstruction |
I | < 50% |
II | 51% - 70% |
III | 71% - 99% |
IV | Complete obstruction |
Grade I dan II tidak memerlukan intervensi bedah.
c. Diagnosis:
Ditegakkan melalui pemeriksaan endoskopik (dengan bronkoskopi ataupun dengan bantuan ET). Dapat ditemukan scar, jaringan granulasi, penebalan submukosa, abnormalitas bentuk krikoid. Pemeriksaan radiografi meliputi foto cervical lateral yang diambil saat inspirasi dan ekspirasi, fluoroskopi untuk menilai laring dan trakea, serta foto thoraks. Pada stenosis subglottis terdapat gambaran steeple sign.
Gold standar adalah dengan dilakukannya laringoskopi dan tracheobronchoscopy dengan bius umum. Hal-hal penting yang perlu diperhatikan saat pemeriksaan endoskopi adalah:
Outer diameter dari bronkoskopi atau ET terbesar yang dapat melewati stenosis
Lokasi stenosis (glottis, supraglottis, trakea) dan panjang stenosis
Kelainan anomali lain yang menyertai (clefts, web, neoplasma).
d. Diagnosis banding:
Diagnosis banding dari stenosis laring dibuat berdasarkan semua kondisi yang menyebabkan stridor, dyspneu, dan distress napas. Stenosis laring kongenital dapat disebabkan oleh:
Laringomalasia
Vascular compression (e.g., arteri innominata, a.subclavia, vascular ring)
Paralisis pita suara
Bilateral (e.g., Chiari deformity)
Unilateral (e.g., traumatic post ductus ligation)
Hemangioma subglottic
Complete tracheal rings
Laryngeal cleft
Cri du chat syndrom
Laryngeal saccules, laryngoceles
Terapi Stenosis Laring:
Stenosis grade I dan II tidak memerlukan intervensi bedah, hanya diobservasi. Bila stenosis grade II menjadi simtomatik (menimbulkan distres nafas) maka dipertimbangkan intervensi bedah. KTP (potassium titanyl phospate) laser dan CO2 laser digunakan untuk lesi yang tipis. Komplikasi dari tindakan laser adalah kondritis, perikondritis, restenosis. Grade III-IV membutuhkan tindakan bedah.
Terapi bedah pada stenosis laring bertujuan untuk mendapatkan aliran oksigen yang dapat menjamin sirkulasi optimal:
Trakeostomi
Open procedure
Expansion procedure (one stage or with stent placement)
Anterior cricoid split with or without cartilage graft
Posterior cricoid split with or without cartilage graft
Anterior and posterior cricoid split with cartilage graft
Four quadrant LTR
Segmental resection (cricotracheal resection / CTR)
Primary CTR
Salvage CTR
Extended CTR – CTR with and expansion procedure, arytenoid lateralization or arytenoidectomy
Komplikasi tindakan bedah pada stenosis laring: perdarahan, pneumthorax, pneumomediastinum, trauma pada n.rekuren laring, infesi, keloid, restenosis, graft displacement, stent dislodgement, fistula tracheocutaneous, jaringan granulasi, kematian.
LARYNGEAL WEB
Paling banyak ditemukan pada bagian depan glottis, dengan berbagai macam ketebalan dan dapat meluas sampai daerah subglottis. Gejalanya bisa berupa stridor inspirasi atau biphasic, retraksi, a high-pitched or breathy voice, kesulitan makan karena keterbatasan pernafasan. Bayi paling sering mengeluhkan tidak ada suaranya. Diagnosis pasti dengan rigid mycrolaryngoscopy dan bronkoskopi.
Bila selaput menutup lebih dari 50% glottis maka memerlukan terapi pembedahan dengan bedah mikro laring. Bila selaput tebal atau bahkan sudah meluas maka perlu dilakukan trakeotomi terlebih dahulu. Koreksi formal dilakukan bila bayi berumur 6 bulan, baik dengan tirotomi eksternal, lisis internal dengan laser CO2.
HEMANGIOMA
Merupakan lesi yang jarang, primernya berasal dari submukosa. Sebanyak 50% berhubungan dengan hemangioma kulit. Hemangioma subglotik berkembang semakin besar ukurannya dan biasanya keluhan akan muncul dalam usia 8 minggu dan bermanifestasi sebelum berusia 6 bulan. Lesi
bisa meluas ke perikondrium dan cincin trakea. Keluhan gangguan pernafasan biasanya progresif dan menetap. Stridor terdengar palig jelas saat inspirasi, tetapi juga bisa muncul saat ekspirasi. Suara dapat terpengaruh tergantung keterlibatan daerah laring yang terkena. Bisa terjadi perubahan suara tangis, suara menjadi parau, barking cough.
Diagnosis dapat ditegakkan dengan foto leher lateral, endoskopi dapat menunjukkan kelainan ini meskipun tanpa dilakukan biopsi. Bila memang akan dilakukan biopsy maka saluran napas harus diamankan dahulu dengan trakeostomi.
Tatalaksana dapat dilakukan observasi dahulu dan ditunggu terjadi resolusi spontan, injeksi steroid, injeksi sklerosing agent, injeksi steroid sistemik, cryosurgery, radiasi eksternal, eksisi dengan laser, kalau perlu dilakukan trakeostomi.
LARYNGEAL CLEFT
Kelainan ini bisa terjadi sendiri atau bagian dari kelainan lain seperti Pallister-Hall syndrome, Opitz-G syndrome dan berhubungan dengan VACTERL. Laryngeal cleft menyebabkan aspirasi akibat sekunder dari adanya hubungan antara bagian posterior esophagus dengan bagian depan saluran nafas selama proses menelan. Suara terganggu akibat turbulensi aliran udara dan penumpukkan secret di daerah glottis. Fiber- optic laryngoscopy dapat menunjukkan adanya medialisasi arytenoid. Rigid mycrolaryngoscopy dan bronkoskopi diperlukan untuk mendiagnosa laryngeal cleft. Laryngeal cleft diklasifikasikan berdasarkan Benjamin-Inglis Classification :
Type I : cleft membuat cekungan interarythenoid yang dalam tanpamelibatkan krikoid posterior
Type II : cleft meluas sampai ke dalam krikoid tetapi tidak melewati krikoid
Type III : cleft meluas sampai melewati krikoid dan masuk trakeaservikal
Type IV : cleft meluas sampai trakea thorak atau bahkan masuk kebronkus
Tatalaksana :
Type I dan II : terapi GERD dan modifikasi diet
Type III dan IV : memerlukan tindakan operatif
PROSEDUR PEMERIKSAAN LARING
Butir-butir Penting
Pada pemeriksaan Laringoskopi Direkta diperlukan persiapan puasa dan dilakukan premedikasi. Posisi kepala penderita harus tepat supaya pelaksanaan tindakan dapat dilakukan dengan baik.
Pada pemeriksaan Fibre Optic Laryngoscope diperlukan kerjasama dengan penderita meskipun tindakan ini relatif tidak menyakitkan penderita.
Teknik Pemeriksaan
Laringoskopi Indirect
Pasien dalam posisi duduk tegak, dengan kepala ekstensi dan leher fleksi (sniffer’s posisition)
Pemeriksa duduk berhadapan dengan pasien dengan memakai lampu kepala
Pasien diminta untuk membuka mulut dan menjulurkan lidah, bagian anterior lidah dipegang oleh pemeriksa dengan menggunakan kain kassa.
Dimasukkan kaca laring hangat yang telah dipanaskan sebelumnya ke dalam rongga mulut melewati uvula dan bagian distal palatum mole. Suhu kaca laring haruslah diperiksa terlebih dahulu pada tangan pemeriksa sebelum dimasukkan ke dalam mulut pasien untuk mencegah terbakarnya mukosa mulut.
Alat pemeriksa diputar sampai pemeriksa mendapatkan visualisasi yang baik dari struktur laring dan hipofaring.
Pasien diminta mengucapkan “iii” untuk mengobservasi adduksi pita suara.
Bila pasien terlihat tersedak, maka pasien diminta untuk bernafas pelan sehingga palatum dapat rileks dan pemeriksaan dapat dilanjutkan.
Pasien yang sensitive dapat diberikan anestesi local dengan menggunakan xylocain spray 10%.
Gambar 4. Laringoskopi Indirect dengan kaca laring
Laringoskopi Direct dengan teleskop kaku
Lidah pasien dipegang dengan kain kassa
Dimasukkan teleskop 90° yang telah diberikan anti embun ke rongga mulut melewati atas lidah dengan berhati-hati tidak menyentuh posterior lidah serta dinding faring.
Visualisasi struktur laring dan hipofaring diperoleh dengan cara yang samaseperti pemeriksaan dengan kaca laring
Bila pasien terlihat tersedak, maka pasien diminta untuk bernafas pelan
sehingga palatum dapat rileks dan pemeriksaan dapat dilanjutkan.
Pasien yang sensitive dapat diberikan anestesi local dengan menggunakanxylocain spray 10%.
Pasien yang sensitive dapat diberikan anestesi local dengan menggunakanxylocain spray 10%.
Gambar 5. Laringoskopi Direct dengan teleskop kaku
Laringoskopi Direct :
No | Langkah- Langkah | Bagaimana | Mengapa |
1 | Premedikasi | Luminal/atropin | Tidak valium, karena |
depresi pernapasan | |||
Biar air liur sedikit | |||
2 | Anestesi lokal Atur | Spray xylocain, pd | Epiglottis dikait, perlu |
epiglottis | anestesi | ||
3 | posisi kepala | Posisi high: fleksi | Mudah mengait epiglottis |
leher/dada, ekstensi | keatas | ||
occipito atlanto | |||
4. | Mengait epiglottis | Selalu digaris tengah | Akan terlihat uvula- |
epiglotis sebagai pedoman | |||
Epiglotis dikait sedikit | Kalau terlalu banyak, | ||
saja | aritenoid terkait | ||
Kalau terlalu sedikit: lepas | |||
5 | Melihat pita suara | Dengan bantuan | Mudah melihatnya, |
teleskop (0o,30o) | Kalau telescope harus | ||
mengait epiglottis,bisa | |||
basah-buram |
Gambar 6. Laringoskopi Direct
No | Langkah-langkah | Bagaimana | Mengapa |
1 | Anaestesi local | Kapas xylocain | Tidak nyeri,tidak |
ephedrin1 % di cavum | trauma | ||
nasi d/s | |||
Spray xylocain pd | |||
faring/epiglotis | |||
2 | Atur duduk | Duduk tegak | |
penderita | Memudahkan alat | ||
masuk | |||
3 | Memasukkan alat | Melalui dasar cavum | |
FOL | nasi | Tempat terlebar | |
4 | Melihat nasofaring | Lurus kebelakang | Tampak naso |
faring dulu | |||
5 | FOL diarahkan ke | Dgn membengkokkan | |
laring | kebawah | ||
FOL diarahkan mula- | |||
6 | Memeriksa laring | mula tampak dari jauh, | |
lalu makin mendekat, | |||
laring dievaluasi | |||
Observasi pergerakan | |||
pita suara, dengan | |||
pasien menyebutkan | |||
”iii”, evaluasi apabila | |||
terdapat tumor; bentuk, | |||
ukuran, permukaan, | |||
mobilitas dan warna | |||
tumor. |
Laringoskopi Serat Optik (FOL):
Gambar 7. Laringoskopi Serat Optik (FOL)
Instrumen yang diperlukan:
Laringoscope dewasa
Laringoscope anak-anak
Laringoscope bayi
Telescope 00 , 300 , 900
Fibre Optic Laryngoscope dan forcep biopsi
Forcep lurus dan upturn
Pompa Penyedot (Suction pump)
Prosedur Tindakan Trakeotomi Dapat Dilihat Pada Modul Sumbatan Jalan NafasAtas
DAFTAR PUSTAKA
Lusk Rodney. Congenital Anomalies of the Larynx In : Ballenger’s Head and Neck Surgery-Otorhinolaryngology. Philadelphia, Lea & Febiger, 2009. 17th Ed pp.815-816
Dohar Joseph, Anne Samantha. Stridor Aspiration and Cough. In BaileyHead & Neck Surgery – Otolaryngology. Philadelphia, JB Lippincott Co. 2014. 5th Ed. pp.1338-1339
Paparella MM, Shumrick DA, Gluckman JL, Meyerhoff WL. Otolaryngology. Philadelphia. WB Saunders Co., 1991, chapter 13, pp.333-42
Lee KJ. Essential Otolaryngology. Head & Neck Surgery. New York. McGraw Hill. 2012. 10th Ed, Chapter 22, pp. 551-552
Charles Bluestone, Jeffrey Simons, Gerald Healy. 2018. Bluestone and Stool’s Pediatric Otolaryngology, 5e. PMPH USA, Ltd.
Christopher J. Hartnick. 2015. Sataloff’s Comprehensive Textbook of Otolaryngology Head & Neck Surgery, Pediatric Otolaryngology. Jaypee Brothers Medical Pub
Jeffrey Cheng, John P. Bent (eds.). 2016. Endoscopic Atlas of Pediatric Otolaryngology. Springer International Publishing
Jens Waschke, Friedrich Paulsen. 2018. Sobotta Atlas of Anatomy Head, Neck and Neuroanatomy III, 16th edition. Elsevier Health Sciences
RW Clarke. 2017. Pediatric Otolaryngology Practical Clinical Management. Thieme Publisher
Ted L Tewfik. 2019. Congenital Malformations of the Larynx. Medscape
Laryngeal Lymphoma
Definisi
Laryngeal lymphoma merupakan limphoma dengan lokasi primer pada laring. NHL kepala dan leher biasanya muncul pada sistem limfatik ekstranodal cincin Waldeyer. Keterlibatan area ekstralimfatik nodal dan ekstranodal lebih jarang terjadi. Regio sinonasal, kelenjar saliva, tiroid, dan orbit lebih sering daripada laring.
Epidemiologi
Limfoma ekstranodal yang terbatas pada laring sangat jarang terjadi, terhitung
<1% dari semua neoplasma laring, dengan hanya sekitar 100 kasus yang telah dijelaskan dalam literatur sampai saat ini. Sebuah studi yang dilakukan selama sepuluh tahun yang melibatkan 2631 biopsi laring di sebuah rumah sakit besar Spanyol, mengungkapkan hanya satu kasus limfoma sel B besar yang menyebar. Kasus ini sangat jarang pada laring dikarenakan kandungan limfoid yang relatif rendah di laring jika dibandingkan dengan area lain di saluran pernapasan. Usia rata-rata saat diagnosis adalah 70 tahun, dengan rentang dari 4 hingga 81 tahun. Rasio pria: wanita telah dilaporkan menjadi variabel dalam seri yang berbeda. Area anatomi tersering yang terkena adalah regio supraglotis 47%, dengan keterlibatan glotis mencapai 25% kasus. Daerah transglottic dan subglottic jauh lebih jarang terkena.
Manifestasi Klinis
Limfoma laring seringkali memiliki gejala yang mirip dengan karsinoma sel skuamosa, seperti suara serak, dispnea, sensasi benda asing di tenggorokan, atau stridor. Keluhan pasien dapat muncul secara katastropik dengan obstruksi jalan nafas akut yang membutuhkan intervensi bedah segera. Gejala sistemik jarang terjadi, karena limfoma laring cenderung tetap terlokalisasi untuk waktu yang lama, meskipun bentuk yang lebih agresif cenderung menyebar lebih awal. Namun demikian, tumor ini biasanya menyebar ke area mukosa lain seperti usus dan paru-paru.
Diagnosis
Diagnosis pasti didasarkan pada histologi. Secara histologis, limfoma laring primer lebih sering berasal dari sel B, meskipun beberapa limfoma sel T dan selNK dapat terjadi. Yang terakhir lebih sulit untuk didiagnosis dan biasanya membutuhkan biopsi yang dalam dan terkadang berulang. Subkelompok terakhir limfoma laring ini lebih sering terjadi pada pasien HIV. Rasio limfoma sel B ke sel T / NK adalah 6: 1.
Tatalaksana
Tidak ada penelitian yang dilakukan secara khusus untuk menangani jenislimfoma langka ini. Terapi bervariasi karena berbagai jenis limfoma serta jumlahnya yang sedikit. Namun, modalitas utama pengobatan adalah IFRT (30- 50 G) saja atau dikombinasikan dengan kemoterapi. Intervensi bedah biasanya hanya diperlukan pada kasus dengan obstruksi jalan napas akut. Perbedaan dalam modalitas pengobatan ini, terlepas dari histologi limfoma. Namun, kombinasi kemoterapi-radioterapi tampaknya menjadi modalitas pengobatanyang lebih disukai.
DAFTAR PUSTAKA
Kato,S., Sakura, M., Takooda, S., et al., 1997, “Primary non-Hodgkin’s lymphoma of the larynx”. J Laryngol Otol, 111:571–574
Horny and Kaiserling, 1995, “Involvement of the larynx by hemopoietic neoplasms—an investigation of autopsy cases and review of the literature,” Pathology Research and Practice, vol. 191, no. 2, pp. 130– 138
Fernández-Aceñero, M.J., Larach, F., Ortega-Fernández,, C., 2009, “Non- epithelial lesions of the larynx: review of the 10-year experience in a tertiary Spanish hospital,” Acta Oto-Laryngologica, vol. 129, no. 1, pp. 108–112
Kuo, J.R., Hou, Y.Y., Chu, S.T., Chien, C.C., 2011, “Subglottic stenosis induced by extranodal mucosa-associated lymphoid tissue lymphoma,” Journal of the Chinese Medical Association, vol. 74, no. 3, pp. 144–147
King, A.D., Yuen, E.H.Y., Lei, K.I.K., Ahuja, A.T., and Van Hasselt, A.,
2004, “Non-Hodgkin lymphoma of the larynx: CT and MR imaging findings,” American Journal of Neuroradiology, vol. 25, no. 1, pp. 12–15
Paralisis Plika Vokalis Kongenital
Definisi
Paralisis plika vokalis adalah tidak adanya pergerakan dari plika vokalis yang terjadi karena disfungsi saraf motorik yang mempersarafi otot-otot laring. Sedangkan paralisis plika vokalis kongenital merupakan penyebab tersering keduadari stridor kongenital.
Etiologi
Salah satu penyebabnya adalah trauma lahir yang sebagian besar mengakibatkan paralisis plika vokalis unilateral dan umumnya menunjukkan pemulihan spontan. Selain itu paralisis plika vokalis kongenital juga dapat ditemukan pada anomali susunan saraf pusat, seperti malformasi Chiari, ensefalokel, mengiomyelocel, dan hidrosefalus. Kejadian paralisis plika vokalis kongenital juga dikaitkan dengan sindrom Down, delesi 22q, sindrom Robinow, serta sindrom Serebro- okuloskeletal.
Manifestasi klinis
Stridor merupakan gejala klinis yang paling sering tampak dan kasus ini sering didapatkan pada neonatus yang mengalami gagal weaning pada pemasangan CPAP. Gejala klinis lain dapar berupa tangisan yang lemah, sulit makan, dan aspirasi.
Diagnosis
Penegakan diagnosis dapat dilakukan dengan direk laringoskopi dengan general anestesi ringan untuk melihat dinamika jalan napas atau dengan fleksibel fiberoptik laringoskopi. Karena kasus ini memiliki keterkaitan dengan anomali susunan saraf pusat dan sindrom tertentu, pemeriksaan MRI atau CT scan dapat dilakukan.
Tatalaksana
Tatalaksana pada kasus paralisis plika vokalis kongenital tergantung dari keparahan manifestasi klinis yang tampak. Sebagian besar pasien mengalami perbaikan dalam 6 sampai 12 bulan dan tidak memerlukan tindakan operatif. Pada kasus bilateral paralisis plika vokalis kongenital biasanya diperlukan Tindakan trakeostomi. Pada kasus dengan etiologi trauma lahir, perbaikan klinis didapatkan dalam 2 minggu dan 3 hingga 6 bulan.
DAFTAR PUSTAKA
De Jong AL, Kuppersmith RB, Sulek M, et al. Vocal cord paralysis in infants and children. Otolaryngol Clin North Am 2000;33:131Y149
Daya H, Hosni A, Bejar-Solar I, et al. Pediatric vocal fold paralysis: a long- term retrospective study. Arch Otolaryngol Head Neck Surg. 2000;126:21Y25
Benjamin BN, Gray SD, Bailey CM. Neonatal vocal cord paralysis. Head Neck 1993;15:169Y172
Ravilochan K, Seetharam W, Dinakar I. Vocal cord paralysis in neuraxial malformation. Indian J Pediatr 1983;50:557Y559
de Gaudemar I, Roudaire M, Francois M, et al. Outcome of laryngeal paralysis in neonates: a long term retrospective study of 113 cases. Int J Pediatr Otorhinolaryngol 1996;34:101Y110
Gentile RD, Miller RH, Woodson GE. Vocal cord paralysis in children 1 year of age and younger. Ann Otol Rhinol Laryngol 1986;95:622Y625
Linder A, Lindholm CE. Laryngologic management of infants with the Chiari II syndrome. Int J Pediatr Otorhinolaryngol 1997;39:187Y197
Kista Laring
Kista laring dapat menyebabkan obstruksi jalan napas, suara serak, dan disfagia. Kista Laring Kongenital di klasifikasikan menurut asal jaringan embriologinya :
Tipe I : Kista terbatas pada laring dan hanya terdiri dari unsur endodermal.
Tipe II : Kista dengan ekstensi ekstralaring :
Tipe IIa : Kista berasal dari elemen endodermal
Tipe Iib : Kista berasal dari elemen endodermal dan mesodermal
Klasifikasi lain membagi kista laring sebagai kista sakulus, kista valekula, kista duktus, kista saluran tiroglosus, dan kista higroma.
Kista Sakulus
Sakulus adalah kantong membran yang terletak di antara lipatan ventrikel , dan juga di permukaan bagian dalam kartilago tiroid. Selaput lendir normal permukaan sakulus memiliki kelenjar lendir untuk melumasi permukaan pita suara. Obstruksi saluran sakulus menyebabkan kista di ventrikel dengan retensi lendir.
Pemeriksaan
Endoskopi. Gold Standart adalah Endoskopi. Terlihat lesi kistik tebal berisi cairan berlendir yang berasal dari plika ariepiglotik, atau dari ventrikel dan menonjol ke lumen laring.
Aspirasi Jarum. Mungkin berguna untuk mendiagnosis lesi kistik, juga drainase kista meskipun hanya berguna sebagai pengobatan sementara.
Pemeriksaan radiologi . dengan menggunakan CT-scan dapat memperlihatkan adanya kista di laring.
Penatalaksanaan
Marsupialisasi mungkin berguna untuk pengobatan kista sakular kecil. Namun, dalam kasus berulang atau kista besar , diperlukan ekstirpasi kista secara endoskopik, atau operasi terbuka.
Kista Valekula
Kebanyakan pada neonatus dengan kista valekula didapati stridor dalam beberapa minggu peratama setelah lahir. Gejala lain termasuk batuk, kesulitan makan , episode sianosis dan gagal tumbuh.
Teori penyebab terjadinya kista valekula adalah akibat obstruksi kelenjar mukosa yang terletak di dasar lidah. Sekresi mukosa dari kelenjar sekitar kista menyebabkan kista bertambah besar.
Pemeriksaan
Endoskopi. Endoskopi merupakan pilihan untuk mendiagnosis kista valekula. Pada evaluasi endoskopi didapatakan massa halus terlokalisasi dalam ruang valekula.
CT-scan. Mungkin berguna dalam menunjukkan lokasi dan luasnya kista. Radionuclide-scan tiroid. Membantu melokalisasi adanya jaringan tiroid.
Penatalaksanaan
Terapi sementara berupa aspirasi kista , tetapi kista dapat timbul kembali. Terapidefinitis kista valekula adalah eksisi endoskopik atau marsupialisasi.
DAFTAR PUSTAKA
Close,L.G., Larson, D.L., & Shah, J.P. (Ed).(1998). Essentials of head andneck oncology. Stuttgart:Thieme.
Dhingra, P.L., & Dhingra S. (2007). Disease of ear, nose, and throat andhead and neck surgery ( 7th ed ) . Phialdephia: Elseview.
Flint, P.W.(2015). Cummings otolaryngology: head and neck surgery. Phialdephia: elsevier.
Lee,K.J.(2015). Essensial otolaryngology head dan neck surgery ( 11thed). Boston:Mc Graw Hill.
Atresia Laring
Definisi
Atresia laring adalah obsruksi saluran nafas atas komplet yang terjadi ketika laring gagal membuka selama perkembangan fetus intra uterus dan meninggalkan sumbatan kartilago atau jaringan lain ketika lahir. Kondisi ini disebut juga Congenital high airway obstruction syndrome (CHAOS).
Ada 3 tipe atresia laring; tipe I adalah atresia infra dan supraglotik, tipe II adalah infraglotik, tipe II adalah glotik. Tipe I terjadi ketika kartilago aritenoid
dan otot instriksi laring berfusi menutupi lumen trakea. Kartilago krikoid berbentuk konus dan tidak adanya vestibulum. Tipe II terjadi ketika kartilago krikoid berbentuk dome-shaped yang menutupi lumen. Aritenoid, vestibulum dan plika vokalis normal. Tipe III terjadi ketika glottis tertutupi oleh membrane anterior dari jaringan fibrosa dan otot, dan fusi aritenoid di posterior. Vestibulum dan krikoid normal.
Kondisi ini sangat jarang dengan perbandingan laki-laki dan perempuan 1:1. Dia sumsikan terjadi karena kelainan autosomal dominan. Sekitar setengah kasus yang dilaporkan berkaitan dengan hydrocephalus, atresia esophagus, fistula bronkoesofageal, fistula trakeoesofageal, hypoplasia ginjal, hidroureter, atresia uretra, sindaktil dan beberapa kelainan kongenital lainnya.
Diagnosis
Diagnosis menggunakan USG baik Doppler maupun tidak. Doppler digunakan untuk memedakan aorta fetus dengan trakea. USG digunakan untuk mendiagnosis berdasarkan tanda tidak langsung yang merupakan akibat dari obstruksi jalan nafas total seperti paru membesar, fetal hidrop dan ascites, polihidramnion. Kegagalan diagnosis dari atresia inkomplet bisa jadi karena kurangnya distensi paru yang terjadi.
Kebanyakan bayi lahir dengan atresia laring komplet mengalami kematian karena kondisi yang tidak disadari oleh petugas medis dan keterlambatan pertolongan yang diberikan.
DAFTAR PUSTAKA
Buyse ML: Birth Defects Encyclopedia. Center for Birth Defects Information Service, Inc. Dover MA. Blackwell Scientific Publications, Cambridge, MA, 1990
Fox H, and Coker J: Laryngeal atresia. Arch Dis Child 39:641- 645, 1964.
Gatti WM, MacDonald E, Orfei E et al.: Congenital laryngeal atresia.Laryngoscope 97: 966-9, 1987
McElhinney DB, Jacobs IN, McDonald-McGinn DM, Zackai EH, Goldmuntz E. Chromosomal and cardiovascular anomalies associated with congenitallaryngeal web. Int J Pediatr Otorhinolaryngol. 2002 Oct 21;66(1):23-27
Watson WJ, Thorp JM, Miller RC et al: Prenatal diagnosis of laryngeal atresia. AmJ Obstet Gynecol 163: 1456-7, 1990