KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA LEHER
2022
Tim Penyusun
Prof. Dr. dr. M. Thaufiq S.Boesoirie, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp. F.P.R.(K), M.S
Dr. dr. Dini W. Widodo, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp. F.P.R.(K), M.Epid
Dr. dr. Mirta Hediyati, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp. F.P.R.(K)
Dr. dr. Trimartani, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp. F.P.R.(K), MARS
Dr. dr. Shinta Fitri Boesoirie, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp. F.P.R.(K), M.Kes
dr. Agus Rudi Asthuta, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp. F.P.R.(K)
dr. Al Hafiz, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp. F.P.R.(K), FICS
dr. Dewo Aksoro Affandi, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp. F.P.R.(K)
dr. Ramlan Sitompul, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp. F.P.R.(K)
dr. R. A. Anatriera, Sp.T.H.T.B.K.L
KATA PENGANTAR
Assalammu’alaikum Wr.Wb.
Alhamdulillahirobbil ‘alamin, saya panjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allah swt yang senantiasa melimpahkan segala rahmat, taufik dan hidayah-Nya sehingga dapat menyelesaikan penyusun Buku Modul Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher (IK THTBKL) edisi ketiga ini.
Modul ini disusun untuk memenuhi kebutuhan peserta pendidikan dokter spesialis THTBKL yang merupakan penyempurnaan edisi kedua, pemenambahan beberapa materi sesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan serta ketrampilan baru guna meningkatlan mutu proses pendidikan dokter spesialis THTBKL di Indonesia
Selaras dengan dimulainya program fellowship serta persiapan pembukaan program pendidikan Subspesialisasi THTBKL, modul Pendidikan dokter spesialis THTBKL ini disusun agar pendidikan spesialis THTBKL terjaga menjadi satu kesatuan yang mendalam antara ketiga program pendidikan tersebut. Selain itu Buku Modul ini dapat menjadi pedoman untuk melaksanakan pendidikan secara terstruktur dan berkualitas, dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, monitoring hingga proses evaluasi secara berkesinambungan. Hal tersebut bertujuan agar lulusan peserta program studi IK THTBKL mempunyai kompetensi akademik dan kompetensi profesional unggul seiring berkembangnya jaman.
Pada era baru ini para lulusan Dokter Spesialis THTBKL diharapkan memiliki kemampuan akademik professional bertaraf internasional, inovatif dan tangguh yang mampu berkiprah secara global sesuai Visi dan Misi Pendidikan Spesialis THTBKL. Semoga dengan terbitnya Buku Modul ketiga ini program pendidikan dokter spesialis THTBKL semakin maju dan menghasilkan pencapaian lulusan yang unggul, kompeten dan berkualitas.
Apresiasi kami yang setinggi-tingginya kepada seluruh teman sejawat, Profesor Dokter, atas komitmen, dedikasi, serta pemikiran dan waktu yang telah diberikan terutama dalam suasana pandemi Covid-19. Keterbatasan jarak dan keadaan Pandemi telah membuka peluang pengembangan komunikasi, diskusi dan ujicoba modul ketiga, secara digital (TIK), sehingga kita dapat berkoordinasi, produktif menyelesaikan buku modul Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala dan Leher edisi ketiga ini.
Semoga modul ini dapat bermanfaat bagi kita semua, khususnya para peserta didik dan semua yang kita lakukan selalu mendapat ridha Allah SWT.
Wassalammu’alaikum Wr.Wb.
Ketua Umum Kolegium IK THTBKL Indonesia
Dr. dr. Trimartani, Sp T.H.T.B.K.L., F.P.R(K)., MARS
VIII. FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI | |
VIII.1 TRAUMA, FRAKTUR, dan KELAINAN HIDUNG | |
VIII.1.1 | SEPTOPLASTI |
VIII.1.2 | RINOPLASTI |
VIII.1.3 | SEPTORINOPLASTI |
VIII.2 TRAUMA MAKSILOFASIAL | |
VIII.2.1 | TRAUMA MAKSILA |
VIII.2.2 | TRAUMA ZIGOMA |
VIII.2.3 | TRAUMA DASAR ORBITA |
VIII.2.4 | TRAUMA MANDIBULA |
VIII.2.5 | TRAUMA SINUS FRONTALIS ( TABLE ANTERIOR ) |
VIII.3 RONGGA MULUT | |
VIII.3.1 | LABIOSKISIS |
VIII.3.2 | PALATOSKISIS |
VIII.4 FACIAL PLASTY | |
VIII.4.1 | MIKROTIA |
VIII.4.2 | FISTULA PREAURIKULA |
VIII.4.3 | OTOPLASTI |
VIII.5 DEFEK KEPALA LEHER | |
VIII.5.1 | BLEPHAROPLASTI |
VIII.5.2 | RITIDECTOMI |
VIII.5.3 | MENTOPLASTY |
VIII.5.4 | MALARPALSTY |
VIII.5.5 | EXOPTHALMUS |
VIII.5.6 | SUMBATAN KANTUNG AIR MATA (DAKRIOSISTOSTOMI) |
VIII.6 PENYEMBUHAN LUKA | |
VIII.6.1 | PENYEMBUHAN LUKA |
VIII.6.2 | TANDUR DAN IMPLAN PADA BEDAH KEPALA LEHER |
VIII.6.3 | REGIONAL FLAP |
VIII.6.4 | MIKROVASKULER FREE FLAP |
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
MODUL VIII.1.1
FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI - TRAUMA, FRAKTUR, DAN KELAINAN HIDUNG: SEPTOPLASTI
WAKTU
Proses Pengembangkan Kompetensi | Alokasi Waktu : |
Sesi di dalam kelas Sesi Pratikum Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi | 18 X 60 menit (classroom session) 18 X 60 menit (coaching session) 41 X 60 menit (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi presentasi: Kelainan Hidung
Slide 1: Anatomi hidung
Slide 2: Jenis kelainan dan klasifikasi deviasi septum
Slide 3: Diagnosis kelainan septum
Slide 4: Penatalaksanaan
Kasus : septum deviasi
Sarana dan alat bantu latih :
Penuntun belajar (learning guide) terlampir
Tempat belajar (training setting): bangsal THT, Poliklinik THT, kamar operasi, instalasi rawat darurat, bangsal perawatan pasca bedah THT.
Model/menekin/kadaver
Laptop
LCD
REFERENSI
Bailey, B, Tan LK, Nasal and Frontal Sinus Fracture in : Head and Neck Surgery-Otolaryngology, Lippincot William-Wilkins, Philadelphia, USA, 2014
Lee, K.J, Essential Otolaryngology Head & Neck Surgery, International edition, Mc. Graw-Hill, 2003
Behrbohm H., Tardy M.E Jr, Essentials of Septorhinoplasty, Philosophy- Approaches-Techniques, Thieme Medical Publishers, Inc., New York, 2004
Papel ID, Frodel J Holt GR, Larrabee W, Nachlas N, Park SS, Sykes JM, Toriumi D Facial Plastic and Reconstructive Surgery. Thieme Medical Publisher.NY 2006
KOMPETENSI
Pengertian
Mampu membuat diagnosis deviasi septum berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan-pemeriksaan tambahan (misalnya pemeriksaan X-Ray, nasoendoskopi). Mampu memutuskan dan menangani masalah tersebut secara mandiri hingga tuntas.
Ketrampilan
Peserta didik diharapkan terampil :
Menjelaskan anatomi dan fisiologi hidung anak serta orang dewasa ( TK4)
Menjelaskan patogenesis dan patofisiologi berbagai kelainan deviasi septum (TK4)
Melakukan anamnesis dan pemeriksaan klinis (TK4)
Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang seperti foto rontgen, nasoendoskopi. (TK4)
Menegakkan diagnosis dan klasifikasi kelainan septum(TK4)
Menilai perlunya pemeriksaan tambahan dan khusus serta konsultasi ke disiplin lain(TK4)
Melakukan tindakan septoplasti pada deviasi septum (TK4)
Mengenali komplikasi yang dapat menyertai deviasi septum seperti sumbatan hidung, snoring, anosmia dan gangguan fungsi lainnya dan gangguan estetika (TK4)
GAMBARAN UMUM
Hidung merupakan struktur yang paling prominen pada wajah. Kelainan deviasi septum dan piramid hidung merupakan kelainan yang sering luput dari penglihatan seorang ahli THT. Banyak kelainan patologis hidung dan septum tidak terdiagnosis dan tertangani pada awal dan menyebabkan gangguan fungsi dan kosmetik hidung, tuba eusthachiussehingga yang memerlukan tindakan prosedur septorinoplasti akibat deviasi septum dan piramid hidung yang menyebabkan obstruksi hidung, snoring, sinuitis akibat gangguan fungsi dan kosmetik tsb.
CONTOH KASUS
Seorang laki-laki, 25 tahun datang dengan keluhan nyeri pada hidung dan perubahan bentuk hidung sejak 6 bulan yanglalu akibat setelah tersikut lengan temannya sewaktu bermain sepak bola Penderita juga mengeluh hidung kanan terasa tersumbat. Tidak ada perdarahan hidung dan terdapat sefalgi dan sekret terus menerus. Pada pemeriksaan fisik ditemukan septum deviasi pada area 2 disertai dengan hipertrofi konka
Pemeriksaan apa yang perlu dilakukan untuk menilai adanya sumbatan hidung sehingga perlu tatalaksana selanjutnya pada pasien kasus ini
Foto rongten sinus paranasal
Nasoendoskopi
Rinomanometri
CT-Scan
Tindakan operasi yang diperlukan pada pasien ini bila ditemukan sumbatan
Septoplasti
Septorinoplasti
Rinoplasti augmentasi
Rinopalasti reduksi
TUJUAN PEMBELAJARAN
Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan menatalaksana septum deviasi seperti yang telah disebutkan di atas, yaitu:
Menguasai anatomi dan fisiologi hidung
Mampu menjelaskan etiopatogenesis dan gambaran klinis deviasi septum
Membuat diagnosis dan komplikasi akibat deviasi septum
Menentukan dan melakukan pemeriksaan penunjang untuk deviasi septum
Melaksanakan tindakan septoplastitermasuk reseksi dan rekonstruksi septum
METODE PEMBELAJARAN
Interactive lecture
Journal reading and review.
Morbidity and Mortality Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).
Operative Procedure Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients.
Continuing Professional Development
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pre test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pre-test terdiri atas :
Anatomi dan fisiologi septum dan hidung
Penegakan diagnosa
Penatalaksanaan
Komplikasi
Follow up
Selanjutnya dilakukan "small group discussion" bersama dengan fasilitator untuk membahas kasus/jurnal reading/referat/portfolio.
Setelah selesai penatalaksanaan kasus, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
Self assesment dengan mempergunakan penuntun belajar.
Pendidik/ fasilitas :
pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form (terlampir)
penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi
kriteria penilaian keseluruhan : perlu perbaikan/ cukup/ baik
Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education)
Pencapaian pembelajaran :
Ujian skill (psikomotor), dilakukan selama stase di sub-bagian dengan observasi menggunakan daftar tilik
Ujian akhir stase, setiap divisi/ unit kerja oleh masing-masing sentra
Ujian akhir komprehensif dilakukan secara nasional (National Board) pada tahapan tertentu dengan ujian MCQ dan LISAN/OSCE oleh kolegium THT- KL.
INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF & PSIKOMOTOR
Pembagian septum menurut Cottle, dibagi menjadi 5 area. Salah satu indikasi untuk melakukan tindakan koreksi berupa septoplasti ialah:
Deviasi pada area 2 septum yang menimbulkan keluhan sumbatan nafas nafas
Septoplasti terdapat tahapan 6 langkah dengan insisi hemitransfiksi sebagai langkah pertama
Kelainan septum tanpa gejala perlu dilakukan septorinoplasti untuk alasan estetika
Reposisi sederhana berupa septoplasti dilakukan pada fraktur septum harus dilakukan dalam 24 jam pertama setelah trauma
Jawaban : A
Where are septal fractures most commonly seen?
Above the interface with the maxillary crest
At the caudal septum
At the junction of the cartilage with the perpendicular plate of the ethmoid bone
Right where the cartilage interfaces with the maxillary crest Jawaban : A
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR
Penuntun Belajar Septoplasti
Lakukan penilaian kinerja pada setiap langkah atau tugas dengan menggunakan skala penilaian di bawah ini :
Perlu
Perbaikan
Cukup
Baik
Langkah atau tugas tidak dikerjakan secara benar atau dalam urutan yang salah.
Langkah atau tugas dikerjakan secara benar dalam urutan yang benar tetapi belum dikerjakan secara lancar
Langkah atau tugas dikerjakan secara efisien dan dikerjakan dalam urutan yang benar.
NO | KEGIATAN / LANGKAH KLINIK | KESEMPATAN KE | ||||
1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | ||||||
Nama
Diagnosis
Informed Consent
NO | KEGIATAN / LANGKAH KLINIK | KESEMPATAN KE | ||||
1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
II. PERSIAPAN PROSEDUR SEPTOPLASTI | ||||||
1. | Cuci tangan, memakai baju operasi dan lampu kepala | |||||
2. | Tindakan a dan antiseptik pada daerah wajah pasien dan sekitarnya dengan menggunakan povidon iodine atau antiseptik lainnya | |||||
3. | Pasang kain penutup operasi steril pada pasien, kecuali di area operasi | |||||
4. | Posisi pasien : Berbaring bila tindakan dalam anestesi umum | |||||
5. | Anestesi : | |||||
III. PROSEDUR SEPTOPLASTI | ||||||
1. | Prosedur septoplasti dapat dilakukan dengan 6 tahap. Insisi hemitransfiksi/transkolumela, mobilisasi septum tunnel anterior, posterior dan inferior, reseksi, reposisi, rekonstruksi, fiksasi. | |||||
2. | Pada insisi hemitrasnfiksi insisi 2 mm dari caudal end septum | |||||
3. | Mobilisasi dengan tunnel anterior, posterior dan inferior. | |||||
4. | Kondrotomi posterior dan inferior, reseksi bagian deviasi dan melakukan rekonstuksi | |||||
5. | Melakukan fiksasi dengan jahitan Through and through Menggunakan benang absorbable 3.0 atau 4.0. Pasang tampon anterior dengan cara tersusun. | |||||
Rencana Tindakan
Persiapan Sebelum Tindakan
Pasang tampon hidung yang berisi dekongestan: anestetik topikal.
Larutan lidocan 1% dengan 1 : 200.000 epinefrin disuntikkan intranasal submukosa septum.
DAFTAR TILIK
Penilaian Kinerja Ketrampilan (ujian akhir) Septoplasti
Berikan tanda ✓ dalam kotak yang tersedia bila ketrampilan/tugas telah dikerjakan dengan memuaskan, dan berikan tanda x bila tidak dikerjakan dengan memuaskan serta T/D bila tidak dilakukan pengamatan.
Memuaskan Langkah atau tugas dikerjakan sesuai prosedur standar atau penuntun.
X Tidak Tidak mampu untuk mengerjakan langkah atau tugas sesuai
memuaskan dengan prosedur standar atau penuntun.
T/D Tidak Langkah, tugas atau ketrampilan tidak dilakukan oleh peserta
Diamati latih selama penilaian oleh pelatih.
DAFTAR TILIK | ||||||
NO | KEGIATAN / LANGKAH KLINIK | Kesempatan ke | ||||
1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
1 | Persiapan | |||||
2 | a. Kaji ulang diagnosis dan prosedur operatif | |||||
3 | b. Menyiapkan peralatan operatif | |||||
4 | c. Menyiapkan diri untuk tindakan operatif | |||||
5 | d. Menyiapkan posisi pasien | |||||
6 | e. Melakukan tindakan a & anti septik | |||||
8 | PROSEDUR OPERASI | |||||
9 | ||||||
10 | b. Melakukan tindakan septoplasti | |||||
11 | c. Memasang tampon anterior tersusun. | |||||
Anestesi :
Pasang tampon hidung yang berisi dekongestan - anestetik topikal.
Larutan lidocan 1% dengan 1 : 200.000 epinefrin disuntikkan intranasal submukosa septum.
MATERI PRESENTASI
Slide 1: Anatomi septum
Slide 2: Septoplasti
Insisi Hemitransfiksi
Elevasi mukoperikondrium dari kartilago
Mobilisasi septum Rekonstruksi septum Fiksasi dengan jahitan
Slide 4: Penatalaksanaan Tatalaksana/ prosedur Septoplasti, 6 langkah
MATERI BAKU
Anatomi hidung
Hidung terdiri atas kulit, jaringan subkutis, kerangka hidung dan mukosa yang melapisi kavum nasi serta septum nasi yang membatasi rongga hidung kanan dan kiri. Kerangka hidung terdiri atas kerangka tulang dan tulang rawan. Kerangka tulang terdiri atas os nasal, prosesus frontalis os maksila, prosesus nasalis os frontalis dan tulang-tulang pembentuk septum yaitu os vomer dan os ethmoid. Kerangka tulang rawan terdiri atas cartilago upper lateral, cartilago lower lateral dan cartilago septum.
Diagnosis :
Riwayat sumbatan hidung, dengan dan tanpa riwayat trauma hidung
Pemeriksaan intranasal setelah pemberian dekongestan dapat mendiagnosis deviasi septum
Pemeriksaan hidung luar : recoil test, cottle sign
Foto polos sinus paranasal dapat membantu diagnosis bila berkorelasi dengan pemeriksaan fisik
Penatalaksanaan
Septoplasti
Indikasi Septoplasti
Gangguan fungsi hidung
Obstruksi hidung
Trauma
Komplikasi
Macam insisi pada septoplasti :
Hemitransfiksi
Transkolumela
Komplikasi
Dini, temporer | Lambat |
Epistaxis | Obstruksi hidung |
Hematoma | Sinekia |
Infeksi | Perforasi septum |
Saddle nose |
Kepustakaan Materi Baku
Bailey, B, Tan LK, Nasal and Frontal Sinus Fracture in : Head and Neck Surgery-Otolaryngology, Lippincot William-Wilkins, Philadelphia, USA, 2014
Lee, K.J, Essential Otolaryngology Head & Neck Surgery, International edition, Mc. Graw-Hill, 2003
Behrbohm H., Tardy M.E Jr, Essentials of Septorhinoplasty, Philosophy-
Approaches-Techniques, Thieme Medical Publishers, Inc., New York, 2004
Papel ID, Frodel J Holt GR, Larrabee W, Nachlas N, Park SS, Sykes JM, Toriumi D Facial Plastic and Reconstructive Surgery. Thieme Medical Publisher.NY 2006
TRAUMA, FRAKTUR, DAN KELAINAN HIDUNG
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
WAKTU 1
PERSIAPAN SESI 1
REFERENSI 1
KOMPETENSI 1
GAMBARAN UMUM 2
CONTOH KASUS 2
TUJUAN PEMBELAJARAN 3
METODE PEMBELAJARAN 3
EVALUASI 3
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF 4
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR 5
DAFTAR TILIK 7
MATERI PRESENTASI 7
LAMPIRAN 12
MATERI BAKU 13
KEPUSTAKAAN MATERI BAKU 14
MODUL VIII.1.2
FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI - TRAUMA, FRAKTUR, DAN KELAINAN HIDUNG: RINOPLASTI
WAKTU
Proses Pengembangkan Kompetensi | Alokasi Waktu : |
Sesi di dalam kelas Sesi Pratikum Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi | 18 X 60 menit (classroom session) 18 X 60 menit (coaching session) 41 X 60 menit (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi presentasi: Kelainan Hidung
Slide 1: Anatomi hidung
Slide 2: Jenis kelainan septum dan hidung
Slide 3: Diagnosis kelainan septum dan hidung
Slide 4: Penatalaksanaan
Slide 5: Algoritma
Kasus : septum deviasi
Sarana dan alat bantu latih :
Video, kasus.
Penuntun belajar (learning guide) terlampir
Tempat belajar (training setting): bangsal THT, Poliklinik THT, kamar operasi, instalasi rawat darurat, bangsal perawatan pasca bedah THT.
REFERENSI
Bailey, B, Tan LK, Nasal and Frontal Sinus Fracture in : Head and Neck Surgery-Otolaryngology, Lippincot William-Wilkins, Philadelphia, USA, 2014
Lee, K.J, Essential Otolaryngology Head & Neck Surgery, International edition, Mc. Graw-Hill, 2003
Behrbohm H., Tardy M.E Jr, Essentials of Septorhinoplasty, Philosophy- Approaches-Techniques, Thieme Medical Publishers, Inc., New York, 2004
Papel ID, Frodel J Holt GR, Larrabee W, Nachlas N, Park SS, Sykes JM, Toriumi D Facial Plastic and Reconstructive Surgery. Thieme Medical Publisher.NY 2006
KOMPETENSI
Mampu membuat diagnosis kelainan hidung berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan-pemeriksaan tambahan (misalnya pemeriksaan X-Ray, nasoendoskopi). Dapat memutuskan dan mampu menangani masalah tersebut secara mandiri hingga tuntas.
Ketrampilan
Peserta didik diharapkan terampil :
Menjelaskan anatomi dan fisiologi hidung anak serta orang dewasa ( TK4)
Menjelaskan patogenesis dan patofisiologi berbagai kelianan deviasi septum dan piramid hidung (TK4)
Melakukan anamnesis dan pemeriksaan klinis (TK4)
Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang seperti foto rontgen, nasoendoskopi, CTscan, foto dokumentasi (TK4)
Menegakkan diagnosis dan diagnosis banding (TK4)
Menilai perlunya pemeriksaan tambahan dan khusus serta konsultasi ke disiplin lain (TK4)
Melakukan tindakan rinoplasti pada deviasi septum (TK4) dan piramid hidung ((TK3)
Mengenali komplikasi yang dapat menyertai deviasi septum dan piramid hidung seprti sumbatan hidung, snoring, anosmia dangguan fungsi lainnya dan gangguan estetika(TK4)
GAMBARAN UMUM
Hidung merupakan struktur yang paling prominen pada wajah. Kelainan deviasi septum dan piramid hidung merupakan kelainan yang sering luput dari penglihatan seorang ahli THT. Banyak kelainan patologis hidung dan septum tidak terdiagnosis dan tertangani pada awal dan menyebabkan gangguan fungsi dan kosmetik hidung, tuba eusthachius sehingga yang memerlukan tindakan prosedur septorinoplasti akibat deviasi septum dan piramid hidung yang menyebabkan obstruksi hidung, snoring, sinuitis akibat gangguan fungsi dan kosmetik tsb.
CONTOH KASUS
Seorang laki-laki, 25 tahun datang dengan keluhan nyeri pada hidung dan perubahan bentuk hidung sejak 6 bulan yang lalu akibat setelah tersikut lengan temannya sewaktu bermain sepak bola Penderita juga mengeluh hidung kanan terasa tersumbat. Tidak ada perdarahan hidung dan tterdapat cefalgi dan sekret terus menerus. Pada pemeriksaan fisik ditemukan deviasi piramid ( bony piramid) dengan tip nasi deviasi kearah contralateral ( s type)
Pemeriksaan apa yang perlu dilakukan untuk menilai adanya sumbatan hidung sehingga perlu tatalaksana selanjutnya pada pasien kasus ini
Foto rongten sinus paranasal
Nasoendoskopi
Rinomanometri
CT-Scan
Tindakan operasi yang diperlukan pada pasien ini bila ditemukan sumbatan
Septoplasti
Septorinoplasti
Rinoplasti augmentasi
Rinopalasti
TUJUAN PEMBELAJARAN
Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan menatalaksana septum deviasi dan piramid hidung seperti yang telah disebutkan diatas, yaitu:
Menguasai anatomi dan fisiologi hidung
Mampu menjelaskan etiopatogenesis dan gambaran klinis deviasi septum dan piramid hidung
Menentukan dan melakukan pemeriksaan penunjang untuk deviasi septum dan piramid hidung
Membuat diagnosis deviasi piramid hidung
Melaksanakan tindakan rekonstruksi terhadap deviasi piramid hidung berupa rinoplasti ( osteotomi) dengan rinoplasti augmentasi
METODE PEMBELAJARAN
Interactive lecture
Journal reading and review.
Morbidity and Mortality Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).
Operative Procedure Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients.
Continuing Professional Development
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pre test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pre test terdiri atas :
Anatomi dan fisiologi hidung
Penegakan diagnosa deformitas hidung berupa deviasi piramid
Penatalaksanaan
Komplikasi
Follow up
Selanjutnya dilakukan "small group discussion" bersama dengan fasilitator untuk membahas kasus/jurnal reading/referat/portfolio.
Setelah selesai penatalaksanaan kasus, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
Self assesment dengan mempergunakan penuntun belajar.
Pendidik/ fasilitas :
pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form (terlampir)
penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi
kriteria penilaian keseluruhan : perlu perbaikan/ cukup/ baik
Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education)
Pencapaian pembelajaran :
Ujian skill (psikomotor), dilakukan selama stase di sub-bagian dengan observasi menggunakan daftar tilik
Ujian akhir stase, setiap divisi/ unit kerja oleh masing-masing sentra
Ujian akhir komprehensif dilakukan secara nasional (National Board) pada tahapan tertentu dengan ujian MCQ dan LISAN/OSCE oleh kolegium THT-KL.
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Kuesioner Sebelum Pembelajaran
Deviasi tip hidung yang mengenai pada area 2 septum dan columella menimbulkan keluhan sumbatan nafas nafas
B S
Rinoplasti endonasal approach terdapat insisi intercartilaginous intracartilaginous dan infracartilaginous sebagai langkah pertama paparan tindakan operasi dalam memperbaiki kartilago alar
B S
Kelainan piramid hidnyg berupa saddle nose tanpa gejala perlu dilakukan rinoplasti untuk alasan estetika
B S
Rinoplasti ednonasal approach dilakukan pada riwayat fraktur piramid hidung harus dilakukan dalam 24 jam pertama setelah trauma
B S
Jawaban :
1. B
2. B
3. B
4. S
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR
Lakukan penilaian kinerja pada setiap langkah atau tugas dengan menggunakan skala penilaian di bawah ini :
1. Perlu Langkah atau tugas tidak dikerjakan secara benar atau dalam
Perbaikan urutan yang salah.
2. Cukup
Langkah atau tugas dikerjakan secara benar dalam urutan yang benar tetapi belum dikerjakan secara lancar.
3. Baik
Langkah atau tugas dikerjakan secara efisien dan dikerjakan dalam urutan yang benar.
PENUNTUN BELAJAR RINOPLASTY
NO | KEGIATAN / LANGKAH KLINIK | KESEMPATAN KE | ||||
1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | ||||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR RINOPLASTI | ||||||
1. | Cuci tangan, memakai baju operasi dan lampu kepala | |||||
2. | Tindakan a dan antiseptik pada daerah wajah pasien dan sekitarnya dengan menggunakan povidon iodine atau antiseptik lainnya | |||||
3. | Pasang kain penutup operasi steril pada pasien, kecuali di area operasi | |||||
4. | Posisi pasien : Berbaring bila tindakan dalam anestesi umum | |||||
5. | Anestesi : intranasal diantara kartilago upper dan lower lateral dan diteruskan subkutaneus sampai keatas tulang dikedua sisi. | |||||
III. PROSEDUR RINOPLASTI | ||||||
1. | Endonasal Approach | |||||
2. | Insisi Interkartilago Instrumen : Retraktor, pisu no.11, Gunting tumpul | |||||
Nama
Diagnosis
Informed Choice & Informed Consent
Rencana Tindakan
Persiapan Sebelum Tindakan
Pasang tampon hidung atau spray yang berisi dekongestan - anestetik topikal.
Larutan lidocan 1% dengan 1 : 100.000 epinefrin disuntikkan
Retraksi ala dengan memegang retractor dengan menggunakan ibu jari dan telunjuk, jari manis menekan ala agar vestibulum dan vaive area terekspos.
Insisi sejajar dengan bagian bawah kartilago triangular dengan jarak 1 mm.
Insisi dilanjutkan sampai sebelum sudut valve area dan tidak bersatu dengan insisi hemitransfiksi. Buat insisi di lubang hidung lain.
NO | KEGIATAN / LANGKAH KLINIK | KESEMPATAN KE | ||||
1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
3. | Delivery (Luxation) Technique Instrumen : kait, retractor tumpul 4 jari, retractor Neivert, gunting tajam, insisi marginal. Instrumen : Two prong hooks, knife no.15 - Insisi marginal adalah insisi pada kulit dan subcutis sepanjang batas kaudal krus lateral, dome dan bagian depan krus medial kartilago ala. Insisi dibuat dari lateral ke medial. | |||||
IV. PROSEDUR OSTEOTOMI | ||||||
1. | Osteotomi paramedian Mobilisasi dari tulang piramid selalu dimulai dari osteotomi paramedial. Pendekatannya dapat melalui intraseptal setelah saluran septum dibuat Buat garis rencana osteotomi . . Osteotomi paramedial kulit dorsum nasi diunderminingnelalui insisi interkartilago natu insisi hemitransfiksi dengan gunting tumpul. Pahat lurus ukuran 7 mm dimasukkan intraseptal dengan ukung sudut pahat ke arah luar (lateral) sampai ujung pahat mencapai titik 1-2 mm kranial dari garis kulit transversal. | |||||
2. | Osteotomi lateral Dibuat insisi vestibular dengan menggunakan pisau 15 Pahat lurus 7 mm dimasukkan pada tepi kaudal dari piramid tulang, kira-kira 1-2 mm ventral garis dasar hidung dengan ujung pahat menghadap ke atas.. Lateral osteotomi dilanjutkan sampai batas kulit ostetomi transversal. | |||||
3. | Osteotomi intermedia dilakukan diantara osteotomi paramedian dan lateral. Tindakan ini dilakukan sebelum atau sesudah osteotomi lateral, dan dilakukan hanya pada keadaan tertentu seperti deviasi pyramid berat, dan bentuk pyramid konvex atau konkaf sekali. | |||||
4. | Osteotomi transversa. Instrument : Pahat 7 mm Pahat lengkung dimasukkan melalui insisi vestibulum ke bagian atas sesuai dengan garis marka | |||||
5. | Osteotomi hidung berpunuk. Terowongan superior diperluas keatas sampai daerah tulang os nasal. Bagian menonjol direseksi menggunakan pahat. Pahat dimasukkan dengan sudut 300 dengan level kearah atas. Tonjolan dipahat dengan teknik ketukan ganda. | |||||
DAFTAR TILIK
Berikan tanda ✓ dalam kotak yang tersedia bila ketrampilan/tugas telah dikerjakan dengan memuaskan, dan berikan tanda x bila tidak dikerjakan dengan memuaskan serta T/D bila tidak dilakukan pengamatan.
Memuaskan Langkah atau tugas dikerjakan sesuai prosedur standar
atau penuntun.
X Tidak memuaskan
Tidak mampu untuk mengerjakan langkah atau tugas sesuai dengan prosedur standar atau penuntun.
T/D Tidak
diamati
Langkah, tugas atau ketrampilan tidak dilakukan oleh peserta latih selama penilaian oleh pelatih.
Rinoplasti
DAFTAR TILIK | ||||||
NO | KEGIATAN / LANGKAH KLINIK | KESEMPATAN KE | ||||
1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
Persiapan | ||||||
1 | Kaji ulang diagnosis dan prosedur operatif | |||||
2 | Menyiapkan peralatan operatif | |||||
3 | Menyiapkan diri untuk tindakan operatif | |||||
4 | Menyiapkan posisi pasien | |||||
5 | Melakukan tindakan a & anti septik | |||||
6 | Melakukan anestesi lokal | |||||
PROSEDUR OPERASI | ||||||
1 | Melakukan tindakan rinoplasti | |||||
2 | Memasang nasal packing bila diperlukan | |||||
MATERI PRESENTASI
LCD 1: Anatomi hidung Anatomi septum
LCD 2:
Frontal: Horizontally
Analisis hidung dan wajah
Gunter, Rohrich & Adams
The 8th Septorhinoplasty Symposium & Cadaver Dissection, November 2013
Gunter, Rohrich & Adams
Frontal: Vertically
The 8th Septorhinoplasty Symposium & Cadaver Dissection, November 2013
Alar rim: slight outward flare (inferior direction)
Nasal dorsum: outlined 2 slightly curved divergent lines, extending from medial supraciliary ridges-tip defining points
Gunter, Rohrich & Adams
The 8th Septorhino asty Symposium & Cadaver Dissection, November 2013
Line nasion-tip nasi: 2 mm posterior and parallel (women).
Too far posterior: augmentation will be required.
Too anterior: reduction Women: slight supratip break
The 8th Septorhino asty Symposium & Cadaver Dissection, November 2013
LCD 4: Penatalaksanaan
Tatalaksana/ prosedur
Osteotomi
Rinoplasti endonasal apprach
Rinoplasti external approach
LCD 5: Algoritma
Surgical approach to the nose
Surgical approach
Eksternal
Endonasal
Tip
Dorsum
Septum
Tip
Dorsum
Septum
Non delivery
Delivery
Transcartilaginou
Retrograde/eversion
Guideline surgical approach Endonasal approach : Rinoplasti augmentasi Rinoplasti hump nose
Tip surgery Primary rinoplasti
Tip surgery for boxy, bulbous tip Asymetry
Piramid deviasi dengan prosedur osteotomi
External approach Deformitas kongenital Deformiitas 2/3 piramid Tip projection Deformitas septum berat Twisted nose
Structural Grafting Middle and nasal vault Perforasi septum
Revisi surgery
LAMPIRAN
MATERI BAKU
Anatomi hidung
Hidung terdiri atas kulit, jaringan subkutis, kerangka hidung dan mukosa yang melapisi kavum nasi serta septum nasi yang membatasi rongga hidung kanan dan kiri. Kerangka hidung terdiri atas kerangka tulang dan tulang rawan. Kerangka tulang terdiri atas os nasal, prosesus frontalis os maksila, prosesus nasalis os frontalis dan tulang-tulang pembentuk septum yaitu os vomer dan os ethmoid. Kerangka tulang rawan terdiri atas cartilago upper lateral, cartilago lower lateral dan cartilago septum.
Diagnosis :
Deformitas hidung dengan dan tanpa riwayat trauma hidung
Pemeriksaan intranasal setelah pemberian dekongestan dengan dan tanpa deviasi septum
Pemeriksaan hidung luar terdapat deviasi piramid hidung
Foto polos os nasal dan waters dapat membantu diagnosis bila berkorelasi dengan pemeriksaan fisik
Foto dokumentasi 6 posisi
Indikasi Rinoplasti
Deformitas hidung bony piramid atau cartilage pyramid atau keduanya
Penatalaksanaan
Rinoplasti
Endonasal rhinoplasty :
Augmentasi dorsum
Tip surgery
Deviasi pyramid yang membutuhkan osteotomy
Rhinoplasty eksterna :
Deformitas pyramid atau hidung kongenital (cleft lip nose)
Augmentasi/ reduksi dorsum nasi pada 2/3 hidung
Tip proyeksi
Deformitas septumnasi yang berat
Twisted nose
Structural grafting
Rekonstruksi perforasi septum
Revisi rinoplasti
Macam insisi pada rinoplasti: External approach
Insisi transkolumela
Endonasal approach
Insisi interkartilago
Insisi intrakartilago
Insisi marginal (infrakartilago)
Insisi rim
Komplikasi
Dini, temporer | Lambat |
Edema | Obstruksi jalan nafas |
Ekmosis | Fibrosis, kontraktur |
Epistaxis | Deformitas menetap |
Hematoma | |
Infeksi | Saddle nose |
KEPUSTAKAAN MATERI BAKU
Brendan C. Stack Jr. in Bailey Byron J, Head & Neck Surgery-Otolaryngology, fourth edition, volume one, Maxillary and periorbital fractures, Lippincot William-Wilkins, Philadelphia, USA, 2006: 70: 975-993.
Bailey Byron J, Head & Neck Surgery-Otolaryngology, third edition, volume two, Nasal Fractures, Lippincot William-Wilkins, Philadelphia, USA, 2001: 71A: 995-1008.
Guideline Penyakit THT-KL di Indonesia, Perhimpunan Dokter Spesialis THT- KL Indonesia, 2007
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
MODUL VIII.1.3
FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI - TRAUMA, FRAKTUR, DAN KELAINAN HIDUNG: SEPTORINOPLASTI
WAKTU
Proses Pengembangkan Kompetensi | Alokasi Waktu : |
Sesi di dalam kelas Sesi Pratikum Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi | 18 X 60 menit (classroom session) 18 X 60 menit (coaching session) 41 X 60 menit (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi presentasi: Kelainan Hidung
Slide 1: Anatomi hidung
Slide 2: Jenis kelainan septum dan hidung
Slide 3: Diagnosis kelainan septum dan hidung
Slide 4: Penatalaksanaan
Slide 5: Algoritma
Kasus : septum deviasi dan piramid
Sarana dan alat bantu latih :
Video, kasus.
Penuntun belajar (learning guide) terlampir
Tempat belajar (training setting): bangsal THT, Poliklinik THT, kamar operasi, instalasi rawat darurat, bangsal perawatan pasca bedah THT.
REFERENSI
Bailey, B, Tan LK, Nasal and Frontal Sinus Fracture in : Head and Neck Surgery-Otolaryngology, Lippincot William-Wilkins, Philadelphia, USA, 2014
Lee, K.J, Essential Otolaryngology Head & Neck Surgery, International edition, Mc. Graw-Hill, 2003
Behrbohm H., Tardy M.E Jr, Essentials of Septorhinoplasty, Philosophy- Approaches-Techniques, Thieme Medical Publishers, Inc., New York, 2004
Papel ID, Frodel J Holt GR, Larrabee W, Nachlas N, Park SS, Sykes JM, Toriumi D Facial Plastic and Reconstructive Surgery. Thieme Medical Publisher.NY 2006
KOMPETENSI
Mampu membuat diagnosis deviasi septum dan piramid hidung berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan-pemeriksaan tambahan (misalnya pemeriksaan X-Ray, nasoendoskopi). Dapat memutuskan dan mampu menangani masalah tersebut secara mandiri hingga tuntas.
Ketrampilan
Peserta didik diharapkan terampil :
Menjelaskan anatomi dan fisiologi hidung anak serta orang dewasa ( TK4)
Menjelaskan patogenesis dan patofisiologi berbagai kelianan deviasi septum dan piramid hidung (TK4)
Melakukan anamnesis dan pemeriksaan klinis (TK4)
Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang seperti foto rontgen, nasoendoskopi, CTscan, foto dokumentasi (TK4)
Menegakkan diagnosis dan diagnosis banding (TK4)
Menilai perlunya pemeriksaan tambahan dan khusus serta konsultasi ke disiplin lain (TK4)
Melakukan tindakan septorinoplasti pada deviasi septum (TK4) dan piramid hidung ((TK3)
Mengenali komplikasi yang dapat menyertai deviasi septum dan piramid hidung seprti sumbatan hidung, snoring, anosmia dangguan fungsi lainnya dan gangguan estetika(TK4)
GAMBARAN UMUM
Hidung merupakan struktur yang paling prominen pada wajah. Kelainan deviasi septum dan piramid hidung merupakan kelainan yang sering luput dari penglihatan seorang ahli THT. Banyak kelainan patologis hidung dan septum tidak terdiagnosis dan tertangani pada awal dan menyebabkan gangguan fungsi dan kosmetik hidung, tuba eusthachius sehingga yang memerlukan tindakan prosedur septorinoplasti akibat deviasi septum dan piramid hidung yang menyebabkan obstruksi hidung, snoring, sinuitis akibat gangguan fungsi dan kosmetik tsb.
CONTOH KASUS
Seorang laki-laki, 25 tahun datang dengan keluhan nyeri pada hidung dan perubahan bentuk hidung sejak 6 bulan yang lalu akibat setelah tersikut lengan temannya sewaktu bermain sepak bola Penderita juga mengeluh hidung kanan terasa tersumbat. Tidak ada perdarahan hidung dan tterdapat cefalgi dan sekret terus menerus. Pada pemeriksaan fisik ditemukan septum deviasi pada area 2 disertai dengan hipertrofi konka
Pemeriksaan apa yang perlu dilakukan untuk menilai adanya sumbatan hidung sehingga perlu tatalaksana selanjutnya pada pasien kasus ini
Foto rongten sinus paranasal
Nasoendoskopi
Rinomanometri
CT-Scan
Tindakan operasi yang diperlukan pada pasien ini bila ditemukan sumbatan
Septoplasti
Septorinoplasti
Rinoplasti augmentasi
Rinopalasti reduksi
TUJUAN PEMBELAJARAN
Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan menatalaksana septum deviasi dan piramid hidung seperti yang telah disebutkan diatas, yaitu:
Menguasai anatomi dan fisiologi hidung
Mampu menjelaskan etiopatogenesis dan gambaran klinis deviasi septum dan piramid hidung
Menentukan dan melakukan pemeriksaan penunjang untuk deviasi septum dan piramid hidung
Membuat diagnosis deviasi septum dan piramid hidung
Melaksanakan tindakan rekonstruksi terhadap f deviasi septum dan piramid hidung septorinoplasti
METODE PEMBELAJARAN
Interactive lecture
Journal reading and review.
Morbidity and Mortality Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).
Operative Procedure Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients.
Continuing Professional Development
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pre test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pre test terdiri atas :
Anatomi dan fisiologi septum dan hidung
Penegakan diagnosa
Penatalaksanaan
Komplikasi
Follow up
Selanjutnya dilakukan "small group discussion" bersama dengan fasilitator
untuk membahas kasus/jurnal reading/referat/portfolio.
Setelah selesai penatalaksanaan kasus, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
Self assesment dengan mempergunakan penuntun belajar
Pendidik/ fasilitas :
pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form (terlampir)
penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi
kriteria penilaian keseluruhan : perlu perbaikan/ cukup/ baik
Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education)
Pencapaian pembelajaran :
Ujian skill (psikomotor), dilakukan selama stase di sub-bagian dengan observasi menggunakan daftar tilik
Ujian akhir stase, setiap divisi/ unit kerja oleh masing-masing sentra
Ujian akhir komprehensif dilakukan secara nasional (National Board) pada tahapan tertentu dengan ujian MCQ dan LISAN/OSCE oleh kolegium THT-KL.
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Kuesioner Sebelum Pembelajaran
Dislokasi caulda septum dan deviasi tip nasi menimbulkan keluhan sumbatan nafas nafas B S
Septoplasti terdapat tahapan 6 langkah dengan insisi hemitransfiksi sebagai langkah pertama B S
Kelainan septum tanpa gejala perlu dilakukan septorinoplasti untuk alasan estetika
B S
Septoplastirinoplasti dilakukan pada fraktur os nasal sebaiknya harus dilakukan dalam 24 jam pertama setelah trauma B S
Jawaban :
1. B
2. B
3. S
4. S
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR
PENUNTUN BELAJAR SEPTORINOPLASTI
Lakukan penilaian kinerja pada setiap langkah atau tugas dengan menggunakan skala penilaian di bawah ini :
Perlu
Perbaikan
Cukup
Baik
Langkah atau tugas tidak dikerjakan secara benar atau dalam urutan yang salah.
Langkah atau tugas dikerjakan secara benar dalam urutan yang benar tetapi belum dikerjakan secara lancar.
Langkah atau tugas dikerjakan secara efisien dan dikerjakan dalam urutan yang benar.
NO | KEGIATAN / LANGKAH KLINIK | KESEMPATAN KE | ||||
1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | ||||||
2. | ||||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR SEPTOPLASTI | ||||||
1. | Cuci tangan, memakai baju operasi dan lampu kepala | |||||
2. | Tindakan a dan antiseptik pada daerah wajah pasien dan sekitarnya dengan menggunakan povidon iodine atau antiseptik lainnya | |||||
3. | Pasang kain penutup operasi steril pada pasien, kecuali di area operasi | |||||
4. | Posisi pasien : Berbaring bila tindakan dalam anestesi umum | |||||
5. | Anestesi : | |||||
III. PROSEDUR SEPTOPLASTI | ||||||
1. | Prosedur septoplasti dapat dilakukan dengan 6 tahap. Insisi hemitransfiksi, mobilisasi septum tunnel anterior, posterior dan inferior, reseksi, reposisi, rekonstruksi, fiksasi | |||||
2. | Pada insisi hemitrasnfiksi insisi 2 mm dari caudal end septum | |||||
3. | Mobilisasi dengan tunnel anterior, inferior , superior dan posterior | |||||
4. | Reseksi dengan kondrotomi inferior dan posterior | |||||
Nama
Diagnosis
Informed Choice & Informed Consent
Rencana Tindakan
Persiapan Sebelum Tindakan
Pasang tampon hidung atau spray yang berisi dekongestan - anestetik topikal.
Larutan lidocan 1% dengan 1 : 100.000 epinefrin disuntikkan intranasal diantara kartilago upper dan lower lateral dan diteruskan subkutaneus sampai keatas tulang di kedua sisi.
NO | KEGIATAN / LANGKAH KLINIK | KESEMPATAN KE | ||||
1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
5. | Memasang reposisi Rekontruksi dengan mempertahankan tip dan piramid support Fiksasi dengan jahitan pada tip nasi dan tampon hidung | |||||
IV. PROSEDUR OSTEOTOMI | ||||||
1. | Osteotomi paramedian Mobilisasi dari tulang piramid selalu dimulai dari osteotomi paramedial. Pendekatannya dapat melalui intraseptal setelah saluran septum dibuat Buat garis rencana osteotomi . . Osteotomi paramedial kulit dorsum nasi diunderminingnelalui insisi interkartilago natu insisi hemitransfiksi dengan gunting tumpul. Pahat lurus ukuran 7 mm dimasukkan intraseptal dengan ukung sudut pahat ke arah luar (lateral) sampai ujung pahat mencapai titik 1-2 mm kranial dari garis kulit transversal. | |||||
2. | Osteotomi lateral Dibuat insisi vestibular dengan menggunakan pisau 15 Pahat lurus 7 mm dimasukkan pada tepi kaudal dari piramid tulang, kira-kira 1-2 mm ventral garis dasar hidung dengan ujung pahat menghadap ke atas.. Lateral osteotomi dilanjutkan sampai batas kulit ostetomi transversal. | |||||
3. | Osteotomi intermedia dilakukan diantara osteotomi paramedian dan lateral. Tindakan ini dilakukan sebelum atau sesudah osteotomi lateral, dan dilakukan hanya pada keadaan tertentu seperti deviasi pyramid berat, dan bentuk pyramid konvex atau konkaf sekali. | |||||
4. | Osteotomi transversa. Instrument : Pahat 7 mm - Pahat lengkung dimasukkan melalui insisi vestibulum ke bagian atas sesuai dengan garis marka | |||||
7. | Osteotomi hidung berpunuk. Terowongan superior diperluas keatas sampai daerah tulang os nasal. Bagian menonjol direseksi menggunakan pahat. Pahat dimasukkan dengan sudut 300 dengan level kearah atas. Tonjolan dipahat dengan teknik ketukan ganda. | |||||
DAFTAR TILIK
Septoplasti
Berikan tanda ✓ dalam kotak yang tersedia bila ketrampilan/tugas telah dikerjakan dengan memuaskan, dan berikan tanda x bila tidak dikerjakan dengan memuaskan serta T/D bila tidak dilakukan pengamatan.
DAFTAR TILIK | ||||||
NO | KEGIATAN / LANGKAH KLINIK | KESEMPATAN KE | ||||
1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
Persiapan | ||||||
1 | Kaji ulang diagnosis dan prosedur operatif | |||||
2 | Menyiapkan peralatan operatif | |||||
3 | Menyiapkan diri untuk tindakan operatif | |||||
4 | Menyiapkan posisi pasien | |||||
5 | Melakukan tindakan a & anti septik | |||||
6 | Melakukan anestesi lokal | |||||
PROSEDUR OPERASI | ||||||
9 | 1. Melakukan tindakan septoplasti | |||||
10 | 2. Memasang nasal packing bila diperlukan | |||||
Memuaskan
Langkah atau tugas dikerjakan sesuai prosedur standar atau penuntun.
X Tidak memuaskan
Tidak mampu untuk mengerjakan langkah atau tugas sesuai dengan prosedur standar atau penuntun.
T/D Tidak
diamati
Langkah, tugas atau ketrampilan tidak dilakukan oleh peserta latih selama penilaian oleh pelatih.
MATERI PRESENTASI
LCD 1: Anatomi hidung
Anatomi septum
LCD 2: Septoplasti
Elevasi mukoperikondrium dari kartilago
Insisi Hemitransfiksi
Mobilisasi septum
Rekonstruksi septum
Fiksasi dengan jahitan
LCD 4: Penatalaksanaan Tatalaksana/ prosedur
Septoplasti, 6 langkah
Rinoplasti endonasal apprach
Rinoplasti external approach
septorinoplasti
LCD 5: Algoritma
Surgical approach to the nose
Surgical approach
Eksternal
Endonasal
Tip
Dorsum
Septum
Tip
Dorsum
Septum
Non delivery
Delivery
Transcartilaginous
Retrograde/eversion
Guideline surgical approach Endonasal approach : Rinoplasti augmentasi Rinoplasti hump nose
Tip surgery Primary rinoplasti
Tip surgery for boxy, bulbous tip Asymetry
Piramid deviasi dengan prosedur osteotomi
External approach Deformitas kongenital Deformiitas 2/3 piramid Tip projection Deformitas septum berat Twisted nose
Structural Grafting Middle and nasal vault
Perforasi septum Revisi surgery
LAMPIRAN
MATERI BAKU
Anatomi hidung
Hidung terdiri atas kulit, jaringan subkutis, kerangka hidung dan mukosa yang melapisi kavum nasi serta septum nasi yang membatasi rongga hidung kanan dan kiri. Kerangka hidung terdiri atas kerangka tulang dan tulang rawan. Kerangka tulang terdiri atas os nasal, prosesus frontalis os maksila, prosesus nasalis os frontalis dan tulang-tulang pembentuk septum yaitu os vomer dan os ethmoid. Kerangka tulang rawan terdiri atas cartilago upper lateral, cartilago lower lateral dan cartilago septum.
Diagnosis :
Riwayat sumbatan hidung, dengan dan tanpa riwayat trauma hidung
Pemeriksaan intranasal setelah pemberian dekongestan dapat mendiagnosis deviasi septum
Pemeriksaan hidung luar terdapat deviasi piramid hidung , recoil test +, cottle sign +
Foto polos os nasal dan waters dapat membantu diagnosis bila berkorelasi dengan pemeriksaan fisik
Foto dokumentasi 6 posisi
Indikasi
Septoplasti: gangguan fungsi hidung
Obstruksi hidung
Trauma
Gangguan kosmetik
Komplikasi
Penatalaksanaan
Septorinoplasty
Septoplasti terdiri dari 6 langkah
Rinoplasti dengan Endonasal rhinoplasty
Eksternal approach dimulai dengan insisi transcolumella kemudian dilakuan septoplasti
Indikasi septorinoplasti
Kelainan kongenital dan didapat pada septum dan pyramid hidung.
Gangguan kosmetik.
Deformitas pyramid atau hidung kongenital (cleft lip nose)
Augmentasi/ reduksi dorsum nasi pada 2/3 hidung
Tip proyeksi
Deformitas septumnasi yang berat
Twisted nose
Structural grafting
Rekonstruksi perforasi septum
Revisi rinoplasti
Macam insisi pada septoplasti : hemitransfiksi Macam insisi pada rinoplasti
Insisi transkolumela
Insisi interkartilago
Insisi intrakartilago
Insisi marginal (infrakartilago)
Insisi rim
Komplikasi
Dini, temporer | Lambat |
Edema | Obstruksi jalan nafas |
Ekmosis | Fibrosis, kontraktur |
Epistaxis | Deformitas |
Hematoma | Sinekia |
Infeksi | Saddle nose |
Perforasi septum |
KEPUSTAKAAN MATERI BAKU
Brendan C. Stack Jr. in Bailey Byron J, Head & Neck Surgery-Otolaryngology, fourth edition, volume one, Maxillary and periorbital fractures, Lippincot William-Wilkins, Philadelphia, USA, 2006: 70: 975-993.
Bailey Byron J, Head & Neck Surgery-Otolaryngology, third edition, volume two, Nasal Fractures, Lippincot William-Wilkins, Philadelphia, USA, 2001: 71A: 995-1008.
Guideline Penyakit THT-KL di Indonesia, Perhimpunan Dokter Spesialis THT- KL Indonesia, 2007
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
MODUL VIII.2.1
TOPIK : FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI TRAUMA MAKSILOFASIAL: TRAUMA MAKSILA
WAKTU
Mengembangan Kompetensi | Alokasi Waktu |
Sesi didalam kelas | 18 X 60 menit (classroom session) |
Sesi dengan fasilitas pembimbing | 50 X 60 menit (coaching session) |
Sesi pencapaian kompetensi | 43 X 60 menit (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi Presentasi :
SLIDE 1 : Anatomi maksila
SLIDE 2: Klasifikasi Trauma Maksila
SLIDE 3 : Indikasi rekonstruksi maksila
SLIDE 4: Pemeriksaan Peninjang
SLIDE 5 : Teknik operasi
SLIDE 6 : Perawatan pasca operasi & komplikasi
Kasus :
1. Seorang laki-laki, 28 tahun, datang ke poliklinik THT-KL setelah terjatuh dari motor, mengeluh bengkak pada wajah, dan mengalami kesulitan membuka mulut.
Sarana dan alat Bantu latih:
Penuntun belajar
Tempat belajar ; Bangsal THT, Poli THT, kamar operasi
Video animasi tuntunan operasi
Kadaver
REFERENSI
1. Bailey BJ, Johnson JT, Midface Fractures, Head & Neck Surgery - Otolaryngology, 5th Edition, Volume two, Lippincott Williams & Wilkins, 2014, p : 1209-1223
KOMPETENSI
Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan-pemeriksaan tambahan yang diminta oleh dokter (misalnya; pemeriksaan laboratorium sederhana atau x-ray). Dokter dapat memutuskan dan mamph menangani problem itu secara mandiri hingga tuntas.
Keterampilan (4)
Setelah mengikuti sesi ini, peserta didik diharapkan terampil :
Mengenali gejala
Melakukan anamnesis, pemeriksaan dan penatalaksanaan fraktur maksila
Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi
Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi yang akan digunakan
Merencanakan perawatan pasca operasi serta perencanaan tatalaksana selanjutnya
Merencanakan penatalaksanaan bila terjadi komplikasi operasi
Lulusan dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai fraktur maksila (baik konsep, teori, prinsip maupun indikasi, serta cara melakukan, komplikasi yang timbul, dan sebagainya). Selama pendidikan pernah melihat atau pernah didemonstrasikan operasi ini, dan pernah menerapkan rekonstruksi fraktur maksila beberapa kali di bawah supervisi sera memliki pengalaman untuk menggunakan dan menerapkan rekonstruksi fraktur maksila ini dalam konteks praktik dokter secara mandiri.
GAMBARAN UMUM
Maksila berhubungan langsung ke superior dan medial dengan tulang frontal dan tulang nasal. Bagian inferior dan medial prosesus palatinus maksila, membentuk hard palate primer. Prosesus alveolaris maksila bagian inferior memanjang dan memegang akar gigi bagian atas. Beberapa bagian maksila tipis. Dinding lateral antrum maksila merupakan tulang kompak. Di daerah inilah Zigomaticomaxillary buttress berasal.
CONTOH KASUS
Seorang laki-laki, 28 tahun, datang ke poliklinik THT-KL setelah terjatuh dari motor, mengeluh bengkak pada wajah, dan mengalami kesulitan membuka mulut
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan Pembelajaran Umum :
Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan untuk :
Mengenali gejala, tanda fraktur maksila
Melakukan anamnesis, pemeriksaan dan diagnosis klasifikasi tentang fraktur maksila
Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi
Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi yang akan digunakan
Merencanakan perawatan pasca operasi serta perencanaan tatalaksana selanjutnya
Merencanakan penatalaksanaan bila terjadi komplikasi operasi
Tujuan Pembelajaran Khusus :
Setelah Mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk :
Menjelaskan anatomi, topografi dan patofisiologi maksila (tingkat kompetensi K4)
Mejelaskan etiologi dan kalsifikasi fraktur maksila (tingkat kompetensi K4)
Menjelaskan dan gambaran klinis beberapa klasifikasi fraktur maksila (tingkat kompetensi K4)
Menerangkan pemeriksaan penunjang yang diperlukan pada penatalaksanaan fraktur maksila (tingkat kompetensi K4)
Menjelaskan tehnik operasi sesuai dengan klasifikasi fraktur maksila (tingkat kompetensi K4)
Menjelaskan perawatan pasca operasi dan rencana selanjutnya (tingkat kompetensi K4)
Menjelaskan penangan komplikasi operasi mulai dari komplikasi pada saat operasi, pasca operasi dan komplikasi lama (tingkat kompetensi K4)
Melakukan tatalaksana pasien fraktur maksila sampai pasca operasi (tingkat kompetensi K4)
Melakukan tindakan rekonstruksi maksila (tingkat kompetensi K4)
Merawat penderita dengan fraktur maksila pra operasi termasuk edukasi keluarga pasien, informed consent serta perawatan pasca operasi serta mengatasi komplikasi yang kemungkinan terjadi (tingkat kompetensi K4)
METODE PEMBELAJARAN
Pendahuluan
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini :
Small group discussion
Peer assisted learning
Bedside teaching
Task-based medical education
Must to know key points :
Peserta didik paling sudah harus mempelajari :
Bahan acuan (references)
Ilmu dasar yang berkaitan dengan topik pembelajaran
Ilmu klinis dasar
Penuntun belajar (learning guide)
Tempat belajar (training setting) : bangsal rawat tht, kamar operasi, bangsal perawatan pasca operasi.
Cara pembelajaran :
Pelatihan
Belajar mandiri
Kuliah
Group diskusi
Bed site teaching
Bimbingan Operasi dan asistensi
Melakukan operasi mandiri di bawah supervisi.
Countinuing Profesional Development.
Alat bantu pembelajaran :
Melihat tehnik rekonstruksi fraktur maksiladi kamar operasi
Kadaver
EVALUASI
Pada awal pembelajaran dilakukan evaluasi Pre - test dalam bentuk essay dan pilihan ganda. Materi test terdiri dari : anatomi, patofisiologi, penegakan diagnosis serta klasifikasi, teknik - tehnik operasi, komplikasi dan penangannya, follow up dan perencanaan selanjutnya.
Bedsite teaching dan diskusi untuk membahas beberapa masalah yang ada.
Setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberi kesempatan untuk assistensi operasi rekonstruksi maksila. Pada saat itu kan dilakukan evaluasi pengetahuan dan kompetensi peserta didik.
Setelah melakukan asistensi dan dinilai kompeten, peserta didik dapat melakukan operasi labioskisis di bawah bimbingan.
Pendidik / fasilitas
Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist
Penjelasan lisan dan diskusi
Kriteris penilaian langsung : cakap / tidak cakap / lalai.
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Fracture displacement of which structure as demonstrated by axial computed tomography best indicates the amount of intrusion of the middle third of the facial skeleton in patient whose highest fracture is at the LeFort III level?
Bony nasal septum
Zygomatic arch
Pterygoid plates
Malar prominence
Hard palate Jawaban: B
Bilateral LeFort fractures are treated with miniplates and screws, and the maxillomandibular fixation is removed in the operating room. One week later the patient is noted to have a unilateral openbite deformity. Treatment at this time should be..
Reapplication of arch bars
Occlusal adjustment with selective grinding of the teeth
Fabrication of an inclined bite splint to guide the teeth back into occlusion
Removal of miniplates and reapplication of maxilomandibular fixation
Continued observation for development of a bilateral crossbite deformity
Jawaban: D
I. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR
PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR REKONSTRUKSI MAKSILA
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :
Perlu perbaikan : langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu : langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan)
Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
NAMA PESERTA : .........TANGGAL:..........
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||||
| |||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR LABIOPLASTI | |||||
- Cuci tangan, memakai baju operasi dan memakai sarung tangan | |||||
- Tindakan a & anti sepsi daerah operasi dengan povidon iodine | |||||
- Memasang kain steril sebagai penutup pasien kecuali daerah operasi | |||||
- Dilakukan infiltrasi dengan Adrenalin : Lidokain sebesar 1: 200.000 pada daerah insisi. | |||||
III. PROSEDUR OPERASI | |||||
- Setelah penandaan dan infiltrasi sempurna dilakukan insisi sesuai penandaan dan perencanaan gambar, setelah dilakukan insisi tergantung posisi dan daerah fraktur, dilakukan diseksi, periosteum dipisahkan dari tulang,lalu dilakukan pemasangan plate and screw pada daerah fraktur, luka operasi ditutup lapis demi lapis. Pada fraktur maksila dengan adanya maloklusi, tindakan pertama adalah memasang arch bar/ IMF/ quick Fix untuk memperbaiki maloklusi, setelah itu baru dilakukan insisi, penasangan plate and screw pada daerah fraktur, luka operasi ditutup lapis demi lapis. | |||||
IV. PASCA OPERASI | |||||
- Instruksi pasca operasi Pasca bedah pasien dapat dipulangkan setelah efek anestesi umum sudah hilang dan sadar penuh dan tidak ada perdarahan. Pasien diterapi dengan antibiotika oral dan analgesia ke tiga dan angkat jahitan pada hari ke 7 |
DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA PROSEDUR REKONSTRUKSI FRAKTUR MAKSILA
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotor atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan suatu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini:
: Memuaskan : Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
X : Tidak memuaskan : Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
T/T : Tidak ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih.
PESERTA : ................................. TANGGAL:..............
KEGIATAN | NILAI | ||
PERSIAPAN | |||
1. Kaji ulang diagnosis dan prosedur operasi | |||
2. Menyiapkan peralatan operasi | |||
3. Menyiapkan diri untuk melakukan tindakan operasi | |||
4. Menyiapkan posisi pasien | |||
5. Melakukan tindak a & anti septil | |||
6. Memasang kain steril menutup pasien kecuali area operasi | |||
PROSEDUR OPERASI | |||
1. Melakukan infiltrasi dengan Adrenalin : Lidokain sebesar 1: 200.000 pada daerah incisi.
| |||
ditutup lapis demi lapis.
|
J. MATERI PRESENTASI
Zigomaticomaxillarys buttress
SLIDE 1 : Anatomi maksila
Le Fort I
Le Fort II
Le Fort III
SLIDE 2: Klasifikasi Trauma Maksila
SLIDE 3 : Indikasi rekonstruksi maksila
Wajah asimetris
Gangguan fungsi mengunyah
Gangguan fungsi pernapasan
Gangguan penglihatan
SLIDE 4 Pemeriksaan Penunjang
CT Scan coronal dan Sagital potongan 1 mm
CT Scan 3D
SLIDE 5 Teknik Operasi
Sesuai dengan diagnosis pasien
Setelah penandaan dan infiltrasi sempurna dilakukan insisi sesuai penandaan dan perencanaan gambar, setelah dilakukan insisi tergantung posisi dan daerah fraktur, dilakukan diseksi, periosteum dipisahkan dari tulang,lalu dilakukan pemasangan plate and screw pada daerah fraktur, luka operasi ditutup lapis demi lapis.
Pada fraktur maksila dengan adanya maloklusi, tindakan pertama adalah memasang arch bar/ IMF/ quick Fix untuk memperbaiki maloklusi, setelah itu baru dilakukan insisi, penasangan plate and screw pada daerah fraktur, luka operasi ditutup lapis demi lapis.
SLIDE 6 Perawatan pasca operasi & komplikasi
K. MATERI BAKU
Fraktur Maksila
Definisi
Diskontinuitas tulang maksila yang dapat disebabkan oleh trauma baik secara langsung atau tidak langsung. Maksila berhubungan langsung ke superior dan medial dengan tulang frontal dan tulang nasal. Bagian inferior dan medial prosesus palatinus maksila, membentuk hard palate primer. Prosesus alveolaris maksila bagian inferior memanjang dan memegang akar gigi bagian atas. Beberapa bagian maksila tipis. Dinding lateral antrum maksila merupakan tulang kompak. Di daerah inilah Zigomaticomaxillary buttress berasal.
Tindakan operasi dilakukan untuk memperbaiki fungsi ataupun kosmetik wajah, fraktur yang berhubungan dengan sistem pilar vertikal dari sepertiga tengah wajah. Diagnosis dan tatalaksana yang baik dapat mencegah timbulnya komplikasi yang disebabkan fraktur ini.
Le Fort I ( Prosesus alveolaris ) : Fraktur maksila rendah yang memisahkan maksila setinggi dasar hidung
Le Fort II ( Fraktur Piramidal ) : Fraktur pada palatum dan sepertiga tengah wajah yang berakibat terpisahnya bagian sepertiga tengah wajah dari dasar kranium.
Le fort III (Craniofacial disjunction) : Fraktur yang mengakibatkan pemisahan lengkap kompleks zygomaticomaxillaris dari dasar kranium.
Indikasi operasi
Wajah asimetris
Gangguan fungsi mengunyah
Gangguan fungsi pernapasan
Gangguan pengelihatan Kriteria diagnosis :
Anamnesis :
Pembengkakan infra orbital
Hipestesi cabang N.V2
Maloklusi (Le Fort I - II)
Epistaksis (Le Fort II - III)
LCS leak (Le Fort III)
mekanisme trauma : tentang kekuatan, lokasi dan arah benturan yang terjadi
cedera di bagian tubuh yang lain
riwayat perubahan status mental dan penurunan kesadaran
adanya defisiensi fungsional lainnya, misalnya berhubungan dengan jalan nafas, penglihatan, syaraf otak ataupun pendengaran
Pemeriksaan Fisik :
secara inspeksi wajah tampak tidak simetris atau tidak proporsional
Inspeksi : kelainan lokal,luka, asimetri wajah, adakah gangguan fungsi mata, gangguan oklusi, trismus, paresis fascialis dan sebagainya.
edema jaringan lunak dan ekimosis
palpasi : daerah supraorbital, lateral orbital rim, zygoma, infra orbital, hidung, mandibula, sendi temporomandibular, palpasi bimanual (ekstra - intra oral).
LeFort I
Terdapat mobilitas atau pergeseran arkus dentalis, maksila dan palatum
Maloklusi gigi
LeFort II
Palatum bergeser ke belakang
Maloklusi gigi
LeFort III
Terdapat mobilitas dan pergeseran kompleks zigomatikomaksilaris
komplikasi intrakranial misalnya : kebocoran cairan serebrospinal melalui sel atap ethmoid dan lamina cribiformis.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan radiologi baik berupa foto polos maupun CT Scan
Foto polos : posisi Waters, foto kepala lateral maupun servikal lateral.
CT Scan baik potongan axial maupun coronal.
pemeriksaan untuk persiapan operasi :
lab darah : Hb, Lekosit, Trombosit, BT, CT, bila perlu PT dan aPTT, SGOT,SGPT, Ureum, Kreatinin, Na, Kalium.
Radiologik : foto Thoraks Lain-lain : EKG bila perlu
Penatalaksanaan/terapi
Perbaikan keadaan umum
Medikamentosa kausal
transfusi darah (bila perlu)
Operatif : Repair (atau Reduksi) fraktur maksila Dapat berupa :
LeFort I :
Fiksasi interdental dan intermaksilar selama 4 - 6 minggu
LeFort II :
Seperti LeFort I disertai fiksasi dari sutura zigomatikum atau rim orbita
LeFort III :
Reduksi terbuka dengan fiksasi interdental dan intermaksilar, suspensi dari sutura zigometikum dan pemasangan kawat dari rim orbita.
Dapat digunakan mini/microplate untuk mobilisasi segmen fraktur sebagai pengganti kawat.
Bila dengan teknik diatas tidak didapatkan fiksasi yang adekuat, digunakan alat fiksasi eksterna untuk membuat traksi lateral atau anterior.
Pemasangan splint bila terdapat displacement gigi, traktur alveolar atau maloklusi
Penyulit :
Perdarahan
Anemia
Obstruksi jalan nafas
Cedera saraf
Kebocoran CSF
Infeksi
Syok
List of Skill
Tahapan Bedah Dasar (sudah kompeten melakukan bedah dasar)
Persiapan pra operasi: anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, IC
Melakukan Operasi (asistensi)
Menangani Komplikasi
Melakukan Follow-up
Tahapan bedah lanjutan
Persiapan pra operasi: anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, IC
Melakukan Operasi (Bimbingan, Mandiri)
Menangani Komplikasi
Melakukan Follow-up
Melakukan perencanaan selanjutnya
Tehnik Operasi
Setelah penandaan dan infiltrasi sempurna dilakukan insisi sesuai penandaan dan perencanaan gambar, dilakukan insisi pada sublabial yang diekstensikan tergantung posisi dan daerah fraktur, dilakukan diseksi secara tumpul hingga periosteum, periosteum dipisahkan dari tulang sehingga tercapai maksila degloving ( seluruh os maksila terpapar berikut daerah garis frakturnya), lalu dilakukan internal fiksasi yang stabil sepanjang garis fraktur. Dilakukan pemasangan plate and screw pada daerah fraktur, dilakukan mobilisasi awal untuk mengevaluasi dan mencapai oklusi yang optimal, dilakukan perawatan perdarahan dengan memperhatikan jaringan lunak dan mempreservasi suplai neurovascular di daerah operasi. Luka operasi ditutup lapis demi lapis, dilakukan penutupan luka dengan menggunakan verban tekan.
KEPUSTAKAAN MATERI BAKU
1. Bailey BJ, Johnson JT, Midface Fraktures , Head & Neck Surgery - Otolaryngology, Fifth Edition, Volume two, Lippincott Williams & Wilkins, 2014, p : 1209 -1224
L. ALGORITMA
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
MODUL VIII.2.2
TOPIK : FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI - TRAUMA MAKSILOFASIAL: TRAUMA ZIGOMA
WAKTU
Mengembangan Kompetensi | Hari : |
Sesi didalam kelas | 4 x 30 menit (classroom session) |
Sesi dengan fasilitas pembimbing | 4 x 30 menit (coaching session) |
Sesi pencapaian kompetensi | 4 minggu (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi Presentasi :
SLIDE 1 : Anatomi zigoma
SLIDE 2: Klasifikasi Trauma zigoma
SLIDE 3: Pemeriksaan Penunjang
SLIDE 4 : Indikasi rekonstruksi zigoma
SLIDE 5 : Teknik operasi
SLIDE 6 : Perawatan pasca operasi & komplikasi
Kasus :
1. Seorang laki-laki, 32 tahun, datang ke poliklinik THT-KL setelah terjatuh dari motor, mengeluh bengkak pada wajah, dan penglihatan ganda
Sarana dan alat Bantu latih:
Penuntun belajar
Tempat belajar ; Bangsal THT, Poli THT, kamar operasi
Video animasi tuntunan operasi
Kadaver
REFERENSI
Bailey BJ, Johnson JT, Midface Fractures, Head & Neck Surgery - Otolaryngology, 5th Edition, Volume two, Lippincott Williams & Wilkins, 2014, p : 1209-1223
KOMPETENSI
Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan- pemeriksaan tambahan yang diminta oleh dokter (misalnya; pemeriksaan laboratorium sederhana atau x-ray). Dokter dapat memutuskan dan mamph menangani problem itu secara mandiri hingga tuntas.
Keterampilan (4)
Setelah mengikuti sesi ini, peserta didik diharapkan terampil :
Mengenali gejala
Melakukan anamnesis, pemeriksaan dan penatalaksanaan rekonstruksi zigoma
Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi
Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi yang akan digunakan
Merencanakan perawatan pasca operasi serta perencanaan tatalaksana selanjutnya
Merencanakan penatalaksanaan bila terjadi komplikasi operasi
Lulusan dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai fraktur zigoma (baik konsep, teori, prinsip maupun indikasi, serta cara melakukan, komplikasi yang timbul, dan sebagainya). Selama pendidikan pernah melihat atau pernah didemonstrasikan operasi ini, dan pernah menerapkan rekonstruksi fraktur zigoma beberapa kali di bawah supervisi sera memliki pengalaman untuk menggunakan dan menerapkan rekonstruksi fraktur zigoma ini dalam konteks praktik dokter secara mandiri.
GAMBARAN UMUM
Zigoma berhubungan langsung ke superior dan medial dengan tulang frontal dan tulang nasal. Bagian inferior dan medial prosesus palatinus zigoma, membentuk hard palate primer. Prosesus alveolaris zigoma bagian inferior memanjang dan memegang akar gigi bagian atas. Beberapa bagian zigoma tipis. Dinding lateral antrum zigoma merupakan tulang kompak. Di daerah inilah Zigomaticomaxillary buttress berasal.
CONTOH KASUS
Seorang laki-laki, 32 tahun, datang ke poliklinik THT-KL setelah terjatuh dari motor, mengeluh bengkak pada wajah, dan penglihatan ganda
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan Pembelajaran Umum :
Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan untuk :
Mengenali gejala, tanda fraktur zigoma
Melakukan anamnesis, pemeriksaan dan diagnosis klasifikasi tentang fraktur zigoma
Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi
Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi yang akan digunakan
Merencanakan perawatan pasca operasi serta perencanaan tatalaksana selanjutnya
Merencanakan penatalaksanaan bila terjadi komplikasi operasi 7.
Tujuan Pembelajaran Khusus :
Setelah Mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk :
Menjelaskan anatomi, topografi dan patofisiologi zigoma (tingkat kompetensi K4)
Mejelaskan etiologi dan kalsifikasi fraktur zigoma (tingkat kompetensi K4)
Menjelaskan dan gambaran klinis beberapa klasifikasi fraktur zigoma (tingkat kompetensi K4)
Menerangkan pemeriksaan penunjang yang diperlukan pada penatalaksanaan fraktur zigoma (tingkat kompetensi K4)
Menjelaskan tehnik operasi sesuai dengan klasifikasi fraktur zigoma (tingkat kompetensi K4)
Menjelaskan perawatan pasca operasi dan rencana selanjutnya (tingkat kompetensi K4)
Menjelaskan penangan komplikasi operasi mulai dari komplikasi pada saat operasi, pasca operasi dan komplikasi lama (tingkat kompetensi K4)
Melakukan tatalaksana pasien fraktur zigoma sampai pasca operasi (tingkat kompetensi K4)
Melakukan tindakan rekonstruksi zigoma (tingkat kompetensi K4)
Merawat penderita dengan fraktur zigoma pra operasi termasuk edukasi keluarga pasien, informed consent serta perawatan pasca operasi serta mengatasi komplikasi yang kemungkinan terjadi (tingkat kompetensi K4)
METODE PEMBELAJARAN
Pendahuluan
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini :
Small group discussion
Peer assisted learning
Bedside teaching
Task-based medical education
Must to know key points :
Peserta didik paling sudah harus mempelajari :
Bahan acuan (references)
Ilmu dasar yang berkaitan dengan topik pembelajaran
Ilmu klinis dasar
Penuntun belajar (learning guide)
Tempat belajar (training setting) : bangsal rawat tht, kamar operasi, bangsal perawatan pasca operasi.
Cara pembelajaran :
Pelatihan
Belajar mandiri
Kuliah
Group diskusi
Bed site teaching
Bimbingan Operasi dan asistensi
Melakukan operasi mandiri di bawah supervisi.
Countinuing Profesional Development.
Alat bantu pembelajaran :
Melihat tehnik rekonstruksi fraktur zigomadi kamar operasi
Kadaver
EVALUASI
Pada awal pembelajaran dilakukan evaluasi Pre - test dalam bentuk essay dan pilihan ganda. Materi test terdiri dari : anatomi, patofisiologi, penegakan diagnosis serta klasifikasi, teknik - tehnik operasi, komplikasi dan penangannya, follow up dan perencanaan selanjutnya.
Bedsite teaching dan diskusi untuk membahas beberapa masalah yang ada.
Setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberi kesempatan untuk assistensi operasi labioskisis. Pada saat itu kan dilakukan evaluasi pengetahuan dan kompetensi peserta didik.
Setelah melakukan asistensi dan dinilai kompeten, peserta didik dapat melakukan operasi labioskisis di bawah bimbingan.
Pendidik / fasilitas
Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist
Penjelasan lisan dan diskusi
Kriteris penilaian langsung : cakap / tidak cakap / lalai.
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Kuesioner Sebelum Pembelajaran
Persilangan antara proyeksi horizontal dan vertical dari zigoma disebut juga:
pterigomaxilary buttress
malar prominence
maxillae
zigomaticomaxillary cpmplex Jawab : B
Kuesioner Tengah Pembelajaran
Disebut fraktur apakah yg melibatkan tulang frontal, maxilla, dan tulang temporal:
Fraktur zigoma
Fraktur Lefort I
Fraktur tripod
Fraktur Maxilla Jawab: C
Kuesioner Akhir Pembelajaran
Foto polos apakah yang terbaik dilakukan untuk melihat fraktur pada daerah arcus zigoma
Waters
Panoramic
Cadwell
Submentovertex Jawab: D
Essay/ujian Lisan/Ujian Sumatif
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR
PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR REKONSTRUKSI ZIGOMA
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :
Perlu perbaikan : langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu : langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan)
Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
NAMA PESERTA : ......... TANGGAL:..........
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR LABIOPLASTI | |||||
- Cuci tangan, memakai baju operasi dan memakai sarung tangan | |||||
- Tindakan a & anti sepsi daerah operasi dengan povidon iodine | |||||
- Memasang kain steril sebagai penutup pasien kecuali daerah operasi | |||||
- Dilakukan infiltrasi dengan Adrenalin : Lidokain sebesar 1: 200.000 pada daerah insisi. | |||||
III. PROSEDUR OPERASI | |||||
- Setelah penandaan dan infiltrasi sempurna dilakukan insisi sesuai penandaan dan perencanaan gambar, setelah dilakukan insisi tergantung posisi dan daerah fraktur, dilakukan diseksi, periosteum dipisahkan dari tulang,lalu dilakukan pemasangan plate and screw pada daerah fraktur, luka operasi ditutup lapis demi lapis. | |||||
IV. PASCA OPERASI | |||||
- Instruksi pasca operasi Pasca bedah pasien dapat dipulangkan setelah efek anestesi umum sudah hilang dan sadar penuh dan tidak ada perdarahan. Pasien diterapi dengan antibiotika oral dan analgesia sampai hari ke tiga dan angkat jahitan pada hari ke 7 | |||||
Nama
Diagnosis
Inform choice & inform consent
Rencana tindakan
Persiapan sebelum tindakan
Penilaian Kinerja Keterampilan (Ujian akhir) DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA PROSEDUR REKONSTRUKSI FRAKTUR ZIGOMA
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotor atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan suatu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini:
: Memuaskan : Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau
panduan standar
X : Tidak memuaskan : Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
T/T : Tidak ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih.
PESERTA : ................................. TANGGAL:..............
KEGIATAN | NILAI | ||
PERSIAPAN | |||
1. Kaji ulang diagnosis dan prosedur operasi | |||
2. Menyiapkan peralatan operasi | |||
3. Menyiapkan diri untuk melakukan tindakan operasi | |||
4. Menyiapkan posisi pasien | |||
5. Melakukan tindak a & anti septil | |||
6. Memasang kain steril menutup pasien kecuali area operasi | |||
PROSEDUR OPERASI | |||
1. Melakukan infiltrasi dengan Adrenalin : Lidokain sebesar 1: 200.000 pada daerah incisi. | |||
Dilakukan insisi sesuai perencanaan untuk menjangkau daerah fraktur
Setelah dilakukan insisi tergantung posisi dan daerah fraktur, dilakukan diseksi, periosteum dipisahkan dari tulang
Dilakukan pemasangan plate and screw pada daerah fraktur
Luka operasi ditutup lapis demi lapis.
Luka ditutup dengan kassa antibiotik dan plester.
Instruksi pasca operasi
- SLIDE 1 : Anatomi zigoma
SLIDE 2: Klasifikasi Trauma Zigoma
SLIDE 3: Pemeriksaan Penunjang
SLIDE 4 : Indikasi rekonstruksi zigoma
SLIDE 5 : Teknik operasi
SLIDE 6 : Perawatan pasca operasi & komplikasi
MATERI PRESENTASI
SLIDE 1 : Anatomi zigoma
SLIDE 2: Klasifikasi Trauma Zigoma
Zygomaticomaxillary Complex Fractures (ZMC Fractures)
Zygomatic Arch Fractures
SLIDE 3: Pemeriksaan Penunjang
X-ray submentovertex
X-Ray Waters
CT Can coronal dan sagital potongan 1 mm
CT 3D
SLIDE 3 : Indikasi rekonstruksi zigoma
Wajah asimetris
Gangguan fungsi pernapasan
Gangguan penglihatan
SLIDE 4 Teknik Operasi
Sesuai dengan diagnosis pasien
Setelah penandaan dan infiltrasi sempurna dilakukan insisi sesuai penandaan dan perencanaan gambar, setelah dilakukan insisi tergantung posisi dan daerah fraktur, dilakukan diseksi, periosteum dipisahkan dari tulang,lalu dilakukan pemasangan plate and screw pada daerah fraktur, luka operasi ditutup lapis demi lapis.
SLIDE 5 Perawatan pasca operasi & komplikasi
Pasca operasi pasien diterapi dengan antibiotika oral dan analgesia sampai hari ke tiga dan angkat jahitan pada hari ke 7.
Komplikasi yang dapat terjadi : perdarahan, infeksi, dan deformitas wajah.
MATERI BAKU
Fraktur Zigoma Definisi
Diskontinuitas tulang zygoma yang dapat disebabkan oleh trauma baik secara langsung atau tidak langsung. Zygoma adalah tulang kokoh sebagai struktur penting, dan merupakan komponen integral dari sistem estetis pada wajah. Tulang zygoma terkait dengan empat tulang sekitarnya yaitu frontal, maxillary, temporal, dan sphenoid.
Fraktur pada tulang zygoma dapat menyebabkan gangguan kosmetik pada wajah. Tindakan operasi pada fraktur zygoma bertujuan untuk memperbaiki fungsi ataupun kosmetik wajah.
Klasifikasi Trauma Zigoma
Zygomaticomaxillary Complex Fractures (ZMC Fractures)
Fraktur Malar
Fraktur Zygoma
Fraktur ZMC
Fraktur Tripod/ Tetrapod
Fraktur Orbitozygomatik
Zygomatic Arch Fractures
Indikasi operasi
Wajah asimetris
Volume rongga orbita yang abnormal
Gangguan fungsi mengunyah
Gangguan fungsi pernapasan
Gangguan penglihatan
List of Skill
Tahapan Bedah Dasar (sudah kompeten melakukan bedah dasar)
Persiapan pra operasi: anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, IC
Melakukan Operasi (asistensi)
Menangani Komplikasi
Melakukan Follow-up
Tahapan bedah lanjutan
Persiapan pra operasi: anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, IC
Melakukan Operasi (Bimbingan, Mandiri)
Menangani Komplikasi
Melakukan Follow-up
Melakukan perencanaan selanjutnya
Tehnik Operasi
Setelah penandaan dan infiltrasi sempurna dilakukan insisi sesuai penandaan dan perencanaan gambar, setelah dilakukan insisi tergantung posisi dan daerah fraktur baik pendekatan insisi Gillies maupun pendekatan Keen (intraoral), dilakukan diseksi secara tumpul hingga periosteum, periosteum dipisahkan dari tulang. Dilakukan reposisi tulang pada garis fraktur untuk mereduksi/ mencapai posisi anatomi yang akurat dan normal dengan menyusuri daerah belakang arkus zygoma secara tumpul dengan memperhatikan
percabangan nervus fasialis di daerah tersebut, setelah itu dilakukan fiksasi internal yang stabil sepanjang garis fraktur (pada fraktur lebih dari 1 garis). Dilakukan pemasangan plate and screw pada daerah fraktur, dilakukan perawatan perdarahan dengan memperhatikan jaringan lunak dan mempreservasi suplai neurovascular di daerah operasi. Luka operasi ditutup lapis demi lapis, dilakukan penutupan luka dengan menggunakan verban tekan.
KEPUSTAKAAN MATERI BAKU
1. Bailey BJ, Johnson JT, Midface Fractures , Head & Neck Surgery - Otolaryngology, Fifth Edition, Volume two, Lippincott Williams & Wilkins, 2014, p : 1209 -1224
ALGORITMA
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
MODUL VIII.2.3
TOPIK : FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI - TRAUMA MAKSILOFASIAL: TRAUMA DASAR ORBITA
WAKTU
Mengembangan Kompetensi | Hari : |
Sesi didalam kelas | 3 x 30 menit (classroom session) |
Sesi dengan fasilitas pembimbing | 3 x 30 menit (coaching session) |
Sesi pencapaian kompetensi | 2 minggu (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi Presentasi :
SLIDE 1 : Anatomi mata
SLIDE 2: Klasifikasi Trauma dasar orbita
SLIDE 3 : Indikasi rekonstruksi dasar orbita
SLIDE 4: Pemeriksaan Penunjang
SLIDE 5 : Teknik operasi
SLIDE 6 : Perawatan pasca operasi & komplikasi
Kasus :
Seorang laki-laki, 38 tahun, datang ke poliklinik THT-KL setelah matanya terkena bola tenis. Penglihatan ganda dan bengkak disekitar mata dikeluhkan penderita.
Sarana dan alat Bantu latih:
Penuntun belajar
Tempat belajar ; Bangsal THT, Poli THT, kamar operasi
Video animasi tuntunan operasi
Kadaver
REFERENSI
1. Bailey BJ, Johnson JT, Dasar orbital Fractures, Head & Neck Surgery - Otolaryngology, 5th Edition, Volume two, Lippincott Williams & Wilkins, 2014, p : 1225-1240
KOMPETENSI
Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan- pemeriksaan tambahan yang diminta oleh dokter (misalnya; pemeriksaan laboratorium sederhana atau x-ray). Dokter dapat memutuskan dan mamph menangani problem itu secara mandiri hingga tuntas.
Keterampilan (3)
Setelah mengikuti sesi ini, peserta didik diharapkan terampil :
Mengenali gejala
Melakukan anamnesis, pemeriksaan dan penatalaksanaan fraktur dasar orbita
Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi
Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi yang akan digunakan
Merencanakan perawatan pasca operasi serta perencanaan tatalaksana selanjutnya
Merencanakan penatalaksanaan bila terjadi komplikasi operasi
Lulusan dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai fraktur dasar orbita (baik konsep, teori, prinsip maupun indikasi, serta cara melakukan, komplikasi yang timbul, dan sebagainya). Selama pendidikan pernah melihat atau pernah didemonstrasikan operasi ini, dan pernah menerapkan rekonstruksi fraktur dasar dasar orbita beberapa kali di bawah supervisi.
GAMBARAN UMUM
Fraktur dasar orbita dapat berupa fraktur blow out murni maupun fraktur rima orbita. Penanganannya
CONTOH KASUS
Seorang laki-laki, 38 tahun, datang ke poliklinik THT-KL setelah matanya terkena bola tenis. Penglihatan ganda dan bengkak disekitar mata dikeluhkan penderita.
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan Pembelajaran Umum :
Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan untuk :
Mengenali gejala, tanda fraktur dasar orbita
Melakukan anamnesis, pemeriksaan dan diagnosis klasifikasi tentang fraktur dasar orbita
Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi
Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi yang akan digunakan
Merencanakan perawatan pasca operasi serta perencanaan tatalaksana selanjutnya
Merencanakan penatalaksanaan bila terjadi komplikasi operasi
Tujuan Pembelajaran Khusus :
Setelah Mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk :
Menjelaskan anatomi, topografi dan patofisiologi orbita (tingkat kompetensi K4)
Mejelaskan etiologi fraktur dasar orbita (tingkat kompetensi K4)
Menjelaskan dan gambaran klinis beberapa klasifikasi fraktur dasar orbita (tingkat kompetensi K4)
Menerangkan pemeriksaan penunjang yang diperlukan pada penatalaksanaan fraktur dasar orbita (tingkat kompetensi K4)
Menjelaskan tehnik operasi sesuai dengan klasifikasi fraktur dasar orbita (tingkat kompetensi K4)
Menjelaskan perawatan pasca operasi dan rencana selanjutnya (tingkat kompetensi K4)
Menjelaskan penangan komplikasi operasi mulai dari komplikasi pada saat operasi, pasca operasi dan komplikasi lama (tingkat kompetensi K4)
Melakukan tatalaksana pasien fraktur dasar orbita sampai pasca operasi (tingkat kompetensi K3)
Melakukan tindakan rekonstruksi dasar orbita (asisten) (tingkat kompetensi K3)
Merawat penderita dengan fraktur dasar orbita pra operasi termasuk edukasi keluarga pasien, informed consent serta perawatan pasca operasi serta mengatasi komplikasi yang kemungkinan terjadi (tingkat kompetensi K4)
METODE PEMBELAJARAN
Pendahuluan
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Small group discussion
Peer assisted learning
Bedside teaching
Task-based medical education
Must to know key points :
Peserta didik paling sudah harus mempelajari :
Bahan acuan (references)
Ilmu dasar yang berkaitan dengan topik pembelajaran
Ilmu klinis dasar
Penuntun belajar (learning guide)
Tempat belajar (training setting) : bangsal rawat tht, kamar operasi, bangsal perawatan pasca operasi.
Cara pembelajaran :
Pelatihan
Belajar mandiri
Kuliah
Group diskusi
Bed site teaching
Bimbingan Operasi
Melakukan operasi sebagai asisten.
Continuing Profesional Development.
Alat bantu pembelajaran :
Melihat tehnik rekonstruksi fraktur dasar orbitadi kamar operasi
Kadaver
EVALUASI
Pada awal pembelajaran dilakukan evaluasi Pre - test dalam bentuk essay dan pilihan ganda. Materi test terdiri dari : anatomi, patofisiologi, penegakan diagnosis serta klasifikasi, teknik - tehnik operasi, komplikasi dan penangannya, follow up dan perencanaan selanjutnya.
Bedsite teaching dan diskusi untuk membahas beberapa masalah yang ada.
Setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberi kesempatan untuk assistensi operasi rekonstruksi dasar orbita. Pada saat itu kan dilakukan evaluasi pengetahuan dan kompetensi peserta didik.
Pendidik / fasilitas
Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist
Penjelasan lisan dan diskusi
Kriteris penilaian langsung : cakap / tidak cakap / lalai.
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Kuesioner Sebelum Pembelajaran
Proyeksi apakah yang paling baik dilakukan pada penatalaksanaan pasien fraktur blow out:
Panoramic
Schedel l
Waters
Caldwell
Submentovertex
Manakah diantara gejala tersebut dibawah ini yang tidak termasuk gejala blow out fraktur:
Ekimosis orbita,sclera dan konjungtiva
Diplopia
Epiphora
Enophtalmos
Hipestesi infraorbital
Kuesioner Tengah Pembelajaran
Manakah diantara gejala tersebut dibawah ini yang tidak termasuk gejala blow out fraktur:
Ekimosis orbita,sclera dan konjungtiva
Diplopia
Epiphora
Enophtalmos
Hipestesi infraorbital
Jawaban : C
Kuesioner Akhir Pembelajaran
Pendekatan pada fraktur blow out adalah:
Temporal
Medial canthus
Subtarsal
Subciliary
Hemicoronal
Jawab: D
Essay/ujian Lisan/Ujian Sumatif
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR
PENUNTUN BELAJAR
PROSEDUR REKONSTRUKSI DASAR ORBITA
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :
Perlu perbaikan : langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu : langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan)
Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
NAMA PESERTA : ......... TANGGAL:..........
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR REKONSTRUKSI DASAR ORBITA | |||||
- Cuci tangan, memakai baju operasi dan memakai sarung tangan | |||||
- Tindakan a & anti sepsi daerah operasi dengan povidon iodine | |||||
- Memasang kain steril sebagai penutup pasien kecuali daerah operasi | |||||
- Dilakukan infiltrasi dengan Adrenalin : Lidokain sebesar 1: 200.000 pada daerah insisi. | |||||
III. PROSEDUR OPERASI | |||||
Setelah penandaan dan infiltrasi sempurna dilakukan insisi sesuai penandaan dan perencanaan gambar, setelah dilakukan insisi tergantung posisi dan daerah fraktur, dilakukan diseksi, periosteum dipisahkan dari tulang,lalu dilakukan pemasangan plate and screw pada daerah fraktur, Bila perlu dilakukan pemasangan mesh untuk menutup defek pada dasar orbita, luka operasi ditutup lapis demi lapis. | |||||
IV. PASCA OPERASI | |||||
- Instruksi pasca operasi Pasca bedah pasien dapat dipulangkan setelah efek anestesi | |||||
Nama
Diagnosis
Inform choice & inform consent
Rencana tindakan
Persiapan sebelum tindakan
KEGIATAN | KASUS | ||||
umum sudah hilang dan sadar penuh dan tidak ada perdarahan. Pasien diterapi dengan antibiotika oral dan analgesia ke tiga dan angkat jahitan pada hari ke 7 | |||||
Penilaian Kinerja Keterampilan (Ujian akhir)
DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA
PROSEDUR REKONSTRUKSI FRAKTUR DASAR ORBITA
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotor atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan suatu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini:
Memuaskan Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
X : Tidak memuaskan : Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
T/T : Tidak ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih.
PESERTA : ................................. TANGGAL:..............
KEGIATAN | NILAI | ||
PERSIAPAN | |||
1. Kaji ulang diagnosis dan prosedur operasi | |||
2. Menyiapkan peralatan operasi | |||
3. Menyiapkan diri untuk melakukan tindakan operasi | |||
4. Menyiapkan posisi pasien | |||
5. Melakukan tindak a & anti septil | |||
6. Memasang kain steril menutup pasien kecuali area operasi | |||
PROSEDUR OPERASI | |||
1. Melakukan infiltrasi dengan Adrenalin : Lidokain sebesar 1: 200.000 pada daerah incisi. | |||
Dilakukan insisi sesuai perencanaan untuk menjangkau daerah fraktur
Setelah dilakukan insisi tergantung posisi dan daerah fraktur, dilakukan diseksi, periosteum dipisahkan dari tulang
Dilakukan pemasangan plate and screw pada daerah fraktur
Bila perlu dilakukan pemasangan mesh untuk menutup defek pada dasar orbita
Luka operasi ditutup lapis demi lapis.
Luka ditutup dengan kassa antibiotik dan plester.
Instruksi pasca operasi
MATERI PRESENTASI
SLIDE 1 : Anatomi orbita
- SLIDE 2: Klasifikasi Trauma dasar dasar orbita
Blow out fracture
Rim orbita fracture
SLIDE 3 : Indikasi rekonstruksi dasar orbita
Wajah asimetris
Gangguan fungsi mengunyah
Gangguan fungsi pernapasan
Gangguan penglihata
SLIDE 4 Pemeriksaan Penunjang
CT Scan coronal dan Sagital potongan 1 mm CT Scan 3D
SLIDE 5 Teknik Operasi
Sesuai dengan diagnosis pasien
Setelah penandaan dan infiltrasi sempurna dilakukan insisi sesuai penandaan dan perencanaan gambar, setelah dilakukan insisi tergantung posisi dan daerah fraktur, dilakukan diseksi, periosteum dipisahkan dari tulang,lalu dilakukan pemasangan plate and screw pada daerah fraktur, luka operasi ditutup lapis demi lapis.
Pada fraktur dasar orbita dengan adanya maloklusi, tindakan pertama adalah memasang arch bar/ IMF/ quick Fix untuk memperbaiki maloklusi, setelah itu baru dilakukan insisi, penasangan plate and screw pada daerah fraktur, luka operasi ditutup lapis demi lapis.
SLIDE 6 Perawatan pasca operasi & komplikasi
Pasca operasi pasien diterapi dengan antibiotika oral dan analgesia sampai hari ke tiga dan angkat jahitan pada hari ke 7.
Komplikasi yang dapat terjadi : perdarahan, infeksi, dan deformitas wajah.
MATERI BAKU
Definisi
FRAKTUR DASAR ORBITA
Diskontinuitas tulang dasar orbita yang dapat disebabkan oleh trauma baik secara langsung atau tidak langsung. Bagian dari tulang zygoma dan maksila membentuk dasar orbital rim. Tindakan operasi untuk memperbaiki atau mempreservasi fungsi penglihatan ataupun kosmetik wajah. Rekonstruksi anatomi yang akurat dari lempeng os frontal, sampai dengan ujung lateral kompleks orbitozigomaticum. Rekonstruksi dari dinding lateral, medial dan inferior dari orbita pada bentuk dan posisi awal, dengan rekonstruksi dinding atap orbita lebih tinggi dari posisi awal sebelum trauma.
Indikasi operasi
Wajah asimetris
Fraktur Blow out orbita
Fraktur Zygomaticomaxillary kompleks
Fraktur atap orbita
Gangguan fungsi pernapasan
Gangguan fungsi penglihatan
List of Skill
Tahapan Bedah Dasar (sudah kompeten melakukan bedah dasar)
Persiapan pra operasi: anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, IC
Melakukan Operasi (asistensi)
Menangani Komplikasi
Melakukan Follow-up
Tahapan bedah lanjutan
Persiapan pra operasi: anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, IC
Melakukan Operasi (Asisten)
Menangani Komplikasi
Melakukan Follow-up
Melakukan perencanaan selanjutnya
Tehnik Operasi
Setelah penandaan dan infiltrasi sempurna pada kelopak mata bagian bawah dan sepanjang inferior orbital rim, dilakukan insisi pendekatan transkutaneus (subtarsal/ subcilliar) sesuai penandaan dan perencanaan gambar, dilakukan diseksi tumpul hingga periosteum bagian anterior dari inferior orbital rim, periosteum dipisahkan dari tulang terus menyusuri dasar orbita dengan memperhatikan batas depan dari nervus optikus, lalu dilakukan reposisi pada daerah fraktur dengan menaikkan/mengangkat bagian dasar orbital yang turun ke bawah kembali ke posisi anatomic awal, dilakukan pemasangan bone graft/plate and screw pada daerah fraktur. Bila perlu dilakukan pemasangan mesh untuk menutup defek pada dasar orbita, dan luka operasi ditutup lapis demi lapis.
KEPUSTAKAAN MATERI BAKU
1. Bailey BJ, Johnson JT, Midface Fraktures , Head & Neck Surgery - Otolaryngology, Fifth Edition, Volume two, Lippincott Williams & Wilkins, 2014, p : 1209 -1224
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
MODUL VIII.2.4
TOPIK : FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI - TRAUMA MAKSILOFASIAL
: TRAUMA MANDIBULA
WAKTU
Mengembangan Kompetensi | Hari : |
Sesi didalam kelas | 3 x 30 menit (classroom session) |
Sesi dengan fasilitas pembimbing | 3 x 30 menit (coaching session) |
Sesi pencapaian kompetensi | 2 minggu (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi Presentasi :
SLIDE 1 : Anatomi mandibula
SLIDE 2: The angle classificasion of occlusion
SLIDE 3: Biomechanics of the mandible
SLIDE 4: Klasifikasi fraktur mandibula
SLIDE 4: Indikasi rekonstruksi mandibula
SLIDE 5 : Pemeriksaan Penunjang
SLIDE 6: Teknik operasi
SLIDE 7 : Perawatan pasca operasi & komplikasi
Kasus :
1. Seorang laki-laki, 42 tahun, datang ke poliklinik THT-KL setelah rahang bawahnya terbentur trotoar ketika terjatuh dari motor. Penderita mengeluh tidak dapat mengatupkan mulutnya.
Sarana dan alat Bantu latih:
Penuntun belajar
Tempat belajar ; Bangsal THT, Poli THT, kamar operasi
Video animasi tuntunan operasi
Kadaver
REFERENSI
1. Bailey BJ, Johnson JT, Mandibular Fractures, Head & Neck Surgery - Otolaryngology, 5th Edition, Volume two, Lippincott Williams & Wilkins, 2014, p : 1195-1207
KOMPETENSI
Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan- pemeriksaan tambahan yang diminta oleh dokter (misalnya; pemeriksaan laboratorium sederhana atau x-ray). Dokter dapat memutuskan dan mamph menangani problem itu secara mandiri hingga tuntas.
Keterampilan (3)
Setelah mengikuti sesi ini, peserta didik diharapkan terampil :
Mengenali gejala
Melakukan anamnesis, pemeriksaan dan penatalaksanaan fraktur mandibula
Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi
Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi yang akan digunakan
Merencanakan perawatan pasca operasi serta perencanaan tatalaksana selanjutnya
Merencanakan penatalaksanaan bila terjadi komplikasi operasi
Lulusan dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai fraktur mandibula (baik konsep, teori, prinsip maupun indikasi, serta cara melakukan, komplikasi yang timbul, dan sebagainya). Selama pendidikan pernah melihat atau pernah didemonstrasikan operasi ini, dan pernah menerapkan rekonstruksi fraktur mandibula beberapa kali di bawah supervisi
GAMBARAN UMUM
Fraktur mandibula merupakan cedera yang sering terjadi, setelah kejadian fraktur hidung. Peran utama mandibula adalah untuk fungsi mastikasi, menelan, dan bicara membuat operasi rekonstruksi mandibula merupakan suatu tantangan. Oleh karena itu pemeriksaan dan perencanaan operasi yang akurat sangat diperlukan dalam menangani fraktur mandibula.
CONTOH KASUS
Seorang laki-laki, 42 tahun, datang ke poliklinik THT-KL setelah rahang bawahnya terbentur trotoar ketika terjatuh dari motor. Penderita mengeluh tidak dapat mengatupkan mulutnya.
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan Pembelajaran Umum :
Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan untuk :
Mengenali gejala, tanda fraktur mandibula
Melakukan anamnesis, pemeriksaan dan diagnosis klasifikasi tentang fraktur mandibula
Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi
Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi yang akan digunakan
Merencanakan perawatan pasca operasi serta perencanaan tatalaksana selanjutnya
Merencanakan penatalaksanaan bila terjadi komplikasi operasi
Tujuan Pembelajaran Khusus :
Setelah Mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk :
Menjelaskan anatomi, topografi dan patofisiologi mandibula (tingkat kompetensi K4)
Menjelaskan etiologi fraktur mandibula (tingkat kompetensi K4)
Menjelaskan dan gambaran klinis fraktur mandibula (tingkat kompetensi K4)
Menerangkan pemeriksaan penunjang yang diperlukan pada penatalaksanaan fraktur mandibula (tingkat kompetensi K4)
Menjelaskan tehnik operasi fraktur mandibula (tingkat kompetensi K4)
Menjelaskan perawatan pasca operasi dan rencana selanjutnya (tingkat kompetensi K4)
Menjelaskan penangan komplikasi operasi mulai dari komplikasi pada saat operasi, pasca operasi dan komplikasi lama (tingkat kompetensi K4)
Melakukan tatalaksana pasien fraktur mandibula sampai pasca operasi (tingkat kompetensi K3)
Melakukan tindakan rekonstruksi fraktur mandibula (asisten) (tingkat kompetensi K3)
Merawat penderita dengan fraktur mandibula pra operasi termasuk edukasi keluarga pasien, informed consent serta perawatan pasca operasi serta mengatasi komplikasi yang kemungkinan terjadi (tingkat kompetensi K4)
METODE PEMBELAJARAN
Pendahuluan
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini :
Small group discussion
Peer assisted learning
Bedside teaching
Task-based medical education
Must to know key points :
Peserta didik paling sudah harus mempelajari :
Bahan acuan (references)
Ilmu dasar yang berkaitan dengan topik pembelajaran
Ilmu klinis dasar
Penuntun belajar (learning guide)
Tempat belajar (training setting) : bangsal rawat tht, kamar operasi, bangsal perawatan pasca operasi.
Cara pembelajaran :
Pelatihan
Belajar mandiri
Kuliah
Group diskusi
Bed site teaching
Bimbingan Operasi d
Melakukan operasi sebagai asisten.
Countinuing Profesional Development. Alat bantu pembelajaran :
Melihat tehnik rekonstruksi fraktur mandibula di kamar operasi
Kadaver
EVALUASI
Pada awal pembelajaran dilakukan evaluasi Pre - test dalam bentuk essay dan pilihan ganda. Materi test terdiri dari : anatomi, patofisiologi, penegakan diagnosis serta klasifikasi, teknik - tehnik operasi, komplikasi dan penangannya, follow up dan perencanaan selanjutnya.
Bedsite teaching dan diskusi untuk membahas beberapa masalah yang ada.
Setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberi kesempatan untuk assistensi operasi rekonstruksi mandibula. Pada saat itu kan dilakukan evaluasi pengetahuan dan kompetensi peserta didik.
Pendidik / fasilitas
Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist
Penjelasan lisan dan diskusi
Kriteris penilaian langsung : cakap / tidak cakap / lalai
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Kuesioner Sebelum Pembelajaran
Apakah yang tidak termasuk tindakan untuk menstabilkan fraktur mandibula:
Supporting dressing
Horizontal wiring
Lag screw
IMF
Jawab: C
Kuesioner Tengah Pembelajaran
Proyeksi apakah yang paling baik untuk memeriksa fraktur mandibula:
Panoramic
Schedel l
Waters
Caldwell
Jawaban : A
Kuesioner Akhir Pembelajaran
Gelaja fraktur simphisis-parasimpisis kecuali:
hemato dasar mulut
laserasi ginggiva
trismus
unilateral open bite
Jawaban : D
Essay/ujian Lisan/Ujian Sumatif
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR
PENUNTUN BELAJAR
PROSEDUR REKONSTRUKSI FRAKTUR MANDIBULA
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :
Perlu perbaikan : langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu : langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan)
Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
NAMA PESERTA : ......... TANGGAL:..........
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR REKONSTRUKSI MANDIBULA | |||||
- Cuci tangan, memakai baju operasi dan memakai sarung tangan | |||||
- Tindakan a & anti sepsi daerah operasi dengan povidon iodine | |||||
- Memasang kain steril sebagai penutup pasien kecuali daerah operasi | |||||
- Dilakukan infiltrasi dengan Adrenalin : Lidokain sebesar 1: 200.000 pada daerah insisi. | |||||
III. PROSEDUR OPERASI | |||||
IV. PASCA OPERASI | |||||
- Instruksi pasca operasi Pasca bedah pasien dapat dipulangkan setelah efek anestesi | |||||
Nama
Diagnosis
Inform choice & inform consent
Rencana tindakan
Persiapan sebelum tindakan
Setelah penandaan dan infiltrasi sempurna dilakukan insisi sesuai penandaan dan perencanaan gambar, setelah dilakukan insisi tergantung posisi dan daerah fraktur, dilakukan diseksi, periosteum dipisahkan dari tulang, bila perlu dilakukan pemasangan IMF/ arch bar/ quick fix untuk menstabilkan garis fraktur sebelum dilakukan pemasangan plate and screw
Dilakukan pemasangan plate and screw pada daerah fraktur, luka operasi ditutup lapis demi lapis.
KEGIATAN | KASUS | ||||
umum sudah hilang dan sadar penuh dan tidak ada perdarahan. Pasien diterapi dengan antibiotika oral dan analgesia ke tiga dan angkat jahitan pada hari ke 7 | |||||
Penilaian Kinerja Keterampilan (Ujian akhir) DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA
PROSEDUR REKONSTRUKSI FRAKTUR MANDIBULA
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotor atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan suatu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini:
: Memuaskan : Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
X : Tidak memuaskan : Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
T/T : Tidak ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih.
PESERTA : ................................. TANGGAL:..............
KEGIATAN | NILAI | ||
PERSIAPAN | |||
1. Kaji ulang diagnosis dan prosedur operasi | |||
2. Menyiapkan peralatan operasi | |||
3. Menyiapkan diri untuk melakukan tindakan operasi | |||
4. Menyiapkan posisi pasien | |||
5. Melakukan tindak a & anti septil | |||
6. Memasang kain steril menutup pasien kecuali area operasi | |||
PROSEDUR OPERASI | |||
1. Melakukan infiltrasi dengan Adrenalin : Lidokain sebesar 1: 200.000 pada daerah incisi. | |||
Dilakukan insisi sesuai perencanaan untuk menjangkau daerah fraktur
Setelah dilakukan insisi tergantung posisi dan daerah fraktur, dilakukan diseksi, periosteum dipisahkan dari tulang
Bila perlu dilakukan pemasangan IMF/ arch bar/ quick fix untuk menstabilkan garis fraktur sebelum dilakukan pemasangan plate and screw
Dilakukan pemasangan plate and screw pada daerah fraktur\
Luka operasi ditutup lapis demi lapis.
Luka ditutup dengan kassa antibiotik dan plester.
Instruksi pasca operasi
MATERI PRESENTASI
SLIDE 1 : Anatomi mandibula
- SLIDE 2: The angle classificasion of occlusion
SLIDE 3: Biomechanics of the mandible
SLIDE 4: Klasifikasi fraktur mandibula
SLIDE 5 : Indikasi rekonstruksi mandibula
Wajah asimetris
Gangguan fungsi mengunyah
Gangguan fungsi pernapasan
SLIDE 6: Pemeriksaan Penunjang
Panoramic x-ray CT Scan
CT Scan 3D
SLIDE 7: Teknik Operasi
Sesuai dengan diagnosis pasien
SLIDE 8: Perawatan pasca operasi & komplikasi
MATERI BAKU
Fraktur mandibula Definisi
Rusaknya kontinuitas tulang mandibular yang dapat disebabkan oleh trauma baik secara langsung atau tidak langsung. Fraktur mandibula dapat terjadi pada bagian korpus, angulus, ramus maupun kondilus.
Mandibula dipersyarafi oleh saraf mandibular, alveolar inferior, pleksus dental inferior dan nervus mentalis. Sistem vaskularisasi pada mandibula diperdarahi oleh a. Maksilaris interna, a. Alveolar inferior dan a. Mentalis.
Klasifikasi
Menurut R.Dingman dan P. Natvig pada tahun 1969 fraktur pada mandibula dibagi menjadi :
Menurut arah fraktur ( horizontal/vertikal )
Menurut derajat keparahan fraktur (simple/tertutup/mengarah ke rongga mulut atau kulit)
Menurut tipe fraktur (greenstick/ kompleks/ kominutiva/ impaksi / depresi)
Menurut ada tidaknya gigi dalam rahang ( dentilous, partially dentilous, edentulous )
Menurut lokasi ( region simfisis, region kaninus, region korpus, angulus, ramus, prosesus kondilus, prosesus koronoid )
Patofisiologi
Derajat keparahan fraktur sangat bergantung pada kekuatan trauma. Karena itu fraktur komunitiva dapat dipastikan terjadi karena adanya kekuatan energy yang besar yang menyebabkan trauma.
Manifestasi Klinis
Pasien dengan fraktur mandibula umumnya datang dengan adanya deformitas pada muka, baik berupa hidung yang masuk ke dalam, mata masuk ke dalam dan
sebagainya. Kondisi ini juga disertai dengan kelainan dari fungsi organ yang terdapat di muka seperti mata terus berair, penglihatan ganda, kebutaan, anosmia, kesulitan bicara karena adanya fraktur mandibula, maloklusi sampai kesulitan bernapas kerena hilangnya kekuatan untuk menahan lidah pada tempatnya sehingga lidah menutupi rongga faring.
Gejala dan Tanda
List of Skill
Dislokasi, berupa perubahan posisi rahang yang menyebabkan maloklusi
Pergerakan rahang yang abnormal
Rasa sakit pada saat rahang digerakkan
Pembengkakan pada sisi fraktur sehingga dapat menentukan lokasi daerah fraktur
Krepitasi
Laserasi yang terjadi pada daerah gusi, mukosa mulut dan daerah sekitar fraktur
Diskolorisasi, perubahan warna pada daerah fraktur akibat pembengkakan
Disability, terjadi gangguan fungsional berupa penyempitan dalam membuka mulut
Hipersalivas dan halitosis
Numbness, akibat kelumpuhan dari bibir bawah biasanya bila fraktur terjadi di bawah nervus alveolaris.
Tahapan Bedah Dasar (sudah kompeten melakukan bedah dasar)
Persiapan pra operasi: anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, IC
Melakukan Operasi (asistensi)
Menangani Komplikasi
Melakukan Follow-up
Tahapan bedah lanjutan
Persiapan pra operasi: anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, IC
Melakukan Operasi (Asisten)
Menangani Komplikasi
Melakukan Follow-up
Melakukan perencanaan selanjutnya
Tehnik Operasi
Setelah penandaan dan infiltrasi daerah operasi dengan larutan adrenalin: lidokain dengan Nacl=1:200.000, dilakukan insisi sesuai penandaan daerah operasi dan perencanaan gambar, setelah dilakukan insisi tergantung posisi dan daerah fraktur, dilakukan diseksi secara tumpul sampai ditemukan periosteum, periosteum dipisahkan dari tulang menyusuri garis fraktur secara keseluruhan ( dari ujung ke ujung), bila perlu dilakukan pemasangan IMF/ arch bar/ quick fix. Untuk operasi reduksi tertutup diindikasikan untuk fraktur simfisis mandibula, sudut mandibula, fraktur condilus dan corpus mandibula. Operasi reduksi terbuka diindikasikan untuk fraktur-fraktur yang
tidak dapat direduksi/direposisi secara tertutup. Indikasi lain reduksi terbuka adalah fraktur wajah midfacial, fraktur condilar.
Dilakukan reposisi tulang pada garis fraktur untuk mereduksi/ mencapai posisi anatomi yang akurat dan normal, setelah itu dilakukan fiksasi internal yang stabil sepanjang garis fraktur. Dilakukan pemasangan plate and screw pada daerah fraktur, dilakukan mobilisasi awal pada mandibula untuk mengevaluasi dan mencapai oklusi yang optimal, dilakukan perawatan perdarahan dengan memperhatikan jaringan lunak dan mempreservasi suplai neurovascular di daerah operasi. Luka operasi ditutup lapis demi lapis, dilakukan penutupan luka dengan menggunakan verban tekan.
KEPUSTAKAAN MATERI BAKU
Bailey BJ, Johnson JT, Mandibular Fractures, Head & Neck Surgery - Otolaryngology, 5th Edition, Volume two, Lippincott Williams & Wilkins, 2014, p : 1195-1207
Wood R. J, Jurkiewicz M.J. Plastic and Reconstructive Surgery. In : Schwartz S.I, Shires G.T, Spencer F.C, Daly J.M, Fischer J.E, Galloway A.C Schwartz Principles of Surgery 7th ed. United States of America : McGraw-Hill Companies Inc.1999
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
MODUL VIII. 2.5
TOPIK : FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI - TRAUMA MAKSILOFASIAL: SINUS FRONTALIS
WAKTU
Mengembangan Kompetensi | Hari : |
Sesi didalam kelas | 3 x 30 menit (classroom session) |
Sesi dengan fasilitas pembimbing | 3 x 30 menit (coaching session) |
Sesi pencapaian kompetensi | 2 minggu (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi Presentasi :
SLIDE 1 : Anatomi sinus frontalis
SLIDE 2: Pathophysiology
SLIDE 3: Klasifikasi fraktur sinus frontalis
SLIDE 4: Indikasi rekonstruksi sinus frontalis
SLIDE 5 : Pemeriksaan Penunjang
SLIDE 6: Teknik operasi
SLIDE 7 : Perawatan pasca operasi & komplikasi
Kasus :
1. Seorang wanita, 23 tahun, datang ke poliklinik THT-KL setelah dahinya terbentur trotoar ketika terjatuh dari motor. Penderita mengeluhkan pendarahan dari hidung.
Sarana dan alat Bantu latih:
Penuntun belajar
Tempat belajar ; Bangsal THT, Poli THT, kamar operasi
Video animasi tuntunan operasi
Kadaver
REFERENSI
1. Bailey BJ, Johnson JT, Frontal Sinus Fractures, Head & Neck Surgery - Otolaryngology, 5th Edition, Volume two, Lippincott Williams & Wilkins, 2014, p : 1255-1271
KOMPETENSI
Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan- pemeriksaan tambahan yang diminta oleh dokter (misalnya; pemeriksaan laboratorium sederhana atau x-ray). Dokter dapat memutuskan dan mampu menangani problem itu secara mandiri hingga tuntas.
Keterampilan (3)
Setelah mengikuti sesi ini, peserta didik diharapkan terampil :
Mengenali gejala
Melakukan anamnesis, pemeriksaan dan penatalaksanaan fraktur sinus frontalis
Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi
Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi yang akan digunakan
Merencanakan perawatan pasca operasi serta perencanaan tatalaksana selanjutnya
Merencanakan penatalaksanaan bila terjadi komplikasi operasi
Lulusan dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai fraktur sinus frontalis (baik konsep, teori, prinsip maupun indikasi, serta cara melakukan, komplikasi yang timbul, dan sebagainya). Selama pendidikan pernah melihat atau pernah didemonstrasikan operasi ini, dan pernah menerapkan rekonstruksi fraktur sinus frontalis beberapa kali di bawah supervisi.
GAMBARAN UMUM
Cedera pada sinus frontalis jarang terjadi, akan tetapi kemungkinan terjadinya sequele yang menetap mungkin terjadi. Diperlukan strategi pengobatan yang komprehensif. Kenanyakan pembedah setuju strategi pengobatan tersebut meliputi pengobatan seluruh cedera intrakronial, menghindari komplikasi jangka pendek maupun panjang speperti mukokel, ketidakstabilan kontur wajah secara estetika, dan mengembalikan fungsi normal sinus bila memungkinkan.
CONTOH KASUS
Seorang wanita, 23 tahun, datang ke poliklinik THT-KL setelah dahinya terbentur trotoar ketika terjatuh dari motor. Penderita mengeluhkan pendarahan dari hidung.
. TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan Pembelajaran Umum :
Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan untuk :
Mengenali gejala, tanda fraktur sinus frontalis
Melakukan anamnesis, pemeriksaan dan diagnosis klasifikasi tentang fraktur sinus frontalis
Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi
Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi yang akan digunakan
Merencanakan perawatan pasca operasi serta perencanaan tatalaksana selanjutnya
Merencanakan penatalaksanaan bila terjadi komplikasi operasi
Tujuan Pembelajaran Khusus :
Setelah Mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk :
Menjelaskan anatomi, topografi dan patofisiologi sinus frontalis (tingkat kompetensi K4)
Menjelaskan etiologi fraktur sinus frontalis (tingkat kompetensi K4)
Menjelaskan dan gambaran klinis fraktur sinus frontalis (tingkat kompetensi K4)
Menerangkan pemeriksaan penunjang yang diperlukan pada penatalaksanaan fraktur sinus frontalis (tingkat kompetensi K4)
Menjelaskan tehnik operasi fraktur sinus frontalis (tingkat kompetensi K4)
Menjelaskan perawatan pasca operasi dan rencana selanjutnya (tingkat kompetensi K4)
Menjelaskan penangan komplikasi operasi mulai dari komplikasi pada saat operasi, pasca operasi dan komplikasi lama (tingkat kompetensi K4)
Melakukan tatalaksana pasien fraktur sinus frontalis sampai pasca operasi (tingkat kompetensi K3)
Melakukan tindakan rekonstruksi fraktur sinus frontalis (asisten) (tingkat kompetensi K3)
Merawat penderita dengan fraktur sinus frontalis pra operasi termasuk edukasi keluarga pasien, informed consent serta perawatan pasca operasi serta mengatasi komplikasi yang kemungkinan terjadi (tingkat kompetensi K4)
METODE PEMBELAJARAN
Pendahuluan
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini :
Small group discussion
Peer assisted learning
Bedside teaching
Task-based medical education
Must to know key points :
Peserta didik paling sudah harus mempelajari :
Bahan acuan (references)
Ilmu dasar yang berkaitan dengan topik pembelajaran
Ilmu klinis dasar
Penuntun belajar (learning guide)
Tempat belajar (training setting) : bangsal rawat tht, kamar operasi, bangsal perawatan pasca operasi.
Cara pembelajaran :
Pelatihan
Belajar mandiri
Kuliah
Group diskusi
Bed site teaching
Bimbingan Operasi
Melakukan operasi sebagai asisten.
Countinuing Profesional Development.
Alat bantu pembelajaran :
Melihat tehnik rekonstruksi fraktur sinus frontalis di kamar operasi
Kadaver
EVALUASI
Pada awal pembelajaran dilakukan evaluasi Pre - test dalam bentuk essay dan pilihan ganda. Materi test terdiri dari : anatomi, patofisiologi, penegakan diagnosis serta klasifikasi, teknik - tehnik operasi, komplikasi dan penangannya, follow up dan perencanaan selanjutnya.
Bedsite teaching dan diskusi untuk membahas beberapa masalah yang ada.
Setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberi kesempatan untuk assistensi operasi rekonstruksi sinus frontalis. Pada saat itu kan dilakukan evaluasi pengetahuan dan kompetensi peserta didik.
Pendidik / fasilitas
Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist
Penjelasan lisan dan diskusi
Kriteris penilaian langsung : cakap / tidak cakap / lalai.
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Kuesioner Sebelum Pembelajaran
Kuesioner Tengah Pembelajaran
Kuesioner Akhir Pembelajaran
Essay/ujian Lisan/Ujian Sumatif
MATERI PRESENTASI
SLIDE 1 : Anatomi sinus frontalis
- SLIDE 2: Pathophysiology
SLIDE 3: Klasifikasi fraktur sinus frontalis
Anterior table fracture
Posterior table fracture
SLIDE 4 : Indikasi rekonstruksi sinus frontalis SLIDE 5: Pemeriksaan Penunjang
CT Scan Axial potongan 1.0-1.5 mm untuk mengevaluasi table anterior dan posterior
CT coronal untuk melihat dasar sinus dan atap orbita
CT sagital untuk memeriksa patensi frontal reses
CT Scan 3D mengurangi kemungkinan diseksi pada banyak tempat pada saat pembedahan, karena memungkinkan pembedaah untuk mengetahui jumlah, lokasi, dan orientasi fragmen tulang
SLIDE 6: Teknik Operasi
Sesuai dengan diagnosis pasien
Frontal sinus Trephination
Insisi dilakukan diantara medial kantus dengan glabela, dan ± 1 cm inferior dari alis
Endoscopic anterior table repair
Open reduction and internal fixation
SLIDE 8: Perawatan pasca operasi & komplikasi
Resiko jangka panjang adanya mukokel , sehingga edukasi yang baik kepada pasien sangat diperlukan
MATERI BAKU
Fraktur sinus frontalis Definisi
Diskontinuitas tulang frontalis yang dapat disebabkan oleh trauma baik secara langsung atau tidak langsung.
Suatu tindakan operasi untuk memperbaiki fungsi ataupun kosmetik wajah. Rekonstruksi dari tabula anterior sinus frontal, mereduksi dan stabilisasi fraktur, mengembalikan fungsi sinus yang normal bila memungkinkan, dan preservasi tulang yang maksimal.
Indikasi operasi
Wajah asimetris
Trauma ekstensi ke intracranial
Terdapatnya formasi mucocel
Resiko tinggi untuk terjadinya sinusitis
List of Skill
Tahapan Bedah Dasar (sudah kompeten melakukan bedah dasar)
Persiapan pra operasi: anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, IC
Melakukan Operasi (asistensi)
Menangani Komplikasi
Melakukan Follow-up
Tahapan bedah lanjutan
Persiapan pra operasi: anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, IC
Melakukan Operasi (Asisten)
Menangani Komplikasi
Melakukan Follow-up
Melakukan perencanaan selanjutnya
Tehnik Operasi
Setelah penandaan dan infiltrasi sempurna, dilakukan insisi parasagital 3-5cm sesuai penandaan dan perencanaan gambar, setelah dilakukan insisi tergantung posisi dan daerah fraktur, dilakukan diseksi secara tumpul hingga periosteum, periosteum dipisahkan dari tulang, dilakukan pemasangan IMF/ implant dengan visualisasi endoskopi untuk menstabilkan garis fraktur. Dilakukan pemasangan screw pada ujung implant menembus bagian tulang yang stabil. Luka operasi ditutup lapis demi lapis. Dilakukan penutupan luka dengan verban tekan.
KEPUSTAKAAN MATERI BAKU
1. Bailey BJ, Johnson JT, Sinus frontalisr Fractures, Head & Neck Surgery - Otolaryngology, 5th Edition, Volume two, Lippincott Williams & Wilkins, 2014, p : 1195-1207
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
MODUL VIII.3.1
TOPIK : FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI - RONGGA MULUT: LABIOSKISIS
WAKTU
Pengembangan Kompetensi | Hari : 35 |
Sesi didalam kelas | 8 x 60 menit (classroom session) |
Sesi dengan fasilitas pembimbing | 12 x 60 menit (coaching session) |
Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi | 11 X 60 menit (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi Presentasi : Labioskisis
SLIDE 1 : Etiologi labioskisis
SLIDE 2 : Pendarahan daerah labio superior
SLIDE 3 : Patofisiologi labioskisis
SLIDE 4 : Diagnosis & Klasifikasi labioskisis
SLIDE 5 : Waktu & Penatalaksanaan labioskisis
SLIDE 6 : Teknik teknik operasi
SLIDE 7 : Perawatan pasca operasi & komplikasi
Kasus :
1. Bayi 2 minggu dengan labioskisis bilateral komplit. Pada akhir pembelajaran diharapkan dapat melakukan edukasi pada orang tua pasien, anjuran perawatan serta pemberian makan dan minum pada pasien, rujukan ke multidisiplin lain untuk perbaikan gizi, persiapan operasi serta tehnik operasi yang akan di gunakan.
Sarana dan alat bantu latih:
Penuntun belajar
Tempat belajar ; Bangsal THT, Poli THT, kamar operasi
Video animasi tuntunan operasi
Kadaver
REFERENSI
Bailey BJ, Johnson JT, Head & Neck Surgery - Otolaryngology, Fifth Edition, Volume one, Lippincott Williams & Wilkins, 2014, p : 1556-1573
Arun KL, Randal N, Embriology of Head and Neck. In: Grabb & Smith's Plastic
Sugery, Sixth edition, Lippincott Williams & Wilkins, 2007, p : 179 -190
Becker W. Naumann HH, Pfalt CR, Congenital malformation in Ear, Nose and Throat Disease, Second edition, Thieme Medical Publishers Inc., New York, 1994, p: 134-136
Lee .K.J, Kongenital Malformation in otolaryngology and Head and Neck Surgery, Elseiver Science Publishers, 1989, p: 63-65
KOMPETENSI
Mampu melakukan diagnosis serta klasifikasi labioskisi berdasarkan pemeriksaan fisik. Dapat menentukan saat melakukan operasi dan mampu melakukan operasi labioplasti secara mandiri.
Keterampilan
Setelah mengikuti sesi ini, peserta didik diharapkan terampil :
Mengenali gejala, tanda Labioskisis
Melakukan anamnesis, pemeriksaan dan diagnosis klasifikasi tentang labioskisis
Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi
Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi yang akan digunakan
Merencanakan perawatan pasca operasi serta perencanaan tatalaksana selanjutnya
Merencanakan penatalaksanaan bila terjadi komplikasi operasi
GAMBARAN UMUM
Memberi penjelasan agar kompeten mendiagnosis dan mengklasifikasi tipe labioskisis. Serta dapat melakukan penatalaksanaan secara comprehensive masalah yang ada pada kasus kasus labioskisis.
CONTOH KASUS
Bayi 2 minggu dengan labioskisis bilateral komplit. Pada akhir pembelajaran diharapkan dapat melakukan edukasi pada orang tua pasien, anjuran perawatan serta pemberian makan dan minum pada pasien, rujukan ke multidisiplin lain untuk perbaikan gizi, persiapan operasi serta tehnik operasi yang akan di gunakan. Diskusi :
Insidensi Labioskisis
Penanganan labioskisis
Jawaban :
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan Pembelajaran Umum :
Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan untuk :
Mengenali gejala, tanda Labioskisis
Melakukan anamnesis, pemeriksaan dan diagnosis klasifikasi tentang labioskisis
Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi
Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi yang akan digunakan
Merencanakan perawatan pasca operasi serta perencanaan tatalaksana selanjutnya
Merencanakan penatalaksanaan bila terjadi komplikasi operasi 7.
Tujuan Pembelajaran Khusus :
Setelah Mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk :
Menjelaskan anatomi, topografi dan patofisiologi labioskisis (tingkat kompetensi K4)
Mejelaskan etiologi dan kalsifikasi labioplasti (tingkat kompetensi K4)
Menjelaskan dan gambaran klinis beberapa klasifikasi labioskisis (tingkat kompetensi K4)
Menerangkan pemeriksaan penunjang yang diperlukan pada penatalaksanaan labioskisis (tingkat kompetensi K4)
Menjelaskan tehnik operasi sesuai dengan klasifikasi labioskisis (tingkat kompetensi K4)
Menjelaskan perawatan pasca operasi dan rencana selanjutnya (tingkat kompetensi K4)
Menjelaskan penangan komplikasi operasi mulai dari komplikasi pada saat operasi, pasca operasi dan komplikasi lama (tingkat kompetensi K4)
Melakukan tatalaksana pasien labioskisis mulai dari perinatal sampai pasca operasi (tingkat kompetensi K4)
Melakukan tindakan bedah Labioplasti (tingkat kompetensi K4)
Merawat penderita labioskisis pra operasi termasuk edukasi keluarga pasien, informed consent serta perawatan pasca operasi serta mengatasi komplikasi yang kemungkinan terjadi (tingkat kompetensi K4)
METODE PEMBELAJARAN
Pendahuluan
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini :
Small group discussion
Peer assisted learning
Bedside teaching
Task-based medical education
Must to know key points :
Peserta didik paling sudah harus mempelajari :
Bahan acuan (references)
Ilmu dasar yang berkaitan dengan topik pembelajaran
Ilmu klinis dasar
Penuntun belajar (learning guide)
Tempat belajar (training setting) : bangsal rawat tht, kamar operasi, bangsal perawatan pasca operasi.
Cara pembelajaran :
Pelatihan
Belajar mandiri
Kuliah
Group diskusi
Bed site teaching
Bimbingan Operasi dan asistensi
Melakukan operasi mandiri di bawah supervisi
Countinuing Profesional Development.
Alat bantu pembelajaran :
Video animasi tehnik operasi labioplasti
Kadaver
EVALUASI
Pada awal pembelajaran dilakukan evaluasi Pre - test dalam bentuk essay dan pilihan ganda. Materi test terdiri dari : anatomi, patofisiologi, penegakan diagnosis serta klasifikasi, teknik - tehnik operasi, komplikasi dan penangannya, follow up dan perencanaan selanjutnya.
Bedsite teaching dan diskusi untuk membahas beberapa masalah yang ada.
Setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberi kesempatan untuk assistensi operasi labioskisis. Pada saat itu kan dilakukan evaluasi pengetahuan dan kompetensi peserta didik.
Setelah melakukan asistensi dan dinilai kompeten, peserta didik dapat melakukan operasi labioskisis di bawah bimbingan.
Pendidik / fasilitas
Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist
Penjelasan lisan dan diskusi
Kriteris penilaian langsung : cakap / tidak cakap / lalai.
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF & PSIKOMOTOR
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Kuesioner Sebelum Pembelajaran
Otot orbikularis berjalan horisontal dan ke arah atas sejajar tepi celah bibir. Pada unilateral otot menempel pada dasar kolumela dan dasar ala nasi.
B S
Pada bilateral, otot menepel pada dasar ala nasi tanpa ada otot yang menghubungkan bagian tengah prolabial.
B S
Kuesioner Tengah Pembelajaran
Saat operasi menurut Millard's Rule of ten yaitu : Usia 10 minggu, Hb 10 gr% dan Berat 10 pound
B S
Kuesioner Tengah Pembelajaran
Essay/ujian Lisan/Ujian Sumatif
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR
PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR LABIOPLASTI
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :
Perlu perbaikan : langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu : langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan)
Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
NAMA PESERTA : ......... TANGGAL:..........
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR LABIOPLASTI | |||||
- Cuci tangan, memakai baju operasi dan memakai sarung tangan | |||||
- Tindakan a & anti sepsi daerah operasi dengan povidon iodine | |||||
- Memasang kain steril sebagai penutup pasien kecuali daerah operasi | |||||
- Dilakukan penandaan dengan larutan biru etilen atau pena penanda titik titik pada bibir sebagai titik bantu dan gambaran dalam melakukan labioskisis dengan tehnik Millard. Dilakukan infiltrasi dengan Adrenalin : Lidokain sebesar 1: 200.000 pada sudut bibir dan tepi medial defek bibir. | |||||
III. PROSEDUR OPERASI | |||||
- Setelah penandaan dan infiltrasi sempurna dilakukan insisi sesuai penandaan dan perencanaan gambar, setelah dilakukan insisi tindakan selanjutnya adalah underming didaerah sulcus gingivobucal dan alae. Setelah diyakinan tidak terjadi regangan pada saat akan melakukan penjahitan utuk menyatukan tepi celah bibir, maka dilakukan penjahitan dangan menggunakan vicyrl 4-0 mulai dari mukosa bibir, otot orbikularis dan terakhir kulit dengan menggunakan nylon 5-0. | |||||
Nama
Diagnosis
Inform choice & inform consent
Rencana tindakan
Persiapan sebelum tindakan
KEGIATAN | KASUS | ||||
Penjahitan untuk menyatukan tepi defek harus sempurna sehingga terbentuk vermillion, cupit bow serta garis merah bibir sempurna. Luka ditutup dengan kassa antibiotik dan plester. | |||||
IV. PASCA OPERASI | |||||
- Instruksi pasca operasi Pasca bedah pasien dapat dipulangkan setelah efek anestesi umum sudah hilang dan sadar penuh dan tidak ada perdarahan. Pasien diterapi dengan antibiotika oral dan analgesia Follow-up Pasien diharapkan kontrol untuk perawatan luka pada hari ke tiga dan angkat jahitan pada hari ke 7 | |||||
DAFTAR TILIK
Penilaian Kinerja Keterampilan (ujian akhir)
DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA PROSEDUR LABIOPLASTI
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotor atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan suatu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini:
: Memuaskan : Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
X : Tidak memuaskan : Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
T/T : Tidak ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih.
PESERTA : ................................. TANGGAL:..............
KEGIATAN | NILAI | ||
PERSIAPAN | |||
1. Kaji ulang diagnosis dan prosedur operasi | |||
2. Menyiapkan peralatan operasi | |||
3. Menyiapkan diri untuk melakukan tindakan operasi | |||
4. Menyiapkan posisi pasien | |||
5. Melakukan tindak a & anti septil | |||
6. Memasang kain steril menutup pasien kecuali area operasi | |||
PROSEDUR OPERASI | |||
Melakukan penandaan dengan larutan biru etilen atau pena penanda titik titik pada bibir sebagai titik bantu dan gambaran dalam melakukan labioskisis dengan teknik Millard.
Melakukan infiltrasi dengan Adrenalin : Lidokain sebesar 1: 200.000 pada sudut bibir dan tepi medial defek bibir
KEGIATAN | NILAI | ||
Melakukan insisi sesuai penandaan dan perencanaan gambar, setelah dilakukan insisi tindakan selanjutnya adalah underming didaerah sulcus gingivobucal dan alae.
Melakukan penjahitan utuk menyatukan tepi celah bibir, maka dilakukan penjahitan dangan menggunakan vicyrl 4-0 mulai dari mukosa bibir, otot orbikularis dan terakhir kulit dengan menggunakan nylon 5-0. Penjahitan untuk menyatukan tepi defek harus sempurna sehingga terbentuk vermillion, cupit bow serta garis merah bibir sempurna.
Luka ditutup dengan kassa antibiotik dan plester.
Instruksi pasca operasi
MATERI PRESENTASI
SLIDE 1 : Etiologi Labioskisis
Faktor genetik
Orang tua dgn bibir sumbing risiko anak dengan sumbing j 1:14
kelahiran hidup
Gen spesifik : TGFA, MSX1, TGFB3, dll
Terkait 2' 150 sindrom terutama palatum
Faktor teratogen
infeksi virus
antikonvulsan fenitoin
alkohol
asam retinoid pd trimester pertama
ibu merokok risiko 2x j kelainan sumbing pada anaknya
semakin tua usia orangtua > 30 tahun terutama sang ayah
SLIDE 2 : Pendarahan daerah Labio Superior SLIDE 3 : Patofisiologi labioskisis
Kelainan otot orbikularis
Otot orbikularis berjalan horisontal dan ke arah atas sejajar tepi celah bibir. Pada unilateral otot
menempel pada dasar kolumela dan dasar ala nasi.
Pada bilateral, otot menepel pada dasar ala nasi tanpa ada otot yang menghubungkan bagian tengah prolabial.
SLIDE 4 Diagnosis & Klasifikasi Labioskisis SLIDE 5 Waktu & Penatalaksanaan Labioskisis SLIDE 6 Teknik-teknik Operasi
SLIDE 7 Perawatan Pasca Operasi & Komplikasi
MATERI BAKU
Definisi
LABIOPLASTI
Suatu tindakan rekonstruksi celah bibir (labioskisis) dengan menggunakan tehnik Millard dengan tujuan untuk membentuk bibir yang sempurna.
Indikasi operasi
Labioskisis unilateral, bilateral, komplit maupun inkomplit dengan usia, keadaan umum dan tercapainya tolerasi operansi.
List of Skill
Tahapan Bedah Dasar (sudah kompeten melakukan bedah dasar)
Persiapan pra operasi: anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, IC
Melakukan Operasi (asistensi)
Menangani Komplikasi
Melakukan Follow-up
Tahapan bedah lanjutan
Persiapan pra operasi: anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, IC
Melakukan Operasi (Bimbingan, Mandiri)
Menangani Komplikasi
Melakukan Follow-up
Melakukan perencanaan selanjutnya
Tehnik Operasi Menjelang operasi
Penjelasan kepada penderita dan keluarga mengenai tindakan operasi yang akan
dilakukan serta resiko komplikasi yang dapat terjadi. Setelah mendapatkan keterangan keluarga pasien diharapkan menanda tangani surat persetujuan operasi (informed Consent).
Memeriksa dan mempersiapkan alat dan kelengkapan operasi Penderita puasa minimal 6 jam sebelum operasi
Pemberian antibiotik profilaksis sesuai standard penggunaan antibiotika yang berlaku.
Tahapan operasi.
Pembiusan dilakukan dengan endotrakeal maupun lokal anestesi tergantung usia pasien. Desinfektan dengan larutan antiseptik dan lapangan operasi di persiapkan dengan linen steril.
Dilakukan penandaan dengan larutan biru etilen atau pena penanda titik titik pada bibir sebagai titik bantu dan gambaran dalam melakukan labioskisis dengan tehnik Millard.
Dilakukan infiltrasi dengan Adrenalin : Lidokain sebesar 1: 200.000 pada sudut bibir dan tepi medial defek bibir.
Setelah penandaan dan infiltrasi sempurna dilakukan insisi sesuai penandaan dan perencanaan gambar, setelah dilakukan insisi tindakan selanjutnya adalah underming didaerah sulcus gingivobucal dan alae. Setelah diyakinan tidak terjadi regangan pada saat akan melakukan penjahitan utuk menyatukan tepi celah bibir, maka dilakukan penjahitan dangan menggunakan vicryl 4-0 mulai dari mukosa bibir, otot orbikularis dan terakhir kulit dengan menggunakan nylon 5-0.
Penjahitan untuk menyatukan tepi defek harus sempurna sehingga terbentuk vermillion, cupit bow serta garis merah bibir sempurna. Luka ditutup dengan kassa antibiotik dan plaster.
Perawatan pasca operasi
Pasca bedah pasien dapat dipulangkan setelah efek anestesi umum sudah hilang dan sadar penuh dan tidak ada perdarahan. Pasien diterapi dengan antibiotika oral dan analgesia
Follow-up
Pasien diharapkan kontrol untuk perawatan luka pada hari ke tiga dan angkat jahitan pada hari
ke 7
Algoritma : Celah Bibir dan Palatum
Palatoskis
OME (-
OME (+)
-
Nasofari ngoskopi
-
Nasalens
-Analisis
(-)
(+
3-4
Orthodonti
VP I
Nasofaringosko pi
VP I (-)
Faringo plasti
Baik
OME: Otitis Media
Palatoplasti Faringoplasti Rinoplasti (Cleft Lipnose)
Prosthodonti
Labio plasti
Speech Therap
Pasang Grome
Palatoplas
OME (+)
OME (-
ProtudingMaksi
Timpanomet
BB 10
pon
Umur 10 mgg
Hb 10
Dewasa
> 16 thn
18
bln
Palatoskis
Labiopalatoski
Labioskisi
Celah bibir dan palatum
Grome
Timpanomet
ALGORITMA dan PROSEDUR
KEPUSTAKAAN MATERI BAKU
Bailey BJ, Johnson JT, Head & Neck Surgery - Otolaryngology, Fifth Edition, Volume one, Lippincott Williams & Wilkins, 2014, p : 1556-1573
Arun KL, Randal N, Embriology of Head and Neck. In: Grabb & Smith's Plastic
Sugery, Sixth edition, Lippincott Williams & Wilkins, 2007, p : 179 -190
Becker W. Naumann HH, Pfalt CR, Congenital malformation in Ear, Nose and Throat Disease, Second edition, Thieme Medical Publishers Inc., New York, 1994, p: 134-136
Lee .K.J, Kongenital Malformation in otolaryngology and Head and Neck Surgery, Elseiver Science Publishers, 1989, p: 63-65
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
MODUL VIII.3.2
TOPIK : FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI - RONGGA MULUT : PALATOSKISIS
WAKTU
Pengembangan Kompetensi | Hari : 35 |
Sesi didalam kelas | 8 x 60 menit (classroom session) |
Sesi dengan fasilitas pembimbing | 12 x 60 menit (coaching session) |
Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi | 11 X 60 menit (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi Presentasi : Palatoskisis
SLIDE 1 : Etiologi Palatoskisis
SLIDE 2 : Pendarahan daerah palatum
SLIDE 3 : Patofisiologi palatum
SLIDE 4 : Diagnosis, Klasifikasi palatoskisis
SLIDE 5 : Pemeriksaan Penunjang; Nasalens, nasofaringoskopi, timpanopmetri
SLIDE 6 : Waktu & Penatalaksanaan palatoskisis
SLIDE 6 : Teknik teknik operasi Palatoplasti
SLIDE 7 : Perawatan pasca operasi & komplikasi
Kasus :
Anak usia 3 tahun palatoskisis komplit. Makan dan minum selalu tersedak, suara sengau dan pendengaran berkurang. Pada akhir pembelajaran diharapkan dapat melakukan edukasi pada orang tua pasien, anjuran perawatan serta pemberian makan dan minum pada pasien, rujukan ke multidisiplin lain untuk berbaikan gizi, persiapan operasi serta teknik operasi yang akan di gunakan.
Sarana dan alat bantu latih:
Penuntun belajar
Tempat belajar ; Bangsal THT, Poli THT, Kamar Operasi
Video animasi tuntunan operasi
Kadaver
REFERENSI
Bailey BJ, Johnson JT, Head & Neck Surgery - Otolaryngology, Fifth Edition, Volume one, Lippincott Williams & Wilkins, 2014, p : 1556-1573
Arun KL, Randal N, Embriology of Head and Neck. In: Grabb & Smith's Plastic
Sugery, Sixth edition, Lippincott Williams & Wilkins, 2007, p : 179 -190
Becker W. Naumann HH, Pfalt CR, Congenital malformation in Ear, Nose and Throat Disease, Second edition, Thieme Medical Publishers Inc., New York, 1994, p: 134-136
Lee .K.J, Kongenital Malformation in otolaryngology and Head and Neck Surgery, Elseiver Science Publishers, 1989, p: 63-65
KOMPETENSI
Mampu melakukan diagnosis palatoskisis sesuai klasifikasi IOWA. Melakukan pemeriksaan penunjang sesuai dengan algoritma dan fasilitas yang tersedia. Dapat menentukan saat melakukan operasi dan mampu melakukan operasi palatoplasti secara mandiri.
Keterampilan (3)
Setelah mengikuti sesi ini, peserta didik diharapkan terampil :
Dapat menjelaskan anatomi, fisiologi palatum dan velofaring
Dapat menjelaskan kelainan anatomi dengan gangguan fungsi velofaring
Dapat mengetahui etiopatogenesis kelainan palatoskisis, inkompetens velofaring
Menjelaskan dasar diagnosis dan pemeriksaan penunjang, nasalens, nasofaringoskopi serat optik lentur, timpanometri.
Menjelaskan teknik operasi palatoplasti & komplikasinya
Menjelaskan penanganan komplikasi operasi
Melakukan work up penderita palatoskisis yang meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang
Menentukan klasifikasi, jenis operasi, prognostik dan terapi lanjut
Melakukan tindakan pemeriksaan preoperasi
Melakukan tindakan pembedahan palato plasti secara mandiri
Melakukan tindakan dan intepretasi pemeriksaaan nasalens, nasoendoskopi serat optik lentur untuk evaluasi pasca operasi *
Melakukan perawatan dengan penjelasan pada penderita keluarga dan informed concent, pasca operasi dan mampu mengatasi operasi komplikasi yang terjadi
GAMBARAN UMUM
Palatoskisis adalah kelainan kongenital yang mengakibatkan masalah yang mutipel mulai dari gangguan wicara, gangguan pendengaran, gangguan makan, gangguan perkembangan maksilofasial dan gigi geligi. Beberapa kasus bahkan merupakan berhubungan dengan kelainan sindroma lain seperti kelainan jantung ataupun defek sistemik lainnya. Sehingga penatalaksanaannya melibatkan multidisiplin ilmu agar dapat tertangani secara komprehensif.
Tujuan gambaran umum:
Memberi penjelasan agar kompeten mendiagnosis dan mengklasifikasi tipe palatoskisis. Serta dapat melakukan penatalaksanaan secara comprihensive masalah yang ada pada kasus kasus palatoskisis.
CONTOH KASUS
Bayi 24 bulan dengan palatoskisis komplit berobat dengan keluhan perkembangan bicara terganggu, sering tersedak bila makan dan minum.
Pada akhir pembelajaran diharapkan dapat melakukan edukasi pada orang tua pasien, anjuran perawatan serta pemberian makan dan minum pada pasien, rujukan
ke multidisiplin lain untuk berbaikan gizi, persiapan operasi serta teknik operasi yang akan di gunakan.
Diskusi :
Insidensi palatoskisis
Penatalaksanaan palatoskisis
Jawaban :
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan pembelajaran umum :
Mendiagnosis dan membuat klasifikasi palatoskisis
Melakukan anamnesis dan pemeriksaan palatoskisis Nasalens * }
Nasoendoskopi * } untuk velofaringeal inkompetens Timpanometri untuk evaluasi otitis media efusi
Keputusan untuk tatalaksana
operasi : teknik operasi palatoplasti
post operasi : perawatan pasca operasi evaluasi pasca operasi
Nasalens *
Nasoendoskopi serat optik lentur *
Penyulit pasca operasi
Fistel : direvisi setelah 6 bulan
Fisioterapi / terapi wicara 3-6-12 bulan dengan follow up nasalens
Tujuan pembelajaran khusus :
Dapat menjelaskan anatomi, fisiologi palatum dan velofaring
Dapat menjelaskan kelainan anatomi dengan gangguan fungsi velofaring
Dapat mengetahui etiopatogenesis kelainan palatoskisis, inkompetens velofaring
Menjelaskan dasar diagnosis dan pemeriksaan penunjang, nasalens, nasoendoskopi serat optik lentur, timpanometri
Menjelaskan teknik operasi palatoplasti & komplikasinya
Menjelaskan penanganan komplikasi operasi
Melakukan work up penderita palatoskisis yang meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang
Menentukan klasifikasi, jenis operasi, prognostik dan terapi lanjut
Melakukan tindakan pemeriksaan preoperasi
Melakukan tindakan pembedahan
Melakukan tindakan dan intepretasi pemeriksaaan nasalens, nasoendoskopi serat optik lentur untuk evaluasi pasca operasi *
Melakukan perawatan dengan penjelasan pada penderita keluarga dan informed concent, pasca operasi dan mampu mengatasi operasi komplikasi yang terjadi
METODE PEMBELAJARAN
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini :
Small group discussion
Peer assisted learning
Bedside teaching
Task-based medical education
Persiapan pembelajaran :
Peserta didik paling sudah harus mempelajari :
Bahan acuan (references)
Ilmu dasar yang berkaitan dengan topik pembelajaran
Ilmu klinis dasar
Penuntun belajar (learning guide)
Tempat belajar (training setting) : Bangsal Rawat THT, Kamar Operasi, Bangsal Perawatan Pasca Operasi.
Tujuan 1. Menjelaskan embriologi, anatomi dan topografi palatum
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Belajar mandiri
Kuliah interaktif
Diskusi kelompok
Model anatomi telinga
Bedside teaching
Hal-hal yang harus diketahui :
Embriologi, anatomi labial dan fisiologi fonasi, menelan
Patogenesis palatoskisis
Tujuan 2. Mampu menjelaskan etiologi, klasifikasi dan patogenesis palatoskisis
Untuk mencapai tujuan ini dipilih metode pembelajaran:
Kuliah interaktif
Case simulation and investigation exercise
Bedside teaching
Task based medical education
Hal-hal yang harus diketahui :
Etiologi dan faktor predisposisi dari berbagai jenis palatoskisis
Gejala dan tanda berbagai jenis palatoskisis
Membandingkan tanda dari berbagai jenis palatoskisis
Mengidentifikasi kelainan fungsi menelan akibat palatoskisis
Tujuan 3. Mampu menentukan dan melakukan pemeriksaan tambahan pada kasus palatoskisis
Pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan topografi, timpanometri, nasalens, nasofaringoskopi
Untuk mencapai tujuan ini dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Kuliah interaktif
Diskusi kelompok
Journal reading and review
Case simulation and investigation exercise
Bedside teaching
Hal-hal yang harus diketahui :
Menilai perlunya pemeriksaan tambahan dan konsultasi ke bagian lain yang terkait
Membandingkan cost effective tiap pemeriksaan
Mengetahui indikasi tiap jenis pemeriksaan
Mengetahui saat yang tepat untuk tiap pemeriksaan
Tujuan 4. Mampu melakukan tatalaksana palatoskisis dan mengetahui tindakan bedah sesuai dengan kelainan yang ditemui
Untuk mencapai tujuan ini dipilih metode pembelajaran:
Belajar mandiri dari buku ataupun video operasi
Diskusi interaktif
Studi kasus
Bedside teaching
Bimbingan operasi dan asistensi
Praktek pada pasien Hal yang harus diketahui:
Tata laksana pasien yang perlu pembedahan
Saat yang tepat untuk melakukan tindakan bedah
Komplikasi pembedahan
Tujuan 5. Mampu menjelaskan target, pencapaian, komplikasi tindakan dan rencana rekonstruksi tahap kedua
Untuk mencapai tujuan ini dipilih metode pembelajaran
Belajar mandiri dari buku ataupun dari jurnal
Diskusi kelompok
Studi kasus
Bedside teaching
Hal yang harus diketahui :
Jenis komplikasi operasi rekonstruksi
Tatalaksana/ rehabilitasi pasca tindakan
Evaluasi hasil rehabilitasi
EVALUASI
Pada awal pembelajaran dilakukan evaluasi Pre - test dalam bentuk essay dan pilihan ganda. Materi test terdiri dari : anatomi, patofisiologi, penegakan diagnosis serta klasifikasi, teknik - tehnik operasi, komplikasi dan penangannya, follow up dan perencanaan selanjutnya.
Bedsite teaching dan diskusi untuk membahas beberapa masalah yang ada.
Setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberi kesempatan untuk assistensi operasi palatoskisis. Pada saat itu kan dilakukan evaluasi pengetahuan dan kompetensi peserta didik.
Setelah melakukan asistensi dan dinilai kompeten, peserta didik dapat melakukan operasi palatoskisis di bawah bimbingan.
Pendidik / fasilitas
Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist
Penjelasan lisan dan diskusi
Kriteris penilaian langsung : cakap / tidak cakap / lalai.
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF & PSIKOMOTOR
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Kuesioner Sebelum Pembelajaran
Pembentukan palatum dimulai pada akhir gestasi minggu ke lima. Pada tahap ini terdiri dari 2 bagian yaitu anterior (primary) palate dan bagian posterior (secondary) palate.
B S
Komplikasi yang sering dijumpai pada palatoskisis adalah infeksi telinga tengah berupa OME yang dapat menyebakan gangguan pendengaran dan gangguan wicara.
B S
Jawaban :
Kuesioner Tengah Pembelajaran
Teknik dasar operasi palatoplasi
Tehnik von Langenbeck, Schweckendiek,
Tehnik 2-flap,
Tehnik 3-flap (V-to-Y),
Tehnik Furlow palatoplasti.
Semua Benar
Faringeal flaps biasanya memakai pedikel basis superior flaps yang terdiri dari mukosa and otot konstriktor faringeus.
B S
Jawaban :
Essay/ujian Lisan/Ujian Sumatif
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR
PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR PALATOPLASTI
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :
Perlu perbaikan : langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu : langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan)
Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
NAMA PESERTA : ......... TANGGAL:..........
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR PALATOPLASI | |||||
- Cuci tangan, memakai baju operasi dan memakai sarung tangan | |||||
- Tindakan a & anti sepsi daerah operasi dengan povidon iodine | |||||
- Memasang kain steril sebagai penutup pasien kecuali daerah operasi | |||||
- Dilakukan infiltrasi dengan Adrenalin : Lidokain sebesar 1: 200.000 pada masing masing 5 titik pada tepi celah palatal kanan dan kiri. | |||||
III. PROSEDUR OPERASI | |||||
Tahapan operasi Teknik Van Langenbeck Teknik Waldirr Kilner Insisi pada celah lalau insisi lateral lebih kurang 2mm dari pinggir ginggiva ke caninus sepanjang tuberositas maksila sampai 5mm posterior tuberositas. Dibuat insisi yang menghubungkan kedua insisi tersebut (dapat 3 atau 4 flap) Pemisahan flap kmukoperiosteal mukosa nasal dan palatal shelves,neurovascular bundle,pematahan hamulus. Teknik Furlow Double reversing Z plasty untuk celah submukosa palatum.Transposisi flap Z Luka dijahit lapis demi lapis dengan menggunakan vicryl 4-0, pada daerah palatum mole 3 lapis; mukosa sisi nasal, otot dan mukosa sisi oral. Daerah palatum durum terdiri dari 2 lapis. Mukosa sisi nasal dan mukosa sisi oral | |||||
IV. PASCA OPERASI | |||||
- Instruksi pasca operasi Pemberian analgesia dan antibiotik selama 7 hari. Diberi penjelasan bahwa selama pasca operasi tidak boleh masukkan tangan ke mulut, hanya boleh makan lunak, tidak | |||||
Nama
Diagnosis
Informed choice & informed consent
Rencana tindakan
Persiapan sebelum tindakan
Melakukan insisi sepanjang tepi
celah (medial) dan perbatasan alveolar ridge (lateral).
Undermining flap bipedikel dengan dasar subperiosteal lalu penyatuan sisi flap agar terjadi penutupan palatum durum
KEGIATAN | KASUS | ||||
boleh menggunkan botol dan dot. Minum menggunakan sendok atau kateter karet. Diet normal baru diberikan setelah 3 minggu. Follow up dilakukan setelah 7 hari dan 3 minggu. Bila terjadi fistula tindakan operasi untuk menutup fistel dapat dilakukan setelah 6 bulan. | |||||
DAFTAR TILIK
Penilaian Kinerja Keterampilan (ujian akhir)
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotor atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan suatu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini:
: Memuaskan : Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau
panduan standar
X : Tidak memuaskan : Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
T/T : Tidak ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih.
DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA PROSEDUR PALATOPLASTI
PESERTA : ................................. TANGGAL:..............
KEGIATAN | NILAI | ||
PERSIAPAN | |||
1. Kaji ulang diagnosis dan prosedur operasi | |||
2. Menyiapkan peralatan operatif | |||
3. Menyiapkan diri | |||
4. Menyiapkan posisi pasien | |||
5.Melakukan tindakan a & antiseptik | |||
PROSEDUR OPERASI | |||
1. Melakukan infiltrasi adrenalin | |||
2. Tehnik Van langenbeck : | |||
a. Melakukan insisi sepanjang tepi celah | |||
b. Undermining flap berpedikel | |||
c. penyatuan sisi flap | |||
3. Tehnik Waldirr Kilner | |||
a. Insisi pada celah lebih kurang 2mm dari pinggir ginggiva ke caninus | |||
b. Dibuat insisi yang menghubungkan kedua insisi tersebut | |||
c. Pemisahan flap mukoperiosteal mukosa nasal dan palatal shelves, neurovaskular bundle, pematahan hamulus | |||
4. Teknik Furlow | |||
a. Double reversing Z plasty | |||
b. Transposisi flap Z | |||
5. Luka dijahit lapis demi lapis | |||
MATERI PRESENTASI
SLIDE 1 : Etiologi Palatoskisis SLIDE 2 : Pendarahan daerah palatum SLIDE 3 : Patofisiologi palatum
SLIDE 4 : Diagnosis, Klasifikasi palatoskisis
SLIDE 5 : Pemeriksaan Penunjang; Nasalens, nasofaringoskopi, timpanometri SLIDE 6 : Waktu & Penatalaksanaan palatoskisis
SLIDE 6 : Teknik teknik operasi Palatoplasti SLIDE 7 : Perawatan pasca operasi & komplikasi
MATERI BAKU
Palatoplasti
Definisi :
Suatu bedah korektif untuk menutup celah palatum kongenital Ruang lingkup:
Celah pada palatum durum, mole, alveolus atau keduanya, atau ketiganya dengan atau tanpa kelainan velofaringeal kompleks.
Tujuan Operasi:
Menutup celah palatum dalam satu tahap
Pemanjangan palatum atau mencegah palatum memendek pasca operasi
Mempertahankan fungsi normal velum
Katup velofaring yang kompeten
Produksi bicara normal
Mastikatori normal tanpa maloklusi
Manipulasi minimal pada tulang yang sedang tumbuh
Mencegah deformitas wajah
Mempertahankan fisiologi hidung.
Dalam kaitannya dengan diagnosis perlu kerjasama dengan tht komunitas, otologi, speech therapist.
Indikasi operasi : Celah palatum
Kontra indikasi: Umur kurang dari 18 bulan Diagnosis banding: -
Pemeriksaan penunjang: Nasalens *
Endoskop serat optik lentur * Timpanometri
Setelah memahami dan mengerjakan modul ini maka diharapkan seseorang ahli bedah THT-KL mempunyai kompetensi serta dapat melakukan secara mandiri.
List of Skill
Tahapan Bedah Dasar (sudah kompeten melakukan bedah dasar)
Persiapan pra operasi: anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, IC
Melakukan Operasi (asistensi)
Menangani Komplikasi
Melakukan Follow-up
Tahapan bedah lanjutan
Persiapan pra operasi: anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, IC
Melakukan Operasi (Bimbingan, Mandiri)
Menangani Komplikasi
Melakukan Follow-up
Melakukan perencanaan selanjutnya
ALGORITMA DAN PROSEDUR
KEPUSTAKAAN MATERI BAKU
Bailey BJ, Johnson JT, Head & Neck Surgery - Otolaryngology, Fifth Edition, Volume one, Lippincott Williams & Wilkins, 2014, p : 1556-1573
Arun KL, Randal N, Embriology of Head and Neck. In: Grabb & Smith's Plastic Sugery, Sixth edition, Lippincott Williams & Wilkins, 2007, p : 179 -190
Becker W. Naumann HH, Pfalt CR, Congenital malformation in Ear, Nose and Throat Disease, Second edition, Thieme Medical Publishers Inc., New York, 1994, p: 134-136
Lee .K.J, Kongenital Malformation in otolaryngology and Head and Neck Surgery, Elseiver Science Publishers, 1989, p: 63-65
FACIAL PLASTY MODUL VIII.4.1 MIKROTIA
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
MODUL VIII.4.1
TOPIK : FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI - FACIAL PLASTY : MIKROTIA
WAKTU
Mengembangkan Kompetensi | Frekuensi |
Sesi di dalam kelas Sesi Pratikum Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi | 11 X 60 menit (classroom session) 10 X 60 menit (coaching session) 16 X 60 menit (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi presentasi :
Slide 1: Definisi
Slide 2: Klasifikasi
Slide 3: Embriologi
Slide 4: Algoritma dan Prosedur
Kasus : Mikrotia
Anak laki-laki 15 tahun, dikonsulkan ke divisi Plastik Rekonstruksi THT dengan diagnosis mikrotia Pada anamnesis, sejak lahir kedua telinganya kecil dan tidak berkembang
Anak pertama dari dua bersaudara, lahir ditolong oleh dokter, cukup bulan, spontan, langsung menangis, berat badan lahir 2400 gr panjang 40 cm. Semasa kehamilan ibu kontrol teratur ke bidan, dengan riwayat minum jamu-jamuan minum obat-obatan disangkal, , riwayat trauma juga disangkal, riwayat infeksi saat kehamilan. Tumbuh kembang lainnya baik, sekolah terganggu karena penamplan dan pendengaran terganggu
Pemeriksaan fisik pasien menderita mikrotia telinga bilateral grade III Pemeriksaan penunjang audiometri, telinga kanan tuli konduktif sedang 56,5 db; telinga kiri tuli konduktif sedang 58,4 db. Tomografi Komputer mikrotia bilateral, meatus akustikus eksternus tidak terbentuk, kavum timpani tidak terbentuk sempurna, namun tulang pendengaran kanan dan kiri utuh.
Sarana dan Alat Bantu Latih :
Model Anatomi
Penuntun belajar (learning guide) terlampir
Tempat belajar (training setting) : Instalasi gawat darurat, Ruang Rawat THT, Poliklinik THT, Ruang Operasi
REFERENSI
Weerda H. Plastic sugery of The Ear. In : scott Brownosotolaryngology, vol.3, 6th edition, Butterworth Heinemann, Oxford, 1997, 3 /8/ l-21.
Becker w. Naumann HH, Pfalt CR, Kongenital malformation in Ear, Nose and Throat Disease, secondedition, Thieme Medical publishers Inc., New york, 1994, p:134-136
Bailey B.J, Johnson J.T, congenital aural atresia in Head and Neck surgery Otolaryngology, Fourthedition, volume two, Lippincott williams & wilkins, 2046, p: 2027-2040
KOMPETENSI
Kompetensi Umum
Mampu membuat diagnosis kelainan kongenital daun telinga berdasarkan pemeriksaan defek anatomi daun telinga dan derajat kelainan menurut kriteria Marx Aguilar, Jachdoefer Nagata dan pemeriksaan penunjang yang diperlukan.
Mampu melakukan tatalaksana serta merujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi bila diperlukan
Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam :
Menjelaskanan embriologi, anatomi, histologi, fisiologi daun telinga.
Menjelaskan faktor penyebab, macam-macam kelainan kongenital daun telinga.
Menjelaskan patofisiologi, gambaran klinis dari kelainan kongenital daun telinga
Menjelaskan dan melaksanakan pemeriksaan penunjang dari kelainan daun kongenital disertai dengan atresia liang telinga (contoh: foto dokumentasi,BERA, Audiometri ,CT Scan,)
Membuat diagnosis klinis berdasarkan pemeriksaan CT scan berdasarkan kriteria Jachdoefer untuk kandidat atresiaplasti
Membuat diagnosis ganggaun fungsi pendengaran untuk perencanaan rehabilitasi
Membuat diagnosis klinis berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan sehubungan dengan adanya kelainan kongenital organ lain yang bersamaan dengan kelainan kongenital daun telinga.
Menjelaskan tatalaksana rekonstruksi kelainan kongenital daun telinga dan merujuk kecenter mikrotia
Melakukan perawatan pasca bedah pada penderita kelainan kongenital
Melakukan evaluasi fungsi dan estetik pasca bedah.
GAMBARAN UMUM
Kelainan kongenital daun telinga terjadi pada 2.4% populasi Asia setelah amerika dan Eropa Masalah yang ditimbulkannya terutama gangguan psikososial estetika dan fungsi pendengaran yang permanen. Kecacatan yang terkait dengan kelainan kongenital daun telinga merupakan penurunan kualitas sumber daya manusia terutama bila dikaitkan dengan kesempatan untuk mendapat pendidikan, pekerjaan ataupun kepuasan bagi diri penderita sendiri.
Hampir sebagian besar upaya rekonstruksi dilakukan melalui tindakan operatif yang memerlukan tingkat kompetensi dan ketelitian yang tinggi dari tenaga medik atau profesional kesehatan di bidang ilmu THT.
CONTOH KASUS & DISKUSI
Anak laki-laki 15 tahun, dikonsulkan ke divisi Plastik Rekonstruksi THT dengan diagnosis mikrotia Pada anamnesis, sejak lahir kedua telinganya kecil dan tidak berkembang
Anak pertama dari dua bersaudara, lahir ditolong oleh dokter, cukup bulan, spontan, langsung menangis, berat badan lahir 2400 gr panjang 40 cm. Semasa kehamilan ibu kontrol teratur ke bidan, dengan riwayat minum jamu-jamuan
minum obat-obatan disangkal, , riwayat trauma juga disangkal, riwayat infeksi saat kehamilan. Tumbuh kembang lainnya baik, sekolah terganggu karena penamplan dan pendengaran terganggu
Pemeriksaan fisik pasien menderita mikrotia telinga bilateral grade III
Pemeriksaan penunjang audiometri, telinga kanan tuli konduktif sedang 56,5 db; telinga kiri tuli konduktif sedang 58,4 db. Tomografi Komputer mikrotia bilateral, meatus akustikus eksternus tidak terbentuk, kavum timpani tidak terbentuk sempurna, namun tulang pendengaran kanan dan kiri utuh.
Diskusi :
TUJUAN PEMBELAJARAN
Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian- kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan menatalaksana kelainan daun kongenital pada telinga seperti yang telah disebutkan diatas, yaitu:
Menguasai embriologi, anatomi, histologi, fisiologi telinga
Mampu menjelaskan faktor penyebab/etiologi, patologi, patofisiologi dan garnbaran klinis berbagai jenis kelainan kongenital telinga.
Menentukan dan melakukan pemeriksaan penunjang (BERA, CT Scan, Audiometri)
Membuat diagnosis kelainan kongenital daun telinga dari pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
Melaksanakan tindakan rehabilitasi dan rekonsruksi terhadap kelainan telinga.
Melakukan work-up, menentukan terapi dan memutuskan untuk melakukan rujukan kelainan kongenital daun telinga.
METODE PEMBELAJARAN
Literatur Reading
Jurnal Reading
Praktik Lapangan (Poliklinik dan ruang rawat)
Skills Lab
Bedside Teaching
Tindakan (OK)
Case Report
Minicex
Mini lecture
EVALUASI
Pada awal pembelajaran dilakukan evaluasi Pre - test dalam bentuk essay dan pilihan ganda. Materi test terdiri dari : anatomi, patofisiologi, penegakan diagnosis serta klasifikasi, teknik - tehnik operasi, komplikasi dan penangannya, follow up dan perencanaan selanjutnya.
Bedsite teaching dan diskusi untuk membahas beberapa masalah yang ada.
Setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberi kesempatan untuk assistensi operasi mikrotia. Pada saat itu kan dilakukan evaluasi pengetahuan dan kompetensi peserta didik.
Setelah melakukan asistensi dan dinilai kompeten, peserta didik dapat melakukan operasi mikrotia di bawah bimbingan.
Pendidik / fasilitas
Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist
Penjelasan lisan dan diskusi
Kriteris penilaian langsung : cakap / tidak cakap / lalai.
INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF & PSIKOMOTOR
The correction of microtia/ atresia should begin with:
Skin graft to ear with the removal of microtic vestige
Correction of the atresia by an otolaryngologist
Combined procedure in conjunction with the otologist
Autogenous cartilage harvest with framework creation
Wait until the child is 18 years of age to decide for himself or herself.
Jawaban :D
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR
Nilailah kinerja. setiap langkah yang diarnati menggunakan skala sebagai berikut.: 1.
2.
3.
T/D
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai trutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR AURIKULOPLASTI
NAMA PESERTA :........ TANGGAL: .......
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. ULANG DIAGNOSIS DAN PROSEDUR OPERASI | |||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR | |||||
- Injeksi antibiotika preoperatif | |||||
- Menyiapkan template dan lokasi daun telinga dan alat-alat | |||||
Nama
Diagnosis
Informed Choice & Informed Consent
Rencana Tindakan
Persiapan sebelum tindakan
KEGIATAN | KASUS | ||||
yang akan digunakan | |||||
- Cuci tangan, memakai baju operasi dan sarung tangan steril | |||||
- tindakan a dan antiseptik pada daerah operasi dan sekitarnya dengan menggunakan povidon iodine atau antiseptik lainnya | |||||
- pasang kain penutup operasi steril pada pasien, kecuali di area operasi | |||||
- Posisi pasien : terlentang, kepala miring ke arah berlawanan dengan sisi telinga yang dioperasi | |||||
III. PROSEDUR OPERASI aurikuloplasti tahap 1 | |||||
- Melakukan suntikan infiltrasi adrenalin pada daerah-daerah tertentu di daerah mikrotia | |||||
- Melakukan insisi kulit lobul dengan z plasti | |||||
- Melakukan deseksi dan elevasi kulit dan jaringan lunak di bawahnya | |||||
.Persiapan pengambilan graft iga 678 | |||||
- Melakukan penandaan pada daerah diatas iga 6-7 dekat dengan xiphoid dilanjutkan dengan insisi lapis demi lapis sampai teraba [periosteum | |||||
- Menggunakan hak dengan benar untuk memaparkan daerah iga yang kan diambil sesuia dengan kebutuhan template telinga. | |||||
- Melakukan pengambilan iga. | |||||
- Pembuatan rangka telinga dengan memahat bentuk rangka telinga sesuai dengan template yang dibutuhkan | |||||
- Memasukan rangka telinga kedalam pocket sesuai dengan perencanaan letak daun telinga | |||||
- Memasang negative pressure suction drain sampai detil anatomi subunit telinga terlihat | |||||
- Jahit luka operasi dengan benang nilon prolen 5-0 | |||||
- Daerah operasi ditutup dengan verban dan diberi proteksi telinga | |||||
- Melakukan verban daerah dada bekas insisi pengambilan iga | |||||
IV. PROSEDUR OPERASI aurikuloplasti tahap 2 dilakukan 3-6 bulan kemudian | |||||
- Melakukan suntikan infiltrasi adrenalin pada daerah-daerah tertentu di daerah framework | |||||
Memberikan instruksi pasca operasi.
pemberian antibiotika injeksi dilanjutkan dengan oral
pemberian analgetik/antinflamasi
evaluasi pascaoperasi berupa adanya: perdarahan dan pneumothorax
rencana pasien dipulangkan 3 hari pascaoperasi
ganti verban setiap hari dengan pemberian antibiotika cream
drain pada hari 1-3 disuction reguler untuk menjaga detail unit telinga tetap terlihat dab mencegah perdarahan diangkat 7 hari
KEGIATAN | KASUS | ||||
- Melakukan insisi kulit mengelilingi framework | |||||
- Melakukan deseksi dan elevasi kulit ( subkutis tanpa merusak kapsul) | |||||
.Persiapan pengambilan skingraft | |||||
- Melakukan pengambilan split thickness skin graft pada daerah paha | |||||
- Graft diletakaan pada daerah retroaurikular | |||||
- Ambil temporoparietal flap | |||||
- Ambil iga sebagai butress | |||||
- Retroaurikular ditutup dengan tpf dan skin graft | |||||
- Jahit luka operasi dengan benang nilon prolen 5-0 | |||||
- Daerah operasi ditutup dengan verban tie over dan diberi proteksi telinga | |||||
- Melakukan verban daerah skin graft | |||||
Memberikan instruksi pasca operasi.
pemberian antibiotika injeksi dilanjutkan dengan oral
pemberian analgetik/antinflamasi
evaluasi pascaoperasi berupa adanya: perdarahan dan pneumothorax
rencana pasien dipulangkan 3 hari pascaoperasi
ganti verban setiap hari dengan pemberian antibiotika cream
tie over diangkat pada hari ke 5
DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA PROSEDUR AURIKULOPLASTI
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini:
: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
X: Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
T/T: Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
NAMA PESERTA: TANGGAL :
KEGIATAN | NILAI | ||||
Persiapan | |||||
1. Kaji ulang diagnosis dan prosedur operatif | |||||
2. Menyiapkan peralatan operatif | |||||
3. Menyiapkan diri untuk tindakan operatif | |||||
KEGIATAN | NILAI | ||||
4. Menyiapkan posisi pasien | |||||
5. Melakukan tindakan a & anti septik | |||||
PROSEDUR OPERASI | |||||
- Melakukan penandaan bentuk telinga sesuai dengan template | |||||
- Melakukan suntikan infiltrasi adrenalin pada daerah- daerah tertentu di daerah aurikuler | |||||
- Melakukan insisi kulit lobuloplasti dengan z plasti | |||||
- Melakukan undermining kulit dan jaringan lunak di bawahnya. | |||||
- Melakukan insisi kulit dan perikondrium iga 6-8 daerah dada. | |||||
- Memasang retractor secara benar untuk memaparkan daerah luka operasi | |||||
- Melakukan pengambilan iga | |||||
- Menjahit lapis demi lapis daerah lapangan operasi | |||||
- Tahap 2 operasi dilakukan 3-6 bulan kemudian. | |||||
- melakukan insisi retroauriker 1 cm dibelakang framework dibawah kapsul yang terbentuk | |||||
- Mengambil skin graft didaerah bawah dengan split thickness skin graft atau full thickness skin graft daerah inguinal. | |||||
- Memasang graft iga sebagai butress daerah konka | |||||
- Menutup retroaurikuler dengan temporoparietal flap | |||||
- Defek retroairuler ditutup dengan skingraft. | |||||
- Memasang bolster telinga diatas graft | |||||
- Mempertahankan bolster selama 5-7 hari | |||||
- Mengangkat bolster dan merawat skingraft sampai viable | |||||
- Mempertahankan posisi telinga sesuai dengan telinga kontralateral | |||||
- Memberikan instruksi pasca operasi. | |||||
Memberikan instruksi pasca operasi.
pemberian antibiotika injeksi dilanjutkan dengan oral
pemberian analgetik/antinflamasi
buka verban setiap hari.
Bolster retroaurikuler diangkat selama 5 hari
MATERI PRESENTASI
Slide 1 : mikrotia
Mikrotia merupakan suatu kelainan kongenital berupa malformasi bentuk telinga dengan berbagai derajat keparahan mulai dari bentuk telinga luar kecil dengan abnormalitas ringan sampai tidak terbentuknya daun telinga, telinga tengah dan telinga dalam.
Slide 2: Ruang Lingkup
Klasifikasi Microtia (Markx, Aguilar, Jahrsdoefer):
Derajat I: kelainan ringan dengan sedikit perubahan bentuk pada heliks dan antiheliks.
Derajat II: memiliki seluruh struktur utama, tetapi perlu dilakukan rekonstruksi pada tulang rawan atau kulit, terdapat stenosis liang telinga.
Derajat III: abnormalitas ditandai dengan terdapatnya beberapa bahkan mungkin tidak terdapat bentuk sama sekali. Jika terdapat lobul, posisinya ke arah anterior
Tanzer mengklasifikasikan defek daun telinga menjadi lima kategori:
Anotia
Hipoplasia komplet (mikrotia)
Disertai atresia liang telinga
Tanpa atresia liang telinga
Hipoplasia 1/3 tengah daun telinga
Hipoplasia 1/3 atas daun telinga
Constricted (cup dan lop) ear
Kriptotia
Hipoplasi seluruh 1/3 atas daun telinga
Prominent ear (Telinga caplang)
FACIAL PLASTY
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
MODUL VIII.4.2
TOPIK : FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI - FACIAL PLASTY: FISTULA PREAURIKULA
WAKTU
Proses Pengembangkan Kompetensi | Alokasi Waktu : |
Sesi di dalam kelas Sesi Pratikum Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi | 11 X 60 menit (classroom session) 10 X 60 menit (coaching session) 16 X 60 menit (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi Kelainan Kongenital Telinga meliputi :
Slide 1: Displasia Daun Telinga
Slide 2: Definisi dan Ruang Lingkup
Slide 3: Algoritma dan Prosedur
Kasus : Kelainan Kongenital Telinga, Fistula Preaurikula
Pasien seorang perempuan, 3 tahun datang dengan keluhan lubang pada bagian depan telinga kanan yang ada sejak lahir. Terdapat riwayat gatal dan keluar cairan dari lubang tersebut hilang timbul sejak 6 bulan yang lalu disertai dengan nanah / bisul di sekitarnya. Pasien tidak pernah mengeluh keluar cairan dri liang telinga. Terdapat riwayat keluhan serupa pada anak pasien.
Pada pemeriksaan fisik telinga didapatkan fistula pada regio preaurikula, anterior dari heliks. Terdapat tanda endema, hiperemis, maupun sekret dari dalam fistula. Liang telinga lapang, tidak ada sekret dan membran timpani intak. Telinga kiri, hidung dan tenggorokan dalam batas normal.
Sarana dan Alat Bantu Latih :
Model anatomi telinga, video
Penuntun belajar (learning guide) terlampir
Tempat belajar (training setting): bangsal THT-KL, Poliklinik THT-KL, kamar operasi.
REFERENSI
Weerda H. Plastic sugery of The Ear. In : scott Brownosotolaryngology, vol.3, 6th edition, Butterworth Heinemann, Oxford, 1997, l-21.
Becker w. Naumann HH, Pfalt CR, Kongenital malformation in Ear, Nose and Throat Disease, secondedition, Thieme Medical publishers Inc., New york, 1994, p:134-6
Lee. K.J, Kongenital Mal formationin otolaryngology and Head and Neck Surgery, Elseiver Science Publishers, 1989, p: 63-6
Bailey B.J, Johnson J.T, congenital aural atresia in Head and Neck surgery Otolaryngology, Fourthedition, volume two, Lippincott williams & wilkins, 2046, p: 2027-40
KOMPETENSI
Kompetensi Umum
Mampu membuat diagnosis kelainan kongenital Fistula Preaurikula berdasarkan pemeriksaan fisik.
Mampu melakukan tatalaksana serta merujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi bila diperlukan.
Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam :
Menjelaskan embriologi, anatomi, histologi, fisiologi daun telinga.
Menjelaskan faktor penyebab, macam-macam kelainan kongenital Fistula Preaurikula.
Menjelaskan patofisiologi, gambaran klinis dari kelainan kongenital Fistula Preaurikula
Membuat diagnosis klinis berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan sehubungan dengan adanya kelainan kongenital organ lain yang bersamaan dengan kelainan kongenital Fistula Preaurikula.
Menjelaskan tatalaksana rekonstruksi Fistula Preaurikula
Melakukan perawatan pasca bedah pada penderita kelainan kongenital
Melakukan evaluasi estetik pasca bedah.
GAMBARAN UMUM
Fistula preaurikular congenital adalah suatu traktus yang didasari oleh epitel skuamos yang bermula di depan daun telinga. Penyakit ini preaurikula merupakan kelainan kongenital jinak dari jaringan lunak preaurikula yang banyak ditemukan. Kelainan ini pertama kali diuraikan oleh Van Heusinger pada tahun 1864. Pada pemeriksaan tampak lubang kecil di telinga luar berbentuk bulat atau lonjong dengan ukuran kurang dari 3mm, biasanya terdapat tepat dibagian anterior tragus atau Krus helikis, tetapi jarang ditemukan dibagian superior atau inferior perlekatan telinga. Penyakit ini merupakan kelainan herediter yang dominan.
CONTOH KASUS
Pasien seorang perempuan, 3 tahun datang dengan keluhan lubang pada bagian depan telinga kanan yang ada sejak lahir. Terdapat riwayat gatal dan keluar cairan dari lubang tersebut hilang timbul sejak 6 bulan yang lalu disertai dengan nanah / bisul di sekitarnya. Pasien tidak pernah mengeluh keluar cairan dri liang telinga. Terdapat riwayat keluhan serupa pada anak pasien.
Pada pemeriksaan fisik telinga didapatkan fistula pada regio preaurikula, anterior dari heliks. Terdapat tanda endema, hiperemis, maupun sekret dari dalam fistula. Liang telinga lapang, tidak ada sekret dan membran timpani intak. Telinga kiri, hidung dan tenggorokan dalam batas normal.
TUJUAN PEMBELAJARAN
Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian- kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan menatalaksana kelainan daun kongenital pada telinga seperti yang telah disebutkan diatas, yaitu:
Menguasai embriologi, anatomi, histologi, fisiologi telinga
Mampu menjelaskan faktor penyebab/etiologi, patologi, patofisiologi dan garnbaran klinis berbagai jenis kelainan kongenital telinga.
Menentukan dan melakukan pemeriksaan penunjang
Membuat diagnosis kelainan kongenital Fistula Preaurikula dari pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
Melaksanakan rekonsruksi terhadap kelainan Fistula Preaurikula.
Melakukan work-up, menentukan terapi Fistula Preaurikula
METODA PEMBELAJARAN
Literatur reading
Praktik lapangan( Poliklinik)
Skills lab
Praktik Lapangan ( OK)
Praktik Lapangan (R.Inap)
Bedside Teaching
Case report
Jurnal reading
Minicex
Mini lecture
EVALUASI
Pada awal pembelajaran dilakukan evaluasi Pre - test dalam bentuk essay dan pilihan ganda. Materi test terdiri dari : anatomi, patofisiologi, penegakan diagnosis serta klasifikasi, teknik - tehnik operasi, komplikasi dan penangannya, follow up dan perencanaan selanjutnya.
Bedsite teaching dan diskusi untuk membahas beberapa masalah yang ada. Setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberi kesempatan untuk assistensi operasi fistula preaurikula. Pada saat itu kan dilakukan evaluasi pengetahuan dan kompetensi peserta didik.
Setelah melakukan asistensi dan dinilai kompeten, peserta didik dapat melakukan operasi fistula preaurikula di bawah bimbingan pendidik:
Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist
Kriteris penilaian langsung : cakap / tidak cakap / lalai.
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Essay/ujian Lisan/Ujian Sumatif
Seorang anak laki-laki berusia 14 hari dibawa orang tuanya berobat dengan terdapat lubang pada depan telinga sejak lahir, lubang sering mengeluarkan cairan berbau, bengkak seperti bisul.
a) Jelaskan diagnosis yang terjadi pada kasus diatas serta tatalaksananya.
Jawaban :
Fistula Preaurikula dengan riwayat infeksi berulang. Tanda dan gejala awal terjadinya infeksi adalah rasa nyeri, bengkak dan eritema yang menyebabkan dokter memberikan antibiotik empirik untuk bakteri yang umum pada infeksi kulit. Keluhan yang dapat terjadi adalah cairan yang keluar melalui fistula.
Ketika pemberian antibiotik tidak memberikan respon pada abses, maka diindikasikan untuk melakukan aspirasi dengan jarum. Jika infeksi berulang maka dilakukan tindakan pembedahan
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR
PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR FISTULEKTOMI
Nilailah kinerja. setiap langkah yang diarnati menggunakan skala sebagai berikut.: 1.
2.
3.
T/D
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai trutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
NAMA PESERTA :........ TANGGAL: ...........
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. ULANG DIAGNOSIS DAN PROSEDUR OPERASI | |||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR | |||||
- Injeksi antibiotika preoperatif | |||||
- Cuci tangan, memakai baju operasi dan sarung tangan steril | |||||
- tindakan a dan antiseptik pada daerah operasi dan sekitarnya dengan menggunakan povidon iodine atau antiseptik lainnya | |||||
- pasang kain penutup operasi steril pada pasien, kecuali di area operasi | |||||
- Posisi pasien : terlentang, kepala miring ke arah berlawanan dengan sisi telinga yang dioperasi | |||||
III. PROSEDUR OPERASI FISTULEKTOMI | |||||
- Melakukan suntikan infiltrasi adrenalin pada daerah-daerah tertentu di daerah fistel | |||||
- Melakukan penyuntikan metilen blue. | |||||
- Melakukan insisi elips | |||||
- Melakukan deseksi dan elevasi kulit dan jaringan lunak di bawahnya dan melakukan otoplasti, sesuai dengan teknik Converse, Mustarde dan Furnas. Penjahitan belakang daun | |||||
Nama
Diagnosis
Informed Choice & Informed Consent
Rencana Tindakan
Persiapan sebelum tindakan
KEGIATAN | KASUS | ||||
telinga | |||||
Memberikan instruksi pasca operasi.
pemberian antibiotika injeksi dilanjutkan dengan oral
pemberian analgetik/antinflamasi
evaluasi pascaoperasi berupa adanya: perdarahan. Evaluasi drain
rencana pasien dipulangkan 3 hari pascaoperasi
ganti verban setiap hari dengan pemberian antibiotika cream
DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA PROSEDUR FISTULA PREAURIKULA
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini:
: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
X: Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
T/T: Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
NAMA PESERTA: TANGGAL :
KEGIATAN | NILAI | ||||
Persiapan | |||||
1. Kaji ulang diagnosis dan prosedur operatif | |||||
2. Menyiapkan peralatan operatif | |||||
3. Menyiapkan diri untuk tindakan operatif | |||||
4. Menyiapkan posisi pasien | |||||
5. Melakukan tindakan a & anti septik | |||||
PROSEDUR OPERASI | |||||
- Melakukan penandaan bentuk insisi | |||||
- Melakukan suntikan infiltrasi adrenalin pada daerah-daerah tertentu di daerah aurikuler | |||||
- Melakukan insisi kulit elips pada fistulektomi sederhana. | |||||
MATERI PRESENTASI
SLIDE 1 : Displasia Daun Telinga
Fistula preaurikular congenital adalah suatu traktus yang didasari oleh epitel skuamos yang bermula di depan daun telinga.
Fistula preaurikula dapat tanpa gejala ataupun menimbulkan gejala seperti gatal, keluar cairan, nyeri, dan bengkak. Fistula tanpa disertai keluhan tidak diindikasikan untuk tindakan operasi. Operasi dilakukan bila fistel sering menimbulkan infeksi atau keluarnya sekret yang berkepanjangan sehingga mengganggu aktifitas. Saat tindakan operasi, saluran beserta kantong harus diangkat seluruhnya untuk mencegah kekambuhan.
Teori pertama menyatakan bahwa fistula preaurikula adalah sisa dari penutupan yang tidak lengkap pada bagian dorsal celah faringeal pertama.
Teori kedua berpendapat bahwa fistula preaurikula merupakan hasil dari penyatuan yang tidak sempurna dari enam hillocks aurikula.
Teori ketiga menyatakan bahwa fistula preaurikula terbentuk dari hasil penumpukan lipatan ektodermal selama pembentukan aurikula.
SLIDE 2 : Definisi dan Ruang Lingkup
.
Teknik Inside Out
MATERI BAKU
FISTULA PREAURIKULA
Fistula preaurikular congenital adalah suatu traktus yang didasari oleh epitel skuamos yang bermula di depan daun telinga. Penyakit ini preaurikula merupakan kelainan kongenital jinak dari jaringan lunak preaurikula yang banyak ditemukan. Kelainan ini pertama kali diuraikan oleh Van Heusinger pada tahun 1864. Pada pemeriksaan tampak lubang kecil di telinga luar berbentuk bulat atau lonjong dengan ukuran kurang dari 3mm, biasanya terdapat tepat dibagian anterior tragus atau crus helicis, tetapi jarang ditemukan dibagian superior atau inferior perlekatan telinga. Penyakit ini merupakan kelainan herediter yang dominan.
Manifestasi Klinis
Fistula preaurikula sering kali tidak menimbulkan keluhan. Infeksi dapat terjadi lubang ujung fistula tertutup oleh bakteri dengan saluran terisi oleh deskuamasi kulit. Tanda terjadinya infeksi antara lain bengkak, nyeri dan kemerahan. Pasien datang dengan cairan yang berasal dari lubang fistula karena terjadinya infeksi atau hasil deskuamasi epitel debris.
Pemeriksaan fisik tampak lubang kecil pada telinga luar, biasanya pada anterior heliks asenden. Arah traktus dapat bervariasi panjang, cabang, dan salurannya. Fistula preaurikula dapat berlanjut membentuk kista subkutaneus yang secara erat berhubungan dengan kartilago tragus dan krus anterior heliks.
Penatalaksanaan
Kelainan yang asimtomatik tidak memerlukan tatalaksana khusus. Tanda dan gejala awal terjadinya infeksi adalah rasa nyeri, bengkak dan eritema yang menyebabkan dokter memberikan antibiotik empirik untuk bakteri yang umum pada infeksi kulit. Keluhan yang dapat terjadi adalah cairan yang keluar melalui fistula. Ketika pemberian antibiotik tidak memberikan respon pada abses, maka diindikasikan untuk melakukan aspirasi dengan jarum.
Kompetensi
Dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai ketrampilan fistulektomi pada Fistula Preaurikula. Selama pendidikan pemah melihat atau pernah didemonstrasikan tindakan ketrampilan fistulektomi, dan pernah menerapkan ketrampilan ini beberapa kali di bawah supervisi serta memiliki pengalaman untuk menerapkan ketrampilan dalam konteks praktek secara mandiri.
Indikasi operasi
Fistulektomi dengan indikasi berulang.
Diagnosis banding
Abses preaurikula
Pemeriksaan penunjang
Fistelograft bila diperlukan
Teknik Operasi :
Insisi Fistel
Penyuntikan larutan metilen biru akan membantu dalam identifikasi saluran fistel. Metilen biru disuntikkan menggunakan probe lakrimal pada ujung fistel. Ujung dari fistel yang telah disuntik metilen biru dapat dijepit dengan klem untuk menghindari keluarnya cairan metilen biru yang telah disuntikan dan mengenai jaringan di sekitarnya.
Insisi Elips
Ensisi elips pada ujung fistel dan dilanjutkan dengan penelusuran saluran hingga sinus.
Pendekatan supra aurikula dapat dipilih pada fistel preaurikula yang meluas ke daerah post aurikula dengan melakukan insisi elips sekitar ujung sinus. Batas medial diseksi adalah fosa temporalis sedangkan batas posterior diseksi adalah kartilago heliks anterior. Jaringan superfisial dan fasia temporalis diangkat bersama kantong sinus preaurikula. Sebagian dari kartilago atau perikondrium heliks pada dasar sinus harus dieksisi. Pada saat melakukan penjahitan harus dihindari adanya dead space, sehingga dapat dilakukan pemasangan drain.
Teknik operasi lain adalah teknik inside-out. Pada teknik ini, dilakukan pembukaan saluran atau sinus intraoperatif dan dilakukan penelusuran dari dinidng dalam fistula.
Dilakukan pemasangan drain.
Luka sayat dijahit dengan benang silk/prolene 5.0
Pasca Operasi :
Pasien dilihat pada hari pertama pasca-operasi.
Pembalut dilepas, kemudian telinga diinpeksi dari kemungkinan hematoma.
Drain dicabut pada hari ke 3, dan telinga dibalut lagi dengan balut tekan.
Pasien memakai perban ini untuk 5 hari kedepan dan selama tidur
Jahitan prolene dilepas pada hari ketujuh setelah operasi.
Komplikasi
Eksisi yang tidak lengkap dapat menyebabkan kekambuhan.
DAFTAR PUSTAKA
Weerda H. Plastic sugery of The Ear. In : scott Brownosotolaryngology, vol.3, 6th edition, Butterworth Heinemann, Oxford, 1997, 3 /8/ l-21.
Becker w. Naumann HH, Pfalt CR, Kongenital malformation in Ear, Nose and Throat Disease, secondedition, Thieme Medical publishers Inc., New york, 1994, p:134-136
Lee. K.J, Kongenital Mal formationin otolaryngology and Head and Neck Surgery, Elseiver Science Publishers, 1989, p: 63-6
Bailey B.J, Johnson J.T, congenital aural atresia in Head and Neck surgery Otolaryngology, Fourthedition, volume two, Lippincott williams & wilkins, 2046, p: 2027-2040
FACIAL PLASTY MODUL VIII.4.3 OTOPLASTI
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
MODUL VIII.4.3
TOPIK : FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI - FACIAL PLASTY: OTOPLASTI
WAKTU
Proses Pengembangkan Kompetensi | Alokasi Waktu : |
Sesi di dalam kelas Sesi Pratikum Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi | 11 X 60 menit (classroom session) 10 X 60 menit (coaching session) 16 X 60 menit (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi Kelainan Kongenital Telinga meliputi :
Slide 1: Sistem Klasifikasi Displasia Auriula
Slide 2: Deformitas Telinga
Slide 3: Jenis-jenis kelainan Telings
Kasus : Kelainan kongenital telinga
Anak laki-laki 6 tahun, dikonsulkan ke divisi Plastik Rekonstruksi THT dengan diagnosis telinga caplang atau bat ear. Pada anamnesis, sejak lahir kedua telinganya masih normal tetapi tidak berkembang seperti telinga normal.
Anak pertama dari dua bersaudara, lahir ditolong oleh dokter, cukup bulan, spontan, langsung menangis, berat badan lahir 2400 gr panjang 40 cm. Semasa kehamilan ibu kontrol teratur ke bidan, dengan riwayat minum jamu-jamuan minum obat-obatan disangkal, , riwayat trauma juga disangkal, riwayat infeksi saat kehamilan. Tumbuh kembang lainnya baik, sekolah terganggu karena penamplan dan pendengaran normal.
Pemeriksaan fisik pasien menderita displasia telinga bilateral grade I. Pemeriksaan penunjang audiometri dalam batas normal.
Sarana dan Alat Bantu Latih :
Model anatomi telinga, video
Penuntun belajar (learning guide) terlampir
Tempat belajar (training setting): bangsal THT-KL, Poliklinik THT-KL, kamar operasi.
REFERENSI
Weerda H. Plastic sugery of The Ear. In : scott Brownosotolaryngology, vol.3, 6th edition, Butterworth Heinemann, Oxford, 1997, 3 /8/ l-21.
Becker w. Naumann HH, Pfalt CR, Kongenital malformation in Ear, Nose and Throat Disease, secondedition, Thieme Medical publishers Inc., New york, 1994, p:134-6
Lee. K.J, Kongenital Mal formationin otolaryngology and Head and Neck Surgery, Elseiver Science Publishers, 1989, p: 63-6
Bailey B.J, Johnson J.T, congenital aural atresia in Head and Neck surgery Otolaryngology, Fourthedition, volume two, Lippincott williams & wilkins, 2046, p: 2027-40
Otoplasty Dissection Manual in 5th Otology Annual Scientific Meeting. 2010. Yogyakarta.
KOMPETENSI
Kompetensi Umum
Mampu membuat diagnosis kelainan kongenital daun telinga berdasarkan pemeriksaan fisik, defek anatomi daun telinga dan derajat kelainan menurut Weerda dan pemeriksaan penunjang yang diperlukan.
Mampu melakukan tatalaksana serta merujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi bila diperlukan.
Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam :
Menjelaskan embriologi, anatomi, histologi, fisiologi daun telinga.
Menjelaskan faktor penyebab, macam-macam kelainan kongenital daun telinga.
Menjelaskan patofisiologi, gambaran klinis dari kelainan kongenital daun telinga
Membuat diagnosis klinis berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan sehubungan dengan adanya kelainan kongenital organ lain yang bersamaan dengan kelainan kongenital daun telinga.
Menjelaskan tatalaksana rekonstruksi kelainan kongenital daun telinga
Melakukan perawatan pasca bedah pada penderita kelainan kongenital
Melakukan evaluasi estetik pasca bedah.
GAMBARAN UMUM
Kelainan kongenital daun telinga terjadi pada 2.4% populasi Asia setelah amerika dan Eropa Masalah yang ditimbulkannya terutama gangguan psikososial estetika dan fungsi pendengaran yang permanen. Kecacatan yang terkait dengan kelainan kongenital daun telinga merupakan penurunan kualitas sumber daya manusia terutama bila dikaitkan dengan kesempatan untuk mendapat pendidikan, pekerjaan ataupun kepuasan bagi diri penderita sendiri.
Hampir sebagian besar upaya rekonstruksi dilakukan melalui tindakan operatif yang memerlukan tingkat kompetensi dan ketelitian yang tinggi dari tenaga medik atau profesional kesehatan di bidang ilmu THT.
CONTOH KASUS
Anak laki-laki 6 tahun, dikonsulkan ke divisi Plastik Rekonstruksi THT dengan diagnosis telinga caplang atau bat ear. Pada anamnesis, sejak lahir kedua telinganya masih normal tetapi tidak berkembang seperti telinga normal
Anak pertama dari dua bersaudara, lahir ditolong oleh dokter, cukup bulan, spontan, langsung menangis, berat badan lahir 2400 gr panjang 40 cm. Semasa kehamilan ibu kontrol teratur ke bidan, dengan riwayat minum jamu-jamuan minum obat-obatan disangkal, , riwayat trauma juga disangkal, riwayat infeksi saat kehamilan. Tumbuh kembang lainnya baik, sekolah terganggu karena penamplan dan pendengaran normal
Pemeriksaan fisik pasien menderita displasia telinga bilateral grade I Pemeriksaan penunjang audiometri dalam batas normal.
TUJUAN PEMBELAJARAN
Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian- kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan menatalaksana kelainan daun kongenital pada telinga seperti yang telah disebutkan diatas, yaitu:
Menguasai embriologi, anatomi, histologi, fisiologi telinga
Mampu menjelaskan faktor penyebab/etiologi, patologi, patofisiologi dan garnbaran klinis berbagai jenis kelainan kongenital telinga.
Menentukan dan melakukan pemeriksaan penunjang fungsi telinga bila diperlukan
Membuat diagnosis kelainan kongenital daun telinga dari pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
Melaksanakan tindakan rehabilitasi dan rekonsruksi terhadap kelainan telinga.
Melakukan work-up, menentukan terapi dan memutuskan untuk melakukan rujukan kelainan kongenital daun telinga.
METODA PEMBELAJARAN
Literatur reading
Praktik lapangan( Poliklinik)
Skills lab
Praktik Lapangan ( OK)
Praktik Lapangan (R.Inap)
Bedside Teaching
Case report
Jurnal reading
Minicex
Mini lecture
EVALUASI
Pada awal pembelajaran dilakukan evaluasi Pre - test dalam bentuk essay dan pilihan ganda. Materi test terdiri dari : anatomi, patofisiologi, penegakan diagnosis serta klasifikasi, teknik - tehnik operasi, komplikasi dan penangannya, follow up dan perencanaan selanjutnya.
Bedsite teaching dan diskusi untuk membahas beberapa masalah yang ada. Setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberi kesempatan untuk assistensi operasi displasia aurikula Pada saat itu kan dilakukan evaluasi pengetahuan dan kompetensi peserta didik.
Setelah melakukan asistensi dan dinilai kompeten, peserta didik dapat melakukan operasi displasia aurikula di bawah bimbingan pendidik:
Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist
Kriteris penilaian langsung : cakap / tidak cakap / lalai.
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Which of the following statements about complication after otoplasty is false?
Telephone ear deformity can result from failure to correct a prominent, laterally displaced helical root and lobule.
Infection is the most common complication.
Skin necrosis is a rare complication
Worsening pain after postoperative day 3 suggests infection. Jawaban: B
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR
PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR OTOPLASTI
Nilailah kinerja. setiap langkah yang diarnati menggunakan skala sebagai berikut.:
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai trutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
NAMA PESERTA :..... TANGGAL: ...........
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. ULANG DIAGNOSIS DAN PROSEDUR OPERASI | |||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR | |||||
- Injeksi antibiotika preoperatif | |||||
- Menyiapkan template dan lokasi daun telingadan alat-alat yang akan digunakan | |||||
- Cuci tangan, memakai baju operasi dan sarung tangan steril | |||||
- tindakan a dan antiseptik pada daerah operasi dan sekitarnya dengan menggunakan povidon iodine atau antiseptik lainnya | |||||
- pasang kain penutup operasi steril pada pasien, kecuali di area operasi | |||||
- Posisi pasien : terlentang, kepala miring ke arah berlawanan dengan sisi telinga yang dioperasi | |||||
III. PROSEDUR OPERASI OTOPLASTI | |||||
Nama
Diagnosis
Informed Choice & Informed Consent
Rencana Tindakan
Persiapan sebelum tindakan
Melakukan suntikan infiltrasi adrenalin pada daerah-daerah tertentu di daerah mikrotia
Melakukan insisi kulit.
Melakukan deseksi dan elevasi kulit dan jaringan lunak di
KEGIATAN | KASUS | ||||
bawahnya dan melakukan otoplasti, sesuai dengan teknik Converse, Mustarde dan Furnas. Penjahitan belakang daun telinga | |||||
Memberikan instruksi pasca operasi.
Pemberian antibiotika injeksi dilanjutkan dengan oral
Pemberian analgetik/antinflamasi
Evaluasi pascaoperasi berupa adanya: perdarahan.
Rencana pasien dipulangkan 3 hari pascaoperasi
Ganti verban setiap hari dengan pemberian antibiotika cream
DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA PROSEDUR OTOPLASTI
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini:
: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
X: Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
T/T: Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
NAMA PESERTA: TANGGAL :
KEGIATAN | NILAI | ||||
Persiapan | |||||
1. Kaji ulang diagnosis dan prosedur operatif | |||||
2. Menyiapkan peralatan operatif | |||||
3. Menyiapkan diri untuk tindakan operatif | |||||
4. Menyiapkan posisi pasien | |||||
5. Melakukan tindakan a & anti septik | |||||
PROSEDUR OPERASI | |||||
- Melakukan penandaan bentuk telinga sesuai dengan template | |||||
- Melakukan suntikan infiltrasi adrenalin pada daerah- daerah tertentu di daerah aurikuler | |||||
- Melakukan insisi kulit | |||||
- Melakukan jahitan retroaurikuler untuk membentuk antehelix dengan jahitan mustarde. | |||||
- Melakukan undermining kulit dan jaringan lunak di bawahnya. | |||||
- Memasang bolster telinga diatas subunit telinga | |||||
- Mempertahankan bolster selama 5-7 hari | |||||
- Mempertahankan posisi telinga sesuai dengan telinga kontralateral | |||||
- Memberikan instruksi pasca operasi. | |||||
KEGIATAN | NILAI | ||||
Memberikan instruksi pasca operasi.
Pemberian antibiotika injeksi dilanjutkan dengan oral
Pemberian analgetik/antinflamasi
Evaluasi pascaoperasi berupa adanya: perdarahan.
Rencana pasien dipulangkan 3 hari pascaoperasi
Ganti verban setiap hari dengan pemberian antibiotika cream
MATERI PRESENTASI
Prominent Ear :
Deformitas telinga yang ditandai dengan tidak adanya antiheliks dan konka. Sudut auriculochepal melebar.
Sthal Ear
Ditandai dengan tidak adanya krus superior, abnormal crus transfer.
Cryptotia
Prominent Sthal Ear Cryptotia
Heliks superior tertanam di bawah kulit, oleh karena adanya perlekatan abnormal muskulus aurikula superior ke skapa.
Prominent Ear :
Deformitas telinga yang ditandai dengan tidak adanya antiheliks dan konka. Sudut auriculochepal melebar.
Sthal Ear :
Ditandai dengan tidak adanya krus superior, abnormal crus transfer.
Cryptotia :
Heliks superior tertanam di bawah kulit, oleh karena adanya perlekatan abnormal muskulus aurikula superior ke skapa.
MATERI BAKU
Ruang Lingkup
Kelainan arsitektur abnormal daun telinga akibat gangguan perkembangan. Mencakup perubahan kelengkungan daun telinga, daun telinga menjadi lebih dangkal/ menonjol, malformasi daun telinga.
Deformitas Telinga
Definisi Weerda :
Anatomic Definition | Surgical Definition | |
Displasia Derajat-1 | Paling banyak terdeteksi struktur abnormal aurikula. Deformitas minor | Tidak perlu menggunakan kulit tambahan atau kartilage pada rekonstruksi. |
Displasia derajat-2 | Terdeteksi beberapa struktur normal aurikula. Deformitas Sedang | Rekosntruksi partial memerlukan penggunaan kulit atau kartilage tambahan. |
Displasia Derajat -3 | Tidak ada struktur normal yang terdeteksi. Deformitas Berat | Rekonstruksi total memerlukan penggunaan kulit tambahan atau kartilage dalam jumlah banyak. |
Penatalaksanaan
Penatalaksaan pada otoplasti. Teknik Converse, Mustarde, Furnas
Kompetensi
Dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai ketrampilan otoplasti (konsep, teori, indikasi, cara melakukan, dan komplikasi ). Selama pendidikan pemah melihat atau pernah didemonstrasikan tindakan ketrampilan otoplasti, dan pernah menerapkan ketrampilan ini beberapa kali di bawah supervisi serta memiliki pengalaman untuk menerapkan ketrampilan dalam konteks praktek secara mandiri.
Definisi
Otoplasti adalah bedah untuk membuat atau membentuk sub unit daun telinga untuk mendapatkan daun telinga yang berukuran dan bentuk normal.
Ruang lingkup
Displasia daun telinga adalah kelainan bentuk telinga dengan tidak terdapatnya beberapa sub unit telinga. Derajat 1 bila terdapat bentuk normal tetapi kecil. Derajat 2 bila terdapat 1-2 sub unit telinga yang tidak terbentuk dengan bentuk lebih kecil dari normal.
Indikasi operasi
Displasia grade 1 dan 2
Diagnosis banding
Gangguan bentuk telinga seperti cryptotia
Mikrotia derajat 2 ,3
Pemeriksaan penunjang
Fungsi Pendengaran
Dokumentasi
Penilaian antropometri telinga
Teknik Operasi :
Insisi Kulit
Standar insisi otoplasti adalah elips dan dimulai pada lateral lipatan postauricular.
Pembentukan lekukan Konka
Untuk menormalkan kelebihan proyeksi dari konka, permukaan medical dari konka akan dipototng dan diratakan. Setiap jahitan akan melewati perikondrium, kartilago dan perikondrium. Setelah tindakan penjahitan, hal yang diperhatikan adalah pembuatan sebuah anti heliks yang sesuai.
Pembentukan antiheliks
Penjahitan dapat dilakukan untuk mengurangi sudut lekukan konka skafoid.
Koreksi protusi pangkal superior telinga
Jahitan dari Fossa Triangularis menuju fascia temporalis dapat memperbaiki protusi pangkal superior.
Koreksi protusi lobul
Lobul prominen dapat disebabkan karena kelebihan kulit bagian medial atau kelainan heliks bagian kaudal.
Pasca Operasi :
Pasien dilihat pada hari pertama pasca-operasi.
Pembalut dilepas, kemudian telinga diinpeksi dari kemungkinan hematoma.
Telinga dibalut lagi dengan balut tekan. Pasien dipantau lagi pada hari kedua dan telinga diinpeksi lagi dipasang perban elastic kepala dan telinga.
Pasien memakai perban ini untuk 5 hari kedepan dan selama tidur untuk 2 minggu ke depan.
Jahitan prolene dilepas pada hari ketujuh setelah operasi. Ekimosis sedang dan edema sering terjadi tetapi biasanya menghilang dalam 2 minggu pertama.
Komplikasi
Koreksi tidak sempurna terhadap preminent ear
Obliterasi sulkus postaurikuler.
Hematoma atau seroma
Kondritis
Keloid
DAFTAR PUSTAKA
Weerda H. Plastic sugery of The Ear. In : scott Brownosotolaryngology, vol.3, 6th edition, Butterworth Heinemann, Oxford, 1997, 3 /8/ l-21.
Becker w. Naumann HH, Pfalt CR, Kongenital malformation in Ear, Nose and Throat Disease, secondedition, Thieme Medical publishers Inc., New york, 1994, p:134-6
Lee. K.J, Kongenital Mal formationin otolaryngology and Head and Neck Surgery, Elseiver Science Publishers, 1989, p: 63-6
Bailey B.J, Johnson J.T, congenital aural atresia in Head and Neck surgery Otolaryngology, Fourthedition, volume two, Lippincott williams & wilkins, 2046, p: 2027-40
Otoplasty Dissection Manual in 5th Otology Annual Scientific Meeting. 2010. Yogyakarta.
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
MODUL VIII. 5.1
TOPIK : FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI - DEFEK KEPALA LEHER :
BLEPHAROPLASTY
WAKTU
Mengembangan Kompetensi | Hari : 35 |
Sesi didalam kelas | 13 x 60 menit (classroom session) |
Sesi dengan fasilitas pembimbing | 2 x 60 menit (coaching session) |
Sesi praktik dan pencapaian kompetensi | 4 x 60 menit (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi Presentasi : Blepharoplasti
SLIDE 1 : Anatomi kelopak mata atas dan bawah
SLIDE 2 : Indikasi operasi blepharoplasti
SLIDE 3 : Teknik operasi
SLIDE 4 : Perawatan pasca operasi & komplikasi
Kasus :
Seorang wanita 59 tahun datang dengan keluhan kelopak mata bawah menggantung. Pasien merasa kurang percaya diri dengan kondisi tersebut. Sehingga pasien datang ke poliklinik THT-KL untuk konsultasi mengenai masalah tersebut.
Sarana dan alat Bantu latih:
Penuntun belajar
Tempat belajar ; Ruang Diskusi
Video tuntunan operasi
REFERENSI
Bailey BJ, Johnson JT, Head & Neck Surgery - Otolaryngology, 5th Edition, Volume two, Lippincott Williams & Wilkins, 2014, p : 3074 -3102
Papel ID. Upper lid blepharoplasty. In: Facial Plastic and Reconstructive Surgery, 2nd edition, Thieme, 2002, p: 185-195
Papel ID. Lower eyelid blepharoplasty. In: Facial Plastic and Reconstructive Surgery, 2nd edition, Thieme, 2002, p: 196-207
KOMPETENSI
Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan- pemeriksaan tambahan yang diminta oleh dokter (misalnya; pemeriksaan laboratorium sederhana). Dokter dapat memutuskan dan memberi terapi pendahuluan, serta merujuk ke spesialis yang relevan dan mampu menindaklanjuti sesudahnya.
Keterampilan (2)
Setelah mengikuti sesi ini, peserta didik diharapkan terampil :
Mengenali gejala
Melakukan anamnesis, pemeriksaan dan penatalaksanaan blepharoplasti
Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi
Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi yang akan digunakan
Lulusan dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai blepharoplasti (baik konsep, teori, prinsip maupun indikasi, serta cara melakukan, komplikasi yang timbul, dan sebagainya). Selama pendidikan pernah melihat atau pernah didemonstrasikan operasi ini.
GAMBARAN UMUM
Kelopak mata merupakan bagian penting dari mata, terutama dalalam hal kosmetika. Pembedahan untuk memperbaiki kantung mata disebut blepharoplasti.
CONTOH KASUS
Seorang wanita 59 tahun datang dengan keluhan kelopak mata bawah menggantung. Pasien merasa kurang percaya diri dengan kondisi tersebut. Sehingga pasien datang ke poliklinik THT-KL untuk konsultasi mengenai masalah tersebut.
Apakah perbedaan anatomi palpebra orang Kaukasian dengan orang Asia?
Hal hal apakah yang harus kita perhatikan saat kita melakukan operasi blepharoplasti palpebra inferior?
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan Pembelajaran Umum :
Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan untuk :
Mampu mengetahui anatomi dan fisiologi kelopak mata atas dan bawah
Mampu melakukan anamnesis, pemeriksaan dan diagnosis klasifikasi tentang kelainan kelopak mata atas dan bawah
Tujuan Pembelajaran Khusus :
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk :
Menjelaskan anatomi, topografi dan patofisiologi kelainan kelopak mata atas dan bawah (tingkat kompetensi K4)
Menjelaskan etiologi dan klasifikasi kelainan kelopak mata atas dan bawah (tingkat kompetensi K4)
Menjelaskan dan gambaran klinis kelainan kelopak mata atas dan bawah (tingkat kompetensi K4)
Menerangkan pemeriksaan penunjang yang diperlukan pada penatalaksanaan kelainan kelopak mata atas dan bawah (tingkat kompetensi K4)
Menjelaskan tehnik operasi blepharoplasti (tingkat kompetensi K2)
Menjelaskan perawatan pasca operasi dan rencana selanjutnya (tingkat kompetensi K2)
Menjelaskan penangan komplikasi operasi mulai dari komplikasi pada saat operasi, pasca operasi dan komplikasi lama (tingkat kompetensi K2)
METODE PEMBELAJARAN
Pendahuluan
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini :
Small group discussion
Peer assisted learning (video)
Must to know key points :
Peserta didik paling sudah harus mempelajari :
Bahan acuan (references)
Ilmu dasar yang berkaitan dengan topik pembelajaran
Ilmu klinis dasar Penuntun belajar (learning guide)
Tempat belajar (training setting) : ruang kuliah
Cara pembelajaran :
Kuliah
Group diskusi
Alat bantu pembelajaran : Video tehnik operasi blepharoplasti.
EVALUASI
Pada awal pembelajaran dilakukan evaluasi Pre - test dalam bentuk essay dan pilihan ganda. Materi test terdiri dari : anatomi, patofisiologi, penegakan diagnosis serta klasifikasi, teknik - tehnik operasi, komplikasi dan penangannya, follow up dan perencanaan selanjutnya.
Pendidik / fasilitas Penjelasan lisan dan diskusi
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Kuesioner Sebelum Pembelajaran
Septum orbitalis yang berasal dari rima orbita superior, merupakan refleksi periosteum tulang frontal
B S
Blepharoplasti pada kelopak mata atas dapat memperbaiki alis yang tidak simetris
B S
Jawaban :B dan S
Kuesioner Tengah Pembelajaran
Teknik dasar operasi kelopak mata bawah dapat dilakukan dengan approach:
Coronal
Subsiliari
Transkutaneus
Indikasi blepharoplasti kelopak mata bawah adalah dermatokalasis dan entropion
B S
Jawaban : B B
Kuesioner Akhir Pembelajaran
1. Apa yang terjadi bila terdapat hipertrofi dari m. Orbicularis oculi? Jawab: Penebalan kelopak mata dan kelopak mata menyempit
Essay/ujian Lisan/Ujian Sumatif
MATERI PRESENTASI
Slide 1 : Anatomi kelopak mata atas dan bawah
SLIDE 2: Indikasi operasi blepharoplasti
Kosmetik
Orang tua SLIDE 3: Teknik-teknik Operasi SLIDE 4: Komplikasi
MATERI BAKU
(Bikin video)
Blepharoplasti Definisi
Suatu tindakan operasi untuk memperbaiki fungsi ataupun kosmetik kelopak mata atas dan bawah.
Indikasi operasi
Blepharoplasti kelopak mata atas
Fungsional
Kosmetik
Keduanya
Blepharoplasti kelopak mata bawah
Dermatokalasis
Hipertrofi orbikularis
Sklera terlihat
Negative vector
Lower eyelid laxity
Ektropion
Entropion
Tear through deformity
Double convexity deformity
Festoons
Malar mounds or bags
List of Skill
Tahapan Bedah Dasar (sudah kompeten melakukan bedah dasar)
Persiapan pra operasi: anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, IC
Mengetahui Komplikasi
Tehnik Operasi Tahapan operasi.
Upper blepharoplasti
Dilakukan penandaan dengan marker pada saat pasien belum teranastesi, dan posisi pasien duduk.Pada orang Asia ditentukan dahulu apakah akan dilakukan single eyelid fold atau double eye lid fold.
Pembiusan dilakukan dengan sedasi maupun anestesi umum tergantung usia, kontraindikasi untuk pembiusan dalam narkose umum atau tidak. Desinfektan dengan larutan antiseptik dan lapangan operasi di persiapkan dengan linen steril.
Dilakukan infiltrasi dengan xylokain 2%, 1 : 100,000 epinefrin dalam spuit 1 ml dan jarum no. 27, diantara kulit dengan otot pada kelopak mata atas untuk menghindari hematoma.
Setelah penandaan dan infiltrasi sempurna dilakukan insisi sesuai penandaan dan perencanaan gambar. Pada beberapa pasien, kadang diperlukan sedikit pengambilan dari ototnya. Eksisi lemak dilakukan pada pasien-pasien yang memiliki kelopak mata yang prolaps, yang diawali dengan mengindetifikasi orbital septum, yang berada dibawah m. Orbikularis okuli dan memiliki kantong lemak medial dan sentral. Lebih baik mengangkat lemak daerah sentral dahulu dikuti daerah medial. Sebelum diangkat, lemak disuntik dahulu dengan lokal anestesi sebelum di klem menggunakan hemostat kecil, kemudian dikauter. Lemak yang diambil hanya lemak yang mudah muncul pada permukaan luka. Pengambilan lemak yang berlebihan menyebabkan retraksi kelopak mata dan orbital rim yang "overhang".
Setelah diyakinan tidak terdapat perdarahan, maka dilakukan penjahitan dangan menggunakan prolene 6-0.
Luka ditutup dengan kassa dan plaster.
Komplikasi: asimetris, perdarahan, infeksi, ekimosis subkonjungtival, lagopthalmost, scar , buta, kemosis, hematoma.
Lower blepharoplasti
Sayatan dengan pendekatan transkonjungtival ataupun transkutaneus. Pendekatan transkonjungtival ideal dilakukan pada pasien yang masih muda (15-35 tahun) tanpa adanya kelainan lamela anterior, dan pasien yang tidak ingin terlihat scar.
Pendekatan transkonjungtival
Pendekatan preseptal.
Pendekatan postseptal
Pendekatan Transkutaneus (skin-muscle flap)
Dilakukan pada pasien-pasien dengan kelainan lamela, dan orang tua. Memiliki risiko pasca bedah yang lebih tinggi.
Komplikasi: retroorbital hematom, mata kering, kemosis, ektropion, milia, penglihatan kabur, infeksi, preseptal hematom, epifora, asimetris
KEPUSTAKAAN MATERI BAKU
Bailey BJ, Johnson JT, Head & Neck Surgery - Otolaryngology, Fifth Edition, Volume two, Lippincott Williams & Wilkins, 2014, p : 3074 -3102
Papel ID. Upper lid blepharoplasty. In: Facial Plastic and Reconstructive Surgery, 2nd edition, Thieme, 2002, p: 185-195
Papel ID. Lower eyelid blepharoplasty. In: Facial Plastic and Reconstructive Surgery, 2nd edition, Thieme, 2002, p: 196-207
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
MODUL VIII.5.2
TOPIK : FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI - DEFEK KEPALA LEHER :
RHYTIDECTOMY
WAKTU
Mengembangan Kompetensi | Hari : 35 |
Sesi didalam kelas | 13 x 60 menit (classroom session) |
Sesi dengan fasilitas pembimbing | 2 x 60 menit (coaching session) |
Sesi praktik dan pencapaian kompetensi | 4 x 60 menit (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi Presentasi : Ritidektomi
SLIDE 1 : Pengertian dan kandidat ritidektomi
SLIDE 2 : Pendarahan daerah wajah
SLIDE 3 : Waktu & Penatalaksanaan ritidektomi
SLIDE 4 : Teknik-teknik operasi
SLIDE 5 : Komplikasi ritidektomi
SLIDE 6 : Perawatan pasca operasi & komplikasi
Kasus :
Perempuan 55 tahun datang dengan keluhan ingin mengencangkan kulit pipi dan leher yang semakin kendur. Pada akhir pembelajaran diharapkan dapat melakukan edukasi pada pasien, anjuran perawatan serta, rujukan ke multidisiplin lain untuk persiapan operasi serta tehnik operasi yang akan di gunakan.
Sarana dan alat Bantu latih:
Penuntun belajar
Tempat belajar ; Bangsal THT, Poli THT, kamar operasi
Video animasi tuntunan operasi
Kadaver
REFERENSI
Bailey BJ, Johnson JT, Head & Neck Surgery - Otolaryngology, Fifth Edition, Volume two, Lippincott Williams & Wilkins, 2014, p : 3103- 3112
Perkin S and Dayan S, Rhytidectomy. In: Ira D Paper Facial Plastic and Reconstructive Sugery, Second edition, Thieme Medical Publisher, 2002, p : 153 -170
KOMPETENSI
Mampu melakukan diagnosis berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Dapat menentukan saat melakukan operasi dan mampu melakukan operasi ritidektomi secara mandiri.
Keterampilan
Setelah mengikuti sesi ini, peserta didik diharapkan terampil :
Mengenali tanda dan faktor aging face
Melakukan anamnesis, pemeriksaan dan diagnosis tentang aging face
Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi
Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi yang akan digunakan
Merencanakan perawatan pasca operasi serta perencanaan tatalaksana selanjutnya
Merencanakan penatalaksanaan bila terjadi komplikasi operasi
GAMBARAN UMUM
Memberi penjelasan agar kompeten mendiagnosis aging face. Serta dapat melakukan penatalaksanaan secara comprehensive masalah yang ada pada kasus kasus aging face.
CONTOH KASUS
Perempuan 55 tahun dengan kulit pipi dan leher yang semakin kendur seiring dengan pertambahan usia. Pada akhir pembelajaran diharapkan dapat melakukan edukasi pada pasien, anjuran perawatan, persiapan operasi serta tehnik operasi yang akan di gunakan.
Diskusi :
Insidensi dan faktor penyebab aging face
Penanganan aging face
Jawaban :
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan Pembelajaran Umum :
Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan untuk :
Mengenali tanda dan faktor aging face
Melakukan anamnesis, pemeriksaan dan diagnosis aging face
Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi
Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi yang akan digunakan
Merencanakan perawatan pasca operasi serta perencanaan tatalaksana selanjutnya
Merencanakan penatalaksanaan bila terjadi komplikasi operasi
Tujuan Pembelajaran Khusus :
Setelah Mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk :
Menjelaskan anatomi kulit, topografi dan patofisiologi aging face
Mejelaskan etiologi aging face
Menjelaskan dan gambaran klinis beberapa landmark aging face
Menerangkan pemeriksaan penunjang yang diperlukan pada penatalaksanaan
aging face
Menjelaskan tehnik operasi ritidektomi
Menjelaskan perawatan pasca operasi dan rencana selanjutnya
Menjelaskan penangan komplikasi operasi mulai dari komplikasi pada saat operasi, pasca operasi dan komplikasi lama
Melakukan tatalaksana pasien ritidektomi mulai dari pre operasi sampai pasca operasi.
Melakukan tindakan bedah Ritidektomi
Merawat penderita ritidektomi pra operasi termasuk edukasi pasien, informed consent serta perawatan pasca operasi serta mengatasi komplikasi yang kemungkinan terjadi
METODE PEMBELAJARAN
Pendahuluan
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini :
Small group discussion
Peer assisted learning
Bedside teaching
Task-based medical education
Must to know key points :
Peserta didik paling sudah harus mempelajari :
Bahan acuan (references)
Ilmu dasar yang berkaitan dengan topik pembelajaran
Ilmu klinis dasar
Penuntun belajar (learning guide)
Tempat belajar (training setting) : bangsal rawat tht, kamar operasi, bangsal perawatan pasca operasi.
Cara pembelajaran :
Pelatihan
Belajar mandiri
Kuliah
Group diskusi
Bed site teaching
Bimbingan Operasi dan asistensi
Melakukan operasi mandiri di bawah supervisi.
Countinuing Profesional Development.
Alat bantu pembelajaran :
Video animasi tehnik operasi labioplasti
Kadaver
EVALUASI
Pada awal pembelajaran dilakukan evaluasi Pre - test dalam bentuk essy dan pilihan ganda. Materi test terdiri dari : anatomi, patofisiologi, penegakan diagnosis, teknik - tehnik operasi, komplikasi dan penangannya, follow up dan perencanaan selanjutnya.
Bedsite teaching dan diskusi untuk membahas beberapa masalah yang ada.
Setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberi kesempatan untuk assistensi operasi malarplasty. Pada saat itu akan dilakukan evaluasi pengetahuan dan kompetensi peserta didik.
Setelah melakukan asistensi dan dinilai kompeten, peserta didik dapat melakukan operasi malarplasty di bawah bimbingan.
Pendidik / fasilitas
Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist
Penjelasan lisan dan diskusi
Kriteria penilaian langsung : cakap / tidak cakap / lalai.
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Kuesioner Sebelum Pembelajaran
Lima landmark dari aging face adalah rahang, lipatan nasolabial dan lateral perioral, platisma banding dan submental fullnes di regio leher, ptosis dari orbicularis oculi dan bantalan lemak malar, dan penuaan dari kulit itu sendiri
B S
Pasien dengan posterior hyoid yang rendah adalah kandidat yang baik untuk dilakukan face lift.
B S
Jawaban : B B
Kuesioner Tengah Pembelajaran
Teknik dari ritidektomi adalah
Subkutaneus ritidektomi
Subkutaneus ritidektomi dengan SMAS
Deep plane ritidektomi
V-Y Pushback
Komplikasi yang sering terjadi setelah operasi ritidektomi adalah Pixie atau satyr lobule telinga
B S
Jawaban : B B
Kuesioner Tengah Pembelajaran
Essay/ujian Lisan/Ujian Sumatif
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR
PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR RITIDEKTOMI
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :
Perlu perbaikan : langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu : langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan)
Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
NAMA PESERTA : ......... TANGGAL:..........
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR RITIDEKTOMI | |||||
- Cuci tangan, memakai baju operasi dan memakai sarung tangan | |||||
- Tindakan a & anti sepsi daerah operasi dengan povidon iodine | |||||
- Memasang kain steril sebagai penutup pasien kecuali daerah operasi | |||||
- Dilakukan penandaan dengan larutan biru etilen atau pena penanda horizontal sepanjang 1,5 cm pada submental crease untuk submentoplasty serta mulai dari hairline anterior auricula lanjut ke lipatan kulit pada preaurikula- tragus-lobule dan diteruskan ke sulcus retroauricula dan horizontal ke regio temporal setinggi batas atas tragus untuk ritidektomi. Dilakukan infiltrasi dengan Adrenalin : Lidokain sebesar 1: 200.000 pada daerah yang akan diinsisi. | |||||
III. PROSEDUR OPERASI | |||||
- Setelah penandaan dan infiltrasi sempurna dilakukan insisi sesuai penandaan dan perencanaan gambar, setelah dilakukan insisi tindakan selanjutnya adalah diseksi tajam pada submental untuk memisahkan subkutis dan jaringan sekitarnya di daerah leher, kemudian dilakukan | |||||
Nama
Diagnosis
Inform choice & inform consent
Rencana tindakan
Persiapan sebelum tindakan
KEGIATAN | KASUS | ||||
liposuction, selanjutnya pada lokasi insisi kedua di lakukan underming flap sampai ke daerah pipi dan leher. Dilakukan penarikan kulit sampai regangan dirasakan cukup, kemudian dilakukan pemotongan kulit yang berlebih. Dilakukan pemotongan SMAS pada daerah preaurikula dan retroaurikula sampai di dapat regangan yang pas untuk kemudian dijahit dengan chromic 3.0. dilakukan liposuction pada daerah pipi dan leher, kemudian dilakukan penjahitan subkutis luka insisi submental dan flap dangan menggunakan vicyrl 4-0 dan terakhir kulit dijahit dengan menggunakan nylon 5-0. Luka ditutup balut tekan dengan kassa antibiotik dan plester. | |||||
IV. PASCA OPERASI | |||||
- Instruksi pasca operasi Pasca bedah pasien dapat dipulangkan setelah efek anestesi umum sudah hilang dan sadar penuh dan tidak ada perdarahan. Pasien diterapi dengan antibiotika oral dan analgesia Follow-up Pasien diharapkan kontrol untuk perawatan luka pada hari ke tiga dan angkat jahitan pada hari ke 7 | |||||
Penilaian Kinerja Keterampilan (Ujian akhir)
DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotor atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan suatu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini:
: Memuaskan : Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
X : Tidak memuaskan : Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
T/T : Tidak ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih.
PROSEDUR RITIDEKTOMI
PESERTA : ................................. TANGGAL:..............
KEGIATAN | NILAI | ||
PERSIAPAN | |||
1. Kaji ulang diagnosis dan prosedur operasi | |||
2. Menyiapkan peralatan operasi | |||
3. Menyiapkan diri untuk melakukan tindakan operasi | |||
4. Menyiapkan posisi pasien | |||
KEGIATAN | NILAI | ||
5. Melakukan tindak a & anti septil | |||
6. Memasang kain steril menutup pasien kecuali area operasi | |||
PROSEDUR OPERASI | |||
200.000 pada daerah yang akan diinsisi | |||
Penandaan dengan larutan biru etilen atau pena penanda horizontal sepanjang 1,5 cm pada submental crease untuk submentoplasty serta mulai dari hairline anterior auricula lanjut ke lipatan kulit pada preaurikula-tragus-lobule dan diteruskan ke sulcus retroauricula dan horizontal ke regio temporal setinggi batas atas tragus untuk ritidektomi.
Dilakukan infiltrasi dengan Adrenalin : Lidokain sebesar 1:
Diseksi tajam pada submental untuk memisahkan subkutis dan jaringan sekitarnya di daerah leher, kemudian dilakukan liposuction, selanjutnya pada lokasi insisi kedua di lakukan underming flap sampai ke daerah pipi dan leher. Dilakukan liposuction pada daerah pipi dan leher, kemudian dilakukan penarikan kulit sampai regangan dirasakan cukup, kulit yang berlebih dipotong.
Dilakukan pemotongan SMAS pada daerah preaurikula dan retroaurikula sampai di dapat regangan yang pas untuk kemudian dijahit dengan chromic 3.0.
Dilakukan penjahitan subkutis luka insisi submental dan flap dangan menggunakan vicyrl 4-0 dan terakhir kulit dijahit dengan menggunakan nylon 5-0.
Luka dibalut tekan dengan kassa antibiotik dan plester
Instruksi pasca operasi
MATERI PRESENTASI
SLIDE 1 : Kandidat Ritidektomi
Kandidat ideal
Tonus kulit yang bagus dengan minimal fotoaging dan sedikit kerutan
Struktur tulang wajah yang kuat
Dagu yang kuat
Prominent cheek bones, Fuller midface, Shallow cheek-lip grooves
Sulkus cervicomental yang sempit
Tidak perokok
Kandidat non ideal
Hyoid yang rendah
Dagu yang lemah
Low slung submandibular glands
Alur pipi-dagu dan oral kommisura yang dalam
Alur nasolabial yang dalam dan lipatan pipi prominent
SLIDE 2 : Pendarahan daerah wajah
SLIDE 3 : Waktu & Penatalaksanaan Ritidektomi SLIDE 4 : Teknik-teknik Operasi
SLIDE 5 : Komplikasi Ritidektomi
Hematoma
Nekrosis flap
Kerusakan saraf
Skar hipertrofik
Irregularitas garis insisi
Infeksi
Deformitas lobule telinga
Cedera parotis
SLIDE 6 : Perawatan Pasca Operasi & Komplikasi
MATERI BAKU RITIDEKTOMI
Definisi
Suatu tindakan bedah plastik yang bertujuan untuk facelift wajah terkait dengan proses penuaan
Indikasi operasi
Ritidektomi bertujuan untuk facelift wajah akibat proses penuaan.
List of Skill
Tahapan Bedah Dasar (sudah kompeten melakukan bedah dasar)
Persiapan pra operasi: anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, IC
Melakukan Operasi (asistensi)
Menangani Komplikasi
Melakukan Follow-up
Tahapan bedah lanjutan
Persiapan pra operasi: anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, IC
Melakukan Operasi (Bimbingan, Mandiri)
Menangani Komplikasi
Melakukan Follow-up
Melakukan perencanaan selanjutnya
Tehnik Operasi Menjelang operasi
Penjelasan kepada penderita dan keluarga mengenai tindakan operasi yang akan dilakukan serta resiko komplikasi yang dapat terjadi. Setelah mendapatkan keterangan keluarga pasien diharapkan menanda tangani surat persetujuan operasi (informed Consent).
Memeriksa dan mempersiapkan alat dan kelengkapan operasi Penderita puasa minimal 6 jam sebelum operasi
Pemberian antibiotik profilaksis sesuai standard penggunaan antibiotika yang berlaku.
Tahapan operasi.
Pembiusan dilakukan dengan endotrakeal. Desinfektan dengan larutan antiseptik dan lapangan operasi di persiapkan dengan linen steril.
Dilakukan penandaan dengan larutan biru etilen atau pena penanda pada daerah operasi sebagai titik bantu dan gambaran dalam melakukan ritidektomi.
Dilakukan infiltrasi dengan Adrenalin : Lidokain sebesar 1: 200.000 pada daerah yang sudah ditandai.
Setelah penandaan dan infiltrasi sempurna dilakukan insisi sesuai penandaan dan perencanaan gambar, setelah dilakukan insisi tindakan selanjutnya adalah underming dan liposuction serta pemotongan kulit yang berrlebih dan dilakukan penjahitan dangan menggunakan vicyrl, kulit dengan menggunakan nylon 5-0.
Luka dibalut tekan dengan kassa antibiotik dan plaster.
Perawatan pasca operasi
Pasca bedah pasien dapat dipulangkan setelah efek anestesi umum sudah hilang dan sadar penuh dan tidak ada perdarahan. Pasien diterapi dengan antibiotika oral dan analgesia
Follow-up
Pasien diharapkan kontrol untuk perawatan luka pada hari ke tiga dan angkat jahitan pada hari ke 7
KEPUSTAKAAN MATERI BAKU
Bailey BJ, Johnson JT, Head & Neck Surgery - Otolaryngology, Fifth Edition, Volume two, Lippincott Williams & Wilkins, 2014, p : 3103-3112
Perkin S and Dayan S, Rhytidectomy. In: Ira D Paper Facial Plastic and Reconstructive Sugery, Second edition, Thieme Medical Publisher, 2002, p : 153 -170
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
MODUL VIII.5.3
TOPIK : FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI - DEFEK KEPALA LEHER :
MENTOPLASTY
WAKTU
Mengembangan Kompetensi | Hari : 35 |
Sesi didalam kelas | 13 x 60 menit (classroom session) |
Sesi dengan fasilitas pembimbing | 2 x 60 menit (coaching session) |
Sesi praktik dan pencapaian kompetensi | 4 x 60 menit (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi Presentasi : Mentoplasty
LCD 1 : Etiologi mentoplasty
LCD 2 : Pendarahan daerah mentum
LCD 3 : Diagnosis deformitas mentum
LCD 4 : Teknik teknik operasi
LCD 5 : Komplikasi mentooplasty
LCD 6 : Perawatan pasca operasi & komplikasi
Kasus :
Pasien perempuan 23 tahun dengan deformitas pada dagu. Pada akhir pembelajaran diharapkan dapat melakukan edukasi pada pasien, anjuran perawatan serta pemberian makan dan minum pada pasien, rujukan ke multidisiplin lain untuk persiapan operasi serta tehnik operasi yang akan di gunakan.
Sarana dan alat Bantu latih:
Penuntun belajar
Tempat belajar ; Bangsal THT, Poli THT, kamar operasi
Video animasi tuntunan operasi
Kadaver
REFERENSI
Williams EF, Chen HH. The Aging Neck. In : Johnson JT, Rosen CA, Newlands S, Amin M, Branstetter B, Casselbrant M, et al, editors. Bailey's Head & Neck Surgery - Otolaryngology, 5th Edition, Volume Two, Lippincott Williams & Wilkins, 2014. p.3131-41
Sykes JM, Frodel JL. Mentoplasty. In : Flint PW, Haughey BH, Lund V, Niparko JK, Robbins KT, Thomas JR et al, editors. Cummings Otolaryngology Head and Neck Surgery, 6th Edition, Lippincott Williams & Wilkins, 2015. p.453-67
KOMPETENSI
Mampu melakukan diagnosis serta penatalaksanaan deformitas pada mentum berdasarkan pemeriksaan fisik. Dapat menentukan saat melakukan operasi dan mampu melakukan operasi mentoplasty secara mandiri.
Keterampilan (2)
Setelah mengikuti sesi ini, peserta didik diharapkan terampil :
Mengenali gejala, tanda deformitas mentum
Melakukan anamnesis, pemeriksaan dan diagnosis deformitas mentum
Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi
Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi yang akan digunakan
Merencanakan perawatan pasca operasi serta perencanaan tatalaksana selanjutnya
Merencanakan penatalaksanaan bila terjadi komplikasi operasi
GAMBARAN UMUM
Memberi penjelasan agar kompeten mendiagnosis deformitas pada mentum. Serta dapat melakukan penatalaksanaan secara comprehensive masalah yang ada pada kasus kasus deformitas mentum.
CONTOH KASUS
Pasien perempuan 23 tahun dengan deformitas pada dagu. Pada akhir pembelajaran diharapkan dapat melakukan edukasi pada pasien, anjuran perawatan serta pemberian makan dan minum pada pasien, rujukan ke multidisiplin lain untuk persiapan operasi serta tehnik operasi yang akan di gunakan.
Diskusi :
Insidensi deformitas mentum
Penanganan deformitas mentum
Jawaban :
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan Pembelajaran Umum :
Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan untuk :
Mengenali gejala, tanda deformitas mentum
Melakukan anamnesis, pemeriksaan dan diagnosis deformitas mentum
Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi
Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi yang akan digunakan
Merencanakan perawatan pasca operasi serta perencanaan tatalaksana selanjutnya
Merencanakan penatalaksanaan bila terjadi komplikasi operasi
Tujuan Pembelajaran Khusus :
Setelah Mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk :
Menjelaskan anatomi dan topografi mentum (tingkat kompetensi K4)
Menjelaskan dan gambaran klinis kelainan pada mentum (tingkat kompetensi K4)
Menerangkan pemeriksaan penunjang yang diperlukan pada persiapan mentoplasty (tingkat kompetensi K4)
Menjelaskan perawatan pasca operasi dan rencana selanjutnya (tingkat kompetensi K4)
Menjelaskan penangan komplikasi operasi mulai dari komplikasi pada saat operasi, pasca operasi dan komplikasi lama (tingkat kompetensi K4)
Melakukan tindakan bedah mentoplasty (tingkat kompetensi K2)
Merawat penderita kelainan mentum pra operasi termasuk edukasi keluarga pasien, informed consent serta perawatan pasca operasi serta mengatasi komplikasi yang kemungkinan terjadi (tingkat kompetensi K4)
METODE PEMBELAJARAN
Pendahuluan
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini :
Small group discussion
Peer assisted learning
Bedside teaching
Task-based medical education
Must to know key points :
Peserta didik paling sudah harus mempelajari :
Bahan acuan (references)
Ilmu dasar yang berkaitan dengan topik pembelajaran
Ilmu klinis dasar
Penuntun belajar (learning guide)
Tempat belajar (training setting) : bangsal rawat tht, kamar operasi, bangsal perawatan pasca operasi.
Cara pembelajaran :
Pelatihan
Belajar mandiri
Kuliah
Group diskusi
Bed site teaching
Bimbingan Operasi dan asistensi
Melakukan operasi mandiri di bawah supervisi.
Countinuing Profesional Development.
Alat bantu pembelajaran :
Video animasi tehnik operasi labioplasti
Kadaver
EVALUASI
Pada awal pembelajaran dilakukan evaluasi Pre - test dalam bentuk essy dan pilihan ganda. Materi test terdiri dari : anatomi, patofisiologi, penegakan diagnosis serta klasifikasi, teknik - tehnik operasi, komplikasi dan penangannya, follow up dan perencanaan selanjutnya.
Bedsite teaching dan diskusi untuk membahas beberapa masalah yang ada.
Setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberi kesempatan untuk assistensi operasi mentoplasty. Pada saat itu akan dilakukan evaluasi pengetahuan dan kompetensi peserta didik.
Setelah melakukan asistensi dan dinilai kompeten, peserta didik dapat melakukan operasi mentoplasty di bawah bimbingan.
Pendidik / fasilitas
Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist
Penjelasan lisan dan diskusi
Kriteris penilaian langsung : cakap / tidak cakap / lalai.
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Kuesioner Sebelum Pembelajaran
Diseksi dilakukan inferior dari foramen mentum untuk mencegah trauma pada n. mentalis
B S
Panjang insisi pada mentoplasty adalah 2 cm inferior dari lipatan submental. B S
Jawaban :B B
Kuesioner Tengah Pembelajaran
Teknik dasar operasi mentoplasty adalah chin augmentasi dengan implant alloplast dan osseous genioplasty
B S
Jika kantung implan terlalu kecil dapat menyebabkan, kecuali :
Implant dapat berubah bentuk
Kontur menjadi irregular
Implan tidak menempel
Implan berpindah lokasi dari garis tengah
Jawaban : B C
Kuesioner Tengah Pembelajaran
Essay/ujian Lisan/Ujian Sumatif
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR
PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR MENTOPLASTY
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :
Perlu perbaikan : langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu : langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan)
Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
NAMA PESERTA : ......... TANGGAL:..........
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||||
a.Nama b.Diagnosis c.Inform choice & inform consent d.Rencana tindakan e.Persiapan sebelum tindakan | |||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR MENTOPLASTY | |||||
- Cuci tangan, memakai baju operasi dan memakai sarung tangan | |||||
- Tindakan a & anti sepsi daerah operasi dengan povidon iodine | |||||
- Memasang kain steril sebagai penutup pasien kecuali daerah operasi | |||||
- Dilakukan infiltrasi dengan Adrenalin : Lidokain sebesar 1: 200.000 pada dagu, jaringan lunak pada garis tengah bibir dan kartilago tiroid untuk memastikan penempatan implan pada garis tengah | |||||
III. PROSEDUR OPERASI | |||||
Mentalis | |||||
Penempatan implan bisa melalui pendekatan submental
Insisi 1-2 mm inferior lipatan submental, dan jika direncanakan akan dilakukan augmentasi, insisi dilakukan 4-5 mm dibawah lipatan submental. Diseksi dilakukan melalui inferior jaringan lunak dagu dan m.
Insisi vertikal dibuat melalui periosteum 2 cm lateral dari garis tengah. Bilateral diseksi subperiosteum dilakukan untuk penempatan sayap dari implan.
KEGIATAN | KASUS | ||||
Diseksi dilakukan inferior dari foramen mentum untuk mencegah trauma pada n. mentalis | |||||
IV. PASCA OPERASI | |||||
Instruksi pasca operasi Pasien diharapkan kontrol untuk perawatan luka pada hari ke tiga dan angkat jahitan pada hari ke 7 | |||||
Tipe, jenis dan ukuran implan disesuaikan dengan anatomi pasien
Setelah penempatan implan , m. Mentalis dan jaringan lunak kembali didekatkan
Penjahitan m. mentalis dangan menggunakan vicyrl 4- 0, jaringan subkutaneus dan dermis dengan chromic 5-0 dan terakhir kulit dengan menggunakan nylon 5- 0.
Luka ditutup dengan kassa antibiotik dan plaster.
Pasca bedah, pasien dirawat selama 1-2 hari dan pasien dapat dipulangkan setelah itu. Pasien diterapi dengan antibiotika oral dan analgesiK
Follow-up
Penilaian Kinerja Keterampilan (Ujian akhir) DAFTAR TILIK
PENILAIAN KINERJA PROSEDUR LABIOPLASTI
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotor atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan suatu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini:
Memuaskan Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
X : Tidak memuaskan : Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
T/T : Tidak ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih.
PESERTA : ................................. TANGGAL:..............
KEGIATAN | NILAI | ||
PERSIAPAN | |||
1. Kaji ulang diagnosis dan prosedur operasi | |||
2. Menyiapkan peralatan operasi | |||
3. Menyiapkan diri untuk melakukan tindakan operasi | |||
4. Menyiapkan posisi pasien | |||
5. Melakukan tindak a & anti septil | |||
6. Memasang kain steril menutup pasien kecuali area operasi | |||
PROSEDUR OPERASI | |||
KEGIATAN | NILAI | ||
200.000 pada dagu, jaringan lunak pada garis tengah bibir dan kartilago tiroid untuk memastikan penempatan implan pada garis tengah | |||
Pembiusan dilakukan dengan endotrakeal maupun lokal anestesi tergantung usia pasien. Desinfektan dengan larutan antiseptik dan lapangan operasi di persiapkan dengan linen steril.
Dilakukan infiltrasi dengan Adrenalin : Lidokain sebesar 1:
Penempatan implan bisa melalui pendekatan submental
Insisi 2 cm inferior lipatan submental, diseksi dilakukan melalui inferior jaringan lunak dagu dan m. Mentalis
Insisi vertikal dibuat melalui periosteum 2 cm lateral dari garis tengah. Bilateral diseksi subperiosteum dilakukan untuk penempatan sayap dari implan. Diseksi dilakukan inferior dari foramen mentum untuk mencegah trauma pada n. mentalis
Tipe, jenis dan ukuran implan disesuaikan dengan anatomi pasien
Setelah penempatan implan , m. Mentalis dan jaringan lunak kembali didekatkan
Penjahitan m. mentalis dangan menggunakan vicyrl 4-0, jaringan subkutaneus dan dermis dengan chromic 5-0 dan terakhir kulit dengan menggunakan nylon 5-0.
Luka ditutup dengan kassa antibiotik dan plaster.
MATERI PRESENTASI
LCD 1 : Etiologi kelainan mentum
Defisiensi dagu atau proyeksi malar dengan ketidaksinkronan berdasarkan proporsi wajah
Pengaruh perubahan atau tambahan dari keseluruhan estetika wajah
LCD 2 : Pendarahan daerah mentum LCD 3 : Diagnosis deformitas mentum
Metode mengevaluasi proyeksi dagu proporsional Legan angle
Merrifield Z-angle
Gonzales-Ullao nol meridian
Hubungan proyeksi tulang dan metode sederhana estetika proyeksi jaringan lunak akhir untuk mengevaluasi proyeksi dagu
Garis tegak lurus terhadap garis horizontal Frankfort di vermilion / kulit perbatasan bibir bawah
LCD 4 : Teknik-teknik Operasi LCD 5 : Komplikasi Mentoplasty
Pergesaran letak implan
Infeksi atau reaksi jaringan lunak
Resorpsi tulang
Ukuran implan yang tidak sesuai
Trauma nervus mentalis
Hypertrophic scar
LCD 6 : Perawatan Pasca Operasi & Komplikasi
MATERI BAKU
Mentoplasty Definisi
Tindakan rekonstruksi dengan prosedur untuk koreksi aesthetic kelainan mentum dengan tujuan untuk membentuk mentum yang sempurna.
Indikasi operasi
Deformitas vertikal, horizontal atau tidak simetrisnya dagu
List of Skill
Tahapan Bedah Dasar (sudah kompeten melakukan bedah dasar)
Persiapan pra operasi: anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, IC
Melakukan Operasi (asistensi)
Menangani Komplikasi
Melakukan Follow-up
Tahapan bedah lanjutan
Persiapan pra operasi: anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, IC
Melakukan Operasi (Bimbingan, Mandiri)
Menangani Komplikasi
Melakukan Follow-up
Melakukan perencanaan selanjutnya
Tehnik Operasi
Menjelang operasi
Penjelasan kepada penderita dan keluarga mengenai tindakan operasi yang akan dilakukan serta resiko komplikasi yang dapat terjadi.
Setelah mendapatkan keterangan keluarga pasien diharapkan menanda tangani surat persetujuan operasi (Informed Consent).
Memeriksa dan mempersiapkan alat dan kelengkapan operasi
Penderita puasa minimal 6 jam sebelum operasi
Pemberian antibiotik profilaksis sesuai standard penggunaan antibiotika yang berlaku.
Tahapan operasi
Pembiusan dilakukan dengan endotrakeal maupun lokal anestesi tergantung usia pasien.
Desinfektan dengan larutan antiseptik dan lapangan operasi dipersiapkan dengan linen steril.
Dilakukan infiltrasi dengan Adrenalin : Lidokain sebesar 1: 200.000 pada dagu, jaringan lunak pada garis tengah bibir dan kartilago tiroid untuk memastikan penempatan implan pada garis tengah
Penempatan implan bisa melalui pendekatan submental
Insisi 1-2 mm inferior lipatan submental, dan jika direncanakan akan dilakukan augmentasi, insisi dilakukan 4-5 mm dibawah lipatan submental. Diseksi dilakukan melalui inferior jaringan lunak dagu dan m. Mentalis
Insisi vertikal dibuat melalui periosteum 2 cm lateral dari garis tengah. Bilateral diseksi subperiosteum dilakukan untuk penempatan sayap dari implan. Diseksi dilakukan inferior dari foramen mentum untuk mencegah trauma pada n. mentalis
Tipe, jenis dan ukuran implan disesuaikan dengan anatomi pasien
Setelah penempatan implan , m. Mentalis dan jaringan lunak kembali didekatkan
Penjahitan m. mentalis dangan menggunakan vicyrl 4-0, jaringan subkutaneus dan dermis dengan chromic 5-0 dan terakhir kulit dengan menggunakan nylon 5-0.
Luka ditutup dengan kassa antibiotik dan plaster.
Perawatan pasca operasi
Pasca bedah, pasien dirawat selama 1-2 hari dan pasien dapat dipulangkan setelah itu. Pasien diterapi dengan antibiotika oral dan analgesia
KEPUSTAKAAN MATERI BAKU
Williams EF, Chen HH. The Aging Neck. In : Johnson JT, Rosen CA, Newlands S, Amin M, Branstetter B, Casselbrant M, et al, editors. Bailey's Head & Neck Surgery - Otolaryngology, Fifth Edition, Volume Two, Lippincott Williams & Wilkins, 2014, p : 3131-41
Sykes JM, Frodel JL. Mentoplasty. In : Flint PW, Haughey BH, Lund V, Niparko JK, Robbins KT, Thomas JR et al, editors. Cummings Otolaryngology Head and Neck Surgery, 6th Edition, Lippincott Williams & Wilkins, 2015. p.453-67
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
MODUL NO : VIII.5.4
TOPIK : FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI - DEFEK KEPALA LEHER :
MALARPLASTY
WAKTU
Mengembangan Kompetensi | Hari : 35 |
Sesi didalam kelas | 13 x 60 menit (classroom session) |
Sesi dengan fasilitas pembimbing | 2 x 60 menit (coaching session) |
Sesi praktik dan pencapaian kompetensi | 4 x 60 menit (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi Presentasi : Malarplasty
SLIDE 1 : Indikasi malarplasty
SLIDE 2 : Pendarahan daerah malar
SLIDE 3 : Diagnosis malarplasty
SLIDE 4 : Teknik teknik operasi
SLIDE 5 : Komplikasi malarplasty
SLIDE 6 : Perawatan pasca operasi & komplikasi
Kasus :
Pasien perempuan 30 tahun dengan deformitas pada malar. Pada akhir pembelajaran diharapkan dapat melakukan edukasi pada pasien, anjuran perawatan serta pemberian makan dan minum pada pasien, rujukan ke multidisiplin lain untuk persiapan operasi serta tehnik operasi yang akan di gunakan.
Sarana dan alat Bantu latih:
Penuntun belajar
Tempat belajar ; Bangsal THT, Poli THT, kamar operasi
Video animasi tuntunan operasi
Kadaver
REFERENSI
Sykes JM, Magill CK. Chin Augmentation. In : Johnson JT, Rosen CA, Newlands S, Amin M, Branstetter B, Casselbrant M, et al, editors. Bailey's Head & Neck Surgery - Otolaryngology, Fifth Edition, Volume Two, Lippincott Williams & Wilkins, 2014, p : 3176-88
KOMPETENSI
Mampu melakukan diagnosis kelainan/ defisiensi pada malar berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Dapat menentukan saat melakukan operasi dan mampu melakukan operasi malarplasty secara mandiri.
Keterampilan (2)
Setelah mengikuti sesi ini, peserta didik diharapkan terampil :
Mengenali gejala, tanda kelainan pada malar
Melakukan anamnesis, pemeriksaan dan diagnosis kelainan pada malar
Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi
Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi yang akan digunakan
Merencanakan perawatan pasca operasi serta perencanaan tatalaksana selanjutnya
Merencanakan penatalaksanaan bila terjadi komplikasi operasi
GAMBARAN UMUM
Memberi penjelasan agar kompeten mendiagnosis kelainan pada malar. Serta dapat melakukan penatalaksanaan secara comprehensive masalah yang ada pada kasus kasus kelainan malar.
CONTOH KASUS
Pasien perempuan 30 tahun dengan deformitas pada malar. Pada akhir pembelajaran diharapkan dapat melakukan edukasi pada pasien, anjuran perawatan serta pemberian makan dan minum pada pasien, rujukan ke multidisiplin lain untuk persiapan operasi serta tehnik operasi yang akan di gunakan.
Diskusi :
Insidensi deformitas malar
Penanganan deformitas malar
Jawaban :
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan Pembelajaran Umum :
Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan untuk :
Melakukan anamnesis, pemeriksaan dan diagnosis kelainan pada malar
Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi
Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi yang akan digunakan
Merencanakan perawatan pasca operasi serta perencanaan tatalaksana selanjutnya
Merencanakan penatalaksanaan bila terjadi komplikasi operasi
Tujuan Pembelajaran Khusus :
Setelah Mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk :
Menjelaskan anatomi dan topografi malar (tingkat kompetensi K4)
Menjelaskan dan gambaran klinis kelainan pada malar (tingkat kompetensi K4)
Menerangkan pemeriksaan penunjang yang diperlukan pada persiapan malarplasty (tingkat kompetensi K4)
Menjelaskan perawatan pasca operasi dan rencana selanjutnya (tingkat kompetensi K4)
Menjelaskan penangan komplikasi operasi mulai dari komplikasi pada operasi (tingkat kompetensi K4)
Melakukan tindakan bedah malarplasty (tingkat kompetensi K2)
Merawat penderita kelainan malar pra operasi termasuk edukasi keluarga pasien, informed consent serta perawatan pasca operasi serta mengatasi komplikasi yang kemungkinan terjadi (tingkat kompetensi K4)
METODE PEMBELAJARAN
Pendahuluan
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini :
Small group discussion
Peer assisted learning
Bedside teaching
Task-based medical education
Must to know key points :
Peserta didik paling sudah harus mempelajari :
Bahan acuan (references)
Ilmu dasar yang berkaitan dengan topik pembelajaran
Ilmu klinis dasar
Penuntun belajar (learning guide)
Tempat belajar (training setting) : bangsal rawat tht, kamar operasi, bangsal perawatan pasca operasi.
Cara pembelajaran :
Pelatihan
Belajar mandiri
Kuliah
Group diskusi
Bed site teaching
Bimbingan Operasi dan asistensi
Melakukan operasi mandiri di bawah supervisi.
Countinuing Profesional Development.
Alat bantu pembelajaran :
Video animasi tehnik operasi labioplasti
Kadaver
EVALUASI
Pada awal pembelajaran dilakukan evaluasi Pre - test dalam bentuk essay dan pilihan ganda. Materi test terdiri dari : anatomi, patofisiologi, penegakan diagnosis, teknik - tehnik operasi, komplikasi dan penangannya, follow up dan perencanaan selanjutnya.
Bedsite teaching dan diskusi untuk membahas beberapa masalah yang ada.
Setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberi kesempatan untuk assistensi operasi malarplasty. Pada saat itu akan dilakukan evaluasi pengetahuan dan kompetensi peserta didik.
Setelah melakukan asistensi dan dinilai kompeten, peserta didik dapat melakukan operasi malarplasty di bawah bimbingan.
Pendidik / fasilitas
Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist
Penjelasan lisan dan diskusi
Kriteris penilaian langsung : cakap / tidak cakap / lalai.
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Kuesioner Sebelum Pembelajaran
Selama diseksi berada di bawah periosteum atau dekat dengan archus zygoma, nervus fasialis tidak rawan cedera
B S
Keuntungan implan silastic dapat di tempatkan dengan mudah dan berada pada posisi nya tanpa slip
B S
Jawaban : B S
Kuesioner Tengah Pembelajaran
Salah satu implant yang paling banyak digunakan pada malarplasty adalah silastic
B S
Komplikasi dari implant malar, kecuali :
Malposisi implant
Reaksi jaringan atau infeksi
Trauma nervus infraorbital
Trauma nervus mentalis
Jawaban : B D
Kuesioner Tengah Pembelajaran
Essay/ujian Lisan/Ujian Sumatif
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR
PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR MALARPLASTY
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :
Perlu perbaikan : langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu : langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan)
Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
NAMA PESERTA : ......... TANGGAL:..........
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||||
a.Nama b.Diagnosis c.Inform choice & inform consent d.Rencana tindakan e.Persiapan sebelum tindakan | |||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR MALARPLASTY | |||||
- Cuci tangan, memakai baju operasi dan memakai sarung tangan | |||||
- Tindakan a & anti sepsi daerah operasi dengan povidon iodine | |||||
- Memasang kain steril sebagai penutup pasien kecuali daerah operasi | |||||
- Dilakukan infiltrasi dengan Adrenalin : Lidokain sebesar 1: 200.000 pada jaringan lunak pada daerah malar | |||||
III. PROSEDUR OPERASI | |||||
Pembiusan dilakukan dengan endotrakeal maupun lokal anestesi tergantung usia pasien. Desinfektan dengan larutan antiseptik dan lapangan operasi di persiapkan dengan linen steril.
Dilakukan infiltrasi dengan Adrenalin : Lidokain sebesar 1: 200.000 pada daerah malar
Insisi intraoral dengan panjang 3 cm pada inferoanterior ke saluran parotis. Insisi mukosa dan otot dengan blade 15 atau kauter unipolar ke periosteum. Kemudian periosteum dipotong dan diangkat dengan elevator endobrow. Elevasi ke superior dan lateral diatas malar dan zygoma.
Lokasi rim orbital dan saraf infraorbital harus diingat untuk menghindari cedera pada saraf infraorbital.
Kantong yang dibuat harus cukup besar untuk memungkinkan penempatan implan. Selama diseksi berada di bawah periosteum atau dekat dengan archus zygoma, nervus fasialis tidak rawan cedera.
Perdarahan biasanya minimal, dan hemostasis dipertahankan dengan kauter bipolar Berbagai ukuran implan dicoba untuk mendapatkan ukuran implan yang tepat. Implan dipilih dan siap untuk dimasukkan.
Jika implan berpori digunakan, harus dengan tekanan sarat dan dengan klindamisin dan saline normal (600 mg klindamisin dan 30 mL saline normal). Tekanan dilakukan dengan jarum suntik 50-mL, bergantian tekanan positif dan negatif untuk antibiotik / garam ke dalam celah dari implan.
IV. PASCA OPERASI | |||||
Pasca bedah pasien dapat dipulangkan setelah efek anestesi umum sudah hilang dan sadar penuh dan tidak ada perdarahan. Pasien diterapi dengan antibiotika oral dan analgesia | |||||
Implan kemudian dimasukkan di bawah retractor Army- Navy. Hati-hati untuk tidak menekan implan. Setelah bagian yang menonjol dari implan berada di posisi yang sesuai dengan daerah prominen di pipi sebelumnya kulit ditarik, retraktor diangkat.
Dengan sedikit tekanan, luka insisi kemudian didekatkan dan ditutup lapis demi lapis dengan chromic 3-0. Jika implan malar silastic digunakan, sizer dimasukkan untuk menentukan ukuran implan yang benar (nomor 1, 2, 3, atau 4).
Setelah implan dipilih, jahitan silk dilakukan ke bagian paling lateral dari implan dan melewati jarum staymen atau wire, yang dilewatkan ke bagian paling superolateral dari kantong dan kemudian diteruskan ke garis rambut (hairline).
Implan kemudian diletakkan dan didorong ke posisi yang sesuai.
Simpul jahitan diikat diatas bolster dan dibiarkan selama 3 hari untuk menstabilkan implan. Insisi ditutup seperti yang dijelaskan sebelumnya.
Es dikompreskan untuk beberapa jam berikutnya.
Antibiotik diberikan pasca operasi selama 4 hari, dan 1 g sefalotin diberikan secara intravena 30 menit sebelum insersi implan.
Instruksi pasca operasi
Follow-up
Pasien diharapkan kontrol untuk perawatan luka pada hari ke tiga dan angkat jahitan pada hari ke 7
Penilaian Kinerja Keterampilan (Ujian akhir) DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA
PROSEDUR MALARPLASTI
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotor atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan suatu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini:
Memuaskan : Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
X : Tidak memuaskan : Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
T/T : Tidak ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih.
PESERTA : ................................. TANGGAL:..............
KEGIATAN | NILAI | ||
PERSIAPAN | |||
1. Kaji ulang diagnosis dan prosedur operasi | |||
2. Menyiapkan peralatan operasi | |||
3. Menyiapkan diri untuk melakukan tindakan operasi | |||
4. Menyiapkan posisi pasien | |||
5. Melakukan tindak a & anti septil | |||
6. Memasang kain steril menutup pasien kecuali area operasi | |||
PROSEDUR OPERASI | |||
Pembiusan dilakukan dengan endotrakeal maupun lokal anestesi tergantung usia pasien. Desinfektan dengan larutan antiseptik dan lapangan operasi di persiapkan dengan linen steril.
Dilakukan infiltrasi dengan Adrenalin : Lidokain sebesar 1: 200.000 pada daerah malar
Insisi intraoral dengan panjang 3 cm pada inferoanterior ke saluran parotis. Insisi mukosa dan otot dengan blade 15 atau kauter unipolar ke periosteum. Kemudian periosteum dipotong dan diangkat dengan elevator endobrow. Elevasi ke superior dan lateral diatas malar dan zygoma.
Lokasi rim orbital dan saraf infraorbital harus diingat untuk menghindari cedera pada saraf infraorbital.
Kantong yang dibuat harus cukup besar untuk memungkinkan penempatan implan. Selama diseksi berada di bawah periosteum atau dekat dengan archus zygoma, nervus fasialis tidak rawan cedera.
Perdarahan biasanya minimal, dan hemostasis dipertahankan dengan kauter bipolar Berbagai ukuran implan dicoba untuk mendapatkan ukuran implan yang tepat. Implan dipilih dan siap untuk dimasukkan.
Jika implan berpori digunakan, harus dengan tekanan sarat dan dengan klindamisin dan saline normal (600 mg klindamisin dan 30 mL saline normal). Tekanan dilakukan dengan jarum suntik 50-mL, bergantian tekanan positif dan negatif untuk antibiotik / garam ke dalam celah dari implan.
Implan kemudian dimasukkan di bawah retractor Army-Navy. Hati- hati untuk tidak menekan implan. Setelah bagian yang menonjol dari implan berada di posisi yang sesuai dengan daerah prominen di pipi sebelumnya kulit ditarik, retraktor diangkat.
Dengan sedikit tekanan, luka insisi kemudian didekatkan dan ditutup lapis demi lapis dengan chromic 3-0. Jika implan malar silastic digunakan, sizer dimasukkan untuk menentukan ukuran implan yang benar (nomor 1, 2, 3, atau 4).
Setelah implan dipilih, jahitan silk dilakukan ke bagian paling lateral dari implan dan melewati jarum staymen atau wire, yang dilewatkan ke bagian paling superolateral dari kantong dan kemudian diteruskan ke garis rambut (hairline).
Implan kemudian diletakkan dan didorong ke posisi yang sesuai.
KEGIATAN | NILAI | ||
Simpul jahitan diikat diatas bolster dan dibiarkan selama 3 hari untuk menstabilkan implan. Insisi ditutup seperti yang dijelaskan sebelumnya.
Es dikompreskan untuk beberapa jam berikutnya.
Antibiotik diberikan pasca operasi selama 4 hari, dan 1 g sefalotin diberikan secara intravena 30 menit sebelum insersi implan.
MATERI PRESENTASI
SLIDE 1 : Indikasi kelainan malar
SLIDE 2 : Pendarahan daerah malar SLIDE 3 : Diagnosis deformitas malar
Ketika prominen malar turun 5 mm posterior ke alur nasolabial pada proyeksi true lateral, maka hal ini merupakan defisiensi dari malar
SLIDE 4 : Teknik-teknik Operasi SLIDE 5 : Komplikasi Malarplasty
Pergesaran letak implan
Infeksi sekunder ke sinus atau gigi
Implan asimetris
Penolakan jaringan lunak lokal
Eksposur implan
SLIDE 6 : Perawatan Pasca Operasi & Komplikasi
MATERI BAKU
Definisi
MALARPLASTY
Tindakan rekonstruksi dengan prosedur untuk menambah atau mengurangi daerah malar. Kesan penuh pada malar memberikan penampilan lebih muda, karena mengurangi kedalaman garis melolabial dan kesan lebih bahagia, ini merupakan tampilan yang menentukan untuk wajah.
Indikasi operasi
Kurang menonjolnya malar
Sebagai tambahan untuk operasi facelift jika lipatan melolabial telah diperdalam
Aksentuasi dari malar prominen, menciptakan penampilan estetika lebih menyenangkan
Asimetri dari malar prominen akibat kelainan bawaan, reseksi bedah, atau reduksi inkomplit pada fraktur malar
List of Skill
Tahapan Bedah Dasar (sudah kompeten melakukan bedah dasar)
Persiapan pra operasi: anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, IC
Melakukan Operasi (asistensi)
Menangani Komplikasi
Melakukan Follow-up
Tahapan bedah lanjutan
Persiapan pra operasi: anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, IC
Melakukan Operasi (Bimbingan, Mandiri)
Menangani Komplikasi
Melakukan Follow-up
Melakukan perencanaan selanjutnya
Tehnik Operasi Menjelang operasi
Penjelasan kepada penderita dan keluarga mengenai tindakan operasi yang akan dilakukan serta resiko komplikasi yang dapat terjadi. Setelah mendapatkan keterangan keluarga pasien diharapkan menanda tangani surat persetujuan operasi (informed Consent).
Memeriksa dan mempersiapkan alat dan kelengkapan operasi
Penderita puasa minimal 6 jam sebelum operasi
Pemberian antibiotik profilaksis sesuai standard penggunaan antibiotika yang berlaku.
Tahapan operasi.
Pembiusan dilakukan dengan endotrakeal maupun lokal anestesi tergantung usia pasien. Desinfektan dengan larutan antiseptik dan lapangan operasi di persiapkan dengan linen steril.
Dilakukan infiltrasi dengan Adrenalin : Lidokain sebesar 1: 200.000 pada daerah malar
Insisi intraoral dengan panjang 3 cm pada inferoanterior ke saluran parotis. Insisi mukosa dan otot dengan blade 15 atau kauter unipolar ke periosteum. Kemudian periosteum dipotong dan diangkat dengan elevator endobrow. Elevasi ke superior dan lateral diatas malar dan zygoma.
Lokasi rim orbital dan saraf infraorbital harus diingat untuk menghindari cedera pada saraf infraorbital.
Kantong yang dibuat harus cukup besar untuk memungkinkan penempatan implan. Selama diseksi berada di bawah periosteum atau dekat dengan archus zygoma, nervus fasialis tidak rawan cedera.
Perdarahan biasanya minimal, dan hemostasis dipertahankan dengan kauter bipolar Berbagai ukuran implan dicoba untuk mendapatkan ukuran implan yang tepat. Implan dipilih dan siap untuk dimasukkan.
Jika implan berpori digunakan, harus dengan tekanan sarat dan dengan klindamisin dan saline normal (600 mg klindamisin dan 30 mL saline normal). Tekanan dilakukan dengan jarum suntik 50-mL, bergantian
tekanan positif dan negatif untuk antibiotik / garam ke dalam celah dari implan.
Implan kemudian dimasukkan di bawah retractor Army-Navy. Hati-hati untuk tidak menekan implan. Setelah bagian yang menonjol dari implan berada di posisi yang sesuai dengan daerah prominen di pipi sebelumnya kulit ditarik, retraktor diangkat.
Dengan sedikit tekanan, luka insisi kemudian didekatkan dan ditutup lapis demi lapis dengan chromic 3-0. Jika implan malar silastic digunakan, sizer dimasukkan untuk menentukan ukuran implan yang benar (nomor 1, 2, 3, atau 4).
Setelah implan dipilih, jahitan silk dilakukan ke bagian paling lateral dari implan dan melewati jarum staymen atau wire, yang dilewatkan ke bagian paling superolateral dari kantong dan kemudian diteruskan ke garis rambut (hairline).
Implan kemudian diletakkan dan didorong ke posisi yang sesuai.
Simpul jahitan diikat diatas bolster dan dibiarkan selama 3 hari untuk menstabilkan implan. Insisi ditutup seperti yang dijelaskan sebelumnya.
- Es dikompreskan untuk beberapa jam berikutnya.
Antibiotik diberikan pasca operasi selama 4 hari, dan 1 g sefalotin diberikan secara intravena 30 menit sebelum insersi implan.
Perawatan pasca operasi
Pasca bedah pasien dapat dipulangkan setelah efek anestesi umum sudah hilang dan sadar penuh dan tidak ada perdarahan. Pasien diterapi dengan antibiotika oral dan analgesia
Follow-up
Pasien diharapkan kontrol untuk perawatan luka pada hari ke tiga dan angkat jahitan pada hari ke 7
KEPUSTAKAAN MATERI BAKU
1. Sykes JM, Magill CK. Chin Augmentation. In : Johnson JT, Rosen CA, Newlands S,
Amin M, Branstetter B, Casselbrant M, et al, editors. Bailey's Head & Neck Surgery
- Otolaryngology, Fifth Edition, Volume Two, Lippincott Williams & Wilkins, 2014, p : 3176-88
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
MODUL VIII.5.5
TOPIK : FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI - DEFEK KEPALA LEHER : EXOPTHALMUS
WAKTU
Mengembangan Kompetensi | Hari : 35 |
Sesi didalam kelas | 13 x 60 menit (classroom session) |
Sesi dengan fasilitas pembimbing | 2 x 60 menit (coaching session) |
Sesi praktik dan pencapaian kompetensi | 4 x 60 menit (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi Presentasi : Surgery for exopthalmos
SLIDE 1 : Anatomi orbita, tulang orbita, dan zigoma
SLIDE 2 : Pendarahan daerah orbita, tulang orbita, dan zigoma
SLIDE 3 : Persarafan daerah orbita, tulang orbita, dan zigoma
SLIDE 4 : Diagnosis fraktur daerah orbita, tulang orbita, dan zigoma
SLIDE 5 : Waktu & Penatalaksanaan operasi
SLIDE 6 : Teknik teknik operasi
SLIDE 7 : Perawatan pasca operasi & komplikasi
Kasus :
Seorang laki-laki 32 tahun datang dengan keluhan terbentur trotoar pada bagian mata kanan saat tabrakan dengan sepeda motor lainnya. Pasien pengeluh adanya penglihatan ganda dan mata kanan menonjol.
Sarana dan alat Bantu latih:
Penuntun belajar
Tempat belajar ; Bangsal THT, Poli THT, kamar operasi
Video animasi tuntunan operasi
Kadaver
REFERENSI
Peter Ward Booth, Maxillofacial Surgery, Second Edition, Volume one, Chuchill Livingstone, p. 124-125
http://oculoplastic-eyelid-orbit-surgery.com/service/proptosis-exophthalmos- bulging-eyes/
KOMPETENSI
Dapat mengenali dan menempatkan gambaran-gambaran klinik sesuai penyakit tersebut ketika membaca literatur. Dalam korespondensi, ia dapat mengenali gambaran klinik ini, dan mengetahui bagaimana mendapatkan informasi lebih lanjut. Level ini mengindikasikan overview level. Bila menghadapi pasien dengan gambaran kilnik ini dan menduga penyakitnya, Dokter segera merujuk.
Keterampilan (2)
Lulusan dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai keterampilan ini, sehingga dapat menjelaskan kepada teman sejawat, pasien maupun klien tentang konsep, teori, prinsip maupun indikasi, serta cara melakukan, komplikasi yang timbul, dan sebagainya.
GAMBARAN UMUM
Exophalmos merupakan suatu keadaan mata menonjol. Hal ini dapat disebabkan karena trauma wajah, tumor, maupun hal lainnya.
CONTOH KASUS
Seorang laki-laki 32 tahun datang dengan keluhan terbentur trotoar pada bagian mata kanan saat tabrakan dengan sepeda motor lainnya. Pasien pengeluh adanya penglihatan ganda dan mata kanan menonjol.
Diskusi :
Etiologi fraktur daerah orbita, tulang orbita dan zigoma
Penanganan fraktur orbita, tulang orbita dan zigoma
Jawaban :
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan Pembelajaran Umum :
Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan untuk :
Mengenali gejala, tanda fraktur daerah orbita, tulang orbita dan zigoma
Melakukan anamnesis, pemeriksaan dan diagnosis klasifikasi tentang fraktur daerah orbita
Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi
Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi yang akan digunakan
Merencanakan perawatan pasca operasi serta perencanaan tatalaksana selanjutnya
Merencanakan penatalaksanaan bila terjadi komplikasi operasi
Tujuan Pembelajaran Khusus :
Setelah Mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk :
Menjelaskan anatomi, topografi dan patofisiologi fraktur daerah orbita dan zigoma.
Mejelaskan etiologi fraktur daerah orbita dan zigoma.
Menjelaskan dan gambaran klinis fraktur daerah orbita dan zigoma.
Menerangkan pemeriksaan penunjang yang diperlukan pada penatalaksanaan fraktur daerah orbita dan zigoma.
Menjelaskan tehnik operasi sesuai dengan klasifikasi fraktur daerah orbita dan zigoma.
Menjelaskan perawatan pasca operasi dan rencana selanjutnya.
Menjelaskan penangan komplikasi operasi mulai dari komplikasi pada saat operasi, pasca operasi dan komplikasi lama.
Mengetahui perawatan penderita fraktur daerah mata fraktur daerah orbita dan zigoma pra operasi termasuk edukasi keluarga pasien, informed consent serta perawatan pasca operasi serta mengatasi komplikasi yang kemungkinan terjadi.
METODE PEMBELAJARAN
Pendahuluan
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini :
Small group discussion
Peer assisted learning
Must to know key points :
Peserta didik paling sudah harus mempelajari :
Bahan acuan (references)
Ilmu dasar yang berkaitan dengan topik pembelajaran
Ilmu klinis dasar
Penuntun belajar (learning guide)
Tempat belajar (training setting) : bangsal rawat tht, bangsal perawatan pasca operasi.
Cara pembelajaran :
Pelatihan
Belajar mandiri
Kuliah
Group diskusi
Alat bantu pembelajaran : Video animasi tehnik operasi fraktur daerah orbita dan zigoma
EVALUASI
Pada awal pembelajaran dilakukan evaluasi Pre - test dalam bentuk essay dan pilihan ganda. Materi test terdiri dari : anatomi, patofisiologi, penegakan diagnosis serta klasifikasi, teknik - tehnik operasi, komplikasi dan penangannya, follow up dan perencanaan selanjutnya.
Bedsite teaching dan diskusi untuk membahas beberapa masalah yang ada.
Setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberi kesempatan untuk assistensi operasi labioskisis. Pada saat itu kan dilakukan evaluasi pengetahuan dan kompetensi peserta didik.
Setelah melakukan asistensi dan dinilai kompeten, peserta didik dapat melakukan operasi labioskisis di bawah bimbingan.
Pendidik / fasilitas
Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist
Penjelasan lisan dan diskusi
Kriteris penilaian langsung : cakap / tidak cakap / lalai.
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Kuesioner Sebelum Pembelajaran
Dislokasi medial pada fraktur zigoma menyebabkan kompresi volume orbita
B S
Gejala pada fraktur zigoma hampir selalu melibatkan kombinasi dari periorbital dan subkonjungtival hematom
B S
Jawaban :B B
Kuesioner Tengah Pembelajaran
Gejala fraktur zigoma:
Gangguan sensasi wajah
Exopthalmost
Subkonjungtival hematom
Diplopia
Baal pada daerah n. Infraorbitalis hampir selalu ada pada fraktur zigoma
B S
Jawaban :B B
Kuesioner Tengah Pembelajaran
Essay/ujian Lisan/Ujian Sumatif
MATERI PRESENTASI SLIDE 1:
Etiologi surgery of exopthalmost
Infeksi
Penyakit Graves Graves ophthalmopathy, yang menyebabkan proptosis bilateral
Selulitis orbita - infeksi pada bola mata. Gejala: proptosis unilateral, hiperemis parah pada mata, nyeri sedang-parah,sinusitis dan leukositosis
Dakrioadenitis -inflamasi pada glandula lakrimalis
Mukormikosis - infeksi jamur pada orbita
Orbital pseudotumor
Wegener 's granulomatosis
Neoplasma
Leukemia
Meningioma (pada spenoid wing)
Angiofibrom nasofaring
Tumor lakrimal
Hemangioma kavernosus
Limfoma
Penyakit darah pada orbita
Kista
Trauma
Orbital fractures apex, floor, medial wall, zygomatic
SLIDE 2 : Pendarahan daerah orbita dan zigoma SLIDE 3 : Patofisiologi
Bila fraktur zigoma terjadi bersamaan dengan fraktur orbita medial, maka orbita akan bergeser ke posterior, inferior, dan medial. Dislokasi medial pada zigoma dapat mengkompresi volume orbita dan menyebabkan exopthalmost dibandingkan dengan enopthalmost.
SLIDE 4: Diagnosis fraktur daerah orbita dan zigoma
40% fraktur zigoma menyebabkan masalah pada orbita. Dimulai dari abrasi kornea, pengelihatan ganda , sampai dengan kebutaan.
SLIDE 5 :Waktu & Penatalaksanaan daerah orbita dan zigoma Perdarahan retrobulber yang menyebabkan peningkatnya tekanan di belakang bola mata yang mendorong bola mata ke anterior, terjepitnya otot otot mata, fraktur.
SLIDE 6 :Teknik-teknik Operasi
Tergantung etiologi
SLIDE 7: Perawatan Pasca Operasi & Komplikasi
MATERI BAKU
Surgery of Exopthalmost
Definisi
Suatu keadaan dimana bola mata menonjol ke arah anterior
Indikasi operasi
List of Skill
Tahapan Bedah Dasar (sudah kompeten melakukan bedah dasar) Mengetahui teori surgery of exopthalmost
Tehnik Operasi
Tergantung etiologi
KEPUSTAKAAN MATERI BAKU
Peter Ward Booth, Maxillofacial Surgery, Second Edition, Volume one, Chuchill Livingstone, p. 124-125
http://oculoplastic-eyelid-orbit-surgery.com/service/proptosis-exophthalmos- bulging-eyes/
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
MODUL VIII.5.6
TOPIK : FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI - DEFEK KEPALA LEHER: DAKROSISTOSTOMI
WAKTU
Mengembangan Kompetensi | Hari : 35 |
Sesi didalam kelas | 13 x 60 menit (classroom session) |
Sesi dengan fasilitas pembimbing | 2 x 60 menit (coaching session) |
Sesi praktik dan pencapaian kompetensi | 4 x 60 menit (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi Presentasi : Dakriosistorinostomi
SLIDE 1 : Anatomi mata dan hidung
SLIDE 2 : Pendarahan daerah mata dan hidung
SLIDE 3 : Persarafan daerah mata dan hidung
SLIDE 4 : Diagnosis sumbatan ductus nasolakrimalis
SLIDE 5 : Waktu & Penatalaksanaan dakriosistorinostomi
SLIDE 6 : Teknik teknik operasi
SLIDE 7 : Perawatan pasca operasi & komplikasi
Kasus :
Seorang wanita 41 tahun datang dengan keluhan mata kanan berair terus menerus. Karena keluhannya, pasien datang ke Bagian IK Mata dan dikonsulkan ke Bagian IK THT-KL
Sarana dan alat Bantu latih:
Penuntun belajar
Tempat belajar ; Bangsal THT, Poli THT
REFERENSI
Bailey BJ, Johnson JT, Head & Neck Surgery - Otolaryngology, Fifth Edition, Volume one, Lippincott Williams & Wilkins, 2014, p : 622-637
KOMPETENSI
Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan-pemeriksaan tambahan yang diminta oleh dokter (misalnya; pemeriksaan laboratorium sederhana atau x-ray). Dokter mampu merujuk pasien secepatnya ke spesialis yang relevan dan mampu menindaklanjuti sesudahnya.
Keterampilan (2)
Setelah mengikuti sesi ini, peserta didik diharapkan terampil :
Mampu melakukan anamnesis, pemeriksaan dan diagnosis tentang dakriosistorinostomi
Lulusan dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai keterampilan ini (baik konsep, teori, prinsip maupun indikasi, cara melakukan, komplikasi, dan
sebaginya). Selain itu, selama pendidikan pernah melihat atau pernah didemonstrasikan keterampilan ini.
GAMBARAN UMUM
Mata dan hidung merupakan indra indra yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Kantung air mata dapat tersumbat oleh karena berbagai macam hal. Tindakan yang dapat dilakukan adalah operasi dakriorinosistostomi.
CONTOH KASUS
Wanita 41 tahun dengan keluhan mata berair terus menerus. Pada akhir pembelajaran diharapkan dapat melakukan edukasi pada pasien, anjuran perawatan pada pasien, rujukan ke multidisiplin lain, persiapan operasi serta tehnik operasi yang akan di gunakan.
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan Pembelajaran Umum :
Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan untuk :
Mampu mengetahui anatomi dan fisiologi ductus nasolakrimalis
Mampu melakukan anamnesis, pemeriksaan dan diagnosis klasifikasi tentang sumbatan ductus nasolakrimalis
Mampu melakukan persiapan operasi
Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi yang akan digunakan
Tujuan Pembelajaran Khusus :
Setelah Mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk :
Menjelaskan anatomi, topografi dan patofisiologi ductus nasolakrimalis (tingkat kompetensi K4)
Menjelaskan etiologi dan klasifikasi sumbatan ductus nasolakrimalis (tingkat kompetensi K4)
Menjelaskan dan gambaran klinis kelainan sumbatan ductus nasolakrimalis (tingkat kompetensi K4)
Menerangkan pemeriksaan penunjang yang diperlukan pada penatalaksanaan sumbatan ductus nasolakrimalis (tingkat kompetensi K4)
Menjelaskan tehnik operasi dakriosistorinostomi (tingkat kompetensi K3)
Menjelaskan perawatan pasca operasi dan rencana selanjutnya (tingkat kompetensi K3)
Menjelaskan penangan komplikasi operasi mulai dari komplikasi pada saat operasi, pasca operasi dan komplikasi lama (tingkat kompetensi K2)
Mampu melakukan edukasi kepada keluarga pasien, dan informed consent (tingkat kompetensi K4)
METODE PEMBELAJARAN
Pendahuluan
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini :
Small group discussion
Peer assisted learning
Bedside teaching
Task-based medical education
Must to know key points :
Peserta didik paling sudah harus mempelajari :
Bahan acuan (references)
Ilmu dasar yang berkaitan dengan topik pembelajaran
Ilmu klinis dasar
Penuntun belajar (learning guide)
Tempat belajar (training setting) : bangsal rawat tht, kamar operasi, bangsal perawatan pasca operasi.
Cara pembelajaran :
Kuliah
Group diskusi
EVALUASI
Pada awal pembelajaran dilakukan evaluasi Pre - test dalam bentuk essay dan pilihan ganda. Materi test terdiri dari : anatomi, patofisiologi, penegakan diagnosis serta klasifikasi, teknik - tehnik operasi, komplikasi dan penangannya, follow up dan perencanaan selanjutnya.
Bedsite teaching dan diskusi untuk membahas beberapa masalah yang ada.
Setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberi kesempatan untuk melihat operasi dakriosistorinostomi. Pada saat itu kan dilakukan evaluasi pengetahuan dan kompetensi peserta didik.
Pendidik / fasilitas
Pengamatan langsung
Penjelasan lisan dan diskusi
J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Kuesioner Sebelum Pembelajaran
Epiphora disebabkan karena:
sumbatan punctum lakrimalis.
Konjungtivitis
dinilai dengan force duction test
Iritasi mata
Dye Dissappearance Test dilakukan untuk :
menilai derajat sumbatan sakus lakrimalis
menilai fungsi pergerakan bola mata
menilai kekeringan bola mata
menilai ada tidaknya pengelihatan ganda
Jawaban :A dan A
Kuesioner Tengah Pembelajaran
Teknik dasar operasi DCR
External approach
Intranasal approach
Transnasal approach
Tulang lakrimalis merupakan salah satu tulang tertipis
B S
Jawaban :B dan B
Kuesioner AkhirPembelajaran
Dimanakah letak sakus lakrimalis
Jawab: diantara fossa lakrimalis dengan sebagian berada diatas axilla dari concha media
Essay/ujian Lisan/Ujian Sumatif
K. MATERI PRESENTASI
SLIDE 1 : Etiologi
Wanita usia awal 60an : sebelah mata berair
Kelainan kongenital pada anak: congenital imferforate Hasner valve
Dewasa muda : epiphora karena trauma, herpes, dacryolith
Wanita lebih tua : stenosis idiopatik duktus lakrimalis bagian distal
SLIDE 2 : Anatomi duktus lakrimalis
Canalic
SLIDE 3 : Pemeriksaan Preoperatif
Pemeriksaan Mata
Epiphora (+)
Dye test
Canaliculi probing
Lacrimal irigation
Reflux discharge (+)
Distanded sac +/-
Dacryocystography
Dacryoscintilography
Pemeriksaan THT :
History of nasal - lacrimal bone trauma
Medial turbinate
Septal deviation
Rhinitis atrophycans
SLIDE 4 : Patofisiologi
Epiphora dapat disebabkan karena :
hipersekresi air mata, yang timbul ketika benda asing mengiritasi kornea
mata kering, yang nantinya menyebabkan reaksi seperti adanya benda asing dan produksi airmata yang meningkat.
Kegagalan pompa lakrimal seperti pada ektropion ketika air mata tidakk lagi dapat memasuki punctum.
Sumbatan punctum lakrimalis ataupun punctum cauterisation pada terapi mata kering
SLIDE 5 Diagnosis Anal test:
Bila Saline refluks dari:
Kanalikulus inferior sumbatan (+)
Kanalikulus superior sumbatan ada pada kanalikulus tersebut
Bila saline memasuki hidung hipersekresi air mata atau kegagalan pompa lakrimal atau obstruksi parsial sistem nasolakrimal
Bila saline tidak dapat memasuki hidung obstruksi total duktus nasolakrimalis
Untuk melihat sistem lakrimal dapat dilakukan dengan melakukan Dye Dissappearance Test
Saat ini tindakan Jones Dye Test jarang lagi dilakukan, yang sering dilakukan adalah Anal test.
SLIDE 6 Waktu & Penatalaksanaan SLIDE 7 Teknik-teknik Operasi
External approach DCR
Endonasal approach DCR (transnasal, intranasal)
SLIDE 8 Perawatan Pasca Operasi & Komplikasi
L. MATERI BAKU
Dakriosistorinostomi
Definisi
Suatu tindakan yang membuat suatu saluran permanen dari sakus lakrimalis ke ruang nasal sehingga bebas dari epiphora dan sekret.
Indikasi operasi
Sumbatan pada duktus nasolakrimalis
List of Skill
Tahapan Bedah Dasar (sudah kompeten melakukan bedah dasar)
Persiapan pra operasi: anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, IC
Observasi Operasi
Mengetahui Komplikasi
Tahapan bedah lanjutan
Persiapan pra operasi: anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, IC
Melakukan perencanaan selanjutnya
Tehnik Operasi Menjelang operasi
Penjelasan kepada penderita dan keluarga mengenai tindakan operasi yang akan dilakukan serta resiko komplikasi yang dapat terjadi. Setelah mendapatkan keterangan keluarga pasien diharapkan menanda tangani surat persetujuan operasi (informed Consent).
Memeriksa dan mempersiapkan alat dan kelengkapan operasi
Penderita puasa minimal 6 jam sebelum operasi
Pemberian antibiotik profilaksis sesuai standard penggunaan antibiotika yang berlaku.
Surgery for
Tahapan operasi.
External approach DCR
Pada operasi ini, sakus lakrimalis dan mukosa nasal dicapai melalui insisi kulit. Rinostomy dilakukan dengan mengambil tulang yang besar antara sakus dengan hidung. Anastomosis dibuat diantara sakus lakrimalis dan mukosa nasal melalui flap yang dijahit.
Tahapan operasi:
Insisi kulit
Membuka prosesus maksilaris dan fossa lakrimalis c.Rhinostomy anterior ethmoidectomy
d. Membuat flap mukosa e.Penutupan kulit
Apabila gagal dilakulan DCR pada suatu kasus, maka dilakukan pemasangan silikon melalui punctum atas dan bawah menembus mukosa hidung yang dibiarkan selama 3 bulan.
Endonasal approach DCR
Mukosa nasal dan sakus lakrimalis dicapai melalui hidung menggunakan endoskopi. Mukosa diinsisi. Rinistomi yang dibuat biasanya lebih kecil dari external DCR. Tidak dilakukan penjahitan pada flap.
Beberapa tipe endonasal endoscopic DCR:
Endosurgical DCR
Endolaser DCR
Endolaser assisted surgical DCR
Tahapan operasi:
Masukkan endoskopi ke dalam hidung, dilakukan anestesi lokal pada mukosa nasal
Insisi mukosa nasal
Membuang tulang lakrimalis
Insisi mukosa sakus lakrimalis
Dilakukan pemasangan selang silikon O'Donoghue
Perawatan pasca operasi
Pasca bedah pasien dapat dipulangkan setelah efek anestesi umum sudah hilang dan sadar penuh dan tidak ada perdarahan. Pasien diterapi dengan antibiotika oral dan analgesia
M. KEPUSTAKAAN MATERI BAKU
1. Bailey BJ, Johnson JT, Head & Neck Surgery - Otolaryngology, Fifth Edition, Volume one, Lippincott Williams & Wilkins, 2014, p : 622-637
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
MODUL VIII.6.1
TOPIK FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI : PENYEMBUHAN LUKA
WAKTU
Proses Pengembangkan Kompetensi | Alokasi Waktu : |
Sesi di dalam kelas Sesi Pratikum Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi | 11 X 60 menit (classroom session) 6 X 60 menit (coaching session) 42 X 60 menit (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi Presentasi
Slide 1 : Fisiologi Penyembuhan Luka
Slide 2 : Patofisiologi Penyembuhan Luka Kronis
Slide 3 : Diagnosis dan mengenal defek dan penyebab pada penyembuhan luka kronis
Slide 4 : Tata laksanan penyembuhan luka kronis
Kasus :
Pasien dengan defek fistula esofagokutas pasca laringektomi total dan diseksi leher radikal. Pada akhir pembelajaran diharapkan dapat melakukan penilaian terhadap defek luka yang terjadi dan dapat menentukan tata laksanan apa yang harus diberikan, edukasi anjuran perawatan serta pemberian makan dan minum pada pasien, rujukan ke multidisiplin lain untuk perbaikan gizi, persiapan operasi serta tehnik operasi yang akan di gunakan.
Sarana dan alat bantu latih :
Penuntun belajar (learning guide) terlampir
Tempat belajar (training setting): bangsal THT, Poliklinik THT, kamar operasi, instalasi rawat darurat, bangsal perawatan pasca bedah THT.
Model/menekin/cadaver
Laptop
LCD
REFERENSI
Jefferson GD. Dynamic Wound Healing. In: Johnson JT, Rosen CA, editors. Bailey's Head and Neck Surgery-Otolaryngology. Vol 1. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins, 2014:75-84.
Foster E, Frodel JL. Wound Healing. In: Papel ID, Fodel JL, Holt GH, Larrabee WF. Nachlas NE, Park SS, et al, editors. Facial Plastic and Reconstructive Surgery. 3rd edition. New York: Thieme, 15-25
KOMPETENSI
Kemampuan (4)
Mampu melakukan diagnosis serta klasifikasi penyembuhan luka kronis pada suatu defek luka berdasarkan pemeriksaan fisik dan melakukan perawatan luka
baik pada luka akut maupun luka kronis. Mampu menentukan tatalaksana selanjutnya, contoh : debridemant, pengambilan tandur kulit langsung ataupun jabir lokal secara mandiri.
Ketrampilan (4)
Peserta didik diharapkan terampil :
Mengetahui anatomi dan fisiologi kulit.
Mengetahui fase-fase penyembuhan luka
Mengenali tanda penyembuhan luka
Melakukan anamnesis, pemeriksaan dan diagnosis pennyembuhan luka kronis
Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi
Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi serta tata laksana lain yang akan digunakan
Merencanakan perawatan pasca operasi serta perencanaan tatalaksana selanjutnya
Merencanakan penatalaksanaan bila terjadi komplikasi operasi
GAMBARAN UMUM
Penyembuhan luka adalah perbaikan defek pada suatu organ atau jaringan terutama kulit. Penyembuhan luka juga dapat didefinisikan sebagai respons global organisme terhadap luka, yang merupakan proses alami tubuh terhadap trauma jaringan. Pada keadaan normal trombosit mengaktivasi tiga tahap penting dalam penyembuhan luka, yaitu inflamasi, proliferasi/fibroplasia dan maturasi/remodeling.
CONTOH KASUS
Pasien dengan defek fistula esofagokutas pasca laringektomi total dan diseksi leher radikal. Pada akhir pembelajaran diharapkan dapat melakukan penilaian terhadap defek luka yang terjadi dan dapat menentukan tata laksanan apa yang harus diberikan, edukasi anjuran perawatan serta pemberian makan dan minum pada pasien, rujukan ke multidisiplin lain untuk perbaikan gizi, persiapan operasi serta tehnik operasi yang akan di gunakan.
Pemeriksaan tambahan apa yang perlu dilakukan untuk mengetahui apa penyebab gangguan penyembuhan luka pada seseorang:
Rongten torak
Pemeriksaan darah tepi, termasuk gula darah, gungs ginjal dan fungsi hati.
Pemeriksaan USG doppler
Pemeriksaan kultur Jawab : B
Tindakan apa yang diperlukan pada dengan nekrotik
Nekrotomi
Perawatan luka
Jabir lokal
Penyuntikkan PRP Jawab : A
TUJUAN PEMBELAJARAN
Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan penatalaksanaan perawatan penyembuhan luka kronis seperti yang telah disebutkan di atas, yaitu:
Mengetahui anatomi dan fisiologi kulit.
Mengetahui fase-fase penyembuhan luka
Mengenali tanda penyembuhan luka
Melakukan anamnesis, pemeriksaan dan diagnosis pennyembuhan luka kronis
Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi
Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi serta tata laksana lain yang akan digunakan
Merencanakan perawatan pasca operasi serta perencanaan tatalaksana selanjutnya
Merencanakan penatalaksanaan bila terjadi komplikasi operasi
METODE PEMBELAJARAN
Interactive lecture
Journal reading and review.
Morbidity and Mortality Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).
Operative Procedure Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients.
Continuing Professional Development
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pre test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri atas :
Anatomi dan fisiologi kulit.
Penegakan diagnosa penyembuhan luka kronis
Penatalaksanaan penyembuhan luka
Komplikasi penyembuhan luka
Follow up
Selanjutnya dilakukan "small group discussion" bersama dengan fasilitator
untuk membahas kasus/jurnal reading/referat/portfolio.
Setelah selesai penatalaksanaan kasus, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
Self assesment dengan mempergunakan penuntun belajar.
Pendidik/ fasilitas :
pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form (terlampir)
penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi
kriteria penilaian keseluruhan : perlu perbaikan/ cukup/ baik
Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education)
Pencapaian pembelajaran :
Ujian skill (psikomotor), dilakukan selama stase di sub-bagian dengan observasi menggunakan daftar tilik
Ujian akhir stase, setiap divisi/ unit kerja oleh masing-masing sentra
Ujian akhir komprehensif dilakukan secara nasional (National Board) pada tahapan tertentu dengan ujian MCQ dan LISAN/OSCE oleh kolegium THT- KL.
J. INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF & PSIKOMOTOR
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF (3 Vignette, 2 MCQ)
Kuesioner Sebelum Pembelajaran
Penyebab paling banyak pada insiden Penyembuhan luka kronis adalah perawatan luka yang tidak adekuat
B S Jawab S
Faktor pertumbuhan bukan merupakan faktor penting dalam proses penyembuhan luka
B S Jawab S
Kuisioner Tengah Pembelajaran
Jelaskan mengapa faktor pertumbuhan berperan penting dlam proses penyembuhan luka?
Kuisioner akhir pembelajaran
Jelaskan fase-fase penyembuhan luka
Jelaskan bagaiman prinsip dan perawatn penyembuhan luka
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR
PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR PERAWATAN LUKA KRONIS
Lakukan penilaian kinerja pada setiap langkah atau tugas dengan menggunakan skala penilaian di bawah ini :
Perlu
Perbaikan
Cukup
Baik
Langkah atau tugas tidak dikerjakan secara benar atau dalam urutan yang salah.
Langkah atau tugas dikerjakan secara benar dalam urutan yang benar tetapi belum dikerjakan secara lancar.
Langkah atau tugas dikerjakan secara efisien dan dikerjakan dalam urutan yang benar.
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||||
| |||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR NEKROTOMI | |||||
Cuci tangan, memakai baju operasi dan memakai sarung tangan | |||||
Tindakan a & anti sepsi daerah operasi dengan povidon iodine | |||||
Memasang kain steril sebagai penutup pasien kecuali daerah operasi | |||||
Dilakukan penandaan dengan larutan biru etilen atau pena penanda titik titik pada area yang akan dilakukan harvesting tandur kulit Dilakukan infiltrasi dengan Adrenalin: Lidokain sebesar 1: 200.000 pada subkutis area yang akan di ambil. | |||||
III. PROSEDUR OPERASI | |||||
| |||||
IV. PASCA OPERASI | |||||
- Instruksi pasca operasi Pasca bedah pasien dapat dipulangkan setelah efek anestesi umum sudah hilang dan sadar penuh dan tidak ada perdarahan. Pasien diterapi dengan antibiotika oral dan analgesia Follow-up Pasien diharapkan kontrol untuk perawatan luka pada hari ke tiga dan angkat jahitan pada hari ke 7 | |||||
K. DAFTAR TILIK
Berikan tanda ✓ dalam kotak yang tersedia bila ketrampilan/tugas telah dikerjakan dengan memuaskan, dan berikan tanda x bila tidak dikerjakan dengan memuaskan serta T/D bila tidak dilakukan pengamatan.
Memuaskan Langkah atau tugas dikerjakan sesuai prosedur standar atau penuntun.
X Tidak Tidak mampu untuk mengerjakan langkah atau tugas sesuai
Memuaskan dengan prosedur standar atau penuntun.
T/D Tidak
Diamati
Langkah, tugas atau ketrampilan tidak dilakukan oleh peserta latih selama penilaian oleh pelatih.
Penilaian Kinerja Ketrampilan (ujian akhir)
DAFTAR TILIK | ||||||
NO | KEGIATAN / LANGKAH KLINIK | Kesempatan ke | ||||
1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
Persiapan | ||||||
1 | Kaji ulang diagnosis dan prosedur operatif | |||||
2 | Menyiapkan peralatan operatif | |||||
3 | Menyiapkan diri untuk tindakan operatif | |||||
4 | Menyiapkan posisi pasien | |||||
5 | Melakukan tindakan a & anti septik | |||||
PROSEDUR OPERASI | ||||||
6 | Anestesi : Infiltrasi area operasi dengan larutan epinefrin: NaCl 0,9% (1 : 200.000) disuntikkan di area lesi. | |||||
7 | Melakukan tindakan nekrotomi | |||||
8 | Melakukan penutupan luka dan perawatan luka | |||||
L. MATERI PRESENTASI
Tahapan mekanisme penyembuhan luka
Tahap hemostasis, inflamasi, proliferasi, dan maturasi.
Respons vaskular dan inflamasi.
Luka di sel endotel kaskade koagulasi teraktivasi, adhesi & agregasi trombosit plug dan bekuan.
Trombosit teraktivasi
Faktor kemotaktik & faktor proliferasi : PDGF, EGF, IGF 1, TGF/3 & bFGF, mengaktifkan sel epitel, sel endotel & sel fibroblas.
http://www.lhsc.on.ca/Health_Professionals/Wound_Care/intro/ phases.htmlz
Slide 1 : Fisiologi Penyembuhan Luka
Gangguan penyembuhan luka
defek jaringan
Penyembuhan luka kronis lebih sulit (kompleks)
Penyembuhan luka dressing biologi dan preparat faktor pertumbuhan
Slide 2 : Patofisiologi Penyembuhan Luka Kronis
LorenzlzHP.lzWoundlzhealing:lzrepairlzbiologilzandlzwoundlzandlzscarlztreatment;.2006.lz
Slide 3 : Diagnosis dan mengenal defek dan penyebab pada penyembuhan luka kronis
Perawatan Penyembuhan Luka
Slide 4: Tata laksanan penyembuhan luka kronis
M. MATERI BAKU
Penyembuhan luka adalah perbaikan defek pada suatu organ atau jaringan terutama kulit. Penyembuhan luka juga dapat didefinisikan sebagai respons global organisme terhadap luka, yang merupakan proses alami tubuh terhadap trauma jaringan. Pada keadaan normal trombosit mengaktivasi tiga tahap penting dalam penyembuhan luka, yaitu inflamasi, proliferasi/fibroplasia dan maturasi/remodeling. Komponen selular (trombosit, makrofag, neutrofil, limfosit, epitel dan fibroblas) terlibat pada ketiga fase itu, seperti yang digambarkan pada gambar 1.
Gambar 1. Skema fisiologi penyembuhan luka. Dinilai respons sel dan pembuluh darah serta estimasi waktu pada setiap fase penyembuhan luka.
Proses penyembuhan adalah proses yang berjalan sistematik dan secara klasik terbagi dalam 4 fase yaitu:
Fase Hemostasis
Setiap luka yang mengenai pembuluh darah akan mengakibatkan respons molekular dan selular untuk terjadinya hemostatis. Penyembuhan luka dimulai setelah tahap hemostasis selesai.
Gambar 2 Kaskade koagulasi. Faktor IX dapat diaktivasi oleh Faktor IXa atau Faktor VIIa. Di laboratorium umumnya aktivasi tergantung faktor IXa (jalur intrinsik). Faktor di kotak merah adalah molekul tidak aktif dan kotak hijau adalah molekul aktif. Kotak biru (trombin/faktor IIa) berkontribusi pada proses koagulasi. Aktivasi faktor X dan XI akan diinhibisi oleh faktor VIIa, phospolipid (PL) dan high molecular weight kininogen (HMWK).
Pada fase hemostasis terjadi vasokonstriksi, agregrasi trombosit, dan deposit fibrin yang akan menghasilkan kaskade koagulasi (Gambar 2). Akhir proses hemostasis tersebut adalah terbentuknya bekuan darah. Bekuan darah adalah bahan dasar sarang fibrin dan agregasi trombosit bersama bekuan darah. Formasi bekuan darah penting, karena akan menahan cairan dan elektrolit keluar dari area luka dan membatasi kontaminasi dari lingkungan luar.
Vasokonstriksi
Vasokontriksi dimulai dengan lepasnya vasoactive amine, yang terjadi ketika dermis ditembus. Epinefrin akan terlepas ke dalam sirkulasi perifer dalam area yang terstimulasi oleh sistem saraf simpatis, akibat penglepasan norepinefrin
lokal. Sel yang terluka akan menyekresikan prostaglandin, seperti tromboksan yang juga berperan pada vasokonstriksi.
Agregasi Trombosit
Agregasi trombosit distimulasi oleh pajanan faktor jaringan (tissue factor) yang disekresi oleh sel yang rusak. Trombosit akan menempel pada subendotel pembuluh darah dan juga saling menempel satu sama lain. Proses ini berada di bawah pengaruh fibrinogen dan faktor von Willebrand. Trombosit yang beragregasi dan saling menempel akan teraktivasi dan melepaskan granula alfa serta granula dense. Granula alfa mengandung beberapa imunomodulator dan protein yang berperan dalam penyembuhan luka, antara lain albumin, fibrinogen, fibronektin, IgG, faktor V, faktor VIII, dan beberapa faktor pertumbuhan (PDGF, TGF, FGF2, EGF dan faktor pertumbuhan sel endotel). Dalam hemostasis, PDGF, TGF, FGF2 adalah faktor pertumbuhan yang paling penting. Granula dense mengandung kalsium, serotonin, ADP, dan ATP.4
Fibrin dan Kaskade Koagulasi.
Secara in vivo kaskade koagulasi darah terbagi menjadi jalur ekstrinsik dan intrinsik, yang akhirnya akan bersama dalam mengaktivasi faktor X menjadi X aktif (Xa) (Gambar 2). Jalur ekstrinsik memerlukan pencetus eksogen berupa faktor jaringan, dan jalur intrinsik memerlukan pajanan faktor XII (faktor Hageman) pada permukaan trombogenik.
Fase Inflamasi
Karakteristik inflamasi adalah eritema, edema, panas, dan nyeri. Fase inflamasi dimulai sejak terjadinya luka sampai hari ke-4 sampai -6. Fase inflamasi sering disamakan dengan fase sekunder penyembuhan luka. Tanda eritema dan panas merupakan hasil vasodilatasi. Transisi dari vasokonstriksi menjadi vasodilatasi dimediasi oleh beberapa faktor berupa produk sel endotel dan sel mast seperti leukotrien, prostaglandin, kinin, dan histamin. Edema terjadi akibat kebocoran kapiler yang dimediasi oleh lepasnya histamin, kinin dan prostaglandin, trombin dan teraktivasinya sistem komplemen.
Fase Proliferasi/Fibroplasia
Fase ini dimulai pada hari ke-2 sampai dengan hari ke-42. Tanda klinis fase ini adalah hilangnya tanda-tanda inflamasi, luka menjadi lebih kecil, kontraksi area luka dan gatal. Jaringan selular di luka akan berubah dramatis pada minggu pertama luka. Hal itu ditandai dengan terbentuknya matriks fibrin-fibronektin yang ditempati populasi sel inflamasi, fibroblas dan sel endotel, yang akan mendominasi awal progresivitas penyembuhan luka. Sitokin akan berkontribusi pada proses fibroplasia, epitelisasi, dan angiogenesis.
Angiogenesis dimulai dari hari ke-2 luka. Keadaan luka yang akan memengaruhi angiogenesis adalah kadar laktat yang tinggi, keasaman pH darah, dan turunnya kadar oksigen. Besarnya derajat hipoksia pada jaringan granulasi dipengaruhi oleh gangguan pembuluh darah asal dan meningkatnya konsumsi oksigen di lingkungan luka. Proliferasi sel akan mengkonsumsi oksigen tiga sampai lima kali lebih cepat dibanding sel pada fase istirahat. Seperti halnya migrasi fibroblas, migrasi sel endotel selama angiogenesis akan melibatkan matriks fibrin-fibronektin.
Epitelisasi adalah proses yang terjadi dalam fase fibroplasia. Proses ini sebenarnya sudah dimulai pada fase inflamasi, yaitu terjadi proses diferensiasi, mitosis, migrasi dan re-diferensiasi sel basal epidermis dengan tujuan menutup luka mulai dari tepi luka sesuai dengan ketebalan luka. Sel epitel mempunyai kapasitas menyekresi MMP yang dapat mencerna dan menggumpalkan matriks ekstraselular. Ketika sel basal telah bergerak ke tepi luka lainnya dan menutupi seluruh luka, mereka akan mengalami hambatan re-diferensiasi dan mulai mengalami maturasi dengan meningkatkan ketebalan kulit yang ditandai dengan berpindahnya sel basal ke atas dan diferensiasi sel terus berlanjut sehingga terbentuk lapisan epidermis normal. Proses migrasi selular dan proliferasi berada di bawah kontrol sitokin seperti EGF, TGFa, PDGF, dan Keratinocyte Growth Factor (KGF). Pada luka yang mengalami kerusakan berat, awalnya sel akan bermigrasi melalui matriks fibrin-fibronektin. Ketika migrasi melewati matriks, akan terjadi
regenerasi sel epitel di membran basal. Terbentuknya membran basal dipengaruhi oleh sekresi kolagen tipe 1 dan 5.
Kontraksi luka saat proses penyembuhan akan bermula dari satu tepi ke tepi lainnya, dan berkontraksi dari semua ujung yang dimediasi oleh miofibroblas, dan dapat memproduksi kolagen namun juga memiliki filamen otot yang halus. Kontraksi luka terjadi karena miofibroblas berkontraksi dan adanya deposit kolagen, yang membuat luka menjadi pendek. Kontraksi itu biasanya terjadi pada hari ke-10 sampai ke-21.
Secara garis besar langkah-langkah yang terjadi pada fase ini adalah epitelisasi, angiogenesis, jaringan granulasi dan deposit kolagen. Epitelisasi terjadi lebih dahulu dilanjutkan dengan angiogenesis yang distimulasi oleh TNFa. Setelah itu dilanjutkan dengan terbentuknya jaringan granulasi pada hari ke-3 atau ke-5. Jaringan granulasi mengandung pembuluh darah baru. Fibroblas sangat menonjol perannya. Fibroblas mengalami proliferasi dan menyintesis kolagen; terjadi granulasi, kontraksi luka dan epitelisasi. Fase tersebut diakhiri oleh kontraksi luka yang berjalan sentripetal. Kontraksi dijembatani oleh miofibroblas.
Fase Maturasi
Fase maturasi disebut juga sebagai fase remodeling, adalah fase akhir penyembuhan luka yang dimulai pada hari ke-21 dan dapat berlanjut selama 1-2 tahun setelah luka. Kolagen yang ditimbun dalam luka komposisinysa berubah dari kolagen tipe 3 akan digantikan dengan kolagen tipe 1, yang akan membuat ikatan antara serat menjadi lebih stabil sehingga membuat penyembuhan luka lebih kuat dan lebih mirip jaringan. Kolagen baru menyatu, menekan pembuluh darah dalam penyembuhan luka, sehingga bekas luka menjadi rata tipis dan terbentuk garis putih. Durasi fase tersebut dipengaruhi oleh faktor usia, ras, tipe luka, lokasi dan lamanya fase inflamasi.
Walaupun tidak sekompleks tahapan lainnya dalam penyembuhan luka, tahap maturasi penting untuk membentuk formasi kekuatan jaringan luka. Kekuatan jaringan luka setelah satu minggu akan mencapai 3 % dari kekuatan kulit normal. Setelah tiga minggu, fase maturasi akan dimulai dan
kekuatan luka mencapai 20 % dari kulit normal, dan pada tiga bulan akan mencapai 80 % dari kekuatan kulit normal. Proses maturasi akan berlanjut sampai satu tahun.
Perawatan Penyembuhan Luka
Salah satu prinsip dasar yang terkait dengan penyembuhan luka, adalah optimalisasi perawatan luka (Gambar 3).
Gambar 3. Prinsip perawatan luka
Irigasi
Irigasi luka dilakukan dengan menggunakan larutan garam fisiologis. Jika terdapat eksudat pada permukaan luka, irigasi harus dilakukan. Permukaan luka ditutup dengan kain kasa lembab yang lembut, dan harus dijaga agar tidak mengganggu jaringan granulasi (Gambar 3).
Menjaga kelembaban bed luka
Pada prinsipnya, luka harus dijaga kelembabannya sehingga terjadi penyembuhan luka yang baik. Penyembuhan luka akan baik pada keadaan lembab karena kondisi lembab memberikan banyak keuntungan, diantaranya menurunnya angka dehidrasi dan kematian sel, meningkatnya angiogenesis, enhanced autolytic debridement, meningkatnya reepitelisasi, dan sebagai penghalang bakteri serta menurunkan angka infeksi dan nyeri.
Perawatan luka kronik didahului debridement jaringan nekrotik dan kelembaban harus dijaga dengan memakai klorida gel natrium isotonik. Perawatan luka optimal membutuhkan dressing basah yang mendukung debridement autolitik, dan menyerap eksudat, serta melindungi kulit normal di sekitarnya.
Untuk luka kering, dapat dipakai dressing hidrokoloid, seperti DuoDerm atau intrasite hidrokoloid, yang kedap oksigen, kelembaban, dan bakteri. Bahan tersebut mempertahankan lingkungan yang lembab, dan mendukung debridement autolitik. Untuk luka eksudatif, dressing serap, seperti alginat kalsium (misalnya Kaltostat
dan Curasorb), dan dressing hydrofiber, misalnya Aquacel dan Aquacel-AG dapat dipakai.
Gambar 4. Kelembaban luka penting untuk penyembuhan luka
N. KEPUSTAKAAN MATERI BAKU
Oaletta CE, Pokorny JJ, Rumbolo P. Skin graft. In: Mathes SJ, Hentz VR, editors. Plastic surgery. Vol 1. Philadelphia: Saunders Elsevier; 2006:293-316.
Monaco JL, Lawrence WT. Acute wound healing. An overview. Clin Plastic Surg. 2003;30:1-12.
Hom DB. New developments in wound healing relevant to facial plastic surgery. Arch Facial Plast Surg. 2008;10:402-6.
Dunn SL. The wound healing process. In: McCulloch JM, Kloth LC, editors. Wound healing evidance based management. Philadelphia: FA Davis Company; 2010.p.9-34.
Sussman C, Bates-Jensen BM. Skin and soft tissue anatomy and wound healing physiology. In: Sussman C, Bates-Jensen BM,editors. Wound care- a collaborative practical manual for health profesionals. Baltimore: Lippincott Williams and Wilkins:2012:17-52
Crane D. Platelet rich plasma (PRP) matrix grafts. Practical pain management. January/February 2008.p.1-10
Lorenz HP, Longaker MT. Wound healing: repair biologi and wound and scar treatment. In: Mathes SJ, Hentz VR, editors. Philadelphia: Saunders Elsevier; 2006.p.209-34.
Hemostasis and thrombosis.[database on the Internet]2012 [cited 9 April 2012]. Available from:http://akramania.byethost11.com/Robbins/41.html@printing=true.htm.
Femke HF, Veerle MV, Beijnum JRv, Griffioen AW. Endothelial cell biology. In: Staton CA, Lewis C, Bicknell R, editors. Angiogenesis assays a critical appraisal of current techniques. West Sussex: John Wiley & Sons Ltd,; 2006.p11-4.
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
WAKTU 1
PERSIAPAN SESI 1
REFERENSI 1
KOMPETENSI 2
GAMBARAN UMUM 2
CONTOH KASUS 2
TUJUAN PEMBELAJARAN 3
METODE PEMBELAJARAN 3
EVALUASI 3
INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF & PSIKOMOTOR 4
DAFTAR TILIK 6
MATERI PRESENTASI 7
MATERI BAKU 11
KEPUSTAKAAN MATERI BAKU 14
MODUL VIII.6.2
TOPIK FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI – PENYEMBUHAN LUKA : TANDUR DAN IMPLAN PADA BEDAH KEPALA LEHER
WAKTU
Proses Pengembangkan Kompetensi | Alokasi Waktu : |
Sesi di dalam kelas Sesi Pratikum Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi | 11 X 60 menit (classroom session) 6 X 60 menit (coaching session) 42 X 60 menit (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi Presentasi
Slide 1 : Anatomi kulit Slide 2 : Jenis tandur kulit
Slide 3 : Fisiologi tandur kulit Slide 4 : Nomenklatur.
Slide 5. Jenis tissue transplant dan biomaterial
Slide 6 : Komplikasi penggunaan tissue transplant dan biomaterial.
Kasus:
Pasien dengan defek pada seluruh area tip dan ala nasi. Untuk menutup defek pasien digunakan jabir forehead. Karena besarnya jabir yang diperlukan area bekas asal jabir menjadi defek luka terbuka tanpa kulit yang menutupinya. Pada akhir pembelajaran diharapkan dapat melakukan penilaian terhadap defek luka terbuka yang terjadi dan dapat menentukan tata laksanan apa yang harus diberikan, edukasi anjuran perawatan serta pemberian makan dan minum pada pasien, rujukan ke multidisiplin lain untuk perbaikan gizi, persiapan operasi serta tehnik operasi yang akan di gunakan.
Sarana dan alat bantu latih :
Penuntun belajar (learning guide) terlampir
Tempat belajar (training setting): bangsal THT, Poliklinik THT, kamar operasi, instalasi rawat darurat, bangsal perawatan pasca bedah THT.
Model/menekin/kadaver
Laptop
LCD
REFERENSI
Holt GR, Stallworth CL. Graft and Implant in Facial, Head and Neck Surgery. In: Johnson JT, Rosen CA, editors. Bailey’s Head and Neck Surgery- Otolaryngology. Vol 1. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins, 2014:2784-96.
Oaletta CE, Pokorny JJ, Rumbolo P. Skin graft. In: Mathes SJ, Hentz VR, editors. Plastic surgery. Vol 1. Philadelphia: Saunders Elsevier; 2006:293-316.
Triana RJ, Murakami CS, Larrabee WF. Skin Graft and Local Flap.. In: Ira DP, Frodel J, Holt GR, Larrabee WF, Nathan N, Park SS, et al. editors. Facial Plastic And Reconstructive Surgery. 3rd ed New York: Thieme; 2008.p. 41-58.
Boahene KDO. Synthetic Implants. In: Ira DP, Frodel J, Holt GR, Larrabee WF, Nathan N, Park SS, et al. editors. Facial Plastic And Reconstructive Surgery. 3rd ed New York: Thieme; 2008.p. 67-76
Stucker FJ, Lian TS. Biological Tissue Implants. In: Ira DP, Frodel J, Holt GR, Larrabee WF, Nathan N, Park SS, et al. editors. Facial Plastic And Reconstructive Surgery. 3rd ed New York: Thieme; 2008.p. 77-84
KOMPETENSI
Kemampuan (4)
Mampu melakukan diagnosis defek luka yang terjadi berdasarkan pemeriksaan fisik. Mampu menentukan tatalaksana selanjutnya, contoh : pengambilan tandur kulit langsung ataupun jabir lokal secara mandiri.
Ketrampilan (4)
Peserta didik diharapkan terampil :
Mengetahui anatomi kulit.
Mengetahui klasifikasi tandur kulit
Mengenali fisiologis tandur kulit.
Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi
Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi serta tata laksana lain yang akan digunakan
Merencanakan perawatan pasca operasi serta perencanaan tatalaksana selanjutnya
Merencanakan penatalaksanaan bila terjadi komplikasi operasi
GAMBARAN UMUM
Tandur kulit merupakan salah satu pilihan untuk menutup luka terbuka yang tidak dapat ditutup primer dengan jabir kulit lokal, contohnya pada defek pasca-reseksi tumor atau radiasi dan defisiensi kulit pada rekonstruksi kelainan kongenital. Implantasi tandur kulit merupakan metode sederhana untuk menutup luka luas dengan vaskularisasi baik serta dapat mengurangi ketegangan jaringan kulit dan kontraktur.
CONTOH KASUS
Pasien dengan defek pada seluruh area tip dan ala nasi. Untuk menutup defek pasien digunakan jabir forehead. Karena besarnya jabir yang diperlukan area bekas asal jabir menjadi defek luka terbuka tanpa kulit yang menutupinya. Pada akhir pembelajaran diharapkan dapat melakukan penilaian terhadap defek luka terbuka yang terjadi dan dapat menentukan tata laksanan apa yang harus diberikan, edukasi anjuran perawatan serta pemberian makan dan minum pada pasien, rujukan ke multidisiplin lain untuk perbaikan gizi, persiapan operasi serta tehnik operasi yang akan di gunakan.
Pilihan apa yang dapat digunakan untuk menutup defek pada tempat asal jabir forehead:
Jabir lokal.
Ditutup saja dengan kasa, dan dibiarkan luka terbuka
Tandur kulit
Jabir bebas (Free Flap) Jawab : C
Berapa lama perkiraan kasa yang digunakan untuk menekan tandur ke dasar bed digunakan:
1 hari
3 hari
14 hari
7 hari
Jawab : D
TUJUAN PEMBELAJARAN
Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan penatalaksanaan perawatan penyembuhan luka kronis seperti yang telah disebutkan di atas, yaitu:
Mengetahui anatomi kulit.
Mengetahui klasifikasi tandur kulit
Mengenali fisiologi tandur kulit
Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi
Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi serta tata laksana lain yang akan digunakan
Merencanakan perawatan pasca operasi serta perencanaan tatalaksana selanjutnya
Merencanakan penatalaksanaan bila terjadi komplikasi operasi
METODE PEMBELAJARAN
Interactive lecture
Journal reading and review.
Morbidity and Mortality Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).
Operative Procedure Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients.
Continuing Professional Development
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pre test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri atas :
Mengetahui anatomi kulit.
Mengetahui klasifikasi tandur kulit
Mengenali fisiologi tandur kulit
Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi
Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi serta tata laksana lain yang akan digunakan
Merencanakan perawatan pasca operasi serta perencanaan tatalaksana selanjutnya
Merencanakan penatalaksanaan bila terjadi komplikasi operasi
Selanjutnya dilakukan “small group discussion” bersama dengan fasilitator untuk membahas kasus/jurnal reading/referat/portfolio.
Setelah selesai penatalaksanaan kasus, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
Self assesment dengan mempergunakan penuntun belajar.
Pendidik/ fasilitas :
pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form (terlampir)
penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi
kriteria penilaian keseluruhan : perlu perbaikan/ cukup/ baik
Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education)
Pencapaian pembelajaran :
Ujian skill (psikomotor), dilakukan selama stase di sub-bagian dengan observasi menggunakan daftar tilik
Ujian akhir stase, setiap divisi/ unit kerja oleh masing-masing sentra
Ujian akhir komprehensif dilakukan secara nasional (National Board) pada tahapan tertentu dengan ujian MCQ dan LISAN/OSCE oleh kolegium THT- KL.
J. INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF & PSIKOMOTOR
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF (3 Vignette, 2 MCQ)
Kuesioner Sebelum Pembelajaran
Persyaratan tandur kulit tumbuh baik adalah tidak menggunakan fikasi ke dasar bed saat tandur diimpalntasikan.
B S Jawab: S
Implan yang paling kecil menimbulkan komplikasi adalah xerologus B S Jawab: S
Kuisioner Tengah Pembelajaran
Jelaskan komplikasi dari penggunaan biomaterial dan autologous tissur transplant
Kuisioner akhir pembelajaran
Jelaskan fase-fase penyembuhan luka
Jelaskan bagaiman prinsip dan perawatn penyembuhan luka
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR
Lakukan penilaian kinerja pada setiap langkah atau tugas dengan menggunakan skala penilaian di bawah ini :
1. Perlu Langkah atau tugas tidak dikerjakan secara benar atau dalam
Perbaikan urutan yang salah.
2. Cukup
Langkah atau tugas dikerjakan secara benar dalam urutan yang benar tetapi belum dikerjakan secara lancar.
3. Baik
Langkah atau tugas dikerjakan secara efisien dan dikerjakan dalam urutan yang benar.
PENUNTUN BELAJAR PANEN TANDUR KULIT
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||||
| |||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR PANEN TANDUR KULIT | |||||
- Cuci tangan, memakai baju operasi dan memakai sarung tangan | |||||
- Tindakan a & anti sepsi daerah operasi dengan povidon iodine | |||||
- Memasang kain steril sebagai penutup pasien kecuali daerah operasi | |||||
- Dilakukan penandaan dengan larutan biru etilen atau pena penanda titik titik pada area yang akan dilakukan harvesting tandur kulit Dilakukan infiltrasi dengan Adrenalin : Lidokain sebesar 1: 200.000 pada subkutis area yang akan di ambil. | |||||
III. PROSEDUR OPERASI | |||||
diinginkan. Dilanjutkan dengan pengambilan STSG | |||||
IV. PASCA OPERASI | |||||
Instruksi pasca operasi | |||||
Pasca bedah pasien dapat dipulangkan setelah efek anestesi umum sudah hilang dan sadar penuh dan tidak ada perdarahan. Pasien diterapi dengan antibiotika oral dan analgesia Follow-up Pasien diharapkan kontrol untuk perawatan luka pada hari ke tiga dan angkat jahitan pada hari ke 7 |
K. DAFTAR TILIK
Berikan tanda √ dalam kotak yang tersedia bila ketrampilan/tugas telah dikerjakan dengan memuaskan, dan berikan tanda x bila tidak dikerjakan dengan memuaskan serta T/D bila tidak dilakukan pengamatan.
Memuaskan Langkah atau tugas dikerjakan sesuai prosedur standar atau penuntun.
X Tidak Tidak mampu untuk mengerjakan langkah atau tugas
Memuaskan sesuai dengan prosedur standar atau penuntun.
T/D Tidak
Diamati
Langkah, tugas atau ketrampilan tidak dilakukan oleh peserta latih selama penilaian oleh pelatih.
Penilaian Kinerja Ketrampilan (ujian akhir)
DAFTAR TILIK | ||||||
NO | KEGIATAN / LANGKAH KLINIK | KESEMPATAN KE | ||||
1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
Persiapan | ||||||
1 | Kaji ulang diagnosis dan prosedur operatif | |||||
2 | Menyiapkan peralatan operatif | |||||
3 | Menyiapkan diri untuk tindakan operatif | |||||
4 | Menyiapkan posisi pasien | |||||
5 | Melakukan tindakan a & anti septik | |||||
PROSEDUR OPERASI | ||||||
1 | Anestesi : Infiltrasi area operasi dengan larutan epinefrin: NaCl 0,9% (1 : 200.000) disuntikkan di area lesi. | |||||
2 | Melakukan tindakan nekrotomi | |||||
3 | Melakukan penutupan luka dan perawatan luka | |||||
L. MATERI PRESENTASI
Slide 1 : Anatomi kulit
Tandur kulit
Menutup kasus luka terbuka
Bed vaskularisasi baik
Mengurangi tegangnya jaringan kulit & kontraktur.
Klasifikasi • split thickness skin gra/
(STSG)
full thickness skin gra/ (FTSG).
24 Jam
lapisan fibrin terbentuk di bawah tandur
vaskularisasi tandur
www.wisconsinfootandankleinstitute.com
Slide 2 : Jenis tandur kulit
Slide 3 : Fisiologi tandur kulit
Nomenclature
Graft: tissue separated from its donor bed and relies on ingrowth of new vessels from the recipient tissues
Vascularized graft (or flap): remains attached to donor blood supply or becomes revascularized via microvascular anastomoses to recipient vessels
Autograft : tissue transplanted from one location to another within the same individual.
İzograft : tissue transplanted from a genetically identical donor to the recipient (syngeneic mice or human monozygotic twins)
Allogreft (homograft) : tissue transplanted between unrelated individuals of the same species
Xenogreft (hetereograft) : tissue transplanted between different species
Slide 4 : Nomenklatur.
Tissue Transplantation
Autologous
Skin
Dermis, fat, fascia
Cartilage
Bone
Muscle
Nerve
Allogeneic Xenogeneic Alloplastic materials
Metallic
Seramic
Polimeric
Biomaterials
Metals: used in plating systems for craniomaxillofacial internal fixation (Stainless steel, cobalt-chromium, pure titanium, titanium alloys,and gold )
Calcium ceramics: used as bone graft substitutes (Hydroxyapatite, Tricalcium phosphate, hydroxyapatite cement)
Polymers: used in both bone and soft tissue reconstruction and augmentation (silicone, polyurethane, polyesters, nylon, polyethylene, polypropylene, cyanoacrylates)
Biologic materials: used in the treatment of depressed scars and facial wrinkles (collagen, fibrel, hyaluronic acid)
Slide 5. Jenis tissue transplant dan biomaterial
Donor area morbidity Limited supply
More complex and longer operation
Resorption and deformation
Disadvantages of autologous tissue transplantation
Disadvantages of Biomaterials
Rejection Infection
Implant malposition or extrusion Implant defects (broken, punctured)
Fibrosis around the implant because of foreign body response
Slide 6 : Komplikasi penggunaan tissue transplant dan biomaterial.
M. MATERI BAKU
Tandur kulit merupakan salah satu pilihan untuk menutup luka terbuka yang tidak dapat ditutup primer dengan jabir kulit lokal, contohnya pada defek pasca-reseksi tumor atau radiasi dan defisiensi kulit pada rekonstruksi kelainan kongenital. Implantasi tandur kulit merupakan metode sederhana untuk menutup luka luas dengan vaskularisasi baik serta dapat mengurangi ketegangan jaringan kulit dan kontraktur. Metode ini sering digunakan pada operasi rekonstruksi THT-KL. Terdapat dua klasifikasi tandur kulit berdasarkan ketebalannya, yaitu split thickness skin graft (STSG) dan full thickness skin graft (FTSG). Pada umumnya FTSG digunakan di area wajah dan telinga untuk mendapatkan ketebalan yang sesuai dengan defek luka, karena mempunyai tekstur dan warna kulit lebih sesuai bila dibandingkan STSG. Pada 24 jam pertama ketika tandur kulit menempel dengan dasar tandur (recipient bed), lapisan fibrin akan terbentuk di bawah tandur agar melekat di bed sehingga proses vaskularisasi tandur akan berjalan baik.
Tipe tandur kulit
Tandur kulit mengandung epidermis dan dermis yang dipindahkan dari sisi donor, dan pendarahannya bergantung resipien. Tandur kulit dapat dikategori menjadi split thickness skin graft (STSG) dan full thickness skin graf (FTSG).
Split Thickness Skin Graft
Pengambilan STSG umumnya menggunakan dermatom. STSG meliputi epidermis dan dermis segmen superfisial (dermis papilar). STSG tipis mempunyai ketebalan 0,008 -0.010 inci, STSG tebal 0,016-0,018 inci. Walau sangat diandalkan, STSG mempunyai keterbatasan karena sifatnya yang mudah mengkerut. Semakin tipis STSG semakin mudah pengkerutannya namun memiliki proses revaskularisasi yang lebih baik. STSG pada rekonstruksi wajah telah banyak dilakukan untuk menutup defek yang besar pada kulit kepala dan untuk defek luas akibat pengangkatan tumor , saat penutupan luka operasi sangat diperlukan.
Full Thickness Skin Graft
Pada FTSG, seluruh ketebalan epidermis dan dermis diperoleh dari donor untuk ditransplan. Ketebalan yang digunakan adalah seluruh dermis dengan sangat sedikit lemak subkutaneus. Jaringan subkutan tandur mungkin perlu dilakukan penipisan untuk mendapatkan ketebalan yang diinginkan. FTSG tidak mengalami kontraksi dan tidak terdapat perubahan warna ataupun tekstur. Tandur tersebut lebih tebal dari STSG dan akan mengalami revaskularisasi yang lebih lambat dengan angka kegagalan lebih besar. Suplai pembuluh darah yang adekuat dari bed sangat diperlukan pada penggunaan tandur ini. FTSG lebih tahan terhadap tekanan dibandingan STSG.
Vaskularisasi tandur kulit
Baik STSG ataupun FTSG adalah jaringan transplan yang diambil dari donor untuk resipien dan dibutuhkan pendarahan baru. Revaskularisasi dari tandur kulit akan melewati fase imbibisi, revaskularisai dan organisasi.
Fase imbibisi serum
Tahap awal pada fase serum imbibisi atau sirkulasi plasma berlangsung selama 48 jam. Nutrisi tandur bergantung kepada eksudat plasma dari kapiler yang berdilatasi pada resipien. Fibrinogen akan memasuki tandur ini. Eritrosit berpenetrasi pada bekuan fibrin dan terjebak di dalamnya. Eritrosit yang terjebak akan berada dalam serum di bawah tandur dan merupakan asal dari edema pada tandur. Ketika vaskularisasi terjadi, aliran darah baru akan memasuki tandur dan cairan yang menyerupai plasma akan keluar dari tandur.
Fase Revaskularisasi
Proses vaskularisasi akan berjalan ke dalam struktur fibrin dalam 48 jam pertama. Revaskularisasi akan tumbuh melalui jalur langsung dari pembuluh darah bed di lokasi tandur dan formasi anastomosis antara tandur dan pembuluh darah bed (inokulasi). Supaya tandur tetap hidup dibutuhkan pertumbuhan pembuluh darah dari bed yang memasuki dermis tandur. Sirkulasi limfatik antara tandur dan bed akan berfungsi pada hari ke-4 dan ke-5 pasca-operasi.
Fase maturasi
Fase ini akan dimulai dalam 5 jam pertama pasca transplantasi. Bekuan fibrin akan terbentuk di antara tandur dan bed, yang akan menjadi bahan adhesi tandur terhadap bed. Leukosit akan mulai menginfiltrasi ke lapisan terdalam tandur dan ketika proses revaskularisasi leukosit tersebut digantikan oleh fibrolas. Pada hari ke-7 dan ke-8 pasca-operasi, infiltrasi fibroblas ke dalam bekuan fibrin akan berlanjut dengan terbentuknya matriks kolagen. Pada hari ke-9 tandur akan terikat kuat dengan pembuluh darah baru dan integrasi fibroblas. Dalam waktu 2 bulan, struktur neural akan mengalami regenerasi dan masuk ke dalam tandur melalui sisi dasar dan pinggir tandur, mengikuti selubung sel neurilemma. Tandur kulit umumnya jarang mencapai inervasi sensori normal setelah penyembuhan luka selesai.
Keberhasilan tandur kulit
Tandur kulit adalah transplantasi kulit esensial. Tandur kulit tersebut tidak mempunyai pendarahan, sistem drainase, dan inervasi sensori. Tandur diletakkan di- bed dan akan memperoleh perdarahan dan sensasi. Segera setelah diambil, ketahanan tandur akan sangat bergantung pada eksudat serous resipien yang prosesnya dikenal dengan nama serum imbibisi. Penjelasan bagaimana tandur kulit dapat berhasil masih belum dapat diterangkan dengan jelas.2
Setiap proses yang dapat menghambat proses imbibisi serum atau revaskularisasi akan menyebabkan kegagalan tandur itu hidup. Tandur kulit sangat bergantung kepada bed yang sehat dan vaskularisasi bed. Penyebab terbanyak kegagalan tumbuhnya tandur kulit adalah bed yang tidak adekuat. Tendon, tulang dan kartilago yang terpajan tidak dapat mendukung kehidupan tandur kulit, sehinga dapat dipertimbangkan sebagai kontra-indikasi aplikasi tandur kulit. Lemak, peritoneum, periosteum, dan perikondrium mempunyai vaskularisasi yang buruk, namun masih dapat mendukung STSG. Terapi konservatif dengan penggantian perban dapat membantu perkembangan granulasi, membuat vaskularisasi bed yang akan memperbaiki perubahan tandur kulit.
Penyebab kegagalan tandur kulit adalah tandur kulit diletakkan pada bed yang avaskular, infeksi, hematoma, seroma, malnutrisi, dan kondisi umum yang tidak
bagus. Setiap penghalang tandur dengan bed dapat menghambat vaskularisasi tandur. Penghalang tersering adalah darah, serum dan material purulen. Hematoma, seroma dan infeksi dapat menyebabkan kegagalan tandur kulit parsial atau komplet. Salah satu penyebab tersering kegagalan tandur adalah gaya geser pada tandur. Pembuluh darah kapiler yang kecil yang menginvasi ke tandur sangat rentan dan mudah rusak oleh tekanan minimum. Dengan mengganti perban atau gerakan periode awal pasca- operasi dapat terjadi devaskularisasi tandur.
Infeksi dapat merusak tandur. Selain itu infeksi sistemik juga dapat mengakibatkan proses penyembuhan luka yang buruk dan menimbulkan kegagalan pada tandur. Gangguan sistemik dan kondisi lokal dapat menyebabkan tandur tidak tumbuh. Malnutrisi, vaskulitis, penyakit malignansi, steroid dan kemoterapi dapat merusak proses penyembuhan luka dan tandur. Tekanan dan radiasi juga dapat merusak bed dan mengakibatkan kegagalan tumbuhnya tandur total atau parsial. Dewasa ini kesalahan teknik pada aplikasi tandur sudah sangat jarang ditemukan. Tandur yang dipasang terbalik atau diproses dengan kasar dapat menyebabkan kegagalan total atau parsial.2
Metode analisis Penyembuhan Luka Tandur Kulit
Pengukuran dimensi luka merupakan komponen penting dalam penatalaksanaan luka. Pemantauan perubahan area luka dapat membantu menilai efektivitas terapi dan deteksi dini keadaan statis atau perburukan luka. Perhitungan area permukaan luka merupakan indikator yang valid dan akurat untuk menilai progresivitas penyembuhan luka.
Analisis penyembuhan luka secara umum dibagi dalam beberapa fase dengan parameter karakteristik sebagai berikut:
Hari ke-1 sampai dengan hari ke-3 pasca luka
Pada fase ini akan terbentuk bekuan darah, aktivasi tepi epidermal dan respons awal inflamasi yang ditandai dengan banyaknya sel neutrofil di area luka.
Hari ke-4 sampai dengan hari ke-7 pasca luka
Fase ini ditandai dengan pembentukan keropeng. Analisis histologi akan menunjukkan migrasi sel-sel dari tepi luka, proliferasi selektif jaringan granulasi awal dan respons inflamasi berupa banyaknya sel limfosit dan makrofag.
Hari ke-8 sampai dengan ke-12 pasca luka
Secara morfologi, pembentukan keropeng dapat diamati. Analisis histologi akan menunjukkan formasi epidermis baru yang akan mengalami diferensiasi pada hari ke-12. Terjadi permulaan penutupan dermal, bersamaan dengan terbentuknya jaringan granulasi. Pada fase ini respons inflamasi akan menyelesaikan prosesnya.
Hari ke-12 sampai dengan hari ke-30 pasca luka
Karakteristik dengan terbentuknya matrix remodelling, diferensiasi terminal bentuk baru epidermis, meningkatnya kandungan serat elastik dan meningkatnya kekuatan luka.
Berdasarkan keterangan di atas maka dapat dibuat tabel parameter penilai penyembuhan luka secara histologi.
N. KEPUSTAKAAN MATERI BAKU
Oaletta CE, Pokorny JJ, Rumbolo P. Skin graft. In: Mathes SJ, Hentz VR, editors. Plastic surgery. Vol 1. Philadelphia: Saunders Elsevier; 2006:293-316.
Triana RJ, Murakami CS, Larrabee WF. Skin Graft and Local Flap. 3rd ed. In: Ira DP, Frodel J, Holt GR, Larrabee WF, Nathan N, Park SS, et al. editors. Facial Plastic And Reconstructive Surgery. New York: Thieme; 2008.p. 41-58.
Wang YB, Ogawa Y, Kakudo N, Kusumoto K. Survival and wound contraction of full-thickness skin grafts are associated with the degree of tissue edema of the graft bed in immediate excision and early wound excision and grafting in a rabbit model. J Burn Care Res.2007;28(1):182-6.
Kamran A, Javad FM, Sahram F, Jaber MS. A comparison of survival and secondary contraction in expended versus conventional full thickness skin graft. ePlasty. 2012;12. Available from:http://www.medscape.com.
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
MODUL VIII.6.3
TOPIK FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI - PENYEMBUHAN LUKA :
REGIONAL FLAP
WAKTU
Proses Pengembangkan Kompetensi | Alokasi Waktu : |
Sesi di dalam kelas Sesi Pratikum Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi | 10 X 60 menit (classroom session) 16 X 60 menit (coaching session) 43 X 60 menit (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi Presentasi
Slide 1 : Fisiologi Penyembuhan Luka dan Jabir Regional Slide 2 : Patofisiologi Penyembuhan Luka dan Jabir Regional
Slide 3 : Diagnosis dan mengenal defek dan penyebab pada Defek luka Slide 4 : Tata laksanan Jabir Regional
Kasus :
Pasien dengan defek fistula esofagokutas pasca laringektomi total dan diseksi leher radikal. Pada akhir pembelajaran diharapkan dapat melakukan penilaian terhadap defek luka yang terjadi dan dapat menentukan tata laksanan apa yang harus diberikan, edukasi anjuran perawatan serta pemberian makan dan minum pada pasien, rujukan ke multidisiplin lain untuk perbaikan gizi, persiapan operasi serta tehnik operasi yang akan di gunakan.
Sarana dan alat bantu latih :
Penuntun belajar (learning guide) terlampir
Tempat belajar (training setting): bangsal THT, Poliklinik THT, kamar operasi, instalasi rawat darurat, bangsal perawatan pasca bedah THT.
Model/menekin/kadaver
Laptop
LCD
REFERENSI
Bailey BJ, Johnson JT, Head & Neck Surgery - Otolaryngology, 5th Edition, Volume two, Lippincott Williams & Wilkins, 2014, p : 3074 -3102
Papel ID. Local and Regional Cutaneous Flaps. In: Facial Plastic and Reconstructive Surgery, 2nd edition, Thieme, 2002, p: 528 - 548
KOMPETENSI
Kemampuan
Mampu melakukan diagnosis defek dan tatalaksana penutupan defek berdasarkan pemeriksaan fisik dan melakukan perawatan luka baik pada luka
bergaung. Mampu menentukan tatalaksana selanjutnya, pengambilan jabir regional dengan supervisi.
Keterampilan
Peserta didik diharapkan terampil :
Mengetahui anatomi dan fisiologi kulit dan subkutis.
Mengetahui fase-fase penyembuhan luka
Mengenali tanda penyembuhan luka jabir
Melakukan anamnesis, pemeriksaan dan diagnosis pennyembuhan luka jabir
Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi
Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi serta tata laksana lain yang akan digunakan
Merencanakan perawatan pasca operasi serta perencanaan tatalaksana selanjutnya
Merencanakan penatalaksanaan bila terjadi komplikasi operasi
GAMBARAN UMUM
Jabir Regional adalah penutupan defek jaringan luas pada suatu organ atau jaringan terutama kulit dan subkutis dengan teknik utama untuk rekonstruksi defek luas pada kepala dan leher. Beberapa teknik jabir regional dalam hal ini adalah deltopektoral dan pectoralis mayor.
CONTOH KASUS
Pasien dengan defek fistula esofagokutas pasca laringektomi total dan diseksi leher radikal. Pada akhir pembelajaran diharapkan dapat melakukan penilaian terhadap defek luka yang terjadi dan dapat menentukan tata laksanan apa yang harus diberikan, edukasi anjuran perawatan serta pemberian makan dan minum pada pasien, rujukan ke multidisiplin lain untuk perbaikan gizi, persiapan operasi serta tehnik operasi yang akan di gunakan.
TUJUAN PEMBELAJARAN
Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan penatalaksanaan perawatan penyembuhan luka kronis seperti yang telah disebutkan diatas, yaitu:
Mengetahui anatomi dan fisiologi kulit dan subkutis.
Mengetahui fase-fase penyembuhan luka pada jabir
Mengenali tanda penyembuhan luka pada jabir
Melakukan anamnesis, pemeriksaan dan diagnosis penyembuhan luka jabir
Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi jabir regional
Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi serta tata laksana lain yang akan digunakan
Merencanakan perawatan pasca operasi serta perencanaan tatalaksana selanjutnya
Merencanakan penatalaksanaan bila terjadi komplikasi operasi
METODE PEMBELAJARAN
Literature reading
Praktik poliklinik
Skill labs
Praktek kamar operasi
Prakrek rawat inap
Bedside teaching
Journal reading
Minicex
Mini lecture
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pre test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri atas :
Anatomi dan fisiologi kulit.
Penegakan diagnosa penyembuhan luka kronis
Penatalaksanaan penyembuhan luka
Komplikasi penyembuhan luka
Follow up
Selanjutnya dilakukan "small group discussion" bersama dengan fasilitator
untuk membahas kasus/jurnal reading/referat/portfolio.
Setelah selesai penatalaksanaan kasus, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
Self assesment dengan mempergunakan penuntun belajar.
Pendidik/ fasilitas :
pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form(terlampir)
penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi
kriteria penilaian keseluruhan : perlu perbaikan/ cukup/ baik
Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education)
Pencapaian pembelajaran :
Ujian skill (psikomotor), dilakukan selama stase di sub-bagian dengan observasi menggunakan daftar tilik
Ujian akhir stase, setiap divisi/ unit kerja oleh masing-masing sentra
Ujian akhir komprehensif dilakukan secara nasional (National Board) pada tahapan tertentu dengan ujian MCQ dan LISAN/OSCE oleh kolegium THT- KL.
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Kuesioner Sebelum Pembelajaran
Penyebab paling banyak pada defek luka kepala leher yang membutuhkan jabir regional ialah tumor kepala leher yang luas dan kegagalan rekonstruksi tumor luas.
B S Jawab B
Teknik penggunaan jabir regional merupakan faktor penting dalam menentukan penyembuhan dan penutupan defek luas akibat tumor ganas kepala leher.
B S Jawab S
Persyaratan jabir tumbuh baik adalah perbandingan lebar dan panjang jabir adalah 1:5
B S Jawab: S
Jabir regional tidak membawa arteri dan vena tertentu B S Jawab: S
Kuisioner Tengah Pembelajaran
Jelaskan mengapa kita memerlukan jabir regional dalam menutup luka defek tumor.
Jawaban : defek luka tumor meliputi kutis sub kutis sampai dengan otot yang tidak dapat ditutup dengan lokal flap. Tidak dapat dilakukan dengan 1 tahap. Defek yang luas atau menutup daerah vital seperti karotis.
Kuisioner akhir pembelajaran
Jabir pektoralis mayor dapat digunakan untuk menutup permukaan anterior esophagus
B S Jawab : B
Jabir forehead terdapat berbagai sumber arteri besar B S Jawab : B
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR
Lakukan penilaian kinerja pada setiap langkah atau tugas dengan menggunakan skala penilaian di bawah ini :
Perlu
Perbaikan
Cukup
Baik
Langkah atau tugas tidak dikerjakan secara benar atau dalam urutan yang salah.
Langkah atau tugas dikerjakan secara benar dalam urutan yang benar tetapi belum dikerjakan secara lancar.
Langkah atau tugas dikerjakan secara efisien dan dikerjakan dalam urutan yang benar.
KEGIATAN | KASUS | ||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | |||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR | |||||
- Cuci tangan, memakai baju operasi dan memakai sarung tangan | |||||
- Tindakan a & anti sepsi daerah operasi dengan povidon iodine | |||||
- Memasang kain steril sebagai penutup pasien kecuali daerah operasi | |||||
- Dilakukan penandaan dengan larutan biru etilen atau pena penanda titik titik pada area yang akan dilakukan harvesting DP dan PM Flap Dilakukan infiltrasi dengan Adrenalin : Lidokain sebesar 1: 200.000 pada subkutis area yang akan di ambil. | |||||
III. PROSEDUR OPERASI | |||||
Jabir Dectopectoral Jabir Pectoralis Mayor | |||||
IV. PASCA OPERASI | |||||
Pasca bedah pasien dapat dipulangkan setelah efek anestesi umum sudah hilang dan sadar penuh dan tidak ada perdarahan. Pasien diterapi dengan antibiotika oral dan analgesia | |||||
Nama
Diagnosis
Inform choice & inform consent
Rencana tindakan
Persiapan sebelum tindakan
Setelah penandaan dan infiltrasi sempurna dilakukan insisi sesuai penandaan dan perencanaan gambar, setelah dilakukan insisi tindakan selanjutnya adalah underming.
Membuat penandaan jabir DP sesuai dengan luas defek sejajar clavikula sampai dengan tip deltoid dengan batas bawah kurang lebih 3 : 1 dengan lebar defek.
Jabir di elevasi di atas pectoralis mayor dengan mempertahankan fasial pectoralis mayor dan perdarahan arteri mamaria interna. Jabir di rotasi menutup defek daerah leher
Dibuat penanadaan jabir dari tip deltoid menuju clavikula kemudian jabir diberi penandaan sesuai defek yang akan di tutup sejajar dengan mempertahankan cabang pectoralis arteri torakoakromial.
Jabir pectoralis mayor dilakukan diseksi sampai dengan musculus pectoralis mayor.
Jabir di rotasi dengan mempertahankan pedicle menutup defek daerah kepala leher.
Instruksi pasca operasi
Follow-up
KEGIATAN | KASUS | ||||
Pasien diharapkan kontrol untuk perawatan luka pada hari ke tiga dan angkat jahitan pada hari ke 7 | |||||
DAFTAR TILIK
Berikan tanda ✓ dalam kotak yang tersedia bila ketrampilan/tugas telah dikerjakan dengan memuaskan, dan berikan tanda x bila tidak dikerjakan dengan memuaskan serta T/D bila tidak dilakukan pengamatan.
Memuaskan Langkah atau tugas dikerjakan sesuai prosedur standar atau penuntun.
X Tidak memuaskan
Tidak mampu untuk mengerjakan langkah atau tugas sesuai dengan prosedur standar atau penuntun.
T/D Tidak
Diamati
Langkah, tugas atau ketrampilan tidak dilakukan oleh peserta latih selama penilaian oleh pelatih.
Penilaian Kinerja Ketrampilan (ujian akhir)
DAFTAR TILIK | ||||||
NO | KEGIATAN / LANGKAH KLINIK | Kesempatan ke | ||||
1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
Persiapan | ||||||
1 | Kaji ulang diagnosis dan prosedur operatif | |||||
2 | Menyiapkan peralatan operatif | |||||
3 | Menyiapkan diri untuk tindakan operatif | |||||
4 | Menyiapkan posisi pasien | |||||
5 | Melakukan tindakan a & anti septik | |||||
PROSEDUR OPERASI | ||||||
6 | Anestesi : Infiltrasi area operasi dengan larutan epinefrin: NaCl 0,9%(1 : 200.000) disuntikkan di area lesi. | |||||
7 | Melakukan tindakan jabir regional DP dan PM | |||||
8 | Melakukan penutupan defek dan perawatan luka | |||||
MATERI PRESENTASI
Tahapan mekanisme penyembuhan luka
Tahap hemostasis, inflamasi, proliferasi, dan maturasi.
Respons vaskular dan inflamasi.
Luka di sel endotel kaskade koagulasi teraktivasi, adhesi & agregasi trombosit plug dan bekuan.
Trombosit teraktivasi
Faktor kemotaktik & faktor proliferasi : PDGF, EGF, IGF 1, TGF/3 & bFGF, mengaktifkan sel epitel, sel endotel & sel fibroblas.
ht ph
Slide 1 : Fisiologi Penyembuhan Luka dan Jabir Regional
Slide 2 : Patofisiologi Penyembuhan Luka
Berdasarkan pembuluh darah regional seperti Platysma yaitu cabang dari pembuluh darah arteri tiroid superior, servical transversa,
Regio Sternocleidomastoid berasal dari Arteri perforator mamaria interna pada jabir DP dan pectoralis mayor- jabir jauh berasal dari artery thoracoacromial.
Slide 3 : Diagnosis dan mengenal defek luka luas Slide 4: Tata laksanana jabir DB dan PM
Jabir Dectopectoral
Jabir Pectoralis Mayor
MATERI BAKU
Rekonstruksi tumor defek merupakan prosedur yang sangat penting dengan pilihan berdasarkan lokasi dan ukuran defek. Penyembuhan luka luas dengan menutup defek akibat tumor kepala dan leher memerlukan jabir regional sesuai dengan kondisi defek tersebut. Tujuannya adalah menutup defek dengan luka defek sekunder seminimal mungkin. Diperhatikan karakteristik defek terdiri dari warna kulit, ketebalan kulit, komposisi jaringan mukosa, otot, tulang, kartilago, lokasi, dan unit yang terlibat.
Pendekatan sistemis pada rekonstruksidapat dilihat pada gambar 1.
Characteristic Defect
Design Reconstruction ladder
Landmarks
Facial
and
ideal areas for tissue
Design flaps to align with resting skin tension lines
Consider patient history
Indikasi Operasi
Menutup defek daerah leher dan kepala
Menutup daerah karotis
Menutup defek daerah muka
Menutup orocutaneous
Rekonstruksi pharyngoesophageal
Teknik Operasi DP Flap
Setelah penandaan dan infiltrasi sempurna dilakukan insisi sesuai penandaan dan perencanaan gambar, setelah dilakukan insisi tindakan selanjutnya adalah underming.
Membuat penandaan jabir DP sesuai dengan luas defek sejajar clavikula sampai dengan tip deltoid dengan batas bawah kurang lebih 3 : 1 dengan lebar defek.
Jabir di elevasi di atas pectoralis mayor dengan mempertahankan fasial pectoralis mayor dan perdarahan arteri mamaria interna. Jabir di rotasi menutup defek daerah leher
PM Flap
Dibuat penanadaan jabir dari tip deltoid menuju clavikula kemudian jabir diberi penandaan sesuai defek yang akan di tutup sejajar dengan mempertahankan cabang pectoralis arteri torakoakromial.
Jabir pectoralis mayor dilakukan diseksi sampai dengan musculus pectoralis mayor.
Jabir di rotasi dengan mempertahankan pedicle menutup defek daerah kepala leher.
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
MODUL VIII.6.4
TOPIK FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI - PENYEMBUHAN LUKA :
MICRIVASCULAR FREE FLAP
WAKTU
Proses Pengembangkan Kompetensi | Alokasi Waktu : |
Sesi di dalam kelas Sesi Pratikum Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi | 10 X 60 menit (classroom session) 16X 60 menit (coaching session) 43 X 60 menit (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi Presentasi
Slide 1: Keuntungan free flap/jabir lepas Slide 2. Prinsip pada bedah mikro
Slide 3 : Regulasi aliran darah pada jabir lepas Slide 4 :Fisiologi jabir lepas
Slide 5 :Microcirculatory respon terhadap iskemi. Slide 6. Prinsip pada bedah mikro
Kasus :
Pasien dengan defek mandibula pada korpus mandibula kanan, dengan riwayat karsinoma sel skuamosa mandibula yang telah dilakukan mandibulektomi dengan mengangkat korpus mandibula kanan dengan regio kulitnya. Tumor tidak hanya sebatas pada tulang mandibula kanan saja, namun sudah meluas ke mukosa area sekitar tumor tersebut sampai ke regio kulit. Rekonstruksi untuk defek tersebut diperlukan struktur tulang maupun kulit untuk mengisi dan menutup area defek tersebut. Pada akhir pembelajaran diharapkan dapat melakukan penilaian terhadap defek yang terjadi dan dapat menentukan tata laksanan apa yang harus diberikan, edukasi anjuran perawatan serta pemberian makan dan minum pada pasien, rujukan ke multidisiplin lain untuk perbaikan gizi, persiapan operasi serta tehnik operasi yang akan di gunakan.
Sarana dan alat bantu latih :
Penuntun belajar (learning guide) terlampir
Tempat belajar (training setting): bangsal THT, Poliklinik THT, kamar operasi, instalasi rawat darurat, bangsal perawatan pasca bedah THT.
Model/menekin/kadaver
Laptop
LCD
REFERENSI
Chepeha DB. Reconstructive Microsurgery of the Head and Neck. In: Johnson
JT, Rosen CA, editors. Bailey's Head and Neck Surgery-Otolaryngology. Vol
Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins, 2014:2824-48.
Burkey BB, Schmalbach CE, Coleman Jr JR. In: Ira DP, Frodel J, Holt GR, Larrabee WF, Nathan N, Park SS, et al. editors. Facial Plastic And Reconstructive Surgery. 3rd ed New York: Thieme; 2008.p. 765-94.
KOMPETENSI
Kemampuan (4)
Mampu melakukan diagnosis defek luka yang yang ada, dan mampu menentukan apakah diperlukan tatalaksana dengan menggunakan jabir lepas. Diharapkan peserta didik dapat mengetahui dasar keilmuan dari jabir lepas, seperti:
Mengetahui keuntungan free flap/jabir lepas
Mengetahui prinsip pada bedah mikro
Mengetahui regulasi aliran darah pada jabir lepas
Mengetahui fisiologi jabir lepas.
Mengetahui respon mikrosirkulasi terhadap iskemi.
Mengatahui prinsip pada bedah mikro
GAMBARAN UMUM
Jabir lepas melibatkan transplantasi jaringan menggunakan operasi mikrovaskuler. Transfer jaringan bebas mikrovaskuler adalah teknik rekonstruksi di mana unit jaringan terpisah dari suplai darah induk dan pindah dari satu bagian tubuh ke lokasi yang baru. Jaringan donor memiliki arteri dan vena yang dapat diidentifikasi dimana dapat direanastomosis dengan pembuluh penerima, sehingga membangun kembali aliran darah.Potensi reinnervation sensorik juga ada melalui reanastomosis saraf kulit.
CONTOH KASUS DAN DISKUSI
Pasien dengan basalioma pada hidung, dahi, dan kedua mata. Telah dilakukan tindakan eksisi luas. Defek pada wajah pasca operasi meliputi dahi, seluruh hidung, dan kedua mata. Diperlukan tindakan rekonstruksi untuk menutup defek pada pasien ini. Pada akhir pembelajaran diharapkan dapat melakukan penilaian terhadap defek luka yang akan terjadi dan dapat menentukan tata laksanan apa yang harus diberikan, edukasi anjuran perawatan serta pemberian makan dan minum pada pasien, rujukan ke multidisiplin lain untuk perbaikan gizi, persiapan operasi serta tehnik operasi yang akan di gunakan.
Yang bukan merupakan kontraindikasi untuk dilakukan freeflap adalah:
Diabetes militus
Darah hiperkoagulasi
Abnormalitas anatomi pembuluh darah pada tungkai bawah dapat menyebabkan kegagalan pengambilan jabir yang aman.
TBC paru
Pasien dengan trauma tungkai yang luas atau riwayat operasi tungkai sebelumnya.
Jawab: D
Jabir bebas Radial Forearm merupakan jenis jabir bebas yang mengandung:
Fascia dan fasciocutaneous
Otot dan musculocutaneous
Composite free
Visceral
Fasciocutaneous Jawab: A
TUJUAN PEMBELAJARAN
Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan penatalaksanaan perawatan penyembuhan luka kronis seperti yang telah disebutkan diatas, yaitu:
Mengetahui anatomi kulit, sub kutis dam otot pada regio donor untuk jabir lepas.
Mengetahui keuntungan free flap/jabir lepas
Mengetahui prinsip pada bedah mikro
Mengetahui regulasi aliran darah pada jabir lepas
Mengetahui fisiologi jabir lepas.
Mengetahui respon mikrosirkulasi terhadap iskemi.
Mengatahui prinsip pada bedah mikro
Mengetahui berbagai jenis jabir bebas berdasarkan lokasi donornya.
METODE PEMBELAJARAN
Literature reading
Praktik poliklinik
Skill labs
Praktik kamar operasi
Praktik rawat inap
Bedside teaching
Case report
Journal reading
Minicex
Mini lecture
EVALUASI
Dilakukan "small group discussion" bersama dengan fasilitator untuk membahas
kasus/jurnal reading/referat/portfolio.
Setelah selesai penatalaksanaan kasus, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan dapat pula disertai menontonvideo tindakan jabir bebas bersama pembimbing yang dilanjutkan dengan diskusi.
Self assesment dengan mempergunakan penuntun belajar.
Pendidik/ fasilitas :
pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form(terlampir)
penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi
kriteria penilaian keseluruhan : perlu perbaikan/ cukup/ baik
Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education)
Pencapaian pembelajaran :
Ujian skill (psikomotor), dilakukan selama stase di sub-bagian dengan observasi menggunakan daftar tilik
Ujian akhir stase, setiap divisi/ unit kerja oleh masing-masing sentra
Ujian akhir komprehensif dilakukan secara nasional (National Board) pada tahapan tertentu dengan ujian MCQ dan LISAN/OSCE oleh kolegium THT- KL.
J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Kuesioner Sebelum Pembelajaran
Anastomosis arteri dilakukan secara end-to-end dan anastomis B S Jawab: B
Kuisioner Tengah Pembelajaran
Untuk melakukan rekonstruksi mandibul oleh karena Osteosarcoma Mandibula dapat dilakukan dengan jabir bebas forearm
B S Jawab: S
Kuisioner akhir pembelajaran
a. The dominant cause of failure following free-tissue transfer for facial reanimation is:
Microvascular failure
Inadequate neural penetration
Inadequate suture inset to atrophied modiolus
Incorrect vector of pull
Jawaban : B
K. INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR
-
L. DAFTAR TILIK
-
M. MATERI PRESENTASI
Advantages of free tissue transfer
2 team approach
Improved vascularity and wound healing
Low rate of resorption
Defect size of little consequence
Potential for sensory and motor innervation
Use of osseointegrated implants
Slide 1: Keuntungan free flap/jabir lepas
Principles of Microsurgery
Macrocirculation of Composite Tissue
Segmental vasculature (axial flaps)
skin/fascia
skin/fascia & muscle
skin/fascia & bone +/- muscle
Vessels 0.8 to 4 mm appropriate for transfer
Slide 2. Prinsip pada bedah mikro
Blood Flow Regulation
Skin blood flow
Varies constantly
Maximal flow = 20x constricted flow
Extrinsic ( a receptors)
Sympathetics NE
Circulating catecholamines NE & E
shunt sphincters extremely sensitive to catechols
Intrinsic
Tissue metabolites
CO2, NO, lactate dilation
potassium constriction
Kinins, histamine, serotonin
Prostaglandins
Slide 3 : Regulasi aliran darah pada jabir lepas
Free Flap Physiology
Responses to Ischemia
Skin
Anaerobic metabolism preferred (glycolysis)
temperature regulation?
allows prolonged periods of anoxia
Muscle
Aerobic metabolism essential (TCA cycle)
2 hr anoxia - immediate recovery
4 hr anoxia - prolonged recovery (edema)
6 hr anoxia - no recovery (necrosis/infection)
little histololgic change until reperfusion
Bone/Cartilage
Needs dependent on activity of constituent cells
Poor studies
Slide 4 :Fisiologi jabir lepas
Microcirculatory Response to Ischemia
Endothelial response
Aerobic metabolism extremely important
irreversible injury in 2.5 min of anoxia
endothelial swelling narrows lumen
complete regeneration in 7 - 10 days (monocytes/ pleuropotential myoepithelial cells)
Erythrocyte sludging
stiff walls with low pH
reduced with hematocrit below 30%
Leukocyte adherence
Interstitial swelling
increases capillary pressure
Slide 5 :Microcirculatory respon terhadap iskemi.
N. MATERI BAKU
Sepuluh tahun terakhir ini teknik rekonstruksi jaringan bebas mikrovaskular telah banyak digunakan oleh dokter ahli bedah dan teknik ini memungkinkan untuk transfer sejumlah jaringan lunak dan/atau tulang da-lam satu tahap tanpa batasan panjang pedikel atau geometri pembuluh darah.
Pemindahan mikrovaskular jaringan bebas (microvascular free-tissue) diperkenalkan sebagai suatu teknik untuk merekonstruksi defek yang tidak dapat diperbaiki selain dengan rekonstruksi.Kemampuan dari revaskularisasi jaringan dan lamanya operasi menjadi perhatian pertama dari teknik ini.Flap pedikel regional dibayangi teknik pemindahan mikrovaskular jaringan bebas. Secara teknik regional flap lebih mudah, hanya membutuhkan satutim operasi, dan menyiapkan jaringan yang tidak mengalami radiasi. Mikrovaskuler rekonstruksi terus berkembang.Digambarkan bahwa setiap tahun lebih banyak lagi daerah atau tempat untuk teknik ini, dan fleksibilitas dari setiap daerah dieksplorasi dan dikembangkan.Untuk meningkatkan kemampuandibidang teknik mikrovaskular ahli bedah harus terus dilatih. Sebagai suatu teknik, bedah mikrovaskular menjadi semakin luas dan menjadi jelas bahwa teknik transfer ini 95%-98% dianggap handal dan hanya memerlukan 4 - 6 jam waktu operasi.
Jabir bebas melibatkan transplantasi jaringan menggunakan operasi mikrovaskuler. Transfer jaringan bebas mikrovaskuler adalah teknik rekonstruksi di mana unit jaringan terpisah dari suplai darah induk dan pindah dari satu bagian tubuh ke lokasi yang baru. Jaringan donor memiliki arteri dan vena yang dapat diidentifikasi dimana dapat direanastomosis dengan pembuluh penerima, sehingga membangun kembali aliran darah.Potensi reinnervation sensorik juga ada melalui reanastomosis saraf kulit.
Perioperatif
Ahli bedah mikrovaskular akan menggunakan teknik tertentu untuk mendapatkan pengambilan jabir yang tepat, anastomosis pembuluh darah, dan menggunakan jabir sesuai dengan pembuluh darah dan geometrinya untuk memperoleh transfer jaringan yang sukses.
Pengambilan jabir
Keberhasilan transfer jaringan tergantung dari pengambilan jabir. Pengetahuan mengenai anatomi dan perencanaan yang tepat mendukung untuk didapatkannya pengambilan jabir yang aman. Ahli bedah harus mengetahui lokasi pedikel vaskuler dan melindunginya saat pengambilan jabir. Klip bedah, elektrokauter bipolar, dan benang bedah merupakan alat yang harus disiapkan untuk pembedahan. Pemakaian kauter unipolar harus dihindari pada daerah yang sangat dekat dengan pedikel.
Persiapan pembuluh darah
Ahli bedah harus mempersiapkan jabir dan pembuluh darahnya untuk ditransfer. Jabir yang telah diambil dicuci dengan salin heparin untuk membuang sisa darah dan precursor trombogenik. Pada umumnya digunakan mikroskop yang dapat memberikan pembesaran 4-16x, namun sebagian ahli bedah menggunakan lup untuk pembesaran dan mendapatkan hasil kesuksesan yang sama. Forsep Jeweler, gunting mikro lurus dan lengkung, dilator pembuluh darah, dan pemegang benang lengkung merupakan instrument yang penting untuk transfer jaringan. Arteri dan vena harus dipisahkan untuk mendapatkan geometri pembuluh darah yang baik dan tempat anastomosis.
Anastomosis pembuluh darah
Pada umumnya, anastomosis arteri dilakukan secara end-to-end dan anastomis vena dilakukan secara end-to-end atau end-to-side. Pemuluh darah untuk anastomosis harus berasal dari kaliber yang sama dan memiliki aliran pembuluh darah masuk dan keluar yang baik. Jika didapatkan ukuran lumen pembuluh darah yang tidak sesuai dengan perbandingan lebih dari 2 : 1, ahli bedah dapat melakukan teknik "fish-mouth" untuk pembuluh kecil agar diperoleh hasil yang adekuat. Penyambungan secara end-to-side dapat dilakukan pada ketidaksesuaian pembuluh darah besar. Sebagian besar ahli bedah lebih memilih menggunakan teknik anastomosis end-to-side untuk vena donor pada vena jugularis interna. Penelitian Ueda (dikutip dari Burkey etal) mendapatkan tidak terdapat perbedaan statistic thrombosis vena dibandingkan antara anastomosis end-to-side vena jugularis dan end-to-end vena.
Geometri pembuluh darah
Geometri pembuluh darah berhubungan dengan orientasi dari anastomosis pembuluh darah. Kesuksesan atau kegagalan dari jabir bergantung pada orientasi pedikel. Anastomosis pedikel sebaiknya dilakukan pada lingkungan yang tidak tegang (tension free) untuk menghindari terjadinya kinking. Ahli bedah harus memutuskan penempatan pedikel yang tepat, di bawah atau di atas tulang yang diambil. Pada semua tahap rekonstruksi, ahli bedah harus memeriksa orientasi pembuluh darah dan tekanan dari luar yang mungkin terjadi pada jabir. Perhatian terhadap detail dan teknik penjahitan penting untuk memastikan kesuksesan transfer jaringan.
Pasca operatif Pemantauan jabir
Pemantauan jabir untuk perfusi dimulai setelah dilakukan anastomis pembuluh darah. Ahli bedah memonitor jabir dengan cara memperhatikan perdarahan jabir yang berasal dari pinggiran sayatan, perfusi kapiler, kehangatan jabir, dan sinyal ultrasonik Doppler dari pembuluh darah.
Teknik yang ideal untuk pemantauan jabir pasca operasi sampai saat ini belum ditemukan. Teknik yang biasa digunakan bergantung pada perfusi kapiler, perdarahan, dan suhu pada jabir pedikel kutaneus atau memonitor segmen serta ultrasonograi (USG) Doppler. Tujuh puluh dua jam pertama pasca operasi, jabir diperiksa setiap jam oleh perawat, diperiksa warna, kehangatan, perfusi kapiler dan sinyal Doppler. Jika didapatkan perubahan pada warna kulit maka ahli bedah melakukan pemeriksaan ulang dan melakukan pemeriksaan jarum tusuk, apabila didapatkan perubahan yang tidak di inginkan maka pasien direncanakan untuk eksplorasi segera. Bila penyebab kegagalan jabir adalah hematom, luka operasi dibuka kemudian direncanakan operasi segera.
Setelah pemantauan selama 72 jam, pemantauan jabir dapat dilakukan setiap empat jam selama dua hari dan setiap delapan jam sampai pasien dipulangkan. Pada jabir normal akan didapatkan warna kemerahan, hangat pada perabaan, perfusi kapiler tiga detik, dan memiliki sinyal arteri dan vena yang kuat pada pemeriksaan Doppler. Insuisiensi arteri akan tampak sebagai warna pucat atau kebiruan pada pedikel kulit, dingin pada perabaan, perfusi kapiler lebih dari lima detik, dan pada pemeriksaan pin-prick menggunakan jarum nomor 20 didapatkan warna darah yang gelap. Insuisiensi vena ditandai dengan warna biru pada jabir, perfusi kapiler yang cepat, dan darah berwarna gelap yang keluar segera setelah jarum dicabut. Insuisiensi arteri dan vena memerlukan tindakan pembedahan segera.
Kegagalan jabir
Kesuksesan dari transfer jaringan dilaporkan mencapai 95-98%. Kegagalan yang disebabkan trombosis pembuluh darah ditemukan segera setelah operasi. Data Anderson yang dikutip Burkey et al melaporkan thrombosis vena (54%) lebih banyak terjadi dibandingkan trombosis arteri (20%). Mayoritas kegagalan anastomosis arteri terjadi dalam 24 jam pertama dan kegagalan vena baru terjadi kemudian. Semua sumbatan terjadi dalam tiga hari pertama.
Identifikasi masalah dan koreksi yang tepat dapat menyelamatkan jabir dengan cara mengurangi iskemia yang terjadi pada jaringan. Keberhasilan jabir setelah
dilakukan operasi untuk mengatasi iskemia yang terjadi berkisar antara 69-100% berdasarkan literatur. Trombosis pembuluh darah dapat dikurangi dengan pemberian antikoagulan perioperatif. Meskipun keunggulannya belum dapat dibuktikan dalam rekonstruksi mikrovaskular, kegunaannya dalam reimplantasi dan amputasi sudah dibuktikan. Antikoagulan yang biasa digunakan adalah aspirin, dekstran, heparin, dan prednison. Anti koagulan ini berperan mencegah penumpukan trombosit dan pembekuan darah. Saat ini penggunaan aspirin diberikan sejak hari pertama pasca operasi dan berlanjut selama tiga minggu pada semua pasien dengan transfer jaringan bebas. Dekstran juga digunakan dalam 40-48 jam pertama pasca operasi. Penggunaan dekstran tergantung dari jenis jabir dan karakteristik pasien. Dekstran pada umumnya digunakan untuk jabir dengan pembuluh darah kecil, anastomosis yang sulit atau aliran pembuluh darah tidak sebaik yang diharapkan. Penggunaan dekstran dihindari atau dibatasi pada pasien dengan gangguan fungsi jantung dan anemia Karena dapat menyebabkan edema pulmoner dan penurunan hematokrit.
Follow up
Kunjungan pertama pasca operasi dimulai 1-2 minggu setelah pulang dari rumah sakit untuk dilakukan pemeriksaan terhadap jabir dan tandur kulit, melepas jahitan, evaluasi komplikasi pada daerah yang mendapatkan jabir, dan melepas nasogastric tube. Pasien dikonsulkan untuk terapi wicara, rehabilitasi medik, atau subspesialis lainnya yang terkait.
Diet oral diberikan setelah 2-3 minggu pulang dari rumah sakit. Operasi gigi untuk penggantian gigi atau implantasi dilakukan pada saat yang tepat.
Komplikasi
Komplikasi dapat dibedakan menjadi komplikasi daerah donor dan penerima. Komplikasi pada daerah donor jarang ditemukan. Namun, komplikasi yang dapat terjadi adalah sindrom kompartemen yang dapat dihindari dengan dilakukan pembalutan yang tidak terlalu ketat pada tungkai bawah. Komplikasi lainnya berupa iskemia pada kaki, instabilitas pergelangan kaki, keterbatasan pergerakan kaki, dan nyeri yang berkepanjangan. Penelitian Lee et al di Korea mendapatkan bahwa keterbatasan pergerakan kaki terjadi pada tiga bulan pertama dan tidak terdapat perubahan patologis pada daerah donor.
Kegagalan dari jabir dapat terjadi jika terjadi thrombosis arteri dan vena dan kongesti vena sehingga memerlukan tindakan pembedahan lebih lanjut untuk mengatasinya. Plate yang terpapar dan ekstrusi merupakan komplikasi yang jarang terjadi. Selain itu, dapat juga terjadi trismus yang diakibatkan manipulasi pembedahan dan/atau reseksi dari otot masticator dan gangguan pada mandibula.
Keuntungan dan kerugian
Keuntungan dari jabir bebas fibula adalah tersedianya tulang yang cukup untuk menutup berbagai defek dan adekuat untuk pemasangan implant gigi. Pengambilan jabir dilakukan dalam lingkungan dengan perdarahan yang minimal.
Kerugian dari jabir bebas fibula adalah kelemahan untuk melakukan fleksi pada ibu jari kaki, instabilitas, kekakuan dan nyeri pada pergelangan kaki, diperlukan tandur
kulit untuk menutup defek pada donor, risiko untuk terjadi iskemia pada kaki, dan keterbatasan panjang tulang fibula.
Kontraindikasi
Terdapat beberapa kontraindikasi dilakukannya jabir bebas fibula, diantaranya :
Abnormalitas anatomi pembuluh darah pada tungkai bawah dapat menyebabkan kegagalan pengambilan jabir yang aman.
Sirkulasi arteri peroneal yang dominan diakibatkan kelainan congenital tidak didapatkannya pembuluh darah tibialis anterior, kelainan ini sering disebut sebagai peroneus magnus dan merupakan penyuplai darah utama pada kaki. Pasien dengan peroneus magnus dan kelainan sirkulasi pada tungkai merupakan kontraindikasi dilakukannya transfer fibula.
Pasien dengan trauma tungkai yang luas atau riwayat operasi tungkai sebelumnya.
Pasien dengan diabetes dan edema perifer, sirkulasi dan penyembuhan yang buruk atau ulkus kutaneus.