MODUL‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌

FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI‌‌‌‌‌


EDISI III‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌




KOLEGIUM‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌

ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA LEHER‌‌‌‌

2022


Tim Penyusun

  1. Prof. Dr. dr. M. Thaufiq S.Boesoirie, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp. F.P.R.(K), M.S

  2. Dr. dr. Dini W. Widodo, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp. F.P.R.(K), M.Epid

  3. Dr. dr. Mirta Hediyati, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp. F.P.R.(K)

  4. Dr. dr. Trimartani, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp. F.P.R.(K), MARS

  5. Dr. dr. Shinta Fitri Boesoirie, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp. F.P.R.(K), M.Kes

  6. dr. Agus Rudi Asthuta, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp. F.P.R.(K)

  7. dr. Al Hafiz, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp. F.P.R.(K), FICS

  8. dr. Dewo Aksoro Affandi, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp. F.P.R.(K)

  9. dr. Ramlan Sitompul, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp. F.P.R.(K)

  10. dr. R. A. Anatriera, Sp.T.H.T.B.K.L

KATA PENGANTAR

Assalammu’alaikum Wr.Wb.


Alhamdulillahirobbil ‘alamin, saya panjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allah swt yang senantiasa melimpahkan segala rahmat, taufik dan hidayah-Nya sehingga dapat menyelesaikan penyusun Buku Modul Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher (IK THTBKL) edisi ketiga ini.


Modul ini disusun untuk memenuhi kebutuhan peserta pendidikan dokter spesialis THTBKL yang merupakan penyempurnaan edisi kedua, pemenambahan beberapa materi sesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan serta ketrampilan baru guna meningkatlan mutu proses pendidikan dokter spesialis THTBKL di Indonesia


Selaras dengan dimulainya program fellowship serta persiapan pembukaan program pendidikan Subspesialisasi THTBKL, modul Pendidikan dokter spesialis THTBKL ini disusun agar pendidikan spesialis THTBKL terjaga menjadi satu kesatuan yang mendalam antara ketiga program pendidikan tersebut. Selain itu Buku Modul ini dapat menjadi pedoman untuk melaksanakan pendidikan secara terstruktur dan berkualitas, dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, monitoring hingga proses evaluasi secara berkesinambungan. Hal tersebut bertujuan agar lulusan peserta program studi IK THTBKL mempunyai kompetensi akademik dan kompetensi profesional unggul seiring berkembangnya jaman.


Pada era baru ini para lulusan Dokter Spesialis THTBKL diharapkan memiliki kemampuan akademik professional bertaraf internasional, inovatif dan tangguh yang mampu berkiprah secara global sesuai Visi dan Misi Pendidikan Spesialis THTBKL. Semoga dengan terbitnya Buku Modul ketiga ini program pendidikan dokter spesialis THTBKL semakin maju dan menghasilkan pencapaian lulusan yang unggul, kompeten dan berkualitas.


Apresiasi kami yang setinggi-tingginya kepada seluruh teman sejawat, Profesor Dokter, atas komitmen, dedikasi, serta pemikiran dan waktu yang telah diberikan terutama dalam suasana pandemi Covid-19. Keterbatasan jarak dan keadaan Pandemi telah membuka peluang pengembangan komunikasi, diskusi dan ujicoba modul ketiga, secara digital (TIK), sehingga kita dapat berkoordinasi, produktif menyelesaikan buku modul Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala dan Leher edisi ketiga ini.


Semoga modul ini dapat bermanfaat bagi kita semua, khususnya para peserta didik dan semua yang kita lakukan selalu mendapat ridha Allah SWT.


Wassalammu’alaikum Wr.Wb.


Ketua Umum Kolegium IK THTBKL Indonesia


Dr. dr. Trimartani, Sp T.H.T.B.K.L., F.P.R(K)., MARS


VIII. FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI

VIII.1 TRAUMA, FRAKTUR, dan KELAINAN HIDUNG

VIII.1.1

SEPTOPLASTI

VIII.1.2

RINOPLASTI

VIII.1.3

SEPTORINOPLASTI

VIII.2 TRAUMA MAKSILOFASIAL

VIII.2.1

TRAUMA MAKSILA

VIII.2.2

TRAUMA ZIGOMA

VIII.2.3

TRAUMA DASAR ORBITA

VIII.2.4

TRAUMA MANDIBULA

VIII.2.5

TRAUMA SINUS FRONTALIS ( TABLE ANTERIOR )

VIII.3 RONGGA MULUT

VIII.3.1

LABIOSKISIS

VIII.3.2

PALATOSKISIS

VIII.4 FACIAL PLASTY

VIII.4.1

MIKROTIA

VIII.4.2

FISTULA PREAURIKULA

VIII.4.3

OTOPLASTI

VIII.5 DEFEK KEPALA LEHER

VIII.5.1

BLEPHAROPLASTI

VIII.5.2

RITIDECTOMI

VIII.5.3

MENTOPLASTY

VIII.5.4

MALARPALSTY

VIII.5.5

EXOPTHALMUS

VIII.5.6

SUMBATAN KANTUNG AIR MATA (DAKRIOSISTOSTOMI)

VIII.6 PENYEMBUHAN LUKA

VIII.6.1

PENYEMBUHAN LUKA

VIII.6.2

TANDUR DAN IMPLAN PADA BEDAH KEPALA LEHER

VIII.6.3

REGIONAL FLAP

VIII.6.4

MIKROVASKULER FREE FLAP

MODUL UTAMA

FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI


TRAUMA, FRAKTUR, DAN KELAINAN HIDUNG MODUL VIII.1.1

SEPTOPLASTI


EDISI III




KOLEGIUM

ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER

2022


DAFTAR ISI

  1. WAKTU 1

  2. PERSIAPAN SESI 1

  3. REFERENSI 1

  4. KOMPETENSI 1

  5. GAMBARAN UMUM 2

  6. CONTOH KASUS 2

  7. TUJUAN PEMBELAJARAN 3

  8. METODE PEMBELAJARAN 3

  9. EVALUASI 3

  10. INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF & PSIKOMOTOR 4

  11. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR 4

  12. DAFTAR TILIK 6

  13. MATERI PRESENTASI 7

  14. MATERI BAKU 8

MODUL VIII.1.1

FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI - TRAUMA, FRAKTUR, DAN KELAINAN HIDUNG: SEPTOPLASTI


  1. WAKTU


    Proses Pengembangkan Kompetensi

    Alokasi Waktu :

    Sesi di dalam kelas Sesi Pratikum

    Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi

    18 X 60 menit (classroom session)

    18 X 60 menit (coaching session)

    41 X 60 menit (facilitation and assessment)


  2. PERSIAPAN SESI

    1. Materi presentasi: Kelainan Hidung

      • Slide 1: Anatomi hidung

      • Slide 2: Jenis kelainan dan klasifikasi deviasi septum

      • Slide 3: Diagnosis kelainan septum

      • Slide 4: Penatalaksanaan

    2. Kasus : septum deviasi

    3. Sarana dan alat bantu latih :

      • Penuntun belajar (learning guide) terlampir

      • Tempat belajar (training setting): bangsal THT, Poliklinik THT, kamar operasi, instalasi rawat darurat, bangsal perawatan pasca bedah THT.

      • Model/menekin/kadaver

      • Laptop

      • LCD


  3. REFERENSI

    1. Bailey, B, Tan LK, Nasal and Frontal Sinus Fracture in : Head and Neck Surgery-Otolaryngology, Lippincot William-Wilkins, Philadelphia, USA, 2014

    2. Lee, K.J, Essential Otolaryngology Head & Neck Surgery, International edition, Mc. Graw-Hill, 2003

    3. Behrbohm H., Tardy M.E Jr, Essentials of Septorhinoplasty, Philosophy- Approaches-Techniques, Thieme Medical Publishers, Inc., New York, 2004

    4. Papel ID, Frodel J Holt GR, Larrabee W, Nachlas N, Park SS, Sykes JM, Toriumi D Facial Plastic and Reconstructive Surgery. Thieme Medical Publisher.NY 2006


  4. KOMPETENSI

    1. Pengertian

      Mampu membuat diagnosis deviasi septum berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan-pemeriksaan tambahan (misalnya pemeriksaan X-Ray, nasoendoskopi). Mampu memutuskan dan menangani masalah tersebut secara mandiri hingga tuntas.

    2. Ketrampilan

      Peserta didik diharapkan terampil :

      1. Menjelaskan anatomi dan fisiologi hidung anak serta orang dewasa ( TK4)

      2. Menjelaskan patogenesis dan patofisiologi berbagai kelainan deviasi septum (TK4)

      3. Melakukan anamnesis dan pemeriksaan klinis (TK4)

      4. Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang seperti foto rontgen, nasoendoskopi. (TK4)

      5. Menegakkan diagnosis dan klasifikasi kelainan septum(TK4)

      6. Menilai perlunya pemeriksaan tambahan dan khusus serta konsultasi ke disiplin lain(TK4)

      7. Melakukan tindakan septoplasti pada deviasi septum (TK4)

      8. Mengenali komplikasi yang dapat menyertai deviasi septum seperti sumbatan hidung, snoring, anosmia dan gangguan fungsi lainnya dan gangguan estetika (TK4)


  5. GAMBARAN UMUM

    Hidung merupakan struktur yang paling prominen pada wajah. Kelainan deviasi septum dan piramid hidung merupakan kelainan yang sering luput dari penglihatan seorang ahli THT. Banyak kelainan patologis hidung dan septum tidak terdiagnosis dan tertangani pada awal dan menyebabkan gangguan fungsi dan kosmetik hidung, tuba eusthachiussehingga yang memerlukan tindakan prosedur septorinoplasti akibat deviasi septum dan piramid hidung yang menyebabkan obstruksi hidung, snoring, sinuitis akibat gangguan fungsi dan kosmetik tsb.


  6. CONTOH KASUS

    Seorang laki-laki, 25 tahun datang dengan keluhan nyeri pada hidung dan perubahan bentuk hidung sejak 6 bulan yanglalu akibat setelah tersikut lengan temannya sewaktu bermain sepak bola Penderita juga mengeluh hidung kanan terasa tersumbat. Tidak ada perdarahan hidung dan terdapat sefalgi dan sekret terus menerus. Pada pemeriksaan fisik ditemukan septum deviasi pada area 2 disertai dengan hipertrofi konka


    1. Pemeriksaan apa yang perlu dilakukan untuk menilai adanya sumbatan hidung sehingga perlu tatalaksana selanjutnya pada pasien kasus ini

      1. Foto rongten sinus paranasal

      2. Nasoendoskopi

      3. Rinomanometri

      4. CT-Scan


    2. Tindakan operasi yang diperlukan pada pasien ini bila ditemukan sumbatan

      1. Septoplasti

      2. Septorinoplasti

      3. Rinoplasti augmentasi

      4. Rinopalasti reduksi

  7. TUJUAN PEMBELAJARAN

    Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan menatalaksana septum deviasi seperti yang telah disebutkan di atas, yaitu:

    1. Menguasai anatomi dan fisiologi hidung

    2. Mampu menjelaskan etiopatogenesis dan gambaran klinis deviasi septum

    3. Membuat diagnosis dan komplikasi akibat deviasi septum

    4. Menentukan dan melakukan pemeriksaan penunjang untuk deviasi septum

    5. Melaksanakan tindakan septoplastitermasuk reseksi dan rekonstruksi septum


  8. METODE PEMBELAJARAN

    1. Interactive lecture

    2. Journal reading and review.

    3. Morbidity and Mortality Case study

    4. Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).

    5. Operative Procedure Demonstration and Coaching

    6. Practice with Real Clients.

    7. Continuing Professional Development


  9. EVALUASI

    1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pre-test terdiri atas :

      • Anatomi dan fisiologi septum dan hidung

      • Penegakan diagnosa

      • Penatalaksanaan

      • Komplikasi

      • Follow up

    2. Selanjutnya dilakukan "small group discussion" bersama dengan fasilitator untuk membahas kasus/jurnal reading/referat/portfolio.

    3. Setelah selesai penatalaksanaan kasus, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.

    4. Self assesment dengan mempergunakan penuntun belajar.

    5. Pendidik/ fasilitas :

      • pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form (terlampir)

      • penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi

      • kriteria penilaian keseluruhan : perlu perbaikan/ cukup/ baik

    6. Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education)

    7. Pencapaian pembelajaran :

      • Ujian skill (psikomotor), dilakukan selama stase di sub-bagian dengan observasi menggunakan daftar tilik

      • Ujian akhir stase, setiap divisi/ unit kerja oleh masing-masing sentra

      • Ujian akhir komprehensif dilakukan secara nasional (National Board) pada tahapan tertentu dengan ujian MCQ dan LISAN/OSCE oleh kolegium THT- KL.


  10. INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF & PSIKOMOTOR

    1. Pembagian septum menurut Cottle, dibagi menjadi 5 area. Salah satu indikasi untuk melakukan tindakan koreksi berupa septoplasti ialah:

      1. Deviasi pada area 2 septum yang menimbulkan keluhan sumbatan nafas nafas

      2. Septoplasti terdapat tahapan 6 langkah dengan insisi hemitransfiksi sebagai langkah pertama

      3. Kelainan septum tanpa gejala perlu dilakukan septorinoplasti untuk alasan estetika

      4. Reposisi sederhana berupa septoplasti dilakukan pada fraktur septum harus dilakukan dalam 24 jam pertama setelah trauma

      Jawaban : A


    2. Where are septal fractures most commonly seen?

      1. Above the interface with the maxillary crest

      2. At the caudal septum

      3. At the junction of the cartilage with the perpendicular plate of the ethmoid bone

      4. Right where the cartilage interfaces with the maxillary crest Jawaban : A


  11. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR

    Penuntun Belajar Septoplasti


    Lakukan penilaian kinerja pada setiap langkah atau tugas dengan menggunakan skala penilaian di bawah ini :

    1. Perlu

      Perbaikan

    2. Cukup


    3. Baik

    Langkah atau tugas tidak dikerjakan secara benar atau dalam urutan yang salah.

    Langkah atau tugas dikerjakan secara benar dalam urutan yang benar tetapi belum dikerjakan secara lancar

    Langkah atau tugas dikerjakan secara efisien dan dikerjakan dalam urutan yang benar.


    NO

    KEGIATAN / LANGKAH KLINIK

    KESEMPATAN KE

    1

    2

    3

    4

    5

    I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF








    NO

    KEGIATAN / LANGKAH KLINIK

    KESEMPATAN KE

    1

    2

    3

    4

    5







    II. PERSIAPAN PROSEDUR SEPTOPLASTI

    1.

    Cuci tangan, memakai baju operasi dan lampu kepala







    2.

    Tindakan a dan antiseptik pada daerah wajah pasien dan sekitarnya dengan menggunakan povidon iodine atau antiseptik lainnya






    3.

    Pasang kain penutup operasi steril pada pasien, kecuali di area operasi






    4.

    Posisi pasien :

    Berbaring bila tindakan dalam anestesi umum







    5.

    Anestesi :






    III. PROSEDUR SEPTOPLASTI


    1.

    Prosedur septoplasti dapat dilakukan dengan 6 tahap. Insisi hemitransfiksi/transkolumela, mobilisasi septum tunnel anterior, posterior dan inferior, reseksi, reposisi, rekonstruksi, fiksasi.






    2.

    Pada insisi hemitrasnfiksi insisi 2 mm dari caudal end septum






    3.

    Mobilisasi dengan tunnel anterior, posterior dan inferior.






    4.

    Kondrotomi posterior dan inferior, reseksi bagian deviasi dan melakukan rekonstuksi







    5.

    Melakukan fiksasi dengan jahitan Through and through Menggunakan benang absorbable 3.0 atau 4.0. Pasang tampon anterior dengan cara tersusun.






  12. DAFTAR TILIK

    Penilaian Kinerja Ketrampilan (ujian akhir) Septoplasti

    Berikan tanda ✓ dalam kotak yang tersedia bila ketrampilan/tugas telah dikerjakan dengan memuaskan, dan berikan tanda x bila tidak dikerjakan dengan memuaskan serta T/D bila tidak dilakukan pengamatan.

    X Tidak Tidak mampu untuk mengerjakan langkah atau tugas sesuai

    memuaskan dengan prosedur standar atau penuntun.

    T/D Tidak Langkah, tugas atau ketrampilan tidak dilakukan oleh peserta

    Diamati latih selama penilaian oleh pelatih.


    DAFTAR TILIK

    NO

    KEGIATAN / LANGKAH KLINIK

    Kesempatan ke

    1

    2

    3

    4

    5

    1

    Persiapan






    2

    a. Kaji ulang diagnosis dan prosedur operatif






    3

    b. Menyiapkan peralatan operatif






    4

    c. Menyiapkan diri untuk tindakan operatif






    5

    d. Menyiapkan posisi pasien






    6

    e. Melakukan tindakan a & anti septik






    8

    PROSEDUR OPERASI






    9






    10

    b. Melakukan tindakan septoplasti






    11

    c. Memasang tampon anterior tersusun.






    1. Anestesi :

      • Pasang tampon hidung yang berisi dekongestan - anestetik topikal.

      • Larutan lidocan 1% dengan 1 : 200.000 epinefrin disuntikkan intranasal submukosa septum.

  13. MATERI PRESENTASI


    Insisi Hemitransfiksi

    Elevasi mukoperikondrium dari kartilago



    Mobilisasi septum Rekonstruksi septum Fiksasi dengan jahitan



  14. MATERI BAKU

    1. Anatomi hidung

      Hidung terdiri atas kulit, jaringan subkutis, kerangka hidung dan mukosa yang melapisi kavum nasi serta septum nasi yang membatasi rongga hidung kanan dan kiri. Kerangka hidung terdiri atas kerangka tulang dan tulang rawan. Kerangka tulang terdiri atas os nasal, prosesus frontalis os maksila, prosesus nasalis os frontalis dan tulang-tulang pembentuk septum yaitu os vomer dan os ethmoid. Kerangka tulang rawan terdiri atas cartilago upper lateral, cartilago lower lateral dan cartilago septum.


    2. Diagnosis :

      1. Riwayat sumbatan hidung, dengan dan tanpa riwayat trauma hidung

      2. Pemeriksaan intranasal setelah pemberian dekongestan dapat mendiagnosis deviasi septum

      3. Pemeriksaan hidung luar : recoil test, cottle sign

      4. Foto polos sinus paranasal dapat membantu diagnosis bila berkorelasi dengan pemeriksaan fisik


    3. Penatalaksanaan

      Septoplasti


    4. Indikasi Septoplasti

      1. Gangguan fungsi hidung

      2. Obstruksi hidung

      3. Trauma

      4. Komplikasi


    5. Macam insisi pada septoplasti :

      1. Hemitransfiksi

      2. Transkolumela


    6. Komplikasi

      Dini, temporer

      Lambat

      Epistaxis

      Obstruksi hidung

      Hematoma

      Sinekia

      Infeksi

      Perforasi septum


      Saddle nose


    7. Kepustakaan Materi Baku

  1. Bailey, B, Tan LK, Nasal and Frontal Sinus Fracture in : Head and Neck Surgery-Otolaryngology, Lippincot William-Wilkins, Philadelphia, USA, 2014

  2. Lee, K.J, Essential Otolaryngology Head & Neck Surgery, International edition, Mc. Graw-Hill, 2003

  3. Behrbohm H., Tardy M.E Jr, Essentials of Septorhinoplasty, Philosophy-

    Approaches-Techniques, Thieme Medical Publishers, Inc., New York, 2004

  4. Papel ID, Frodel J Holt GR, Larrabee W, Nachlas N, Park SS, Sykes JM, Toriumi D Facial Plastic and Reconstructive Surgery. Thieme Medical Publisher.NY 2006

MODUL UTAMA

FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI


TRAUMA, FRAKTUR, DAN KELAINAN HIDUNG

MODUL VIII.1.2 RINOPLASTI


EDISI III



KOLEGIUM

ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER

2022


DAFTAR ISI

  1. WAKTU 1

  2. PERSIAPAN SESI 1

  3. REFERENSI 1

  4. KOMPETENSI 1

  5. GAMBARAN UMUM 2

  6. CONTOH KASUS 2

  7. TUJUAN PEMBELAJARAN 3

  8. METODE PEMBELAJARAN 3

  9. EVALUASI 3

  10. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF 4

  11. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR 5

  12. DAFTAR TILIK 7

  13. MATERI PRESENTASI 7

  14. LAMPIRAN 12

  15. MATERI BAKU 13

  16. KEPUSTAKAAN MATERI BAKU 14


MODUL VIII.1.2

FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI - TRAUMA, FRAKTUR, DAN KELAINAN HIDUNG: RINOPLASTI


  1. WAKTU


    Proses Pengembangkan Kompetensi

    Alokasi Waktu :

    Sesi di dalam kelas Sesi Pratikum

    Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi

    18 X 60 menit (classroom session)

    18 X 60 menit (coaching session)

    41 X 60 menit (facilitation and assessment)


  2. PERSIAPAN SESI

  3. REFERENSI

    1. Bailey, B, Tan LK, Nasal and Frontal Sinus Fracture in : Head and Neck Surgery-Otolaryngology, Lippincot William-Wilkins, Philadelphia, USA, 2014

    2. Lee, K.J, Essential Otolaryngology Head & Neck Surgery, International edition, Mc. Graw-Hill, 2003

    3. Behrbohm H., Tardy M.E Jr, Essentials of Septorhinoplasty, Philosophy- Approaches-Techniques, Thieme Medical Publishers, Inc., New York, 2004

    4. Papel ID, Frodel J Holt GR, Larrabee W, Nachlas N, Park SS, Sykes JM, Toriumi D Facial Plastic and Reconstructive Surgery. Thieme Medical Publisher.NY 2006


  4. KOMPETENSI

    Mampu membuat diagnosis kelainan hidung berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan-pemeriksaan tambahan (misalnya pemeriksaan X-Ray, nasoendoskopi). Dapat memutuskan dan mampu menangani masalah tersebut secara mandiri hingga tuntas.

    Ketrampilan

    Peserta didik diharapkan terampil :

    1. Menjelaskan anatomi dan fisiologi hidung anak serta orang dewasa ( TK4)


    2. Menjelaskan patogenesis dan patofisiologi berbagai kelianan deviasi septum dan piramid hidung (TK4)

    3. Melakukan anamnesis dan pemeriksaan klinis (TK4)

    4. Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang seperti foto rontgen, nasoendoskopi, CTscan, foto dokumentasi (TK4)

    5. Menegakkan diagnosis dan diagnosis banding (TK4)

    6. Menilai perlunya pemeriksaan tambahan dan khusus serta konsultasi ke disiplin lain (TK4)

    7. Melakukan tindakan rinoplasti pada deviasi septum (TK4) dan piramid hidung ((TK3)

    8. Mengenali komplikasi yang dapat menyertai deviasi septum dan piramid hidung seprti sumbatan hidung, snoring, anosmia dangguan fungsi lainnya dan gangguan estetika(TK4)


  5. GAMBARAN UMUM

    Hidung merupakan struktur yang paling prominen pada wajah. Kelainan deviasi septum dan piramid hidung merupakan kelainan yang sering luput dari penglihatan seorang ahli THT. Banyak kelainan patologis hidung dan septum tidak terdiagnosis dan tertangani pada awal dan menyebabkan gangguan fungsi dan kosmetik hidung, tuba eusthachius sehingga yang memerlukan tindakan prosedur septorinoplasti akibat deviasi septum dan piramid hidung yang menyebabkan obstruksi hidung, snoring, sinuitis akibat gangguan fungsi dan kosmetik tsb.


  6. CONTOH KASUS

    Seorang laki-laki, 25 tahun datang dengan keluhan nyeri pada hidung dan perubahan bentuk hidung sejak 6 bulan yang lalu akibat setelah tersikut lengan temannya sewaktu bermain sepak bola Penderita juga mengeluh hidung kanan terasa tersumbat. Tidak ada perdarahan hidung dan tterdapat cefalgi dan sekret terus menerus. Pada pemeriksaan fisik ditemukan deviasi piramid ( bony piramid) dengan tip nasi deviasi kearah contralateral ( s type)

    1. Pemeriksaan apa yang perlu dilakukan untuk menilai adanya sumbatan hidung sehingga perlu tatalaksana selanjutnya pada pasien kasus ini

      1. Foto rongten sinus paranasal

      2. Nasoendoskopi

      3. Rinomanometri

      4. CT-Scan

    2. Tindakan operasi yang diperlukan pada pasien ini bila ditemukan sumbatan

      1. Septoplasti

      2. Septorinoplasti

      3. Rinoplasti augmentasi

      4. Rinopalasti


  7. TUJUAN PEMBELAJARAN

    Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan menatalaksana septum deviasi dan piramid hidung seperti yang telah disebutkan diatas, yaitu:

    1. Menguasai anatomi dan fisiologi hidung

    2. Mampu menjelaskan etiopatogenesis dan gambaran klinis deviasi septum dan piramid hidung

    3. Menentukan dan melakukan pemeriksaan penunjang untuk deviasi septum dan piramid hidung

    4. Membuat diagnosis deviasi piramid hidung

    5. Melaksanakan tindakan rekonstruksi terhadap deviasi piramid hidung berupa rinoplasti ( osteotomi) dengan rinoplasti augmentasi


  8. METODE PEMBELAJARAN

    1. Interactive lecture

    2. Journal reading and review.

    3. Morbidity and Mortality Case study

    4. Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).

    5. Operative Procedure Demonstration and Coaching

    6. Practice with Real Clients.

    7. Continuing Professional Development


  9. EVALUASI

    1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pre test terdiri atas :

      • Anatomi dan fisiologi hidung

        • Penegakan diagnosa deformitas hidung berupa deviasi piramid

      • Penatalaksanaan

      • Komplikasi

      • Follow up

    2. Selanjutnya dilakukan "small group discussion" bersama dengan fasilitator untuk membahas kasus/jurnal reading/referat/portfolio.

    3. Setelah selesai penatalaksanaan kasus, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.

    4. Self assesment dengan mempergunakan penuntun belajar.


    5. Pendidik/ fasilitas :

      • pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form (terlampir)

      • penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi

      • kriteria penilaian keseluruhan : perlu perbaikan/ cukup/ baik


    6. Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education)

    7. Pencapaian pembelajaran :

      • Ujian skill (psikomotor), dilakukan selama stase di sub-bagian dengan observasi menggunakan daftar tilik

        • Ujian akhir stase, setiap divisi/ unit kerja oleh masing-masing sentra

      • Ujian akhir komprehensif dilakukan secara nasional (National Board) pada tahapan tertentu dengan ujian MCQ dan LISAN/OSCE oleh kolegium THT-KL.


  10. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF

    Kuesioner Sebelum Pembelajaran

    1. Deviasi tip hidung yang mengenai pada area 2 septum dan columella menimbulkan keluhan sumbatan nafas nafas

      B S


    2. Rinoplasti endonasal approach terdapat insisi intercartilaginous intracartilaginous dan infracartilaginous sebagai langkah pertama paparan tindakan operasi dalam memperbaiki kartilago alar

      B S

    3. Kelainan piramid hidnyg berupa saddle nose tanpa gejala perlu dilakukan rinoplasti untuk alasan estetika

      B S


    4. Rinoplasti ednonasal approach dilakukan pada riwayat fraktur piramid hidung harus dilakukan dalam 24 jam pertama setelah trauma

    B S


    Jawaban :

    1. B

    2. B

    3. B

    4. S


  11. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR

    Lakukan penilaian kinerja pada setiap langkah atau tugas dengan menggunakan skala penilaian di bawah ini :

    1. Perlu Langkah atau tugas tidak dikerjakan secara benar atau dalam

    Perbaikan urutan yang salah.

    2. Cukup

    Langkah atau tugas dikerjakan secara benar dalam urutan yang benar tetapi belum dikerjakan secara lancar.

    3. Baik

    Langkah atau tugas dikerjakan secara efisien dan dikerjakan dalam urutan yang benar.

    PENUNTUN BELAJAR RINOPLASTY



    NO


    KEGIATAN / LANGKAH KLINIK

    KESEMPATAN KE

    1

    2

    3

    4

    5

    I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF







    II. PERSIAPAN PROSEDUR RINOPLASTI

    1.

    Cuci tangan, memakai baju operasi dan lampu kepala






    2.

    Tindakan a dan antiseptik pada daerah wajah pasien dan sekitarnya dengan menggunakan povidon iodine atau antiseptik lainnya






    3.

    Pasang kain penutup operasi steril pada pasien, kecuali di area operasi






    4.

    Posisi pasien : Berbaring bila tindakan dalam anestesi umum







    5.

    Anestesi :

    intranasal diantara kartilago upper dan lower lateral dan diteruskan subkutaneus sampai keatas tulang dikedua sisi.






    III. PROSEDUR RINOPLASTI

    1.

    Endonasal Approach







    2.

    Insisi Interkartilago

    Instrumen : Retraktor, pisu no.11, Gunting tumpul








    NO


    KEGIATAN / LANGKAH KLINIK

    KESEMPATAN KE

    1

    2

    3

    4

    5


    3.

    Delivery (Luxation) Technique

    Instrumen : kait, retractor tumpul 4 jari, retractor Neivert, gunting tajam, insisi marginal.

    Instrumen : Two prong hooks, knife no.15

    - Insisi marginal adalah insisi pada kulit dan subcutis sepanjang batas kaudal krus lateral, dome dan bagian depan

    krus medial kartilago ala. Insisi dibuat dari lateral ke medial.






    IV. PROSEDUR OSTEOTOMI


    1.

    Osteotomi paramedian

    Mobilisasi dari tulang piramid selalu dimulai dari osteotomi paramedial. Pendekatannya dapat melalui intraseptal setelah saluran septum dibuat


    Buat garis rencana osteotomi . .

    Osteotomi paramedial kulit dorsum nasi diunderminingnelalui insisi interkartilago natu insisi hemitransfiksi dengan gunting tumpul.

    Pahat lurus ukuran 7 mm dimasukkan intraseptal dengan ukung sudut pahat ke arah luar (lateral) sampai ujung pahat mencapai titik

    1-2 mm kranial dari garis kulit transversal.







    2.

    Osteotomi lateral

    Dibuat insisi vestibular dengan menggunakan pisau 15

    Pahat lurus 7 mm dimasukkan pada tepi kaudal dari piramid tulang, kira-kira 1-2 mm ventral garis dasar hidung dengan ujung pahat

    menghadap ke atas.. Lateral osteotomi dilanjutkan sampai batas kulit ostetomi transversal.







    3.

    Osteotomi intermedia dilakukan diantara osteotomi paramedian dan lateral. Tindakan ini dilakukan sebelum atau sesudah osteotomi

    lateral, dan dilakukan hanya pada keadaan tertentu seperti deviasi pyramid berat, dan bentuk pyramid konvex atau konkaf sekali.







    4.

    Osteotomi transversa. Instrument : Pahat 7 mm

    Pahat lengkung dimasukkan melalui insisi vestibulum ke bagian atas sesuai dengan garis marka







    5.

    Osteotomi hidung berpunuk.

    Terowongan superior diperluas keatas sampai daerah tulang os nasal. Bagian menonjol direseksi menggunakan pahat. Pahat dimasukkan dengan sudut 300 dengan level kearah atas. Tonjolan

    dipahat dengan teknik ketukan ganda.







  12. DAFTAR TILIK

    Berikan tanda ✓ dalam kotak yang tersedia bila ketrampilan/tugas telah dikerjakan dengan memuaskan, dan berikan tanda x bila tidak dikerjakan dengan memuaskan serta T/D bila tidak dilakukan pengamatan.

    atau penuntun.

    X Tidak memuaskan

    Tidak mampu untuk mengerjakan langkah atau tugas sesuai dengan prosedur standar atau penuntun.

    T/D Tidak

    diamati

    Langkah, tugas atau ketrampilan tidak dilakukan oleh peserta latih selama penilaian oleh pelatih.

    Rinoplasti



    DAFTAR TILIK

    NO

    KEGIATAN / LANGKAH KLINIK

    KESEMPATAN KE

    1

    2

    3

    4

    5

    Persiapan

    1

    Kaji ulang diagnosis dan prosedur operatif






    2

    Menyiapkan peralatan operatif






    3

    Menyiapkan diri untuk tindakan operatif






    4

    Menyiapkan posisi pasien






    5

    Melakukan tindakan a & anti septik






    6

    Melakukan anestesi lokal






    PROSEDUR OPERASI

    1

    Melakukan tindakan rinoplasti






    2

    Memasang nasal packing bila diperlukan







  13. MATERI PRESENTASI


    Frontal: Horizontally

    Analisis hidung dan wajah

    Gunter, Rohrich & Adams

    The 8th Septorhinoplasty Symposium & Cadaver Dissection, November 2013


    Gunter, Rohrich & Adams

    Frontal: Vertically

    The 8th Septorhinoplasty Symposium & Cadaver Dissection, November 2013




    Alar rim: slight outward flare (inferior direction)

    Nasal dorsum: outlined 2 slightly curved divergent lines, extending from medial supraciliary ridges-tip defining points


    Gunter, Rohrich & Adams


    The 8th Septorhino asty Symposium & Cadaver Dissection, November 2013

    Line nasion-tip nasi: 2 mm posterior and parallel (women).

    Too far posterior: augmentation will be required.

    Too anterior: reduction Women: slight supratip break

    The 8th Septorhino asty Symposium & Cadaver Dissection, November 2013



    Surgical approach to the nose


    Surgical approach


    Eksternal

    Endonasal

    Tip

    Dorsum

    Septum

    Tip

    Dorsum

    Septum

    Non delivery

    Delivery


    Transcartilaginou

    Retrograde/eversion


    Guideline surgical approach Endonasal approach : Rinoplasti augmentasi Rinoplasti hump nose

    Tip surgery Primary rinoplasti

    Tip surgery for boxy, bulbous tip Asymetry

    Piramid deviasi dengan prosedur osteotomi


    External approach Deformitas kongenital Deformiitas 2/3 piramid Tip projection Deformitas septum berat Twisted nose

    Structural Grafting Middle and nasal vault Perforasi septum

    Revisi surgery


  14. LAMPIRAN



  15. MATERI BAKU


    Anatomi hidung

    Hidung terdiri atas kulit, jaringan subkutis, kerangka hidung dan mukosa yang melapisi kavum nasi serta septum nasi yang membatasi rongga hidung kanan dan kiri. Kerangka hidung terdiri atas kerangka tulang dan tulang rawan. Kerangka tulang terdiri atas os nasal, prosesus frontalis os maksila, prosesus nasalis os frontalis dan tulang-tulang pembentuk septum yaitu os vomer dan os ethmoid. Kerangka tulang rawan terdiri atas cartilago upper lateral, cartilago lower lateral dan cartilago septum.


    Diagnosis :

    1. Deformitas hidung dengan dan tanpa riwayat trauma hidung

    2. Pemeriksaan intranasal setelah pemberian dekongestan dengan dan tanpa deviasi septum

    3. Pemeriksaan hidung luar terdapat deviasi piramid hidung

    4. Foto polos os nasal dan waters dapat membantu diagnosis bila berkorelasi dengan pemeriksaan fisik

    5. Foto dokumentasi 6 posisi


    Indikasi Rinoplasti

    Deformitas hidung bony piramid atau cartilage pyramid atau keduanya


    Penatalaksanaan

    Rinoplasti

    1. Endonasal rhinoplasty :

      1. Augmentasi dorsum

      2. Tip surgery

      3. Deviasi pyramid yang membutuhkan osteotomy


    2. Rhinoplasty eksterna :

      1. Deformitas pyramid atau hidung kongenital (cleft lip nose)

      2. Augmentasi/ reduksi dorsum nasi pada 2/3 hidung

      3. Tip proyeksi

      4. Deformitas septumnasi yang berat

      5. Twisted nose

      6. Structural grafting

      7. Rekonstruksi perforasi septum

      8. Revisi rinoplasti

    Macam insisi pada rinoplasti: External approach

    1. Insisi transkolumela


      Endonasal approach


    2. Insisi interkartilago

    3. Insisi intrakartilago

    4. Insisi marginal (infrakartilago)

    5. Insisi rim


    Komplikasi


    Dini, temporer

    Lambat

    Edema

    Obstruksi jalan nafas

    Ekmosis

    Fibrosis, kontraktur

    Epistaxis

    Deformitas menetap

    Hematoma


    Infeksi

    Saddle nose




  16. KEPUSTAKAAN MATERI BAKU


  1. Brendan C. Stack Jr. in Bailey Byron J, Head & Neck Surgery-Otolaryngology, fourth edition, volume one, Maxillary and periorbital fractures, Lippincot William-Wilkins, Philadelphia, USA, 2006: 70: 975-993.

  2. Bailey Byron J, Head & Neck Surgery-Otolaryngology, third edition, volume two, Nasal Fractures, Lippincot William-Wilkins, Philadelphia, USA, 2001: 71A: 995-1008.

  3. Guideline Penyakit THT-KL di Indonesia, Perhimpunan Dokter Spesialis THT- KL Indonesia, 2007


MODUL UTAMA

FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI


TRAUMA, FRAKTUR, DAN KELAINAN HIDUNG MODUL VIII.1.3

SEPTORINOPLASTI


EDISI III




KOLEGIUM

ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER

2022


DAFTAR ISI


  1. WAKTU 1

  2. PERSIAPAN SESI 1

  3. REFERENSI 1

  4. KOMPETENSI 1

  5. GAMBARAN UMUM 2

  6. CONTOH KASUS 2

  7. TUJUAN PEMBELAJARAN 3

  8. METODE PEMBELAJARAN 3

  9. EVALUASI 3

  10. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF 4

  11. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR 5

  12. DAFTAR TILIK 6

  13. MATERI PRESENTASI 7

  14. LAMPIRAN 10

  15. MATERI BAKU 10

  16. KEPUSTAKAAN MATERI BAKU 12

MODUL VIII.1.3

FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI - TRAUMA, FRAKTUR, DAN KELAINAN HIDUNG: SEPTORINOPLASTI


  1. WAKTU


    Proses Pengembangkan Kompetensi

    Alokasi Waktu :

    Sesi di dalam kelas Sesi Pratikum

    Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi

    18 X 60 menit (classroom session)

    18 X 60 menit (coaching session)

    41 X 60 menit (facilitation and assessment)


  2. PERSIAPAN SESI

  3. REFERENSI

    1. Bailey, B, Tan LK, Nasal and Frontal Sinus Fracture in : Head and Neck Surgery-Otolaryngology, Lippincot William-Wilkins, Philadelphia, USA, 2014

    2. Lee, K.J, Essential Otolaryngology Head & Neck Surgery, International edition, Mc. Graw-Hill, 2003

    3. Behrbohm H., Tardy M.E Jr, Essentials of Septorhinoplasty, Philosophy- Approaches-Techniques, Thieme Medical Publishers, Inc., New York, 2004

    4. Papel ID, Frodel J Holt GR, Larrabee W, Nachlas N, Park SS, Sykes JM, Toriumi D Facial Plastic and Reconstructive Surgery. Thieme Medical Publisher.NY 2006


  4. KOMPETENSI


    Mampu membuat diagnosis deviasi septum dan piramid hidung berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan-pemeriksaan tambahan (misalnya pemeriksaan X-Ray, nasoendoskopi). Dapat memutuskan dan mampu menangani masalah tersebut secara mandiri hingga tuntas.



    Ketrampilan

    Peserta didik diharapkan terampil :

    1. Menjelaskan anatomi dan fisiologi hidung anak serta orang dewasa ( TK4)

    2. Menjelaskan patogenesis dan patofisiologi berbagai kelianan deviasi septum dan piramid hidung (TK4)

    3. Melakukan anamnesis dan pemeriksaan klinis (TK4)

    4. Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang seperti foto rontgen, nasoendoskopi, CTscan, foto dokumentasi (TK4)

    5. Menegakkan diagnosis dan diagnosis banding (TK4)

    6. Menilai perlunya pemeriksaan tambahan dan khusus serta konsultasi ke disiplin lain (TK4)

    7. Melakukan tindakan septorinoplasti pada deviasi septum (TK4) dan piramid hidung ((TK3)

    8. Mengenali komplikasi yang dapat menyertai deviasi septum dan piramid hidung seprti sumbatan hidung, snoring, anosmia dangguan fungsi lainnya dan gangguan estetika(TK4)


  5. GAMBARAN UMUM


    Hidung merupakan struktur yang paling prominen pada wajah. Kelainan deviasi septum dan piramid hidung merupakan kelainan yang sering luput dari penglihatan seorang ahli THT. Banyak kelainan patologis hidung dan septum tidak terdiagnosis dan tertangani pada awal dan menyebabkan gangguan fungsi dan kosmetik hidung, tuba eusthachius sehingga yang memerlukan tindakan prosedur septorinoplasti akibat deviasi septum dan piramid hidung yang menyebabkan obstruksi hidung, snoring, sinuitis akibat gangguan fungsi dan kosmetik tsb.


  6. CONTOH KASUS


    Seorang laki-laki, 25 tahun datang dengan keluhan nyeri pada hidung dan perubahan bentuk hidung sejak 6 bulan yang lalu akibat setelah tersikut lengan temannya sewaktu bermain sepak bola Penderita juga mengeluh hidung kanan terasa tersumbat. Tidak ada perdarahan hidung dan tterdapat cefalgi dan sekret terus menerus. Pada pemeriksaan fisik ditemukan septum deviasi pada area 2 disertai dengan hipertrofi konka


    1. Pemeriksaan apa yang perlu dilakukan untuk menilai adanya sumbatan hidung sehingga perlu tatalaksana selanjutnya pada pasien kasus ini

      1. Foto rongten sinus paranasal

      2. Nasoendoskopi

      3. Rinomanometri

      4. CT-Scan


    2. Tindakan operasi yang diperlukan pada pasien ini bila ditemukan sumbatan

      1. Septoplasti

      2. Septorinoplasti

      3. Rinoplasti augmentasi

      4. Rinopalasti reduksi


  7. TUJUAN PEMBELAJARAN


    Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan menatalaksana septum deviasi dan piramid hidung seperti yang telah disebutkan diatas, yaitu:


    1. Menguasai anatomi dan fisiologi hidung

    2. Mampu menjelaskan etiopatogenesis dan gambaran klinis deviasi septum dan piramid hidung

    3. Menentukan dan melakukan pemeriksaan penunjang untuk deviasi septum dan piramid hidung

    4. Membuat diagnosis deviasi septum dan piramid hidung

    5. Melaksanakan tindakan rekonstruksi terhadap f deviasi septum dan piramid hidung septorinoplasti


  8. METODE PEMBELAJARAN


    1. Interactive lecture

    2. Journal reading and review.

    3. Morbidity and Mortality Case study

    4. Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).

    5. Operative Procedure Demonstration and Coaching

    6. Practice with Real Clients.

    7. Continuing Professional Development


  9. EVALUASI


    1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pre test terdiri atas :

      • Anatomi dan fisiologi septum dan hidung

        • Penegakan diagnosa

      • Penatalaksanaan

      • Komplikasi


      • Follow up

    2. Selanjutnya dilakukan "small group discussion" bersama dengan fasilitator

      untuk membahas kasus/jurnal reading/referat/portfolio.

    3. Setelah selesai penatalaksanaan kasus, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.

    4. Self assesment dengan mempergunakan penuntun belajar

    5. Pendidik/ fasilitas :

      • pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form (terlampir)

      • penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi

      • kriteria penilaian keseluruhan : perlu perbaikan/ cukup/ baik

    6. Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education)

    7. Pencapaian pembelajaran :

      • Ujian skill (psikomotor), dilakukan selama stase di sub-bagian dengan observasi menggunakan daftar tilik

        • Ujian akhir stase, setiap divisi/ unit kerja oleh masing-masing sentra

      • Ujian akhir komprehensif dilakukan secara nasional (National Board) pada tahapan tertentu dengan ujian MCQ dan LISAN/OSCE oleh kolegium THT-KL.


  10. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF


    Kuesioner Sebelum Pembelajaran

    1. Dislokasi caulda septum dan deviasi tip nasi menimbulkan keluhan sumbatan nafas nafas B S

    2. Septoplasti terdapat tahapan 6 langkah dengan insisi hemitransfiksi sebagai langkah pertama B S

    3. Kelainan septum tanpa gejala perlu dilakukan septorinoplasti untuk alasan estetika

      B S

    4. Septoplastirinoplasti dilakukan pada fraktur os nasal sebaiknya harus dilakukan dalam 24 jam pertama setelah trauma B S


      Jawaban :

      1. B

      2. B

      3. S

      4. S


  11. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR


    PENUNTUN BELAJAR SEPTORINOPLASTI

    Lakukan penilaian kinerja pada setiap langkah atau tugas dengan menggunakan skala penilaian di bawah ini :

    1. Perlu

      Perbaikan

    2. Cukup


    3. Baik

    Langkah atau tugas tidak dikerjakan secara benar atau dalam urutan yang salah.

    Langkah atau tugas dikerjakan secara benar dalam urutan yang benar tetapi belum dikerjakan secara lancar.

    Langkah atau tugas dikerjakan secara efisien dan dikerjakan dalam urutan yang benar.



    NO


    KEGIATAN / LANGKAH KLINIK

    KESEMPATAN KE

    1

    2

    3

    4

    5

    I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF


    2.






    II. PERSIAPAN PROSEDUR SEPTOPLASTI

    1.

    Cuci tangan, memakai baju operasi dan lampu kepala







    2.

    Tindakan a dan antiseptik pada daerah wajah pasien dan

    sekitarnya dengan menggunakan povidon iodine atau antiseptik lainnya






    3.

    Pasang kain penutup operasi steril pada pasien, kecuali di area operasi






    4.

    Posisi pasien : Berbaring bila tindakan dalam anestesi umum







    5.

    Anestesi :






    III. PROSEDUR SEPTOPLASTI


    1.

    Prosedur septoplasti dapat dilakukan dengan 6 tahap. Insisi hemitransfiksi, mobilisasi septum tunnel anterior, posterior dan inferior, reseksi, reposisi, rekonstruksi, fiksasi






    2.

    Pada insisi hemitrasnfiksi insisi 2 mm dari caudal end septum






    3.

    Mobilisasi dengan tunnel anterior, inferior , superior dan posterior






    4.

    Reseksi dengan kondrotomi inferior dan posterior








    NO


    KEGIATAN / LANGKAH KLINIK

    KESEMPATAN KE

    1

    2

    3

    4

    5


    5.

    Memasang reposisi

    Rekontruksi dengan mempertahankan tip dan piramid support

    Fiksasi dengan jahitan pada tip nasi dan tampon hidung






    IV. PROSEDUR OSTEOTOMI


    1.

    Osteotomi paramedian

    Mobilisasi dari tulang piramid selalu dimulai dari osteotomi paramedial. Pendekatannya dapat melalui intraseptal setelah saluran septum dibuat

    Buat garis rencana osteotomi . .

    Osteotomi paramedial kulit dorsum nasi diunderminingnelalui insisi interkartilago natu insisi hemitransfiksi dengan gunting tumpul.

    Pahat lurus ukuran 7 mm dimasukkan intraseptal dengan ukung sudut pahat ke arah luar (lateral) sampai ujung pahat mencapai titik 1-2 mm kranial dari garis kulit transversal.







    2.

    Osteotomi lateral

    Dibuat insisi vestibular dengan menggunakan pisau 15 Pahat lurus 7 mm dimasukkan pada tepi kaudal dari piramid tulang, kira-kira 1-2 mm ventral garis dasar hidung dengan ujung pahat menghadap ke atas.. Lateral osteotomi dilanjutkan sampai batas kulit ostetomi transversal.







    3.

    Osteotomi intermedia dilakukan diantara osteotomi paramedian dan lateral. Tindakan ini dilakukan sebelum atau sesudah osteotomi lateral, dan dilakukan hanya pada keadaan tertentu seperti deviasi pyramid berat, dan bentuk pyramid konvex atau konkaf sekali.







    4.

    Osteotomi transversa. Instrument : Pahat 7 mm

    - Pahat lengkung dimasukkan melalui insisi vestibulum ke bagian atas sesuai dengan garis marka







    7.

    Osteotomi hidung berpunuk.

    Terowongan superior diperluas keatas sampai daerah tulang os nasal. Bagian menonjol direseksi menggunakan pahat. Pahat dimasukkan dengan sudut 300 dengan level kearah atas. Tonjolan dipahat dengan teknik ketukan

    ganda.








  12. DAFTAR TILIK

    Septoplasti


    Berikan tanda ✓ dalam kotak yang tersedia bila ketrampilan/tugas telah dikerjakan dengan memuaskan, dan berikan tanda x bila tidak dikerjakan dengan memuaskan serta T/D bila tidak dilakukan pengamatan.



    DAFTAR TILIK


    NO


    KEGIATAN / LANGKAH KLINIK

    KESEMPATAN KE

    1

    2

    3

    4

    5

    Persiapan

    1

    Kaji ulang diagnosis dan prosedur operatif






    2

    Menyiapkan peralatan operatif






    3

    Menyiapkan diri untuk tindakan operatif






    4

    Menyiapkan posisi pasien






    5

    Melakukan tindakan a & anti septik






    6

    Melakukan anestesi lokal






    PROSEDUR OPERASI

    9

    1. Melakukan tindakan septoplasti






    10

    2. Memasang nasal packing bila diperlukan







    Langkah atau tugas dikerjakan sesuai prosedur standar atau penuntun.

    X Tidak memuaskan

    Tidak mampu untuk mengerjakan langkah atau tugas sesuai dengan prosedur standar atau penuntun.

    T/D Tidak

    diamati

    Langkah, tugas atau ketrampilan tidak dilakukan oleh peserta latih selama penilaian oleh pelatih.

  13. MATERI PRESENTASI



    Elevasi mukoperikondrium dari kartilago

    Insisi Hemitransfiksi




    Mobilisasi septum




    Rekonstruksi septum


    Fiksasi dengan jahitan



    Surgical approach to the nose



    Surgical approach


    Eksternal

    Endonasal

    Tip

    Dorsum

    Septum

    Tip

    Dorsum

    Septum

    Non delivery

    Delivery


    Transcartilaginous

    Retrograde/eversion


    Guideline surgical approach Endonasal approach : Rinoplasti augmentasi Rinoplasti hump nose

    Tip surgery Primary rinoplasti

    Tip surgery for boxy, bulbous tip Asymetry

    Piramid deviasi dengan prosedur osteotomi

    External approach Deformitas kongenital Deformiitas 2/3 piramid Tip projection Deformitas septum berat Twisted nose

    Structural Grafting Middle and nasal vault

    Perforasi septum Revisi surgery


  14. LAMPIRAN


  15. MATERI BAKU

    Anatomi hidung


    Hidung terdiri atas kulit, jaringan subkutis, kerangka hidung dan mukosa yang melapisi kavum nasi serta septum nasi yang membatasi rongga hidung kanan dan kiri. Kerangka hidung terdiri atas kerangka tulang dan tulang rawan. Kerangka tulang terdiri atas os nasal, prosesus frontalis os maksila, prosesus nasalis os frontalis dan tulang-tulang pembentuk septum yaitu os vomer dan os ethmoid. Kerangka tulang rawan terdiri atas cartilago upper lateral, cartilago lower lateral dan cartilago septum.


    Diagnosis :

    1. Riwayat sumbatan hidung, dengan dan tanpa riwayat trauma hidung

    2. Pemeriksaan intranasal setelah pemberian dekongestan dapat mendiagnosis deviasi septum

    3. Pemeriksaan hidung luar terdapat deviasi piramid hidung , recoil test +, cottle sign +

    4. Foto polos os nasal dan waters dapat membantu diagnosis bila berkorelasi dengan pemeriksaan fisik

    5. Foto dokumentasi 6 posisi


    Indikasi

    1. Septoplasti: gangguan fungsi hidung

    2. Obstruksi hidung

    3. Trauma

    4. Gangguan kosmetik

    5. Komplikasi


    Penatalaksanaan

    Septorinoplasty

    1. Septoplasti terdiri dari 6 langkah

    2. Rinoplasti dengan Endonasal rhinoplasty

    3. Eksternal approach dimulai dengan insisi transcolumella kemudian dilakuan septoplasti


    Indikasi septorinoplasti

    1. Kelainan kongenital dan didapat pada septum dan pyramid hidung.

    2. Gangguan kosmetik.

    3. Deformitas pyramid atau hidung kongenital (cleft lip nose)

    4. Augmentasi/ reduksi dorsum nasi pada 2/3 hidung

    5. Tip proyeksi

    6. Deformitas septumnasi yang berat

    7. Twisted nose

    8. Structural grafting

    9. Rekonstruksi perforasi septum

    10. Revisi rinoplasti


    Macam insisi pada septoplasti : hemitransfiksi Macam insisi pada rinoplasti

    1. Insisi transkolumela


    2. Insisi interkartilago

    3. Insisi intrakartilago

    4. Insisi marginal (infrakartilago)

    5. Insisi rim


    Komplikasi


    Dini, temporer

    Lambat

    Edema

    Obstruksi jalan nafas

    Ekmosis

    Fibrosis, kontraktur

    Epistaxis

    Deformitas

    Hematoma

    Sinekia

    Infeksi

    Saddle nose


    Perforasi septum


  16. KEPUSTAKAAN MATERI BAKU


  1. Brendan C. Stack Jr. in Bailey Byron J, Head & Neck Surgery-Otolaryngology, fourth edition, volume one, Maxillary and periorbital fractures, Lippincot William-Wilkins, Philadelphia, USA, 2006: 70: 975-993.

  2. Bailey Byron J, Head & Neck Surgery-Otolaryngology, third edition, volume two, Nasal Fractures, Lippincot William-Wilkins, Philadelphia, USA, 2001: 71A: 995-1008.

  3. Guideline Penyakit THT-KL di Indonesia, Perhimpunan Dokter Spesialis THT- KL Indonesia, 2007


    MODUL UTAMA

    FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI


    TRAUMA MAKSILOFASIAL MODUL VIII.2.1

    TRAUMA MAKSILA


    EDISI III



    KOLEGIUM

    ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER

    2022


    DAFTAR ISI

    1. WAKTU 1

    2. PERSIAPAN SESI 1

    3. REFERENSI 1

    4. KOMPETENSI 2

    5. GAMBARAN UMUM 2

    6. CONTOH KASUS 2

    7. TUJUAN PEMBELAJARAN 3

    8. METODE PEMBELAJARAN 4

    9. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR 6

    10. MATERI PRESENTASI 8

    11. MATERI BAKU 9

    12. ALGORITMA 13


MODUL VIII.2.1

TOPIK : FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI TRAUMA MAKSILOFASIAL: TRAUMA MAKSILA


  1. WAKTU


    Mengembangan Kompetensi

    Alokasi Waktu

    Sesi didalam kelas

    18 X 60 menit (classroom session)

    Sesi dengan fasilitas pembimbing

    50 X 60 menit (coaching session)

    Sesi pencapaian kompetensi

    43 X 60 menit (facilitation and assessment)


  2. PERSIAPAN SESI

    1. Penuntun belajar

    2. Tempat belajar ; Bangsal THT, Poli THT, kamar operasi

    3. Video animasi tuntunan operasi

    4. Kadaver


  3. REFERENSI

    1. Bailey BJ, Johnson JT, Midface Fractures, Head & Neck Surgery - Otolaryngology, 5th Edition, Volume two, Lippincott Williams & Wilkins, 2014, p : 1209-1223


  4. KOMPETENSI

    Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan-pemeriksaan tambahan yang diminta oleh dokter (misalnya; pemeriksaan laboratorium sederhana atau x-ray). Dokter dapat memutuskan dan mamph menangani problem itu secara mandiri hingga tuntas.


    Keterampilan (4)

    Setelah mengikuti sesi ini, peserta didik diharapkan terampil :

    1. Mengenali gejala

    2. Melakukan anamnesis, pemeriksaan dan penatalaksanaan fraktur maksila

    3. Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi

    4. Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi yang akan digunakan

    5. Merencanakan perawatan pasca operasi serta perencanaan tatalaksana selanjutnya

    6. Merencanakan penatalaksanaan bila terjadi komplikasi operasi

    7. Lulusan dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai fraktur maksila (baik konsep, teori, prinsip maupun indikasi, serta cara melakukan, komplikasi yang timbul, dan sebagainya). Selama pendidikan pernah melihat atau pernah didemonstrasikan operasi ini, dan pernah menerapkan rekonstruksi fraktur maksila beberapa kali di bawah supervisi sera memliki pengalaman untuk menggunakan dan menerapkan rekonstruksi fraktur maksila ini dalam konteks praktik dokter secara mandiri.


  5. GAMBARAN UMUM

    Maksila berhubungan langsung ke superior dan medial dengan tulang frontal dan tulang nasal. Bagian inferior dan medial prosesus palatinus maksila, membentuk hard palate primer. Prosesus alveolaris maksila bagian inferior memanjang dan memegang akar gigi bagian atas. Beberapa bagian maksila tipis. Dinding lateral antrum maksila merupakan tulang kompak. Di daerah inilah Zigomaticomaxillary buttress berasal.


  6. CONTOH KASUS

    Seorang laki-laki, 28 tahun, datang ke poliklinik THT-KL setelah terjatuh dari motor, mengeluh bengkak pada wajah, dan mengalami kesulitan membuka mulut


  7. TUJUAN PEMBELAJARAN

    Tujuan Pembelajaran Umum :

    Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan untuk :

    1. Mengenali gejala, tanda fraktur maksila

    2. Melakukan anamnesis, pemeriksaan dan diagnosis klasifikasi tentang fraktur maksila

    3. Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi

    4. Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi yang akan digunakan

    5. Merencanakan perawatan pasca operasi serta perencanaan tatalaksana selanjutnya

    6. Merencanakan penatalaksanaan bila terjadi komplikasi operasi


      Tujuan Pembelajaran Khusus :

      Setelah Mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk :

      1. Menjelaskan anatomi, topografi dan patofisiologi maksila (tingkat kompetensi K4)

      2. Mejelaskan etiologi dan kalsifikasi fraktur maksila (tingkat kompetensi K4)

      3. Menjelaskan dan gambaran klinis beberapa klasifikasi fraktur maksila (tingkat kompetensi K4)

      4. Menerangkan pemeriksaan penunjang yang diperlukan pada penatalaksanaan fraktur maksila (tingkat kompetensi K4)

      5. Menjelaskan tehnik operasi sesuai dengan klasifikasi fraktur maksila (tingkat kompetensi K4)

      6. Menjelaskan perawatan pasca operasi dan rencana selanjutnya (tingkat kompetensi K4)

      7. Menjelaskan penangan komplikasi operasi mulai dari komplikasi pada saat operasi, pasca operasi dan komplikasi lama (tingkat kompetensi K4)

      8. Melakukan tatalaksana pasien fraktur maksila sampai pasca operasi (tingkat kompetensi K4)

      9. Melakukan tindakan rekonstruksi maksila (tingkat kompetensi K4)

      10. Merawat penderita dengan fraktur maksila pra operasi termasuk edukasi keluarga pasien, informed consent serta perawatan pasca operasi serta mengatasi komplikasi yang kemungkinan terjadi (tingkat kompetensi K4)


  8. METODE PEMBELAJARAN

  1. Peserta didik paling sudah harus mempelajari :

    1. Bahan acuan (references)

    2. Ilmu dasar yang berkaitan dengan topik pembelajaran

    3. Ilmu klinis dasar

  2. Penuntun belajar (learning guide)

  3. Tempat belajar (training setting) : bangsal rawat tht, kamar operasi, bangsal perawatan pasca operasi.


    Cara pembelajaran :

    1. Pelatihan

    2. Belajar mandiri

    3. Kuliah

    4. Group diskusi

    5. Bed site teaching

    6. Bimbingan Operasi dan asistensi

    7. Melakukan operasi mandiri di bawah supervisi.

    8. Countinuing Profesional Development.


Alat bantu pembelajaran :

  1. Melihat tehnik rekonstruksi fraktur maksiladi kamar operasi

  2. Kadaver


  1. EVALUASI


    1. Pada awal pembelajaran dilakukan evaluasi Pre - test dalam bentuk essay dan pilihan ganda. Materi test terdiri dari : anatomi, patofisiologi, penegakan diagnosis serta klasifikasi, teknik - tehnik operasi, komplikasi dan penangannya, follow up dan perencanaan selanjutnya.

    2. Bedsite teaching dan diskusi untuk membahas beberapa masalah yang ada.

    3. Setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberi kesempatan untuk assistensi operasi rekonstruksi maksila. Pada saat itu kan dilakukan evaluasi pengetahuan dan kompetensi peserta didik.


    4. Setelah melakukan asistensi dan dinilai kompeten, peserta didik dapat melakukan operasi labioskisis di bawah bimbingan.

    5. Pendidik / fasilitas

      • Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist

      • Penjelasan lisan dan diskusi

      • Kriteris penilaian langsung : cakap / tidak cakap / lalai.


  2. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF


    1. Fracture displacement of which structure as demonstrated by axial computed tomography best indicates the amount of intrusion of the middle third of the facial skeleton in patient whose highest fracture is at the LeFort III level?

      1. Bony nasal septum

      2. Zygomatic arch

      3. Pterygoid plates

      4. Malar prominence

      5. Hard palate Jawaban: B

    2. Bilateral LeFort fractures are treated with miniplates and screws, and the maxillomandibular fixation is removed in the operating room. One week later the patient is noted to have a unilateral openbite deformity. Treatment at this time should be..

  1. Reapplication of arch bars

  2. Occlusal adjustment with selective grinding of the teeth

  3. Fabrication of an inclined bite splint to guide the teeth back into occlusion

  4. Removal of miniplates and reapplication of maxilomandibular fixation

  5. Continued observation for development of a bilateral crossbite deformity


Jawaban: D


I. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR

PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR REKONSTRUKSI MAKSILA


Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :

  1. Perlu perbaikan : langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)

  2. Mampu : langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan)

  3. Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien

T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)

NAMA PESERTA : .........TANGGAL:..........


KEGIATAN

KASUS

I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF






  • Nama

  • Diagnosis

  • Inform choice & inform consent

  • Rencana tindakan

  • Persiapan sebelum tindakan






II. PERSIAPAN PROSEDUR LABIOPLASTI






- Cuci tangan, memakai baju operasi dan memakai sarung tangan






- Tindakan a & anti sepsi daerah operasi dengan povidon iodine






- Memasang kain steril sebagai penutup pasien kecuali daerah operasi






- Dilakukan infiltrasi dengan Adrenalin : Lidokain sebesar 1:

200.000 pada daerah insisi.






III. PROSEDUR OPERASI






- Setelah penandaan dan infiltrasi sempurna dilakukan insisi sesuai penandaan dan perencanaan gambar, setelah dilakukan insisi tergantung posisi dan daerah fraktur, dilakukan diseksi, periosteum dipisahkan dari tulang,lalu dilakukan pemasangan plate and screw pada daerah fraktur, luka operasi ditutup lapis demi lapis.

Pada fraktur maksila dengan adanya maloklusi, tindakan pertama adalah memasang arch bar/ IMF/ quick Fix untuk memperbaiki maloklusi, setelah itu baru dilakukan insisi, penasangan plate and screw pada daerah fraktur, luka operasi ditutup lapis demi lapis.







IV. PASCA OPERASI






- Instruksi pasca operasi

Pasca bedah pasien dapat dipulangkan setelah efek anestesi umum sudah hilang dan sadar penuh dan tidak ada perdarahan.

Pasien diterapi dengan antibiotika oral dan analgesia ke tiga dan angkat jahitan pada hari ke 7







DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA PROSEDUR REKONSTRUKSI FRAKTUR MAKSILA

Berikan penilaian tentang kinerja psikomotor atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan suatu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini:

X : Tidak memuaskan : Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar

T/T : Tidak ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih.

PESERTA : ................................. TANGGAL:..............

KEGIATAN

NILAI

PERSIAPAN




1. Kaji ulang diagnosis dan prosedur operasi




2. Menyiapkan peralatan operasi




3. Menyiapkan diri untuk melakukan tindakan operasi




4. Menyiapkan posisi pasien




5. Melakukan tindak a & anti septil




6. Memasang kain steril menutup pasien kecuali area operasi




PROSEDUR OPERASI




1. Melakukan infiltrasi dengan Adrenalin : Lidokain sebesar 1:

200.000 pada daerah incisi.

  1. Dilakukan insisi sesuai perencanaan untuk menjangkau daerah fraktur

  2. Setelah dilakukan insisi tergantung posisi dan daerah fraktur, dilakukan diseksi, periosteum dipisahkan dari tulang

  3. Dilakukan pemasangan plate and screw pada daerah fraktur

  4. Luka operasi ditutup lapis demi lapis.

  5. Pada fraktur maksila dengan adanya maloklusi, tindakan pertama adalah memasang arch bar/ IMF/ quick Fix untuk memperbaiki maloklusi, setelah itu baru dilakukan insisi, penasangan plate and screw pada daerah fraktur, luka operasi





ditutup lapis demi lapis.

  1. Luka ditutup dengan kassa antibiotik dan plester.

  2. Instruksi pasca operasi





J. MATERI PRESENTASI

Zigomaticomaxillarys buttress

SLIDE 1 : Anatomi maksila



Le Fort I

Le Fort II

Le Fort III


SLIDE 5 Teknik Operasi


SLIDE 6 Perawatan pasca operasi & komplikasi


K. MATERI BAKU

Fraktur Maksila


Definisi

Diskontinuitas tulang maksila yang dapat disebabkan oleh trauma baik secara langsung atau tidak langsung. Maksila berhubungan langsung ke superior dan medial dengan tulang frontal dan tulang nasal. Bagian inferior dan medial prosesus palatinus maksila, membentuk hard palate primer. Prosesus alveolaris maksila bagian inferior memanjang dan memegang akar gigi bagian atas. Beberapa bagian maksila tipis. Dinding lateral antrum maksila merupakan tulang kompak. Di daerah inilah Zigomaticomaxillary buttress berasal.


Tindakan operasi dilakukan untuk memperbaiki fungsi ataupun kosmetik wajah, fraktur yang berhubungan dengan sistem pilar vertikal dari sepertiga tengah wajah. Diagnosis dan tatalaksana yang baik dapat mencegah timbulnya komplikasi yang disebabkan fraktur ini.



Pemeriksaan Penunjang

lab darah : Hb, Lekosit, Trombosit, BT, CT, bila perlu PT dan aPTT, SGOT,SGPT, Ureum, Kreatinin, Na, Kalium.

Radiologik : foto Thoraks Lain-lain : EKG bila perlu


Penatalaksanaan/terapi

Reduksi terbuka dengan fiksasi interdental dan intermaksilar, suspensi dari sutura zigometikum dan pemasangan kawat dari rim orbita.

Dapat digunakan mini/microplate untuk mobilisasi segmen fraktur sebagai pengganti kawat.

Bila dengan teknik diatas tidak didapatkan fiksasi yang adekuat, digunakan alat fiksasi eksterna untuk membuat traksi lateral atau anterior.

Pemasangan splint bila terdapat displacement gigi, traktur alveolar atau maloklusi


Penyulit :


Tehnik Operasi

Setelah penandaan dan infiltrasi sempurna dilakukan insisi sesuai penandaan dan perencanaan gambar, dilakukan insisi pada sublabial yang diekstensikan tergantung posisi dan daerah fraktur, dilakukan diseksi secara tumpul hingga periosteum, periosteum dipisahkan dari tulang sehingga tercapai maksila degloving ( seluruh os maksila terpapar berikut daerah garis frakturnya), lalu dilakukan internal fiksasi yang stabil sepanjang garis fraktur. Dilakukan pemasangan plate and screw pada daerah fraktur, dilakukan mobilisasi awal untuk mengevaluasi dan mencapai oklusi yang optimal, dilakukan perawatan perdarahan dengan memperhatikan jaringan lunak dan mempreservasi suplai neurovascular di daerah operasi. Luka operasi ditutup lapis demi lapis, dilakukan penutupan luka dengan menggunakan verban tekan.


KEPUSTAKAAN MATERI BAKU


1. Bailey BJ, Johnson JT, Midface Fraktures , Head & Neck Surgery - Otolaryngology, Fifth Edition, Volume two, Lippincott Williams & Wilkins, 2014, p : 1209 -1224


L. ALGORITMA


MODUL UTAMA

FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI


TRAUMA MAKSILOFASIAL MODUL VIII.2.2

TRAUMA ZIGOMA


EDISI III



KOLEGIUM

ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER

2022


DAFTAR ISI

  1. WAKTU 1

  2. PERSIAPAN SESI 1

  3. REFERENSI 1

  4. KOMPETENSI 1

  5. GAMBARAN UMUM 2

  6. CONTOH KASUS 2

  7. TUJUAN PEMBELAJARAN 2

  8. METODE PEMBELAJARAN 3

  9. EVALUASI 4

  10. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF 4

  11. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR 5

  12. MATERI PRESENTASI 7

  13. MATERI BAKU 9

  14. KEPUSTAKAAN MATERI BAKU 10

  15. ALGORITMA 10


MODUL VIII.2.2

TOPIK : FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI - TRAUMA MAKSILOFASIAL: TRAUMA ZIGOMA


  1. WAKTU


    Mengembangan Kompetensi

    Hari :

    Sesi didalam kelas

    4 x 30 menit (classroom session)

    Sesi dengan fasilitas pembimbing

    4 x 30 menit (coaching session)

    Sesi pencapaian kompetensi

    4 minggu (facilitation and assessment)


  2. PERSIAPAN SESI

    1. Penuntun belajar

    2. Tempat belajar ; Bangsal THT, Poli THT, kamar operasi

    3. Video animasi tuntunan operasi

    4. Kadaver


  3. REFERENSI

    Bailey BJ, Johnson JT, Midface Fractures, Head & Neck Surgery - Otolaryngology, 5th Edition, Volume two, Lippincott Williams & Wilkins, 2014, p : 1209-1223


  4. KOMPETENSI

    Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan- pemeriksaan tambahan yang diminta oleh dokter (misalnya; pemeriksaan laboratorium sederhana atau x-ray). Dokter dapat memutuskan dan mamph menangani problem itu secara mandiri hingga tuntas.

    Keterampilan (4)

    Setelah mengikuti sesi ini, peserta didik diharapkan terampil :


    1. Mengenali gejala

    2. Melakukan anamnesis, pemeriksaan dan penatalaksanaan rekonstruksi zigoma

    3. Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi

    4. Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi yang akan digunakan

    5. Merencanakan perawatan pasca operasi serta perencanaan tatalaksana selanjutnya

    6. Merencanakan penatalaksanaan bila terjadi komplikasi operasi


    Lulusan dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai fraktur zigoma (baik konsep, teori, prinsip maupun indikasi, serta cara melakukan, komplikasi yang timbul, dan sebagainya). Selama pendidikan pernah melihat atau pernah didemonstrasikan operasi ini, dan pernah menerapkan rekonstruksi fraktur zigoma beberapa kali di bawah supervisi sera memliki pengalaman untuk menggunakan dan menerapkan rekonstruksi fraktur zigoma ini dalam konteks praktik dokter secara mandiri.


  5. GAMBARAN UMUM

    Zigoma berhubungan langsung ke superior dan medial dengan tulang frontal dan tulang nasal. Bagian inferior dan medial prosesus palatinus zigoma, membentuk hard palate primer. Prosesus alveolaris zigoma bagian inferior memanjang dan memegang akar gigi bagian atas. Beberapa bagian zigoma tipis. Dinding lateral antrum zigoma merupakan tulang kompak. Di daerah inilah Zigomaticomaxillary buttress berasal.


  6. CONTOH KASUS

    Seorang laki-laki, 32 tahun, datang ke poliklinik THT-KL setelah terjatuh dari motor, mengeluh bengkak pada wajah, dan penglihatan ganda


  7. TUJUAN PEMBELAJARAN

    Tujuan Pembelajaran Umum :

    Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan untuk :

    1. Mengenali gejala, tanda fraktur zigoma

    2. Melakukan anamnesis, pemeriksaan dan diagnosis klasifikasi tentang fraktur zigoma

    3. Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi

    4. Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi yang akan digunakan

    5. Merencanakan perawatan pasca operasi serta perencanaan tatalaksana selanjutnya

    6. Merencanakan penatalaksanaan bila terjadi komplikasi operasi 7.


      Tujuan Pembelajaran Khusus :

      Setelah Mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk :

      1. Menjelaskan anatomi, topografi dan patofisiologi zigoma (tingkat kompetensi K4)


      2. Mejelaskan etiologi dan kalsifikasi fraktur zigoma (tingkat kompetensi K4)

      3. Menjelaskan dan gambaran klinis beberapa klasifikasi fraktur zigoma (tingkat kompetensi K4)

      4. Menerangkan pemeriksaan penunjang yang diperlukan pada penatalaksanaan fraktur zigoma (tingkat kompetensi K4)

      5. Menjelaskan tehnik operasi sesuai dengan klasifikasi fraktur zigoma (tingkat kompetensi K4)

      6. Menjelaskan perawatan pasca operasi dan rencana selanjutnya (tingkat kompetensi K4)

      7. Menjelaskan penangan komplikasi operasi mulai dari komplikasi pada saat operasi, pasca operasi dan komplikasi lama (tingkat kompetensi K4)

      8. Melakukan tatalaksana pasien fraktur zigoma sampai pasca operasi (tingkat kompetensi K4)

      9. Melakukan tindakan rekonstruksi zigoma (tingkat kompetensi K4)

      10. Merawat penderita dengan fraktur zigoma pra operasi termasuk edukasi keluarga pasien, informed consent serta perawatan pasca operasi serta mengatasi komplikasi yang kemungkinan terjadi (tingkat kompetensi K4)


  8. METODE PEMBELAJARAN

  1. Peserta didik paling sudah harus mempelajari :

    1. Bahan acuan (references)

    2. ​Ilmu dasar yang berkaitan dengan topik pembelajaran

    3. Ilmu klinis dasar

  2. Penuntun belajar (learning guide)


  3. Tempat belajar (training setting) : bangsal rawat tht, kamar operasi, bangsal perawatan pasca operasi.

    Cara pembelajaran :

    1. Pelatihan

    2. Belajar mandiri

    3. Kuliah

    4. Group diskusi

    5. Bed site teaching

    6. Bimbingan Operasi dan asistensi

    7. Melakukan operasi mandiri di bawah supervisi.

    8. Countinuing Profesional Development.


Alat bantu pembelajaran :

  1. Melihat tehnik rekonstruksi fraktur zigomadi kamar operasi

  2. Kadaver


  1. EVALUASI

    1. Pada awal pembelajaran dilakukan evaluasi Pre - test dalam bentuk essay dan pilihan ganda. Materi test terdiri dari : anatomi, patofisiologi, penegakan diagnosis serta klasifikasi, teknik - tehnik operasi, komplikasi dan penangannya, follow up dan perencanaan selanjutnya.

    2. Bedsite teaching dan diskusi untuk membahas beberapa masalah yang ada.

    3. Setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberi kesempatan untuk assistensi operasi labioskisis. Pada saat itu kan dilakukan evaluasi pengetahuan dan kompetensi peserta didik.

    4. Setelah melakukan asistensi dan dinilai kompeten, peserta didik dapat melakukan operasi labioskisis di bawah bimbingan.

    5. Pendidik / fasilitas

      • Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist

      • Penjelasan lisan dan diskusi

      • Kriteris penilaian langsung : cakap / tidak cakap / lalai.


  2. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF


  3. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR

    PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR REKONSTRUKSI ZIGOMA


    Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :

    1. Perlu perbaikan : langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)

    2. Mampu : langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan)

    3. Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien

    T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)

    NAMA PESERTA : ......... TANGGAL:..........

    KEGIATAN

    KASUS

    I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF






    II. PERSIAPAN PROSEDUR LABIOPLASTI

    - Cuci tangan, memakai baju operasi dan memakai sarung tangan






    - Tindakan a & anti sepsi daerah operasi dengan povidon iodine






    - Memasang kain steril sebagai penutup pasien kecuali daerah operasi






    - Dilakukan infiltrasi dengan Adrenalin : Lidokain sebesar 1:

    200.000 pada daerah insisi.






    III. PROSEDUR OPERASI

    - Setelah penandaan dan infiltrasi sempurna dilakukan insisi sesuai penandaan dan perencanaan gambar, setelah dilakukan insisi tergantung posisi dan daerah fraktur, dilakukan diseksi, periosteum dipisahkan dari tulang,lalu dilakukan pemasangan

    plate and screw pada daerah fraktur, luka operasi ditutup lapis demi lapis.






    IV. PASCA OPERASI

    - Instruksi pasca operasi

    Pasca bedah pasien dapat dipulangkan setelah efek anestesi umum sudah hilang dan sadar penuh dan tidak ada perdarahan. Pasien diterapi dengan antibiotika oral dan analgesia sampai hari ke tiga dan angkat jahitan pada hari ke 7







    Penilaian Kinerja Keterampilan (Ujian akhir) DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA PROSEDUR REKONSTRUKSI FRAKTUR ZIGOMA


    Berikan penilaian tentang kinerja psikomotor atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan suatu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini:

    panduan standar

    X : Tidak memuaskan : Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar

    T/T : Tidak ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih.

    PESERTA : ................................. TANGGAL:..............

    KEGIATAN

    NILAI

    PERSIAPAN

    1. Kaji ulang diagnosis dan prosedur operasi




    2. Menyiapkan peralatan operasi




    3. Menyiapkan diri untuk melakukan tindakan operasi




    4. Menyiapkan posisi pasien




    5. Melakukan tindak a & anti septil




    6. Memasang kain steril menutup pasien kecuali area operasi




    PROSEDUR OPERASI

    1. Melakukan infiltrasi dengan Adrenalin : Lidokain sebesar 1:

    200.000 pada daerah incisi.




    1. Dilakukan insisi sesuai perencanaan untuk menjangkau daerah fraktur

    2. Setelah dilakukan insisi tergantung posisi dan daerah fraktur, dilakukan diseksi, periosteum dipisahkan dari tulang

    3. Dilakukan pemasangan plate and screw pada daerah fraktur

    4. Luka operasi ditutup lapis demi lapis.

    5. Luka ditutup dengan kassa antibiotik dan plester.

    6. Instruksi pasca operasi


    - SLIDE 1 : Anatomi zigoma

  4. MATERI PRESENTASI

    SLIDE 1 : Anatomi zigoma


  5. MATERI BAKU

    Fraktur Zigoma Definisi

    Diskontinuitas tulang zygoma yang dapat disebabkan oleh trauma baik secara langsung atau tidak langsung. Zygoma adalah tulang kokoh sebagai struktur penting, dan merupakan komponen integral dari sistem estetis pada wajah. Tulang zygoma terkait dengan empat tulang sekitarnya yaitu frontal, maxillary, temporal, dan sphenoid.

    Fraktur pada tulang zygoma dapat menyebabkan gangguan kosmetik pada wajah. Tindakan operasi pada fraktur zygoma bertujuan untuk memperbaiki fungsi ataupun kosmetik wajah.

    Klasifikasi Trauma Zigoma

    1. Zygomaticomaxillary Complex Fractures (ZMC Fractures)

      • Fraktur Malar

      • Fraktur Zygoma

      • Fraktur ZMC

      • Fraktur Tripod/ Tetrapod

      • Fraktur Orbitozygomatik

    2. Zygomatic Arch Fractures

      Indikasi operasi

      • Wajah asimetris

      • Volume rongga orbita yang abnormal

      • Gangguan fungsi mengunyah

      • Gangguan fungsi pernapasan

      • Gangguan penglihatan


      List of Skill

      • Tahapan Bedah Dasar (sudah kompeten melakukan bedah dasar)

      • Persiapan pra operasi: anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, IC

      • Melakukan Operasi (asistensi)

      • Menangani Komplikasi

      • Melakukan Follow-up

      • Tahapan bedah lanjutan

      • Persiapan pra operasi: anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, IC

      • Melakukan Operasi (Bimbingan, Mandiri)

      • Menangani Komplikasi

      • Melakukan Follow-up

      • Melakukan perencanaan selanjutnya


      Tehnik Operasi

      Setelah penandaan dan infiltrasi sempurna dilakukan insisi sesuai penandaan dan perencanaan gambar, setelah dilakukan insisi tergantung posisi dan daerah fraktur baik pendekatan insisi Gillies maupun pendekatan Keen (intraoral), dilakukan diseksi secara tumpul hingga periosteum, periosteum dipisahkan dari tulang. Dilakukan reposisi tulang pada garis fraktur untuk mereduksi/ mencapai posisi anatomi yang akurat dan normal dengan menyusuri daerah belakang arkus zygoma secara tumpul dengan memperhatikan


      percabangan nervus fasialis di daerah tersebut, setelah itu dilakukan fiksasi internal yang stabil sepanjang garis fraktur (pada fraktur lebih dari 1 garis). Dilakukan pemasangan plate and screw pada daerah fraktur, dilakukan perawatan perdarahan dengan memperhatikan jaringan lunak dan mempreservasi suplai neurovascular di daerah operasi. Luka operasi ditutup lapis demi lapis, dilakukan penutupan luka dengan menggunakan verban tekan.


  6. KEPUSTAKAAN MATERI BAKU

    1. Bailey BJ, Johnson JT, Midface Fractures , Head & Neck Surgery - Otolaryngology, Fifth Edition, Volume two, Lippincott Williams & Wilkins, 2014, p : 1209 -1224


  7. ALGORITMA


MODUL UTAMA

FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI


TRAUMA MAKSILOFASIAL MODUL VIII.2.3

TRAUMA DASAR ORBITA


EDISI III




KOLEGIUM

ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER

2022


DAFTAR ISI

  1. WAKTU 1

  2. PERSIAPAN SESI 1

  3. REFERENSI 1

  4. KOMPETENSI 1

  5. GAMBARAN UMUM 2

  6. CONTOH KASUS 2

  7. TUJUAN PEMBELAJARAN 2

  8. METODE PEMBELAJARAN 3

  9. EVALUASI 3

  10. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF 4

  11. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR 5

  12. DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA 6

  13. MATERI PRESENTASI 6

  14. MATERI BAKU 10

  15. KEPUSTAKAAN MATERI BAKU 11


MODUL VIII.2.3

TOPIK : FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI - TRAUMA MAKSILOFASIAL: TRAUMA DASAR ORBITA


  1. WAKTU


    Mengembangan Kompetensi

    Hari :

    Sesi didalam kelas

    3 x 30 menit (classroom session)

    Sesi dengan fasilitas pembimbing

    3 x 30 menit (coaching session)

    Sesi pencapaian kompetensi

    2 minggu (facilitation and assessment)


  2. PERSIAPAN SESI


  3. REFERENSI

    1. Bailey BJ, Johnson JT, Dasar orbital Fractures, Head & Neck Surgery - Otolaryngology, 5th Edition, Volume two, Lippincott Williams & Wilkins, 2014, p : 1225-1240


  4. KOMPETENSI

    Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan- pemeriksaan tambahan yang diminta oleh dokter (misalnya; pemeriksaan laboratorium sederhana atau x-ray). Dokter dapat memutuskan dan mamph menangani problem itu secara mandiri hingga tuntas.

    Keterampilan (3)

    Setelah mengikuti sesi ini, peserta didik diharapkan terampil :

    1. Mengenali gejala

    2. Melakukan anamnesis, pemeriksaan dan penatalaksanaan fraktur dasar orbita


    3. Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi

    4. Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi yang akan digunakan

    5. Merencanakan perawatan pasca operasi serta perencanaan tatalaksana selanjutnya

    6. Merencanakan penatalaksanaan bila terjadi komplikasi operasi

    Lulusan dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai fraktur dasar orbita (baik konsep, teori, prinsip maupun indikasi, serta cara melakukan, komplikasi yang timbul, dan sebagainya). Selama pendidikan pernah melihat atau pernah didemonstrasikan operasi ini, dan pernah menerapkan rekonstruksi fraktur dasar dasar orbita beberapa kali di bawah supervisi.


  5. GAMBARAN UMUM

    Fraktur dasar orbita dapat berupa fraktur blow out murni maupun fraktur rima orbita. Penanganannya


  6. CONTOH KASUS

    Seorang laki-laki, 38 tahun, datang ke poliklinik THT-KL setelah matanya terkena bola tenis. Penglihatan ganda dan bengkak disekitar mata dikeluhkan penderita.


  7. TUJUAN PEMBELAJARAN

    Tujuan Pembelajaran Umum :

    Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan untuk :

    1. Mengenali gejala, tanda fraktur dasar orbita

    2. Melakukan anamnesis, pemeriksaan dan diagnosis klasifikasi tentang fraktur dasar orbita

    3. Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi

    4. Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi yang akan digunakan

    5. Merencanakan perawatan pasca operasi serta perencanaan tatalaksana selanjutnya

    6. Merencanakan penatalaksanaan bila terjadi komplikasi operasi

      Tujuan Pembelajaran Khusus :

      Setelah Mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk :

      1. Menjelaskan anatomi, topografi dan patofisiologi orbita (tingkat kompetensi K4)

      2. Mejelaskan etiologi fraktur dasar orbita (tingkat kompetensi K4)

      3. Menjelaskan dan gambaran klinis beberapa klasifikasi fraktur dasar orbita (tingkat kompetensi K4)

      4. Menerangkan pemeriksaan penunjang yang diperlukan pada penatalaksanaan fraktur dasar orbita (tingkat kompetensi K4)

      5. Menjelaskan tehnik operasi sesuai dengan klasifikasi fraktur dasar orbita (tingkat kompetensi K4)

      6. Menjelaskan perawatan pasca operasi dan rencana selanjutnya (tingkat kompetensi K4)


      7. Menjelaskan penangan komplikasi operasi mulai dari komplikasi pada saat operasi, pasca operasi dan komplikasi lama (tingkat kompetensi K4)

      8. Melakukan tatalaksana pasien fraktur dasar orbita sampai pasca operasi (tingkat kompetensi K3)

      9. Melakukan tindakan rekonstruksi dasar orbita (asisten) (tingkat kompetensi K3)

      10. Merawat penderita dengan fraktur dasar orbita pra operasi termasuk edukasi keluarga pasien, informed consent serta perawatan pasca operasi serta mengatasi komplikasi yang kemungkinan terjadi (tingkat kompetensi K4)


  8. METODE PEMBELAJARAN

    Pendahuluan

    Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:

    1. Small group discussion

    2. Peer assisted learning

    3. Bedside teaching

    4. Task-based medical education

    5. Must to know key points :

      1. Peserta didik paling sudah harus mempelajari :

        1. Bahan acuan (references)

        2. Ilmu dasar yang berkaitan dengan topik pembelajaran

        3. Ilmu klinis dasar

      2. Penuntun belajar (learning guide)

      3. Tempat belajar (training setting) : bangsal rawat tht, kamar operasi, bangsal perawatan pasca operasi.

        Cara pembelajaran :

        1. Pelatihan

        2. Belajar mandiri

        3. Kuliah

        4. Group diskusi

        5. Bed site teaching

        6. Bimbingan Operasi

        7. Melakukan operasi sebagai asisten.

        8. Continuing Profesional Development.

      Alat bantu pembelajaran :

      1. Melihat tehnik rekonstruksi fraktur dasar orbitadi kamar operasi

      2. Kadaver


  9. EVALUASI

    1. Pada awal pembelajaran dilakukan evaluasi Pre - test dalam bentuk essay dan pilihan ganda. Materi test terdiri dari : anatomi, patofisiologi, penegakan diagnosis serta klasifikasi, teknik - tehnik operasi, komplikasi dan penangannya, follow up dan perencanaan selanjutnya.

    2. Bedsite teaching dan diskusi untuk membahas beberapa masalah yang ada.


    3. Setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberi kesempatan untuk assistensi operasi rekonstruksi dasar orbita. Pada saat itu kan dilakukan evaluasi pengetahuan dan kompetensi peserta didik.

    4. Pendidik / fasilitas

      • Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist

      • Penjelasan lisan dan diskusi

      • Kriteris penilaian langsung : cakap / tidak cakap / lalai.


  10. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF

  11. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR

    PENUNTUN BELAJAR

    PROSEDUR REKONSTRUKSI DASAR ORBITA


    Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :

    1. Perlu perbaikan : langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)

    2. Mampu : langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan)

    3. Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien

    T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)

    NAMA PESERTA : ......... TANGGAL:..........


    KEGIATAN

    KASUS

    I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF






    II. PERSIAPAN PROSEDUR REKONSTRUKSI DASAR ORBITA

    - Cuci tangan, memakai baju operasi dan memakai sarung tangan






    - Tindakan a & anti sepsi daerah operasi dengan povidon iodine






    - Memasang kain steril sebagai penutup pasien kecuali daerah operasi






    - Dilakukan infiltrasi dengan Adrenalin : Lidokain sebesar 1:

    200.000 pada daerah insisi.






    III. PROSEDUR OPERASI






    Setelah penandaan dan infiltrasi sempurna dilakukan insisi sesuai penandaan dan perencanaan gambar, setelah dilakukan insisi tergantung posisi dan daerah fraktur, dilakukan diseksi, periosteum dipisahkan dari tulang,lalu dilakukan pemasangan plate and screw pada daerah fraktur, Bila perlu dilakukan pemasangan mesh untuk menutup defek pada dasar orbita,

    luka operasi ditutup lapis demi lapis.






    IV. PASCA OPERASI






    - Instruksi pasca operasi

    Pasca bedah pasien dapat dipulangkan setelah efek anestesi






    1. Nama

    2. Diagnosis

    3. Inform choice & inform consent

    4. Rencana tindakan

    5. Persiapan sebelum tindakan



    KEGIATAN

    KASUS

    umum sudah hilang dan sadar penuh dan tidak ada perdarahan. Pasien diterapi dengan antibiotika oral dan analgesia ke tiga dan angkat jahitan pada hari ke 7







    Penilaian Kinerja Keterampilan (Ujian akhir)


  12. DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA

    PROSEDUR REKONSTRUKSI FRAKTUR DASAR ORBITA

    Berikan penilaian tentang kinerja psikomotor atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan suatu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini:

    X : Tidak memuaskan : Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar

    T/T : Tidak ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih.


    PESERTA : ................................. TANGGAL:..............


    KEGIATAN

    NILAI

    PERSIAPAN

    1. Kaji ulang diagnosis dan prosedur operasi




    2. Menyiapkan peralatan operasi




    3. Menyiapkan diri untuk melakukan tindakan operasi




    4. Menyiapkan posisi pasien




    5. Melakukan tindak a & anti septil




    6. Memasang kain steril menutup pasien kecuali area operasi




    PROSEDUR OPERASI

    1. Melakukan infiltrasi dengan Adrenalin : Lidokain sebesar 1:

    200.000 pada daerah incisi.




    1. Dilakukan insisi sesuai perencanaan untuk menjangkau daerah fraktur

    2. Setelah dilakukan insisi tergantung posisi dan daerah fraktur, dilakukan diseksi, periosteum dipisahkan dari tulang

    3. Dilakukan pemasangan plate and screw pada daerah fraktur

    4. Bila perlu dilakukan pemasangan mesh untuk menutup defek pada dasar orbita

    5. Luka operasi ditutup lapis demi lapis.

    6. Luka ditutup dengan kassa antibiotik dan plester.

    7. Instruksi pasca operasi


  13. MATERI PRESENTASI

    SLIDE 1 : Anatomi orbita




    - SLIDE 2: Klasifikasi Trauma dasar dasar orbita


    1. Blow out fracture

    2. Rim orbita fracture



    O R B I

    EYE GLOBE

    T A


    FRACTURE OF THE ORBITAL FLOOR



    SLIDE 3 : Indikasi rekonstruksi dasar orbita


  14. MATERI BAKU


    Definisi


    FRAKTUR DASAR ORBITA

    Diskontinuitas tulang dasar orbita yang dapat disebabkan oleh trauma baik secara langsung atau tidak langsung. Bagian dari tulang zygoma dan maksila membentuk dasar orbital rim. Tindakan operasi untuk memperbaiki atau mempreservasi fungsi penglihatan ataupun kosmetik wajah. Rekonstruksi anatomi yang akurat dari lempeng os frontal, sampai dengan ujung lateral kompleks orbitozigomaticum. Rekonstruksi dari dinding lateral, medial dan inferior dari orbita pada bentuk dan posisi awal, dengan rekonstruksi dinding atap orbita lebih tinggi dari posisi awal sebelum trauma.

    Indikasi operasi

    Tehnik Operasi

    Setelah penandaan dan infiltrasi sempurna pada kelopak mata bagian bawah dan sepanjang inferior orbital rim, dilakukan insisi pendekatan transkutaneus (subtarsal/ subcilliar) sesuai penandaan dan perencanaan gambar, dilakukan diseksi tumpul hingga periosteum bagian anterior dari inferior orbital rim, periosteum dipisahkan dari tulang terus menyusuri dasar orbita dengan memperhatikan batas depan dari nervus optikus, lalu dilakukan reposisi pada daerah fraktur dengan menaikkan/mengangkat bagian dasar orbital yang turun ke bawah kembali ke posisi anatomic awal, dilakukan pemasangan bone graft/plate and screw pada daerah fraktur. Bila perlu dilakukan pemasangan mesh untuk menutup defek pada dasar orbita, dan luka operasi ditutup lapis demi lapis.


  15. KEPUSTAKAAN MATERI BAKU

1. Bailey BJ, Johnson JT, Midface Fraktures , Head & Neck Surgery - Otolaryngology, Fifth Edition, Volume two, Lippincott Williams & Wilkins, 2014, p : 1209 -1224

MODUL UTAMA

FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI


TRAUMA MAKSILOFASIAL MODUL VIII.2.4

TRAUMA MANDIBULA


EDISI III




KOLEGIUM

ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER

2022


DAFTAR ISI


  1. WAKTU 1

  2. PERSIAPAN SESI 1

  3. REFERENSI 1

  4. KOMPETENSI 2

  5. GAMBARAN UMUM 2

  6. CONTOH KASUS 2

  7. TUJUAN PEMBELAJARAN 2

  8. METODE PEMBELAJARAN 3

  9. EVALUASI 4

  10. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF 4

  11. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR 5

  12. MATERI PRESENTASI 7

  13. MATERI BAKU 12

  14. KEPUSTAKAAN MATERI BAKU 14


MODUL VIII.2.4

TOPIK : FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI - TRAUMA MAKSILOFASIAL

: TRAUMA MANDIBULA


  1. WAKTU


    Mengembangan Kompetensi

    Hari :

    Sesi didalam kelas

    3 x 30 menit (classroom session)

    Sesi dengan fasilitas pembimbing

    3 x 30 menit (coaching session)

    Sesi pencapaian kompetensi

    2 minggu (facilitation and assessment)


  2. PERSIAPAN SESI

    1. Penuntun belajar

    2. Tempat belajar ; Bangsal THT, Poli THT, kamar operasi

    3. Video animasi tuntunan operasi

    4. Kadaver


  3. REFERENSI

    1. Bailey BJ, Johnson JT, Mandibular Fractures, Head & Neck Surgery - Otolaryngology, 5th Edition, Volume two, Lippincott Williams & Wilkins, 2014, p : 1195-1207


  4. KOMPETENSI

    Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan- pemeriksaan tambahan yang diminta oleh dokter (misalnya; pemeriksaan laboratorium sederhana atau x-ray). Dokter dapat memutuskan dan mamph menangani problem itu secara mandiri hingga tuntas.

    Keterampilan (3)

    Setelah mengikuti sesi ini, peserta didik diharapkan terampil :

    1. Mengenali gejala

    2. Melakukan anamnesis, pemeriksaan dan penatalaksanaan fraktur mandibula

    3. Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi

    4. Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi yang akan digunakan

    5. Merencanakan perawatan pasca operasi serta perencanaan tatalaksana selanjutnya

    6. Merencanakan penatalaksanaan bila terjadi komplikasi operasi

    Lulusan dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai fraktur mandibula (baik konsep, teori, prinsip maupun indikasi, serta cara melakukan, komplikasi yang timbul, dan sebagainya). Selama pendidikan pernah melihat atau pernah didemonstrasikan operasi ini, dan pernah menerapkan rekonstruksi fraktur mandibula beberapa kali di bawah supervisi


  5. GAMBARAN UMUM

    Fraktur mandibula merupakan cedera yang sering terjadi, setelah kejadian fraktur hidung. Peran utama mandibula adalah untuk fungsi mastikasi, menelan, dan bicara membuat operasi rekonstruksi mandibula merupakan suatu tantangan. Oleh karena itu pemeriksaan dan perencanaan operasi yang akurat sangat diperlukan dalam menangani fraktur mandibula.


  6. CONTOH KASUS

    Seorang laki-laki, 42 tahun, datang ke poliklinik THT-KL setelah rahang bawahnya terbentur trotoar ketika terjatuh dari motor. Penderita mengeluh tidak dapat mengatupkan mulutnya.


  7. TUJUAN PEMBELAJARAN

    Tujuan Pembelajaran Umum :

    Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan untuk :

    1. Mengenali gejala, tanda fraktur mandibula

    2. Melakukan anamnesis, pemeriksaan dan diagnosis klasifikasi tentang fraktur mandibula

    3. Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi

    4. Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi yang akan digunakan

    5. Merencanakan perawatan pasca operasi serta perencanaan tatalaksana selanjutnya

    6. Merencanakan penatalaksanaan bila terjadi komplikasi operasi


      Tujuan Pembelajaran Khusus :

      Setelah Mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk :

      1. Menjelaskan anatomi, topografi dan patofisiologi mandibula (tingkat kompetensi K4)

      2. Menjelaskan etiologi fraktur mandibula (tingkat kompetensi K4)

      3. Menjelaskan dan gambaran klinis fraktur mandibula (tingkat kompetensi K4)

      4. Menerangkan pemeriksaan penunjang yang diperlukan pada penatalaksanaan fraktur mandibula (tingkat kompetensi K4)

      5. Menjelaskan tehnik operasi fraktur mandibula (tingkat kompetensi K4)

      6. Menjelaskan perawatan pasca operasi dan rencana selanjutnya (tingkat kompetensi K4)

      7. Menjelaskan penangan komplikasi operasi mulai dari komplikasi pada saat operasi, pasca operasi dan komplikasi lama (tingkat kompetensi K4)

      8. Melakukan tatalaksana pasien fraktur mandibula sampai pasca operasi (tingkat kompetensi K3)

      9. Melakukan tindakan rekonstruksi fraktur mandibula (asisten) (tingkat kompetensi K3)

      10. Merawat penderita dengan fraktur mandibula pra operasi termasuk edukasi keluarga pasien, informed consent serta perawatan pasca operasi serta mengatasi komplikasi yang kemungkinan terjadi (tingkat kompetensi K4)


  8. METODE PEMBELAJARAN

    Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini :

    1. Small group discussion

    2. Peer assisted learning

    3. Bedside teaching

    4. Task-based medical education

    5. Must to know key points :


      1. Peserta didik paling sudah harus mempelajari :

        1. Bahan acuan (references)

        2. ​Ilmu dasar yang berkaitan dengan topik pembelajaran

        3. Ilmu klinis dasar

      2. Penuntun belajar (learning guide)

      3. Tempat belajar (training setting) : bangsal rawat tht, kamar operasi, bangsal perawatan pasca operasi.


        Cara pembelajaran :

        1. Pelatihan

        2. Belajar mandiri

        3. Kuliah

        4. Group diskusi

        5. Bed site teaching

        6. Bimbingan Operasi d


        7. Melakukan operasi sebagai asisten.

        8. Countinuing Profesional Development. Alat bantu pembelajaran :

          1. Melihat tehnik rekonstruksi fraktur mandibula di kamar operasi

          2. Kadaver


  9. EVALUASI

    1. Pada awal pembelajaran dilakukan evaluasi Pre - test dalam bentuk essay dan pilihan ganda. Materi test terdiri dari : anatomi, patofisiologi, penegakan diagnosis serta klasifikasi, teknik - tehnik operasi, komplikasi dan penangannya, follow up dan perencanaan selanjutnya.

    2. Bedsite teaching dan diskusi untuk membahas beberapa masalah yang ada.

    3. Setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberi kesempatan untuk assistensi operasi rekonstruksi mandibula. Pada saat itu kan dilakukan evaluasi pengetahuan dan kompetensi peserta didik.

    4. Pendidik / fasilitas

      • Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist

      • Penjelasan lisan dan diskusi

      • Kriteris penilaian langsung : cakap / tidak cakap / lalai


  10. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF

  11. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR

    PENUNTUN BELAJAR

    PROSEDUR REKONSTRUKSI FRAKTUR MANDIBULA


    Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :

    1. Perlu perbaikan : langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)

    2. Mampu : langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan)

    3. Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien

    T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)

    NAMA PESERTA : ......... TANGGAL:..........

    KEGIATAN

    KASUS

    I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF






    II. PERSIAPAN PROSEDUR REKONSTRUKSI MANDIBULA

    - Cuci tangan, memakai baju operasi dan memakai sarung tangan






    - Tindakan a & anti sepsi daerah operasi dengan povidon iodine






    - Memasang kain steril sebagai penutup pasien kecuali daerah operasi






    - Dilakukan infiltrasi dengan Adrenalin : Lidokain sebesar 1:

    200.000 pada daerah insisi.






    III. PROSEDUR OPERASI






    IV. PASCA OPERASI

    - Instruksi pasca operasi

    Pasca bedah pasien dapat dipulangkan setelah efek anestesi








    KEGIATAN

    KASUS

    umum sudah hilang dan sadar penuh dan tidak ada perdarahan. Pasien diterapi dengan antibiotika oral dan analgesia ke tiga dan angkat jahitan pada hari ke 7







    Penilaian Kinerja Keterampilan (Ujian akhir) DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA

    PROSEDUR REKONSTRUKSI FRAKTUR MANDIBULA

    Berikan penilaian tentang kinerja psikomotor atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan suatu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini:

    X : Tidak memuaskan : Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar

    T/T : Tidak ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih.

    PESERTA : ................................. TANGGAL:..............

    KEGIATAN

    NILAI

    PERSIAPAN




    1. Kaji ulang diagnosis dan prosedur operasi




    2. Menyiapkan peralatan operasi




    3. Menyiapkan diri untuk melakukan tindakan operasi




    4. Menyiapkan posisi pasien




    5. Melakukan tindak a & anti septil




    6. Memasang kain steril menutup pasien kecuali area operasi




    PROSEDUR OPERASI




    1. Melakukan infiltrasi dengan Adrenalin : Lidokain sebesar 1:

    200.000 pada daerah incisi.




    1. Dilakukan insisi sesuai perencanaan untuk menjangkau daerah fraktur

    2. Setelah dilakukan insisi tergantung posisi dan daerah fraktur, dilakukan diseksi, periosteum dipisahkan dari tulang

    3. Bila perlu dilakukan pemasangan IMF/ arch bar/ quick fix untuk menstabilkan garis fraktur sebelum dilakukan pemasangan plate and screw

    4. Dilakukan pemasangan plate and screw pada daerah fraktur\

    5. Luka operasi ditutup lapis demi lapis.

    6. Luka ditutup dengan kassa antibiotik dan plester.

    7. Instruksi pasca operasi


  12. MATERI PRESENTASI

    SLIDE 1 : Anatomi mandibula








    - SLIDE 2: The angle classificasion of occlusion




    SLIDE 3: Biomechanics of the mandible




    SLIDE 4: Klasifikasi fraktur mandibula





    SLIDE 5 : Indikasi rekonstruksi mandibula


    SLIDE 6: Pemeriksaan Penunjang

    Panoramic x-ray CT Scan

    CT Scan 3D


    SLIDE 7: Teknik Operasi

    Sesuai dengan diagnosis pasien


    SLIDE 8: Perawatan pasca operasi & komplikasi


  13. MATERI BAKU


    Fraktur mandibula Definisi

    Rusaknya kontinuitas tulang mandibular yang dapat disebabkan oleh trauma baik secara langsung atau tidak langsung. Fraktur mandibula dapat terjadi pada bagian korpus, angulus, ramus maupun kondilus.


    Mandibula dipersyarafi oleh saraf mandibular, alveolar inferior, pleksus dental inferior dan nervus mentalis. Sistem vaskularisasi pada mandibula diperdarahi oleh a. Maksilaris interna, a. Alveolar inferior dan a. Mentalis.


    Klasifikasi

    Menurut R.Dingman dan P. Natvig pada tahun 1969 fraktur pada mandibula dibagi menjadi :

    1. Menurut arah fraktur ( horizontal/vertikal )

    2. Menurut derajat keparahan fraktur (simple/tertutup/mengarah ke rongga mulut atau kulit)

    3. Menurut tipe fraktur (greenstick/ kompleks/ kominutiva/ impaksi / depresi)

    4. Menurut ada tidaknya gigi dalam rahang ( dentilous, partially dentilous, edentulous )

    5. Menurut lokasi ( region simfisis, region kaninus, region korpus, angulus, ramus, prosesus kondilus, prosesus koronoid )


    Patofisiologi

    Derajat keparahan fraktur sangat bergantung pada kekuatan trauma. Karena itu fraktur komunitiva dapat dipastikan terjadi karena adanya kekuatan energy yang besar yang menyebabkan trauma.


    Manifestasi Klinis

    Pasien dengan fraktur mandibula umumnya datang dengan adanya deformitas pada muka, baik berupa hidung yang masuk ke dalam, mata masuk ke dalam dan


    sebagainya. Kondisi ini juga disertai dengan kelainan dari fungsi organ yang terdapat di muka seperti mata terus berair, penglihatan ganda, kebutaan, anosmia, kesulitan bicara karena adanya fraktur mandibula, maloklusi sampai kesulitan bernapas kerena hilangnya kekuatan untuk menahan lidah pada tempatnya sehingga lidah menutupi rongga faring.


    Gejala dan Tanda


    List of Skill


    1. Dislokasi, berupa perubahan posisi rahang yang menyebabkan maloklusi

    2. Pergerakan rahang yang abnormal

    3. Rasa sakit pada saat rahang digerakkan

    4. Pembengkakan pada sisi fraktur sehingga dapat menentukan lokasi daerah fraktur

    5. Krepitasi

    6. Laserasi yang terjadi pada daerah gusi, mukosa mulut dan daerah sekitar fraktur

    7. Diskolorisasi, perubahan warna pada daerah fraktur akibat pembengkakan

    8. Disability, terjadi gangguan fungsional berupa penyempitan dalam membuka mulut

    9. Hipersalivas dan halitosis

    10. Numbness, akibat kelumpuhan dari bibir bawah biasanya bila fraktur terjadi di bawah nervus alveolaris.

      • Tahapan Bedah Dasar (sudah kompeten melakukan bedah dasar)

      • Persiapan pra operasi: anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, IC

      • Melakukan Operasi (asistensi)

      • Menangani Komplikasi

      • Melakukan Follow-up

      • Tahapan bedah lanjutan

      • Persiapan pra operasi: anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, IC

      • Melakukan Operasi (Asisten)

      • Menangani Komplikasi

      • Melakukan Follow-up

      • Melakukan perencanaan selanjutnya

    Tehnik Operasi


    Setelah penandaan dan infiltrasi daerah operasi dengan larutan adrenalin: lidokain dengan Nacl=1:200.000, dilakukan insisi sesuai penandaan daerah operasi dan perencanaan gambar, setelah dilakukan insisi tergantung posisi dan daerah fraktur, dilakukan diseksi secara tumpul sampai ditemukan periosteum, periosteum dipisahkan dari tulang menyusuri garis fraktur secara keseluruhan ( dari ujung ke ujung), bila perlu dilakukan pemasangan IMF/ arch bar/ quick fix. Untuk operasi reduksi tertutup diindikasikan untuk fraktur simfisis mandibula, sudut mandibula, fraktur condilus dan corpus mandibula. Operasi reduksi terbuka diindikasikan untuk fraktur-fraktur yang


    tidak dapat direduksi/direposisi secara tertutup. Indikasi lain reduksi terbuka adalah fraktur wajah midfacial, fraktur condilar.

    Dilakukan reposisi tulang pada garis fraktur untuk mereduksi/ mencapai posisi anatomi yang akurat dan normal, setelah itu dilakukan fiksasi internal yang stabil sepanjang garis fraktur. Dilakukan pemasangan plate and screw pada daerah fraktur, dilakukan mobilisasi awal pada mandibula untuk mengevaluasi dan mencapai oklusi yang optimal, dilakukan perawatan perdarahan dengan memperhatikan jaringan lunak dan mempreservasi suplai neurovascular di daerah operasi. Luka operasi ditutup lapis demi lapis, dilakukan penutupan luka dengan menggunakan verban tekan.


  14. KEPUSTAKAAN MATERI BAKU


    1. Bailey BJ, Johnson JT, Mandibular Fractures, Head & Neck Surgery - Otolaryngology, 5th Edition, Volume two, Lippincott Williams & Wilkins, 2014, p : 1195-1207

    2. Wood R. J, Jurkiewicz M.J. Plastic and Reconstructive Surgery. In : Schwartz S.I, Shires G.T, Spencer F.C, Daly J.M, Fischer J.E, Galloway A.C Schwartz Principles of Surgery 7th ed. United States of America : McGraw-Hill Companies Inc.1999

MODUL UTAMA

FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI


TRAUMA MAKSILOFASIAL MODUL VIII.2.5

TRAUMA SINUS FRONTALIS


EDISI III



KOLEGIUM

ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER

2022


DAFTAR ISI


  1. WAKTU 1

  2. PERSIAPAN SESI 1

  3. REFERENSI 1

  4. KOMPETENSI 1

  5. GAMBARAN UMUM 2

  6. CONTOH KASUS 2

  7. TUJUAN PEMBELAJARAN 2

  8. MATERI PRESENTASI 4

  9. MATERI BAKU 10

  10. KEPUSTAKAAN MATERI BAKU 11


MODUL VIII. 2.5

TOPIK : FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI - TRAUMA MAKSILOFASIAL: SINUS FRONTALIS


  1. WAKTU


    Mengembangan Kompetensi

    Hari :

    Sesi didalam kelas

    3 x 30 menit (classroom session)

    Sesi dengan fasilitas pembimbing

    3 x 30 menit (coaching session)

    Sesi pencapaian kompetensi

    2 minggu (facilitation and assessment)


  2. PERSIAPAN SESI

    1. Penuntun belajar

    2. Tempat belajar ; Bangsal THT, Poli THT, kamar operasi

    3. Video animasi tuntunan operasi

    4. Kadaver


  3. REFERENSI

    1. Bailey BJ, Johnson JT, Frontal Sinus Fractures, Head & Neck Surgery - Otolaryngology, 5th Edition, Volume two, Lippincott Williams & Wilkins, 2014, p : 1255-1271


  4. KOMPETENSI

    Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan- pemeriksaan tambahan yang diminta oleh dokter (misalnya; pemeriksaan laboratorium sederhana atau x-ray). Dokter dapat memutuskan dan mampu menangani problem itu secara mandiri hingga tuntas.


    Keterampilan (3)

    Setelah mengikuti sesi ini, peserta didik diharapkan terampil :

    1. Mengenali gejala

    2. Melakukan anamnesis, pemeriksaan dan penatalaksanaan fraktur sinus frontalis

    3. Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi

    4. Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi yang akan digunakan

    5. Merencanakan perawatan pasca operasi serta perencanaan tatalaksana selanjutnya

    6. Merencanakan penatalaksanaan bila terjadi komplikasi operasi


    Lulusan dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai fraktur sinus frontalis (baik konsep, teori, prinsip maupun indikasi, serta cara melakukan, komplikasi yang timbul, dan sebagainya). Selama pendidikan pernah melihat atau pernah didemonstrasikan operasi ini, dan pernah menerapkan rekonstruksi fraktur sinus frontalis beberapa kali di bawah supervisi.


  5. GAMBARAN UMUM

    Cedera pada sinus frontalis jarang terjadi, akan tetapi kemungkinan terjadinya sequele yang menetap mungkin terjadi. Diperlukan strategi pengobatan yang komprehensif. Kenanyakan pembedah setuju strategi pengobatan tersebut meliputi pengobatan seluruh cedera intrakronial, menghindari komplikasi jangka pendek maupun panjang speperti mukokel, ketidakstabilan kontur wajah secara estetika, dan mengembalikan fungsi normal sinus bila memungkinkan.


  6. CONTOH KASUS

    Seorang wanita, 23 tahun, datang ke poliklinik THT-KL setelah dahinya terbentur trotoar ketika terjatuh dari motor. Penderita mengeluhkan pendarahan dari hidung.


  7. . TUJUAN PEMBELAJARAN

    Tujuan Pembelajaran Umum :

    Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan untuk :

    1. Mengenali gejala, tanda fraktur sinus frontalis

    2. Melakukan anamnesis, pemeriksaan dan diagnosis klasifikasi tentang fraktur sinus frontalis

    3. Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi

    4. Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi yang akan digunakan

    5. Merencanakan perawatan pasca operasi serta perencanaan tatalaksana selanjutnya

    6. Merencanakan penatalaksanaan bila terjadi komplikasi operasi


      Tujuan Pembelajaran Khusus :

      Setelah Mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk :

      1. Menjelaskan anatomi, topografi dan patofisiologi sinus frontalis (tingkat kompetensi K4)

      2. Menjelaskan etiologi fraktur sinus frontalis (tingkat kompetensi K4)

      3. Menjelaskan dan gambaran klinis fraktur sinus frontalis (tingkat kompetensi K4)

      4. Menerangkan pemeriksaan penunjang yang diperlukan pada penatalaksanaan fraktur sinus frontalis (tingkat kompetensi K4)

      5. Menjelaskan tehnik operasi fraktur sinus frontalis (tingkat kompetensi K4)

      6. Menjelaskan perawatan pasca operasi dan rencana selanjutnya (tingkat kompetensi K4)

      7. Menjelaskan penangan komplikasi operasi mulai dari komplikasi pada saat operasi, pasca operasi dan komplikasi lama (tingkat kompetensi K4)

      8. Melakukan tatalaksana pasien fraktur sinus frontalis sampai pasca operasi (tingkat kompetensi K3)

      9. Melakukan tindakan rekonstruksi fraktur sinus frontalis (asisten) (tingkat kompetensi K3)

      10. Merawat penderita dengan fraktur sinus frontalis pra operasi termasuk edukasi keluarga pasien, informed consent serta perawatan pasca operasi serta mengatasi komplikasi yang kemungkinan terjadi (tingkat kompetensi K4)


        1. METODE PEMBELAJARAN

          • Pendahuluan

            Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini :

            1. Small group discussion

            2. Peer assisted learning

            3. Bedside teaching

            4. Task-based medical education

            5. Must to know key points :


            1. Peserta didik paling sudah harus mempelajari :

              1. Bahan acuan (references)

              2. Ilmu dasar yang berkaitan dengan topik pembelajaran

              3. Ilmu klinis dasar

            2. Penuntun belajar (learning guide)

            3. Tempat belajar (training setting) : bangsal rawat tht, kamar operasi, bangsal perawatan pasca operasi.


              Cara pembelajaran :

              1. Pelatihan

              2. Belajar mandiri

              3. Kuliah

              4. Group diskusi

              5. Bed site teaching

              6. Bimbingan Operasi

              7. Melakukan operasi sebagai asisten.

              8. Countinuing Profesional Development.


            Alat bantu pembelajaran :

            1. Melihat tehnik rekonstruksi fraktur sinus frontalis di kamar operasi

            2. Kadaver


        2. EVALUASI

          1. Pada awal pembelajaran dilakukan evaluasi Pre - test dalam bentuk essay dan pilihan ganda. Materi test terdiri dari : anatomi, patofisiologi, penegakan diagnosis serta klasifikasi, teknik - tehnik operasi, komplikasi dan penangannya, follow up dan perencanaan selanjutnya.

          2. Bedsite teaching dan diskusi untuk membahas beberapa masalah yang ada.

          3. Setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberi kesempatan untuk assistensi operasi rekonstruksi sinus frontalis. Pada saat itu kan dilakukan evaluasi pengetahuan dan kompetensi peserta didik.

          4. Pendidik / fasilitas

            • Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist

            • Penjelasan lisan dan diskusi

            • Kriteris penilaian langsung : cakap / tidak cakap / lalai.


        3. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF


      • Kuesioner Sebelum Pembelajaran


      • Kuesioner Tengah Pembelajaran


      • Kuesioner Akhir Pembelajaran


      • Essay/ujian Lisan/Ujian Sumatif


  8. MATERI PRESENTASI

    SLIDE 1 : Anatomi sinus frontalis




    - SLIDE 2: Pathophysiology


    SLIDE 3: Klasifikasi fraktur sinus frontalis


    1. Anterior table fracture

    2. Posterior table fracture


      SLIDE 4 : Indikasi rekonstruksi sinus frontalis SLIDE 5: Pemeriksaan Penunjang

      1. CT Scan Axial potongan 1.0-1.5 mm untuk mengevaluasi table anterior dan posterior




      2. CT coronal untuk melihat dasar sinus dan atap orbita



      3. CT sagital untuk memeriksa patensi frontal reses




      4. CT Scan 3D mengurangi kemungkinan diseksi pada banyak tempat pada saat pembedahan, karena memungkinkan pembedaah untuk mengetahui jumlah, lokasi, dan orientasi fragmen tulang



SLIDE 6: Teknik Operasi

Sesuai dengan diagnosis pasien


  1. Frontal sinus Trephination




    Insisi dilakukan diantara medial kantus dengan glabela, dan ± 1 cm inferior dari alis


  2. Endoscopic anterior table repair






  3. Open reduction and internal fixation


SLIDE 8: Perawatan pasca operasi & komplikasi


Resiko jangka panjang adanya mukokel , sehingga edukasi yang baik kepada pasien sangat diperlukan


  1. MATERI BAKU

    Fraktur sinus frontalis Definisi

    Diskontinuitas tulang frontalis yang dapat disebabkan oleh trauma baik secara langsung atau tidak langsung.

    Suatu tindakan operasi untuk memperbaiki fungsi ataupun kosmetik wajah. Rekonstruksi dari tabula anterior sinus frontal, mereduksi dan stabilisasi fraktur, mengembalikan fungsi sinus yang normal bila memungkinkan, dan preservasi tulang yang maksimal.


    Indikasi operasi


    Tehnik Operasi


    Setelah penandaan dan infiltrasi sempurna, dilakukan insisi parasagital 3-5cm sesuai penandaan dan perencanaan gambar, setelah dilakukan insisi tergantung posisi dan daerah fraktur, dilakukan diseksi secara tumpul hingga periosteum, periosteum dipisahkan dari tulang, dilakukan pemasangan IMF/ implant dengan visualisasi endoskopi untuk menstabilkan garis fraktur. Dilakukan pemasangan screw pada ujung implant menembus bagian tulang yang stabil. Luka operasi ditutup lapis demi lapis. Dilakukan penutupan luka dengan verban tekan.


  2. KEPUSTAKAAN MATERI BAKU


1. Bailey BJ, Johnson JT, Sinus frontalisr Fractures, Head & Neck Surgery - Otolaryngology, 5th Edition, Volume two, Lippincott Williams & Wilkins, 2014, p : 1195-1207

MODUL UTAMA

FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI


RONGGA MULUT MODUL VIII.3.1 LABIOSKISIS


EDISI III




KOLEGIUM

ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER

2022

DAFTAR ISI


  1. WAKTU 1

  2. PERSIAPAN SESI 1

  3. REFERENSI 1

  4. KOMPETENSI 2

  5. GAMBARAN UMUM 2

  6. CONTOH KASUS 2

  7. TUJUAN PEMBELAJARAN 2

  8. METODE PEMBELAJARAN 3

  9. EVALUASI 4

  10. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF & PSIKOMOTOR 4

  11. DAFTAR TILIK 6

  12. MATERI PRESENTASI 7

  13. MATERI BAKU 8

  14. KEPUSTAKAAN MATERI BAKU 12


MODUL VIII.3.1

TOPIK : FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI - RONGGA MULUT: LABIOSKISIS


  1. WAKTU


    Pengembangan Kompetensi

    Hari : 35

    Sesi didalam kelas

    8 x 60 menit (classroom session)

    Sesi dengan fasilitas pembimbing

    12 x 60 menit (coaching session)

    Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi

    11 X 60 menit (facilitation and assessment)


  2. PERSIAPAN SESI


  3. REFERENSI

    1. Bailey BJ, Johnson JT, Head & Neck Surgery - Otolaryngology, Fifth Edition, Volume one, Lippincott Williams & Wilkins, 2014, p : 1556-1573

    2. Arun KL, Randal N, Embriology of Head and Neck. In: Grabb & Smith's Plastic

      Sugery, Sixth edition, Lippincott Williams & Wilkins, 2007, p : 179 -190

    3. Becker W. Naumann HH, Pfalt CR, Congenital malformation in Ear, Nose and Throat Disease, Second edition, Thieme Medical Publishers Inc., New York, 1994, p: 134-136

    4. Lee .K.J, Kongenital Malformation in otolaryngology and Head and Neck Surgery, Elseiver Science Publishers, 1989, p: 63-65


  4. KOMPETENSI

    Mampu melakukan diagnosis serta klasifikasi labioskisi berdasarkan pemeriksaan fisik. Dapat menentukan saat melakukan operasi dan mampu melakukan operasi labioplasti secara mandiri.


    Keterampilan

    Setelah mengikuti sesi ini, peserta didik diharapkan terampil :

    1. Mengenali gejala, tanda Labioskisis

    2. Melakukan anamnesis, pemeriksaan dan diagnosis klasifikasi tentang labioskisis

    3. Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi

    4. Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi yang akan digunakan

    5. Merencanakan perawatan pasca operasi serta perencanaan tatalaksana selanjutnya

    6. Merencanakan penatalaksanaan bila terjadi komplikasi operasi


  5. GAMBARAN UMUM

    Memberi penjelasan agar kompeten mendiagnosis dan mengklasifikasi tipe labioskisis. Serta dapat melakukan penatalaksanaan secara comprehensive masalah yang ada pada kasus kasus labioskisis.


  6. CONTOH KASUS

    Bayi 2 minggu dengan labioskisis bilateral komplit. Pada akhir pembelajaran diharapkan dapat melakukan edukasi pada orang tua pasien, anjuran perawatan serta pemberian makan dan minum pada pasien, rujukan ke multidisiplin lain untuk perbaikan gizi, persiapan operasi serta tehnik operasi yang akan di gunakan. Diskusi :


    Jawaban :


  7. TUJUAN PEMBELAJARAN

    Tujuan Pembelajaran Umum :

    Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan untuk :

    1. Mengenali gejala, tanda Labioskisis

    2. Melakukan anamnesis, pemeriksaan dan diagnosis klasifikasi tentang labioskisis

    3. Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi

    4. Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi yang akan digunakan

    5. Merencanakan perawatan pasca operasi serta perencanaan tatalaksana selanjutnya

    6. Merencanakan penatalaksanaan bila terjadi komplikasi operasi 7.


    Tujuan Pembelajaran Khusus :

    Setelah Mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk :

    1. Menjelaskan anatomi, topografi dan patofisiologi labioskisis (tingkat kompetensi K4)

    2. Mejelaskan etiologi dan kalsifikasi labioplasti (tingkat kompetensi K4)

    3. Menjelaskan dan gambaran klinis beberapa klasifikasi labioskisis (tingkat kompetensi K4)

    4. Menerangkan pemeriksaan penunjang yang diperlukan pada penatalaksanaan labioskisis (tingkat kompetensi K4)

    5. Menjelaskan tehnik operasi sesuai dengan klasifikasi labioskisis (tingkat kompetensi K4)

    6. Menjelaskan perawatan pasca operasi dan rencana selanjutnya (tingkat kompetensi K4)

    7. Menjelaskan penangan komplikasi operasi mulai dari komplikasi pada saat operasi, pasca operasi dan komplikasi lama (tingkat kompetensi K4)

    8. Melakukan tatalaksana pasien labioskisis mulai dari perinatal sampai pasca operasi (tingkat kompetensi K4)

    9. Melakukan tindakan bedah Labioplasti (tingkat kompetensi K4)

    10. Merawat penderita labioskisis pra operasi termasuk edukasi keluarga pasien, informed consent serta perawatan pasca operasi serta mengatasi komplikasi yang kemungkinan terjadi (tingkat kompetensi K4)


  8. METODE PEMBELAJARAN


Cara pembelajaran :

  1. Pelatihan

  2. Belajar mandiri

  3. Kuliah

  4. Group diskusi

  5. Bed site teaching

  6. Bimbingan Operasi dan asistensi

  7. Melakukan operasi mandiri di bawah supervisi

  8. Countinuing Profesional Development.


Alat bantu pembelajaran :

  1. Video animasi tehnik operasi labioplasti

  2. Kadaver


    1. EVALUASI

  1. Pada awal pembelajaran dilakukan evaluasi Pre - test dalam bentuk essay dan pilihan ganda. Materi test terdiri dari : anatomi, patofisiologi, penegakan diagnosis serta klasifikasi, teknik - tehnik operasi, komplikasi dan penangannya, follow up dan perencanaan selanjutnya.

  2. Bedsite teaching dan diskusi untuk membahas beberapa masalah yang ada.

  3. Setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberi kesempatan untuk assistensi operasi labioskisis. Pada saat itu kan dilakukan evaluasi pengetahuan dan kompetensi peserta didik.

  4. Setelah melakukan asistensi dan dinilai kompeten, peserta didik dapat melakukan operasi labioskisis di bawah bimbingan.

  5. Pendidik / fasilitas


  1. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF & PSIKOMOTOR


    1. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF


      • Kuesioner Sebelum Pembelajaran


        1. Otot orbikularis berjalan horisontal dan ke arah atas sejajar tepi celah bibir. Pada unilateral otot menempel pada dasar kolumela dan dasar ala nasi.

          B S

        2. Pada bilateral, otot menepel pada dasar ala nasi tanpa ada otot yang menghubungkan bagian tengah prolabial.

          B S


      • Kuesioner Tengah Pembelajaran


        1. Saat operasi menurut Millard's Rule of ten yaitu : Usia 10 minggu, Hb 10 gr% dan Berat 10 pound

          B S


      • Kuesioner Tengah Pembelajaran


      • Essay/ujian Lisan/Ujian Sumatif


    2. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR

    PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR LABIOPLASTI


    Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :

    1. Perlu perbaikan : langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)

    2. Mampu : langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan)

    3. Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien

    T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)

    NAMA PESERTA : ......... TANGGAL:..........


    KEGIATAN

    KASUS

    I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF






    II. PERSIAPAN PROSEDUR LABIOPLASTI

    - Cuci tangan, memakai baju operasi dan memakai sarung tangan






    - Tindakan a & anti sepsi daerah operasi dengan povidon iodine






    - Memasang kain steril sebagai penutup pasien kecuali daerah operasi






    - Dilakukan penandaan dengan larutan biru etilen atau pena penanda titik titik pada bibir sebagai titik bantu dan gambaran dalam melakukan labioskisis dengan tehnik Millard.

    Dilakukan infiltrasi dengan Adrenalin : Lidokain sebesar 1:

    200.000 pada sudut bibir dan tepi medial defek bibir.






    III. PROSEDUR OPERASI

    - Setelah penandaan dan infiltrasi sempurna dilakukan insisi sesuai penandaan dan perencanaan gambar, setelah dilakukan insisi tindakan selanjutnya adalah underming didaerah sulcus gingivobucal dan alae. Setelah diyakinan tidak terjadi regangan pada saat akan melakukan penjahitan utuk menyatukan tepi celah bibir, maka dilakukan penjahitan dangan menggunakan vicyrl 4-0 mulai dari mukosa bibir, otot orbikularis dan terakhir kulit dengan menggunakan nylon 5-0.








    KEGIATAN

    KASUS

    Penjahitan untuk menyatukan tepi defek harus sempurna sehingga terbentuk vermillion, cupit bow serta garis merah bibir sempurna. Luka ditutup dengan kassa antibiotik dan plester.






    IV. PASCA OPERASI

    - Instruksi pasca operasi

    Pasca bedah pasien dapat dipulangkan setelah efek anestesi umum sudah hilang dan sadar penuh dan tidak ada perdarahan. Pasien diterapi dengan antibiotika oral dan analgesia

    Follow-up

    Pasien diharapkan kontrol untuk perawatan luka pada hari ke tiga dan angkat jahitan pada hari ke 7







  2. DAFTAR TILIK

    Penilaian Kinerja Keterampilan (ujian akhir)


    DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA PROSEDUR LABIOPLASTI

    Berikan penilaian tentang kinerja psikomotor atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan suatu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini:

    X : Tidak memuaskan : Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar

    T/T : Tidak ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih.

    PESERTA : ................................. TANGGAL:..............


    KEGIATAN

    NILAI

    PERSIAPAN

    1. Kaji ulang diagnosis dan prosedur operasi




    2. Menyiapkan peralatan operasi




    3. Menyiapkan diri untuk melakukan tindakan operasi




    4. Menyiapkan posisi pasien




    5. Melakukan tindak a & anti septil




    6. Memasang kain steril menutup pasien kecuali area operasi




    PROSEDUR OPERASI




    1. Melakukan penandaan dengan larutan biru etilen atau pena penanda titik titik pada bibir sebagai titik bantu dan gambaran dalam melakukan labioskisis dengan teknik Millard.

    2. Melakukan infiltrasi dengan Adrenalin : Lidokain sebesar 1: 200.000 pada sudut bibir dan tepi medial defek bibir



    KEGIATAN

    NILAI




    1. Melakukan insisi sesuai penandaan dan perencanaan gambar, setelah dilakukan insisi tindakan selanjutnya adalah underming didaerah sulcus gingivobucal dan alae.

    2. Melakukan penjahitan utuk menyatukan tepi celah bibir, maka dilakukan penjahitan dangan menggunakan vicyrl 4-0 mulai dari mukosa bibir, otot orbikularis dan terakhir kulit dengan menggunakan nylon 5-0. Penjahitan untuk menyatukan tepi defek harus sempurna sehingga terbentuk vermillion, cupit bow serta garis merah bibir sempurna.

    3. Luka ditutup dengan kassa antibiotik dan plester.

    4. Instruksi pasca operasi


  3. MATERI PRESENTASI


    SLIDE 1 : Etiologi Labioskisis


    SLIDE 2 : Pendarahan daerah Labio Superior SLIDE 3 : Patofisiologi labioskisis





    Kelainan otot orbikularis


    SLIDE 4 Diagnosis & Klasifikasi Labioskisis SLIDE 5 Waktu & Penatalaksanaan Labioskisis SLIDE 6 Teknik-teknik Operasi

    SLIDE 7 Perawatan Pasca Operasi & Komplikasi


  4. MATERI BAKU


    Definisi


    LABIOPLASTI

    Suatu tindakan rekonstruksi celah bibir (labioskisis) dengan menggunakan tehnik Millard dengan tujuan untuk membentuk bibir yang sempurna.


    Indikasi operasi

    Labioskisis unilateral, bilateral, komplit maupun inkomplit dengan usia, keadaan umum dan tercapainya tolerasi operansi.


    List of Skill

    Tehnik Operasi Menjelang operasi

    Penjelasan kepada penderita dan keluarga mengenai tindakan operasi yang akan

    dilakukan serta resiko komplikasi yang dapat terjadi. Setelah mendapatkan keterangan keluarga pasien diharapkan menanda tangani surat persetujuan operasi (informed Consent).


    Memeriksa dan mempersiapkan alat dan kelengkapan operasi Penderita puasa minimal 6 jam sebelum operasi

    Pemberian antibiotik profilaksis sesuai standard penggunaan antibiotika yang berlaku.

    Tahapan operasi.

    Pembiusan dilakukan dengan endotrakeal maupun lokal anestesi tergantung usia pasien. Desinfektan dengan larutan antiseptik dan lapangan operasi di persiapkan dengan linen steril.


    Dilakukan penandaan dengan larutan biru etilen atau pena penanda titik titik pada bibir sebagai titik bantu dan gambaran dalam melakukan labioskisis dengan tehnik Millard.


    Dilakukan infiltrasi dengan Adrenalin : Lidokain sebesar 1: 200.000 pada sudut bibir dan tepi medial defek bibir.


    Setelah penandaan dan infiltrasi sempurna dilakukan insisi sesuai penandaan dan perencanaan gambar, setelah dilakukan insisi tindakan selanjutnya adalah underming didaerah sulcus gingivobucal dan alae. Setelah diyakinan tidak terjadi regangan pada saat akan melakukan penjahitan utuk menyatukan tepi celah bibir, maka dilakukan penjahitan dangan menggunakan vicryl 4-0 mulai dari mukosa bibir, otot orbikularis dan terakhir kulit dengan menggunakan nylon 5-0.


    Penjahitan untuk menyatukan tepi defek harus sempurna sehingga terbentuk vermillion, cupit bow serta garis merah bibir sempurna. Luka ditutup dengan kassa antibiotik dan plaster.


    Perawatan pasca operasi

    Pasca bedah pasien dapat dipulangkan setelah efek anestesi umum sudah hilang dan sadar penuh dan tidak ada perdarahan. Pasien diterapi dengan antibiotika oral dan analgesia


    Follow-up

    Pasien diharapkan kontrol untuk perawatan luka pada hari ke tiga dan angkat jahitan pada hari

    ke 7

    Algoritma : Celah Bibir dan Palatum


    Palatoskis

    OME (-

    OME (+)

    -

    Nasofari ngoskopi

    -

    Nasalens

    -Analisis

    (-)

    (+

    3-4

    Orthodonti

    VP I

    Nasofaringosko pi

    VP I (-)

    Faringo plasti

    Baik

    OME: Otitis Media

    Palatoplasti Faringoplasti Rinoplasti (Cleft Lipnose)

    Prosthodonti

    Labio plasti

    Speech Therap

    Pasang Grome

    Palatoplas

    OME (+)

    OME (-

    ProtudingMaksi

    Timpanomet

    Dewasa

    > 16 thn

    18

    bln

    Palatoskis

    Labiopalatoski

    Labioskisi

    Celah bibir dan palatum

    Grome

    Timpanomet

    ALGORITMA dan PROSEDUR



  5. KEPUSTAKAAN MATERI BAKU


  1. Bailey BJ, Johnson JT, Head & Neck Surgery - Otolaryngology, Fifth Edition, Volume one, Lippincott Williams & Wilkins, 2014, p : 1556-1573

  2. Arun KL, Randal N, Embriology of Head and Neck. In: Grabb & Smith's Plastic

    Sugery, Sixth edition, Lippincott Williams & Wilkins, 2007, p : 179 -190

  3. Becker W. Naumann HH, Pfalt CR, Congenital malformation in Ear, Nose and Throat Disease, Second edition, Thieme Medical Publishers Inc., New York, 1994, p: 134-136

  4. Lee .K.J, Kongenital Malformation in otolaryngology and Head and Neck Surgery, Elseiver Science Publishers, 1989, p: 63-65

MODUL UTAMA

FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI


RONGGA MULUT MODUL VIII.3.2 PALATOSKISIS


EDISI III




KOLEGIUM

ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER

2022

DAFTAR ISI

  1. WAKTU 1

  2. PERSIAPAN SESI 1

  3. REFERENSI 1

  4. KOMPETENSI 2

  5. GAMBARAN UMUM 2

  6. CONTOH KASUS 2

  7. TUJUAN PEMBELAJARAN 3

  8. METODE PEMBELAJARAN 4

  9. EVALUASI 5

  10. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF & PSIKOMOTOR 6

  11. DAFTAR TILIK 8

  12. MATERI PRESENTASI 9

  13. MATERI BAKU 9

  14. ALGORITMA DAN PROSEDUR 11

  15. KEPUSTAKAAN MATERI BAKU 12


MODUL VIII.3.2

TOPIK : FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI - RONGGA MULUT : PALATOSKISIS


  1. WAKTU


    Pengembangan Kompetensi

    Hari : 35

    Sesi didalam kelas

    8 x 60 menit (classroom session)

    Sesi dengan fasilitas pembimbing

    12 x 60 menit (coaching session)

    Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi

    11 X 60 menit (facilitation and assessment)


  2. PERSIAPAN SESI


  3. REFERENSI

    1. Bailey BJ, Johnson JT, Head & Neck Surgery - Otolaryngology, Fifth Edition, Volume one, Lippincott Williams & Wilkins, 2014, p : 1556-1573

    2. Arun KL, Randal N, Embriology of Head and Neck. In: Grabb & Smith's Plastic

      Sugery, Sixth edition, Lippincott Williams & Wilkins, 2007, p : 179 -190

    3. Becker W. Naumann HH, Pfalt CR, Congenital malformation in Ear, Nose and Throat Disease, Second edition, Thieme Medical Publishers Inc., New York, 1994, p: 134-136


    4. Lee .K.J, Kongenital Malformation in otolaryngology and Head and Neck Surgery, Elseiver Science Publishers, 1989, p: 63-65


  4. KOMPETENSI

    Mampu melakukan diagnosis palatoskisis sesuai klasifikasi IOWA. Melakukan pemeriksaan penunjang sesuai dengan algoritma dan fasilitas yang tersedia. Dapat menentukan saat melakukan operasi dan mampu melakukan operasi palatoplasti secara mandiri.

    Keterampilan (3)

    Setelah mengikuti sesi ini, peserta didik diharapkan terampil :

    1. Dapat menjelaskan anatomi, fisiologi palatum dan velofaring

    2. Dapat menjelaskan kelainan anatomi dengan gangguan fungsi velofaring

    3. Dapat mengetahui etiopatogenesis kelainan palatoskisis, inkompetens velofaring

    4. Menjelaskan dasar diagnosis dan pemeriksaan penunjang, nasalens, nasofaringoskopi serat optik lentur, timpanometri.

    5. Menjelaskan teknik operasi palatoplasti & komplikasinya

    6. Menjelaskan penanganan komplikasi operasi

    7. Melakukan work up penderita palatoskisis yang meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang

    8. Menentukan klasifikasi, jenis operasi, prognostik dan terapi lanjut

    9. Melakukan tindakan pemeriksaan preoperasi

    10. Melakukan tindakan pembedahan palato plasti secara mandiri

    11. Melakukan tindakan dan intepretasi pemeriksaaan nasalens, nasoendoskopi serat optik lentur untuk evaluasi pasca operasi *

    12. Melakukan perawatan dengan penjelasan pada penderita keluarga dan informed concent, pasca operasi dan mampu mengatasi operasi komplikasi yang terjadi


  5. GAMBARAN UMUM

    Palatoskisis adalah kelainan kongenital yang mengakibatkan masalah yang mutipel mulai dari gangguan wicara, gangguan pendengaran, gangguan makan, gangguan perkembangan maksilofasial dan gigi geligi. Beberapa kasus bahkan merupakan berhubungan dengan kelainan sindroma lain seperti kelainan jantung ataupun defek sistemik lainnya. Sehingga penatalaksanaannya melibatkan multidisiplin ilmu agar dapat tertangani secara komprehensif.

    Tujuan gambaran umum:

    Memberi penjelasan agar kompeten mendiagnosis dan mengklasifikasi tipe palatoskisis. Serta dapat melakukan penatalaksanaan secara comprihensive masalah yang ada pada kasus kasus palatoskisis.


  6. CONTOH KASUS

    Bayi 24 bulan dengan palatoskisis komplit berobat dengan keluhan perkembangan bicara terganggu, sering tersedak bila makan dan minum.

    Pada akhir pembelajaran diharapkan dapat melakukan edukasi pada orang tua pasien, anjuran perawatan serta pemberian makan dan minum pada pasien, rujukan


    ke multidisiplin lain untuk berbaikan gizi, persiapan operasi serta teknik operasi yang akan di gunakan.


    Diskusi :


    Jawaban :


  7. TUJUAN PEMBELAJARAN

    Tujuan pembelajaran umum :

    1. Mendiagnosis dan membuat klasifikasi palatoskisis

    2. Melakukan anamnesis dan pemeriksaan palatoskisis Nasalens * }

      Nasoendoskopi * } untuk velofaringeal inkompetens Timpanometri untuk evaluasi otitis media efusi

    3. Keputusan untuk tatalaksana

      • operasi : teknik operasi palatoplasti

      • post operasi : perawatan pasca operasi evaluasi pasca operasi

        • Nasalens *

        • Nasoendoskopi serat optik lentur *

        • Penyulit pasca operasi

          Fistel : direvisi setelah 6 bulan

          Fisioterapi / terapi wicara 3-6-12 bulan dengan follow up nasalens


          Tujuan pembelajaran khusus :

          1. Dapat menjelaskan anatomi, fisiologi palatum dan velofaring

          2. Dapat menjelaskan kelainan anatomi dengan gangguan fungsi velofaring

          3. Dapat mengetahui etiopatogenesis kelainan palatoskisis, inkompetens velofaring

          4. Menjelaskan dasar diagnosis dan pemeriksaan penunjang, nasalens, nasoendoskopi serat optik lentur, timpanometri

          5. Menjelaskan teknik operasi palatoplasti & komplikasinya

          6. Menjelaskan penanganan komplikasi operasi

          7. Melakukan work up penderita palatoskisis yang meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang

          8. Menentukan klasifikasi, jenis operasi, prognostik dan terapi lanjut

          9. Melakukan tindakan pemeriksaan preoperasi

          10. Melakukan tindakan pembedahan

          11. Melakukan tindakan dan intepretasi pemeriksaaan nasalens, nasoendoskopi serat optik lentur untuk evaluasi pasca operasi *

          12. Melakukan perawatan dengan penjelasan pada penderita keluarga dan informed concent, pasca operasi dan mampu mengatasi operasi komplikasi yang terjadi


  8. METODE PEMBELAJARAN

    Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini :

    1. Small group discussion

    2. Peer assisted learning

    3. Bedside teaching

    4. Task-based medical education

Persiapan pembelajaran :

  1. Peserta didik paling sudah harus mempelajari :

    1. Bahan acuan (references)

    2. Ilmu dasar yang berkaitan dengan topik pembelajaran

    3. Ilmu klinis dasar


  2. Penuntun belajar (learning guide)

  3. Tempat belajar (training setting) : Bangsal Rawat THT, Kamar Operasi, Bangsal Perawatan Pasca Operasi.


Tujuan 1. Menjelaskan embriologi, anatomi dan topografi palatum

Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:


  1. EVALUASI

    1. Pada awal pembelajaran dilakukan evaluasi Pre - test dalam bentuk essay dan pilihan ganda. Materi test terdiri dari : anatomi, patofisiologi, penegakan diagnosis serta klasifikasi, teknik - tehnik operasi, komplikasi dan penangannya, follow up dan perencanaan selanjutnya.

    2. Bedsite teaching dan diskusi untuk membahas beberapa masalah yang ada.

    3. Setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberi kesempatan untuk assistensi operasi palatoskisis. Pada saat itu kan dilakukan evaluasi pengetahuan dan kompetensi peserta didik.


    4. Setelah melakukan asistensi dan dinilai kompeten, peserta didik dapat melakukan operasi palatoskisis di bawah bimbingan.

    5. Pendidik / fasilitas

      • Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist

      • Penjelasan lisan dan diskusi

      • Kriteris penilaian langsung : cakap / tidak cakap / lalai.


  1. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF & PSIKOMOTOR

    1. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF

      • Kuesioner Sebelum Pembelajaran

        1. Pembentukan palatum dimulai pada akhir gestasi minggu ke lima. Pada tahap ini terdiri dari 2 bagian yaitu anterior (primary) palate dan bagian posterior (secondary) palate.

          B S

        2. Komplikasi yang sering dijumpai pada palatoskisis adalah infeksi telinga tengah berupa OME yang dapat menyebakan gangguan pendengaran dan gangguan wicara.

          B S

          Jawaban :

      • Kuesioner Tengah Pembelajaran

        1. Teknik dasar operasi palatoplasi

          1. Tehnik von Langenbeck, Schweckendiek,

          2. Tehnik 2-flap,

          3. Tehnik 3-flap (V-to-Y),

          4. Tehnik Furlow palatoplasti.

          5. Semua Benar

        2. Faringeal flaps biasanya memakai pedikel basis superior flaps yang terdiri dari mukosa and otot konstriktor faringeus.

          B S

          Jawaban :


      • Essay/ujian Lisan/Ujian Sumatif


    2. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR


      PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR PALATOPLASTI


      Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :

      1. Perlu perbaikan : langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)

      2. Mampu : langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan)

      3. Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien

      T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)


      NAMA PESERTA : ......... TANGGAL:..........


      KEGIATAN

      KASUS

      I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF











      II. PERSIAPAN PROSEDUR PALATOPLASI






      - Cuci tangan, memakai baju operasi dan memakai sarung tangan






      - Tindakan a & anti sepsi daerah operasi dengan povidon iodine






      - Memasang kain steril sebagai penutup pasien kecuali daerah operasi






      - Dilakukan infiltrasi dengan Adrenalin : Lidokain sebesar 1:

      200.000 pada masing masing 5 titik pada tepi celah palatal kanan dan kiri.






      III. PROSEDUR OPERASI






      Tahapan operasi

      Teknik Van Langenbeck

      Teknik Waldirr Kilner

      Insisi pada celah lalau insisi lateral lebih kurang 2mm dari pinggir ginggiva ke caninus sepanjang tuberositas maksila sampai 5mm posterior tuberositas.

      Dibuat insisi yang menghubungkan kedua insisi tersebut (dapat 3 atau 4 flap)

      Pemisahan flap kmukoperiosteal mukosa nasal dan palatal shelves,neurovascular bundle,pematahan hamulus.

      Teknik Furlow

      Double reversing Z plasty untuk celah submukosa palatum.Transposisi flap Z

      Luka dijahit lapis demi lapis dengan menggunakan vicryl 4-0, pada daerah palatum mole 3 lapis; mukosa sisi nasal, otot dan mukosa sisi oral. Daerah palatum durum terdiri dari 2 lapis. Mukosa sisi nasal dan mukosa sisi oral






      IV. PASCA OPERASI






      - Instruksi pasca operasi

      Pemberian analgesia dan antibiotik selama 7 hari. Diberi penjelasan bahwa selama pasca operasi tidak boleh

      masukkan tangan ke mulut, hanya boleh makan lunak, tidak






      • Nama

      • Diagnosis

      • Informed choice & informed consent

      • Rencana tindakan

      • Persiapan sebelum tindakan

      • Melakukan insisi sepanjang tepi

      • celah (medial) dan perbatasan alveolar ridge (lateral).

      • Undermining flap bipedikel dengan dasar subperiosteal lalu penyatuan sisi flap agar terjadi penutupan palatum durum



      KEGIATAN

      KASUS

      boleh menggunkan botol dan dot. Minum menggunakan sendok atau kateter karet. Diet normal baru diberikan setelah 3 minggu. Follow up dilakukan setelah 7 hari dan 3 minggu. Bila terjadi fistula tindakan operasi untuk menutup fistel dapat dilakukan setelah 6 bulan.







  2. DAFTAR TILIK

    Penilaian Kinerja Keterampilan (ujian akhir)

    Berikan penilaian tentang kinerja psikomotor atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan suatu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini:

    panduan standar

    X : Tidak memuaskan : Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar

    T/T : Tidak ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih.

    DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA PROSEDUR PALATOPLASTI


    PESERTA : ................................. TANGGAL:..............

    KEGIATAN

    NILAI

    PERSIAPAN

    1. Kaji ulang diagnosis dan prosedur operasi




    2. Menyiapkan peralatan operatif




    3. Menyiapkan diri




    4. Menyiapkan posisi pasien




    5.Melakukan tindakan a & antiseptik




    PROSEDUR OPERASI




    1. Melakukan infiltrasi adrenalin




    2. Tehnik Van langenbeck :




    a. Melakukan insisi sepanjang tepi celah




    b. Undermining flap berpedikel




    c. penyatuan sisi flap




    3. Tehnik Waldirr Kilner




    a. Insisi pada celah lebih kurang 2mm dari pinggir ginggiva ke caninus




    b. Dibuat insisi yang menghubungkan kedua insisi tersebut




    c. Pemisahan flap mukoperiosteal mukosa nasal dan palatal shelves, neurovaskular bundle, pematahan hamulus




    4. Teknik Furlow




    a. Double reversing Z plasty




    b. Transposisi flap Z




    5. Luka dijahit lapis demi lapis





  3. MATERI PRESENTASI

    SLIDE 1 : Etiologi Palatoskisis SLIDE 2 : Pendarahan daerah palatum SLIDE 3 : Patofisiologi palatum

    SLIDE 4 : Diagnosis, Klasifikasi palatoskisis


    SLIDE 5 : Pemeriksaan Penunjang; Nasalens, nasofaringoskopi, timpanometri SLIDE 6 : Waktu & Penatalaksanaan palatoskisis

    SLIDE 6 : Teknik teknik operasi Palatoplasti SLIDE 7 : Perawatan pasca operasi & komplikasi

  4. MATERI BAKU

    Palatoplasti

    Definisi :

    Suatu bedah korektif untuk menutup celah palatum kongenital Ruang lingkup:

    Celah pada palatum durum, mole, alveolus atau keduanya, atau ketiganya dengan atau tanpa kelainan velofaringeal kompleks.

    Tujuan Operasi:

    1. Menutup celah palatum dalam satu tahap

    2. Pemanjangan palatum atau mencegah palatum memendek pasca operasi

    3. Mempertahankan fungsi normal velum

    4. Katup velofaring yang kompeten

    5. Produksi bicara normal

    6. Mastikatori normal tanpa maloklusi

    7. Manipulasi minimal pada tulang yang sedang tumbuh

    8. Mencegah deformitas wajah

    9. Mempertahankan fisiologi hidung.

    10. Dalam kaitannya dengan diagnosis perlu kerjasama dengan tht komunitas, otologi, speech therapist.


    Indikasi operasi : Celah palatum


    Kontra indikasi: Umur kurang dari 18 bulan Diagnosis banding: -

    Pemeriksaan penunjang: Nasalens *

    Endoskop serat optik lentur * Timpanometri


    Setelah memahami dan mengerjakan modul ini maka diharapkan seseorang ahli bedah THT-KL mempunyai kompetensi serta dapat melakukan secara mandiri.


    List of Skill


  5. ALGORITMA DAN PROSEDUR




  6. KEPUSTAKAAN MATERI BAKU


  1. Bailey BJ, Johnson JT, Head & Neck Surgery - Otolaryngology, Fifth Edition, Volume one, Lippincott Williams & Wilkins, 2014, p : 1556-1573

  2. Arun KL, Randal N, Embriology of Head and Neck. In: Grabb & Smith's Plastic Sugery, Sixth edition, Lippincott Williams & Wilkins, 2007, p : 179 -190

  3. Becker W. Naumann HH, Pfalt CR, Congenital malformation in Ear, Nose and Throat Disease, Second edition, Thieme Medical Publishers Inc., New York, 1994, p: 134-136

  4. Lee .K.J, Kongenital Malformation in otolaryngology and Head and Neck Surgery, Elseiver Science Publishers, 1989, p: 63-65


MODUL UTAMA

FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI


FACIAL PLASTY MODUL VIII.4.1 MIKROTIA


EDISI III




KOLEGIUM

ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER

2022

DAFTAR ISI

  1. WAKTU 1

  2. PERSIAPAN SESI 1

  3. REFERENSI 1

  4. KOMPETENSI 2

  5. GAMBARAN UMUM 2

  6. CONTOH KASUS & DISKUSI 2

  7. TUJUAN PEMBELAJARAN 3

  8. METODE PEMBELAJARAN 3

  9. EVALUASI 3

  10. INSTR PENILAIAN KOGNITIF & PSIKOMOTOR 4

  11. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR 4

  12. MATERI PRESENTASI 7

MODUL VIII.4.1

TOPIK : FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI - FACIAL PLASTY : MIKROTIA


  1. WAKTU


    Mengembangkan Kompetensi

    Frekuensi

    Sesi di dalam kelas Sesi Pratikum

    Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi

    11 X 60 menit (classroom session)

    10 X 60 menit (coaching session)

    16 X 60 menit (facilitation and assessment)


  2. PERSIAPAN SESI

    1. Materi presentasi :

      • Slide 1: Definisi

      • Slide 2: Klasifikasi

      • Slide 3: Embriologi

      • Slide 4: Algoritma dan Prosedur

    2. Kasus : Mikrotia

      Anak laki-laki 15 tahun, dikonsulkan ke divisi Plastik Rekonstruksi THT dengan diagnosis mikrotia Pada anamnesis, sejak lahir kedua telinganya kecil dan tidak berkembang

      Anak pertama dari dua bersaudara, lahir ditolong oleh dokter, cukup bulan, spontan, langsung menangis, berat badan lahir 2400 gr panjang 40 cm. Semasa kehamilan ibu kontrol teratur ke bidan, dengan riwayat minum jamu-jamuan minum obat-obatan disangkal, , riwayat trauma juga disangkal, riwayat infeksi saat kehamilan. Tumbuh kembang lainnya baik, sekolah terganggu karena penamplan dan pendengaran terganggu

      Pemeriksaan fisik pasien menderita mikrotia telinga bilateral grade III Pemeriksaan penunjang audiometri, telinga kanan tuli konduktif sedang 56,5 db; telinga kiri tuli konduktif sedang 58,4 db. Tomografi Komputer mikrotia bilateral, meatus akustikus eksternus tidak terbentuk, kavum timpani tidak terbentuk sempurna, namun tulang pendengaran kanan dan kiri utuh.

    3. Sarana dan Alat Bantu Latih :

      • Model Anatomi

      • Penuntun belajar (learning guide) terlampir

      • Tempat belajar (training setting) : Instalasi gawat darurat, Ruang Rawat THT, Poliklinik THT, Ruang Operasi


  3. REFERENSI

    1. Weerda H. Plastic sugery of The Ear. In : scott Brownosotolaryngology, vol.3, 6th edition, Butterworth Heinemann, Oxford, 1997, 3 /8/ l-21.

    2. Becker w. Naumann HH, Pfalt CR, Kongenital malformation in Ear, Nose and Throat Disease, secondedition, Thieme Medical publishers Inc., New york, 1994, p:134-136

    3. Bailey B.J, Johnson J.T, congenital aural atresia in Head and Neck surgery Otolaryngology, Fourthedition, volume two, Lippincott williams & wilkins, 2046, p: 2027-2040

  4. KOMPETENSI

    1. Kompetensi Umum

      1. Mampu membuat diagnosis kelainan kongenital daun telinga berdasarkan pemeriksaan defek anatomi daun telinga dan derajat kelainan menurut kriteria Marx Aguilar, Jachdoefer Nagata dan pemeriksaan penunjang yang diperlukan.

      2. Mampu melakukan tatalaksana serta merujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi bila diperlukan

    2. Kompetensi Khusus

      Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam :

      1. Menjelaskanan embriologi, anatomi, histologi, fisiologi daun telinga.

      2. Menjelaskan faktor penyebab, macam-macam kelainan kongenital daun telinga.

      3. Menjelaskan patofisiologi, gambaran klinis dari kelainan kongenital daun telinga

      4. Menjelaskan dan melaksanakan pemeriksaan penunjang dari kelainan daun kongenital disertai dengan atresia liang telinga (contoh: foto dokumentasi,BERA, Audiometri ,CT Scan,)

      5. Membuat diagnosis klinis berdasarkan pemeriksaan CT scan berdasarkan kriteria Jachdoefer untuk kandidat atresiaplasti

      6. Membuat diagnosis ganggaun fungsi pendengaran untuk perencanaan rehabilitasi

      7. Membuat diagnosis klinis berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan sehubungan dengan adanya kelainan kongenital organ lain yang bersamaan dengan kelainan kongenital daun telinga.

      8. Menjelaskan tatalaksana rekonstruksi kelainan kongenital daun telinga dan merujuk kecenter mikrotia

      9. Melakukan perawatan pasca bedah pada penderita kelainan kongenital

      10. Melakukan evaluasi fungsi dan estetik pasca bedah.


  5. GAMBARAN UMUM

    Kelainan kongenital daun telinga terjadi pada 2.4% populasi Asia setelah amerika dan Eropa Masalah yang ditimbulkannya terutama gangguan psikososial estetika dan fungsi pendengaran yang permanen. Kecacatan yang terkait dengan kelainan kongenital daun telinga merupakan penurunan kualitas sumber daya manusia terutama bila dikaitkan dengan kesempatan untuk mendapat pendidikan, pekerjaan ataupun kepuasan bagi diri penderita sendiri.

    Hampir sebagian besar upaya rekonstruksi dilakukan melalui tindakan operatif yang memerlukan tingkat kompetensi dan ketelitian yang tinggi dari tenaga medik atau profesional kesehatan di bidang ilmu THT.


  6. CONTOH KASUS & DISKUSI

    Anak laki-laki 15 tahun, dikonsulkan ke divisi Plastik Rekonstruksi THT dengan diagnosis mikrotia Pada anamnesis, sejak lahir kedua telinganya kecil dan tidak berkembang

    Anak pertama dari dua bersaudara, lahir ditolong oleh dokter, cukup bulan, spontan, langsung menangis, berat badan lahir 2400 gr panjang 40 cm. Semasa kehamilan ibu kontrol teratur ke bidan, dengan riwayat minum jamu-jamuan

    minum obat-obatan disangkal, , riwayat trauma juga disangkal, riwayat infeksi saat kehamilan. Tumbuh kembang lainnya baik, sekolah terganggu karena penamplan dan pendengaran terganggu

    Pemeriksaan fisik pasien menderita mikrotia telinga bilateral grade III

    Pemeriksaan penunjang audiometri, telinga kanan tuli konduktif sedang 56,5 db; telinga kiri tuli konduktif sedang 58,4 db. Tomografi Komputer mikrotia bilateral, meatus akustikus eksternus tidak terbentuk, kavum timpani tidak terbentuk sempurna, namun tulang pendengaran kanan dan kiri utuh.

    Diskusi :


  7. TUJUAN PEMBELAJARAN

    Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian- kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan menatalaksana kelainan daun kongenital pada telinga seperti yang telah disebutkan diatas, yaitu:

    1. Menguasai embriologi, anatomi, histologi, fisiologi telinga

    2. Mampu menjelaskan faktor penyebab/etiologi, patologi, patofisiologi dan garnbaran klinis berbagai jenis kelainan kongenital telinga.

    3. Menentukan dan melakukan pemeriksaan penunjang (BERA, CT Scan, Audiometri)

    4. Membuat diagnosis kelainan kongenital daun telinga dari pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang

    5. Melaksanakan tindakan rehabilitasi dan rekonsruksi terhadap kelainan telinga.

    6. Melakukan work-up, menentukan terapi dan memutuskan untuk melakukan rujukan kelainan kongenital daun telinga.


  8. METODE PEMBELAJARAN

    1. Literatur Reading

    2. Jurnal Reading

    3. Praktik Lapangan (Poliklinik dan ruang rawat)

    4. Skills Lab

    5. Bedside Teaching

    6. Tindakan (OK)

    7. Case Report

    8. Minicex

    9. Mini lecture


  9. EVALUASI


  10. INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF & PSIKOMOTOR

    The correction of microtia/ atresia should begin with:

    1. Skin graft to ear with the removal of microtic vestige

    2. Correction of the atresia by an otolaryngologist

    3. Combined procedure in conjunction with the otologist

    4. Autogenous cartilage harvest with framework creation

    5. Wait until the child is 18 years of age to decide for himself or herself.

    Jawaban :D


  11. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR


    Nilailah kinerja. setiap langkah yang diarnati menggunakan skala sebagai berikut.: 1.


    2.


    3.

    T/D

    Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)

    Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal

    Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai trutannya dan waktu kerja yang sangat efisien

    Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)

    PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR AURIKULOPLASTI



    NAMA PESERTA :........ TANGGAL: .......

    KEGIATAN

    KASUS

    I. ULANG DIAGNOSIS DAN PROSEDUR OPERASI






    II. PERSIAPAN PROSEDUR

    - Injeksi antibiotika preoperatif






    - Menyiapkan template dan lokasi daun telinga dan alat-alat







    KEGIATAN

    KASUS

    yang akan digunakan






    - Cuci tangan, memakai baju operasi dan sarung tangan steril






    - tindakan a dan antiseptik pada daerah operasi dan sekitarnya dengan menggunakan povidon iodine atau antiseptik lainnya






    - pasang kain penutup operasi steril pada pasien, kecuali di area operasi






    - Posisi pasien : terlentang, kepala miring ke arah berlawanan dengan sisi telinga yang dioperasi






    III. PROSEDUR OPERASI aurikuloplasti tahap 1

    - Melakukan suntikan infiltrasi adrenalin pada daerah-daerah tertentu di daerah mikrotia






    - Melakukan insisi kulit lobul dengan z plasti






    - Melakukan deseksi dan elevasi kulit dan jaringan lunak di bawahnya






    .Persiapan pengambilan graft iga 678






    - Melakukan penandaan pada daerah diatas iga 6-7 dekat dengan xiphoid dilanjutkan dengan insisi lapis demi lapis sampai teraba [periosteum






    - Menggunakan hak dengan benar untuk memaparkan daerah iga yang kan diambil sesuia dengan kebutuhan template telinga.






    - Melakukan pengambilan iga.






    - Pembuatan rangka telinga dengan memahat bentuk rangka telinga sesuai dengan template yang dibutuhkan






    - Memasukan rangka telinga kedalam pocket sesuai dengan perencanaan letak daun telinga






    - Memasang negative pressure suction drain sampai detil anatomi subunit telinga terlihat






    - Jahit luka operasi dengan benang nilon prolen 5-0






    - Daerah operasi ditutup dengan verban dan diberi proteksi telinga






    - Melakukan verban daerah dada bekas insisi pengambilan iga











    IV. PROSEDUR OPERASI aurikuloplasti tahap 2 dilakukan 3-6 bulan kemudian

    - Melakukan suntikan infiltrasi adrenalin pada daerah-daerah tertentu di daerah framework







    KEGIATAN

    KASUS

    - Melakukan insisi kulit mengelilingi framework






    - Melakukan deseksi dan elevasi kulit ( subkutis tanpa merusak kapsul)






    .Persiapan pengambilan skingraft

    - Melakukan pengambilan split thickness skin graft pada daerah paha






    - Graft diletakaan pada daerah retroaurikular






    - Ambil temporoparietal flap






    - Ambil iga sebagai butress






    - Retroaurikular ditutup dengan tpf dan skin graft






    - Jahit luka operasi dengan benang nilon prolen 5-0






    - Daerah operasi ditutup dengan verban tie over dan diberi proteksi telinga






    - Melakukan verban daerah skin graft












    DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA PROSEDUR AURIKULOPLASTI



    Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini:

    X: Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar

    T/T: Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih


    NAMA PESERTA:              TANGGAL :      


    KEGIATAN

    NILAI

    Persiapan

    1. Kaji ulang diagnosis dan prosedur operatif






    2. Menyiapkan peralatan operatif






    3. Menyiapkan diri untuk tindakan operatif







    KEGIATAN

    NILAI

    4. Menyiapkan posisi pasien






    5. Melakukan tindakan a & anti septik






    PROSEDUR OPERASI






    - Melakukan penandaan bentuk telinga sesuai dengan template






    - Melakukan suntikan infiltrasi adrenalin pada daerah- daerah tertentu di daerah aurikuler






    - Melakukan insisi kulit lobuloplasti dengan z plasti






    - Melakukan undermining kulit dan jaringan lunak di bawahnya.






    - Melakukan insisi kulit dan perikondrium iga 6-8 daerah dada.






    - Memasang retractor secara benar untuk memaparkan daerah luka operasi






    - Melakukan pengambilan iga






    - Menjahit lapis demi lapis daerah lapangan operasi






    - Tahap 2 operasi dilakukan 3-6 bulan kemudian.






    - melakukan insisi retroauriker 1 cm dibelakang framework dibawah kapsul yang terbentuk






    - Mengambil skin graft didaerah bawah dengan split thickness skin graft atau full thickness skin graft daerah inguinal.






    - Memasang graft iga sebagai butress daerah konka






    - Menutup retroaurikuler dengan temporoparietal flap






    - Defek retroairuler ditutup dengan skingraft.






    - Memasang bolster telinga diatas graft






    - Mempertahankan bolster selama 5-7 hari






    - Mengangkat bolster dan merawat skingraft sampai viable






    - Mempertahankan posisi telinga sesuai dengan telinga kontralateral






    - Memberikan instruksi pasca operasi.












  12. MATERI PRESENTASI

Slide 1 : mikrotia

Mikrotia merupakan suatu kelainan kongenital berupa malformasi bentuk telinga dengan berbagai derajat keparahan mulai dari bentuk telinga luar kecil dengan abnormalitas ringan sampai tidak terbentuknya daun telinga, telinga tengah dan telinga dalam.

Slide 2: Ruang Lingkup







Klasifikasi Microtia (Markx, Aguilar, Jahrsdoefer):

  1. Derajat I: kelainan ringan dengan sedikit perubahan bentuk pada heliks dan antiheliks.

  2. Derajat II: memiliki seluruh struktur utama, tetapi perlu dilakukan rekonstruksi pada tulang rawan atau kulit, terdapat stenosis liang telinga.

  3. Derajat III: abnormalitas ditandai dengan terdapatnya beberapa bahkan mungkin tidak terdapat bentuk sama sekali. Jika terdapat lobul, posisinya ke arah anterior



Tanzer mengklasifikasikan defek daun telinga menjadi lima kategori:

  1. Anotia

  2. Hipoplasia komplet (mikrotia)

    1. Disertai atresia liang telinga

    2. Tanpa atresia liang telinga

  3. Hipoplasia 1/3 tengah daun telinga

  4. Hipoplasia 1/3 atas daun telinga

    1. Constricted (cup dan lop) ear

    2. Kriptotia

    3. Hipoplasi seluruh 1/3 atas daun telinga

  5. Prominent ear (Telinga caplang)



MODUL UTAMA

FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI


FACIAL PLASTY

MODUL VIII.4.2 FISTULA PREAURIKULA


EDISI III




KOLEGIUM

ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER

2022

DAFTAR ISI

  1. WAKTU 1

  2. PERSIAPAN SESI 1

  3. REFERENSI 1

  4. KOMPETENSI 1

  5. GAMBARAN UMUM 2

  6. CONTOH KASUS 2

  7. TUJUAN PEMBELAJARAN 2

  8. METODA PEMBELAJARAN 3

  9. EVALUASI 3

  10. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF 3

  11. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR 4

  12. MATERI PRESENTASI 5

  13. MATERI BAKU 7

  14. DAFTAR PUSTAKA 9

MODUL VIII.4.2

TOPIK : FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI - FACIAL PLASTY: FISTULA PREAURIKULA


  1. WAKTU

    Proses Pengembangkan Kompetensi

    Alokasi Waktu :

    Sesi di dalam kelas Sesi Pratikum

    Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi

    11 X 60 menit (classroom session)

    10 X 60 menit (coaching session)

    16 X 60 menit (facilitation and assessment)


  2. PERSIAPAN SESI

    1. Materi Kelainan Kongenital Telinga meliputi :

      1. Slide 1: Displasia Daun Telinga

      2. Slide 2: Definisi dan Ruang Lingkup

      3. Slide 3: Algoritma dan Prosedur

    2. Kasus : Kelainan Kongenital Telinga, Fistula Preaurikula

      Pasien seorang perempuan, 3 tahun datang dengan keluhan lubang pada bagian depan telinga kanan yang ada sejak lahir. Terdapat riwayat gatal dan keluar cairan dari lubang tersebut hilang timbul sejak 6 bulan yang lalu disertai dengan nanah / bisul di sekitarnya. Pasien tidak pernah mengeluh keluar cairan dri liang telinga. Terdapat riwayat keluhan serupa pada anak pasien.

      Pada pemeriksaan fisik telinga didapatkan fistula pada regio preaurikula, anterior dari heliks. Terdapat tanda endema, hiperemis, maupun sekret dari dalam fistula. Liang telinga lapang, tidak ada sekret dan membran timpani intak. Telinga kiri, hidung dan tenggorokan dalam batas normal.

    3. Sarana dan Alat Bantu Latih :

      1. Model anatomi telinga, video

      2. Penuntun belajar (learning guide) terlampir

      3. Tempat belajar (training setting): bangsal THT-KL, Poliklinik THT-KL, kamar operasi.


  3. REFERENSI

    1. Weerda H. Plastic sugery of The Ear. In : scott Brownosotolaryngology, vol.3, 6th edition, Butterworth Heinemann, Oxford, 1997, l-21.

    2. Becker w. Naumann HH, Pfalt CR, Kongenital malformation in Ear, Nose and Throat Disease, secondedition, Thieme Medical publishers Inc., New york, 1994, p:134-6

    3. Lee. K.J, Kongenital Mal formationin otolaryngology and Head and Neck Surgery, Elseiver Science Publishers, 1989, p: 63-6

    4. Bailey B.J, Johnson J.T, congenital aural atresia in Head and Neck surgery Otolaryngology, Fourthedition, volume two, Lippincott williams & wilkins, 2046, p: 2027-40


  4. KOMPETENSI

    1. Kompetensi Umum

      1. Mampu membuat diagnosis kelainan kongenital Fistula Preaurikula berdasarkan pemeriksaan fisik.

      2. Mampu melakukan tatalaksana serta merujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi bila diperlukan.


    2. Kompetensi Khusus

      Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam :

      1. Menjelaskan embriologi, anatomi, histologi, fisiologi daun telinga.

      2. Menjelaskan faktor penyebab, macam-macam kelainan kongenital Fistula Preaurikula.

      3. Menjelaskan patofisiologi, gambaran klinis dari kelainan kongenital Fistula Preaurikula

      4. Membuat diagnosis klinis berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan sehubungan dengan adanya kelainan kongenital organ lain yang bersamaan dengan kelainan kongenital Fistula Preaurikula.

      5. Menjelaskan tatalaksana rekonstruksi Fistula Preaurikula

      6. Melakukan perawatan pasca bedah pada penderita kelainan kongenital

      7. Melakukan evaluasi estetik pasca bedah.


  5. GAMBARAN UMUM

    Fistula preaurikular congenital adalah suatu traktus yang didasari oleh epitel skuamos yang bermula di depan daun telinga. Penyakit ini preaurikula merupakan kelainan kongenital jinak dari jaringan lunak preaurikula yang banyak ditemukan. Kelainan ini pertama kali diuraikan oleh Van Heusinger pada tahun 1864. Pada pemeriksaan tampak lubang kecil di telinga luar berbentuk bulat atau lonjong dengan ukuran kurang dari 3mm, biasanya terdapat tepat dibagian anterior tragus atau Krus helikis, tetapi jarang ditemukan dibagian superior atau inferior perlekatan telinga. Penyakit ini merupakan kelainan herediter yang dominan.


  6. CONTOH KASUS

    Pasien seorang perempuan, 3 tahun datang dengan keluhan lubang pada bagian depan telinga kanan yang ada sejak lahir. Terdapat riwayat gatal dan keluar cairan dari lubang tersebut hilang timbul sejak 6 bulan yang lalu disertai dengan nanah / bisul di sekitarnya. Pasien tidak pernah mengeluh keluar cairan dri liang telinga. Terdapat riwayat keluhan serupa pada anak pasien.


    Pada pemeriksaan fisik telinga didapatkan fistula pada regio preaurikula, anterior dari heliks. Terdapat tanda endema, hiperemis, maupun sekret dari dalam fistula. Liang telinga lapang, tidak ada sekret dan membran timpani intak. Telinga kiri, hidung dan tenggorokan dalam batas normal.


  7. TUJUAN PEMBELAJARAN

    Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian- kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan menatalaksana kelainan daun kongenital pada telinga seperti yang telah disebutkan diatas, yaitu:

    1. Menguasai embriologi, anatomi, histologi, fisiologi telinga

    2. Mampu menjelaskan faktor penyebab/etiologi, patologi, patofisiologi dan garnbaran klinis berbagai jenis kelainan kongenital telinga.

    3. Menentukan dan melakukan pemeriksaan penunjang

    4. Membuat diagnosis kelainan kongenital Fistula Preaurikula dari pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang

    5. Melaksanakan rekonsruksi terhadap kelainan Fistula Preaurikula.

    6. Melakukan work-up, menentukan terapi Fistula Preaurikula


  8. METODA PEMBELAJARAN

    1. Literatur reading

    2. Praktik lapangan( Poliklinik)

    3. Skills lab

    4. Praktik Lapangan ( OK)

    5. Praktik Lapangan (R.Inap)

    6. Bedside Teaching

    7. Case report

    8. Jurnal reading

    9. Minicex

    10. Mini lecture


  9. EVALUASI

    1. Pada awal pembelajaran dilakukan evaluasi Pre - test dalam bentuk essay dan pilihan ganda. Materi test terdiri dari : anatomi, patofisiologi, penegakan diagnosis serta klasifikasi, teknik - tehnik operasi, komplikasi dan penangannya, follow up dan perencanaan selanjutnya.

    2. Bedsite teaching dan diskusi untuk membahas beberapa masalah yang ada. Setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberi kesempatan untuk assistensi operasi fistula preaurikula. Pada saat itu kan dilakukan evaluasi pengetahuan dan kompetensi peserta didik.

    3. Setelah melakukan asistensi dan dinilai kompeten, peserta didik dapat melakukan operasi fistula preaurikula di bawah bimbingan pendidik:

      1. Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist

      2. Kriteris penilaian langsung : cakap / tidak cakap / lalai.


  10. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF

    Seorang anak laki-laki berusia 14 hari dibawa orang tuanya berobat dengan terdapat lubang pada depan telinga sejak lahir, lubang sering mengeluarkan cairan berbau, bengkak seperti bisul.

    a) Jelaskan diagnosis yang terjadi pada kasus diatas serta tatalaksananya.


    Jawaban :

    Fistula Preaurikula dengan riwayat infeksi berulang. Tanda dan gejala awal terjadinya infeksi adalah rasa nyeri, bengkak dan eritema yang menyebabkan dokter memberikan antibiotik empirik untuk bakteri yang umum pada infeksi kulit. Keluhan yang dapat terjadi adalah cairan yang keluar melalui fistula.

    Ketika pemberian antibiotik tidak memberikan respon pada abses, maka diindikasikan untuk melakukan aspirasi dengan jarum. Jika infeksi berulang maka dilakukan tindakan pembedahan


  11. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR


    PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR FISTULEKTOMI



    Nilailah kinerja. setiap langkah yang diarnati menggunakan skala sebagai berikut.: 1.


    2.


    3.

    T/D

    Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)

    Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal

    Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai trutannya dan waktu kerja yang sangat efisien

    Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)

    NAMA PESERTA :........ TANGGAL: ...........


    KEGIATAN

    KASUS

    I. ULANG DIAGNOSIS DAN PROSEDUR OPERASI






    II. PERSIAPAN PROSEDUR

    - Injeksi antibiotika preoperatif






    - Cuci tangan, memakai baju operasi dan sarung tangan steril






    - tindakan a dan antiseptik pada daerah operasi dan sekitarnya dengan menggunakan povidon iodine atau antiseptik lainnya






    - pasang kain penutup operasi steril pada pasien, kecuali di area operasi






    - Posisi pasien : terlentang, kepala miring ke arah berlawanan dengan sisi telinga yang dioperasi






    III. PROSEDUR OPERASI FISTULEKTOMI






    - Melakukan suntikan infiltrasi adrenalin pada daerah-daerah tertentu di daerah fistel






    - Melakukan penyuntikan metilen blue.






    - Melakukan insisi elips






    - Melakukan deseksi dan elevasi kulit dan jaringan lunak di bawahnya dan melakukan otoplasti, sesuai dengan teknik Converse, Mustarde dan Furnas. Penjahitan belakang daun







    KEGIATAN

    KASUS

    telinga












    DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA PROSEDUR FISTULA PREAURIKULA


    Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini:

    X: Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar

    T/T: Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih


    NAMA PESERTA: TANGGAL :

    KEGIATAN

    NILAI

    Persiapan

    1. Kaji ulang diagnosis dan prosedur operatif






    2. Menyiapkan peralatan operatif






    3. Menyiapkan diri untuk tindakan operatif






    4. Menyiapkan posisi pasien






    5. Melakukan tindakan a & anti septik






    PROSEDUR OPERASI






    - Melakukan penandaan bentuk insisi






    - Melakukan suntikan infiltrasi adrenalin pada daerah-daerah tertentu di daerah aurikuler






    - Melakukan insisi kulit elips pada fistulektomi sederhana.







  12. MATERI PRESENTASI


    SLIDE 1 : Displasia Daun Telinga



    Fistula preaurikular congenital adalah suatu traktus yang didasari oleh epitel skuamos yang bermula di depan daun telinga.


    Fistula preaurikula dapat tanpa gejala ataupun menimbulkan gejala seperti gatal, keluar cairan, nyeri, dan bengkak. Fistula tanpa disertai keluhan tidak diindikasikan untuk tindakan operasi. Operasi dilakukan bila fistel sering menimbulkan infeksi atau keluarnya sekret yang berkepanjangan sehingga mengganggu aktifitas. Saat tindakan operasi, saluran beserta kantong harus diangkat seluruhnya untuk mencegah kekambuhan.


    Teori pertama menyatakan bahwa fistula preaurikula adalah sisa dari penutupan yang tidak lengkap pada bagian dorsal celah faringeal pertama.

    Teori kedua berpendapat bahwa fistula preaurikula merupakan hasil dari penyatuan yang tidak sempurna dari enam hillocks aurikula.

    Teori ketiga menyatakan bahwa fistula preaurikula terbentuk dari hasil penumpukan lipatan ektodermal selama pembentukan aurikula.

    SLIDE 2 : Definisi dan Ruang Lingkup


    .

    Teknik Inside Out




  13. MATERI BAKU

    FISTULA PREAURIKULA

    Fistula preaurikular congenital adalah suatu traktus yang didasari oleh epitel skuamos yang bermula di depan daun telinga. Penyakit ini preaurikula merupakan kelainan kongenital jinak dari jaringan lunak preaurikula yang banyak ditemukan. Kelainan ini pertama kali diuraikan oleh Van Heusinger pada tahun 1864. Pada pemeriksaan tampak lubang kecil di telinga luar berbentuk bulat atau lonjong dengan ukuran kurang dari 3mm, biasanya terdapat tepat dibagian anterior tragus atau crus helicis, tetapi jarang ditemukan dibagian superior atau inferior perlekatan telinga. Penyakit ini merupakan kelainan herediter yang dominan.

    Manifestasi Klinis

    Fistula preaurikula sering kali tidak menimbulkan keluhan. Infeksi dapat terjadi lubang ujung fistula tertutup oleh bakteri dengan saluran terisi oleh deskuamasi kulit. Tanda terjadinya infeksi antara lain bengkak, nyeri dan kemerahan. Pasien datang dengan cairan yang berasal dari lubang fistula karena terjadinya infeksi atau hasil deskuamasi epitel debris.


    Pemeriksaan fisik tampak lubang kecil pada telinga luar, biasanya pada anterior heliks asenden. Arah traktus dapat bervariasi panjang, cabang, dan salurannya. Fistula preaurikula dapat berlanjut membentuk kista subkutaneus yang secara erat berhubungan dengan kartilago tragus dan krus anterior heliks.


    Penatalaksanaan

    Kelainan yang asimtomatik tidak memerlukan tatalaksana khusus. Tanda dan gejala awal terjadinya infeksi adalah rasa nyeri, bengkak dan eritema yang menyebabkan dokter memberikan antibiotik empirik untuk bakteri yang umum pada infeksi kulit. Keluhan yang dapat terjadi adalah cairan yang keluar melalui fistula. Ketika pemberian antibiotik tidak memberikan respon pada abses, maka diindikasikan untuk melakukan aspirasi dengan jarum.


    Kompetensi

    Dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai ketrampilan fistulektomi pada Fistula Preaurikula. Selama pendidikan pemah melihat atau pernah didemonstrasikan tindakan ketrampilan fistulektomi, dan pernah menerapkan ketrampilan ini beberapa kali di bawah supervisi serta memiliki pengalaman untuk menerapkan ketrampilan dalam konteks praktek secara mandiri.


    Indikasi operasi

    Fistulektomi dengan indikasi berulang.


    Diagnosis banding


    Pemeriksaan penunjang

    Fistelograft bila diperlukan


    Teknik Operasi :

    1. Insisi Fistel

      Penyuntikan larutan metilen biru akan membantu dalam identifikasi saluran fistel. Metilen biru disuntikkan menggunakan probe lakrimal pada ujung fistel. Ujung dari fistel yang telah disuntik metilen biru dapat dijepit dengan klem untuk menghindari keluarnya cairan metilen biru yang telah disuntikan dan mengenai jaringan di sekitarnya.

    2. Insisi Elips

      Ensisi elips pada ujung fistel dan dilanjutkan dengan penelusuran saluran hingga sinus.

    3. Pendekatan supra aurikula dapat dipilih pada fistel preaurikula yang meluas ke daerah post aurikula dengan melakukan insisi elips sekitar ujung sinus. Batas medial diseksi adalah fosa temporalis sedangkan batas posterior diseksi adalah kartilago heliks anterior. Jaringan superfisial dan fasia temporalis diangkat bersama kantong sinus preaurikula. Sebagian dari kartilago atau perikondrium heliks pada dasar sinus harus dieksisi. Pada saat melakukan penjahitan harus dihindari adanya dead space, sehingga dapat dilakukan pemasangan drain.

    4. Teknik operasi lain adalah teknik inside-out. Pada teknik ini, dilakukan pembukaan saluran atau sinus intraoperatif dan dilakukan penelusuran dari dinidng dalam fistula.

    5. Dilakukan pemasangan drain.

    6. Luka sayat dijahit dengan benang silk/prolene 5.0


    Pasca Operasi :

    1. Pasien dilihat pada hari pertama pasca-operasi.

    2. Pembalut dilepas, kemudian telinga diinpeksi dari kemungkinan hematoma.

    3. Drain dicabut pada hari ke 3, dan telinga dibalut lagi dengan balut tekan.

    4. Pasien memakai perban ini untuk 5 hari kedepan dan selama tidur

    5. Jahitan prolene dilepas pada hari ketujuh setelah operasi.


      Komplikasi

      • Eksisi yang tidak lengkap dapat menyebabkan kekambuhan.


  14. DAFTAR PUSTAKA

    1. Weerda H. Plastic sugery of The Ear. In : scott Brownosotolaryngology, vol.3, 6th edition, Butterworth Heinemann, Oxford, 1997, 3 /8/ l-21.

    2. Becker w. Naumann HH, Pfalt CR, Kongenital malformation in Ear, Nose and Throat Disease, secondedition, Thieme Medical publishers Inc., New york, 1994, p:134-136

    3. Lee. K.J, Kongenital Mal formationin otolaryngology and Head and Neck Surgery, Elseiver Science Publishers, 1989, p: 63-6

    4. Bailey B.J, Johnson J.T, congenital aural atresia in Head and Neck surgery Otolaryngology, Fourthedition, volume two, Lippincott williams & wilkins, 2046, p: 2027-2040

MODUL UTAMA

FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI


FACIAL PLASTY MODUL VIII.4.3 OTOPLASTI


EDISI III




KOLEGIUM

ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER

2022

DAFTAR ISI

  1. WAKTU 1

  2. PERSIAPAN SESI 1

  3. REFERENSI 1

  4. KOMPETENSI 2

  5. GAMBARAN UMUM 2

  6. CONTOH KASUS 2

  7. TUJUAN PEMBELAJARAN 3

  8. METODA PEMBELAJARAN 3

  9. EVALUASI 3

  10. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF 3

  11. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR 4

  12. MATERI PRESENTASI 6

  13. MATERI BAKU 7

    1. DAFTAR PUSTAKA 8

MODUL VIII.4.3

TOPIK : FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI - FACIAL PLASTY: OTOPLASTI


  1. WAKTU

    Proses Pengembangkan Kompetensi

    Alokasi Waktu :

    Sesi di dalam kelas Sesi Pratikum

    Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi

    11 X 60 menit (classroom session)

    10 X 60 menit (coaching session)

    16 X 60 menit (facilitation and assessment)


  2. PERSIAPAN SESI

    1. Materi Kelainan Kongenital Telinga meliputi :

      1. Slide 1: Sistem Klasifikasi Displasia Auriula

      2. Slide 2: Deformitas Telinga

      3. Slide 3: Jenis-jenis kelainan Telings

    2. Kasus : Kelainan kongenital telinga

      Anak laki-laki 6 tahun, dikonsulkan ke divisi Plastik Rekonstruksi THT dengan diagnosis telinga caplang atau bat ear. Pada anamnesis, sejak lahir kedua telinganya masih normal tetapi tidak berkembang seperti telinga normal.

      Anak pertama dari dua bersaudara, lahir ditolong oleh dokter, cukup bulan, spontan, langsung menangis, berat badan lahir 2400 gr panjang 40 cm. Semasa kehamilan ibu kontrol teratur ke bidan, dengan riwayat minum jamu-jamuan minum obat-obatan disangkal, , riwayat trauma juga disangkal, riwayat infeksi saat kehamilan. Tumbuh kembang lainnya baik, sekolah terganggu karena penamplan dan pendengaran normal.

      Pemeriksaan fisik pasien menderita displasia telinga bilateral grade I. Pemeriksaan penunjang audiometri dalam batas normal.

    3. Sarana dan Alat Bantu Latih :

      1. Model anatomi telinga, video

      2. Penuntun belajar (learning guide) terlampir

      3. Tempat belajar (training setting): bangsal THT-KL, Poliklinik THT-KL, kamar operasi.


  3. REFERENSI

    1. Weerda H. Plastic sugery of The Ear. In : scott Brownosotolaryngology, vol.3, 6th edition, Butterworth Heinemann, Oxford, 1997, 3 /8/ l-21.

    2. Becker w. Naumann HH, Pfalt CR, Kongenital malformation in Ear, Nose and Throat Disease, secondedition, Thieme Medical publishers Inc., New york, 1994, p:134-6

    3. Lee. K.J, Kongenital Mal formationin otolaryngology and Head and Neck Surgery, Elseiver Science Publishers, 1989, p: 63-6

    4. Bailey B.J, Johnson J.T, congenital aural atresia in Head and Neck surgery Otolaryngology, Fourthedition, volume two, Lippincott williams & wilkins, 2046, p: 2027-40

    5. Otoplasty Dissection Manual in 5th Otology Annual Scientific Meeting. 2010. Yogyakarta.

  4. KOMPETENSI

    1. Kompetensi Umum

      1. Mampu membuat diagnosis kelainan kongenital daun telinga berdasarkan pemeriksaan fisik, defek anatomi daun telinga dan derajat kelainan menurut Weerda dan pemeriksaan penunjang yang diperlukan.

      2. Mampu melakukan tatalaksana serta merujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi bila diperlukan.

    2. Kompetensi Khusus

      Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam :

      1. Menjelaskan embriologi, anatomi, histologi, fisiologi daun telinga.

      2. Menjelaskan faktor penyebab, macam-macam kelainan kongenital daun telinga.

      3. Menjelaskan patofisiologi, gambaran klinis dari kelainan kongenital daun telinga

      4. Membuat diagnosis klinis berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan sehubungan dengan adanya kelainan kongenital organ lain yang bersamaan dengan kelainan kongenital daun telinga.

      5. Menjelaskan tatalaksana rekonstruksi kelainan kongenital daun telinga

      6. Melakukan perawatan pasca bedah pada penderita kelainan kongenital

      7. Melakukan evaluasi estetik pasca bedah.


  5. GAMBARAN UMUM

    Kelainan kongenital daun telinga terjadi pada 2.4% populasi Asia setelah amerika dan Eropa Masalah yang ditimbulkannya terutama gangguan psikososial estetika dan fungsi pendengaran yang permanen. Kecacatan yang terkait dengan kelainan kongenital daun telinga merupakan penurunan kualitas sumber daya manusia terutama bila dikaitkan dengan kesempatan untuk mendapat pendidikan, pekerjaan ataupun kepuasan bagi diri penderita sendiri.


    Hampir sebagian besar upaya rekonstruksi dilakukan melalui tindakan operatif yang memerlukan tingkat kompetensi dan ketelitian yang tinggi dari tenaga medik atau profesional kesehatan di bidang ilmu THT.


  6. CONTOH KASUS

    Anak laki-laki 6 tahun, dikonsulkan ke divisi Plastik Rekonstruksi THT dengan diagnosis telinga caplang atau bat ear. Pada anamnesis, sejak lahir kedua telinganya masih normal tetapi tidak berkembang seperti telinga normal

    Anak pertama dari dua bersaudara, lahir ditolong oleh dokter, cukup bulan, spontan, langsung menangis, berat badan lahir 2400 gr panjang 40 cm. Semasa kehamilan ibu kontrol teratur ke bidan, dengan riwayat minum jamu-jamuan minum obat-obatan disangkal, , riwayat trauma juga disangkal, riwayat infeksi saat kehamilan. Tumbuh kembang lainnya baik, sekolah terganggu karena penamplan dan pendengaran normal

    Pemeriksaan fisik pasien menderita displasia telinga bilateral grade I Pemeriksaan penunjang audiometri dalam batas normal.

  7. TUJUAN PEMBELAJARAN

    Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian- kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan menatalaksana kelainan daun kongenital pada telinga seperti yang telah disebutkan diatas, yaitu:

    1. Menguasai embriologi, anatomi, histologi, fisiologi telinga

    2. Mampu menjelaskan faktor penyebab/etiologi, patologi, patofisiologi dan garnbaran klinis berbagai jenis kelainan kongenital telinga.

    3. Menentukan dan melakukan pemeriksaan penunjang fungsi telinga bila diperlukan

    4. Membuat diagnosis kelainan kongenital daun telinga dari pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang

    5. Melaksanakan tindakan rehabilitasi dan rekonsruksi terhadap kelainan telinga.

    6. Melakukan work-up, menentukan terapi dan memutuskan untuk melakukan rujukan kelainan kongenital daun telinga.


  8. METODA PEMBELAJARAN

    1. Literatur reading

    2. Praktik lapangan( Poliklinik)

    3. Skills lab

    4. Praktik Lapangan ( OK)

    5. Praktik Lapangan (R.Inap)

    6. Bedside Teaching

    7. Case report

    8. Jurnal reading

    9. Minicex

    10. Mini lecture


  9. EVALUASI

    1. Pada awal pembelajaran dilakukan evaluasi Pre - test dalam bentuk essay dan pilihan ganda. Materi test terdiri dari : anatomi, patofisiologi, penegakan diagnosis serta klasifikasi, teknik - tehnik operasi, komplikasi dan penangannya, follow up dan perencanaan selanjutnya.

    2. Bedsite teaching dan diskusi untuk membahas beberapa masalah yang ada. Setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberi kesempatan untuk assistensi operasi displasia aurikula Pada saat itu kan dilakukan evaluasi pengetahuan dan kompetensi peserta didik.

    3. Setelah melakukan asistensi dan dinilai kompeten, peserta didik dapat melakukan operasi displasia aurikula di bawah bimbingan pendidik:

      1. Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist

      2. Kriteris penilaian langsung : cakap / tidak cakap / lalai.


  10. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF


    Which of the following statements about complication after otoplasty is false?

    1. Telephone ear deformity can result from failure to correct a prominent, laterally displaced helical root and lobule.

    2. Infection is the most common complication.

    3. Skin necrosis is a rare complication

    4. Worsening pain after postoperative day 3 suggests infection. Jawaban: B


  11. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR


    PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR OTOPLASTI


    Nilailah kinerja. setiap langkah yang diarnati menggunakan skala sebagai berikut.:

    1. Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)

    2. Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal

    3. Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai trutannya dan waktu kerja yang sangat efisien

    T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)


    NAMA PESERTA :..... TANGGAL: ...........


    KEGIATAN

    KASUS

    I. ULANG DIAGNOSIS DAN PROSEDUR OPERASI






    II. PERSIAPAN PROSEDUR

    - Injeksi antibiotika preoperatif






    - Menyiapkan template dan lokasi daun telingadan alat-alat yang akan digunakan






    - Cuci tangan, memakai baju operasi dan sarung tangan steril






    - tindakan a dan antiseptik pada daerah operasi dan sekitarnya dengan menggunakan povidon iodine atau antiseptik lainnya






    - pasang kain penutup operasi steril pada pasien, kecuali di area operasi






    - Posisi pasien : terlentang, kepala miring ke arah berlawanan dengan sisi telinga yang dioperasi






    III. PROSEDUR OPERASI OTOPLASTI







    KEGIATAN

    KASUS

    bawahnya dan melakukan otoplasti, sesuai dengan teknik Converse, Mustarde dan Furnas. Penjahitan belakang daun telinga







    DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA PROSEDUR OTOPLASTI

    Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini:

    X: Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar

    T/T: Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih


    NAMA PESERTA:                TANGGAL :      


    KEGIATAN

    NILAI

    Persiapan

    1. Kaji ulang diagnosis dan prosedur operatif






    2. Menyiapkan peralatan operatif






    3. Menyiapkan diri untuk tindakan operatif






    4. Menyiapkan posisi pasien






    5. Melakukan tindakan a & anti septik






    PROSEDUR OPERASI






    - Melakukan penandaan bentuk telinga sesuai dengan template






    - Melakukan suntikan infiltrasi adrenalin pada daerah- daerah tertentu di daerah aurikuler






    - Melakukan insisi kulit






    - Melakukan jahitan retroaurikuler untuk membentuk antehelix dengan jahitan mustarde.






    - Melakukan undermining kulit dan jaringan lunak di bawahnya.






    - Memasang bolster telinga diatas subunit telinga






    - Mempertahankan bolster selama 5-7 hari






    - Mempertahankan posisi telinga sesuai dengan telinga kontralateral






    - Memberikan instruksi pasca operasi.







    KEGIATAN

    NILAI







  12. MATERI PRESENTASI


    Prominent Ear :

    Deformitas telinga yang ditandai dengan tidak adanya antiheliks dan konka. Sudut auriculochepal melebar.


    Sthal Ear

    Ditandai dengan tidak adanya krus superior, abnormal crus transfer.


    Cryptotia

    Prominent Sthal Ear Cryptotia

    Heliks superior tertanam di bawah kulit, oleh karena adanya perlekatan abnormal muskulus aurikula superior ke skapa.



    Prominent Ear :

    Deformitas telinga yang ditandai dengan tidak adanya antiheliks dan konka. Sudut auriculochepal melebar.


    Sthal Ear :

    Ditandai dengan tidak adanya krus superior, abnormal crus transfer.


    Cryptotia :

    Heliks superior tertanam di bawah kulit, oleh karena adanya perlekatan abnormal muskulus aurikula superior ke skapa.


  13. MATERI BAKU

    Ruang Lingkup

    Kelainan arsitektur abnormal daun telinga akibat gangguan perkembangan. Mencakup perubahan kelengkungan daun telinga, daun telinga menjadi lebih dangkal/ menonjol, malformasi daun telinga.


    Deformitas Telinga

    Definisi Weerda :


    Anatomic Definition

    Surgical Definition


    Displasia Derajat-1

    Paling banyak terdeteksi struktur abnormal aurikula.


    Deformitas minor

    Tidak perlu menggunakan kulit tambahan atau kartilage pada rekonstruksi.

    Displasia derajat-2

    Terdeteksi beberapa struktur normal aurikula.

    Deformitas Sedang

    Rekosntruksi partial memerlukan penggunaan kulit atau kartilage tambahan.

    Displasia Derajat -3

    Tidak ada struktur normal yang terdeteksi.

    Deformitas Berat

    Rekonstruksi total memerlukan penggunaan kulit tambahan atau kartilage dalam jumlah banyak.


    Penatalaksanaan

    Penatalaksaan pada otoplasti. Teknik Converse, Mustarde, Furnas


    Kompetensi

    Dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai ketrampilan otoplasti (konsep, teori, indikasi, cara melakukan, dan komplikasi ). Selama pendidikan pemah melihat atau pernah didemonstrasikan tindakan ketrampilan otoplasti, dan pernah menerapkan ketrampilan ini beberapa kali di bawah supervisi serta memiliki pengalaman untuk menerapkan ketrampilan dalam konteks praktek secara mandiri.


    Definisi

    Otoplasti adalah bedah untuk membuat atau membentuk sub unit daun telinga untuk mendapatkan daun telinga yang berukuran dan bentuk normal.


    Ruang lingkup

    Displasia daun telinga adalah kelainan bentuk telinga dengan tidak terdapatnya beberapa sub unit telinga. Derajat 1 bila terdapat bentuk normal tetapi kecil. Derajat 2 bila terdapat 1-2 sub unit telinga yang tidak terbentuk dengan bentuk lebih kecil dari normal.


    Indikasi operasi

    Displasia grade 1 dan 2


    Diagnosis banding


    Pemeriksaan penunjang


    Teknik Operasi :

    1. Insisi Kulit

      Standar insisi otoplasti adalah elips dan dimulai pada lateral lipatan postauricular.

    2. Pembentukan lekukan Konka

      Untuk menormalkan kelebihan proyeksi dari konka, permukaan medical dari konka akan dipototng dan diratakan. Setiap jahitan akan melewati perikondrium, kartilago dan perikondrium. Setelah tindakan penjahitan, hal yang diperhatikan adalah pembuatan sebuah anti heliks yang sesuai.

    3. Pembentukan antiheliks

      Penjahitan dapat dilakukan untuk mengurangi sudut lekukan konka skafoid.

    4. Koreksi protusi pangkal superior telinga

      Jahitan dari Fossa Triangularis menuju fascia temporalis dapat memperbaiki protusi pangkal superior.

    5. Koreksi protusi lobul

Lobul prominen dapat disebabkan karena kelebihan kulit bagian medial atau kelainan heliks bagian kaudal.


Pasca Operasi :

  1. Pasien dilihat pada hari pertama pasca-operasi.

  2. Pembalut dilepas, kemudian telinga diinpeksi dari kemungkinan hematoma.

  3. Telinga dibalut lagi dengan balut tekan. Pasien dipantau lagi pada hari kedua dan telinga diinpeksi lagi dipasang perban elastic kepala dan telinga.

  4. Pasien memakai perban ini untuk 5 hari kedepan dan selama tidur untuk 2 minggu ke depan.

  5. Jahitan prolene dilepas pada hari ketujuh setelah operasi. Ekimosis sedang dan edema sering terjadi tetapi biasanya menghilang dalam 2 minggu pertama.


    Komplikasi


  1. DAFTAR PUSTAKA

    1. Weerda H. Plastic sugery of The Ear. In : scott Brownosotolaryngology, vol.3, 6th edition, Butterworth Heinemann, Oxford, 1997, 3 /8/ l-21.

    2. Becker w. Naumann HH, Pfalt CR, Kongenital malformation in Ear, Nose and Throat Disease, secondedition, Thieme Medical publishers Inc., New york, 1994, p:134-6

    3. Lee. K.J, Kongenital Mal formationin otolaryngology and Head and Neck Surgery, Elseiver Science Publishers, 1989, p: 63-6

    4. Bailey B.J, Johnson J.T, congenital aural atresia in Head and Neck surgery Otolaryngology, Fourthedition, volume two, Lippincott williams & wilkins, 2046, p: 2027-40

    5. Otoplasty Dissection Manual in 5th Otology Annual Scientific Meeting. 2010. Yogyakarta.

MODUL UTAMA

FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI


DEFEK KEPALA LEHER MODUL VIII.5.1 BLEPHAROPLASTY


EDISI III



KOLEGIUM

ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER

2022

DAFTAR ISI

  1. WAKTU 1

  2. PERSIAPAN SESI 1

  3. REFERENSI 1

  4. KOMPETENSI 1

  5. GAMBARAN UMUM 2

  6. CONTOH KASUS 2

  7. TUJUAN PEMBELAJARAN 2

  8. METODE PEMBELAJARAN 3

  9. EVALUASI 3

  10. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF 3

  11. MATERI PRESENTASI 4

  12. MATERI BAKU 5

  13. KEPUSTAKAAN MATERI BAKU 7

MODUL VIII. 5.1

TOPIK : FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI - DEFEK KEPALA LEHER :

BLEPHAROPLASTY


  1. WAKTU


    Mengembangan Kompetensi

    Hari : 35

    Sesi didalam kelas

    13 x 60 menit (classroom session)

    Sesi dengan fasilitas pembimbing

    2 x 60 menit (coaching session)

    Sesi praktik dan pencapaian kompetensi

    4 x 60 menit (facilitation and assessment)


  2. PERSIAPAN SESI

    1. Materi Presentasi : Blepharoplasti

      • SLIDE 1 : Anatomi kelopak mata atas dan bawah

      • SLIDE 2 : Indikasi operasi blepharoplasti

      • SLIDE 3 : Teknik operasi

      • SLIDE 4 : Perawatan pasca operasi & komplikasi


    2. Kasus :

      Seorang wanita 59 tahun datang dengan keluhan kelopak mata bawah menggantung. Pasien merasa kurang percaya diri dengan kondisi tersebut. Sehingga pasien datang ke poliklinik THT-KL untuk konsultasi mengenai masalah tersebut.


    3. Sarana dan alat Bantu latih:

      • Penuntun belajar

      • Tempat belajar ; Ruang Diskusi

      • Video tuntunan operasi


  3. REFERENSI

    1. Bailey BJ, Johnson JT, Head & Neck Surgery - Otolaryngology, 5th Edition, Volume two, Lippincott Williams & Wilkins, 2014, p : 3074 -3102

    2. Papel ID. Upper lid blepharoplasty. In: Facial Plastic and Reconstructive Surgery, 2nd edition, Thieme, 2002, p: 185-195

    3. Papel ID. Lower eyelid blepharoplasty. In: Facial Plastic and Reconstructive Surgery, 2nd edition, Thieme, 2002, p: 196-207


  4. KOMPETENSI

    Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan- pemeriksaan tambahan yang diminta oleh dokter (misalnya; pemeriksaan laboratorium sederhana). Dokter dapat memutuskan dan memberi terapi pendahuluan, serta merujuk ke spesialis yang relevan dan mampu menindaklanjuti sesudahnya.


    Keterampilan (2)

    Setelah mengikuti sesi ini, peserta didik diharapkan terampil :

    1. Mengenali gejala

    2. Melakukan anamnesis, pemeriksaan dan penatalaksanaan blepharoplasti

    3. Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi

    4. Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi yang akan digunakan


      Lulusan dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai blepharoplasti (baik konsep, teori, prinsip maupun indikasi, serta cara melakukan, komplikasi yang timbul, dan sebagainya). Selama pendidikan pernah melihat atau pernah didemonstrasikan operasi ini.


  5. GAMBARAN UMUM

    Kelopak mata merupakan bagian penting dari mata, terutama dalalam hal kosmetika. Pembedahan untuk memperbaiki kantung mata disebut blepharoplasti.


  6. CONTOH KASUS

    Seorang wanita 59 tahun datang dengan keluhan kelopak mata bawah menggantung. Pasien merasa kurang percaya diri dengan kondisi tersebut. Sehingga pasien datang ke poliklinik THT-KL untuk konsultasi mengenai masalah tersebut.


    1. Apakah perbedaan anatomi palpebra orang Kaukasian dengan orang Asia?

    2. Hal hal apakah yang harus kita perhatikan saat kita melakukan operasi blepharoplasti palpebra inferior?


  7. TUJUAN PEMBELAJARAN


    1. Tujuan Pembelajaran Umum :

      Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan untuk :

      1. Mampu mengetahui anatomi dan fisiologi kelopak mata atas dan bawah

      2. Mampu melakukan anamnesis, pemeriksaan dan diagnosis klasifikasi tentang kelainan kelopak mata atas dan bawah


    2. Tujuan Pembelajaran Khusus :

      Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk :

      1. Menjelaskan anatomi, topografi dan patofisiologi kelainan kelopak mata atas dan bawah (tingkat kompetensi K4)

      2. Menjelaskan etiologi dan klasifikasi kelainan kelopak mata atas dan bawah (tingkat kompetensi K4)

      3. Menjelaskan dan gambaran klinis kelainan kelopak mata atas dan bawah (tingkat kompetensi K4)

      4. Menerangkan pemeriksaan penunjang yang diperlukan pada penatalaksanaan kelainan kelopak mata atas dan bawah (tingkat kompetensi K4)

      5. Menjelaskan tehnik operasi blepharoplasti (tingkat kompetensi K2)

      6. Menjelaskan perawatan pasca operasi dan rencana selanjutnya (tingkat kompetensi K2)

      7. Menjelaskan penangan komplikasi operasi mulai dari komplikasi pada saat operasi, pasca operasi dan komplikasi lama (tingkat kompetensi K2)


  8. METODE PEMBELAJARAN

    1. Pendahuluan

      Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini :

      1. Small group discussion

      2. Peer assisted learning (video)

    2. Must to know key points :

      Peserta didik paling sudah harus mempelajari :

      1. Bahan acuan (references)

      2. Ilmu dasar yang berkaitan dengan topik pembelajaran

      3. Ilmu klinis dasar Penuntun belajar (learning guide)

      Tempat belajar (training setting) : ruang kuliah

    3. Cara pembelajaran :

      1. Kuliah

      2. Group diskusi

    4. Alat bantu pembelajaran : Video tehnik operasi blepharoplasti.


  9. EVALUASI

    1. Pada awal pembelajaran dilakukan evaluasi Pre - test dalam bentuk essay dan pilihan ganda. Materi test terdiri dari : anatomi, patofisiologi, penegakan diagnosis serta klasifikasi, teknik - tehnik operasi, komplikasi dan penangannya, follow up dan perencanaan selanjutnya.

    2. Pendidik / fasilitas Penjelasan lisan dan diskusi


  10. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF

    B S

    Jawaban : B B



  11. MATERI PRESENTASI

    Slide 1 : Anatomi kelopak mata atas dan bawah




    SLIDE 2: Indikasi operasi blepharoplasti


  12. MATERI BAKU

    (Bikin video)

    Blepharoplasti Definisi

    Suatu tindakan operasi untuk memperbaiki fungsi ataupun kosmetik kelopak mata atas dan bawah.


    Indikasi operasi

    1. Blepharoplasti kelopak mata atas

      • Fungsional

      • Kosmetik

      • Keduanya

    2. Blepharoplasti kelopak mata bawah

      • Dermatokalasis

      • Hipertrofi orbikularis

      • Sklera terlihat

      • Negative vector

      • Lower eyelid laxity

      • Ektropion

      • Entropion

      • Tear through deformity

      • Double convexity deformity

      • Festoons

      • Malar mounds or bags


    List of Skill

    Tahapan Bedah Dasar (sudah kompeten melakukan bedah dasar)

    Tehnik Operasi Tahapan operasi.

    1. Upper blepharoplasti

      Dilakukan penandaan dengan marker pada saat pasien belum teranastesi, dan posisi pasien duduk.Pada orang Asia ditentukan dahulu apakah akan dilakukan single eyelid fold atau double eye lid fold.


      Pembiusan dilakukan dengan sedasi maupun anestesi umum tergantung usia, kontraindikasi untuk pembiusan dalam narkose umum atau tidak. Desinfektan dengan larutan antiseptik dan lapangan operasi di persiapkan dengan linen steril.


      Dilakukan infiltrasi dengan xylokain 2%, 1 : 100,000 epinefrin dalam spuit 1 ml dan jarum no. 27, diantara kulit dengan otot pada kelopak mata atas untuk menghindari hematoma.


      Setelah penandaan dan infiltrasi sempurna dilakukan insisi sesuai penandaan dan perencanaan gambar. Pada beberapa pasien, kadang diperlukan sedikit pengambilan dari ototnya. Eksisi lemak dilakukan pada pasien-pasien yang memiliki kelopak mata yang prolaps, yang diawali dengan mengindetifikasi orbital septum, yang berada dibawah m. Orbikularis okuli dan memiliki kantong lemak medial dan sentral. Lebih baik mengangkat lemak daerah sentral dahulu dikuti daerah medial. Sebelum diangkat, lemak disuntik dahulu dengan lokal anestesi sebelum di klem menggunakan hemostat kecil, kemudian dikauter. Lemak yang diambil hanya lemak yang mudah muncul pada permukaan luka. Pengambilan lemak yang berlebihan menyebabkan retraksi kelopak mata dan orbital rim yang "overhang".


      Setelah diyakinan tidak terdapat perdarahan, maka dilakukan penjahitan dangan menggunakan prolene 6-0.

      Luka ditutup dengan kassa dan plaster.

      Komplikasi: asimetris, perdarahan, infeksi, ekimosis subkonjungtival, lagopthalmost, scar , buta, kemosis, hematoma.


    2. Lower blepharoplasti

      Sayatan dengan pendekatan transkonjungtival ataupun transkutaneus. Pendekatan transkonjungtival ideal dilakukan pada pasien yang masih muda (15-35 tahun) tanpa adanya kelainan lamela anterior, dan pasien yang tidak ingin terlihat scar.

      Pendekatan transkonjungtival

      1. Pendekatan preseptal.

      2. Pendekatan postseptal

    Pendekatan Transkutaneus (skin-muscle flap)

    Dilakukan pada pasien-pasien dengan kelainan lamela, dan orang tua. Memiliki risiko pasca bedah yang lebih tinggi.


    Komplikasi: retroorbital hematom, mata kering, kemosis, ektropion, milia, penglihatan kabur, infeksi, preseptal hematom, epifora, asimetris



  13. KEPUSTAKAAN MATERI BAKU

  1. Bailey BJ, Johnson JT, Head & Neck Surgery - Otolaryngology, Fifth Edition, Volume two, Lippincott Williams & Wilkins, 2014, p : 3074 -3102

  2. Papel ID. Upper lid blepharoplasty. In: Facial Plastic and Reconstructive Surgery, 2nd edition, Thieme, 2002, p: 185-195

  3. Papel ID. Lower eyelid blepharoplasty. In: Facial Plastic and Reconstructive Surgery, 2nd edition, Thieme, 2002, p: 196-207

MODUL UTAMA

FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI


DEFEK KEPALA LEHER MODUL VIII.5.2 RHYTIDECTOMY


EDISI III



KOLEGIUM

ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER

2022


DAFTAR ISI

  1. WAKTU 1

  2. PERSIAPAN SESI 1

  3. REFERENSI 1

  4. KOMPETENSI 1

  5. GAMBARAN UMUM 2

  6. CONTOH KASUS 2

  7. TUJUAN PEMBELAJARAN 2

  8. METODE PEMBELAJARAN 3

  9. EVALUASI 3

  10. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF 4

  11. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR 5

  12. MATERI PRESENTASI 7

  13. MATERI BAKU 8

  14. KEPUSTAKAAN MATERI BAKU 9

MODUL VIII.5.2

TOPIK : FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI - DEFEK KEPALA LEHER :

RHYTIDECTOMY


  1. WAKTU


    Mengembangan Kompetensi

    Hari : 35

    Sesi didalam kelas

    13 x 60 menit (classroom session)

    Sesi dengan fasilitas pembimbing

    2 x 60 menit (coaching session)

    Sesi praktik dan pencapaian kompetensi

    4 x 60 menit (facilitation and assessment)


  2. PERSIAPAN SESI

    1. Materi Presentasi : Ritidektomi

      • SLIDE 1 : Pengertian dan kandidat ritidektomi

      • SLIDE 2 : Pendarahan daerah wajah

      • SLIDE 3 : Waktu & Penatalaksanaan ritidektomi

      • SLIDE 4 : Teknik-teknik operasi

      • SLIDE 5 : Komplikasi ritidektomi

      • SLIDE 6 : Perawatan pasca operasi & komplikasi

    2. Kasus :

      Perempuan 55 tahun datang dengan keluhan ingin mengencangkan kulit pipi dan leher yang semakin kendur. Pada akhir pembelajaran diharapkan dapat melakukan edukasi pada pasien, anjuran perawatan serta, rujukan ke multidisiplin lain untuk persiapan operasi serta tehnik operasi yang akan di gunakan.

    3. Sarana dan alat Bantu latih:

      • Penuntun belajar

      • Tempat belajar ; Bangsal THT, Poli THT, kamar operasi

      • Video animasi tuntunan operasi

      • Kadaver


  3. REFERENSI

    1. Bailey BJ, Johnson JT, Head & Neck Surgery - Otolaryngology, Fifth Edition, Volume two, Lippincott Williams & Wilkins, 2014, p : 3103- 3112

    2. Perkin S and Dayan S, Rhytidectomy. In: Ira D Paper Facial Plastic and Reconstructive Sugery, Second edition, Thieme Medical Publisher, 2002, p : 153 -170


  4. KOMPETENSI

    Mampu melakukan diagnosis berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Dapat menentukan saat melakukan operasi dan mampu melakukan operasi ritidektomi secara mandiri.

    Keterampilan

    Setelah mengikuti sesi ini, peserta didik diharapkan terampil :

    1. Mengenali tanda dan faktor aging face

    2. Melakukan anamnesis, pemeriksaan dan diagnosis tentang aging face

    3. Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi

    4. Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi yang akan digunakan

    5. Merencanakan perawatan pasca operasi serta perencanaan tatalaksana selanjutnya

    6. Merencanakan penatalaksanaan bila terjadi komplikasi operasi


  5. GAMBARAN UMUM

    Memberi penjelasan agar kompeten mendiagnosis aging face. Serta dapat melakukan penatalaksanaan secara comprehensive masalah yang ada pada kasus kasus aging face.


  6. CONTOH KASUS

    Perempuan 55 tahun dengan kulit pipi dan leher yang semakin kendur seiring dengan pertambahan usia. Pada akhir pembelajaran diharapkan dapat melakukan edukasi pada pasien, anjuran perawatan, persiapan operasi serta tehnik operasi yang akan di gunakan.


    Diskusi :


    Jawaban :


  7. TUJUAN PEMBELAJARAN

    Tujuan Pembelajaran Umum :

    Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan untuk :

    1. Mengenali tanda dan faktor aging face

    2. Melakukan anamnesis, pemeriksaan dan diagnosis aging face

    3. Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi

    4. Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi yang akan digunakan

    5. Merencanakan perawatan pasca operasi serta perencanaan tatalaksana selanjutnya

    6. Merencanakan penatalaksanaan bila terjadi komplikasi operasi

      Tujuan Pembelajaran Khusus :

      Setelah Mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk :

      1. Menjelaskan anatomi kulit, topografi dan patofisiologi aging face

      2. Mejelaskan etiologi aging face

      3. Menjelaskan dan gambaran klinis beberapa landmark aging face

      4. Menerangkan pemeriksaan penunjang yang diperlukan pada penatalaksanaan

        aging face

      5. Menjelaskan tehnik operasi ritidektomi

      6. Menjelaskan perawatan pasca operasi dan rencana selanjutnya

      7. Menjelaskan penangan komplikasi operasi mulai dari komplikasi pada saat operasi, pasca operasi dan komplikasi lama

      8. Melakukan tatalaksana pasien ritidektomi mulai dari pre operasi sampai pasca operasi.

      9. Melakukan tindakan bedah Ritidektomi

      10. Merawat penderita ritidektomi pra operasi termasuk edukasi pasien, informed consent serta perawatan pasca operasi serta mengatasi komplikasi yang kemungkinan terjadi


  8. METODE PEMBELAJARAN

    1. Pendahuluan

      Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini :

      1. Small group discussion

      2. Peer assisted learning

      3. Bedside teaching

      4. Task-based medical education

      5. Must to know key points :

    2. Peserta didik paling sudah harus mempelajari :

      1. Bahan acuan (references)

      2. Ilmu dasar yang berkaitan dengan topik pembelajaran

      3. Ilmu klinis dasar

    3. Penuntun belajar (learning guide)

    4. Tempat belajar (training setting) : bangsal rawat tht, kamar operasi, bangsal perawatan pasca operasi.

    5. Cara pembelajaran :

      1. Pelatihan

      2. Belajar mandiri

      3. Kuliah

      4. Group diskusi

      5. Bed site teaching

      6. Bimbingan Operasi dan asistensi

      7. Melakukan operasi mandiri di bawah supervisi.

      8. Countinuing Profesional Development.

    6. Alat bantu pembelajaran :

      1. Video animasi tehnik operasi labioplasti

      2. Kadaver


  9. EVALUASI

    1. Pada awal pembelajaran dilakukan evaluasi Pre - test dalam bentuk essy dan pilihan ganda. Materi test terdiri dari : anatomi, patofisiologi, penegakan diagnosis, teknik - tehnik operasi, komplikasi dan penangannya, follow up dan perencanaan selanjutnya.

    2. Bedsite teaching dan diskusi untuk membahas beberapa masalah yang ada.

    3. Setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberi kesempatan untuk assistensi operasi malarplasty. Pada saat itu akan dilakukan evaluasi pengetahuan dan kompetensi peserta didik.

    4. Setelah melakukan asistensi dan dinilai kompeten, peserta didik dapat melakukan operasi malarplasty di bawah bimbingan.

    5. Pendidik / fasilitas

      • Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist

      • Penjelasan lisan dan diskusi

    6. Kriteria penilaian langsung : cakap / tidak cakap / lalai.


  10. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF

  11. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR


    PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR RITIDEKTOMI


    Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :

    1. Perlu perbaikan : langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)

    2. Mampu : langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan)

    3. Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien

    T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)


    NAMA PESERTA : ......... TANGGAL:..........

    KEGIATAN

    KASUS

    I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF











    II. PERSIAPAN PROSEDUR RITIDEKTOMI






    - Cuci tangan, memakai baju operasi dan memakai sarung tangan






    - Tindakan a & anti sepsi daerah operasi dengan povidon iodine






    - Memasang kain steril sebagai penutup pasien kecuali daerah operasi






    - Dilakukan penandaan dengan larutan biru etilen atau pena penanda horizontal sepanjang 1,5 cm pada submental crease untuk submentoplasty serta mulai dari hairline anterior auricula lanjut ke lipatan kulit pada preaurikula- tragus-lobule dan diteruskan ke sulcus retroauricula dan horizontal ke regio temporal setinggi batas atas tragus untuk ritidektomi.

    Dilakukan infiltrasi dengan Adrenalin : Lidokain sebesar 1: 200.000 pada daerah yang akan diinsisi.






    III. PROSEDUR OPERASI






    - Setelah penandaan dan infiltrasi sempurna dilakukan insisi sesuai penandaan dan perencanaan gambar, setelah dilakukan insisi tindakan selanjutnya adalah diseksi tajam pada submental untuk memisahkan subkutis dan jaringan sekitarnya di daerah leher, kemudian dilakukan







    KEGIATAN

    KASUS

    liposuction, selanjutnya pada lokasi insisi kedua di lakukan underming flap sampai ke daerah pipi dan leher. Dilakukan penarikan kulit sampai regangan dirasakan cukup, kemudian dilakukan pemotongan kulit yang berlebih. Dilakukan pemotongan SMAS pada daerah preaurikula dan retroaurikula sampai di dapat regangan yang pas untuk kemudian dijahit dengan chromic 3.0. dilakukan liposuction pada daerah pipi dan leher, kemudian dilakukan penjahitan subkutis luka insisi submental dan flap dangan menggunakan vicyrl 4-0 dan terakhir kulit dijahit dengan menggunakan nylon 5-0.

    Luka ditutup balut tekan dengan kassa antibiotik dan plester.






    IV. PASCA OPERASI






    - Instruksi pasca operasi

    Pasca bedah pasien dapat dipulangkan setelah efek anestesi umum sudah hilang dan sadar penuh dan tidak ada perdarahan. Pasien diterapi dengan antibiotika oral dan analgesia

    Follow-up

    Pasien diharapkan kontrol untuk perawatan luka pada hari ke tiga dan angkat jahitan pada hari ke 7







    Penilaian Kinerja Keterampilan (Ujian akhir)


    DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA

    Berikan penilaian tentang kinerja psikomotor atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan suatu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini:

    X : Tidak memuaskan : Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar

    T/T : Tidak ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih.

    PROSEDUR RITIDEKTOMI



    PESERTA : ................................. TANGGAL:..............

    KEGIATAN

    NILAI

    PERSIAPAN

    1. Kaji ulang diagnosis dan prosedur operasi




    2. Menyiapkan peralatan operasi




    3. Menyiapkan diri untuk melakukan tindakan operasi




    4. Menyiapkan posisi pasien





    KEGIATAN

    NILAI

    5. Melakukan tindak a & anti septil




    6. Memasang kain steril menutup pasien kecuali area operasi




    PROSEDUR OPERASI

    200.000 pada daerah yang akan diinsisi




    1. Penandaan dengan larutan biru etilen atau pena penanda horizontal sepanjang 1,5 cm pada submental crease untuk submentoplasty serta mulai dari hairline anterior auricula lanjut ke lipatan kulit pada preaurikula-tragus-lobule dan diteruskan ke sulcus retroauricula dan horizontal ke regio temporal setinggi batas atas tragus untuk ritidektomi.

    2. Dilakukan infiltrasi dengan Adrenalin : Lidokain sebesar 1:

    1. Diseksi tajam pada submental untuk memisahkan subkutis dan jaringan sekitarnya di daerah leher, kemudian dilakukan liposuction, selanjutnya pada lokasi insisi kedua di lakukan underming flap sampai ke daerah pipi dan leher. Dilakukan liposuction pada daerah pipi dan leher, kemudian dilakukan penarikan kulit sampai regangan dirasakan cukup, kulit yang berlebih dipotong.

    2. Dilakukan pemotongan SMAS pada daerah preaurikula dan retroaurikula sampai di dapat regangan yang pas untuk kemudian dijahit dengan chromic 3.0.

    3. Dilakukan penjahitan subkutis luka insisi submental dan flap dangan menggunakan vicyrl 4-0 dan terakhir kulit dijahit dengan menggunakan nylon 5-0.

    4. Luka dibalut tekan dengan kassa antibiotik dan plester

    5. Instruksi pasca operasi


  12. MATERI PRESENTASI


    SLIDE 1 : Kandidat Ritidektomi


    SLIDE 2 : Pendarahan daerah wajah


    SLIDE 3 : Waktu & Penatalaksanaan Ritidektomi SLIDE 4 : Teknik-teknik Operasi

    SLIDE 5 : Komplikasi Ritidektomi


    SLIDE 6 : Perawatan Pasca Operasi & Komplikasi

  13. MATERI BAKU RITIDEKTOMI

    Definisi

    Suatu tindakan bedah plastik yang bertujuan untuk facelift wajah terkait dengan proses penuaan

    Indikasi operasi

    Ritidektomi bertujuan untuk facelift wajah akibat proses penuaan.

    List of Skill


    Tehnik Operasi Menjelang operasi

    Penjelasan kepada penderita dan keluarga mengenai tindakan operasi yang akan dilakukan serta resiko komplikasi yang dapat terjadi. Setelah mendapatkan keterangan keluarga pasien diharapkan menanda tangani surat persetujuan operasi (informed Consent).

    Memeriksa dan mempersiapkan alat dan kelengkapan operasi Penderita puasa minimal 6 jam sebelum operasi

    Pemberian antibiotik profilaksis sesuai standard penggunaan antibiotika yang berlaku.


    Tahapan operasi.

    Pembiusan dilakukan dengan endotrakeal. Desinfektan dengan larutan antiseptik dan lapangan operasi di persiapkan dengan linen steril.

    Dilakukan penandaan dengan larutan biru etilen atau pena penanda pada daerah operasi sebagai titik bantu dan gambaran dalam melakukan ritidektomi.

    Dilakukan infiltrasi dengan Adrenalin : Lidokain sebesar 1: 200.000 pada daerah yang sudah ditandai.

    Setelah penandaan dan infiltrasi sempurna dilakukan insisi sesuai penandaan dan perencanaan gambar, setelah dilakukan insisi tindakan selanjutnya adalah underming dan liposuction serta pemotongan kulit yang berrlebih dan dilakukan penjahitan dangan menggunakan vicyrl, kulit dengan menggunakan nylon 5-0.

    Luka dibalut tekan dengan kassa antibiotik dan plaster.


    Perawatan pasca operasi

    Pasca bedah pasien dapat dipulangkan setelah efek anestesi umum sudah hilang dan sadar penuh dan tidak ada perdarahan. Pasien diterapi dengan antibiotika oral dan analgesia


    Follow-up

    Pasien diharapkan kontrol untuk perawatan luka pada hari ke tiga dan angkat jahitan pada hari ke 7


  14. KEPUSTAKAAN MATERI BAKU

    1. Bailey BJ, Johnson JT, Head & Neck Surgery - Otolaryngology, Fifth Edition, Volume two, Lippincott Williams & Wilkins, 2014, p : 3103-3112

    2. Perkin S and Dayan S, Rhytidectomy. In: Ira D Paper Facial Plastic and Reconstructive Sugery, Second edition, Thieme Medical Publisher, 2002, p : 153 -170

MODUL UTAMA

FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI


DEFEK KEPALA LEHER MODUL VIII.5.3 MENTOPLASTY


EDISI III




KOLEGIUM

ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER

2022


DAFTAR ISI


  1. WAKTU 1

  2. PERSIAPAN SESI 1

  3. REFERENSI 1

  4. KOMPETENSI 1

  5. GAMBARAN UMUM 2

  6. CONTOH KASUS 2

  7. TUJUAN PEMBELAJARAN 2

  8. METODE PEMBELAJARAN 3

  9. EVALUASI 3

  10. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF 4

  11. MATERI PRESENTASI 8

  12. MATERI BAKU 8

  13. KEPUSTAKAAN MATERI BAKU 10

MODUL VIII.5.3

TOPIK : FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI - DEFEK KEPALA LEHER :

MENTOPLASTY


  1. WAKTU


    Mengembangan Kompetensi

    Hari : 35

    Sesi didalam kelas

    13 x 60 menit (classroom session)

    Sesi dengan fasilitas pembimbing

    2 x 60 menit (coaching session)

    Sesi praktik dan pencapaian kompetensi

    4 x 60 menit (facilitation and assessment)


  2. PERSIAPAN SESI

    1. Materi Presentasi : Mentoplasty

      • LCD 1 : Etiologi mentoplasty

      • LCD 2 : Pendarahan daerah mentum

      • LCD 3 : Diagnosis deformitas mentum

      • LCD 4 : Teknik teknik operasi

      • LCD 5 : Komplikasi mentooplasty

      • LCD 6 : Perawatan pasca operasi & komplikasi

    2. Kasus :

      Pasien perempuan 23 tahun dengan deformitas pada dagu. Pada akhir pembelajaran diharapkan dapat melakukan edukasi pada pasien, anjuran perawatan serta pemberian makan dan minum pada pasien, rujukan ke multidisiplin lain untuk persiapan operasi serta tehnik operasi yang akan di gunakan.

    3. Sarana dan alat Bantu latih:

      • Penuntun belajar

      • Tempat belajar ; Bangsal THT, Poli THT, kamar operasi

      • Video animasi tuntunan operasi

      • Kadaver


  3. REFERENSI

    1. Williams EF, Chen HH. The Aging Neck. In : Johnson JT, Rosen CA, Newlands S, Amin M, Branstetter B, Casselbrant M, et al, editors. Bailey's Head & Neck Surgery - Otolaryngology, 5th Edition, Volume Two, Lippincott Williams & Wilkins, 2014. p.3131-41

    2. Sykes JM, Frodel JL. Mentoplasty. In : Flint PW, Haughey BH, Lund V, Niparko JK, Robbins KT, Thomas JR et al, editors. Cummings Otolaryngology Head and Neck Surgery, 6th Edition, Lippincott Williams & Wilkins, 2015. p.453-67


  4. KOMPETENSI

    Mampu melakukan diagnosis serta penatalaksanaan deformitas pada mentum berdasarkan pemeriksaan fisik. Dapat menentukan saat melakukan operasi dan mampu melakukan operasi mentoplasty secara mandiri.

    Keterampilan (2)

    Setelah mengikuti sesi ini, peserta didik diharapkan terampil :

    1. Mengenali gejala, tanda deformitas mentum

    2. Melakukan anamnesis, pemeriksaan dan diagnosis deformitas mentum

    3. Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi

    4. Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi yang akan digunakan

    5. Merencanakan perawatan pasca operasi serta perencanaan tatalaksana selanjutnya

    6. Merencanakan penatalaksanaan bila terjadi komplikasi operasi


  5. GAMBARAN UMUM

    Memberi penjelasan agar kompeten mendiagnosis deformitas pada mentum. Serta dapat melakukan penatalaksanaan secara comprehensive masalah yang ada pada kasus kasus deformitas mentum.


  6. CONTOH KASUS

    Pasien perempuan 23 tahun dengan deformitas pada dagu. Pada akhir pembelajaran diharapkan dapat melakukan edukasi pada pasien, anjuran perawatan serta pemberian makan dan minum pada pasien, rujukan ke multidisiplin lain untuk persiapan operasi serta tehnik operasi yang akan di gunakan.

    Diskusi :

    Jawaban :


  7. TUJUAN PEMBELAJARAN

    Tujuan Pembelajaran Umum :

    Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan untuk :

    1. Mengenali gejala, tanda deformitas mentum

    2. Melakukan anamnesis, pemeriksaan dan diagnosis deformitas mentum

    3. Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi

    4. Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi yang akan digunakan

    5. Merencanakan perawatan pasca operasi serta perencanaan tatalaksana selanjutnya

    6. Merencanakan penatalaksanaan bila terjadi komplikasi operasi

      Tujuan Pembelajaran Khusus :

      Setelah Mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk :

      1. Menjelaskan anatomi dan topografi mentum (tingkat kompetensi K4)

      2. Menjelaskan dan gambaran klinis kelainan pada mentum (tingkat kompetensi K4)

      3. Menerangkan pemeriksaan penunjang yang diperlukan pada persiapan mentoplasty (tingkat kompetensi K4)

      4. Menjelaskan perawatan pasca operasi dan rencana selanjutnya (tingkat kompetensi K4)

      5. Menjelaskan penangan komplikasi operasi mulai dari komplikasi pada saat operasi, pasca operasi dan komplikasi lama (tingkat kompetensi K4)

      6. Melakukan tindakan bedah mentoplasty (tingkat kompetensi K2)

      7. Merawat penderita kelainan mentum pra operasi termasuk edukasi keluarga pasien, informed consent serta perawatan pasca operasi serta mengatasi komplikasi yang kemungkinan terjadi (tingkat kompetensi K4)


  8. METODE PEMBELAJARAN

    1. Pendahuluan

      Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini :

      1. Small group discussion

      2. Peer assisted learning

      3. Bedside teaching

      4. Task-based medical education

      5. Must to know key points :

    2. Peserta didik paling sudah harus mempelajari :

      1. Bahan acuan (references)

      2. Ilmu dasar yang berkaitan dengan topik pembelajaran

      3. Ilmu klinis dasar

    3. Penuntun belajar (learning guide)

    4. Tempat belajar (training setting) : bangsal rawat tht, kamar operasi, bangsal perawatan pasca operasi.

    5. Cara pembelajaran :

      1. Pelatihan

      2. Belajar mandiri

      3. Kuliah

      4. Group diskusi

      5. Bed site teaching

      6. Bimbingan Operasi dan asistensi

      7. Melakukan operasi mandiri di bawah supervisi.

      8. Countinuing Profesional Development.

    6. Alat bantu pembelajaran :

      1. Video animasi tehnik operasi labioplasti

      2. Kadaver


  9. EVALUASI

    1. Pada awal pembelajaran dilakukan evaluasi Pre - test dalam bentuk essy dan pilihan ganda. Materi test terdiri dari : anatomi, patofisiologi, penegakan diagnosis serta klasifikasi, teknik - tehnik operasi, komplikasi dan penangannya, follow up dan perencanaan selanjutnya.

    2. Bedsite teaching dan diskusi untuk membahas beberapa masalah yang ada.

    3. Setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberi kesempatan untuk assistensi operasi mentoplasty. Pada saat itu akan dilakukan evaluasi pengetahuan dan kompetensi peserta didik.

    4. Setelah melakukan asistensi dan dinilai kompeten, peserta didik dapat melakukan operasi mentoplasty di bawah bimbingan.

    5. Pendidik / fasilitas

      • Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist

      • Penjelasan lisan dan diskusi

      • Kriteris penilaian langsung : cakap / tidak cakap / lalai.


  10. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF

    1. Diseksi dilakukan inferior dari foramen mentum untuk mencegah trauma pada n. mentalis

      B S

    2. Panjang insisi pada mentoplasty adalah 2 cm inferior dari lipatan submental. B S


      Jawaban :B B


      • Kuesioner Tengah Pembelajaran

        1. Teknik dasar operasi mentoplasty adalah chin augmentasi dengan implant alloplast dan osseous genioplasty

          B S


        2. Jika kantung implan terlalu kecil dapat menyebabkan, kecuali :

          1. Implant dapat berubah bentuk

          2. Kontur menjadi irregular

          3. Implan tidak menempel

          4. Implan berpindah lokasi dari garis tengah

            Jawaban : B C


      • Kuesioner Tengah Pembelajaran


      • Essay/ujian Lisan/Ujian Sumatif

      INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR


      PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR MENTOPLASTY


      Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :

      1. Perlu perbaikan : langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)

      2. Mampu : langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan)

      3. Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien

      T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)

      NAMA PESERTA : ......... TANGGAL:..........


      KEGIATAN

      KASUS

      I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF

      a.Nama b.Diagnosis

      c.Inform choice & inform consent

      d.Rencana tindakan e.Persiapan sebelum tindakan






      II. PERSIAPAN PROSEDUR MENTOPLASTY

      - Cuci tangan, memakai baju operasi dan memakai sarung tangan






      - Tindakan a & anti sepsi daerah operasi dengan povidon iodine






      - Memasang kain steril sebagai penutup pasien kecuali daerah operasi






      - Dilakukan infiltrasi dengan Adrenalin : Lidokain sebesar 1: 200.000 pada dagu, jaringan lunak pada garis tengah bibir dan kartilago tiroid untuk memastikan penempatan implan pada garis tengah






      III. PROSEDUR OPERASI

      Mentalis






      • Penempatan implan bisa melalui pendekatan submental

      • Insisi 1-2 mm inferior lipatan submental, dan jika direncanakan akan dilakukan augmentasi, insisi dilakukan 4-5 mm dibawah lipatan submental. Diseksi dilakukan melalui inferior jaringan lunak dagu dan m.

      • Insisi vertikal dibuat melalui periosteum 2 cm lateral dari garis tengah. Bilateral diseksi subperiosteum dilakukan untuk penempatan sayap dari implan.


      KEGIATAN

      KASUS

      Diseksi dilakukan inferior dari foramen mentum untuk mencegah trauma pada n. mentalis






      IV. PASCA OPERASI






      Instruksi pasca operasi

      Pasien diharapkan kontrol untuk perawatan luka pada hari ke tiga dan angkat jahitan pada hari ke 7






      • Tipe, jenis dan ukuran implan disesuaikan dengan anatomi pasien

      • Setelah penempatan implan , m. Mentalis dan jaringan lunak kembali didekatkan

      • Penjahitan m. mentalis dangan menggunakan vicyrl 4- 0, jaringan subkutaneus dan dermis dengan chromic 5-0 dan terakhir kulit dengan menggunakan nylon 5- 0.

      • Luka ditutup dengan kassa antibiotik dan plaster.

      • Pasca bedah, pasien dirawat selama 1-2 hari dan pasien dapat dipulangkan setelah itu. Pasien diterapi dengan antibiotika oral dan analgesiK

      • Follow-up


      Penilaian Kinerja Keterampilan (Ujian akhir) DAFTAR TILIK

      PENILAIAN KINERJA PROSEDUR LABIOPLASTI

      Berikan penilaian tentang kinerja psikomotor atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan suatu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini:

      • Memuaskan Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar

      X : Tidak memuaskan : Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar

      T/T : Tidak ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih.


      PESERTA : ................................. TANGGAL:..............

      KEGIATAN

      NILAI

      PERSIAPAN

      1. Kaji ulang diagnosis dan prosedur operasi




      2. Menyiapkan peralatan operasi




      3. Menyiapkan diri untuk melakukan tindakan operasi




      4. Menyiapkan posisi pasien




      5. Melakukan tindak a & anti septil




      6. Memasang kain steril menutup pasien kecuali area operasi




      PROSEDUR OPERASI


      KEGIATAN

      NILAI

      200.000 pada dagu, jaringan lunak pada garis tengah bibir dan kartilago tiroid untuk memastikan penempatan implan pada garis tengah




      1. Pembiusan dilakukan dengan endotrakeal maupun lokal anestesi tergantung usia pasien. Desinfektan dengan larutan antiseptik dan lapangan operasi di persiapkan dengan linen steril.

      2. Dilakukan infiltrasi dengan Adrenalin : Lidokain sebesar 1:

      1. Penempatan implan bisa melalui pendekatan submental

      2. Insisi 2 cm inferior lipatan submental, diseksi dilakukan melalui inferior jaringan lunak dagu dan m. Mentalis

      3. Insisi vertikal dibuat melalui periosteum 2 cm lateral dari garis tengah. Bilateral diseksi subperiosteum dilakukan untuk penempatan sayap dari implan. Diseksi dilakukan inferior dari foramen mentum untuk mencegah trauma pada n. mentalis

      4. Tipe, jenis dan ukuran implan disesuaikan dengan anatomi pasien

      5. Setelah penempatan implan , m. Mentalis dan jaringan lunak kembali didekatkan

      6. Penjahitan m. mentalis dangan menggunakan vicyrl 4-0, jaringan subkutaneus dan dermis dengan chromic 5-0 dan terakhir kulit dengan menggunakan nylon 5-0.

      7. Luka ditutup dengan kassa antibiotik dan plaster.

  11. MATERI PRESENTASI

    LCD 1 : Etiologi kelainan mentum



    LCD 6 : Perawatan Pasca Operasi & Komplikasi


  12. MATERI BAKU

    Mentoplasty Definisi

    Tindakan rekonstruksi dengan prosedur untuk koreksi aesthetic kelainan mentum dengan tujuan untuk membentuk mentum yang sempurna.


    Indikasi operasi

    Deformitas vertikal, horizontal atau tidak simetrisnya dagu


    List of Skill

  13. KEPUSTAKAAN MATERI BAKU


  1. Williams EF, Chen HH. The Aging Neck. In : Johnson JT, Rosen CA, Newlands S, Amin M, Branstetter B, Casselbrant M, et al, editors. Bailey's Head & Neck Surgery - Otolaryngology, Fifth Edition, Volume Two, Lippincott Williams & Wilkins, 2014, p : 3131-41

  2. Sykes JM, Frodel JL. Mentoplasty. In : Flint PW, Haughey BH, Lund V, Niparko JK, Robbins KT, Thomas JR et al, editors. Cummings Otolaryngology Head and Neck Surgery, 6th Edition, Lippincott Williams & Wilkins, 2015. p.453-67


MODUL UTAMA

FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI


DEFEK KEPALA LEHER MODUL VIII.5.4 MALARPLASTY


EDISI III



KOLEGIUM

ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER

2022

DAFTAR ISI


  1. WAKTU 1

  2. PERSIAPAN SESI 1

  3. REFERENSI 1

  4. KOMPETENSI 1

  5. GAMBARAN UMUM 2

  6. CONTOH KASUS 2

  7. TUJUAN PEMBELAJARAN 2

  8. METODE PEMBELAJARAN 3

  9. EVALUASI 3

  10. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF 4

  11. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR 4

  12. MATERI PRESENTASI 8

  13. MATERI BAKU 8

  14. KEPUSTAKAAN MATERI BAKU 10

MODUL NO : VIII.5.4

TOPIK : FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI - DEFEK KEPALA LEHER :

MALARPLASTY


  1. WAKTU


    Mengembangan Kompetensi

    Hari : 35

    Sesi didalam kelas

    13 x 60 menit (classroom session)

    Sesi dengan fasilitas pembimbing

    2 x 60 menit (coaching session)

    Sesi praktik dan pencapaian kompetensi

    4 x 60 menit (facilitation and assessment)


  2. PERSIAPAN SESI

    1. Materi Presentasi : Malarplasty

      • SLIDE 1 : Indikasi malarplasty

      • SLIDE 2 : Pendarahan daerah malar

      • SLIDE 3 : Diagnosis malarplasty

      • SLIDE 4 : Teknik teknik operasi

      • SLIDE 5 : Komplikasi malarplasty

      • SLIDE 6 : Perawatan pasca operasi & komplikasi

    2. Kasus :

      Pasien perempuan 30 tahun dengan deformitas pada malar. Pada akhir pembelajaran diharapkan dapat melakukan edukasi pada pasien, anjuran perawatan serta pemberian makan dan minum pada pasien, rujukan ke multidisiplin lain untuk persiapan operasi serta tehnik operasi yang akan di gunakan.

    3. Sarana dan alat Bantu latih:

      • Penuntun belajar

      • Tempat belajar ; Bangsal THT, Poli THT, kamar operasi

      • Video animasi tuntunan operasi

      • Kadaver


  3. REFERENSI

    1. Sykes JM, Magill CK. Chin Augmentation. In : Johnson JT, Rosen CA, Newlands S, Amin M, Branstetter B, Casselbrant M, et al, editors. Bailey's Head & Neck Surgery - Otolaryngology, Fifth Edition, Volume Two, Lippincott Williams & Wilkins, 2014, p : 3176-88


  4. KOMPETENSI

    Mampu melakukan diagnosis kelainan/ defisiensi pada malar berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Dapat menentukan saat melakukan operasi dan mampu melakukan operasi malarplasty secara mandiri.


    Keterampilan (2)

    Setelah mengikuti sesi ini, peserta didik diharapkan terampil :

    1. Mengenali gejala, tanda kelainan pada malar

    2. Melakukan anamnesis, pemeriksaan dan diagnosis kelainan pada malar

    3. Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi

    4. Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi yang akan digunakan

    5. Merencanakan perawatan pasca operasi serta perencanaan tatalaksana selanjutnya

    6. Merencanakan penatalaksanaan bila terjadi komplikasi operasi


  5. GAMBARAN UMUM

    Memberi penjelasan agar kompeten mendiagnosis kelainan pada malar. Serta dapat melakukan penatalaksanaan secara comprehensive masalah yang ada pada kasus kasus kelainan malar.


  6. CONTOH KASUS

    Pasien perempuan 30 tahun dengan deformitas pada malar. Pada akhir pembelajaran diharapkan dapat melakukan edukasi pada pasien, anjuran perawatan serta pemberian makan dan minum pada pasien, rujukan ke multidisiplin lain untuk persiapan operasi serta tehnik operasi yang akan di gunakan.

    Diskusi :


    Jawaban :


  7. TUJUAN PEMBELAJARAN

    Tujuan Pembelajaran Umum :

    Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan untuk :

    1. Melakukan anamnesis, pemeriksaan dan diagnosis kelainan pada malar

    2. Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi

    3. Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi yang akan digunakan

    4. Merencanakan perawatan pasca operasi serta perencanaan tatalaksana selanjutnya

    5. Merencanakan penatalaksanaan bila terjadi komplikasi operasi


      Tujuan Pembelajaran Khusus :

      Setelah Mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk :

      1. Menjelaskan anatomi dan topografi malar (tingkat kompetensi K4)

      2. Menjelaskan dan gambaran klinis kelainan pada malar (tingkat kompetensi K4)

      3. Menerangkan pemeriksaan penunjang yang diperlukan pada persiapan malarplasty (tingkat kompetensi K4)

      4. Menjelaskan perawatan pasca operasi dan rencana selanjutnya (tingkat kompetensi K4)

      5. Menjelaskan penangan komplikasi operasi mulai dari komplikasi pada operasi (tingkat kompetensi K4)

      6. Melakukan tindakan bedah malarplasty (tingkat kompetensi K2)

      7. Merawat penderita kelainan malar pra operasi termasuk edukasi keluarga pasien, informed consent serta perawatan pasca operasi serta mengatasi komplikasi yang kemungkinan terjadi (tingkat kompetensi K4)


  8. METODE PEMBELAJARAN

    1. Pendahuluan

      Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini :

      1. Small group discussion

      2. Peer assisted learning

      3. Bedside teaching

      4. Task-based medical education

      5. Must to know key points :

    2. Peserta didik paling sudah harus mempelajari :

      1. Bahan acuan (references)

      2. Ilmu dasar yang berkaitan dengan topik pembelajaran

      3. Ilmu klinis dasar

    3. Penuntun belajar (learning guide)

    4. Tempat belajar (training setting) : bangsal rawat tht, kamar operasi, bangsal perawatan pasca operasi.

    5. Cara pembelajaran :

      1. Pelatihan

      2. Belajar mandiri

      3. Kuliah

      4. Group diskusi

      5. Bed site teaching

      6. Bimbingan Operasi dan asistensi

      7. Melakukan operasi mandiri di bawah supervisi.

      8. Countinuing Profesional Development.

    6. Alat bantu pembelajaran :

      1. Video animasi tehnik operasi labioplasti

      2. Kadaver


  9. EVALUASI

    1. Pada awal pembelajaran dilakukan evaluasi Pre - test dalam bentuk essay dan pilihan ganda. Materi test terdiri dari : anatomi, patofisiologi, penegakan diagnosis, teknik - tehnik operasi, komplikasi dan penangannya, follow up dan perencanaan selanjutnya.

    2. Bedsite teaching dan diskusi untuk membahas beberapa masalah yang ada.

    3. Setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberi kesempatan untuk assistensi operasi malarplasty. Pada saat itu akan dilakukan evaluasi pengetahuan dan kompetensi peserta didik.

    4. Setelah melakukan asistensi dan dinilai kompeten, peserta didik dapat melakukan operasi malarplasty di bawah bimbingan.

    5. Pendidik / fasilitas

      • Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist

      • Penjelasan lisan dan diskusi

      • Kriteris penilaian langsung : cakap / tidak cakap / lalai.


  10. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF


    1. Selama diseksi berada di bawah periosteum atau dekat dengan archus zygoma, nervus fasialis tidak rawan cedera

      B S

    2. Keuntungan implan silastic dapat di tempatkan dengan mudah dan berada pada posisi nya tanpa slip

      B S


      Jawaban : B S


      • Kuesioner Tengah Pembelajaran

      1. Salah satu implant yang paling banyak digunakan pada malarplasty adalah silastic

        B S


      2. Komplikasi dari implant malar, kecuali :

        1. Malposisi implant

        2. Reaksi jaringan atau infeksi

        3. Trauma nervus infraorbital

        4. Trauma nervus mentalis

      Jawaban : B D


      • Kuesioner Tengah Pembelajaran


      • Essay/ujian Lisan/Ujian Sumatif


  11. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR

    PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR MALARPLASTY


    Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :

    1. Perlu perbaikan : langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)

    2. Mampu : langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan)

    3. Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien

    T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)


    NAMA PESERTA : ......... TANGGAL:..........

    KEGIATAN

    KASUS

    I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF

    a.Nama b.Diagnosis

    c.Inform choice & inform consent

    d.Rencana tindakan e.Persiapan sebelum tindakan






    II. PERSIAPAN PROSEDUR MALARPLASTY

    - Cuci tangan, memakai baju operasi dan memakai sarung tangan






    - Tindakan a & anti sepsi daerah operasi dengan povidon iodine






    - Memasang kain steril sebagai penutup pasien kecuali daerah operasi






    - Dilakukan infiltrasi dengan Adrenalin : Lidokain sebesar 1: 200.000 pada jaringan lunak pada daerah malar






    III. PROSEDUR OPERASI












    IV. PASCA OPERASI

    Pasca bedah pasien dapat dipulangkan setelah efek anestesi umum sudah hilang dan sadar penuh dan tidak ada perdarahan. Pasien diterapi dengan antibiotika oral dan analgesia







    Penilaian Kinerja Keterampilan (Ujian akhir) DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA

    PROSEDUR MALARPLASTI


    Berikan penilaian tentang kinerja psikomotor atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan suatu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini:

    X : Tidak memuaskan : Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar

    T/T : Tidak ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih.


    PESERTA : ................................. TANGGAL:..............

    KEGIATAN

    NILAI

    PERSIAPAN




    1. Kaji ulang diagnosis dan prosedur operasi




    2. Menyiapkan peralatan operasi




    3. Menyiapkan diri untuk melakukan tindakan operasi




    4. Menyiapkan posisi pasien




    5. Melakukan tindak a & anti septil




    6. Memasang kain steril menutup pasien kecuali area operasi




    PROSEDUR OPERASI








    KEGIATAN

    NILAI





  12. MATERI PRESENTASI


    SLIDE 1 : Indikasi kelainan malar

    SLIDE 2 : Pendarahan daerah malar SLIDE 3 : Diagnosis deformitas malar

    Ketika prominen malar turun 5 mm posterior ke alur nasolabial pada proyeksi true lateral, maka hal ini merupakan defisiensi dari malar

    SLIDE 4 : Teknik-teknik Operasi SLIDE 5 : Komplikasi Malarplasty


    SLIDE 6 : Perawatan Pasca Operasi & Komplikasi


  13. MATERI BAKU


    Definisi


    MALARPLASTY

    Tindakan rekonstruksi dengan prosedur untuk menambah atau mengurangi daerah malar. Kesan penuh pada malar memberikan penampilan lebih muda, karena mengurangi kedalaman garis melolabial dan kesan lebih bahagia, ini merupakan tampilan yang menentukan untuk wajah.

    Indikasi operasi

    1. Kurang menonjolnya malar

    2. Sebagai tambahan untuk operasi facelift jika lipatan melolabial telah diperdalam

    3. Aksentuasi dari malar prominen, menciptakan penampilan estetika lebih menyenangkan

    4. Asimetri dari malar prominen akibat kelainan bawaan, reseksi bedah, atau reduksi inkomplit pada fraktur malar

      List of Skill

      • Tahapan Bedah Dasar (sudah kompeten melakukan bedah dasar)

        • Persiapan pra operasi: anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, IC

        • Melakukan Operasi (asistensi)

        • Menangani Komplikasi

        • Melakukan Follow-up

      • Tahapan bedah lanjutan

        • Persiapan pra operasi: anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, IC

        • Melakukan Operasi (Bimbingan, Mandiri)

        • Menangani Komplikasi

        • Melakukan Follow-up

        • Melakukan perencanaan selanjutnya

          Tehnik Operasi Menjelang operasi

      • Penjelasan kepada penderita dan keluarga mengenai tindakan operasi yang akan dilakukan serta resiko komplikasi yang dapat terjadi. Setelah mendapatkan keterangan keluarga pasien diharapkan menanda tangani surat persetujuan operasi (informed Consent).

      • Memeriksa dan mempersiapkan alat dan kelengkapan operasi

      • Penderita puasa minimal 6 jam sebelum operasi

      • Pemberian antibiotik profilaksis sesuai standard penggunaan antibiotika yang berlaku.

        Tahapan operasi.

      • Pembiusan dilakukan dengan endotrakeal maupun lokal anestesi tergantung usia pasien. Desinfektan dengan larutan antiseptik dan lapangan operasi di persiapkan dengan linen steril.

        • Dilakukan infiltrasi dengan Adrenalin : Lidokain sebesar 1: 200.000 pada daerah malar

        • Insisi intraoral dengan panjang 3 cm pada inferoanterior ke saluran parotis. Insisi mukosa dan otot dengan blade 15 atau kauter unipolar ke periosteum. Kemudian periosteum dipotong dan diangkat dengan elevator endobrow. Elevasi ke superior dan lateral diatas malar dan zygoma.

        • Lokasi rim orbital dan saraf infraorbital harus diingat untuk menghindari cedera pada saraf infraorbital.

      • Kantong yang dibuat harus cukup besar untuk memungkinkan penempatan implan. Selama diseksi berada di bawah periosteum atau dekat dengan archus zygoma, nervus fasialis tidak rawan cedera.

        • Perdarahan biasanya minimal, dan hemostasis dipertahankan dengan kauter bipolar Berbagai ukuran implan dicoba untuk mendapatkan ukuran implan yang tepat. Implan dipilih dan siap untuk dimasukkan.

        • Jika implan berpori digunakan, harus dengan tekanan sarat dan dengan klindamisin dan saline normal (600 mg klindamisin dan 30 mL saline normal). Tekanan dilakukan dengan jarum suntik 50-mL, bergantian

          tekanan positif dan negatif untuk antibiotik / garam ke dalam celah dari implan.

        • Implan kemudian dimasukkan di bawah retractor Army-Navy. Hati-hati untuk tidak menekan implan. Setelah bagian yang menonjol dari implan berada di posisi yang sesuai dengan daerah prominen di pipi sebelumnya kulit ditarik, retraktor diangkat.

        • Dengan sedikit tekanan, luka insisi kemudian didekatkan dan ditutup lapis demi lapis dengan chromic 3-0. Jika implan malar silastic digunakan, sizer dimasukkan untuk menentukan ukuran implan yang benar (nomor 1, 2, 3, atau 4).

        • Setelah implan dipilih, jahitan silk dilakukan ke bagian paling lateral dari implan dan melewati jarum staymen atau wire, yang dilewatkan ke bagian paling superolateral dari kantong dan kemudian diteruskan ke garis rambut (hairline).

        • Implan kemudian diletakkan dan didorong ke posisi yang sesuai.

      • Simpul jahitan diikat diatas bolster dan dibiarkan selama 3 hari untuk menstabilkan implan. Insisi ditutup seperti yang dijelaskan sebelumnya.

        - Es dikompreskan untuk beberapa jam berikutnya.

      • Antibiotik diberikan pasca operasi selama 4 hari, dan 1 g sefalotin diberikan secara intravena 30 menit sebelum insersi implan.


      Perawatan pasca operasi

      Pasca bedah pasien dapat dipulangkan setelah efek anestesi umum sudah hilang dan sadar penuh dan tidak ada perdarahan. Pasien diterapi dengan antibiotika oral dan analgesia


      Follow-up

      Pasien diharapkan kontrol untuk perawatan luka pada hari ke tiga dan angkat jahitan pada hari ke 7


  14. KEPUSTAKAAN MATERI BAKU

1. Sykes JM, Magill CK. Chin Augmentation. In : Johnson JT, Rosen CA, Newlands S,

Amin M, Branstetter B, Casselbrant M, et al, editors. Bailey's Head & Neck Surgery

- Otolaryngology, Fifth Edition, Volume Two, Lippincott Williams & Wilkins, 2014, p : 3176-88

MODUL UTAMA

FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI


DEFEK KEPALA LEHER MODUL VIII.5.5 EXOPTHALMUS


EDISI III



KOLEGIUM

ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER

2022

DAFTAR ISI

  1. WAKTU 1

  2. PERSIAPAN SESI 1

  3. REFERENSI 1

  4. KOMPETENSI 1

  5. GAMBARAN UMUM 2

  6. CONTOH KASUS 2

  7. TUJUAN PEMBELAJARAN 2

  8. METODE PEMBELAJARAN 3

  9. EVALUASI 3

  10. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF 4

  11. MATERI PRESENTASI 4

  12. MATERI BAKU 5

  13. KEPUSTAKAAN MATERI BAKU 6

MODUL VIII.5.5

TOPIK : FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI - DEFEK KEPALA LEHER : EXOPTHALMUS


  1. WAKTU


    Mengembangan Kompetensi

    Hari : 35

    Sesi didalam kelas

    13 x 60 menit (classroom session)

    Sesi dengan fasilitas pembimbing

    2 x 60 menit (coaching session)

    Sesi praktik dan pencapaian kompetensi

    4 x 60 menit (facilitation and assessment)


  2. PERSIAPAN SESI

    1. Materi Presentasi : Surgery for exopthalmos

      • SLIDE 1 : Anatomi orbita, tulang orbita, dan zigoma

      • SLIDE 2 : Pendarahan daerah orbita, tulang orbita, dan zigoma

      • SLIDE 3 : Persarafan daerah orbita, tulang orbita, dan zigoma

      • SLIDE 4 : Diagnosis fraktur daerah orbita, tulang orbita, dan zigoma

      • SLIDE 5 : Waktu & Penatalaksanaan operasi

      • SLIDE 6 : Teknik teknik operasi

      • SLIDE 7 : Perawatan pasca operasi & komplikasi

    2. Kasus :

      Seorang laki-laki 32 tahun datang dengan keluhan terbentur trotoar pada bagian mata kanan saat tabrakan dengan sepeda motor lainnya. Pasien pengeluh adanya penglihatan ganda dan mata kanan menonjol.

    3. Sarana dan alat Bantu latih:

      • Penuntun belajar

      • Tempat belajar ; Bangsal THT, Poli THT, kamar operasi

      • Video animasi tuntunan operasi

      • Kadaver


  3. REFERENSI

    1. Peter Ward Booth, Maxillofacial Surgery, Second Edition, Volume one, Chuchill Livingstone, p. 124-125

    2. http://oculoplastic-eyelid-orbit-surgery.com/service/proptosis-exophthalmos- bulging-eyes/


  4. KOMPETENSI

    Dapat mengenali dan menempatkan gambaran-gambaran klinik sesuai penyakit tersebut ketika membaca literatur. Dalam korespondensi, ia dapat mengenali gambaran klinik ini, dan mengetahui bagaimana mendapatkan informasi lebih lanjut. Level ini mengindikasikan overview level. Bila menghadapi pasien dengan gambaran kilnik ini dan menduga penyakitnya, Dokter segera merujuk.

    Keterampilan (2)

    Lulusan dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai keterampilan ini, sehingga dapat menjelaskan kepada teman sejawat, pasien maupun klien tentang konsep, teori, prinsip maupun indikasi, serta cara melakukan, komplikasi yang timbul, dan sebagainya.


  5. GAMBARAN UMUM

    Exophalmos merupakan suatu keadaan mata menonjol. Hal ini dapat disebabkan karena trauma wajah, tumor, maupun hal lainnya.


  6. CONTOH KASUS

    Seorang laki-laki 32 tahun datang dengan keluhan terbentur trotoar pada bagian mata kanan saat tabrakan dengan sepeda motor lainnya. Pasien pengeluh adanya penglihatan ganda dan mata kanan menonjol.

    Diskusi :

    Jawaban :


  7. TUJUAN PEMBELAJARAN

    Tujuan Pembelajaran Umum :

    Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan untuk :

    1. Mengenali gejala, tanda fraktur daerah orbita, tulang orbita dan zigoma

    2. Melakukan anamnesis, pemeriksaan dan diagnosis klasifikasi tentang fraktur daerah orbita

    3. Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi

    4. Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi yang akan digunakan

    5. Merencanakan perawatan pasca operasi serta perencanaan tatalaksana selanjutnya

    6. Merencanakan penatalaksanaan bila terjadi komplikasi operasi


      Tujuan Pembelajaran Khusus :

      Setelah Mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk :

      1. Menjelaskan anatomi, topografi dan patofisiologi fraktur daerah orbita dan zigoma.

      2. Mejelaskan etiologi fraktur daerah orbita dan zigoma.

      3. Menjelaskan dan gambaran klinis fraktur daerah orbita dan zigoma.

      4. Menerangkan pemeriksaan penunjang yang diperlukan pada penatalaksanaan fraktur daerah orbita dan zigoma.

      5. Menjelaskan tehnik operasi sesuai dengan klasifikasi fraktur daerah orbita dan zigoma.

      6. Menjelaskan perawatan pasca operasi dan rencana selanjutnya.

      7. Menjelaskan penangan komplikasi operasi mulai dari komplikasi pada saat operasi, pasca operasi dan komplikasi lama.

      8. Mengetahui perawatan penderita fraktur daerah mata fraktur daerah orbita dan zigoma pra operasi termasuk edukasi keluarga pasien, informed consent serta perawatan pasca operasi serta mengatasi komplikasi yang kemungkinan terjadi.


  8. METODE PEMBELAJARAN

    1. Pendahuluan

      Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini :

      1. Small group discussion

      2. Peer assisted learning

      3. Must to know key points :

    2. Peserta didik paling sudah harus mempelajari :

      1. Bahan acuan (references)

      2. Ilmu dasar yang berkaitan dengan topik pembelajaran

      3. Ilmu klinis dasar

    3. Penuntun belajar (learning guide)

    4. Tempat belajar (training setting) : bangsal rawat tht, bangsal perawatan pasca operasi.

    5. Cara pembelajaran :

      1. Pelatihan

      2. Belajar mandiri

      3. Kuliah

      4. Group diskusi

    6. Alat bantu pembelajaran : Video animasi tehnik operasi fraktur daerah orbita dan zigoma


  9. EVALUASI

    1. Pada awal pembelajaran dilakukan evaluasi Pre - test dalam bentuk essay dan pilihan ganda. Materi test terdiri dari : anatomi, patofisiologi, penegakan diagnosis serta klasifikasi, teknik - tehnik operasi, komplikasi dan penangannya, follow up dan perencanaan selanjutnya.

    2. Bedsite teaching dan diskusi untuk membahas beberapa masalah yang ada.

    3. Setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberi kesempatan untuk assistensi operasi labioskisis. Pada saat itu kan dilakukan evaluasi pengetahuan dan kompetensi peserta didik.

    4. Setelah melakukan asistensi dan dinilai kompeten, peserta didik dapat melakukan operasi labioskisis di bawah bimbingan.

    5. Pendidik / fasilitas

      • Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist

      • Penjelasan lisan dan diskusi

      • Kriteris penilaian langsung : cakap / tidak cakap / lalai.

  10. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF


  11. MATERI PRESENTASI SLIDE 1:

    Etiologi surgery of exopthalmost

    SLIDE 2 : Pendarahan daerah orbita dan zigoma SLIDE 3 : Patofisiologi

    Bila fraktur zigoma terjadi bersamaan dengan fraktur orbita medial, maka orbita akan bergeser ke posterior, inferior, dan medial. Dislokasi medial pada zigoma dapat mengkompresi volume orbita dan menyebabkan exopthalmost dibandingkan dengan enopthalmost.


    SLIDE 4: Diagnosis fraktur daerah orbita dan zigoma


    40% fraktur zigoma menyebabkan masalah pada orbita. Dimulai dari abrasi kornea, pengelihatan ganda , sampai dengan kebutaan.


    SLIDE 5 :Waktu & Penatalaksanaan daerah orbita dan zigoma Perdarahan retrobulber yang menyebabkan peningkatnya tekanan di belakang bola mata yang mendorong bola mata ke anterior, terjepitnya otot otot mata, fraktur.


    SLIDE 6 :Teknik-teknik Operasi

    Tergantung etiologi


    SLIDE 7: Perawatan Pasca Operasi & Komplikasi


  12. MATERI BAKU

    Surgery of Exopthalmost


    Definisi

    Suatu keadaan dimana bola mata menonjol ke arah anterior

    Indikasi operasi


    List of Skill

    Tahapan Bedah Dasar (sudah kompeten melakukan bedah dasar) Mengetahui teori surgery of exopthalmost


    Tehnik Operasi

    Tergantung etiologi

  13. KEPUSTAKAAN MATERI BAKU

    1. Peter Ward Booth, Maxillofacial Surgery, Second Edition, Volume one, Chuchill Livingstone, p. 124-125

    2. http://oculoplastic-eyelid-orbit-surgery.com/service/proptosis-exophthalmos- bulging-eyes/

MODUL UTAMA

FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI


DEFEK KEPALA LEHER MODUL VIII.5.6 DAKRIOSISTOSTOMI


EDISI III




KOLEGIUM

ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER

2022

DAFTAR ISI


  1. WAKTU 1

  2. PERSIAPAN SESI 1

  3. REFERENSI 1

  4. KOMPETENSI 1

  5. GAMBARAN UMUM 2

  6. CONTOH KASUS 2

  7. TUJUAN PEMBELAJARAN 2

  8. METODE PEMBELAJARAN 2

  9. EVALUASI 3

  10. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF 3

  11. MATERI PRESENTASI 4

  12. MATERI BAKU 8

  13. KEPUSTAKAAN MATERI BAKU 10

MODUL VIII.5.6

TOPIK : FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI - DEFEK KEPALA LEHER: DAKROSISTOSTOMI


  1. WAKTU


    Mengembangan Kompetensi

    Hari : 35

    Sesi didalam kelas

    13 x 60 menit (classroom session)

    Sesi dengan fasilitas pembimbing

    2 x 60 menit (coaching session)

    Sesi praktik dan pencapaian kompetensi

    4 x 60 menit (facilitation and assessment)


  2. PERSIAPAN SESI

    1. Materi Presentasi : Dakriosistorinostomi

      • SLIDE 1 : Anatomi mata dan hidung

      • SLIDE 2 : Pendarahan daerah mata dan hidung

      • SLIDE 3 : Persarafan daerah mata dan hidung

      • SLIDE 4 : Diagnosis sumbatan ductus nasolakrimalis

      • SLIDE 5 : Waktu & Penatalaksanaan dakriosistorinostomi

      • SLIDE 6 : Teknik teknik operasi

      • SLIDE 7 : Perawatan pasca operasi & komplikasi

    2. Kasus :

      Seorang wanita 41 tahun datang dengan keluhan mata kanan berair terus menerus. Karena keluhannya, pasien datang ke Bagian IK Mata dan dikonsulkan ke Bagian IK THT-KL

    3. Sarana dan alat Bantu latih:

      • Penuntun belajar

      • Tempat belajar ; Bangsal THT, Poli THT


  3. REFERENSI

    1. Bailey BJ, Johnson JT, Head & Neck Surgery - Otolaryngology, Fifth Edition, Volume one, Lippincott Williams & Wilkins, 2014, p : 622-637


  4. KOMPETENSI

    Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan-pemeriksaan tambahan yang diminta oleh dokter (misalnya; pemeriksaan laboratorium sederhana atau x-ray). Dokter mampu merujuk pasien secepatnya ke spesialis yang relevan dan mampu menindaklanjuti sesudahnya.


    Keterampilan (2)

    Setelah mengikuti sesi ini, peserta didik diharapkan terampil :

    Mampu melakukan anamnesis, pemeriksaan dan diagnosis tentang dakriosistorinostomi

    Lulusan dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai keterampilan ini (baik konsep, teori, prinsip maupun indikasi, cara melakukan, komplikasi, dan

    sebaginya). Selain itu, selama pendidikan pernah melihat atau pernah didemonstrasikan keterampilan ini.


  5. GAMBARAN UMUM

    Mata dan hidung merupakan indra indra yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Kantung air mata dapat tersumbat oleh karena berbagai macam hal. Tindakan yang dapat dilakukan adalah operasi dakriorinosistostomi.


  6. CONTOH KASUS

    Wanita 41 tahun dengan keluhan mata berair terus menerus. Pada akhir pembelajaran diharapkan dapat melakukan edukasi pada pasien, anjuran perawatan pada pasien, rujukan ke multidisiplin lain, persiapan operasi serta tehnik operasi yang akan di gunakan.


  7. TUJUAN PEMBELAJARAN

    Tujuan Pembelajaran Umum :

    Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan untuk :

    1. Mampu mengetahui anatomi dan fisiologi ductus nasolakrimalis

    2. Mampu melakukan anamnesis, pemeriksaan dan diagnosis klasifikasi tentang sumbatan ductus nasolakrimalis

    3. Mampu melakukan persiapan operasi

    4. Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi yang akan digunakan


      Tujuan Pembelajaran Khusus :

      Setelah Mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk :

      1. Menjelaskan anatomi, topografi dan patofisiologi ductus nasolakrimalis (tingkat kompetensi K4)

      2. Menjelaskan etiologi dan klasifikasi sumbatan ductus nasolakrimalis (tingkat kompetensi K4)

      3. Menjelaskan dan gambaran klinis kelainan sumbatan ductus nasolakrimalis (tingkat kompetensi K4)

      4. Menerangkan pemeriksaan penunjang yang diperlukan pada penatalaksanaan sumbatan ductus nasolakrimalis (tingkat kompetensi K4)

      5. Menjelaskan tehnik operasi dakriosistorinostomi (tingkat kompetensi K3)

      6. Menjelaskan perawatan pasca operasi dan rencana selanjutnya (tingkat kompetensi K3)

      7. Menjelaskan penangan komplikasi operasi mulai dari komplikasi pada saat operasi, pasca operasi dan komplikasi lama (tingkat kompetensi K2)

      8. Mampu melakukan edukasi kepada keluarga pasien, dan informed consent (tingkat kompetensi K4)


  8. METODE PEMBELAJARAN

    1. Pendahuluan

      Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini :

      1. Small group discussion

      2. Peer assisted learning

      3. Bedside teaching

      4. Task-based medical education

      5. Must to know key points :

    2. Peserta didik paling sudah harus mempelajari :

      1. Bahan acuan (references)

      2. Ilmu dasar yang berkaitan dengan topik pembelajaran

      3. Ilmu klinis dasar

    3. Penuntun belajar (learning guide)

    4. Tempat belajar (training setting) : bangsal rawat tht, kamar operasi, bangsal perawatan pasca operasi.

    5. Cara pembelajaran :

  1. Kuliah

  2. Group diskusi


  1. EVALUASI

    1. Pada awal pembelajaran dilakukan evaluasi Pre - test dalam bentuk essay dan pilihan ganda. Materi test terdiri dari : anatomi, patofisiologi, penegakan diagnosis serta klasifikasi, teknik - tehnik operasi, komplikasi dan penangannya, follow up dan perencanaan selanjutnya.

    2. Bedsite teaching dan diskusi untuk membahas beberapa masalah yang ada.

    3. Setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberi kesempatan untuk melihat operasi dakriosistorinostomi. Pada saat itu kan dilakukan evaluasi pengetahuan dan kompetensi peserta didik.

    4. Pendidik / fasilitas

      • Pengamatan langsung

      • Penjelasan lisan dan diskusi


J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF


K. MATERI PRESENTASI


SLIDE 1 : Etiologi


  1. Wanita usia awal 60an : sebelah mata berair

  2. Kelainan kongenital pada anak: congenital imferforate Hasner valve

  3. Dewasa muda : epiphora karena trauma, herpes, dacryolith

  4. Wanita lebih tua : stenosis idiopatik duktus lakrimalis bagian distal


SLIDE 2 : Anatomi duktus lakrimalis





Canalic

SLIDE 3 : Pemeriksaan Preoperatif


Pemeriksaan Mata


Lacrimal Syringing

SLIDE 5 Diagnosis Anal test:




Untuk melihat sistem lakrimal dapat dilakukan dengan melakukan Dye Dissappearance Test



Saat ini tindakan Jones Dye Test jarang lagi dilakukan, yang sering dilakukan adalah Anal test.


SLIDE 6 Waktu & Penatalaksanaan SLIDE 7 Teknik-teknik Operasi

External approach DCR

Endonasal approach DCR (transnasal, intranasal)


SLIDE 8 Perawatan Pasca Operasi & Komplikasi


L. MATERI BAKU

Dakriosistorinostomi


Definisi

Suatu tindakan yang membuat suatu saluran permanen dari sakus lakrimalis ke ruang nasal sehingga bebas dari epiphora dan sekret.


Indikasi operasi

Sumbatan pada duktus nasolakrimalis


List of Skill



Tehnik Operasi Menjelang operasi

Surgery for

Tahapan operasi.


  1. External approach DCR

    Pada operasi ini, sakus lakrimalis dan mukosa nasal dicapai melalui insisi kulit. Rinostomy dilakukan dengan mengambil tulang yang besar antara sakus dengan hidung. Anastomosis dibuat diantara sakus lakrimalis dan mukosa nasal melalui flap yang dijahit.

    Tahapan operasi:

    1. Insisi kulit

    2. Membuka prosesus maksilaris dan fossa lakrimalis c.Rhinostomy anterior ethmoidectomy

      d. Membuat flap mukosa e.Penutupan kulit

      Apabila gagal dilakulan DCR pada suatu kasus, maka dilakukan pemasangan silikon melalui punctum atas dan bawah menembus mukosa hidung yang dibiarkan selama 3 bulan.


  2. Endonasal approach DCR

    Mukosa nasal dan sakus lakrimalis dicapai melalui hidung menggunakan endoskopi. Mukosa diinsisi. Rinistomi yang dibuat biasanya lebih kecil dari external DCR. Tidak dilakukan penjahitan pada flap.

    Beberapa tipe endonasal endoscopic DCR:

    1. Endosurgical DCR

    2. Endolaser DCR

    3. Endolaser assisted surgical DCR

    Tahapan operasi:

    1. Masukkan endoskopi ke dalam hidung, dilakukan anestesi lokal pada mukosa nasal

    2. Insisi mukosa nasal

    3. Membuang tulang lakrimalis

    4. Insisi mukosa sakus lakrimalis

    5. Dilakukan pemasangan selang silikon O'Donoghue

Perawatan pasca operasi

Pasca bedah pasien dapat dipulangkan setelah efek anestesi umum sudah hilang dan sadar penuh dan tidak ada perdarahan. Pasien diterapi dengan antibiotika oral dan analgesia


M. KEPUSTAKAAN MATERI BAKU


1. Bailey BJ, Johnson JT, Head & Neck Surgery - Otolaryngology, Fifth Edition, Volume one, Lippincott Williams & Wilkins, 2014, p : 622-637

MODUL UTAMA

FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI


PENYEMBUHAN LUKA MODUL VIII.6.1 PENYEMBUHAN LUKA


EDISI III



KOLEGIUM

ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER

2022

DAFTAR ISI


  1. WAKTU 1

  2. PERSIAPAN SESI 1

  3. REFERENSI 1

  4. KOMPETENSI 1

  5. GAMBARAN UMUM 2

  6. CONTOH KASUS 2

  7. TUJUAN PEMBELAJARAN 3

  8. METODE PEMBELAJARAN 3

  9. EVALUASI 3

  10. INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF & PSIKOMOTOR 4

  11. DAFTAR TILIK 6

  12. MATERI PRESENTASI 7

  13. MATERI BAKU 9

  14. KEPUSTAKAAN MATERI BAKU 15

MODUL VIII.6.1

TOPIK FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI : PENYEMBUHAN LUKA


  1. WAKTU


    Proses Pengembangkan Kompetensi

    Alokasi Waktu :

    Sesi di dalam kelas Sesi Pratikum

    Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi

    11 X 60 menit (classroom session)

    6 X 60 menit (coaching session)

    42 X 60 menit (facilitation and assessment)


  2. PERSIAPAN SESI

    1. Materi Presentasi

      • Slide 1 : Fisiologi Penyembuhan Luka

      • Slide 2 : Patofisiologi Penyembuhan Luka Kronis

      • Slide 3 : Diagnosis dan mengenal defek dan penyebab pada penyembuhan luka kronis

      • Slide 4 : Tata laksanan penyembuhan luka kronis

    2. Kasus :

      Pasien dengan defek fistula esofagokutas pasca laringektomi total dan diseksi leher radikal. Pada akhir pembelajaran diharapkan dapat melakukan penilaian terhadap defek luka yang terjadi dan dapat menentukan tata laksanan apa yang harus diberikan, edukasi anjuran perawatan serta pemberian makan dan minum pada pasien, rujukan ke multidisiplin lain untuk perbaikan gizi, persiapan operasi serta tehnik operasi yang akan di gunakan.

    3. Sarana dan alat bantu latih :

      • Penuntun belajar (learning guide) terlampir

      • Tempat belajar (training setting): bangsal THT, Poliklinik THT, kamar operasi, instalasi rawat darurat, bangsal perawatan pasca bedah THT.

      • Model/menekin/cadaver

      • Laptop

      • LCD


  3. REFERENSI

    1. Jefferson GD. Dynamic Wound Healing. In: Johnson JT, Rosen CA, editors. Bailey's Head and Neck Surgery-Otolaryngology. Vol 1. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins, 2014:75-84.

    2. Foster E, Frodel JL. Wound Healing. In: Papel ID, Fodel JL, Holt GH, Larrabee WF. Nachlas NE, Park SS, et al, editors. Facial Plastic and Reconstructive Surgery. 3rd edition. New York: Thieme, 15-25

  4. KOMPETENSI

    1. Kemampuan (4)

      Mampu melakukan diagnosis serta klasifikasi penyembuhan luka kronis pada suatu defek luka berdasarkan pemeriksaan fisik dan melakukan perawatan luka

      baik pada luka akut maupun luka kronis. Mampu menentukan tatalaksana selanjutnya, contoh : debridemant, pengambilan tandur kulit langsung ataupun jabir lokal secara mandiri.


    2. Ketrampilan (4)

      Peserta didik diharapkan terampil :

      1. Mengetahui anatomi dan fisiologi kulit.

      2. Mengetahui fase-fase penyembuhan luka

      3. Mengenali tanda penyembuhan luka

      4. Melakukan anamnesis, pemeriksaan dan diagnosis pennyembuhan luka kronis

      5. Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi

      6. Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi serta tata laksana lain yang akan digunakan

      7. Merencanakan perawatan pasca operasi serta perencanaan tatalaksana selanjutnya

      8. Merencanakan penatalaksanaan bila terjadi komplikasi operasi


  5. GAMBARAN UMUM

    Penyembuhan luka adalah perbaikan defek pada suatu organ atau jaringan terutama kulit. Penyembuhan luka juga dapat didefinisikan sebagai respons global organisme terhadap luka, yang merupakan proses alami tubuh terhadap trauma jaringan. Pada keadaan normal trombosit mengaktivasi tiga tahap penting dalam penyembuhan luka, yaitu inflamasi, proliferasi/fibroplasia dan maturasi/remodeling.


  6. CONTOH KASUS

    Pasien dengan defek fistula esofagokutas pasca laringektomi total dan diseksi leher radikal. Pada akhir pembelajaran diharapkan dapat melakukan penilaian terhadap defek luka yang terjadi dan dapat menentukan tata laksanan apa yang harus diberikan, edukasi anjuran perawatan serta pemberian makan dan minum pada pasien, rujukan ke multidisiplin lain untuk perbaikan gizi, persiapan operasi serta tehnik operasi yang akan di gunakan.


    1. Pemeriksaan tambahan apa yang perlu dilakukan untuk mengetahui apa penyebab gangguan penyembuhan luka pada seseorang:

      1. Rongten torak

      2. Pemeriksaan darah tepi, termasuk gula darah, gungs ginjal dan fungsi hati.

      3. Pemeriksaan USG doppler

      4. Pemeriksaan kultur Jawab : B

    2. Tindakan apa yang diperlukan pada dengan nekrotik

      1. Nekrotomi

      2. Perawatan luka

      3. Jabir lokal

      4. Penyuntikkan PRP Jawab : A

  7. TUJUAN PEMBELAJARAN

    Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan penatalaksanaan perawatan penyembuhan luka kronis seperti yang telah disebutkan di atas, yaitu:

    1. Mengetahui anatomi dan fisiologi kulit.

    2. Mengetahui fase-fase penyembuhan luka

    3. Mengenali tanda penyembuhan luka

    4. Melakukan anamnesis, pemeriksaan dan diagnosis pennyembuhan luka kronis

    5. Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi

    6. Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi serta tata laksana lain yang akan digunakan

    7. Merencanakan perawatan pasca operasi serta perencanaan tatalaksana selanjutnya

    8. Merencanakan penatalaksanaan bila terjadi komplikasi operasi


  8. METODE PEMBELAJARAN

    1. Interactive lecture

    2. Journal reading and review.

    3. Morbidity and Mortality Case study

    4. Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).

    5. Operative Procedure Demonstration and Coaching

    6. Practice with Real Clients.

    7. Continuing Professional Development


  1. EVALUASI

    1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri atas :

      • Anatomi dan fisiologi kulit.

      • Penegakan diagnosa penyembuhan luka kronis

      • Penatalaksanaan penyembuhan luka

      • Komplikasi penyembuhan luka

      • Follow up

    2. Selanjutnya dilakukan "small group discussion" bersama dengan fasilitator

      untuk membahas kasus/jurnal reading/referat/portfolio.

    3. Setelah selesai penatalaksanaan kasus, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.

    4. Self assesment dengan mempergunakan penuntun belajar.

    5. Pendidik/ fasilitas :

      • pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form (terlampir)

      • penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi

      • kriteria penilaian keseluruhan : perlu perbaikan/ cukup/ baik

    6. Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education)

    7. Pencapaian pembelajaran :

      • Ujian skill (psikomotor), dilakukan selama stase di sub-bagian dengan observasi menggunakan daftar tilik

      • Ujian akhir stase, setiap divisi/ unit kerja oleh masing-masing sentra

      • Ujian akhir komprehensif dilakukan secara nasional (National Board) pada tahapan tertentu dengan ujian MCQ dan LISAN/OSCE oleh kolegium THT- KL.


J. INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF & PSIKOMOTOR

  1. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF (3 Vignette, 2 MCQ)

  2. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR

PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR PERAWATAN LUKA KRONIS


Lakukan penilaian kinerja pada setiap langkah atau tugas dengan menggunakan skala penilaian di bawah ini :

  1. Perlu

    Perbaikan

  2. Cukup


  3. Baik

Langkah atau tugas tidak dikerjakan secara benar atau dalam urutan yang salah.

Langkah atau tugas dikerjakan secara benar dalam urutan yang benar tetapi belum dikerjakan secara lancar.

Langkah atau tugas dikerjakan secara efisien dan dikerjakan dalam urutan yang benar.


KEGIATAN

KASUS

I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF

  • Nama

  • Diagnosis

  • Inform choice & inform consent

  • Rencana tindakan

  • Persiapan sebelum tindakan






II. PERSIAPAN PROSEDUR NEKROTOMI

Cuci tangan, memakai baju operasi dan memakai sarung tangan






Tindakan a & anti sepsi daerah operasi dengan povidon iodine






Memasang kain steril sebagai penutup pasien kecuali daerah operasi






Dilakukan penandaan dengan larutan biru etilen atau pena penanda titik titik pada area yang akan dilakukan harvesting tandur kulit

Dilakukan infiltrasi dengan Adrenalin: Lidokain sebesar 1:

200.000 pada subkutis area yang akan di ambil.






III. PROSEDUR OPERASI

  • Untuk FTSG: Setelah penandaan dan infiltrasi sempurna dilakukan insisi sesuai penandaan dan perencanaan gambar, setelah dilakukan insisi tindakan selanjutnya adalah underming dan pengambilan tandur, dipastikan lemak subkutis tidak terangkat

  • Untuk STSG: Dilakukan antiseptik area yang akan dilakukan harvesting tandur dengan menggunakan pisau harvesting tandur, dengan diatur dahulu ketebalan yang diinginkan. Dilanjutkan dengan pengambilan STSG






IV. PASCA OPERASI

- Instruksi pasca operasi

Pasca bedah pasien dapat dipulangkan setelah efek anestesi umum sudah hilang dan sadar penuh dan tidak ada perdarahan. Pasien diterapi dengan antibiotika oral dan analgesia

Follow-up

Pasien diharapkan kontrol untuk perawatan luka pada hari ke tiga dan angkat jahitan pada hari ke 7






K. DAFTAR TILIK

Berikan tanda ✓ dalam kotak yang tersedia bila ketrampilan/tugas telah dikerjakan dengan memuaskan, dan berikan tanda x bila tidak dikerjakan dengan memuaskan serta T/D bila tidak dilakukan pengamatan.


X Tidak Tidak mampu untuk mengerjakan langkah atau tugas sesuai

Memuaskan dengan prosedur standar atau penuntun.

T/D Tidak

Diamati

Langkah, tugas atau ketrampilan tidak dilakukan oleh peserta latih selama penilaian oleh pelatih.

Penilaian Kinerja Ketrampilan (ujian akhir)


DAFTAR TILIK

NO

KEGIATAN / LANGKAH KLINIK

Kesempatan ke

1

2

3

4

5

Persiapan

1

Kaji ulang diagnosis dan prosedur operatif






2

Menyiapkan peralatan operatif






3

Menyiapkan diri untuk tindakan operatif






4

Menyiapkan posisi pasien






5

Melakukan tindakan a & anti septik






PROSEDUR OPERASI


6

Anestesi :

Infiltrasi area operasi dengan larutan epinefrin: NaCl 0,9% (1 : 200.000) disuntikkan di area lesi.






7

Melakukan tindakan nekrotomi






8

Melakukan penutupan luka dan perawatan luka






L. MATERI PRESENTASI

Tahapan mekanisme penyembuhan luka

Respons vaskular dan inflamasi.

Trombosit teraktivasi

http://www.rndsystems.com/ mini_review_detail_objectname_MR02_CytokineWoundHealin g.aspxwww.rndsystems.com

http://www.lhsc.on.ca/Health_Professionals/Wound_Care/intro/ phases.htmlz

Slide 1 : Fisiologi Penyembuhan Luka


Gangguan penyembuhan luka

defek jaringan

Penyembuhan luka kronis lebih sulit (kompleks)

Penyembuhan luka dressing biologi dan preparat faktor pertumbuhan

Slide 2 : Patofisiologi Penyembuhan Luka Kronis



LorenzlzHP.lzWoundlzhealing:lzrepairlzbiologilzandlzwoundlzandlzscarlztreatment;.2006.lz

Slide 3 : Diagnosis dan mengenal defek dan penyebab pada penyembuhan luka kronis



Perawatan Penyembuhan Luka

Slide 4: Tata laksanan penyembuhan luka kronis






M. MATERI BAKU

Penyembuhan luka adalah perbaikan defek pada suatu organ atau jaringan terutama kulit. Penyembuhan luka juga dapat didefinisikan sebagai respons global organisme terhadap luka, yang merupakan proses alami tubuh terhadap trauma jaringan. Pada keadaan normal trombosit mengaktivasi tiga tahap penting dalam penyembuhan luka, yaitu inflamasi, proliferasi/fibroplasia dan maturasi/remodeling. Komponen selular (trombosit, makrofag, neutrofil, limfosit, epitel dan fibroblas) terlibat pada ketiga fase itu, seperti yang digambarkan pada gambar 1.


Gambar 1. Skema fisiologi penyembuhan luka. Dinilai respons sel dan pembuluh darah serta estimasi waktu pada setiap fase penyembuhan luka.


Proses penyembuhan adalah proses yang berjalan sistematik dan secara klasik terbagi dalam 4 fase yaitu:

  1. Fase Hemostasis

    Setiap luka yang mengenai pembuluh darah akan mengakibatkan respons molekular dan selular untuk terjadinya hemostatis. Penyembuhan luka dimulai setelah tahap hemostasis selesai.


    Gambar 2 Kaskade koagulasi. Faktor IX dapat diaktivasi oleh Faktor IXa atau Faktor VIIa. Di laboratorium umumnya aktivasi tergantung faktor IXa (jalur intrinsik). Faktor di kotak merah adalah molekul tidak aktif dan kotak hijau adalah molekul aktif. Kotak biru (trombin/faktor IIa) berkontribusi pada proses koagulasi. Aktivasi faktor X dan XI akan diinhibisi oleh faktor VIIa, phospolipid (PL) dan high molecular weight kininogen (HMWK).


    Pada fase hemostasis terjadi vasokonstriksi, agregrasi trombosit, dan deposit fibrin yang akan menghasilkan kaskade koagulasi (Gambar 2). Akhir proses hemostasis tersebut adalah terbentuknya bekuan darah. Bekuan darah adalah bahan dasar sarang fibrin dan agregasi trombosit bersama bekuan darah. Formasi bekuan darah penting, karena akan menahan cairan dan elektrolit keluar dari area luka dan membatasi kontaminasi dari lingkungan luar.

  2. Vasokonstriksi

    Vasokontriksi dimulai dengan lepasnya vasoactive amine, yang terjadi ketika dermis ditembus. Epinefrin akan terlepas ke dalam sirkulasi perifer dalam area yang terstimulasi oleh sistem saraf simpatis, akibat penglepasan norepinefrin

    lokal. Sel yang terluka akan menyekresikan prostaglandin, seperti tromboksan yang juga berperan pada vasokonstriksi.

    1. Agregasi Trombosit

      Agregasi trombosit distimulasi oleh pajanan faktor jaringan (tissue factor) yang disekresi oleh sel yang rusak. Trombosit akan menempel pada subendotel pembuluh darah dan juga saling menempel satu sama lain. Proses ini berada di bawah pengaruh fibrinogen dan faktor von Willebrand. Trombosit yang beragregasi dan saling menempel akan teraktivasi dan melepaskan granula alfa serta granula dense. Granula alfa mengandung beberapa imunomodulator dan protein yang berperan dalam penyembuhan luka, antara lain albumin, fibrinogen, fibronektin, IgG, faktor V, faktor VIII, dan beberapa faktor pertumbuhan (PDGF, TGF, FGF2, EGF dan faktor pertumbuhan sel endotel). Dalam hemostasis, PDGF, TGF, FGF2 adalah faktor pertumbuhan yang paling penting. Granula dense mengandung kalsium, serotonin, ADP, dan ATP.4

    2. Fibrin dan Kaskade Koagulasi.

      Secara in vivo kaskade koagulasi darah terbagi menjadi jalur ekstrinsik dan intrinsik, yang akhirnya akan bersama dalam mengaktivasi faktor X menjadi X aktif (Xa) (Gambar 2). Jalur ekstrinsik memerlukan pencetus eksogen berupa faktor jaringan, dan jalur intrinsik memerlukan pajanan faktor XII (faktor Hageman) pada permukaan trombogenik.

    3. Fase Inflamasi

      Karakteristik inflamasi adalah eritema, edema, panas, dan nyeri. Fase inflamasi dimulai sejak terjadinya luka sampai hari ke-4 sampai -6. Fase inflamasi sering disamakan dengan fase sekunder penyembuhan luka. Tanda eritema dan panas merupakan hasil vasodilatasi. Transisi dari vasokonstriksi menjadi vasodilatasi dimediasi oleh beberapa faktor berupa produk sel endotel dan sel mast seperti leukotrien, prostaglandin, kinin, dan histamin. Edema terjadi akibat kebocoran kapiler yang dimediasi oleh lepasnya histamin, kinin dan prostaglandin, trombin dan teraktivasinya sistem komplemen.

    4. Fase Proliferasi/Fibroplasia

      Fase ini dimulai pada hari ke-2 sampai dengan hari ke-42. Tanda klinis fase ini adalah hilangnya tanda-tanda inflamasi, luka menjadi lebih kecil, kontraksi area luka dan gatal. Jaringan selular di luka akan berubah dramatis pada minggu pertama luka. Hal itu ditandai dengan terbentuknya matriks fibrin-fibronektin yang ditempati populasi sel inflamasi, fibroblas dan sel endotel, yang akan mendominasi awal progresivitas penyembuhan luka. Sitokin akan berkontribusi pada proses fibroplasia, epitelisasi, dan angiogenesis.

      Angiogenesis dimulai dari hari ke-2 luka. Keadaan luka yang akan memengaruhi angiogenesis adalah kadar laktat yang tinggi, keasaman pH darah, dan turunnya kadar oksigen. Besarnya derajat hipoksia pada jaringan granulasi dipengaruhi oleh gangguan pembuluh darah asal dan meningkatnya konsumsi oksigen di lingkungan luka. Proliferasi sel akan mengkonsumsi oksigen tiga sampai lima kali lebih cepat dibanding sel pada fase istirahat. Seperti halnya migrasi fibroblas, migrasi sel endotel selama angiogenesis akan melibatkan matriks fibrin-fibronektin.

      Epitelisasi adalah proses yang terjadi dalam fase fibroplasia. Proses ini sebenarnya sudah dimulai pada fase inflamasi, yaitu terjadi proses diferensiasi, mitosis, migrasi dan re-diferensiasi sel basal epidermis dengan tujuan menutup luka mulai dari tepi luka sesuai dengan ketebalan luka. Sel epitel mempunyai kapasitas menyekresi MMP yang dapat mencerna dan menggumpalkan matriks ekstraselular. Ketika sel basal telah bergerak ke tepi luka lainnya dan menutupi seluruh luka, mereka akan mengalami hambatan re-diferensiasi dan mulai mengalami maturasi dengan meningkatkan ketebalan kulit yang ditandai dengan berpindahnya sel basal ke atas dan diferensiasi sel terus berlanjut sehingga terbentuk lapisan epidermis normal. Proses migrasi selular dan proliferasi berada di bawah kontrol sitokin seperti EGF, TGFa, PDGF, dan Keratinocyte Growth Factor (KGF). Pada luka yang mengalami kerusakan berat, awalnya sel akan bermigrasi melalui matriks fibrin-fibronektin. Ketika migrasi melewati matriks, akan terjadi

      regenerasi sel epitel di membran basal. Terbentuknya membran basal dipengaruhi oleh sekresi kolagen tipe 1 dan 5.

      Kontraksi luka saat proses penyembuhan akan bermula dari satu tepi ke tepi lainnya, dan berkontraksi dari semua ujung yang dimediasi oleh miofibroblas, dan dapat memproduksi kolagen namun juga memiliki filamen otot yang halus. Kontraksi luka terjadi karena miofibroblas berkontraksi dan adanya deposit kolagen, yang membuat luka menjadi pendek. Kontraksi itu biasanya terjadi pada hari ke-10 sampai ke-21.

      Secara garis besar langkah-langkah yang terjadi pada fase ini adalah epitelisasi, angiogenesis, jaringan granulasi dan deposit kolagen. Epitelisasi terjadi lebih dahulu dilanjutkan dengan angiogenesis yang distimulasi oleh TNFa. Setelah itu dilanjutkan dengan terbentuknya jaringan granulasi pada hari ke-3 atau ke-5. Jaringan granulasi mengandung pembuluh darah baru. Fibroblas sangat menonjol perannya. Fibroblas mengalami proliferasi dan menyintesis kolagen; terjadi granulasi, kontraksi luka dan epitelisasi. Fase tersebut diakhiri oleh kontraksi luka yang berjalan sentripetal. Kontraksi dijembatani oleh miofibroblas.

    5. Fase Maturasi


      Fase maturasi disebut juga sebagai fase remodeling, adalah fase akhir penyembuhan luka yang dimulai pada hari ke-21 dan dapat berlanjut selama 1-2 tahun setelah luka. Kolagen yang ditimbun dalam luka komposisinysa berubah dari kolagen tipe 3 akan digantikan dengan kolagen tipe 1, yang akan membuat ikatan antara serat menjadi lebih stabil sehingga membuat penyembuhan luka lebih kuat dan lebih mirip jaringan. Kolagen baru menyatu, menekan pembuluh darah dalam penyembuhan luka, sehingga bekas luka menjadi rata tipis dan terbentuk garis putih. Durasi fase tersebut dipengaruhi oleh faktor usia, ras, tipe luka, lokasi dan lamanya fase inflamasi.

      Walaupun tidak sekompleks tahapan lainnya dalam penyembuhan luka, tahap maturasi penting untuk membentuk formasi kekuatan jaringan luka. Kekuatan jaringan luka setelah satu minggu akan mencapai 3 % dari kekuatan kulit normal. Setelah tiga minggu, fase maturasi akan dimulai dan

      kekuatan luka mencapai 20 % dari kulit normal, dan pada tiga bulan akan mencapai 80 % dari kekuatan kulit normal. Proses maturasi akan berlanjut sampai satu tahun.


  3. Perawatan Penyembuhan Luka


    Salah satu prinsip dasar yang terkait dengan penyembuhan luka, adalah optimalisasi perawatan luka (Gambar 3).



    Gambar 3. Prinsip perawatan luka


    1. Irigasi

      Irigasi luka dilakukan dengan menggunakan larutan garam fisiologis. Jika terdapat eksudat pada permukaan luka, irigasi harus dilakukan. Permukaan luka ditutup dengan kain kasa lembab yang lembut, dan harus dijaga agar tidak mengganggu jaringan granulasi (Gambar 3).


    2. Menjaga kelembaban bed luka

Pada prinsipnya, luka harus dijaga kelembabannya sehingga terjadi penyembuhan luka yang baik. Penyembuhan luka akan baik pada keadaan lembab karena kondisi lembab memberikan banyak keuntungan, diantaranya menurunnya angka dehidrasi dan kematian sel, meningkatnya angiogenesis, enhanced autolytic debridement, meningkatnya reepitelisasi, dan sebagai penghalang bakteri serta menurunkan angka infeksi dan nyeri.


Perawatan luka kronik didahului debridement jaringan nekrotik dan kelembaban harus dijaga dengan memakai klorida gel natrium isotonik. Perawatan luka optimal membutuhkan dressing basah yang mendukung debridement autolitik, dan menyerap eksudat, serta melindungi kulit normal di sekitarnya.


Untuk luka kering, dapat dipakai dressing hidrokoloid, seperti DuoDerm atau intrasite hidrokoloid, yang kedap oksigen, kelembaban, dan bakteri. Bahan tersebut mempertahankan lingkungan yang lembab, dan mendukung debridement autolitik. Untuk luka eksudatif, dressing serap, seperti alginat kalsium (misalnya Kaltostat

dan Curasorb), dan dressing hydrofiber, misalnya Aquacel dan Aquacel-AG dapat dipakai.



Gambar 4. Kelembaban luka penting untuk penyembuhan luka


N. KEPUSTAKAAN MATERI BAKU

  1. Oaletta CE, Pokorny JJ, Rumbolo P. Skin graft. In: Mathes SJ, Hentz VR, editors. Plastic surgery. Vol 1. Philadelphia: Saunders Elsevier; 2006:293-316.

  2. Monaco JL, Lawrence WT. Acute wound healing. An overview. Clin Plastic Surg. 2003;30:1-12.

  3. Hom DB. New developments in wound healing relevant to facial plastic surgery. Arch Facial Plast Surg. 2008;10:402-6.

  4. Dunn SL. The wound healing process. In: McCulloch JM, Kloth LC, editors. Wound healing evidance based management. Philadelphia: FA Davis Company; 2010.p.9-34.

  5. Sussman C, Bates-Jensen BM. Skin and soft tissue anatomy and wound healing physiology. In: Sussman C, Bates-Jensen BM,editors. Wound care- a collaborative practical manual for health profesionals. Baltimore: Lippincott Williams and Wilkins:2012:17-52

  6. Crane D. Platelet rich plasma (PRP) matrix grafts. Practical pain management. January/February 2008.p.1-10

  7. Lorenz HP, Longaker MT. Wound healing: repair biologi and wound and scar treatment. In: Mathes SJ, Hentz VR, editors. Philadelphia: Saunders Elsevier; 2006.p.209-34.

  8. Hemostasis and thrombosis.[database on the Internet]2012 [cited 9 April 2012]. Available from:http://akramania.byethost11.com/Robbins/41.html@printing=true.htm.

  9. Femke HF, Veerle MV, Beijnum JRv, Griffioen AW. Endothelial cell biology. In: Staton CA, Lewis C, Bicknell R, editors. Angiogenesis assays a critical appraisal of current techniques. West Sussex: John Wiley & Sons Ltd,; 2006.p11-4.


MODUL UTAMA

FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI


PENYEMBUHAN LUKA MODUL VIII.6.2

TANDUR DAN IMPLAN PADA BEDAH KEPALA LEHER


EDISI III



KOLEGIUM

ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER

2022


DAFTAR ISI

  1. WAKTU 1

  2. PERSIAPAN SESI 1

  3. REFERENSI 1

  4. KOMPETENSI 2

  5. GAMBARAN UMUM 2

  6. CONTOH KASUS 2

  7. TUJUAN PEMBELAJARAN 3

  8. METODE PEMBELAJARAN 3

  9. EVALUASI 3

  10. INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF & PSIKOMOTOR 4

  11. DAFTAR TILIK 6

  12. MATERI PRESENTASI 7

  13. MATERI BAKU 11

  14. KEPUSTAKAAN MATERI BAKU 14

MODUL VIII.6.2

TOPIK FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI – PENYEMBUHAN LUKA : TANDUR DAN IMPLAN PADA BEDAH KEPALA LEHER


  1. WAKTU


    Proses Pengembangkan Kompetensi

    Alokasi Waktu :

    Sesi di dalam kelas Sesi Pratikum

    Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi

    11 X 60 menit (classroom session)

    6 X 60 menit (coaching session)

    42 X 60 menit (facilitation and assessment)


  2. PERSIAPAN SESI

    1. Materi Presentasi

      Slide 1 : Anatomi kulit Slide 2 : Jenis tandur kulit

      Slide 3 : Fisiologi tandur kulit Slide 4 : Nomenklatur.

      Slide 5. Jenis tissue transplant dan biomaterial

      Slide 6 : Komplikasi penggunaan tissue transplant dan biomaterial.

    2. Kasus:

      Pasien dengan defek pada seluruh area tip dan ala nasi. Untuk menutup defek pasien digunakan jabir forehead. Karena besarnya jabir yang diperlukan area bekas asal jabir menjadi defek luka terbuka tanpa kulit yang menutupinya. Pada akhir pembelajaran diharapkan dapat melakukan penilaian terhadap defek luka terbuka yang terjadi dan dapat menentukan tata laksanan apa yang harus diberikan, edukasi anjuran perawatan serta pemberian makan dan minum pada pasien, rujukan ke multidisiplin lain untuk perbaikan gizi, persiapan operasi serta tehnik operasi yang akan di gunakan.

    3. Sarana dan alat bantu latih :

      • Penuntun belajar (learning guide) terlampir

      • Tempat belajar (training setting): bangsal THT, Poliklinik THT, kamar operasi, instalasi rawat darurat, bangsal perawatan pasca bedah THT.

      • Model/menekin/kadaver

      • Laptop

      • LCD

  3. REFERENSI

    1. Holt GR, Stallworth CL. Graft and Implant in Facial, Head and Neck Surgery. In: Johnson JT, Rosen CA, editors. Bailey’s Head and Neck Surgery- Otolaryngology. Vol 1. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins, 2014:2784-96.

    2. Oaletta CE, Pokorny JJ, Rumbolo P. Skin graft. In: Mathes SJ, Hentz VR, editors. Plastic surgery. Vol 1. Philadelphia: Saunders Elsevier; 2006:293-316.

    3. Triana RJ, Murakami CS, Larrabee WF. Skin Graft and Local Flap.. In: Ira DP, Frodel J, Holt GR, Larrabee WF, Nathan N, Park SS, et al. editors. Facial Plastic And Reconstructive Surgery. 3rd ed New York: Thieme; 2008.p. 41-58.

    4. Boahene KDO. Synthetic Implants. In: Ira DP, Frodel J, Holt GR, Larrabee WF, Nathan N, Park SS, et al. editors. Facial Plastic And Reconstructive Surgery. 3rd ed New York: Thieme; 2008.p. 67-76

    5. Stucker FJ, Lian TS. Biological Tissue Implants. In: Ira DP, Frodel J, Holt GR, Larrabee WF, Nathan N, Park SS, et al. editors. Facial Plastic And Reconstructive Surgery. 3rd ed New York: Thieme; 2008.p. 77-84


  4. KOMPETENSI

    1. Kemampuan (4)

      Mampu melakukan diagnosis defek luka yang terjadi berdasarkan pemeriksaan fisik. Mampu menentukan tatalaksana selanjutnya, contoh : pengambilan tandur kulit langsung ataupun jabir lokal secara mandiri.


    2. Ketrampilan (4)

      Peserta didik diharapkan terampil :

      1. Mengetahui anatomi kulit.

      2. Mengetahui klasifikasi tandur kulit

      3. Mengenali fisiologis tandur kulit.

      4. Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi

      5. Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi serta tata laksana lain yang akan digunakan

      6. Merencanakan perawatan pasca operasi serta perencanaan tatalaksana selanjutnya

      7. Merencanakan penatalaksanaan bila terjadi komplikasi operasi


  5. GAMBARAN UMUM

    Tandur kulit merupakan salah satu pilihan untuk menutup luka terbuka yang tidak dapat ditutup primer dengan jabir kulit lokal, contohnya pada defek pasca-reseksi tumor atau radiasi dan defisiensi kulit pada rekonstruksi kelainan kongenital. Implantasi tandur kulit merupakan metode sederhana untuk menutup luka luas dengan vaskularisasi baik serta dapat mengurangi ketegangan jaringan kulit dan kontraktur.


  6. CONTOH KASUS

    Pasien dengan defek pada seluruh area tip dan ala nasi. Untuk menutup defek pasien digunakan jabir forehead. Karena besarnya jabir yang diperlukan area bekas asal jabir menjadi defek luka terbuka tanpa kulit yang menutupinya. Pada akhir pembelajaran diharapkan dapat melakukan penilaian terhadap defek luka terbuka yang terjadi dan dapat menentukan tata laksanan apa yang harus diberikan, edukasi anjuran perawatan serta pemberian makan dan minum pada pasien, rujukan ke multidisiplin lain untuk perbaikan gizi, persiapan operasi serta tehnik operasi yang akan di gunakan.

    1. Pilihan apa yang dapat digunakan untuk menutup defek pada tempat asal jabir forehead:

      1. Jabir lokal.

      2. Ditutup saja dengan kasa, dan dibiarkan luka terbuka

      3. Tandur kulit

      4. Jabir bebas (Free Flap) Jawab : C

    2. Berapa lama perkiraan kasa yang digunakan untuk menekan tandur ke dasar bed digunakan:

      1. 1 hari

      2. 3 hari

      3. 14 hari

      4. 7 hari

      Jawab : D


  7. TUJUAN PEMBELAJARAN

    Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan penatalaksanaan perawatan penyembuhan luka kronis seperti yang telah disebutkan di atas, yaitu:


    1. Mengetahui anatomi kulit.

    2. Mengetahui klasifikasi tandur kulit

    3. Mengenali fisiologi tandur kulit

    4. Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi

    5. Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi serta tata laksana lain yang akan digunakan

    6. Merencanakan perawatan pasca operasi serta perencanaan tatalaksana selanjutnya

    7. Merencanakan penatalaksanaan bila terjadi komplikasi operasi


  8. METODE PEMBELAJARAN

    1. Interactive lecture

    2. Journal reading and review.

    3. Morbidity and Mortality Case study

    4. Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).

    5. Operative Procedure Demonstration and Coaching

    6. Practice with Real Clients.

    7. Continuing Professional Development


  1. EVALUASI

    1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri atas :

      • Mengetahui anatomi kulit.

      • Mengetahui klasifikasi tandur kulit

      • Mengenali fisiologi tandur kulit

      • Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi

      • Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi serta tata laksana lain yang akan digunakan

      • Merencanakan perawatan pasca operasi serta perencanaan tatalaksana selanjutnya

      • Merencanakan penatalaksanaan bila terjadi komplikasi operasi

    2. Selanjutnya dilakukan “small group discussion” bersama dengan fasilitator untuk membahas kasus/jurnal reading/referat/portfolio.

    3. Setelah selesai penatalaksanaan kasus, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.

    4. Self assesment dengan mempergunakan penuntun belajar.

    5. Pendidik/ fasilitas :

      • pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form (terlampir)

      • penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi

      • kriteria penilaian keseluruhan : perlu perbaikan/ cukup/ baik

    6. Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education)

    7. Pencapaian pembelajaran :

      • Ujian skill (psikomotor), dilakukan selama stase di sub-bagian dengan observasi menggunakan daftar tilik

      • Ujian akhir stase, setiap divisi/ unit kerja oleh masing-masing sentra

      • Ujian akhir komprehensif dilakukan secara nasional (National Board) pada tahapan tertentu dengan ujian MCQ dan LISAN/OSCE oleh kolegium THT- KL.


J. INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF & PSIKOMOTOR

  1. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF (3 Vignette, 2 MCQ)

  2. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR


Lakukan penilaian kinerja pada setiap langkah atau tugas dengan menggunakan skala penilaian di bawah ini :

1. Perlu Langkah atau tugas tidak dikerjakan secara benar atau dalam

Perbaikan urutan yang salah.

2. Cukup

Langkah atau tugas dikerjakan secara benar dalam urutan yang benar tetapi belum dikerjakan secara lancar.

3. Baik

Langkah atau tugas dikerjakan secara efisien dan dikerjakan dalam urutan yang benar.

PENUNTUN BELAJAR PANEN TANDUR KULIT



KEGIATAN

KASUS

I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF

  • Nama

  • Diagnosis

  • Inform choice & inform consent

  • Rencana tindakan

  • Persiapan sebelum tindakan

  • ​






II. PERSIAPAN PROSEDUR PANEN TANDUR KULIT

- Cuci tangan, memakai baju operasi dan memakai sarung

tangan






- Tindakan a & anti sepsi daerah operasi dengan povidon

iodine






- Memasang kain steril sebagai penutup pasien kecuali

daerah operasi






- Dilakukan penandaan dengan larutan biru etilen atau pena penanda titik titik pada area yang akan dilakukan harvesting tandur kulit

Dilakukan infiltrasi dengan Adrenalin : Lidokain sebesar 1:

200.000 pada subkutis area yang akan di ambil.






III. PROSEDUR OPERASI

  • Untuk FTSG: Setelah penandaan dan infiltrasi sempurna dilakukan insisi sesuai penandaan dan perencanaan gambar, setelah dilakukan insisi tindakan selanjutnya adalah underming dan pengambilan tandur, dipastikan lemak subkutis tidak terangkat

  • Untuk STSG: Dilakukan antiseptik area yang akan dilakukan harvesting tandur dengan menggunakan pisau harvesting tandur, dengan diatur dahulu ketebalan yang

diinginkan. Dilanjutkan dengan pengambilan STSG






IV. PASCA OPERASI






Instruksi pasca operasi







Pasca bedah pasien dapat dipulangkan setelah efek anestesi umum sudah hilang dan sadar penuh dan tidak ada perdarahan. Pasien diterapi dengan antibiotika oral dan analgesia

Follow-up

Pasien diharapkan kontrol untuk perawatan luka pada hari ke tiga dan angkat jahitan pada hari ke 7







K. DAFTAR TILIK

Berikan tanda √ dalam kotak yang tersedia bila ketrampilan/tugas telah dikerjakan dengan memuaskan, dan berikan tanda x bila tidak dikerjakan dengan memuaskan serta T/D bila tidak dilakukan pengamatan.


X Tidak Tidak mampu untuk mengerjakan langkah atau tugas

Memuaskan sesuai dengan prosedur standar atau penuntun.

T/D Tidak

Diamati

Langkah, tugas atau ketrampilan tidak dilakukan oleh peserta latih selama penilaian oleh pelatih.

Penilaian Kinerja Ketrampilan (ujian akhir)



DAFTAR TILIK


NO


KEGIATAN / LANGKAH KLINIK

KESEMPATAN KE

1

2

3

4

5

Persiapan

1

Kaji ulang diagnosis dan prosedur operatif






2

Menyiapkan peralatan operatif






3

Menyiapkan diri untuk tindakan operatif






4

Menyiapkan posisi pasien






5

Melakukan tindakan a & anti septik






PROSEDUR OPERASI

1

Anestesi :

Infiltrasi area operasi dengan larutan epinefrin: NaCl 0,9% (1

: 200.000) disuntikkan di area lesi.






2

Melakukan tindakan nekrotomi






3

Melakukan penutupan luka dan perawatan luka






L. MATERI PRESENTASI

Slide 1 : Anatomi kulit



Tandur kulit

Klasifikasi • split thickness skin gra/

(STSG)

24 Jam

www.wisconsinfootandankleinstitute.com

www.suaradokter.com

Slide 2 : Jenis tandur kulit


Slide 3 : Fisiologi tandur kulit



Nomenclature

Graft: tissue separated from its donor bed and relies on ingrowth of new vessels from the recipient tissues

Vascularized graft (or flap): remains attached to donor blood supply or becomes revascularized via microvascular anastomoses to recipient vessels

Autograft : tissue transplanted from one location to another within the same individual.

İzograft : tissue transplanted from a genetically identical donor to the recipient (syngeneic mice or human monozygotic twins)

Allogreft (homograft) : tissue transplanted between unrelated individuals of the same species

Xenogreft (hetereograft) : tissue transplanted between different species

Slide 4 : Nomenklatur.



Tissue Transplantation

Autologous


Biomaterials

  1. Metals: used in plating systems for craniomaxillofacial internal fixation (Stainless steel, cobalt-chromium, pure titanium, titanium alloys,and gold )

  2. Calcium ceramics: used as bone graft substitutes (Hydroxyapatite, Tricalcium phosphate, hydroxyapatite cement)

  3. Polymers: used in both bone and soft tissue reconstruction and augmentation (silicone, polyurethane, polyesters, nylon, polyethylene, polypropylene, cyanoacrylates)

  4. Biologic materials: used in the treatment of depressed scars and facial wrinkles (collagen, fibrel, hyaluronic acid)

Slide 5. Jenis tissue transplant dan biomaterial




Donor area morbidity Limited supply

More complex and longer operation

Resorption and deformation

Disadvantages of autologous tissue transplantation

Disadvantages of Biomaterials

Rejection Infection

Implant malposition or extrusion Implant defects (broken, punctured)

Fibrosis around the implant because of foreign body response

Slide 6 : Komplikasi penggunaan tissue transplant dan biomaterial.



M. MATERI BAKU


Tandur kulit merupakan salah satu pilihan untuk menutup luka terbuka yang tidak dapat ditutup primer dengan jabir kulit lokal, contohnya pada defek pasca-reseksi tumor atau radiasi dan defisiensi kulit pada rekonstruksi kelainan kongenital. Implantasi tandur kulit merupakan metode sederhana untuk menutup luka luas dengan vaskularisasi baik serta dapat mengurangi ketegangan jaringan kulit dan kontraktur. Metode ini sering digunakan pada operasi rekonstruksi THT-KL. Terdapat dua klasifikasi tandur kulit berdasarkan ketebalannya, yaitu split thickness skin graft (STSG) dan full thickness skin graft (FTSG). Pada umumnya FTSG digunakan di area wajah dan telinga untuk mendapatkan ketebalan yang sesuai dengan defek luka, karena mempunyai tekstur dan warna kulit lebih sesuai bila dibandingkan STSG. Pada 24 jam pertama ketika tandur kulit menempel dengan dasar tandur (recipient bed), lapisan fibrin akan terbentuk di bawah tandur agar melekat di bed sehingga proses vaskularisasi tandur akan berjalan baik.


  1. Tipe tandur kulit

    Tandur kulit mengandung epidermis dan dermis yang dipindahkan dari sisi donor, dan pendarahannya bergantung resipien. Tandur kulit dapat dikategori menjadi split thickness skin graft (STSG) dan full thickness skin graf (FTSG).


    1. Split Thickness Skin Graft

      Pengambilan STSG umumnya menggunakan dermatom. STSG meliputi epidermis dan dermis segmen superfisial (dermis papilar). STSG tipis mempunyai ketebalan 0,008 -0.010 inci, STSG tebal 0,016-0,018 inci. Walau sangat diandalkan, STSG mempunyai keterbatasan karena sifatnya yang mudah mengkerut. Semakin tipis STSG semakin mudah pengkerutannya namun memiliki proses revaskularisasi yang lebih baik. STSG pada rekonstruksi wajah telah banyak dilakukan untuk menutup defek yang besar pada kulit kepala dan untuk defek luas akibat pengangkatan tumor , saat penutupan luka operasi sangat diperlukan.

    2. Full Thickness Skin Graft

    Pada FTSG, seluruh ketebalan epidermis dan dermis diperoleh dari donor untuk ditransplan. Ketebalan yang digunakan adalah seluruh dermis dengan sangat sedikit lemak subkutaneus. Jaringan subkutan tandur mungkin perlu dilakukan penipisan untuk mendapatkan ketebalan yang diinginkan. FTSG tidak mengalami kontraksi dan tidak terdapat perubahan warna ataupun tekstur. Tandur tersebut lebih tebal dari STSG dan akan mengalami revaskularisasi yang lebih lambat dengan angka kegagalan lebih besar. Suplai pembuluh darah yang adekuat dari bed sangat diperlukan pada penggunaan tandur ini. FTSG lebih tahan terhadap tekanan dibandingan STSG.


  2. Vaskularisasi tandur kulit

    Baik STSG ataupun FTSG adalah jaringan transplan yang diambil dari donor untuk resipien dan dibutuhkan pendarahan baru. Revaskularisasi dari tandur kulit akan melewati fase imbibisi, revaskularisai dan organisasi.

    1. Fase imbibisi serum

      Tahap awal pada fase serum imbibisi atau sirkulasi plasma berlangsung selama 48 jam. Nutrisi tandur bergantung kepada eksudat plasma dari kapiler yang berdilatasi pada resipien. Fibrinogen akan memasuki tandur ini. Eritrosit berpenetrasi pada bekuan fibrin dan terjebak di dalamnya. Eritrosit yang terjebak akan berada dalam serum di bawah tandur dan merupakan asal dari edema pada tandur. Ketika vaskularisasi terjadi, aliran darah baru akan memasuki tandur dan cairan yang menyerupai plasma akan keluar dari tandur.

    2. Fase Revaskularisasi

      Proses vaskularisasi akan berjalan ke dalam struktur fibrin dalam 48 jam pertama. Revaskularisasi akan tumbuh melalui jalur langsung dari pembuluh darah bed di lokasi tandur dan formasi anastomosis antara tandur dan pembuluh darah bed (inokulasi). Supaya tandur tetap hidup dibutuhkan pertumbuhan pembuluh darah dari bed yang memasuki dermis tandur. Sirkulasi limfatik antara tandur dan bed akan berfungsi pada hari ke-4 dan ke-5 pasca-operasi.

    3. Fase maturasi

    Fase ini akan dimulai dalam 5 jam pertama pasca transplantasi. Bekuan fibrin akan terbentuk di antara tandur dan bed, yang akan menjadi bahan adhesi tandur terhadap bed. Leukosit akan mulai menginfiltrasi ke lapisan terdalam tandur dan ketika proses revaskularisasi leukosit tersebut digantikan oleh fibrolas. Pada hari ke-7 dan ke-8 pasca-operasi, infiltrasi fibroblas ke dalam bekuan fibrin akan berlanjut dengan terbentuknya matriks kolagen. Pada hari ke-9 tandur akan terikat kuat dengan pembuluh darah baru dan integrasi fibroblas. Dalam waktu 2 bulan, struktur neural akan mengalami regenerasi dan masuk ke dalam tandur melalui sisi dasar dan pinggir tandur, mengikuti selubung sel neurilemma. Tandur kulit umumnya jarang mencapai inervasi sensori normal setelah penyembuhan luka selesai.


  3. Keberhasilan tandur kulit

    Tandur kulit adalah transplantasi kulit esensial. Tandur kulit tersebut tidak mempunyai pendarahan, sistem drainase, dan inervasi sensori. Tandur diletakkan di- bed dan akan memperoleh perdarahan dan sensasi. Segera setelah diambil, ketahanan tandur akan sangat bergantung pada eksudat serous resipien yang prosesnya dikenal dengan nama serum imbibisi. Penjelasan bagaimana tandur kulit dapat berhasil masih belum dapat diterangkan dengan jelas.2

    Setiap proses yang dapat menghambat proses imbibisi serum atau revaskularisasi akan menyebabkan kegagalan tandur itu hidup. Tandur kulit sangat bergantung kepada bed yang sehat dan vaskularisasi bed. Penyebab terbanyak kegagalan tumbuhnya tandur kulit adalah bed yang tidak adekuat. Tendon, tulang dan kartilago yang terpajan tidak dapat mendukung kehidupan tandur kulit, sehinga dapat dipertimbangkan sebagai kontra-indikasi aplikasi tandur kulit. Lemak, peritoneum, periosteum, dan perikondrium mempunyai vaskularisasi yang buruk, namun masih dapat mendukung STSG. Terapi konservatif dengan penggantian perban dapat membantu perkembangan granulasi, membuat vaskularisasi bed yang akan memperbaiki perubahan tandur kulit.


    Penyebab kegagalan tandur kulit adalah tandur kulit diletakkan pada bed yang avaskular, infeksi, hematoma, seroma, malnutrisi, dan kondisi umum yang tidak

    bagus. Setiap penghalang tandur dengan bed dapat menghambat vaskularisasi tandur. Penghalang tersering adalah darah, serum dan material purulen. Hematoma, seroma dan infeksi dapat menyebabkan kegagalan tandur kulit parsial atau komplet. Salah satu penyebab tersering kegagalan tandur adalah gaya geser pada tandur. Pembuluh darah kapiler yang kecil yang menginvasi ke tandur sangat rentan dan mudah rusak oleh tekanan minimum. Dengan mengganti perban atau gerakan periode awal pasca- operasi dapat terjadi devaskularisasi tandur.


    Infeksi dapat merusak tandur. Selain itu infeksi sistemik juga dapat mengakibatkan proses penyembuhan luka yang buruk dan menimbulkan kegagalan pada tandur. Gangguan sistemik dan kondisi lokal dapat menyebabkan tandur tidak tumbuh. Malnutrisi, vaskulitis, penyakit malignansi, steroid dan kemoterapi dapat merusak proses penyembuhan luka dan tandur. Tekanan dan radiasi juga dapat merusak bed dan mengakibatkan kegagalan tumbuhnya tandur total atau parsial. Dewasa ini kesalahan teknik pada aplikasi tandur sudah sangat jarang ditemukan. Tandur yang dipasang terbalik atau diproses dengan kasar dapat menyebabkan kegagalan total atau parsial.2


  4. Metode analisis Penyembuhan Luka Tandur Kulit

    Pengukuran dimensi luka merupakan komponen penting dalam penatalaksanaan luka. Pemantauan perubahan area luka dapat membantu menilai efektivitas terapi dan deteksi dini keadaan statis atau perburukan luka. Perhitungan area permukaan luka merupakan indikator yang valid dan akurat untuk menilai progresivitas penyembuhan luka.


    Analisis penyembuhan luka secara umum dibagi dalam beberapa fase dengan parameter karakteristik sebagai berikut:

Karakteristik dengan terbentuknya matrix remodelling, diferensiasi terminal bentuk baru epidermis, meningkatnya kandungan serat elastik dan meningkatnya kekuatan luka.

Berdasarkan keterangan di atas maka dapat dibuat tabel parameter penilai penyembuhan luka secara histologi.

N. KEPUSTAKAAN MATERI BAKU

  1. Oaletta CE, Pokorny JJ, Rumbolo P. Skin graft. In: Mathes SJ, Hentz VR, editors. Plastic surgery. Vol 1. Philadelphia: Saunders Elsevier; 2006:293-316.

  2. Triana RJ, Murakami CS, Larrabee WF. Skin Graft and Local Flap. 3rd ed. In: Ira DP, Frodel J, Holt GR, Larrabee WF, Nathan N, Park SS, et al. editors. Facial Plastic And Reconstructive Surgery. New York: Thieme; 2008.p. 41-58.

  3. Wang YB, Ogawa Y, Kakudo N, Kusumoto K. Survival and wound contraction of full-thickness skin grafts are associated with the degree of tissue edema of the graft bed in immediate excision and early wound excision and grafting in a rabbit model. J Burn Care Res.2007;28(1):182-6.

  4. Kamran A, Javad FM, Sahram F, Jaber MS. A comparison of survival and secondary contraction in expended versus conventional full thickness skin graft. ePlasty. 2012;12. Available from:http://www.medscape.com.

MODUL UTAMA

FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI


PENYEMBUHAN LUKA MODUL VIII.6.3 REGIONAL FLAP


EDISI III



KOLEGIUM

ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER

2022


DAFTAR ISI

  1. WAKTU 1

  2. PERSIAPAN SESI 1

  3. REFERENSI 1

  4. KOMPETENSI 1

  5. GAMBARAN UMUM 2

  6. CONTOH KASUS 2

  7. TUJUAN PEMBELAJARAN 2

  8. METODE PEMBELAJARAN 3

  9. EVALUASI 3

  10. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF 4

  11. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR 4

  12. DAFTAR TILIK 6

  13. MATERI PRESENTASI 7

  14. MATERI BAKU 8


MODUL VIII.6.3

TOPIK FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI - PENYEMBUHAN LUKA :

REGIONAL FLAP


  1. WAKTU


    Proses Pengembangkan Kompetensi

    Alokasi Waktu :

    Sesi di dalam kelas Sesi Pratikum

    Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi

    10 X 60 menit (classroom session)

    16 X 60 menit (coaching session)

    43 X 60 menit (facilitation and assessment)


  2. PERSIAPAN SESI

    1. Materi Presentasi

      Slide 1 : Fisiologi Penyembuhan Luka dan Jabir Regional Slide 2 : Patofisiologi Penyembuhan Luka dan Jabir Regional

      Slide 3 : Diagnosis dan mengenal defek dan penyebab pada Defek luka Slide 4 : Tata laksanan Jabir Regional

    2. Kasus :

      Pasien dengan defek fistula esofagokutas pasca laringektomi total dan diseksi leher radikal. Pada akhir pembelajaran diharapkan dapat melakukan penilaian terhadap defek luka yang terjadi dan dapat menentukan tata laksanan apa yang harus diberikan, edukasi anjuran perawatan serta pemberian makan dan minum pada pasien, rujukan ke multidisiplin lain untuk perbaikan gizi, persiapan operasi serta tehnik operasi yang akan di gunakan.

    3. Sarana dan alat bantu latih :

      • Penuntun belajar (learning guide) terlampir

      • Tempat belajar (training setting): bangsal THT, Poliklinik THT, kamar operasi, instalasi rawat darurat, bangsal perawatan pasca bedah THT.

      • Model/menekin/kadaver

      • Laptop

      • LCD


  3. REFERENSI

    1. Bailey BJ, Johnson JT, Head & Neck Surgery - Otolaryngology, 5th Edition, Volume two, Lippincott Williams & Wilkins, 2014, p : 3074 -3102

    2. Papel ID. Local and Regional Cutaneous Flaps. In: Facial Plastic and Reconstructive Surgery, 2nd edition, Thieme, 2002, p: 528 - 548


  4. KOMPETENSI

    1. Kemampuan

      Mampu melakukan diagnosis defek dan tatalaksana penutupan defek berdasarkan pemeriksaan fisik dan melakukan perawatan luka baik pada luka

      bergaung. Mampu menentukan tatalaksana selanjutnya, pengambilan jabir regional dengan supervisi.


    2. Keterampilan

      Peserta didik diharapkan terampil :

      1. Mengetahui anatomi dan fisiologi kulit dan subkutis.

      2. Mengetahui fase-fase penyembuhan luka

      3. Mengenali tanda penyembuhan luka jabir

      4. Melakukan anamnesis, pemeriksaan dan diagnosis pennyembuhan luka jabir

      5. Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi

      6. Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi serta tata laksana lain yang akan digunakan

      7. Merencanakan perawatan pasca operasi serta perencanaan tatalaksana selanjutnya

      8. Merencanakan penatalaksanaan bila terjadi komplikasi operasi


  5. GAMBARAN UMUM

    Jabir Regional adalah penutupan defek jaringan luas pada suatu organ atau jaringan terutama kulit dan subkutis dengan teknik utama untuk rekonstruksi defek luas pada kepala dan leher. Beberapa teknik jabir regional dalam hal ini adalah deltopektoral dan pectoralis mayor.


  6. CONTOH KASUS

    Pasien dengan defek fistula esofagokutas pasca laringektomi total dan diseksi leher radikal. Pada akhir pembelajaran diharapkan dapat melakukan penilaian terhadap defek luka yang terjadi dan dapat menentukan tata laksanan apa yang harus diberikan, edukasi anjuran perawatan serta pemberian makan dan minum pada pasien, rujukan ke multidisiplin lain untuk perbaikan gizi, persiapan operasi serta tehnik operasi yang akan di gunakan.


  7. TUJUAN PEMBELAJARAN

    Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan penatalaksanaan perawatan penyembuhan luka kronis seperti yang telah disebutkan diatas, yaitu:

    1. Mengetahui anatomi dan fisiologi kulit dan subkutis.

    2. Mengetahui fase-fase penyembuhan luka pada jabir

    3. Mengenali tanda penyembuhan luka pada jabir

    4. Melakukan anamnesis, pemeriksaan dan diagnosis penyembuhan luka jabir

    5. Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang persiapan operasi jabir regional

    6. Membuat keputusan tentang waktu dan tehnik operasi serta tata laksana lain yang akan digunakan

    7. Merencanakan perawatan pasca operasi serta perencanaan tatalaksana selanjutnya

    8. Merencanakan penatalaksanaan bila terjadi komplikasi operasi


  8. METODE PEMBELAJARAN


  9. EVALUASI

    1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri atas :

      • Anatomi dan fisiologi kulit.

      • Penegakan diagnosa penyembuhan luka kronis

      • Penatalaksanaan penyembuhan luka

      • Komplikasi penyembuhan luka

      • Follow up

    2. Selanjutnya dilakukan "small group discussion" bersama dengan fasilitator

      untuk membahas kasus/jurnal reading/referat/portfolio.

    3. Setelah selesai penatalaksanaan kasus, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.

    4. Self assesment dengan mempergunakan penuntun belajar.

    5. Pendidik/ fasilitas :

      • pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form(terlampir)

      • penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi

      • kriteria penilaian keseluruhan : perlu perbaikan/ cukup/ baik

    6. Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education)

    7. Pencapaian pembelajaran :

      • Ujian skill (psikomotor), dilakukan selama stase di sub-bagian dengan observasi menggunakan daftar tilik

      • Ujian akhir stase, setiap divisi/ unit kerja oleh masing-masing sentra

      • Ujian akhir komprehensif dilakukan secara nasional (National Board) pada tahapan tertentu dengan ujian MCQ dan LISAN/OSCE oleh kolegium THT- KL.

  10. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF


  11. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR

    Lakukan penilaian kinerja pada setiap langkah atau tugas dengan menggunakan skala penilaian di bawah ini :

    1. Perlu

      Perbaikan

    2. Cukup


    3. Baik

    Langkah atau tugas tidak dikerjakan secara benar atau dalam urutan yang salah.

    Langkah atau tugas dikerjakan secara benar dalam urutan yang benar tetapi belum dikerjakan secara lancar.

    Langkah atau tugas dikerjakan secara efisien dan dikerjakan dalam urutan yang benar.


    KEGIATAN

    KASUS

    I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF






    II. PERSIAPAN PROSEDUR

    - Cuci tangan, memakai baju operasi dan memakai sarung tangan






    - Tindakan a & anti sepsi daerah operasi dengan povidon iodine






    - Memasang kain steril sebagai penutup pasien kecuali daerah operasi






    - Dilakukan penandaan dengan larutan biru etilen atau pena penanda titik titik pada area yang akan dilakukan harvesting DP dan PM Flap

    Dilakukan infiltrasi dengan Adrenalin : Lidokain sebesar 1: 200.000 pada subkutis area yang akan di ambil.






    III. PROSEDUR OPERASI

    Jabir Dectopectoral

    Jabir Pectoralis Mayor






    IV. PASCA OPERASI

    Pasca bedah pasien dapat dipulangkan setelah efek anestesi umum sudah hilang dan sadar penuh dan tidak ada perdarahan. Pasien diterapi dengan antibiotika oral dan analgesia







    KEGIATAN

    KASUS

    Pasien diharapkan kontrol untuk perawatan luka pada hari ke tiga dan angkat jahitan pada hari ke 7








  12. DAFTAR TILIK

    Berikan tanda ✓ dalam kotak yang tersedia bila ketrampilan/tugas telah dikerjakan dengan memuaskan, dan berikan tanda x bila tidak dikerjakan dengan memuaskan serta T/D bila tidak dilakukan pengamatan.

    X Tidak memuaskan

    Tidak mampu untuk mengerjakan langkah atau tugas sesuai dengan prosedur standar atau penuntun.

    T/D Tidak

    Diamati

    Langkah, tugas atau ketrampilan tidak dilakukan oleh peserta latih selama penilaian oleh pelatih.

    Penilaian Kinerja Ketrampilan (ujian akhir)



    DAFTAR TILIK

    NO

    KEGIATAN / LANGKAH KLINIK

    Kesempatan ke

    1

    2

    3

    4

    5

    Persiapan

    1

    Kaji ulang diagnosis dan prosedur operatif






    2

    Menyiapkan peralatan operatif






    3

    Menyiapkan diri untuk tindakan operatif






    4

    Menyiapkan posisi pasien






    5

    Melakukan tindakan a & anti septik






    PROSEDUR OPERASI

    6

    Anestesi :

    Infiltrasi area operasi dengan larutan epinefrin: NaCl 0,9%(1 : 200.000) disuntikkan di area lesi.






    7

    Melakukan tindakan jabir regional DP dan PM






    8

    Melakukan penutupan defek dan perawatan luka






  13. MATERI PRESENTASI


    Tahapan mekanisme penyembuhan luka

    Respons vaskular dan inflamasi.

    Trombosit teraktivasi

    ht ph

    Slide 1 : Fisiologi Penyembuhan Luka dan Jabir Regional


    Slide 2 : Patofisiologi Penyembuhan Luka

    Berdasarkan pembuluh darah regional seperti Platysma yaitu cabang dari pembuluh darah arteri tiroid superior, servical transversa,

    Regio Sternocleidomastoid berasal dari Arteri perforator mamaria interna pada jabir DP dan pectoralis mayor- jabir jauh berasal dari artery thoracoacromial.


    Slide 3 : Diagnosis dan mengenal defek luka luas Slide 4: Tata laksanana jabir DB dan PM

    Jabir Dectopectoral


    Jabir Pectoralis Mayor



  14. MATERI BAKU


Rekonstruksi tumor defek merupakan prosedur yang sangat penting dengan pilihan berdasarkan lokasi dan ukuran defek. Penyembuhan luka luas dengan menutup defek akibat tumor kepala dan leher memerlukan jabir regional sesuai dengan kondisi defek tersebut. Tujuannya adalah menutup defek dengan luka defek sekunder seminimal mungkin. Diperhatikan karakteristik defek terdiri dari warna kulit, ketebalan kulit, komposisi jaringan mukosa, otot, tulang, kartilago, lokasi, dan unit yang terlibat.


Pendekatan sistemis pada rekonstruksidapat dilihat pada gambar 1.


Characteristic Defect

Design Reconstruction ladder

Landmarks

Facial

and

ideal areas for tissue

Design flaps to align with resting skin tension lines

Consider patient history

Indikasi Operasi

MODUL UTAMA

FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI


PENYEMBUHAN LUKA MODUL VIII.6.4 MICROVASCULAR FREE FLAP


EDISI III



KOLEGIUM

ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA DAN LEHER

2022

DAFTAR ISI

  1. WAKTU 1

  2. PERSIAPAN SESI 1

  3. REFERENSI 1

  4. KOMPETENSI 2

  5. GAMBARAN UMUM 2

  6. CONTOH KASUS DAN DISKUSI 2

  7. TUJUAN PEMBELAJARAN 3

  8. METODE PEMBELAJARAN 3

  9. EVALUASI 3

  10. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF 4

  11. INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR 4

  12. DAFTAR TILIK 4

  13. MATERI PRESENTASI 5

  14. MATERI BAKU 7

MODUL VIII.6.4

TOPIK FASIAL PLASTIK REKONSTRUKSI - PENYEMBUHAN LUKA :

MICRIVASCULAR FREE FLAP


  1. WAKTU


    Proses Pengembangkan Kompetensi

    Alokasi Waktu :

    Sesi di dalam kelas Sesi Pratikum

    Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi

    10 X 60 menit (classroom session) 16X 60 menit (coaching session)

    43 X 60 menit (facilitation and assessment)


  2. PERSIAPAN SESI

    1. Materi Presentasi

      Slide 1: Keuntungan free flap/jabir lepas Slide 2. Prinsip pada bedah mikro

      Slide 3 : Regulasi aliran darah pada jabir lepas Slide 4 :Fisiologi jabir lepas

      Slide 5 :Microcirculatory respon terhadap iskemi. Slide 6. Prinsip pada bedah mikro

    2. Kasus :

      Pasien dengan defek mandibula pada korpus mandibula kanan, dengan riwayat karsinoma sel skuamosa mandibula yang telah dilakukan mandibulektomi dengan mengangkat korpus mandibula kanan dengan regio kulitnya. Tumor tidak hanya sebatas pada tulang mandibula kanan saja, namun sudah meluas ke mukosa area sekitar tumor tersebut sampai ke regio kulit. Rekonstruksi untuk defek tersebut diperlukan struktur tulang maupun kulit untuk mengisi dan menutup area defek tersebut. Pada akhir pembelajaran diharapkan dapat melakukan penilaian terhadap defek yang terjadi dan dapat menentukan tata laksanan apa yang harus diberikan, edukasi anjuran perawatan serta pemberian makan dan minum pada pasien, rujukan ke multidisiplin lain untuk perbaikan gizi, persiapan operasi serta tehnik operasi yang akan di gunakan.

    3. Sarana dan alat bantu latih :

      • Penuntun belajar (learning guide) terlampir

      • Tempat belajar (training setting): bangsal THT, Poliklinik THT, kamar operasi, instalasi rawat darurat, bangsal perawatan pasca bedah THT.

      • Model/menekin/kadaver

      • Laptop

      • LCD


  3. REFERENSI

    1. Chepeha DB. Reconstructive Microsurgery of the Head and Neck. In: Johnson

      JT, Rosen CA, editors. Bailey's Head and Neck Surgery-Otolaryngology. Vol

      1. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins, 2014:2824-48.

      2. Burkey BB, Schmalbach CE, Coleman Jr JR. In: Ira DP, Frodel J, Holt GR, Larrabee WF, Nathan N, Park SS, et al. editors. Facial Plastic And Reconstructive Surgery. 3rd ed New York: Thieme; 2008.p. 765-94.


  4. KOMPETENSI

    1. Kemampuan (4)

      Mampu melakukan diagnosis defek luka yang yang ada, dan mampu menentukan apakah diperlukan tatalaksana dengan menggunakan jabir lepas. Diharapkan peserta didik dapat mengetahui dasar keilmuan dari jabir lepas, seperti:

      1. Mengetahui keuntungan free flap/jabir lepas

      2. Mengetahui prinsip pada bedah mikro

      3. Mengetahui regulasi aliran darah pada jabir lepas

      4. Mengetahui fisiologi jabir lepas.

      5. Mengetahui respon mikrosirkulasi terhadap iskemi.

      6. Mengatahui prinsip pada bedah mikro


  5. GAMBARAN UMUM

    Jabir lepas melibatkan transplantasi jaringan menggunakan operasi mikrovaskuler. Transfer jaringan bebas mikrovaskuler adalah teknik rekonstruksi di mana unit jaringan terpisah dari suplai darah induk dan pindah dari satu bagian tubuh ke lokasi yang baru. Jaringan donor memiliki arteri dan vena yang dapat diidentifikasi dimana dapat direanastomosis dengan pembuluh penerima, sehingga membangun kembali aliran darah.Potensi reinnervation sensorik juga ada melalui reanastomosis saraf kulit.


  6. CONTOH KASUS DAN DISKUSI

    Pasien dengan basalioma pada hidung, dahi, dan kedua mata. Telah dilakukan tindakan eksisi luas. Defek pada wajah pasca operasi meliputi dahi, seluruh hidung, dan kedua mata. Diperlukan tindakan rekonstruksi untuk menutup defek pada pasien ini. Pada akhir pembelajaran diharapkan dapat melakukan penilaian terhadap defek luka yang akan terjadi dan dapat menentukan tata laksanan apa yang harus diberikan, edukasi anjuran perawatan serta pemberian makan dan minum pada pasien, rujukan ke multidisiplin lain untuk perbaikan gizi, persiapan operasi serta tehnik operasi yang akan di gunakan.

    1. Yang bukan merupakan kontraindikasi untuk dilakukan freeflap adalah:

      1. Diabetes militus

      2. Darah hiperkoagulasi

      3. Abnormalitas anatomi pembuluh darah pada tungkai bawah dapat menyebabkan kegagalan pengambilan jabir yang aman.

      4. TBC paru

      5. Pasien dengan trauma tungkai yang luas atau riwayat operasi tungkai sebelumnya.

      Jawab: D


    2. Jabir bebas Radial Forearm merupakan jenis jabir bebas yang mengandung:

      1. Fascia dan fasciocutaneous

      2. Otot dan musculocutaneous

      3. Composite free

      4. Visceral

      5. Fasciocutaneous Jawab: A


  7. TUJUAN PEMBELAJARAN

    Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan penatalaksanaan perawatan penyembuhan luka kronis seperti yang telah disebutkan diatas, yaitu:

    1. Mengetahui anatomi kulit, sub kutis dam otot pada regio donor untuk jabir lepas.

    2. Mengetahui keuntungan free flap/jabir lepas

    3. Mengetahui prinsip pada bedah mikro

    4. Mengetahui regulasi aliran darah pada jabir lepas

    5. Mengetahui fisiologi jabir lepas.

    6. Mengetahui respon mikrosirkulasi terhadap iskemi.

    7. Mengatahui prinsip pada bedah mikro

    8. Mengetahui berbagai jenis jabir bebas berdasarkan lokasi donornya.


  8. METODE PEMBELAJARAN

    1. Literature reading

    2. Praktik poliklinik

    3. Skill labs

    4. Praktik kamar operasi

    5. Praktik rawat inap

    6. Bedside teaching

    7. Case report

    8. Journal reading

    9. Minicex

    10. Mini lecture


  1. EVALUASI

    1. Dilakukan "small group discussion" bersama dengan fasilitator untuk membahas

      kasus/jurnal reading/referat/portfolio.

    2. Setelah selesai penatalaksanaan kasus, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan dapat pula disertai menontonvideo tindakan jabir bebas bersama pembimbing yang dilanjutkan dengan diskusi.

    3. Self assesment dengan mempergunakan penuntun belajar.

    4. Pendidik/ fasilitas :

      • pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form(terlampir)

      • penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi

      • kriteria penilaian keseluruhan : perlu perbaikan/ cukup/ baik

    5. Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education)

    6. Pencapaian pembelajaran :

      • Ujian skill (psikomotor), dilakukan selama stase di sub-bagian dengan observasi menggunakan daftar tilik

      • Ujian akhir stase, setiap divisi/ unit kerja oleh masing-masing sentra

      • Ujian akhir komprehensif dilakukan secara nasional (National Board) pada tahapan tertentu dengan ujian MCQ dan LISAN/OSCE oleh kolegium THT- KL.


J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF


Jawaban : B


K. INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR

-


L. DAFTAR TILIK

-

M. MATERI PRESENTASI


Advantages of free tissue transfer

Slide 1: Keuntungan free flap/jabir lepas



Principles of Microsurgery

Slide 2. Prinsip pada bedah mikro



Blood Flow Regulation

Slide 3 : Regulasi aliran darah pada jabir lepas




Free Flap Physiology

Slide 4 :Fisiologi jabir lepas


Microcirculatory Response to Ischemia

Slide 5 :Microcirculatory respon terhadap iskemi.



N. MATERI BAKU

Sepuluh tahun terakhir ini teknik rekonstruksi jaringan bebas mikrovaskular telah banyak digunakan oleh dokter ahli bedah dan teknik ini memungkinkan untuk transfer sejumlah jaringan lunak dan/atau tulang da-lam satu tahap tanpa batasan panjang pedikel atau geometri pembuluh darah.


Pemindahan mikrovaskular jaringan bebas (microvascular free-tissue) diperkenalkan sebagai suatu teknik untuk merekonstruksi defek yang tidak dapat diperbaiki selain dengan rekonstruksi.Kemampuan dari revaskularisasi jaringan dan lamanya operasi menjadi perhatian pertama dari teknik ini.Flap pedikel regional dibayangi teknik pemindahan mikrovaskular jaringan bebas. Secara teknik regional flap lebih mudah, hanya membutuhkan satutim operasi, dan menyiapkan jaringan yang tidak mengalami radiasi. Mikrovaskuler rekonstruksi terus berkembang.Digambarkan bahwa setiap tahun lebih banyak lagi daerah atau tempat untuk teknik ini, dan fleksibilitas dari setiap daerah dieksplorasi dan dikembangkan.Untuk meningkatkan kemampuandibidang teknik mikrovaskular ahli bedah harus terus dilatih. Sebagai suatu teknik, bedah mikrovaskular menjadi semakin luas dan menjadi jelas bahwa teknik transfer ini 95%-98% dianggap handal dan hanya memerlukan 4 - 6 jam waktu operasi.

Jabir bebas melibatkan transplantasi jaringan menggunakan operasi mikrovaskuler. Transfer jaringan bebas mikrovaskuler adalah teknik rekonstruksi di mana unit jaringan terpisah dari suplai darah induk dan pindah dari satu bagian tubuh ke lokasi yang baru. Jaringan donor memiliki arteri dan vena yang dapat diidentifikasi dimana dapat direanastomosis dengan pembuluh penerima, sehingga membangun kembali aliran darah.Potensi reinnervation sensorik juga ada melalui reanastomosis saraf kulit.


Perioperatif

Ahli bedah mikrovaskular akan menggunakan teknik tertentu untuk mendapatkan pengambilan jabir yang tepat, anastomosis pembuluh darah, dan menggunakan jabir sesuai dengan pembuluh darah dan geometrinya untuk memperoleh transfer jaringan yang sukses.


Pengambilan jabir

Keberhasilan transfer jaringan tergantung dari pengambilan jabir. Pengetahuan mengenai anatomi dan perencanaan yang tepat mendukung untuk didapatkannya pengambilan jabir yang aman. Ahli bedah harus mengetahui lokasi pedikel vaskuler dan melindunginya saat pengambilan jabir. Klip bedah, elektrokauter bipolar, dan benang bedah merupakan alat yang harus disiapkan untuk pembedahan. Pemakaian kauter unipolar harus dihindari pada daerah yang sangat dekat dengan pedikel.


Persiapan pembuluh darah

Ahli bedah harus mempersiapkan jabir dan pembuluh darahnya untuk ditransfer. Jabir yang telah diambil dicuci dengan salin heparin untuk membuang sisa darah dan precursor trombogenik. Pada umumnya digunakan mikroskop yang dapat memberikan pembesaran 4-16x, namun sebagian ahli bedah menggunakan lup untuk pembesaran dan mendapatkan hasil kesuksesan yang sama. Forsep Jeweler, gunting mikro lurus dan lengkung, dilator pembuluh darah, dan pemegang benang lengkung merupakan instrument yang penting untuk transfer jaringan. Arteri dan vena harus dipisahkan untuk mendapatkan geometri pembuluh darah yang baik dan tempat anastomosis.


Anastomosis pembuluh darah

Pada umumnya, anastomosis arteri dilakukan secara end-to-end dan anastomis vena dilakukan secara end-to-end atau end-to-side. Pemuluh darah untuk anastomosis harus berasal dari kaliber yang sama dan memiliki aliran pembuluh darah masuk dan keluar yang baik. Jika didapatkan ukuran lumen pembuluh darah yang tidak sesuai dengan perbandingan lebih dari 2 : 1, ahli bedah dapat melakukan teknik "fish-mouth" untuk pembuluh kecil agar diperoleh hasil yang adekuat. Penyambungan secara end-to-side dapat dilakukan pada ketidaksesuaian pembuluh darah besar. Sebagian besar ahli bedah lebih memilih menggunakan teknik anastomosis end-to-side untuk vena donor pada vena jugularis interna. Penelitian Ueda (dikutip dari Burkey etal) mendapatkan tidak terdapat perbedaan statistic thrombosis vena dibandingkan antara anastomosis end-to-side vena jugularis dan end-to-end vena.

Geometri pembuluh darah

Geometri pembuluh darah berhubungan dengan orientasi dari anastomosis pembuluh darah. Kesuksesan atau kegagalan dari jabir bergantung pada orientasi pedikel. Anastomosis pedikel sebaiknya dilakukan pada lingkungan yang tidak tegang (tension free) untuk menghindari terjadinya kinking. Ahli bedah harus memutuskan penempatan pedikel yang tepat, di bawah atau di atas tulang yang diambil. Pada semua tahap rekonstruksi, ahli bedah harus memeriksa orientasi pembuluh darah dan tekanan dari luar yang mungkin terjadi pada jabir. Perhatian terhadap detail dan teknik penjahitan penting untuk memastikan kesuksesan transfer jaringan.


Pasca operatif Pemantauan jabir

Pemantauan jabir untuk perfusi dimulai setelah dilakukan anastomis pembuluh darah. Ahli bedah memonitor jabir dengan cara memperhatikan perdarahan jabir yang berasal dari pinggiran sayatan, perfusi kapiler, kehangatan jabir, dan sinyal ultrasonik Doppler dari pembuluh darah.


Teknik yang ideal untuk pemantauan jabir pasca operasi sampai saat ini belum ditemukan. Teknik yang biasa digunakan bergantung pada perfusi kapiler, perdarahan, dan suhu pada jabir pedikel kutaneus atau memonitor segmen serta ultrasonograi (USG) Doppler. Tujuh puluh dua jam pertama pasca operasi, jabir diperiksa setiap jam oleh perawat, diperiksa warna, kehangatan, perfusi kapiler dan sinyal Doppler. Jika didapatkan perubahan pada warna kulit maka ahli bedah melakukan pemeriksaan ulang dan melakukan pemeriksaan jarum tusuk, apabila didapatkan perubahan yang tidak di inginkan maka pasien direncanakan untuk eksplorasi segera. Bila penyebab kegagalan jabir adalah hematom, luka operasi dibuka kemudian direncanakan operasi segera.


Setelah pemantauan selama 72 jam, pemantauan jabir dapat dilakukan setiap empat jam selama dua hari dan setiap delapan jam sampai pasien dipulangkan. Pada jabir normal akan didapatkan warna kemerahan, hangat pada perabaan, perfusi kapiler tiga detik, dan memiliki sinyal arteri dan vena yang kuat pada pemeriksaan Doppler. Insuisiensi arteri akan tampak sebagai warna pucat atau kebiruan pada pedikel kulit, dingin pada perabaan, perfusi kapiler lebih dari lima detik, dan pada pemeriksaan pin-prick menggunakan jarum nomor 20 didapatkan warna darah yang gelap. Insuisiensi vena ditandai dengan warna biru pada jabir, perfusi kapiler yang cepat, dan darah berwarna gelap yang keluar segera setelah jarum dicabut. Insuisiensi arteri dan vena memerlukan tindakan pembedahan segera.


Kegagalan jabir

Kesuksesan dari transfer jaringan dilaporkan mencapai 95-98%. Kegagalan yang disebabkan trombosis pembuluh darah ditemukan segera setelah operasi. Data Anderson yang dikutip Burkey et al melaporkan thrombosis vena (54%) lebih banyak terjadi dibandingkan trombosis arteri (20%). Mayoritas kegagalan anastomosis arteri terjadi dalam 24 jam pertama dan kegagalan vena baru terjadi kemudian. Semua sumbatan terjadi dalam tiga hari pertama.

Identifikasi masalah dan koreksi yang tepat dapat menyelamatkan jabir dengan cara mengurangi iskemia yang terjadi pada jaringan. Keberhasilan jabir setelah

dilakukan operasi untuk mengatasi iskemia yang terjadi berkisar antara 69-100% berdasarkan literatur. Trombosis pembuluh darah dapat dikurangi dengan pemberian antikoagulan perioperatif. Meskipun keunggulannya belum dapat dibuktikan dalam rekonstruksi mikrovaskular, kegunaannya dalam reimplantasi dan amputasi sudah dibuktikan. Antikoagulan yang biasa digunakan adalah aspirin, dekstran, heparin, dan prednison. Anti koagulan ini berperan mencegah penumpukan trombosit dan pembekuan darah. Saat ini penggunaan aspirin diberikan sejak hari pertama pasca operasi dan berlanjut selama tiga minggu pada semua pasien dengan transfer jaringan bebas. Dekstran juga digunakan dalam 40-48 jam pertama pasca operasi. Penggunaan dekstran tergantung dari jenis jabir dan karakteristik pasien. Dekstran pada umumnya digunakan untuk jabir dengan pembuluh darah kecil, anastomosis yang sulit atau aliran pembuluh darah tidak sebaik yang diharapkan. Penggunaan dekstran dihindari atau dibatasi pada pasien dengan gangguan fungsi jantung dan anemia Karena dapat menyebabkan edema pulmoner dan penurunan hematokrit.


Follow up

Kunjungan pertama pasca operasi dimulai 1-2 minggu setelah pulang dari rumah sakit untuk dilakukan pemeriksaan terhadap jabir dan tandur kulit, melepas jahitan, evaluasi komplikasi pada daerah yang mendapatkan jabir, dan melepas nasogastric tube. Pasien dikonsulkan untuk terapi wicara, rehabilitasi medik, atau subspesialis lainnya yang terkait.

Diet oral diberikan setelah 2-3 minggu pulang dari rumah sakit. Operasi gigi untuk penggantian gigi atau implantasi dilakukan pada saat yang tepat.


Komplikasi

Komplikasi dapat dibedakan menjadi komplikasi daerah donor dan penerima. Komplikasi pada daerah donor jarang ditemukan. Namun, komplikasi yang dapat terjadi adalah sindrom kompartemen yang dapat dihindari dengan dilakukan pembalutan yang tidak terlalu ketat pada tungkai bawah. Komplikasi lainnya berupa iskemia pada kaki, instabilitas pergelangan kaki, keterbatasan pergerakan kaki, dan nyeri yang berkepanjangan. Penelitian Lee et al di Korea mendapatkan bahwa keterbatasan pergerakan kaki terjadi pada tiga bulan pertama dan tidak terdapat perubahan patologis pada daerah donor.


Kegagalan dari jabir dapat terjadi jika terjadi thrombosis arteri dan vena dan kongesti vena sehingga memerlukan tindakan pembedahan lebih lanjut untuk mengatasinya. Plate yang terpapar dan ekstrusi merupakan komplikasi yang jarang terjadi. Selain itu, dapat juga terjadi trismus yang diakibatkan manipulasi pembedahan dan/atau reseksi dari otot masticator dan gangguan pada mandibula.


Keuntungan dan kerugian

Keuntungan dari jabir bebas fibula adalah tersedianya tulang yang cukup untuk menutup berbagai defek dan adekuat untuk pemasangan implant gigi. Pengambilan jabir dilakukan dalam lingkungan dengan perdarahan yang minimal.


Kerugian dari jabir bebas fibula adalah kelemahan untuk melakukan fleksi pada ibu jari kaki, instabilitas, kekakuan dan nyeri pada pergelangan kaki, diperlukan tandur

kulit untuk menutup defek pada donor, risiko untuk terjadi iskemia pada kaki, dan keterbatasan panjang tulang fibula.


Kontraindikasi

Terdapat beberapa kontraindikasi dilakukannya jabir bebas fibula, diantaranya :

  1. Abnormalitas anatomi pembuluh darah pada tungkai bawah dapat menyebabkan kegagalan pengambilan jabir yang aman.

  2. Sirkulasi arteri peroneal yang dominan diakibatkan kelainan congenital tidak didapatkannya pembuluh darah tibialis anterior, kelainan ini sering disebut sebagai peroneus magnus dan merupakan penyuplai darah utama pada kaki. Pasien dengan peroneus magnus dan kelainan sirkulasi pada tungkai merupakan kontraindikasi dilakukannya transfer fibula.

  3. Pasien dengan trauma tungkai yang luas atau riwayat operasi tungkai sebelumnya.

  4. Pasien dengan diabetes dan edema perifer, sirkulasi dan penyembuhan yang buruk atau ulkus kutaneus.