Tim Penyusun
Prof. dr. Bambang Hermani, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.L.F.(K)
Prof. Dr. dr. Farhat, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)., M.Ked(ORL-HNS)
Prof. Dr. dr. Widodo Ario Kentjono, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)
Dr. dr. Achmad Chusnu Romdhoni, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)
Dr. dr. Agung Dinasti Permana, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)., M.Kes
Dr. dr. Camelia Herdini, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)., M.Kes
Dr. dr. Fauziah Fardizza, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.L.F.(K), FICS
Dr. dr. Imam Prabowo, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)
Dr. dr. Nani Iriani Djufri, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)
Dr. dr. Nova Audrey Luetta Pieter, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)., FICS
Dr. dr. Sagung Rai Indrasari, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)., M.Kes
Dr. dr. Soehartono, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)., FICS
Dr. dr. Sukri Rahman, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)., FACS
Dr. dr. Yussy Afriani Dewi, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)., M.Kes., FICS
dr. Marlinda Adham, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)., PhD., FACS
dr. Ade Burhanudin, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)., M.Kes
dr. Benny Kurnia, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)
dr. Chippy Ahwil, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)., M.Kes
dr. Denny Satria Utama, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)., M.Si.Med., FICS
dr. Eriza, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)
dr. Fadhlia, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)., M.Ked(ORL-HNS)
dr. Hamsu Kadriyan, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)., M.Kes
dr. Ibnu Harris Fadillah, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)
dr. I Gde Ardika Nuaba, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)., FICS
dr. Ika Dewi Mayangsari, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)
dr. Ita Wahyuni, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)
dr. Izry Naomi Lumbantobing, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)., M.Ked (ORL-HNS)., FICS
dr. Ni Ketut Susilawati, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)., FICS
dr. Slamet Suwondo, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)
dr. Willy Yusmawan, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)., M.Si.Med
dr. Yulvina, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K)
dr. Kartika Sudrajat Budi Setyawan, Sp.T.H.T.B.K.L
dr. Karisma Prameswari Patria Mahatmi, Sp.T.H.T.B.K.L
KATA PENGANTAR
Assalammu’alaikum Wr.Wb.
Alhamdulillahirobbil ‘alamin, saya panjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allah swt yang senantiasa melimpahkan segala rahmat, taufik dan hidayah-Nya sehingga dapat menyelesaikan penyusun Buku Modul Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher (IK THTBKL) edisi ketiga ini.
Modul ini disusun untuk memenuhi kebutuhan peserta pendidikan dokter spesialis THTBKL yang merupakan penyempurnaan edisi kedua, pemenambahan beberapa materi sesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan serta ketrampilan baru guna meningkatlan mutu proses pendidikan dokter spesialis THTBKL di Indonesia
Selaras dengan dimulainya program fellowship serta persiapan pembukaan program pendidikan Subspesialisasi THTBKL, modul Pendidikan dokter spesialis THTBKL ini disusun agar pendidikan spesialis THTBKL terjaga menjadi satu kesatuan yang mendalam antara ketiga program pendidikan tersebut. Selain itu Buku Modul ini dapat menjadi pedoman untuk melaksanakan pendidikan secara terstruktur dan berkualitas, dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, monitoring hingga proses evaluasi secara berkesinambungan. Hal tersebut bertujuan agar lulusan peserta program studi IK THTBKL mempunyai kompetensi akademik dan kompetensi profesional unggul seiring berkembangnya jaman.
Pada era baru ini para lulusan Dokter Spesialis THTBKL diharapkan memiliki kemampuan akademik professional bertaraf internasional, inovatif dan tangguh yang mampu berkiprah secara global sesuai Visi dan Misi Pendidikan Spesialis THTBKL. Semoga dengan terbitnya Buku Modul ketiga ini program pendidikan dokter spesialis THTBKL semakin maju dan menghasilkan pencapaian lulusan yang unggul, kompeten dan berkualitas.
Apresiasi kami yang setinggi-tingginya kepada seluruh teman sejawat, Profesor Dokter, atas komitmen, dedikasi, serta pemikiran dan waktu yang telah diberikan terutama dalam suasana pandemi Covid-19. Keterbatasan jarak dan keadaan Pandemi telah membuka peluang pengembangan komunikasi, diskusi dan ujicoba modul ketiga, secara digital (TIK), sehingga kita dapat berkoordinasi, produktif menyelesaikan buku modul Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala dan Leher edisi ketiga ini.
Semoga modul ini dapat bermanfaat bagi kita semua, khususnya para peserta didik dan semua yang kita lakukan selalu mendapat ridha Allah SWT.
Wassalammu’alaikum Wr.Wb.
Ketua Umum Kolegium IK THTBKL Indonesia
Dr. dr. Trimartani, Sp T.H.T.B.K.L., F.P.R(K)., MARS
VII. ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER | |
VII.1 | PRINSIP DASAR ONKOLOGI KEPALA LEHER |
VII.2 | PRINSIP RADIOTERAPI KEGANASAN KEPALA LEHER |
VII.3 | PRINSIP DASAR KEMOTERAPI DAN TERAPI SISTEMIK LAINNYA PADA KEGANASAN KEPALA LEHER |
VII.4 | NEOPLASMA RONGGA MULUT |
VII.5 | TUMOR VASKULER KEPALA LEHER |
VII.6 | KARSINOMA NASOFARING |
VII.7 | NEOPLASMA OROFARING |
VII.8 | NEOPLASMA HIDUNG DAN SINUS PARANASAL |
VII.9 | LIMFOMA KEPALA LEHER |
VII.10 | NEOPLASMA KELENJAR LIUR DAN RUANG PARAFARING |
VII.11 | NEOPLASMA HIPOFARING |
VII.12 | NEOPLASMA KELENJAR TIROID DAN PARATIROID |
VII.13 | NEOPLASMA ESOFAGUS 1/3 PROKSIMAL |
VII.14 | KARSINOMA LARING |
VII.15 | KARSINOMA LEHER |
VII.16 | NEOPLASMA JINAK LEHER |
VII.17 | NEOPLASMA KULIT PADA KEPALA LEHER |
VII.18 | NEOPLASMA TRAKEOBRONKIAL |
VII.19 | NEOPLASMA TULANG DAN LESI ODONTOGENIK SEKITAR WAJAH |
VII.20 | KARSINOMA TELINGA |
VII.21 | SARKOMA DAN TUMOR JARINGAN LUNAK KEPALA LEHER |
DAFTAR ISI
MODUL VII.1
ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER: PRINSIP DASAR ONKOLOGI KEPALA LEHER
WAKTU
Proses Pengembangan Kompetensi | Alokasi Waktu |
Sesi di dalam kelas Sesi dengan fasilitasi Pembimbing | Waktu: 2 x 50 menit (classroom session) 1 x 60 menit (coaching session) |
PERSIAPAN SESI
Materi presentasi:
Power point
LCD
Kasus: -
Sarana dan alat bantu latih: (disesuaikan dengan pencapaian kompetensi):
Penuntun belajar (learning guide): terlampir
Tempat belajar (training setting): ruang kuliah
Komputer/laptop
Infocus
REFERENSI
Guo T. Califano JA. Molecular Biology and Immunology of Head and Neck Cancer. Surg Oncol Clin N Am.2015;24:397-407
Grivennikov SI, Greten FR, Karin M. Immunity, inflammation, and cancer. Cell. 2010;140(6):883-99.
Vaezi A, Grandis JR: Head and Neck Tumor Biology. In: BJ Bailey, et al., eds. Head and Neck Surgery-Otolaryngology.Vol 2. 5th Ed. Philadelphia; Lippincott Williams & Wilkins: 2014. 5 ed. p. 1645-71
Issaeva N, Yarbrough W.Tumor Biology of Head and Neck Cancer. In: Chan Y, Goddaed JC. Editors. K.J.Lee's Essential Otolaryngology Head and Neck Surgery. 11th (ed). United States: McGraw-Hill education. 2016. p. 740-45
KOMPETENSI
Pengetahuan
Setelah mengikuti sesi ini peserta mampu memahami proses imunologi tumor.
Keterampilan
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil menjelaskan tentang:
Karakteristik dan perubahan sel pada tumor
Profil antigen yang membedakan antara jaringan normal dan jaringan tumor
Pengaruh imunitas tubuh terhadap sel tumor
Faktor imunologi yang berperan dalam terjadinya tumor
GAMBARAN UMUM
Imunologi tumor adalah interaksi antara sel-sel yang berpengaruh terhadap sistem imun dengan sel-sel tumor. Imunologi tumor merupakan interdisiplin ilmu, cabang dari biologi yang mempelajari mengenai pengaruh sistem imun terhadap progresifitas dan perkembangan sel kanker. Aplikasi dari ilmu ini adalah imunoterapi dan kemoterapi pada keganasan.
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan pembelajaran umum
Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan dapat memahami respons imun tubuh terhadap tumor terutama di daerah kepala dan leher.
Tujuan pembelajaran khusus
Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan mampu untuk:
Mengetahui karakteristik dan perubahan sel pada tumor (tingkat kompetensi K2, A2)
Mengetahui profil antigen yang membedakan antara jaringan normal dan jaringan tumor (tingkat kompetensi K2, A2)
Mengetahui pengaruh imunitas tubuh terhadap (tingkat kompetensi K2, A2) sel tumor
Mengetahui faktor imunologi yang berperan dalam terjadinya tumor (tingkat kompetensi K2, A2)
METODE PEMBELAJARAN
Tujuan 1. Mengetahui karakteristik dan perubahan sel pada tumor.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Referat atau
Mini lecture atau
Harus diketahui:
Karakteristik sel tumor
Perubahan sel pada tumor
Tujuan 2. Mengetahui profil antigen yang membedakan antara jaringan normal dan jaringan tumor.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Referat atau
Mini Lecture atau
Harus diketahui:
Profil antigen pada jaringan normal dan jaringan tumor
Tujuan 3. Mengetahui pengaruh imunitas tubuh terhadap sel tumor
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Referat atau
Mini Lecture
Harus diketahui:
Pengaruh imunitas tubuh terhadap sel tumor
Tujuan 5. Mengetahui faktor imunologi yang berperan dalam terjadinya tumor Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Referat
Mini Lecture
Harus diketahui:
Faktor imunologi yang berperan dalam terjadinya tumor
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pretest dalam bentuk essay sesuai dengan tingkat masa pendidikan, yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada.
Selanjutnya dilakukan small group discussion bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar.
Self assesment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar.
Pendidik/ fasilitas:
Penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi
Kriteria penilaian keseluruhan : cakap/ tidak cakap/ lalai
Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education)
Pencapaian pembelajaran:
Ujian akhir stase, setiap divisi / unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan T.H.T.K.L lanjut oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L.
Ujian akhir dilakukan pada akhir pendidikan oleh Kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Kuesioner sebelum pembelajaran
Soal:
Siklus sel:
Setelah mitosis, sel memasuki fase G2, yaitu fase dimana sel sangat aktif tetapi tidak mensintesis DNA.
Pada fase G0/G1 kandungan DNA N (haploid).
Siklus sel berlajut ke fase M, dimana terjadi sintesis DNA.
Pada fase G2, sel akan membelah diri menjadi 2 sel diploid.
Waktu yang diperlukan untuk satu siklus sel terjadi pada fase M.
Jawaban: D
Sifat umum sel kanker:
Dapat tumbuh tetapi memerlukan rangsangan eksogen
Sensitif terhadap sinyal anti pertumbuhan
Mempunyai kemampuan apoptosis yang menurun
Mempunyai kemampuan proliferasi yang tidak terbatas
Tidak dapat menghindar dari sistem imun Jawaban: C
Berbagai proses yang bertanggung jawab atas perubahan proto-onkogen menjadi onkogen adalah:
Aktivasi akibat duplikasi, transduksi, dan penyisipan retrovirus
Aktivasi akibat translokasi kromosom
Aktivasi akibat sintesis DNA
Aktivasi akibat perubahan ekspresi gen
Aktivasi akibat perubahan struktur protein Jawaban: B
Kuesioner tengah pembelajaran
Soal :
Faktor pertumbuhan yang mempunyai potensi onkogenik adalah:
Interleukin 4
TGF
EGFR
TGF
Wnt-3
Jawaban: B
Yang termasuk onkogen pada karsinoma sel skuamosa kepala dan leher adalah?
PTEN
SMAD 4
FHIT
P16
EGFR
Jawaban: E
Adanya peningkatan berlebihan BcL-2 dan BcL-X dapat mengakibatkan ?
Penurunan apoptosis sel
Peningkatan berlebihan p53
Proliferasi vaskular
Peningkatkan sel kanker
Jawaban: A
Kuesioner akhir pembelajaran
Soal:
Imunitas seluler:
Fungsi penting dari sel NK adalah sebagai pro tumor
TGF yang mengawali apoptosis
Tumor dapat mengekspresikan antigen dan memicu CTL spesifik yang dapat menghancurkan tumor itu sendiri
Limfosit yang berikatan dengan self-antigen tidak mengalami apoptosis
Antibodi membentuk kompleks imun yang mencegah sitotoksisitas sel T Jawaban: C
Sel imun yang berperan dalam terapi keganasan adalah:
Neutrofil
Limfosit B
Monosit
Makrofag
Basofil Jawaban: D
Mekanisme escape:
Supresi terhadap sel-sel
Apoptosis sel efektor
Merangsang terbentuknya sel B
Menurunkan angiogenesis
Imunosupresi ada lingkungan di luar tumor Jawaban: B
MATERI PRESENTASI
Slide 1-2: Judul dan Imunologi tumor
Slide 3: Karakteristik tumor
Slide 4 : Perubahan sel tumor
Slide 5: Faktor-faktor yang berperan dalam respon imunologi pada tumor
Slide 6: Sel imun yang berperan
Slide 7: Profil antigen tumor dan jaringan normal
Slide 8 : Peran sistem imun terhadap tumor
MATERI BAKU
Imunologi Tumor
Sistem imun adalah sistem perlindungan dari pengaruh luar biologis yang dilakukan oleh sel dan organ pada suatu organisme. Jika sistem kekebalan bekerja dengan benar, sistem ini akan melindungi tubuh terhadap infeksi bakteri dan virus serta menghancurkan sel kanker dan zat asing lain dalam tubuh. Sistem kekebalan juga memberikan pengawasan terhadap sel tumor.
Imunologi tumor merupakan cabang dari imunologi yang mempelajari interaksi antara sistem imunitas tubuh dan tumor. Bidang ini berkembang dari penelitian yang bertujuan untuk menemukan immunoterapi tumor yang inovatif untuk mengobati dan menghambat perkembangan penyakit. Respons imun, termasuk pengenalan terhadap antigen - tumor tertentu, adalah suatu pengetahuan yang diperoleh untuk mendorong perkembangan terapi spesifik (vaksin dan terapi antibodi) dan petanda tumor berbasis tes diagnostik.
Fungsi sistem imun adalah fungsi protektif terhadap tumor yang mempunyai peran:
Melindungi individu dari perkembangan tumor yang diinduksi virus dengan mengeliminasi atau menekan virus tersebut.
Mengeliminasi patogen dan meredakan inflamasi secepatnya sehingga dapat mencegah terbentuknya lingkungan inflamasi yang kondusif untuk perkembangan tumor.
Mengidentifikasi secara spesifik dan mengeliminasi sel tumor berdasarkan ekspresi antigen atau molekul spesifik tumor berdasarkan ekspresi antigen atau molekul spesifik tumor yang terbentuk akibat perubahan sel yang menjadi ganas. Peran ini disebut sebagai immune surveillance.
Banyak tumor ganas yang tetap bisa tumbuh pada individu yang imunokompeten karena immune surveillance terhadap tumor ganas ini relative tidak efektif. Sistem imun pada keadaan ini juga berfungsi menyeleksi varian sel tumor dengan imunogenitas rendah yang tidak dikenal oleh sistem imun sehingga tumor berkembang melalui mekanisme escape atau menghindari pengenalan dan eliminasi. Perkembangan tumor dipengaruhi oleh banyak faktor dan umumnya merupakan interaksi antara faktor gen dan lingkungan, khususnya lingkungan mikro sekitar
tumor.
Faktor Genetik dan Epigenetik
Proliferasi dan maturase atau diferensiasi sel normal diatur oleh sejumlah proto- onkogen yang merangsang pertumbuhan dan dan berbagai anti onkogen atau gen supresor yang menghambat pertumbuhan.
Perubahan genetik merujuk pada pewarisan informasi atas perubahan sekuen DNA, selain itu terdapat mekanisme epigenetik. Perubahan epigenetik merujuk pada perubahan fungsi gen tanpa disertai perubahan sekuen DNA.
Perubahan epigenetik merupakan perubahan/ gangguan transkripsi gen yang tidak disebabkan perubahan sekuen DNA. Tetapi berdasarkan variasi struktur kromatin. Berbeda dengan mutasi (perubahan sekuen DNA) yang ireversibel, perubahan epigenetik ini bersifat reversibel dan stabil selama pembelahan sel dan dapat diwariskan pada anak.
Faktor Lingkungan
Respons inflamasi dapat meningkatkan angiogenesis, promosi perkembangan, dan penyebaran tumor, menyebabkan imunosupresi lokal dan instabilitas genomik. Respons inflamasi memegang peran penentu dalam berbagai stadium perkembangan tumor, mulai dari inisiasi, promosi, konversi maligna, invasi, dan metastasis.
Lingkungan mikro tumor meningkatkan laju mutase dan proliferasi. Hubungan inflamasi dengan sel kanker bukan hubungan satu arah. Kerusakan DNA dalam sel kanker dapat berakibat inflamasi makin berat dan mempromosikan tumorigenesis. Reactive Oxygen Species (ROS) dan Reactive Nitrogen Intermediate (RNI) yang dihasilkan oleh sel inflamatori menyebabkan mutase dalam sel yang berdekatan. Sitokin yang diproduksi oleh sel inflamasi dapat meningkatkan kadar ROS dan RNI pada sel premaligna. Inflamasi dapat menyebabkan perubahan epigenetik dan meningkatkan tumorigenesis.
Peran Inflamasi dalam Inisiasi dan Promosi Tumor
Sitokin yang diproduksi oleh tumor infiltrating lymphocyte (TIL) mengaktifkan faktor transkripsi yaitu nuclear factor kappa-beta (NF-B) dan signal transducer and activator of transcription 3 (STAT3) dalam sel premaligna untuk mengendalikan proses pro-tumorigenetik termasuk survival, proliferasi, pertumbuhan, angiogenesis, dan invasi. Kedua faktor tersebut menginduksi produksi kemokin yang menarik sel imun/sel inflamasi tambahan untuk mempertahankan inflamasi terkait tumor.
Adanya keganasan di dalam tubuh manusia akan memicu respons imun. Respons imun yang muncul dapat berupa respons imun alami (inat) dan respons imun adaptif. Kedua respons imun tersebut dapat berupa selular dan humoral. Pada respons imun inat, respons yang muncul adalah datangnya sel-sel inflamasi ke tempat terjadinya keganasan, seperti sel NK, makrofag, granulosit, sel T non-MHC, dan sel T gamma/delta. Semua sel tersebut bersifat efektor dan berfungsi dalam membunuh sel- sel ganas.
Pada respons imun adaptif, diperantarai oleh sel T. Sel T akan mengenali antigen yang dipresentasikan oleh sel APC. Antigen tersebut telah berikatan dengan molekul MHC-self. Sel tumor dapat bertindak sebagai APC tetapi molekul MHC yang dipresentasikannya lemah. Sel T yang berperan pada imunitas terhadap keganasan terutama adalah sel T-CD8 sebagai efektor dengan mengenali antigen yang berikatan dengan molekul MHC kelas I dan sel T-CD4 yang berfungsi sebagai perantara respons imun melalui molekul MHC kelas II.
Respons imun terhadap keganasan terjadi secara lokal-regional pada tempat tumor tersebut berada dan juga secara sistemik. Pada respons imun lokal-regional terutama dilakukan oleh TIL (tumor infiltating limphocytes) sedangkan respons imun sistemik biasanya ditentukan melalui pemeriksaan sel-sel di sirkulasi atau dengan cara delayed- type hypersensitivity.
Proses Imunostimulasi dan Imunosupresi Dalam Lingkungan MikroTumor
Pada gambar diatas memperlihatkan dua kekuatan dalam lingkungan mikro yaitu stimulasi dan supresi yang mempengaruhi perkembangan tumor. Antigen tumor dan produk tumor menarik sel dendritik ke lokasi tumor. Sel dendritik menangkap antigen
tumor berubah menjadi sel dendritik matur yang menghasilkan IL-12 dan merangsang sel CD4+/Th1 untuk memproduksi IFN-.Sel ini membantu ekspansi CD8+ yang dapat menghancurkan sel tumor melalui granzyme B dan perforin yang diproduksinya. Di lain pihak antigen dan produk tumor mempromosikan maturasi sel dendritik lain, menghasilkan sitokin proinflamatorik IL-6 dan TNF-a. Sel DC ini membantu pembentukan sel CD4+/Th2 yang memproduksi IL-4 dan IL-3 mengakibatkan penyingkiran tumor tidak efektif. Lingkungan imunosupresi ini juga mempromosikan pembentukan sel Treg, akumulasi makrofag, dan MDSC.
Antigen Tumor
Antigen pada tumor yang dapat memicu terjadinya respons imun dapat dibagi menjadi dua, yaitu Tumor Specific Antigen (TSA) yang hanya dimiliki oleh sel tumor dan Tumor-associated antigen (TAA) dapat dimiliki oleh sel tumor maupun sel tubuh yang normal.
Tumor Specific Antigen merupakan antigen spesifik yang dimiliki oleh sel tumor. Antigen ini hanya dimiliki oleh sel tumor tertentu dan tidak sama dengan sel tumor yang lain walaupun diberikan stimulus karsinogen yang sama bahkan pada individu yang sama. Pengenalan TSA ini terutama diperantarai oleh MHC kelas I. Dengan dipresentasikannya antigen tersebut melalui molekul MHC I, maka akan dikenali oleh sel T-CD8+ yang akan memicu terjadinya proses sitotoksik. Pengenalan ini juga sifatnya sangat spesifik untuk jenis antigen tertentu.
Tumor-associated Antigen, dimiliki pula oleh sel-sel normal tertentu. TAA merupakan protein self yang normal, sehingga TAA tidak akan memicu respons imun. Dalam hal ini kepentingan TAA dalam reaksi penolakan tumor tidak terlalu berperan, akan tetapi terdeteksinya TAA ini sangat berguna dalam penegakan diagnosis dan antibodi terhadap TAA yang dibentuk juga berguna dalam imunoterapi terhadap tumor.
TAA dibagi menjadi 3 kategori:
Tumor-associated carbohydrate antigen (TACA). Merupakan ekspresi dari bentuk abnormal glikoprotein dan glikolipid, contohnya pada antigen darah dan musin epitel. Hal ini terjadi akibat gagalnya proses glikosilasi pada sel.
Antigen Onkofetal, atau disebut juga antigen embrionik. Umumnya diekspresikan oleh jaringan embional tetapi tidak pada jaringan normal yang matur. Contoh dari antigen ini adalah alfa-feto-protein (AFP) dan karsinoembrionik antigen (CEA).
Differentiation antigen. Merupakan antigen yang dipresentasikan selama masa diferensiasi suatu sel. Pada sel tumor, antigen ini muncul sebagai tanda pada tahap tersebut diferensiasi sel itu terhenti. Contoh pada sel leukemia dan limfoma terdapat antigen CALLA (CD10).
Mekanisme Efektor untuk Melawan Tumor
Limfosit T
Sel T sitotoksik (CTL) menghasilkan respons imun antitumor yang efektif in vitro. Sel efektor yang berperan dalam mekanisme anti-tumor adalah sel T CD8+. Limfosit T yang menginfiltrasi jaringan tumor (tumor infiltrating lymphocytes/TILs) mengandung sel CTL yang mempunyai kemampuan melisiskan sel tumor. Sel T CD8+ menghambat pertumbuhan sel tumor melalui efek sitotoksik khususnya untuk sel tumor yang bermetastasis. Peran sel T CD4+ tidak bersifat sitotoksik bagi tumor, tetapi berperan dalam respons antitumor serta menyekresi
TNF dan IFN yang mampu meningkatkan ekrepsi molekul MHC kelas I dan sensitivitas tumor terhadap lisis oleh CTL.
Sel NK
Sel NK berfungsi sebagai immune surveillance sehingga terdapat pada lesi-lesi premaligna dan bukan untuk tumor yang sudah lanjut, kurangnya sitokin (IL-2) pada tumor yang terutama berperan dalam aktivasi sel NK, dan fungsi sel NK untuk memfasilitasi interaksi antara sel DC dan sel T untuk memicu sistem imun untuk melawan TAA.
Sel iNKT
Adalah subset limfosit T yang menjembatani imunitas bawaan dengan imunitas didapat. Sel ini dapat mengendalikan pertumbuhan tumor dengan cara membatasi atau menghambat Tumor Associated Macrophage (TAM).
Makrofag
Sel makrofag (CD14+) juga banyak ditemukan pada tumor di manusia, biasanya disebut sebagai TAM. Pada fungsi normal, makrofag berperan sebagai APC dan berguna dalam mengontrol infeksi. Akan tetapi pada tumor, makrofag diprogram untuk menghambat fungsi limfosit melalui pelepasan sitokin-sitokin, prostaglandin, atau Metabolit Reaktif Oksigen (ROM, reactive oxygen metabolites). Hal tersebut terjadi akibat aktivasi TAM tersebut oleh tumor. Sitokin yang dikeluarkan antara lain IL-10 yang akan menghambat respon inflamasi, sedangkan metabolit reaktif oksigen adalah anion superoksida dan hidrogen peroksida yang dapat menghambat fungsi TIL dan menghambat proses sitotoksik.
Sel Dendritik (DC)
Secara fenotip sel dendritik mempunyai antigen permukaan Lin- CD80+CD86+HLA-DR+, sangat banyak ditemukan pada tumor di manusia. Peran sel dendritik adalah untuk menangkap, memproses, dan mempresentasikan TAA kepada sel T. Sehingga sel T akan membentuk sel T efektor. Sel dendritik pada tumor (TADC, Tumor-associated Dendritic Cell), setelah terpapar oleh tumor akan mengalami apoptosis dan gangguan pada maturasinya. Hal ini disebabkan oleh adanya zat-zat yang berasal dari tumor (tumor derived factors), terutama gangliosida yang akan menghambat pembentukan dan fungsi dari sel dendritik. Efek gangliosida diperantarai oleh VEGF (vascular endothelial growth factor) yang dikenal sebagai faktor antidendropoeitik.
Immuno Editing
Lingkungan mikro tumor khususnya imunologiakan menyisakan sel tumor dengan imunogenitas rendah sehingga lebih tahan terhadap aktivitas supresi imun yang disebut immunoediting. Immunoediting memberi penekanan pada dua fungsi sistem imun yang berlawanan, yaitu fungsi protektif dan aktivitas mempromosikan terjadinya tumor. Tiga fase dalam immunoediting adalah fase eliminasi, fase equilibrium, dan fase escape.
Biologi Tumor Keganasan Kepala dan Leher
Analisis lanjut dari ekspresi dan alterasi gen dan protein telah menjelaskan bahwa alat ini penting untuk memperkirakan prognosis dan menentukan terapi yang sesuai untuk keganasan kepala dan leher. Upaya terbaru, Atlas Genomik Keganasan (TCGA), didukung oleh Institut Keganasan Nasional (NCI) telah menyediakan informasi mendetil mengenai defek gen yang umum dan pola ekspresi, seperti pola ekspresi protein yang ditemukan pada keganasan sel skuamosa kepala dan leher (HNSCC). Walaupun data yang
sama juga didapati pada beberapa tipe keganasan kelenjar ludah dan analisis molekuler keganasan tiroid secara cepat berkembang, kami membatasi diskusi hanya pada HNSCC. HNSCC karena HPV harus dipertimbangkan sebagai penyakit berbeda dari HNSCC akibat tembakau atau HNSCC sporadis yang terjadi pada non perokok. Secara klinis, HNSCC positif HPV (HPV+) memiliki survival yang lebih baik dibandingkan dengan HPV negatif (HPV-) yang terjadi pada kohort singkat dengan faktor risiko berbeda, dan memiliki sejumlah defek molekuler yang mengarahkan tumor. Oleh karena
perbedaan ini, HNSCC HPV- dan HPV+ akan dijelaskan secara terpisah.
Etiologi HNSCC yang tidak disebabkan HPV didorong oleh konsumsi tembakau. Karsinogen tembakau diperkirakan untuk mendorong perubahan genetik yang menyebabkan keganasan. Kejadian genetik umum atau khusus yang terlihat pada HNSCC HPV- dikelompokkan di bawah. Persentase daftar HNSCC HPV- tercantum sebagai berikut.
Tumor supresor (agen inaktivator)
P53: proliferasi, apoptosis, maintenans genom
Mutasi: 80%
CDKN2A (p16INK4a): proliferasi
Mutasi: 25%
Delesi: 32%
Metilasi: 32%
FAT1: migrasi, proliferasi
Mutasi: 25%
Delesi: 7%
NOTCH1: diferensiasi
Mutasi: 20%
CASP8: apoptosis
Mutasi 10% (terhubung dengan aktivasi HRAS)
Let-7c miRNA: diferensiasi
Copy number loss: 35%
Onkogen (agen aktivasi)
PK3CA: proliferasi, survival
Mutasi 19%
Amplifikasi: 20% (amplikon besar 3q26-ter, tidak jelas apabila targetnya PIK3CA)
11Q13: amplifikasi gen multipel 32%
CCND1 (cyclin D1): proliferasi
EMS1 (cortactin): migrasi, invasi, proliferasi
FADD: apoptosis (peranan sebagai onkogen dipertanyakan)
EGFR: proliferasi, survival
Amplifikasi: 12%
FGFR1: proliferasi, survival
Amplifikasi: 12%
HRAS: proliferasi, migrasi, survival Mutasi: 5% (terhubung dengan mutasi CASP8)
Sejumlah regio kromosom yang mengalami amplifikasi dan delesi dan gen yang terlibat adalah
Regio yang umum teramplifikasi
11q13: 32%
Gen teramplifikasi: cyclin D1, EMS1 (cortactin), FADD
3126-ter: 20%
Gen teramplifikasi: PIK3CA, p63, h-TERC, SOX2, lainnya
8q24: 14%
Gen teramplifikasi: POU5F1B (isoform fungsional OCT4)
7p11: 12%
Gen teramplifikasi: EGFR
8p11: 12%
Gen teramplifikasi: EGFR
Regio yang umumnya mengalami delesi
9p21: 32%
Gen terdelesi: CDKN2A
Jaras biologis Mayor yang terganggu pada HNSCC HPV - dan Alterasi Genetik yang Mendorong terjadinya Jaras Tersebut
Sejumlah penamaan gen yang umum dilambangkan sebagai m=mutasi, a=amplifikasi, d=delesi
Untuk amplifikasi/delesi, regio kromosom terlampir sebagai berikut (contoh, d:9p21 = delesi regio kromosom 9p21)
Proliferasi/siklus sel: 053 (m), CDKN2A (p16INK4a, m, d:9p21), CCND1 (cyclin D1, a:11q13), EMS1 (cortactin, a:11q13), EGFR (a:7p21), FGFR (a:8p11), FAT1 (m), PIK3CA (m, a:3q26-ter), HRAS (m)
Survival/apoptosis: p53 (m), PIK3CA (m, a:3q26-ter), HRAS (m), EGFR (a:7p11), FGFR1 (a:8p11), CASP8 (m)
Diferensiasi: NOTCH (m), p63 (a:3q26-ter),
Migrasi: EMS1 (a:11q13), HRAS (m), FAT1 (m)
HNSCC yang disebabkan HPV sangat berbeda dari HNSCC HPV- secara epidemiologi, biologi, dan klinis. Perbedaan molekuler yang memberakan HPV+ dan HPV- meliputi profil ekspresi ge dan mutasi somatik ang lebih sedikit dan abnormalitas kromosom pada HNSCC HPV+. Oleh karena onkoprotein HPV E6 dan E7 menginaktivasi p53 dan Rb, HNSCC HPV+ selalu menyimpan p53 wild type dan mengekspresikan CDKN2A dalam jumlah banyak yang mengkode p16INK4a - regulator yang meningkatkan Rb. Terlepas dari status HPVnya, HNSCC mendemonstrasikan kehilangan 3p dan 8p serta mengalami peningkatkan regio kromosom 3q dan 8q, menyebabkan patogenesis molekular.
Keadaan genetik yang ditemukan pada HNSCC HPV+ adalah sebagai berikut
Tumor Supresor (kejadian inaktivasi)
NOTCH1: diferensiasi
Mutasi 17%
TRAF3: imunitas
Delesi fokal dan mutasi titik 20%
Let-7c miRNA: diferensiasi
Copy number loss: 17%
Onkogen (kejadian aktivasi)
PIK3CA: proliferasi, survival
Mutasi 37%
Amplifikasi 27% (amplikon besar pada 3q, tidak jelas apakah PIK3CA menjadi target)
E2F1: proliferasi, survival
Amplifikasi fokal 19%
FGFR3: angiogenesis, migrasi sel
Jaras biologis Mayor yang terganggu pada HNSCC HPV + dan Alterasi Genetik yang Mendorong terjadinya Jaras Tersebut
Sejumlah penamaan gen yang umum dilambangkan sebagai m=mutasi, a=amplifikasi, d=delesi
Proliferasi/siklus sel: P53 (inaktivasi oleh HPV E6), Rb (inaktivasi oleh HPV E7), PIK3CA (m, a:3q26-ter), E2F1 (fokal a)
Survival/apoptosis: PIK3CA (m, a:3q26-ter), FGFR3 (FGFR3-TACC3 f)
Imunitas: TRAF3 (d dan m fokal) Diferensiasi: NOTCH1 (m), p63 (a:3q26-ter)
Perbedaan antara Ekspresi Protein dan Aktivasi HNSCC HPV+ dan HPV-; RPPA
Dengan menggunakan reverse phase protein array (RPPA), kami mengevaluasi ekspresi 137 protein total dan terfosforilasi in 29 HPV+ dan 12 HPV- dari HNSCC terkumpul. 33 protein dan 8 fosfoprotein diekspresikan pada tumer dengan perilaku bergantung HPV. Empat jaras mayor yang membedakan HNSCC HPV+ dan HPV- meliputi: (1) perbaikan DNA, (2) siklus sel, (3) apoptosis, dan (4) PI3K/AKT/MTOR.
Perbaikan DNA merupakan kategori fungsional terbesar dari protein terekspresi berbeda (12 dari 41 protein terekspresi berbeda (29%), meliputi PARP1, BRCA2, PCNA, dan XRCC1) dengan tingkat protein total teregulasi naik pada tumor HPV+ dibandingkan HPV-
Siklus sel: oleh karena regulasi turun Rb yang dipengaruhi oleh HPV E7, yang melepaskan aktivitas transkripsional E2F1, tumor HPV+ mengekspresikan Rb lebih rendah dan peningkatanS dan G2/M cyclins E1 dan B1. Di lain pihak, HNSCC HPV- mengekspresikan cyclin D1 yang lebih tinggi yang menyebabkan kadar fosfo-Rb yang juga meningkat
Peningkatan markah apoptosis, meliputi pembelahan caspase 3 dan 7, ditemukan pada tumor HPV+
PI3K/AKT/mTOR: mutan PIK3CA pada tumor HPV+ lebih mengaktivasi mTOR, namun tidak pada jaras AKT. Target AKT langsung, meliputi fosfo-Raf, fosfoGSK3B dan fosfo-TSC2 diekspresikan dengan kadar lebih rendah pada tumor HPV+
Deskripsi Singkat Mekasnisme Mayor pada HNSCC HPV + dan HPV-
P53 merupakan satu dari dua supresor yang umum pada keganasan manusia, dan p53 fungsinya harus terganggu pada beberapa atau hampir seluruh kenker. P53 berfungsi sebagai respons terhadap sinyal proliferasi abnormal, kerusakan DNA, infeksi virus, dan stres seluler lain yang menyebabkan terhambatnya siklus sel atau kematian sel. HNSCC HPV- menginaktivasi p53 melalui mutasi pada mayoritas kasus, dimana tumor didorong oleh HPV mengekspresikan E6 onkoprotein viral untuk mendegradasi dan inaktivasi p53. P53 menghambat survival dan proliferasi dan merupakan efektor dari respon kerusakan DNA
Retinoblastoma (Rb) merupakan supresor tumor umum lain pada keganasan manusia, dan seperti p53 ia berfungsi secara universal menghambat tumor. Tidak seperti p53, terdapat beberapa mutasi Rb pada HNSCC; namun demikian, Rb dihabat pada hampir seluruh HNSCC HPV- melalui kehilangan CDKN2A (p16) atau amplifikasi CCND1 (Cyclin D1). Tumor HPV+ menginaktivasi Rb melalui ekspresi onkoprotein viral E7. Rb adalah regulator mayor dari siklus sel dan proliferasi.
CDKN2A (p16INK4a) berikatan dan menghambat cyclin-dependent kinase 4 dan 6 (CDK4/CDK6) mencegah fosforilasi dan hambatan Rb. Kehilangan p16INK4a menyebabkan CDK4 atau CDK6 (ihat dibawah) menginaktivasi Rb, yang mempromosikan proliferasi. P16 diekspresikan lebih banyak pada HNSCC HPV+ karena inaktivasi Rb oleh HPVE7
CCND1 (Cyclin D1) berikatan dengan CDK4 atau CDK6 mengaktivasi mereka untuk fosforilasi dan inaktivasi Rb. Keluarga Cyclin D1, cyclin D2, juga diamplifikasi dalam persentase rendah HNSCC (3%). Ekspresi berlebih dari cyclin D1 menghambat Rb, mempromosi proliferasi
EF1 adalah faktor transkripsi yang dihambat oleh Rb, yang menghambat masuknya faktor transkripsi ini ke nukleus. Di dalam nukleus, E2F1 merupakan faktor transkripsi yang menterjemahkan banyak gen untuk mendukung proliferasi. E2F1 diamplifikasi pada 19% tumor HPV+.
HPV16 E6 onkoprotein dalam kombinasi dengan protein sel, E6-associated protein, mengubikuinasi p53 menyebabkan degradasi, sehingga menghambat apoptosis dan menyebabkan proliferasi tidak terkontrol
HPV16 E7 onkoprotein menginaktivasi Rb melalui ikatan langsung, ubikuinasi, dan degradasi bergantung proteasom, menyebabkan terlepasnya dan teraktivasinya faktor transkripsi E2F mendorong ekspresi gen fase S, menyebabkan deregulasi siklus sel dan promosi replikasi sel
FAT1 adalah protokaderin yang menghambat sinyal WNT dengan menghambat B-katenin. Mutasi FAT1 menyebabkan sinyal B-katenin yang mendorong proliferasi dan migrasi serta memiliki peran dalam menyokong sel punca
NOTCH1 merupakan reseptor transmembran yang memberi sinyal setelah berkatan dengan ligan Delta like-1 dan Jagged-1. Untuk sinyal, NOTCH dibelah oleh y-sekretase melepaskan bagian domain intrasel Notch yang bertranslokasi ke nukleus. NOTCH1 dapat berfungsi sebagai onkogen atau tumor supresor bergantung pada konteks sel. Pada HNSCC, mutasi diinaktivasi menandkan
bahwa NOTCH1 berperan sebagai tumor supresor. Sinyal NOTCH berperan dalam diferensiasi sel.
EGFR (epidermal growth factor receptor) adalah reseptor tirosin kinase yang diaktivasi melalui ikatan epidermal growth factor atau ligan lain. Keluarga EGFR meliputi HER2 yang diamplifikasi dalam jumlah kecil HNSCC (3%). Sinyal melalui EGFR mendorong survival dan proliferasi
FGFR1 (fibroblast growth factor receptor 1) adalah reseptor tirosin kinase yang diaktivasi oleh ikatan dengan ligan fibroblast growth factor. Sinyal melalui FGFR1 mendorong survival dan proliferasi
FGFR3 (fibroblast growth factor 3) adalah reseptor tirosin kinase yang berperan dalam regulasi proliferasi sel dan apoptosis
PIK3CA adalah subunit katalis dari fosfoinositida 3-kinase yang mengubah fosfatidilinositol 4,5-bifosfat (PIP2) menjadi fosfatidilinositol3,4,5 tri-fosfat (PIP3). PTEN adalah supresor tumor yang mengkatalis konversi berlawanan dari PIP2 menjadi PIP2 dan tidak terjadi pada sejumlah kecil HNSCC. Aktivasi PIK3CA menyebabkan sinyal PI3K melalui AKT, mTOR, dan target lain untuk mempromosikan proliferasi dan survival
HRAS adalan onkogen yang diaktivasi dengan berikatan keGTP terstimulasi oleh sinyal dari reseptor tirosin kinase dan reseptor lain. Ras diinaktivasi oleh hidrolisis GTP menjadi GDP dan mutas mencegah inaktivasi ini. Sinyal HRAS melalui PI3K, RAF, dan MAPK, dan RALGDS untuk mendorong proliferasi dan survival
TRAF3 adalah keluarga faktor terasosiasi reseptor TNF (TRAF). Protein ini memiliki peran penting dalan aktivasi respon interferon tipe I melawan virus DNA; hal ini juga meregulasi negatif jaras NF-kB. Inaktivasi TRAF3 terjadi secara eksklusif pada HNSCC HPV+ yang menandakan mekanisme keluar dari respon anti-virus bawaan dan didapat
Let-7c microRNA (miRNA) adalah kandidat supresor tumor yang mengontrol proliferasi dan diferensiasi
DAFTAR ISI
MODUL VII.2
ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER: PRINSIP RADIOTERAPI KEGANASAN KEPALA LEHER
WAKTU
Proses Pengembangan Kompetensi | Alokasi Waktu |
Sesi di dalam kelas Sesi dengan fasilitasi pembimbing Sesi praktek dan pencapaian kompetensi | Waktu: 1 x 90 menit (classroom session) 1 x 60 menit (coaching session) 12 jam (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi presentasi:Prinsip radioterapi keganasan kepala leher
Power point
video
Kasus: -
Sarana dan alat bantu latih: (disesuaikan dengan pencapaian kompetensi):
Penuntun belajar (learning guide): terlampir
Tempat belajar (training setting): ruang radioterapi, ruang kuliah
Komputer/laptop
Infocus
REFERENSI
Vaezi A, Grandis JR: Head and Neck Tumor Biology. In: BJ Bailey, et al., eds. Head and Neck Surgery-Otolaryngology.Vol 2. 5th Ed. Philadelphia; Lippincott Williams & Wilkins: 2014. 5 ed. p. 1646-66
Duvvuri U, Kubicek GJ: Principles of Radiation Oncology. In: BJ Bailey, et al., eds. Head and Neck Surgery-Otolaryngology.Vol 2. 5th Ed. Philadelphia; Lippincott Williams & Wilkins: 2014. 5 ed. p. 1682-9
Husain Z. Radiation Therapy for Head and Neck Cancer. In: Chan Y, Goddaed JC. Editors. K.J. Lee's Essential Otolaryngology Head and Neck Surgery. 11th (ed). United States: McGraw-Hill education. 2016. p. 733-39
Kimle RJ, Chera BS, Harari P. General Principles of Radiation Therapy for Cancer of the Head and Neck In: Myers J, Hanna E, Myers E, ed. Cancer of The Head and Neck. 5th ed. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2017. p. 1281-318
Shah J. Radiation Therapy. In: Shah J, ed. Head and neck surgery and oncology. 5th ed. Philadelphia: Elsevier Co; 2020. p. 815-32
KOMPETENSI
Pengetahuan
Setelah mengikuti sesi ini peserta mengetahui penatalaksanaan radioterapi pada pasien dengan keganasan di kepala leher.
Keterampilan
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil:
Mampu mengetahui prinsip dasar radioterapi untuk keganasan kepala dan leher
Mengetahui pemilihan penatalaksanaan dan penentuan dosis radioterapi
Mampu melakukan persiapan/perencanaan sebelum penatalaksanaan radioterapi
Mengetahui penentuan batas-batas lapangan radiasi
Mengetahui teknik dalam melakukan radioterapi
Mampu melakukan evaluasi terhadap respons radiasi
Mengetahui komplikasi radioterapi
Melakukan follow up selanjutnya
GAMBARAN UMUM
Radioterapi adalah tindakan medis menggunakan radiasi pengion, bertujuan untuk mematikan sel kanker sebanyak mungkin dan memelihara jaringan sehat di sekitar tumor agar tidak menderita kerusakan terlalu berat. Radiasi pada jaringan dapat menimbulkan ionisasi air dan elektrolit dari cairan tubuh baik intra maupun ekstraseluler, sehingga timbul ion H+ dan OH- yang sangat reaktif. Ion itu dapat bereaksi dengan molekul DNA dalam kromosom, sehingga dapat terjadi rantai ganda DNA pecah, perubahan cross-linkage dalam rantai DNA, perubahan base yang menyebabkan degenerasi atau kematian sel. Ada 3 cara utama pemberian radioterapi, yaitu radiasi eksterna, radiasi interna, dan intravena.
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan Pembelajaran Umum
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik trampil dalam:
Mengetahui prosedur radioterapi pada keganasan di kepala leher.
Tujuan Pembelajaran Khusus:
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk:
Mampu mengetahui prinsip dasar radioterapi untuk keganasan kepala dan leher (tingkat kompetensi K2, A2)
Mengetahui pemilihan penatalaksanaan dan penentuan dosis radioterapi (tingkat kompetensi K2, A2)
Mampu melakukan persiapan/perencanaan sebelum penatalaksanaan radioterapi (tingkat kompetensi K2, A2)
Mengetahui penentuan batas-batas lapangan radiasi (tingkat kompetensi K2, A2)
Mengetahui teknik dalam melakukan radioterapi (tingkat kompetensi K2, A2)
Mampu melakukan evaluasi terhadap responss radiasi (tingkat kompetensi K2, A2)
Mengetahui komplikasi radioterapi (tingkat kompetensi K2, A2)
Melakukan follow up selanjutnya (tingkat kompetensi K2, A2)
METODE PEMBELAJARAN
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan mempunyai kemampuan dasar untuk menentukan penatalaksanaan radioterapi pada keganasan di kepala leher.
Tujuan 1. Mampu mengetahui prinsip dasar radioterapi untuk keganasan kepala dan leher
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Small group discussion.
Peer assisted learning (PAL)
Bedside teaching.
Task based medical education.
Tujuan 2. Mengetahui pemilihan penatalaksanaan dan dosis radioterapi
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Small group discussion.
Peer assisted learning (PAL)
Bedside teaching.
Task based medical education.
Tujuan 3.Mampu melakukan persiapan/perencanaan penatalaksanaan radioterapi
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Small group discussion.
Peer assisted learning (PAL)
Bedside teaching.
Task based medical education.
Tujuan 4. Mengetahui penentuan batas-batas lapangan radiasi
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Small group discussion.
Peer assisted learning (PAL)
Bedside teaching.
Task based medical education.
Tujuan 5. Mengetahui teknik dalam melakukan radioterapi
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Small group discussion.
Peer assisted learning (PAL)
Bedside teaching.
Task based medical education.
Tujuan 6. Mampu melakukan evaluasi terhadap respons radiasi
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Small group discussion.
Peer assisted learning (PAL)
Bedside teaching.
Task based medical education
Tujuan 7. Mengetahui komplikasi radioterapi
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Small group discussion.
Peer assisted learning (PAL)
Bedside teaching.
Task based medical education
Tujuan 8. Melakukan follow up selanjutnya
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Small group discussion.
Peer assisted learning (PAL)
Bedside teaching.
Task based medical education
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pretest dalam bentuk essay sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengindentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri atas;
Prinsip dasar radioterapi untuk keganasan kepala dan leher
Jenis pemilihan penatalaksanaan dan dosis radioterapi
Langkah persiapan/perencanaan sebelum penatalaksanaan radioterapi
Menjelaskan cara penentuan batas-batas lapangan radiasi
Menjelaskan teknik dalam melakukan radioterapi
Menjelaskan evaluasi terhadap respons radiasi
Menjelaskan komplikasi radioterapi
Menjelaskan follow up pada pasien pasca radioterapi
Selanjutnya dilakukan small group discussion bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian.
Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
Self assesment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar.
Pendidik/ fasilitas:
Penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi
Kriteria penilaian keseluruhan : cakap/ tidak cakap/ lalai
Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education)
Pencapaian pembelajaran:
Ujian OSCE (K,P,A), dilakukan pada tahapan T.H.T.K.L dasar oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L
Ujian akhir stase, setiap divisi / unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan
T.H.T.K.L lanjut oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L.
Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan T.H.T.K.L lanjut oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L.
Ujian akhir profesi (kasus bedah), dilakukan pada akhir pendidikan oleh Kolegium I T.H.T.K.L
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Kuesioner meliputi:
Sebelum pembelajaran
Soal:
Apakah yang dimaksud dengan radioterapi?
Jawaban: Radioterapi adalah tindakan medis menggunakan radiasi pengion, bertujuan untuk mematikan sel-sel tumor sebanyak mungkin dan memelihara jaringan sehat di sekitar tumor agar tidak menderita kerusakan terlalu berat.
Apa saja jenis sinar yang dipakai untuk radioterapi?
Jawaban: Jenis sinar yang dipakai untuk radioterapi adalah (1). Sinar Alfa yang merupakan sinar korpuskuler atau partikel dari inti atom. Inti atom terdiri dari proton dan neutron. Sinar ini tidak dapat menembus kulit dan tidak banyak dipakai dalam radioterapi. (2) Sinar Beta yang merupakan sinar elektron. Sinar ini dipancarkan oleh zat radioaktif yang mempunyai energi rendah dengan daya tembusnya pada kulit terbatas, 3-5 mm, sehingga digunakan untuk terapi lesi yang superfisial. (3). Sinar Gamma yang merupakan sinar elektromagnetik atau foton. Sinar ini dapat menembus tubuh, dimana daya tembusnya tergantung dari besar energi yang menimbulkan sinar itu. Makin tinggi energinya atau makin tinggi voltasenya, makin besar daya tembusnya dan makin dalam letak dosis maksimalnya.
Apa satuan dari dosis radioterapi?
Jawaban: Pada kongres Radiologi Internasional ke VIII tahun 1953, ditetapkan RAD (Radiation Absorbed Dose) sebagai banyaknya energi yang di serap per unit jaringan. Saat ini unit Sistem Internasional (SI) dari dosis yang di absorpsi telah diubah menjadi Gray (Gy) dan satuan yang sering dipakai adalah satuan centi gray (cGy). 1 Gy = 100 rad dan 1 rad = 1 cGy = 10-2Gy.
Tengah pembelajaran
Soal:
Persiapan apa saja yang perlu dilakukan sebelum pemberian radioterapi? Jawaban: Sebelum diberi terapi radiasi, dibuat penentuan stadium klinik, diagnosis histopatologik, sekaligus ditentukan tujuan radiasi, kuratif atau paliatif. Penderita juga dipersiapkan secara mental dan fisik. Pada penderita, bila perlu juga keluarganya diberikan keterangan mengenai perlunya tindakan ini, tujuan pengobatan, efek samping yang mungkin timbul selama periode pengobatan. Pemeriksaan fisik dan laboratorium sebelum radiasi dimulai adalah mutlak. Penderita dengan keadaan umum yang buruk, gizi kurang, atau demam tidak diperbolehkan untuk radiasi, kecuali pada keadaan yang mengancam hidup penderita, seperti obstruksi jalan makanan, perdarahan yang masif dari tumor, radiasi tetap dimulai sambil memperbaiki keadaan umum penderita. Sebagai tolok ukur, kadar Hb tidak boleh kurang dari 10 gr%, jumlah lekosit tidak boleh kurang dari 3.000 per mm dan trombosit 100.000 per uL.
Sebutkan jenis-jenis radioterapi yang digunakan pada keganasan kepala leher!
Jawaban: Radioterapi interna, radioterapi eksterna, dan intravena
Apa beda radiasi kuratif dan paliatif? Jawaban:
Radiasi kuratif diberikan kepada semua tingkatan penyakit, kecuali pada penderita dengan metastasis jauh. Sasaran radiasi adalah tumor primer, KGB leher dan supra klavikular. Dosis total radiasi yang diberikan adalah 6.600-7.000 rad dengan fraksi 200 rad, 5 x pemberian per minggu. Setelah dosis 4.000 rad medulla spinalis di blok dan setelah 5.000 rad lapangan penyinaran supraklavikular dikeluarkan. Tujuan utama dari radiasi kuratif/definitif adalah sebagai terapi utama dan diharapkan dapat melakukan eradikasi tumor secara komplit.
Radiasi paliatif diberikan untuk metastasis tumor pada tulang dan kekambuhan lokal. Dosis radiasi untuk metastasis tulang 3000 rad dengan fraksi 300 rad, 5 x per minggu. Untuk kekambuhan lokal, lapangan radiasi terbatas pada daerah kambuh. Tujuan radioterapi paliatif adalah: (1) memberikan kesempatan periode bebas gejala lebih lama, (2) memperpanjang waktu kesintasan pasien, (3) mengurangi gejala-gejala kegawatan seperti perdarahan, nyeri, dan obstruktif. Radioterapi paliatif diberikan untuk tumor stadium lanjut yang: (1) radioresponssif dan inoperabel, (2) ulkus yang berbau, (3) disertai metastasis tulang untuk mencegah fraktur, (4) disertai komplikasi obstruktif saluran cerna.
Akhir pembelajaran
Soal:
Apa komplikasi radioterapi?
Jawaban: komplikasi dini yang biasanya terjadi selama atau beberapa minggu setelah radioterapi, seperti xerostomia, mual-muntah, mukositis, anoreksi, dermatitis, eritema. Komplikasi lanjut dari radioterapi biasanya terjadi setelah 1 tahun pemberian radioterapi, seperti kontraktur, gangguan pertumbuhan.
Bagaimana penanganannya?
Jawaban: Penanganan diberikan sesuai dengan keluhan.
Bagaimana menilai responss pasien pasca pemberian radioterapi?
Jawaban: Penilaian responss radiasi berdasarkan kriteria WHO yaitu : complete responsse (menghilangkan seluruh kelenjar getah bening yang besar), partial responsse (pengecilan kelenjar getah bening sampai 50% atau lebih), no change (ukuran kelenjar getah bening yang menetap), progressive disease (ukuran kelenjar getah bening membesar 25% atau lebih)
MATERI PRESENTASI
Slide 1 : Radiobiologi radiasi ionisasi
Slide 2 :
Dasar Fisika Radioterapi
Tujuan Radioterapi
Terapi kuratif
Terapi paliatif
Sinar yang dipakai dalam radioterapi
Persiapan Radioterapi
Penentuan batas radiasi
Slide 3:
Teknik Radioterapi
Radiasi eksterna
Radiasi Interna
Radiasi Intravena
Slide 4:
Respons radiasi
Komplikasi radioterapi
MATERI BAKU
Radioterapi Pada Keganasan Kepala Leher Definisi
Radioterapi adalah tindakan medis menggunakan radiasi pengion, bertujuan untuk mematikan sel-sel tumor sebanyak mungkin dan memelihara jaringan sehat di sekitar tumor agar tidak menderita kerusakan terlalu berat.
Radiasi pada jaringan dapat menimbulkan ionisasi air dan elektrolit dari cairan tubuh baik intra maupun ekstra seluler, sehingga timbul ion H+ dan OH- yang sangat reaktif. Ion itu dapat bereaksi dengan molekul DNA dalam kromosom, sehingga dapat terjadi rantai ganda DNA pecah, perubahan cross-linkage dalam rantai DNA, dan perubahan yang menyebabkan degenerasi atau kematian sel.
Dosis lethal dan kemampuan reparasi kerusakan pada sel-sel kanker lebih rendah dari sel-sel normal, sehingga akibat radiasi sel-sel kanker lebih banyak yang mati dan yang tetap rusak dibandingkan dengan sel-sel normal. Sel-sel yang masih tahan hidup akan mengadakan reparasi kerusakan DNA-nya sendiri-sendiri. Kemampuan reparasi DNA sel normal yang lebih baik dan lebih cepat dari sel kanker ini dipakai sebagai dasar untuk radioterapi pada kanker.
Jenis sinar yang dipakai untuk radioterapi adalah (1). Sinar Alfa yang merupakan sinar korpuskuler atau partikel dari inti atom. Inti atom terdiri dari proton dan neutron. Sinar ini tidak dapat menembus kulit dan tidak banyak dipakai dalam radioterapi. (2) Sinar Beta yang merupakan sinar elektron. Sinar ini dipancarkan oleh zat radioaktif yang mempunyai energi rendah dengan daya tembusnya pada kulit terbatas, 3-5 mm, sehingga digunakan untuk terapi lesi yang superfisial. (3). Sinar Gamma yang merupakan sinar elektromagnetik atau foton. Sinar ini dapat menembus tubuh, dimana daya tembusnya tergantung dari besar energi yang menimbulkan sinar itu. Makin tinggi energinya atau makin tinggi voltagenya, makin besar daya tembusnya dan makin dalam letak dosis maksimalnya.
Radiasi ionisasi menyebabkan kematian sel melalui kerusakan DNA. Kerusakan DNA terjadi ketika radiasi berinteraksi secara langsung dengan rantai DNA, atau lebih seringnya, ketika radiasi berinteraksi dengan molekul air sehingga menyebabkan kerusakan DNA sekunder. Ketika radiasi ionisasi menyerang molekul
air, akan terbentuk radikal bebas. Radikal bebas ini sangat tidak stabil, jika terbentuk di sekitar rantai DNA dapat menimbulkan kerusakan DNA.
Kerusakan DNA tidak selalu menyebabkan kematian sel. Sel memiliki kemampuan memperbaiki DNA yang rusak karena radiasi. Laju dan kemampuan untuk memberbaiki kerusakan berbeda pada setiap sel. Secara umum, sel yang tumbuh lebih cepat akan lebih rentan mengalami kerusakan akibat radiasi (proses pembelahan sel mengakibatkan DNA lebih rentan terhadap kerusakan, karena kerusakan DNA terjadi saat pembelahan DNA). Hal tersebut menjelaskan mengapa mukosa rongga mulut (yang selalu membelah dan digantikan) sangat sensitif terhadap efek radiasi. Secara umum, jaringan normal memiliki kapasitas yang lebih besar untuk memperbaiki DNA dibandingkan dengan sel kanker. Hal ini menjadi salah satu alasan untuk membagi dosis radiasi, yaitu untuk memberikan waktu jaringan normal untuk memperbaiki diri saat jeda pemberian dosis radiasi.
Semakin besar kerusakan radiasi yang terjadi pada populasi sel, semakin banyak kematian sel. Dosis awal radiasi, menyebabkan kerusakan pada sel tetapi tidak selalu menyebabkan kematian sel. Semakin besar jumlah kerusakan sel akibat radiasi, maka kematian sel mulai terjadi. Cara sederhana untuk memahami hal tersebut dengan membayangkan kedua rantai DNA harus mengalami kerusakan terlebih dahulu agar terjadi kematian sel yang bersifat irreversibel. Dosis radiasi pertama kemungkinan merusak sejumlah rantai tunggal (salah satu dari kedua rantai DNA) DNA dan terkadang merusak kedua rantai DNA dalam sebuah sel. Semkin besar dosis radiasi yang diberikan, maka akan semakin besar kemungkinan terjadinya kerusakan pada kedua rantai DNA dalam satu sel, sehingga menyebabkan kematian sel. Pada tahap awal dari kerusakan DNA (kerusakan pada salah satu rantai DNA), memiliki kemungkinan sel dapat memperbaiki kerusakan pada salah satu rantai ini dan menghilangkan kerusakan akibat dari radiasi. Perbedaan kemampuan sel untuk memperbaiki DNA dikenal dengan istilah "radiosensitif" dan "radioresisten". Walaupun terminologi ini bersifat sangat subjektif, prinsip dasar dari terminologi ini adalah beberapa jenis sel dan tumor yang memiliki kemampuan untuk memperbaiki diri yang sangat kecil, sehingga kematian sel lebih cepat walaupun dengan radiasi dosis kecil. Di sisi lain, terdapat sel-sel tumor "radioresisten". Tumor-tumor ini memiliki kemampuan untuk memperbaiki DNA, sehingga pada sel tumor memiliki kemungkinan lebih kecil terjadinya kematian sel akibat kerusakan radiasi. Tipe tumor radiosensitif yaitu limfoma, sedangkan tumor yang bersifat radioresisten terdiri dari sarkoma dan melanoma.
Selain adanya kemampuan untuk memperbaiki DNA, komponen lain yang memengaruhi sensitivitas radiasi (dan penurunan pada kurva kematian sel) adalah oksigenasi. Dalam kondisi hipoksia, radikal bebas (yang bertanggung jawab terhadap terjadinya kerusakan DNA) dapat diinduksi oleh sel dalam kondisi lingkungan asam yang diinduksi dalam keadaan hipoksia, dan oksigen dapat berperan dalam kaskade pembentukan radikal bebas. Tumor yang besar cenderung tumbuh lebih cepat daripada pembuluh darahnya, menyebabkan adanya area yang hipoksia di bagian tengah dari tumor tersebut. Fenomena ini diduga berkontribusi terhadap sulitnya mengontrol tumor kepala dan leher yang besar dengan radiasi ionisasi.
Dosis dan Cara Pemberian
Sebelum diberi terapi radiasi, dibuat penentuan stadium klinik, diagnosis histopatologik, sekaligus ditentukan tujuan radiasi, kuratif atau paliatif. Penderita juga
dipersiapkan secara mental dan fisik. Pada penderita, bila perlu juga keluarganya diberikan keterangan mengenai perlunya tindakan ini, tujuan pengobatan, efek samping yang mungkin timbul selama periode pengobatan. Pemeriksaan fisik dan laboratorium sebelum radiasi dimulai adalah mutlak. Penderita dengan keadaan umum yang buruk, gizi kurang atau demam tidak diperbolehkan untuk radiasi, kecuali pada keadaan yang mengancam hidup penderita, seperti obstruksi jalan makanan, perdarahan yang masif dari tumor, radiasi tetap dimulai sambil memperbaiki keadaan umum penderita. Sebagai tolok ukur, kadar Hb tidak boleh kurang dari 10 gr%, jumlah lekosit tidak boleh kurang dari 3.000 per mm dan trombosit 100.000 per uL. Penentuan batas-batas lapangan radiasi merupakan salah satu langkah yang terpenting untuk menjamin berhasilnya suatu radioterapi. Lapangan penyinaran meliputi daerah tumor primer dan sekitarnya / potensi penjalaran perkontinuitatum
serta kelenjar-kelenjar getah bening regional.
Ada 3 cara utama pemberian radioterapi yaitu:
Radiasi Eksterna/Teleterapi dengan sumber sinar berupa aparat sinar-X atau radioisotop yang ditempatkan di luar tubuh. Sinar diarahkan ke tumor yang akan diberi radiasi. Dengan cara ini maka radiasi mempunyai jangkauan yang luas, bukan hanya sel kanker primer yang memperoleh radiasi tetapi Kelenjar Getah Bening (KGB) disekitarnya yang mempunyai potensi metastasis. Pemberian lapangan radiasi yang luas mempunyai risiko terlalu banyak jaringan sehat yang terkena sehingga meningkatkan efek samping baik akut maupun lanjut, Keterbatasan teknik ini yaitu; makin luas tentunya makin rendah dosis yang dapat diberikan. Adanya organ vital yang terkena radiasi akan sangat membatasi dosis maksimal yang dapat diberikan.
Radiasi Interna / Brachiterapi dengan sumber energi ditaruh di dalam tumor atau berdekatan dengan tumor di dalam rongga tubuh. Pemasangannya dapat berupa penanaman sumber (implantasi) seperti karsinoma lidah, pemasangan di sekitar organ yang mengandung sel kanker plesioterapi) yaitu intakaviter seperti pada karsinoma nasofaring, atau intraluminal pada karsinoma esofagus. Cakupan radiasi lebih sempit, hanya sedikit jaringan yang akan memperoleh radiasi. Sehingga pemberian dosis tinggi dimungkinkan tanpa merusak jaringan sehat sekitarnya.
Intravena dengan larutan radioisotop disuntikkan ke dalam vena, misalnya I131 intra vena akan diserap oleh tiroid untuk mengobati kanker tiroid.
Pada kongres Radiologi Internasional ke VIII tahun 1953, ditetapkan RAD (Radiation Absorbed Dose) sebagai banyaknya energi yang diserap per unit jaringan. Saat ini unit Sistem Internasional (SI) dari dosis yang di absorpsi telah diubah menjadi Gray (Gy) dan satuan yang sering dipakai adalah satuan centi gray (cGy). 1 Gy = 100 rad dan 1 rad = 1 cGy = 10-2Gy.
Bentuk radiasi yang paling sering digunakan adalah foton, namun partikel lain juga dapat digunakan, termasuk elektron, proton, neutron, dan ion karbon. Foton lebih sering digunakan dibandingkan elektron untuk terapi. Dari segi kedalaman, penetrasi elektron bersifat dangkal; hal ini memungkinkan untuk pemberian dosis yang baik pada daerah permukaan jaringan dan dosis yang minimal pada jaringan yang lebih dalam (sebagai contoh, 6 MV elektron akan melepaskan 90% energinya 2 cm ke dalam jaringan). Sifat radiasi elektron ini menjadi pilihan terapi yang baik untuk tatalaksana kanker kulit. Proton dan ion karbon merupakan bentuk radiasi lain yang lebih jarang digunakan. Proton, neutron, dan ion karbon (disebut sebagai radiasi
partikel berat) tidak dihasilkan dari akselerator linear onkologi radiasi yang normal, dan membutuhkan akselerator khusus (dengan harga yang sangat mahal) untuk menghasilkan radiasi jenis ini.
Bentuk radiasi yang paling sering digunakan adalah foton, namun partikel lain juga dapat digunakan, termasuk elektron, proton, neutron, dan ion karbon. Foton lebih sering digunakan dibandingkan elektron untuk terapi. Dari segi kedalaman, penetrasi elektron bersifat dangkal; hal ini memungkinkan untuk pemberian dosis yang baik pada daerah permukaan jaringan dan dosis yang minimal pada jaringan yang lebih dalam (sebagai contoh, 6 MV elektron akan melepaskan 90% energinya 2 cm ke dalam jaringan). Sifat radiasi elektron ini menjadi pilihan terapi yang baik untuk tatalaksana kanker kulit. Proton dan ion karbon merupakan bentuk radiasi lain yang lebih jarang digunakan. Proton, neutron, dan ion karbon (disebut sebagai radiasi partikel berat) tidak dihasilkan dari akselerator linear onkologi radiasi yang normal, dan membutuhkan akselerator khusus (dengan harga yang sangat mahal) untuk menghasilkan radiasi jenis ini.
Perlu diperhatikan bahwa semua jenis radiasi bekerja melalui mekanisme yang sama, walaupun alat-alat pemancar radiasinya berbeda. Radiasi foton (biasanya hanya disebut dengan 'radiasi') dibentuk oleh akselerator linear Pasien berbaring di meja terapi, lalu akselerator linear akan berputar di sekitar pasien untuk memberikan radiasi. Pasien tidak boleh bergerak selama diberikan radiasi, maka perlu digunakan alat immobilisasi; untuk kanker kepala dan leher (KKL), biasanya digunakan masker kepala termoplastik
Jumlah radiasi yang diberikan diukur dalam dosis; satuan dosis yang umum digunakan adalah Gray (Gy). Satu Gray adalah jumlah dosis energi yang diserap per unit massa (1 Gy = 1 J/kg). Satuan yang lebih jarang digunakan yaitu rad, 1 rad sama dengan 0,01 Gy. Total dosis yang biasa diberikan pada tatalaksana KKL adalah 60 hingga 66 Gy untuk terapi adjuvan, sedangkan untuk terapi definitif diberikan 70 hingga 74 Gy. Sebagai perbandingan, dosis untuk limfoma sebesar 30 hingga 40 Gy, dan dosis CT-scan sebesar 0,1 hingga 0,2 Gy.
Total dosis radiasi dibagi menjadi dosis yang lebih kecil yang disebut fraksi. Dosis dari satu fraksi radiasi sebesar 1,8 hingga 2,0 Gy, walaupun dapat juga diberikan dalam rentangan dosis yang lebih besar (misal, dosis untuk radiasi setelah pembedahan pada tatalaksana neuralgia trigeminalis dapat mencapai 80 Gy pada satu fraksi). Tujuan dari pemberian dosis total radiasi dalam sejumlah fraksi yang kecil adalah untuk memanfaatkan sifat normal sel untuk melakukan perbaikan kerusakan DNA. Sering kali, jaringan normal memiliki kemampuan yang lebih besar untuk memperbaiki DNA dibandingkan dengan sel kanker. Sehingga, jika dilakukan kerusakan yang sama pada kedua sel, yaitu sel normal dan sel kanker, jaringan sel normal akan dapat memperbaiki dirinya sendiri sedangkan sel kanker akan mati (hal ini tidak sepenuhnya akurat karena masih banyak jaringan normal yang rusak).
Interaksi antara dosis dan fraksi disebut "dosis ekuivalen radiobiologis". Beberapa model matematika dibentuk untuk mengkonversi dari satu dosis dan fraksi menjadi dosis lain pada fraksi berbeda (misalnya, pada toleransi sumsum tulang belakang, jika diberikan 3 Gy per fraksi, dosis maksimal yang diberikan adalah 30 Gy, sedangkan jika diberikan 2,0 Gy per fraksi, maka dosis maksimalnya adalah 45 Gy). Perbedaan perbaikan sel pada sel normal dan sel kanker semakin jelas terlihat seiring pemberian dosis radiasi dalam jangka waktu panjang. Hal ini memungkinkan
adanya peningkatan profil toksisitas dan meminimalisasi toksisitas pada jaringan normal.
Pemecahan dan Waktu Terapi
Pola pemecahan dosis radiasi yang paling sering dilakukan adalah dengan memberikan radiasi setiap hari (Senin hingga Jumat) dan disebut sebagai pemecahan konvensional atau standar. Hipofraksionasi adalah memberikan kekurangan dari satu fraksi per hari (biasanya dilakukan pada radiasi pembedahan di mana diberikan satu fraksi per hari, lalu diselang 1 hari tanpa radiasi). hiperfraksionisasi adalah memberikan lebih dari satu fraksi per hari. Walaupun terdapat perbaikan DNA jaringan normal pada waktu jeda antara pemberian satu fraksi radiasi, terdapat juga perbaikan dari DNA sel kanker (diharapkan dalam jumlah kecil) dan kemungkinan pertumbuhan dari kanker itu sendiri. Untuk mengurangi risiko ini, telah dilakukan beberapa penelitian untuk melihat kemungkinan manfaat dari hiperfraksionisasi.
Penelitian yang paling terkenal adalah RTOG 90-03. Pada penelitian ini, pasien dengan KKL stadium III dan IV secara acak mendapatkan radiasi konvensional, hiperfraksionisasi dengan terapi radiasi sebanyak dua kali sehari, hiperfraksionisasi dengan terapi radiasi dua kali sehari dengan jeda selama 2 minggu selama radiasi, dan hiperfraksionasi terakselerasi atau dosis tambahan secara bersamaan (concomitant boost) yang terdiri dari dosis terapi radiasi harian hingga tersisa 12 fraksi terapi terakhir, lalu diberikan dosis radiasi dua kali sehari pada 12 fraksi terakhir. Hasil penelitian ini menunjukkan perbaikan kontrol lokal pada pasien yang mendapat hiperfraksionasi dan hiperfraksionasi terakselerasi (terdapat tren peningkatan, namun tidak mencapai nilai yang signifikan secara statistik). Beberapa penelitian lain menunjukkan hasil yang sama, termasuk DHANCA, di mana pasien secara acak menerima lima atau enam kali terapi per minggu, dan terdapat peningkatan kontrol lokal pada terapi 6 kali per minggu (kontrol lokal 5 tahun 70% vs 60%).
Perlu diperhatikan walaupun kontrol tumor lokal cenderung membaik dengan pengurangan waktu terapi, namun terdapat peningkatan pada toksisitas akut (kemampuan jaringan normal untuk memperbaiki diri menjadi berkurang). Penelitian-penelitian lain belum dapat menunjukkan peningkatan signifikan pada toksisitas lanjut.
Selain hiperfraksionasi, kemoterapi juga dapat menjadi metode untuk memperbaiki keluaran atau kondisi pasien setelah pengobatan. Kemoterapi telah terbukti meningkatkan hasil terapi dibandingkan dengan pemberian hanya terapi radiasi saja, baik untuk terapi adjuvan maupun terapi definitif. Brizel, et al., menemukan bahwa kemoterapi yang diberikan secara bersamaan dengan terapi hiperfraksionasi menunjukkan kontrol lokoregional yang lebih baik dibandingkan dengan hanya terapi hiperfraksionasi saja (70% vs 44%). Brizel, et al., melakukan analisis matematis data dari RTOG 90-03 untuk menentukan efek kemoterapi terhadap dosis ekuivalen biologis. Berdasarkan penelitian tersebut terdapat peningkatan 1% dari dosis ekuivalen radiologis menyebabkan peningkatan kontrol lokoregional sebesar 1,1%. Penambahan kemoterapi secara efektif dapat meningkatkan total dosis ekuivalen radiologis sebesar 10 Gy. Kesimpulannya peningkatan dosis radiasi efektif ini tidak dapat secara aman dicapai hanya dengan meningkatkan jumlah radiasi yang diberikan ke pasien.
RTOG 0129 meneliti apakah kemoterapi (Cisplatin 100 mg/m2 setiap 2 minggu) ditambah dengan radiasi hiperfraksionasi dengan concomitant boost (dosis tambahan yang diberikan secara bersamaan dengan dosis utama) lebih baik dibandingkan dengan kemoterapi yang sama ditambah dengan radiasi standar (satu kali sehari). Penelitian ini tidak menemukan perbedaan antara kedua jenis perlakuan terapi tersebut, dan mengingat adanya peningkatan kejadian toksisitas akut dan kesulitan jika dilakukan hiperfraksionasi, kebanyakan institusi kesehatan memberikan terapi radiasi hanya satu kali sehari untuk pasien KKL yang bersifat locally advanced yang diterapi dengan kemoradioterapi.
Dapat disimpulkan, berdasarkan pengetahuan mengenai manfaat kemoterapi dan hasil penelitian RTOG 0129 yang negatif, hiperfraksionasi hanya digunakan untuk pasien yang tidak dapat diberikan kemoterapi dan harus diterapi hanya dengan radiasi.
Prinsip utama dari manfaat hiperfraksionasi adalah pengurangan waktu terapi secara keseluruhan akibat dari kontrol tumor yang membaik. Sebaliknya, jika total waktu terapi diperpanjang, kontrol tumor akan berkurang. RTOG meneliti pentingnya durasi waktu terapi radiasi dalam tatalaksana KKL, dan menemukan bahwa kegagalan terapi lokal meningkat jika total waktu terapi (dari pembedahan hingga selesai terapi radiasi) mencapai 11 minggu. Hal ini menjelaskan mengapa memberi jeda dalam terapi sebaiknya dihindarkan kecuali jika sangat diperlukan.
PEMILIHAN PENGOBATAN
Terapi Radiasi Preoperatif
Dasar teori penggunaan terapi radiasi preoperatif adalah bahwa sel tumor berada dalam keadaan oksigenasi maksimal sehingga lebih responssif terhadap radiasi. Secara umum, dosis preoperatif sekitar 5000 cGy dengan fraksionasi konvensional, 180 hingga 200 cGy per fraksi diberikan 5 hari per minggu dengan total hingga 5 minggu. Periode pemulihan selama 4-6 minggu diperlukan bagi pasien agar reaksi inflamasi akut mereda sebelum intervensi bedah.
Keuntungan dan kerugian radiasi preoperatif ditunjukkan pada Tabel 19.4. Faktor penting dalam radiasi preoperatif adalah batasan dosis. Peningkatan dosis radiasi preoperatif meningkatkan risiko komplikasi bedah dan kini tidak dianjurkan lagi. Saat ini, terapi radiasi preoperatif jarang digunakan dan hanya dilakukan dalam keadaan tertentu.
Terapi Radiasi Definitif
Penggunaan radiasi dikenal dengan baik dalam pengobatan definitif beberapa kanker kepala dan leher, seperti tumor nasofaring, orofaring, laring, dan hipofaring stadium awal. Peran terapi radiasi definitif untuk berbagai lokasi di kepala dan leher dibahas pada masing-masing bab. Namun, karsinoma orofaring dan nasofaring memiliki pertimbangan khusus dan dibahas di sini.
Karsinoma Orofaring
Dalam 2 dekade terakhir, insidensi karsinoma orofaringeal (OPC) telah meningkat secara substansial akibat proliferasi infeksi human papillomavirus (HPV) dan identifikasinya sebagai faktor etiologi dalam tumorigenesis. Pasien HPV positif menunjukkan hasil onkologis yang lebih unggul dibandingkan dengan pasien HPV negatif, dengan kelangsungan hidup lebih lama dan respons yang lebih baik terhadap terapi kemoradiasi. Tingkat kelangsungan hidup lima tahun secara keseluruhan adalah 80% hingga 90% untuk pasien HPV positif dan 50% hingga 70% untuk pasien HPV negatif. Pendekatan standar untuk OPC lokal stadium lanjut adalah kemoradiasi definitif dengan bolus cisplatin dosis tinggi bersamaan (100 mg/m2 setiap 3 minggu). Area penyakit yang berat diberikan 7000 Gy sementara area sekitar yang berisiko dan volume elektif pada leher diberikan dosis lebih rendah 3000 hingga 6000 cGy, yang dianggap cukup untuk melawan penyakit mikroskopis. Dengan pendekatan ini, tingkat kontrol lokoregional biasanya lebih dari 90%. OPC yang terkait HPV menunjukkan sensitivitas yang baik terhadap terapi radiasi, dengan respons klinis yang signifikan dapat diamati sejak awal terapi, umumnya pada minggu ketiga. Karena respons pengobatan yang baik, penelitian saat ini bertujuan untuk deeskalasi terapi untuk memperbaiki toksisitas sambil mempertahankan tingkat kesembuhan yang tinggi. Berbagai pendekatan untuk personalisasi terapi dan deeskalasi saat ini sedang dievaluasi, termasuk pengurangan dosis radiasi, eliminasi terapi sistemik, atau penggunaan alternatif cisplatin dan integrasi bedah robotik transoral dalam pendekatan multidisiplin. Pemantauan setelah terapi kemoradiasi definitif biasanya mencakup pemindaian PET tindak lanjut. Diseksi leher terencana tidak diperlukan dan sebagian besar telah ditinggalkan. Diseksi leher penyelamatan saat ini dipertimbangkan pada pasien dengan penyakit leher sisa atau progresif yang persisten, terutama jika hasil PET positif atau terbukti secara klinis. Pasien dengan penyakit HPV positif biasanya lebih muda dan lebih sehat. Hal ini, dikombinasikan dengan peningkatan presisi radiasi dan perawatan suportif, telah membuat kebutuhan tabung gastrostomi perkutan lebih jarang digunakan.
Karsinoma Nasofaring
Terapi radiasi adalah tatalaksana definitif untuk karsinoma nasofaring, yang merupakan tumor yang sangat sensitif terhadap radiasi. Khususnya, tumor nasofaring terkait infeksi virus Epstein-Barr (VEB) telah terbukti sangat responssif terhadap terapi radiasi. Pembedahan dilakukan pada pasien tertentu dengan kanker yang persisten atau rekuren. Metastasis kelenjar getah bening regional terjadi pada 75% sampai 90% pasien. Kelenjar getah bening yang berisiko adalah tingkat V dan II dan retrofaring. Metastasis kelenjar getah bening seringkali besar dan bilateral hingga pada 50% kasus. Oleh karena itu, penting untuk melibatkan kelenjar getah bening leher bilateral, serta retrofaring, dalam bidang radiasi.
Standar perawatan untuk pasien dengan karsinoma nasofaring stadium lanjut locoregional saat ini adalah kemoterapi yang diberikan bersamaan dengan terapi radiasi. Cisplatinum dosis tinggi-kemoterapi bersamaan dengan radiasi merupakan standar perawatan. Cisplatinum diberikan pada hari ke 1, 22, dan 43 dari terapi radiasi. Cisplatinum adjuvan dan 5-fluorourasil sering diberikan setelah kemoradioterapi selesai.
Berbeda dengan lokasi lainnya, metastasis kelenjar getah bening yang besar pada kanker nasofaring biasanya dapat dikontrol dengan pendekatan ini. Diseksi leher jarang diperlukan dan dipertimbangkan untuk penyakit persisten minimal 3 bulan setelah terapi radiasi selesai. Tingkat kelangsungan hidup lima tahun antara 60% dan 75% telah dilaporkan untuk penyakit stadium N0 hingga N1, dan antara 40% hingga 50% untuk penyakit stadium N2 hingga N3.
Teknik modern, seperti simulasi CT dan perencanaan pengobatan IMRT, jauh lebih unggul dan memungkinkan distribusi dosis yang lebih homogen ke tumor primer dan kelenjar getah bening yang terlibat dengan mengurangi dosis ke struktur penting yang berdekatan (Gambar 19.8). Pasien menjalani rencana IMRT boost terintegrasi secara simultan. Tumor besar dengan margin adekuat diberikan 7000 cGy, sedangkan wilayah subklinis risiko tinggi diberikan 5.940 cGy. Tingkat kontrol yang dilaporkan dari beberapa institusi melebihi 90%, termasuk pasien dengan T3 hingga T4. Hasil ini telah diteliti ulang dalam uji coba kooperatif RTOG. Metastasis jauh tetap menjadi masalah. Kemoterapi adjuvan direkomendasikan setelah kemoradiasi. Uji coba NRG HN001 saat ini menilai apakah respons DNA VEB yang bersirkulasi dapat memandu pengambilan keputusan untuk kemoterapi adjuvan.
Gambar Rencana perawatan terapi radiasi modulasi intensitas untuk kanker nasofaring yang menunjukkan kurva isodosa.
Terapi Radiasi Pasca Operasi
Terapi radiasi pasca operasi (postoperative radiation therapy/PORT) diindikasikan ketika perkiraan risiko kekambuhan penyakit secara lokoregional minimal 20%. Meskipun kemanjurannya dalam kontrol lokoregional tidak pernah secara langsung divalidasi dalam uji klinis acak, peran PORT diterima dengan baik dalam keadaan tertentu berdasarkan data retrospektif. Indikasi PORT tercantum pada Tabel 19.5. Uji coba acak yang membandingkan terapi radiasi preoperatif versus pasca operasi untuk karsinoma sel skuamosa kepala dan leher yang dapat dioperasi (RTOG 73-03) menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam kontrol lokoregional yang mendukung PORT dan
tidak terdapat perbedaan dalam tingkat komplikasi antara kedua pendekatan. Kelebihan dan kekurangan PORT ditunjukkan pada dibawah ini.
Tabel Indikasi untuk Radioterapi Post Operasi dan Kemoradiasi | ||||
Faktor Tumor Primer | ||||
Faktor Kelenjar leher | biopsi | eksisi | atau | insisi)sebelum |
Lesi T3 atau T4 secara lokal lebih lanjut
Histologi high grade
Adanya invasi vaskular atau perineural
Menginfiltrasi dibandingkan mendorong batas tumor
Positif atau bats dekat dengan reseksi pembedahan
Stadium N lebih tinggi dari N1
Kontaminasi pembedahan (contoh: pembedahan definitif
Adanya perluasan extranodal
Tabel Keuntungan dan Kerugian dari Terapi Radiasi Post Operasi |
Keuntungan |
Kerugian |
Tidak ada terapi berhubungan dengan penundaan dalam pembedahan
Tidak ada batasa dosis radiasi
Mengijinkan pembedahan komplit, histopatologi dan evaluasi biologis dari tumor dan nodus limfatikus
Penyakit sisa yang mikroskopis bisa secara efektif disterilkan dengan improvisasi lokal dan atau regional
Berpotensi untuk menunda inisiasi dari terapi radiasi jika pemulihan dari pembedahan rumit dengan adanya fistula atau masalah luka yang lain
Modifikasi jaringan parut dan vaskular dari pembedahan akan mengurangi oksigenasi jaringan dan berdampak pada radiasi untuk membunuh sel tumor
Waktu inisiasi PORT belum pernah diteliti dalam uji coba acak. Secara umum, PORT harus dimulai dalam waktu 6 minggu setelah operasi untuk memaksimalkan manfaat dari pendekatan ini. Namun, penundaan dalam memulai PORT tidak mempengaruhi rekurensi lokal di lokasi primer, tetapi korelasi temporal yang kuat telah ditunjukkan antara penundaan dalam memulai PORT dan kegagalan berikutnya pada kelenjar getah bening servikal. Beberapa data menunjukkan bahwa manfaat PORT dapat terlihat meski diberikan 3 bulan setelah operasi. Bukti Tingkat I tersedia, menunjukkan bahwa dosis radiasi PORT optimal untuk lokasi tumor primer dan/atau daerah leher menggunakan fraksionasi konvensional terdiri dari fraksi 180 hingga 200 cGy per hari yang diberikan 5 hari per minggu dengan dosis total 6000 hingga 6600 cGy ke area berisiko tinggi dan 5000 hingga 5400 cGy untuk iradiasi nodal elektif.
Uji coba acak oleh European Organization for Research and Treatment of Cancer (EORTC) (uji coba 22931) dan RTOG (uji coba 95-01) menunjukkan bahwa pemberian kemoterapi bersamaan dengan PORT meningkatkan kontrol lokoregional dibandingkan PORT saja untuk pasien dengan margin bedah positif di lokasi utama atau perluasan
penyakit ekstra-nodal. Namun, manfaat ini juga disertai dengan toksisitas akut derajat tinggi yang signifikan.
Peran Fraksinasi
Pemberian radiasi dengan dosis terbagi (bukan dosis tunggal) menjadi beberapa fraksi dalam jangka waktu tertentu diharapkan diperoleh penghentian proses keganasan dengan tingkat cedera jaringan sehat yang masih dapat diterima. Hal-hal yang akan terjadi dengan pemberian radiasi dosis fraksi adalah:
(1). Reoksigenisasi, pertumbuhan sel kanker yang cepat akan meninggalkan kecepatan pertumbuhan sel normal termasuk pembuluh darah sekitar tumor, akibatnya banyak bagian sel kanker terutama bagian tengahnya yang mengalami kekurangan pembuluh darah. Kekurangan ini akan menurunkan akses pasokan aliran darah yang akan diikuti oleh hipoksia lalu anoksia dan selanjutnya nekrosis jaringan tersebut. Jaringan yang bersifat hipoksia atau anoksia kurang sensitive terhadap radiasi dibandingkan karingan yang kaya oksigen dengan perbandingan 1:3. Perbandingan ini dikenal dengan oxygen enchancement ratio.
(2). Repopulasi, setelah pemberian satu fraksi terjadi kematian sel pada sel yang mempunyai daya proliferasi tinggi. Salah satu cara agar jaringan ini tetap bertahan hidup adalah dengan melakukan repopulasi dari sel yang masih bertahan. Dengan bertambah panjangnya waktu pengobatan makin banyak kesempatan bagi sel ini untuk melakukan repopulasi. Bagi jaringan sehat, pemberian ini akan mengurangi efek akut yang timbul.
(3). Redistribusi, dengan adanya siklus sel maka pada suatu saat terdapat sel dalam fase yang berbeda dan mempunyai kepekaan yang berbeda pula. Sel akan menjadi paling sensitive apabila berada pada fase transisi dari G2 ke M. Dengan radiasi terfraksi, maka setiap sel mempunyai kesempatan untuk mengalami redistribusi ke berbagai fase yang berbeda. Metode hiperfraksinasi akan menjadikan sel dalam fase yang sensitif.
(4). Reparasi, proses kerusakan akibat radiasi biasanya berlangsung beberapa jam setelah pemberian. Sel yang memberikan responss akut terhadap radiasi ataupun sel maligna akan menunjukkan kesempatan reparasi yang lebih sedikit dibandingkan sel beresponss lambat seperti jaringan ikat, jaringan syaraf, dan lain-lain. Agar kematian sel kanker lebih banyak, maka pemberian radiasi dilakukan dengan hiperfraksi.
Terdapat 2 jenis radiasi yaitu radiasi kuratif dan radiasi paliatif. Radiasi kuratif diberikan kepada semua tingkatan penyakit, kecuali pada penderita dengan metastasis jauh. Sasaran radiasi adalah tumor primer, KGB leher dan supra klavikular. Dosis total radiasi yang diberikan adalah 6600-7000 rad dengan fraksi 200 rad, 5 x pemberian per minggu. Setelah dosis 4000 rad medulla spinalis di blok dan setelah 5000 rad lapangan penyinaran supraklavikular dikeluarkan. Sedangkan Radiasi paliatif diberikan untuk metastasis tumor pada tulang dan kekambuhan lokal. Dosis radiasi untuk metastasis tulang 3000 rad dengan fraksi 300 rad, 5 x per minggu. Untuk kekambuhan lokal, lapangan radiasi terbatas pada daerah kambuh.
Setelah diberikan radiasi, maka dilakukan evaluasi berupa responss terhadap radiasi. Responss dinilai dari pengecilan kelenjar getah bening leher dan pengecilan tumor primer. Penilaian responss radiasi berdasarkan kriteria WHO yaitu: complete responsse (menghilangkan seluruh kelenjar getah bening yang besar), partial
responsse (pengecilan kelenjar getah bening sampai 50% atau lebih), no change (ukuran kelenjar getah bening yang menetap), progressive disease (ukuran kelenjar getah bening membesar 25% atau lebih)
PHOTODYNAMIC THERAPY (PDT)
Prinsip dan Prosedur PDT
Photodynamic therapy (PDT) merupakan modalitas terapi baru yang berkembang dengan cepat dan dapat digunakan, baik dalam pengobatan tumor maupun penyakit non neoplastik lainnya. Terapi ini melibatkan suatu bahan peka cahaya (photosensitizer) yang akan terlokalisir pada jaringan target, oksigen dan sinar dengan panjang gelombang yang sesuai (visible light) yang digunakan untuk membunuh sel tumor. PDT merupakan prosedur yang invasif minimal, site specific, dan tidak panas (non thermal). PDT memerlukan substansi fotoreaktif / fotosensitiser (PS), yang terakumulasi pada sel-sel tumor, yang mengabsorbsi serta kemudian diaktivasi oleh sinar tampak/visible light (photon) dengan panjang gelombang tertentu yang sesuai dengan karakteristik absorbsi dari PS.
Photodynamic therapy adalah modalitas terapi lokal untuk kanker, berdasarkan pemberian obat fotosensitiser yang secara selektif diabsorbsi oleh sel-sel tumor, yang setelah dilakukan penyinaran, akan menyebabkan destruksi sel-sel tumor. Prosedur PDT terdiri dari 2 tahap, yaitu; 1) pemberian obat fotosensitiser; dan 2) penyinaran lokasi tumor dengan sinar dengan panjang gelombang tertentu. Secara umum, sinar dapat diberikan ke seluruh organ dalam badan menggunakan serat fiber-optic fleksibel. Selektifitas PDT terhadap tumor berdasarkan pada kemampuan PS terlokalisir di lesi neoplasma serta teknik penyinaran yang akurat/presisi ke arah lokasi tumor yang diterapi. Kombinasi dari reaksi PS, cahaya tampak, dan oksigen sel yang memproduksi cytotoxic reactive oxygen species (ROS) menyebabkan kematian sel-sel maligna dengan cara apoptosis dan/atau nekrosis, shutdown mikrovaskularisasi tumor dan menstimulasi sistem imun host.
fotosensitizerr
Penyinaran
pada tumor
Lase
96
9 1 3
6
Gambar. Prinsip PDT
�Photodynamic therapy dapat diberikan sebelum atau setelah modalitas terapi lainnya seperti kemoterapi, radioterapi, ataupun pembedahan, tanpa mengurangi efektifitas modalitas terapi tersebut. Penelitian klinis membuktikan bahwa PS tidak terakumulasi di nukleus sel, sehingga kerusakan DNA sangat minimal. Dengan minimalnya kerusakan DNA, maka kemungkinan terjadinya karsinogenik atau
perkembangan klon resisten juga minimal. Lebih lanjut disebutkan bahwa radioresistensi atau kemoresistensi tidak mempengaruhi sensitifitas terhadap PDT.
Foscan dengan kandungan zat aktif Meta-tetrahydroxyphenilchlorin (m-TCHP), merupakan PS dengan puncak absorbsi cahaya 652 nm. Foscan telah digunakan untuk terapi kanker di kepala leher di negara-negara Eropa. Waktu antara pemberian PS dengan penyinaran/Drug Light Interval untuk Foscan adalah 72-96 jam. Fotosensitivitas kulit terhadap cahaya berlangsung sekitar 1-2 minggu. Fotosensitiser ini sangat fototoksik sehingga hanya memerlukan dosis obat sangat kecil dan dosis sinar sangat rendah13. Kedalaman efek terapi sekitar 1 cm21. Pada tingkat seluler, baik nekrosis maupun apoptosis merupakan reaksi yang dominan untuk memicu kematian sel-sel kanker.
Mekanisme Dasar PDT
PDT menghasilkan singlet oxygen (1O2), suatu jenis oksigen yang a non-radikal tetapi sangat reaktif. Singlet oxygen merupakan jenis oksigen yang paling merusak dalam PDT. Singlet oxygen (1O2) yang diproduksi selama penyinaran PDT dapat membunuh sel tumor melalui beberapa mekanisme. Singlet oxygen secara cepat menyebabkan toksisitas pada sel tumor, yang kemudian menyebabkan kematian sel tumor melalui apoptosis dan atau nekrosis. Active oxygen species dapat dihasilkan melalui reaksi tipe II antara molekul PS dan lingkungan biologi
Molekul singlet oxygen(1O2) bereaksi secara cepat dan tidak selektif (no discriminatingly) dengan molekul elektrofil seperti lemak unsaturated, protein, asam nukleat, dll. Setelah mentransfer energinya kepada oksigen, molekul PS dapat kembali ke fundamental state (1S) dan siklus yang sama berulang lagi. Molekul fotosensitiser, dalam bentuk triplet, dapat bereaksi dengan molekul target, dengan cara merubah hidrogen atau elektronnya. Reaksi ini disebut sebagai reaksi tipe Iq
Efek Langsung PDT
Efek langsung PDT didasarkan pada reaksi tipe II, dengan memproduksi singlet oxygen. Singlet oxygen mempunyai waktu hidup pendek (short lifetime), yaitu 0.01-0.04µ detik dan jarak difusi yang terbatas dalam lingkungan biologi (0.01-0.02 µm) karena reaktifitasnya, sehingga perubahan/deteriorasi seluler terjadi hanya pada daerah yang dekat dengan singlet oxygen. Letak dari molekul tersebut ditentukan oleh derajat lipofilik dari PS. Secara umum, PS dengan anionik lipofilik terakumulasi di membran sel dan organelnya (mitokondria, retikulum endoplasma, lisosome, dan membran nukleus). Fotooksidasi lemak dan protein pada membran sel menyebabkan aktivasi fosfolipase membran, yang kemudian menyebabkan perubahan permeabilitas membran, menurunnya fluiditas (fluidity) dan inaktifasi sistem ensimatik dan reseptor. Disebutkan bahwa penghambatan enzim mitokondria merupakan kunci dari kematian sel pada PDT.
Gambar Mekanisme anti-tumor pada PDT
Efek Sekunder PDT
Akibat dari efek langsung PDT, sebagian besar massa tumor dihancurkan. Pada sel-sel tumor yang tidak terkena efek langsung, dapat terjadi efek sekunder atau tidak langsung, yaitu: 1) efek terhadap vaskularisasi. Efek akut dari PDT yang mudah diamati in vivo adalah pada mikrovaskularisasi, dimana terjadi stasis pembuluh darah. Penentu utama terjadinya vaskuler fotosensitifitas adalah konsentrasi PS di sirkulasi dan jarak waktu antara pemberian obat dengan penyinaran. Efek terhadap mikrovaskularisasi dapat ditunjukkan pada percobaan sel tumor di laboratorium, dimana terjadi agregasi mikrovaskuler diikuti dengan vasokonstriksi sementara (transitory vasoconstriction), vasodilatasi, stasis darah dan perdarahan; 2) inisiasi apoptosis. Apoptosis (kematian sel terprogram) juga berperan penting (disamping kematian sel langsung / nekrosis) dalam PDT. Pada apoptosis, mekanisme genetik dalam sel memulai program perusakan sel tanpa melibatkan inflamasi. Terjadi kondensasi sitoplasma dengan destruksi sel dalam bentuk fragmen-fragmen yang terkumpul di membran sel disebut korpuskulum apoptosis. Dalam jaringan, korpuskulum ini dihancurkan oleh makrofag. Penelitian mengenai apoptosis yang diinduksi oleh PDT telah banyak dilakukan baik secara in vitro maupun in vivo, dan telah membuktikan adanya hubungan antara fotodegradasi mitokondria dengan apoptosis sebagai respons sel; 3) inflamasi. PDT menginduksi reaksi inflamasi kuat pada jaringan yang mendapat terapi. Efek fototoksik pada membran sel menyebabkan pelepasan metabolit lemak yang merupakan aktivator penting terjadinya inflamasi. Pada PDT juga terjadi generasi respons imun yang luas yang sangat penting dalam mengontrol tumor jangka panjang (long term tumor control). Proses kompleks respons jaringan pada PDT belum sepenuhnya dimengerti.
Mekanisme Kematian Sel Tumor Akibat PDT
Photodynamic therapy merupakan prosedur pengobatan yang terdiri dari beberapa tahap, yaitu uptake selektif fotosensitiser pada jaringan tumor, diikuti dengan penyinaran daerah tumor dengan sinar dengan panjang gelombang yang sesuai sehingga terjadi reaksi yang kompleks yang menghasilkan singlet oxygen (1O2) dan Reactive Oxygen Species lain (ROS). Singlet oxygen dan ROS menyebabkan kerusakan struktur sel pada lokasi dimana fotosensitiser terakumulasi. Pada jaringan tumor, fotosensitiser terakumulasi di
membran plasma atau membran intraseluler Retikulum Endoplasma (RE), mitokondria, lisosome, atau kombinasi dari seluruh lokasi tersebut.
Derajat kerusakan (photo-damage) dan sitotoksisitas yang terjadi dalam jaringan tergantung pada banyak faktor, seperti jenis fotosensitiser yang digunakan, lokasi subseluler fotosensitiser, jarak waktu antara penyuntikan fotosensitiser dengan penyinaran (Drug-Light Interval/DLI), serta kondisi saat dilakukan penyinaran. Jenis tumor dan kadar oksigen sel juga merupakan faktor yang mempengaruhi derajat kerusakan sel. Kematian sel secara langsung (photo- killing) terjadi melalui 3 mekanisme, yaitu:
Apoptosis
PDT menginduksi apoptosis melalui aktivasi 2 jalur, yaitu: 1) jalur ekstrinsik atau Death Receptor (DR); dan 2) jalur mitokondria. Jalur ekstrinsik dipicu oleh sitokin yang dihasilkan oleh stressed-cell atau dying-cells akibat PDT. Jalur intrinsik atau jalur mitokondria terjadi karena kerusakan mitokondria secara langsung, atau secara sekunder akibat aktivasi signaling pathway oleh kerusakan photodynamic pada organ subseluler lainnya.
Diketahui bahwa permeabilisasi membran mitokondria (Mitochondrial Membrane Permeabilization/MMP) setelah PDT merupakan kejadian letal yang sangat ketat dikontrol oleh Bcl-2 family, serta tidak tergantung pada p53 (p53-independent)40. Di mitokondria, PDT secara langsung merusak protein Bcl-2 (mitochondria-associated anti- apoptotic Bcl-2 protein), sehingga memfasilitasi bax/Bak-mediated MMP, serta mengeluarkan caspase activator (seperti sitokrom-c dan Smac/DIABLO), serta molekul proapoptosis lain seperti Apoptosis-Inducing Factor (AIF).
Bila kerusakan akibat PDT dominan terjadi di luar mitokondria (seperti di lisosom, Retikulum Endoplasma/RE), maka jalur apoptosis yang terjadi melalui aktivasi upstream pro-apoptotic BH3-only protein. Bila Fotosensitiser terakumulasi di lisosom, maka aktivasi yang terjadi adalah apoptosis intrinsik, sebagai akibat dari di-release-nya cathepsin akibat kerusakan lisosom, sehingga terjadi cleavage BH3-only Bid dan MMP. Bila fotosensitiser terakumulasi di RE, PDT menyebabkan up-regulation dari beberapa ER chaperon, termasuk glucose-regulated protein/ binding protein (GRP78/Bip), GRP94 dan protein disulfide isomerase (PDI), bersamaan dengan aktivasi RE stress responsse Melalui jalur/pathway ini, CCAAT/enhancer binding protein (C/EBP) homologous protein (CHOP), sebuah faktor transkripsi proapoptosis yang diaktivasi akibat dari stress ER berat, dapat mengconvey MMP melalui ekspresi BH3-only pro-apoptotic Bim.
Caspase merupakan mediator penting terjadinya apoptosis pada PDT. Inhibisi caspase hanya melambatkan proses kematian sel (photo-killing) tanpa mencegahnya. Hal ini menerangkan bahwa PDT juga menyebabkan kematian sel melalui jalur caspase- independen atau jalur non-apoptosis. Inhibisi caspase atau defisiensi genetik pada komponen penting proses apoptosis merubah mekanisme kematian sel menjadi mekanisme nekrosis
.
Nekrosis
Meskipun mekanisme molekuler yang mendasari programmed-necrosis masih belum jelas, dapat dijelaskan bahwa aktivasi Receptor Interacting Protein 1 kinase (RIP1), kerusakan mitokondria dengan ditandai hilangnya permeabilitas membran dalam mitokondria, produksi ROS mitokondria yang sangat banyak, penurunan drastis produksi ATP, kerusakan lisosom, ROS-mediated caspase inhibition serta overload Ca2+ intrasel, semuanya berhubungan dengan nekrosis sel
Autophagy
Kematian sel akibat PDT (photo-killing) juga terjadi akibat stimulasi macroautophagy/autophagy pada sel yang mengandung fotosensitiser. Autophagy adalah jalur degradasi lisosom yang terjadi terhadap destruksi masal (bulk destruction) dan turn- over dari long-lived protein dan organel yang rusak akibat stimulasi bermacam-macam penyebab stres sel, termasuk stres oksidatif.
Efek PDT pada Lingkungan Mikro Tumor
Efek sitotoksik PDT tidak terbatas hanya pada sel tumor, akan tetapi juga mengenai sel-sel degenerasi maupun sel-sel normal dalam jaringan tumor PDT menyebabkan kerusakan jaringan yang masif yang dapat menginduksi reaksi kompleks host-tumor. Secara sederhana digambarkan bahwa PDT mentriger respons host yang menyerupai wound healing. Pada PDT yang efektif, lebih dari 90% sel tumor menjadi lethally damaged dalam beberapa jam setelah penyinaran PDT, sehingga proses sitotoksik saja tidak cukup untuk mengeradikasi tumor untuk jangka lama. Hal ini bertentangan dengan hasil PDT yang mampu memberikan complete respons jangka panjang, sehingga disimpulkan bahwa ada mekanisme anti tumor lain yang ikut berperan dalam memberikan hasil anti tumor jangka panjang.
Perubahan lingkungan mikro tumor yang diakibatkan PDT berdampak sangat jelas pada aktifitas sel imun innate. PDT memerlukan konsumsi oksigen yang sangat cepat sehingga level oksigen dalam sel menurun dengan cepat. Bersamaan dengan destruksi pembuluh darah, maka PDT menyebabkan hipoksia berat pada tumor yang disinar. Stres yang diakibatkan oleh rendahnya level oksigen mengaktivasi Hypoxia- Inducible Factor (HIF), faktor transkripsi yang mampu meregulasi ekspresi lebih dari 100 gen. HIF mengatur produksi sitokin dan molekul ko-stimulator pada sel dendrit (DC), sehingga meningkatkan kemampuan DC dalam mempresentasikan antigen dan menginduksi proliferasi limfosit. Hipoksia dalam proses ini merupakan kondisi yang menjembatani antara respons imun innate dengan respons imun adaptif.
PDT dan Respons imun anti-tumor
PDT terdiri dari 3 komponen dasar, yaitu: fotosensitiser (PS), sinar, dan oksigen. Masing-masing ketiga komponen tersebut secara sendiri-sendiri tidak bersifat toksik, akan tetapi reaksi ketiga komponen tersebut menginisiasi reaksi fotokimia, yang berefek pada dihasilkannya produk yang sangat reaktif, yaitu singlet oxygen (1O2). Singlet oxygen
dapat secara cepat menyebabkan toksisitas yang mengakibatkan kematian sel melalui apoptosis dan atau nekrosis.
Kerusakan pada daerah yang disinar akibat reakti fotooksidasi berhubungan dengan terbentuknya lesi dan structural rearrangements di dalam sitoplasma dan membran sel tumor, vaskuler dan sel-sel stroma. Bermacam-macam molekul yang secrara normal berada di intraseluler dikeluarkan atau ditranslokasikan ke permukaan sel yang rusak dan molekul-molekul ini yang disebut sebagai DAMPs berperan penting dalam imunomodulasi.
PDT dan Sistem imun innate
PDT memicu reaksi inflamasi akut hebat yang ditandai dengan adanya edem dan nyeri pada lokasi yang diterapi. Stres oksidatif akut yang disebabkan oleh PDT dipersepsi sebagai kerusakan jaringan oleh badan dan memicu reaksi protektif yang bertujuan untuk memperbaiki integritas jaringan. Reaksi inflamasi yang diinduksi oleh PDT ditandai secara jelas oleh perubahan dramatis pada vaskularisasi tumor yang menjadi permeable terhadap protein darah. Sel pro inflamasi, seperti netrofil, sel mast dan monosit/ makrofag secara masif dan cepat menginvasi tumor.
Secara simultan, sebagai respons terhadap PDT, sejumlah besar debris sel tumor terpapar sehingga bisa difagositosis oleh sel-sel imun (termasuk makrofag, netrofil, sel dendrit/DC) dalam waktu yang relatif singkat.
Sel tumor yang sekarat (dying tumor cells) akibat PDT memproduksi sinyal bahaya yang meningkatkan presentasi antigen oleh sel dendritik/ dendritic cells (DC) dan rekruitmen antigen-specific cytotoxic T lymphocytes (CTL)
Inflamasi akut yang diinduksi oleh PDT berlaku sebagai sinyal bahaya (danger signal) pada innate immune system. Aktivasi innate immune system meningkatkan priming dari tumor-specific T lymphocytes yang mampu mengenali dan menghancurkan sel-sel tumor yang jauh, dan mampu menginduksi terjadinya immune memory yang akan melawan rekurensi sel kanker di kemudian hari.
Gambar. Aktivasi Respons Imun Innate oleh PDT
Respons imun host setelah PDT tersebut dapat terganggu oleh adanya mekanisme immune escape dari tumor, khususnya dengan adanya akumulasi sel T regulator (Treg) intra tumor. Kerusakan akibat PDT pada area tumor yang disinar tidak hanya terjadi secara spesifik pada sel-sel tumor, akan tetapi juga pada sel-sel stroma tumor dan Tumor Infiltrating Lymphocytes (TIL)/ sel-sel imun yang menghambat respons imun host, seperi Treg, Myeloid Derived Supressor Cells (MDSCs). Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa PDT dapat me-reset lingkungan mikro tumor yang bersifat imunosupresi tersebut.
PDT dan Sistem imun adaptive
Berbagai penelitian preklinis maupun klinis melaporkan bahwa PDT dapat menginisiasi reaksi imun adaptif atau sebaliknya, menyebabkan imunosupresi, tergantung pada regimen yang diberikan dan jenis fotosensitiser yang digunakan
Inflamasi jaringan yang terjadi pada PDT menginduksi maturasi DC dan migrasi sejumlah besar DC matur ke limfonodi drainase (draining lymphnodes). DC matur mengekspresikan kompleks peptide-MHC dan molekul kostimulator pada permukaan selnya. Hal ini memungkinkan terjadinya priming CD4+T helper cells dan CD8+CTL, aktivasi sel limfosit B dan inisiasi respons imun adaptif
Gambar. Skematik PDT Mempengaruhi Sel Tumor, Stroma Tumor, dan Sistem Imun
Sebelumnya diduga bahwa meskipun sel kanker mengekspresikan antigen tumor, tumor tersebut tidak bisa mengaktivasi respons imun karena tumor tidak menginduksi inflamasi (karena tumor tidak bersifat patogen). Akan tetapi penelitian yang dilaksanakan berikutnya membantah pernyataan tersebut. Disebutkan bahwa produk dari sel tumor sekarat (dying tumor cells), seperti misalnya heat-shock proteins (HSP) dan monosodium
urat, adalah contoh dari banyak substansi inflamasi di lingkungan mikro tumor, yang memberikan sinyal bahaya (dangerous signals) kepada sistem imun. PDT mengaktifasi respons imun anti tumor seluler dan respons imun anti tumor humoral. Respons imun seluler dimediasi oleh sel Limfosit T CD8+ dan sel Limfosit T CD4+ serta sel NK (Natural Killer cell)
Toksisitas Radioterapi
Komplikasi radioterapi dapat berupa komplikasi dini yang biasanya terjadi selama atau beberapa minggu setelah radioterapi, seperti xerostomia, mual-muntah, mukositis, anoreksi, dermatitis, eritema. Komplikasi lanjut dari radioterapi biasanya terjadi setelah 1 tahun pemberian radioterapi, seperti kontraktur gangguan pertumbuhan
Radiasi memiliki beberapa efek samping dan toksisitas, beberapa dari efek tersebut terjadi pada saat terapi (akut) dan efek lain yang terjadi berbulan-bulan hingga bertahun-tahun setelah terapi (lambat). Bila kemoterapi ditambahkan sebagai modalitas terapi selain radiasi, terdapat peningkatan signifikan pada angka kejadian toksisitas akut, walaupun toksisitas lambat juga demikian. Terdapat jumlah variasi yang signifikan antar pasien dan bagaimana pasien menoleransi terapi radiasi, namun beberapa kesimpulan juga dapat dibuat. Selama radiasi, 2 minggu pertama umumnya berlangsung tanpa banyak kesulitan kecuali siklus kemoterapi pertama menimbulkan toksisitas berupa mual dan muntah atau dehidrasi. Setelah minggu kedua, efek radiasi akut semakin lama semakin meningkat; toksisitas meliputi rasa nyeri (daerah mulut dan sakit tenggorokan) akibat mukositis, perubahan indera pengecap, hilangnya atau rontoknya rambut-rambut wajah (pada daerah yang terpapar terapi) dan iritasi kulit, lendir kental, dan mulut kering. Toksisitas ini umumnya meningkat hingga mencapai puncak pada minggu ke-5 hingga ke-6, dan kemudian bersifat tetap dan konstan sepanjang terapi. Mayoritas pasien menyebutkan bahwa nyeri merupakan efek samping yang paling sulit diatasi, dan sering membutuhkan obat-obatan jenis narkotika.
Setelah menyelesaikan terapi radiasi, efek samping secara perlahan menghilang. Minggu pertama paska-radiasi masih menjadi waktu yang sulit dengan pengurangan rasa nyeri dan efek samping lain secara perlahan; setelah 2 minggu, pasien mulai merasakan dampak perbaikan dari toksisitas yang cukup berkesan, dan efek ini berlangsung selama beberapa minggu. Kerusakan kulit yang terjadi biasanya sembuh dalam waktu 2 minggu, lendir kental hilang dalam waktu 3 hingga 4 minggu, kemudian nyeri berkurang namun masih tetap ada hingga minggu ke 8-12 setelah radiasi. Rasa mudah lelah dan kemampuan untuk kembali bekerja bergantung pada beberapa faktor, namun secara umum pasien dapat kembali bekerja setelah 8 minggu paska-radiasi.
Selain timbulnya toksisitas akut, terdapat sejumlah efek samping lanjut yang muncul akibat radiasi. Salah satu efek yang paling sering terjadi adalah xerostomia (mulut kering) karena kerusakan pada kelenjar saliva; kondisi ini kadang merespons terhadap pemberian pilocarpine (Salagen), namun terkadang pasien perlu membawa botol air minum ke mana pun dan kemungkinan kesulitan menelan daging atau roti kering. Perubahan indera pengecap akan kembali 3 bulan setelah terapi radiasi selesai, walaupun rasa beberapa makanan tidak pernah kembali pada beberapa pasien dan memiliki intoleransi terhadap makanan pedas (akan terasa lebih atau sangat pedas). Beberapa efek samping lanjut terjadi beberapa bulan bahkan bertahun-tahun
setelah terapi radiasi selesai antara lain hipotiroidisme, fibrosis leher, stenosis arteri karotid, osteoradionekrosis (insidensi kasus ini dapat meningkat dengan tatalaksana di bidang kedokteran gigi setelah terapi radiasi), dan disfagia yang disertai dengan aspirasi. Seperti yang telah ditunjukkan pada tabel 110.3, terdapat panduan umum mengenai besaran dosis radiasi yang dapat ditoleransi oleh beberapa jaringan. Dosis toleransi radiasi ditentukan berdasarkan kombinasi dari studi retrospektif dan studi pada hewan, dan data ini bersifat tentatif dengan berbagai alasan, sehingga sulit untuk dikembangkan.
Secara umum, kejadian toksisitas jarang didokumentasikan; sehingga kebanyakan kejadian toksisitas dilaporkan dalam literatur. Machtay melaporkan toksisitas pemberian kemoterapi dan radiasi non-IMRT pada beberapa studi RTOG; terdapat 43% pasien mengalami efek samping lanjut, kebanyakan toksisitas ini berupa disfungsi faring dan laring (22). Eisbruch dan para rekan kerjanya baru-baru ini mempublikasikan data prospektifnya mengenai penggunaan IMRT dalam tatalaksana tumor orofaring (23). Gangguan menelan dinilai menggunakan dua metode, videofluoroskopi dan penilaian gejala subjektif. Videofluoroskopi menunjukkan bahwa rata-rata disfagia ringan pra-terapi memburuk menjadi disfagia sedang setelah kemoradioterapi. Meskipun banyak pasien sembuh dari keluhan menelannya, beberapa pasien tidak sembuh secara total.
PERAWATAN PASIEN SELAMA TERAPI RADIASI
Ahli onkologi radiasi harus melakukan pemeriksaan status mingguan pada pasien yang menjalani terapi radiasi. Riwayat interval terkait harus diperoleh dengan referensi khusus untuk sakit mulut atau tenggorokan, disfagia, suara serak, perubahan rasa, xerostomia, reaksi kulit, dan gejala telinga. Pemeriksaan lengkap harus mencakup status tumor dengan pengukuran atau foto jika sesuai. Pasien harus diperiksa untuk melihat adanya mukositis, kandidiasis oral, dan reaksi kulit. Kondisi umum, berat badan, dan pemeriksaan darah lengkap harus dipantau.
Gambar. Reaksi Kulit Dari Terapi Radiasi
Produk pelembab dan pelumas kulit yang dijual bebas dapat digunakan untuk mengobati luka bakar kulit derajat ringan hingga sedang. Bantalan Gel RadiaCare dapat digunakan untuk meredakan luka bakar kulit. Untuk mengobati sariawan, pasien harus melakukan irigasi mulut dan berkumur dengan larutan garam dan soda kue sesering mungkin. Obat kumur lidokain dapat digunakan untuk sariawan yang nyeri. Pasien juga disarankan untuk menggunakan humidifier untuk mencegah keringnya mukosa saluran nafas bagian atas. Obat nyeri, termasuk gabapentin dan opiat, diberikan sesuai kebutuhan.
Parotitis akut kadang-kadang dapat terjadi dalam 12 jam pertama setelah inisiasi radiasi ke portal yang termasuk kelenjar parotid. Parotitis akut terjadi sebagai akibat dari reaksi inflamasi akut. Pasien dapat melaporkan pembengkakan parotis, nyeri lokal, dan terkadang demam ringan. Parotitis akut dapat sembuh sendiri secara spontan setelah beberapa jam, tetapi keluhan dapat membaik dengan pemberian obat anti-inflamasi non- steroid.
Beberapa pasien, terutama yang menjalani kemoradiasi bersamaan, dapat mengalami penurunan berat badan dan dehidrasi secara progresif pada minggu keempat hingga kelima pengobatan. Hidrasi intravena pada pasien rawat jalan mungkin cukup, tetapi penggunaan selang gastrostomi endoskopi perkutan mungkin diperlukan. Asetaminofen (parasetamol) dengan kodein baik dalam bentuk tablet atau cairan dapat meredakan gejala awal mukositis, tetapi seringkali harus dilanjutkan ke morfin sulfat kerja panjang atau patch fentanil dengan morfin sulfat immediate release. Gabapentin diberikan untuk meminimalkan nyeri mukositis dan mengurangi kebutuhan opiat. Infeksi Candida oraldapat terjadi dan mungkin asimtomatik, atau dapat muncul sebagai eksaserbasi akut dari sakit mulut atau tenggorokan atau sebagai keluhan pengecapan yang tidak normal. Obat anti jamur biasanya efektif.
DAFTAR ISI
MODUL VII.3
ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER: PRINSIP KEMOTERAPI KEGANASAN KEPALA LEHER
WAKTU
Proses Pengembangan Kompetensi | Alokasi Waktu |
Sesi di dalam kelas Sesi dengan fasilitasi Pembimbing Sesi praktik dan pencapaian kompetensi | Waktu: 3 x 50 menit (classroom session) 2 x 50 menit (coaching session) 20 jam (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi presentasi
Power point
Vidio
Kasus : pasien keganasan kepala dan leher
Sarana dan alat bantu latih :
Penuntun belajar
Tempat belajar : instalasi rawat inap, instalasi rawat jalan, kamar operasi, ruang praktikum, ruang kuliah
Model : kadaver
Komputer/laptop
LCD
REFERENSI
Gourin CG, Forastiere AA. 2014. Chemoradiation. In: Bailey's Head and Neck
Surgery Otolaryngology. Fifth edition. 2:1692-1707
Rao Krishna. 2012.Chemotherapy of Head and Neck Cancer. In K.J.Lee's Essential Otolaryngology Head and Neck Surgery. Tenth Edition. Mc Graw Hill. 871-76.
Saba N.F. Khuri F.R. 2017. Chemotherapy in the treatment of squamous cell carcinoma of the head and neck. In: Myers J.N. Hanna E.Y.N. et al. Editors: Cancer of the head and neck. 5th ed. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2017.p. 1319-42.
Shah Jatin P, Patel SG, Singh B. 2020. Systemic therapy. In: Jatin Shah's Head and
Neck Surgery and Oncology. fifth edition. 20:833-46
KOMPETENSI
Pengetahuan
Mampu mengetahui talaksanaan kemoterapi pada keganasan kepala dan leher berdasarkan prinsip dasar kemoterapi, mekanisme kerja beberapa obat, teknik pemberian dan prosedur kemoterapi.
Keterampilan
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam :
Menjelaskan prinsip dasar kemoterapi pada keganasan kepala dan leher
Menjelaskan berbagai macam obat kemoterapi
Menjelaskan mekanisme kerja beberapa obat kemoterapi
Menjelaskan teknik pemberian kemoterapi
Menjelaskan prosedur kemoterapi yang meliputi :
Persyaratan, indikasi dan kontra indikasi
Protokol kemoterapi
Pemantauan dan penanganan efek samping obat kemoterapi
GAMBARAN UMUM
Kemoterapi mengacu pada obat-obatan yang bersifat sitotoksik, obat-batan tersebut menyebabkan kematian sel. Ada berbagai jenis obat kemoterapi, semua obat memiliki mekanisme aksi yang berbeda yang mengakibatkan kematian sel. Kemoterapi dapat meningkatkan efek terapi radiasi, tetapi kemoterapi sebagai terapi tunggal pada umumnya bukan sebagai modalitas kuratif. Karena respons sel tumor sangat bervariasi terhadap kemoterapi. Sel kanker kepala dan leher juga dapat menunjukkan resistensi baik bawaan maupun didapat. Kemoterapi dapat menghasilkan efek yang nyata dalam mengecilkan tumor. Kemoterapi terbukti meningkatkan efek radiasi pada sel tumor bila digunakan dengan terapi radiasi. Kemoterapi bertindak sebagai radiosensitizer, membuat kanker sel lebih sensitif terhadap efek radiasi.
Indikasi umum penggunaan kemoterapi pada pengobatan kanker kepala dan leher meliputi kanker stadium lanjut sebagai pengobatan awal dengan tujuan preservasi organ, locally advanced, tumor yang tidak dapat direseksi, tumor dengan risiko tinggi metastasis, paliatif, kekambuhan tumor atau tumor yang tidak dapat dioperasi. Kemoterapi bukan indikasi untuk pasien dengan stadium I, II, atau stadium III volume rendah (tumor primer kecil dengan atau tanpa nodul ipsilateral tunggal, diameter 3 cm atau kurang) yang belum pernah mendapat terapi sebelumnya.
Secara teknis kemoterapi biasanya diberikan bersamaan dengan radioterapi (kemoradiasi) baik diberikan sebelum (neoadjuvan/induksi), bersamaan (konkaren) atau setelah radiasi (adjuvan). Studi permulaan kemoradiasi dengan menggunakan kemoterapi induksi. Pada teknik ini tiga siklus kemoterapi diberikan beberapa minggu secara terpisah; pasien dengan respons terhadap induksi kemoterapi kemudian menerima radioterapi definitif, sementara pasien yang tidak merespon dirawat dengan operasi dan radiasi pasca operasi. Kemoterapi induksi masih digunakan. akan tetapi sebagian besar digantikan oleh kemoradiasi konkuren atau konkomitan. Pada teknik ini kemoterapi diberikan bersamaan dengan radiasi terapi, baik sebagai terapi mingguan atau untuk total perawatan selama 6 sampai 8 minggu terapi radiasi. Berdasarkan penelitian teknik ini menunjukkan peningkatan respons tumor. Kemoterapi saja digunakan untuk tujuan paliatif pada penyakit metastasis.
Peningkatan efek radiosensitisasi kemoterapi pada radiasi, berdampak pada efek samping dari kemoradiasi lebih besar dibanding radiasi saja. Semua efek samping yang terkait dengan radiasi terjadi, akan tetapi mukositis jaringan yang melapisi mulut dan tenggorokan, kesulitan menelan lebih parah dalam intensitas dan durasi dengan penambahan kemoterapi.
Obat sitotoksik yang paling umum digunakan untuk terapi kanker sel skuamosa kepala dan leher rekurensi atau metastatik adalah cisplatin, carboplatin, docetaxel, paclitaxel, 5-fluorouradl (5-FU) dan metotreksat. Aktivitas sitotoksik juga ditunjukkan oleh agen biologis yang lebih baru yang menargetkan epidermal growth factor receptor (EGFR) seperti cetuximab. Obat sitotoksik untuk keganasan nonepitel kepala dan leher yaitu Hodgkin's lymphoma (HL) dan non-Hodgkin's lymphoma (NHL) adalah CHOP (Cyclophosphamide, Doxorubicin, Vincristine (oncovin) dan Prednisone). Pada kasus dengan CD 20+ : R-CHOP (Rituximab, Cyclophosphamide, Doxorubicin, Vincristine
(oncovin) dan Prednisone). Keganasan nonepitel kepala dan leher yang paling umum ditemukan adalah jenis non-Hodgkin's lymphoma (NHL).
CONTOH KASUS DAN DISKUSI
Seorang wanita berumur 46 tahun datang ke poliklinik Onkologi Bedah Kepala Leher dengan keluhan penglihatan ganda. Keluhan disertai dengan mimisan yang tidak terlalu banyak, hidung tersumbat, telinga terasa tersumbat, benjolan di leher, dan penurunan berat badan dalam 3 bulan terakhir.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya benjolan di kedua leher dengan ukuran kurang lebih 4 cm dan multiple. Dari hasil pemeriksaan endoskopi didapatkan massa putih kemerahan yang memenuhi nasofaring. Hasil histopatologis menunjukkan jenis karsinoma tidak berdiferensiasi. Pasien juga telah membawa hasil CT Scan yang menunjukkan massa memenuhi nasofaring dan terdapat pembesarn kelenjar getah bening yang yang menyengat dengan penambahan kontras, Hasil rontgen thoraks dan USG abdomen serta bone scan dalam batas normal.
Diskusi:
Prinsip dasar kemoterapi pada keganasan kepala dan leher
Berbagai macam obat kemoterapi
Mekanisme kerja obat kemoterapi
Teknik pemberian kemoterapi
Menjelaskan prosedur kemoterapi yang meliputi :
Persyaratan, indikasi dan kontra indikasi
Protokol kemoterapi
Pemantauan dan penanganan efek samping obat kemoterapi
Jawaban:
Diagnosis kerja : Karsinoma Nasofaring T4N2M0 stadium IVA Rencana terapi : Kemoradiasi/kemoterapi neo adjuvant
TUJUAN PEMBELAJARAN
Umum:
Proses, materi dan metode pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, perilaku dan ketrampilan terkait dengan pencapaian kompetensi yang diperlukan yaitu mampu menjelaskan dan menjalankan talaksanaan kemoterapi pada keganasan kepala dan leher.
Khusus:
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan terampil dalam:
Menjelaskan prinsip dasar kemoterapi pada keganasan kepala dan leher
Menjelaskan berbagai macam obat kemoterapi
Menjelaskan mekanisme kerja beberapa obat kemoterapi
Menjelaskan teknik pemberian kemoterapi
Menjelaskan prosedur kemoterapi yang meliputi :
Persyaratan, indikasi dan kontra indikasi
Protokol kemoterapi
Pemantauan dan penanganan efek samping obat kemoterapi
METODE PEMBELAJARAN
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan mempunyai kemampuan dasar untuk melakukan pemberian kemoterapi pada kasus keganasan kepala dan leher
Tujuan 1.Menjelaskan Prinsip Dasar Kemoterapi pada Keganasan Kepala dan Leher
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Small group discussion
Peer assisted learning
Bedside teaching
Task based medical education
Tujuan 2. Menjelaskan berbagai macam obat kemoterapi
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Small group discussion
Peer assisted learning
Bedside teaching
Task based medical education
Tujuan 3. Menjelaskan mekanisme kerja obat-obat kemoterapi
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Small group discussion
Peer assisted learning
Bedside teaching
Task based medical education
Tujuan 4. Menjelaskan teknik pemberian kemoterapi
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Small group discussion
Peer assisted learning
Bedside teaching
Task based medical education
Tujuan 5. Menjelaskan prosedur kemoterapi
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Small group discussion
Peer assisted learning
Bedside teaching
Task based medical education
EVALUASI DAN INSTRUMEN PENILAIAN
Pada awal pertemuan dilaksanakan pre test dalam bentuk essay sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengindentifikasi kekurangan yang ada.
Materi pretest terdiri atas;
Prinsip dasar kemoterapi pada keganasan kepala dan leher
Menjelaskan berbagai macam obat kemoterapi
Mekanisme kerja obat kemoterapi
Teknik pemberian kemoterapi
Prosedur kemoterapi
Selanjutnya dilakukan "Small group discussion" bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian
Setelah mempelajari penuntun belajar ini, peserta didik diwajibkan untuk mendiskusikan dengan teman-temannya (Peer Assisted Evaluation). Pada saat pelaksanaan evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut:
Perlu perbaikan: pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan
Cukup: pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien
Baik : pelaksanaan benar dan baik (efisien)
Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberikan masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan
Self assestment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar
Pendidik/fasilitas:
Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form ( terlampir)
Penjelasan lisan dari peserta didik/diskusi
Kriteria penilaian keseluruhan: cakap/tidak cakap/lalai
Diakhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education)
Pencapaian pembelajaran:
Ujian akhir stase, dilakukan oleh setiap divisi/unit kerja masing-masing sentra pendidikan T.H.T.K.L
Ujian akhir kognitif dan OSCE (K,P,A), dilakukan oleh Kolegium Ilmu kesehatan T.H.T.K.L
Perlu perbaikan: pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan
Cukup: pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien
Baik : pelaksanaan benar dan baik (efisien)
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Kuesioner meliputi:
Sebelum pembelajaran Soal:
Apakah tujuan pemberian kemoterapi pada keganasan kepala dan leher? Kecuali :
Radiosensitizer
Menurunkan kontrol lokoregional
Mencegah mikrometastasis
Menurunkan kualitas hidupE. Menimbulkan kematian seluruh sel
Jawaban : D
Bagaimana mekanisme kerja obat Alkylating agent ?
Menghambat sintesa DNA dengan menukar gugus alkali sehingga membentuk ikatan silang DNA
Berikatan dengan protein mikrotubuler sehingga menyebabkan disolusi struktur mitotic spindle pada fase mitosis
Memperbaiki fungsi sel dengan melakukan transfer gugus alkali pada gugus amino, karboksil, sulfidril atau fosfat
Menganggu fungsi enzim topoisomerase sehingga menghambat proses transkripsi dan replikasi
Menghambat sintesis DNA berikatan dengan sintase tymidylate yang berujung pada pengurangan protein precursor sintesis DNA.
Jawaban: A
Tengah pembelajaran Soal :
Berapakah dosis toleransi maksimal pemberian Cisplatin pada kemoterapi
neo adjuvant penderita KNF ?
40 mg/m2 .
60 mg/m2 .
100 mg/m2 .
120 mg/m2 .
250 mg/m2 .
Jawaban : C
Akhir pembelajaran Soal :
Apakah kontraindikasi absolut pemberian kemoterapi ?
Kadar Hb 9 gr/dl
Neutropenia
Gangguan faal hemostasis
Systemic Inflammatory Response SyndromeE. Usia lanjut
Jawaban : D
MATERI PRESENTASI
SLIDE 1 : Prinsip dasar kemoterapi
SLIDE 2 : Jenis histopatologi dan stadium keganasan kepala leher
Berdasarkan mekanisme cara kerja obat:
a.
Antimetabolit, obat ini menghambat biosintesis purin atau pirimidin. Sebagai
contoh MTX menghambat pembentukkan folat tereduksi yang dibutuhkan untuk sintesis timidin.
Obat yang menganggu struktur atau fungsi molekul DNA. Zat pengalkil seperti Cyclophosphamide mengubah struktur DNA, dengan demikian menahan replikasi sel.
Inhibitor mitosis seperti alkaloid vinka contohnya vincristine dan vinblastine, menahan pembelahan sel dengan menganggu filamen mikro pada kumparan mitosis.
SLIDE 3 : Jenis Mekanisme kerja obat
SLIDE 4 : Teknik pemberian
Secara umum metode kemoterapi digunakan dengan 4 cara kerja yaitu :
1. Sebagai neoadjuvan yaitu pemberian kemoterapi mendahului pembedahan dan radiasi. Tujuannya untuk mengecilkan tumor yang sensitive sehingga akan lebih mudah ditangani dengan radiasi atau pembedahan.
Sebagai konkuren diberikan bersamaan dengan radiasi, dosis kemoterapi lebih rendah, sebagai radiosensitizer.
Sebagai terapi adjuvant yaitu sebagai terapi tambahan paska pembedahan dan atau radiasi. Tujuannya untuk mengatasi kemungkinan metastasis jauh dan meningkatkan kontrol lokal.
Sebagai terapi utama yaitu digunakan tanpa radiasi dan pembedahan terutama pada kasus-kasus stadium lanjut dan pada kasus kanker jenis hematologi (leukemia dan limfoma). Pemberian kemoterapi bertujuan untuk paliatif.
SLIDE 5 : Indikasi dan kontra indikasi kemoterapi
Indikasi kemoterapi:
Menyembuhkan dan menghilangkan kanker
Memperpanjang hidup
Memperpanjang interval bebas kanker
Menghentikan progresifitas kanker
Mengecilkan volume kanker
Terapi paliatif
Kontraindikasi kemoterapi
Absolut:
Penyakit stadium terminal
Hamil trimester pertama, kecuali akan digugurkan
Septikemia
Koma
Relatif:
Usia lanjut
Keadaan umum yang sangat jelek
Ada gangguan fungsi organ vital
Demensia
Penderita tidak dapat mengunjungi klinik/RS secara teratur
Tumor resisten terhadap obat, tidak ada fasilitas penunjang
SLIDE 6 : Menangani efek samping dan penangananya
MATERI BAKU
Definisi Kemoterapi
Kemoterapi merupakan pengobatan kanker dengan pemberian obat-obatan tertentu (sitostatika/obat anti kanker) yang bertujuan untuk menghambat pertumbuhan sel kanker ataupun membunuh sel kanker.
Tujuan dari kemoterapi:
sebagai radiosensitizer dan meningkatkan kontrol lokoregional
mengobati penyakit mikrometastasis dan meningkatkan kualitas hidup
preservasi organ
terapi paliatif
debulking tumor besar sehingga memungkinkan untuk dilakukan tindakan operasi
Mekanisme kerja obat-obat kemoterapi
Berdasarkan mekanisme cara kerja obat:
Antimetabolit, obat ini menghambat biosintesis purin atau pirimidin. Sebagai contoh MTX menghambat pembentukkan folat tereduksi yang dibutuhkan untuk sintesis timidin.
Obat yang menganggu struktur atau fungsi molekul DNA. Zat pengalkil seperti Cyclophosphamide mengubah struktur DNA, dengan demikian menahan replikasi sel.
Inhibitor mitosis seperti alkaloid vinka contohnya vincristine dan vinblastine, menahan pembelahan sel dengan menganggu filamen mikro pada kumparan mitosis.
Berdasarkan kerjanya pada siklus sel, obat kemoterapi dapat dibedakan:
Cell Cycle Depending Drugs (CCDD)
Obat ini bekerja selama terdapat proses pembelahan sel, dikelompokkan menjadi:
Cell Cycle Depending Drugs Specific Phase (CCID)
Bekerja pada fase tertentu dalam pembelahan sel, obat ini dapat efektif bekerja jika terdapat dalam jumlah yang cukup pada sel tumor yang memasuki fase tertentu.
Cell Cycle Depending Drugs Non Spesific Phase
Bekerja pada sel tumor yang sedang aktif membelah tetapi tidak tergantung pada proses pembelahan sel, efektif bekerja pada sel kanker yang sedang aktif membelah tanpa tergantung fasenya.
Cell Cycle Independing Drugs (CCID)
Obat ini membunuh sel kanker pada setiap keadaan dan tidak tergantung pada pembelahan sel. Obat sitostatika yang hanya bekerja pada satu fase adalah golongan alkaloid, sedangkan yang dapat bekerja pada beberapa fase sekaligus adalah golongan antimetabolit.
Berdasarkan mekanisme kerjanya, obat kemoterapi dapat dibedakan:
Alkylating agent
Obat golongan ini menghambat sintesa DNA dengan menukar gugus alkali sehngga membentuk ikatan silang DNA dan menganggu fungsi sel dengan melakukan transfer gugus alkali pada gugus amino, karboksil, sulfidril atau fosfat.
Contoh: Cyclophospamid, Carboplatin, Cisplatin, Ifosphamid, Chlorambucil
Antibiotik
Obat golongan ini mekanisme kerjanya menghambat sintesa DNA dan RNA.
Contoh: Bleomicin, Mitomicin, Epirubicin, Doxorubicin
Antimetabolit
Bekerja dengan cara menghambat sintesa asam nukleat. Altivitasnya meningkat pada sel yang membelah cepat.
Contoh: Leukovorin, Fluorouracil, Metotrexate, Hydroxyurea, Capecitabine
Mitotic Spindle
Obat golongan ini akan berikatan dengan protein mikrotubuler sehingga menyebabkan disolusi struktur mitotic spindle pada fase mitosis.
Contoh: Paclitaxel, Vincristine, Doxetaxel, Vinblastine
Topoisomerase inhibitor
Obat golongan ini bekerja dengan cara menganggu fungsi enzim topoisomerase sehingga menghambat proses transkripsi dan replikasi Contoh: Etoposit, Irinotecan dan Topotecan
Hormonal
Beberapa hormonal dapat digunakan dalam kemoterapi.
Contoh: adrenokortikosteroid (Prednison, metilprednisolon, dexametason), androgen, antiandrogen, adrenal inhibitor, progrestin
Monoclonal antibodies
Obat ini memiliki selektifitas relatif untuk jaringan tumor dan toksisitasnya relatif rendah. Obat ini dapat menyerang sel tertentu secara langsung dan dapat digabungkan dengan zat radioaktif atau kemoterapi tertentu. Contoh: Rituximab dan Trastuzumab
Hematopoietic Growth Factors
Eritropoitin, CSFs, dan platelet growth factors
Lain-lain: interferon alfa, IL-2, Suramin, Extramustine
Metoda Pemberian Kemoterapi
Secara umum metode kemoterapi digunakan dengan 4 cara kerja yaitu :
Sebagai neoadjuvan yaitu pemberian kemoterapi mendahului pembedahan dan radiasi. Tujuannya untuk mengecilkan tumor yang sensitive sehingga akan lebih mudah ditangani dengan radiasi atau pembedahan.
Sebagai konkuren diberikan bersamaan dengan radiasi, dosis kemoterapi lebih rendah, sebagai radiosensitizer.
Sebagai terapi adjuvant yaitu sebagai terapi tambahan paska pembedahan dan atau radiasi. Tujuannya untuk mengatasi kemungkinan metastasis jauh dan meningkatkan kontrol lokal.
Sebagai terapi utama yaitu digunakan tanpa radiasi dan pembedahan terutama pada kasus-kasus stadium lanjut dan pada kasus kanker jenis hematologi (leukemia dan limfoma). Pemberian kemoterapi bertujuan untuk paliatif.
Indikasi dan Kontraindikasi Pemberian Kemoterapi Indikasi kemoterapi:
Menyembuhkan dan menghilangkan kanker
Memperpanjang hidup
Memperpanjang interval bebas kanker
Menghentikan progresifitas kanker
Mengecilkan volume kanker
Terapi paliatif
Kontraindikasi kemoterapi
Absolut: 1. Penyakit stadium terminal
Hamil trimester pertama, kecuali akan digugurkan
Septikemia
Koma
Relatif: 1. Usia lanjut
Keadaan umum yang sangat jelek
Ada gangguan fungsi organ vital
Demensia
Penderita tidak dapat mengunjungi klinik/RS secara teratur
Tumor resisten terhadap obat, tidak ada fasilitas penunjang
Obat-obat kemoterapi yang sering digunakan untuk keganasan kepala dan leher
Paclitaxel dan Doxetaxel
Golongan taxane ini menstabilkan tubulin polymer dan mencegah pembelahan sel.
Cisplatin
Cisplatin menandai aktivitas tumor dan menghambat tumor yang tidak sensitive terhadap fase S inhibitor yang cepat bereaksi dengan sifat elektrofilik/oksidasi dengan target utama DNA sel. Cisplatin biasanya diberikan selama 2-6 jam dengan dosis 60 sampai 120 mg/m2 . Toksisitas dapat berupa nefrotoksik, mual dan muntah, neurotoksik perifer, ototoksik, supresi sumsum tulang, elektrolit imbalance setelah pemberian beberapa siklus obat. Obat serupa Carboplatin sekarang banyak digunakan khususnya pada kasus- kasus paliatif, dapat mengurangi efek samping dan lama perawatan di rumah sakit.
5-Fluorouracil
Obat ini bekerja spesifik sebagai analog urasil pada fase S yang dapat diaktivasi melalui dua jalur utama intraseluler yaitu menggabungkan fosforilasi menjadi RNA dan aktivasi menjadi 5fluorodeoxyuridine monophosphate yang menghambat enzim thymidylate synthase dan konversi senyawa uridin menjadi timidin. Sehingga sel akan kekurangan timidin dan tidak dapat mensintesis DNA. Efek samping yang ditemukan adalah mielosupresi, mukositis, diare, dermatitis dan kardiotoksik.
Cetuximab
Merupakan obat kanker yang masuk golongan 'terapi target'. Obat ini bekerja sangat selektif dengan menjadikan zat-zat spesifik dalam tubuh yang berperan dalam proses pertumbuhan sebagai target pengobatan.
Cetuximab menghambat produksi VEGF (Vascular epithelial growth factor) karsinoma epidermosa, sehingga mengurangi jumlah pembuluh darah tumor, down regulation VEGF, IL-8 dan ekspresi bFGF (basic fibroblast growth factor) pada xenograf tumor. Obat ini diberikan secara intravena dengan dosis 200-400 mg/m2 dan memiliki waktu paruh 114 (75-188 jam), sehingga memungkinkan diberikan setiap minggu. Pada saat dosis awal diberikan secara
perlahan secara intravena dalam dosis besar diberikan sekitar 2 jam. Untuk pemberian berikutnya diberikan seminggu sekali dalam waktu 1 jam. Pada kanker kepala dan leher cetuximab diberikan dengan kombinasi radioterapi. Efek samping cetuximab biasanya ringan seperti rash, jerawat, kulit kering dan fissure.
Methotrexate
Antimetabolit yang bekerja menganggu metabolisme folat intraseluler dengan mengikat enzim dihydrofolate reductase. Menghambat konversi asam folat menjadi tetrahydrofolate sehingga terjadi kekurangan folat dalam sel dan menghambat sintesis DNA. Obat ini hanya aktif selama fase S dalam siklus sel. Sebagai agen tunggal, metrotrexate diberikan setiap minggunya dengan dosis 40-50 mg/m2.
Efek samping berupa reaksi toksik; mielosupresi, mukositis, dermatitis, mual, muntah, diare, dan fibrosis hati,
Nimatozumab
Termasuk dalam golongan terapi target, bekerja sangat selektif dalam proses pertumbuhan kanker sebagai target pengobatan. Efek samping jauh lebih ringan dibandingkan kemoterapi konvensional.
Biasanya ditemukan efek samping berupa jerawat atau bisul dalam berbagai tingkat keparahan (bisa mencapai grade 3 atau 4) yang disebut skin rash.
DAFTAR ISI
MODUL VII.4
ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER: NEOPLASMA RONGGA MULUT
WAKTU
Proses Pengembangan Kompetensi | Alokasi Waktu |
Sesi di dalam kelas Sesi dengan fasilitasi Pembimbing Sesi praktik dan pencapaian kompetensi | 1 x 90 menit (classroom session) 1 x 60 (coaching session) 16,5 jam (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi presentasi:
Power point
Video
Kasus:
Karsinoma Lidah
Neoplasma Dasar mulut
Neoplasma Mukosa bukal
Neoplasma Palatum
Sarana dan alat bantu latih: (disesuaikan dengan pencapaian kompetensi):
Penuntun belajar (learning guide): terlampir
Tempat belajar (training setting): instalasi rawat inap, instalasi rawat jalan, kamar operasi, ruang praktikum, ruang kuliah
Model/ manekin atau kadaver
Komputer/ laptop
Infocus
REFERENSI
Oh YS, Russell MS, Eisele DW. Salivary gland neoplasms. In: Jhonson Jt, Rosen CA, editors. Bailey's head & neck surgery otolaryngology. 5th ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2014. p. 1760-87
Lee KJ, Chan Y, Das S, editors. Essential Otolaryngology Head & Neck Surgery, 11th ed. New York: McGraw-Hill;2017
Rocco JW. Excision of Cancer of The Floor of The Mouth. In: Myers EN, Ferris
L. Head and Neck Surgery. Philadelphia: Lippicott Williams & Wilkins; 2017.
Donald PJ. Transoral inferior maxillectomy. In: Myers EN, Ferris L. Head and Neck Surgery. Philadelphia: Lippicott Williams & Wilkins; 2017.
Shah JP, Patel SG, Singh B. Jatin Shah's Head and Neck Surgery and Oncology.
5th ed. Philadelphia: Elsevier Mosby; 2020
American Joint Committee on Cancer. AJCC Cancer Staging Manual, 8th ed. Chicago: Springer; 2017
NCCN Guidlines Staging Head and Neck Cancers, 2020
1
KOMPETENSI
Pengetahuan
Setelah mengikuti sesi ini peserta mampu mendiagnosis dan menatalaksana neoplasma rongga mulut.
Keterampilan
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil:
Mengenali gejala dan tanda neoplasma rongga mulut
Melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik terhadap neoplasma rongga mulut
Melakukan keputusan untuk pemeriksan penunjang seperti X-ray, CT Scan atau MRI
Melakukan biopsi massa neoplasma rongga mulut.
Melakukan tatalaksana pendahuluan terhadap kasus yang bersangkutan dan memberikan rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi untuk tatalaksana lebih lanjut.
GAMBARAN UMUM
Bibir merupakan organ di rongga mulut yang berbeda dari struktur sekitarnya. Bibir atas dimulai dari lubang hidung dan dasar ala nasi setiap sisi dan berakhir di lateral pada lipatan nasolabial. Bibir atas dibagi menjadi subunit oleh phitral columns. Phitral columns terbentuk oleh serat m. orbicularis oris kontralateral yang melalui garis tengah. Lekukan ditengah antar philtral columns disebut phitral groove. Cupid's bow merupakan bagian persimpangan kulit dan vermilion diantara phitral columns. Bibir bagian bawah dimulai dari lipatan nasolabial di lateral dan dibatasi oleh lipatan labiomental.
Lidah merupakan organ di rongga mulut yang dapat digerakkan. Area lidah meliputi anterior dari batas papila sirkumvalata ke permukaan bagian bawah lidah yang berhubungan dengan dasar mulut. Terdiri dari stuktur orofaringeal yang terbagi menjadi beberapa bagian yaitu ujung lidah, dorsum lidah, tepi lateral dan permukaan bawah (disebut sebagai aspek ventral).
Dasar mulut merupakan salah satu komponen dari rongga mulut yang terletak di dalam alveolar ridge inferior. Struktur ini berbentuk seperti tapal kuda, mulai dari posterior gigi seri dan memanjang secara bilateral ke pilar tonsil anterior. Mukosa yang melapisi dasar mulut dibentuk oleh lapisan tipis dari epitel skuamous bertingkat dengan fleksibilitas yang tinggi.
Karsinoma sel squamous mukosa bukal terjadi pada 5% sampai 10% kanker rongga mulut di Amerika Serikat, di India didapatkan 40% terkait dengan konsumsi buah pinang (battle nut). Pada fase awal gejala yang sering ditemui adalah sariawan yang tidak sembuh pada rongga mulut. Konsumsi alkohol dan merokok merupakan faktor predisposisi, juga riwayat karies dan masalah pada gigi geligi. Adanya trismus berkaitan dengan keterlibatan fossa infra temporal, yang merupakan batasan dapat tidaknya dilakukan tindakan operasi. Gigi yang tanggal merupakan indikasi adanya invasi dan penyebaran ke alveolus. Pada fase lanjut, dapat ditemui adanya rasa penuh pada satu sisi wajah serta kemerahan atau ulserasi pada kulit.
Neoplasma mukosa bukal sering terdeteksi pada fase lanjut. Karena tidak adanya batas tegas anatomi memudahkan perluasan massa ke jaringan sekitar. Lapisan lemak bukal dan otot sangat mudah di invasi oleh karsinoma dan menyebabkan kelumpuhan otot wajah. Invasi kulit dan trismus jarang ditemukan.
Pembedahan merupakan pilihan utama pada neoplasma mukosa bukal. Pendekatan tersering yang dilakukan adalah melalui eksisi transoral. Lesi yang lebih besar membutuhkan kombinasi eksisi transoral dan trans servikal. Pada lesi yang lebih kecil dapat dilakukan penutupan primer dengan skin graft. Untuk Lesi yang lebih besar, rekostruksi soft tissue dengan regional pedikel flap seperti submental flap, temporoparietal facial flap atau fasciocutaneus free flap dapat dilakukan untuk menghindari kontraktur dan trismus.
Ada tidaknya metastasis berkaitan dengan besarnya massa tumor dan kedalaman invasi neoplasma primer. Pada tahap lanjut T III dan T IV serta invasi >5mm perlu dipertimbangkan untuk dilakukan diseksi leher untuk menghindari kemungkinann adanya metastasis pada leher walaupun tidak ditemukan pembesaran KGB leher
Karsinoma bukal memiliki prognosis yang buruk. Pada kasus yang tidak dapat di operasi tatalaksana utama adalah radioterapi + kemoterapi. Angka ketahanan hidup lima tahun berkisar antara 90% pada stadium I, 80% pada stadium II, 65% pada stadium III, dan 30% pada stadium IV.
Karsinoma palatum merupakan salah satu kasus keganasan sel skuamosa (KSS) yang paling sering terjadi di rongga mulut. Angka kejadian KSS pada palatum hampir setara dengan kejadian neoplasma kelenjar ludah minor di palatum, yakni sebesar 50%. Neoplasma lain yang dapat berasal dari palatum adalah adenoid cystic carcinoma, polymorphous low-grade adenocarcinoma, dan mucoepidermoid carcinoma.
CONTOH KASUS DAN DISKUSI
Karsinoma lidah
Seorang laki-laki, 52 tahun datang ke poli THTKL dengan keluhan benjolan di lidah kanan sejak 4 bulan lalu, penderita tidak mengeluhkan kesulitan menelan. Lidah pasien masih dapat digerakkan dengan mudah. Keluhan sesak napas disangkal, keluhan benjolan dileher disangkal.
Diskusi:
Anatomi, fisiologi, dan histologi dasar mulut
Etiopatogenesis terjadinya tumor lidah
Tipe tumor lidah
Prosedur diagnosis
Rencana tatalaksana
Jawaban:
Lidah merupakan bagian rongga mulut yang dapat digerakkan, meluas ke anterior dari batas papila sirkumvalata ke permukaan bagian bawah lidah yang berhubungan dengan dasar mulut. Terdiri dari stuktur orofaringeal yang terbagi menjadi beberapa bagian yaitu ujung lidah, dorsum lidah, tepi lateral dan permukaan bawah (disebut sebagai aspek ventral).
Otot-otot ekstrinsik pada lidah adalah otot genioglosus, hioglosus, dan stiloglosus. Otot-otot instrinsik adalah serabut otot vertikal, transversal dan longitudinal.
Tumor lidah merupakan tumor kedua terbanyak (30%) dalam rongga mulut. Sering mengenai bagian lateral dari lidah. Faktor resiko terjadinya adalah tembakau, alkohol, imunosupresi dan oral hiegine yang buruk. Secara histologi, tumor invasi > 2-4 mm berhubungan dengan tingginya angka metastasis regional, rekurensi dan mortalitas. Invasi perineural pada tempat primer adalah indikator lain peningkatan rekurensi dan mortalitas.
Tumor ganas pada lidah adalah suatu keganasan yang berasal dari jaringan epitel mukosa lidah dengan sel berbentuk KSS. Tumor ini dapat menginfiltrasi ke daerah sekitarnya, di samping itu dapat terjadi metastasis secara limfogen dan hematogen. KSS adalah jenis keganasan yang paling sering terjadi dalam rongga mulut, meliputi 95% dari seluruh kasus keganasan pada rongga mulut.
Gejala pada penderita tergantung pada lokasi kanker. Keluhan utamanya adalah timbulnya suatu massa yang seringkali terasa tidak sakit. Ulkus superfisialis yang tidak sakit melebar dengan tepinya bulat, berwarna abu-abu seperti nekrosis. Kadang-kadang hanya merupakan permukaan yang kasar, pada sepertiga anterior. Bila melibatkan sepertiga posterior lidah, seringkali kanker tersebut tidak diketahui oleh penderita. Cenderung berinfiltrasi ke bagian dalam, dan rasa sakit yang dialami biasanya dihubungkan dengan rasa sakit tenggorokan.
Pada pemeriksaan fisik rongga mulut dapat ditemukan eritroplakia (merah, lesi inflamasi) yang merupakan bentuk awal terbanyak terjadinya KSS. Gejala lanjut dapat ditemukan adanya fiksasi lidah, penurunan sensasi lidah, perubahan suara dan gangguan menelan serta limfadenopati servikal. Metode skrining meliputi vital staining, spectral analysis, ViziLite (chemiluminescence) dan biopsi sikat (brushing). Metastasis regional dapat terjadi melalui drainase nodul primer ke level I-III.
Pemeriksaan penunjang terdiri dari biopsi (IHK, VEGF, EGFR), pemeriksaan pencitraan (x-ray tomography dan CT scan, USG Abdomen, rontgen thorax) ekokardiografi, audiometri, pemeriksaan darah rutin dan kimia darah.
Penatalaksanaan berdasarkan derajat klinis (berdasarkan NCCN 2020)
T1-T2, N0
Reseksi primer diikuti atau tanpa diseksi leher ipsilateral atau bilateral
Reseksi primer diikuti atau tanpa sentinel biopsi
Radioterapi definitif
T3, N0 atau T1-3, N1-3 atau T4a
Pembedahan
N0, N1, N2a-b, N3
Reseksi primer diikuti diseksi leher ipsilateral atau bilateral
N2c
Reseksi primer diikuti diseksi leher bilateral
T4b atau nodus yang tak dapat direseksi atau tidak memungkinkan dioperasi
ECOG 0-1
Kemoterapi dan radioterapi konkuren
Induksi kemoterapi diikuti dengan radioterapi
ECOG 2
Kemoterapi dan radioterapi konkuren
Radioterapi definitif
ECOG 3
Radioterapi paliatif
Kemoterapi dosis tunggal
Perawatan suportif
M1
ECOG 0-1
Platinum + 5FU + cetuximab
Kemoterapi kombinasi lainnya
Kemoterapi dosis tunggal
Pembedahan atau radioterapi atau kemoterapi diikuti radioterapi pada pasien dengan metastasis terbatas
Perawatan suportif
ECOG 2
Kemoterapi dosis tunggal
Perawatan suportif
ECOG 3
Perawatan suportif
T4 : dipertimbangkan kemoradiasi (bila ada keterlibatan tulang, maka diperlukan reseksi).
Angka kontrol lokoregional untuk 5 tahun adalah 91%. Angka harapan hidup (5 tahun). yaitu stadium I,II (60-75%); stadium III,IV (25-40%).
Neoplasma dasar mulut
Seorang laki-laki, 60 tahun datang ke poli THT dengan keluhan benjolan di dasar mulut sejak 4 bulan lalu. Benjolan semakin lama semakin besar sampai berukuran telur puyuh. Benjolan pada awalnya tidak nyeri namun seiring bertambah besarnya ukuran benjolan, maka benjolan dirasakan nyeri oleh pasien. Tidak didapatkan benjolan pada leher pasien. Pasien kemudian berobat ke rumah sakit setempat.
Diskusi :
Anatomi, fisiologi, dan histologi dasar mulut
Etiopatogenesis terjadinya neoplasma dasar mulut
Tipe neoplasma dasar mulut
Prosedur diagnosis
Rencana penatalaksanaan
Jawaban:
Anatomi
Dasar mulut merupakan salah satu komponen dari rongga mulut yang terletak di dalam alveolar ridge inferior. Struktur ini berbentuk seperti tapal kuda, mulai dari posterior gigi seri dan memanjang secara bilateral ke pilar tonsil anterior. Mukosa yang melapisi dasar mulut dibentuk oleh lapisan tipis dari epitel skuamous bertingkat dengan fleksibilitas yang tinggi. Kelenjar saliva banyak ditemukan pada bagian ini, mencakup kelenjar saliva minor, kelenjar sublingual, dan komponen duktus dari kelenjar submandibula, yaitu duktus Wharton yang bermuara pada kedua sisi dari frenulum sublingual. Vaskularisasi dasar mulut diberikan oleh arteri lingualis, sedangkan inervasinya oleh serabut syaraf trigeminus cabang ketiga melalui nervus lingualis. Drainase dari sistem limfatik akan mengalir secara bilateral pada bagian superfisial, dimana pada bagian yang lebih dalam drainasenya akan mengalir ke level IA, IB, dan II secara ipsilateral. Otot yang terdapat pada area ini terdiri dari otot geniohyoid, genioglossus, dan mylohyoid.
Etiopatogenesis
Faktor penyebab adalah merokok, mengunyah tembakau, penyalahgunaan alkohol (terutama bila dikombinasi dengan merokok), trauma kronik karena pemasangan gigi palsu. Juga berhubungan dengan fibrosis submukosa, kandidiasis hiperplastik atau sindroma Plummer Vinson.
Mukosa bukal dan komisura oral adalah tempat tersering. Dapat juga mengenai dasar rongga mulut, lidah, sulkus bukoginggiva dan permukaan mukosa bibir. Paling sering pada usia dekade keempat, dengan insiden pada laki-laki 2-3 kali lebih sering dibandingkan pada wanita.
Secara klinis ada beberapa tipe, yaitu:
Homogen: Tampak sebagai selaput putih licin atau berkerut;
Nodular: Tampak sebagai selaput putih atau nodul dengan dasar eritema;
Erosif (eritroleukoplakia): Terdapat erosi dan fisura.
Sekitar 25% leukoplakia menunjukkan bentuk displasia epitel ringan sampai berat. Derajat displasia yang lebih berat akan berubah menjadi malignansi. Perubahan ini terjadi sekitar 1-17,5% (5%) kasus. Potensi menjadi maligna tergantung pada predileksi, tipe leukoplakia dan durasi evaluasi.
Tipe
Gambar 1. Dasar mulut dan struktur penunjangnya
Lesi Premaligna Leukoplakia
Definisi leukoplakia menurut WHO adalah suatu selaput putih yang tidak dapat dibedakan secara klinis atau patologis dari penyakit lainnya. Lesi lain dalam rongga mulut yang menjadi pengecualian, antara lain: Lichen planus, discoid lupus erythromatosus, white spongy nevus dan kandidiasis
Eritroplakia
Merupakan suatu selaput berwarna merah pada permukaan mukosa. Warna merah disebabkan penurunan keratinisasi dan hasil dari jaringan ikat vaskular berwarna merah dari alveolar bagian bawah, sulkus bukoginggiva dan dasar rongga mulut. Eritroplakia paling banyak terdapat pada displasia berat, karsinoma in situ atau karsinoma invasif murni saat pertama kali terlihat. Peluang terjadinya keganasan bila terdapat lesi ini adalah 17 kali lebih tinggi dari leukoplakia. Secara makroskopis, lesi terdiri dari tiga jenis, yaitu homogen, granular dan eritroplakia, yang diselingi oleh area leukoplakia (sering sulit dibedakan dengan erileukoplakia, tipe dari leukoplakia).
Melanosis dan Hiperpigmentasi Mukosa
Lesi jinak berpigmen dari mukosa mulut yang berubah bentuk menjadi melanoma maligna. Insidensinya tidak diketahui. Sekitar satu perempat dari mukosa melanoma dapat berasal dari lesi jinak dan biopsi sangat dianjurkan.
Neoplasma Dasar Mulut
Neoplasma dasar mulut menyumbangkan sebanyak 16% dari neoplasma pada rongga mulut. Sebagian besar dari neoplasma dasar mulut merupakan KSS sebanyak 75% neoplasma pada dasar mulut. Jenis kelamin pria relatif lebih banyak menderita penyakit ini dibandingkan wanita. Faktor risiko terjadinya adalah
tembakau, alkohol, imunosupresi dan kebersihan mulut yang buruk. Terjadinya neoplasma pada dasar mulut diduga karena area ini merupakan daerah yang paling sering kontak dengan berbagai makanan dan minuman yang masuk ke mulut sebelum ditelan, termasuk zat karsinogen yang mungkin terkandung didalamnya. Secara histologi, neoplasma invasi > 2-4mm berhubungan dengan tingginya angka metastasis regional, rekurensi dan mortalitas. Invasi perineural pada tempat primer adalah indikator lain peningkatan rekurensi dan mortalitas.
Tatalaksana (NCCN 2020)
Penatalaksanaan untuk berdasarkan derajat klinis:
T1-T2, N0
Reseksi primer diikuti atau tanpa diseksi leher ipsilateral atau bilateral
Reseksi primer diikuti atau tanpa biopsi sentinel
Radioterapi definitif
T3, N0 atau T1-3, N1-3 atau T4a Pembedahan
N0, N1, N2a-b, N3
Reseksi primer diikuti diseksi leher ipsilateral atau bilateral
N2c
Reseksi primer diikuti diseksi leher bilateral
T4b atau nodus yang tak dapat direseksi atau tidak memungkinkan dioperasi
ECOG 0-1
Kemoterapi dan radioterapi konkuren
Induksi kemoterapi diikuti dengan radioterapi
ECOG 2
Kemoterapi dan radioterapi konkuren
Radioterapi definitif
ECOG 3
Radioterapi paliatif
Kemoterapi dosis tunggal
Perawatan suportif
M1
ECOG 0-1
Platinum + 5FU + cetuximab
Kemoterapi kombinasi lainnya
Kemoterapi dosis tunggal
Pembedahan atau radioterapi atau kemoterapi diikuti radioterapi pada pasien dengan metastasis terbatas
Perawatan suportif
ECOG 2
Kemoterapi dosis tunggal
Perawatan suportif
ECOG 3
Perawatan suportif
T4 : dipertimbangkan kemoiradiasi (bila ada keterlibatan tulang, maka diperlukan reseksi).
Angka ketahanan hidup 5 tahun berkisar antara 90% pada stadium I, 80% pada stadium II, 65% pada stadium III, dan 30% pada stadium IV.
Pada tahap awal, neoplasma ini biasanya asimptomatik. Namun, seiring dengan perkembangan ukurannya, maka dapat ditemukan gejala nyeri, perdarahan, dan obstruksi duktus submandibula. Otot mylohyoid dan periosteum mandibular berperan sebagai penghambat terjadinya penyebaran neoplasma. Pada lesi invasif, maka tindakan mandibulektomi segmental maupun marginal dapat dipertimbangkan untuk dilakukan. Keterlibatan dasar lidah memerlukan glosektomi parsial, sedangkan bila neoplasma mengenai kelenjar submandibula maka reseksi primer terhadap kelenjar dan jaringan neoplasma sebaiknya dilakukan.
Defek berukuran kecil pasca operasi dapat ditutup oleh tandur kulit split thickness. Tetapi, apabila defek mencapai ukuran 2 cm atau lebih, maka pemakaian flap dapat dipertimbangkan, seperti flap submental, flap nasolabial, flap platysma, dan flap pektoralis. Sementara bila dibutuhkan rekonstruksi vaskular yang besar, maka flap radialis lengan dan flap anterolateral paha merupakan pilihan yang terbaik. Mandibulektomi marginal maupun segmental diindikasikan pada neoplasma yang telah mendestruksi tulang mandibula.
Pada mandibulektomi marginal, maka korteks luar atau tulang mandibula harus dipertahankan atau sekitar 1 cm dari ketebalan tulang mandibula. Sementara bila ditemukan indikasi untuk melakukan mandibulektomi segmental, maka defek tulang sebaiknya disambungkan oleh reconstruction bar atau penggunaan tandur tulang dari fibula, radius, skapular, dan iliaka. Sementara defek kulit dan mukosa dapat ditutup dengan flap yang disebutkan di atas.
Neoplasma mukosa bukal
Seorang Perempuan, 65 tahun datang ke poli THT dengan keluhan sariawan yang tidak sembuh sembuh pada pipi kanan sejak 3 bulan lalu. Pasien biasa mengkonsumsi pinang/menyirih, tidak ada wajah mencong pasien kemudian berobat ke rumah sakit setempat.
Diskusi :
Anatomi rongga mulut
Etiopatogenesis terjadinya neoplasma mukosa buccal
Tipe neoplasma mukosa buccal
Prosedur diagnosis
Rencana penatalaksanaan
Jawaban:
Rongga mulut yang disebut juga rongga bukal, dibentuk secara anatomis oleh pipi, palatum keras, palatum lunak, dan lidah. Pipi membentuk dinding bagian lateral masing - masing sisi dari rongga mulut. Pada bagian eksternal dari pipi dilapisi oleh kulit. Sedangkan pada bagian internalnya dilapisi oleh membran mukosa, yang terdiri dari epitel pipih berlapis yang tidak terkeratinasi. Otot-otot businator (otot yang menyusun dinding pipi) dan jaringan ikat tersusun di antara kulit dan membran mukosa dari pipi. Bagian anterior dari pipi berakhir pada bagian bibir
Etiopatogenesis
Etiopatogenesis
Alkohol dan rokok merupakan 2 hal yang selalu di kaitkan dengan perkembangan neoplasma bukal. Walaupun alkohol sendiri bukan merupakan faktor resiko yang cukup kuat. Kombinasi alkohol dan rokok secara sinergis dapat meningkatkan resiko terjadinya neoplasma bukal. Di Asia kebiasaan mengunyah pinang menjadi faktor resiko tertinggi, bahkan di India >90% penderita neoplasma mukosa bukal berhubungan dengan mengunyah pinang. Etiologi lainnya termasuk human papilloma virus, buruknya kebersihan mulut dan iritasi kronis.
Tipe neoplasma mukosa bukal
KSS bukal terjadi pada 5% sampai 10% kanker rongga mulut di Amerika Serikat.
Prosedur Diagnosis
Diagnosis di tegakkan berdasarkan anamnesis, sariawan yang tidak sembuh- sembuh, sejak 3 bulan yang lalu, riwayat menyirih,
Pada pemeriksaan fisik di dapatkan, tampak lesi ukuran 2,5 cm, pada pemeriksaan kgb tidak terdapat pembesaran kgb
Selanjutnya dilakukan biopsi, untuk mengetahui jenis tumor. Juga dilakukan pemeriksaan penunjang, laboratorium, radiologis, USG hingga CT Scan untuk mengetahui penyebaran tumor, pasien ini didiagnosis Tumor mukosa bukal T2N0M0
Rencana tatalaksana
Berdasarkan NCCN 2020, maka tatalaksana yang harus dilakukan,
definitif radioterapi atau transoral/operasi terbuka. Bila terdapat sisa tumor maka di teruskan dengan operasi, begitu pula sebaliknya. Jika setelah operasi masih ada sisa tumor dilanjutkan dengan radioterapi.
Neoplasma palatum
Seorang laki-laki, 58 tahun datang ke klinik THT dengan keluhan benjolan dilangit-langit sejak 4 bulan lalu. Benjolan semakin lama semakin besar. Benjolan pada awalnya tidak nyeri namun seiring bertambah besarnya ukuran maka benjolan dirasakan nyeri oleh pasien. Tidak didapatkan benjolan pada leher pasien. Pasien kemudian berobat ke rumah sakit setempat.
Diskusi :
Anatomi, fisiologi, dan histologi palatum
Etiopatogenesis terjadinya neoplasma palatum
Tipe neoplasma palatum
Prosedur diagnosis
Rencana penatalaksanaan
Jawaban:
Anatomi
Palatum durum merupakan suatu tulang tipis yang dilapisi oleh mukosa pada kedua sisi permukaan rongga mulut dan cavum nasi. Sepasang prosesus palatina pada maksila memanjang ke molar posterior kedua dan membentuk kubah palatum durum. Pada bagian posterior dari kedua prosesus horizontalis os palatina akan keluar nervus dan arteri palatina mayor melalui foramen palatina mayor. Penyebaran neoplasma pada palatum dapat melalui foramen yang berada di palatum durum, seperti foramen palatina mayor, palatina minor, dan foramen insisivus. Selain itu, pada mukosa palatum durum terdapat banyak kelenjar salivarius minor Aliran limfatik pada palatum durum mengalir ke KGB level I dan II serta KGB di retrofaring dan perifasial.
Etiopatogenesis
Faktor predisposisi terjadinya karsinoma palatum ialah 75% dengan riwayat konsumsi rokok dan alkohol. Beberapa penelitian terbaru menyakini keterlibatan Human Papilloma Virus (HPV) sebagai salah satu faktor etiologi karsinoma pada rongga mulut.
Tipe
Neoplasma palatum merupakan salah satu kasus KSS yang paling sering terjadi di rongga mulut. Namun, angka kejadian KSS pada palatum hampir setara dengan kejadian neoplasma kelenjar salivarius minor di palatum, yakni sebesar 50%. Neoplasma lain yang dapat berasal dari palatum adalah adenoid cystic carcinoma, polymorphous low-grade adenocarcinoma, dan mucoepidermoid carcinoma.
Diagnosis
Keluhan yang sering dirasakan oleh pasien ialah sariawan berulang di langit- langit, luka menggaung (ulkus), dan benjolan yang menetap di langit-langit.
Keluhan penyerta seperti halitosis, penurunan berat badan, suara sengau serta odinofagia dapat dikeluhkan oleh pasien. Manifestasi klinis pada stadium dini karsinoma palatum adalah gambaran plak putih (leukoplakia), gambaran plak kemerahan (eritroplakia). Pada stadium lanjut ditemukan ulserasi hingga massa padat. Neoplasma palatum jarang bermanifestasi ke KGB.
Pemeriksaan yang dapat dilakukan meliputi pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah CT Scan, MRI, maupun PET Scan. Pada karsinoma palatum, pemeriksaan CT scan akan lebih bermakna untuk melihat kerusakan tulang dibanding dengan MRI. Pada stadium lanjut dengan neoplasma yang sangat luas, PET Scan dapat lebih membantu. Lokasi metastase paling sering dari neoplasma palatum adalah paru, sehingga pemeriksaan rontgen toraks menjadi penting untuk melihat penyebaran ke organ tersebut. Pemeriksaan laboratorium darah dapat dilakukan untuk persiapan operasi meliputi darah rutin, dan faal hemostasis. Pemeriksaan histopatologi dapat dilakukan dengan biopsi pada lokasi primer lesi.
Tatalaksana
Lesi awal di palatum paling sering mengenai tulang di atasnya dan tatalaksanan terbaik adalah dengan tindakan operasi. Reseksi transoral meliputi alveolektomi atau maksilektomi inferior serta palatektomi. Rekonstruksi fistula oroantral yang terjadi setelah reseksi dapat dilakukan dengan pemasangan prostesis palatal setelah pemasangan tampon pada sinus maksilaris. Pada defek yang luas atau defek mengenai premaksila dilakukan rekonstruksi premaksila dengan tujuan menjaga kontur wajah dan mencegah erosi prostesis. Seringkali kombinasi free flap dengan prostesis memberikan hasil kosmetik serta fungsional yang baik pada defek palatum durum. Aliran limfatik pada palatum durum mengalir ke KGB level I dan II serta KGB di retrofaring dan perifasial. Pada karsinoma palatum, metastase ke KGB jarang terjadi sehingga diseksi leher elektif jarang dilakukan.
Pada beberapa studi dikatakan karsinoma palatum memiliki angka rekurensi lokoregional yang cukup tinggi, yakni sekitar 30%. Sebagai kontrol lokoregional, dapat dilakukan tatalaksana elektif pada leher baik operasi maupun radiasi. Radiasi merupakan modalitas kedua tatalaksana karsinoma palatum setelah operasi. Dosis radiasi yang diberikan berkisar 66 - 70 Gy dengan dosis terfraksinasi 2 Gy per hari.
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan pembelajaran umum
Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan mampu untuk melakukan anamnesis, pemeriksaan fisis, pemeriksaan penunjang, operasi dan membuat keputusan panatalaksanaan neoplasma rongga mulut ?
Tujuan pembelajaran khusus
Menjelaskan anatomi, fisiologi, dan histologi dari rongga mulut mulut (tingkat kompetensi K4, A4)
Menjelaskan etiologi, macam-macam kelainan, precancerous lesions dan pencegahan neoplasma rongga mulut (tingkat kompetensi K4, A4)
Menjelaskan etiopatogenesis, gambaran klinik dari neoplasma rongga mulut (tingkat kompetensi K4, A4)
Menjelaskan lokasi tumor lidah dan penatalaksanaannya. (tingkat kompetensi K4, A4)
Mengetahui terdapatnya metastasis pada organ lain akibat neoplasma rongga mulut (tingkat kompetensi K4, A4)
Menjelaskan tindakan operasi, rekonstruksi terhadap neoplasma rongga mulut, terapi lanjutan pasca tindakan (radioterapi, kemoterapi). (tingkat kompetensi K4, A4 , P2)
Melakukan tindakan operasi Total Glosectomi dan Parsial Glosectomi neoplasma rongga mulut. (tingkat kompetensi K4, A4 , P2)
Melakukan tindakan operasi Ekstirpasi neoplasma palatum dan biopsi neoplasma lidah (tingkat kompetensi K4, A4 , P4)
Melakukan evaluasi selanjutnya pada neoplasma rongga mulut pasca operasi. (tingkat kompetensi K4, A4)
METODE PEMBELAJARAN
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan mempunyai kemampuan dasar untuk menegakkan diagnosis tumor telinga? dan mampu untuk menentukan terapi yang sesuai.
Tujuan 1. Menjelaskan anatomi, fisiologi, dan histologi rongga mulut
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Small group discussion.
Harus diketahui:
Anatomi dan histologi rongga mulut
Fisiologi deglutasi
Tujuan 2. Menjelaskan etiologi, macam-macam kelainan, precancerous lesions
dan pencegahan neoplasma rongga mulut
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review.
Small group discussion
Harus diketahui:
Etiologi dan macam-macam kelainan neoplasma rongga mulut
Lesi premaligna
Pencegahan neoplasma rongga mulut
Tujuan 3. Menjelaskan etiopatogenesis, gambaran klinik dari neoplasma rongga mulut
Interactive lecture
Journal reading and review.
Small group discussion
Harus diketahui:
Etiopatogenesis
Gambaran klinik neoplasma rongga mulut
Tujuan 4. Menjelaskan lokasi neoplasma rongga mulut dan penatalaksanaannya Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review.
Small group discussion
Practice with real client
Harus diketahui:
Lokasi neoplasma rongga mulut (berdasarkan NCCN 2020)
Jenis tatalaksana yang direkomendasikan
Tujuan 5. Mengetahui terdapatnya metastasis pada organ lain akibat neoplasma rongga mulut
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review.
Small group discussion
Harus diketahui:
Pemeriksaan penunjang yang diperlukan (berdasarkan NCCN 2015)
Tujuan 6. Menjelaskan tindakan operasi, rekonstruksi terhadap neoplasma rongga mulut, terapi lanjutan pasca tindakan (radioterapi, kemoterapi)
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review.
Morbidity and Mortality Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).
Operative Procedure Demonstration and Coaching (video operasi)
Practice with Real Clients.
Continuing Professional Development
Harus diketahui:
Tindakan operasi
Rekonstruksi
Radioterapi dan kemoterapi
Tujuan 7. Melakukan tindakan operasi neoplasma rongga mulut
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review.
Morbidity and Mortality Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).
Cadaveric dissection
Operative Procedure Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients.
Continuing Professional Development
Harus diketahui:
Tindakan operasi dan anatomi
Tujuan 8: Melakukan tindakan operasi ekstirpasi neoplasma palatum dan biopsy neoplasma lidah
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review.
Morbidity and Mortality Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).
Cadaveric dissection
Operative Procedure Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients.
Continuing Professional Development
Harus diketahui:
Tindakan operasi dan anatomi
Tujuan 9: Melakukan evaluasi selanjutnya pada neoplasma rongga mulut pasca operasi
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review.
Morbidity and Mortality Case study
Practice with Real Clients.
Continuing Professional Development
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pre test dalam bentuk essay dan oral / lisan sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengindentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri atas:
Anatomi, fisiologi dan histopatologi rongga mulut
Penegakan diagnosis (PA, sistem staging)
Tatalaksana (operasi, rekonstruksi, radiasi, kemoterapi)
Evaluasi
Selanjutnya dilakukan "Small group discussion" bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang terindentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian
Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk mengaplikasikan lengkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk role play dan teman-temannya (Peer Assisted Evaluation) atau kepada SP (Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assisted Evaluation) setelah dianggap memadai, melalui metode bedside teaching dibawah pengawasan fasilitator, peserta dididik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut:
-Perlu perbaikan: pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan
-Cukup: pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien
-Baik : pelaksanaan benar dan baik (efisien)
Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberik masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan
Self assestment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar
Pendidik/fasilitas:
-Pengamatan langsung dengan memakai evaluation chacklist form (terlampir)
-Penjelasan lisan dari peserta didik/diskusi
-Kriteria penilaian keseluruhan: cakap/tidak cakap/lalai
Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja ( task-based medical education)
Pencapaian pembelajaran:
-Ujian OSCE (K,P,A), dilakukan oleh kolegium Ilmu Kesehatan THTKL
-Ujian akhir stase, setiap divisi/unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan THTKL.
-Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan oleh kolegium Ilmu Kesehatan THTKL
Perlu perbaikan: pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan
Cukup: pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien
Baik : pelaksanaan benar dan baik (efisien)
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Kuesioner Sebelum Pembelajaran (Pre Test)
Soal:
Jenis keganasan yang paling sering pada lidah
Karsinoma sel skuamosa
Karsinoma sel basal
Adenocarcinoma
Limfoma
Adenoma pleomorfik Jawaban: A
Faktor resiko yang mendasari terjadinya keganasan pada lidah adalah
Tembakau
Alkohol
Imunosupresi
Oral hygiene yang buruk
Semua benar Jawaban: E
Gejala lanjut pada pasien dengan keganasan pada lidah adalah
Fiksasi lidah
Penurunan sensasi lidah
Perubahan suara dan gangguan menelan
Limfadenopati servikal.
Semua benar Jawaban : E
Soal:
Sebagian besar dari keganasan yang terdapat pada daerah dasar mulut merupakan karsinoma sel skuamosa. Etiologi mendasari terjadinya kelainan tersebut adalah...
Alkohol
Tembakau
Infeksi HPV
Trauma
Semua Benar Jawaban : E
Apakah predisposisi utama terjadinya neoplasma mukosa bukal?
Alkohol dan rokok
Pasta gigi
Karies dentis
Kebiasaan mengunyah pinang
Makanan berpengawet
Jawaban : A
Jenis tumor apa yang sering menyerang mukosa bukal
Karsinoma sel squamous
Basal sel carcinoma
Mucosal melanoma
Spindel sel carcinoma
Kaposi sarcoma Jawaban : A
Gejala klinis yang dapat ditemui pada fase lanjut, kecuali?
Sariawan
Trismus
Gigi Tanggal
Rasa Penuh pada satu sisi wajah
Ulserasi pada kulit Jawaban : A
Apakah jenis neoplasma terbanyak di palatum?
Adenoid cystic carcinoma
Karsinoma mucoepidermoid
Adenokarsinoma
Karsinoma sel skuamosa
Basalioma
Jawaban : D. Karsinoma sel skuamosa
Manisfestasi klinis yang dijumpai pada stadium dini adalah
Leukoplakia dan eritroplakia
Pembesaran KGB
Disfagia
Dispnea
Epistaksis
Jawaban : A. Leukoplakia dan eritroplakia
Apakah pemeriksaan penting untuk menegakkan diagnosis neoplasma palatum
Ct Scan
MRI
Open Biopsy
FNAC
Serologi sputum Jawaban : C. Open Biopsy
Kuesioner Tengah Pembelajaran
Soal :
Seorang laki-laki, 48 tahun datang ke poli THTKL dengan keluhan benjolan di lidah sejak 6 bulan lalu.
Anamnesis: timbul benjolan di lidah kanan sejak 6 bulan yang lalu, Lidah pasien masih dapat digerakkan dengan mudah, keluhan sesak napas disangkal, sulit menelan (-).
Pemeriksaan fisik: kesadaran : compos mentis (GCS E4M6V5), tekanan darah 120/80 mmHg, Nadi 85 kali/menit, pernapasan : 21 kali/menit, suhu : 36,70C. Status lokalis : pemeriksaan telinga, hidung, dan tenggorok tidak ditemukan kelainan. Pada lidah tampak massa di lidah kanan, ukuran + 5 cm, permukan tidak rata. Timbul benjolan dileher kanan 4x3x2cm.
Pasien kemudian dibiopsi, dan hasilnya adalah suatu karsinoma sel skuamosa.
Pada pemeriksaan fisik apa yang mungkin dapat ditemukan pada pasien ini.
Leukoplakia
Eritroplakia
Ulkus
Fisura
Semua benar
Jawaban: E
Gejala lanjut yang mungkin dapat ditemukan antara lain, kecuali..
fiksasi lidah
penurunan sensasi lidah
perubahan suara
gangguan menelan
eritroplakia Jawaban: E
Apa tatalaksana selanjutnya terhadap pasien ini?
Radioterapi
Kemoterapi
Glosektomi total
Glosektomi parsial diikuti diseksi leher dan radioterapi
Kemoradiasi konkuren Jawaban: D
Seorang pasien datang ke tempat praktik anda dengan keluhan benjolan pada dasar mulut yang berukuran 2 cm dan terasa nyeri saat pasien mengunyah serta kadang-kadang berdarah. Pasien juga mengeluh adanya benjolan pada kedua sisi lehernya yang berukuran 3 cm. Pasien juga datang dengan membawa hasil biopsi pada dasar mulut yang hasilnya adalah suatu adenokarsinoma, serta pemeriksaan thoraks dan abdomen yang tidak
menunjukkan adanya metastasis dari neoplasma. Menurut penilaian saudara, pasien tersebut menderita suatu keganasan dasar mulut dengan stadium?
Stadium I
Stadium II
Stadium III
Stadium IV A
Stadium IV B Jawaban : D
Seorang pasien wanita berusia 70 tahun datang ke praktek saudara dengan keluhan timbul sariawan pada pipi kiri,yang tidak sembuh sembuh. Pada pemeriksaan fisik, status generalis dalam batas normal, pada pemeriksaan telinga hidung dan teggorokan dalam batas normal. Pada status lokalis didapatkan lesi sariawan kemerahan pada region bukal sinistra dengan ukuran 2,5 x 1 cm x 0,3 cm tidak terasa nyeri, pasien dengan riwayat menyirih, (kebiasaan orang tua jaman dahulu, mengunyah sirih dengan kapur dan pinang), pasien tidak mengeluhkan benjolan disekitar leher. Setelah dilakukan pemeriksaan lanjutan, didapatkan hasil karsinoma sel squamous, dari hasil pemeriksaan rontgen thoraks dan usg abdomen tidak didapatkan nodul metastase, berdasarkan data diatas, apakah kemungkinan staging pasien tersebut berdasarkan NCCN 2015
T1N0MO
T2N0M0
T3N0M0
T1N1M0
T2N1M0
Jawaban : B
Apakah modalitas utama pada kasus diatas
Kemoterapi
Operasi
Radioterapi
Medikamentosa
Fisioterapi Jawaban : B
Seorang laki-laki berusia 56 tahun datang ke klinik THT dengan keluhan utama benjolan di langit-langit sejak 3 bulan yang lalu.
Anamnesis : Benjolan di langit-langit sejak 3 bulan yang lalu. Benjolan dirasakan menetap dan bertambah besar tanpa disertai nyeri. Pasien tidak mengeluhkan sakit menelan, sulit menelan, maupun benjolan di leher.
Pemeriksaan fisik : kesadaran : compos mentis (GCS E4M6V5), tekanan darah 120/80 mmHg, Nadi 88 kali/menit, pernapasan : 20 kali/menit, suhu : 36,60C. Status lokalis
: pemeriksaan telinga, hidung, dan tenggorok tidak ditemukan kelainan. Pada regio
palatum tampak massa di midline palatum durum, soliter, ukuran 3x3x2 cm, teraba keras, permukaan berdungkul-dungkul, nyeri tekan (-), dan fluktuasi (-).
Pemeriksaan radiologi apa yang digunakan untuk menunjang penegakan diagnosis pada kasus di atas :
MRI
CT Scan
Rontgen soft tissue cervical
Rontgen cranium
USG
Jawaban : B. CT-Scan
Pemeriksaan lanjutan apa yang diperlukan untuk menentukan jenis tumor :
Open Biopsy palatum
Aspirasi jarum halus
Swab orofaring
Biopsi jarum halus
Serologi sputum
Jawaban : A. Open Biopsy Palatum
Kuesioner Akhir Pembelajaran
Soal:
Seorang laki-laki, 52 tahun datang ke poli THTKL dengan keluhan benjolah di lidah kiri 3,5cm sejak 4 bulan lalu
Anamnesis: timbul benjolan di lidah kiri sejak 4 bulan yang lalu. Lidah pasien masih dapat digerakkan, keluhan sesak napas disangkal, sulit menelan (-).
Pemeriksaan fisik: kesadaran : compos mentis (GCS E4M6V5), tekanan darah 110/60 mmHg, Nadi 81 kali/menit, pernapasan : 21 kali/menit, suhu : 36,70C. Status lokalis : pemeriksaan telinga, hidung, dan tenggorok tidak ditemukan kelainan. Pada lidah tampak massa di lidah kiri, ukuran + 3,5 cm, permukan tidak rata. benjolan dileher kiri 2x2x1cm
Pasien kemudian dibiopsi, dan hasilnya adalah suatu karsinoma sel skuamosa.
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis pasien ini, kecuali..
Rontgen cranium
USG Abdomen
Rontgen thorax
Echocardiografi
Audiometri
Jawaban: A
Jika bagian 2/3 posterior lidah dan dasar lidah sudah terkena maka..
Prognosa baik
Prognosa buruk
Daerah lesi tersering
Oral hygiene buruk
Stadium dini Jawaban : B
Apa tatalaksana selanjutnya terhadap pasien ini?
Radioterapi
Kemoterapi
Glosektomi total
Glosektomi parsial diikuti diseksi leher dan radioterapi
Kemoradiasi konkuren Jawaban: D
Seorang pasien datang ke tempat praktik saudara dengan keluhan benjolan pada dasar mulutnya yang muncul pertama kali pada 6 bulan yang lalu dan semakin lama semakin besar sampai berukuran sebesar telur ayam. Pasien mengalami kesulitan dalam menelan dan terkadang tersedak saat makan. Pasien juga mengeluhkan adanya beberapa benjolan pada sisi kanan leher yang kadang- kadang berdarah. Benjolan pada dasar mulut pasien kemudian dibiopsi, dan hasilnya adalah suatu karsinoma sel skuamosa. Dari pemeriksaan abdomen, tampak kista pada pole atas ginjal kiri, dan jaringan parenkim yang inhomogen pada hepar disertai dengan bentukan nodul. Saat dilakukan pemeriksaan darah didapatkan SGOT dan SGPT pasien dengan nilai berturut-turut 39 dan 41 IU. Data pemeriksaan lainnya menunjukkan hasil yang normal. Apa saja pertimbangan tatalaksana pasien oleh saudara kecuali?
4 siklus kemoterapi dengan regimen platinum dan taxane diikuti dengan radioterapi dengan fraksinasi konvensional
Kemoterapi dengan menggunakan cisplatin, 5-FU, paclitaxel bersama dengan radioterapi sebesar 2 Gy sebanyak 35 kali pemberian
Radioterapi definitif sebesar 1.8 Gy (dua kali sehari) selama 7 minggu
Radioterapi definitif sebesar 54-63 Gy
Konsul bagian bedah urologi mengenai kista pole ginjal kiri Jawaban : dihapuskan (krn tidak sesuai metode)?
Seorang pasien datang ke tempat praktik saudara dengan keluhan sariawan pada pipi kiri yang menggaung sejak 4 bulan yang lalu, sejak 1 bulan yang lalu pasien mengeluh timbul benjolan kecil pada rahang bawah kiri sebesar kelereng, benjolan tidak nyeri dan sewarna kulit. Pemeriksaan fisik : kesadaran : compos mentis (GCS E4M6V5), tekanan darah 120/80 mmHg, Nadi 88 kali/menit, pernapasan : 20 kali/menit, suhu : 36,60C. Status lokalis : pemeriksaan telinga, hidung, dan tenggorok tidak ditemukan kelainan. Pada regio bukal sinistra didapatkan lesi kemerahan berukuran 3x2x1 cm, tidak terasa nyeri dan menggaung, tampak benjolan pada rahang bawah kiri berukuran 1x1x1,5 cm, terfiksir, tidak nyeri dan sewarna kulit.Pada pemeriksaan rontgen thorax dan usg abdomen tidak ditemukan adanya nodul metastasis
Jelaskan sistem staging berdasarkan NCCN 2015 (2020)
T2N1M0
T1N1M0
T3N0M0
T3N1M0
T2N0MO
Jawaban : A
Jenis operasi apa yang anda akan lakukan pada pasien ini
Eksisi trans oral diikuti dengan skin graft dan neck diseksi bilateral
Eksisi trans oral diikuti dengan skin graft dan neck diseksi ipsilateral
Eksisi trans servical diikuti dengan skin graft dan neck diseksi bilateral
Eksisi trans servical diikuti dengan skin graft dan neck diseksi ipsilateral
Mandibulektomi Jawaban : A
Seorang laki-laki berusia 48 tahun datang ke klinik THT dengan keluhan utama benjolan di langit-langit sejak 5 bulan yang lalu.
Anamnesis : Benjolan di langit-langit sejak 5 bulan yang lalu. Benjolan dirasakan menetap dan bertambah besar disertai nyeri menelan. Pasien tidak mengeluhkan sulit menelan, maupun benjolan di leher.
Pemeriksaan fisik : kesadaran : compos mentis (GCS E4M6V5), tekanan darah 120/80 mmHg, Nadi 88 kali/menit, pernapasan : 20 kali/menit, suhu : 36,60C. Status lokalis
: pemeriksaan telinga, hidung, dan tenggorok tidak ditemukan kelainan. Pada regio palatum tampak massa di midline palatum durum, soliter, ukuran 5x4x2 cm, teraba keras, permukaan berdungkul-dungkul, nyeri tekan (-), dan fluktuasi (-).
Berdasarkan Gambaran CT Scan palatum potongan aksial di atas, apakah interpretasi yang dapat disimpulkan dari gambaran di atas?
Gambaran massa di palatum durum disertai destruksi palatum
Gambaran massa di palatum durum tanpa destruksi palatum
Gambaran massa di palatum durum yang meluas ke sinus maksilaris
Gambaran massa di palatum durum yang meluas ke orofaring
Gambaran massa di palatum durum yang meluas ke parafaring Jawaban : B
Pada pemeriksaan histopatologi ditemukan karsinoma sel skuamosa dengan foto toraks tidak dijumpai kelainan. Sebutkan perkiraan staging TNM menurut NCCN 2018 yang paling mungkin ?
T1N0M0
T2N0M0
T3N0M0
T4N0M0
T2N1M0
Jawaban : C
Apakah modalitas tatalaksana terbaik pada kasus di atas ?
Reseksi palatum dengan diseksi leher ipsilateral
Reseksi palatum tanpa diseksi leher
Reseksi palatum dengan diseksi leher bilateral
Radioterapi
Kemoterap Jawaban : A
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR
PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR GLOSSEKTOMI PARSIAL
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.: T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan) |
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
KEGIATAN | NILAI | ||||
1 | 2 | 3 | T/D | ||
I | PERSIAPAN OPERASI | ||||
1. Informed consent | |||||
2. Menjelaskan tujuan operasi dan hasil yang diharapkan | |||||
3. Menjelaskan prosedur dan standar operasi pada pasien dan keluarganya (site marking) | |||||
KEGIATAN | NILAI | ||||
1 | 2 | 3 | T/D | ||
4. Melakukan evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi operasi | |||||
II | PROSEDUR OPERASI | ||||
1. Pasien dalam posisi supinasi dan kepala ekstensi dalam anestesi umum dengan nasotracheal tube. | |||||
2. Dilakukan tindakan aseptik dan antiseptik dengan alkohol 70% dan dilanjutkan dengan povidone iodine 10% | |||||
3. Lidah ditraksi menggunakan DeBakey tang / dijahit kendali | |||||
4. Insisi dibuat menggunakan elektrokauter / coblation / harmonic scalpel pada mode pemotongan dan diperdalam melalui mukosa untuk mencakup seluruh lesi dengan setidaknya 1 sampai 1,5 cm dari jaringan fenotip yang normal | |||||
5. Dilakukan reseksi baji untuk tumor infiltratif lokal, dan tepi bebas tumor dipastikan dengan frozen section | |||||
6. Pembuluh darah harus dikontrol bipolar, atau kauter unipolar tergantung pada ukuran pembuluh darah | |||||
7. Penutupan luka dengan flap fasciokutaneus? atau penjahitan langsung, pemasangan NGT bila diperlukan. | |||||
8. Operasi selesai | |||||
III | PASCA OPERASI | ||||
1. Observasi perdarahan, jumlah cairan pada drain?, tekanan darah, nadi, suhu secara teratur | |||||
2. Pemberian antibiotika | |||||
PROSEDUR EKSTIRPASI NEOPLASMA PALATUM
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.: T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan) |
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
KEGIATAN | NILAI | ||||
1 | 2 | 3 | T/D | ||
I | PERSIAPAN OPERASI | ||||
1. Informed consent | |||||
2. Menjelaskan tujuan operasi dan hasil yang diharapkan | |||||
3. Menjelaskan prosedur dan standar operasi pada pasien dan keluarganya | |||||
4. Melakukan evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi operasi, pertimbangkan untuk persiapan obturator bila diperlukan/ protesa | |||||
II | PROSEDUR OPERASI | ||||
1. Pasien dalam posisi supinasi | |||||
2. Dilakukan tindakan aseptik dan antiseptik dengan alkohol 70% dan dilanjutkan dengan povidone iodine 10% | |||||
3. Dilakukan tindakan anestesi umum dengan pemasangan endotracheal tube | |||||
4. Dilakukan insisi pada area sekitar neoplasma dengan margin 1-2 cm di sekitar neoplasma. | |||||
5. Dilakukan ekstirpasi neoplasma, dan pastikan batas tepi bebas tumor berdasarkan pemeriksaan frozen section | |||||
6. Dilakukan penjahitan penutupan mukosa dengan menggunakan benang 3.0, dan pemasangan NGT bila diperlukan | |||||
7. Operasi selesai | |||||
III | PASCA OPERASI | ||||
1. Observasi perdarahan, tekanan darah, nadi, suhu secara teratur | |||||
2. Pemberian antibiotika dilakukan sampai hari ketiga pasca operasi | |||||
3. Kontrol pasca operasi dilakukan pada hari ke-7 pasca operasi | |||||
PROSEDUR BIOPSI NEOPLASMA LIDAH
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.: 2 Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan) |
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal
KEGIATAN | NILAI | |||
1 | 2 | 3 | T/D | |
PERSIAPAN OPERASI | ||||
1. Informed consent | ||||
2. Menjelaskan tujuan operasi dan hasil yang diharapkan | ||||
3. Menjelaskan prosedur dan standar operasi serta kemungkinan resiko pada pasien dan keluarganya | ||||
4. Melakukan evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi operasi | ||||
PROSEDUR OPERASI | ||||
Waktu perdarahan, waktu pembekuan CT Scan axial dan coronal setingga oral cavity dengan kontras | ||||
Persiapan alat:
Local anesthetic equipment
Sterile scalpel blades no. 15.
Scalpel handle.
Surgical scissor with point tips
Fine tissue forceps
Small hemostat
Gauze sponges (suction, if necessary)
Needle holder DeBekay, Sarot.
Deschamp ligature needle, blunt.
Jarum dan benang (dexon)?
Biopsy bottle containing 10% formalin
Biopsy data sheet
Periosteal elevator?
Rongeur?
Bur and rotatory handpiece?
Sterile saline irrigation
Curettes?
Syringe 5ml or 10 ml?
Needle 18 gauge?
Persiapan pasien:
Penjelasan operasi dan kemungkinan komplikasi yang dapat terjadi (informed consent)
Penderita dipuasakan minimal 6-8 jam sebelum tindakan dilakukan bila dilakukan bius umum, dan keadaan tidak puasa bila dilakukan bius lokal?
Ijin operasi
Ijin pembiusan bila dibius
Pemeriksaan laboratorium : Darah rutin
Pemeriksaan Penunjang: rontgen thoraks
KEGIATAN | NILAI | |||
1 | 2 | 3 | T/D | |
3. Prosedur Operasi: | ||||
1. Bila anestesi blok tidak memungkinkan, gunakan anestesi infiltrasi lokal, tetapi larutan diinjeksikan paling tidak 1 cm dari lesi. / Dapat dilakukan dengan narkose umum | ||||
2. Stabilisasi lidah dengan menggunakan heavy retraction suture atau towel clips. | ||||
3. Scalpel yang tajam digunakan untuk menginsisi jaringan yang akan di biopsi. | ||||
4. Dua insisi membentuk elips pada permukaan, dan bertemu untuk membentuk huruf "V" pada dasar lesi menyediakan spesimen yang baik dan meninggalkan luka yang mudah menutup kembali. | ||||
5. Modifikasi ukuran elips dan porsi "V" tergantung pada kedalaman lesi. | ||||
6. Palpasi membantu menentukan kedalaman lesi di bawah mukosa. | ||||
7. Insisi harus sedemikian rupa paralel pada struktur saraf, arteri, dan vena normal. Hal ini dilakukan untuk menghindari trauma pada struktur-struktur tersebut. | ||||
8. Insisi yang kecil tetapi dalam lebih baik daripada lebar tapi dangkal. | ||||
9. Jaringan periferal yang terlihat normal harus ikut di eksisi. Jika lesi terlihat benign, 2-3 mm jaringan perifeal ikut di eksisi. Bila terlihat malignant, berpigmen, vascular, dan berbatas difus maka dibutuhkan eksisi jaringan periferal sebanyak 5mm | ||||
10. Spesimen yang diangkat dimasukan ke dalam larutan formalin 10% tanpa menyentuh dinding wadah | ||||
11. Melakukan undermining mengikuti margin berbentuk elips, sehingga diperkirakan dalam penutupan jaringan hanya terdapat sedikit tegangan. | ||||
12. Insisi kemudian ditutup dengan jahitan secukupnya. | ||||
13. Operasi selesai | ||||
PASCA OPERASI | ||||
1. Observasi perdarahan, tekanan darah, nadi, suhu secara teratur | ||||
2. Antibiotik dan obat simptomatik | ||||
3. Irigasi oral terus dilakukan sampai pasien keluar dari rumah sakit. | ||||
4. Kontrol kembali untuk mengontrol bekas luka 10-14 hari setelah bedah. | ||||
Penderita > 40 tahun, pemeriksaan EKG
Dikonsulkan ke Bagian Ilmu Penyakit Dalam/Anak bila didapatkan kelainan pada hasil pemeriksaan
DAFTAR TILIK
PENILAIAN KINERJA PROSEDUR GLOSEKTOMI PARSIAL
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini: X: Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar T/T: Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih |
: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
PESERTA: TANGGAL :
KEGIATAN | NILAI | |||
v | x | T/D | ||
I | PERSIAPAN OPERASI | |||
1. Informed consent | ||||
2. Menjelaskan tujuan operasi dan hasil yang diharapkan | ||||
3. Menjelaskan prosedur dan standar operasi pada pasien dan keluarganya (site marking) | ||||
4. Melakukan evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi operasi | ||||
II | PROSEDUR OPERASI | |||
1. Pasien dalam posisi supinasi dan kepala ekstensi dalam anestesi umum dengan nasotracheal tube dilakukan tindakan trakeostomi pada tumor yang besar | ||||
2. Dilakukan tindakan aseptik dan antiseptik dengan alcohol 70% dan dilanjutkan dengan povidone iodine 10% | ||||
3. Lidah ditraksi menggunakan DeBakey tang / dijahit kembali | ||||
4. Insisi dibuat menggunakan elektrokauter / coblation / harmonic scalpel pada mode pemotongan dan diperdalam melalui mukosa untuk mencakup seluruh lesi dengan setidaknya 1 sampai 1,5 cm dari jaringan fenotip yang normal | ||||
5. Dilakukan reseksi baji untuk tumor infiltratif lokal, dan tepi bebas tumor dipastikan dengan frozen section. | ||||
6. Pembuluh darah harus dikontrol bipolar, atau kauter unipolar tergantung pada ukuran pembuluh darah | ||||
7. Penutupan luka dengan flap fasciokutaneus? atau penjahitan langsung, pemasangan NGT bila diperlukan | ||||
8. Operasi selesai | ||||
III | PASCA OPERASI | |||
1. Observasi perdarahan, jumlah cairan pada drain, tekanan darah, nadi, suhu secara teratur | ||||
2. Pemberian antibiotika | ||||
PROSEDUR EKSTIRPASI NEOPLASMA PALATUM
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini: X: Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar T/T: Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih |
: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
PESERTA: TANGGAL :
KEGIATAN | NILAI | |||
V | X | T/T | ||
I | PERSIAPAN OPERASI | |||
1. Informed consent | ||||
2. Menjelaskan tujuan operasi dan hasil yang diharapkan | ||||
3. Menjelaskan prosedur dan standar operasi pada pasien dan keluarganya | ||||
4. Melakukan evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi operasi, pertimbangkan untuk persiapan obturator bila diperlukan / protesa | ||||
II | PROSEDUR OPERASI | |||
1. Pasien dalam posisi supinasi | ||||
2. Dilakukan tindakan aseptik dan antiseptik dengan alkohol 70% dan dilanjutkan dengan povidone iodine 10% | ||||
3. Dilakukan tindakan anestesi umum dengan pemasangan endotracheal tube | ||||
4. Dilakukan insisi pada area sekitar neoplasma dengan margin 1- 2 cm di sekitar neoplasma. | ||||
5. Dilakukan ekstispasi neoplasma, dan pastikan batas tepi bebas tumor berdasarkan pemeriksaan frozen section | ||||
6. Dilakukan penjahitan penutupan mukosa dengan menggunakan benang 3.0, dan pemasangan NGT bila diperlukan | ||||
7. Operasi selesai | ||||
III | PASCA OPERASI | |||
1. Observasi perdarahan, tekanan darah, nadi, suhu secara teratur | ||||
2. Pemberian antibiotika dilakukan sampai hari ketiga pasca operasi | ||||
3. Kontrol pasca operasi dilakukan pada hari ke-7 pasca operasi | ||||
PROSEDUR BIOPSI NEOPLASMA LIDAH
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini: X: Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar T/T: Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih |
: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
PESERTA: TANGGAL :
KEGIATAN | NILAI | |||
V | X | T/T | ||
I | PERSIAPAN OPERASI | |||
1. Informed consent | ||||
2. Menjelaskan tujuan operasi dan hasil yang diharapkan | ||||
3. Menjelaskan prosedur dan standar operasi serta kemungkinan resiko pada pasien dan keluarganya | ||||
4. Melakukan evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi operasi | ||||
II | PROSEDUR OPERASI | |||
5. Persiapan penderita: | ||||
Persiapan alat:
Local anesthetic equipment
Sterile scalpel blades no. 15.
Scalpel handle.
Surgical scissor with point tips
Fine tissue forceps
Small hemostat
Gauze sponges (suction, if necessary)
Needle holder DeBekay, Sarot.
Deschamp ligature needle, blunt.
Jarum dan benang (dexon).
Biopsy bottle containing 10% formalin
Biopsy data sheet
Periosteal elevator
Rongeur
Bur and rotatory handpiece
Sterile saline irrigation
Curettes
Syringe 5ml or 10 ml
Needle 18 gauge
KEGIATAN | NILAI | |||
V | X | T/T | ||
6. Prosedur Operasi: | ||||
1. Bila anestesi blok tidak memungkinkan, gunakan anestesi infiltrasi lokal, tetapi larutan diinjeksikan paling tidak 1 cm dari lesi. / Dapat dilakukan dengan narkose umum | ||||
2. Stabilisasi lidah dengan menggunakan heavy retraction suture atau towel clips. | ||||
3. Scalpel yang tajam digunakan untuk menginsisi jaringan yang akan di biopsi. | ||||
4. Dua insisi membentuk elips pada permukaan, dan bertemu untuk membentuk huruf "V" pada dasar lesi menyediakan spesimen yang baik dan meninggalkan luka yang mudah menutup kembali. | ||||
5. Modifikasi ukuran elips dan porsi "V" tergantung pada kedalaman lesi. | ||||
6. Palpasi membantu menentukan kedalaman lesi di bawah mukosa. | ||||
7. Insisi harus sedemikian rupa paralel pada struktur saraf, arteri, dan vena normal. Hal ini dilakukan untuk menghindari trauma pada struktur-struktur tersebut. | ||||
8. Insisi yang kecil tetapi dalam lebih baik daripada lebar tapi dangkal. | ||||
9. Jaringan periferal yang terlihat normal harus ikut di eksisi. Jika lesi terlihat benign, 2-3 mm | ||||
Penjelasan operasi dan kemungkinan komplikasi yang dapat terjadi (informed consent)
Penderita dipuasakan minimal 6-8 jam sebelum tindakan dilakukan bila dilakukan bius umum, dan keadaan tidak puasa bila dilakukan bius lokal
Ijin operasi
Ijin pembiusan bila dibius
Pemeriksaan laboratorium :
Darah rutin
Waktu perdarahan, waktu pembekuan
Pemeriksaan rontgen thoraks
CT Scan axial dan coronal setingga oral cavity dengan kontras
Penderita > 40 tahun, pemeriksaan EKG
Dikonsulkan ke Bagian Ilmu Penyakit Dalam/Anak bila didapatkan kelainan pada hasil pemeriksaan
KEGIATAN | NILAI | |||
V | X | T/T | ||
jaringan perifeal ikut di eksisi. Bila terlihat malignant, berpigmen, vascular, dan berbatas difus maka dibutuhkan eksisi jaringan periferal sebanyak 5mm | ||||
10. Spesimen yang diangkat dimasukan ke dalam larutan formalin 10% tanpa menyentuh dinding wadah | ||||
11. Melakukan undermining mengikuti margin berbentuk elips, sehingga diperkirakan dalam penutupan jaringan hanya terdapat sedikit tegangan. | ||||
12. Insisi kemudian ditutup dengan jahitan secukupnya. | ||||
13. Operasi selesai | ||||
III | PASCA OPERASI | |||
1. Observasi perdarahan, tekanan darah, nadi, suhu secara teratur | ||||
2. Antibiotik dan obat simptomatik | ||||
3. Irigasi oral terus dilakukan sampai pasien keluar dari rumah sakit. | ||||
4. Kontrol kembali untuk mengontrol bekas luka 10-14 hari setelah bedah. | ||||
MATERI PRESENTASI
Karsinoma Lidah
SLIDE 1 : Anatomi dan fisiologi lidah
SLIDE 2 : Definisi Tumor lidah
SLIDE 3 : Etiopatologi
SLIDE 4 : Gejala Klinik
SLIDE 5 : Diagnosis karsinoma lidah
SLIDE 6 : Penatalaksanaan karsinoma lidah
NEOPLASMA DASAR MULUT
Slide 1 : Anatomi Rongga mulut
Slide 2 : Definisi Neoplasma Dasar Mulut
Slide 3 : Etiopatogenesis
Slide 4 : Gejala Klinik
Slide 5 : Diagnosis Neoplasma Dasar Mulut
NEOPLASMA MUKOSA BUKAL
SLIDE 1 : Anatomi dan fisiologi Rongga mulut
SLIDE 2 : Definisi Neoplasma mukosa buccal
SLIDE 3 : Etiopatologi
SLIDE 4 : Gejala Klinik
SLIDE 5 : Diagnosis Neoplasma mukosa buccal
NEOPLASMA PALATUM
LCD 1 : Anatomi dan fisiologi Rongga mulut
LCD 2 : Definisi Neoplasma dasar mulut
LCD 3 : Etiopatologi
LCD 4 : Gejala Klinik
LED 5: LCD 5 : Diagnosis Neoplasma dasar mulut
MATERI BAKU
KARSINOMA BIBIR
Karsinoma bibir adalah suatu bentuk keganasan mulut yang terjadi pada pertemuan antara rongga mulut dan kulit. Karsinoma bibir sering sekali salah dalam menentukan batas anatominya. Sebagian besar lesi ini muncul di perbatasan vermilion ('zona lipstik'), yaitu area antara mukosa labial dan kulit bibir. Sementara sebagian besar kanker ini tercatat sebagai kanker mulut, dan berpotensi beberapa akan diklasifikasikan sebagai kanker kulit. Macfarlane et al (1993) mengacu pada masalah klasifikasi potensial ini mencatat bahwa dalam kasus lesi besar biasanya sulit dalam menentukan lokasi yang tepat dari asal tumor. Untuk menghilangkan risiko ini di Australia Selatan, angka karsinoma bibir sudah termasuk kulit bibir. Namun, hal ini berpotensi mengangkat angka Australia Selatan. Morton et al (1983) telah mengamati 'ambiguitas dan ketidakseragaman' dalam literatur mengenai karsinoma bibir dan merujuk kembali ke definisi oleh Ebenius tahun 1943 bahwa 'Tidak ada kanker lain selain yang timbul di bibir harus dianggap sebagai kanker bibir asli'.
Terlepas dari kesulitan dalam menetapkan lokasi utama karsinoma bibir, diketahui bahwa karsinoma ini jauh lebih sering terjadi pada pria, memiliki puncak kejadian pada dekade keenam dan ketujuh dan lebih sering terjadi pada bibir bawah daripada bibir atas. Pada pria kulit putih, bibir adalah tempat paling umum untuk karsinoma 'mulut', sebaliknya karsinoma ini relatif jarang terjadi pada pria kulit hitam. Perbedaan mencolok dalam pigmentasi pada laki-laki kulit hitam versus laki-laki kulit putih telah dijelaskan
karena efek perlindungan pigmen kulit alami terhadap aksi karsinogenik radiasi ultraviolet.
Tanda dan gejala awal karsinoma bibir yang paling umum adalah ulserasi, kerak dan nyeri. Karsinoma bibir stadium lanjut muncul sebagai lesi ulseratif dan/atau infiltratif yang luas, tetapi tingkat pertumbuhan secara keseluruhan relatif lambat. Metastasis kelenjar getah bening adalah kejadian yang terlambat dalam sejarah alami penyakit dan karena lokasi lesi yang dapat diakses, eksisi luas biasanya bersifat kuratif sehingga memberikan karsinoma bibir yang berdiferensiasi baik dengan tingkat kelangsungan hidup 5 tahun yang sangat baik sebesar 80-90%. Johnson dan Warnakulasuriya (1993) telah melaporkan tingkat kelangsungan hidup 5 tahun mendekati 95% untuk kanker bibir di Inggris.
Batas bibir dimulai dari pertemuan batas vermelion dengan kulit. Termasuk batas permukaan vermelion yang berkontak dengan sama-sama non skin.
Karakteristik dari tumor bibir dan rongga mulut: a. Eksofitik, b. Ulserasi, dan c. Endofitik
Tl: tumor :S 2cm T2: > 2cm - 4 cm T3: > 4 cm
T4a: moderately advanced local disease, tumor menginvasi cortical bone, inferior alveolar nerve, floor of mouth, atau kulit wajah, dagu maupun hidung
T4b: very advanced local disease, tumor involves masticator space, pterygoid plates (as shown), or skull base and/or encases internal carotid artery
Tatalaksana Karsinoma Bibir berdasarkan NCCN 2020
KARSINOMA LIDAH
Lidah merupakan bagian rongga mulut yang dapat digerakkan, meluas keanterior dari batas papila sirkumvalata ke permukaan bagian bawah lidah yang berhubungan dengan dasar mulut. Terdiri dari stuktur orofaringeal yang terbagi menjadi beberapa bagian yaitu ujung lidah, dorsum lidah, tepi lateral dan permukaan bawah (disebut sebagai aspek ventral). Otot-otot ekstrinsik pada lidah adalah otot genioglosus, hioglosus, dan stiloglosus. Otot-otot instrinsik adalah serabut otot vertikal, transversal dan longitudinal. Tumor lidah merupakan tumor kedua terbanyak (30%) dalam rongga mulut. Sering mengenai bagian lateral dari lidah. Faktor resiko terjadinya adalah tembakau, alkohol, imunosupresi dan oral hiegine yang buruk. Secara histologi, tumor invasi > 2-4mm berhubungan dengan tingginya angka metastasis regional, rekurensi dan mortalitas.
Invasi perineural pada tempat primer adalah indikator lain peningkatan rekurensi dan mortalitas.
Tumor ganas pada lidah adalah suatu neoplasma maligna yang berasal dari jaringan epitel mukosa lidah dengan sel berbentuk squamous cell carcinoma (sel epitel gepeng berlapis). Tumor ini dapat menginfiltrasi ke daerah sekitarnya, di samping itu dapat melakukan metastase secara limfogen dan hematogen. Karsinoma sel skuamosa adalah jenis keganasan yang paling sering terjadi dalam rongga mulut, meliputi 95% dari seluruh kasus keganasan pada rongga mulut.
Gejala pada penderita tergantung pada lokasi kanker. Keluhan utamanya adalah timbulnya suatu massa yang seringkali terasa tidak sakit, ulkus superfisialis yang tidak sakit, lama kelamaan ulkus melebar, tepinya bulat, berwarna abu-abu seperti nekrosis. Kadang-kadang hanya merupakan permukaan yang kasar, pada sepertiga anterior. Sepertiga posterior lidah, kanker tersebut selalu tidak diketahui oleh penderita, sukar terlihat, cenderung berinfiltrasi ke bagian dalam, dan rasa sakit yang dialami biasanya dihubungkan dengan rasa sakit tenggorokan.
Pada pemeriksaan fisik rongga mulut dapat ditemukan eritroplakia (merah, lesi inflamasi) yang merupakan bentuk awal terbanyak terjadinya karsinoma sel skuamous.
Gejala lanjut adalah fiksasi lidah, penurunan sensasi lidah, perubahan suara dan gangguan menelan serta limfadenopati servikal. Metode skrining meliputi vital staining, spectral analysis, ViziLite (chemiluminescence) dan biopsi sikat. Metastasis regional melalui drainase nodul primer ke level I-III.
Pemeriksaan penunjang: biopsi (IHK,VEGF,EGFR), pemeriksaan pencitraan: x-ray tomography dan CT scan, USG Abdomen, rontgen thorax, echocardiografi, audiometri, pemeriksaan darah rutin dan kima darah.
Penatalaksanaan untuk berdasarkan derajat klinis:
T1-T2, N0
Reseksi primer diikuti atau tanpa diseksi leher ipsilateral atau bilateral
Reseksi primer diikuti atau tanpa biopsi nodus limfatikus sentinel
Radioterapi definitif
T3, N0 atau T1-3, N1-3 atau T4a d.Pembedahan
N0, N1, N2a-b, N3
Reseksi primer diikuti diseksi leher ipsilateral atau bilateral
N2c
Reseksi primer diikuti diseksi leher bilateral
T4b atau nodus yang tak dapat direseksi atau tidak memungkinkan dioperasi e.ECOG 0-1
Kemoterapi dan radioterapi konkuren
Induksi kemoterapi diikuti dengan radioterapi
f. ECOG 2
Kemoterapi dan radioterapi konkuren
Radioterapi definitif g.ECOG 3
Radioterapi paliatif
Kemoterapi dosis tunggal
Perawatan suportif
M1
ECOG 0-1
Platinum + 5FU + cetuximab
Kemoterapi kombinasi lainnya
Kemoterapi dosis tunggal
Pembedahan atau radioterapi atau kemoterapi diikuti radioterapi pada pasien dengan metastasis terbatas
Perawatan suportif
ECOG 2
Kemoterapi dosis tunggal
Perawatan suportif
ECOG 3
Perawatan suportif
T4 : dipertimbangkan kemoiradiasi (bila ada keterlibatan tulang, maka diperlukan reseksi).
Angka kontrol lokoregional untuk 5 tahun adalah 91%. Angka harapan hidup (5 tahun). yaitu stadium I,II (60-75%); stadium III,IV (25-40%).
NEOPLASMA DASAR MULUT
Anatomi
Dasar mulut merupakan salah satu komponen dari rongga mulut yang terletak di dalam alveolar ridge inferior. Struktur ini berbentuk seperti tapal kuda, mulai dari posterior gigi seri dan memanjang secara bilateral ke pilar tonsil anterior. Mukosa yang melapisi dasar mulut dibentuk oleh lapisan tipis dari epitel skuamous bertingkat dengan fleksibilitas yang tinggi. Kelenjar saliva banyak ditemukan pada bagian ini, mencakup kelenjar saliva minor, kelenjar sublingual, dan komponen duktus dari kelenjar submandibula, yaitu duktus Wharton yang bermuara pada kedua sisi dari frenulum sublingual. Vaskularisasi dasar mulut diberikan oleh arteri lingualis, sedangkan inervasinya oleh serabut syaraf trigeminus cabang ketiga melalui nervus lingualis. Drainase dari sistem limfatik akan mengalir secara bilateral pada bagian superfisial, dimana pada bagian yang lebih dalam drainasenya akan mengalir ke level IA, IB, dan II secara ipsilateral. Otot yang terdapat pada area ini terdiri dari otot geniohyoid, genioglossus, dan mylohyoid.
Etiopatogenesis
Faktor penyebab adalah merokok, mengunyah tembakau, penyalahgunaan alkohol (terutama bila dikombinasi dengan merokok), trauma kronik karena pemasangan gigi palsu. Juga berhubungan dengan fibrosis submukosa, kandidiasis hiperplastik atau sindroma Plummer Vinson.
Mukosa bukal dan komisura oral adalah tempat tersering. Dapat juga mengenai dasar rongga mulut, lidah, sulkus bukoginggiva dan permukaan mukosa bibir. Paling sering pada usia dekade keempat, dengan insiden pada laki-laki 2-3 kali lebih sering dibandingkan pada wanita.
Secara klinis ada beberapa tipe, yaitu:
Homogen: Tampak sebagai selaput putih licin atau berkerut;
Nodular: Tampak sebagai selaput putih atau nodul dengan dasar eritema;
Erosif (eritroleukoplakia): Terdapat erosi dan fisura.
Sekitar 25% leukoplakia menunjukkan bentuk displasia epitel ringan sampai berat. Derajat displasia yang lebih berat akan berubah menjadi malignansi. Perubahan ini terjadi sekitar 1-17,5% (5%) kasus. Potensi menjadi maligna tergantung pada predileksi, tipe leukoplakia dan durasi evaluasi.
Gambar 1. Dasar mulut dan struktur penunjangnya
Tipe
Lesi Premaligna
Leukoplakia
Definisi leukoplakia menurut WHO adalah suatu selaput putih yang tidak dapat dibedakan secara klinis atau patologis dari penyakit lainnya. Lesi lain dalam rongga mulut yang menjadi pengecualian, antara lain: Lichen planus, discoid lupus erythromatosus, white spongy nevus dan kandidiasis
Eritroplakia
Merupakan suatu selaput berwarna merah pada permukaan mukosa. Warna merah disebabkan penurunan keratinisasi dan hasil dari jaringan ikat vaskular berwarna merah dari alveolar bagian bawah, sulkus bukoginggiva dan dasar rongga mulut. Eritroplakia paling banyak terdapat pada displasia berat, karsinoma in situ atau karsinoma invasif murni saat pertama kali terlihat. Peluang terjadinya keganasan bila terdapat lesi ini adalah 17 kali lebih tinggi dari leukoplakia. Secara makroskopis, lesi terdiri dari tiga jenis, yaitu homogen, granular dan eritroplakia, yang diselingi oleh area leukoplakia (sering sulit dibedakan dengan erileukoplakia, tipe dari leukoplakia).
Melanosis dan Hiperpigmentasi Mukosa
Lesi jinak berpigmen dari mukosa mulut yang berubah bentuk menjadi melanoma maligna. Insidensinya tidak diketahui. Sekitar satu perempat dari mukosa melanoma dapat berasal dari lesi jinak dan biopsi sangat dianjurkan.
Neoplasma Dasar Mulut
Neoplasma dasar mulut menyumbangkan sebanyak 16% dari neoplasma pada rongga mulut. Sebagian besar dari neoplasma dasar mulut merupakan karsinoma sel skuamosa, yang yaitu sebanyak 75% dari seluruh kasus neoplasma pada dasar mulut. Jenis kelamin pria relatif lebih banyak menderita penyakit ini dibandingkan wanita. Faktor risiko terjadinya adalah tembakau, alkohol, imunosupresi dan kebersihan mulut yang buruk. Terjadinya neoplasma pada dasar mulut diduga karena area ini merupakan daerah yang paling sering kontak dengan berbagai makanan dan minuman yang masuk ke mulut sebelum ditelan, termasuk zat karsinogen yang mungkin terkandung didalamnya. Secara histologi, neoplasma invasi > 2-4mm berhubungan dengan tingginya angka metastasis regional, rekurensi dan mortalitas. Invasi perineural pada tempat primer adalah indikator lain peningkatan rekurensi dan mortalitas.
Penatalaksanaan untuk berdasarkan derajat klinis: (NCCN 2020)
T1-T2, N0
Reseksi primer diikuti atau tanpa diseksi leher ipsilateral atau bilateral
Reseksi primer diikuti atau tanpa biopsi nodus limfatikus sentinel
Radioterapi definitif
T3, N0 atau T1-3, N1-3 atau T4a Pembedahan
N0, N1, N2a-b, N3
Reseksi primer diikuti diseksi leher ipsilateral atau bilateral
N2c
Reseksi primer diikuti diseksi leher bilateral
T4b atau nodus yang tak dapat direseksi atau tidak memungkinkan dioperasi
ECOG 0-1
Kemoterapi dan radioterapi konkuren
Induksi kemoterapi diikuti dengan radioterapi
ECOG 2
Kemoterapi dan radioterapi konkuren Radioterapi definitif
ECOG 3
Radioterapi paliatif Kemoterapi dosis tunggal Perawatan suportif
M1
ECOG 0-1
Platinum + 5FU + cetuximab Kemoterapi kombinasi lainnya Kemoterapi dosis tunggal
Pembedahan atau radioterapi atau kemoterapi diikuti radioterapi pada pasien dengan metastasis terbatas
Perawatan suportif
ECOG 2
Kemoterapi dosis tunggal Perawatan suportif
ECOG 3
Perawatan suportif
T4 dipertimbangkan kemoiradiasi (bila ada keterlibatan tulang, maka diperlukan reseksi).
Persentase harapan hidup pada 5 tahun berkisar antara 90% pada stadium I, 80% pada stadium II, 65% pada stadium III, dan 30% pada stadium IV.
Pada tahap awal, neoplasma ini biasanya asimptomatik. Namun, seiring dengan perkembangan ukurannya, maka dapat ditemukan gejala nyeri, perdarahan, dan obstruksi duktus submandibula. Otot mylohyoid dan periosteum mandibular berperan sebagai pengahalang dari penyebaran neoplasma. Pada lesi invasif, maka tindakan mandibulektomi segmental maupun marginal dapat dipertimbangkan untuk dilakukan. Keterlibatan dasar lidah memerlukan glosektomi parsial. Sedangkan bila neoplasma mengenai kelenjar submandibula, maka reseksi primer terhadap kelenjar dan jaringan neoplasma sebaiknya dilakukan.
Defek berukuran kecil pasca operasi dapat ditutup oleh tandur kulit split thickness. Tetapi, apabil defek mencapai ukuran 2 cm atau lebih, maka pemakaian flap dapat dipertimbangkan, seperti flap submental, flap nasolabial, flap platysma, dan flap pektoralis. Sementara bila dibutuhkan rekonstruksi vaskular yang besar, maka flap radialis lengan dan flap anterolateral paha merupakan pilihan yang terbaik. Mandibulektomi marginal maupun segmental diindikasikan pada neoplasma yang telah mendestruksi tulang mandibula. Pada mandibulektomi marginal, maka korteks luar atau tulang mandibula harus dipertahankan atau sekitar 1 cm dari ketebalan tulang mandibula. Sementara bila ditemukan indikasi untuk melakukan mandibulektomi segmental, maka
defek tulang sebaiknya disambungkan oleh reconstruction bar atau penggunaan tandur tulang dari fibula, radius, skapular, dan iliaka. Sementara defek kulit dan mukosa dapat ditutup dengan flap yang disebutkan di atas.
NEOPLASMA MUKOSA BUKAL
Karsinoma sel squamous mukosa buccal terjadi pada 5% sampai 10% kanker rongga mulut di Amerika Serikat, di India didapatkan 40% terkait dengan konsumsi biji pinang.Pada fase awal gejala yang sering ditemui adalah sariawan yang tidak sembuh pada rongga mulut. Konsumsi alcohol dan merokok merupakan factor predisposisi, juga riwayat karies dan masalah pada gigi geligi. Nyeri dirasakan bila terdapat infiltrasi dalam data penyebaran tumor local. Trismus dikaitkan dengan keterlibatan fossa infratemporal, yang merupakan tanda bahwa neoplasma tidak dapat dioperasi. Gigi yang tanggal merupakan indikasi adanya invasi dan penyebaran alveolus. Pada fase lanjut, dapat ditemui adanya rasa penuh pada satu sisi wajah serta kemerahan atau ulserasi pada kulit.
Neoplasma mukosa bukal sering terdeteksi pada fase lanjut karena tidak adanya batas tegas anatomi yang memudahkan penyebarannya. Lapisan lemak bukal dan otot sangat mudah di invasi oleh karsinoma dan kelumpuhan otot wajah, invasi kulit dan trismus merupakan presentasi primer yang tidak lazim didapatkan.
Pembedahan merupakan pilihan utama pada neoplasma mukosa bukal, pendekatan tersering yang dilakukan adalah melalui eksisi transoral. Lesi yang lebih besar membutuhkan kombinasi eksisi transoral dan trans servikal. Pada lesi yang lebih kecil dapat dilakukan penutupan primer atau skin graft . Untuk Lesi yang lebih besar, rekostruksi soft tissue dengan regional pedikel flap seperti submental flap, temporoparietal facial flap atau fasciocutaneus free flap mungkin dibutuhkan untuk menghindari kontraktur dan trismus.
Kemungkinan untuk terjadi metastase terkait dengan T dan kedalaman invasi neoplasma primer. Pada tahap lanjut T III dan T IV setra invasi >5mm dihubungkan dengan peningkatan resiko metastase cervical dan neck dissection elektif dapat dipertimbangkan bila tidak terdappat keterlibatan KGB.
Karsinoma bukal dapat memberikan prognosis yang buruk, banyak bukti yang menyatakan bahwa karsinoma bukal yang terburuk dibanding lesi lain di rongga mulut. Pada pasien yang tidak dapat di operasi, pilihannya adalah kemoterapi, karena rekurensi yang tinggi bila hanya radiotherapy saja serta menurunkan survival rate.
Persentase harapan hidup pada 5 tahun berkisar antara 90% pada stadium I, 80% pada stadium II, 65% pada stadium III, dan 30% pada stadium IV.
Penatalaksanaan untuk berdasarkan derajat klinis:
T1-T2, N0
Reseksi primer diikuti atau tanpa diseksi leher ipsilateral atau bilateral
Reseksi primer diikuti atau tanpa biopsi nodus limfatikus sentinel
Radioterapi definitif
T3, N0 atau T1-3, N1-3 atau T4a Pembedahan
N0, N1, N2a-b, N3
Reseksi primer diikuti diseksi leher ipsilateral atau bilateral
N2c
Reseksi primer diikuti diseksi leher bilateral
T4b atau nodus yang tak dapat direseksi atau tidak memungkinkan dioperasi
ECOG 0-1
Kemoterapi dan radioterapi konkuren
Induksi kemoterapi diikuti dengan radioterapi
ECOG 2
Kemoterapi dan radioterapi konkuren
Radioterapi definitif
ECOG 3
Radioterapi paliatif
Kemoterapi dosis tunggal
Perawatan suportif
M1
ECOG 0-1
Platinum + 5FU + cetuximab
Kemoterapi kombinasi lainnya
Kemoterapi dosis tunggal
Pembedahan atau radioterapi atau kemoterapi diikuti radioterapi pada pasien dengan metastasis terbatas
Perawatan suportif
ECOG 2
Kemoterapi dosis tunggal
Perawatan suportif
ECOG 3
Perawatan suportif
T4 dipertimbangkan kemoiradiasi (bila ada keterlibatan tulang, maka diperlukan reseksi).
Diagnosis Keganasan Rongga Mulut Menurut AJCC 8th Depth Of Invasion (DOI)
Berdasarkan AJCC 8th, DOI menilai seberapa dalam invasif suatu karsinoma. Diukur horizontal membran basal dari mukosa skuamosal terdekat sampai batas terdalam dari invasi sel tumor (diukur dalam mm).
Depth of invasion (DOI). The horizon is established at the level of the basement membrane relative to the closest intact squamous mucosa. The greatest DOT is measured by dropping a "plumb line"from the horizon
Depth of invasion (DOT) in an ulcerated carcinoma. Notice how "tumor thickness" would be deceptively thinner than
DOI
Klasifikasi TMN rongga mulut menurut AJCC 8th
Neoplasma primer (T) | Tx | Tidak dapat dinilai |
Tis | Karsinoma in situ | |
T1 | Neoplasma < 2 cm, :S 5 mm DOT | |
T2 | Neoplasma :S 2 cm , DOT > 5 mm :S 10 mm, atau Neoplasma > 2 cm tapi :S 4 cm, DOT :S 10 mm | |
T3 | Neoplasma > 4 cm, atau DOI >10 mm | |
T4 | Penyebaran sedang atau Penyebaran lokal yang luas | |
T4a | Moderately advanced local disease, Bibir : Invasi, meliputi:
Superficial erosion of bone/tooth socket (alone) by gingival primary is not sufficient to classify a tumor as T4. | |
T4b | Very advanced local disease Invasi Tumor :
| |
Nodul regional (N) | Nx | Tidak dapat dinilai |
No | Tidak ada metastasis regional |
N1 | Metastasis pada KGB ipsilateral, soliter, < 3 cm ENE (-) | |
N2 | Single ipsilateral node >3cm but <6cm in greatest dimension and ENE (-); Or Multiple ipsilateral LNs, none >6cm and ENE (-) Or Bilateral or contralateral LNs, none >6cm and ENE(-) | |
N2a | Metastasis pada KGB ipsilateral, soliter, > 3 cm sampai < 6 cm, ENE (-) | |
N2b | Metastasis pada KGB ipsilateral, multiple, < 6 cm, ENE (-) | |
N2c | Metastasis pada KGB bilateral atau kontralateral < 6 cm ENE (-) | |
N3 | LNs >6cm and ENE (-) Or Any node(s) and clinically overt ENE(-) | |
N3a | Metastasis pada KGB > 6 cm ENE (-) | |
N3b | Metastasis pada KGB manapun ENE (+) | |
Metastasis jauh (M) | M0 | Tidak ada matastasis jauh |
M1 | Metastasis jauh |
AJCC 8th Prognostic Stage Groups
T | N | M | Staging |
T1 | N0 | M0 | I |
T2 | N0 | M0 | II |
T3 | N0 | M0 | III |
T1,2,3 | N1 | M0 | III |
T4a | N0,1 | M0 | IV A |
T1,2,3,4a | N2 | M0 | IV A |
Any T | N3 | M0 | IV B |
T4b | Any N | M0 | IV B |
Any T | Any N | M1 | IV C |
Tatalaksana Keganasan Rongga Mulut berdasarkan ECOG Performance Scal
DAFTAR ISI
MODUL VII.5.1
ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER: TUMOR VASKULAR KEPALA LEHER-ANGIOFIBROMA NASOFARING BELIA
WAKTU
Mengembangkan Kompetensi | Alokasi Waktu |
Sesi di dalam kelas Sesi dengan fasilitasi Pembimbing Sesi praktik dan pencapaian kompetensi | 2 x 90 menit (classroom session) 1x 60 menit (coaching session) 19 Jam (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi presentasi : Angiofibroma Nasofaring Belia
Power point
Video
Kasus: Angiofibroma Nasofaring Belia
Sarana dan alat bantu latih (disesuaikan dengan pencapaian kompetensi):
Penuntun belajar (learning guide): terlampir
Tempat belajar (training setting): instalasi rawat inap, instalasi rawat jalan, kamar operasi, ruang praktikum, ruang kuliah
Model/manekin atau kadaver
Komputer/laptop
Infocus
REFERENSI
Jonas T Johnson, Clark A. Rrosen, et.al. Juvenil Nasopharyng Angiofibroma in Otolaryngology Bailey's Head & Neck Surgery volume 2. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. 2014. Pp: 2023-8
Evan J. Propst, Robin T. Cotton. Pediatric Otolaryngology: Head and Neck Surgery. In: Chan Y, Goddaed JC. Editors. K.J.Lee's Essential Otolaryngology Head and Neck Surgery. 11th (ed). United States: McGraw-Hill education. 2016.
p. 873-874
Hanna N, Su S, Kupferman EM, Raza MS, DeMonte F. Cancer of the Nasal Cavity and the Paranasal Sinuses in: Myers NJ, Hanna NY, Myers NE. Rditors. Cancer of the Head and Neck. 5th (ed). Wolters Kluwer.2017 Philadelphia: 442- 559
Jatin S. Transpalatal exiciton of a nasofaring angiofibroma. In: Head and neck surgery and Oncology 5th Ed. Philadelphia: Elsevier. 2020. 318-25
5 tahun terakhir
Bailey + ballanger
KOMPETENSI
Pengetahuan
Menegakkan diagnosis Angiofibroma Nasofaring Belia berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang
Keterampilan
Setelah Mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam:
Menjelaskan anatomi, fisiologi dan histologi nasofaring
Menjelaskan etiologi dan faktor risiko Angiofibroma Nasofaring Belia
Menjelaskan patogenesis dan gambaran klinis Angiofibroma Nasofaring Belia
Menjelaskan dan melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik Angiofibroma Nasofaring Belia
Melakukan keputusan untuk perlu tidaknya pemeriksan penunjang seperti nasal endoskopi dan CT Scan nasofaring
Membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhubungan dengan Angiofibroma Nasofaring Belia
Menjelaskan tentang tatalaksana operasi ekstirpasi tumor/angiofibroma, Melakukan operasi ekstirpasi Angiofibroma Nasofaring Juvenile dan ligasi arteri Karotis eksterna dengan supervisi, pemberian terapi hormonal, dan radiasi pada Angiofibroma Nasofaring Belia
Menjelaskan rehabilitasi pasca operasi ekstirpasi tumor/Angiofibroma Nasofaring Belia
Memutuskan terapi pendahuluan serta merujuk ke fasilitas kesehatan yang relevan.
GAMBARAN UMUM
Angiofibroma Nasofaring Belia merupakan tumor pembuluh darah yang berasal dari dinding posterolateral nasofaring dekat foramen sfenopalatina. Secara histologi tumor ini bersifat jinak, tetapi memiliki sifat ekspansif dan progresif ke daerah sekitarnya. Gejala klinis adalah obstruksi nasi dan epistaksis berulang. Angiofibroma Nasofaring Belia cenderung mudah berdarah karena secara histologi mempunyai dua komponen yaitu jaringan vaskuler dan jaringan fibrus, makin banyak jaringan vaskuler kemungkinan besar mudah terjadi perdarahan. Vaskularisasi dari arteri Karotis eksterna, kadang-kadang dari arteri Karotis interna.
Angiofibroma Nasofaring Belia pada umumnya diderita oleh laki-laki terutama umur dekade kedua (pubertas). Kejadian ANB kurang dari 0,5% dari seluruh tumor kepala dan leher, di berbagai rumah sakit di beberapa negara dilaporkan 1:16.000 dari seluruh penderita T.H.T.K.L. Teori pembentukan yang paling banyak diakui adalah tumor ini berasal dari kondrokartilago embriologi selama pembentukan tulang kranial. Penyebab tidak diketahui, kemungkinan terdapat faktor hormonal.
CONTOH KASUS DAN DISKUSI
Seorang laki-laki, 14 tahun datang ke klinik telinga hidung tenggorok bedah kepala dan leher dengan keluhan mimisan sejak 2 hari yang lalu dan sering berulang dalam 3 bulan terakhir. Mimisan terjadi dalam jumlah yang cukup banyak, kira-kira 3 gelas minum dan sulit berhenti sendiri. Pilek terkadang, sesak nafas tidak ada, makan dan minum lancar. Pembauan agak terganggu sejak 1 bulan terakhir. Tidak didapatkan riwayat trauma dan manipulasi hidung sebelumnya. Pemeriksaan tanda vital dalam batas normal, dan laboratorium didapatkan kadar hemoglobin (Hb) 8 mg/dl, lekosit 9.000, trombosit 250.000.
Diskusi :
Bagaimana etiopatogenesis epistaksis Angiofibroma Nasofaring Belia?
Sebutkan insidensi Angiofibroma Nasofaring Belia?
Bagaimana gambaran klinis Angiofibroma Nasofaring Belia?
Jawaban :
Angiofibroma Nasofaring Belia cenderung mudah berdarah karena secara histologi mempunyai dua komponen yaitu jaringan vaskuler dan jaringan fibrus, makin banyak jaringan vaskuler kemungkinan besar mudah terjadi perdarahan. Vaskularisasi dari arteri karotis eksterna (%), kadang-kadang dari arteri karotis interna (%).
Terbanyak pada laki-laki terutama umur dekade kedua (pubertas). Kejadian ANB kurang dari 0,5% dari seluruh tumor kepala dan leher, di berbagai rumah sakit di beberapa negara dilaporkan 1:16.000 dari seluruh penderita THT.
Gambaran klinis adalah obstruksi nasi, epistaksis berulang, gangguan fungsi tuba, proptosis/diplopia, nyeri pipi, sinusitis, palatum mole buldging, sefalgia, gangguan pendengaran (bila ada otitis media efusi) bahkan dapat terjadi deformitas wajah.
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan pembelajaran umum
Proses, materi dan metode pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan melakukan tindakan yang tepat terhadap penderita ANB.
Tujuan pembelajaran khusus
Mampu menguasai anatomi, histologi, fisiologi sinonasal dan nasofaring (tingkat kompetensi (K4, A3)
Mampu menjelaskan etiologi dan faktor risiko Angiofibroma Nasofaring Belia (tingkat kompetensi K4, A3)
Menjelaskan patogenesis dan gambaran klinis Angiofibroma Nasofaring Belia (tingkat kompetensi K3,A3)
Menentukan dan melakukan pemeriksan penunjang (nasal endoskopi/ nasofaringoskopi dan CT scan nasofaring) (tingkat kompetensi K3, P5, A3)
Membuat diagnosis Angiofibroma Nasofaring Belia berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik maupun penunjang (tingkat kompetensi K3, P5, A3)
Melakukan tatalaksana Angiofibroma Nasofaring Belia dan rehabilitasi pasca operasi ligase arteri Karotis Eksterna(tingkat kompetensi K3, P3, A3)
Melakukan tatalaksana Angiofibroma Nasofaring Belia dan rehabilitasi pasca operasi ekstirpasi (tingkat kompetensi K3, P2, A3)
Melakukan evaluasi dan memutuskan terapi pendahuluan serta merujuk ke fasilitas kesehatan yang relevan. (tingkat kompetensi K3, A3)
METODE PEMBELAJARAN
Setelah mengkuti sesi ini peserta didik akan mempunyai kemampuan dasar untuk menegakkan diagnosis ANB dan mampu untuk menentukan terapi yang sesuai.
Tujuan 1. Anatomi, topografi, histologi, embriologi, fisiologi nasofaring
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metoda pembelajaran berikut ini
Interactive lecture
Small group discussion.
Peer assisted learning (PAL).
Bedside teaching.
Task based medical education.
Harus diketahui : (khususnya untuk level Sp1)
Anatomi sinonasal, dan nasofaring
Gambaran dan karakteristik histologis nasofaring
Fisiologi nasofaring
Patogenesis angiofibroma nasofaring
Tujuan 2. Menjelaskan etio-patogenesis dan macam ANB
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review.
Peer assisted learning (PAL).
Bedside teaching.
Task based medical education.
Harus diketahui : (sedapat mungkin pilih specific features, signs & symptoms):
Etiologi dan faktor predisposisi
Patofisiologi klinik
Gejala (keluhan pasien)
Tanda (temuan hasil pemeriksaan)
Gambaran klinik
Tujuan 3. Menjelaskan gambaran klinik ANB (anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang)
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review.
Case simulation and investigation exercise.
Equipment characteristics and operating instructions.
Tujuan 4. Menegakkan diagnosis ANB dari pemeriksaan fisik dan penunjang Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review.
Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).
Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients.
Harus diketahui :
Metoda standar anamnesis
Gejala dan tanda tentang adanya tumor angiofibroma nasofaring
Pemeriksaan penunjang yang sensitif dan spesifik
Memilah diagnosis banding dan menentukan diagnosis kerja
Rencana pengobatan atau tatalaksana pasien
Tujuan 5. Melaksanakan tatalaksana ANB
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review.
Morbidity and Mortality Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).
Operative Procedure Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients.
Continuing Professional Development
Harus diketahui :
Prosedur konservatif
Radioterapi
Terapi hormonal
Prosedur operatif
Transpalatal
Rinotomi lateral
Midfacial degloving
Kombinasi
Prosedur alternatif
Angiografi embolisasi.
Tujuan 6. Melakukan evaluasi dan mampu memutuskan untuk melakukan rujukan ANB
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review.
Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).
Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients.
Harus diketahui :
Work-up Key Points
Jenis-jenis terapi yang direkomendasikan
Kondisi atau situasi penting untuk membuat keputusan untuk merujuk
Tujuan 7. Menentukan terapi yang tepat pada kasus Angiofibroma Nasofaring Belia
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review
Case study
Practice with Real Clients
Harus diketahui
Terapi medikamentosa
Terapi pembedahan
Tujuan 8. Melakukan tindakan pembedahan
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review
Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device)
Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients
Harus diketahui
Jenis pembedahan (ekstirpasi Angiofibroma Nasofaring Belia dan ligasi arteri Karotis eksterna dengan supervisi)
Langkah-langkah pembedahan
Tujuan 9. Melakukan perawatan penderita pra dan pasca pembedahan
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review
Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device)
Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients
Harus diketahui
Sermon of relaxation
Informed consent
Komplikasi operasi
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri atas :
Anatomi dan fisiologi sinonasal dan nasofaring
Penegakan diagnosis
Penatalaksanaan
Evaluasi
Selanjutnya dilakukan "small group discussion" bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian.
Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk "role play" dan teman-temannya (Peer Assisted Evaluation) atau kepada SP (Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assisted Evaluation) setelah dianggap memadai, melalui metode bedside teaching dibawah pengawasan fasilitator, peserta didik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut:
Perlu perbaikan: pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan.
Cukup: pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien.
Baik: pelaksanaan benar dan baik (efisien)
Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
Self assesment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar.
Pendidik/ fasilitas:
Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form (terlampir)
Penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi
Kriteria penilaian keseluruhan: cakap/ tidak cakap/ lalai
Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education)
Pencapaian pembelajaran:
Ujian OSCE (K,P,A), dilakukan pada tahapan T.H.T.K.L dasar oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L
Ujian akhir stase, setiap divisi / unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan
T.H.T.K.L lanjut oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L.
Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan T.H.T.K.L lanjut oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L.
Ujian akhir profesi (kasus bedah), dilakukan pada akhir pendidikan oleh Kolegium I T.H.T.K.L
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Kuesioner Sebelum Pembelajaran (Pre Test)
Soal : Apakah yang anda ketahui tentang Angiofibroma Nasofaring Belia? Jawaban :
Angiofibroma Nasofaring Belia merupakan tumor pembuluh darah yang berasal dari dinding posterolateral nasofaring dekat foramen sfenopalatina. Secara histologi tumor ini bersifat jinak, tetapi memiliki sifat ekspansif dan progresif ke daerah sekitarnya
Kuesioner Tengah Pembelajaran
Soal : Bagaimana cara menegakkan diagnosis Angiofibroma Nasofaring Belia? Jawaban :
Diagnosis berdasarkan gejala klinis, pada foto polos tampak adanya masa soft
tissue pada posterior kavum nasi dengan atau tanpa penyebaran ke nasofaring dan sinus paranasal, sedangkan pada CT Scan terlihat gambaran arsitektur tulang sinonasal dengan peningkatan vaskularisasi yang jelas (dengan atau tanpa kontras) dan pada MRI dapat melihat perluasan tumor ke jaringan lunak intrakranial, intratemporal dan intraorbita.
Kuesioner Akhir Pembelajaran
Soal : Bagaimana tatalaksana Angiofibroma Nasofaring Belia? Jawaban :
Pada prisnsipnya terdapat dua penanganan yaitu yang pertama penanganan perdarahan yang dapat terjadi sewaktu-waktu dan yang kedua adalah pendekatan operatif. Bila terdapat perluasaan dapat dipertimbangkan untuk dilakukan radioterapi sampai ke basis kranii. Pemberian hormonal seperti esterogen sebagai terapi definitif tidak memberikan hasil yang optimal. Tindakan embolisasi sebaiknya dipertimbangkan untuk persiapan preoperatif.
INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR
PENUNTUN BELAJAR
PROSEDUR EKSTIRPASI/ WIDE EXCISION ANGIOFIBROMA NASOFARING BELIA
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.:
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
NAMA PESERTA: .................................. TANGGAL: .................................
KEGIATAN | KASUS | |||
I. PERSIAPAN OPERASI | 1 | 2 | 3 | T/D |
KEGIATAN | KASUS | |||
II. PERSIAPAN PROSEDUR EKSTIRPASI ANGIOFIBROMA NASOFARING BELIA (Transpalatal) | ||||
III. PROSEDUR EKSTIRPASI /WIDE EXCISION ANGIOFIBROMA NASOFARING BELIA | ||||
1 Dilakukan insisi paralel sepanjang batas ginggiva, dengan meninggalkan cukup mukosa untuk jahitan pada saat penutupan. Batas anterior irisan adalah 1 cm dari pangkal gigi incisivus atas. | ||||
2 Mukosa palatum dielevasi bersamaan dengan periosteumnya. Pembuluh darah dan nervus menempel pada flap mukosa. A.Palatina mayor jangan sampai terpotong | ||||
Informed Consent
Rencana Tindakan
Persiapan Sebelum Tindakan
Pastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan esensial untuk prosedur Ekstirpasi Angiofibroma Nasofaring telah tersedia dan lengkap, yaitu:
Sterile scalpel blades no : 15
Scalpel handle
Surgical scissors blunt/blunt, curved (Cooper)
Mouth spreider
Dower catheter (small) - 2 pieces
Choanal forcep
Raspatorium
Dissecting scissor, curved (Metzenbaum)/dissecting scissor for plastic surgery Gorney/scissor, delicate (Chadwick)
Vessel and tendon scissors, curved and straight (Stevens)
Standard tissue forcep
Dissecting forcep, delicate (Adson); dissecting, nontraumatic forcep
Hemostatic, delicate forcep/klem, straight and curved (Halsteid-mosquito)
Hemostatic forcep standard (Adson, Leriche)
Dissecting and ligature forceps (Baby-Overholt and Baby-Mixter)
Bulldog clamps (DeBekey)
Dressing and sponge forcep (Rample)
Towel clamps (Backhaus)
Retractor Lagenbeck-Green dan Wound and vein retractors (Kocher/Cushing)
Needle holder DeBekay, Sarot
Deschams ligature needle, blunt
Sponge forceps, curved (Duplay)
Jarum dan benang
KEGIATAN | KASUS | |||
3 Flap mukosa palatum dielevasi, tulang palatum durum dibuka dengan tatah dan dilebarkan dengan forcep. Tulang palatum durum dibawah irisan mukosa harus dipertahankan untuk landasan muksa yang dijahit. Mukosa pada dasar kavum nasi diinsisi untuk mencapai tumor. | ||||
4 Ekstirpasi tumor dilakukan secara tumpul, hindari trauma tajam pada tumor dan pembuluh darah yang memvaskularisasinya. | ||||
5 Perdarahan dikontrol dengan suction, dan kauter. | ||||
6 Dipasang tampon anterior dan posterior (Belloque). | ||||
7 Flap palatum dijahit kembali. Dipasang tampon laba-- laba untuk menekan flap dan menjaga posisi flap sedekat mungkin dengan mukosa dasar kavum nasi. | ||||
IV. PROSEDUR LIGASI ARTERI KAROTIS EKSTERNA (sebelum dilakukan ektirpasi Angiofibroma Nasofaring Belia) | ||||
1. Pasien diposisikan supine dengan leher ekstensi | ||||
2. Dibuat insisi horizontal sekitar dua jari dibawah batas mandibula yang menyilang pinggir anterior m. Sternokleidomastoideus. | ||||
3. Setelah mencapai subplatisma dibuat flap dan dielevasi, m. Sternokleidomastoideus di retraksi ke posterior. | ||||
4. Diseksi dilanjutkan sampai mencapai selubung karotis | ||||
5. Lakukan identifikasi bifurkasio karotis, kemudian a. karotis eksterna dipisahkan. | ||||
6. Lakukan ligasi pada a. karotis eksterna dengan menggunakan benang atau Bulldog clamps (DeBekey) | ||||
7. Setelah selesai melakukan tindakan ekstirpasi angiofibroma nasofaring belia, ikatan/ jepitan pada a. karotis eksterna dilepaskan. | ||||
8. Jahit lapis demi lapis sampai kulit. | ||||
V. PASCA EKSTIRPASI/WIDE EXCISION ANGIOFIBROMA NASOFARING BELIA | ||||
Instruksi Pasca Ekstirpasi Angiofibroma Nasofaring Belia: | ||||
1. Pemberian obat-obatan yang sesuai | ||||
2. Belajar makan dan minum dengan terpasang tampon posterior | ||||
3. Tampon di lepas pada hari ke-2 | ||||
DAFTAR TILIK
PROSEDUR EKSTIRPASI/WIDE EXCISION ANGIOFIBROMA NASOFARING BELIA
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini:
: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
X: Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
T/T: Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
PESERTA: TANGGAL :
KEGIATAN | NILAI | ||
X | T/T | ||
Persiapan | |||
1. Kaji ulang diagnosis dan informed Consent | |||
2. Menyiapkan peralatan operatif | |||
3. Menyiapkan diri untuk tindakan operatif | |||
4. Menyiapkan posisi pasien | |||
5. Melakukan tindakan a & anti septik | |||
PROSEDUR OPERASI EKSTIRPASI /WIDE EXCISION ANGIOFIBROMA NASOFARING BELIA | |||
1. Melakukan insisi pada palatum | |||
2. Elevasi mukopereosteal flap | |||
3. Membuka tulang palatum durum | |||
4. Insisi mukosa dasar kavum nasi | |||
5. Reseksi tumor secara tumpul | |||
6. Pasang tampon anterior dan posterior | |||
7. Menjahit flap palatum | |||
PROSEDUR OPERASI LIGASI ARTERI KAROTIS EKSTERNA | |||
1. Pasien diposisikan supine dengan leher ekstensi | |||
2. Dibuat insisi horizontal sekitar dua jari dibawah batas mandibula yang menyilang pinggir anterior m. Sternokleidomastoideus | |||
3. Setelah mencapai subplatisma dibuat flap dan dielevasi, m. Sternokleidomastoideus di retraksi ke posterior. | |||
KEGIATAN | NILAI | ||
| X | T/T | |
4. Diseksi dilanjutkan sampai mencapai selubung karotis | |||
5. Lakukan identifikasi bifurkasio karotis, kemudian a. karotis eksterna dipisahkan. | |||
6. Lakukan ligasi pada a. karotis eksterna dengan menggunakan benang atau Bulldog clamps (DeBekey) | |||
7. Setelah selesai melakukan tindakan ekstirpasi angiofibroma nasofaring belia, ikatan/ jepitan pada a. karotis eksterna dilepaskan. | |||
8. Jahit lapis demi lapis sampai kulit. | |||
MATERI PRESENTASI
Slide 1: Anatomi dan Faktor Risiko Angifibroma Nasofaring Belia
Slide 2: Penegakan Diagnosis Angiofibroma Nasofaring Belia
Slide 3: Staging dan Tatalaksana Angiofibroma Nasofaring Belia
Slide 4: Teknik Operatif Ekstirpasi Angiofibroma Nasofaring Belia
Slide 5: Clinical Decision Making dan Medikamentosa
MATERI BAKU
Angiofibroma Nasofaring Belia
Angiofibroma Nasofaring Belia (disebut juga Juvenille Nasopharyngeal Angiofibroma) merupakan tumor jinak vaskuler tetapi bersifat agresif (klinis ganas). Angifibroma terjadi khususnya pada laki-laki, usia 20 tahunan dipertimbangkan berhubungan dengan faktor hormonal.
Tumor berasal dari basisfenoid dekat foramen palatina, pada daerah hubungan antara orbita dan sfenoid proses pada tulang palatum dan sfenoid, tumor biasanya menyebar ke fossa pterygopalatina, kavum nasi, nasofaring, sinus etmoid dan sinus sfenoid. Angiofibroma juga bisa menyebar ke orbita dan rongga kranial akibat destruksi tulang. Vaskularisasi dari arteri karotis eksterna melalui cabang a. maksilaris interna, kadang-kadang dari arteri karotis interna.
Gejala klinis adalah obstruksi nasi, epistaksis berulang, gangguan fungsi tuba, proptosis/diplopia, nyeri di pipi, sinusitis, palatum mole buldging, sefalgi, gangguan dengar (bila ada otitis media efusi) bahkan deformitas wajah. Pada pemeriksaan fisik tergantung penyebaran dari tumor, tampak massa berwarna merah keabu-abuan, licin, massa polipoid meskipun bisa berbentuk ireguler dan berlobus.
Diagnosis berdasarkan klinis, pada foto polos tampak adanya massa jaringan lunak pada posterior kavum nasi dengan atau tanpa penyebaran ke nasofaring dan sinus paranasal, sedangkan CT Scan terlihat gambaran arsitektur tulang sinonasal dan dasar tengkorak dan dengan kontras tampak gambaran vaskularisasi yang jelas
dan MRI lebih baik untuk melihat perluasan tumor ke jaringan lunak intrakranial, intratemporal, dan intraorbital .
Dengan angiografi dapat diketahui vaskularisasi tumor dan biasanya merupakan cabang dari a. maksilaris interna dan faringeal asendens cabang dari a. carotis interna. Perluasan tumor bisa sampai ke nasofaring, sinus sfenoid, rongga orbita, dan fossa infratemporal maupun ke intrakranial. Angiografi dan embolisasi hanya dilakukan bila pasien direncanakan akan dilakukan operasi. Anatomi vaskular dari angiofibroma penting dalam operasi reseksi.
Stadium pada ANB (Radowski):
Stadium
Ia : Terbatas pada nares posterior dan/ atau atap nasofaring Ib : Stage Ia, dengan perluasan ke salah satu sinus paranasal
Stadium
IIa : Perluasan minimal ke fossa pterigomaksila
IIb : Melibatkan fossa pterygomaksila dengan atau tanpa adanya erosi tulang orbita IIc : Meluas ke dalam fossa temporal, atau bagian posterior dari fossa pterigoids
Stadium
IIIa: Perluasan minimal ke intrakaranial
IIIb: Perluasan jauh ke intrakranial dengan/ tanpa perluasan ke sinus kavernosus
Diagnosis Banding
Polip antrokoanal
Karsinoma nasofaring
Manajemen
Penanganan ANB pada prinsipnya ada dua, yaitu yang pertama adalah penanganan perdarahan yang bisa terjadi sewaktu-waktu dan penegakan diagnosis. Yang kedua adalah terapi. Diagnosis ANB berdasarkan CT Scan dengan kontras. MRI dapat digunakan dan membantu menentukan adanya perluasan ke intrakranial.
Biopsi tidak disarankan karena risiko perdarahan yang sangat hebat. Angiografi dilakukan untuk mengetahui pembuluh darah yang mensuplai tumor dan untuk tujuan embolisasi. Pembuluh darah yang mensuplai Angiofibroma nasofaring belia biasanya berasal dari arteri karotis eksterna (arteri maksilaris interna dan arteri faringealis ascendens). Pada tumor yang meluas ke intraorbital atau intrakranial, kemungkinan besar rnendapat suplai dari arteri karotis interna. Demikian pula pada tumor yang besar yang melewati linea mediana, kemungkinan besar mendapat suplai dari pembuluh darah kontralateral. Untuk itu, angiografi dilakukan pada arteri karotis eksterna dan arteri karotis interna. Terapi utama ANB adalah operatif. Tindakan operatif dilakukan dengan pendekatan medial maksilektomi, transpalatal, fasial degloving, skull base surgery, endoskopi tergantung kondisi tumor. Dua pendekatan yang dilakukan bersama akan memberikan lapang pandang yang lebih baik. Dilaporkan pendekatan transpalatal maupun kraniofasial skull base surgery dapat menjamin reseksi tumor secara komplit. Dilaporkan angka rekurensi 6-24%.
Radioterapi dilakukan pada kasus dengan perluasan ke intrakranial, melibatkan sinus kavernosus dan kiasma optikus, ukuran tumor besar yang sulit untuk di ekstirpasi atau tumor yang mengancam jiwa mengingat lokasi tumornya.
Radioterapi kurang disukai oleh karena komplikasi jangka panjang antara lain keterlambatan pertumbuhan, panhipo-pituitarisme, nekrosis lobus temporal, katarak dan keratopati. Pemberian terapi hormonal seperti estrogen sebagai terapi definitif tidak memberikan hasil yang optimal.
Tindakan ligasi arteri karotis atau embolisasi sebelum operasi direkomendasikan sebagai prosedur standar untuk mengurangi terjadinya perdarahan selama operasi sehingga memungkinkan untuk pengangkatan total massa tumor. Embolisasi dapat dilakukan 48-72 jam pre-operasi. Bahan embolisasi yang digunakan antara lain gel foam, partikel Polivinil alkohol (PVA), coil (kumparan), detachable sack atau baloon maupun bahan sklerosan lain.
Prosedur Operasi
Ekstirpasi Angiofibroma Nasofaring Belia (Transpalatal)
Kompetensi
Dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai keterampilan ekstirpasi ANB (teori, indikasi, prosedur, dan komplikasi). Selama pendidikan pernah melihat atau menjadi asisten, dan pernah menerapkan keterampilan ini di bawah supervisi.
Definisi
Ekstirpasi Angiofibroma Nasofaring Belia adalah operasi pengangkatan tumor pembuluh darah di daerah nasofaring.
Indikasi
Angiofibroma Nasofaring Belia
Pendekatan Transpalatal
Indikasi:
Angiofibroma Nasofaring Belia stadium 1
Tumor ukuran kecil
Dengan pendekatan ini, pterigomaksilaris space dapat dijangkau.
Catatan :
Dapat dipertimbangkan operasi pada Angiofibroma Nasofaring belia yang besar dan meluas ke fossa infra temporal. Bila lesi luas melebihi area nasofaring, pendekatan lain atau kombinasi dengan pendekatan lain, seperti transmaksilari antral, rinotomi lateralis, transbukal mungkin diperlukan tergantung ke arah mana perluasannya, dengan
Teknik operasi:
Pasien diposisikan supine dengan leher ekstensi
Lakukan anestesi lokal dengan injeksi lidokain 1% dengan perbandingan 1:
100.000 epinephrin sepanjang bagian atas dental alveolar pada bagian palatum durum
Pasang pharingeal pack
Dilakukan insisi paralel sepanjang batas ginggiva, dengan meninggalkan cukup mukosa untuk jahitan pada saat penutupan. Batas anterior irisan adalah 1 cm dari pangkal gigi incisivus atas.
Mukosa palatum dielevasi bersamaan dengan periosteumnya. Pembuluh darah dan nervus menempel pada flap mukosa. A.Palatina mayor jangan sampai terpotong
Flap mukosa palatum dielevasi, tulang palatum durum dibuka dengan irisan berbentuk "U" terbalik dengan tatah dan dilebarkan dengan forcep. Tulang palatum durum dibawah irisan mukosa harus dipertahankan untuk landasan muksa yang dijahit. Mukosa pada dasar kavum nasi diinsisi untuk mencapai tumor.
Dengan memakai osteotom atau high speed drill untuk mengebor daerah posterior dari palatum durum dipotong untuk mendapatkan akses dari regio koana posterior di bagian kiri
Ekstirpasi tumor dilakukan secara tumpul, hindari trauma tajam pada tumor dan pembuluh darah yang memvaskularisasinya.
Perdarahan dikontrol dengan suction, penjahitan, dan kauter.
Dipasang tampon anterior dan posterior (Belloque).
Flap palatum dijahit kembali dan menjaga posisi flap sedekat mungkin dengan mukosa dasar kavum nasi.
Komplikasi
Perdarahan
Fistula
Deformitas wajah
Perawatan Pasca Operasi
Antibiotik sistemik
Analgetik sistemik
Antiperdarahan sistemik
Belajar makan dan minum dengan terpasang tampon posterior
Tampon dilepas pada hari ke-2
Instrumen yang diperlukan
Sterile scalpel blades no 15
Scalpel handle
Surgical scissors blunt/blunt, curved (Cooper)
Mouth spreider
Dower catheter (small) - 2 pieces
Choanal forcep
Raspatorium
Dissecting scissor, curved (Metzenbaum)/dissecting scissor for plastic surgery Gorney/scissor, delicate (Chadwick)
Vessel and tendon scissors, curved and straight (Stevens)
Standard tissue forcep
Dissecting forcep, delicate (Adson); dissecting, nontraumatic forcep
Hemostatic, delicate forcep/klem, straight and curved (Halsteid-mosquito)
Hemostatic forcep standard (Adson, Leriche)
Dissecting and ligature forceps (Baby-Overholt and Baby-Mixter)
Bulldog clamps (DeBekey)
Dressing and sponge forcep (Rample)
Towel clamps (Backhaus)
Retractor Lagenbeck-Green dan Wound and vein retractors (Kocher/Cushing)
Needle holder DeBekay, Sarot
Deschams ligature needle, blunt
Sponge forceps, curved (Duplay)
Jarum dan benang
Prosedur Operasi Ligasi Arteri Karotis Eksterna
Kompetensi
Dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai keterampilan ligasi arteri karotis eksterna (teori, indikasi, prosedur ,dan komplikasi). Selama pendidikan pernah melihat atau menjadi asisten, dan pernah menerapkan keterampilan ini di bawah supervisi.
Definisi
Ligasi arteri karotis eksterna adalah tindakan pengikatan arteri karotis yang bersifat sementara dengan menggunakan benang atau Bulldog clamps (DeBekey) yang bertujuan untuk mengurangi perdarahan saat operasi misalnya ekstirpasi ANB.
Teknik operasi :
Pasien diposisikan supine dengan leher ekstensi
Dibuat insisi horizontal sekitar dua jari dibawah batas mandibula yang menyilang pinggir anterior m. Sternokleidomastoideus.
Setelah mencapai subplatisma dibuat flap dan dielevasi, m. Sternokleidomastoideus di retraksi ke posterior.
Diseksi dilanjutkan sampai mencapai selubung karotis
Lakukan identifikasi bifurkasio karotis, kemudian a. karotis eksterna dipisahkan.
Lakukan ligasi pada a. karotis eksterna dengan menggunakan benang atau dijepit menggunakan Bulldog clamps (DeBekey)
Setelah selesai melakukan tindakan ekstirpasi ANB, ikatan/ jepitan pada a karotis eksterna dilepaskan.
Jahit lapis demi lapis sampai kulit.
Instrumen yang diperlukan
Sterile scalpel blades no : 15
Scalpel handle
Surgical scissors blunt/blunt, curved (Cooper)
Dissecting scissor, curved (Metzenbaum)/dissecting scissor for plastic surgery Gorney/scissor, delicate (Chadwick)
Vessel and tendon scissors, curved and straight (Stevens)
Standard tissue forcep
Dissecting forcep, delicate (Adson); dissecting, nontraumatic forcep
Hemostatic, delicate forcep/klem, straight and curved (Halsteid-mosquito)
Hemostatic forcep standard (Adson, Leriche)
Dissecting and ligature forceps (Baby-Overholt and Baby-Mixter)
Bulldog clamps (DeBekey)
Dressing and sponge forcep (Rample)
Towel clamps (Backhaus)
Retractor Lagenbeck-Green dan Wound and vein retractors (Kocher/Cushing)
Needle holder DeBekay, Sarot
Deschams ligature needle, blunt
Sponge forceps, curved (Duplay)
Jarum dan benang
DAFTAR ISI
MODUL VII.5.2
ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER: TUMOR VASKULAR KEPALA LEHER- HEMANGIOMA KEPALA LEHER
WAKTU
Mengembangkan Kompetensi | Alokasi Waktu |
Sesi di dalam kelas Sesi dengan fasilitasi Pembimbing Sesi praktik dan pencapaian kompetensi | 2 x 90 menit (classroom session) 1x 60 menit (coaching session) 19 Jam (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi presentasi : Hemangioma
Power point
Video
Kasus: Hemangioma
Sarana dan alat bantu latih (disesuaikan dengan pencapaian kompetensi):
Penuntun belajar (learning guide): terlampir
Tempat belajar (training setting): instalasi rawat inap, instalasi rawat jalan, kamar operasi, ruang praktikum, ruang kuliah
Model/manekin atau kadaver
Komputer/laptop
Infocus
REFERENSI
Buck ML. Oral Propranolol for Hemangiomas of Infancy. Pediatr Pharm. 2010;16(8)
Smith SC1, Patel RM, Lucas DR, McHugh JB. Sinonasal lobular capillary hemangioma: a clinicopathologic study of 34 cases characterizing potential for local recurrence. Head Neck Pathol; 2013 7(2):129-34
Hamdan AL, Waji GS, Husseini S. Cavernous Hemagioma of The Maxillary Sinus: A Rare Cause of Epistaxis. Anesth 2012;21(5) ;757-760
Ozk1risa M, Ayd1na R, A rare cause of pediatric nasal obstruction and epistaxis:
Nasal septal mixed hemangioma. Volume 8, Issue 2013;3(9);, 104-7
KOMPETENSI
Pengetahuan
Menegakkan diagnosis hemangioma berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang
Keterampilan
Setelah Mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam:
Menjelaskan anatomi, fisiologi histologi sinonasal
Menjelaskan etiologi dan faktor risiko hemangioma
Menjelaskan patogenesis dan gambaran klinis hemangioma
Menjelaskan dan melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik hemangioma
Melakukan keputusan untuk perlu tidaknya pemeriksan penunjang seperti endoskopi, CT Scan, dan angiografi
Membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhubungan dengan hemangioma
Menjelaskan tentang tatalaksana operasi wide excision/ excisional biopsy
Menjelaskan rehabilitasi pasca operasi hemangioma
Memutuskan terapi pendahuluan serta merujuk ke fasilitas kesehatan yang relevan.
GAMBARAN UMUM
Hemangioma adalah tumor jinak pembuluh darah, yang berasal dari kulit, mukosa dan struktur dalam seperti tulang, otot dan kelenjar. Hemangioma bisa juga terjadi pada rongga hidung dan sinus paranasal. Hemangioma terdiri dari dua jenis utama, yaitu hemangioma kapiler dan kavernosa. Hemangioma lainnya adalah hemangioma tipe campur. Sebagian besar dari neoplasma ini adalah hemangioma kapiler dan ditemukan melekat pada septum hidung. Hemangioma kavernosa sering ditemukan pada dinding lateral rongga hidung. Hemangioma pada septum nasal adalah penyakit yang paling sering ditemukan di bagian anterior dari septum hidung.1,2,3,4
CONTOH KASUS DAN DISKUSI
Seorang laki-laki, 24 tahun datang ke poliklinik telinga hidung tenggorok bedah kepala dan leher dengan keluhan mimisan sejak 2 hari yang lalu dan sering berulang dalam 3 bulan terakhir. Mimisan terjadi dalam jumlah yang cukup banyak, kira-kira 3 gelas minum dan sulit berhenti sendiri. Pilek terkadang, sesak nafas tidak ada, makan dan minum lancar. Pembauan agak terganggu sejak 1 bulan terakhir. Tidak didapatkan riwayat trauma dan manipulasi hidung sebelumnya. Pemeriksaan tanda vital dalam batas normal, dan laboratorium didapatkan kadar hemoglobin (Hb) 8 mg/dl, lekosit 9.000, trombosit 250.000.
Diskusi :
Bagaimana etiopatogenesis hemangioma
Sebutkan insidensi hemangioma
Bagaimana gambaran klinis hemangioma
Jawaban :
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan pembelajaran umum
Proses, materi dan metode pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan melakukan tindakan yang tepat terhadap hemangioma
Tujuan pembelajaran khusus
Mampu menguasai anatomi, histologi, fisiologi nasofaring (tingkat kompetensi (K4, A3)
Mampu menjelaskan etiologi dan faktor risiko hemangioma (tingkat kompetensi K4, A3)
Menjelaskan patogenesis dan gambaran klinis hemangioma (tingkat kompetensi K3,A3)
Menentukan dan melakukan pemeriksan penunjang (nasal endoskopi/ nasofaringoskopi, CT scan sinonasal, dan angiografi ) (tingkat kompetensi K3, P5, A3)
Membuat diagnosis hemangioma berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik maupun penunjang (tingkat kompetensi K3, P5, A3)
Melakukan tatalaksana hemangioma dan rehabilitasi pasca operasi (tingkat kompetensi K3, P3, A3)
Melakukan evaluasi dan memutuskan terapi pendahuluan serta merujuk ke fasilitas kesehatan yang relevan. (tingkat kompetensi K3, A3)
METODE PEMBELAJARAN
Setelah mengkuti sesi ini peserta didik akan mempunyai kemampuan dasar untuk menegakkan diagnosis hemangioma dan mampu untuk menentukan terapi yang sesuai.
Tujuan 1. Anatomi, topografi, histologi, embriologi, fisiologi sinonasal
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metoda pembelajaran berikut ini
Interactive lecture
Small group discussion.
Peer assisted learning (PAL).
Bedside teaching.
Task based medical education.
Harus diketahui : (khususnya untuk level Sp1)
Anatomi daerah sinonasal
Gambaran dan karakteristik histologis hemangioma
Patogenesis hemangioma
Tujuan 2. Menjelaskan etio-patogenesis dan macam hemangioma
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review.
Peer assisted learning (PAL).
Bedside teaching.
Task based medical education.
Harus diketahui : (sedapat mungkin pilih specific features, signs & symptoms):
Etiologi dan faktor predisposisi
Patofisiologi klinik
Gejala (keluhan pasien)
Tanda (temuan hasil pemeriksaan)
Gambaran klinik
Tujuan 3. Menjelaskan gambaran klinik hemangioma (anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang)
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review.
Case simulation and investigation exercise.
Equipment characteristics and operating instructions.
Tujuan 4. Menegakkan diagnosis hemangioma dari pemeriksaan fisik dan penunjang
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review.
Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).
Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients.
Harus diketahui :
Metoda standar anamnesis
Gejala dan tanda pasti tentang adanya hemangioma
Pemeriksaan penunjang yang sensitif dan spesifik
Memilah diagnosis banding dan menentukan diagnosis kerja
Rencana pengobatan atau tatalaksana pasien
Tujuan 5. Melaksanakan tatalaksana hemangioma
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review.
Morbidity and Mortality Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).
Operative Procedure Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients.
Continuing Professional Development
Harus diketahui :
Prosedur konservatif
Observasi
Injeksi kortikosteroid intralesi
Kortikosteroid sistemik
Interferon alfa
Injeksi sklerosin
Prosedur operatif
Indikasi terapi pada hemangioma yang besar, problematik, atau membahayakan.
Pilihan prosedur terapi lainnya
Angiografi embolisasi.
Laser
Tujuan 6. Melakukan evaluasi dan mampu memutuskan untuk melakukan rujukan hemangioma
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review.
Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).
Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients.
Harus diketahui :
Work-up Key Points
Jenis-jenis terapi yang direkomendasikan
Kondisi atau situasi penting untuk membuat keputusan untuk merujuk
Tujuan 7. Menentukan terapi yang tepat pada kasus hemangioma
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review
Case study
Practice with Real Clients
Harus diketahui
Terapi medikamentosa
Terapi pembedahan
Pilihan prosedur terapi lainnya
Tujuan 8. Melakukan tindakan pembedahan
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review
Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device)
Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients
Harus diketahui
Jenis operasi
Langkah-langkah pembedahan
Tujuan 9. Melakukan perawatan penderita pra dan pasca pembedahan Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review
Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device)
Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients
Harus diketahui
Sermon of relaxation
Informed consent
Komplikasi operasi
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri atas :
Anatomi dan fisiologi kepala dan leher
Penegakan diagnosis
Penatalaksanaan
Evaluasi
Selanjutnya dilakukan "small group discussion" bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian.
Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk "role play" dan teman-temannya (Peer Assisted Evaluation) atau kepada SP (Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assisted Evaluation) setelah dianggap memadai, melalui metode bedside teaching dibawah pengawasan fasilitator, peserta didik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut:
Perlu perbaikan: pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan.
Cukup: pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien.
Baik: pelaksanaan benar dan baik (efisien)
Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
Self assesment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar.
Pendidik/ fasilitas:
Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form (terlampir)
Penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi
Kriteria penilaian keseluruhan: cakap/ tidak cakap/ lalai
Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education)
Pencapaian pembelajaran:
Ujian OSCE (K,P,A), dilakukan pada tahapan T.H.T.K.L dasar oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L
Ujian akhir stase, setiap divisi / unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan
T.H.T.K.L lanjut oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L.
Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan T.H.T.K.L lanjut oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L.
Ujian akhir profesi (kasus bedah), dilakukan pada akhir pendidikan oleh Kolegium I T.H.T.K.L
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Kuesioner Sebelum Pembelajaran (Pre Test)
Soal : Apakah yang anda ketahui tentang hemangioma? Jawaban :
Kuesioner Tengah Pembelajaran
Soal : Bagaimana cara menegakkan diagnosis hemangioma Jawaban :
Kuesioner Akhir Pembelajaran
Soal : Bagaimana tatalaksana hemangioma? Jawaban :
INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR
PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR OPERASI HEMANGIOMA
Catatan OP ANB
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.:
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
NAMA PESERTA: .................................. TANGGAL: .................................
KEGIATAN | KASUS | |||
I. PERSIAPAN OPERASI | 1 | 2 | 3 | T/D |
II. PERSIAPAN PROSEDUR OPERASI HEMANGIOMA | ||||
Informed Consent
Rencana Tindakan
Persiapan Sebelum Tindakan
Pastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan esensial untuk operasi telah tersedia dan lengkap, yaitu:
Sterile scalpel blades no : 15
Scalpel handle
Surgical scissors blunt/blunt, curved (Cooper)
Mouth spreider
Raspatorium
Dissecting scissor, curved (Metzenbaum)/dissecting scissor for plastic surgery Gorney/scissor, delicate (Chadwick)
Vessel and tendon scissors, curved and straight (Stevens)
Standard tissue forcep
Dissecting forcep, delicate (Adson); dissecting, nontraumatic forcep
Hemostatic, delicate forcep/klem, straight and curved (Halsteid-mosquito)
Hemostatic forcep standard (Adson, Leriche)
Dissecting and ligature forceps (Baby-Overholt and Baby- Mixter)
Dressing and sponge forcep (Rample)
Towel clamps (Backhaus)
Retractor Lagenbeck-Green dan Wound and vein retractors (Kocher/Cushing)
Needle holder DeBekay, Sarot
Deschams ligature needle, blunt
KEGIATAN | KASUS | |||
III. PROSEDUR OPERASI HEMANGIOMA | ||||
1 Disesuaikan dengan lokasi dan besar massa tumor, untuk pertimbangan teknik transpalatal | ||||
2 Ekstirpasi tumor dilakukan secara tumpul, hindari trauma tajam pada tumor dan pembuluh darah yang memvaskularisasinya. | ||||
3 Perdarahan dikontrol dengan suction, dan kauter. | ||||
4 Dipasang tampon anterior dan posterior (Belloque). | ||||
IV. PASCA OPERASI HEMAGIOMA | ||||
Instruksi Pasca Operasi | ||||
1. Pemberian obat-obatan yang sesuai | ||||
2. Perawatan luka | ||||
3. Tampon di lepas pada hari ke-2 | ||||
Sponge forceps, curved (Duplay)
Jarum dan benang
DAFTAR TILIK
PROSEDUR OPERASI HEMANGIOMA
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini:
: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
X: Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
T/T: Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
PESERTA: TANGGAL :
KEGIATAN | NILAI | ||
X | T/T | ||
Persiapan | |||
1. Kaji ulang diagnosis dan informed Consent | |||
2. Menyiapkan peralatan operatif | |||
3. Menyiapkan diri untuk tindakan operatif | |||
4. Menyiapkan posisi pasien | |||
5. Melakukan tindakan a & anti septik | |||
PROSEDUR OPERASI HEMANGIOMA | |||
1. Disesuaikan dengan lokasi dan besar massa tumor, untuk pertimbangan teknik transpalatal | |||
2. Ekstirpasi tumor dilakukan secara tumpul, hindari trauma tajam pada tumor dan pembuluh darah yang | |||
KEGIATAN | NILAI | ||
| X | T/T | |
memvaskularisasinya. | |||
3. Perdarahan dikontrol dengan suction, dan kauter. | |||
4. Dipasang tampon anterior dan posterior (Belloque). | |||
5. Disesuaikan dengan lokasi dan besar massa tumor, untuk pertimbangan teknik transpalatal | |||
6. Ekstirpasi tumor dilakukan secara tumpul, hindari trauma tajam pada tumor dan pembuluh darah yang memvaskularisasinya. | |||
7. Perdarahan dikontrol dengan suction, dan kauter. | |||
MATERI PRESENTASI
Slide 1: Pendahuluan dan Gambaran Umum Slide 2: Penegakan Diagnosis Hemangioma Slide 3: Tatalaksana Hemangioma
Slide 4: Terapi Medikamentosa
Slide 5 : Teknik Operatif Hemangioma Slide 6 : Pilihan prosedur terapi lainnya
MATERI BAKU
Hemangioma adalah tumor jinak pembuluh darah, yang berasal dari kulit, mukosa dan struktur dalam seperti tulang, otot dan kelenjar. Hemangioma bisa juga terjadi pada rongga hidung dan sinus paranasal. Hemangioma terdiri dari dua jenis utama, yaitu hemangioma kapiler dan kavernosa. Hemangioma lainnya adalah hemangioma tipe campur. Sebagian besar dari neoplasma ini adalah hemangioma kapiler dan ditemukan melekat pada septum hidung. Hemangioma kavernosa sering ditemukan pada dinding lateral rongga hidung. Hemangioma pada septum nasal adalah penyakit yang paling sering ditemukan di bagian anterior dari septum hidung.1,2,3,4
Kekerapan
Hemangioma kepala leher dapat terjadi pada gingiva, bibir, lidah dan bukal mukosa.6 Hemangioma mukosa rongga hidung, sinus paranasal dan nasofaring terjadi pada 10% dari semua hemangioma kepala dan leher. Sekitar 80% dari hemangioma hidung timbul dari septum hidung di daerah yang dikenal sebagai "little area", dan 15% lainnya berasal dari dinding lateral rongga hidung. Hemangioma dapat terjadi pada segala usia.3,8 Namun paling sering ditemukan pada wanita kulit putih usia lebih dari 40 tahun.5 Sedangkan pada usia kurang dari 18 tahun, paling sering dijumpai pada lakilaki.7 Perbedaan dalam distribusi jenis
kelamin dengan usia menunjukkan adanya keterlibatan faktor hormonal dalam etiologi hemangioma kapiler. Stimulasi hormon progesterone meningkat, sehingga meningkatkan kejadian hemangioma 4,5
Etiologi
Faktor biologis pencetus hemangioma masih belum diketahui, begitu juga asal dari sel-sel endothelial tumor ini belum diketahui, Penyebab lain yang mungkin adalah genetik dan viral. Angiogenesis kemungkinan memiliki peranan dalam pertumbuhan pembuluh darah. Cytokines, seperti Basic Fibroblast Growth Factor (BFGF) dan Vascular Endotelial Growth Factor (VEGF), mempunyai peranan dalam proses angiogenesis. Peningkatan faktorfaktor pembentukan angiogenesis seperti penurunan kadar angiogenesis inhibitor misalnya gamma-interferon, tumor necrosis factor-beta, dan transforming growth factor-beta berperan dalam etiologi terjadinya hemangioma. 6
Frekuensi
Hemangioma adalah tumor yang paling sering pada bayi dan anakanak. Kejadiannya 4 % - 10 % pada kulit putih. Lesi ini 3 - 5 kali lebih sering pada anak perempuan daripada laki-laki. Begitupun kebanyakan hemangioma yang problematik pada anak perempuan daripada laki-laki. Frekuensi lebih tinggi pada bayi prematur yaitu 23 % pada yang berat badannya kurang dari 1200 gram. Hemangioma lebih jarang pada yang berkulit gelap.
Klasifikasi
Secara histologik Hemangioma diklasifikasikan berdasarkan besarnya pembuluh darah, menjadi tiga :
Hemangioma kapiler terdiri atas :
Hemangioma kapiler pada anak (nevus vasculosus, strawberry nevus, Port wine stain, Strawberry mark)
Granuloma piogenik.
Cherry-spot (ruby-spot), angioma senillis.
Hemangioma kapiler, berupa bercak merah tidak menonjol dari permukaan kulit. "Salmon patch" berwarna lebih muda, sedangkan "Port wine stain" lebih gelap kebiru-biruan, kadang-kadang membentuk benjolan di atas permukaan kulit.
Hemangioma kavernosum
Tampak sebagai suatu benjolan, kemerahan, terasa hangat dan "compressible" (tumor mengecil bila ditekan dan bila dilepas dalam beberapa waktu membesar kembali).
Hemangioma campuran (kapiler dan kavernosum).
Diantara jenis hemangioma kavernosum dan campuran ada yang disertai fistula arterio-venous (bawaan).
Patogenesis Hemangioma
Hemangioma adalah tumor endotelial yang memiliki sifat biologis yang unik. Yaitu tumbuh cepat, lambat regresi, dan tidak pernah rekuren.Sifatnya yang "angiogenesis dependent" tergantung dari pembentukan pembuluh-pembuluh darah baru untuk pertumbuhannya. Hal ini terjadi karena hilangnya mekanisme kontrol terhadap pertumbuhan pembuluh darah baru. Ini bisa terjadi karenaup-regulation dari faktor-faktor angiogenik, atau down-regulation dari inhibitornya.
Ada tiga tahap siklus hidup hemangioma :
Fase proliferasi (usia 0 - 1 thn)
Fase proliferasi : ditandai dengan Produksi stimulator j : VEGF,bFGF, enzim- enzim padaextracellular remodelling (tipe IV collagenase, urokinase, dan protease), monocyte chemoattractant protein, dan vitronectin (disimpan di ruang subendothelial selama proliferasi). Inhibitors t : interferon-� di epidermis kulit di atas hemangioma. Matrix metalloproteinases (MMPs) j. Proliferation jj Apoptosis t
Fase involusi (usia 1 - 5 tahun)
Fase involusi ditandai dengan
stimulators t
Inhibitors j - MMPs t :
Proliferation t : native antiangiogenic molecules j , tissue inhibitor of MMP (+) ---- supresi pembentukan pembuluh darah baru. Muncul mast cell yang memproduksi modulator- modulator yang menurunkan endothelial turnover. Produksi interferon- � di epidermis j.
Apoptosis j : puncaknya pada usia 2 tahun
Beginning of fibrofatty replacement of the hemangioma
Tampak dilatasi lumen vascular, flattening of endothelial cells, dan deposisi progresif jaringan ikat perivaskular dan interlobular atau intralobular untuk membentuk lobular architecture
Stromal cells menjadi lebih jelas pada fase ini
Tampak penurunan volume tumor dan konsistensi menjadi lunak
Fase pasca involusi (usia > 5 thn)
Setelah regresi selesai, yang tertinggal adalah pembuluh- pembuluh darah kecil menyerupai kapiler dan vena yang biasanya melebar dikelilingi oleh jaringan fibrofatty bercampur dengan kolagen dan serat retikular.Endotel pembuluh darah tampak datar dan mature. Membran basalis yang berlapis-lapis tampak persisten di sekitar sisa-sisa kapiler.
Diagnosis Banding
Jinak : Angiofibroma Nasofaring
granuloma pyogenic
hemangioendothelioma
kaposiform hemangioendothelioma
Ganas : Karsinoma Nasofaring
glomus tumor
angioblastoma
angiosarcoma
Manajemen
Manajemen Hemangioma antara lain :
Observasi
Observasi :informasi dan edukasi tentang perjalanan penyakit dan kemungkinan- kemungkinannya kepada orang tua pasien.
Terapi lokal untuk ulserasi dan bleeding : diberikan antibiotika topikal, perawatan luka, bila perlu dilakukan debridement dalam narkose,bila tersedia dapat dilakukan pulsed-dye laser untuk mengatasi nyeri dan mempercepat penyembuhan.
Injeksi kortikosteroid intralesi
Terapi farmakologik : diindikasikan untuk hemangioma problematik dan membahayakan.
Kortikosteroid
Ditujukan untuk hemangioma superfisial yang kecil (<I< 2,5 cm). Diberikan suntikan triamsinolon dengan dosis 3 - 5 mg/kg per kali dengan
interval 6 - 8 minggu. Umumnya dibutuhkan tiga sampai lima kali suntikan.
Kortikosteroid sistemik
Merupakan terapi pilihan untuk hemangioma yang besar/ luas
,membahayakan jiwa. Pemberian prednisolon oral 2 - 3 mg/kg/hari dosis tunggal selama 4 - 6 minggu kemudian dilanjutkan dengan tappering-off perlahan sampai usia 10 - 11 bulan. Sebaiknya disertai pemberian H2 reseptor inhibitor. Tujuan terapi adalah mempercapat regresi atau stabilisasi pertumbuhan masa tumor. Perlu diperhatikan bahwa selama pemberian ini sebaiknya dihindari pemberian vaksinasi dengan menggunakan vaksin hidaup.
Interferon alfa
Merupakan terapi pilihan kedua untuk hemangioma yang membahayakan jiwa. Indikasinya adalah untuk kasus yang :
tidak respons terhadap kortikosteroid
kontraindikasi untuk pemberian kortikosteroid jangka Panjang
terdapat komplikasi kortikosteroid
orang tua menolak kortikosteroid
fenomena Kassabach- Merrit
Pemberian kortikosteroid tidak boleh digabungkan dengan interferon. Dosis interferon adalah 2 - 3 mU/m2 subkutan tiap hari, dosis dititrasi bila BB naik. Terapi diberikan selama 6 - 10 bulan.
Khusus pada fenomena Kassabach -Merrit ada 2 hal yang harus diperhatikan yaitu :
jangan berikan transfusi trombosit kecuali ada perdarahan aktif atau indikasi bedah
jangan berikan heparin karena akan menstimuli pertumbuhan masa tumor dan memperberat platelet trapping.
Embolisasi
Injeksi sklerosin
Laser
Hati-hati dapat terjadi hipopigmentasi, luka bakar derajat 2 dan scarring
(parut).
Operatif (Indikasi terapi pada hemangioma yang besar, problematik, atau membahayakan) Operasi dapat dilakukan pada ketiga fase hemangioma. : sesuai indikasi pada masing-masing fase. metode terbaik pengobatan adalah dengan reseksi luas tumor hingga dasar mukosa dan perikondrium
Fase proliferasi (bayi) :
Indikasi operasi relatif yaitu
ancaman terjadinya obstruksi padavisual, subglottik
deformitas : mis. Distorsi periorbital dengan amblyopia astigmatic sekunder.
perdarahan atau ulserasi yang tidak responsif terhadap terapi topical atau sistemik
bila skar akibat ulserasi lebih buruk daripada skar eksisi.
Fase involusi (masa kanak-kanak awal) : dapat dilakukan eksisi total atau bertahap.
Indikasi operasi :
1skar yang buruk pasca ulserasi
kulit yang menggelambir atau inelastik
bila skar yang terjadi pasca eksisi sama saja dengan operasi pada fase ketiga
bila skar mudah disembunyikan
bila diperlukan eksisi bertahap atau rekonstruksi.
Hemangioma pada area anatomik tertentu memerlukan eksisi yang khusus.
Fase pasca involusi Indikasi operasi :
Kulit yang rusak/buruk
Kontur abnormal
Distorsi
Atas permintaan pasien
Kemoterapi merupakan terapi pilihan kedua untuk kasus yang problematik. Biasanya diberikan vincristine, Bleomicine. (Batasan Kemoterapi)
Prosedur Operasi HEMANGIOMA
Kompetensi
Dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai keterampilan operasi (teori, indikasi, prosedur, dan komplikasi). Selama pendidikan pernah melihat atau menjadi asisten, dan pernah menerapkan keterampilan ini di bawah supervisi.
Definisi
Operasi hemangioma adalah operasi pengangkatan tumor jinak pembuluh darah, yang berasal dari kulit, mukosa dan struktur dalam seperti tulang, otot dan kelenjar
Indikasi Hemangioma Teknik operasi:
Disesuaikan dengan lokasi dan besar massa tumor, untuk pertimbangan teknik transpalatal
Ekstirpasi tumor dilakukan secara tumpul, hindari trauma tajam pada tumor dan pembuluh darah yang memvaskularisasinya.
Perdarahan dikontrol dengan suction, dan kauter.
Dipasang tampon anterior dan posterior (Belloque).
Pasca Operasi Hemagioma
Instruksi Pasca Operasi
Pemberian obat-obatan yang sesuai
Perawatan luka
Tampon di lepas pada hari ke-2
Komplikasi
1. Perdarahan
CAROTID BODY TUMOR
DAFTAR ISI
MODUL VII.5.3
ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER: TUMOR VASKULAR KEPALA LEHER- CAROTID BODY TUMOR
WAKTU
Mengembangkan Kompetensi | Alokasi Waktu |
Sesi di dalam kelas Sesi dengan fasilitasi Pembimbing Sesi praktik dan pencapaian kompetensi | 2 x 90 menit (classroom session) 1x 60 menit (coaching session) 19 Jam (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi presentasi : Carotid Body Tumor
Power point
Video
Kasus: Carotid Body Tumor
Sarana dan alat bantu latih (disesuaikan dengan pencapaian kompetensi):
Penuntun belajar (learning guide): terlampir
Tempat belajar (training setting): instalasi rawat inap, instalasi rawat jalan, kamar operasi, ruang praktikum, ruang kuliah
Model/manekin atau kadaver
Komputer/laptop
Infocus
REFERENSI
Georgiadis GS, Lazarides MK, Tsalkidis A, Argyropoulou P, Giatromanolaki A. Carotid body tumor in a 13-year-old child: Case report and review of the literature. J Vasc Surg. 2008 Apr. 47(4):874-880. [Medline].
Knight TT Jr, Gonzalez JA, Rary JM, Rush DS. Current concepts for the surgical management of carotid body tumor. Am J Surg. 2006 Jan. 191(1):104-
[Medline].
Sajid MS, Hamilton G, Baker DM;. A multicenter review of carotid body tumour management. Eur J Vasc Endovasc Surg. Aug/2007. 34:127-
30. [Medline]. [Full Text].
Li-Shan L, Chang-Wei L, Heng G, Yue-Hong Z, Xing-Ming C, Yong-Jun L. Efficacy of surgical therapy for carotid body tumors. Chin Med Sci J. 2011 Dec. 26(4):241-5. [Medline].
Shamblin WR, ReMine WH, Sheps SG, Harrison EG Jr. Carotid body tumor (chemodectoma). Clinicopathologic analysis of ninety cases. Am J Surg. 1971 Dec. 122(6):732-9. [Medline].
Mitchell RO, Richardson JD, Lambert GE. Characteristics, surgical management, and outcome in 17 carotid body tumors. Am Surg. 1996 Dec. 62(12):1034-7. [Medline].
Naughton J, Morley E, Chan D, Fong Y, Bosanquet D, Lewis M. Carotid body tumours. Br J Hosp Med (Lond). 2011 Oct. 72(10):559-64. [Medline].
H Martin. Surgery of Head and Neck Tumors. Surgery of Head and Neck Tumors. New York: Hoeber-Harper Books; 1957.
Sevilla Garcia MA, Llorente Pendas JL, Rodrigo Tapia JP, Garcia Rostan G, Suarez Fente V, Coca Pelaz A. [Head and neck paragangliomas: revision of 89 cases in 73 patients]. Acta Otorrinolaringol Esp. 2007 Mar. 58(3):94-
100. [Medline].
Kotelis D, Rizos T, Geisbusch P, Attigah N, Ringleb P, Hacke W, et al. Late outcome after surgical management of carotid body tumors from a 20-year single-center experience. Langenbecks Arch Surg. 2009 Mar. 394(2):339-
44. [Medline].
Jani P, Qureshi AA, Verma S, Walker L. Familial carotid body tumours: is there a role for genetic screening?. J Laryngol Otol. 2008 Sep. 122(9):978-
82. [Medline].
Davila VJ, Chang JM, Stone WM, et al. Current surgical management of carotid body tumors. J Vasc Surg. 2016 Dec. 64 (6):1703-1710. [Medline].
JL Netterville, KM Reilly D, Robertson, ME Reiber, WB Armstrong and P. Childs. Carotid body tumors: a review of 30 patients with 46 tumors. Laryngoscope. 1995. 105:114-126.
Karatas E, Sirikci A, Baglam T, Mumbuc S, Durucu C, Tutar E. Synchronous bilateral carotid body tumor and vagal paraganglioma: a case report and review of literature. Auris Nasus Larynx. 2008 Mar. 35(1):171-5. [Medline].
Gardner P, Dalsing M, Weisberger E, Sawchuk A, Miyamoto R. Carotid body tumors, inheritance, and a high incidence of associated cervical paragangliomas. Am J Surg. 1996 Aug. 172(2):196-9. [Medline].
Barnes L, Tse LLY, Hunt JL. Carotid Body Paragangliomas. Pathology and Genetics of Head and Neck Tumors. IARC. 2005. 364-365.
Baysal BE, Myers EN. Etiopathogenesis and clinical presentation of carotid body tumors. Microsc Res Tech. 2002 Nov 1. 59(3):256-61. [Medline].
de Franciscis S, Grande R, Butrico L, et al. Resection of Carotid Body Tumors reduces arterial blood pressure. An underestimated neuroendocrine syndrome. Int J Surg. 2014. 12 Suppl 1:S63-7. [Medline].
Jansen JC, van den Berg R, Kuiper A, van der Mey AG, Zwinderman AH, Cornelisse CJ. Estimation of growth rate in patients with head and neck paragangliomas influences the treatment proposal. Cancer. 2000 Jun 15. 88(12):2811-6. [Medline].
Isik AC, Imamoglu M, Erem C, Sari A. Paragangliomas of the head and neck. Med Princ Pract. 2007. 16(3):209-14. [Medline].
Ghoreishi M, Akbar-Beigi A, Tahery D, Sehhat S. Fever as the main presenting symptom of a carotid body tumor. Arch Iran Med. 2008 Mar. 11(2):214-
7. [Medline].
Lack EE. Anatomy and physiology of peripheral arterial chemoreceptors. Pathology of adrenal and extra-adrenal paraganglia. Philadelphia: W.B Saunders; 1-14.
Maxwell JG, Jones SW, Wilson E, Kotwall CA, Hall T, Hamann S. Carotid body tumor excisions: adverse outcomes of adding carotid endarterectomy. J Am Coll Surg. 2004 Jan. 198(1):36-41. [Medline].
Terry A. Day John K. Joe. Primary Neoplasms of the neck. Cummings: Otolaryngology: Head & Neck Surgery. 4th. St Louis: Elsevier-Mosby; 2005. 113.
Straughan DM, Neychev VK, Sadowski SM, et al. Preoperative Imaging Features are Associated with Surgical Complications Following Carotid Body Tumor Resection. World J Surg. 2015 Aug. 39 (8):2084-9. [Medline].
Rosa M, Sahoo S. Bilateral carotid body tumor: the role of fine-needle aspiration biopsy in the preoperative diagnosis. Diagn Cytopathol. 2008 Mar. 36(3):178-
80. [Medline].
Arya S, Rao V, Juvekar S, Dcruz AK. Carotid body tumors: objective criteria to predict the Shamblin group on MR imaging. AJNR Am J Neuroradiol. 2008 Aug. 29(7):1349-54. [Medline].
Dorobisz K, Dorobisz T, Temporale H, et al. Diagnostic and Therapeutic Difficulties in Carotid Body Paragangliomas, Based on Clinical Experience and a Review of the Literature. Adv Clin Exp Med. 2016 Nov-Dec. 25 (6):1173-
7. [Medline]. [Full Text].
Makeieff M, Raingeard I, Alric P, Bonafe A, Guerrier B, Marty-Ane Ch. Surgical management of carotid body tumors. Ann Surg Oncol. 2008 Aug. 15(8):2180-6. [Medline].
Sahin MA, Jahollari A, Guler A, Doganci S, Bingol H, Karaman B, et al. Results of combined preoperative direct percutaneous embolization and surgical excision in treatment of carotid body tumors. Vasa. 2011 Nov. 40(6):461-
6. [Medline].
Cobb AN, Barkat A, Daungjaiboon W, et al. Carotid Body Tumor Resection: Just as Safe without Preoperative Embolization. Ann Vasc Surg. 2020 Apr. 64:163-8. [Medline].
Texakalidis P, Charisis N, Giannopoulos S, et al. Role of Preoperative Embolization in Carotid Body Tumor Surgery: A Systematic Review and Meta- Analysis. World Neurosurg. 2019 Sep. 129:503-13.e2. [Medline].
Kim H, Cho YP, Moon KM, Kwon TW. Embolic stroke after carotid artery ligation during carotid body tumor resection. Vascular. 2011 Nov 18. [Medline].
Zhang TH, Jiang WL, Li YL, et al. Perioperative approach in the surgical management of carotid body tumors. Ann Vasc Surg. 2012 Aug. 26(6):775-
82. [Medline].
Abu-Ghanem S, Yehuda M, Carmel NN, Abergel A, Fliss DM. Impact of preoperative embolization on the outcomes of carotid body tumor surgery: A meta-analysis and review of the literature. Head Neck. 2016 Apr. 38 Suppl 1:E2386-94. [Medline].
Cobb AN, Barkat A, Daungjaiboon W, et al. Carotid Body Tumor Resection: Just as Safe without Preoperative Embolization. Ann Vasc Surg. 2018 Jan. 46:54-9. [Medline].
Spinelli F, Massara M, La Spada M, et al. A simple technique to achieve bloodless excision of carotid body tumors. J Vasc Surg. 2014 May. 59(5):1462-
[Medline].
van der Mey AG, Jansen JC, van Baalen JM. Management of carotid body tumors. Otolaryngol Clin North Am. 2001 Oct. 34(5):907-24, vi. [Medline].
Kim GY, Lawrence PF, Moridzadeh RS, et al. New predictors of complications in carotid body tumor resection. J Vasc Surg. 2017 Jun. 65 (6):1673-
9. [Medline].
KOMPETENSI
Pengetahuan
Menegakkan diagnosis Carotid Body Tumor berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang
Keterampilan
Setelah Mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam:
Menjelaskan anatomi, fisiologi dan histologi leher dan paraganglia
Menjelaskan etiologi dan faktor risiko Carotid Body Tumor
Menjelaskan patogenesis dan gambaran klinis Carotid Body Tumor
Menjelaskan dan melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik Carotid Body Tumor
Melakukan keputusan untuk perlu tidaknya pemeriksan penunjang seperti CT Scan dan angiografi
Membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhubungan dengan Carotid Body Tumor
Menjelaskan tentang tatalaksana operasi Carotid Body Tumor
Melakukan operasi Carotid Body Tumor pemberian terapi medikamentosa dan terapi lain
Menjelaskan rehabilitasi pasca operasi Carotid Body Tumor
Memutuskan terapi pendahuluan serta merujuk ke fasilitas kesehatan yang relevan.
GAMBARAN UMUM
Carotid body tumor/Tumor tubuh karotis (CBT), biasanya muncul sebagai massa leher dalam asimtomatik yang membesar perlahan pada tingkat bifurkasi karotis. Pada sebagian kecil pasien, nyeri muncul di sekitar tumor. Karena berhubungan dengan arteri karotis, mereka bergerak ke lateral, tetapi terfiksasi secara rostrokaudal pada pemeriksaan. Sebagai tumor membesar, bruit dapat diauskultasi dan selain massa leher, hasil ekstensi parafaring di perpindahan lateral langit-langit lunak medial dan anterior. Gejala kelumpuhan saraf kranial tidak biasa dan muncul pada tumor yang sangat besar dengan ekstensi superior ke arah foramen jugularis.
Berikut 3 jenis Carotid Body Tumor (CBT) yang terdapat dalam literatur: Familial, Sporadic, Hiperplastik. Bentuk sporadic adalah jenis yang paling umum, mewakili sekitar 85% dari Carotid Body Tumor (CBTs). Tipe familial (10-50%) lebih sering terjadi pada pasien yang lebih muda. Bentuk hiperplastik sangat umum pada pasien dengan hipoksia kronis, yang meliputi pasien yang tinggal di ketinggian (> 5000 kaki di atas permukaan laut), seperti pasien yang tinggal di New Mexico, Peru, dan Colorado. [3] Bentuk hiperplastik juga terlihat pada pasien yang memiliki penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) atau penyakit jantung sianotik.
CONTOH KASUS DAN DISKUSI
Seorang laki-laki, 34 tahun datang ke poli telinga hidung tenggorok bedah kepala leher dengan keluhan benjolan di leher sebelah kanan atas, sejak beberapa bulan yang lalu. Benjolan tidak disertai dengan nyeri, konsistensi padat-kenyal, membesar secara perlahan, tidak disertai perubahan warna kulit. Keluhan telinga, hidung, tenggorok lainnya disangkal. Tidak didapatkan riwayat trauma dan manipulasi hidung sebelumnya. Pemeriksaan tanda vital dalam batas normal, dan
laboratorium didapatkan kadar hemoglobin (Hb) 13 mg/dl, lekosit 9.000, trombosit 250.000.
Diskusi :
Bagaimana etiopatogenesis Carotid body tumor?
Sebutkan insidensi Carotid body tumor?
Bagaimana gambaran klinis Carotid body tumor?
Jawaban :
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan pembelajaran umum
Proses, materi dan metode pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan melakukan tindakan yang tepat terhadap penderita Carotid body tumor
Tujuan pembelajaran khusus
Mampu menguasai anatomi, histologi, fisiologi nasofaring (tingkat kompetensi (K4, A3)
Mampu menjelaskan etiologi dan faktor risiko Carotid body tumor Belia (tingkat kompetensi K4, A3)
Menjelaskan patogenesis dan gambaran klinis Carotid body tumor (tingkat kompetensi K3,A3)
Menentukan dan melakukan pemeriksan penunjang CT scan dan angiografi (tingkat kompetensi K3, P5, A3)
Membuat diagnosis Carotid body tumor berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik maupun penunjang (tingkat kompetensi K3, P5, A3)
Melakukan tatalaksana Carotid body tumor dan rehabilitasi pasca operasi (tingkat kompetensi K3, P3, A3)
Melakukan evaluasi dan memutuskan terapi pendahuluan serta merujuk ke fasilitas kesehatan yang relevan. (tingkat kompetensi K3, A3)
METODE PEMBELAJARAN
Setelah mengkuti sesi ini peserta didik akan mempunyai kemampuan dasar untuk menegakkan Carotid body tumor dan mampu untuk menentukan terapi yang sesuai.
Tujuan 1. Anatomi, topografi, histologi, embriologi, fisiologi leher dan paraganglia
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metoda pembelajaran berikut ini
Interactive lecture
Small group discussion.
Peer assisted learning (PAL).
Bedside teaching.
Task based medical education.
Harus diketahui : (khususnya untuk level Sp1)
Anatomi leher dan paraganglia
Gambaran dan karakteristik histologis leher dan paraganglia
Fisiologi leher dan paraganglia
Patogenesis Carotid body tumor
Tujuan 2. Menjelaskan etio-patogenesis dan macam Carotid body tumor
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review.
Peer assisted learning (PAL).
Bedside teaching.
Task based medical education.
Harus diketahui : (sedapat mungkin pilih specific features, signs & symptoms):
Etiologi dan faktor predisposisi
Patofisiologi klinik
Gejala (keluhan pasien)
Tanda (temuan hasil pemeriksaan)
Gambaran klinik
Tujuan 3. Menjelaskan gambaran klinik Carotid body tumor (anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang)
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review.
Case simulation and investigation exercise.
Equipment characteristics and operating instructions.
Tujuan 4. Menegakkan diagnosis Carotid body tumor dari pemeriksaan fisik dan penunjang
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review.
Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).
Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients.
Harus diketahui :
Metoda standar anamnesis
Gejala dan tanda pasti tentang adanya Carotid body tumor
Pemeriksaan penunjang yang sensitif dan spesifik
Memilah diagnosis banding dan menentukan diagnosis kerja
Rencana pengobatan atau tatalaksana pasien
Tujuan 5. Melaksanakan tatalaksana Carotid body tumor Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review.
Morbidity and Mortality Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).
Operative Procedure Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients.
Continuing Professional Development
Harus diketahui :
Prosedur konservatif
Prosedur operatif
Prosedur alternatif
Tujuan 6. Melakukan evaluasi dan mampu memutuskan untuk melakukan rujukan Carotid body tumor
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review.
Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).
Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients.
Harus diketahui :
Work-up Key Points
Jenis-jenis terapi yang direkomendasikan
Kondisi atau situasi penting untuk membuat keputusan untuk merujuk
Tujuan 7. Menentukan terapi yang tepat pada kasus Carotid body tumor
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review
Case study
Practice with Real Clients
Harus diketahui
Terapi pembedahan
Tujuan 8. Melakukan tindakan pembedahan
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review
Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device)
Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients
Harus diketahui
Jenis pembedahan Carotid body tumor
Langkah-langkah pembedahan
Tujuan 9. Melakukan perawatan penderita pra dan pasca pembedahan
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review
Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device)
Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients
Harus diketahui
Sermon of relaxation
Informed consent
Komplikasi operasi
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri atas :
Anatomi dan fisiologi leher dan paraganglia
Penegakan diagnosis
Penatalaksanaan
Evaluasi
Selanjutnya dilakukan "small group discussion" bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian.
Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk "role play" dan teman-temannya (Peer Assisted Evaluation) atau kepada SP (Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assisted Evaluation) setelah dianggap memadai, melalui metode bedside teaching dibawah pengawasan fasilitator, peserta didik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut:
Perlu perbaikan: pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan.
Cukup: pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien.
Baik: pelaksanaan benar dan baik (efisien)
Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
Self assesment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar.
Pendidik/ fasilitas:
Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form (terlampir)
Penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi
Kriteria penilaian keseluruhan: cakap/ tidak cakap/ lalai
Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education)
Pencapaian pembelajaran:
Ujian OSCE (K,P,A), dilakukan pada tahapan T.H.T.K.L dasar oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L
Ujian akhir stase, setiap divisi / unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan
T.H.T.K.L lanjut oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L.
Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan T.H.T.K.L lanjut oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L.
Ujian akhir profesi (kasus bedah), dilakukan pada akhir pendidikan oleh Kolegium I T.H.T.K.L
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Kuesioner Sebelum Pembelajaran (Pre Test)
Soal : Apakah yang anda ketahui tentang Carotid body tumor ? Jawaban :
Kuesioner Tengah Pembelajaran
Soal : Bagaimana cara menegakkan diagnosis Carotid body tumor ? Jawaban :
Kuesioner Akhir Pembelajaran
Soal : Bagaimana tatalaksana Carotid body tumor? Jawaban :
INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR
PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR OPERASI CAROTID BODY TUMOR
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.:
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
NAMA PESERTA: .................................. TANGGAL: .................................
KEGIATAN | KASUS | |||
I. PERSIAPAN OPERASI | 1 | 2 | 3 | T/D |
II. PERSIAPAN PROSEDUR OPERASI CAROTID BODY TUMOR | ||||
Informed Consent
Rencana Tindakan
Persiapan Sebelum Tindakan
Pastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan esensial untuk prosedur Ekstirpasi Angiofibroma Nasofaring telah tersedia dan lengkap, yaitu:
Sterile scalpel blades no : 15
Scalpel handle
Surgical scissors blunt/blunt, curved (Cooper)
Mouth spreider
Dower catheter (small) - 2 pieces
Choanal forcep
Raspatorium
Dissecting scissor, curved (Metzenbaum)/dissecting scissor for plastic surgery Gorney/scissor, delicate (Chadwick)
Vessel and tendon scissors, curved and straight (Stevens)
Standard tissue forcep
Dissecting forcep, delicate (Adson); dissecting, nontraumatic forcep
Hemostatic, delicate forcep/klem, straight and curved (Halsteid-mosquito)
Hemostatic forcep standard (Adson, Leriche)
Dissecting and ligature forceps (Baby-Overholt and Baby- Mixter)
Bulldog clamps (DeBekey)
Dressing and sponge forcep (Rample)
Towel clamps (Backhaus)
KEGIATAN | KASUS | |||
III. PROSEDUR OPERASI | ||||
1. Pasien diposisikan supine dengan leher ekstensi | ||||
2. Dibuat insisi horizontal sekitar dua jari dibawah batas mandibula yang menyilang pinggir anterior m. Sternokleidomastoideus | ||||
3. Setelah mencapai subplatisma dibuat flap dan dielevasi, m. Sternokleidomastoideus di retraksi ke posterior. | ||||
4. Diseksi dilanjutkan sampai mencapai selubung karotis | ||||
5. Lakukan identifikasi bifurkasio karotis, kemudian a. karotis eksterna dipisahkan. | ||||
6. Tumor diangkat dengan memperhatikan tindakan tidak melukai nervus dan vaskuler | ||||
7. Setelah selesai melakukan tindakan | ||||
8. Jahit lapis demi lapis sampai kulit. | ||||
Retractor Lagenbeck-Green dan Wound and vein retractors (Kocher/Cushing)
Needle holder DeBekay, Sarot
Deschams ligature needle, blunt
Sponge forceps, curved (Duplay)
Jarum dan benang
DAFTAR TILIK
PROSEDUR OPERASI CAROTID BODY TUMOR
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini:
: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
X: Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
T/T: Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
PESERTA: TANGGAL :
KEGIATAN | NILAI | ||
X | T/T | ||
Persiapan | |||
1. Kaji ulang diagnosis dan informed Consent | |||
2. Menyiapkan peralatan operatif | |||
3. Menyiapkan diri untuk tindakan operatif | |||
4. Menyiapkan posisi pasien | |||
5. Melakukan tindakan a & anti septik | |||
PROSEDUR OPERASI CAROTID BODY TUMOR | |||
1. Pasien diposisikan supine dengan leher ekstensi | |||
2. Dibuat insisi horizontal sekitar dua jari dibawah batas | |||
KEGIATAN | NILAI | ||
| X | T/T | |
mandibula yang menyilang pinggir anterior m. Sternokleidomastoideus | |||
3. Setelah mencapai subplatisma dibuat flap dan dielevasi, m. Sternokleidomastoideus di retraksi ke posterior. | |||
4. Diseksi dilanjutkan sampai mencapai selubung karotis | |||
5. Lakukan identifikasi bifurkasio karotis, kemudian a. karotis eksterna dipisahkan. | |||
6. Tumor diangkat dengan memperhatikan tindakan tidak melukai nervus dan vaskuler | |||
7. Jahit lapis demi lapis sampai kulit. | |||
MATERI PRESENTASI
Slide 1: Anatomi dan Fisiologi Leher dan Paraganglia Slide 2: Penegakan Diagnosis Carotid Body Tumor Slide 3: Staging dan Tatalaksana Carotid Body Tumor Slide 4: Teknik Operatif Carotid Body Tumor
Slide 5: Tatalaksana pasca operasi dan rehabilitasi
MATERI BAKU
Tumor vaskular kepala dan leher terdiri dari berbagai entitas berbeda yang tidak berhubungan satu sama lain. Bab ini berfokus pada tumor vaskular didapat yang menghadirkan masalah klinis yang rumit. Berdasarkan klasifikasi Batsakis pada tumor vaskular, dapat dibedakan: tumor yang kongenital dan/atau timbul atas nama sindrom dan yang didapat.
PARAGANGLIA
Anatomi dan Fisiologi Paraganglia
Paraganglia adalah bagian dari sistem kelompok sel yang memfasilitasi refleks baroreseptif dan kemoreseptif dari sistem kardiovaskular. Mereka didistribusikan secara difus ke seluruh tubuh bagian atas. Mereka mengandung sel-sel yang mampu mensekresi neuropeptida yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi refleks vaskular.
Struktur ini merupakan bagian dari sistem neuroendokrin difus yang berasal dari sel asal krista neural. Turunan neural crest, menghasilkan sel C kelenjar tiroid,
melanosit, dan paraganglia. Paraganglia ditemukan di medula adrenal atau didistribusikan secara difus sebagai paraganglia ekstraadrenal.
Belakangan ini paraganglia ekstra-adrenal yang terdistribusi secara difus dibagi menjadi paraganglia branchiomer dan paraganglia vagal. Paraganglia branchiomeric didistribusikan di sepanjang arteri dan saraf kranial di kepala dan leher. Paraganglia jugulotympanic muncul dari arkus brankial kedua sedangkan paraganglia karotis muncul dari arkus brankial ketiga. Paraganglia intravagal tidak mengikuti distribusi kantong faring embriologis ini dan dengan demikian diklasifikasikan secara terpisah. Meski begitu, lokasi paraganglioma yang tidak biasa telah dicatat yang tidak sesuai dengan klasifikasi ini: laring, orbit, tiroid, rongga hidung, dan sinus serta intrakranial.
Carotid body adalah struktur oval kecil berwarna coklat kemerahan, terletak di aspek posteromedial dari bifurkasi arteri karotis. Kelenjar yang sehat berukuran diameter 3-5 mm dan berat rata-rata kurang dari 15 mg. Sebagian besar literatur menyatakan bahwa kelenjar ini terletak di adventitia dekat bifurkasi arteri karotis. Namun, menurut Maxwell et al, sebagian besar ahli bedah yang berpengalaman dengan diseksi tubuh karotis mempertahankan lokasinya lebih perifer, di dalam jaringan periadventitial. Perbedaan ini sangat penting, karena pembedahan pada bidang arteri karotis yang lebih dalam dikaitkan dengan risiko komplikasi yang lebih tinggi dari cedera pembuluh darah.
Kelenjar ini sangat vaskular dan menerima suplai darahnya dari pembuluh darah yang mengalir melalui ligamen Mayer, terutama dari arteri karotis eksterna, biasanya arteri faring asendens. Ini dipersarafi oleh saraf Hering, berasal dari saraf glossopharyngeal sekitar 1,5 cm distal foramen jugularis.
Carotid body adalah kemoreseptor yang merasakan perubahan tekanan oksigen arteri, pH, dan carbon dioksida. Bersama dengan jantung dan aorta, ini adalah satu- satunya kemoreseptor di paraganglia. Carotid body adalah struktur oval terpisah yang terletak di belakang bifurkasio karotis dan menerima suplai darahnya langsung dari bifurkasi karotis melalui arteri glomik. Refleks aferen diperantarai oleh cabang nervus glossopharyngeus (nervus Hering).
Carotid Body Tumor (CBT) adalah neoplasma langka, meskipun mereka mewakili sekitar 65% dari paraganglioma kepala dan leher. Tumor ini berkembang dalam adventitia aspek medial bifurkasi karotis. Berbagai studi pencitraan dapat
digunakan untuk mengkonfirmasi diagnosis tumor tubuh karotis (CBT), dimulai dengan ultrasonografi sederhana dengan Doppler warna. Pertumbuhan diobati dengan pembedahan atau radioterapi.
Carotid body, yang berasal dari neural crest, penting dalam adaptasi akut tubuh terhadap fluktuasi konsentrasi oksigen, karbon dioksida, dan pH. Carotid body melindungi organ dari kerusakan hipoksia dengan melepaskan neurotransmiter yang meningkatkan laju ventilasi bila dirangsang.
Carotid Body Tumor
Carotid body tumor/Tumor tubuh karotis (CBT), biasanya muncul sebagai massa leher dalam asimtomatik yang membesar perlahan pada tingkat bifurkasi karotis. Pada sebagian kecil pasien, nyeri muncul di sekitar tumor. Karena berhubungan dengan arteri karotis, mereka bergerak ke lateral, tetapi terfiksasi secara rostrokaudal pada pemeriksaan. Sebagai tumor membesar, bruit dapat diauskultasi dan selain massa leher, hasil ekstensi parafaring di perpindahan lateral langit-langit lunak medial dan anterior. Gejala kelumpuhan saraf kranial tidak biasa dan muncul pada tumor yang sangat besar dengan ekstensi superior ke arah foramen jugularis.
Berikut 3 jenis Carotid Body Tumor (CBT) yang terdapat dalam literatur: Familial, Sporadic, Hiperplastik. Bentuk sporadic adalah jenis yang paling umum, mewakili sekitar 85% dari Carotid Body Tumor (CBTs). Tipe familial (10-50%) lebih sering terjadi pada pasien yang lebih muda. Bentuk hiperplastik sangat umum pada pasien dengan hipoksia kronis, yang meliputi pasien yang tinggal di ketinggian (> 5000 kaki di atas permukaan laut), seperti pasien yang tinggal di New Mexico, Peru, dan Colorado. [3] Bentuk hiperplastik juga terlihat pada pasien yang memiliki penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) atau penyakit jantung sianotik.
Epidemiologi
Frekuensi paraganglioma parasimpatis jarang terjadi, dengan prevalensi 1-2 per 100.000 penduduk. Tumor tubuh karotis (CBTs) merupakan sekitar 65% dari paraganglioma kepala dan leher. Tumor tubuh karotis (CBT) dapat terjadi pada anak-anak; namun, tumor tubuh karotis (CBT) dianggap sebagai penyakit usia paruh baya. Usia rata-rata onset dilaporkan 45 tahun. Paraganglioma diwariskan pada 10-50% kasus. Usia onset pada kelompok herediter biasanya lebih muda, pada dekade kedua hingga keempat.
Sebuah studi retrospektif oleh Davila et al menyarankan bahwa tumor tubuh karotis juga cenderung muncul pada usia yang lebih muda pada pasien dengan mutasi suksinat dehidrogenase (lihat Patofisiologi). Dalam studi tersebut, dari 183 pasien dengan tumor tubuh karotis, 18 pasien menjalani tes dehidrogenase suksinat, dengan 17 ditemukan positif untuk mutasi. Pasien positif didiagnosis dengan tumor pada usia rata- rata 38,0 tahun, dibandingkan dengan 50,3 tahun untuk pasien tanpa mutasi yang diketahui. Sekitar 5% dari tumor tubuh karotis (CBT) adalah bilateral dan 5-10% ganas, tetapi angka ini jauh lebih tinggi pada pasien dengan penyakit bawaan. Tumor familial ditemukan 5,8 kali lebih umum di antara pasien yang memiliki tumor tubuh karotis dibandingkan dengan pasien yang memiliki paraganglioma di tempat lain. Menariknya, rasio pria-wanita berbeda pada pasien yang tinggal di ketinggian di atas 2.000 meter (1 : 8,3) dibandingkan pasien yang tinggal di permukaan laut (1 : 1.0-1,4).
Etiologi
Satu-satunya faktor risiko yang diketahui adalah adanya stimulasi hipoksia kronis dan kecenderungan genetik.
Patofisiologi
Tumor tubuh karotis (CBTs) diklasifikasikan ke dalam bentuk sporadis, familial, dan hiperplastik. Bentuk paraganglioma familial adalah entitas yang heterogen secara genetik; saat ini, 4 gen diidentifikasi. 3 gen pertama mengkodekan subunit kompleks enzim suksinat dehidrogenase, yang merupakan bagian dari siklus Kreb. Sindrom paraganglioma (PG) 1, 3, dan 4 terjadi karena mutasi gen yang sesuai dari subunit D, C, dan B. Mutasi gen sindrom PG 2 belum dapat diidentifikasi.
Dehidrogenase suksinat yang rusak telah didalilkan menyebabkan peningkatan konsentrasi mediator hipoksia molekuler intraseluler dan faktor pertumbuhan endotel vaskular (VEGF) sehingga mengakibatkan hiperplasia, angiogenesis, dan neoplasia.
Pada pasien yang tidak memiliki riwayat keluarga yang positif, mutasi germline pada gen kerentanan PGL masih mungkin terjadi melalui berbagai penyebab, termasuk pencetakan genom, penetrasi berkurang, atau mutasi de novo pada gen gamet induk.
Kondisi hipoksia kronis, seperti pasien yang tinggal di dataran tinggi atau mereka yang memiliki penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) atau masalah jantung sianotik, dapat membebani badan karotis dan selanjutnya menyebabkan hipertrofi, hiperplasia, dan neoplasia sel utama. Kondisi ini terlihat pada tipe hiperplastik tumor
tubuh karotis (CBTs). Namun, mekanisme penurunan konsentrasi oksigen dapat menyebabkan hiperplasia CB tidak jelas.
Tumor tubuh karotis (CBT) kadang-kadang dapat digabungkan dengan tumor nonparaganglonik pada sindrom, termasuk MEN tipe II, sindrom von Hippel-Lindau, dan neurofibromatosis tipe 1. Sebuah studi oleh de Franciscis et al menyarankan bahwa tumor tubuh karotis memiliki efek neuroendokrin pada tekanan darah arteri. Penelitian tersebut, pada 17 pasien dengan tumor tubuh karotis jinak atau ganas, menemukan bahwa pada saat masuk, individu dengan tumor tubuh karotis ganas memiliki tekanan darah lebih tinggi daripada kontrol dan bahwa mereka dengan tumor ganas memiliki tekanan darah lebih tinggi daripada mereka dengan neoplasma jinak. Selain itu, para peneliti menentukan bahwa 10 hari setelah reseksi tumor, semua 17 pasien menunjukkan penurunan yang signifikan pada tekanan darah dan tingkat matriks metaloproteinase.
Presentasi Klinis
Presentasi klinis paraganglioma adalah spesifik lokasi. Saat tumor ini membesar, mereka cenderung menghasilkan neuropati kranial. Selain itu, tumor dapat menghasilkan hipertensi, takikardia, berkeringat, dan gugup sekunder karena pelepasan katekolamin.
Tumor tubuh karotis (CBT) hadir paling sering sebagai massa leher teraba asimtomatik di segitiga anterior leher. Mereka adalah tumor yang tumbuh lambat yang dapat tetap tanpa gejala selama bertahun-tahun. The doubling time (TD) tumor tubuh karotis (CBT), seperti yang diperkirakan oleh Jansen et al menggunakan pencitraan sekuensial, adalah 7,13 tahun dengan tingkat pertumbuhan rata-rata 0,83 mm/tahun.
Pada pemeriksaan, massa biasanya terfiksasi secara vertikal karena perlekatannya pada bifurkasi karotis komunis (tanda Fontaine). Bruit bisa dirasakan; Namun, tidak adanya bruit tidak mengesampingkan tumor tubuh karotis (CBT). Tumor tubuh vagal terletak lebih ke kranial dan kadang-kadang menonjol ke dalam faring lateral sebagai massa yang berdenyut.
Sekitar 10% kasus hadir dengan kelumpuhan saraf kranial dengan kelumpuhan hipoglossal, glossofaringeal, laring berulang, atau saraf aksesori tulang belakang, atau keterlibatan rantai simpatis. Tumor tubuh karotis (CBTs) mungkin, oleh karena itu,
berhubungan dengan nyeri, suara serak, disfagia, sindrom Horner, atau penurunan bahu (shoulder drop).
Saat tumor membesar dan menekan arteri karotis dan saraf di sekitarnya, gejala lain juga dapat muncul, seperti nyeri, paresis lidah, suara serak, sindrom Horner, dan disfagia.
Demam adalah tanda yang jarang dari tumor tubuh karotis (CBT), meskipun literatur telah melaporkannya sebagai salah satu penyebab demam yang tidak diketahui asalnya. Dalam kasus tumor tubuh karotis fungsional (CBTs), gejala yang mirip dengan pheochromocytoma, seperti hipertensi paroksismal, palpitasi, dan diaforesis, terlihat.
Klasifikasi Shamblin
Klasifikasi Shamblin biasanya digunakan untuk menentukan stadium tumor tubuh karotis, dan meskipun ini didasarkan pada temuan intraoperatif, klasifikasi ini dapat diterapkan pada temuan radiologis sebelum pengobatan.
Type 1 : tumor yang relatif kecil dengan perlekatan minimal pada pembuluh darah karotis
Type 2 : tumor yang lebih besar dengan perlekatan sedang pada pembuluh darah karotis tetapi dapat direseksi dengan mempertahankan pembuluh darah karotis
Type 3 : tumor membungkus pembuluh darah karotis yang membutuhkan pengorbanan arteri dengan rekonstruksi
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan katekolamin urin pada pasien yang memiliki gejala tumor tubuh karotis fungsional (CBT).
Berbagai studi pencitraan dapat digunakan untuk mengkonfirmasi diagnosis tumor tubuh karotis (CBT), dimulai dengan ultrasonografi sederhana dengan warna Doppler, yang dapat menilai vaskularisasi massa leher dan kadang-kadang dapat mengungkapkan kemungkinan tumor tubuh karotis (CBT), meskipun itu bukan modalitas pencitraan terbaik untuk mendeteksi tumor ini.
Computed tomography (CT) pemindaian kepala dan leher juga membantu dan biasanya mengungkapkan tumor hipervaskular yang terletak di antara arteri karotis eksternal dan internal. CT scan dengan kontras adalah pilihan pencitraan yang sangat baik untuk diagnosis dan penggambaran paraganglioma. Karena tumor ini sangat vaskular, peningkatan kontras awal dan intens terlihat. hubungan tumor dengan arteri
eksternal dan karotis, serta vena jugularis, membuat modalitas ini pada dasarnya bersifat diagnostik. Tumor tubuh karotis menunjukkan pelebaran karakteristik arteri karotis internal dan eksternal oleh massa yang berbatas tegas yang menempati bifurkasi karotis. tumor tubuh karotis menggantikan arteri karotis interna posterolateral.
Pencitraan resonansi magnetik (MRI) dianggap sebagai standar kriteria untuk tumor tubuh karotis (CBT), dan tumor tersebut memiliki penampilan "salt and pepper" yang khas pada T1-weighted images.
Magnetic resonance angiography (MRA) memberikan gambaran yang lebih baik tentang vaskularitas tumor dan pembuluh darah yang memperdarahinya.
Namun, diagnosis yang akurat biasanya didasarkan pada kriteria angiografi, yang menunjukkan typical lyre sign yang khas. Angiografi juga membantu untuk visualisasi yang lebih baik dari pembuluh darah pengumpan dan sangat penting untuk tumor berisiko tinggi (Shamblin II atau III) yang memerlukan embolisasi atau tes oklusi balon pra operasi.
Pada pasien yang diduga memiliki beberapa tumor kecil, seperti tumor tubuh karotis familial (CBT), melakukan pemeriksaan fisik dan melengkapinya dengan studi pencitraan (termasuk CT, MRI, atau skintigrafi metaiodobenzylguanidine [MIBG]) sangat penting. Pemindaian MIBG lebih cepat dilakukan daripada MRI dan juga digunakan pada pasien yang sesak. Satu-satunya masalah dengan pemindaian ini adalah hanya dapat digunakan pada pasien yang memiliki tumor fungsional. Dalam kasus di mana tumor tidak berfungsi, tes yang lebih baik adalah pemindaian pentetreotida, yang menggunakan analog somatostatin berlabel radio.
Sebuah studi oleh Straughan et al menunjukkan bahwa hasil pencitraan pra operasi yang menunjukkan jarak dari ujung sarang C2 ke aspek superior tumor tubuh karotis di bawah 3 cm menunjukkan kemungkinan peningkatan cedera saraf kranial perioperatif. Penelitian ini melibatkan 19 pasien (20 reseksi tumor tubuh karotis).
Prosedur Diagnostik
Karena gambaran radiografik dan klinis klasik dari hipervaskularitas dan lokasi antara arteri, biopsi insisional tumor tubuh karotis (CBTs) tidak diindikasikan dan tidak boleh dilakukan kecuali dalam kasus yang sangat tidak biasa. Biopsi yang tidak disengaja dapat menyebabkan perdarahan hebat dan/atau cedera saraf kranial. Biopsi aspirasi jarum halus hanya membantu jika diagnosis tidak jelas melalui studi pencitraan.
Temuan histologis
Tumor tubuh karotis (CBTs) adalah tumor yang sangat vaskular terdiri dari 2 jenis sel berikut yang disusun dalam karakteristik pola pseudoalveolar paraganglioma yang dikenal sebagai "cell balls" (zellballen)
Sel tipe I, yang merupakan sel utama yang mendominasi tumor tubuh karotis (CBT) dan mengandung butiran terikat katekolamin
Sel tipe II, yang merupakan sel sustentakular yang terletak di pinggiran, tidak memiliki granula
Paraganglioma diklasifikasikan menjadi tipe non-invasif, invasif lokal, dan metastasis. Sayangnya, keganasan tidak dapat dideteksi dengan temuan histologis rutin dan hanya ditentukan ketika tumor bermetastasis ke kelenjar getah bening regional atau tempat yang lebih jauh. Polimorfisme nuklir, invasi neurovaskular, indeks mitosis yang tinggi, dan nekrosis dapat terjadi pada tumor tubuh karotis jinak dan ganas (CBT).
Staging
Shamblin menjelaskan 3 jenis atau stadium tumor tubuh karotis yang berbeda. Tipe I terdiri dari tumor kecil yang mudah dibedah dari pembuluh darah yang berdekatan di bidang periadventitial. Tumor tipe II lebih besar dan lebih melekat dan sebagian mengelilingi pembuluh darah. Tumor tipe III berukuran besar dan mengelilingi bifurkasi karotis. [27] Seperti yang dijelaskan, tumor tipe II dan III lebih mungkin memerlukan reseksi karotis
Sejarah Prosedur
Deskripsi operasi untuk tumor tubuh karotis telah ada selama lebih dari 100 tahun. Laporan awal menggambarkan komplikasi yang signifikan, terutama kematian akibat perdarahan intraoperatif. Di Amerika Serikat, reseksi tumor tubuh karotis yang paling awal berhasil dilakukan oleh Scudder pada tahun 1903. Bahkan hingga pertengahan abad ke-20, reseksi tumor ini tetap menjadi masalah karena komplikasinya; Hayes Martin, dalam buku teksnya tentang tumor kepala dan leher, merekomendasikan untuk tidak melakukan reseksi tumor apa pun yang sekarang dianggap sebagai Shamblin tipe III (lihat Pementasan). Pencitraan modern dan teknik bedah dan vaskular saat ini telah meningkatkan keamanan dan keberhasilan operasi ini secara signifikan.
Manajemen tumor tubuh karotis
Tumor tubuh karotis (CBT) di tatalaksana dengan pembedahan atau radioterapi. Saat memilih pengobatan, pertimbangkan faktor-faktor berikut: apakah ada paraganglioma lain, adakah tumor tubuh karotis bilateral (CBT), usia dan kesehatan pasien, dan preferensi pasien.
Dalam sebuah penelitian oleh Dorobisz et al dari 49 paraganglioma tubuh karotis (47 pasien) yang ditangani dengan pembedahan, termasuk 43 reseksi sederhana, pengobatan 40 tumor (82%) berjalan lancar, dengan pasien yang mengalami periode pasca operasi tanpa komplikasi. Meskipun demikian, perawatan bedah tumor tubuh karotis dapat dikaitkan dengan morbiditas yang signifikan, terutama dengan tumor Shamblin III besar (lebih besar dari 5 cm). [29] Untuk alasan ini, pasien yang memiliki kondisi medis yang buruk, pasien lanjut usia, atau pasien dengan tumor berulang biasanya diobati dengan terapi radiasi.
Evaluasi pra operasi sangat penting untuk menghindari komplikasi bedah besar. Penggunaan MRI dan pengujian genetik pada keluarga yang rentan telah memungkinkan deteksi dini tumor multisentrik pada banyak pasien. Risiko operasi berhubungan langsung dengan ukuran dan luas tumor.
Embolisasi pra operasi masih kontroversial, meskipun telah digunakan untuk mengurangi risiko perdarahan intraoperatif, terutama pada tumor yang lebih besar. [30] Sebuah studi oleh Cobb et al menunjukkan bahwa embolisasi tumor prabedah tidak memberikan manfaat pada pasien yang menjalani reseksi tumor tubuh karotis (CBT), tidak menemukan perbedaan yang signifikan dalam mortalitas, cedera saraf kranial, dan kehilangan darah antara pasien yang menjalani embolisasi dan mereka yang menjalani embolisasi. tidak. Selain itu, seperti yang dievaluasi setelah penyesuaian risiko, embolisasi dikaitkan dengan masa rawat yang lebih lama.
Sebaliknya, tinjauan literatur oleh Texakalidis et al melaporkan bahwa pada pasien yang menjalani embolisasi sebelum reseksi, kehilangan darah intraoperatif secara signifikan lebih rendah dan waktu operasi lebih pendek daripada mereka yang tidak. Selain itu, para peneliti menemukan lama tinggal yang sama antara kedua kelompok.
Radioterapi sebagai modalitas utama pengobatan untuk tumor tubuh karotis juga telah banyak diperdebatkan, karena beberapa peneliti telah menemukan bahwa tumor ini tidak radiosensitif dan telah melaporkan pertumbuhan kembali setelah penekanan.
Tumor yang diobati terutama dengan radiasi juga sulit untuk direseksi setelahnya karena fibrosis yang diinduksi radiasi. Peneliti lain telah melaporkan tidak ada tingkat kesembuhan untuk pasien yang menerima radiasi untuk tumor tubuh karotis mereka. Tujuan utama radioterapi adalah untuk memperlambat atau menghentikan perkembangan.
Untuk alasan ini, pembedahan biasanya merupakan modalitas pengobatan pilihan untuk pasien yang lebih muda dan lebih sehat dengan tumor tubuh karotis (CBT), dan radioterapi dicadangkan untuk orang tua, pasien yang merupakan kandidat bedah yang buruk, dan individu terpilih dengan beberapa paraganglioma yang dapat dilakukan reseksi. menjadi sangat morbid.
Detail Praoperasi
Tumor tubuh karotis jarang dikaitkan dengan gejala mirip feokromositoma, tetapi pemeriksaan katekolamin urin, asam vanillylmandelic (VMA), dan metanephrine sangat membantu dan rutin dilakukan di banyak pusat.
Pencitraan pra operasi diperlukan untuk mengevaluasi luasnya penyakit dan multiplisitasnya. Jika kadar katakolamin meningkat, evaluasi untuk pheochromocytomas adrenal harus dilakukan. Jika terdeteksi tumor ini harus diangkat sebelum operasi karotis.
Carotid ballon test occlusion/Oklusi uji balon karotis dilakukan pada pasien yang berisiko tinggi menjalani reseksi karotis karena keterlibatan tumor. Dalam kasus seperti itu, konsultasi dengan ahli bedah vaskular dan ahli saraf untuk pemantauan EEG intraoperatif mungkin diperlukan.
Selain pengujian di atas, diskusi dengan pasien tentang komplikasi pasca operasi sangat penting; ini termasuk risiko cedera saraf kranial (IX, X, XI, XII), perdarahan, infeksi, kemungkinan bypass atau cangkok vena karotis, stroke, dan kematian.
Embolisasi tumor tubuh karotis telah menjadi topik kontroversial. Telah direkomendasikan oleh beberapa ahli bedah ketika ukuran tumor melebihi ukuran 4 cm. Kehilangan darah tampaknya lebih sedikit dengan embolisasi sebelumnya dari tumor yang lebih besar. Arteriografi bilateral juga dapat dilakukan untuk menggambarkan vaskularisasi tumor dan untuk mendeteksi tumor pada sisi kontralateral.
Sebuah studi oleh Zhang et al menunjukkan bahwa embolisasi tumor pra operasi, dilakukan kurang dari 48 jam sebelum operasi, secara signifikan dapat mengurangi kehilangan darah, waktu operasi, dan lama tinggal di rumah sakit pada pasien yang menjalani reseksi tumor tubuh karotis. Para peneliti memperingatkan bahwa embolisasi harus dilakukan hanya pada pembuluh darah yang dapat dikateterisasi secara subselektif dan yang tidak memungkinkan media kontras untuk secara bebas refluks ke dalam arteri karotis interna. Penelitian ini melibatkan 32 pasien, termasuk 21 pasien yang menjalani embolisasi dan 11 yang tidak.
Sebaliknya, tinjauan literatur oleh Abu-Ghanem et al menunjukkan bahwa dalam reseksi tumor tubuh karotis, embolisasi pra operasi tidak lebih efektif daripada nonembolisasi dalam hal perkiraan kehilangan darah, lama operasi atau tinggal di rumah sakit, atau risiko stroke, saraf kranial. cedera, atau cedera vaskular.
Sebuah studi oleh Cobb et al juga menunjukkan bahwa embolisasi arteri pra operasi tidak berkontribusi pada keamanan reseksi tumor tubuh karotis. Para peneliti menemukan bahwa tingkat kematian, cedera saraf kranial, dan kehilangan darah tidak berbeda secara signifikan antara pasien dalam penelitian yang menjalani reseksi tumor tubuh karotis saja dan mereka yang pertama kali menjalani embolisasi pra operasi.
CT scan dengan kontras IV menunjukkan tumor tubuh karotis kiri yang membesar meluas ke ruang parafaring ke orofaring
Angiografi empat pembuluh darah dari pasien berusia 57 tahun dengan tumor tubuh karotis bilateral
Detail Intraoperatif
Komunikasi yang efektif antara ahli bedah dan ahli anestesi sangat penting selama operasi. Apakah pasien benar-benar rileks adalah pilihan ahli bedah. Beberapa ahli bedah lebih memilih paralysis untuk membantu retraksi otot dan untuk memfasilitasi penggunaan elektrokauter. Ahli bedah lain lebih suka pasien untuk tidak paralysis yang menurut mereka, membantu dalam identifikasi saraf kranial.
Berbagai jenis sayatan leher telah dijelaskan. Sayatan yang dipilih biasanya didasarkan pada ukuran dan luas tumor. Sayatan horizontal di leher tengah memberikan eksposur yang sangat baik baik secara superior maupun inferior dan biasanya memberikan kosmetik yang sangat baik. Beberapa ahli bedah lebih memilih pendekatan endarterektomi menggunakan sayatan servikal transversal di sepanjang batas anterior sternokleidomastoid. Untuk tumor yang lebih besar, banyak sayatan telah dijelaskan, termasuk perluasan insisi preauricular untuk tumor yang meluas ke fossa infratemporal.
Langkah yang paling penting dalam pengangkatan tumor adalah kontrol superior dan inferior dari pembuluh darah. Ini termasuk identifikasi vena jugularis interna, dan arteri karotis interna dan penempatan pembuluh darah pada masing-masingnya. (Dalam laporan pada 11 pasien dengan tumor tubuh karotis Shamblin II atau III, Spinelli et al menggambarkan teknik bedah di mana reseksi tumor dari arteri karotis interna dilakukan tanpa darah dengan menjepit arteri karotis eksternal [pada asalnya dan cabang distal] ] tetapi bukan arteri karotis interna).
Dalam kasus di mana tumor tidak melibatkan saraf hypoglossal dan vagus, saraf ini harus diekspos dan diikuti secara kranial. Identifikasi saraf aksesori dan glossopharyngeal juga dilakukan; dalam kasus tertentu, otot digastrik harus dikorbankan untuk eksposur yang lebih baik.
Pembuluh darah kecil, bersama dengan beberapa cabang dari arteri karotis eksterna, diligasi. Diseksi antara arteri karotis eksterna dan interna memperlihatkan pembuluh makanan yang lebih besar, termasuk arteri faring asendens, yang merupakan pembuluh makanan utama hampir sepanjang waktu. Ini diikuti oleh diseksi craniocaudal tumor dari pembuluh karotis. Pada tumor yang diidentifikasi secara intraoperatif sebagai Shamblin tipe III, bidang diseksi dapat ditemukan pada sisi dorsolateral karotis interna atau sisi ventrolateral karotis eksterna.
Diseksi tumor tubuh karotis dilakukan di bidang subadventitial baik menggunakan pembesar atau mikroskop, seperti yang dijelaskan oleh Gordon-Taylor. Ini dilengkapi dengan penggunaan kauter bipolar, yang membatasi kehilangan darah dan mengontrol perdarahan.
Setiap cedera pada pembuluh karotis yang membutuhkan penjepitan artri internal membutuhkan heparinisasi sementara dengan risiko komplikasi yang rendah; ini sering diikuti dengan rekonstruksi vaskular. Van der Mey melaporkan bahwa 65% pasien yang arteri karotis internanya diligasi mengalami stroke dan 25% pasien yang lulus tes oklusi balon mengalami stroke tertunda.
Selama pengangkatan tumor tubuh karotis, perawatan harus dilakukan sekali lagi untuk menghindari cedera saraf, terutama saraf laring superior, yang telah dilaporkan sebagai saraf yang paling terluka selama pembedahan. Saraf ini sering terlibat dengan tumor di posterior. Idealnya, dapat diidentifikasi dan dibedah saat keluar dari nervus vagus dan berjalan ke medial menuju laring.
Detail Pascaoperasi
Pada periode segera pascaoperasi, pasien harus diobservasi dengan cermat untuk setiap komplikasi prosedur, termasuk perdarahan pascaoperasi atau stroke lanjut. Pada pasien yang menjalani rekonstruksi vaskular, dianjurkan masuk ICU, bersama dengan heparinisasi.
Follow Up
Pasien harus diamati dengan cermat untuk setiap kekambuhan lokal, meskipun ini biasanya jarang terjadi. Jika pasien tidak memiliki morbiditas dari operasi awal, tumor kontralateral juga harus direseksi. Pada pasien dengan morbiditas permanen yang signifikan pada saraf kranial, radiasi ke sisi kontralateral dapat dipertimbangkan. Seperti biasa, penimbangan pro dan kontra yang cermat harus dilakukan dan disajikan kepada pasien. Operasi pada tumor kecil memiliki tingkat komplikasi yang sangat rendah dan efek radiasi jangka panjang pada pasien yang lebih muda berpotensi menjadi kontraindikasi.
Komplikasi
Diseksi subadventitial tumor yang hati-hati dan kontrol karotis proksimal dan distal meminimalkan komplikasi vaskular. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa ukuran tumor dan keterlibatan arteri karotis memprediksi risiko komplikasi vaskular. Risiko tertinggi diamati pada tumor yang lebih besar dari 5 cm dan/atau grade 3 menurut klasifikasi Shamblin. Pasien dengan tumor besar ini juga lebih sering mengalami cedera saraf kranial pascaoperasi.
Sebuah studi oleh Kim et al menunjukkan bahwa pada reseksi tumor tubuh karotis, untuk setiap pengurangan 1 cm jarak tumor ke dasar tengkorak, risiko kehilangan darah lebih besar dari 250 mL meningkat 1,8 kali, dan risiko cedera saraf kranial meningkat 1,5. waktu.
Saraf yang paling sering cedera adalah saraf laring superior. Saraf ini mempersarafi otot krikotiroid dan memberikan sensasi ke laring supraglotis. Pasien pasca operasi mungkin menderita beberapa derajat aspirasi dan perubahan suara (ketidakmampuan untuk membuat suara bernada tinggi).
Cedera pada saraf vagus menyebabkan kelumpuhan pita suara dengan hasil suara serak dan peningkatan risiko aspirasi. Bila dikombinasikan dengan kelumpuhan saraf superior, seperti halnya dengan cedera vagal yang tinggi, aspirasi merupakan masalah yang signifikan karena laring tidak hanya tidak berfungsi dengan baik tetapi juga anestesi. Ini dapat dikompensasi oleh pita suara kontralateral dari waktu ke waktu. Jika masalah berlanjut, maka prosedur mediasi pita suara harus dilakukan.
Masalah bicara dan menelan terjadi akibat cedera saraf hipoglosus. Jika saraf terpotong secara tidak sengaja, reanastomosis primer harus dicoba terlebih dahulu. Jika anastomosis primer gagal, maka pilihan lain termasuk cangkok saraf aurikularis yang lebih besar.
Nyeri dan kelemahan bahu pascaoperasi biasanya merupakan akibat dari cedera saraf aksesori. Hal ini menyebabkan kecacatan yang signifikan bagi pasien.
First bite syndrome adalah komplikasi lain yang terjadi ketika suplai simpatis ke kelenjar parotid ipsilateral terputus. Kelenjar parotid yang dihasilkan memiliki suplai parasimpatis yang tidak berkurang. Sampai saat ini, tidak ada pengobatan yang berhasil untuk sindrom ini.
Dalam kasus eksisi tumor bilateral dengan hilangnya saraf Hering bilateral, pasien mengalami tekanan darah labil pasca operasi, yang sulit dikendalikan secara medis. Oleh karena itu, eksisi bersamaan dari tumor tubuh karotis bilateral harus dihindari, meskipun staging operasi mungkin membantu karena kompensasi yang diberikan oleh reseptor aorta.
Eksisi preauricular diperpanjang pada leher pasien yang memiliki ukuran tumor yang besar
Kontrol proksimal dan distal karotis sangat penting dan dapat menjadi sulit pada tumor yang lebih besar
Foto pasca operasi setelah pengangkatan tumor
kontrol proksimal dan distal dari loop pembuluh karotis
Pengangkatan tumor subadventitial lengkap dengan karotid utuh
Carotid body tumor setelah total eksisi
Prosedur Operasi
Carotid Body Tumor
Kompetensi
Dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai keterampilan operasi Carotid Body Tumor (teori, indikasi, prosedur, dan komplikasi). Selama pendidikan pernah melihat atau menjadi asisten, dan pernah menerapkan keterampilan ini di bawah supervisi.
Definisi
Pembedahan yang dilakukan pada carotid body tumor
Indikasi
Carotid Body Tumor
Tipe I, II
Pertimangan khusus pada Tipe III
Differential diagnosis
-Aneurisma
-Pseudoaneurisma
-Glomus vagal tumor
-Hematoma
-Vagal Schwannoma
Kontraindikasi:
KU buruk
Usia lanjut
Tumor berulang
Pilihan prosedur lainya
Radioterapi
Konsul sejawat terkait
Komplikasi
Perdarahan
Cranial nerve injury
CVA
Kematian
Perlu by pass carotid
Perawatan Pasca Operasi
Antibiotik sistemik
Analgetik sistemik
Antiperdarahan sistemik
DAFTAR ISI
MODUL VII.6
ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER: KARSINOMA NASOFARING
WAKTU
Mengembangkan Kompetensi | Alokasi Waktu |
Sesi di dalam kelas Sesi dengan fasilitasi Pembimbing Sesi praktik dan pencapaian kompetensi | 2 x 90 menit (classroom session) 1 x 60 menit (coaching session) 12 jam (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
MATERI PRESENTASI
Karsinoma Nasofaring
Power point
Video
KASUS
Karsinoma Nasofaring (epidemiologi dan masalahnya/magnitude of the problem)
SARANA DAN ALAT BANTU LATIH
Penuntun belajar (learning guide): terlampir
Tempat belajar (training setting): instalasi rawat inap, instalasi rawat jalan, kamar operasi, ruang praktikum, ruang kuliah
Model/manekin atau kadaver
Komputer/laptop
Infocus
REFERENSI
Wei W, Chua D. Nasopharyngeal carcinoma. In: Johnson T, Rosen C, editors. Bailey's head
and neck surgery otolaryngology, 5 ed. Philapdelphia: Lippincott Wiliams & Wilkins; 2014.
p. 1975-893.
Eibling D. Carcinoma of the Oral Cavity, Pharynx, and Esophagus.: Head and Neck Surgery. In: Chan Y, Goddaed JC. Editors. K.J.Lee's Essential Otolaryngology Head and Neck Surgery. 11th (ed). United States: McGraw-Hill education. 2016. p. 703-8
Wi W, Sham JS. Cancer of the nasopharynx. In: Myers E, Suen J, Myers J, Hanna E, editors. Cancer of the head and neck, 4th ed. Philadelphia: Saunders; 2003. p. 229-47.
Jatin S. 2019. Pharynx And Esophagus In: Head and neck surgery and Oncology 5th Ed. Philadelphia: Elsevier. p. 299-364
Cancer AJCC. AJCC cancer staging manual, 8th ed. Chicago: Springer; 2017.
Pfister DG, Spenser S, Adelstein D, Adkins D, Brizel DM, Burtness BA. NCCN Clinical Practise Guidelines in Oncology. Head and Neck Cancer: National Comprehensive Cancer Network; 2020. p225
Lazim NM, Spinato G, Abdullah K, Boscollo-Rizzo P. Survival rates and quality of life of nasopharyngeal carcinoma patients. In Abdullah B, Balasubramanian A, Lazim NM, ed. An Evidence-Based Approach to the management of Nasopharyngeal Cancer. 2020. Elsevier:United Kingdom. p255-271.
Tian YM, Huang WZ, Lan YH, Zhao C, Bai L, Han F. Prognostic model and optimal treatment for patients with stage IVC NPC at diagnosis. Scientific reports.2019;9:1-7
Farhat, Adham M, Dewi YA, Indrasari SR. Karsinoma Nasofaring. 1st ed. Jakarta:EGC;2021.
KOMPETENSI
Pengetahuan
Mampu membuat diagnosis karsinoma nasofaring berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik. dan beberapa pemeriksaan tambahan (misalkan pemeriksaan nasofaringoskopi dan CT Scan nasofaring). Dapat memutuskan dan melakukan terapi pendahuluan serta merujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi, setelah diatasi masalah kegawatdaruratannya.
Keterampilan
Setelah Mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam:
Menjelaskan anatomi, fisiologi, dan histologi nasofaring
Menjelaskan etiologi dan faktor risiko karsinoma nasofaring
Menjelaskan patogenesis dan gambaran klinis karsinoma nasofaring
Menjelaskan dan melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik karsinoma nasofaring
Melakukan keputusan untuk perlu tidaknya pemeriksan penunjang seperti nasofaringoskopi dan CT Scan nasofaring
Membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhubungan dengan karsinoma nasofaring
Menjelaskan tentang tatalaksana karsinoma nasofaring, pemberian kemoterapi, dan radiasi pada karsinoma nasofaring
Memutuskan terapi pendahuluan serta merujuk ke fasilitas kesehatan yang relevan.
GAMBARAN UMUM
Karsinoma Nasofaring (KNF) merupakan karsinoma sel skuamosa (KSS) yang berasal dari epitel nasofaring. Keganasan dapat berasal dari setiap bagian nasofaring, dan yang paling sering pada fossa Rossenmuler, yang terletak di medial osteum tuba eustachius.
Faktor risiko kejadian KNF diantaranya kandungan nitrosamin (akibat konsumsi ikan asin), Virus Epstein Barr Virus (VEB) (keberadaannya dalam spesimen biopsi nasofaring meningkatkan insidensi 6 kali lipat), faktor genetik juga memegang peranan penting dalam etiologi.
Gejalanya KNF tergantung dari lokasi tumor primer, infiltrasi ke sekitar nasofaring atau metastasis ke Kelenjar Getah Bening (KGB) leher. Obstruksi hidung, epistaksis (akibat ulserasi tumor, biasanya ringan bercampur sekret), disfungsi tuba (akibat perluasan ke posterolateral ruang paranasofaringeal), tuli konduksi, otitis media efusi, sakit kepala (akibat infiltrasi superior ke skull base), diplopia (infiltrasi ke sinus kavernosus dan ventrikel lateralis, ventrikel ke 3 dan ke 4 juga nervus VI), nyeri wajah (akibat infiltrasi ke arah foramen ovale).
Karsinoma Nasofaring mempunyai kecenderungan yang tinggi untuk metastasis ke KGB leher, berupa massa yang tidak nyeri tekan, sering terdapat di leher bagian atas. Gejala yang berhubungan dengan metastasis jauh pada KNF relatif jarang. Metastasis ke tulang, hepar, dan paru merupakan tempat metastasis yang dapat dijumpai.
Rasio penderita KNF antara laki laki dan wanita adalah 3 : 1, dengan umur rata rata 50 tahun. Gejala pada pasien muda sama dengan pasien dewasa.
CONTOH KASUS DAN DISKUSI
Seorang laki-laki, 50 tahun datang ke poli T.H.T.K.L dengan keluhan epistaksis/mimisan hilang timbul, sering berulang dalam 3 bulan terakhir. Pasien juga mengeluh gangguan penghidu, pendengaran penuh, dan berkurang. Benjolan di leher kanan dan kiri dirasakan sejak 6 bulan terakhir, semakin lama semakin besar dan tidak nyeri, pandangan dobel juga dirasakan.
Pemeriksaan tanda vital dalam batas normal, dan laboratorium didapatkan kadar hemoglobin (Hb) 9.2 mg/dl, lekosit 9.000, trombosit 250.000.
Diskusi :
Etiopatogenesis epistaksis
Insidensi karsinoma nasofaring
Gambaran klinis karsinoma nasofaring
Jawaban :
Pada KNF dapat terjadi epistaksis akibat adanya ulserasi dari tumor dan biasanya bercampur dengan sekret.
KNF dapat terjadi pada setiap usia antara 45-54 tahun, namun dalam 2 dekade terakhir dilaporkan peningkatan kasus kejadian pada usia yang lebih muda. KNF terbanyak pada pria dengan perbandingan 3:1.
Gejala karsinoma nasofaring tergantung dari lokasi tumor primer, infiltrasi ke sekitar nasofaring atau metastasis ke KGB leher. Obstruksi hidung, epistaksis (akibat ulserasi tumor, biasanya ringan bercampur sekret), disfungsi tuba (akibat perluasan ke posterolateral ruang paranasofaringeal), tuli konduksi, otitis media efusi, sakit kepala (akibat infiltrasi superior ke skull base), diplopia (infiltrasi ke sinus kavernosus dan ventrikel lateralis, ventrikel ke 3 dan ke 4 juga nervus VI), nyeri wajah (akibat infiltrasi ke arah foramen ovale).
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan pembelajaran umum
Proses, materi, dan metode pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan melakukan tindakan yang tepat terhadap penderita karsinoma nasofaring.
Tujuan pembelajaran khusus
Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan mampu untuk:
Menguasai anatomi, histologi, fisiologi nasofaring (tingkat kompetensi K3, A3)
Mampu menjelaskan etiologi dan faktor risiko karsinoma nasofaring (tingkat kompetensi K3, A3)
Menjelaskan patogenesis dan gambaran klinis karsinoma nasofaring (tingkat kompetensi K3, A3)
Menentukan dan melakukan pemeriksan penunjang (nasal endoskopi/ nasofaringoskopi dan CT Scan nasofaring) (tingkat kompetensi K3, A3)
Membuat diagnosis karsinoma nasofaring berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik maupun penunjang (tingkat kompetensi K3, A3, P5)
Melakukan tatalaksana karsinoma nasofaring (radioterapi, kemoterapi, operatif, imunoterapi, paliatif) (tingkat kompetensi K3, A3)
Melakukan evaluasi dan memutuskan terapi pendahuluan serta merujuk ke fasilitas kesehatan yang relevan. (tingkat kompetensi K3, A3)
METODE PEMBELAJARAN
Setelah mengkuti sesi ini peserta didik akan mempunyai kemampuan dasar untuk menegakkan diagnosis karsinoma nasofaring dan mampu untuk menentukan terapi yang sesuai.
Tujuan 1. Anatomi, topografi, histologi, embriologi, fisiologi nasofaring
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metoda pembelajaran berikut ini
Referat
Skill Lab
Cadaver dissection/ atlas review
Harus diketahui:
Anatomi nasofaring
Gambaran dan karakteristik histologis nasofaring
Fisiologi nasofaring
Etiopatogenesis karsinoma nasofaring
Tujuan 2. Menjelaskan etio-patogenesis dan macam KNF
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Referat
Literature reading
Journal reading
Harus diketahui : (sedapat mungkin pilih specific features, signs & symptoms):
Etiologi dan faktor predisposisi
Patofisiologi klinik
Gejala (keluhan pasien)
Tanda (temuan hasil pemeriksaan)
Gambaran klinik
Tujuan 3. Menjelaskan gambaran klinik karsinoma nasofaring (anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang)
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Bedside teaching
Praktik lapangan (poliklinik)
Case report
Tujuan 4. Membuat diagnosis karsinoma nasofaring dari pemeriksaan fisik dan penunjang
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Bedside teaching
Praktik lapangan (poliklinik)
Praktik lapangan (OK)
Case report
Harus diketahui:
Metode standar anamnesis
Gejala dan tanda pasti tentang adanya tumor di nasofaring
Pemeriksaan penunjang yang sensitif dan spesifik
Memilah diagnosis banding dan menentukan diagnosis kerja
Rencana pengobatan atau tatalaksana pasien
Tujuan 5. Melaksanakan tatalaksana karsinoma nasofaring
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Bedside teaching
Praktik lapangan (poliklinik)
Praktik lapangan (OK)
Case report
Referat
Harus diketahui:
Prosedur konservatif
Radioterapi
Kemoterapi
Operatif
Prosedur operatif
Biopsi nasofaring
Nasofaringektomi.
Tujuan 6. Melakukan evaluasi, menentukan terapi karsinoma nasofaring tingkat lanjut (residif dan rekuren)
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Bedside teaching
Praktik lapangan (poliklinik)
Praktik lapangan (OK)
Case report
Referat
Mini research
Bakti social di bidang THT (ditentukan oleh RS setempat)
Harus diketahui:
Evaluasi hal penting
Jenis-jenis terapi yang direkomendasikan
Kondisi atau situasi penting untuk membuat keputusan untuk merujuk
Tujuan 7. Pemberian kemoterapi dan penatalaksanaan komplikasi
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Bedside teaching
Praktik lapangan (poliklinik)
Case report
Referat
Mini research
Tujuan 8. Penatalaksanaan bedah untuk KNF residif dan rekuren
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Bedside teaching/ ronde
Praktik lapangan (poliklinik)
Praktik lapangan (OK)
Case report
Referat
Mini research
Harus diketahui:
Kondisi pasien pasca tindakan bedah (post operasi hingga follow up di poliklinik)
Komplikasi tindakan bedah
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pre test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta Fellow dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri atas :
Anatomi nasofaring
Penegakan diagnosis KNF lanjut
Penatalaksanaan KNF lanjut
Evaluasi penatalaksanaan KNF lanjut
Selanjutnya dilakukan small group discussion bersama dengan mentor untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian.
Setelah mempelajari penuntun belajar ini, Fellow diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk role play dan teman-temannya (Peer Assisted Evaluation) atau kepada SP (Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assisted Evaluation) setelah dianggap memadai, melalui metode bedside teaching dibawah pengawasan fasilitator, peserta didik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut:
Perlu perbaikan: pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan.
Cukup: pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien.
Baik: pelaksanaan benar dan baik (efisien)
Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
Self assesment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar.
Pendidik/fasilitas:
Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form (terlampir)
Penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi
Kriteria penilaian keseluruhan: cakap/ tidak cakap/ lalai
Di akhir penilaian peserta Fellow dievaluasi jumlah kompetensi yang telah dicapai sesuai dengan modul. Jika Fellow belum memenuhi jumlah yang ditentukan, bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task- based medical education) atau perpanjangan Fellow (berdasarkan evaluasi mentor)
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Kuesioner Sebelum Pembelajaran (Pre Test)
Soal : Jelaskan patogenesis dari KNF Jawaban:
Karsinoma Nasofaring merupakan KSS yang berasal dari epitel nasofaring. Keganasan dapat berasal dari setiap bagian nasofaring, dan yang paling sering pada fossa Rossenmuler, yang terletak di medial osteum tuba eustachius. Faktor risiko kejadian KNF diantaranya kandungan nitrosamin (akibat konsumsi ikan asin), VEB (keberadaannya dalam spesimen biopsi nasofaring meningkatkan insidensi KNF 6 kali lipat), faktor genetik juga memegang peranan penting dalam etiologi KNF.
Kuesioner Tengah Pembelajaran
Soal : Bagaimana gejala klinis KNF? Jawaban :
Gejala KNF tergantung dari lokasi tumor primer, infiltrasi ke sekitar nasofaring atau metastasis ke KGB leher. Obstruksi hidung, epistaksis (akibat ulserasi tumor, biasanya ringan bercampur sekret), disfungsi tuba (akibat perluasan ke posterolateral ruang paranasofaringeal), tuli konduksi, otitis media efusi, sakit kepala (akibat infiltrasi superior ke skull base), diplopia (infiltrasi ke sinus kavernosus dan ventrikel lateralis, ventrikel ke 3 dan ke 4 juga nervus VI), nyeri wajah (akibat infiltrasi ke arah foramen ovale).
Karsinoma Nasofaring mempunyai kecenderungan yang tinggi untuk metastasis ke KGB leher, berupa massa yang tidak nyeri tekan, sering terdapat di leher bagian atas. Gejala gejala yang berhubungan dengan metastasis jauh pada KNF
relatif jarang. Metastasis ke tulang, hepar, dan paru merupakan tempat metastasis yang dapat dijumpai.
Kuesioner Akhir Pembelajaran
Soal : Bagaimana tata laksana pada KNF? Jawaban :
Terdapat beberapa modalitas penatalaksanaan utama pada KNF:
Radioterapi
KNF mempunyai sifat radiosensitif sehingga radioterapi masih sebagai pilihan terapi utama pada KNF. Radioterapi mempunyai efek samping dan kesulitan dalam tatalaksana karena KNF terletak dibawah skull base dan dikelilingi jaringan otak, saraf spinal, jalur pituitary-hipothalamus, lobus temporalis, mata, telinga tengah, dan glandula parotis.
Kemoterapi
Kemoterapi ditambahkan sebagai terapi bersama dengan radioterapi. Penelitian yang sudah dilakukan melaporkan hasil kemoterapi neoajuvan, konkuren. konkomitan, dan adjuvan. Regimen yang dapat digunakan pada saat ini adalah platinum based, 5FU, dan ifosfamid serta terapi target.
Immunoterapi
Imunoterapi pada kanker didasarkan kepada penghambatan kemampuan sel kanker dalam menghindari sistem imun. Ada berbagai cara untuk menghasilkan respons imun antikanker yaitu Teknik imunoterapi dengan target EBV, terapi penghambat kinase, Programmade death (PD-1) inhibitor, terapi sel dendritic, terapi chimeric antigen receptor T-cell (CAR-T) dan vaksin kanker.
Operatif (Nasofaringektomi dan diseksi leher)
Tindakan operatif merupakan pilihan modalitas terapi untuk kasus KNF residif dan rekuren. Pembedahan dapat merupakan penanganan terhadap residif atau rekurensi lokal dan regional (kelenjar getah bening). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pembedahan berpotensi memberikan control tumor lokal yang lebih baik serta menurunkan mortalitas dan morbiditas pasca perawatan dibandingkan re-iradiasi.
Paliatif
Penatalaksanaan paliatif merupakan rangkaian penatalaksanaan multidisiplin yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien serta mendukung keluarga dan care provider dalam menghadapi permasalahan yang berhubungan dengan KNF. Penatalaksanaan paliatif meiputi identifikasi, penilaian, dan tatalaksana nyeri serta masalah fisik, psikososial dan spiritual.
INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR
PROSEDUR BIOPSI NASOFARING
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.:
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D : Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
NAMA PESERTA: ...................................... TANGGAL: .................................
KEGIATAN | KASUS | |||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS DAN PROSEDUR TINDAKAN | 1 | 2 | 3 | T/D |
II. PERSIAPAN PROSEDUR BIOPSI NASOFARING | ||||
III. PROSEDUR BIOPSI NASOFARING | ||||
1. Tampon hidung dengan kassa efedrin-lidokain atau penyemprotan/spray dengan anestesi lokal dimulai dari rongga hidung 1 semprotan dilanjutkan ke daerah nasofaring 2 semprotan | ||||
2. Aplikasi obat anestesi dilakukan 2 kali masing-masing selama 5 menit. Sekret dan jaringan nekrotik yang ada dibersihkan dengan suction | ||||
3. Dengan bantuan endoskopi, cunam biopsi dimasukkan menyusuri dasar hidung, konka media sampai dinding belakang nasofaring diarahkan menuju massa tumor. | ||||
Informed Consent
Rencana Tindakan
Persiapan Sebelum Tindakan
Pastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan esensial untuk prosedur biopsi nasofaring telah tersedia dan lengkap, yaitu:
Lidokain 2%
Larutan epineprin
Kassa gulung
Endoskopi rigid 0 derajat, monitor, dan light source
Cunam biopsi
Pinset bayonet
Lampu kepala
Nasal speculum
Suction
Botol berisi formalin
KEGIATAN | KASUS | |||
4. Ujung forseps digeserkan ke samping mengikuti dinding lateral sambil ditarik ke depan perlahan-lahan. Penarikan forceps ke depan + 1 cm dibelakang koana dan + 1 cm dari dinding posterior torus tubarius atau dicari daerah fossa Rossenmuller. | ||||
5. Dilakukan pengambilan sebagian jaringan yang dicurigai. | ||||
6. Jaringan tumor dimasukkan ke dalam botol berisi formalin 10%. | ||||
7. Perdarahan dirawat dengan memasukkan kassa berisi cairan vasokontriktor. | ||||
8. Pasien diberikan terapi antibiotik lini pertama dan analgetik | ||||
9. Bila masih terdapat perdarahan massif, dapat dilakukan pemasangan tampon anterior | ||||
10. Pelepasan tampon anterior dilakukan pada hari kedua setelah biopsi | ||||
DAFTAR TILIK
PROSEDUR BIOPSI NASOFARING
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini:
: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
X: Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
T/T: Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
PESERTA: TANGGAL :
KEGIATAN | NILAI | ||
X | T/T | ||
Persiapan | |||
1. Kaji ulang diagnosis | |||
2. Menyiapkan peralatan operatif | |||
3. Menyiapkan diri untuk tindakan operatif | |||
4. Menyiapkan posisi pasien | |||
5. Melakukan tindakan a & anti septik | |||
PROSEDUR OPERASI | |||
1. Tampon hidung dengan kassa efedrin-lidokain atau penyemprotan/spray dengan anestesi lokal dimulai dari rongga hidung 1 semprotan dilanjutkan ke daerah nasofaring 2 | |||
KEGIATAN | NILAI | ||
| X | T/T | |
semprotan | |||
2. Aplikasi obat anestesi dilakukan 2 kali masing-masing selama 5 menit. Sekret dan jaringan nekrotik yang ada dibersihkan dengan suction | |||
3. Dengan bantuan endoskopi, cunam biopsi dimasukkan menyusuri dasar hidung, konka media sampai dinding belakang nasofaring diarahkan menuju massa tumor. | |||
4. Ujung forseps digeserkan ke samping mengikuti dinding lateral sambil ditarik ke depan perlahan-lahan. Penarikan forceps ke depan + 1 cm dibelakang koana dan + 1 cm dari dinding posterior torus tubarius atau dicari daerah fossa Rossenmuller. | |||
5. Dilakukan pengambilan sebagian jaringan yang dicurigai. | |||
6. Jaringan tumor dimasukkan ke dalam botol berisi formalin 10%. | |||
7. Perdarahan dirawat dengan memasukan kassa berisi cairan vasokontriktor. | |||
8. Pasien diberikan terapi antibiotik lini pertama dan analgetik | |||
9. Bila masih terdapat perdarahan massif, dapat dilakukan pemasangan tampon anterior | |||
10. Pelepasan tampon anterior dilakukan pada hari kedua setelah biopsi | |||
MATERI PRESENTASI
Slide 1: Karsinoma nasofaring
Slide 2: Teknik Pemeriksaan
Slide 3 :Metode Diagnosis
Anamnesis:
Anamnesis dimulai dengan pertanyaan yang meliputi gejala:
Hidung tersumbat.
Telinga berdengung/tertutup
Epistaksis/Ingus bercampur darah
Benjolan pada leher/tidak
Penglihatan Ganda
Waktu (sudah berapa lama)/kapan mulai dirasakan
Slide 4 : Algoritma diagnosis dan penatalaksaan karsinoma nasofaring
+/- panendoskopi
i
Panendoskopi
Terapi KNF
KNF (-)
Follow Up
Biopsi ulang (anestes
umum) +
KNF (-)
KNF (-)
Biopsi nasofaring
KSS/Ca Undiff
Serologi EBV (+)
Serologi EBV (±)
Serologi EBV (-)
CT-scan
Algoritme Diagnosis Karsinoma Nasofaring
Algoritme Penatalaksanaan Karsinoma Nasofaring
MATERI BAKU
Karsinoma Nasofaring
Karsinoma nasofaring adalah tumor ganas yang berasal dari sel epitel nasofaring (merupakan KSS). Tumor ini bermula dari dinding lateral nasofaring (fossa Rosenmuller) yang terletak di medial osteum tuba eustachius dan dapat menyebar kedalam atau keluar nasofaring menuju dinding lateral, posterosuperior, dasar
tengkorak, palatum, kavum nasi, dan orofaring serta metastasis ke kelenjar limfe leher. Secara anatomi, nasofaring berhubungan dengan kavum nasi dan merupakan jalan udara selama kita bernafas.
Kebiasaan mengkonsumsi ikan asin adalah salah satu faktor yang menyebabkan KNF, karena kandungan Nitrosamin yang ada di dalamnya. Pada suatu penelitian dilaporkan bahwa kebiasaan mengkonsumsi ikan asin kurang dari 10 tahun berhubungan dengan peningkatan risiko KNF. Virus Epstein Barr juga sering disebut mempunyai peranan dalam karsinogenesis KNF, sebab genome VEB sering ditemukan dalam spesimen biopsi KNF. Virus Epstein Barr dapat ditemukan di tubuh manusia. Adanya VEB dalam tubuh meningkatkan insidensi KNF 6 kali dibandingkan kelompok kontrol. Ini menyokong bahwa faktor genetik memegang peranan penting dalam etiologi KNF. Penelitian mengenai genom menggambarkan bahwa mutasi terjadi.
Pasien KNF mempunyai satu atau lebih dari empat gejala. Gejalanya tergantung dari lokasi tumor primer, infiltrasi ke sekitar nasofaring atau metastasis ke KGB leher. Massa tumor di nasofaring dapat mengakibatkan obstruksi hidung dan adanya sekret. Pada tumor yang kecil, obstruksi hidung terjadi unilateral, dan tumor akan membesar dan obstruksi menjadi bilateral. Ketika tumor mengalami ulserasi dapat terjadi epistaksis. Epistaksis biasanya ringan dan bercampur dengan sekret sebagai post-nasal drip, terutama pagi hari.
Tumor sebagian besar di nasofaring, dengan atau tanpa perluasan ke posterolateral ke ruang paranasofaringeal menyebabkan disfungsi tuba eustachius. Ini dapat menyebabkan cairan terkumpul di kavum timpani sehingga pasien dapat mengeluh gangguan dengar konduktif unilateral, otitis media dan gejala otologi lainnya (misalnya otalgia, tinnitus). Infiltrasi tumor ke superior skull base akan menyebabkan pasien sakit kepala, infiltrasi tumor ke sinus kavernosus dan ventrikel lateralis, ventrikel ketiga dan ventikel ke empat, juga nervus VI maka akan terjadi diplopia. Apabila tumor tumbuh kearah foramen ovale, nervus V dapat terkena dan mengakibatkan nyeri wajah dan ganguan anestetik.
Karsinoma nasofaring mempunyai kecenderungan yang tinggi untuk metastasis ke KGB leher, dengan gejala yang umum adalah massa yang tidak nyeri tekan, sering terdapat di leher bagian atas, massa di KGB leher dapat unilateral atau bilateral. Gejala yang berhubungan dengan metastasis jauh pada KNF jarang terjadi. Metastasis ke tulang, hepar, dan paru merupakan tempat metastasis yang dijumpai. Tidak khasnya gejala di hidung dan pendengaran, pembesaran KGB leher yang tidak disertai rasa nyeri menyebabkan pasien KNF terdiagnosis pada stadium lanjut.
Epitel sel malignansi pada KNF adalah khas berupa sel poligonal yang besar dengan sintitial. Nukleusnya berbentuk oval dengan sedikit kromatin dan nukleolus yang jelas. Sel ini sering bersama dengan sel limfoit di nasofaring, yang disebut limfoepitelioma.
World Health Organization (WHO) merekomendasikan klasifikasi KNF berdasarkan gambaran histopatologisnya sejak tahun 1991, yang dibagi menjadi:
Berkeratinisasi
Tanpa keratinisasi
Berdiferensiasi (WHO tipe II)
tidak berdiferensiasi (WHO tipe III)
WHO tipe I. Karsinoma sel skuamosa berkeratinisasi. Sel kanker dapat berdiferensiasi baik sampai sedang dan menghasilkan relatif cukup banyak bahan keratin, baik di dalam sitoplasma maupun di luar sel.
WHO tipe II. Karsinoma tanpa keratinisasi. Pada tipe ini dijumpai adanya diferensiasi sedang, jembatan antarsel tidak ada, dan batas sel masih jelas. Sel- sel ganas tersusun secara stratified atau berimpitan, menyerupai gambaran pada karsinoma sel transisional.
WHO tipe III. Karsinoma tidak berdiferensiasi. Pada tipe ini sel tumor memperlihatkan inti yang vesikuler, berbentuk oval atau bulat dengan nukleoli yang jelas, batas sel tidak jelas.
Penegakan diagnosis dilakukan dengan klinis, radiologis dan histopatologis. pemeriksaan fisik seperti pembesaran KGB leher, cairan di kavum timpani, dan keterlibatan nervus kranialis. Pemeriksaan secara langsung dengan rinoskopi posterior kearah hidung bagian belakang, meskipun terdapat variasi anatomis pada beberapa pasien. Pemeriksaan lain adalah dengan pemeriksaan antibodi VEB, pemeriksaan radiologis (CT Scan/MRI) serta endoskopi untuk evaluasi dan biopsi.
Pemeriksaan Darah
Pemeriksaan dasar yang dapat dilakukan pada keganasan ditampilkan pada Tabel 10.1.
Pola persebaran keganasan dapat membantu memilih jenis pemeriksaan yang dapat dilakukan.
Tabel 1. Pemeriksaan darah pada kasus keganasan
No. Pemeriksaan Keterangan
Hemoglobin Anemia normositik normokromin dapat
menandakan karsinoma stadium lanjut
Laju endap darah Laju endap darah yang tinggi dapat menandakan
adanya mieloma atau limfoma
SGOT/SGPT Evaluasi fungsi liver untuk evaluasi metastasis
Bilirubin Membantu evaluasi kemungkinan metastasis
Alkali fosfatase Evaluasi adanya metastasis tulang
Kalsium darah
Serologi VEB
Evaluasi adanya metastasis tulang Analisis kuantitatif dan DNA VEB
Diagnosis Banding
Angiofibroma Nasofaring Belia
Limfoma
Hipertrofi Adenoid
Hemangioma
Melanoma
Plasmacytoma
Stadium
Sistem yang digunakan dalam menentukan stadium KNF adalah sistem berdasarkan The American Joint Committee on Cancer/Union Interrnationale Contre le Cancer (AJCC / UICC) edisi ke-8.
Tabel 2. Sistem Klasifikasi TNM edisi 8 AJCC 2017
Tumor Primer (T)
TX : Tumor primer tidak dapat dinilai
T0 : Tumor primer tidak ditemukan, tetapi VEB-positif, terdapat keterlibatan KGB
T1: Tumor terbatas di nasofaring, atau ekstensi ke orofaring dan/atau kavum nasi tanpa terdapat keterlibatan parafaringeal
T2 : Tumor dengan ekstensi ke ruang parafaring, dan/atau keterlibatan jaringan lunak disekitarnya (pterigoid medial, pterigoid lateral, muskulus prevertebra).
T3 : Tumor dengan infiltrasi ke struktur tulang di dasar tengkorak, vertebra servikalis, petrigoid, dan/atau sinus parasanal
T4 :Tumor dengan ekstensi ke intrakranial, keterlibatan nervus kranialis, hipofaring, orbita, glandula parotis, dan/atau infiltrasi ekstensif dari jaringan lunak didepan permukaan lateral dari muskulus pterigoid lateral
Kelenjar Getah Bening (N)
NX : Kelenjar getah bening tidak dapat dinilai
N0 : Tidak ada metastasis ke kelanjar getah bening
N1 : Unilateral metastasis pada kelanjar getah bening dam/atau unilateral atau bilateral metastasis pada kelenjar getah bening retrofaringeal, berukuran < 6cm, diatas batas kaudal kartilago krikoid
N2 : Bilateral metastasis pada kelenjar getah bening, berukuran < 6cm, diatas batas kaudal kartilago krikoid
N3 : Unilateral atau bilateral metastasis pada kelenjar getah bening, berukuran > 6cm, dan/atau ekstensi dibawah batas kaudal dari kartilago krikoid
Metastasis Jauh (M)
M0 : Tidak didapatkan metastasis jauh M1 : Terdapat metastasis jauh
Tabel 3. Stadium Prognostik AJCC
T | N | M | Stadium |
Tis | N0 | M0 | 0 |
T1 | N0 | M0 | I |
T1, T0 | N1 | M0 | II |
T2 | N0 | M0 | II |
T2 | N1 | M0 | II |
T1, T0 | N2 | M0 | III |
T2 | N2 | M0 | III |
T3 | N0 | M0 | III |
T3 | N1 | M0 | III |
T3 N2 T4 N0 | M0 M0 | III IVA |
T4 N1 | M0 | IVA |
T4 N2 | M0 | |
IVA | ||
Semua T N3 | M0 | IVA |
Semua T Semua N | M1 | |
IVB |
Tatalaksana Radioterapi
Karena lokasi nasofaring yang tersembunyi, dikelilingi struktur organ penting dan sifatnya yang infiltrative, maka operasi untuk reseksi tumor masih terus dalam penelitian. KNF mempunyai sifat radiosensitive, sehingga radioterapi merupakan terapi utama. Radioterapi meskipun efektif tetapi juga mempunyai komplikasi, sebab KNF terletak dibawah skull base dan dikelilingi jaringan otak, syaraf spinal, jalur pituitary - hypothalamus, lobus temporalis, mata, telinga tengah dan telinga dalam dan glandula parotis. Organ organ ini harus dipertimbangkan dalam pemberian dosis radioterapi untuk tumornya. Sebab KNF cenderung bersifat infiltrative dan menyebar ke organ sekitarnya, sehingga sulit untuk mencegah pemberian radioterapi ke tumor primer tanpa mengenai organ disekitarnya. Walaupun di leher tidak ada pembesaran KGB, leher biasanya tetap mendapat radiasi, sehingga kontrol lokoregional yang baik dapat dicapai, sebab apabila terjadi kekambuhan lokoregional akan meningkatkan resiko terjadinya metastase jauh.
Kemoterapi
Untuk penatalaksanaan KNF terutama yang sudah lanjut, kemoterapi ditambahkan sebagai terapi bersama dengan radioterapi.. Penelitian yang sudah dilakukan melaporkan hasil kemoterapi neoadjuvan, konkuren dan ajuvan. Pemberian kemoterapi neoadjuvan dapat meningkatkan angka survival dengan bebas kekambuhan, tetapi tidak meningkatkan overall survival. Pada saat ini telah disepakati bahwa untuk KNF yang sudah lanjut konkuren kemoradiasi diperlukan, disamping terapi lain yang diperlukan untuk evaluasi. Untuk meningkatkan hasil pemberian konkomitan kemoradisi, pemberian neoadjuvan kemoterapi yang diikuti dengan konkomitan kemoradioterapi dilaporkan dapat meningkatkan survival dan efek sampingnya lebih dapat ditoleransi. Regimen yang dapat digunakan adalah platinum based, 5-FU (Flouro Uracyl), dan ifosfamid serta terapi target.
Follow up
Quality of live pasien KNF yang sudah diteliti secara umum menggambarkan kondisi yang terganggu. Komplikasi jangka lama yang tampak akibat radiasi pada organ yang terkena. Komplikasi yang terjadi antara lain adalah gangguan neuroendokrin,
pendengaran, xerostomia yang dapat menyebabkan oral hygiene yang jelek, fibrosis pada jaringan ikat dan stenosis arteri karotis. Komplikasi defisit neurologis berupa nekrosis lobus temporalis, paralisis nervus kranialis dan berkurangnya fungsi memori, kognitif dan disfungsi neurofisiologi. Penggunaan cisplatin mempunyai efek ototoksik.
Adanya remisi yang komplit pada KNF dapat dievaluasi dengan pemeriksaan fisik, pemeriksaan endoskopik dengan atau tanpa biopsy dan pemeriksaan radiologis. Sudah dilakukan suatu penelitian untuk membandingkan antara PET, MRI dan CT Scan dalam men deteksi KNF yang persisten atau rekuren, dan didapatkan bahwa PET lebih baik. Deteksi awal kekambuhan lokoregional adalah penting, karena tumor masih dapat disembuhkan bila dideteksi awal. Pada kasus KNF yang persisten, apabila salah satu dari nasofaring atau leher 10 minggu post terapi masih didapatkan tumor.
KNF Persisten atau Rekuren
Meskipun konkomitan kemoraditerapi efektif pada KNF, kegagalan lokal maupun regional adalah gambaran dari KNF persisten atau rekuren. Untuk mencapai kesembuhan yang tinggi, deteksi dini dan penatalaksanaannya adalah penting. PET lebih baik dibandingkan MRI dan CT Scan dalam mendeteksi KNF persisten maupun rekuren, yang biasanya dikonfirmasi dengan hasil biopsy dengan bantuan pemeriksaan endoskopi. Adanya persisten atau rekuren pada KGB setelah kemoradioterapi merupakan tanda buruk yang sulit untuk di terapi, sebab hanya merupakan gambaran
Terapi agresif pada KNF dengan lokal rekuren biasanya baik, sebab meskipun angka survival post retreatmen adalah buruk, tetapi angka survivalnya masih lebih panjang dibandingkan hanya diterapi suportif saja. Untuk pasien KNF, dengan kegagalan terapi lokoregional, terapi yang agresif sebaiknya diberikan dengan selektif.
Nasofaringektomi
Apabila KNF persisten atau residu meluas ke paranasofaringeal space yang terlalu besar untuk berhasil dengan bracyterapi, dilakukan nasofaringektomi. Nasofaringektomi efektif untuk eradiasi untuk tumor local secara selektif. Nasofaring berlokasi di tengah dari kepala. Sulit untuk membuka region ini secara adekuat dan mengeluarkan massa tumor yang sudah meluas ke sekitarnya. Pendekatan bervariasi untuk membuka nasofaring.
Pendekatan dari otak dan saraf spinal tidak praktis dilakukan. Pendekatan transantral dan midfasial degloving untuk membuka nasofaring dari depan tidak dapat melihat semua nasofaring. Pendekatan anterior dengan membuka palatum durum hanya bisa melihat dinding posterior nasofaring dan tidak bisa untuk dinding lateral. Pendekatan nasofaring dari lateral akan dapat dicapai fossa infratemporal. Prosedur ini dimulai dengan radikal mastoidektomi dan adanya variasi struktur yang harus dimobilisasi, termasuk arteri karotis interna, nervus V dan lantai dari fossa middle cranial. Hasilnya morbiditas kecil dan membuka nasofaring dari dinding lateral tidak dapat melihat seluruh nasofaring.
Pendekatan nasofaring dapat dari arah inferior. Menggunakan pendekatan transpalatal, transmaksilari dan transservical. Pendekatan ini digunakan pada tumor yang berlokasi di sentral dan dinding posterior nasofaring. Untuk tumor yang luas, terutama yang terletak didinding lateral, space paranasofaringeal sulit dengan pendekatan inferior dan arteri karotis interna dapat diproteksi. Pendekatan melalui anterolateral ke nasofaring atau swing maksilar juga dapat digunakan pada nasofaringektomi. Mengikuti anatomi tulang, tulang maksila melekat pada dinding anterior pipi dapat ditarik ke lateral sebagai satu osteokutaneus komplek. Dengan pendekatan ini nasofaring dan paranasofaringeal space dapat dibuka dan massa tumor dapat diangkat. Prosedur operasi yang mirip dengan maksilektomi, memudahkan untuk konterol arteri karotis interna. Mortalitas dari nasofaringectomi secara umum adalah rendah. Seperti pada pasien yang mendapat radioterapi radikal, penyembuhannya memerlukan waktu dan beberapa pasien menjadi trismus. Secara umum sepanjang tumor persisten atau rekuren dapat diambil sampai bersih, hasilnya memuaskan. Angka 5 year survival control tumor di nasofaring setelah nasofaringektomi dilaporkan sampai 65%. Dan angka 5 year bebas penyakit sampai 54%.
Pendekatan nasofaringektomi secara endoskopi memberikan modalitas baru pada kelainan pada dasar otak, setelah ditemukannya metode untuk mencapai dasar otak, perkembangan bedah endoskopi mampu berkembang hingga bedah dasar otak bagian lateral. Pendekatan nasofaringektomi endoskopi transpterigoid memperlihatkan lapangan operasi yang leih baik dan akses langsung ke strutur paramedian seperti sinus paranasal, sinus sfenoid, sela, sinus kavernosus, tuba eustachius, dan cabang posterior arteri karotis. Pendekatan ini dapat meminimalisir cedera struktur penting saat operasi.
Prognosis KNF
Fokus studi terhadap prognosis dan ketahanan hidup pasien KNF semakin meningkat seiring dengan peningkatan kasus yang cukup signifikan setiap tahun. Kasus advanced KNF didiagnosis sekitar 60-70% pasien. Kemajuan dalam teknik radiasi dengan IMRT secara signifikan dilaporkan meningkatkan kontrol lokal dan 5-year survival rate hingga 80%. Kemoterapi bersama terapi radiasi juga dilaporkan dapat meningkatan ketahan hidup pasien KNF stadium II dan terutama pada KNF stadium III dan IV. Studi menunjukkan bahwa kombinasi terapi radiasi dan kemoterapi dapat menurunkan risiko mortalitas sebesar 18% dan meningkatkan 4-6% angka 5-year survival rate. Tatalaksana neoadjuvant kemoterapi yang dilanjutkan dengan konkuren kemoradiasi dilaporkan dapat memberikan prognosis yang lebih baik.
Prognosis buruk dilaporkan pada kasus KNF dengan metastasis meskipun telah mendapatkan terapi kemoterapi paliatif. Namun, beberapa pasien yang mendapatkan kemoterapi disertai radiasi dengan dosis definitive lokal dilaporkan memiliki prognosis yang cukup baik. Pasien dengan keterlibatan hanya 1 organ metastasis menunjukkan prognosis yang lebih baik dibandingkan pasien dengan multiple organ metastasis. Metastasis pada area liver dilaporkan memiliki prognosis yang lebih buruk dibandingkan metastasis pada tulang dan paru.
Faktor usia dilaporkan juga dapat mempengaruhi ketahanan hidup pasien. Beberapa literatur menunjukkan bahwa usia yang lebih muda dapat memiliki prognosis yang lebih baik, namun peneliti lain juga melaporkan faktor stadium T dan N juga sangat mempengaruhi prognosis pada berbagai usia. Usia yang lebih muda diyakini memiliki toleransi yang lebih baik terhadap efek samping pengobatan.
Beberapa faktor yang dapat menyebabkan prognosis buruk pada pasien adalah
Faktor pasien : usia yang lebih tua, jenis kelamin wanita, ekonomi rendah, indeks massa tubuh yang tinggi dan komorbid lain yang diderita.
Faktor stadium : T dan N yang advanced
Faktor efek samping terapi :
Efek samping terapi radiasi : perubahan rasa, xerostomia, nyeri tenggorok, gangguan menelan.
Efek samping kemoterapi : mual muntah, nyeri menelan, gangguan makan, penurunan berat badan.
Faktor Quality of Life (QoL) : dipengaruhi oleh anxietas dan depresi yang dialami oleh 25-54% pasien. Disfagia dapat terjadi pada 50% pasien dan dapat menyebabkan terjadi malnutrisi serta resiko pneumonia aspirasi. Cancer related fatigue (CRF) dapat dialami oleh pasien KNF dalam menjalani terapi dengan prevalensi 65-100% bahkan dapat bertahan sebanyak 30% pada survival kanker.
Faktor-faktor yang mempengaruhi prognosis pasien adalah :
Skor Karnofsky performances <70
Metastasis liver
Metastasis multipel organ
Lesi metastasis > 2
LDH > 245 IU/I
Tidak respons terhadap kemoterapi
DAFTAR ISI
MODUL VII.7
ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER: NEOPLASMA OROFARING
WAKTU
Proses Pengembangan Kompetensi | Alokasi Waktu |
Sesi di dalam kelas Sesi praktik dan pencapaian kompetensi | Waktu: 1 x 60 menit (classroom session) 8 jam (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi presentasi:
Power point
Video
Kasus: neoplasma orofaring Diskusi kasus dan tatalaksana
Sarana dan alat bantu latih: (disesuaikan dengan pencapaian kompetensi):
Penuntun belajar (learning guide): terlampir
Tempat belajar (training setting): instalasi rawat inap, instalasi rawat jalan, kamar operasi, ruang praktikum, ruang kuliah
Model/manekin atau kadaver
Komputer/laptop
Infocus
REFERENSI
Pou AM., Johnson JT. Oropharyngeal Cancer. 2014. in Bailey B.J, Johnson J.T, , In : Head and Neck Surgery - Otolaryngology, 5th. edition, Volume two, Lippincott Williams & Wilkins, 2014, p : 1898 - 916.
Gonzales D., Robbins K.T.O. Carcinoma of the oral cavity,pharynx,and esophagus. In: K.J. Lee., ed. Essential otolaryngology head and neck surgery. 11th ed. New York: McGraw-Hill Education; 2016. p. 715-9
Neskey D.M.Hutcheson K.A. et al. Cancer of the oropharynx In: Myers J.N. Hanna E.Y.N. et al. Editors: Cancer of the head and neck. 5th ed. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2017. p. 617-44
Shah JP, Patel SG, Singh B, Wong RJ. Pharynx and Esophagus. In Jatin Shah's Head and Neck Surgery and Oncology. 5th Edition. Philadelphia : Elsevier co. 2020; p363-364.
Cancer AJCC. AJCC cancer staging manual, 8th ed. Chicago: Springer; 2017.
Pfister DG, Spenser S, Adelstein D, Adkins D, Brizel DM, Burtness BA. NCCN Clinical Practise Guidelines in Oncology. Head and Neck Cancer: National Comprehensive Cancer Network; 2020. p225
Montero PH, Migliacci JC, Patel SG. Oncologic Outcome. In Shah JP, Johnson NW editor. Oral and Oropharyngeal Cancer. 2nd edition. Florida: Taylor and Francis. P441-456.
1
KOMPETENSI
Pengetahuan
Setelah mengikuti sesi ini peserta mampu mendiagnosis dan menatalaksana neoplasma orofaring.
Keterampilan
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil:
Mengenali gejala dan tanda neoplasma orofaring
Melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan endoskopi terhadap neoplasma orofaring
Melakukan keputusan untuk pemeriksan penunjang Radiologi seperti CT Scan atau MRI dengan kontras
Melakukan biopsi massa tumor orofaring.
Membuat diagnosis, keputusan penatalaksanaan dan prognosis neoplasma orofaring.
GAMBARAN UMUM
Neoplasma orofaring adalah suatu pertumbuhan jaringan abnormal yang terjadi pada daerah orofaring. Massa tumor dapat berasal dari 1/3 posterior lidah, palatum mole, tonsil palatina dinding posterior dan lateral orofaring. Massa tumor yang terdapat pada orofaring seringkali menimbulkan gejala subklinik pada stadium awal, sehingga seringkali datang pada saat sudah stadium lanjut. Infeksi HPV berdasarkan studi merupakan salah satu faktor resiko kasus neoplasma orofaring dan dapat mempengaruhi prognosis penyakit.
CONTOH KASUS DAN DISKUSI
Seorang laki-laki, 45 tahun mengeluh rasa mengganjal di tenggorok, keluhan disertai dengan benjolan di amandel kanan dan benjolan di leher kanan. Keluhan ini dirasakan sejak 6 bulan yang lalu. Saat ini pasien makan minum masih normal. Tidak ada keluhan sesak napas, suara serak, nyeri menelan. Dari pemeriksaan orofaring didapatkan massa pada tonsil kanan permukaannya licin, kemerahan, tidak mudah berdarah.
Diskusi :
Anatomi orofaring
Patogenesis terjadinya neoplasma orofaring
Tipe neoplasma orofaring
Prosedur diagnosis
Rencana penatalaksanaan dan prognosis
Jawaban:
Anatomi orofaring
Termasuk dalam orofaring adalah palatum mole, tonsil dan fosa tonsilaris, pangkal lidah serta dinding faring mulai dari setinggi palatum mole sampai setinggi valekula. Daerah orofaring sangat kaya dengan aliran limfe, 15 sampai 75% pasien keganasan orofaring datang dengan metastasis ke kelenjar getah bening leher.
Faktor resiko terjadinya neoplasma orofaring
Merokok/mengunyah tembakau.
Alkohol
Infeksi HPV
Oral higine yang buruk.
Defisiensi nutrisi dan vitamin.
Imunodefisiensi.
Genetik
Prosedur diagnosis
Anamnesis
Pemeriksaan fisik dan pemeriksaan endoskopi
Pemeriksaan penunjang : Laboratorium dan Radiologi
Biopsi/Sitologi
Menentukan stadium (berdasarkan TNM AJCC edisi 8)
Rencana penatalaksanaan
Pengobatan Kanker Orofaring Menurut National Comprehensive Cancer Network 2021:
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan pembelajaran umum
Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan mampu untuk melakukan anamnesis, pemeriksaan fisis, pemeriksaan endoskopi, mengusulkan pemeriksaan penunjang, melakukan biopsi/sitologi dan membuat keputusan panatalaksanaan neoplasma orofaring.
Tujuan pembelajaran khusus
Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan mampu untuk:
Menjelaskan anatomi, histologi, fisiologi orofaring
Menjelaskan etiopatogenesis neoplasma orofaring
Menjelaskan dan melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan endoskopi neoplasma orofaring
Melakukan keputusan untuk pemeriksan penunjang yang diperlukan seperti: biopsi jarum halus/fine needle aspiration biopsy (FNAB), USG, dan CT scan/MRI dengan kontras
Melakukan biopsi pada massa neoplasma orofaring dan biopsi insisional pada KGB leher
Membuat diagnosis klinik dengan menentukan stadium tumor berdasarkan pemeriksaan fisik, endoskopi, hasil biopsi dan pemeriksaan penunjang yang berhubungan dengan neoplasma orofaring
Menjelaskan tentang tatalaksana pilihan terapi berdasarkan stadium (operasi, radioterapi, kemoterapi) dan prognosis penyakit
Mengenali secara dini berbagai masalah penyulit dan komplikasi yang mungkin terjadi pada neoplasma orofaring seperti disfagia atau ancaman sumbatan jalan napas, serta memutuskan terapi pendahuluan dan merujuk ke spesialis yang relevan.
METODE PEMBELAJARAN
Tujuan 1. Menjelaskan anatomi, histologi, fisiologi orofaring
Untuk mencapai tujuan ini, maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Referat
Video
Atlas review
Bedside teaching
Tujuan 2. Menjelaskan etiopatogenesis neoplasma orofaring
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Referat
Literatur reading
Journal reading
Tujuan 3. Menjelaskan dan melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan endoskopi neoplasma orofaring
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Bedside teaching/ Poliklinik
Case report
Tujuan 4. Melakukan keputusan untuk pemeriksan penunjang yang diperlukan seperti, biopsi jarum halus/fine needle aspiration biopsy (FNAB), USG, dan CT scan/MRI dengan kontras
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Bedside teaching/ Poliklinik
Case report
Tujuan 5. Melakukan biopsi pada massa neoplasma orofaring dan biopsy insisi pada KGB leher
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Bedside teaching
Praktik lapangan (OK)
Case report
Tujuan 6. Membuat diagnosis klinik dengan menentukan stadium tumor berdasarkan pemeriksaan fisis, endoskopi, hasil biopsi dan pemeriksaan penunjang yang berhungan dengan neoplasma orofaring
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Bedside teaching/ Poliklinik
Praktik lapangan (OK)
Case report
Tujuan 7. Menjelaskan tentang tatalaksana pilihan terapi berdasarkan stadium (operasi, radioterapi, kemoterapi) dan prognosis penyakit
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Bedside teaching/ Poliklinik
Praktik lapangan (OK)
Case report
Referat
Tujuan 8. Mengenali secara dini berbagai masalah penyulit dan komplikasi yang mungkin terjadi pada neoplasma orofaring seperti disfagia atau ancaman sumbatan jalan napas atas, serta memutuskan terapi pendahuluan dan merujuk ke spesialis yang relevan
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Bedside teaching/ Poliklinik dan ruang perawatan
Case report
Referat
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan, yang bertujuan untuk menilai kinerja awal, yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri atas: anatomi, gambaran klinik, pemeriksaan fisik, pemeriksaan endoskopi, pemeriksaan penunjang, diagnosis, penatalaksanaan dan prognosis.
Small group discussion bersama fasilitator untuk membahas kekurangan yang ada, hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar dan proses penilaian.
Setelah mempelajari penuntun belajar ini mahasiswa diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk role play dengan teman-teman (peer assisted learning) atau kepada standardized patient. Pada saat tersebut yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar dpegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (peer assieted evaluation). Setelah dianggap memeadai melalui metode bed side teaching dibawah pengawasan fasilitator, peserta didik mengaplikasikan penuntun belajar dari model anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya paqda pasien sesunggguhnya. Pada saat pelaksaan, evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation) dan mengisi formulir penilaian berikut :
Perlu perbaikan: pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan
Cukup : pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misalnya pemeriksaan terlalu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien
Baik : pelaksanaan benar dan baik (efisien)
Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali small group discussion untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
Self assesment dan peer assisted evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar
Pendidik / fasilitator :
Pengamatan langsung dengan memakai evaluation check list form (terlampir)
Penjelasan lisan dari peserta didik / diskusi
Kriteria penilaian keseluruhan : cakap / tidak cakap / lalai
Pada akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education)
Pencapaian pembelajaran :
Ujian akhir setelah penyelesaian modul
Ujian Tulis Kolegium THT-KL
Ujian Lisan OSCE Kolegium THT-KL
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Kuesioner meliputi :
Kuesioner Sebelum Pembelajaran
Soal :
Tumor orofaring yang sudah melibatkan otot pterigoid lateral adalah stadium:
T1
T2
T3
T4a
T4b Jawaban: E
Apakah faktor yang paling sering dihubungkan sebagai etiologi tumor ganas dasar lidah saat ini?
Konsumsi alkohol yang kronis
Tembakau
Perokok pasif
Infeksi human papilloma virus (HPV) tipe 16 Jawaban: D
Kuesioner Tengah Pembelajaran
Soal :
Seorang laki-laki, 47 tahun datang berobat dengan mengeluh nyeri menelan sejak 2 bulan yang lalu, keluhan disertai dengan benjolan di bagian belakang mulut sebelah kanan dan benjolan di leher kanan yang tidak nyeri. Tidak ada keluhan sesak napas, suara dirasakan berubah seperti bergumam, kadang-kadang ludah bercampur darah. Dari pemeriksaan orofaring didapatkan massa pada tonsil kanan dengan bagian yang ulseratif, kemerahan, mudah berdarah. Apakah langkah- langkah penatalaksanaan pada pasien di atas?
Jawaban:
Anamnesis yang lengkap
Pemeriksaan fisik dan endoskopi secara komprehensif
Pemeriksaan Radiologi CT Scan/ MRI dengan kontras untuk menentukan perluasan tumor dan pembesaran KGB, yang berguna dalam penentuan staging T dan N.
Pemeriksaan biopsi massa orofaring
Pemeriksaan Rontgen Thoraks AP/PA, USG Abdomen, Bone scan dan pemeriksaan laboratorium lengkap untuk mengevaluasi adanya metastasis jauh.
Penentuan stadium berdasarkan AJCC edisi 8
Penentuan rencana penetalaksanaan dapat menggunakan NCCN tahun 2021
Kuesioner Setelah Pembelajaran (post test) Soal :
A 60-year old man presents to the hospital with a 5 cm solitary lymph node in the upper right cervical region and abnormal looking right tonsil. Assuming this is a squamous cell ca nodal metastasis, what is the "N" classification?
N1
N2a
N2b
N2c
N3
Answer : B
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR
BIOPSI NEOPLASMA TONSIL
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.: T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan) |
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
NAMA PESERTA: ................................. TANGGAL:.................................
KEGIATAN | NILAI | |||
1 | 2 | 3 | T/D | |
I. PERSIAPAN TINDAKAN | ||||
1. Informed consent | ||||
- Menjelaskan tujuan tindakan dan hasil yang diharapkan | ||||
- Menjelaskan prosedur dan standar tindakan pada pasien dan keluarganya | ||||
- Menjelaskan dampak dan komplikasi tindakan | ||||
2.Melakukan evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi tindakan | ||||
II. PROSEDUR TINDAKAN | ||||
3. Pasien diminta duduk tegak dan membuka mulut, tumor diidentifikasi | ||||
4. Dilakukan anestesi lokal pada daerah tonsil yang akan dilakukan biopsi | ||||
5. Tekan lidah dengan spatula lidah | ||||
6. Ambil jaringan tumor dengan menggunakan forsep biopsy di beberapa tempat (2-3 titik) | ||||
7. Daerah biopsi yang berdarah ditekan dengan menggunakan kassa epinefrin/adrenalin | ||||
8. Jaringan tumor dimasukkan ke dalam botol berisi formalin 10% | ||||
III. PASCA TINDAKAN | ||||
9. Diobservasi ada tidaknya komplikasi | ||||
10. Pasien diberikan terapi analgetik dan antibiotika lini pertama | ||||
11. Pasien diperbolehkan pulang dan diedukasi untuk segera kontrol bila ada keluhan seperti perdarahan, nyeri hebat, disfagia dan gejala sumbatan jalan napas atas | ||||
12. Pasien kontrol setelah ada hasil biopsi | ||||
DAFTAR TILIK
BIOPSI NEOPLASMA TONSIL
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini: X Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar T/T Tidak Ditampilkan: Langkah kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih |
Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
NAMA PESERTA: ........................... TANGGAL: .................................
KEGIATAN | NILAI | |||
1 | 2 | 3 | T/D | |
II. PERSIAPAN TINDAKAN | ||||
1. Informed consent | ||||
- Menjelaskan tujuan tindakan dan hasil yang diharapkan | ||||
- Menjelaskan prosedur dan standar tindakan pada pasien dan keluarganya | ||||
- Menjelaskan dampak dan komplikasi tindakan | ||||
2.Melakukan evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi tindakan | ||||
II. PROSEDUR TINDAKAN | ||||
3. Pasien diminta duduk tegak dan membuka mulut, tumor diidentifikasi | ||||
4. Dilakukan anestesi lokal pada daerah tonsil yang akan dilakukan biopsi | ||||
5. Tekan lidah dengan spatula lidah | ||||
6. Ambil jaringan tumor dengan menggunakan forsep biopsi di beberapa tempat (2-3 titik) | ||||
7. Daerah biopsi yang berdarah ditekan dengan menggunakan kassa epinefrin/adrenalin | ||||
8. Jaringan tumor dimasukkan ke dalam botol berisi formalin 10% | ||||
III. PASCA TINDAKAN | ||||
9. Diobservasi ada tidaknya komplikasi | ||||
10. Pasien diberikan terapi analgetik dan antibiotika lini pertama | ||||
11. Pasien diperbolehkan pulang dan diedukasi untuk segera kontrol bila ada keluhan seperti perdarahan, nyeri hebat, disfagia dan gejala sumbatan jalan napas atas | ||||
12. Pasien kontrol setelah ada hasil biopsi | ||||
MATERI PRESENTASI
Slide 1: Anatomi, histologi dan fisiologi orofaring
Slide 2 : Epidemiologi Neoplasma orofaring
Slide 3 : Etiopatogenesis
Etiologi pasti: belum diketahui
Bersifat multi faktor
Hubungan kuat dengan rokok dan konsumsi alkohol
Perokok meningkat 5-25 kali
Efek dari Rokok dan alkohol berhubungan dengan jumlah
Virus HPV
Slide 4 : Gejala Klinik
Pada kanker orofaring stadium awal, gejala klinis biasanya tidak terlihat/asimtomatik.
Gejala biasanya terlihat jelas jika kanker sudah dalam stadium lanjut.
Gejala klinis
nyeri tenggorok yang tidak sembuh-sembuh Nyeri ini biasanya bertambah pada saat menelan.
Nyeri dapat menyebar ke telinga (otalgia) akibat referred pain
Disfagia & disatria.
Limfadenopati
Penurunan berat badan
Trismus. dll
Slide 5 : Staging Neoplasma orofaring HPV positif/p16 +
HPV negatif/P16 negatif
Slide 6 : Penatalaksanaan Neoplasma orofaring
MATERI BAKU
Anatomi
Termasuk dalam orofaring adalah palatum mole, tonsil dan fossa tonsilaris, pangkal lidah serta dinding faring mulai dari setinggi palatum mole sampai setinggi valekula. Daerah orofaring sangat kaya dengan aliran limfe, 15 sampai 75% pasien keganasan orofaring datang dengan metastasis ke kelenjar getah bening leher.
Etiologi
Etiologi penyakit masih belum diketahui secara pasti, diduga berhubungan dengan faktor resiko yaitu:
Merokok/mengunyah tembakau. Hal ini merupakan faktor resiko yang paling kuat dalam terjadinya kanker tonsil. Semakin lama menggunakan tembakau, semakin lama kemungkinan terkena kanker tersebut. Hal ini bisa menyebabkan iritasi akibat mulut terlalu lama terpapar dengan tembakau dan membuat sel berubah menjadi sel karsinogen.
Alkohol. Merupakan faktor resiko yang selanjutnya setelah merokok/mengunyah tembakau. Hal ini disebabkan oleh adanya proses eliminasi asetaldehide, karsinogen terbentuk dari metabolisme alkohol sehingga terjadi penurunan proses eliminasi dari asetaldehide.
Virus. Berbagai penelitian mendapatkan peningkatan insiden keganasan ini yang berhubungan dendan virus human papiloma, terutama HPV 16. 60-70% tumor ganas orofaring yang baru terdiagnosis di amerika dan eropa berhubungan dengan HPV. Virus dapat langsung masuk ke sel di daerah mulut dan merubah gen menjadi sel kanker. Human Papiloma Virus (HPV) merupakan virus yang diduga dapat merubah sel normal menjadi sel kanker. Ebstein Barr Virus (EBV) juga merupakan virus yang diduga berperan dalam patogenesis terjadinya kanker. Walaupun menurut Jian dkk EBV tidak terdeteksi dalam sel kanker sehingga belum jelas hubungan antara EBV dengan penyebab sel kanker.
Oral higine yang buruk. Makin kotornya mulut dan tenggorok, makin membuat zat tersebut membuat iritasi yang menetap. Setiap saliva mengandung beribu bakteria, dan menghasilkan suatu zat yang dapat membersihkan gigi dan tonsil (plak). Walaupun plak sendiri bukan merupakan penyebab terjadinya kanker, tapi membuat zat kimia lain tetap berada di mulut, mengiritasi dan menstimulasi sel agar berubah. Makin sel berubah, makin banyak kemungkinan dari mereka berubah menjadi sel kanker.
Defisiensi nutrisi dan vitamin. Merupakan faktor resiko yang lain, yang dapat menyebabkan sel normal berubah menjadi sel kanker.
Imunodefisiensi. Merupakan faktor resiko yang berperan dalam timbulnya kanker melalui pengerusakan mekanisme respon imun.
Genetik. Faktor ini berperan dalam timbulnya kanker misalnya pada orang asia timur yang membawa sel mutan alel inaktif dalam gennya sehingga jika ada faktor lain dapat memperberat kemungkinan terjadinya perubahan sel kanker.
Gejala Klinis
Pada kanker orofaring stadium awal, gejala klinis biasanya tidak terlihat/asimtomatik. Gejala biasanya terlihat jelas jika kanker sudah dalam stadium lanjut. Adapun gejala klinis yang biasanya terdapat pada penyakit ini antara lain : nyeri tenggorok yang tidak sembuh-sembuh yang merupakan salah satu gejala pada penyakit ini. Nyeri ini biasanya bertambah pada saat menelan. Nyeri dapat menyebar ke telinga (otalgia) akibat referred pain yang biasanya terjadi akibat
pembesaran kanker apalagi jika kanker menekan saraf. Selain itu, akibat dari pembesaran kanker dapat juga menyebabkan disfagia & disatria. Gejala lain yang dapat ditemui adalah limfadenopati, biasanya pembesaran KGB ini keras dan terfiksir. Penurunan berat badan juga dapat ditemui pada pasien ini, hal ini dapat terjadi karena pasien mengalami kesulitan sewaktu makan. Jika infiltrasi sudah mengenai m. pterygoidei maka dapat menimbulkan gejala trismus. Batuk juga dapat terjadi akibat kenaikan produksi lendir di tenggorok. Menurut literatur lain kelainan/ sindrom di saraf dapat terjadi karena kanker menekan saraf, sindrom yang biasanya terjadi adalah sindrom Jacob's (berhubungan dengan ekspresi muka, mata dan gerakan rahang) dan Villaret's (kesulitan menelan dan kesulitan gerakan lidah dan leher).
Diagnosis
Anamnesis
Untuk menentukan diagnosis dari penyakit ini, didasarkan pada keluhan utama
,riwayat perjalanan penyakit, riwayat kebiasaan pasien (lifestyle), riwayat penyakit keluarga dan status sosial. Informasi tersebut dapat digunakan untuk mengetahui kemungkinan faktor resiko kanker pada pasien.
Pemeriksaan fisik
Setelah melakukan anamnesis, kita melakukan pemeriksaan fisik yang merupakan suatu hal yang rutin dalam menegakkan suatu penyakit. Adapun pemeriksaan fisik pada penyakit ini adalah inspeksi sebaiknya menggunakan lampu kepala (sinar cahaya yang terang). Tampak tumor di daerah orofaring dengan permukaan yang tidak rata, kemerahan yang kadang disertai perdarahan. Selanjutnya kita melakukan palpasi bimanual (menggunakan sarung tangan, spatula lidah dan kasa). Pada palpasi teraba tumor dengan konsistensi lunak sampai padat. Palpasi dilakukan untuk menentukan besarnya tumor, perlekatan dengan struktur sekitarnya (otot-otot lidah, dasar mulut, palatum, maksila dll).
Palpasi juga dilakukan di daerah leher untuk memeriksa kelenjar getah bening (menentukan ukuran, konsistensi dan perlekatan dengan jaringan sekitarnya). Pemeriksaan dilakukan dari belakang pasien secara lege artis. Selain itu, dilakukan juga pemeriksaan dengan menggunakan endsokopi.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang penting untuk mengetahui histopatologi tumor melalui prosedur biopsi tumor. Jika memang diperlukan kita melakukan tindakan fine needle aspiration biopsy (FNAB) pada pembesaran KGB leher.
Pemeriksaan Radiologi diperlukan untuk melihat ukuran, lokasi dan perluasan tumor serta keterlibatan KGB leher. Selain itu pemeriksaan radiologi juga diperlukan untuk evaluasi adanya metastasis jauh. Pemeriksaan penunjang yang disarankan adalah: CT scan/MRI dengan kontras (MRI dengan kontras lebih dianjurkan), Foto thorax AP/PA(untuk mengevaluasi adakah metastasis paru), USG abdomen (untuk mengevaluasi adakah kelainan/metastasis di hepar dan pembesaran KGB intra-abdomen).
Pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk melihat status fisik pasien misalnya : hitung darah, kimia darah, fungsi liver, dll yang mendukung.
Stadium
Penentuan stadium karsinoma orofaring yang digunakan berdasarkan UICC/ AJCC edisi ke-8 tahun 2018 yaitu :
karsinoma orofaring P16 -
Tumor primer (T) :
Tx : adanya tumor primer belum dapat ditentukan. Tis : karsinoma in situ.
T1 : :S 2 cm
T2 : > 2 cm tetapi :S 4 cm
T3 : tumor �4 cm atau ekstensi ke bagian lingual dari epiglotis.
T4a : Moderately advanced local disease. Terdapat invasi tumor ke laring, m. ekstrinsik dari lidah, medial pterigoid, palatum durum atau mandibula.
T4b : very advanced local disease, Terdapat invasi ke m. pterigoid lateral, pterigoid plate, lateral nasofaring, dasar tengkorak atau membungkus arteri karotis.
Kelenjar limfe regional (N) :
Nx : kelenjar limfe tidak dapat ditentukan
No : tidak ada metastasis kelenjar limfe regional.
N1 : metastasis pada satu kelenjar limfe ipsilateral, :S 3 cm ENE (-)
N2a : metastasis pada kelenjar limfe ipsilateral single, >3cm :S 6 cm ENE (-) N2b : metastasis pada multiple kelenjar limfe ipsilateral, :S 6 cm ENE (-)
N2c : metastasis pada kelenjar limfe bilateral/kontralateral, :S 6 cm ENE (-)
N3 : metastasis pada kelenjar limfe > 6 cm, ENE (-) atau salah satu kelenjar secara klinis menunjukkan ENE +.
N3a : metastasis pada kelenjar limfe > 6 cm ENE (-)
N3a : metastasis pada kelenjar limfe yang secara klinis menunjukkan ENE +
Metastasis jauh (M) :
Mo : tidak ada metastasis jauh. M1 : terdapat metastasis jauh.
Stadium Anatomi/ Kelompok Prognosis :
Stadium 0 Tis N0 M0 Stadium I T1 N0 M0 Stadium II T2 N0 M0 Stadium III T3 N0 M0 Stadium III T1,2,3 N1 M0 Stadium IVa T4a N0,N1, M0
Stadium IVa T1,T2,T3,T4a N2 Mo Stadium IVb T4b any N Mo Stadium IVb any T N3 M0 Stadium IVc any T any N M1 Karsinoma orofaring P16 + Tumor primer (T) :
T0 : adanya tumor primer belum dapat ditentukan. T1 : :S 2 cm
T2 : > 2 cm tetapi :S 4 cm
T3 : tumor � 4 cm atau ekstensi ke bagian permukaan lingual dari epiglotis.
T4 : Moderately advanced local disease. Terdapat invasi tumor ke laring, m. ekstrinsik dari lidah, medial pterigoid, palatum durum atau mandibula atau sekitar mandibula.
Kelenjar limfe regional (N) :
Nx : kelenjar limfe tidak dapat ditentukan
No : tidak ada metastasis kelenjar limfe regional.
N1 : metastasis pada satu atau lebih kelenjar limfe ipsilateral, :S6 cm
N2 : metastasis pada kelenjar limfe kontra lateral atau bilateral , :S 6 cm N3 : metastasis pada kelenjar limfe � 6 cm,
Metastasis jauh (M) :
Mo : tidak ada metastasis jauh. M1 : terdapat metastasis jauh.
Stadium Anatomi/ Kelompok Prognosis :
Stadium I T0 ,T1, N0 atau N1 M0 Stadium II T0, T1 ,T2, N2, M0
Stadium II T3, N0, N1 atau N2, M0 Stadium III T0,T1,T2,T3,T4 N3 M0
Stadium III T4, N0,N1,N2 atau N3 M0 Stadium IV any T any N M1
Histopatologi
Kanker orofaring biasanya termasuk dalam tipe sel squamosa berdiferensiasi baik sampai sedang (terdapat kira-kira pada 50% pasien). Untuk karsinoma sel squamosa diberikan pengobatan operasi, radiasi baik tunggal atau kombinasi. Limfoepitelioma lebih jarang ditemukan pada tonsil (kurang dari 1,5%). Limfoepitelioma menunjukkan diferensiasi yang buruk, karsinoma sel squamosa tidak berkeratinisasi dengan infiltrasi jaringan limfe. Gambaran klasik tumor ini biasanya terdapat sel epitel yang jernih, nukleus yang berisi satu atau lebih nukleus yang besar. Limfoepitelioma dapat diberikan pengobatan radiasi karena termasuk jenis yang sensitif dengan pengobatan tersebut. Tindakan operasi bertujuan untuk penyelamatan atau penyakit leher yang persisten.
Limfoma maligna, biasanya tipe non-Hodgkin's yang merupakan 10-15% kanker pada tonsil. Menurut klasifikasi Rappaport, mereka dibagi menjadi tipe sel yang kecil dan besar. Mereka cenderung tumbuh secara submukosa dan dapat mencapai ukuran yang besar tanpa menimbulkan ulserasi mukosa. Untuk Limfoma diberikan kemo dan radioterapi. Penyakit Hodgkin's yang primer pada tonsil sangat jarang terjadi. Menurut Conley dan Pack, Melanoma maligna pd fossa tonsilaris hanya terdapat 6% dari seluruh melanoma. Untuk Melanoma dan Sarkoma diberikan pengobatan dengan eksisi lokal dan diseksi leher digunakan bila terdapat keterlibatan kelenjar atau untuk akses tindakan operasi.
Penatalaksanaan
Pengobatan untuk kanker orofaring sangat kompleks. Berbagai modalitas pengobatan yang dapat diberikan berupa operasi, radioterapi dan kemoterapi. Masing-masing modalitas terapi dapat diberikan secara tunggal atau kombinasi. Kanker orofaring dengan T1 atau T2 dapat diberikan radiasi atau operasi. Untuk kanker orofaring dengan T3 atau T4 dilakukan pengobatan kombinasi antara kemoradiasi dan operasi.
Operasi
Tindakan operasi menjadi pilihan pengobatan pada tumor stadium dini dan stadium lanjut yang resectable. Keuntungan tindakan ini adalah operasi memberikan reseksi yang luas dan akses untuk histopatologis tumor primer. Tetapi memberikan kerugian seperti kecacatan fungsi akibat tindakan reseksi tersebut.
Radioterapi
Tindakan radioterapi diberikan sebagai terapi kuratif atau paliatif. Kombinasi pembedahan dan radioterapi dapat memberikan kontrol lokal yang baik. Radiasi dapat menjadi pilihan ketika pasien menolak untuk dilakukan tindakan pembedahan
atau pada pasien yang memiliki resiko tinggi untuk dilakukan tindakan pembedahan.
Radiasi dapat dikombinasi dengan kemoterapi, yang bertujuan untuk mengeradikasi sisa tumor dan meningkatkan efektifitas radioterapi.
Pedoman Pengobatan Radioterapi Pada Kanker Orofaring :
Stadium | Dosis (Gy) |
Radiasi Tunggal | |
T1 T2 T3-4 | 60-65 65-70 70-75 |
N0 N1 N2 a,b N3 | 50 |
65 (mengurangi daerah setelah 50 Gy) | |
65-70 (mengurangi daerah setelah 50 Gy) | |
70-75 (mengurangi daerah setelah 50 & 60) | |
Radiasi Preoperasi | 40-45 pada kanker primer & leher ipsi/ bilateral |
Radiasi Postoperasi | |
50 | |
T3-4,/ N2b, N3/ tepi positif | 50 pada kanker primer & leher bilateral, ditambah booster dosis total 60-65 Gy |
Dosis fraksinasi perhari | 1,8-2 |
Tumor Primer
Kel. limfe servikal
Tepi (-)
Kemoterapi
Kemoterapi merupakan terapi sistemik yang dapat menjadi terapi utama atau pendukung untuk tumor yang tidak operable/tidak dapat direseksi, sudah metastasis jauh, untuk jenis tumor yang agresif secara histopatologi, untuk mengeliminasi mikrometastasis jauh dan memperkuat (sensitizer) radioterapi. Kemoterapi dapat diberikan secara neoadjuvant (induksi), konkuren/konkomitan, maupun adjuvant. Cara terbaru menggunakan konkuren kemoterapi dengan radioterapi untuk kanker orofaring yang lanjut mulai popular. Beberapa penelitian menyatakan konkuren kemoradiasi mempunyai kontrol lokal dan regional yang baik, dengan angka kelangsungan hidup yang mirip jika dibandingkan operasi dan radiasi postoperasi untuk kanker orofaring yang lanjut.
Menurut literatur lain penggunaan adjuvan kemoterapi masih diteliti, walaupun sebagian onkologis tetap menggunakan adjuvan kemoterapi dalam pengobatan kanker orofaring stadium lanjut. Pernyataan ini didukung juga oleh beberapa penelitian yang menyatakan jika ukuran kanker > 6 cm, terdapat nekrosis koagulasi dan metastasis di rongga abdomen maka adjuvan kemoterapi dianjurkan.
Pengobatan Kanker Orofaring Menurut National Comprehensive Cancer Network 2021:
Prognosis
Peningkatan kasus kanker orofaring dikaitkan dengan kasus infeksi HPV dalam 2 dekade terakhir dan telah mempengaruhi strategi laksana. Prognosis yang lebih baik dilaporkan pada pasien kanker orofaring dengan p16 positif dibandingkan dnegan kanker orofaring dengan p16 negatif. Faktor resiko merokok juga dilaporkan memiliki efek negatif terhadap prognosis pasien. Hasil dari progression-free survival (PFS) pada kanker orofaring dengan p16-positif dan p16-negatif ditunjukkan pada gambar berikut.
Kurva ketahanan hidup/survival pasien dengan stadium I hingga III dapat dilihat pada gambar berikut.
Penurunan resiko kematian sebanyak 61% dan penurunan progresifitas penyakit sebanyak 62% ditemukan pada pasien dengan HPV positif yang mendapatkan terapi definitive. Kelompok pasien ini juga memiliki respons kemoterapi yang lebih baik dibandingkan pasien dengan HPV negative (84% banding 57%). Pasien HPV positif dengan stadium III dan IV memiliki overall survival yang lebih baik secara signifikan. Kebiasaan merokok merupakan prediktor independent terhadap prognosis kanker
orofaring yang buruk. Prognosis pasien didasarkan kepada beberapa faktor seperti: HPV status, riwayat merokok, keterlibatang kelenjar getah bening dan status T.
DAFTAR ISI
MODUL VII.8
ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER: NEOPLASMA HIDUNG DAN SINUS PARANASAL
WAKTU
Mengembangkan Kompetensi | Alokasi Waktu |
Sesi di dalam kelas Sesi dengan fasilitas pembimbing Sesi praktek dan pencapaian kompetensi | 1 x 90 menit (classroom session) 1 x 60 menit (coaching session) 28 Jam (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi presentasi:
Power point
Video
Kasus: Neoplasma Hidung dan Sinus Paranasal
Sarana dan Alat Bantu Latih:
(disesuaikan dengan pencapaian kompetensi):
Penuntun belajar (learning guide): terlampir
Tempat belajar (training setting): instalasi rawat inap, instalasi rawat jalan, kamar operasi, ruang praktikum, ruang kuliah
Model/manekin atau kadaver
Komputer/laptop
Infocus
REFERENSI
Jonas T Johnson, Clark A. Rrosen, et.al. Neoplasm of the Nose and Paranasal Sinuses in Otolaryngology Bailey's Head & Neck Surgery volume 2. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. 2014. Pp: 2044-63
Zanation A. Tumors of the Paranasal Sinus: Head and Neck Surgery. In: Chan Y, Goddaed JC. Editors. K.J.Lee's Essential Otolaryngology Head and Neck Surgery. 11th (ed). United States: McGraw-Hill education. 2016.510-21
Hanna N, Su S, Kupferman EM, Raza MS, DeMonte F. Cancer of the Nasal Cavity and the Paranasal Sinuses in: Myers NJ, Hanna NY, Myers NE. Rditors. Cancer of the Head and Neck. 5th (ed). Wolters Kluwer.2017 Philadelphia: 442- 559
Shah JP, Patel SG, Singh B, Wong R. Jatin Shah's Head and Neck Surgery and Oncology 5th (ed). Edinburgh: Elsevier. 2020. p. 647-699
Cancer AJCC. AJCC cancer staging manual, 8th ed. Chicago: Springer; 2017.
Pfister DG, Spenser S, Adelstein D, Adkins D, Brizel DM, Burtness BA. NCCN Clinical Practise Guidelines in Oncology. Head and Neck Cancer: National Comprehensive Cancer Network; 2020. 225 p.
KOMPETENSI
Pengetahuan
Mampu membuat diagnosis neoplasma hidung dan sinus paranasal berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan histopatologi dan beberapa pemeriksaan penunjang (foto polos kepala posisi Water's dan AP-
lateral, endoskopi hidung (nasoendoskopi), CT scan hidung dan sinus paranasal).Dokter dapat memutuskan dan melakukan terapi hingga tuntas apabila tindakan yang dibutuhkan berupa maksilektomi medial/rinotomi lateral, serta pengetahuan tentang reseksi neoplasma hidung dan sinus paranasal dan merujuk apabila dibutuhkan tindakan yang lebih ekstensif (bukan kasus gawat darurat).
Keterampilan
Setelah Mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam:
Menjelaskan anatomi, histologi dan fisiologi hidung dan sinus paranasal
Menjelaskan etiologi dan jenis kelainan yang berhubungan dengan neoplasma hidung dan sinus paranasal
Menjelaskan patofisiologi dan gambaran klinis neoplasma hidung dan sinus paranasal
Menjelaskan dan melakukan diagnosis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan histopatologi pada neoplasma hidung dan sinus paranasal
Menjelaskan tentang tatalaksana operasi reseksi neoplasma hidung dan sinus paranasal, pemberian kemoterapi dan radiasi serta rekonstruksi paska operasi reseksi neoplasma hidung dan sinus paranasal
Mampu mengambil keputusan untuk perlu tidaknya pemeriksaan penunjang seperti nasal endoskopi dan CT Scan hidung dan sinus paranasal.
Mampu melakukan tindakan biopsi tumor sinonasal,dan mampu melakukan tindakan operasi maksilektomi medial dengan pendekatan rinotomi lateral dan mid facial degloving.
Mampu untuk merujuk penderita yang membutuhkan tindakan yang lebih ekstensif.
E.GAMBARAN UMUM
Neoplasma hidung dan sinus paranasal merupakan 3% dari kasus neoplasma saluran nafas atas. Insidensi lebih sering terjadi pada ras kulit putih dan pria dua kali lebih sering dibandingkan wanita. Gejala neoplasma hidung dan sinus paranasal pada umumnya hampir sama dengan gejala infeksi sinus paranasal, seperti hidung tersumbat, epistaksis, sakit kepala, nyeri wajah dan hidung berair serta sering tanpa gejala pada 9 - 12% pasien, sehingga mengakibatkan keterlambatan dalam menegakkan diagnosis dan penyakit telah berada pada stadium lanjut.
CONTOH KASUS
Seorang laki-laki, 49 tahun datang ke poliklinik THT-KL dengan keluhan benjolan di pipi kanan disertai hidung kanan tersumbat terus menerus sejak 6 bulan yang lalu,disertai keluar cairan bercampur darah dari hidung kanan. Pada pemeriksaan fisik,kavum nasi kanan dijumpai massa, septum nasi terdorong ke kiri. Diskusi:
Anamnesis apalagi yang perlu ditambahkan?
Pemeriksaan fisik apa saja yang harus dilakukan?
Pemeriksaan penunjang apa saja yang diperlukan untuk menegakan diagnosis?
Jawaban:
Anamnesis yang perlu ditambahkan
Faktor resiko
Riwayat keluarga
Dll
Pemeriksaan fisik
Rinoskopi anterior dan posterior
Palpasi kgb leher
Nasoendoskopi Biopsi tumor
Histopatologi
Ct-Scan sinus paranasal+Kontras
Ro.Thorax
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan Pembelajaran Umum
Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan melakukan tindakan yang tepat terhadap penderita neoplasma hidung dan sinus paranasal.
Tujuan pembelajaran khusus
Mampu menguasai anatomi, histologi dan fisiologi hidung dan sinus paranasal (K4, A4)
Mampu menguasai etiologi dan faktor resiko yang berhubungan dengan neoplasma hidung dan sinus paranasal (K4, A4)
Mampu menguasai patofisiologi dan gambaran klinis neoplasma hidung dan sinus paranasal (K4, A4)
Mampu mengambil keputusan untuk perlu tidaknya pemeriksaan penunjang seperti nasal endoskopi dan CT scan hidung dan sinus paranasal (K4, A4)
Mampu melakukan diagnosis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik , pemeriksaan penunjang dan histopatologi pada neoplasma hidung dan sinus paranasal (K4, A4)
Mampu melakukan tindakan biopsi tumor sinonasal,mampu melakukan operasi maksilektomi medial / dengan pendekatan rinotomi lateral dan midfacial degloving.(K4, A4, P5)
Mampu menguasai pengetahuan pemberian kemoterapi dan radiasi serta rekonstruksi paska operasi reseksi neoplasma hidung dan sinus paranasal (K4, A4, P5)
Mampu memutuskan untuk merujuk penderita yang membutuhkan tindakan yang lebih ekstensif (tingkat kompetensi K4, A4)
METODE PEMBELAJARAN
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan mempunyai kemampuan dasar untuk menegakkan diagnosis neoplasma hidung dan sinus paranasal dan mampu untuk menentukan dan melakukan tatalaksana yang sesuai.
Tujuan 1. Anatomi, topografi, histologi, embriologi, fisiologi hidung dan sinus paranasal
Harus diketahui:
Anatomi hidung dan sinus paranasal
Gambaran dan karakteristik histologis hidung dan sinus paranasal
Fisiologi hidung dan sinus paranasal
Patofisiologi neoplasma hidung dan sinus paranasal
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Small group discussion
Peer assisted learning (PAL)
Bedside teaching
Task based medical education.
Tujuan 2. Menjelaskan etio - patofisiologi dan jenis neoplasma hidung dan sinus paranasal
Harus diketahui:
Etiologi dan faktor predisposisi
Patofisiologi klinik.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review
Peer Assisted Learning (PAL)
Bedside teaching
Task based medical education.
Tujuan 3. Menjelaskan gambaran klinik neoplasma hidung dan sinus paranasal (anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan histopatologi dan penunjang)
Harus diketahui:
Gambaran klinis penderita
Pemeriksaan penunjang
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review
Case simulation and investigation exercise
Equipment characteristics and operating instructions
Bedside teaching
Tujuan 4. Menegakkan diagnosis neoplasma hidung dan sinus paranasal dari pemeriksaan fisik dan penunjang
Harus diketahui:
Metode standar anamnesis
Gejala dan tanda neoplasma hidung dan sinus paranasal
Pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan
Cara melakukan biopsi massa hidung / sinus paranasal
Membuat diagnosis banding dan menentukan diagnosis kerja
Rencana pengobatan atau tatalaksana pasien.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review
Case study
Simulation and real examination exercises (Physical and device)
Demonstration and coaching
Practice with real clients.
Tujuan 5. Melakukan tatalaksana neoplasma hidung dan sinus paranasal
Harus diketahui:
Prosedur Maksilektomi Medial - Rinotomi Lateral
Reseksi Radikal Maksila dengan Eksenterasi Orbita dan Sebagian Etmoid
Reseksi Maksila Termasuk Dasar Orbita dengan mempertahankan Bola Mata
Maksilektomi Parsial
Maksilektomi Suprastruktur
Maksilektomi Infrastruktur
Maksilektomi Total
Prosedur lain (radioterapi, kemoterapi, paliatif)
Prosedur rekonstruksi pasca bedah
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Morbidity and mortality case study
Simulation and real examination exercises (Physical and Device)
Operative procedure demonstration and coaching
Operasi mandiri
Practice with real clients
Tujuan 6. Melakukan evaluasi, dan mampu memutuskan untuk melakukan rujukan neoplasma hidung dan sinus paranasal
Harus diketahui:
Work - up key points
Jenis-jenis terapi yang direkomendasikan
Kondisi atau situasi penting untuk membuat keputusan untuk merujuk. Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Case study
Simulation and real examination exercises (Physical and Device)
Demonstration and coaching
Practice with real clients.
Tujuan 7. Melakukan perawatan penderita pra dan pasca pembedahan
Harus diketahui:
Sermon of relaxation
Informed consent
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device)
Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pre test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri atas:
Anatomi dan fisiologi hidung dan sinus paranasal
Penegakan diagnosis
Tatalaksana
Follow up.
Selanjutnya dilakukan "small group discussion" bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian.
Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk "role play" dan teman-temannya (peer assisted evaluation) atau kepada SP (Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer assisted evaluation) setelah dianggap memadai, melalui metode bedside teaching di bawah pengawasan fasilitator, peserta dididik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation) dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut:
Perlu perbaikan: Pelaksanaan belum benar/sebagian langkah tidak dilaksanakan.
Cukup : Pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien.
Baik : Pelaksanaan benar dan baik (efisien).
Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
Self assesment dan peer assisted evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar.
Pendidik/fasilitas :
Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form (terlampir)
Penjelasan lisan dari peserta didik/diskusi
Kriteria penilaian keseluruhan: cakap/tidak cakap/lalai.
Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task based medical education)
Pencapaian pembelajaran:
Ujian OSCE (K,P,A), dilakukan pada tahapan T.H.T.K.L dasar oleh Kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L
Ujian akhir stase, setiap divisi/unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan T.H.T.K.L lanjut oleh Kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L
Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan T.H.T.K.L lanjut oleh Kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L.
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Kuesioner Sebelum Pembelajaran (Pre Test)
Gejala Tumor ganas pada hidung dan sinus paranasal yang paling jarang ditemukan adalah
Sering ditemukan metastase regional
Gejala oklusi tuba tidak mudah terjadi
Gejala pada mata terjadi karena invasi tumor
Gejala hipoestesia pada wajah
Sumbatan jalan napas Jawaban : A
Komplikasi operasi tumor ganas pada hidung dan sinus paranasal yang jarang dijumpai pada orbita adalah
Terrpotongnya duktus nasolakrimalis
Enoptalmos dan hipotalmos
Stenosis muara sakus lakrimalis, dapat mengakibatkan epifora
Strabismus
Diplopia Jawaban: D
Pemeriksaan penunjang yang menjadi baku standar untuk menegakkan diagnosis tumor hidung dan sinus paranasal adalah:
CT scan
Biopsi
Foto polos sinus paranasal
PET scan
MRI
Jawaban: B
Kegawatdaruratan yang mungkin pada penyakit ini.
Kebocoran cairan serebrospinal
Trauma pada duktus nasolakrimalis
Osteoradionekrosis
Abses intrakranial
Perdarahan orbita Jawaban: A
Kuesioner Tengah Pembelajaran
Seorang wanita usia 34 tahun datang ke unit rawat jalan T.H.T.K.L dengan keluhan pipi kanan membengkak, disertai dengan hidung tersumbat. Hal ini dialami sejak 9 bulan yang lalu, hidung tersumbat terjadi terus menerus dan dirasakan semakin
memberat. Sering mengeluarkan ingus kental dan terkadang bercampur darah dari hidung kanan. Nyeri kepala dan pipi kanan dijumpai. Pada pemeriksaan tampak dorsum nasi melebar ke kanan. Pada kavum nasi kanan dijumpai massa berwarna kemerahan, permukaan berbenjol, kesan rapuh dan mudah berdarah. Septum nasi terdorong ke kiri. Tampak sekret mukopurulen bercampur darah. Pada pasien ini direncanakan untuk nasoendoskopi biopsi massa pada kavum nasi kanan. Jelaskan langkah-langkah prosedur nasoendoskopi biopsi
Jawaban:
Pasien didudukkan di kursi tindakan, lalu tampon yang telah diberikan anestesi topikal bersama dengan vasokonstriktor dimasukkan ke dalam kavum nasi. Tampon dibiarkan selama 10 menit, kemudian tampon dikeluarkan dari kavum nasi.
Dengan menggunakan teleskop 0o, kavum nasi kanan dievaluasi. Tampak massa memenuhi kavum nasi kanan, berwarna kemerahan, permukaan berbenjol, kesan rapuh dan mudah berdarah.
Forsep biopsi dimasukkan kedalam kavum nasi bersamaan dengan teleskop 0o sebagai panduan. Forsep dengan ujung yang masih tertutup diarahkan pada massa, kemudian ditekan menembus massa tersebut, lalu forsep dibuka dan massa dijepit dengan forsep biopsi, kemudian forsep diputar lalu ditarik keluar dari kavum nasi.
Kontrol perdarahan dengan pemasangan tampon kasa.
Jaringan hasil biopsi dimasukkan ke dalam wadah berisi larutan formalin 10%, untuk kemudian dilakukan pemeriksaan histopatologi.
Kuesioner Akhir Pembelajaran
Seorang wanita usia 50 tahun, datang ke unit rawat jalan T.H.T.K.L dengan keluhan pipi kiri membengkak disertai hidung tersumbat. Hal ini dialami os sejak 1 tahun yang lalu. Pasien sering mengeluarkan ingus kental dan kadang bercampur darah. Nyeri kepala dan pipi kiri dijumpai. Rasa sakit telah dirasakan os sejak setahun yang lalu, mula-mula ringan dan makin lama makin memberat. Tidak ada gangguan mata. Berat badan tidak menurun.
Pemeriksaan fisik:
Kompos mentis, keadaan umum baik, berat badan 45 kg, tinggi 166 cm, tensi 120/80 mmHg, nadi 76 kali/menit, suhu 36,50 oC. Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening leher. Pada pemeriksaan tampak dorsum nasi melebar ke kiri. Pada kavum nasi kiri dijumpai massa berwarna kemerahan, kesan rapuh dan mudah berdarah. Septum nasi terdorong ke kanan. Tampak sekret mukopurulen bercampur darah. Palatum durum utuh.
Pertanyaan:
Apa Diagnosis dan diagnosis banding? Jelaskan secara singkat!
Bagaimana penanganan selanjutnya? Jawaban :
Tumor sinonasal kiri
Dd/ Rinosinusitis kronis dengan Polip
Papiloma inverted
Lakukan pemeriksaan fisik lengkap
Lakukan pemeriksaan penunjang; nasoendoskopi, Ct scan, Biopsi
Rencanakan tindakan operatif sesuai dengan hasil pemeriksaan yang telah dilakukan -> Maksilektomi medial - rinotomi lateral
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR
PENUNTUN BELAJAR
PROSEDUR MAKSILEKTOMI MEDIAL DENGAN PENDEKATAN RINOTOMI LATERAL
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.:
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
Nama peserta didik: | Tanggal: |
Nama pasien: | No Rekam Medis: |
No | KEGIATAN / LANGKAH KLINIK | KASUS | |||
1 | 2 | 3 | T/D | ||
PERSIAPAN PRE OPERASI | |||||
1 | Informed Consent | ||||
2 | Memeriksa dan melengkapi persiapan alat dan kelengkapan operasi | ||||
TINDAKAN OPERASI | |||||
1 | Insisi kulit dimulai dibawah sisi medial alis, sepanjang 4 - 5 mm kantus medial anterior melalui tulang hidung sepanjang bagian terdalam celah nasomaksila dan menelusuri lipatan ala nasi. Perluasan insisi dengan membelah bibir tidak diperlukan. Untuk memperjelas area operasi, flap pipi dielevasi dari maksila secara subperiosteal dan mengelilingi saraf infra orbita. Periorbita dielevasi dari lamina papirasea, kemudian sutura frontoetmoid diidentifikasi dan diteruskan ke arah belakang sampai arteri etmoid posterior teridentifikasi. Dinding anterior antrum tepatnya pada fosa kanina ditembus dengan pahat ukuran 4 mm. Antrostomi diperluas dengan rongeur Kerrison mengelilingi saraf infraorbita dan ke arah atas menuju tepi orbita. | ||||
2 | Tulang diangkat melalui tepi orbita termasuk fosa lakrimalis. | ||||
3 | Duktus nasolakrimalis dipisahkan dan sakus | ||||
No | KEGIATAN / LANGKAH KLINIK | KASUS | |||
1 | 2 | 3 | T/D | ||
lakrimalis dibuka dan dimarsupialisasi. | |||||
4 | Selanjutnya dilakukan osteotomi dan pengangkatan jaringan. Osteotomi diperluas melalui apertura piriformis pada level dasar rongga hidung, diarahkan ke belakang sampai dinding belakang antrum. Orbita diretraksi ke arah lateral, kemudian dilakukan osteotomi pada sutura frontoetmoid, meluas ke belakang sampai pada jarak 2 - 3 mm di belakang arteri etmoid posterior (yaitu di depan foramen optikum). | ||||
5 | Tulang tipis lantai orbita bagian medial dipotong mengikuti garis yang menghubungkan fosa lakrimalis dan osteotomi superior. Pemotongan tulang terdiri dari 3 langkah. Pertama, osteotom dimasukkan melalui antrostomi anterior dan diarahkan melalui dinding antrum medioposterior. Osteotomi diperluas ke atas untuk mencapai level osteotomi superior dan didorong ke arah medial. Kedua, osteotom yang lebih lebar dimasukkan melalui hidung, kemudian diarahkan ke dalam dinding depan sinus sfenoid dan selanjutnya didorong ke lateral.Ketiga, gunting lurus dimasukkan melalui osteotomi inferior dengan satu sisi di dalam hidung dan sisi lainnya di dalam antrum untuk memulai pemotongan belakang di belakang konka. | ||||
6 | Gunting bengkok kemudian dimasukkan dengan satu sisi pada kavum nasi dan sisi yang lainnya pada daerah osteotomi superior sepanjang perlekatan superior dari konka. Jaringan diangkat dengan tarikan ke depan dan ke bawah. Hemostasis dilakukan dengan klem atau kauterisasi. Tepi tulang dihaluskan dengan rongeur. Sisa mukosa etmoid diangkat dengan forsep etmoid dan dilakukan sfenoidotomi dengan rongeur Kerrison. Rongga ditutup tampon pita dengan salep antibiotik. Luka dijahit lapis demi lapis. | ||||
KOMPLIKASI OPERASI | |||||
1 | Obstruksi jalan nafas | ||||
2 | Komplikasi orbita : | ||||
Stenosis muara sakus lakrimalis, dapat mengakibatkan epifora
Terbatasnya pergerakan otot ekstra okuler
Tertekannya saraf optik selama mobilisasi spesimen atau reseksi kraniofasial
Enoptalmos
No | KEGIATAN / LANGKAH KLINIK | KASUS | |||
1 | 2 | 3 | T/D | ||
3 | Komplikasi luka operasi : | ||||
4 | Komplikasi dasar tengkorak : | ||||
PERAWATAN PASCA BEDAH | |||||
1 | Penderita dirawat inap Posisi tidur dengan kepala ditinggikan | ||||
2 | Antibiotik Analgetik - anti inflamasi Anti perdarahan | ||||
3 | Perawatan luka: Bekas luka jahitan Cuci hidung | ||||
4 | Kontrol 1-2 minggu setelah tindakan operasi | ||||
Perdarahan
Infeksi
Keluarnya cairan serebrospinal
Meningitis, abses intrakranial
Osteomielitis.
PENUNTUN BELAJAR
PROSEDUR EKSTIRPASI TUMOR APPROACH FACIAL DEGLOVING
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.:
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
4 T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
Nama peserta didik : | Tanggal : |
Nama pasien : | No Rekam Medis : |
No | Kegiatan / Langkah | Kasus | |||
1 | 2 | 3 | T/D | ||
PERSIAPAN PRE OPERASI | |||||
1 | Informed Consent | ||||
2 | Memeriksa dan melengkapi persiapan alat dan kelengkapan operasI: BAHAN : | ||||
Larutan Betadine 100 ml
Alkohol 70% 25 ml
Kassa steril 1 pack (@5 lembar)
Handscoon
No | Kegiatan / Langkah | Kasus | |||
1 | 2 | 3 | T/D | ||
ALAT : | |||||
TINDAKAN OPERASI | |||||
1 | Mendesinfektan daerah yang akan di insisi dengan larutan betadin. | ||||
2 | Memasangkan duk steril di daerah yang akan di insisi. | ||||
3 | Menganestesi bagian yang akan di insisi dengan memberikan injeksi lidokain sesuai kebutuhan. | ||||
4 | Memastikan bahwa daerah yang dianestesi sudah tidak terasa sakit. | ||||
5 | Mulai menyayat bagian yang sudah ditentukan dengan prinsip steril. | ||||
6 | Melakukan pembedahan sesuai dengan kebutuhan pasien. Pembedahan bersifat terbuka dengan pendekatan anterior dengan teknik midfacial degloving (pendekatan sublabial). Pendekatan ini merupakan perluasan dari insisi sublabial bilateral dan tarnsversal maksila. | ||||
7 | Melakukan teknik operasi dengan menggabungkan empat macam insisi yaitu insisi sublabial bilateral, pada sulkus ginggivobukal, insisi transfiksi yang memisahkan tulang rawan lateral atas dan jaringan lunak hidung, serta insisi apertura piriformis pada kedua sisi. Setelah itu keempat insisi dihubungkan, jaringan muka sepertiga tengah dapat ditarik ke kranial sampai mencapai sutura nasofrontal dan lengkung infraorbita, serta dapat dilakukan reseksi tulang untuk mencapai lapangan operasi yang diinginkan. (Conley dan Price) | ||||
8 | Membersihkan daerah pembedahan dengan kassa steril. | ||||
Larutan NaCl 0,9%
Duk steril
benang catgut chromic 1 pack
benang silk 1 pack
Benang Vicryl 1-0 1 pack
Scalpel
Mata Pisau
Gunting Mayo Bengkok
Pinset Anatomis
Pinset Chirurgis
Klem Allis
Mosquito
Klem Arteri Roberts
Klem Kocher
Needle Holder
Retraktor
Langenbeck
Kanula Suction
Monopolar dan Bipolar Elektrokauter
Mesin suction dan selang suction
No | Kegiatan / Langkah | Kasus | |||
1 | 2 | 3 | T/D | ||
9 | Menjahit daerah yang di insisi. | ||||
10 | Membersihkan daerah yang dijahit dengan cairan NaCl 0,9%, mengoleskan betadin di daerah yang dijahit, menutup luka dengan kassa steril. | ||||
KOMPLIKASI OPERASI | |||||
1 | Komplikasi luka operasi: | ||||
PERAWATAN PASCA BEDAH | |||||
1 | Penderita dirawat inap Posisi tidur dengan kepala ditinggikan | ||||
2 | Antibiotik | ||||
3 | Perawatan luka | ||||
4 | Kontrol 3-4 minggu setelah tindakan operasi | ||||
Perdarahan
Infeksi
Hilangnya flap rekonstruktif atau graft kulit.
Lokal
Sistemik
DAFTAR TILIK
DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA
PROSEDUR MAKSILEKTOMI MEDIAL RINOTOMI LATERAL
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini:
: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
X: Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
T/T: Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
Nama peserta didik : | Tanggal : |
Nama pasien : | No Rekam Medis : |
No | Kegiatan / Langkah Klinik | Nilai | ||
X | T/T | |||
PERSIAPAN PRE OPERASI | ||||
1 | Informed Consent | |||
2 | Bila perlu lakukan tindakan trakeostomi elektif | |||
3 | Memeriksa dan melengkapi persiapan alat dan kelengkapan operasi | |||
TINDAKAN OPERASI | ||||
1 | Insisi kulit dimulai dibawah sisi medial alis, sepanjang 4 - 5 mm kantus medial anterior melalui tulang hidung sepanjang bagian terdalam celah nasomaksila dan menelusuri lipatan ala nasi. Perluasan insisi dengan membelah bibir tidak diperlukan. Untuk | |||
No | Kegiatan / Langkah Klinik | Nilai | ||
X | T/T | |||
memperjelas area operasi, flap pipi dielevasi dari maksila secara subperiosteal dan mengelilingi saraf infra orbita. Periorbita dielevasi dari lamina papirasea, kemudian sutura frontoetmoid diidentifikasi dan diteruskan ke arah belakang sampai arteri etmoid posterior teridentifikasi. Dinding anterior antrum tepatnya pada fosa kanina ditembus dengan pahat ukuran 4 mm. Antrostomi diperluas dengan rongeur Kerrison mengelilingi saraf infraorbita dan ke arah atas menuju tepi orbita. | ||||
2 | Tulang diangkat melalui tepi orbita termasuk fosa lakrimalis. | |||
3 | Duktus nasolakrimalis dipisahkan dan sakus lakrimalis dibuka dan dimarsupialisasi. | |||
4 | Selanjutnya dilakukan osteotomi dan pengangkatan jaringan. Osteotomi diperluas melalui apertura piriformis pada level dasar rongga hidung, diarahkan ke belakang sampai dinding belakang antrum. Orbita diretraksi ke arah lateral, kemudian dilakukan osteotomi pada sutura frontoetmoid, meluas ke belakang sampai pada jarak 2 - 3 mm di belakang arteri etmoid posterior (yaitu di depan foramen optikum). | |||
5 | Tulang tipis lantai orbita bagian medial dipotong mengikuti garis yang menghubungkan fosa lakrimalis dan osteotomi superior. Pemotongan tulang terdiri dari 3 langkah. Pertama, osteotom dimasukkan melalui antrostomi anterior dan diarahkan melalui dinding antrum medioposterior. Osteotomi diperluas ke atas untuk mencapai level osteotomi superior dan didorong ke arah medial. Kedua, osteotom yang lebih lebar dimasukkan melalui hidung, kemudian diarahkan ke dalam dinding depan sinus sfenoid dan selanjutnya didorong ke lateral. Ketiga, gunting lurus dimasukkan melalui osteotomi inferior dengan satu sisi di dalam hidung dan sisi lainnya di dalam antrum untuk memulai pemotongan belakang di belakang konka. | |||
6 | Gunting bengkok kemudian dimasukkan dengan satu sisi pada kavum nasi dan sisi yang lainnya pada daerah osteotomi superior sepanjang perlekatan superior dari konka. Jaringan diangkat dengan tarikan ke depan dan ke bawah. Hemostasis dilakukan dengan klem atau kauterisasi. Tepi tulang dihaluskan dengan rongeur. Sisa mukosa etmoid diangkat dengan forsep etmoid dan dilakukan sfenoidotomi dengan rongeur Kerrison. Rongga ditutup tampon pita dengan salep antibiotik. Luka dijahit lapis demi lapis. | |||
KOMPLIKASI OPERASI | ||||
1 | Obstruksi jalan nafas kecuali telah dilakukan trakeostomi | |||
2 | Komplikasi orbita : | |||
Terpotongnya duktus nasolakrimalis
Stenosis muara sakus lakrimalis, dapat mengakibatkan epifora
Terbatasnya pergerakan otot ekstra okuler
Tertekannya saraf optik selama mobilisasi spesimen atau reseksi kraniofasial
No | Kegiatan / Langkah Klinik | Nilai | ||
| X | T/T | ||
e. Enoptalmos atau hipoptalmos. | ||||
3 | Komplikasi luka operasi : | |||
4 | Komplikasi dasar tengkorak : | |||
PERAWATAN PASCA BEDAH | ||||
1 | Penderita dirawat inap Posisi tidur dengan kepala ditinggikan | |||
2 | Antibiotik | |||
3 | Perawatan luka | |||
4 | Kontrol 3 - 4 minggu setelah tindakan operasi | |||
Perdarahan
Infeksi
Hilangnya flap rekonstruktif atau graft kulit.
Keluarnya cairan serebrospinal
Meningitis, abses intrakranial
Pneumosefalus
Osteomielitis.
Lokal
Sistemik
Peserta dinyatakan : Layak Tidak layak melakukan prosedur | Pelatih ( ) |
DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA
PROSEDUR EKSTIRPASI TUMOR APPROACH FACIAL DEGLOVING
Berikan tanda ✓ dalam kotak yang tersedia bila keterampilan / tugas telah dikerjakan dengan memuaskan, dan berikan tanda × bila dikerjakan dengan memuaskan serta T/D bila tidak dilakukan pengamatan
Memuaskan : Langkah / tugas dikerjakan sesuai dengan prosedur standar atau penuntun
× Tidak memuaskan : Tidak mampu untuk mengerjakan langkah / tugas sesuai dengan prosedur standar atau penuntun
T/D Tidak diamati : Langkah, tugas atau ketrampilan tidak dilakukan oleh peserta latih selama penilaian atau pelatih
Nama peserta didik : | Tanggal : |
Nama pasien : | No Rekam Medis : |
No | Kegiatan / Langkah | NILAI | ||
| X | T/T | ||
PERSIAPAN PRE OPERASI | ||||
1 | Informed Consent | |||
2 | Memeriksa dan melengkapi persiapan alat dan kelengkapan operasi BAHAN : | |||
No | Kegiatan / Langkah | NILAI | ||
| X | T/T | ||
ALAT : | ||||
TINDAKAN OPERASI | ||||
1 | Mendesinfektan daerah yang akan di insisi dengan larutan betadin. | |||
2 | Memasangkan duk steril di daerah yang akan di insisi. | |||
3 | Menganestesi bagian yang akan di insisi dengan memberikan injeksi lidokain sesuai kebutuhan. | |||
4 | Memastikan bahwa daerah yang dianestesi sudah tidak terasa sakit. | |||
5 | Mulai menyayat bagian yang sudah ditentukan dengan prinsip steril. | |||
6 | Melakukan pembedahan sesuai dengan kebutuhan pasien. Pembedahan bersifat terbuka dengan pendekatan anterior dengan teknik midfacial degloving (pendekatan sublabial). Pendekatan ini merupakan perluasan dari insisi sublabial bilateral dan tarnsversal maksila. | |||
7 | Melakukan teknik operasi dengan menggabungkan empat macam insisi yaitu insisi sublabial bilateral, pada sulkus ginggivobukal, insisi transfiksi yang memisahkan tulang rawan lateral atas dan jaringan lunak hidung, serta insisi apertura piriformis pada kedua sisi. Setelah itu keempat insisi dihubungkan, jaringan muka sepertiga tengah dapat ditarik ke kranial sampai mencapai sutura nasofrontal dan lengkung infraorbita, serta dapat dilakukan reseksi | |||
Larutan Betadine 100 ml
Alkohol 70% 25 ml
Kassa steril 1 pack (@5 lembar)
Handscoon
Larutan NaCl 0,9%
Duk steril
benang catgut chromic 1 pack
benang silk 1 pack
Benang Vicryl 1-0 1 pack
Scalpel
Mata Pisau
Gunting Mayo Bengkok
Pinset Anatomis
Pinset Chirurgis
Klem Allis
Mosquito
Klem Arteri Roberts
Klem Kocher
Needle Holder
Retraktor
Langenbeck
Kanula Suction
Monopolar dan Bipolar Elektrokauter
Mesin suction dan selang suction
No | Kegiatan / Langkah | NILAI | ||
| X | T/T | ||
tulang untuk mencapai lapangan operasi yang diinginkan. (Conley dan Price) | ||||
8 | Membersihkan daerah pembedahan dengan kassa steril. | |||
9 | Menjahit daerah yang di insisi. | |||
10 | Membersihkan daerah yang dijahit dengan cairan NaCl 0,9%, mengoleskan betadin di daerah yang dijahit, menutup luka dengan kassa steril. | |||
KOMPLIKASI OPERASI | ||||
1 | Komplikasi luka operasi : | |||
PERAWATAN PASCA BEDAH | ||||
1 | Penderita dirawat inap Posisi tidur dengan kepala ditinggikan | |||
2 | Antibiotik | |||
3 | Perawatan luka | |||
4 | Kontrol 3 - 4 minggu setelah tindakan operasi | |||
Perdarahan
Infeksi
Hilangnya flap rekonstruktif atau graft kulit.
Lokal
Sistemik
MATERI PRESENTASI
Slide 1: Anatomi, fisiologi, histopatologi hidung dan sinus paranasal
Side 2: Definisi dan ruang lingkup neoplasma hidung dan sinus paranasal
Slide 3: Neoplasma hidung dan sinus paranasal
Slide 4: Reseksi neoplasma hidung dan sinus paranasal
Slide 5: Clinical decision making dan medikamentosa
MATERI BAKU PENDAHULUAN
Tumor hidung dan sinus paranasal pada umumnya jarang ditemukan, baik yang jinak maupun yang ganas. Dimana dijumpai 0,2 - 0,8% dari keganasan seluruh tubuh atau 3% dari seluruh keganasan dikepala leher. Angka kejadiannya pada laki-laki ditemukan lebih banyak dari perempuan dengan rasio 2:1. Etiologi tumor ganas sinonasal belum diketahui, tetapi diduga akibat paparan dengan bahan industri antara lain nikel, debu kayu, formaldehid, kromium, minyak isopropil. Pekerja di bidang ini mendapatkan kemungkinan terjadi keganasan hidung dan sinus jauh lebih besar. Merokok juga mempunyai peran penting dalam perkembangan tumor sinonasal.
DEFINISI
Reseksi neoplasma hidung dan sinus paranasal adalah tindakan pembedahan pengangkatan neoplasma hidung dan sinus paranasal, yaitu maksilektomi medial - rinotomi lateral, reseksi radikal maksila dengan eksenterasi orbita dan sebagian etmoid, reseksi maksila termasuk dasar orbita dengan mempertahankan bola mata dan maksilektomi parsial (maksilektomi infrastruktur dan maksilektomi suprastruktur).
Pemilihan tindakan pembedahan berdasarkan :
Penilaian terhadap struktur tulang dan jaringan lunak untuk dilakukan reseksi en bloc
Pendekatan harus direncanakan untuk paparan jaringan yang adekuat guna mempertahankan fungsi jaringan dan kosmetik apabila memungkinkan
Repair direncanakan dengan menggunakan teknik prostetik atau jaringan lunak untuk mendapatkan hasil yang terbaik.
RUANG LINGKUP
Setelah memahami, menguasai dan mengerjakan modul ini maka diharapkan seorang dokter PPDS I THT-KL mempunyai kompetensi melaksanakan tindakan operatif neoplasma maksilektomi medial - rinotomi lateral dengan tingkat kemampuan keterampilan klinis 4, reseksi radikal maksila dengan eksenterasi orbita dan sebagian etmoid dengan tingkat kemampuan keterampilan klinis 2, reseksi maksila termasuk
dasar orbita dengan mempertahankan bola mata dengan tingkat kemampuan keterampilan klinis 2 dan maksilektomi parsial (maksilektomi infrastruktur dan maksilektomi suprastruktur) dengan tingkat kemampuan keterampilan klinis 2. Penerapannya dapat dikerjakan di RS pendidikan dan RS jejaring, serta dapat dipergunakan sebagai tambahan referensi program studi disiplin ilmu terkait.
ANATOMI
Hidung dan Sinus Paranasal
Anatomi Hidung
Hidung bagian luar
Hidung luar berbentuk piramid dengan bagian-bagiannya yaitu pangkal hidung, dorsum nasi, puncak hidung, ala nasi, kolumela dan rongga hidung (nares anterior). Hidung bagian luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan. Kerangka tulang terdiri dari sepasang os nasalis, prosesus frontalis os maksila dan prosesus nasalis os frontal, sedangkan kerangka tulang rawan terdiri dari beberapa pasang tulang rawan yang terdiri dari sepasang kartilago nasalis lateralis superior, sepasang kartilago lateralis inferior (kartilago ala mayor) dan tepi anterior kartilago septum nasi. Kerangka tulang dan tulang rawan ini dilapisi oleh kulit, jaringan ikat dan beberapa otot yang berfungsi untuk pergerakan dari nasal tip dan ala nasi.
Gambar 1. Anatomi hidung luar
Hidung bagian dalam
Hidung bagian dalam terdiri dari :
Vestibulum
Terletak tepat di belakang nares anterior, dilapisi oleh kulit yang mempunyai banyak kelenjar sebasea dan rambut-rambut yang disebut vibrissae.
Septum nasi
Septum dibentuk oleh tulang dan tulang rawan, yang membagi kavum nasi menjadi dua ruang kanan dan kiri, dimana bagian tulang terdiri dari : Lamina perpendikularis os etmoid, vomer, krista nasalis os maksila dan krista nasalis os palatina. Bagian tulang rawan terdiri dari : Kartilago septum (lamina kuadriangularis) dan kolumela.
Kavum nasi
Dasar hidung, dibentuk oleh prosesus palatina os maksila dan prosesus horizontal os palatum.
Atap hidung, terdiri dari kartilago lateralis superior dan inferior, os nasal, prosesus frontalis os maksila, korpus os etmoid dan korpus os sfenoid. Sebagian besar atap dibentuk oleh lamina kribosa yang dilalui oleh filament- filamen n. olfaktorius yang berasal dari permukaan bawah bulbus olfaktorius berjalan menuju bagian teratas septum nasi dan permukaan kranial konka superior.
Dinding lateral, dibentuk oleh permukaan dalam prosesus frontalis os maksila, os lakrimalis, konka superior, konka media, konka inferior, lamina perpendikularis os palatum dan lamina pterigoideus media.
Konka, pada dinding lateral hidung terdapat 4 buah konka. Yang terbesar dan letaknya paling bawah ialah konka inferior, kemudian yang lebih kecil ialah konka media dan konka superior, sedangkan yang terkecil disebut konka suprema. Konka suprema ini biasanya rudimenter. Konka inferior merupakan tulang tersendiri yang melekat pada os maksila dan labirin etmoid, sedangkan konka media, superior dan suprema merupakan bagian dari labirin etmoid.
Meatus nasi, di antara konka-konka dan dinding lateral hidung terdapat rongga sempit yang disebut meatus. Meatus inferior terletak di antara konka inferior dengan dasar hidung dan dinding lateral rongga hidung. Pada meatus inferior terdapat muara nasolakrimalis. Meatus media terletak di antara konka media dan dinding lateral rongga hidung. Pada meatus media terdapat bula etmoid, prosesus unsinatus, hiatus semilunaris dan infundibulum etmoid. Disini terdapat muara sinus maksila, frontalis dan sinus etmoid anterior. Pada meatus superior yang merupakan ruang diantara konka superior dan konka media terdapat muara sinus etmoid posterior dan sinus sfenoid.
Dinding medial, dinding medial hidung adalah septum nasi.
Sinus Paranasal
Gambar 2. Anatomi hidung dalam
Sinus paranasal merupakan rongga berisi udara dalam tulang tengkorak. Secara klinis terbagi atas dua grup:
Anterior : Sinus maksila, frontal dan etmoid anterior
Posterior : Sinus etmoid posterior dan sfenoid
Sinus maksila
Merupakan sinus terbesar yang kapasitasanya hingga 15 ml pada dewasa.
Dinding anterior sinus ialah permukaan fasial os maksila yang disebut fosa kanina
Dinding posterior adalah permukaan infra temporal maksila
Dinding medialnya ialah dinding lateral rongga hidung
Dinding superior ialah dasar orbita
Dinding inferior ialah prosessus alveolaris dan palatum
Sinus frontal
Sinus frontal terletak di os frontal. Sinus frontal kanan dan kiri biasanya tidak simetris. Berdrainase melalui ostiumnya yang terletak di resessus frontal.
Sinus etmoid
Sinus etmoid adalah rongga udara yang berdinding tipis dimassa lateral tulang etmoid. Jumlahnya antara 3 - 18 sel. Secara klinis, sel-sel etmoid terbagi atas etmoid anterior yang bermuara di meatus media dan etmoid posterior yang bermuara di meatus superior.
Sinus sfenoid
Sinus sfenoid terletak dalam os sfenoid di belakang sinus etmoid posterior.
Sinus sfenoid dibagi dua oleh sekat yang disebut septum intersfenoid.
Gambar 3. Anatomi sinus paranasal
KEKERAPAN
Tumor sinus paranasal dijumpai sekitar 3% dari seluruh tumor kepala dan leher, dan 0,5% dari seluruh tumor ganas. Dengan insidensi pada pria 2:1 dibandingkan pada wanita. Dimana 60% tumor sinonasal berkembang didalam sinus maksilaris, 20 - 30% didalam rongga nasal, 10 - 15% didalam sinus etmoidalis, dan 1% didalam sinus sfenoidalis dan frontalis. Apabila hanya melibatkan sinus-sinus paranasal tersendiri, 77% tumor maligna muncul didalam sinus maksilaris, 22% didalam sinus etmoidalis dan 1% didalam sinus sfenoidalis dan frontalis. Neoplasma maligna pada tempat-tempat ini dapat mengakibatkan kematian dan kecacatan dalam jumlah yang signifikan.
Di India, tumor ganas dan sinus paranasal berkisar sekitar 0,44% dari seluruh tumor ganas (0,57% pada pria dan 0,44% pada wanita). Paling banyak ditemukan pada sinus maksilaris dan diikuti pada sinus etmoidalis, sinus frontal sinus sfenoidalis.
Insidensi tertinggi keganasan sinonasal ditemukan di Jepang yaitu 2 sampai 3,6 per-100.000 penduduk pertahun. Di Departemen THT FKUI RSCM Jakarta keganasan ini ditemukan 10 - 15% dari seluruh tumor ganas THT.
Di Departemen THT-KL FK USU/RSUP.HAM Medan, kasus tumor ganas sinonasal pada periode bulan januari 2005 hingga bulan desember 2009 terdapat 51 kasus dimana sebagian besar ditemukan stadium lanjut 44 kasus (86,3%).
ETIOLOGI
Etiologi tumor ganas sinonasal belum diketahui, tetapi diduga beberapa zat hasil industri merupakan penyebab antara lain nikel, debu kayu, kulit, formaldehid, kromium, minyak isopropil dan lain-lain. Pekerja dibidang ini mendapat kemungkinan terjadi keganasan hidung dan sinus paranasal jauh lebih besar. Alkohol, asap rokok, makanan yang diasinkan atau diasap diduga meningkatkan kemungkinan terjadi keganasan, sebaliknya buah-buahan dan sayuran mengurangi keganasan.
HISTOLOGI
Lebih dari 80% tumor ganas adalah karsinoma sel skuamosa. Sisanya adalah adenokarsinoma, adenoid kistik karsinoma, melanoma dan berbagai jenis sarkoma. Karsinoma sel skuamous merupakan tumor sinonasal yang terbanyak. Dilaporkan pada pria kulit putih dengan umur dekade 5 - 6. Prognosis berhubungan dengan luas dan letak tumor.
Adenokarsinoma sebanyak 4 - 8% dari seluruh tumor sinonasal. Awalnya kebanyakan di sinus etmoid dan rongga hidung, dihubungkan dengan paparan serbuk kayu. Karsinoma kistik adenoid pada sinonasal sebanyak 14 - 20% dari seluruh karsinoma kistik adenoid di kepala dan leher. Karakteristiknya adalah perluasan yang cepat ke struktur neurovaskular, submukosa dan didiagnosa pertama kali pada stadium yang sudah lanjut.
Melanoma pada sinonasal bisa berupa primer maupun metastase. Walaupun 20% dari melanoma yang ada di kepala dan leher, kurang dari 1% timbul dari sinonasal. Kebanyakan pada rongga hidung, kemudian di sinus maksilaris, etmoid, dan frontal.
Sarkoma neurogenik jarang di kepala dan leher dan umumnya berhubungan dengan neurofibromatosis. Sifatnya agresif dan sering muncul dengan metastase jauh.
GEJALA DAN TANDA
Gejala yang paling sering pada tumor sinonasal sama dengan gejala pada infeksi sinus, seperti hidung tersumbat, epistaksis, sakit kepala, nyeri wajah, hidung berair, dan bisa asimptomatik pada 9 - 12% pasien, tergantung dari perkembangan penyakit.
Gejala orbital, seperti diplopia, proptosis, hilang penglihatan dan epipora, dapat timbul dengan adanya invasi atau ekspansi ke mata. Memasuki dasar tengkorak hingga fossa kranial anterior menimbulkan nyeri kepala, neuropati kranial, bahkan sindrom lobus frontalis. Tumor juga bisa menembus maksila dan timbul massa di palatum.
DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang dan diagnosis pasti ditegakkan berdasarkan pemeriksaan histopatologi.
Anamnesis
Penting untuk dilakukan anamnesis yang teliti, biasanya perlu ditanyakan apakah ada obstruksi hidung, hidung berdarah, diplopia, pasien mengeluh apakah gigi palsunya tidak pas lagi atau gigi geligi goyah.
Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik dapat dijumpai pembengkakan wajah sebelah atas seperti sisi batang hidung dan daerah kantus medius, penonjolan daerah pipi dan pembengkakan palatum durum, palatum mole, tepi alveolar atau lipatan mukosa mulut. Perluasan tumor keintrakranial menyebabkan sakit kepala hebat, gangguan visus. Dapat disertai likuorea yaitu cairan otak yang keluar dari hidung.Pemeriksaan dilanjutkan dengan memeriksa kavum nasi dan nasofaring melalui rinoskopi anterior dan posterior. Sekret yang keluar harus diperiksa dengan teliti. Sekret yang berbau busuk mungkin berasal dari nekrosis jaringan yang sering berhubungan dengan proses suatu neoplasma.
Pemeriksaan Penunjang
Foto polos sinus paranasal kurang berfungsi dalam mendiagnosis dan menentukan perluasan tumor kecuali pada tumor tulang seperti osteoma. Tetapi foto polos tetap
berfungsi sebagai diagnosis awal, terutama jika ada erosi tulang dan perselubungan padat unilateral, harus dicurigai keganasan dan buatlah tomogram atau CT scan, dimana CT scan merupakan sarana terbaik karena lebih jelas memperlihatkan tumor dan destruksi tulang. MRI dapat membedakan jaringan tumor dari jaringan normal tetapi kurang baik dalam memperlihatkan destruksi tulang. Foto polos paru diperlukan untuk melihat adanya metastasis tumor di paru.
Pemeriksaan histopatologi
Diagnosis pasti ditegakkan berdasarkan pemeriksaan histopatologi. Jika tumor tampak dirongga hidung atau rongga mulut, maka biopsi mudah dan harus segera dilakukan. Biopsi tumor maksila, dapat dilakukan melaui tindakan sinoskopi atau melalui operasi Caldwell-Luc yang insisinya melalui sulkus gingivo-bukal. Jika dicurigai tumor vaskuler, misalnya hemangioma atau angiofibroma, jangan dilakukan biopsi karena akan sangat sulit menghentikan perdarahan yang terjadi.
KLASIFIKASI TNM DAN STADIUM TUMOR
Stadium tumor ganas sinonasal menurut American Joint Committee on Cancer (AJCC) tahun 2018 yaitu:
Tumor Primer (T)
Tx : Tumor primer tidak bisa ditentukan Tis : Karsinoma insitu
Sinus maksilaris
T1 : Tumor terbatas pada mukosa sinus maksilaris tanpa erosi dan destruksi tulang T2 : Tumor menyebabkan erosi atau destruksi tulang hingga palatum atau meatus
media
tanpa melibatkan dinding posterior sinus maksilaris, jaringan subkutaneus
T3 : Tumor menginvasi dinding posterior tulang sinus maksilaris, subkutaneus jaringan
dinding dasar dan medial orbita, fossa pteriogoid, sinus etmoidalis.
T4a : Tumor menginvasi bagian anterior orbita, kulit pipi, fossa pterigoid, fossa infra temporal, fossa kribriformis, sinus sfenoidalis atau frontal.
T4b : Tumor menginvasi salah satu dari apeks orbita, duramater, otak, fossa kranial medial,
atau
nervus kranialis selain dari divisi maksilaris nervus trigeminal (V2), nasofaring klivus.
Kavum nasi dan sinus etmoidalis
Tumor Primer (T)
Tx : Tumor primer tidak bisa ditentukan Tis : Karsinoma insitu
T1 : Tumor terbatas pada salah satu bagian dengan atau tanpa invasi tulang.
T2 : Tumor berada didua bagian dalam satu regio atau tumor meluas dan melibatkan
daerah nasoetmoidal kompleks, dengan atau tanpa invasi tulang.
T3 : Tumor menginvasi dinding medial atau dasar orbita, sinus maksilaris, palatum atau
fossa kribiformis.
T4a : Tumor menginvasi salah satu bagian anterior orbita, kulit nasal atau pipi, meluas
minimal ke fossa pterigoid, sinus sfenoidalis atau frontal.
T4b : Tumor menginvasi salah satu dari apeks orbita, dura, otak, fossa kranial medial, nervus
kranialis selain dari V2, nasofaring atau klivus.
Kelenjar getah bening regional (N)
Nx : Pembesaran kelenjar limfe regional tidak dapat ditentukan N0 : Tidak ada metastasis kekelenjar limfe regional
N1 : Metastasis kelenjar limfe ipsilateral diameter :S 3 cm ENE (-)
N2 : Metastasis tunggal kelenjar limfe ipsilateral diameter 3 - 6 cm, atau 6 cm ENE (-) multipel Kelenjar limfe ipsilateral < 6 cm atau metastasis bilateral atau kontralateral diameter :S 6 cm ENE (-)
N2a : Metastasis kelenjar limfe ipsilateral diameter 3 - 6 cm ENE (-)
N2b : Metastasis multiple pada kelenjar limfe ipsilateral diameter :S 6cm ENE (-)
N2c : Metastasis pada kelenjar limfe bilateral atau kontralateral,diameter :S 6cm ENE
(-)
N3 : Metastasis kelenjar limfe diameter lebih dari 6 cm ENE (-), atau metastasis pada nodus limfatikus dimanapun dengan ENE +
N3a : Metastasis nodus limfatikus tidak lebih dari 6 cm ENE (-)
N3b : Metastasis pada nodus limfatikus dimanapun dengan ENE (ENEc)
Metastasis jauh (M)
MO : Tidak ada metastasis jauh MI : Ada metastasis jauh
Stadium karsinoma sinus maksila dan sinus ethmoid Stadium I : T1 N0 M0
Stadium II : T2 N0 M0 Stadium III : T3 N0 M0
T1 N1 M0 T2 N1 M0 T3 N1 M0
Stadium IV : T4a N0 M0
T4a N1 M0 T1 N2 M0 T2 N2 M0 T3 N2 M0 T4a N2 M0
Stadium IVB : Setiap T N3 M0
T4b setiap N M0 Stadium IVC : Setiap T setiap N M1
DIAGNOSIS BANDING
Diagnosis banding pada tumor ganas sinusparanasal yang paling tinggi adalah karsinoma sel skuamous, diikuti oleh adenokarsinoma, adenoid kista karsinoma, olfaktori estesioneuroblastoma, maligna mukosa melanoma dan karsinoma undifferentiated sinonasal.
PENATALAKSANAAN
Pembedahan atau lebih sering bersama dengan modalitas terapi lainnya seperti radiasi dan kemoterapi sebagai adjuvant sampai saat ini masih merupakan pengobatan utama untuk keganasan hidung dan sinus paranasal, penyakit stadium lanjut jika diobati, membutuhkan multimodalitas terapi, yaitu operasi dengan radiasi sebelum atau setelah operasi. Katz et al, mencatat angka harapan hidup 5 tahun bagi pasien yang menerima radiasi setelah operasi adalah 79% dibandingkan dengan pasien yang diobati dengan radioterapi saja adalah 49%. Kemoterapi sebagai tambahan radioterapi dan pembedahan telah menunjukkan peningkatan hasil pengobatan pada satadium III/IV.
Pembedahan masih diindikasikan walaupun menyebabkan morbiditas yang tinggi bila terbukti dapat mengangkat tumor secara lengkap. Pembedahan dikontraindikasikan pada kasus yang telah bermetastasis jauh, sudah meluas kesinus kavernosus bilateral atau tumor sudah mengenai kedua orbita. Untuk tumor ganas, tindakan operasi seradikal mungkin. Biasanya dilakukan maksilektomi, dapat berupa maksilektomi medial, total atau radikal. Maksilektomi radikal dilakukan misalnya pada tumor yang sudah mengenai seluruh dinding sinus maksila dan sering juga masuk kerongga orbita, sehingga pengangkatan maksila dilakukan secara en bloc disertai eksenterasi orbita. Jika tumor sudah masuk kerongga intrakranial dilakukan reseksi kraniofasial atau kalau perlu kraniotomi, tindakan dilakukan dalam tim bersama dokter bedah saraf.
Penatalaksanaan tumor ganas sinonasal berdasarkan National Comprehensive Cancer Network (NCCN) tahun 2020:
INDIKASI OPERASI
Reseksi bedah biasanya dianjurkan dengan maksud penyembuhan (kuratif)
Eksisi paliatif dapat dimaksudkan untuk meredakan nyeri yang tidak tertahankan, untuk dekompresi struktur vital atau mengurangi besarnya lesi masif.
PROSEDUR OPERASI
Persiapan pre operasi :
Penjelasan kepada penderita dan atau orang tua / keluarga mengenai tindakan operasi yang akan dijalani serta risiko / komplikasi. Meminta tandatangan persetujuan untuk dilakukan operasi dari penderita dan atau orang tua / keluarga (informed consent)
Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan penunjang
Cairan
Dalam keadaan diperlukan kontrol jalan nafas, atau kemungkinan terjadinya ancaman sumbatan jalan nafas, perlu dilakukan tindakan trakeostomi elektif
Memeriksa dan melengkapi persiapan alat dan kelengkapan operasi
Penderita puasa minimal 6 jam sebelum operasi.
TINDAKAN OPERASI
Maksilektomi Medial
Insisi kulit dimulai dibawah sisi medial alis, sepanjang 4 - 5 mm kantus medial anterior melalui tulang hidung sepanjang bagian terdalam celah nasomaksila dan menelusuri lipatan ala nasi. Perluasan insisi dengan membelah bibir tidak diperlukan. Untuk memperjelas area operasi, flap pipi dielevasi dari maksila secara subperiosteal dan mengelilingi saraf infra orbita. Periorbita dielevasi dari lamina papirasea, kemudian sutura frontoetmoid diidentifikasi dan diteruskan ke arah belakang sampai arteri etmoid posterior teridentifikasi. Dinding anterior antrum tepatnya pada fosa kanina ditembus dengan pahat ukuran 4 mm. Antrostomi diperluas dengan rongeur Kerrison mengelilingi saraf infraorbita dan ke arah atas menuju tepi orbita.
Tulang diangkat melalui tepi orbita termasuk fosa lakrimalis.
Duktus nasolakrimalis dipisahkan dan sakus lakrimalis dibuka dan dimarsupialisasi
Selanjutnya dilakukan osteotomi dan pengangkatan jaringan. Osteotomi diperluas melalui apertura piriformis pada level dasar rongga hidung, diarahkan ke belakang sampai dinding belakang antrum. Orbita diretraksi ke arah lateral, kemudian dilakukan osteotomi pada sutura frontoetmoid, meluas ke belakang sampai pada jarak 2 - 3 mm di belakang arteri etmoid posterior (yaitu di depan foramen optikum).
Tulang tipis lantai orbita bagian medial dipotong mengikuti garis yang menghubungkan fosa lakrimalis dan osteotomi superior. Pemotongan tulang terdiri dari 3 langkah. Pertama, osteotom dimasukkan melalui antrostomi anterior dan diarahkan melalui dinding antrum medioposterior. Osteotomi diperluas ke atas untuk mencapai level osteotomi superior dan didorong ke arah medial. Kedua, osteotom yang lebih lebar dimasukkan melalui hidung, kemudian diarahkan ke dalam dinding depan sinus sfenoid dan selanjutnya didorong ke lateral. Ketiga, gunting lurus dimasukkan melalui osteotomi inferior dengan satu sisi di dalam hidung dan sisi lainnya di dalam antrum untuk memulai pemotongan belakang di belakang konka.
Gunting bengkok kemudian dimasukkan dengan satu sisi pada kavum nasi dan sisi yang lainnya pada daerah osteotomi superior sepanjang perlekatan superior dari konka. Jaringan diangkat dengan tarikan ke depan dan ke bawah.
Hemostasis dilakukan dengan klem atau kauterisasi. Tepi tulang dihaluskan dengan rongeur. Sisa mukosa etmoid diangkat dengan forsep etmoid dan dilakukan sfenoidotomi dengan rongeur Kerrison. Rongga ditutup tampon pita dengan salep antibiotik. Luka dijahit lapis demi lapis.
Kontraindikasi
Paparan dari reseksi tumor yang meluas ke palatum, fossa infratemporal, nasofaring atau fossa kranial anterior
Paparan lateral dari foramen infraorbital
Pembedahan setelah gagal dengan radiasi dosis tinggi pada daerah hidung dan sinus paranasal pada kasus-kasus dimana insisi wajah harus dihindarkan.
Reseksi Radikal Maksila dengan Eksenterasi Orbita dan Sebagian Etmoid
Insisi Weber - Dieffenbach (Fergusson) dilakukan dengan perluasan ke dalam dasar hidung. Insisi bibir atas dilakukan untuk meminimalkan kontraktur pasca operasi. Garis vertikal tepat di sebelah medial filtrum dan garis horisontal mengikuti batas vermilion. Kelopak mata dijahit satu sama lain dan dibiarkan menyatu pada flap kulit atau mata. Jika direncanakan akan dilakukan pemasangan prostesis mata, akan lebih menguntungkan untuk mengangkat kelopak mata beserta flap kulit. Diskusikan pilihan ini dengan prostodontis maksilofasial. Insisi pada dasar nares merupakan pilihan lain, karena transeksi dasar hidung dapat dilakukan tanpa insisi ini. Sudut yang sempit saat insisi kulit harus dihindari pada daerah dekat kantus medial. Reseksi kulit pipi dapat dilakukan jika daerah tersebut terlibat.
Daerah tulang yang direseksi termasuk seluruh antrum dengan palatum durum dan dasar orbita, rima orbita lateral, korpus zigoma (tulang malar) dan sebagian arkus zigomatikus. Arteri maksila interna terletak di superfisial atau lebih dalam dari otot pterigoideus eksternus atau berjalan diantara kedua pangkal otot tersebut. Labirin etmoid, dinding anterior sinus etmoid dan seluruh dinding lateral kavum nasi beserta ketiga konka juga ikut direseksi. Septum nasi dibiarkan tetap intak kecuali bila septum juga terlibat. Jika septum nasi terlibat, maka dilakukan reseksi melalui dasar hidung di sisi kontralateral. Insisi melalui tepi alveolar lebih disukai melalui soket gigi untuk mempertahankan viabilitas gigi yang bersebelahan.
Flap kulit didiseksi dengan mempertahankan otot orbikularis oris dan businator di flap lateral. Bagian yang tersisa dari otot wajah dibiarkan tetap melekat pada dinding depan antrum. Insisi dari bibir dilanjutkan sepanjang sulkus gingivobukal ke arah posterolateral hingga melewati tuberositas maksila. Perlekatan otot businator pada tepi bawah maksila yang meluas hingga tuberositas ditranseksi. Prosesus nasal maksila kemudian direseksi dengan pahat atau sagittal plane saw hingga mencapai kantus medial mata. Daerah ini sesuai dengan garis sutura maksila dengan tulang frontal dan berperan sebagai penanda level lamina kribriformis etmoid / dasar fossa kranial anterior. Ini merupakan level atas reseksi di bagian medial.
Gigi insisivus atas pada sisi yang direseksi diangkat. Dibuat luka tembus ke dalam kavum nasi pada tepi posterior palatum durum. Melalui luka tersebut klem bengkok diselipkan ke dalam rongga hidung dan digunakan untuk menjepit ujung gergaji gigli, yang dimasukkan ke dalam nares. Jika terdapat fragmen gigi tertahan pada tepi potongan gergaji, maka harus diangkat.
Palatum durum ditranseksi secara longitudinal melalui dasar kavum nasi dengan gergaji gigli. Kemudian insisi dilakukan melalui tepi posterior palatum durum, memisahkannya dari palatum mole. Palatum mole dibiarkan intak.
Perlekatan anterior otot masseter harus diangkat dari bagian anterior arkus zigomatikus. Sepanjang 2 cm potongan arkus zigomatikus dieksisi dengan gergaji gigli. Pembukaan ini memungkinkan akses ke dalam fosa pterigomaksila dan terlihatnya sebagian arteri maksila interna yang kemudian ditranseksi diantara dua penjepit perak.
Perios diinsisi sepanjang bagian superior, medial dan lateral mengelilingi orbita (bagian inferior akan dieksisi bersama reseksi en bloc). Dengan resparatorium perios, periorbita dielevasi hingga apeks orbita. Dengan bola mata diretraksi ke arah bawah dan medial suatu penjepit melengkung diselipkan melalui fisura orbita inferior untuk memegang gergaji gigli. Kadang-kadang diperlukan pematahan sedikit tulang tipis untuk memasukkan penjepit. Jika menyelipkan penjepit tidak memungkinkan, tepi orbita lateral direseksi menggunakan sagittal plane saw.
Dengan mengarahkan gergaji gigli ke atas dan ke depan tepi lateral orbita dipotong. Saraf optikus dipotong di pertengahan antara bola mata dan foramen optikus atau sejauh mungkin ke arah belakang sesuai indikasi. Hindari tarikan berlebihan pada saraf optikus karena hal ini dapat mengakibatkan kerusakan pada chiasma optikum dan defek lapangan penglihatan pada mata kontralateral. Arteri optalmika yang terletak medial dari saraf optikus diligasi. Dalam bantalan lemak mata terdapat pembuluh-pembuluh darah kecil yang harus diligasi.
Pemotongan dilakukan dengan pahat atau sagittal plane saw, dimulai dari bagian atas osteotomi yang telah dilakukan pada tahap c. Ini akan memisahkan maksila dari tulang frontal. Pahat diarahkan sedikit ke arah bawah dan ke arah dalam, mengenai bagian dalam lamina kribriformis. Ini harus dilakukan secara perlahan dan hati-hati untuk menghindari trauma terhadap lamina kribriformis. Pemotongan diperluas melalui tepi atas tulang lakrimalis dan melalui sepertiga atas lamina papirasea tulang etmoid ke perluasan anterolateral sinus sfenoid. Dengan cara ini sebanyak mungkin labirin etmoid diangkat secara en bloc dengan maksila.
Perlekatan posterolateral maksila dapat dibebaskan dengan salah satu dari dua cara. Prosesus pterigoideus ditranseksi dekat origonya dari corpus dan ala mayor tulang sfenoid. Ini dapat dicapai dengan pertama-tama mereseksi otot pterigoid eksternus dan internus dari lamina pterigoid lateral dan medial dan kemudian melakukan transeksi terhadap prosesus pterigoid dengan rongeurs menyudut. Lamina pterigoid lateral dan medial merupakan perluasan dari prosesus pterigoid. Kedua lamina bersatu di anterior dan superior dan membuka ke arah posterior dan inferior. Di atas otot pterigoid terdapat pembuluh darah utama dan beberapa cabang arteri maksila interna. Arteri ini bervariasi dan dapat berjalan lebih dalam dari otot pterigoid eksternus atau diantara kedua pangkal otot. Pembuluh-pembuluh darah ini merupakan sumber perdarahan yang signifikan, jika tidak satu persatu diligasi atau ditutup dengan penjepit perak. Tindakan ini dilakukan pada awal operasi dengan mengangkat sebagian kecil arkus zigomatikus, dengan mengingat variasi lokasi arteri. Arteri karotis interna dapat cedera pada saat pemotongan prosesus pterigoid. Jarak antara arteri karotis interna dengan tepi posterior lamina pterigoid lateral sekitar 1,5 cm atau kurang.
Prosesus stiloid terletak di atas arteri karotis interna. Foramen laserum terletak di dasar lamina pterigoid medial. Bagian bawah foramen laserum terisi dengan lapisan fibrokartilago yang di atasnya berjalan arteri karotis interna, setelah melalui orifisium kanal karotis. Orifisium ini terletak lebih posterior dari foramen laserum.
Metode lain yang dapat digunakan untuk membebaskan perlekatan posterolateral maksila adalah dengan mengarahkan pahat diantara prosesus pterigoid dan maksila. Pemotongan ini meluas ke dalam fisura pterigomaksila. Cabang arteri maksila interna memerlukan ligasi. Metode ini tidak dianjurkan pada keadaan dimana dicurigai telah terjadi erosi tulang dinding belakang antrum.
Keseluruhan jaringan biasanya pada tahap ini telah cukup bebas sehingga sisa perlekatan yang lemah dari maksila pada bagian medial orbita akan terputus dengan cara menggoyangkan jaringan ke arah belakang dan depan. Jika diperlukan sebuah pahat dapat digunakan secara perlahan untuk memotong perlekatan ini. Garis transeksi meluas ke arah belakang sampai mencapai sel udara etmoid posterior, biasanya dengan mengangkat dinding anterior sinus sfenoid. Pada tahap ini arteri maksila interna dan cabang-cabangnya terlihat. Penjepit perak digunakan untuk menyumbat pembuluh darah. Arteri maksila interna terletak superfisial dari otot pterigoid eksternus tetapi dapat lebih dalam atau terletak diantara kedua pangkal otot. Upaya memaparkan pembuluh darah difasilitasi dengan retraktor panjang Langenbeck. Kadang-kadang manuver ini gagal. Pendekatan ini juga memungkinkan evaluasi perluasan penyakit di daerah pterigomaksila. Pemaparan tambahan daerah ini dapat dilakukan dengan melakukan transeksi dasar prosesus koronoid mandibula, namun hal ini jarang diperlukan.
Sisa sel sinus etmoid anterior dan posterior dibersihkan dengan kuret. Kuret digunakan dengan gerakan ke arah bawah dan bukan ke atas untuk menghindari cedera lamina kribriformis etmoid. Dinding depan sinus sfenoid jika masih intak, diangkat dengan menggunakan forsep penjepit depan (Jansen - Middleton) atau forsep penjepit belakang (Hajek atau Kerrison). Jika identitas sinus diragukan (sinus etmoid posterior atau sfenoid), letakkan probe metal pada daerah tersebut dan dicek menggunakan radiografi intraoperatif. Sel etmoid posterior yang besar dapat menyerupai sinus sfenoid. Arteri karotis interna terletak tepat di lateral sinus etmoid posterior dan sfenoid.
Setelah perdarahan berhasil dikontrol, permukaan terbuka yang jauh di dalam defek tulang maupun di bawah flap kulit ditutup dengan kulit split thickness. Jika memungkinkan graft dijahit menggunakan catgut kromik nomor 4. Daerah sisanya ditutup dengan kasa absorben yang dibasahi cairan povidone - iodine atau salep klortetrasiklin. Kapas tersebut harus diperas hingga hampir kering untuk menghindari cairan betadin menetes ke dalam laring kemudian masuk ke paru-paru dan dapat terjadi pneumonia akibat betadin.
Defek orbita diisi dengan tampon.
Dilakukan penjahitan dengan menggunakan nilon 3-0 melalui palatum, defek berfungsi sebagai penahan untuk menahan tampon pada tempatnya. Flap kulit didekatkan dengan jahitan 2 lapis.
Reseksi Maksila Termasuk Dasar Orbita dengan Mempertahankan Bola Mata
Eksplorasi dasar orbita dilakukan dengan melakukan insisi sepanjang sisi atas tepi infraorbita. Dengan elevasi perios secara hati-hati pada titik ini, dapat
dilakukan palpasi isi orbita. Jika tidak didapatkan tanda adanya perluasan penyakit di dalam orbita, jika dasar orbita masih intak dan jika CT scan preoperatif menunjukkan tidak adanya erosi tulang maka dasar rongga orbita (atap antrum) direseksi dan bola mata tetap dipertahankan.
Prosesus frontal dan arkus zigomatikus ditranseksi dengan gergaji gigli. Perlekatan medial tepi infraorbita ditranseksi dengan menggunakan sagittal plane saw tepat di bagian bawah ligamen kantus medial. Gigi insisivus tengah pada sisi yang terlibat diekstraksi. Transeksi tulang dilakukan melalui soket gigi.
Dengan menggunakan retraktor melengkung, bola mata beserta otot orbikularis okuli dan perios secara halus ditarik ke arah atas. Dasar orbita bagian belakang dan bawah ditranseksi dengan menggunakan osteotom melengkung. Insisi tulang dapat dilakukan jauh ke belakang hingga 4 cm dari tepi orbita bawah dengan hati-hati agar tidak mencederai saraf optik dan tanpa memasuki antrum. Bahaya kerusakan saraf optik lebih besar pada sisi medial saat melakukan diseksi lamina papirasea.
Tahap berikutnya pada prosedur ini sama dengan operasi yang lebih radikal, dengan pengecualian bahwa bola mata dipertahankan. Flap otot temporal kemudian dimobilisasi dengan cara memisahkan 1 cm otot dari insersinya dan melekatkan ujung distal bebas ini di dekat kantus medial mata. Perlekatan ini dapat dilakukan ke fasia di daerah atau melalui sebuah lubang kecil yang dibuat dengan bor ke dalam sisa tulang pada sisi medial orbita. Flap otot temporal dengan demikian membentuk suatu penahan untuk menopang bola mata. Ligamen kantus medial membutuhkan reseksi jika reseksi tulang yang dilakukan lebih tinggi. Kemudian bagian lateral dari ligamen kantus medial diamankan ke lubang yang dibuat dengan bor pada tulang hidung. Lubang-lubang ini terletak pada lokasi yang sama dimana otot temporal penopang dilekatkan. Harus diperhatikan bahwa sakus lakrimalis di bagian medial ligamen kantus medial tidak rusak.
Kontraindikasi
Isi orbita tidak dapat dipertahankan oleh karena erosi dasar tulang atau dinding medial orbita, oleh karena invasi periorbita, apex orbita atau saraf intraorbita, atau kebutuhan penyinaran pasca operasi dekat dengan orbita atau positif margin
Tumor dengan perluasan ke intrakranial.
Maksilektomi Parsial
Maksilektomi Infrastruktur
Teknik ini mengikuti prinsip dasar maksilektomi radikal kecuali orbita dibiarkan intak dan labirin etmoid tidak diangkat secara en bloc namun hanya dikuret.
Setelah kelopak mata didekatkan (tarsorafi temporer), insisi Weber - Dieffenbach (Fergusson) dimulai menyilang bagian tengah bibir atas seperti tangga untuk mengurangi terjadinya kontraktur jaringan parut. Insisi diteruskan ke atas di sulkus nasolabial sampai setinggi kantus medial dan kemudian terus secara horisontal di bawah bulu mata dari kelopak mata bawah dan melewati kantus lateral. Otot orbikularis okuli dibiarkan intak dan dipertahankan di tempatnya. Sebuah insisi dibuat dalam sulkus ginggivobukal dan flap pipi, termasuk otot businator dan direfleksi ke belakang ke tuberositas maksila.
Area direseksi secara sistematis. Ini termasuk dua pertiga bawah maksila termasuk palatum durum yang bersebelahan. Sebuah gergaji gigli digunakan
untuk memotong palatum durum. Prosesus nasal maksila dipotong dengan pahat sejauh 1 - 1,5 cm ke level infraorbita.
Dengan demikian konka inferior (tulang terpisah) termasuk dalam spesimen yang direseksi, sementara konka superior dan medial, yang merupakan bagian etmoid, dieksisi sebagai fragmen terpisah setelah spesimen utama diangkat.
Jika tumor mengenai dinding medial antrum, maka konka media dan superior diangkat en bloc bersama spesimen utama. Bila tumor mengenai septum, maka dasar hidung ditranseksi pada sisi kontralateral. Septum akhirnya diangkat bersama spesimen utama. Jika memungkinkan, kolumela dipertahankan; jika tidak, sebuah graft anterior diselipkan sebagai penopang.
Otot orbikularis okuli diretraksi ke atas. Sebuah gergaji stryker memotong sepertiga atas maksila, sambil mempertahankan sebagian besar tepi infraorbita dan dasar orbita. Pemotongan ini diperluas ke lateral menyilang badan zigoma. Perlekatan posterolateral maksila dipisahkan dari prosesus pterigoid tulang sfenoid dengan pahat. Dinding posterior maksila biasanya cukup bebas untuk pengangkatan spesimen dengan menggoyang maksila. Cabang-cabang arteri maksila interna, khususnya yang berada di dalam fosa pterigomaksila perlu diligasi.
Sinus etmoidalis anterior dan posterior dikuret, dengan kehati-hatian yang sama seperti melakukan etmoidektomi. Graft kulit split thickness digunakan untuk menutupi semua area yang terbuka.
Povidone - iodine digunakan sebagai tampon, yang akan diangkat dalam 7 sampai 10 hari dan sebuah prostesa sementara diselipkan. Dalam 2 minggu tarsorafi sementara dilepaskan.
Kontraindikasi
Tumor yang meluas ke tulang orbita dan pterigoid
Tumor dengan perluasan ke intrakranial (dural)
Tumor yang menyebar ke daerah lateral atau palatum
Tumor yang menyebar ke lantai orbital atau malar
Maksilektomi suprastruktur
Maksilektomi suprastruktur dilakukan dengan prosedur yang sama dengan maksilektomi radikal, tetapi tidak dilakukan pemotongan tulang untuk mengeluarkan maksila bagian bawah (lihat prosedur maksilektomi radikal dan maksilektomi medial).
KOMPLIKASI OPERASI
Obstruksi jalan nafas kecuali telah dilakukan trakeostomi
Kecacatan pada tulang maksila
Kelainan fungsional akibat trauma tindakan reseksi tumor :
Kolaps pada bibir
Gangguan bicara
Sulit menelan
Komplikasi orbita :
Terpotongnya duktus nasolakrimalis
Stenosis muara sakus lakrimalis, dapat mengakibatkan epifora
Terbatasnya pergerakan otot ekstra okuler
Tertekannya saraf optik selama mobilisasi spesimen atau reseksi kraniofasial
Enoptalmos atau hipoptalmos.
Komplikasi luka operasi :
Perdarahan
Infeksi
Hilangnya flap rekonstruktif atau graft kulit.
Komplikasi dasar tengkorak :
Keluarnya cairan serebrospinal
Meningitis, abses intrakranial
Pneumosefalus
Osteomielitis.
KOMPLIKASI LANJUT
Mukokel sinonasal
Rinitis kronik
Tumor residif
Osteoradionekrosis
PERAWATAN PASCABEDAH
Penderita dirawat inap
Posisi tidur dengan kepala ditinggikan
Antibiotik
Sistemik
Analgetik sistemik
Perawatan luka
Kontrol 3 - 4 minggu setelah tindakan operasi.
INSTRUMEN YANG DIPERLUKAN
Rongeur Kerrison
Forsep etmoid
Pahat ukuran 4 mm
Osteotom ukuran 2 mm
Klem
Kauterisasi
Gel foam
Gergaji gigli
Penjepit perak
Pahat atau sagittal plane saw
Resparatorium perios
Penjepit melengkung
Kuret
Rongeur menyudut
Forsep penjepit depan (Jansen - Middleton)
Forsep penjepit belakang (Hajek atau Kerrison)
Probe metal
Retraktor panjang Langenbeck
Bor
Gergaji stryker
Benang catgut kromik nomor 4
Cairan povidone - iodine
Salep klortetrasiklin
Benang nilon 3-0
Retraktor melengkung
Kasa absorben
Tampon
Gunting bengkok.
PROGNOSIS
Pada umumnya prognosis kurang baik. Banyak sekali faktor yang mempengaruhi prognosis keganasan hidung dan sinus paranasal,cara tepat dan akurat. Faktor- faktor tersebut seperti, perbedaan diagnosis histologi, asal tumor, pengobatan yang diberikan sebelumnya, status batas sayatan, terapi ajuvan yang diberikan, status immunologis, lamanya follow up dan banyak lagi faktor lain yang dapat berpengaruh terhadap agresifitas penyakit dan hasil pengobatan yang tentunya berpengaruh juga terhadap prognosis penyakit ini. Walaupun demikian pengobatan yang agresif secara multimodalitas akan memberikan hasil yang terbaik dalam mengontrol tumor primer dan akan meningkatkan angka bertahan hidup selama 5 tahun sebesar 75% untuk seluruh stadium tumor.
DAFTAR ISI
MODUL VII.9
ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER: LIMFOMA KEPALA LEHER
WAKTU
Mengembangkan Kompetensi | Alokasi Waktu |
Sesi di dalam kelas Sesi dengan fasilitas pembimbing Sesi praktek dan pencapaian kompetensi | 1 x 90 menit (classroom session) 1 x 60 menit (coaching session) 8 Jam (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi presentasi: Sarkoma jaringan lunak kepala leher Slide 1: Limfoma kepala leher
Slide 2: Teknik pemeriksaan Slide 3: Metoda diagnostik
Slide 4: Guideline penatalaksanaan
Kasus: Non Hodgkin Limfoma pada tonsila palatina
Sarana dan Alat Bantu Latih:
Penuntun belajar (learning guide): terlampir
Tempat belajar (training setting): bangsal rawat inap T.H.T.K.L, Poliklinik T.H.T.K.L, kamar operasi.
Komputer/laptop
Infocus
REFERENSI
Chai RL, Tassler AB, Kim S: Lymphomas of the head and neack. In: BJ Bailey, et al., eds. Head and Neck Surgery-Otolaryngology.Vol 2. 5th Ed. Philadelphia; Lippincott Williams & Wilkins: 2014. 5 ed. p. 2032-43
Cheah CY,Hagemeister FB. Lymphoma Presenting in the Head and Neck; Curent Issues in Diagnosis and Managementn: Myers J, Hanna E, Myers E, ed. Cancer of The Head and Neck. 5th ed. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2017. p. 1095-559
Yeung J, Chan Y. HIV: Head and Neck Surgery. In: Chan Y, Goddaed JC. Editors. K.J.Lee's Essential Otolaryngology Head and Neck Surgery. 11th (ed). United States: McGraw-Hill education. 2016. p. 195-7
Shah JP, Patel SG, Singh B, Wong R. Jatin Shah's Head and Neck Surgery and Oncology 5th (ed). Edinburgh: Elsevier. 2020. p. 647-699
KOMPETENSI
Pengetahuan
Memahami anatomi, histologi, dan fisiologi sistem limfatik secara umum
Memahami etiologi dan proses limfomagenesis terutama limfoma di regio kepala dan leher
Mengetahui dan memahami klasifikasi limfoma
Mengetahui dan memahami faktor risiko terjadinya limfoma di regio kepala dan leher
Mengetahui berbagai pemeriksaan yang diperlukan untuk menegakan diagnosis, staging dan prognosis limfoma diregio kepala dan leher
Memahami tatalaksana limfoma diregio kepala dan leher secara lengkap
Keterampilan
Setelah Mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam:
Melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik
Mampu mengenali gejala dan tanda adanya limfoma kepala leher
Mampu menegakan diagnosis limfoma diregio kepala dan leher
Mampu menjelaskan tatalaksana limfoma di regio kepala leher secara lengkap
Mampu melakukan follow up pada pasien limfoma kepala dan leher.
GAMBARAN UMUM
Limfoma merupakan keganasan dari sistem limfoid. Limfoma dapat berkembang pada organ limfoid primer maupun sekunder dan juga dapat muncul diberbagai bagian dari tubuh manusia diluar kelenjar getah bening akibat kemampuan infiltrasi dari sel limfosit yang malignan. Limfoma dibagi menjadi dua tipe yaitu Hodgkin limfoma dan non Hodgkin limfoma (NHL). Kedua tipe limfoma ini dibedakan dengan adanya sel reed Sternberg pada Hodgkin limfoma. Data epidemiologi menunjukan insidens Non Hodkin Limfoma enam kali lebih sering dibandingkan dengan Hodgkin Limfoma. Sebagian besar Limfoma kepala dan leher adalah tipe non Hodgkin Limfoma dan merupakan sub tipe Diffuse Large B cell Lymphoma(DLBCL).
Pada regio kepala dan leher limfoma dapat bermanifestasi pada kelenjar getah bening yang ada di region kepala leher (Nodal), dan bermanifestasi di struktur selain kelenjar getah bening (Ekstra Nodal). Manifestasi Limfoma pada organ limfoid seperti pada cincin waldeyer termasuk pada limfoma ekstra nodal.
Perkembangan Non Hodgkin Limfoma diawali dengan akumulasi gangguan genetik yang menginduksi pertumbuhan yang menguntungkan bagi klon sel malignan. Translokasi berulang yang muncul selama tahapan perkembangan sel limfosit B seringkali menjadi tahap awal dalam perubahan menjadi suatu keganasan. Translokasi ini akan menyebabkan deregulasi ekspresi onkogen yang mengontrol proliferasi, ketahanan dan diferensiasi sel B. Walaupun demikian gangguan genetik ini seringkali tidak mencukupi untuk perkembangan limfoma. Diperlukan gangguan genetik sekunder untuk menjadikan transformasi keganasan yang lengkap.36
Limfoma sel B berkembang dari berbagai tahapan diferensiasi sel B yang normal dan akan mewakili pasangan keganasannya. Perkembangan sel B terdiri dari tahapan yang berbeda dan diawali pada organ limfoid primer dan selanjutnya akan mengalami perkembangan lebih lanjut pada jaringan limfoid sekunder seperti kelenjar getah bening, lien, atau tonsil. Selama perkembangan tersebut terjadi beberapa modifikasi DNA yang penting untuk perkembangan respon imun yang normal. Proses perkembangan dan diferensiasi sel B memiliki resiko untuk terjadinya abnormalitas genetik dan dapat memicu terjadinya limfoma. Perkembangan sel limfosit B pada sumsum tulang diawali dengan rekombinasi acak dari gen yang menyandi region heavy dan light rantai antibodi untuk membentuk B-cell Receptor ( BCR). Proses ini dikenal sebagai V(D)J rekombinasi dan melibatkan pemecahan rantai ganda DNA oleh recombinant activating gen 1 (RAG-1) dan recombination activating gene 2(RAG-2),
yang akan diakhiri dengan proses perbaikan nonhomologues end- joining. Gen rantai berat immunoglobulin terdiri dari beberapa elemen V(variable), D(diversity) dan J(joining), sedangkan rantai ringan merupakan rekombinasi dari elemen V dan J.
CONTOH KASUS
Penderita datang dengan keluhan benjolan pada leher padat kenyal membesar dengan cepat.Benjolan juga didapatkan pada tonsil sebelah kanan. Penderita juga mengeluh timbul benjolan pada ketiak dan lipatan paha.
Diskusi :
Bagaimana cara menegakan diagnosis pada pasien tersebut?
Pemeriksaan apa yang diperlukan untuk menegakkan diagnosis pasien ini? Jawaban:
Diagnosis limfoma
Penegakan diagnosis Limfoma memerlukan pemeriksaan yang cermat dan kompleks mulai dari pemeriksaan hematologi, biokimia, pemeriksaan pencitraan (CT-scan, MRI, PET-Ct), histopatologi, dan biologi molekular.
Anamnesis
Dilakukan anamnesis lengkap pada pasien,meliputi:
Gejala dan keluhan yang dirasakan penderita
Sejak kapan benjolan dirasakan muncul
Gejala yang menyertai seperti; nyeri, sesak nafas
B symptoms: Panas badan, banyak berkeringat, penurunan berat badan
Faktor risiko
Riwayat keluarga
HIV konfirmasi dengan pemeriksaan Laboratorium
Paparan zat kimia
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan Hematologi
Pemeriksan hematologi lengkap pada limfoma sering kali dalam batas normal, tetapi bila terdapat infiltrasi pada sumsum tulang dapat menyebabkan anemia, trombositopeni dan leukopeni. Pada beberapa subtipe limfoma dapat terjadi fenomena autoimmune dimana akan didapatkan kondisi limfopenia seperti pada tipe chronic lymphocytic leukemia dan small lymphocytic lymphoma.
Pemeriksaan Biokimia
Laktat dehidrogenase (LDH), albumin dan beta-2-microgloblin dapat mempengaruhi prognosis dari NHL. Beberapa tipe limfoma dapat berhubungan dengan monoclonal gammopathies atau hipogmaglobulinemia.
Pemeriksaan serologi
Pemeriksaan serologi terhadap faktor etiologi seperti EBV, HIV dan hepatitis C kadang dilakukan meskipun belum menjadi standar pemeriksaan rutin pada limfoma. Status hepatitis B dan CMV juga diperlukan dan dapat mempengaruhi terapi yang diberikan .
Pemeriksaan Histopatologi
Pemeriksaan histopatologi merupakan baku emas untuk menentukan jenis dan tipe limfoma. Bahan pemeriksaan diambil dari biopsi kelenjar dan jaringan yang terkena. Jaringan yang diambil dilakukan pewarnaan haematoxylin dan eosin (H&E) sebelum dilakukan pemeriksaan imonohistokimia. Saat ini sudah terdapat beberapa panel antibody yang menjadi standar untuk pemeriksaan limfoma. Biopsi dari sumsum tulang dilakukan jika dicurigai terdapat keterlibatan sumsum tulang. Jika terbukti adanya keterlibatan sumsum tulang maka pemeriksaan untuk mencari limfoma pada strukur jaringan yang lain. Pemeriksaan bone scan, cerebrospinal fluid dan MRI pelu dilakukan untuk konfirmasi diagnosis.
Pemeriksaan Pencitraan
CT-Scan diperlukan untuk menentukan stadium dari limfoma. Ct-scan akan memberikan gambaran mengenai penyebaran dan kelompok kelenjar jaringan yang terlibat. Pemeriksaan fluorodeoxyglucose- positron emission tomography (FDG-PET) saat ini juga telah digunakan dalam penentuan staging dan respons terapi HL dan NHL. Peranan FDG -PET dalam tatalaksana limfoma menjadi penting karena kemampuannya dalam menentukan adanya residu tumor pasca terapi
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan Pembelajaran Umum
Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan melakukan tindakan yang tepat terhadap penderita Limfoma Kepala dan Leher.
Tujuan Pembelajaran Khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan mampu untuk:
Secara khusus di regio kepala dan leher (tingkat kompetensi K3, A3)
Mampu menguasai etiologic dan proses limfomagenesis Limfoma secara umum (tingkat kompetensi K3, A3)
Mampu melakukan pemeriksaan dan menegakan diagnosis serta menguasi sistem staging dari limfoma (tingkat kompetensi K3, A3)
Mampu melaksanakan tindakan pengambilan sampel biopsi dengan tehnik yang baik (tingkat kompetensi K3, A3,P4) (lihat ditindakan modul onkologi biopsi orofaring)
Menentukan dan melakukan pemeriksan penunjang (Rinolaringofiberopetik (RLFO lihat di modul laring faring),nasal endoskopi/ nasofaringoskopi (lihat di modul Rinologi dan modul onkologi NPC) CT scan nasofaring,CT Thorax,CT Abdomen) (tingkat kompetensi K3, A3,P4)
Membuat diagnosis Limfoma kepala dan leher berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik maupun penunjang (tingkat kompetensi K3, A3)
Melakukan tatalaksana Limfoma Kepala dan leher dan follow up pasca terapi (tingkat kompetensi K3, A3)
Melakukan work-up dan memutuskan terapi pendahuluan serta merujuk ke fasilitas kesehatan yang relevan. (tingkat kompetensi K3, A3)
METODE PEMBELAJARAN
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan mempunyai kemampuan dasar untuk menegakkan diagnosis limfoma kepala dan leher dan mampu untuk menentukan tatalaksana yang sesuai.
Tujuan 1. Anatomi dan fisiologi sistem limfatik di regio kepala dan leher
Peserta didik harus tahu:
Sistem limfatik di regio kepala dan leher
Pembagian Limfoma ekstranodal dan nodal pada regio kepala dan leher
Patofisiologi dan limfomagenesis
Untuk mencapai tujuan tersebut dengan:
Interactive lecture
Small group discussion.
Peer assisted learning (PAL)
Bedside teaching.
Task based medical education
Tujuan 2. Terampil melakukan pemeriksaan dan menegakkan diagnosis
Peserta didik harus tahu:
Cara melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik dengan benar
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Literature Reading
Skill lab
Bedside teaching
Case report
Praktik poliklinik
Tujuan 3. Mampu/memiliki keterampilan dalam penatalaksanaan limfoma kepala leher
Peserta didik harus tahu:
Melakukan tindakan penatalaksanaan limfoma kepala leher Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Literature Reading
Journal reading
Bedside teaching
Case report
Praktik poliklinik
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pretest dalam bentuk essay sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengindentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri atas;
Mampu menguasai Anatomi dan fisiologi system limfatik secara umum dan secara khusus di regio kepala dan leher
Mampu menguasai etiologic dan proses limfomagenesis Limfoma secara umum
Mampu melakukan pemeriksaan dan menegakan diagnosis serta menguasi sistem staging dari limfoma
Mampu melaksanakan tindakan pengambilan sampel biopsi dengan tehnik yang baik
Selanjutnya dilakukan small group discussion bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian.
Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk role play dan teman-temannya (Peer Assisted Evaluation) atau kepada SP (Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assisted Evaluation) setelah dianggap memadai, melalui metode bedside teaching dibawah pengawasan fasilitator, peserta dididik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomi dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut :
Perlu perbaikan: pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan.
Cukup: pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien.
Baik: pelaksanaan benar dan baik (efisien)
Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
Self assesment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar.
Pendidik/ fasilitas:
Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form
(terlampir)
Penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi
Kriteria penilaian keseluruhan : cakap/ tidak cakap/ lalai
Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education)
Pencapaian pembelajaran:
Ujian OSCE (K,P,A), dilakukan pada tahapan T.H.T.K.L dasar oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L
Ujian akhir stase, setiap divisi / unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan T.H.T.K.L lanjut oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L.
Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan T.H.T.K.L lanjut oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L.
Ujian akhir profesi (kasus bedah), dilakukan pada akhir pendidikan oleh Kolegium I T.H.T.K.L.
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Kuesioner Sebelum Pembelajaran (Pre Test)
Soal:
Apa definisi limfoma kepala leher?
Jawaban:
Kelompok keganasan primer limfosit dalam sistem limfe, berasal dari limfosit B, limfosit T dan jarang dari sel Natural Killer yang berada dalam sistem limfe; sangat heterogen, baik tipe histologis, gejala, perjalanan klinis, respon terhadap pengobatan maupun prognosis.
Dimana saja bisa terjadi pembesaran KGB pada NHL?
Jawaban:
NHL sering melibatkan kelenjar limfe servikal dan pada 10% kasus di regio kepala- leher dapat terjadi ekstranodal, yaitu pada cincin Waldeyer, sinus paranasal, kavum nasi, laring, orofaring, nasofaring, kelenjar ludah, tiroid dan orbita.
Kuesioner tengah pembelajaran
Soal:
Apakah etiologi dari NHL?
Jawaban:
Etiologi sebagian besar NHL tidak diketahui. Namun terdapat beberapa faktor resiko terjadinya NHL antara lain imunodefisiensi, agen infeksius seperti Epstein Barr Virus (EBV), paparan lingkungan dan pekerjaan seperti peternak, pekerja hutan dan pertanian, konsumsi makanan tinggi lemak hewani, merokok dan yang terkena paparan ultraviolet.
Pemeriksaan penunjang apa yang diperlukan pada NHL?
Jawaban:
Terapi primer untuk NHL terdiri atas radiasi, kemoterapi atau kombinasi. Limfoma merupakan jenis tumor yang sensitif terhadap kemoterapi. Obat kemoterapi yang digunakan yaitu : Cyclophosphamide, Chlorambucil, Vincristin, Prednison, Doxorubicine/Adriamycin, Bleomycin, Methotrexate dan Fludarabine. Untuk meningkatkan respon terapi maka digunakan kombinasi
Kuesioner akhir pembelajaran
43 years old male came to the clinic with the chief complaint mass at the right neck, he complaint the mass for 5 years ago. There were no history of fever, pain at the neck, hoarseness, bleeding from the nose, voice changes, weight loss, cough. From physical examination we found at the upper right neck below the auricle, there was a mass diameter 3cm, mobile, no tenderness, firm. Other examination within normal limit. From ancillary test we didn't find any disease at chest x-ray and laboratory
What other examination for diagnosis:
Open biopsy
Neck dissection
Thyroid Function test
Biopsy from nasopharynx
Fine Needle Aspiration Biopsy
Answer: E
Kemoterapi dengan mempertimbangkan toksisitas yang terjadi. Regimen yang sering digunakan adalah CVP: Cyclophosphamide, Vincristin, Prednison, CHOP: Cyclophosphamide, Hydroxydaunorubicin, Oncovin/Vincristin, Prednison dan R: Rituximab. Kemoterapi CHOP dan CVP diberikan setiap 3 minggu sampai terjadi respon lengkap diikuti 2 siklus kemoterapi konsolidasi. Jika sampai siklus ke-6 tidak terjadi remisi komplit sebaiknya diganti regimen lain. Pemberian kemoterapi dengan kombinasi radiasi pada NHL derajat rendah yaitu stadium I/II, pemberian 3-6 siklus sudah cukup adekuat.
MATERI PRESENTASI
Slide 1 : Limfoma kepala leher Slide 2 : Tehnik pemeriksaan
Slide 3 : Metoda diagnostik dan staging Slide 4 : Guideline penatalaksanaan
Slide 1
Definisi : Kelompok keganasan primer limfosit dalam sistem limfe, berasal dari limfosit B, limfosit T dan jarang dari sel Natural Killer yang berada dalam sistem limfe
Insidensi
Ruang Lingkup
Faktor resiko
Etiologi
Slide 2
1. Teknik Pemeriksaan : Pemeriksaan laboratorium menunjukkan, anemia, leukopenia, trombositopenia serta alkali fosfatase, SGOT dan SGPT yang meningkat. Peningkatan Lactic dehydrogenase (LDH) , Thoraks, USG abdomen
Diagnosis pasti dengan biopsi untuk mengetahui morfologi dan imunohistologi tumor.
Slide 3. Sistem staging
Slide 4. Penatalaksanaan
1. Terapi primer untuk NHL terdiri atas radiasi, kemoterapi atau kombinasi. Limfoma merupakan jenis tumor yang sensitif terhadap kemoterapi
MATERI BAKU
Limfoma Kepala Leher
Definisi :
Kelompok keganasan primer limfosit dalam sistem limfe, berasal dari limfosit B, limfosit T dan jarang dari sel Natural Killer yang berada dalam sistem limfe; sangat heterogen, baik tipe histologis, gejala, perjalanan klinis, respon terhadap pengobatan maupun prognosis. Pada NHL sebuah sel limfosit berproliferasi secara tak terkendali yang mengakibatkan terbentuknya tumor. Seluruh sel NHL berasal dari satu sel limfosit, sehingga semua sel dalam tumor pasien NHL sel B memiliki imunoglobulin yang sama pada permukaan selnya.
Insidensi:
NHL sering melibatkan kelenjar limfe servikal dan pada 10% kasus di regio kepala- leher dan dapat terjadi ekstranodal, yaitu pada cincin Waldeyer, sinus paranasal, kavum nasi, laring, orofaring, nasofaring, kelenjar ludah, tiroid dan orbita. NHL secara umum terjadi pada pria. Insidensi NHL meningkat seiring dengan bertambahnya usia dan
mencapai puncak pada kelompok usia 80-84 tahun. Di Indonesia NHL bersama-sama dengan penyakit Hodgkin dan leukemia menduduki urutan ke enam tersering. Sampai saat ini belum diketahui sepenuhnya mengapa angka kejadian NHL terus meningkat.
Ruang Lingkup:
Manifestasi klinis bervariasi tergantung pada lokasi tumor dan stadiumnya.Gejala awal yang timbul sering tidak spesifik seperti sekret hidung, sinusitis, sakit kepala, bengkak pada wajah dan periorbita. Limfoma sel NK/T ini dapat mengadakan metastasis cepat seperti ke kulit, saluran gastrointestinal, testis atau limfenodi servikal. Dapat pula timbul gejala sistemik seperti febris, keringat malam dan penurunan berat badan (B Symtomps).
Faktor Resiko:
NHL ini dapat terjadi pada semua usia, umumnya terjadi pada dekade ke 4-6, dengan usia rata-rata >60 tahun. Laki-laki lebih banyak dibandingkan perempuan dengan perbandingan 3:1.
Etiologi:
Etiologi sebagian besar NHL tidak diketahui. Namun terdapat beberapa faktor resiko terjadinya NHL antara lain imunodefisiensi, agen infeksius seperti Epstein Barr Virus (EBV), paparan lingkungan dan pekerjaan seperti peternak, pekerja hutan dan pertanian, konsumsi makanan tinggi lemak hewani, merokok dan yang terkena paparan ultraviolet.
Pemeriksaan Penunjang:
Pemeriksaan laboratorium menunjukkan, anemia, leukopenia, trombositopenia serta alkali fosfatase, SGOT dan SGPT yang meningkat. Peningkatan Lactic dehydrogenase (LDH) sering pada NHL dengan proliferasi sel yang cepat dan pada penyakit yang telah meluas. Pemeriksaan foto toraks dan USG abdomen untuk menentukan keterlibatan kelenjar limfe mediastinal dan paraaorta. Aspirasi sumsum tulang dilakukan hanya pada penderita stadium III-IV, disertai anemia atau leukopenia yang tidak jelas sebabnya atau disertai kelainan radiologi.
Diagnosis pasti dengan biopsi untuk mengetahui morfologi dan imunohistologi tumor.
Sistem staging
Penentuan Prognosis berdasarkan IPI Score
Terapi:
Terapi primer untuk NHL terdiri atas radiasi, kemoterapi atau kombinasi. Limfoma merupakan jenis tumor yang sensitif terhadap kemoterapi. Obat kemoterapi yang digunakan yaitu : Cyclophosphamide, Chlorambucil, Vincristin, Prednison, Doxorubicine/Adriamycin, Bleomycin, Methotrexate dan Fludarabine. Untuk meningkatkan respon terapi maka digunakan kombinasi kemoterapi dengan mempertimbangkan toksisitas yang terjadi. Regimen yang sering digunakan adalah CVP: Cyclophosphamide, Vincristin, Prednison, CHOP: Cyclophosphamide, Hydroxydaunorubicin, Oncovin/Vincristin, Prednison dan R: Rituximab. Kemoterapi CHOP dan CVP diberikan setiap 3 minggu sampai terjadi respon lengkap diikuti 2 siklus kemoterapi konsolidasi. Jika sampai siklus ke-6 tidak terjadi remisi komplit sebaiknya diganti regimen lain. Pemberian kemoterapi dengan kombinasi radiasi pada NHL derajat rendah yaitu stadium I/II, pemberian 3-6 siklus sudah cukup adekuat.2 Belum ada ketentuan tentang waktu yang paling tepat untuk kombinasi radioterapi dengan kemoterapi
Tindak Lanjut:
Evaluasi komplikasi radioterapi dan kemoterapi
Evaluasi adanya sisa tumor atau rekurensi pasca terapi.
Wegener's Granulomatosis
Wegener's Granulomatosis (WG) adalah suatu penyakit sistemik yang jarang dijumpai, belum diketahui penyebabnya, ditandai dengan adanya inflamasi pada dinding pembuluh darah (vaskulitis), yang dapat mengenai pembuluh darah kecil dan sedang. Inflamasi pada pembuluh darah menimbulkan kerusakan pada organ tubuh yang terkena, oleh karena berkurangnya aliran darah ke organ tersebut dan kemudian dapat menimbulkan kerusakan jaringan. WG dapat mengenai seluruh organ tubuh tetapi organ yang paling sering terkena adalah organ pernapasan dan ginjal. Prevalensi WG adalah 3 per 100.000 penduduk di Amerika Serikat dan 10,2 hingga 250 kasus per 1.000.000 penduduk di Inggris. Penyakit ini menyerang semua tingkatan usia dengan kejadian terbanyak pada usia antara 40 hingga 50 tahun, dan sangat jarang mengenai anak-anak. WG dapat diderita oleh laki-laki dan perempuan dengan rasio yang sama dan lebih banyak mengenai orang berkulit putih daripada kulit hitam.
Penyebab WG belum diketahui sampai saat ini, meskipun pengetahuan tentang penyakit ini sudah memperoleh kemajuan. Dikatakan bahwa penyakit ini muncul sebagai akibat reaksi dari sistem imun, selain itu faktor genetik dan lingkungan juga memiliki peran dalam timbulnya penyakit ini.
Gejala klinis WG pada saat aktif pada umumnya berupa gejala yang tidak spesifik, seperti lelah, lemah, nyeri pada sendi, nafsu makan yang berkurang, penurunan berat badan, demam, dan berkeringat di malam hari. Selanjutnya gejala yang muncul sesuai dengan organ yang terkena, yaitu gejala penyakit yang mengenai telinga, hidung, tenggorok, paru, ginjal, mata dan organ lainnya.Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan laboratorium darah tidak menunjukkan hal yang spesifik. Pada pemeriksaan kimia darah dapat ditemukan adanya peningkatan ureum kreatinin dan hipoalbuminemia. Pada penderita harus dilakukan urinalisis termasuk pemeriksaan sedimen urine untuk mengetahui adanya hematuria dan proteinuria.
Pemeriksaan serologis ditujukan untuk mendeteksi adanya Antineutrophyl Cytoplasmic Autoantibodies (ANCA), dengan cara pemeriksaan Indirect Immunofluorescent (IIF) dan ELISA (Enzyme Linked Imunoabsorbent Assay). Pemeriksaan histologis dilakukan dengan melakukan biopsi jaringan pada organ yang terkena. Gambaran histologi yang spesifik yakni necrotizing granulomatousvasculitis merupakan hal yang penting pada penegakan diagnosis WG serta untuk membedakannya dari penyakit lain yang memberikan gejala mirip atau pada kasus dengan manifestasi klinis yang tidak muncul. Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis WG dapat berupa bronkoskopi, spirometri, endoskopi.
American College of Rheumatology menyusun kriteria klasifikasi sebagai berikut: inflamasi hidung dan mulut (berupa ulkus pada mulut atau adanya cairan hidung yang berdarah);pemeriksaan radiologi paru yang abnormal (nodul, infiltrat atau kavitas); sedimen urine nefritik (mikrohematuria atau cast sel darah merah); serta inflamasi granulomatosa pada biopsi. Untuk ditetapkannya diagnosis WG, pasien harus memiliki 2 atau lebih dari 4 kriteria di atas.
Pengobatan WG saat ini terutama menggunakan kombinasi kortikosteroid dan obat sitotoksik, di samping beberapa obat lain. Obat-obat yang dipakai pada pengobatan WG selain mempunyai efek terapeutik juga mempunyai efek toksisitas, sehingga pemilihan obat, dosis, dan pengawasan pasien harus diperhatikan. Selain pengawasan terhadap remisi penyakit dan kekambuhan, juga sangat penting dilakukan pengawasan terhadap efek samping obat.
DAFTAR ISI
MODUL VII.10
ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER: NEOPLASMA KELENJAR LIUR
WAKTU
Mengembangkan Kompetensi | Alokasi Waktu |
Sesi dalam kelas Sesi dengan fasilitas pembimbing Sesi praktek dan pencapaian kompetensi | 3x 90 menit (classroom session) 3 x 60 menit (coaching session) 24 jam (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi presentasi:
Power point
Video
Kasus: tumor jinak parotis, submandibula, sublingual
Sarana dan alat bantu latih: (disesuaikan dengan pencapaian kompetensi):
Penuntun belajar (learning guide): terlampir
Tempat belajar (training setting): instalasi rawat inap, instalasi rawat jalan, kamar operasi, ruang praktikum, ruang kuliah
Model/manekin atau kadaver
Komputer/laptop
Infocus
REFERENSI
Oh YS, Russell MS, Eisele DW. Salivary gland neoplasms. In: Jhonson Jt, Rosen CA, editors. Bailey's head & neck surgery otolaryngology. 5th ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2014. p. 1760-87
Mydlarz W, Ha P, Eisele DW. Salivary Gland Disease. Chan Y, Goddaed JC. Editors. K.J.Lee's Essential Otolaryngology Head and Neck Surgery. 11th (ed). United States: McGraw-Hill education. 2016. p. 543-63
Koshkareva YA, Ferris RL. Cancer of the Salivary Glands. In: Myers JN, Hanna EYN, Myers EN. Editors. Cancerof the Head and Neck 5th (ed). Philadelphia: Wolters Kluwer, Lippincott Williams & Wilkins. 2017. p. 890-927
Shah J. Larynx and Trachea. In: Shah J, ed. Head and neck surgery and oncology. 5th ed. Philadelphia: Elsevier Co; 2020. p. 557-608
Amin, M.B., Edge, S.B. and American Joint Committee on Cancer, 2017. AJCC Cancer Staging Manual, 8th ed. Springer
Pfister DG, Spenser S, Adelstein D, Adkins D, Brizel DM, Burtness BA. NCCN Clinical Practise Guidelines in Oncology. Head and Neck Cancer: National Comprehensive Cancer Network; 2020. p.1-225
KOMPETENSI
Pengetahuan
Mampu membuat diagnosis neoplasma kelenjar liur berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Peserta didik dapat memutuskan dan melakukan terapi pendahuluan serta merujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi.
Keterampilan
Setelah Mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam :
Melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik neoplasma kelenjar liur.
Membuat keputusan pemeriksan penunjang yang diperlukan (biopsi aspirasi jarum halus/fine needle aspiration biopsy (FNAB), sialografi, USG, dan CT scan parotis, MRI, dll)
Menetapkan diagnosis termasuk penentuan stadium neoplasma kelenjar liur.
Membuat keputusan klinik.
Menjelaskan langkah operasi parotidektomi, ektirpasi tumor submandibula dan ekstirpasi kelenjar sublingal beserta komplikasi yang mungkin serta memberikan terapi pendahuluan.
Melakukan rujukan pada fasilitas kesehatan yang lebih tinggi.
GAMBARAN UMUM
Kelenjar liur dibagi menjadi kelenjar liur mayor dan minor. Neoplasma kelenjar liur relatif jarang, sekitar 3-6% dari seluruh tumor di kepala dan leher. Faktor risiko dan distribusi histopatologi tumor berbeda antara masing-masing kelenjar liur. Sebagian besar neoplasma kelenjar liur muncul di parotis, dan umumnya jinak. Insiden tumor ganas pada parotis hanya sekitar 25%, sisanya jinak, sedangkan tumor di kelenjar submandibula dan kelenjar liur minor berupa tumor ganas masing-masing 50% dan 80%. Tumor jinak paling sering pada kelenjar liur adalah adenoma pleomorfik, kelenjar parotis merupakan lokasi paling sering diikuti kelenjar submandibula dan kelenjar liur minor. Tumor ini umumnya muncul pada usia dekade kelima dan keenam dan lebih sering pada wanita. Sementara tumor ganas paling sering pada parotis adalah karsinoma mukoepidermoid, sedangkan pada kelenjar submandibula dan kelenjar liur minor keganasan paling sering adalah karsinoma adenoid kistik.
Kelenjar saliva mayor yang paling kecil adalah kelenjar sublingual. Kelenjar sublingual ada sepasang dan terletak tepat di bawah mukosa dari dasar mulut, anterior duktus submandibular dan di atas otot mylohyoid dan geniohyoid. Drainase kelenjar sublingual mengalir melalui 8-20 saluran ekskretoris Rivinus ke saluran kelenjar submandibula dan ke mulut pada puncak membran mukosa yang disebut plica fimbriata yang terletak di kedua sisi frenulum lidah. Nervus lingual berada menyilang duktus submandibular di dasar lateral mulut. Saraf lingual berfungsi untuk sensasi somatik pada dua pertiga anterior lidah. Selain itu, saraf ini mensuplai serat sekretomotorik ke
submandibular dan kelenjar sublingual, serta memberikan sensasi rasa dari lidah. Serabut sekretomotorik dan sensorik khusus berasal dari nervus fasialis, dan mencapai nervus lingualis melalui saraf chorda timpani. Tumor kelenjar sublingual sangat jarang dan umumnya bersifat jinak. Kasus tumor malignan yang terbanyak adalah karsinoma adenoid kistik.
CONTOH KASUS
Seorang wanita umur 55 tahun datang ke poli T.H.T.K.L dengan keluhan benjolan dibagian bawah daun telinga kiri, soliter, tidak nyeri. Benjolan sudah dirasakan sejak 2 tahun yang lalu dan sudah di periksakan ke dokter umum diberi obat dan bila tidak mengecil, dianjurkan untuk periksa ke dokter T.H.T.K.L. Benjolan dirasakan bertambah besar secara lambat.
Seorang pasien laki-laki umur 42 tahun dilaporkan dengan riwayat benjolan di daerah submandibular kiri selama 8 bulan terakhir. Benjolan tersebut tumbuh lambat dan tidak nyeri. Ukuran sekitar 7 cm × 5 cm dan berbentuk oval. Pada palpasi massa tampak berbatas tegas, tidak nyeri tekan dan mobile. Pemeriksaan intraoral menunjukkan tidak ada berkurangnya salivasi dari duktus Wharton kiri. Diagnosis sementara tumor kelenjar submandibular kiri diberikan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Seorang pasien wanita berusia 25 tahun datang dengan keluhan benjolan di regio submental selama 4 bulan terakhir bersifat lunak, tidak nyeri tekan, membesar dan meluas ke regio submandibular kanan. Tidak ada riwayat trauma, infeksi, atau prosedur bedah mulut atau leher. Pemeriksaan fisik menunjukkan penonjolan jaringan lunak berbentuk oval, dengan kulit di atasnya yang normal membesar dari mandibula kanan ke regio submental.
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan pembelajaran umum
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan mempunyai kemampuan dasar untuk menegakkan diagnosis tumor kelenjar liur dan mampu untuk menentukan terapi yang sesuai.
Tujuan pembelajaran khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan mampu untuk:
Menguasai anatomi dan fisiologi kelenjar liur mayor dan minor sehingga mampu menerapkan konsep-konsep dasar anatomi dan fisiologi kelenjar liur mayor dan minor untuk tindakan-tindakan klinis yang diperlukan dalam konteks evaluasi dan penatalaksanaan terhadap kasus yang kompleks.
Mampu menjelaskan epidemiologi dan etiologi/faktor risiko serta macam kelainan neoplasma kelenjar liur mayor & minor sehingga mampu menerapkan konsep-konsep dasar epidemiologi dan etiologi/ faktor risiko serta macam kelainan neoplasma kelenjar liur mayor & minor untuk tindakan-tindakan klinis yang diperlukan dalam konteks evaluasi dan penatalaksanaan terhadap kasus
yang kompleks.
Mampu menjelaskan gambaran klinis neoplasma kelenjar liur mayor dan minor sehingga mampu menerapkan konsep dasar gambaran klinis neoplasma kelenjar liur untuk tindakan-tindakan klinis yang diperlukan dalam konteks evaluasi dan penatalaksanaan terhadap kasus yang kompleks.
Mampu menentukan dan melakukan interpretasi pemeriksaan penunjang (FNAB parotis, USG, dan CT scan parotis, sialografi) sehingga mampu menerapkan konsep dasar interpretasi pemeriksaan penunjang untuk tindakan-tindakan klinis yang diperlukan dalam konteks evaluasi dan penatalaksanaan terhadap kasus kelenjar liur mayor dan minor yang umum ditemui.
Membuat diagnosis neoplasma kelenjar liur mayor dan minor berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik maupun penunjang sehingga tindakan-tindakan klinis yang diperlukan dalam penatalaksanaan terhadap kasus kelenjar liur yang kompleks dapat dilakukan.
Memutuskan terapi serta merujuk ke spesialis yang relevan sehingga tindakan- tindakan klinis yang diperlukan dalam penatalaksanaan terhadap kasus kelenjar liur mayor dan minor yang kompleks dapat dilakukan.
Melakukan tatalaksana pasca operasi dan melakukan tindakan-tindakan klinis yang diperlukan dalam konteks evaluasi dan penatalaksanaan terhadap kasus paska operasi kelenjar liur mayor dan minor yang umum ditemui.
METODE PEMBELAJARAN
Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan melakukan tindakan yang tepat terhadap penderita neoplasma kelenjar liur, yaitu :
Tujuan 1. Anatomi dan fisiologi kelenjar liur.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metoda pembelajaran berikut ini
Interactive lecture
Small group discussion.
Tujuan 2. Epidemiologi dan etiologi/faktor risiko, macam kelainan neoplasma kelenjar liur mayor & minor
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Task based medical education.
Tujuan 3. Gambaran klinis neoplasma kelenjar liur
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Case simulation and investigation exercise.
Equipment characteristics and operating instructions.
Tujuan 4. Menentukan dan melakukan interpretasi pemeriksan penunjang (FNAB parotis, USG, dan CT scan parotis, sialografi.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).
Practice with Real Clients.
Tujuan 5. Diagnosis neoplasma kelenjar liur berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik maupun penunjang.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).
Practice with Real Clients.
Tujuan 6. Melakukan work-up, menentukan terapi dan memutuskan untuk melakukan rujukan neoplasma kelenjar liur
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).
Practice with Real Clients.
Continuing Professional Development
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dalam bentuk tulisan dan wawancara singkat yang bertujuan untuk menilai pengetahuan awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri atas :
Anatomi dan fisiologi kelenjar liur.
Penegakan diagnosis
Penatalaksanaan
Follow up
Selanjutnya dilakukan "small group discussion" bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian.
Mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk kepada SP (Standardized Patient) atau melalui metode bedside teaching dibawah pengawasan fasilitator,. Pada saat pelaksanaan evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut :
Perlu perbaikan : Pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan.
Cukup : Pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien.
Baik : Pelaksanaan benar dan baik (efisien)
Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
Self assesment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar.
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Kuesioner meliputi :
Kuesioner Sebelum Pembelajaran Soal :
Motorik sebagian besar otot wajah dipersarapi oleh saraf yang melewati kelenjar parotis, Gambarkanlah sketsa saraf fasialis mulai dari trunkus utama.
Urutan angka kejadian tumor ganas berdasarkan lokasi pada kelenjar liur adalah:
Parotis<kelenjar liur minor<submandibula
kelenjar liur minor<submandibula<parotis
Parotis<submandibula<kelenjar liur minor
Submandibula<parotis<kelenjar liur minor Jawaban: B
Apakah jenis patologi keganasan yang paling sering ditemukan pada kelnjar parotis?
Karsinoma Adenoid sistik
Karsinoma Mukoepidermoid
Karsinoam ex Adenoma pleomorfik
Adenokarsinoma
Karsinoma sel asinik Jawaban: B
Kuesioner Tengah Pembelajaran
Soal :
Seorang pasien wanita umur 15 tahun datang ke poli T.H.T.K.L dengan keluhan benjolan dibagian bawah daun telinga kiri, permukaan tidak rata dengan bagian ulseratif, kadang- kadang disertai nyeri. Benjolan sudah dirasakan sejak 2 tahun yang lalu dan sudah di periksakan ke dokter umum diberi obat dan bila tidak mengecil, dianjurkan untuk periksa ke dokter T.H.T.K.L.Dari pemeriksaan Biopsi aspirasi jarum halus gambaran patologi berupa karsinoma mukoepidermoid, tidak terdapat benjolan dileher. Lakukanlah evaluasi dan penatalaksanaan termasuk staging pada pasien tersebut.
Jawaban:
Langkah yang harus dilakukan :
Anamnesis yang lengkap
Pemeriksaan fisik yang lenkap
Pemeriksaan CT Scan/ MRI untuk menentukan perluasan tumor dan pemebesaran KGB, yang berguna dalam penentuan staging T dan N.
Pemeriksaan Rontgen thoraks dan pemeriksaan laboratorium lengkap untuk mengevaluasi adanya metastasis jauh.
Penentuan stadium berdasarkan UICC/AJCC edisi 8
Penentuan rencana penetalaksanaan dapat menggunakan (tapi tidak terbatas) pada NCCN edisi terbaru
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR
PENUNTUN BELAJAR
PROSEDUR EKSISI KELENJAR SUBMANDIBULA
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.: T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan) |
Perlu perbaikan : Langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu : Langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal
Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
NAMA PESERTA: ...................................... TANGGAL: .................................
KEGIATAN | KASUS | |||
1 | 2 | 3 | T/D | |
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | ||||
- Diagnosis | ||||
- Informed Consent | ||||
- Rencana tindakan | ||||
- Persiapan sebelum tindakan | ||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR EKSISI KELENJAR SUBMANDIBULA | ||||
Pastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan esensial untuk prosedur eksisi kelenjar submandibula telah tersedia dan lengkap | ||||
III. PROSEDUR OPERASI | ||||
Prosedur Operasi | ||||
Teknik Operasi: Eksisi Kelenjar Submandibula | ||||
a. Pasien berbaring posisi supine dengan leher diekstensikan | ||||
b. Insisi kulit dilakukan mengikuti garis kulit pada dua jari dibawah margo madibula mulai dari batas depan otot sternokeidomastoid ke arah submental, kulit dan platisma diinsisi. | ||||
c. Dilanjutkan dengan pembuatan flap ke superior sampai batas inferior dari tulang mandibula dan ke inferior sampai melewati batas bawah kelenjar submandibula | ||||
KEGIATAN | KASUS | |||
1 | 2 | 3 | T/D | |
d. Selanjutnya dilakukan identifikasi saraf marginal mandibula, dan secara gentle di retraksi ke superior melewati batas bawah tulang mandibula. | ||||
e. Fasia yang menutupi kelenjar diinsisi dan dibebaskan, sampai kelenjar terlihat. Diseksi dilanjutkan ke superior, Arteri fasialis dibebaskan dan diligasi. | ||||
f. Otot milohioid diretraksi ke anterior, dan kelenjar submandibula diretraksi ke posterior untuk mengekspos saraf lingual dan duktus Wharton, Saraf lingual dibebaskan, sedangkan duktus Wharton diligasi | ||||
g. Luka operasi ditutup, setelah sebelumnya perdarahan diatasi dan pemasangan drain | ||||
h. Operasi selesai | ||||
IV. PASCA OPERASI | ||||
Instruksi pasca operasi | ||||
Tindak Lanjut: | ||||
1. Pemberian antibiotika pasca operasi. | ||||
2. Pemberian analgetika pasca operasi. | ||||
3. Evaluasi komplikasi operasi. | ||||
4. Evaluasi adanya sisa tumor atau rekurensi pasca terapi. | ||||
PENUNTUN BELAJAR
PROSEDUR EKSTIRPASI KELENJAR SUBLINGUAL
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.: 4. Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan) |
Perlu perbaikan : Langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu : Langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal
NAMA PESERTA: ...................................... TANGGAL: .................................
KEGIATAN | KASUS | |||
1 | 2 | 3 | T/D | |
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | ||||
- Diagnosis | ||||
- Informed Consent | ||||
- Rencana tindakan | ||||
- Persiapan sebelum tindakan | ||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR EKSTIRPASI KELENJAR SUBLINGUAL | ||||
Pastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan esensial untuk prosedur eksisi kelenjar sublingual telah tersedia dan lengkap | ||||
III. PROSEDUR OPERASI | ||||
Prosedur Operasi | ||||
Teknik Operasi: Ekstirpasi Kelenjar Sublingual | ||||
b. Pasien berbaring posisi supine dengan leher diekstensikan. Leher bagian anterior dan wajah bagian bawah disterilkan. Draping dilakukan sedemikian rupa sehingga mulut dan leher bagian atas terbuka. Retraktor digunakan untuk membuka mulut. Ujung lidah dijahit untuk traksi agar dasar anterior mulut terlihat. | ||||
c. Mukosa dasar mulut diinsisi di atas massa hati-hati agar tidak menusuk ke massa. Dilakukan diseksi submukosa disekitar dinding massa menggunakan diseksi tajam dan tumpul, massa dieksisi, diambil hati-hati jangan sampai melukai duktus submandibular atau saraf lingual. | ||||
d. Jika duktus submandibular terluka, maka ditranslokasi ke dasar lateral mulut dengan memobilisasi duktus tersebut, dan menjahitnya pada mukosa dasar lateral mulut. | ||||
d. Kelenjar sublingual terletak tepat di dalam mukosa di anterior duktus submandibular di dasar mulut bagian depan. Dapat dieksisi dengan menggunakan elektrokauter dan diseksi tumpul. Struktur yang berisiko tercedera adalah duktus submandibular dan saraf lingual. | ||||
f. Luka operasi ditutup, setelah sebelumnya perdarahan diatasi dan pemasangan drain | ||||
h. Operasi selesai | ||||
IV. PASCA OPERASI | ||||
Instruksi pasca operasi | ||||
Tindak Lanjut: | ||||
KEGIATAN | KASUS | |||
1 | 2 | 3 | T/D | |
1. Pemberian antibiotika pasca operasi. | ||||
2. Pemberian analgetika pasca operasi. | ||||
3. Evaluasi komplikasi operasi. | ||||
Penilaian Kinerja Keterampilan (ujian akhir)
DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA
PROSEDUR EKSISI KELENJAR SUBMANDIBULA
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan satu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini: �: Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar T/T: Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih |
: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
PESERTA: TANGGAL :
KEGIATAN | NILAI | ||
V | X | T/T | |
PERSIAPAN | |||
Pastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan esensial untuk prosedur eksisi kelenjar submandibula telah tersedia dan lengkap | |||
PROSEDUR OPERASI | |||
Prosedur Operasi | |||
Teknik Operasi: Eksisi Kelenjar Submandibula | |||
a. Pasien berbaring posisi supine dengan leher diekstensikan | |||
b. Insisi kulit dilakukan mengikuti garis kulit pada dua jari dibawah margo madibula mulai dari batas depan otot sternokeidomastoid ke arah submental, kulit dan platisma diinsisi. | |||
c. Dilanjutkan dengan pembuatan flap ke superior sampai batas inferior dari tulang mandibula dan ke inferior sampai melewati batas bawah kelenjar submandibula | |||
d. Selanjutnya dilakukan identifikasi saraf marginal mandibula, dan secara gentle di retraksi ke superior melewati batas bawah tulang mandibula. | |||
e. Fasia yang menutupi kelenjar diinsisi dan dibebaskan, sampai kelenjar terlihat. Diseksi dilanjutkan ke superior, Arteri fasialis dibebaskan dan diligasi. | |||
f. Otot mylohioid diretraksi ke anterior, dan kelenjar submandibula diretraksi ke posterior untuk memperlihatkan saraf lingual dan duktus Wharton, Saraf lingual dibebaskan, sedangkan duktus Wharton diligasi | |||
g. Luka operasi ditutup, setelah sebelumnya perdarahan diatasi dan pemasangan drain | |||
h. Operasi selesai |
PROSEDUR EKSISI KELENJAR SUBMANDIBULA
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan satu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini: �: Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar T/T: Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih |
: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
PESERTA: TANGGAL :
KEGIATAN | KASUS | |||
1 | 2 | 3 | T/D | |
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF | ||||
- Diagnosis | ||||
- Informed Consent | ||||
- Rencana tindakan | ||||
- Persiapan sebelum tindakan | ||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR EKSTIRPASI KELENJAR SUBLINGUAL | ||||
Pastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan esensial untuk prosedur eksisi kelenjar sublingual telah tersedia dan lengkap | ||||
III. PROSEDUR OPERASI | ||||
Prosedur Operasi | ||||
Teknik Operasi: Ekstirpasi Kelenjar Sublingual | ||||
a. Pasien berbaring posisi supine dengan leher diekstensikan. Leher bagian anterior dan wajah bagian bawah disterilkan. Draping dilakukan sedemikian rupa sehingga mulut dan leher bagian atas terbuka. Retraktor digunakan untuk membuka mulut. Ujung lidah dijahit untuk traksi agar dasar anterior mulut terekspos. | ||||
b. Mukosa dasar mulut diinsisi di atas massa, hati-hati agar tidak menusuk massa. Dilakukan diseksi submukosa disekitar dinding massa, menggunakan diseksi tajam dan tumpul, massa dieksisi, diambil hati- hati jangan sampai melukai duktus submandibular atau saraf lingual. | ||||
c. Jika duktus submandibular terluka, maka ditranslokasi ke dasar lateral mulut dengan memobilisasiduktus tersebut, dan menjahitnya pada mukosa dasar lateral mulut. | ||||
d. Kelenjar sublingual terletak tepat di dalam mukosa di anterior duktus submandibular di dasar mulut bagian depan. Dapat dieksisi dengan menggunakan elektrokauter dan diseksi tumpul. Struktur yang berisiko tercedera adalah duktus submandibular dan saraf lingual. | ||||
e. Luka operasi ditutup, setelah sebelumnya perdarahan diatasi dan pemasangan drain | ||||
f. Operasi selesai | ||||
IV. PASCA OPERASI | ||||
Instruksi pasca operasi | ||||
Tindak Lanjut: | ||||
1. Pemberian antibiotika pasca operasi. | ||||
2. Pemberian analgetika pasca operasi. | ||||
3. Evaluasi komplikasi operasi. | ||||
MATERI PRESENTASI
SLIDE 1: Anatomi dan Fisiologi Kelenjar Liur
SLIDE 2: Epidemiologi dan Etiologi Neoplasma Kelenjar Liur
SLIDE 3: Neoplasma Jinak Kelenjar Liur
SLIDE 4: Neoplasma Ganas Kelenjar Liur
SLIDE 5: Diagnosis dan Staging Neoplasma Kelenjar Liur
SLIDE 6: Penatalaksanaan Neoplasma Kelenjar Liur
Eksisi kelenjar submandibula
MATERI BAKU
Anatomi
Kelenjar liur dibagi menjadi kelenjar liur mayor dan minor. Neoplasma kelenjar liur relatif jarang, sekitar 3-6% dari seluruh tumor di kepala dan leher. Faktor risiko dan distribusi histopatologi tumor berbeda antara masing-masing kelenjar liur. Sebagian besar neoplasma kelenjar liur muncul di parotis, dan umumnya jinak. Insiden tumor ganas pada parotis hanya sekitar 25%, sisanya jinak, sedangkan tumor di kelenjar submandibula dan kelenjar liur minor berupa tumor ganas masing-masing 50% dan 80%. Tumor jinak paling sering pada kelenjar liur adalah adenoma pleomorfik, kelenjar parotis merupakan lokasi paling sering diikuti kelenjar submandibula dan kelenjar liur minor. Tumor ini umumya muncul pada usia dekade kelima dan keenam dan lebih sering pada wanita. Sementara tumor ganas paling sering pada parotis adalah karsinoma mukoepidermoid, sedangkan pada kelenjar submandinula dan kelenjar liur minor keganasan paling sering adalah karsinoma adenoid kistik.
Insidensi
Kejadian neoplasma kelenjar liur sekitar 1/100.000 , sekitar 70% neoplasma berasal dari kelenjar parotis. Dari semua neoplasma parotis 75-80%-nya merupakan tumor jinak. Sedangkan neoplasma dari kelenjar liur minor 50-80% merupakan tumor ganas.
Neoplasma Jinak
Adenoma pleomorfik
Tumor Warthin
Neoplasma Ganas
Karsinoma Mukoepidermoid
Karsinoma Adenoid sistik
Karsinoma sel asinik
Adenokarsinoma
Karsinoma ex Adenoma pleomorfik
Etiologi dan Faktor Risiko
Etiologi neoplasma kelenjar liur belum sepenuhnya diketahui, kebiasaan merokok berhubungan dengan peningkatan kejadian tumor warthin, namun tidak untuk jenis tumor yang lain. Diduga dosis rendah radiasi berhubungan dengan kejadian neoplasma kelenjar liur. Tumor ganas kelenjar liur yang paling sering berhubungan dengan radiasi adalah karsinoma epidermoid dan adenokarsinoma.
Diagnosis
Gejala
Pasien dengan neoplasma kelenjar liur biasanya datang dengan adanya benjolan yang asimptomatis, Apabila tumor mengalami infeksi, dapat disertai keluhan nyeri. Keluhan nyeri juga dapat terjadi akibat pembesaran kista atau invasi saraf oleh tumor. Sedangkan untuk kelenjar liur minor sangat tergantung lokasi tumor, seperti di cavum nasi dapat menimbulkan keluhan sumbatan hidung.
Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan harus dilakukan penentuan lokasi, ukuran, konsistensi dan mobilitas massa, serta ada tidaknya nyeri. Fungsi saraf fasial harus diperiksa, adanya paresis saraf fasialis biasanya berhungan dengan tumor ganas.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan biopsi aspirasi jarum halus merupakan pemeriksaan yang cukup sederhana untuk menentukan apakah massa tersebut perlu dilakukan pengangkatan atau tidak, dengan pemeriksaan ini dapat dihindari pengangkatan pada limfoma, kelenjar getah bening reaktif dan non-neoplasma.
Pencitraan yang sering digunakan adalah CT scan dan MRI untuk menentukan perluasan tumor, keterlibatan ruang parafaring dan erosi tulang.
Ultrasonografi juga dapat digunakan pada diagnosis tumor jinak parotis superfisial dan membantu pada saat biopsi aspirasi.
Penentuan Stadium
Pada tumor ganas harus dilakukan penentuan stadium (staging), dengan menggunakan sistem TNM menurut AJCC/UICC edisi ke-8 tahun 2017. Sebagai berikut
Tumor Primer (T)
TX : Tumor primer tidak dapat dinilai
T0 : Tidak ada bukti tumor primer
Tis : Karsinoma in situ
T1 : Tumor kurang dari 2 cm pada dimensi terbesarnya dan tidak ada ekstensi ektraparenkimal *
T2 : Besar tumor 2-4 cm pada dimensi terbesarnya dan tidak ada ekstensi ekstraparenkimal *
T3 : Besar tumor lebih dari 4 cm dan atau ada ekstensi ekstraparenkimal*
T4 : Moderat advanced atau sangat advanced
T4a : Tumor invasi ke kulit, mandibula, kanalis akustikus eksternus, dan atau N. Fasialis.
T4b : Tumor invasi ke intrakranial, dan atau pterigoid, dan atau a. carotis
* Note : Ekstensi ekstraparenkim adalah bukti klinis atau makroskopis dari invasi jaringan lunak. Bukti mikroskopis saja bukan merupakan perluasan ekstraparenkim untuk tujuan klasifikasi.
Kelenjar Getah Bening regional (N)
NX : KGB regional tidak bisa dinilai
N0 : Tidak ada metastasis ke KGB regional
N1 : Metastasis ke satu KGB ipsilateral dengan ukuran <3 cm pada dimensi terbesarnya dan ENE (-)
N2 : Metastasis ke satu KGB ipsilateral dengan ukuran 3-6 cm pada dimensi terbesarnya dan ENE (-) atau metastasis ke multipel KGB ipsilateral dengan ukuran <6 cm pada dimensi terbesarnya dan ENE (-) atau pada bilateral atau
kontralateral KGB, tidak lebih dari 6 cm pada dimensi terbesarnya dan ENE (-)
N2a : Metastasis pada satu KGB ipsilateral, ukuran 3-6 cm pada dimensi terbesarnya dan ENE (-)
N2b : Metastasis ke multipel KGB ipsilateral dengan ukuran < 6 cm pada dimensi terbesarnya dan ENE (-)
N2c : Metastasis pada bilateral atau kontralateral KGB, tidak lebih dari 6 cm pada dimensi terbesarnya dan ENE (-)
N3 Metastasis dengan KGB >6 cm pada dimensi terbesarnya dan ENE (-)
N3a : Metastasis dengan KGB >6 cm pada dimensi terbesarnya dan ENE (-)
N3b : Metastasis di setiap node dengan ENE + yang jelas secara klinis
Metastasis Jauh (M)
M0 : Tidak ada metastasis jauh
M1 : Terdapat metastasis jauh Stadium Anatomi/Kelompok Prognosis Stage 0 Tis N0 M0
Stage I T1 N0 M0 Stage II T2 N0 M0 Stage III T3 N0 M0
T0 N1 M0 T1 N1 M0 T2 N1 M0 T3 N1 M0
Stage IVA T4a N0 M0
T4a N1 M0 T1 N2 M0 T2 N2 M0 T3 N2 M0 T4a N2 M0
Stage IVB T4b Any N M0
Any T N3 M0
Stage IVC Any T Any N M1
Terapi:
Operasi
Operasi merupakan terapi utama pada sebagian besar neoplasma kelenjar liur. Karena sebagian besar tumor parotis berada superfisial dari saraf fasialis, sehingga parotidektomi dengan identifikasi dan preservasi saraf fasial merupakan operasi yang sering dilakukan. Tumor harus diangkat dengan secara lengkap dengan menyertakan jaringan normal, dan hindarkan agar tumor dida pecah, beberapa jenis parotidektomi
Parotidektomi superficial/Parotidektomi lateral/Total lateral Lobectomy
Parotidektomi dalam (deep)/Parotidektomi medial/Deep Lobectomy
Parotidektomi total.
Parotidektomi radikal
Radioterapi.
Prosedur Operasi Parotidektomi Prosedur operasi:
Butir-butir penting:
Syaraf fasialis merupakan organ yang sangat penting pada operasi parotis. Tumor parotis jarang menginfiltrasi syaraf, sehingga pengangkatan syaraf fasialis harus dipertimbangkan dengan matang.
Identifikasi syaraf fasialis sangat penting pada operasi parotis. Ada beberapa cara/pendekatan untuk mengidentifikasi syaraf fasialis, yaitu:
Identifikasi trunkus utama saraf fasialis (main trunk) pada tempat keluarnya syaraf fasialis dari foramen stylomastoideus, berada di superior
m. digastrikus venter posterior. Tragal pointer berada di superior dan superfisial dari trunkus ini.
Indentifikasi saraf fasialis yang perifer, kemudian diikuti ke proksimal sampai menemukan saraf fasialis utama (retrograde).
Identifikasi syaraf fasialis melalui operasi mastoidektomi. Cara ini digunakan bila tumor telah menjerat syaraf sehingga sebagian syaraf fasialis harus dikorbankan. Apapun cara/pendekatan parotidektomi dianjurkan untuk mengurangi trauma pada syaraf fasialis
Landmark untuk identifikasi trunkus utama saraf fasialis:
Tragal pointer
Sutura timpanomastoidea.
Muskulus digastrikus venter posterior.
Prosesus mastoideus
Teknik Operasi: Parotidektomi Superfisial (lateral)
Pasien berbaring posisi supine, kepala dan toraks dielevasi setidaknya 200 dengan kepala menoleh ke sisi kontralateral.
Wajah ditutup dengan duk transparan atau setengah wajah dibuka untuk memungkinkan evaluasi selama operasi.
Insisi kulit dilakukan pada daerah preaurikuler setinggi tragus dari kranial ke kaudal melingkari lobulus sampai pada tip mastoid, dan dilanjutkan ke kaudal mengikuti kerutan kulit pada dua jari dibawah margo madibula.
Dilanjutkan dengan pembuatan flap kulit dengan melepas kulit dari jaringan dibawahnya ke anterior, superfisial terhadap fasia dengan meninggalkan lemak subkutan pada flap.
Dengan menggunakan klem kecil dilakukan diseksi secara tumpul memisahkan kelenjar parotis dari m. sternokleidomastoideus dan kartilago kanalis auditorius
ektemus. Cabang posterior saraf aurikularis mayor dipreservasi bila memungkinkan.
Selanjutnya otot digastrikus venter posterior dipaparkan dengan mengangkat bagian tail dari parotis. Otot ini menjadi landmark trunkus utama syaraf fasialis.
Dengan menggunakan klem kecil fasia temporoparotid dielevasi secara hati-hati, Fasia ini berjalan dari fisura timpanomastoid ke kelenjar parotis. Dibawah fasia ini terletak syaraf utama fasialis.
Setelah syaraf utama fasialis diidentifikasi, akan tampak cabang cervicofacial (lower) dan cabang temporozygomaticus (upper). Dengan menggunakan klem kecil, syaraf syaraf tersebut disiangi, dilepaskan dari jaringan sekitarnya, dan bila perlu dapat digunakan detektor syaraf.
Setelah cabang marginal mandibuler, buccinators dari cervicofacialis tampak, jaringan parotis yang terletak disebelah lateralnya dipegang dan sedikit ditarik dengan klem Allis, diikuti dengan pemisahan sehingga jaringan parotis bagian lateral (superfisial) terangkat semuanya.
Luka operasi ditutup, setelah sebelumnya perdarahan diatasi dan pemasangan drain.
Operasi selesai.
Bila tumor terletak di lobus profunda maka setelah parotidektomi superfisial selanjutnya nervus fasialis beserta cabang- cabangnya dibebaskan dari jaringan sekitarnya dan di teugel dengan potongan sarung tangan (handscoen) kemudian lobus profunda (beserta tumornya) dikeluarkan (deep lobe parotidectomy).
Tindakan pembedahan dengan mengeluarkan seluruh jaringan kelenjar parotis ini disebut sebagai parotidektomi total.
Tindak Lanjut:
Pemberian antibiotika pasca operasi.
Pemberian analgetika pasca operasi.
Evaluasi komplikasi operasi.
Gustatory sweating/Frey syndrome.
Evaluasi fungsi syaraf fasialis pasca operasi.
Paralise sementara.
Terjadi sampai 4-6 minggu pasca operasi.
Untuk menguranginya dapat di berikan korticosteroid, dengan catatan bahwa operator yakin tidak memotong syaraf.
Paralise permanen.
Terjadi bila syaraf terpotong pada waktu operasi, dan bila terjadi dapat dilakukan segera penyambungan syaraf, dengan prolene .
Paralise total atau paralise sebagian.
Evaluasi adanya sisa tumor atau rekurensi pasca terapi.
Pasca Operasi :
Instruksi Pasca Operasi
Tindak Lanjut:
Pemberian antibiotika pasca operasi.
Pemberian analgetika pasca operasi.
Evaluasi komplikasi operasi.
Gustatory sweating/Frey syndrome.
Evaluasi fungsi syaraf fasialis pasca operasi.
Paralise sementara.
Terjadi sampai 4-6 minggu pasca operasi.
Untuk menguranginya dapat di berikan corticosteroid, dengan catatan bahwa operator yakin tidak memotong syaraf.
Paralise permanen. Terjadi bila syaraf terpotong pada waktu operasi, dan bila terjadi dapat dilakukan segera penyambungan syaraf, dengan prolene .
Paralise total atau paralise sebagian.
Evaluasi adanya sisa tumor atau rekurensi pasca terapi.
Kompetensi
Dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai keterampilan parotidektomi (teori, indikasi, prosedur dan komplikasi). Selama pendidikan pernah melihat atau menjadi asisten, dan pernah menerapkan keterampilan ini di bawah supervisi serta memiliki pengalaman untuk menggunakan dan menerapkan keterampilan parotidektomi dalam praktik mandiri.
Instrumen yang diperlukan
Sterile scalpel blades no : 15
Scalpel handle
Surgical scissors blunt/blunt, curved (Cooper)
Choanal forcep
Cautery bipolar
Raspatorium
Dissecting scissor, curved (Metzenbaum)/dissecting scissor for plastic surgery Gorney/scissor, delicate (Chadwick)
Vessel and tendon scissors, curved and straight (Stevens)
Standard tissue forcep
Dissecting forcep, delicate (Adson); dissecting, nontraumatic forcep
Hemostatic, delicate forcep/klem, straight and curved (Halsteid-mosquito)
Hemostatic forcep standard (Adson, Leriche)
Dissecting and ligature forceps (Baby-Overholt and Baby-Mixter)
Bulldog clamps (DeBekey)
Dressing and sponge forcep (Rample)
Towel clamps (Backhaus)
Retractor Lagenbeck-Green dan Wound and vein retractors (Kocher/Cushing)
Needle holder DeBekay, Sarot
Deschams ligature needle, blunt
Sponge forceps, curved (Duplay)
Jarum dan benang (dexon)
DAFTAR ISI
WAKTU 1
PERSIAPAN SESI 1
REFERENSI 1
KOMPETENSI 2
GAMBARAN UMUM 2
CONTOH KASUS & DISKUSI 2
TUJUAN PEMBELAJARAN 3
METODE PEMBELAJARAN 4
EVALUASI 6
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF 7
MATERI PRESENTASI 8
MATERI BAKU 9
MODUL VII.11
ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER: NEOPLASMA RUANG PARAFARING
WAKTU
Mengembangkan Kompetensi | Alokasi Waktu : |
Sesi di dalam kelas Sesi dengan fasilitasi Pembimbing Sesi praktik dan pencapaian kompetensi | 5 x 60 menit 1 x 60 menit 8 x 60 menit |
PERSIAPAN SESI
Materi presentasi Neoplasma Parafaring
Slide 1: Gejala Neoplasma Parafaring
Slide 2: Anamnesis dan Pemeriksaan Neoplasma Parafaring
Slide 3: Pemeriksaan Penunjang Diagnostik
Slide 4: Faktor Risiko Neoplasma Parafaring
Slide 5: Tatalaksana Neoplasma Parafaring
Kasus
Neoplasma Parafaring (epidemiologi dan masalahnya/magnitude of the problem)
Sarana dan alat bantu latih
Model anatomi faring
Rinofaringolaringoskopi
Videostroboskopi
Penuntun belajar (learning guide) terlampir
Tempat belajar (training setting) : bangsal THT-KL, Poliklinik THT-KL, kamar operasi, bangsal perawatan pasca bedah THT-KL.
REFERENSI
Ferro MF, Sanroman JF, Lopez AC, Gutierrez JS, de Sanchez AL. Surgical treatment of benign parapharyngeal space tumours. Presentation of two clinical cases and revision of the literature. Med Oral Patol Oral Cir Bucal. 2008 Jan 1;13(1)p61- 4
Olsen KD. Excision of Tumors of the Prestyloid Parapharyngeal Space available from http://bookpromos.Iww.com/wp- content/uploads/2013/12/FerrisVol2Chapter29.pdf
.pdf (cited Mei 2015)
Fagan J. Acces to the Parapharyngeal Space. Fagan J ed. The Open Acces Atlas of Otolaryngology, Head and Neck Operative Surgery. Available from www.entdev.uct.sc.za (cited Mei 2015)
Prasad, Pathak. Palato-pharyngeal Approach to the Parapharyngeal Space. MJAFI 2004; 60 : 407- 409
Khandawala P. Parapharyngeal Space Tumors. Available from http://www.jaypeejournals.com/eJournals/ShowTe xt.aspx?ID=2021&Type=FREE&TYP=TOP&IN=_eJournals/images/JPLOGO.gif&IID
=170&isPDF=NO (cited Mei 2015)
Beswick DM, VAezy A, Granados EC, Duvvuri U. Minimally Invasive Surgery for Parapharyngeal Space Tumors . Laryngoscope, 122:1072–1078, 2012
KOMPETENSI
Pengetahuan
Mampu menegakkan diagnosis neoplasma parafaring berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan (endoskopi, laringoskopi indirek, biopsi, CT Scan leher dan MRI). Peserta didik dapat memutuskan dan melakukan terapi pendahuluan serta merujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih tinggi (termasuk kasus darurat).
Keterampilan
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam :
Menjelaskan anatomi, topografi, histologi dan fisiologi parafaring
Menjelaskan patogenesis neoplasma parafaring
Menjelaskan gejala klinis neoplasma parafaring
Melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik pada neoplasma parafaring
Melakukan keputusan untuk pemeriksan penunjang seperti endoskopi, biopsi, CT- Scan Leher dan atau MRI Leher
Membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhubungan dengan neoplasma parafaring
Menentukan terapi yang tepat pada kasus neoplasma parafaring
Melakukan rujukan pada fasilitas kesehatan yang lebih tinggi
GAMBARAN UMUM
Tumor pada ruang parafaring sangat jarang dan hanya berkisar 0,5% dari tumor kepala leher. Sebagian besar dari tumor yang tumbuh di ruang parafaring bersifat jinak sekitar 80% dan sekitar 20% sisanya bersifat ganas. Diagnosis banding dari tumor primer di ruang parafaring termasuk tumor kelenjar liur, tumor neurogenik dan metastasis dari kavum nasi, nasofaring, palatum serta sinus maksila. Tumor parafaring ini penting disebabkan sulit untuk melakukan diagnosis dini karena sedikitnya gejala pada tahap awal dan kemungkinan komplikasi yang dapat terjadi pada saat dilakukan tindakan bedah di daerah parafaring.
CONTOH KASUS & DISKUSI
Seorang laki-laki, 37 tahun datang ke poli THT dengan keluhan benjolan di leher kiri sejak 2 tahun. Pasien juga merasakan kesulitan menelan, suara sengau, tidur mendengkur namun tanpa nyeri. Pada pemeriksaan fisik didapatkan arkus faring asimetris, uvula terdorong ke kanan, dinding lateral faring kiri menonjol ke medial. Benjolan leher kiri berukuran 5x5x2cm, terfiksir, tidak nyeri. Hasil CT-Scan Leher didapatkan massa parafaring sisi kiri yang menyangat kontras secara heterogen, mendorong struktur vaskuler ke lateral, tanpa infiltrasi vaskuler.
CT SCAN LEHER POTONGAN AXIAL & SAGITAL
Diskusi :
Anatomi dan fisiologi parafaring
Patofisiologi terjadinya disfagi
Jawaban :
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan Pembelajaran Umum
Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan mampu untuk menegakkan diagnosis dan melakukan terapi terhadap prinsip terapi neoplasma parafaring dan merujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi.
Tujuan Pembelajaran Khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan mampu untuk :
Menguasai anatomi, topografi, histopatologi dan fisiologi parafaring (mampu menerapkan konsep-konsep dasar keilmuan THT-KL evaluasi dan penatalaksanaan atas kasus yang kompleks serta melakukan tindakan-tindakan klinik yang dibutuhkan dalam konteks evaluasi dan penatalaksanaan penyakit THT-KL atas kasus yang kompleks)
Mampu menjelaskan patogenesis neoplasma parafaring (mampu menerapkan konsep-konsep dasar keilmuan THT-KL evaluasi dan penatalaksanaan atas kasus yang kompleks serta melakukan tindakan-tindakan klinik yang dibutuhkan dalam konteks evaluasi dan penatalaksanaan penyakit THT-KL atas kasus yang kompleks)
Menjelaskan gambaran klinis neoplasma hipofaring (mampu menerapkan konsep- konsep dasar keilmuan THT-KL evaluasi dan penatalaksanaan atas kasus yang kompleks serta melakukan tindakan-tindakan klinik yang dibutuhkan dalam konteks evaluasi dan penatalaksanaan penyakit THT-KL atas kasus yang kompleks)
Melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik pada neoplasma hipofaring (mampu menerapkan konsep-konsep dasar keilmuan THT-KL evaluasi dan penatalaksanaan atas kasus yang kompleks serta melakukan tindakan-tindakan klinik yang dibutuhkan dalam konteks evaluasi dan penatalaksanaan penyakit THT-KL atas kasus yang kompleks)
Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang. Misalkan : endoskopi dan biopsi, CT Scan Leher/MRI Leher (mampu menerapkan konsep-konsep dasar keilmuan THT-KL evaluasi dan penatalaksanaan atas kasus yang kompleks serta
melakukan tindakan-tindakan klinik yang dibutuhkan dalam konteks evaluasi dan penatalaksanaan penyakit THT-KL atas kasus yang kompleks)
Membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhungan dengan neoplasma parafaring (mampu menerapkan konsep-konsep dasar keilmuan THT-KL evaluasi dan penatalaksanaan atas kasus yang kompleks serta melakukan tindakan-tindakan klinik yang dibutuhkan dalam konteks evaluasi dan penatalaksanaan penyakit THT-KL atas kasus yang kompleks)
Dapat menjelaskan prinsip operasi parafaring pendekatan peroral, pendekatan transservikal, transparotis dan submandibular (mampu menerapkan konsep-konsep umum dalam diagnosis dan tatalaksana penyakit THT-KL dan mendemonstrasikan keterampilan klinik sesuai standar kompetensi dokter)
Dapat menjelaskan prinsip perawatan pra dan pasca operasi serta mampu mengatasi komplikasi (mampu menerapkan konsep-konsep dasar keilmuan THT-KL evaluasi dan penatalaksanaan atas kasus yang umum ditemui serta melakukan tindakan- tindakan klinik yang dibutuhkan dalam konteks evaluasi dan penatalaksanaan penyakit THT-KL atas kasus yang umum ditemui)
METODE PEMBELAJARAN
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan mempunyai kemampuan dasar untuk menegakkan diagnosis neoplasma parafaring dan mampu untuk menentukan terapi yang tepat.
Tujuan 1. Menjelaskan anatomi, fisiologi, histopatologi parafaring
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metoda pembelajaran berikut ini
Literatur reading
Referat.
Bedside teaching
Skill lab
Praktek poliklinik
Praktek operasi
Harus diketahui :
Anatomi parafaring
Gambaran dan karakteristik histologis parafaring
Fisiologi faring
Patogenesis neoplasma parafaring
Tujuan 2. Mampu menjelaskan patogenesis neoplasma parafaring
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Literatur reading
Referat.
Bedside teaching
Skill lab
Praktek poliklinik
Praktek operasi
.
Tujuan 3. Menjelaskan gambaran klinis neoplasma parafaring
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Literatur reading
Referat.
Bedside teaching
Skill lab
Praktek poliklinik
Praktek operasi
Harus diketahui :
Device Sensitivity on Anomaly Findings
Tujuan 4. Melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik pada neoplasma parafaring
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Literatur reading
Referat.
Bedside teaching
Skill lab
Praktek poliklinik
Praktek operasi
Harus diketahui :
Metoda standar anamnesis
Gejala dan Tanda neoplasama parafaring
Pemeriksaan penunjang yang sensitif dan spesifik
Memilah diagnosis banding dan menentukan diagnosis kerja(harus ada DD)
Rencana penatatalaksanan neoplasma parafaring
Tujuan 5. Melakukan keputusan untuk pemeriksan penunjang. Misalkan : endoskopi dan biopsi, CT Scan Leher/MRI Leher
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Literatur reading
Referat.
Bedside teaching
Skill lab
Praktek poliklinik
Praktek operasi
Harus diketahui :
Pemeriksaan penunjang yang sensitif dan spesifik
Tujuan 6. Membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhubungan dengan neoplasma parafaring
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Literatur reading
Referat.
Bedside teaching
Skill lab
Praktek poliklinik
Praktek operasi
Harus diketahui :
Tanda pasti tentang adanya kelainan kongenital
Pemeriksaan penunjang yang sensitif dan spesifik
Memilah diagnosis banding dan menentukan diagnosis kerja
Rencana pengobatan atau tatalaksana pasien
Tujuan 7. Membuat keputusan klinik untuk operasi parafaring pendekatan peroral, pendekatan transservikal, transparotis dan submandibular
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Literatur reading
Referat.
Bedside teaching
Skill lab
Praktek poliklinik
Praktek operasi
Harus diketahui :
Prosedur konservatif
Prosedur operatif
Prosedur alternatif
Tujuan 8. Perawatan penderita pra dan pasca operatif serta mampu mengatasi komplikasi
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Literatur reading
Referat.
Bedside teaching
Skill lab
Praktek poliklinik
Praktek operasi
Harus diketahui :
Point penting untuk tatalaksana
Jenis-jenis terapi yang direkomendasikan
Kondisi atau situasi penting untuk membuat keputusan untuk merujuk
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pre test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri atas :
Anatomi dan fisiologi parafaring
Penatalaksanaan neoplasma parafaring
Evaluasi pasca bedah
Selanjutnya dilakukan “small group discussion” bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian.
Setelah mempelajari penuntun belajar ini, PPDS diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk “role play” dan teman-temannya (Peer Assisted Evaluation) atau kepada SP (Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assisted Evaluation) setelah dianggap memadai, melalui metode bedside teaching dibawah pengawasan fasilitator, peserta dididik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut :
Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan.
Cukup : pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien.
Baik : pelaksanaan benar dan baik (efisien)
Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Kuesioner meliputi :
Sebelum pembelajaran
Berikut ini yang BUKAN gejala neoplasma parafaring?
Perubahan suara (mumble voice)
Suara serak
Trismus
Defisit saraf kranial
Sulit menelan
Jawaban :
Tengah pembelajaran
Sebutkan pemeriksaan penunjang yang BUKAN untuk mendiagnosis neoplasma parafaring?
CT Scan leher
USG leher
MRI leher
Rontgen (x-ray) leher
BAJAH
Jawaban :
Akhir pembelajaran
Sebutkan pendekatan pembedahan pada neoplasma parafaring?
Pendekatan oral
Pendekatan transservikal
Pendekatan transparotis
Pendekatan transmandibular
Semua di atas
Jawaban :
MATERI PRESENTASI
Slide 1: Gejala Karsinoma Parafaring
perubahan suara (mumble voice) trismus
massa di leher defisit saraf kranial
penurunan pendengaran karena otitis media efusi karena tertutupnya tuba eustachius
obstruktif sleep apnea
Slide 2: Anamnesis dan Pemeriksaan Karsinoma Parafaring
Anamnesis :
Gejala : sulit menelan, perubahan suara (mumble voice), trismus, massa di leher, defisit saraf kranial, penuruan pendengaran karena otitis media efusi karena tertutupnya tuba eustachius dan obstruktif sleep apnea.
Pemeriksaan fisik : terdapat pendorongan uvula ke sisi kontralateral dan terlihat ada pembengkakan di palatum tanpa ada tanda peradangan. Pemeriksaan ini dapat dengan spatel tongue. Pemeriksaan fisik harus dilakukan dengan palpasi bimanual. Pemeriksaan Fisik Tumor yang kecil bila berukuran kurang dari 3 cm biasanya tidak menimbulkan endorongan dinding lateral faring dan hanya terdeteksi dengan pencitraan computer tomografi atau pemeriksaan Resonansi magnetik. Bisa juga terdeteksi adanya massa di leher dan juga harus dilakukan pemeriksaan saraf kranialis.
Slide 3: Pemeriksaan Penunjang Diagnostik
Pemeriksaan penunjang :
Pemeriksaan radiologi :
X-foto leher AP dan lateral (jaringan lunak) CT Scan leher (bila tersedia fasilitas)
MRI
Biopsi :
Biopsi dilakukan dengan biopsi aspirasi jarum halus (BAJAH)
Slide 4: Faktor Risiko Karsinoma Parafaring
Etiologi dari neoplasma parafaring masih belum diketahui dengan jelas seperti kebanyakan jenis tumor lainnya. Namun, semakin banyak bukti bahwa faktor lingkungan tertentu seperti radiasi, virus, diet dan eksposur pekerjaan tertentu dapat meningkatkan risiko terjadinya tumor kelenjar ludah.
Slide 5: Tatalaksana
Pembedahan merupakan pilihan utama tumor pada ruang parafaring. Pemilihan teknik pembedahan tergantung ukuran, lokasi, pembuluh darah besar di sekitar tumor, dan kecurigaan keganasan.
Terdapat beberapa pendekatan pembedahan yang umum digunakan pada tumor parafaring, di antaranya : pendekatan per oral, pendekatan transservikal, pendekatan transparotis, pendekatan transmandibular dan pendekatan fossa infra temporal.
MATERI BAKU
Neoplasma Parafaring Definisi
Neoplasma yang mengenai struktur parafaring.
Etiologi
Etiologi dari neoplasma parafaring masih belum diketahui dengan jelas seperti kebanyakan jenis tumor lainnya. Namun, semakin banyak bukti bahwa faktor lingkungan tertentu seperti radiasi, virus, diet dan eksposur pekerjaan tertentu dapat meningkatkan risiko terjadinya tumor kelenjar ludah. Selain faktor lingkungan, kelainan genetik tertentu juga dikaitkan dengan pertumbuhan tumor.
Epidemiologi
Daerah parafaring mempunyai anatomi yang kompleks. Tumor primer parafaring hanya berkisar 0.5% dari semua tumor kepala dan leher. Delapan puluh persen tumor ini adalah jinak dan 20% bersifat ganas. Tumor di parafaring dapat merupakan tumor primer ataupun sekunder yang merupakan metastasis dari tempat lain. Diagnosis banding tumor parafaring adalah tumor kelenjar ludah, tumor neurogenic dan mix
tumor.1, 2
Delapan puluh persen dari tumor ini bersifat jinak dan berasal dari tumor parotis. Sisanya adalah schwannoma, parganglioma dan pembesaran kelenjar getah bening leher.
Diagnosis
Anamnesis :
Gejala : Tumor ini dapat berada di parafaring tanpa menimbulkan gejala tetapi menyebabkan pergeseran struktur anatomi orofaring ke arah medial. Gejala yang mungkin dirasakan pasien adalah perubahan suara (mumble voice), trismus, massa di leher, defisit saraf kranial, penuruan pendengaran karena otitis media efusi karena tertutupnya tuba eustachius dan obstruktif sleep apnea.
Pemeriksaan fisik : terdapat pendorongan uvula ke sisi kontralateral dan terlihat ada pembengkakan di palatum tanpa ada tanda peradangan. Pemeriksaan ini dapat dengan spatel tongue. Pemeriksaan fisik harus dilakukan dengan palpasi bimanual.
Pemeriksaan Fisik Tumor yang kecil bila berukuran kurang dari 3 cm biasanya tidak menimbulkan endorongan dinding lateral faring dan hanya terdeteksi dengan pencitraan computer tomografi atau pemeriksaan Resonansi magnetik.
Bisa juga terdeteksi adanya massa di leher dan juga harus dilakukan pemeriksaan saraf kranialis.
Pemeriksaan penunjang : Pemeriksaan radiologi :
X-ray (rontgen) leher
CT Scan leher (bila tersedia fasilitas)
MRI leher (bila ada fasilitas, lebih baik menggunakan MRI dibanding CT scan)
CT thoraks/ PET scan bila pada keganasan
Biopsi :
Biopsi dilakukan dengan biopsi aspirasi jarum halus (BAJAH)
Tabel 1. Jenis histopatologi tumor yang ditemukan pada daerah prestyloid2
Jinak | Ganas |
Adenoma pleomorfik Warthin tumor Onkocytoma Lesi limfoepitelial jinak Kista brankialis Malformasi vena Fibroma Schwannoma neurofibroma Rhabdomyoma Hibernoma | Mukoepidermoid karsinoma Adenokarsinoma karsinoma sel asinik Karsinoma adenoid kistik Karsinoma pleomorphic Hemangiopericytoma sarkoma |
Carotid body tumor
Paraganglioma dari vagus dan trunkus simpatikus Schwannoma
Jinak
Tabel 2. Jenis histopatologi tumor yang ditemukan pada daerah poststyloid2
Penentuan Stadium Karsinoma parafaring Tumor primer (T) :
Untuk tumor primer yang berasal dari kelenjar liur maka yang digunakan adalah klasifikasi T menurut AJCC 8 untuk kelenjar mayor liur
Definisi Tumor Primer (T) Kriteria T
Tx : Tumor primer tidak dapat dinilai T0 : Tidak ada bukti tumor primer T1s: Karsinoma in situ
T1 : Tumor berukuran 2 cm atau lebih kecil tanpa perluasan ekstraparenkimal
T2 : Tumor berukuran lebih dari 2 cm namun tidak lebih dari 4 cm tanpa perlusan ekstraparenkimal
T3 : Tumor berukuran lebih besar dari 4 cm dengan/tanpa adanya perluasan ekstraparenkimal
T4 : Moderately advanced atau sangat advanced
T4a : Tumor menginvasi kulit, mandibula, liang telinga dan/atau saraf fasial
T4b : Tumor menginvasi dasar tengkorak dan/atau lempeng pterygoid dan/atau melibatkan arteri karotis
Untuk tumor primer yang berasal dari syaraf seperti schwannoma maka, staging TNM tidak begitu mempengaruhi prognosis. Sistem T pada kegasanan yang berasal dari primer susunan syaraf pusat tidak lebih baik dari jenis histologi tumor maka yang dipakai adalah lebih ke grading tumor.
Kelenjar limfe regional (N) : Penentuan N ditentukan bila yang didapatkan di leher adalah bentuk anak sebar dari tumor primer.
Nx : kelenjar limfe tidak dapat ditentukan
No : tidak ada metastasis kelenjar limfe regional.
N1 : metastasis pada satu kelenjar limfe ipsilateral, ≤ 3 cm ENE (-)
N2a : metastasis pada satu kelenjar limfe ipsilateral, >3cm ≤ 6 cm ENE (-) N2b : metastasis pada multiple kelenjar limfe ipsilateral, ≤ 6 cm ENE (-) N2c : metastasis pada kelenjar limfe bilateral/kontralateral, ≤ 6 cm ENE (-) N3a : metastasis pada kelenjar limfe > 6 cm ENE (-)
N3b : metastasis pada kelenjar limfe yang secara klinis menunjukkan ENE +
Kategori Metastasis :
M0 : tidak ada metastasis M1: terdapat metastasis
Stadium Anatomi/ Kelompok Prognosis :
Stadium 0 Tis No Mo Stadium I T1 No Mo Stadium II T2 No Mo Stadium III T3 No Mo Stadium III T1,2,3 N1 Mo Stadium IVa T4a N0,N1, M0
Stadium IVa T1,T2,T3,T4a N2 Mo Stadium IVb T4b N1-3 Mo Stadium IVb T1-4b N3 M0 Stadium IVc T1-4b N1-3 M1
Diagnosis banding
Anak sebar dari tumor primer
Penatalaksanaan
Pembedahan merupakan pilihan utama tumor pada ruang parafaring. Pemilihan teknik pembedahan tergantung ukuran, lokasi, pembuluh darah besar di sekitar tumor, dan kecurigaan keganasan.
Terdapat beberapa pendekatan pembedahan yang umum digunakan pada tumor parafaring, di antaranya : pendekatan per oral, pendekatan transservikal, pendekatan transparotis, pendekatan transmandibular dan pendekatan fossa infra temporal.
Gambar 1. Pendekatan (teknik insisi) pembedahan neoplasma parafaring
Evaluasi Preoperatif
Sebelum melakukan operasi harus diketahui apakah massa tumor jinak atau ganas, vaskularisasi dan tentukan apakah prestyloid atau post styloid, apakah massa prestyloid berasal dari kelenjar parotis dan juga harus ditentukan posisi arteri carotis dengan tumornya. Penentuan ganas atau tidaknya tumor dapat dilakukan dengan Biopsi aspirasi jarum halus.2 Untuk vaskularisasi dapat diperiksakan dengan komputer tomografi dan pencitraan resonansi magnetik. Pada tumor prestyloid akan terjadi pendorongan lemak ke arah anteromedial3
3
Gambar 2. tampak massa pada prestyloid yang mendorong lemak ke anteromedial
Tumor post styloid ditandai dengan massa pada daerah lateral leher yang meluas pada orofaring atau nasofaring dan kadang didapatkan adanya disfungsi dari saraf kranial. Tumor pada daerah poststyloid menyebabkan pendorongan lemak pada anterolateral.3
Gambar 3. Komputer tomografi dari vagal scwannoma menunjukkan adanya pendorongan lemak pada anterolateral dan terdorongnya carotis
Bila tumor merupakan tumor vaskular dibutuhkan angiografi dan embolisasi untuk mengetahui posisi arteri karotis.2,3 Penentuan massa prestyloid apakah dari kelenjar parotis untuk menentukan apakah akan dilakukan pendekatan secara cervical dan apakah akan ditambahkan parotidektomi total. Memang sangat sulit menentukan apakah adenoma pleomorphic berasal dari kelenjar liur yang ectopic atau dari lobus dalam
kelenjar parotis. Empat informasi ini diperlukan untuk menegakkan diagnosis yang akurat dan untuk informed consent tentang sequelae yang mungkin terjadi.2
Pendekatan transoral
Pendekatan eksisi pada parafaring terdiri dari pendekatan transcervical, transoral,
transparotis dan mandibulotomy.2,3 Pendekatan transoral dilakukan pada tumor parafaring yang terdeteksi di leher yang tidak meluas pada parafaring superior. Pendekatan transoral dilakukan pada tumor yang avascular dengan ukuran yang relatif kecil, teraba di mulut dan tidak teraba pada leher.
Pendekatan ini hampir sana dengan ekstended tonsilektomi dan kadang membutuhkan mandibulotomy untuk akses tambahan. Kerugian pendekatan ini adalah leher tidak dibuka dan pembuluh darah tidak terlihat dengan jelas sehingga cedera pada pembuluh
darah sulit dikontrol.3
Cara melakukan pendekatan intraoral
Gambar 4. gambar insisi pada pendekatan intraoral tumor parafaring
Pasien dioperasi dengan anestesi umum. Dilakukan pemasangan mouth gag davys untuk mencapai akses operasi. Dilakukan insisi pada pilar anterior dengan blade no 15. Insisi lateral dilakukan dari superior dari tumor dengan memperhatikan letak pterigoid hummulus untuk melindungi arteri palatine asenden, vena palatine dan serabut saraf palatal. Setelah di insisi tampak tumor berkapsul. Dilakukan diseksi tumpul dengan disektor tonsil. Tumor dapat dikeluarkan secara intoto. Perdarahan diatasi dengan klem dan diikat. Dinding faring lateral dijahit dengan menggunakan vicryl.
Pendekatan Transservikal
Transervikal merupakan pendekatan yang optimal untuk mengangkat tumor yang berasal dari kompartemen pre atau postvaskular. Biasanya jenis tumornya adalah schwannoma, paraganglioma dan adenoma pleomorphik.
Cara melakukan pendekatan transservikal :
Pasien tidur dalam posisi kepala ekstensi, kepala menghadap ke sisi kontralateral dan di fiksasi dengan donat. Meja operasi dibuat kepala lebih tinggi supaya mengurangi perdarahan.
Dilakukan tindakan a dan antisepsis
Dilakukan insisi dari tip mastoid sampai melalui arkus krikoid , biasanya 2-3 jari di bawah submandibula dengan blade no 15. Insisi menembus subkutan dan platysma. Flap superior subplatysma dibuat memaparkan vena jugular eksterna. Hati2 untuk tidak mencederai nervus marginal mandibularis.
Melakukan pemaparan sternokleidomastoid dan muskulus digastrikus. Sternokleidomastoid lalu dibebaskan dari fasia dan ditarik ke lateral. Hati2 untuk mencederai n. spinalis asesorius.
Setelah spinal asesorius dipaparkan, maka pembuluh darah besar dan syaraf juga harus dipaparkan dan dilanjutkan dengan pemaparan m. digastrikus. Pemaparan muskulus digastrikus dimulai dengan retraksi sternocleidomastoid ke lateral dan ramus mandibular.
Tahap selanjtnya memaparkan arteri carotis dan vena jugular interna dengan cabang2nya.
Setelah itu dilakukan pemaparan atas dari digastrikus.
Dilakukan pemaparan nerve hypoglossal.
SEtelah itu dilakukan pemaparan tumor dan tumor mesti dilihat hubungannya dengan syaraf dan pembuluh darah. Dengan klem lakukan pemisahan tumor dari jaringan penting. MUskulus stilohyoid dan stilomandibular dapat dipotong untuk mengangkat tumor.
Proksimal dan distal dari tumor di klem dan diikat untuk mengurangi perdarahan dengan silk 3-0. Lalu tumor diangkat intoto.
Lapangan operasi disiram dengan dievaluasi perdarahannya dan diatasi perdarahan.
Dipasang drain dan difiksasi
Dijahit platysma dan subkutan dan kulit dijahit.
Pendekatan Transservikal dan Transparotis
Tumor ini baik untuk tumor yang berasal dari lobus bagian dalam parotis. Tumor yang tersering adalah adenoma pleomorfik.
Cara operasinya adalah :
Insisi Blair
Lakukan superfisial parotidektomi
Cabang-cabang n 7 dipisahkan sampai ke distal mungkin untuk memudahkan mobilisasi dari sarafnya sendiri.
Pisahkan tumor dari nervus facialis
Submandibular didiseksi dan ditarik ke anterior
Melakukan pemaparan sternocleidomastoid dan muskulus digatrikus. Sternokleido lalu dibebaskan dari fasia dan ditarik ke lateral. Hati2 untuk mencederai n. spinalis asesorius.
Setelah spinal asesorius dipaparkan, maka pembuluh darah besar dan syaraf juga harus dipaparkan dan dilanjutkan dengan pemaparan m. digastrikus. Pemaparan muskulus digastrikus dimulai dengan retraksi sternocleidomastoid ke lateral dan ramus mandibular.
Tahap selanjtnya memaparkan arteri carotis dan vena jugular interna dengan cabang2nya.
Setelah itu dilakukan pemaparan atas dari digastrikus.
Dilakukan pemaparan nerve hypoglossal.
Setelah itu dilakukan pemaparan tumor dan tumor mesti dilihat hubungannya dengan syaraf dan pembuluh darah. Dengan klem lakukan pemisahan tumor dari jaringan penting. Muskulus stilohyoid dan stilomandibular dapat dipotong untuk mengangkat tumor.
Proksimal dan distal dari tumor di klem dan diikat untuk mengurangi perdarahan dengan silk 3-0. Lalu tumor diangkat intoto.
Lapangan operasi disiram dengan dievaluasi perdarahannya dan diatasi perdarahan.
Dipasang drain dan difiksasi
dijahit platysma dan subkutan dan kulit dijahit.
Pendekatan transmandibular
Pendekatan ini dipakai pada pasien yang telah dilakukan radiasi, pada tumor yang besar dan pada tumor vaskular.
Dilakukan insisi split mandibular dan berlanjut ke vertical kartilago krikoid dan dilanjutkan ke horizontal leher sampai ke mastoid
Dilakukan insisi dan pembuatan flap superior sampai 1 jari di bawah ramus mandibular dan 1 jari di atas sternal
Hati-hati mencederai mandibular branch n. fasialis
Muskulus sternocleido di paparkan
N. spinalis asesorius dipaparkan
Dicari arteri karotis dan vena jugular interna dan cabang2nya , tumor dipisahkan dari struktur penting ini.
N. hipoglosal didiseksi dan dipaparkan dipisahkan dari tumor
Setelah insisi kulit bibir, maka selanjutnya korteks mandibular dipaparkan. Dilakukan insisi gingivolabial, pertahankana mukosa setengah cm untuk penjahitan. Jaringan di atas korteks mandibular disisihkan bilateral di level yang lebih dalam dari periosteum, lebih kurang 2-3 cm dari garis tengah.
Pertahankan n. mentalis. Sebelum melakukna osteotomy, dilakukan pengukuran miniplate pada mandibular. Satu dipasang pada anterior dari korteks dan kedua pada bagian batas bawah mandibula.
Lakukan osteotomy. Begitu mandibular di osteotomy, ramus pada sisi ipsilateral di geser ke lateral.
Insisi gingivobuccal di lanjutkan sampai ke pilar tonsil untuk menambahkan paparan ke daerah parafaring.
Tumor diangkat secara in toto, dengan mengikat pada pool bawah dan superior
Perdarahan di cek dan diatasi
Rekonstruksi diteruskan dengan menggunakan free flap.
Dilakukan penjahitan mukosa gingivobucaal dengan vycril dan penjahitan subkutan
Kulit dijahit dengan benang yang tidak diserap.
Kelenjar getah bening leher
Diseksi leher dilakukan bila terdapat adanya metastasis pada kelenjar getah bening leher. Ketika pembesaran kelenjar getah bening teraba, maka modified neck disection dilakukan untuk mengangkat kelenjar yang terlibat.
Komplikasi operasi
Perdarahan
Sumbatan jalan nafas atas
Kerusakan syaraf
Komplikasi karena diseksi leher seperti perdarahan pada leher, sumbatan jalan nafas atas, cidera pada arteri dan vena, chylous leakage, drop shoulder.
Follow Up
Pemberian antibiotik dan analgetik
Melihat pemeriksaan orofaring dan menilai sumbatan jalan nafas atas
Asupan nutrisi melalui nasogastric tube (NGT) sampai intake pasien adekuat dan baik
Selama perawatan diobservasi ada tidaknya komplikasi.
Instrumen yang diperlukan
Scalpel no 15
Mata Pisau
Gunting jaringan pada set tonsil
Pinset Anatomis
Pinset Chirurgis
Respa tonsil
Klem tonsil
Set tonsilektomi
Klem Arteri pada set tonsil
Klem Kocher
Needle Holder
Retraktor
Langenbeck
Kanula Suction
Monopolar dan Bipolar Elektrokauter
Jarum
Benang Catgut Chromic
Benang Silk 2-0
DAFTAR ISI
MODUL VII.12
ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER: NEOPLASMA HIPOFARING
WAKTU
Mengembangkan Kompetensi | Alokasi Waktu : |
Sesi di dalam kelas Sesi dengan fasilitasi Pembimbing Sesi praktik dan pencapaian kompetensi | 1x90 menit (classroom session) 1x60 (coaching session) 8 jam (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi presentasi Neoplasma Hipofaring
Slide 1: Gejala Neoplasma Hipofaring
Slide 2: Anamnesis dan Pemeriksaan Neoplasma Hipofaring
Slide 3: Pemeriksaan Penunjang Diagnostik
Slide 4: Faktor Risiko Neoplasma Hipofaring
Slide 5: Tatalaksana Neoplasma Hipofaring
Kasus
Neoplasma Hipofaring (epidemiologi dan masalahnya/magnitude of the problem)
Sarana dan alat bantu latih
Model anatomi faring
Videostroboskopi
Penuntun belajar (learning guide) terlampir
Tempat belajar (training setting): bangsal THT-KL, Poloklinik THT-KL, kamar operasi, bangsal perawatan pasca bedah THT-KL.
REFERENSI
Bhayani MK, Weber RS. 2014. Hypopharyngeal and Cervical Esophageal Carcinoma.In Bailey's Head and Neck Surgery - Otolaryngology. Fifth Edition. Lippincott Williams & Wilkins. Philadelphia. 122 (2): 1917-39
Uppaluri R, Sunwoo JB. 2005. Neoplasm of the Hypopharynx and Cervical Esophagus. Dalam Cumming's Otolaryngology Head and Neck Surgery. Fourth Edition. Chapter 82. Mosby Inc. Philadelphia.
Gonzalesz D, Robbins KT.Carcinoma the oral cavity, pharynx, esophagus. In: Chan Y, Goddaed JC. Editors. K.J.Lee's Essential Otolaryngology Head and Neck Surgery. 11th (ed). United States: McGraw-Hill education. 2016. p. 701- 40
Sinha P, Bruce, Haughey . Cancer of the Hypopharynx and cervical esophagus in: Myers J, Hanna E, Myers E, ed. Cancer of The Head and Neck. 5th ed. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2017. p. 710-318
Shah J. Pharynx and Esophagus. In: Shah J, ed. Head and neck surgery and oncology. 5th ed. Philadelphia: Elsevier Co; 2020. p. 299-364
Cancer AJCC. AJCC cancer staging manual, 8th ed. Chicago: Springer; 2017.
Pfister DG, Spenser S, Adelstein D, Adkins D, Brizel DM, Burtness BA. NCCN Clinical Practise Guidelines in Oncology. Head and Neck Cancer: National
Comprehensive Cancer Network; 2020. 225 p.
KOMPETENSI
Pengetahuan
Mampu menegakkan diagnosis neoplasma hipofaring berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisis dan pemeriksaan tambahan (endoskopi, laringoskopi indirek, biopsi, CT Scan leher dan MRI). Peserta didik dapat memutuskan dan melakukan terapi pendahuluan serta merujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih tinggi(termasuk kasus darurat).
Keterampilan
Setelah Mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam :
Menjelaskan anatomi, topografi, histologi dan fisiologi hipofaring
Menjelaskan patogenesis neoplasma hipofaring
Menjelaskan gejala klinis neoplasma hipofaring
Melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik pada neoplasma hipofaring
Melakukan keputusan untuk pemeriksan penunjang seperti endoskopi, biopsi, CT-Scan Leher dan atau MRI Leher
Membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhubungan dengan neoplasma hipofaring
Menentukan terapi yang tepat pada kasus neoplasma hipofaring
Melakukan rujukan pada fasilitas kesehatan yang lebih tinggi
GAMBARAN UMUM
Neoplasma hipofaring termasuk 5 - 10 % dari keganasan saluran aerodigestif. Kompleksnya anatomi dan fungsi penting dari regio ini membutuhkan pendekatan multidisiplin yang melibatkan ahli bedah kepala leher, onkologi, onkologi radiasi dan speech pathologists. Patologi dari neoplasma hipofaring biasanya mengarah ke keganasan dan ditandai adanya penyebaran pada submukosa, dan metastasis pada kelenjar limfe unilateral atau bilateral. Karena itu, pasien dengan neoplasma hipofaring biasanya datang dengan stadium lanjut dan malnutrisi berat yang memperburuk perawatannya. Untuk alasan ini, prognosis keseluruhan dari neoplasma hipofaring termasuk buruk.
CONTOH KASUS & DISKUSI
Seorang laki-laki, 49 tahun datang ke poli THT dengan keluhan: disfagi sejak 3 bulan dirasakan makin lama makin memberat, terutama makanan padat. Riwayat odinofagi ada. Benjolan pada leher kiri ada, dirasakan sejak 3 bulan, awalnya sekecil kelereng, makin membesar hingga seperti saat ini. Riwayat merokok sejak puluhan tahun yang lalu. Pada pemeriksaan didapatkan benjolan pada leher kiri dengan ukuran + 7x6x4 cm, terfiksasi, tidak nyeri. Hasil CT-Scan Leher potongan axial massa heterogen submandibula sinistra.
CT SCAN LEHER POTONGAN AXIAL & SAGITAL
NASOENDOSKOPI FLEXIBEL
Diskusi :
Anatomi dan fisiologi hipofaring
Patofisiologi terjadinya disfagi
Jawaban :
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan Pembelajaran Umum
Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan mampu untuk menegakkan diagnosis dan melakukan terapi terhadap prinsip terapi neoplasma hipofaring dan merujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi.
Tujuan Pembelajaran Khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan mampu untuk :
Menguasai anatomi, topografi, histopatologi dan fisiologi hipofaring sehingga mampu menerapkan konsep-konsep dasar anatomi, topografi dan fisiologi hipofaring untuk tindakan-tindakan klinis yang diperlukan dalam konteks evaluasi dan penatalaksanaan terhadap kasus yang kompleks.
Mampu menjelaskan patogenesis neoplasma hipofaring sehingga mampu menerapkan konsep-konsep dasar patogenesis neoplasma hipofaring untuk tindakan-tindakan klinis yang diperlukan dalam konteks evaluasi dan penatalaksanaan terhadap kasus yang kompleks.
Menjelaskan gambaran klinis neoplasma hipofaring sehingga mampu menerapkan konsep dasar gambaran klinis neoplasma hipofaring untuk tindakan-tindakan klinis yang diperlukan dalam konteks evaluasi dan penatalaksanaan terhadap kasus yang kompleks.
Melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik pada neoplasma hipofaring sehingga mampu menerapkan konsep dasar anamnesis dan pemeriksaan fisik
untuk tindakan-tindakan klinis yang diperlukan dalam konteks evaluasi dan penatalaksanaan terhadap kasus yang kompleks.
Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang, misalkan: endoskopi dan biopsi, CT Scan Leher/MRI Leher sehingga mampu menerapkan konsep dasar pemeriksaan penunjang untuk tindakan-tindakan klinis yang diperlukan dalam konteks evaluasi dan penatalaksanaan terhadap kasus yang umum dijumpai.
Membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhungan dengan neoplasma hipofaring sehingga tindakan- tindakan klinis yang diperlukan dalam penatalaksanaan terhadap kasus neoplasma hipofaring yang kompleks dapat dilakukan.
Dapat menjelaskan prinsip operasi pharyngectomy pada tindakan-tindakan klinis yang diperlukan dalam konteks evaluasi dan penatalaksanaan terhadap kasus neoplasma hipofaring yang umum ditemui.
Dapat menjelaskan prinsip perawatan pra dan pasca operasi serta mampu mengatasi komplikasi dalam penatalaksanaan kasus neoplasma hipofaring yang umum ditemui.
METODE PEMBELAJARAN
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan mempunyai kemampuan dasar untuk menegakkan diagnosis neoplasma hipofaring dan mampu untuk menentukan terapi yang tepat.
Tujuan 1. Menjelaskan anatomi, fisiologi, histopatologi hipofaring
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metoda pembelajaran berikut ini
Interactive lecture
Small group discussion.
Peer assisted learning (PAL)
Bedside teaching.
Task based medical education
Praktek operasi Harus diketahui :
Anatomi hipofaring
Gambaran dan karakteristik histologis hipofaring
Fisiologi faring
Patogenesis neoplasma hipofaring
Tujuan 2. Mampu menjelaskan patogenesis neoplasma hipofaring
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Literatur reading
Referat.
Bedside teaching
Skill lab
Praktek poliklinik
Praktek operasi
Tujuan 3. Menjelaskan gambaran klinik neoplasma hipofaring
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Literatur reading
Referat.
Bedside teaching
Skill lab
Praktek poliklinik
Praktek operasi Harus diketahui :
Device Sensitivity on Anomaly Findings
Tujuan 4. Melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik pada neoplasma hipofaring
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Small group discussion.
Peer assisted learning (PAL)
Bedside teaching.
Task based medical education
Poli klinik
Harus diketahui :
Metoda standar anamnesis
Gejala dan Tanda neoplasama hipofaring
Pemeriksaan penunjang yang sensitif dan spesifik
Memilah diagnosis banding dan menentukan diagnosis kerja(harus ada DD)
Rencana penatatalaksanan neoplasma hipofaring
Tujuan 5. Melakukan keputusan untuk pemeriksan penunjang. Misalkan : endoskopi dan biopsi, CT Scan Leher/MRI Leher
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Literatur reading
Referat.
Bedside teaching
Skill lab
Praktek poliklinik
Praktek operasi Harus diketahui :
Pemeriksaan penunjang yang sensitif dan spesifik
Tujuan 6. Membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhubungan dengan neoplasma hipofaring Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Literatur reading
Referat.
Bedside teaching
Skill lab
Praktek poliklinik
Praktek operasi
Harus diketahui :
Tanda pasti tentang adanya kelainan kongenital
Pemeriksaan penunjang yang sensitif dan spesifik
Memilah diagnosis banding dan menentukan diagnosis kerja
Rencana pengobatan atau tatalaksana pasien
Tujuan 7. Membuat keputusan klinik untuk pharyngectomy
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Literatur reading
Referat.
Bedside teaching
Skill lab
Praktek poliklinik
Praktek operasi Harus diketahui :
Prosedur konservatif
Prosedur operatif
Prosedur alternatif
Tujuan 8. Perawatan penderita pra dan pasca operatif serta mampu mengatasi komplikasi
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Literatur reading
Referat.
Bedside teaching
Skill lab
Praktek poliklinik
Praktek operasi Harus diketahui :
Point penting untuk tatalaksana
Jenis-jenis terapi yang direkomendasikan
Kondisi atau situasi penting untuk membuat keputusan untuk merujuk
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pre test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri atas :
Menjelaskan anatomi, topografi, histologi dan fisiologi hipofaring
Menjelaskan patogenesis neoplasma hipofaring
Menjelaskan gejala klinis neoplasma hipofaring
Melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik pada neoplasma hipofaring
Melakukan keputusan untuk pemeriksan penunjang seperti endoskopi, biopsi, CT-Scan Leher dan atau MRI Leher
Membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan tambahan yang berhubungan dengan neoplasma hipofaring
Menentukan terapi yang tepat pada kasus neoplasma hipofaring
Melakukan rujukan pada fasilitas kesehatan yang lebih tinggi
Selanjutnya dilakukan small group discussion bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal- hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian.
Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk role play dan teman-temannya (Peer Assisted Evaluation) atau kepada SP (Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assisted Evaluation) setelah dianggap memadai, melalui metode bedside teaching dibawah pengawasan fasilitator, peserta dididik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomi dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut :
Perlu perbaikan: pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan.
Cukup: pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien.
Baik: pelaksanaan benar dan baik (efisien)
Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
Self assesment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar.
Pendidik/ fasilitas:
Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form
(terlampir)
Penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi
Kriteria penilaian keseluruhan : cakap/ tidak cakap/ lalai
Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education)
Pencapaian pembelajaran:
Ujian OSCE (K,P,A), dilakukan pada tahapan T.H.T.K.L dasar oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L
Ujian akhir stase, setiap divisi / unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan T.H.T.K.L lanjut oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L.
Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan T.H.T.K.L lanjut oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L.
Ujian akhir profesi (kasus bedah), dilakukan pada akhir pendidikan oleh Kolegium I T.H.T.K.L
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Kuesioner meliputi :
Sebelum pembelajaran
Sebutkan daerah mana dari hipofaring yang paling sering ditemukan adanya neoplasma?
Sinus Piriformis
Dinding posterior faring
Post cricoid space
Semuanya Benar
BSSD
Jawaban :
Sebutkan faktor resiko yang paling sering menjadi penyebab neoplasma hipofaring?
Alkohol
Merokok
Mengkonsumsi Sirih
Makanan berpengawet
Makanan berminyak
Jawaban :
Sebutkan gejala klinis neoplasma hipofaring?
Suara serak,sesak,pembesaran kelenjar
Coughing,chocking,gasping,gangging
Disfagia,hoarseness,massa pada leher,penurunan berat badan, nyeri tenggorok,dan otalgia.
Disfonia menetap, rasa mengganjal di tenggorok, sering mendehem (clearing throat) tanpa mengeluarkan sekret, disfagia
Odinofagia, nyeri tenggorokan, malaise, demam, batuk, mual
Jawaban :
Tengah pembelajaran
Sebutkan pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk mendiagnosis neoplasma hipofaring?
CT Scan leher dan FNA
USG leher dan FNA
USG leher dan CT Scan leher
CT scan leher dan biopsi
FNA dan Biopsi
Jawaban :
Sebutkan tatalaksana untuk neoplasma hipofaring
Radiasi
Kemoterapi
Radiasi dan pembedahan
Kemoterapi dan pembedahan
Pembedahan,radiasi dan kemoterapi
Jawaban :
Akhir pembelajaran
Sebutkan tatalaksana neoplasma hipofaring yang telah mempunyai metastase KGB?
RND,Pembedahan dan radiasi
Radiasi dan pembedahan
Radiasi dan kemoterapi
Pembedahan dan RND
Pembedahan dan kemoterapi
Jawaban :
Sebutkan pendekatan pembedahan pada neoplasma hipofaring?
Eksisi internal
Eksisi eksternal
Eksis internal dan eksternal
Eksisi trans oral
Eksisi intra oral
Jawaban :
Sebutkan komplikasi yang dapat terjadi pasca prosedur faringektomi?
Fistula laring,stenosis,aspirasi
Infeksi,stenosis,perdarahan
Perdarahan,aspirasi,stenosis
A dan B benar
A,B dan C benar
Jawaban :
INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR
PENUNTUN BELAJAR
PROSEDUR BIOPSI NEOPLASMA HIPOFARING
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.:
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
NAMA PESERTA: ...................................... TANGGAL: .................................
KEGIATAN | KASUS | |||
1 | 2 | 3 | T/D | |
PERSIAPAN OPERASI | ||||
Nama
Diagnosis
Informed Choice & Informed Consent
Rencana Tindakan
Persiapan Sebelum Tindakan
Laringoskopi Kleinseser
Forsep biopsy mikro
Suction
Pelilit kapas micro
AgNO3
Telescope 0
Kamera system
Sumber cahaya + kabel sumber cahaya
KEGIATAN | KASUS | |||
1 | 2 | 3 | T/D | |
PASCA BIOPSI | ||||
Pasien tidur terlentang dalam anestesi umum. Kepala hiperekstensi
Masukkan laringoskop kleinseser pada mulut menggunakan tangan kiri (sebelumnya lindungi gigi atas dengan kassa) menyusuri palatum, uvula, dinding faring posterior hingga tampak epiglottis
Singkap epiglotis ke atas agar tepat berada di atas ujung laringoskop sehingga tampak pita suara dan rima glottis atau massa tumor
Fiksasi laringoskop
Lakukan suction jika terdapat sekret yang mengahalangi
Lakukan biopsi tumor dengan menggunakan forsep biopsi micro
Perdarahan diatasi dengan pelilit kapas yang dibasahi AgNO3
Pemberian antibiotik dan analgetik
Selama perawatan pasien dianjurkan tidak banyak bicara
Perawatan kanul trakeostomi bila sebelumnya dilakukan trakeostomi
DAFTAR TILIK
BIOPSI NEOPLASMA HIPOFARING
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini:
: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
X: Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
T/T: Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan disesuaikan peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
PESERTA: TANGGAL :
KEGIATAN | NILAI | ||
X | T/T | ||
1. Kaji ulang diagnosis | |||
2. Menyiapkan peralatan operatif | |||
3. Menyiapkan diri untuk tindakan operatif | |||
KEGIATAN | NILAI | ||
| X | T/T | |
4. Menyiapkan posisi pasien | |||
5. Melakukan tindakan septik & anti septik | |||
PROSEDUR OPERASI | |||
Biopsi Neoplasma Hipofaring | |||
PASCA BIOPSI | |||
Pasien tidur terlentang dalam anestesi umum. Kepala hiperekstensi
Masukkan laringoskop kleinseser pada mulut menggunakan tangan kiri (sebelumnya lindungi gigi atas dengan kassa) menyusuri palatum, uvula, dinding faring posterior hingga tampak epiglottis
Singkap epiglotis ke atas agar tepat berada di atas ujung laringoskop sehingga tampak pita suara dan rima glottis atau massa tumor
Fiksasi laringoskop
Lakukan suction jika terdapat sekret yang mengahalangi
Lakukan biopsi tumor dengan menggunakan forsep biopsi micro
Perdarahan diatasi dengan pelilit kapas yang dibasahi AgNO3
Pemberian antibiotik dan analgetik
Selama perawatan pasien dianjurkan tidak banyak bicara
Perawatan kanul trakeostomi bila sebelumnya dilakukan trakeostomi
MATERI PRESENTASI
Slide 1: Gejala Karsinoma Hipofaring
Sulit menelan (disfagia)
suara parau (hoarseness)
massa pada leher
penurunan berat badan
nyeri tenggorok
otalgia.
Slide 2: Anamnesis dan Pemeriksaan Karsinoma Hipofaring
Anamnesis:
Gejala: sulit menelan (disfagia), suara parau (hoarseness), massa pada leher, penurunan berat badan, nyeri tenggorok, dan otalgia.
Pemeriksaan fisik: laringoskopi indirek, rigid endoskopi, atau fleksibel melalui hidung
Slide 3: Pemeriksaan Penunjang Diagnostik
Pemeriksaan penunjang:
Pemeriksaan radiologi:
X-foto leher AP dan lateral (jaringan lunak)
CT Scan leher (bila tersedia fasilitas)
MRI
Biopsi:
Biopsi dilakukan dengan LI, LD atau LSO/FOL.
Slide 4: Faktor Risiko Karsinoma Hipofaring
Merokok adalah faktor resiko terpenting untuk kanker kepala dan leher (termasuk kanker pada hipofaring).
Konsumsi alkohol juga meningkatkan resiko terkena kanker. Peminum berat memiliki resiko yang lebih tinggi beberapa kali daripada yang bukan peminum.
Orang yang mengkonsumsi keduanya, tembakau dan alkohol memiliki resiko yang paling tinggi. Mengkombinasikan kedua kebiasaan tersebut bukan menambah resiko, tetapi malah melipat gandakannya.
■
■
■
■
■
■
Pengobatan sangat kompleks dan memerlukan pertimbangan beberapa faktor Faktor: Sejauh mana penyakit primer dan status kelenjar getah bening leher, status generalis pasien, pemeriksaan paru, dan komorbiditas
Pengobatan untuk stadium awal (T1 dan T2), terapi radiasi definitif adalah pilihan pengobatan yang utama.
Operasi faring juga dapat dipertimbangkan untuk pasien yang mempunyai indikasi untuk dilakukan operasi
Untuk kanker hipofaring stadium lanjut (T3 dan T4), reseksi pembedahan di ikuti dengan terapi radiasi pasca operasi tetap menjadi pilihan terapi standar Terapi pembedahan dilakukan terhadap tumor-tumor pada semua stadium yang belum mempunyai metastasis ke leher atau metastasis jauh. Pada tumor yang telah memberikan metastasis ke leher, sebelum tindakan operasi tumor primer dilakukan tindakan diseksi leher radikal dan dilanjutkan dengan penyinaran. Untuk tumor yang sudah bermetastasis jauh hanya diberikan terapi sitostatika.
Slide 5: Tatalaksana
MATERI BAKU
Neoplasma Hipofaring Definisi
Neoplasma yang mengenai struktur hipofaring, termasuk sinus piriformis.
Etiologi
Merokok adalah 90 persen faktor resiko terpenting untuk kanker kepala dan leher (termasuk kanker pada hipofaring). Konsumsi alkohol juga meningkatkan resiko terkena kanker. Peminum berat memiliki resiko yang lebih tinggi beberapa kali daripada yang bukan peminum. Orang yang mengkonsumsi keduanya, tembakau dan alkohol memiliki resiko yang paling tinggi. Kombinasi dari kedua kebiasaan
tersebut bukan menambah resiko, tetapi malah melipat gandakannya. Literatur lain menyebutkan adanya sindrom Plummer Vinson dan gastroesofageal reflux yang menjadi faktor predisposisi untuk kanker hipofaring, sementara HPV tidak dihubungkan dengan kanker hipofaring.
Epidemiologi
Hipofaring adalah organ yang jarang dikenai tumor, mayoritas adalah ganas dan ditemukan kurang dari 3 persen dari semua keganasan karsinoma sel skuamosa kepala leher secara keseluruhan. Kekerapan keseluruhan di dunia barat adalah satu per 100.000 per tahunnya. Terdapat insiden yang tinggi di utara Perancis sebesar
14.8 per 100.000 per tahun, merupakan 18 persen dari kanker kepala dan leher yang tercatat.
Distribusi geografis kanker hipofaring
Lokasi | USA | Eropa | Eropa Utara |
Sinus Piriformis | 66-75 % | 75-80 % | 60 % |
Dinding posterior | 20-25 % | 20-25 % | 10 % |
faring | |||
Post cricoid Space | >10 % | >15 % | 30 % |
Diagnosis
Anamnesis
Gejala: sulit menelan (disfagia), suara parau (hoarseness), massa pada leher, penurunan berat badan, nyeri tenggorok, dan otalgia. Pemeriksaan fisik: laringoskopi indirek, rigid endoskopi, atau fleksibel melalui hidung.
Pemeriksaan penunjang: Pemeriksaan radiologi:
CT Scan leher (bila tersedia fasilitas) MRI
Biopsi: dilakukan dengan LI, LD atau LSO/FOL.
Penentuan Stadium Karsinoma hipofaring Tumor primer (T) :
Tx : adanya tumor primer belum dapat ditentukan Tis : karsinoma in situ
T1 : tumor terbatas di satu area hipofaring dan atau ukuran :: 2 cm
T2 : Tumor menginvasi lebih dari satu area hipofaring atau struktur
sekitarnya atau berukuran > 2 cm tetapi :: 4 cm tanpa fiksasi hemilaring
T3 : tumor > 4 cm atau terdapat fiksasi hemilaring atau terdapat ekstensi ke mukosa esofagus
T4a : Moderately advanced local disease. Tumor menginvasi kartilago tiroid / krikoid. Os hyoid, kelenjar tiroid, m. esofagus atau jaringan lunak daerah central kompartmen
T4b : very advanced local disease, tumor menginvasi fascia prevertebralis membungkus arteri carortis atau melibatkan struktur mediastinum
Kelenjar limfe regional (N):
Nx : kelenjar limfe tidak dapat ditentukan
No : tidak ada metastasis kelenjar limfe regional.
N1 : metastasis pada satu kelenjar limfe single ipsilateral, :: 3 cm ENE (-) N2a : metastasis pada kelenjar limfe ipsilateral single, >3cm :: 6 cm ENE (-) N2b : metastasis pada multiple kelenjar limfe ipsilateral, :: 6 cm ENE (-)
N2c : metastasis pada kelenjar limfe bilateral/kontralateral, :: 6 cm ENE (-) N3a : metastasis pada kelenjar limfe > 6 cm ENE (-)
N3b : metastasis pada kelenjar limfe yang secara klinis menunjukkan ENE +
Metastasis jauh (M):
Mo : tidak ada metastasis jauh M1 : terdapat metastasis jauh
Stadium Anatomi/ Kelompok Prognosis :
Stadium 0 Tis No Mo
Stadium I T1 No Mo
Stadium II T2 No Mo
Stadium III T3 No Mo T1,2,3 N1 Mo
Stadium IVa T4a N0,N1, M0
T1,T2,T3,T4a N2 Mo
Stadium IVb T4b any N Mo
any T N3 M0 Stadium IVc any T any N M1
Diagnosis banding
Tumor laring, tumor orofaring
Penatalaksanaan
Pengobatan pasien dengan kanker hipofaring sangat kompleks dan memerlukan pertimbangan beberapa faktor. Beberapa factor tersebut yaitu, termasuk sejauh mana penyakit primer dan status kelenjar getah bening leher serta status generalis pasien, pemeriksaan paru, dan komorbiditas, harus
dipertimbangkan. Pengobatan untuk stadium awal (T1 dan T2) dari semua subsites dari hipofaring, terapi radiasi definitif adalah pilihan pengobatan yang utama. Operasi faring juga dapat dipertimbangkan untuk pasien yang mempunyai indikasi untuk dilakukan operasi. Untuk kanker hipofaring stadium lanjut (T3 dan T4), reseksi pembedahan di ikuti dengan terapi radiasi pasca operasi tetap menjadi pilihan terapi standar.
Terapi pembedahan dilakukan terhadap tumor-tumor pada semua stadium yang belum mempunyai metastasis ke leher atau metastasis jauh. Pada tumor yang telah memberikan metastasis ke leher, sebelum tindakan operasi tumor primer dilakukan tindakan diseksi leher radikal dan dilanjutkan dengan penyinaran. Untuk tumor yang sudah bermetastasis jauh hanya diberikan terapi sitostatika.
Eksisi internal
Teknik operasi dari hypopharyngectomy parsial transoral telah dikenal dengan baik, dan preferensi saat ini adalah dengan menggunakan teknik endoskopi dengan laser karbon dioksida. Sebuah supraglottoscope digunakan untuk pemaparan dari hipofaring pada pasien yang diintubasi secara oral. Pada pasien dimana tumor telah menyebar ke kaudal dan melibatkan orofaring atau bahkan nasofaring, mouth gag juga digunakan. Pada lesi yang melibatkan dinding posterior hipofaring, garis reseksi diambil sekitar tumor dengan laser pada awal prosedur, diikuti dengan melakukan insisi yang lebih dalam yang dibuat menggunakan laser sekitar 1 cm arah kranial dari perbatasan superior tumor, sampai mengenai fasia prevertebral. Dengan insisi ini, volume tumor dengan semua lapisan dinding faring direseksi secara lengkap atau total dari fasia prevertebral menggunakan laser CO2, persis seperti pisau bedah atau gunting, tapi tetap dalam batas-batas eksisi yang telah ditandai sejak awal. Karena graft tidak menutupi luka secara adekuat, proses penyembuhan sebagian besar biasanya melalui penyembuhan sekunder, membutuhkan waktu 3-4 minggu untuk membentuk jaringan granulasi dan penyembuhan. Dalam kasus tersebut, penggunaan trakeostomi dan nasogastric tube feeding jarang diperlukan.
Dinding hypopharyngeal bagian lateral dan medial dari sinus Piriform dapat ditangani dengan cara yang sama. Jika pembuluh darah lebih dari 0,5 mm ditemukan, maka dilakukan dengan klem alligator, dikoagulasi dan dipisahkan dengan laser. Tumor Postcricoid hanya dilakukan reseksi, bila tumor terbatas pada satu arytenoid dan tidak menginfiltrasi kartilago krikoid. Juga jika puncak dari sinus Piriform terlibat atau kanker postcricoid bagian bawah, akses mungkin sulit atau tidak mungkin untuk dapat melihat, dan jika direseksi dengan margin yang aman, penderita-penderita berada pada risiko tinggi untuk berkembang menjadi stenosis faring, yang mungkin memerlukan operasi lanjutan. Komplikasi dilaporkan dengan penggunaan laser eksisi termasuk infeksi lokal, emfisema, pharyngocutaneus fistula, perdarahan pasca operasi, dyspnoea karena edema atau stenosis, kesulitan menelan dan masalah aspirasi, termasuk pneumonia.
Eksisi eksternal
Pharyngectomi parsial, laryngektomi parsial, perbaikan flap
Kanker dinding posterior faring dan beberapa jenis kanker dari dinding
lateral sinus Piriform mungkin cukup kecil untuk dilakukan eksisi lokal melalui pendekatan pharyngotomy lateral dan perbaikan primer dengan kulit, jaringan bebas atau dapat disembuhkan dengan tindakan sekunder. Namun, pasien ini perlu diseleksi secara ketat sehingga laring dapat dipertahankan, dengan morbiditas yang minimal. Jenis-jenis jaringan yang digambarkan untuk digunakan dalam defect tersebut meliputi radial forearm, flap otot platysma dan flap pectoralis myocutaneus.
Banyak peneliti telah menganjurkan penggunaan operasi laring parsial dengan pharyngectomi parsial. Ogura dan Mallen menyebutkan pasien yang menderita kanker dinding medial sinus Piriform tanpa keterlibatan apex, yang mana cocok untuk pengobatan dengan laryngopharyngectomy parsial. Mereka menganjurkan memasuki hypoparynx yang jauh dari tumor secara klinis, memungkinkan paparan bedah dari lesi, sambil menjaga sebanyak mungkin dinding faring untuk rekonstruksi berikutnya. Luasnya reseksi laring tergantung pada tingkat keterlibatan dari tumor primer sinus Piriform dan jaraknya dari laryngectomy subglotic ke reseksi arytenoid.
Penggunaan hemilaryngopharyngectomy supracricoid dipopulerkan pada pertengahan 1960-an dan diindikasikan untuk tumor dari bagian atas supracricoid dari sinus Piriform dan karsinoma dari dinding lateral dengan mobilitas normal dari pita suara.
Penggunaan near total laryngectomy juga telah dianjurkan untuk kanker stadium lanjut dari sinus Piriform, yang meliputi situs dinding lateral dan medial, dengan atau tanpa fiksasi dari pita suara. Prosedur ini, akhir-akhir ini dilaporkan telah berhasil mempertahankan fungsi berbicara dan tidak adanya aspirasi saat menelan, sehingga banyak pasien dapat terhindar dari tracheostomi permanen.
Total laryngectomy dan pharyngectomy parsial - primer dengan dan tanpa penutupan flap
Pada sebagian besar pasien di seluruh dunia yang menderita kanker hypoparynx, lokasi primer subsite adalah sinus Piriform. Pengobatan bedah kanker ini membutuhkan laryngectomy total dan pharyngectomy parsial. Indikasi untuk prosedur ini meliputi keterlibatan puncak sinus, keterlibatan sebagian mukosa postcricoid, dan invasi kartilago tiroid atau adanya kelumpuhan hemilarynx.
Setelah laryngectomy total dengan pharyngectomy parsial, adalah mungkin untuk menutup faring terutama jika lebar terkecil dari sisa-sisa faring adalah 1,5 cm atau 2,5 cm jika dibentangkan tanpa adanya massa tumor. Jumlah ini, sisa jaringan faring yang cukup untuk mengembalikan fungsi menelan.
Bila sisa jaringan kurang dari 50% atau <2,5 cm dari mukosa yang terbentang setelah pengangkatan tumor hypopharyngeal, maka mukosa yang tersisa perlu dilengkapi dengan 'patch technic' baik menggunakan flap jaringan bebas, seperti radial forearm atau pectoralis sebuah flap myocutaneus, ini akan meminimalkan kemungkinan fistula dan stenosis faring selanjutnya. Hal ini dianggap bahwa menggunakan 'patch technic' dalam keadaan seperti ini dapat menghasilkan fungsi menelan lebih baik daripada perbaikan defek circumferensial, penggunaan jaringan residual faring akan mempertahankan fisiologi yang akurat.
Konsep rekonstruksi hypopharyngeal harus berhadapan dengan pemulihan yang tidak mudah yang bukan merupakan pipa yang sederhana tetapi sesuatu yang kompleks yang terdiri dari kekuatan konstriktif dan pendorong dengan sirkuit sensorik yang halus. Pendekatan bedah yang dipilih harus bertujuan mencapai reseksi lengkap tumor dan pembentukan kembali dua fungsi utama: menelan dan fonasi. Untuk saat ini, penggunaan flaps bebas merupakan pilihan pertama untuk kedua rekonstruksi hypopharyngeal oncologi parsial dan total, dan pedikel flap harus dipertimbangkan hanya ketika flaps bebas kontraindikasi pada keadaan umum dan vaskular.
Pharyngolaryngectomy total dan perbaikan flap
Perlunya eksisi menyeluruh hipofaring disertai total laryngectomy, didasarkan pada perluasan tumor yang circumferencial dan adanya tumor pada area post cricoid, meluas pada atau melibatkan oeshopagus servical. Hipofaring adalah tabung berbentuk corong, dengan circumferrence bagian atas yang lebih besar yang menyempit ke persimpangan pharyngo-esofagus. Oleh karena kanker pada ujung bawah hypoparynx dan oeshopagus atas, memerlukan reseksi circumferrential lengkap serta perbaikan. defek pembedahan membutuhkan pengganti tubular yang dapat berupa kulit dan otot (myocutaneus atau jaringan bebas), viskus (baik jejenum, caecum, kurvatora mayor dari perut dengan omentum atau pedicled perut) atau graft usus besar.
Masalah-masalah atau kesulitan yang berhubungan dengan primer dan sekunder hypopharyngectomy berbeda, dan defek bedah mengharuskan tindakan yang berbeda dan harapan yang realistis, tidak hanya oleh dokter tetapi oleh pasien dan perawat. Pasien dipertimbangkan untuk operasi penyelamatan adalah kelompok berisiko tinggi baik dari segi morbiditas operasi dan kelangsungan hidup. Telah diusulkan untuk menggunakan gastro-omentum flap karena secara anatomi, fisiologis dan imunologis adalah ideal untuk rekonstruksi dalam perbaikan defek bedah, terutama untuk kanker hypopharyngeal. Bila dianggap gagal terhadap pengobatan primer maka dengan menggunakan kemoradioterapi. Pasien dengan nodul metastasis, penyebaran ekstra kapsulere dan tumor berdiferensiasi buruk cenderung pasrah pada penyakit mereka dan harus dipilih untuk memperoleh terapi adjuvan bila memungkinkan.
Teknik rekonstruksi ideal untuk defek circumferensial dari hipofaring dan esofagus atas harus memiliki banyak faktor seperti, margin bedah yang memadai, terutama tepi inferior, atau pembentukan fistula, waktu yang singkat untuk menelan, terdengar normal untuk berbicara sehari-hari, kemampuan jaringan untuk bertahan terhadap radioterapi pasca operasi dengan atau tanpa kemoterapi, penanganan yang simultan pada saat yang sama sebagai operasi eksisi untuk mengurangi waktu operasi, rawat inap pendek, dan tim dokter bedah yang berpengalaman terhadap prosedur dan penanganan komplikasi
Kelenjar getah bening leher
Mengingat kecenderungan yang tinggi akan adanya metastase ke kelenjar getah bening leher pada pasien kanker hypopharyngeal, maka perhatian terhadap hal ini sama pentingnya dengan reseksi dan perbaikan defek primer. Metode
pengobatan nodul metastasis akan tergantung kepada metode pengobatan utama apakah itu adalah operasi, radioterapi atau kemoterapi.
Untuk pasien dengan tidak ada kelenjar getah bening leher yang teraba (N0), dilakukan selectif neck disection untuk mengangkat kelenjar getah bening di level II, III, dan IV yang dilakukan dengan reseksi dari tumor primer. Ketika pembesaran kelenjar getah bening teraba, maka modified neck disection harus dipertimbangkan. Pembesaran kelenjar getah bening sepanjang paratrakeal harus dicari ketika tumor primer terletak dibawah dari sinus Piriform atau ruang postcricoid. Kadang-kadang, upper mediastinum perlu dibuka dan mediastinal neck disection dilakukan.
Instrumen yang diperlukan
Scalpel
Mata Pisau
Gunting Mayo Bengkok
Gunting Diseksi Metzembaum
Gunting Bengkok Ferguson
Pinset Anatomis
Pinset Chirurgis
Klem Allis
Mosquito
Klem Arteri Roberts
Klem Kocher
Needle Holder
Retraktor
Langenbeck
Kanula Suction
Monopolar dan Bipolar Elektrokauter
Jarum
Benang Catgut Chromic
Benang Silk
Teknik Operasi Faringektomi Suprahyoid
Insisi kulit horizontal di atas tulang hioid hingga mencapai valeculla
Insisi di perlebar ke lateral hingga cornu mayor tulang hioid, hindari cedera pada N.laringeus superior dan N.hipoglosus
Os hioid di angkat,
Masuk ke dalam lumen faring secara lateral dan medial
Insisi pada dinding posterior hipifaring dilanjutkan ke bawah hingga fascia prevertebral
Jika tumor meluas ke ruang pravertebral maka otot prevertebral harus dipotong
Defek pada dinding posterior hipofaring dapat direkonstruksi dengan split-thickness/dermal skin graft
Setelah reseksi dinding posterior, skin graft dijahit ke bipedikel
prevertebral atau otot pectoralis miofasial flap.
Faringotomi ditutup dengan lapisan dengan menghindari jahitan ligasi dari nervus hipoglosal dan nervus laryngeus superior
Insisi kulit horizontal di atas tulang hioid hingga mencapai valeculla
Insisi di perlebar ke lateral hingga cornu mayor tulang hioid, hindari cedera pada N.laringeus superior dan N.hipoglosus
Os hioid di angkat,
Masuk ke dalam lumen faring secara lateral dan medial
Insisi pada dinding posterior hipifaring dilanjutkan ke bawah hingga fascia prevertebral
Pasca Faringektomi
Pemberian antibiotik dan analgetik
Selama perawatan pasien dianjurkan tidak menelan ludah
Asupan nutrisi melalui nasogastric tube (NGT) selama 10-14 hari
Dilakukan tes minum sebelum NGT dicabut, dapat dicoba asupan oral 2 sampai 3 minggu setelah operasi.
Selama perawatan diobservasi ada tidaknya komplikasi.
Drain dilepas bila cairan <25 cc.
Jahitan dilepas hari ke tujuh bartahap hingga hari ke sepuluh.
Komplikasi operasi
Perdarahan
Kerusakan dari dinding posterior trakea
Sikatriks
Leakage pasca rekonstruksi faring
Follow Up
Pemberian antibiotik dan analgetik
Selama perawatan pasien dianjurkan tidak menelan ludah
Asupan nutrisi melalui nasogastric tube (NGT) selama 10-14 hari
Dilakukan tes minum sebelum NGT dicabut, dapat dicoba asupan oral 2 sampai 3 minggu setelah operasi.
Selama perawatan diobservasi ada tidaknya komplikasi.
Drain dilepas bila cairan <25 cc.
Jahitan dilepas hari ke tujuh bartahap hingga hari ke sepuluh.
DAFTAR ISI
MODUL VII.13
ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER: NEOPLASMA KELENJAR TIROID
WAKTU
Mengembangkan Kompetensi | Alokasi Waktu |
Sesi di dalam kelas Sesi dengan fasilitas pembimbing Sesi praktek dan pencapaian kompetensi | 2 x 90 menit (classroom session) 2 x 60 menit (coaching session) 36 Jam (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi presentasi: Struma Nodosa Non Toksik
Power point
Video
Kasus: Struma nodosa non toksik
Sarana dan Alat Bantu Latih:
Penuntun belajar (learning guide): terlampir
Tempat belajar (training setting): instalasi rawat inap, instalasi rawat jalan, kamar operasi, ruang praktikum, ruang kuliah
Model/manekin atau kadaver
Komputer/laptop
Infocus
REFERENSI
Zhang I, Jablonski SD, Ferris RL. Treatment of Thyroid Neoplasms. In: Bailey BJ, Johnson JT, et al. Head & Neck Surgery-Otolaryngology. 5th ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2014. Vol 2; p. 2115-30
Scharpf J, Randolph GW. Thyroid and Parathyroid Glands. In: Lee KJ, ed. Essential Otolaryngology Head & Neck Surgery. 11th ed. New York: McGraw- Hill Education; 2016. p. 606-40
Cracchiolo JR, Shaha AR. Thyroid Cancer. In: Myers J, Hanna E, Myers E, ed. Cancer of The Head and Neck. 5th ed. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2017. p. 812-54
Shah JP. Thyroid and Parathyroid Glands. In: Shah JP, ed. Head and Neck Surgery and Oncology. 5th ed. Philadelphia: Elsevier; 2020. p. 489-556
Amin MB, et al. Thyroid - Differentiated and Anaplastic Carcinoma. In: Amin MB, Edge SB, Greene FL, et al. AJCC Cancer Staging Manual. 8th ed. Chicago; Springer Nature; 2018. p. 881-910
Pfister DG, Spenser S, Adelstein D, Adkins D, Brizel DM, Burtness BA. NCCN Clinical Practise Guidelines in Oncology. Head and Neck Cancer: National Comprehensive Cancer Network; 2020. 225 p.
KOMPETENSI
Pengetahuan
Menegakkan diagnosis neoplasma tiroid (struma nodosa non toksik) berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang
Keterampilan
Setelah Mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam:
Menjelaskan anatomi, topografi, histologi, dan fisiologi tiroid
Menjelaskan patogenesis neoplasma tiroid
Menjelaskan gejala dan tanda neoplasma tiroid
Melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik pada neoplasma tiroid
Melakukan keputusan untuk pemeriksan penunjang seperti biopsi aspirasi jarum halus (BAJH)/fine needle aspiration biopsy (FNAB), Faal Tiroid, USG tiroid, dan CT Scan tiroid
Membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhubungan dengan neoplasma tiroid
Menentukan pilihan terapi pada kasus neoplasma tiroid
Melakukan tindakan pembedahan pada penderita neoplasma tiroid (tiroidektomi)
Merawat penderita pra operatif, memberi penjelasan kepada penderita dan keluarga (informed consent), dan pasca operasi serta mampu mengatasi komplikasi yang terjadi
GAMBARAN UMUM
Neoplasma tiroid adalah adanya massa/benjolan abnormal pada kelenjar tiroid. Massa/benjolan tersebut tumbuh membesar dari sel kelenjar tiroid. Pembesaran tersebut bisa menjadi non-cancerous (jinak) atau cancerous (ganas). Beberapa massa tersebut dapat berbentuk nodul yang berisi cairan (kista), dapat pula padat. Patologi neoplasma tiroid bervarasi, dapat berupa nodul jinak atau ganas. Pada kasus ganas dapat disertai keluhan suara serak (parau). Neoplasma tiroid yang besar dapat menekan jalan napas (laring/trakea) dengan gejala sesak napas.
CONTOH KASUS
Seorang perempuan, berusia 45 tahun datang ke poli T.H.T.K.L dengan keluhan utama benjolan pada leher depan. Benjolan tidak diketahui sejak kapan namun baru disadari sejak 2 minggu yang lalu, sebesar kelereng, tidak nyeri, bergerak saat menelan, warna kulit tidak berubah. Tidak didapatkan suara parau dan gangguan menelan. Penderita masih dapat makan dan minum dengan baik. Temperatur tubuh 36,70C dan pemeriksaan lekosit darah adalah 4.300.
Diskusi:
Diagnosis banding neoplasma leher anterior
Indikasi tiroidektomi
Jawaban:
Diagnosis banding
Struma uninodosa non toksik
Struma multinodosa non toksik
Karsinoma tiroid (papiler/folikuler/meduler/anaplastik)
Kista duktus tiroglosus
Indikasi tiroidektomi:
Goiter besar/multinodular goiter
Kanker tiroid
Penderita tirotoksikosis yang tidak responsif terapi medikamentosa
Gejala penekanan akibat tonjolan tumor (disfagia, sesak, dan/atau suara serak)
Alasan kosmetik
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan Pembelajaran Umum
Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan mampu untuk menegakkan diagnosis dan melakukan terapi terhadap neoplasma leher anterior.
Tujuan Pembelajaran Khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan mampu untuk:
Menguasai anatomi, topografi, histologi, dan fisiologi tiroid (tingkat kompetensi K3, A3)
Mampu menjelaskan patogenesis neoplasma tiroid (tingkat kompetensi K3, A3)
Menjelaskan gejala dan tanda neoplasma tiroid (tingkat kompetensi K3, A3)
Melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik pada neoplasma tiroid (tingkat kompetensi K3, A3)
Melakukan keputusan untuk pemeriksan penunjang. Misalkan BAJH, USG tiroid, CT Scan tiroid.
(tingkat kompetensi K3, P5, A3)
Membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhubungan dengan struma
(tingkat kompetensi K3, P5, A3)
Membuat keputusan klinik untuk tiroidektomi (tingkat kompetensi K3, P5, A3)
Melakukan tindakan operasi tiroidektomi (tingkat kompetensi K3, P5, A3)
Merawat penderita pra dan pasca operatif serta mampu mengatasi komplikasi (tingkat kompetensi K3, P5, A3)
METODE PEMBELAJARAN
Setelah mengkuti sesi ini peserta didik akan mempunyai kemampuan dasar untuk menegakkan diagnosis struma nodosa non toksik (SNNT) dan mampu untuk menentukan terapi yang sesuai
Tujuan 1. Menjelaskan anatomi, topografi, histologi, dan fisiologi tiroid
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metoda pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Small group discussion.
Peer assisted learning (PAL)
Bedside teaching.
Task based medical education.
Tujuan 2. Mampu menjelaskan patogenesis struma
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review.
Peer assisted learning (PAL)
Bedside teaching.
Task based medical education.
Tujuan 3. Menjelaskan gejala dan tanda struma
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review
Case simulation and investigation exercise
Equipment characteristics and operating instructions
Tujuan 4. Melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik pada struma
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review
Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device)
Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients
Harus diketahui:
Metoda standar anamnesis
Gejala dan tanda pasti neoplasma tiroid
Pemeriksaan penunjang yang sensitif dan spesifik
Memilah diagnosis banding dan menentukan diagnosis kerja
Rencana pengobatan atau tata laksana pasien
Tujuan 5. Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review.
Morbidity and Mortality Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).
Operative Procedure Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients.
Continuing Professional Development Must to know keypoints:
Prosedur konservatif
Medikamentosa
Prosedur operatif
Lobektomi total
Isthmulobektomi
Tiroidektomi total
Tiroidektomi total dengan diseksi leher
Tiroidektomi total dengan laringektomi
Tujuan 6. Membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhungan dengan struma
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review
Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device)
Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients
Harus diketahui:
Work-up Key Points
Indikasi pemilihan pemeriksaan tambahan
Analisis data untuk menegakkan diagnosis
Tujuan 7. Menentukan terapi yang tepat pada kasus struma
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review
Case study
Practice with Real Clients
Harus diketahui:
Terapi medikamentosa
Terapi pembedahan berdasarkan AMES,AGES
Tujuan 8. Melakukan tindakan pembedahan (tiroidektomi)
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review
Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device)
Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients
Harus diketahui:
Jenis pembedahan (tiroidektomi)
Langkah-langkah pembedahan
Tujuan 9. Melakukan perawatan penderita pra dan pasca pembedahan (tiroidektomi)
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review
Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device)
Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients
Harus diketahui:
Sermon of relaxation
Informed consent
Komplikasi operasi
Rangkuman:
Neoplasma tiroid banyak ditemukan pada orang dewasa, terutama wanita dengan ratio 3:1. Jenis dapat berupa jinak maupun ganas, tipe ganas yang paling sering adalah papiler. Penanganannya adalah tiroidektomi, tipe tiroidektomi disesuaikan dengan besar dan perluasan tumor.
EVALUASI DAN INSTRUMEN PENILAIAN
Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pre- test terdiri atas:
Anatomi, topografi, histologi dan fisiologi tiroid
Penegakan diagnosis
Penatalaksanaan
Follow up
Selanjutnya dilakukan small group discussion bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian.
Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk role play dan teman-temannya (Peer Assisted Evaluation) atau kepada SP (Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assisted Evaluation) setelah dianggap memadai, melalui metode bedside teaching dibawah pengawasan fasilitator, peserta dididik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomi dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut:
Perlu perbaikan: pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan.
Cukup: pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien.
Baik: pelaksanaan benar dan baik (efisien)
Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
Self assesment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar.
Pendidik/ fasilitas:
Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form (terlampir)
Penjelasan lisan dari peserta didik/diskusi
Kriteria penilaian keseluruhan: cakap/ tidak cakap/ lalai
Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education).
Pencapaian pembelajaran:
Ujian OSCE (K,P,A), dilakukan pada tahapan T.H.T.K.L dasar oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L
Ujian akhir stase, setiap divisi/unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan
T.H.T.K.L lanjut oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L.
Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan T.H.T.K.L lanjut oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L.
Ujian akhir profesi (kasus bedah), dilakukan pada akhir pendidikan oleh Kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Kuesioner Sebelum Pembelajaran (Pre Test)
Soal:
Diagnosis pasti struma ditegakkan melalui:
CT Scan
FNAB coli
FNAB tiroid
Ultrasonografi
Biopsi insisional Jawab: C
Tumor leher kongenital tersering pada anak usia dibawah 15 tahun adalah:
Kista dukstus tiroglosus
Kista brankial
Sialolitiasis
Neoplasma
Limfoma Jawaban: A
Pemeriksaan tambahan yang dapat digunakan menegakkan diagnosis tumor leher adalah:
CT scan kepala leher dengan kontras
Biopsi eksisi
USG leher
FNAB coli
Benar semua Jawaban: E
Kuesioner Tengah Pembelajaran
Soal:
Seorang laki-laki berusia 30 tahun datang dengan keluhan benjolan di leher kanan dirasakan sejak kecil tapi terasa membesar sejak 1 tahun yang lalu. Tidak ditemukan nyeri dan rasa mengganjal saat menelan. Benjolan setinggi level III, tidak melekat pada dasarnya. Tidak bergerak saat menjulurkan lidah maupun menelan. BAJH menunjukkan hasil kista brankialis. Bagaimana penatalaksanaan operatif kasus tersebut:
Diseksi leher radikal modifikasi
Diseksi leher supraomohioid
Ekstirpasi tumor
Ekstraksi tumor
Biopsi eksisi Jawaban: C
Kuesioner Akhir pembelajaran
Soal:
Seorang laki-laki usia 58 tahun datang dengan keluhan bercak hitam berkoreng pada daerah hidung. Pasein mengaku keluhan diawali dengan tahi lalat hitam yang makin lama membesar dan terasa gatal. Pasien mengaku sering tidak sengaja tergaruk sehingga timbul luka. Pada pemeriksaan T.H.T.K.L tidak ditemukan kelainan.
Bagaimana cara mendiagnosis dan terapi pada kasus ini?
Jawaban:
Dilakukan biopsi pada daerah lesi untuk menentukan histopatologinya
Jika positif neoplasma kulit kepala dan leher (melanoma maupun non melanoma) pilihan terapi adalah eksisi luas
Jika defek cukup luas bisa dilakukan skin graft atau flap kulit setelah eksisi luas
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR
PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR TIROIDEKTOMI
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.:
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
NAMA PESERTA: ..................................... TANGGAL: .................................
KEGIATAN | KASUS | ||||
1 | 2 | 3 | T/D | ||
I | PERSIAPAN OPERASI | ||||
1. Informed consent | |||||
2. Menjelaskan tujuan operasi dan hasil yang diharapkan | |||||
3. Menjelaskan prosedur dan standar operasi pada pasien dan keluarganya | |||||
4. Melakukan evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi operasi | |||||
II | PROSEDUR OPERASI | ||||
1. Pasien dalam posisi supinasi dengan kepala hiperekstensi dengan bantal di bawah pundak | |||||
2. Desinfeksi lapangan operasi dengan non-iodine, lalu dipersempit dengan linen steril gambar insisi pada daerah sefalokaudal (2 jari di atas sternal notch) dengan metilen blue. Dilakukan infiltrasi anestesi lokal di daerah insisi. | |||||
3. Insisi dengan scalpel dan diperdalam hingga m. platisma dengan elektrokauter | |||||
4. Dibuat flap subplatisma ke superior sampai kartilago tiroid notch dan ke inferior sampai sternal notch, kedua flap difiksasi ke atas dan ke bawah pada linen dengan benang silk 2.0 | |||||
KEGIATAN | KASUS | ||||
1 | 2 | 3 | T/D | ||
5. idenfikasi vena jugularis anterior dan fasia di diinsisi pada pertengahannya. strap muscle terpapar. Linea alba teridentifikasi ke arah inferior dan diinsisi . | |||||
6. Otot sternohioid dan sternotiroid kanan kiri dipisahkan ke arah lateral dengan melepaskannya dari kapsul tiroid | |||||
7. Evaluasi dan identidikasi kelenjar tiroid. konsistensi, jenis nodul dan adanya lobus piramidalis atau abnormalitas | |||||
8. Diseksi a. Tiroidea superior dan v. Tiroidea superior dengan klem kemudian potong dan diligasi dengan silk 2.0 Hati-hati agar tidak mengganggu vaskularisasi dari kelenjar paratiroid | |||||
9. Bebaskan tiroid bagian superior, kemudian identifikasi n. Rekuren pada sulkus trakeoesofagus di bawah kelenjar tiroid yang terletak di antara kapsul posterior tiroid dan a. Tiroidea inferior | |||||
10. Bebaskan tiroid bagian lateral, kemudian identifikasi kelenjar Paratiroid pada permukaan posterior kelenjar Tiroid berdekatan dengan a. Tiroidea inferior | |||||
11. V. Tiroidea media dan inferior di ligasi dengan silk 2.0, kemudian tarik tiroid ke medial | |||||
12. Diseksi kelenjar paratiroid | |||||
13. N. Rekuren diindentifikasi dari lateral ke medial, dan perdarahan dikontrol. | |||||
16. Spesimen yang telah diangkat diinspeksi | |||||
17. Pemasangan drain | |||||
18. Lapangan operasi di tutup dengan jahitan subkutikuler. | |||||
19. Operasi selesai | |||||
III | PASCA OPERASI | ||||
b. Observasi tanda vital, sesak napas, perubahan suara, perdarahan, jumlah cairan pada drain, status lokalis: hematom atau oedem | |||||
c. Memeriksa kadar kalsium darah, fungsi tiroid | |||||
d. Pemberian antibiotika, antiperdarahan, | |||||
e. Drain dilepas pada hari ke-2/cairan retensi <25 cc/hari | |||||
f. Jahitan dilepas pada hari ke-7 | |||||
Fasia pretrakeal ditembus dan bebaskan tiroid dari fasia trakea ke sisi kontralateral. kemudian kelenjar tiroid yang tersisa dijahit dengan silk 2.0
Transeksi ismus sampai kontralateral (ismulobektomi)
DAFTAR TILIK PENILAIAN PSIKOMOTOR
DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA PROSEDUR TIROIDEKTOMI
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini:
: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
X : Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
T/T: Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
PESERTA: TANGGAL :
KEGIATAN | NILAI | |||
| X | T/T | ||
I | PERSIAPAN OPERASI | |||
1. Informed consent | ||||
1. Menjelaskan tujuan operasi dan hasil yang diharapkan | ||||
2. Menjelaskan prosedur dan standar operasi pada pasien dan keluarganya | ||||
3. Melakukan evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi operasi | ||||
II | PROSEDUR OPERASI | |||
1. Pasien dalam posisi supinasi dengan kepala hiperekstensi dengan bantal di bawah pundak | ||||
2. Desinfeksi lapangan operasi dengan non-iodine, lalu dipersempit dengan linen steril gambar insisi pada daerah sefalokaudal (2 jari di atas sternal notch) dengan metilen blue. Dilakukan infiltrasi anestesi lokal di daerah insisi. | ||||
3. Insisi dengan scalpel dan diperdalam hingga m.platisma dengan elektrokauter | ||||
4. Dibuat flap subplatisma ke superior sampai kartilago tiroid notch dan ke inferior sampai sternal notch, kedua flap difiksasi ke atas dan ke bawah pada linen dengan benang silk 2.0 | ||||
5. idenfikasi vena jugularis anterior dan fasia di diinsisi pada pertengahannya. strap muscle terpapar. Linea alba teridentifikasi ke arah inferior dan diinsisi . | ||||
6. Otot sternohioid dan sternotiroid kanan kiri dipisahkan ke arah lateral dengan melepaskannya dari kapsul tiroid | ||||
7. Evaluasi dan identidikasi kelenjar tiroid. konsistensi, jenis nodul dan adanya lobus piramidalis atau abnormalitas | ||||
KEGIATAN | NILAI | |||
| X | T/T | ||
8. Diseksi a. Tiroidea superior dan v. Tiroidea superior dengan klem kemudian potong dan diligasi dengan silk 2.0 Hati- hati agar tidak mengganggu vaskularisasi dari kelenjar paratiroid | ||||
9. Bebaskan tiroid bagian superior, kemudian identifikasi n. Rekuren pada sulkus trakeoesofagus di bawah kelenjar tiroid yang terletak di antara kapsul posterior tiroid dan a. Tiroidea inferior | ||||
10. Bebaskan tiroid bagian lateral, kemudian identifikasi kelenjar Paratiroid pada permukaan posterior kelenjar Tiroid berdekatan dengan a. Tiroidea inferior | ||||
11. V. Tiroidea media dan inferior di ligasi dengan silk 2.0, kemudian tarik tiroid ke medial | ||||
12. Diseksi kelenjar paratiroid | ||||
13. N. Rekuren diindentifikasi dari lateral ke medial, dan perdarahan dikontrol. | ||||
16. Spesimen yang telah diangkat diinspeksi | ||||
17. Pemasangan drain | ||||
18. Lapangan operasi di tutup dengan jahitan subkutikuler. | ||||
19. Operasi selesai | ||||
III | PASCA OPERASI | |||
F. Observasi tanda vital, sesak napas, perubahan suara, perdarahan, jumlah cairan pada drain, status lokalis: hematom atau oedem, | ||||
G. Memeriksa kadar kalsium darah, fungsi tiroid | ||||
H. Pemberian antibiotika, antiperdarahan | ||||
I. Drain dilepas pada hari ke-2/cairan retensi <25 cc/hari | ||||
J. Jahitan dilepas pada hari ke-7 | ||||
Fasia pretrakeal ditembus dan bebaskan tiroid dari fasia trakea ke sisi kontralateral. kemudian kelenjar tiroid yang tersisa dijahit dengan silk 2.0
Transeksi ismus sampai kontralateral (ismulobektomi)
MATERI PRESENTASI
LCD 1: Anatomi dan Fisiologi Tiroid.
LCD 2: Penatalaksanaan Neoplasma Tiroid
Ukuran kelenjar tiroid
MATERI BAKU
Batasan
Tumor tiroid adalah adanya massa/benjolan abnormal pada kelenjar tiroid. Massa/benjolan tersebut tumbuh membesar dari sel kelenjar tiroid. Pembesaran tersebut bisa menjadi non cancerous (jinak) atau cancerous (ganas). Beberapa massa tersebut dapat berbentuk nodul yang berisi cairan (kista), dapat pula padat. Kejadian mencapai 95% dari seluruh tumor endokrin, dan 2,5% dari seluruh keganasan. Sebagian besar tumor merupakan tumor jinak, dan angka keganasan mencapai 5%. Tumor ganas tiroid ditemukan pada perempuan tiga kali lebih banyak dibandingkan laki-laki, dan dua kali lebih berisiko menderita tipe anaplastik. Rata-rata penderita berusia 47 tahun dengan puncak usia 4549 thn pada perempuan, dan 6569 thn pada laki-laki. Faktor risiko antara lain genetik, usia tua, riwayat, kekurangan yodium saat kecil, riwayat terpapar radiasi, riwayat keluarga dengan penyakit yang sama, menderita penyakit Gardner's syndrome, familial adenomatous polyposis, Carney complex atau Cowden's syndrome.
Gejala klinis mencakup benjolan pada leher daerah tiroid dan suara parau. Pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratoium, BAJH, USG tiroid, dan dapat dilakukan pencitraan pada indikasi tertentu. Tipe tumor jinak tiroid adalah adenoma tiroid yang biasanya asimtomatis. Klasifikasi pada tumor ganas adalah berdiferensiasi baik dan buruk. Tipe tumor ganas berdiferensiasi baik terbagi atas tipe papiler (yang paling sering), folikuler dan sel hurtle, sedangkan yang berdiferensiasi buruk terbagi atas sel anaplastik dan tipe meduler. Tipe meduler merupakan tipe yang berasal dari sel parafolikuler. Survival rate dalam 10 tahun secara keseluruhan adalah 98%, yaitu 92% tipe papiler, 89% tipe folikuler, 80% tipe meduler, dan 13% tipe anaplastik.
Penyakit ini dapat metastasis regional sebesar 34% kasus, dan metastasis jauh pada 5% kasus. Prognosis dapat menjadi buruk jika usia lebih dari 45 tahun, reseksi tumor inkomplet, perluasan ekstratiroid atau ke vaskular, keterlibatan kelenjar limfe dan terdapat metastasis. Risiko terjadi rekuren jika usia di bawah 20 tahun atau di atas 60 tahun, besar tumor lebih dari 4 cm, perluasan ekstratiroid atau ke vaskular, ukuran tumor lebih dari 4 cm, dan adanya keterlibatan kelenjar limfe. Masih terdapat kontroversi mengenai terapi dari karsinoma tiroid dan perluasan dari tiroidektomi. Intervensi penyakit ini juga sulit dievaluasi karena follow-up yang lama. Terapi pada tumor tiroid ini mencakup operasi tiroidektomi, radiasi dan kemoterapi serta ablasi.
Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik
Anamnesis yang perlu ditanyakan adalah:
Gejala yang dikeluhkan pasien mencakup benjolan leher daerah tiroid, suara
parau
Riwayat terpapar radiasi
Riwayat keluarga dengan penyakit yang sama
Menderita penyakit Gardner's syndrome, familial adenomatous polyposis,
Carney complex atau Cowden's syndrome
Manifestasi klinis:
Teraba pembesaran leher di regio tiroid
Pada benjolan leher ditentukan besar dan mobilitas, konsistensi.
Kelainan lain (massa sekunder, ulkus, dan lain-lain)
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan TSH merupakan pemeriksaan screening yang utama. Kadar tiroglobulin tidak dapat membedakan sel jinak maupun ganas, namun dapat digunakan pada post tiroidektomi tipe berdiferensi baik.
Serum kalsitonin pada penderita dengan riwayat keluarga mengidap tipe medular atau curiga tipe meduler
Serum kalsium untuk menyingkirkan hiperparatiroid
FNAB/BAJH
Tingkat akurasi 99%, sebagai gold standard
Membedakan tumor jinak, ganas, dan tipe sel.
USG tiroid
Indikasi pada pasien dengan keluhan benjolan leher
Besar nodul, solid atau kistik, non toksik atau toksik
Pemeriksaan CT scan, MRI dan PET
Jika lesi terfiksir
MRI lebih akurat dari CT scan
b. Evaluasi mediastinum, trakea, esofagus atau ekstratiroid
Laringoskopi indirek atau FOL
Untuk evaluasi pita suara pada penderita yang mengeluh suara parau
Scan Tiroid Radionukleotida
Jika TSH menurun
Diagnosis Banding
Struma uninodosa non toksik
Struma multinodosa non toksik
Karsinoma tiroid (papiler/folikuler/meduler/anaplastik)
Kista duktus tiroglosus
Klasifikasi Stadium TNM menurut AJCC edisi ke-8 pada Papiler, Folikuler,
Poorly Differentiated, Sel Hurthle dan Karsinoma Tiroid Anaplastik Kategori Kriteria
Tx Tumor primer tidak dapat dinilai
T0 Tidak didapat tumor primer
T1 Tumor dengan ukuran 2 cm atau kurang, masih terbatas pada tiroid T1a Tumor dengan ukuran 1 cm atau kurang, terbatas pada tiroid
T1b Tumor lebih dari 1 cm tetapi kurang 2 cm, terbatas pada tiroid
T2 Tumor dengan ukuran lebih dari 2 cm tetapi tidak lebih dari 4 cm, masih terbatas pada tiroid
T3 Tumor dengan ukuran lebih dari 4 cm masih terbatas pada tiroid, atau tumor dengan penyebaran minimal ke ektra tiroid hanya menginvasi strap muscles
T3a Tumor lebih dari 4 cm terbatas pada tiroid
T3b Ukuran tumor berapapun yang menyebar ke ekstra tiroid menginvasi
strap muscle (sternohyoid, sternothyroid, thyrohyoid, atau omohyoid) T4 Termasuk perluasan ke ekstratiroid
T4a Tumor dengan ukuran berapa saja yang telah meluas keluar ekstratiroid, yang menginvasi jaringan lunak subkutis, laring, trakea, esofagus, atau saraf laringeus rekuren
T4b Tumor dengan ukuran berapa saja yang meluas keluar ekstratiroid, telah menginvasi fasia prevertebral atau arteri karotis atau pembuluh darah mediastinum
Nx KGB tidak dapat dinilai
N0 Tidak didapat metastasis ke KGB lokoregional
N0a Satu atau lebih hasil sitologi atau histologi terkonfirmasi limfonodi jinak
N0b Tidak ditemukan dari hasil radiologi atau pemeriksaan klinis metastasis KGB lokoregional
N1 Terdapat metastasis ke KGB regional
N1a Metastasis pada KGB servikal level VI atau VII (pretrakeal, paratrakeal, atau prelaringeal/Delphian, atau superior mediastinum). Dapat ditemukan unilateral atau bilateral.
N1b Metastasis pada KGB servikal unilateral, bilateral, atau kontralateral pada level (I, II, III, IV, atau V) atau daerah retrofaring
M0 Tidak terdapat metastasis jauh M1 Terdapat metastasis jauh
Prognosis AJCC Berdasarkan Stadium Differentiated
Age | T | N | M | Stage |
<55 years | Any T | Any N | M0 | I |
<55 years | Any T | Any N | M1 | II |
255 years | T1 | N0/Nx | M0 | I |
255 years | T1 | N1 | M0 | II |
255 years | T2 | N0/Nx | M0 | I |
255 years | T2 | N1 | M0 | II |
255 years | T3a/T3b | Any N | M0 | II |
255 years | T4a | Any N | M0 | III |
255 years | T4b | Any N | M0 | IVA |
255 years | Any T | Any N | M1 | IVB |
Anaplastik
T | N | M | Stage |
T1 - T3a | N0/Nx | M0 | IVA |
T1 - T3a | N1 | M0 | IVB |
T3b | Any N | M0 | IVB |
T4 | Any N | M0 | IVB |
Any T | Any N | M1 | IVC |
AJCC TNM pada Karsinoma Meduler Tiroid Kategori Kriteria
Tx Tumor primer tidak dapat dinilai
T0 Tidak didapat tumor primer
T1 Tumor dengan ukuran 2 cm atau kurang, masih terbatas pada tiroid T1a Tumor dengan ukuran 1 cm atau kurang, terbatas pada tiroid
T1b Tumor lebih dari 1 cm tetapi kurang 2 cm, terbatas pada tiroid
T2 Tumor dengan ukuran lebih dari 2 cm tetapi tidak lebih dari 4 cm, masih terbatas pada tiroid
T3 Tumor dengan ukuran lebih dari atau sama dengan 4 cm, atau tumor dengan penyebaran ke ektratiroid
T3a Tumor lebih dari atau sama dengan 4 cm terbatas pada tiroid
T3b Ukuran tumor berapapun yang menyebar ke ekstra tiroid menginvasi strap muscle (sternohyoid, sternothyroid, thyrohyoid, atau omohyoid)
T4 Stadium lanjut
T4a Tumor dengan ukuran berapa saja yang telah meluas keluar ekstratiroid, yang menginvasi masuk ke jaringan di sekitar leher, termasuk jaringan lunak subkutis, laring, trakea, esofagus, atau saraf laringeus rekuren
T4b Tumor dengan ukuran berapa saja yang telah meluas ke tulang belakang atau sekitar pembuluh darah besar, telah menginvasi fasia prevertebral atau arteri karotis atau pembuluh darah mediastinum
Nx KGB tidak dapat dinilai
N0 Tidak didapat metastasis ke KGB
N0a Konfirmasi satu atau lebih secara sitologis atau histologis dengan hasil nodul kelenjar getah bening jinak
N0b Tidak ada bukti radiologis atau klinis dari metastasis KGB regional N1 Terdapat metastasis ke KGB regional
Kategori Kriteria
N1a Metastasis pada KGB servikal level VI & VII (pretrakeal, paratrakeal, dan delphian atau mediastinum bagian atas). Dapat unilateral atau bilateral
N1b Metastasis pada KGB servikal unilateral, bilateral, kontralateral pada level I, II, III, IV, V atau daerah KGB retrofaring
M0 Tidak terdapat metastasis jauh M1 Terdapat metastasis jauh
Prognosis AJCC Berdasarkan Stadium Karsinoma Meduler Tiroid
T | N | M | Stage |
T1 | N0 | M0 | I |
T2 | N0 | M0 | II |
T3 | N0 | M0 | II |
T1 - 3 | N1a | M0 | III |
T4a | Any N | M0 | IVA |
T1 - 3 | N1b | M0 | IVA |
T4b | Any N | M0 | IVB |
Any T | Any N | M1 | IVC |
Tabel Klasifikasi Bethesda No Kategori diagnostik
Risiko Kanker (%)
Tatalaksana Umum
Nondiagnostik 1 - 4 BAJH dengan panduan USG
Jinak 0 - 3 Pemantauan Klinis
Atipik atau lesi folikuler yang belum
ditentukan atau atypia of undetermined
significance/follicular lession of
undetermined significance (AUS/FLUS)
5 - 15 Ulangi BAJH
Neoplasma folikuler (follicular neoplasm/FN)
15 - 30 Lobektomi
Curiga Kanker (SUSP) 69 - 75 Tiroidektomi hampir total atau lobektomi
Kanker 97 - 99 Tiroidektomi hampir
total atau total
Tatalaksana
BAJH, indikasi: untuk diagnostik
Operasi merupakan pilihan utama pada kasus tumor tiroid. Terdapat keadaan khusus dimana operasi tidak mungkin dilakukan, seperti:
Usia lanjut
Menolak dilakukan operasi
Keadaan umum buruk
Jenis operasi: subtotal lobektomi, lobektomi, ishtmulobektomi, dan total tiroidektomi.
Bila terdapat pembesaran KGB leher, dilakukan diseksi leher selektif.
Radiasi merupakan terapi tambahan pada tipe anaplastik.
Kemoterapi merupakan terapi tambahan pada tipe anaplastik dan meduler
Gambar 1. Algoritma penatalaksanaan nodul tiroid (Bailey, 2014)
Prosedur Tiroidektomi
Tiroidektomi adalah pengangkatan sebagian atau seluruh kelenjar tiroid, terutama bila tiroid mengandung tumor ganas, atau kelainan lain pada tiroid seperti hypertiroid atau goiter. Pendekatan operasi ditentukan oleh besar dan perluasan tumor tiroid. Tatalaksana kombinasi, dengan menambahkan radioterapi ajuvan atau kemoradiasi merupakan pilihan alternatif pada keganasan tipe berdiferensiasi buruk seperti tipe meduler atau anaplastik. Kontraindikasi absolut untuk tindakan tiroidektomi adalah penolakan dari pasien, usia lanjut atau keadaan umum buruk.
Operasi tiroidektomi termasuk operasi bersih, dan teknik pembedahan tiroidektomi dengan berbagai modifikasi seperti lobektomi, ismulobektomi dan total tiroidektomi ditentukan berdasarkan perluasan tumor dan jenisnya. Macam operasi tiroid:
Subtotal Lobektomi: yaitu mengangkat sebagian dari lobus tiroid
Lobektomi: yaitu mengangkat satu lobus tiroid
Ismulobektomi: yaitu mengangkat satu lobus tiroid dan ismus yang mengandung jaringan patologis
Tiroidektomi Total: yaitu mengangkat seluruh kelenjar tiroid.
Operasi tiroid yang diperluas (extended tiroidektomi)
GAMBAR
Keterangan:
Esofagus
N. Laringeus rekuren
Kelenjar paratiroid
Trakea
A + B = Lobektomi
C + D = Istmulobektomi A+B+C+D= Tiroidektomi total
Setelah memahami, menguasai dan mengerjakan modul ini maka diharapkan seorang ahli T.H.T.K.L memiliki kompetensi, dan penerapannya dapat dilakukan di RS pendidikan dan RS jejaring pendidikan serta dapat dipergunakan oleh program studi disiplin ilmu terkait.
ALGORITMA DAN PROSEDUR
Tahapan residen T.H.T.K.L awal (sebagai asisten 2, asisten 1, operator) Persiapan pra operasi:
Anamnesis
Jelaskan prosedur dan standar operasi pada pasien/keluarganya
Jelaskan tujuan operasi dan hasil yang akan diharapkan
Pemeriksaan fisik
Evaluasi indikasi dan kontra indikasi
Pemeriksaan penunjang
Laboratorium darah
Faal tiroid
BAJH tiroid
Foto polos dada, USG tiroid
EKG
Informed consent
Konsultasi ke Departemen Anestesi
Konsultasi ke Departemen Penyakit Dalam Endokrin
Puasa minimal 6 jam sebelum operasi
Follow up dan rehabilitasi bila ada dapat digunakan modalitas PET scan
Teknik operasi
Memeriksa dan melengkapi persiapan alat dan kelengkapan operasi.
Pembiusan dengan endotrakeal, posisi kepala hiperekstensi dengan bantal di bawah bahu penderita
Desinfeksi lapangan operasi dengan larutan antiseptik, kemudian dipersempit dengan linen steril.
Dilakukan tiroidektomi.
ALAT UNTUK OPERASI
No. | Jenis alat | Jumlah |
1. | Baki instrumen | 1 |
2. | Doek pembungkus dalam & luar | 2 |
3. | Klem disinfeksi | 1 |
4. | Pegangan pisau + mess | 1 |
5. | Klem arteri | 6 |
6. | Klem bengkok sedang | 6 |
7. | Klem kocher lurus kecil | 4 |
8. | Haak Langenbeck kecil | 2 |
9. | Rough haak sedang | 2 |
11. | Gunting jaringan | 1 |
12. | Needle holder | 1 |
13. | Pinset chirurgis biasa & halus | 2 |
14. | Pinset anatomis | 1 |
15. | Elektrode diatermi | 1 |
16. | Kabel diatermi | 1 |
17. | Kanula suction sedang | 1 |
18. | Doek klem | 6 |
19. | Baskom bengkok | 2 |
No. | Jenis alat | Jumlah |
1. | Alkohol 70% | |
2. | Pehacain dan lidokain | 2 3 |
3. | Kasa steril 2 inchi | 10 |
4. | Benang dermalon 2.0 | 2 bh |
5. | Benang dexon 3.0 | 2 bh |
6. | Hypafix | |
7. | Drain | 1 |
8. | Spuit 10 cc | 1 |
9. | Betadine |
Posisi Supinasi dan ekstensi
Lokasi Insisi
Retraksi dan pelepasan sternotiroid
Diseksi a/v Tiroidea superior Pembebasan tiroid bagian Inferior
Identifikasi N. laringeal rekuren Transeksi ismus beserta lobus piramidalis
Hasil akhir ismusektomi Hasil akhir tiroidektomi subtotal
TUMOR PARATIROID
Kelenjar paratiroid menghasilkan parathormon (PTH), yang mengendalikan homeostasis kalsium. Hiperparatiroidisme terjadi akibat produksi berlebih PTH dari kelenjar paratiroid. Pasien dengan hiperparatiroidisme primer muncul dengan hiperkalsemia, hipofosfatemia, hiperkalsiuria, dan peningkatan kadar PTH. Sebagian besar pasien dengan hiperparatiroidisme primer memiliki adenoma tunggal (85%), dan adenoma multipel atau hiperplasia multi kelenjar membentuk sisa 15% dari kasus yang ada. Hiperparatiroidisme sekunder terjadi pada pasien dengan gagal ginjal (hiperparatiroidisme renal), menyebabkan hipokalsemia dan hiperplasia pada seluruh jaringan paratiroid. Karsinoma primer pada kelenjar paratiroid jarang terjadi dan biasanya berhubungan dengan hiperkalsemia ekstrim. Karsinoma paratiroid agresif secara lokal, dengan tingkat metastasis yang tinggi pada kelenjar getah bening regional. Evaluasi Diagnosis
Evaluasi keseimbangan PTH-kalsium dalam serum.
Hiperparatiroidisme primer asimtomatik banyak teridentifikasi dari pemeriksaan serum rutin untuk kondisi penyakit lain. Konfirmasi diagnosis yang tepat membutuhkan penilaian terhadap serum kalsium, PTH, dan 25-hidroksivitamin D serta analisis urin untuk hiperkalsiuria.
Pada pasien asimtomatik, paratiroidektomi dilakukan pada kadar kalsium yang tinggi (>1 mg/dL di atas normal), osteoporosis ditegakkan pada pemeriksaan densitas mineral tulang (T score < -2.5) pada lumbar spinalis, panggul, distal radius, atau leher femur.
Pencitraan: USG pada leher, technetium-99m sestamibi scan, sestamibi Single- Photon Emission Computed Tomography (SPECT), dan CT scan empat dimensi (4D).
Tatalaksana
Pembedahan merupakan satu-satunya tatalaksana kuratif hiperparatiroidisme primer. Sebuah adenoma tunggal yang terlokalisir secara pencitraan dapat diangkat dengan paratiroidektomi insisi servikal kecil sebesar 2-3 cm (minimal invasif). Keberhasilan pembedahaan dapat dikonfirmasi secara intraoperatif dengan analisis spesimen dan penilaian PTH intraoperatif setelah pengangkatan adenoma. Umumnya dua pengukuran nilai dasar PTH dilakukan, pertama pada saat induksi anestesi, dan kedua pada saat identifikasi kelenjar. Setelah eksisi tumor, dua sampel tambahan diambil untuk evaluasi PTH, pertama pada menit ke 5, berikutnya pada menit ke 10. Apabila ditemukan penurunan sebesar 50% atau lebih dari kadar PTH dan kadar PTH kembali pada rentang normal, prosedur dihentikan. Pada beberapa pasien, penurunan kadar PTH dapat terjadi lebih dari 10 menit, sehingga sampel ketiga pada menit ke 20 setelah pengangkatan adenoma perlu dievaluasi.
Pasien dengan adenoma multipel, tanpa adenoma tunggal terlokalisir, atau hiperparatiroidisme sekunder membutuhkan eksplorasi terhadap keempat kelenjar paratiroid. Pada pasien dengan hiperparatiroidisme primer dan hiperplasia multi kelenjar, direkomendasikan eksisi terhadap seluruh kelenjar paratiroid yang membesar, mengangkat tiga dan setengah kelenjar dan menyisakan 50-100 mg sisa jaringan yang masih baik. Apabila paratiroidektomi total diperlukan (hiperparatiroidisme sekunder), maka autotransplantasi pada lengan bawah perlu dilakukan secara selektif, karena pada pasien tersebut terdapat risiko yang lebih tinggi untuk hipoparatiroidisme permanen, dibandingkan dengan eksisi tiga dan setengah kelenjar. Pada kondisi ini, tandur lengan bawah dapat memfasilitasi secara lebih mudah eksisi jaringan paratiroid hiperplastik tanpa reeksplorasi leher.
Asuhan Pascaoperasi
Pasien pascaoperasi ini membutuhkan suplementasi kalsium dengan atau tanpa vitamin D, yang dosisnya dapat diturunkan selama periode 6 minggu.
Komplikasi
Hematoma dapat terbentuk pada 1% pasien yang menjalani pembedahan untuk kelenjar tiroid atau paratiroid.
Hipoparatiroidisme
Cedera pada nervus laringeal superior atau rekuren.
Disfungsi paratiroid sementara (terjadi hingga pada 25% kasus), disfungsi ini hilang dalam 4-6 minggu pada hampir seluruh pasien.
DAFTAR ISI
MODUL VII.14
ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER: NEOPLASMA ESOFAGUS 1/3 PROKSIMAL
WAKTU
Mengembangkan Kompetensi | Alokasi Waktu |
Sesi dalam kelas Sesi dengan fasilitas pembimbing Sesi praktek dan pencapaian kompetensi | 1 x 90 menit (classroom session) 1 x 60 menit(coaching session) 31/2 jam (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi presentasi
Power point
Video
Kasus
Neoplasma esofagus
Sarana dan alat bantu latih
(disesuaikan dengan pencapaian kompetensi):
Penuntun belajar (learning guide): terlampir
Tempat belajar (training setting): instalasi rawat inap, instalasi rawat jalan, kamar operasi, ruang praktikum, ruang kuliah
Model/manekin atau kadaver
Komputer/laptop
Infocus
REFERENSI
Bhayani M, Weber R. Hypopharyngeal and Cervical Esophageal Carcinoma. In: Johnson T, Rosen C, editors. Bailey's head and neck surgery otolaryngology. 5th ed. Vol 2. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. 2014. p. 1917-35
Gonzalez D, Robbins K. Carcinoma o the Oral Cavity, Pharynx, and Esophagus. In: Chan Y, Goddaed JC. Editors. K.J.Lee's Essential Otolaryngology Head and Neck Surgery. 11th ed. United States: McGraw-Hill education. 2016. p. 701-26
Spector ME, Uppaluri R. Neoplasms of the hypopharynx and cervical esophagus. In: Flint PW, Francis HW, Haughey BH, Lesperance MM, Lund VJ, Robbins KT, et al, editors. Cummings Otolaryngology Head and Neck Surgery. 7th ed. Philadelphia: Elsevier. 2021. p. 5799-863
Shah J. Pharynx and Esophagus. In: Shah J, ed. Head and neck surgery and oncology. 5th ed. Philadelphia: Elsevier Co; 2020. p. 299-364
Rice TW, Kelsen D, Blackstone EH, Ishwaran H, Patil DT, Bass AJ, et al. Esophagus and Esophagogastric Junction In: Amin MB, Edge SB, GreeneFL, et al. AJCC Cancer Staging Manual. 8th ed. Springer Nature. Chicago; 2017. p. 185-234
KOMPETENSI
Pengetahuan
Menegakkan diagnosis neoplasma esofagus berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
Keterampilan
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam:
Menjelaskan anatomi, topografi, histologi, dan fisiologi esofagus
Menjelaskan patogenesis neoplasma esofagus
Menjelaskan gejala dan tanda neoplasma esofagus
Melakukan anamnesis serta pemeriksaan pada neoplasma esofagus
Melakukan keputusan untuk pemeriksan penunjang seperti esogoskopi, esofagografi, dan CT Scan atau MRI.
Membuat diagnosis klinik untuk penatalaksanaan lanjut neoplasma esofagus, seperti meruju ke bagian yang terkait.
Menentukan pilihan terapi pada kasus neoplasma esofagus
Membuat keputusan penatalaksanaan komplikasi neoplasma esofagus
GAMBARAN UMUM
Neoplasma esofagus adalah suatu proses metaplasi dari esofagus yang dapat menimbulkan gangguan fungsi menelan. Diagnosis dan tatalaksana yang baik dapat mencegah timbulnya komplikasi yang disebabkan kelainan ini.
CONTOH KASUS DAN DISKUSI
Seorang laki-laki, 55 tahun datang ke poli THT dalam keadaan sulit menelan sejak 3 bulan lalu, semakin hari semakin memberat dan sejak 1 minggu lalu bila makan atau minum dimuntahkan kembali setelah 3 menit ditelan yang bercampur sedikit darah warna merah. Terdapat keluhan rasa penuh dan nyeri di dada, keluhan tersedak tidak ada. Barium esofagogram : tampak massa pada 1/3 tengah esofagus dengan permukaan mukosa tidak rata, tampak kontras sedikit di lambung.
Diskusi:
Anatomi dan histologi esofagus
Patogenesis terjadinya neoplasma esofagus
Tipe neoplasma esofagus
Prosedur diagnosis
Rencana penatalaksanaan
Jawaban:
Anatomi dan Histologi esofagus
Esofagus merupakan suatu saluran cerna yang menghubungkan hipofaring dengan lambung. Bagian proksimkal atau bagian atas disebut intrutus esofagus atau porta esofagus, yang terletak setinggi batas bawah kartilagi krikoid. Esofagus dalam perjalanannya dari daerah servikal ke daerah torak berada di mediastinum superior antara trakea dan kolumne vertebra dan melanjut ke mediatinum posterior di belakang atrium kiri serta menembus diafragma setinggi vertebra thorak X dengan jarak 3cm di depannya. Esofagus sampai abdomen dibawah diafragma menjadi kardia dan selanjutnya membesar yang disebut lambung atau gaster. Esofagus merupakan traktus digestivus yang memanjang antara vertebra serikal V-VI sampai pntu masuk kardia setinggi vertebra torak X.
Esofagus terbagi menjadi 3 bagian yaitu bagian servikal dengan panjang sekitar 5-6 cm dimana pada bagian ini terdapat lokus minoris karena tidak tertutup muskulus konstriktor faring inferior. Bagian esofagus yang kedua adalah bagian torakal dengan panjang 16-18 cm serta bagian yang ketiga adalah esofagus bagian abdominal yang terdiri dari esofagus di diafragma dengan panjang 1-1,5 cm, dan didalam rongga abdomen 2-3 cm.
Dalam perjalanan dari introitus sampai difragma ditandai dengan 4 tempat penyempitan, yaitu
Penyempitan I :terletak di bagian proksimal, disebabkan penekanan kartilago krikoid
Penyempitan II : disebabkan karena penyilangan arkus aorta
Penyempitan III : disebabkan karena penekanan bronkus kiri
Penyempitan IV : dibagian distal esofagus oleh sfingter esofagus inferior dan vestibulu esofagus gaster
Esofagus bagian servikal mendapat vaskularisasi dari a. Tiroidea inferior, bagian torakal dari a. Bronkialis dan a. Interkosta, sedang bagian abdominal dari a, gastrika sinistra dan a. Frenikus inerior. Aliran vena di submukosa akan masuk ke dalam v. Gastrika sinistra dan menerus ke v. Kava inferior. Esofagus disarafi oleh vagus dan cabang cabangnya. Saraf simpatis mengandung serabut eferen dan aferen yang menyalurkan rangsangan ke dan dari pembuluh darah, kelenjar, otot dan mukosa. Saraf parasimpatis membawa serabut aferen dan eferen ke nukleus dorsalis N vagus yang mengandung serabut saraf eferen dan aferen viseral. Serabut serabut ini akan mensarafi otot seran lintang faring dan bagian proksimal esofagus. Sistem saraf intrinsik esofagus melalui pleksus enterikus yang berhubungan dengan pleksus Aurbach di lapisan otot dan pleksus Meissner di bagian submukosa.
Dinding esofagus terdiri dari lapisan mukosa, submukosa, otot dantunika adventisia. Mukosa esofagus terdiri dari eitel skuamous komplek yang merupakanlanjutan dari mukosa faring, lamina propia dan tunika muskularis. Epitel ini berubah menjadi epitel torak di daerah perbatasan esofagus dengan lambung. Lapisan submukosa terdiri dari jaringna elastik dan kolagen. Lapisan otot terdiri dari otot sirkuler dibagian dalam dan otot longitudinal di bagian luar. Dinatara 2 lapisan ini terdapat pleksus mesenterikus Aurbach dan pada lapisan submukosa terdapat pleksus Mesisner. Di esofagus erdapat 2 kelenjar yaitu: kelenjar mukosa esofagus yang letaknya di submukosa dan kelenjar kardia di lamina propia.
Etiopatologi
Tumor jinak tumbuh dengan lambat dan mengadakan ekspansi, pembesaran dapat menyerupai balon, dan menekan organ di sekitarnya, tidak terdapat metastasis, dapat terjadi kalsifikasi yang dapat membahayakan penderita dengan beberapa cara:
Melalui komplikasi insidentil seperti obstruksi lumen
Melalui regurgitasi dan obstruksi jalan nafas
Melalui efek penekanan terhadap struktur mediastinal disekelilingnya
Melalui ulserasi dan perdarahan
Tipe Neoplasma Esofagus
Neoplasma jinak:
Papiloma sel skuamosa
Merupakan true papilloma yang jarang terjadi mempunyai struktur papiler dengan inti sentral pada stroma jaringan penunjang pembuluh darah yang ditutupi oleh epitel squamosa bertingkat yang tebal
Polip hipervaskuler
Tumor mukosa yang kecil, dan tumbuh ke arah lumen, kadang-kadang tumor tumbuh dengan ukuran yang besar dan mempunyai pedikel yang sangat panjang.
Neoplasma ganas:
Karsinoma sel skuamosa
Adenokarsinoma
Diagnosis
Gambaran klinis tumor jinak esofagus dapat berlangsung menahun dan tidak memberikan gejala klinis (<85%)
Jika tumor terletak di bawah spingter otot krikofaring keluhan biasanya berupa
"spluttering" setiap kali penderita menelan
Gangguan menelan yang ringan dan intermitten, disertai dengan perasaan tertekan retrosternal, hematemesis dan melena jarang terjadi
Diagnosis yang akurat biasanya dilakukan dengan anamnesis, pemeriksaan radiografi dan esofagoskopi
Biopsi endoskopi dihindari bila mukosa yang melapisi intak
Pemeriksaan barium esofagogram sering digunakan untuk mendiagnosis leimioma intramural
Terapi
Operasi dengan bedah reseksi
Radioterapi
Kemoterapi
Kombinasi kemoradiasi
Rekonstruksi
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan pembelajaran umum
Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan mampu untuk melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang neoplasma esofagus dan merujuk ke bagian ilmu yang terkait
Tujuan pembelajaran khusus
Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan mampu untuk:
Menjelaskan anatomi, topografi, histologi dan fisiologi esofagus (tingkat kompetensi K3, A3)
Menjelaskan etiologi neoplasma esofagus (tingkat kompetensi K3, A3)
Menjelaskan patomekanisme, gambaran klinik dan penanganan neoplasma esofagus
(tingkat kompetensi K3, A3, P2)
Menjelaskan pemeriksaan penunjang diagnosis seperti esofagoskopi, esofagografi dan CT-scan esofagus
(tingkat kompetensi K3, A3, P2)
Melakukan work-up penderita neoplasma esofagus yang meliputi anamnesis, pemeriksaan fisis dan pemeriksaan penunjang
(tingkat kompetensi K3, A3)
Menentukan operabilitas, prognostik dan pilihan terapi pada penderita neoplasma esofagus
(tingkat kompetensi K3, A3, P2)
Merawat penderita neoplasma esofagus (memberi penjelasan kepada penderita dan keluarganya, informed consent), serta mampu melakukan penanganan komplikasi yang terjadi
(tingkat kompetensi K3, A3, P2
METODE PEMBELAJARAN
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan mempunyai kemampuan dasar untuk menegakkan diagnosis neoplasma esofagus dan mampu untuk menentukan terapi yang sesuai.
Tujuan 1. Menjelaskan anatomi, topografi, histologi dan fisiologi esofagus
Untuk mencapai tujuan ini, maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Small group discussion
Peer assisted learning
Bedside teaching
Task-based medical education
Log-book
Harus diketahui:
Anatomi esofagus
Gambaran dan karakteristik esofagus
Fisiologi dan patofisiologi esofagus
Tujuan 2. Mampu menjelaskan etiopatogenesis dan gambaran klinis dari neoplasma esofagus
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Small group discussion
Peer assisted learning
Bedside teaching
Task-based medical education
Log-book
Harus diketahui:
Etiologi
Patofisiolgi klinik
Gejala (keluhan pasien)
Tanda (hasil pemeriksaan)
Gambaran klinik
Tujuan 3. Menentukan dan melakukan pemeriksaan penunjang (x-Ray, CT Scan, esofagoskopi) untuk pemeriksaan esofagus
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Small group discussion
Peer assisted learning
Bedside teaching
Task-based medical education
Log-book .
Harus diketahui:
Metode standar anamnesis
Pemeriksaan penunjang yang sensitive dan spesifik
Device sensitivity on neoplasma on Anomaly Finding
Device specivity on Anomaly Finding
Tujuan 4. Membuat diagnosis neoplasma esofagus dari pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Small group discussion
Peer assisted learning
Bedside teaching
Task-based medical education
Log-book
Harus diketahui:
Metoda anamnesis
Gejala dan tanda neoplasma esofagus
Pemeriksaan penunjang yang sensitif dan spesifik
Menentukan diagnosis kerja
Tujuan 5. Menjelaskan penatalaksanaan dari neoplasma esofagus
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Small group discussion
Peer assisted learning
Bedside teaching
Task-based medical education
Log-book
Harus diketahui:
Prosedur konservatif
Prosedur operatif reseksi
Prosedur alternatif
Tujuan 6. Melakukan work up, memutuskan terapi pendahuluan serta merujuk
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Small group discussion
Peer assisted learning
Bedside teaching
Task-based medical education
Log-book
Harus diketahui:
Work up key points
Jenis-jenis terapi yang direkomendasikan
Kondisi atau situasi penting untuk membuat keputusan untuk merujuk
EVALUASI DAN INSTRUMEN PENILAIAN
Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan, yang bertujuan untuk menilai kinerja awal, yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri atas: Anatomi, gambaran klinik, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, diagnosis, penatalaksanaan dan prognosis.
Small group discussion bersama fasilitator untuk membahas kekurangan yang ada, hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar dan proses penilaian.
Setelah mempelajari penuntun belajar ini mahasiswa diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk role play dengan teman-teman (peer assisted learning) atau kepada standardized patient. Pada saat tersebut yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar dpegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (peer assieted evaluation). Setelah dianggap memeadai melalui metode bed side teaching dibawah pengawasan fasilitator, peserta didik mengaplikasikan penuntun belajar dari model anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesunggguhnya. Pada saat pelaksaan, evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation) dan mengisi formulir penilaian berikut:
Perlu perbaikan: pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan
Cukup: pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misalnya pemeriksaan terlalu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien
Baik: pelaksanaan benar dan baik (efisien)
Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
Self assesment dan peer assisted evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar
Pendidik/fasilitator:
Pengamatan lamngsung dengan memakai evaluation checklist form (terlampir)
Penjelasan lisan dari dari peserta didik/diskusi
Kriteria penilaian keseluruhan: cakap/tidak cakap/lalai
Pada akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education)
Pencapaian pembelajaran:
Ujian akhir setelah penyelesaian modul meliputi (K, P, A)
Ujian Tulis Kolegium T.H.T.K.L
Ujian Lisan OSCE Kolegium T.H.T.K.L
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Kuesioner Sebelum Pembelajaran
Soal:
Sebutkan anatomi esofagus?
Jawaban:
Anatomi dan Histologi esofagus
Esofagus merupakan suatu saluran cerna yang menghubungkan hipofaring dengan lambung. Bagian proksimkal atau bagian atas disebut intrutus esofagus atau porta esofagus, yang terletak setinggi batas bawah kartilagi krikoid. Esofagus dalam perjalanannya dari daerah servikal ke daerah torak beraa di mediastinum superior antara trakea dan kolumne vertebra dan melanjut ke mediatinum posterior di belakang atrium kiri serta menembus diafragma setinggi vertebra torak X dengan jarak 3cm di depannya. Esofagus sampai abdomen dibawah diafragma menjadi kardia dan selanjutnya membesar yang disebut lambung atau gaster. Esofagus merupakan traktus digestivus yang memanjang antara vertebra serikal V-VI sampai pintu masuk kardia setinggi vertebra torak X.
Esofagus terbagi menjadi 3 bagian yaitu bagian servikal dengan panjang sekitar 5-6 cm dimana pada bagian ini terdapat lokus minoris karena tidak tertutup muskulus konstriktor faring inferior. Bagian esofagus yang kedua adalah bagian torakal dengan panjang 16-18 cm serta bagian yang ketiga adalah esofagus bagian abdominal yang terdiri dari esofagus di diafragma dengan panjang 1-1,5 cm, dan didalam rongga abdomen 2-3 cm.
Dalam perjalanan dari introitus sampai diafragma ditandai dengan 4 tempat penyempitan, yaitu:
Penyempitan I : Terletak di bagian proksimal, disebabkan penekanan kartilago krikoid
Penyempitan II : Disebabkan karena penyilangan arkus aorta
Penyempitan III : Disebabkan karena penekanan bronkus kiri
Penyempitan IV : Dibagian distal esofagus oleh sfingter esofagus inferior dan vestibulum esofagus gaster
Esofagus bagian servikal mendapat vaskularisasi dari a. Tiroidea inferior, bagian torakal dari a. Bronkialis dan a. Interkostal, sedang bagian abdominal dari a, gastrika sinistra dan a. Frenikus inerior. Aliran vena di submukosa akan masuk ke dalam V. Gastrika sinistra dan menerus ke V. kava inferior. Esofagus disarafi oleh vagus dan cabang cabangnya. Saraf simpatis mengandung serabut eferen dan aferen yang menyalurkan rangsangan ke dan dari pembuluh darah, kelenjar, otot dan mukosa. Saraf parasimpatis membawa serabut aferen dan eferen ke nukleus dorsalis N. vagus yang mengandung serabut saraf eferen dan aferen viseral. Serabut serabut ini akan mensarafi otot seran lintang faring dan bagian proksimal esofagus. Sistem saraf intrinsik esofagus melalui pleksus enterikus yang berhubungan dengan pleksus Aurbach di lapisan otot dan pleksus Meissner di bagian submukosa.
Dinding esofagus terdiri dari lapisan mukosa, submukosa, otot dan tunika adventisia. Mukosa esofagus terdiri dari epitel skuamous komplek yang merupakan lanjutan dari mukosa faring, lamina propia dan tunika muskularis. Epitel ini berubah menjadi epitel torak di daerah perbatasan esofagus dengan lambung. Lapisan submukosa terdiri dari jaringan elastik dan kolagen. Lapisan otot terdiri dari otot sirkuler dibagian dalam dan otot longitudinal di bagian luar. Diantara 2 lapisan ini terdapat pleksus mesenterikus
Aurbach dan pada lapisan submukosa terdapat pleksus Mesisner. Di esofagus terdapat 2 kelenjar yaitu: kelenjar mukosa esofagus yang letaknya di submukosa dan kelenjar kardia di lamina propia.
Kuesioner Tengah Pembelajaran
Soal:
Sebutkan tipe-tipe neoplasma esofagus?
Jawaban:
Tipe Neoplasma Esofagus
Neoplasma jinak:
Papiloma sel skuamosa
Merupakan true papilloma yang jarang terjadi mempunyai struktur papiler dengan inti sentral pada stroma jaringan penunjang pembuluh darah yang ditutupi oleh epitel squamosa bertingkat yang tebal.
Polip hipervaskuler
Tumor mukosa yang kecil, dan tumbuh ke arah lumen, kadang-kadang tumor tumbuh dengan ukuran yang besar dan mempunyai pedikel yang sangat panjang.
Neoplasma ganas:
Karsinoma sel skuamosa
Adenokarsinoma
Essay/Ujian Lisan/Uji Sumatif
Soal:
Seorang laki-laki, 55 tahun datang ke poli T.H.T.K.L dalam keadaan sulit menelan sejak 3 bulan lalu, semakin hari semakin memberat dan sejak 1 minggu lalu bila makan atau minum dimuntahkan kembali setelah 3 menit ditelan yang bercampur sedikit darah warna merah. Langkah apa yang anda lakukan dalam penegakan dignosis penderita tersebut ?
Jawaban:
Melakukan anamnesis yang lengkap untuk mengetahui gejala lain yang berkaitan dengan keganasan esofagus diantaranya penurunan berat badan yang progresif serta adanya sensasi rasa terbakar atau panas saat menelan. Langkah selanjutnya dilakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan fisik luar tidak terlalu jelas menunjukkan adanya tanda dan kelainan sehingga perlu dilakukan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang yang dilakukna adalah Barium esofagogram, endoskopi, CT scan, PET scan, bronkoskopi untuk mengevaluasi adanya kemungkinan metastasis ke saluran nafas, serta staging untuk mendeteksi biomarker yang berkaitan dengan keganasan esofagus
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR
PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR BIOPSI NEOPLASMA ESOFAGUS 1/3 PROKSIMAL DENGAN ESOFAGOSKOPI KAKU
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.:
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
NAMA PESERTA: .............................. TANGGAL:.................................
KEGIATAN | KASUS | |||||
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR | ||||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR | ||||||
III. TAHAPAN PROSEDUR TINDAKAN | ||||||
Nama
Diagnosis
Informed Choice&Informed Consent
Rencana Tindakan
Persiapan Sebelum Tindakan
Laboratorium
Pemeriksaan penunjang
Pastikan kelengkapan peralatan esofagoskopi telah tersedia dan lengkap, yaitu:
Esofagoskop berbagai ukuran
Teleskop 0
Forceps ekstraksi sesuai dengan jenis benda asing
Kanul suction
Sumber cahaya + kabel sumber cahaya
Camera system, monitor dan lumina jika tersedia
Persiapan Pasien
Penderita puasa minimal 6 jam sebelum esofagoskopi
Anestesi umum
Penderita berbaring terlentang dengan posisi kepala ditinggikan 15 cm dari meja operasisehingga leher fleksi dan kepala ekstensi maksimal
Asisten duduk sebelah kiri pasien memegangkepala
Esofagoskop dipegang dengan tangan kanan di bagian proksimal dan tangan kiri di bagian distal seperti memegang pensil
Jari tengah dan jari manis tangan kiri membuka bibir atas dan mengait gigi insisivus
Jari telunjuk dan ibu jari tangan kiri memegang bagian
KEGIATAN | KASUS | ||||
distal esofagoskop serta menarik bibir agar tidak terjepit di antara esofagoskop dengan gigi yang lain) dilakukan esofagoskopi ulangan | |||||
IV. PASCA TINDAKAN | |||||
Tangan kanan memegang bagian proksimal esofagoskop dengan menjepit di antara jari telunjuk dan jari tengah
Esofagoskop didorong perlahan denganmenggerakkan ibu jari tangan kiri menyusuri sisi bawah esofagoskop dan tangan kanan berfungsi untuk mengarahkan esofagoskop dengan memegangnya seperti memegang pensil pada leher pegangan
Esofagoskop dimasukkan secara vertikal ke dalam mulut pada garis tengah lidah
Identifikasi uvula dan dinding faring posterior
Esofagoskop didorong menyusuri dinding posterior faring sampai terlihat adanya aritenoid kanan dan kiri
Esofagoskop disusupkan ke bawah aritenoid. Suatugerakan ringan ibu jari tangan kiri diberikan pada ujung esofagoskop sehingga tampak lumen introitus esofagus
Scope didorong memasuki lumen esofagus dengan hati- hati dengan menggerakan ibu jari tangan kiri secara perlahan. Dilakukan evaluasi introitus kearah atas, bawah, kanan dan kiri
Selanjutnya esofagoskop didorong menyusuri lumen esofagus dengan gerakan ibu jari tangan kiri
Bila didapatkan keadaan patologis seperti tumor, dilakukan pengambilan jaringan yang dicurigai dengan menggunakan forceps.
Jaringan yang telah diambil dapat difiksasi dengan formalin, dikirim ke Bagian Patologi Anatomi untuk pemeriksaan histopatologi.
Perdarahan dirawat sampai perdarahan berhenti
Pada saat mengeluarkan esofagoskop, posisi penderita dan arah gerakan esofagoskop dilakukan dengan cara yang berlawanan
Untuk evaluasi (adanya laserasi mukosa, perdarahan, perforasi dan kemungkinan adanya kelainan esofagus
Observasi tanda perdarahan akibat laserasi atau adanya perforasi
Pasien diberikan analgetik dan antibiotik pascaoperasi
DAFTAR TILIK PENILAIAN PSIKOMOTOR
DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA PROSEDUR BIOPSI NEOPLASMA ESOFAGUS 1/3 PROKSIMAL
DENGAN ESOFAGOSKOPI KAKU
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini:
: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
X : Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
T/T: Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
PESERTA: TANGGAL :
KEGIATAN | NILAI | |||
| X | T/T | ||
I | PERSIAPAN OPERASI | |||
1. Informed consent | ||||
2. Menjelaskan tujuan operasi dan hasil yang diharapkan | ||||
3. Menjelaskan prosedur dan standar operasi pada pasien dan keluarganya | ||||
4. Melakukan evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi operasi | ||||
5. Menyiapkan kelengkapan peralatan esofagoskopi dengan lengkap | ||||
II | PROSEDUR OPERASI | |||
1. Penderita berbaring terlentang dengan posisi kepala ditinggikan 15 cm dari meja operasisehingga leher fleksi dan kepala ekstensi maksimal | ||||
2. Desinfeksi lapangan operasi dengan non-iodine, lalu dipersempit dengan linen steril | ||||
3. Esofagoskop dipegang dengan tangan kanan di bagian proksimal dan tangan kiri di bagian distal seperti memegang pensil | ||||
4. Jari tengah dan jari manis tangan kiri membuka bibir atas dan mengait gigi insisivus | ||||
5. Jari telunjuk dan ibu jari tangan kiri memegang bagiandistal esofagoskop serta menarik bibir agar tidak terjepit di antara esofagoskop dengan gigi | ||||
6. Tangan kanan memegang bagian proksimal esofagoskop dengan menjepit di antara jari telunjuk dan jari tengah | ||||
7. Esofagoskop didorong perlahan dengan menggerakkan ibu jari tangan kiri menyusuri sisi bawah esofagoskop dan tangan kanan berfungsi untuk mengarahkan esofagoskop | ||||
KEGIATAN | NILAI | |||
| X | T/T | ||
dengan memegangnya seperti memegang pensil pada leher pegangan | ||||
8. Esofagoskop dimasukkan secara vertikal ke dalam mulut pada garis tengah lidah | ||||
9. Identifikasi uvula dan dinding faring posterior | ||||
10. Esofagoskop didorong menyusuri dinding posterior faring sampai terlihat adanya aritenoid kanan dan kiri | ||||
11. Esofagoskop disusupkan ke bawah aritenoid. Suatu gerakan ringan ibu jari tangan kiri diberikan pada ujung esofagoskop sehingga tampak lumen introitus esofagus | ||||
12. Scope didorong memasuki lumen esofagus dengan hati- hati dengan menggerakan ibu jari tangan kiri secara perlahan. Dilakukan evaluasi introitus kearah atas, bawah, kanan dan kiri | ||||
13. Selanjutnya esofagoskop didorong menyusuri lumen esofagus dengan gerakan ibu jari tangan kiri. | ||||
14. Bila didapatkan keadaan patologis seperti tumor, dilakukan pengambilan jaringan yang dicurigai dengan menggunakan forceps. | ||||
15. Jaringan yang telah diambil dapat difiksasi dengan formalin, dikirim ke Bagian Patologi Anatomi untuk pemeriksaan histopatologi. | ||||
16. Perdarahan dirawat sampai perdarahan berhenti | ||||
17. Pada saat mengeluarkan esofagoskop, posisi penderita dan arah gerakan esofagoskop dilakukan dengan cara yang berlawanan | ||||
18. Untuk evaluasi (adanya laserasi mukosa, perdarahan, perforasi dan kemungkinan adanya kelainan esofagus yang lain) dilakukan esofagoskopi ulangan | ||||
19. Operasi selesai | ||||
III | PASCA OPERASI | |||
1. Observasi tanda perdarahan akibat laserasi atau adanya perforasi | ||||
2. Pemberian analgetik dan antibiotika | ||||
MATERI PRESENTASI
LCD 1: Anatomi dan fisiologi Esofagus
LCD 2: Definisi Neoplasma Esofagus
LCD 3: Etiopatologi
LCD 4: Gejala Klinik
LCD 5: Diagnosis Neoplasma Esofagus
LCD 6: Penatalaksanaan Neoplasma Esofagus
MATERI BAKU
NEOPLASMA ESOFAGUS
Anatomi dan Histologi esofagus
Esofagus merupakan organ berotot yang memanjang dari otot cricopharingeus hingga persimpangan esofagogastrik. Esofagus dibagi tidak hanya berdasarkan anatomi tetapi kecenderungan untuk terjadinya neoplasma didaerah tersebut. Esofagus cervical memanjang dari otot cricopgaryngeus hingga pintu masuk thoraks. Bagian 1/3 atas dari thorakal esofagus memanjang dari pintu masuk thoraks kebifurcatio trakea, tepat di bawah lengkungan aorta. Pertengahan thorakal esofagus memanjang dari bifurcatio trakea ke titik tengah antara carina dan persimpangan esofagogastrik. Thorakal esofagus terbawah memanjang dari titik tengah ini ke persimpangan esofagogastrik.
Jaringan otot esofagus disusun lapisan longitudinal pada bagian luar dan lapisan sirkuler pada bagian dalam. Bagian sepertiga proksimal sampai setengah dari propria muskularis berasal dari arkus brakialis, sehingga mirip dengan otot rangka(lurik) sehingga memungkinkanterjadi rhabdomyosarcomas, sementara bagian bawahnya terdiri dari otot polos yag memungkinka terjadinya leiomioma dan leiomiosarkoma. Jaringan fibrous, lemak, dan jaringan ikat pada dinding esofagus juga dapat menyebabkan sarkoma.
Esofagus sebagian besar tersusun atas epitel skuamosa, yang dapat menimbulkan keganasan berupa karsinoma sel skuamosa, yang merupakan neoplasma yang paling umum dari esofagus. Kanker ini paling sering terjadi di esofagus cervical serta esofagus toraks atas dan tengah. Carcinosarcoma dan karsinoma sel spindle, yang merupakansubtype dari kanker sel skuamosa, jarang terjadi di wilayah ini. Bagian distal 2 sampai 3 cm dari esofagus dan kardia dilapisi oleh epitel kolumnar, sehingga pada daerah inidapat terjadi adenokarsinoma. Pemanjangan mukosa kolumnar ke arah yang lebih lebih proksimal, dikenal sebagai esofagus Barrett's, yang memungkinkan terjadinya adenokarsinoma pada esofagus torakaltengah dan atas. Unsur-unsur lain pada mukosa, kelenjar submukosa, dan muskularis propria dapat menimbulkan neoplasma yang tidak biasa, seperti small cell karsinoma, melanoma maligna, tumor sel granular, karsinoma mukoepidermoid, dan adenoid cystic carcinoma.
Tumor jinak esofagus jarang terjadi dibandingkan gangguan esofagus yang lain seperti refluks esofagus, gangguan motilitas, kanker dan divertikulum, jumlahnya kurang dari 1% dari semua neoplasma esofagus.
Gejala dan tanda gangguan esofagus merupakan masalah yang sulit oleh karena beberapa faktor antara lain:
Esofagus merupakan tabung otot yang berukuran 23-25 cm, memanjang mulai dari faring sampai gaster.
Mempunyai fungsi yang relatif simple mengantar bolus makanan secara cepat masuk ke dalam gaster melalui gerakan peristaltik aktif dan mencegah terjadinya regurgitasi
Sensasi esofagus dapat dirasakan seperti rasa terbakar substernal yang digambarkan sebagai nyeri dada dan nyeri susternal yang identik terhadap gangguan arteri koroner
Esofagus relatif mudah diperiksa melalui pemeriksaan kontras radiologi, CT-Scan, USG esofagus dan esofagoskopi
Oleh karena tumor esofagus tumbuh dengan perlahan, sehingga kebanyakan penderita tidak merasakan keluhan pada tahap dini, sampai tumor esofagus mencapai tahap lanjut.
Gangguan yang dirasakan pasien biasanya berupa gangguan menelan, perasaan tidak enak pada dada, kontraksi peristaltik yang abnormal, nyeri yang menyerupai cardiac pain, yang dapat berkurang dengan pemberian nitrat, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan khusus untuk membedakan nyeri esofagus dan cardiac pain.
Kesulitan menelan jangan pernah diabaikan oleh karena esofagus merupakan transit tube, dimana makanan tidak dapat dicerna dan biasanya tidak stagnan sehingga dapat terjadi ulserasi dan perdarahan yang disebabkan oleh tumor jinak.
Tumor jinak kadang-kadang bisa bersama dengan kondisi yang lain seperti divertikulum esofagus, akalasia, hernia dan kanker.
Patofisiologi
Tumor jinak tumbuh dengan lambat dan mengadakan ekspansi, pembesaran dapat menyerupai balon, dan menekan organ di sekitarnya, tidak terdapat metastase, dapat terjadi kalsifikasi yang dapat membahayakan penderita dengan beberapa cara:
Melalui komplikasi insidentil seperti obstruksi lumen
Melalui regurgitasi dan obstruksi jalan nafas
Melalui efek penekanan terhadap struktur mediastinal di sekelilingnya
Melalui ulserasi dan perdarahan
Lokasi Anatomis
Esofagus lebih banyak terletak pada mediastinum posterior, kecuali bagian segmen terkecil yang terletak pada leher dan abdomen. Tumor intramural yang terletak di bawah otot spingter krikofaring biasanya bermanifestasi dengan cepat disertai kesulitan menelan dan batuk yang keras pada saat penderita menelan. Sejalan dengan ekspansi tumor yang perlahan di balik strukrur tulang thorakis dapat menyebabkan obstruksi saluran nafas bagian atas.
Di dalam mediastinum esofagus mempunyai hubungan yang erat dengan trachea, bronkus utama kiri, jantung, aorta, dengan tulang vertebra torarakalis, sehingga suatu tumor yang besar yang meluas dari permukaan luar esofagus yang mencapai rongga mediastinum dan pleura dapat memberikan penekanan pada struktur mediastinal sehingga menyebabkan atelektasis, sesak dan sindrom obstruksi v. kava superior.
Diagnosis
Gambaran klinis tumor jinak esofagus dapat berlangsung menahun dan tidak memberikan gejala klinis (<85%), dan ditemukan secara kebetulan pada saat pemeriksaan radiologi dan endoskopi.
Pemeriksaan fisik biasanya negatif pada tumor esofagus yang jinak, jika tumor terletak di bawah spingter otot krikofaring keluhan biasanya berupa 'spluttering' setiap kali penderita menelan. Sangat jarang pasien mengeluhkan stridor inspiratoar dan obstruksi nafas saluran atas. Disfagia berat dan berkelanjutan disertai dengan pneumonitis biasanya disebabkan oleh spill over yang berulang dan aspirasi.
Kadang-kadang penderita mengeluhkan gangguan menelan yang ringan dan intermiten, disertai dengan perasaan tertekan retrosternal, hematemesis dan melena jarang terjadi. Diagnosis yang akurat biasanya dilakukan dengan anamnesis yang cermat, disertai dengan pemeriksaan radiografi dan esofagoskopi. Bila gambaran endoskopi meragukan diperlukan biopsi untuk menunjang diagnosis.
Hemangioma esofagus dapat didiagnosis dengan pemeriksaan endoskopi sebagai massa polipoid submukosa berwarna biru keabuan dan lunak. Biopsi endoskopi
sebaiknya dihindari bila mukosa yang melapisinya intak. Spesimen biopsi sebaiknya dianalisis dengan pemeriksaan imunohistokimia.
Pemeriksaan barium esofagogram sering digunakan untuk mendiagnosis leiomioma intramural, tumor ini dapat berukuran sangat besar sampai mencapai ukuran >10 cm. Dilatasi esofageal progresif yang terjadi dapat didiagnosis sebagai akalasia, lebih lanjut tumor mid-esofagus dapat didiagnosis bila pedikel tumor tersebut mencapai faringo- esofageal junction. Pada saat endoskopi tumor dapat tidak terlihat oleh karena tertutup lapisan mukosa esofagus yang normal. Kesulitan dalam mendiagnosis dapat terjadi bila leiomiomioma intramural menutup esofagogastric junction yang dapat didignosis sebagai striktur peptik atau tumor ganas. Bila tumor gagal terdiagnosis, dilatasi esofageal dapat menyebabakan perforasi esofagus. Penggunaaan USG esofagus dalam mendiagnosis tumor submukosa seperti leiomioma, kista atau fibroma. CT kontras dan angiografi radionuklear merupakan dua teknik pemeriksaan noninvasif yang dapat digunakan untuk membantu mendiagnosis hemangioma esofagus. Tumor-tumor yang terletak pada mediastinum posterior baik yang belum atau sudah mengalami kalsifikasi, pemeriksaan CT-Scan merupakan pemeriksaan yang tepat.
Deskripsi Dan Terapi
Papilloma Sel Squamosa
Merupakan true papilloma yang jarang terjadi mempunyai struktur papiler dengan inti sentral pada stroma jaringan penunjang pembuluh darah yang ditutupi oleh epitel squamosa bertingkat yang tebal.
Insidensi antara 0,01%-0,04%, diduga disebabkan oleh human papilloma virus. Terletak pada 1/3 bawah esofagus. Pada pemeriksaan endoskopi papilloma terlihat sebagai tumor yang multilobulus dan sesile dengan permukaan licin dan konsistensi yang lunak. Sulit dibedakan dengan veruka karsinoma sel squamosa, sehingga dibutuhkan biopsi.
Terdapat dua indikasi eksisi untuk tumor tersebut yaitu obstruksi esofagus dan kesulitan menyingkirkan suatu keganasan. Pengangkatan tumor secara endoskopi dilakukan bila terjadi lesi obstruktif. Jika diduga merupakan suatu keganasan atau tidak dapat mengangkat seluruh tumor, eksplorasi secara pembedahan dapat dilakukan dengan lokal eksisi dan rekonstruksi esofagus pascaoperasi.
Polip Hipervaskuler
Sering sebagai lesi yang soliter, umumnya terjadi pada laki-laki tua antara 60- 70 tahun, lokasi tumor 85% pada esofagus bagian atas, biasanya berasal dari tepi bawah otot spingter krikofaringeus, diawali sebagai tumor mukosa yang kecil, dan tumbuh ke arah lumen, kadang-kadang tumor tumbuh dengan ukuran yang besar dan mempunyai pedikel yang sangat panjang.
Karsinoma esofagus
Faktor risiko:
Penyebab kanker esofagus belum diketahui dengan pasti akan tetapi para peneliti percaya bahwa beberapa faktor risiko seperti merokok dan alkohol, dapat menyebabkan kanker esofagus dengan cara merusak DNA sel yang melapisi bagian dalam esofagus, akibatnya DNA sel tersebut menjadi abnormal. Iritasi yang berlangsung lama pada dinding esofagus, seperti yang terjadi pada GERD, Barrett's esophagus dan akalasia dapat memicu terjadinya kanker
Karsinoma sel skuamosa adalah tembakau, alkohol, akalasia, caustic injury, plummer vincent syndrome, riwayat kanker kepala dan leher, radiasi tumor mediastinum, sosial ekonomi rendah
Adenokarsinoma: Barret's esofagus, penggunaan tembakau, dan riwayat radioterapi mediastinum
Gejala Klinis
Disfagia
Gejala utama dari kanker esofagus adalah masalah menelan, sering dirasakan oleh penderita seperti ada makanan yang tersangkut di tenggorok atau dada. Ketika menelan menjadi sulit, maka penderita biasanya mengganti makanan dan kebiasan makannya secara tidak sadar. Penderita makan dengann jumlah gigitan yang lebih sedikit dan mengunyah makanan dengan lebih pelan dan hati-hati. seiring dengan pertumbuhann kanker yang semakin besar, penderita mulai makan makanan yang lebih lembut dengan harapan makanan dapat dengan lebih mudah masuk melewati esofagus, hingga akhirnya penderita berhenti mengkonsumsi makanan padat dan mulai mengkonsumsi makanan cair. Akan tetapi, jika kanker tetap terus tumbuh, bahkan makanan cair pun tidak bisa melewati esofagus. Untuk membantu makanan melewati esofagus biasanya tubuh mengkompensasi dengan menghasilkan saliva. Hal ini juga yang menyebabkan orang yang menderita kanker esofagus sering mengeluh banyak mengeluarkan mukus atau saliva.
Merasakan benjolan dan nyeri pada saat menelan
Nyeri pada dada, regurgitasi makanan yang tak tercerna dengan bau nafas dan akhirnya cegukan. Nyeri dada sering dideskripsikan dengan perasaan tertekan atau terbakar di dada. Gejala ini sering sekali diartikan dengan gejala yang berkaitan dengan organ lain, seperti jantung, sehingga sering kali orang tidak menyadari kalau gejala tersebut adalah salah satu gejala yang sering dikeluhkan pada penderita kanker esofagus.
Kehilangan berat badan dan kekuatan secara progresif akibat kelaparan
Sekitar sebagian dari pasien yang menderita kanker esofagus mengalami penurunan berat badan. Hal ini terjadi karena masalah menelan sehingga penderita mendapat masukan makanan yang kurang untuk tubuhnya. Penyebab lain dikarenakan berkurangnya nafsu makan dan meningkatnya proses metabolisme kanker yang diderita oleh pasien.
Perdarahan
Pendarahan juga bisa terjadi pada pasien kanker esofagus. Sel tumor yang tumbuh mampu mengeluarkan aliran darah, menyebabkan terjadinya nekrosis dan ulserasi pada mukosa dan menghasilkan pendarahan di daerah gastrontestinal. Jika pendarahan terjadi dalam jumlah yang banyak, maka feses juga bisa berubah menjadi warna hitam tapi hal ini bukan berarti tanda bahwa kanker esofagus pasti ada.
Pemeriksaan penunjang
Barium esofagogram
Pada uji ini, cairan yang disebut barium ditelan. Barium akan melapisi dinding esofagus. Ketika dilakukan penyinaran (sinar X), barium akan membentuk esofagus dengan jelas. Tes ini dapat digunakan untuk melihat apakah ada kelainan
pada permukaan dinding esofagus. Tes barium biasanya menjadi pilihan utama untuk melihat penyebab disfagia. Bahkan sebagian kecil tumor, dapat terlihat dengan menggunakan tes ini. Tes barium tidak dapat digunakan untuk menentukan seberapa jauh kanker telah metastasis. Pemeriksaan ini dapat mengetahui tumor terletak supra atau sub carinal, memberikan informasi derajat stenosis yang disebabkan oleh tumor.
Endoskopi
Endoskopi merupakan uji diagnostik yang paling utama untuk mendiagnosis kanker esofagus. Dengan bantuan endoskopi, dokter dapat melihat kanker dan melakukan biopsi terhadap jaringan kanker maupun jaringan lain yang ada di sekitar kanker yang tampak tidak normal. Contoh jaringan yang telah diambil kemudian dikirim ke laboratorium, dan dengan bantuan mikroskop dapat ditentukan apakah jaringan tersebut merupakan jaringan yang bersifat ganas (kanker). Jika kanker esofagus menutupi lumen esofagus, maka lumen tersebut dengan bantuan alat dan endoskopi dapat dilebarkan sehingga makanan dan cairan dapat melalui bronkoskopi
Diindikasikan untuk menyingkirkan invasi pada percabangan tracheobronchial
CT Scan
CT Scan biasanya tidak digunakan untuk mendiagnosis kanker esofagus, tetapi CT Scan dapat membantu dalam menentukan penyebaran dari kanker esofagus. CT Scan dapat menunjukkan lokasi dimana kanker esofagus berada dan dapat membantu dalam menentukan apakah pembedahan merupakan tatalaksana terbaik untuk kanker esofagus. Sebelum gambar diambil, pasien diminta untuk minum cairan kontras, sehingga esofagus dan bagian usus dapat terlihat jelas sehingga tidak terjadi pembiasan pada daerah sekitarnya.
CT tidak terlalu akurat untuk menentukan status tumor primer (T) tetapi berguna untuk menilai apakah ada invasi langsung ke aorta atau saluran nafas utama yang menghindarkan dari intervensi operasi. Kecurigaaan invasi ke aorta ketika lebih dari 25% lingkar aorta tidak terlihat oleh kanker esofagus. Penentuan ini susah karena kakeksia menyingkirkan lemak di sekitar esofagus, membuat false positif pada invasi. Keakuratan penilaian invasi aorta sebesar 90%. Kecurigaan invasi ke saluran nafas ketika ada deviasi trakea atau bronkus utama oleh tumor primer. Bronkoskopi diperlukan untuk membedakan deviasi dan invasi. Keakuratan penilaian invasi saluran nafas sebesar 90%
Keterlibatan limfonodi oleh kanker esophagus tidak akurat terdeteksi dengan CT. Limfonodi normal dengan berbagai ukuran terletak di mediastinum dan abdomen, limfonodi karena penyebaran metastasis biasanya tidak membesar dibandingkan normal. Sensitivitas CT untuk mendeteksi limfonodi sangat rendah, keakuratan kurang dari 60%.
CT sangat berguna untuk mendeteksi metastasis jauh. Daerah penyebaran metastasis dari limfonodi non regional (liver, paru, peritoneum, kelenjar adrenal, tulang dan ginjal). Keakuratan deteksi CT terhadap metastasis liver sebesar 90%.
Bronkoskopi
Bronkoskopi dilakukan pada semua pasien yang akan dilakukan operasi dan tumor berdekatan dengan trakea atau bronkus utama sehingga dapat melihat secara langsung keterlibatan lumen dan submucosa saluran nafas. Penyimpangan carina memberikan keterlibatan limfonodi subcarinal sehingga dibutuhkan evaluasi aspirasi jarum transbronkial untuk evaluasi sitologi. Kultur rutin sekresi respiratori berguna untuk memilih terapi antibiotik jika pasca operasi terjadi pneumonia. Bronkoskopi memiliki sensitifitas 78%, spesifitas 98% dan keakuratan 96% untuk diagnosis invasi ke saluran nafas.
Ultrasonografi endoskopi
Pemeriksaan ini diperkenalkan untuk keakuratan staging tumor primer dan limfonodi regional.Kemudian pengalaman memberikan tambahan nilai untuk menilai beberapa limfonodi non regional (metastasis). Keakuratan Endoskopi Ultrasonografi (EUS) staging untuk tiap komponen bergantung pada pemeriksaan frekuensi ultrasound ke jaringan karena frekuensi tinggi (20mHz) menghasilkan detail yang lebih baik tetapi kedalamannya kurang daripada frekuensi rendah (7,5mHz, 12mHz). Diameter standar ultrasound endoskopi terlalu besar untuk melewati obstruksi tumor, membuat evaluasi inkomplit sekitar 25% dari jumlah pasien.
EUS menggambarkan esophagus normal dengan mengubah lapisan hiperekoik dan hipoekoik menunjukkan mukosa dan lamina propria, muskularis mukosa, submukosa, muskularis propia, dan adventisia. Kedalaman invasi tumor dengan menilai perluasan tumor. EUS berguna untuk menilai keterlibatan aorta, tetapi invasi ke saluran nafas tidak akurat dinilai karena sinyal ultrasound oleh saluran udara trakea. Keakuratan EUS untuk stadium tumor primer bergantung pada stadium patologi tumor secara keseluruhan sekitar 80%. EUS kurang akurat pada stadium primer tumor setelah kemoradioterapi.Teknik ini tidak dapat membedakan fibrosis karena terapi dan residu tumor. Keakuratan sekitar 45%.
Dalam menilai limfonodi dengan EUS, ada 3 kriteria yang digunakan: ukuran, karakteristik batas, dan arsitektur internal. Limfonodi yang membesar memiliki batas luar yang tegas, dan karakteristik sama, arsitekstur internal hipoekoik biasanya maligna. Menggunakan kriteria ini keaukuratan staging limfonodi oleh EUS sekitar 75%. Setelah kemoradioterapi keakuratan EUS untuk staging limfonodi menurun lebih dari 50%.
Magnetic Resonance Imaging (MRI)
Sebagai metode rutin staging neoplasma esophagus, MRI tidak memberikan keuntungan yang lebih dibandingkan CT. Kedua teknik memiliki kesamaan spesifisitas, sensitifitas, dan keakuratan untuk menilai resektabilitas dengan memperhatikan invasi langsung ke aorta dan saluran nafas. Keduanya memberikan informasi yang berguna tentang limfonodi regional dan metastasis. MRI tidak memiliki nilai lebih daripada CT dalam mengevaluasi liver untuk matastasis. MRI lebih mahal dan ketersediaannya terbatas dibandingkan dengan CT.
Positron Emission Tomography (PET)
PET scan mendeteksi keterlibatan limfonodi dan metastasis dengan peningkatan metabolism F-fluorodeoxyglucose.Kemampuan mendeteksi metastasis
limfonodi regional lebih baik daripada CT tapi tidak sebagus EUS, dengan sensitifitas 51%, spesifisitas 80%, dan keakuratan hanya 59%.Untuk mengetahui metastasis jauh, sensitifitas 88%, spesifisitas 93% dan keakuratan 91%.
Minimally Invasive Surgical Staging
Laparoskopi dan torakoskopi dilakukan di beberapa pusat sebelum terapi pre reseksional.Laparoskopi digunakan untuk evaluasi pasien dengan penyebaran intraabdominal saat reseksi sebelum dilakukan laparotomi dan torakotomi. Torakoskopi dilakukan dengan anestesi umum, biasanya mendekati diseksi pada dada kanan. Teknik ini mengevaluasi tumor primer yang menyebar berdekatan dengan organ dan dilakukan biopsi pada limfonodi pada mediastinum. Sensitifitas sebesar 50%, spesifisitas 100%, dan keakuratan staging limfonodi sebesar 90%. Laparoskopi dilakukan dengan general anestesi. Evaluasi liver, omentum, dan permukaan peritoneal, beberapa limfonodi dapat dibiopsi, dan cairan peritoneal diambil sampel untuk evaluasi sitologi. Teknik ini berguna untuk staging pasien dengan adenokarsinoma pada distal esophagus dan cardia. Keakuratan staging limfonodi sekitar 90%, dan total staging abdominal mendekati 100%.
Neck Ultrasonography
Keterlibatan limfonodi servikal dan supraklavikular oleh penyebaran metastasis sekitar 30% pasien dengan neoplasma pada esofagus bagian torakal dan kebanyakan tidak terdeteksi dengan pemeriksaan fisik. Keakuratan penilaian terhadap limfonodi servikal dan supraklavikular sekitar 90%. Aspirasi jarum dengan bantuan ultrasound untuk sitologi menambah nilai dari teknik ini.
Biologic Staging
Beberapa marker untuk prognosis neoplasma esofagus, meliputi growth factor (EGF, TGF-a, PDGF), onkogen (c-myc, int-2, hst-1, cyclin D, EGFR, HER- 2/new, h-ras), tumor suppressor gene (Rb, p53, p73, APC, MCC, p27), E-cadherin molekul sel adhesi, marker perkembangan tumor CEA, dan DNA content.
Staging menurut AJCC/UICC edisi ke-8 tahun 2017 Karsinoma sel skuamosa dan adenokarsinoma
TUMOR PRIMER (T) | |
TX | Tumor primer tidak dapat dinilai |
T0 | Tidak ada bukti ada tumor primer |
Tis | Displasia tingkat tinggi, didefinisikan sebagai di epitel dengan dasar membran |
T1 | Invasi ke lamina propia, mukosa muskularis, atau submukosa |
T1a | Invasi ke lamina propia atau mukosa muskularis |
T1b | Invasi ke submukosa |
T2 | Invasi ke tunika muskularis propia |
T3 | Invasi ke tunika adventitia. |
T4 | Invasi ke struktur sekitar. |
T4a | Tumor invasi ke pleura, perikardium, vena azygos, diafragma, atau peritoneum |
T4b | Tumor invasi ke struktur sekitar, seperti aorta, |
corpus vertebra, atau jalan nafas | |
Kelenjar Getah Bening (N) | |
NX | Kelenjar getah bening regional tak dapat dinilai |
N0 | Tidak ada metastasis jauh |
N1 | Ada metastasis 1 atau 2 KGB |
N2 | Metastasis pada 3 sampai 6 KGB |
N3 | Metastasis pada 7 atau lebih KGB |
METASTASIS (M) | |
M0 | Tak ada metastasis jauh |
M1 | Ada metastasis jauh |
HISTOLOGI (G) | |
GX | Tak ada metastasis jauh |
G1 | Well differentiated |
G2 | Moderately differentiated |
G3 | Poorly differentiated, undifferentiated |
LOKASI (L) | |
X | Lokasi tidak diketahui |
Atas | Esofagus servikal sampai batas bawah vena azygos |
Tengah | Batas bawah vena azygos sampai batas bawah vena pulmonari inferior |
Bawah | Batas bawah vena pulmonari inferior sampai perut, termasuk gastroesofageal junction |
Catatan: Lokasi didefinisikan sebagai posisi episenter dari tumor esofagus | |
Prognosis AJCC berdasarkan Stadium Karsinoma Sel Skuamosa
Klinis (cTNM)
Staging | Tumor | Nodul | Metastasis |
Stage 0 | Tis | N0 | M0 |
Stage I | T1 | N0-1 | M0 |
Stage II | T2 T3 | N0-1 N0 | M0 M0 |
Stage III | T3 T1-3 | N1 N2 | M0 M0 |
Stage IVA | T4 any T | N0-2 N3 | M0 M0 |
Stage IVB | any T | Any N | M1 |
Patologis (pTNM)
Staging | Tumor | Nodul | Metastasis | Lokasi | Histologi |
Stage 0 | Tis | N0 | M0 | Any | N/A |
Stage IA | T1a T1a | N0 N0 | M0 M0 | Any Any | G1 GX |
Stage IB | T1a | N0 | M0 | Any | G2-3 |
T1b T1b T2 | N0 N0 N0 | M0 M0 M0 | Any Any Any | G1-3 GX G1 | |
Stage IIA | T2 T2 T3 T3 | N0 N0 N0 N0 | M0 M0 M0 M0 | Any Any Lower Upper/middle | G2-3 GX Any G1 |
Stage IIB | T3 T3 T3 T1 | N0 N0 N0 N1 | M0 M0 M0 M0 | Upper/middle Any Location X Any | G2-3 GX Any Any |
Stage IIIA | T1 T2 | N2 N1 | M0 M0 | Any Any | Any Any |
Stage IIIB | T2 T3 T4a | N2 N1-2 N0-1 | M0 M0 M0 | Any Any Any | Any Any Any |
Stage IVA | T4a T4b Any T | N2 N0-2 N3 | M0 M0 M0 | Any Any Any | Any Any Any |
Stage IVB | Any T | Any N | M1 | Any | Any |
Terapi Postneoadjuvan (ypTNM)
Staging | Tumor | Nodul | Metastasis |
Stage 1 | T0-2 | N0 | M0 |
Stage II | T3 | N0 | M0 |
Stage IIIA | T0-2 | N1 | M0 |
Stage IIIB | T3 | N1 | M0 |
T0-3 | N2 | M0 | |
T4a | N0 | M0 | |
Stage IVA | T4a | N1-2 | M0 |
T4a | NX | M0 | |
T4b | N0-2 | M0 | |
Any T | N3 | M0 | |
Stage IVB | any T | Any N | M1 |
Adenokarsinoma Klinis (cTNM)
Staging | Tumor | Nodul | Metastasis |
Stage 0 | Tis | N0 | M0 |
Stage I | T1 | N0-1 | M0 |
Stage IIA | T1 | N1 | M0 |
Stage IIB | T2 | N0 | M0 |
Stage III | T2 | N1 | M0 |
T3 | N0-1 | M0 | |
T4a | N0-1 | M0 | |
Stage IVA | T1-4a | N2 | M0 |
T4b Any T | N0-2 N3 | M0 M0 | |
Stage IVB | Any T | Any N | M1 |
Patologis (pTNM)
Staging | Tumor | Nodul | Metastasis | Histologi |
Stage 0 | Tis | N0 | M0 | N/A |
Stage IA | T1a T1a | N0 N0 | M0 M0 | G1 GX |
Stage IB | T1a T1b T1b | N0 N0 N0 | M0 M0 M0 | G2 G1-2 GX |
Stage IC | T1 T2 | N0 N0 | M0 M0 | G3 G1-2 |
Stage IIA | T2 T2 | N0 N0 | M0 M0 | G3 GX |
Stage IIB | T1 T3 | N1 N0 | M0 M0 | Any Any |
Stage IIIA | T1 T2 | N2 N1 | M0 M0 | Any Any |
Stage IIIB | T2 T3 T4a | N2 N1-2 N0-1 | M0 M0 M0 | Any Any Any |
Stage IVA | T4a | N2 | M0 | Any |
Terapi
Operasi dengan bedah reseksi
Stadium awal dilakukan dengan pendekatan transtoraksik atau transhiatal untuk esofagektomi sebagian atau total.
Pendekatan transervikal untuk esofagus servikal atas atau penyebaran ke depan dari hipofaring
Laringektomi dengan atau tanpa reseksi trakea sebagian sangat penting untuk kanker esofagus servikal atas
Endoskopi
Radioterapi
Radioterapi primer digunakan sebagai terapi alternatif pasien untuk mencegah tindakan bedah reseksi
Post operatif radioterapi meningkatkan kontrol lokal disease, dan bermanfaat pada pasien dengan resiko kekambuhan tinggi, fistula trakeoesofageal atau gejala sisa
Kemoterapi
Kemoterapi preoperatif menghasilkan penurunan ukuran tumor primer dan sebagai terapi regional dan metastasis
Kemoterapi post operatif juga sebagai terapi regional dan metastasis tetapi hasilnya akan terjadi peningkatan toksisitas, morbiditas atau tidak terjadi perbaikan
Kombinasi kemoradiasi
Ada peningkatan toksisitas tetapi respon tumor lebih baik dengan terapi ini
Digunakan sebagai terapi preoperasi untuk mengecilkan ukuran tumor, tetapi manfaatnya belum jelas
Bermanfaat sebagai terapi primer pada pasien yang tidak dilakukan operasi reseksi
Rekonstruksi
Transposisi lambung atau pull-up digunakan pada pasien dilakukan esofagektomi total
Esofagektomi servikal atau laringofaringektomi total adalah pilihan terbaik
Prognosis
Jika terdiagnosis secara dini, secara keseluruhan tumor esofagus memiliki prognosis yang baik. Sebanyak 70% penderita mengalami metastasis pada kelenjar limfonodi. Jika tidak ada keterlibatan limfonodi, maka 50% pasien dapat bertahan hidup selama 5 tahun. Jika sudah terjadi metastasis, maka hanya 1 dari 8 penderita yang mampu bertahan hingga 5 tahun.
DAFTAR ISI
MODUL VII.15
ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER: KARSINOMA LARING
WAKTU
Mengembangkan Kompetensi | Alokasi Waktu |
Sesi di dalam kelas Sesi dengan fasilitasi Pembimbing Sesi praktik dan pencapaian kompetensi | 2 x 90 menit (classroom session) 2 x 60 menit (coaching session) 18 jam (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi presentasi:
Power point
Video
Kasus: Neoplasma laring
Sarana dan alat bantu latih: (disesuaikan dengan pencapaian kompetensi):
Penuntun belajar (learning guide): terlampir
Tempat belajar (training setting): instalasi rawat inap, instalasi rawat jalan, kamar operasi, ruang praktikum, ruang kuliah
Model/manekin atau kadaver
Komputer/laptop
Infocus
REFERENSI
Sinha P, Okuyemi O, Haughey BH. Early Larungeal Cancer. In: Johnson JT, Rosen CA, et al. Editors. Bailey's Head and Neck Surgery-Otolaryngology 5th (ed). Vol.2. Philadelphia: Wolters Kluwer, Lippincott Williams & Wilkins. 2014.
p. 1940-60.
Loehn BC, Kunduk M, McWhorter AJ. Advanced Larungeal Cancer. In: Johnson JT, Rosen CA, et al. Editors. Bailey's Head and Neck Surgery-Otolaryngology 5th (ed). Vol.2. Philadelphia: Wolters Kluwer, Lippincott Williams & Wilkins. 2014.
p. 1961-77.
Hodnett BL, Renukuntla S, Johnson JT. Tumors of the larynx. In: Chan Y, Goddaed JC. Editors. K.J.Lee's Essential Otolaryngology Head and Neck Surgery. 11th (ed). United States: McGraw-Hill education. 2016. p. 688-700
Wein RO, Gold KA, Gunn B, Weber RS. Cancer of the larynx. In: Myers JN, Hanna EYN, Myers EN. Editors. Cancerof the Head and Neck 5th (ed). Philadelphia: Wolters Kluwer, Lippincott Williams & Wilkins. 2017. p. 654-709
Shah J. Larynx and Trachea. In: Shah J, ed. Head and neck surgery and oncology. 5th ed. Philadelphia: Elsevier Co; 2020. p. 365-440
Amin, M.B., Edge, S.B. and American Joint Committee on Cancer, 2017. AJCC Cancer Staging Manual, 8th ed. Springer
Pfister DG, Spenser S, Adelstein D, Adkins D, Brizel DM, Burtness BA. NCCN Clinical Practise Guidelines in Oncology. Head and Neck Cancer: National Comprehensive Cancer Network; 2020. p.1-225
KOMPETENSI
Pengetahuan
Mampu membuat diagnosis karsinoma laring berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
Keterampilan
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam:
Menjelaskan anatomi dan topografi regio laring.
Menjelaskan patogenesis karsinoma laring.
Menjelaskan gejala dan tanda karsinoma laring.
Melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik pada karsinoma laring.
Membuat keputusan untuk pemeriksan penunjang seperti Rhinolaryngoscopy Fiber Optic (RLFO), biopsi mikrolaring, CT Scan kepala leher.
Menegakkan diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhubungan dengan karsinoma laring.
Menentukan pilihan terapi yang tepat pada kasus karsinoma laring.
Mempersiapkan penderita pra operatif (memberi penjelasan kepada penderita dan keluarga, informed consent), dan merawat penderita pascaoperasi serta mampu mengatasi komplikasi yang terjadi.
GAMBARAN UMUM
Neoplasma laring adalah keganasan pada laring yang berasal dari sel epitel laring, yang dapat mengenai regio laring (supraglotik, glotik, subglotik). Insiden kejadian karsinoma laring 0,7 % dengan angka kematian 0,3 %. Jika dideteksi secara dini maka dapat diterapi secara efektif, tetapi lebih dari 40% karsinoma laring datang dalam stadium lanjut (stadium 3 dan 4). Karsinoma laring lebih sering terjadi pada usia kurang dari 65 tahun (6,9%) dan > 65 tahun (2,3%) dengan frekuensi laki-laki dan perempuan 4:1. Karsinoma laring menempati urutan ketiga dari seluruh keganasan kepala dan leher. Fungsi laring adalah sebagai proteksi, respirasi dan fonasi. Keganasan laring dapat mempengaruhi satu atau lebih fungsi dari laring. Gejala utamanya adalah parau, sesak nafas, dan rasa mengganjal saat menelan. Terapi untuk karsinoma laring perlu mempertimbangkan kualitas hidup. Terapi pada karsinoma laring meliputi laringektomi partial dan total. Setelah dilakukan operasi diberikan kemoradiasi konkuren. Terapi baku karsinoma laring adalah laringektomi total dengan kemoradiasi pasca operasi.
CONTOH KASUS DAN DISKUSI
Seorang laki-laki, 65 tahun datang ke poli THT-KL dengan keluhan: suara serak sejak 3 bulan yang lalu, keluhan ini dirasakan makin lama makin memberat, dan tidak pernah membaik. Keluhan kemudian disertai dengan sesak napas, terutama bila beraktifitas, kadang-kadang disertai dengan batuk. Penderita masih dapat makan dan minum dengan baik. Riwayat merokok sejak 40 tahun yang lalu sebanyak 1 bungkus rokok kretek perhari.
Pada pemeriksaan didapatkan retraksi otot-otot pernafasan (epigastrial dan interkostal). Suara tambahan saat bernafas (inspirasi) terdengar pelan.
Temperatur tubuh 36,70 dan pemeriksaan leukosit darah adalah 10.000 mm3, lain-lain dalam batas normal.
Pemeriksaan Thorax X-Ray dalam batas normal
Pemeriksaan CT-Scan axial dan koronal setinggi laring dengan kontras menunjukkan massa didaerah laring (transglotis terutama sisi kiri) yang hampir menutupi jalan nafas. Tidak ditemukan pembesaran kelenjar getah bening leher.
Diskusi:
Anatomi, fisiologi, dan histologi laring
Patogenesis terjadinya karsinoma laring
Etiologi dan faktor risiko
Derajat obstruksi saluran nafas atas
Penegakan diagnosis dan stadium
Rencana terapi
Pemeriksaan pra dan pasca bedah
Jawaban:
Diagnosis: Karsinoma laring transglotis T4N0M0 stadium IV Terapi:
Laringektomi total
Diseksi leher
Tiroidektomi ipsilateral (kiri)
Kemoradiasi pasca bedah
Rehabilitasi suara
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan pembelajaran umum
Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan mampu untuk menegakkan diagnosis dan melakukan terapi terhadap neoplasma laring.
Tujuan pembelajaran khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan mampu untuk:
Menguasai anatomi, topografi, histologi, dan fisiologi laring
Mampu menjelaskan patogenesis neoplasma laring
Menjelaskan gejala dan tanda neoplasma laring
Melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik pada neoplasma laring
Membuat keputusan untuk pemeriksan penunjang
Menegakkan diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan.
Membuat keputusan klinik untuk laringektomi
Melakukan tindakan operasi laringektomi
Mempersiapkan penderita pra operatif dan merawat penderita pasca operatif (mandiri) serta mampu mengatasi komplikasi (dengan supervisi)
METODE PEMBELAJARAN
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan mempunyai kemampuan dasar untuk menegakkan diagnosis karsinoma laring dan mampu untuk menentukan terapi yang sesuai.
Tujuan 1. Menjelaskan anatomi dan topografi regio laring
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture.
Small group discussion.
Peer assisted learning (PAL)
Bedside teaching.
Task based medical education.
Tujuan 2. Menjelaskan patogenesis karsinoma laring
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture.
Journal reading and review.
Peer assisted learning (PAL)
Bedside teaching.
Task based medical education.
Tujuan 3. Menjelaskan gejala dan tanda karsinoma laring
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review
Case simulation and investigation exercise
Equipment characteristics and operating instructions
Tujuan 4. Melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik pada karsinoma laring
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review
Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device)
Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients
Harus diketahui:
Metode standar anamnesis
Gejala dan tanda pasti karsinoma laring
Tujuan 5. Membuat keputusan untuk pemeriksaan penunjang yang berhubungan dengan karsinoma laring
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review.
Morbidity and Mortality Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).
Operative Procedure Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients.
Continuing Professional Development
Harus diketahui:
Indikasi pemilihan pemeriksaan tambahan
Pemeriksaan penunjang yang sensitif dan spesifik
Tujuan 6. Menegakkan diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhubungan dengan karsinoma laring Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review
Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device)
Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients
Harus diketahui:
Analisis data untuk menegakkan diagnosis
Memilah diagnosis banding dan menentukan diagnosis kerja
Tujuan 7. Mampu menjelaskan penatalaksanaan karsinoma laring
Untuk mencapai tujuan tersebut maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review
Case study
Practice with Real Clients
Harus diketahui:
Rencana pengobatan atau tata laksana pasien
Prosedur konservatif: Kemoradiasi
Prosedur operatif:
Laringektomi parsial
Laringektomi Total
Laringektomi total dengan diseksi leher
Laringektomi total dengan tiroidektomi dan diseksi leher
Tujuan 8. Melakukan tindakan pembedahan (laringektomi)
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review
Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device)
Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients
Harus diketahui:
Jenis pembedahan
Langkah-langkah pembedahan
Komplikasi operasi
Tujuan 9. Melakukan persiapan penderita pra operatif dan merawat penderita pasca operatif serta mampu mengatasi komplikasi (dengan supervisi) Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review
Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device)
Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients
Harus diketahui:
Persiapan preoperatif
Komplikasi pascaoperasi
Rangkuman:
Karsinoma laring banyak ditemukan pada usia >55 tahun, terutama laki-laki dengan rasio 4:1. Karsinoma sel skuamosa (SCCA) mewakili 85% sampai 95% keganasan laring. Tatalaksana karsinoma laring bisa berupa operatif, radioterapi, kemoterapi atau kombinasi ketiganya. Karsinoma leher dilakukan penatalaksanaan sesuai dengan diagnosis yang ditegakkan. Diseksi leher pada karsinoma laring dilakukan sesuai indikasi.
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Tengah pembelajaran dilaksanakan mid-test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat kompetensi yang dicapai yang bertujuan untuk menilai capaian peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada.
Pada akhir pertemuan dilaksanakan post-test dalam bentuk essay dan oral yang bertujuan untuk menilai kinerja akhir peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada.
Materi pre-test, mid-test, dan post-test terdiri atas:
Anatomi, topografi, histologi dan fisiologi tiroid
Penegakan diagnosis
Penatalaksanaan
Follow up
Selanjutnya dilakukan small group discussion bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian.
Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk role play dan teman-temannya (Peer Assisted Evaluation) atau kepada SP (Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assisted Evaluation) setelah dianggap memadai, melalui metode bedside teaching dibawah pengawasan fasilitator, peserta dididik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomi dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut :
Perlu perbaikan: pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan.
Cukup: pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terlalu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien.
Baik: pelaksanaan benar dan baik (efisien).
Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
Self assesment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar.
Pendidik/ fasilitas:
Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form (terlampir)
Penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi
Kriteria penilaian keseluruhan : cakap/ tidak cakap/ lalai
Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education)
Pencapaian pembelajaran:
Ujian OSCE (K,P,A), dilakukan pada tahapan T.H.T.K.L dasar oleh Kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L
Ujian akhir stase, setiap divisi / unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan
T.H.T.K.L lanjut oleh Kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L.
Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan T.H.T.K.L lanjut oleh Kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L.
Ujian akhir profesi (kasus bedah), dilakukan pada akhir pendidikan oleh Kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L.
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Kuesioner Sebelum Pembelajaran (Pre Test)
Soal :
Indikasi dilakukan total laringektomi adalah:
Karsinoma laring stadium 1 dan 2 yang gagal dengan terapi radiasi dan kemoterapi
Karsinoma laring stadium 3 yang tidak mungkin dilakukan parsial laringektomi
Karsinoma laring stadium 3 dan 4 yang ekstensi ke glotis
Karsinoma subglotik atau karsinoma glotik dengan ekstensi ke subglotik > 1,5 cm
Karsinoma basis lidah yang ekstensinya belum melebihi papila sirkumvalata
Jawaban: D
Tn A 45 tahun, seorang petani berobat ke poliklinik Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L dengan keluhan suara serak yang makin lama semakin memberat sejak 3 bulan terakhir. Pada pemeriksaan telinga, hidung, dan faring tidak ditemukan kelainan. Tidak terdapat pembesaran kelenjar leher
Pertanyaan:
Pemeriksaan selanjutnya yang harus dilakkukan adalah
CT-Scan leher
Foto polos leher AP/lateral
Trakeostomi untuk persiapan biopsi
Fleksibel laringoskopi dan biopsi
Direk laringoskopi dan biopsi
Jawaban: D
Rehabilitasi suara yang banyak dilakukan segera pasca total laringektomi adalah:
Suara esofagus
Shunt and valve
Prostesis suara
Prostesis trakeoesofageal
Laring elektronik
Jawaban: E
Komplikasi yang paling sering sesudah tindakan total laringektomi adalah
Hipertiroidism
Esofagitis
Stenosis esofagus
Fistula dan infeksi luka operasi
Disfagia
Jawaban: D
Perawatan pasien pasca total laringektomi
Makan dan minum setelah 5 hari perawatan
Posisi pasien tidur terlentang
Drain diangkat pada hari ke 2 atau bila jumlah perdarahan < 15 cc
NGT dipertahankan sampai hari ke 5
Pasien dianjurkan tidak menelan ludah
Jawaban: E
Kuesioner Tengah pembelajaran Soal :
Seorang laki-laki usia 56 tahun datang dengan keluhan suara serak sejak 4 bulan yang lalu, tidak disertai demam, sakit menelan, maupun batuk. Pasien memiliki riwayat merokok sejak remaja. Pada pemeriksaan fisik telinga dan hidung tidak didapatkan kelainan. Pada laringoskopi indirek ditemukan massa kemerahan pada keseluruhan plika vokalis kanan dengan gerakan masih baik.
Pada biopsi didapatkan hasil PA SCC differensiasi baik. Pemeriksaan penunjang apakah yang saudara anjurkan selanjutnya?
CT-scan
Soft Tissue Leher
USG leher
MRI
Jawaban: D
Manajemen apakah yang paling tepat untuk pasien tersebut?
Laringektomi parsial tanpa diseksi leher
Laringektomi parsial dengan diseksi leher
Laringektomi total tanpa diseksi leher
Laringektomi total dengan diseksi leher
Jawaban: A
Apakah yang harus diperhatikan pada durante tindakan operasi?
frozen section
pemasangan/persiapan provox
pemberian marker pada specimen
penutupan stoma pada akhir operasi
Jawaban: C
Kuesioner Akhir pembelajaran Soal :
Seorang pasien laki-laki usia 62 tahun datang dengan keluhan sesak nafas. Keluhan tersebut diawali dengan suara serak sejak 1 tahun yang lalu kemudian memberat dalam 2 bulan terakhir. Keluhan disertai batuk dengan dahak yang disertai bercak darah, tidak didapatkan benjolan pada leher. Pada pemeriksaan fisik didapatkan rektraksi supraklavikula dengan stridor inspiratoir.
Pasien telah dilakukan trakeostomi cito.
Pemeriksaan lanjutan apakah yang saudara sarankan untuk pasien ini?
USG leher
Ct-scan
Rontgen toraks
triple endoskopi
Jawaban: D
Pada hasil 2 macam pemeriksaan yaitu ct-scan dan triple endoskopi. Hasil ct-scan ditemukan massa sudah mendestruksi kartilago tiroid dan meluas ke anterior. Hasil triple endoskopi tidak didapatkan massa/ perluasan ke esofagus. Apa perkiraan stadium pada pasien ini menurut saudara?
T1N0Mx
T2N0Mx
T3N0Mx
T4N0Mx
Jawaban: D
Pada biopsi didapatkan hasil PA SCC differensiasi buruk, manajemen apakah yang saudara anjurkan untuk pasien ini?
Laringektomi parsial tanpa diseksi leher
Laringektomi parsial dengan diseksi leher
Laringektomi total tanpa diseksi leher
Laringektomi total dengan diseksi leher
Jawaban: C
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR
Penuntun Belajar
Prosedur Biopsi Tumor Laring Approach Mikrolaringoskopi
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :
Perlu perbaikan langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang
seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan
urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi diluar normal.
Mahir langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan).
NAMA PESERTA: .................................. TANGGAL: .................................
NO | KEGIATAN/LANGKAH KLINIK | KASUS | |||
1 | 2 | 3 | T/D | ||
PERSIAPAN PRA-TINDAKAN | |||||
1 | Informed Consent | ||||
2 | Pemeriksaan Penunjang | ||||
3 | Penderita Puasa | ||||
4 | Memeriksa Dan Melengkapi Alat Persiapan alat: Botol kecil + formalin (fiksasi) jaringan. | ||||
5 | Persiapan penderita: | ||||
Direk Laringoskopi
Light source
Forceps
Aplikator kapas, jelly
Informed consent
Penderita dipuasakan minimal 6 - 8 jam sebelum tindakan dilakukan.
Pemeriksaan laboratorium (darah rutin, kimia darah, waktu bekuan, waktu perdarahan).
Pemeriksaan rontgen thoraks.
Penderita > 40 tahun, dilakukan pemeriksaan EKG.
Dikonsulkan ke bagian IPD/Anak bila didapatkan kelainan pada hasil pemeriksaan.
Penderita > 40 tahun, dilakukan pemeriksaan EKG.
Dikonsulkan ke bagian IPD/Anak bila didapatkan kelainan pada hasil pemeriksaan.
NO | KEGIATAN/LANGKAH KLINIK | KASUS | |||
1 | 2 | 3 | T/D | ||
6 | anestesi. | ||||
TINDAKAN | |||||
1 | Memasukkan Laringoskop direk dengan cara Laringoskopi dipegang dengan tangan kiri, jari tengah, dan jari manis membuka biit atas. | ||||
2 | Evaluasi daerah valekula dan epiglotis. | ||||
3 | Epiglotis diangkat ke atas sehingga dapat diperiksa. | ||||
4 | Bila didapatkan keadaan patologis seperti tumor, dilakukan pengambilan jaringan yang dicurigai dengan menggunakan forceps. | ||||
5 | Jaringan yang telah diambil dapat difiksasi dengan formalin, dikirim ke Bagian Patologi Anatomi untuk pemeriksaan histopatologis. | ||||
6 | Perdarahan dirawat dengan menggunakan albothyl melalui kapas aplikator sampai perdarahan berhenti/minimal | ||||
7 | Pasien diberikan analgetik dan antibiotika post operasi | ||||
Persiapan Tindakan: Posisi penderita terlentang dan kepala ekstensi.
Bila dibutuhkan dapat dilakukan trakeostomi praoperasi dengan lokal
DAFTAR TILIK
Prosedur Biopsi Tumor Laring Approach Mikrolaringoskopi
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini: X : Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar T/T: Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih |
: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
PESERTA: TANGGAL :
NO | KEGIATAN/LANGKAH KLINIK | NILAI | ||
| X | T/T | ||
PERSIAPAN PRA-TINDAKAN | ||||
1 | Informed Consent | |||
2 | Pemeriksaan Penunjang | |||
3 | Penderita Puasa | |||
NO | KEGIATAN/LANGKAH KLINIK | NILAI | ||
| X | T/T | ||
4 | Memeriksa Dan Melengkapi Alat Persiapan alat: | |||
5 | Persiapan penderita: | |||
6 | ||||
TINDAKAN | ||||
1 | Memasukkan Laringoskop direk dengan cara Laringoskopi dipegang dengan tangan kiri, jari tengah, dan jari manis membuka biit atas. | |||
2 | Evaluasi daerah valekula dan epiglotis. | |||
3 | Epiglotis diangkat ke atas sehingga dapat diperiksa. | |||
4 | Bila didapatkan keadaan patologis seperti tumor, dilakukan pengambilan jaringan yang dicurigai dengan menggunakan forceps. | |||
5 | Jaringan yang telah diambil dapat difiksasi dengan formalin, dikirim ke Bagian Patologi Anatomi untuk pemeriksaan histopatologis. | |||
6 | Perdarahan dirawat dengan menggunakan albothyl melalui kapas aplikator sampai perdarahan berhenti/minimal | |||
7 | Pasien diberikan analgetik dan antibiotika post operasi | |||
Direk Laringoskopi
Light source
Forceps
Aplikator kapas, jelly
Botol kecil + formalin (fiksasi) jaringan.
Informed consent
Penderita dipuasakan minimal 6 - 8 jam sebelum tindakan dilakukan.
Pemeriksaan laboratorium (darah rutin, kimia darah, waktu bekuan, waktu perdarahan).
Pemeriksaan rontgen thoraks.
Penderita > 40 tahun, dilakukan pemeriksaan EKG.
Dikonsulkan ke bagian IPD/Anak bila didapatkan kelainan pada hasil pemeriksaan.
Penderita > 40 tahun, dilakukan pemeriksaan EKG.
Dikonsulkan ke bagian IPD/Anak bila didapatkan kelainan pada hasil pemeriksaan
Persiapan Tindakan : Posisi penderita terlentang dan kepala ekstensi.
Bila dibutuhkan dapat dilakukan trakeostomi pra operasi dengan lokal anestesi
MATERI PRESENTASI
Anatomi dan topografi regio laring
Jenis neoplasma laring
Patogenesiskarsinoma laring
Pemeriksaan dan diagnosis karsinoma laring
Penatalaksanaan karsinoma laring
MATERI BAKU
KARSINOMA LARING
Definisi
Keganasan pada laring yang dapat mengenai regio laring (supraglotik, glotik, subglotik)
Etiologi
Merokok dan mengkonsumsi alkohol merupakan etiologi tersering menyebabkan karsinoma laring sebanyak 89%
Sebanyak 5% keganasan laring disebabkan faktor makanan, refluks gastroesofageal, riwayat radiasi sebelumnya dan infeksi virus
Humam papilloma virus tipe 16 dan 18 merupakan etiologi karsinoma laring dengan frekuensi sebanyak 5-32%.
Terpapar zat karsinogen seperti debu kayu, polisiklik hidro karbon dan asbestos meningkatkan rsiko terjadinya karsinoma laring di negara berkembang.
Epidemiologi
Insiden kejadian karsinoma laring 0,7 % dengan angka kematian 0,3 %. Jika dideteksi secara dini maka dapat diterapi secara efektif, tetapi lebih dari 40% karsinoma laring datang dalam stadium lanjut pada stadium 3 dan 4. Karsinoma laring lebih sering terjadi pada usia kurang dari 65 tahun (6,9%) dan > 65 tahun (2,3%) dengan frekuensi laki-laki dan perempuan 4:1. Karsinoma laring menempati urutan ketiga dari seluruh keganasan kepala dan leher
Diagnosis
Anamnesis:
Gejala Klinis kasinoma laring tergantung lokasi tumor :
Tumor supraglotis
Rasa mengganjal
Hot potatoes voices/muffle
Disfagia
Dipsneu
Otalgi
Servikal metastasis
Tumor glotis
Hoarseness
Tumor subglotis
Airway obstruction
Pada pasien dalam stadium lanjut karsinoma laring gejala-gejala tersebut dapat ditemukan secara bersamaan.
Pemeriksaan fisik:
Pemeriksaan T.H.T.K.L lengkap
Pemeriksaan leher :
Palpasi : untuk memeriksa pembesaran pada membrane krikotiroid atau tirohioid, yang merupakan tanda ekstensi tumor ke ekstra laryngeal. Infiltrasi tumor ke kelenjar tiroid menyebabkan tiroid membesar dan keras. Memeriksa pembesaran kelenjar getah bening leher.
Pemeriksaan penunjang : indirek laringoskopi, fleksibel endoskopi
Pemeriksaan radiologi (imaging):
Rontgen soft tissue leher AP dan lateral
Rontgen thorax
CT-Scan laring atau MRI
Biopsi dapat dilakukan dengan direk laringoskopi dalam narkose umum atau dengan fleksibel laringoskopi dalam narkose lokal
Penentuan Stadium (AJCC 8, 2017) Tumor Primer (T)
Supraglotis
Tx : Tumor primer tidak bisa ditentukan Tis : Karsinoma insitu
T1 : Tumor terbatas pada satu subsite dari supraglotis dengan pergerakan pita suara normal.
T2 : Tumor menginvasi mukosa lebih dari satu subsite di supraglotis atau glotis atau diluar supraglotis (seperti mukosa pangkal lidah, valekula, atau dinding medial sinus piriformis) tanpa fiksasi laring.
T3 : Tumor terbatas pada laring dengan fiksasi pita suara dan/ atau menginvasi postkrikoid, ruang pre-epiglotis, ruang paraglotis dan/ atau korteks dalam dari kartilago tiroid.
T4 : Moderately advanced atau sangat Advanced
T4a : Moderately advanced tumor primer, tumor menginvasi korteks luar tulang rawan tiroid dan/atau meluas ke jaringan ekstra laring (trakea, kartilago krikoid, jaringan lunak leher termasuk otot ekstrinsik dalam dari lidah,otot-
otot strap, tiroid atau esofagus).
T4b : Sangat Advanced tumor lokal, tumor menginvasi ruang prevertebra, arteri karotis, atau menginvasi struktur mediastinum.
Glotis
Tx : Tumor primer tidak bisa ditentukan Tis : Karsinoma insitu
T1 : Tumor terbatas pada pita suara/plika vokalis (bisa melibatkan komisura anterior ataupun posterior), pergerakan normal.
T1a : Tumor terbatas pada satu pita suara T1b : Tumor melibatkan kedua pita suara
T2 : Tumor meluas sampai ke supraglotis dan/atau subglotis dan atau dengan gangguan pergerakan pita suara.
T3 : Tumor terbatas pada laring dengan fiksasi pita suara dan/atau menginvasi ruang paraglotis dan/atau inner cortex dari kartilago tiroid.
T4 : Moderately advanced atau sangat Advanced
T4a : Moderately advanced tumor primer, tumor menginvasi korteks luar tulang rawan tiroid dan/ atau meluas ke jaringan ekstra laring (trakea, kartilago krikoid, jaringan lunak leher termasuk otot ekstrinsik dalam dari lidah,otot- otot strap, tiroid atau esofagus).
T4b : Sangat Advanced tumor lokal, tumor menginvasi ruang prevertebra, arteri karotis, atau menginvasi struktur mediastinum.
Subglotis
Tx : Tumor primer tidak bisa ditentukan Tis : Karsinoma insitu
T1 : Tumor terbatas pada subglotis
T2 : Tumor meluas ke pita suara dengan atau tanpa gangguan pergerakan.
T3 : Tumor terbatas pada laring dengan fiksasi pita suara dan/ atau menginvasi ruang paraglotis dan/ atau korteks dalam dari kartilago tiroid.
T4 : Moderately advanced atau sangat Advanced
T4a : Moderately advanced tumor primer, tumor menginvasi korteks luar tulang rawan tiroid dan/ atau meluas ke jaringan ekstra laring (trakea, kartilago krikoid, jaringan lunak leher termasuk otot ekstrinsik dalam dari lidah,otot- otot strap, tiroid atau esofagus).
T4b : Sangat Advanced tumor lokal, tumor menginvasi ruang prevertebra, arteri karotis, atau menginvasi struktur mediastinum.
Kelenjar Getah bening Regional (N)
Nx : Kelenjar limfe regional tidak tidak bisa ditentukan.
N0 : Tidak terdapat metastasis ke kelenjar getah bening regional.
N1 : Metastasis pada satu kelenjar limfe ipsilateral dengan ukuran diameter
terpanjang := 3 cm dan ENE (-).
N2a: Metastasis pada satu kelenjar limfe ipsilateral dengan ukuran diameter terpanjang lebih dari 3 cm tapi tidak lebih dari 6 cm dan ENE (-).
N2b: Metastasis pada multipel kelenjar limfe ipsilateral dengan diameter terpanjang tidak lebih dari 6 cm dan ENE (-).
N2c: Metastasis bilateral atau kontralateral kelenjar limfe dengan diameter
terpanjang tidak lebih dari 6 cm dan ENE (-).
N3a: Metastasis kelenjar limfe dengan diameter terpanjang lebih dari 6 cm dan ENE(-)
N3b: Metastasis pada setiap kelenjar limfe dengan ENE (+)
Metastasis Jauh (M)
M0 : Tidak ada metastasis jauh. M1 : Terdapat metastasis jauh.
Stadium
Stadium 0 : Tis N0 M0 Stadium I : T1 N0 M0 Stadium II : T2 N0 M0
Stadium III : T3 N0 M0 T1,T2,T3 N1 M0
Stadium IVA : T4a N0, N1 M0 T1,T2,T3 ,T4a N2 M0
Stadium IVB : Semua T N3 M0 T4b semua N M0 Stadium IVC : semua T semua N M1
*ENE: Extra Nodular Extension
Diagnosis Banding
Tuberkulosis laring
Tumor jinak laring (papiloma, kista, polip)
Penyakit granuloma
Terapi
Pembedahan :
Laringektomi parsial (LP)
Laringektomi total (LT), dapat dikombinasi dengan:
Diseksi leher fungsional (DLF)
Diseksi leher radikal (DLR)
Radioterapi, kemoterapi, dan terapi target
ALGORITMA DAN PROSEDUR
Bedah Mikrolaring
Teknik operasi
Pasien tidur diatas meja operasi posisi supine
Dokter anestesi mengintubasi laring (jika ada penggunaan laser diantisipasi) diarahkan ke sisi kiri mulut
Bantalan ditempatkan dibawah bahu supaya bisa ekstensi kepala dan leher secara sempurna.
Meja ditempatkan di posisi tredelenburg terbalik agar didapatkan posisi yang nyaman untuk melihat laring melalui mikroskop.
Laringoskop dimasukkan seperti yang sebelumnya disebutkan.
Saat laring sudah tervisualisasi dengan adekuat, ujung dari laringoskop operator didekatkan ke midline sehingga jaringan yang patologi terlihat.
Laringoskop dimasukkan, epiglotis diungkit, lalu laringoskop dimasukkan untuk mengevaluasi seluruh struktur anterior laring
Alat suspension apparatus disambungkan ke laringoskop lalu disambungkan ke Mayo stand atau direkatkan ke meja operasi. Laringoskop yang tergantung dari meja yang menempel dari tempat tidur membuat pergerakan dari meja tanpa mengganggu posisi laringoskop.
Mikroskop didekatkan ke lapangan operasi dan laring divisualisasi dengan lensa pembesaran 400 mm. Instrumen laring dapat digunakan dengan alat mikro sesuai indikasi (forsep yang sesuai dengan peruntukannya).
Bila menggunakan laser CO2 maka wajah harus ditutup dengan handuk yang lembab dan mata ditutup dengan penutup mata yang lembab. Tidak satupun bagian dari wajah yang boleh terekspos. Petugas kamar operasi harus menggunakan pelindung mata.
Bila diperlukan pemeriksaan pada komisura posterior dan area ini tertutup oleh ETT, maka ETT dipindahkan dan ventilasi dilanjutkan dengan menggunakan alat Venturi Jet. Venturi diletakkan pada saluran cahaya laringoskop dan diposisikan diatas inlet laryngeal. Saat posisi sudah adekuat, pergerakan dinding dada dapat dilihat dengan baik tanpa obstruksi pada laring.
Instrumen kanul penghisap diletakkan di saluran cahaya dapat membantu menghisap asap yang dihasilkan dari prosedur laser. Hal ini memungkinkan karena pencahayaan untuk prosedur ini dihasilkan dari mikroskop.
Di akhir dari prosedur, pasien dapat di intubasi ulang untuk pemulihan anestesi, hal ini dapat dilakukan dengan dua metode:
Laringoskop diangkat dan pasien diintubasi seperti biasa
Pasien di intubasi ulang dengan laringoskop masih pada posisi
Gambar 1. Pengaturan ruangan operasi pada prosedur bedah laser
Gambar 2. Posisi operator dan pasien
Gambar 3. Instrumen mikrolaring
Komplikasi
Laringospasme
Edema glotik
Trauma gigi
Bedah Laser Endoskopi Transoral untuk Karsinoma Laring
Untuk kanker laring tahap awal, pilihan pengobatan termasuk radiasi, transoral endoscopic laser microsurgery (TLM), atau laringektomi parsial terbuka. Dua laser yang paling umum digunakan adalah KTP (kalium titanyl phosphate) laser dan CO 2 laser. CO
2 laser memiliki panjang gelombang I0,6 µm dan berada di wilayah infra merah (tak terlihat) dari spektrum cahaya. Oleh karena itu, laser koaksial He-Ne built-in yang dibutuhkan. CO2 laser memiliki beberapa keunggulan, antara lain hamburan minimal, pantulan minimal, dan daya serap air yang kuat. Area nekrosis sekitarnya kurang dari 0,5 µm dengan kedalaman penyerapan 0,2 mm.
Prinsip pembedahan laser adalah untuk pengangkatan tumor yang lengkap, tetapi tidak seperti pembedahan terbuka, akses ke tumor tidak memerlukan gangguan pada kerangka laring atau mengorbankan pedikel neurovaskular normal. Reseksi dilakukan setelah tumor menyebar, dan oleh karena itu reseksi disesuaikan dengan kebutuhan setiap pasien. Karena bidang operasi yang kecil, seringkali diperlukan transeksi tumor untuk menilai kedalaman invasi dan untuk membuat visualisasi yang diperlukan untuk reseksi tumor sekuensial.
Kontra indikasi
Metastasis jauh
Usia yang sangat lanjut atau keadaan umum yang buruk
Persiapan pre operasi
Konsultasi terapi bicara
Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan penunjang lainnya yang diperlukan
Antibiotik pre dan selama operasi
Komplikasi
Fistula dan infeksi luka operasi
Tracheostomal recurrence
Hipotiroidism dan hipoparatiroidism
Ulkus peptikum
Stenosis faringoesofagus
Trakeitis
Perdarahan sekunder (jarang)
Jika fistula terjadi setelah hari ke 10-14 pasca operasi, curiga awal rekurensi
Subkutaneus hematom
Sulit menelan
Krusta dan plug pada stoma
Pseudoepitelioma hiperplasia
Perawatan Pascaoperasi
Pasien diposisikan 30-450
Drain diangkat setelah 2 hari, apabila masih aktif adanya cairan jaringan (>25 cc/hari) maka ditunda sampai + 5 hari.
Selama perawatan pasien dianjurkan tidak menelan ludah
Makan-minum melalui nasogastric tube (NGT) selama 7-10 hari
Dilakukan tes minum sebelum NGT dicabut, untuk menentukan ada tidaknya fistula trakeoesofagus atau fistula esofagokutan
Jahitan diangkat hari kelima bartahap hingga hari ketujuh.
Selama perawatan diobservasi ada tidaknya komplikasi
Terapi bicara dimulai setelah pasien dapat menelan
Rehabilitasi Suara setelah Laringektomi Total
Pemulihan suara setelah laringektomi total dapat dilakukan dengan (1) bicara esofagus, (2) elektrolaring, dan (3) TEP (Tracheoesophageal Puncture) dan prostesis suara. Bicara esofagus membutuhkan pelatihan intensif dan bahkan pada pasien ini, kualitas bicara kurang optimal dan panjang kata yang dihasilkan untuk setiap muatan udara yang dihasilkan terbatas. Penggunaan elektrolaring tidak membutuhkan menelan dan regurgitasi udara; suara dihasilkan dengan resonansi mekanis dari kolom udara faring. Tusukan trakeoesofageal, dan prostesis suara, memberikan kemampuan bicara yang didukung oleh paru-paru dengan mengarahkan udara dari paru-paru ke faring melalui katup prostetik, dan dengan demikian suara tersebut memiliki kualitas yang lebih kuat, berkelanjutan, dan lebih dapat dipahami. Perangkat prostetik yang tersedia saat ini termasuk prostesis Blom-Singer dan Provox, yang merupakan peningkatan signifikan atas katup duckbill karena dapat dipertahankan hingga 6 bulan tanpa perubahan. TEP dapat dilakukan terutama pada saat laringektomi total dan lebih disukai jika kualitas jaringan lokal dan penutupan faring memuaskan.
Stenosis Stoma setelah Laringektomi Total
Insidensi stenosis stoma setelah laringektomi berkisar antara 4 sampai 34%. Berbagai faktor yang berkontribusi terjadinya stenosis stoma diantaranya infeksi, fistula pasca operasi, tautan mukokutan yang tidak tepat, jaringan parut yang berlebihan, dan lemak yang berlebihan di sekitar stoma, cincin trakea yang rusak, dan tumor berulang. Berbagai teknik pembedahan telah dijelaskan untuk pelebaran stomal. Teknik paling sederhana adalah memotong jaringan parut di sekelilingnya dan menjahit tepi yang baru menjadi satu. Teknik lain termasuk advancement flap, Y-V advancement, Z plasty dan flap interposisi. Yang paling banyak digunakan adalah Y-V advancement technique dan two circular incisions technique.
Y-V advancement
Sayatan Y dibuat pada posisi jam 3 dan jam 9 dari stoma. Flap berikutnya dimasukkan ke dalam stoma. Penutupan dilakukan Y ke V, dalam satu atau dua lapisan.
Two circular incisions
Dua sayatan dibuat melingkar dibuat di sekitar trakea. Bagian luar dibuat sayatan kulit di luar jaringan parut dan bagian dalam sampai mukosa trakea yang sehat. Jaringan di antara kedua sayatan diangkat dan dibuang, karena terdiri dari jaringan parut. Empat sayatan radial sepanjang 5 cm dibuat pada posisi jam 10, 2, 4 dan 8. Kulit dibuka sejauh mungkin dengan membuat empat lipatan. Flap ini dijahit ke mukosa trakea dalam dua lapisan, satu dengan 3-0 vicryl dan yang lainnya dengan 4- 0 ethilon atau prolene.
DAFTAR ISI
MODUL VII.16
ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER: KARSINOMA LEHER
WAKTU
Mengembangkan Kompetensi | Alokasi Waktu |
Sesi di dalam kelas Sesi dengan fasilitasi Pembimbing Sesi praktik dan pencapaian kompetensi | 2 x 90 menit (classroom session) 1 x 60 menit (coaching session) 10 jam (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi presentasi:
Power point
Video
Kasus: Metastasis karsinoma leher
Sarana dan alat bantu latih: (disesuaikan dengan pencapaian kompetensi):
Penuntun belajar (learning guide): terlampir
Tempat belajar (training setting): instalasi rawat inap, instalasi rawat jalan, kamar operasi, ruang praktikum, ruang kuliah
Model/manekin atau kadaver
Komputer/laptop
Infocus
REFERENSI
Medina JE, Vasan NR. Neck Dissection. In: Jhonson JT, Rosen CA, eds. Bailey's head and neck surgeryotolaryngology. 5th ed, vol 1. Philadelphia: Lippicott Wiliams & Wilkins; 2014. p. 1807-38
Shah J. Larynx and Trachea. In: Shah J, ed. Head and neck surgery and oncology. 5th ed. Philadelphia: Elsevier Co; 2020. p. 365-440
Medina JE. Cancer of the neck. In: Myers JN, Hanna EYN, Myers EN. Editors. Cancerof the Head and Neck 5th (ed). Philadelphia: Wolters Kluwer, Lippincott Williams & Wilkins. 2017. p. 757-811
Cancer AJCC. AJCC cancer staging manual, 8th ed. Chicago: Springer; 2017.
Pfister DG, Spenser S, Adelstein D, Adkins D, Brizel DM, Burtness BA. NCCN Clinical Practise Guidelines in Oncology. Head and Neck Cancer: National Comprehensive Cancer Network; 2020. 225 p.
KOMPETENSI
Pengetahuan
Mampu menegakkan diagnosis metastasis karsinoma leher berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
Keterampilan
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam:
Menjelaskan anatomi dan topografi regio leher
Menjelaskan patogenesis metastasis karsinoma leher
Menjelaskan gejala dan tanda metastasis karsinoma leher
Melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik pada metastasis karsinoma leher
Melakukan keputusan untuk pemeriksan penunjang seperti biopsi aspirasi jarum halus (BAJH), USG leher, CT Scan kepala leher
Menegakkan diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhubungan dengan karsinoma leher
Menentukan neoplasma ganas primer
Menentukan pilihan terapi yang tepat pada kasus metastasis karsinoma leher
Mempersiapkan penderita pra operatif (memberi penjelasan kepada penderita dan keluarga, informed consent), dan perawatan pascaoperasi serta mampu mengatasi komplikasi yang terjadi.
GAMBARAN UMUM
Karsinoma leher sekitar 90% merupakan metastasis kelenjar getah bening (KGB) leher dari keganasan di kepala leher.
Penegakan diagnosis karsinoma leher berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis
T.H.T.K.L lengkap dan pemeriksaan penunjang seperti USG, CT Scan kepala leher, dan pemeriksaan histopatologi. Diagnosis dari karsinoma leher dilakukan berdasarkan hasil sitologi yang diambil dari tindakan Biopsi Aspirasi Jarum Halus (BAJH) pada neoplasma tersebut. Bila hasil sitologi menunjukkan metastasis keganasan, maka lokasi primer keganasan di kepala leher harus ditemukan.
Penatalaksanaan karsinoma leher tergantung dari diagnosis yang ditegakkan. Pada metastasis karsinoma leher, penatalaksanaannya tergantung dari tumor primernya.
CONTOH KASUS DAN DISKUSI
Seorang laki-laki berusia 45 tahun datang ke poli T.H.T.K.L, dengan keluhan benjolan di leher kanan sejak 3 bulan yang lalu. Awalnya kecil makin lama makin besar. Benjolan terletak di dekat rahang bawah kanan, berukuran 2x3x1 cm, tidak nyeri, dan mobile.
Riwayat penyakit sebelumnya pasien menderita tumor pada lidah sebelah kanan berukuran tumor lidah 2x1x0,5 cm dan sudah dilakukan operasi 6 bulan sebelumnya dan setelah dilakukan operasi diketahui hasil histopatologi tumor lidah tersebut skuamous sel karsinoma.
Diskusi:
Menegakkan diagnosis kondisi tersebut di atas
Penatalaksanaan kondisi tersebut di atas
Jawaban :
Algoritma
BAJH dengan/tanpa guiding USG
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan pembelajaran umum
Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan mampu untuk menegakkan diagnosis dan melakukan terapi terhadap metastasis karsinoma leher.
Tujuan pembelajaran khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan mampu untuk:
Menguasai anatomi, topografi regio leher. (tingkat kompetensi K3, A3)
Mampu menjelaskan patogenesis metastasis karsinoma leher. (tingkat kompetensi K3, A3)
Menjelaskan gejala dan tanda metastasis karsinoma leher. (tingkat kompetensi K3, A3)
Melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik pada metastasis karsinoma leher. (tingkat kompetensi K3, A3, P5)
Membuat keputusan untuk pemeriksan penunjang pada metastasis karsinoma leher.
(tingkat kompetensi K3, A3, P5)
Menegakkan diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhubungan dengan metastasis karsinoma leher.
(tingkat kompetensi K3, A3, P2)
Membuat keputusan klinik untuk diseksi leher. (tingkat kompetensi K3, A3, P2)
Melakukan tindakan operasi diseksi leher. (tingkat kompetensi K3, A3, P2)
Mempersiapkan penderita pra dan perawatan pasca operatif serta mampu mengatasi komplikasi.
(tingkat kompetensi K3, A3, P3)
METODE PEMBELAJARAN
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan mempunyai kemampuan dasar untuk menegakkan diagnosis metastasis karsinoma leher dan mampu untuk menentukan terapi yang sesuai
Tujuan 1.Menjelaskan anatomi dan topografi regio leher
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture.
Small group discussion.
Peer assisted learning (PAL)
Bedside teaching.
Task based medical education.
Tujuan 2. Mampu menjelaskan patogenesis metastasis karsinoma leher
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture.
Small group discussion.
Journal reading and review.
Peer assisted learning (PAL)
Bedside teaching.
Task based medical education.
Tujuan 3. Menjelaskan gejala dan tanda metastasis karsinoma leher
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review
Case simulation and investigation exercise
Equipment characteristics and operating instructions
Tujuan 4. Mampu melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik pada metastasis karsinoma leher
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review
Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device)
Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients
Harus diketahui:
Metode standar anamnesis
Gejala dan tanda pasti metastasis karsinoma leher
Tujuan 5. Membuat keputusan untuk pemeriksaan penunjang
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review.
Morbidity and Mortality Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).
Operative Procedure Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients.
Continuing Professional Development
Harus diketahui:
Indikasi pemilihan pemeriksaan tambahan
Pemeriksaan penunjang yang sensitif dan spesifik
Tujuan 6. Menegakkan diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhubungan dengan metastasis karsinoma leher
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review
Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device)
Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients
Harus diketahui
Analisis data untuk menegakkan diagnosis
Memilah diagnosis banding dan menentukan diagnosis kerja
Tujuan 7. Mampu menjelaskan penatalaksanaan metastasis karsinoma leher (diseksi leher)
Untuk mencapai tujuan tersebut maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Small group discussion
Video
Interactive lecture
Harus diketahui:
Rencana pengobatan atau tata laksana pasien
Jenis pembedahan
Tujuan 8. Melakukan tindakan pembedahan metastasis karsinoma leher (diseksi leher)
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review
Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device)
Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients
Harus diketahui:
Teknik operasi
Langkah-langkah pembedahan
Komplikasi operasi
Tujuan 9. Melakukan persiapan penderita pra pembedahan dan perawatan pasca pembedahan metastasis karsinoma leher
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review
Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device)
Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients
Harus diketahui:
Persiapan preoperatif
Komplikasi pascaoperasi
Rangkuman:
Metastasis karsinoma leher seringkali ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Penatalaksanaan metastasis karsinoma leher diawali dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan tambahan. Tatalaksana baik operatif maupun non operatif ditentukan dari hasil BAJH leher. Metastasis karsinoma leher dilakukan penatalaksanaan sesuai dengan diagnosis yang ditegakkan. Diseksi leher dilakukan pada metastasis karsinoma leher, dengan jenis diseksi leher sesuai indikasi. Harus ditentukan terlebih dahulu neoplasma ganas primernya.
EVALUASI
Pada tahap awal pertemuan diberikan pengantar kuliah tentang metastasis karsinoma leher dengan ilustrasi gambar. Karena bahan dan ilustrasi gambar yang ada hanya sedikit maka peserta didik diharapkan mencari bahan dan gambar dari text book ataupun internet untuk menambah wacana.
Dilakukan diskusi dengan instruktur pembimbing untuk membahas materi pembelajaran yang ada dan teknik operasi.
Pendidik/fasilitas
diskusi
kriteria penilaian : cakap/tidak cakap, lalai
Diakhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila perlu diberi tugas untuk bisa lebih terampil
Pencapaian pembelajaran pendidikan
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Kuesioner Sebelum Pembelajaran (Pre Test)
Soal :
Diagnosis pasti benjolan di leher ditegakkan dengan:
BAJH pada benjolan tersebut
Biopsi pada benjolan tersebut
CT scan leher
USG leher
MRI leher Jawab: A
Pemeriksaan tambahan yang dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis tumor leher adalah:
BAJH coli
CT Scan kepala leher
Biopsi eksisi
Core Biopsi
Biopsi insisi Jawab: B
Munculnya tumor pada area submandibula beberapa waktu setelah dilakukan operasi pada tumor ganas lidah seperti pada kasus di atas disebut :
Sinchronous primary tumor
Tumor primer rekuren
Metachronous tumor
Metastasis regional
Occult metastasis Jawab: D
Seorang penderita datang dengan keluhan benjolan pada leher kiri dan kanan sejak 4 bulan yang lalu. Benjolan awalnya di sebelah kiri, makin lama makin besar dan diikuti munculnya benjolan di leher sebelah kanan.Penatalaksanaan selanjutnya untuk mengetahui jenis tumornya adalah:
Pemeriksaan BAJH tumor leher
Pemeriksaan CT Scan kepala dan leher
Pemeriksaan MRI
Biopsi eksisional
Biopsi ekstirpasi Jawab: A
Berikut pernyataan yang BENAR pada penderita dengan benjolan di leher di level III dengan hasil BAJH keganasan adalah:
Kemungkinan besar merupakan metastasis keganasan dari lidah
Kemungkinan besar merupakan metastasis keganasan dari tiroid
Untuk diagnosis pasti CT Scan pada tiroid
Untuk diagnosis pasti dilakukan biopsi pada tiroid
Penatalaksanaan pada kasus ini adalah radioterapi Jawab: B
Kuesioner Tengah Pembelajaran
Soal :
Seorang laki-laki berusia 45 tahun datang ke poli T.H.T.K.L, dengan keluhan benjolan di leher kanan sejak 3 bulan yang lalu. Awalnya kecil makin lama makin besar. Benjolan terletak di dekat rahang bawah kanan, berukuran 2x3x1 cm, tidak nyeri, dan mobile. Riwayat penyakit sebelumnya pasien menderita tumor pada lidah sebelah kanan berukuran tumor lidah 2x1x0,5 cm dan sudah dilakukan operasi 6 bulan sebelumnya dan setelah dilakukan operasi diketahui hasil histopatologi tumor lidah tersebut skuamous sel karsinoma.
Terapi yang disarankan pada penderita tersebut adalah:
Diseksi leher radikal
Biopsi eksisi
Ekstirpasi tumor
Diseksi leher supraomohioid
Diseksi leher modifikasi Jawab: E
MATERI PRESENTASI
Pendahuluan
Anatomi dan topografi regio leher
Jenis neoplasma
Patogenesis karsinoma leher
Pemeriksaan dan diagnosis karsinoma leher
Penatalaksanaan karsinoma leher
MATERI BAKU
KARSINOMA LEHER
Karsinoma leher adalah pertumbuhan jaringan baru pada leher yang bersifat ganas. Karsinoma leher, sekitar 90% merupakan metastasis kelenjar getah bening leher dari keganasan di kepala leher.
Penegakan diagnosis karsinoma leher berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis
T.H.T.K.L lengkap, dan pemeriksaan penunjang seperti USG, CT Scan atau MRI kepala leher serta pemeriksaan histopatologi. Diagnosis karsinoma leher dilakukan berdasarkan hasil sitologi yang diambil dari tindakan Biopsi Aspirasi Jarum Halus (BAJH) pada neoplasma tersebut.
Bila hasil sitologi menunjukkan metastasis keganasan, maka lokasi primer keganasan di kepala leher harus ditemukan. Pemeriksaan klinis T.H.T.K.L lengkap harus dilakukan untuk mencari lokasi tumor primer. Level pada KGB leher dapat dipakai untuk menentukan asal tumor primer. Biopsi dilakukan pada tumor primer. Penatalaksanaan selanjutnya sesuai dengan tatalaksana tumor primer.
Bila hasil sitologi menunjukkan adanya suatu keganasan tetapi tumor primer tidak dapat ditentukan, maka tatalaksana selanjutnya sesuai dengan unknown primary tumor.
Anatomi
Jaringan limfatik area kepala dan leher terletak dalam dua lapisan yang dipisahkan oleh fasia servikalis (deep cervical fascia). Limfatik superfisial mengalir ke kelenjar getah bening suboksipital, preaurikuler dan postaurikuler, fasial prevaskuler, dan kelenjar getah bening jugularis eksterna. Kelenjar getah bening ini pada akhirnya mengalir ke kelenjar getah bening jugularis dalam. Kelompok kelenjar getah bening utama di daerah kepala dan leher dibagi menjadi tujuh level.
Level I
Kelompok submental atau level I (IA) meliputi kelenjar getah bening antara perut anterior otot digastrik dari batas bawah simfisis cephal mandibula ke cauda tulang hyoid. Kelompok submandibular atau level I (IB) meliputi kelenjar getah bening di daerah segitiga yang dibatasi oleh perut anterior dan posterior otot digastrik dan batas inferior tubuh mandibula. Kelenjar getah bening yang berdekatan dengan kelenjar ludah submandibular dan sepanjang arteri fasialis (fasial prevaskuler) termasuk dalam kelompok ini.
Level II
Level II adalah kelompok jugularis atas, yang meliputi kelenjar getah bening di sekitar sepertiga atas vena jugularis interna dan bagian atas dari saraf aksesori tulang belakang, membentang dari dasar tengkorak hingga bifurkasi arteri karotis atau ke tingkat dari tulang hyoid. Batas posterior untuk level ini adalah batas posterior otot sternokleidomastoid, dan batas anterior adalah batas lateral otot sternohyoid. Kelenjar getah bening di anterior saraf aksesori spinal disebut level IIA, dan yang di posteriornya disebut level IIB.
Level III
Level III adalah kelompok midjugularis, yang meliputi kelenjar getah bening di sekitar sepertiga tengah vena jugularis interna dari tulang hyoid sampai ke batas inferior kartilago krikoid. Batas anterior dan posterior sama dengan batas tingkat II.
Level IV
Level IV adalah kelompok jugularis bawah, yang meliputi kelenjar getah bening di sekitar sepertiga bagian bawah vena jugularis interna dari batas inferior kartilago krikoid hingga ke klavikula. Batas anterior dan posterior sama dengan batas level II dan III.
Level V
Level V adalah kelompok segitiga posterior, yang meliputi kelenjar getah bening di sekitar bagian bawah saraf aksesori tulang belakang dan di sepanjang pembuluh servikalis transversal. Itu dibatasi oleh segitiga yang dibentuk oleh klavikula, batas posterior otot sternokleidomastoid, dan batas anterior otot trapezius. level V dibagi menjadi dua tingkat oleh bidang pada tingkat batas inferior tulang rawan krikoid. Level VA lebih tinggi dari bidang ini, dan level VB lebih rendah darinya. Secara umum, level VA meliputi kelenjar getah bening rantai aksesori dan level VB termasuk rantai serviks transversal dan kelenjar getah bening supraklavikula.
Level VI
Level VI adalah kelompok kompartemen sentral, yang meliputi kelenjar getah bening di prelaryngeal, (Delphian), pretracheal, paratracheal, dan tracheoesophageal groove. Batas-batasnya adalah cephal tulang hyoid ke caudad takik suprasternal dan di antara batas medial selubung karotis.
Level VII
Level VII adalah kelompok mediastinal anterosuperior, yang meliputi kelenjar getah bening di mediastinum anterosuperior dan alur trakeofagus, memanjang dari suprasternal notch ke arteri innominata.
Gambar 1. Sistem Memorial Sloan Kettering Cancer Center untuk menetapkan level kelenjar getah bening servikalis.
A, Sisi lateral leher. B, Kompartemen sentral dan mediastinum superior
Gambar 2. Modifikasi penetapan level kelenjar getah bening oleh American Academy of Otolaryngology- Head and Neck Surgery
Patofosiologi
Risiko metastasis KGB tergantung pada berbagai faktor yang berhubungan dengan tumor primer. Ini termasuk situs, ukuran (besar atau kecil), T staging, lokasi utama tumor (dalam suatu organ seperti pita suara dibandingkan dengan supraglottis), dan histomorfologi primer tumor. Risiko metastasis meningkat sebagai salah satu kemajuan dari bagian anterior ke posterior dari traktus aero-digestif atas; dari bibir (10%) berkembang sepanjang lidah (25%), gusi (30%), dasar rongga mulut (40%), orofaring (55%) menuju hipofaring (65%). Tumor endofitik, tumor dengan diferensiasi buruk, tumor dengan ukuran lebih tebal (lidah dan dasar rongga mulut) lebih mungkin untuk memiliki metastasis.
Diagnosis
Tumor leher dapat dilakukan pemeriksaan fisik dengan palpasi daerah leher, pemeriksaan penunjang yang mendukung dapat dilakukan Computed Tomography (CT Scan), Magnetic Resonance Imaging (MRI), Positron Emission Tomography (PET), USG tumor leher dilakukan bersamaan dan sekaligus sebagai penuntun BAJH.
Klasifikasi
Klasifikasi yang luas antara diseksi leher komprehensif dan selektif telah digunakan selama dua dekade terakhir.
Diseksi Leher Komprehensif
Istilah "diseksi leher komprehensif" diterapkan pada semua prosedur pembedahan di bagian lateral leher yang secara komprehensif mengangkat kelenjar getah bening serviks dari level I hingga V. Prosedur operasi yang termasuk dalam kategori ini:
Diseksi leher radikal klasik
Diseksi leher radikal yang diperpanjang (yaitu, reseksi kelenjar getah bening regional tambahan atau pengorbanan struktur lain seperti saraf kranial, otot, atau kulit)
Modifikasi diseksi leher tipe I (MND-I), yang secara selektif mempertahankan satu struktur, saraf aksesori tulang belakang
Modifikasi diseksi leher tipe II (MND-II), yang mempertahankan dua struktur anatomis, saraf aksesori tulang belakang dan otot sternokleidomastoid, tetapi mengorbankan vena jugularis interna
Modifikasi diseksi leher tipe III (MND-III), yang mempertahankan tiga struktur anatomis, saraf aksesori tulang belakang, vena jugularis interna, dan otot sternocleidomastoid
Diseksi Leher Selektif
Operasi diseksi leher selektif mengangkat hanya kelompok tertentu dari kelenjar getah bening yang berisiko mikrometastasis di leher N0 klinis. Operasi ini meliputi:
Diseksi leher supraomohyoid, yang mencakup diseksi
kelenjar getah bening di tingkat I, II, dan III untuk tumor primer rongga mulut (diseksi leher supraomohyoid diperpanjang meliputi tingkat I, II, III, dan IV direkomendasikan untuk kanker primer dari batas lateral lidah oral)
Diseksi nodus jugularis, yang meliputi diseksi kelenjar getah bening pada level II, III, dan IV untuk tumor primer hipofaring dan laring
Diseksi leher anterolateral, yang meliputi diseksi kelenjar getah bening pada tingkat I, II, III, dan IV untuk tumor primer rongga mulut dan orofaring; operasi ini digunakan sebagai operasi elektif seperti yang disebutkan sebelumnya tetapi juga mungkin untuk node metastasis volume rendah hanya pada level I dan II, sebagai operasi terapeutik
Diseksi leher posterolateral, yang meliputi kelenjar getah bening di segitiga suboksipital, segitiga posterior leher, tingkat V, dan rantai jugularis dalam dari kelenjar getah bening di tingkat II, III, dan IV untuk melanoma dan karsinoma skuamosa dari kulit kepala posterior
Diseksi leher kompartemen sentral, yang meliputi
pembersihan kelenjar getah bening di tingkat VI di kompartemen pusat leher yang berdekatan dengan kelenjar tiroid dan di alur trakeoesofagus untuk kanker tiroid
American Head and Neck Society merekomendasikan bahwa setelah operasi diseksi leher, ahli bedah harus secara akurat mencatat tingkat kelenjar getah bening yang diangkat serta struktur non-limfatik lainnya yang direseksi pada setiap kasus. Jenis pencatatan sinoptik ini menyampaikan apa yang sebenarnya telah dihapus selama prosedur dan apa yang disimpan. Skema umum pencatatan sinoptik adalah sebagai berikut:
Simbol "ND" harus digunakan untuk mewakili istilah diseksi leher dan diterapkan sebagai komponen pertama dari deskripsi. Awalan harus dimasukkan untuk menunjukkan sisi leher yang telah dilakukan pembedahan dengan menggunakan singkatan L untuk kiri, dan R untuk kanan. Jika bilateral, kedua belah pihak harus diklasifikasikan secara independen.
Komponen kedua dari deskripsi harus berupa tingkat leher dan /atau sub-tingkat yang dihilangkan, masing-masing ditentukan oleh angka Romawi I hingga VII, dalam urutan menaik.
Komponen ketiga dari deskripsi harus berupa struktur non-limfatik yang dihilangkan, masing-masing diidentifikasi melalui penggunaan akronim (simbol) tertentu, yang semuanya telah diterima secara universal. Penunjukan sinoptik dari berbagai operasi dan nama saat ini yang digunakan ditunjukkan pada Tabel 1
Tabel 1. Pencatatan Sinoptik dari Berbagai Jenis Diseksi Leher
Nomenklatur Usulan | Nomenklatur AAO-HNS / AHNS |
ND (I-V, SCM, IJV, CNXI) | Diseksi leher radikal |
ND (II-IV) | Diseksi leher selektif (II - IV) |
ND (I-III) | Diseksi leher selektif (I - III) |
ND (I-V, SCM, IJV) | Diseksi leher radikal yang dimodifikasi dengan pelestarian SAN |
ND (I-V, SCM, IJV, CNXI and XII) | Diseksi leher diperpanjang dengan pengangkatan saraf hipoglosus |
ND (II, III) | Diseksi leher selektif (II, III) |
ND (II-IV, SCM) | NA |
ND (I-III, SCM, IJV, CNXI) | NA |
ND (II-IV, VI) | NA |
ND (VI) | Diseksi leher radikal yang dimodifikasi dengan pemeliharaan Diseksi leher kompartemen sentral atau diseksi leher selektif (VI) |
ND (VI, VII) | Diseksi leher selektif (VI, VII) |
Indikasi operasi
Nodul KGB leher
Sebagai salvage surgery untuk mengangkat residu keganasan di leher setelah radiasi atau kemoradiasi
Kontra indikasi
- Unresektabilitas tumor Leher (Sindrom Horner, paralisis nervus vagus dan atau nervus phrenicus, invasi pleksus brakialis atau muskulus prevertebralis)
Pemeriksaan penunjang
Laboratorium darah: FH, Hb, WBC, SGOT, SGPT, BUN, SK, GDA, HbsAg
CT-Scan Kepala Leher
Komplikasi
Trauma duktus toracikus
Emboli udara vena subklavia
Pneumotoraks
Ventrikular fibrilation
Edema wajah
DAFTAR ISI
MODUL VII.17
ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER: NEOPLASMA JINAK LEHER
WAKTU
Mengembangkan Kompetensi | Alokasi Waktu |
Sesi di dalam kelas Sesi dengan fasilitasi Pembimbing Sesi praktik dan pencapaian kompetensi | 2 x 50 menit (classroom session) 2 x 50 menit (coaching session) 24 jam (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi presentasi:
Power point
Video
https://www.youtube.com/watch?v=MYD3B-CT7C0&t=7s
Kasus: Kista duktus tiroglosus
Sarana dan alat bantu latih: (disesuaikan dengan pencapaian kompetensi):
Penuntun belajar (learning guide): terlampir
Tempat belajar (training setting): instalasi rawat inap, instalasi rawat jalan, kamar operasi, ruang praktikum, ruang kuliah
Model/manekin atau kadaver
Komputer/laptop
Infocus
REFERENSI
Yellon R.F . Congenital cyst and sinuses of the head and neck. 2014. in Bailey B.J, Johnson J.T, , In : Head and Neck Surgery - Otolaryngology, 5th. edition, Volume two, Lippincott Williams & Wilkins, 2014, p : 1607-15
Propst E.J., Cotton R.T.Pediatric otolaryngology: head and neck surgery. In: K.J. Lee., ed. Essential otolaryngology head and neck surgery. 11th ed. New York: McGraw-Hill Education; 2016. p. 900-11
Cohen JI. Thyroglossal Duct Cyst Excision (Sistrunk Procedure) in: Cohen JI , Clayman GL. Atlas of Head and Neck Surgery. Philadelpia: Elsevier Saunders; 2011. p. 121-27
Ricard Simo, Jean-Pierre Jeannon and Enyinnaya Ofo. Benign Neck Disease. In: Watkinson, John C., Clarke, Ray (Raymond), editors.Title: Scott-Brown's otorhinolaryngology and head and neck surgery. Boca Raton; CRC Press: 2019.p. 607-22
KOMPETENSI
Pengetahuan
Mampu membuat diagnosis kelainan kista duktus tiroglossus berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang serta dapat menangani kasus kelainan kongenital kepala dan leher tersebut secara mandiri dan tuntas
Keterampilan
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam :
Menjelaskan anatomi dan topografi regio leher
Menjelaskan patogenesis kelainan kista duktus tiroglossus
Menjelaskan gejala dan tanda kelainan kista duktus tiroglossus
Melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik pada kelainan kista duktus tiroglossus
Membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhubungan dengan kelainan kista duktus tiroglossus
Menentukan pilihan terapi yang tepat pada kasus kelainan kista duktus tiroglossus
Melakukan tindakan pembedahan pada penderita kelainan kista duktus tiroglossus
Merawat penderita pra operatif (memberi penjelasan kepada penderita dan keluarga, informed consent), dan pasca operasi serta mampu mengatasi komplikasi yang terjadi
GAMBARAN UMUM
Massa atau benjolan di leher sering terjadi. Pada populasi dewasa, sekitar 75% dari massa leher non-tiroid adalah neoplastik, dan dari jumlah tersebut 80% metrupakan metastatik. Sekitar 75% dari metastasis leher ini disebabkan oleh tumor primer yang terletak di atas klavikula. Pada anak di bawah 15 tahun, 90% massa leher adalah jinak dan dari jumlah ini hingga 55% kenainan bawaan.
Neoplasma jinak leher dapat diklasifikasikan sebagai kongenital atau didapat. Kelompok yang terakhir sering sering merupakan pemembesaran kelenjar getah bening, tetapi terdapat berbagai patologi yang berbeda. Biopsi aspirasi jarum halus (BAJH/FNAB) dengan atau tanpa panduan ultrasound (USG) sekarang merupakan pemeriksaan standar.
Evaluasi dan manajemen pasien dengan benjolan leher harus mencakup pendekatan klinis yang sistematis. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan traktus aerodigestif bagian atas dan kepala dan leher, diikuti oleh pemeriksaan yang relevan, yang mungkin termasuk pemeriksaan darah dan radiologi.
Neoplasma di leher dapat dibedakan menjadi kongenital dan didapat.
MASSA LEHER KONGENITAL
Kista Duktus Tiroglosus
Kista duktus tiroglosus adalah lesi garis tengah leher atas yang paling sering, hampir sepertiga dari semua massa leher kongenital. Kista dapat muncul sebagai massa atau benjolan, pada leher antara foramen caecum dan mediastinum atas, sebagian besar sekitar tulang hyoid.
Secara histologis kista ini memiliki epitel kolumnar seperti di daerah dasar lidah hingga mediastinum. Terletak pada bagian tengah/sentral dari leher, biasa dijumpai pada
anak-anak namun juga dapat baru dijumpai saat dewasa setelah kista membesar dan penderita merasa terganggu.
Keberhasilan penatalaksanaan kista duktus tiroglosus harus didasari pemahaman embriologi dan perkembangan anatomi kelenjar tiroid. Kista yang sangat besar dapat menyulitkan saat menelan atau terjadi sumbatan jalan nafas.
Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus adalah pembedahan yang dikenal sebagai prosedur Sistrunk, yaitu mengangkat kista dan reseksi duktus termasuk struktur di atasnya (meliputi tulang hioid). Kekambuhan setelah operasi mencapai 3-5% dan akan meningkat bila pembedahan tidak maksimal atau jika terinfeksi ulang.
Limfangioma
Limfangioma adalah lesi degeneratif yang timbul dari limfatik, dan dapat diklasifikasi menjadi: limfangioma simpleks/ sederhana, limfangioma kavernosa, dan higroma kistik.
Kista Dermoid
Kista dermoid dibagi menjadi kista epidermoid, dermoid sejati dan teratoid, tergantung pada jenis jaringan yang diidentifikasi secara patologis di dalamnya. Dua puluh persen dari semua kista dermoid ditemukan di leher dan 30% di antaranya di wajah. Kista ini merupakan 28% dari semua kista di garis tengah.
Kista Brankhial
Kata brankhial berasal dari bahasa Yunani 'bragchia' yang berarti insang. Kista branchial muncul sebagai kegagalan perkembangan aparatus branchial. Anomali branchial mencapai hingga 19% dari semua massa leher pada anak. ering bermanifestasi pada dewasa muda dengan insiden puncak pada dekade ketiga. Kista biasanya dilapisi oleh epitel skuamosa berlapis kecuali pada 10% kasus yang mungkin memiliki epitel pernapasan sebagai gantinya; 80% memiliki jaringan limfoid di dinding luar dan berisi cairan mengandung kristal kolesterol.
Fistula dan Sinus Brankhial
Fistula branchial adalah kelainan bawaan yang terdiri dari saluran dilapisi epitel kulit, di internal membuka sebagai celah pada bagian anterior fossa tonsil jika berasal dari lengkungan kedua. Di eksternal berada di batas anterior otot sternokleidomastoid, di berbatasan sepertiga tengah dan bawahnya m Sternokleidomastoid.
Sinus brankial atau pits brankial terbuka sepanjang garis antara tragus dan sendi sternoklavikularis pada batas anterior otot sternokleidomastoid tetapi tanpa lubang internal.
MASSA LEHER DIDAPAT
Kista sebasea
Kista sebasea adalah lesi akneksa kulit yang terjadi terutama di mana terdapat kelenjar sebaceous dan paling sering terjadi pada kulit berbulu, terutama di daerah jenggot dan kulit kepala.
Lipoma
Lipoma adalah lesi jinak pada lapisan adiposa. Sel-sel adiposa menjadi lobulus besar yang dibagi oleh septa fibrosa longgar. Lipoma yang besar kadang-kadang bisa menyebabkan nyeri. Meskipun sebagian besar lipoma bersifat sporadis, sebagian kecil dapat bersifat familial. Lipomatosis familial yang paling umum daerah kepala dan leher adalah lipomatosis Madelug. Di daerah leher, lipoma mungkin subfascial atau timbul di dalam otot. Tumor ini tumbuh sangat lambat dan memiliki risiko transformasi ganas yang sangat rendah.
CONTOH KASUS DAN DISKUSI
Seorang pasien laki-laki 25 tahun datang ke poliklinik T.H.T.K.L dengan keluhan benjolan di leher bagian depan yang semakin membesar sejak 1 bulan sebelum masuk Rumah Sakit. Awalnya Pasien mengeluhkan benjolan dirasakan sejak 2 tahun yang lalu. Benjolan tidak terasa nyeri dan pertambahan besar benjolan lambat. Pasien mengeluhkan nyeri dan benjolan membengkak dan memerah 1 bulan yang lalu kemudian pasien berobat ke Poli T.H.T.K.L dan diberi obat kemudian bengkak dan merah pada benjolan menghilang pasien kemudian dirujuk. Pada pemeriksaan fisik regio colli anterior dibawah tulang hyoid (infrahyoid), pada palpasi teraba massa kistik ukuran 40x30x15 mm, kenyal padat, berbatas tegas, permukaan rata, tidak ada nyeri tekan dan benjolan ini bergerak pada waktu pasien menelan dan bergerak naik ketika lidah dijulurkan. Tidak ditemukan pembesaran kelenjar getah bening.
Seorang anak laki-laki berusia 5 tahun dibawa orang tuanya berobat ke poliklinik
T.H.T.K.L dengan keluhan benjolan di leher kiri yang semakin membesar sejak 3 tahun yang lalu. Sebelumnya benjolan sudah ada sejak pasien lahir, awalnya kecil, namun semakin membesar sejak 3 tahun terakhir. Benjolan tidak terasa nyeri. Pada pemeriksaan regio colli sisi kiri teraba massa kistik berukuran 8,0 x 7,5 x 6,0 cm, kenyal, permukaan licin, berbatas tegas, fluktuatif, meluas sampai ke regio parotis sisi kiri, tidak nyeri tekan, tidak teraba hangat, benjolan tidak bergerak ketika pasien menelan. Warna sama dengan kulit sekitar.
Diskusi :
Menegakkan diagnosis Massa leher
Tatalaksana operatif pada massa leher
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan pembelajaran umum
Proses, materi dan metoda pembelajaran yang disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan,keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan
keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan menatalaksana kelainan kista duktus tiroglossus
Tujuan pembelajaran khusus
Menguasai anatomi dan topografi regio leher
Mampu menjelaskan patogenesis kelainan kista duktus tiroglossus
Mampu melakukan pemeriksaan dan menegakkan diagnosis kelainan kista duktus tiroglossus
Mampu melaksanakan tindakan operatif kelainan kista duktus tiroglossus
METODE PEMBELAJARAN
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan mempunyai kemampuan dasar untuk menegakkan diagnosis tumor jinak leher dan mampu untuk menentukan terapi yang sesuai
Tujuan 1.Menjelaskan anatomi dan topografi regio leher
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture.
Small group discussion.
Peer assisted learning (PAL)
Bedside teaching.
Task based medical education.
Peserta didik harus tahu : menjelaskan anatomi dan topografi regio leher
Tujuan 2. Mampu menjelaskan patogenesis kelainan kista duktus tiroglossus
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini
Interactive lecture.
Small group discussion.
Journal reading and review.
Peer assisted learning (PAL)
Bedside teaching.
Task based medical education.
Peserta didik harus tahu : menjelaskan tentang patogenesis neoplasma leher
Tujuan 3. Menjelaskan gejala dan tanda kelainan kista duktus tiroglossus
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review
Case simulation and investigation exercise
Equipment characteristics and operating instructions
Tujuan 4. Mampu melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik pada kelainan kista duktus tiroglossus
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review
Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device)
Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients
Peserta didik harus dapat :
Melakukan anamnesis dan pemeriksaan leher dengan baik dan benar
Mampu menjelaskan pemilihan pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan Harus diketahui :
Metoda standar anamnesis
Gejala dan tanda pasti neoplasma leher
Pemeriksaan penunjang yang sensitif dan spesifik
Memilah diagnosis banding dan menentukan diagnosis kerja
Rencana pengobatan atau tata laksana pasien
Tujuan 5. Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review.
Morbidity and Mortality Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).
Operative Procedure Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients.
Continuing Professional Development
Tujuan 6. Membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhubungan dengan kelainan kista duktus tiroglossus
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review
Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device)
Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients
Harus diketahui
Work-up Key Points
Indikasi pemilihan pemeriksaan tambahan
Analisis data untuk menegakkan diagnosis
Tujuan 7. Mampu menjelaskan penatalaksanaan operatif kelainan kista duktus tiroglossus Untuk mencapai tujuan tersebut maka dipilih metode pembelajaran berikut ini :
Small group discussion
Video
Interactive lecture
Peserta didik harus dapat menjelaskan :tindakan operatif tumor leher
Tujuan 8. Melakukan tindakan pembedahan ekstirpasi kelainan kista duktus tiroglossus Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review
Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device)
Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients
Harus diketahui
Jenis pembedahan
Langkah-langkah pembedahan
Tujuan 9. Melakukan perawatan penderita pra dan pasca pembedahan neoplasma leher
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review
Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device)
Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients
Harus diketahui
Sermont of relaxation
Informed consent
Komplikasi operasi
Rangkuman :
Massa atau benjolan di leher sering terjadi. Pada populasi dewasa, sekitar 75% dari massa leher non-tiroid adalah neoplastik, dan dari jumlah tersebut 80% metrupakan metastatik. Sekitar 75% dari metastasis leher ini disebabkan oleh tumor primer yang terletak di atas klavikula. Pada anak di bawah 15 tahun, 90% massa leher adalah jinak dan dari jumlah ini hingga 55% kenainan bawaan.
Neoplasma jinak leher dapat diklasifikasikan sebagai kongenital atau didapat. Kelompok yang terakhir sering sering merupakan pemembesaran kelenjar getah bening, tetapi terdapat berbagai patologi yang berbeda. Biopsi aspirasi jarum halus (BAJH/FNAB) dengan atau tanpa panduan ultrasound (USG) sekarang merupakan pemeriksaan standar.
Evaluasi dan manajemen pasien dengan benjolan leher harus mencakup pendekatan klinis yang sistematis. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan traktus aerodigestif bagian atas dan kepala dan leher, diikuti oleh pemeriksaan yang relevan, yang mungkin termasuk pemeriksaan darah dan radiologi.
Neoplasma di leher dapat dibedakan menjadi Kongenital dan Didapat.
EVALUASI
Pada tahap awal pertemuan diberikan pengantar kuliah tentang kelainan kista duktus tiroglossus dengan ilustrasi gambar. Karena bahan dan ilustrasi gambar yang ada hanya sedikit maka peserta didik diharapkan mencari bahan dan gambar dari text book ataupun internet untuk menambah wacana.
Dilakukan diskusi dengan instruktur pembimbing untuk membahas kekurangan materi pembelajaran yang ada dan tehnik/keterampilan ekstraksi
Pendidik/fasilitas
diskusi
kriteria penilaian : cakap/tidak cakap, lalai
Diakhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila perlu diberitugas untuk bisa lebih terampil .
Pencapaian pembelajaran pendidikan
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Kuesioner sebelum pembelajaran (pre test)
Soal :
Seorang pasien laki-laki usia 23 tahun datang ke dokter THT-KL dengan keluahan benjolan di bagian anterior leher dibawah tulang hioid superior dari kartilago tiroid, massa bergerak ke atas (menghilang) saat menjulurkan lidah, Apakah kemungkinan diagnosis pasien tersebut?
Kista tiroid
Kista higroma
Kista dermoid
Kista Brachialis
Kista duktus tiroglosus
Seorang pasien 40 tahun datang dengan keluan benjolan lunak di leher sisi kiri sejak 4 tahun yang lalu, membesar secara lambat, saat ini ukuran 4x2x1 cm, pada palpasi teraba lunak dan tidak terdapat fluktuasi, tidak ditemukan tumor lain di daerah kepala dan leher. Pemeriksaan tambahan apa yang paling penting untuk menegakkan diagnosis massa pada pasien ini?
Biopsi aspirasi jarum halus (BAJAH/FNAB)
CT scan kepala leher dengan kontras
Rontgen polos leher Ap dan Lateral
USG leher
MRI leher
Seorang pasien laki-laki usia 20 tahun datang ke dokter THT-KL dengan keluahan benjolan di bagian anterior leher dibawah tulang hioid superior dari kartilago tiroid, massa bergerak ke atas (menghilang) saat menjulurkan lidah, Apakah nama operasi untuk kelainan ini?
Insisi Weber Ferguson
Insisi modifikasi Blair
Operasi Cadwell-Luc
Operasi Sistrunk
Operasi Tiroplasti
Kuesioner tengah pembelajaran
A 10-year-old female patient presents for swelling of the neck and difficulty breathing. The patient states that she has been having trouble swallowing foods and liquids. The physical exam finds a tender and mobile mass in the midline of the neck. The chest x-ray of the patient is normal. On ultrasound of the neck, there is a midline neck mass close to the hyoid bone. It is determined that the structure is a cyst that occurs due to abnormal development. What is the embryonic origin of this structure?
Thyroglossal duct
Pharyngeal arches
Neural Tube
Ectoderm
Mesoderm
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR
EKSISI KISTA DUKTUS TIROGLOSUS
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sbb: | |||
1. | Perlu Perbaikan | : | langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan) |
2. | Mampu | : | langkah sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya, pelatih hanya membimbing sedikit untuk perbaikan |
3. | Mahir | : | langkah dikerjakan dengan benar sesuai dg urutan aturannyadan waktu kerja yang sangat efisien |
4 | T/D | : | langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan) |
Nama Peserta :......................... Tanggal : ..................
NO | KEGIATAN | KASUS | |||
1 | 2 | 3 | T/D | ||
I. PERSIAPAN OPERASI | |||||
1 | Informed Consent | ||||
2 | Menjelaskan tujuan operasi dan hasil yang diharapkan | ||||
3 | Menjelaskan prosedur dan standar operasi pada pasien keluarganya | ||||
4 | Melakukan evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi operasi | ||||
5 | Persiapkan peralatan | ||||
NO | KEGIATAN | KASUS | |||
1 | 2 | 3 | T/D | ||
II | PROSEDUR OPERASI (Cohen JI) | ||||
1. | Pasien dalam posisi supine dengan leher ekstensi. | ||||
2. | Desinfeksi lapangan operasi dengan betadine, lalu persempit dengan doek steril | ||||
3. | Buat insisi horizontal setinggi atau tepat di bawah hyoid. | ||||
4. | Elevasi flap kulit ke superior sampai level hioid dan di inferior hingga di bawah level kista. | ||||
5. | Pisahkan otot strap di garis tengah dan bebaskan dari kista. Bebaskan otot sternohioid dan tirohioid secara horizontal tepat di bawah perlekatannya pada hioid. | ||||
6. | Diseksi hioid secara melingkar di medial sambungan kornu mayor dan minor dengan melewatkan klem di bawahnya dari inferior ke superior. Gunakan pemotong tulang untuk memotong tulang hioid secara bilateral, sehingga corpus hioid bebas dari perlekatannya dari inferior dan lateral. | ||||
7. | Diseksi dimulai dari inferior dan lateral dari kista, jika saluran juga terdapat ke inferior dari kista ke lobus piramidalis tiroid, dipotong. | ||||
8. | Bebaskan jaringan lunak yang melapisi otot milohioid secara horizontal di antara kornu minor. Pegang corpus hioid dengan klem Allis atau sejenisnya dan tarik ke anterior dan inferior. Sama seperti yang dilakukan di inferior hioid, pisahkan secara horizontal otot milohioid dan geniohioid dari hioid dengan meninggalkan sedikit otot yang melekat ke hioid untuk menghindari terpotongnya saluran kista yang berdekatan dengan periosteum hioid. | ||||
9. | Hioid ditarik ke inferior sebagai pegangan, dan selanjutnya dibebaskan dari jaringan sekitarnya kecuali geniohioid, lanjutkan diseksi kista / saluran sampai ke foramen sekum | ||||
10. | Tidak jarang salurannya cukup kecil dan sulit untuk diidentifikasi pada saat ini. Ligasi saluran ini saat sebelum masuk ke orofaring sudah cukup. | ||||
11. | Tutup luka lapis demi lapis dengan dekatkan kembali otot strep, milohioid dan infrahioid jika memungkinkan. Sebelumnya pasang drain Penrose atau suction drain kecil di dasar luka. | ||||
12 | Operasi Selesai | ||||
III | PASCA OPERASI | ||||
1 | Observasi perdarahan, tekanan darah, nadi, suhu dan produksi drain secara teratur | ||||
NO | KEGIATAN | KASUS | |||
1 | 2 | 3 | T/D | ||
2 | Antibiotika dapat diberikan setelah operasi terutama pada penderita dengan infeksi sekunder kista brankial | ||||
3 | Jahitan dapat dilepas pada hari ke 7 | ||||
IV | KOMPLIKASI OPERASI | ||||
1 | Hipoestesia pada jaringan parut daerah servikal | ||||
2 | Terbentuk jaringan parut sampai dengan keloid | ||||
3 | Cidera pada nervus hypoglossus, nervus laringeal superior, nervus asesorius dan mandibula cabang nervus fasialis | ||||
DAFTAR TILIK
EKSISI KISTA DUKTUS TIROGLOSUS
Berikan penilaian kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan suatu kegiatan dengan ketentuan sebagai berikut ini:
prosedur atau panduan standar |
X: tidak memuaskan : langkah atau kegiatan tidak ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar |
T/T: tidak ditampilkan : langkah kegiatan atau keterampilan tidak dikerjakan |
: memuaskan : langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan
PESERTA: TANGGAL:
NO | KEGIATAN | NILAI | ||
x | T/T | |||
I | PERSIAPAN OPERASI | |||
1 | Informed Consent | |||
2 | Menjelaskan rencana tindakan dan hasil yang diharapkan | |||
3 | Menjelaskan prosedur dan standar operasi pada pasien dan keluarganya | |||
4 | Melakukan evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi operasi | |||
5 | Persiapkan peralatan | |||
II. PROSEDUR OPERASI | ||||
1 | Pasien dalam posisi supine dengan leher ekstensi. | |||
2 | Desinfeksi lapangan operasi dengan betadine, lalu persempit dengan doek steril | |||
3 | Buat insisi horizontal setinggi atau tepat di bawah hyoid. | |||
4 | Elevasi flap kulit ke superior sampai level hioid dan di inferior hingga di bawah level massa. | |||
NO | KEGIATAN | NILAI | ||
✓ | x | T/T | ||
5 | Pisahkan otot strap infrahioid di garis tengah dan bebaskan dari kista. Bebaskan otot sternohioid dan tirohioid secara horizontal tepat di bawah perlekatannya pada hioid. | |||
6 | Diseksi hioid secara melingkar di medial sambungan kornu mayor dan minor dengan melewatkan klem di bawahnya dari inferior ke superior. Gunakan pemotong tulang untuk memotong tulang hioid secara bilateral, sehingga corpus hioid bebas dari perlekatannya dari inferior dan lateral. | |||
7 | Diseksi dimulai dari bawah dan lateral dari kista, jika saluran juga terdapat ke inferior dari kista ke lobus piramidalis tiroid, dipotong. | |||
8 | Bebaskan jaringan lunak yang melapisi otot mylohioid secara horizontal di antara kornu minor. Pegang corpus hioid dengan klem Allis atau sejenisnya dan tarik ke anterior dan inferior. Sama seperti yang dilakukan di inferior hyoid, pisahkan secara horizontal otot milohioid dan geniohioid dari hyoid dengan meninggalkan sedikit otot yang melekat ke hioid untuk menghindari terpotongnya saluran yang berdekatan dengan periosteum hioid. | |||
9 | Hioid ditarik ke inferior sebagai peganga, dan selanjutnya dibebaskan dari jaringan sekitarnya kecuali geniohioid, lanjutkan diseksi kista / saluran sampai ke foramen sekum | |||
10 | Tidak jarang salurannya cukup kecil dan sulit untuk diidentifikasi pada saat ini. Ligasi saluran ini saat sebelum masuk ke orofaring sudah cukup. | |||
11 | Tutup luka lapis demi lapis dengan dekatkan kembali otot strep, milohioid dan infrahioid jika memungkinkan. Sebelumnya pasang drain Penrose atau suction drain kecil di dasar luka. | |||
III. PASCA OPERASI | ||||
1 | Observasi perdarahan, tekanan darah, nadi, suhu dan produksi drain secara teratur | |||
2 | Antibiotika dapat diberikan setelah operasi terutama pada penderita dengan infeksi sekunder kista brankial | |||
3 | Drain dapat dilepas jika produksi drain kurang dari 10cc dalam 24 jam | |||
4 | Jahitan dapat dilepas pada hari ke 7 | |||
IV. KOMPLIKASI OPERASI | ||||
1 | Hipoestesia pada jaringan parut daerah servikal | |||
NO | KEGIATAN | NILAI | ||
✓ | x | T/T | ||
2 | Terbentuk jaringan parut sampai dengan keloid | |||
3 | Cidera pada nervus hypoglossus, nervus laringeal superior, nervus asesorius dan mandibula cabang nervus fasialis | |||
MATERI PRESENTASI
Slide 1: Ruang lingkup
MATERI BAKU
NEOPLASMA JINAK LEHER
Massa atau benjolan di leher sering terjadi. Pada populasi dewasa, sekitar 75% dari massa leher non-tiroid adalah neoplastik, dan dari jumlah tersebut 80% metrupakan metastatik. Sekitar 75% dari metastasis leher ini disebabkan oleh tumor primer yang
terletak di atas klavikula. Pada anak di bawah 15 tahun, 90% massa leher adalah jinak dan dari jumlah ini hingga 55% kenainan bawaan.
Neoplasma jinak leher dapat diklasifikasikan sebagai kongenital atau didapat. Kelompok yang terakhir sering sering merupakan pemembesaran kelenjar getah bening, tetapi terdapat berbagai patologi yang berbeda. Biopsi aspirasi jarum halus (BAJH/FNAB) dengan atau tanpa panduan ultrasound (USG) sekarang merupakan pemeriksaan standar.
Evaluasi dan manajemen pasien dengan benjolan leher harus mencakup pendekatan klinis yang sistematis. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan traktus aerodigestif bagian atas dan kepala dan leher, diikuti oleh pemeriksaan yang relevan, yang mungkin termasuk pemeriksaan darah dan radiologi.
Neoplasma di leher dapat dibedakan menjadi Kongenital dan Didapat.
NEOPLASMA LEHER KONGENITAL
Kista Duktus Tiroglosus
Duktus tiroglosus adalah struktur tubular sempit yang terbentuk saat penurunan kelenjar tiroid dari foramen caecum menuju ke bagian depan pharyngeal duct. Bagian distal duktus berdiferensiasi menjadi lobus piramidal kelenjar tiroid pada sekitar 50% orang. Duktus tiroglosus biasanya berinvolusi pada minggu kesepuluh kehamilan namun jika terjadi kegagalan involusi maka sekresi dari lapisan epitel duktus akan menyebabkan peradangan dan terjadi pembentukan kista duktus tiroglosus.
Kista duktus tiroglosus terjadi pada sekitar 1% populasi di seluruh dunia.2 Frekuensi kejadiannya sama antara individu pria dan wanita. Kista duktus tiroglosus paling sering terjadi pada masa anak-anak namun kista ini juga dapat muncul pada orang dewasa dengan jumlah kasus yang bervariasi pada tiap rentang usia. Kista duktus tiroglosus sangat erat kaitannya dengan tulang hyoid. Presentasi kejadiannya sekitar 24% terjadi pada level suprahyoid, 76% muncul pada level infrahyoid.
Kista duktus tiroglosus muncul sebagai massa pada leher dengan lokasi di garis tengah leher yang mobile di dekat tulang hyoid. Kista duktus tiroglosus seringkali asimtomatik. Kista dapat bertambah besar dengan terjadinya infeksi saluran pernapasan bagian atas. Perlekatan duktus tiroglosus ke foramen caecum di dasar lidah menyebabkan kista dapat bergerak ke atas pada saat menelan dan menjulurkan lidah.
Kista duktus tiroglosus jika tidak ditangani dengan benar, memiliki risiko untuk berkembang menjadi karsinoma kista duktus tiroglosus. Kejadian karsinoma terjadi sekitar 1% dari total kasus kista duktus tiroglosus, dengan jenis karsinoma kista duktus tiroglosus primer paling banyak adalah papillary carcinoma.Secara histopatologis kista duktus tiroglosus merupakan struktur kistik yang dilapisi oleh epitel pernapasan, epitel skuamosa maupun kombinasi keduanya. Pemeriksaan miskoskopis duktus tiroglosus pada hampir 70% kasus terdapat jaringan kelenjar tiroid ektopik di dalam dinding kista. Ultrasonografi adalah pilihan pencitraan awal yang ideal dan non-invasif. Tomografi komputer dan Magnetic Resonance Imaging (MRI) dapat digunakan untuk mengevaluasi kista duktus tiroglosus dan jaringan tiroid normal.
Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus dengan pembedahan eksisi massa tumor, tulang hyoid dan inti jaringan lidah di sekitar saluran di dasar lidah ke foramen caecum yang dikenal dengan prosedur Sistrunk. Eksisi kista saja (kistektomi) dilakukan jika saluran kista tidak ditemukan intra operasi
Embriologi
Tiroid mulai berkembang pada minggu ketiga kehamilan, primordium tiroid berasal dari foramen caecum di persimpangan dua pertiga anterior dan sepertiga posterior lidah. Primordial tiroid turun ke leher, melewati jalur anterior dan berhubungan erat dengan tulang hyoid yang sedang berkembang dan mencapai posisi terakhirnya di leher pra- trakea inferior pada minggu ketujuh kehamilan.
Tiroid primordial (tiroid lingual) muncul pada hari ke-17 saat masa embriogenesis sebagai proliferasi sel epitel yang tidak berdiferensiasi, di garis tengah lantai faring antara tuberkulum di anterior dan kupula di posterior, selanjutnya menyesuaikan dengan foramen caecum. Struktur endodermal ini muncul sebagai suatu struktur yang menyerupai tali yang lambat laun membentuk rongga. Saluran duktus tiroglosus kemudian meluas ke permukaan anterior trakea pada minggu ke-6, berkembang dan menyebar membentuk dua lobus di laterotrakeal, sehingga membentuk kelenjar tiroid akhir minggu ke-7.
Selama migrasi ini, duktus tiroglosus terletak di posterior lengkung faring pertama dan melewati jalur anterior ke elemen lengkung faring ke-2 dan ke-3: tulang hyoid, membran tiroid, dan tulang rawan tiroid. Pertumbuhan dan rotasi anterior tulang hyoid menyebabkan bagian duktus ditarik ke posterior di permukaan dalam corpus tulang hyoid. Selama proses rotasi ini, tulang hyoid memberikan tekanan pada duktus tiroglosus yang dapat mengakibatkan segmentasi duktus pada prehyoid, transhyoid, dan retrohyoid.
Epidemiologi
Kista duktus tiroglosus merupakan kelainan kongenital berupa masa kistik kedua terbanyak setelah limfadenopati benigna. Kista duktus tiroglosus terdapat pada sekitar 1% populasi di seluruh dunia. Kejadiannya sama antara individu pria dan wanita. Kista duktus tiroglosus paling sering terjadi pada anak- anak dibanding orang dewasa sekitar 60% kasus.
Kista duktus tiroglosus sangat erat kaitannya dengan tulang hyoid.3 Kista duktus tiroglosus setinggi tulang hyoid pada 15% kasus dan dibawahnya 65% kasus. Kista muncul di garis tengah leher sebanyak 75% kasus sementara sisanya muncul 2 cm dari garis tengah. Kista juga ditemukan pada 10% pada sisi lateral kiri.
Etiopatogenesis
Etiopatogenesis kista duktus tiroglosus terdiri dari dua teori. Teori klasik menyatakan terbentuknya kista duktus tiroglosus oleh karena kegagalan obliterasi dari
duktus tiroglosus. Teori Otto menyatakan kista duktus tiroglosus terjadi akibat bertambah naiknya bagian kepala yang diikuti oleh kelenjar tiroid sehingga duktus tiroglosus mengandung dua jenis epitel yaitu epitel dasar mulut di bagian superfisial atau pars epitelialis dan epitel tiroid di bagian inferior atau pars tiroidea.
Area perbatasan yang berbeda pada saat berdiferensiasi diantara kedua epitel ini akan menyebabkan terjadinya ruptur pada minggu ke-6, jika duktus tiroglosus tidak mengalami ruptur level bawah atau pars tiroidea, maka jaringan tiroid akan tetap berada pada daerah ujung kranial duktus tiroglosus pada saat bertambah naiknya bagian kepala. Duktus tiroglosus apabila ruptur pada level yang lebih tinggi atau pada pars epitelialis, jaringan epitel non tiroid akan menetap pada area di antara dasar lidah dan kelenjar tiroid sehingga bisa menjadi lokasi untuk terbentuknya suatu kista epitel atau kista duktus tiroglosus. Kista epitel ini juga bisa mengandung jaringan tiroid.
Diagnosis
Pasien dengan dugaan kista duktus tiroglosus harus diperiksa dengan tes fungsi tiroid dan BAJH dengan panduan ultrasonografi. Kadar TSH dan T4 akan menentukan status tiroid pasien. USG dapat membantu lokasi dan diagnosis kista, dan akan mengkonfirmasi keberadaan kelenjar tiroid normal di posisinya. BAJAH akan menunjukkan isi kistik yang mengandung koloid. Pemindaian isotop dengan Tc99 atau I123 mungkin berguna jika kista terletak di atas hyoid atau di lidah posterior, untuk mengidentifikasi atau menyingkirkan tiroid lingual. CT scan atau MRI harus dipertimbangkan pada kista yang besar, ketika dicurigai keganasan dan adanya kecurigaan tiroid lingual.
Histopatologi
Gambaran histopatologis kista duktus tiroglosus berbentuk sebuah kista yang dilapisi oleh epitel saluran respiratori dan epitel skuamosa maupun kombinasi dari keduanya. Secara makroskopis, lesi tampak sebagai kista padat atau bernodul. Sebuah studi menemukan 1% kasus memiliki epitel campuran dan hanya 10% yang dilapisi sel epitel skuamosa. Sel epitel respiratorik yang tampak berupa epitel kolumnar pseudokompleks bersilia hingga sel kuboid. Pada sel epitel skuamosa, didominasi oleh epitel skuamosa kompleks tidak berkeratin. Infiltrat sel-sel inflamasi dan sel histiosit dapat terlihat bersamaan dengan pembentukan jaringan granulasi.
Gambaran hiperplasia dari folikel limfoid dapat tampak pada sebagia kecil kasus. Keberadaan sel histiosit, lemak kolestrol, dan sel raksasa berkaitan dengan ruptur dinding kista. Dinding kista yang mengalami inflamasi menjadi jaringan fibrotik yang membuat sulit untuk mengidentifikasi sel epitel awal. Sebanyak 70% dari kasus dapat ditemukan jaringan kelenjar tiroid ektopik pada lesi. Sel tiroid ektopik dapat pula ditemukan pada jaringan otot maupun jaringan lemak di sekitar lesi. Sebaliknya jaringan kista duktus tiroglosus juga dapat ditemukan pada kelenjar tiroid (Gambar 2).
Diagnosis Banding
Diagnosis banding kista duktus tiroglosus termasuk di antaranya adalah branchial cleft cyst, metastasis karsinoma tiroid, kista dermoid atau epidermoid, kista sebasea, kelenjar getah bening metastasis kistik. Kelenjar getah bening metastasis kistik biasanya berasal dari papillary thyroid carcinoma maupun squamous cell carcinom dari traktus aerodigestif.
Kista dermoid atau epidermoid juga bisa muncul sebagai massa pada garis tengah leher. Branchial cleft cyst juga merupakan massa kistik di leher anterior, namun biasanya berlokasi di lateral dan tidak berhubungan dengan tulang hyoid. Adanya keterkaitan yang besar antara kista duktus tiroglosus dengan keterlibatan tulang hyoid adalah manifestasi kunci untuk membedakannya dengan penyakit lain.
Tata Laksana
Eksisi bedah adalah terapi pilihan, karena ada kemungkinan besar kista dapat terinfeksi, mengakibatkan hilangnya lapisan jaringan normal, atau jaringan parut pada kulit leher dan terjadinya pembesaran kista berulang yang menyebabkan ketidaknyamanan bagi pasien. prosedur Sistrunk dijelaskan pada tahun 1920, yang menghasilkan penyembuhan permanen untuk sebagian besar kasus. Sebelumnya tulang hyoid tidak dieksisi menghasilkan tingkat kekambuhan hingga 50%, Modifikasi teknik Sistrunk saat ini digunakan sebagai prosedur bedah standar, tanpa perlu diseksi epitel dasar lidah. Eksisi dilakukan melalui insisi leher di garis tengah melintang tepat di bawah kista. Kista dibebaskan dari otot leher infra-hioid dan kartilago laring. Diseksi kemudian berlanjut ke atas ke daerah tulang hioid. Pada titik ini otot-otot suprahioid, yaitu milohioid, geniohioid dan genioglossus, dibebaskan dari tulang hioid, sedangkan sepertiga tengah tulang hyoid, antara cornu minor dipotong dan dimobilisasi dengan spesimen kista duktus tiroglosus masih melekat. Diseksi dilanjutkan ke atas, ke dasar lidah, sampai ke daerah foramen caecum. Teknik ini menghasilkan penurunan yang signifikan dalam tingkat kekambuhan, bila dibandingkan dengan eksisi sederhana atau pengangkatan kista saja (Prosedur Shalang)
Komplikasi
Komplikasi dari duktus tiroglosus terdiri dari komplikasi minor dan mayor. Komplikasi minor seperti seroma, infeksi lokal pada duktus/kista dan fistula.17 Komplikasi mayor umumnya terjadi pada saat pengangkatan kista, bisa berupa hematoma pada jaringan sekitar, abses, cedera pada laringotrakeal, paresis nervus hipoglosus dan hipotiroidisme.
Cedera pada laringotrakeal jarang terjadi dan hal tersebut merupakan komplikasi dari prosedur Sistrunk yang menyebabkan obstruksi jalan nafas, disfagia dan disfonia. Cedera laringotrakeal disebabkan oleh reseksi yang salah pada kartilago tiroid, bukan tulang hyoid. Identifikasi yang tepat pada tulang hyoid, kartilago tiroid dan membran tirohyoid sangat penting untuk mencegah komplikasi ini selama operasi.
Fistula tiroglosus adalah komplikasi dari kista duktus tiroglosus yang terinfeksi atau sayatan yang tidak disengaja di atas kista yang terinfeksi pada abses atau pengangkatan kista duktus tiroglosus yang tidak tuntas, hal ini dapat diidentifikasi dengan ditemukannya hooding sign positif pada fistula tiroglosus.
Cedera pada hipoglosus juga jarang terjadi, tetapi telah dilaporkan setelah prosedur Sistrunk, mengakibatkan kelumpuhan separuh lidah. Saraf hipoglosus berjalan lateral ke otot hyoglossus dan medial dari otot stylohyoid dan saraf lingual di dekat bagian lateral tulang hyoid. Penting untuk menjaga reseksi medial hyoid ke kornu bawah hyoid untuk menghindari cedera hipoglosus.
Prognosis
Faktor yang berperan terhadap rekurensi yaitu eksisi inkomplit, ruptur intraoperatif, ketrampilan dalam operasi dan pengalaman serta kemunculan infeksi pada kasus. Prognosis kista dusktus tiroglosus dengan prosedur Sistrunk sangat baik, hanya sekitar 1,5-10% dari kista duktus tiroglosus kambuh setelah Sistrunk.Tingkat kekambuhan jauh lebih tinggi dengan eksisi sederhana tanpa eksisi sepertiga tengah tulang hyoid sekitar 50%. Kista duktus tiroglosus bersifat ganas sekitar 1% dari seluruh kasus, biasanya diagnosis ditegakkan setelah operasi pengangkatan kista pada hasil pemeriksaan histopatologi.
Limphangioma
Limfangioma adalah malforma-si kongenital jinak dari sistem limfatik dan merupakan kasus yang langka. Limfangioma dapat berkembang di bagian tubuh manapun, 75% di daerah kepala dan leher. Klasifikasi limfangioma yaitu kapiler/ simpleks, kavernosa, atau higroma kistik. Higroma kistik terjadi lebih sering dibandingkan dengan jenis limfangioma lainnya. Paling sering pada lateral leher, trigonum colli posterior dan bisa meluas hingga mediastinum.
Limfangioma simpleks juga disebut limfangioma kapiler. Terdiri dari saluran limfatik seukuran kapiler berdinding tipis, biasanya asimtomatik dan muncul sebagai lesi kecil seperti vesikel pucat yang terlihat pada kulit atau rongga mulut. Limfangioma kavernosa merupakan 40% dari semua limfangioma, terdiri dari ruang limfatik yang melebar, seringkali dengan adventitia fibrosa, biasanya terjadi di lidah, pipi dan bibir, dan muncul sebagai pembengkakan difus yang tidak nyeri. Higroma kistik terdiri dari kista dan sinus, dengan ukuran diameter bervariasi dari beberapa milimeter sampai beberapa sentimeter, biasanya muncul sebagai massa kistik yang mengandung cairan limfa aselular.
Embriologi
Pada minggu ke delapan kehamilan, enam kantung limfatik bisa diidentifikasi dalam perkembangan embrio. Kantung limfatik ini terdiri dari dua kantung jugular, dua iliaka, satu di pangkal akar mesenterium dan satu dorsal ke aorta abdominal. Limfatik jugular
berkembang di daerah leher. Pada minggu ke 9, kantung akan dilapisi jaringan ikat membentuk kelenjar getah bening. Kantung limfatik primer muncul dari populasi sel endotel dari vena embrionik dan selanjutnya endotel terus menerus tumbuh dari kantung limfatik ke jaringan dan organ sekitarnya.
Etiologi
Sistem limfatik muncul dari lima kantung primitif (dua kantung jugularis, dua kantung sciatic posterior dan satu kantung retroperitoneal) yang berkembang dari sistem vena. Dua teori utama untuk menjelaskan asal usul limfangioma yaitu Sekuestrasi jaringan limfatik dan Proliferasi membran fibrilasi endotel.
Gambaran Klinis
Meskipun umumnya muncul saat lahir, kadang-kadang juga dapat bermanifestasi untuk pertama kalinya pada orang dewasa muda. Dapat muncul di mana saja di kepala dan leher. Pada palpasi terasa kistik dan transiluminasi. Dapat menetap atau mengecil, tetapi dalam beberapa kasus membesar terutama setelah perdarahan internal atau infeksi, dapat tumbuh dengan cepat yang berpotensi menimbulkan risiko obstruksi jalan napas yang mengancam jiwa.
Diagnosis
Diagnosis biasanya ditegakkan berdasarkan gambaran klinis tetapi CT scan dan MRI akan lebih akurat menentukan ukuran, lokasi, dan hubungannya dengan struktur penting serta membantu perencanaan operasi.
Terapi
Tatalaksana limfangioma menantang dan banyak modalitas pengobatan telah dijelaskan selama bertahun-tahun. Strategi pengobatan bervariasi tergantung pada lokasi anatomi, ukuran dan keterlibatan struktur sekitarnya. 15% pasien mungkin mengalami regresi spontan. Aspirasi berulang dapat membantu jika terjadi peningkatan ukuran yang cepat yang menyebabkan gejala penekanan sambil menunggu pengobatan definitif. Injeksi sklerosan seperti bleomisin, tetrasiklin dan alkohol telah pernah dilaporkan, tetapi jaringan parut internal tidak dapat diprediksi sehingga mengakibatkan kesulitan pada operasi berikutnya dan saat ini tidak direkomendasikan. Injeksi intra-lesi OK-432 (Picinabil) telah menunjukkan hasil yang menjanjikan. Tindakan ini menyebabkan reaksi inflamasi dan trombosis yang diikuti nekrosis. Eksisi bedah tetap menjadi pengobatan pilihan, tetapi menantang oleh sebab itu sebaiknya dilakukan oleh ahli bedah berpengalaman di pusat layanan spesialis.
Kista Dermoid
Kista dermoid dibagi menjadi kista epidermoid, dermoid sejati dan teratoid, tergantung pada jenis jaringan yang diidentifikasi secara patologis di dalamnya. Dua puluh persen dari semua kista dermoid ditemukan di leher dan 30% di antaranya di wajah. Kista ini merupakan 28% dari semua kista di garis tengah.
Kista epidermoid hanya berisi kulit dan tidak ada struktur adneksa lainnya. Mereka dilapisi dengan epitel skuamosa dengan atau tanpa bahan keratin. Ini adalah varietas yang paling sering ditemui, sementara Kista dermoid sejati dilapisi dengan epitel skuamosa
dan mengandung kulit dengan pelengkap seperti rambut, folikel rambut, kelenjar sebaceous dan kelenjar keringat dan Kista teratoid dilapisi baik dengan epitel skuamosa atau pernapasan. Mereka mengandung ketiga elemen embriologis; ektodermal, endodermal dan elemen mesodermal seperti kuku, gigi, otak dan jaringan kelenjar.
Etiologi
Lesi ini muncul karena diferensiasi ektodermal sel multipotensial yang terperangkap pada saat penutupan neuropore anterior, terutama di sepanjang garis fusi, sehingga terletak di sepanjang garis tengah leher.
Gambaran Klinis
Usia puncak kejadian biasanya dekade kedua dan ketiga. Berupa massa kistik atau padat tanpa rasa nyerit, biasanya di daerah submental, di atas atau di bawah otot milohioid. Jarang bermanifestasi sebagai pembengkakan inflamasi akut yang berhubungan dengan infeksi.
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan usia pasien, lokasi klinis, dan presentasi klinis. BAJAH dengan panduan ultrasound berguna dalam diagnosis lesi ini. CT scan dan MRI dapat membantu menggambarkan perluasan lesi yang besar, dan membantu perencanaan operasi.
Terapi
Eksisi bedah lengkap adalah pengobatan pilihan.
Kista Brankhial
Kata brankhial berasal dari bahasa Yunani 'bragchia' yang berarti insang. Kista branchial muncul sebagai kegagalan perkembangan aparatus branchial. Anomali branchial mencapai hingga 19% dari semua massa leher pada anak. Sering bermanifestasi pada dewasa muda dengan insiden puncak pada dekade ketiga. Kista biasanya dilapisi oleh epitel skuamosa berlapis kecuali pada 10% kasus yang mungkin memiliki epitel pernapasan sebagai gantinya; 80% memiliki jaringan limfoid di dinding luar dan berisi cairan mengandung kristal kolesterol.
Gambaran Klinis
Enam puluh persen terletak di sepertiga atas leher, di pinggir anterior otot sternokleidomastoid, meskipun tumor ini telah dilaporkan di semua tempat leher termasuk kelenjar parotid.
Gejala dapat berupa benjolan leher yang persisten pada 80% (dengan sifat intermiten 20%), 42 sampai 70% tampak kistik meskipun hingga 30% mungkin terasa padat. Pada hampir 40% kasus, riwayat infeksi saluran pernapasan atas sebelum ditemukan massa dapat ditemukan. Kista yang meradang dapat terjadi pembentukan abses dengan kemungkinan pecah.
Diagnosis
Semua pasien dengan kecurigaan kista brankial harus dilakukan pemeriksaan BAJH dengan panduan ultrasound. BAJH yang dipandu USG menghasilkan cairan aselular
dengan kristal kolesterol pada pemeriksaan. Pemindaian CT scan dan MRI bermanfaat pada kista yang besar untuk perencanaan operasi.
Tatalaksana
Eksisi adalah pengobatan pilihan. Operasi jadi pilihan karena kista branchial memiliki kecenderungan untuk terinfeksi, dapat menjadi berukuran besar yang menyebabkan ketidaknyamanan, gejala penekanan dan deformitas kosmetik yang jelas. Prosedur ini dimulai dengan sayatan melintang pada leher yang dibuat pada lipatan kulit leher di atas kista. Platisma diinsisi dan flap sub-platisma dielevasi. Fasia leher diinsisi di atas batas anterior otot sternokleidomastoid, yang ditarik ke lateral.
Kista kemudian diidentifikasi dan didiseksi dari perlekatan fasia dan kapsulnya untuk memastikan bahwa dinding kista tidak pecah. Selama diseksi, selubung karotis dan isinya harus diidentifikasi dan dimobilisasi keluar dari area operasi. Selain itu, cabang marginal dari saraf fasial, vagus, saraf assesorius dan saraf hipoglosus harus diidentifikasi dan dipreservasi. Kista dieksisi seluruhnya dan biasanya tidak perlu mencari saluran meskipun ujung kista mungkin perlu diseksi kelenjar parotis atau ruang parafaring.
Fistula dan Sinus Brankhial
Fistula branchial adalah kelainan bawaan yang terdiri dari saluran dilapisi epitel kulit, di internal membuka sebagai celah pada bagian anterior fossa tonsil jika berasal dari lengkungan kedua. Di eksternal berada di batas anterior otot sternokleidomastoid, di berbatasan sepertiga tengah dan bawahnya m Sternokleidomastoid.
Sinus brankial atau pits brankial terbuka sepanjang garis antara tragus dan sendi sternoklavikularis pada batas anterior otot sternokleidomastoid tetapi tanpa lubang internal.
Etiologi
Timbul dari kegagalan perkembangan lengkap aparatus brankial termasuk lengkungan pertama, kedua, ketiga dan keempat. Selama minggu ke-4 kehidupan intrauterin, enam arkus branchial berkembang sebagai sel-sel krista neuralis yang bermigrasi ke kranial. Selama minggu ke-5, lengkung brankial kedua tumbuh di atas celah brankial ketiga dan keempat, membentuk sinus servikal. Kegagalan penutupan sinus servikal memungkinkan terjadinya komunikasi dengan kantong brankial kedua di daerah fossa tonsil, kantong ketiga di daerah laring, dan keempat di fossa piriformis.
Gambaran Klinis
Pasien biasanya bayi muda dengan sinus yang mengeluarkan cairan, yang bisa dengan atau tanpa lubang fistula internal. Secara klinis, fistula celah brankial kedua yang paling sering. Fistula ini memiliki lubang kulit di sepanjang batas anterior sternokleidomastoid, biasanya di batas sepertiga tengah dan bawah otot sternokleidomastoid, menelusuri antara arteri karotis internal dan eksternal yang berakhir di fossa tonsilaris. Fistula brankial ketiga dan keempat jarang terjadi, muncul bagian bawah leher dan berakhir di sinus piriformis, dengan lubang yang terkadang terlihat pada pemeriksaan endoskopi.
Diagnosis
Diagnosis dibuat berdasarkan temuan klinis. Barium meal atau CT fistulogram dapat membantu untuk menentukan jalur saluran, membedakan sinus dari fistula dan membantu perencanaan operasi.
Terapi
Eksisi bedah adalah terapi pilihan. Eksisi dilakukan dengan cara stepladder, menghilangkan stoma sinus dengan elips di kulit leher. Traktus diikuti ke atas setinggi mungkin dan kemudian dibuat insisi servikal atau servikal-fasial transversal lainnya. Diseksi kemudian dilanjutkan ke daerah tonsil di mana saluran biasanya menghilang dan harus diligasi sebelum avulsi, untuk meminimalkan kekambuhan.
MASSA LEHER DIDAPAT
Kista sebasea
Kista sebasea adalah lesi akneksa kulit yang terjadi terutama di mana terdapat kelenjar sebaceous dan paling sering terjadi pada kulit berbulu, terutama di daerah jenggot dan kulit kepala.
Etiologi
Kista ini timbul ketika saluran kelenjar kulit sebaceous, yang bertanggung jawab untuk produksi sebum tersumbat. Sekresi yang terperangkap menyebabkan pembesaran kelenjar yang progresif.
Gambaran Klinis
Lesi bisa tunggal atau multipel, dan dengan ukuran yang berbeda. Cenderung bulat, kecil dan berbatas tegas, meregangkan kulit di atasnya dan puncak saluran yang tersumbat sering terlihat sebagai 'punctum'. Kista sebaceous memiliki kecenderungan untuk terinfeksi.
Diagnosis
Kista sebasea sering menunjukkan gambaran klinis yang sangat berbeda dan jarang memerlukan pemeriksaan penunjang. Memiliki penampilan sonografi non-spesifik dan BAJAH tidak diperlukan kecuali ada keraguan klinis.
Terapi
Eksisi bedah adalah pengobatan pilihan karena alasan kosmetik, cenderung membesar, pecah, terinfeksi dan kambuh. Eksisi harus dilakukan dengan sangat hati-hati untuk memastikan bahwa punctum, dan bekas luka jika sebelumnya telah insisi dan kering setelah infeksi, dieksisi dengan elips kecil dari kulit yang sehat, untuk menghindari meninggalkan bagian dari kapsul kista yang akan menyebabkan kekambuhan.
Lipoma
Lipoma adalah lesi jinak pada lapisan adiposa. Sel-sel adiposa menjadi lobulus besar yang dibagi oleh septa fibrosa longgar. Lipoma yang besar kadang-kadang bisa menyebabkan nyeri. Meskipun sebagian besar lipoma bersifat sporadis, sebagian kecil
dapat bersifat familial. Lipomatosis familial yang paling umum daerah kepala dan leher adalah lipomatosis Madelug. Di daerah leher, lipoma mungkin subfascial atau timbul di dalam otot. Tumor ini tumbuh sangat lambat dan memiliki risiko transformasi ganas yang sangat rendah.
Etiologi
Etiologinya tidak diketahui, namun, riwayat diduga trauma sebelumnya yang menyebabkan kerusakan lapisan adiposa dan pertumbuhan abnormal n.
Gambaran Klinis
Lipoma biasanya terjadi pada orang dewasa dan memiliki ukuran yang bervariasi. Tumor memiliki permukaan yang halus dan berlobus dengan tepi yang jelas. Cenderung lunak, dan karena terletak di bawah dermis, mobile terhadap kulit di atasnya.
Diagnosis
Lipoma memiliki penampilan yang khas pada USG, dan tidak memerlukan BAJAH, kecuali jika dicurigai adanya risiko transformasi maligna. Untuk lipoma besar, CT scan dan MRI berguna dalam menilai anatomi dan membantu perencanaan operasi.
Terapi
Eksisi bedah adalah pengobatan pilihan ketika lesi berukuran besar yang menyebabkan deformitas kosmetik yang jelas, adanya kecurigaan keganasan, atau karena pilihan pasien.
DAFTAR ISI
MODUL VII.18
ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER: NEOPLASMA KULIT PADA KEPALA LEHER
WAKTU
Proses Pengembangan Kompetensi | Alokasi Waktu |
Sesi di kompetensi | 2 x 50 menit (classroom session) 2 x 50 menit (coaching session) 10 jam (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi presentasi:
Power point : https://youtu.be/JHIQDVQC_00
Video :
Kasus : Neoplasma kulit kepala leher
Sarana dan alat bantu latih: (disesuaikan dengan pencapaian kompetensi):
Penuntun belajar (learning guide) : terlampir
Tempat belajar (training setting) : instalasi rawat inap, instalasi rawat jalan, kamar operasi, ruang praktikum, ruang kuliah
Model/manekin atau kadaver
Komputer/laptop
Infocus
REFERENSI
Berger AJ, Myers JN, Nemechek AJ, et al. Malignant Melanoma of the Head and Neck Region. In: Bailey BJ, Johnson JT, et al. Head & Neck Surgery- Otolaryngology. 5th ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2014. p. 1739-59
Weber R, Ow T. Malignant Melanoma of the Head and Neck. In: Lee KJ, ed. Essential Otolaryngology Head & Neck Surgery. 11th ed. New York: McGraw- Hill Education; 2016. p. 674-87
Buchanan MA, Palme CE, Riffat F, et al. Non-melanoma skin cancer. In: Myers J, Hanna E, Myers E, ed. Cancer of The Head and Neck. 5th ed. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2017. p. 342-79
Schmalbach CE, Durham AB, Johnson TB, et al. Melanoma of the Head and Neck. In: Myers J, Hanna E, Myers E, ed. Cancer of The Head and Neck. 5th ed. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2017. p. 342-79
Shah JP, Patel SG, Singh et al. Scalp and Skin. In: Shah JP, ed. Head and Neck Surgery and Oncology. 5th ed. Philadelphia: Elsevier; 2020. p. 27-78
Amin MB, et al. Cutaneus Carcinoma of the Head ad Neck. In: Amin MB, Edge SB, Greene FL, et al. AJCC Cancer Staging Manual. 8th ed. Chicago; Springer Nature; 2018. p. 172-80
KOMPETENSI
Pengetahuan
Setelah mengikuti sesi ini peserta mampu menegakkan diagnosis neoplasma kulit kepala leher yaitu melanoma maligna dan non melanoma (Basalioma, Karsinoma sel skuamosa) berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
Peserta didik dapat memutuskan tindakan yang tepat dan melakukan terapi pembedahan (eksisi luas).
Keterampilan
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil:
Mengenali gejala dan tanda neoplasma kulit kepala dan leher
Melakukan anamnesis dan pemeriksaan klinis neoplasma kulit kepala dan leher
Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang seperti biopsi, CT Scan
Membuat keputusan klinik untuk penatalaksanaan lanjut yaitu eksisi luas
Membuat keputusan penatalaksanaan komplikasi neoplasma kulit kepala dan leher
Mampu melakukan perawatan paska operasi dan follow up
GAMBARAN UMUM
Neoplasma kulit kepala dan leher merupakan kanker kulit yang berbahaya dengan predileksi 3.500.000 jenis non melanoma di Amerika Serikat tiap tahunnya. Neoplasma ini timbul akibat paparan sinar matahari. Neoplasma terbanyak adalah jenis karsinoma sel basal, yang kedua adalah jenis karsinoma sel skuamosa sel, dan yang ketiga adalah melanoma maligna.
Untuk jenis yang ketiga yaitu melanoma maligna memiliki perilaku yang berbeda, sehingga neoplasma terbagi menjadi non melanoma (karsinoma sel basal dan karsinoma sel skuamosa) dan melanoma maligna.
CONTOH KASUS DAN DISKUSI
Seorang laki-laki, berusia 58 tahun datang ke poli T.H.T.K.L dengan keluhan utama terdapat tahi lalat di pipi kanan yang makin membesar dan menjadi berwarna hitam kecoklatan sejak 8 bulan yang lalu.
Keluhan disertai rasa gatal pada tahi lalat. Penderita bekerja sebagai petani. Riwayat sering terpapar sinar matahari diakui.
Diskusi:
Anatomi dan histologi kulit
Etiopatogenesis neoplasma kulit kepala dan leher
Tipe neoplasma kulit kepala dan leher
Penegakkan diagnosis
Rencana penatalaksanaan
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan Pembelajaran Umum
Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan mampu untuk melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, dan menegakkan diagnosis neoplasma kulit kepala dan leher (karsinoma sel basal, karsinoma sel skuamosa dan melanoma maligna) serta melakukan penatalaksanaan bedah (eksisi luas)
Tujuan Pembelajaran Khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan mampu untuk:
Menguasai anatomi, topografi dan histologi yang berhubungan dengan neoplasma kulit kepala dan leher. (tingkat kompetensi K3, A3)
Mampu menjelaskan faktor predisposisi neoplasma kulit kepala dan leher. (tingkat kompetensi K3, A3)
Mampu menjelaskan etiopatogenesis, gambaran klinik dan penegakkan diagnosis neoplasma kulit kepal dan leher. (tingkat kompetensi K3, A3)
Mampu menjelaskan pemeriksaan penunjang diagnosis seperti biopsi dan CT Scan. (tingkat kompetensi K3, A3, P5)
Mampu menjelaskan prinsip dasar tatalaksana penderita neoplasma kulit kepala dan leher (memberi penjelasan kepada penderita dan keluarganya, informed consent) dan mampu melakukan tindakan pembedahan (eksisi luas). (tingkat kompetensi K3, A3, P5)
METODE PEMBELAJARAN
Tujuan 1. Menguasai anatomi, topografi dan histologi yang berhubungan dengan neoplasma kulit kepala dan leher
Untuk mencapai tujuan ini, maka dipilih metode pembelajaran berikut :
Referat
Skill Lab
Atlas review
Tujuan 2. Mampu menjelaskan faktor predisposisi neoplasma kulit kepala dan leher
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut :
Referat
Literature reading
Tujuan 3. Mampu menjelaskan etiopatogenesis, gambaran klinik dan penegakkan diagnosis neoplama kulit kepal dan leher
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut :
Bedside teaching
Praktik lapangan (poliklinik)
Tujuan 4. Mampu menjelaskan pemeriksaan penunjang diagnosis seperti biopsi dan CT Scan.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut :
Bedside teaching
Praktik lapangan (poliklinik)
Tujuan 5. Mampu menjelaskan prinsip dasar tatalaksana penderita neoplasma kulit kepala dan leher (memberi penjelasan kepada penderita dan keluarganya, informed consent) dan mampu melakukan tindakan pembedahan (eksisi luas).
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut :
Bedside teaching
Praktik lapangan (OK)
EVALUASI
Pada tahap awal pertemuan diberikan pengantar kuliah tentang neoplasma kulit kepala dan leher dengan ilustrasi gambar. Karena bahan dan ilustrasi gambar yang ada hanya sedikit maka peserta didik diharapkan mencari bahan dan gambar dari text book ataupun internet untuk menambah wacana.
Dilakukan diskusi dengan instruktur pembimbing untuk membahas kekurangan materi pembelajaran yang ada dan teknik/keterampilan ekstraksi
Pendidik/fasilitas
diskusi
kriteria penilaian : cakap/tidak cakap, lalai
Diakhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila perlu diberi tugas untuk bisa lebih terampil .
Pencapaian pembelajaran pendidikan
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Kuesioner sebelum pembelajaran (pretest)
Faktor apakah yang menyebabkan agresisifitas kanker skuamosa pada kulit kepala dan leher?
riwayat paparan matahari
riwayat radiasi pada kulit sebelumnya
riwayat ingesti arsen
riwayat kanker skuamosa lain sebelumnya
ukuran dan dalamnya tumor
Jawaban: A
Dimanakah yang sering terjadi rekurensi keganasan kulit kapala & leher ?
sulkus preaurikuler
kantus medialis
mentum
alar-nasal-labial junction
kolumela nasal
Jawaban: D
Apakah terapi utama pada melanoma maligna pada kepala dan leher ?
irradiasi
operatif
kemoterapi
imunoterapi
observasi
Jawaban: B
Kuesioner tengah pembelajaran
Apa yang harus dilakukan apabila ditemukan lesi kecil berpigmen yang mencurigakan pada anak?
observasi
diukur dan didokumentasikan
dioperasi untuk tujuan diagnostik
dioperasi untuk tujuan aestetik
kemoterapi
Jawaban: C
Kapan diseksi leher direkomendasikan pada keganasan kulit kepala dan leher?
tidak ada
melanoma dengan ketebalan lebih dari 1.2 mm
melanoma yang mencapai level II
melanoma yang telah mengalami ulserasi
selalu dilakukan rutin
Jawaban: B
Kuesioner Akhir pembelajaran
Seorang laki-laki usia 58 tahun datang dengan keluhan bercak hitam berkoreng pada daerah hidung. Pasein mengaku keluhan diawali dengan tahi lalat hitam yang makin lama membesar dan terasa gatal. Pasien mengaku sering tidak sengaja tergaruk sehingga
timbul luka. Pada pemeriksaan T.H.T.K.L tidak ditemukan kelainan. Bagaimana cara mendiagnosis dan terapi pada kasus ini ?
Jawaban:
Dilakukan biopsi pada daerah lesi untuk menentukan histopatologinya
Jika positif neoplasma kulit kepala dan leher (melanoma maupun non melanoma) pilihan terapi adalah eksisi luas
Jika defek cukup luas bisa dilakukan skin graft atau flap kulit setelah eksisi luas
INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR
PROSEDUR EKSISI LUAS NEOPLASMA KULIT KEPALA LEHER
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.: T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan) |
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
NAMA PESERTA: ............................... TANGGAL: .................................
NO | KEGIATAN | KASUS | |||
1 | 2 | 3 | T/D | ||
I. PERSIAPAN SEBELUM TINDAKAN | |||||
• | Informed consent | ||||
• | Rencana tindakan | ||||
• | Persiapan peralatan | ||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR OPERASI | |||||
1. | Penderita dalam keadaan teranestesi dan lakukan desinfeksi daerah yang akan dioperasi | ||||
2. | Membuat marker dengan batas reseksi yang adekuat diperlukan untuk mencapai batas aman 4 mm, bagi kebanyakan kasus BCC dan SCC batas 4 mm dari lesi cukup untuk lesi yang berukuran 2cm atau kurang. Namun untuk lesi dengan ukuran lebih dari 2cm terletak di area yang berisko rekurensi dan diinvasi lemak atau tidak berdiferensiasi baik diperlukan batas eksisi 6 mm. Sebagai tambahan diperlukan pertimbangan untuk mencapai batas yang aman. | ||||
3. | Insisi kulit sesuai dengan marker, insisi diperdalam sampai seluruh tumor terangkat | ||||
NO | KEGIATAN | KASUS | |||
1 | 2 | 3 | T/D | ||
4 | Rekonstruksi dari defek tergantung pada ukuran defek dan sifat tumor yang dieksisi. Untuk lesi yang lebih kecil penutupan primer dan proses penyembuhan luka adalah pilihan yang direkomendasikan | ||||
5 | Pada defek yang lebih besar (intermediate) diperlukan skin graft atau rotational flap untuk penutupan defek yang adekuat. Untuk defek yang besar maka diperlukan maka perlu regional atau pedicled flaps atau free flaps | ||||
6 | Operasi selesai | ||||
DAFTAR TILIK
PROSEDUR EKSISI TUMOR KULIT KEPALA DAN LEHER
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini: Î Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan proseduratau panduan standar T/T Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih |
Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar
PESERTA: TANGGAL :
NO | KEGIATAN | KASUS | ||
X | T/T | |||
I. PERSIAPAN SEBELUM TINDAKAN | ||||
Informed consent | ||||
Rencana tindakan | ||||
Persiapkan peralatan | ||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR OPERASI | ||||
1. | Penderita dalam keadaan teranestesi dan lakukan desinfeksi daerah yang akan dioperasi | |||
2. | Membuat marker dengan batas reseksi yang adekuat diperlukan untuk mencapai batas aman 4mm, bagi kebanyakan kasus BCC dan SCC batas 4mm dari lesi cukup untuk lesi yang berukuran 2cm atau kurang. Namun untuk lesi dengan ukuran lebih dari 2cm terletak di area yang berisko rekurensi dan dinvasi lemak atau tidak berdiferensiasi baik diperlukan batas eksisi 6mm. Sebagai tambahan diperlukan pertimbangan untuk mencapai batas yang aman. | |||
3. | Insisi kulit sesuai dengan marker, insisi diperdalam sampai seluruh tumor terangkat | |||
NO | KEGIATAN | KASUS | ||
✓ | X | T/T | ||
4 | Rekonstruksi dari defek tergantung pada ukuran defek dan sifat tumor yang dieksisi. Untuk lesi yang lebih kecil penutupan primer dan proses penyembuhan luka adalah pilihan yang direkomendasikan | |||
5 | Pada defek yang lebih besar (intermediate) diperlukan skin graft atau rotational flap untuk penutupan defek yang adekuat. Untuk defek yang besar maka diperlukan maka perlu regional atau pedicled flaps atau free flaps | |||
6 | Operasi selesai | |||
MATERI PRESENTASI
Slide 1: Anatomi dan histologi kulit
Slide 2: Faktor predisposisi dan jenis-jenis neoplasma kulit kepala dan leher
Slide 3: Gejala klinik neoplasma kulit kepala leher
Slide 4: Diagnosis neoplasma kulit kepala leher
Slide 5: Penatalaksanaan neoplasma kulit kepala leher
MATERI BAKU
Definisi
Kanker kulit ialah suatu penyakit yang ditandai oleh pertumbuhan sel-sel kulit yang tidak terkendali, dapat merusak jaringan di sekitarnya dan dapat menyebar ke bagian tubuh lain.
Ruang lingkup
Keluhan penderita umumnya adalah adanya perubahan pada kulit berupa lesi ulserasi, tahi lalat yang terasa gatal dan makin membesar. Adapun faktor predisposisi terjadinya tumor kulit adalah paparan sinar ultraviolet, paparan zat kimia arsen, imunosupresif, dan faktor genetik.
Lapisan Kulit
Kulit terdiri dari 3 lapis, yaitu
Epidermis
Dermis
Hipodermis
Tidak ada garis tegas yang memisahkan dermis dan subkutis, subkutis yang ditandai dengan adanya jaringan ikat longgar dan adanya lemak.
Fungsi Kulit
Fungsi Proteksi
Fungsi Absoprsi
Fungsi Eksresi
Fungsi Persepsi
Fungsi Termoregulasi
Fungsi Pembentukan Pigmen
Fungsi Keratinisasi
Fungsi pembentukan vitamin D
Faktor predisposisi terjadinya tumor kulit:
Paparan sinar matahari
Faktor risiko terpenting pada patogenesis Non Melanoma Skin Cancers (NMSCs) adalah tingkat paparan dari sinar ultraviolet, adapun panjang sinar ultraviolet berkisar 290-320 nm yang berperan sebagai karsinogenesis. Akibat paparan dalam waktu yang lama maka akan menyebabkan perubahan struktur dari kulit yang normal menjadi aktinik kemudian akhirnya menjadi kanker kulit, proses ini berjalan progresif dan terjadi dalam beberapa dekade.
Paparan zat arsen
Faktor lain yang dapat berhubungan dengan keganasan kulit adalah paparan jangka panjang terhadap zat kimia yaitu zat arsen pada pada penderita yang mendapat terapi Fowlers solution, penderita dengan radiodermatitis kronik. Zat arsen dapat mengganggu mekanisme DNA repair sehingga proses mutasi yang terjadi karena ultra violet B tidak bisa diperbaiki.
Immunosupresi
Pada penderita yang mendapat transplantasi organ dan pada penderita leukemia atau limfoma dapat meningkatkan insidensi keganasan dari kulit
Faktor genetik
Terdapat dua macam penderita dengan sindrom genetik yang jarang yaitu xeroderma pigmentosa dan nevoid basal cell carcinoma syndrome yang akan berkembang menjadi NMSC. Xeroderma pigmentosa kelainan genetik autosomal resesif dimana terdapat penurunan kapasitas perbaikan kerusakan DNA akibat radiasi sinar ultraviolet. Sindrom Nevoid karsinoma sel basal adalah suatu sindrom genetik autosomal dominan yang ditandai dengan terdapatnya atau terjadinya beberapa BCC, kista pada rahang, kelainan tulang rusuk, pits pada palmar dan plantar, dan kalsifikasi pada falx cerebri.
Faktor lain yang mempengaruhi adalah:
Usia
Pekerjaan
Kebiasaan berjemur
lokasi geografi (dianggap secara tidak langsung meningkatkan paparan sinar matahari)
Trauma (luka bakar, ulcers, contoh: Marjolin ulcer)
HPV
Pembagian neoplasma kulit kepala dan leher
Non melanoma
Basal Cell Carcinoma (BCC) / Kasinoma sel basal / Basalioma
Suatu tumor ganas yang berasal dari pertumbuhan neoplastik sel basal epidermis dan apendiks kulit. Basalioma bersifat invasif, destruktif lokal dan sangat jarang bermetastasis ke organ lain. Lebih dari 90% etiologi basalioma adalah paparan sinar matahari atau penyinaran ulraviolet yang berlebihan. Lokasi predileksi terutam pada wajah (pipi, hidung, lipatan nasolabial, daerah periorbital), leher, lengan, tangan, badan, kaki dan kulit kepala. Gambaran klinik basalioma bervariatif diantaranya adalah nodulo-ulseratif, berpigmen, morfea, superfisial dan fibroepitelioma.
Squamous Cell Carcinoma (SCC) / Karsinoma sel skuamosa (KSS)
Suatu proliferasi ganas dari keratinosit epidermis yang merupakan tipe sel epidermis yang paling banyak dan merupakan salah satu kanker kulit yang sering dijumpai setelah basalioma. Faktor predisposisi KSS antara lain radiasi sinar ultraviolet, bahan karsinogen, dan paparan arsenik. Lokasi predileksi tersering adalah wajah, telinga, punggung, tangan dan tungkai bawah.
Secara klinis ada 2 bentuk KSS, yaitu :
KSS in situ yaitu terbatas pada epidermis
KSS invasif yaitu berupa nodul kecil dengan batas yang tidak tegas, warna sama dengan kulit atau agak sedikit eritem.
Permukaannya mula-mula lembut berkembang menjadi veruka atau papilomatosa, ulserasi timbul didekat tumor, mudah berdarah dan pinggir ulkus biasanya meninggi dan mengeras.
Shah JP et al. Scalp and Skin. Head and Neck Surgery and Oncology. 5th ed.,2020.
Melanoma Maligna
Suatu keganasan sel melanosit yang dapat terjadi pada kulit, mata, telinga, GIT dan mukosa oral atau genital. MM merupakan salah satu tumor ganas dengan kemampuan metastasis ke beberapa organ termasuk otak dan hati. Kejadian MM kurang lebih 4% dari seluruh keganasan kulit namun merupakan penyebab 79% kematian akibat karsinoma kulit. MM tiga kali lebih sering terjadi pada kulit putih dibandingkan kulit berwarna dan lebih sering diderita oleh laki-laki dengan umur rata-rata pasien 53 tahun.
Penyebab melanoma maligna bersifat multifaktorial dan berkaitan dengan berbagai faktor risiko yaitu kulit terang (tipe I dan II), paparan sinar matahari berlebihan, lepuh kulit akibat terbakar sinar matahari, mole (tahi lalat), displastik yang jumlahnya banyak, riwayat MM pda keluarga dan dijumpai perubahan pada kulit.
Terdapat 4 subtipe kliniko-histopatologik melanoma primer meliputi:
Superficial Spreading Melanoma (SSM),
Nodular Melanoma (NM),
Lentigo Maligna Melanoma (LMM),
Acral Lentiginous Melanoma (ALM).
NM merupakan tipe terbanyak terjadi di Indonesia yaitu 15-30% pasien. Gambaran klinis berupa nodul berbentuk kubah atau papul berwarna coklat kehitaman, kadang-kadang mengalami ulserasi dan perdarahan akibat trauma minor.
Shah JP et al. Scalp and Skin. Head and Neck Surgery and Oncology. 5th ed.,2020.
Pasien MM merlukan pengawasan periodik terhadap rekurensi, metastasis dan keganasan baru selama sisa hidupnya. Angka ketahanan hidup 5 tahun MM pada semua ras rata-rata mencapai 90%. Penentuan stadium klinik menurut AJCC dan UICC terbaru. Selain itu juga bisa digunakan kriteria Clark's Level.
Penentuan stadium tumor kulit NMSCs berdasarkan American Joint Committee on Cancer menggunakan TNM AJCC 8 tahun 2017 (Tumor, Node, Metastasis).
Klasifikasi TNM: untuk NMSC (BCC dan SCC)
Tx : Tumor primer tidak dapat dinilai T0 : Tidak didapat tumor primer
Tis : Tumor insitu
T1 : Tumor dengan ukuran � 2 cm �
T2 : Tumor dengan ukuran > 2 � 4 cm
T3 : Tumor > 4 cm pada dimensi maximum atau ada erosi tulang minor aatau invasi perineural atau invasi yang dalam
T4 : Tumor dengan tulang kortikal/ marrow atau invasi ke foramen pada skull base
T4a : Tumor dengan invasi ke tulang kortikal / marrow
T4b : Tumor dengan invasi skull base atau keterlibatan foramen skull base
Nx : KGB tidak dapat dinilai
N0 : Tidak didapat metastasis ke KGB,
N1 : Terdapat metastasis ke KGB, tunggal, ipsilateral < 3 cm ENE (-)
N2a : Terdapat metastasis ke KGB, tunggal, ipsilateral , lebih dari 3 cm tapi kurang dari 6 cm, ENE (-)
N2b : Terdapat metastasis ke KGB, multiple, ipsilateral , lebih dari 6 cm
N2 c : Metastasis pada bilateral atau kontralateral nodus limfatikus atau > 6 cm, ENE (-)
N3a : Metastasis pada nodus limfatikus > 6 cm N3b : Metastasis pada nodus manapun dan ENE (+)
M0 : Tidak terdapat metastasis jauh M1 : Terdapat metastasis jauh
Stadium
Stadium 0 : Tis N0 M0 Stadium I : T1 N0 M0 Stadium II : T2 N0 M0
Stadium III : T3 N0 M0; T1,2,3 N1 M0 Stadium IV : T1,2,3 N2 M0
Any T , N3, M0 T4, Any N, M0
Any T, Any N, M1
Terapi pada neoplasma kulit kepala dan leher NMSCs :
Saat melakukan operasi reseksi kanker kulit di daerah kepala dan leher, tujuannya adalah melakukan reseksi tumor dengan membersihkan daerah margin pembedahan sambil mempertahankan fungsi dan kosmetik sebelum dilakukan rekonstruksi definitif. Adapun beberapa tindakan yang dapat dilakukan adalah :
Kuretase dengan elektrodisekasi
Kuretase dengan elektrodisekasi merupakan terapi terbanyak untuk BCC atau lebih dikenal electrosurgery atau elektrodisekasi dengan kuretase. Metode ini banyak dipakai oleh ahli dermatologi yang menangani sebagaian besar dari lesi tersebut, dan menunjukkan hasil yang baik apabila digunakan secara tepat dengan tingkat kesembuhan 81-97%.
Alasan pemilihan metode ini pada BCC dan SCC adalah karena keduanya memiliki permukaan yang lembut, sehingga dapat dilakukan kuretase. Ditangan yang ahli dengan metode ini dapat mengangkat semua tumor yang teraba menggunakan alat kuret berbagai ukuran, setelah didapatkan jaringan yang terasa normal pada bagian basal yang di eksisi maka dilakukan elektrodisekasi atau fulgurasi. Proses ini dilakukan sebanyak 2-6 kali. Keuntungan metode ini adalah menyisakan jaringan normal sebanyak mungkin, serta mudah dilakukan. Kerugiannya adalah perlu perawatan pada luka terbuka, menimbulkan skar, dan perdarahan.
Indikasi menggunakan metode ini hanya pada lesi dengan diameter kurang dari 2 cm. Kontraindikasi metode ini antara lain lesi dengan invasi dalam, karsinoma sel basal sklerotik (morphea-like), letak lesi di area yang memiliki tingkat rekurensi tinggi (hidung, telinga, periokular, dan perioral), melanoma maligna, dan tumor rekuren.
Cryosurgery (bedah beku)
Cryosurgery atau bedah beku adalah pilihan terapi lain yang mungkin sesuai untuk beberapa lesi sel basal. Sebagaimana elektrosurgery dibutuhkan keahlian dan pengalaman Cryogen terbanyak yang digunakan berupa nitrogen cair. Temperatur yang dianggap letal bagi jaringan tumor adalah minimal -30 oC sampai -50oC.
Jaringan tumor dan area sekitar tumor dibekukan untuk memastikan ablasi yang adekuat. Termocaupel diinsersikan ditepi area lesi untukmenjamin suhu yang sesuai agar terjadi kematian sel. Kelebihan dari teknik ini adalah angka kesembuhan yang tinggi, banyak menyelamatkan jaringan yang sehat di sekitarnya. Indikasi dan
kontraindikasi metode ini sama dengan metode elektrodisekasi. Kekurangan metode ini lamanya fase penyembuhan, dan perawatan luka.
Radiasi
Terapi radiasi efektif untuk mengatasi kanker kulit dan telah digunakan sebelumnya. semakin ditinggalkannya terapi radikal maka terapi radiasi makin populer. Kelebihan metode ini adalah kemampuan untuk menjangkau secara luas jaringan tumor, dan menghindari pembedahan. kekurangannya meliputi metode ini memakan waktu berlarut- larut biaya yang tidak murah, efek jaringan yang berdekatan, efektivitas terbatas jika tumor melibatkan tulang rawan atau tulang, radiodermatitis. Terapi radiasi biasanya dipilih pada pasien yang tidak layak di operasi karena kondisi umumnya, terapi tambahan untuk pembedahan, terapi paliatif pada lesi yang luas.
Terapi Photodinamik untuk keganasan kulit pada kepala dan leher Photodynamic therapy (PDT) adalah metodeterapi yang menggunakan zat photosentizasi yang akan mencapai lokasi tumor secara selektif, zat tersebut akan aktif apabila terkena paparan sinar sehingga memberikan efek terapi. Walaupun metode ini menjanjikan, tapi masih diteliti lebih lanjut. Terdapat dua komponen untuk melakukan metode terapi ini, yaitu obat photosensitisasi, dan laser yang mengaktivasi obat. Obat yang paling banyak digunakan pada keganasan kulit kepala dan leher adalah porphyrin. Beberapa obat lain yang digunakan adalah tetrasiklin, fluorese, dan rodamin. Berdasarkan kajian literatur pada awalnya metode ini digunakan untuk tindakan kanker kulit stadium lanjut. Beberapa seri metode ini memberikan respon awal yang baik pada beberapa pasien, namun pemantauan jangka panjang sulit dilakukan. Masalah utama yang perlu dievaluasi adalah keragaman dari teknik, obat, dan dosis sinar. Keuntungan PDT adalah beberapai lesi dapat diterapi secara bersamaan, memiliki hasil kosmetik yang baik, dan tidak memerlukan anestesi. Kekurangannya meliputi respon yang tidak dapat diprediksi pada lesi lanjut, dan phosensitifisitas.
lnterferon a
Interferon a merupakan kelompok sitokin yang muncul secara alami dan memiliki efek biologis antara lain mengatur pertumbuhan dan diferensiasi sel, memodulasi respon imun, dan memiliki aktifitas antiviral. Pemeberian Interferon a intralesi cocok untuk mengobati karsinoma sel basal superfisial dan nodular dengan angka kesembuhan lebih dari 80%.
Bedah Eksisi (Eksisi luas)
Merupakan metode terbanyak yang dipakai untuk keganasan kulit pada kepala dan leher. Klinisi harus memiliki 4 tujuan yaitu:
Pengangkatan/penghancuran total tumor
Mempertahankan sebanyak mungkin jaringan normal
Mempertahankan fungsi
Perhatikan kosmetik.
Mob's Surgery
Merupakan teknik operasi untuk membersihan semua epidermis, intradermal,
dan sub dermal secara histologis dari kanker kulit. Merupakan teknik pembedahan khusus yang mampu mempertahankan jaringan sehat semaksimal mungkin. Ini diindikasikan untuk kanker kulit dengan subklinis yang tidak terduga dengan ekstensinya pada daerah dengan risiko tinggi untuk kekambuhan lokal. Sebelum melakukan eksisi tumor lengkap diperlukan insisi awal. Dengan metode ini pasta zinc klorida diaplikasikan ke massa tumor untuk memfiksasi in situ dan melakukan eksisi serial agar dapat dilakukan pemeriksaan seluruh spesimen secara histologis. Hal ini mempermudah pengambilan sisa tumor sehingga dapat dilakukan eksisi ulang pada kanker tersebut. Sebelum eksisi lengkap tumor, serta awal sayatan harus mencakup tanda asimetris agar batas tumor menjadi akurat. Spesimen dibagi menjadi 4 untuk mempermudah proses pemeriksaan histologis dari seluruh sisi tumor. Serial reseksi dan pemeriksaan patologis ini di ulang sampai daerah bebas tumor. Dibandingkan dengan modalitas terapi lain metode ini memberikan angka kesembuhan yang tinggi pada kanker kulit. Angka harapan hidup 5 tahun lebih 99% pada BCC dengan SCC dengan eksisi primer, juga bisa dilakukan pada tumor rekuren 96%, disisi lain SCC yang diterapi dengan metode ini angka kesembuhan 5 tahunnya pada pasien dengan metastasis adalah 16%, sedangkan pada pada yang tidak metastasis sampai 96%. Kekurangan metode ini adalah prosedur tindakannya lama, perlu peralatan khusus (cryostat), dan perlu tim ahli khusus.
Laser karbondioksida
Eksisi dengan metode laser cocok untuk beberapa kanker kulit. Indikasi metode ini adalah pada penderita dengan status kardio atau kondisi medis lainnya yang merupakan kontraindikasi pemberian epinefrin untuk anestesi lokal. Lidokain tanpa tambahan vasokonstriktor memiliki durasi 10 menit, lebih lama dari waktu yang diperlukan untuk melakukan reseksi sebagaian besar lesi di muka pada kondisi kekurangan darah dengan terapi laser CO2. Apabila di tepi lesi masih ditemukan tumor, dibutuhkan anestesi infiltrasi tambahan jika diperlukan untuk pengambilan jaringan. Jika telah ditentukan bahwa batas lesi bebas tumor, maka area flap lokal di infiltrasi dan dilakukan rekonstruksi. Terapi laser ini juga memiliki keuntungan pada penderita dengan kelainan darah. Indikasi lain dari laser CO2 adalah reseksi atau vaporisasi lesi kecil multipel yang tidak memerlukan rekonstruksi. Lesi yang berukuran antara 7-8 mm dapat direseksi tanpa disertai perdarahan, dan dapat sembuh sempurna dalam 10 hari, sehingga dapat mempertahankan kosmetik. Metode ini terutama efektif dalam penatalaksanaan lesi multipel premalignansi atau yang berpotensi malignan pada kanker kulit.
Tatalaksana Melanoma Skin Cancer / Melanoma Kulit
Bedah Eksisi
Terapi standar untuk melanoma kulit adalah bedah eksisi komplit dari lesi primer. Menurut pedoman American Academy Dermatology (AAD) terbaru tatalaksana melanoma kulit merekomdasikan 0,5cm dari batas melanoma in situ,
1cm untuk melanoma invasif dengan ketebalan <2mm, 2cm batas dari tumor untuk tumor dengan ketebalan >2mm. Eksisi melanoma pada tempat yang khusus seperti telinga, hidung atau tempat yang lain di kepala dan leher memerlukan teknik pembedahan yang khusus dengan memperhatikan kosmetik. Sebagai tambahan seorang ahli bedah harus berfikir 3 dimensi, yaitu bagaimana mendapat batas yang dalam sebagaimana batas lateral 40 (contoh pertimbangan perlu tidaknya reseksi otot dan tulang muka untuk mendapat batas yang adekuat).
Biopsi sentinel kelenjar getrah bening dan diseksi elektif kelenjar getah bening.
Sentinel KGB adalah nodus KGB pertama atau KGB yang merupakan drainase ke massa tumor. Biopsi KGB sentinel dilakukan untuk menentukan apakah terjadi metastasis regional. Area kepala dan leher merupakan area yang sulit dipetakan, angka keberhasilannya 70-80%, namun dengan menggunakan teknik pemetaan dapat meningkat sampai 95%.
Terapi adjuvant
Terapi adjuvan yang ideal belum ditemukan. Penelitian terbaru menunjukkan angka kebebasan tumor meningkat secara signifikan pada penderita resiko tinggi yang menderita melanoma setelah mendapat intrferon a dosis tinggi. Regimen pemberiaannya yaitu IFN-a intravena (20x106 IU/m2 /hari, selama 5 hari dalam seminggu untuk 4 minggu), diikuti pemberian IFN-a subkutan (10x106 IU/m2
/hari, selama 3 hari dalam seminggu untuk 11 bulan) dengan pertimbangan efek samping yang dapat terjadi pemberian IFN-a dosis tinggi telah ditemukan IFN-a dosis rendah yang memili imunitas lebih baik berdasarkan penelitian in vitro; penelitian terbaru menggunakan IFN-a subkutan dosis rendah selama 2 tahun.
Kemoterapi
Tujuan pemberian Kemoterapi terbagi menjadi dua bagian besar : sebagai terapi adjuvant pada penderita risiko tinggi dan sebagai terapi paliatif pada penderita stadium IV.
DAFTAR ISI
MODUL VII.19
ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER: NEOPLASMA TRAKEOBRONKIAL
WAKTU
Proses Pengembangkan Kompetensi | Alokasi Waktu |
Sesi dalam kelas Sesi dengan fasilitas pembimbing Sesi praktek dan pencapaian kompetensi | 2 x 60 menit (classroom session) 1 x 60 menit (coaching session) 6 Jam (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi presentasi Karsinoma Nasofaring
Power point
Video
Kasus
Neoplasma trakeobronkial
Sarana dan alat bantu latih
Penuntun belajar (learning guide): terlampir
Tempat belajar (training setting): instalasi rawat inap, instalasi rawat jalan, kamar operasi, ruang praktikum, ruang kuliah
Model/manekin atau kadaver
Komputer/laptop
Infocus
REFERENSI
Potts KL., Bumpous JM. Tracheal Tumors. 2014. in Bailey B.J, Johnson J.T, , In
: Head and Neck Surgery - Otolaryngology, 5th. edition, Volume two, Lippincott Williams & Wilkins, p : 1990 - 9.
Gilbert RW, Keshavjee S. Tumor of the Cervical Trachea. In: Myers J, Hanna E, Myers E, ed. Cancer of The Head and Neck. 5th ed. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2017. p. 741-56
Shah JP, Patel SG, Singh B, et al. Scalp and Skin. In: Shah JP, ed. Head and Neck Surgery and Oncology. 5th ed. Philadelphia: Elsevier; 2020. p. 365-440
KOMPETENSI
Pengetahuan
Mampu menegakkan diagnosis neoplasma trakeobronkial berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang (bronkoskopi, biopsi, CT-scan). Peserta didik dapat memutuskan dan melakukan terapi pendahuluan serta merujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih tinggi/ tersier (bedah toraks kardiovaskuler)
Keterampilan
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil:
Mengenali gejala dan tanda neoplasma trakeobronkial.
Melakukan anamnesis dan pemeriksaan klinis neoplasma trakeobronkial.
Melakukan keputusan untuk pemeriksan penunjang seperti foto polos leher, bronkoskopi, CT-scan atau MRI.
Membuat keputusan klinik untuk penatalaksanaan lanjut neoplasma trakeobronkial, seperti merujuk ke pelayanan kesehatan yang lebih tinggi / tersier (bedah toraks kardiovaskuler)
GAMBARAN UMUM
Neoplasma trakeobronkial adalah massa tumor yang terdapat didalam lumen trakeabronkial. Tumor ini jarang dijumpai dan lambat terdiagnosa karena tidak ada gejala spesifik dan foto toraks dalam batas normal. Tumor trakea cenderung menyebabkan gejala progresif dari beberapa bulan sampai beberapa tahun karena sifatnya tumbuhnya lambat, mereka sering menyebabkan diagnosis akurat yang tertunda. Gejala yang ditimbulkan tergantung dari besarnya tumor yang menyebabkan obstruksi jalan napas sehingga sering memerlukan pengelolaan saluran napas yang bersifat segera. Jika lesi berupa ulcer, maka batuk kronis dan hemoptisis dapat timbul. Mengi, stridor, suara serak kesulitan throat clearing dan infeksi saluran napas dapat juga ditemui.
CONTOH KASUS DAN DISKUSI
Seorang laki-laki, 54 tahun mengeluh batuk, dengan dahak bercampur darah (haemoptisis) disertai sesak dan stridor. Keluhan ini dirasakan sejak 3 tahun. Telah dilakukan foto toraks dengan hasil paru normal. Riwayat pengobatan ke dokter diberikan antibiotika. Hasilnya membaik tapi kambuh kembali, sesak makin memberat disertai disfagia. Pada bronkoskopi didapatkan massa kemerahan berbenjol pada 1/3 atas trakea.
Diskusi :
Anatomi & histologi trakeobronkial
Etiopatogenesis neoplasma trakeobronkial
Tipe neoplasma trakeobronkial
Prosedur diagnosis
Rencana penatalaksanaan
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan pembelajaran umum
Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan mampu untuk melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, penegakkan diagnosis neoplasma trakeobronkial dan merujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih tinggi /tersier (bedah toraks kardiovaskuler)
Tujuan pembelajaran khusus
Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan mampu untuk :
Menguasai anatomi, topografi, histologi yang berhubungan dengan neoplasma trakeobronkial
Mampu menjelaskan faktor risiko neoplasma trakeobronkial
Mampu menjelaskan etiopatogenesis, gambaran klinik dan penegakkan diagnosis neoplasma trakeobronkial
Mampu menjelaskan pemeriksaan penunjang diagnosis seperti foto polos leher, bronkoskopi, esofagoskopi dan CT-scan
Mampu menjelaskan prinsip dasar tatalaksana penderita neoplasma trakeobronkial (memberi penjelasan kepada penderita dan keluarganya, informed consent) serta mampu merujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi/ tersier (bedah toraks kardiovaskuler).
METODE PEMBELAJARAN
Untuk mencapai tujuan 1-5 diatas, menggunakan metode pembelajaran sebagai berikut:
small group discussion
peer assisted learning
bedside teaching
task-based medical education
log-book
EVALUASI
Pada tahap awal pertemuan diberikan pengantar kuliah tentang neoplasma trakeobronkial dengan ilustrasi gambar. Karena bahan dan ilustrasi gambar yang ada hanya sedikit maka peserta didik diharapkan mencari bahan dan gambar dari text book ataupun internet untuk menambah wacana.
Dilakukan diskusi dengan instruktur pembimbing untuk membahas kekurangan materi pembelajaran yang ada dan tehnik/keterampilan ekstraksi
Pendidik/fasilitas
diskusi
kriteria penilaian : cakap/tidak cakap, lalai
Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila perlu diberi tugas untuk bisa lebih terampil .
Pencapaian pembelajaran pendidikan
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Kuesioner Sebelum Pembelajaran (pre-test)
Jenis neoplasma apakah yang terbanyak ditemukan pada trakeobronkial?
SCC dan Adenocarcinoma
SCC dan adenoid cystic carcinoma
SCC dan mukoepidermoid carcinoma
Adenoid cystic carcinoma dan chondrosarkoma
Adenoid cystic carcinoma dan mukoepidermoid carcinoma
Jawaban: B
Pemeriksaan radiologis apakah yang disarankan dalam mendiagnosis neoplasma trakeobronkial?
Rontgen thorax
Soft tissue leher
Ct-scan
MRI
USG
Jawaban: C
Pada pasien yang dicurigai menderita neoplasma trakeobronkial didaerah proksimal, tindakan apakah yang sebaiknya dilakukan pada pasien tersebut?
AJH
Reseksi trakea
sitologi sputum selam 3 hari berturut-turut
Bronkoskopi kaku dengan anestesi umum
Bronkoskopi fleksibel dengan anestesi lokal
Jawaban : E
Kuesioner Tengah Pembelajaran
Seorang laki-laki usia 67 tahun mengalami keluhan suara serak disertai stridor dan sesak nafas yang dirasakan sejak 3 tahun yang lalu dan makin lama makin memberat, kadang disertai dengan darah. Pasien ini adalah perokok berat selama 35 tahun. Pada pemeriksaan rontgen toraks tidak ditemukan kelainan yang signifikan. Pada pemeriksaan THT tidak ditemukan kelainan dan tidak ada pembesaran kelenjar getah bening leher. Tindakan apakah yang sebaiknya dilakukan pada pasien tersebut untuk menegakkan diagnosis?
Jawaban :
Bronkoskopi dan biopsi massa (untuk mengetahui histopatologi)
Ct-scan atau PET CT sentrasi trakeobronkial (untuk mengetahui lokasi tumor)
Rujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih tinggi/ tersier (bedah toraks kardiovaskuler)
INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR
PENUNTUN BELAJAR
BIOPSI NEOPLASMA TRAKEOBRONKIAL DENGAN MENGGUNAKAN BROKOSKOPI KAKU
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.: |
Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal
Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
Nama Peserta :......................... Tanggal : ..................
PENUNTUN BELAJAR | |||||
NO | KEGIATAN | KASUS | |||
1 | 2 | 3 | T/D | ||
I. PERSIAPAN SEBELUM TINDAKAN | |||||
• | Informed choice &Informed consent | ||||
• | Rencana tindakan | ||||
• | Persiapkan peralatan | ||||
II. PERSIAPAN PROSEDUR OPERASI | |||||
1. | Narkose umum dan anestesi topikal (spray) pada pita suara | ||||
2. | Setelah bronkoskop masuk ke lumen trakea, anestesi dan oksigen disambung pada bronkoskop (Holinger Ventilation Bronchoscope) | ||||
3. | Lumen bronkoskop ditutup dengan penutup kaca (glass cupped adaptor) | ||||
Persiapan Bronkoskopi | |||||
1. | Penderita terlentang diatas meja operasi, seorang perawat membantu memegang dan mengatur posisi kepala. | ||||
2. | Alat-alat endoskopi disiapkan dibagian belakang kanan operator untuk memudahkan operator alat apa yang akan dibutuhkan dan dibantu oleh perawat instrumen. | ||||
III. PROSEDUR OPERASI | |||||
Tindakan Bronkoskopi | |||||
A. | Bronkoskopi / Trakeoskopidengan Bantuan Laringoskop dan Biopsi Neoplasma | ||||
1. | Laringoskop dengan Removable slide dipegang dengan tangan kiri kemudian dimasukkan, | ||||
(sementara gigi atas dan bawah dilindungi); sampai pita suara terlihat. | |||||
2. | Bronkoskop dipegang dengan tangan kanan dan dimasukkan melalui laringoskop kemudian masuk melalui laring ke trakea. | ||||
3. | Slide dari laringoskop dilepas dan laringoskop ditarik kebelakang sehingga hanya bronkoskop yang tertinggal. | ||||
4. | Bronkoskop dipegang dengan tangan kiri seperti memegang stik billiard sehingga tangan kanan bebas untuk memegang instrumen lainnya seperti suction canule, teleskop, forsep biopsi. | ||||
5. | Inspeksi dinding trakea dengan menggerakan bronkoskop dari sisi ke sisi lain, atas dan bawah dengan memakai teleskop untuk evaluasi adanya tumor (bentuk,permukaan,besar, posisi). Kemudian dilakukan biopsi tumor dengan forsep biopsi yang sesuai. Kontrol perdarahan dengan suction dan lilit kapas yang telah diberi adrenalin. | ||||
B. | Bronkoskopi / Trakeoskopi tanpa Laringoskop dan Biopsi Neoplasma | ||||
1. | Bronkoskop dipegang dengan tangan kanan seperti memegang pen dimasukkan sedikit agak ke sudut kanan mulut kemudian kebelakang sampai melewati lidah dan tampak epiglotis. | ||||
2. | Bronkoskop lewat dibawah epiglotis, tampak glotis melewati pita suara, komisura posterior. Kepala lebih ekstensi sehingga bronkoskop masuk ke trakea. | ||||
3. | Bronkoskop dipegang dengan tangan kiri seperti memegang stik billiard sehingga tangan kanan bebas untuk memegang instrumen lainnya seperti suction canule, teleskop, forsep. | ||||
4. | Inspeksi dinding trakea dengan menggerakan bronkoskop dari sisi ke sisi lain, atas dan bawah dengan memakai teleskop untuk evaluasi adanya tumor (bentuk,permukaan,besar, posisi). Kemudian dilakukan biopsi tumor dengan forsep biopsi yang sesuai. Kontrol perdarahan dengan suction dan lilit kapas yang telah diberi adrenalin | ||||
5. | Operasi selesai |
DAFTAR TILIK
PROSEDUR BRONKOSKOPI KAKU
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini: : Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau panduan standar X: Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan prosedur atau panduan standar T/T: Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih |
PESERTA: TANGGAL :
NO | KEGIATAN | KASUS | ||
X | T/D | |||
I. PERSIAPAN SEBELUM TINDAKAN | ||||
• | Informed choice &Informed consent | |||
• | Rencana tindakan | |||
• | Persiapkan peralatan | |||
II. PERSIAPAN PROSEDUR OPERASI | ||||
1. | Narkose umum dan anestesi topikal (spray) pada pita suara | |||
2. | Setelah bronkoskop masuk ke lumen trakea, anestesi dan oksigen disambung pada bronkoskop (Holinger Ventilation Bronchoscope) | |||
3. | Lumen bronkoskop ditutup dengan penutup kaca (glass cupped adaptor) | |||
Persiapan Bronkoskopi | ||||
1. | Penderita terlentang diatas meja operasi, seorang perawat membantu memegang dan mengatur posisi kepala. | |||
2. | Alat-alat endoskopi disiapkan dibagian belakang kanan operator untuk memudahkan operator alat apa yang akan dibutuhkan dan dibantu oleh perawat instrumen. | |||
III. PROSEDUR OPERASI | ||||
Tindakan Bronkoskopi | ||||
A. | Bronkoskopi/Trakeoskopi dengan bantuan Laringoskop dan Biopsi Neoplasma | |||
1. | Laringoskop dengan Removable slide dipegang dengan tangan kiri kemudian dimasukkan, (sementara gigi atas dan bawah dilindungi); sampai pita suara terlihat. | |||
2. | Bronkoskop dipegang dengan tangan kanan dan dimasukkan melalui laringoskop kemudian masuk melalui laring ke trakea. | |||
3. | Slide dari laringoskop dilepas dan laringoskop ditarik kebelakang sehingga hanya bronkoskop yang tertinggal. | |||
NO | KEGIATAN | KASUS | ||
X | T/D | |||
4. | Bronkoskop dipegang dengan tangan kiri seperti memegang stik billiard sehingga tangan kanan bebas untuk memegang instrumen lainnya seperti suction canule, teleskop, forsep biopsi. | |||
5. | Inspeksi dinding trakea dengan menggerakan bronkoskop dari sisi ke sisi lain, atas dan bawah dengan memakai teleskop untuk evaluasi adanya tumor (bentuk,permukaan,besar, posisi). Kemudian dilakukan biopsi tumor dengan forsep biopsi yang sesuai. Kontrol perdarahan dengan suction dan lilit kapas yang telah diberi adrenalin. | |||
B. | Bronkoskopi/Trakeoskopi tanpa Laringoskop dan Biopsi Neoplasma | |||
1. | Bronkoskop dipegang dengan tangan kanan seperti memegang pen dimasukkan sedikit agak ke sudut kanan mulut kemudian kebelakang sampai melewati lidah dan tampak epiglotis. | |||
2. | Bronkoskop lewat dibawah epiglotis, tampak glotis melewati pita suara, komisura posterior. Kepala lebih ekstensi sehingga bronkoskop masuk ke trakea. | |||
3. | Bronkoskop dipegang dengan tangan kiri seperti memegang stik billiard sehingga tangan kanan bebas untuk memegang instrumen lainnya seperti suction canule, teleskop, forsep. | |||
4. | Inspeksi dinding trakea dengan menggerakan bronkoskop dari sisi ke sisi lain, atas dan bawah dengan memakai teleskop untuk evaluasi adanya tumor (bentuk,permukaan,besar, posisi). Kemudian dilakukan biopsi tumor dengan forsep biopsi yang sesuai. Kontrol perdarahan dengan suction dan lilit kapas yang telah diberi adrenalin | |||
5. | Operasi selesai | |||
MATERI PRESENTASI
SLIDE 1 : Anatomi dan fisiologi trakeobronkial
SLIDE 2 : Faktor risiko dan jenis-jenis patologi neoplasma trakeobronkial
Faktor risiko timbulnya neoplasma trakeobronkial:
Merokok
Alkohol
Radiasi
Pekerjaan
Faktor-faktor lain
Patologi ganas: adenocarcinoma, adenosquamuss carcinoma, small cell carcinoma, atypical carcinoid, melanoma, chondrosarcoma, spindle cell carcinoma, rhabdomyosarcoma. Tapi sebanyak 2/3 adalah tipe squamuss cell carcinoma and adenoid cystic
Patologi jinak: squamus papiloma, pleomorfik adenoma, granular cell tumor, fibrus histiositoma, leiomyoma, chondroma, chondroblastoma, schwanoma, paraganglioma, hemangioendotelioma, vascular malformation.
Sifat: onsetnya perlahan dan tersembunyi sehingga sering terjadi keterlambatan diagnosis. Rata-rata durasi mulai timbulnya gejala sampai terdiagnosis pada squamuss cell carcinoma adalah 4 bulan sedangkan pada adenoid cystic adalah 18 bulan
Gejala yang timbul pada neoplasma trakeobronkial:
Batuk kronis
Hemoptisis
Sesak nafas
Mengi
Stridor
Infeksi saluran napas atas
Sesuai tipe tumor:
squamous cell carcinoma: hemoptysis is prominent, hoarseness
adenoid cystic: wheezing or stridor
SLIDE 3 : Gejala Klinik neoplasma trakeobronkial
SLIDE 4 : Diagnosis neoplasma trakeobronkial
Pemeriksaan Penunjang Radiologis:
CT-scan
PET CT
MRI
Rontgen thoraks
SLIDE 5 : Penatalaksanaan neoplasma trakeobronkial
Bronkoskopi kaku dan biopsi dengan anestesi umum
Rujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi/ tersier (bedah toraks kardiovaskuler)
Trakeostomi bila memungkinkan untuk menjaga airway
MATERI BAKU
Neoplasma Trakeobronkial
Neoplasma trakeobronkial adalah massa tumor yang terdapat didalam lumen trakeabronkial. Tumor ini jarang dijumpai dan lambat terdiagnosa karena tidak ada gejala spesifik dan foto toraks dalam batas normal. Tumor trakea cenderung menyebabkan gejala progresif dari beberapa bulan sampai beberapa tahun karena sifatnya tumbuhnya lambat, mereka sering menyebabkan diagnosis akurat yang tertunda. Gejala yang ditimbulkan tergantung dari besarnya tumor yang menyebabkan obstruksi jalan napas sehingga sering memerlukan pengelolaan saluran napas yang bersifat segera. Jika lesi berupa ulcer, maka batuk kronis dan hemoptisis dapat timbul. Mengi, stridor, suara serak, kesulitan throat clearing dan infeksi saluran napas dapat juga ditemui.
Pencitraan yag sering digunakan adalah CT-scan dengan kontras atau PET- CT. CT dengan kontras memungkinkan pencitraan multiplanar yang adekuat dari saluran napas mulai dari segmen hioid sampai segmen bronkus. PET-CT berguna untuk membedakan patologi bersifat agresif and dapat lebih sensitif untuk mendeteksi keterlibatan paratrakeal dan mediastinum. MRI dapat berguna dalam melihat kondisi trakea tetapi tidak untuk kondisi mediastinum dan thorak oleh karena distorsi dari gerakan artefak oleh karena gerakan bernafas.
Bronkoskopi adalah tindakan untuk menegakkan diagnosis neoplasma trakeobronkial. Apabila airway stabil maka dalat dilakukan bronkoskopi elektif, jika tidak makan bronkoskopi segera (emergensi) diperlukan untuk menstabilkan jalan napas. bronkoskopi dapat memprediksi kelainan airway dan obstruksinya. Letak tumor, luas trakea yang terkena tumor, dan struktur anatomi yang terkena dapat ditentukan. Biopsi
pada tumor perlu dilakukan pada saat bronkoskopi. Pemetaan luasnya tumor dapat membantu dalam menentukan manajemen selanjutnya. Untuk tumor didaerah proksimal trakea, lebih baik menggunakan bronkoskopi kaku, sementara untuk yang lebih distal penggunaan bronkoskopi fleksibel lebih disukai.
Beberapa pasien mampu mentolerir obstruksi yang cukup besar (75%) atau lebih tetapi dikompensasi dengan peningkatan sekresi atau peradangan. Dalam keadaan mendesak, intubasi endotrakeal mungkin tidak dapat dilakukan karena dapat menyebabkan obstruksi napas total. Dalam hal ini bronkoskopi kaku dapat dilakukan dengan tujuan melebarkan saluran napas sehingga dapat pula dilakukan debulking tumor. Faktor Risiko:
Merokok
Merokok tembakau merupakan faktor risiko yang paling sering untuk terjadinya tumor trakeobronkial, makin banyak merokok risiko makin besar dan di daerah tempat merokok 5 sampai 35 kali lebih banyak dari daerah bukan tempat merokok. Ethyl nitrit didapatkan sebagai bahan karsinogen pada asap rokok. Merokok lebih dari 40 batang sigaret perhari mortalitas 15/100.000 sedangkan pada yang bukan perokok 0,6/100.000.
Alkohol
Alkohol dapat menyebabkan iritasi pada mukosa, kerusakan hepar, imunokompetensi menurun, sebagai kofaktor perubahan nitrit menjadi ntrosamine dan mempermudah absorbs karsinogen. Pemakaian kombinasi dengan tembakau akan lebih meningkatkan risiko terjadinya keganasan. Efek tembakau dan alcohol saling sinergis.
Radiasi
Irradiasi telah lama diketahui sebagai karsinogenik. Adanya tumor yang diinduksi radiasi (radiation-induced tumor) pernah dilaporkan yaitu sebanyak 2 kasus karsinoma squamosa.
Pekerjaan
Faktor pekerjaan sebagai penyebab terjadinya karsinoma daerah trakea dipengaruhi dengan adanya konsumsi rokok dan kebiasaan minum alkohol. Beberapa peneliti mendapatkan pada sekelompok orang yang pekerjaannya berhubungan dengan debu kayu, asap cat, nikel terdapat peningkatan karsinoma trakeobronkial daripada kelompok lainnya.
Faktor - faktor lain
Infeksi virus Human Papilloma yang awalnya pertumbuhan benign dapat menjadi maligna pada waktu kemudian. Penderita infeksi virus 25% dapat menjadi karsinoma trakeobronkial, dimana virus menginvasi sel hidup untuk reproduksi dengan menempel pada reseptor permukaan sel target. Setelah masuk sel terjadi integrasi material genetic dengan host yang dengan mekanisme tertentu dapat menjadi kanker dan secara tidak langsung hal ini terjadi melalui proses imunodefisiensi.
Pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosis
Laringoskopi
Prosedur ini dilakukan untuk menentukan apakah ada kelainan di laring, baik sebagai perluasan atau kelainan selain di trakea, dan juga untuk menilai fungsi glottis. Penilaian fungsi laring dengan pemeriksaan dengan laringoskopi atau bronkoskopi fleksibel. Pasien sadar dapat bekerja sama dalam manuver yang diperlukan untuk menunjukkan apakah pita suara bergerak normal.
Bronkoskopi
Untuk lesi trakea, bronkoskopi memiliki dua tujuan. Yang pertama adalah untuk mendapatkan diagnosis yang tepat dari jenis dan luasnya lesi. Diutamakan dengan bronkoskopi rigid. Yang kedua adalah untuk mengobati obstruksi, jika ada, mampu memberikan jalan napas yang adekuat untuk reseksi segera, untuk memungkinkan penundaan untuk studi lebih lanjut atau pengobatan sebelum reseksi, atau untuk pengobatan non operasi yang aman seperti stenting atau iradiasi. Untuk tujuan pertama, diutamakan dengan bronkoskopi rigid. Untuk tujuan terapeutik, instrumen yang kaku sangat penting. Hal ini memberikan penggambaran yang tepat dari luasnya glotis dan cedera subglottic lesion. Pengukuran jarak trakea antara besar landmark normal dan patologis yang lebih akurat menggunakan bronkoskop rigid. Selain itu bronkoskopi rigid mampu mengontrol lebih baik dari jalan napas.
Bronkoskopi fleksibel berguna untuk visualisasi dan untuk manuver diagnostik seperti biopsi, menyikat, dan aspirasi. Hal ini terutama berguna untuk penentuan posisi yang tepat dari tabung endotrakeal, membimbing kateter atau stent untuk lokalisasi intraoperatif lesi, dan untuk pemeriksaan anastomosis baru. Biasanya, pemeriksaan radiologis jalan napas mendahului bronkoskopi.
Radiografi
Foto polos leher merupakan pemeriksaan radiologis rutin laring dan trakea yang terdiri dari anteroposterior (AP) dan lateral. Tampilan lateral leher diperoleh dengan kepala sedikit hiperekstensi untuk membawa laring dan trakea bagian atas naik dari posisi retrosternal. Tampilan lateral ini memberikan informasi yang berguna tentang dasar lidah, daerah vallecula, tiroid dan kartilago krikoid, struktur intralaringeal (termasuk epiglotis, lipatan aryepiglottik, arytenoid, pita suara palsu, ventrikel, pita suara sejati, dan ruang subglotis), dinding faring posterior, dan jaringan lunak precervikal. Tampilan anteroposterior memberikan tampilan frontal laring dan trakea yang diperoleh dengan menggunakan highkilovoltage sebuah Teknik (120 kV) dan menempatkan filter tembaga 1 mm di depan tube. Tampilan ini memberikan gambaran seluruh jalan napas dari tulang hyoid ke bifurkasio trakea dan bronkus utama.
Rontgen torak merupakan skrining tradisional trakea. Tampilan Postero-anterior (PA) dan lateral dada secara rutin digunakan. Gambaran leher bagian distal dan bagian intratoraks trakea terlihat pada kedua pandangan.
Computed Tomography
CT scan adalah teknik pemeriksaan yang lebih disukai untuk mengevaluasi laring, trakea, dan bronkus utama. Helical CT scan dapat meningkatkan kualitas pencitraan CT saluran nafas. Sebagai perbandingan, CT scan konvensional menggunakan waktu scanning yang lama dan memperoleh potongan aksial individu terpisah selama individu bernafas. Kualitas dua dimensi (2-D) dan tiga dimensi (3-D) diformat ulang sehingga nyata membaik. Generasi terbaru multidetector heliks CT scanner menggunakan array multidetector, yang meningkatkan kecepatan pemindaian.
Magnetic Resonance Imaging (MRI)
Magnetic resonance imaging (MRI) adalah modalitas lain yang digunakan untuk mengevaluasi radiologis laring dan trakea. Kelebihan MRI dibanding CT adalah akuisisi koronal, miring, dan sagital bagian yang menunjukkan segmen panjang atau seluruh panjang trakea. MRI dapat memvisualisasikan laring dan struktur trakea dengan sangat
detail dalam potongan melintang, sagital, dan koronal. Struktur anatomi normal dapat dibedakan atas dasar intensitas sinyal yang berbeda.
Patologi Tumor Trakeobronkial
Tumor Jinak
Tumor jinak trakea sangat langka, jumlahnya 10% dari tumor trakea.1,4 90 % dari tumor yang ditemui pada kelompok usia pediatrik adalah jinak. Sebagian besar tumor jinak lesinya beragam mayoritas lesi tidak memiliki fitur karakteristik tersendiri. Terdiri dari Tumor jinak epitel dan masenkim. Tumor jinak epitel terdiri dari Papilloma Adenoma Myoepitelial Tumor. Tumor jinak masekim terdiri dari lipoma, Neurofibroma, Chondroma, Hemangioma.
Tumor Ganas
Meskipun sangat jarang, tumor primer trakea lebih sering ditemukan daripada tumor jinak. Karsinoma sel skuamosa adalah tumor ganas trakea yang paling sering (50%), diikuti oleh adenoid karsinoma kistik (30%) dan adenokarsinoma (10%). Tumor ganas yang jarang ditemui lainnya antara lain karsinoma mucoepidermoid, karsinoma differentiated, karsinoma small cell, dan karsinosarcoma. Kejadian tumor trakeobronkial kurang dari 0,4% dari semua tumor di tubuh. Karsinoma trakeobronkial banyak mengenai laki - laki dibandingkan dengan perempuan (5:1). Dimana terbanyak pada kelompok perokok bila dibandingkan dengan yang bukan perokok. Seiring berkembangnya waktu kebiasaan meokok tidak hanya dimiliki oleh laki- laki saja, tetapi banyak juga wanita memiliki kebiasaan ini sehingga insidensinya mengalami peningkatan
Tatalaksana
Mengatasi obstruksi jalan napas atas
Untuk tumor trakea, bronkoskopi merupakan pilihan andalan dalam manajemen jalan napas awal dan diagnosis. Jika jalan napas stabil, dapat dilakukan bronkoskopi elektif (dengan atau tanpa narkose) dilanjutkan dengan biopsi. Namun, pada pasien dengan obstruksi jalan napas atas akut, apabila memungkinkan dilakukan trakeostomi terlebih dahulu. Jika tumor terletak di distal trakea, hanya diberikan oksigenasi saja. Untuk tumor trakea proksimal, menggunakan bronkoskopi kaku karena kemampuannya pada ventilasi selama evaluasi. Bronkoskopi fleksibel dapat memberikan informasi tambahan mengenai kondisi saluran yang lebih distal.
Merujuk pasien ke fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih tinggi (tersier)
Prognosis
Prognosis tumor ganas trakea ditentukan oleh lokasi tumor pada trakea, tipe histopatologi, adanya metastasis dan terapi.
DAFTAR ISI
MODUL VII.20
ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER: NEOPLASMA TULANG DAN LESI ODONTOGENIK SEKITAR WAJAH
WAKTU
Mengembangkan Kompetensi | Waktu: |
Sesi di dalam kelas Sesi dengan fasilitasi Pembimbing Sesi praktik dan pencapaian kompetensi | 1 x 90 menit (classroom session) 1x 60 menit (coaching session) 6 jam (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi presentasi
Neoplasma Tulang Sekitar wajah dan lesi odontogenik
Slide 1-2 : Judul dan Ruang Lingkup
Slide 3 : Anatomi daerah tulang sekitar wajah
Slide 4 : Proses odontogenesis
Slide 5 : Diagnosis neoplasma tulang sekitar wajah dan lesi odontogenik
Slide 6 : Jenis neoplasma tulang sekitar wajah dan lesi odontogenik
Slide 7 : Tatalaksana
Slide 8-13 : Teknik operasi
Slide 14 : Perawatan pasca operasi
Kasus : Kista mandibula
Sarana dan alat bantu latih
Model anatomi daerah mandibula
Penuntun belajar (learning guide) terlampir
Tempat belajar (training setting) : bangsal THT-KL, Poliklinik THT-KL, kamar operasi, bangsal perawatan pasca bedah.
Video
Diseksi kadaver
REFERENSI
Chung WL, Summersgill KF, Ochs MW. Odontogenic Cysts, Neoplasmas, and Related Jaw Lesions. In: Bailey BJ, Johnson JT, et al. Head & Neck Surgery- Otolaryngology. 5th ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2014. Vol 2; p. 2097-114.
Jatana KR, Jatana C. Cysts and Neoplasmas of Jaw. In: Lee KJ, ed. Essential Otolaryngology Head & Neck Surgery. 12th ed. New York: McGraw-Hill Education; 2019. p. 722-36
Jatin S. Bone Neoplasma and Odontogenic Lession. In: Head and neck surgery and Oncology 5th Ed. Philadelphia: Elsevier. 2020. 714-66.
OA Effiom, OM Ogundana, AO Kinshipo, Shipo Akintoye. Ameloblastoma
:Current ethiopathological concepts and management. Oral Diseases.2017. 20 Jan 17; DOI : 10.111: 1-10
John M. Right, Merva Soluk Tekessin. Odontogenic Tumors : Where are we in 2017.J Istanbul Univ Fac Dent. 2017. 4 Agust 2017; 51 (3 supl): 10-30.
Cordeiro PG, Santamaria E, Disa JJ. Mandible reconstruction. In: Shah JP, editor. American cancer society atlas of clinical oncology cancer of the head and neck. London: BC Decker Inc; 2001. p.358-75.
KOMPETENSI
Pengetahuan
Mendiagnosis dan menatalaksana neoplasma tulang sekitar wajah dan lesi odontogenic
Keterampilan
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil :
Menjelaskan anatomi daerah tulang sekitar wajah
Menjelaskan proses osteogenesis dan patogenesis neoplasma tulang sekitar wajah
Menjelaskan gejala dan tanda neoplasma tulang tulang sekitar wajah
Melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik terhadap neoplasma tulang sekitar wajah
Melakukan pemeriksan penunjang yang diperlukan seperti foto panoramik, CT scan maksilofasial dengan dan tanpa kontras + 3D bila perlu, biopsi jarum halus halus/fine needle aspirationbiopsy (FNAB), pemeriksaan biopsi jaringan neoplasma
Membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhungan dengan neoplasma tulang sekitar wajah
Menentukan terapi yang tepat pada berbagai kasus neoplasma tulang sekitar wajah
Melakukan tindakan pembedahan pada penderita dengan neoplasma tulang sekitar wajah
Merawat penderita pra operatif (memberi penjelasan kepada penderita dan keluarga, informed consent), dan pasca operasi serta mampu mengatasi komplikasi yang terjadi
GAMBARAN UMUM
Tulang terdiri dari fasa mineral padat dan sebuah fasa osteoid matriks yang mengandung osteoklas (sel resorbsi tulang), osteoblas (sel pembentuk tulang), dan osteosit (sel osteoblas yang menjadi tergabung ke dalam matriks). Neoplasma juga dapat muncul dari elemen odontogenik di maksila dan mandibula. Umumnya kerusakan transformasi tulang dan remodeling seperti pada penyakit Paget juga dapat meningkatkan risiko berkembangnya neoplasma ganas pada tulang yang terlibat. Neoplasma jinak primer tulang kraniofasial terdiri dari osteoma, osteokondroma dan
osteofibroma. Lesi kistik pada tulang sering terjadi di daerah kepala dan leher dan paling sering berasal dari odontogenik.
CONTOH KASUS DAN DISKUSI
Seorang laki-laki, berusia 30 tahun datang ke poli THT-KL dengan keluhan utama benjolan pada mandibula bawah sebelah kiri. Benjolan sejak 2 tahun yang lalu, membesar perlahan, tidak nyeri. Benjolan lunak bila dipegang. Penderita masih dapat makan dan minum dengan baik. Tidak ada asimetris wajah. Demam tidak ada. Sakit gigi tidak ada. Suhu 36,7oC, Leukosit 6000.
Diskusi :
Penegakkan diagnosis neoplasma mandibula
Terapi neoplasma mandibula Jawaban:
Penegakkan diagnosis neoplasma mandibula Anamnesis
Kebanyakan asimtomatik
Adanya benjolan pada mandibula yang dapat disertai nyeri
Rasa baal pada mandibula
Gangguan mengunyah Pemeriksaan Fisik
Gigi geligi bergeser
Maloklusi
Tampak benjolan pada mandibula Pemeriksaan penunjang
Radiologi panoramik
Ct scan maksilofasial
Aspirasi dan biopsi pada kista
Pemeriksaan patologi anatomi
Terapi neoplasma mandibula
Pembedahan tergantung jenis lesi, dapat berupa ekstraksi gigi, enukleasi, kuretase, reseksi lesi dan bila perlu rekonstruksi
Operasi bersama dengan spesialis Bedah Mulut, Divisi Plastik Rekonstruksi THT, dan spesialis Bedah Plastik bila perlu
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan pembelajaran umum
Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan mampu untuk menegakkan diagnosis dan melakukan terapi terhadap neoplasma tulang sekitar wajah dan lesi odontogenik.
Tujuan pembelajaran khusus
Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan mampu untuk :
Menjelaskan anatomi tulang sekitar wajah (tingkat kompetensi K4, A4)
Mampu menjelaskan odontogenesis, patogenesis, dan faktor resiko penyebab neoplasma tulang sekitar wajah dan lesi odontogenic (tingkat kompetensi K4, A4)
Menjelaskan jenis-jenis neoplasma pada daerah tulang sekitar wajah dan lesi pada daerah odontogenic (tingkat kompetensi K4, A4)
Melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik pada neoplasma pada daerah tulang sekitar wajah dan lesi pada daerah odontogenic (tingkat kompetensi K4, A4)
Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang dan mampu menyimpulkan/ menginterpretasi tanda neoplasma pada daerah tulang sekitar wajah dan lesi pada daerah odontogenik berdasarkan pemeriksaan penunjang (tingkat kompetensi K4, A4)
Menetapkan diagnosis dan diagnosis banding berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan klinis (tingkat kompetensi K4, A4)
Mampu melakukan aspirasi biopsi terhadap neoplasma pada daerah tulang sekitar wajah dan lesi pada daerah odontogenic (tingkat kompetensi K4, A4)
Mampu melakukan konsultasi ke disiplin yang lain (tingkat kompetensi K4, A4)
Menyusun rencana terapi/pengelolaan neoplasma pada daerah tulang sekitar wajah dan lesi pada daerah odontogenic (tingkat kompetensi K4, A4)
Melaksanakan terapi neoplasma pada daerah tulang sekitar wajah dan lesi pada daerah odontogenic (tingkat kompetensi K4, A4)
Melakukan perawatan penderita pra dan pasca pembedahan neoplasma pada daerah tulang sekitar wajah dan lesi pada daerah odontogenic (tingkat kompetensi K4, A4)
Menjelaskan prognosis neoplasma pada daerah tulang sekitar wajah dan lesi pada daerah odontogenic (tingkat kompetensi K4, A4)
METODE PEMBELAJARAN
Setelah mengkuti sesi ini peserta didik akan mempunyai kemampuan dasar untuk menegakkan diagnosis neoplasmamandibula dan mampu untuk menentukan terapi yang sesuai.
Tujuan 1. Menjelaskan anatomi daerah tulang sekitar wajah
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metoda pembelajaran berikut ini
Literature reading
Skill lab
Journal reading
Bedside teaching
Praktik poliklinik Harus diketahui :
Anatomi daerah mandibula
Tujuan 2. Mampu menjelaskan odontogenesis, patogenesis dan faktor resiko penyebab neoplasma tulang sekitar wajah dan lesi odontogenik
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Literature reading
Skill lab
Journal reading
Bedside teaching
Praktik poliklinik Harus diketahui :
Odontogenesis
Patogenesis terjadinya neoplasma pada daerah tulang sekitar wajah dan lesi odontogenik
Faktor resiko penyebab neoplasma pada daerah tulang sekitar wajah dan lesi odontogenik
Tujuan 3. Menjelaskan jenis-jenis neoplasma pada daerah pada daerah tulang sekitar wajah dan lesi odontogenik
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Literature reading
Skill lab
Journal reading
Bedside teaching
Praktik poliklinik Harus diketahui :
Jenis-jenis neoplasma mandibula
Tujuan 4. Melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik pada neoplasma daerah tulang sekitar wajah dan lesi odontogenik
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Literature reading
Skill lab
Journal reading
Bedside teaching
Praktik poliklinik Harus diketahui :
Metoda standar anamnesis
Gejala dan tanda pasti neoplasma pada daerah tulang sekitar wajah dan lesi odontogenik
Tujuan 5. Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang dan mampu menyimpulkan/ menginterpretasi tanda neoplasma pada daerah sekitar wajah dan lesi odontogenik berdasarkan pemeriksaan penunjang
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Literature reading
Skill lab
Journal reading
Bedside teaching
Praktik poliklinik Harus diketahui:
Pemeriksaan penunjang yang sensitif dan spesifik
Gambaran hasil pemeriksaan radiologi
Tujuan 6. Membuat diagnosis klinik dan diagnosis banding neoplasma daerah tulang sekitar wajah dan lesi odontogenik
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Literature reading
Skill lab
Journal reading
Bedside teaching
Praktik poliklinik Harus diketahui
Analisis data untuk menegakkan diagnosis
Memilah diagnosis banding dan menentukan diagnosis kerja
Tujuan 7. Mampu melakukan aspirasi biopsi terhadap neoplasma pada daerah tulang sekitar wajah
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Literature reading
Skill lab
Journal reading
Bedside teaching
Praktik poliklinik Harus diketahui
Indikasi aspirasi biopsi
Teknik aspirasi biopsi
Tujuan 8. Mampu melakukan konsultasi ke disiplin yang lain
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Literature reading
Skill lab
Journal reading
Bedside teaching
Praktik poliklinik Harus diketahui
Indikasi konsultasi ke disiplin yang lain
Tujuan 9. Menyusun rencana terapi/pengelolaan neoplasma tulang sekitar wajah
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Literature reading
Skill lab
Journal reading
Bedside teaching
Praktik poliklinik
Harus diketahui :
Terapi yang tepat untuk tatalaksana neoplasmamandibula
Tujuan 10. Melaksanakan terapi neoplasma tulang sekitar wajah
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Literature reading
Skill lab
Journal reading
Bedside teaching
Praktik poliklinik Harus diketahui
Jenis pembedahan pada neoplasma tulang sekitar wajah
Langkah-langkah pembedahan
Tujuan 11. Melakukan perawatan penderita pra dan pasca pembedahan neoplasma tulang sekitar wajah
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Literature reading
Skill lab
Journal reading
Bedside teaching
Praktik poliklinik
Interactive lecture
Harus diketahui
Informed consent
Komplikasi operasi
Tujuan 12. Mampu menjelaskan prognosis neoplasma tulang sekitar wajah
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Literature reading
Skill lab
Journal reading
Bedside teaching
Praktik poliklinik
Interactive lecture
Harus diketahui :
Prognosis pada neoplasma tulang sekitar wajah dan lesi odontogenik
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-tes dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan, yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pre-tes terdiri atas:
Anatomi,
Gambaran klinik, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang,
Diagnosis,
Penatalaksanaan
Prognosis
Selanjutnya dilakukan small group discussion bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian
Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk role-play dengan teman-temannya (peer assisted learning) atau kepada SP (standardized patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan: membawa penuntun belajar, penuntun belajar dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (peer assisted evaluation). Setelah dianggap memadai melalui metoda bedside teaching di bawah pengawasan fasilitator, peserta didik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan, evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut :
Perlu perbaikan: pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan
Cukup: Pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal: pemeriksaan pendahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien
Baik: Pelaksanaan benar dan baik (efisien)
Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan didepan pasien dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan
Self assesment dan peer assisted evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar
Pendidik / fasilitas:
Pengamatan langsung dengan memakai evaluation check list form (terlampir)
Penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi
Kriteria penilian keseluruhan: cakap/ tidak cakap/lalai
Diakhir penilaian, peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (tes based medical evaluation)
Pencapaian pembelajaran:
Ujian akhir setelah penyelesaian modul
Ujian tulis kolegium THT-KL
Ujian OSCE dilakukan pada tahapan dasar oleh kolegium Ilmu Kesehatan THT- KL
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
Kuesioner sebelum pembelajaran
Soal :
Wanita, 30 tahun dengan benjolan pada rahang atas sejak 1 tahun yang lalu. Benjolan membesar perlahan. Pemeriksaan fisik : tampak benjolan ukuran 1 cm, batas tegas, lunak. Pasien didiagnosis dengan kista odontegenik. Berdasarkan prevalensi diagnosis pasien, kemungkinan terbesar jenis kista pada pasien adalah
Radikular
Dentigerus
Calcifying odontogenic
Glandular odontogenic
Jawaban: A
Laki-laki, 45 tahun dengan benjolan pada rahang bawah. Dilakukan CT scan tampak gambaran neoplasma pada rahang bawah seperti foto di bawah. Apakah kemungkinan diagnosis pasien?
Abses apikal
Ameloblastoma
Kista dentigerus
Karsinoma sel skuamosa
Neoplasma odontogenik keratokistik Jawaban : B
Kista pada rahang terdiri dari kista inflamasi, kista perkembangan, dan kista non odontogenik. Jenis kista yang termasuk kista non odontogenik adalah ?
Kista gorlin
Kista radikular
Kista dentigerus
Kista duktus nasopalatine Jawaban : D
Kuesioner tengah pembelajaran
Soal :
Tatalaksana utama ameloblastoma pada adalah:
Ekstraksi gigi
Enukleasi
Enukleasi dan kuretase
Reseksi dengan 1-1.5 cm batas tepi tulang. Jawaban : D
Tatalaksana primer ameloblastoma adalah :
Enukleasi
B .Ekstraksi gigi
Enukleasi dan kuretase
Reseksi dengan batas 11,5 cm dari tulang sehat Jawaban : D
Wanita, 40 tahun dengan keluhan terdapat benjolan di daerah dagu kiri sejak 6 bulan yang lalu. Pemeriksaan fisik tampak benjolan, berbatas tegas. Apakah diagnosa pada pasien ini?
Kista radikular
Kista dentigerus
Kista duktus nasopalatine
Granuloma giant cell reparative Jawaban: D
Kuesioner akhir pembelajaran
Soal :
Laki-laki, 30 tahun datang dengan keluhan benjolan di wajah. Dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang. Neoplasma berkembang, dan pasien menunjukkan adanya neoplasma besar yang memenuhi rongga hidung, maksila antrum kiri, dan regio ethmoid, dengan ekstensi ekstradural ke fossa kranial anterior. Neoplasma telah menyebar ke periorbita sisi kiri dan telah menggeser bola mata di orbital kanan. Apakah diagnosa pada pasien ini?
Hemangioma
Kista dentigerus
Osteogenik sarcoma
Granuloma giant cell reparative Jawaban: C
Laki-laki, 40 tahun datang dengan keluhan benjolan di rahang bawah sejak 1 tahun yang lalu, membesar perlahan. Keluhan gigi goyang ada. Dari hasil CT scan pasien dicurigai ameloblastoma mandibula. Dilakukan reseksi segmental mandibula pada pasien.
Otot apakah yang tidak boleh dipotong saat tindakan operasi pada pasien ?
Pterigoid interna
Pterigoid eksterna
Otot digastrikus pars anterior
Otot digastrikus pars posterior Jawaban : D
Rekonstruksi yang tidak dapat dilakukan segera setelah reseksi segmental mandibula pada kasus ameloblastoma adalah?
Vascularized bone graft
Plate dengan bone graft
Non vascularized free bone graft
Steinmann pin tanpa bone graft
Jawaban : C
MATERI PRESENTASI
Slide : Judul dan Ruang Lingkup
Tabel Klasifikasi WHO (2017) Neoplasma dan kista odontogenik
Classification
Malignant odontogenic tumors
odontogenic carcinomas
ameloblastic carcinoma
primary intraosseous carcinoma, not otherwise specified
sclerosing odontogenic carcinoma
clear cell odontogenic carcinoma
ghost cell odontogenic carcinoma
odontogenic carcinosarcoma
odontogenic sarcomas
Benign odontogenic tumors
benign epithelial odontogenic tumors
ameloblastoma ameloblastoma, unicystic type
ameloblastoma, extraosseous/peripheral type metastasizing ameloblastoma
squamous odontogenic tumor
calcifying epithelial odontogenic tumor
adenomatoid odontogenic tumor
benign mixed epithelial and mesenchymal odontogenic tumors
ameloblastic fibroma
primordial odontogenic tumor
odontoma
dentinogenic ghost cell tumor
benign mesenchymal odontogenic tumors
odontogenic fibroma
odontogenic myxoma/myxofibroma
cementoblastoma
cemento-ossifying fibroma
Odontogenic cysts
odontogenic cysts of inflammatory origin
radicular cyst
inflammatory collateral cysts
odontogenic and non-odontogenic developmental cysts
dentigerous cyst
odontogenic keratocyst
lateral periodontal and botryoid odontogenic cysts
gingival cysts
glandular odontogenic cyst
calcifying odontogenic cyst
orthokeratinized odontogenic cyst
nasopalatine duct cyst
Malignant maxillofacial bone and cartilage tumors
chondrosarcoma
mesenchymal chondrosarcoma
osteosarcoma
Benign maxillofacial bone and cartilage tumors
chondroma
osteoma
melanotic neuroectodermal tumor of infancy
chondroblastoma
chondromyxoid fibroma
osteoid osteoma
osteoblastoma
desmoplastic fibroma
Fibro-osseous and osteochondromatous lesions
ossifying fibroma
familial gigantiform cementoma
fibrous dysplasia
cemento-osseous dysplasia
osteochondroma
Giant cell lesions and simple bone cyst
central giant cell granuloma
peripheral giant cell granuloma
cherubism
aneurysmal bone cyst
simple bone cyst
Hematolymphoid tumors
solitary plasmacytoma of bone
Slide 3: anatomi mandibula
Slide 4 : Proses odontogenesis
Slide 5: Diagnosis neoplasma mandibula
Slide 6: Jenis neoplasma tulang sekitar wajah
Slide 7: Tatalaksana
Slide 8 - 12: Prosedur operatif
Slide 14: Perawatan pra operatif dan pasca operasi neoplasma mandibula
MATERI BAKU
Tulang terdiri dari fasa mineral padat dan sebuah fasa osteoid matriks yang mengandung osteoklas (sel resorbsi tulang), osteoblas (sel pembentuk tulang), dan osteosit (sel osteoblas yang menjadi tergabung ke dalam matriks). Neoplasma juga dapat muncul dari elemen odontogenik di maksila dan mandibula. Umumnya kerusakan transformasi tulang dan remodeling seperti pada penyakit Paget juga dapat meningkatkan risiko berkembanganya neoplasma ganas pada tulang yang terlibat.
Neoplasma jinak primer tulang kraniofasil terdiri dari osteoma, osteokondroma dan osteofibroma.Terkadang, neoplasma jinak vaskular sering asimtomatik dan ditemukan secara tidak sengaja. Bagaimanapun, lesi tulang jinak yang paling umum di daerah kepala dan leher adalah malformasi yang berkembang pada daerah garis fusi embrionik, seperti torus palatinus.
Osteoma biasanya asimtomatik dan mungkin muncul pada calvarium dan di dalam sinus paranasal. Osteoma biasanya munculsetelah pubertas dan membutuhkan intervensi jika simtomatik. Transformasi maligna tidak sering terjadi namun terkadang berhubungan dengan sindrom Gardner. Sindrom Gardner merupakan salah satu varian FAP (poliposis adenomatosa familial), dimana polip tumbuh di sepanjang usus halus dan usus besar.
Penderita penyakit ini juga dapat memiliki tumor jinak di bagian tubuh lain seperti kulit, perut, atau tulang. Kelainan ini memicu muncul banyaknya polip yang bergerigi.
Osteoid osteoma (ivory osteoma) merupakan lesi yang lebih kecil, sedangkan osteoma dianggap sebagai lesi yang lebih besar, lebih aggresif. Osteoid osteoma terjadi pada anak- anak dan dewasa muda, biasanya berbentuk soliter dan berkaitan dengan nyeri yang tidak sesuai dengan ukurannya. Eksisi lokal merupakan perawatan yang adekuat. Sebaliknya, osteoblastoma sangat jarang terasa sakit, melibatkan tulang panjang dan memiliki kemungkinan kecil berkembang menjadi sebuah osteosarkoma.
Neoplasma jinak kartilago terdiri dariosteokondroma, kondroma, kondroblastoma dan kondromiksoid fibroma. Osteokondroma (eksostosis) adalah jinak, ditutupi tulang rawan, pertumbuhan tulang berlebih. Neoplasma ini biasanya soliter tapu bisa multifokal pada pasien dengan osteokondromatosis familial. Lesi soliter biasanya melibatkan mandibula dan dasar tengkorak.
Kondroma (enkondroma) adalah neoplasma kartilago hialin yang biasanya timbul di dalam tulang. Ini diperkirakan berasal dari sisa-sisa kartilago simfisis. Neoplasma ini biasanya soliter namun bisa multipel pada orang dengan Ollier disease (enkondromatosis), yang merupakan penyakin spontanius non-herediter. Sebuah varian familial juga muncul ( Sindrom Maffuci) dimana kondroma muncul bersamaan dengan hemangioma kutan. Neoplasma yang soliter memiliki resiko rendah bertransformasi menjadi ganas, multipel, kelompok neoplasma ini berkembang menjadi kondrosarkoma mencapai 50% dari kasus.
Kondroblastoma biasanya muncul sepanjang daerah epifis tulang panjang. Walaupun jarang terjadi pada tulang tengkorak dan leher, lesi ini bisa muncul di tulang temporal, mandibula atau parietal. Lesi ini secara histologi merupakan lesi jinak dan gambaran radiologinya menyerupai lesi ganas. Kondromiksoid fibroma khasnya melibatkan tulang panjang namun bisa juga muncul di mandibula, walaupun kemunculannya jarang terjadi. Lesi ini jinak dan membutuhkan intervensi bedah hanya jika mereka memiliki gejala simtomatik.
Kista tulang non-odontogenik yang seringmuncul adalah kista fisura yang mungkin terletak dilateral (nasolabial atau globulomaksila), medial (nasopalatinal atau medial palatal), atau median mandibular.Kista Nasolabial (Klestadt cysts) berasal dari sisa sel epitel membentuk "fusi" dari prosesus glabelar dengan prosesus lateral nasal dan prosesus
maksila, atau karna persistensi dari sisa epitel yang berasal dari perluasan duktus nasolakrimal prosesus nasal lateral dan prominens maksila. Lesi ini memiliki predileksi pada wanita (75 %) dan ditemukan dekat dengan dasar dari lubang hidung. Kista bisa menjadi bilateral sekitar 10% dari total kasus.
Kista nasopalatina adalah kista developmental yang dianggap berasal dari sisa epitel dari embrionik duktus nasopalatin di dalam kanal insisif. Mereka merupakan kista non odontogenik yang paling sering terjadi dan predileksinya pada laki-laki. Kista globulomaksilaris berasal dari elemen epitel yang terperangkap dalam garis fusi embrionik antara prosesus glabelar dari tulang frontonasalis dan prosesus maksila tulang palatinus. Kista Odontogenik diperkirakan berasal dari sisa dental lamina atau dari organ enamel. Hal itu bisa berupa periodontal (apikal, lateral atau residual), dentigerous, gingival, primordial, atau keratinisasi dan kalsifikasi (Gambar 16.2). Kista periapikal atau radikal terjadi lebih dari 50% dari lesi kista. Kista radikular diperkirakan berasal dari prosesus inflamatori dari sisa sel epitel melassez. Kista dentigerus adalah kista developmental yang berasal dari enamel atau dental lamina dari gigi yang tidak erupsi. Hal itu merupakan kantung epitelium-lined yang melibatkan mahkota dari gigi yang tidak erupsi. Kista dentigerus paling sering berasal dari molar ketiga namun bisa juga dari bikuspid, cuspid atau gigi kaninus.
Kista gingival berasal dari sisa dental lamina yang berlokasi di corium dibawah permukaan epitel. Hal ini biasanya muncul sebagai nodul multipel padan alveolar ridge bayi baru lahir atau bayi. Kista ini umumnya asimptomatik dan biasanya berubah secara spontan. Kista periodontal lateral umunya berasal dari sisa epitel ligamen periodontal. Kista primordial berkembang pada gigi ketika gigi mengalami degenerasi kistik. Hal ini juga bisa berasal dari benih gigi supernumerer. Perawatannya adalah bedah enukleasi atau kuretase dengan tetap menjaga daerah gigi yang berdekatan.
Pada 2005, World Health Organization (WHO) mengubah terminologi lesi yang sebelumnya mengacu pada odontogenyc cyst (OKC) menjadi calcifying cystic odontogenic neoplasma (CCOT). Alasan terjadinya perubahan nama lesi tersebut adalagdata genetik menunhukkan perubahan gen PTCH1 dan potensial agresif dari lesi tersebut. Namun, klasifikasi WHO 2017 kembali menggunakan terminologi "odontogenic keratocyst". Selanjutnya, klasifikasi WHO 2017 menyebutkan bahwa CCOT merupakan sinonim dari "calcifying odontogenic cyst", kista sederhana yang
dilapisi oleh epitel odontogenik menyerupai ameloblastoma, berkaitan dengan ghost cells. Alsan perubahan tambahan ini tidak jelas, namun, merupakan hal penting untuk dipahami terlepas dari "terminology de jour", bentuk intik mencakup spektrum dari klinikal behaviour. Odontogenic keratosis sering melibatkan daerah molar ketiga dari mandibula dan meluas ke ramus asending. Lesi ini diberdakan dari kista odontogenik lainnya berdasarkan adanya lapisan epitel berkeratin. Mereka dapat bervariasi dari kistik ke padat, dan OKC mungkin melibatkan mahkota dari gigi namun juga menunjukkan variasi keratinisaasi dari kista lateral periodontal. Multifokal OKC berhubungan dengan nevoid basal cell carcinoma syndrom. Lesi kecil bisa diobati dengan enukleasi secara efektif. Namun, enukleasi inadekuat pada lesi yang lebih besar dengan dinding tipis dan kista satelit.
Fibrous displasia jarang terjadi, lesi tulang primer idiopatik ditandai dengan penggantian progresif tulang medular dengan proliferasi, secara sembarangan diatur jaringan fibrosa isomorpik. Fibrous displasia dapat berupa lesi monostotic (70-75%_ ataupun poliostotic, lesi ini sangat jarang berkaitan dengan pigmentasi kulit dan disfungsi endokrin (albright syndrome). Daerah kepala dan leher merupakan daerah yang tidak lazim untuk fibrous dysplasia (<1%), tetapi ketika terjadi, mereka sering melibatkan mandibula, maksila, tulang frontal atau calvarium. Lesi ini cenderung menjadi progresif dan menyebabkan gejala oleh tekanan dari struktur sekitar. Intervensi biasanya melibatkan pengendaluan gejala atau untuk alasan kosmetik. Kurang dari 1% dari lesi ini menjadi degenerasi malignan.
Giant cell neoplasma (GCT) tulang adalah lesi yang sering terjadi pada tulang panjang, tapi juga muncul di daerah kepala dan leher (misal, tulang temporal, spenoid dan laring). Neoplasma ini terjadi di dewasa muda dan agressif secara lokal, dengan angka rekurensi yang tinggi setelah eksisi tidak lengkap. Sebagian kecil dari neoplasma ini menjadi degenerasi maligna dan bermetastasis ke daerah yang jauh. Neoplasma ini harus dibedakan dari giant cell reparative granuloma (epulis) yang terjadi di mandibula dan maksila dan memiliki gambaran histologi serupa namun tidak cenderung menjadi ganas. Ameloblastoma adalah neoplasma yang paling umum berasal dari epitel odontogenik. Dapat dilihat paling sering pada mandibula (Gambar 16.3). Sebagian besar lesi ini terlokalisir, namun dapat mncul sebagai lesi unikistik, dan jarang berasal dari ektraosseus. Gambaran klasik ameloblastoma pada radiografi adalah multilokuler, lesi yang meluas
dengan "bentuk soap bubble" (Gambar 16.4). Walaupun secara histologi jinak, neoplasma ini bisa berdegenerasi menjadi ameloblastik karsinoma. Ameloblastoma jinak yang kecil dapat diobati dengan enukleasi, namun metode ini tidak efektif untuk lesi yang lebih besar dan memiliki angka rekurensi lokal yang tinggi. Rekurensi multifokal dengan melibatkan jaringan lunak bisa terjadi setelah perawatan yang tidak adekuat. Untuk lesi yang lebih besar pada mandibula, mandibulektomi segmental dibutuhkan untuk kontrol lokal.
Gambar 16.3 Penyebaran ameloblastoma pada rahang
Gambar 16.4 Gambaran klasik "soap-bubble" ameloblastoma pada radiografi spesimen
mandibulektomi segmental
Proses odontogenesis
Neoplasma odentogenik terjadi hasil dari interupsi atau reaktivasi jaringan yang terlibat pada proses odontogenesis. Neoplasma yang terjadi ditentukan oleh fase perkembangan dimana proses odontogenesis terhenti. Penjelasan ringkas odontogenesis dapat membantu memahami patogenesis dan karakteristik neoplasma odontogenik. Minggu ke enam gestasi, odontogenesis dimulai dengan proliferasi area tertentu pada ektoderm oral untuk membentuk lamina dental. Pada masing-masing lokasi di mana gigi akan dibentuk, lamina dental akan membentuk enamel awal. Enamel, papila dental, dan katung dental membentuk gigi dan struktur penunjang. Lamina dental yang asalnya
menghubungkan enamel organ ke epitel mulut terpisah sehingga memisahkan gigi dari epitel rongga mulut.
Fase odontogenesis terdiri atas fase Bud stage, Cap stage, Bell stage dan Apposition. Fase Bud stage merupakan fase inisiasi dan pembentukan enamel organ. Pada fase Cap stage terjadinya proliferasi. Pertumbuhan yang tidak sama akan mengakibatkan bentuk karakteristik sel. Sel perifer berbentuk kuboid disebut epitel enamel luar dan sel kolumnar disebut epitel dental dalam. Sel poligen yang berada antara epitel enamel luar dan dalam membentuk jaringan selular yang disebut stellate reticulum berisi cairan mukoid. Proliferasi epitel tersebut akan membentuk papila dental. Sel-sel papila dental bergabung dengan jaringan ektomesenkimal terdekat dan membentuk pulpa gigi dan dentin. Sedangkan kondensasi ekto-mesenkim yang mengelilingi enamel akan membentuk kantung gigi. Sel-sel pada kantung gigi membentuk sementum dan ligamen periodontal.
Pada fase Bell stage terjadinya histodeferensiasi (tahap awal) dan morfodiferensiasi (tahap lanjut). Enamel pada fase ini berbentuk lonceng panjang dan mempunyai 4 tipe sel epitel. epitel enamel luar, stratum intermedium, stellate reticulum, danepitel enamel dalam epitel enamel dalam bersatu dan menginduksi sel sekitar papila dental untuk berdiferensiasi menjadi odontoblas yang membentuk dentin. Dentin akan menginduksi epitel enamel dalam untuk berdeferensiasi menjadi ameloblas yang melapisi matriks enamel. Induksi yang berkelanjutan ini penting untuk membentuk gigi. Intermedium terdiri dari beberapa lapis sel skuamosa antara epitel enamel dalam dan stella reticulum. Lapisan ini penting untuk membentuk enamel. Stellate reticulum meluas dengan meningkatkan sejumlah cairan intraselular. Daerah ini menyempit sebelum pembentukan enamel dan mengakibatkan ameloblas lebih dekat ke kapiler yang berdekatan dengan epitel enamel lua. Epitel enamel luar yang sebelumnya licin menjadi berlipat. Pada lipatan tersebut, mesenkim kantung gigi membentuk lipatan dengan kapiler menyediakan nutrisi untuk aktivitas metabolic enamel.
Fase Apposition berlangsung terjadinya deposit matriks untuk membentuk struktur keras gigi. Struktur ini kemudian mulai kalsifikasi, erupsi, dan erosi
Gambar 16.5 Lesi kista odontogenik mandibular
Neoplasma mandibula merupakan kelainan pada daerah mandibula yang dapat berupa kista atau neoplasma odontogenik. Kista odontogenik dapat berupa inflamasi atau kelainan perkembangan yang dapat berupa odontogenik atau non odontogenik. Kista
odontogenik merupakan struktur berlapis epitel yang berasal dari epitel odontogenik. Neoplasma odontogenik merupakan hasil terhentinya atau reaktivasi jaringan yang terlibat pada proses odontogenesis. Neoplasma ini berasal dari sel epitel, sel mesenkimal, atau keduanya yang berhubungan dengan struktur gigi.
Anamnesis
Asimtomatik
Adanya benjolan pada mandibula yang dapat disertai nyeri
Rasa baal pada mandibula
Gangguan mengunyah Pemeriksaan Fisik
Gigi geligi bergeser
Maloklusi
Tampak benjolan pada mandibula Pemeriksaan penunjang
Radiologi panoramik
Ct scan maksilofasial
Aspirasi dan biopsi pada kista
Pemeriksaan patologi anatomi Diagnosis kerja
Neoplasma mandibula yang meliputi kista radikular, kista odontogenik developmental (dentigerous, eruption, follicular, gingival, lateral periodontal, primordial), kista daerah mulut non odontogenik (kista nasolabial/nasoalveolar, kista duktus nasopalatin), kista lain pada mandibula(NOS, aneurismal, haemorrhagic, traumatic), Kista lainnya daerah mulut yang tidak dapat diklasifikasikan (kista dermoid, kista epidermoid, dan kista limfoepitelial), kista daerah mulut tidak spesifik, Kelainan perkembangan pada mandibula (Latent bone cyst of jaw, Stafne cyst, torus mandibularis cyst, torus palatines cyst), neoplasma jinak mandibula bawah, dan neoplasma ganas mandibula
Diagnosis banding
Diagnosis banding didasarkan pada pemeriksaan histopatologi
Terapi
Pembedahan tergantung jenis lesi, dapat berupa ekstraksi gigi, enukleasi, kuretase, reseksi lesi dan bila perlu rekonstruksi
Operasi bersama Onkologi THT bersama dengan spesialis bedah mulut, THT plastik rekonstruksi, dan spesialis bedah plastik bila diperlukan.
Reseksi Mandibula (mandibulectomy)
Reseksi mandibula dapat terdiri dari beberapa jenis yaitu segmental dan marginal dan hemimandibuktomi. Pada reseksi marginal (kointinuitas tulang rahang tidak terganggu), reseksi segmental (kontinuitas tulang rahang terputus) atau partial (hemimandibulektomi).
Hemimandibulektomi merupakan pola yang sama dengan eksisi blok yang diperluas yang mungkin saja melibatkan pembuangan angulus, ramus atau bahkan pada beberapa kasus dilakukan pembuangan kondilus. Pembuangan bagian anterior mandibula sampai ke regio simfisis tanpa menyisakan border bawah mandibular akan mengakibatkan perubahan bentuk wajah yang dinamakan "andy gump deformity".
Reseksi mandibula dilakukan setelah trakeostomi dan diseksi leher radikal (bila diperlukan) telah dilakukan. Akses biasanya diperoleh dengan insisi splitting bibir bawah. Bibir bawah dipisahkan dan sebuah insisi vertikal dibuat sampai ke dagu. Insisi itu kemudian dibelokkan secara horisontal sekitar 1/2 inci di bawah border bawah mandibula. Kemudian insisi diperluas mengikuti angulus mandibula sampai mastoid. Setelah akses diperoleh, di dekat foramen mentale mungkin saja dapat terjadi perndarahan karena adanya neurovaskuler.
Permukaan dalam mandibula secara perlahan-lahan dibuka dengan mendiseksi mukosa oral. Dengan menggunakan gigli saw pemotongan dilakukan secara vertikal di daerah mentum. Hal ini akan memisahkan mandibula secara vertikal. Mandibula terbebas dari otot yang melekat antara lain muskulus depressor labii inferior, depressor anguli oris dan platysma. Bagian mandibula yang akan direseksi dibebaskan dari perlekatannya dari mukosa oral dengan hati-hati. Setelah itu, komponen rahang yang mengandung massa tumor dieksisi dengan margin yang cukup. Bagian margin dari defek bedah harus dibiopsi untuk pemeriksaan untuk menentukan apakah reseksi yang dilakukan cukup atau tidak. Jika bagian itu bebas dari tumor, bagian ramus dan kondilus mandibula harus dipertahankan untuk digunakan pada rekonstruksi yang akan datang. Ramus paling baik dipotong secara vertikal. Ketika mandibula disartikulasi, maka ada resiko pendarahan karena insersi temporalis dan otot pterygoid lateral dipisahkan. Hal ini dapat dihindari dengan membiarkan kondilus dan prosessus koronoid berada tetap in situ. Setelah hemimandibulektomi, penutupan luka intraoral biasanya dilakukan dengan penjahitan langsung.
Gambar 16.6 : Tipe Umum dari reseksi mandibula; A dengan keterlibatan kondilus, B tanpa pembuangan kondilus
Rekonstruksi mandibula
Rekonstruksi mandibula merupakan hal yang harus dihadapi oleh ahli bedah plastik pada kasus-kasus tumor yang melibatkan mandibula. Tujuan dari rekonstruksi mandibula adalah membangun kontinuitas mandibula, membangun osseus alvelolar bases dan koreksi terhadap defek jaringan lunak. Pada umumnya kehilangan mandibula yang diakibatkan karena proses patologis akan meninggalkan jaringan lunak yang akan sembuh. Bila dilakukan mandibulektomi akan menghasilkan defek tulang yang besar dan jaringan lunak. Defek pada mandibula bagian lateral lebih dapat ditoleransi dan tidak membutuhkan rekonstruksi. Kebalikannya defek pada anterior mandibula akan menimbulkan kecacatan fungsional dan kosmetik yang parah.
Beberapa teknik rekonstruksi yang sering digunakan untuk rekonstruksi mandibula adalah 1) tandur tulang nonvaskularisasi (nonvascularized bone grafts), 2) lempeng rekonstruksi dengan dan tanpa jabir pedikel jaringan lunak (reconstruction plates with
and without soft-tissue pedicled flaps) dan 3) jabir osteokutaneus dengan vaskularisasi (vascularized osteocutaneous flaps).
Nonvascularized Bone Grafts
Tandur tulang nonvaskularisasi telah digunakan selama bertahun-tahun untuk rekonstruksi defek parsial mandibula. Angka keberhasilannya hanya mencapai 17-22%, oleh karena itu tandur ini diindikasikan untuk defek parsial atau segmental pada mandibula dengan ukuran kecil. Tandur ini tidak boleh digunakan pada pasien-pasien yang telah atau akan menjalani terapi radiasi.
Beberapa penelitian membuktikan bahwa terapi radiasi dapat menurunkan angka keberhasilan tandur ini dan meningkatkan komplikasi serta resorpsi tulang. Karena kemampuan jaringan sekitar untuk memberikan suasana vaskularisasi terhadap tandur tersebut berkurang.
Reconstruction Plates With and Without Soft-Tissue Pedicled Flaps
Beberapa bahan telah digunakan untuk menyangga jaringan lunak dan mencegah kolapsnya segmen mandibula, diantaranya adalah polimer, keramik dan metal. Beberapa institusi juga menggunakan bahan stainless steel atau lempeng titanium untuk rekonstruksi. Lempeng ini memiliki tingkat keberhasilan tinggi bila digunakan untuk rekonstruksi defek segmen lateral yang pendek. Risiko ekstrusi lempeng meningkat seiring banyaknya jaringan lunak atau mukosa yang direseksi, atau bila lempeng diletakkan di posisi anterior. Rekonstruksi mandibula dengan lempeng ini hanya diindikasikan untuk segmen lateral yang pendek, pasien yang tidak menjalani reseksi jaringan lunak atau mukosa dan pasien yang tidak akan menjalani radiasi. Banyak para ahli yang menggunakan kombinasi lempeng dengan jabir jaringan lunak, dilaporkan angka keberhasilan yang cukup tinggi atas penggunaan jabir pedikel miokutan m. pektoralis mayor yang dikombinasi dengan penggunaan lempeng untuk rekonstruksi.
Vascularized Osteocutaneous Flaps
Rekonstruksi segera dengan satu kali tindakan bedah merupakan keuntungan utama teknik ini. Tulang dengan vaskularisasi dapat mengalami penyembuhan dalam waktu 2- 3 bulan pada pasien dengan atau tanpa radiasi preoperatif. Teknik ini merupakan pilihan utama untuk rekonstruksi karena angka keberhasilan dalam penyatuan tulang yang tinggi yaitu mencapai >98%. Selain itu kualitas penyembuhan tulang yang baik memungkinkan ditanam dental implan untuk rekonstruksi gigi geligi.
Empat jabir osteokutaneus yang paling sering digunakan adalah radial forearm, iliac crest, scapula dan fibula (Gambar 3). Masing-masing jabir tersebut memiliki keuntungan dan kerugian. Beberapa parameternya adalah availabilitas sisi donor, pilihan pasien, kemudahan diseksi dan kondisi medis pasien secara umum.
Radial Forearm Osteocutaneous Flap
Jabir radial forearm osteocutaneous memiliki pembuluh darah donor yang paling baik dengan panjang dan diameter yang cukup. Oleh karena itu jabir ini sangat tepat untuk memperbaiki defek mukosa intraoral. Kerugian jabir ini adalah tulang yang tidak adekuat dan morbiditas tinggi dari sisi donor dan dapat terjadi fraktur idiopatik tulang radius. Jabir ini cocok digunakan untuk rekonstruksi defek yang memerlukan jumlah kulit intraoral yang banyak sedangkan jumlah tulang untuk sisi lateral yang sedikit.
Iliac Crest
Pada tahun 1980-an, krista iliaka menjadi pilihan utama dalam rekonstruksi mandibula. Namun dalam perkembangannya, dengan penggunaan jabir fibula yang lebih sering, penggunaan jabir krista iliaka menjadi jarang. Kekurangan dari tulang ini adalah tindakan osteotomi dapat menyebabkan devaskularisasi segmen distal sehingga pembentukan tulang secara akurat untuk rekonstruksi mandibula sulit dilakukan. Banyak pasien memberikan keluhan baal pada pinggul bagian anterior dan benjolan akibat hernia otot oblikus interna. Kulit dari krista iliaka berukuran terlalu besar untuk menutupi defek intraoral ataupun eksternal. Oleh karena itu, jabir krista iliaka hanya diindikasikan pada kasus-kasus dimana jabir fibula atau skapula tidak tersedia.
Fibula Flap
Fibula merupakan jabir pilihan utama untuk rekonstruksi hampir seluruh segmen defek mandibula. Jabir ini diperdarahi oleh arteri dan vena peroneal. Jabir ini dapat menyertakan m. flexor hallucis longus yang memberikan jaringan lunak yang besar. Bagian kulit dapat dibentuk untuk mencakup seluruh segmen lateral dan dapat diposisikan intraoral ataupun eksternal. Kualitas pembuluh darah jabir ini sangat baik dari segi ukuran panjang maupun diameter. Jabir ini dapat menyediakan tulang hingga 27 cm. Karena tulang ini mendapat perdarahan secara segmental maupun intraoseus maka osteotomi multipel dapat dilakukan tanpa menyebabkan devaskularisasi. Tulang bikortikal ini mempunyai kualitas baik untuk integrasi tulang sehingga dapat digunakan untuk rekonstruksi mandibula segmen lateral ataupun anterior. Posisi jabir ini yang terletak di tungkai bawah memudahkan diseksi simultan yang bersamaan dengan reseksi mandibula.
Gambar 16.7 Empat jabir osteokutaneus a. scapula, b. radial forearm, c. illiac crest, d. fibula
Scapula Flap
Jabir ini dapat menyediakan tulang sepanjang 14 cm namun kualitasnya kurang baik. Walaupun dapat menghasilkan integrasi tulang, jabir ini tidak sebaik fibula ataupun krista iliaka. Morbiditas biasanya minimal, namun pada pasien dengan diseksi leher radikal biasanya mengakibatkan kaku bahu. Pengambilan jabir ini tidak dapat dilakukan bersama-sama prosedur reseksi mandibula, sehingga penggunaan jabir ini dihindari untuk rekonstruksi defek kepala leher. Jabir skapula mengandung banyak kulit dan jaringan
lunak dengan vaskularisasi baik dan sedikit mengandung tulang, maka jabir ini dindikasikan untuk defek yang memerlukan segmen tulang yang sedikit namun memiliki defek jaringan yang luas.
DAFTAR ISI
MODUL VII.21
ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER: KARSINOMA TELINGA
WAKTU
Mengembangkan Kompetensi | Alokasi Waktu |
Sesi di dalam kelas Sesi dengan fasilitas pembimbing Sesi praktek dan pencapaian kompetensi | 2 x 60 menit (classroom session) 1 x 60 menit (coaching session) 10 Jam (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi presentasi: Karsinoma telinga
Power point
Video
Kasus: Karsinoma Telinga
Sarana dan Alat Bantu Latih:
Penuntun belajar (learning guide): terlampir
Tempat belajar (training setting): instalasi rawat inap, instalasi rawat jalan, kamar operasi, ruang praktikum, ruang kuliah
Model/manekin atau kadaver
Komputer/laptop
LCD Proyektor
REFERENSI
1. Pickett BP, Crawley BK. Neoplasms of the ear and lateral skull base. In: Johnson JT, Rosen CA, et al. Editors. Bailey's Head and Neck Surgery- Otolaryngology 5th (ed). Vol.2. Philadelphia: Wolters Kluwer, Lippincott Williams & Wilkins. 2014. p. 2358-83..
Gantz BJ. Tumors of the temporal bone. In: Chan Y, Goddaed JC. Editors. K.J.Lee's Essential Otolaryngology Head and Neck Surgery. 11th (ed). United States: McGraw-Hill education. 2016. p. 435-49
Gidley PW. Ear and Temporal Bone Cancer. In: Myers JN, Hanna EYN, Myers EN. Editors. Cancerof the Head and Neck 5th (ed). Philadelphia: Wolters Kluwer, Lippincott Williams & Wilkins. 2017. p. 954-1000
Allanson BM, Low TH, Clark JR, Gupta R. Squamous cell carcinoma of the external auditory canal and temporal bone: An Update. Head and Neck Pathology. 2018;12: 407-18
Amin, M.B., Edge, S.B. and American Joint Committee on Cancer, 2017. AJCC Cancer Staging Manual, 8th ed. Springer
Morita S, Mizumachi T, Nakamura Y, Sakashita T, Kano S, Hoshino K, et al. Comparison of the University of Pittsburgh staging system and the eighth edition of the American Joint Committee on Cancer TNM classification for the prognostic evaluation of external auditory canal cancer. International Journal of Clinical Oncology. 2018:1-9
KOMPETENSI
Pengetahuan
Menegakkan diagnosis karsinoma telinga berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang serta menentukan management dan melakukan tindakan eksisi karsinoma telinga kecil di daerah aurikula dan KAE.
Keterampilan
Setelah Mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam:
Menjelaskan anatomi, topografi, dan fisiologi telinga
Menjelaskan definisi, patogenesis dan faktor risiko karsinoma telinga
Menjelaskan gejala dan tanda karsinoma telinga
Melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik pada karsinoma telinga
Melakukan keputusan untuk pemeriksan penunjang seperti biopsi massa dan CT Scan temporal dengan kontras
Membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhubungan dengan karsinoma telinga
Menentukan pilihan terapi dan memberikan informed consent kepada penderita dan keluarga pada kasus karsinoma telinga
Melakukan tindakan pembedahan simple untuk karsinoma aurikula dan KAE kecil kurang dari atau sama dengan 5mm
Melakukan persiapan pre operatif untuk karsinoma aurikula atau KAE yang kecil dan pasca operasi serta mampu mengatasi komplikasi yang terjadi.
Melakukan rujukan pada kasus karsinoma telinga stadium lanjut dengan sebelumnya memberikan perawatan yang diperlukan.
GAMBARAN UMUM
Karsinoma telinga merupakan keganasan dengan kasus yang jarang, terjadi kurang dari 0,2% seluruh keganasan pada regio kepala dan leher. Keganasan di telinga luar berasal dari kanalis akustikus eksternus (KAE). Secara histologis, karsinoma sel skuamosa merupakan jenis karsinoma tersering pada KAE. Berbagai jenis lainnya antara lain karsinoma sel basal, Merkel cell carcinoma, melanoma maligna, angiosarkoma, adenoid cystic carcinoma, dan limfoma.
Tumor ini umumnya terjadi pada dekade ke 5 hingga ke 7 kehidupan dengan kecenderungan tersering pada jenis kelamin laki-laki. Otorea merupakan keluhan tersering yang dilaporkan sekitar 50% hingga 90% kasus. Keluhan lain berupa nyeri, penurunan pendengaran dan tumor pada liang telinga. Cedera pada nervus fasialis terjadi pada 16-50% pasien. Karsinoma sel skuamosa terjadi pada 80% kasus.
CONTOH KASUS
Seorang laki-laki usia 50 tahun datang ke IGD dengan keluhan wajah merot ke kiri sejak 1 minggu yang lalu. Riwayat sejak satu tahun terakhir keluar cairan kuning
dan kadang disertai darah dari telinga sebelah kanan. Sejak 6 bulan terakhir mengeluh ada benjolan di liang telinga. Daun telinga kanan terasa lebih menonjol ke luar. Pada pemeriksaan fisik; parese nervus fasialis kanan, liang telinga terdapat masa, benjolan pada retroarikula kanan.
Pertanyaan:
Anamnesis tambahan, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
Diagnosis kerja yang paling mungkin dan stadium
Jelaskan patofisiologi dan patogenesisnya
Rencana terapi
Persiapan pra dan pasca operasi
Apa komplikasi yang mungkin terjadi
Jawaban:
Anamnesis tambahan meliputi penurunan pendengaran, gejala-gejala yang berhubungan dengan arah ekstensi tumor, faktor risiko pada pasien. Pemeriksaan fisik meliputi THT lengkap (termasuk periksaan garputala), pemeriksaan leher, tes nervus fasialis, tes keseimbangan. Pemeriksaan penunjang meliputi foto mastoid (posisi schuller), audiometri nada murni, biopsi dan pemeriksaan histopatologi, CT scan/ MRI temporal, rongent thorax, bone survey, USG Abdomen.
Diagnosis kerja adalah tumor ganas telinga
Tumor yang mengivasi ke tulang temporal ditandai dengan parese nervus fasialis.
Penderita dirujuk ke dokter yang lebih kompeten. Rencana terapi meliputi pembedahan (reseksi tulang temporal, parotidektomi), radiasi, dan kemoterapi
Komplikasi yang mungkin terjadi : Perdarahan, LCS leak dan infeksi intrakranial.
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan Pembelajaran Umum
Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan mampu untuk menegakkan diagnosis dan melakukan terapi terhadap karsinoma telinga.
Tujuan Pembelajaran Khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan mampu untuk:
Menguasai anatomi, topografi dan fisiologi telinga (tingkat kompetensi K3, A3)
Mampu menjelaskan patogenesis karsinoma telinga (tingkat kompetensi K3, A3)
Menjelaskan gejala dan tanda karsinoma telinga (tingkat kompetensi K3, A3)
Melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik pada karsinoma telinga (tingkat kompetensi K3, A3)
Melakukan keputusan untuk pemeriksan penunjang. Misalkan biopsi massa, CT Scan temporal atau MRI temporal dengan kontras.
(tingkat kompetensi K3, P5, A3)
Membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhubungan dengan karsinoma telinga
(tingkat kompetensi K3, P5, A3)
Membuat keputusan klinik untuk parotidektomi (tingkat kompetensi K3, P2, A3)
Melakukan tindakan operasi parotidektomi (tingkat kompetensi K3, P2, A3)
Merawat penderita pra dan pasca operatif serta mampu mengatasi komplikasi (tingkat kompetensi K3, P5, A3)
METODE PEMBELAJARAN
Setelah mengkuti sesi ini peserta didik akan mempunyai kemampuan dasar untuk menegakkan diagnosis karsinoma telinga dan mampu untuk menentukan terapi yang sesuai
Tujuan 1. Menjelaskan anatomi, topografi dan fisiologi telinga
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metoda pembelajaran berikut ini
Interactive lecture
Small group discussion.
Peer assisted learning (PAL)
Bedside teaching.
Task based medical education.
Tujuan 2. Mampu menjelaskan patogenesis karsinoma telinga
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review.
Peer assisted learning (PAL)
Bedside teaching.
Task based medical education.
Tujuan 3. Menjelaskan gejala dan tanda karsinoma telinga
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review
Case simulation and investigation exercise
Equipment characteristics and operating instructions
Tujuan 4. Melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik pada karsinoma telinga
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review
Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device)
Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients
Harus diketahui :
Metoda standar anamnesis
Gejala dan tanda pasti karsinoma telinga
Pemeriksaan penunjang yang sensitif dan spesifik
Memilah diagnosis banding dan menentukan diagnosis kerja
Rencana pengobatan atau tata laksana pasien
Tujuan 5. Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review.
Morbidity and Mortality Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).
Operative Procedure Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients.
Continuing Professional Development Must to know keypoints:
Prosedur paliatif
Kemoradiasi
Prosedur operatif
parotidektomi
Tujuan 6. Membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhungan dengan karsinoma telinga Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review
Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device)
Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients
Harus diketahui
Work-up Key Points
Indikasi pemilihan pemeriksaan tambahan
Analisis data untuk menegakkan diagnosis
Tujuan 7. Menentukan terapi yang tepat pada kasus karsinoma telinga
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review
Case study
Practice with Real Clients
Harus diketahui
Terapi kemoterapi
Terapi pembedahan
Tujuan 8. Melakukan tindakan pembedahan (parotidektomi)
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review
Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device)
Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients
Harus diketahui
Jenis pembedahan parotidektomi
Langkah-langkah pembedahan
Tujuan 9. Melakukan perawatan penderita pra dan pasca pembedahan (parotidektomi)
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review
Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device)
Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients
Harus diketahui
Sermon of relaxation
Informed consent
Komplikasi operasi
Tujuan 10. Melakukan tindakan pembedahan/ eksisi karsinoma telinga kecil di daerah aurikula dan KAE serta melakukan perawatan penderita pra dan pasca pembedahan
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review
Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device)
Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients
Harus diketahui
Langkah-langkah pembedahan
Sermon of relaxation
Informed consent
Komplikasi operasi
Rangkuman:
Karsinoma telinga banyak ditemukan pada orang laki-laki. Jenis dapat berupa jinak maupun ganas, tipe ganas yang paling sering adalah karsinoma sel skuamosa.
Penanganannya adalah pembedahan (reseksi tulang temporal, parotidektomi), radiasi, dan kemoterapi disesuaikan dengan besar dan perluasan tumor.
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pre- test terdiri atas:
Anatomi, topografi, dan fisiologi telinga
Penegakan diagnosis
Penatalaksanaan
Follow up
Selanjutnya dilakukan small group discussion bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian.
Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk role play dan teman-temannya (Peer Assisted Evaluation) atau kepada SP (Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assisted Evaluation) setelah dianggap memadai, melalui metode bedside teaching dibawah pengawasan fasilitator, peserta dididik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomi dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut :
Perlu perbaikan: pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan.
Cukup: pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien.
Baik: pelaksanaan benar dan baik (efisien)
Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
Self assesment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar.
Pendidik/ fasilitas:
Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form (terlampir)
Penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi
Kriteria penilaian keseluruhan : cakap/ tidak cakap/ lalai
Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education)
Pencapaian pembelajaran:
Ujian OSCE (K,P,A), dilakukan pada tahapan T.H.T.K.L dasar oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L
Ujian akhir stase, setiap divisi / unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan
T.H.T.K.L lanjut oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L.
Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan T.H.T.K.L lanjut oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L.
Ujian akhir profesi (kasus bedah), dilakukan pada akhir pendidikan oleh Kolegium I T.H.T.K.L
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
A. Kuesioner Pembelajaran
Soal :
Seorang laki-laki 50 tahun mengalami kelumpuhan nervus fasialis selama 1 tahun. Sementara didiagnosis dengan Bell's palsy dan mendapat terapi kortikosteroid, tetapi tidak terdapat perbaikan. Pada pemeriksaan ulangan ditemukan perbaikan pada daerah muka, penurunan pendengaran dan keluar darah dari telinga. Tidak ada kelumpuhan pada bagian kepala-leher yang lain. Dugaan anada adalah:
Infeksi telinga tengah
Infeksi Herpes Zoster
Fraktur tulang temporal
Penyakit Lyme
Kemungkinan suatu neoplasma Jawab: E
MATERI PRESENTASI
LCD 1: Anatomi dan Fisiologi Telinga
LCD 2: Patologi Karsinoma KAE
LCD 3: Tatalaksana Karsinoma KAE
MATERI BAKU
Karsinoma liang telinga seringkali meluas ke telinga tengah dan sebaliknya tumor telinga tengah juga seringkali meluas ke liang telinga. Keganasan pada kanalis akustikus eksternus (KAE)/ liang telinga merupakan kasus yang jarang, terjadi kurang dari 0,2% seluruh keganasan pada regio kepala dan leher.
Keganasan pada KAE terjadi 1 dari 5000-15.000 kelainan yang terjadi pada telinga. Tumor ini umumnya terjadi pada dekade ke 5 hingga ke 7 kehidupan dengan kecenderungan tersering pada jenis kelamin laki-laki.
Ada berbagai jenis tumor yang timbul pada telinga luar dan tulang temporal, namun yang tersering adalah karsinoma sel skuamosa terjadi pada 80% kasus. Jenis lainnya adenoid cystic carcinoma, adenocarcinoma, basal sel karsinoma, melanoma. Embryonal rhabdomyosarcoma mungkin dijumpai pada anak anak.
Gejala klinik
Diagnosis seringkali terlambat, tanda dan gejala mirip dengan OMSK dengan cairan yang keluar disertai darah. Otorea merupakan keluhan tersering yang dilaporkan sekitar 50% hingga 90% kasus. Keluhan lain berupa nyeri, penurunan pendengaran dan tumor pada liang telinga. Cedera pada nervus fasialis terjadi pada 16-50% pasien. Tumor menyebar menginvasi tulang sehingga dapat mengenai nervus VII, temporomandibula join, labirin dan tuba Esustachii dengan ditandai adanya parese otot wajah, kesulitan atau terasa sakit ketika membuka mulut, kurang pendengaran. Rasa sakit yang progresif, sulit diredakan dengan analgetik.
Pemeriksaan penunjang
Biopsi, foto mastoid (posisi Schuller), audiometri nada murni, dan CT scan temporal dengan kontras/MRI temporal.
Staging
Saat ini tidak ada sistem stadium yang diterima secara universal untuk karsinoma liang telinga dan tulang temporal. Ada dua sistem, masing-masing dengan modifikasi, tersedia dalam literatur. Sistem yang paling umum digunakan untuk karsinoma KAE adalah klasifikasi Pittsburgh, yang dikemukakan oleh Arriaga et al dengan modifikasi yang diusulkan oleh Moody et al. Sistem kedua adalah yang diusulkan oleh Stell dan McCormick dengan modifikasi berikutnya yang dikemukakan oleh Clark et al.
Kedua sistem ini didasarkan pada temuan klinis dan radiologis dan tidak termasuk keterlibatan KGB. Karsinoma sel skuamosa kulit adalah keganasan paling umum yang melibatkan KAE. Oleh karena itu, dipertimbangkan penggunaan sistem stadium American Joint Committee on Cancer (AJCC) untuk karsinoma sel skuamosa kulit kepala dan leher karena parameter histopatologi menjadi pertimbangan dan juga menyediakan keterlibatan nodal.
Sistem Staging Modifikasi Pittsburgh untuk Karsinoma Liang Telinga
T1 : Tumor terbatas pada EAC tanpa erosi tulang atau bukti keterlibatan jaringan lunak
T2 : Tumor dengan erosi tulang EAC terbatas (ketebalan tidak penuh) atau jaringan lunak terbatas (<0,5 cm)
T3 : Tumor mengerosi tulang dengan masa tumor < 0,5 cm atau tumor yang meliputi telinga tengah dan atau mastoid
T4 : Tumor mengerosi koklea, apek petrosus, dinding medial telinga tengah, kanalis carotis, foramen jugular, atau dura atau tumor sebesar > 0,5 cm seperti keterlibatan sendi temporomandibular atau prosesus styloid, atau terdapat parase saraf wajah
NX : Kelenjar getah bening regional tidak dapat dinilai N0 : Tidak ada metastasis kelenjar getah bening regional
N1 : Metastasis pada satu kelenjar getah bening ipsilateral, 3 cm atau lebih kecil dalam dimensi terbesar dan ENE (-)
N2a : Metastasis di satu kelenjar getah bening ipsilateral atau kontralateral, 3 cm atau lebih kecil dalam dimensi terbesar dan ENE (+); Atau kelenjar getah bening ipsilateral tunggal yang lebih besar dari 3 cm tetapi tidak lebih dari 6 cm dalam dimensi terbesar dan ENE (-)
N2 b : Metastasis di beberapa kelenjar getah bening ipsilateral, dimensi terbesar tidak lebih dari 6 cm dan ENE (-)
N2c : Metastasis pada kelenjar getah bening bilateral atau kontralateral, dimensi maksimum tidak lebih dari 6 cm dan ENE (-)
N3a : Metastasis pada kelenjar getah bening berukuran lebih dari 6 cm dengan dimensi terbesar dan ENE (-)
N3b : Metastasis dalam satu simpul ipsilateral yang lebih besar dari 3 cm dalam dimensi terbesar dan ENE (+); Atau Beberapa node ipsilateral, kontralateral, atau bilateral, apa saja dengan ENE (+)
M0 : Tidak ada metastasis M1 : Metastasis jauh
Terapi
Pemilihan modalitas pengobatan untuk karsinoma KAE dikelola oleh tim multidisiplin dan berdasarkan sejauh mana penyakit, komorbiditas, status kinerja, keinginan pasien dan/atau kebijaksanaan dokter yang terlibat dalam setiap kasus.
Operasi dilanjutkan dengan radioterapi adalah pilihan utama. Tindakan operasi adalah dengan mereseksi en bloc tumor dan dengan sebisa mungkin mempertahankan fungsi pendengaran dan nervus facialis. Reseksi tulang temporal lateral dipilih sebagai pilihan awal pengobatan untuk pasien dengan tumor yang terbatas pada KAE. Tumor kecil T1 tidak menginvasi tulang dapat dieksisi dengan mengangkat kulit liang telinga di lateral membran timpani, serta saluran tulang rawan di bawahnya tanpa pengangkatan kanal tulang timpani. (Sleeve resection). Pada tumor T2 yang terbatas pada liang telinga tetapi sudah mengenai tulang temporal, Lateral Temporal Bone Resection (LTBR)
diperlukan. Prosedurnya adalah dengan diseksi tulang temporal sekitar liang telinga mulai dari luar sampai mendekati telinga tengah dengan mempertahankan membrana timpani. Tumor T3 dengan perluasan ke mastoid atau telinga tengah dengan melakukan Subtotal Temporal Bone Resection (STBR), tindakan ini dengan mengangkat liang telinga, telinga tengah, tulang petrosus, temporomandibula join dengan partial atau total parotidektomi. Nervus fasialis dikorbankan bila sudah terkena, grafting dengan nervus sural atau greater auricle bila tepi proksimal dan distal bebas dari tumor. Bila tumor T4, tumor meluas ke sisi medial tulang temporal, diperlukan reseksi total tulang temporal/Total Temporal Bone Resection (TTBR) dengan mengorbankan arteri carotis. Karsinoma sel skuamosa yang mengenai tulang petrosus pada dasarnya tidak dapat diterapi dengan prosedur tersebut, meskipun demikian prosedur tersebut dapat dilakukan pada adenoid cystic carcinoma dan sarcoma. Setelah dilakukan reseksi total, regional atau free flap rekonstruksi dapat digunakan untuk menutup dura yang terbuka, mencegah bocornya LCS dan menutup dead space pasca operasi.
Retrograd Parotidektomi dilakukan pada LTBR dan STBR. Indikasi total parotidektomi adalah pada kasus kasus dimana terdapat pertumbuhan ke arah anterior di depan dinding kanalis akustikus esterna. Superficial parotidektomi dapat dilakukan sebagai profilaktik pada T1 dan T2. Profilaktik slective neck diseksi dilakukan pada LTBR dsn STBR dengan neck node (-). Modifikasi neck diseksi leher tipe 3 dilakukan pada neck node +. Neck diseksi tidak dilakukan pada pasien anak anak dengan N0 atau pasien yang mempunyai prognosis buruk. Jika pada pemeriksaan radiologi ditemukan pertumbuhan pasien ke arah kondilus mandibula atau temporomandibular join maka harus dilakukan en blok resection. Jadi T1 dan T2 yang akan dilakukan LTBR diperlukan superficial parotidektomi dan diseksi leher. T3 dan T4, tumor menyebar ke arah kartilago kanalis jaringan lunak periaurikular atau ke anterior melewati dinding anterior kanalis akustikus eksternus ke ruang parotis dilakukan LTBR total parotidektomi dan diseksi leher. T3 dan T4 pada tumor yang meluas ke arah mastoid atau timpani atau daerah medial dari os temporal dilakukan STBR, total parotidektomi dan diseksi leher. Evaluasi pasien post operasi dilakukan setiap 3 bulan pada tahun pertama, setiap 6 bulan selama 4 tahun, kemudian setiap tahun. Pemeriksaan radiologis CT atau MRI dengan kontrak dilakukan setiap 6 bulan pada tahun pertama dan setiap tahun sampai 10 tahun kemudian.
Parotidektomi dikombinasikan dengan reseksi lesi primer jika metastasis kelenjar getah bening intraparotid positif atau invasi ke kelenjar parotis terdeteksi secara klinis. Diseksi leher selain parotidektomi dilakukan pada kasus yang secara klinis positif untuk metastasis kelenjar getah bening leher. Tidak ada diseksi leher profilaksis yang dilakukan. Adjuvan RT atau CRT (dosis total 60-70 Gy pada 2,0 Gy per fraksi) untuk pasien dengan tumor yang melampaui KAE secara sistematis diusulkan setelah reseksi bedah. Untuk tumor lokal lanjut dengan ekstensi ke apeks piramidal, fossa kranial posterior, fossa kranial tengah atau arteri karotis interna, CRT definitif atau RT (dosis total 65-70 Gy pada 2,0-2,5 Gy per fraksi) juga dilakukan.
Pasien yang menolak pembedahan atau tidak dapat menjalani pembedahan karena penyakit penyerta, seperti penyakit pernapasan, hati, ginjal dan / atau kardiovaskular yang parah, menjalani RT saja (dosis total 65-70 Gy pada 2.0-2.5 Gy per fraksi).
Kemoterapi diberikan regimen TPF (cisplatin, 5-fluorouracil dan docetaxel). Pemberian cisplatin intravena mingguan dan infus cisplatin dosis tinggi superselektif cepat (RADPLAT) dapat menjadi pilihan.
DAFTAR ISI
MODUL VII.22
ONKOLOGI BEDAH KEPALA LEHER: SARKOMA DAN TUMOR JARINGAN LUNAK KEPALA LEHER
WAKTU
Mengembangkan Kompetensi | Alokasi Waktu |
Sesi di dalam kelas Sesi dengan fasilitas pembimbing Sesi praktek dan pencapaian kompetensi | 2 x 60 menit (classroom session) 1 x 60 menit (coaching session) 10 Jam (facilitation and assessment) |
PERSIAPAN SESI
Materi presentasi: Sarkoma jaringan lunak kepala leher
Power point
Video
Kasus: Sarkoma jaringan lunak kepala leher
Sarana dan Alat Bantu Latih:
Penuntun belajar (learning guide): terlampir
Tempat belajar (training setting): instalasi rawat inap, instalasi rawat jalan, kamar operasi, ruang praktikum, ruang kuliah
Model/manekin atau kadaver
Komputer/laptop
LCD Proyektor
REFERENSI
Marcus M, Monroe BA. Sarkomas and soft tissue tumors of the head and neck. In: Myers JN, Hanna EYN, Myers EN. Editors. Cancer of the Head and Neck. 5th (ed). Philadelphia: Wolters Kluwer, Lippincott Williams & Wilkins. 2017. p. 1847-1890
Irvin Pathak, Camilla Carroll, Brian O'sullivan et al. Sarcomas of the head and neck. In: Principles and Practice of HEAD AND NECK ONCOLOGY. 24:790- 801.
Amin MB, Edge SB, American Joint Committee on Cancer.AJCC. Cancer Staging Manual. 8th (ed). 2017. Springer
Shah JP, Patel SG, Singh B, Wong R. Jatin Shah's Head and Neck Surgery and Oncology 5th (ed). Edinburgh: Elsevier. 2020. p. 647-699
Niederhuber JE, Armitage JO, Doroshow JH, Kastan MB, Tepper JE. Abeloff's Clinical Oncology 6th (ed). 2020. Philadelphia: Elsevier.
Flint PWt, Haughey BH, Lund VJ, Robbins KT, Thomas JR, Lesperance MM, Francis HW. Cummings Otolaryngology: Head and Neck Surgery 7th (ed). 2021. Philadelphia: Elsevier.
KOMPETENSI
Pengetahuan
Menegakkan diagnosis sarkoma jaringan lunak kepala leher berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
Keterampilan
Setelah Mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam:
Menjelaskan definisi, pathogenesis dan faktor risiko sarkoma jaringan lunak kepala leher.
Menjelaskan gejala dan tanda sarkoma jaringan lunak kepala leher
Melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik pada sarkoma jaringan lunak kepala leher
Melakukan keputusan untuk pemeriksan penunjang seperti biopsi massa dan CT Scan dengan kontras
Membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhubungan dengan sarkoma jaringan lunak kepala leher
Menentukan pilihan terapi dan memberikan informed consent kepada penderita dan keluarga pada kasus sarkoma jaringan lunak kepala leher.
Melakukan rujukan pada kasus sarkoma jaringan lunak kepala leher
GAMBARAN UMUM
Sarkoma kepala leher merupakan kelompok keganasan yang mempunyai gambaran klinis dan outcome yang bervariasi. Sarkoma kepala leher berasal dari jaringan mesenkim di daerah kepala leher, termasuk jaringan lunak dalam, tulang, dan kartilago. Sekitar 15 % sarkoma tumbuh di daerah kepala leher. Hanya 4,3% sarkoma jaringan lunak dewasa yang muncul di daerah kepala leher.
Sarkoma sering diklasifikasikan berdasarkan sel asalnya dan secara umum dikelompokkan menjadi sarkoma jaringan lunak dan tulang/ kartilago. Sarkoma juga diklasifikasikan berdasarkan derajat histologinya, yang lebih menjadi dasar dalam pemilihan modalitas terapi dibanding sel asalnya.
Sarcoma jaringan lunak dapat muncul dari hampir seluruh bagian anatomi di daerah kepala dan leher, meskipun kelenjar parotis, leher, wajah, dahi dan kulit kepala adalah lokasi yang paling sering dijumpai. Presentasi paling umum yaitu lesi massa atau gejala akibat tekanan pada struktur neovaskular atau visera yang berdekatan.
CONTOH KASUS
Seorang wanita usia 67 tahun, datang ke poliklinik THT-KL dengan keluhan benjolan didaun telinga kanan. benjolan tersebut berukuran sebesar kelereng, keluhan tidak disertai dengan nyeri, keluhan disertai dengan luka yang tidak kunjung sembuh. Awalnya benjolan berukuran sebesar kacang tanah dan muncul sejak 1 tahun yang lalu. Pada pemeriksaan fisik didapatkan benjolan ukuran 3x4x5 cm batas tidak tegas, terfiksir pada aurikula dextra. Terdapat ulkus ukuran 1x1x0,5 cm.
Pertanyaan : Apa kemungkinan diagnosis pada kasus di atas? Jawaban : Chondrosarkoma
TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan Pembelajaran Umum
Setelah mengikuti sesi ini, setiap peserta didik diharapkan mampu untuk menegakkan diagnosis dan melakukan terapi terhadap sarkoma jaringan lunak kepala leher.
Tujuan Pembelajaran Khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan mampu untuk:
Mampu menjelaskan patogenesis sarkoma jaringan lunak kepala leher (tingkat kompetensi K3, A3)
Menjelaskan gejala dan tanda sarkoma jaringan lunak kepala leher (tingkat kompetensi K3, A3)
Melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik pada sarkoma jaringan lunak kepala leher
(tingkat kompetensi K3, A3)
Melakukan keputusan untuk pemeriksan penunjang. Misalkan biopsi massa, CT Scan atau MRI dengan kontras.
(tingkat kompetensi K3, P5, A3)
Membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhubungan dengan sarkoma jaringan lunak kepala leher (tingkat kompetensi K3, P5, A3)
METODE PEMBELAJARAN
Setelah mengkuti sesi ini peserta didik akan mempunyai kemampuan dasar untuk menegakkan diagnosis sarkoma jaringan lunak kepala leher dan mampu untuk menentukan terapi yang sesuai
Tujuan 1. Mampu menjelaskan patogenesis sarkoma jaringan lunak kepala leher
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review.
Peer assisted learning (PAL)
Bedside teaching.
Task based medical education.
Tujuan 2. Menjelaskan gejala dan tanda sarkoma jaringan lunak kepala leher
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review
Case simulation and investigation exercise
Equipment characteristics and operating instructions
Tujuan 3. Melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik pada sarkoma jaringan lunak kepala leher
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review
Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device)
Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients
Harus diketahui :
Metoda standar anamnesis
Gejala dan tanda pasti sarkoma jaringan lunak kepala leher
Pemeriksaan penunjang yang sensitif dan spesifik
Memilah diagnosis banding dan menentukan diagnosis kerja
Rencana pengobatan atau tata laksana pasien
Tujuan 4. Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review.
Morbidity and Mortality Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).
Operative Procedure Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients.
Continuing Professional Development Must to know keypoints:
Prosedur pembedahan
Prosedur kemoradiasi
Tujuan 5. Membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang berhubungan dengan sarkoma jaringan lunak kepala leher
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review
Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device)
Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients
Harus diketahui
Work-up Key Points
Indikasi pemilihan pemeriksaan tambahan
Analisis data untuk menegakkan diagnosis
Tujuan 6. Menentukan terapi yang tepat pada kasus sarkoma jaringan lunak kepala leher
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review
Case study
Practice with Real Clients
Harus diketahui
Terapi pembedahan
Terapi kemoradiasi
Rangkuman:
Sarkoma kepala leher merupakan kelompok keganasan yang mempunyai gambaran klinis dan outcome yang bervariasi. Sarkoma kepala leher berasal dari jaringan mesenkim di daerah kepala leher, termasuk jaringan lunak dalam, tulang, dan kartilago. Tanda dan gejala klinis sarcoma jaringan lunak kepala leher sangat bervariasi sesuai dengan subtype histologi dan lokasi tumor, tetapi beberapa jenis sarcoma mempunyai tanda khas. Pembedahan merupakan terapi utama pada kasus sarkoma. Kemoterapi ajuvan telah terbukti meningkatkan kelangsungan hidup secara keseluruhan, sedangkan terapi radiasi meningkatkan kontrol lokal.
EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pre- test terdiri atas:
Penegakan diagnosis
Penatalaksanaan
Follow up
Selanjutnya dilakukan small group discussion bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian.
Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk role play dan teman-temannya (Peer Assisted Evaluation) atau kepada SP (Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assisted Evaluation) setelah dianggap memadai, melalui metode bedside teaching dibawah pengawasan fasilitator, peserta dididik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomi dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut :
Perlu perbaikan: pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan.
Cukup: pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien.
Baik: pelaksanaan benar dan baik (efisien)
Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
Self assesment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar.
Pendidik/ fasilitas:
Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form (terlampir)
Penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi
Kriteria penilaian keseluruhan : cakap/ tidak cakap/ lalai
Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education)
Pencapaian pembelajaran:
Ujian OSCE (K,P,A), dilakukan pada tahapan T.H.T.K.L dasar oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L
Ujian akhir stase, setiap divisi / unit kerja oleh masing-masing sentra pendidikan
T.H.T.K.L lanjut oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L.
Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan T.H.T.K.L lanjut oleh kolegium Ilmu Kesehatan T.H.T.K.L.
Ujian akhir profesi (kasus bedah), dilakukan pada akhir pendidikan oleh Kolegium I T.H.T.K.L
INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF
A. Kuesioner Pembelajaran
Soal :
Seorang wanita berusia 45 tahun datang ke poli THT-KL dengan keluhan benjolan hidung. Keluhan tidak disertai dengan hidung tersumbat. Benjolan dirasakan padat dan melekat pada tulang hidung. Pada pemeriksaan fisik didapatkan benjolan ukuran 2x3x4 cm padat, batas tidak tegas permukaan licin. Cavum nasi dalam batas normal.
Pemeriksaan apakah yang disarankan pada pasien tersebut ?
FNAB dan MRI
FNAB dan CT Scan
USG dan CT Scan
FNAB dan Ro Waters Jawaban : A
MATERI PRESENTASI
LCD 1: Gambaran Umum
LCD 2: Klasifikasi Histologi
LCD 3: Stadium Sarkoma Jaringan Lunak Kepala Leher
MATERI BAKU
Sarkoma kepala leher merupakan kelompok keganasan yang mempunyai gambaran klinis dan outcome yang bervariasi. Sarkoma kepala leher berasal dari jaringan mesenkim di daerah kepala leher, termasuk jaringan lunak dalam, tulang, dan kartilago. Sekitar 15 % sarkoma tumbuh di daerah kepala leher. Hanya 4,3% sarkoma jaringan lunak dewasa yang muncul di daerah kepala leher (Gambar 1).
Gambar 1. Distribusi sarkoma jaringan lunak pada dewasa
Sarkoma sering diklasifikasikan berdasarkan sel asalnya dan secara umum dikelompokkan menjadi sarkoma jaringan lunak dan tulang/ kartilago. Sarkoma juga diklasifikasikan berdasarkan derajat histologinya, yang lebih menjadi dasar dalam pemilihan modalitas terapi dibanding sel asalnya. Contoh, sarkoma high grade lebih membutuhkan terapi multidisiplin yang komplek dibanding sarkoma low grade. Klasifikasi histologi tumor jaringan lunak ganas ditunjukkan pada tabel 1.
Sarkoma jaringan lunak dapat muncul pada hampir semua bagian anatomi di daerah kepala leher. Lokasi paling sering yaitu pada kelenjar parotis, leher, wajah, dahi, dan kulit kepala.
Sebagian besar etiologi sarkoma tidak diketahui. Faktor genetik dan lingkungan dikaitkan dengan perkembangan sarkoma. Beberapa sindroma bawaan diketahui meningkatkan jenis sarkoma tertentu. Li-Fraumeni syndrome dan Werner syndrome dikaitkan dengan sarkoma jaringan lunak dan tulang, Gardner syndrome dikaitkan dengan tumor desmoid, Neurofibromatosis tipe 1 dikaitkan dengan MPNST, Costello syndrome dan Beckwith-Wiedemann syndrome dikaitkan dengan rhabdomiosarkoma. Faktor risiko lingkungan yang berhubungan dengan kejadian sarkoma adalah infeksi HIV (dihubungkan dengan sarkoma kaposi akibat infeksi human herpes virus 8), paparan radiasi pengion, klorofenol, herbisida, dan bahan kimia produk limbah industri.
Tabel 1. Klasifikasi Histologi Tumor Jaringan Lunak Ganas
ASAL JARINGAN | GANAS |
Lemak | Liposarkoma |
Jaringan fibrosa/myofibroblastik | Fibrosarkoma, miksofibrosarkoma, sarkoma fibromiksoid, histiositoma fibrosa ganas/ sarkoma pleomorfik tidak terdiferensiasi |
Pembuluh darah | Angiosarkoma, hemangioendotelioma epiteloid, Kaposi sarkoma |
Pembuluh limfatik | Limfangiosarkoma |
Otot polos | Leiomiosarkoma |
Otot rangka | Rhabdomiosarkoma embrional, rhabdomiosarkoma alveolus, rhabdomiosarkoma pleomorfik |
Tumor selubung saraf | Malignant peripheral nerve sheath tumor (MPNST), MPNST epiteloid, tumor sel granular ganas |
Tumor dengan diferensiasi tidak jelas | Sarkoma sinovial, sarkoma epiteloid, sarkoma bagian lunak alveolar, sarkoma Ewing ekstraskeletal, sarkoma tidak terdiferensiasi/tidak terklasifikasi |
Gejala dan Tanda
Sarkoma pada kepala leher dapat dibagi menjadi 2 kategori dasar, yaitu tumor yang berasal dari jaringan lunak dan tulang/ kartilago. Tumor yang berasal dari jaringan lunak kepala leher terbagi menjadi beberapa kelompok dengan gambaran histologi, lokasi, serta ciri yang beragam.
Sarkoma yang berasal dari otot lurik pada anak anak
Rhabdomiosarkoma (RMS) kepala leher jarang ditemukan pada orang dewasa. Akan tetapi tumor ini adalah tumor yang paling sering ditemukan pada anak anak di bawah 15 tahun. Tiga per empat dari seluruh RMS pada anak ditemukan di daerah kepala leher. Berdasarkan lokasinya dapat dibagi menjadi 16
% pada daerah parameningeal, orbital 9% dan non orbital non parameningeal 10
%. Gejala dan tanda - tanda awal bervariasi tergantung lokasi dan ukuran dari lesi. Manifestasi awal berupa otorea atau obstruksi nasi, dapat juga menyerupai gejala - gejala umum tumor kepala leher pada anak akibat keterlambatan diagnosis.
Secara histologis, RMS nampak seperti musculo skeletal bayi umumnya. Klasifikasinya diadopsi dari Komite Intergroup Rhabdomyosarkoma Study (IRS)
dan WHO berdasarkan rekomendasi dari Horn dan Enterline. Klasifikasi ini dikenal dengan subtipe embrional, botryoid, alveolar dan pleomorpik. 60% dari RMS bersifat embrional dan 20% alveolar.
Sarkoma pada otot lurik orang dewasa
Secara primer RMS pada orang dewasa berasal dari tulang craniofasial dan paling banyak pada sinus etmoid. Gejala awal biasanya muncul pada usia 20-an tahun. Lesi yang terbanyak ditemukan pada IRS grup III dan IV. Sebagian besar pada pasien dengan RMS ethmoid akan bermetastasis jauh ke orbita dan fossa cranial anterior.
Sarkoma pada jaringan fibrosa
Yang paling sering ditemukan adalah fibrohistiocytic tumor. Lesi tersebut terdiri neoplastic spindle cell tetapi bisa juga berupa harbour histiocytic cell yang mengandung material phagosit yang menyerupai zat besi. Tumor -tumor jaringan fibrous membentuk spektrum yg bersifat tumor ganas, mulai dari benign tumour histiocytoma (dermatofibroma) sampai dermatofibrosarkoma protuberan dan malignat fibrous histiocytoma.
Dermatofibroma merupakan tumor jaringan fibrosa jinak yang ditandai dengan adanya nodul subcutan yang mengandung fibroblast-like spindle cell, histiocytes dan pembuluh pembuluh darah dan dapat dibedakan dengan hyperplastic epidermis oleh adanya clear (grenz) zone.
Dermatofibrosarkoma protuberan (DFSP) adalah tumor dermis yang jarang ditemukan, tetapi mempunyai rekurensi yang tinggi dan bisa berpotensi berubah menjadi tipe sarkoma yang lain. DFSP mengandung packed spindle cell yang padat yang tersusun dan bentuk storiform atau cartwheel. Subtipe dari DFSP ini antara lain adalah Bednar tumour yang mengandung sel melanin. Di bagian perifer dari DFSP ini terdapat infitrasi difus stroma dermal ke dalam jaringan subcutan yang memberi gambaran honeycomb.
Sarkoma pada jaringan vascular
Angiosarkoma
Angiosarkoma adalah tumor pada jaringan vaskular yang bisa muncul di daerah mana saja pada bagian tubuh kita tetapi paling sering di daerah kepala leher. Gambaran umum berupa lesi berwarna ungu pada kulit kepala leher orang dewasa. Laki laki lebih banyak dengan perbandingan 3:1. Separuh dari tumor tersebut timbul pada kulit kepala dan bersifat multifokal dan sisanya pada daerah dahi. Gambaran makular dan bruise-like appearance dari tumor tersebut berkaitan dengan keterlambatan intervensi karena adanya misdiagnosis.
Gambaran patologisnya beragam yang terdiri atas vascula channel area, sheet of cell dan cells of undifferentiated morphology. Sebagian besar mengandung satu dari ketiga bentuk sel tersebut. Namun ada juga pada kondisi tertentu mengandung ketiga bentuk sel tersebut.
Hemangipericytoma
Tumor ini menempati urutan ketiga pada bagian kepala leher. Lokasinya terletak pada leher, perioral shoft tissue dan traktus sinonasal. Gejala umum yg timbul berupa massa pada daerah leher, atau jaringan lunak wajah yang tidak nyeri pada perabaan. Sinonasal hemangiopericytoma muncul dengan gejala berupa epistaksis dan obstruksi hidung dan berupa benjolan polipoid keabu-abuan dan mudah berdarah saat dimanipulasi.
Kaposi's sarkoma
Tumor ini paling sering ditemukan pada penderita HIV. Sekitar 95% dari penderita AIDS berupa bentuk kutaneus dan viseral. Tumor ini bersifat multifokal, penyakit systemik yang sering mengenai permukaan kulit dan mukosa di daerah intraoral paling sering ditemukan pada palatum durum. Jarang pada daerah viseral. Lesinya beragam dari bentuk nodul merah keunguan, macula atau plaques. Pada lesi kulit terbagi menjadi tingkatan patch, plaque atau nodular. Derajat beratnya dibagi menjadi 3, yaitu derajat 1 terbatas pada kulit, derajat 2 seluruh kulit dan derajat 3 kulit dan daerah viseral.
Pemeriksaan penunjang
Biopsi
Tindakan biopsi sangat penting dilakukan untuk menegakkan diagnosis jaringan yang tepat. Hasil patologi anatomi (PA) harus sudah tegak sebelum dilakukan intervensi pembedahan, walaupun secara klinis menunjukan ke arah keganasan. Teknik biopsi dapat dilakukan dengan FNAB (Fine Needle Aspiration Biopsy), open biopsy (biopsi insisi ataupun biopsi eksisi). Jika tumor cukup besar dan teraba jelas, dapat dilakukan FNAB atau biopsi insisi. Sedangkan untuk tumor yang kecil dan berbatas tegas, biopsi eksisi lebih akurat dan adekuat.
Pemeriksaan Radiologi
Penilaian yang akurat untuk perluasan tumor jaringan lunak pada daerah kepala leher dievaluasi dengan pemeriksaan CT Scan dan MRI. Pemeriksaan tersebut dapat membedakan jaringan lunak dengan struktur vital di sekitarnya. Tumor yang hipervaskuler dapat dilakukan pemeriksaan CT angiografi atau arteriografi. Jika dari hasil pemeriksaan angiografi tersebut menunjukan terdapat feeding arteri besar, dapat dipertimbangkan tindakan embolisasi sebelum operasi. CT scan lebih akurat untuk melihat perluasan ke tulang. Pemeriksaan CT scan atau MRI potongan axial, sagital dan koronal dengan kontras, sangat baik untuk melihat perluasan anatomi, keterlibatan jaringan sekitar sehingga memudahkan untuk perencanaan tindakan pembedahan.
Stadium
Sistem stadium pada sarkoma jaringan lunak kepala leher selain kriteria TNM, derajat histologi tumor primer juga ditambahkan untuk menentukan stadium (Tabel 2). Tabel 2. Sistem Stadium Sarkoma Jaringan Lunak Kepala Leher (AJCC edisi 8)
Tumor | |
T1 | Tumor :S 2 cm |
T2 | Tumor > 2 cm dan :S 4 cm |
T3 | Tumor > 4 cm |
T4 | Tumor dengan invasi struktur yang berdekatan |
T4a | Invasi orbita, dasar tengkorak, dura, visera kompartemen sentral, tulang wajah, atau otot pterigoid |
T4b | Invasi otak, otot prevertebral, melapisi arteri karotis, atau penyebaran perineural ke sistem saraf pusat |
Metastasis Nodal | |
N0 | Tidak ada metastasis nodal |
N1 | Metastasis nodal |
Metastasis Jauh | |
M0 | Tidak ada metastasis jauh |
M1 | Metastasis jauh |
Grade | |
G1 | Skor diferensiasi total, jumlah mitosis, dan nekrosis 2 atau 3 |
G2 | Skor diferensiasi total, jumlah mitosis, dan nekrosis 4 atau 5 |
G3 | Skor diferensiasi total, jumlah mitosis, dan nekrosis 6, 7, atau 8 |
Terapi
Eksisi bedah adalah tatalaksana utama untuk seluruh tumor jaringan lunak.
Neoplasma ganas dieksisi secara adekuat, sebaiknya dengan cara monoblok, dengan pendekatan bedah yang sesuai tergantung pada ukuran dan lokasi anatomi tumor. Lesi vaskular paling baik ditangani dengan embolisasi preoperatif, bila memungkinkan, untuk meminimalkan kehilangan darah. Sebaliknya, untuk tumor jaringan lunak ganas, harus mempertimbangkan berbagai faktor yang mempengaruhi prognosis akhir. Faktor- faktor ini terkait dengan jenis dan derajat histologis tumor serta ukuran dan lokasi sarkoma.
Terapi radiasi tambahan harus dipertimbangkan pada pasien dengan tumor yang memiliki derajat histologi yang tinggi dan tumor dengan batas yang tidak jelas. Radioterapi eksternal atau brakiterapi dapat digunakan dengan efektivitas yang sama. Pilihan modalitas perawatan bergantung pada lokasi, histologi, dan ukuran bidang. Meskipun kontrol lokal dicapai dengan terapi radiasi tambahan.
Perawatan sarkoma daerah kepala dan leher melibatkan evaluasi dan perencanaan multidisiplin untuk memberikan peluang penyembuhan dan rehabilitasi yang optimal, mencakup konsultasi dengan ahli bedah kepala dan leher, ahli onkologi medis, ahli onkologi radiasi dan ahli patologi dan rehabilitasi medis. Terapi setiap jenis histologis sarkoma dan tempat asalnya akan bervariasi.
Pembedahan merupakan terapi utama pada kasus sarkoma, serta radioterapi ajuvan harus dipertimbangkan setiap kali ada keraguan mengenai kecukupan margin bedah atau jika lokasi tumor menghalangi eksisi lengkap. Pada pengobatan osteosarkoma kepala dan leher terutama mencakup reseksi bedah dengan atau tanpa radiasi dan kemoterapi. Kemoterapi ajuvan telah terbukti meningkatkan kelangsungan hidup secara keseluruhan, sedangkan terapi radiasi meningkatkan kontrol lokal.